F.L. RISAKOTTA, NJOTO, DKK.
Penjair dan Perdamaian
himpunan karya
Komite Perdamaian Indonesia
Kacabenggala Editions
Publisher Note
Para pentjinta damai,
belumlah semua jang kami terakan ini, dari sekian banjaknja hasil tjiptaan jang disuguhkan bagi perdamaian dunia. Terasa sekali ketjil dan miskinnja bahan-bahan ini, tetapi kemiskinan dan keketjilannja telah mendukung tugas jang amat besar, kewadjiban jang murni, jang lahir dari hati nurani seorang pentjipta. Mereka besar bukan karena mereka mentjipta sadja, tetapi besar dan mulia karena dia mendukung tjita-tjita manusia jang agung jaitu perdamaian, tanpa ini dia tidak mungkin bisa menulis.
bahagialah penjair dan penulis jang menerakan tjiptaannja sesuai dengan hati sekian banjak ibu, sesuai dengan hati sekian banjak bapa, anak dan orang tua, sesuai dengan kemauan mahluk hidup, kebebasan, kedamaian dan kemurnian hidupnja.
inilah isi hati penjair-penjair jang tertera dan memberikan karjanja dalam buku ini. sesuai dengan tjita-tjita jang terkandung dan manusia jang mendukungnja, kami terakan sadja nama buku sederhana ini dengan:
„PENJAIR DAN PERDAMAIAN“
kesederhanaan berdjalan bersama buku ini. seiring dengan tjita-tjita jang banjak terkandung diantara manusia jaitu perdamaian, perdamaian.
kesederhaan itulah jang kami suguhkan, karena hanja per-
damaianlah jang kekal bagi kehidupan luhur manusia.
disamping itu atas hadirnja buku ini ketangan kita, perlulah panitia menjatakan terima kasih kami pada Menteri Muda Penerangan R. Maladi, jang telah bersedia membantu menerbitkan buku ini.
Djakarta, 6-12-1959.
Panitia
MUSJAWARAH NASIONAL UNTUK PERDAMAIAN KE-II
Publisher Note
Pentjinta perdamaian jang budiman,
Bidang gerak dari Komite Perdamaian Indonesia sudah luas djuga, sehingga sudahlah wadjar bila Komite-pun berhak pula menjatakan kegembiraannja, menjatakan rasa bangganja atas usaha-usaha jang telah ditjapai oleh Komite. Namun demikian, bidang gerak Komite belumlah meliputi keseluruhannja. Banjak pula bidang-bidang jang belum tergarap. Tetapi dengan kenjataan ini perlukah merasa kekurangan jang melemahkan kita dalam setiap tindakan kita ? Kami kira tidak demikian. Pemetjahannja ialah, jang sudah kita kerdjakan haruslah kita sempurnakan jang belum terhimpun kita himpunkan segera, jang belum tergarap kita garap agar kemadjuan Gerakan Perdamaian di Indonesia ini bisa meluas keseluruh bidang-bidang gerak manusia mulai dari mahasiswanja sampai ketaman kanakkanak, mulai dari buruh sampai petani dan nelaja-nelajan, mulai pemuda-pemuda sampai seniman-senimannja, haruslah semuanja kita tjapai.
Didalam saat-saat kita mendjelang Musjawarah Nasional untuk Perdamaian jang kedua pada bulan Djanuari 1960 jang akan datang Komite berniat pula menerbitka hasil-hasil karya seniman-seniman dalam dan luar negeri dalam bentuk puisi. Hal ini semata-mata untuk lebih mendekatkan kerdja si-seniman pada tugasnja jang terutama jaitu untuk kemanusiaan. Komite berkejakinan bahwa dengan terhimpunnja hasil karya seniman-seniman
ini terbukalah lapangan bagi seniman untuk lebih tekun lagi dalam tjiptaan-tjiptaannja bagi kehidupan manusia, seperti membuat hasil karya menentang pertjobaan bom atom Perantjis di Sahara, membuat puisi bagi tji-tatjita perdamaian dan sebagainja.
Komite berpendapat pula bahwa seniman bukanlah tukang kaju jang dalam tjiptaannja disodorkan ukuran-ukuran jang pasti, kemudian bisa sekehendak dari komite memaksakan penjair mentjipta, tidaklah demikian. Kami berpendapat bahwa seniman bebas mentjipta. Dia bebas menentukan apa jang dikehendaki. Tetapi semuanja tentunja untuk kepentingan kemanusiaan, kepentingan perdamaian. Tanpa ini sama sadja penulis itu akan mendjadi pemuas dirinja sendiri belaka, jang tentunja akan membawa si-pentjipta arrivé.
Untuk menemukan dirinja pada perdjuangan perdamaian si-seniman haruslah bergalau, berpadu dengan setiap detik pergolakan perdamaian dan kemanusiaan, dengan djalan ini dia bisa lebih matang dengan masalah-masalah kemanusiaan dan perdamaian. Djika ini dapat diatasi maka tugas penjair akan lebih mulia dan sempurna.
Kembali dihadapan pentjinta budaja jang budiman serta pentjinta perdamaian, kami serahkan beberapa hasil dari penulis dalam dan luar negeri untuk ditilai; dapatkah dia meresap dalam djiwa sanubari pentjinta damai, bila dapat berhaislah dia; bila tidak tentu belum matangnja pergalauan penulis dengan masalah perdamaian. Tetapi meskipun demikian penulis-penulis ini sudah menunaikan
karyanja bagi perdamaian, bagi kemanusiaan, inilah jang penting, bahwa dibididang sastrapun tugas perdamaianpun dapat dihimpun dan dikembangkan.
