PERKEMBANGAN SITUASI POLITIK DI INDONESIA:
PROLOOG DAN EPILOOG GESTAPU/PKI
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
KOLOFON
PERKEMBANGAN SITUASI POLITIK DI INDONESIA:
PROLOOG DAN EPILOOG GESTAPU/PKI
oleh
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
OFFICE OF THE MILITARY ATTACHE
2020 MASSACHUSETTS AVENUE, N. W.
PHONE: HUDSON 3-6600
Disampaikan kepada
Pemias Wilayah Timur
Seminar “Industrialisasi dan Perkembangan Politik”
21-22 Mei 1966
Sekedar sebagai bahan umum.
WASHINGTON, D. C.
April 1966
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: babel.hathitrust.org
Ilustrasi sampul: The Conspiracy 1981, karya Dennis Kardon
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam. com
PERKEMBANGAN SITUASI POLITIK DI INDONESIA
Sdr-Sdr yang terhormat,
Bersama ini kami berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Sdr-Sdr yang berkisar kepada persoalan “GESTAPU/PKI” dan perkembangan-perkembangan terakhir di Indonesia. Penjelasan ini dapat dikatakan sebagai penjelasan resmi untuk dipergunakan sebagai landasan daripada kesatuan kesimpulan atas kejadian-kejadian untuk kemudian dijadikan dasar bagi satunya kata dan perbuatan di-dalam pelaksanaan tugas kita masing-masing.
PROLOOG GESTAPU/PKI
Apabila kita meninjau ke belakang sebelum teryadinya peristiwa terkutuk G 30 S, maka terlihat dengan jelas kepada kita kegiatan-kegiatan PKI dalam berbagai bidang di Indonesia dalam usahanya untuk mempersiapkan gerakannya yang mencapai kulmini-nasinya dalam kudeta 30 September 1965 yang dapat digagalkan oleh ABRI dengan bantuan massa rakyat yang sangat heroik itu.
Kegiatan-Kegiatan PKI itu sesungguhnya sudah tercium oleh alat-alat negara kita jauh sebelum 30 September 1965, akan tetapi karena PKI selalu dapat menggunakan legalitas yang ada pada Pemerintah seperti Dr. Subandrio cs dengan BPI-nya, maka alat-alat negara ybs. tidak dapat berbuat banyak dan Walaupun dilaporkan, segera yang bersangkutan dituduh dihinggapi Komunisto-phobi. Tujuan utama dalam tahun-tahun sebelum tahun 1965 dari PKI ialah untuk menyingkir-kan organisasi-organisasi lawan politiknya dengan legalitas yang ada pada antek-anteknya seperti Subandrio cs.
Dalam Bidang Politik
Pada suatu saat di Indonesia kita melihat usaha-usaha untuk meningkatkan demokrasi terpimpin itu dengan meniadakan hak-hak demo-krasi lainnya serta memonopoli kekuasaan pada tangan beberapa konco-konco mereka. Tegasnya mereka menciptakan suatu kondisi atau keadaan politik di mana menurut perhitungan mereka lawan-lawan politiknya akan mengadakan reaksi. Dan betul, reaksi itu datang dalam bentuk pembentukan Liga Demokrasi yang dipelopori oleh beberapa partai politik. Alhasil kita melihat orang-orang Liga Demokrasi ditangkapi dan diyebloskan dalam penjara tanpa peme-riksaan dan tidak pernah diajudkan ke pengadilan.
Dalam rangka inilah antara lain turut tertangkap Sutan Syahrir almarhum dan Mohammad Rum, Imron Rosyadi dari NU dan tokoh-tokoh lainnya. khirnya pada tahun 1962 ini meningkat pada pembubaran MASYUMI dan PSI, tentunya bukan hanya ini yang dijadicikan alasan untuk pembubaran partai-partai itu. Di samping kegiatan-kegiatan ini banyak lagi ditumpukkan sebab-sebab yang dicari-cari untuk menangkapi orang-orang dan menghancurkan lawan politiknya. Topeng mereka ini kemudian terbongkar dengan keputusan Presiden untuk mengangkat Sutan Syahrir almarhum sebagai Pahlawan Nasional.
Dalam Bidang Kebudayaan
Juga dalam bidang kebudayaan mereka yang dipelopori oleh LEKTM PKI menciptakan keadaan dan kondisi-kondisi yang melulu menguntungkan bagi partai PKI dan konco-konconya seperti PAKTINDO dll. Sama halnya seperti di atas, kemudian timbul reaksi untuk mempertahankan kebudayaan Indonesia dan menolak pengaruh dari kebudayaan Leninisme atau Mao-isme. Alhasil kemudian dengan manipulasi politik, intrik-intrik yang licik serta legalitas yang ada pada Subandrio c. s. , maka MANIFESTO KEBUDAYAAN yang dipelopori oleh golongan-golongan patriot pencinta kebudayaan Indonesia, MANIKEBU dicap kontra-revolusi untuk kemudian mereka kubur secara resmi.
Dalam Bidang Mass-media
Dalam bidang sangat vital ini pun PKI c. s. bokerja mati-matian untuk menciptakan keadaan/kondisi sedemikian rupa sehingga mereka menguasai praktis seluruh mass-media yang ada dengan legalitas kawan-kawannya yang bercokol sebagai WAPE: DAM I itu. Reaksi timbul dengan mengajukan konsep-konsep untuk memeli-hara kemurnian daripada agyaran-agyaran Bung Karno, bersih daripada pengaruh-pengaruh Atheisme, Maoisme dan Leninisme yang merupakan unsur asing dalam kehidupan bangsa Indonesia. Mereka menggabungkan diri dalam apa yang kita kenal dengan BPS (Badan Pendukung Sukarnoisme). Kemudian badan ini dipojokkan dalam posisi kontra-revolusi dan dengan intrik-intrik, manipulasi politik dan legalitas mereka, badan ini kemudian dilarang dan pendukungnya ditangkap dan diasingkan dari penghidupannya sehari-hari sebagai penulis atau wartawan. Sukses mereka, mereka konsolidir dengan pengeluaran seluruh surat-surat kabar yang tadinya mendukung BPS libreidel atau ditutup untuk seterusnya, Untuk kesekian kalinya laum GESTAPU/PKI berhasil menggonol kemenangan. Mass-media seluruhnya praktis berada di bawah penguasaan mereka.
