Siti Rukiah Kertapati
Kisah Perdjalanan si Apin
Kacabenggala Editions
Publisher Note (Sepatah Kata)
Dunia dongeng Bangsa Indonesia penuh dengan kekajaan dan keindahan alam dan bumi Indonesia, penuh dengan fantasi, rasa halus dan humor manusia Indonesia. Tetapi anak2 kita, terutama di-kota2 besar hidup djauh dari dunia itu.
Mereka hidup dalam dunia realisme se-mata2, penuh dengan bunji tembakan pistol cowboy, persoalan2 crossboys dan buku2 komik asing.
Menggali kembali kekajaan bumi dan alam Indonesia dengan membawa dongeng2 dalam dunia anak2 kita berarti mendekatkan mereka kepada sumber inspirasi Bangsa Indonesia, dan berakibat berakarnja kembali mereka dalam buminja sendiri. Karena dongeng adalah suatu kebutuhan pokok bagi perkembangan djiwa anak.
Maka adalah kewadjiban bersama, para orang tua, para petjinta anak, kaum pendidik, kaum seniman/seniwati untuk membawa anak kepada sumbernja dan menghidupkan kembali dongeng itu dengan segala matjam djalan; dengan kata2 (buku, radio dsb.nja), dengan lukisan2 maupun dengan sandiwara,
Hanja dengan demikian dapat terbentuk keperibadian Bangsa Indonesia jang bersumber pada alam dan buminja.
Djakarta, achir Djuni 1959.
Nj. UTAMI SURYADARMA
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
hanja untuk Nanda!
Ibu dan Anak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1 Kepegunungan Putih . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 Kembali Pulang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 38
Ibu dan Anak
Si Apin seorang anak jang manis, lutju dan baik laku. Ia berumur 12 tahun.
Ajahnja sudah lama meninggal. Karena ajahnja tak ada lagi, maka ia tinggal didesa dekat hutan, bersama ibunja. Mereka berdua sengadja tinggal ditempat jang terpentjil, djauh dari keramaian kota, agar tak banjak memakai uang untuk ongkos2 keperluan hidupnja.
Penghasilan ibunja hanja didapat dari pendjualan sajur dan buah2an jang mereka tanam dengan radjinnja. Uang ini hanja tjukup untuk biaja sekolah si Apin dan makan berdua sekedarnja. Tapi si Apin selalu berkata kepada ibunja: „Lebih enak kita miskin seperti sekarang ini, ja bu! Kita dapat tinggal dihutan dengan pohon2 besar dan bunga2nja. Kita dapat berkenalan dengan burung2 dan binatang jang aneh2. Tjoba orang2 kaja jang. tinggal dikota, mana bisa seperti kita? Biasanja mereka sukar mendapat pohon2an dan takut melihat binatang . . . . ”
Ibunja mengangguk dengan air mata berlinang.
Memang si Apin anak baik. Ia melihat segala keadaan, selalu dari segi2 jang baiknja.
Sekali ia pulang kerumah dengan muka bengkak2 dan badjunja penuh lumpur. „Aku berkelahi, bu!” — katanja. „Enak sekali....” — tambahnja.
„Ah, engkau ini ada2 sadja” — sahut ibunja. „Masa berkelahi enak. Jang enak itu ‘kan makan, tidur, djalan2, nonton...., nah itu boleh disebut enak....”
„Ja, berkelahi djuga enak, diika dalam perkelahian ini, kita dapat mempertahankan kebenaran” — djawabnja.
„Apa jang kaupertahankan itu?"
„Si Didi merampas buah mangga si Mamat jang dipungufnja ditepi kali. Si Mamat belum makan apa2 pagi itu, sebab dia anak miskin seperti kita. Ia sedang lapar, katanja. Sebaliknja, si Didi anak hadji Musa jang banjak rumahnja itu, ia baru sadja djadjan pisang dan ubi goreng. Tapi tiba2 direbutnja buah mangga si Mamat itu. Dan bukan direbut buahnja sadja, malah ditendangnja si Mamat hingga ia djatuh tertipeur dikali. Kedjadian ini bukan sekali sadja ia lakukan, malah sering ber-ulang2. Nah, sekali ini aku balas tendangannja dengan sebuah tindju. Ia melawan. Lalu kami bergumul hingga pak guru datang memisahnja.”
„Dan .... dan engkau tentu dihukumnja, bukan?” — sambung ibunja.
„Oh, sekali-kali tidak. Banjak teman2 jang menjaksikan, bahwa si Didilah jang bersalah. Tjoba sadja ibu pikirkan, siapa jang tidak akan marah, melihat dia memperlakukan si Mamat seperti memperlakukan binatang? Hmm, mentang2 anak orang kaja. Maunja selalu menghina kita jang miskin2. Itu ’kan tidak adil, ja bu?"
Ibunja mengangguk dengan air mata berlinang. Dalam hatinja ia bangga, si Apin mendjadi pembela anak miskin.
Pada suatu hari, ibunja djatuh sakit. Alangkah sedihnja hati si Apin. Sekarang ia harus mengerdjakan semua pekerdjaan ibunja: menanak nasi, mentijutijiring, memetik sajuran dikebun, melajani ibunja, kemudian barulah ia pergi kesekolah.
Ibunja tak mau berobat dirumah sakit, karena tak ichlas hatinja berpisah dengan si Apin. Sehat atau sakit, kaja atau miskin, biarlah ber-sama2 selalu.
Untunglah, ber-angsur2 ibunja sehat kembali. Tapi dokter mengatakan, bahwa ibunja harus banjak beristirahat dan makan makanan jang banjak menjehatkan badan: susu, katiang hidjau, daging dan sebagainja. Tentu sadja semua ini harus dibeli dengan uang.
„Ah, alangkah malangnja, mengapa kita semiskin ini? Sungguh buruk nasib kita ...." — keluh ibunja.
„O, se-kali2 tidak . . . . ” — sahut si Apin. „Sabarlah, bu! Aku sendiri dapat mentjari uang untuk membeli obat2 dan makanan. Djadi . . . . dijika nanti siang aku terlambat pulang dari sekolah, ibu djangan chawatir, sebab aku pergi mentijari uang dulu . . . . ”
„Apa? Mentjari uang? Bagaimana kau dapat mentijari uang ....?”
„Ah, tunggulah sadja, bu! Serahkanlah semua tanggungan kepadaku...." - djawabnja sambil berangkat kesekolah.
Tiba disekolah, tampak ia sangat pendiam. Peladjarannja banjak terganggu oleh lamunan2nja. Kadang2 ia terpekur seperti orang sedang pelik berpikir. „Mengapa engkau sering melamun, Apin?” — tanja pak guru.
„O, saja sedang berpikir, bagaimana tjaranja mentijari uang untuk ibu” — djawabnja tenang dan berani.
Semua teman’nja tertawa. Djuga pak guru ikut tertawa.
Ketika sekolah bubar, ia tidak pulang kerumah, melainkan terus menudiu kestasiun, dimana banjak para penumpang jang baru turun dari kereta-api.
„Kuli?·Kuli, pak? Kuli, bu? Kopernja, njonja ....?” — teriaknja kepada para penumpang. „O, tasnja, nona? Mari saja bawakan ....”
„Apa....? Kuli? Kau mau bawakan tasku jang seberat ini? Aiiii, kamu sendiri masih pantas digendong orang ....” — djawab para penumpang itu sambil tertawa.
Dengan keluhan putus asa, ia duduk dibangku pandjang sudut stasiun, hingga keadaan distasiun itu mendjadi sepi.
Tiba’ datanglah seorang kakek jang berdjenggot putih dan berbadju djas putih pula. Tangannja memegang sebuah tongkat ketijil.
„Siapa engkau? Menunggu apa disini....?" — tanja kakek itu.
„Saja seorang kuli sedang mentijari upah, tuan!” — djawab si Apin dengan berani.
„O, kalau begitu, kebetulan sekali" — sambung kakek itu. „Aku sedang mentiari orang upahan untuk disuruh pergi ketempat kenalanku. Tapi tempat kenalan itu djauh sekali dari sini. Ia tingal disana, dipuntiak pegunungan Putih. Untuk sampai ditempat itu, kita memerlukan perdjalanan jang lamanja 7 hari 7 malam. Ingat: perdjalanan ini harus dilakukan dengan djalan kaki. Nah, ini ada sebuah sampul
putih jang berisikan intan berlian dan mutiara seharga sepu5 luh ribu rupiah! Sampul ini harus dibawa melalui hutan belantara. Bagaimana? Sanggup?"
„Sanggup, tuan! Biarlah saja sendiri jang mengantarkan sampul itu” — diawab si Apin tidak ragu2.
