HIKAYAT PERANG DI EDI PADA BULAN MEI 1889
TERJUMPUT DARIPADA HIKAYAT PERANG DI ACEH
J. P. SCHOEMAKER
HIKAYAT PERANG DI EDI PADA BULAN MEI 1889
TERJUMPUT DARIPADA HIKAYAT PERANG DI ACEH
karya
J. P. SCHOEMAKER
Luitenant 1 dari barisan Infanterie
TERSALIN DI DALAM BEHASA MELAYU RENDAH
CITAKAN YANG KADUWA
BATAVIA
ALBREKHT & Co.
1897
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Untitled (Carrying Stretcher) 1938, karya Eva D. Teitelbaum
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
VOORBERICHT VOOR DEN EERSTEN DRUK
Van verschillende zijden werden wij aangezocht om de schetsen uit den Atjeh-oorlog door den Luitenant der Infanterie J. P. SCHOEMAKER in de Maleische taal over te zetten, ten einde ook den inlandschen militair met onze krijgsverrichtingen te Atjeh bekend te maken. Als proef bieden wij het publiek hierbij aan een in laag Maleisch overgezet verhaal van onze krijgsverrichtingen in het landschap Edi in 1889. Wij hopen dat wij door een groot debiet in staat zullen worden gesteld om ook andere episodes uit den Atjeh-krijg in de Maleische taal uit te geven.
De uitgevers.
BATAVIA, JULI 1891.
HIKAYAT PERANG EDI
Di negeri Aceh, pasisir wetan, ada suwatu karajaan, tiada bebrapa besar dan tiada bebrapa kecil, karajaan Edi namanya.
Pada tahun 1874 maka Raja Edi itu kena susah besar, rupa-rupanya tiada kuwat lagi aken memarentahken negrinya, maka Baginda itupon, dengan sukanya sendiri, sudah serahken karajaannya kabawah pertuanan Kumpeni Ollanda.
Oleh sebab itu, maka pada tahun 1874, tanggal 6 Mei, dengan segala kahormatan dan kerameyan, sudah di pasang bandera Ollanda di negeri Edi, di hadapan bebrapa orang besar, ya itu paduka tuan C. BOGAERT, kommandant kapal prang bernama “Timor” dan di hadapan paduka tuan kontroleur KRUSEN serta bebrapa Ofsr dari pada balatentara¹ di darat dan di laut dan lagi di hadapan Raja Edi sendiri dengan mantri dan hulubalang dan rayatnya sekalian, aken menyaksiken bahuwa bandera Ollanda aken berkibar dengan selama-lamanya di atas negeri Edi, buwat menjadi tanda adapos negeri Edi itu talok kabawah pemarentahan kumpeni Ollanda.
Syahadan sudah lima belas tahun lamanya Kumpeni Ollanda memegang tanah Edi itu dengan adil dan bijaksana maka segala isi negrinya pon mendapat untung dan slamat, tiada kurang apa-apa, dan dagangannya sudah maju, kerana kuwatnya perban-tuan Kumpeni, senanglah sudah di negeri Edi, tiada ada yang membuat rusuh, tiada ada yang menggodah, tiba-tiba—entah apa sebabnya—lantas bangsa Edi berobah adatnya, terus berbantah²) dan berduraka pada Kumpeni. Kaget-kaget bangsa Edi sudah berlangkap dengan sinjata, hendak melawan dan berprang sama Kumpeni, halnya Kumpeni tiada ampunya salah apa-apa, selama-lamanya berlaku dengan baik-baik aken segala orang Edi.
Wahi! sunggokhpon bangsa Edi itu tiada tau tarima kasih, karena segala kabaikan dan kamurahan Kumpeni di balesnya dengan jahat!
Tetapi, maski pun bageimana juga, Kumpeni tiada takut, sebab Kumpeni sampei kuwat, masih ada punya banyak soldadu yang gagah dan brani, yang boleh kasi ajaran pada orang Edi.
Di dalam prang Aceh, yang sudah jalan bebrapa tahon, selama-lamanya Kumpeni sudah maju, salangkahpon kumpeni tiada mundur.
Maka jikalu orang Edi suka berprang, mustahil Kumpeni nanti mungkir?
Sabermula kumpeni triima khabar bahuwa antara orang Edi itu tiada banyak yang suka berprang, melainken ada satu-duwa brandal yang mau kerja jahat, tetapi kemudian datang pula surat dari Edi, membri tahu kepada tuan Jendral yang memegang prentah di Kota Raja bahuwa musokh itu sudah bertambah-tambah, maka rusuh di dalem negri Edi itu kiranya bakal jadi prang besar.
Syahadan di dalam bulan April tahun 1889 adalah kira-kira saribu orang brandal dari pada bangsa Aceh datang duduk di negri Edi dengan niatan yang jahat, maka negri Edi itu, dahulu senang dan slamat, sekarang menjadi ribut, seperti medan prang juwa adanya.
Maka acap kali tuan Luitenant duwa, bernama J. F. Cornelius, sudah misti berjalan dengan patruli dari benteng Kumpeni, pergi preksa pada tempat-tempat orang jahat, di antaranya benteng Kumpeni dan kuala Edi itu, maka patruli itu terkadang-kadang di tembaki oleh musokh.
Kutika sudah dapat ketrangan yang tentu, ba- huwa musuh itu hendak menyerang benteng Kumpeni di Edi, maka oleh Kommandant benteng itu di bri prentah kepada Luitenant satu bernama A. de Leur, di suruhnya kaluwar dengan satu patruli, soldadunya ada 41 kapala, ofsirinya cuma satu, iya itu tuan Luitenant Cornelius yang tersebut di atas ini.
Maka pada hari 1 Mei tahun 1889, jam pukul sabelas tengah hari, maka kaluwarlah patruli itu dari dalam benteng, pergi cahri pada musuh, sabolehbolehnya aken mengusir segala musuh itu dari pada tempat-tempatnya.
Segala kebon lada dan ladang-ladang, yang ada pada hampir kampong itu, di preksai dengan sa-sungguh-sungguhnya tetapi tiada bertemu apa-apa kemudian sampeilah patruli itu pada sabuwah padang alang-alang. yang amat rapat, tingginya sing-gan dada manusia, maka soldadu itu tiada boleh melihat kadalamanya padang itu, melainken di sangkanya misti ada musuh yang bersemuni di dalam alang-alang.
Sungguhpon tiada ada yang menembak pada orang patruli, juga tiada kalihatan rupanya musuh, tetapi soldadu Kumpeni tiada boleh di perbodohken,—dia orang sudah rasa di dalam hati yang musuhnya misti ada di dalam alang-alang itu.
Maka patruli itu di suruh maju dengan perlahan-lahan dan dengan berati-ati.
Apabila soldadu yang di sabelah muka sudah maju kira-kira lima puluh langkah, tiba-tiba ada kalihatan asap sedikit, di sana sini, dari atas alang-alang itu, syahadan tiada antara bebrapa lama lagi, ada kadengaran bunyi snapan dengan beratus-ratusan, datangnya dari pada tempat musuh, pilurunya hendak membinasaken soldadu. Kumpeni kiranya, teranglah alang-alang itu memang jadi sarangnya orang Aceh.
Bangsat orang Aceh itu! Cobalah pikir. Dia orang sudah gali lobang, sama seperti kalaburan, dalamuya ada kira-kira satu elo, panjangnya ada kira-kira duwa atau tiga elo, di bikinnya dengan akal dan budi, sopaya selama-lamanya musuh boleh datang di situ dari pada pinggir hutan dan dari pada tepi lawut, tetapi tiada dapat dilihat oleh soldadu Kumpeni, dan tiap-tiap lobang itu di jagai oleh orang Aceh, tujoh atau delapan orang.
Kendati tembakan musuh itu datang dengan seku-nyong kunyong, aken tetapi tuan Luitenant de Leur, apa lagi soldadu-soldadunya, yang gagah dan brani itu, tiada sekali kalipon menyadi bingung atau takut, melainken tinggal berdiri dengan tetap, masing-masing di mana tempatnya.
Maka segala orang patruli bales pasang, sampei duwa kali (salvo) lantas tuan Litnant de Leur, yang perkasa itu, suruh tiup slompret, kasi prentah misti maju dengen “velt geweer” maka sakutika itu juga tuan Litnant Cornelius sudah melompat kasabelah muka, kepung pada musuh sama soldadu-soldadunya yang ada di muka, dengan pakei bayonet.
Orang Aceh pasang pada soldadu kita dengan bedil dan pamuras (donderbus) tetapi syukurlah tiada bebrapa banyak dari pada orang kita yang dapat luka.
Kita punya soldadu suda mulai kepung pada musuh dengan keras sekali, maka orang Aceh yang menjaga di mana lobang yang pertama samuwanya di tembak mati atau di tusuk dengan bayonet, mampus sekaliannya dengan bercucur-cucuran darahnya.
Maka soldadu kita maju kombali, sampei di mana lobang yang kaduwa, tetapi orang Aceh, dengan cepat, sudah kaluwar dari pada lobang itu, hendak berkalahi sama klewang.
Astaga perlah! prang ini terlalu amat keras!
Sambil soldadu kita, yang di sabelah muka, saling hantam menghantam sama orang Aceh itu, bayonet sama klewang, maka soldadu kita yang di sabelah blakang juga suda maju, maka sekarang soldadu dari blakang tiada brenti pasang sama snapan, menu-ju pada orang Aceh yang lebih jauh, yang ada menjaga di mana lobang-lobangnya.
Kendati bangsa Aceh pukul dengan kras, sama klewang, aken tetapi soldadu kita bisa juga tangkis, dengan sakuwat-kuwatnya di tangkis, kemudian, tiada antara bebrapa lama, maka di atas tanah, pada antara lobang-lobang yang tersebut, sudah penuh bangkei orang Aceh, seperti rumput banyaknya.
