BERGERAK! Vol.1/2023 Bersama
yang Tergusur
Dalam rentang 2021-2022, BandungBergerak.id
mendokumentasikan beberapa catatan penting dari
korban-korban penggusuran di Kota Bandung.
28 Maret 2023
Ketika zine ini sampai ke tangan kawan-kawan, Sr BandungBergerak.id –yang mulanya diniatkan berumur satu tahun saja– sudah menjejak tahun keduanya. Sebuah pencapaian yang tentu saja a menuntut sekian banyak tanggung jawab. Lalu kenapa t merayakannya dengan menerbitkan produk cetak ala zine? n Barangkali ini semacam pernyataan tentang bagaimana semua bermula: keberpihakan kepada a yang kecil, yang di pinggiran. Dan itu dilakukan lewat independensi yang sederhana. g
Itulah kenapa zine ini diberi nama BERGERAK! Dan n itulah juga kenapa di edisi perdananya ini, zine menampilkan beberapa reportase terpilih dari medan e penggusuran di Kota Bandung. Bukan melulu tentang hari H kejadian, yang pasti tidak luput dari sorotan
Pmedia, tetapi justru tentang hari-hari sesudahnya
yang tak kalah berat bagi para korban. Terutama bagi mereka yang rentan: anak-anak. h Zine BERGERAK! direncanakan terbit dua kali setahun. Yang pertama pada 28 Maret, bertepatan a dengan tanggal lahir BB. Yang kedua, sangat mungkin, pada 25 September, bertepatan dengan hari jadi Kota u Bandung. Anggaplah zine ini semacam kado.
bTerima kasih untuk semua dukungan dari kawan-
1 kawan. Bergerak! e Salam, Redaksi BandungBergerak.id
2
Bandung, dari
Penggusuran ke
Penggusuran
Dalam delapan tahun terakhir, penggusuran
demi penggusuran terjadi di Bandung, kota
yang mendaku ramah HAM (hak asasi
manusia). Warga selalu jadi korban. (Foto
Prima Mulia/BandungBergerak.id)
| Kehilangan sebuah rumah, anak-anak Anyer Dalam bukan hanya kehilangan benda-benda fisik. mereka juga banyak kehilangan kenangan menyenangkan. (Foto Prima Mulia/BandungBergerak.id) Emi La Palau, 10 Februari 2022 Bermain (Lagi) di atas Puing Anyer Dalam | |
|---|---|
| 3 | “Cicak-cicak di dinding / Diam diam merayap / Datang seekor nyamuk / Hap! Lalu ditangkap.” |
Dengan pengucapan kata per kata yang tak sempurna, tapi tanpa kehilangan semangat, FAN (8), menyanyi di depan kawan-kawan sebayanya. Beberapa kali ia naik turun panggung. Entah menyanyi atau sekadar memegangi mikrofon lalu meneriakkan namanya dengan lantang.
Kawan-kawannya menyahut dan menimpalinya dengan tepuk tangan meriah. Juga warga yang lain.
Minggu (30/1/2022) malam itu, di atas reruntuhan bangunan milik keluarga FAN dan warga lainnya di Anyer Dalam, Kelurahan Kebon Waru, Kota Bandung, dibangun panggung yang dihiasi dengan lampu kerlap-kerlip. Juga awan buatan yang menghiasi langit-langitnya. Inilah puncak rangkaian pagelaran seni “Bintang di Anyer: Bermain dalam Serpihan” yang digagas oleh komunitas Rumah Bintang (Rubin) yang secara konsisten memberikan pendampingan bagi anak-anak Anyer Dalam.
FAN merupakan satu dari sekitar 26 anak korban penggusuran rumah di Anyer Dalam oleh PT. KAI dua bulan lalu, tepatnya Kamis, 18 November asdasd
2021 pagi. Saat ini sebagian besar warga masih terus bertahan di sekitar lokasi penggusuran dengan mengontrak rumah tak jauh dari puing-puing bangunan rumah mereka.
Sejak lahir, FAN tampak seperti anak-anak normal pada umumnya. Perbedaan itu mulai tampak ketika usianya menginjak 2,5 tahun. FAN masih belum dapat berbicara seperti anak-anak kebanyakan. Selain itu ia juga lambat dalam proses merangkak, duduk, dan berjalan.
Setelah diperiksa ke psikolog, FAN diketahui mengalami sindrom down, tunagrahita, yang menyebabkan pertumbuhannya berbeda dibandingkan anak kebanyakan. Orang tua FAN pun mulai membawanya untuk mengikuti terapi.
“Dari lahir awalnya (saya) nggak tahu kenapa (FAN) nggak bisa jalan, nggak bisa ngomong. Saya bawa ke psikolog, katanya dia bukan nakal tapi hiperaktif, mengalami sindrom down grahita,” ungkap Melly Indriani (52), ibu FAN.
Melihat anaknya yang sedari dulu asdasd
susah untuk bersosialisasi, bahkan cenderung pemalu, Melly bangga melihat keberanian FAN untuk mau naik ke atas panggung dan bernyanyi di malam pentas seni itu. Kondisi dan perkembangan FAN selama ini membuat ibu tiga anak itu sering dilanda khawatir.
