SUGIARTI SISWADI
Sorga Dibumi
Kacabenggala Editions
Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.
This digital edition owes its existence to the preservation
efforts of the Universitas Indonesia Library, as many of
Lekra’s works were lost, burned, or poorly preserved over
time.
An accessible web version of this book, optimized for read-
ability and research, is available on ilalang.drepram.com.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
Sorga Dibumi............................................1
Rumah jang Kesembilan.................................. 7
Parak Siang............................................15
Jang Pertama.......................................... 25
Orang Kedua...........................................37
Orang-orang sebatang kara.............................. 48
Sorga Dibumi
Kehidupan kanak2 setiap orang amat nikmatnja. Seakan
mau dilajarkan kembali perahu, mendjadi kanak2 tiada
berdosa. Tiada tahu artinja susah, ja pernah susah, tetapi
ketawa lekas mengintai dari balik awan.
Kalau nenek habis bersembahjang magrib, dan sudah se-
lesai menghitung tasbih, kami berkumpul ditikar sembah-
jangnja. Mesti kaki kami harus sudah bersih ditjutji. Men-
dongeng mbah, minta kami tiap malam. Dongeng jang lama
diulang berkali2pun, tetap indah ditelinga kami. Nenek
mendongengkan tentang Tuhan, bidadari, malaekat, setan,
neraka dan sorga.
Orang jang penuh dosa, akan masuk neraka nanti diachi-
rat. Achirat itu dimana, mbah? Tanja kami selalu. Gam-
baran kami senantiasa, achirat berada dilangit. Mungkin
dirembulan, mungkin dibintang jang besar bertjahaja itu.
Anak jang nakal dan banjak dosa, masuk neraka tentu. Ner-
aka itu panas sekali, melebihi panasnja laut pasir ditanah
Arab. Kakek kerap mendongengkan perdjalanan hadjinja,
melewati padang pasir jang amat panasnja. Tetapi, kata
nenek, neraka masih seribu kali panasnja. Dan kau tidak
akan mati dibakar dalam neraka, diazab terus, hingga lunas
dosamu. Malaekat sekali-kali datang, memukul kamu den-
gan gada (pemukul) besi jang menjala. Tanganmu dirantai
dengan rantai besi jang menjala. Dineraka banjak binatang2
berbisa, kelabang, kaladjengking, ular dan semua menjala.
Djeritmu tiada terdengar oleh Ibu Bapamu, kau diazab sam-
pai lunas. Hi, berdiri bulu tengkuk kami, hati mendjadi
ketjut. Malam-malam mata tiada terpitjing. Takut dan
menjesal mengapa dahulu terlahir didunia untuk berbuat
dosa, dan nanti diazab dineraka.
Anak2 dan orang jang saleh tiada berdosa, nanti naik sorga.
Sorga itu serba indah, tiada siang malam, tiada gelap dan
terang. Gelap tiada gelap, terang tiada terang. Tiada ken-
jang dan tiada lapar. Semua sendjuk dan segar. Bidadari
melajani tiap waktu. Buah2an jang ada didunia ada semua,
dan lezatnja mendjadi lipat seribu kali. Menetes liur kami,
terpandang2 sadja manggis buah jang manis, tetapi jang
kata mbah, bisa bikin mati kalau dimakan dengan gula. Dis-
orga, boleh makan seenaknja. Disorga ada wajang, mbah?
Tanja adikku laki2 jang gemar nonton wajang kulit. Embah
tersenjum, tidak, wajang itu tidak bagus, tidak boleh naik
sorga.
Malam-malam kami mimpi dan ketjut hati. Kenapa dulu
tidak mati ketika baji. Kata nenek, baji tidak berdosa,
kalau mati naik sorga. Senang kalau mati dahulu, tentu
naik sorga.
Setiap pagi kami saling djadi polisi. Djangan ada jang
berbuat dosa, nanti masuk neraka. Ah, betapa kasihan,
adikku si gendut jang suka wajang itu, kalau masih sadja
senakal itu, tentu diazab. Dan kami tidak dapat menolong.
Tiap bulan Puasa kami berlomba puasa. Si gendut jang
nakal itu dan tidak tahan lapar, berkali-kali putus ditengah
hari. Sering terang2an, tetapi ta’ djarang2 mentjuri2, pergi
ketempat kawan, memandjat belimbing, dan tjepat2 sem-
bunji dimakannja sebuah. Akan kumarahi kasihan djuga.
Perutnja besar seperti karung, tentu sadja ta’ tahan lapar.
Tetapi kata nenek, tidak apa. Gendut belum wadjib
berpuasa, ia belum dewasa. Kalau sudah dewasa, harus ia
puasa.
Budjang kami tidak puasa. Ia sudah dewasa, tentu, sebab
sudah djanda. Saja tanja, mbok mengapa tidak puasa?
Den, katanja, kalau mbok puasa tidak kuat mentjutji
dan menjapu kebon. Kalau sore lemas tidak bisa setrika.
Tetapi mbok, kataku penuh iba. Nanti kau masuk neraka.
Mbok hanja tersenjum, habis den, kalau dipaksa puasa
djuga pekerdjaan tidak selesai dan ibunja marah2. Kalau
ibunja marah2 puasanja tidak sjah. Biar saja sadja tidak
puasa. Kasihan, pikirku. Kenapa banjak betul tjutjian
mbok ini, habis adikku ada enam orang, dan sapihan Ibu
suka ngompol sadja.
Tetanggaku sebelah djuga tidak puasa. Heran djuga, dia
kan bukan budjang, tentu ta’ takut dimarahi. Aku tanja,
wak kenapa tidak puasa, nanti tidak naik sorga. Wak, manis
djawabnja. Kalau wak puasa tidak kuat mengangkat alu,
tidak bisa menumbuk padi. Tidak kuat menggendong bakul
kepasar. Manis sadja jang puasa, uwak titip. Kawan2ku
sepermainanpun tidak banjak jang berpuasa. Dan kalau
kutanja mengapa, didjawabnja: Kau puasa sekali setahun,
tetapi saja saben hari puasa. Tiap hari hanja makan sekali
sadja.
Sampai dirumah sedih hatiku. Malam2 aku memohon
kepada Tuhan, agar mbok tidak banjak tjutjiannja supaja
bisa ikut puasa, uwak banjak berasnja, tidak usah menum-
buk tiap hari sesudah ikut panenan, si Tarmin dan Minah
bisa makan kenjang tiap harinja. Biar semuanja ikut puasa,
dan bersama2 mendapat pahala sorga.
Sore hari Djimin, anak budjang kami diikat ditiang. Ia
mentjuri uang Ibu, hanja satu sen. Tetapi biar djera, kata
bapak. Djimin menangis minta ampun, tetapi mesti harus
mendjalani hukuman. Iba hati saja, Djimin saja dekat.
Kataku: „Min, djangan suka mentjuri ja, nanti kau ma-
suk neraka, mentjuri itu perbuatan dosa. Untuk apa hanja
uang satu sen sadja, kan? Dari pada nanti dibakar diachi-
rat?” Disambung suara dalam hatiku: Sekarang sudah sakit,
badan diikat, nanti memetik dosa pula.
:„Habis den, saja ingin sekali membeli lajang2,” djawabnja
sambil menangis. :„Mintalah kepada Emakmu dong, djan-
gan mentjuri.” :„Mak tidak punja uang lagi. Sudah habis,
kemarin membajar utang kepada Tionghoa mindring, pem-
beli kainnja Lebaran dahulu.”
Malam2, saja berdoa lagi, agar anak2 semua dapat membeli
lajang2 dengan tidak usah mentjuri. Bisa minta kepada
Ibunja sendiri. O— ja, dan Ibunja selalu mempunjai uang,
djangan habis dimakan hutang. O— ja, dan djangan ada
tukang mindring (lintah darat), sebab lintah darat itu per-
buatan dosa. Ja, ja pendeknja, orang tidak usah mempunjai
hutang, tidak usah, ingin membeli dapat membeli, djadi
anaknja tidak berdosa (terpaksa mentjuri karena inginkan
lajang2), melahirkan lintah darat banjak (habis orangnja ta’
punja uang).
Bukankah Ibuku tidak mengutang kepada lintah darat? Be-
gitu pikirku, dan kami tidak perlu mentjuri.
Tetapi ......... Ja, aku ingat pernah pada satu malam aku ter-
bangun mendengar Ibuku menangis terisak-isak, dan bapak
menggeram keras2. Aku terbangun, mataku njalang terbe-
lalak. Bapak marah2 kepada Ibu, dan Ibu hanja menangis,
sekali-kali mendjawab dengan marah. Ja, dengan kata2 jang
djelek, jang aku tidak boleh mengutjapkan, karena itu tidak
sopan. Bapak rupanja tidak sabar lagi, terdengar suara:
blug, dan ibu agak keras menangis, Ibuku dipukul. Mau
saja mendjerit, tetapi takut kepada Bapak. Ibuku berkata:
„Digadaikan, digadaikan, kapan bisa diambil? Kalau tidak
tjepat tentu hilang, ta’ boleh ditebus lagi. Orang laki2 tidak
dapat tjari uang. Kalau subangku hilang dipegadaian, kau
tentu tidak bisa membelikan lagi.” Bapak mendjawab: „Itu
kan salahmu sendiri. Saja sudah berkata, uang kas tidak
boleh dipakai, kalau saja mesti menjetorkan atau ada in-
speksi sewaktu2, barangmu mesti masuk rumah gadai”
:„Gadjimu tidak tjukup, tidak tjukup,” tukas Ibuku.
Aduh, tidak terasa air mataku meleleh. Bapak Ibu mem-
buat dosa. Nenek berkata, orang harus rukun, tidak boleh
berselisih tidak boleh mendendam, tidak boleh berkelahi,
tidak boleh pentjuri, ja pokoknja serba saleh.
O, Tuhan Maha Pengasih, berilah kepada Bapak Ibuku
gadji jang tjukup, agar tidak harus selalu mentjuri uang
kas, tidak harus bertengkar malam2 kalau kami sedang
tidur. Dan kepada Bapak Ibu semua kawanku, djuga
Ibunja Djimin berilah uang tjukup supaja tidak kekuran-
gan, dan dapat hidup rukun. Berilah uang banjak2 kepada
ibu Djimin supaja Djimin dapat sekolah seperti saja, nanti
djadi orang pandai, dan tidak djadi pentjuri.
Ketika mataku hampir terlena, saja ingat benar pada waktu
itu, saja berdoa agar Tuhan memberkahi sorga dibumi, su-
paja kami tidak perlu berbuat dosa, dan nanti kami dapat
semua naik sorga.
......... Ketika saja sudah besar dan dapat berfikir, saja
mengerti bahwa doaku waktu itu dan doa semua Bapak
dan semua Ibu, bukan doa jang salah. Tuhan, berkahilah
sorga dibumi, agar kami tidak berbuat dosa.
Sekarang, saja tidak hanja berdoa sadja, tetapi saja dan
semua anak ketjil jang dulu berdoa-disudut2 gelap ditem-
pat tidurnja karena takut azab neraka, berbuat. Berbuat,
berdjuang, untuk tertjiptanja sorga dibumi.