Dalam Bidang Pemerintahan dan Legislatif
Dalam badan-badan ini secara mudah mereka memasukkan pengaruhnya berkat bantuan yang tidak ternilai dari legalitas yang ada pada Subandrio cs sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama, praktis mereka sudah mempunyai orang-orang di mana-mana dari tingkat pemerintahan yang terendah sampai yang tertinggi dan wakti-wakti mereka berhasil memaksakan untuk duduk dalam badan-badan perwakilan di mana seorang anggota mereka tadinya tidak diwakili karena ketiadaan anggota mereka. Dengan manipulasi daripada ajaran Bung Karno seperti NASAKOM misalnya, mereka mendobrak semua pintu-pintu yang tadinya masih tertutup bagi mereka.
Di Bidang ABRI
Setelah mereka dengan hasil yang gilang-gemilang dan tanpa kerugian apa-apa sudah berhasil memusnahkan lawan politiknya menghancurkan pendukung-pendukung kebudayaan Indonesia, menghancurkan opposisi pers/mass-media yang tidak suka kepada mereka, menginfiltrasi semua bidang pemerintahan dan badan-badan legislatip, kemudian mereka beralih untuk menghancurkan ABRI yang menurut perhitungan tahap terakhir untuk memperoleh kemenangan mutlak di Indonesia dengan pengambilalan pemerintahan yang dipimpin oleh Bung Karno seperti kemudian ternyata dengan kudeta 30 September 1966 yang gagal itu.
Mereka menseleksi perwira-perwira yang mereka kira bisa diajak, untuk kemudian diberikan penasihat-penasihat, pembina-pembina idiologis, sehingga nanti bisa disuruh mengambil oper kekuasaan dari dalam. Mereka lansir adanya diskriminasi dalam angkatan, perwira dan bawahan, misalnya ingat saja peristiwa yang teryadi di Surabaya. Mereka adudombakan satu angkatan dengan angkatan yang lain, misalnya dengan demonstrasi dengan ye12 yang berbunyi: Hidup Polisi, Polisi dengan Rakyat, maksudnya tidak lain untuk memisahkan Polisi dari Angkatan Bersenjata.
Kemudian dalam rangka ini juga mereka merapatkan diri dengan AURI yang boleh dikatakan tidak ikut dalam penumpasan PKI di Madiun dalam tahun 1948, ketika mereka melakukan pembe- rontakan. Dan di dalam meningkatnya konfrontasi kita kepada “Malaysia”, mereka melansir perlunya dibentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari Buruh dan Tani. Usaha-Usaha mereka untuk mendis-kreditkan TNI dan menanam perpecahan dalam kalangan ABRI seca-ra insidentil memang berhasil, tetapi TNI selalu mengikut gerak-gerik mereka secara teliti sehingga TNI tidak jadi masuk perangkap, bahkan mengkonsolidir dirinya sampai ke desa-desa.
Usaha Pisahkan TNI Dari PBR
Usaha PKI dan Subandrio c. s. untuk memisahkan TNI dari PBR dilantarkan dengan melaporkan kepada Presiden bahwa di kalangan TNI banyak yang tidak suka lagi kepada PBR bahkan mengatakan bahwa sudah ada Dewan Jendral yang mau mengadakan kup terhadap Bung Karno. Mereka sudah menentukan suatu program untuk suatu saat mengambil oper kekuasaan dari Bung Karno. Akan tetapi, berhubung karena timbulnya hal-hal yang tadinya mereka tidak duga, maka rencana mereka itu lantas dipercepat, terutama karena sakitnya Bung Karno dalam bulan Juni 1965. Seterusnya Sugito dan Nyoto memberikan laporan bahwa TNI mau mengadakan penangkapan-penangkapan di kalangan PKI. Di samping ini, para pembina dari anggota ABRI yaitu agen-agen PKI di dalam ABRI melaporkan kepada PKI bahwa “pembinaan” mereka sudah berhasil baik dan jika Jakarta bisa diambil oper, maka daerah-daerah lainnya dengan mudah akan dapat dikuasai. Para “pembina” PKI di kalangan AURI ketika itu sudah berkeyakinan bahwa AURI sudah di tangan, dst. dst.
Faktor-Faktor ini semua mempercepat rencana PKI mengadakan kudeta, sehingga PKI melalui Politbiro-nya yang dipimpin oleh Aidit memutuskan untuk mengambil oper kekuasaan Pemerintah R. I. dengan memulai pembunuhan-pembunuhan kejam pada tg1. 30 September 1965 atau 1 Oktober pagi-pagi. Iniiah yang kita kenai sebagai GESTAPU dari PKI yaitu pengchianatan PKI yang ke-II sesudah Madiun.