Melly menceritakan bagaimana kacaunya situasi di hari penggusuran. Pagi-pagi sekali, ketika matahari belum terlalu tinggi, kawasan Anyer Dalam RT 05 dan RT 06 sudah dipenuhi alat-alat berat. Tak hanya itu, aparat kemanan berjaga. Barang-barang warga dikeluarkan paksa, lalu bangunan rumah mereka dibuat rata dengan tanah.
Anak-anak menyaksikan bagaimana brutalnya penggusuran ketika itu. Melly mengungkapkan, FAN juga menyaksikan ketika bangunan rumah asdasd 5
mereka mulai diruntuhkan. Dia lantas menyuruh sang anak pergi dari lokasi kejadian.
Berjalan ratusan meter dari kawasan pembongkaran, FAN yang tak mengerti apa-apa dan dalam kondisi menyandang disabilitas itu terpaksa bermain seorang diri di tengah
“Saya tanya: (FAN) kenapa nggak pulang, jawabnya: Mama, gak ada jalan. ‘Gak ada alan’,” kata Melly menirukan cara bicara anak kesayangannya.
Pascakejadian penggusuran, Melly menceritakan ada banyak perubahan yang dialami oleh FAN. Tiap subuh, sekitar pukul empat, FAN mulai bangun, lalu membuka pintu rumah sendiri dan bermain ke reruntuhan seorang diri. Di tengah kondisi masih gelap!
Anak-anak Anyer Dalam menunjukkan lukisan yang dipajang di sisa dinding reruntuhan rumah mereka di kawasan penggusuran. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)
Trauma Anak
Trauma tak hanya dirasakan FAN. Semua anak Anyer Dalam mengalaminya. Hal paling tampak terjadi pada anak ketiga Desi Merliani (30) yang baru berusia tiga tahun, namanya Pr. Desi menceritakan semenjak penggusuran, Pr menjadi lebih agresif dan mudah marah. Pada saat bersamaan, anak-anaknya jadi lebih gampang sakit. Tiap kali selesai bermain dari reruntuhan, pasti sakit. Badan panas, dan batuk pilek.
“Ini kalau main di sana (reruntuhan), mungkin (kena) angin, jadi gampang sakit. Tapi kalau seharian gak ke sana aja sehat. Mungkin capai, jadi kalau malamnya suka panas. Batuk juga,” ungkapnya, ditemui di kontrakannya, beberapa meter dari serpihan reruntuhan di malam yang sama.
Di hari-hari pertama pascapenggusuran, Desi dan anak-anak harus mengungsi sementara di masjid. Ketika itu ketiga anaknya sering sakit-sakitan. Desi memiliki empat orang anak, si sulung Pj berusia 13 tahun, sedang duduk di bangku kelas tujuh sekolah asdasdasd
menengah pertama (SMP). Lalu, anak keduanya Pd (6), baru sekolah di TK, ketiga ada Pr, dan si bungsu Ps yang baru berusia 6 bulan.
Sejak awal Desember 2021, Desi dan warga lainnya memutuskan untuk mencari kontrakan yang tak jauh dari 6 lokasi reruntuhan. Mereka tak enak hati pada warga lain yang akan menggunakan masjid yang dijadikan pengungsian. Di kontrakan dengan harga sewa 800 ribu rupiah per bulan, Desi berbagi ruang dengan satu keluarga lain yang juga korban penggusuran. Di sana tinggal kurang lebih 11 orang.
“Kalau ini, kalau perubahan, iya sekarang tambah jadi ngontrak. Kan waktu itu cuman bayar listrik aja sama air, jadi sekarang uang sedikit harus dibagi-bagi. Lebih enak di rumah sendiri,” ungkap Desi.
Bukan hanya beban ekonomi Desi yang bertambah. Dia juga harus menghadapi perubahan perilaku anak-anaknya pascapenggusuran. Pr, anak yang sejak kecil memang cukup aktif itu, menjadi lebih mudah marah. Di rumah kontrakannya, ia kerap kali memukul pintu rumah atau melepaskan asdasdshejrjfjfjrjjeiei
| didierita | oleh | anak-anak. | Pr (3), | |
|---|---|---|---|---|
| misalnya, tentang rumahnya. | menyimpan | rasa | trauma | |
| “Di | udah | diluntu | tama | KAI. |
sana Sama beko diluntuin. Marah, nangis,” katanya.
tripleks pintu. Terkadang juga jika ada palu, ia sering memukulkannya ke tembok.
“Jadi lebih nakal ya ini, jadi lebih gak mau diem. Itu pintu pertama ke sini bagus, sekarang acak-acakan. Kalau ada palu digini-gini (dipukulin) ke tembok. Dede ngapain? Biarin. Rumah aku kan dirusakin, cenah gitu,” tutur Desi.
Pd, anak kedua Desi, sejak dulu gemar naik kereta api. Sesekali ketika ayahnya libur, ia sangat senang diajak naik kereta ke sekitaran Bandung. Ketika besar nanti Pd ingin menjadi masinis pembawa kereta. Namun, cita-cita itu runtuh. Penggusuran oleh PT. KAI membuatnya membenci kereta. Ia kini tak ingin lagi menjadi masinis, tapi koki.
