Baca PDF (OCR): Si Sapar

44 halaman · 4 halaman diproses dengan OCR· 2356 ms

Daftar isi
  1. UTUY TATANG SONTANI
  2. Si Sapar

UTUY TATANG SONTANI

Si Sapar

sebuah novelette tentang kehidupan penarik²betjak di djakarta

Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note.

Born in Cianjur, West Java, on May 31, 1920, Utuy Tatang
Sontani was one of Indonesia’s most important dramatists
and prose writers of the Angkatan ’45 generation. Writing
in Indonesian and Sundanese, he was known for his realist
portrayals of ordinary people and the moral disillusionment
of the post-independence period. His works—particularly
plays and short stories—consistently centered on the lives of
the poor, the displaced, and those crushed by social change.
Utuy was an active member of Lekra and served on its cen-
tral leadership between 1959 and 1965. After attending
the Asian–African Writers’ Conference in Tashkent in 1958,
his works gained international circulation, including trans-
lations into Russian and other languages. Following the
political upheavals of 1965, Utuy was unable to return to
Indonesia and eventually settled in the Soviet Union, where
he taught Indonesian language and literature at Moscow
State University. He lived and wrote in exile until his death
in Moscow on September 17, 1979.
This work was first published during a period when Indone-
sian literature was closely intertwined with political strug-
gle and cultural debate. Today, Utuy’s writings survive
largely through scattered archives and overseas collections,
as many of his works were banned, lost, or destroyed in
Indonesia after 1965.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
TATKALA SI SAPAR JANG BARU BERUMUR DELApan-
belas tahun itu dibawa oleh seorang tukangbetjak meng-
hadap hadji jang mempunjai banjak betjaknja, adalah jang
mula2didjadikan sasaran mata hadji itu kedua belah kak-
inja jang hitam membelimbing, kemudian badannja jang
pendek persegi, kemudian kedua belah tangannja jang be-
lang2penuh kurap, baru achirnja mukanja jang bundar den-
gan matanja jang sipit dan hidungnja jang pesek.
„Tenaganja boleh djuga," pikir hadji itu.
Terus bertanja dengan nada tahanharga :
„Lu mau narik betjak gua ? Apa lu bisa mendjaganja ?"
Dan dengan suara norostos seperti petasan hadji itu terus
menerangkan bahwa betjak itu bukan sesuatu jang hina
dan murah, sebab meskipun kendaraan itu tidak menggu-
nakan motor seperti mobil sedan buatan luarnegeri, tapi ba-
pak2pembesarpun sangat suka menungganginja, karenanja
sipenarik betjak tidak boleh djorok, mesti mentjutjinja tiap
hari, djangan gegabah mengendarakannja, djangan seram-
pangan menarik muatan, apalagi memuatkan arang atau
daging, itu samasekali tidak boleh,
„Rumah lu dimana ?" pertanjaan itu tiba2dilontarkan dis-
ertai tatapan mata ingin tahu.
Buru2situkangbetjak jang membawa itu menerangkan :
„Begini, wak hadji. Anak ini baru datang dari udik, baru
dua hari dia di Djakarta ........."
„Djadi dia anak gelandangan ?" wak hadji menotong den-
gan mata seperti hendak melompat. „Bagaimana aku bisa
pertjaja?"
Tapi setelah mengusap mukanja sendiri, setelah ditatap-
nja muka Si Sapar sedjurus lamanja dan setelah dilihatnja
muka jang ditatapnja itu ditundukkan, iapun menarik nafas
seperti seseorang jang baru mentjapai puntjak bukit. Ke-
mudian berkata dengan suara lesu :
„Ja, ja, aku tahu. Aku tahu, setiap jang datang disini mau
menjewa betjakku adalah orang jang baru datang dari udik,
orang jang tidak punja tempattinggal, tidak punja apa2un-
tuk didjadikan pegangan. Inilah jang membikin aku djadi
sedih. Sungguh sedih ! Karena setiap aku hendak menjer-
ahkan betjakku selalu aku dihadapkan kepada udjian dari
Tuhan, atau aku mesti pertjaja kepadaNja atau tidak.”
Si Sapar melongo sadja. Tidak mengerti ia apa makna
jang terkandung didalam kata2hadji itu, apa sebab pula
suara hadji itu naik-turun seolah-olah dihadapannja itu ada
hantu jang sebentar muntjul sebentar menghilang. Tapi
tanpa bersusahpajah untuk mengerti itu semua, achir2nja ia-
pun berhasil mentjapai maksud kedatangannja kesana. Se-
buah betjak jang sudah setengah tua, jang penuh debu dan
hampir tidak kelihatan lagi tjatnja, dikeluarkan dari gu-
dang. Dan sebuah perdjandjianpun lalu diikrarkan. Suatu
perdjandjian jang berat sebenarnja, sebab sebagai penjewa
selain ia harus membajar sewaan sebanjak duapuluh ru-
piah untuk setiap sehari semalam dengan sjarat tidak boleh
menunggak lebih dari dua hari, iapun diwadjibkan mesti
bertanggungdjawab atas segala kerusakan. Tapi apalah jang
berat kalau sesuatu jang menguntungkan terbajang didepan
mata ! Bukankah dengan betjak itu selain ia mempunjai
alatkerdja untuk mentjari redjeki sehari2, iapun sama hal-
nja dengan mempunjai tempat penginapan jang berdjalan,
dimana ia dapat meringkukkan badannja dengan tak usah
mengeluarkan lagi biaja, padahal dengan kendaraan itupun
ia akan meluntjur mendjeladjahi seluruh kota Djakarta den-
gan hari-harinja jang tjerah dan malam2nja jang bermandikan
tjahaja lampu2jang gemerlapan ?
„Ah, akan banjak jang bisa kutjeritakan kalau aku pulang
nanti,” pikirnja.
Dan sambil tersenjum kegirangan, disapu-sapunja debu jang
melekat pada betjak itu, digosoknja dengan lap supaja ke-
lihatan lagi tjatnja, dilempangkannja mana jang bengkok
dan ditjutjurkannja minjak pada roda2nja supaja tidak ke-
dengaran ber-tjuit2. Sesudahnja lalu ia membawanja ked-
jalanraja.
„Betjak, bu. Betjak, pak," katanja dengan nada menawarkan.
Pada hari pertama itu ternjata tak ada hal2jang aneh jang
dialaminja. Hanja diwaktu minum sirop diwarungminuman
ia pernah njengir dihadapan jang empunja warung :
„Heh, bukan main panasnja kota Djakarta, ja ?"
Keesokannja .......... ja, baru pada keesokannja ia menjadari
bahwa se’ain mesti njengir melawan panas ada kalauja pula
fukangbetjak dikota Djakarta itu mesti mentjibirkan bibir.
Ini terdjadi sewaktu baru sadja ia menurunkan seorang penumpang
jang berpakaian perlente.
„Hh," utjapan hati jang menjertai tjibiran bibirnja, „manu-
sia itu hanja pakaiannja sadja jang bagus! Djauh2ditarik,
bajarnja tjuma tiga rupiah."
Tapi sampai disitu sebetulnja masih belum apa2. Dikota
Djakarta jang berpenduduk empat djuta orang lebih itu,
selain tukangbetjakpun ada banjak jang suka mentjibirkan
bibir, meskipun alasannja tentu bukan karena ketjewa lan-
taran menerima bajaran jang tidak lajak.
Mendjelang hari keempatnja pengalamannjapun bertambah
lagi. Ketika itu matahari sedang amat panasnja. Dan di-
dalam ia kepanasan, ter-geong2ia mentjari bengkel, men-
dorong2kan betjaknja jang kempes. Setibanja disebuah bengkel,
tanpa ditanja lagi terus sadja ia menerangkan dengan suara
menggerutu :
„Terlalu pulisi itu ! Karena salah sedikit sadja, karena
memasuki djalan jang diuntukkan buat mobil, dirampasnja
pentilbanku ke-tiga2nja. Dan mentang-mentang ia berkuasa,
seenaknja sadja ia memaki-maki dengan perkataan „gob-
lok” „sundal” dan segala matjam. Seperti dianggapnja aku
ini kerandjang sampah !”
Tapi — sekali lagi saja katakan tapi — sampai disitupun
masih djamak sadja. Sebab dikota Djakarta jang penduduknja
terdiri atas. berbagai lapisan dan golongan, selain tukang-
betjakpun ada banjak jang suka menggerutu, meskipun alasan-
nja tentu bukan karena sakithati lantaran di-maki2pulisi.