Tatkala sudah senang sedikit, maka di hitung, maka dapat duwa puluh bangkei orang Aceh pada antara lobang-lobang yang tersebut, lain dari pada yang sudah mati di dalam alang-alang, yang tiada kalihatan.
Aken tetapi prang patruli ini belom juga habis, sebab, kutika sudah kadengaran bunyi snapan, dengan begini ramei, maka banyak sekali orang Aceh datang tulung sama temannya, samuwanya pada kalowar dari pada rimbau-rimbau dan dari pada lobang-lobang yang jauh, mengepung patruli kita.
Sungguhpun patruli kita dapat susah besar, sebab orangnya cuma ada ampat pulu satu dan musuhnya beribu-ribu, aken tetapi, kendati bageimana juga, orang kita masih tahan, tiada ferduli banyak atau sedikitnya musuh, melainken tinggal pasang joga, dengan menuju betul-betul, maka syukurlah dapat juga menegahken musuh itu, sedikit tempo.
Lama kalamaan patruli kita tiada sanggup tahan lagi, sebab obat bedil dan pilurunya suda hampir habis (banyakan dari pada soldadu kita cuma ada lima atau anam patroon) tambahan pula ada lima orang dari pada patruli kita yang sudah dapat luka dan satu soldadu Blanda, bernama de Bok, sudah mati. Bagimana boleh tahan?
Tatkala di lihat bahuwa musuh sudah terlalu banyak, dan orang patruli kita terlalu sedikit, maka di timbang oleh tuan Luitenant de Leur, lebih baik mundur dulu, sopaya patruli kita, yang sebagitu sedikit orangnya, janganlah di binasaken oleh tangan musuh, yang terlalu banyak itu.
Semantara itu, semingkin lama semingkin bertambah orang Aceh, datangnya dari kanan kiri, maka sudah tentulah patruli kita tiada sanggup melawan lagi, melainken misti mencahri slamat di dalam benteng juga.
Bangsa Aceh sudah girang di dalam hatinya, kiranya Kumpeni sudah kalah, maka majulah hulubalang dan orang braninya, dengan bersurak surak, mengajak-ajak orangnya aken menghantan orang patruli kita sama klewang, tetapi bangsa Aceh yang banyak itu belom brani maju sebab di lihatnya soldadu kita belom hilang hati, melainken socka melawan juga.
Dalam hal kasusahan itu maka soldadu kita tiada lain melainken berharap pada Ofsir-Ofsirnya, apa lagi pada Kommandantnya, tuan Luitenant de Leur, mustahil tuan Kommandant tiada bisa cahri akal aken. melepaskem orangnya dari pada tangan orang Aceh? Adapon di dalam prang patruli ini sungguh sudah menjadi terang kepada orang besar bahuwa tuan Luitenant satu, bernama de Leur, dan tuan Luitenant duwa, bernama Cornelius, itupon boleh di kataken Ofsir yang perkasa dan lurus hatinya, kerana baik hatinya dan sayang pada soldadu yang di bawah prentahnya. Sabermula tuan Luitenant Cornelius pasang pada musuh dengan pestolnya, yang pake laras anam, sasu-dah habis patronnya lantas iya ambil snapan dari pada saorang soldadu yang luka, dan dengan snapan itu iya sudah mematiken musuh bebrapa-brapa orang.
Maka mundurlah patruli kita tetapi berhadap hadapan pada musuh, orang yang luka di taroh di blakang; sembari mundur tiada brenti-brenti patruli itu berpasang juga pada musuh, maka banyak yang kena piluru, tetapi, sebab kassian sama orang kita yang locka dan sakit, maka patruli itu tiada boleh mundur dengan buru-buru, melainkan misti berja-lan dengan perlahan-lahan. Di atas ini kita sudah ceritaken dari pada hal suwatoc soldadu Blanda, bernama de Bok, yang sudah di tembak mati oleh musuh? Tuan Luitenant Cornelius terlalu khuwatir dari pada maitnya soldadu itu, kalu-kalu nanti di rusakken dan di cincang oleh musoh, sebab memang adatnya bangsa Aceh, suka sekali menyeksa pada musuhnuya, kendati sudah mati.
Maka tuan Luitenant Cornelius tinggal jagai mait itu bersama-sama dengan duwa orang fuselier Blanda, bernama Rovenne dan Grond, dan duwa orang fuselier Jawa, bernama SATRUNO dan Wongsosemito, menung-gu orang yang aken membawa tandu, supaya mait itu boleh di pikul, sampei di dalam benteng, aken di kuburken cara adatnya orang prang.
Dalam menjaga mait itu, maka tuan Luitenant Cornelius dengan ampat soldadunya selama-lamanya di tembakki oleh musoh, ada banyak orang Aceh yang kaluwar dari pada lobang-lobang, tempat yang fuselier de Bok di bunuh tadi, maka segala orang Aceh itu hendak mengepung pada Luitenant Cornelius dengan ampat orangnya, sampei misti berkalahi dengan sungguh-sungguh, aken tetapi, dengan per-tulungan Allah ta Allah syukurlah mait itu sudah dapat di masokken di dalam tandu.
Dalam berkalahi itu, tuan Luitenant Cornelius dan fuselier Rovenne dapat luka, tetapi cuma sedikit lukanya, heiran sekali tiga soldadu yang lain itu boleh slamat, tiada kurang apa-apa!
Jikalu di pikir, sungguhpon terlalu berat tang-gungannya tuan Luitenant Cornelius, mana misti hantar orang mati, mana misti berkalahi sama musohel, tetapi tuan Luitenant itu bersabar juga, mundurnya satu-satu pas dan selama-lamanya mengadap muka pada musuh, maka dengan perlahan-lahan kiranya boleh dapat susul pada teman-teman patruli itu, yang sudah berjalan terus. Teman-teman itu sudah jauh juga, ada kira kira 150 pas dari pada tempatnya tuan Luitenant Cornelius.
Sebab tuan Luitenant Cornelius dengan ampat soldadunya bisa tuju betul betul, dengan snapan, maka dapat juga dia orang melepaskem dirinya dari pada kasusahan itu. Antara orang Aceh itu ada yang mengepung, ada yang mau potong jalannya, tetapi, percuma saja, lama kalamaan Luitenant Cornelius dengan ampat soldadunya bisa juga lolos, rapat sama teman patruli yang lain itu.
Bangsa Aceh sudah terlalu malu dan kesal sebab tiada bisa pukui patruli kita, yang sebagini sedikit orangnya, maka bangsa Aceh itu maju pula dengan bertareak, kiranya boleh juga membinasaken patruli kita.
Tempo itu, orang kita sudah terlalu lelah³ hampir tiada kuwat berjalan dengen aturan, kerana sudah berprang begini lama dengan tiada brenti brentinya.
Maka sekarang tuan Kommandan patruli kasi prentah sopaya soldadu yang masih kuwat misti trima segala patroon dari pada tangannya soldadu yang sudah terlalu payah.
Fuselier Kromopawiro sudah dapat luka, tiada bisa berjalan betul, misti bersender pada duwa teman, maka jadinya tiga orang tiada boleh berpasang snapan pada musuh.
Tuan Luitenant de Leur melihat itu, lantas kasi prentah pada duwa teman itu, suruh lepas sama Kromopawiro, sopaya duwa soldadu itu juga boleh turut berpasang pada orang Aceh, yang suda dekat.
Maka sekarang tuan Luitenant de Leur sendiri, kendati merasa lelah, sudah pikul sama Kromopawiro di atas pundaknya, sampei datang satu tandu, maka Kromopawiro di masokken dalam tandu itu.
Wahi! terlalu amat susah mendapatken benteng kita dan orang patruli itu samuwa payah, sering kali menengok kanegri Edi, tetapi tiada juga kade-ngaran bunyi slompret, tiada kadengaran pukul tamb-ber, dan tiada kalihatan snapan dari benteng, yang datang menulung.
Dalam kasusahan ini, ada lagi satu soldadu Blanda yang dapat luka, tiada ada tandu aken memikul dia. Maka sekarang, apa bole buwat? maka maitnya soldadu Blanda, yang bernama de Bok itu, di kaluwar-ken dan di sembuniken di dalam kebon-kebon, pada
tempat yang sunyi⁴ sopaya jangan boleh di lihat dan di cincang oleh orang Aceh, yang kurang ajar sama orang mati; di blakang kali, jikalu sudah senang, hendank di angkat mait itu dan di kuburken, dan soldadu yang barusan dapat luka itu di taroh di dalam tandunya fuselier de Bok.
Antara orang patruli itu cuma tinggal sedikit saja yang sanggup memegang snapan, teman-temannya sudah terlalu payah, dan dalam orang yang sedikit itu juga ada yang hampir-hampir tiada bisa tembak, sebab tangannya sudah angus dari pada kapanasan laras bedil, tetapi, kendati merasa sakit, dia orang tahan juga.
Segala orang patruli sudah tersengal sengal dari pada cape, dan lidahnya sudah kring dari pada hawus, maka patruli kita sudah hampir kalah sama orang Aceh yang masih juga datang dari kiri kanan, dengan mendesak-desak.
Kemudian, dengan kabesaran Allah ta Allah, tiba-tiba tuan Luitenant de Leur dapat lihat, ada datang soldadu, pertulungan dari benteng, satu sectie, di bawah prentahnya tuan Luitenant Ostreig, rupa-rupanya orang di benteng sudah dapat dengar bunyi snapan yang ramei dari pada patruli yang tadi itu.
Maka kata tuan Luitenant de Leur hayo anakku! maju-maju! jangan takut! sudah datang teman dari benteng!
