PENGERTIAN YANG TIADA DIMENGERTI
ATAU
KETERANGAN BAGAIMANA ADANYA AKAL—ALAM—AGAMA—ALLAH
R. B. JAYANEGARA
PENGERTIAN YANG TIADA DIMENGERTI
ATAU
KETERANGAN BAGAIMANA ADANYA AKAL—ALAM—AGAMA—ALLAH
karya
R. B. JAYANEGARA
EX. HOOFDJAKSA BATAVIA
BOEKHANDEL TAN THIAN SOE WELTEVREDEN
Augustus 1930
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Genesis II (Schopfungsgeschichte II) 1914, karya Franz Marc
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
PEMBUKA
MOTTO:
“Kalu tahu bukannya tahu,
dan mengerti bukannya mengerti,
manatah tahu yang jadi pengetahuan,
dan mengerti yang jadi pengertian.”
Pembaca yang terhormat.
Siapa juga yang sudah membaca saya punya karangan buku-buku tentang ilmu hukum crimineel, niscaya mendapat keyakinan bagaimana besar gunanya bagi marika itu, yang belum mempelajiari pengetahuan semacam itu, akan menuntut rupa-rupa ilmu buat menambahkan sentosa di dalam kehidopean pergaulan manuesia beramai-ramai.
Demikian pula terlebih penting lagi apabila manuesia, di dalam timpo yang luas sedikit, suka mengambil guna dari segala pengetahuan tentang kepercayaan agama, karana se-sungguhnya kalu ada manuesia yang sangka bahua kehi-dupan di dalam dunia ini, yang lama-lamanya tiada meliinati seratus atau dua ratus tahun itu suatu kehidopean yang penghabisan, niscaya itulah memang persangkaan saja, yang tiada ditimbing dengan pikiran akal-budi yang waras. Karana apabila manuesia suka pakai dia punya perkakas yang mahal harganya, yang dinamai panca-indria dan akal-budi, dengan kelakuan yang tuus dan jujur dan lagi dengan tiada takeot dan tiada malas akan lanjutkan berpikir pada lain waktu, kalu pada masa ini sudah payah octaknya, niscaya dia sedar dan yakin bahua tiap-tiap agama, sedikitnya ada mengandung kebenaran, yang manuesia tiada mamu tulak keperluannya dan kebaikannya, maski pun juga kita tiada sanggup tulak cecatnya yang terkadang timbul dan sampai sekarang belum hilang. Kita ingat saja bagaimana dari dahulu kala tiada habisnya perang-agama, dan bagaimana baru-baru ini timbul cidera antara Hindu dan Islam dan antara Yahuid dan Islam.
Maka Biarpun bagitu, kita jangan lupa bagaimana mulia dan suci tujuannya agama yang dengan susah-payah membayangkan kepada dunia, suatu pengharapan yang membawa kesenangan di dalam kehidopean yang akan datang, yang misih tersembuni di luar pemandangan panca-indria dan di luar akal.
Karana tiap-tiap manuesia putus pengharapan pada kesenangan apa juga, niscaya sia-sialah hideopnya di dalam dunia ini. Dan kalu upamanya ada manusia yang hilang pengharapannya akan beruntung di dalam kehidopean sekarang, bukankah pengharapan untung pada lain timpo, se-sudahnya liwat kematian, menyadi kepuasan di dalam sa-nubari dan menyadi pertahanan menanggung sensara di dalam dunia dengan tulus dan ikhlas?
Oleh karana itulah saya karangkan buku ini, mudahmudahan ada faidahnya bagi sudara-sudara, yang belum mempunyai sempat yang luas akan turut pikirkan tentang adanya agama, bukan dari sebab pengarang sendiri sudah menjadi ahli-pikir akan tetapi sekadar membicarai bagaimana di antara manusia yang berilmu timbul perselisihan tentang pengertian Alam dan Dzat Yang Maha Kuasa.
Pengarang,
R. B. JAYANEGARA.
Weltevreden 18 October 1929.
BAHAGIAN I
Lebih dahelu dari pada membicarakan tiap-tiap hal, ada perlunya kita tentukan ertinya beberapa perkataan yang penting-penting, supaya bagi pembaca jangan berbe-daan pahamnya, karana kalu tiada ditentukan, niscaya boleh jadi ada kalimat-kalimat dan perkataan-perkataan diberi makna atau erti yang berlainan dari maksudnya pengarang, sehingga jadi berlainan lagi pengertian nyya. Adapun keten-tuan makna ini dinamai: definitie, patutlah dipahamkan dengan semporna sebelumnyya diteruskan pembaca kitab ini.
I Kalu kita kata panca-indria, dimaksudkan kemampuannya diri akan melihat dengan mata, mendengar dengan kuping, mencium dengan hidung, merasai dengan lidah, dan merasai dengan sekuujur badan kasar (jabat).
II Kalu kita kata benda atau barang, dimaksudkan apa saja yang didapat adanya oleh salah suatu dari panca-indria tadi, iaitu upama tanah, batu, kayu, aer, u-dara, cahaya, badan manuesia, hewan dan kutu-kutu, serta lain-lain sebagainya, Sekalipun boleh dilihat saja dengan perkakas teropong. Bagitu juga suara dan napas (ambekan), karana maski pun tiada boleh dilihat, tetapi bisa dide-ngar, dan lagi memangnyna napas itu terhitung udara. Akan tetapi jiwa dari manuesia atau dari hewan, tiada dikata benda, karana tiada dapat ditentukan adanya oleh panca-indria.
III Kalu kita kata dzat, dimaksudkan diri yang sebenarnya diri, tiada perduli apa dia itu benda (barang) atau bukan. Maka bedanya benda dengan dzat, adalah tiap-tiap benda ituloh dzat, tetapi bukan tiap-tiap dzat dikata benda. Kalu andai kata, manuesia dan hewan dan puhonan ada punya jiwa, maka jiwa itu boleh dikata saja dzat, tetapi bukanlah benda dan bukanlah barang.
IV Kalu kita kata sipat (sifat), dimaksudkan hal yang berdiri pada dzat. Dari sebab tiap-tiap benda dikata dzat, nyatalah tiap-tiap kita kata sipat, dimaksudkan juga hal yang berdiri pada benda.
V Kalu kita kata thabeat, dimaksudkan sipat yang memang mestinya berdiri pada dzat. Upamanya kalu api mempunyai sipat panas, inilah kita mau pandang yang panas ada suatu thabeat dari api, karana kita belum dapatkan api yang tiada panas. Bagitu juga kalu hayam bertelor dan kambing beranak dikata thabeat, karana kita belum dapatkan kambing bertelor. Dari sebab itu, nyatalah tiap-tiap thabeat ialah juga sipat, tetapi bukan tiap-tiap sipat dinamai tha-beat.—
Keterangan I, II, III, IV dan V:
Adapun definitie I dan II itulah sumbernya il-mu, karana kalu tiada dua perkara itu, niscaya akal tiada boleh kerja akan pikir perkara III, IV dan V. Maka kalu kita memandang satu nona yang cantik dan manis, adalah dirinya nona itu dikata dzat, Adapun cantik dan manis dikata sipat dari dzat. Kalu kita lihat ku-da yang nakal, maka dirinya kuda itulah dzat, Adapun nakal itulah sipatnya. Kalu ada batu yang hitam, besar dan keras, maka dirinya batu itu dikata dzat, Adapun hitam, besar dan keras itulah sipat-sipat dari dzat. Bagitulah kalu puhon besar, adalah “puhon” itu dzat dan ”besar” itu sipat.
Akan pisahkan sipat dari dzat, dan pisahkan dzat dari sipatnya, inilah tiada dapat dikerjai oleh manusia, bukan saja tiada mampu ceraiaken dengan perbuatan, tetapi juga tiada sanggup kita pisahkan dengan pikiran, karana berapa juga putih-kuningnya satu nona, tiadalah kita punya pikiran sanggup pisahkan dia punya diri (dzat) dengan rupanya (sipat) yang putih-kuning. Maka kalu api bersipat panas, melainkan kita boleh kata api itu dzat dan panas itu sipat, tetapi akan pisahkan di antara api dengan panasnya kita tiada sanggup pikiran. Demikian pula kita tiada mampu pisahkan dzat dengan thabeat.
Dan ada lagi yang lebih susah dipikirkan, kalu kita mau menentuken dzat dan sipatnya waktu atau timpo, karana kalu sehari-hari kita yakin tentang adanya waktu, tokh kita belum tahu apa waktu itu dzat atau sipat atau bukan.
Bagitulah kita sangka bahua kita punya diri dengan gampang boleh terpisah dari panca-indria, inilah persangkaan saja. Upamanya kalu seorang buta atau tuli, belum boleh dikata dia punya diri terpisah dari sipat melihat dan mendengar, karana kita tiada sanggup menentuken bahua sipat-sipat itu sudah kelocar dari dalam diri, melainkan kita boleh kata saja yang panca-indria itu sudah rusak, sehingga “tuli” dan ”buta” juga dinamai sipat yang berdiri pada dzat.
Maka Biarpun dzat tiada dapat dipisah dengan sipat dan thabeat antara satu dengan lainnya, akan tetapi ada perlunya dibikin perbedaan, supaya jadi teratur di dalam bicara.
Dengan keterangan di atas, cukulplah kita boleh membedakan apa yang dikata benda, dzat, sipat dan thabeat. Keterangan lebih jauh tentang panca-indria akan tersebut lagi.—VI Kalu kita kata tahu, dimakssudkan pendapatan kita dengan pertulungan panca-indria tentang adanya sesuatu dzat dan sipat, bukan tentang tiadanya.
VII Kalu kita kata ingat, dimaksudkan kemampuan akan menyimpan pendapatan dari tahu tadi tentang adanya dzat dan sipat, bukan tentang tiadanya.
VIII Kalu kita kata kenal, dimaksudkan kemampuan akan menentukan tentang bedanya dan samanya dzat dan sipat di antara satu dengan lainnya, yang sudah diketahui adanya, bukan tentang tiadanya.
Keterangan VI, VII dan VIII.
Kemampeoan manusia akan gunakan panca-indria dan ingatan tiada beda dengan hewan, karana panca-indria dan ingatan selamanya berhubong dengan utak, dan kita tiada boleh mungkir bahua bangsa hewan juga ada punya utak. Sampai di sini derajaat manusia sama dengan hewan. Bagitu-lah kalu panca-indria melihat, mendengar, mencium, mencicipl atau mamegang apa-apa, niscaya manusia dan hewan dengan pertulungan utaknya dapat tahu adanya benda atau barang, dan kalu berkali-kali kejadian bagitu sampai ingat, niscaya manusia dan hewan boleh membedakan antara suatu benda dengan lainnya, maski pun benda itu sudah tiada di hadapannya. Inilah dinamai kenal.
Nyatalah tahu dan kenal melainkan kemampeoan kita dan kemampeoan hewan akan menentukan saja adanya dan gerak-diamnya atau berobahnya apa-apa berhubong dengan panca-indria dan ingatan, akan tetapi bukan sekali-kali kemampeoan akan menentukan tiadanya. Karana maski pun suatu barang atau benda yang dikenal, sudah hilang dari pemandangan panca-indria, belum-lah kita ada hak akan menentukan tiadanya, sebab di-belakangkali kita boleh lihat kombali adanya, dan kalu nanti tiada kelihatan kombali, inilah karana benda itu sudah berobh lain macam, bukan disebabkan dzatnya benda itu hilang dari ada menyadi tiada. Tandanya kalu kita bakar kertas menyadi abu, maka abunya kertas jadi rata sama tanah, inilah dinamai berobah saja, karana kalu kita kata dzatnya kertas itu jadi tiada, niscaya kita menetapkan apa-apa yang kita tiada tahu. Bagitu-lah kalu kita lihat buah manggah yang hijo bergantung dipuhon dan komdian hijonya berganti jadi kuning, tiadalal buah yang hijo itu sudah lenyap diganti dengan lain buah yang kuning, karana kita hanya boleh kata bagitu kalu memang benar kita lihat bertuckarnya. Dan maski pun buah manggah itu kita telan bulat-bulat, belumlah kita ada hak akan menentukan tiadanya, karana maski pun dia masok di dalam perut, bukanlah menyadi ketiadaan, hanya pindah dan gerak, maka Biarpun di dalam perut dia hancur-lebur, sebahagian menyadi darah daging dan sebahagian keluear jatuh masok di dalam tanah, inilah karana berobah melulu, tetapi tetap di dalam keadaan.
Dari sebab itu, tiap-tiap dzat yang kita sudah tahu atau sudah kenal, kita tiada boleh tulak lagi adanya, maski pun sudah mati, atau sudah hilang dari pemandangan panca-indria, karana maski pun manuesia, hewan dan puhonan mati, tiadalah boleh ditentukan habisnya menjadi kosong alias sang tiada.
IX Kalu kita kata pikir, dimaksudkan kita punya akal kerja akan mencari ketentuan tentang adanya, samanya, bedanya, gunanya dan tiadanya dzat dan sipat, yang kita sudah kenal dan yang kita belum kenal.
X Kalu kita kata akal (aqal) dimaksudkan kita punya kemampuan akan mempikir.
XI Kalu kita kata mengerti, dimaksudkan kemampuan akal akan menentukan adanya atau tiadanya dzat dan sipat yang dipikir.
Keterangan nya IX, X dan XI.
Kita perlu membedakan antara tahu dengan mengerti, karana memang jauh bedanya. Lebih dahaelu kita punya panca-indria mesti kerja supaya dapat tahu, komdian ingatan kerja akan mengenal, maka barulah datang gilirannya akal akan mempikir supaya boleh mengerti.
Nyatalah di sini kita membedakan juga ingat dengan pikir, bukan sebab kita mau bilang yang ingatan putuss hubungannya dengan utak-kepala, karana memang semua kemampuan badan mesti berhubeng dengan utak. Akan tetapi bedanya adalah ingatan tiada sanggup kerja kalu ditujukan pada ketiadaan, karana kalu panca-indria dan ingatan melainkan boleh ditujukan pada sang ada melulu, adalah pikiran boleh ditujukan, bukan saja pada sang ada, tetapi juga boleh ditujukan pada dzat dan sipat yang barangkali ada dan barangkali memang nya tiada ada. Dari sebab itu terang sekali deraji tahu lebih rendah dari mengerti.
Maski pun demikian, kita sekarang bukan mau menentukan bahua akal ada punya kemampuan cukup akan mengerti tentang sang ada dan sang tiada, akan tetapi aneh-nya, Biarpun akal tiada mampeo kerja sebelumnya lebih dahaelu dapat pertelungan dari panca-indria dan ingatan, tokh manuesia suka sekali suruh dia punya akal akan pikir tentang sesuatu yang belum dikenal. Lebih tegas lagi: maski pun akal belum mampeo pikir dengan semporna tentang sang ada, tokh akal sudah disuruh pikirkan juga tentang sang tiada. Inilah kiranya perbedaan manuesia dengan hewan.
Maka apabila akal sudah sanggup memutuskan bagini atau bagitu tentang dzat dan sipat yang sudah atau belum dikenal, barulah dinamai mengerti.
Akan tetapi kalu akal sudah tiada sanggup menentuukan atau memutuskan yang demikian itu, dan tiada mampu menetapkan adanya atau tiadanya dzat dan sipat yang dipikir, inilah tandanya manusia tiada mengerti.
Ingatlah baik-baik, tiap-tiap di sini kita kata tiada mengerti, niscaya dimaksodkan tiada mengerti di dalam pengertian aturan akal, bukan tiada mengerti di dalam pengertian aturan bicara dan bahasa. Karana kalu kita tiada tahu bedanya atau kita sengaja tiada perdulikan bedanya aturan akal dengan aturan bicara dan bahasa, niscaya kita tiada tahu atau memang sengaja-ngaja tipu diri sendiri.
Adapun di dalam aturan bicara dan bahasa, cukuplah kita mengerti, apabila kita tahu dan kenal segala nama dari dzat dan sipat yang ditujukan oleh panca-indria dan pikiran, dan tahu lagi bagaimana mesti disesun dan diatur nama-nama itu, yang sudah ditentukan oleh sebutan lidah. Upamanya kalu kita kata: “tadi saya makan nasi, yang dingin,” niscaya enam nama itu dengan rangkaiannya bagitu, menunjukkan bahua: ”manusia sudah telan nasi, bukan ditelan oleh nasi.” Dan lebih terang lagi: “bahoca pada suatu waktu yang sudah liwat, bukan lain orang, tetapi saya, menggunakan gerak bukan diam, akan kasih masok, bukan keluear, nasi bukan koral, dingin bukan panas-panas, dari mulut bukan lobang kuping, ke dalam perut sendiri.” Inilah tandanya yang manusia berkehendak dan perlu kepada nama akan mengambil gu na dari perbedaan nama yang diberi kepada dzat, sipat dan pekerjaaan masing-masing.
Sudah tentu saja aturan bicara ada suatu ilmu yang tinggi deradaynca, karana kalu tiada ilmu bicara, niscaya tiada lain ilmu boleh hidup. Dari sebab itu nyatalah bagaimana pentingnyia ilmu bicaradanbahasa, karana yang demikian itu suatu pertunjukan dari buh pikiran, maka perlu kita belajar bicara lebih dahulu, supaya komdian didapat ilmunya bicara, yang membuka jalan akan mendapat lain macam ilmu.
Demikianlah kalu manusia mau tahu lebih jauh bagaimana gunanya, iaitu bagaimana jahat-baiknya (untung-ruginya) perhubogenan dzat dan sipat yang sudah dikenal di dalam ilmubicara, niscaya mesti dipriksa dengan pemandangan aturan wetenskhap, upama ilmu natuurkunde, skheikunde (khemie), wiskunde, ilmu tarikh, ilmu dagang, tekhnologie dan lain-lain ilmu kepintaran yang banyak lagi namanya.
Akan tetapi kalu manusia mau mengerti bagaimana adanya dan asalnya segala dzat dan sipat yang sudah diketahui dan dirasai gunanya, niscaya tiada cukup kalu dipriksa saja dzat dan sipat yang memang ada, dan juga tiada cukup dengan tujukan pikiran pada dzat dan sipat yang lagi dicari oleh ilmu kepintaran, yang umumnya kira dan sangka bahua kehiduapan manusia di-dalam dunia ini sudah putus bagitu saja apabila kedatangan mati. Maka bukan saja kita mesti priksa dan tilik bagaimana adanya, tetapi juga bagaimana tiadany a dzat dan sipat yang dipikir. Inilah dinamai pengertian ilmu usul, yang biasa dipakai oleh ulama-filsafah di dalam atau di luar agama.
Nyatalah di dalam ilmu bicara dan bahasa, di dalam ilmu kepintaran wetenskhap, dan di dalam ilmu usul, bukan saja perlu dipakai panca-indria, tetapi terutama akal piki rian. Maka di sini kita ulangi lagi bedanya, supaya terang pada pembaca tujuannya pengertian tiga macam di atas ini; pertama: ilmu bicara bermaksud akan mengerti perkataan yang kelua dari akal; kedua: ilmu kepintaran (wetenskhap) bermaksud akan mengerti untung-ruginya iaitu gunanya tiap-tiap keadaan; dan ketiga: ilmu usul bermaksud akan mengerti, bukan saja gunanya, tetapi juga mau mengerti bagaimana asalnya dzat dan sipat yang sudah dirasai untung-ruginya.
Dari sebab itu, kita tiada boleh bantah, yang ilmu usul lebih tinggi derajatnya dari segala ilmu, karana menunjuk-kan manusia tiada puas dengan mengambil untung saja dari sesuatu keadaan, tetapi mau mencari mula asalnya dari mana datangnya untung-rugi. Bukan saja mau tahu jalan nyia boleh didapat untung yang lebih panjang dari kehiduapan di dalam dunia yang sebentar boleh hilang, tetapi juga mau tahu kepada siapa patut berterima kasih.
Sudah tentu saja, ilmu kepintaran, yang mau tahu gunanya segala keadaan, mesti tujukan juga akal nyia pada dzat dan sipat yang barangkali ada dan barangkali tiada, inilah sama juga dengan kelakoannya ilmu usul. Dari sebab itu, ini dua ilmu mesti pakai aturan akal.
Dan kalu manusia punya akal,—sama saja di dalam ilmu kepintaran atau di dalam ilmu usul,—sudah sang gup dan mampu akan menetapkan bagaimana adanya dan tiadanya dzat dan sipat yang dipikir, barulah dikata mengerti di dalam aturan atau ilmu akal, tetapi kalu tiada mampu, inilah tandanya tiada mengerti, karana akal sudah tiada dapat memutuskan.
Maka di dalam ilmu akal, adalah terutama dua jalan yang dipakai bertindak akan mencari dzat dan sipat yang belum dikenal, iaitu pertama dinamai ilmu “analyse“ yang menentukan lebih dahulu dzat dan sipat yang dicari sebagai sudah dikenal, komdian tilik segala thabeatinya yang boleh didapat berhubung dengan dzat dan sipat yang sudah di-kenal; sedang ilmu yang kedua dinamai “synthese” yang ambil jalan sebaliknya iaitu tilik dahulu dzat dan sipat yang memang ada akan dapatkan yang dicari.
Demikianlah ilmu analyse boleh menentukan kebenaran pendapatannya dengan timbangan dilocear panca-indria saja. Upamanya bagini: Adalah kita sudah tahu lebih dahulu tiap-tiap benda, barang (atau badan) tentulah luas, maski pun bagaimana kecinla pasir, mengambil tempat di dalam udara, lebih nyata kalu masok di dalam aer, niscaya aer tergerak akan memberi tempat pada pasir, inilah tandanya tiada ada benda yang tiada luas, apapuela kalu benda yang besar semangkin nyata penuhnya. Maka kita terpaksa mene-tapkan segala benda mempunyai sipat luas, Biarpun kita belum kenal bagaimana macamnyia, tiadalah dapat dibantah luasnya, sama juga tiap-tiap cirkel wajiib bundarnya, tiap-tiap ujung wajiib putunsya, tiap-tiap cahaya tentu terang, inilah tiada usah di-uji lagi, tiada perlu dibookti-kan dengan mata-kepala, karana sipat bagitu dinamai thabeat, yang kebenarannya sudah nyata.
Di sini kita jangan kilru bedanya adat dengan thabeat, karana adat tiada boleh dipegang ketetapan nyia, bukan saja karana bersusun-tindan dan berulang-ulang kejadiannya, upama tiap-tiap lapar karana tiada makan, dan tiap-tiap kenyang karana makan; tetapi ada lapar, maski pun sudah makan, dan ada kenyang maski pun tiada makan; apapuela kalu makan tiada di-ulangi, niscaya kenyang jadi lapar kombali. Inilah tandanya adat tiada memberi kepuasan.
Adalah thabeat memberi ketetapan yang puas. Tandanya kalu kita tarik beberapa garisan di antara dua titik, niscaya kita dapatkan bahua garisan yang lempang itu pendek sendiri, dan garisan-garisan yang tiada lempang niscaya lebih panjang. Dan bagaimana juga kita bikin dan ulangi seribu kali, niscaya tetap garis lempang lebih pendek dari garis yang melengkung atau bingkok, inilah menjadi bukti bahua wajiib lebih pendeknya, mustahil bersamaan atau lebih panjang dengan yang bingkok, dan inilah tandanya thabeat memberi ketentuan. Demikianlah ilmu analyse tiada ber-kehendak kepada bukti, atau dikata juga: tiada berhajat kepada dalil.
Maka berbedaan dengan ilmu “synthese” yang berhajat kepada dalil atau bukti. Adapun gunanya ilmu synthese akan membikin lebih terang keadaannya lain-lain sipat dilocear thabeat yang berdirdi pada dzat. Upamanya kita kata ada cahaya yang merah, ada nona yang manis, ada puhon yang tinggi, inilah bukan thabeat, tetapi sipat yang lumrah, maka perlu ditilik dengan pemandangan panca-indria, karana ada juga cahaya kuning, ada nona yang asam tampang mukanya dan ada puhon yang rendah, tiadalah kita boleh tentukan sebelumnyia dipriksa.
Maski pun demikian, tiada gampang akan dapat tahu apakah suatu timbangan masok di dalam aturan analyse melulu atau synthese melulu. Bagitulah kalu 3 sama 5 niscaya jadi 8, bukan analyse melulu, Biarpun tiada boleh dibantah delapannya, karana sebelumnyia di-uji dengan di-hitung lebih dah ulo e, belumlah kita tahu jum-lahnya delapan.
Dalam pada itu kita mesti berhati-hati dengan ilmu analyse dan synthese itu, karana janganlah lupa, bahua yang dipikir oleh akal ialah dzat dan sipat yang belum didapat oleh panca-indria, iaitu yang barangkali ada dan barangkali tiada. Maka kalu kita menimbang, jangan terlalu diturut kelakuannya setengah dari ahli-ahli filsafah dan ulama-ulama agama, yang terkadang pegang keras akal pikirannya, dan lupa yang akal manusia ada watasnya.
Karana bukankah tiap-tiap kebenaran mesti ditunjuk dengan bukti atau dalil? Dan, andai kata, ada suatu kebenaran yang sudah ditunjuk dengan bukti atau dalil, bukankah bukti dan dalil itu melainkan boleh menunjukkan saja keadaan dzat dan sipat yang sudah di kenal? Inilah sebabnya kita mesti awas, karana acap-kali ulama-agama dan ahli-filsafah timbulkan banyak bukti yang bukan bukti dan banyak dalil yang bukan dalil.
Sampai di sini cukuplah sedikit-sedikit keterangan nyia aturan akal, yang dikata juga huk um-akal. Dan juga sudah terang pada kita bahua segala pengertian bergantung kepada ilmu bicara dan bahasa, maka tiada heran kalu ilmu bicara juga berisi tingkat-tingkat yang cetek dan yang dalam.—
XII Kalu kita kata sangka, dimaksudkan kemaocean akan terima atau tulak adanya atau tiadanya tentang dzat dan sipat yang kita sudah kenal atau belum kenal, dengan tiada pikir-mempikir.
XIII Kalu kita kata percaya, dimaksudkan kemaocean akan menentukan kebenarannya sangka tadi.
Keterangan nyia XII dan XIII.
Kita perlu membedakan pikir dengan sangka, karana sangka memangnyia bukan pikir. Sangka banyak sekali mendatangkan kliriu dan sesat. Bagitulah hewan acapkali menggigit batu, karana disangka makanannya. Adalah manusia lebih suka sangka dari pada pikir, karana pekerjaan pikir memakai banyak tenaga dari utak-kepala, maka tiada heran kalu kita malas berpikir sampai matang.
Demikian pula terbitnya percaya umumnyia dari sangka melulu atau dari kurang pikir. Lain dari bagitu, adalah manuesia gampang dipengaruhi oleh takut, berani, cinta, sayang atau benci, maka Biarpun akal boleh kerja, tetapi kalu sudah kena pengaruhnya napsu yang demikian itu, niscaya pekerjaan mempikir jadi kesandung, tiada beda dengan kuda yang lemas kakinya, atau kapal yang patah kemoodi.
Dan juga perlu kita bicarakan lebih jaeoh apa mulanya timbul sangka dan pikir. Adapun “tahu” boleh didapat saja pada waktunya sendiri, tiada lain waktu, karana apa juga yang sudah kejajan, tetap sudahnya. Upamanya ini hari Selasa apabila sudah liwat, tiada akan timbul lagi, hanyalah yang timbul lain Selasa, bukan itu Selasa yang sudah lalu. Kita punya rambut selembar boleh ter-cabut sekali saja, lain kali boleh dicabut yang tumbuh baru atau lain rambut. Kalu tadi pagi kita makan pertama kali, niscaya ini sore makan kedua kali, maka sampai mati kita tiada dapat lagi akan makan pertama kali.
Oleh karana itu, apabila panca-indria tiada dapatkan suatu kejajan pada waktunya sendiri, niscaya dinamai tiada tahu, dan tetap bagitu sampai mati dan hideop kombali tiadalah kita tahu, sekadar mendengar atau membaca khabarnya, inilah bukan tahu. Itulah sebabnya timbul pada kita sangka dan pikir tiap-tiap kita bermaksued akan menetapkan apakah khabar itu benar atau tiada. Kalu kita terima benarnya, inilah percaya atau yakin namanya, bukan tahu.
Dan dari sebab sangka tiada dengan pikir terhitung malas dan bodoh, tiadalah heran kalu sangka lebih berbahaya dari pada kelakuan orang gila, karana sangka lebih gampang diulur dari pikir.
Nyatalah sangka tiada boleh digunakan menjadi pekasnya hakim, karana merusakkan keadilan, dan mendatangkan kecurangan.
Komdian dari itu, maka apabila manuesia kepingin tahu lebih dahulu apa yang nanti akan kejajan, dan kepingin tahu bagaimana ertinya dia punya pemandangan sehari-hari, niscaya juga timbul sangka dan pikir.
Oleh karana itu, kita jadi terpaksa membedakan yakin dengan yakin.
XIV. Kalu kita kata yakin ada dua ertinya. Pertama: yakin yang terbit dari sangka dan percaya, inilah derajiat yakin yang rendah. Kedua: yakin yang terbit dari pikir yang matang, inilah derajiat yakin yang tinggi. Karana kalu, andai kata, manuesia tiada mempunyai akal, sudah cukup dengan panca-indria dan ingatan melulu, dia boleh yakin tentang adanya benda dan barang yang memang ada, sama saja dengan yakinnya kuda tentang adanya rumput yang masok di dalam mulutnya. Akan tetapi kalu kita mau menentukan apa-apa yang barangkali ada dan barangkali tiada ada, inilah bukan tanggungannya ingatan dan panca-indria melulu, tetapi mesti dibantu oleh akal yang bersih dari segala pengaruh.
Maka kalu di sini kita pecah yakin di dalam dua makna, bukan kita mau bilang di dalam diri ada bertempat dua yakin, tetapi hanyalah akan membedakan macamnya.
XV. Kalu kita kata wajib, dimaksudkan akal tulak tiadanya tentang dzat dan sipat yang dipikir, iaite terima adanya.
XVI. Kalu kita kata mustahil (mokal) dimaksudkan akal tulak adanya tentang dzat dan sipat yang dipikir, iaite terima tiadanya, sehingga jadi lawanan wajib di atas ini.
XVII. Kalu kita kata harus, dimaksudkan akal terima adanya atau tiadanya tentang dzat dan sipat yang dipikir, iaite menentukan boleh ada dan boleh tiada. Maka perkataaan harus juga lawannanya wajib, iaite tiap-tiap harus bukannya wajib, dan tiap-tiap wajib bukannya harus. Bagitulah upamanya kalu tumbuh-tumbuhan boleh tingi dan boleh rendah, inilah harus namanya, maka bukan wajib rata tingginya, dan mustahil rata rendahnya, karana kalu wajib ratanya, niscaya bukan harus rendah-tingginya.
XVIII. Kalu kita kata subyect, dimaksudkan suatu pihak yang menuntu lain pihak.
XIX. Kalu kita kata obyect, dimaksudkan pihak yang ditutut oleh subyect.
Keterangan nya XVIII dan XIX.
Upama rembulan dikata subyect tiap-tiap dia menerangkan bumi, yang di sini dikata obyect, akan tetapi tiap-tiap dikata matahari memberi terang pada rembulan dan bumi, maka matahari dinamai subyect, dan rembulan sama bumi dinamai obyect. Bagitulah kalu kita melihat kelain pihak, maka apa juga yang kita lihat dinamai obyect, Adapun kita atau kita punya mata dinamai subyect. Dari sebab itu, kalu dikata subyect, niscaya itulah pihak yang menuntu, dan kalu dikata obyect itulah pihak yang dituntut oleh subyect. Demikian upamanya kalu kita pikirkan kita punya kambing kebiri yang sudah dicuri orang, maka adalah kita atau pikiran dinamai subyect lagi menuntu obyect yang berupa kambing dan orang pencuri; maka tetkala kambing diambil oleh pencuri, jadilah kambing itu obyect dari pencuri yang pada waktu itu menjadi subyect dari kambing.—
Segala pekerjaan akal, yang telah tersebut dengan ringkas di atas ini, cukuplah kiranya akan menunjukkan bedanya derajat manusia dengan hewan yang sama-sama bernyawa. Oleh karana itu yang tiada beda, hanyalah hakekatnya saja.
Marilah sekarang kita mulai coba uji kita punya akal, supaya sedar dan insaf sampai di mana watas kekuatannya. Lebih dahulu kita mau pikir tentang adanya alam-jagat yang didapat oleh pemandangan panca-indria, karana kalu kita mulai priksa apa juga yang memang kita belum kenal, niscaya lebih susah dipikirnya.
Lagi sekali hendaklah pembaca pahamkan benar-benar keteranganinya segala defenitie yang tersebut di atas tadi, supaya pembaca yang kira-kira sudah mempunyai keperca-yaan keras pada ulama-ulama filsafah dan ulama-ulama agama, atau sudah mempunyai timbangan vooroordel sendiri, boleh gunakan pikirannya dengan adil laitu dengan akal yang bersih dari segala pengaruh. Lebih tegas lagi, janganlah pembaca mengambil putusan sebelumnya kitab ini dibaca sampai pada akhirnya.—
BAHAGIAN II
Sebelumnya kita pikirkan bagaimana keadaan Alam-Jagat, perlu kita priksa lebih dahulu apakah yang dikata lapang atau jebar, supaya nanti lebih gampang kita coba andai-andaikan dengan tegas keadaan alam.
Umumnya dinamai lapang kalu kita punya pemandangan mata boleh jalan terus tiada dihalangi oleh benda yang ada jenisnya. Lebih nyata adanya lapang, apabila kita di tengah lautan memandang ke atas dan diseputarnya diri kita, terlihatlah di antara kita dengan langit atau di antara bintang yang banyak sebagai kosong, maka yang kita kira kosong itu lapang namanya. Dari sebab itu, kita punya pendapatan tentulah lapang itu ada suatu keluasan di mana segala bintang dan bulan (rembulan) dan matahari dan bumi boleh bergerak atau berjalan dengan tiada dihalangi.
Tetapi susah sekali akan menentuukan apakah lapang itulah benar-benar kosong (hempa), atau apakah berisi dengan benda yang terlalu halus. Kalu turut pemandangan mata, niscaya lapang itu kosong, sedang isinya ialah bumi, bulan, matahari dan bintang, maka langit yang biru adalah sebagai watas penghabisanya lapang. Akan tetapi kalu kita sudah tahu yang bumi diliputi oleh udara sampai beberapa jauh tingginya, kita tiada boleh menentuukan bahoca lapang itu kosong. Kalu tiada udara, niscaya tiada angin, dan kalu kita celap botol kosong di dalam aer lantas boleh nyata bagaimana udara yang di dalam botol keluar melanggar aer. Udara itu semacam dzat yang semangkin jauh dari muka bumi semangkin lemuti, hingga semangkin kendor mendihnya ke bumi. Itulah sebabnya kalu orang terbang tinggi, dia boleh tahu berapa tingginya dengan tiada mengukur dengan tali, tetapi dengan pakai perkakas timbangan dari tindihan udara.
Dan lagi kalu upamanya tiada udara, niscaya tiada ada burung yang mampe terbang dan melayang, karana tiada apa-apa yang menahan sayapnya, sama juga ikan tiada sanggup bernang kalu tiada aer.
Akan tetapi orang tiada tahu, apakah udara terus sampai di langit seblah atas sekali dari bumi, maka tiada boleh dipastikan apakah rembulan juga diliputi oleh udara.
Orang boleh bikin kosong udara dengan pertelungan pompa, maka lapang yang kosong bagitu disebut vacuum, akan tetapi maski pun demikian, belum boleh dikata kosong belaka, misih juga ada dzat udara yang ketinggalan. Ada lagi dzat yang lebih halus dari udara, dan ini dzat dinamai atoom yang tiada boleh dipecah lagi, saking halusnya.
Bagitulah belum ada manusia yang boleh menentukan apakah lapangan yang selebar alam ini berisi penuh atau ada yang kosong dan ada yang berisi.
Supaya lebih gampang kita pikirkan tentang alam, baiklah kita andaikan saja bahua Alam-Jagat seantironya tiada kosong sedikit pun, akan tetapi penuh belaka dengan rupea-rupea dzat dan benda kasar dan halus, sehingga maski pun turut pandangan mata ada lapang yang kosong, tokh bukannya kosong, tetapi berisi dengan dzat yang tiada kelihatan.
Oleh karana itu, kalu kita kata alam, dimaksudkan satu dzat saja yang amat besar dan luas berisi udara dan lain benda-benda yang halus dan kasar: upama bumi, matahari, rembulan dan segala bintang-bintang, awan dan segala apa saja yang ada di dalam gubengan atau kelungan langit. Maski pun, andai kata, langit ada tujoh lapis atau delapan atau seribu lapis Sekalipun yang kita tiada bisa lihat, tokh itu semua kita namai alam, sehingga kalu andainya ada langit yang penghabisan, inilah watasnya. Sudah tentu apa juga yang ada di bumi seperti manuesia, hewan di darat dan di laut terhitung alam juga.
Dan kalu sekarang kita sudah berani membikin watas pada langit yang penghabisan, bukanlah karana kita mesti kira yang alam ada watasnya. Yang sebenarnya kita tiada tahu apakah alam ada watasnya atau tiada, akan tetapi dari sebab kita punya panca-indria sudah biasa sehari-hari memandang benda dan barang ada watasnya, maka lebih gampang kalu kita bayang-bayangkan alam ada watasnya atau ada ping-girnya.
Juga tiada salah kalu kita mau andaikan alam pesagi ampat atau pesagi delapan, tetapi lebih cak, kalu kita bayang-bayangkan alam sebagai dzat yang bulat, seperti satu bola yang amat besar. Dan dari sebab perkataan besar itu susah diandaikan, baiklah kita ambil conto yang boleh masok di dalam pemandangan mata saja, maka tiada ada lain conto yang lebih bagus dari pada rembulan-purnama, ia-itu pada waktunya bundar betul, kira tanggal 14-15-16 bulan kita, atau bulan Tionghoa. Maka apa yang kita lihat pada kulit rembulan itu, kita andaikan kulitinya alam, ialah langit yang penghabisan; dan kita andaikan lagi isinya rembulan yang tiada kelihatan, itulah sebagai isinya alam upama segala bintang, matahari, bumi, rembulan dan lapang, karana kalu sekarang kita lagi memandang rembulan-purnama, kita andaikan memandang alam dari luar alam.
Dan kalu kita sudah andaikan bagitu, barulah kita mau priksa dan timbang sendiri, apakah manuesia punya pendapatan, yang satu sama lain berbeda-bedaan tentang keadaan alam, bolel mufakat dengan kita punya akal.
Adapun pendapatan manusia tentang alam sudah tentu bermacam-macam, tiada perlu kita priksa; maka cukuplah kalu kita bicarakan saja pendapatannya ahli-ahli-pikir jempolan, dan diantaranya adalah lima-patokan (stelling) yang pantas kita pikirkan akan uji kita punya akal sendiri dan pilih yang mana kita suka turut atau mufakat.
Dan lima patokan itu ada tersebut di bawah ini: A Alam berdiri dengan sendirinya. B Alam jadi dengan sendirinya. C Alam berdiri di dalam dzat yang berdiri dengan sendirinya. D Alam ada sipat dari dzat yang berdiri dengan sendirinya. E Alam dijadikan oleh dzat yang berdiri dengan sendirinya.
Di dalam patokan A dan B kita melainkan pikirkan alam saja, Adapun di dalam patokan C, D dan E kita punya pikiran bukan saja ditujukan pada alam, tetapi juga mesti ditujukan pada apa-apa di luar alam.
Dan sekarang kita mau priksa lebih jauh satu-satunya patokan itu sedalam-dalamnya.
A. ALAM BERDIRI DENGAN SENDIRINYA.
Maka apa juga yang berdiri dengan sendirinya, sudah tentu mesti dinamai dzat, dan dari sebab itu nyatalah di sini alam di-ertikan suatu dzat.
Tiap-tiap dzat berdiri dengan sendirinya, niscaya tiada berkehendak (tiada perlu) kepada laininya dan tentu saja dia punya a da tiada disebabkan dengan suatu sebab, ertinya adanya tiada ditulung dari luar. Dan kalu adanya tiada ditulung oleh laininya, niscaya waji b adanya, karana kalu harus adanya, niscaya timbulnya mesti ditulung dari lain pihak, maka bukanlah berdiri dengan sendirinya. Nyatalah erti berdiri dengan sendirinya iaitu waji b adanya, bukan harus adanya, karana kalu harus adanya, niscaya boleh ada dan boleh tiada, maka bukanlah waji b adanya.
Dari sebab itu, terang sekali maksudnyia di sini bahua alam bukan harus tetapi waji b adanya. Dan tiap-tiap wa-jib adanya, sudah tentu memang selama-lamanya sudah ada, bukan tadinya tiada, dan niscaya tiada mula zammannya atau waktunya. Dan tiap-tiap tiada permulaan zammannya, niscaya tiada kesudahan panjang zammannya iaitu niscaya kekal langgeng adanya, karana kalu ada mulanya dan ada habinsya, niscaya dari tiada berubah jadi ada, dan dari ada berubah jadi tiada, maka kalu berubah-robah bagini, seben-tar tiada sebentar ada, niscaya bukan waji b tetapi harus adanya. Lain dari itu tiap-tiap tiada mulanya dan tiada habisnya, niscaya tiada watasnya, tiada pinggirnya, tiada berwatas dengan kosong, tiada pokoknya dan tiada ujungnya, tetapi penuh belaka, karana tiap-tiap tiada penuh, niscaya ada pinggirnya dan ada watasnya yang berwatas dengan kosong.
Maka nyatalah ertinya alam berdiri dengan sendirinya, dimaksudkan bahua alam wajiib adanya, tiada mulanya, tiada habinsya, tiada berpinggir, tiada berwatas dengan kosong, tetapi penuh belaka.
Akan tetapi keadaan dzat yang bagitu macam, kita tiada dapat bayang-bayangkan dan tiada sanggup pikirkan dengan kita punya akal. Karana kalu kita mau ambil conto dari macam rembulan purnama yang sedang bundar, ialah conto yang gampang buat pemandangan, niscaya kita punya pikiran mesti melembengkan rembulan itu sampai beribu-ribu yuta kali besarnya, sehingga tiada kelihatan lagi bundarnya dan pinggirnya. Dan buat bayangkan penuhnya alam yang tiada berwatas dengan kosong, sudah tentu kita punya pikiran mesti melembengkan alam ini beribu-ribu yuta kali lebih luas dari watas langit yang biru, niscaya kita punya pikiran mesti mandeg. Sedangkan kita mau bayangkan besarnya bumi saja yang misih ada watasnya, sudah tiada sanggup, apapua mau bayangkan besarnya alam ini sampai beribu kali luasnya dengan tiada berwatas.
Dari sebab itu, nyatalah patokan A yang bagini rupa, tiada mampu dibayang-bayangkan oleh pikiran manusia, karana tiada didapat suatu conto yang sedikit saja boleh dibandingkan dengan pemandangan semacam itu.
Maka kita yjadi terpaksa tiada mufakat dengan patokan A bahua alam berdiri dengan sendirinya; sebab beberapa juga kita panjangkan kita punya pemandangan dan pikiran, akan tetapi kita punya akal tiada sanggup buat mengerti keadaan dzat yang penuh tiada berpinggir dan tiada berwatas.
Bukan itu saja, akan tetapi kita punya akal juga mesti tulak sesuatu keadaan yang tiada disebabkan oleh suatu sebab, maka mustahil alam punya ada tiada dida-hulul oleh sebab, dan mustahil juga berdiri dengan sendirinya.
B. ALAM JADI DENGAN SENDIRINYA.
Adapun patokan B ini jauh sekali bedanya dengan A tadi, karana tiap-tiap dikata yjadi, niscaya asalnya dari tiada.
Dan dari karana di sini dikata yjadi dengan sendirinya, maka mesti di-ertikan bahua alam sendirinya sudah yjadi, tiada dengan pertelulogen dari lain pihak, tetapi sendirinya dari tiada menyadi ada, tiada disebabkan dengan suatu sebab.
Jikaludemikian, niscaya wajib jadinya atau timbulnya, karana kalu harus jadinya, niscaya boleh timbul dan boleh tiada timbul. Dan kalu dia wajib timbulnya dari tiada, berobah jadi ada, niscaya dia mempunyai kemampuan sendiri dari kosong jadi berisi.
Adapun pengertian yang bagini rupa membikin kita lebih heran lagi, karana terlalu susah dipikirkan. Kita punya akal tiada sanggupe terima bahua dzat yang tadinya tiada ada, sendirinya wajib pindah menjadi ada, karana kita melainkan boleh pikir tiap-tiap tiada, niscaya tetap di dalam keetiadaan, dan tiap-tiap ada tetap di dalam keadaan. Karana tiap-tiap tiada, bukannya ada, dan tiap-tiap dikata ada, bukanlah tiada; maka mustahil sekali “sang tiada” sendirinya wajib berobah menjadi ”sang ada.”
Oleh karana itu, tiap-tiap sesucatu yang tadinya tiada, sudah pindah menjadi ada, niscaya harus tiadanya dan harus adanya, iaitu boleh ada dan boleh tiada, dan kalu andainya dari tiada pindah jadi ada, inilah bukan wajib jadinya atau timbulnya, tetapi harus saja timbulnya. Maka kalu harus timbulnya, niscaya timbulnya bukan dengan sendirinya tetapi wajib dengan pertulungan dari luar.
Di atas tadi kita sudah kata bahua tiap-tiap tiada, niscaya tetap tiadanya. Baiklah kita unjuk lebih terang apa sebabnya. Kita tiada bisa mungkir bahua tiap-tiap tiada atau ketiadaan, niscaya kosong (hempa) karana kalu berisi tentulah bukan tiada. Maka kalu sang-tiada boleh timbul sendirinya jadi sang-ada, niscaya sang-kosong sendirinya boleh jadi sang-isi, inilah mustahil; karana kalu sang-kosong boleh sendirinya jadi sang-ada, niscaya sang-kosong ada punya kekuatan sendiri, inilah heran sekali, karana sang-kosong sama juga ketiadaan, maka mustahil ketiadaan itu mempunyai sipat kekuatan, karana tiap-tiap sipat mesti berdiri pada dzat atau pada keadaan.
Maka cara bagaimanakah, “sang-tiada” ada punya kemampuan sendiri akan timbul menjadi ”sang-ada,” kalu tiada ditulung dari luar? Karana sang-tiada memangnya bukan dzat dan bukan sipat, dan tiap-tiap bukan dzat dan sipat, tentulah bukan apa-apa yang ada, tetapi kosong me-lulu atau ketiadaan.
Dan, andai kata, sang-tiada boleh berobah-obah, niscaya berobahnya melalinkan dari tiada kepada tiada. Bagitulah juga sang-ada kalu berobah, selamanya dari ada kepada ada, iaitu menyadi lain rupa keadaan, bukan berobah menjadi sang-tiada, karana kita belum dapatkan satu conto, bahua sang-ada sudah berobah jadi sang-tiada, hanyalah bersalin rupa saja. Dari sebab itu, kita melainkan boleh terima berobahnya sang-tiada menyadi lain rupa ketiadaan, karana kalu ada, tetap adanya; niscaya tiada, tetap tiadanya. Akan tetapi kita sekarang lebih heran lagi, cara bagaimana sang-tiada boleh berbeda-bedaan dan bermacam-macam, karana kalu bagini, niscaya ada beberapa banyak macam ketiadaan, inilah mustahil, karana maski pun kita banyak dapatkan conto macam-macam sang-ada, belumlah kita dapatkan bagaimana rupanya sang-tiada, maka kita tiada ada hak akan pikir tentang rupa-rupa ketiadaan, atau dengan lain perkataan: kalu manusia mau pikirkan tentang macamna rupa-rupa ketiadaan, niscaya dia punya pikiran mesti mandeg (berhenti).
Nyatalah sekarang bahua sang-tiada tetap tiadanya, dan mustahil ada. Dan kalu upamanya sang-tiada boleh pindah atau berubah jadi ada, niscaya bukan waji, akan tetapi harus tiadanya dan harus adanya. Dan tiap-tiap harus adanya, niscaya dia punya ada, waji dengan pertulungan dari lain pihak, maka bukanlah jadi dengan sendirinya.
Dari karana itulah, kita punya akal mesti tulak ini patokan B yang alam jadi dengan sendirinya. Dan kita sekarang lebih gampang mufakat dengan patokan A bahua alam bukan asal dari tiada, tetapi memangnya ada berasal dari ada, tiada mulanya dan tiada habisnya, iaitu berdiri dengan sendirinya.—
C. ALAM BERDIRI Di dalam DZAT YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA.
Adapun patokan C ini juga beda sekali dengan A dan B, karana di situ kita punya pikiran ditujukan saja pada dzatnya alam, tetapi di dalam pengertian C ada lagi lain dzat yang berhubung dengan alam, maka sekarang kita mesti pi-kirkan dua dzat, iaitu satu dzatnya alam dan satu dzat lain.
Apa ertinya berdiri dengan sendirinya, kita sudah tahu dari patokan A, iaitu waji adanya, tiada permulaan, tiada penghabisan waktunya, tiada berwatas, tiada berpinggir, ialah suatu dzat yang kekal dan penuh belaka..
Waktu kita habis membicarai patokan A, kita tiada mufakat dengan adanya dzat yang berdiri dengan sendirinya, karana kita punya pikiran tiada sanggup bayangkan dzat yang penuh dengan bagitu.
Akan tetapi dari sebab kita mau priksa patokan C ini, baiklah kita terima saja adanya dzat yang berdiri dengan sendirinya, supaya kita boleh pikirkan cara bagaimana alam ini berdiri di dalam dzat yang berdiri dengan sendirinya.
Marilah sekarang kita pikir! Kalu alam ini memanng berdiri di dalam dzat lain, yang berdiri dengan sendirinya, niscaya alam juga memang sudah ada berbareng sama lain dzat itu, sehingga ada dua dzat yang penuh, tiada permulaanna dan tiada penghabisannya berhubung jadi satu. Maka kita tiada habis pikir dan tiada habis heran, cara bagaimana ada lebih dari satu dzat yang sama-sama tiada punya watas dan sama-sama tiada punya pinggir, boleh ada berbareng. Karana kalu adanya bagitu, niscaya berbareng ada dua dzat yang sama-sama tiada punya watas, inilah mustahil.