Suatu peristiwa jang betul2luarbiasa barulah terdjadi pada
hari kelimanja, terdjadi dimalamhari.
Ketika itu bulan sedang amat teranguja dan bintang2bertabu-
ran dilangit jang biru-djernih. Dengan muka berengut ia
datang membawa betjaknja jang kosong kehadapan rekan-
rekannja jang berkerumun didepan gedung bioskop.
„Kurangadjar penumpang jang barusan kutarik itu,” katanja
dengan suara seperti baru sadja ia mereguk patrawali. „Masa
seenaknja sadja mereka berpelukan dan salingtjium dide-
pan mata ? Seperti dianggapnja aku jang duduk dibelakangnja
itu tidak ada!”
Seorang rekannja hanja membalas dengan mendelik, jang
lainnja lagi melengos. Hanja seorang jang badannja tipis
matanja tjureng dan bibirnja djeding, jang memberikan
djawab :
„Lantas ? Memangnja lu mengira lu ini apa ? Tukangbetjak
itu kuda, tidak lebih dari kuda, tahu ?”
Semendjak itu mulailah ia menjimpan segala jang dirasakan-
nja. Mulai ia djadi pendiam, asal radjin menawarkan djadi
sering menolak muatan tanpa alasan. Dan dengan begitu,
tanpa disadarinja mulailah perangainja mengarah-arah kepada
djudes; suatu perangai jang — diantara penduduk kota
Djakarta jang padat itu — djekas mendjadi tjiri jang hanja
dimiliki oleh golongan tukangbetjak.
Tapi tentunja bukanlah maksud pengarang untuk mentjeri-
takan kedatangan Si Sapar kekota Djakarta itu hanja sam-
pai disana, hanja sampai menemukan kenjataan2jang pahit
belaka; se-olah2kehidupan tukangbetjak dikota Djakarta
itu sudah kering samasekali.
Bahwa dibalik jang pahit masih ada jang manis dan dibalik
jang njata masih ada hal-hal jang adjaib, ternjatalah dengan
peristiwa jang dialaminja pada suatu malam.
Ketika itu djam diatas geredja sudah menundjukkan pukul
duabelas lebih. Langit lenglang tidak berawan. Dan disana,
dipinggir djalan jang sepi, ditepi kali Tjiliwung, ia duduk
séndirian diatas djok-betjak dengan tenda terbuka. Entah
apa jang dipikirkannja, entah apa pula jang diingatkannja.
Tiba-tiba ..... ja, keadjaiban itu biasanja datangnja den-
gan tiba2, ia mendengar bunji langkah kaki jang tjepat2
menudju kepadanja. Kemudian, setelah bunji langkah kaki
itu berhenti dihadapannja, ia melihat sosok tubuh jang
dibungkus kain-kebaja dengan pinggangnja jang ramping
dan dadanja jang membusung. Dan apabila ia sudah awas
kepada muka jang memiliki tubuh itu, iapun mau tak mau
djadi melongo, terpaku oleh sepasang mata jang djernih
dengan bulunja jang tjentik, oleh sebuah hidung jang ban-
gir dan bibir jang merah melengkung........
„Den aju dari manakah gerangan jang kesasar ini.......?"
pikirnja.
Dan didalam ia keheran-heranan mengapa ada perempuan
begituan berdjalan sendirian didjauh malam, perempuan
itupun berkata kepadanja; suaranja gemetar ketakutan :
„Bang ! Lekaslah saja bawa dari sini. Djangan pulisi itu
dapat menangkap saja."
„Pulisi ?" Si Sapar terkedjut. Baru ia menjadari bahwa
dikedjauhan ada terdengar deru djip pulisi. Dan baru ia
menjadari bahwa perempuan itu ada didalam keadaan ba-
haja.
Pada saat itu — boleh pembatja pertjaja atau tidak, tapi
begitulah kenjataannja — pada saat itu mendadak ia djadi
teringat kepada sebuah dongeng jang pernah didengarnja
šemasa kanak2dulu; sebuah dongeng jang mentijeritakan
tentang adanja seorang putri jang meminta pertolongan
kepada seorang pangeran disebabkan putri itu dikedjar-kedjar
raksasa. Dan begitu ia teringat kepada dongeng itu, terus
sadja ia melompat keatas sela, buru? menjilakan perem-
puan itu naik keatas djok, dan dengan kekuatan jang entah
didapatnja dari pangeran didalam dongeng itu entah dari
mana, digendjotnja betjaknja tiepat?, biar meluntjur dan
terus meluntjur entah kemana, asalkan buru? menghilang
dari sana.
Disuatu tempat jang masih ramai oleh orang djualan, baru
ia berhenti.
„Terimakasih, bang," kata perempuan itu.
Tapi anehnja, perempuan itu bukan terus turun, melainkan
terus menengok kebelakang, melirik kepada jang duduk di-
atas sela.
„Oh," katanja lagi sambil tersenjum gembira, „kukira tadi
kau ini sudah tua. Maafkan sadja ja, bung. Tadi saja sudah
memanggil abang."
Dan Si Sapar jang dilirik, entah karena memang merasa
  • kalau bung pertjaja-akan saja bajar besok." Dan Si Sapar jang mendengarkan, entah karena pengaruh suasana malam jang sudah larut, entah karena apa, terus sadja mendjawab dengan mengangguk : „Baiklah. Biarlali saja antarkan." Dan setelah perempuan itu menjebutkan nama sebuah gang jang mesti ditudju, iapun terus mengendjot; sekali ini tidak lagi tjepat2seperti tadi, seenaknja sadja, sekuat kakinja dapat mengajuh. Pada saat itu siapalah jang berani mengatakan bahwa tukang- betjak itu sama dengan kuda ! Malam sudah larut, langit lenglang dan djalan jang mesti ditempuh sudah sepi. Dan
lebih muda, entah karena apa, didalam menghadapi lirikan
itu tak bisa berbuat lain selain hahahheheh, ketawa ditahan-
tahan.
„Sekarang kemana?“ ia bertanja dengan nekat.
Anehnja lagi, perempuan itupun bukan buru-buru menjahut.
Ditundukkannja dulu kepalanja, digigitgigitnja dulu bibirnja;
kemudian baru berkata:
„Begini, bung. Terusterang saja katakan, uang saja sekarang
tidak banjak, tidak tjukup untuk ongkos betjak sampai
dirumah. Biasanja saja ada langganan tukangbetjak jang
sudah biasa dihutang. Tapi tukangbetjak langganan saja
itu sudah seminggu pulang keudik. Sekarang djanganlah
bung kepalang menolong. Antarkanlah saja sampai dirumah.
Nanti akan saja bajar dengan uang seadanja. Sekurangnja
didalam hidung se-puas2nja mentjium bau minjakwangi jang
mengelewir dari badju sipenumpang, matapun dengan se-
kenjang2nja menatap pundak jang putih bersih dari djarak
jang sedekat-dekatnja, sedang telinga tak berhenti-hentinja
pula mendengar kata2jang empuk, jang tidak terbatas kepada
perbedaan antara sipenumpang jang membelakangi dan sipenarik
jang menghadapi.
Ah, suatu peristiwa jang tak mungkin bisa dilupakan! Se-
bab jang dikemukakan perempuan itu ialah pertanjaan2
siapa nama, dari mana asal dan sudah berapa lama djadi
tukangbetjak di Djakarta. Dan apabila pertanjaan2itu
sudah didjawab seperlunja, dikemukakannja pula keteran-
gan tentang siapa perempuan itu, bahwa sebenarnja iapun
hanja seorang pendatang jang mesti bantingtulang mentjari
redjeki, karenanja hampir tiap malam mesti keluar rumah
mengendarai betjak.
„Tapi sekarang," ia mengachiri keterangannja, „tukangbet-
jak langganan saja itu tidak ada."
Dan Si Sapar jang mendengarkan, entah karena pengaruh
kebahagiaan jang dirasakannja, entah karena apa, sehabis
mendengarkan itu semua, terus sadja mendjawab dengan
menjanggupi :
„Biarlah mulai besok malam saja jang menarik!"
Sampai ditempat jang ditudju perempuan itupun turan. Se-
lembar uangkertas jang lima rupiah dikeluarkan dari dalam
tasnja dan lalu disodorkan kepada Si Sapar.