Maka soldadu patruli itu, yang mana masih ada patroon, lantas berpasang dengan cepat-cepat pada orang Aceh yang rapat itu, sekali pasang, tiada salah mati orang Aceh.
Waktu datang tuan Luitenant Ostreig dengan soldadu perbantuaan, musuh juga sudah lihat, tetapi belom socka mundur, melainken mau coba-coba dulu, sama klewang, brangkali boleh menang juga, sebab orang patruli kita sudah terlalu payah, bukan?
Tetapi, sabelom musuh boleh menghantan sama klewang, soldadunya tuan Luitenant Ostreig sudah pasang lebih dulu, dengan ramei-ramei, tiwaslah orang Aceh itu, sampei jatohbangun, ada yang luka, ada yang mampus sekalian, dan tiada berapa lama, segala musuh sudah lari, maka jadi bresih di tempat itu.
Syukurlah patruli kita sudah terlepas dari pada sangsaranya, maka patruli itu boleh berjalan kapada benteng Edi, dengan pertulungan tuan Luitenant Ostreig dan kawan-kawannya, sampeilah dengan slamat di dalam benteng pada jam pukul duwa belas tengah hari.
Waktu datang di benteng, maka lebih saparoh dari pada soldadu patruli itu lantas juga berbaring lantaran dari capenya, patut juga, sebab dia orang sudah berprang bagitu lama, dengen kras, tiada dapat makan dan tiada dapat minum.
Sambil berprang, dia orang tiada ferduli cape, sekaranglah merasa yang antero badannya sudah pegal.
Dari pada fuselier Blanda, bernama de Bok, yang tersebut di atas ini, kutika sudah senang, maka maitnya sudah di cari kumbali oleh Sersyan Mayoor Lodewiyk dengan soldadu sedikit, kemudian di angkat dan di kuburken dengan sepertinya, itoclah tandanya yang orang Blanda sayang sama soldadu, kendati sudah mati masih juga di hormatken.
Antara orang patruli kita, yang sudah berprang sama musuh, cuma ada lima yang dapat luka, ampat fuselier Blanda, bernama Rovenne, Deriemont Wagelaar dan Nieman, dengan satu fuselier Jawa, bernama Kromopawiro.
Tetapi musuh sudah hilang banyak orang; di mana lobang-lobang saja ada 20 orang mati, turut kabar orang, ada lagi 46 dari pada bangsa Aceh yang mati di sana sini dan ada banyak sekali yang dapat locka.
Sebab sudah dapat ketrangan yang tentu, dari pada perjalanan patruli yang tersebut di atas ini, bahuwa di negri Edi sudah berkumpul terlalu banyak musuh, dengan niatan aken mengepung benteng Kumpeni di sana, maka tuan kapitein Intvelt, yang jadi kommandan dari benteng itu lantas minta pertulocngan dari pada kapal prang, bernama Makasser, yang ada berlabu di Edi, maka di kirimlah satu ofsir dengan duwa puluh lima orang soldadu laut. Dan lagi, sudah di kirim kabar kepada tuan Jendral van Teiyn, yang memegang prentah di Kota raja, maka tuan Jendral itu lekas kirim banyak soldadu, yang mana sudah sampei di negri Edi pada hari 4 Mei tahun 1889, maka yang datang itu:
BATALYON TIGA
OFSIRNYA:
- Obos de Bank Langenhorst, yang jadi kommandan;
- Luitenant satu Kohler, yang jadi ajidan;
- Soldadu Ambon, kompanyi duwa;
- Kaptein Hansen;
- Luitenant satu, Muller;
- Luitenant duwa, Blumen Waanders;
- Luitenant duwa, LA Gordt Dillie;
- Onder Ofsir dan soldadu, 142 orang;
- Kompanyi ampat (orang Blanda);
- Kaptein Mollinger;
- Luitenant satu, Gaade;
- Luitenant duwa, van Hattum;
- Luitenant duwa, van Beusekom;
- Onder Ofsir dengan soldadu, 150 orang.
STABELAN.
- Luitenant satu, BAERMEIJER VAN BARIENHOFEN, yang jadi Kommandan;
- Onder Ofsir dengan soldadu, 17 orang.
SAPEUR.
- Luitenant satu, HAGEMAN;
- Onder Ofsir dengan soldadu, 20 orang.
DOKTOR-DOKTOR.
- Ofsir doktor klas duwa, DUMONT;
- Soldadu rumah sakit, 26 orang.
Lain dari pada itu maka adalah di kirim orang perantean, 133 kapala, buwat memikul obat bedil dan piluru dan lain-lain perkakas prang.
Giranglah segala soldadu-soldadu, sebab sudah datang teman banyak, maka sekarang lekas boleh kalowar, hantam-menghantam sama bangsa Aceh. Kassian soldadu yang misti tinggal di benteng dan tiada boleh turut prang,—dia orang tinggal, mendongkol merasa sedi di dalam hatinya.
Maka yang paling suka berprang, orang Ambon itulah, dari batalyon tiga. Bila sudah trima surat order aken kaluwar maka lantas orang Ambon bikin kumpulan, di dalam tangsi, dan soldadu Ambon yang tuwa-tuwa yang terhias dengan bebrapa medali dan streep, sudah berbicara sama teman-temannya yang masih muda, yang hampir seperti kanak-kanak, maka kata orang tuwa-tuwa itu “hei sudara-sudara ”dari pada Kompanyi duwa! kamu beruntunglah, “sebab nanti besok boleh bertemu dengan musukh-”mu, dan kamu boleh belajar prang, slamatlah, “amin! Jangan lupa yang di atas bayonet kita ada ”berkibar bandera dari batalyon tiga yang sudah da-“pat bintang kahormatan dari pada Baginda Raja ”kita, tanda yang soldadu batalyon tiga samuwa orang “brani dan bijaksana dengan bersatia kepada Raja ”kita. Di bawah bandera itu, banyak dari pada su-“dara-sudaramu sudah berprang dengan segala kahor-”matan, ada yang bertumpah darahnya, ada juga “yang sudah hilang jiwanya. Jangan sekali-kali ”kamu bikin malu sama orang tuwa-tuwamu yang “sudah meninggal dunia, dan lagi, jangan kamu ”bikin malu sama bandera batalyon tiga. Jangan “takut-takut, jangan lupa yang kamu sekalian ”jadi orang lelaki betul, orang Ambon. Bangsa “Ambon tiada tau mundur, tiada takut sama kle-”wangnya orang Aceh.
Sasudah dengar bicaranya orang tuwa-tuwa itu, maka jadi terbuka hatinya soldadu Ambon yang muda-muda maka segala marika bersumpah-sumpah akan bersatia kepada bandera batalyonnya, dan tiada nanti bikin malu pada orang tuwa-tuwanya yang su-dah lepas jiwanya di bawah bandera itu.
Ya, sahbat-sahbat pembaca! bangsa Ambon itu sungguh boleh di kata baik dan lurus hatinya dengan bercinta sama Kumpeni. Kasian! banyak dari pada orang Ambon, yang turut batalyon tiga, sekarang sudah mati di dalam prang dan banyak juga sudah meninggalkan dunia ini dari pada penyakit berri-berri, maka dari pada orang Ambon itu cuma tinggal sedikit, tetapi pada antara yang sedikit itu samuwanya orang brani, seperti bunga yang menghias-ken batalyon tiga. Dan lagi, ada satoc adat yang baik, yang selama-lamanya di turut oleh bangsa Ambon: soldadu-soldadu yang lama, suka sekali kasi ajaran kapada soldadu-soldadu yang baru masuk dalam Kompanie maka dengan jalan yang begitu, orang Ambon tiada berobah adatnya melainken tinggal baik juga.
Tuan Kapten Hansen, yang jadi Kommandan dari Kompanyi duwa, sudah ajar kenal sama orang Ambon maka Kapten itu terlalu sayang serta memu-diyken bangsa ini. Segala Ofsir dari Kompeni duwa, yang dapat bintang dan kahormatan besar di dalam prang Edi, sudah mengaku terus terang dan membilang trima kasi sama orang Ambon, sebab, jikalu tiada dengan pertulungan orang Ambon, brangkali tida boleh dapat kamenangan yang bagitu besar.
Tetapi sekarang, jangan kita ceritaken lagi dari pada perkasanya bangsa Ambon, melainken kita terusken hikayatnya prang Edi, sebab dari pada hikayat ini nanti menjadi terang apa yang orang Ambon sudah bikin di dalam prang itu.
Pada hari 4 Mei tahun 1889 maka rameilah di Kota Raja sebab segala balatantara⁵, yang aken berprang di negri Edi, ada berangkat dengan stoomtram, pergi di Olehleh, sampei di sitee maka samuwanya naik di kapal Kumpeni bernama Condor dan Albatros, dan di kapal prang Sri Maha Raja, bernama Makassar dan di kapal api bernama Gouverneur Generaal van Lansbergen, kapunyaannya kantor kapal api di Betawi itu.
Pada esok harinya, tanggal 5 Mei tahun 1889, segala kapal itu sudah sampei di negri Edi maka berlabu di sana, aken tetapi, pada hari itu ada angin ribut dan ombak laut terlalu amat besar, tingginya hampir seperti gunung, maka cuma sedikit dari pada soldadu-soldadu itu boleh nayik di darat.
Maka soldadu-soldadu, yang mana sudah sampei di darat, di suruh tinggal dulu di kampung Kuala, tiada jauh dari pada pelabuan, sebab kampung itu memangnya tempat yang baik sekali, dan lagi senang, kerana⁶ di lindungken oleh bebrapa parit yang lebar-lebar.