Rumah jang Kesembilan
Kalau sore2 sehabis hudjan sepertini, udara njaman,
dan hudjan sedang, tiada terlalu lebat semalam, semua
penghuni kampung keluar rumah, meninggalkan kepen-
gapan dan melupakan penat2 kerdja sehari. Anak2 ketjil,
ber-bondong2 berdjalan dengan kawannja menjusur djalan,
melihat permainan lampu2 neon warna-warni. Seperti
tiada penat2nja melihat keindahan itu, meskipun telah
bertahun menatapnja. Tetapi memang lampu2 neon itu
banjak membawa kisah suka-duka. Kanak2 tiada menjadar-
inja, hanja merasa sesuatu jang merindukan. Disitu, disitu
dahulu, tempat neon biru muda, pernah mereka diam
untuk tiga bulan lamanja. Dan disana, dibalik djalan besar
jang membudjur itu, tempat neon bening kuning, mereka
diam untuk lima bulan lamanja. Alangkah lainnja. Malam
ini seperti siang sadja, terang-benderang. Rumahnja
berbentuk aneka-warna. Dapat benar dunia ini berubah
begitu rupa. Dahulu, betjek, pengap, gelap dan berbatu.
Sekarang begitu rata, kering, terang-benderang, bersih
memikat hati. Tidak mengira, garasi itu, berdiri diatas
bekas petjomberan. Tersenjum geli anak2 itu, senjum jang
hanja dikenal oleh ketulusan hati kanak2.
Mereka lama berdiri dipagar pekarangan jang luas. Ada
sesuatu jang sangat memikat. Pohon rambutan tempat
mereka dulu berlomba memandjat tidak ditebang. Po-
honnja sedang lebat berbunga. Dahulu ketika mereka
masih berdiam disitu, bertepatan dengan musim rambutan.
Kalau Pak Hadji tidak ada dirumah, mereka bergajut naik
seperti kera. Tetapi kalau ketahuan, emaknja mendapat
marah sehari suntuk, dan sebagai hukumannja, maknja
mesti menumbuk tepung untuk bu Hadji sebanjak tiga
kilo. O, ja dimana rumah Pak Hadji dan kandang sapinja?
Kalau ta’ salah dirumah nomer sepuluh itu. Kandangnja
djuga dibongkar. Pak Hadji pindah, djuga mendapat pe-
sangon tetapi tidak seberapa. Kata emaknja, pekarangan
itu punja Pak Hadji, penghuni gubug membajar sewa Rp.
30,– sebulan, dan tidak boleh memungut hasil tanaman.
Itulah sebabnja, mengapa maknja selalu mendapat marah
dan kena denda menumbuk tepung, kalau anak2 mentjuri
rambutan. Meskipun begitu Pak Hadji termasuk orang
jang baik hati. Mereka kerasan disitu. Lebih2 lagi di-
belakang gubug2 mereka mengalir parit ketjil jang bening
airnja. Parit itu sekarang telah ditembok. Airnja masih
bening tetapi tidak menari lagi. Pandangannja kini ter-
pikat pada sepasang kera piaraan rumah nomer dua belas.
Disitulah dulu didirikan kandang2 ajam mereka. Hanja
dikampung gubug inilah mereka sempat memelihara ternak.
Lebaran jang lalu, Udin menjumbang seekor kurik untuk
dipotong, tetapi tidak setahunja ajamnja sitabur bintang
ditangkap pula didjual kepasar. Sekarang ajam2 itu tidak
ada lagi, penghuninja tidak perlu piara ajam, apalagi piara
sapi seperti Pak Hadji. Kasihan Pak Hadji itu, sudah tua.
Ketika mereka mesti pindah tjepat2 — tidak pernah mereka
pindah perlahan-lahan, tentu ter-buru2, memperpandjang
waktu sampai dihari terachir mempertahankan gubug2nja
— Pak Hadji sedang sakit keras. Mana singkongnja belum
masa dipungut, rambutannja sedang lebat berbuah, man-
dor pemborong sudah mem-bentak2. Pak Hadji jang masih
panas karena demam, mendengar bentakan mandor jang
tidak ber-henti2 itu, naik darah. Ter-hojong2 ia keluar
membawa golong jang tadjam ber-kilat2: „Tutup mulutmu,
tutup mulutmu, ja, mulut bedebah. Tidak tahu, bangun-
pun aku tidak dapat? Kalau memang tidak sabar lagi
menanti uang suapan, datang sini, aku habisi njawamu.”
Orang sekampung lari mengedjar Pak Hadji, menjabarkan
diri: „Sabar, Pak, sabar Pak, sabar.”
„Apa sabar?” bentanknja. „Dia tidak tahu adat tidak tahu
kesusahan orang. Dia tidak kehilangan, aku sudah berpu-
luh tahun diam disini, dipaksa aku tidak semau sendiri
pindah. Memang kau hanja kerdja, tetapi djangan men-
jusahkan orang. Tidak tahu badanku panas, hatiku men-
didih? Meskipun tua, tidak takut aku melawanmu, hajo
omong lagi, hajo omong lagi, bedebah!”
Masih banjak omelan Pak Hadji, tetapi ia dipapah masuk
kerumah.
„Sudah Pak, sudah pak.” Anak2 ketjil hanja menonton,
mengerumuni.
Pak Mandor sudah lari ta’ nampak hidung, hatinja tjemas,
nanti dikantor masih ditunggunja bentak pemborong.
Untunglah, meskipun demikian kepindahannja tidak mem-
bawa malapetaka. Memang banjak kenangan sukaduka
kepindahannja jang ber-kali2, tetapi tidak sedahsjat
dirumah gubug didekat kuburan itu. Paling lama mereka
berdiam disana. Sebetulnja mula2 tidak enak tempat itu,
tanahnja kering, tidak ada air, tidak ada empang, tidak ada
parit. Mereka ber-sama2 menggali sumur, gubug2 mereka
dipagari, dan dibelakang rumahnja menghidjau singkong
dan katjang pandjang. Perkampungan pendatang itu agak
besar, sebab penduduk asli masih berpuluh diam dis-
itu. Jang ahli menukang, telah membuka bengkel sepeda,
jang ahli berdagang membuka warung kebutuhan se-hari2,
warung2 gado2 jang tersohor enaknja, dan tukang2 kaju;
gedung2 bertingkat agak djauh dari situ, tetapi saban pagi
banjak Ibu2 pergi kegedung2 itu mendjadi tukang tjutji
atau tukang masak. Sore hari pekerdja2 rumah tangga ini
pulang, dan dapur mereka ber-kepul2. Malah ada peristiwa
besar jang menjenangkan, kampung pendatang itu telah
mengadakan peralatan kawin. Seorang tukang betjak
menikah dengan pendjual gado2. Seperti telah sempur-
nalah kebahagiaan mereka. Kampungnja menghidjau dan
teduh dipinggir kuburan para suami bekerdja agak djauh
mendjadi tukang batu, tukang betjak dan lain lagi. Telah
berpuluh baji dilahirkan. Seperti kampung jang betul2.
Bukan darurat.
Tetapi, ja tetapi suara2 telah banjak terdengar mengotori
suasana jang tenteram itu. Mereka mesti pindah dan se-
tjepat2nja. Diberi waktu dua minggu sadja. Tiap malam
para suami berkumpul, berunding, berunding ber-kali2.
Kerap mereka malam2 pergi, bersama dengan beberapa
orang jang bukan penduduk kampung itu. Kabar telah
tersiar, penduduk kampung minta tangguh tiga bulan lagi.
Rumah mereka bukannja pajung jang dapat dibuka dan di-
tutup setiap waktu. Meskipun hanja gubug jang berisi satu
bale2, tetapi rumah berdiam hanjalah tempat berteduh
dimalam dingin. Jang perlu, penghidupan mereka se-hari2.
Tukang bengkel tidak gampang sadja mentjari tempat jang
tepat untuk mendapat langganan. Jang bekerdja diluar
rumah, entah menukang, entah menarik betjak entah
berdjualan sajur dipasar, atau djadi tukang tjutji dirumah
gedung, harus mempersiapkan kepindahannja. Dan ini
agar Bapak2 mendjadi ma’lum. Chabar minta tangguh ini
telah mentjerahkan suasana. Tetapi ..........
Pada suatu pagi jang tjerah, sekira pukul setengah tudjuh,
kampung mereka dikurung tractor. Mesti pergi minggu
ini, atau gubug2 itu diratakan dengan tractor. Penghuni
kampung semuanja keluar rumah, menggendong bajinja.
Seperti telah berdjandji mereka berdjongkok memagari
gubug2nja. Anak jang biasa bersekolah, hari itu tiada
masuk, dan ikut berdjongkok memagar rumahnja. Keban-
gaannja melihat tractor itu bekerdja meratakan tanah, kini
berangsur berubah seperti melihat raksasa jang dahsjat.
Pemimpin barisan tractor,memberi aba, dan rumah jang
diudjung, ditanduknja, rebah kebumi. Penghuni kampung
ber-teriak2, dan lari memburu traktor jang meratakan
singkong muda. Mereka merupakan pagar melingkari
traktor jang mengamuk. Anak2 ketjil lari memandangi
traktor2 jang lain, dan bergajutan pada bahu sipengendara:
„Djangan Pak, djangan Pak. Nanti aku tidur dimana”.
Orang2 laki2 ber-seru2: „Berhenti Pak, berhenti pak. Djan-
gan kedjam. Kami masih berunding.” Perempuan2 lupa
kepada gendongannja baji jang masih menjusu, men-djerit2,
lari2 ditengah ladang jang diburu tractor. Se-orang2 tua
berdiri didepan tractor dan berseru: „Gilas dulu aku, nak
gilas dulu. Aku malu kepada anak tjutjuku, tidak dapat
mempertahankan gubug tempat berdiam pada bangsaku
sendiri.”
Melihat orang mendjadi gila dan lupa diri sendiri, bertahan
memagari gubugnja, tractor2 pulang kembali. Orang pada
berkerumun, perempuan2 menangis terisak-isak, dan anak
ketjil bengong hilang kegembiraannja. Gubug jang djatuh
ditanduk tractor, ber-sama2 didirikan kembali, tidak selang
sedjam, sudah dapat ditempati, membaringkan penghun-
inja jang gemetar: „Kita tidak boleh lengah. Ini tentu ada
buntutnja.”
Sore hari, beberapa orang laki2 pergi berapat, dibalai perte-
muan, ber-sama2 dengan orang2 dari rumah gedung jang
membela mereka.
Betullah, pada esok harinja, djam lima pagi, serombongan
polisi, menangkapi beberapa orang kampung itu, polisi itu
ber-djaga2 menunggu tractor datang. Tidak peduli djeri-
tan lagi, traktor mengamuk meratakan perkampung sebe-
lah timur.
Kampung jang damai itu kini tidak ada lagi. Sudah
berubah mendjadi gedung jang tinggi dan bagus. Terang
bukan gedung pegawai negeri. Kedjadian itu memang
dashjat benar, ber-hari2 mereka tidak mau pindah rumah,
tidur dibalai pertemuan, dan kalau pagi mengerumuni kan-
tor Tjamat. Sebahagian kembali kekampung memunguti
daun2 singkong dan katjang pandjang jang rebah, sambil
air mata mereka berlinangan. Kuat tekad mereka, tidak
mau pindah, sebelum disediakan tempat penampungan.
