Baca EPUB (OCR): Hikayat Kompeni Orang Wolanda di Hindia Timur Ini

45 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 12 ms

Daftar isi
  1. HIKAYAT KOMPENI ORANG WOLANDA DI HINDIA TIMUR INI
  2. D. IKEN
  3. DAFTAR ISI
  4. Landmarks
  5. PENDAHULUAN
  6. WOORDENLIJSCE¹
  7. 1. Hikayat Orang Jawa daripada Purbakala
  8. 2. Orang Jawa Didatangi Orang Portugal
  9. 3. Bahwa Inilah Ceritera Betapa Orang Wolanda Datang ka Bandar Banten dengan Niatnja Hendak Berniaga dengan Orang Jawa
  10. 4. Sambungan, Iya Itu Pelayaran Orang Wolanda ka Banten
  11. 5. Maka Inilah Ceritera Beberapa Pelayaran Orang Wolanda—Van Nek, Van Waarwijk, Van Heemskerk—Houtman di Tanah Aceh
  12. 6. Pelayaran Yakob van Nek—Cordes dan Mahu—Yakob van Heemskerk—Wolfert Hermansz
  13. 7. Bahwa Inilah Ceritera Betapa Kompeni Wolanda Dijadikan
  14. 8. Bahwa Inilah Daripada Perang di Pulau-Pulau Ambon, Ternate, dan Banda
  15. 9. Bahwa Ini Daripada Tuwan-Besar P. Both dan L. Reaal, dan Lagi Pelayaran Skhouten dan le Maire
  16. 10. Tuwan-Besar J. P. KunNegari Betawi di Alaskan
  17. 11. Sambungan
  18. 12. Tuwan-Besar J. P. Kun Memerintahkan ka Duwa Kalinya. Negari Betawi Dikepungkan Susuhunan Mataram, Iyaitu Sultan Agung
  19. 13. Negari Betawi Dikepungkan Ka Duwa Kalinya. Tuwan-Besar J. P. Kun Mati 1629. J. Spex Dipilih Mengganti Dia
  20. 14. Pemerintahan Tuwan-Besar Antonie Van Diemen
  21. 15. Bahwa Inilah Ceritera Perkara, Yang Jadi Pada Samantara Pemerintahan Tuwan-Besar Van Der Lijn Dan Reiniersz
  22. 16. Pemerintahan Tuwan-Besar Joan Maatsuycker
  23. 17. SambunganPerang dengan Sultan Makassar
  24. 18. Hikayat Taruno Joyo Melawan Sultan Tegal-Wangi, dan Lagi Putera Sultan Itu Ditulung Kompeni
  25. 19. Pemerintahan Tuwan-Besar Rijklot van Guns 1678—1681, dan Lagi Pemerintahan Tuwan-Besar Cornelis Janszoon Speelman
  26. 20. Pemerintahan Tuwan-Besar Johannes Camphuis
  27. 21. Perang Pusakaan yang Pertama di Tanah Jawa
  28. 22. Perang Kapusakaan di Tanah Jawa Kaduwa Kalinya
  29. 23. Daripada Salinan Kitab Suci kapada Bahasa Melayu, yang Dibelanjakan Kompeni
  30. 24. Pemerintahan Tuwan-Besar A. Valkenier 1737—1741.Orang Cina Berdurhaka.
  31. 25. Tuwan-Besar G. W. Baron van Imhof 1743—1750, dan Tuwan-Besar J. Mossel
  32. 26. Perang Kapusakaan yang ka Tiga di Pulau Jawa. Karajaan Mataram Terpecah-Terpecah
  33. 27. Dari Peri Hal Kompeni Terbenam. Lalu Pemerintahan Tukong Pulau-Pulau Hindia-Timur Ini Disambut oleh Guvernement Tanah Holland
  34. 28. Pemerintahan Tuwan-Besar H. W. Daendels
  35. 29. Tuwan-Besar J. W. Janssens, Thomas Stamfort Raffles. Tanah Jawa Dialahkan olih Orang Inggris
  36. 30. Pemerintahan Sir Stamford Raffles
  37. 31. Tanah Jawa Dikombalikan kapada Raja Wolanda 1816. Tuwan-Besar Van der Capellen
  38. 32. Perang dengan Dipo Negoro
  39. 33. Pemerintahan Tuwan-Besar J. Van den Bosch
  40. 34. Perang di Tanah Sumatra
  41. 35. Perang dengan Orang Aceh
  42. 36. SambunganCeritera Perang
  43. 37. Bahwa dalam Fasal Ini Diceriterakan Segala Daya-Upaya yang Dilakukan Kompeni Hendak Merambakkan Agama Khristen
  44. SILSILAH NAMA TUWAN-BESAR
  45. DARI PRIHALSULTAN ATAU SUSUHUNAN MATARAM
  46. Susuhunan Solo
  47. Sultan Jogja
  48. UNCOPYRIGHT

HIKAYAT KOMPENI ORANG WOLANDA DI HINDIA TIMUR INI

D. IKEN


Logo Penerbit MasasilaM

HIKAYAT KOMPENI ORANG WOLANDA DI HINDIA TIMUR INI

karya

D. IKEN

PENGAJAR DI SEMINARI DI DEPOK



DIBELANJAKAN OLIH MAJELIS CENTRAAL-COMITEE



TERTERA DI TEMPAT CITAKAN

NYONYA JANDA J. TAK DENGAN ANAKNYA.

AMSTERDAM.

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: Der Kauffman (The Merchant) c. 1526, karya Hans Lützelburger after Hans Holbein the Younger

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



PENDAHULUAN

KAPADA MURIDKU

Adapon murid Seminari, yang sudah pulang katanah-nya, berkatahuan bageimana si pengarang kitab ini selang berapa tahun lamanya mengimlakan hikayat Hindia-Timur dengan janjinya, nanti kalau sudah habis, kamu dapat ini dengan tercitak, supaya lebih muda terbaca.

Hata, maka satelah sudah datang di tanah Wolanda hendak memperhentikan lelahnya, maka si pengarang itu bersadia hendak menyampeikan janjinya; akan tetapi dengan segera dilihatnya, terlalu banyak ditulis, amat muskil kapada muridnya hendak menarima dan bersimpan itu dalam kapalanya; sebab itu segala fasal, yang di imlahkan, disingkatkannya, menyadi sakarang, kitab ini saparohnya dari pada bekas kaimlaan. Sakarang si pengarang berharap, maka muridnya dengan gampang membaca kitab ini, dan lagi sempat muwat dalam kapalanya dan menyimpan dalam hatinya. Muga'an dengan berkat Allah, Bapa Tuhan kita pekerjaa'n ini berguna bayik kapada murid Seminari, dan bukan kapada murid Seminari sehaja, melainkan kapada segala orang, yang bersuka membaca kitab ini.

Muga'an salamat dan perdameian Tuhan kita Yezus Khristus turun kadalam hati kamu samowananya saka-lian. Amin.

D. IKEN,

AMSTERDAM, Januari 1893.


WOORDENLIJSCE¹

abid
godsdienstig, vroom.
ambat
hambat, nalopen, achtervolgen, trachten te vangen, ook: trachten te winnen.
anjur
menganjur, vooruitsteken, zoo als een kaap in de zee.
awei
teleurgesteld, met ledige handen ergens van afkomen.
bagan
ruwe schets; ook: bivouak.
balah
redetwisten.
bebat
den weg versperren.
Je pun
Japan.
jerat
graftombe.
juluk
menjuluk kata, uithooren.
junjung
menjunjung duli, hulde bewijzen.
juru
menjuru, besturen.
dugang
tegenhouden.
empang
den weg versperren, de rivier afsluiten.
fekur
terfekur, in overpeinzing verzonken.
garuk
ondergraven.
himat
berhimat tinggi, eergierig.
idap
mengidapkan, zich bezorgd maken over iets dat komen moet.
imla
dicteeren.
kelana
berkelana, zwerven; orang berkelana, zwerver.
katalum
bolwerk, bastion.
latih
onderwijzen, gewennen, onderrichten.
lolok
melolok, overrompelen, ‘s nachts, overvallen.
luput
ontsnappen, ontvallen.
langgar
melanggar ka pantei, op ’t strand zetten.
mara
vooruit, voorwaarts gaan.
mekis
uitdagen, uittarten.
mitar
richten.
pangkur
houweel.
patutan
herpatutan, het eens worden.
pekak
Oost-indisch doof.
pencil
alleen raken van schepen.
rambak
merambakkan agama, den godsdienst verbreiden.
rambang
pukul merambang, in ‘t honderd slaan.
rebut
merebut, met zijn velen om ’t zeerst trachten meester te worden.
sadia
afkomst.
Sailan
Ceilon.
sayugia
bersayugia, verplicht.
sakal
tegen, van den wind.
sanggam
in bruikleen geven of hebben.
sangkun
stevig, stout, ferm.
sebal
teleurgesteld.
selamba
onbeschaamd, brutaal.
sembuyan
alarmsein.
serepih
geknakt, van een tak, een stok.
sergah
afsnauwen.
sukat
tenzij, niet voordat, mits.
susuk
menyusuk kota, eene stad aanleggen.
tama‘
begeeren.
tahbiskan
inwijden.
tampil
menampil, voorwaarts rukken.
tampuh
tegen iets aanstormen.
tangkas
vlug van beweging.
tega
menegakan agama islam, den Mohammedaansche godsdienst invoeren; menegakan mesjid, moskee bouwen.
temperas
hier en daar verstrooid.
terenak
orang terenak, inboorlingen.
cebak
loopgraven maken.
cencala
een hoogen toon vuren.
cetek
ondiep.
ceti
orang ceti, een schraper.
cucu-cerca
beleediging.
tunjang
stut, schuine stut.
turus
steunpilaar.

¹ Voor het gemak van den Hollandschen lezer geef ik hier enige niet-alledaagsche Maleische woorden, die in dit bukje voorkomen.


1. Hikayat Orang Jawa daripada Purbakala

Sabermula, ada ceritera orang Jawa, yang menyatakan, maka tanah Jawa ini terdehulu dikadiami oih orang, yang dikirim Sultan Rum, empat laksa orang laki-laki dan perampuan banyaknya, maka orang empat laksa itu dibunuh oih segala raksasa dan jin dan syeitan, yang berduduok pada kutika itu di tanah Jawa, dikacuwalikan empat puluh orang, yang pulang ka negari Rum, hendak mewartakan segala halahuwal itu. Satelah itu Sultan Rum menyeruh beberapa ulema, hendak mengusir raksasa dan jin itu dengan mantera dan pustaka dan rupa³ hobatan, lalu dikirimnya pula empat laksa orang ka tanah Jawa, yang berduduck di sini dengan senang santosa; demikianlah usul-asalnya orang Jawa. Demikianlah diceriterakan cahibu'lhikayat; tetapi ceritera ini dongeng sahaja.

Bermula, maka pulau Jawa ini, didatangi dehulu kala oih orang Hindu, yang datang dari tanah Hindu-stan. Maka orang Hindu menyebut pulau ini: Jawa Dwipa, artinya pulau Jawa, rupanya sebab ada bertumbuh di pulau ini banyak jawawut atau randa jawa. Maka berulang-berulang banyak orang Hindu, datang kamari, lalu menaelok orang terenak atau orang bumi; kira-kira pada abad yang ka 9, tarikh Mesehi.

Ilata, maka dari dehulu sampei sakarang ini ter- kadang orang mendapat batu atau papan-tembaga, yang terlukis dengan hurut, yang amat muskil terbaca, tetapi ada orang berilmu, yang bersampeian membaca dan menerangkan artinya lukisan itu. Sebab itu maka orang, yang hidup sakarang, berkatahuan, orang Hindu pertama-pertama menaalok tanah Jawa ini.

Maka di papan itu dilookiskan nama raja atau Dewa-agung (raja mulia) dan perintahnya.

Hata, maka kecuwali dari pada itu ada banyak candi dan bekas-negari dan bekas-jalan, yang memberi tahu, orang Hindu itu amat pandei membangunkan tembok dan candi, dan lagi memahatkan patung, dan memperbuwat saluran-ayer d. l. s. Adapon bekas-kota dan candi orang Hindu itu masih terdapat di gunungen Dieng dekat gunung Perahu. Maka di situ bekas-negari dan bekas-jalan dan bekas-saluran-ayer; dan lagi dekat negari Kuto-Arjo, di resedinan Banyumas ada juga; lagipula di residenan Kedu ada candi Mundut dan Boro-budur. Dekat gunung Ungaran ada candi Sanga; di Solo ada candi Prambanan, candi Lumbung, candi Sewu, yang amat bagus sakali; di gunung Wilis ada candi Penampikan. Lagipula di residenan Surabaya dekat Mojo-Agung ada bekas kota dan astana Dewa Agung iya itu Mojopahit; lagi di Banyuwangi dekat Balambangan ada juga bekas-kota.