Heiran sekali! tempo itu, soldadu-soldadu kita tiada sekali-kali di ganggu oleh musuoh, sampei di waktu malam tinggal senang juga di kampung Kuala, tiada kalihatan rupanya musuoh, juga tiada kadengaran suwaranya, tetapi, kutika mata hari sudah timbul, skelwak dapat lihat beberapa orang yang mundar mandir, terus hilang, masuk di dalam rimbau.
Maka musuoh tiada brani datang sebab skelwak kita jaga baik-baik, brangkali juga sebab musuoh belom boleh tau dari pada banyak atawa sedikitnya soldadu yang duduk di dalam kampong Kuala itu.
Pada esok harinya, hawa sudah jadi terang dan angin sudah teduh, maka segala soldadu-soldadu, yang masih katinggalan, turunlah dari pada kapal, sampeilah di darat pada jam pukul satengah delapan.
Tuan Obos de Bank Langenhorst bikin inspeksi dulu, lantas minta ketrangan dari pada Ofsir-Ofsir yang kelemaren sudah menginap di kampung Kuala dan yang mengintip-intip pada musuoh, kata ofsir-ofsir itu: orang Aceh sudah bikin parit⁷ sapanjang jalan, dari pada kuala sampei di negri Edi sudah penuh dengan orang Aceh, yang menjaga di dalam parit-parit hendak, bikin susah pada soldadu Kumpeni jikalu meliwat di sana.
Maka tuan Obos kassi prentah sama tuan Kapten Hansen, Kompanyi duwa, misti berjalan dari pinggir laut, kulilingken tempat-tempat musuoh, dan orang soldadu yang lain yang banyak itu di suruh berjalan terus, menuju jalan raya⁸ sampei di Edi, dan stabelan itu misti turut sama soldadu yang banyak.
Jam pukul sabelas, liwat saperampat, maka kalowarlah segala soldadu itu, masing-masing turut aturan dan jalannya, sebagimana yang sudah diten-tuken oleh tuan Obos itu.
Pada sabelah kanan, di pinggir, laut, Kompanyi duwa ada berjalan; di sabelah kiri ada rumput yang tinggi-tinggi (gelagah) dan Ofsir-Ofsir dari kapal-kapal perang samuwanya pasang tropong⁹ menengok Kompanyi duwa itu, kepingin tau bagimanakah aken jadinya; tetapi Ofsir kapal itu jadi senang di dalam hatinya, sebab di lihatnya orang soldadu Kompanyi duwa ada berjalan betul, turut Kommando.
Kendati panas kencang, kendati kaluwar kringat dari pada antero badan, kendati jalannya terlalu susah, dari pada kebanyakan gelagah dan pohon-pohonnan, Kompanyi duwa, orang Ambon, tiada ambil pusing, melainken maju juga, salama-lamanya maju saja, rupa-rupanya seperti terlalu kepingin ketemu sama musuoh.
Bila sudah maju kira-kira 300 atawa 400 pas, ada kadengaran bunyi snapan dari pada sabelah barat daya (kidul) tandanya yang Kompanyi ampat sudah mulai berhantam-hantaman sama musuh.
Orang Ambon maju dengan cepat-cepat hendak menulung temannya dari Kompanyi ampat, tetapi belom dapat prentah dari tuan Kapten. Soldadu Ambon yang muda-muda pasang mata pada yang tuwa-tuwa, sebab darahnya sudah mendidi, kiranya kenapa tuan Kapten tinggal diam? Tetapi tuan Kapten lebih pintar, pikirannya lebih jau; betul juga, sebab tiada berapa lama ada orang Ace h merayap di dalam alang-alang, di lihat oleh Sersan Mayoor Wolvekamp, stambuk nomor 26592, yang jadi Kommandan dari sectie di blakang.
Maka Sersyan Mayoor Wolvekamp lantas pilih orang-nya yang paling gapah¹⁰ terus pergi cari dan passang pada musuh itu, lari duwa orang Ace h, tapi dia orang di pegat di jalan besar oleh sectienya Litnan satu, bernama tuan Gaade maka duwa orang Ace h itu lantas juga di tembak mati.
Syukurlah sersyan Mayoor Wolvekamp sudah ambil ini aturan, kaloc trada, tentulah duwa orang Ace h itu sudah pergi kassi tau sama teman-temannya yang Kumpeni ada datang dari salelah sana.
Sudah itu, tuan Kapten kassi Kommando “voorwaarts, marskh” maka Kompanyi duwa berjalan terus, di pinggir laut; jauhnya kira-kira lima ratus elo maka Kompanyi itu ketemu satu kebon tebu, pohon-nya terlalu tinggi, maka soldadu Kompanyi itu tiada boleh di liat lagi oleh orang kapal prang, lantas Kompanyi itu ambil jalan dari sabelah kidul, dapet satu parit dari orang Aceh yang lagi di bikin tapi belom habis; pada perasaan tuan Kapten Hansen, sungguh musuh misti ada di sitee, maka tuan Kapten kassi prentah misti berjalan terus, menuju ka-sebelah kidul juga.
Terlalu susah aken berjalan di sitee, sebab ada banyak lumpur, dan pohon-pohonnan, ada juga ke-piting, dan uler, dan nyamuk beribu-ribu, dan lalar besar, lagipon tanahnya terlalu licin, cuma ada satu jalan yang sempit sekali, maka Kompanyi itu tiada boleh berjalan dengan aturan, melainken saorang di blakang saorang jalannya.
Tuan Kapten dan Ofsir-Ofsirnya khuwatir juga di dalam hatinya, sebab jikaloе misti berprang di tempat ini, tentu susah.
Segala soldadu Kumpeni sungguh brani, tiada takut berkalahi dan tiada takut mati juga, tetapi jikaloе misti berkalahi di dalam rimbau yang gelap ini, dengan tiada kalihatan rupanya musuh, siapa boleh tanggung?
Semingkin jauh semingkin jelek jalannya, sampei soldadu kompanyi duwa sudah misti pakei golok aken membuka jalan, dari pada kabanyakan pohon dan rumput-rumputan.
Tuan Kapten Hansen tiada brani tanggung lagi, hampir-hampir sudah mau lepas tempat itu, aken mencari jalan yang lebih baik, tiba-tiba datang Litnan duwa, tuan van Blumen Waanders, membawa kabar yang sudah dapat tempat yang terang dan lekas boleh kaluwar dari pada rimbau yang gelap itu.
Maka tuan Kapten Hansen lantas juga berjalan ka-sabelah muka, kemodian dapat liat musuoh, kira-kira sapuloh pas jaunya, selagi pasang memasang pada teman kita yang banyak (kolonne besar).
Giranglah tuan Kapten Hansen, sebab, sungguhpon jalan yang tadi itu ada gelap dan jelek, tetapi sekarang sudah dapat jalan yang sabenarnya, kerana dari situ, cuma 50 atawa 60 pas punya jau, sudah kalihatan tempatnya musuoh.
Teranglah, orang Aceh cuma beringat pada soldadu kita yang banyak, yang berjalan di jalan besar, tiada tan yang iya sudah di kidarken oleh Kapten Hansen punya Kompanyi, dari sabelah blakang.
Tetapi, kendati begini, Kompanyi duwa belom juga terlepas dari pada susahnya, sebab di pinggir hutan itu masih ada banyak oyod dan pohon-pohonnan, maka kompanyi itu tiada dapat kaluwar sama sekali, me- lainken boleh maju dengan duwa orang saja. Tuan Kapten Hansen dan tuan Litnan van Blumen Waanders berdiri dekat satu sama lain, cuma duwa tiga pas jauhnya, tetapi, sebab kealingan pohon-pohonnan, duwa Ofsir itu tiada boleh liat masing-masing punya muka, maka Kapten berbisik-bisik sama Litnan itu, katanya: “Waanders, kita misti hantam sama musuh”; sahut Litnan Waanders “Baik, Kapitein! boleh saya maju sekarang juga”.
Kata Kapten “Baiklah, boleh maju”.
Serta dengar perkataan Kapten itu, maka Litnan Waanders lantas sorong kamuoka, pada soldadu Ambon nama Mait, stambuk nomor 25969, di surohnya kaluwar dari pada hutan; tuan Litnan Waanders turut dari blakang, lantas bersurak hura! hura! maka antero Kompanyi duwa pada turut bersurak.
Sudah rame surakan itu maka orang Ace h jadi bingung, lantas brenti berpasang sabentaran, sebab kepingin tau dulu siapakah musoh ini, yang datang dengan terkejut-kejut dari dalam rimbau?
Bila sudah dengar kommando maju maka orang Ambon tiada boleh ditahan lagi.
Di blakangnya kommandan kompanyi ada turut duwa orang Ambon, namanya fuselier Wattinuriy, stambuk No. 2813 dan fuselier Mawankiy, stambuk No. 84166.
Kapten Hansen dengan duwa soldadu Ambon ini lekas maju dengan kebranian, Litnan Waanders tu-rut dari blakang sama sersyant Blanda, nama Brok No. 2824 dengan fuselier Blanda, nama Desirat, Stam-buk No. 20807.
Sabelonnya kompanyi duwa boleh maju, dia orang sudah berhantam pada musuoh lebih dulu, maka orang Aceh itu jadi kaget, maka orang Aceh yang bersemubeni di dalam parit-parit¹¹ di sabelah muka hampir samuwanya di bunuh, ada yang di tembak mati ada juga yang di matiken sama bayonet, cuma sedikit saja yang boleh lari.
Fuselier Mait berhantam paling dulu.
Sampei di mana parit, yang di sebeleb, fuselier Mait lantas mau pasang pada saorang Aceh, sama snapan, tetapi patroonnya bungkem¹².
Sekarang orang Aceh melompat dari pada lobang-nya, mau bacok sama klewang, untung juga fuselier Mait bisa tangkis sama snapan.