Kami serahkanlah buku mungil ini kehadapan para pentjinta perdamaian, dan rakjat Indonesia.
Djakarta, Nopember 1959.
KOMITE PERDAMAIAN INODNESIA
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
dalam perang manusia bunuh diri. dalam damai manusia menjatukkan hati. disini karya penjair bermukim abadi. disini kasih penjair damai sedjati.
Isa Loubani. Paul Eluard. Nazim Hikmet. S. W. Kuntjahjo. Amarzan I. Hamid. dll.
Siapa Mereka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 F.L. Risakotta . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 Njoto . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24 A.S. Dharta . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28 Mohammad Tohir . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 31 Masayo Yamaguchi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36 S.W. Kuntjahjo . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39 Amarzan Ismail Hamid . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 46
Siapa Mereka
Isa Loubani, seorang penulis Arab jang setia berdjuang untuk perdamaian. Isi sjair-sjairnja merupakan isi hati perdamaian. Ia termasuk anggauta Ikatan Sastrawan dan Kebudajaan Arab.
Paul Eluard, seorang penulis Perantjis jang agak tenang, tetapi utuh dalam penentuan sikap bagi perdamaian.
Nazim Hikmet, penulis progresif Turki jang dikagumi oleh rakjatnja jang tjinta damai, tetapi djuga oleh golongan jang anti paham jang dianutnja. Jang lebih penting ia ditjintai oleh setiap pentjinta damai didunia.
Len Fox, seorang penulis Perantjis jang sederhana tetapi setia untuk perdamaian.
Masayo Yamaguchi, orang muda Djepang jang menuangkan isi hatinja dengan penuh kebentjian terhadap perang. Ia adalah seorang jang djuga merasakan kegemparan bom Atom Hirosjima.
Nahid Abu Zahra, penulis Mesir ini menulis karyanja dalam rangka kampanje anti nuklir. Dan ditulisnja untuk penjair Djepang Ishiji Asada.
S.W. Kuntjahjo, seorang penulis buruh jang terus aktif menjumbangkan karyanja bagi tjita-tjita perdamaian.
F.L. Risakotta, seorang penjair jang banjak memberikan sumbangannja bagi usaha-usaha perdamaian melalui radio. Seorang anggauta Lembaga Seni Sastra Djakarta (Lekra).
Amarzan Ismail Hamid, seorang penulis muda jang aktif mentjat kedjadian-kedjadian dan disini tentang keretaapi perdamaian di Sumatera Utara.
Klara Akustia, penjair jang banjak mentjipta djuga tentang perdamaian.
F.L. Risakotta / Ris
Nazim Hikmet Djangan biarkan awan membunuh kemanusiaan
Itulah ibu jang melahirkan kita sebagai djantan Tjahaja mentari jang bersinar, dikaruniai melingkar keatas Bukan inikah ibumu jang memberikan kau hidup ? Tuan, sajanglah pada setiap ibu – Djangan biarkan awan membunuh kemanusiaan.
Seorang pemuda tjilik berlari dan meluntjur kegembiraan Lajang-lajangnja menari diatas pohon meninggi Tidakkah tuan djuga, menari dan berlari demikian ? Tuan, sajanglah pada setiap anak-anak ketjil – Djanganlah biarkan awan menghukum kematian atasnja.
Pengantin baru menjisir rambut didepan katja, Dia lagi menunggu seorang tiba, Sekali kelak tak seorangkah jang menunggumu, tuan ? Tuan, kasihilah setiap pengantin jang menunggu – Djangan biarkan awan membunuh kemanusiaan.
Dihari tua manusia tak akan berpikir Tentang sesuatu, tetapi kenangan hidup jang penuh ria, Karenanja, kasihanilah kini pada siapapun jang tua, Tuan, sajangilah, dirimu jang djuga kan tua – Djangan biarkan awan menghukum kematian atasnja.
Nahid Abu Zahra Bom ketiga tak kan terdjatuh lagi
untuk penjair Ishiji Asada.
Tahun-tahun melintasi kematianmu
Dan masih sadja kami tiada lupa kengerian tragedimu
Pulau impian tersentak
Kehidupan jang penuh hina
Hingga kemusnahan menjelimutinja,
Gugurlah bala jang menakutkan,
Gubuk jang dalam mimpi,
Menjala djadi berkeping-keping.
Keriaan harinja tersenjum,
Musnah.
Pulau impian, ajunan Sikanak-kanak
Pembaringan mereka jang penuh hidup, dihantjurkan,
Angin melajah tiada menentu
Atas puing-puing gelimpangan majat-majat
Kematian itupun gugur dalam kengerian
Karenanja dihimpunnja ditanah berduka
Segala permata jang gugur
Dan hilang ditumpukan puing-puing;
Semuanja jang indah, laju,
Dan terdjamah dalam kegelapan penuh ketakutan.
