Baca PDF (OCR): zineuri

41 halaman · 14 halaman diproses dengan OCR· 9512 ms

Daftar isi
  1. ZINEURI
  2. WELCOME TO ZINEURI
  3. ...
  4. SAD NESS
  5. Sebelum Langit Meruntuhkan
  6. Matahari
  7. Daffa Old City
  8. Malam ini… Dari jendela gubuk-gubuk miring ini
  9. Kita saling berpandangan dengan langit Dan langit, membalas
  10. dengan meludahkan hujan Dari kejauhan,
  11. terdengar samar-samar teriakan seseorang "Air naik... Air naik...”
  12. Dan kita telah sama-sama paham. Malam ini tak akan ada lelap
  13. Kita akan sibuk menyelamatkan radio merk entah apa itu
  14. TV tanpa warna Dan bantal-bantal penuh noda,
  15. mimpi-mimpi yang terjual.
  16. Malam ini… Segalanya memeluk sunyi
  17. Kecuali bayi tetanggaku Ia masih menangis
  18. Barangkali lapar, dan hangat pelukan ibunya tak kunjung ketemu.
  19. Lihat mereka mengacuhkan kami :(
  20. Guguran Kesedihan di Musim Paceklik
  21. Kamu harus baca ini sebelum bersedih
  22. Bocah di Atas Reruntuhan
  23. HUJAN SENDIRIAN
  24. Hujan menggigil kedinginan
  25. Petir menghangatkannya, sekejap mata.
  26. Angin hanya suka bermain-main
  27. Menerpa dahiku, menerka apa maumu.
  28. Ranting pepohonan menjadi saksi
  29. Di tengah kilatan kepalsuan di sudut udara.
  30. Telinga berusaha menutup diri
  31. Seakan tak pernah ada keraguan pada gemuruh- dada.
  32. Dan aku ingin kau selalu ada tiap kali hujan turun.
  33. Namun sayang, Hujan cuma butiran kesia-siaan bagimu Karena setulus apapun perasaan selalu terabaikan.
  34. Kini, hujan menggigil kedinginan, sejadi-jadinya. Dalam kesendirian.
  35. -Enntindo-
  36. YOU WAS A NICE ACCIDENT
  37. Rahim dan Rahim
  38. Dari R.A.
  39. BELUM MAKAN
  40. BERADA
  41. DIMANA APA-APA
  42. Bagaimana Sebuah Karya Menyelamatkan Nyawa Seseorang
  43. Amengidap gangguan
  44. Ya aku jawab sekarang pun, saat aku memikirkanmu, aku berpikir bahwa aku pun
  45. harus menuliskanmu– minimal tentangmu itu pernah bersemayam di setiap coretan notes
  46. Beruntung atau
  47. Sial??
  48. Kasih, Cinta, &Harapan
  49. Kendalikan Proses pemikiran kian berputar
  50. Kasih telah bergelut indah Kasih kian menghangat
  51. Kasih akan ada dalam hati Dan kasih akan bertemu cinta
  52. Catatan catatan itu terbuka kembali Kehidupan terlampau dari segala waktu
  53. Antara kasih dan cinta kian menyatu Cinta atas apa
  54. Cinta karena apa Dan cinta untuk apa
  55. Harapan itu pun kembali muncul Kembali padanya dengan segenap jiwa
  56. Berharap suatu kan terjadi Meninggalkan sesuatu tuk dijaganya
  57. Dan dirawat sebagaimana mestinya Kasih, cinta, harapan.
  58. PjlnSdrhn
  59. MAMAKLI
  60. LLIBANG
  61. THE PLACE WHERE I LEFT YOU
  62. You think im fine,
  63. @San_nyenyenyenye
  64. sekian perjalanan zine ini telah berakhir.
  65. menerima segala cacian dan makian dengan lapang dada.
  66. akhir kata, seperti itu. seluruh tulisan, gambar, dan karya apapun yang ada
  67. didalamnya telah selesai
  68. TABIK, ZINEURI.

ZINEURI

YOUMUSTNGURI-URI WITH ZINEURI

WELCOME TO ZINEURI

You must nguri-uri with us

Sebuah fanzine yang terbuat dari seluruh kesenangan kalian dengan segala kerumitan atau kesederhanaanya masing-masing.

Zine ini bebas dan tak lepas dari bebasnya kalian menyebarluaskan, menyalin, dan melakukan apapun yang kalian sukai terhadap karya yang ada didalamnya.

S O, LET’S H AV I N G F U N WITH EVERYTHING IN HERE

L O V E U G U Y S

...