Adapun di tanah Sunda ada karajaan Pajajaran, yang dekat negari Bogor. Sebab itu maka dekat negari Bogor terdapat juga banyak bekas iya itu dekat Batu-tulis; di tanah Priangan dekat Bandung dan dekat Sumedang; di residenan Cirebon dekat negari Galuh d. l. l.

Kalakian, maka agama orang Hindu itu iya itu agama Visnu atau Ciwa dan agama Buddah. Sebab itu maka banyak patung Buddah dan Ciwa di dapat. Maka agama itu odoh dan nejis sakali, sebab itu adat orang

Jawa dari dehulu-kali odoli juga; lagi pula tabiat, pekerti orang Jawa dari dehulu-kala iya itu berseoka membalas; jikalau saorang dicela, dicuca, di malukan atau dicerca, maka hatinya tiada terpuwas sabelomnya kahinaan itu dibalas, terkadang dengan membunuh orang pencela itu.

Akan tetapinya kalakuan dengan orang Hindu itu amat bergeona juga, kapada orang Jawa. Maka di latihkannyalah kapada orang Jawa kapandeian yang amat bergeona, iya itu tanam padi, karena bukan dari memang padi bertumbuh di sini, dan lagi ditanamnyia kapas; lagipula orang Hindu membawa di sini karbau dan kambing. Tambahan pula dilatihkannya kapada orang Jawa meluku, menggaruk, menyawahikan, bertenun, melukis batu dan membakar batu-bata. Lagipula orang Jawa yang pada tatkala itu berani berlayar ka barangmiana; ka bandar Malakka, ka tanah Cina, kapulau Maluku d.l.l.; dan lagi orang Jawa, yang memang, dikumpulkan orang Hindu mengadiami desa dan kampung. Bahwa senya orang Arab dan agama Islam mengobahkan juga hadat orang Jawa, tetapi rupanya perobahan itu tiada terlalu makan, ada sarupra tembok, yang di la-burkan kapur, rupanya puti, tetapi apabila kapur itu dikikis, kalihatan lagi tembok itu, demikian juga adat orang Hindu itu, masih sakarang hrebayang-hrebayang juga dari segala adat-kalakuan orang Jawa ini.

Syahadan, maka pada permulaan abad yang ka 45 iya itu, kira-kira 1400, ada di tanah Jawa karajaan besar Mojopahit namanya. Maka raja itu memerintahkan saluruh tanah Jawa, akan tetapi bukan sendiri, ‘melainkan ada saorang raja yang maha-tinggi, dan lagi ada raja muda atau punggawa yang di bawah Raja-Agung itu. Maka punggawa itu bersawaka atau bersakei kapadanya. Maka tiap-tiap tahun punggawa itu bersayugia menghadap Maha-Raja itu hendak menjunjung duli. Demikianlah ada raja Doho, raja Bowerno, raja Singo-Sari, raja Balambangan, di Banyuwangi, lagi pula raja Prambanan.

Saber mula, maka salah pada tahun 1350 atau 1400 (tarikh Mesehi) saorang Arab yang bernama Maulana Malik Ibrahim. Maka Maulana Ibrahim itu berduduk dengan kawannya di negeri Leren dekat Gresik, maka di situ dikhabarkannya agama Islam dan menegakan mesjid; maka matilah Maulana Ibrahim itu tahun 1419. Maka jeratnya¹ masih ada di negeri Gresik, tempatnya Gapura Wetan namanya; maka yang ini wali yang pertama³ menegakan agama Islam di tanah Jawa.

Syahadan, kemudian dari pada itu datang raja Cermin, yang bertuntut mengambatkan hati raja Mojopahit, Angko Wijoyo namanya, hendak menarima agama Islam, tetapi cuma-cuma, karena kulawarga raja Cermin itu jatuh sakit, dan sebab itu raja Angko Wijoyo takut menarima agama beharu itu.

Syahadan, maka Wali yang kaduwa, yang menegakan agama Islam, iya itu Raden Rahmat yang bergelar Sunan Ngampel.² Adapon Raden Rahmat itu anak orang Arab, yang beristeri dengan puteri raja Campa.³ Maka sudara bunda Raden Rahmat itu bersuwami dengan Angko Wijoyo Maka satelah Raden Rahmat sampei kapada umurnya 20 tahun, maka bundanya menyeruh dia dengan hadiah kapada raja Mojopahit. Maka Raden Rahmat itu ditarima dengan bayik olit sudara bundanya serta dengan suwaminya, akan tetapi di enggan Angko Wijoyo menarima agama

Islam, melainkan di anugrahakannya pemerintahan atas tiga ribu cacah dekat negari Ngampel; maka sebab itu Raden Rahmat bergelar Sunan Ngampel. Maka dengan rajin sunan Ngampel merambakkam agama Islam, ditulung oih hambanya dan anaknya, karena Angko Wijoyo telah menganugrahakannya anak manterinya.

Maka Raden Rahmat itu mati pada tahun 1467, demikianlah di lukis dalam batu-kulhuranya di Surabaya.

Maka dengan sakian ini negari Ngampel termasyur, dan banyak orang Arab datang kasitu. Ada juge saorang, Maulana Isaak atau Ahlu'l Islam namanya, yang datang mengunjungi Sunan Ngampel itu; maka Maulana Isaak disuruh kapada raja Balambangan, yang menarima dia dengan bayik. Maka puteri raja itu kena sakit, lalu disembuhkan dengan per-tulungan Maulana Isaak itu, sebab itu maka raja menganugrahakan puterinya kapada Maulana Isaak itu. Akan tetapinya satelah berapa lamanya raja Balambangan berbantah dengan menantunya, lalu Maulana Isaak pergi, meninggalkan isterinya yang hamil itu. Maka selang berapa lamanya isteri Maulana Isaak beranak; maka pada kutika itu karajaan Balambangan kena sakit sampar, maka dikatakan orang, karajaan Balambangan katulahan bapa anak ini, lalu disuruh raja membuwang anak itu ka dalam laut.

Adapon dengan takdir Allah taala anak itu tiada mati, melainkan dipungut oih saorang sudagar, yang membawa dia ka negari Gresik. Ialu kanak itu di asuh. kan oih saorang perampuan yang kaya sampei u-murnya datang kapada 12 tahun, lalu dibawanya itu kapada Raden Rahmat. yang menyeboot kanak itu Raden Paku; maka katanya kanak ini nanti Paku agama Islam di tanah Jawa.

Hata, satelah berapa lamanya, maka Raden Paku berlayar hendak nayik haji. Maka di tengah jalan itu Raden Paku dan Makhdum Ibrahim, ananda Raden Rahmat itu, bersinggah di bandar Pasei, lalu berjumpa dengan Maulana Isaak atau Maulana Ahlu'l-Islam yang bertapa di situ. Maka orang pertapa tiada mengenal anaknya, maka diceriterakannyalah kapada syeikh itu, maka kahendaknya nayik haji, tetapi dinasihatkannyalah kapada orang muda itu katana: jangan nayik haji dehulu, melainkan pulang kapulau Jawa, karena angkaualah menegakan agama Islam di tanah Jawa. Maka pulanglah orang muda itu, lalu menceriterakannyalah segala hal ahuwal itu kapada Raden Rahmat. Maka dikatakan Raden Rahmat itu: Adapon syeikh itu iya itu ayanda Raden Paku, yang dehulu beristeri dengan puteri raja Balambangan, bayiklah kamu menengar dan menurut bicaranya.

Maka Raden Paku itu pergi berduduk di negari Giri, lalu menebas hutan dan menegakan di situ sabuwah mesjid, lalu beribu-beribu orang datang dan menarima agama Islam, dan Raden Paku itu dia-kukan Sunan Giri, dan lagi satelah Raden Rahmat mati, maka Raden Paku dilantik Sunan Giri, dan Ngampel. Maka putera Sunan Ngampel pergi ka Bonang dekat Lasem dan mengalaskan karajaan Bonang, maka kuburnya masih di Tuban. Maka putera Sunan Ngampel yang layin pergi ka Derajat, dekat negari Sidayu, lalu dilantikkan Sunan Derajat. Kemedian dari pada itu agama Islam ditarima juga oih orang Madura.

Bermula, maka pada samantara itu ada saorang syeikh yang bernama Nuru'd din Ibrahim ibn Maulana Israel yang datang dengan kapalnya dekat Cirebon, lalu berduduk di situ. Maka diceriterakan orang, bahwa syeikh itu menyembuhkan saorang perampuan, yang sakit kusta, dan oih karena itu beratus3 orang pertiya kapadanya dan menarima agama Islam. Maka Adipati, yang dekat Cirebon, mencoba juga menulak agama beharu itu, tetapi bertiwas; maka sebab itu dia orang menarima juga agama Islam, iya itu: Adipati Galeh, Adipati Sukapura, dan Adipati Limbangan, maka dengan sakian itu syeikh itu dilantik Sultan Cirebon. Maka syeikh itu mati dan maitnya dikuburkan di Gunung Jati, lalu ditegakan astana, tempat kuburan itu, yang masih ada sampei sakarang ini.

Bermula, maka pada samantara itu 2 putera Sultan Palembang berlayar ka Ngampel, maka nama duwa putera itu Raden Patah dan Raden Kusen. Maka Raden Kusen itu menghadap raja Mojopahit, lalu ditarima dengan bayik dan diangkat raja itu menjadi hulubalang. Maka Raden Patah beristeri dengan cucu Sunan Ngampel, lalu pergi ka Demak dan mengalaskan karajaan di situ dengan maksudnya melawan raja Mojopahit. Akan tetapinya raja Mojopahit itu menyeruh Raden Kusen memanggil dia hendak menghadap raja. Maka satelah Raden Patah menghadap raja, maka Raden Patah itu dikaruniakan amat banyak sakali, lalu pulang ka Demak. Sebab itu maka bicara Sunan Ngampel katanya: jangan membalas bayik dengan jahat, jangan melawan raja itu, lagi pula iyalah nenendamu; maka oih karena itu Raden Patah tiada melawan raja Angko Wijoyo itu. Hata, satelah berapa lamanya Sunan Ngampel mati dan raja Mojopahit Angko Wijoyo mati juga, sebab itu Raden Patah terlepas, tiada ditambat lagi. Maka bermuwafakatlah iya dengan 7 Wali di negari Ngampel iya itu Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Jajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Ngundung, (Kudus) Sunan Kali Jaga dan Sunan Ngampel. Maka Raden Patah bertujuh Sunan itu berangkat ka

Demak, lalu menghabiskan dehulu mesjid. Satelah sudah itu, maka dikerabkannyalah tantaranya, lalu melawan raja Bro Wijoyo. Maka tantara orang Islam dikapalakan oih Sunan Ngundung dan balatantara raja Mojopahit dikapalakan oih Raden Kusen.

Hata, maka selang empat tahun lamanya orang berperangan dan orang Islam bertiwas; lagi pula Sunan Ngundung mati dibenuh dalam perang itu. Akan tetapinya Raden Patah tiada putus harapnya, maka diam-diam dikerabkannyalah balatantara sampei berkumpul beribu-beribu banyaknya; maka dengan tantara itu laskar raja Mojopahit dipertiwaskan dan negari Mojopahit dialahkan, tahun 1478. Maka negari Mojopahit di jarahkan, ditumpas dan dibakar, dan lagi. alat-karajaan serta dengan segala harta benda dirampas, dibawa ka Demak. Adapon Raden Kusen itu iya lari ka Trenggalek dekat Sido-Arjo, tetapi dialahkan juga dan dibawa tawanan di hadapan kakandanya Raden Patah itu. Maka Raden Patah itu menarima adindanya dengan bayik; lagi pula diangkatnya Raden Kusen menyadi hulubalang dan pangeran Kudus. Adapon orang Hindu, yang dialahkan itu, lari ka Malang di Pasuruan dan berhim pun di situ, hendak melawan tantara orang Islam, tetapi bertiwas lagi, dialahkan oih Raden Kusen 1481.

Kemudian dari pada itu orang Hindu, yang danjur oih Adipati Gugur (putera Bro-Wijoyo) lari ka Balambangan, lantas menyaberang ka pulau Bali. Maka sampei sakarang ini orang Bali tiada menarima agama Islam, tetapi masih beragama agama Buddah.

Sabermula, maka di Banten agama Islam ditegakan oleh putera Sultan Gunung Jati, Maulana Hassanu'eddin namanya, maka beratus orang Banten menarima agama Islam, lalu Hassanu'eddin pergi ka Demak menulung Raden Patah, melawan raja Mojopahit; satelah itu maka iya pulang ka Banten. lalu menyaberang selat Sunda dan menaalok tanah Lampong serta dengan pantei barat sampeika Bangkahelue. Satelah itu Maulana Hassanu'eddin melangkapkan balatantaranya hendak melawan raja Pajajaran. Maka raja Pajajaran bertiwas juga, karena Hassanu'eddin dibantukan dengan tantara Raden Patah 1481.