Tapi Si Sapar jang disodori, entah karena merasa sudah
bukan lagi tukangbetjak, entah karena apa, buru2sadja
menundjukkan gerak tangan menolak. „Tidak," katanja,
„tidak usah. Biar lain kali sadja saja dibajar. Bukankah
besok djuga saja datang lagi disini ?"
Tapi sekali menjodorkan uang perempuan itupun tak mau
menariknja lagi. „Nih, terimalah seadanja, djangan memalukan
saja,” katanja. Dan sambil mendjedjalkan uang itu ketan-
gan jang mesti menerimanja terus pula ia pergi mening-
galkan.
Tapi sebelum melangkah djauh, tiba2ia menoleh lagi; katanja
sambil tersenjum melirik:
„Djangan salah, ja? Besok malam djam tudjuh ditunggu
datang ditempat ini."
Apalah lagi jang dapat dilakukan Si Sapar selain mengang-
guk dan terus melongo memandang ! Tapi setelah dilihat-
nja perempuan itu menghilang kesebuah rumahpetak, ia-
pun terus mengusap mukanja sendiri dan terus pula pergi
dari sana.
Sampai didepan stasion, djam disana sudah menundjukkan
pukul dua lebih. Betjak-betjak jang berkerumun disana
sudah pada ditutupkan tendanja dan para pengemudinja
sudah pada meringkukkan badan diatas djok.
„Heh, sepi.......,” pikîrnja. Tapi tanpa disadari nafasnja pe-
lahan2ditarik, bibirnja pelahan-lahan menjungging senjum
dan dengan mata ditatapkan kelangit jang biru memben-
tang menggeloralah dari dalam dadanja sebuah lagu — se-
buah njanjian dengan nada sedih bertjampur bangga ......
Keesokannja, setelah menarik beberapa orang penumpang,
ia pergi ketukangtjukur dibawah pohon ditepi djalan.
„Biar dipendekkan, bang," katanja, „biar seperti rambut ma-
hasiswa!"
Selesai ditjukur, ia mendatangi rumah tukangbetjak jang
dulu membawa dia menghadap kepada wak hadji. Sebuah
kaos putih jang dititipkan disana disuruhnja supaja dis-
etrika dan didjandjikannja akan diambil nanti sore. Tidak
hanja sampai disitu! Sebuah sabun wangi diusahakannja
pula dibeli. Dan setelah datang waktunja untuk mandi di-
tumbuknja petjahan genting untuk menggosok gigi.
Dengan begitu, maka apabila siang sudah bertukar dengan
malam, iapun muntjullah diatas sela dengan rambut tiada
lagi gondrong, gigi tiada lagi kotor, badan tiada lagi bau
keringat dan badju tiada lagi kumal.
„Sekarang tak usahlah lagi aku merasa hina dihadapan dia,”
pikirnja.
Tapi apabila waktu djam tudjuh malam itu sudah tiba, apa-
bila ia sudah datang mendjemput ketempat jang kemarin
malam dan perempuan jang kemarin malam itupun sudah
kelihatan turun dari rumahnja, mau tak mau mesti men-
gakulah ia bahwa segala persiapannja itu ternjata masih
djauh diluar perhitungan. Badju perempuan itu ternjata
lebih bagus lagi dari jang dipakainja kemarin malam, sarungn-
japun ditukarnja pula dengan jang lebih manis lagi dari
jang kemarin malam. Masih djauh, sudah kelihatan pula
mukanja segar berseri-seri, lebih segar dan lebih berseri-seri
dari waktu bertemu kemarin malam.
„Kurangadjar!" Si Sapar menggerutui dirinja sendiri.
Tapi setelah perempuan itu sudah ada dihadapannja, ter-
paksa djuga ia membelengehkan bibir. Dan betelah perem-
puan itu sudah duduk diatas djok, dipaksakannja djuga mu-
lutnja melahirkan perkataan: „Kemana kita ?”
„Ketempat jang kemarin malam," djawabnja. „Kedekat kali
Tjiliwung."
Baiklah diterangkan, bahwa saat2disekitar pukul tudjuh
malam itu djalau2dikota Djakarta ada didalam keadaan
seramai-ramainja. Orang banjak pada berseliweran; entah
hanja iseng sadja, entah memangnja ada keperluan belandja
ditoko, entah hendak menudju tempat tontoan.
Biasanja keramaian itu tak pernah mendjadi perhatian Si
Sapar; tak pernah ia pikirkan buat apa sebenarnja disekitar
djam tudjuh malam itu djalan2dikota Djakarta mesti penuh
dengan manusia?
Tapi sekarang — boleh pembatja pertjaja atau tidak, tapi
begitulah kenjataannja — sekarang ia merasa bahwa kera-
maian itu adalah memang diuntukkan kepadanja, diuntukkan
buat menimbulkan rasa bangga dalam hatinja. Betapa ia
tidak merasakan demikian ! Sebab kebanjakan dari laki2
jang meramaikan djalan itu djelas kelihatan mengarahkan
mata kepadanja, kepada orang jang duduk diatas djok-betjaknja;
seorang dua kelihatan melongo memandang, tidak kurang
malah jang mentjoba mengadjak tersenjum, padahal orang
jang duduk diatas djok itu tidak ambil pusing terhadap
itu semua, tidak membalas memandang, tidak membalas
tersenjum, tenang membusungkan dada menegakkaa kepala
memandang djauh kemuka.
„Memang," katanja didalam hatinja sambil mengendjot den-
gan tegapnja dan membunjikan bel dengan kerasnja, „jang
kutarik sekarang adalah mahluk jang tjantik, paling tjantik
diseluruh kota Djakarta !"
Sampai ditepi kali Tjiliwung, tidak djauh dari tempat mereka
bertemu kemarin malam, merekapun berhenti. Disana —
seperti djuga kemarin malam — tidak banjak orang berd-
jalan, tidak banjak pula kendaraan jang lewat; keadaan dis-
ekitarnja diliputi kesunjian dan keremang-remangan.
„Tahu kau apa jang harus kaulakukan setelah kita ada disini
?” kata perempuan itu. „Nanti, kalau setelah lewat djam
sebelas kita masih disini djuga, kaú harus mulai memasang
mata dan telinga kalau2ada pulisi datang disini. Kalau su-
dah djelas ada pulisi datang, djangan ragu2lagi, lakukanlah
seperti apa jang kaulakukan kemarin malam.”
„Baik," Si Sapar mengangguk.
Ah, kalau hanja itu sadja, kalau hanja mesti berdjaga-djaga
terhadap kedatangan pulisi sedjak mulai pukul sebelas nanti,
apalah beratnja tugas jang mesti dipikul selama disana !
Djam sebelas itu masih lama; waktu untuk bértenang-tenang
berdua disana masih sangat pandjang.
Tapi itu mobil2sedan jang sebentar-sebentar muntjul ke-
sana, buat apa menjorotkan lampu kepadanja dan terus
pula menggelujur pelahan-lahan kehadapannja ? Dia hi-
tung: sudah ada tiga mobil sedan jang berbuat demikian.
Kemudian ternjata ditambah lagi djadi empat. Dan kemu-
dian ditambah lagi djadi lima. Jang keenamnja, dengan
tidak disangka-sangka, setelah pelahan-lahan lewat kehada-
pannja terus pula berhenti dan jang punjanja — seorang
laki2berperut gendut berumur empatpuluhan — terus tu-
run mendapatkan.
„Rumahnja dimana ?" katanja setelah iangsung berhadapan
dengan jang duduk diatas djok.
Setelah pertanjaan itu didjawab dengan menjebutkan nama
sebuah gang, menjusul pula pertanjaannja jang kedua :
„Boleh saja ikut pulang ?"
Dan setelah didjawabnja pula dengan keterangan bahwa
dirumah itu ada abang dan banjak kanak2, disusulkannja
pula pertanjaan jang ketiganja:
„Kalau begitu, kemana kita mesti pergi?"
„Mari, ikutlah dengan saja, naik betjak!"
Tidak mengemukakan lagi pertanjaan laki-laki itu terus men-
dapatkan supir, ber-tjakap2dengan supir itu sebentar; ke-
mudian setelah supir itu melarikan mobilnja, ia datang lagi
mendapatkan dan tanpa minta permisi dulu kepada Si Sapar
terus sadja duduk berendeng diatas djok.