KESEDIHAN SEBAGIAN DARI IMAN الحزن جزء من الإیمان

SAD NESS

Aku ingin memelukmu wanita “Kau seorang pria yang tiba-tiba ingin siapa, memeluk ku” Aku anak yang lahir dari ibuku “Lantas mengapa?” Kau terluka. Aku ingin memelukmu sebab menangis, kau kaum ibuku “Kau kaum apakah aku boleh menyeka air ayahku, matamu?” Apakah ayahmu selalu menangis? “Tidak” Lalu? “Aku tak tau ayahku siapa ataupun karena dimana, itulah aku ingin menyeka air matamu sebab kau kaum ayahku selayaknya aku kaum ibumu”

Azaryafuckingpratama

Sebelum Langit Meruntuhkan

Matahari

Sebelum langit meruntuhkan matahari dan gerimis
menghitam pada hutan rimba Kalimantan, biarkan aku
memilih jalan lain; untuk keberangkatan dan kepulangan,
dengan tidak menyepakati dan mencintai apa dan siapapun.
Biarkan aku berkata; ya pada hidup yang membenci setiap
lini! Membenci siapa-siapa dan apa-apa tentang keramaian
tak berangka, Kekosongan yang penuh kalkulasi. Dan aku,
tidak mencintai apa pun! Sebab cinta telah tercemar
berserakan di sudut kota dan desa. Jika kau menyebut;
bahwa hidupku tak lebih dari keterlemparan, lempar saja
aku pada liang tak bernada, tak berongga, tanpa dasar;
bersama kesengsaraan eudaimonia dalam diriku!
Atau bahkan, Jika kau berkata untuk yang terakhir kalinya;
bahwa bijaksana berarti menyepakati derita dengan cinta,
mencintai siapa pun dan apa pun, biarkan aku memilih untuk
menginginkannya; jika langit segera meruntuhkan
matahari, dan dunia menjadi gelap gulita. Tidak ada
bijaksana! Tidak ada derita! Tidak ada cinta! Tidak ada
bahagia! Tidak ada apa pun! Tidak ada diriku! Tidak ada
persemayaman! Tidak ada yang tidak ada! Kecuali ada-ada
yang telah terberi! Terberi bersama kekosongan yang penuh
kalkulasi! Jika hidup adalah bagaimana derita
dikalkulasi, bahagia diterjemahkan oleh puisi, pesakitan
dihadirkan dengan setiap keberadaan, Biarkan aku memilih
untuk tidak memberi apa-apa tentang perasaan apa-apa
Kepada diri siapa pun, dan diriku.
[kiamatt]

Daffa Old City

Malam ini udara panas… Kipas merk china, mati sejak kemarin lusa Entah karna memang sudah kalah oleh usia, atau terkena tetes hujan yang diam diam masuk lewat atap genteng yang bocor disana sini.

Malam ini… Gelap mengedarkan bau apek dari selokan Juga tengik keringat dan amis yang menguar dari mulut-mulut para wakil rakyat Dan kami tidak pernah peduli lagi Dan kami sudah merasa tak asing lagi.

Malam ini… Waktu lebam membiru Seorang bayi menangis, entah karna lapar Atau karna ia mencari hangat pelukan ibunya yang masih di pabrik, dan tidak ketemu.

Para pemuda memetik gitar… menyanyikan serapah pada keadaan Menyanyikan makian pada tuhan Dan tuhan, di sudut diskotik ia duduk bersila Digerayangi lampu neon aneka warna Disuguhi surga yang tidak pernah ia ciptakan sebelumnya.

Malam ini… Dari jendela gubuk-gubuk miring ini

Kita saling berpandangan dengan langit Dan langit, membalas

dengan meludahkan hujan Dari kejauhan,

terdengar samar-samar teriakan seseorang "Air naik... Air naik...”

Dan kita telah sama-sama paham. Malam ini tak akan ada lelap

Kita akan sibuk menyelamatkan radio merk entah apa itu

TV tanpa warna Dan bantal-bantal penuh noda,

mimpi-mimpi yang terjual.

Malam ini… Segalanya memeluk sunyi

Kecuali bayi tetanggaku Ia masih menangis

Barangkali lapar, dan hangat pelukan ibunya tak kunjung ketemu.

Spotıfy-Radiohead Creep Radiohead É N

Lihat mereka mengacuhkan kami :(

Hari ini kami kembali berjejer bersama kawan-kawan kami. Di antara mereka, baik manusia maupun bebukuan sesama kami. Kami berbaring di atas sebuah banner bekas yang kami renggut beberapa pekan lalu dari sebuah bekas kontestasi bergengsi di kampus kami.

Hari ini kami berbaring di tempat yang berbeda. Meski tak jauh dari tempat semula, kami tetap gigih berbaring. Menunggu tangan-tangan mereka meraih kami, membaca halaman per halaman dari kami. Sehimpun lembaran kami memang sekilas hanya berisi sebuah tulisan-tulisan yang beberapa orang begitu acuh. Tetapi itulah nyawa kami. Di sana lah pemikiran-pemikiran liar seseorang berkumpul. Di sana lah kata seorang akademisi jendela ilmu pengetahuan terbuka. Di sana lah tempat lahir keberanian-keberanian membakar ilusi lahir– menerjang relevansi ruang digital, melawan modernisasi literasi.