Pelaksanaan Operasi PKI
Dalam langkah-langkah pertama daripada realisasi kudeta PKI itu, Politibiro PKI telah mengadakan sidang-sidang rahasia untuk membicarakan situasi dan langkah-langkah yang akan dilaksanakan. Mengenai hari yang ditentukan untuk melancarkan kudeta itu, keputusannya adalah pada Aidit sendiri. Pembagian tugas lainnya adalah sbb:
Pimpinan operasi tertinggi: Aidit
Pendamping dari Dr. Subandrio: Nyoto
Koordinasi ke daerah-daerah: Lukman
Koordinasi Pemuda Rakyat Jakarta Raya: Nyono
Pelaksana Gerakan Operasi: Unsur militer
Pertimbangan untuk sampai kepada keputusan melaksanakan kudeta itu yang terpenting adalaha sakitnya Presiden yang diduga oleh PKI ketika itu mungkin dapat mengakibatkan meninggainya Presiden. Dalam pelaksanaan keputusan ini fitnah mengenai adanya “Dewan Jendral” (yaitu kreasi PKI sendiri) diintensipkan dengan tekanan bahwa “Dewan Jendral” yang dikreer oleh PKI itu akan mengadakan kudeta. Aidit memutuskan hari D-nya (D-Day) tg1. 30 September 1965, tetapi kenyataannya mulai dilakukan pada tg1. 1 Oktober 1965 jam 2.00 pagi.
Penculikan dan kemudian pembunuhan kejam terhadap Jendra-jendral TNI, diikuti dengan pengambil-alihan RRI dan gedung telekomunikasi, pembentukan Dewan Revolusi tanpa Bung Karno dan penurunan pangkat dari perwira-perwira tinggi Angkatan Darat.
EPILOOG GESTAPU/PKI
Amarah Rakyat Terhadap Gestapu/PKI
Saudara-Saudara sekalian,
Kita semua sudah mengetahui bagaimana perkembangan selanyutnya. Tindakan-Tindakan yang diambil oleh Angkatan Darat untuk menyelamatkan Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi adalah dengan bantuan sepenuhnya dari Rakyat yang progressip-revoulusian yang heroik itu, yaitu dengan penghancuran kekuatan kaum kontra-revolusi Gestapu/PKI. Amarah Rakyat terhadap Gestapu/PKI tidak dapat dithaan. Dalam waktu yang kurang dari 24 jam, potensi kaum kontra-revolusi habis tergulung, sehingga mythos tentang kekuatan PKI/Gestapu lenyap sama sekali.
Gerakan Gestapu/PKI yang secara serentak ditimbulkan di seluruh Indonesia dihadapi dengan serentak pula oleh Rakyat yang setia kepada Panca Sila dan Dung Karno, sehingga musuh-musuh Revolusi itu punah. Pembunuhan-Pembunuhan yang dilakukan oleh PKI/Gestapu pada hari-hari pertama dari kudetanya dibaias oleh keamaranan Rakyat yang sukar dikendalikan lagi sehingga roda Revolusi yang selalu mereka (PKI) dengung-dengungkan menggilas mereka sendiri. Dengan tindakan spontan serta menyeluruh dari Rakyat, maka Gestapu/PKI tidak bisa berkutik lagi sehingga pengejaran terhadap sisa-sisa yang ada dapat beryalan terus dengan lancar.
Maneuver-Maneuver PKI Dan Antek-Anteknya
Untuk menyegah kehancuran total Gestapu/PKI, maka mereka mengadakan maneuver-maneuver yang sangat licik yang hampir-hampir kita tidak bisa kendalikan. Maneuver-Maneuver itu antara lain dilakukan dalam bentuk sbb:
- Mereka mencetuskan idee yang kelihatannya menarik, tetapi pada waktu itu timingna dipilih untuk mengacaukan suasana, seperti pengisian yabatan Wakil Presiden. Sempat masaalah ini menyadi pembicaraan Rakyat tetapi setelah Angkatan Darat yang kemudian disusul oleh SAB dan seluruh Angkatan Bersenjata menyatakan bahwa mereka merasa belum ada kebutuhan untuk mengisi yabatan'tsb., sedang Jendra1 Nasution yang disebutkan sebagai calon untuk kedudukan Wakil Presiden segera membantah berita itu, maka maneuver ini pun gagal.
- Kemudian setelah timbul demonstrasi-demonstrasi untuk menuntut pembubaran PKI, maka Gestapu/PKI menginfiltarsi gerakan mahasiswa dengan menyelundupkan anggota-anggota mereka atau orang-orang yang dibayar oleh mereka untuk melakukan pengrusakan-pengrusakan yang tidak bertanggung-jawab. Pada demonstrasi di Hotel Indonesia di mana ditimbulkan kerusakan-kerusakan, ternyata yang merusak adalah anggota-anggota CGMI dan ketika demonstrasi di Deparlu, yang merusak adalah anggota-anggota Kongres Buruh Marhaenis yang dibayar. Banyak lagi tertangkap infitran-infitran mereka ke dalam Gerakan Mahasiswa ini. Maneuver ini pun tidak membawa hasil yang mereka harapkan, karena walaupun KAMI sempat dibubarkan dan Universitas Indonesia ditutup, namun tekad bulat daripada mahasiswa akhirnya menggagalkan maneuver-maneuver mereka itu.
- Oleh Pemerintah Subandrio dibentuk suatu Facts Finding Committee untuk menyelidiki sampai seberapa jauh dan seberapa bayak korban dari pihak Gestapu/PKI. Sementara itu BPI-nya Subandrio sudah menyebut-uyebut angka-angka sebesar 150.000 orang korban. Tetapi setelah Komite ini kembali, mereka melaporkan bahwa korban manusia yang diperoleh angkanya ialah sebesar 87.000 orang dari ke duabelah finak. Usaha ini tidak membantu mereka dan tidak ada terbuka jalan untuk mempergunakan legalitas Dr. Subandrio untuk mengkambing-hitamkan Angkatan Darat.
- Serentak dengan usaha-usaha tersebut di atas, Gestapu/PKI juga mengadakan infiltrasi ke pihak partai-partai seperti PNI, PSII, NU, PERTI, dll dan boleh dikatakan bahwa pada waktu itu infiltrasi ini telah sempat membawa hasil yang lumayian bagi mereka, apalagi dengan plintat-plintunya golongan PNI Ali-Surachman, pertentangan-pertentangan di dalam partai itu menguntungkan bagi PKI.
