LIMA PULUH TUJUH DONGENG DARI BINATANG
RADEN BAGUS MUJARAD
KOLOFON
LIMA PULUH TUJUH DONGENG DARI BINATANG
oleh
RADEN BAGUS MUJARAD
TERTARA DI PERTRAAN KARAJAAN WOLANDA DI BATAWI.
1860.
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: babel.hathitrust.org
Ilustrasi sampul: The Hare and the Tortoise 1950, karya Antonio Frasconi
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
1.
TUKANG TANGKAP IKAN DENGAN IKAN KECIL
Pada satu hari sa orang tukang tangkep ikan lempar pancingnya di ayer, tiada lama ada ikan kecil, dari kurang ati ati nya, makan itu pancing. Tukang pancing angkat dia. mau di masukkan di tampat ikan; itu ikan terlalu takut melihat takdir yang dateng padanya; antero badan gemeter, cari akal akan lepas dirinya dari claka besar itu, iya mendapet juga, ya-itu bicara manis, minta kasihan pada tukang tangkep ikan, katanya dengen keroyok: ya sahabat! lepaskan saya-tah, sebab saya masih kecil, tiada faidah seberapa padamu. Sahabat lempar pancing lagi saja, sabentar tentu nanti dapet sapeluh yang besar besar; biyar saya menyadi besar dulu, besok-besok jikalu saya sudah besar, pancinglah akan snaya lagi.
Tukang tangkep ikan menyaut: hei, kawan kecil! de-ngerlah perkataan-ku. Kau mau bedayain aku, itu tiada laku; jikalu sakarang aku lepaskan angkau, kira-kira salamanya tiada angkau mau makan pancing lagi. Kau sudah jatoh di dalem koasa aku, dari itu kau misti menu-rut putusan aku; maka putusanku, bangsat kecil! nanti kau masuk di penggorengan, itu putusan yang baik sekali.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Barang siapa gantikan baraug yang soodah tentu dengan barang yang belon tentu, itu kurang ingetan-nya.
2.
KUWUK DENGAN MACAN TUTUL
Ada saekor Kuwuk berjalan-jalan dengen pikirannya dan tiada melihat kanan kiri. Maka dengan kagetnya iya merasa tanah yang di injak itu lollos, lantas masock di lobang yang dalemnya kira-kira 8 kaki. Maka iya coba meloncat ka atas dengen sakuatnya, tapi tiada sakali sampe di atas. Maka habislah akal budinya, sampe mukanya pon pucet sakali, dari kata-kutan bahuya yang nunti dateng padanya, lalu iya mengaloh dengan kras.
Tiada lama maka adalah Macan-tutul denger mengalohnyu Kuwuk itu, lalu dateng kalobang itu, hendak tau apa halnya. Srenta Kuwuk liat Macan, lantas minva tulungannya serta kutanya: tulunglah saya Macan! jikalu tiada bagitu, tentu saya niati; lihatkanlah gunamu pada sahabat lama.
Maka tertawalah Macantutul itu serta kerja malu pada Kuwuk itu, katanya: ai, bagus sakali rupamu di dalem lobang; itu baik, maling ayam!—Aku heran sakali bagimana kau sampe masock di situ; coba cerita betul saja, kenapa kau suka masock di lobang itu? Maka menyaut Kuwuk itu perkataan tiada tau malu, dan adatmu tiada baik. Jikalu kau lekas membri tulung, habis lantas kerja nalu padaku, itu pantesnya juga.
Maka Maksudnya ini dongeng bagini: Siapa memalockan orang claka, itu tanda hatinya tiada baik.
3.
ANJING-UTAN DAN BURUNG GAOK
Ada saekor Anjing-utan jalan sapanjang tepi kali, serta membau-bau kepengin dapetna makanan yang enak sedikit. Maka tiada luma iya meliat burung Gaok saekor du-duck di tangke pohon besar dengan mulutna pegang daging sepotong besar, hendak di makan di situ juga. Maka kata Anjing-utan pada dirinya sendiri: ya untung sakali aku; Gaok tiada nanti kau makan itu daging yang enak; jikalu aku tiada bisa dapat itu daging, maka nama aku bukan Anjing utan lagi.—Maka lantas iya jalan kabawahnya pohon besar itoc serta katanya: ai! bagus betul burung itu, bulunya itam berkilap-kilap, aku heran sakali, salama aku hidup baru melihat ini burung bagitu bagus; coba iya bisa babunyi kras dan bagus, nanti aku sebutkan dia raja burung.—Maka kepengin sakali Gaok itu dapat nama Raja-Burung, serta hendak juga menunjukkan indahuya swaranya. Maka iya bertereyak dengan nyuring suwaranya lantas jatohluh dagingnyia serta di bawa lari oleh Anjing-utan dengan ketawanya.
Maka maksudnuya ini dongeng bagini: Janganlab percaya pada orang yang alemikan dirimu di hadepanmu karana itu bolkh, jadi jalan kasusahlan padamu.
4.
ANJING-UTAN, KAMBING ANAK DAN KAMBING LELAKI
Saekor Anjing-utan, sahnri jikalu berjalan carai makan tentu ketemu dengan Kambing-anak satoo yang montok; sayang sakali itu Kambing anak ada temen Kambing-lelaki besar dan kuat. Maka kata Anjing-utan pada dirinya: Si-apa mau dapat untung di paksa membranikan dirinya.—Pada satu hari Anjing-utan kadapetan lagi dengan Kambing-anak dan temennya, maka kaluarlah akal dan braninya. Maka dulunya kasih tabeh pada kaduanya itu habis iyalantas bicara: hei Kambing-anak yang manis amat! kenapa kau sari-sari berjalan dengan binatang yang busock itu? baik kau ikut kuliling mamamu; jangan kau percaya di jaga binatang jelek itu, marilah aku anter katempat mamamu.—Kambing-anak menyaut: taulah Anjing-utan! kutika aku baru sakali injak tanah lapang ini, mamaku sudah kasih temen Kambing-lelaki itu, supaya jaga aku, itu sebab dari cintanya mama padaku, dan Kambing-lelaki itu selain manya jaga baik dan merembukken padaku apa yang baik dan patut. Lu yang melakockan perkataan manis padaku dan menyelah Kambing-lelaki, tentu ada hajat jahat.
Maka maksudnya itu dongeng bagini: Jangan buta kena perkataan manis, itu Kambing anak teladanya. menurutlah, katanya orang-orang tua-tua mu, menurut itu perlu yang paling tinggi sendiri.
5.
LALER DENGAN KARETA KECIL
Ada satu kareta kecil di tarik kuda dua lari bercung-klang di ratan yang bekoral. Maka ada satu Laler, boleh di kata besar, kadapetan di jalan dengan kareta itu, lantas dudok di blakang kareta itu dan kata: ya sakarang muatannya ini kareta tentu menyadi lebih brat.—Sabetulnya tempo Laler mulai dudok, jalannya kuda menyadi kendor, maskipon yang tunggang pukul kuda sampe kras, jalan-nya tiada bisa lebih kenceng juga. Kendornya jalan koo- da itu, tiada bunt heran, sebab sakarang ratan tiada bekoral lagi, tapi bepasir, dan rodanya sampeh dalem masuk di pasir. Kiranya Laler, betul dia yang membratkan kareta itu, katanya: ini bolehlah di kata brat, kira-kira tiada yang lebih brat dari gua.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Betul bicaranya Laler itu tertawakan orang, tapi juga orang beberapa yang lagaknya lebih kerja tertawa dari Laler itu.
6.
BURUNG MERAK DAN BURUNG SANGDANGLAWE
Ada saekor Sandanglawe basiar dengan Merak sahabatnya di mana tanah lapang; sapanjang jalan bicara-bicara dengan senang; tapi tiada lama senangnya itu berganti marah. Adapun mulainya marah, sebab Merak kabesaran, tiada sudah mengatakan indahnya bulunya, apa lagi bulu ekornya, maka iya mulai betandak dan melihatkan bagimana bagus bulu ekornya, katanya pada Sandanglawe: hei liat! tiadalah bulu indah saperti priyassan badan ku yang beremas, di mana ada kipas yang lebih bagus dari bulu ku? .—Maka marah Sandanglawe itu, sayabnya di bukanya lantas trebang kalangit, sakejep mata campur dengan mega-mega serta berkata pada Merak yang masili juga bertandakkan bagusnya bulu ekornya: hei Merak, burung yang amat bagus! marilah trebang kaatas, bersama-sama aku. Kau mengalemkan bulumu, itu aku sudah tau dan betul juga, tapi tunjuk-kan lah gunanya pakeyanmu yang berkilap itu. Bulu ku betul jelek, itu aku sudah tau, tapi kuat bisa bawa badanku sampeh di mega-mega senangkan hatiku. Dari itu Merak! jangan lagi sakali kau puji-bulumu yang tiada boleh di pakeh terbang.
Maka maksudna ini dongeng bagini. Barang bagus yang tiada guna, akan orang mengarti tiada laku.
7.