Supayya lebih terang mustahilinya, kita mesti ambil conto yang gampang, upamanya aer. Kita sudah tahu bahua aer tiada mempunyai vorm (bangun) sendiri, tetapi turut bangunnya tempat, yang dipakai mengisi aer. Kalu kita isi satu botol dengan aer, niscaya aer itu kelihatan sebagai satu benda melulo yang mempunyai vormnya botol. Dan kalu kita mau pisahkan aer, upamanya biar jadi dua benda, niscaya kita mesti tuang sebahagian di lain tempat, inilah namanya kita mesti bikin watasnya di antara satu benda aer dengan lain benda aer. Bagitu juga kalu kita andaikan antiro alam ini berisi penuh dengan aer melulo, niscaya kita mesti bikin dinding di tengah, buat pisahkan aer itu menyadi dua, tentulah jadi berwatasa satu sama lain. Di sini sudah terang, bahua di antara dua dzat mesti ada watas, maski pun bagaimana halusnya, wajiib berwatasa; dan apabila dzat tiada mempunyai watas, niscaya dzat itu penuh satu melulo, mustahil ada dua, sehingga wajiib penuhnya dan wajiib lagi kesatuannya atau tunggalnya.
Oleh karana itu kita punya akal mesti tulak adanya dua dzat yang berbareng berdiri dengan sendirinya. Maka patokan C ini kita mau ertikan lain rupa, iaitu bahua alam timbulnya belakangkali di dalam dzat yang berdiri dengan sendirinya. Dan kalu bagini, kita juga belum mengerti, cara bagaimana alam boleh timbul di dalam dzat yang sudah penuh tiada berwatasa. Karana kalu alam datangnya belakangkali, dari manatah datangnya? Karana di luar dzat yang penuh, melainkan ada itu satu dzat sendiri yang memang sudah penuh tiada berwatasa, niscaya tiada ada apa-apa lagi yang boleh dibikin jadi alam, maka nyatalah juga bahua alam ini bukan bertempat di luar lain dzat yang berdiri sendirinya karana sudah penuh lebih dahulu. Bukan bagitu saja, tetapi juga di dalam dzat yang penuh tiada boleh bertempat alam, karana memangnya tiada ada lagi tempat yang kosong.
Dari sebab itu, kalu andainya patokan C dimaksoodkan alam jadinya belakangkali dari dzat yang berdiri dengan sendirinya, kita juga tiada mufakat, karana kalu dzat yang penuh bisa bertambah, niscaya bisa melembung dan kempes, inilah mustahil, karana kalu bagitu, niscaya bukan penuh, tetapi misih ada tempat yang kosong.
Dan kalu di sini dimaksudkan alam ada sebahagian dari dzat yang berdiri dengan sendirinya, maka kita juga tiada mengerti cara begaimana dzat, yang penuh yang tiada berpinggir, boleh terpecah jadi dua bahagian, karana kalu boleh terpecah, niscaya mesti ada lagi lain dzat yang menjadi dinding atau watas di antara pecahan itu maka dari manatah boleh datang itu dinding? Dan maski pun tiada ada dinding, wajiiblah di antara pecahan itu ada tempat yang kosong sebagai watas. Maka tiap-tiap tiada ada lain dzat sebagai dinding dan tiada tempat yang kosong, niscaya mustahil terpecahnya, padahal tiap-tiap ada dzat yang penuh, tiada berwatas dan tiada berpinggir, niscaya tiada tempat lagi buat lain dzat atau tempat yang kosong.
Sekarang kita melainkan boleh andaikan saja yang maksudnya patokan C bahoae alam ini bercampur-adu k dengan dzat yang berdiri dengan sendirinya. Kalu bagini, sama juga dikata yang alam berdiri dengan sendirinya seperti patokan A, karana menurut kita punya pemandangan panca-indria, memang alam ini ada socatu campuran-aduok dari beribu-ribu dzat yang bermacam-macam, maski pun kita tiada ada hak akan menentockan di antara sebanyak dzat itu ada tempat yang kosong.
Akan tetapi tetkala kita habis mempikirkan patokan A diseblah atas tadi, kita lebih daheloce sudah tiada mufakat. Dan andai kata, kita mufakat dengan patokan A tentang adanya dzat yang berdiri dengan sendirinya, tokh sesudahnya kita pikirkan panjang-lebar tentang patokan C, kita punya akal tiada mufakat bahoae alam ini berdiri atau ada di dalam dzat yang berdiri dengan sendirinya.
Dari sebab itu, kita terpaksa tulak ini patokan C.
Lain dari itu kita sendiri mau coba pikir, yang alam ada di dalam dzat yang tiada berdiri dengan sendirinya, niscaya ini dzat mesti berdiri di dalam lain dzat lagi, bagitulah seterosnya bertumpuk-tumpuk dan berlapis-lapis, tiada hingganya, maka kita punya pikiran mesti mandeg.—
D. ALAM ADA SIPAT DARI DZAT YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA.
Adapun patokan D sedikit saja bedanya dengan C, karana kalu C pandang alam ini socatu dzat, adalah D maksudkan alam bukan dzat, hanyalah sipat dari dzat yang berdiri dengan sendirinya.
Kita sudah tahu dari definitie IV, bahoae tiap-tiap sipat, niscaya berdiri pada dzat, maka kita tiada kenal sipat yang berdiri dengan sendirinya, ertinya tiada ada sipat melainkan kalu ada dzat.
Nyatalah maksudnya patokan D bahua alam ini tiada berdiri dengan sendirinya, tetapi berdiri pada dzat, dan dzat inilah yang berdiri dengan sendirinya.
Apa erti berdiri dengan sendirinya kita tiada usah ulangi lagi di sini. Dari sebab itu, terang sekali bahua patokan D tiada beda dengan C, hanyalah bedanya tentang sebutan alam adalah di sini dipandang sebagai sipat, yang tiada mempunyai kekuatan sendiri.
Maski pun demikian, kita juga tiada sanggup pikirkan, bagaimana benda yang sebesar alam ini dikata sipat, karana kalu alam ini hanya sipat, yang manatah dzatnya? Karana kita belum dapatkan sipat yang terpisah dari dzat. Dan kalu tiada terpisah di antara dzat dan sipat, niscaya dia juga sipat dan dia juga dzat, niscaya sama saja kalu dikata bahua alam ada socatu dzat yang mempunyai sipat akan berdiri dengan sendirinya, tiada diseabbakkan dengan suatu sebab.
Nyatalah, yang kita boleh ertikan juga maksudnya patokan D ini, ialah alam ini kasarnya, sedang dzat yang berdiri dengan sendirinya itulah halusnya atau jiwanya. Dan kalu bagitu, kita jadi balik lagi pada pengertian patokan A atau C, maka bukan kita semangkin mengerti, tetapi kita jadi terputar di situ-situ juga. Apa-pula kalu kita coba pikirkan perkara halusnya atau jiwanya alam, niscaya kita punya akal tiada mampu bekerja.
Dari sebab itu, kita juga tiada mufakat dengan patokan D.
E. ALAM DIJADIKAN OLEH DZAT YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA.
Adapun menurut patokan E ini, bukan alam jadi dengan sendirinya seperti kita lihat di dalam patokan B, akan tetapi alam dijadikan asal dari tiada, berobah jadi ada dengan pertulungan atau dengan sebab dari lain pihak. Dan ini sebab dari lain pihak dinamai dzat yang berdiri dengan sendirinya, maka kalu E dibandingkan dengan A, adalah menurut A bahua alam sendiri dipandang sebagai dzat yang berdiri dengan sendirinya, akan tetapi menurut E tiadalah alam mempunyai kekuatan dan kekocasaan sendiri, hanyalah bergantung atau berkehendak kepada lain dzat.
Lebih daheloce kita sudah tulak patokan A dari karana kita punya akal tiada sanggup bayangkan bagaimana alam tiada permuaan, tiada penghabisan, tiada berwatas, dan tiada berpinggir. Dan kita tiada mufakat sama patokan B, karana kita tiada mengerti bagaimana sang-kosong ada punya kekuatan sendiri akan berobah menyadi sang-ada dengan tiada ditulung dari luar, maka kalu upamanya sang-tiada sudah berobah menyadi sang-ada, niscaya wadzib ada lain dzat yang sudah bikin dari tiada kepada ada.
Dari sebab itu, timbullah persangkaan, bahua patokan E ini lebih gampang dimengerti, karana apa juga yang kita dapatkan, niscaya didaheluloi oleh sebab.
Bagitulah juga upamanya agama Kristen dan Islam sudah bayang-bayangkan suatu Dzat Yang Maha Kuasa, yang kita kaum Muslimin namai Allah. Dan Allah itulah yang sudah jadikan alam ini dari tiada dibikin ada. Inilah kita jangan heran, karana kalu manusia sehari-hari melihat kejadiannya rupa-rupa benda dan barang dengan dibikin lebih dahelulu, niscaya disangkana alam mustahil ada dengan sendirinya. Bagitulah tiap-tiap ada surat, niscaya ada yang menulis, tiap-tiap ada tapak kaki macan, niscaya ada macan-nya dan tiap-tiap ada orloji yang menunjuk jam, niscaya ada tukangnyya yang membikin. Dan itulah sebabnya, kita sangka bahua Gusti Allah sudah membuat alam ini, sebagai tukang membikin perabot meja, krosi dan lain barang. Bagitulah upamanya timbul cerita tetkala Gusti Allah membikin manusia pertama iaitu Kangjeng Nabi Adam, dibikinnya dengan tanah, aer, api dan angin. Dan ini juga sebabnya, kita andai-andaikan Allah sebagai sipatnyia manusia yang luar biasa, yang keliwat sakti dan kuasa, sehingga apa juga maunya mesti jadi. Cobalah baca tafsir (salinan) dari Biybel dan Alqoran, bagaimana dibayangkan Allah sebagai Raja yang bertakhta di atas langit, disembah oleh beribu-ribu malaekat yang sehari-hari menunggu perentah akan atur ini dan atur itu. Lihatlah, apabila Allah mau bikin apa-apa, sudah cukup dengan satu patah kata saja lantas jadi.
Maka kalu Allah diandaikan bagitu, bukanlah patut jadi ketawaan orang, karana manusia memang tiada dapat lain jalan akan bikin bandingan apa juga, hanyalah mengambil conto dari apa-apa yang ada di dalam pemandangan-nya. Karana apakah ada lagi lain conto yang lebih bagus dari kebesarannya Raja di muka bumi ini? Maka bedanya kalu raja-raja di dalam dunia ada mulanya dan ada habis-nya, ada hidupnia dan ada matinya karana bergantung pada kekucasaan dari lain pihak, adalah Allah tiada mulanya, tiada habisnya, tiada matinya, tetapi hidup kekal selama-lamanya.
Pengarang buku ini belum mempelajari bagaimana pengertiannya agama Kristen sedalam-dalamnya tentang dzat dan sipat Allah, akan tetapi di dalam agama Islam memang terdapat perbedaan paham di antara pelajaran dan peguruan mengenal sipat-sipatnyia Allah. Maski pun demikian, tiadalah ada perselisihan pengertian di antara ulama-ulama Islam tentang Allah berdiri dengan sendirinya dan tentang alam dijadikan oleh Allah. Dari sebab itu, sudah terang sekali ini patokan E, yang sekarang kita mau priksa, dipakai juga oleh agama Islam.
Marilah sekarang kita pikir, apakah kita punya akal boleh terima alam dijadikan oleh Dzat yang berdiri dengan sendiri-nya. Lebih daheloce memang mufakat pada akal, tiap-tiap-dzat berdiri dengan sendirinya, niscaya dzat itu ada punya sipat kuasa, iaitu ada punya kekuatan sendiri akan diguna-kan sesukanya. Dengan sekejap mata, kita lantas timbul napsu akan terima alam ini dijadikan oleh Gusti Allah, karana kalu upamanya Dia tiada mampu bagitu, bukanlah Dia mempunyai sipat kuasa, maka inilah mustahil sekali. Kalu manusia sanggup membikin apa-apa, mustahil Allah tiada mampu membuat alam.
Akan tetapi apabila kita suruh kita punya akal kerja terus, kita sendiri jadi tercengang, heran dan getun, karana dengan pikir-mempikir, kita merasa tiada pocas dengan conto bikinan manusia. Bagitulah kalu kita bikin apa-apa, sudah tentu mesti ada lebih daheloce bahannya. Kalu bikin rumah, mesti sedia kayu, batu, bambu, pasir, kapur dan sebagainya. Dan kalu bahan tiada ada, kita tiada mampu bikin socatu apa. Kalu ahli syi-hir atau tukang sulap mau tunjuk kapandaannya, tiada luoput dia sedia apa-apa yang kita tiada lihat, tetapi memangnya sudah ada. Bukan manusia saja perlu sama bahan, tetapi juga Tuhan Allah perlu ambil tanah, aer, api dan angin buat bikin Adam. Maka dari manatah Allah sudah dapat bahan akan membikin alam yang sebesar-besar ini?
Barangkali ada Moslim yang jawab bahua bahannya alam ialah Nur-Mohammad, maka kita bertanya lagi dari mana asalna Nur atau Khayaya itu? Dan kalu dijawab asal dari Dzat atau sipatnya Allah, kita jadi balik lagi ke dalam patokan C dan D. Bukan itu saja, tetapi juga kalu bagini, niscaya alam berasal dari ada. Dan kalu alam berasal dari ada, niscaya bukan harus adanya tetapi wajib adanya.
Dari sebab itu, menurut patokan E ini, Biarpun alam dijadikan dengan pakai bahan, akan tetapi bahan itu tadinya tiada ada, karana kalu bahan sudah ada berbareng dengan Allah, niscaya bukanlah Allah itu Dzat yang berdiri dengan sendirinya dan bukanlah wajib adaNya. Karana Dzat yang wajib adanya, niscaya wajib sendirinya Suatu Dzat Yang Pertama, maka mustahil adanya berbareng atau berdua dengan lainnya.
Maka terang sekali di sini dimaksudkan bahua alam dijadikan dari sang-tiada timbul kepada ada, iaitu dengan kekuatan nya Dzat yang berdiri dengan sendirinya.
Akan tetapi berapa jauh juga kita pikirkan, kita belum mengerti, carra bagaimana sang-tiada boleh ditimbul-kan jadi sang-ada, Biarpun dengan pertulungan dari luar, karana sang-tiada itu memangnya ketiadaan alias kosong alias hempa. Maski pun Dzat yang berdiri dengan sendirinya ada punya sipat kekuatan, kita tiada habis pikirkan bagaimana-tah kekuatan itu boleh kerja di dalam lapang yang kosong belaka, kalu kekuatan itu tiada masok lebih dahulu di dalam tempat yang kosong tadi? Ini pertanyaan mesti dimajukan, dari sebab kita andaikan bahua diluear Dzat yang berdiri dengan sendirinya tetkala belum timbul alam, misih ada tempat yang kosong, maski pun kita tiada mengerti bahua di sebelah dzat yang penuh belaka, boleh ada lapang yang kosong. Dan kalu andainya kekuatan itu masok di dalam lapang yang kosong tadi akan bikin sang-tiada jadi sang-ada, niscaya sipat kuat tadi mesti terpisah dari Dzat yang berdiri dengan sendirinya, inilah mustahil, karana kita belum mengerti bagaimana suatu sipat boleh terpisah dari dztanya dengan tiada merubahkan dzat, maka kalu andainya sipat kuat terpisah dari dztanya, niscaya dzat itu berubah jadi lemah, inilah mustahil bagi Dzat yang berdiri dengan sendirinya. Dan kalu maeo dikata Dzat itu atau Sipatnya masok antironya di tempat kosong tadi akan bekerja, niscaya Dzat itu berpindah-pindah atau sebentar melembeng dan sebentar kempes, inilah juga mustahil bagi Dzat yang berdiri dengan sendirinya.
Sampai di sini kita andaikan saja bahua diluear Dzat yang berdiri dengan sendirinya misih ada tempat yang lapang dan kosong. Padahal ini mustahil, karana kalu ada kosong, niscaya Dzat itu ada mulanya, ada habinsya, ada watasnya dan ada pinggirinya. Maka oleh karana itu, tiap-tiap kita maeo terima adanya Dzat yang berdiri dengan sendirinya, niscaya kita tiada boleh tulak penuh-sesaknya Dzat itu, sehingga kita mesti terima tiada ketinggalan lagi lapang yang kosong. Dan kalu memang sudah penuh bagitu, niscaya tiada boleh ada lagi lain dzat, berapa juga halusnya, apapula dzat yang sebesar alam ini, mustahil boleh ada.
Sekarang kita terpaksa pilih saja salah suatu dari dua putusan di bawah ini:
1e Kalu ada dzat yang berdiri dengan sendirinya, niscaya tiada ada lapang yang kosong, karana sudah penuh belaka. 2e Kalu ada lapang yang kosong, melulue (hempa belaka), niscaya tiada suatu dzat-pun ada, karana kosong itu suatu ketiadaan.
Dari sebab itu, kalu kita pilih kosong, niscaya mesti tulak adanya sesuatu dzat dan tulak juga adanya alam. Akan tetapi kita tiada sanggup tulak adanya alam, karana sudah nyata adanya. Maka terpaksa kita terima adanya dzat yang penuh, yang berdiri dengan sendirinya, dan ini dzat yang nyata adanya, melainkan alam sendiri, sehingga kita terpaksa membenarkan patokan A tentang alam berdiri dengan sendirinya, dan terpaksa tulak adanya lain dzat, tiada perduli apa lain dzat itu dinamai Allah atau bukan.
Lihatlah bagaimana sekarang kita jadi terjepit dan terjirat, tiada boleh lolos atau terlepas dari jepitan dan ika-tan. Maski pun demikian kita belum putus harapan akan uji kita punya akal. Dan satu-satunya jalan, yang kita boleh coba, hanyalah kita mesti andaikan bahua alam ini, yang sudah nyata adanya, bukan penuh belaka, akan tetapi berwatas dengan kosong, sehingga kita mesti coba bayangkan socatu pemandangan yang sebahagian berisi dan sebahagian kosong. Dan kita mesti ambil gampangnya dengan andaikan memandang rembulan purnama, dan kita mesti hilangkan dari pemandangan tiap-tiap sesocatu yang ada di luar rembulan iaitu upamanya tiada matahari, tiada bintang-bintang, tiada langit, tiada bumi dan tiada udara, hanyalah kosong belaka, maka yang ada sendiri melainkan satu dzat ialah rembulan, maka rembulan itulah upamanya alam yang dilipoi dengan kosong. Apakah sekarang yang ada? Tentolah yang ada sendiri rembulan, yang kita ganti namanya alam, dan di luar alam itu niscaya ketiadaan yang kita ganti namanya dengan kosong, karana tiap-tiap kosong niscaya tiada berisi alias ketiadaan, bukan dzat dan bukan sipat.
Akan tetapi kalu bagini, kita juge terpaksa tulak adanya Allah, karana kita tiada mengerti bagaimana Allah disamakan dengan alam, karana yang ada hanyalah alam, dan juge kita tiada mengerti bahua yang dinamai kosong atau ketiadaan di luar alam itulah Allah, karana tiap-tiap Allah disamakan dengan ketiadaan, niscaya Allah bukan ada tetapi tiada.
Dari sebab itu kita terpaksas andaikan bahua sang-kosong di luar alam, bukan ketiadaan, tetapi socatu keadaan yang tiada didapat oleh pemandangan, inilah Allah, maka bukan kosong namanya, tetapi berisi, ialah dzat, karana apa juge yang ada, wajiib itulah dzat, karana perkataan “ada” itulah sipat yang berdiri pada dzat.
Kalu kita sudah andaikan bagini, niscaya adanya alam bertempat di dalam dzat Allah, sehingga kita jadi balik pada pengertian patokan C, yang lebih dahcelu kita punya akal tiada mufakat
Lagi sekali lihatlah, bagaimana kita jadi terputar-putar di dalam kegelapan: Kalu kita tulak adanya lapang yang kosong, kita mesti terima adanya dzat yang dinamai alam tiada berwatas, tiada berpinggir iaitu penuh sesak belaka, maka kita juge mesti tulak adanya lain dzat Biarpun dinamai Allah. Kalu kita terima asalna mula-mula kosong, lantas belakangkali timbul alam sendirinya jadi berisi, kita tiada sanggup pikir bagaimana sangtiada sendirinya jadi sangada. Bukan itu saja, tetapi kalu kita terima adanya alam dijadikan oleh lain dzat, kita tiada mengerti bagaimana sangtiada dibikin jadi sang-ada dengan tiada bahan lebih dahulu.
Lain dari itu, kalu seorang beragama sudah terima bahua alam dijadikan oleh lain dzat, niscaya dia tiada berhak akan tulak bahua lain dzat itu juga dijadikan lagi oleh lain dzat, maka dia mesti terima bagitu seterusnya bikin-membikin tiada kesudahan sampai bertumpuk-tumpuk dan berlapis-lapis, niscaya dia sendiri jadi tercengang bagaimana mesti dibangkakan dzat-dzat yang semangkin lama semangkin banyak bersusun-susun tiada habisnya, padahal buat bayangkan besarnya alam, upamanya selapis saja, niscaya kita punya octak pecah.
Dan kalu seorang beragama sudah terima adanya suatu dzat yang berdiri dengan sendirinya, iaitu dzat yang tiada di-jadikan oleh lainnya, maka secara jujur, patulah dia terima adanya alam berdiri sendirinya, tiada dijadikan oleh lainnya. Dari sebab itu kalu dia kata mustahil alam berdiri dengan sendirinya, maka dia lupa yang dia sendiri sudah lawan dan lepas dia punya patokan atau putusan sendiri. Karana apabila akal sudah tulak sesuatu keadaan yang waji adanya, niscaya itu akal mesti tulak juga sesuatu dzat yang waji adanya, Biarpun dinamai Allah atau bukan.
Adapun dia punya pendapatan, bahua dari karana alam ini berobah-obah, itulah tanda ada mulanya dan ada habisnya maka inilah persangkaan saja, padahal bukan saja dia sendiri tiada mengerti, tetapi tiada satu manusia dikolong langit mampu atau sanggup mengerti bagaimana alam ini dari mulanya hingga sekaranq dan dari sekaranq hingga komdian, karana sebelumnya kita mendapat conto yang kita boleh mengerti, niscaya kita tetap tiada mengerti.
Dan kalu dia kata lagi mustahil alam ini suatu dzat yang asa dan tunggal, maka disangkanya dia sudah mengerti, karana menurut penglihatannya alam terpecah-pecah dan terbahagi-bahagi di dalam beryuta-yuta benda banyaknya. Padahal apabila dia mau pikir lebih juh bahua tiap-tiap benda terpisah, mesti ada kosong diantaranya, niscaya dia tiada sanggup tulak kesatuannya alam, karana sebelumnya dia mampu tunjuk kosongnya lapang, belumlah dia mampu tunjuk putunsya persambungan di antara suatu benda dengan lainnya, dan tiap-tiap belum nyata putunsya, niscaya belum nyata terpisahnyia dan belumlah boleh ditulak asanya dan tunggalnya, maski pun lain pihak yang berbedaan pendapatan, juga tiada sanggup tulak terpecah-nya segala benda di dalam alam.
Maka yang sebenar-benarnya, bukan saja kita tiada mengerti, apatah segala dzat-dzat di dalam alam terpisah satu sama lain, tetapi juga kita tiada mengerti apatah dzat-dzat itu tiada putus hubungannya satu sama lain, sehingga memang satu dzat belaka.
Maka kalu kita belum mengerti bagaimana alam ditim-bulkan dari kosong menjadi berisi dengan kekuatan dari lain pihak, dan juga kalu kita tiada mengerti bagaimana kekuatan boleh datang dari luar alam, maka sepatutnya kita jangan malu akan mengaku yang kita tiada mengerti bagaimana alam dijadikan oleh Allah dan mengaku tiada mengerti bagaimana Allah ada.
Dan andai kata, kita boleh mengerti sekejap mata saja hal kejadian yang demikian itu, niscaya kita semangkin heran dan semangkin taajub apatah gunanya bagi Allah dan apatah sebabnya Dia jadikan alam.
Sampai di sini cukuplah kita punya pepriksaan bagaimana pengertian dari patokan A, B, C, D dan E, demikian juga bagaimana kita mencarai lain jalan akan mengerti adanya alam, maka nyatalah tiap-tiap kita lanjutkan pikiran kita, niscaya kita terbentur dengan sual-sual yang lebih susah, maka selamanya kita jadi mandeg pada salah socatu dari ucapan di bawah ini iaitu:
Kalu kita kata kita tahu apa yang kita tahu, niscaya akhiirnya kita tahu apa yang kita tiada tahu. Kalu kita kata kita tahu apa yang kita tiada tahu, akhiirnya kita tiada tahu apa yang kita tahu. Dan kalu kita kata kita tiada tahu apa yang kita tahu, akhiirnya kita tiada tahu apa yang kita tiada tahu. Dan bagaimana juga kita mau mencuri dan sulap dengan perkataan niscaya penghabisannya kita mesti berhenti pada perkataan: tiada tahu.
Sahadan apabila manusia di dalam hal yang demikian, pada socatu pihak terima dan pada lain pihak berani tulak adanya Dzat Yang Maha Kocasa, maka patutlah kita mencarai jawabnya atas pertanyaan ini: Pihak manakah yang lebih dekat pada kebenaran?
Oleh karana su-al ini sangat pentingnya, baiklah kita timbang lagi di dalam Bahagian VI. Sekarang kita mau pin-dahkan kita punya pikiran akan coba priksa bagaimana asalnya agama.—
BAHAGIAN III
Supaya jangan menimbang berat sebelah, patutlah perkataan agama diertikan dengan locas. Dari sebab itu, kalu kita kata agama, niscaya dimaksudkan di sini sesutae pengertian yang sudah umum dikandung oleh bangsa manusia tentang caranya menyembah suatu dzat Ataupun lebih dari satu dzat, yang diperttayanya sebagai Dzat Yang Kuasa, yang pegang untung dan nasibna manusia dari hidup sampai sesudahnya liwat dari pada mati, sama saja upamanya Dzat yang tiada kelihatan itu disembaah dengan tujukan pikiran langsung pada Dzat itu, atau dengan pertelulangan lain-lain dzat yang ada rupanya boleh dilihat.
Maka Biarpun kelakocean suatu bangsa menyembah Tuhannya dengan menghadapi matahari, rembulan, api, patung, batu dan kayu, asal saja kepercayaannya ditujukan jua pada untung dan malangnya manusia sesudahnyamati, terpaksa kita aku itulah agama.
Karana kalu andainya kaum Moslimin tiada mau aku bagitu, niscaya dia sendiri lupa kelakoceanya menyembah Allah dengan kemestian menghadap kejurusan kaaba di tanah Mekkah, maka bagituolah jua apabila kelakoceanya suatu bangsa Indiaan anak-bumi aseli di tanah Amerika mempuja matahari, bukanlah karana dia sembah matahari, tetapi sembah Tuhannya yang dinamai Waconda, dengan menghadap kejurusan matahari. Demikian pula kalu ada bangsa Tionghoa sembahyang menghadapi patung atau api, bukanlah ertinya dia sembah patung atau api, tetapi menyembah Tuhannya yang disebut Tian atau Thi-Kong. Dan Biarpun upamanya ada orang di antara marika itu yang percaya bahua patung dari batu ada punya kuasa, inilah salahnya (kalu mau dinamai salah) orang itu sendiri, yang tiada tahu bagaimana agamanya, maka tiada beda dengan orang yang mengaku beragama Islam, sudah kliru percaya bahua kaaba, yang jua ada batunya, mempunyai kuasa.
Dari sebab itu, terang sekali, sebelumnya kita tahu dengan baik bagaimana kepercayaan sesucatu bangsa, be-lumliah kita ada hak akan menentukan bukannya agama.
Dan kalu kita mau kata bahua tandanya agama, ialah kepercayaan yang diumumken oleh RasuI-RasuI, maka kita juga tiada boleb bantah yang anak-bumi di tanah Amerika atau Afrika atau Ustrali tiada punya RasuI, karana apatah RasuI bukan manusia? Dan apatah tiada boleb jadi yang kitab-kitabnya sudah terbakar atau musna dimakan aer karam, inilah kita tiada tahu.
Maka kalu ada anak bumi di tanah Indonesia yang beragama Islam sudah aku Nabi Mohammad salah socatu dari pada Rasul, dia juga tiada berhak akan berkata yang Budha bukan Rasul. Dan kalu dikata bahua tiap-tiap Rasul ada punya mujizat, hendaklah yang berkata, unjuk bedanya di antara macam keheranan yang dinamai mujizat dengan keheranan yang dinamai syihir, karana sesunggohnya yang beda hanyalah nama saja.
Akan tetapi memang bukan dinamai agama, kalu socatu kepercayaan tiada mengandung bicara tentang untung dan nasib pada sesudahnya mati, dan oleh karana itu, bukanlah Rasul dan bukanlah Nabi atau Resi, apabila seorang umumkan pengertian dan pelajaran semata-mata di dalam kehidupean manusia di muka bumi saja, dengan tiada memperdulikan bicaranya kehidupean di dalam akherat.
Adapun apakah sebabnya agama-agama timbul di dalam dunya ini, tiadalah kita tahu, tetapi satu-satunya jalan akan mencari jawabnya, hanyalah dengan pakai tenaga dari akal, maka cukuplah kalu dipilih di antara tiga sebab yang tersebut di bawah ini:
1e. Dari karana memang dasar thabeat manusia. Maka kalu bagini, adalah umurnya agama sama tuanya dengan manusia.
2e. Dari karana perobahan yang tertampak di dalam alam-jagat ini.
3e. Dari karana berebut kehidupean di antara manusia dengan manusia di muka bumi ini.
Maka berapa jaokh juga kita pikirkan, niscaya kita tiada dapat lagi lain-lain sebab, bagaimana asal timbulnya agama, hanyalah kita boleh pilih salah socatu dari pada tiga sebab itu.
Kalu kita terima sebab yang pertama, bahua memang dasar thabeat manusia, maka tiada usah kita pikir lebih panjang, karana memang sudah mestin ya bagitu, sama juga kemestian ayam bertelor tiada beranak. Maka terpaksa kita tundockkan kepala, dan terima adanya agama segenap hati.
Dan kalu kita tulak asalnya agama dari thabeat manusia, maka kita priksa lebih dahelu sebab yang kedua, iaitu karana perobahan alam. Maka terutama oleh karana manusia melihat emak-bapanya, anak-bininya, kadang-kulawarganya, sahabat-handainya, tua-muda, kaya-miskin, Biarpun raja, tiada terlepas dari kematian, niscaya manusia mesti sangka dan pikir adanya apa-apa yang teramat besar kuasanya yang membikin alam-jagat ini dengan atur gerak dan berobahnya, serta pegang nasib manusia di dalam hidup dan mati.
Kalu kita terima sebab yang kedua ini, kita jadi terpaksa juga tundockkan kepala dan mempuji timbulnya agama, serta menghormati manuesia yang sudah mendirikan agama.
Dan kalu kita tulak dua macam sebab-sebab tadi, maka kita mesti priksa sebab yang ketiga, iaiu karana berebutna kehidopean di antara manuesia dengan manuesia.
Karana apabila manuesia sayang pada dirinya,—suatu sipat manuesia, yang tiada bisa dimungkir—, niscaya dia sayang dan cinta pada kehidopeann ya dan seboleh-boleh maeo panjangkan umurnya. Dan kalu bagini, niscaya manuesia dengan manuesia yang sama-sama mau hidup dan sama-sama tahu apa yang beruna buat melanjutkan hidupnya, mesti berbenturan satu sama lain, apabila benda yang beruna itu sudah menjadi sempit dan kurang dari lantaran banyaknya dan tambahnya manuesia.
Maka tiada heran kalu di antara manuesia yang banyak itu ada yang berpikir akan berdirikan agama supaya membikin takut manuesia berbuat sesuka-sukanya. Karana manuesia tahu dia tiada akan terlepas dari kematian, dan manuesia bukan saja takut pada perasaan yang sakit, tetapi suka sekali pada perasaan yang enak, niscaya ada perlomenya kalu manuesia dibikin takut dengan hukuman dan dibikin gumbira dengan ganjaran sesudahnya mati, itulah sebabnya dibayang-bayangkan naraka dan swarga.
Kalu kita terima sebab yang ketiga ini, tiada luput kita mesti mempuji agama dan manuesia yang mendirikannya.
Maka dari pihak sebelah mana juga kita memandang pada antara tiga sebab yang tersebut itu, tiadalah kita dapatkan suatu jalan akan mencela dan menghina pada agama Ataupun pada siapa juga yang berdirikan agama. Padahal terlebih patut mempuji dia punya cesaha, karana kalu kita mau sangka yang pendirian agama bermakssud menguntungi dirinya orang yang timbulkan agama belaka, niscaya kita mesti sediakan lebih dahelul buktinya. Inillah kita tiada mampu tunjuk, apabila kita bicara saja tentang Nabi Mohammad yang baru liwat zammannya lebih dari seribu tahun; maka mustahil kita mampu tunjuk kejahatannya Nabi-Nabi yang sudah dua-tiga ribu tahun lebih dahelul.
Oleh karana itu, hanyalah kita ada hak akan bicara saja dengan pikiran yang tiada kena pengaroh curang, maka dengan cara jujur, kita jadi terpaksa terima dan jun-jung dengan segenap hati pada pendirian agama yang mana juga.
Dan bagitu juga halnya, kalu kita kepingin tahu di-antara agama yang bermacam-macam itu, manatah yang benar sendiri. Karana tiada patut kalu kita membabi-buta dengan sangka-sangka dan kira-kira bahua agama ini yang benar dan agama itu yang salah. Dan kalu upamanya kita sekarang berkata bahua agamanya Nabi Isa sudah tua diganti baru oleh agamanya Nabi Mohammad, sehingga kita mesti buang agama yang lama, kita jangan lupa yang pada zamman timbul Islam adalah umurnya Kristen belum tu-juh ratius tahun, padahal sekarang ini umurnya Islam sudah lebih dari seribu tahun belum juga ada gantinya.
Akan tetapi kalu kita mau kata semua agama-agama tiada benar, inilah tiada lain dari persangkaan, yang tiada ditimbang dengan matang dan adil, karana kalu kita memang mau pikir lebih jauh, niscaya kita sendiri jadi tercengang bagaimana kita berani kata upamanya agama Brahma, Budha, Kristen dan Islam, yang masing-masing dipelook oleh beryuta-yuta manusia dikolong langit ini, bagaimana berani dikatakan tiada benar. Bagaimanatah tiada benar agama yang sudah beribu tahun berdiri dengan tetap lebih kuat dari gunung, sehingga datang zamman kepintaran sebagai sekarang ini belum juga rubuh, karana kalu agama itu tiada mengandung kebenaran, apakah tiada heran, bolehnya hidup sampai beribu tahun?
Di dalam pada itu, kalu kita kata kata agama-agama benar semua, kita juga jadi heran, apakah sebabnya satu sama lain berebut kebenaran dan apakah sebabnya agama yang satu mencela dan salahkan agama yang lain? Bukan bagitu saja, tetapi kita juga tiada habis pikirkan, apa sebabnya ada perang agama, sampai tiada dapat ditakar banyaknya darah yang tumpah lantaran satu sama lain tiada aku kebenarannya.
Maka kalu kita sudah pandang dari dua belah pihak, kita jadi serba salah, karana mau dikata benar jadi salah, dan mau dikata tiada benar jadi salah.
Oleh karana itu kita jadi terpaksa mengambil jalan di tengah-tengah, maka kalu bagini, bukanlah agama-agama itu benar semua dan bukanlah tiada benar semua, niscaya tiap-tiap agama mengandung benar dan tiada benar, atau dengan lain perkataan: tiada semporna benarnya.
Akan tetapi kalu kita sekarang ambil putusan bahua tiap-tiap agama tiada semporna benarnya, kita bukan mak-sudkan agama kurang benar pada zamman dan wak-tu agama itu lagi dipimpin oleh rasuI yang mendirikan; inilah kita tiada boleh pastikan, melainkan apabila rasuI itu sudah meninggal dunia, lambat laun berobahlah agama, karana apabila kejadian apa-apa yang macam baru, niscaya segala ulama dan padri masing-masing pakai aturannya menoreot otak-kepalanya sendiri, sehingga lama-lama lazimlah agama kemasokkan aturan yang tiada dikehendaki oleh rasuInya. Tandanya di dalam tiap-tiap agama kelihatan sekarang banyak sekali perselisihan antara beberapa ulama dan peguruan, inilah tandanya marika itu tiada tahu dan tentu juga tiada akan dapat tahu apa yang benar di dalam agamanya, karana juga tiada ada satu manusia boleh tahu mana kitab-kitab dan pelajaran agama yang aseli dan tulen.
Maski pun demikian kita tiada dapat bantah yang dasarnya agama mengandung ilmu yang benar, karana selamanya mengajar manusia akan mengaku adanya Dzat Yang Maha Kuasa dan akherat serta mengajar bersihkan pranginya diri.
Adapun akan menyatakan dasarnya agama semata-mata salah dan tiada benar, tiadalah dapat dipikirkan, karana berapa juga pintarnya manusia, miscaya dia tiada mampu bukti-kan atau unjuk saja dengan akalna bahua dasar-agama ada suatu kepercayaan yang kosong.
Siapakah manusia sanggup menentukan bahua kematian ada penghabisan kehidopean, atau lebih tegas: Siapakah sanggup menentukan bahua kehidopean manusia cara di muka bumi ini, tiada akan bertukar dengan lain macam kehidopean? Maka apabila manusia berani menentukan bahua kematian sudah habis bagitu saja, inilah pantas dinamai perkataan kosong.
Lihatlah bagaimana tinggi kepintaran atau pengetahuan manusia pada sekarang ini. Lihatlah bagaimana kita boleh bicara dengan radio dari suatu pinggir dunia sampai di lain pojok, sebagai orang berhadapan satu sama lain. Apakah tadinya ada manusia yang mau percaya keadaan yang heran bagitu, sebelumnya dia lihat dan dengar dengan mata-ku-pinginya? Bagitu juga bukan mustahil bagi marika itu akan dapatkan di dalam dunia ini atau lain dunia suatu keadaan yang tadinya dia tiada percaya. Dan andai kata kalu nanti liwat seribu tahun radio sudah linyap, niscaya manusia pada zamman itu juga tiada percaya keadaan radio pada zamman kita, karana tiada lihat contonya.
Nyatalah agama tiada paut dikatakan kepercayaan kosong, padahal pantas sekali dihormati dengan tulus dan ikhlas. Bagitu juga kalu kita sangka orang yang beragama bodoh semua, inilah kilru.
Maka bukanlah kita mau bilang, bahua prangi orang yang beragama lebih bersih dari pada orang yang pintar, karana di antara manusia, memang ada yang bodoh dan ada yang pintar, sama saja apa dia beragama atau tiada, dan ada yang bersih dan ada yang kotor pranginya. Dari sebab itu kalu ada orang berprangi jahat dan curang, maka bukanlah agamanya yang punya salah dan bukanlah pelajaran ilmu-duna yang punya salah. Dan kita berani pastikan apabila seorang, yang menuntu pelajaran-dunia, memegang agama, niscaya dia punya sumangat jadi semangkin halus, dan semangkin hilang takburnya dan curangnya. Karana orang pintar memang rajin menggunakan pikiran akalnya, niscaya dia lebih gampang pahamkan ilmu-ilmu yang dalam-dalam yang dikandung oleh agama tentang kemanusian dan tentang Ketuhanan, maka lebih gampang lagi dia bersihkan dirinya dari pada kekotoran, maka jadilah kehiduppanya bukan saja banyak guna akan perjalanan manusia di dalam dunia, tetapi juga tiada mustahil akan beruna apabila bertukar lain macam kehiduppan.
Dan apakah sebabnya kita berani pastikan bagitu? Tiada lain, karana apabila dia sudah dapat ilmu agama yang tinggi-tinggi, niscaya dia jadi sedar bagaimana sempitnya dia punya akal dan bagaimana ketiyil deradatnya manusia.
Dari sebab itu, biar bagaimana pintar manusia di dalam pengetahuan-dunia, tiada usah malu akan bergantung pada agama, apapula kalu agama itu memang asal dipegang oleh ninik-moyang sendiri.
Maka berbedaan sekali bagi orang, yang tiada sekali atau kurang belajar di dalam pengetahuan ilmu-dunia, sudah tentu tiada gampang akan paham ilmu-agama yang tinggi-tinggi, apapula kalu dari mulai anak-anak, jarang dapat guru yang suka gunakan dan pakai akalnya, dan diajar tiada boleh pikir-mempikir, karana memang kebanyakan orang beragama punya sangka, bahua kepintaran-dunia tiada boleh dipelajiari, takut jadi salah kepercayaan, padahal sebagaimana kita sudah timbang tadi, adalah pemandangan yang bagitu rupa, kliru sekali.
Maka tiadalah heran kalu kita dengan susah-payah akan panjat ilmu-agama yang tinggi, sebab kalu kita punya guru-agama kencing berdiri, sudah tentu kita kencing berlari. Dan kalu kita punya guru larang kita berpikir, niscaya kita belajar sangka. Maka apabila sudah jadi kebiasaan akan sangka-menyangka niscaya segala gila-gila kita jadi percaya, dan apabila kita suka percaya tiada dengan pikir, niscaya kita punya akal jadi karatan dan kotor. Apabila akal kotor, niscaya sumangat turut jadi kotor, ti adakenalwatas, maka jadilah kita membabi-buta, jadilah kita murid-murid yang banyak bersama gurunya sama juga hewan babi, segala kotoran kita makan, sebab kita sangka itulah bersih. Kalu sudah bagini, lantas kita sangka yang kita punya guru sendiri yang ada punya swarga, dan kalu kita punya guru kata: segala kafirnantidi limpar di dalam naraka kekal selama-lamanya zonderdipriksalagi; maka kita pun turut guru tertawa gelak-gelak, karana suka lain orang bakal dapat siksaan dan kita sendiri bakal dapat kesenangan, padahal kalu kita pikir saja joauh sedikit, lantas kita jadi terkejut, karana siapa juga yang suka melihat susahnya lain orang, itulah bukan bersih dan wangi namanya, tetapi keliwat busuk. Dan bukan itu saja, tetapi kita jadi timbul persangkaan yang Gusti Allah tiada punya sipat keadilan alias bersipat kotor; maski pun kita tiada sengaja akan rendahkan derajatnya Allah, tetapi maksodennya pemandangan bagitu bukan meninggikan derajat Allah. Karana kalu kita sangka yang Allah masokkan si-kafir selama-lamanya di dalam naraka sebab mau unjuk kekuasaannya dan kebesarannya, kita lupa pikir bahua siapa juga yang unjuk kekuasaannya zonder pakai keadilan, itulah bukan mulia dan bukan suci nama-nya, tiada perduli apa dia itu disebut Allah atau bukan.
Padahal menurut pengertian di dalam agama yang tinggingtinggi, adalah Tuhan Allah itu Suatu Dzat yang Amat Mulia dan Amat Suci dan lagi Amat Mengerti tentang prangi manusia yang baik dan jahat serta juga Amat Mengerti tentang lemahnya manusia. Maka, andai kata, si-kafir punya kebaikan terhioteng jahat, adalah kehidopean manusia di dalam dunia upamanya 200 tahun, mustahil sekali mesti dibales dengan siksaan yang bermilliun-milliun tahun tiada hingganya dan tiada habisnya.
Sebelumnya kita pindah pada Bahagian IV akan timbang bagaimana keadaan pengetahuan-dunia, maulah pengarang cerita suatu kejadian yang ada lucunya akan jadi conto bagaimana besar pengaruhnya gurru-guru Moslim, yang rendah ilmunya sehingga boleh menimbulkan sangka busuknya agama Islam, yang sebenarnya tiada kalah wangi dengan agama macam apa juga. Tetapi sabarlah, sebentar kita boleh dengan ceritanya.
Maka apabila kita dengar cerita tentang agama adalah bagus theorienya, dan apabila kita tilik praktiyknya iaitu perbuatan yang dijalankan, niscaya terdapat banyak perkara yang berlawanan dengan theorienya. Maalumlha manusia itu tiada sama pranginya dan octaknuya. Oleh karana itulah memang susah sekali akan menimbang bagaimana keadaan yang sebenarnya.
Kalu kita dengar bagaimana riwayatnya Martin Luther, seorang Duitskh, ulama Nasrani yang di dalam abad XVI bikin goncang dunia Kristen karana melawan dan siarkan perbuatannya ulama-ulama besar dari Katholiek di Rome yang katanya tiada menurut kitab suci, dan unjuk bagaimana klirunya ulama Katholiek, iaitu bikin protest dengan berterrang, upamanya tentang menjoceal surat tebusan-dosa yang sudah dan belum dilakukean, kita jadi tercengang bagaimana ada manusia bagitu bodoh buat percaya perbuatan dosa, yang belum dibikin, boleh ditebus dengan uang. Dan kita lebih tercengang lagi bagaimana besar pengaruhnya ulama-ulama yang tiada mampu bantah keterangan dan alasannya Luther, yang sudah berani menyalin kitab Injil, sehingga Luther dikatakan kafir dan dituntut di hadapan hakimkerajaan, maka dasar umurnya misih panjang dapatlah dia terlepas dari bahaya mati, karana dibawa lari dan disembunikan oleh salah suatu raja di negeri Duitskh. Inilah suatu dari pada sebab-sebab terpecah pengertian agama Kristen.
Demikian pun agama Islam, sesudahnya wafat Nabi Mohammad dan sahabat-sahbatnya, jadi terpecah di dalam beberapa mazhab, pegurcean atau partiy. Di dalam partiy “ahli‘ sonna” terdapat beberapa mazhab yang misih juga berbedaan pengertiannya. Akan tetapi perselisihan pengertian seagama, tiada juga pantas dibuat heran, karana semangkin lama agama ditinggalkan oleh rasuinya, semangkin susah dapat aturannya dan pengertiannya yang aseli seperti maksudnya rasuel, sehingga lambat laun kemasokan pengertian dari lain pihak.
Bagitulah bagi siapa juga yang sudah mempelajari rupa-rupa agama, niscaya dapatlah keyakinannya, bahua agama Islam tiada luput kecampuran ilmu Hindu dan Griek.
Sekarang kita mau pindah cerita bagaimana pengaruhnya guru-guru.
Lebih dahulu haraplah pembaca memberi maaf apabila pengarang cerita di sini tentang hal diri sendiri, tiada lain maksudnya akan unjuk suatu hal yang didapati olehnya, bukan karana dengan ceritanya orang. Apabila pembaca segan mendengarnya, bolehlah diliwati saja tulisan di bawah ini.
Bermula dengan sedih hati pengarang kenangkan ibu-bapanya, yang tetkala hideop keras pegang agamanya, Biarpun angkuh dan tinggi sumangatnya, karana maalumlah, priyayi itu jarang boleh terlepas dari takburnya.
Mudah-mudahan diberilah Allah kurnia bagi ruhnya di dalam akherat.
Sahadan adalah ibu swargi tiada beda dengan perampocean pada zammannya di dalam hal kepercayaan pada kata-kata guru agama, dan kalu andai kata pada 40 tahun lebih yang telah lalu, ayahanda sudah berangkat dari negeri yang fana ini, barangkali tiadalah pengarang menginjak sekola kafir yang mengajarakan bahasa kafir, karana kata ibu punya guru, niscaya dibakar anaknya bulat-bulat di dalam api-naraka tempat segala kafir, karana Blanda itu kafir-kitabi, Sekalipun ada kitabnya injil, tiada luput naraka tempatnya, apapula bangsa Hindu sudah nyata makanan api, karana maitnya di dunia juga sudah dibakar, sama saja dengan orang Tionghoa yang kalu kematian, tiada lain bikin mulia, hanyalah api.
Maka bukanlah sekarang saya salahkan ibu sendiri atau gurunya yang memang perampocean juga, karana kalu pada zamman ini iaitu di dalam tahun Mesihi 1929 misih didapat di sini di suatu kuta yang besar sendiri di tanah Indonesia, semacam guru laki-laki yang berkeras suruh orang perampuan Moslim tutup mukanya kalu keluar setindak dari pintu rumahnya, tiada perduli yang jalanan raya dilintasi oleh beribu-ribu automobiel, dan kalu pada waktu ini misih ada orang moslim, yang waras akalnya, goyang kepalanya di hadapan pengarang, tiada setuju yang anak-anaknya perampuan disekolakan H. B. S., maka bagaimanatah kita mesti salahkan pada guru yang tua-tua. Dengarlah pembaca suaranya saya punya kawan moslim yang tulus ikhlas itu, yang unjuk kecintaannya, dan kepadanya saya amat berterima kasih atas nasihat itu yang didatangkan dengan berterang beradu muka, bukan cara pengecut buka mulut di belakang orang. Baginilah katanya: “Tahukah tuan bagaimana nanti diakherat Allah priksa orang moslim yang kirim anaknya belajar disekola Europa?” Kata saya tiada tahu; maka bangunlah dia serta berdiri dengan tulak dua tangannya di pinggang selaku orang yang tangkap kusier dosado yang lenteranya tiada menyala, sambil berkata, bagini Allah berteriak dengan heibat suaranya seperti guntur yang membelah bumi:—“Hai, kamu sekalian, apakah sebab kamu suruh anak-anakmu belajar bahasa si-kafir yang aku benci dan akan siksa marika itu di dalam naraka, kekal selama-lamanya; karana syorga itu aku kekalkan buat kamu kaum moslimin saja, bukan buat lain agama, yang dunia itulah syorganya si-kafir, maka mengapakah kamu tiada perentah anakmu belajar bahasa Arab iaitu bahasa syorga, inilah nyata dari huruf qoran yang diambil dari luh-mahfuld, dan inilah bahasa satu-satunya yang aku pakai kalu perentah segala malaekat dan rasuel dan bagitulah asalnya kitab-kitab yang diturunkan ke bumi asal bahasa Arab, tetapi diobah oleh si-kafir di dalam bahasa Ibrani dan Suryani dan diobah lagi bunyinya, maka itu kitab si-kafir semua dibikin palsu, bukan seperti qoran punya bahasa tiada dapat diobah oleh malaekat Sekalipun, apapua manusia dapat mengobahnya, karana itulah kalamku, yang qadim, sampai sekarang ini di akhirat kamu boleh lihat sendiri tetap bagitu bunyinya, tiada kurang sepatah kalamku itu dari hurufnyia atau titiknya, karana itulah satu-satunya mu'jizat yang aku turunkan pada kekasihku nabi-akhir-zamman, tiada dapat manusia tiru-tiru. Tiadakah kamu baca qoran yang ceritakan bagaimana mu'jizat nabi Ibrahim, yang bikin api jadi dingin; nabi Musa yang tungkatnya jadi naga boleh bikin kering aer laut waktu berperang dengan Phiron; nabi Isa yang bikin hidup orang yang sudah mati? Tetapi pada nabi Mohammad aku berikan lain macam keheranan iaitu qoran, karana Sekalipun aku turunkan mu'jizat yang nyata di mata orang, niscaya si-kafir tiada percaya juga, itulah sebabnya aku turunkan ayat di dalam surah XVII Bani-Israil, ayat 92 hingga 98, dan surah XIII ayat 8, dan surah XXI ayat 1 hingga 6, bagitulah aku perentah nabi Mohammad mesti menjawab pada Abu-Jahal dan orang-orang di tanah Mekkah yang minta lihat mujizatnya.—“ Bagitulah Allah akan murka dan se-salkan tuan di dalam akherat, maka apakah yawab tuan nanti?