„Ho, ho, ho! Djangan gampang sadja engkau mengatakan sanggup. Engkau harus ingat, bahwa engkau härus berdjalan terus-menerus masuk hutan keluar hutan, melalui djalan2 jang penuh bahaja. Dan.... karena barang2 jang ada didalam sampul ini sangat diperlukan, maka engkau harus sampai ditempat itu tepat sesudah 7 hari 7 malam sedjak bungkusan ini diberikan!"
„Kalau begitu, biarlah saja akan berlari siang malam ...."
„O, itu tak mungkin. Mustahil! ’Kan engkau harus tidur dan istirahat. Siapa2 jang tidak tidur dan tidak istirahat, dia tidak akan bekerdja dengan baik."
„Ah, itu tak djadi halangan. Perkara tidur dan istirahat, dapat saja lakukan dengan sesuka hati saja. Ja, saja dapat tidur diatas punggung binatang jang sedang berdjalan. Saja tidak takut. Saja tinggal dipinggir hutan dan sudah biasa bergaul dengan segala matjam binatang ...."
„Ja, tapi engkau masih ketijl. Mana bisa, anak seketijl kau ini berani seorang diri di-tengah2 hutan belantara ... ! Tapi, eh ... nanti dulu. Eeee, eh, ini aku ada membawa tongkat ketijl. Tongkat ini bisa menolongmu nanti, djika sekali2 engkau mendapat kesukaran jang hebat. Ja, bolehlah engkau minta pertolongan padanja. Tapi ingat, sebelum minta pertolongan kepadanja, engkau harus mempergunakan ketijakapanmu sendiri. Djangan mentang2 ada tongkat, lalu terus-menerus engkau menjerahkan nasibmu kepada tongkat. Itu tak baik. Lagi pula, pertolongan tongkat ini hanja terbatas 10 permintaan sadja. Djadi engkau harus berhemat. Sebab, lebih dari 10 permintaan, dia tak dapat menolong lagi. Mengerti ... ?”
„Ja, tuan!"
„Sekarang tjoba tjeritakan, apa sebabnja kau berani mentjari pekerdjaan dan mentiari upah?” — tanja kakek itu.
„Ibu saja sakit keras, tuan. Kami banjak memerlukan uang untuk membeli makanan dan obat jang mahal2 ...."
„Kalau begitu, ambillah pundi2 ini untuk ibumu dirumah. Dan djangan lupa, simpanlah sampul ini baik2 dalam sakumu. Djika sudah pamit dan beres segala perbekalan, segeralah pergi kepegunungan Putih ...."
Si Apin memasukkan sampul kakek itu kedalam saku tjelananja dengan hati2 sekali. Ia berterima kasih benar kepada
kakek itu. Tetapi ketika ia hendak mengutjapkan terima kasihnja, kakek itu sudah menghilang tak nampak lagi.
Sekarang·larilah ia pulang mendapatkan ibunja. „Buuu! Buuu! Lihatlah, aku dapat uang! Dan nanti djuga djika sudah kembali dari pegunungan Putih, kita akan mendapat lagi lebih banjak dari sekarang ...." — demikian ia berteriak sambil mendapatkan ibunja.
„Apa....? Kepegunungan Putih? Dimana itu? Dan siapa jang hendak pergi kepegunungan Putih ....?” — ibunja bertanja dengan heran.
„O, djauh. Djauh sekali, bu! Aku jang diharuskan pergi kesana, dan aku akan berdjalan selama 7 hari 7 malam. Dan.... dan inilah pundi2 untuk ibu ...."
Ketika pundi2 itu dibuka, maka berhamburanlah uang dari dalamnja sebanjak lima ratus rupiah. Si Apin tak henti2nja mentjeriterakan tentang pertemuannja dengan kakek jang baik hati itu.
„Ja, tapi ibu tak mau!” — sela ibunja agak membentak. „Ibu tak mau, karena uang segini sadja, engkau harus pergi dari rumah dan harus ber-hari2 djalan kaki melalui matiam2 bahaja maut. Itu mustahil! Tak mungkin terdjadi . . . . !”
„Tapi bagaimanapun dijuga, perdjalanan itu harus kulakukan, bu! Bukankah uang ini sudah kuterima? Dan siapa tahu, nanti dijika kembali dari perdjalanan, kita akan mendapat lagi jang lebih banjak” — djawab si Apin membudjuk ibunja.
„Ah, itu tak mungkin! Tak mungkin terdjadi....! Uang ini mesti kaukembalikan lagi sekarang diuga....!” — teriak ibunja.
„Ho, aku tak tahu, dimana tempat tinggalnja kakek itu ...?"
„Ja, Tuhan! Alangkah tjerobohnja engkau, Apin! Kurang pikiran . . . .” — keluh ibunja.
„Djadi bagaimana sekarang, bu? Bolehkah saja pergi?” — tanja si Apin mendesak. „Bukar.kah aku sudah djandji, bahwa aku akan mengerdjakan semua perintah kakek itu? Djandji harus ditepati! Tidakkah demikian nasihat ibu djuga?”
Ibunja diam terharu. Air matanja berlinang.
„Boleh, ja bu?" - ia mendesak lagi.
Ibunja menangis, tapi lama’ mengangguk diuga.
„Hureeee ...." — ia me-lompat2 dan berteriak. Dalam pikirannja ia sudah dapat mengobati ibunja sampai sembuh dan dapat membelikan apa2 jang disukai ibunja.
Demikianlah ia pergi dengan tak lupa minfa do’a dan mengutjap selamat tinggal kepada ibunja.
Kepegunungan Putih
Hutan jang diseberang rumahnja sudah mulai ia lewati. Binatang2 jang didjumpai hanja binatang jang ketil2 sadja. Si Apin ingin sekali ber-tjakap2 dengan mereka, tapi ia tak mengerti bahasanja. Mula2 ia hendak minta tolong kepada tongkat wasiatnja supaja dapat mengerti akan bahasa binatang2 ketil itu. Tapi pikirannja melarang dan se-akan2 ada jang berseru dihati ketijilnja: „Pergunakanlah dulu otakmu! Perdjalanan masih djauh. Engkau belum menemui kesukaran jang hebat2. Tunggukan sampai waktunja engkau dalam keadaan bahaja .... ”
Maka berdjalanlah ia terus dengan gembira. Kadang’ melompat2 seperti kera dari pohon kepohon jang dilewatinja. Djika sudah lelah me-lompat2, maka berhentilah ia diatas rerumputan jang rimbun hidjau sambil membuka bekalnja dan minum sedikit. Kemudian berdjalanlah pula melalui semak belukar dan pohon2 jang tinggi besar.
Pemandangan dalam hutan itu sangat indahnja. Diantara pohon dan rerumputan, mendesau bunji air kali jang mengalir. Matahari bersinar diatasnja seperti perak beriak-riak.
Bajangan ranting dan daun 2 bergerak me-nari 2. Alangkah senangnja si Apin!
Ketika hari sudah malam, berkumpullah binatang2 ketijl itu ditepi kali. Mereka minum2 melepaskan dahaganja. Begitu
diuga si Apin. Ia pergi ketepi kali, lalu minum dan mentiu11 tii muka, kaki serta tangannja. Sedang ia asjik mentiutii kakinja, tiba2 dilihatnja seekor serigala sedang mengendapendap. Serigala itu hendak menerkam seekor anak biri2 dari belakang. Anak biri2 itu bersih putih amat lutiunja. „Awas’lah engkau, hai ketjill!” — seru si Apin kepada anak biri2 itu. „Larilah! Dibelakangmu ada bahaja . . . .”
Dengan terkedjut dan sangat ter-gopoh 2, anak biri 2 itu segera lari lalu menjelinap dibalik semak 2.
Alangkah amarahnja si Serigala, ketika melihat mangsanja hilang-lenjap karena teriakan si Apin. Sekarang ia berbalik nafsu kepada si Apin. Diterdjangnja si Apin dengan mata ber-api2 dan lidah jang mendjulur diantara gemertaknja gigi jang tadjam meruntjing. Untunglah, si Apin sudah bersiap dengan tongkatnja. Lalu dengan tiba2 sadja ia mengerti akan bahasa serigala: „Mengapa kauusir lari mangsaku, hai penghianat!” — tanja serigala itu dengan geramnja. Aku lapar! Sekarang, engkaulah gantinja . . . .”
„Tunggu dulu!” — sahut si Apin. „Tidakkah engkau kasihan kepada anak biri2 jang tiada berdosa itu? Kalau engkau djadi ibunja, bagaimana perasaanmu, djika anakmu jang ketjil lutju itu mati diterkam binatang buas....?”
„Tapi itu makananku jang paling enak dan gurih!” — djawab serigala pula. „Dan engkau djuga suka daging birt2, bukan?”
„Ho, ho, ho! Makananku bukan daging biri2 mentah. Inilah makananku . . . .!” — djawab si Apin sambil mengeluarkan bungkusan nasi, ikan asin dan goreng ubi. „Kau mau? Tjoba tjitipi . . . . !”