Bukan salah mereka, mereka tinggal ditempat itu.
Peristiwa itu terdjadi pada tahun 1952 hampir selam.
Memang waktu itu sedang musim tractor mengamuk.
Dari waktu itu sampai sekarang, sjukurlah tidak lagi
ada tractor mengamuk. Tractor2 mendjadi tahu, bahwa
mereka berhadapan dengan manusia, bukan orang jang
diam digubug. Mereka itu manusia, jang tidak dapat
diperlakukan semaunja.
Bulan sedang berdandan dilangit sebelah timur. Bulat dan
besar. Hawa njaman menjapu tubuh.
Dari masa tractor mengamuk itu, anak2 meneruskan perd-
jalanannja menjelusur lampu2 neon, mereka telah tudjuh
kali berpindah rumah. Didjumlah dengan jang dahulu,
rumah jang didiami sekarang dipinggir empang adalah
rumahnja jang kesembilan. Anak2 keluar masuk sekolah
sadja, keluar sekolah ikut pindah dengan gubugnja. Anak
jang pandai terpaksa berkali mengulang kelas jang sama
karena berhenti disekolah jang lowong. Dan sekarang
mereka hampir sampai dibatas. Kalau gubugnja makin
bergeser kepinggir, dan mengitari empang jang banjak
malarianja itu, bulan2 dapat dihitung. Waktu telah dekat
menghapus mereka dari daftar penduduk Kotabaru. Me-
mang ada tempat lain, djauh dari kota tempat mereka
memburu nasi: mendjadi tukang betjak, tukang tjutji da
pendjual gado2 — tetapi entahlah ditempat jang baru nanti
mereka mesti berganti bulu. Mau djadi apa? Entahlah.
Selama matahari masih terbit dan tenggelam, Tuhan masih
sudi memeliharanja, masih disediakan sesuap nasi pagi dan
petang. Keuletannja dan pertjajanja kepada Hidup, tidak
ada jang melawan. Mereka itulah Hidup.
Anak2 pulang ber-siul2 ketjil. Lampu neon telah dibelakang
dan mereka menudju pulang kerumahnja jang kesembilan.
Nanti kalau mereka memikul tikar bantal menudju rumah
jang kesepuluh, hari akan lebih gelap dari kemarin. Sebab
disana tidak ada orang jang naik betjak, tidak ada jang
membutuhkan tukang tjutji, dan ta’ ada jang gemar djadjan
gado2. Anak2 mesti berdjalan tiga kilometer untuk menudju
sekolahnja jang kelima.
Bulan jang bulat, terang benderang menawan hati.
Parak Siang
„Tok-tok-tok.” Tiga kali, kemudian berhenti.
„Tok-tok-tok.” Tiga kali dan berhenti lagi.
Kemudian lima kali ketokan menjusul beruntun. Suatu
tanda pengenal. Seorang perempuan membuka pintu den-
gan hati2, membelakangi lampu. Dan ketika pintu telah
ditutup kembali, dan orang asing jang mengetuk itu sam-
bil menjandang bedil berdiri menatapnja dengan tenang, ia
mendesis: „Engkaulah kiranja. Pergi.”
Perdjurit asing itu menundukkan kepalanja, berbisik perla-
han.
„Ja, akulah kak. Aku jang datang. Djangan kau usir aku:
kali ini sadja.”
Perempuan itu mundur per-lahan2 matanja memantjarkan
kebentjian, ia mendesis lagi dengan marah.
„Mau kemana kau malam2 begini?”
„Masuk kota.”
„Merampok ja? Menggedor?”
Perdjurit itu menundukkan kepala lebih dalam lagi.
Djanggutnja jang lama tidak ditjukur menadah airmatanja
jang titik.
„Djadi setelah mendjadi buaja, kau djadi perampok. Mu-
dah2an mati kau malam ini ditembak Belanda.”
„Aku tidak merampok, kak.” Ia keluarkan seputjuk surat.
Dengan satu tanda tangan sadja. Sura pengenal.
Perempuan itu menghela nafas.
„Kurang kerdja ja!”
Ia pergi mendjerangkan air.
Ja, malam itu, perdjurit gerilja menjusup kota. Ia tinggal
didaerah perbatasan, dan mendjadi tempat singgah para
perdjurit. Suaminja bergerilja dikota jang lain. Ketika aksi
militer kedua petjah, suaminja sedang djauh bertugas, dan
mereka mendjadi terputus hubungan.
Perdjurit jang baru datang itu masih berdiri didepan pintu.
Merasa ragu, djanggal tidak menentu.
„Kenapa kau tidak duduk?”, tanja perempuan itu.
„Aku takut kakak tidak mempunjai lysol.”
„Aku masih dapat membersihkan kursiku dengan air panas
mendidih. Kutu2 masih dapat dibunuhnja.”
Perdjurit itu duduk disebuah kursi kaju. Mukanja masih
tunduk sadja. Hanja suara air jang hampir mendidih meng-
ganggu kesunjian itu. Mereka tidak ber-tjakap2.
„Kalau kau tahu, bahwa akulah penghuni rumah ini, ten-
tunja kau tidak berani mampir ja?”
„Sudah lama kuketahui kak, tetapi baru kali ini aku berani
menghadap kakak.”
Tiba2 sadja, kepalanja ditelungkupkan diatas medja. Ia ter-
hisak2.
„Sudah pandai kau menangis ja?” Suaranja masih sadja pen-
dek2 dan pedas.
Perempuan itu bangkit, untuk mengangkat tjerek, di-
tuangnja diteko teh, dan tersebarlah bau jang harum,
harumnja teh dimalam jang dingin. Perdjurit itu men-
gangkat kepalanja, mentjari sesuatu didinding.
Telah ber-tahun2 ia tidak berani lagi mengindjak rumah
ini, semendjak isterinja meninggal. Isterinja adalah adik
perempuan itu, adik jang tertjantik dan paling disajang-
inja. Tetapi adik jang tertjantik itu telah mendjadi tanah,
mati karena kesalahn, karena dosa perdjurit itu. Perdjurit
itu keturunan bangsawan, mendjadi perdjurit karena revo-
lusi. Ajahnja seorang pedjabat Pamongpradja jang tinggi,
Bupati, dan isterinja anak tjamat, jang berada didaerah
kekuasaan Ajahnja.
Aris, demikian namanja, semendjak ketjil telah membawa
sifat2 djelek seorang bangsawan. Pada usianja jang empat
belas tahun ia sudah memelihara selir (gundik). Sekolahnja
tidak pernah tamat, hanja dengan suap dan kuasa achirnja
ia tamat dari sekolah rendah. Kebuajaan dan kekurang
adjarannja terkenal diseluruh kota. Ketika ia berumur dua
puluh tahun gundiknja sudah lima orang, belum lagi isteri2
liar jang ditemuinja disetiap tempat. Ia mendjadi pegawai
Pamong Pradja disuatu tempat.
Pada suatu hari ia bertemu dengan Rini, anak gadis seorang
tjamat. Gadis itu dipinangnja, tidak didjadikan gundik,
tetapi isteri. Tjamat merasa berada dilangit ketudjuh mem-
bawa pinangan bangsawan itu, tetapi anak sulungnja, ialah
perempuan jang menjedu teh dihadapannja menentang den-
gan sengit perkawinan adiknja dengan Aris.
„Ajah. Aris seorang buaja. Mata kerandjang. Disetiap
sudut ada isterinja. Saja tidak setudju ajah.”
Ajahnja mendjawab:
„Setiap lelaki sebetulnja dikendalikan oleh isteri. Ia liar,
karena tidak ada orang jang dapat mengikatnja dirumah.
Lihat sadja ajah, ketika belum bertemu dengan Ibumu,
akupun tidak kurang nakalnja, tetapi setelah ada wanita
disampingku, ajah tidak lagi keluar rumah.”
„Tetapi Ajah, Aris ini keterlaluan, ia tidak lagi nakal, tetapi
kurang adjar.”
Ajahnja hanja memandangnja sadja dengan kasihan. Dan
didjawab, djawaban jang menusuk hatinja.
„Djanganlah kau halangi kebahagiaan adikmu. Setiap orang
mempunjai wahju sendiri2. Kau wahjumu tidak mendjadi
Raden Aju, tetapi adikmu mendapatkan wahju itu.”
Kakak itu terdiam, perasaan kewanitaannja tersinggung. Ia
dikira tjemburu mengirikan keuntungan adiknja.
Mereka berdua djadi kawin, Aris sibuaja, dan Rini gadis
tjantik ......... Begitulah kedua orang itu dalam kesun-
jian masing mengenangkan kembali hari kemarinnja.
Perempuan itu tidak sepeserpun dapat menghargai Aris,
walaupun andaikata ia mendjadi radja sekalipun. Keben-
tjiannja tidak pernah ditutup-tutupi, lebih2 setelah adiknja
sakit, setelah melahirkan anaknja jang tjatjad, dan mening-
gal dalam umur seminggu.
Aris kena penjakit radjasinga. Radjasinga itu menurun
kepada anaknja dan menular kepada isterinja.
Perdjurit itu mengangkat kepalanja tegak2, lurus dipandan-
gnja dinding didepannja, telah ketemu jang ditjarinja se-
lama ini. Gambar Rini, ketika masih gadis ketjil dengan
dua djalinan rambut tergantung dibahunja jang mungil itu.
Ia menghela nafas.
Waktu itu isterinja sedang mengandung tiga bulan. Ia pergi
bertamu kekakaknja, kepada perempuan jang ada dirumah
ini.
Tiba2 sadja sikakak ini berkata dengan keras.
„Djangan pindah2 tempat duduk. Supaja gampang aku
nanti menggosok kursi itu dengan lysol.”
Aris hanja tertawa mengiris sadja.
„Untuk apa kak, kursi itu harus dibersihkan dengan lysol?”
„Karena Aris menjebar maut di-mana2, badannja penuh
dengan kuman2.........” tersentak ia menghentikan kata2
itu.
Rini menundukkan kepalanja.
„Kursikupun harus nanti kau siram dengan lysol, kak. Kasi-
han anak2 jang masih ketjil2.”
Kakaknja terkedjut, dan terlompat kata2.
„Djadi kau djuga telah ditularinja Rini?”
„Ja, kak aku telah tiga bulan mengandung.”
Kemudian mereka berdua, Aris dan kakak itu bertengkar
dengan sengit. Waktu itu Aris bukan makin tjongkaknja,
kurangadjar, tidak berperi kemanusiaan, kedjam.
„Ajahku melepaskan Rini dengan harapan dapat mengen-
dali engkau Aris.”
„Siapa jang dapat kurnia diperisteri Aris, harus sanggup
dimadu. Kami orang2 bangsawan tidak tjukup dengan seo-
rang wanita.”
Setelah itu mereka tidak bertegur sapa, dan tidak pernah
saling berkundjung.