Orang Aceh itu mau bacok lagi sekali, lantas tuan Litnan Waanders datang toolung sama Mait, tembak pada orang Aceh itu dengan pestol revolver.
Tetapi orang Aceh ini, kendati sudah dapat duwa piluru di dalam kapala, belom juga mau mengalah, masih juga berhantam-hantam sama klewangnya, sampei datang soldadu banyak, yang tikam mati sama dia.
Sekarang prang sudah jadi ramei.
Tuan Kapten Hansen kumpulken sapuloh orang soldadu, pergi memburu musuh itu dengan looppas, tetapi musuh susah di dapat sebab bersemubeni di dalam lobang dan parit, di dalam alang-alang yang rapat dan tinggi, dan parit itu tiada boleh di lihat, melainken jikalu sudah datang dekat, kira-kira tiga atau ampat pas, barulah dapat lihat aken parit itu;—pada antero negri Aceh tiada ada padang alang-alang yang sebagini lebar dan sebagini tinggi, gampang sekali musuh boleh kena pada soldadu kita, sama bedil atau sama klewang, aken tetapi, sebab kommandan kompanyi brani maju maka soldadunya juga brani.
Sebab tuan Kapten Hansen brani maju maka slamatlah, iya beruntung dapat ketemu, parit, lagi satu derekkan, yang musuh sudah gali di sabelah blakang.
Sampei di situ, ada satu orang Aceh yang kalu-war dari pada alang-alang yang tinggi hendak membacok Kapten Hansen, maka fuselier Ambon, nama Kayoba, lantas maju, tulung sama Kaptennya, tusuk pada orang Aceh itu dengan bayonet, sampei tembus, tetapi ini orang Aceh, kendati hampir mati, masih juga melawan dan sudah hantam lagi pada soldadu Ambon yang bernama Kayoba, kena di pundaknya sabelah kiri, tapi tiada mati.
Maka sekarang Kapten Hansen tulung sama fuselier Kayoba, menghantam orang Aceh itu dengan pedang, kena di kepalanya, entah hidop entah mati, tetapi keras sekali pukulannya tuan Kapten, sampei orang Aceh itu jatoh, tiada bisa berkalahi lagi-lagi.
Pada parit satu derekkan yang tersebut tadi, soldadu kompanyi duwa sudah berprang dengan sanget keras, apa lagi fuselier Ambon, nama Waeni, No. 28579, ceritanya begini: Saorang Aceh sudah mau hantam sama si Waeni, dengan klewang, dia orang sudah berkalahi, lama juga, tetapi si Waeni bisa tangkis, kemudian si Waeni dapat tusuk sama orang Aceh itu, dengan bayonet, sampei tembus di dalam badannya. Waktunya si Waeni mau cabut snapannya dari dalam badannya orang Aceh itu, astaga, orang Aceh itu, bisa rampas itu bayonet, sampei lucut dari pada snapan itu. Sekarang si Waeni dapat luka di tangan kiri, brangkali boleh mati jikalu tiada di tulung oleh teman.
Sambil berprang di mana parit atau lobang itu, maka soldadu kita dapat pertulungan dari pada 10 atau 15 orang maka banyaknya musuh dengan banyaknya soldadu kita itu hampir-hampir sudah rata.
Orang Aceh sudah melawan dengan sakuwat-kuwatnya, tetapi kalah juga,—samuwanya di bu- nuh, maka satu dari lobang sudah penuh sekali dari pada kabanyakan bangkei orang Aceh, itulah menjadi tanda yang di tempat ini Kumpeni sudah berperang sama musukh, dengan sanget keras.
Sambil tuan Kapten Hansen berprang sama musukh, di dalam padang alang-alang yang tersebut, maka dalam tempo itu juga sectie No. 1 dan No. 2 sudah maju di lain tempat, di bawah prentahnya tuan Litnan van Blumen Waanders dan tuan Litnan la Gordt Dillie, pergi mengepung paritnya musukh yang di sabelah kidul, tetapi musuoh tiada brani menunggui soldadu kita,—samuwanya lantas minggaat, dengan sipat kuping. Duwa Litnan ini kommandeer pasang salvo, tetapi lekas di soceruh brenti sebab sudah dekat benteng Edi dan dari pada kebon klapa ada kalihatan orang Aceh melari-lari, kiranya sobat Kumpeni, halnya musukh juga, tetapi siapa boleh tau yang musuoh sudah bersarang sebagini dekat pada benteng Kumpeni?
Selagi berprang, di mana parit-paritnya orang Aceh yang tersebut tadi, maka kompanyi duwa dapat per-tulungan dari soldadu-soldadu sapeur, sectie nomor 3, yang sudah kaluwar dari pada rimbau itu, di bawah prentahnya tuan Litnan Muller, maka ramei-ramei pergi cari tempat sembunianinya musuoh, sebab di sangka misti ada parit lagi.
Tiada berapa lama, musuoh sudah mulai berpasang dari pada suwatu parit, maka lantas juga kompanyi kita berbalik muka kasana, tetapi piluru kita tiada boleh kena pada musuh, sebab kaalingan, maka orang Ambon tiada bersabar lagi, lantas juga pergi menghantam sama bayonet.
Maka jadi berkalahi dengan terlalu sanget keras, hampir tiada boleh di ciriteraken hal prang itu, sebab sudah jadi kusut, sobat dan musuh sudah tercampur, saling bergulat, saling menghantam, soldadu Ambon, nama Ajah, yang tadinya sudah kena piluru, dan lain-lain soldadu yang sudah luka, samuwanya turut berprang.
Lama kalamaan tiada kedengaran bunyi sanapan, melainken ada kedengaran tereyak orang dan punya sinjata tajam dengan tangkis bertangkisan.
Di dalam kekerasan prang itu, belom boleh tau, siapa yang menang dan siapa yang kalah, tiba-tiba menjadi sepi, tiada kedengaran apa-apa lagi, rusuh prang sudah brenti sama sekali.
Tiada lama lagi, soldadu kita bersurak hura-hura! tanda yang Kumpeni sudah menang!
Orang Aceh itu, habis pada mati; dari pada soldadu kita tiada satu yang mati, melainken ada banyak yang dapat luka.
Dari pada orang Ambon itu, dia orang sudah tun-juk kabraniannya. Sersyant Turang No. 84911 su- dah maju dengan socka sendiri sama tiga soldadu Ambon yang muda, bernama Popa, No. 8896 dan Ilabibi, No. 16329 dan Kamparang, No. 26537, sebab dia orang sudah meliat ada orang Aceh yang hendak kalowar dari pada parit. Sampei di sana, ini ampat orang Ambon sudah pasang pada orang Aceh itu, dengan snelvuur, sampei musuh menjadi takut dan 50 orang Aceh lekas lari.
Sasudah menang maka slompret berbunyi, kassi tanda yang misti brenti pasang maka segala soldadu Kompanyi itu berkumpul, rapat sama tuan Kapitein Hansen.
Segala orang kita datang dengan kecapean ada yang bersengal-sengal, ada yang jatoh kelengar sebab sudah berprang sebagitu lama, dalam panas kencang, maka lekas datang doktor dengan soldadu rumah sakit, aken menulung orang kita yang sudah dapet luka.
Aken tetapi, kagirangen kita tiada lama, sebab orang Aceh ada datang kumbali; dari atas alang-alang sudah kalihatan dia orang punya stangan kapala.
Kalu di pikir, betullah bangsa Aceh itu boleh di kataken laki-laki yang brani, sebab, kendati bebrapa-brapa kali sudah kena pukul, belom juga dia orang hilang hati.
Tetapi sekali ini dia orang dapat ajaran yang betul-betul, sudah rasa tangannya Kumpeni.
Sersyant Ambon, nama Karuwal No. 80987, paling dulu sudah dapat liat musuh itu, lantas mengumpulken soldadunya, pergi ketemu sama musuh.
Antara orang Ambon itu ada tiga yang brani sekali, namanya Korporaal Yacobs No. 72217 fuselier Kabise No. 15919 dan fuselier Semallo No. 11039.
Dia orang sudah hantam pada musuh itu sama bayonet, orang Aceh melawan sama klewang, tapi orang Aceh kalah, maka di bunuh samuwanya.
Sungguh soldadu Ambon terlalu bisa berkalahi sama bayonet, orang Aceh sama klewang tiada sanggup melawan dia, maka kata bangsa Aceh, orang Ambon itu seperti Muka macan.
Kapten Hansen suruh bertiup slompret, kassi prentah yang segala soldadu dari Kompanyi itu misti berkumpul, sebabnya banyak soldadu sudah kaluwar dari gelid, pergi bantu sama Sersyant Karuwal.
Orang Ambon sudah panas hatinya, terlalu susah di tahan, tetapi Kapten Hansen bersabar, tiada socka marah-marah, lama kalamaan datang juga segala soldadu Kompanyi itu, maka di kumpulkennya, di jadiken satu.
Belom lama Kompanyi berkumpul, lantas orang Aceh berpasang kumbali, dari pada sabelah yang tadi juga, tetapi orangnya tiada di dapat liat, me- lainken kaliatan asapnya, maka majulah sectie No. 4, pergi cari sama musuh, di dalam alang-alang.
Duwa fuselier Ambon, nama Soumokil, No. 8892, dan Aja, No. 6415, dia orang sudah dapat luka, tapi juga masih brani berjalan di sabelah muka dengan bertandak-tandak, maka teman-temannya menjadi lebih brani, sahingga terbuka hatinya.
Nah! sekarang ini benarlah orang Ambon punya rupa seperti muka macan yang makan darah, sebagimana katanya bangsa Aceh.
Waktu orang Ambon datang di tampat yang kaliatan ada asap, musuh sudah lari, maka cuma kaliatan bangkei saja, dari pada orang Aceh yang sudah di bunuh tadi.