Demikianlah diceriterakan cabibu'lhikayat, tetapi ada terang juga, maka di sini dongeng tercampur dengan kabeneran; akan tetapi bayiklah sipembaca itu memeriksa sendiri apa yang benar dan apa yang dongeng. Maka di negari Demak dan di negari Kudus, di Kadilangu, di Tuban dan di Cirebon masih ada kuburan sunan-sunan yang melawan orang Hindu dan menegakan agama Islam di tanah Jawa ini.

Hata, maka samenjak itu karajaan Sultan Demak berkuwasa atas saluruh tanah Jawa sampeka Banten. Akan tetapinya kemudian dari pada itu, sapeninggal Sultan Raden Patah itu, Punggawa dan Adipati yang bergantung kapada karajaan Demak itu makin berkuwasa, dan kuwasa Sultan Demak makin kendur. Sebab itu datangnya, Adipati Pajang dan Pangeran Banten dan Pangeran Jokerto dan Panembahan Cirebon dan Adipati Kediri dan Adipati Samarrang dan lagi Panembahan Mataram juga erlepas dari pada kuwasa Sultan Demak. Adapon Panembahan Mataram yang memerintahkan segala jajihan di tengah tanah Jawa, tempat sakarang karajaan Solo dan Jug- ya itu, makin bertambah kuwasanya, Maka berturut-berturut an ditaaloknya segala Sultan dan Adipati dan Panembahan, yang layin dan pada akhirnya Sultan Demak bertiwas juga dari pada Panembahan Mataram itu. Maka dari pada tahun 1570 sampei kapada tahun 1629 tiada saorang Raja atau Sultan, yang dapat mengembarikan dia. Melainkan berkeciwalah iya mengalahkan negari Betawi dan mengembarikan kuwasa Kompeni. Hata, maka pada kutika itu didapatnya nama Susu-hunan dan Sultan. Maka Sultan yang amat berkuwasa itu iya itu Sultan Agung. Nanti hikayat itu diceriterakan juga adanya.

¹ Jerat artinya: batu kuburan.

² Adapon Ngampel itu sakarang disebut Surabaya.

³ Maka karajaan Campa dekat sungei Kamboja di tanah Siam.

Maka Sultan Palembang iya itu putera Angko Wijoyo, yang sudah menarima agama Islam.

Maka pada samantara Wali berdelapan itu berkumpul, diturunkan dari sorga kulit domba dengan selimut hiju, bagei penganjur balatantara. Maka selimut itu didapat oih Sunan Ngundung; demikianlah diceriterakan yang empunya ceritera itu.


2. Orang Jawa Didatangi Orang Portugal

Sabermula, maka pada samantara orang Arab merambakkan agamanya sampei ka pulau Jawa, maka orang Portugal meluwaskan kuwasanya sampei ka Hindia. Sipembaca tahu barangkali, orang Portugal mengadiami tanah, yang pada sabelah selatan-daya benuwa Airopah, dan lagi apabila marika-itu menyaberang laut, maka bersampei ka benuwa Afrika. Maka orang Portugal merantau pantei sampei tanjung Non, yang menganjur amat jauh; maka kasangkaan marika-itu, ada di situ ujung bumi; maka saorang pun tiada berani meliwat tanjung itu, katakutan dibinasakan jeega. Sakali peristiwa sabuwah kapal di tulak angin amat jauh, lalu sampei ka pulau Madeira. Satelah sudah liwat tanjung Non, maka orang Portugal berani juga merantau pantei barat benuwa Afrika, makin iama makin jauh sampei datang kapada tahun 1486.

Maka pada tahun itu saorang juragan ditulak angin amat jauh tiga hari tiga malam lamanya; satelah angin tedu, dicobai memgampiri pantei, tetapi tiada dapat, maka sakarang dilihatnya, ujung benuwa Afrika telah terlintasi. Maka kahendaknya berlayar lagi sampe ka Hindia, tetapi khalasi itu menegahkan, sebab itu pulanglah iya katanahnya. Satelah sudah sampei, maka dihadapkannya raja, lalu diceriterakannyalah segala halahuwal pelayaran itu, dan lagi ujung Afrika disebutnya O ed yo e ng - Tufan. Maka titah raja bukan ujung-tufan, melainkan O ed yo e ng Pengharapan namanya, karena sakarang kita harap, mendapat dengan lekas jalan ka Hindia-timur dengan berlayar. Maka nama juragan itu Bartolomeus Dias namanya.

Maka kendatilah yang ini, masih 12 tahun lamanya sabelomnya orang Portugal mendapat berlayar sampei ka Hindia-timur, iya itu sampei datang kapada tahun 1498. Maka nama juragan yang pertama berlayar ka Hindia iya itu VascodeGama, dan nama bandar, yang pertama kadatangan orang Portugal iya itu Kalikut di pantei Malabar.

Hata, satelah itu orang Portugal beratus-beratus banyaknya berlayar ka Hindia dan raja Portugal menyouruh tuwan-besar iya itu wakilnya hendak memerintahkan di sana. Maka nama wakil raja yang termasyhur iya itu Cabral, Albukerke dan d'Ameida. Maka saperti api lakunya demikian kuwasa orang Portugal melarat. Maka pada tahun 1512 iya itu empat belas tahun kemudian dari pada kadapatkan tanah Hindia, maka orang Portugal mengalahkan bandar Malaka iya itu negari yang amat kuwat. Ada pada kutika itu tiga bandar besar dan kuwat, yang sarupra ibu sega'a bandar pelabuan, yang di ampunyai orang Portugal, iya itu Ormus, Goa dan M a ‘ aka.

Hata, maka dari pada bandar Malaka tuwan-besar orang Portugal d'Albukerke namanya menyouruh juragan berlayar lagi hendak cahari pulau layin, talu kadapatkan pulau Maluku 1518. Maka pada pelayaran itu orang Portugal bersinggah di bandar Gresik, di bandar Sidayu dan lagi didoduknya juga di bandar Panarukan 1518. Akan tetapi ada juga kapal yang belayar ka Japara, sebab orang Japara pada kutika itu beramei berniaga dengan orang Malaka; bahwa senya orang Malaka ditelung orang Japara hendak melawan orang Portugal, tetapi bertiwas juga adanya.

Kalakian, maka bandar yang amat banyak didatangkan orang Portugal iya itu bandar Banten, karena bandar Banten pada kutika itu amat besar, lagi beramei-beramei orang biaperi; lagipula orang Portugal telah membusukkan namaanya di Japara, di Tuban dan di Madura. Maka berjanjilah orang Portugal dengan Pangeran Banten nanti segala lada, yang bertumbuh di dalam karajaannya, dan yang di bawa ka bandar Banten, di juwal kelak kapada orang Portugal, lagipula orang Portugal berolih idzin hendak membangunkan gedung, sarupea gudang bagei segala perniagaan, yang akan berhim pun di situ.

Maka Pangeran Banten berjinak3 an dengan orang Portugal sebab harapnya nanti orang Portugal menulung dia melawan orang Islam, karena Sultan Banten orang Hindu, yang beragama agama Buddah; maka pulanglah orang Portugal ka tanahnya. Hata, satelah berapa lamanya sudah datang kapada tahun 1571, maka orang Portugal kombali ka Banten dengan maksudnya membangunkan gedung, dan membli ladang satuju perjanjian yang dehulu, akan tetapinya Sultan Banten telah dialahkan oih orang Islam, yang tiada mau menarima orang Portugal, maka keciwalah orang Portugal, lalu pulang. Hata, satelah berapa lamanya telah sampei kapada tahun 1545 marika-itu kombali lagi kabandar Banten. Maka Pangeran Banten disuruh Sunan Demak datang dengan tantaranya berperang dengan orang Hindu. Maka orang Portugal dipersilakan mengikut berperang menulung Pangeran Banten. Maka orang Portugal 49 orang banyaknya mengikut, sebab harapnya nanti berjinaq pula dengan orang Banten. Akan tetapinya perang ini tiada heruntung kapada orang Islain; maka Sunan Demak dibunuh olil bantaranya, lalu segala tantara orang Islam tercerei-berel masing-masing ka rumahnya, lalu orang Portugal kombali ka Banten. Maka rupanya orang Portugal berjinakan dengan orang Banten, sampe kutika orang Wolanda datang juga ka Banten, iya itu tahun 1596, yang diceriterakan kelak.


3. Bahwa Inilah Ceritera Betapa Orang Wolanda Datang ka Bandar Banten dengan Niatnja Hendak Berniaga dengan Orang Jawa

Sabermula, maka segala nacib, paminta, untung-malang orang manusia masakan tiada dengan maksudnya betul, karena samuwanya itu ditakdirkan dan dipimpinkan oleh Allah taala juga adanya.

Syahadan, maka dengan sademikian juga segala halahuwal peminta bangsa dan kaum saluruh bumi dihentarkan dan dipimpinkan oleh Allah saperti masing orang juga; maka seringkali ada perkara, yang sarupa karogian, tetapi dengan berkat Allah kasoodahannya dijadikan utung juga. Maka perkataan yang benar ini akan di nyatakan dengan ceritera, yang hendak diceriterakan di bawah ini.

Bermula, maka satelah didengar olih segala bangsa dan kaum di benuwa Airopah, maka orang Portugal telah membeli pelbagei dagangan dari pada tanah Hindia hendak menjuwal itu kapada barang siapapon, maka orang Wolanda berlayar juga ka Lissabon iya itu ibu-negari karajaan Portugal hendak membli rupa3 dagangan, karena dari dehulu kala orang Wolanda beramei-beramei berniaga dengan orang Portugal, maka duwa bangsa itu berjinak³an, melainkan dengan orang Hispanye orang Wolanda berperang amat galak sakali delapan puluh tahun lamanya.

Hata, maka datang kapada tahun 1580 raja orang Portugal mati, dan lagi tiada tinggal putera lagi melainkan anak-sapupu, yang dapat mengganti dia, maka yang amat kuwat antara segala anak-sapupu iya itu raja Hispanye, Filips II. Maka disuruhnya huluba-langnya Alva menaalok karajaan Portugal, yang diperbuwaca juga. Maka sakarang raja Filips amat bersuka-hati, sebab kuwasanya bertambah, dan lagi dengan gagahnya bersampeian juga memaksa orang Wolanda. Maka pertama dilarangnya orang Wolanda berniaga lagi dengan orang Portugal, maka titahnya: Segala kapal orang Wolanda punya, yang bersinggah di pelabuan di karajaan Portugal dan Hispanye di mana³, dirampas kelak, dan lagi orang, yang menumpang kapal itu, di belunggui dan dibuwang berdayung di ghralai (kura-kura) dan demikian diperbuwatnya juga. Maka banyak kapal orang Wolanda dirampas olih hamba raja Filips, dan orang, yang menumpang kapal itu, di buwang beratus-beratus banyaknya.

Hata, satelah didengar itu olih orang Wolanda, maka dirasainya amat banyak susah, karena banyak orang dapat kahidupannya dengan hal berniaga, dan lagi sadikit orang berani lagi berlayar ka negari Lissabon. Maka ada orang yang mencoba mencehari jalan layin ka Hindia timur; maka katanya: bilamana kita berlayar merantau pantei octava tanah Noorwegen dan tanah Rus dan lagi menerusi Laut-Beku-Utara sampei Selat Behring, lalu melintas selat itu, maka kita mendapat Laut-Tedukh; lantas dengan berlayar terus ka salatan dan arah ka selatan-daya, maka kita bersampei kapada segala pulau Hindia-Timur. Maka de-

Orang Wolanda mencahari jalan ka Hindia Timur ngan sabenarnya jalan ini bayik juga, tetapi oih karena ayar-beku kapal tiada bolih berlayar di Laut-Beku; sampeii sakarang ini orang mencoba, tiada dapat. Maka tiga kali orang berlayar ka utara amat jauh juga, tetapi ditegahkan oih ayer-beku yang amat banyak. Adapon pada kalinya yang ka tiga sabuwah kapal, yang dijurui oih Yakob van Heemskerk dan Willem Barends, tersepit oih ayer-beku, pecah, maka dengan bekas-kapal, yang rusak itu, anak kapal membangunkan rumah atas sabuwah pulau yang berdekat, Nova Sembia namanya. Maka amat banyak kasakitan dirasai orang itu oih karena kadinginan, sebabnya tiga bulan lamanya matahari tiada terbit di sana, maka malam yang di sana tiga bulan lamanya dan lebih lagi. Satelah berapa bulan lamanya maka orang, yang masih hidup, karena saparohnya sudah mati, merantau dengan sampan sampeii ka Laut-Puti h; maka di situ marika-itu ditumpangi kapal besar, lalu pulang ka tanah Wolanda. Maka samenjak itu orang Wolanda tiada mencoba lagi berlayar ka Hindia-timur dengan menruskan selat Behring.