Tapi Si Sapar jang tidak dimintai permisi, dengan tidak
mengatakan lagi sesuatu, terus pula menaiki sela dan den-
gan tidak menunggu diperintah lagi terus sadja memulai
mengendjot.
„Aku djuga jang sakah," katanja didalam hatinja, „mengapa
mau djadi orang jang tak pernah dianggap ada........."
Sambil madju, ada terdengar mereka jang duduk diatas
djok itu bertjakap-tjakap. Ada terdengar keterangan dari
mulut jang perempuan bahwa dia punja nama adalah Onih,
bahwa sebenarnja baru sebulan dia bertjerai dengan suam-
inja dan baru seminggu ada di Djakarta. Ada terdengar
pula keterangan dari mulut jang laki2bahwa dirumahnja
ia merasa kesopian karena isterinja sudah tidak bisa lagi
memberikan kepuasan, karenanja iapun djadi sering keluar
rumah mentjari hiburan.
Kemudian ada terdengar perempuan jang mengaku bernama
Onih itu mengemukakan pertanjaan dimana gerang silaki-
laki itu bekerdja, mengapa kelihatannja begitu makmur,
berbadan gemuk dan mempunjai mobil sedan. Ada ter-
dengar pula djawabannja dari mulut jang laki2bahwa dia
punja djabatan adalah sebuah djabatan jang paling men-
guntungkan didunia sekarang, sebab tanpa modal satu sen-
pun ia telah diangkat pemerintah untuk mengurus sebuah
perusahaan-dagang.
„Oh, kalau begitu, sema sadja dengan menerima warisan !"
perempuan jang mengaku bernama Onih itu berseru.
Dan laki2itu mendjawab :
„Ja, betul, tapi warisan itu bukan untuk diriku sadja, melainkan
untuk menjenangkan kau djuga, bukan ?”
Dan bersamaan dengan terdengarnja djawaban itu, ada keli-
hatan perempuan jang mengaku bernama Onih itu dipeluk;
kemudian ada kelihatan jang dipeluk itu mukanja djadi
berseri-seri dan ada kelihatan muka jang berseri-seri itu
achirnja ditjiumi.
Tapi Sî Sapar jang melîhat itu semua, tanpa mengatakan
sesuatu, terus sadja mengendjot dan terus sadja mengend-
jot.
„Jang salah itu sipembikin betjak," katanja didalam hatinja,
„mengapa sipenarik mesti duduk dibelakang........"
Achirnja, setelah memasuki sebuah gang jang kegelap-gelapan
sampailah mereka kehalaman sebuah rumah jang tidak bisa
dikatakan djelek dan tidak bisa pula dikatakan sudah tua,
tapi lampu2-nja tidak tjukup terang. Onih dan laki2jang
duduk disampingnja itu turun dari atas djok, terus berd-
jalan berpegangan tangan memasuki halaman rumah itu,
menghilang kehalaman belakang.
Dan Si Sapar jang duduk diatas sela, setelah mendengar per-
intah harus menunggu, terus pula turun, menjusuti keringat.
„Mengapa gelap amat?" bunji pertanjaan selama keringat
masih membasahi badannja.
Tapi setelah keringat dibadannja itu sudah kering, setelah
ia duduk sendirian diatas djok, mulailah pertanjaannja itu
bukan asal ditanjakan, mulai ia bertanja: apa gerangan jang
dilakukan orang didalam rumah jang kegelap-gelapan itu,
apa gerangan jang dilakukan Onih dan laki-laki itu setelah
mereka disana dalam keadaan berdua?
„Tentu melebihi dari apa jang sudah mereka lakukan diatas
betjak tadi," pikirnja.
Dan setelah ia sudah bisa berhasik membajangkan dengan
sedjelas-djelasnja sebuah gambaran tentang sesuatu laku
jang melebihi dari jang sudah dilakukan diatas betjak itu —
sebuah gambaran tentang apa jang sedang mereka lakukan
sekarang didalam keadaan sudah berdua dibalik dinding
rumah jang kegelap-gelapan itu — dengan tidak disadarinja
tangannja mendadak djadi gemetar, nafasnja mendadak djadi
sesak.
„Fuh !" bunji kata jang menjertai tüupan nafasnja. Dan
tangannja jang gemetar terus pula di-renggut2kan kepada
rambutnja.
Disaat itu terasa betapa sialnja ia tidak ada melihat orang
lain disana untuk diadjak bertjakap, betapa sialnja mesti
terpaku kepada keharusan menunggu sendirian ditempat
jang gelap dan sunji. Baru sekarang bintang ketjil diked-
jauhan jang biasanja tak pernah diperhatikan itu terasa
mengadjak lama dipandang. Dan baru sekarang suara djangkrik
sajup2sedih jang biasanja tak pernah dipedulikan itu terasa
mengadjak lama didengar.
Setelah ada kira-kira tigaperempat djam lamanja ia duduk
sendirian itu, baru ia melihat jang ditunggu-tunggunja itupun
pada muntjul; ke-dua2nja pada gembira, kedua-duanja tertawa-
tawa.
„Ja, ja," terdengar jang laki2membual, „mulai sekarang
akan kutjeritakan kepada semua orang bahwa umurku kem-
bali mendjadi tigapuluh."
„Lebih muda lagi," terdengar Onih menggendangi. „Saja
kira samalah dengan seorang pemuda jang baru berumur
duapuluh tahun."
Apa jang dimaksud dengan bualan laki2itu dan apa pula
artínja, bagi Si Sapar tidaklah begitu djelas. Tapi djelas
atau tidak, mengerti atau tidak, satu hal jang sangat aneh
baginja, mengapa bualan laki-laki itu menimbulkan rasa se-
bal didengar? Mengapa setelah laki2itu ada dihadapannja,
muka laki-laki itupun djadi sangat tak sedap dimata? Dan
jang paling tjelaka, mengapa setelah laki2itu mendjatuhkan
badannja diatas djok-betjak dan setelah betjak itu madju
digendjot, ada timbul pikiran tidak lebih baik laki2itu di-
dorongkan kedalam kali, biar ia terdjerumus basahkujup?
Ah, suatu pikiran jang liar, jang tak akan mampu dilahirkan
dalam perbuatan, jang hanja memenuhi angan-angan be-
laka!
Untung pikiran itu tidak terus-terusan mengganggu kepalanja,
sebab setelah sampai ditempat jang agak ramai, laki2itupun
turun, pindah tempat kebetjak lain.
„Mari kita pulang," kata Onih setelah tinggal berdua.
„Pulang?" tanja Si Sapar.
„Ja, pulang sadja," djawabnja. „Untuk malam ini sudah
tjukup, tak usah mentjari lagi."
Apa boleh buat, meskipun malam belum selarut seperti ke-
marin malam dan karenanja tidak ada terbajang kesukaan
seperti waktu pulang kemarin malam, namun tanpa mem-
bantah lagi Si Saparpun terus membelokkan betjaknja, mengam-
bil arah menudju pulang.
Didalam tempo jang tidak lama seperti kemarin malam,
merekapun sampailah ketempat jang ditudju.
„Tjape, Par?" tanja Onih setelah mereka turun dari tempat
duduknja masing2.
„Ja," djawabnja pendek.
„Nih, lumajan!" kata Onih lagi seraja menjodorkan selembar
uangkertas jang limapuluh.
Wadjah Si Sapar jang menlmbulkan dugaan menderita ket-
japean itu mendadak mengkilatkan tjahaja. Dan sesung-
guhnja, tak pernah ia menjangka akan menerima bajaran
sebanjak itu; suatu djumlah jang belum pernah diterimanja
sekalipun ia menarik muatan seljauh kakinja dapat men-
gendjot.
Pernjataan terimakasih ada terasa perlu diutjapkan. Tapi
disaat ia hendak mengatakannja, jaug memberikan uang
itu, entah karena memangnja sengadja tak mau mendengar
entah karena apa, burn2melangkah meninggalkan.
Tapi — seperti djuga kemarin malam — sebelum djauh
berdjalan, tiba2ia menoleh lagi. Dan katanja sambil tersen-
jum melirik :
„Djangan salah, ja ? Besok malam djam tudjuh kau di-
tunggu lagi datang."
Kalau disaat itu Si Sapar hanja bisa mengangguk dan terus
melongo memandang, tahulah kita bahwa lakunja itu sama
dengan apa jang dilakukannja disaat berpisah kemarin malam.