Sekarang orang Aceh brenti berpasang maka Kompanyi duwa boleh menapas sedikit, senanglah, orang yang sudah dapat luka boleh di babatken lukanya dan di taroh obat.
Maka Kompanyi duwa berjalanlah, dengan perlahan-lahan ka-negri Edi, hendak masok di benteng, tetapi di dalam perjalanan itu misti berati-atijuga, sebab boleh jadi yang orang Aceh nanti pasang kumbali dari dalam alang-alang.
Kutika sudah sampei di jalan besar, ketemu sama tuan Obos, maka tuan Kapten Hansen kasi rapport dari pada kemenangan kompanyi duwa itu.
Pada jam pukuI duwa belas, liwat tiga perampat, maka Kompanyi duwa, yang bocken barang-barang braninya, sudah sampei dengan slamat di benteng Edi, syukurlah, syukur!
Soldadu yang banyak (batalyon) sudah sampei lebih dulu, kasi rapport yang dia juga sudah menang prang.
Mula-mulanya, batalyon itu di tembakki dengan keras oleh orang Aceh, dari dalam rimbau dan parit-parit, tetapi soldadu batalyon sudah membales dengan sung-guh-sungguh, dan stabelan sudah bantu sama mariam, maka musuh itu dapat banyak susah.
Orang Aceh sudah berpasang-pasang pada halowan batalyon kita, ramai juga tembakannya, tapi lekas di usir oleh sectienya tuan Litnan van Beusckom, musuh lari dengan kasi tinggal delapan belas orang, yang sudah mati di dalam lobang parit.
Dalam prang itu musuh sudah hilang banyak orang, ada kira-kira ampat puluh atau lima puluh yang di matiken di dalam parit-parit, lain dari pada itu ada banyak yang dapat luka dan terlalu banyak dari pada sinjatanya orang Aceh sudah di rampas.
Sabelonnya mentamatken hikayat ini, patut juga kita ceritaken dari pada kelakuannya soldadu sapeur dari Kompanyi duwa, Litnan Hageman.
Tatkala belom berjalan kepada musuh, dia orang sudah dapat prentah dari pada Litnan Hageman, jangan campur-campur di dalam prang, sebab brangkali nanti dapat pekerjaan lain, dan lagi di larang, tiada boleh dia orang pakei sinjata, melainken aken melindungken diri sendiri, jikalu di langgar musuh, maka prentah itu di turut oleh sapeur kompanyi duwa, dengan sasungguh-sungguhnya, tetapi dalam menurut prentah ini terlalu amat susahnya, sebab tempatnya sapeur itu dekat sama soldadu Ambon dan dekat sama orang Aceh, cuma sedikit langkah jaunya, maka sappeur itu, kupingnya hampir jadi tuli dari pada suwara piluru yang meliwat di sana dan mukanya hampir angus dari pada api yang kaluwar dari pada pamurasnya¹³ orang Aceh itu.
Tapi juga soldadu sapeur itu bersabar, turut kommando “plaats rust” kendati di dalam tangannya dia orang ada pegang pestol revolver yang terisi.
Maka soldadu yang begini rupa, yang bisa turut prentah Ofsirnya, patut misti di pujiken¹⁴ sebab dia orang sudah bisa tahan panas hatinya, kendati kepingin turut berprang.
Namanya soldadu sappeur itu, adalah tersebut di bawah ini:
- de Jong, stambuk No. 12831, sersyan.
- Pester, “ 1734, sapeur satu.
- Van der Weerd, “ 15266, ” duwa.
- Mentotaroeno, “ 8641, ” satu.
- Paradjo, “ 23547, ” duwa.
- Baco, “ 20337, ” duwa.
Pada hari 7 Mei senanglah, sebab segala soldadu dapet “vriy” maka Ofsir-Ofsir cari ketrangan dari pada musuh, sopaya boleh dapat tau berapa ku-watnya, dan di mana tempatnya dan apatah niatannya.
Pada hari itu juga, sudah datang soldadu per-bantocan di Edi (kompanyi satu, batalyon tiga) datangnya dari Oleh-leh dengan kapal preiman, bernama “Hok Canton” dan dengan kapal Kumpeni, bernama “Zee-meeuw” maka kompanyi itu banyaknuya 112 orang Blanda sama onderofsinya, samuwanya di bawah prentah tuan Kapten van Biylevelt, Litnan de Ruver Tromp dan Litnan de Lusanet de la Sabloniere.
Kemudian dari pada itu, pada hari 7 Mei juga, jam pukkul delapan pagi, maka tuan Obos de Bank Langenhorst bikin kumpulan dari pada orang besar, aken membicaraken perkara prang itu.
Di dalam kumpulan itu ada duduk:
- Tuan Kapten Intvelt, kommandan benteng Edi.
- Tuan Assistent-Resident, yang mamegang prentah di negeri Edi.
- Raja Edi, dengan mantri-mantrinya.
Maka di tanya pada Raja Edi, apa sebabnya sudah jadi rusuh, dan pada siapa orang isi negri Edi hendak melawen, pada Rajanya atan pada Kumpeni?
Raja Edi tiada lantas menjawab¹⁵ malainken minta tempo sedikit, sopaya boleh berbicara sendiri dengan mantri-mantrinya. Maka di kabulken¹⁶ permintaannya Raja Edi itu, tetapi pada perasaan kita, orang yang begini rupa tiada boleh di percayaken sekalian.
Maka kumpulan itu sia-sia juga, tiada dapat ketrangan yang betul dan benar, sebab misti dengar dulu fikirannya kepala-kepala dari pada bangsa Edi.
Pada hari itu, rupa-rupanya Raja Edi dengan mantri-mantrinya tiada suka kasi ketrangan dari pada tempatnya musuoh dan dari pada kakowatannya dan dari pada niatannya; barang apa yang di ceritaken cuma sedikit dan tiada betul. Beruntung juga ada saorang bernama Mat Said, yang menunjuk ja-lan, maka tuan Obos boleh suruh bersedia, mau kaluwar besok pagi.
Raja Edi itu, rupa-rupanya tiada suka meliat Kumpeni datang di dalam negrinya aken menyelesih-ken rusuh itu, lantas bermuhun pada tuan Obos de Bank Langenhorst sopaya Raja sendiri boleh mendameiken anak buwahnya, tetapi tuan Obos tiada trima sebab sampei mengarti apa maksudnya¹⁷ Raja itu.
Maka pada esok harinya, targaral 8 Mei, Kumpeni berjalan kombali, pergi cari sama musuh.
Kompanyi satu dari batalyon tiga berjalan di muka, lantas turut kompanyi duwa dan kompanyi ampat, dan di blakangnya ada juga soldadu perbantuan dari benteng Edi, di bawah prentahnya tuan Kapten Intvelt. Pada tengahnya kompanyi duwa dan kompanyi ampat ada berjalan stabelan gunung. Soldadu sapeur dan soldadu rumah sakit ada berjalan di antaranya kompanyi ampat dan soldadu perbantuan dari benteng Edi.
Sasudah di atur bagitu, kutika masih pagi dan gelap, maka majulah segala soldadu yang tersebut, terus kamana tempatnya musuh.
Pada jam pukui lima, liwat tiga perampat, dapat sungei Pedawa Pontong, maka di situ ada suwatu jembatan.
Mata hari sudah timbul, maka menjadi terang.
Patruli sudah berjalan dulu, tetapi belom meliat musuh, maka segala soldadu dan mariam di suruh maju, dengan cepat-cepat.
Sekarang soldadu kita lepas jalan besar, ambil satu jalan, yang kecil, menuju ka sebelah timur laut, terus kepada tempat musuh, sampei dapat suwatu tanah yang terbuka dan tinggi, maka dari situ soldadu kita, yang berjalan di muka, sudah dapat liat banyak orang Aceh, tetapi, sabelom boleh di tembak, dia orang sudah hilang, tinggal satu duwa orang Aceh, yang di liat kepalanya di atas alang-alang, dia orang lekas lari ka timur laut.
Kutika sudah di dapat tau, di mana tempatnya musuh, maka lantas stabelan menembak dengan sangat keras pada orang Aceh itu, yang bersemun di dalam parit-parit dan di dalam lobang-lobang tanah.
Orang Aceh, tiada membales tembakan stabelan itu, sebab takut sama pilocru kita yang besar-besar, lama kalamaan dia orang lari dari tempat itu maka soldadu kita berjalan terus, dapat liat atap di atas alang-alang, dari satu rumah kecil.
Di tempat ini juga ada banyak alang-alang yang tinggi, di sebelah lor ada rimbau sedikit dan pohon aren, dengan rumah-rumah kecil, lain dari pada itu tiada ada apa-apa melainken rumput saja, yang tinggi-tinggi.
Sedikit jau dari situ, ada kebon semangka dan labu dan timun dan tembako dan lain-lain tetanaman.
Pada antara duwa kampung yang kecil itu, adalah sabatang ayer yang kecil, di pinggirnya ada pohon yang tinggi-tinggi, cabangnya hampir rapat kepada ta- nah maka tempat ini, jikalu di liat dari sebelah kidul dan dari sebelah kulon, hampir seperti hutan yang gelap rupanya.
Dari sebelah lor tiada kaliatan apa-apa, melainken hutan yang besar-besar, dan di blakang hutan itu ada gunung Aceh
Soldadu kita, tempo berjalan di tempat ini, tiada di tembakki, tapi juga, turut perkataan orang anteran, sudah hampir kepada bentenpnya musuoh.
Tiada lama lagi, ada di liat sekawan orang Aceh, di liatnya oleh sersyan Ambon, bernama Karuwal, maka lekas di kassi kabar pada Ofsir-Ofsir, maka kolonne kita brenti, tiada jau dari pada suwatu kebon lada.