Ketika kandungan itu berumur delapan bulan, terlahirlah
seorang baji jang kurang umur dan bertjatjad. Aris sendiri,
telah berdjalan dengan menjeret kaki kirinja, dan matanja
sebelah kiri telah timbul bintik2 putih. Dipakainja selalu
katjamata kemanapun djuga, siang atau malam. Baji
tjatjad itu hanja sangugp hidup seminggu, tetapi si Ibu
jang kandungannja telah diserang kuman2 radjasinga masih
tahan menderita ber-bulan2. Ia kena radang peranakan
jang menahun.
Waktu itupun, Aris masih belum dapat dikendalikan.
Dengan kaki kiri terseret dan dan berdjalan ter-hojong2
ia masih kelujuran malam2, lebih2 lagi ketika Rini terus
sakit2an sadja.
Rini meninggal dunia dengan merana.
Perdjurit itu menutup mukanja dengan dua belah tangan-
nja.
„Apa jang kaupikirkan?” tanja perempuan itu sambil
menaruhkan segelas teh.
„Sebuah rangka hidup dihari kemarin, kak, jang terkapar
dirumah sakit umum.”
„Meratjau. Minumlah.”
„Rangka hidup itulah saja, kak.”
Perempuan itu diam. Dengan tidak memandangnja, ia
berkata:
„Rangka jang telah membunuh manusia jang tidak berdosa.”
Kemudian dengan bernafsu ia mendesis.
„Kalau menurut mauku, revolusi ini djangan hanja meng-
hantjurkan Belanda, tetapi djuga membunuh orang2 seperti
kau, melenjapkan kelas jang kau wakili. Kelas jang tidak
bekerdja, tidak berguna, kelas benalu. Apa jang telah dis-
umbangkan oleh orang2 sebangsamu? Mereka kini kem-
bali menjeberang, berpihak kepada musuh. Kelas penakut,
pengetjut, sombong tidak tahu diri.”
„Tidak semua, kak. Kamipun manusia.”
„Itu tidak kusangka.”
Ia meng-aduk2 tehnja dengan lena. Kalau ia memikirkan
golongan2 benalu itu, mau rasanja ia menjandang bedil dan
pergi menembaki mereka dirumah mereka masing2. Pada
saat2 seperti itu, hanja batinnja jang bitjara. Hati jang
marah jang ketjewa.
„Kamu mau kemana malam ini?”
„Menebus dosa kak. Meninggalkan masa kemarinku mend-
jadi benalu jang tidak berguna. Aku ingin mati karena
pelor, djangan karena radjasinga. Aku ingin djika toh
pelor tidak mau membunuhku, pada saat2 achir djas-
maniku dikunjah penjakitku, aku dapat membuat neratja.
Aku ingin hidup seperti orang banjak jang bangkit berd-
juang dalam pesta djaman ini. Djaman jang mendjandjikan
kehidupan jang mulia, baik dan bahagia.”
„Kau memushi djaman djajamu, djaman golonganmu Ris.”
„Aku malu hidup didalam djamanku. Djamanku dan go-
longanku telah membuat aku manusia jang kotor, jang dja-
hat, jang bekas kursinja mesti ditjutji dengan lysol, jang
matanja putih sebelah, jang kakinja mesti di-seret2, jang
diludahi wanita2 sopan. Djamanku jang tua dan lapuk, su-
dah masanja runtuh, sebab sudah diruntuhkannja kehidu-
pan dan nilai2 jang baik, dan telah diruntuhkannja pen-
dukung2nja. Aku anak djaman jang runtuh kak, kau lihat
begini udjungku. Kau bentji aku kak, sedang sebetulnja
kau membentji kehidupan jang membuat aku begini.”
Perempuan itu berdiri dekat medja dan mengusap air
matanja.
„Aku berterima kasih kepada revolusi, kepada perang ke-
merdekaan, sebab telah merubah aku dari sampah mend-
jadi manusia. Aku mengharap pengestumu, kak.”
Kepalanja ditelungkupkannja lagi, dan menangis.
Perempuan itu mendekatinja, dan berkata dengan lemah-
lembut.
„Baru sekarang aku mengenal perdjurit jang matanja hanja
sebelah dan kakinja lumpuh karena radjasinga, jang napas-
nja pendek2. Dapatkah kau bertempur?”
„Tinggiku tjukup, 1.60, dan bahuku masih kuat memikul
randjau. Aku dibahagian pemasangan randjau. Dalam
kebangkitan ini, semua lelaki adalah pahlawan dan setiap
wanita adalah pendekar. Jang selebihnja adalah sampah
dan benalu. Tunggulah aku diparak siang kak, djika telah
meletus randjau jang kupasang nanti lepas tengah malam,
aku mampir lagi kesini atau bertemu dengan Rini entah
dimana.”
Pada lepas tengah malam perdjurit itu meninggalkan
rumah dipinggir kota, ter-suruk2 dan me-njeret2 kaki
kirinja.
Perempuan itu berdiri diluar rumahnja digelap malam.
Kebentjian jang dipendam ber-tahun2, telah hilang di-
malam ini, ketika anak djaman tua itu mengangkat send-
jata untuk menumbangkan jang kemarin dan membangun
jang indah diesok hari. Dan ketika ia terdjaga dipagi subuh medengar letusan jang dahsjat, matanja njalang sampai matahari telah meninggi. Tiada ketukan dipintunja. Parak siang telah lama lampau. Seorang perdjurit telah pergi. Bukan kematian seorang radjasinga. Kematian pahlawan.
Jang Pertama
Kalau orang meninggalkan desa untuk seminggu dua
minggu, maka ia akan menemui perubahan. Entah tetang-
ganja kiri, atau jang kanan kerabat djauh atau kenalan
lama, tetapi terang, paling sedikit dua orang meninggal
dalam waktu seminggu.
„Pak Kromo telah meninggal. Hari Kamis.”
„mBok Dipo telah meninggal. Hari Djum’at.”
„Sinem telah meninggal. Hari Minggu.”
„Ju Siti hampir meninggal. Kaki duanja bengkak.”
Seperti ada wabah kolera, tetapi lebih mengerikan, karena
maut datangnja me-ngendap2 perlahan, dan orang dider-
anja dengan penderitaan berkepandjangan. Orang tidak
tahu lagi kepada siapa mesti menaruh belas kasihan; jang
terang tidak kepada jang telah mati. Jang telah mati
sudahlah, telah habis penderitaan, dan mereka menempuh
hidup abadi tanpa sakit dan lapar, sebab bukankah orang
jang berbaring didalam tanah tidak lagi memerlukan gogik
dan tiwul? Ja, kepada siapa mesti menaruh belas kasihan,
karena dirinja sendiri memerlukan belas kasihan, karena
dirinja sendiri memerlukan belas kasihan, se-waktu2 kaki
bengkak itu akan datang djua mendjemputnja, dan habis-
lah matahari, habislah keringat, habislah rasa sakit, habis-
lah tangis sanak keluarga. Tetapi sungguhpun demikian,
tidak ada seorang jang menjerah mentah2 dan mengan-
tarkan dirinja kepada maut. majat2 hidup dan kerangka
jang menjeringai memenuhi djalanan, dengan berkain goni
(karung) membawa tempurung, me-ngorek2 parit ketjil,
membongkar tanah, siapa tahu ada redjeki bersembunji.
Sungai2pun tidak lagi membawa berkah, ikan2 mati se-
belum besar, andjing kurus berkeliaran, mungkin besok
telah mendjadi hidangan. Ja, hukum agama seakan tidak
berlaku lagi, mereka membuat hukum sendiri, kehidupan
jang pedih itu, segala jang hidup dan tidak mematikan ma-
suk perut, sedang bangkai jang belum terlampau busukpun,
bukan halangan untuk menjambung hidup. Majat2 tidak
perlu lagi kain kafan, tikar sobekpun djadilah. Kemenjan
tidak lagi mengepul. Ja, kemiskinan telah mendobrak
segala matjam adat istiadat. Selamatan meninggal, meniga
hari, menudjuh, empat puluh dan setahun ditiadakan.
Minggu ini Wongso didjemput malaikulmaut. Isterinja jang
gemuk dan segar itu, sambil memangku bajinja berusia
dua tahun menempel didanja jang bidang — suatu keane-
han, mengapa orang itu bisa tetap gemuk dan sehat —,
menunggu dengan hati jang tidak menentu majat suam-
inja dibungkus tikar. Hari mati suaminja sudahlah dapat
dipastikan. Begitu kaki bengkak, tidak salah lagi kalau
orang telah mulai menggali liang kuburnja dalam daftar
penduduk. Tudjuh anak lainnja jang sudah agar besar
berdjongkok mengelilingi tubuh ajahnja jang tjekung pip-
inja tetapi jang kembung perutnja. Mereka diam, tiada
lagi terdengar tangis. Airmatanja rupanja tidak banjak lagi
jang tinggal, atau masih harus disediakan untuk kedjadian2
berikutnja. Djanda jang kuat dan tabah itu ditinggali dela-
pan anak ketjil dan sebidang sawah ketjil, jang apabila tidak
harus menjetorkan kepada Balatentara Djepang, tjukuplah
pas untuk menghidupi keluarga besar itu.
Mulai besok, djanda itu mendjadi ibu dan ajah sekaligus.
Orang2 tidak menaruh belas kasihan, atau menundjukkan
rasa duka se-dalam2nja, karena bukan hanja dia sendiri
mendjadi djanda didusun itu. Malah2 dia mempunjai
sepetak sawah, jang lain tidak mempunjai apa2, ketjuali
anak2nja. Hanja tetangga2nja dekat merasa kesepian jang
menekan pada hari2 pertama. Ja, Wongso tetangga mereka
jang dekat jang kemarin masih dapat dilihat dan diad-
jak bertjakap, jang setahun jang lalu telah membantu
mendirikan kandang kerbau, jang limabelas tahun lampau
masih mendjadi teman menggembala sekarang sudah tidak
ada lagi. Tetapi perasaan jang demikian itu tidak lama,
sebab hari2 berikutnja beruntun kematian mendjemput
penduduk dusun. Memang ,tahun itu adalah tahun jang
paling pedih, tahun 1944. Lebih pedih lagi, karena orang2
tidak dapat melawannja, mereka tunduk dan menjerah
kepada jang akan datang. Perlawanan hanja dalam hati
mereka jang me-ronta2, dan me-maki2 kepada orang2 kate
fasis dari Djepang itu.
Kesedihan tidak mendapat waktu jang lama, orang telah
mendjadi kebal, perdjuangan hidup tidak memerlukan
waktu merenung berkepandjangan. Anaknja jang sulung,
lelaki, Karmin menggarap sawah. Jang kedua, lelaki djuga,
membantu menggarap sawah. Jang ketiga perempuan
bekerdja dipasar, mendjadi tukang sapu dan meng-angkut2
dagangan. Jang keempat masih meneruskan sekolah, sam-
4.00 pagi rombongan jang pandjang itu berangkat dan djam
8.00 sore mereka sampai kerumah dengan tulang2 seakan
bil bekerdja mendjadi katjung pada seorang pegawai pos
jang sama miskinnja dengan mereka. Berkuranglah beban
djanda itu, malah seorang telah tiada untuk makan.
Tetapi rupanja kesedihan seorang tiada akan habis apabila
kesedihan djaman belum hilang.
Romusha! Kerdjapaksa!
Lelaki dusun jang telah kering tanpa daging digiring
berdujun kesuatu tempat jang tadinja sawah2 terhampar.