- Setelah maneuver-maneuver tsb. di atas tidak membawa hasil yang diharapkan oleh Gestapu/PKI beserta antek-anteknya seperti Subandrio-Chaerul Saleh cs, maka mereka lebih kalap dan membabi buta karena mereka sudah dekat kepada kehancuran totalnya. Dalam suatu rapat Kabinet, oleh Dr. Subandrio dikemukakan secara blak-blakan bahwa tindakan MAHILUB dan alat-alat negara lainnya sudah lewat batas dan korban yang jatuh sekian banyaknya adalah karena ketidak-mampuan ABRI dan ABRI dipersalahhkannya sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas terus berlangsungnya gontok-gontokan yang sampai membawa korban sedemikian banyak.
Tuduhan ini secara blak-blakan pula telah dijawab oleh Jendral Suharto (Men/Pangad) dengan mengatakan kira-kira sbb: Kami sudah mengetahui dan sudah bersedia bahwa pada statu saat kami justru yang akan dituduh sebagai kaum kontra-revolusi. Dan kami sudah bersedia dan bersiap-siap untuk memindahkan jenazah para pahlawan Revolusi dari Makam Pahlawan. Dan jika memang sudah tiba waktunya untuk itu sekarang, maka kami tidak akan ragu-ragu. Dengan ucapan itu yang ditafsirkan oleh Subandrio cs sebagai tantangan pada blok mereka, maka masalah ini terpaksa dihentikan sampai di situ saja.
Reaksi Mahasiswa & ABRI
Setelah manuver-manuver politik dan ancaman-ancaman serta intimidasi dari Subandrio-Chaerul Saleh c. s. menemui kegagalan, maka para mahasiswa mengambil inisiatif untuk melantarkan demonstrasi-demonstrasi untuk menjatuhkan Subandrio-Chaerul Saleh c. s. Demonstrasi-Demonstrasi hebat yang dilakukan gelombang demi gelombang mencapai hasil, sehingga Bung Karno memanggil mereka untuk turut menghadiri suatu rapat paripurna Kabinet di Bogor, yaitu tgl. 15 Januari 1966.
Ketika rapat paripurna tersebut dilangsungkan di Bogor, berpuluhan-puluhan ribu mahasiswa mengelilingi Istana Bogor dengan berteriak-teriak, sehingga terpaksa Pak Suharto dan Pak Martadinata turun tangan untuk mententeramkannya. Anehnya pada rapat Kabinet paripurna tersebut, Presiden mengadakan suatu pidato yang sama sekali tidak diharapkan. Intisari dari pidato tsb. adalah hendak mengadakan alternatif kepada Rakyat/ABRI/Mahasiswa dalam arti hendak mendorong setiap orang yang tidak setuju kepada beleidnya untuk berdiri di pihak oposisi.
Bahkan dalam pidato tsb. tertanam ancaman tersembunyi untuk menggilas siapa saja yang menghalang-halangi jalannya beleid Pemimpin Besar Revolusi. Pidato ini yang diketahui segera adalah atas dorongan dari Subandrio dan Chaerul Saleh c. s. pada hari itu juga di'lah oleh pimpinan Angkatan Darat dan pada hari itu juga pimpinan Angkatan Darat mengeluarkan suatu pernyataan yang pada pokoknya adalah sbb:
- Bahwa AD tetap setia kepada Presiden/Panglima Ter tinggi/PDR/Mandataris MPRS.
- Bahwa AD sebagai anak kandung Revolusi, berasal dari Rakyat dan akan tetap berjuang di pihak Rakyat.
- Bahwa AD adalah alat Revolusi yang sudah bertekad bulat untuk menyelamatkan Revolusi Indonesia.
- Bahwa AD adalah alat negara yang bertanggung-jawab penuh atas keamanan dan ketertiban umum.
Pada sore harinya Jendral Nasution sebagai KASAB/Menteri Pertahanan-Keamanan me ngadakan suatu pertemuan dengan keempat panglima angkatan dan segera mengeluarkan pernyataan resmi yang isinya serupa dengan pernyataan pihak A. D. tsb. di atas. Di samping itu diadakan usaha-usaha untuk memberi penjelasan-penjelasan kepada parpol-parpol, orpol-orpol, ormas-ormas dan kepada chalayak ramai tentang situasi terakhir.
Barisan Sukarno
Dr. Subandrio yang pada waktu itu masih sebagai Wakil Perdana Menteri I mengambil inisiatif untuk berpidato di depan DPR-GR mengenai pentingnya pembentukan “Barisan Sukarno” secara phisik, karena katanya ada usaha-usaha gelap yang mendongke12 kedudukan dari PBR. Dr. Subandrio menggerakkan orang-orangnya untuk mempelopori pembentukan “Barisan Sukarno” ini.
Di samping itu, Chaerul Saleh pun berusaha membentuk “Barisan Sukarno” melalui Front Nasional. Pengurus Barisan Sukarno dibentuk secara phisik dengan dai sendiri sebagai Panglimanya dan diangkatnya Jendral Suharto sebagai Kepala Stafnya, tanpa setahu Jendral Suharto sendiri. Ketika Jendral Suharto diajak oleh Chaerul Saleh, maka Jendral Suharto keberatan, karena dianggap tidak ada kegunaannya berhubung ABRI sudah ada, bahkan jika toh nanti direaksikan secara phisik, bisa menimbulkan bentrokan-bentrokan phisik.
Rupanya Chaerul Saleh melaporkan ini kepada Presiden, karena kemudian Jendral Suharto dipanggil dan dimarahi oleh Bung Karno. Presiden mengatakan bahwa Barisan Sukarno perlu, dan dalam revolusi bila perlu boleh ada gontok-gontokan. Kemudian oleh Jendral Suharto diusulkan, jika toh diperlukan, lebih baik pembentukannya melewati KOTI c. q. Komando Kesatuan Nasional (KOSATNAS). Masalah ini diteruskan kepada KOTI untuk segera direalisir.