“Mau jadi polisi, eh tapi kata Ibu jangan. Mau jadi koki aja,” ungkap Pd. “Udah nggak suka (kereta api).”
Pemulihan Trauma dalam Solidaritas
Penggusuran selalu menyisakan trauma. Tak hanya kepada orang dewasa, tapi terlebih trauma itu juga as
Pulang dari sekolah pada hari nahas itu, Kamis (18/11/2012), anak-anak mendapat ekskavator dan ratusan petugas sudah menghancurkan rumah-rumah mereka. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Namun toh Pr masih menyimpan harapan akan sebuah rumah. Ia ingin bisa kembali memilikinya.
“Bisa, bisa bikin lagi (rumahnya),” katanya dengan pengucapan kata yang cukup jelas.
Komunitas Rumah Bintang (Rubin) sejak Desember 2021 hadir di Anyer Dalam untuk mengembalikan lagi sedikitnya tawa anak-anak yang menjadi korban penggusuran. Tiap pekan, ada dua hari kegiatan pemulihan trauma (trauma healing), yakni Kamis dan Sabtu sore. Kegiatannya menggambar, bernyanyi bersama, atau lainnya.
Rangkaian pameran dan pementasan seni “Bintang di Anyer: Bermain dalam Serpihan”, yang berlangsung selama tiga 28-30 Januari 2022, merupakan bentuk apresiasi terhadap karya yang dihasilkan oleh anak-anak selama kegiatan pemulihan trauma itu. Turut ditampilkan juga di sana kolase dari majalah dan barang-barang limbah serta patung dari tanah. Kesemarakan pentas seni di atas puing Anyer Dalam bertambah dengan penampilan dongeng dan musik oleh para pegiat solidaritas Bandung.
“Dan setidaknya kita, kalau menghilangkan (trauma) ya sulit ya, tapi minimal (memenuhi) hak untuk mereka tetap bisa kembali punya ruang untuk bermain yang memang layak. Itu yang kita coba berikan asdasd
alternatifnya dengan kondisi yang ada sekarang,” ungkap Niki Suryaman, koordinator Rubin Bandung.
Menurut Niki, kegiatan pemulihan trauma amatlah penting karena anak-anak Anyer Dalam menyaksikan langsung momen penggusuran, yang kemudian membekas menjadi trauma mendalam. Beberapa anak mudah marah ketika mendengar kata PT. KAI, atau juga dengan lantang mengeluarkan kata-kata alat berat seperti beko. Yang lain menjadi dengan enteng mengucapkan kata-kata yang menghina atau menghujat aparat.
“Dampak dari si penggusuran ini (kepada anak) sudah jelas. Kenapa kita penting bikin aktivis di sini, (karena) sebagai bagian dari kita coba memberikan lagi ruang-ruang bermain mereka selayaknya mereka anak-anak yang memang punya ruang untuk hidup dan bermain,” ungkap Niki
Menurut Niki, anak-anak senantiasa identik dengan waktu bermain. Akibat penggusuran rumah dan kampung, hak itu terenggut. Ada asdad
| tidak | diwarnai sedikit Salah Bintang, | mengungkapkan | pertengkaran anak (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id) kawan untuk bermain. seorang Lutfi | Menyaksikan langsung penggusuran yang | dan menyimpan kepingan sejarah yang hilang, yaitu kenangan akan rumah dan juga akan sukarelawan Nursabrina bahwa | di | intimidasi, trauma. Rumah Arifin, pekan- | “Ada marah, bikin ‘ah Jadinya hias, pentas Anyer tragedi sendiri. hidup atas dengan | juga gambar ternyata rumah uring-uringan, ungkapnya. Begitulah juga saksikan kampung, berlindung. bertepuk panggung. penggalan Dinding”, | terus ada selama seni, Dalam Alat-alat bangunan-bangunan menjadi reruntuhan berani | mereka untuk bisa ceria kembali. yang aku gemerlap keseruan penggusuran dengan lalu tangan Meski lagu dan | sempat rumah beberapa juga kita sampai membuat melupakan Pj (13), Fi (11), dan Fa (10), duduk di spanduk. Mereka turut bersorak dan hanya juga | jadinya yuk acara yang mata berat yang tempat yang setiap maju “Cicak-Cicak | saya atau yang nggak bikin seperti lampu-lampu masuk meruntuhkan kali ke | marah- ajakin apa, bilang ada’. karya itu,” malam anak-anak sejenak mereka kepala ke seumur mereka dilapisi FAN atas menghapal di penggalan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 9 | pekan | awal | jadi pendiam. Butuh waktu bagi | banyak anak-anak Anyer Dalam yang | pascapenggusuran, | itu lepas. | membuat | beberapa lagu lain, aksi lucu bocah mereka (BandungBergerak.id) | bisa | tertawa |
Api Fatimah Mempertahankan Dago Elos
nding terbentang di di Nepi Sabubukna Spanduk Lawan akan ijadikan tempat mannya sering d rumah yang hala .id) ak /BandungBerger oto: Prima Mulia anak bermain. (F
“Mau berjuang sama, berjuang pengin tetap di sini. Kalau di sini diganti 1 miliar rupiah saya penginnya di sini (di Dago Elos). Saya bisa ngewarung di sini, saya sehat,” ucap Fatimah.