Mereka ratakan tanah, dan membuat lapangan terbang.
Pagar kawat berduri berdiri mengelilingi, dan desa2 diseki-
tarnja dilindas habis, penduduknja dipindahkan ketempat
jang tandus. Entah bagaimana akan wudjudnja lapan-
gan terbang itu, tiada seorang jang tahu. Para pekerdja
berganti setiap hari, dan mengerdjakan daerah tertentu.
Meratakan tanah, menggali lubang2 dalam, memasan
pondamen, dan bagaimana hubungannja satu dengan lain-
nja orang tidak tahu. Bagaimana kekuasaan jang tidak
berakar, bagaiman sesuatu akan kalah terbukti kepada
tiadanja kepertjajaan kepada siapapun, kepada ketjurigaan
ber-lebih2an, malahan kepada keluarga sendiri. Orang2
Djepang jang memimpin kerdjapaksa itu sendiri tidak tahu
apa dan bagaimana djadinja lapangan terbang itu. Ia hanja
mendjalankan perintah.
Tiada ampun, djuga dusun itu mendapat giliran kerd-
japaksa, ja semua lelaki jang bisa berdiri, berbaris be-
rangkat kelapangan terbang jang sedang dibuat itu, djam
putus. Tiga hari sudah mereka bekerdja, dan djanda
Wongso mengirimkan anaknja sulung. Dusun itu jang
djauh dari lapangan terbang mendapat giliran seminggu
ber-turut2.
Setiap pagi djanda Wongso menjediakan bekal sebungkus
nasi dan sepotong ikan asing jang diikat erat dilipatan
sarungnja, dan setiap sore ia tunggui anaknja jang sulung
dipinggir djalan, dan bila sadja datang rombongan itu
dibimbingnja anknja masuk kerumah, dipidjitnja kakinja
dan dibedaki badannja jang biru2 kena pukulan Djepang
dengan beras kentjur. Memang anak itu belumlah besar,
baru 15 tahun umurnja. Tetapi karena ia pengganti kepala
keluarga, dan badannja kokoh kuat, ia kena panggilan
„kerdja sutji” itu.
Pada hari jang kelima, hari sudah agak malam, tetapi rom-
bongan pekerdja itu belum nampak djuga datang. Gelisah
djanda Wongso menanti dipinggir djalan, bersama dengan
beberapa orang perempuan. Kira2 djam 9 malam nampak-
lah dikegelapan malam serombongan orang pulang berbaris,
suara mereka menggumam didesa jang sepi seakan mati itu.
Di-tengah2 nampak beberapa orang memikul usungan dari
bambu. Itulah sebabnja maka rombongan itu terlambat
pulang. Rupanja karminlah jang diusung, setengah mati
menggeletak badanja bengkak2 biru akibat pukulan, sedang
kakinja berlelehan darah jang mengental. Mata kirinja ham-
pir tertutup oleh bengkak biru hitam. Dalam keadaan tidak
sadar ia ditaruh di-bale2 dirumahnja jang suram. Ibunja
menangis me-lolong2, sepuluh kali lipat kerasnja dari pada
ketika ditinggal mati suaminja.
„Anakku, anakku. Mati kau, nak? Mati? mengapa bukan
aku jang mati, aku jang tua, jang sudah lama hidup? Men-
gapa bukan aku jang disiksa, mengapa engkau jang masih
anak2? Djepang edan, Djepang gila!”
Tetangga semua berkumpul mengerumuni rumah Wongso,
dan menghibur2 ibunja jang seperti orang tak ingatkan diri
lagi. Mereka tanja-menanja dan suaranja be-rebut2 dalam
bisik2 jang menggumam, apa dan bagaimana terdjadinja
peristiwa jang mengerikan itu. Karmin, anak malang itu,
terbaring dengan me-ngerang2 menjajat hati, dadanja sesak,
dan tangannja meng-gapai2. Ia sudah tak tahu lagi dimana
ia berada.
„Karmin dipukuli Djepang dengan gagang bedil, karena ia
salah melintasi daerah terlarang itu dan dituduh mendjadi
mata2. Sekira djam 12.00 tadi ia disiksa, dan ia dibiarkan
terbaring dipanas matahari. Tiada seorang dapat menolong,
dan baru dapat dibawa pulang sore ini. Sedari siang ia tidak
sadar.”
„Mengapa kalian tidak membela? Mengapa, anak jatim tak
berbapa ini kalian biarkan dipukuli?”
„Kami tidak berani. Mereka bersendjata.”
| „Berapa djumlah kalian, maka takut? | Berapa djumlah |
|---|---|
| Djepang? | |
| djanda Wongso sambil ter-isak2. | „Tjoba aku ada dan |
Tentu banjak kita, bukan?” begitu bantah
melihat anakku dianiaja, biar sampai mati aku bela, walau
aku hanja seorang dan aku hanja perempuan.”
„Anaku, anakku, ja Tuhan. Ja Tuhan, belum tjukup kiranja
aku mendapat siksaan. Apa dosaku.”
Kemudian ber-teriak2 ibu jang hilang akal itu memaki2
Djepang. Me-nantang2.
„He, diamlah kau Wongso. Suara me-nantang2 Djepang ber-
teriak2 sematjam itu dapat membahajakan dirmu. Malahan
seluruh dusun. Diamlah, diamlah, tawakallah.”
„Diam, diam, kau tidak merasakan bagaimana pedih hatiku.
Kalau ia dipukul sampai mati, atau ditembak, tidak terobek
hatiku. Ia disiksa seperti itu, lihatlah, lihatlah. Napasnja
satu2, tangannja menggapai dan badannja bengkak matang.
Anakku, anakku. Kubalas Djepang gila itu, dikutuk Tuhan-
lah manusia binatang itu!”
„Ssst, diamlah. Makilah, tetapi dihatimu sadja, mbakju.
Berbahaja, berbahaja.”
Itu itu berhenti me-raung2, mungkin karena kelelahan. Ia
pandangi tetangganja satu persatu. Lalu berkata dengan
lesu.
„Kalau tidak dibalas, mereka semakin kurang adjar.”
Orang2 menggumam.
„Membalas? Apa daja kita? Kita tidak berdaja. Ibarat
sulung masuk api. Api tidak padam tetapi laron mati semua
— djangan perturutkan hati jang panas, mbakju.”
„Kalian memang penakut, dan pendek akal. Kantjil bi-
natang jang lemah dan ketjil bisa mengalahkan harimau.
Kamu manusia tidak bisa berakal pandjang.”
Orang2 menahan ketawanja. Mereka menganggap djanda
Wongso betul2 telah hilang akal.
Ketika mendjelang djam malam, orang2 itu pulang
kerumahnja masing2, meninggalkan djanda itu meratap
semalaman. Djeritnja kedengaran menjajukan didjauh
malam. Dan rupanja djiwa Karmin tidak dapat diharapkan
lagi. Hanja, djanganlah selama itu Ibu dan anak itu didera.
Pagi2 rombongan itu berangkat lagi. Mereka membit-
jarakan lagi kedjadian kemarin, dan berdjandji pada diri
masing2 untuk lebih ber-hati2, djangan sampai terdjadi
penjiksaan seperti hari kemarin. Sehari itu tidak terdjadi
apa2. Dan Djepang pendjaga lebih tertib memeriksa para
pekerdjanja. Senapangnja berisi peluru, bajonet berkilat,
samurainja pandjang dipinggang, tetapi hatinja kerdil dan
takut. Bajang2 dikira hantu. Begitu tidak pertjajanja ia
pada diri sendiri. Lubang2 perlindungan jang digali itu
semakin pandjang dan semakin ber-kelok2, bentuknja aneh.
Mereka mulai menguatkan dinding2 lubang itu dengan batu
dan bata merah. Kalau pendjaga itu sudah kepajahan, atau
kalau perut mereka djuga telah lapar, atau kalau mereka
dapat marah dari komandannja, murah sekali turunnja
hantam dan tendang. Orang2 sudah kebal akan siksa itu.
Hari ini hari terachir bagi rombongan dusun itu. Semalam
mereka menengok lagi Karmin. Anak jang malang itu
belum nampak berubah, hanja ia sadar sekarang. Ibunja
meramukan bedak2 dan obat2 Djawa. Tetapi rupanja,
dirongga dada anak itu ada sesuatu jang terlaku. Napas-
nja ter-sengal2, Djanda Wongso, masih sadja me-maki2
Djepang, bila sadja berbitjara dengan romusha2 itu. Dit-
jertjanja habis2an, lelaki penakut sebanjak itu.
„Kantjil seekor bisa mengalahkan buaja beratus-ratus,
tetapi manusia seratus tidak bisa mengalahkan seekor
Djepang. Tidak malu kalian.”
Suara djanda Wongso itu rupanja tidak lepas seperti angin
lalu sadja. Mereka semua me-mikir2, apakah itu bisa di-
laksanakan, atau hanja harapan kosong seorang tertindih.
Akal, ja akal itu jang perlu. Mereka sebetulnja malu, dit-
jertja oleh seorang perempuan. Dituduh penakut. Sehari
itu sampai djam 12.00 siang mereka bekerdja seperti biasa.
Hari ini hari terachir besok tidak lagi datang kelapangan
terbang ini. Sedang Karmin belum terbalas.
Beberapa orang berkumpul dibawahpohon beringin,
satu2nja pohon jang tidak ditebang, makan2, dan memikir2.
Ketjelakaan, ja ketjelakaan. Itu sadjalah satu2nja djalan
untuk membalas dendam.
Mereka tidak keras2 bitjara. Dan tjaranja djuga belum tahu.
Nanti sadja lihat keadaan. Tetapi semua harus berani tutup
mulut, dan serentak berkata bahwa itu ketjelakaan. Atau
daerah itu berhantu. Ja, Djepang suka menakuti orang2 itu
dengan tachajul, dan itulah sekarang sendjata mereka.
Beberapa orang pekerdja terpentjar djauh dengan teman-
nja, menjelesaikan sebuah terowongan pandjang. Mereka
sengadja keluar masuk pintu terowongan untuk menarik
perhatian tiga orang pendjaga Djepang jang mondar-
mandir.
„Hai, keredja ja, kau orang.” bentak tiga orang kate itu.
„Takut, tuan. Ada penunggunja rupanja. Tertjium bau
hantu didalam sana.”
„Penakut kau orang semua ja. Ajo kerdja, masuk lagi.” Di-
dorongnja tiga empat orang dipintu terowongan pandjang
itu.
„Minta tambah kawan, tuan besar” kata pekerdja2 itu.
„Tidak bisa, ja. Kamu orang sudah banjak. Berapa. Ho-ho
— lebih dari duapuluh. Tjukup, ajo masuk.” Si Djepang
mendahului masuk.
Mereka masuk kelubang jang pandjang berkelok dan bert-
ingkat itu. Tiga orang Djepang telah masuk perangkap
mereka. Mereka tahu, bahwa bajarnja adalah djiwa mereka.
Itu sudah diperhitungkan, tentu ada jang mendjadi korban,
tetapi ditempuh terus.