Tetapi sayang, mereka begitu acuh. Beberapa dari manusia itu tak menggubris kami. Hanya sekedar melihat pun belum tentu. Entah memang tak menarik atau bagaimana, mereka tak melihat semua itu. "Lihat! Mereka begitu mengacuhkan kami." Dan bagaimana pun, kami hanyalah bebukuan yang terbaring rapi di setiap Selasa. Meski kami tak hanya sekedar itu.

Guguran Kesedihan di Musim Paceklik

"Apakah kesedihan rasanya asin?"
Dedaunan itu meranggas dengan pelan-pelan
Kesedihan tergelincir diatas perkebunan hijau yang
mulai mengering dan tandus berkeping-keping.
Bagaimana cara seorang tuna netra merayakan tangis?;
disaat para manusia normal merayakannya secara melankolis
dengan nyanyian yang nyaring tak ritmis; tapi pengidap
ageusia ataupun tuna netra jelas lebih tahu; kelebihan
bagaimana tidak merayakan jauh lebih mengerikan dan
membosankan dari kesedihan manapun.
Di puncak omong kosong, musim paceklik membanjiri
ladang orang-orang marhaenis yang menggantungkan hidup pada
segebok jerami yang dijual di pasaran kapitalis; sedang
diseberang musim paceklik; kesedihan berlayar dilautan
kepedihan yang diombang-ambing badai kecemasan lainya.
Sementara sebelum paceklik tiba; seorang usia senja di
ruang redup secara berkala sedang sibuk menyelimuti
kegusarannya; diatas kursi tua; menyaksikan film monumental
sambil bergengaman dengan kesedihan;kepedihan;kesendirian
kemudian dekup jantungnya berhenti secara perlahan.
Pikiranku melesat menodong apa-apa yang sedih dan apa-
apa yang sudah. Pukul berapa kita bahagia? Bila kesedihan
adalah jalan panjang yang menunggu di persimpangan; kira-
kira berapa harga obat penenang? Apakah bisa ditukar dengan
kematian?
-faluarid (2023)
(EverythingCrying)
0207
Selamat Sore
Ini bukan takdir, kita tak berakhir di sini
Ini bukan pula obituari yang kususun untuk cinta yang mati
Cinta tak pernah mati, sayangku
Ia akan terkubur dan mekar menjadi bunga matahari
Itu adalah potongan puisi yang pernah kutulis.
Tepatnya sebelum aku menyadari bahwa asmara mampu
menggerogoti akal sehat. Saat itu mungkin aku sedang
menggebu, berapi-api sendirian, dan hari demi hari
terlampaui begitu saja hingga padam.
Aku melewatinya dengan bingung, harus ku apakan
kepalaku ini. Meminum arak dan bersepeda dengan kencang tak
membuatku lupa bahwa dirimu kini hanya luapan kesedihan.
Dirimu, kini, tak lebih hanya perempuan yang kuceritakan
pada kawanku ketika mabuk
Jauh setelah kau pamit, aku masih tersiksa dengan
tumpukan suaramu yang menghancurkan mendung di tempat
tidur, menghujaniku dengan ingatan tentang gelak tawamu
pada tengah malam di acara ulang tahun sahabatmu. Kau
terdengar begitu bahagia saat itu.
Dunia tak akan runtuh hanya karena perpisahan. Dunia
terdiri dari ribuan manusia. Tapi pada akhirnya, yang bisa
kulakukan hanya menggali waktu untuk sendiri, tak
memikirkan apapun, tak bertemu siapapun, dan menemui
ketiadaan.
Kendati harapan akan suasana damai, aku benar-benar
tak mampu mencari kesunyian yang absolut. Duniaku tetap
saja ramai. Asmara yang ditumbangkan keangkuhan itu
membuatku merasa seperti manusia terkutuk. Setidaknya aku
juga melihatmu hancur. Kita sama-sama hancur. Kita akan
bersama-sama menjumpai bencana masif yang melanda tata
surya.
Kita bermimpi untuk tak menangis, tapi kau sendiri
yang menciptakan. Sebentara saja kita berjalan menghabiskan
waktu untuk melawan kesedihan dini hari. Tapi aku akan
senantiasa menyampaikan pesan dari kawanku, bahwa kesedihan
adalah syarat kehidupan. Entah dengan cara seperti apa kau
menerima seseuatu yang kau anggap takdir.
Aku akan terus berjalan dengan sisa-sisa tenagaku,
dan terus seperti ini, persetan dengan fatum brutum
amorfati. Meski kelak aku akan berdamai, tapi ingatan tak
akan melompat begitu saja. Aku begitu jenuh dengan masa-
masa ini. Adakah kondisi yang memungkinkan untuk aku bisa
membunuh duniamu yang mungkin sedang mekar-mekarnya.
***