Maka saya pun diam sejurus dan ta'jub iaitu getun, bagaimana kawan saya itu kena pengaruhnya guru-guru agama, yang pengertiannya kuno, dan oleh karana yakin di-dalam hati akan tulus dan cinta-kasihnyra pada saya, tiadalah saya mau keluarkan perkataan yang sudah ada di ujung lidah, maka kata saya, banyak terima kasih, kalu ada lagi nasihat di dalam kalbu tuan, katakanlah sekarang, maka katanya, ada lagi saya mau tanya karana tuan sekarang sudah makan pensiun, dan turut pemandangan saya, cukuplah syarat bagi tuan akan pergi ke-Mekkah bikin Haji, karana saya ini sudah dua kali naik ke tanah Mekkah belum puas rasanya hati, kepingin berlayar lagi, supaya matilah saya di-negeri yang suci, diharamkan api naraka melanggar badan saya.
Demikianlah kira-kira suara nasihat kawan saya itu sembari dia menangis, maka saya pun turut sedih, karana terkenang ibu-bapa sendiri itu pun hidupnya belum injak tanah Mekkah, maka teringatlah tetkala bunda pertahankan ayahanda dari niat hatinya akan masokkan saya kesekola Blanda dari umur saya 5½ tahun, ditungguhnya 2½ tahun lamanya dan belajarlah saya pada ayahanda sendiri membaca qoran dan kitab-kitab agama dan belajar membaca dan menulis huruf Arab dan Latiyn, sehari-hari turut sembahyang lima waktu dan turut puasa di dalam bulan ram’dlan, mulai tiada makan setengah-hari dan perlahan-lahan sampai kuat lapar satu hari tiada masok seketes aer, sehingga tetkala sudahlah saya umur 8 tahun barulah masok disekola si-kafir dan mondok lagi di rumah si-kafir, siang malam campur dengan anak-anak kafir, akan tetapi heran seribu heran belum pernah, ada 1 seconde seumur hidup, timbul kepingin akan menyadi Kristen atau pegang agama Budha, Biarpun sampai sekarang saya misih tetap bercampur gaul sama bangsa Tionghoa dan Europa dan bangsa apa juga, mengambil conto dari ayah sendiri, yang Biarpun suka dengan pengajan agama Islam, tiada luput bergaulan main sabak dengan kawannya Tionghoa dan main kartu whist dan selikuraan dengan kawannya Blanda, dan belum pernah menyebot di hadapan saya tentang kafirinya lain agama, maski pun di dalam bulan puasa tiap-tiap malam kumpulkan orang moslimin, penghulu, haji dan guru akan sembahyang tarwih dan baca qoran di tempat kewadanannya selagi pegang jabatan Gubermen.
Setelah teringat yang demikian itu, maka dengan idinnya kawan saya itu, yang memang sudah kenal ibu-bapa saya, dan tahu bagaimana hal saya dari anak-anak, sigralah saya ulangkan perkataan ayahanda swargi yang sekira-kira dapat-lah saya tanam di dalam ingatan saneubari, iaitu tetkala saya mau berangkat pindah ke dalam suatu kuta tempat berdiri-nya sekola itu, dan demikianlah kata ayahanda kepada bunda, yang sedang menangis dan pelook saya punya diri: “Aku punya sayang dan cinta pada kita punya anak, tiada kurang seujung rambut dari pada yang terkandung di dalam hati ibunya, dan aku mufakat sekali dengan perkataan ulama-Islam yang sudah yakin bahua Kangjeng Nabi Mohammaad s.a.w. itu rasuI yang penghabisan dan percaya lagi, sekarang inilah zamman sudah akhir, ertinya aku percaya yang dunia ini sudah tua umurnya; maka, andai kata, zamman ini bukan pada waktu akhrinyra, tiadalah mengapa kalu kita punya anak belajar di dalam rumah ibu-bapa sendiri dan komdian belajar pada kiai-kiai atau pendita agama. Adapun sekarang, oleh karana sudah akhir zamman, jadi semangkin perlu kita suroh anak-anak belajar pengetahuan orang Europa, yang sudah maju bagitu cept tentang ilmu mengisi perut; dari karana semangkin tua dunia, semangkin susah mencari makan, bukan seperti zamman Majapait, dan bukan lagi zamman Kresna tetkala manusia hideop-hideop boleh pisahkan jiwa dari badannya dan terbang ke-udara, maka aku yakin, Biarpun Kangjeng Nabi terlahir belakangkali dari Prabu Dasamuka, datplah dia tunjuk kesaktiannya kalu andainya dia punya prangi lebih suka angkat kepala dari pada tunduk di hadapan Tuhannya, dan inilah juga sebabnya boleh jadi bahua ilmunya yang dalam-dalam yang boleh dibandingkan dengan ilmu Hindustan tetap menjadi rahsia dan dibawa ke dalam kubur sama-sama ampat sahbatnya, supaya kaum moslimin tiada mundur di dalam kehidopean dunia, maka tiada heran kalu umumnyra ulama Islam kurang peng-tahuannya tentang ruh dan alam-arwah. Maka apabila anak-ku sudah keluear dari sekola Blanda, bolehlah baca kitab-kitab Jawa karangan wali-songo dan boleh baca tafsir dari biybel, tetapi lebih daheluc bacalah tafsir qoran, dan bacalah juga kitab-kitab karangan Europa yang dipongut dari ilmu Hindu, Griek dan Rum, supaya tahu bagaimana tinggi ilmu satu-satunya bangsa yang mesuhur, maka jangan percaya saja segala kitab yang dibaca, Biarpun karangan ulama Islam dari Mekkah, apapuIa kitab yang di luar agama Islam, karana semua kitab-kitab karangan manusia ahli-pikir yang tiada luput dari kilru. Upamanya cerita di dalam kitab Islam tentang dajjal yang tinggi besar dan picak sebelah matanya nanti turun ke bumi bikin sesat kaum moslim, dan saking tinggi badannya dajjal, dia tangkap ikan di dalam laut dan bakar dengan tangannya dimatahari lau dimakannya ikan itu, inilah tiada lebih dari karangan, karana yang mengarang itu belum mengerti jaekhnya bumi dari matahari dan tiada pikir yang tangan dajjal kalu sampai matahari boleh terbakar sama-sama ikan yang dipegangnya. Saksikanlah nanti apabila baca kitab-kitab karangan ulama Islam, niscaya anakku heran bagaimana ulama-ulama sebentar-bentar mimpi ketemu Nabi akan tanya masalah, inilah tandanya marika suka mencari khabar yang tiada dapat dibuektikan kebenarannya, karana siapatah yang minta bukti pada orang yang mimpi? Dan apabila ada satu ulama saja mulai mimpi, niscaya ini penyakit mimpi jadi menular pada lain ulama sehingga kita susah pilih manatah ulama yang benar-benar mimpi, dan manatah yang justa. Adapun dari perkara akhir zamman, kita mesti ambil putusan yang kitab-kitab Islam yang dalam-dalam ilmunya sudah lenyap atau senagaja tiada disiarkan keluar tanah Arab, atau memangnya tiada ada, sehingga umumnya orang Muslim tiada tahu apa ertinya zamman dan waktu, maka disangkanya alam ini baru umur 6000 tahun dari mulai Kangjeng Nabi Adam, maka tiada heran kalu dikira akan lekas binasa dunia ini. Maka kalu mau tahu ertinya zamman, tanyalah ulama Hindu, dan dapatlah kita tersedar dari panjangnya dan lamanya zamman yang sudah liwat, sehingga maski pun dunia dikata tua, belumilah ten-tu di dalam seratus ribu tahun lagi akan linyap. Dan apabila kamu belajar sekola, jangan sekali ingat besuk dunia binasa, dan lebih utama kita ingat pada Allah dan RasuI dari pada ingat swarga dan naraka. Maka Sekalipun nanti sebentar dunia tergantti oleh akherat, bukan kamu dan lbumu yang pantas dibakar dengan api naraka, tetapi akulah yang perentah kamu pergi sekola, dan akulah yang patut dibakar, karana aku sendiri yang punya salah apabila mau disalahkan, dan ridlalah aku tanggung dosanya; tetapi aku yakin yang agama Islam sebenarnya perentah orang moslim menuntut ilmu kepintaran, Biarpun sampai di negeri Blanda dan mati di sana, asal saja badan dan sumangat bersih dari perbuatan dan ingatan yang kotor, tiadalal dibakar, tetapi kalu ada kotornya maski pun seribu kali sembahyang seharinya dan mati di Mekkah, haruslah dibakar di dalam naraka, inilah timbanganku sekadar menurut pendapatan akal pikiran, padahal perkara bagitu, Allah sendiri yang tahu. Dan dari hal guruguru Islam yang berkata bangsa Hindu dan Tionghoa makanan api naraka karana hormalkan api, inilah bukan perkataan orang yang berakal dan yang bersih hatinya, karana adakah mencuci dengan aer boleh sama bersihnya dengan mencuci pakai api? Sebab apakah kita minum aer yang dibakar dahelulu dengan api, kalu upamanya aer lebih bersih dari api?
Dan apakah sebabnya mait seorang moslim sebelumnyia masok kubur, disuroh cuci? Itulah sebabnya orang Hindu bakar mait dengan pengertian bikin bersih badan kasar, jang-angan ketinggalan kotornya pada manusia yang hidup, karana badan kasar pulang kekasar dan badan halus pulang kehalus, maka orang hidup perlu bikin bersih jiwanya dan badannya sehari-hari, karana jiwa tiada boleh masok di dalam swarga kalu misih kotor, maka kombalilah jiwa menitis ber-kali-kali ke-alam kasar sampai bersih, karana api tiada mampu mencuci jiwa dari segala kekotoran; bagitulah aku terangkan sedikit dari ilmu Hindu,“—kata ayahanda pada ibuku dan pada saya.
Maka kata saya lagi pada kawan tadi:—“Lihatlah lagi contonya seorang ulama Arab bangsawana Tuan Seyyid Abdellah bin Alui Al-Atas di-Jati Petamburan bagaimana mulai 40 tahun yang lalu dia sudah kirim anak-anaknya laki ke negeri Europa diseikola tinggi akan menuntut kepintaran Barat, dan lihatlah sekarang bagaimana cucunya peram-pocean diajar diseikola Europa. Apakah Tuan Seyyid itu bukan moslim dan kalu andainya dia melanggar agama, apa-akah sebabnya ulama-ulama jempolan yang seringkali datang digedongnya makan minum dan bertemu di situ sama saya, tiada seorang pun membuka mulut dengan berterang yang kelakuannya dilarang oleh agama? Apakah agama Islam mengandung dua macam larangan, buat moslim bangsa Seyyid lain, dan yang bukan Seyyid lain? Atau apakah itu guru-guru dan ulama-ulama yang kesuhur di-Betawi lebih takut pada Tuan Seyyid itu karana bangsawan dan hartawan, dari pada takut pada syareat dan perentah agamanya? Inilah saya tiada percaya, karana kalu demikian, niscaya Islam boleh disamakan dengan komedie. Dan sekarang ini saya mau tiru perkataan ayah sendiri iaiteo biairlah saya tang-gung salahnya sendiri kalu saya punya anak-anak perampocean belajar ilmu si-kafir, asal saja kita awas jangan tukar adat-kebiasaan bangsa sendiri sekadar yang kita pandang lebih sopan dan lebih bagus di mata kita.”—Demikianlah kata saya pada kawan tadi, yang menanya kombali apakah sebabnya saya belum berlayar ke-Mekkah, maka saya jawab: “Saya belum diberatkan oleh syara’ akan menuntut rukeun-Islam yang satu itu.” Maka dia pun tercengang dengan katanya: ”Jangan tuan main-main dengan agama kita!” Kata saya: “Demi-Allah bukan saya mainkan agama yang saya sendiri junjung segenap hati, tetapi memang sebenarnya perkataan saya itu, karana agama kita terlalu mulia dan suci, maka mustahil sengaja bikin berat dan bikin susah pada kaem moslimin, karana agama perentah saja kalu kita ”kuasa” jalankan. Adapun halangan dan keberatan yang dipikul oleh tiap-tiap manusia, hanyalah Allah yang tahu dan orangnya sendiri yang dapat merasakan, maski pun orang itu berumah gedong dan hari-hari naik turun dari automobiel, kita tiada tahu berapa hutangngya. Dan saya sendiri maski pun sudah 30 tahun mengandung niat dan cita-cita kepingin berlayar ke tanah suci, belum juga kejadian, inilah tandanya ada Allah yang lebih kocasa, dan kalu saya berasa belum diberatkan oleh syara‘, inilah disebabkan ada saya punya anak-anak, yang belum dewasa, lagi belajar sekola, apapula kalu nanti saya pergi, maoleh saya bawa anak dan bini, karana apatah halnya kalu andainya saya sendiri masok swarga dan anak-bini di dalam naraka, maka lebih suka yang sebaliknya“. Demikian kata saya, maka kawan itu pun heranlah bagaimana beda paham saya dengan dia.
Adapun cerita di atas ini mudah-mudahan menjadi timbangan pada pembaca, apabila ada yang sangka kemunduran kita disebabkan oleh agama Islam, inilah kilru sangkanya, hanyalah yang masok pada akal, ialah terutama kemunduran Islam dari karana banyak orang mengaku jadi ulama mengarang kitab-kitab bikin takut kaum moslimin menuntut kepintaran.
Maka kita yakin tiap-tiap agama yang tulen, niscaya perentah tuntut dua jalan, iaitu tuntut ilmudunia dan ilmud-akherat, dan apabila ada kitab-kitab melarang belajar kepintaran dengan bikin takut sama segala perkataan kafir, itulah buatan ulama palsu, boleh baca, tetapi jangan percaya, sebab mela-zimkan kita jadi budak-orang sebagai kalde.
BAHAGIAN IV
Lebih daheloce kita mau bilang memang kliru sekali kalu ada kaum agama yang benci pada kepintaran. Bukan saja kebencian itu sama juga mencegah orang gunakan akalnya, sehingga lebih suka melihat manusia bikin sia-sia pengasihnya Allah, yang sudah membedakan manusia lebih mulia dari hewan, akan tetapi juga kebencian itu jadi tanda, bagaimana kaum agama tiada tahu menerima kasih atas usahanya Kepintaran, yang sudah mengadakan macam-macam perkakas tekhniek, yang banyak dipakai oleh kaum agama. Lain dari itu, maka hal mencegah menuntut kepintaran, tiada beda dengan mengasuot supaya manusia jangan berterima kasih kepada Tuhannya, karana kalu manusia limpar suatu pemberian Allah yang dinamai akal yang mahal harganya, inilah sama juga dia menghinakan Tuhannya.
Orang tiada usah takut yang Kepintaran akan dapat merendahkan derajat agama, apapua merubuhkannya. Inilah kita sudah lihat mustahilinya di dalam Bahagian III, karana sesungguhnya, adalah kepintaran dan kemajocean di muka bumi ini bukan sekali-kali jadi tanda bahua manusia semangkin mengerti, tetapi sebaliknya semangkin nyata tiada mengertina.
Jikaloce ahli-ahli tekhniek bangsa Europa suka mengambil tahu bagaimana kepandaian bangsa Hindu di dalam ilmu tentang dzat yang haleos-halus, iaitu suatu ilmu yang tiada dapat ditiru-tiru oleh siapa juga sebelumnyia dia belajar, niscaya dia tiada berani memandang rendah kepada bangsa Timor.
Kita mengaku pada sekarang ini sudah ketinggalan jauoh ke belakang dari bangsa Barat di dalam ilmu tekhniek, tetapi hal ini belum menyadi bukti bahua Timor pur baka la punya ilmu lebih rendah dari kemajocean Barat pada masa ini.
Maka Biarpun bagaimana juga, tiadalah boleh dibantah bahua kita bangsa Timor ada punya suatu perasaan di dalam diri, yang kita sendiri tiada mengerti, iaitu yang kita tiada berasa puas akan lupakan Dzat Yang Maha Kuasa, yang kita sendiri pun tiada mengerti.
Apakah yang dirasai tiada boleh hilang dari dalam suma-ngat? Tiada lain, hanyalah tentang mengunjuk terima kasih kepada siapa juga, yang mula-mula jadi Sebab dari adanya kita dan Alam ini. Maka tiadalah heran kalu kita dari daheloce sampai sekarang mencari jalan akan mendapat tahu cara bagaimana kita mengunjuk terima kasih, inilah sudah terbukti dari kelakuan di dalam pergaulan sehari-hari umumnya tiada takut menerima budi, dan berani pula membuang budi. Karana siapa yang takut menanggung budi, niscaya takut membales budi, inilah sama saja seperti takut unjuk terima kasih.
Maka berapa juga mulianya sipat perasaan yang demikian itu, tiada luput mendatangkan kerugian dan menghalingi kemajuan di dalam dunia, karana kalu Barat semangkin maju, semangkin gumbira dan takbur dengan tiada hilangkan timpo, adalah Timor tetap di dalam insaf akan keredahan dirinya di hadapan Tuhannya Semista Alam, sehingga timponya menuntoot ilmu-dunia dipecahnya sebahagian akan tuntut kehidopean yang bakal dihadapkannya sesudahnya mati.
Demikianlah erti perkataan bangsawan di negeri Timor bukan kebesaran, bukan kekuatan dan bukan kekuasaan belaka, tetapi mesti disertai dengan kesucian diri, maka tiada heran kale ada bangsa Timor, yang mendapat kebesaran dunia, sudah meninggalkan kekuasaannya dan kekayaannya akan mencari kebersihan sumangat. Di mata orang Barat kelakuan bagini tentu saja dipandang bodoh atau gila.
Maka beda sekali halnya denegeri Barat, karana marika di sana umumnya menuntoot ilmu akan memburu harta meluloce dan memburu kekuasaan-dunia, maski pun dibayang-bayangkan seolah-olah maksudnya akan guna orang banyak meluloce; maka tiada heran kale Barat sangka bangsa Timor mempunyai thabeat malas dan bodoh. Nyatalah beda-nya kale Barat umumnya bertuahankan dzat yang berupa harta, adalah Timor bertuahankan Dzat Yang Tiada Dimengerti. Inilah umumnya, maka bukanlah kita mau hilangkan keculaninya, karana serata-ratanya jalanlan mestilah ketinggalan rendah-tingginya, iaitu niscaya ada keculaninya.
Sekarang kita coba priksa apakah kepintaran-dunia ada membawa pengertian.
Bermula kita kepingin tahu dari mana datangnya gerak. Tentu saja dari kekuatan, karana kalu tiada ada kuat niscaya diam. Tetapi kalu betul gerak disebabkan oleh kuat, ke mana perginya itu kuat tetkala gerak berubah diam. Sudah tentu diam juga ada punya kekuatan, karana kalu tiada bagitu, niscaya si-gerak tiada boleh berhenti (mandeg). Kalu dua benda beradu satu sama lain dan upamanya yang satu benda terpental kesoateu jurusan, apakah kekuatan yang ada di dalam benda pertama tadi pindah ke dalam benda yang terpental? Kalu tiada pindah, sebab apakah terpentalnya mundur dari benda yang pertama tadi? Lihat contonya main knikker. Kalu kekuatan itu pindah, mengapakah kita tiada lihat ada perobahan suatu apa di atas dua benda tadi, kecoaeli gerak dan diam?
Di sini kita belum priksa apakah yang dinamai kekuatan dan dari mana asalnya, maski pun kita sudah yakin tentang adanya. Dan kalu bumi terputer, dari mana dia dapat kekuatan? Kita punya rasa dengan gampang boleh membedakan gerak dengan diam. Tetapi kalu kita duduk di dalam kreta-spoor di mana wissel dan ada lagi lain kreta yang weliwati satu sama lain, maka terkadang kita lihat lain kreta bergerak, yang sebetulnya diam, dan terkadang kita lihat kita punya kreta yang berjalan, padahal sebetulnya diam. Nyatalah kalu kita lihat gerak, boleh jadi itulah diam, dan kalu lihat diam barangkali itulah gerak.
Di sini kita belum tanya bagaimana mula asalnya gerak dan bagaimana mula asalnya diam. Manusia sudah sanggup menetapkan bahua gerak tiada boleh diam sendirinya, kalu tiada tertahan oleh rintangan dari lain pihak. Upamanya kalu sebiji knikker (gundu) bergelinding di tempat rata waterpas, niscaya dia terus bergelinding tiada habisnya sampai dia ketemu apa-apa yang menghalangi jalaninya, maski pun sebiji pasir, baruliah boleh berdiam. Demikianlah terputarnya bumi tiada berhenti kalu tiada dirintangi. Lain dari itu, apa juga di dalam Alam ini tiada yang diam hanyalah berdebar (trilling) selama-lamanya, maski pun gerak atau debar itu tiada semua boleh dilihat. Akan tetapi apakah debar itu bukan asal dari diam? Karana kalu gerak tiada mampu jadi diam sendirinya, niscaya gerak itu tiada mampu juga bergerak sendirinya, tentu saja tiada gerak, hanyalah yang ada diam. Dan kalu gerak hanya boleh berdiam lantaran kena pengaruoh dari luar, niscaya diam tiada boleh bergerak kalu tiada ditulung dari lain pihak. Maka menurut pemandangan mata, nyatalah ada diam dan ada gerak. Baiklah! Kalu kita terima adanya bagitu, dan terima tiap-tiap sesecatu ada punya kekuatan sendiri, maka siapa yang boleh gunakan kuatnya lebih banyak, dialah yang menang. Tetapi ini perkataan kekuatan sama sekali tiada membikin terang pada pengertian akal manusia.
Kita ambil conto saja bagaimana manusia dengan kepintaran wiskunde boleh tahu berapa tenaganya kekuatan tarik-menarik di antara beberapa bahagian benda. Bagitulah kita boleh lihat pekerjaaan kekuatan tarik-menarik di antara benda yang besar-besar. Dengan kekuatan penariknya matahari dan rembulan pada kita punya bumi, itulah disebabkan aer pasang dan surut. Kalu suatu benda di muka bumi ini ada yang berat dan enteng, inilah sebabnya kekuatan penariknya bumi. Dan kekuatan tarikan itu tiada sama diantiro bumi tetapi semangkin dekat guthub (pool) semangkin tambah kuatnya. Akan tetapi ini semua bukan kita jadi tambah mengerti tentang kekuatan, hanyalah boleh kasih nama tarik, karana kalu kita punya badan bisa tarik apa-apa dari luar, upamanya kalu aer siroop semangkin dekat mulut semangkin lekas masok di dalam perut, inilah tandanya di dalam diri kita ada kekuatan penarik, tetapi apa itu, belum ada manusia yang tahu.
Sekarang kita kombali lagi tentang adanya gerak dan diam. Cobalah kita periksa, apakah yang ada di antara gerak dan diam. Maski pun gerak boleh diukur kendor-kencang-nya, tetapi kalu saja kita suka pikir lebih joaeh, niscaya kita tiada mampu dapatkan bagaimana halusnya pecah an gerak di antara kendor dengan diam. Karana berapa juga perlahannya gerak, belumlah boleh dikata diam, tetapi sebelumnya diam, tetaplah ada perlahann ya gerak; maka cara bagaimana kita punya akal boleh pikirkan akan pecah perlahan tadi sampai jadi hilang kendornya sama sekali, berganti jadi diam.
Bagitulah juga kalu kita mau pecah suatu benda, bukan saja tiada ada manusia sanggup pecah sampai di-penghabisan dengan perbuatan, tetapi juga tiada mampu pecah dengan akal-pikiran. Karana tiap-tiap benda itu, niscaya boleh dipecah terus-terusan, atau tiada. Kalu batu koral boleh dipecah sekali, niscaya boleh dua kali dan terus menerus pecah beryuta-yuta kali sampai halus menyadi tepung. Dan sebiji tepungnya niscaya boleh dipecah seribu kali sampai beterbangan ditiup angin, tetapi inilah bukan namanya habis, hanyalah kalu dipecah terus menyadi hilang dari pemandangan saja, bukan-lah menyadi kosong alias sang tiada. Maka tiap-tiap belum jadi habis, niscaya belum datang timponya akan berhenti dipecah, karana tiada didapat sebab yang cegah pecah itu terpecah terus. Akan tetapi apabila keadaan pecah belum juga habis tetkala benda pecahna yang terla-lu halus hilang dari pemandangan, niscaya pikiran manusia tiada sanggup bayangkan keadaan yang bagini macam.
Lebih nyata lagi, yang kita punya akal tiada punya kekuatan akan pikir bagaimana kesudahannya, kalu kita membahagi angka, karana kita boleh bahagi sampai jadi se-peryuta-yuta terus tiada berhentinya, dan juga kita boleh pukuI angka dari dua kali sampai beryuta-yuta kali, tiada berhenti tiap-tiap hari seumur hideop niscaya belum ada kesudahannya, akan tetapi kalu baru sebulan saja kita teruskan, niscaya kita punya akal mesti mandeg, karana tiada sanggup bayangkan macamnya angka itu. Dan, andai kata, kita boleh bayangkan dengan pikiran, kita jadi tercengang, karana kita terus menanya pada diri sendiri sampai dimanatah penghabisannya, maka kita jadi terpaksa tundukkan kepala dan mengaku yang kita tiada mengerti.
Kita mau balik kombali sebentar saja tentang gerak atau jalan. Di sini dimaksudkan ce patnya perjalanan dari suatu tempat kelainnya. Adapun dahelul kala orang kira bahua jalannya cahaya tiada mengambil timpo. Belakangkali orang punya pendapatan yang cahaya punya jalan kira-kira 300.000 k.m. di dalam 1 seconde, suatu kecepatan yang tiada bandingannya di dalam pemandangan manusia. Cobalah pikir bagaimana rasanya kalu kita boleh andai-kan kecepatan bagitu.
Di sini kita belum menanya apakah yang dinamai timpo atau waktu? Apakah waktu benar-benar ada? Kita jangan kilru bahua jalannya bumi berhubeng dengan matahari dan rembulan memang disebut timpo. Itulah bukan waktu atau timpo, tetapi suatu kejadian atau gerak yang kita pakai buat ukur panjangnya waktu. Kalu kita kata pagi, inilah disebabkan melihat matahari timbul di sebelah wetan, dan sore kalu matahari teerun di sebelah kulon, nyatalah itu bukan waktu, tetapi geraknya bumi bertentangan matahari. Manatah waktu yang kita rasai lamanya dan leksnya? Kalu kita kata: dahelul, sekarang dan komdian, inilah umumnya dinamai waktu, tetapi kalu kita pikir lebih jauh bagaimana adanya waktu, kita sendiri jadi tercengang, karana apakah waktu ada di dalam Alam, atau Alam ada di dalam waktu? Dan kalu kita tanya lagi manakah yang lebih tua di antara Alam dengan waktu, niscaya kita punya pikiran jadi mandeg.
Dan kalu kita berani menetapkan adanya terang karana cahaya, kita lantas menetapkan adanya gelap oleh karana ketiadaan cahaya, padahal apatah bedanya antara terang dengan cahaya. Baiklah sekarang kita kata saja bahua cahaya dan terang ada sipat dari suatu dzat yang kita namai matahari. Maka lantas kita jadi menanya dari manakah datangnya gelap? Inilah disebabkan oleh karana matahari tiada berhadap-hadapan dengan bahagian bulatnya bumi tempat kedoodukan kita, yang kita jadi namai malam, sehingga cahayanya menerangkan saja lain bahagian bumi, dan kalu andainya kita dapat juga sedikit cahaya dari rembulan dan bintang, inilah bukan cahaya yang aseli, hanyalah sorot dari cahaya matahari yang ditendang kombali oleh rembulan dan bintang sampai di tempat kita. Oleh karana itu, kita jadi sangka kalu andainya tiada matahari dan tiada cahaya, niscaya kita punya keadaan di dalam gelap, atau timbullah sang-gelap. Lagi sekali kita tanya dari mana timbulnya gelap itu, karana kalu andainya gelap bukan suatu keadaan, apakah sebab boleh dilihat rupanya dengan mata? Dari sebab itu, kita jadi terpaksa menetapkan adanya gelap, iaitu mustahil gelap itu suatu ketiadaan, karana kita belum sekali-kali mendapatkan ketiadaan yang boleh dilihat, padahal maski pun yang tiada kelihatan, upama udara sudah tiada dapat ditulak adanya. Dan dari sebab tiap-tiap keadaan, tentulah dzat atau sipat dari dzat, niscaya gelap itu kalu andainya sipat, tentulah berdiri pada dzat. Kalu kita mau cari dzatnya, hanyalah kita mesti pikir sebentar pada ketiadaan cahaya, sehingga apa juga yang ketinggalan di dalam Alam ini berupa gelap, maka jadi nyata Alam ini upamanya mempunyai sipat gelap, andai kata, ketiadaan matahari. Tetapi kalu kita andaikan sebentar ketiadaan alam, niscaya berbareng dengan hilangnya alam tentulah hilang juga sipatnya yang dinamai gelap. Maka kita jadi menanya lagi, apakah yang akan jadi, apabila ketiadaan terang berbareng dengan ketiadaan gelap? Demikianlah kalu kita andaikan gelap itu suatu keadaan, niscaya kita bingung sendiri.
Akan tetapi kalu orang yang tadinya melek komdian buta dua matanya, iaitu orang yang tiada melihat mengaku ada di dalam gelap, niscaya kita mesti terima yang gelap itu suatu ketiadaan iaitu bukan dzat dan bukan sipat, karana orang buta tentu tiada melihat sesoateu keadaan.
Maka yang kita boleh pikir lagi, adalah gelap disebabkan juga oleh cahaya, maski pun pikiran bagini disangka mustahil dari karana sudah lumrahna tiap-tiap ketiadaan cahaya mendatangkan gelap.
Apabila kita memandang suatu benda yang rapat, tebal dan besar, kena sorot cahaya, dan sorot itu tiada kut tembus di dalam benda itu, maka timbullah bayangan yang gelap rupanya di sebelah benda yang tiada kesorot, menuju kelain pihak. Apakah timbulna bayangan (gelap) itu disebabkan oleh karana sebahagian dari dzatnya benda itu terencar ditendang oleh cahaya menyadi bayangan? Ertinya: apakah bayangan itu suatu keadaan (penuh) atau suatu ketiadaan (kosong)? Kalu keadaan, mengapakah bayangan tiada bekasna dan benda tiada jadi kurang apabila benda dipindahkan? Kalu ketiadaan, mengapakah ada rupanya dan sipatnya?
Demikianlah kita boleh bicara panjang lebar tentang timbulna gelap dari grahana-matahari, akan tetapi bukan jadi tambah mengerti tentang sang gelap, hanyalah jadi semangkin tiada mengerti, karana kalu andainya sang terang dan sang gelap berbareng hilangnya, apatah yang akan terbit pada pemandangan mata?
Maski pun demikian, adalah manusia suka sekali membenarkan pengertiannya sendiri, yang sebenarnya bukan pengertian, inilah tiada mengapa, asal saja jangan merendahkan lain pihak punya pengertian, sebelumnyia priksa lebih dahulu sedalam-dalamnyia bagaimana lain orang punya pendapat.
Bagitulah tiada kurang manusia yang menuntut kepintaran-dunia mencela pada orang yang belajar kepercayaan agama tentang adanya jiwa dan ruh. Dari karana dia sendiri belum pernah melihat bagaimana macamnya jiwa, maka ditulak adanya jiwa. Akan tetapi dia sendiri belum pernah lihat bagimana macamnya aether, tokh dia berani pastikan adanya.
Apakah yang sebenarnya aether itu? Kita sudah tahu asalnya panas dibawa oleh sorot matahari ke bumi. Cara bagaimanata panas yang ada dimatahari boleh terbawa oleh sorot, sampai ke bumi, apabila di antara bumi dan matahari ada suatu lapang yang kosong? Inilah mustahil, maka wa-jib ada lagi lain dzat yang lebih halus dari udara yang memenuhi antara matahari dan bumi, sehingga tiada putus hubengannya. Bukan itu saja, tetapi antiro Alam ini mesti penuh dengan aether yang tiada dapat dilihat dan tiada dapat dirasai saking halusnya. Itulah semacam dzat yang kuat sendiri, karana tiada lain dzat yang boleh meng-halangi aether itu yang senantiasa berdebar, dan tembus memnbus di dalam lain benda dan dzat, Biarpun bagaimana rapatnya. Kalu upamanya kita pindahkan glas berisi aer dari suatu tempat kelain tempat, niscaya aether itu tetap saja tembus di dalam glas dan di dalam aer, maka beda sekali dengan kuatnya udara.
Lihatlah bagaimana pengertian marika itu tiada beda dengan pengertian tentang adanya jiwa. Akan tetapi kalu ulama-ulama Hindu ada punya pengertian tentang jiwa dan Islam dan Kristen ada punya kepercayaan tentang ruh, maski pun ini pengertian barangkali belum bagitu tinggi sebagai di-Hindustan, lantas marika itu tulak pengertian itu dengan katanya itulah bukan pengertian tetapi persangkaan belaka. Inilah tiada adil, Meskipun kita tiada mau mungkir bahua di antara orang-orang beragama ada banyak yang tiada hargakan dan tiada hormatkan ilmu-dunia dengan sepantasnya, dan imi pun curang juga namanya.
Padahal yang sebenarnya du a macam pengertian itu, hanyalah pengertian yang tiada dimengerti alias bukan pengertian.
Dan apakah yang sebenarnya kita lihat sekarang?
Pertama: Semangkin maju pengetahuan dan kepintaran-dunia, semangkin nyata kekurangan pengertiannya, karana ada saja apa-apa yang baru didapatkan-nya yang tadinyia tiada masok di dalam pengetahuannya. Kalu upamanya pengertiannya sudah cukup, niscaya tiadalah sehari-hari dia hadapkan apa-apa yang dahuoienya dia belum tahu. Dan maski pun demikian, tiada kurang di antara marika itu berasa derajatnya lebih tinggi dari orang yang ber-agama.
Kadua: Demikian juga halnya dengan pengetahuan agama, semangkin lama semangkin kurang pengertiannya, karana semangkin banyak perselisihan pahamnya. Kalu andainya, pengertian agama semangkin maju, niscaya yadi semangkin bulat, tiada terpecah-pecah banyak sebagai sekarang. Akan tetapi ada bedanya sedikit, karana kalu pengeta-hocean-dunia membawa takbur, adalah pengertian agama, semangkin tunduckkan kepalanya, karana sudah sedar dan insaf bagaimana rendah deradaytnya manusia. Di sini hanyalah kita maksudkan orang-orang beragama yang sudah matang pelajarannya di dalam ilmu “Tasawwuf”, bukanlah kebanyakan guru-guru agama yang maski pun tahu bahasa Arab upamanya, dan mengaku-ngaku sudah tinggi pengetahuannya, padahal kalu ada pertanyaan yang sedikit dalam, lantas bikin takaot murid-murinja dan orang-orang yang bertonya, dengan perkataan kafir, dan lain-lain perkataan yang tiada enak.
Sahadan apabila kita sudah timbang menimbang hal yang tersebut itu, dan timbang lagi segala yang dipikirkkan di dalam Bahagian II dan III, niscaya kita jadi yakin, bahua sebelunnya manusia sanggup menerangkan manatah yang lebih tua di antara telor dan ayam yang sehari-hari ada di hadapan kita, belumlah kita mempunyai kemampuan akan menetapkan adanya dan tiadanya dzat dan sipat yang belum didapat oleh panca-indria.
Di dalam Bahagian V kita mau priksa apakah manusia ada punya kemampuan akan kenal dirinya sendiri.
Dan akan menutup Bahagian IV ini, kita yakin bahua tiap-tiap pemuda sudah habis belajar kepintaran-dunia, tiada segan membaca kitab-kitab agama, niscaya dapatlah dia membedakan di antara socatu ilmu dengan lain ilmu dan tiadalah dia gampang percaya dan terima saja kebenaran bicaranya manusia yang dia sangka sudah pintar, sebab bergelar professor, doctor atau meester. Karana bagaimana tinggi juga pengertian manusia, tiadalah boleh luput dari kliru.
Dan tiada beda bagi orang yang beragama, apabila terlalu percaya bicaranya orang yang bergelar ulama, dengan tiada pakai akal-pikirannya sendiri, niscaya belumlah boleh pakai nama manusia, hanyalah hewan yang boleh bicara dan ketawa hampir sama dengan monyet.
Dari sebab itu tiada patut kita mesti sangka tiap-tiap manusia sudah bergelar professor dan sudah bergelar ulama-agama tentu benar bicaranya dan pendapatannya, sebelunnya kita gunakan akal kita sendiri. Sebaliknya jangan sangka tiap-tiap manusia yang piku kranjang tentu bodoh dan butak utaknya, sehingga kita teotup kuping atau tertawa kalu dengan perkataannya yang kita sangka tentu tiada benar dan tiada berguna. Karana apabila kita punya sikap dan azas sudah biasa berani tentukan lebih dahulu keadaan atau ketiadaan apa juga yang kita belum pikir dan belum timbang matang-matang, niscaya sia-sia juga kita mempunyai utak-kepala, boleh buang saja biar dimakan binatang, barangkali binatang itu lebih suka gunakan akan gantikan derajat kita.
Maka bukanlah kita mau bilang, bahua tiap-tiap timbangan, yang dipikir dengan matang, tiada boleh kilru, karana kalu kita punya diri sendiri, hanya diketahui dengan s-a-m-a-r-s-a-m-a-r, cara bagaimanatah kita mamu menentu-kan benarnya timbangan sendiri. Akan tetapi tiap-tiap manu-sia sudah biasa luaskan pemandanganya panca-indria dan akalnya, niscaya selamanya dia dapatkan contonya, ba-hua timbangan, yang sudah menjalani critiek dan sudah diuji dengan akal-pikiran, lebih utama dari lain macam timbangan.
Dari sebab itu kalu andainya ada orang, yang sudah dewasa, tadinya tiada belajar disekola, tiada usah kecil hati dan berasa akan tetap tinggal di dalam kebodohan, dan tiada usah takut bicara sama orang yang pintar ilmu-dunia Ataupun ilmu-akhirat. Apabila dia rajin bertanya dan gunakan panca-indria dan akalnya, niscaya lambat laun dapatlah hasilinya yang boleh membikin untung kehidopannya.
Dan kalu pembaca kurang percaya yang manu-sia, bagaimana tinggi juga pengetahuannya, tiada tahu akan dirinya sendiri, marilah kita pindah kelain Bahagian akan tilik bagaimana jalannya orang mengenal diri.
BAHAGIAN V
MOTTO (pribasa):
“Siapa kenal dirinya, niscaya kenal Tuhannya.”
Kalu kita kata usul, dimaksudkan pekerjaan pikir-mempikir tentang asalnya kita punya diri dan tentang Sebab Yang Pertama, yang menyebabkan keadaan kita. Timbulnya pikiran demikian, ialah karana menurut pemandangan kita, tiada suatu pun boleh menyadi, melainkan kalu ada sebabnya lebih dahelulu.
Upamanya seorang berjalan di bawah puhon kelapa dan ketimpah buhnnya, niscaya banyak sekali sebab-seabnya, ia-iteo barangkali karana pada waktu itu tiada punya pekerjaan lain, lantas jalan-jalan di dalam kebon, tiba-tiba melihat bajing jatuh di tanah, mau ditangkapnya. Kalu andainya dia lagi tidur di dalam rumahnya, niscaya pada waktu itu, buah kelapa tiada menimpah dirinya. Tetapi apakah sebabnya bajing itu jatuh pada waktu itu? Inilah tentu ada sebabnya. Dan kita belum tanya apakah sebabnya buah kelapa jatuh pada waktu itu. Barangkali sebab angin keras datang dari sebelah wetan, karana kalu upamanya angin meniup dari kulon, barangkali buah itu tiada jatuh. Tetapi apa sebab angin datang dari wetan pada waktu itu, tentulah juge ada sebabnya. Dan kalu kelapa yang jatuh itu memang sudah kering, kita jadi menanya, mengapakah yang empunya tiada alap lebih dahelulu, dan kita teroses tanya sebab apa orang sudah tanam puhon kelapa di situ, karana kalu di situ ditanami bibit atau biji jambu, niscaya tiada tumbuh puhon kelapa di situ.
Bagitulah kalu mau dicari sebab-sebab yang bersusun tindih itu, niscaya tiada habisnya, maka oleh karana itu, kita jadi terpaksa melangkahai segala sebab yang banyak itu dan mencari saja sebab yang bermula sekali. Dan itu sebab yang dicari sekarang, mesti ditujukan pada sebab yang bermula bikin ada pada manusia, bumi, puhon, hewan, aer, udara dan cahaya yang jadi pokok kehidopean serta lain-lain. Sudah tentu jadi berhubun dengan sebab mula adanya matahari, rembulan dan bintang-bintang, ia-iteo segala isi alam ini, karana kalu mau dicari sebab permualan yang ada di muka bumi saja, niscaya sesudahnya itu, kita mesti pikir lagi sebab mulanya yang ada di luar bumi. Lain dari itu, memangnya kita mau cari sebab yang pertama sekali, maka sudah tentu mesti pikir satu sebab saja, yang menyebabkan adanya Alam, karana kalu mencari lebih dari satu sebab, niscaya kita balik kombali pada sebab-sebab yang banyak seperti tersebut di atas tadi. Maka apabila kita sudah mendapat itu sebab tentang adanya Alam, niscaya itulah juga sebab tentang adanya kita, karana menurut pemandangan, nyatalah kita punya diri ada sebahagian dari alam.
Di sini kita tiada perlu lagi mencari sebabnya alam, karana di dalam Bahagian II sudah pikir dengan panjang lebar, di situ akal sudah payah, di sini kita mau coba pikirkan saja bagaimana kita punya diri, barangkali ini pertanyaan lebih gampang didapat jawabnya.
Oleh karana kita belajar berpikir, baiklah kita bergantung pada lain orang punya putusan atau pribasa, yang bunyinya: “Siapa kenal dirinya, niscaya kenal Tuhannya.” Adapun yang khabarnya mulai keluarkan perkataan: ”kenalilah dirimu,” ialah Socrates seorang ulama besar dari filsafah Griek. Di belakang kali orang obah dan tambah seperti dibunyikan diseblah atas tadi.
Dengan perkataan itu, mau dipikir lebih dahulu bagaimana kita boleh kenal diri sendiri. Inilah kita kira memang gampang sekali. Karana seorang buta Sekalipun, niscaya tahu yang dirinya bukan batu-kali dan bukan lain orang yang di luar badannya. Manusia yang waras utaknya tiada boleh kliru kaleo disuroh tunjuk dirinya, Biarpun umurnya baru 3 4 tahun. Bagitoleah di antara orang laki-bini, tiada boleh kliru, yang sang laki sangka dirinya perampunan, atau sang perampunan sangka dirinya jadi sang laki, maski pun terkadang berebut kuasa. Kalu orang tua memandang kaca, dia tiada heran, apa sebabnya nona-nona muda tiada suka memandang lama-lama padanya seperti 30 tahun yang telah lalu, dan dia jadi sedar bagaimana bedan ya dia punya diri pada waktu itu dengan sekarang, dan kalu dia kurang sabar, tentu itu kaca dibikin pecah. Maski pun diri sudah berobah bagitu, manusia berani tentukan dengan pasti, yang dia punya diri belum ketukear dan belum tergantiganti. Ertinya kita tahu benar-benar yang kita punya diri sekarang, itulah juga diri yang dahulu.
Dari sebab itu, kalu ada orang berani kata, yang kita tiada kenal kita punya diri, niscaya kita jawab itulah mustahil.
Akan tetapi apabila kita teruskan berpikir lebih jauh, kita sendiri jadi heran dan getun bagaimana kita dapat menentockan, yang kita punya diri sekarang, memang diri yang dahulu, dan bagaimana kita boleh tahu dan kenal kita punya diri. Karana tiap-tiap tahu dan kenal, niscaya selamanya mesti didapat dari pemandangan panca-indria, dan tiap-tiap mengerti mesti didapat dari pemandangan akal, yang satu persatu mesti ditujukan lebih dahulu pada benda atau dzat dan sipat dilua r kita punya diri.
Nyatalah tiap-tiap dikata tahu, kenal dan mengerti, niscaya sedikitinya mesti ada dua dzat yang berhadapan satu sama lain, iaitu satu dzat yang memandang dinamai subyect, dan satu dzat lagi yang dipandang dinamai obyect. Bagitu-lah kalu kita mau beli barang, mesti kita priksa dahulu baranganya, ialah subyect priksa obyect. Perlu kita ingati bedanya subyect dengan obyect, supaya sebentar kalu sudah bayar harganya barang, jangan kita salah bungkus kita punya diri sendiri akan dipiku bawa pulang.
Oleh karana di dalam hal demikian, jarang kita boleh kliru di antara subyect dengan obyect, maka sudah terang sekali, yang subyect tiada mampu kerja kalu tiada obyect, karana kalu andainya kita sudah boleh bungkus sendiri kita punya diri, niscaya kita tiada mampu pikul kita punya diri yang terbungkus itu akan bawa ke mana-mana. Ertinya subyect tiada mampu memandang subyect, dan subyect tiada mampu telan subyect. Bagituolah kita punya mata tiada mampu pandang kita punya mata sendiri, dan kita punya diri tiada mampu telan kita punya diri sendiri. Apabila sudah pikir bagitu, niscaya kita yakin yang subyect melainkan mampu kerja kalu ada obyect.
Maka kita jadi menanya, bagaimanakah kita punya diri mampu memandang diri sendiri? Masik pun boleh lihat diri sendiri di dalam kaca, kita tahu yang bayangan di dalam kaca bukan kita punya diri, karana kalu kita menghadap kekulon, dia menghadap kewetan, dan kita punya kanan jadi kirinya. Demikianlah kita hanya boleh membedakan kita punya diri dengan lain orang, karana dirinya orang banyak kita jadikan obyect.
Dan berapa jauh juga kita pikirkan, niscaya di dalam erti tahu dan kenal, mesti ada dua dzat atau lebih. Dengan bagini kita belum ketemu pengertian “kenal diri sendiri.”
Dari sebab kepingin jadi ahli-pikir, maka kita terus pikirkan kita punya diri, dan “kita jadi berpikir yang kita berpikir”. sehingga kita punya akal sendiri mesti terima adanya kita punya akal. Di sini terang sekali yang akal memandang pada akal, atau lebih betul yang akal pikirkan akal. Kalu bagitu, niscaya di dalam kita punya diri sedikitinya mesti ada dua akal, iaitu satu yang berpikir dan satu lagi yang dipikir. Akan tetapi juga kalu obyect ada satu saja, niscaya subyect tiada sanggup tahu bagaimana obyect, karana tiada lain apa-apa yang boleh dibikin bandingan. Dari itulah perlu sedikitinya ada dua obyect akan dibanding-bandingkan. Dari manatah kita mesti dapat di dalam diri lagi satu akal supaya cukup ada satu akal jadi subyect dan dua akal jadi obyect? Dan apabila kita terus pikirkan, kita tiada dapat mem-bedakan di antara suatu akal dengan lainnya, maka kita jadi balik lagi dengan menetapkan adanya satu akal saja, maski pun kita sendiri jadi heran bagaimana subyect boleh kerja zonder obyect. Maka kalu sekarang kita sudah tentukan adanya satu akal saja, kita belum ketemu yang manakah kita punya diri. Apakah akal itu kita punya diri yang sebenarnya diri, atau bukan? Bagiteloah juga kalu disebut sumangat, kita belum mengerti yang mana dia. Dan sebelumnya mampu menjawab pertanyaan ini, belumlah kita sanggup kenal diri, melainkan sekadar mampu bedakan di antara diri dengan lainnya. Maka adalah sebab yang menghalangi kenal diri, oleh karana apabila diri dijadikan subyect, niscaya mesti dicari obyectnya diluear diri, bagitu juga apabila diri dijadikan obyect, niscaya mesti dicari subyectnya diluear diri. Padahal Biarpun lain manusia, kita dijadikan obyect, belum kita sanggup kenal yang mana dirinya pada pengertian yang dalam. Supaya boleh tereoskan pikir maksudnya pribasa tadi, bahua kenal diri menjadi kenal Tuhannya iaitu Allah, kita mesti andaikan yang kita sudah kenal diri. Apakah maksud pribasa itu, bahua kita punya diri itulah kita punya Tuhan? Kalu bagitu, kita ada di dalam Tuhan, atau Tuhan ada di dalam kita, atau bercampur adeok, maka tiada beda dengan patokan C dan D di dalam Bahagian II dari buku ini, bahua alam ada di dalam Tuhan, atau Tuhan ada di dalam alam, atau bercampur adeok keduanya, sehingga kita punya diri disamakan dan disebangsakan dengan Tuhan. Dengan pengertian bagini kita juga belum boleh puas, karana akal misih dapat menulak. Inilah gunanya ilmu usul di dalam agama, akan tetapi ilmu bagini ada yang rendah dan ada yang tinggi, karana apabila agama sudah berdebat atau beradu pikiran dengan ahli-ahli-pikir, niscaya tiada dapat bertahan dengan usul yang rendah. Dan apabila sudah beradu pikiran di dalam ilmu usul yang tinggi, niscaya kita jadi sedar yang akal tiada sampai kuat akan andaikan atau bayangkan Dzat dan Sipat Tuhan Yang Maha Kuasa, karana kalu diri sendiri yang bagitu dekat, kita belum kenal, bagaimanakah sanggup kenal pada Tuhan, yang belum pernah didapat oleh pemandangan. Dari sebab itu kalu dikata: “siapa kenal diri sendiri, niscaya kenal Tuhannya”, inilah benar juga, karana perkataan itu tiada beda kalu dibunyikan: “siapa tiada kenal diri sendiri, niscaya tiada kenal Tuhannya.”
Maka kalu akal sudah mufakat yang kita tiada mampu kenal kita punya diri yang sebenarnya diri, niscaya mesti terima juga tiada sanggup kenal Tuhan punya diri.
Dan bukan saja tiada kenal, tetapi juga tiada mengerti, yang mana kita punya diri, karena apabila akal sudah tiada sanggup menentokan bagini atau bagitu tentang dzat diri, inilah tandanya kita tiada mengerti diri sendiri.