„Tjis!” — sahut serigala itu sambil membuang muka. „Aku tak suka makanan jang mendjidjikkan begitu. Makanan apa itu? Makanlah sendiri . . . . Tjis!” — katanja.
Mungkin karena kesaktian tongkat jang dipegang si Apin, serigala itu tak djadi meneruskan serangannja. Ia lari dan menghilang dibalik semak2 jang penuh duri.
Hari makin lama makin gelap. Si Apin tak dapat meneruskan perdjalanannja lagi. „Sajang, tak ada lampu" - bisiknja.
Tetapi seekor burung bulbul mengatakan kepadanja, bahwa tak lama lagi akan dipasang diuga dalam hutan itu lampu2. Si Apin tak pertiaja. „Lihatlah kebawah! Lihatlah!” — kata burung bulbul pula.
„Ooooo, alangkah indahnja! Beratus-ratus tjahaja ketiil
datang menudju kepada si Apin. Silau mata si Apin memandang, karena tjähaja itu terus ber-bondong2 menjorotkan
sinarnja. Itulah kunang2....!"
„Ibu selalu mengeluh, dijika malam kehabisan minjak tanah” — bisiknja. „Tetapi disini, tak usah pajah2 mengeluarkan uang untuk beli minjak tanah. Ja, lampu2 itu malah datang sendiri ....”
Kunang* itu seperti mutiara tampaknja, hinggap ditangan, di kepala dan didada si Apin. Ia mentioba ber-tjakap2 dengan kunang2 jang mengerumuninja itu, tetapi sajang, suara mereka pelan2 dan halus sekali. Hampir2 tak terdengar djika tak ditaruh didaun telinganja. Kemudian datanglah burung bulbul jang tadi ikut berkumpul bersama kawan2nja, hingga ramailah mereka bersama si Apin me-njanji2.
Sedjurus kemudian, dari djauh tampak sesosok bajangan mendatang seperti puntiak gunung bentuknja. „Apakah itu ....?” — tanja si Apin.
„Gunung" - diawab seekor kunang’.
„Tapi gunung itu bergerak mendekati kita” — sambung si Apin.
„Ja, gunung jang bergerak" — sambung kunang’ jang tadi.
„O, ja. Tahulah aku sekarang. Itu bukan gunung, tapi seekor unta jang datang berdjalan” — kata si Apin.
„Hai, mengapa kalian ribut’? Ada apa njanji’ begini malam?" — tanja unta itu sesudah dekat. „Karena kalian ribut, aku tak bisa tidur."
„Ho, malah kebetulan" - djawab si Apin. „Sekarang kau hendak kemana?"
„Mau terus kedjalan pegunungan Putih" - djawabnja.
„Kalau begitu, sama2 tudjuan kita. Akupun hendak menudju kesana diuga. Tapi aku sangat lelah dan ’ngantuk sekali.
Bolehkah aku naik dipunggungmu dan tidur diantara bantal’mu jang indah empuk itu?" - tanja si Apin membudjuk.
O, permintaan si Apin diterima sebagai pudjian dan kehormatan oleh unta itu. Biasanja, binatang2 lain suka berolok2 dijika melihat punggungnja jang ber-bendjul2 itu. Kadang2 diedjeknja bendjul2 itu, disebut bola kesasar atau daging lebih dan gemuk jang kelebihan.
„Ajo, naiklah!" - kata unta itu.
Maka melompatlah si Apin dan duduklah diantara kedua bendjul punggung unta itu, seperti baji lembut jang duduk dalam ajunan. Mula2 ia merasa pusing dan mual perutnja, karena unta itu berdjalan sangat gojangnja. Ia bergojang kian kemari, karena tjaranja berdjalan, berbeda dengan lain2 binatang. Ia melangkah mula dengan kaki depan dan belakang sebelah kiri, kemudian dengan kaki depan dan belakang jang sebelah kanan. Itulah sebabnja, maka perasaan si Apin seperti naik kapal dilaut jang ber-ombak2.
Makin lama unta itu berdjalan, makin ’ngantuklah si Apin. Mula’ ia merasa pusing, tapi lama’ djatuhlah ia tertidur dipunggung unta. Tiba’ berhentilah unta itu, se-akan’ ada jang menahan didepannja. Si Apin kaget dan tersentak djaga dari tidurnja.
„Turun! Lekaslah turun! Lari....!” — teriak unta itu dengan gugup kepada si Apin.
„Ada apa?" - tanja si Apin antara tidur dan djaga.
„Tak kaudengar suara jang mengaum itu? Itulah suara singa lapar jang sedang mentiari mangsa. Dia menijium bau kita. Djika dia bertemu kita, tentu kita habis dimakannja. Aku tak kuat berkelahi melawan singa. Karena itu aku hendak kembali. Selamat berpisah ....!”
Maka larilah unta itu ter-birit2 menudju tempat asalnja kembali. Aum singa tadi makin lama makin dekat. „Sekarang aku minta tolong lagi kepada tongkatku ” — bisiknja. „Tapi .... tapi kakek jang baik hati itu berpesan, agar aku mempergunakan otakku dulu, sebelum meminta tolong kepada tongkat. Terlalu sering minta pertolongan tongkat, lama2 tongkat ini kepajahan dan tak mau lagi ia memberi pertolongan. Tjuma ... akal apakah jang harus kupergunakan sekarang? Ja, akal apakah jang harus kupergunakan dalam menghadapi singa seperkasa ini?" pikirnja. „O, ja. Tunggu dulu. Seekor harimau kadang2 dapat
diuga memandjat pohon, sebab banjak persamaannja den17 gan kutijing. Tetapi singa tak demikian halnja."
Seketika itu diuga larilah ia mentiari sebatang pohon kurma lalu naiklah kepuntjaknja. Tepat pada waktunja ia tiba dipuntjak, maka melompatlah dari dalam semak2, seekor singa perkasa dengan suaranja jang menggemparkan hutan. Ia mentioba hendak menjusul si Apin, sedang kukunja dikaut2kannja dipohon kurma. „Aku lapar! Ho, aku lapar . . . !” — geramnja. „Turunlah engkau! Turunlah engkau, hai pengetjut!” — teriaknja nafsu. Tetapi si Apin enak sadja mentertawakannja dari puntiak pohon kurma sambil melempar2kan bidji buah itu kebawah, tepat dimata dan dikepala singa itu.
Rupanja singa itu makin lama makin kesal menunggu. Ia putus-asa. Lalu dibalikkannja badannja. Maksudnja hendak menjusul unta jang sudah lari tadi. „Tentu belum djauh dan pasti tersusul” — pikirnja. „Unta diuga lumajan untuk pengisi perut sebelum tidur.”
Tetapi baru sadja singa itu membalikkan badannja, berteriaklah si Apin dari atas: „Hai, awas! Tuuu, ada banteng ....!”
Banteng adalah lawannja singa berkelahi sedjak nenekmojangnja turun-temurun. Ia tidak takut menghadapi singa. Dengan pendengarannja jang tadjam serta badannja jang gagah-perkasa, ia berani berdjuang mempertaruhkan djiwanja. Achir perkelahian, biasanja sama kuatnja. Kadang2 si pemakan daging jang menang, tapi kadang2 si pemakan daun2an jang mendjadi pahlawan!
Tapi sekali ini, si Apin dapat mentjegah perkelahian itu berlangsung. Ia tak mau melihat kedua machluk itu mandi darah dihadapannja. „Ah,biarlah, sekali ini aku minta pertolongan tongkatku, demi kepentingan dua dijwa binatang jang ingin hidup. Ja, mereka ingin hidup djuga seperti aku, seperti ibu dan seperti semua machluk jang ada didunia ini.”
Maka dipegangnja tongkatnja erat2. Sementara itu, kedua binatang raksasa itu telah bersiap untuk berdjuang antara hidup dan mati. Banteng mengendapkan badannja, serta kepalanja jang bertanduk itu ditundukkannja kebawah. Ia menanti serangan singa dengan tanduknja. Matanja merah bernjala seperti api.
Singa dengan berani melompat kekiri dan kekanan, mentjari saat jang tepat untuk menerkam pundak banteng jang empuk. Kukunja di-kaut2kannja ditanah.
Tiba2.... bum! Si Apin djatuh dan melompat ke-tengah2 medan pertarungan dengan tongkat diatjungkan ditangan. „Stop! Djangan berkelahi dulu! Aku tak mau‘disini ada darah mengalir karena permusuhan dan perkelahian. Tidakkah lebih baik kita duduk2 bertiga sambil mengobrol? Hari ini, hari baik. Hari untuk hidup dan perdamaian, bukan hari untuk pembunuhan dan hari mati!”
Mungkin karena kesaktian tongkatnja, maka kedua binatang raksasa jang sedang mengamuk itu berhenti lalu menu rutkan si Apin. Kini duduklah mereka bertiga ditanah merupakan tiga sahabat karib jang sudah lama tidak bertemu.