ORANG DESSA DENGAN ANAK-ANAKNYA LELAKI
Ada saorang dessa terlau susah hati, sebab tiada hari lalu tentu anak-anaknya berkalai; perkataan bapa sudah tiada berguna. Maka pada satu hari orang itu panggil anaknya lelaki tiga-tiga katanya: hei anak-anak ku! kau orang muda-muda aku kira yang kau sedengnya kuat-kocat; ini lah ada lidi satu ikat, marilah siapa bisa putuskan itu, nanti aku kasih persen satu kuda tunggang.—Anak tiga-tiga berganti coba putuskan itu iketan lidi dengan saku-atinya, tapi tiada satu yang bisa putuskan, satu lidi juga tiada putus. Bapanya katawa: hei anak-anak ku! aku sudah tau yang tiada nanti kau bisa putuskan itu iketan lidi, coba kau lepaskan itu tali iketnya, tentu gampang saja di putuskannya. Itu lidi jadi upama angkau orang katiga, jikalu angkau bertiga idup berdamai, tentu tiada gampang kena ceyak, tapi ceyak lekas dateng jikalu berdamian itu ilang.
Maka maksudna ini dongeng bagini: Berdami inengadakan kuat, bermusuh yang mengilangkan.
8.
ORANG DESSA DENGAN BURUNG CANGAK
Ada saekor buroong Cangak sebab dari kurang ati-atinyia pigian bersama-sama burung lain-lain banyak, yang cu- mah melakukan jahat saja; Maka belom lama berjalan, burung samua itu kena jaringnya orang desa. Kutika itu samua burung cengang dan getun; adapon orang desa bersuka hati melihat burung bangsat samua sudah termasook di jaringnya. Orang dessa pegang itu burung samua dari satu persatu dan sebab dari marahnya samua burung lehernya di puter. Srenta Cangak mase trima hokuman bagitu juga, berkatalah: ya juragan! saya harep yang vonnis saya jangan bagitu brat saperti itu burung-burung bangsat, harus saya dapet am pun, sebab belom saya melakukan jahat dengan burung-burung itu, lebih lagi saya tokang mengilangkan bangsat sawah, dan banyak kabajikan saya. Orang dessa menyaut: itu perkataan samua tiada laku, sebab kau kadapetan berkumpul pada burung bangsat itu, kau menyadi kena dakwa jahat, dan tiada boleh tiada ini vonnis misti di julankan. Leher Cangak lantas di puterkan.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Berharganya orang idup sabagimana kumpullannya.
9.
MAMA DAN ANAK KECIL DENGAN MACAN
Saorang prampeoan muda ada anak masih kecil tiada brenti menangis saja. Mamanya hendak kerja diam dia, berkata anak: anak bangor! kapan kau tiada mau diam, nanti aku tanya pada Macan, apa mau kau, aku tiada tahan denger kau menangis,—Kutika itu di katakan, betul ada satu Macan laper jalan deket itu rumah, bersuka-suka dengernyu itu perkataan, lalu dudok menginte di pintu, rasa hatinyu: ai untung besar aku, itu anak di sadiakan pada ku, salamanya kira-kira belom aku makan bagi'u enak; maskipon Mamanya mura-li-marah, tiada nanti dia diam, dan jikalu itu Mama pegang basanya, anak gemok itu tentu aku punya, baiknya aku bernanti di sini saja. Maka tiada lama anak kecil itu diam, tapi lagi sabentar mulai menangis kras lagi saperti yang tadi.—Mamanya kata lagi: ala sayang! ala sayang! diam lah anak ku, anak manis, kasih ci-um Mama lah, tiada nanti aku kasihkan angkau pada Macan, binatang jahat itu. Macan lantas kata pada dirinya: O ya! sakarang lain rupa, maskipon aku bernanti di sini antero malem, tiada ada faidah juga, sakarang aku dapat ajaran, perkataan yang saperti basanya prampuan itu, tiada pantes di tentukan, tadi di marahukan ampir-ampir cekek dia, sakarang “di ciumin.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Janji dan pegang janji, itu lain sakali.
10.
KALDE BERMUAT JALAN DENGAN KUDA
Saekor Kalde di taruk muatan banyak sakali, jalan bersama-sama dengan Kuda yang besar hatinya serta tiada muat satu apa, bicaranya Kalde ya badanku sangsara sakali, dari bratuya ini muatan blakangku merasa kurang sabentar nanti putus. Ya Kuda sahabatku! sebab kau ada kuat sakali dan tiada muat satu apa, saya meminta padamu, enteng-kanlah takdir saya ini dan tulung bawakan muantaku ini barang dua bungkus saja, jikalu tiada bagitu tentu saya jatoh mati di jalan.—Kuda menyaut: sunggoh gua tiada kira yang kau brani katakan permintaan padaku saperti itu; keoping panjang! satu kati aku tiada nanti ma-u tulung bawa; bangsa kau itu binatang cumah pantes di kerja muat, lain daripada bangsaku, bangsa tinggi, da- ri itu aku girang-girang berloncat-loncat kanan kiri tiada di larang.
Tiada sampeh jalan sadikit jauh Kalde jatoh dari kabratan mocatan dan juga menyadi mati. Maka Kuda getoon sakali; yang tadi tiada mau tulung; sakarang orang yang anterkan paks Kuda angkat samoca mocatan Kalde dan kultnya Kalde yang bareusan mati itu di tambahkan.
Maka maksudnuya ini dongeng bagini: Siapa tolak orang minta tulung itu sering di paksa pi-kul barang lebih brat.
11.
ORANG TUA DENGAN MALAKUL MAUT IJRAIL
Ada saorang miskin tua dan pencarianinya terlalu brat sakali sampe iya bongkok blakangnya. Maka pada satu hari pikul kayu tangke-tangke saikat maunya di jual. Sudah-lah jalan sadikit jauh satelah merasa terlalu capeh, ta-rukkan itu kayu di tanah. Di itu tempo orang tua itu merasa susah amat, mengaloh dan berkata: saya tiada kuat hideop bagini sangsara lebih lama lagi, bagimana kras saya bekerja sahingga sampeh bekringet dara juga faidahnya ampir tiada sasuap, ya lebih baik saya lekas mati. Ya Tuhan maha besar Malakul maut Ijrail! datang lah! lepas-kan hamba Tuhan dari hideop sangsara ini.—Adapon sa-sudahnya berkata bagitu, tiada lama dia denger daon-daon bersuara, Malakul maut dateng, tanya pada orang tua itu ada kerja apa kau panggil gun?—Yang di tanya kaget ter-lalu dan katanya keroyok: Malaikat! Malaikat! hamba min-1a—hamba—hamba minta—tulung—biar angkaikan—ang-katkan—ini kayu—pada—pada—pada—pundakku.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Maski hidup ini berlengket dengan susah, pon iya manis juga, orang tua itu teladannya.
12.
ANJING-UTAN DENGAN KAMBING LELAKI
Saekor Kambing lelaki terlalu beraus nyebur di solokkan yang ada ayernya. Maka tiada lama ada saekor Anjing-utan juga turut nyebur di sollokkan itu dari mau minuny. Binatang dua itu suka hati sakali badannya menyadi seger dari kenyang minum. Tapi baru sabentar sukanya di ganti susah, dari sebab itu sollokkan ada sadikit dalem, tiada bisa bloncat kaluear. Kambing lelaki lekas bingung dan bebunyi kras, tapi Anjing-utan tiada mau liatkan bingungnya dan diam saja, tiada lama lantas bicara; aku sudah duper akal dan isarat yang bisa tulung kita herdua, Kambing! jangan terlalu susah! lekaslah bediri saja, kakinu yang di depan panjatkan tal di tanah yang kut supiya aku bisa naik di lehermu, habis lantas terus bloncat kaluear; bagimana kawan! apa kau sudah mengarti? kapan aku sudah di atas, tinggul pakerjaan sadikit saja, isarat kovatnya gigi ku nanti aku tarik kau kaatas.—Kambing menerut apa katanya, Anjing-utan satelah bisa kaluear; tetapi tiada sakalian ingat mau tulung temennya, tambah tambah memalukan, katanya: hei jenggot panjang! bodo sakali angkan, apa gunanya kau percaya bangsa Anjing-utan? Sekarang aku kasih ajaran padamu, barang kali boleh tepake de blakang hari; sabelonnya kau masuk di sollokkan pikirlah duu bagimana kau nanti kaluear.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Celahtuh pada jahatnya Anjing-utan, tapi ajarannya baik di inget; segala perkara sabelonnya di jalaukan, pikir-lah dulu.
13.
BURUNGRAJA DAN GAOK
Tercerita Burungraja yang kukunna menakutken sekali, terbang kabawah pegang kambing anak dengen kukunna di bawa terbang kalangit hendak di makannya. Deket di itu tempat ada saekor Gaok, yang lihat saktinya Burungraja itu dan bicara pada dirinya: ai sakti betul itu Burungraja, tapi juga sendiri brani botaruk, yang sakarrang ini juga bisa bawa kambing yang baar itu, saperti Burungraja tadi, mawki kaki sendiri kecil, pon tiada jadi menapa. Gaok tiada bisa tahankan besarnya ingettan, lekas menouret tingkahnya Burungraja tadi, tapi tiada menjadikan sukanya tiba-tiba menyadikan celakanya, sebab kakinya terlilit dengan rambut kambing yang tebel, serta yang jaga itu kambing lekas tangkap dia, zayapnuya duadua di cabutkan bulunya. Yalu di kasih ken buat mainan anak-anak nya Maka tiada lama Gaok mati sebab anak-anak siksa dia.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Siapa percayaken kuatnya sendiri dengen tiada pake kira, sering jatoh di sangsara.
14.