Iman Herdiana, 11 Juli 2022
Dago Elos dalam Angka, Warisan Kolonial
Merongrong Warga
Warga Dago Elos dan Cirapuhan berdemonstrasi di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Jawa Barat, Bandung, 20 Juni 2022. Mereka menuntut BPN bersikap dan berpihak pada rakyat. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Ketenangan mengusik warga Kampung Dago Elos dan Cirapuhan, Kota Bandung, beberapa pekan belakangan ini, pascaputusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung yang memenangkan ahli waris 11 atas tanah sengketa di sana. Padahal pada pengadilan tingkat kasasi sebelumnya, warga Kampung Dago Elos dan Cirapuhan telah asdadasdasda
memenangkan perkara ini.
Namun perjuangan warga Dago Elos sepertinya harus panjang umur. Warga dituntut agar tetap merapatkan barisan meski mereka telah melewati sengketa tanah dan pengadilan sejak bertahun-tahun, tepatnya mulai 2016 di Pengadilan Negeri Bandung.
| Dago | Dago Elos dalam Angka | merupakan | satu | dari | 6 | Warga | berbincang Prima Mulia/BandungBergerak.id) | Ketenangan warga terusik putusan Mahkamah Agung yang tidak berpihak pada rakyat. (Foto: | mengawali | pagi. | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| kelurahan | yang | masuk | ke | wilayah | 12 | ||||||||||||
| yakni dari Dago di 13 | Kecamatan total (743,30 Kelurahan Coblong Cipaganti Siliwangi hektare. Kelurahan RT masuk berdasarkan Menurut asdasd | 258 dengan di Kecamatan dan sengketa BPS | Coblong. hektare luas hektare). hanya 1-5 kilometer ke selatan. lain selain 34,00 100,00 102 Direktori Mahkamah Agung. Kota | kelurahan kedua terluas di Coblong, atau Kecamatan Jarak pusat di Gede 101,30 hektare, Sadangserang 133,00 hektare, dan Sekeloa 117,00 dataran (812 meter di atas permukaan laut) administratif Dago terbagi ke dalam RW. di Elos ada di RW 1, RW 2, dan RW 3, salinan 2021, jumlah penduduk Kecamatan Coblong pada tahun 2020 sebanyak 110.205 jiwa di mana 49,48 persen | Dago 29 Kota Dago hektare, hektare, paling Coblong, Daerah Kampung kasasi Bandung | kelurahan Kecamatan | sebagai persen Coblong Bandung adalah Lebak Lebak tinggi secara yang Dago tahun | dari | tahun 15-64 tahun. orang. dengan padat, asdasd | Sebagaimana didominasi kelurahan yakni | usia sebanyak tahun Hal Dago pegawai swasta, 7.152 orang. jumlah | perempuan dan selebihnya laki-laki. Bandung, warga Kecamatan Coblong Jenis mata pencaharian di Coblong didominasi wiraswasta, yakni 8.178 serupa Dago juga tercatat sebagai kelurahan 33.936 | kecamatan muda, 24.579 sebanyak yang penduduk | yakni orang, | lain orang, terjadi mayoritas | di 0-14 dan 77.507 di paling artinya |
dalam satu kilometer dihuni 13.205 orang. Laju pertumbuhan penduduknya 1,19 persen per tahun.
Warga miskin di Kecamatan Coblong bisa dilihat dari jumlah penerima zakat, yaitu 10.734 orang. Warga penerima zakat di Kelurahan Dago sebanyak 1.937 orang.
Meski tercatat sebagai kelurahan paling padat, di antara 6 kelurahan yang ada di Kecamatan Coblong justru tinggal Dago yang masih memiliki sawah seluas 1 hektare. Mayoritas tanah di Dago berupa lahan bukan sawah seluas 257 hektare yang dipakai perumahan dan pekarangan.
Tersangkut Hukum Kolonial
Gugatan terhadap warga Dago Elos terjadi bertahun-tahun lalu, dengan kasus hukum pertama diputus di Pengadilan Negeri Bandung pada
- Menurut salinan pusutan kasasi, warga Dago Elos digugat oleh keluarga Heri Hermawan Muller cs, keluarga yang mengklaim ahli waris dari Eduar Muller yang disebut pemilik tanah Eigendom Verponding (bukti kepemilikan tanah zaman Belanda). asdasdads
Keluarga Muller memberikan kuasa kepada kuasa hukum dari PT Dago Intigraha (sebagai penggugat IV), berkedudukan di Jalan Astanaanyar, Nomor 340, RT 002, RW 003, Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, milik Jo Budi Hartanto.