Sementara itu demonstrasi-demonstrasi mahasiswa berjalanan terus dan telah terbentuk pula Kabinet Dwikora “yang disempurnakan”, yang tetap tidak berterima pada Rakyat/ABRI dan Mahasiswa/Pemuda
Trituntutan Rakyat yang Dipelopori Mahasiswa
Demonstrasi-Demonstrasi para mahasiswa yang dipelopori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) semakin keras, sehingga melumpuhkan kegiatan kehidupan di Jakarta dan lain-lain kota besar di Indonesia. Berhubung Pemerintah tidak tahan lagi menghadapi aksi-aksi Mahasiswa ini, maka akhirnya KAMI dibubarkan dan Universitas Indonesia ditutup. Tetapi para mahasiswa bersumpah untuk beryuang terus menentang kebijaksanaan Pemerintah dengan memperjuangkan Trituntutan Rakyat, yaitu:
- Pembubaran PKI
- Reshuffle Kabinet bersih dari anasir Gestapu/PKI dan golongan plintat-plintut
- Perbaikan ekonomi, terutama penurunan harga dan stabilisasi perekonomian pada umumnya.
Sementara itu pihak Angkatan Darat telah mengambil kebiyaksanaan untuk membentuk “Barisan Sukarno” di seluruh Indonesia dengan Panglima-Panglima daerah langsung menyadi Panglima barisan tersebut. Dengan tindakan ini A. D. sekaligus men-cegah dipertentangkannya ABRI dengan “Angkatan Barisan Sukarno”, yang memang dimaksudkan oleh golongan Subandrio cs.
Pembentukan “Barisan Sukarno” melalui KOTI menemui kesulitan-kesulitan, akhirnya KOTI didiskreditkan sebagai suatu badan yang telah dikuasai Jendral-Jendral. Tuduhan-Tuduhan dilontarkan seolah-olah KOTI merupakan kabinet bayangan dan akhirnya KOTI dibubarkan dan dengan sendirinya Komando Kesatuan Nasional yang ada di dalamnya. Subandrio cs tidak tinggal diam, maka ia bersama-sama dengan Achmadi dan Achadi berusaha terus mem-bentuk Barisan Sukarno, Walaupun Achmadi sebagai Menteri telah menyatakan bahwa Barisan Sukarno itu adalah barisan mental.
Sebagai imbangan, Barisan Sukarno bentukan Angkatan Darat mengadakan appel serentak mengenai kesetiaan kepada PBR.
Dalam pada itu para mahasiswa dengan Trituntutan Rakyat terus bergerak dan berduyang melalui demonstrasi-demonstrasi. Walaupun KAMI dibubarkan, para mahasiswa segera merobah namanya menyadi KITA dan mereka tetap bertahan di U. I. Sumbgan dari mana-mana mengalir, dapur umum pada berdiri di mana-mana, sehingga gera-kan mahasiswa dapat berjalan terus. Kesatuan dan persatuan mahasiswa semakin membanja setelah muai jatuh korban di antara mereka, yaitu gugurnya Arief Hakim pada salah satu demonstra-si. Pemakaman jenazah Almarhum Arief Rachman Hakim mendapat perhatian yang hangat dari seluruh Rakyat sehingga jumlah manusia yang turut mengantarkan jenazah tsb. mendekati kira-kira 1 juta orang.
Tekad buiat para mahasiswa tidak dapat ditawar-tawar lagi. Mereka membentuk Resimen Arief Rachman Hakim dengan mempunyai batalyon-batalyon yang diberi nama para Pahlawan Revolusi, misanya batalyon Yani, batalyon Suprapto, dst.
Perlu ditambahkan, bahwa ada kalanya gerakan KAMI ini diinfiltreer oleh kaum kontra-revolusi sengadaya untuk mengeruhkan suasana dan merugikan nama KAMI, sehingga kadang-kadang timbul ekses seperti pengrusakan-pengrusakan kantor dll. Sering telah tertangkap mereka yang menginfiltrasi itu, kadang-kadang mereka anggota CGMI, kadang-kadang dari KBM Ali-Surachman dsb.
Poros Mahasiswa-ABRI-Rakyat Versus Poros Subandrio-Chaerul Saleh cs.
Sejajar dengan K'MI ini telah terbentuk terlebih dulu Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu/PKI yang terdiri dari semua orpol & ormas minus PNI Ali-Surachman dan Partindo. Kemudian nama ini dirobah menyadi Front Panca Sila. Gerakan ini selalu bekerja-sama erat dengan TNI/ABRI.
Maka, yika diadakan suatu abstraksi, jelaslah kelihatan garis kerjasama yang erat antara Mahasiswa-Rakyat dan ABRI, sedang pada lain pihak terlihat poros Subandrio-Chaerul Saleh-Achmadi yang didampingi oieh PNI Ali-Surachman dan Partindo. Masaalah Kabinet Dwikora yang disempurnakan ketika itu menyadi persoalan hangat.
Seperti diketahui, setelah para mahasiswa, pemuda, pelajar yang mendapat dukungan dari rakyat progressip-revolusioner terus menerus mengadakan demonstrasi dengan trituntutan Rakyat, termasuk reshuffle Kabinet, Bung Karno lalu mengadakan reshuffle Kabinet Dwikora yang kemudian melahirkan kabinet “yang disempurnakan” pada tanggal 22 Februari 1966. Proses pembentukan kabinet ini adalah kira-kira demikian:
Seperti biasa dalam pembentukan Kabinet, Bung Karno memanggili orang-orang dari berbagai golongan untuk didengar pendapat dan pandangannya. Demikianlah sampai giiiran kepada MEN/PA'NGAD Jendral Suharto. Oleh Presiden dijelaskan tentang struktur kabinet baru, serta diberitahu bahwa dalam kabinet baru nanti Jendral Nasution tidak diikut-sertakan, karena disangsikan loyalitasnya terhadap Panca Sila, tegasnya Panca Sila mau di-Islamkan oleh Jendral Nasution, oleh karena itu ia akan dipinggirkan. Dalam menjelaskan ini, Bung Karno sebagai biasa di dampingi oleh Dr. Subandrio.