Tapi tentu sadja djavgan terus diartikan bahwa selandjutn-
japun ia akan mengisi malam itu dengan perbuatan2jang
sama seperti kemarin malam. Apa jang dialaminja tadi den-
gan segala suka dan dukanja telah membuat dia dimalam
itu djadi tidak bisa memedjamkan mata. Dan menurut pen-
gakuannja, itulah malam pertama kalinja semendjak ia di
Djakarta, jang dirasakannja sebagai malam jang amat pand-
jang!
Keesokannja, setelah mentjeburkan diri kedalam kesibukan
kerdja disianghari, ada timbul pikiran lebih baik nanti malam
ia tidak datang lagi mendjemput. Sebab bagaimanapun
djuga, buat apa ia menerima bajaran mahal, kalau toh
pekerdjaan jang dibebankan kepadanja itu berhubungan
langsung dengan suatu kekotoran; suatu pekerdjaan jang
tidak patut pula dikerdjakan oleh manusia jang masih mem-
punjai akal sehat ?
Ah, sekiranja pikiran jang timbal disaat kesibukau kerdja
itu bisa dipertahankan, alangkah aman hidup didunia! Dan
alangkah tinggi budi jang dimiliki seorang tukangbetjak!
Tapi kesibukan kerdja ada redanja. Dan disaat ia mengaso,
disaat ia sudah menghenjakkan badannja diatas djok, mu-
lai pulalah ia ber-tanja? : apa relakah ia melihat Onih di-
tarik oleh orang lain, apa relakah ia melihat Onih duduk
diatas djok-betjak kepunjaan orang lain dengan dadanja
‘dibusungkan kepalanja ditegakkan matanja memandang djauh
kemuka, sementara ia akan melongo memandang sebagai
penonton seperti itu orang banjak ditepi djalan? „Ah,”
pikirnja, „mesti sebodoh itukah aku melepaskan kesempatan......
?”
Kedjadiannja — boleh pembatja setudju atau tidak, tapi be-
gitulah kedjadiannja — setelah waktu djam tudjuh malam
itu sudah tiba, iapun datang lagi mendjemput. Dan kalau
sudah terdjadi demikian, kalau jang didjemputnja itu sudah
duduk pula diatas djok, sesungguhnja tiadalah lagi kewad-
jiban pengarang untuk mentjeritakannja dengan pandjang
lebar. Sebab apa jang terdjadi selandjutnja hanjalah pen-
gulangan2dari apa jang dialaminja kemarin malam.
Ada sebuah teori jang menjebutkan — lupalah lagi pen-
garang, dalam buku apa mengenai bab apa dan dihalaman
keberapa teori itu dimuat, tapi jang sudah pasti orang2jang
tidak bergelar disebabkan tidak banjak membatjapun su-
dah banjak jang mengetahuinja — bahwa dengan sering diu-
langi, maka segala sesuatu jang diulangi itu lama-kelamaan
mendjadi hal jang biasa sadja. Dan kebenaran dari teori itu
— seperti sudah dibuktikan dengan pengalaman2praktek
dari orang-orang jang tidak bergelar disebabkan tidak ban-
jak membatja itu — adalah berlaku bagi semua orang tanpa
membeda-bedakan tingkat dan kedudukan; djadi dengan
sendirinja bisa berlaku djuga bagi seorang tukangbetjak.
Dari sebab itu, bagi para pembatja tidak usahlah lagi merasa
heran, kalau setelah pengulangan? jang dilakukan Si Sapar
dimalam itu dilakukannja lagi dimalam keesokannja dan
terus dilakukannja pula dimalam? selandjutnja, maka lama-
kelamaan segala jang dilanginja itu tiadalah lagi baginja
merupakan sesuatu jang ada diluar kebiasaan. Menunggu
ditempat jang gelap dan sunji mendjadilah hal jang biasa.
Anggapan sepi dari setiap laki? pengendara mobil sedan
dianggapnja tak mengapa. Berapa banjaknja uang jang di-
terima Onih dari laki? itu tidak pula mendjadi rahasia. Dan
kalau achir-achirnja kepadanja diserahkan sebuah potret
jang berarti bahwa kepadanja diserahkan kepertjajaan un-
tuk se-waktu2memperlihatkan potret itu kepada laki2jang
membutuhkan, maka hal itu dianggapnja sebagai sesuatu
jang lumrah sadja.
Ja, itu semua tiadalah lagi baginja merupakan keadaan jang
mesti diapa-mengapakan!
Tapi...... inilah tapinja. Dan tapinja itu djadi berkepand-
jangan. Sebab mengapa ia djadi djarang ketawa? Mengapa
ia djadi suka menghabiskan waktunja disianghari dengan
main domino; kalau tidak main domino, suka merenung
menjendiri ?
Dimata rekan-rekamja memang apalah anehnja tukangbet-
jak jang kian lama di Djakarta kian kehilangan tawa. Apakah
pula anehnja tukangbetjak jang suka main domino? Jang
begitu itu sudah diketahuinja bukan hanja Si Sapar seorang.
Tapi tukangbetjak jang suka merenung menjendiri, tidakkah
tukangbetjak itu menjembunjikan sesuatu? Apakah geran-
gan jang disembunjikannja?
Bukan karena pengarang jang mau melebih-lebihkan — bukan-
lah karena pengarang jang suka berhajal dan suka mengada-
adakan — tapi begitulah kenjataannja, begitulah jang ter-
djadi: rekannja jang berhasil menemukan djawab atas per-
tanjaan itu adalah seorang tukangbetjak jang suka menund-
jukkan lidahnja dihadapan orang lain, jang suka meniru-
niru tingkahilaku orang lain dan suka nongkrong dihada-
pan tukang-obat. Dengan sengadja pula pada suatu hari
ia mentjari-tjari Si Sapar; kemudian setelah diketemukan-
nja ada disuatu tempat didalam keadaan menghadapi kartu
domino bersama beberapa orang rekannja, tanpa uluksalam
dulu dan tanpa minta permisi lagi terus sadja ia disana
berlagak seperti seorang tukang-obat menawarkan djualan-
nja:
„Hei, saudara2! Apakah saudara-saudara sudah tahu apa
sebab tuan Sapar djadi suka menjendiri berlagak seperti
orang berpangkat? Apa sebab dia djadi suka merenung
berlagak seperti orang jang punja gedung dipuntjak gu-
nung? Dia ter-gila2sama seorang lonte, saudara2! Seorang
lonte jang sungguh manis dan jang selalu ditariknja pada
hampir tiap malam. Tapi ditarik untuk apa? Ditarik un-
tuk diserahkan kepada laki-laki lain, sedang dia sendiri gigit
djari terus!”
Entah karena menganggap lutju kepada tjaranja pengumu-
man itu dikemukakan, entah karena merasa lutju disebabkan
melihat muka Si Sapar jang mendadak djadi merahpadam,
kawan2Si Sapar jang lagi main domino itu djadi pada ketawa.
Tapi Si Sapar jang merahpadam tentu sadja bukan djadi
ikut ketawa. Dengan tangan terkepal ia malah bangkit
berdiri; katanja menggeram:
,Apa? Gua tergika-gila sama lonte? Memangnja lo mengira
gua ini apa? Memangnja gua ini anak ketjil, mesti ter-gila?
sama lonte?"
Tapi hanja itu sadja dan tidak lebih dari itu jang meluap
dari mulutnja. Dan setelah itu, setelah dilihatnja pula
tukangbetjak jang berdiri dihadapannja itu menundjukkan
lidahnja, tangannja jang dikepalkan djadi menggapai, mukanja
jang merahpadam djadi ditundukkan. Dan dengan langkah
njempojong achirnja ia mendorongkan betjaknja, menghi-
lang dari sana.
Begitulah dengan tidak di-sangka2nja sesuatu jang tak da-
pat dielakkannja sudah terdjadi, sesuatu jang menusuk kedalam
hatinja sudah ditusukkan. Dan kalau tusukan itu datangnja
dari rekan2sendiri, kepada siapakah ia mesti datang men-
gadu?
Akibatnja djadi sukarlah pengarang mengatakan apakah
dimalamharinja ia datang mendjemput Onih kerumahnja
dengan disertai pemusatan segenap pikirannja atau tidak.