Kompanyi satu dan Kompanyi duwa dapat prentah misti ambil tempat di pinggir kebon itu, sabelah wetan, Kompanyi ampat ambil tempat di sabelah kulon, stabelan satu batteriy di taroh pada sebelah kiri dari Kompanyi ampat, soldadu perbantuan dan soldadu rumah sakit berdiri di blakang.
Baru soldadu itu berjalan kepada tempat-tempat-nya yang di prentahken, lantas kadengaran bunyi snapan dari kompanyi ampat, itulah tandanya yang prang sudah mulai; dia orang sudah berhantaman sama sekawan musuoh, di sebelah lor dari pada kebon lada, brangkali juga orang Aceh yang tadi itu, yang mana sudah di dapat liat oleh sersyan Karuwal, maka sekarang datang piluru, banyak sekali, dari pada musuh yang di sebelah kiri.
Sebab tembakan ini tiada mau brenti maka tuan kommandan merasa ferlu suruh maju Kompanyi ampat, berhadap-hadapan dengan musuk, dan stabelan dapat prentah misti bantu.
Musuh tiada brenti memasang, tetapi tiada boleh dapat liat orangnya, melainken asapnya di liat maka cuma boleh di sangka saja di mana dia orang ada, dan sebab pilurunya musuh datang dengan ramei, sudah menjadi tentu yang misti ada terlalu banyak musuh di sana.
Sekarang juga kompanyi duwa Kapten Hansen dapat prentah, misti pergi bantu sama kompanyi ampat, maka Litnan Ajudan Kohler berlari-lari, membawa prentah ini, tetapi sabelomnya Kapten Hansen boleh bantu, kompanyi ampat sudah di kepung oleh bangsa Aceh, banyaknya ada kira-kira 250 atau 300 orang.
Tadinya kompanyi ampat sudah maju dengan aturan yang betul. Tuan Litnan satu, bernama Y. Y. A. GAADE, marsyeer sama sectie yang paling di muka. Lain-lain sectie ada turut, 25 atau 30 pas punya jau. Tetapi sectie-sectie masih di dalam perjalan, tiba-tiba datang terlalu amat banyak orang Aceh, berlompat dari pada rumput yang tinggi-tinggi dan dari parit dan lobang-lobang, dengan bertareak- tareak, semuwanya mengepung sectienya tuan Litnan GAADE sama klewang.
Di atas alang-alang sudah penuh klewang, tiada habis di lihatnuya.
Sectie yang di muka tinggal berpasang, dan banyak juga orang Aceh sudah jatoh mati, tapi sectie itu tiada boleh lawan sama musuh, dari sebab kaliwat banyaknya, dan orang Aceh terlalu garang, sampei menginjak injak sama teman-temannya sendiri, yang sudah mati dan yang sudah luka, sopaya boleh memukul pada orang Blanda.
Sectienya tuan Litnan GAADE masih juga mela-wan sama musuh, dengan sungguh-sungguh dan dengan kabranian hati, tetapi kalah, siapa boleh menang kalu musuh sebagini banyak?
Orang Aceh, sekarang tiada brenti menghantam sama sectie itu dengan klewang, seperti orang mengamuk, dan sebab dia orang memang bisa berkalahi sama sinjata itu maka dari pada sectienya tuan Litnan GAADE itu banyakan sudah jatoh, tinggal sedikit soldadu, tetapi sudah mundur dengan tersiar-siar.
Sectie nomor 2 dan 3 sudah di kepung oleh musuh, dengan terkejut, maka duwa sectie itu tiada boleh sampei katempat yang di prentahken oleh tuan Obos, mau tulung sama sectienya tuan Litnan GAADE, tiada boleh pasang snapan, takut nanti kena tembak sama teman sendiri, Stabelan dan soldadu perban- tuan dari benteng juga tiada brani pasang, takut nanti kena sama teman.
Soldadu Blanda biasanya brani, tetapi sekarang jadi bingung. Banyak soldadu Blanda yang mudamuda belom tau berprang, belom biasa dengar rusuh dan tareaknya orang Aceh, kalu berkalahi sama klewang, maka soldadu yang muda itu hilang hati, lantas mundur, soldadu lain meliat itu, juga tu-rut mundur.
Ofsir dan onderofsir kita sampei brani dan sampei juga kasi kommando “jangan mundur, jangan mundur” tetapi tiada kadengaran suwaranya dari pada rusuh orang Aceh, yang semingkin lama semingkin brani maju, kemudian tuan Kapten dapat luka di atas kepalanya, maka menjadi lebih susah.
Hampir-hampir Kompanyi ampat tiada katulungan, rupanya misti mati juga, dan orang Aceh sudah mulai berserak-surak, tiba-tiba datang orang Ambom, satu peloton, tulung menghantam sama bayonet, di bawah prentahnya tuan Litnan van Blumen Waanders, syukurlah orang Ambon sudah datang.
Bermula tuan Litnan van Blumen Waanders dapat prentah misti jaga di tempat lain, tetapi kutika mendapat liat Kompanyi ampat ada di dalam kasusahan maka tuan Litnan itu tiada bernanti lagi, lantas juga pergi tulung sama Kompanyi ampat. Sudah dengar Kommando “voorwaarts orang Am- bon, atakeer“ maka orang Ambon bersurak ”hura, hura“ lekas maju, pergi bantu sama teman-teman dari Kompanyi ampat, maka sekarang bangsa Ambon kepung pada bangsa Aceh, terlalu keras pukulan-nya orang Ambon, sama seperti setan rupanya.
Sambil maju pelotannya tuan Litnan van Blumen Waanders dengan looppas, maka tuan Litnan Gaade ada berdiri di tengah orang Aceh, saling berpukul, bersama-sama dengan korporaal Skhordell dan ampat orang fuselier Blanda, bersama Swier, van Dorp, Maala dan Gabriels dengan satu tukang slompret, bernama Kooistra. Kendati musuhnya terlalu banyak, tapi juga orang Blanda, yang begini sedikit, sudah melawan seperti singa.
Tuan Litnan Gaade sudah matiken bebrapa musuh, kemudian tuan Litnan sendiri kena di tusuk di dalam perut, sama tumbak. Kendati tuan Litnan Gaade sudah dapat luka yang dalam hampir aken mati, tapi juga tuan Litnan itu belom kalah, masih bisa pegang musuhnya, saorang Aceh yang besar dan tinggi itu, di pegang dari jenggotnya, lantas di tusuk pada orang Aceh itu, dengan pedang; sudah itu, Litnan Gaade jatoh di atas bangke-bangke orang Aceh yang dia sudah matiken tadi.
Korporaal Skhordell pake snapannya seperti gada, memalu-malu pada orang Aceh, maka banyak yang kena pukul di atas kapalanya, dan sebab korporaal
Schordell memang kuwat maka lama juga iya bisa tahan, dan banyak orang Aceh sudah jatoh. dengan ancur kapalanya; lama kalamaan korporaal Skhordell kena di hantam sama klewang, di atas kapalanya, maka hilang banyak darah, tiada kuwat memukul dengan keras, sebagimana yang tadi, maka sekarang orang Aceh datang dari blakang, samuwa memukul pada dia di atas kapalanya, sahingga korporaal itu misti lepas snapan, sebab kuwatnya sudah hilang. Kendati begitu, korporaal Skhordell dapat tangkap satu rencong, punyanya saorang Aceh, dan dengan rencong itu dia sudah robek perutnya saorang Aceh ada lagi satu orang Aceh yang dia sudah cekek lehernya, sampe mati.
Kutika sudah senang sedikit, maka di cari sama korporaal Skhordell, dapat sama dia di tengah bangke-bangke musuh, banyak sekali bangke musuh, tetapi korporaal Skhordell sudah kelengar sebab sudah dapat duwa puloh luka di bacok kapalanya, tangan kirinya masih juga memegang lehernya saorang Aceh dan tangan kanannya masih memegang gagang rencong yang sudah tembus di dalam badannya musuh, besok harinya maka korporaal Skhordell meninggal dunia, tetapi namanya terlalu di pujiken sebab tiada mau tinggali ofsirnya di dalam kasusahan.
Sabermula korporaal Skhordell sudah dapat bintang Willems Orde klas ampat, tetapi, kutika korpo- raal itu sudah mati di dalam prang maka namanya di tulis pada buku, seperti sudah dapat bintang klas tiga; itu jadi satu tanda kahormatan yang besar sekali, sebab bintang klas tiga tiada biasa di kassi kepada orang militer yang berpangkat kecil, melainken di kassi kepada ofsir-ofsir yang berpangkat besar, seperti Mayoor dan Obos dan Kornel dan Jendral.
Di dalam prang di rimbau itu, kumbali pula soldadu kita sudah bertunjuk kebraniannya, tetapi beruntung juga tiada banyak yang mati, dan yang dapat luka besar cuma duwa fuselier Blanda, nama Maale, dengan temannya yang sudah di sebut di atas ini.
Tetapi jikalur orang Ambon tiada dateng bantu dengan sakuwat-kuwatnya dan dengan cepat, siapa boleh kata, brangkali samuwa dari pada orang kita dari pada sectie itu sudah mati.
Orang Ambon sudah datang dengan berburu-buru, seperti angin ribut datangnya, maka musuh sudah jadi takut, lantas mundur, kendati temannya banyak, ada lima kali lebih banyak dari pada orang kita.
Lain dari pada itu, di blakang kali sudah datang satu peloton soldadu, di bawah prentahnya tuan Kapten Hansen dan tuan Litnan Muller, maka peloton itu sudah bikin habis ini prang dan sudah usir segala musuh dari pada tempat itu. Sembari mu- suh sudah lari maka di buru dengan looppas dan di tembak pada dia orang, dari blakang.