Keluarga Muller melalui PT Dago Intigraha menggugat warga Dago Elos yang terdiri dari 335 orang yang tinggal di Kampung Cirapuhan dan Dago Elos RW 1, RW 2, dan RW 3. Tak hanya itu, pemerintah juga turut tergugat dalam kasus ini melalui asdasd Pekerja beraktivitas di terminal Dago, Kota Bandung. Spanduk dan tulisan bernada perlawanan dipasang warga untuk menunjukkan bahwa tanah Dago Elos adalah milik mereka. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
sejumlah asetnya berupa tanah dan perkantoran, yaitu Kantor POS dan Giri, dan Terminal Dago.
Dalam berkas gugatan disebutkan, PT Dago Intigraha menggugat Pemerintah RI c.q. Pemprov Jawa Barat, c.q. Pemkot Bandung c.q. Kepala Dinas Perhubungan c.q. Kepala Terminal Dago.
Keluarga Muller mengklaim memiliki tanah zaman kolonial Eigendom Verponding Nomor 3740, 3741, 3742 yang kini masuk wilayah Dago Elos dengan bukti Acte van Prijgving van Eigendom Vervondings Nummer 3740, 3741 en 3742 Aan: George Hendrik Muller, Eigenaaren De Heer Marinus Johanes Meertens, Administrateur van en wonende Op het LandTjoemblong in de afdeeling Bandoeng.
Terjemahan akta berbahasa Belanda itu adalah Akta Atas Nama Raja, Akta Kepemilikan Nomor Verponding 3740, 3741, 3742 kepada: George Hendrik Muller (keluarga Muller), pemilik, berasal dari peralihan pemilik tanah sebelumnya Perseroan Terbatas Pabrik Tegel Semen Handeel “SIMOENGAN”. Total luas tanah 69.346 meter persegi.
Namun dalih yang dipakai penggugat bertentangan dengan surat jawaban Kepala Kantor Pertanahan (BPN) Kota Bandung tertanggal 24 Oktober 2016, Nomor 1683/5.32.73/X/2016, perihal permohonan pendaftaran Sertifikat Tanah Hak Eigendom Verponding Nomor 3740, 3741 dan 3742, Dago Elos, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Pada putusan kasasi, penggugat (keluarga Muller) dinyatkaan tidak berhak mengalihkan ataupun mengoperkan objek sengketa kepada PT Dago Intigraha dan mempersengketakan objek yang statusnya sudah dikuasai negara.
Warga atau para tergugat dinyatakan terbukti menguasai objek sengketa dalam kurun waktu lama, terus menerus dan sebagian sudah diberikan sertifikat hak milik, sehingga lebih berhak menjadi prioritas untuk memohon hak atas tanah sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah juncto Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang asadasd
Perjuangan warga Dago Elos mempertahankan tanah mereka sudah berlangsung bertahun-tahun. Banyak komunitas yang bersolidaritas, termasuk dari kalangan seniman. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Pendaftaran Tanah Pasal 6.
“Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, gugatan Para Penggugat harus ditolak,” demikian keputusan hakim kasasi.
Tetapi putusan hakim kasasi ini kemudian bertolak belakang dengan Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung yang menyatakan keluarga Muller atau PT Dago Intigraha sebagai pemenang. Belum diketahui apa yang menyebabkan hakim Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung mengabulkan gugatan. Sejauh ini keputusan MA ini belum dimuat di Direktori Mahkamah Agung. Selain itu, LBH Bandung menyatakan tidak ada novum atau bukti baru yang dimiliki penggugat di dalam perkara PK MA ini. (BandungBergerak.id)
Terminal Dago dan Kantor Pos yang merupakan aset pemerintah juga masuk dalam sengketa. Namun pemerintah diam saja. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
| Eva Eryani, memperlihatkan foto ibunya yang terus mendukungnya memperjuangkan hak atas tanah dan ruang hidup di RW 11 Tamansari, Kota Bandung. (Foto: Virliya Putricantika/ BandungBergerak.id) Eva saat ini menjadi satu-satunya warga yang tinggal di lahan penggusuran itu. | |
|---|---|
| 16 |
PDA (4) menikmati makan malamnya, berupa semangkuk mi instan dan nasi, di lantai dua Masjid Al Islam. (Foto: Virliya Putricantika /BandungBergerak.id)
Emi La Palau, 11 Februari 2022
Di bawah Lindungan
17
Masjid Al Islam
Tamansari
Sekitar 5,7 kilometer jaraknya dari Anyer Dalam, di tengah kota yang gemerlap, PDA (4) mengangkat kedua tangan, sembari membaca dengan lantang doa makan. Kepadanya disodorkan semangkuk mie instan dan sepiring nasi. Tanpa mengeluh, PDA dengan lahap menyantap makan malam yang disiapkan oleh Ade Sumaryati (55), neneknya itu.
Sudah dua tahun lebih, tepatnya sejak 12 Desember 2019, dinginnya lantai dua Masjid Al Islam Tamansari menjadi satu-satunya tempat berlindung Ade Sumaryati (55) dan kedua cucunya, PDA dan SRR (15). Di hari nahas itu, penggusuran besar meluluhlantakkan semua bangunan asdh
rumah warga yang tersisa di RW 11 Tamansari demi memuluskan proyek pembangunan rumah deret oleh Pemerintah Kota Bandung.