GAOK BERPAKE-PAKE DENGAN BULU BURUNG MERAK
Ada saekor Gaok bodo berlaguk-berlagak dan kabesaran. Satu tempo dia berpake-berpake bagus lebih dari misti, adapon yang di pake itu bulu Merak yang sudah tercabut. Lagak kabesaran sebentar boleh kerja glap mata Habisnya Gaok sudah berpakeh, maka membesarkan laher-nya dan malu kompul dengan bangsanya yang item, setelah cari kompulan burung Merak yang bagus rupanya, dia hendak berkumpul dengen itu. Tapi pengarepanya itu salah, sebab sagala Merak rampas bulu pakeyaninya itu, lebih dulu di kerja malu, habis di oosirnya. Maka Gaok cari plindungan pada bangsanya, yang tadi sudah di ceIah; temennya juga usir dia, katanya: kau pigi yang lagak kabesaran! tiada pantes Merak kumpul dengan Gaok, sagala Gaok itu bangsa miskin. Satu temen tiada yang kasihan padanya, dia lantas pigi satelah mati dari susahnya.
Maka maksudnya ini dongeng bagini:
Orang yang berkumpul dengan orang besar sebab banyak hartenya, jikalu hartenya sudah habis, di trima ‘sembarang pada orang besar-besar itu dan tiada di hormat oleh temon-temennya.
15.
KANCIL KATAKUTAN
Pada musin panas ada Kancil baring-baring di bawah pohon besar, temennya lima atawa anem. Baru Kancil enakenak bicara-bicara satu dengan lain, ada angin ribut dateng, sampeh iya pucuknya pohon-pohon sahingga ampir ke-na di tanah. Kancil katakutan bekrataknya angin ribut, lalu lari sakrasnya sahingga tiada injek tanah dengan tiada sat tu brani lihat ka blakang, saperti brapa anjing buru dia.
Adapon larinya Kancil samua katanah lapang, tiada kiran-nya nanti brenti lari sahingga tiada katolak satu rawa. Maka Kodok-kodok yang ada di rawa, kaget dari datengnya Kan- cil bagitu lekas, satelah kodok samuc silemkan badannya di ayer. Coba Kancil tiada capeh dan masih gumeter dari tautnya tadi, kiranya tertawa lihat tingkahnya kodok itu, sakarang cumah heran saja, kenapa kodok takut padanya, sebab bangsa Kancil tiada biasa ganggu kodok. Ada saekor Kancil yang tua berkata pada temennya lari: hei sahabat-sahabat! aku sakarang sudah tau betul, aku dan kau samuc tadi lari dari sebab takut pada bekratakna angin, itu tingkah bodo dan tertawakan, saperti tingkahnya itu kodok takut aku dan kau yang tiada ganggu padanya.
Maka maksudnyia ini dongeng bagini: Jangan takut pada sagala yang tiada bisa kerja jahat padanu; adapon orang penakut, takut pada bayangannya sendiri.
16.
ANJING-UTAN DAN SINGA
Anjingutan mengadu kahadepan Raja binatang, bicarany: ya Sri Paduka Maha Raja! satianya hamba Sri Paduka yang mendatengkan perkataan ini kahadepan Sri Paduka. Ada saekor Kulde celaka, brani-brani celahkan dan tertawakan karajaan Sri Paduka Maha Raja, katanya: hal bijak-sana Singa katinggalan dengan Gaja; hal kuat Macan lebih dari dia; marilah coba pikir! apa itu tiada malu-malu-kan? bicaranya Kalde bangeat, barong Sri Paduka yang herankan hamba amat, juga ekor Sri Paduka yang terlebeh kuat, di bawahkan dengan rambut dan ekor Kuda.—Anjing-utan baru bicara sampe sabagitu, Singa menyaut: diam! kita capeh dengerkan tanda satia mu. Bicara jahat tiada usa di katakan. Yang mengomong bagitu apa kalde apa Anjingutan kita tiada perduli.
Maka maksudnyia ini dongeng bagini:
Siapa'arah sebab dari omongnya bangsat, itu bodo; berbocatlah apa yang baik, jangan lihat kanan kiri, itu pokkokuya bijaksana.
17.
ORANG SAKIT
Jikalue orang di takdirkan kaya, tinggi pangkatnya dan mulia, banyak sahabatnya dan bujangnya dengan rajin melakukan printahnya, itu kiranya anak-anak, satu orang beruntung; tapi itu pengira boleh bersalah. Di cerita ada saorang di takdirkan kaya saperti yang sudah tersebut itu, tapi tiada »akali boleh di katakan beruntung, sebab dari sakitan dia tiada socka makan, maski juga makanan yang paling enak sakali. Sahari-hari mengaloh tiada tau apa sebab sakitnya, badannya mereiyang, siang malem ngaleleh di kavur saja, dengerkan lonceng yang tunjukkan itu waktu pukul brapa. Beberapa dukun yang sudah obatkan dia, juga obatnya tiada tulung satu. apa. Seringkali orang kaya itu socka sendirinya lekas mati, sudah anem tahun dia tinggal bagitu saja. Maka di bl'akang hari ada dukun baru yang kata bagini padanya: diamkan itu segala minum obat, dau suru sagala dukun pigi saja, sebab angkau punya sakit cumah boleh jadi baik isarat makan rijeki yang dapet dari karinget sendiri.
Maka maksudnuya ini dongeng bagini: Ajarannya itu dukun ada elok, tapi juga di jalanin pada yang sakit dan jadi baik juga.
18.
MENJANGAN, KUDA DAN MANUSIA
Saekor Kuda bekalai dengan saekor Menjangan. Kuda kalah, di usir dari utan tempatnya, bicaranya Kuda: aku tiada tahan merasa malu besar ini, muda-mudahan biar aku bisa bales ini malu. Ya sakarang aku sudah dapet akal, si Manusia tentu mau tulung baleskan akan aku.—Dengan sigra Kuda pigi karumah Manusia, minta tulung, baleskan malunya. Maka Manusia menyaut: ya, kita hendak juga tulung baleskan, kapan kau mau kita taruh kandali dan kita tunggang; Maka Sebab marahnya Kuda me- nurut juga permintaan Manusia itu, mungsuhnya Kuda niscaya mati dari senjata Manusia, tapi Kuda tiada dapet suka dari matinya itu, sebab salamanya Kuda di paksa tahanan kandali.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Orang yang hendak hidup sendiri, jikalu dapat malu, banyak ingetan mau bales, tapi kapan melalukan itu pam-bales sering dapat hukuman yang lebih brat.
19.
KUWUK PATAH EKORNYA
Saekor Kuwuk kurang ati-atı sampeh ekornya temasuk di racik, tiada bisa lepas lagi. Maka dia tiada pikir lama lagi, ekornya lekas di gigitinya sampeh patah, lalu lari ka utan berkumpul dengan temennya serta berkata pada itu kawan: hwi sudara-sudara ku! sudah bebrapa kali kau tau yang mengartian ku cunali menjadikan slamat saja pada mu. Sakarang aku mau tunjukkan padamu lagi satu perkara yang herguna; rahsia itu ini adanya: gigitin lah ekornu sampeh patah, percaya aku, itu ekor kerja je-lek badan, jikalu di pake lari capehkan, dan bratkan, ikutlah telada ku ini.—Kawannya tiada satu yang mau turut kata manis itu. ekor pengasihnya takdir di masihkan dan tertawakan Kuwuk yang ekornya patah itu.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Di dunia tiada kurang ajaran yang kalocarnya cumah cari faidahnya sendiri.
20.
SAMPI LELAKI DAN SINGA
Ada sampi lelaki ampat, hideop berdamai satu dengan lain, dan satu hati melawan mungsuh yang kuat, ya itu singa, yang bertempat di utan deket pada tanah lapang, di mana sampi biasa cari makannya. Maka sudah lama singa mengincer sampi yang gemuk-gemuk itu, tapi brapa kali dia kaluear mau tubruk sampi itu, tentu kadapetan berkumpul satu dengan lain.
Singa rasa tiada kuat lawan sampi ampat sama sakali, dan tunggu tesiar ny sampi itu bebrapa kali, juga tiada berunga. Sahingga singa sudah cape kaluear akan sampi itu dan ampir tiada mau kaluear lagi ka itu, tempo sampi berdakwa satu dengan lain, maka menyadikan tiada kumpulnya lagi Sakarang singa gampang pegang sampi itu dari satu persatu sampe ampat sama sakali.
Maka maksudnya ini dongeng begini: Dongeng ini menyadi ajaran, yang berdamian itu kuatkan, dan berdakwa ilangkan kuat.
21.
ORANG DESSA DAN BURUNG ALAP-ALAP
Ada saekor burung Alap-alap buru burung kecil yang terlalu katakutan lihat tajem kukuna, sampe iya tiada tau akal lagi melainkan jatohkan diri katanah. Salagi Alap-alap buru dia ka tanah, kena di pegang orang dessa; Alap-alap sakarang baganti katakutan dan minta-minta ampunnya orang dessa itu, katanya: ya tuan! ampunkan saya lah! belom sakali saya berbuat jahat pada tuan, dari itu saya minta di lepaskan.
Janganlah berbuat jahat pada saorang yang belom kerja jahat pada tuan.—Orang dessa menyaut: sunggu itu perkata'an ada bener sakali; tetapi kita tanya padamu guru! apa itu burung kecil juga sudah berbuat jahat padamu. Kau mengatakan vonnis angkau sendiri, lu sakarang misti pikul hukoomnyia.
Maka maksudnya ini dongeng hagini: Apa yang angkau tiada mau orang lain berbuat bagitu padamu, itu jangan angkau buat pada orang lain.