Sekarang kita mau coba priksa, apa kita boleh mengerti sebahagian saja dari kita punya diri, upamanya: apa sebab kita punya mata boleh melihat dan kuping boleh mendengar?
Kalu mata mau gunakan penglihatan, maka selainnya dari mata, mesti ada lagi suatu benda dan ada cahaya. Cahaya ada punya kekucatan akan pencar dia punya sinar, apabila sampai sinar kepada benda, bukan saja benda itu mam-pu terima itu sinar, tetapi benda itu ada punya kekucatan akan tendang kombali sinar itu sampai terpencar kelain pihak, dan kalu mata memandang kejurusan benda itu, maka selama ada cahaya, niscaya itu sinar terus berbalik terpencar sampai di mata. Dan apabila kejadian bagini, lantas mata memberi khabar kepada utak, dan sekutiika itu kita sedarah dapat melihat benda tadi. Bagitulah rembulan suatu benda yang terima cahaya dari matahari dan sorotkan kombali sinar-nya cahaya hingga terpencar dan sampai diboomi. Dari sebab jalannya sinar hampir tiada mengambil waktu, saking ce-patnya, itulah sebabnya timbul penglihatan dengan ceapat juga.
Kalu kuping boleh mendengar, inilah disebabkan suara, yang timbul, jadi terpencar di dalam udara sampai masok ditangkap oleh kuping yang memberi khabar kepada utak, sehingga sedarah kita mendengar suara itu.
Demikianlah ringkesnya atau singkatnya tentang pengli-hatan dan pendengaran, karana maski pun hal itu boleh di-tunjuk oleh orang-orang yang pintar di dalam ilmu-dunia dan ilmu-filsafah, sehingga susah ditulak kebenaranmna, akan tetapi belum menjadi “keterangan” apa sebab kita jadi boleh melihat dan mendengar.
Karana kalu kita lagi tidur pulas seorang diri di dalam kamar waktu malam dengan bergelap serta, kuncikan pintu dan jendela, nyatalah kita sendiri di situ; tetapi apakah sebabnya kita boleh lihat rupa-rupa benda dan rupa-rupa orang dan hewan, yang memang tiada dilihat oleh mata dan tiada disorot oleh cahaya? Inilah upamanya kalu kita b er-mimpi. Dan apakah sebabnya di dalam, mimpi kita mendengar suara yang memang tiada ada? Dan apakah ertinya kalu kita bermimpi yang kita mimpi?
Kalu kita jawab bahua penglihatan di dalam mimpi di-sebabkan oleh karana ingatan memang simpan segala penglihatan yang telah lalu, sehingga di dalam tidur terkadang ingatan itu timbul sendirinya, inilah kita tentu belum puas dengan jawaban bagitu. Karana ingat melihat atau melihat dengan ingatan zonder melek mata, memang benar boleh jadi, akan tetapi di dalam mimpi bukan kita ingat penglihatan yang telah lalu, hanyalah kita punya mata “berasa melek dan melihat” secara bukan di dalam tidur. Apabila kita bangun dari tidur, barulah kita ingat apa yang kita lihat di dalam tidur. Nyatalah di dalam mimpi bukan kita ingat melihat, tetapi “memangnya melihat dan dengar.” Di sini nyatalah subyect bekerja dengan tiada obyect, dan inilah sebabnya kita semangkin tiada mengerti akan diri sendiri. Dan kalu upamanya mau juga mengerti akan diri sendiri, niscaya kita mesti ambil putusan bahua diri bukan saja subyect, tetapi juga obyect, sehingga subyect dan obyect menjadi satu, maka kita jadi semangkin heran, apakah sebabnya satu jadi sama dengan dua, padahal menurut kita punya pikiran bahua satu bukan dua, dan dua bukan satu.
Dan apabila pikir, yang kita tiada dapat menentukan manatah kita punya diri, yang sebenarnya diri, karana kita sebagai subyect tiada mampu kerja dengan berhasil kalu ketiadaan obyect, maka kita sangka yang kita mampu menentukan apa-apa, apabila sudah ada obyectnya, iaitu kita sangka sudah tahu benar-benar, sudah mengerti tentang sesuatu yang kita dapat pandang dengan panca-indria; inilah persangkaan yang kliru sekali.
Kalu kita kata saja, tahu dan mengerti juga bagaimana kita “ambil guna” dari benda-benda yang kita hadapkan, inilah tiada salahnya.
Sembarang orang boleh ambil guna bagi makanannya akan keuntungan dan kesehatan dirinya, maski pun terkadang boleh kliru; tetapi apakah dia mengerti nasi, lalap dan sambal yang masok di dalam mulutnya, inilah tiada. Dia tahu saja bedanya dan samanya di antara suatu dan lainnya dan tahu gunanya menurut pendapatan yang telah lalu, dia tahu bedanya di antara laki-laki dan perampuan, antara tua dan muda, antara terang dan gelap, tetapi apa itu semua dia tiada tahu, maski pun berapa tinggi juga ilmunya. Apakah sebabnya binatang, yang baru keluear dari perut, lantas mencari susu biangnya? Pertanyaan bagitu boleh dijawab dengan panjang lebar, akan tetapi penghibisannya mesti mandeg dengan perkataan tiada mengerti.
Kalu kita tilik tentang benda yang kasar upamanya bumi, yang terputar, apakah sebabnya kita lihat semata-mata, matahari yang keluear dari wetan dan turun dikelon, sehingga kita sangka yang matahari berputar sekullling bumi 24 jam lamanya. Kalu bagitu barangkali kalu kita lihat berputar boleh jadi sebenarnya diam dan kalu lihat diam boleh jadi berputar. Dan kalu kita teruskan tanya bagitu, maka boleh jadi apa yang dilihat ada, sebenarnya tiada; dan apa yang dilihat tiada, sebenarnya ada, sehingga kita sendiri hampir tiada mengerti, apakah benar-benar ada atau tiada, maka kalu pikir bagini tentu jadi gila.
Di sini kita mau berhenti pikir sebentar akan lanjutkan di dalam Bahagian VI.
Sebagai penutup Bahagian V ini, adalah dimaksudkan di sini, bahua semangkin kita lanjutkan akal, semangkin nyata gelapna keadaan diri sendiri, tetapi semangkin nyata keadaan suatu dzat yang jadi lawannya atau tegestelling yang terang sendiri, karana kita belum kenal gelap, melainkan kalu ada lawannya terang. Dan itu dzat kita namai terang, bukan karana tahu dan mengerti, tetapi kita kata bagitu, karana berasa yang kita punya diri gelap, sehingga juga tiada mampu akan sebut namanya dzat itu dengan perkataan cara manusia. Dari sebab itu, nyata sekali kalu kita sebut namanya dzat itu dengan sebutan lidah upamanya Allah atau Yahve atau Brahma atau Thi-Kong, bukanlah karana bagitu namanya, tetapi perlu jadi perbedaan di dalam bicara dan pikiran dan saneubari. Inilah sebabnya sekarang kita mau tanya pada sumangat, bagaimana timbangannya tentang adanya dan tiadanya suatu dzat yang jadi lawannya atau tegestelling dari dzat yang kita namai alam atau natuur. Dan jangan kita berebut namaNya Tuhan dengan sangka yang agama kita punya sebutan sendiri itulah nama yang benar.
Demikianlah ada orang beragama suka menghitung segala huruf dari nama Allah yang tertuis di dalam kitabnya dan kasih lagi nama bagini dan makna bagitu pada tiap-tiap huruf yang berdiri, yang bingkok, yang bundar dan yang melintang, sama juga orang mengajar ilmu ukur meektunde dan trigonometrie-tiga-penjuru karangannya ulama ahli-wiskunde bangsa Arab yang jempolan sebagai Al'Battani, Abul'Wafa dan Al'Biruni, iaiu ilmu yang suka dipakai oleh ahli-falak buat ukur bumi dan bintang, tetapi kalu kita suroh dia ukur bakul nasi saja, lantas bukan ukur bakulnya, hanya tangkap isinyia. Pekerjaan ukur huruf bagitu boleh dipelajari oleh millionnair yang sudah tiada sanggup ukur hartanya, sebab gunanya ukur huruf tiada beda dengan ukur orang lain punya kantong, yang kita tia-da boleh gunakan isinyia. Timbanglah, apakah pelajaran semacam itu tiada sia-siakan timpo dan bikin mundur kehi-dupan manusia? Tetapi jangan kasih salah pada agama, yang mustahil maksudnya suroh membucang timpo, paha hal agama tahu yang manusia punya timpo di dalam dunia terlalu sedikit.
Bagitu pun kalu upamanya ada orang, dilocear atau di dalam agama, tiada mehargai kepada pekerjaan ahli-filsafah, inilah tandanya orang itu jahil dan bodo tiada tahu yang agama dan kepintaran-dunia banyak pungut ilmu dari filsafah; atau kalu dia berilmu, niscaya dia punya sumangat kotor, tiada tahu membales budi. Jangan dikira ahli-filsafah itu kerja akan menguntungkan saja pada diri sendiri, dan jangan disangka marika itu pilih pekerjaan itu karana tiada mampu pikul lain perusahan, akan tetapi adalah pekerjaan itu bukan saja beruna buat manusia yang memerentah negeri dan yang menuntu kepintaran-dunia, padahal banyak sekali gunanya buat ulama-ulama agama; adapuen sebelumnya menjadi ahli-filsafah, memangnya lebih dahule sudah mempunyai ilmu-dunia, sehingga pemandanganya lebih awas, maka patut sekali ditempatkan pangkatnya bersama-sama atau di bawah sedikit iaitu setingkat lebih rendah dari rasuI, nabi dan resi.
Dari sebab itu kalu Islam memandang tinggi kepada ilmunya Baginda Iskandar Julkornain, Maharaja Macedonie yang kerajaannya sampai diwatas Hinduosten, inilah memang pantas, maka dengan sendirinya sengaja juga angkat derajiat gurunya raja itu seorang ahli-filsafah jempolan, Aristoteles namanya. Akan tetapi kalu seorang Moslim berani katakan kafirinya semua ahli-filsafah, niscaya dengan tiada sengaja dia kafirkan Maharaja Iskandar itu.
Bagitulah pekerjaan filsafah senantiasa mencari perbedaan antara baik dan jahat, adil dan dlalim, akan mengajar dunia di dalam ilmu-uokur, bukan buat ukur tinggiyna salang-nasi atau tebalnya ikan pindang bandang, hanyalah ukuran watsnya hak dengan hak, iaitu suatu usaha yang amat berat, bukan semata-mata sebab pikirkan swarga dan ganjaran pahala saja, tetapi terutama karana yakin bagaimana suci dan mulia pekerjaan itu.
Dan ilmu inilah yang umumnya dikata belajar kenal diri, diluear pengertian yang kita sudah bicarakan lebih dahule di atas tadi. Apabila manusia sudah matang di dalam ilmu mengukur diri, niscaya dengan sendirinya perasaan sumangat menyadi halus dan kuat. Jangan disangka barang yang kasar itu besar tenaganya; maka siapa juga yang sedikit-dikit sudah tahu ilmu tasawwuf dan ilmu kimia (khemie), niscaya percayalah dia, bahua semangkin halus dzat, semangkin kuat tenaganya; karana dzat yang kasar tiada sanggup tulak apabila dibentur oleh dzat yang halus, maka bukan perkara yang patut diherankan kalu dzat atau badan berjiva boleh tembus menembus di dalam timbok waja sekalipecen. Bagitulah kita lihat bagaimana kuatnya cahaya yang tembus ke dalam glas. Akan tetapi terutama syaratnya, hendaklah bikin bersih diri diluear dan di dalam dari kotor, dan jaga jangan kemasokan kotor kombali, karana halus yang kotor mesti kalah dengan halus yang bersih.
Adapun erti bikin bersih di sini, kecuali dari pelajaran Budha, bukan dimaksudkan limpar segala kesenangan-dunia yang boleh didapat dengan tiada melanggar hak, bukan disuroh tutup mata kalu ada nona-nona yang manis ajak kita bicara, sehingga bikin dia sangka yang dirinya tiada can-tik; dan bukan disuroh celetang di dalam rumah kalu ada kroncong di pasar Gambir, akan tetapi mesti jaga prangi dan kelakuaan yang “melanggar hak” sama saja hak itu di dalam atau diluear diri sendiri.
Kalu orang bunoh diri sendiri Sekalipun, memanglah melanggar hak, tiada beda kalu potong kaki sendiri, niscaya bikin binasa kaki punya hak akan bertindak, tetapi bukan melanggar, kalu kaki mengandung penyakit yang bikin baha kehidopean diri, dan tiada melanggar hak kalu andai kata kita potong tangan sendiri karana tangan suka bunoh orang. Dari sebab itu kalu kita turut saja perkataan guru-guru agama yang suka melarang senangkan diri, niscaya sampai tua-bangka, beranak bercucu, kita belum pandai kemudikan diri dengan taksiran yang matang, maka selamanya perjalanan kita jadi klirru. Karana tiada beda kalu belajar stuur automobiel dengan sebentar boleh jalan-kan auto itu, akan tetapi kalu belum pandai taksir ukuran dekat-jauh, niscaya sebentar-bentar terbit tubrukan.
Dan kalu ada manuesia yang sangka dia punya Nabi sendiri yang paling baik dan bagus hukuomnya, marilah kita tilik bagaimana tinggi akal budinya seorang filsafah Tionghoa yang termasuhur bernama Kong Hu Cu yang hidup kira 550 tahun sebelumnya Nabi Isa.
Salah suatu dari pelajarannya ahli-pikir Tionghoa jempol itu yang sangat pentingnya ialah ucapan tentang perebutan hak, baginilah kira-kira bunyinya: “Kejahatan itu patut dibales dengan ke adilan.”
Sekarang pembaca. bandingkanlah dengan lain macam pelajaran tentang hal itu, upamanya dua macam, yang tersebut di bawah ini:
1e “Kejahatan itu patut dibales dengan ke ba i ka n.” 2e “Kejahatah itu patut dibales dengan keja ha ta n.”
Silakan pembaca pikir dan pilih sendiri, karana apabila pengarang yang mesti pilih, niscaya buku ini jadi semangkin tebal. Akan tetapi pendeknya, tiga-tiganya boleh dipegang, asal saja tahu ukurannya, jangan liwat watas ke adilan, sehingga berapa lama juga kita putar akal pikiran niscaya kombali pada ucapan ahli-pikir Tionghoa itu.
Nyatalah tiap-tiap bangsa ada punya peguruan yang tinggi ilmunya, maka tiada patut kalu upamanya orang Jawa punya octak disamakan saja sama pikiran tukang pikul aer.-
BAHAGIAN VI
Di dalam Bahagian II dari buku ini kita sudah bicarakan panjang lebar bagaimana akal mempikirkan Alam iaitu bagaimana Alam berdiri dengan sendirinya, bagaimana Alam jadi dengan sendirinya, bagaimana Alam berdiri di dalam dzat yang berdiri dengan sendirinya, bagaimana Alam ada sipat dari dzat yang berdiri dengan sendirinya dan bagaimana Alam dijadikan oleh dzat yang berdiri dengan sendirinya. Maka di antara beberapa pengertian-pengertian (stelling) itu tiada ada socatu pun yang boleh mufakat dengan kita punya akal yang sihat. Dan maski pun kita sudah coba mencari lain jalan yang menyimpang sedikit atau jauh dari stelling-stelling itu, bukanlah semangkin jadi terang, tetapi jadi semangkin gelap. Di situ akal sudah lelah tiada mampu kerja terus, maka kita terpaksa berhenti sebentar, mencari tenaga baru dan kita sudah berjanji akan pikirkan lebih matang lagi, supaya boleh didapat putusannya di dalam ini Bahagian VI.
Adalah yang kita maeo dapatkan putusannya di atas pertanyaan ini: “Siapakah yang lebih dekat pada kebenaran di antara dua pihak, apabila pihak yang satu terima dan pihak yang lain tulak adanya Dzat Yang Maha Kuasa.” Dan kita sengaja susun bunyinya pertanyaan ini bahua yang dicari itu bukan semata-mata kebenaran yang tiada mengandung kliru, akan tetapi cukuplah apabila kita boleh berdekatan saja dengan kebenaran dan terlepas dari pada bimbang, karana kalu manusia sehari-hari tiada terluput dari kliru, maka mustahil boleh didapat kebenaran yang sejati.
Di dalam Bahagian IV kita sudah mengaku, tiada sanggup hilangkan dari dalam diri socatu perasaan, yang kita sendiri tiada mengerti, ialah perasaan tentang adanya Dzat Yang Maha Kuasa, maski pun kita juga tiada mengerti bagaimana Kuasanya. Maka kalu kita kata “Yang Maha Kuasa”, inilah disebabkan karana perkataan itu mengandung pengakuan dengan tulus-ikhlas di dalam sanubari tentang rendahnya dan lemahnya kita punya diri dan panca-indria dan akal, maka Biarpun ada manusia yang sudah pandai terbang di udara sebagai burung dan silam di dalam laut sebagai ikan, belumlah pemandangan semacam itu sanggup hilangkan perasaan, yang kita namai ”Perasaan Sumangat”, Ataupun “Sanubari” atau ”Budi”, inilah sekadar nama saja, karana lebih dari pada nama, tiadalah kita mengerti, karana kalu kita tiada sanggup mengerti yang mana kita punya diri yang sebenarnya diri, tetaplah tiada mengerti apa yang ada di dalamnya. Inilah kita sudah lihat di dalam Bahagian V.
Adapun yang kita tahu, apabila kita tulak adanya Dzat Yang Maha Kuasa, niscaya kita punya diri dapat perasaan yang tiada senang, tiada puas, tiada jembar, sebagai ada penyakit, tetapi apa penyakit itu, tiadalah kita mengerti. Inilah umumnya di negeri Timor. Maka bukan kita maksudkan di sini perasaan dari marika itu yang takut saja siksaan di dalam kubur dan di dalam api-naraka, atau sebagai anak-anak yang takut setan, tetapi perasaan yang tulus ikhlas, ialah perasaan menanggung budi dan kemauan berterima kasih kepada siapa juga yang mula-mula menjadi Sebab dari keadaan kita.
Di sini sekadar kita berasa ada juga ketinggalan tenaga, maulah kita paksa pada akal akan terus berpikir tentang Sebab Yang Pertama, tiada perduli apa Dia itu sebangsa dengan Alam atau dengan kita, karana menurut kita punya pemandangan, mustahil kejadian apa-apa, yang tiada dikaranakan atau tiada didahului oleh sebab, maka mustahil juga adanya Alam tiada dengan sebab.
Akan tetapi tiap-tiap adanya Alam wayib dengan sebab, niscaya ini sebab wayib lagi didahului oleh lain sebab. Kalu bagini, kita jadi kombali lagi pada aturan sebab-sebab yang bersusun tindih dan berlapis-lapis tiada hinggaanya, laksana rantai yang tiada pokoknya dan tiada ujungnya. Maka keadaan bagini macam kita tiada sanggup susul dengan pikiran, karana kalu kita terus bayangkan bagitu, niscaya sampai habis napas, belulmah bertemu watasnya. Padahal menurut pemandangan kita sehari-hari, sama saja dari per-tulungan panca-indria dan ingatan, selamanya ada watas. Bukan bagitu saja, tetapi juga kita punya akal kalu sudah terlalu jauh berpikir lantas mandeg berhenti dan berbalik. Inilah tandanya yang akal sampai pada watas, dan inilah juga menyadi bukti yang akal tiada sanggup tulak adanya watas. Dan tiap-tiap akal tiada mampu tulak adanya watas, niscaya akal mesti terima adanya watas, iaitu wayib adanya watas.
Oleh karana itu, maski pun akal terima bersusun-tindihnya sebab-sebab, tiada luput akal mesti terima bahua beryuta-yuta sebab itu mesti ada pokoknya iaitu watas yang jadi perm ulaan sebab, atau dengan lain perkataan ialah sebab yang bermula sendiri tiada didahului oleh lain sebab. Dan tiap-tiap dikata sebab yang bermula, niscaya itulah sebab yang pertama sendiri. Maka wayib adanya Sebab Yang Pertama, tiada perduli apakah dia ada punya nama atau tiada bernama, inilah bukan kita punya perkara, karana apabila kita sanggup sebut namanya, niscaya bukanlah itu Sebab Yang Pertama, karana apa juga yang kita memberi nama, niscaya didahului oleh lain sebab.
Dan tiap-tiap dikata Sebab Yang Pertama, niscaya itulah Dzat, karana kalu bukan dzat, niscaya bukan keadaan tetapi ketiadaan alias “sang-tiada”, inilah mustahil, maka wajiib Dia itu Dzat Yang Pertama, dan wajiib juga tiada lain dzat yang pertama, karana kalu ada lagi, niscaya ada lebih dari satu dzat yang pertama, inilah mustahil. Karana kalu ada dua, niscaya boleh ada tiga, ampat dan bagitu seterusnya sehingga ada beribu dzat yang pertama, maka bukanlah itu dzat yang pertama. Maka wajiib Dia Sendiri dzat yang pertama, dan kalu Dia Sendiri bagitu, niscaya tiada penghabisannya, karana kalu ada penghabisannya, niscaya ada watasnya sama juga lain-lain sebab. Maka kalu andainya Sebab Yang Pertama ada watasnya dan ada apa-apa lagi di luarnya, niscaya pihak yang di luarnya itulah yang tiada dimulai oleh sebab. Tetapi kalu kita terima ada apa-apa yang tiada dimulai oleh sebab, niscaya tiada suatu sebab yang kita boleh terima, maski pun apa juga. Dan dari karana kita terpaksa mesti terima adanya sebab, maka jadi terpaksa juga mesti terima ada satu sebab saja yang tiada didahuloi oleh sebab, yang meliputi suatu keadaan yang berwatas dengan habis, yang dikarakan olehNya, maka mustahil Sebab Yang Pertama ada penghabisannya sebagai keadaan yang diseabkkan olehNya, karana mustahil bersamaan keduanya. Karana kalu bersamaan keduanya, niscaya bukanlah yang menyebabkan itu Sebab Yang Pertama karana tentulah bergantian jadi sebab, inilah mustahil, atau dimulai lagi dengan lain sebab yang pertama, ini pun mustahil. Oleh karana itu, wajiib Dzat Yang Pertama, bukan saja tiada permulaannya, tetapi juga tiada penghabisannya iaitu kekal-langgeng selamalamanya.
Dan dari karana Dzat Yang Pertama tiada dimulai dengan sebab, niscaya Dia berdiri dengan sendirinya, karana kalu tiada berdiri dengan sendirinya, niscaya Dia berkehendak pada lainnya, sehingga lain pihak itu sebab yang pertama, yang tu-lung padanya, inilah mustahil.
Dan juga mustahil Dia itu “sebahagian” berdiri dengan sendirinya dan sebahagian berkehendak, karana kalu bagini, niscaya terpecah dan berwatas jadi dua bahagian, inilah mustahil, maka wajiib kesatuannya dan tunggalnya, dan wajiib semporna berdirinya dengan sendiri, bukan saja tiada berkehendak pada lainnya, tetapi juga tiada berkehendak pada Dirinya, iaitu tiada berkehendak pada Dzatnya dan tiada pada Sipatnya Sendiri. Oleh karana itu Dia Sendiri yang wajiib adanya, karana kalu ada lagi apa-apa yang wajiib adanya, niscaya keduanya berkehendak satu sama lain, maka keduanya bukanlah wajiib adanya, dan salah suatu bukanlah Dzat Yang Pertama. Maka mustahil lagi Dia ambil perduli pada lain keadaan, karana kalu bagini, niscaya
Dia berkehendak ambil guna dari lain keadaan, dan berkehendak pada kekayalan atau pada kebesaran atau pada kekuasaan, inilah mustahil, karana kalu bagitu, bukanlah berdiri dengan sendirinya. Dan mustahil juga Dia ambil perduli dan ambil guna pada Alam, maski pun adanya Alam disebabkan oleh Dia, karana kalu Dia ambil perduli, niscaya Dia ada punya keperluan pada Alam, inilah mustahil. Oleh karana itu wajib semporna berdirinya dengan sendiri, tiada berkehendak pada sesoateu keadaan; iaitu wajib Semporna Merdika.
Sampai di sini akal tiada dapat jalan lagi akan berpikir lebih jauh, karana kita jadi tercengang dan heran, apakah sebabnya Dzat yang tiada berkehendak pada Dirinya dan tiada berkehendak pada laininya, menjadi sebab tentang adanya Alam. Karana kita tiada sanggup pikir, apa gunanya dan apa perlunya Dzat itu mengadaken Alam, kalu Dia Sendiri tiada berkehendak pada keadaan Alam, karana mustahil Alam diadakan oleh-Nya, kalu Dzat itu tiada berkehendak dan tiada perduli adanya Alam.
Karana kalu upamanya Dzat itu mengadaken Alam akan membuktikan pada Alam tentang adanya Dia punya kekuasaan dan kebesaran dan keadilan dan kesempornaan, niscaya bukan saja Dia berkehendak pada Dirinya sendiri, tetapi juga berkehendak pada lain keadaan, inilah mustahil bagi Dzat Yang Semporna Merdika Berdiri Sendirinya.
Sahadan apabila kita tiada sanggup pikir apa perlunya dan apa gunanya bagi Dzat itu mengadaken Alam, kita punya akal maeo berbalik pikir yang Alam sendiri memang sebab yang pertama, tiada permulaannya; sehingga kita juga jadi tulak adanya lain dzat yang pertama, iaitu tulak adanya Gusti Allah, dan kita jadi balik pada pengertian A di dalam Bahagian II yang lebih dahulu kita sudah tulak. Maka kita terputar-putar kombali di situ-situ juga iaitu di dalam pengertian A, B, C, D dan E, akan tetapi tiap-tiap kita pakai perasaan sanubari, niscaya kita pegang kombali pengertian E iaitu “Alam dijadikan oleh lain dzat yang berdiri dengan sendiri.”
Dan kalu bagini, kita menanya kombali, apa perlunya dan apa gunanya Dzat Yang Semporna Mardika Berdiri Sendiri mengadaken Alam, karana mustahil Dia menjadikan Alam, kalu Dia tiada berkehendak dan tiada maeo pada keadaan Alam, maka sekarang kita jadi bingung sendiri. Karana kalu kita pikir Dia berkehendak pada keadaan Alam, tentulah dia berkehendak pada keadaan apa juga, inilah mustahil; dan kalu dipikir Dia tiada berkehendak pada keadaan Alam maka mustahil Dia mengadaken Alam.
Apakah yang sekarang mesti dipikir? Tiada lain, hanyalah kita mesti balik lagi pikir tentang Dzat Yang Pertama, yang wajib adanya, wajib berdiri dengan sendirinya, wajib semporna merdika dan tiada berkehendak pada apa juga, karana kalu Dia berkehendak mau bagini dan mau bagitu, niscaya bukan semporna, tetapi kekurangan, inilah mustahil. Maka wajib Dia itu satu-satunya dzat yang tunggal sendiri dengan cukup kesempornaan, tiada kekurangan suatu apa dan tiada berkehendak pada sesuatu keadaan. Dan kalu andainya Dia tiada berkehendak atau tiada perduli pada keadaan saja, niscaya kita boleh pikir yang Dia ambil perduli pada ketiadaan, iaitu berkehendak pada ketiadaan. Inilah mustahil, karana kalu Dia berkehendak pada ketiadaan, niscaya Dia perlu pada ketiadaan di luar Dirinya, inilah mustahil, karana kalu demikian, niscaya ada juga kehendakNya, dan bukanlah cukup sempornaNya.
Oleh karana itu wajib Dia tiada berkehendak pada tiap-tiap keadaan dan wajib juga tiada berkehendak pada tiap-tiap ketiadaan. Dari sebab itu, niscaya Dia tiada berkehendak pada ketiadaan Alam dan juga tiada berkehendak pada keadaan Alam, maka tetkala Alam di dalam ketiadaan, niscaya Dia tiada berkehendak pada itu ketiadaan. Dan tandanya dia tiada berkehendak pada itu ketiadaan, karana itu ketiadaan Dia ganti atau tukar dengan keadaan Alam, karana kalu andainya Dia perlu dan ambil perduli pada ketiadaan, niscaya Dia tetapkan itu ketiadaan di dalam ketiadaan.
Maka nyatalah kalu Dia timbulkan keadaan Alam dari tiada menyadi ada, bukanlah karana Dia ambil perduli pada keadaan Alam, tetapi oleh karana Dia tiada perduli pada ketiadaan. Dan oleh karana Dia juga tiada perduli dan tiada berkehendak pada keadaan Alam, niscaya Alam tiada tetap selama-lamanya di dalam keadaan, tetapi bakal habis kombali di dalam ketiadaan, sama saja apa Alam itu berupa dunia, naraka atau swarga Ataupun berupa ruh, tiada luput akan kombali lagi di dalam ketiadaan. Karana kalu andainya ada satu saja lain keadaan yang tetap dan kekal di dalam keadaan, niscaya ada dua keadaan yang sama-sama tiada berkehendak dan tiada habis, inilah mustahil, maka wajib keadaan yang kekal tiada lebih dari satu, ialah Dzat Yang Sendirinya Tunggal.
Akan tetapi............... ya, ini tetapi belum juga habis. Karana kalu kita pikir lagi lebih jauh, maka erti tiada berkehendak bagi Dzat yang berdiri dengan sendiri, bukanlah tiada berkehendak setengah-setengah atau separoh-separoh atau pura-pura, maka wajib “tiada berkehendak itu” mengandung erti yang putus sama sekali, tiada ketinggulan barang sedikit kehendak, atau dengan perkataan cara kita manusia: “tiada sekali-kali ambil perduli dan tiada sekali-kali ambil pusing malang atau melintang, apa ada, apa tiada, apa kecil, apa besar, apa banyak, apa sedikit, niscaya tiada perduli seujung rambut.“ Maka kalu si-tiada kita mau ganti dengan si-ada, dan si-kecil mau diganti dengan si-besar, niscaya misih juga kita ambil perduli dan ambil pusing pada si-tiada dan pada si-kecil, karana kalu kita benar-benar tiada perduli, niscaya kita biarkan saja si-tiada di dalam ketiadaan dan biarkan si-kecil di dalam kecinyla.
Oleh karana itu, kita jadi terpaksa bertanya lagi apakah sebabnya, Dzat Yang Semporna Merdika Berdiri dengan Sendirinya, tiada biarkan itu ketiadaan tetap di dalam ketiadaan, kalu Dia tiada ambil perduli pada itu ketiadaan; dan apakah sebabnya Dia ganti itu ketiadaan dengan keadaan, kalu Dia tiada ambil perduli pada keadaan? Bukan bagitu saja, tetapi kalu benar Dia tiada perduli pada keadaan Alam, apakah sebabnya, kalu Dia mau ganti itu ketiadaan, yang mula-mula di dalam ketiadaan, apakah sebabnya Dia tiada langsung ganti itu ketiadaan dengan lain ketiadaan, tiada usah ganti lebih dahelul dengan keadaan, dan baru ganti lagi dengan ketiadaan yang penghabisan? Kalu kita kata Dia tiada mampu ganti terus saja itu ketiadaan dengan lain ketiadaan, niscaya kita pandang yang Dia punya kuasa berwatas. Karana kalu Dia sanggup obah sang-tiada jadi sang-ada, mustahil Dia tiada mampu tukar sang-tiada dengan lain sang-tiada.
Lihatlah, bagaimana jauh juga dipikir, kita tetap tiada mengerti. Apakah sekarang yang kita dapat, setelah mengu-ji kita punya akal dengan sehabis-habis tenaga? Tiada lain, hanyalah yang akal ada watasnya, dan yang kita sama sekali tiada mengerti barang sedikit saja tentang itu Dzat yang mula-mula menyebabkan adanya Alam. Jangan kata kita boleh mengerti, sedangkan kepingin tahu saja bagaimana Sipatnya, tiadalah mampu, apapua kalu mau tahu bagaimana Dzatnya. Dan yang kita punya mampu, hanyalah sangka, pikir, percaya dan yakin, atau tiada percaya dan tiada yakin.
Dan kalu kita sebut bagini atau bagitu Namanya, dan kalu kita sangka dan pikir bagini atau bagitu kesempornaan-Nya, kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, kemaeaan-Nya dan perbuatan-Nya, inilah bukan tahu dan bukan mengerti, tetapi tiada mengerti. Maka andai kata sedikit saja kita boleh mengerti bagaimana Sipatnya, niscaya belum ada seujung rambut dibelah seribu, kita boleh tahu bagaimana Dzatnya, karana kalu kita kata Dzat itu penuh-sesak mustahil, dan kalu dikata kosong mustahil.
Dari sebab itu, wajib Dia itu berbedaan dengan sesuatu keadaan di luar Dirinya dan beda juga dengan sesuatu ketiadaan. Bukan beda sedikit, tetapi keliwat jauh sekali bedanya, tiada dapat di-ukur, dibandingkan atau diandaikan dengan apa juga yang ada, dan dengan apa juga yang tiada ada. Karana kalu Dia punya beda sedikit saja hampir sama dengan bedanya di antara suatu keadaan dan lain keadaan dilocar Dirinya, niscaya kita boleh lihat sedikit-sedikit, boleh tahu sedikit-sedikit dan barangkali boleh mengerti sedikit-sedikit bagaimana Sipatnya dan Dzatnya. Apabila kita sudah terima bagaimana juga bedanya itu Satu Dzat dengan Alam dan dengan kita, niscaya terpaksa terima juga yang kita tiada mengerti. Dan tiap-tiap kita tiada tahu dan tiada mengerti, niscaya bedanya dan lawann ya (tegenstelling), bahua Dia teramat tahu dan teramat mengerti. Maka wajib Dia itu Dzat Yang Tiada Di-mengerti, dan wajib lagi Dia itu Dzat Yang Amat Mengerti. Karana kalu kita mau mungkir keadaan lawannanya atau tegenstelling, niscaya kita mesti tulak juga lawanan di antara terang dengan gelap, di antara panas dengan dingin, di antara gerak dengan diam, di antara laki-laki dengan peram-puan dan lain-lain seupamanya, inilah kita tiada sanggup tulak.
Dan kalu kita sudah terima yang kita tiada mengerti bagaimana kita punya diri dan bagaimana Dia punya Diri, niscaya kita mesti terima Dia mengerti Dia punya Diri dan mengerti lagi kita punya diri. Dan kalu kita tiada mengerti Dia punya Diri, niscaya tiada mengerti bagaimana Dia punya kuasa, maka wajib Dia itu Dzat Yang Maha Kuasa.
Sampai di sini kita yji sedar bagaimana kecinya derajet manusia dan di sini juga datang timponya yang kita tundukkan kepala, bukan karana dipaksa atau dibikin takut dengan api-naraka, akan tetapi tunduk dan menyerahkan diri dengan segenap hati, ialah bukan tunduk cara kasar, hanyalah tunduk dengan perasaan sumangat, dan mengaku adanya Dzat Yang Maha Kuasa. Karana akal sudah tiada sanggup pikirkan, niscaya sendirinya kita turutkan timbangannya perasaan sumangat, Biarpun kita tiada mengerti bedanya akal dengan sumangat.
Kalu kita mau berhenti sebentar dahelu, akan cari bedanya akal dengan sanubari, kita mesti mulai ingat bedanya panca-indria satu sama lain, upamanya antara pemandangan mata dan pendengaran kuping yang memang nyata bedanya, padahal mata dan kuping tiada dapat bekerja apabila tiada “utak-kepala”, sama saja dengan pekerjaan akal yang juga berhubung dengan utak. Bagitulah kalu kita berasa cinta, kasih, benci dan takut, bukan akal yang kerja, hanyalah sanubari berhubung dengan utak, sehingga di sini nyata-lah bedanya di antara utak dengan akal, sama saja bedanya di antara utak dengan mata atau kuping. Oleh karana itu terang sekali bahua perasaan sanubari tiada bergantung pada akal, ertinya akal bukan sanubari, dan sanubari bukan akal.
Itulah sebabnya kita bedakan pikir dengan sangka, karena kita anggup pikir itu pekerjaan akal, dan sangka itu pekerjaan sanubari, maski pun dua-dua itu tiada terlepas dari utak-kepala.
Maka apabila di sini kita kata “perasaan sumangat” inilah kita pandang kemampuan diri, yang sudah “bulat,” terbit dari akal dan sanubari, yang upamanya sudah menjadi satu, sehingga boleh juga dinamai “akal-budi.”
Dan sekarang kita bertonya kepada akal-budi sendiri, apakah tiada lebih utama kalu manusia semangkin tambah ilmunya, sama saja di dalam kepintaran-dunia atau pengetahuan agama, jangan angkat kepala dan takbur, iaitu yang satu pihak jangan tulak adanya, dan yang lain pihak jangan mengaku tahu dan mengerti bagaimana adanya Dzat Yang Maha Kuasa.
Karana siapa juga yang berani tulak adanya Dzat itu, niscaya dia menentukean suatu ketiadaan yang dia belum tahu, dan juga menjadi tanda yang dia mengaku sudah tahu dan sudah kenal pada ketiadaan. Inilah bukan kliru namanya, tetapi patut dia itu dinamai “penjusta-besar”, karana apakah dia sudah melihat dan memandang suatu ketiadaan? Kalu sudah, bagaimanakah macamnya? Kalu belum, apakah sebabnya dia berani tentukean “ketiadaan”? Bukankah sehari-hari tiada putunsya dia dapatkan apa-apa yang tadinya dia sangka suatu ketiadaan? Inilah buktinya, yang manusia tiada mamope akan menetapkan ketiadaan, apapua akan menetapkan ketiadaan Dzat Yang Maha Kuasa.
Demikianlah juga dinamai penjusta-besar, siapa juga yang berani mengaku sudah tahu, sudah kenal dan sudah mengerti bagaimana Dzat Yang Maha Kuasa, dan dinamai takbur, kalu berani pikir akan datang waktunya yang manusia boleh lihat pada Dzat itu. Kalu upamanya seorang Yahoodi atau Moslim berani menentukean namanya Dzat itu Yahve atau Allah dan berkeras setinggi langit yang Dzat itu punya nama bukan Brahma atau Thi-Kong, maka disangkanya dia sendiri yang sudah tahu beteel bagaimana namanya Dzat Yang Maha Kuasa, padahal dia lupa pikir yang Dzat itu tiada berkehendak kepada nama, tetapi manusia yang perlu menyebot nama akan membedakan suatu keadaan dengan lainnya.
Sahadan apabila kita sudah timbang dengan akal dan timbang lagi dengan perasaan-budi atau sumangat, niscaya kita dapat jawabna sendiri tentang pertanyaan yang dibu-nyikan pada akhir Bahagian II dari buku ini.
Dan kalu sekarang kita sudah ketemu jawaban itu, niscaya kita yakin adanya Dzat Yang Maha Kuasa, yang kekal sendirinya, dan yakin juga bahua Alam ini akan habis kombali di dalam ketiadaan, sama saja apa keadaan itu berupa ruh, jiwa, swarga atau naraka atau dunia atau akherat, wajih habisnya, maski pun kita tiada tulak timbulnya kombali; tetapi mustahil tetap di dalam keadaan, karana yang tetap kekal di dalam keadaan mustahil lebih dari satu.
Di dalam pada itu, bukanlah kita mau bilang yang dunia ini sudah dekat binasa dan umurnya akherat tiada lama, akan tetapi yang berkehendak kepada waktee dan yang mengambil timpo dan lapang, hanyalah Alam dan lain keadaan (kalu ada), di luar Dzat Yang Maha Kuasa, bukan saja keadaan itu di dalam keadaannya, tetapi Biarpun ketiadaan niscaya mengambil timpo di dalam ketiadaannya, karana kalu sang-tiada tetap tiadanya, niscaya ada dua perkara yang sama kekalnya, inilah mustahil.
Adapun satu-satunya yang tiada berkehendak kepada lekas dan lama, cepat dan kendor, lapang dan penuh, dekat dan ‘jauh, ialah Dzat Yang Maha Kuasa, karana kalu Dia berkehendak atas yang demikian itu, niscaya Dia punya pe-ngetahuan dan pengertian berwatas sama juga kita.
Di dalam Bahagian VII kita mau priksa bagaimana keper-cayaan Islam tentang Dzat itu yang dinamai Allah.
Sahadan sebagai penutup Bahagian VI ini adalah yang dimaksudkan oleh pengarang akan coba tunjuk, bahua tiap-tiap manusia dapat gunakan akalnya disertai perasaan sumangatnya, niscaya yakin pada adanya Dzat Yang Maha Kuasa, dan apabila sudah yakin, niscaya umurnya timbul lagi kemaocean di dalam hati akan membicarakan lebih jauh bagaimana sipat-sipatNya. Oleh karana itulah manusia ambil lagi lain jalan akan bayangkan dan andaikan bagaimana kesempornaan segala sipat itu, supaya manusia tiada melanggar hakenya Dzat itu, ialah hak kemuliaan, kebesaran, dan ketinggian derajet-Nya, yang patut dihormati, ditakuti dan di-indahi oleh manusia, sebagai kelakuan segala abdi-dalam, hamba dan sahaya yang teguh setianya menjunjung duli rajanya. Dan jalan inilah umurnya dinamai agama, yang sanggup atur caranya bersetia dengan caranya menjunjung dull atau menyembah Raja tadi, yang tentu saja dipandang jauh lebih tinggi pangkatanya dari segala raja-raja di muka bumi. Maka tiada heran, kalu aturan ini menyadi luas sekali, karana erti “setia” dan “sembah” memang terlalu dalam dan lebar, inilah bergantung pada adat-istiadat kebiasaan dan prangi masing-masing bangsa yang berbedaan satu sama lain.
Maka apabila kita sudah tilik sampai di sini, kita jadi yakin bagitulah asal mulanya timbul agama, dan tiada lagi kita dapat membantah, tetapi mesti terima yang agama ada suatu thabeat-dunia, sama juga thabeat matahari sorotkan ca-haya, sehingga selagi matahari tetap ada sinarnya, belumlah agama linyap dari muka bumi ini. Oleh karana itu, siapa juga yang bermusoh pada agama, tiada beda dengan orang yang membantah pada terangnya matahari, sama juga bermusoh dengan kehidopean diri sendiri.
Dan itulah sebabnya jangan heran kalu agama sudah andaikan Dzat Yang Maha Kuasa ada punya prangi, upama sipat keadilan, kemurahan, pengasih, penyayang dan lain-lain sipat yang mulia, yang dikira pantas dan patut berdiri pada Dzat itu, sehingga diandaikan juga yang Dzat itu ada punya sipat suka pada kebaikan dan benci pada kejahatan, karana inilah dipandang mufakat dengan erti keadilan. Dan inilah sebabnya orang punya paham selama-lamanya mesti berlainan tentang sipat keadilannya Gusti Allah, karana yang seorang berkeras pikir tiap-tiap keadilan niscaya bersih dari pilih-kasih dan suci dari timbangan berat sebelah; padahal lain orang berkeras pikir, yang sipat kasih dan sayang iaitu sipat memberi ampunan, ada lebih mulia dari macam sipat keadilan yang tida kecampuran dengan timbangan mengampuni kejahatan.
Dari sebab itu juga, selama-lamanya tiada akan linyap perselisihan paham di antara alim-alim di dalam satu agama saja tentang sipat-sipatnya Gusti Allah, apapua di antara suatu agama dengan lainnya, karana tentu saja paham itu keluarnya dari pendapatannya masing-masing, yang memang tiada tahu bagaimana sipat-sipatnya Allah, tetapi hanya memimbang dengan ukuaan sendiri-sendiri, sama juga dua orang buta berebut penglihatan warna. Maka kita jadi yakin, yang bermusohan di antara suatu agama dengan lainnya, dan di antara suatu alim dengan lainnya, dan di antara seorang dengan lainnya tentang pengertian dzat dan sipat Gusti-Allah, tiada sekali-kali nemimbulkan untung pada salah suatu pihak, tetapi jadinya membikin renggang dan putus tali perhubungan di antara bapa dan anak, di antara laki dan istri, di antara sudara bersudara, di antara sahbat bersahbat, pedenknya membikin rusak percintaan, dan rusak keadilan yang tertanam di dalam sumangat manusia, dan inilah suatu bahaya yang amat besar di dalam kehidopean kita di muka bumi, maka berlawanan dengan maksud tiap-tiap agama.
Dan demikian lagi kita jadi yakin bukan maksud agama perentah orang limpar buta-tuli segala kesenangan di dalam kehidopean, yang tiada melanggar watas di antara hak dengan hak.
Dan kita sekarang yakin pula bahua perbedaan patokan di dalam akal pikiran dan perbedaan perasaan di dalam sanubari, hanyalah disebabkan dari bedanya adat dan sopan-santoon antara suatu dengan lainnya, yang tentu saja tiada semporna baiknya.
Kita tiada bagitu heran kalu andainya socatu bangsa dengan lain bangsa bermusoh-musohan lantaran berbedaan agama, akan tetapi yang sangat mengherankan kalu kita pandang bagaimana pada zamman sekarang ini misih ada manusia dikolong langit sebagai di tanah Hindustan yang berkelahi bagitu sengit di antara bangsanya sendiri, tiada lain sebabnya, hanyalah karana yang sebahagian Islam dan lain bahagian beragama Hindu. Apakah marika itu belum sedar yang kelukuan bagitu seperti lakunya orang-orang buta yang berebut cahaya merah atau putih, dan membikin rusak negerinya sendiri?
Menurut kita punya yakin bahua di antara marika itu misih ada guru-guru agama fanatiek yang karana bodonya Ataupun karana ingat keuntungan dunia, sudah membikin kalut bangsanya sendiri.
BAHAGIAN VII
MOTTO:
“Kalu hadis sebahagiannya baqa’,
tentulah qadim sebahagiannya hadis.”
Mustahil.
Bermula sebelumnya tilik ilmu-tawhid, hendaklah kita memperhatikan bedanya kita punya definitie tahu dengan erti yang umumnya dipakai di dalam kitab-kitab agama, demikian pula bedanya definitie mengerti. Lebih dahulu kita tilik bedanya tahu dengan tahu, karana adalah erti tahu, sesudahnya wafat Kangjeng Nabi Mohammad s.a.w. dan sahbat yang ampat, jadi perlu diluaskan. Demikianlah segala khabar, yang datangnya sekarang dengan jalan ce-rita-mencerita dan tulis-menulis ribocean tahun antaranya, tiada boleh ditulak saja oleh Moslim dengan buta-tuli ke-bebenarannya, maka ada kalanya mesti diterima dan ada kalanya mesti ditulak. Dan tiap-tiap Moslim sudah terima benarnya, maka terhitung di dalam erti tahu.
Kalu maec uji bagus-jeleknya dan rendah-tingginya sesoceatu agama, perlu sekali kita priksa dia punya ilmu-Ketuhanan iaitu ilmunya bagaimana manusia patut memandang keadaan Gusti Allah dan keadaan natuur atau alam. Di dalam agama Islam pengertian ini dinamai ilmu tawhid, usul’uddien atau ilmu kalam.
Dan kalu mau timbang harganya ilmu tawhid dengan adil, hendaklah ditilik dengan akal-pikiran yang bersih dari segala pengarokh takut, suka atau benci, sehingga kita mesti pegang definitie “tahu” di dalam Bahagian I, jangan ambil pusing sama kitab-kitab yang sringskali tiada bedakan erti tahu dengan ”perasaan-hati”, maka lebih dahulu kita mesti buang dan tulak segala cerita dan khabar, yang umumnya sudah tertanam di dalam kepercayaan orang Moslim, tetapi kita “mesti pegang keras saja segala patokan atau stelling yang sudah ditentukan oleh ilmu tawhid sendiri.”
Dari sebab itu, pembaca yang diluear kalangan Islam, jangan sangka pengarang akan memandang berat ke pihak Islam, karana maski pun Moslim agamanya, adalah sebagai pengarang, kita sekarang mau pandang yang ulama Islam ada yang tulus, ada yang justa, ada yang kliru sama juga kita manusia umumnya, tiada perduli marika itu dapat kepercayaannya kaum Moslimin, inilah kita jangan ambil pusing seujung rambut; pendeknya kita tiada pilih bulu, kita tiada takut bantah, kalu timbangannya tiada menurut “ilmu akal.”
Memang Moslimin Indonesia yang kurang pandai bahasa Arab terlalu tipis ilmunya di dalam agama, karana kitab-kitab yang tingkatnya tinggi tentang Dzat Yang Maha Kuasa belom terdapat di dalam bahasa di sini, dan maski pun ada juga sebagai kitabnya Abu Hamid Mohamad Al-Khazali dan Abu Hasan Al-Asyari, akan tetapi misih berbau bahasa Arab, karana maalumlah, tiap-tiap bangsa tentulah tiada punya perasaan-bahasa dari bahasa asing, hanyalah kalu sudah turun-menurun bertempat di negeri asing; akan tetapi kalu bagini, niscaya dia tiada lagi mempunyai perasaan ba-hasanya sendiri.
Kalu kita pikir bahua kita dengan kita, yang mempunyai satu bahasa, boleh bersalah-salahan paham, tiadalah heran kalu bangsa Arab terkadang tiada mengerti bangsa Arab. Itulah sebabnya Islam tiada beda dengan Kristen tentang ulamanya satu sama lain berebut bicara. Inilah baik menjadi peringatan bagi marika itu yang sangka dirinya lebih mengerti dari lain orang di dalam perkara agama.
Maka berbedaan apabila di dalam suatu agama sudah ditentukan sesoatu “patokan atau stelling”, yang mestii di-pegang sepanjang “ilmu-akal atau hukum-akal”, maka tiada patut satu sama lain seagama jadi berebut bicara dengan berkeras tentang patokan itu-itu juga, yang memang mestii dipaham menurut hukum-akal yang sudah ditentukan lebih dahelue.
Dan juga maski pun kitab-kitab, yang berisi larangan agama, boleh diturut, tetapi patut ditimbang lagi dengan akal-budi, jangan dipercaya buta-tuli, karana kita sekarang sama sekali tiada tahu mana yang tulen dan mana yang ditambah-tambah dan diobah-obah, bukan seperti wet-wet dari pemerentah-negeri, yang memang nyata tulennya, dan mestii diturut oleh siapa juga; maski pun kita bukan pantas takut kepada nama atau pangkat kebesaran atau bin-tang yang menghiasi diri manusia.
Maka dengan pemandangan yang telah tersebut itu, da-patlah pembaca pikirkan bagaimana susahnyia pekerjiaan tilik pengertian ilmu-tawhid ini. Dan kalu pembatia mau turut tilik dengan lebih terang lagi, lihatlah kitab “sipat dua puloh” bahasa Melayu karangan Tuan Seyyid Osman bin Abdullah bin Agil bin Yahya di-Betawi, karana pendek dan terang akan dipaham sendiri oleh orang, yang suka ber-pikir, dengan ilmu-akal.