PDA tumbuh dan besar di Masji Al Islam Tamansari. Ketika penggusuran terjadi, umurnya baru dua tahun. Ia tampak sebagai anak yang cukup aktif dan cepat tanggap. Ketika ditanya cita-cita, dengan cepat ia menjawab.
“(Saya) Ingin jadi dokter, soalnya pinter. Nanti kalau orang mau sakit, asdawd
nanti disuntik, biar sembuh,” ungkapnya kepada BandungBergerak.id, ditemui di masjid, Rabu (27/1/2022) malam.
Ade dan kedua cucunya saat ini sendiran bertahan di masjid. Dia, bersama Yeni Ruliati (58), tidak memperoleh bantuan dana dari pemerintah untuk mengontrak rumah selama pembangunan deret belum tuntas. Alasanya, rumah mereka yang digusur itu dibangun di atas tanah yang telah mendapat kompensasi dari pembangunan Jalan Layang Pasupati.
Menurut Ade, jika dicek lebih teliti, tidak sedikit warga lain yang sebenarnya juga telah mendapat kompensasi dalam proyek jalan layang itu, namun tetap memperoleh bantuan uang sewa rumah. Pemerintah Kota Bandung dirasainya tebang pilih.
“Kata Bu Yeni, (kami tidak mendapat uang bantuan kontrakan) mungkin karena tadinya kita melawan (menolak rumah deret),” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Bertahan Hidup secara Mandiri
rumahrumah
Membesarkan dua orang cucu dalam kondisi tak biasa, di tempat pengungsian, tentu bukan hal mudah bagi Ade. Beruntung, ketika PDA masih membutuhkan popok dan susu, masih ada bantuan dari aliansi masyarakat sipil yang bersolidaritas. Namun kini sudah setahun lebih tak ada lagi bantuan. Ade harus benar-benar putar otak agar memiliki sedikit penghasilan untuk membeli kebutuhan makan kedua cucunya secara mandiri.
“Kalau dulu kan waktu ada rumah, saya jualan, buat biayain anak sekolah. Jualan rokok di Taman Film. Waktu itu kan mamahnya (PDA) sekolah, jadi saya jualan kopi dan rokok. Kemarin-kemarin juga sempat jualan. Kalau sekarang pengin jualan juga nggak ada tempat, nggak ada modal,” ungkap Ade.
Sesekali Ade mendapat panggilan untuk membantu mencuci dan membersihkan kos-kosan milik temannya. Dengan penghasilan itu, 18 dia bertahan hidup. Meski tak menentu, Ade selalu yakin, tiap kali dia sangat kesulitan, pasti selalu ada saja jalan untuk menutupi kebutuhannya dan kebutuhan kedua cucunya.
| kalau aduh | kerasa. | kita Memang gimana | yakin. ini | “Alhamdulillah rezekinya selalu ada sih nanti. | Emang kalau Kaya | benar dipikir (PDA) | ada | baginya. menyiapkan gula | Saat dan | ini teh coklat sasetan. Itu pun ketika sedang | Ade manis bahan-bahan | hanya atau | bisa susu teh. | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 19 | harus aja. tahu Ade. popol sedikit | jajannya, sekolahnya. Nggak ya, dan asdawd | terus mikir asal | Tapi usah tidak memberikan Bangunan rumah deret menjulan tepat di depan rumah darurat Eva Eryani. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id) | (SRR) makannya, takut. kitanya Ade menceritakan, ketika mulai tak ada donasi, PDA sudah mulai lepas | juga harus Alhamdulillah yakin,” menyusu | kan Tuhan lagi. keringanan | kita bekal ada juga kata Ini | Meski rutin, lain, rupiah. cucu. Ade orang suami mereka adik tinggal sdhas | di menangis. yakni karena membantu pendaftarannya sudah meninggal ke berharap mereka juga sulit. merupakan PDA di | ikut Semua dunia. anak. banyak karena ibu yang | awal Saat ini PDA sudah memiliki kegiatan kini tak mengajarkan masjid tempatnya berlindung. Biaya 50 sementara iuran bulanannya 25 ribu semampunya demi pendidikan sang 16 orangtua tunggal akibat sang suami Yang Agustin, merupakan ibu dari SRR. Dia dan dan adik SRA sekarang ikut sang Palembang. dia Anak kedua Ade, Yuliana Anggaraini, dari baru tahun, Yuliana mengikuti suaminya daerah | sempat mengaji ada ribu Ade tahun Dia PDA. Sadang | di lagi mengaji memiliki sulung, Ade tak sokongan tahu berusia | sering masjid rupiah, lakukan menjadi kondisi Bersama Serang, | yang di dua Rene bisa dari satu |