Oh, kasihku, renggutlah tangan-tangan penjerang
Jang mendatangkan bala dengan penuh kebangaan
Beribu-ribu terbunuh,
Dan dari kematiannja, tapi tiada sajang padanja
Hantu merka kan tegak dengan kedjang,
Dibumi mana belum terdjerat dari bala menjala Akan kegilaan dan kedunguan jang menopan Kegagahannja bangkit Dan saat penentuan kedunguannja mendekat Dan tak mungkin kita temui neraka ketiga
Tak berbentuk, bengis mendahsjatkan
Dan kan membakar mata dilelap tertidur,
Dan agresor jang biadab belum merasa puas
Dua bom membangkitkan nafsunja
Untuk darah, ia menjerukan jang ketiga
Kegagahannja bangkit
Dan saat penentuan kedunguannja mendekat
Teror akan menjeret nasibnja kekehantjuran
Dan menolak ketepi ketjintaan,
Saat itu kita temui kemurnian
Kebahagiaan hidup dan harapan murni
Jang dikirimkannja kepedjagalan
Dan setiap kesatria jang menegakkannja
Begitulah kerdja bagai raksasa jang kelaparan
Tuangkan mutiara darahnja, sajang untuk kita semua
Dia akan bangkit diarus kerusuhan
Atas hati-hati jang masih gundah dan redam
Atas kejakinan jang masih bangkit
Atas segala jang bernilai diusia kita
Dibawah tapak kakinja, rerumputan
Bergetar, dan kemusnahannjapun bertambah
Tidak, tidak akan didapat harapannja
Dari penentuan bumi jang kan berachir
Kepadanja dan setannja
Oh, kasihku jang kini di Hiroshima dan Nagasaki
Tjukup, tjukuplah jang dua itu Kehantjuran turun-temurun, kedjam dan penchianatan Tjukuplah kebinasaan pertama dibumi ini. Kita berdjuta-djuta jang bertempur Dan menaklukkan dunia gelap Dan mengerkahkan kelaliman dari akarnja Dengan tegas melekatkan tjangkir kematian jang pahit pada tenggorokan Hitler
Dan menjelamatkan Gamila dari ketakutan Dari gullitin dan tianggantungan Dan sigadis kan kembali bebas penuh kemenangan Untuk tegak perkasa disisi rakjatnja Karena sigadis kan melajangkan salam kehidupan Salam repolusioner bangsa Algeria Kita berdjuta jang telah berdjuang Dari generasi ke generasi guna menegakkan perdamaian Tibalah saatnja untuk memusnahkan agressor Kemauan kasih sajang, dan semangat perdamaian
Tak kan kita biarkan kegilaan dan ular kematian Mendatangkan bala dengan kepongahannja dan kegilaannja Dengan bom ketiga ini Atas kerdja ajah kita jang telah menegakkan dibumi pembangunan Tjukup, tjukuplah jang dua itu Kehantjuran turun-temurun, kedjam dan pengchianatan Tjukuplah bagi kebinasaan pertama dibumi ini.
Apakah jang telah terdjadi-terdjadilah Dan awan gelap lenjap sudah Pulau impian dan ajunan sikanak-kanak Telah menemukan kembali hari bahagianja Sekali lagi bahagia kembali Pada penderitaan dan gubuk bahagianja Pulihkanlah luka setiap ibu Jang kanaknja teregup dimalam tak kan kembali; Hidupkan kembali harapan sibuah hati Jang menangiskan kepertjajaannja dan harapannja jang hilang Sekali lagi alat tjangkulnja kembali Pada sawahnja Dimana akan dibangkitkannja kemurnian keinginannja Dan menjulapkannja dari bara-bara perpuingan Diatas musim semi baru Dan kenangan atas kubur-kubur dibawah puing Kanak-kanak akan dewasa dengan wadjah kemarin Atau dengan wadjah esok Masih terus terkilat jang terdjatuh Karena penekanan pulau jang hina Kini bergurau menjapu diperpantaian Membangkitkan impiannja jang sederhana Atas pasir jang bertjahajakan kerang Dimana burung melintasi udara Menjanji dan berias kian kemari Dikemudi djurumudi bersenandung Lagu iba dan pudjaan Mengenang kawan dikedjauhan
Pada malam-malam tjelaka dari kebengisan
Oh, tuan jang telah menderita kematian karena teror
Dan kemurnian akan lahir kembali
Atau esok kita bertemu lagi
Djangan gentar bajangannja didepan kita
Tak kan darah tiba lagi dipangkuan kita
Bom ketiga tak kan terdjatuh lagi
Serukanlah lagu pudjaan pada pahlawanmu
Tjukup, tjukuplah jang dua itu
Kehantjuran turun-temurun, kedjam dan pengchianatan
Tjukuplah pada kebinasaan pertama dibumi ini.
Nazim Hikmet Nelajan Djepang
Nelajan Djepang meluntjur seperti awan Kendati pemuda jang meluntjur dengan lalainja Kudengar lagu ini dilagukantemannja tidak sekeras njanjian Ketika tjahaja menguning menjelubungi lautan teduh
I
Kami jang menangkap ikan, pemakannja kan mati Siapa mendjamah tanganku, karenanja ia mati Perahu kami ini bagai keranda beku Siapa jang mendjangkaunja, mati keseketika didalamnja
Kami jang tangkap ikan, pemakannja kan mati Tak semua serentak, tetapi satu persatu Dagingnja hitam, petjah-petjah, runjam... Kami jang menangkap ikan, jang memakannja kan mati Siapa jang mendjamah tanganku, karenanja dia mati
Tangan ini jang melajaniku demikian kasih Bermandikan laut bersuarakan matahari
Siapa jang menjentuh tanganku, karenanja dia mati Dagingnja hitam, petjah-petjah dan runjam... Jang menjentuh tanganku, karenanja dia mati
II
Lupakanlah aku, kasih jang bermata saju
Ini biduk kami, djadi keranda beku
Jang melangkah kedalamnja, kan mati disitu
Awanpun lalu mengisahkan kedukaan pilu
Lupakanlah aku, kasih jang bermata saju
Kekasihku, djangan kautjium bibirku
Kematian kan beralih dariku untukmu.