22.
ULER BILUDAK DAN LANDAK
Maka tercerita pada satu hari ada terlalu dingin, sebab dari ujan dan angin tiada brentinya. Ada satu uler Biludak kedinginan puter di sana sini cari palindungan tiada dapat, sampe dia dapat di jalan dengen Landak yang baik hatinya serta tegor padanya: ya Biludak, kasian sunggu kau, ini angin tiada baik sakali akan kau, kau kadinginan sampe begilgil saperti daon yang kena angin itu; marilah karu-mah ku, biar badanmu dapet panas sadikit. Itu perkataan menyukakan hatinya Biludak terlalu, dan dia lekas berjalan kalobang rumah Landak. Dari gemoknya Biludak lobang itu sampe ampir penuh, cumah tinggal sadikit yang tiada kena badannya iya amper tiada sampe di tempatin Landak.
Adapon tetamu yang kadinginan itu sakarang badannya sudah dapet panas dan tiada sakali katakan tarima kasih atawa mau pigi dari di situ sabagimana pantesnya, pon enak-enak ngaleleh saja. Landak bicara: sakarang malem sudah jatoh, dengen sudah temponya kau pigi dari sini, sabentar kau tinggal di sini menjadikan suka ku, tapi sakarang baik kau pigi, sebab kau tau sendiri yang ini rumah sampeh di tampatin kita berdua. Maka Biludak menyaut dengan katawa: ini rumah enak sakali akan aku, dan aku tiada mau pigi dari sini. jikalu kau rasa ini tiada sampeh di tinggalin berdua, baik kau pigi cari saja tempat yang lebih lebar.
Maka muksudnya ini dongeng bagini: Maskipon orang berbuat baik sering trima balessan ja-hat, janganlah juga brenti melakukan berbuat apa yang baik, cumah lebih dulu priksa betul saja orangnya yang hendak trimakan baik itu.
23.
TUKANG TROMPET YANG TEPEGANG MUNGSUH
Bebrapa ribu soldadu prang ribut sakali, tukang trompetnya bunyikan trompet biar orang soldadu yang di kiping kiri maju langgar kasana, serta bangunkan branimya soldadu samuna. Tiada lama soldadu temen tukang trompet mundur, dan mungsuh buru di blakang dia. Maka itu tukang trompet tepegang mungsuh. Maskipon pedang mung suhnya yang tajem sudah ampir sampe di lehernya, dia iya juga tiada sakali kalihatan takutnya, saperti satu orang yang sudah biasa belagak tiada takut, itu sebab pedangnya sendiri sudah di lempar di sollokkan. Dia berkata pada mungsuh yang pegang pedang di tempel di lehernya: hei tuan! apa tuan mau potong orang saperti saya? orang yang tiada paku senjata. Saya tiada prang, juga saya tiada hajat jahat, lihatlah yang saya pegang cuma satu trompet saja.
Adapon perkata'an itu tiada laku pada mungsuhnya, maka mungsuhnya menyaut: Oleh sebab kau punya perkata'an sendiri, kau harus di gantung kau sendiri tiada punya kabranian akan prang, tapi kau branikan orang soldadu dengen bunyi trompet.—Tukang trompet lantas di gantung di cabang pohon yang deket di situ. Itu pengabisannya perkara.
Maka makssudnya ini dongeng bagini: Siapa orang yang tusuk-tusuk orang lain biar berbuat jahat, itu harus di hukumkan yang amat brat.
24.
ANGIN DAN MATAHARI
Pada satu hari si Angin berbantah dengen Matahari, katanya: apa kau brani adu kuat dengen gua? kira-kira apa nanti kau tiada kalah? marilah betaruh siapa yang bisa buncangkan slimut orang jalan itu. Maka Matarie menyaut: kau Angin cumah kabesaran saja. Buat iseng-iseng aku mau juga kau ajak betaruh, coba mulailah buncangkan slimut orang itu, jikalu kau bisa, betullah kau kuat. Maka Angin lekas kaleoarkan samua kuatnya sampai iya bebrap pohon tebongkar ‘dan’ laut berombak besar, isi du-nia samua beroyyang, dari besarnya angin orang jalan itu iketken slimutnya di badan dan dudok di pinggir jalan.—Sakarang ganti Matari yang kaleoarkan gunanya, tiada sedikit mendunng dan mehga yang tutup trangnya, panas kuat te-ken katanah, sampai iya orang yang dudok beslimut di pinggir jalan tadi buka slimutnya dan pagang itu slimut di tangan sebab dia bekringet kras. Dia teruskan jalannya dengan girang-girang.
Maka makssudnya ini dongeng bagini: Dari hal pekerja'an tiada bisa abis dengen di paksa, atawa dengen segula kuat, banyak abis cumah dengen akal.
25.
DEWA YANG BERNAMA BAYU DAN ORANG YANG JALANKAN KAHAR
Sa'orang tukang kahar di tengah jalan dapat susah sa- kali sebab kaharnya te masuk di lumpur dan tiada bisa jalan lagi, lalu mendoa minta tulungannya sagala dewa, lebih lagi pada dewa yang bernama Bayu, sebab itu sudah mashur kuatnya. Dia mendoa dengen sujutuyya di tanah, katanya ya maha batara Bayu, janganlah brentikan muatan saya ini di tengah jalan, tulunglah tuan, lepaskan ini kahar dari tengah lumpur yang dalam ini.—Tiada lama itu dewa Bayu turun dari langit heslimut mehga, tapi tiada sakali lihat itu tukang kahar dengen muka manis, katanya: apa kau punya tingkah itu orang sleder? Knapa kau tiada coba kuatmu sendiri doclu dan pockul kras itu sampi, jikalu itu tiada guna, baru itu kau minta tulung padaku, dan nanti kau membri tulungan juga.—Bayu lantas naik kalangit, sabentar campur dengen mehga. Tukang kahar sakarang mulai pockul sampi dengan kras dan juga sabrapa boleh songkal itu kahar, tiada lama kahar bisa jalan. Sakarang tukang kahar tau kuatnya guna manuesia jikalu dengen akal.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Jikalu manuesia mendoa, tapi tiada melakukan ihtiarnya, niscaya itu doa tiada guna.
26.
KANCIL DAN BULUS
Satu Bulus berkata pada Kancil bagini: gua percaya sakali kapan kau kuat dan ceplet lari lebih dari binatang yang lain-lain, tapi aku mau coba apa kau lebih ceplet lari dari aku, dari itu aku ajak kau lari bersama-sama di tanah lapang ini, dan siapa nanti yang bisa sampe pinggirnya yang di sana lebih dulu, itu yang paling ceplet lari.—Perkata'an mostail itu akan si Kancil saperti mengaco, tapi dari sebab elokuya Kancil mau juga di ajaknya lari.—Maka Bulus sudah mulai lari Kancil masih enak-enak menjemur diri saja, rasa hatinya: binatang lemah itu sudah ampir putus napasnya baru nanti sampe satengah tanah lapang ini; gua loncat dua tiga kali sudah sampe di pengabisan tanah lapang lebih jauh aku katinggalan aku lebih jadi mashur.—Kutika itu Bulus sudah amper sampe, Kancil juga masih sabarkan sadikit lagi; srenta mau mulai lari Kancil tau yang Bulus sudah kurang sadikit sampe di tempat. Kancil lekas loncat dan lari sa-perti angin, tapi itu cepetnya tiada beruna, sebab Bulus sudah sampe lebih dulu. Kancil jadi kalah.
Maka maksuednya ini dongeng bagini: Maskipon orang pinter, trang ingatannya dan baik, timba-nganya, jikalu di dalam sagala pakerja'an tiada lekas tentu nanti kadulocean orang lain dan itu yang ambil untungnya.
27.
KALDE DAN BERHALA
Pada satu hari baik, orang kota Rum tunggangkan Ber-halanya di Kalde dengan priyassan di kulingking antero negri, bebrapa ribu orang dari kanan kiri yang dateng hormatkan itu Berhala, menyembah, berjongkok dan sujut di hadapannya, serta juga orang banyak itu pujikan mulianya Berhala dengen lagu.
Maka kiranya Kalde itu sagale hormat dan puji pada dianya, satelah dia lagukan jalannya, rasa hatinya: orang samocea sembah padaku, aku di angkat raja binatang.
Kalde tiada sudah lagakkan jalannya dan kupingnya di bedirikan, bunyi dari girangnya.
Tercerita ada saorang, banggunnya angker, lama tiada liat-kan lain dari Kalde yang betingka itu, maka berkatalah dia pada Kalde: hei kau gila! kau punya rasa salah sakali, sabetulnya bukan kan yang di hormatkan dan di sembah sagala orang ini, tapi Berhala yang di blakangmu itu.—Bagimana kau bisa punya kira manusia sembah Kalde? itu mostail sakali kuping panjang.—Taulah! maskipon Kalde di tunggang Berhala, namanya masih Kalde juga masih bodoh.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Banyak manusia, dia di hormatkan orang oleh pakeyannya baik, kiranya dirinya yang di hormatkan.
28.