Jendral Suharto dengan tegas membantah tuduhan dan membeberkan jasa-jasa Jendral Nasution serta sikapnya yang seiamanya tegas membela Panca Sila seperti di Peristiwa Madiun, RMS, DI/TII, PRRI/Peresta dan terakhir Gestapu/PKI. Ditambahkan oleh Jendral Suharto, jika benar terbukti bahwa Jendral Nasution bersalah karena menyelweng, supaya segera diperiksa, diadili untuk ditembak mati jika perlu.
Pada waktu itu Subandrio menyelip dengan mengatakan bahwa soal “PRRI”, sebenarnya adalah perkelahian clan Nasution dan clan Lubis yang diverpolitiseer. Bung Karno terus menanyakan apa Jendral Suharto bersedia menyadi Menteri Pertahanan & Keamanan. Oleh Jendral Suharto dijawab bahwa ia tidak sanggup dan ia ingin tetap tinggal dalam pimpinan AD saja.
Akhirnya dibujuilah Mayor Jend Menko HAN dan sebagai Wakil Men. Mayor Mu. .. Mengenai lain-lain perkora “y. .. sempurnakan” itu tidak sempurnakan“ itu tidak diadakan konsultasi dengan pimpinan sehingga AD sendiri teranjat ketika misalnya Let. Kol. Syafii diangkat menyadi Menteri serta masih diper- tahankannya orang-orang yang sudah jeias merupakan opportunis-opportunis dan kaum plin-plan. Ternyata Chaerul Saleh yang mendorong supaya Syafii dijadikan Menteri. Tapi Bagaimanapun, akhirnya Kabinet dilantik dan bekerja, tetapi dengan mendapat tentang hebat dari Rakyat, terutama fihak Mahasiswa.
Sarbini menyadi NKAM adalah Jendral Ali dalam Kabinet Dwi-
AD Berusaha Menyelamatkan Presiden
Berhubung demonstrasi-demonstrasi mahasiswa semakin meningkat dan ada gejala-gejala bahwa nama baik Bung Karno mungkin terbawa-bawa, maka AD mengadakan diskusi dengan golongan-golongan progressip-revolutioner, termasuk gerakan mahasiswa. Kesimpulan pembicaraan ini adalah antara lain sbb:
- Segala kejadian terakhir itu orisininya bukanlah dari Bung Karno, tetapi dari pengaruh orang-orang sekitarnya seperti golongan Subandrio, Chaerul Saleh yang mempu-nyai kepentingan-kepentingan sendiri.
- Karena itu tindakan-tindakan/demonstrasi-demonstrasi harus dipusatkan untuk memisahkan Bung Karno dari pengaruh-pengaruh yang buruk dan jahat ini.
- Poros PBR-Rakyat-ABRI harus. tetap diperkuat.
Setelah itu offensif demonstrasi diperhebat kembali dengan tema tsb. di atas. Briefing dan konsultasi dengan semua golongan seperti Front Panca Sila, serta musyawarah senantiasa diadakan. Dengan KAMI, orpo12, parpo12, ormas-ormas pun juga diadakan konsul-tasi dan musyawarah. Demonstrasi-Demonstrasi di daerah-daerah pun berjalan gelombang demi gelombang.
Sementara itu Front Panca Sila (di mana semua partai-partai politik, bergabung minus PNI A-Su'dan Partindo) telah menyiapkan suatu nota politik yang hendak disampaikan kepada Presiden, tetapi nota ini akhirnya tidak jadi disampaikan.
Pada tanggal 10 Maret 1966 Presiden mengadakan sidang paripurna Kabinet di Istana Negara Jakarta. Pada waktu sidang berjalan, Presiden didatangi oleh salah seorang ajudan dan disodori sebuah “kattebellece”. Kemudian diketahui bahwa di situ tertulis bahwa ada pasukan-pasukan liar yang mendekati Istana. Presi-den kemudian memintahkan Dr. Leimena untuk terus memimpin rapat. Sementara itu Presiden dengan diringi oleh Subandrio dan
Chaerul Saleh meninggalkan sidang dan terus ke Bogor. Pada waktu itu lah Dr. Leimena mendesak ke-9 parpol supaya menanda-tangani sebuah statement yang telah disiapkan Presidium, di mana antara lain termuat tentang pengutukan terhadap demonstrasi-demonstrasi dan gerakan-gerakan dari KAMI.
Semula semua utusan partai-partai politik menentangnya dan meminta waktu untuk berfikir. Sementara itu bekaran Istana sudah banyak anggota-anggota Cakrabirawa mengawali tempat sidang tsb. dan akhirnya mereka menanda-tangani juga statement yang sudah disiapkan tadi. Statement itu malam itu juga dibacakan di RRI Jakarta, tetapi keesokan harinya disangkal oleh para utusan dari partai-partai politik ybs.
Peristiwa Pendelegasian Kekuasaan kepada Jendral Suharto
Setelah Presiden yang diiringi oleh Subandrio dan Chaerul Saleh meninggalkan sidang paripurna di Istana Negara ke Bogor, dan sidang yg kemudian dipimpin oleh Dr. Leimena itu selesai, May. Jendral Basuki Rachmat dan Brig. Jen. Amir Machmud serta Brig. Jen. M. Yusuf pergi memberi laporan kepada Jendral Suharto yang pada waktu itu sedang sakit di rumah. Turut dilaporkan tentang apa yang dikira sebagai pasukan liar di sekitar Istana itu, yang ternyata hanyah pasukan Zeni AD yang sedang bekerja di lapangan Monumen Nasional, dan yg sedang mendekati Istana di waktu istirahat karena di sanalah ada fempat yang teduh.