Kamu harus baca ini sebelum bersedih

Barangkali kesedihan tidak buruk juga, meskipun tidak juga bisa dikatakan hal yang bagus. Ia berjalan di antara keduanya, sebuah ambiguitas. Bentuknya yang tidak berbentuk, atau untuk mempermudahnya kita dapat menamai dengan bentuk abstrak meski kita tidak tahu benar apakah kata abstrak cukup untuk dapat mewakilinya. Sebuah entitas yang dapat kita tangkap entah dalam keadaan sadar atau tidak, yang jelas kepastian entitas tersebut ialah sampai pada kita masing-masing. Sistematika dari perasaan sedih sendiri dapat terjadi ketika terdapat dua anasir, yakni person sebagai yang bersedih dan terdapat person atau objek lain yang menjadi penyebab perasaan sedih. Lalu dari hal tersebutlah muncul pertanyaan bagaimana asal mula kesedihan yang dibarengi dengan bagaimana label kesedihan itu dapat terbentuk. Apakah ia jatuh dari langit dan orang-orang secara otomatis mengenali kesedihan itu adalah kesedihan bagai sulapan. Ataukah kesedihan sebelumnya hanyalah konstruksi ide yang menjadi budaya dari orang di masa lalu lantas turun-temurun dan eksis hingga sekarang menyesuaikan roda zaman. Atau opsi lain bahwa kesedihan ada karena imbas dari kebahagiaan yang tidak tercapai, maka timbullah kesedihan.

Namun meskipun begitu toh kita dapat perdebatkan kembali dengan pertanyaan yang sama tentang bagaimana awal kebahagiaan atau perasaan-perasaan lain dengan mengganti kata kesedihan dengan kata kebahagiaan pada bagian di atas. Kemudian juga bagaimana bila memang sebenarnya kesedihan juga perasaan-perasaan lain itu tidak ada. Yang ada ialah sebuah perasaan yang kosong, dan kita hanya memberi label atau nama pada perasaan-perasaan tersebut. Jika benar memang begitu maka sebuah perasaan hanyalah keadaan "suwung" belaka (nihil, tak berkondisi, tan kinoyo ngopo). Maka dari itu menyoalkan kesedihan memang bukanlah perkara yang mudah, siapa pula yang dapat menjamin perasaan sedih seseorang sama dengan perasaan sedih orang lain, hingga satu-satunya yang dapat dijamin daripada itu yakni bahwa kita hanya dapat membenarkan perasaan sedih pada diri kita masing-masing. Walaupun juga masih diragukan kebenaran perasaan tersebut secara konkret. Pada akhirnya sepanjang hidup kita hanya akan berada pada keadaan berusaha mencoba membaca dan memahami perasaan kosong satu sama lain, dengan diri sendiri atau orang lain. Sebuah kekosongan menuju kekosongan lain. Sebuah perasaan yang kita tahu benar ada meski adanya kita tidak benar-benar tahu.

“Maka menerjanglah aku dengan segala daya menembus perasaan-perasaan tanpa nama, kubur tanpa dasar, langit tanpa batas, menghancurkan ruang dan waktu menuju ketiadaan".

........

Bocah di Atas Reruntuhan

Teruntuk ruang hidup kawananku yang tak lagi
tertanggal pada ingatanku.
Fajar pagi memberangus mata yang lelap tertidur,
ketika peluk angin pagi menyeruak menusuk tulang, aku masih
mengenang kawananku pekan lalu. saat mereka masih berlarian
di antara rumah-rumahnya yang dalam hitungan jari akan
rata.
Pagi yang damai, ibu mengadu semangat pada dapur,
memasak nasib pada nasi yang hampir kabur, menyulut api pada
kayu yang diselimuti kapur. ayah bergeliat bermain bersama
harapan di tengah keramaian, mengikat tangis pada air mata
yang menipis, menyetubuhi energi yang dilelang di jalanan.
anak bumi dipaksa menjadi intelek di penggilingan
kewarasan..
Ketika kepala sedang sibuk menghitung jumlah beras,
memikul gabah dan hasil tanah, bersapa ria dengan rimba,
bersahabat mesra dengan udara. kini, tak lagi kunikmati
ayunan bambu yang sangat desa, sujud Padi ataupun tegap
Jati.
Mesin dari besi yang dikontruksi atas keserakahan dan
kepentingan yang serak di telinga kami, kembali menerobos
dengan sakit pada tembok yang kemarin baru diwarnai.
Kapan kita tidak kembali berperang dengan ganasnya mesin
korporasi?! hari-hari dibalut kegundahan dan kepunahan
serangkaian habitasi.
Kembali mereka tiba dengan auman mesin yang dibuntuti
represi, merampas segala media hidup yang tersisa, meluluh-
lantahkan tanpa terbantah! sejak kapan kami punya mimpi?
kalau saja di tanah moyangku mimpi harus dibeli dengan
nyawa! ruang hidup ditukar dengan derita.
Dalam kejapan mata, kami kembali mengumpulkan puing-
puing kesaksian pada reruntuhan taman, warung, dan rumah-
rumah yang sudah mati. sirkus penggusuran kembali menjarah,
tangis pada kelopak ibu sudah menggila, darah sudah menjadi
hal yang paling setia, moncong, lebam, pukul, patah, dor,
mati, terbang, tikam, keroyok, golok, tinju, sepatu, besi
dan segalanya yang membunuh, kian berjejalan menunggu
antrian
Teruntuk kawan kawanku semoga luka tak lagi hinggap di
hatimu, teruntuk kalian semua korban keserakahan
pembangunan negara, pakel, wadas, dago, bara baraya,
kinipan, aceh hingga west papua, doaku takkan berhenti
mengudara untuk kalian.
PANJANG UMUR!
Dinoyo, 2010-an