MENJANGAN LIATKAN BAYANGANNYA DI AYER
Saekor Menjangan tiada dengan ingatan bebayangkan diri di kali yang terang ayernya, pandeng antero badannya dan berkata: aku ini satu binatang bagus amat, isi utan samua apa ada yang bagusnyia lawan aku? bagimana baguslah tandukku ini, bertangke-tangke dan kocat. jadi priyassan di kapala ku, sabetulnya kapala ku ini saperti timbul utan; tiada kabesaran mulut jikalu aku kata brani ajuk prang binatang yang paling kuat dan juga dengan betaruk. Tapi apa yang kaliatan di mata ini?—kaki ampat-ampat kecil dan lemah sakali; o malu-malukan betul! ya, kenapa tah takdir kasih kaki bagini rupa pada binatang yang indah bagunnya’dan bagus tanduknya?—Baru Menjangan kata sabagitu, dengar swara anjing banyak gonggong dan lari ka tempatnya.—Maka Menjangan kaget dan lari kras, beloncatkan pager-pager dan lain-lainnya, maseok ka utan yang deket di situ. Dari cepetnya lari Menjangan ampir tiada injek tanah, tapi tiada bagitu lama tanduknya terlilit dengen akar-akar, sanpeh iya tiada bisa lari lagi. Anjing dateng rame-rame krubot gigit dia, Menjangan rubuh dan mengaloh: ya. sakarang baru aku tau terang, kaki ku yang tulung bawa lari lepaskan aku dari bahaya, tapi tanduk yang jadi sebab aku mati. Maka maksudnya ini dongeng bagini: Jamaknya, apa yang bagus itu di hargakan, yang ada fai-dahnya di celah, adapon yang hagus tadi sering susahkan.
29.
ORANG PIGI-PIGIYAN DAN PENYAMUN
Saorang pigiyan naik kuda, jalan di ratan yang sunyi sabelah kanan ratan kali besar, sabelah kirinya gunung dan pager, Maka belon lama dia jalan di itu rata“, adalah Penyamun dua kalua dari octan, serta pegang pedang tercabut, panggil-panggil orang yang naik kuda itu: brenti, brenti! serahkan uwang mu atawa jiwa mu. Orang yang naik kuda gemetar dari kagetnya serta takut nanti ilang duwit dan barangnya; belarikan kudanya so-dah tiada bisa, dia lekas behlukkan kudanya nyebuer ka kali. Di kaluarkan dirinya dari bahaya yang satu, tapi masukkan dirinya di lain bahaya yang besar, sebab kuda dan orangnya anyut dan mati, tinda yang tulung. Maka maksudnya ini dongeng bagini: Jikalu bahaya dua dateng padamu, angkau jangan bingung, langgarlah yang paling besar.
30.
MONYET DAN BUAH SARANGAN
Saekor Monyet basiar di rumput-rumput dapet satu buah sarangan yang masih ada kultnya; dia lantas dudok gigitin kultnya sarangan itu, dan sebab giginyia kecil-ke-cil menyadikan ada susah giginyia. Srenta dia gigit sumpe di tempat kulit yang kras, ayer mukanya jadi asem. Kawan-kawannya kata saperti kerja malu padanya: tiadalah nanti kau bisa dapat bijinya yang di dalem, sudahlah lempar saja. Monyet itu tiada dengerkan kata kawannya, tapi te-rusken gigit saja, rasa hatinya. bagimana manis nanti kapan sudah kena isinya.—Tiada lama pakerjaannya itu sudah abis, isinya yang masih bagus dan putih terlepas dari kulitnya, terlalu menjadikan sukanya sebab manis rasanya.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Bagitu juga orang cari mengartian, mulainya susah, tapi jikalud rajin cari, nanti rasanya manis, sebab kalu-arkan untung.
31.
ANJING DAN MACAN
Ada snekor Anjing kadapetan di jalan dengen Macan yang betul lagi kalaperan, maka paranin Anjing, yang go-yang badannya dari katakutan itu dengen liatkan giginya dan menggereng. Tapi Anjing tiada bagitu bingung, sampe iya masih bisa berkata bagini pada Macan: Abang! saya ini kurus, jikalud saya abang makan, kenyang sebraya, baik abang ikut saja kamuna saya pigi, nanti saya tunjuk makanan yang gemok-gemok, di stal kambing tuan saya.—Macan terlalu suka hati denger perkataan bagitu enak, serta ikut jalan sama Anjing. Tapi ‘Anjing bedayain Macan, tiada Macan di bawa ka stal kambing, tapi di bawa ka racik macan, satelah Macan temasuk di cilaka. Anjing lari girang-girang bilang pada tuannya. Tuannya lantas da-teng dengan orang banyak, bunuh Macan itu.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Sagala perkara yang tiada boleh di habiskan dengen isarat kuat, sering putus dengen isarat akal.
32.
SINGA DAN TIKUS
Maka pada satu hari ada Singa tidur. Saekor Tikus brani-brani melancong kulilingnya siteu, sampe iya Singa jadi kaget. Singa pegang itu Tikus kurang ajar, hendak di matikan. Tapi sabentaran Singa lantas inget yang dia raja binatang, jikalu dia membales pada binatang lemah itu, tentu nanti tiada mashur baik Tikus di lepaskan.
Ampat lima hari sudah liwat, Singa jalan-jalan cari makan, temasuk di jaring germa, maski te mashur kuatnya dan begrak sakuatnya, pon juga tiada bisa lepas dari jaring itu, satelah bebunyi kras, swaranya penuhkan utan dan tanah lapang.—Siapa sakarang yang tulung Raja utan itu. Iya itu Tikus lekas lari kaleuar hendak tulung Singa, gigitin jaring dengen giginya yang kecil-kecil, sabentar Singa bisa kaleuar dari jaring.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Manusia hideop sering tepake sakali tulungan orang kecil, dari itu trimalah orang bagitu dengan baik sapantesnya
33.
MENJANGAN DAN POHON ANGGUR
Saekor Menjangan sanget di buru germa, sampe amper putus napasnya; sudah dia rasa tiada punya pengarepan lagi akan jiwanya, kutika dia dapet plindungan, pohon Anggur yang banyak daonnya sampe glap, di situ dia bisa sembunikan dirinya dari mata germa. Maka germa sudah bersasat dari jalannya. Menjangan sakarang bisa bernapas, orang tentu kira, yang Menjangan nanti banyak trima kasih pada pohon Anggur itu, Tapi tiada bagitu, srenta Menjangan yang tiada pake ingatan rasa sudah lepas dari bahaya, dia lantas makan segala daon Anggur, sahingga cumah katinggalan pohon saja.—Germa yang bersasat dari jalannya sudah hajat pulang, kutika dapet liat Menjangan di tampat sembuninya, yang sakarang cumah tinggal pohon saja. Sakarang Menjangan mulai di buru lagi dan tiada lama kena tepegang, Makannya daon Anggur menjadikan dapet hukum yang amat brat dari kurangnya trima.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Siapa membales kabajikan dengen jahat, tentu nanti dapat sangsara oleh sebab kurang trimanya.
34.
SUMPAHNYA MACAN
Saekor Macan suka sakali rusak kambingnya saorang dessa yang deket di utan tempatnya dia. Orang dessa pasangkan racik akan dia, tiada lama Macan kena masuk di racik itu. Orang dessa suka sakali, melihat itu, rame-rame dengen bawa senjata paranin hendak bunuh Macan itu. Macan yang ampir satengah mati sebab dari takutnya, berkata: Sakali ini ampunkan saya tah, tentu saya tiada ambil kambing lagi. Saya sumpah dengen hati tulus dan suci, tiada saya makan daging lagi, salamanya saya nanti cumah makan daon-daon, buah-buah dan ikan aer saja. Orang dessa percaya sumpahnya itu dan lepaskan dia.—Macan girang sakali di lepaskan dan lari kras. Belum ada satu sangat lamanya, dia liat babi-utan menggupakkkan diri di lumpur. Macan bepikir: aku rasa ini babi-utan tiada masuk di itungan sumpah ku, sebab kapan aku rasa, segala daging yang di ayer, itu ikan ayer juga. Macan lantas tubru itu babi-utan serta di makan.
Maka maksudnya ini dongeng bagini:
Siapa percaya sumpahnya orang jahat itu saperti bedirikan rumah di pasir.
35.
ANJING DAN KOCING LELAKI
Ada saekor Kocing lelaki, oleh sbab bisa puter-puter kancing, di sayang pada tuannya maka Anjing yang bisa jaga rumah dan gonggong kras, jikalu berkalahi lebih kuat, tiada di snayang. Kapan tuannya makan Kocing di kasih ikan yang enak-enak dan amoh, tapi bagiannya Anjing cumah roti busook dengen aer saja, tapi tiada lama itu cerita jadi lain rupa. Pada satu hari Kocing sudah makan, piringnya belun di angkat, maka Anjing paranin itu piring hendak jilatnya. Kocing lekas dateng, menggereng dan bedirikan bulul blakangnya, kagetken Anjing. Tingkah itu marahkan tuannya, dan ingetkan barang yang betul. Mulai dari kutika itu sisa tuannya jadi bagianuya Anjing dan bagian Kocing cumah di jilatin piring saja.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Sudah pantesnya orang murka tiada dapet sagala bagian baik.
36.