„Hai, mengapa kauanggap dirimu sebagai radia dihutan ini?” — tanja si Apin kepada singa. „Padahal kelakuan dan perbuatanmu sekali-kali tidak menurutkan undang2 dan hukum seorang radia. Tjoba sadja, masakan seorang radia membunuh dan makan daging rakjatnja sendiri?”
„Ja, tapi bagaimanapun diuga, radia itu harus makan” — sahut singa itu ke-malu2an. „Dan aku tak bisa hidup, bilamana tak dapat makanan daging. Tapi sungguh, aku membinasakan binafang, hanja untuk makan sadja. Djika perutku sudah kenjang, aku tak pernah mengganggu mereka lagi. Berbeda dengan sang serigala. Ia djahat. Setiap binatang jang dipandangnja lemah, tentu dibinasakan, sekalipun ia merasa kenjang. Ja, kenjang atau lapar, ia tak peduli. Pendeknja, ia membunuh hanja untuk membunuh sadja, bukan membunuh untuk makan!”
„Tapi sekalipun begitu, semua binatang takut kepadamu. Suaramu menggemparkan seluruh hutan. Mengapa suaramu sedahsjat itu?” — tanja si Apin.
„Ah, itu sudah pembawaan jang kuperoleh dari kodrat. Dan engkau harus maklum diuga toh, bahwa hutan djadjahanku ini sangat luas. Djadi memerlukan suara keras dan dahsjat. Bukankah bangsa manusia diuga ada jang suaranja keras dan besar seperti aku?”
„Ja, seperti pak guru disekolah. Suaranja keras. Namanja djuga beliau pak guru Singa” — diawab si Apin.
„Oh, pak guru Singa? Djadi beliau dijuga mengaum seperti aku?”
„Jaaa, kadang’ mengaum djuga. Djika beliau sedang marah kepada kami murid’, beliau menggeram seperti engkau."
„Bagaimana rambutnja? Apakah beliau berambut seperti aku djuga?”
„Tidak. Malah botak di-tengah2 kepalanja. Tjuma ia berku21 mis jang rimbun dibawah hidungnja."
„O, bagus sekali. Sajang, aku tak berkumis. Tapi kami tentu masih pamili djuga kepadanja, karena sama2 bernama Singa. Maukah engkau mengenalkannja?” — tanja singa itu.
„Ah, beliau bukan bangsa singa seperti engkau! Beliau bangsa manusia biasa seperti aku. Tjuma namanja: pak Singa! Aku kira, beliau tak ’kan mau berkenalan dengan engkau, sebab beliau takut kepada binatang buas” — sambung si Apin.
„Aku tidak djahat. Sungguh, aku ingin ikut denganmu kesekolah. Barangkali aku dapat beladjar apa2 jang belum tahu dari pak Singa. Anak2 sekolah tentu senang melihat aku. Mereka tak usah pajah2 lagi pergi kekebun binatang ...."
„Ja, memang baik sekali” — sahut si Apin tersenjum. „Nanti diika perutmu berasa lapar, gampang sadja kau mentjari sarapan. Kauterkam salah seorang diantara mereka, lalu ...."
„O, pertjajalah! Aku tidak sedjahat jang kausangka ....” — diawab singa itu membudjuk.
„Bohong! Djangan perijaja! Djangan perijaja kepada dia. Dia memang manis mulut!” — kata banteng jang sedang asjik mengunjah rumput. Rumput itu ditelan dan masuk keperut besarnja. Diperut besar, rumput itu dimasak dan berubah bentuknja mendjadi bulatan2 rumput halus seperti
kelereng. Karena bulatan2 ini masih kasar, maka dikir22 imnja kembali kemulut melalui djalan kerongkongan halus. Sesampai dimulut, maka dikunjahnja kembali hingga halus benar, kemudian dikirimnja kembali kedalam perut melalui djalannja masing2.
„Mengapa mulutmu mengunjah terus-monerus, hai paman banteng?" — tanja si Apin ber-olok2.
„Ah, diam sadjalah. Aku sedang memamah" — djawabnja. „Aku mengunjah rumput jang kedua kalinja."
„Mengapa mesfi dimamah?"
„Ja, karena rumput jang pertama kali dikunjah, masih kasar. Perutku tak mau menerimanja, diadi terpaksa kukirim kembali kemulut supaja dimamahnja” — djawab banteng itu sambil terus memamah.
„Hiiiii, djidjik benar!" - edjek si Apin.
„Ah, itu tidak djidjik. Itu sudah kebiasaan alam. Malah menguntungkan, djika sedang waktunja memamah, kita bisa sambil menghafal peladjaran ilmu filsafat.”
„Apa itu filsafat?" - tanja si Apin.
„Ah, engkau masih anak2. Kami bangsa banteng, mulai ket, il sudah dibiasakan berfilsafat. Kami sudah biasa memikirkan Tuhan, hidup-mati dan mentjari kebenaran.”
„Mengapa kebenaran di-tjari2?" — tanja si Apin tertawa. „Kata ibu, kebenaran itu sudah ada dalam diri kita masing2."
„Aaaah, sudahlah! Barangkali berlainan ilmu filsafat bangsa banteng dan ilmu filsafat bangsa manusia” — sela singa sambil menguap.
„Kau sudah ’ngantuk? Kalau begitu, aku pergi sadja sekarang. Perdjalananku masih djauh. Selamat tinggal, sahabat! Awas, djangan bertempur lagi..." — kata si Apin ber-olok2.
Sambil melompat dan berlari, ia me-njanji2 ditengah hutanbelantara jang lebat itu:
„Hai, hutan indah, sungai dan lembah, Hewan2 kesajangan, Kamu semua djadi pudjaan, Terima-kasih tak kulupakan!
Aku tinggalkan ibu dirumah, pergi keliling tamasja indah, tak peduli banjak serangan, asal gemilang dihari depan....!”
„Jaaaa, tamasja indah! Tamasja indah! Mengapa aku tidur hendak kauindjak? Kemana matamu? Siapa kamu?” — tanja seekor ular besar jang hampir terpidjak oleh si Apin. Suaranja men-desis2 karena marah.
„Oh, maafkan aku, sahabat! Karena kulitmu hampir sama dengan tanah, djadi tak kelihatan olehku. Sekarang, berilah aku djalan ...."
„Asal kau pandai melompati lingkaranku, boleh sadja kauteruskan perdjalananmu . . . . ” — kata ular itu sambil merajap mendekati si Apin, kemudian bergelung, lalu dililitnja tubuh si Apin dari kaki hingga ke kepala.
Si Apin berdiri tegak dengan tenangnja. Ia teringat akan tjeritera gurunja, bahwa ular sangat suka minum susu dan mendjadi djinak bila mendengar suara musik. Karena itu, pelan2 dibukanja botol susu bekal ibunja dari rumah lalu ditumpahkannja. Ular itu mengendur lilitannja, ketika tiba2 tertjium olehnja bau susu jang harum itu. Lama2 lepaslah lilitannja dan diminumnja susu itu dengan lahapnja.
Selesai ular itu minum susu, si Apin membunjikan harmonikanja jang kebetulan ia bawa didalam sakunja dan.... menarilah ular itu dengan meng-gelung2- kan badannja diatas tanah. Bagus benar tampaknja, seperti air sungai ketijl jang mengalir me-lingkar2.
Tiba2 melompatlah seekor kelintji hutan jang amat gemuk. Maksudnja ia mau menonton tari dan musik. Tetapi . . . . si penari berhenti menari, ketika si Kelintij gemuk datang mendekati. „Ha, ha! Inilah makanan jang kutijari dari tadi” — katanja.
„Ah, aku tak mau melihat keadaan jang menjedihkan ini" —
bisik si Apin. „O, selamatlah engkau, kelintij manis! Lari25 lah tjepat2, semoga kita bertemu lagi dalam keadaan segarbugar....!" - seru si Apin sambil berlari mendjauh, menudju kepegunungan Putih.
Sekarang ia berdjalan dalam hutan jang sepi menakutkan. Tak ada seekorpun binatang jang ia diumpai dihutan jang lebat itu. Tak ada burung jang berkitjau, tak ada kelintij atau tupai jang me-lompat2, sampai2 njamukpun tak terdengar suaranja.
Dalam kesepian ini, si Apin merasa, bahwa ia sedang djauh dari sahabat2nja segala binatang jang baik hati. Memang si Apin anak jang aneh. Tidak bertemu dengan binatang, ia merasa takut dan kesepian, sedangkan tadi, ber-kali2 ia diantiam binatang buas, malah berani dan gembira!