HUJAN SENDIRIAN

Hujan menggigil kedinginan

Petir menghangatkannya, sekejap mata.

Angin hanya suka bermain-main

Menerpa dahiku, menerka apa maumu.

Ranting pepohonan menjadi saksi

Di tengah kilatan kepalsuan di sudut udara.

Telinga berusaha menutup diri

Seakan tak pernah ada keraguan pada gemuruh- dada.

Dan aku ingin kau selalu ada tiap kali hujan turun.

Namun sayang, Hujan cuma butiran kesia-siaan bagimu Karena setulus apapun perasaan selalu terabaikan.

Kini, hujan menggigil kedinginan, sejadi-jadinya. Dalam kesendirian.

-Enntindo-

YOU WAS A NICE ACCIDENT

Hanya beberapa menit saja aku sudah terpukau
melihat senyummu
Memberanikan diri untuk mengajakmu berfoto
bersamaku
Di tengah lapangan kala itu
Dengan tatapan malu malu tapi mau
Aku bergaya dengan gaya yang tak seberapa itu
Namun kamu terlihat seperti biasa saja saat
melihatku
Tidak mengurangi rasa tekadku
Aku mulai mengirim pesan kepadamu
Dan aku pun tersipu malu
Namun pada akhirnya kamu bersamaku
Semoga hubungan ini dapat memiliki makna dan arti
disetiap individu
KAYENDOFTHEWORD

Azaryafuckingpratama

Rahim dan Rahim

Bismillahirrahmanirrahim Dengan menyebut nama Tuhan yang maha Rahman nan Rahim Rahim pada Tuhan rahim pada perempuan Romahim dan rahim Apakah Tuhan penyayang kelamin? Apa itu alasan Rabiah Adawiyah memilih bersenggama pada Tuhannya? Mengawini iman merapal "Ya Rabbi, jangan kau jadikan di dalam hatiku sebuah tempat, selain cinta-Mu” Entah iman ataupun kelamin Mereka sama-sama labirin Bagi lelaki yang teramat religi Menggelar tubuh wanitanya bak sajadah Membenamkan sujud di buah dada Menyipak belah paha Seraya mengucap "Subhana rabial a'la” Lalu debu yang menyesaki hati pecah di mulutnya Batin perempuan yang digagahi teramat suci Melampaui Muslim, mu'min, salihin dan muqarrabin Sebab nafas ar-Rohim adalah tiupan abadi Hanya perempuan yang anggota tubuhnya dibuahi ruh Illahi

ibadah dan cinta adalah sama halnya Layaknya Allah mencintai Nur Muhammad Lalu Muhammad beribadah kepadaNya Tapi hari ini, para lelaki tak lebih dari Samiri Bukan membuat sapi, tapi menyembah kejantanannya sendiri

Memandang perempuan hanya sumur yang perlu dibasahi Bercinta melebihi 9 wanita, nabi amat terlampaui

Tapi hari ini, para lelaki tak lebih dari Samiri Bukan membuat sapi, tapi menyembah kejantanannya sendiri Memandang perempuan hanya sumur yang perlu dibasahi Bercinta melebihi 9 wanita, nabi amat terlampaui

Para lelaki, lelaki dan lelaki Menganggap ialah paling suci Tapi ia lupa, bahwa perempuan lah Yang mendekati konsep manunggaling kawula Gusti Karena Rahim dan rahim Pasangan menghormati dan menghargai Adalah salah satu ibadah tinggi Whusul menciptakan surgawi dan menuntun ke arah firdausi