| SMP 10 “Tadi IPS, Fisika. SRR terjadi | tempatnya memang dengan Ade. Cita-cita SRR di menit. Tamansari. di Biologi, karena ungkapnya. lalu kampungnya. | sejak Kota tentang gurunya disuruh di | bekerja. SRR bersekolah di kelas 3 salah satu berangkat ke sekolah pukul 12 siang dengan berjalan kaki selama sekitar Pada sore, SRR tiba lagi di Masjid Al Islam sekolah buat tape, buat tahu. Kalau prakarya, cuman dibiarin. Dua pelajaran (kalau guru nggak masuk) paling diem aja, ngerjain tugas. Yang dikerjain kayak Kebanyakan menceritakan hari Pagi | PDA awal Bandung. pukul fermentasi, nggak ngerangkum. itu | ikut Ia pelajaran ada, sih apa ia | dan tinggal setengah Lalu main,” penggusuran siap-siap | SRR biasa 4 IPA kayak jadi IPA yang | Tangan “Yang jadi SRR barang hilang, kondisi menjadi akhirnya ke “Sedih, | tangannya aku keluarga, berangkat pergi menggunakan ia sekolah seragam. | kirinya sama hari nggak sekolah,” tuturnya. sempat pribadinya seragam sekolah kayak | sempat menghadang. Namun, justru ditarik hampir seminggu pemulihannya. ingat, campur aduk. Kayak mikirin mama, diri sekolah, (karena) kan posisinya mau sekolah. sekolah. diselamatkan karena telanjur sudah dibawa pergi oleh aparat. Buku-buku korban diberi tanpa tempat kecil, dihancurin. Tempat main dari kecil, yang biasa pulang, lihat kondisi | keseleo bersekolah seragam. hilang. | dan dan kayak sendiri. Akhirnya Sampai tak mengetahui kebebasan tinggal | penggusuran, mengenakan | dipukul. butuh pusing Sama nggak berapa tanpa Barang- sempat Karena SRR untuk dari |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| aparat | berangkat mengepung | ke dan | alat rumah bersama sang nenek. Ketika petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) hendak menggusur rumahnya, ia | sekolah. yang | berat ia | Namun, sudah tinggali | sudah Ketika | banget,” ucapnya. | hancur. pandemi | persoalan baru muncul. Belajar jarak jauh membutuhkan kuota internet. Di | Kondisinya Covid-19 | kacau 20 datang, |
bulan-bulan awal, masih ada internet gratis bagi warga Tamansari korban penggusuran yang disumbangkan oleh jejaring solidaritas. Namun saat tinggal ia dan neneknya sendiri yang bertahan di masjid, bersekolah secara daring menjadi kian sulit bagi SRR. Kartu internet gratis subsidi dari pemerintah pusat tak bisa digunakan. 21 Alhasil, Ade terkadang harus berutang untuk sekadar memenuhi kebutuhan internet bagi sekolah SRR. Nanti sesekali ketika ibunya PDA sudah gajian, barulah utang dibayarkan. Saat ini uang sekolah SRR juga masih ada tunggakan, sekitar satu juta rupiah.
Dalam segala keterbatasan hidup di pengungsian, SRR masih membubung harapan. Ia bercita-cita menjadi pemain futsal profesional atau pembalap. Ia cukup mahir dan gemar bermain futsal.
“Ya kadang sedih, kadang senang. Kayak suka lihat teman pulang ke rumah, aku pulang ke masjid. Sedih (kalau) ingat lagi,” ungkap SRR.
Trauma KNA
Di sebuah warung kecil di bawah kolong jembatan layang Pasupati, beberapa meter dari Masjid Al Islam Tamansari, tinggal Yeni Ruliati (58) bersama suami dan satu orang cucunya, KNA (5). Di bulan-bulan pertama pascapenggusuran, keluarga Yeni sempat berdiam diri di masjid. Namun karena harus memiliki warung, dia terpaksa pindah dan secara perlahan mulai kembali berjualan untuk mengganjal kebutuhan hidup sehari-hari. Yeni menjual beragam kopi sasetan, susu, dan barang kebutuhan sehari-hari lain.
Yeni bercerita, KNA masih merasakan trauma akibat penggusuran. Ketika ada orang berkerumun, cucunya itu suka berteriak, lalu bersembunyi.
“(KNA) itu sekarang juga masih trauma. Dulu itu pas penggusuran, traumanya lama. Kalau lihat orang-orang berkerumun, dia teriak, ngumpet. Kadang banyak anak-anak aliansi dulu, dilempar (KNA) ‘Hei polisi jahat, sana pergi, jangan nyamperin aku’,” ungkap Yeni menirukan KNA.
KNA juga berulang kali melontarkan asd
pertanyaan ke neneknya, kenapa rumah mereka hilang tergusur. Dia juga mengajak neneknya untuk pulang ke rumah.
Dalam segala keterbatasan, Yeni masih menyimpan harapan besar agar cucunya KNA bisa sekolah. Dari hasil berjualan kopi yang tak seberapa besarnya, dia menyelipkan sedikit uang untuk ditabung. Saat ini KNA seharusnya sudah duduk di bangku TK, namun tingginya biaya sekolah membuat Yeni belum mampu menyekolahkannya. Ada yang bilang kepadanya, biaya sekolah TK mencapai 5 juta rupiah.
“Kalau harapan saya, (KNA) mudah-mudahan tahun ini bisa masuk sekolah, bisa sekolah, ada (uang) untuk menyekolahkannya sampai ya kalau mudah-mudahan Ibu panjang umur, cari biaya sama orang tuanya kita bantu-bantu,” tutur Yeni.