Setelah beberapa lamanja ia berdjalan seorang diri dalam hutan kesepian, kini terasa perutnja lapar dan kerongkongannja haus-kering. Apa daja? Susunja telah habis diminum ular. Begitu pula makanan bekalnja dari rumah, telah habis sedjak tadi.
Tentu ia dapat minta tolong kepada tongkatnja, agar segera diberi makanan dan minuman obat laparnja. Tapi . . . . „ah, biarlah” — bisiknja. „Siapa tahu, di-tengah2 hutan lebat jang kaja-raja ini, aku berdjumpa dengan pohon buah2an jang lezat2.”
Demikianlah ia berdjalan terus dengan perasaan lapar dan dahaga! Matanja mulai kuju mengantuk, sedang kakinja berat di-seret2.
Makin lama ia makin lesu, sehingga djatuhlah tertidur dibawah sebuah pohon. Tapi sedjam kemudian, ia terdjaga, karena dibangunkan oleh suara binatang jang menangis amat sedihnja. „Binatang apa itu?” — tanjanja. „Mengapa ia menangis sesedih itu?”
Tiba2 tampaklah dari djauh, sesosok bajangan jang menjerupai manusia. O, binatang itu kanguru namanja. Ia berdiri dengan kedua belah kakinja jang dibelakang, sedang disampingnja tergolek seekor kanguru jang masih ketiil. Kanguru ketjil ini, ialah anaknja. Ketika si Apin mendekatinja, tampak
olehnja bahwa anak kanguru itu sudah mati. Itulah sebabnja, ia menangis dan meratap tak henti2nja.
„Ibu kanguru jang sangat malang" - keluh si Apin.
„Dapatkah aku menolongmu?" — tanjanja.
„O, apa jang harus ditolong, nak?" - djawab kanguru itu.
Anakku sudah mati, dan engkau tak dapat menghidupinja kembali” — sambungnja dengan sedih. Lalu diambilnja anaknja dan dimasukkannja kedalam kantung jang ada diperutnja. Memang binatang kanguru mempunjai kantung diperutnja. Kantung ini gunanja untuk menggendong anaknja, dimana anak2 itu tinggal didalam kantungnja, seperti baji2 manusia jang tidur njenjak didalam ajunan.
„Sekarang aku merasa kekosongan disini” — katanja sambil menundjuk kedalam kantungnja. Tampak kaki depannja lebih pendek daripada kaki belakangnja. Bila berdjalan, ia tidak melangkah dengan kedua kakinja itu, melainkan melompat2. Lontjatannja bukan main djauhnja. Djika ia berhenti, tampak kaki belakangnja tegak berdiri, sedang kaki depannja tergantung lepas dekat kantung anaknja.
„Djika engkau merasa kekosongan, bolehkah aku masuk kedalamnja sebagai ganti anakmu? Kantungmu besar, tentu tjukup untuk tempatku beristirahat” — kata si Apin.
„O, tentu! Tentu sadja boleh, djika engkau mau” — djawab kanguru itu. „Masuklah!”
Si Apin merangkak masuk kedalam kantung kanguru dan duduk mengetiilkan badannja. Mula2 ia merasa pening dan mual perutnja, karena di-guntjang2 oleh lompatan kanguru jang sangat tjepatnja. Tetapi karena lelah, maka djatuhlah tertidur.
Sedjam kemudian, ia dibangunkan oleh kanguru jang baik hati itu. „Aku tak dapat terus mengantarkan engkau kepegunungan Putih” — katanja. „Hutan ini namanja hutan monjet, karena penghuninja hanjalah monjet2 sadja, sampai ribuan djumlahnja. Aku tak berani masuk, sebab mereka biasa mengedjek dan memper-olok2kan kantung gendongan anakku. Kadang2 dilempar, diganggu dan ditertawakannja. Lebih2 dijika melihat kaki depanku jang ketijl-pendek ini. Wah, mereka ramai tertawa mengedjeknja. Aku malu!”
„O, bangsa monjet memang mempunjai sifat jang buruk. Mereka suka mengedjek dan mengganggu sesama machluk. Ja, keburukan pada jang lain di-besar2kan, sedang keburukan jang ada pada dirinja disembunjikan” — djawab si Apin.
„Nah, sekarang sampai disini sadja, Apin. Selamat berpisah! Aku mengambil dialan lain ...."
Mereka bersalaman lalu berpisah.
Si Apin masuk kedalam hutan jang ditundjukkan kanguru tadi. O, alangkah terkedjutnja ia. Bukan sepuluh-duapuluh monjet2 jang ada didalam hutan ini, melainkan ratusan, bahkan ribuan. Mereka penuh bergantungan mulai di-pohon2 jang paling besar, hingga ke-pohon2 jang paling ketijl. Monjet2 jang sudah dewasa dan sebaja umurnja, kelihatan berkumpul berpegangan tangan merupakan rantai jang pandjang bersambung2. Monjet jang paling udjung, masing2 berpegang kepada pohon, lalu.... hup!! bergelajunlah rantai jang pandjang itu seperti buaian hidup jang bagus sekali.
Monjet2 jang sudah tua, dengan radiinnja mereka mengadjar anak2nja memandjat, melompat dan berajun2 bergerakbadan. Ada pula jang mengadjar anaknja mengam29 bil buah kelapa dan mengupasnja sekali. Monjet2 jang baru mendapat anak ketijl, dengan hati2 sekali mereka menggendong dan mendjaga anaknja seperti ibu2 kita menggendong baji2 kesajangannja.
Ketika si Apin masuk ke-tengah2 mereka, maka riuh-rendahlah bunji sorak mendjerit2 . Si Apin memasang kupingnja, Ia ingin tahu, olok2 apakah jang dilemparkan monjet2 itu kepadanja?
„Ho, ho, lihatlah! Penghuni baru!” — kata sekelompok monjet2 jang sedang ramai bersenda gurau.
„Mana? Mana?" — tanja sebagian jang sedang bergerakbadan.
„Ha, ha, ha :...! Dia kira akan bisa hidup bergaul dengan kita...."
„Mukanja memang mirip2 kita, tjuma hidungnja lebih buruk!” — sambung jang lain: „Hidungnja lebih pandjang daripada hidung kita.”
„Hai, hidung-pandjang! Tjoba kau pandjati pohon njiur itu. Dapat atau tidak?”
„Aaaaah, djangan pohon njiur dulu! Pohon djambu jang paling ketijl sadja, belum tentu dapat ...."
„Ajo, ramai2 kita lempari buah kaju! lipoba, dapar inggak dia menangkis lemparan kita...." — kata seekor monjet jang paling nakal sambil melemparinja dengan buah kaju.
Sedang ribut’nja mereka mengedjek dan menggangga si Apin, tiba’ mendjeritlah seekor monjet betina minta tolong. O, anaknja jang masih ketijl, djatuh terlepas dari gendongannja. Dan .... dengan tangkas dan gesit sekali, si Apin menjambut anak monjet itu dari bawah dan dengan sekali lompatan sadja, ia dapat mengembalikan anak monjet itu ketempat asalnja.
Aiiiii! Sedjurus lamanja, berhentilah mereka bersendagurau. Dengan mulut ternganga, mereka tertiengang menjaksikan ketangkasan si Apin.
Demikianlah, setelah sepi sedjurus lamanja, kini terdengar lagi sorak-sorak dan tepuk-tangan tanda gembira. Memang si Apin pandai memandjat. Sedjak ia tinggal dipinggir hutan, setiap hari berlatih memandjat, melompat dan berajun2 dipohon jang tinggi2. Ja, persis seperti jang dilakukan monjet2 itu sekarang.
„Barangkali dia djuga bangsa monjet!" — kata salah satu dari mereka.
„Ah, bukan" — kata jang lain. „Sebab, belum tenfu ia pandai ber-ajun’ seperti rantai pandjang matjam kita."
„Dan tentu tidak dapat ber-ajun’ dengan tangan terlepas....!"
„Apa?” — tanja si Apin tak sabar. „O, lebiñ dari no, aka dapat!”—sambungnja. „Bolehlah kalian lihat . . . . .
l”—katanja sambil melompat keatas sebuah pohon. Mula” ia ber-ajun2 dengan tangan berpegang kepada dahan. Kemudian kakinja memidjak dahan lalu lututnja dilipatkan dan . . . . bergelajunlah ia kian kemari dengan tangan me-lambai2. Ho, semakin tertiengang sadja monjet2 nakal itu melihat kepandaian si Apin.
„Engkau boleh tinggal disini bersama kami” — kata seekor nonjet jang paling besar. Mungkin ia kepala rombongannja.
„O, ferima kasih!” — sahut si Apin. „Sajang, aku harus meneruskan perdjalananku kepegunungan Putih untuk menjampaikan sebuah bungkusan ini....” — katanja sambil meraba kantungnja. Tetapi.... O, alangkah terkedjutnja, ketika dirabanja bungkusan itu telah hilang.