Dan untuk para lelaki yang glia-nya penuh kelamin tanpa sisa Biarkan ia mati dibunuh oleh hasrat birahinya

Pada nisha yang sunyi sungguh aku jatuh hati
Pada durja indahmu
Entah malam ini aku sedang berargumentasi
Apakah huru hara diotakku ini akibat dari hasrat ingin berjumpa
denganmu ? Atau cuma angan- anganku yang ingin menggapaimu?
Tolong! Tolong ! Jangan bersemayam dipikiranku

WCD

tdsr

Perempuan itu mencoba bunuh diri berkali-kali Namun ternyata ia masih hidup Di tengah deru motor dan keramaian, klakson yang bersahutan Bertahan dengan keseharian yang memuakkan Di malam yang dingin Perempuan itu dengan berani melewati lorong gelap Tanpa takut kesunyian diperkosa, Bersama irama kesedihan Sendiri ialah minuman keras Dan bersama ialah omong kosong Mi instan dan segumpal asap cerutu ditelannya Mentah-mentah

Dari R.A.

Ingatkah kau akan sore itu? lampu-lampu jalanan mengerling
ganjil melihat keraguan tanganku di
pinggangmu rayuan angin memacu ingin
kau bersiasat pada rindu yang menderu
melewati tiap celah masa lalu yang tak sempat kau kunjungi
dan aku... kutergigil memandumu di tikungan kau bertanya jalan mana
yang biasa kuambil kau ingin menapaki tiap ruasku
sebelum aku membeku tapi jarak menjerat dengan ilusi
dan kau menyerah padaku
kurasa kau lupa akan sore itu; tak ada lagi aku dalam arus inginmu.
Aku tak lagi mengutukmu bukan karena tak ingin
tapi setiap makian yang kutahu telah kubisikan habis
pada hening yang kian mengering, pada lengang yang tak pernah
terjelang seperti kata yang tak berkutik
menghadapi titik di malam-malam biru
bergeming, ku dipaku rindu tentu bukan padamu
tapi kisah yang berdebu.

DIA

BELUM MAKAN

BERADA

DIA

DIMANA APA-APA

maafakutidakbisa mengucapkan selamattinggal

comic by:

Bagaimana Sebuah Karya Menyelamatkan Nyawa Seseorang

k o n s u l t a s i k e a d a a n membaik, akan tetapi itu hanya sesaat dan terulang kembali keinginan buruk dalam otakku. S ingkat cerita, s e g ala hal u n t u k keb aika n

A zaryafuckingpratama

ku adalah salah satu o r a n g y a n g

Amengidap gangguan

m e n t a l a t a u o r a n g sekarang menyebutnya mental illnes atau mental health issue. Hal ini sangat berpengaruh pada semua lini kehidupan, dan jika k a m b u h t e n t u a k a n merepotkan orang sekitar. Selain itu, hal ini juga b e r p e n g a r u h p a d a tanggung jawab sebagai anak pertama dalam keluarga, maksudnya seluruh rumah berharap padaku sedangkan Aku a d a l a h a n a k y a n g pincang langkahnya dan d i b e b a n i b a t u d i p u n g g u n g k u. Kesehatan mental dan harapan menjadi sebuah bualan kehidupan yang membuat muak dengan semua, muak dengan segala. Keinginan bunuh diri selalu muncul di otakku, bahkan aku juga beberapa kali mewujudkan keinginan itu, namun selalu gagal dan gagal. Memiliki circle yang peduli tanpa ada penghakiman di dalamnya adalah sebuah perkara penting, mereka menyuruhku untuk pergi ke tenaga ahli Psikolog dan P s i k i a t e r. S e t e l a h

ment al ataupun segala yang menopang kondisiku untuk lebih baik, kulakukan. Tapi ternyata setelah berjalannya hidup kusadari beberapa karya menjadi faktor aku tetap hidup sampai saat ini. Pertama, Mythe of Sysyphus karya Albert Camus, ya manusia adalah Sysyphus yang memiliki banyak keinginan, manusia adalah mahluk segala macam alam dan memiliki keinginan tak

terbatas. Tapi sialnya Sysyphus dianggap licik ketika memberitahu bahwa Aegnia diculik oleh hasrat birahi Zeus dengan syarat dibuatkan mata air abadi oleh Asopus. Bukankah itu hal yang wajar? Lalu m e n g a p a S y s y p h u s dihukum untuk ke alam b a w a h o l e h Z e u s, bukankah kesalahan Zeus yang menuruti insting birahi ataupun id yang memuncak tanpa kontrol, lantas m e n g a p a S y s y p h u s dianggap licik dan menipu para dewa? Apa k a r e n a m o m e n i a merantai T hanatos ? B ukankah itu sebuah sebab-akibat? Bukankah itu insting seorang manusia untuk bertahan hidup? Atau k a r e n a i a m e n i p u Persephone dan menyuruh Merope perihal kematian di tengah kota? Bukankah itu yang terjadi ketika manusia mendapatkan banyak hal dihidupnya, keinginan tetap hidupnya akan terus hidup, bukankah itu hal yang lumrah?.

