KE ARAH SASTERA REVOLUSIONER
PRAMUDYA ANANTA TUR
KOLOFON
KE ARAH SASTERA REVOLUSIONER
oleh
PRAMUDYA ANANTA TUR
Diterbitkan di
Koran Star Weekly
22 Desember 1956
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Koleksi Pribadi Muhammad Reza Magistra
Ilustrasi sampul: Work Relief 1936, karya Maurice Yochim
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
KE ARAH SASTERA REVOLUSIONER
dengan salam Tahun Baru kepada
sdr. Lie Tie Guan
KINI TAMBAH lama tambah menjadi jelas betapa dunia sastera Indonesia seakan hanya merupakan pencerminan yang terakhir daripada dunia politik. Dunia sastera menjadi gelanggang yang riuh di mana orang berteriak atau menggerutu beradu keras. Adalah sudah sewajarnya saja kalau sastera yang menundukkan tendensi yang demikian bersifat negatif semata: ia hanya membuat teriak dan gerutuan bertambah menjadi riuh.
Suatu langkah yang dewasa ini merupakan jalan untuk mengimbangi dunia politik dewasa ini ialah merintis jalan ke arah sastera revolusionar. Sepanjang sejarah sastera, di mana politik tidak bisa menyelesaikan persoalannya sendiri, maka sasteralah yang tampil ke depan untuk ambil pimpinan. Ia mengingatkan saya kepada Kartini di masa dibutuhkan suara yang nyaring akan adanya emancipasi pemerintahan dan emancipasi wanita. Juga mengingatkan saya kepada Chairil Anwar di mana hidup kekauman dalam penindasan Jepang telah menjadi demikian dekaden dan memastuki sikap hypokritus. Dan bila kita menengok pada wayah kesuasteraan dunia pada umumnya, hal ini menjadi lebih jelas lagi. Tentu, bahwa sastera revolusionar ini tidak dapat merangkum seluruh persoalan masarakatnya, tetapi ia dapat menggarap masa-lahnya yang paling essential dan urgent. Memang ada bahaya bahwa penggarapan itu akan terjaduh pada pelaksanaan negatif, yakni tambah merluhkan teriak dan gerutu. Ini memang mungkin, apabila jiwa si pengarang sendiri masih tersugun atas sikap dan pemikiran yang lama. Maka si pengarang sendiri yang harus memulal suatu sikap dan penggarapan revolusionar.
Sikap dan penggarapan ini tidak mungkin bisa diperoleh dengan meniru Ataupun mengikuti suatu gerakan politik Ataupun sosial. Tetapi syarat pertama yang dipinta adalah pengoreksian kembali atas pandangan dunia dan hidupnya yang telah dibentuknya dari pengalaman, pendidikan dan pembatasan. Kontinuic daripadanya ialah menuyusun kembali dunia pikiran, dan menempatkan urgensi permasalahan masanya di atas kepentingan-kepentingan yang lain.
Dalam sepanjang sejarah berpikir, memang individu yang sadarlah yang ditantang oleh perombakan ciara berpikir ini. Tanpa ini revolusionisme tidak akan timbul. Di masa kekalutan sosial di dalam segala seginya inilah individu yang merasa kuat ditantang untuk keluar dari singgasananya dan menaklukkan kekalutan sosialnya. Maka tiap individu yg. merasa kuat di atas singgasananya akan dihadapkan pada ujian—dan dalam perjuangan inilah dia akan memperoleh ketentuan akan kekuatannya. Kekuatan individu bukan terletak pada kuatnya bercokol disinggasana, tetapi dalam mengadu kekuatan dengan dekadensi masarakatnya. Itulah sebabnya, memang sudah wajar sekali bila presiden Sukarno senang sekali berkata tentang, Revolusi Belum Selesai. Tetapi selama kata itu tinggal menjadi suatu phrase atau pepatah untuk me-nyenang'kan hati belaka, dia merupakan kepalsuan yang tidak dapat diampuni. Mengapa? Karena selama nya masarakat diancam oleh bahaya dekadensi, yang berarti pula, bahwa Revolusi dalam segala bentuknya, sebenarnya tidak pernah selesai. Selesainya sesuatu bentuk
Revolusi adalah berubahnya keadaan sesuatu dengan nilai yang lebih baik dan lebih berguna. Dan karena sesuatu norma dalam masyarakat terus menjadi tumpul dalam pergeseran dengan masanya, maka dia membutuhkan pembaharuan terus, membutuhkan penilaian kembali. Tetapi Bagaimanapun jua, tanpa melakukan penyusunan dunia pikiran kembali, maka mereka yang setahun-dua yang lalu merupakan tokoh revolusionar, berubahlah dgn. ceapatna menjadi reaksionar, bahkan juga anti-revolusionar. Soainya bukan karena proses perubahan itu disebabkan karena tindakan permusuhan terhadap semangat Revolusi, tetapi kebanyakan hanya karena tak ada kemampuan untuk menyusun kembali dunia pikirannya. Biasanya pula barangsiapa mendapat keuntungan yang paling gemuk dan paling baik daripada Revolusi yang telah diperjuangkankannya, bergayutan erat kepada nya, dan tidak jarang mereka ini lebih suka tewas daripada merubah atau menyusun dunia pikirannya kembali.