Jendral Suharto segera memerintahkan ketiga perwira tinggi tsb. untuk pergi ke Bogor untuk memberi laporan kepada Presiden serta menyatakan kepada Presiden bahwa AD masih sanggup menjamin keselamatan/keamanan pribadi Presiden, asalkan Presiden bersedia memberikan lebih banyak wewenang yang berhubungan dengan itu kepada AD.
Pada sore hari tanggal 10 Maret 1966 di Istana Bogor, ketiga perwira tinggi tsb. menyampaikan laporan tentang situasi yang sebenarnya kepada Presiden yang befhubungan dengan apa yang disebut “pasukan liaryang tidak dikenal”itu. Juga disampaikan pernyataan AD bahwa AD tetap sanggup menjamin keselamatan pribadi dan keluarga Presiden. Sekaligus dimohon agar diberi perintah yang tegas kepada Menteri/Panglima Angkatan Darat untuk pelaksanaan tugas tsb. serta wewenang-wewenang yang berhubungan dengan tindakan pengamanan.
Pembicaraan ini tidak dihadiri oleh Subandrio dan Chaerul Saleh, tetapi Brigjen Sabur yang mengantar ketiga perwira tinggi tsb. menghadiri pembicaraan-pembicaraan. Presiden menerima baik laporan tsb. dan kelihatan merasa lega serta segera memerintahkan kepada ketiga perwira tsb. bersama Brigjen Sabur untuk membuat konsep surat perintah yang dimaksud. Konsep surat perintah itu disusun oleh keempat perwira itu dan kemudian di-ayukan kepada Presiden untuk dikoreksi. Presiden mengadakan perobahan-perobahan seperlunya, sesudah itu diperintahkan untuk ditik guna ditanda-tangani. Hal itu dilakukan oleh Brigjen Subur sendiri dan setelah selesai diserahkan kepada Presiden. Setelah itu Presiden memanggil Dr. Subandrio dan Chaerul Saleh yang ada di ruangan Istana pada waktu itu dan dengan dihadiri oleh keempat perwira tsb. di atas, Presiden menunjukkan surat perintah itu kepada kedua WAPERDAM itu.
Ada beberapa pertanyaan dari dr. Subandrio dan Chaerul Saleh yang diberi penjelasan oleh Presiden. Sesudah itu, dengan disaksikan oleh mereka itu, surat perintah Presiden kepada MEN/PANGAD itu ditanda-tangani, kemudian diserahkan kepada Mayjen Basuki Rachmat untuk diteruskan kepada MEN/PANGAD guna dilaksanakan sebagaimana mestinya. Inilah yang terkenal dengan Surat Perintah Presiden tertanggal 11 Maret 1966 kepada MEN/PANGAD.
Setelah MEN/PANGAD menerima surat perintah tsb. , beliau segera mengadakan rapat staf, kemudian diadakan konsultasi dengan Menteri/Panglima Angkatan Laut, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian dan karena Menteri/Panglima Angkatan Udara tidak di-tempat, kontak diadakan dengan Depuc-nya. Pada tanggal 11 Maret pagi-pagi juga diadakan konsultasi dengan partai-partaipolitik.
Setelah semua sepandapat bahwa Surat Perintah harus segera dilaksanakan dan bahwa dalam Surat Perintah itu termuat pemberian mandat penting kepada MEN/PANGAD, maka pada tanggal 11 Maret 1966 Surat Perintah Presiden itu diumumkan oleh Presiden sendiri melalui RRI. Kemudian disusul dengan pidato MEN/PANGAD sebagai sambutan.
Surat Perintah yang bersejarah ini yang mendelegasikan sebagian kekuasaan Presiden kepada MEN/PANGAD mendapat sambutan yang luar biasa dari Rakyat serta dukungan penuh atas kebiyaksanaan Presiden. Pernyataan-Pernyataan dukungan dan kesiap-sediaan membantu MEN/PANGAD dalam melaksanakan surat perintah tsb. mengalir dari segala pelosok Tanah Air dan masyarakat Indonesia di luar negeri.
Tindakan-Tindakan MEN/PANGAD: Pertama Bubarkan PKI
Tindakan pertama yang dilakukan oleh MEN/PANGAD dengan kuasa Presiden ialah pembubaran PKI serta meredakan situasi yang sudah eksplosif itu. Tindakan yang sudah lama dinanti-nantikan oleh Rakyat ini memang segera meredakan suasana yang sudah eksplosif itu. Suasana beralih menyadi lega dan gembira dan ini dapat dilihat pada demonstrasi-demonstrasi para mahasiswa dengan beratus ribu demonstran di ibukota menyambut pembubaran PKI itu dengan gembira.
Rupanya ada juga yang tidak senang atas tindakan MEN/PANGAD itu dan memberikan laporan yang diputar-balikkan kepada Presiden, seolah-olah MEN/PANGAD telah merong-rongi hak-hak Presiden, dsb.
Melalui Dr. Leimena, MEN/PANGAD dipanggil dan ditanyakan apa betul ada maksud-maksud Jendral Suharto untuk merongrongi kewibawaan Presiden. Segera MEN/PANGAD mengerti tentang propokasi yang dibuat-buat itu dan secara tulus-ikhlas membeberkan semua tindakan yang telah diambilinya setelah menerima surat perintah Presiden tsb. Juga dijelaskan bahwa amarah Rakyat tidaklah ditujukan kepada Presiden, tetapi kepada pembantu-pembantunya, termasuk Waperdam-Waperdam yang tidak jujur kepada Presiden dan yang selalu mutar-balikkan kenyataan-kenyataan.