KUWUK DAN BURUNG CANGAK
Burung Cangak di panggil makan karumah kuwuk, sasudahnuya ter atur dudoknya, makanan lantas ter sadia, warna sayur, tempatnya di piring yang ampir rata saja. Maling ayam kata pada tamu-nya: hei'sahaba! angkau datang di rumah terlalu sukakan hati saya, saya harep ini makanan sadikit biar sahabat trima baik. Marilah dahar yang enak, kerja saperti di rumah sendiri; saya sudah la-per sakali.—Kuwuk mulai hantem makanan, tamunya se-bab cucunya panjang dan tajem cumah bisa isep saus sadikit saja, tapi juga tiada brenti melihatkan girang dan sukanya sebab muranaya Kuwuk daripada makanan, sam-peh iya Cangak membilangkan trima kasih pada Kuwuk, dan ganti panggil makan dia ka rumahnya. Kuwuk jan-ji mau dateng juga.—Sampe pada hari dan waktue yang sudah di tentukan, Kuwuk dateng karumah cangak. Salamanya belun dudok makan sahabat duа itu omong-omong, dengen seneng, tapi waktue mulai makan, Kuwuk asem mukanya dan kentara yang dia marah. Sebab apa Ku-wuk marah? apn makanan kurang baik? apatah makanan ter-lalu sadikit?—Makanan samua sampeh baik, enak-enak dan sampe banyak, daging samua di cincang alus, sayang sadikit cumah tempatnya guti panjang lehernya dan sumpit lobangnya; bicaranya Cangak: marilah dahar saha-bat! jangan bagitu malu-malu, daharlah saperti di ru-mah sendiri.—Kuwuk menggereng, marah dari malunya terlalu, tiada lama Kuwuk pulang diyem-diyem.
Maka maksoodnya ini dongeng bagini: Siapa suka kerja malu orang, tentu di blakang hari dapet bagiannya.
37.
BURUNG CANGAK
Burung Cangak jalan cari makan di pinggir kali be-sar, tiada lama dia lantas dapet liat ikan Gabus besar-besar dan gemok-gemok, maskipon dia doyan sakali makan ikan Gabus, kutika itu dia tiada mau, sebab kepengin makan yang lebih enak, dia cari ikan Tambra. Tiada bagitu jaoh dia jalan, dapet liat lagi ikan Wader banyak; sebab tadi dia sudah tiada mau makan Gabus, sakarang masa mau makan ikan sembarang bagitu. Dia jalan lebih jauh lagi, tiada lain cumah dapat liat ikan Sepat yang kecil-kecil. Dia lekas kembali ka tempat ikan Gabus, tapi satu sudah tiada kaliatan lagi, dia jalan buru-buru katempat ikan yang lain-lain itu tadi juga sudah tiada satu kaliatan; satelah dari lapernya sakarang dia trima makan kodok yang dagingnya kras.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Siapa tolak sagala yang baik, sebab dari mau dapet yang lebih baik, itu sering dapet yang lebih jelek.
38.
AYAM JANTAN DAN TUANNYA
Ada saekor Ayam janten besar hatinya kata bagini: mana ada burung yang hagusnya lawan aku? di mana ada serba pantes kumpul jadi satu saperti aku? dari mula di beranakkkan aku sudah di kata Raja burung. Sudah mashur di alam kuna yang swara ku di tempo malem membagi-bagi waktu, di liatkan dari muka atawa dari blakang aku cumah pantes saja. Samua pakeyan ku mekilap; kapan aku berjalan belagak serta pelan ampir samua mata lihatnyia pada aku saja.
Siapa punya bini banyak saperti aku? Jikalu sagala Ayam-biyang kumpul padaku, maka ada yang brani ganggu padanya, nantikan lah te makannya paku kakiku.—Baru Ayam-jantan kata sampe sabagitu. denger di blakang ada orang katawa saperti membantai katanya itu sanua. Dia marah sakali dan lekas balik blakang mau tau siapa katawa itu; tiada lain dia cumah liat Tuannya yang bediri di blakang dia.—Tuannya tanya padanya: kenapa kau memalukan gua dengen perkataan itu samua. Ayam-jantan monyaut: apa perkataan itu samua tiada betul? Tuannya kata: bicara mu yang kabesaran itu, cumah kerja aku katawa, sebab, siapa aleman dirinya, itu boleh dapet suka hati dari katanya aleman itu, tapi harus di celalh.
39.
ORANG DESSA DAN SAMPINYA LELAKI
Sorang dessa punya sampi lelaki saekor, masih muda besar dan gemok, tapi tiada socka di pake pakerja. Sari kapan dia misti tarik maluku tiada mau jalan betul, kapan di pukui lantas mulai pasangken tanduknya. Akan hukum bangurnya itu, tanduknya di gergaji dua-dua; katanya orang dessa: tentu nanti dia tarik baik. Kutika di pasangkan maluku lagi, betul tiada bisa pasangkan tanduk lagi, tapi sakarang mulai pingkal, sampe badannya orang dessa antero penuh lumpur. Orang dessa marah terlalu, kata-nya: kau bangsat! tentu nanti tiada bisa marahkan aku lagi, aku sampe ajar pada mu tapi kau tiada mau jadi baik, baik juga kau ada gemok, nanti sabentar aku kirin kau karumah tukang potong, supaya ilangkan kau punya bangur.—Pada lain hari sampi yang tiada mau angkat kerja di potong.
Maka maksaednya ini dongeng bagini: Siapa di kasih pakerjaan tiada mau angkat, dan ku-rang trima kabajikan tuannya, tentu nanti dapet yang tiada baik.
40.
BURUNG KECIL DAN KOCING
Ada burung kecil satu, sudah bebrapa hari liat ting-kah Kocing beranak, anaknya sering sakali di pindahkan, rasa hati burung itu: ai cerid betul Kocing itu, anaknya di pindah pindahkan, sopaya jangan ada yang tau di mana tempat anaknya, takut barangkali di ganggu. Burung tanya pada Kocing: hei nhang! di mana abang sudah belajar akal dan penjagaan yang saya alemkan ada faidah itu.—Kocing menyaut: aku dapet ajaran dari hikayat badan mu; anak mu yang cumah tinggal di satu sarang saja, sering sakali ilang di colong, dari itu aku jaga anak ku jangan nanti di mencuri.
Maka maksudnya ini dong: ng bagini: Siapa bisa tandain tingkah orang lain dan bisa pilih mana yang salah dan ini yang betul, maka mau pilih yang betul, tentu lebih lama lebih jadi baik.
41.
RAJA-KODOK
Di satu rawa banyak Kodoknya, samua Kodok itu hiduper berdamian dan tiada yang ganggu, tapi samua Kodok belom trima dapet untung sabagitu, dan mendoa pada dewa, biar di kasihuya Raja, yang hukumkan salahuya. Dewa itu katawakan permintaan Kodok itu, dan lempar sapotong balok karawa, katanya: marilah ini Raja mu.—Menyemburnya ayer kutika jatohnya balok di ayer, mulainya menjadikan takuinna Kodok, dan tiada brani deket pada Rajanya. Lama-lama Kodok liat yang Raja itu tiada begrak-begarak, dan saperti mati, dari itu coba pelan-pelan mendeketin Rajanya itu. Kutika tau yang betul Raja itu tiada bisa begarak, dan tiada kuwatirkan, lantas banyak yang beloncat naik di badan Rajanya, dan bernainkan Rajanya itu.
Adapon Kodok tiada trima dapet Raja bagitu rocpa dan melakukan suruan tiga Kodok besarnya kapada dewa, minta Raja yang punya kocasa. Dewa lantas turunkan burung
Bango satu ka rawa menyadi Raja. Tinda lama Bango mulai makan Kodok sabrara banyak saperti sukanya. Kodok sakarang mulai lagi mendoa, akan tulungkun dia kaluar dari siksa Bango, dan kombalikan Raja yang tiada punya kuasa. Dewa menyaut: aku tiada mau kasih, sebab dulu Kodok sudah belagak, dan tiada tau yang sudah dapat untung sakarang lah tau rasa.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Manusia jikalud sudah dapat enak, rasa lah yang dia beruntung, dan yang banyak trima.
42.
DEWA DAN ORANG TUKANG PUNGUT KAU
Ada saorang potong kayu di utan pinggir kali, wadungnya te lepas dan tenggelem di kali. Dari susahnyia sateluh dudok menangiskan cilakanya, sebab cumah itu wadung isarat carinya makan.—Tiada lama ada satu dewa tu-run dari langit, tanya sebab apa dia menangis. Tukang pungut kayu ceritakan apa yang sudah kajalanan. Dewa lantas silem di kali, tembulnya pegang satu wadung emas serta bertanya: apa ini wadung mu. Tukang pungut kayoo bilang sasungguhnya: itu bockan.—Dewa lekas silem lagi, srenta timbul pegang wadung perak di tangan, katanya; marilah trima ini wadung, tentu itu kau punya.—Tukang pungut kayu tiada mau trima wadung perak itu, sebab bockannya itu punyanya.—Timbulnya katiga kali dari ayer, dewa bawa wadungnya yang betul. Tukang pungut kayoo bersoka-suka hati kutika liat itu wadung dan mau trima itu dengen pujinya serta hormatnya pada dewa yang suka tulung itu. Dewa lalu terkena hatinya melihat satiyanya orang itu, akan upah satiyanya itu, wadung tiga-tiga di kasihkan.
Tukang pungut kayu caritakan apa yang sudah ka jalanana itu saniua pada temen-temennya. Maka satu dari temennya lekas-lekas di tempo itu juga pigi ka pinggie kali akan potong kayu dan sangaja telepaskan wadunguya ka ayer dan menurut tingkah yang sudah tercarita. Dewa juga turun dan mau tulung dia. Tapi kutika dewa timbul dari silemnya dan bawa wadung emas dengen tanya padanya apa iya itu punyanya, dari girangnyia liat wadung yang berharga itu, dia menyaut: itu betul punya saya.—dengen lekas-lekas dia mau trima wadung itu. Dewa benci sakali liat dustanya itu dan wadung emas tiada di kasihkan, juga wadungnyia sendiri tiada di dapetkan.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Adatnya tukang pungut kayu yang doclu, membetulkan katanya orang kuna: satiya tanggungkan pengidupan.