Demikianlah, maka dalam dunia sastera pada tarafnya yang sekarang ini dibutuhkan perintisan jalan ke arah sastera revolusionar. Dari probleem-stelling di atas telah jelaslah apa yang saya maksudkan dengan sastera revolusionar itu. Maka konsekwensi daripada sesuatu revolusi adalah pembaslian Ataupun pembatasan—dalam bentuk extreemnya adalah pembunuhan. Sebelum orang berhasil dalam menyusun kembali dunia pikirannya, artinya memandang kejadian baru dengan melalui norma lama, dia tetap takkan mengerti, karena kejadian baru sebagai bentuk kontinuic revolusi itu, nampak baginya hanya sebagai suatu kejahan. Tetapi bila orang sudah menyusun kembali dunia pikiranannya, maka laku basmi dan batas hanyalah suatu langkah pertama, langkah‘ yang merupakan keharusan.
Langkah‘ selanjutnya adalah membuat suatu garis perbatasan antara sastera anti-revolutionar dan reaksionar dengan yang revolusionar. Bila pembatasan ini tidak ada maka front pun tidak akan ada. Dan bila front tidak ada, maka antara laku revolutionar dengan laku anti-revolutionar dan reaksionar pun tidak ada. Jelasna: ti-dak teryadi apa’.
Dengan datangnya zahir tahun 56 dan bermulanya tahun 57, maka menjadi jelasla bagi saya, bahwa kita tidak bisa memandang sastera terlepas daripada perkembangan sosial dewasa ini. Sastera pun wayib memandang dunia kita dari suatu totalitas, bukan dari suatu pojok yang telah kita tentukan sendiri. Ini pun bukan atau belum berarti, bahwa saya meniadakan kesempatan untuk berleha-leha bagi mereka yang tidak mau menginsafi essensi dan urgensi masanya sendiri. Justru dalam kesempatan ini tenaga’ revolutionar memperoleh antipodanya, sehingga front yang dibuatnya bukan saja menjadi lebih tegas, juga perjuangannya menjadi kian sengit.
Apabila dalam sastera ini orang sudah bisa mengadakan perbedaan yang tegas antara-idee revolutionar dan yang bukan, usaha dan kemajuan‘ lagi akan dapat dilakukan dengan baik. Sesuai dengan ini maka saya menyetudui penger-tian masarakat Tiongkok, bahwa pengarang adalah insinyur jiwa bagi bangsanya. Tentang hasil’ Yang diperoleh daripada pengerti-an ini memang tidak dapat kita jadikan pegangan, yang lebih penting adalah usaha parapenga-rang untuk mengerti masarakat dan masa-kininya. Tanpe pengerti-an akan masarakat dan masakin-nyia akan berakibat, bahwa penga-rang hanyalah akan sibuk dengan dirinya sendiri, yang berarti pula, bahwa penyelesaan‘ yang dibuat oleh si pengarang itu hanyalah un-tuk kepentingannya sendiri dan sepatutnya diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa mem-bawa pem-bacanya ikut menjadi riuhrendah tanpa guna, bahkan tidak jarang kejangkitan penyakit egose-trisme.
Maka bagi mereka yang tak mampu menusun kembali dunia pikirannya sejak dari A, dia takkan mungkin mengerti kontinuic daripada laku golongan atau perseorangan yang telah menusun kembali dunia pikirannya. Dan tentulah, bahwa demi keutuhan dunia pikirannya yang lama dengan kontinuicnya, maka tiap laku daripada golongan yang akhir itu bukan saja tidak difahaminya, juga dianggapnya mengancam dan merusak. Kerusakan ini akan memaksor orang melakukan pembetulan. Tetapi azas daripada tiadanya kemampuan menusun kembali dunia pikiran adalah sama: kemalasan, dan sudah merasa aman dengan dunia pikirannya yang lama. Dalam dunia sastera hal yang demikian bukanlah suatu gejala yang aneh, bahkan di lapangan ilmupengetahuan, terutama filosafat.
Saya kira, bagi bangsa muda sebagai Indonesia inil, penyakit yang sungguh sulit diberantas adalah ber-senang dengan dunia pikiran yang sudah merasa aman ini, yang menjadi demikian beku sehingga tidak lagi produktif dan kreatif. Dan memang benar, bahwa di lapangan sastera, tidak menjadi keharusan bahwa sastera revolusionar itu mestil bernilai, karena nilai ini tidak bisa ditentu dengan satu ukuran. Yang pasti adalah, bahwa sastera revolusionar mempunyai guna sesuai dengan essensi dan urgensi harikini. Tanpa pengertian pada harikini, orang tidak akan mengerti sejarah, juga tidak akan mengerti politik sebagai sejarah dalam keadaan menjadi. Sedang kesusasteraan tidak bisa terlepas daripada semua ini.
Mereka yang tidak mempunyal kemampuan menyusun kembali dunia pikirannya ini, yang pada masa lal bukan hanya tidak mengerti dan bahkan menentang laku revolusionar, pada suatu kali dia akan mengerti dan menjadi jelas baginyya apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa pula arah daripada kejadian itu, tetapi dikala la sedang mengerti, tenaga-tenaga revolusionar baru telah menyusul, dan mereka ini tenggelam kembali dalam liputan prasangka, dalam susunan dunia pikiran yang tetap aman dan sentausa.
Dengan datangnya tahun baru ini, patutlah kiranya yang katakan, bahwa sudah pada tempatnyalah, bahwa kita sebagai bangsa yang muda memelihara serangan revolusi menetap, dan tiap kali membuat pengamatan atas laku-laku yang terjadi di dalam masarakatnya dan mengenalnya serta memperbe-dakanya antara yang revolusionar dan yang sebaliknya. Tanpa ini benar-benar suatu revolusi sudah gagal atau macet.
Jakarta, akhir 1956.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.