Ketika mereka bertemu pandang tak ada nampak senjum
tersungging dibibirnja. Setelah mereka berangkat melalui
djalan jang ramai tak ada pula nampak kebanggaan meman-
tjar pada matanja. Muram sadja ia kelihatan, se-olah2lan-
git diatas kepalanja itu sudah menghitam seperti tintatjina.
Baru setelah mereka akan berpisah, jaitu disaat Onih sudah
turun dari atas djok dan mau menjerahkan uang kepadanja,
baru disaat itu ia ada kemampuan menundjukkan kehadi-
ran dari segenap djiwanja. Tapi suatu kehadiran jang akan
mengherankan barangsiapa jang melihat. Sebab badannja
menggigil seperti diserang penjakit demam panas, matanja
bernjala2seperti kerasukan oleh sesuatu jang hendak meluap-
luap.
Gemetar bunji suaranja jang dipaksakan:
„Tidak, saja tidak usah dibajar."
Tentu sadja Onih menjatakan keheranannja:
„Mengapa ?"
„Apa salahnja saja tidak dibajar dengan uang?" djawabnja.
„Apa salahnja kepada‘saja diberikan sesuatu jang sudah bi-
asa diberikan kepada laki2lain? Apa bedanja saja dengan
laki-laki lain?"
Onih jang keheranan djadi menahan nafas; dahinja dikerutkan.
Tak salah lagi, tak bisa mengerti ia mengapa kata2semat-
jam itu akan keluar dari mulut Si Sapar. Tak pernah ter-
pikirkan hal serupa itu akan terdjadi. Dan sesungguhnja,
bagaimana akan terpikir sampai kesana; tidakkah sehari-
harinjapun Si Sapar itu lebih banjak dibelakanginja dari-
pada ditilik kehadirannja?
Dengan mata dipuntjerengkan iapun mendjawab: „Apa?
Bedanja? Mereka membajar, sedangkan kau dibajar. It-
ulah bedanja!”
Dan dengan muka merahpadam dilemparkannja uang jang
ada ditangannja. Dan dibantingkannja kakinja tjepat-tjepat.
Tapi anehnja, melihat itu semua Si Sapar bukannja seperti
melihat sesuatu jang baru dialaminja; bukan ia djadi ter-
paku memandang. Ia malah djadi ketawa. Ketawa memba-
hak, sampai badannja bergontjangan dan matanja berbinar-
binar.
„Oh!" katanja. „Mengapa djadi marah? Saja hanja main-
main sadja. Sunguh mati, saja hanja main-main sadja!"
Dan tambahnja sambil memunguti uang: „Sudah! Tak usah
marah. Besok malam saja datang lagi mendjemput. Betul,
saja datang lagi mendjemput!”
Entah dimanalah ia pernah mempeladjari kemampuan bermain
sandiwara itu, suatu kemampuan jang sungguh bisa disamakan
dengan kemampuannja seorang aktor jang ulung! Sebab
setelah itu, setelah dilihatnja Onih menoleh lagi kepadanja
dan setelah dilihatnja pula ada senjum bermain pada bibirnja,
iapun berhentilah dengan meng-hambur2kan kata, berhenti
pulalah dengan ketawa. Badannja jang bergontjangan kem-
bali mendjadi lemah. Matanja jang berbinar2kembali mend-
jadi muram. Dan apabila sudah didorongkannja betjaknja
akan menghilang dari sana, djelaslah kelihatan langkahnja
ter-hujung2, lemas-lesu tak tahu kemana mesti menudju.......
Besok paginja tak pernah ia kelihatan muntjul membawa
betjaknja kedjalanraja. Dimana dia berada tak seorangpun
jang tahu.
Baru siangnja, setelah ditjari-tjari orang, jaitu setelah di-
tjari2oleh itu tukangbetjak jang dulu membawa dia meng-
hadap kepada wak hadji, iapun diketemukan ada disuatu
tempat diluarkota. Dengan muka berengut ia disana duduk
memeluk dengkul. Dihadapannja bertebaran uangkertas
jang disobeksobek. Dan disampingnja, tidak djauh dari bet-
jaknja jang nungging, menggeletak djok-betjak jang rusak
karena tusukan pisau.
„Sapar!” tukangbetjak itu melototkan mata. „Apa lu sint-
ing, me-njobek2uang? Apa lu gila, merusak betjak orang?
Datangku disini disuruh wak hadji, tahu? Katanja sudah
tiga hari lu tidak bajar sewaan, sebab lu punja uang selalu
lu habiskan kepada domino. Tapi sekarang betjaknjapun lu
bikin rusak! Memangnja lu mau bikin gua malu? Setelah lu
gua tolong? Setelah lu gua kasih djalan supaja bisa hidup
di Bjakarta?"
Tapi apalah faedahnja kata2itu semua, apalah pula guna
menambahkannja lagi dengan segala matjam umpatan. Sekali
berengut Si Sapar tetap berengut. Dan sekali memeluk
dengkul ia terus memeluk dengkul.
Kehabisan sabar, tukangbetjak itu achirnja tidak berkata
lagi, terus sadja mendapatkan betjak jang nungging, menaruh
djoknja disana dan kemudian mendorongkannja, akan terus
membawanja pulang. Pada pikirnja, itulah satu2nja penje-
lesaian jang paling gampang.
Tapi sesuatu kesalahan hitung sudah terdjadi. Si Sapar jang
memeluk dengkul itu bangkit berdiri. „Djangan,” katanja,
„djangan dibawa. Betjak itu masih saja jang sewa.” Dan
dengan gerak jang tangkas dinaikinja betjak itu dan digend-
jotnja tjepat2, biar buru-buru menjingkir dari sana.
Sepuluh menit kemudian iapun berhasillah meloloskan diri
sebagai pihak jang menang, sebagai tukangbetjak jang masih
bisa menguasai betjak-sewaannja. Dan beberapa djam ke-
mudian, jaitu disaat matahari hendak terbenam, muntjul-
lah ia dengan betjaknja itu kehadapan Onih. Djoknja jang
rusak, entah bagaimana sebabnja, sudah ditukarnja dengan
jang masih utuh.
„Ada orang kaja jang mau ketemu," katanja, suaranja me-
jakinkan. „Rumahnja disana, diluarkota."
„Apakah jang dulu pernah memanggil itu?" Onih bertanja
dengan gembira.
„Bukan, bukan itu,” djawabnja tjepat. „Ini lain lagi, Kalau
mau pergi, marilah kita berangkat sekarang djuga.”
Seolah-olah peristiwa tadi malam itu hanja sebuah impian
diwaktu siang, atau seolah-olah peristiwa itu tak pernah
terdjadi samasekali; entah karena hal itu pada wadjah Si
Sapar sudah tak ada kelihatan lagi bekas-bekasnja, entah
karena bagi Onihpun sudah tak teringatkannja lagi. En-
tahlah pula karena perkataan „orang kaja” jang diperden-
garkan Si Sapar itu bagi Onih merupakan sesuatu jang
sangat merdu ditelinga. Jang njata, setelah kepada Onih
diberikan waktu untuk mandi dan berdandan, mereka berd-
uapun berangkatlah bersama-sama, jang seorang duduk dide-
pan jang seorang lagi dibelakangnja.
Djalan jang mereka tempuh adalah mulanja djalan jang be-
raspal, djalan jang litjin dan diterangi lampu2listrik. Tapi
lama-kelamaan disepaadjang djalan itu hanja banjak batu-
batu sadja; dan achirnja, setelah dikiri-kanan tidak ada
melihat tjahaja listrik, batu2disepaadjang djalan itupun
djadi tidak ada. Dan orangpun djadi djarang kelihatan.
Tapi sampai disitu masih belum apa2; Onih jang duduk di-
atas djok masih belum merasakan adanja sesuatu untuk di-
tanjakan. Setelah mereka membelok kesebuah djalan ketjil
disepandjang djalan keretaapi dan ditepi djalan itu tidak be-
gitu banjak rumah jang kelihatan, mulailah ia djadi tjerewet:
„Apa betul, Par, mesti kedjalan ini?"
„Betul," Si Sapar mendjawab.
Sampai diudjung sebuah djembatan, tidak djauh dari se-
buah gubuk ketijl, tiba2mereka berhenti. Dari sana ke-
mana sadja mata memandang, selain djalan keretaapi jang
lurus membentang hanja pohon2an sadja jang kelihatan. Po-
hon2an jang hitam mengerikan.
„Sapar!” Onih mulai menjatakan ketjurigaannja. „Mengapa
mesti berhenti disini?”