43.
ESOPUS MAIN-MAIN DENGEN ANAK-ANAK
Saorang negri Atene pada satu hari meliat saorang bernama Esopus kumpocel bermain dengen anak kecil-keci! , satelah dia katawa. Esopus itu orang sudah tua, tiada tahan jikalu orang katawakan dia. Dia lekas masuk karrumah dan ambil gandewa di lepaskan taligandewanya, katanya pada yang katawakan dia itu: hei jamhur! marilah badeh rahsianya gandewa di lepaskan taligandewanya.—Yang di katain lama berpikir rahsia itu, dan tiada bisa dapat juga; dia menyaut yang tiada bisa dapet, Esopus kata dengan katawa: maka rahsianya bagini, jikalu gundewa tiada di lepas talinya menjadi lekas lembek barangkali juga patah, tapi jikdu di leyaskan tali gandewanya, kuanya menjadi tahan lama.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Budi manusia upnna gandewa, jikalu tiada di kasih-raya brenti, satelah hilang kuat dan tajamnya.
44.
SINGA DAN TIKUS
Saekor Singa kecapeyan dari cari makan rebah-rabalihan di bawah pohon besar satelah katiduran. Baru Singa tidur, ada Tikus lima ekor bas'ar lari lari dan beloncat di atas blakang Singa, sampeh iya Singa menyadi kaget dan hangun, maka pegang satu dari lima itu, mau di mati-in.—Tikus minta-minta am pun, dan katakan bagimana tiada pantesnya Raja binatang tumphahkan darah binatang lemah bagitu. Singa pikir pantes juga kasilkan permintaan tikus itu, dan lekas Tikus di lepasnya. Tiada lama duru pada hari itu, Singa berjalan kuliling di antero octan cari makan, maka terkena di jaring germa; sebab tiada bisa knlocar dari jaring itu, Singa herbunyi kras. Tikus kenal yang itu swaranya Singa, dia lkas kaluear, mau tau ada perkara apa dan paranin tentpat Singa. Kutika Tikus tau bagimana Singa terkena di jaring, dia kata yang Singa tiada usah takut, sebab kabajiakannya kapan hari menjadikan persahabatan. Tikus lkas gigitin juring, tiada lama belobang lebar dan Singa bisa kaluear.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Berhunt baiklah pada sagala manusia, tentu nanti angkau trima balessan baik.
45.
ANJING NGELELEH DI TOBONG TAMPAT RUMPUT
Saekor Anjing ngeleleh di tobong yang penokh rumpoct kering saekor Sampi dateng, kalaperan kepengin mau makan rumput kering itu sadikit. Adapon Anjing yang jahat hatinya, kutika tau Sampi dateng, lantas menggerring dan liatkan tajam geginya, tiada kasih Sampi makan rumput kering itu barang sadikit saja. Sampi terlulu susahnya dan lekas balik, katana: ya jahat sukali kau Anjing dus-ta! tiada kau makan itu rumput, ada yang mau makan kau tiada kasih.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Jikalu orang hampunyu yang tiada faidah akan sendiri, maka tiada kasih di mintanya orang lain yang dapat faidah besar dari itu barang, itu tauda yang hatinya paling jahat.
46.
ANJING DAN BAYANGANNYA
Saekor Anjing jahat maling ikan sapotong, lalu lari sampe ka kali yang terang ayernya. Sakurang Anjing miste jalan di jembatan kecil. Bagitu dia sampe di tengah jematan liat ka bawah, tau bayangannya, kiranya anjing lain bawa ikan. Maka dia kepenyin mau rampas itu ikan, satelah menyebur di kali, ya sekarang daging yang sudah jadi punyanya sendiri tehpas dan hilang di ayer dari murkanka.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Orang murka yang mau saja tambah-tambahkan punyanya, satelah sering hilangkan punyanya samua.
47.
ORANG DAN KALDENYA
Ada saorang tua punya Kalde satu, di suru pakerja lebih amat brat; betul di kasihnya makan sampe dan juga sering di lepaskan di tanah lapang yang gemok-gemok rum-putnya, sopaya dia dapat kuat, tapi itu tiada mengilangkan nama pekerjaan brat. Pada satu harie orang tua itu denger kabar yang ada mungsuh besar dateng, dia lekas dateng pada Kaldenya dan mau tunggang dianya, sebrapa boleh biar jalan lekas.—Maka Kalde bicara pada yang punya: hei tuan! bilang pada saya dulu, apa mungsuh yang dateng ini nanti kasih pakerjaan pada saya, bratnya lipet dun daripada pakerjaan saya di bawah printah tuan?—Orang tua menyaut: aku kira tiada.—Kalde bicara lagi: jikalo bagitu tentu saya tiada mau jalan satu pas, sebab akan saya maskipon di bawah printah siapa, tiada feruli, asal pakerjaan saya bagitu brat saperti sakarang.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Siapa angkau pegang saperti leskar, tiada nanti cinta padamu.
48.
BURUNG MANYAR DENGAN ANAK-ANKNYA
Ada saekor burung Manyar kerja sarang di kebon tebu, telornya sudah pecah dan kaluear anak. Kutika itu tebunya sedang sudah tua, kutairnya Manyar barangkali nanti di tebang sabelunnya itu anak-anaknya bisa terhang. Dari itu kutika Manyar mau pigi cari nakon anaknya, pesen pada anak-anaknya, biar dengerkan apa katanya yang punya kehon kalunya datang, dan jikalud dia nanti pulang biar anak-anaknya kerja rapport dari itu perkara. Maka Manyar sudah pigi, anak-anaknya denger katanya tuan tanah pada anaknya lelaki bagini: kita rasa ini tebu sudah sampeh tua, baik lah besuk kau jalan karomah sababat-sahabat dan tetangga kita, minta biar dia orang datang akan tulung tebang tebu. Burung Manyar dateng, anak-anaknya bediri di kanan kiri mamanya, dan kabarkan dengan swara gumeter apa yang di denger tadi, dan minta pada mamanya biar dia lekas di pindahkkan. Maka mamanya menyaut: jangan takut anak-anak ku, sebab jikalu tuan tanah pertiyayakan tulung dari sahabat dan tetangganya, aku tentukan, besuk tebu tiada di tebang. - Pada paginya Manyar pigi lagi cari makannya anaknya, juga pesen pada anak-anaknya seperti yang tersebut dulu. Tuan tanah dateng ka kebon tebu, dan bernanti kawan yang di panggiluya akan tulung tebang; sampe iya panas sudah kras belun mulai tebang, sebab sahabat dan tetangganya tiada satu dateng. Tuan tanah kata pada anaknya: sakarang kita liat yang itu sahabat dan tetanggan kita tiada boleh di pertiyayakan, dari itu kau jalan sakarang karumah paman-paman mu dan juga sudara kaponakan mu, minta dateng dia orang besuk akan tulung tebang,—Manyar dateng, anak-anaknya lekas kabarkan perkataan tiada baik itu. Mamanya menyaut. jikalu cumah bagitu saja anak-anakku, jangan kau takut sebab-jamknya sanak tiada bagitu cepet akan tuloong satu dengan lain, tapi denger saja baik-baik, apa besuk tuan tanah kata. Pada paginya burung Manyar pigi lagi saperii: sari. Tuan tanah kutika tau yang juga sanak-sanaknya teledor seperti sahabat-sahabat dan tetangganya, kata pada anaknya: kau sadiakan arit dua yang tajen, besuk kita mau tebang ini tebu berdua saja.—Maka kutika burung Manyar dapat kabar itu dari anak-anaknya, berkata: ya anak-anakku! jikalu bagitu kita dan kau dapet susah besar, sebab sagala pakerjaan jikalu orang mau angkat sendiri, boleh di tentukan habisnya.—Sasudahnya kata bagitu anak-anaknya lekas-lekas di pindahkan ka lain tempat. Pada lain harinya betul tebu di tebang oleh yang punya dan anaknya.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Dari hal pakerjaan jikalu angkau bisa berbuat sendiri, jangan angkau bernanti tulungan sanak dan sababat, sebab orang tiada bisa tentukan itu tulungan.
49.
MACANTUTUL DAN KAMBING ANAK
Saekor Macantutul kabetulan minum bersama-sama dengan Kambing-anak di kali, Macantutul di udik Kambing-anak di ilirnya sadikit jaoh. Macantutul maue cari kerja mulai perkara, tanya pada Kambing-anak bagini: kenapa kau brani goyang-goyang butekkan ayer yang aku minum? Kambing-anak menyaut dengan goometer: bagimana saya kerja butek ayer, jalanya ayer dari tempatmu.—Macantortul rasa yang itu kata ada betul, tapi juga cari dakwa lain, katanya: sampe pada ini hari kira-kira ada anem boclan lawanya yang kau sudah bicara jahat dari aku.—Kambing-anak menyaut: itu mestail sakali, sebab pada itu waktu saya belun di beranakkan.—Macantutul kata lagi: itu tiada mengapa, jikalu bockannya kau, tentu bapamu ata- wa mamamu yang sudah ceyahkan padaku, dari itu perlu sakali akan aku membales padamu.—Habis bicara bagitu Kambing-anak di pegang lantas di makan.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Jikalu orang adatna murka dan sia maka ada kuasa di tangan, maskipon di denger menyautan betul dan itu menenjukkan tiadanya salah, juga tiada kembalikan hajat-nya melakukan siksa.