Maski pun ilmu-tawhid juga membicarakan sipat-sipat segala rasul, akan tetapi di sini hanyalah kita tilik saja tentang sipat-sipatnya Allah dan alam atau natuur. Adapun maana atau erti ilmu tawhid, iaitu pengertian tentang “kesatuannya atau tunggalnya” Dzat Yang Maha Kocasa, yang Islam namai Allah atau Allah-Taala, ialah ilmu yang masok di dalam bahagian Usul‘-uddeni atau usoul-agama.
Tentu saja usul yang berdasar agama selamanya mengandung perentah dan larangan sama juga wet-negeri, dan kalee perlu dengan paksa, Biarpun tumpah darah. Karana kalu tiada demikian, niscaya tiadalah agama boleh kuat pendiriannya, inilah tiada beda dengan pendirian kera-jaan. Baiklah hal ini menjadi peringatan bagi marika itu yang mencela Nabi Mohammad timbulkan perang.
Dan itulah sebabnya tiap-tiap Moslim dimestikan percaya adanya Allah-Taala iaitu satu-satunya Tuhan, yang menjadikan alam, dan percaya lagi Nabi Mohammad jadi rasul-Nya, dengan tiada kecucalikan lain-lain rasul, yang hidup sebelum zamman Nabi Mohammad. Ertinya bahua Moslim lebih dahelu “mesti percaya, barulah boleh pikir dan timbang dengan akalnya,” supaya lebih kuat kepercayaannya (iman) kepada tuggalnya dzat dan sipat Allah-Taala dan kepada benarnya perkataan dan pelajaran rasul-Allah yang disampaikan pada ummat Islam.
Demikianlah pelajaran Islam mempunyai tertib, bertingkat-tingkat, sama juga kelakuan belajar ilmu-dunia, dimulai dari bawah, maka Islam ada ampat tingkat ilmunya:
1e Syariat atau Wet (aturan). 2e Tariqat atau methode (jalan-utama). 3e Maarifat atau pengenalan-utama (pengertian). 4e Haqiqat atau kebenaran-sejati (haqiqi).
Syariat itu atur kemestian Moslim di dalam pergaulan kehidupan ramai-ramai akan memelihara hak di antara makhluk dengan makhluk, dan antara makhluk dengan Allah tentang caranya memperhambakan diri pada Tuhannya. Aturan ini berisi segala perentah dan larangan yang umumnya dinamai fiqh.
Tariqat dan Maarifat jadi penunjuk jalan akan mendapatkan haqiqat, maka siapa mau menontut ilmu ini, perluolah dia belajar mempikirkan bedanya Allah dengan keadaan alam atau natuur. Tetapi mesti tahu lebih dahelu ilmu Syariat, yang membayangkan Allah-Taala sebagai Raja-Besar yang memerentah raayat dengan pertulungan segala malaekat dan nabi atau rasul, sebagai pesuruh atau punggawa dari Allah, karana ilmu semacam ini gampang dimenger-ti oleh manusia seumumnya, yang “sempit” akalnya.
Bagitulah juga bunyinya qoran selamanya mengandung pengertian syariat, inilah buat manusia seumumnyia, dan mengandung erti, yang dalam, cara maarifat, buat manusia yang “tajam” akalnya.
Di antara orang yang berilmu di tanah Europa tiada ku-rang yang mencela bunyinya qoran, inilah disebabkan oleh karana dia lupa, bahua segala agama timbulnya dari sebab manusia lebih banyak yang bodo dari yang berakal, karana kalu andainya antiro manusia sama rata bagus akalnya dan pranginya, apatah gunanya ada nabi, ada pitaka¹, ada shu-king², dan apatah gunanya negeri membikin wet.
Buat ahli-pikir yang punya perasaan “adil”, niscaya tiap-tiap membaca qoran, tahulah dia di mana tempatnya per-bedaan pengertian yang rendah buat yang bodo, dengan yang tinggi pengertiannya buat yang pintar.
Adalah gunanya ilmu tawhid itu bukan saja akan membikin kuat “kepercayaan” Moslim, tetapi juga supaya kalu sudah dapat mempikirkan bedanya Allah dengan alam, maka dengan sendirinya dapat pikirkan bedanya mengambil pengertian di dalam goran.
Dan kepercayaan itulah dinamai “i'tiqad” apabila bersih dari bimbang di dalam saneubari, maka bukan disuroh Mos-lim tahu bagaimana dzat dan sipatnya Allah, tetapi disuroh “percaya habis-habisan, jangan syak barang sedikit”.
Lebih dahelu kita mesti ingat, maski pun di dalam bi-caranya ilmu tawhid, erti sipat terpisah dari dzat, tetapi pi-kiran tiada boleh pisahkan dzat dengan sipatnya, karana kita melainkan mesti andaikan saja yang sipat disebabkan oleh keadaan dzat, maski pun kita tiada boleh pikir adanya sipat komdian dari dzat. Ertinya: sipat berdiri (menumpang) pada dzat, maka tiada didapat sipat yang berdiri dengan sendirinya; atau tiada sipat, hanyalah kalu ada dzatnya. Itulah sebanya kita samakan dzat dengan diri yang sebenarnya diri, (lihat definitie III).
Bagitulah upamanya boleh dikata, yang kita (dzat) punya sipat lihat, sipat dengar, sipat kata, sipat jalan, dan kalu dihiitung, upamanya jadi ampat sipat yang bukan sa-ja beda pekerjaaanya, tetapi juga berlainan tempatnya, karana kita melihat dengan mata bukan dengan kaki, dan berkata dengan lidah bukan dengan kuping, dan kalu upamanya kuping tuli, kaki lumpukh, maka tuli dan lumpukh juga dinamai sipat yang berlawanan dengan dengar dan jalan.
Akan tetapi kalu kita bicara tentang sipat-sipat yang berdiri pada dzat Allah-Taala, maski pun andainya ada seribu sipat,—karana di dalam ilmu bicara tiada terhingga banyaknya sipat kesempornaan Allah—, tiada lah kita boleh pikir yang itu sipat-sipat masing-masing ada punya peker-jaan sendiri dan berbedaan satu sama lain; dan tiada boleh dipikir yang itu sipat-sipat berlain-lainan tempatnya berdiri pada dzat Allah-Taala, karana kalu kita sangka dan pikir banyaknya dan bedanya niscaya kita andai-andaikan sebagai kita punya sipat-sipat yang kelihatannya terpisah satu sama lain. Dan tiada pula sipat itu boleh dipecah, upamanya kalu Allah ada punya kuasa bagini dan kuasa bagitu, maka bukanlah jadi lebih dari satu, dan bukan berkali-kali jalankan ke-kuasaan-Nya. Juga tiada boleh sangka yang sipat terpisah dari dzat, sehingga di dalam pikiran, kita maau pisahkan dzat-Nya lain dan sipatNya lain; hanyalah mesti dipikir bahua sipat itulah dzat, atau dia juga sipat dan dia juga dzat. Maka tiada boleh dibayang-bayangkan dzat itu ada punya bangun dan warna sebagai benda atau cahaya, atau mengambil tempat dan waktu, dan bukan ruh, bukan jiwa, bukan penuh, bukan kosong, bukan diam, bukan gerak, bukan besar, bukan kecil, bukan terang, bukan gelap, bukan laki, bukan perampuan, bukan banci.
Pendeknya dzat dan sipat Allah-Taala, tiada dapat dipandang dan dirasai oleh panca-indria dan tiada dapat dipikir oleh akal, Biarpun malaekat atau rasu atau nabi atau resi, tiadalah dapat mengenal dzat dan sipatNya, maka tiap-tiap boleh terpandang, boleh terpikir, boleh tersebut, niscaya bukanlah itu Allah, sehingga kalu Moslim sekarang sudah sebut dengan lidah namanya Allah-Taala yang di-i'tiqadkan, bukanlah itu Allah, tetapi dzat yang tiada didapat dzatnya, tiada didapat sipatnya, tiada didapat namanya oleh siapa juga, hanyalah didapat oleh Dirinya Sendiri; sekadar kita memberi nama supaya dapat membedakan dengan lain-lain nama di dalam bicara dan pikiran.
Dari manakah boleh dipahamkan yang Allah-Taala tiada didapat oleh panca-indria dan akal manusia, Biarpun oleh makhluk yang macam apa juga? Buat ahli-pikir cukup dengan patokan “nafsiah”, tetapi buat murid yang belajar, mesti diketahui dari patokan atau stelling “salbiah” berisi lima sipat iaitu qidam (sedia), baqa‘ (kekal), mokhalafatul-lilhawadis (berbedaan dengan segala hadis, erti hadis “baru”), qiiyamuhu binafshihi (berdiri dengan sendirinya), dan wahdaniat (tunggal). Juga dari patokan “hudusul alam (alam baru).
Dan oleh karana pengertian, menurut patokan salbiah, berlawanan dengan pendapatan panca-indria dan akal, maka boleh jadi timbul persangkaanna murid yang Allah-Taala memangnya tiada; itulah sebabnya lebih dahulu mesti ditetapkan “adanya” Allah. Dari sebab itu adalah patokan yang pertama-tama sekali dinamai “nafsiah” berisi satu sipat wujud, yang ertinya “ada”, sehingga dzat Allah wad'yi b adanya, iaitu “dzat-waji-b-alwujud”, maka patokan nafsiah ini yang tulak, kalu disangka Allah tiada, dan patokan salbiah yang tulak, kalu disangka boleh didapat adanya.
Akan tetapi kalu dipakai saja patokan nafsiah dan salbiah, niscaya jadi putuss bicara dan putuss pikiran, karana tiada didapat mengerti oleh akal. Itulah sebabnya ditambah dengan patokan “maani” yang boleh juga sedikit masok didalam pikiran, dan berisi tujoh sipat iaitu qodrat, iradat, ilmu, hayat, sama‘, bacar dan kalam. Dan tiap-tiap ada maani, niscaya ada patokan “maanawiah”, yang mempikirkan dzat tempat berdirinya segala sipat maani.
Maka kalu dihitung banyaknya sipat, iaitu nafsiah berisi satu, salbiah lima, maani tujoh dan maanawiah juga tujoh sipat, cukuplah dua puloh sipat yang wad'yi b bagi Allah-Taala. Inilah sebabnya ilmu-tawhid disebut jugga “sipat dua puloh”.
Lain dari itu ada lagi ampat patokan iaitu: a hudusulalam, ertinya alam-hadis atau alam-baru; b tanazzouhuhuanil-aghradl, ertinya Allah tiada mengambil guna; c dan d lataasir-lisiyai-in-minal-kainati-biquwwatih-i-webithabihii, ertinya “kainat tiada memberi bekas dengan kutnya dan dengan thabeatinya”. Ini patokan c dan d di sini bedanya antara kut dengan thabeat terhitunq dua patokan, maka dijumlah dengan 20 sipat yang lebih dahulu tadi, jadilah 24 perkara yang masok pada pengertian wad'yi b di dalam ilmu akal, dan dihitung sama dhid‘-nya atau lawannanya (tegenstellung), tentulah 24 juga, inilah masok pada perkara yang mustahil.
Komdian ditambah pula satu patokan iaitu filu-‘kullimumkinin awtarkuhu, ertinya “boleh Allah bocatkan segala mumkin atau meninggalkan dia”“. Ini satu perkara masok pada pengertian harus, yang lawannanya juga satu perkara, ialah pengertian mustahil. Akan tetapi ini harus, bukan erti harus di dalam ilmu akal, seperti akan datang lagi bicaranya.
Maka kalu dihimpunkan sama sekali adalah 24 perkara yang wad'yi, 1 yang harus, 25 yang mustahil, jumblah 50 perkara, inilah dinamai aqaid atau i'tiqad, yang tiap-tiap Moslim sudah agil-baligh dan waras utaknya, mesti percaya dengan segenap hati tentang Allah-Taala berbedaan dengan alam, dan inilah masok di dalam pengertian kalimat: “La-ilaha-ill‘-Allah.”
Sudah tentu di antara ulama usul tiada serupa patokannya dan pelajarannya, maka yang kita sekarang lagi tilik ialah ilmu tawhid yang khabarnya dikarangkan oleh seorang alim-usul, yang termasuhur di tanah Arab, bernama Abu Hasan Al-Asyari dari peguruan atau majahab
As-Syafii. Sepanjang tarikh-Islam Abu Hasan itu murid dari Al-Jobbai seorang guru dari peguruan Mo'tazilah yang pengertiannya tentang Allah beda dengan lain peguruan Ahlil-Sonnah, maka akhirnya Abu Hasan tiada mufakat de-ngan pendapatan gurunya, lalu berdebat satu sama lain, sehingga gurunya tiada dapat menjawab sualnya Abu Hasan. Ini baiklah buat peringatan bagi orang Moslim yang takut beradu pikiran sama gurunya.
Sebelumnya priksa lebih jauh satu persatu dari patokan atau stelling yang didapat di dalam ilmu tawhid ini, hendaklah diketahui dahulu bagaimana aturan-akal atau huku-m-akal yang dipakai di dalam pengajan ilmu tawhid, karana sedikit berbedaan dengan kita punya definitie XV, XVI dan XVII di dalam Bahagian I. Adapun erti sipat (sifat) dan dzat sama juga kita punya definitie IV dan III, hanyalah kita sendiri terkadang ganti “sipat” dengan perkataan patokan dan stelling, karana juga ada bedanya. Adalah erti sipat itu “umum”, karana mengandung maana yang luas iaitu “hal yang berdiri pada dzat”. Tentu saja perkataan “hal” teramat banyak jalannya yang satu sama lain boleh berlawanan upamanya putih-hitam, panas-dingin, panjang-pendek, penuh-kosong, sehingga tiada didapat kepastian. Akan tetapi erti patokan atau stelling, iaitu seperti paku yang sudah tertancap di dalam balok, tiada dapat dicabut lagi, iaitu sudah pasti bagitu, tiada bergerak sedikit pun. Dari sebab itu, tiap-tiap patokan, hanyalah mesti diterima (dipegang) atau ditulak (dilepas), inilah melang aturannya hukum-akal, tiada boleh dipilih ditengahnya atau sebentar pegang, sebentar lepas, karana kalu bagini, bukan ilmu-akal namanya. Itulah sebabnya ilmu tawhid hanyalah boleh ditilik saja oleh ahli-pikir, karana yang dapat mengarangnya, melainkan ulama filsafah.
Kalu kita sudah tahu erti patokan bagitu, barulah tilik ertinya dalil.
Adalah erti dalil iaitu: “barang yang menunjuk kebenaran socatu keadaan atau ketiadaan”. Nyatalah erti dalil itulah bewiys atau bukti akan menunjuk kebenaran tiap-tiap patokan dan stelling. Di dalam ilmu tawhid ada dua macam dalil: 1e dalil-qoran iaitu ayat-ayat di dalam qoran, dan 2e dalil-akal menurut pikiran, yang dipecah dengan dua jalan, dinamai dharuri sama juga analyse, dan nalheri sama juga synthese, seperti kita sudah tahu keteranganiya di dalam Bahagian I, iaitu dharuri tiada ber-hajat pada pepriksaan panca-indria, tetapi nalheri berkehendak pada pemandangan panca-indria.
Di bawah ini terdapat sedikit perbedaan hokhum akal yang tiga perkara iaitu wajiib, mustahil dan harus.
Kita punya definitie:
1e Wajib iaitu akal tulak tentang tiadanya dzat dan sipat yang dipikir. 2e Mustahil iaitu akal tulak tentang adanya dzat dan sipat yang dipikir. 3e Harus iaitu akal terima tentang adanya dan tiadanya dzat dan sipat yang dipikir.
Di sini mesti pikir daheloce, barulah datang putusannya, karana putusan lagi dicari.
Ilmu-tawhid punya definitie:
1e Wajib iaitu barang yang tiada didapat pada akal akan tiadanya. 2e Mustahil iaitu barang yang tiada didapat pada akal akan adanya. 3e Harus iaitu barang yang sah (diterima) pada akal akan adanya dan tiadanya.
Di sini putusan lebih daheloce, barulah akal boleh berpikir, karana putusan memang sudah ada.
Di dalam Bahagian I tetkala kita bicara tentang jalan-nya analyse dan synthese yang dipakai di dalam segala ilmu akan menetapkan barang sesuatu yang dicari, kita sudah kata, yang ada susahnyia akan pisah betul-betul antara analyse dan synthese itu, karana yang sebenarnya kita sama sekali tiada dapat berpikir yang tentu, sebelumnya ada apa-apa yang didapat oleh panca-indria, sehingga tiap-tiap akal berpikir, tiadalah synthese boleh terlepas dari pegangan kita. Oleh karana itu juga, kita sudah kasih ingat yang kliru sekali kalu kita berani menentokan kebenarannya pendapatan kita dengan dua macam jalan itu, sebagai kelakuan ahli-pikir dari agama dan dari filsafah di dalam menentokan dzat dan sipat yang belum dikenal. Buktinya kliru itu sudah nyata di dalam Bahagian II, apabila kita uji kombali matang-matang dengan akal yang sihat, niscaya akal jadi mandeg atau mogok berhenti.
Itulah sebab yang terutama, maka segala agama perlu lebih daheloce tangkap orang punya hati, supaya timbul percayanya. Karana kalu manusia pakai akalna saja diluear perasaan hati, boleh jadi dia tulak adanya Allah. Dan sebaliknya kalu Moslim tiada pakai ilmu-akal, niscaya Islam tiada mamu beradu pikiran dengan ahli-filsafah diluear agama, dan juga tiada sanggup hilangkan segala sangka yang Allah boleh berupa manusia, binatang, batu, kayu dan lain-lain macam benda yang boleh dilihat dengan mata-kepala.
Dan sekarang kita boleh timbang sendiri bagaimana berat tanggungan ulama Islam yang memang tulus-ikhlas mau majukan agamanya; karana manusia semangkin lama semangkin pintar, tiada gampang lagi dibikin takut dengan cerita kosong.
Kita tiada perlu mempuji bangsa Arab punya agama, iaitu suatu bangsa yang lain bahasanya, lain adat kebiasaan dan kehidopannya, dan kita pun tiada menganjuri pada bangsa sendiri akan turut buta-tuli segala perentah dan larangan yang katanya berdasar pada agama, tetapi tiada mufakat dengan kita punya sopan-santoon, yang kita pandang lebih bagus dan lebih pantas buat bangsa kita. Dan kalu kita andainya ada kemampuan menyadi Nabi, niscaya dengan sekejap mata kita mulai bikin perobahan aturannya hak melanggar hak, yang lebih mufakat dengan kehidopean dan pergaulan kita di tanah sendiri. Demikianlah kita jadi ingat bagaimana sekarang negeri Turki diatur oleh Alghazi Musthafa-Kemal-Pasya, hingga menggemparkan antiro dunia-Islam, dan juga bagaimana majunya tanah Mekkah di bawah Sri Baginda Sultan Ibnu Saeed, yang perentah negerinya me-nurut azas Islam, menuntut kesenangan dunia-akhirat, bukan suroh melimpah dunia.
Apakah sebabnya kita perlu dengan perobahan? Bukan sebab berbedaan adat kebiasaan di sini dan di tanah Arab saja, tetapi oleh karana qoran sendiri, yang terhim pun jadi satu, asalnya sedikit-sedikit terbit ayat-ayatnya semantara 23 tahun lamanya, dan di dalam waktue itu saja, sudah ada beberapa aturan yang berlawanan satu sama lain, iaitu aturan yang lebih dahulu dipandang tiada boleh dipakai, karana ayat yang datang belakangan berlawanan dengan itu, maka bagaimanakah sekarang sudah liwat seribu tahun misih mau dipe-gang antironya? Kita yakin kalu andainya sekarang Nabi Mohammad hidu kombali, niscaya keluarliah ayat-ayat model baru yang lebih mufakat di dalam zamman ini. Dan maski pun Islam punya cara ibadat pada Allah, kita tiada bantah bagusnya, barangkali kita minta dibikin ringan sedikit, karana sekarang pencarian buat isi perut tiada gampang seperti dahulu. Akan tetapi yang perlu di-obah, ialah aturan di dalam hurusan kehidopean dan pergaulan manusia beramai-ramai, karana ulama Islam, yang sudah tahu perobahan zamman, tiada selamanya ada kemampuan akan luaskan aturan Islam sebagai menarik karet, hingga bikin hilang sabarnya, dictator di negeri Turki, yang takut kalu tananhya ditelan-bulat-bulat oleh negeri Kristen, seperti sudah kejadi dahulu yang sebaliknya, negeri Kristen di-rampas oleh Islam.
Bagitulah kita di tanah Jawa, tentu berasa malu, tiada mampu berdirikan agama sendiri, maka tiada heran kalu andainya kita jadi sakit hati dan limpar saja segala agama yang datang dari luar, tiada perduli datangnya dari Hindustan atau Arab, karana lebih enak kalu lain bangsa tunduck pada agama di sini, niscaya saban tahun kita sendiri boleh bikin pasar-dunia, bikin laku kita punya usaha dari fabriekfabriek automobiel dan pesawat-terbang dan kapal dan lain-lain perusahan.
Akan tetapi, apatah mau dikata, karana hurusan hasil padi saja, yang saban hari bakal mengisi perut, kita belum mampu atur sendiri, apapua fabriek pesawat, maka bagitu juga perkara agama, kita terpaksa menyerah kalah dengan lain bangsa, dan apabila kita berasa perlu bergantung pada agama, kita tiada ada hak akan lepaskan agama, yang sudah dipilih oleh kita punya ninik-moyang, sebelumnya kita yakin dengan segenan akal-budi, yang lain agama lebih bagus dari Islam. Dan kita harap ulama Islam membantu dengan sungguh-sungguh hati pada kita punya cita-cita memajuka tanah kita lebih dari kemadoyean zamman Majapait tetkala belum kedatangan Islam; bukan bantu dengan suroh perang sabil, tetapi dengan pelajaran bikin tajam pikiran; dan jangan menghalang-halangi pekerjaan kita dengan perkataan ini haram itu haram, membikin takut orang buka mata dan kuping, bikin takut orang keluear dari rumahnya, sama juga takut melanggar aturan gemeente yang berisi rupa-rupa larangan; padahal kita punya maksued selagi du-nia misih berputar, biarlah tetap islamnya, maka patutlah ulama Islam yang tuoles-ikhlas memperhatikan itu.
Sahadan marilah kita priksa satu-satunya patokan atau stelling yang ditetapkan oleh ilmu tawhid ini, iaitu lebih da-hulu 20 sipat yang “wajib” berdiri pada ”dzat” Allah-Taala, dengan kita pakai dalil-akal, bukan dalil-qoran.
Nafsiah berisi 1 sipat:
- Woojud, ertinya “ada”, maka wajib dzat Allah-Taala ada, dan mustahil Allah tiada. Adapun dalil nyia tiap-tiap ada, niscaya dzat, dan tiap-tiap dzat niscaya ada, karana mustahil dzat itu suatu ketiadaan alias sang-tiada. Dan tiap-tiap ”wajib” adanya, niscaya memang sendirinya sudah ada saja, tiada disebabkan oleh lain sebab, sehingga wajib juga dzat itu Sebab Yang Pertama, karana kalu andainya ada lagi lain dzat yang pertama, niscaya ada lebih dari satu dzat pertama, dan bagitu terus bersesuntindih tiada hingganya, inilah mustahil, karana kalu demikian, bukanlah itu Sebab Yang Pertama yang wajib adanya, tetapi harus adanya, boleh ada, boleh tiada, inilah mustahil, karana harus bukan wajib, dan wajib bukan harees. Dan lagi dalil nyia bahua Allah “bukan harees” tetapi ”wajib” adanya, karana alam ini tiada sunyi dari pada “gerak”, sehingga wajib juga gerak itu sipat yang berdiri pada dzat, karana kalu andainya gerak itu bukan sipat, niscaya alam dikata sipat dari gerak, sehingga terbalik, gerak dikata dzat, inilah mustahil. Maka wajib alam dikata ”dzat” yang menyadi “sebab” terbitnya gerak, sehingga wajib juga gerak
itu “sipat” yang disebabkan oleh “alam”, dan wajiib tiap-tiap sebab itulah “dzat”. Oleh karana itu, wajiiblah tiap-tiap “kejadian” didahului oleh “sebab”, karana kalu andainya kejadian tiada didahului oleh sebab, niscaya tiada suatu pun yang boleh dinamai kejadian dan tiada suatu pun boleh dinamai sebab, sehingga tiada kejadian dan tiada sebab, inilah mustahil. Nyatalah juga tiap-tiap sebab, niscaya lebih dahulu dari kejadian, sama juga alam lebih dahulu dari gerak, Biarpun antaranya lebih cepat dari seribu kali jalan-nya sinar matahari datang ke bumi, maka wajiiblah jadinya alam juga didahului oleh sebab. Dan oleh karana dzatnya alam bersipat “gerak”, niscaya wajiiblah ada dhidnyia apa-apa yang dinamai “diam”, karana kalu andainya tiada pengertian diam, niscaya tiada suatu pun yang boleh dinamai gerak, sehingga kita mesti tulak sipat gerak, inilah mustahil, karana adanya alam yang bergerak, sudah nyata dan sah menunjuk-kan “gerak”. Maka wajiib adanya alam yang bergerak didahului oleh diam, dan wajiib juga sang-diam didahului oleh “lain” sebab, yang tiada bersipat gerak, karana tiap-tiap gerak bukan diam, dan tiap-tiap diam bukan gerak, sehingga mustahil alam yang bersipat gerak berbareng mempunyai sipat diam, maka wajiib alam ini tiada sunyi dari gerak, mustahil diam, sehingga wajiib sang-diam itu “di luar” alam alias gerak.
Nyatalah kita punya daill di atas tadi bahua alam wa-jib bergerak tiada dapat dibantah oleh akal, sama juga wa-jibna tiap-tiap cirkel tentulah bundar, iaitu bukan gerak itu sipat yang umum, tetapi suatu “thabeat”, yang tiada dapat ditulak tetapnya, Biarpun gerak itu terkadang hilang dari pemandangan panca-indria, oleh karana terlalu deras dan halus debarnya atau trillingnya. Demikianlah kita belum dapatkan matahari diam, kalu bukan donging atau cerita kosong. Bagitu juga badan manusia dari kandung sampai lahir, terus ke kubur tiada terlepas dari gerak, inilah tandanya juga alam wajiib “berubah”, sama saja tentang dzatnya, sipatnya, tempatnya atau waktunya.
Dan oleh karana sang-diam “di luar” alam, wajiiblah diam lebih tua dari gerak, karana kalu andainya gerak lebih dahulu dari diam, niscaya diam didahului oleh gerak, inilah mustahil, karana kita belum dapatkan apa-apa bersipat diam yang sebenarnya diam, sehingga nyata pula mustahil sang-diam itu di dalam gerak. Dan andai kata sang-diam di dalam alam sekalio pun, niscaya kita tiada dapat menentu-kan bahua sang-diam didahului oleh gerak, hanyalah yang boleh dipikir, diam lebih tua dari gerak, karana kalu andainya gerak lebih dahulu dari diam, niscaya gerak lebih tua dari “sang-tiada”, inilah mustahil. Karana kalu andainya gerak lebih dahulu dari sang-tiada, niscaya gerak berdiri pada “dzat yang pertama”, karana mustahil “sang-tiada”, alias lapang alias hempo alias bukan-dzat, mempunyai sipat gerak, sehingga jadilah alam yang bersipat gerak itulah dzat yang “pertama”, yang “wajiib” adanya, inilah juga mustahil. Karana dalinyna, kalu andainya alam wajiib adanya, niscaya alam tiada berwatas dzatinya, lusnya dan timponya, inilah mustahil, maka wajiib alam berpinggir dan berwatas, dengan ketiadaan, iaitu sebagai suatu benda di tengah lapang yang kosongnyia tiada berhingga, maka mustahil benda yang berpinggir demikian itu suatu dzat yang pertama. Dan dalinyna, andai kata “ketiadaan” itu berpinggir, niscaya pingginyia berwatas dengan ketiadaan, inilah sama juga tiada berpinggir.
Nyatalah dengan berpikir demikian, Moslimin yang berakal, mendapat kepocesan di dalam pengertian dhid‘, atau anti atau tegenstehing atau “hal yang berlawanan satu sama lain”, karana keadaan di dalam alam berlawanan dengan ketiadaan di-luar alam, keadaan gerak pada keadaan alam dengan ketiadaan gerak alias diam pada ketiadaan alam, iaitu lawannya dalam dengan luar, lawannya dzat dengan bukan-dzat dan lawannya sipat dengan bukan-sipat, sehingga nyata juga lawannya alam yang bergerak, ialah ketiadaan alias diam. Itulah antironya dinamai mumkin, sehingga tiap-tiap dikata mumkin, ada tiga macam: le mumkin-maadum iaitu a ketiadaan antiro; b ketiadaan yang terdapat alam didalamnyia.
2e mumkin-mawjud iaitu c keadaan alam bertempat di dalam mumkin maadum.
Di atas tadi kita mustahilkkan dengan dalil yang alam suatu dzat yang pertama, sehingga wajiib juga adanya alam didahului oleh sebab, iaitu mustahil alam jadi dengan sendirinya. Dari karana diam lebih tua dari alam, maka boleh disangka sang-diam itu menimbulkan alam, inilah mustahil, karana tiap-tiap sebab wajiiblah itu dzat, maka mustahil diam itu sebab dari kejadiannya alam, yang bersipat gerak, karana mustahil sang-diam alias ketiadaan, yang memang bukan dzat, mempunyai kemampuan akan membikin dzat sebagai alam ini. Oleh karana itu wajiib ada lagi “lain dzat” diluear alam alias gerak dan diluear diam alias ketiadaan, itulah “sendirinya” yang mampe dan pandai membuat alam dengan “caranNya” yang tiada dimengerti, dan itulah dzat yang pertama, yang bukan harus, tetapi wajiib adanya, mustahil tiada, iaitu yang Islam namai Allah-Taala, sehingga juga wajiib Allah sendiri yang mengobah mumkin, bukan harus, karana kalu harus, niscaya harus alam timbul sendirinya atau harus lain dzat, diluear Allah, yang mengobah mumkin. Kita akan bicarakan lagi bagaimana kilrunya Al-Asyari; bukan kilru paham, tetapi dia bikin patokan yang bukan patokan.
Maka nyatalah juga yang boleh bersamaan satu sama lain sebagai panas dengan panas, terang dengan terang, hanyalah kalu kita bicara tentang hadis; dan boleh berlawanan satu sama lain upama panas dengan dingin, terang dengan gelap, gerak dengan diam, hanyalah kalu bicara tentang hadis dan mumkin. Akan tetapi tiap-tiap Moslim mempikir tentang dzat Allah, niscaya tiadalah boleh dipakai pengertian “persamaan” dan ”perbedaan”, karana Biarpun andai kata manusia dapat menetapkan apa yang sama dan apa yang beda, niscaya tiada sanggup menetapkan bedanya dan sama-nya Allah-Taala dengan lainnya, karana tiap-tiap “dzat yang pertama”, niscaya tiada didapat ”misalnya dan contonya” yang boleh dipikir dengan akal-budi, karana mau dikata diam bukan diam, dikata gerak bukan gerak, mau dikata penuh, jadi salah, mau dikata hempa, jadi salah, sehingga nyatalah dzat Allah-Taala ada “di luar pengertian manusia”. Karana kalu manusia belum mampu kenal isi alam ini antironya, bagaimanatah Moslimin berani menetapkan kenal bedanya dzat yang pertama yang tiada didahueloi oleh sebab.
Akan tetapi apakah sebabna Al-Asyari adakan patokan “mokhalafatul-lilhawadis”? Inilah perlu buat murid-murid yang baru belajar, dan perlu buat Moslimin yang bodo, supaya jangan takut sama berhala dan patung, mau disamakan dengan Allah.
Adapun dalil-dalil, yang telah tersebut itu dengan jalan analyse dan synthesis, kita boleh tambah lagi beberapa banyak, akan tetapi kalu diteruskan saja, tentulah lain-lain patokan yang akan ditilik tiada kedapatan dalil dan kehabisan bicara.
Itulah sebabna kalu murid lagi mengaji patokan “nafsiah”, maka guru berkata: ”Erti nafsiah iaitu hal yang wajib bagi dzat selama dzat bersipat wujud, tiada dikaranakan dengan suatu karana,” ilah karana belum sampai pada patokan “maani”, akan tetapi bukan karana maani belum berdiri pada dzat itu, tetapi ”belum dibicarakan.” Dan kalu sebentar sudah sampai pada maani, barulah dikata: “hal yang wajib bagi dzat selama dzat itu bersipat wujud dikaranakan dengan suatu kelakuan”. Maka barulah cukup guru punya bicara akan bikin lebih terang, bahua dzat itu sendiri yang ”pandai” mengadakan alam dari tiada kepada ada.
Demikianlah tadi kita sengaja pakai dalil yang ringkes, sebab kalu suatu dzat wajib adanya, niscaya wajib juga sedianya, kekalnya, bedanya dengan lainnya, berdirinya sendiri dan tunggalnya iaitu patokan salibiah, inilah buat ahli-pikir tiada usah diajar lagi, niscaya sudah tahu bagaimana mesti dipahamkan sampai pada akhirnya. Dari sebab ilmu tawhid ini bukan saja berguna buat ahli-pikir, tetapi juga buat marika itu yang suka gunakan akalnya kepingin belajar berpikir lebih dalam, jadilah perlu dipisahkan bicaranya antara nafsiah dan salbiah, supaya lebih gampang buat Moslim yang baru belajar, yang juga dimestikan tuntut ilmu ini. Maka segala patokan yang akan ditilik di sini selamanya mufakat satu sama lain, dan apabila sedikit saja berlawanan di antara patokan-patokan itu, bukan karana patokannya berobah, bukan salahnya Al-Asyari, tetapi karana kelakuan orang, yang berpikir, tiada tetap; maka perlu dia uji terus akalnya sampai timbangannya tiada berubah-obah lagi, barulah boleh tegoh putussanya, Biarpun digoyang bagaimana keras, tetap berdirinya; tiada sebentar miring, sebentar jatuh, sebagaimana kelakuan anak ketiyil belajar berdiri. Dan kalu Moslim sudah pegang keras pada nafsiah, niscaya tiada boleh lepas patokan salbiah, atau sebentar lepas, sebentar pegang, karana kaleo bagini, jadi nyata tipis imannya dan tipis akalnya.
Karana kalu andainya ada Moslim mace pegang sepotong-sepotong segala patokan di dalam ilmu tawhid ini, lebih baik dia lepas itu sama sekali, dan pikir saja “adanya” Allah-Taala, dengan segenap hatinya serta mengaku tiada sanggup bicara tentang Allah lebih panjang, sebab tiada mengerti. Habis perkara!
Lain dari itu, Moslim jangan kira segala dalil-akal, yang telah tersebut dan yang akan disebutkan lagi, tiada dapat ditulak, akan tetapi buat manusia yang junjung agama, apabila sudah terima suatu stelling atau patokan yang diaku oleh agamanya, niscaya itulah juga yang mesti dipegangnya dengan kut sama-sama dalilnya yang mufakat dengan hukum-akal, seperti akan dibicrrakan lagi. Adapun di sini bukan tempatnya ditulis segala dalil-goran, karana ada beribu ayat di dalam qoran, yang menunjukkan bahua Allah-Taala suatu dzat yang tiada dapat dipikir oleh akal.
Marilah kita pindah tilik patokan:
Salbiah berisi 5 sipat:
2 Qidam, ertinya memangnya ada saja, atau “sedia,” maka wajib Allah memang selama-lamanya sudah ada saja, dan mustahil hadis (baru). Adapun dalilnya tiap-tiap sedia bukan baru, dan baru bukan sedia, maka kalu andainya Allah-Taala tiada sedia, niscaya ada permulaan dzatnya dan ada permulaan zammannya, maka bukan wajib adanya, tetapi harus adanya, inilah mustahil karana berlawanan dengan nafsiah. Bukan saja dzatnya qidam (qadim) tetapi juga sipatnya. Upamanya kaleo dikata Allah bersipat adil dan kuasa, maka wajib sipat adil dan kuasa itu qadim juga, iaitu memangnya “sudah” adil dan kuasa, bukan tadinya tiada punya adil dan kuasa. Bukan seperti manusia yang baru dapat pangkat kekuasaan, lantas mau bertingkah kasih lihat kocasanya seperti sibocta baru melek, inilah mustahil. Dan akan tereoskan dalil, kalu andainya Allah ada permulannya, niscaya ada lain sebab yang menimbulkan dzatNya dari tiada kepada ada, atau asal bersesuns-tindih sebagai telor dari ayam, dan ayam dari telor, atau anak-beranak sebagainya, maka sekalian itu menunjulkkan gerak yang berasal dari diam, inilah “mumkin” namanya karana boleh diam boleh gerak, boleh tiada, boleh ada, inilah mustahil bagi Allah, karana kalu bagini, bukanlah itu dzat pertama yang wajib adanya, tetapi dzat yang hadis sebagai alam, atau sangtiada, sehingga berlawanan dengan nafsiah.
3 Baqa’, ertinya “kekal atau langgeng”, maka wajib kekal Allah-Taala pada dzatNya dan sipatNya, dan mustahil akan ”habis”. Adapun dalil ny a tiap-tiap kekal bukannya habis, dan habis bukannya kekal, karana dzat yang wajib adanya, niscaya tetap adanya, karana kalu andainya tiada tetap adanya, niscaya sebentar ada, sebentar tiada, maka bukan wajib, tetapi harus saja adanya, inilah mustahil karana berlawanan dengan nafsiah. Dan lagi tiap-tiap dzat yang qidam (atau qadim) niscaya bukan asal dari tiada, karana kalu tadinya tiada, bukan qadim namanya, tetapi hadis. Dan tiap-tiap dzat bukan asal dari tiada, niscaya komdiannya tiada berhubong dengan tiada, itaiu niscaya baqa’, karana tiap-tiap dzat tiada pokoknya, niscaya tiada ujungnya, dan tiap-tiap dzat tiada berwatas zammannya yang telah lalu, niscaya tiada berwatas zammannya yang akan datang.
Maka dengan dalili tersebut cukulplah putusannya bahua tiap-tiap qidam, niscaya baqa’, dan tiap-tiap baqa’ niscaya qidam atau qadim. Juga tiap-tiap dzat wajib adanya, niscaya wajib juga qidamnya dan baqa’nya, mustahil ada dzat yang wajib baqa’ saja, harus qadimnya seperti sangkanya ulama yang tipis akalnya, karana mengatakan syorga dan naraka wajib baqa’, sehingga ada dua macam baqa’, inilah mustahil, karana kalu bagitu, niscaya juga ada dua macam qadim.
4 Mokhalafatul lilwadis, ertinya “berbedaan dengan segala yang hadis atau baru”, maka wajib Allah-Taala beda tentang dzatNya, sipatNya, perbuatanNya dengan lain-lain dzat di luar Dirinya, dan mustahil bersamaan. Adapun dalil ny a kalu andainya tiada beda, niscaya wajib sama dengan harus, qidam sama dengan hadis, baqa’ sama dengan habis, sehingga bukanlah Allah itu dzat pertama yang wajib adanya, tetapi dzat yang harus adanya, inilah mustahil, karana kalu demikian, bukanlah itu dzat yang qidam dan baqa’. Dan lagi dalil ny a tiap-tiap pemandangan mendapatkan dzat yang bersamaan satu sama lain, niscaya itulah hadis sama hadis, baru sama baru, tetapi tetap berobahnya sebagai aer menjadi awan dan awan menjadi aer, atau bersusun tindih, sebagai puhon dengan biji, atau telor dengan ayam dan sebaliknya, maka perobahan yang demikian itu mustahil bagi dzat pertama,yang wajib adanya.
5 Qiyamuhu-binafsihi, ertinya “berdiri dengan sendirinya”, atau “merdika” maka wajib Allah-Taala berdiri dengan sendirinya, mustahil berkehendak pada Dirinya dan lainnya. Adapun dalilinya kalu andainya Allah berkehendak pada “lainnya”, niscaya bukan wajib adanya te-tapi harus, dan bukan qidam, bukan baqa‘, bukan mokhala-fatul-lilhawadis, tetapi asal dari ketiadaan alias diam, yang dijadikan oleh lainnya buat semantara waktu sampai habis kontraknya, kombalilah ke dalam ketiadaan sama juga hadis, tiada beda sama manusia yang banyak napsu, sebentar mau kawin, sebentar mau bercerai, senantiasa ganti bini, tiada bisa lihat konde licin, lantas birahi, tiada putus-putus maunya; sudah kaya, mau lebih kaya, lebih senang. Dan kalu andainya kita tunjuk dengan alasan pantas pada Moslim, yang punya pengertian syorga-baqa’, bahua erti baqa‘ di luar dzat Allah hanyalah baqa’ yang manusia tiada sang-gup ukur lamanya, tetapi akhrinyya wajib habis, lantas kat-anya yang kita kafir tiada pertayaya qoran, maka inilah tanda-nya di antara manusia ada yang gebleg, ada yang pintar, tetapi Biarpun bodo atau pintar, selamanya manusia punya azas mau lebih senang dari senang, maka sipat yang demikian itu menunjukkan “kekurangan” selama-lamanya, inilah bukan merdika, bukan berdiri dengan sendiri, karana banyak keper-luannya, maka mustahil bagi Allah-Taala kekurangan apa-apa, dan mustahil keperluan apa-apa, mustahil ada yang perentah dan mustahil ada yang larang, sehingga juga mustahil jadi kemestian bagi Allah akan mengobah mumkin atau meninggalkannya.
Adapun kalu qoran mengatakan syorga itu baqa‘, hendaklah dipaham kekalnya “cara hadis”, iaitu berwatas dengan habis, karana hadis bukan qadim. Kalu andainya hadis boleh sepotong baqa’, niscaya hadis boleh sepotong qadim, sepotong wajib adanya dan sepotong harus adanya, sehingga juga dzat Allah-Taala, boleh sepotong baqa‘, sepotong hadis, sepotong ada, sepotong tiada, sepotong bergerak dan sepotong diam sebagai “mumkin”, inilah mustahil. Oleh karana itu terang sekali mustahil ada dua macam baqa’, iaitu Allah “baqa‘-dzati”, dan sepotong dari alam, yang berupa 1 ruh, 2 syorga, 3 naraka, 4 luh, 5 qalam, 6 arasy dan 7 kursi dinamai “baqa’-aradhi”; maka dinamai aradhi karana ini macam merk mempunyai “kehendak”, ertinya bahua baqa‘-dzati itu merdika tiada berkehendak, tetapi aradhi ialah baqa‘ yang berkehendak.
Kita mau tunjuk dalil-akal bagaimana mustahil-nya ada baqa‘ merk aradhi. Adapun kalu andainya ada baqa’ yang “berkehendak”, niscaya ada qadim yang berkehendak, dan ada qiyamuhu-binafsih yang berkehendak, sehingga juga ada baqa‘ yang kepingin baqa’ ada qadim yang kepingin qidam, ada kekal kepingin kekal, ada merdika kepingin merdika, sehingga juga ada qadim kepingin baqa‘, ada baqa’ kepingin qidam, ada dzat-wajiib-alwujud berkehendak pada wujud. Maka segala bicara dan pikiran yang bagitu macam, bukan hukum-akal namanya, tetapi “botol kosong” yang tenggelam-timbul di dalam aer, karana kalu kita teruskan bicara gila-gila bagitu, niscaya kita boleh kata: hadis berkehendak pada baru, dan qidam-baqa‘ berkehendak pada hadis, sehingga kekal kepingin habis, maka orang Moslimin yang punya akal bagitu, tiada diberatkan oleh syara (wet-agama), karana nyata utaknya tiada benar, baik dikasih obat di rumah gila.
Dan dari keterangan yang telah tersebut itu nyatalah, erti qiyamuhu binafsih, bukan saja tiada berkehendak pada lainnya, tetapi juga tiada berkehendak pada Dirinya. Dalil nya lagi, kalu andainya Allah berkehendak pada dzatsipat dan perbuatanNya Sendiri, niscaya bukanlah Dia dzat pertama yang sudah semporna merdika, tetapi kepingin lebih semporna lagi dari nafsiah, salbiah dan maani, sehingga ada lagi lain dzat yang lebih merdika dan lebih semporna dari Allah-Taala, inilah mustahil.
Dan lagi mustahil Allah berkehendak pada keadaan apa juga, dan mustahil berkehendak pada ketiadaan. Dalil nya, kalu andainya Allah berkehendak pada keadaan Dirinya, niscaya harus adanya, dan kalu berkehendak pada ketiadaan Dirinya, niscaya harus ketiadaanNya nanti akan habislah dzatNya. Demikian pula kalu berkehendak pada lain keadaan di luar Dirinya, niscaya lain dzat yang jadikan Dia dan perentah atau larang padaNya, sehingga Allah tergagah oleh lainnya, bukanlah merdika; dan juga niscaya alam berikut syorga-naraka kekal adanya, karana ada keperluan bagiNya keadaan alam. Dan kalu berkehendak pada ketiadaan di luar Dirinya, niscaya berkehendak pada mumkin maadum yang tiada berisi, sehingga tiadalah timbul alam mawjud yang berwatas dengan maadum.
Maka dengan dalil tersebut itu, nyatalah Allah-Taala tiada berkehendak pada wakteo dan zamman, penuh dan lapang, terang dan gelap, diam dan gerak. Pendeknya Allah-Taala tiada dapat dimengerti oleh hadis yang macam apa juga.
Karana kalu mau diteruskan dalilnya qiyamuhu-binafsihi, niscaya kita terputar-putar dari nafsiah sampai salbiah dan maani, iaitu apabila Moslim sudah pegang nafsiah, dia tiada mampu lepas lagi salbiah dan maani. Inilah menunjukkan bagusnya imu tawhid ini bagi Moslim yang belajar jalankan akalnya; sayang sedikit Al-Asyari kliru mengadakan patokan “filu kulli mumkinin awtarkuhu” yang banyak bikin bingung ulama yang bukan ahli-pikir, padahal patokan itu mesti menjadi dalil dari qiyamuhu binafsihi di sini.
6 Wahdaniat, ertinya “asa” (tunggal), maka wayib Allah-Taala tunggal, dan mustahil lebih dari satu. Bukan saja tunggal pada dzatnya, tetapi juga tunggal pada sipatnya dan perbuatannya. Adapun dalilnya tiap-tiap tunggal bukan banyak, tiap-tiap banyak bukan tunggal, maka kalu andainya tiada tunggal dzatnya, niscaya Dirinya boleh banyak, boleh terpecah dan boleh terbahagi, boleh bersesun dan berlapis, dan boleh menitis di dalam diri manusia atau hewan, boleh berjiwa dan bernyawa, boleh besar, boleh kecil, boleh kasar, boleh halus, boleh berdiam, boleh bergerak, boleh penuh, kosong, panjang, pendek, tinggi, rendah, dan niscaya Dirinya berwatas-watas satu sama lain atau berwatas dengan alam atau berwatas dengan kosong, maka ydadih Dirinya sama dengan mumkin dan segala dzat yang hadis, maka kalu andainya ada dua saja dzat sebagai Dirinya Allah, niscaya bukanlah Dzat Allah itu dzat yang pertama, sehingga ada lagi dzat lain yang ketiga, di luar ini dua dzat, itulah yang pertama, inilah mustahil. Karana tiap-tiap dzat tunggal, niscaya itulah “sendirinya” dzat pertama, yang tiada bandingannya pada dzatnya, sipatnya dan perbuatannya, dan Dialah juga yang wayib timbulkan alam-hadis dari tiada kepada ada, sebagai geraknya natuur yang ada sekarang, karana kalu andainya Allah bukan tunggal, niscaya alam ini tunggal atau ada lain dzat lagi yang tunggal, inilah mustahil. Dan lagi dalilnya bahua tiada yang bandingkan sipatNya dan perbuatanNya, karana kalu ada yang demikian, niscaya ada lain kekocasaan yang sama dengan qudratNya dan sama dengan perbuatanNya, inilah mustahil. Karana perbuatan hadis mengambil gerak, waktu, tempat dan usaha pekerjaaan, maka Sekalipun di dalam satu seconde, niscaya pekerjaaan itu ada mulanya dan ada berhentinya, inilah berulang-ulang namanya. Adapun yang demikian itu mustahil pada perbuatan Allah-Taala, karana jika demikian, bukan saja perbuatanNya mengambil waktu sebentar atau lama, tetapi juga perbuatan itu jadi suatu pekerjaaan yang dinamai usaha atau ikhtiar, iaitu kelakuan sebagai kita, inilah mustahil bagi Allah. Upamanya kalu kita menulis, niscaya ada tiga perkara, iaitu kita (subyect) dan kerja tulis (usaha) dan tulisannya (obyect), maka nyatalah usaha “bersambung” di tengah antara subyect dan obyect, maka ini tiga perkara lazim (mesti) mengambil gerak, tempat dan waktu, dan juga lazim tulisan itu tiada samporna, apabila yang menulis tiada semporna pengetahuannya. Akan tetapi menurut patokan wahdaniat, mustahil Allah berbuat lebih dari satu kali, dan mustahil perbuatan itu berhubong di antara subyect dan obyect. Dan itulah sebabnya, maski pun subyectnya (Allah) dan perbuatanNya semporna, tetapi obyectnya (alam) tiada semporna sebagai “gadim”, hanyalah cukup bagusnya “cara hadis”, tiada dapat dicela, dan tiada kekurangan cara hadis sedikit pun pada macamnya, geraknya, kuatnya, thabeatinya dan sebagainya, yang terkandung di dalam systeemnya. Pendeknya maski pun subyect tetap gadimnya, dan obyect tetap hadisnya wajiblah hadis akan linyap kombali di dalam maadum alias ketiadaan. Tetapi di luar Allah, tiada suatu pun yang dapat tiru-tiru mengadakan hadis semacam alam, karana “caraNya” membuat tiada dapat dimengerti oleh siapa pun. Demikianlah paham kita, bukan harus, tetapi wajib Allah sendiri menyadikan alam.
Sampai di sini cukulplah 5 sipat yang wajib dan 5 lawanannya yang mustahil, inilah masok pada salbiah, guna tulak segala sipat kekurangan dan segala sipat hadis, yang disangka berdiri pada dzat Allah-Taala, itulah sebabnya dinamai “salbiah”; maka salbiah itu mufakat dengan nafsiat.