Jika Zeus adalah implementasi Ubermensch. Apapun yang terjadi dunia Tuhan, apakah Tuhan se-brengsek itu, tetap berjalan, bahkan ketika kalian mati karena kesalahanNya sendiri ciptaanNya matahari tetap terbit, pedagang tetap harus menanggung sebuah akibat? Tapi menjual dagangannya, pejabat tetap bukankah Tuhan tidak pernah salah? korupsi, buruh tetap hadir saat may day, Entahlah, aku belajar banyak dari hukuman birokrasi kampus tetap ribet seperti biasa, dan kisah Sysyphus. Memang sudah orangtua kalian juga tetap bersenggama seharusnya kisah Sysyphus seperti itu, dan Dajjal sekaligus Nabi Isa tetap turun supaya manusia bisa melihat dari jika kalian mati. perspektif absurdnya sebuah kehidupan dan menyadari bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah sesuatu yang bergandengan. Lalu karya kedua adalah karya dari seorang rapper yang menjadi teman sendiri dan sekarang harus menekam di jeruji besi karena cepu bangsat yang layak ditanamkan paku besi pada kepalanya. Terapi Minor atau Rio Imanuel, seorang rapper yang membuatku semangat menjalani kehidupan ketika mendengar sepenggal lirik "Apa arti bunuh diri jika kapanpun aku bisa mati" pada single Proyeksi Bunuh Diri. Iya, apa artinya bunuh diri jika kapanpun aku bisa mati, apa artinya? Aku bisa mati kapan saja, bahkan saat menulis Zine busuk ini, jadi untuk apa aku bunuh diri jika takdir kematianku sudah tertulis di L auhul M ahfudz. L alu penggalangan lirik "Aku membenci dan mencintai diriku" tidak ada orang lain yang layak membenci ataupun mencintai dirimu melebihi dirimu sendiri. Selanjutnya adalah karya dari Pangalo, album Hurje. Tidak perlu kujelaskan sumbangsih album ini dalam hidupku, silakan dengarkan lalu pahami dan simpulkan sendiri. Album ini luar biasa, akan rugi rasanya jika kalian tidak mendengarkan album ini. Sebuah kesalahan jika kalian tidak mendengarkan album ini dan sebuah kesalahan jika album ini hadir tapi tidak diputar dan didengarkan. Terakhir, pesanku. Tetaplah hidup dalam gelapnya dunia meski kalian adalah nyala yang redup. Kalian bukan poros dunia, tidak usah merasa kalian adalah manusia spesial dan sok-sokan menjadi

Cethosias
dari: pencabvtrvmpvt

Mungkin jemariku mulai tremor. Kuas yang ku genggam mleyot-mleyot. Maaf, maklum aku tak biasa melukis meski dengan sederhana.

Ku perhatikan tanganmu yang piawai menggosok kanvas itu. Kanan ke kiri. Kiri ke kanan. Bawah lalu ke bawah naik ke atas menyamping-nyamping. Matamu serius melahirkan perempuan yang kau lukis. "blok warna-blok warna," katamu. Lalu hingga ku raih tisu yang kau minta. Ku berikan padamu dengan senyuman sekaligus titipan isyarat konsekuensi dari caraku memilih letakku duduk di sampingmu.

Sore itu aku tak menentukan apapun. isyarat konsekuensi itu pun, aku tak sama sekali memikirkan. Perasaanku pun terbawa begitu saja. Hmm aku melirik dan terus melirik-- mencuri-curi pandang dari celah kacamata ku yang hitam ini. Kau mungkin tak tahu. Atau kau mungkin pura-pura tak tahu. Yang jelas keduanya tak seharusnya perlu tahu. Dalam makin serius. Mungkin itu komentar dariku ketika mencuri pandang dari gelagat kuas di genggammu. Andai aku jadi kuas itu, mungkin aku bisa lebih meluweskan telapakmu. Agar tak terlampau lelah saat perempuan yang kau lukis itu dipampang di pameran nanti.

Saat aku menulis ini pun, baru saja beberapa menit yang lalu aku menemuimu. Dengan terburu-buru, aku enggan berlama-lama menikmati dekatmu. Mending jangan. Sebab ku belum mempunyai alasan-- setidaknya untuk menerangkan pada diriku sendiri. Mengapa aku selalu merasa gelisah saat di dekatmu. Mungkin suatu nanti kau akan membaca ini. ini sebuah surat. Potongan surat kecil kiranya spesial untuk kau lihat (belum sampai kau baca).