Bermula maka pada samantara itu ada juragan layin, yang berani berlayar ka Lissabon hendak menjuluh kata orang Portugal, iya itu juragan, yang telah berlayar ka Hindia-timur, supaya di latihkan jalan ka Hindia, dan lagi dicobyainya membeli peta dan gambar penunjuk jalan di laut. Maka lama³ juragan itu, Houtman namanya, berduduk di Lissabon, dan sebab itu besar hutangnyia, maka dikirimnya surat ka hendeinyia di negari Amsterdam seraya katanya: apabila hendeiku hendak menunggang segala hu-tangku, maka insya Allah, kucakap mencehari jalan berlayar ka Hindia-timur. Maka beberapa sudagar, yang bertolai dengan Houtman, bemuwafakat mengumpulkan duwit, yang dikirimnya ka Lissabon, maka Houtman pulang. Satelah sudah itu dilangkapkannya kapal empat buwah banyaknya, maka kapal itu di jurukan oleh Cornelis Houtman dan Pieter Keyser. Maka segala perkara dengan hal berniaga diamatkan kapada Houtman, dan Keyser mengapalakan orang khalasi. Maka kapal itu berangkat dari pulau Tessel, bulan April, tanggal 2, tahun 1595. Maka pelayaran itu bukan dengan segara, sebab belom biasa, dan lagi duwa kapala iya itu Keyser dan Houtman berbantah juga, karena Houtman saorang bantahan dan congkak dan sombong, Maka orang bersinggah di pulau Madagascar, karena banyak orang kena sakit, lalu berlayar terus ka selat Sunda, maka di situ Keyser mati, sebab itu Houtman sendiri menjurukan pelayaran itu; entah yang ini sebabnya juga pelayaran yang pertama ini kurang beruntung dan berlaba. Maka pada bulan Yuni, tanggal 23, tahun 1586 orang Wolanda berlabu dibandar Banten. Bayiklah diceriterakan itu pada pelajaran yang ikut.


4. Sambungan, Iya Itu Pelayaran Orang Wolanda ka Banten

Adapon pelabuan Banten itu, dengan satampannya pada kutika itu, dan beramei-beramei biaperi dan kapal dan perahu, bayik orang Keling bayik orang Cina punya, berlabu di situ; lagi pula orang Portugal berulang-berulang pergi-datang dari Banten ka Malaka. Entah inilah sebabnya orang Wolanda pertama-pertama berlabu di situ, entah sebabnya bandar Banten berdamping selat Sunda. Lagipula saorang Wolanda Van Linskhoten namanya, yang menumpang kapal orang Portugal, telah bersinggah di situ, lalu mengarang kitab yang mence-riterakan segala halahuwal pelayarannya dan segala prihal pelabuan Banten.

Hata, maka pada kutika orang Wolanda datang ka Banten, maka Pangeran Banten beharulah mati dibenuh dalam perang dengan Sultan Palembang. Maka Mangkubumi, yang memegang perintah pada kutika itu, ganti putera Marhum Pangeran itu, dengan segera mencoba membujuk orang Wolanda, supaya marika-itu menulung akan dia berperang dengan Sultan Palembang; akan tetapi pekaklah orang Wolanda, tiada mau berprang dengan orang Palembang. Kendatilah itu orang Wolanda ditarima dengan bayik. Maka didapatnya idzin hendak berniaga, dan lagi dipero-lihnya rumah, supaya membli-juwal di situ, 14 Yuli. Maka orang Banten dan orang Wolanda berjinaikan sampeii 28 Augustus, maka tiba-tiba timbul cideraan; rupanya orang Banten bersangka-bersangka dengan orang Wolanda, sebab dia orang mendugakan pelabuan, dan lagi kapala-kapala orang Wolanda kurang sopan dan kurang menghormatkan Mangkubumi. Maka tiba-tiba segala orang Wolanda, yang telah turun kadarat itu ditangkap dan dipanjarai, bahwa senya Cornelis Houttm an juga,dan lagi segala dagangannya dirampas juga. Maka orang, yang menumpang kapal itu, amat marah, lalu mengganggu orang Banten, yang didapatnya; bahwa senya ditembakinya dengan mariam akan negari Banten itu. Maka pada akhirnya cideraan dan perbantahan itu diseleseikan. Maka orang Wolanda membayar 2000 ringgit, lalu Houtman dengan temannya dilepas, dan dagangannya dikombalikan.

Ilata, maka orang Portugal melihat dengan suka-hati orang Wolanda dan orang Banten berbantah-berbantahan, dan lagi dicobainya pula mengasut orang Banten seraya katanya: Bukan orang ini sabangsa di antara segala bangsa Airopah, melainkan pekumpulan orang perompak, yang berdur-haka melawan raja kami. Maka dia orang tiada datang membli-juwal, tetapi merampas-merampas sahaja. Ada saorang Portugal, yang telah datang dari Malaka, hendak mengasut orang Banten, karena katakutan orang Portugal, nanti orang Wolanda menulak akan dia orang. Maka orang Banten percaya akan orang Portugal, sebab itu tiada mau lagi berniaga dengan orang Wolanda; maka orang Wolanda marah dan merampas duwa perahu di bandar Banten dan sabuwah kapal dari Banyermasin, lalu membongkar sauhnya, lalu pergi. Maka kata orang Banten: benarlah khabar orang Portugal, bukan orang ini orang biaperi, melainkan orang perompak. Syaha-dan maka orang Wolanda bersinggah di Jokerto, tetapi tiada ditarima, dan barang mana dia orang datang, maka sudah terdehuluan oih orang Banten, yang mengasut orang, jangan berniaga dengan orang perompak ini. Demikian di Tuban, di Sidayu di Jaratan dekat Gresik, bahwa senya di Sidayu kapal orang Wolanda didatangi oih orang Jawa, yang tiba-tiba membunuh 12 orang; maka orang Wolanda melawan dan mengusir juga orang Jawa, tetapi dia orang tiada bolih bli-juwal.

Maka di bandar Arisbaya dipelau Madura ada banyak perahu, yang menghampiri kapal orang Wolanda, tetapi bersangka³ orang Wolanda, kalau³ marika-itu berkhianat, lalu ditembaknya kapada perahu itu, serta dibunuhnya Adipati dan Penghulo dan banyak orang. Rupanya orang Madura itu bukan berkhianat, melainkan sebab katakutan orang Wolanda bersangka³'an. Maka dari situ kapal berlayar ka Balambangan, tetapi ada perang di situ, maka Adipati Pasuruan melawan raja Balambangan, lalu kapal berlayar ka pulau Bali, maka di situ orang Wolanda ditarima dengan bayik. Maka tanggal 27 bulan Februari 1597 orang membongkar sauh, lalu berlayar pulang merantau sabelah selatan tanah Jawa, maka sabuwah kapal yang rusak katinggalan, dan orangnya ditumpangkan pada kapal layin. Maka pulanglah marika-itu, 28 Augustus, maka untungnya sadikit, tetapi kendatinya itu orang Wolanda bersukahati, karena maksudnya iya itu berlayar ka Hindia-Timur diperolihnyia juga adanya.


5. Maka Inilah Ceritera Beberapa Pelayaran Orang Wolanda—Van Nek, Van Waarwijk, Van Heemskerk—Houtman di Tanah Aceh

1598—1600

Sabermula, satelah Cornelis Houtman dengan kawanya sudah pulang dan menceriterakan segala halahowal pelayarannya, maka amat suka-hati segala sudagar, yang telah menanggungkan segala belanjaan pelayaran ini, lalu katanya: bayiklah kita melangkap-kan pula kapal lebih banyak lagi, supaya berlayar ka Banten. Maka dengan segera dilangkapkanuya kapal delapan buwah banyaknya, yang dijurukan oih Van Nek, Van Waarwijk dan Van Heemskerk.

Maka di tengah jalan kapal itu bersinggah pada sabuwah pulau sunyi, yang di sebutnya Mauritius, menurut nama Yang-Dipertuwan Maurits, lalu berlayar lagi sampehi bandar Banten, yang disinggahi 25 November 1598 Kalakian maka Maungkubumi telah berobah sakali-sakali, karena sakarang orang Wolanda ditarima dengan bayik dan suka-hati. Inilah sebabnya: maka sapeninggal orang Wolanda, iya itu kapal Houtman, tiba³ datang beberapa kapal orang Portugal hendak merampas kapal orang Wolanda, tetapi sudah berangkat; sebab itu dipuwaskannya dendam hatinya kepada orang Banten, yang diganggukannyalah. Maka orang Banten membalas itu, dan lagi diserangkannya kapal orang Portugal yang bertiwas, maka tiga kapal di jarahi, dan orangnya dibenuh, maka kapal layin lari terlepas Sakarang orang Banten takut, nanti orang Portugal kombali lagi; sebab itu bersukalah marika-itu, orang Wolanda kombali lagi, dengan harapnya, nanti orang Wolanda menulung melawan musuhnya; lagi pula kapal orang Wolanda ditumpangi saorang Jawa, yang telah mengikut sampehi tanah Wolanda dan balik pula, maka orang itu membenarkan segala ceritera orang Wolanda, dan fitnah orang Portugal ditiadakan; dan lagi Van Nek mempersembahkan banyak hadiah dari pada Yang-Dipertuwan Maurits kapada Mangkubumi. Maka dengan segera 4 kapal dimuwatkan dengan lada, cinkeh, pala, d. l. s. lalu disuruhnya pulang, maka tiga kapal yang layin berlayar terus ka pulau Maluku. Maka di bandar Arisbaya, yang disinggahya orang Wolanda, Panembahan membalas pembunuhan, yang dehulu diperbuwat oih teman Houtman, 50 orang ditangkap, maka dengan amat banyak duwit ditebuskan oih Van Nek 50 orang itu.

Kalakian, maka pada samantara itu Waarwijk berlayar kapulau Ambon. Maka orang Ambon menarima dia dengan sukahatinya, karena harapnya orang Wolanda melepaskan marika-itu dari pada orang Portugal; demikian juga di Ternate, maka Sultan Ternate telah berprang dengan orang Portugal, lantas menghalaukan marika-itu, maka berjanjilah Sultan Ternate dengan Waarwijk, nanti dijuwalnya segala pala dan cingkeh kapada orang Wolanda, lamun orang Wolanda menulung akan dia hendak melawan orang Portugal. Maka ditinggalkannya 6 orang hendak bli-juwal, lalu pulang dengan kapal yang sarat bermuwat, maka pulanglah iya katanah Wolanda, tahun 1600.

Syahadan, maka pada samantara itu Cornelis Houtman dan adiknya Frederik berlayar juga ka Hindia, maka dia orang berlayar ka tanah Aceh. Akan tetapinya Sultan Aceh, Alaod'din namanya, yang bera-gama agama Islam telah diacumkan oih orang Arab, supaya menulak orang Airopah, bayik orang Portugal, bayik orang Wolanda. Maka pura-pura dikabulkannya orang Wolanda dengan sukahatinya. Maka Frederik turun kadarat serta dengan hambanya hendak berniaga, dan lagi syahbandar orang Aceh datang nayik kapal Cornelis, rupanya hendak bercohbat-bercohbat'an, karena hamba-hamba, yang mengiringkan dia, membawa pembrian iyaitu bu- wah'an, manisan, panganan dan sedap'an, maka Cornelis Houtman menyuruh membawa ayer-anggur, lalu orang makan-minum bersuka'an, akan tetapinya panganan, yang dibawa orang Aceh, telah diracunkan, sebab itu Houtman dengan temannya pusing kapala dan mabok, lagi bihausy; maka tiba‘ orang Aceh menghou-nuskan rencongnya, lalu membunuh Houtman dengan temannya. Maka khalasi, yang tiada makan-minum, dengan segera berkarumun dan membalas pembunuhan itu, maka banyak orang Aceh dibenuh, dan syahbandar serta beberapa hambanya terjun kalaut, melepas-kan dirinya dengan berdayung. Adapon orang Wolanda, yang masih di darat itu, dibenuh juga dikacuwali-kan Frederik Houtman, yang tinggal dipanjarakan duwa tahun lamanya, maka temannya mencoba juga melepaskan juragannya, tetapi sia’.

Satelah berapa lamanya datang lagi kapal orang Wolanda, dijurukan oliy Paulus Van Caarden; maka disuruhnya tiga orang Aceh, yang menumpang kapalnya, turun kadarat, menghadap Sultan Alauddin, hendak membawa hati Sultan kepada orang Wolanda; bahwa senya Van Caarden dapat idzin menghadap Sultan, lalu dibawanya banyak pembrian dari pada Yang-Dipertuwan Maurits serta dengan surat. Maka Sultan menyambut surat itu, akan tetapinya ada juga saorang Portugal di astana, yang berhadil di situ, maka katanya: »jangan Seri Paduka menarima surat ini, karena surat ini kulit babi“; lalu surat itu dibu-uang oliy Sultan, tiada mau menarima atau membaca itu; demikian orang Portugal membatalkan perjanjian dengan orang Aceh, dan lagi senantiasa kalakuannya demikian di mana-di mana. Maka Van Caarden pulang, dan Frederik Houtman tinggal terkurungi. Maka diperguna-kannya waktu penjaraan, karena di karangkannya kitab lograt iyaitu kitab segala perkataan malayu dengan artinya behasa Wolanda.