Sekarang kita mau priksa lain patokan yang dinamai: Maani dan Maana wia h, masing-masing berisi 7 sipat, jolembah 14 sipat iaitu:
7 Qodrat, ertinya “kuasa”. 8 Qodirun er-tinya “yang kuasa”, maka wajib Allah kuasa dan yang kuasa; mustahil tiada kuasa. Adapun dalilnya, kaleo andainya Allah tiada kuasa dan bukan yang kuasa, niscaya ada dzat yang lebih kuasa, inilah mustahil, karana kalu demikian bukanlah Allah dzat yang pertama, sehingga ada lagi lain dzat yang lebih dahulu, itulah yang wajib adanya, inilah yang menyadikan Dia dan merentah atau melarang padaNya, maka bukanlah Allah merdika, inilah mustahil. Ini sipat qodrat menunjukkan Allah tiada diprentah atau dilarang mengobah mumkin, sehingga nyatalah pada ahli-pikir, yang “filu kulli mumkinin awtarkuhu” tiada pantas dibikin patokan. Dan lagi dalilnya, kaleo Allah tiada kuasa, niscaya alam yang bergerak inilah yang kuasa atau sang-tiada yang diam, itulah yang kuasa, sehingga alam inilah dzat yang pertama, timbul dengan sendirinya, inilah mustahil, karana kalu bagitu, niscaya sang-tiada dapatlah beroboh sendirinya jadi berisi dzat, yang bergerak atau niscaya alam ini sipat, dan gerak dinamai dzat, sehingga gerak itulah bukan sipat tetapi “dzat yang pertama”, dan jadilah gerak itu dinamai Allah-Taala, sehingga Allah bercampur aduk dengan alam yang berupa benda yang berwatas dan berpinggir, inilah mustahil bagi dzat yang waji adanya. Dan juge dalil ny a, kalu andainya Allah tiada kuasa, niscaya ada lain dzat yang mencegah Dia mengobah mumkin, atau jadilah mumkin yang kocasa dan sanggup berbantah tiada mau berisi alam, sehingga tetaplah mumkin di dalam maadum (antironya), dan tiadalah alam ini jadi ada sebagai sekarang, atau kalu mumkin “mulanya” tiada berbantah, dapatlah alam ”sekarang” ini berbantah akan linyap hialang sendirinya, karana malas bergerak, atau dapatlah alam mogok (staking) berhenti bergerak, maka berhentilah bumi dari berputar, dan segala bintang, matahari, bulan, dapatlah sebentar jalan sebentar berhenti sesukanya, karana “kuasa”: sehingga ributlah segala malaekat, karana luhl-mahfuld juge mogok, sehingga segala tulisan dan huruf dari luh, yang biasa dibaca oleh malaekat, pada berdangsa, maka tiadalah rasael-rasul dapat membikin wet sebagai zabur, taurat, injil dan qoran, maka jadilah api bersipat dingin, sehingga manusia pada makan daging menta, dan segala cahaya jadilah gelap, karana antiro benda mampu sendirinya bertukar ”thabeat”; kalu kita lagi haus mau minum aer, lantas aer jadi hilang sendirinya atau berubah jadi kodok, dan segala Moslim, yang banyak bininya, pada terkejut, karana sang-bini semua bertelor, sekali netes kelocarlah seratus manusia, merayap ke sana kemari, maka penuhlah dunia dengan manusia, tentulah jadi kuminis semocanya. Alangkah ribut-nya alam-jagat ini, karana ilmu-akal tiada gunanya lagi, iaitu karana apa yang wajiib menyadi harus, dan yang mustahil menjadi wajiib, sehingga berubahlah syorga jadi naraka, segala rasael pada kepanasan; dan berubahlah naraka jadi syorga, segala isi naraka, ialah iblis, dadjal, kecu, maling dan perampok pada pesta tayuban, main gambus dan mabook aer kalkawsar. Maka hal yang demikian itu mustahil sekali, karana menunjukkan Allah-Taala bukan kuasa, inilah berlawanan dengan nafsih dan salbiha.
9 Ir adat ertinya “tentu”. 10 Muridun, ertinya yang menentukan, maka wajiib Allah mempunyai ”kepastian”, mustahil “bimbang”. Adapun dalil ny a lihatlah dalil-qodrat; dan lagi dalilny a, kalu andainya Allah bimbang, niscaya Allah sebentar mau, sebentar wegh, sebentar ingat, sebentar lupa, sebentar gumbira, sebentar duka, sebentar puas, sebentar menyesal, sebentar cinta, sebentar takut, sebentar berani, inilah mustahil bagi Allah, maka segala sipat yang berdasar pada ”kemauan” mustahil, “tiadakemauan” mustahil, cinta-sayang mustahil, benci-marah mustahil, senang-susah mustahil, karana yang demikian itu menunjukkan ”perasaan hati sanubari” sebagai manusia dan hewan, yang suka dan doyan kawin, sudah tua-bangka kepingin muda kombali, makan maajum dan minum arak-obat cap banteng, supaya boleh kuat sereduk betina, inilah mustahil bagi Allah, karana berlawanan dengan nafsiah dan salbiah.
11 Ilmu ertinya “tahu”. 12 Alimun, ertinya “yang tahu”, maka wajiib Allah mempunyai “pengetahuan dan pengertian”, mustabil “bebal, bodo atau gebleg”. Adapun dalilnya, kalu andainya Allah bodo, niscaya ada dzat lain yang lebih pintar dari Dia, sehingga Allah punya ilmu sama juga manusia yang berdasar pada “panca-indria dan akal-pikiran”, sehingga tiadalah Allah kenal Diri Sendiri, tiada kenal segala keadaan dan ketiadaan di luar Dirinya, tiada kenal segala yang belum dan yang akan kejadian, maka tiadalah Dia pandai membuat alam yang bagi kita amat ajaib, sehingga apa juga yang dibuatNya, niscaya dengan sangka, pikir, timbang dahulu matang-matang, sama juga manusia cari bini, cari laki dan cari mantu, terkadang tiada tilik dahulu, sampai dapat bini yang cerewet sama juga adatnye setan kiwi-kiwi, dan maski pun ditiliknye mencari keterangan sana-kemari, tiada luopet dari “kliru”, karana terkadang dapat mantu laki-laki bangsat, bukan cinta tuus pada bininya, tetapi karana pandang harta, kepingin martuanya mampus siang-siang diciekik setan. Itulah tandanya manusia tiada pintar dan tiada mengerti sebagai Allah, maka kalu andainya ada ulama-agama mengaku dia tiada kliru, sebab punya ilmu bergudang-gudang atau sebesar gunung, jangan percaya saja, Biarpun sorbannya segede tempayan, patutlah kita jangan takaot beradu pikiran, turutlah Al-Asyari bikin mati kutunya guru, biar dia keluar keringat dingin, niscaya hilanglah takburnya.
13 Hayat ertinya “hidup”. 14 Hay-yun ertinya “yang hidup”, maka wajiib Allah hidup, mustahil mati. Adapun dalilnya a kalu andainya Allah tiada hidup, niscaya mati, dan kalu mati, niscaya segala Moslim bermula bertangis-tangisan, komdian berperanglah satu sama lain, karana yang satu kaum mau baca talkin, yang lain kaum melarang, jadilah Mostimin terpecah-belah, tiada habishabisnya berebut omong kosong, karana waktu mayitnya Allah mau disembahyangi, segala Moslim pada ribut perkara pasang niat “ocealli”. Segala Moslim yang sudah berpangkat Haj-ji, pada menyesal, dan yang belum Hajji, tiada mau belayar ke tanah Mekkah, karana kalu Allah sudah mati, siapatah yang hurus syorga lagi. Maka segala syekh-hajyi dan maskapai dari kapal-hajji pada bangkrut, gigit jari. Itulah sebabnya Allah-Taala wajiib hidup, karana kalu mati, niscaya tadinya bernapas, makan-minum, tidur-bangun, kawin-bercerai, cemburuan saling cakar, sebagai manusia dan hewan; niscaya bergerak-tumbuh-mati, sebagai puhon dan rumput yang hideop makan udara, atau sebagai batu yang kita pandang mati, inilah mustahil bagi dzat Allah-Taala.
15 Sama‘ ertinya “dengar”. 16 Samiun, ertinya ”yang mendengar”, maka wajib Allah mendengar, mustahil tuli atau budeg. Adapun dalilnya, kalu andainya Allah tuli, niscaya disebabkan perkakas kuping rusak, dan maski pun tiada rusak, terkadang akal lagi pikirkan pantun kron-cong, niscaya suara yang dekat tiada terdengar. Maka bagi Allah-Taala mustahil mendengar dengan kuping berhubung utak, karana kalu bagini, niscaya Allah sebentar dengar, sebentar tiada dengar, karana jauhnya suara atau terdinding atau ketiadaan perkakas kawat atau aether sebagai telefoon atau radio, maka mustahil Allah mendengar dengan perkakas dan mustahil tuli.
17 Bacar, ertinya “lihat”. 18 Bacirun, ertinya ”yang melihat”, maka wajib Allah melihat, mustahil buta. Adapun dalilnya kalu andainya Allah buta, adalah disebabkan perkakas mata rusak, sama juga rusaknya kuping, berhubung dengan utak, maski pun tiada rusak, te-tapi terkadang lihat terkadang tiada, karana utak lagi pikir kelain pihak, upamanya kalu ingat rambut ikel patah-nayang, atau karana terdinding atau ketiadaan cahaya, atau ketiadaan gerak dari benda yang dipandang, karana apabila benda yang dilihat bersipat diam, niscaya benda itu tiada mampu ten-dang cahaya yang bersorot, supaya cahaya terpencar ber-balik kemata, inilah sebabnya manusia dapat melihat benda, sehingga nyata juga benda yang disangka diam, sebenarnya bergerak. Maka bagi dzat Allah Taala mustahil melihat dengan pertelungan mata, utak, gerak dan cahaya, dan mustahil buta, maka wajiblah Dia melihat keadaan atau gerak, dan melihat ketiadaan atau diam.
19 Kalam ertinya “kata”. 20 Mutakallimun ertinya ”yang berkata”, maka wajib Allah mempunyai “per-kataan”. mustahil gagu atau bisu. Adapun dalilnya kalu andainya Allah bisu, niscaya disebabkan karana rusaknya perkakas di dalam tenggorokan dan mulut, serta lidah pendek, atau oleh karana tuli dan budeg belum tahu dengar suara; atau oleh karana tadinya hideop bernapas sudah pu-tus ruh-jiwanya alias mati; atau oleh karana keadaan dzat-nya sebagai batu-kayu, maka segala hal yang demikian itu mustahil bagi Allah. Dan lagi mustahil perkataan Allah ber-bunyi, mustahil bersuara terdahulu-terkomidian sama juga perampeoan yang sembur lakinya, atau sama juga faqih mencaci kafir, mustahil tergerak di dalam udara dan aether, mustahil terdengar oleh lainnya, mustahil juga Allah diam. Tetapi maski pun demikian, mustahil Allah bisu atau gagu, sehingga wajiib Allah mempunyai perkataan semporna, yang dimengerti saja oleh Dirinya sendiri, mustahil dimengerti oleh hadis. Dan lagi dalil ny, kalee andainya perkataan Allah dapat didengar dan dimengerti, niscaya Allah sepotong qadim sepotong hadis, atau niscaya alam sepotong hadis sepotong qadim, maka yang demikian itu mustahil, karana berlwanan dengan nafsiah dan salbiah.
Sahadan lagi dalil ny antiro patokan maani dan maanawiah itu, kalee andainya Allah, tiada kuasa, tiada pasti, tiada pintar, tiada hideop, tiada mendengar, tiada melihat, serta bisu, niscaya dzat Allah bersipat “kekurangan”, maka niscaya tiadalah Dia mampu dan pandai akan jadikan alam yang cukup baik dan bagusnyia dapat bergerak sendirinya.
Hingga ini cukuplah hitungannya maani ada 7 sipat yang wajiib dan 7 lawanannya yang mustahil, bagitu juga maanawiah 7 yang wajiib dan 7 mustahil. Seperti kita sudah tilik, nyatalah maani dan maanawiah mengandung ert i bahua Allah-Taala, Biarpun bersipat salbiah yang tiada dapat dipikir oleh akal, dan Biarpun tiada boleh disangka hideopnya sebagai manusia, dan bukan gerak sebagai bumi, matahari, rembulan, bintang, udara, aer, atoom, atau aether, bukan arca, patung atau kaaba, akan tetapi suatu Dzat yang hidup, bukan mati, bukan bernyawa, bukan berjiviwa, bukan ruh, bukan diam, bukan gerak, hanyalah tiada dimengerti hideopNya, kuasaNya, dan kemauanNya.
Dan apabila sebentar kita sudah tilik pengertian “taelluk” tentang perbuatanNya, maka lebih nyata lagi bahua Allah-Taala mempunyai kelako ean, yang Biarpun tiada dimengerti, tetapi bagi manusia menyadi tanda yang terang, bahua Dialah Sendiri sudah jadikan alam atau natuur dari tiada kepada ada, sehingga alam dapat berjalan sendiri cara hadis, Biarpun kita tiada sanggup pikirkan bagaimana kelakuanNya atau perbuatanNya. Demikianlah paham kita.
Dan kalu dihitung sipat itu adalah 20 yang wajiib dan 20 yang mustahil, jumbalah 40 perkara.
Sebelumnyia dibicarakan lima patokan lagi, hendaklah kita tilik lebih jaouh 6 sipat dari maani iaiu qodrat (kuasa), iradat (tentu), ilmu (tahu), kalam (kata), sama (dengar) dan bacar (lihat), yang masok di dalam bicara “taelluk”, akan menyatakan ke mana tujuannya pekerjaan 6 sipat itu. Adapun 1 sipat lagi dari maani iaiu hayat (hidup) tiada punya taelluk sendiri, karana sipat “hidup” ini gunanya mengikat dan gabeng sipat yang enam itu punya kelakuan, karana tiap-tiap kelakuan niscaya mengandung maana hidup, maski pun tiada dimengerti bagaimana hideopnya dzat Allah-Taala.
Dan tiap-tiap mempikirkan 14 sipat maani dan maanawiah, dan menilik taallluknya 6 sipat, selamanya jangan dilopeakan patokan nafsiah tentang waji adanya dan salbiah tentang qadimnya, kekalnya, bedanya dengan hadis, berdirinya dengan sendiri dan tunggalnya Allah-Taala pada paham kuasanya, iradatnya, ilmunya, hayatnya, sama'nya, bacarnya dan kalamnya, supaya jangan kliru sangka yang 7 sipat ini boleh bersamaan dengan hadis, sebab kalu andainya Allah-Taala sedikit saja boleh berhubung dengan hadis, niscaya Dia punya dzat, sipat dan perbuatan juga berubah-obah sebagai alam. Inilah gunanya patokan salbiah buat menjaga jangan qadim dibikin hadis, dan jangan hadis dibikin qadim, dan jangan dibikin sepotong hadis, sepotong baqa‘, sepotong qadim, seperti pahamnya ulama yang bukan ahli-pikir, suka campur hadis sama qadim seperti menguleg sambal.
Karana di dalam ilmu usul adalah yang ditanya bukan: sapa kita dan sapa kamu, tetapi: “apa kita dan apa kamu”. Dan apabila sudah beribu-ribu tahun lamanya belum didapat jawabnya, yang mempuaskan antiro manusia, tiadalah patut kita malu dan takaet dikatakan bodo, Biarpun sudah jadi guru, karana kalu kita bebal, ada lagi yang lebih gebleg, kalu pintar ada lagi yang lebih pintar. Maka kalu di dalam buku ini terkadang keluar dari ujung penna perkataan pahit, haraplah pembaca yang arif dan sabar memberi maaf, karana bukan berasa benar di pihak sendiri, hanyalah memberi rasa pada orang Muslim dan Kristen yang suka limparkan perkataan kafir pada lain pihak dan juga pada orang yang suka merendahkan Islam dengan perkataan yang tiada berdasar pada akal.
Baiklah sekarang kita tilik sipat-sipat yang mempunyai taallluk (taallluq), yang ertinya “perhubungan atau pertalian”. Itulah sebabnya kata guru pada murid: “Erti taallluk iaitu menuntoot sipat akan pekerjaan yang bertambah dari pada berdirinya sipat kepada dzat”. Kalu kita punya kata: “subyect menuntoot obyect”, iaitu upamanya kalu sipat qodrat berdiri pada dzat, niscaya dzat itulah subyect, yang berkueasa, menuntoot obyect yang dikuassainya. Adalah terkadang subyect punya kelakuan ditujukan pada obyect di luar subyect dan terkadang pada obyect di dalam dan di luar subyect. Maski pun di sini dikata kelakuan yang berhubung di antara subyect dengan obyect, akan tetapi tiada boleh dipikir sebagai perhubungan pekerjaan manusia dengan barang yang dikerjai, karana subyectnya bukan hadis tetapi qadim iaitu Allah-Taala punya dzat dan kelakuan yang tiada dimengerti.
Maka adalah sipat qodrat dan iradat itu taallluknya selamanya ditujukan pada “mumkin”, ertinya: mumkin inilah obyectnya yang dituntoot oleh qodrat-iradat sebagai subyect,
Dan maana mumkin ialah “boleh tiada dan boleh ada”, atau lebih tegas lagi: hal yang harus bagi akal tentang tiadanya dan tentang adanya. Maka nyatalah tiap-tiap dikata mumkin bukan wajib adanya dan bukan wajib tiadanya, tetapi harus adanya dan tiadanya, berbedaan dengan Allah yang wajib adaNya dan mustahil tiadaNya.
Dari sebab itu terang sekali taelluknya qodrat-iradat ditujukan pada obyect “di luar” Dirinya Allah-Taala iaitu di luar subyect.
Lain dari itu kita mesti tahu bedanya “mumkin” dengan “hadis”, jangan sampai kilru, sebab dua perkataan ini misih banyak bicaranya. Adalah erti hadis itu “baru”, dan tiap-tiap dikata baru, niscaya itulah dzat baru yang sudah timbul dari tiada, karana kosong jadi berisi, iaitu hadis nama isinya. Itulah sebabnya alam atau natuur dinamai hadis atau baru. Tetapi kalu dikata mumkin, inilah misih “umum”, karana boleh tiada dan boleh ada
Waktu tilik nafsiah iaitu sipat “woojud”, kita sudah unjuk dalilinya, tiap-tiap dzat wajib adanya, niscaya itulah juga sebab yang pertama, dan itulah sendiri wajib mengadakan alam, asal dari tiada. Manusia yang waras utaknya sudah tentu tiada dapat bantah dengan akalnya bahua sangtiada itu wajib kosongnya dan diamnya, dan tiap-tiap gerak wajiblah ada dzatnya.
Apabila Moslim sudah paham bagitu, niscaya tahu juga bagaimana bedanya mumkin dengan hadis, iaitu kalu dikata mumkin, boleh jadi ketiadaan alias diam yang tiada berwatas, dan boleh jadi juga alam alias gerak, yang selamanya berwatas dengan kosong, karana mustahil ada apa-apa yang baru timbul, penuh antironya tiada berpinggir, maka wajiblah tetkala timbul alam-baru misih ketinggalan sangkosong alias diam di luar watas alam.
Itulah sebabnya Nabi Mohammad, yang teramat tinggi akal budinya dan awas pemandangannya, sudah menetapkan barunya alam alias hadis asal dari tiada “bukan” asal dari “dzat Allah-Taala”, yang wajib adanya, karana tiap-tiap dzat wajib adanya, niscaya bukan itu bersipat gerak, dan bukan diam.
Dan itulah juga sebabnya, apa saja yang ada, lain dari dzat Allah-Taala, dan apa saja yang memang tiada, niscaya mustahil wajib adanya dan mustahil wajib tiadanya, tetapi harus adanya dan tiadanya. Dari sebab qodrat-iradat punya taelluk “taasin”, maka jadilah mumkin itu “wajib” berobahnya, sebagai akan datang lagi bicaranya.
Dan kita sudah tahu erti qodrat iaitu “kuasa”, dan erti iradat iaitu “tentu”, maka kalu dibuletkan dua perkataan ini, jadilah ertinya Allah kuasa menentukan dengan cara kekuasaan dan ketentuan yang “tunggal” tiada bandingannya, oleh karana Allah bersipat nafsiah dan salbiah. Maka bukanlah mesti dipaham yang Allah jalankan kekuasaannya berkali-kali sama juga geraknya hadis.
Adapun erti taasir itu “memberi bekas”, iaitu hasil, tiada luopet, tiada wurung, dan oleh karana taasirnya ditu-jukan pada mumkin, maka waji ketiadaan, yang tiada berwatas, menjadi berisi dzat alias alam-hadis yang perpinggir luarnya dengan ketiadaan yang tiada berpinggir, sampai cukeop timponya yang difentukan, barulah kombali berobah menjadi sang-tiada, antironya. Maka kalu di sini terkadang dikata perobahan “dari tiada kepada ada”, bukan maksudnya bahua sang-tiada “antironya” menjadi sang-ada, sehingga penuh tiada berwatas, karana dzat yang dapat dipikir, niscaya mustahil penuh tiada berpinggir.
Dan lagi oleh karana Allah punya qodrat-iradat tiada berkehendak pada waktu, maka mustahil Allah pada suatu waktu tetkala menentuukan mauNya, barulah alam ini timbul, dan pada “lain” waktu tetkala Allah sudah benci pada alam, barulah dilinyapkan olehNya, dan bagitulah seterusnya kapan Dia suka, Dia tentukan timbulnya alam, kapan tiada suka, Dia hilangkan; inilah mustahil. Dan mustahil juga tiap-tiap hadis berobah macam, sekian kali Allah mengobah, karana kalu andainya demikian, niscaya Allah menunggu waktu.
Siapa yang belum lupa bagaimana di atas tadi kita pahamkan nafsiah dan sipat wahdaniat dan mukhalafat, niscaya dengan sekejap mata, dapatlah tunjuk bagaimana besar klirun ya orang Moslim yang sangka bahua Allah menentuukan kapan saja Dia suka. Karana kalu bagini, bukan saja sangka Allah berkehendak pada waktu yang terdahelul dan terkomdian, tetapi juga jadi sangka yang tadinya Allah “belum” tentukan, maka sangka bagini sama juga pikir yang Allah punya qodrat-iradat timbulnya belakangkali, inilah mustahil.
Kalu pegang keras pada salbiah, niscaya waji Allah menentuukan kuasanya dengan iradat-qodrat “sekali saja” bukan berulang-ulang di dalam timpo dan zamman, hanyalah berobahnya maadum jadi hadis dan berobahnya hadis jadi maadum kombali, sudah ditentukan “lebih dahelul” sebe-lumnya ada apa-apa. Oleh karana itu, niscaya tetkala timbul hadis, berbareng juga timbul kuat dan thabeatinya hadis akan bergerak dan berobah “sendirinya” di antara timbul sampai pada akhiirnya berbalik jadi maadum; maka bukan qodrat Allah yang masok atau berhubeng dengan hadis, seperti sangkanya setengah dari guru-guru Islam yang belum matang ilmu-akal. Karana kalu andainya Allah tiada berhentinya menentuukan bagini dan bagitu, niscaya sama juga seperti Allah sebentar mau, sebentar wegh, sebentar bimbang, sebentar menyesal, sebentar mau obah bagini dan bagitu, sebab kurang bagus; maka kalu demikian, niscaya sama juga kita mengarang kitab, sebentar lupa, sebentar ngantuk, sebentar garuk kepala, sebentar pegang centong, sebab mau cari pikiran di dalam bakul-nasi, maka kelakuan semacam itu, mustahil bagi Allah-Taala.
Apabila sudah paham taelluk taasir ini, niscaya terang-lah bahua taasir itu saja yang sanggup mengobahkan harus menyadi waji, karana kalu demikian taasir itu mustahil berobahnya, maka dengan kelakuan qodrat-iradatnya Allah, menyadi “waji” mumkin itu berubah dari tiada kepada ada, dan dari ada kepada tiada, inilah erti taasir. Maka nyatalah bukan harus, tetapi waji Allah sendiri yang membeaat mumkin. Dan juga bukanlah seperti sangkanya setengah dari pada ulama, bahua taasirnya qodrat-iradat ditujukan pada “perobahan alam-hadis”, karana kalu bagini dikata taasir, niscaya tiap-tiap selembar daon jatuh dari puhon, tiap-tiap manusia hidup jadi mati, inilah pekerjaannya qodrat-iradat yang selalu berbuat, tiada berhentinya sampai alam habis umurnya, barulah Allah berhenti mengasoh, inilah mustahil, karana kalu andainya bagini perbuatanNya, niscaya Allah bukan pintar, tetapi lebih bodo dari insinyur yang timbulkan pesawat atau makhine.
Demikianlah erti perkataan “insya-Allah” sringkali dipaham oleh Moslim yang belum tahu ilmu-akal iaitu dikasih maana “kalu dikehendaki Allah”, upamanya kalu Allah mau, jadilah perbuatan manusia, kalu Allah tiada suka, tiadalah jadi. Kalu andainya benar pengertian Islam bagini macam, niscaya tiada gunanya Islam larang atau perentah apa-apa, karana Moslimin senantiasa mesti tunggu saja maeonya Allah, boleh tiada usah bayar hutangnya dengan uang, tetapi bayar saja sama perkataan insya-Allah; dan kalu Moslim makan gaji orang, bolehlah tidur-tiduran saja, apabila majikan suroh kerja, boleh sembur mukanya sama insya-Allah!
Padahal erti “insya” itu dimaksudkan perbuatan yang sanggup timbulkan dari tiada menyadi ada, bukan pekerjaan yang mengobahkan macam gerak yang sudah ada kepada ada, sehingga kalu Moslim berkata insya-Allah, hanyalah mengandung hormat dan peringatan pada Allah tentang berobahnya “mumkin maadum” menyadi berisi alam, maka alam itulah yang dinamai “mumkin mawjud”. Inilah sebabnya taelluk taasir dari qodrat-iradat ditujukan pada mumkin, bukan pada hadis.
Nyatalah bukan di dalam taelluk qodrat-iradat, tempatnya “berebut bicara” tentang pekerjaan geraknya alam hadis, karana taelluk taasir bukan ditujukan pada geraknya hadis, tetapi pada mumkin tetkala maadum atau lapang antironya, iaitu belum ada suatu apa.
Dan nyatalah juga bukan qodrat-iradat qadim berhubung atau masok di dalam mumkin maadum atau di dalam hadis, dan bukan Allah bergerak-gerak sama juga dalang yang mainkan wayang atau sebagai orang yang masok di dalam kurungan barongan yang lagi tandak, dan bukan Allah sebagai insinyur yang tekan satu perkakas lantas segala makhine ne pada bergerak. Akan tetapi mesti dipaham wajiib Allah timbulkan alam ini dengan ditentookan “thabeat-hadis” yang bergerak ”sendirinya” dengan aturan systeem yang cukup bagusnya.
Sekarang kita mau tilik, apakah sebabnya taelluk qodrat-iradat ditujukan saja pada segala mumkin iaitu pada segala obyect “diluaar” dzat Allah? Inilah socatu tanda bagaimana tingginya ilmunya Al-Asyari, karana kalu andainya taelluk taasir ini ditujukan juga pada dzatnya Allah, niscaya Moslim boleh kliru sangka bahua Allah kuasa obah Dirinya sendiri dari tiada kepada ada, dari ada kepada tiada, dari diam jadi bergerak, dari bergerak jadi diam, sebentar hilang, sebentar timbul, sama juga Sanghiang Noorcahya dan Batara Guru punya kesaktian, maka kelakuan bagitu macam mustahil bagi dzat Allah, karana berlawanan pada nafsiah.
Baiklah kita pindah tilik “taelluknya” sipat sama’ yang ertinya ”dengar” dan sipat bacar yang ertinya “lihat”. Adapun obyectnya ialah ”segala mawjood” iaitu segala keadaan, sama saja keadaan dzat qadim sebagai Allah dan dzat hadis sebagai alam. Maka di sini dimaksoodekan yang subyect tujukan taelluknya, bukan saja pada keadaan di luar subyect, tetapi juga pada subyectnya sendiri iaitu Allah punya Diri. Nyatalah makssudnya taelluk ini, bukan saja Allah dengar dan lihat segala keadaan di luar Dirinya tetapi juga dengar dan lihat Dirinya sendiri, Biarpun mustahil Dirinya bersuara, mustahil berupa.
Menurut kita punya pikiran, di sini Al-Asyari punya aturan taelluk kurang betul, karana mestinya sama’-bacar bukan saja ditujukan pada segala mawjood, tetapi juga pada “maadum”. Karana kalu menurut Al-Asyari, niscaya boleh disangka bahua Allah hanya dengar dan lihat dzat-dzat yang sudah ada, tetapi tiada dengar dan lihat sebelumnya menyadi dzat iaitu selagi maadum antironya atau maadum yang mengulllingi alam, sehingga disangka yang Allah menunggu suara, barulah dengar, dan menunggu rupa barulah lihat; inilah mustahil, karana berlawanan dengan nafsiah dan salbiah. Padahal wajiib Allah dengar ”sebelumnya” berbunyi dan lihat “sebelumnya” berupa, maka nyata di sini Al-Asyari kliru, karana sipat sama’ dan bacar bagi Allah tiada beda dengan sipat “ilmu”, dan “kalam” sebagaimana akan datang lagi bicaranya. Kalu “sama‘-bacar” mau dibedakan dengan “ilmu dan kalam” niscaya Allah mempunyai panca-indria dan akal sebagai manusia, inilah mustahil.
Dari sebab itu, kita tiada heran kalu di antara guruguru Islam, banyak yang tiada mamope tunjuk keterangan, apa sebabnya Allah mendengar maski pun tiada suara, karana disangkanya Allah mengambil timpo, dan inilah juga sebabnya tiap-tiap manusia bergerak, itulah sangkanya qodrat-iradat yang kerja, seperti putar gramofoon.
Kalu kita memang sudah memperhatikan, yang menu-rut patokan nafsiah dan salbih, mustahil Allah menggunakan timpo, niscaya tiada heran lagi bahuc Allah mendengar Biarpun belum timbul suara, dan memang melihat adanya alam, Biarpun belum timbul.
Itulah sebabnya taelluknya sama‘ dan bacar dinamai “inkisyaf”, ertinya terus-menerus tiada dihalangi oleh dinding, oleh timpo, maka jangankan keadaan suara atau rupa tiada didengar dan dilihat, tetapi Biarpun selagi belum timbul dan belum ada, sudah didengar dan dilihat, bukan seperti pendengaran dan penglihatan manusia mesti tunggu suara ber-bunyi dan benda berupa, bagitu pun kalu tiada terdinding.
Demikianlah mesti dipahamkan, maka barulah kita tahu erti inkisyaf bagi Allah. Akan tetapi ada lagi tambahan orang punya paham di sini tentang baeo-baeoan dan rasa panas, dingin, pahit, asin, tawar terhitung obyect dari sama‘ dan bacar. Paham bagini macam kita tiada mufakat, karana manusia, yang waras otaknya, tentu tiada berkata: “melihat baeo atau mendengar tawar”, tetapi mencium baeo dan merasai tawar. Dari sebab Allah mustahil mempunyai idung dan rasa cicip dan jabat, maka patutlah baeo dan rasa masok pada obyect-nya sipat ilmu iaitu tahu.
Adapun taelluknya sipat “ilmu” juga dinamai inkisyaf, tiada terdinding oleh waktu dan oleh jauh, ditujukan pada segala yang “wajib” yang “harus” dan yang “mustahil” di dalam hukum-akal. Maka apa juga, yang wajib, mustahil dan harus pada akal, itu antironya jadi obyect dari ilmunya Allah, maka antiro keadaan dan ketiadaan, sama saja dzatNya, sipatNya Allah sendiri atau di luar Dirinya, wajiblah diketahuiNya dengan pengetahuan yang tiada ber-watas, iaitu inkisyaf. Pendeknya Allah teramat pintar, karana tahu apa yang belum, sudah dan akan jadi. Kalu dibandingkan dengan makhluk, Biarpun malaekat, rasul, resi, sinseh, deokun, tukan-petang, jin, iblis, jadilah makhluk kiliwat bodo dan gebleg.
Sekarang tinggallah bicara taelluk sipat “kalam”, yang juga obyectnya segala yang wajib, mustahil dan harus pada akal, seperti obyect dari sipat ilmu di atas ini, hanyalah beda taelluknya bukan dinamai inkisyaf, tetapi “delalat” yang maananya akan ditilik lagi.
Adalah taelluk sipat kalam ini teramat pentingnya di dalam kepercayaan Islam, yang terhempit atau terjepit di antara maana qadim dan hadis. Inilah yang membikin bingung pada fuqaha Islam yang bukan alim-pikir, Biarpun tiada usah dibuat heran, karana memang sipat kalam-qadim lebih gam-pang ditilik kalu andainya Islam pakai itiqad alam-qadim. Sudah tentu jauh sekali bedanya, oleh karana yang pantas mengerti kalam-qadim, hanyalah dzat-qadim, maka mustahil dzat-hadis sebagai malaeekat dan rasul dapat dengar dan me-ngerti kalam-qadim, bukan “satu” mustahilinya, tetapi ”seribu” mustahil.
Sunggoh pun demikian, kalu andainya dikata saja ba-hua qoran, injil, tawrat, zabur dan sebagainya, itulah kitab yang berisi firman Allah-Taala, diturunkan dari lokhl-mah-fuld di atas langit kepada segala rasul di dunia, inilah sudah cukuip bagi Moslimin “seumumnya”, apabila percaya rasul terima perentah dari Allah, komdian ditulis oleh manusia di-dalam bahasa-dunia, akan disiarkan di muka bumi. Tetapi kalu di antara manusia yang banyak itu, ada orang, yang tajam akalnya, kepingin tahu atau belajar lebih da-lam ilmunya Nabi Mohammad s.a.w. tentang usul-’uddien dan asalnya qoran, sehingga datanglah marika itu mengadap kepada guru-agama, maka sepatutnya guru itu, apabila kurang tebal ilmunya, dan ada pertanyaan yang tiada dapat dijawab, mengakulah saja ”tiada tahu”, dan tulunglah tunjuk lain guru, janganlah beringkah, dan berkeras dengan jawaban gila-gila, sehingga merendahkan agamanya sendiri pada pemandangan orang berakal. Karana Biarpun kita sudah mengaji nahu, bayan, badi’, dan mengerti taqlieb sunsang-balik perkataan Arab, dan mengaji usul-fiqh, belum pasti mampu paham filsafah, maka kalu belum be-lajar filsafah, belumlah boleh paham ilmu-tawhid dengan semporna.
Adapun erti “kalam” iaitu ”kata-kata”, yang sudah teratur dari beberapa patah kata, dan tiap-tiap sepatah kata dinamai “kalimat”. Baiklah kita mulai dari mulanya. Adalah manusia umumnya, dan binatang terkadang, mempunyai kemampuan akan kasih tahu kemauannya dengan bunyikan suara dari mulut, dan dari suara itulah asalnya bahase, sehingga dipecah antara ”bicara” dan “tulis”, sesudahnya manusia membikin tanda-tanda dari bunyinya suara; maka tanda yang belum dirangkai dinamai aksara atau huruf. Membunyikan suara saja, dengan tiada mengandung mak-sud, terhitueng thabeat, karana anak, yang baru lahir, sudah bunyikan suara dari mulut. Bagitulah bahasa ada punya kalam yang bagus dan kurang bagus, maka bangsa, yang sudah maju, memperlukan pilih kata-kata dengan susu-nannya, sehingga timbullah ilmu bayan, badi‘, dan ilmu-kalam di dalam bahasa Arab, yang kita kata “grammatica”, terhitung juga “ecmologie”.
Sudah tentu tiap-tiap dikata sipat kalam, niscaya ada dzat yang “sudah” atau “lagi” berkata, atau dzat yang mempunyai kata-kata itu, maka dzat itu dinamai “mutakallimun”. Oleh karana itu, tiada salah, apabila mau dipaham Allah “berkata”, tetapi lebih bagus kalu dipaham Allah “mempunyai” kata-kata. Karana paham yang pertama menunjukkan gerak sebagai kuli pikul tanah, tetapi paham kedua menunjukkan kelakuan kepala-kuli pegang tungkat. Inilah gunanya ilmu bayan dan badi‘ (eloquentie, rhetorica) buat pilih bicara yang bagus-bagus. Demikianlah kris dikata wangkingan apabila kepunyaannya raja, apapula kalu bicara tentang dzat dan sipat Allah, tiada pantas dikata berilmu dan berkata, tetapi mempunyai ilmu dan kalam.
Dan oleh karana Allah tiada berkehendak pada waktu, niscaya perkataanNya bukan bersusun keluear terdahaelu dan terkomidian, bukan mengambil timpo dan lapang, bukan gerak, bukan diam, bukan udara atau bunyi-sucara, bukan huruf, bukan bahasa yang boleh disebut, ditulis, dicitak atau dibaca.
Maka kalu Moslim pandang qoran itu perkataan Allah, dia mesti pandang juga segala perkataan manusia asal kalamnyia Allah, karana orang beragama, selamanya kalu bicara, tiada pantas lupakan Tuhan menjadikan alam, sehingga dikata juga alam ini “kepunyaan” Allah. Demikianlah Allah disebut “kaya” karana alam dipandang sebagai harta keka-yaan Allah, maka tiada ganjil lagi kalu diri manusia, mulut serta perkataannya dinamai “Allah punya”. Demikianlah bicara di dalam per gaulan.
Tetapi kalu di dalam pengaji an ilmu tawhid yang berpatokan “hudusul-alam”, ada ulama yang kata, qoran itu qadim, dan kata, yang manusia harus dapat melihat Allah, dan mengerti kalamNya, patutlah ulama itu terangkan dari mana dia ambil dalil-akal, apakah dengan jalan dharuri, nalheri, bayan, manthiq, atau bukan? Karana kalu ulama pakai dalil cap “mimpi” atau “mengigau”, inilah macam hukum-akal yang biasa digunakan oleh kaldai dan kerbau.
Baiklah segala fuqaha, yang belum kenal filsafah, tutup saja mulutnya tentang ilmu-akal, karana bukan tanggu-ngannya, dan tiada pula mampu kasih maana yang cukup bagaimana “alam-hadis”, apapula maana “dzat-wajib-alwu-jud”.
Dengarlah bagaimana keterangan nyia faqih yang qoran itu qadim! “Adapun huruf qoran itu hadis, karana yang bersipat dengan sipat hadis itu hadis pula, maka bacaannya, suratannya dan lafalnja, tiap-tiap satu dari tiga ini hadis juga“. Ini keterangan tiada dapat dibantah lagi karana 3×1=3 sama juga 1+1+1=3. Silakan pembaca de-ngar seterusnya: “Dan yang dibangsakan dengan hurof qoran itu qadim iaitu maana yang berdiri pada dzat Allah, maka bacaannya, suratannya dan lafalnja hadis juga, tetapi barang yang menunjukkan atas ba-caan, suratan, lafalnd itu, tiap-tiap satu dari tiga ini qadim, karana bandingannya seperti menyebot Allah, maka sebutan itu hadis karana bersesoun hurofenya; dan barang yang menunjukkan atas sebutan itu qadim iaitu Allah.”—Tentu saja hadisnya sebutan Allah sama dengan sebutan qoran, karana kalu kita tulis “Allah” tentulah tulisannya hadis, dan kalu tulis “qoran” juga tulisannya hadis, tiada beda kalu kita tulis “samin”. Tetapi kalu kita pikir “dzat-nya” Allah tentulah qadim, hanyalah kurang qadim, sebab kata faqih hitungannya hanya satu, maka kalu kita pikir “dzatnya” qoran terlebih qadim lagi, sebab ada tiga macam. Pendeknya kalu kita punya kepala, bersambung tiga, baru-lah mengerti macam keterangan itu. Lama-lama kalimat Allah dibangsakan dengan kalimat himar!
Maka tiada heran kalu Moslim, yang baru jadi faqih, turut-turut karang kitab “sifat dua puloh” dengan pakai dalil-akal, sehingga sipat kalam dikasih maana, bahua Allah berkata-kata “tiada diamnya”. Karana sangka guru-fiqh itu kalu sebentar berkata, sebentar diam, tentu berobah-obah, inilah memang mustahil, tetapi dia tiada pikir erti ber-kata-kata-tiada-diam, menunjukkan tiada berhenti bicara, sama juga orang makan gaji dengan kontrak, disuroh ber-kata terus saja tiada boleh berhenti, inilah mustahil. Jugga guru itu lupa kasih tahu muridnya, bahua sebelumnya ada alam, hanyalah Allah sendiri yang ada, sehingga mu-ridnya sangka Allah sudah berkata-kata saja sendirinya sebelumnya alam timbul iaitu sebelum ada malaekat dan rasul, sudahlah Allah bicara sendirian seperti orang gila, inilah mustahil.
Itulah sebabnya syara larang Moslimin yang bukan ahli-pikir, Biarpun sudah jadi ulama-fiqh, jangan berani sem-brana mengajar ilmu-tawhid, kecuali kalu pakai dalil-qoran yang gampang buat seumumnya, inilah memang berguna sekali, tetapi jangan campur sama dalil-akal..
Kalu menurut nafsiah dan salbiyah, maka Biarpun Allah wajib mempunyai kalam dan perkataain sendiri, tetapi mustahil Allah berkata-kata dan mustahil bicara, karana kalu andainya Allah bicara, siapakah yang boleh diyajak bicara? Apakah malaekat dan rasul boleh mengerti bicara Allah, dzat yang bersipat nafsiah dan salbiyah? Inilah mustahil, karana malaekat dan rasul juga hadis alias baru, bukan sepotong hadis sepotong qidam. Sudah tentu Allah-Taala wajib mengerti segala bahasa, karana ilmuNya inkisyaf; jangan-kan bahasa, maski pun sebelumnyia alam timbul, Allah sudah tahu dan mengerti bahasa Inggeris, Batak, Blanda, Jawa, Melayu, dan bahasa monyit Sekalipun.
Dari sebab itu, memang wajib Allah bersipat kalam, iaitu wajib “mempunyai” perkataan yang ”tunggal” tiada bandingan nyatanya, sempornanya, bukan seperti bahasa Malaekat, Jin, Setan, Hindu, Ajam, Prasman, Arab, Ibrani, Jerman atau Tionghoa dan lain-lain bahasa cara hadis, iaitu seribu kali lebih semporna dari segala ilmu grammatica dan segala ilmu-bicara yang dipakai oleh makhluk di dalam alam-jagat.
Dan kalu pembaca belum percaya bagaimana susahnya paham sipat kalam-qadim, marilah turut tilik dari mula kombali.
Tekkala tilik sipat kalam, di luar taellluk, kita sudah putuskan wajib Allah berkata, mustahil gagu atau bisu. Di situ orang mesti pegang lebih keras illatnya pada “mustahil bisunya”, sebab kalu terlalu berat pada ”berkatanya”, niscaya orang, yang pegang hadisnya alam, mesti binung sendiri, karana tiada didapat obyect yang diajak berkata. Dan Biarpun andainya ada makhluk iaitu sebahagian dari alam dapat diajak berkata, kita sudah tunjuk dalilnya mustahil Allah ajak berkata. Pertama Allah sendiri sudah tahu mustahil hadis mengerti qidam, karana thabeat hadis jauh beda dengan thabeat qadim, maka kalu andainya Allah ajak bicara sama malaekat dan rasu, sedang sudah diketahuc-Nya Dirinya dan kalamNya qadim, lazimlah Dia lupa akan Dirinya qadim dan lupa makhluk itu hadis, maka lupa itu mustahil bagi Allah. Lain dari itu, apatah gunanya Muslim mesti percaya adanya qalam (cara peenna) dan luih-mahfuld (cara papan-tulis), karana kalu andainya Allah sudah, lagi dan akan bicara sama malaekat dan rasu, niscaya sia-sia Dia jadikan hadis yang berupea qalam dan luih-mahfuld buat malaekat turunkan firman ke dunia, karana qalam itu pun dapat bergerak sendiri melukiskan firman menurut systeem geraknya manusia berhubung dengan systeem geraknya qalam, dengan tiada sekali-kali digerakkan sebentar-bentar oleh Allah. Inilah tandanya bukan saja Allah punya ilmu dan kalam teramat semporna, tetapi juga qodratiradatNya semporna tiada berulang-ulang. Maka wajib Allah mempunyai kalam yang tunggal, mustahil dimengerti oleh makhluk.
Itulah sebabnya taellloknya sipat kalam dinamai “delalat”, ertinya ”suluh” yang tunjuk jalan pada “kenyataan dan kebenaran”. Bukan suluh dan jalan yang kelihatan, tetapi ”intellectueel”, iaitu yang mengandung sedalam-dalamnya pengertian. Dan itu sebabnya maka “godrat-iradat-ilmukalam”, mestii dibulatkan jadi satu, maka barulah kita ketemu maananya “mutakallimun”, suatu dzat yang mempunyai sedalam-dalamnya bicara dan pengertian untuk menjalankan “kekucasaanNya”, dengan cara yang tiada dapat dipikir oleh tiap-tiap makhluk, tetapi selamanya benar.
Maka bukanlah Allah tiada berhentinya berkata-kata seperti orang-gila, dan bukan sebentar berkata, sebentar diam sama juga Maharaja Dasamuka, kalu lihat putri, lantas suaranya merdu, membujuk dan menyanyi sembari ngigel, joget, tetapi kalu kecintaannya tiada dibales, lantas segala mantri habislah dimaki dan dicaci, karana juga Prabu Dasamuka mempunyai sipat kalam.
Demikianlah kalu di dalam qoran tersebut Allah berkata sama Nabi Musa dengan semporna kata, patutlah Moslim tujukan ilatnya iaitu keras pikirannya pada kalimat “semporna kata” bukan pada kalimat “berkata”, karana kalu dipegang keras berkataNya, niscaya boleh disangka yang Allah bicara saling jawab dengan Musa berhadap-hadapan, sama juga bicaranya hadis berhadapan hadis, inilah berlawanan dengan nafsiah dan salbiah.
Hanyalah boleh dipikir bahua Nabi Musa punya diri dan sumangat, sebagai setengah mimpi, setengah sedar, berasa mendapat firman dari Allah, iaitu dilouar panca-indria, Biarpun Musa sendiri tiada tahu bagaimana datangnya firman itu, tetapi pada Musa sudah lebih dari yakin itulah perentah dari Tuhannya, bukan dari lainnya. Inilah sebabnya rasulrasul tiada patut dikata justa. Dan Moslim mesti terima, bahua perasaan demikian, suatu thabeat dari rasul yang wajib siddiek, mustahil justa, sama juga thabeat cakra atau cirkel wajib bundar, mustahil pesagi, karana kalu justa, bukan rasul dan kalu pesagi, bukan cirkel nama-nya.
Lain dari itu, Moslim mesti percaya juga adanya malaekat, yang mengerti luhl-mahfuld, membawa khabar pada rasul, maka juga malaekat wajib siddiek. Manusia dilouar Islam boleh kata yang kepercayaan bagini terhitung bodo, tetapi buat tunjuk mustahilnya, tentulah akalnya tiada mampu.
Sesudahnya tilik nafsiah, salbiah, maani dan maanawiah, dengan cara tilikan tersebut, miscaya pembaca tahulah ampat patokan itu sudah cukup bagi orang, yang tajam akalnya, (Biarpun belum pernah cum baonenya ilmu filsafah), akan pahamkan maana “dzat-wajib-alwujud”. Hanyalah perlu ditambah saja dengan patokan “hudusulalam” atau hadisnya antiro alam, karana memang bagi ulama-fiqh saja, tentulah tiada sanggup cari dhidnya dari maana wajib pada adanya dzat, inilah illatnya obyect yang ditujukan keras oleh pikiran. Demikian pula maanawiah, sudah cukup dengan maani, karana memang maani itu sipat, yang berdiri pada dzat, mustahil berdiri pada maadum, hanyalah yang berdiri pada maadum ialah maadum sendiri.
Tetapi rupa-rupanya Al-Asyari khewatir Moslimin misih belum teguh pahamnya, maka lain dari patokan “hadisnya alam”, ditambah lagi 4 stelling seperti akan datang lagi bicara-nya. Sungguh awas Al-Asyari itu, karana maski pun ditambah bagitu, tiada kurang fuqaha yang satu sama lain melimparkan perkataan kafir-fasik, sebagai kanak-kanak berebut permainan, sehingga ada yang rebut kain bendera, lepas talinya; yang pegang tali, lepas tihangnya, menurut “kesukaannya” sendiri, sampai kain bendera, yang terlukis satu gambar saja, jadi hancur pecah, tiada kelihatan bangun yang aseli. Maalumlah kelakuan bocah-angon melihat barang-toko, dikiranya kain bendera bakal baju, talinya bakal tusook hidung kerbau, dan tihangnya bakal kayu bakar!—Marilah sekarang kita tilik lima patokan penambah itu, yang kecuari dari hudusul-alam, adalah yang ampat itu sebenarnya “dalil” saja, bukan patokan.
Pertama: “Hudusul-alam”, ertinya “baru antiro alam”. Kalu kita kata barang-baru, niscaya dimaksudkan bukan barang-lama atau tua. Tetapi pengertian baru, lama dan tua, di dalam ilmu bahasa dan fiqh, susah diberi watas, karana terkadang sehari-semalam dikata lama, terkadang sebulan dikata baru, terkadang seratus tahun dikata tua, terkadang setahun. Apabila kita bicara tentang alam, niscaya perkataan baru mendapat pengertian luar dari biasa, karana kalu dihitung saja, menurut kitab-kitab suci dan keterurunan raja-raja di tanah Jawa, mulai dari Kangjeng Nabi Adam sampai sekarang ini, umurnya bangsa manusia kira-kira 6000 tahun, tetapi menurut hitungan alim-alim-dunia adalah umurnya bumi tiada kurang dari seratus yuta tahun. Maka andai kata alam-jagat ini sudah seribu yuta tahun umurnya Sekalipun, tetaplah mesti dikata “baru”, kalu menurut patokan ini; karana juga Biarpun kita belum dapat dalilnya, tetapi siapatah dapat bantah atau menentukan alam ini umurnya misih berjalan sampai sepuloh kali seratus yuta tahun atau kurang.
Kalu sudah tahu maksud erti baru yang demikian itu, maka itulah juga maana hadis, yang dimaksudkan di dalam ilmu tawhid, hanyalah tertentu dan pasti watasnya, inilah illatnya. Tetapi jangan kliru dengan erti hadis yang dipakai akan bedaikan ayat-qoran dengan perkataan Nabi Mohammad sendiri “di luar qoran”. Bukan saja perkataannya, tetapi juga kelakuannya Nabi itu dan kelakuan lain orang di hadapannya, apabila dibiarkan oleh Nabi Mohammad, itulah juga hadis, tiada dikata firman-Allah seperti ayatnya goran.