Kiranya sudah cukup aku menuangkan ini dalam beberapa paragraf yang berusaha romantis ini, aku berpikir bahwa mungkin ini, "Sedikit terbesit berpikir, apakah ini kematian kecil dari komedi romantisku? Aku rasa cinta yang mapan dan ideal itu terlalu jauh. Mending aku nurut Wildan," pikirku.

Jauh dalam benakku, Wildan seorang pemuda yang beberapa hari lalu berulang tahun pun menjawab pertanyaan kecilku, "fokus nulis aja, del," begitu kata Wildan.

Ya aku jawab sekarang pun, saat aku memikirkanmu, aku berpikir bahwa aku pun

harus menuliskanmu– minimal tentangmu itu pernah bersemayam di setiap coretan notes

pudar ponselku.

-NA

Menyenangkan bisa lepas dari orang yang menyakiti meskipun
dari cara yang paling menyakitkan.
Banyak trauma yang akhirnya membawa banyak pelajaran
Dari kesedihan dan kehancuran melahirkan keikhlasan
Untuk apa hidup jika bukan untuk memaafkan ?
Memaafkan diri sendiri, orang lain, dan hidup yang kadang
menyebalkan.
Mengalah bukan berarti kalah, mengikhlaskan seseorang untuk
wanita lain itu hebat.
Jalani apa yang sudah menjadi takdir, tidak perlu menyesali
apa yang sudah terjadi, yang semestinya biarlah menjadi
semestinya.
Hidup memang kadang banyak candaan yang penting sudah
memberi yang terbaik, itu lebih dari sekedar cukup.
Cukup ingat bahwa hal-hal yang baik terkadang harus dilalui
dengansedikit kekecewaan
Tidak perlu merasa kurang jika sudah menjadi tulus
Pilihannya hanya lanjutkan hidup atau lepaskan
Percaya saja bahwa akan ada jutaan hal baik yang akan datang
Kuncinya hanya satu, ikhlas!

Beruntung atau

Sial??

Entah sudah bulan Juni yang keberapa, yang jelas rasa itu masih ada. Awal yang dirasa baik namun kalah dengan kenyataan yang pahit. Memang benar jangan pernah menggenggam apa yang tidak mau digenggam. Tangan ini masih terasa menggenggam erat duri mawar yang semakin menusuk ke dalam daging. Dada ini masih terasa sesak jika mendengar namamu, namun disaat yang bersamaan jantung ini masih berdenyut jika mendengar suaramu.

Entah sudah malam yang keberapa ombak kerinduan ini masih bergoyang kencang dalam fikir. Dirasa mengenalmu bukanlah sebuah hal sial yang pernah terjadi dalam hidup ini. Jika dengan tidak mengenalmu, tak pernah ada rasa dalam diri ini untuk memupuk rasa rindu karena jarak. Jika dengan tidak mengenalmu, tak pernah ada rasa dalam diri ini untuk menahan amarah sebab kamu lebih menarik memandang mawar lain yang lebih merah merekah. Jika dengan tidak mengenalmu, tak pernah ada rasa kupu-kupu yang menggelitik dalam perut ini. Namun semua rasa itu kalah dengan diri ini yang menyerah untuk melepas mu yang lebih memilih memetik mawar merah itu. Tak ada penyesalan, hanya saja hati ini terasa asing jika bertemu dengan sosok lain yang seperti mu. Mengenalmu bukan suatu keberuntungan atau kesialan, mungkin ada takdir semesta yang lebih baik untuk jalan kedepannya.

Kasih, Cinta, &Harapan

Kendalikan Proses pemikiran kian berputar

Kasih telah bergelut indah Kasih kian menghangat

Kasih akan ada dalam hati Dan kasih akan bertemu cinta

Catatan catatan itu terbuka kembali Kehidupan terlampau dari segala waktu

Antara kasih dan cinta kian menyatu Cinta atas apa

Cinta karena apa Dan cinta untuk apa

Harapan itu pun kembali muncul Kembali padanya dengan segenap jiwa

Berharap suatu kan terjadi Meninggalkan sesuatu tuk dijaganya

Dan dirawat sebagaimana mestinya Kasih, cinta, harapan.

PjlnSdrhn

by azaryafuckingpratama

AVJINBLAH HIDLPINI PANTAT

MAMAKLI

CANTIK

LLIBANG

SEKALI DENGAN

by recyclesvn

by azuraputra

THE PLACE WHERE I LEFT YOU

You think im fine,

@San_nyenyenyenye

by san_nyenyenyenye

sekian perjalanan zine ini telah berakhir.

menerima segala cacian dan makian dengan lapang dada.

akhir kata, seperti itu. seluruh tulisan, gambar, dan karya apapun yang ada

didalamnya telah selesai

TABIK, ZINEURI.

TAMAT