Dampak Psikologis dan Lepas Tangan Pemerintah
Dalam setiap penggusuran kampung, anak-anak merupakan kelompok warga paling rentan. Dosen dan psikolog anak remaja di Unit Layanan Psikologi Terpadu (ULPT) Universitas Islam Bandung (Unisba) Stephani Raihan Hamdan menggambarkan bahwa kondisi kebutuhan akan rumah dan tempat tinggal yang layak akan mempengaruhi pertumbuhan anak, baik dari sisi fisik maupun juga psikologis.
Secara fisik, orang membutuhkan tempat tinggal untuk beristirahat, sehingga bisa sehat dan bertumbuh dengan baik. Ketika anak, misalnya, harus berpindah tempat dan berada dalam kondisi konflik, secara fisik ia akan rentan. Lalu, secara psikis, dirinya juga akan terganggu. 22
| Di hari | penggusuran | kala | itu, SRR | (15) |
|---|---|---|---|---|
| berani | menghadang | para | aparat | yang |
| hendak | merobohkan | rumahnya. | (Foto: |
Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)
“Jadi saya melihatnya dasar bahwa ketika seseorang tidak punya rumah yang layak saja sudah bermasalah. Ketika rumahnya tergusur dengan kondisi yang mungkin penuh konflik, situasi yang menyebabkan anak itu trauma, kayaknya double. Udah mah tidak bahagia, tidak punya tempat tinggal, ditambah dengan konflik yang membuat traumatik,” ungkap Stephani kepada Bandungbergerak.id melalui sambungan telepon, Senin (31/1/2022) malam.
Dalan kondisi penuh konflik seperti ini, anak-anak rentan mengalami dua trauma sekaligus, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Sebagai trauma jangka pendek, anak-anak menjadi syok dengan perubahan yang mendadak. Dari yang tadinya ada rumah, menjadi tidak ada. Trauma jangka pendek akan menyebabkan anak-anak terganggu secara konsentrasi, terganggu dalam pendidikannya, serta memiliki perasaan tidak tenang.
Sementara untuk efek jangka panjangnya, pengaruh secara psikis membuat anak-anak merasa tidak aman. Kualitas hidup anak bisa menurun, karena seluruh aspek asdadwa
perkembangannya juga menurun.
“Otomatis secara mental (anak-anak) terganggu. Ruang-ruang kebahagiaan mereka itu juga terenggut, istilahnya begitu yah, dengan adanya penggusuran ini. Dan traumanya jangka panjang,” ujar Stephani.
Dalam situasi konflik yang menempatkan anak-anak sebagai korban, pemerintah seharusnya hadir dan mengambil tanggung jawabnya. Penanganan secara psikis tentu sangat diperlukan. Namun pada kenyataannya, hingga kini anak-anak korban penggusuran di Kota Bandung belum sekali pun mendapatkan sentuhan dari Pemerintah Kota. Bahkan, pemerintah terkesan lepas tangan dan menutup telinga akan nasib anak-anak tersebut.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Bandung Rita Verita mengungkapkan bahwa memang betul PPA memiliki tugas membantu dan melindungi anak-anak yang menjadi korban secara psikis. Namun, tampaknya para petugas PPA sendiri belum pernah asdawd
| turun anak-anak penggusuran | Dari rumah darurat Eva Eryani langsung untuk korban di beberapa Kota Bandung, mulai dari Tamansari hingga Anyer Dalam. | menangani titik | kejauhan Jembatan Pasupati. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id) konflik di | mengalami akibat tersebut | di atas puing RW 11 Tamansari, terlihat di perubahan dampak dapat PPA Kota Bandung,” tutur Rita Verita kepada Bandungbergerak.id melalui | perilaku penggusuran mendatangi UPTD | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| asdas | “Orang tua yang merasa anaknya | pesan | (BandungBergerak.id) | secara | tertulis. 24 |
Eva Eryani di Tamansari:
Masih Satu, Masih
Melawan
Eva Eryani saat ini menjadi satu-satunya warga yang bersikukuh tinggal di atas puing kampungnya di RW 11 Tamansari, Kota Bandung. Dia melawan proyek rumah deret. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak.id)
| Podcast Suara Pinggiran: | ||||
|---|---|---|---|---|
| Dago Elos (Masih) Melawan | ||||
| [https://bit.ly/DagoElosMelawan | ](https://bit.ly/DagoElosMelawan | ) | ||
| Kawasan Dago menjadi salah satu wilayah elit di Kota Bandung. Sudah sejak | ||||
| enam tahun lalu, sengketa lahan menjadi ancaman bagi ruang hidup 331 | ||||
| keluarga yang telah puluhan tahun tinggal di Dago Elos, Bandung. | ||||
| 26 |
Bersama yang Tergusur
BandungBergerak.id
Diluncurkan pada 28 Maret 2023. Pemimpin Redaksi: Tri Joko Her Riadi | Penulis: Emi La Palau, Iman Herdiana Fotografer: Prima Mulia, Virliya Putricantika | Desain dan Tata Letak: Tofan Aditya