Hata, satelah berapa lamanya Sultan Alauddin ber- bantah dengan orang Portugal dan mengusir akan dia, lalu diakannya berjinak dengan orang Wolanda, maka ditarimanya kapal orang Wolanda dengan bayik, dan lagi dibiarkannya marika-itu beli-juwal, maka Houtman terlepas, dan lagi Sultan Alauddin menyuruh utusan menghadap Yang-Dipertuwan Maurits di tanah Wolanda.

Hata, ada persakutuan orang biaperi lagi, yang melangkapkan kapal, maka juragannya Pieter Both, yang terkemudian diangkat Tuwan-Besar. Lagipula ada juragan Steven van der Hagen, yang berlayar ka pulau Ambon, lalu berjanji dengan orang Ambon, hendak menulung marika-itu, mewan orang Portugal. Ada lagi saorang juragan yang amat berani, Olivier van Noort namanya, maka iya berlayar menuju arah ka selatan-daya, lalu meruskan selat Magalyens dan melalui pulau Papua dan pulau-pulau Maluku dan pulau-pulau Sunda kecil, lalu bersinggah di Jaratan dekat Sedayu, lantas ka Banten, lantas pulang ka tanah Wolanda; demikianlah iya berlayar berkuliling bumi.


6. Pelayaran Yakob van Nek—Cordes dan Mahu—Yakob van Heemskerk—Wolfert Hermansz

Sabermula, maka berlumba an biaperi orang Wolanda melangkapkan kapal, yang disuruhnya berlayar ka Hindia. Beharulah Yakob van Nek pulang, maka dengan segera ada biaperi, yang mempersilakannya hendak menjurukan kapal lagi. Maka dicakapnya mengapalakan kapal anam buwah banyaknya, lalu iya berlayar terus ka pulau-pulau Maluku. Maka berjumpalah iya dengan orang Portugal dekat pulau Tidore, lalu duwa musuh berjuwang saperti harimau lakunya; maka duwa musuh itu berkembar, tiada yang menang tiada yang alah; lalu Van Nek mundur ka Ternate hendak membayiki kapal yang rusak, dan menyembuhkan orang yang kena luka.

Arakian, maka berlayarlah iya ka tanah Cina, lalu sampei ka muwara sungei, maka disuruhnya sampan dengan 25 orang hendak memeriksaan perihal tanah itu. Maka ada di situ banyak orang Portugal; beharulah marika-itu melihat orang Wolanda, maka dengan segera diseregapnya marika-itu, lalu menangkap akan dia, maka orang Wolanda melawan sakuwatnya, maka duwa orang jatoh kadalam ayer, mati, lima orang dibenuh, dan yang layin digantungkan orang Portugal saperti orang perompak lakunya. Maka berlayarlah Van Nek lagi sampei ka telok Siam, maka tiga kapal terpencil, lalu terkandas; maka duwa puluh tiga orang dibenuh dan yang layin ditebus olih Van Nek dengan mariam, anam buwah banyaknya. Demikian Van Nek berkarugian, lalu pulang ka tanahnya.

Maka yang terlampau di dirundung malang iyaitu Cordes dan Mahu, maka di tujunya arah ka selatan-daya hendak meneruskan selat Magalyens; akan tetapinya kapal berduwa itu ditampuh angin-ri-but, menjadikan, sabuwah kapal tenggelam, dan lagi yang layin amat kadinginan dan kasakitain, sebab itu dipaksa pulang, maka yang mati dari pada anak-kapal iyaitu duwa pertigaanya.

Hata, maka Yakob van Heemskerk lebih beruntung, maka dijurukannya kapal delapan buwah banyaknya. Maka di tengah jalan iya berjumpa dengan beberapa kapal orang Portugal, lalu berjuwang, maka kapal orang Portugal bertiwas, maka muwatan kapal yang dijarahi tiga juta rupiah harganya, iyaitu setera, rampah-rampah, minyak-unei kapur-baros, gula, kasturi, d. I. s. Akan tetapinya Van Heemskerk tiada membalas perbuwatan orang Portugal dengan jahat, melainkan dengan bayik, karena segala orang tawanan dilepaskan- nya dengan tiada ditebus. Maka di suruhnyia kapal membawa marika-itu ka Malaka. Demikian orang Wolanda bermusuh dengan orang Portugal, jikalau kiranya ditiwaskan maka dijarahi muwatan kapal, tetapi orangnya tiada dibunuhnya, saperti orang Portugal lakunya. Maka dirasai orang Portugal bekas ku-wasa dan kaberanian orang Wolanda yang dihinakannya dehulu, sebab telah dikatakannya orang Wolanda itu kurang berani melawan. Syahadan, maka yang amat memasyurkan namanya sebab kaberanian nyiaiytu Wolfert Hermansz; maka dengan 5 kapal kecil iya berami menyerang tiga puluh kapal orang Portugal, iyaitu 8 yang besar dan 22 yang kecil, maka kapal yang besar itu sendirian bermuwat lebih dari pada kapal orang Wolanda yang berlima. Inilah ceriteranya.

Alkisah, maka raja Hispanye amat marah sebab di-dengarnya orang Portugal bertiwas-bertiwas banyak kali, (maka raja Hispanye memerintahkan juga orang Portugal, lih. muka 14) lalu disuruhnyia saorang panglima laut, Furtado de Mendoza namanya, berlayar ka Hindia-Timur dengan kapal 30 buwah banyaknya yang di tumpangi 3000 orang iyaitu 800 orang Portugal dan 2200 orang Keling; maka telah di suruh raja Hispanye membunuh segala orang Wolanda yang didapatinya. Maka pada kutika itu panglima-laut Wolfert Hermansz dekat selat Sunda. Maka dengan takdir Allah kapal orang Wolanda ditegahkan, oih angin sakal, sebab itu satelah kapal orang Wolanda sampei ka selat Sunda, maka didengarnya kapal orang Portugal berlabu di bandar Banten hendak membinasakan segala kapal yang bersinggah di bandar Banten itu. Maka syukurlah orang Wolanda, karena jikalau kiranya marika-itu tiada menengar khabar ini terdehulu, saniscaya terbinasa juga, karena segala mariam telah diturunkan di ruwang kapal, dan sebab itu tiada dapat melawan dengan sakuwat-sakuwatnya.

Satelah didengar khabar itu olih orang Wolanda, maka dimufakatkannya apakah diperbuwat, lari atau menerkam; maka dengan sabulat hati segala ju-ragan berbicara jangan lari, melainkan menerkam, jikalau kita mati sakali pun. Maka tiba³ kapal orang Wolanda menyerang saperti burung helang lakunya. menyadi, orang Portugal terkejut. Maka dengan segera kemudi kapal sabuwah itu di tembak peluru, rusak, dan lagi kapal yang layin bersangkut³'an tiada bolih melawan, Maka kaesukan harinya kapal orang Wolanda hendak berjoweng lagi, tetapi kapal musuh mundur, salingga dengan menembak dan berperang, maka kapal Wolanda termasuk di pelabuan dan kapal orang Portugal kaluwar. Maka pada hari yang katiga segala kapal orang Portugal terlennyap berlayar lari kapulau³ Maluku, hendak mencehari kapal layin.

Hata, maka heiranlah orang Banten seraya dilihatnya, kapal 5 buwah menghalaukan kapal 30 buwah; maka katanya: beharulah lihat sakarang orang Wolanda berani dengan sapertinya. Bayiklah kita beramanat atas orang Wolanda dan bukan kapada orang Portugal. Maka diberinya idzin kapada orang Wolanda memba-ngun gedung besar, tempat bli-juwal. Maka syu-kurlah orang Wolanda kapada Tuhan Allah.


7. Bahwa Inilah Ceritera Betapa Kompeni Wolanda Dijadikan

1602

Sabermula, maka segala pelayaran ini dibelanjakan olih beberapa perekanan biaperi dengan tiada per-tulungan Guvernement orang Wolanda, hanya sudagar biaperi itu ditulung olih Guvernement dengan menjuwal mariam, senapan, obat-bedil d. l. s.; lagi-pula kapal-berniaga disertai kapal-perang sampei dekat Laut-Tengah.

Akan tetapinya sebab banyak perekanan, maka ju- ragan dan nakhoda itu berlumba'an masing-masing menun-tut faidahnya sendiri; menjadikan, lada, cingkeh dan pala itu makin nayik harganya; bahwa senya terkadang kapal tiada dapat muwatan, sebab kapal yang mende-hulukan telah membli segala simpanan dagangan.

Hata, maka pada kutika itu ada di tanah Wolanda saorang Mangkubumi Oldenbarneveldt namanya, maka Mangkubumi itu amat memperhatikan faidah dan mansaat orang yang banyak; lagi pula dilihatnya, nanti dengan hal berniaga orang Wolanda berolih laba dan untung banyak, istimewa olilh hal berniaga dengan orang Hindia. Maka kakayaan itu menulung banyak kelak dengan peperangan melawan orang Hispanye, dan karugian orang Hispanye menjadikan kaentungan orang Wolanda. Sebab itu di katakannya kapada segala biaperi ‘dan sudagar katanya: janganlah tuwan-tuwan ber-bantah-bantahan dan berlumba'an, hanya bayiklah kamu bertolung-bertolungan, supaya melawan musuh kita sakuwat-sakuwatnya; lagipula iya berbicaralah kapada Tuwan-Tuwan-Staten dan Yang-Dipertuwan Maurits katanya: Bayiklah kita membu-latkan hati sudagar-sudagar itu, supaya orang banyak berfaidah olih pelayaran ka Ilindia-Timur. Kata Tuwan-Tuwan-Staten dan Yang-Dipertuwan dan segala sudagar, bayiklah.

Hata, maka dikarangkanlah Oldenbarneveldt syariat perjanjian, yang ditarima olih segala sudagar. Maka dijadikan persakutuan sudagar dan orang-kaya, behkan segala orang yang berkahendak bolih membawa duwit, supaya dapat untuk, maka saentuk besarnya tiga ribu rupiah; ada yang beruntuk satu, duwa, tiga atau lebih lagi; maka masing-masing dapat untung turut modalnya. Hata, maka dengan sademikian ini ada ter-kumpul banyak duwit, 6,500.000 rupiah banyaknya; maka itulah pokok modal hendak berniaga, dan segala orang yang telah dapat untuk menjadikan persakutuan, yang dinamai orang Wolanda »Vereenigde Oost-Indiskhe Compagnie,“ dengan behasa melayu: »Kompeni” sampei sakarang ini.

Maka orang, yang beruntuk banyak, dipilih menjadi majelis. Ada majelis di negari Amsterdam dengan 23 orang ahli majelis, di Middelburg 14, di Deltt 12, di Rotterdam 9, di Enkhuizen 11, dan di Hoorn 4 orang. Maka anam majelis itu memilih Majelis yang Maha-Tinggi, yang ber 17 ahli banyknya, sebab itu Majelis ini disebut dengan pendek katanya Majelis ber 17, atau Tuwan-Tuwan XVII.

Hata, maka Kompeni itu dapat hak berniaga dengan Hindia-Timur dengan dikatuwalikan segala orang Wolanda. Barang siapa yang berani berniaga dengan Hindia-Timur layin dari pada Kompeni itu, maka kapalnya dirampas dengan segala muwatan. Maka pertama³ didapatnya hak itu 21 tahun lamanya, dan lagi asal ajalnya sampeı, maka perjanjian bolih juga dilanjutkan. Demikianlah Kompeni itu di lanjutkan sampeı tahun 1800. Maka mulanya bulan Maart, tanggal 20, tahun 1602. Maka Kompeni itu bertambah-bertambah kuwasanya, sampeı melebihi segala Raja dan Sultan dan Susuhunan pada saluruh Hindia-Timur; akan tetapinya pada tahun 1800, maka Kompeni tenggelam sebab sarat hutangnya; maka Guvernement Wolanda menanggung hootangnya, dan kaempunaanna dipegang Guvernement juga adanya.

Hata, maka orang Inggris menjadikan juga Kompeni hendak berniaga dengan orang Hindia-Timur, tetapi modalnya tiada besarnya sajodo dengan Kompeni Wolanda, dan kuwasanya juga kurang dari pada kowasa Kompeni Wolanda.