„Heeeee, kemana bungkusan itu? Tentu telah djatuh disini ketika aku ber-ajun2 diatas pohon” — katanja dengan muka putjat dan hati remuk.
Maka berkerumunlah monjet’ itu mengelilingi si Apin.
„Biarlah, kami jang mentiarikan" - kata mereka.
Si Apin sudah putus-asa. „Apa artinja perdjalanan jang sudah kukerdjakan, diika bungkusan itu hilang lenjap? Apa kata kakek nanti?” — demikian ia bertanja dalam hatinja.
„Djangan susah2 mentjari! Inilah bungkusannja, terpidjak tadi olehku ... . !”
Ja, rupanja bungkusan itu djatuh ketika si Apin melompat dan menggendong anaknja tadi.
Sebagai tanda bergembira, maka berpestalah mereka. Pesta buah kelapa! Ja, monjet2 itu memetik buah kelapa masing2. Sebelum dikupas, buah kelapa itu di-lempar2nja dulu kian kemari seperti orang bermain bola. Sesudah lelah melempar2 kian kemari, baru kelapa itu dikupas menurut ketjepatan dan kepandaiannja masing2. Airnja diminum dan dagingnja dimakan be-ramai2. Si Apin tampak duduk ditengah2, sedang monjet2 itu gembira mengelilinginja. O, dia mendjadi tamu bangsa monjet jang terhormat dihari itu!
Kefika fiba waktunja untuk berpisah, menjanjilah mereka be-ramai2, tanda memberi selamat djalan. Dan si Apin berdjalan lagi sambil melambai-lambaikan tangannja.
„Inikah djalan kepegunungan Putih?” — ia bertanja kepada seekor anak gadjah. Anak gadjah ini masih ketiil sekali. Ia ber-main2 sendirian sambil melatih belalainja me-matah2kan dahan dan pohon jang ketjil2. Badannja sangat besar, tetapi ekornja ketijl dan tipis sekali. Si Apin tahu, apa sebabnja ekornja seketijl itu. Ja, gadjah mempunjai kulit jang tebal dan kuat sekali. Kulit ini tak ’kan rusak, bahkan tak ’kan berasa dijka dihinggapi dan digigiti oleh binatang2 sebangsa lalat dan njamuk. Djadi ia tak membutuhkan ekor jang besar. Tambahan lagi ia masih ada alatnja jang lain jang dapat dipergunakan untuk itu, ialah: belalai!
„Dapatkah engkau mengangkat aku keatas dengan belalaimu?” — tania si Apin.
„Tentu sadja, asal engkau tidak takut” — diawab gadjah itu.
„O, selama hidupku, aku tak pernah takut” — sambung si Apin.
Gadjah itu membelit si Apin dengan belainja, lalu diangkatnja melambung, kemudian diletakkan dipunggungnja dan .... larilah ia se-kuat2nja.
„Hai, hendak kemana? Kaubawa kemana aku?” — feriak si Apin. Ia berpegang kepada kuping gadjah jang besar itu se-kuat2nja karena takut terdjatuh.
"Ajo, kita bermain-main di
Setiba disungai, si Apin mandi dengan riangnja. Ia mentioba menjemburkan air kepada gadjah itu dengan tangannja. Tapi... segera gadjah itu menbalasnja dengan air mantjur jang disemburkannja dari belalainja.
„Oooo, engkau tjurang!" - teriak si Apin. Tampak rambut dan seluruh mukanja basah kujup.
„Djangan sekeras itu kausemburkan air itu. Kulitku tak sekeras kulitmu dan aku tak punja belalai .... !”
„Kau harus makan daun2an dan ranting pepohonan seperti aku!” — dijawab gadjah tertawa.
„Kalau aku makan daun dan ranting2, apakah akan tumbuh djuga belalai seperti engkau?” — tanja si Apin.
„O, tidak. Tjuma badanmu mendjadi kuat” — djawabnja sambil mengangkat si Apin kembali dan dibawanja naik kedarat.
„Engkau harus menjeberangi sungai ini, Apin” — sambungnja sambil meletakkan si Apin dari belalainja ditepi sungai. „Ini adalah perdjalananmu jang terachir. Djika selesai engkau berenang menjeberangi sungai ini, sampailah engkau dipegunungan Putih. Tuuuu, lihatlah keseberang sungai, bukankah tampak dari sini, apa jang disebut pegunungan Putih?” — katanja sambil menundjuk kearah seberang sungai dengan belalainja.
O, alangkah indahnja pemandangan diseberang sungai!
Ratusan gunung’ biru berderet dikedjauhan. Putih2 puntiaknja seperti perak. Dibalik warna jang ke-perak2an ini, tersembullah matahari dengan tjahajanja memerah api. Ah, silau mata si Apin memandang.
„Kalau begitu, tak lama lagi aku sampai dipegunungan Putih" — katanja.
„Apa? Maumu tak lama lagi! Kau kira ini sudah dekat? Tjis!” — edjek gadjah itu tertawa. „Bagaimana kau dapat menjeberangi sungai jang selebar ini? Dan bagaimana kaudapat mendaki gunung? jang setinggi itu? Engkau harus memikirkannja sungguh?, Apin. Selamat berpisah . . . . !” Maka pergilah gadjah itu, menghilang dibalik semak’ pepohonan.
Kembali Pulang
Kini tinggallah si Apin menghadapi sungai jang sangat lebar dan penuh dengan ber-matjam2 bahaja. Ia harus berenangl O, alangkah beratnja pekerdjaan jang dibebankan kepada si Apin. la merenung menghadapi sungai lebar jang harus direnanginja. Ikan2 ramai bermain dan bersenda gurau dipermukaan air. Mereka bermain dalam ber-matiam2 rombongan menurutkan dienisnja masing2. Ada jang be-renang2 sadja mengelilingi daun teratai, ada jang ber-kedjar2an menjelinap dibalik batu2 dan ada pula jang beladjar me-lontiat2, djauh terbang keatas permukaan air.
„Aku ingin diuga ikut ber-main’ diair" - kata si Apin.
„Oh, engkau tak dapat ikut” — kata seekor ikan jang muntjul dihadapannja. „Engkau tak punja ingsang untuk bernapas didalam air. Dengan ingsang ini, kami dapat menjimpan hawa dan menjelam lebih lama didalam air.”
„Hai, apakah didalam air diuga meimerlukan hawa?” — tanja si Apin.
„Tentu sadja. Djika ingsang kami tak mendapat hawa, mungkin kami akan mati lemas. Tapi sebaliknja, dijka kebanjakan hawa, kami diuga akan mati lemas pula” — djawab ikan itu.
„Ja, seperti kami bangsa manusia didalam air" — sambung si Apin. „Jang tenggelam lama didalam air, tentu mati lemas."
„Kamu sekalian membutuhkan lebih banjak hawa daripada air. Dan untuk mengisap hawa, kamu diberi paru2„ — kata ikan itu pula.
„Ja, djadi semua machluk membutuhkan hawa" — sambung si Apin.
„Bukan machluk sadja. Tjoba engkau memasang lilin, dan lilin itu ditutup rapat dengan gelas. Apa jang terdjadi? Lama2 lilin itu mati, karena sesak tak mendapat hawa.”
„Engkau pandai seperti anak sekolah” — kata si Apin. „Apakah didalam air diuga dibuka sekolah untuk para peladjar ikan?”
„Bangsa ikan belum dapat mendirikan sekolah" - djawab ikan itu. „Tapi aku pernah ikut seorang kelasi dikapal. Dari kelasi itu aku sering mendengar pertjakapannja jang mengandung peladjaran."
„Tapi mengapa sekarang engkau ada disini?"
„Ah, aku lari dari kelasi itu. Habis, tjoba sadja pikir, ikan mana akan betah hidup didalam kapal ber-sama2 manusia? Kadang2 kapal .itu berlabuh dan aku terpaksa hidup didaratan. Tjis, apa enaknja? Tjoba engkau turun main2 kemari. Bandingkan enaknja hidup diair dan hidup didarat! Disini, engkau dapat mandi2 mentjutji kotoran dan debu2 jang melekat ditubuhmu setiap hari. Ajo, Apin! Tjoba, turunlah .... !”
„Bagaimana aku dapat ber-main2 ditengah sungai jang sederas ini? Aku tak punja ingsang seperti engkau. Aku hanja mempunjai paru2 sadja untuk bernapas didaratan .... !”
„Kalau tak pandai menjelam, engkau dapat diuga bermain diatas air!” — djawab ikan itu. „Naiklah dipunggungku. Kita ber-sama2 berenang keseberang sungai ini. Tidakkah demikian diuga maksudmu?” — tanja ikan itu.
„O, kalau begitu, memang adjakan inilah jang ku-tunggu2 dari tadi" - diawab si Apin sambil melompat keatas punggung ikan. Dan berenanglah ikan itu dengan senangnja, sadang si Apin me-njanji2 riang gembira!