Lupakanlah aku, kasih jang bermata saju.
Ini, perhau kita seperti keranda beku
Lupakanlah aku, kasih jang bermata saju
Anak jang kau kandung karena kasihku
Kan hantjur didalamnja, renjap benihnja
Ini, perahu kami, keranda beku
Laut jang kami harungi laut kematian
Oh, perikemanusiaan, kemanakah kau, kemanakah kau !
Luka-luka di Hirosjima
padamu hati kami berkatja dan harapkan terbenamlah tjinta didalamnja padamu hati kami bitjara dan harapkan tiadalah nestapa menekan dada dari napas kami jang lahir kebumi harap Merdeka mendiami kejakinan sia-sia di Hirosjima di Hirosjima baji-baji remuk redjam ditjahaja atom tiada nestapa berkatja pilu tjedera djusteru dibumi mana tjinta dan harapan kami bebas merdeka padamu kami letakan pandang malam jang melalui tjelah pagi murni dan harapkan lahir tjita damai dalam dada hati manusia dunia padamu kalini kami tibatanamkan kejakinan manusia jang melahirkan damai harapan padamu kalini kami badjakan kemenangan. nafas manusia jang tenggelam lama dihati padamu kalini kami lantangkan pesan setiakawan dan tjinta damai bangsa sedunia.
akan djauh djalan jang kita tempuh akan hilanglah djalan jang berguna bagi kehidupan manusia diatas tanah jang kering dan gersang dilahirkannja hatinja baji jang menerawangkan tjinta pada ibunja mata jang terbu-buka tiada mendekapkan tjinta pada dada senjum jang sekilas sesedjuk embun berurai begitu menawan rasa belailah kasih sajang pada baji jang terlahir sia-sia lakinja entah kemana, bertahun tiada kembali sedjak bom atom meletus di Hirosjima dan Nagasaki diatas tanah gersang jang menjesak ini terpaling tjinta pada sedjuta tahun jang silam ketika kita masih direngut tjinta jang abadi sedjak kita kenal arti kasih sajang sepandjang musim dimasa ketjintaan membara dalam tangan setiap manusia ketika itulah hormat jang mengembangkan sajap kependjuru bumi lahir dan besar tiadalah jang menandingi senjum jang demikian ketat menelan kedukaan dan kesengsaraan sedjak dulu kita dibebaskan dari takut sedjak dulu kita dihindarkan dari bahay dan maut ajat jang pulang dengan senjum menantikan balasan ajah jang tiba mengantarkan harapan
baji menerapka njanji jang begitu asik melupakan bumi indah ibu jang berdatangan dengan tangan damai didada ibu jang turun dengan kasih mesra dalam usia tua mendjalin ketjintaan berathun-tahun silam kalaupun ketjintaan jang demikian mesra kalaupun kasih jang demikian menjala sehingga tiadalah jang sebahagia usia manusia selama hidup djikapun akan ditenggelamkan karena dendam akan penemuan-penemuan baru djikapun akan dimusnahkan karena hari dengki akan hidup didamaimu tenggelamkanlah semua – semua bumi jang didjagat raja kami bersama senjum terpateri sedjak lahir membarakan tjinta pada siapa-siapapun jang tjinta senjum kami kami bersama kasih jang menjala sedjak ada akan menemukan siapa-siapapun jang rela menilai kasih kami di Nagasaki, aku dibesarkan di Hirosjima, aku dibesarkan di Amerika, di Uni Sovjet, di Inggris, di Indonesia dimana bumipun aku dibesarkan aku jang lahir ditangan kasih seorang ibu aku jang dibesarkan disenjum mesra ibu bapku mengharapkan kasih merata diantara kita mengharapkan tjinta merata antara sesama
bukankah aku besar bersama manusia lain dibumi lain bukankah aku dilahirkan seperti djgua seusiaku dibumi lain
bedakah tjinta kami pada manusia dan ibu kami bedakah kasih sajang kami jang membara dalam setiap pegangan mesra
bumi dimana aku dilahirkan pasir kering dipantai tempat ajahku mengutjurkan keringat matanja hitam tembaga menatap laut luas pada ajah dan ibu kita djika sajangnja menelan kedukaan jang bertahun terderita kesjahduan jang membina hidup diantara kita penuh mendaki kewadjaran hasrat jang terpendam dan lentera kesajangan bertahun-tahun kan menjalakan sinar pada kemurnian tjinta jang segar
berhari-hari hatinja menikam tjitanja pada pendapatan sehari
berbulan-bulan kerdjanja mengutjurkan keringat darah untuk kami
bukankah kerdja ajahku tidak bedanja dengan kerdja ajahmu
dipantai Amerika Latin, dipantai Afrika, dipantai Canada,
Australia, Inggris, Philiphina, dan dimana sadja nelajan bitjara
bedakah letih dan kasih sajangnja pada anak dan kelahiran manusia