Dalam tempo itu, maka kompanyi ampat sudah boleh berkumpul kombali.
Selamanya memburu musuh itu, kompanyi duwa sudah ketemu banyak parit dan lobang-lobang dari orang Aceh yang mau melawan di sana, tetapi dia orang tiada kuwat menahan orang Ambon yang sudah maju dengan marah dan panas hatinya.
Maka segala parit dan lobang itu di ambil dan orangnya di bunuh oleh orang Ambon, tetapi orang Ambon belom suka brenti melainken mau “voorwaarts” saja.
Tiada berapa lama, tempat itu sudah jadi gelap dari pada kebanyakan asap, tiada boleh liat satu apa, maka tuan Kapten Hansen takut, kalu-kalu, di dalam gelap itu, musuh nanti datang kombali, aken melawan kita, tetapi orang Aceh tiada datang, rupa-rupanya sudah jadi kaget dan takut.
Dengan bebrapa susah tuan Kapten Hansen misti tahan soldadunya yang selama-lamanya mau maju saja. Sabentar-sabentar slompret kassi dengar commando “halt dan kumpul” barulah Kompanyi duwa tinggal diam.
Sekarang Kompanyi duwa sudah hampir kepada tempat kamana musuh sudah lari masuk, tetapi tuan Kapten Hansen belom kommandeer “voorwaarts, buru sama musuh“ sopaya Kompanyi itu boleh menapas dulu, menunggu lain soldadu yang ada datang.
Di bawah ini adalah di sebut namanya orang Kompanyi duwa yang sudah tunjuk kebraniannya di dalam prang di rimbau itu:
- Sersyan Blanda, bernama Hornstra‘, stambuk No. 21191, dan Sersyan Blans, stambuk No. 18114, dan Sersyan Thiele, stambuk No. 7299 dan Sersyan Brok, stambuk No. 24690.
- Sersyan Ambon, bernama Karuwal, stambuk No. 80987 dan Sersyan Ambon bernama Turang, stambuk No. 84911.
- Korporaal Blanda bernama Feenstra, stambuk No. 19962 dan Korporaal Harcksen, stambuk No 22241.
- Korporaal Ambon Bernama Hooiy, stambuk No. 83945 dan Korporaal Ambon bernama Yacob, stambuk No. 72217.
- Fuselier Ambon bernama Soumokil, stambuk No. 8892, dan Lase, stambuk No. 8538 dan Wattimuriy, stambuk No. 2813, dan Mamankiy, stambuk No. 84266 dan Poiyet, stambuk No. 79700 dan Lamber, stambuk No. 9347, dan Hatusupi, stambuk No. 92841 dan Manusama, stambuk No. 12066, samuwanya orang Ambon.
- Slompret Ambon duwa orang bernama Hawaij, stambuk No. 9381 dan Solihat, stambuk No. 2829.
Slompret Solihat itu, cuma pake gollok, dan selama-lamanya rapat sama Kapten, katanya mau jaga badan Kapten, melainken sakejap mata Solihat ting-galken tuan Kapten pergi menulung saorang Blanda, yang sudah jatoh di dalam alang-alang dengan ber-darah-darah. Maka Solihat, dengan suka sendiri, sudah bertiup slompret, minta datang doktor, jikalu tiada dengan pertulungan Solihat, tentulah soldadu Blanda itu misti mati.
Maka sekarang ini, patut juga kita ceritaken dari pada kelakuannya saorang Sersyan Mayoor Blanda, bernama WOLVEKAMP, stambuk No. 26592, yang memarentahken Sectie No. 4 dari Kompanyi tiga.
Tempo kapten Hansen punya Kompanyi mau kalowar dari pada suwatu tempat yang sempit, di kebon lada, maka Kompanyi itu di tembaki dengan keras oleh musuoh.
Sectie nomor 4 paling dulu datang di sana, lantas di kommandeer front maka Sectie itu berhadap-hadapan sama musuoh, menujuh ke sebelah lor. Bila sudah berpasang salvo bebrapa kali, lantas sectie itu menghantam, maka musuoh lekas lari ka-sungei Pedawa Pontong.
Orang Aceh sudah bersedia di dalam parit-parit dan di dalam lobang-lobang, ada juga yang bersedia di pinggir sungei Pedawa Pontong, sebelah kiri, menunggu datangnya Sectie itu.
Kutika tuan Kapten Hansen meliat, Kompanyi ampat ada mundur dan di buru oleh musuh, maka tuan Kapten kassi prentah supaya Sectie itu di bahgi duwa, satu bahgian di suruh turut sama peloton-nya tuan Litnan Muller, pergi membantu Kompanyi Blanda itu yang di ancamken oleh musuh, dan satu bahgian di suruh tinggal sama Sersyan Mayoor Wolvekamp aken menunggu musuh, kalu datang dari sebelah sana.
Musuh sudah meliat aturan ini, lantas berkumpul kombali di kebon lada, terlalu banyak orang Aceh sudah kaluwar dari pada tempat-tempat sembuninya kiranya gampang boleh matiken Sectienya Sersyan Mayoor Wolvekamp, sebab orangnya cuma sedikit, tetapi Sersyan Mayoor itu tinggal berdiri, kendati satu langkah dia tiada mau mundur, jadi percuma saja orang Aceh mau picahken Sectie itu.
Kalu orang Aceh mau berhantam sama klewang, lantas di pukul kombali, sebab Sersyan Mayoor Wolvekamp berprang dengan aturan yang bagus, maka dari pada musuh itu banyak sekali yang mati dan dapat luka, lantas mundur kumbali, pergi cari tempat sembuniannya yang tadi, tetapi Sersyan Mayoor Wolvekamp tiada diam, dia lekas pergi buru sama musuh hantam sama dia.
Kutika orang Aceh sudah meliat kebraniannya soldadu kita, dia orang jadi terkejut samuwanya pada lari ka-pinggir sungei.
Sampei di sana, datang orang Ambon tusock-menusook sama bayonet, lantas orang Aceh cebur di dalam sungei, hendak menyebrang, tapi banyak sudah mati di dalam ayer, dan teman-temannya pergi lari kasebelah barat laut.
Banyak trima kassi kepada Sersyan Mayoor Wolvekamp, sebab sudah bisa tahan pada musuh di tempat ini.
Coba Sersyan Mayoor itu sudah mundur, atau hilang hati, atau di matiken sama-sama temannya, sunguhpon Kumpeni dapat susah besar, sebab musuh sudah boleh pukul Kompanyi duwa dari sebelah blakang dan boleh langgar pada Kompanyi satu, dari sebelah samping, di dalam kebon lada itu.
Syukurlah! sebab kumpeni sudah menang kumbali dan musuh sudah kalah! sudah lari samuwanya!
Dari pada orang Aceh itu, ada duwa ratius delapan puluh orang yang sudah mati dan dapat luka.
Sebab tempatnya terlalu gelap, susah berprang dari pada kabanyakan rimbau, maka tuan kommandan pi- kir lebih baik pulang saja, jangan memburu pada musuh.
Maka segala soldadu kolonne itu pulang, serta dengan stabelan dan soldadu sapeur dan soldadu rumah sakit sekalian, sampailah di benteng Edi pada jam pukul setengah sapeluh pagi.
Sembari berjalan pulang maka di liat yang segala parit dan lobang, yang sudah di ketemuc tadi pagi, sekarang sudah di tinggali oleh musuh, itulah menjadi tanda yang Kumpeni sudah menang dengan sungguh-sungguh.
Maka segala soldadu kita di trimalah di dalam benteng Edi dengan kagirangan hati dan dengan bersurak-surak.
Sabelomnyia masok di dalam tangsi Kompanyi ampat sudah di atur, buwat kassi hormat kepada orang Ambon dengan presenteer geweer!
Inilah suwatu tanda kahormatan yang amat besar, sungguh orang Ambon tiada nanti lupa itu!
Sungguhpon Kompanyi ampat sudah menang dan sudah usir pada musuh, tetapi di blakang kali iya menyesal juga, kerna apa tiada buru dan bunuh sekalian orang Aceh yang lari itu.
Aken tetapi, dalam bulan Yuli tahon itu juga, kutika yang batalyon tiga pergi mengepung benteng musuh di kota Tuanku, Kompanyi ampat sudah berjanji dengan sumpah hendak menang atau mati.
Kompanyi ampat sudah pegang perjanjian ini, dia orang sudah berprang dengan sungguh, sampei Kumpeni sudah menang dan sudah ambil benteng Kota Tuanku itu.
Kutika sudah habis berprang pada hari 8 Mei tahun 1889, maka bangsa Edi brenti melawan, boleh di kata sudah senang, sebab di preksa kuliling, tiada kalihatan musuh di mana-mana.
Maka pulanglah batalyon tiga ka-negri Kota Raja serta dengan segala balatentara¹⁸ yang sudah turut berprang di negri Edi.
TAMAT.
¹ Balatentara, artinya segala orang prang.
² Berbantah = melawan.
³ Lelah = cape.
⁴ Sunyi = sepi.
⁵ Balatantara = segala orang prang.
⁶ Kerana = sebab.
⁷ Parit = lobang di tanah.
⁸ Jalan raya = jalan besar.
⁹ Tropong = kijker.
¹⁰ Gapah = bisa menuju dengan snapan.
¹¹ Parit == lobang yang sudah gali.
¹² Bungkem == tiada mau kasi api.
¹³ Pamuras = donderbus.
¹⁴ Pujiken = priyzen.
¹⁵ Menjawab—antwoorden.
¹⁶ Kabaelken—tustaan.
¹⁷ Maksudnya—beduling.
¹⁸ Balatentara = segala orang perang.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.