Sepi dan sunji ditempat itu, lubang pandjang dibawah
tanah. Gelap dan lembab. Tembilang mereka menjentuh
dinding lubang dan menggali lebih dalam lagi. Sekarang
baru djam setengah lima. Pukul enam baru selesai pekerd-
jaan. Sabar dahulu djangan ter-gesa2, tepat pada waktunja
mereka bertindak, dan ber-sama2 mereka keluar luabgn
tepat pada waktu tanda berhenti bekerdja. Seorang mesti
mendjaga dimulut lubang, untuk melengahkan pendjaga2
lainnja, tidak boleh mereka masuk terlalu dalam.
Mereka sampai keudjung terowongan jang belum selesai
dibuat. Sepuluh orang berdjalan didepan, si Djepang
tiga ditengah, dan agak keatas, berdiri sisa2 pekerdja itu.
Kira2 setengah enam, Djepang itu memberi aba berhenti
kerdja. Sekaranglah mulai. Pikir mereka. Djepang itu
membalikkan badannja, sepuluh orang jang tadinja dide-
pannja memukul mereka serentak dengan tjangkul dan
tembilang. Selebihnja menjerang dari depan. Sekilas sadja,
tidak berbilang beberapa menit, tiga orang pendjaga itu
rebah, dan darah mengalir dari kepalanja. Mereka belum
pernah melihat darah manusia, ketjuali darah Karmin
jang mengalir kemarin petang. Mereka ngeri, dan berdiri
putjat kebingungan. Apa sekarang? Kepuasan hatinja
ditutupi oleh ketakutan. Mereka itu orang2 biasa dan
djudjur, belum pernah menjiksa orang. Tetapi kebingun-
gan itu tidak lama djuga, mereka bersihkan tembilang
dan tjangkul bekas darah itu dengan tanah. Bersama
mereka diam2 meninggalkan majat tiga orang Djepang itu,
dan keluar hati tertekan. Seorang jang mendjaga dimulut
terowongan memberi isjarat bahwa keadaan aman. Mereka
keluar dengan diam dan hati jang berat.
„Beres,” djawabnja kepada mata jang bertanja itu, teman2
jang menunggu didepan pintu.
Mereka berbaris dengan diam2 pulang. Suasana berat
menekan. Dan mungkin malam2 berikutnja akan tetap ter-
bajang2 peristiwa ngeri, kedjahatan jang mereka lakukan
untuk pertama kali. Ja, entahlah, apakah itu kedjahatan.
Mereka tidak membuka mulut terdjadinja pengerojokan ter-
hadap tiga Djepang itu, dan fihak Djepang menutupi peri-
stiwa ngerti dan memalukan itu. Peristiwa itu didiamkan,
seperti terdiamnja empat majat, karena Karminpun telah
pula meninggal pada hari ketudjuh itu, djam enam sore.
Sedjarah tidak akan metjatatnja. Keberanian duapuluh
orang terhadap tiga singa jang haus darah.
Tetapi terang, bahwa ini merupakan kepahlawanan mereka
jang pertama.
Mereka telah beladjar membentji dan mentjinta.
Dan djarak seribu milpun selalu dimulai dengan langkah
jang pertama.
Tanpa disadari, inilah langkah mereka jang pertama!
Orang Kedua
Ter-gopoh2 ia kenakan sandalnja, disambarnja petji lusuh-
nja dibenamkan dalam2 sampai kekuping. Malam amat
gelap dan dingin. Pada bulan Mei kemarau ini, awan masih
djuga bergajutan dan hudjan sudah mulai meritjih. Pintu
pagarnja ditutup per-lahan2, dan sekedjap ia hilang ditelan
malam.
Setengah djam kemudian, sampailah ia kerumah Asmawi.
Rumah itu penuh orang, dan terang-benderang. Dipert-
jepatnja langkahnja, hatinja ber-debar2 gelisah. Matikah
Asmawi? Pikirnja. Tadi Reso hanja mengabarinja, bahwa
Asmawi sakit keras dan belum lagi sempat menanja lebih
landjut, Reso sudah buru2 pergi memberi tahu kawan2 lain.
Sjukur, sjukur. Asmawi masih segar bugar, walaupun ke-
lihatan lemas dan putjat dipembaringannja. Sebentar2 ia
me-ngerang2.
„Nah datang djuga achirnja kau San. Lama benar ku-
tunggu2. Orang2 sudah mau bawa aku lekas2, tetapi
sebelum kau datang tak mau aku pergi.”
„Apa jang dirasa bung As? Begitu mendadak. Tadi pagi
kita masih omong2 kan?” Hasan bertanja bergagap.
„Perut. Biar itu urusan dokter, walau kutjeritakan padamu,
kau tidak djuga dapat berbuat apa2”
„Pak Mantri sudah datang?”
„Itu dibelakangmu.”
Mantri djururawat jang gemuk itu tersembul dipintu dan
berkata.
„Nah ini jang di-tunggu2 sudah datang, ajo tjepat berangkat.
Makin lekas makin baik.”
„Sebentar lagi sadja Pak, tidak sampai berbilang sepuluh
menit.”
Mantri djururawat keluar sambil meng-geleng2.
„San.” kata Asmawi lembut. „Kata Pak Mantri mesti di-
operasi. Djangan terkedjut, banjak orang dioperasi, bukan
aku sadja. Mungkin lama aku baru bisa sembuh lagi. Sepen-
inggalku, kaulah jang mengambil oper semua pekerdjaan.
Itu dimap sudah aku kumpulkan apa2 jang harus lekas2
diselesaikan, saja harap kau bisa batja apa jang tersurat
dan jang tersirat. Kau tjukup lama dan tjukup mendalam
mengikuti perkembangan pekerdjaan, aku jakin kau bisa
ambil oper dengan tjepat, walau aku tahu kau akan meno-
lak, sebab itulah satu2nja kelemahanmu.
Nah, tiga hari lagi kerdjabakti, terus laporan djangan lupa.
Djatah waktu hampir habis. Uang konggres diurus bung
Reso, bantu dia, kontrol semua, kau tahu kelemahannja
bukan, pak tua kita jang suka keras itu. Tjeramah uru-
san Idris, seperti biasa, bersiaplah dengan segala tetek
bengeknja.”
Asmawi berhenti sebentar, me-ringis2 kesakitan, dan belum
lagi Hasan membuka mulut, Asmawi sudah menjambung
omongannja.
„Djangan banjak pikir, djangan bimbang2, aku tahu betul2
kelemahanmu. Berpikirlah dua kali sadja, paling banjak
tiga kali, djangan lima kali seperti biasanja. Peringatkan
Sugeng, kau tahu soalnja.”
„Mengapa djustru aku jang harus menggantikanmu, lebih
baik didiskusikan dulu.”
„Itu urusanmu. Mau diskusi semalam ja boleh — boleh
sadja, kalau kau pandang tidak tjukup. Tetapi aku jang
sakit ini mesti lekas2 pergi, dan aku harus memutuskan
siapa jang menerima pesan2 pekerdjaan. Kau boleh aku
andalkan to San?” kemudian lemah lembut ia berkata lagi:
„San, kalau ......... ja kalau untungku tak ada, dan pembe-
dahan meleset, kalian urus anak isteriku ja?”
Hasan mengangguk, air matanja bersibak. Begitulah
mestinja dia, seperti Asmawi. Tegas, hampir2 menjakitkan
hati, tetapi lembut seperti sutera. Ia atur kepentingan
orang banjak, baru ia urus anak isterinja.
Sebentar lagi rombongan pengantar Asmawi sudah siap dio-
plet. Asmawi duduk ditopang oleh Hasan dan Idris, ister-
inja masih memerah matanja, duduk disudut sambil me-
mangku anaknja berumur dua tahun. Didekat supir duduk
Sugeng, bendaharawan mereka. Mesin dihidupkan, tepat
ketika itu Reso datang dari tugasnja berkeliling memberi
tahu kawan2, jang sekarang berkerumun didepan rumah As-
mawi.
„Nah, itu dia Pak Reso. Kami berangkat Pak, tolong kan-
tjing rumah bung As, dan djaga ja pak, kami pulang kalau
semua sudah beres,” seru Hasan.
Oplet bergerak madju, orang2 melambaikan tangan.
„Selamat, selamat, lekas sembuh.”
Hanja Reso jang mengereundel. Selalu dialah jang men-
dapat pekerdjaan sematjam ini. Ia ingin sekali pergi
mengantar bung As, tetapi orang menjuruhnja berkeliling
memanggil teman2, dan tidak mau menunggunja datang.
Sekarang orang2 enak2 naik mobil, dan ia mesti mem-
bereskan rumah As jang katjau balau itu. Selalu dia, selalu
dia. Kalau mau ada tjeramah, maka ialah jang harus
mengatur segalanja. Minta izin, tjari pindjaman kursi
atau tikar, pasang medja, bantu mengedarkan undangan,
dan baru nanti datang orang2 muda, duduk gagah didere-
tan depan dan pidato. Selama itu Reso duduk ditempat
jang paling belakang, memikirkan pekerdjaan jang harus
disiapkan besok paginja. Kalau semua orang mesti pergi
kekota, maka ialah jang tidak pernah termasuk semua
orang, ia harus tunggu kantor. Dan kalau semua orang
harus dikantor, maka ia tidak termasuk semua orang,
dan djalan sendiri kekota membawa laporan dan surat2
penting. Tiap sore semua orang ber-sungut2 menanti ko-
ran, dan ia terpaksa mengurangi kedjengkelan orang2 jang
bersungut itu dengan ikut membantu loper Harian Rakjat
mendistribusi koran jang sudah telat dua hari. Sering kali
pekerdjaannja itu menimbulkan kedjengkelan, tetapi jang
lebih kerap, menimbulkan kebangaan. Kalau rapat sudah
djalan, djamuan teh lantjar, pengundjung penuh dan antu-
sias, bergelora djuga hatinja. Maka pergilah ia berdiri agak
djauh, dan melihat hasil kerdjanja. Orang2 duduk dengan
anteng mendengarkan tjeramah, atau mengagumi djanur2
kuning jang dipasang dan untaian daun beringin digapura
masuk, anak2 kegirangan mendapat bagian bendera2 merah
— sisa hari buruh tahun lalu jang disimpannja dengan teliti
— maka kepuasan hatinjaitu tidak dapat dibeli lagi. Ia
merasa bahwa pekerdjaannja itu teramat pentingnja.
Asmawi sudah dibedah dengan selamat. Radang usus
buntu. Masih sebulan ia harus isitirahat, dan selama itu
Hasan, dari orang jang selamanja mendjadi orang kedua,
menduduki tempat sebagai orang pertama. Hasan jang
pendiam, penurut dan rendah hati itu, terpaksa menam-
bahkan lagi satu sifat baru: banjak omong dan tegas.
Sesuatu jang tidak mudah.
Hari ini dimulailah mengamalkan kerdja untuk rakjat.
Djalan kampung jang sudah ber-lubang2 bekas roda ger-
obak, harus dibikin litjin hingga orang tidak perlu meman-
dak2 djika melwatinja malam2. Sampai djam 4 pagi mata
Hasan tidak terpitjing. Inilah salah satu kerdjanja jang ter-
berat, berhadapan langsung dengan rakjat, mengadjaknja
dan menjadarkannja. Penjakit lamanja „berpikir sepuluh
kali” berdjangkit lagi. Apakah orang2 semua sudah tau?