hari ini aku abngkit dari mimpi jang menggontjang kemalaman hari ini letih karena rupa ajahku putjat ditjahaja sinar hari ini kami beda dari manusia. ajahku jang kembali dengan ikan jang didapatnja ditangan pandangnja membiru dipantai Nagasaki lepas dilaut luas dia kembali dalam mimpi kami jang begitu murni pernah ditjarikan ajahku akan kebahagiaan manusia bahwa masa datang bagi hidup tidak mungkin tenggelam dalam bengis bahwa hari depan bagi manusia tiada lagi tjedera karena perang bahwa esok hari kami akan kembali bahagia kata jang seperti chajalan beratus tahun memisahkan pandangan kasih jang tiap djedjak dibawa ajahku mendjauhkan aku dari lentera kepertjajaan meninggalkan aku dari mimpi jang kuduga bahagia bahtera jang berkajuh ketepi membawa rasa damai dalam hati meluntjur ladju dalam gelombang menikam pentjalang jang salah haluan diatasnja ramai dendang bahagia didalamnja manusia muda berusia tjita berkajuhlah, ladjulah dalam kemenangan hidup hari ini pasir jang mengeringkan tapak jang melaluinja
putih dalam hati pada tepi ketjintaa jang berhari-hari bapakku nelajan dari Nagasaki perahu meluntjur ketepi – meluntjur dengan gagah elang jang membelah angkasa – tiada menjainginja ah, nikmatlah mimpi jang bahagia hidupku akan bertjahaja terus-menerus memantjarkan keasikan jang tiada tunduk pada badai bahtera ajahku mentjium tepi – pada kepahitan hati tiada lagi kami jang tjinta pada matahari jang terus menjinari pagi kami jang berdendang bersama njanjian ombak mengempas diri berlagu sepandjang hati dan pikiran jang menusuk djiwa djauh bahagiakah nelajan dibenua lain – bahagiakah nelajan dibumi lain ah, adakah bahagia ini milik perseorangan ? mungkinkah bahagia ini hanja tipuan hidup jang seketika dan nanti akan hantjur ditelan perkosaan manusia ? mungkinkah ketjintaan ajahku dari laut luas akan hanjut ditelan badai jang berkepandjangan musim ? akan hilangkah bahagia jang dimimpikan ibu ketika aku dilahirkan ? kenangan itu hanja menusuk sementara, bila hati gentar akan perang kenangan itu hanja menikam seketika, bila kata diam tiada bitjara
kemurnian madu jang direguk pagi bahagia ini milik siapa jang tjinta kebahagiaan dan kedamaian bumi ditangan ajahku pembawaan sehari-harian disisinja temannja tiada bitjara ketika sekunar berlabuh perlahan ditepi matanja jang menikam laut luas – tenggelam dalam hatiku manakah musim jang bahagia selain kasih sekali ini kalaupun djedjaknja dipasir mengeringkan tapak tapi tjahaja kemenangan dengan pembawaannja sehariharian meresapkan kemurnian jang menelan hidupku pada tangannja jang begitu kasar pada mukanja jang berkerut tua kutanamkan tjinta selama musim – kuserahkan hidup kini hari ajahku nelajan jang tiada mengerti meriam dan peluru ajahku pemukat jang menundukkan segala pendjuru laut biru dimukanja kemenangan akan keganasan pantai tunduk tengadah peliharaan djiwa jang menjingkapkan keberanian melulurkan segala derita jang menumpak rumahku bahagianja hidup ketika kesakitan tiada berkata djalan menudju rumah seindah emas jang tiada dipunjai manusia kerikil-kerikil jang menikam kaki peri djadi mutiara pada permainan sehari-hari
karena ajahku tiada berduit untuk membeli gundu djadi mahkota hidup masa kanakku kampungku dipantai nelajan Nagasaki mandiku air laut tiada berdosa sepandjang usia tjintaku tenggelam dalam didasar buminja antara kami ada tjeriat jang tiada dusta tentang derita dan kemelaratan manusia karena hidup menjiksa tentang kemenangan nelajan atas pantai karena pantai tiada dinoda aku masih muda – masih ketjil usia djalanku sepandjang dusun hanja mengenal djedjak dan podjok rumah temanku bermain dengan girang tertawa berhari-hari kami tiada mengenal segala. selain ini – tjinta manusia kutimang-timang kerikil jang meruntjing kutatap penuh hati pasir jang membeling disitulah hatiku dan teman-temanku bermain dalam mentjari hari berhari kami bersenda dengan kerikil dan pasir pantai berhari kami melapskan rindu pada usia muda didesa jang begitu ketjil djauh dari pendidikan tinggi aku dibesarkan dengan penuh kedunguan tiada kutahu dimana pantai lain, selain Nagasaki dan Hirosjima mukaku hanja menandakan mimpi kedunguan sedangkan hatiku lupa berkata dalam keseluruhan
ah, hari ini ajahku pergi kembali
lautnja rumah kedua sesudah rumahku dan ibuku lautnja jang membuka dada mengisi kekosongan tjerita hidup seolah membajar hutang pada jang lahir disekitarnja didasarnja hidupku tertanam hidup temanku, hidup tetanggaku hidup kita nelajan mentjari ikan hidup semua umat manusia djika ikanpun rela membunuh manusia karena diratjuni adakah hidup bagiku lagi bagi nelajan kampungku, bagi tetanggaku bagi semua umat manusia ? lautku bumi jang membawa hidupku dewasa kalaupun mau menjiksaku siksalah mereka jang menjiksamu bukankah aku dan nelajan dipantai kampungku tiada berdosa ? musim jang bertukar tjahaja – bertukar hudjan dengan panas karena manusia bitjara dengan kebuasan sendiri dibumiku sisa-sisa manusia jang tiada berkata karena dia benar mengisi djalan pertanda keperihan didada mereka terguris dendam bertahun-tahun dendam manusia jang sutji dan dendam pada dosa jang tiada terutjap tangannja jang tiada berbentuk manusia mukanja jang tiada bertanda manusia menjajat hatiku jang setengah pada pertarungan tjinta