8. Bahwa Inilah Daripada Perang di Pulau-Pulau Ambon, Ternate, dan Banda

1602—1609

Sabermula, maka dengan segara Kompeni melangkapkan kapal hendak melawan sakuwat-sakuwatnya orang

Portugal, dan berjanji'an dengan orang Hindia-Timur. Maka dilangkapkan kapal 13 buwah, yang dijurukan oih panglima Steven Van der Hagen. Satelah sudah datang di bandar Banten, maka ada di situ utusan orang Ambon hendak minta pertulungan orang Wolanda, karena Mendoza, yang dialahkan oih Wolfert Hermansz, telah berlayar ka Ambon dan mengalahkan pulau itu. Maka dengan segera Van der Hagen berlayar ka pulau Ambon, lalu mengalahkan benteng orang Portugal, kendatinya 600 orang di dalamnya melawan dengan sakuwat'nya. Maka nama benteng itu diobahkannya dan disebutnya Victoria (kamenangan) namanya; maka yang ini, benteng yang pertama-pertama dipunyai orang Wolanda. Ada lagi di situ berduduk 46 orang katurunan orang Portugal, maka orang itu dibiarakan, lamun marika-itu bersumpah hendak bersatiawian kapada Kompeni. Maka Frederik Houtman, yang dilepaskan oih Sultan Aceh itu, diangkat kapala benteng ini.

Satelah sudah itu, maka disuruh Van der Hagen kapal 5 buwah ka Sultan Ternate, yang telah minta pertulungan, lantas ka Sultan Tidore. Maka orang Portugal sudah membangunkan benteng di pulau Tidore hendak menggagahi orang itu. Maka orang Wolanda menyerang benteng itu tiga kali tetapi sia-sia, karena orang Portugal melawan dengan gambira, maka di tengah perang yang galak itu, tiba-tiba meletus gudang obat-bedil, dan banyak orang dibunuh katimpaan karombakan. Maka orang Portugal tiada berani melawan lagi; ada ditawankan 500 orang, yang dibawa kapulau Manila dilepas juga; maka benteng itu dirombakkan.

Bermula, maka datang lagi ka Hindia panglima Gornelis Matelief dengan kapal 11 buwah. Maka dituntutnya mengalahkan bandar Malaka, karena negari itu amat kuwat s.kali dengan tembak tebal dan tinggi; lagipula bandar itu sarupa teras ku- wasa orang Portugal. Maka dilanggarkannya dan diserangnya kota itu dengan sakuwatnya, tiada dapat, lagi dikepungnya negari itu empat bulan lamanya tiada berguna, maka datang banyak kapal hendak menulung, maka musuh berduwa itu berjuwang dengan amat galak masing³ tiada mau undur tiada beralahan juga, maka kaesukan harinya Matelief menjarahkan tiga kapal, lalu yang layin mundur.

Kalakian, maka Matelief berniat mengepung negari Malaka sampeii di alahkan, akan tetapinya datang khabar dari pulau Ternate, maka Sultan Tidore, yang ditulung orang Portugal, telah mengalahkan Sultan Ternate, yang dibawa tertawan kapulau Manila. Maka dengan segera Matelief berlayar ka Tidore hendak mengalahkan orang Portugal, tetapi dilihatnya orang Portugal telah menyusuk pula sabuwah benteng yang kuwat, yang tiada dapat di alahkan; sebab itu iya berlayar ka pulau Ternate dan menyusukkan sabuwah benteng yang kuwat, supaya mengembarikan Sultan Tidore, jikalau kiranya iya kombali lagi. Maka nama benteng itu disebutnya Orany e sampeii sarakrang ini.

Ilata, maka pada samantara orang Hispanye mengalahkan pulau Ternate dan Tidore, maka orang Banda berkhianat dan membunuh orang Wolanda, maka dehulue marika-itu minta pertulungan kapada orang Wolanda, dan satelah dia orang terlepas dari pada orang Portugal, maka dibunuhnya segala orang Wolanda. Satelah itu datang panglima-laut Verhuven dengan kapalnya, lalu turun kadarat. Maka dengan 30 orang kawannya iya pergi masuk hutan, hendak bermuwafakat dengan orang-kaya, supaya memeriksa-kan, siapa yang membunuh orang Wolanda; maka satelah sudah datang di hutan lebat, maka sakunyung³ datang beratus-beratus orang, yang menyeregap panglima Verhuven serta dengan kawannya, yang dibunuhnya samuwanya.

Hata, kemudian dari pada itu orang Wolanda berdamei pula dengan orang Banda, tetapi tiap-tiap kali orang Banda berkhianat; menjadikan perang yang amat galak, yang akan diceriterakan kelak.

Syahadan ada lagi panglima-laut, Paulus van Kaarden namanya, yang berjanji dengan orang Ambon dan mengusir orang Hispanye. Maka di pulau Makian disesukkannya benteng, Olden barn eveldt namanya, lalu ka pulau Mutir, maka di situ disesukkannya benteng, Nassau namanya. Maka dengan itu segala pulau-pulau Maluku direbut dari pada kuwasa orang Portugal, metainkan pulau Tidore tiada. Beharulah datang kapada tahun 1663 orang Portugal dihalaukan dari pada pulau Tidore itu.

Kalakian, maka pada samantara itu orang Wolanda telah membangunkan gedung di Banten dan di Japarajuga. Maka dehulul kala pelabuan Japara amat tampan, dan banyak kapal dapat berlabu di situ, saka-rang tiada bolih, karena terkukup banyak lumpur, sebab itu terlalu dangkar. Hata, maka kuwasa orang Wolanda telah terhambur di mana-di mana, di pasisir barat pulau Sumatra, di pulau Borneo, di pantei Coromandel, di pulau Sailan (Serendib) d.l.l.


9. Bahwa Ini Daripada Tuwan-Besar P. Both dan L. Reaal, dan Lagi Pelayaran Skhouten dan le Maire

1610—1618

Sabermula. maka tegal kuwasa Kompeni telah di-perhamburkan dari pulau Sailan sampeil pulau Ternate, maka Majelis ber XVII itu berikhtiar hendak mengangkat saorang, yang mengatas segala hamba, pegawei, manteri, penjawat, panglima dan hu-lubalang Kompeni, yang disebutnya dengan nama orang Wolanda Gouverneur-Generaal yang artinya, pemerintah segala pemerintah, disebut orang Melayu: Tuwan-Besar. Maka yang pertama diangkat Tuwan-Besar iyaite Pieter Both 1610—1614, dan yang ka duwa iyaite Gerard Reinst 1614—1615 dan yang ka tiga Laurens Reaal 1615—1618.

Kalakian, maka bukan segala Tuwan-Besar memasyurkan namanya, dan lagi tiada bolih diyeriterakan dari pada segala Tuwan-Besar, melainkan yang ini disebut, yang memasyurkan namanya dengan berbuwat bayik, atau kabejikan atau yang mendorongkan kowasa Kompeni adanya.

Hata, maka dipesan oliy Majelis ber XVII kapada Tuwan-Besar Pieter Both, hendaklah menuntut sabolih'nya mendapat sabidang tanah dekat bandar Banten atau dekat selat Sunda, yang bertampan dengan hal berniaga, supaya segala kapal pergi-datang dapat bersinggah di situ, dan lagi supaya membangunkan gedung, tempat simpanan dagangan, dan lagi supaya menyusukkan benteng hendak melawan barang siapa, yang mau merampas dagangan itu, bayik orang Jawa, bayik orang Airopah (orang Portugal atau orang Inggris).

Kalakian, maka sabelomnya Tuwan-Besar P. Both sampe ka Banten, maka saorang hamba Kompeni, l'Hermite namanya, telah berjanji dengan pangeran Jokerto hendak membeli sabidang tanah dekat kuwala Ci-Liwong dekat negari Jokerto¹ maka tanah itu disabelah timur sungei. Satelah didengar itu oliy Tuwan-Besar, maka iya pergi ka pangeran Jokerto hendak bermuwafakat dengan dia, maka dibelinya tanah itu dengan harganya 1200 ringgit = 3000 rupiah; lalu disuruh Tuwan-Besar menegakan di situ sabuwah gedung, tempat simpanan dagangan dan bekal perang d. l. l.

Satelah itu Tuwan-Besar berlayar ka pulau-pulau Malu-ku, dan lagi disuruhnya saorang utusan, Y. Spex namanya, hendak berjangyi dengan raja Je pun, maka dibiarkan raja itu orang Wolanda menegakan gedung di pulau Firando. Satelah ampat tahun lamanya, maka Tuwan-Besar P. Both pulang ka tanah Wolanda; akan tetapinya kapal, yang ditumpang Tuwan-Besar, terkaram dekat pulau Mauritius, matilah segala orang yang menumpang. Maka gunung di pulau Mauritius masih bernama Pieter Both menurut nama Tuwan-Besar itu.

Bermula, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Laurens Reaal ada duwa juragan, Skhouten dan Le Maire namanya, yang mencehari dan mendapat jalan layin hendak berlayar ka Hindia-Timur ini.

Syahadan, maka dengan surat perjanjian Kompeni dengan Guvernement orang Wolanda ada dilarangkan kapada orang Wolanda berlayar ka Hindia-Timur dengan meliwat penanjung Pengharapan atau meneruskan selat Magelyens. Maka ada beberapa sudagar di negari Hoorn, yang mengakan mencehari jalan layin kacuwali duwa itu. Maka dilangkapkannya duwa kapal, yang dijurukan olih Skhouten dan Le Maire dengan pesanan mencehari jalan itu. Maka dirasai banyak kasusahan dan kasu-karan olih duwa juragan itu dan lagi sabuwah kapal kena api, hanguslah, tetapi diperolihnyia maksudnia juga, karena didapatnya selat, yang di sebutnya selat Le Maire, dan penanjung, yang disebutnya penanjung Hoorn, dan pulau, yang disebut pulau Staten, pada sabelah selatan benuwa Amerika. Maka sampeilah marika-itu di pulau Ternate dan berjumpa dengan Tuwan-Besar Reaal dan panglima-laut Sp i l-bergen. Maka duwa Tuwan memuji amat kabе- ranian juragan itu, lalu Le Maire berlayar ka J okerto tetapi satelah bersinggah di muwara sungei, maka kapalnya di rampas serta dengan muwatan, maka anak-kapal ditumpangkan kapal layin, dan Le Maire dipaksa menumpang kapal panglima Spilbergen. Maka di Jokerto sudah ditarima surat dari pada Majelis ber XVII yang menyuruh: apabila Skhouten dan Le Maire bersinggah di pelabuan mana?, hendaklah kamu merampas kapal itu. Kami ini menanggungkan segala perkara, yang timbul oliah sebab pesanan ini. Sebab itu yang memerintahkan di Jokerto, Y. P. Kun namanya, menurut perintahan ini, kendati Tuwan-Besar me-muji kaberanian duwa juragan itu. Satelah Le Maire sudah sampe ka tanah Wolanda, maka di adu-kannya halnya di hadapan Tuwan-Tuwan-Staten, maka Kompeni menempukkan karugian, tetapi saorang pun tiada berani meniru kalakuan Skhouten dan Le Maire itu. llata, maka pada tahun 1618 Tuwan-Besar menyeraikan martabatnya, lalu pulang ka tanah Wolanda. Maka Y. P. Kun diangkat Tuwan-Besar.

¹ Jokoykerto artinya negari kamenangan.


10. Tuwan-Besar J. P. Kun

Negari Betawi di Alaskan

1619

Sabermula, maka telah sudah diceriterakan pada pelajaran yang ka 9, orang Wolanda sudah membli sabidang tanah dekat kuwala Ciliwong, tetapi Pangeran Jokerto tiada mau membri idzin, orang Wolanda menyusukkan benteng di situ. Entah takutnya orang Wolanda menggagahi saluruh tanah Jawa kelak, karena ada nubuwatan dari dehulu kala, yang menyatakan nanti tanah Jawa dialahkan kelak oliah sabangsa, yang bermata kucing dan berambut merah; entah takutnya Pangeran Banten yang bersangka-bersangka, nanti Pangeran Jokerto dapat segala untun g, dari pelayaran orang Wolanda. Karena tiap kapal membayar beya pelabuan, dan lagi didapatnya beya dari segala hasil, yang dijuwal kapada orang Wolanda, dan lagi beya dari dagangan yang dibli orang Banten. Maka segala untung kahila-ngan, jikalau orang Wolanda berpindah ka Jokerto. Kendatinya itu, maka orang Wolanda amat diganggu dan di nakalkan olih orang Banten.