Keterangan-Keterangan yang diberikan oleh MEN/PANGAD diterima baik oleh Presiden, tetapi selanyutnya diminta supaya selalu melapor kepada Presiden tentang setiap perkembangan. Jadi tuduhan semetara antek-antek PKI dan golongan plin-plan serta kaum “safe-players” bahwa Presiden tidak menyetuji pembubaran PKI yang telah dilakukan oleh MEN/PANGAD atas nama Presiden itu sama sekali tidak berdasar. Setiap orang yang masih meragukan hal ini tentu mempunyai maksud-maksud tertentu untuk mengadu-domba Presiden dengan ABRI serta Rakyat.
Setelah PKI secara resmi dibubarkan Pemerintah serta dinayatkan sebagai partai terlarang, maka sewajaryalah apabila segera disusuli dengan follow-upnya, yaitu mengambil tindakan-tindakan terhadap Menteri-Menteri yang menurut bahan-bahan yang ada, ternyata tersangkut dalam masalah Gestapu atau setidak-tidaknya disangsikan loyalitasnya kepada Revolusi dan Rakyat.
Pengamanan Sejumlah Menteri-Menteri
Pengamanan sejumlah menteri-menteri termasuk Subandrio, Chaerul Saleh c. s. segera dilakukan, satu dan lain karena terlihat tanda-tanda bahwa Rakyat yang sudah meluap-luap amarahna terhadap mereka sudah mau menyadi hakim sendiri. Dari daftar yang disusun pertama, dua orang dapat meloloskan diri, yaitu Surachman (PNI) dan Achadi. Suriadarma diamankan oleh finak AURI sendiri. Setelah pengamanan ini, maka sejumlah lebih kurang 45 orang Menteri-Menteri memberikan peryanyataan kepada MEN/PANGAD bahwa mereka, dalam membantu tugas-tugas MEN/PANGAD secara sukarela akan mengundurkan diri, apabila hal itu dapat melancarkan tugas MEN/PANGAD seperti yang termuat dalam surat perintah Presiden tertanggal 11 Maret itu.
Dengan diamankannya sejumlah menteri-menteri itu, maka terdapat-lah sejumlah kerosi-kerosi menteri yang kosong. Dalam situasi yang sangat complex yang sedemikian itu yang diiringi oleh tun-tutan-tutan/demonstrasi-demonstrasi mahasiswa, pemuda pelajar dan Rakyat banyak, maka MEN/PANGAD atas nama Presiden mengambil kebiyaksanaan untuk mengisi vacuum dalam Presidium Kabinet dengan mengangkat Sultan Jogya, Adam Malik, dll untuk menjabat kedudukan Waperdam.
Semua kejadian-kejadian ini berlangsung dalam beberapa hari saja serta laporan kemudian disampaikan kepada Presiden dengan penjelasan-penjelasan. Presiden dapat memahami kesulitan-kesulitan yang ada dan memerintahkan keada MEN/PANGAD untuk mengadu ykan struktur, dan komposisi serta personalia dari kabinet yang lebih sempurna. Setelah diadakan perundingan beberapa kali, maka akhirnya Presiden merestui susunan “kabinet yang lebih disempurnakan” pada tanggal 27 Maret 1966 dan kabinet ini telah berjalanan hingga sekarang.
Kabinet yang Lebih Disempurnakan
Setelah kabinet yang lebih disempurnakan dilantik oleh Presiden, dapat dimengerti adanya perasaan yang belum puas atas susunannya. Bahkan Jendral Suharto sendiri menerangkan bahwa susunan ini adalah hasil maksimal yang bisa dicapai pada waktu itu serta perbaikannya lebih lanjut masih harus kita perjuangkan terus. Alasan-Alasan dari pihak yang tidak merasa puas ter-hadap susunan kabinet baru ini adalah a. l. :
- masih adanya terlihat dalam susunan kabinet itu orang-orang yang digolongkan “plintat-plintut” dan nama-nama yang disebut-sebut adalah seperti Leimena, Ruslan Abdulgani, Sarino, Sumarno, Mulyadi, dll.
- jumlah menteri masih terlalu banyak dan belum menunjukkan efisiensi dengan jumlah yang sekarang itu.
MEN/PANGAD memberi penjelasan bahwa keenam Waperdam yang duduk dalam Presidium itu mempunyai pembagian tugas garis besar sbb: tiga orang Wakil Perdana Menteri, yaitu Sri Sultan, Adam Malik dan Men/Pangad sendiri yang diserahi tanggung-jawab penuh, sedang ketiga lainnya, yaitu Idham Chalid, Leimena dan Ruslan Abdulgani hanya mempunyai wewenang administratif saja.
Jumlah Menteri 24 orang saja sedang selebihnya adalah depuc menteri, yang statusnya jelas bukanlah Menteri. MEN/PANGAD menyerukan supaya semua demonstrasi disalurkan secara tertib melalui forum-forum yang sudah ada, seperti DPRGR, Front Nasional, dsb.
Kebijaksanaan Kabinet baru
Dari trituntutan Rakyat, dua sudah dipenuhi, yaitu:
- Pembubaran PKI
- Reshuffle Kabinet
Tinggal sekarang tuntutan yang ketiga yang memang paling sulit untuk dipenuhi, yaitu memperbaiki keadaan ekonomi yang diwariskan dari resim-resim yang lalu. Untuk jangka pendek, yang berhubungan dengan penurunan harga, halmana bertalian pula dengan inflasi dan kestabilian keuangan umumnya, dapat difahami tidak mudah penyelesaiannya.
Semoga Pemerintah, dengan bantuan segenap lapisan Rakyat dan Masyarakat dapat mengatasi kesulitan ekonomi yang sudah bertahun-tahun menjadi problima Negara kita itu.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.