dan dendam sedangkan jang sebagian hatiku turut mendenjutkan napas mereka jang terengah ah, ibu dosakan desaku jang tjinta hidup ini atau durhakakah hidupku makak penjiksaan atom dan hidrogin menghukum mata rantai penghidupanku tjintaku jang dulu membara dalam tiap ketika ketika kanak-kanak tiada berdosa ketika kerikil permainan hidup masih berharga tiada kudengar bahwa manusia dibumi lain ada jang sekedjam ini dimataku hanja tinggal awan kematian dan airmata penghabisan sedang pada wadjahku tiada lagi mnusi melihatkan rupa bahagiaku jang kumimpi bertahun-tahun ketjintaan manusia jang menjeluruh dari pantai kepantai dari kepahitan kenistaan pada pembebasan dan kemurnian membimbangkan usia jang begini djadi manusia abadi tuan, kalau kau temu aku dalam bentuk begini tiada kau sebut manusiakah aku tiada kau duga manusiakah jang berdjalan itu dalam diriku berkobar ketjamukan kemarahn berkobar kebengisan dendam berkepandjangan sedang dalam tangan jang tiada berdosa ini masih kuinginkan balasan tapi aku sendiri tiada berdaja tuan, bumiku remuk karena atom, karena dosa manusia
pada desaku bisakah bahagia ibu bapakku kuterima lagi bila kesajangannja telah ditelan tjahaja pemusnah manusia ? bisakah kupadukan lagi bila mereka telah tiada karena dosa manusia menghukum dirinja dosakah ibu bapakku jang harus dimusnahkan atom tidakkah ada ketjintaan dalam diri tuan-tuan ? memisahkan hidup bahagia jang kami pupuk sedjak dulu tidakkah ada rasa manusia dalam djiwa tuan-tuan untuk tidak membunuh manusia lagi seperti nasib keluargaku seperti nasib tetanggaku – desaku – bumiku ah, tuan jang dilahirkan dengan tangan penuh darah menghukum manusia tiada berdosa tuan, bahagia tiada pada wadjahku lagi rupa tiada kumiliki seperti dahulu sedang tubuhku tiada berdaja berandjak djauh aku telah tiada dalam bajangan hidup tapi siksa masih menelan – dan aku masih bernapas tiada sajang jang kuharapkan – karena sajangku telah hilang tiada tjinta jang kuharapkan – karena tjintakupun terbang tjuma satu permintaanku, pada wadjah tuan jang menengadah pada wadjah tuan-tuan jang menjadari arti peri dalam hidupku djanganlah memperbanjak manusia seperti aku
jang berdjalan hilang bentuk
sisihkan kebanggaan melepaskan atom sebagai tjobaan jang sewadjarnja penghukuman bagi hidupku – bagi desaku
bagi bumi jang tjinta damai seperti hatiku
kalau hari akan pagi agi
dan unggas menjanjikan kemerahan tjahaja fadjar belia bangunkanlah segera mereka jang masih bermimpi tentang atom
tentang pertjobaan jang mengerat hidup manusia
tegakkanlah bahwa pagi ini kita hanja tjinta manusia kita hanja berwadjahkan damai dan perikekmanusiaan di Negasaki aku akan mati
tetapi dendam dan kebentjianku pada atom dan hidrogin akan hidup
diseluruh pendjuru bumi.
Deklamatorium di R.R.I. menjambut Pekan Anti Bom Atom/Hidrogin di Indonesia Djakarta, 12 Djuni 1958.
Njoto / Iramani
Paul Eluard Tjinta .........
Tjinta kebebasan dan keadilan Buahnja buah menakdjubkan Buah tiada basi-basinja Karena rasanja rasa bagja
Roti bagi semua mawar bagi semua Kita semua bersumpah sudah Kita melangkah langkah perkasa Djalan tinggal tak seberapa pandjang
Sendi kemenangan itu persaudaraan Dan pertumbuhan tak punja batas Semua akan djadi pemenang Lagu kita memanggil damai Dan djawab kita mentjipta damai.
Nazim Hikmet Mereka jang tak bersenapan
Barisan datang dari lima benua Mengalir madju, keutara – Kemari kekota hutan dan danau. Karang dan laut kekota hidjau.....
Mengalir madju, tak bawa senapan Tetap semua membawa hati Dalam hati itu lahirlah jang indah – Kata tjinta mendjulang mendjadi hidup.
Langit malam memutih, matahari memanas. Tertempa kata-kata badja Pada landasan hati manusia menjala – Dan kematian menggeletaklah
Helsinki, Djuni
Nazim Hikmet Gadis ketjil mati
Akulah jang mengetuk pelahan Setiap pintu, setiap pintu. Hanja aku tak tampak oleh tuan Sebab jang mati tak terlihat, tentu.
Selang sepuluh tahun Aku di Hiroshjima mati Tetap aku gadis tudjuh tahun Sebab anak mati tak tumbuh lagi.
Api mendjilat dulu rambutku Lalu terbakar mataku, tanganku. Aku tinggal segenggam abu Hilang ditiup angin lalu.
Tak ada jang kupinta bagiku sendiri Anak jang terbakar seperti kertas tua Tak dapat lagi Makan penganan.
Kuketuk pintumu, Bapak-bapak dan ibu-ibu, Hanja untuk Tandatanganmu Biar tiada lagi anak dibunuh. Biar dapat mereka makan penganan.