50.
ANAK-ANAK DAN KODOK
Ada Anak-anak banyak main di tepi telaga di mana Kodoknya banyak, adapon yang jadi suka hatinya, Anak-anak itu lemparkan batu lebrapa ka ayer, terlaloo menjadikan takutnya Kodok. Satelah ada satu Kodok tua yang brami timbul dari ayer, berkuta bagini: hei Anak-anak! kenapa kau bagitu lekas belajar adatnya bangsamu melakockan sia dan siksa? taolelah! mainannu itu menjadikan sukamu, tapi kerja susah kita Kodok samua.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Kasuknaan yang menusahkan lain orang, itu tiada harus sakali.
51.
KODOK DAN SAMPI
Satu Kodok kepengin badannya jadi besar saperti Sampi lelaki yang selugi makan di rumputan yang ada ayer di deketnya. Kodok tekenkan napas ka perutnya, supaya jadi besar, lantas tanya pada sudaranyu prampuan, kutanya: nyai-ik! bagimana kau punya kira, apa nanti aku bisa jadi besar saperti Sampi itu!—Maka sautnya: tiada sakulian.—Kodok tekenkan napas ka perut lebih kras dari tadi dan tanya lagi pada adiknya, tapi sautnya saperti tadi juga. Kodok lantas sakutnya tekenkan napas ka perutnya lagi dan kata: sakarang tentu aku jadi besar sama dengan Sampi itu.—Tapi kutika itu juga Kodok picah perutnya dan juga mati.
Maku maksudnya ini dongeng bagini: Barang siapa orang kecil mau samakan dirinya dengan orang besar, tentu jatuh sengsara.
52.
SINGA, MACAN DAN ANJING-UTAN
Saekor Singa tubru Manjangan-anak yang kutika itu juga Macan tubru dia. Sekarang Macan berkulai dengan Singa, yang jadi putocsan perkara, siapa nanti menang itu yang mempunyai Manjangan-anak itu. Dari berkalainya terlalu ribut dan banyak kalovar dara dari lukanya, kadose itu di paksa brentikan berkalainya sebab kecapean dan bren-tinya dengen perdamian, rebah-rebahlian di tanah berdun. Kutika itu juga si Anjing-utan dateng dan tau bagimana adanya si Macan dan Singa, lekas paranin Manjangan-anak dan bawa luri dia. Tatkala Singa sudah sedikit ku-rangan marah dan capenya, tau jikalu Manjangan-anak sudah jauh di larikan oleh Anjing-utan. Singa kata: betul bodo aku dan si Macan ini, kenapa tadi tiada bagi-saja itu Manjangan-anak? dari ributnya marah, sampekita tiada tau Manjangan-anak sudah di colong.
Maka maksoodnya ini dongeng bagini: Ributnya perkara dakwa, itu kasih jalan pada yang pikool perkura, supaya bisa ambil samuea barang yang jadi perkura.
53.
ORANG DESSA, BURUNG CANGAK DAN BURUNG BANGO
Pada satu hari burung Bango turut dengen Cangak banyak, yang moae pigian bersuka-suka hati. Adapon yang jadi sukanya, ya itu makan ikan di pengempangnya saorang dessa yang berumah deket di situ. Sekarang Cangak katocean malingnya dan samuanya tepegang. Cangak tiada bisakata satu api lagi, sebab jahatnya sudah katahoun la-ma; tapi Bango banyak katanya akan hidupnya, katanya ba-u sakali itu dia jalan jahat, apa lagi sudah mashur cintanya pada orang to-a-tuanya dan juga banyak kabajikannya. Sadetnya orang dessa: aku tiada lawan kata yang kau cinta pada orang tua-tuamu, dan juga kabajikaw mu, tapi aku dapet kau bersama-sama dengan burung- burung jahat itu, dari itu aku samakan kau dengen kawan-mu itu.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Barang sinpa kumpael dengen orang jahat, tentu kena jahatnya juga.
54.
KOCING YANG SUKA KERJA PERKARA
Dua ekor Kocing sudah colong sapotong keju dan tiada bisa sutuhati dari hal baginya, Kadunanya tiada mau berbantah atawa bekalai tapi satuhati minta tulung saja pada Monyet biar kasih po-tusan dari hal bagi itu. Monyet suka tulung di dalem perkara itu dan ambil traju mau timbangnya keju. Keju di belah dua, di tarukkan di traju, katanya: aku mau biar ini dua sama bratuya; ya ini yang sapotong lebih brat dari yang lain.—Habis kata bagitu, keju yang brat di gigitin sampe banyak, srenta di taruk di traju lagi, sakarang yang lain itu lebih brat dan lantas mulai gigitin lagi. Kocing kadunanya tiada enak hati liat tingkah bagitu rupa, satelah bicara pada Monyet: sudah, sudahlah! kasih saja bagian kita, kita berdua sudah trima.—Monyet menyaut: ya betul kau berdua sudah trima, tapi jaksa belon trima, perkara yang bagini rupa kusutnya tiada boleh bagitu lekas di putusan.—Mouyet teruskan gigitnya keju ganti-ganti. Tatkala Kocing dua tau, yang keju lebih lama lebih jadi kecil, punya permintaan pada Monyet, biar so-dabkan hal timbang itu, dan sebrapa tinggalnya keju di mintanya kembali. Monyet menyaut: jangawlah bagitu buru-buru, abang! putusan itu maunya yang betul, faidah akan jaksa, dan akan yang trima putusan. Ini sapotong yang katinggalan jadi asilnya caephku.—Habis kata bagitu, Monyet masukkan keju yang cumah tinggal keyil saja kamulutnya, dan lau dari temlat landraad itu.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Kluarnya putusan jarang yang adil, putusnya perkara, jikalu barang yang jadi perkawa itu tiada cumah kattinggalan sadikit saja, tentu habis samuanya.
55.
NYAMUK DAN TAWON
Ada satu Nyamuk kadinginan dan kalaperan, pagi-pagi baru waktu sajar sudah dateng karumah Tawon, minta kasihannya dan tulungannya, dia janji mau belajarkan lagu menyanyi anak anak Tawon, dan dia cumah minta tempat dan makan saja.—Tawon tiada bagitu suka katamuan Nyamuk itu dan tolak permintaannya. Nyamuk berkata: anak-anak saya, saya ajar pakerjaan saya yang banyak asilnya dan gunanya, supuya jikalu nanti sudah jadi besar bisa cari rijekinya dengan pantes.—Maka Tawon menyaut: apa abang punya kira saya nanti suru anak-anak saya belajarsatu mengartian yang sudah miskinkan gurunya, sampel jalan minta-minta.
Maka maksudnya ini dongeng bagini; Tiada guna orang berkata kasih ajaran pada lain orang, jikalu telada yang kalihatan pada sendirinya tiada menyatakan katanya.
56.
RAJIN DAN MALES
Tercerita ada saorang jejaka di tanya sebalnya jikalu bangun pagie kenapa sampel siang. Maka sautnya: salama saya hidup saben pagi trima perkara. Ada prawan dua, yang satu bernama Rajin dan satunyu si Males, saben pagi temponya saya bangun dateng ka tempat tidur saya masukkan perkara. Si Rajin suru saya biar lekas bangun, si Males tiada, suru saya biar masih tinggal di tempat tidur saja, dengen kaduanya itu membilangkan sebabnya, kenapa baik saya lekas bangun dan juga masih di tempat tidur saja. Rasa hati saya, orang jadi jaksa yang tiada curang, misti dengerkan perkataannya yang kelah dan yang di kelah, biar timbangan nanti jadi betul. Tapi sabelunnya saya kasih putusanu itu perkara, sudah te buru tempo makan.
Maka maksudnya ini dongeng bagini: Di dalem sagala perkara dan pukerjaan, jangan orang terlalu lama akan pikir saja.
57.
ORANG BERJALAN DAN KANTONG
Ada orang dua berjalan sama-sama, yang satu liat kantong penuh uwang di tanah, lantasnya di pungut, katanya: untung sungguh saya ini pagi, dapet kantong bagini penuh uwang.—Kawannya berkata: sungguh untung. Tapi saya rasa yang sahabat sedikit ada salah kata, yang betul sahabat misti kata saya dan angkau yang dapet untung, tiada cumah soya saja, sebab jikalo sahabat dua berjalan dan yang satu dapet untung, pantes sakali bagikan pada kawaonya jalan.—Maka yang dapet kantong menyaut: tiada bagitu, saya sendiri yang dapet, juga saya sendiri yang mempunyai.—Habiynya kata bagitu, maka tiada lama ada orang betreyak rampok! rampok! rampas kantong uwang!—orang dua itu kaget sakali, dan yang dapet kantong berka-ta: ya celaka angkau dan saya, tentu nanti di pegang.—Kawannya menyaut: jikalo suka jangan kata angkau, sahabat cumah boleh kata soya saja yang nanti di tangkap, sebab tadi sahabat sudah tiada mau bagikan pada saya.
Maka maksednya ini dongeng bagini: Jikalu di dalem untung orang tiada maoc bagi padanya manusia, di dalem ciikanya tiada harus minta tulungan manusia.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.