Sekarang maulah kita cari dalil dari patokan hudusul-alam, iaitu tentang watas barunya atau hadisnya alam antironya. Maka dalil itu tiada beda sedikit pun dengan kita punya dalil didalal “nafsiah”, asal saja diperhatikan bedanya, lawannya atau dhidnya (tegenstelling).
Dan lagi dalil ny a, tiap-tiap baru bukan sedia atau tiap-tiap hadis bukan qidam (qadim), karana kalu andainya hadis sama dengan qidam, niscaya antiro dzat hadis atau antiro dzat qadim inilah mustahil, karana berlawanan dengan sipat qidam; lihatlah dalil di situ. Atau tiadalah hadis dan tiadalah qadim, sehingga tiada suatu pun dzat dikata ada, inilah mustahil, karana adanya alam sudah sah dan nyata, hanyalah orang yang miring utaknya boleh kata kurang-ad a, seperti akan datang lagi bicaranya bagaimana alim-fiqh sudah lancang tambah-tambah hukum akal dengan maana tiada-harus, dan tiada-wajib, dan maana kecuari.
Maka lazimlah tiap-tiap hadis, mustahil qadim, bukan setengah-mustahil, tetapi mustahil. Dalil ny a kalu andainya hadis tiada dikata wajib hadisnya, niscaya jadi harus hadisnya, sehingga boleh qadim dan boleh hadis, jadilah alam ini sepotong hadis, sepotong qadim, sepotong baqa‘, sama juga penglihatan orang yang mabook tuak-keras. Maka jadilah dzat, yang “wajib adanya”, boleh sepotong wajib, sepotong harus adanya, dan sepotong qidam, sepotong hadis, atau sepotong ada, sepotong tiada, inilah mustahil, karana berlawanan dengan “nafsiah”. Berbedaan kalu dikata “mumkin”, bolehlah sepotong ada, sepotong tiada.
Demikianlah jadi nyata mustahil hadis sepotongnya baqa‘, upama kalu alim yang utaknya miring berkerkas kata ada baqa’ semacam ruh, syorga dan naraka sama juga baqa'nya Allah.
Dan lagi dalil ny a kalu andainya alam bukan hadis, niscaya bukan harus, tetapi wajib adanya, inilah mustahil, karana harus bukannya wajib, dan wajib bukannya harus, karana kalu andainya harus sama dengan wajib, niscaya antiro dzat harus adanya dan antiro dzat wajib adanya inilah mustahil karana berlawanan dengan “nafsiah”. Atau niscaya tiada socatu pun yang wajib adanya dan harus adanya, inilah juga mustahil, karana kalu demikian tiada socatu pun boleh dikata ada, niscaya manusiai pun tiada, sehingga juga faqih tiada, kaldai tiada, dan kerbau pun tiada.
Nyatalah alam harus adanya, dan tiap-tiap harus adanya, niscaya boleh tiada, boleh ada, dan niscaya lebih dahelul tiadanya dari pada adanya, karana dalil ny a kalu, andai kata, adanya lebih dahelul, niscaya dimulai oleh ada, sehingga memangnya ada, maka jadilah alam bukan harus adanya, tetapi wajib adanya, bukan timbul dari tiada, inilah mustahil. Dan dalil nya kalu andainya dzat yang harus adanya, jadi wajib adanya, niscaya dua dzat wajib adanya, inilah mustahil, karana dzat yang wajib adanya, itulah juga dzat yang “pertama”. Kalu andainya ada dua dzat pertama, niscaya salah suatu dari dua dzat itu wajib jadi dzat yang kedua, sehingga tiada didapat kepastiannya, maka mustahil dzat yang pertama, yang wajib adanya, lebih dari satu, maka wajib dzat yang pertama hanyalah satu atau tunggal, sehingga lain dzat wajib hadisnya atau barunya, mustahil harus barunya.
Dan lagi dalil nya alam ini baru, iaitu dari sipatnya “gerak”, karana kalu andainya dzat yang bergerak bukan hadis, niscaya alam itulah dzat yang pertama, inilah mustahil. Lihatlah lagi dalil nafsiah! Karana kalu andainya alam dzat yang pertama, niscaya segala bintang, bumi, matahari, rembulan, awan dan sebagainya, yang masing-masing bersipat gerak itulah dzat yang pertama, sehingga banyak jenis macam dzat pertama, padahal dzat yang pertama mustahil lebih dari satu, dan mustahil terpecah-pecah bermacam-macam dzat. Karana kalu andainya dzat yang pertama hitungannya bertambah atau berubah atau terpecah beberapa bahagian macam jenis, maka salah suatu dari bahagian itulah dzat yang pertama, dan lain bahagian itulah yang kedua, bagitu-elah bersesun-tindih, sehingga tiada didapat kepastian manakah yang pertama, maka mustahil dzat pertama itu terpecah bermacam-macam sebagai pemandangan kita pada alam, maka mustahil alam wajib adanya dan mustahil alam bersipat qidam dan baqa‘.
Nyatalah juga nafsiah dan taelluknya godrat-iradat, mufakat dengan hudusul-alam, karana jadilah terang sekali bahua wajib alam bertempat di dalam lapangkosong, yang tiada berwatas. Dalil nya lagi, kalu andainya alam tiada berpinggir, niscaya tiada suatu benda yang boleh dikata berpinggir, inilah mustahil, maka lawannya yang tiada berpinggir di luarnya, hanyalah lapang alias jembar. Maski pun demikian, bukan kita pahamkan bahua syorga, naraka, luh, qalam, arasy, kursi dan ruh-manusia yang sudah mati, ada di dalam kolong in ilangit, akan tetapi andai kata, 7 perkara itu terpisah di luar dari kalangan kita punya langit, niscaya bertempat juga di dalam lapang-kosong, iaitu wajiblah dzat yang 7 perkara itu berwatas dan berpinggir bangoonnya (vormnya) atau “luasnya”, sehingga wajib juga berwatas “timponya”; apabila habis kontraknya, wajib linyap kombali menjadi kosong alias habis.
Kalu ada alim-Islam berani kata alam-hadis yang 7 perkara itu kekal selama-lamanya sama juga baqa‘-nya Allah, niscaya dia memang tiada percaya hadisnya alam, atau kalu percaya, niscaya tiada mengerti hukum-akal; atau sengaja putar lidah, inilah lebih jahat lagi, patut dillimpar ke dalam naraka.
Maka dengan kita punya dalil-dalil, jadi nyata tiap-tiap hadis, niscaya harus adanya, mustahil wajib adanya, sehingga nyata pula dhidnyia iaitu nafsiah, karana erti nafsiah ialah “dzat-wajib-alwujud” iaitu dzat yang wajib adanya, mustahil harus adanya. Maka tiap-tiap dikata wajib adanya, niscaya tiada mempunyai sipat yang harus, hanyalah wajib antironya atau mustahil antironya, tiadalah dapat lagi dhid harus di dalam hukum-akal, tetapi dhidnyia sipat, selamanya wajib atau mustahil. Upamanya wajib Allah bersipat baqa’, mustahil habis; wajib qidam, mustahil baru, maka bukan wajib baqa’, harus habis, wajib qidam, harus baru. Lain dari itu kalu kita bicara lebih dalam lagi tentang dzat Allah, niscaya tiada dapat dipikir, karana mau dikata diam mustahil, gerak mustahil, inilah tandanya dzat yang wajib adanya, tiada dapat dimengerti dzat-Nya, sipatNya, namaNya dan perbuatannya oleh laumnyia.
Apabila kita sudah paham baik-baik erti harus di dalam hukum-akal, nyatalah patokan di bawah ini bukan patokan, tetapi dalil saja dari patokan qiyamohu binafsihi alias merdika, karana kalu wajib merdika, mustahil berkehendak, mustahil diprentah atau dilarang; bukan dhidnyia harus, te-tapi mustahil, bukan tiada-wajib dan bukan tiada-harus.
K ed ua: “Fi’lu kulli mumkinin awtarkokhu”, erti-nya ”membuat segala mumkin atau meninggalkannya”. Inilah Al-Asyari kliru bikin patokan, karana maana harus di sini, boleh Allah mengobah mumkin dari maadum jadi berisi hadis, dan boleh juga biarkan saja, iaitu mustahil jadi kemestian (fardh’) bagi Allah akan timbulkan hadis atau jadi kemestian biarkan maadum. Pembaca alim-pikir tentulah dengan sekejap mata dapat tahu erti harus di sini bukan hukum-akal. Adapun dalilinya kalu andainya berkewajiban Allah mengobah atau biarkan mumkin, niscaya ada lain dzat yang perentah atau larang pada Allah, sehingga berlawanan dengan qodrat-iradat.
Lihatlah dalil ini, yang umumnya dipakai oleh ulama-fiqh, akan menunjukkan harus Allah mengobah mumkin, karana kalu Al-Asyari seorang alim-pikir, boleh kliru campur aduk erti harus di dalam hukum-akal, apatah heran kalu banyak ulama Islam, yang bukan ahli-pikir, pada ja-tuh terjerumus!
Kita bukan cela Al-Asyari, tetapi mau tunjuk saja begaimana manusia boleh kliru dan salah, karana kalu dia punya guree Al-Jobbai dikatakan salah, mustahil murid tiada boleh salah. Kalu wet-agama menentockan Moslim mesti sembahyang, itulah wajib dikerjakan, kalu dilarang mencuri, wajib ditinggalkan, kalu tiada diperentah, tiada dilarang niscaya “harus” iaitu boleh bikin, boleh tinggalkan, maka di dalam hukum-syari (syara = wet) erti wajib dan harus berbedaan jauh dengan maana wajib dan harus di dalam hukum-akal. Tetapi buat alim-fiqh, memang susah dapat rasa dan pikir bedanya, karana kalu bukan ahli-pikir, tentulah rasanya sama saja, maka bagitu juga orang yang tiada kenal permata, niscaya gosokan botol dikata jam-rut, batu dikata intan. Kalu dikata Allah wajib menjadi-kan alam, bukan harus, inilah maana hukum-akal, karana kalu andainya harus, niscaya boleh alam dijadikan oleh lain dari pada Allah, inilah mustahil, maka wajib Allah sendiri yang jadikan alam, mustahil harus Dia menjadikan. Demikian pula kalu dikata alam harus adanya, inilah juga maana harus di dalam ilmu-akal; kalu andainya alam wajib adanya, niscaya bukan harus adanya, karana sudah dikata alam harus adanya, mustahil sama dengan wajib adanya.
Tetapi kalu dikata tiap-tiap orang makan gaji, wajib jalankan pekerjaaanna, bukan harus, dan orang berhutang wajib membayar, bukan harus, dan kuli-kontrak wajib turut perjanjian, bukan harus, inilah maana wajib di dalam ilmu-hukum (wet-agama dan wet-negeri) yang menunjukkan adanya kuasa dari sebelah atas menindih ke bawah berupa perentah atau larangan, dan menunjukkan suatu perjanjian (aqd‘), yang mengikat ke-merdikaan. Bagitu juga kalu dikata harus orang memberi persen pada jongos yang rajin, bukan wajib, inilah maana harus di dalam ilmu-hukum, ertinya wet tiada mewajibkkan atas yang demikian itu. Maka jauh sekali bedanya kalu dikata api wajib panasnya, bukan harus, inilah ilmu-akal, karana thabeat api memang panas; kalu andainya harus, niscaya boleh panas, boleh dingin, inilah mustahil pada akal. Bagitu pun kalu dikata harus api bikin hangus bukan wajib, karana terkadang menghanguskan, terkadang tiada, inilah bukan thabeat, tetapi dinamai “adat” saja, maka maana harus di sini pun ilmu-akal.
Di dalam hukum-syari perkataan harus (jaiz) disebut mo ebah ertinya boleh kerjakan boleh tinggalkan, karana tiada dilarang dan tiada diperentah. Demikianlah maksood harus “fi'lu kulli mumkinin awtarkuhu”, yang Al-Asyari pakai buat patokan. Boleh jadi Al-Asyari takaot ada murid, yang “terlalu” bodo dapat sangka, Allah sudah teeken agd atau ada punya tawke, atau junjungan, yang bayar gaji pada Allah. Kalu bagitu timbangan Al-Asyari, maka juga dia kilru, karana Moslimin, yang memang gebleg, tiada patut mengaji ilmu-tawhid dengan jalan akal, tentulah pecah polonya, bukan miring lagi utaknya sebagai faqih, tetapi meletus.
Sungguh sayang sekali satu perkara ini, yang sebetun-nya dalil saja, dibikin patokan, karana tentu saja ulama fiqh yang tiada mengerti filsafah, kalu mace turut-turut campur pahamkan ilmu tawhid, jadi mabuk, sehingga ada yang terjun ke dalam sungai, tereos hanyut tenggelam-timbul, tiada mampu bernang, jadi miring utaknya kebentur batu-kali, ada yang terjeremus di dalam sumur, kena tunggak matanya jadi picak, lalu marika itu berklai dengan kawan sendiri, sebab pemandanganya masing-masing dengan utak miring dan sebelah mata, sehingga satu, terkadang dilihat dua, terkadang tiga, terkadang hilang, jadilah 1×1=2=3=0, maski pun yang dipandang misi berjenis dihada-pannya, maka segala murid-murid, yang memang percaya dan takut pada gurunya, tentulah terpaksa, barangkali jug: dengan ikhlas, membenerkan gurunya sendiri-sendiri, karana disangkanya inilah ilmu luar-biasa, kalu bukan be guru di atas langit sama malaekat atau jin, niscaya satu tetap satunya kalu tiada ditambah-tambah atau “pecah-pecah, mustahil berobah ”hitungannya“; tetapi dia punya guru terlalu pandai sulap sehingga ”apat gelaran karamat atau awlia yang boleh tarik ora: g kesyorga! Demikianlah juga pengertian “harus” di dalam hukum-akal dibikin sama dengan “mubah”. Sudah tentu kalu mulai salah bagitu, jadilah mumkin sama dengan hadis, thabeat sama dengan adat, terkadang hadis dibikin sepotong baqa‘, dan qadim sepotong hadis, sama juga orang potong sapi atau pasang sataw. Maalumlah kalu dzat yang wajiib adanya, sepotong jadi harus, niscaya terkadang asa, terkadang banyak, terkadang sedikit, maka jadilah disangka Allah-Taala juga terkadang pusing dan mabuk, ada kalanya perentah tiada berkehendak dan ada kalanya larang apa yang Dia suka, sehingga kalu andainya benar bagitu, niscaya terkadang rasul-rasuI disuroh pindah ke dalam naraka bertukar tempat sama Iblis laanat-Ullah. Karana pikirnya segala fuqaha itu, Allah terlepas dari aqd dan syara, siapatah larang dan cegah perbuatanNya? Inilah memang benar sekali, karana mustahil dzat, yang wajiib adanya, dapat tergagah oleh lainnya. Akan tetapi jadilah “mubah” diaduk sama “jaiz”, sama juga masak kebuli, aduk nasi sama samin, memang enak, boleh tambah lagi sama buntut-kambing, telor-kepiting, telor-kodok, biar urat-urat jadi kencang, siapatah larang, karana jaiz, jaiz, jaiz!!!
Maka kalu ada alim, yang memang mengerti filsafah, berani teegur dan bantah, lalu ulama-picak itu main sambit dan limpar kalimat kafir, fasik yang gampang kelouar dari mulut, tiada dengan tenaga utak, boleh sambil tidur-tiduran dan terus mimpi kedatangan rasuI-ullah membawa khabar jaiz itu.
Seperti pembaca sudah dan akan lihat lagi, adalah kita membuat pemandangan ini pun terkadang dengan sanda-gurau, terkadang dengan kata-kata yang pahit dan terkadang pakai rotan, karana orang yang miring utaknya, memang susah dibikin waras kombali, maka apabila dia main maki-caci dan main kekotoran, perlu dapat straf belakangnya dengan rangket, dan kalu tiada juga ketelunggan, harus dilimpar ke dalam naraka baqa‘-aradhi.
Sekarang kita mau tunjuk sedikit misal bagaimana kepintaran ny faqih di dalam pengertian harus. Adalah kata-nya: “harus Allah-Taala menjadikan si A orang-jahat dan di B orang-baik, tetapi harus si A dikasih am pun, harus masok syorga, tetapi kalu kafir (tiada perduli‘ jahat atau baik), tiada-harus masok syorga!” Sial banget!
Awaslah pembaca! Sekarang perkataaan harus lawannya (dhid'nya) dipotar jadi tiada-harus, bukan wajib lagi dhidnya dan bukan mustahil dhidnya, seperti aturannya hukum-akal. Menurut kita punya tahu di dalam ilmu-akal, hanyalah wajib, harus dan mustahil, sehingga yang dapat dikatakan dhid‘, tiada lebih, tiada ku-rang antara tiga maana itu saja, iaitu wajib dan harus lawannya mustahil bukan tiada-wajib dan bukan tiada-harus; dan juga wajib lawannya harus, atau harus lawannya wajib. Kalu seorang, bergelar alim, guru-besaaar, sudah tambah hukum-akal dengan maana atau definitie “tiada-harus”, sudah tentu murid-muridnya tambah lagi dengan definitie “tiada-wajib” dan “tiada-mustahil”, maka apatah kejadiannya nanti dan kesudahannya dengan ilmu-nya Abu Hasan Al-Asyari? Apatah gunanya Al-Asyari bikin definitie mustahil kalu Moslimin mau pakai dhid’ dengan pertelunggan kalimat la‘ atau tiada?! Karana perkataan “tiada” itu negatif iaitu kosong, itulah sebabnya Al-Asyari pakai perkataan “mustahil” karana ini positief iaitu berisi (kuat), sehingga dhid'nya harus, bukan tiada-harus, tetapi wajib.
Dengarlah lagi kepandaian ny alim-fiqh itu gunakan kalimat harus! “Menurut qael yang mutamad,—dan siapa tiada percaya, jadi kafir! ‘Duh, biyung!—, harus segala Mumin, iaitu Moslim yang sudah tinggi derajatnya, nanti melihat Allah di dalam ”syorga“, kecuali orang kafir dan munafik; tetapi di dalam ”dunia“ hanyalah Nabi Mohammad s.a.w. sendiri yang melihat dengan mata-kepala pada Allah, kecuali lain-lain rasuI”—Tobel! Tobel! Boleh jadi lain rasuI, dipandang oleh Allah, kaum kuminis!
Lihatlah, sekarang hukum-akal jadi bertambah lagi dengan definitie “kecuari”, iaitee segala patokan, haruslah ada kecoalinya, tiada selamanya tetap, sehingga kalu “jaiz” ada kecuari, tentulah maana waji mustahil boleh pakai kecuari. Maalumlah maana kecuari gampang diulur sepanjang-panjangnya, asal kuat saja pasang kuping sampai qiyamat belum habis, karana tentulah timbul maana definitie kurang waji, kurang mustahil dan kurang-harus.
Maka yang kita terlalu heran, ialah dari mana datangnya kecuari? Siapakah alim, yang mula-mula dapat pikir yang di dalam ilmu-akal perlu dipakai definitie semacam itu, kalu utaknya bukan luar biasa? Patutlah antiro Moslimin kenal namanya alim itu, supaya jangon lupa jasanya, karana polo bagitu jarang didapat.
Baiklah kita mau cari sendiri dalilnya “harus” manusia melihat Allah, iaitu boleh lihat, boleh tiada lihat, karana alim itu tiada mampu keluarkan dalil. A Dalilnya kalu andainya kafir dan munafik boleh melihat Allah di dunia dan diakherat, niscaya harus Allah turun ke dunia pakai pesawat-terbang jateoh di negeri Afrika dan Digul, atau turun kenarakka, inilah tiada-harus, karana negeri Afrika harus berhawa panas sama juga naraka, sehingga harus Allah takaot sama panas, berani sama dingin, dan di-Digul kurang prampeoan buat diyajak main mata.
B Dalilnya harus segala rasu dan mumin lihat Allah di dalam “syorga”, karana kalu andainya tiada-harus, niscaya Allah takaot sama syorga, inilah mustahil, karana syorga sejuk, tiada panas, dan banyak bidadari yang boleh mijit. Maka dalil ini mufakat dengan dalil A.
C Dalilnya tiada-harus lain rasu melihat Allah “didu-nia”, karana kalu andainya kurang harus, niscaya kurang harus Allah turun ke-Hindustan dan Palestina sebab di situ tempatnya rasu dan resi, inilah “satu” mustahil, karana Europa, Amerika dan Indonesia, yang tiada dituruni nabi, tentulah mengiri dan paksa pada Allah buat mampir tilik negerinya, niscaya Allah jadi harus pai-sing-ki, malu-hati, jadi serba salah dan bingung, inilah mustahil.
D Dalilnya.......... Sabar dahulu pembaca! Ini kita punya dalil luar-biasa, sebab lebih kuat dari kapal-perang di tengah laut, maski pun tiada berhenti bergeyang, tiada pula dapat dibentur. Tentu pembaca belum tahu dengar, karana kalu kepala tiada dibantu sama sumpe bekas salang-nasi, niscaya boleh pecah. Silakan dengar! Adapun dalilnya harus Nabi Mohammad sendiri melihat dengan mata-kepala pada Allah “didu-nia”, karana kalu andainya kurang-harus, niscaya kurang-harus juga Nabi Mohammad punya mata-kepala, inilah sepuluh-mustahil, jadilah tiada-harus Allah turun ke-Mekkah dan Madinah, inilah setengah perampat mustahil, karana harus Allah sembuni dari mata orang Arab dengan mengobahkan dirinya, bermula berupa onta, komdian jadi kaldai, setelah dekat Nabi Mohammad, lau berobah putri-sepotong, kaldai-sepotong, terus tandak menyanyi, bikin birahi pada Nabi. Dalilnya kalu andainya kurang harus bagitu, lazimlah ada lain dzat yang lebih kuasa melarang Allah, maka tiada wadzib Allah tandak gambus saja, boleh joget juga gending gunungsari, siapatah larang, karana harus! Seribu kali boleh!
Adapun yang kita taajub, bahua di antara ulama Islam itu, ada yang berani pula buka mulut besar limpar perkataan kafir kepada Moslim yang tiada mufakat dengan marika itu punya ilmu. Apakah Moslimin yang memang sudah percaya adanya Allah, malaekat, naraka, syorga, dan adanya rasael-rasael, gampang saja dikatai kafir, kalu hanya kurang pandai atau hanya kliru dan salah pikir bagaimana kekuasaan Allah? Apakah Moslimin, yang kliru bagitu, mau disamakan sama manusia, yang sama sekali tiada percaya adanya akherat, atau adanya Allah? Kita tahu yang ulama itu pandai sekali kasih maana kafir dengan berpuloh maana, karana sangkanya Allah jadikan Nabi Mohammad,supaya manusia di dunia jangan kerja suatu apa, hanyalah mestii terlentang pikirkan maana kafir, maana zakat, maana fitrah, buat isi perut orang yang malas kerja. Untunglah yang maana zakat dan fitrah sekarang ini belum dibongkar dan dikorik oleh Moslimin yang punya hak. Untung buat orang malas, kalu Moslimin tiada mendusin!!!
Marilah kita teruskan tilik dalil-kecuar iaitu, apakah sebabna lain rasael di luar Nabi Mohammad tiada harus melihat Allah di dunia. Silakan dengar! Adapun dalilnya kalu andainya harus Allah turun ke dunia akan tunjuk Dirinya pada lain-lain rasael, niscaya tiada didapat maana kecuari, inilah mustahil, karana tiap-tiap harus, niscaya banyak kecuarlinya. Dan dalil kecuarlinya, kalu andainya harus lain rasael melihat Allah di dunia, niscaya harus lain rasael punya mata-kepala, inilah mustahil, maka tiada harus lain-lain rasael punya mata-kepala, sehingga Nabi Adam, Mu-sa, Isa, Budha a.s. dan lainninya, mustahil punya kepala, hanyalah Nabi Mohammad sendiri setengah harus berkepala; Adapun lain-lain nabi harus utaknya di dalam perut saja, inilah tandanya Allah kuasa, harus membikin “sesuka-sukaNya”: Inilah dalil yang dikata jazam mufakat pada hak dan dalil. Dan cara kita punya kata inilah dalil rujak-ulleg dicampur samin. Dan kalu ada ahli-pikir tulen di antara ulama Islam berani bantah, dan berkata mustahil hadis melihat Allah yang gidam, kasihlah telan ini dalil supaya jadi obat-tidur, biar turut enak mimpi dan enak mengigau!
Kalu Moslimin mau angkat derajat Nabinya, baiklah dia ingat bagaimana halus prangi Nabi Mohammad, yang sangat benci kelakuan dan perkataan tak'bur, maka mustahil Nabi berani mengaku sudah melihat atau akan melihat Allah, karana inilah sebesar-besarn tak'bur yang merendahkan derajat Allah disamakan dengan makhluk.
Maka kalu ada ulama melupakan bedanya wajiib dengan harus, bedanya thabeat dengan adat, tiadalah heran lupa juga bedanya mumkin dengan hadis, karana kalu lupa bedanya, niscaya sama juga hitung uang loteriy yang belum dibooka, dijumliah dengan uang sendiri di dalam peti. Padahal patokan ini terang-terang sebut mumkin, bukan hadis, supaya Moslim jangan sangka Allah berkewajiiban (fardhu) mengobah mumkin. Maka bukan tempatnya patokan ini akan bicara untung-nasbinya manusia dan rasui, karana hadis sudah pasti bergeraknya dari ada kepada ada, tetapi berbedaan obahnya mumkin, dari tiada kepada ada, dan dari ada kepada tiada, inilah nyata jauh bedanya bagi ahli-pikir dan bagi Al-Asyari, maka kalu kita sudah kritiek kilrunya, adalah disebabkan kita tiada pandang bulu, dan memang lebih gampang kritiek dari bikin sendiri.
Keti ga: “tanazzuhuhu enil aghradhi fiafelihi we-ahkamihi”, ertinya “maha suci dari pada segala pengharapan akan perbuataNya dan hukumNya”, maka mustahil Allah mengandung pengharapan atas yang demikian itu. Ini patokan hanyalah perlu bagi murid yang belum paham qiyamu-hu-bin afsihi, karana Al-Asyari khewatir murid sangka Allah mempunyai nafsu mengambil guna dan untung dari perbuataNya bikin alam, dari hukumNya mengganjar dan menyiksa di dalam dunia atau syorga-naraka di dalam akherat. Kita punya dalil sama juga dalil nafsiah, qiyamu-hu-bin afsihi dan huduseol-alam, silakan pembaca tilik di situ. Dan lagi dalilinya, kalu andainya Allah mengharap-harap akan yang demikian itu, niscaya bukan wajiib adanya, tetapi harus adanya, sama juga manusia; kalu bikin apa-apa selamanya mengandung sebab dan maksud kepingin untung, takut rugi, mau dipuji, disembah, gila hormat, maka bagi Allah inilah mustahil. Dan bukan pura-pura atau setengah-setengah, sama juga kita mengarang buku, surat-khabar, pura-pura kata karana-Allah, padahal mau usut kantong orang, bikin orang setengah pulas setengah melek, biar jangan berasa kantongnya semangkin enteng; atau kepingin da-pat gelaran tukang-mengarang, ulama, jurnalis, bujangga, kalu orang bikin selamatan tujoh bulan isterinya, tiada undang, lantas kita merenguit; atau pura-pura berdirdikan kumpulan akan guna kebangsaan, padahal di dalam hati banyak maunya harap untung, upamanya supaya dipilih jadi lid-ini-lid-itu. Dan kalu kita naik derajat, lantas hati kata ciara Betawi tulen: lu-lu, gua-gua; alias Jawanya: mongso-bodowo kowe, asal beres kita punya saku, tinggallah kumpulannya masok digot napasinya senin-kemis; atau kalu sudah jadi bestuur-kumpulan timbul rupa-rupa keperluan, mesti pakai automobiel, pakai tambah bini, tambah ini tambah itu, maalulmah orang jadi ulama, pengarang atau tukang-bicara, tentu pandai pula berpidato sembari pura-pura merengut, terkadang pura-pura menangis, sampai orang yang mendengar tiada berasa kantongnya jadi bolong; atau kita pura-pura sebagai Moslim yang keras pegang agama, ini haram, itu haram, ini kafir, itu fasik, kalu Moslimin berdirikan bank, kita kata haram makan renten, tetapi kita sendiri upamanya kerja di kantor bank, andainya seperti kantor factory yang juga makan renten, kita bantu pekerjaan bank tetapi kita kata tiada haram, kalu bangsa sendiri buka bank jadi haram, inilah disebabkan kita belum belajar uscel-fiqh, sehingga tiada mengerti illatnya di dalam hukumsyara, atau disebabkan kita sendiri kepingin ambil untung, tetapi lain orang jangan. Maka Biarpun manusia tulunsikhlas-putin-bersih, niscaya perbuatannya mengandung maksud. Maka kelakuan seperti di atas ini, mustahil bagi Allah, karana melazimkan tiada semporna ilmu-kalam-Nya, tiada semporna merdikaNya, sehingga mempunyai khewatir atas Dirinya dan atas perbuatanNya systeem jalannya alam kurang baik dan kurang bagus, inilah mustahil.
Dari sebab itu, mustahil juga Allah jadi senang kalu segala kafir dibakar di dalam naraka, dan mustahil Allah berduka-cica dan kesal kalu Moslimin antironya turut kebakar di dalam naraka selama-lamanya, andai kata, kalu ruh dan naraka tiada habisnya dan sama kekalnya dengan Allah.
Maka kalu orang mau bicara tentang nasib dan untung mancesia dari dunia sampai akherat, patokan inilah tempatnya, karana terang-terang disebut: Allah tiada mengandung harapan atau maksood pada perbuatanNya dan hukumNya. Sengaja patokan ini dibikin buat orang Moslimin yang bukan ahli-pikir, karana memang patokan ini lebih gampang dipaham dari nafsiah, salbiah, dan maani.
Orang, yang bukan alim-pikir, Biarpun sudah jadi guru figh, niscaya tiada mampe kasih dalil pada nafsiah, kalu andainya Al-Asyari tiada tambah salbiah dan maani, karana yang sebenarnya lain-lain sipat itu hanyalah dalil atau buntut dari nafsiah. Kalu kita sudah pegang kepala-kambing, kita tentu terus usut lehe, badan, kaki dan buntut-k a mbing juga, inilah jalan ilmu “dhareeri”, komdian kita balik lagi dari buntut kombali pada kepalanya, tentulah kambing juga, inilah jalan ilmu ”nalheri”, maski pun kepalanya hilang, “wajiib” kepalanya kambing juga, bukan harus lagi, karana kalu harus, niscaya boleh buntutnya, yang kita panggang, buntut-kambing, tetapi kepalanya, kepala-kucing, inilah mustahil, dan kalu ada orang yang kata “harus”, belumlah dia tahu ilmunya akal dharuri dan nalheri, maka janganlah teerut bicarai ilmu tawhid yang dalam-dalam, apapua mengarang kitabnya. Lihatlah contonya kitab Seyyid Usman bin Aqil bin Yahya, bahasa Melayu, tiada sekali tersebut dalil-akal, hanyalah dalil-goran yang gampang-gampang saja, karana buat gurudan ulama-fiqh itu sudah lebih dari cukuop. Dan bacalah kitab itu pada lembar penghabisan tentang perkataan Syekh Ibnu Hajar memberi ingat: “jangan bikin gampang segala ilmu atas mempikir dzat Allah-Taala”. Kalu akal kurang tajam, orang tiada usah malu, baiklah mengaku saja be-lum dipelajaryi, tetapi kalu beringkah dan berlaga tahu, memang dilarang oleh syara, karana menipu namanya.
Demikianlah kalu mau pahamkan “nafsiah”, tentang dzat yang wajib adanya, kita mesti tahu benar-benar illat-nya, karana kalu dikeraskan pikir pada mustahil tiadanya saja, seperti kelakuaan alim-fiqh, niscaya tiada didapat buntutnya sebagai salbias dan maani, karana bukan illatnya pikir ada atau tiadanya, tetapi pada wajib nya iaitu tiap-tiap wajib, mustahil harus, dan tiap-tiap harus mustahil wa-jib. Apakah sebab kilru? Kalu andainya kita tujukan keras pikiran pada adanya dan tiadanya saja, niscaya jadi lupa pikir bagaimana adanya dan tiadanya, padahal inilah illatnya yang mesti jadi obyect dari pikiran. Karana kalu akal “sudah” terima adanya dzat, niscaya “sudah” tulak tiadanya dzat itu, iaitu mustahil dikata ada berbareng dikata tiada, maka lazimlah ada bukan tiada, dan tiada bukan ada. Ertinya apabila kita sudah dapat dalil yang menunjukkan adanya, kita tiada perlu pikir lagi tiadanya, karana kalu mau dipikir terus adanya dan tiadanya, niscaya dari muda sampai tua-bangka belum habis bicaranya. Oleh karana itu, siger-ralah lepas pikiran yang ditujukan pada obyect ada dan obyect tiada, lalu carai lain obyect yang berhubeng kepada ada, iaitu “bagaimana” adanya, karana manusia tiada mampu pikir tentang “ketiadaan” lebih dahaelu dari “keadaan”; itu-lah sebabnya tiada ilmu dharuri, kalu tiada nalheri lebih da-hulo. Dan apabila obyect yang dipikir sudah diganti bagitu, niscaya akal bertanya, apakah dzat itu wajib adanya atau harus adanya, maka tentulah kita jadi pikir bandingan-nya dengan adanya dzat-alam, karana adanya alam sudah pasti, tiada dapat dibantah oleh akal, hanyalah orang yang miring utaknya boleh kata alam setengah-ada, setengah-tiada. Maka dengan sendirinya lazimlah akal bertanya, apatah adanya alam wajib atau harus, akan dibandingkan dengan lain dzat yang lagi dicari, dan apabila akal sudah dapat menentockan bagaimana adanya alam, niscaya dapat menentukan bagaimana adanya lain dzat yang dicari itu, dan uji kombali pikiran dari situ balik pada bandingan adanya alam, inilah dharuri namanya.
Dan lagi dalilnya, kalu andainya Allah mengandung pengharapan dari perbucatanNya dan hukoomNya, niscaya ada bandinganNya lain dzat yang lebih merdika dan lebih semporna adilinya dengan tiada pandang untung dan rugi, inilah mustahil, karana kalu andainya Allah harap senang, takut rugi, niscaya tiap-tiap gempa bumi dan gunung meletus, dan tiap-tiap alim-fiqh hilang akalnya, yang boleh bikin bincana dunia, lazimlah Allah berduka cita, apapula kalu nanti alam-jagat habis musna linyap kosong, alangkah besar kerugian Allah, maka jadilah sama juga millionnair yang kehilangan harta, sehingga harus Allah jadi sakit tering masok Sanatorium, boleh waras, boleh mati, inilah mustahil, karana berlawanan dengan maani.
Dari sebab itu mustahil Allah lebih suka akherat dari dunia, karana kalu andainya bagitu, apatah susahnya bagi Allah akan timbulkan akherat saja tiada dengan dunia, maka mustahil juga Allah lebih suka dunia dari akherat, lebih suka malaekat dari iblis, lebih suka iblis dari malaekat, lebih suka kambing dari babi, atau lebih suka mumin dari kafir, atau sebaliknya. Pendeknya mustahil Allah menjadi-kan alam karana benci pada maadum, dan mustahil suka maadum dan benci hadis, mustahil cinta atau marah, karana kalu demikian niscaya tiada sunyi dari pengharapan (aghra'd‘).
Dalilnya, kalu andainya Allah menyadikan manusia dengan maksudNya supaya segala orang masok naraka, niscaya Allah kepingin bikin sakit “antiro” manusia, barulah puas kesenangan Allah, inilah mustahil; atau supaya segala orang masok syorga, niscaya Allah kepingin memberi niemat ke-enakan pada “antiro” manusia, barulah Allah puas berasa senang, inilah juga mustahil, karana jadilah Allah mengambil senang dari menyiksa atau dari mengganjar manu-sia antironya, inilah mengambil guna namanya.
Maka nyatalah tiap-tiap ada naraka wajib itu buat orang jahat dan tiap-tiap ada syorga wajib itu buat orang baik, bukan harus lagi; inilah sama juga wajibnya api bersipat panas, wajibnya naraka membawa sakit, wajibnya syorga membawa enak, karana kalu andainya harus, niscaya harus naraka membawa senang dan harus syorga membawa sakit.
Maka bukanlah seperti alim-fiqh punya sangka, upamanya di dalam kitab “Bidayatul-hidayat”, (yang pengarangnya akan disebut namanya), bahua terkadang Allah perentah me-nurut kehendakNya, terkadang perentah berlawanan kehendakNya, iaitu maski pun Allah suroh, tetapi Allah tiada suka. Adapun bicara bagini macam bukan kelooar dari mulutnyia manusia yang octaknya di kepala, tetapi tiga perampat wajiib yang octaknya dibuntut; lebih baik Moslimin bicara saja sama orang-hutan atau monyit.
Pembaca Moslim! Timbanglah sendiri, adakah patut kita punya Tuhan disangka punya kelakuan memerentah “main-main” saja, sama juga badeot, atau orang mabook, Ataupun sebagai raja yang amat ”dhalim”, karana terkadang suroh orang berbucat baik dengan maksud akan bakar orang itu di dalam api?! Apakah kita mesti junjung Allah yang bagitu macam, Biarpun namanya sepuloh kali Allah-Taala? Apakah ulama yang mengajar Moslim suroh berpikir demikian“ tiada pantas hideop-hideop dilimpah ke dalam naraka?—
Ke ampat (dan kelima): “la taasir lisyai-in minal kainati biquwwatihi (we bithabi-ih)”, ertinya: tiada memberi bekas bagi tiap-tiap dari antiro kainat dengan kuatnya (dan dengan thabeatinya). Maka bedanya antara dua patokan ini, hanyalah dibedakan ”kuat” dengan “thabeat”, karana di sini kuat dipandang sipat umum, sedang thabeat itu sipat yang pasti seperti definitie III dan IV dari Bahagian I. Juga patokan ini hanya perlu buat murid yang baru belajar, karana sudah terdapat di dalam taelluk taasir dari qodrat-iradat.
Kita sudah kata tiap-tiap api wajiib panas, bukan setengah-wajiib atau harus; inilah thabeat-api namanya, karana kalu dingin bukan api, hanya iys-putar campur coklat namanya.. Tetapi lain dari sipat panas yang wajiib pada api, ada lagi sipat yang harus saja, iaitu (kuat yang) bikin hangus, in idinamai adat-api, karana tiada pasti menghanguskan, ada kalanya hangus dan ada kalanya tiada. Inilah kira-nya yang dibedakan oleh Al-Asyari, tetapi boleh jadi juga ini patokan memangnya sateo; kalu bagini tentulah “kuat” dipandang thabeat yang mengadakan gerak, inilah juga wajiib, karana kuat itulah yang kita namai gerak. Lihat dalil dari nafsiah dan hudusul-alam; iaitu kita tiada kenal kuat, hanyalah dari dzat, maka mustahil sang-tiada alias maadum mempunyai kuat alias gerak. Dalilnya kalu andainya maadum ada punya kuat, niscaya dapatlah sendirinya bergerak timbul menyadi hadis, inilah mustahil.
Oleh karana itu bagi ahli-pikir nyatalah patokan ini, buntut dari nafsiah dan dari hudusul-alam, hampir sama dengan taelluk taasir qodrat-iradat, karana di dalam taelluk itu, terdapat jalannya taasir dari tiada kepada ada, dan dari ada kepada tiada. Akan tetapi patokan “la-taasir” ini hanyalah membicarakan taasir dari ada kepada tiada, su-paya Moslim, yang sederhana octaknya, jangan sangka hadis boleh linyap sendiri dengan kuatnya, dan boleh linyapkan thabeatinya sendiri, Ataupun tukar thabeatinya sendiri, upama api boleh dingin, cirkel (cakra) boleh pesagi, laki-laki dan perawan boleh beranak, perampuan jadi laki-laki, bumi berhenti dari berputar, naraka jadi enak, syorga jadi hutan-Digocel, rasuI-rasuI jadi iblis, malaekat jadi kuminis, maka sekalian itu mustahil!!! Tiap-tiap taasir qodrat-iradat “sudah menentukan”, wajiiblah, bukan kurang-wajiib, bukan harus, tetapi wajiib thabeatinya bagitu, selama belum habis kontraknya, karana jalannya taasir bukan lebih dari sekali. Kalu andainya harus Allah mengobah lagi sekali, niscaya harus sepuloh ribu kali diobahnya, maka jadilah Allah tiada punya sipat ilmu-kalam yang tunggal, maka bukan ilmu tawhid, tetapi ilmu pecel-kurang-trasi namanya.
Moslimin seumumnyia tiada salahnya mempunyai sangka bahua Allah punya qodrat-iradat tiada putus-putus ker-danya, karana itulah bagi marika itu tanda sipat “kuasa” yang tiada dapat digagahi oleh lainnya. Agama Islam memang bukan mesti memperhatikan pada manusia yang tinggi akal-budinya, hanyalah perlu menjaga pada orang-banyak seumumnyia, yang tiada atau kurang terpelajar, terutama yang misih biadab. Akan tetapi ilmu tawhid ini berisi pengertian “filsafah” buat lawan orang pintar, yang sekira-kira mau bikin rubuh Islam, atau tipis imannya, karana tentu saja alim-pikir tiada mufakat dengan kepercayaan yang mangan-dung cerita gila-gila. Kalu andainya tiada ilmu tawhid, niscaya tiada seorang pun bangsa Europa, yang bergelar professor, meninggalkan agama Kristen menjadi Moslim, karana segala agama yang tinggi-tinggi mempunyai filsafah sendiri. Dari manakah orang Europa dapat tahu Islam punya ilmu-tawhid? Terutama dari ulama-filsafah-Islam bernama Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rusyd dan Al-Ghazali.
Di tanah Indonesia simi hanya Al-Ghazali punya ilmu banyak tersiar di dalam kitabnya “ahya-ulum-‘uddien”, meski-pun ada lagi dua kitabnya yang masyhur “maqsidel-falasifah” dan “tehafawtel-falasifah”, inilah berisi ilmu-akal yang dalam-dalam.
Sunggohpoun pengarang sendiri banyak sekali tiada mufakat dengan pendapatan Al-Ghazali, dan lain alim-pikir Islam yang namanya tersebut itu, yang kita boleh bantah, karana terkadang lepas hudusul-alam, tetapi kita pujikan sangat kepada pemuda Islam, yang terpelajar, mengambil tahu, karana tiada kalah tajamnya dengan filsafah Griek dan Hindu.
Juga tiada halangan akan tanya perkara agama kepada Moslim yang jadi guru, karana memang diberatkan oleh syara akan menerangkan mas-alah yang sudah dipelajarinyaa, maka guru, yang alim budiman, selamanya tiada malu buat suroh kita bertonya pada lain ulama, kaleo dia sendiri tiada tahu. Bagitulah orang, yang sakit batuk upamanya, bukan mesti berobat sama doktor-gigi, maka tiada beda ilmu-Islam ada specialistnya sendiri.
Hanyalah kita mesti jaga sama guru yang kepalang-tanggung berlaga alim, tentulah kita boleh dapat sangka dari bicaranya, yang Islam punya ilmu terlalu rendah, atau kalu kita kena pengaruoh guru bagitu, niscaya pandang kawan sendiri jadi kafir, sehingga bikin renggang persahabatan dan persanakan, seperti sudah jadi dengan pengarang antara kemanakan sendiri, yang mengaji sama Haji seorang guru, yang pandai nahu, itulah juga guru yang lancang mengarang ilmu-akal “sifat dua puloh”, tetapi tipis ilmunya, karana baru kita mau tanya, lantas jawabna guru itu: “ada sual yang boleh dan ada yang tiada-harus dijawab”. Sudah tentuh kita diam saja, karana tiada mau bikin malu di hadapan murid-murinja; waktu itu kita belum dengar dia suka limpar perkataan kafir. Maka kemanakan, yang saya cinta itu, jadi takutlah mengadap pada saya, karana dipandangnya saya ini ahil-nar, iaitu kafir, candidaat isi-naraka, sehingga dia aseot pula lain anggota familie sendiri, katanya nanti jadi keteruret dibakar api-naraka.—Marilah kita tilik kombali patokan “la-taasir” ini. Adalah yang dikata: “tiada memberi bekas tiap-tiap dari antiro kainat dengan kuatnya dan thabeatinya sendiri”, tereotama illat ny a pada perkataan kainat iaitu ertinya tiap-tiap kejadian yang sudah ada saja iaitu hadis, di luar dzat Allah dan di luar maadum. Lebih terang lagi maksudny a, bahua mustahil thabeat dan kekuatan, yang berdiri pada tiap-tiap dzat di dalam alam-jagat, dapat berobah dan bertukar thabeat sendirinya, Ataupun mempunyai kemampuan sendiri akan linyapkan dzatnya menjadi maadum. Adapun dalilinya seperti tadi, dan juga tiada beda seperti yang kita sudah tunjuk tetkala tilik taalluk taasir dari qodrat-iradat. Dalilinya lagi, kalee andainya dapatlah kainat linyapkan thabeat sendiri atau ganti dengan lain thabeat, Ataupun dapat linyapkan dzatnya sendiri, niscaya wajiiblah kainat tadinya timbul sendiri dengan thabeatinya dan kuatnya dari tiada kepada ada, inilah mustahil, karana thabeatinya maadum ialah kosong dan diam, bukan kuat dan bukan gerak. Maka nyatalah yang sanggup linyapkan kainat, hanyalah dzat pertama, yang mampeo timbulkan kainat dari tiada kepada ada, inilah terang bagi ahli-pikir sama juga 1×1=1, karana mustahil 1×1=2 sama juga 2×1.
Dan mustahil pula rasuI-rasul, yang dikasih thabeat “siddiek”, boleh hilang thabeatinya, sehingga jadi penjusta, dan mustahil boleh tukar thabeat sama guru Islam cap bangpak, bukan kurang-mustahil, tetapi mustahil! Dalilinya kalee andainya rasuI-rasul berobah thabeat, niscaya 1×1=2, niscaya cakra boleh pesagi, api boleh dingin, bumi boleh mandeg, alim-bangpak boleh jadi rasul, tentulah pengarang hideop-hidup diseret ke dalam naraka, ditangisi oleh kemanakannya, niscaya dia ini tiada berani tukar tempat, karana gurunya sudah sediakan emper di dalam syorga buat jaga kebon pisang, dan kasih makan ayam, karana lebih enak buang kekotoran dari dibakar di-naraka.
Demikian kalu api bikin hangus kayu, dan sekin atau pedang bikin putus leher-kambing, bukan memberi bekas namanya, karana dzatnya tiada linyap, hanyalah berobah habu dan smur-daging. Inilah perobahan dari ada kepada ada, memangnya kekucatan kainat. Kalu Moslim sangka api dan pedang tiada punya kuat sendiri buat membakar dan melu-kai, niscaya jadi sangka qodrat-iradatnya Allah berhubunq atau masok dalam api dan pedang, maka tiada halangan Moslim sembah api dan pedang. Dan lagi dalil nyia, kalu andainya tiap-tiap kainat bergerak, merayap, makan, minum, mabuk, ngigel, sekalian itu dari gerak qodrat-iradatnya Allah, bukan thabeat dan kuat dari hadis, niscaya wajib Allah-Taala sama juga masinis-spoor, atau sopir-taksi, inilah mustahil, karana kelakuan bagini berkehendak pada timpo.
Kalu pembaca kurang percaya bagaimana ulama-fiqh sebentar-bentar kesandung mabuk, silakan baca kitab-kitab bahasa Melayu seperti kitab Darl‘-Samien karangan Syekh Dawood bin Abdullah Fathani, dan kitab Bidayatul’-Hidayat karangan Syekh Mohammad Zein Jalal‘-uddien, niscaya pembaca lihat bagaimana hukum-akal jadi beranak-bercucu, sehingga maana wajib, harus dan mustahil dilimpar kesanasini terbang mumbuel ketiup angin, sehingga lagi dzat Allah-pun dibikin sama juga bola-sipak, sebentar kempes, sebentar dipompa jadi melembung dan ditendang pula. Itulah sebab-nya jadi perlu kita cari dalil model baru, terkadang dengan sanda-gurau, karana kita juga senang main sipak-sipakan.
Demikian pula dalil nyia, kalu andainya tiap-tiap dari kainat satu sama lain dapat memberi bekas dengan kuatnya dan thabeattnya sendiri, niscaya dapatlah satu sama lain melinyapkan tiap-tiap keadaan, inilah mustahil.
Kalu manusia mau bikin habis antiro binatang tikus dari muka bumi, sebab mau bikin habis penyakit pest, niscaya sia-sia pekerjaannya iaitu mustahil linyap, karana maski pun dapatlah dibunohnya sehari seribu tikus, niscaya belum mampu bikin habis sama sekali di dalam seribu tahun Sekalipun. Dan kalu api membakar hufan dengan maksud linyapkan tumbuh-tumbokhan, jangan pula menghabiskan antironya, maski pun semacam puhon saja tiadalal sanggup, karana sebentar tumbuh pula puhon baru. Dan kalu aer mau bikin habis api, bolehlah siram dan pedamkan antiro api, akan tetapi mustahil api boleh habis dari muka bumi atau dari naraka, kalu andainya naraka perlu sama api; melainkan sekalian itu wajih habisnya apabila sudah sampai timponya seperti ditentookan oleh iradat yang qadim. Demikianlah gerak mustahil habis sendirinya sebelumnya habis kontraknya. Kita mau tunjuk contonya lagi yang lebih tegas dan enak: Kalu dua manusia sama-sama berbareng gunakan kekocatan akan membikin manusia, sehingga jadi manusia yang ketiga, bukanlah qodrat-iradat pada malam itu sudah datang, atau menulung dari jauh, atau Allah sebagai Batara Guru masok di dalam diri laki-laki; dan kalu tiada jadi manusia yang dibikin, bukanlah karana dirintangi oleh qodrat-iradat, karana kalu bagini, niscaya Allah-Taala tiada bersipat nafsih, inilah mustahil.
Dan tiada pula boleh dikata yang kekocetan dua manusia itu memberi bekas, iaitu karana kejadian dari ada kepada ada, maka bukan dua manusia itu yang jadi sebab dari adanya manusia, hanyalah jadi sebab dari manusia yang ketiga. Karana sebab dari adanya manusia jadi manusia, dan dari adanya puhon jadi puhon, hanyalah qodrat-iradat qadim yang mula-mula jadi sebab dari adanya manusia berupa manusia dan dari adanya puhon tiada berupa manusia.