A.S. Dharta / Klara Akustia
Len Fox Tanda tangan Perdamaian
Ada baji dibawah djantungku Meminta hidup tawa – dan tjinta Merindukan langit membentang biru Dan menatap mekar bunga musim semi
Merenungkan malam langit berbintang Dan tidur dengan teman dibukit lembah Mengenal hidup bertabur suka-derita Dan tjaja hangat mata bertjinta
Rapuh masih anakku dalam kandungan Tangannja ketjil tidak bisa bitjara Lemah menentang orang jang mentjari Tammat hidup dengan bom jang gempita
Dia miskin suara djuru selamat engkau aku Sedang setiap malam antjaman tiada henti Kepadaku dia berkata inginkan perdamaian Begitulah kuambi pena dan tanda tangan
Anti Perang
Dalam denjutan djantung kita ini makin menderas amarah kita terhadap perang Siapa mereka ini mereka jang mengusir kita dari sawah dan ladang membakar rumah kampung halaman merobek-robek untaian kasih dan sajang kepada desa, kehidupan dan kedamaian ?
manusiakah mereka ini mereka jang merampas kota dan pabrik kita menjuruh manusia memburu manusia menembak, membunuh, mengobral njawa memaksakan kembalinja hukum rimba ?
Hari ini kita memilih sikaptegas anti perang dan memihak tjintahidup, kebebasan dan perdamaian dan kita djantankan pendirian ini kedalam langkah bergerak melawan penindasan Dan bersama lambaian padi mengemas disawahladang derum padi gempita bagi genderang rakjat berseru : anti imperialis anti perang !
Mohammad Tohir
Untuk Komite Perdamaian Djepang :
Tjerita seorang nenek kepada tjutjunja jang ketjil tentang ajahnja, seorang tentara jang pergi dan tiada kembali lagi.
Isa Loubani Taufan Nuh
Aku masih melihatnja!!! masih kulihat gambaran maja sepandjang zaman Hampir kudengar suaranja mendekat
penuh rintihan kasih
Meninggi menurun diatas ketebalan batu-batu kerikil dan menghilang didalam kekelaman
disela-sela bajangan
Tentang zaman
zaman itu
jang menabur debu disepandjang djalan
sudahlah lampau, dan aku disini
masih melihatnja
dan kudengar suaranja, meskipun debu dan penjala kantuk berengah-engah, serta remang-remang aku masih melihatnja, dan kulihat gambaran majanja sepandjang zaman
Dan itu debu-debu jang bertumpuk mengedjek, dalam bajangan-banjangan dan menjala kantuk melajaplajap, dan batuk :
„Dengarkan, tjutjuku, sudahlah lampau, dan lampau pula ajahmu
sebelum tahun-tahun pandjang
Dan lampaulah zaman
beserta tumpukan debunja jang mengedjek, dan rasa rindu,
djera dan ketakutan jang penuh kesedihan dan duka-tjita membisu, dibelakang pintu dimana bersandar sipenunggu
dan lampaulah sudah ajahmu, kini tiada kembali...... dan tiada pula dikirim kata-kata kepada ibumu jang merana, seperti kebiasaan tentara ditengah malam, ditengah hudjan dan dingin jang menggigilkan ditengah busuknja bau kotoran dan lumpur dikubang..... tanah
Mereka saling menjajat untuk menulis dengan air mata dan darah beberapa kata harini lalu larilah mereka tjepat-tjepat dan bertebaran bersama ludah „pena bulu” terkutuk pengganti dawat penjurat dengan darah, jang diteguk tanah !
Dan lampaulah ajahmu, tiada kembali lagi tiada pula dikirim kata-kata untuk ibumu jang merana, seperti kebiasaan tentara-
„Perang, tjutjuku, adalah belalang datang menemukan rerumputan, tumbuh-tumbuhan dan padi-padian masak mendjelang penunaian” „Perang, tjutjuku, adalah kehantjuran bagi segala dangau, bagi hasil djerih pajah jang dibina sepandjang tahun, bahaja buas mentjekik baji-baji, baji-baji kehidupan,
memanggal leher orang-orang dengan pisau-pisau besar ditelapak silalim”
Perang, tjutjuku, adalah kelaparan orang berliuk tiada makanan sampai tanah didjalanpun tiada tertelan butir-butirnja menghisap ratjun gas, jang diludah peluru ditelan angkasa”
„Perang, tjutjuku, adalah kegelapan kolera jang mengetok pintu, dengan tapak-tapak tangan jang
penuh dilekat debu bangkai-bangkai majat, ratjun ditengah udara sore, pagi dan semua tempat bumi, ibu kebahagiaan, warna dan hudjan ditengah semua belalang-belalang lalu kini bersarang ditengah reruntuhannja dan berlindunglah burung-burung gagak
„Perang, tjutjuku, adalah gelap pekat TAUFAN NUH, sebelum tahun-tahun pandjang tiada sore, tiada pagi tiada sampan dimana ada kehidupan jang dapat hidup tiada „MERPATI” bisa kembali habis mukik berpusing, keatas air menggelaparkan sajap membawa berita ria, menguak air dari bumi perdamaian !!!”
Lampaulah zaman Dan ajahmu tiada kembali, dustalah zaman
tumpukan debunja memberat dalam bajang-bajangan
membentang bagaikan tahun-tahun sesat
dan bagi ibumu jang merana, harapan
terbenam didalam kolam
dan tidaklah datang kata-kata !!!
Masayo Yamaguchi
Purnama
Purnama menatap pesta tarian
Purnama djuga melihat perang Korea
Antara manusia, tak ada bedanja
Masih sadja mereka berlaga antara mereka !