Kalau disaat itu Si Sapar jang ditanja bukannja mendjawab
tapi malah dengan tiba2ada berdiri dihadapan — berdiri
memandang tanpa mengatakan sesuatu — didalam seked-
jap tahulah Onih bahwa sesuatu jang ditjurigakannja itu
telah mendjelma mendjadi suatu kenjataan jang menan-
tang.
Dalam sekilat terbajanglah didalam ingatannja peristiwa
tadi malam. Terbajang pula didalam hajalannja suasana
didalam gubuk ketjil jang ada didepan mata itu sangat ko-
tor dan mendjidjikkan!
Tapi sebelum terbajang apa jang harus dilakukan, Si Sapar
jang berdiri itu dengan tiba2pula merumpujuk djongkok,
kedua belah tangannja lemah menggapai.
„Apakah saja mesti membajar djuga?" terdengar suaranja
meratap.
Ada terasa ratapannja itu mengandung permohonan minta
dikasihani. Dan ada kelihatan matanja membajangkan harap-
harap tjemas.
Tapi bagi Onih apalah artinja itu semua! Tidakkah bag-
inja tiada lagi jang lebih djelas dan lebih njata selain dari
adanja kenjataan bahwa ia sudah dibohonginja, bahwa ia
sudah dibawanja kesana bukan karena ada orang kaja jang
memanggil?
„Djadi untuk inikah kau·membawa aku kesini ?” katanja
dengan muka merahpadam, matanja dipuntjerengkan. „Un-
tuk membohongi, menipu aku ?” Dan dengan gemas iapun
terus mengangkatkan kaki, siap akan turun.
Disaat itu masih sempat terkilat dimatanja Si Sapar jang
djongkok dihadapan itu mengatjukan kedua belah tangan-
nja. Dan masih sempat pula terdengar pertanjaannja jang
mengandung permohonan : „Mau kemana?”
Tapi apalah pula artinja itu semua! Tidakkah baginja tiada
lagi jang lebih djelas dan lebih njata selain dari adanja
kenjataan bahwa orang jang djongkok dihadapan itu tiada
lain dari seorang tukangbetjak jang sudah dan masih akan
berbuat kurangadjar?
Sekeras apa ia menjepakkan kakinja jang sudah diangkatkan,
tidaklah lagi diingatkannja. Bagaimana Si Sapar djatuh
tertelentang, itupun tidak diketahuinja. Ia baru tertegun
kaget, setelah dilihatnja Si Sapar jang tertelentang itu bangkit
berdiri dan terus bertolakpinggang; matanja melotot, mukanja
membara.
„Djadi saja mesti membajar djuga, ja?" terdengar suaranja
menggeram seperti suara harimau lapar. „Mesti membajar
djuga?"
Pada saat itu barulah ia menjadari bahwa ia bukan berhada-
pan dengan seorang anak ketjil, bahwa suatu perkosaan
sedang mengantjam didepan mata. „Sapar!” iapun berte-
riak.
Tapi Si Sapar jang dinjahkan malah djadi menghampiri; dje-
las kelihatan badannja menggigil, gerahannja gemeretuk.
Didetik itu apalah lagi jang terpikirkan selain mesti buru-
buru minta tolong! Dan iapun terus mendjerit sekuat tenaga.
Tapi apa latjur! Setelah itu, setelah djerit jang sekali itu,
mulutnja djadi terus tak bisa lagi mengeluarkan suara, ter-
tutup lap kotor jang disumbatkan dengan segala kekerasan.
Menjadari ada tangan kotor mendjamah badan dan ada
bau keringat tertjium didepan hidung, iapun menolak mem-
berontak. Kakinja di-sepak2kan, tangannja dipukul-pukulkan,
mukanja dibuang-dipalingkan.
„Lu bau!" kutuknja ketika didapatnja kesempatan untuk
berbunji.
Tapi kutuk itu hanja sekali itu sadja sempat terlompat, se-
bab setelah itu, setelah kutuk jang sekali itu, sesuatu jang
tadjam terasa dengan tiba-tiba menusuk kedalam perut.
Darahpun keluar dari lobang bekas tusukan, penglihatan
djadi kabur, tenaga djadi lemah. Dan achirnja, dengan
tidak kuasa apa2iapun menggeletak diatas djok, menjerah
kepada apa jang hendak diperbuat orang atas dirinja.
Tapi anehnja, sete!ah melihat itu semua Si Sapar bukan
mendjadi tambah beringas. Tangannja jang menggenggam
pisau djadi gemetar, sampai pisau jang digenggamnja itu
terlepas djatuh ketanah. Bibirnja digigit dengan amat keras-
nja, sampai bibirnja itu mengeluarkan darah. Lututnja
terasa lesu, begitu lesu, sampai achir2-nja ia tidak kuasa
berdiri, djatuh merumpujuk, kepalanja tersungkur, disungkurkan
kepangkuan Onih.
„Kau djuga .......,” ratapnja, „kau djuga dan laki2lain jang
mengadjarkan aku mesti melakukan ini semua...........”
Hanja itu jang terutjapkan. Selandjutnja terengah2dadanja.
Dikepal-remaskannja tangannja dan digigitnja lagi bibirnja.
Entah berapa lama. Sampai achirnja ia tjengkat karena
mendengar suara keretaapi datang dari djauh.
„Nah, dia datang!" terlompat kata dari mulutnja.
Dan setjepat ia bangkit berdiri, setjepat itu pula ia men-
dorongkan betjak bersama Onilunja ke-tengah2djalan kere-
taapi. Sesudahnja iapun naik keatas betjak itu, memeluki
badan Onih jang sudah setengah mendjadi majat dengan
seerat-eratnja dan mentjiumi mukanja jang putjat dengan
semesra-mesranja.
Suara keretaapi jang datang dari djauh kian lama kian keras
kedengarannja, sorot lampunja kian lama kian terang men-
jilaukan. Tapi itu semua seolah-olah tak pernah dipedu-
likannja.....
Keesokannja penduduk disekitar tempat itu geger karena
menemukan sepasang majat dan sebuah betjak jang ringsek,
diduga akibat lindasan keretaapi semalam. Beberapa orang
pedjabat jang berkepentingan pada datang pula kesana un-
tuk mengadakan pemeriksaan dan mengadakan pengusutan
bagaimana duduknja perkara.
Tak dapatlah diherankan, orang banjak jang datang dis-
ana itu lebih suka mentjurahkan perhatiannja kepada majat
jang perempuan dan hanja sedikit sekali jang berkerumun
disekitar majat jang laki2. Maklumlah jang perempuan itu,
selain djasadnja tjantik, pakaiannjapun serba bagus, belum
lagi barang-barang perhiasannja jang serba mahal. Sedang
jang laki2, ja djasadnja djelek, ja pakaiannja djuga asal
sadja melekat dibadan.
Seorang pedjabat jang mengadakan pemeriksaan achir2nja
berkata pula :
„Tukangbetjak, sih! Pantas sadja dia buas."
Begitulah achirnja; seolah-olah memang sudah dikehendaki
Tuhan, kehadiran Si Sapar di Djakarta, diibukota dari bumi
Indonesia jang sutji ini, sampai kepada djadi majatpun tidak
boleh luput dari kepahitan, tidak boleh lepas dari penghi-
naan dan tuduhan.
Tapi siapa akan menduga tjerita ini tidak berachir sampai
disini; siapa akan mengira kematian Si Sapar itu bukan
berarti penjelesaian? Ja, siapa akan menjangka, bahwa
pada malamharinja, jaitu setelah kira2duabelas djam Si
Sapar dikuburkan dan tidak ada lagi dimuka bumi, seorang
tukangbetjak akan ribut bertjerita kepada rekan-rekannja
bahwa ia ada melihat Si Sapar mengendarakan betjak lengkap
dengan seorang perempuan tjantik didalamnja!
Dikatakannja bahwa ia pernah. mendekati, tapi jang didekati
pergi mendjauh. Dikatakannja pula bahwa ia pernah men-
jusül, tapi jang disusul terus menghilang entah kemana.
Dan jang menjeramkannja — katanja — bersamaan den-
gan menghilangnja itu ada tertjium bau bangkai dan ada
terasa bulu kuduk meringkik.