Tambahan pula datang juga orang Inggris, yang berloba, berolih juga untung dengan hal berniaga saperti orang Wolanda. Akan tetapinya senantiasa dicobainya bersesup di mana-mana orang Wolanda telah berduduk dehulu,iyaitu jikalau kiranya orang Wolanda telah mengalahkan orang Portugal atau orang Hispanye, dan berjanji dengan orang-negari barangmana, nanti membli-juwal dengan orang Wolanda sehaja, maka dengan segera datang juga orang Inggris, membangunkan gedung juga, sarupa bereikur-bereikur orang Wolanda di mana-di mana. Demikianlah diperbuwantnya di Banten, di Ambon, di Banda dan di Jokerto juga. Beharulah orang Wolanda membangunkan gedung disabelah kanan sungei, maka orang Inggris membangunkan gedung di sabelah kiri. Maka dikatakan orang Wolanda: janganlah demikian, bayiklah kamu pergi mana-mana, melainkan janganlah kamu menyusup dirimu, tempat kami berduduk, karena kami telah berolih untung ini dengan membelanjakan amat banyak ongkosnya, dengan banyak kasu-karan; dan banyak orang Wolanda di bunuh pada perang ini, samantara kamu berdamei dengan orang Hispanye. Jikalau kamu berkahendak bersauntung dengan kami, bayiklah kamu membantu juga kami, berperang melawan orang Portugal dan orang Hispanye. Kata orang Inggris: masakan kami mau melawan orang Portugal; kami mau berlayar di mana-di mana dan berlabu di mana-mana dan berolih untung sabanyak³nya. Bahwa sasunngguhnya barang mana didapatnya, maka di asut-kannya orang, hendak melawan dan mengusir orang Wolanda. Maka inilah juga sebabnya, orang Wolanda di nakalkan orang Banten. Maka Tuwan-Besar Reaal mengakan menyeleseikan perkara itu dengan lemah-lembut dan bersabar hatinya, akan tetapi manterinya yang muda, J. P. Kun itu, berbicara: ya Tuwan, dari pada bercalhabat pura-pura saperti sakarang ini, lebih bayik kita bermusuh dengan nyata-nyata. Maka sebab itu orang Inggris amat sakali membenci akan Tuwan Kun, maka dikatakannya: jikalau kiranya kami mendapat si Kun itu, sanistiyaya kami menggantungkan dia sating-gi'nya. Demikianlah segala hal ahuwal pada kutika Tuwan J. P. Kun di angkat Tuwan-Besar.

Bermula, ada di Tanah-lapang Singa di hadapan astana besar sabuwah patong, maka barang siapa yang melalui astana itu tadapat tiada melihat orang³an itu. Maka patong itu tuladan, roman Tuwan-Besar dengan pakeian orang Wolanda pada zaman abad yang ka 17. Maka sikapnya dengan amat berani, saolah dititahnya: kahendakcu, di sini akan disusukkan negari beharu, yang sarupra hati segala kuwasa Kompeni. Bahwa senya Tuwan-Besar J. P. Kun itu terbesar dan termulia segala Tuwan-Besar, yang terdehelue atau terkemudian juga adanya. Maka iyalalah lebih arif, lebih bijaksana, lebih budiman, lebih berani dan lebih sangkun dari pada zaman itu, behkan lebih cerdik dari pada segala Tuwan-Tuwan ber XVII; karena marika-itu tiada mengarti niat Tuwan-Besar bayik melawan orang Banten, bayik melawan orang Inggris, sebab itu marika-itu amat kikir dengan mengirim pembantuan kapada Tuwan-Besar. Maka Tuwan-Besar merasa juga amat banyak kasusahan dan ka-sukaran olih sebab itu, akan tetapinya kendatilah ini Kun tiada mau undur; maka senantiasa dikatakannya: »Jang anlah puto es asa.“

Bahwa senya yang mengarang kitab ini, iyaitu saorang Wolanda, yang amat bercinta dan bersayang dengan segala sudaranya yang sabangsa dengan dia, sebab itu iya bersyukur kapada Allah, sebab orang Wolanda telah datang di sini, dan memegang perintah pada salu- ruh Hindia-Timur; akan tetapinya orang Hindia, yang akan membaca kitab ini, melihat juga kelak, maka kadatangan orang Wolanda amat berfaidah dan ber-guna kapada segala bangsa yang berduduk di sini, sebab itu tadapat tiada dia orang memuliakan dan memujikan kelak akan nama Tuwan-Besar J. P. Kun. Maka iyalal mengalaskan rumah, sedang orang layin membangunkan atas pengalasan itu, juga adanya.

Bermula, maka dengan segera dilihat Tuwan-Besar tadapat tiada bernyala perang dengan orang Banten dan dengan orang Inggris, sebab itu banyak kali iya pergi-datang dari Banten ka Jokerto hendak menyumpankan barang-barang yang indah-indah dan duwit dan dagangan ka godung di Jokerto, lagi pula ditegokhkannya godung itu, yang dikubuinya dan dipagarkannya, dan lagi ditarohkannya banyak mariam, supaya melawan, jikalau kiranya ditampuh musuh. Maka Pangeran Jokerto pura-pura berjinak, tetapi dalam hatinya bermu-suh, istimewanya sebab dilihatnya, Tuwan-Besar sabolih-sabolih mengkuwatkan godung itu, sebab itu disuruh Pangeran Jokerto mengempangkan sunget Liwong itu, supaya kapal orang Wolanda tiada sampei dekat godung itu, dan lagi orang Inggris memitar mariamnuya ka godung orang Wolanda. Sakarang Tuwan-Besar tiada menaroh syak lagi, melainkan dikata-huinya musuhnya bermuwafakat membinasakan orang Wolanda; lagi pula didapatnya khabar, maka Panembahan Mataram telah menjarahkan godung di Joporo. Maka dengan segera Tuwan-Besar mengerahkan segala laskarnya, lalu menyabrang sungei dan merusakkan kubu godung orang Inggris, dan lagi kae-sukan harinya dicobainya merusakkan juga pengempangan orang Jokerto, tetapi karusak sadikit sehaja.

Hata, satelah berapa lamanya orang Wolanda didatangkan musuh berduwa, iyaitu orang Banten beribu-beribu orang banyaknya milir Ci Angkeh, dan lagi kapal orang

Inggris 11 buwah datang meliwat ujung Untung Ja wa. Maka dirasai amat banyak susah olih Tuwan-Besar, karena segala kuwasa orang Wolanda ada di pulau-pulau Maluku. Ada duwa kapal, yang amat sarat, dan lagi lima buwah dekat pulau Sakit yang belom dilangkapkan; akan tetapi dengan segera disuruhnya membawa segala barang-barang, yang indah dan mahal harganya ka kapal, lantas dengan 7 kapal itu iya kaluwar kuwaIa, hendak berjumpa dengan musuh. Maka ditampuhnya dengan kaberanani nyia akan orang Inggris, tetapi tiada bolih mengalahkan marika-itee, dan lagi segala obat-bedil sudah habis, maka satelah hari sudah malam, Tuwan-Besar bermuwafakat dengan segala hulubalang panglima, maka dengan bulat hati marika-itee berbicara katanya: Bayiklah kita mundur ka pulau-pulau Maluku hendak mengambil pembantuan, karena dari pada kita ini samuwa di tawankan atau dibunuh olih musuh yang banyak ini, lebih bayik gedung atau benteng Nassau ini dirusakkan. Satelah sudah bersafakat demikian ini, maka dikirimnyia surat kapada hulubalang P. Van den Bruke dengan bunyinya: Kami hendak mundur ka pulau-pulau Maluku mengambil pembantuan; bayik kamu tahan sabolih'nya, akan tetapi jaga bayik-bayik, jangan dipertipudayakan olih Pangeran, karena amat cerdik dia dan berkhianat juga. Satelah itu Tuwan-Besar berlayar ka pulau-pulau Maluku.


11. Sambungan

Bermula, maka orang Inggris amat suka-hati seraya di lihatnya Tuwan-Besar sudah lennyap, maka dalam hatinya: sakarang mudalah mengalahkan benteng itu, dan merusakkan samuwanya; karena marika-itee berjanji dengan orang Banten, maka dia orang menampuh dari daratan, sedang orang Inggris melanggar dari laut. Akan tetapinyia orang Banten tiada melawan dengan sabenarnya, karena marika-itu takut akan orang Wolanda, sebab di lihatnya dehulu orang Wolanda berani saperti harimau lakunya.

Maka laskar Pangeran Jokerto menampuh juga benteng Nassau, tetapi sia'lah. Satelah itu Pangeran Jokerto mencoba mempertipudayakan orang Wolanda, bersampeian juga. Maka cakei3nya hendak berdamei dengan orang Wolanda, maka katanya, jikalau orang Wolanda membayar saberapa banyak duwit, maka kami pun tiada melawan lagi. Maka janjinya ini di tarima oliy Van den Bruke, lalu Pangeran Jokerto mempersilakan dia dijamuikan di astana Pangeran. Maka pergila Van den Bruke, tiada bersangka-bersangka; akan tetapinyia beharulah iya di astana Pangeran, maka tiba-tiba iya di belunggui serta dengan kawanya, 7 orang banyaknya. Van den Bruke dipaksa menulis surat kapada temannya dengan nasihatnya, supaya marika-itu menyerahkan dirinya, akan tetapi orang Wolanda taban juga, kendati surat itu.

Hata, satelah berapa lamanya benteng dan kubu amat rusak, sebab di tembaki peluru orang Inggris, lalu orang Wolanda bermuwafakat hendak menyerahkan dirinya, lalu marika-itu berjanji, benteng dengan segala isinya dan senjata diserahkan kapada orang Inggris, lamun diaorang terlepas serta dengan segala orang, yang di panjarai, iyaitu Tuwan Van den Bruke dengan temannya. Maka ka esukan harinya marika-itu kalowear, hendak menyerahkan dirinya, akan tetapi tiada dilihatnya Van den Bruke, lalu marika-itu bersangka-bersangka didayakan lagi, maka katanya, jikalau kamu tiada melepaskan kawan kami, maka kami pun tiada menyampeikan perjanjian kita; lalu dia orang masock lagi di benteng.

Arkian, maka telah sudah pada malam itu tila-tila datang orang Banten, memgambil Tuwan Van den Bruke serta kawanya, dibawanya tertawan ka Banten, sebab itu orang Jokerto tiada bolih melepaskan Van den Bruke berdelapan temannya. Kalakian, satelah berapa lamanya, maka Pangeran Jokerto dipecatkan oliy Tumanggung orang Banten, demikian orang Wolanda terlepas dari pada musuoh bersatu itu. Lagi pula orang Inggris melihat, maka tiada bolih mengamanati orang Banten lagi, sebab itu kahanyutan kapalnya, lalu pergi di mana-di mana, barangkali marika-itu malu juga sebab di lawannya orang Khristen yang bersaagama dengan marika-itu, dan bersafakat dengan orang Islam.

Syabadan, tinggal lagi orang Banten, yang menuntut mengalahkan benteng orang Wolanda dan lagi orang Wolanda kurang berharap terlepas; sebab itu disorong-kannya perdameian, akan tetapinya tiada bolih berpatutan syariat apatah. Lagi pula dilihatnya juga orang Banten kurang berani menghampir atau menyerang benteng itu, sebab itu maka berikhtiar hulubalang Van Raay, iya-itu penggantiVan denBruke, hendak mengkuwatkan benteng itu sabolih-sabolihnya, dan lagi mempertangguhkan perkara itu, kalau-kalau bolih berlambat sampeei kadatangan Tuwan-Besar. Maka pada bulan Maart, tanggal 12, tahun 1619, hulubalang Van Raay menghimpunkan segala laskarnya serta dengan segala orang Wolanda, yang berduduk di benteng itu, lalu dikatakannya: »dari pada sakarang ini negari yang beharu ini, dapat nama Betawi-Betawi«; lalu dipasang bandeira dan di goyang-goyang genta, lalu di makan-minum beramei-berameian dan bersuka-bersukaan. Jikalau kiranya orang Banten berani melanggar benteng pada kutika itu, saniscaya orang Wolanda dia-lahkan juga; akan tetapi orang Banten mengirakan, mengalahkan orang Wolanda dengan mengepungkan sehaja.

Hata, satelah berapa lamanya iyaitu bulan Mei, datang Tuwan-Besar dengan pembantuan, maka dengan kapal 16 buwah serta dengan beribu laskarnya iya berlayar sampeei ka benteng. Maka dengan segera Tuwan-Besar berangkat menampu negari Jokerto, yang dibakar hangus, dan lagi segala kubunya dirusakkannya.

Satelah itu Tuwan-Besar menyuruh Pangeran Banten dengan segera melepaskan hulubalang Van den Bruke berdelapan temanya, maka Pangeran tiada berani mengenggan. Satelah berapa lamanya Pangeran menakalkan lagi orang Wolanda, dan sebab itu hulubalang Van den Bruke disuruh dengan tantara berlayar ka bandar Banten, hendak berperang dendam-kasumat. Maka banyak perahu dialahkan, dan segala orang Cina, yang menumpang perahu itu, dipindahkan ka negari beharu; maka inilah bibit orang Cina yang berduduk di negari Betawi beramei'an sampei sakarang ini.