Apakah lurah mau datang? Apakah akan banjak jang ikut?
Apakah akan berhasil? Apakah bagian djamuan siap?
Apakah anak2 muda jang mendjadi pelopor betul2 akang
datang lebih pagi, dan bersedia dengan bunji2an seperti
didjandjikan? Apakah Pak Reso akan mutung, karena
tadi pagi mereka berbantah-bantah? Apakah betul sikap-
nja menghadapi Pak Reso dengan djuga bersikap keras?
Apakah Idrus jang banjak tingkah itu akan seperti biasa
mendjengkelkan hati, seperti masa2 lalu? Ja, banjak jang
di-pikir2, dan semuanja itu pikiran jang djauh dari men-
jenangkan. Kalau sadja ia seperti bung As, waktu tidur,
tidurlah pulas, waktu kerdja, kerdjalah keras, bereslah.
Sebetulnja Hasan masih mempunjai kebaikan dari segala
kesalahannja. Ia selalu mentjari kesalahan kepada dirinja
sendiri, dan tidak pernah mentjarinja pada orang lain.
Djika achirnja orang lain ternjata jang salah, maka ia
masih mempunjai alasan untuk menjalahkan dirinja sendiri,
mengapa ia sampai menjebabkan orang lain berbuat salah.
Tetapi sikap ini banjak membawa bentjana daripada berkah.
Kalau tidak ada Asmawi jang tegas itu, tentulah tak akan
ada orang jang lempeng lagi, sebab semua kesalahan di-
borong Hasan, dan orang2 jang salah tidak pernah merasa
salah.
Ketika ajam sudah ramai berkerujuk, mata Hasan berat
tidak tertahan, dan iapun tertidur dengan pulasnja.
Terkedjut seperti terdjatuh dari pohon jang tinggi, ketika
didengarnja orang mengetuk pintu keras2. Ia melontjat
bangun. Hari sudah tinggi, matahari mulai menjerbu
djendela. Buru2 ia tjutji muka, dan menjambar pitji lusuh-
nja. Pak Reso dengan muka keruh menunggu didepan
pintu. Tanpa mengutjap sepatah katapun, mereka berd-
jalan menudju ketempat kerdja. Hanja terutjap setengah
gerutu dari mulut Reso: „Tambah lagi kerdjaku sekarang,
membangunkan orang.”
Dari djauh telah tampak ber-puluh2 orang berkerumun, dan
bendera merah terpantjang. Anak2 muda menjanji2 dan
suling jang merdu menggembirakan pagi jang tjerah. Dari
djauh nampak Pak Lurah berbadju dril kaki dan meman-
dang patjul. Apa jang terfikir oleh Hasan sukar untuk
dikatakan. Apakah ia bangga? Ja, ia bangga, karena kerdja
ini berhasil. Apakah ia merasa gagal? Ja, ia gagal, karena
ia sebagai pimpinan datang terlambat, dan baru bangun
ketika pak Reso mengetuk pintunja. Apakah ia senang? Ja,
ia senang, sebab pak Reso tidak mutung, dan semua rent-
jan berdjalan lantjar, dan si Idrus jang banjak tingkah itu
tidak bertingkah. Apakah ia tidak senang? Ja, dan itu keti-
dak senangan pribadi. Ia ingin agar ia dapat datang lebih
dahulu, pulang paling belakang, seperti lajaknja seorang
pimpinan jang baik. Penjakitnja banjak fikiran ternjata
belum sembuh sama sekali.
Ketika mereka berdua sampai ketempat itu, dengan nada
biasa pak Reso bilang.
„Sebetulnja aku ingin datang tadi malam, ingin minta maaf
kedjadian kemarin siang, aku bersikap keras kepadamu. Ke-
marin aku lupa, bahwa bung Hasan penggantinja bung As,
dan mendjadi orang pertama jang berhak mengatur kita se-
mua. Tetapi sedari sore aku tertidur kepajahan. Tadi pagi
dari rumah aku mampir kerumahmu, mau lihat, dan ingin
djalan ber-sama2. Kebetulan kau belum berangkat.”
Hasan seperti mau memeluk pak Reso, djadi ia bukan-
nja disusul dari tempat kerdja, tetapi betul2 pak Reso
biasa menjinggahi sadja. Tetapi, tetap, seperti biasa, rasa
memikul kesalahan memberati hati Hasan.
Hari itu berlalu dengan sukses. Orang2 bekerdja dengan
gembira dan berhasil — Pidato pak Lurah, orang jang
bukan separtainja, sangat simpatik. Anak2 muda meluap
kegembiraannja, dan para wanita menjelenggarakan hidan-
gan dengan memuaskan. Semua gembira, semua memudji,
hanja disudut hati. Hasanlah menindih batu rasa salah itu.
Malam nanti, ia bermaksud mengadakan pertemuan untuk
mengadakan kritik serta zelf-kritik. Terutama ialah jang
harus banjak dikritik.
Orang2 duduk mengelilingi lampu minjak tanah dikantoran,
sebelah muka rumah Asmawi. Hasan mulai dengan kritik
terhadap dirinja sendiri. Susah ia melahirkan, apa sebabnja
ia datang terlambat. Sungguh menggelikan, kalau ia mesti
mengutarakan se-ketjil2nja apa jang terfikir malam tadi,
segala keraguannja dan ketjemasannja jang tidak djauh be-
danja dengan ketjemasan anak ketjil jang akan bepergian
djauh esok harinja. Dan kesalahan jang „masih mentah”,
tidak disimpulkan, begitu sadja mentjeriterakan sesuatu
kedjadian, terang tidaklah banjak manfaatnja.
Ia me-main2kan pinsilnja, sambil mengatur pikirannja.
Apakah kesalahannja jang pokok? Kekurangannja jang
utama? Bagaimana merumuskannja, hingga benar di-
pandang dari sudut theori dan berguna dalam praktek
selandjutnja? Bagaimanakah, mestinja dasar berfikirnja
dan memetjahkan sesuatu? O, ja, tidak salah lagi, dari
sudut klas, dari sudut asal klasnja dan watak klasnja. Inilah
pokok dari dari segalanja. Nah, terang-benderang sekarang
soalnja. Djalan didepannja amat njatanja, semak2 dihati
ketjilnja hilang terbabat, dan pikir djernihnja memegang
peranan.
„Kawan2”, ia mulai. „Kesalahanku jang paling pokok,
jang mengakibatkan tjara kerdjaku kurang beres, sampai2
kepada kedatanganku jang terlambat pada kerdja tadi
pagi, ialah sifat ragu2ku, sebagai sifa sisat asal klasku jang
pembimbang. Aku ragu2 akan diriku sendiri, akan kemam-
puanku. Ini adalah kesalahan jang tidak ketjil dan tidak
dapat dimaafkan. Karena, djaraknja sungguh tidak djauh,
daripada kesalahan — jang maha besar —. Ialah ragu2,
bimbang akan kemampuan, kesanggupan dan kekuatan
rakjat, keperkasaan massa.”
Hati2 ia memilih kata2, dan per-lahan2, djelas ia mengutarakan-
nja. Kemudian disampaikannja agak djelas, apa jang ter-
fikir2 olehnja semalam sampai djam empat pagi, sampai2 ia
tertidur dan bangun terlambat.
Ia menghela nafasnja dalam2, setelah selesai ia mengkritik
dirinja sendiri. Enteng hatinja sekarang.
Kemudian bergilir kawan2 jang lain mengadjukan kritik dan
kritik diri. Lain dari biasanja, kritik diri sekarang sudah
meningkat. Pisau analisa sudah lebih tadjam lagi.
Setelah selesai semua, Hasan berkata.
„Sekarang dapatlah kita susun segala hasil kerdja kita ini
dalam laporan kepada Subseksi nanti. tentu bukan berapa
kilometernja jang utama — walau itu perlu — tetapi kepada
inti dan mutunja amal kepada rakjat ini. Nah, siapa jang
siap untuk mengantarkannja besok kekota?”
„Nah, djanganlah lain orang lagi,” kata Reso. „Itulah
pekerdjaanku situa ini. Aku sudah tua, tidak bisa lagi
seperti kalian beladjar dengan lebih baik. Aku lihat kalian
terus beladjar dan memperbaiki diri, tetapi pak Reso
ini sudah berkarat, tidak bisa diasah lagi. Kalian bisa
mengubah pekerti jang kurang baik, dan mengembangkan
jang baik, tetapi pak Reso tetap seperti paku karatan
itu, mengomel dan marah2, hingga kalau tidak ada kalian,
teranglah semua orang sudah lari dan keluar serta memben-
tji kita. Jah, tidak ada lagi pekerdjaan jang masih pantas
untukku, situa karatan ini, ketjuali mengantar surat dan
kerdja2 lain seperti dulu. Berilah aku kepuasan anak2ku,
biarlah pekerdjaan jang satu ini djangan kau rampas dari
tanganku, biar masih dapatlah aku berkata, bahwa Reso
pun bekerdja untuk kemadjuan Partai.”
Semuanja terharu mendengar utjapan pak Reso, siangkatan
26 ini. Pak Reso sendiripun bersibak matanja. Dan semua
orang jang kena damprat pak Reso selama ini, dan jang
masih mendongkol hatinja, merasakan kemesraan jang lebih
lagi, kepada si Tua ini, paku karatan katanja, jang masih
tetap siap diposnja.
Hasan pulang berdua dengan Reso. Dan seperti biasa
mereka berdua selalu berdiam sadja. Tetapi tidak ada kete-
gangan antara mereka ini, jang ada hanjalah penghargaan
dan simpati.
Hasan merasa banjak sekali beladjar dalam waktu sepekan
ini, dan ia merasa bahwa ia bukannja „orang kedua” abadi,
sekarangpun ia telah merasa mendjadi orang jang „kesatu
setengah”. Dan bila nanti bung As terpilih dalam pimpinan
Subseksi, ia dengan jakin dan pertjaja bersedia mendjadi
orang pertama didaerah ini.
Orang-orang sebatang kara
Makin tinggi hari, barisan pengungsi bukannja semakin
berkurang. Ber-bondong2 orang2 jang berpunja dan tidak
berpunja menjusur djalan2 ketjil, menggendong apa jang
dapat digendong, menjunggi, memikul dan membimbimg
kekajaannja jang paling berharga ......... anak2nja. Djalan2
ketjil itu jang penuh dengan manusia mempunjai suasana
jang aneh, sepi sedih dan muram dalam segala keter-
buru2an. Ajah2, kakak lelaki dan semua anak2 lelaki
berdjalan didepan iring2an keluarga, membawa barang2
jang paling berat, beberapa malahan menuntun ternaknja;
ibu2, wanita2 dan nenek berdjalan ter-suruk2 dibelakangnja,
menudju keseuatu tempat jang belum dijakini benar di-
mana, namun jang telah terhundjam dihatinja: ditempat
baru itu masih dapatlah mereka berseru Merdeka dan
diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih serta
menjanji Sorak-sorak bergembira.