Tapi ketika sampai di-tengah2 sungai, ikan itu berhenti seperti ketakutan. Badannja gemetar. O, tjelaka kita .... !” — bisiknja kepada si Apin. „Lihatlah, ikan raksasa ternganga didepan kita. Ikan ju! Aku harus menjelam dan bersembunji dibawah batu. Aku harus menjelamatkan diriku dari bahaja. Dan engkau djuga, Apin. Djagalah dirimu dan fjarilah akal untuk menjelamatkan dirimu ...."
„Ah, kedjam benar engkau!” djawab si Apin. „Djika aku kautinggalkan, pasti akulah jang ditiapluk ikan ju ...."
„Ja, tapi sebaliknja, djika aku tidak lari, kita berdualah jang akan masuk diperut ju. Engkau masih untung, ditanganmu tersedia tongkat wasiat!”
„Ah, dalam bahaja segmenting ini, tak mungkin aku dapat mempergunakan tongkatku ...." - djawab si Apin.
„Itu terserah kepadamu, Apin. Kita hidup didunia ini harus pandai membela diri dengan akal dan kepandaian kita sendiri. Nah, selamat tinggal ...."
Bjur ....! Si Apin mentjebur kedalam air. Ia berenang se-dapat2nja untuk menghindarkan bahaja maut dari ikan ju. Tetapi sebenarnja ia sudah putus asa. Apa jang harus ia lakukan? Berenang terus sampai ketepi? O, alangkah djauhnja. Djika pekerdjaan ini ia lakukan, tentu akan mati lemas ditengah djalan! Menjelam kedasar air dan sembunji dibalik batu? Ah, mana bisa! Ia tidak mempunjai ingsang seperti ikan. „lbul Besarkanlah hatimu, diika Apin putramu, tidak dapat pulang kembali!" - demikian ia meratapi ibunja di-tengah2 gemuruhnja air deras dan ikan ju, diantara hidup dan mati! Tapi .......
„Hai, djangan putus asa, engkau Apin. Daunku tjukup lebar dan kuat. Naiklah dan bersembunjilah diatas daun ku .... I” — demikianlah suara jang terdengar disampingnja
Si Apin menoleh. O, sesungguhnja, disampingnja kini tampaklah sehelai daun teratai jang sangat lebar sedang merapung dengan tenangnja. Daun itu hidjau warnanja. Tebal, empuk seperti beledu permadani.
„Terima kasih, teratail” — djawab si Apin sambil melompat keatasnja seperti seorang kelasi naik kekapalnja.
Daun itu pelan2 melipatkan lembaran daunnja untuk menjembunjikan si Apin, Sekarang si Apin terhindar dari tjaplukan mulut ikan ju. Sekali ini bukan binatang jang menolongnja, melainkan daun teratai, sebangsa tumbuh2an!
„Aku terhindar dari bahaja" — bisiknja. „Tapi apa akalku agar sampai diseberang sungai ini?" la melihat keatas. Tiba2 gemetarlah badannja. O, awan dilangit sudah mendung, tebal menghitam. Disusul dengan kilat jang me-njambar2 seperti api. Kemudian meletuslah ber-kali2 guruh dan guntur memekakkan telinga. Sebentar lagi pasti akan turun hudjan jang lebat membadai. Dan .... di-tengah2 badai, kilat dan guruh jang menakutkan itulah, si Apin lekat menjuruk di-sela2 lipatan daun teratai. Badannja menggigil kedinginan dihembus angin-membadai. Seperti sepotong kaju jang terapung tiada tudjuan. Ia erat memegang tangkai daun teratai. Disana-sini, dipinggir suingai, terdengar bunji katak ber-sahut2an menirukan bunji musik. Seekor demi seekor, muntjul berlompatan menjongsong hudjan. Mereka pesta bergembira!
Mulailah hudjan turun seperti dituangkan dari langit. Si Apin makin menjurukkan seluruh badannja. „Tadi aku terlepas dari bahaja maut, tapi sekarang datang lagi bahaja maut lainnja. Badai ini pasti akan mentiabut njawaku. Ah, ibu! Besarkanlah hatimu dijika Apin putramu tak dapat pulang kembali . . . . !” — demikian ia meratap lagi memanggil ibunja.
Tapi.... djangan salah terka. Badai ini tidak mentiabut njawanja. Malah sebaliknja, dialah jang menolong si Apin. Dengan tiupannja jang amat dahsjat, direnggutnja daun teratai itu dari tangkainja dan.... bum!
Tergoleklah kini si Apin dikaki pegunungan Putih.
Seperti baru terdjaga dari tidur, si Apin terljengang melihat pemandangan disekitarnja. Alangkah indahnja! Bunga2 terhampar dikakinja seperti permadani beledu jang penuh dengan warna. Djauh meninggi keatas, sinar putih dipuntjak gunung memantjar seperti perak. Puntjak gunung ini sangat tingginja, sehingga tak mungkin ditjapai dengan djalan kaki dalam seminggu-dua minggu.
„Biarlah sekali ini akan kuminta pertolongan tongkat" - bisiknja. la melihat kesekitar kaki pegunungan.
Djauh diatas puntiak sepohon kaju, hinggaplah seekor burung jang amat besar. „Oooooi, turunlah kemari, kawan!” — teriaknja. „Tolonglah aku! Bawalah aku terbang kepuntjak pegunungan Putih .....”
Burung itu menengok kebawah. „Ja, ja, ja. Tunggulah sebentar!” — balas burung itu. Hanja sekedjap sadja, si
Apin sudah duduk dipunggung burung itu dengan senangnja.
„Eeeee, tunggu sebentar lagi....” — kata burung itu pula. Ia melihat seekor kodok hidjau jang besar melompat kedalam semak. „Aku sangat suka makan kodok hidjau” — katanja sambil menjurukkan paruhnja dan .... klup! Sebentar masuklah kodok itu kedalam perutnja.
„Hiiiii¡!” — seru si Apin dengan djidjiknja. „Bukan untuk menangkap kodok hidjau, djauh2 kupanggil engkau, tapi untuk mendaki pegunungan Putih.”
„Jaaaaaa, tapi kodok adalah satu2nja makanan jang paling istimewa. Sajang sekali, djika tak dapat kutangkap. Lagi pula, pagi ini aku belum sarapan. Bagaimana djika nanti diperdjalanan perutku berbunji minta isi? ‘Kan engkau jang repot!” — djawab burung.
„Aaaaaah, sudahlah. Mari kita berangkat" - sela si Apin.
Sedjurus kemudian, si Apin sudah melajang diudara. Taman bunga, pohon2, sungai dan batu2, makin lama makin mengetjil djua nampaknja. Ia terus melajang menudju puntiak pegunungan Putih jang ke-perak2an sinarnja.
„Huh, berat benar badanmu, Apin!” — kata burung ifu tiba2. „Sebentar lagi aku kehabisan tenaga.... — keluhnja. „Huuuuuh, tak tahan lagi aku, Apin” — katanja sambil melingkupkan sajapnja.
„Eeee, eee....!” — teriak si Apin. „Djangan kaulepaskan aku! Bagaimana djadinja nanti, dijika aku terlepas djatuh dari punggungmu?”
Tapi sementara itu si Apin sudah terlepas dari punggung burungnja. Ia melajang kebawah seperti sehelai daun kering jang lepas dihembus angin. Ia sudah putus asa. „Hantjurlah badanku ....!” — keluhnja. „Ibu! Besarkanlah hatimu diika Apin puteramu tak dadpat pulang kembali ....!” demikianlah ia meratap lagi memanggil-manggil ibunja.
Memang ia sudah kehabisan akal. Ia sudah putus asa, hilang tudjuan. Tapi sekalipun begitu, rupanja masih ada djalan lain untuk menjampaikan maksud si Apin.
Djauh dipuntjak gunung, diantara pohon2 kaju jang besar2, tinggallah seekor burung raksasa, burung garuda na46 manja. Ia sudah lama memperhatikan si Apin dengan burungnja. Dalam hatinja ia bersorak: „Nah, sekali ini aku dapat makanan istimewa! Aku makan manusia, sekalipun masih ket, ijl, tapi ‘kan t,ukup gurih dan lezat . . . . ”
Sekarang saat jang di-nanti2nja tiba. Ketika si Apin melajang lepas dari punggung burung, segeralah ia menjambar si Apin. Untung bagi si Apin, burung garuda itu tidak menjambar badannja, melainkan menjambar badju luarnja. Badju itu terbuat dari benang wol jang diradjut ibunja sendiri. Badju itu sudah tua. Radjutannja sudah kendur dan gampang sekali terlepas dijika ada jang menariknja. Demikianlah, ketika sehelai benangnja menjangkut kepada paruh burung garuda, maka terlepaslah radjutannja, sedang si Apin menggelintiir kebawah, ber-putar2 menurutkan djalannja benang radiutan jang lepas mengulur.