Bagitu juga kalu api jadikan api di dalam dapur, bukanlah oleh karana api jadikan api, tetapi itulah namanya api jadikan lain api, karana dari ada kepada ada, bukan dari tiada kepada ada, yang “memang ini bukan kekocetan hadis hanyalah qodrat-iradat, yang mula-mula adakan matahari, udara, aether dan gerak, asalnya jadi api. Kalu di sini kita kata api itu dzat, dan panasnya thabeat, hanyalah disebabkan manusia namai ”menyalanya” yang terang itu api, dan “rasanya” itu panas. Oleh karana timbulna api memang dari geraknya ”udara” dan “panas”, mustahil api bukan udara dan bukan panas, sehingga mustahil juga api boleh jadi dingin, tiada panas. Dari sebab itu kalu api-menyala disiram dengan aer, jadi linyap apinya, jangan disangka berobahnya dari ada kepada tiada, karana berobahnya jadi udara kombali. Anehnya di dalam udara terdapat aer, apabila temperatuur turun (dingin) terbitlah embun, hujan atau salju. Inilah tanda kepintaran dan kekocasaan tiada bandingannya dari dzat yang menyadikan alam, sehingga nyatalah kainat tiada mampu linyapkan dzatnya dan thabeatinya sendiri kombali di dalam maadum, atau berubah dari ada kepada tiada. Bagitoleah maksud la-taasir di sini. Tetapi berobahnya kainat dari ada kepada ada, inilah memang dari thabeat, kuat, dan geraknya kainat sendiri, bukan ditulung atau dihalangi lagi oleh qodrat-iradat yang qadim.
Boleh jadi ulama-fiqh tiada tahu bedanya antara dua perkara itu, inilah tiada mengapa; akan tetapi yang ktia cela hanyalah marika itu lancang turut-turut bicara di dalam perkara ilmu yang belum dipelajari. Marika itu mesti ingat yang ilmu terlalu banyak macam; tiada lazim satu orang saja boleh tahu segala ilmu, inilah mustahil.
Sahadan maka hitungan 50 aqaid, seperti kita lihat pada awal pemandangan, tetkala baru tilik ilmu tawhid ini, diperyiah pula antironya di dalam dua bahagian, dinamai pertama: “istighna”, menunjukkan kaya (merdika) Allah-Taala dari pada tiap-tiap lainnya; dan kuoa: ”iftiqar”, menunjukkan berkehendak padaNya oleh tiap-tiap lainnya, maka di sini tiada dipanjangkan bicara, karana segala hitung-menghitung dan pecah-memecah bergantung pada kesukaan orang sendiri-sendiri buat bikin lebih tarang kepada Moslimin yang belajar pikir tentang dzat Allah.
Demikianlah kalu mace dibikin lebih dari 50 aqaid, apatah salahnya, asal saja diambil dari dasarnya iaitu “nafsiah”, yang mengatakan bahua dzat Allah-Taala wajiab ada, mustahil tiada, inilah dhid tentang ada dengan tiada, dan juga adanya wajiab, mustahil adanya harus; inilah dhid’ bagi ahli-pikir tentang wajiab dengan harus, yang terlebih penting, karana inilah illatnya yang dapat tulak segala pikiran membayangkan dzat dan sipat Allah sebagai hadis Ataupun sebagai maadum, supaya mufakat dengan kata-kata ”la ilaha ill’ Allah”, iaitu tulak Allah yang buckan Allah.
Menurut babad Islam adalah kata-kata “la-ilaha-ill’-Allah itu, sebelumnya zamman Nabi Mohammad, tiada pernah diucapkan oleh bangsa Arab. Dan sekadar kita punya tahu, di dalam kitab-kitab suci dari lain rasui-rasui, belumliah kita dapatkan kata-kata yang bunyinya ”tiada Allah, hanyalah Allah”, Ataupun yang seroopa bagitu, sehingga kita percaya ucapan itu memang kelocar dari mulut Nabi Mohammad sendiri.
Itulah sebabnya kita yakin pada tulennya cap rasui di dalam dirinya Nabi itu, yang mampu keluarkan kata-kata, bagitu halus dan kuat sebagai aether tembus-menembus di dalam antiro alam. Karana bagi ahli-akal dengan sekejap mata, dapatlah dia memandang cahayanya kata-kata itu, yang tulak segala kutu-kutu di dalam sumangat manusia, kalu sangka Allah-Taala boleh “didapat” adanya oleh dzat-dzat di-luar dzat Allah sendiri.
Nyatalah kata-kata itu mengandung pelajaran dan pengertian, bahua tiap-tiap Moslim yang berakal, hendaklah tulak lebih dahuu segala pikiran dan perasaan, yang membayangkan dzat dan sipat Allah, sehingga apabila sumangat sedikit saja pikir itulah Allah, maka bukanalah itu Allah, tetapi hadis, karana kalu makhluk belum sanggup kenal antiro hadis, bagaimanatah manusia mampu tahu dzat, sipat dan nama Allah.
Akan tetapi rasuI-rasuI memangnya makhluk, tiada sunyi dari kemaeocean, hanyalah bagi Moslimin, yang sudah tahu tarikh Islam, tiadalah akan sangka yang Nabi Mohammad mempunyai prangi curang, Biarpun tiada kurang manusia yang coba tunjuk kehidupannya, sebagai rasuI-palsee. Upamanya orang cela kelakuannya suka berbini, dan kawin pula sama janda tua yang banyak harta, sehingga orang mau bilang, bukan saja kelakuannya suka pada kesenangan dunia, tetapi juga memandang perampuan punya harta. Maski pun demikian, tiada seorang pun dapat menceritakan yang Nabi Mohammad sudah gunakan perampuan punya harta buat keuntungan diri sendiri, karana tiap-tiap babad selaman ya menunjukkan bagaimana sederhana kehidupannya dibandingkan dengan pangkatnya, tiada sekali tak-burnya. Dan kalu dia punya isteri yang hartawan sebagai Sitti Khadija suka keluaarkan uang, guna pendirian agama, patut dipuji kepada dua laki-isteri itu, karana inilah tan-da prangi mulia, tiada gampang ditiru oleh kebanyakan manusia. Dan kalu dicela kelakuannya suka berbini, maka orang lupa adat kebiasaan pada zamman itu, dan lupa juga yang Nabi itu tiada perentah orang limpar kesenangan-dunia, karana kalu andainya benar Nabi Mohammad tiada suroh Moslimin tuntoot kesenangan-dunia, niscaya laziim Nabi itu terlalu gebleg dan bodo, inilah mustahil, karana berlawanan dengan thabeatnya “fithanah”. Apakah sebabnya Nabi tiada melimpak dunia? Karana kalu bagini, niscaya tanah Arab jadi sunyi dan sepi, kurus-kering, tentulah orangnya ber-lomba-lomba supaya lebih lekas pulang diakherat; habislah Moslimin di dalam dunia, maski pun ada yang ketinggalan, tentulah jadi pengemis diprentah bikin bersih kandang ayam saja, maka lebih enak tidur di-emper gurunya disyorga.
(Sudara-sudara Moslimin, yang belum mengerti bahasa Arab, kalu mau tahu bagaimana gagahnya dan pintarnya Nabi Mohammad memerentah negeri, silakan baca tarikh Islam bahasa Melayu huruf Latiyn buatan tuan Seyyid Omar bin Alui Al-Atas di-Betawi).—
Sahadan maka oleh karana manusia juga pikir tiada pantas kalu Dzat Yang Maha Kuasa tiada punya keadilan jadilah orang pikir bagaimanatah adilNya. Tetapi manusia sendiri belum punya definitie yang tetap tentang “adil”, karana umumnya sipat adil ditimbang dengan perasaan hati, yang lebih luas dari akal. Itulah sebabnya orang punya tim-bangan tentang keadilan Gusti Allah, jadi bermacam-macam, tetapi selamanya mestii mufakat dengan prangi manusia yang mempikirkan, maka Biarpun di dalam satu agama, mestii didapat juga bedanya, karana ada yang sangka Allah punya prangi cinta-kasih, suka memberi am pun pada orang berdosa, ada yang kira Allah bengis dan takbur, suka dendam dan benci, dan lain-lain sipat lagi menurut bagaimana senang-nya orang berpikir, diukur dengan ukuran sanubari. Dari sebab itu kita puji Al-Asyari punya usul'ueddien tiada pakai patokan adil, karana sipat bagini bagi ahli-pikir dapatlah dicarinya sendiri dengan akalnya dari “nafsiah”.
Demikianlah juga sebabnya kita lihat sekarang di dalam kitab-kitab pelajaran ilmu-tawhid banyak sekali dibicarakan tentang keadilan Allah yang gandiyl dan pincang. Maka juga sebabnya, karana orang yang membikin kitab itu, hanyalah alim-fiqh yang maski pun barangkali sudah matang usulfiqh, tetapi sama sekali belum tahu hukum-akal. Lihat saja contonya itu guru seorang Haji, yang belum pernah cum baunya usul'ueddien. sudah berani karang kitab “sipat dua puloh”. Inilah bukan salahnya guru itu, tetapi salah nya ulama Islam bangsa Arab, yang jadi fuqaha, sudah lancang mace turut mengajar perkara ilmu-tawhid, yang dalam-dalam, dan lupa juga banyak kalimat di dalam ilmu fiqh seperti qidam, baqa, hadis mengandung maana luas, tiada hingganya.
Adapun kita punya dalil di sini selamanya ambil maana tiada terlepas dan terkisar dari hukum-akal, iaitu pasti, tentu dan tetap watasnya, tiada dapat bergerak lagi, maka dengan dalil itu yadi nyata Allah-Taala yang di-junjung oleh Islam bukan Allah yang pilih-kasih, sebagai dzat yang mau tunjuk kebesaran nyya dan kekucasaannya iaitu sebentar ganggu, sebentar tulung pada makhluk, dengan sewenan-g-wenang; tetapi dzat yang “semporna adilNya”, karana makhluk sendiri sudah dapat kurnia (fithrat) yang boleh dipakainya sewenan-g-wenang; siapa saja tuntut kebaikan, wajiib sendirinya dapat syorga, dan siapa tuntut kejahatan, wajiib dapat naraka, bukan setengah-wajiib, tetapi wajiib. Demikian pula perjalanan manusia di muka bumi, siapa lebih pandai mengambil guna dari thabeat dan kuatnya, w aji b menangnya, dan apabila manusia terhalang di dalam maksudnya dan pengharapannya, bukanlah karana dicegah atau dibenci oleh Allah, tetapi karana terganggu oleh “lain makhluk” diluear dirinya iaitu hadis yang sama-sama mempunyai gerak sendiri-sendiri.
Ituolah sebabnya kita puji Nabi Mohammad s.a.w., yang punya pengertian “hadisnya alam” atau barunya antiro alam, maka jadilah nyata Islam bukan kepercayaan tunggu taq-dirnya Allah, karana taqdir hanyalah sekali saja sebelumnya timbul alam; dan juga bukan fatalisme.
Bagitulah juga kalu, andai kata, kita tikam orang tiada luka, bukan godrat masok di dalam kultnya orang itu, bukan Allah tulung dari jauh, tetapi orang itu sendiri, lebih pandai dari kita, mengambil guna dari kekucatan hadis (universeele energie), sehingga kepandaian itu dikasih nama mujizat, karamat atau syihir, karana jarang manusia yang mampu mengerjakan. Maski pun namanya beda, tetapi kelakuannya sama saja, karana kepandaian bagito bukan thabeat, hanyalah “sipat”, Biarpun dilakukan oleh rasul. Berbedaan sipat ”siddiek” inilah thabeat bagi rasul-rasul. Kalu andainya api tiada membikin hangus kepada Nabi Ibrahim, inilah dinamai mujizat, karana yang tulak kuatnya api itu seorang Nabi, padahal manusia yang bukan Nabi juga mampu bagitu, tetapi dikasih nama karamat atau syihir, sehingga nyata bukan thabeat. Akan tetapi jangan disangka panasnya api jadi dingin, inilah mustahil, karana api wajiib panasnya. Kalu andainya Nabi dapat hilangkan thabeat api, niscaya kainat memberi bekas dengan kuatnya sendiri inilah mustahil. Dan kalu andainya tetkala Nabi Ibrahim a.s. dibakar, “waktore itulah” Allah suroh api jadi dingin, niscaya tiadalah qodrat-iradat mempunyai taasir, karana ”taasir yang tiada berhenti beroboh-obah”, bukan taasir namanya, tetapi oncom, jingkol-bewe, atau buntut-kambing, boleh dibikin berpotong-potong, sewenang-wenang.
Di dalam ilmu fiqh dan ilmu bahasa, bolehlah Moslimin bicara sesukanya tentang erti taasir, erti qadim, erti baqa’, erti hadis, karana yang dipikir itu aturan wet dan pergaolan. Kalu kita campur adeok wet sama ilmu-tawhid, tentu saja tawhid jadi berupa sambal-petis dan kerupuk-udang.
Dari sebab itu, ilmu-tawhid yang berdasar pada akal-pikiran meluloce, bukan haknya fugaha yang mengajar, te-tapi haknya specialist ulama filsafah Islam sendiri. Inilah kita harap diperhatikan oleh ulama-fiqh, mudah-mudahan marika itu sendiri suka obah haluannya dan jangan malu, siarkan kilrunya, karana memang agama perentah suroh mengaku kalu salah. Demikianlah juga pranginya Nabi Mohammad s.a.w. kalu ada kelakuannya kilru, tiada disembunikan firmann ya Allah (bukan kalam-Allah), inilah suatu bukti bagi Mumin tentang sipat “tabligh” dari Nabi itu. Maka bukanlah nanti dikata faqih itu bodo, karana insinyur, yang pintar bikin masin-terbang, tentulah bodo kalu disuroh bikin sayur lodeh, tetapi makan lodeh tentulah pintar, kalu doyan.
Demikianlah Mumin ahli-pikir tiada akan sangka bahua Allah sudah menyadikan jahat dan baik, karana bukan dzat, bukan mawjud, tetapi suatu pengertian atau maana yang oleh manusia dinamai jahat karana tiada-enak dan dikata baik karana enak, padahal yang dikata enak atau untung dan lawanannya tiada-enak atau malang itu, hanyalah gerak di antara dzat yang berhubeng atau beradu satu sama lain di dalam alam-hadis, iaitu suatu maana lain dari maana dzat, ialah bukan dzat, tetapi jalan atau gerak, yang berdiri pada dzat. Dan oleh karana “timbulnya” dzat yang bersipat gerak, disebabkan oleh “taasir” dari qodrat-iradatnya Allah menyadikan maadum, berubah kepada mawjud, maka mustahil tiap-tiap dzat itu dengan geraknya sendiri-sendiri mesti dinamai jahat dan jelik, karana kalu bagini, bukan Allah bersipat ilmu-kalam, bukan pintar tetapi bodo, inilah mustahil bagi Allah sehingga w ad yib alam antironya “bagusdanbaik”. Bukan saja indah karana satu sama lain di dalam alam-jagat dapat mengambil guna, tetapi juga bagusnya, karana dapat bergerak sendiri dengan tiada usah Allah sebentar-bentar gerakkan atau tambah kekuatannya sama juga automobiel yang boleh rusak motornya dan boleh kekurangan bensin, sehingga kalu B.P.M. sama Socony kasih naik harga minyak, segala taksi bertriak tiada-enak dan kalu harga turun, berasa enak.
Di antara olema-fiqh yang tiada tipis akalnya, tentulah lantas mengerti dari kita punya keterangan di atas ini, bagaimana mesti dipikir datangnya enak dan tiada enak, iaitu bukan sebab Allah seperti compagnon berkongsi, main telepon sama B.P.M. dan Socony, dan bukan obah hatinya orang yang punya parit buat kasih naik-turun harga bensin, tetapi memangnya kemaocean orang sendiri. Boleh juga ambil misal dari buah-jingkol, dikata enak oleh orang yang doyan, dan tiada-enak oleh lain manusia, tetapi dzatnya jingkol sendiri waji bagusnya, mulai dari kembang sampai jadi buah, tetap jingkol, tiada berubah jadi anak-tikus, hanyalah kalu kita garas kebanyakan sampai lupa daratan, Biarpun didahar oleh olema-Islam atau Kristen Ataupun oleh kafir, niscaya dinamai jelik, bukan dzatnya sendiri yang jelik, tetapi beradunya sama lain dzat, bikin sakit muntah-uger alias kejing-kolan, dan lantas terbit baec yang dikata enak atau tiada-enak menocrut kesukaan hidung dari masing-masing orang. Demikian pula upamanya kalu manusia menyadi Moslim atau Mumin, Yahoodi, Kristen, Brahmana, Kafir, Fasik, Murtad, Raja, Lid-Volksraad, Maling, Begal, Pematadan, Kuminis dan sebagainya, iaitu perbedaan antara bagus dan jelik, maka mustahil tiap-tiap yang demikian itu dijadikan oleh Allah, karana yang dijadikan dzatnya iaitu diri-manusia yang sebenarnya diri, dengan thabeat gerak seperti geraknya panca-indria, akal, kemaocean, berhubung dengan gerak di luar dirinyia dari lain dzat, itulah yang mendapat maana baik dan jahat, tetapi dzat manusia dan dzat lain makhluk dengan geraknya sendiri, tetap w ad yib baiknya dan bagusnya, mustahil jeliknya dan mustahil harus baiknya dan jahatnya, Biarpun mustahil semporna sebagai dzat-Allah, tetapi waji b semporna cara hadis, [karana segala maana bagi dzat-Allah waji bedanya dengan segala maana bagi lain dzat].
Lebih nyata dari misal-misal itu, tiadalah kita sanggup terangkan, hanyalah bergantung pada akalnya dan kemaoceannya Moslimin yang berpikir. Apabila pembaca sudah tahu bagaimana diauh bedanya antara dua perkara itu, niscaya se-darlah kilrunya alim-fiqh Ataupun alim-pikir, (yang pegang nuduseel-alam), kalu mengatakan Allah jadikan mumin dan kafir atau tiada jadikan salah suatu dari keduanya, karana kafir dan mumin mustahil dijadikan oleh Allah, sebab bukan thabeat-manusia, hanyalah hal yang umum, boleh bagitu, boleh tiada. Dengan keterangan ini jadi nyata pula, yang bersipat “harus”, hanya manuesia atau hadis, karana kalu andainya Allah mempunyai 1% saja dari sipat harus, niscaya rubuhlah nafsiah, salbiah dan maani berganti rupa jadi nasi-goring, boleh makan sama dingding-ciling dan jingkol 3 piring, kalu mata sudah miring, dan pemandangan hijo-kuning, boleh tidur sembari miring, cari impian di atas loting, barangkali dari langit jatuh dalil terplanting, macam telor-keping, buat banting kita punya dalil, hancur berkeping-keping.
Kita mau tunjuk lain misal bagaimana tunggalnya kepintaran Allah. Sebelumnya manuesia dapat gunakan electriciteit, segala pabriek pakai kekuatan kerbaw, komdian kekuatan aer berupa aer, komdian aer berupa stoom, lama-lama berganti electriciteit, semangkin gampang dan semangkin bagus, karana buahnya pekerjaaan lebih ceapat dan lebih banyak. Sekarang kita tanya, apakah manuesia yang pakai kekuatan kerbaw lebih pintar dari orang yang pandai gunakan electriciteit? Di dalam pertanyaan ini sudah terdapat jawabna sendiri! Kalu andainya Allah menyadikan alam sebagai kelakuan manuesia tiada putus-putusnya pikirkan mencari daya-cepaya akan bikin gampang dan tambah bagusnya pabriek, Ataupun Allah senentiasa memberi gerak, tambah ini, tambah itu, buang ini, buang itu, alangkah bodo Allah yang punya kelakuan bagitu. Dan tiada pula perbuatan demikian dinamai kuasa, karana kuasa itu selamanya mengandung pintar, maka apabila suatu dzat tiada mampu tunjuk kepintarannya, niscaya bukan kuasa, tetapi lemah, karana ada lagi lain dzat yang lebih pintar, itulah yang kuasa.
Maka buat pahamkan bedanya yang demikian itulah tingkat pengajaran marifat iaitu maana “mengerti” di dalam Islam, bukan yang menghitung napas sambil tahil sampai beribu-ribu kali menyebut nama Allah, karana kelakuan bagini melazimkan dunia menyadi sepi-sunyi. Bukan kita cela kelakuan itu, tetapi kalu Moslimin sangka dengan menyebut nama Allah saja boleh mendapat syorga klas I, inilah kilru, karana berlavan dengan ilmu-Islam.
Sahadan nyatalah i'tiqad Mumin-sejati adalah maana la-ilaha-ill‘-Allah terhim pun di dalam tiga perkara:
1e Allah-Taala sendiri yang wajib adanya dan yang wajib (bukan harus) jadikan alam-hadis dari tiada kepada ada, dengan cara perbocatan yang tunggal, tiada bandinganya dan tiada dimengerti oleh makhluk.
2e Mumkin-mawjud iaitu alam-hadis, alias makhluk, yang harus adanya, berisi juga dunia, akherat, syorga, naraka, ruh, luh, arasy, qalam, kursi, pendeknya antiro natuur, yang dikorniernak thabeat dan kuat (universeele energie) akan bergerak sendiri menurut aturan (systeem) yang pasti dan cukup bagus dan baiknya cara hadis tetapi bakal habis. Bukan ditentukean untung-nasib manusia dan umurnya satu persatu tetapi “systeemnyah yang ditentukean”, sehingga tiap-tiap manusia sama-sama dan rata-rata, tiada kuorang, tiada lebih, mempunyai hak akan ambil guna dari kekutan hadis itu sesuka-sukanya, asal saja dia pandai ambil guna, niscaya hasillah pekerjaannya “secara manusia”, maka mustahil boleh didapat kalu andainya manusia selagi hideop mau pergi pindah kematahari, karana terhalang oleh lain makhluk yang masing-masing ada punya jalan sendiri menurut systeem tadi. Akan tetapi kalu Moslimin mau tuntu syorga dan tuntu naraka, inilah memang dia boleh pilih sendiri dengan gerakkan diri pada jalan yang halal atau haram, maka bukan harus dapatnya, tetapi wajib dapatnya, sebab yang demikian itu di dalam kekuasaan atau thabeatinya manusia berhubeng dengan thabeatinya akherat. Dan kalu manusia mati selagi muda, bukan ditentukean umurnya, tetapi kalah hideopnya melawan berhentinya napas, karana yang ditentukean hanyalalah tiap-tiap hideop wajib mati, maka mustahil harus matinya. Berbedaan kalu Moslimin andainya mau bikin hilang syorga atau naraka atau mau bikin linyap api, inilah mustahil didapat olehnya, karana sudah tertentu di dalam kontrak taellluknya taasis qodrat-iradat, iaitu “di luar kekuasaan hadis”. Dari sebab itu Mumin-sejati tiada syak lagi tiap-tiap kelakuan “baik” wajib mendapat ganjaran “syorga”, dan tiap-tiap “jahat” mendapat siksa “naraka”, bukan harus lagi, seperti sangkanya celama yang kurang pikir. Karana kalu andainya harus, niscaya orang jahat boleh terus saja masok syorga, dan orang baik boleh diseret lebih dahulu ke dalam naraka, maka kalu bagitu, jadilah perbocatan Allah terlalu jelik, niscaya manusia, yang sihat akalnya, mesti pikir yang Allah terlalu dhalim, bodo dan gebleg, inilah mustahil. Dan lagi kalu andainya harus, niscaya harus juga api bersipat panas, dan harus segala rasuel bersipat siddiek, padahal mesti i'tiqad tiaptiapti rasuel “wajib” siddiek, karana kalu harus, niscaya rasuel-rasuel harus justa, inilah mustahil, maka mustahil juga perbuatan yang Allah pandang jahat mendapat syorga, tetapi wajiw naraka baginyia. Inilah thabeat namanya, sehingga wajiw perbuatan baik mendapat ganjaran syorga, sama juga wajiwbna maadum timbul jadi mawjud oleh taasir qodrat-iradat. Inilah suatu bukti bagaimana semporna bagusnya perbuatan dan hukumnyia Allah, yang berdasar pada Keadilan yang tiada bandingannya, karana Allah-Taala tiada mengambil guna; berbedaan manusia punya adil selamanya mengandung maksud dan sebab.
3e Mumkin-maadum, yang harus tiadanya atau kosongnya (hempa) tiada berwatas, tetapi oleh qodrat-iradat, jadi wajiw berisi di dalamnya alam sampai habis kontrak; bukan berwatas dengan dzat Allah-Taala. Inilah sebahnya, dzat Allah tiada bertempat di dalam mumkin-mawjud dan tiada di dalam maadum, iaitu mustahil makhluk dapat tahu “di mana” adaNya.
Apabila Mumin mempunyai yakin tiga perkara itu, niscaya terlepas dari penyakit sangka, takut, bimbang dan waswas, dan terlepas dari penyakit malas kerja dan malas ikhtiar, karana siapa takut pada mumkin-mawjud alias hadis, niscaya takut pada dirinya sendiri, dan siapa takut pada sang-tiada, inilah lebih bodo dan gebleg dari hewan. Maka yang ditakuti oleh Mumin-sejati hanyalah Allah-Taala sendiri, bukan takut seperti anak-kecil takut pada orang-orangan yang bengis rupanya atau barongan yang tangannya menampar sana-sini, tetapi maana takut itu, menjunjung kurnia yang berupa hadis, yang cukuo bagusnya cara hadis, maka tiap-tiap kita bernapas jangan lupa Allah, dan jangan lupa bagusnya Dia punya kurnia, karana kalu lupa, niscaya lupa mengambil guna, inilah bukan junjung, tetapi sia-siakan pengasih Allah-Taala, dengan meninggalkan ikhtiar, inilah sama juga memandang jelik dan tiada mehargakan kurniaNya, iaitu bukan terima kasih namanya, maka bukan manusia namanya tetapi hantu alias iblis.
Demikian itulah kita namai “tariqat”, yang mufakat dengan perkataan di bawah ini, yang khabarnya keluear dari mulut Nabi Mohammad sendiri iaitu: i-imal lidun-yake keannake taisyu abadan, we i-imal liakhiratike keannake temuetu ghadan. Ertinya “berbuatlah kau untuk duniamu seperti kau hideop akan selama-lamanya, dan berbuatlah kau untuk akheratmu seperti kau akan mati esok-hari”. Dan lagi kata Nabi: la ruhbanniyyate fil Islam, ertinya “tiada kepadrian-limpar-dunia di dalam Islam”. Adapun maksud ruhbaniyyate iaitu kelakuan pandita-klooster yang suroh orang lupakan dunia, maka kelakuan demikian yang timbulkan kaeom derwisy dan karamat dan fuqara (fakir) ada di lu ear Islam. Lihat saja contonya Nabi itu sendiri dan ampat sahabatnya yang akrab, tiada seorang pun yang lupakan bini, anak, rumah-tangga, beda seperti kelakuan awlia yang timbul sesudahnya Nabi dan 4 sahabat itu meninggal dunia, karana kemasokan ilmu Budha dan ilmu kepadrian Kristen, tetapi bedanya kepadrian Kristen umumnya belajar dahulu ilmu-dunia.
Sampai di sini cukulplah kita tilik pelajaran Al-Asyari buat Moslimin mulai belajar ilmu-akal. Akan tetapi ada cerita mengatakan keleearnya dari peguruan Mutazilah, lalu Al-Asyari siarkan qadimnya qoran dan haruninya manusia melihat Allah, maka kalu benar cerita itu, niscaya ada tiga perkara yang sekarang kita boleh pikir, iaitu pertama dia memang sengaja putar lidah dengan karana berat pada lain peguruan, inilah prangi jelik alias busuk, atau kalu tiada putar lidah, niscaya Al-Asyari bukan alim-pikir, hanyalah dapat pungut sedikit ilmunya Wacil-ibnu-Ata dari Al-Jobbai, yang pantas dapat pujian, atau dia memang sudah limpar hudusul-alam, inilah bukan i'tiqad Mumin-sejati.
Demikianlah Ilmu Islam “tingkat yang tinggi” tiada pakai maana takut kepada makhluk, Biarpun pada malaekat, rasu, raja, pandita, kepala-perang, awlia, karamat, wazier, iblis, jin dan antiro hadis, sama saja hidup atau mati, seperti kuburan, kaaba atau arca, tetapi bukan discuroh berani bentour kepala sama roda-spoor atau tihang-listrik, karana menyakiti dan membunoh diri itu haram. Dan tiada pula murid yang sudah tua-bangka discuroh takut pada gurunya. Tetapi discuroh takut kepada Allah-Taala, erti nya: takut berbuat jahat yang dilarang, dan berani berbuat baik yang diperentah Ataupun “baik” yang tiada dilarang dan tiada diperentah oleh hukum-syara dan oleh wet-negeri. Dan ertinya pula: discuroh pegang aturan hormat sopansantun, Biarpun manusia tinggi derajatnya dan pangkatanya, apabila tingkah-lakunya dan perkataannya melanggar hormat, patut diberi ingat, kalu perlu dengan semburan obat yang pahit-pahit, supaya mati kutunya jang meneloar. Maka bukan discuroh orang, yang tinggi pangkatanya dan tebal ilmunya, melihat orang yang rendah, seperti kucing memandang tikus, dan bukan discuroh murid melihat gurunya seperti tikus memandang kucing, kaleo guru memaki kafir-fasik, lantas menangis minta cum pusar gurunya, disangka guru pegang kunci syorga dan naraka! Bukan bagitu!
Dan lagi belum dinamai Mumin-sejati, kalu hanya semhahiyang dan pusaa saja, Ataupun yang mulutnya kemakkemik dengan pegang tasbih, Ataupun yang tutup bininya di dalam rumah, tiada idinkan 1 seconde dilihat oleh lain laki-laki, atau suroh tutup mukanya, larang melihat bioscoop dan ke pasar Gambir. Adalah perbuatan demikian dari laki-laki, terlalu curang, suka menyiksa perampuan hidup-hidup, inilah berlawanan dengan agama Islam, karana meliwati watas. Bukan bagitu maksudnyia larangan dan perentah syara, seperti sangkanya guru Islam yang belum mengerti usul-fiqh, niscaya tiadalah dia tahu illat-nya, dikira kalu pandai nahu, sudah cukup pengertian nyia, inilah kliru sekali.
Pembaca yang sudah turut tilik ilmu tawhid, tentu dapat timbang bersama-sama saya, bagaimana cantiknya pengertian “hudusul-alam”. Saya sendiri dapat keyakinan kalu andainya seorang Moslim sudah mengerti dengan betul usul’udden seperti kita punya tilikan, maka tiap-tiap timbul pikiran dan maksued jahat di dalam dirinya, niscaya seratus kali dipikirnya lebih dahulu sebelumnya bertindak akan laokean kejahatan. Karana berbuat jahat bukan taqdir, dan juga apatah gunanya kalu andainya kita bunoh kita punya musoh atau satru? Apakah untungnya bagi kita kalu musoh patah lehernya atau habis napasnya? Untung-akherat, inilah mustahil, karana sepanjang maarifat, maana kasihan atau mengampuni tiada didapat pada Allah, sehingga w aji b pembunoh (bukan tiap-tiap bikin mati dikata bunoh kalu andainya perlu jaga diri) dapat hukuman akherat. (Manusia yang sangka ”mengampuni” lebih mulia dari adil, dia lupa yang sipat bagitu selamanya mengandung ukuran berat sebelah). Kalu lantaran sakitinya atau matinya musoh itu, kita jadi sangka dapat untung dan senang di dalam du-nia, ini juga kliru, karana kalu satu musoh linyap, niscaya timbul sepuloh musoh yang lain, Biarpun tiada berupa manusia, tetaplah ada saja apa-apa yang menyusahkan dan merintangi kita punya pengharapan sama saja bagi diri sendiri Ataupun bagi sesucateo yang kita suka, karana antiro makhluk ada punya kut sendiri akan bergerak. Dan ada lagi lain thabeat makhluk yang menunjukkan bagusnyia natuur dijadikan Allah, iaiteo siapa membentur, niscaya dia dibentur, dan siapa menulung, niscaya dia ditulung. Bukan selamanya balesan datang dari tempat yang kita sangka, tetapi dari lain makhluk yang tiada dikira atau tiada ketahuan, bukan dari Allah, tetapi dari bagusnyia systeem jalannya alam-hadis. Dari sebab itu Mumin-sejati tiada menyesal dan sakit hati pada orang yang bo-cing tiada membales budi, kecuari kalu orang melanggar kita punya hak, patutlah dilawan dengan kelakuan adil akan jaga diri dari segala bahaya, sebaik-baiknya dengan mengadu hal pada hakim.
Sebagai penutup Bahagian VII, maelah saya minta maif kepada fuqaha yang andainya “sudah” jalankan dayaopepaya siarkan klirunya Ataupun yang ”akan” tarik-kombali pengajarannya yang kliru, maka kita pun tarik kombali segala perkataan yang pahit-pahit itu. Tetapi apabila marika itu tiada mau mengaku terus-terang dan tiada obah halocannya, Ataupun berkeras mengatakan yang pendapatannya itu menurut huku m-akal, silakanlah terangkan dalil-akal yang dapat merubuhkan kita punya dalil.
Adalah maksud kita bukan mencela orang mengarang kitab dari segala pelajaran agama, karana kita sendiri memang suka pada segala karangan, tiada perduli buatan iblis sekali pun. Tetapi kalu Moslimin tukang-kayu berani lancang karang buku atau beri pelajaran bagaimana mesti mengikat cincin permata sebelumnya dia menjadi pandai-emas, niscaya segala syeitan dan hantu boleh mengarang kitab yang dipetik dari luhl-mahfuld, dibawa turun kepada rasul-rasu, maka kalu jadi bagini, tentulah Jibriel suroh segala malaekat ceikik syeitan yang lancang itu sebelumnya bikin bincana di dalam dunia. Bukan sebab Jibriel takut honar saja, tetapi takut nanti Allah tiada pakai malaekat lagi, sebab iblis mengaku lebih pandai dari malaekat.
Dan bukan maksud kita sekarang supaya faqih yang lancang dicekik oleh Mutekhashish-alim-pikir, tetapi mudahmudahan Paduka Sri Sulthan, yang memerentah di tanah Mekkah, suka membikin aturan keras, suroh bakar segala kitab-kitab usul'uedd buatan orang yang bukan ahli-pikir, supaya cahaya Islam tiada terinding oleh awan yang gelap. Kecuari kitab sifat dua puloh yang pakai dalil-qoran, yang gampang-gampang saja, inilah memang baik.
Pembaca yang arief di luar agama Islam tentulah terse-nyum kalu saya pandang ilmu Islam mempunyai cahaya, padahal di dalam kita tilik maana tawhid, tiada sekali didapat ilmu yang lebih dalam, upama tentang ruh atau jiwa, ten-tang jalannya peridaran cakrawala, Ataupun tentang maana syorga dan naraka, Adam dan Hawa, arasy dan kursi, di dalam maarifat intellectueel. Adalah ilmu-haq yang demikian itu boleh terdapat di dalam qoran oleh siapa juga yang sudah paham filsafah, karana seperti sudah saya katakan isinya antiro qoran mengandung maana kasar buat manusia suo-mumnya, dan maana halus buat merika itu yang ahl‘-haq dan alim-tasawwuf. Maka maana “cahaya” yang saya maksud-kan, bukan mesti dicari di dalam ruh-Allah, sebagai pengertian Hindu, cufi dan Kristen, tetapi canahayanya di dalam maana hudo esu el-alam, yang sengaja oleh Kangjeng Nabi Mohammad s.a.w. dipakai buat i'tiqad, supaya Moslimin jang-ngan berani tak'bur dan angkat kepala kepada Tuhannya dzat wajib alwujud, dan supaya “mengerti” bagaimana rendah derajat manusia dikolong langit dibanding-kan dengan derajat Allah. Inilah menyadi tanda pula bagaimana halus budi-prangi Kangjeng Nabi yang teramat benci pada tak'bur. Kalu andainya Moslimin melepaskan maana “alam-baree”, niscaya lambat-laun naiklah derajat-nya Nabi itu jadi ruh-Allah, anak-Allah atau kekasih-Allah. Maski pun Nabi Mohammad s.a.w. sudah jaga lebih dahelulu, akan tetapi sesudahnya wafat, tiada wurung timbul segala kepercayaan yang membangsakan jiwanya dengan ruh-Allah, dan timbul segala cerita tentang mujizat Nabi itu, yang membikin senyum pada orang yang berakal, padahal di dalam qoran tiada sekali terdapat mujizatnya, kecuari tentang semporna bagusnyaka kata-kata yang dipilihnya akan menun-jukkan firman Allah, di dalam bahasa Arab, dibunyikan di-dalam qoran, tiada seorang pun dapat mengatur kata-kata semacam itu pada zammannya, inilah bagi alim-pikir lebih tinggi dari mujizat pecahkan rembulan, atau bikin hidup orang mati, karana macam mujizat bagini hanya bagus di-kuping kaldai dan kerbaw, padahal musta hil didapat oleh makhluk, sebab kaleo benar, niscaya Nabi sanggup telan bumi dan mampu linyapkan thabeat.
Demikianlah sudah saya kata bahua Islam kemasokan ilmu dari luar, itee pun ada juga yang bukan aseli, tetapi ilmu tetiron atau tiru meniru, upama ilmu cuefi, yang ditimbulkan oleh alim bangsa Ajam, Abu-Said-ibn-abi-‘l-Khair, kira-kira 200 tahun sesudahnya Nabi wafat, lalu berdirilah sebuah khanakah iaitu klooster di-Khorasan, sehingga timbul ilmu-tasawwuf cat merah, kuning, hijo, menurut enaknya pemandangan murid-murid, maski pun kepadrian semacam itu sudah dilarang oleh Nabi, nyata-nyata dengan kata-kata: “la ruhbaniyyate fil Islam”. Maka kaum cuefi itulah terutama yang membikin rusak maana hudus-uel-alam jadi setengah qidam, setengah baqa, demikian pula dzat-waji-b-alwujud jadi setengah waji, setengah ha-rus, lalu diaduk dikawa jadi kebuli. Tentu saja tawhid jadi terlimpar ke belakang, sebab kebuli lebih enak kaleo disuguhi sama lobak-menta, karana tawhid memang kurang ledzat, terkadang mandeg nyangkut ditenggorokan kaleo yang makan giginya palsu atau ompong. Inilah sebananya ilmu kebuli tersiar kulliling dunia-Islam sampai sekarang ini, tentu saja sudah berobah-obah macamnya. Dan tingkat pelajarannyao pun sama juga mulai dari “syariat”, tetapi kaleo sudah naik “tariqat”, barulah dikasih makan kebuli, sebelumnya naik, hanyalah dapat budin alias sing-kong rebus atau tapainya. Silakan pembaca saksikan sendiri, karana di tanah Indonesia ilmu ini misih dipakai, boleh dapat kitabnya aturan masak kebuli buatan Abu-Said itu punya murid bernama Al-Bestami atau Al-Jonaid-Baghdadi, yang asalnya ilmu cuefi terpecah-pecah semangkin banyak macamnya, bolehlah coba saja mana yang lebih ledzat dan enak.
Pembaca Moslimin yang alim-pikir tentulah sudah sedar yang saya punya ketrangan tiada juga sama dengan Muta-zilah, dan beda pula dengan Mutakkallimin, yang sebentar-bentar miring ke kanan dan ke kiri sama juga perahu lim-bung, akan tetapi juga berlawanan dengan filsafah Hindu dan Griek, karana saya punya kelakuan menilik ilmu-Ketohanan di dalam Islam dengan pegang keras “hudusul-alam” dan segala ”consequentie-nya”.
Itulah sebabnya tiada perlu dikata yang saya bukan sekali-kali mencela ilmu Ketuhanan di luar Islam yang punya lain macam patokan atau leerstelling, padahal saya puji dan taajub bagaimana tingginya sesuatu bangsa punya agama dan filsafah. Dan tiada pula saya cela pengertian cefi atau ilmunya Al-Ghazali, yang jua buka klooster, hanyalah mau tunjuk dengan saya punya dalil, bahua tiap-tiap ilmu yang “membangsakan” ruh-manusia atau ruh-alam dengan dzat-Allah Ataupun yang terima Allah sebagai ruh, jiwa atau atma, iaitu segala ilmu yang berbae pantheisme atau polytheisme bukanlah itu ilmu-Islam dari Nabi Mohammad s.a.w Adapun qoran punya suara banyak mengandung politiek, sehingga nyata pula azasnya Islam memperlukan kehidopean-dunia, bukan dunia Arab saja, seperti sangkanya alim-Barat, tetapi buat antiro manuzia di muka bumi. Pada ulama Islam saya hendak bertanya: adakah politiek itu buat dunia atau akherat? Dan pada dunia-umum saya tanya: adakah didapat semacam agama di luar Islam yang lebih practiskh buat dunia?
Saya mau tunjuk sedikit misal bagaimana Europa pungut wet Islam dari perkataan Kangjeng Nabi: “keterangan dan sumpah bagi yang mendaawa di atas yang mungkin”. Dan kata-kata inilah dibuat studie sampai berjilid-jilid buku. Demikian aturan quarantaine menjaga kewarasan umum itu pun diambil dari Islam. Dari sebab itu saya mau, apabila ada Moslimin mau coba bantah aturan suntik-menyuntik sebagainya, yang beruna akan tulak menjalar-nya penyakit dan guna tambah ilmu-thabib, karana jadinya tiada tahu yang Nabinya lebih pintar dari antiro Barat, tentang memerentah dunia.
Dan apatah sekarang balesan sebahagian dari orang Kris-tien pada Nabi Mohammad? Kita tiada mau hilangkan kepu-jian pada alim-Barat, yang sudah tegur kawannya sendiri kalu Nabi Mohammad dan qoran dicaci. Apatah halnya kalu darah Kangjeng Nabi, andai kata, tiada memangnya suti dari asal-usulnya! Yang kita heran ialah kurang terima kasihnyya, yang qoran sudah a ku Yezus khristus dan ibun-ya Maria, padahal cukuplah kalu politiek Islam aku saja lain rasu-rasul. Kalu andainya Nabi Mohammad tiada aku, apakah dikira pada zamman ini misih ada jua bangsa kita mau pelok agama yang punya kepercayaan prawan harus beranak dan satu sama dengan tiga? Di negeri Barat sendiri orang misih pikirkan apatah benar Nabi Isa a.s. pernah hidup di muka bumi, karana kuburnya atau bekas kuburnya belum ketemu yang pasti, padahal raja Tuth Ank Amon di-
Egypte, yang hideop 1375 tahun lebih dahulu dari Yezus, sudah pasti kuburannya, maka mustahil manusia yang blakangan dan yang dimuliakan lebih tinggi dari Keizer, tiada ketahuan bekas kuburnya, kalu memang benar Nabi, yang masyhur. Inilah baik jadi pengajaran bagi alim-Islam, yang sangka menyaksi-i kubur, tiada gunanya, karana tiada semua Moslimin berutak-udang, mau percaya cerita kosong! Apakah dikira saya juga mau percaya Nabi Mohammad rasuI klas I kalu tiada pasti kuburnya?
Barangkali baik juga saya nyatakan lagi di sini bagaimana antara Moslimin berselisih pikiran tentang kebiasaan kalu merayakan hari lahirnya Kg. Nabi, maka tengah membaca (menyanyi) berdirilah orang dari duduknya akan hormatkan peringatan Kg. Nabi, oleh karana di dalam nyanyian itu terselip lagu yang dipakai oleh pendudook kuta Medina tetkala Kg. Nabi dari Mekka (hijrat) sampai dikuta itu, sehingga lago e itu patut disamakan dengan lagu-kerajaan, kebangsaan atau keislaman. Apatah salahnya, padahal menurut adat sopan-santoon, lehibh pantas, kalu dengar lagu bagitu di tempat medan kerayaan, antiro orang yang hadlir banggun berdiri, memberi hormat (kenangkan), kalu memang caranya hormat “berdiri”. Bagaimanatah dunia Islam tiada mundur, kalu perkara demikian mau dikorik-korik, dan perkara lebih penting ditulak ke belakang! Baiklah ini juga jadi peringatan bagi guru-Islam yang sangka gending dan muziek haram didengar. Padahal yang penting haknya manusia, istimewa hak fakir-miskin dan anak-yatim.
Tentang saya punya paham di dalam ilmu tawhid ini, dapatlah saya taksir bagaimana murkanya ulama kuno, tetapi saya harap datangnya bantah dari pihak itu, jangan seperti alim yang biasa menyambit dari belakang, maka kalu beradu kitab dengan kitab, muka dengan muka, akal dengan akal, bersediaIah saya menyambotnya. Dan saya sudah mulai tulis “sebahagian” dari saya punya dalil-akal dengan huruf Arab bahasa Melayu akan dicitak, supaya jangan dikira saya mau sembuni dari mata ulama taokut dibantah.
Pada pembaca diharap kalu ada alim minta dalil-qoran tentang alam dikasih gerak jalan sendiri, kataIah: “hilangkan dahulu perasaan taokut pada ulama-besaar, yang disangka pegang kunci-syorga, barulah tilik qoran, niscaya didapatnya kata-kata ”fit hrah“ iaitulah yang saya maksudkan ”tha-beat aseli dan pasti“ (bukan maana zakat). Di sini saya tunjuk saja ayat yang bunyinya: ”welantajide-lisunnatil-lahi-tabdila.“
Sahadan tingkat ilmu yang penghabisan tinggi, iaitu “haqiqat” mesti i'tiqad “mustahil” didapat oleh makhluk, ha-nyalah Allah sendiri yang amat mengetahuI. Siapa i'tiqad makhluk harus dapat tahu “haqiqinya”, bukanlah itu i'tiqad Mumin-sejati; tetapi tiada pula gampang saja dikata kafir, fasik, atau munafik, kalu Mumin di dalam kliru. Dan itulah sebabunya saya namai buku ini “pengertian yang tiada dimengerti”, pegangan Mumin-Mutekhashish-Alim-Pikir-Islam-Sejati.
Demikian pula saya punya “tariqat” bukan seperti Naksyebandia, Rifaia (Ribangi), Syadilia, Samania, Syataria, atau Murtabat-tujoh, yang mengandung niat (theorie) bercin-takan Dzat-Allah-Taala, sama juga theorienya kepadian Kristen dan Budha.
Sampai di sini cukulplah kiranya saya tunjuk dalil-akal di dalam maana dzat-wajib-alwujud, iaitu keterangan akan mendapati iman yang lebih kuat dari aether, dari radium, Ataupun dari kapal-perang yang limbung di tengah laut. Boleh juga saya tambah dengan beribu dalil akal, tetapi tentulah kantong boleh pecah, sedang buku belum pasti lekas terjocal. Maka kalu kiranya, ada yang mau petik atau salin, tiada saya idinkan, karana saya sendiri mau siarkan dalam bahasa Arab dan lain bahasa. Maaflah!
Dan kalu andainya ulama yang baca atau dengar keterangan ini, malas membenarkan dan malas menyalahkan dengan “berterang” [karana barangkali takut yang tikus jadi berani sama kucing], inilah tiada mengapa, asal saja jangan menyalahkan dari belakang saya; dan kalu ada seorang guru, yang terkenal, mau kekerocyuk di hadapan murid-muridnya saja, Ataupun mau tunggu kalu sudah sampai di-akhirat, akan berscerak sama murid-muridnya, [dan sama saya punya kemanakan yang menumpang di-emper syorga], dari dalam syorga-baqa-aradhi, dengan ingatan girang mau tonton saya punya film dibakar di dalam api-naraka, apatah hendak dikata lagi, tetapi memang adat “Mumin-Sejati” berani dan ridho pula terima hukooman naraka kalu benar berdosa, karana yakin pada Keadilan hukoom-Allah. Maka berbedaan adat orang yang berasa alim sendiri, yang siang-malam hitung pahala, tentulah sakit hati kalu syorga tiada kekal selama-lamanya, dan tiada puas kalu lain pihak tiada kekal di dalam naraka, inilah adat yang saya tiada kuat bawa, karana terlalu berat ilmunya.
PENUTUP
MOTTO:
“Tiada didapat maana benar, sebelumnya kenal erti salah.”
(Maarifat)
Demikianlah lebih dahulu ada “pembuka”, barulah datang ”penutupnya” karangan, yang mengucap sukeer kepada Dzat Yang Pertama, disertai permintaan pada pembaca: janganlah kiranya membuka akal sebagai pengarang apabila berhadapan orang beragama, yang sudah ketahuan tipis akalnya, karana boleh merusakkan imannya; hanyalah (kalu andainya berguna), boleh pakai saja menyambut orang yang tak’bur, supaya mati kutunya, jangan menular.
Akhir-kalam, maulah saya kenangkan terima kasih saya, kepada ulama Almarhum t. Mufti Seyid Usman b. Aqiel b. Yahya, (Petamburan); t. Seyid Abdullah b. Alui Al-Atas, (Jati); t. Hi. Abdul Azis hfdpenghulo Betawi; t. Kiai R. Hi. Mohamad Isa, (Cianjur), t. Guru Cit (Pecinongan). Juge t. Seyid Ali b. Abdul Rahman Al-Habsyi, guru-besar, (Kwitang); t. Seyid Ali b. Ahmad Shahab dan putranya t. Abdul Mottalib (Betawi); t. Seyid Alui b. Thoha Alhadad, guru sekola Jemaat’lkhair, (Bogor); t. S. Ahmad Surkati, kepala-guru Al-Irsyad (Malang); t. Seyid Umar b. Alui Al-Atas (Jati) dan lainnya, yang apabila saya tanyai mas-alah apa juge, senantiasa dengan tuus ikhlas memberi jawabnya, maka Biarpun andainya tiada mempusakan kepada pikiran sendiri, tiadalah saya sanggup bales budinya. Dan juge pada t. Hi. Mohamad Marzuki (Mr. Cornelis) guru-specialist (mutekhashish) di dalam ilmu-akal dan muridnya t. Hi. Nyamat, yang jadi sebab saya dapat baca kitab guru itu “sifat duapuloh”, dan haraplah nanti disyorga ”baqa’-aradhi”, guru limpahkan 9% syefaat pada muridnya itu; serta 1% lagi pada kemanakan saya, Biarpun dia ini sudah putuskan sanak-kadang, maksud menghukum mamandanya di dunia-fana, karana bersalah kilru i’tiqad, tetapi ibunya, Swargi Bakayunda-‘marhum, sudara-sekandung amat cinta pada saya.—Sahadan lagi tuan-tuan yang lambat menantikan terbitinya buku ini, saya minta maafnya, karana hampir saja tiada diteruskan, lantaran pikir berat pekerjaaannya mengarang, dan tebalnya buku kalee dicitak, dibandingkan dengan harga-nya, maalumlah, kalee ayam kurang semburan, tentulah kendor pukulnya.
Batavia, 25 Augustus 1930.
Pengarang.
N.B. Kalu ada salah citak huruf sedikit, harap dimaafkan.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.