Mereka meninggalkan se-gala2nja dikota jang gila terbakar
itu, tidak hanja karena takut hudjan peluru, tetapi djuga
karena mentjari kedamaian hati, ketenangan dan kejaki-
nan dapat menghirup udara merdeka. Memang datangnja
jakin itu, bukannja seperti taufan jang dahsjat, tidak, ia
seperti angin lembut sepoi2 membawakan lagu merdu abadi
jang berbisik pada manusia, disaaat seperti apapun djuga,
dan terutama pada kesepian dan keputus-asaan. Musik
itu memberi kekuatan kembali, dan memberi irama pada
langkah2 pengungsi jang kepajahan itu.
Matahari gila berkuasa dilangit jang biru tanpa awan,
dan rombongan itu sekarang menjusur djalanan pand-
jang tanpa perlindungan. Pohon2 dipinggir sudahlama
tua, dan djatuh ditebang, bergelimpangan disawah jang
kering, karena penghuninja telah lama melarikan diri dan
sajup2 hanja nampak getaran panas meng-gelombang2 dit-
jekerawala. Setengah sadar pengungsi2 itu mempertjepat
langkahnja. Kanak2 dan baji2 mulai merengek-rengek,
tetapi mereka tidak perduli. Dalam tempat seperti ini,
ja seperti ini jang tidak berperlindungan, apapun bisa
terdjadi. Mudah2an tidaklah.
Tetapi, ketika matahari sedikit sadja memiringkan tubuh-
nja, terdengarlah deru mesin terbang djauh dari sebelah
barat. Pengungsi2 menengadahkan mukanja, dan hantu
maut jang sangat ditakuti itu makin mendekat. Beberapa
pesawat terbang merendah, kemudian terdengarlah bunji
jang dahsjat be-runtun2, menghudjani manusia dibawah
langit terik itu. Dalam sekedjap mata semuanja katjau-
balau. Kepala keluarga jang berdiri didepan barisan
mengeluarkan perintah berlindung, bertjampur-baur den-
gan katjaunja, dan anak2 buahnja terpentjar2 mentjari
hidup sendiri2. Rupanja kedahsjatan itu tidak berhenti
disitu sadja, sebentar kemudian menderulah tank2 musuh
meratakan djalan pandjang jang tandus itu. Senapan
mesinnja ter-batuk2 sambil berlari, dan debu berterbangan.
Entah berapa lamanja kedahsjatan itu, masing2 mempunjai
djamnja, ialah jang berdetik2 dirongga dadanja. Ukuran-
nja tidak sama untuk tiap2 orang, ada jang tjepat, dan
lalu berhenti, ada jang tjepat mem-buru2, dan terlepaslah
anak dalam bimbingan, ada jang lambat per-lahan2 dalam
rintihan luka2 diparit2.
Ketika setan2 itu achirnja pergi, dan djalan itu mendjadi
lebih lengang dan menjeramkan, orang2 jang mentjari ke-
merdekaan itu bangkit mengerang-ngerang. Kemerdekaan
jang diburunja telah memberinja udjian, memberinja harga,
betapa mahalnja. Keluarga2 mentjari2 anggotanja jang
bertjetjeran, menangisi anaknja jang tak berdosa berlumu-
ran darah dilengan dan kaki, dan me-raung2 pada hidup
jang sampai didjandjinja. Mereka terpaksa berhenti diten-
gah djalan, membebat, membalut, mengubur, menangis
dan mentjari.
Ketika malam turun rombongan jang tidak saling kenal
tadinja itu, dan sekarang dipersatukan oleh nasib, sampai
kesebuah dusun jang tidak berpenghuni. Mereka masuki
rumah2 kosong jang masih lengkap perabotannja, dan mem-
baringkan badannja dengan lesu, tetapi dengan tekad jang
lebih kuat lagi. Seorang perempuan muda, tersesat mema-
suki sebuah rumah ber-sama2 dengan rombongan keluarga
lain. Sedari tadi, mukanja suram, dan ia sangat kebin-
gungan. Tetapi tiada seorangpun jang memperdulikannja,
karena setiap orang sibuk dengan urusannja sendiri. Ia
duduk merenung dipodjok rumah, ketika beberapa orang
mulai menggelar tikar bantalnja dan membaringkan badan-
nja. Ia melihat kiri-kanan, dan menghela nafas pandjang2.
Kemudian digelarnja tikarnja dipodjok jang terasing, dan
ia membaringkan badannja.
Malam dingin turun, dan rumah itu gelap tiada berpelita.
Orang2 takut memasang lampu. Machluk2 pentjari ke-
merdekaan itu, merapatkan selimutnja, atau merapatkan
badannja dengan anak dan isterinja, dan hilanglah separuh
dari penderitaan dalam kehangatan antara manusia itu.
Rintihan2 kesakitan telah tiada lagi terdengar.
Perempuan muda itu melengkungkan badannja jang meng-
gigil dilantai jang kering dingin itu, sambil merapatkan kain
pandjangnja, tiba2 lututnja meraba sebuah kepala ketjil.
Anak ketjil itu terbangun kena sentuhan lutut, dan duduk,
kemudian dengan gerakan jang mengharukan merebahkan
badannja didepan perempuan muda itu, serta memeluk
lehernja dengan kuat2. Perempuan itu meng-usap2 kepala
ketjil itu setengah tidak sadar dalam gumamnja, memang-
gil sebuah nama jang sangat disajangi: „Giman”, dan
memeluknja lagi dengan mesra, kemudian tertidurlah lagi.
Pagi telah datang mengintai, dan perdjalan jang djauh me-
manggil lagi. Orang2 sudahbangun, mentjutji muka dengan
air dingin seperti es, buru2 memasak air, minum seteguk,
lalu berdjalan lagi.
Anak ketjil ......... „Giman” ......... duduk disudut, den-
gan mata kepengin melihat orang2 itu minum kopi, dan
ter-sipu2 melihat Ibunja jang dipeluknja se-malam2. Perem-
puan muda itu kini melihat „Giman”nja dengan atjuh ta’
atjuh, kedjadian semalam hanjalah impian sadja. Ia
berdiri membuka pinut, ber-sama2 dengan rombongan lain
meneruskan perdjalan, kemana, entah.
Ketika rombongan itu sampai kebatas kota merdeka,
mereka berhenti melepaskan lelah, dibawah pohon2 jang
rimbun, sambil menunggu kawan2 didepannja sedang
diperiksa oleh anggota2 tentara. Lagi2 suatu udjian ke-
merdekannja. Dikota Merdeka itu, mereka ditjurigai, dan
tidak diterima seperti apa jang diharapkannja.
Mereka hanjalah anak2 jang setia, bukannja anak2 jang per-
wira, pandu dari Ibunja, pengungsi2 itu.
Lasjkar2 itu masih ketjil2, muda2, dan pakaiannja lusuh.
Sambil memeriksa, mereka menanjakan situasi medan
perang jang terachir, meng-geleng2kan kepala, dan men-
geluarkan kata2 makian kepada Belanda. Anak2 seketjil itu,
jang mengenal bedil, baru pada waktu menjerbu tangsi2
Djepang, berhadapan dengan serdadu2 jang terlatih dalam
Perang Dunia II, tetapi orang belum pernah mendengar,
bahwa anak2 ketjil itu pernah mendjadi pengetjut.
Pengungsi2 itu melewati pintu pendjagaan, dan mereka jang
tebal perbekalannja meninggalkan kelezatan bagi perdju-
rit2 ketjil itu. Sebungkus rokok, sekaleng susu, sebungkus
dendeng, sebotol minjak rambut, biskuit2, maklumlah kota
jang baru ditinggalkannja sudah mulai kebandjiran barang2
mewah dari para pedagang2 dari kota2 pantai.
Beberapa orang jang dianggap „mentjurigakan” disimpan,
dibelakang gardu pendjagaan, dan orang2 mulai sangsi2 lagi
akan nasibnja.
Perempuan muda itu bangkit berdiri, dan mengikuti rom-
bongan orang2 itu dengan atjuh tak atjuh. Pikirannja
buntu, dan kemiskinannja memang menjolok. Sebungkus
ketjil beban dipanggul dibahunja jang lemah, dan matanja
kuju. Tiba2, dirasanja langkahnja tertegun. Ia berhenti
dan menoleh. Giman semalam jang memeluknja erat2,
memegang udjung badjunja. Air matanja menetes sebesar
mutiara dan badannja menggigil.
„Aku takut, takut, ajo lari, ada orang bawa bedil,” serunja
ter-hisak2.
„Ah, mengapa takut. Mana Ibumu?”
„Mati ditembak oleh orang bawa bedil. Bapak djuga,” dan
ia terduduk menangis. „Aku takut, ajo lari, nanti ditembak
pula aku.”
„Djangan takut nak, itu tentara kita, bukan Belanda,” bud-
juk perempuan itu.
Matanja sudah tidak lagi pudar, dimbimbingnja anak jang
menggigil itu dengan langkahnja jang lebih pasti, menudju
gardu pendjagaan.
Gimannja, menggeletar, dan erat2 berpegang pada tangan
perempuan muda itu.
„Siapa nama mBakju?” tanja lasjkar pendek ketjil itu.
Perempuan muda itu mengutjapkan suatu nama dengan
lembut.
„Dengan siapa mengungsi?”
„Anak saja.”
„Suami?”
„Ditawan Belanda dipendjara Ambarawa.”
„Mana anaknja?”
„Ini,” sambil didukungnja Giman.
„Nama?”
„Giman”
„Bukan,” seru anak itu, „namaku Slamat, bukan Giman.”
„Ja, Slamet, panggilnja Giman,” djawab perempuan muda
itu.
Laskar itu tertawa.
„Memang dik, Slamet lebih gagah daripada Giman,”
katanja.
„Namaku Slamet Rahardjo,” seru budak itu lagi.
„Ja, ja,” sahut perempuan muda itu. „Makanja kau Slamet
dan Rahardjo tidak mendapat bentjana. Tetapi kita pakai
sadja nama Giman ja untuk se-hari2? Slamet Rahardjo kita
pakai setiap Lebaran sadja.”
Laskar itu tertawa.
„Ini, mbakju, setjarik keterangan, pergilah kedapur umum,
minta ransum. Ini untuk dik Slamet Giman, bantu baik2”.
Tiba2 Giman jang sudah diturunkan dari dukungan itu lalu
memeluk „Ibu”nja erat2, dan memanggil: „Ibuku, ibuku.”
Beberapa orang jang berbaris dibelakang perempuan muda
itu ter-heran2, melihat peristiwa itu, karena kemarin siang,
ketika rombongan pengungsi itu diserang Belanda, ia meli-
hat perempuan muda itu ber-kali2 djatuh pingsan disamp-
ing majat anaknja, seorang budak laki2 sebesar „Giman”
itu.
Ketika dua tahun kemudian perempuan muda itu kembali
kekota asalnja, karena Belanda sudah pergi, ia tahu, bahwa
semendjak ia menemukan kembali anaknja Giman Slamet,
setelah menguburkan anaknja sendiri, mereka berdua
adalah orang2 sebatang kara.
Suaminja telah mati tersiksa dalam pendjara Ambarawa.
Berdua, dengan Gimannja, mereka meneruskan menempuh
djalan pandjang, jang tidak kalah musjkilnja dari djalannja
dua tahun jang lalu, menudju apa jang belum ditjapainja
selama ini: Kemerdekaan sedjati.