Bukan itu sadja; djuga ditempat lain, disebuah djalan jang
sepi ditepi kali Tjiliwung, seorang pengendara mobil sedan
hampir sadja mengalami ketjelakaan disebabkan disana ia
ada melihat seorang perempuan tjantik duduk diatas djok-
betjak lengkap dengan tukangbetjaknja jang siapsiaga. Jang
menjebabkan dia hampir tjelaka ialah, ketika ia membe-
lokkan mobilnja kesana dengan maksud menghampiri, tiba2
jang dihampirinja itu pada menghilang entah kemana dan
bersamaan dengan menghilangnja itu tertjium bau bangkai
dan terasa bulu kuduk meringkik. Saking paniknja, hampir
sadja mobil jang dikendarainja njemplung kekali.
Pendeknja, sukarlah dimungkirj bahwa dengan kematian
Si Sapar itu ditengah-tengah kesibukan kota Djakarta itu
djadi muntjul sesuatu jang mengganggu para tukangbetjak
dan para pengendara mobil sedan. Sesuatu jang nampak di-
mata, tapi tak pernah bisa didekati apalagi dipegangi. Sesu-
atu jang sukar diperoleh buktinja untuk diadjukan kemuka
umum.
Pernah terdjadi memang, seorang pengendara mobil sedan
jang melihatnja mentjeritakan penglihatannja itu kepada
seorang wartawan. Tapi wartawan itu gelengkepala dan
ketawa. Pada pikirnja, apalah faedahnja mengumumkan
sesuatu jang tidak berbukti, apalah gunanja memberitakan
kehadiran hantu ditengah-tengah kesibukan kota Djakarta
!
Dan tjelakanja, apa jang disebut hantu itupun seolah-olah
ada pikiran pula, apalah ruginja tidak diatjuhkan wartawan,
apalah tjelakanja tidak menarik perhatian suratkabar! Se-
bab dengan tidak diumumkan didalam suratkabar djuga,
toh orang jang melihat kehadirannja itu kian hari bukan
djadi kian berkurang, bahkan achirnja...... ja, achir2nja
salahseorang diantara penduduk kota Djakarta jang padat
itu beruntunglah bukan hanja bisa melihatnja sadja!
Tentu sadja hal ini terdjadi bukan karena suatn kebetu-
lan, bukan karena.orang jang beruntung itu tidak mempun-
jai alasan. Orang itu, jaitu seorang laki-laki berperut gen-
dut berumur empatpuluhan, sebagaimana telah kita kenal,
adalah mempunjai kesukaan ngelujur dimalamhari. Bukan
karena apa, tapi sebagaimana kita ketahui, hanjalah atas
dorongan hati jang sering merasakan kekosongan. Ja, suatu
kekosongan jang sebenarnja bukan tidak ada dirasakan oleh
setiap laki2berumur empatpuluhan; tjuma bedanja, kalau
bagi laki-laki lain perasaan kekosongan itu terpaksa ditekan-
nja atau dilemparkannja djauh-djauh karena tiada alat dan
kesempatan untuk menjalurkannja, maka bagi laki2berpe-
rut gendut itu, disebabkan ia mempunjai banjak uang jang
diperolehnja dengan sangat gampang, perasaan kekosongan
itu lalu dibesar-besarkannja untuk disalurkannja bersama
pengeluaran uangnja diwaktu malam.
Itulah sebabnja, pada setiap ia ngelujur dimalamhari itu,
meskipun badannja dihenjakkan didalam mobil, tapi matanja
selalu dilajang-lajangkan keluar.
Dan itulah pula sebabnja, tatkala pada suatu malam mend-
jelang pukul sebelas ia melihat ditepi kali Tjiliwung ada se-
orang perempuan tjantik duduk diatas djok-betjak, iapun
segera memerintahkan kepada supirnja jang setia supaja
mobil dibelokkan kesana, kemudian setelah sampai disana,
dengan tidak banjak pertimbangan lagi iapun terus turun
mendapatkan.
Alangkah ia gembira setelah ternjata perempuan tjantik itu
seorang jang sudah pernah dikenalnja. Dengan tidak banjak
bertanja-tanja lagi iapun terus duduk disampingnja.
„Hampir sadja aku pangling," katanja setelah betjak madju
berdjalan, „sebab malam ini kau kelihatan luarbiasa tjan-
tiknja."
Dan perempuan tjantik disampingnja itu mendjawab :
„O, ja? Itulah spesial untukmu, untuk seorang laki2jang
paling rojal mengeluarkan uang!"
Dan mendengar djawaban itu, laki-laki itu djadi kian mel-
ondjak gembira; tangannja djadi menggerajang, tak mau
diam. Se-olah2sudah terlupa ia bahwa ada orang lain di-
belakang, atau seolah-olah dianggapnja orang lain dibelakang
mereka itu tak pernah ada.
Sampai dihalaman sebuah rumah jang ke-gelap2an, sebelum
betjak berhenti iapun sudah tak sabar mengadjak :
„Haju, turun!"
Tapi apa jang terdjadi?
Kalau perempuan tjantik disampingnja itu mendadak djadi
tak ada kedengaran suaranja, iapun mulailah merasa heran.
Kemudian, setelah dilihatnja muka perempuan itu djadi
putjat, karena muka itu tidak lain dari muka seorang ma-
jat, mulailah badannja djadi panas-dingin. Dan itu belum
semuanja. Sebab achir-achirnja mau tak mau ia mentjium
bau bangkai dan mau tak mau bulu kuduknja meringkik.
„Tjelaka aku!” pikirnja sambil terus bersiap akan lari.
Tapi mau lari kemana? Baru sadja ia turun dari atas djok,
sebuah tangan jang membelimbing tiba2datang mendjemba
leher badju. Mau tak mau iapun menoleh kearah jang punja
tangan, kearah tukangbetjak jang duduk diatas sela. Dan
mau tak mau terbenturlah matanja kepada muka seorang
laki2jang selama ia hidup baru sekarang ia melihatnja, se-
buah muka jang begitu mengerikan dengan mata jang melo-
tot dan gigi jang menjeringai.
„Lu mau apa?" terdengar muka jang mengerikan itu mem-
bentak sambil mengatjukan tindjunja. „Perempuan ini gua
punja, tahu?"
Apalah lagi jang dapat dilakukannja selain berdiri terpaku
dengan mata terbelalak dan mulut menganga! Demam dis-
ekudjur badannja sudah tak terasakannja lagi. Tjelananja
jang basahkujup sudah tak disadarinja lagi. Apakah ia per-
nah bergerak dan apakah ia pernah memekikkan sesuatu,
itupun sudah tak diingatkannja lagi.
Tatkala ia sadar akan dirinja, tahulah ia bahwa ia sudah
ada dirumahnja sendiri, menggeletak diatas tempattidur
dengan badan panas-dingin, dikiri-kanannja berdjedjer is-
terinja, kedua orang anaknja dan seorang dokter. Ada ke-
lihatan isterinja dan anak-anaknja menundjukkan senjum
jang manis dan ada kedengaran mereka melahirkan kata2.
Tapi dari pihaknja, apakah jang mesti disenjumkan dan
apakah jang mesti dikatakan ? Mestikah ia tersenjum, pada-
hal didepan matanja selalu terbajang itu muka tukangbet-
jak jang mengerikan? Kata2apa pulakah jang mesti diut-
japkannja untuk mendjelaskan sesuatu jang hanja nampak
dimatanja? Jang njata, mengigaulah ia dan terus mengi-
gau!
Sampai kapan ia mesti menggeletak disana, tentunja hanja
Tuhanlah jang tahu. Tjuma jang sudah djelas bagi kita,
pada hari keesokannja muntjullah potret sisakit itu didalam
salahsatu suratkabar jang terbit di Djakarta, lengkap den-
gan sebuah beritanja bahwa seqrang pemimpin dari sebuah
PerusahaanDagang Negara djatuh sakit dengan mendadak
akibat kerdja keras.
Dan pemberitaan itu ternjata bukan tidak ada faedahnja.
Sebab setelah itu — boleh pembatja pertjaja atau tidak,

tapi begitulah kenjataannja — setelah potret sisakit itu dimuat didalam suratkabar, maka apa jang disebut hantu tukangbetjak itupun djadi tak ada lagi kabar beritanja. Ada dugaan ia akan menghilang untuk selamalamanja. Sebab jang terachir dilihat orang, ia meluntjurkan betjaknja jang berisikan kekasihnja itu kearah luarkota sambil membunjikan bel dengan amat kerasnja.