Purnama akan menertawakannja
Ia akan berkata, bila ia pandai bitjara
„Hentikan perang ! Hentikan perang !”
Kudengar suara Puranama ini
Mengapa mereka tidak hentikan perang ?
Kebentjian akan Perang
Kami tak inging perang !
Perang adalah sesuatu jang berbahaja ! Aku tak akan dapat makan lagi Bila aba-aba bahaja udara memanggil
Peperangan sungguh dahsjat !
Aku bentjil melihat pembunuhan atas laki-laki dan wanitawanita,
Selesai perang, manusia akan sedikit Dan kami akan sunji
Manusia jang duka akan bertambah
Dan bagaimana bila aku sendiri djuga mati?
S.W. Kuntjahjo
Persembahanku ini hari
kali ini bukan bunga mengojak kelopak semerbak sabarkan harum wangian sadjikan tanda-kasihku
tidak djuga intan-permata sedjuta warna seminar pantjarkan tjahaja merona persembahan bukti tjintaku
usah muram adikku sajang gegabah tuduh kasihku hilang tjetus api berpatah hati meretak buhulan mati
kutjintai bunga mewangi atau permata tersenjum seri kudambakan keindahan pantas menghias parasmu
tapi, apa artinja itu dimulut meriam dan peluru ?????
adikku, djustru karena kasihku padamu pada bunga dan keindahan segala kusadjikan ini kali didua tangan kertas sutji meski setjarik penuh berarti sekali teken, perkuat barisan damai
nanti, bila meriam membisu bungkam
swara sendjata tak lagi ’nggema
karena perang tertjekik tumbang
’kan kaumaklumi makna semua
isi hatiku serta tekenmu
tjoretan „seremeh” ini
dan kalau asap lenjap tersingkap
mentari pagi memegah merah
seisi bumi bermandi bunga
lepas belenggu derita-siksa
kan kuketuk tepi hatimu:
kekaksih, inilah wudjud tjintaku !!!!!
dan mimpimu selama ini
dibiusan tuba wiski
kan tersentak, didepanmu langit merah ...............
memajungi bumi damai.
semarang, 23 desember 1951.
Untuk setiap manusia – dari mereka jang rindudamai –
pada pagi bening diketjupnja dunia pertama dalam kemerahan baji dan kehidjauan dalam segala dalam redup matanja terpendam seribu tanja pada hidup pada dunia pada manusia
dipandjatnja tanggahari satu-satu dalam timanagan ajah dan belaian tangan ibu dikuaknja keraguan masa datang menjalakan bara bangga ditiap dada
dan padanja dambaharapan dari mereka jang punja hati dan tjinta akan mawar dan akan melati pada kini dan pada nanti terpadu mendjadi satu
kemarin ia menjanji lembut suaranja mendendangkan keindahan kemakaran harihari tanpa tepi dipelukan sinar surja mengentjana
tapi kini ia pergi tinggal bajangannja kemarin pagi dan darahnja basah memerah melumuri jamadipati-radiasi
kami jang kehilangan mereka ini
disini, disana dan dimana sadja merangkaikan benua dan samodra membadaikan djutaan pekik dan kutukan demi kasih, demi hidup dan demi keindahan harikini dan hari nanti kami djadikan ini dunia lubuk kasih bagi manusia.
bukan neraka, tapi sorga
Ibukota, awal Djuni 1958
Keterangan : Jamadipati adalah Dewa Pentjabut-njawa.
„Perdjurit tanpa Senapan” – menjambut „Bulan Perdamaian” –
Begitulah Hikmet namakan kami – perdjurit tanpa senapan – usah sangka kami lemah djuga djagat kami tentukan
Hati kami ditiap dada Api kami ditiap djiwa Kami pemilik Tjandrabirawa jang satu djadi berdjuta Kami Anantasena pendjaga dasar samodra Kami Bambang Tutuka pelindung langitlazwardi Kamipun Baratasena pengawal lumahing bumi
Kami perdjurit tanpa senapan senapan kami ditiap hati Kami perdjurit tanpa meriam meriam kami tjinta dan kasih djangan harapkan kami menjerah Kemenangan ditangan kami !!!
Keterangan :
– Tjandrabirawa adalah azimat jang pemiliknja djika dibunuh bukannja punah malahan mendjadi bertambah banjak;
– Anantasena, putera Sena, jang dapat menjelam didasar samodera;
– Bambang Tutuka, putera Sena jang dapat terbang diangkasa raja;
– Baratasena satrija pendawa jang terkenal keperwiraannja, jang tak kenal undur dalam perdjuangan;
– lumahing bumi = muka dunia.
Amarzan Ismail Hamid
Kepada Perdamaian
biru langit pagi ini sebiru hati jang hasrat damai
ah, apakah jang lebih indah dari kebeningan pagi jang tjerah njanjikerdja mendjulang hidup ke gairah kasih tak kenal redup
harini orangpun berkatja pada harapan karena harapan telah dibentang didjalan terang dan pekik ini begitu lantang. begitu lantang: perdamaian, kebebasan
biru langit pagi ini sebiru hati jang hasrat damai
kami orangorang jang mengerti derita kami orangorang jang tak punja apapa dan berdjuta kami sedang bangun berlawan dalam malam jang tenggelam perlahan
tapi untuk ini kami djuga memberi djawap kearah mana tudju tertantjap dunia jang baru, njanji jang merdu dimana kerdja memadu lagu biru langit pagi ini sebiru hasti jang hasrat damai
keretaapiperdamaian, 2 nopember 1958.