O, alangkah kagetnja si Apin. „Apakah jang terdjadi?” — bisiknja. Ia menengadah keatas. Hiiiij, burung garuda dengan matanja jang galak tadjam itu sedang mengintai si Apin. Diparuhnja jang lebar menebal itu tersangkut benang dari badjunja jang makin lama makin memandjang djua kebawah. Sekarang ia mengerti, apa sebabnja ia djatuh berputar2. Ja, rupanja badju dari ibunja itu telah menolong dia mendjauhkannja dari sobekan paruh burung garuda. Hiiiiij, djika seandainja badju itu tidak ada, tentu sudah lama ia di-robek2 paruh jang lengkung tadjam itu.
Makin lama benang itu makin pandjang, sedang si Apin makin lama makin dekat diua kepuntiak gunung! Dan.... bum!!! Terdjatuhlah ia ditanah jang putih seperti kapur.
Ja, Tuhan! Sampailah kini ia dipuntiak pegunungan
Putih. Ia menghela napas jang pandjang, tanda lega hatinja dan bahagia .... !”
„He, bagaimana engkau bisa terdjatuh begitu rupa? Djatuh dari langitkah engkau, Apin?” — tanja seorang kakek.
Si Apin bangun dan menoleh. „Oooo, tuan! Eeeee, eee, eeeee .... !”
„Panggillah aku kakek sadja!" - katanja dengan ramah.
„O, kakek! Bukankah kakek jang menjuruh saja datang disini? Bukankah kakek jang bertemu distasiun dulu?”
„Jaaaa, akulah jang menjuruh engkau datang disini. Tapi engkau seorang anak jang pintar sekali. Baru 4 hari, sudah sampai dipuntjak gunung!”
„Tapi mengapa kakek diuga ada disini?" — tanja si Apin heran.
„Saudaraku disini mengirim kabar, bahwa ia sakit keras. Djadi ter-gesa2 aku naik sinar matahari diudara. Dengan ketjepatan alam jang luar biasa, sebentar sadja aku tiba dipuntjak gunung!”
Si Apin meng-angguk 2. Ia tertiengang keheranan.
„Mana bungkusanku jang dulu?" - tanja kakek pula.
Si Apin mengambil bungkusannja. Dengan girang, disampaikannja bungkusan itu. Hatinja senang sekali, karena ia dapat mengerdjakan perintah kakek itu, lebih tjepat dari waktunja jang ditentukan.
„Apakah bungkusan itu tidak kaubuka ditengah djalan?” tanja kakek.
„O, tidak, kakek. Saja tidak berani.”
„Engkau tak ingin melihatnja?"
„Tentu sadja. Tapi masakan saja buka. Itu ’kan bukan kepunjaan saja."
„Ja, memang benar begitu. Sekarang, tjoba buka, apakah isi bungkusan ini?"
Hati2 sekali si Apin membuka bungkusannja. Ia ingin benar melihat, bagaimana rupanja intan berlian dan mutiara jang sering di-pudja2 orang kaja itu? Tetapi .... betapa terkedjut ia, ketika tampak olehnja, bahwa isi bungkusan itu hanja batu2 kerikil buruk sadja, jang dapat kita punguti ditengah djalan sembarangan. Si Apin terkedjut!
„Tentu ini perbuatan monjet2 nakal dihutan” — pikirnja. „Berlian dan mutiara jang sesungguhnja, mereka tukar dengan batu2 kerikil buruk. Aku harus kembali! Aku harus kembali merebutnja .... !”
„Djangan terkedjut engkau, Apin" — kata kakek itu. „Memang benar, inilah isi bungkusan jang aku berikan dulu kepadamu."
„Kalau begitu ...., kalau .... kalau hanja ini sadja, apa perlunja saja begini lama meninggalkan ibu? Apa perlunja saja menghadapi berbagai bahaja maut?” — tanja si Apin dengan air mata berlinang.
„Apin, anakku!” — diawab kakek pula. „Apa jang telah engkau lakukan, adalah lebih berharga daripada intan berlian dan mutiara! Tahukah engkau, bahwa banjak sekali sifat2 manusia jang lebih mahal harganja daripada permata dan mutiara? Kedjudjuran, misalnja. Keberanian. Pertjaja diri sendiri. Keras hati. Tenang dalam menghadapi segala bahaja. Berbudi dan berakal!
Sesungguhnja, kami kakek2 penghuni pegunungan Putih ini, waktu ini sedang mentjari orang2 jang bersifat demikian. Bungkusan ini hanja dalih sadja, hanja djalan untuk menemukannja .... !”
„Untuk apa orang2 itu ditjari?" - tanja si Apin.
„Kami disini sedang mengerdjakan suatu pekerdjaan rahasia untuk pemerintah. Ja, orang2 luar belum diberi tahu dan belum boleh mengetahuinja. Nanti dijika kakek2 penghuni pegunungan Putih sudah pajah semua, artinja sudah tak sanggup bekerdja lagi, maka pekerdjaan ini akan kami serahkan kepada orang2 jang sifatnja baik2. Dan engkau, engkau adalah satu diantara mereka jang kami tjari. Berani, djudjur, pertjaja diri sendiri, keras hati, berbudi dan berakal . . . . !”
„Pekerdjaan apa jang harus kukerdjakan nanti? Bolehkah aku mengetahui rahasia itu?” — tanja si Apin.
„O, engkau belum mengerti tentang rahasia. Disini kami mempunjai alat seperti alat peneropong bintang2. Dengan alat ini, kelak dikemudian hari kita akan dapat mengadakan hubungan dengan negara2 diseluruh dunia. Kita bisa tahu nanti, negara mana jang masih djauh terbelakang, negara mana jang masih miskin menderita, negara mana jang selalu ingin mendjadjah dan negara mana jang selalu ingin berperang! Nah, dengan semua negara2 ini, kita dapat mengadakan hubungan se-baik2nja, dimana alat rahasia ini bakal bisa mentiiptakan: kemadjuan, kemakmuran, kemerdekaan dan perdamaian!”
„Berat benar pekerdjaanku nanti ...." - bisik si Apin.
„Ja, berat tapi menimbulkan semangat” — djawab kakek itu. „Dan sebagai upahmu, sekarang engkau·boleh pulang dengan menunggang sinar matahari!”
„O, terima kasih, kakek. Biarlah saja pulang dengan berdjalan kaki dan liwat di-hutan2 sadja. Djika mengambil djalan udara, tentu tak ada jang menolong lagi seperti tadi. Badiu luarku sudah habis, sedang burung garuda jang tadi mematuknja, sudah lari tak ada lagi."
„Djangan kautakutkan semua itu. Kasihan ibumu, sudah lama me-nunggu2. Selamat djalan, Apin!”
Maka meluntjurlah tjahaja putih seperti asap jang keperak2an. Si Apin melompat keatasnja dan .... melajanglah diudara.
Pegunungan Putih sudah djauh menghilang, sungai lebar jang deras mengalir tampak dari atas indah be-riak2, lalu hutan belantara serta pohon2nja dan .... ssssrrtt!! Ia meluntjur kini dari langit dan tiba sekali dekat rumahnja. „lbu! lbu ....!” — teriaknja. „Inilah Apin, ibu! Bukalah pintu .... ”
„Oh, Apin anakku!” — seru ibunja sambil lari menjongsong si Apin. „Selama engkau pergi, banjak benar kedjadian jang aneh2. Rumah kita jang dulu, dibongkar oleh orang2 jang tidak kita kenali, lalu digantinja dengan rumah baru jang kuat dan bagus. Kemudian diisinja dengan perkakas rumah jang manis2. Engkau diberi lemari buku ketiil jang penuh dengan buku2 dongeng, sedang aku diberinja pakaian jang bagus2. Lihatlah, Apin. Kita mendjadi kaja dan semua ini adalah djasa perbuatanmu .... ”
„O, itu bukan djasaku, ibu!” — diawab si Apin. „Ini adalah djasa ibu sendiri, berkat didikan jang selalu ibu nasihatkan:
Engkau harus diudjur, Apin.
Engkau harus berani, Apin.
Engkau haru berbudi dan.... ja, banjak lagi nasihat ibu jang baik2, sehingga aku terpilih oleh kakek untuk mendjadi pekerdią di .... ”
„Dimana, Apin?" - tanja ibunja ingin tahu.
„Ah, kata kakek masih rahasia. Aku belum boleh mengatakannja ...."
„Hm, kepada ibumu boleh sadja kautjeritakan, Apin" — demikian suara kakek jang datang dari pintu.
„Heeee, bapak. Silakan duduk, bapak!" - kata ibu si Apin.
Maka berkumpul dan berfjeritalah mereka dirumah sambil minum2 dengan perasaan jang puas dan penuh suka-fjita.