Kalakian, maka Tuwan-Besar tiada bersuka, negari beharu disebut negari Betawi, remaklah disebutnya; negari Hoorn-Beharu, menurut nama negari Tuwan-Besar di tanah Wolanda, akan tetapinya Majelis ber XVII itu membenarkan nama Betawi dan demikian juga adanya.

Bermula, satelah berapa lamanya, iyaitu pada tahun 1621, Tuwan-Besar berlayar ka pulau Banda, sebab orang Banda amat nakal dan berkhianat, maka di alahkannya pulau itu, lalu segala orang peduduk pulau itu ditawankan, dan di bawa ka tanah Jawa, sedang orang Wolanda 460 banyaknya laki-bini di pindah ka pulau Banda, maka banyak hamba dari pulau Papua dan dari Makassar di bawa kapulau Banda, menyadi hamba. Maka orang Wolanda dapat masing‘ sabidang tanah, supaya menanamkan pohon pala, dan buwahnya akan dijuwal kapada Kompeni. Maka orang itu bibit orang peduduk pulau Banda sampei sakarang ini. Syahadan maka pada tahun 1623 Tuwan-Besar sudah lelah, sebab itu iya minta pulang berhentikan lelahnya, maka Tuwan Carpentier dipilih mengganti dia.

Sabermula, maka Tuwan-Besar Pieter Carpentier memerintahkan dari tahun 1623 sampei kapada tahun 1627. Maka sapanjang pemerintahan Tuwan-

Besar ini ada senang santosa. Orang Jokerto di alahkan, Pangeran Banten tiada berani berperang lagi; Panembahan Mataram pada kutika itu mengakan berjinak-berjinak dengan Kompeni, sebabnya iya bermusuh dengan Adipati Surabaya, maka takutnya Kompeni menulung Adipati itu kelak; lagipula orang Maluku berdamei juga dengan Kompeni.

Adapon orang Inggris itu tiada bermusuh juga, karena pada tahun 1619, maka Kompeni orang Inggiis dan Kompeni orang Wolanda berjanji-berjanjian hendak bertelung-bertelungan. Maka pada segala pelayaran berniaga, duwa bangsa itu bersama-bersamaan, dan segala untung dibahagikan sakedar modalnya. Akan tetapinya orang Inggris bayik berkawan, bayik bermusuh salamanya kurang satiawan. Apabila orang Wolanda hendak berlayar di mana-di mana, maka kapal orang Inggris belom berlangkap.

Sakali peristiwa Tuwan-Besar Kun hendak berlayar ka pulau Banda hendak mengalahkan pulau itu, lalu diberinya tahu itu kapada orang Inggris, supaya menyertakan dia, tetapi pada kutika hendak berlayar, maka kapalnya belom sadia, maka berlayar Tuwan-Besar diiringkan oih orang Wolanda belaka. Satelah pulang, maka ditagehkan orang Inggris untuknya dari pada untung; kata Tuwan Besar: jang'an sakali, jikalau kamu mengikut kiranya, saniscaya dapat juga untuk, tetapi sakarang tiada. Maka berbantah-berbantahlah orang Inggris.

Hata, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Carpentier ada lagi perkara dengan orang Inggris di pulau Ambon. Maka beberapa orang, iyaitee 18 orang Inggris, 9 orang Je pun dan saorang Portugal berdiam-berdiam bermuwafakat jahat, hendak membunuh hu-lubalang Van Speult serta dengan segala orang Wolanda. Maka terpecahlah rahasia itu, lalu orang berduwa-puluh-delapan ditangkap dan dipanjarai, lalu perkara itu diperiksa dengan saksamanya dan 9 orang Inggris terlepas, tetapi 9 orang Inggris, 9 orang Je pun dan saorang Portugal itu dihukum mati, dipanggal leher. Arakian, satelah didengar itu oih orang Inggris di Betawi,maka marahlah marika-itu katanya: berpatutan orang itu dikirim ka Betawi, supaya perkaranya dipe-riksai di situ, beharulah bolih dihukum. Akan tetapi dikatakan Tuwan Van Speult, jikalau aku mengirim orang itu ka Betawi, niscaya di tengah jalan atau di Betawi orang Inggris melepaskan sudaranya, supaya jangan dihukumkan. Adapon perkara itu dituduhkkan oih orang Inggris kapada Tuwan-Besar Kun, kendatilah iya sudah pulang ka tanah Wolanda.

Hata, satelah Tuwan Kun telah memperhentikan leahnya di tanah Wolanda, maka Majelis ber XVII itu mempersilakan akan diya hendak menjabat pemerintahan lagi, lalu Tuwan Kun kombali katanah Jawa, maka Tuwan-Besar Carpentier pulang ka tanah Wolanda.

Ada di benuwa Nieuw-Holland telok besar, yang disebut telok Carpentaria, menurut nama Tuwan-Besar, sebab orang Wolanda mendapat telok itu pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Carpentier.


12. Tuwan-Besar J. P. Kun Memerintahkan ka Duwa Kalinya. Negari Betawi Dikepungkan Susuhunan Mataram, Iyaitu Sultan Agung

1627—1629

Sabermula, maka satelah Tuwan-Besar Kun telah menjabat pemerintahan, maka dikirimnya utusan ka-pada Pangeran Banten hendak memberi tahu itu kapada Pangeran, kalau3 iya hendak berdamei, karena sampei kutika itu masih berperang dendam kasumat dengan orang Banten, dan lagi pelabuan Banten dipepatkan oih kapal orang Wolanda; maka orang Inggris telah berpindah dari Betawi ka Banten, sebab berdengkei marika-itee dengan orang Wolanda. Akan tetapinya Pangeran Banten tiada mau berdamei dengan Kompeni; dengan akas dicobainya membunuh Tuwan-Besar dan mendatangi negari Betawi; syukurlah niat Pangeran dibatalkan, tetapi Tuwan-Besar menjaga bayik, supaya jangan ditipu-dayakan orang Jawa.

Syahadan, maka Sultan Mataram¹ yang disebut Sultan Agung, mengakan juga membinasakan orang Wolanda dan mengalahkan negari Betawi. Maka Tuwan-Besar telah menuruh utusan menghadap Sultan itu, bayik Tuwan-Besar Kun, bayik Tuwan-Besar Carpentier. Maka dititah Sultan kapada utusan Tuwan-Besar: Aku hendak menulung Kompeni, jikalau Tuwan-Besar hendak menuruh utusan datang menyembahkan dan menjunjung duli. Maka dijawab utusan: adapon Kompeni amat bersuka berjinak'an dengan Sultan Mataram, akan tetapi Tuwan-Besar kami tiada diataskan olih saorang pun, melainkan olih raja Wolanda dan Tuhan Allah juga. Maka Sultan mengambil gusar juga akan perkataan itu, akan tetapinya pura tiada memperhatikan itu, sebab iya masih berperang dengan Adipati Surabaya dan Tumangung Pati. Satelah sudah dialahkan musuh berduwa itu, maka dipandangnya ka Betawi hendak berperang dengan Kompeni.

Hata, maka pertama disuruhnyia utusan kapada Tuwan-Besar dengan permintaan, supaya ditulung melawan Pangeran Banten. Maka Tuwan-Besar dengan segera mengarti maksud Sultan, iyaitu dehulu Pangeran Banten dialahkan, kemudian dari pada itu negari Betawi. Sebab itu disahut Tuwan-Besar: salagi

Tumanggung Bau Rakso diamanatkan Sultan, maka kami tiada bolih bermuwafakat dengan Sultan. Satelah didengar sahutan itu oleh Sultan, maka dikatakannya, bayiklah kami membinasakan Kompeni itu. Maka dengan segera tantara orang Jawa dikerahkan; tetapi dicobainya dehulumempertipudayakan Tuwan-Besar.

Hata, maka tanggal 22, bulan Augustus, tahun 1628, datang ka Betawi 59 perahu dengan 120 goyan padi dan 150 ekor karbau, maka perahu itu ditumpangkan 900 orang. Maka ditanya syah-bandar, apasebabinya muwatan yang banyak itu? Maka dikatakan juragan: Adapon inilah akan dijuwal; kami disuruh Tumangung Bau - rakso hendak menu-lung Tuwan-Besar; lagipula ada-perahu lagi, yang akan datang dipermuwat dengan karbau 800 ekor. Bahwa senya satelah duwa hari lamanya bersampei lagi perahu 7 buwah, yang berinuwat dengan karbau 800 itu, tetapi ada juga beratus-beratus orang yang samu-wanya bersenjata, saperti orang yang hendak berprang lakunya. Maka kasangkaan Tuwan-Besar: kalau3 orang ini disuruh Bau-rakso, hendak mengalahkan negari Betawi. Maka titah Tuwan-Besar bayiklah segala muwatan ini dipikul ka kota, dan karbau di taroh di kandang, tetapi perahu dan orang ini jangan sakali masuk negari; lagipula perahu, yang beharu datang, jangan berdekatan perahu, yang lama datang. Bahwa senya pada malam itu orang Jawa mencoba melolok orang Wolanda, tetapi sialah. karena orang berjaga bayik-bayik. Satelah perang galak lima jam lamanya, maka orang Jawa mundur. Maka ka esukan harinya datang Tumanggung Bau-rakso dengan tantaranya beribu-beribu banyaknya.

Maka dehulumorang Jawa menega pagar perlin-dungan berapa hari lamanya. Maka pada samantara itu Tuwan-Besar dengan segera menyouruh memanggil segala orang khalasi yang di po elau Sakit; lagipula masing-masing peduduk negari, bayik orang Wolanda, bayik orang Cina dan orang mardaheka mendapat senapan. Maka pada malam tanggal 11, bulan September, Tuwan-Besar menyocruh laskarnya ka luwar kota melawan musuh, maka orang Jawa mundur. Satelah dilihat orang Cina, maka orang Jawa mundur, maka dipasangnya senapan amat galak, dan me-mukul merambang, menyadi, orang Jawa lari2melindung dirinya.

Hata, satelah berapa hari lamanya, maka orang Jawa menyerang beramei-beramei dengan gampak amat sakali. Maka di tampuhnya dari segala sihak, akan tetapi dituntun-tutnya mengalahkan katalum Hollandia, sebab jauh, dan lagi sadikit orang di situ, 24 orang sehaja, maka dengan gambira orang Jawa bertampuh beribu banyaknya, tetapi orang Wolanda melawan dengan galak, sampei segala obat-bedil habis dipasang; tambahan pula Tuwan-Besar tiada tahu orang ber 24 amat disesakkan orang Jawa. Maka saorang bercakap hendak membuwang nyawanya, lalu iya terjun dari tembok menyabrang parit, lalu lari ka kota dan membri tahu kapada Tuwan-Besar, temanya amat berbehaya; maka dengan segera Tuwan-Besar, menyuruh pembantuan, maka terlepaslah orang Wolanda, dan orang Jawa mundur.

Hata, satelah berapa lamanya Tuwan-Besar menyu-ruh tantaranya lagi kaluwar kota, 2800 orang banyaknya, maka diserangnya musuh dengan gambira, maka perang orang Jawa peiyah, dan Bau-Rakso dengan anaknya mati dibunuh dalam perang. Maka orang Jawa lari dan pembantounya, orang Sumedang, berserut, karena marika-ite mengikut perang dengan paksaan sehaja. Hata, maka ka esukan harinya orang Wolanda kaluwar lagi, hendak merusakkan segala kubu dan perlindungan musuh, karena disangkakannya, orang Jawa telah lari samuwanya. Maka dengan gambira ditampilnya, akan tetapinya tiba-tiba dilihatnya orang Jawa beribu-beribu banyaknya, maka dengan segera diserangnya musuh itu, tetapi musuh itu tiada lari lagi, melainkan tahan, behkan kabanyakan musuh, yang melawan dengan berani, bertambah-bertambah, maka orang Wolanda terkejut, lantas mundur, mundur dengan lekas, lalu lari, dikejar oih orang Jawa dengan gampak-gaduh. Maka orang Wolanda lari hendak berlindung di dalam kota, dan lagi temannya di dalam kota membuka pintu, tetapi nyarislah orang Jawa, yang mengejar, masuk pintu sama dengan orang Wolanda, yang dikejar, tetapi orang Wolanda yang di atas tembok bertembak-bertembak dengan penabur, maka orang Jawa takut mengejar lagi, lalu berhenti, maka syukurlah orang Wolanda, terlepas dari behaya besar itu.

Adapon orang Jawa yang banyak itu beharulah datang dengan Tumanggung Suro-ngalogo, yang disuruh Sultan Mataram hendak membawa segala jarahan dari negari Betawi, karena dikirakan Sultan: »Saniscaya Tuwan-Besar itu disemukan oih tipudayaku.“ Satelah Suro-ngalogo melihat negari Betawi belom di alahkan, dan Tumanggung Bau-Rakso serta dengan anaknya sudah mati, dan tantaranya bertiwas, maka amatlah terdasyat iya, maka ditamparnya paha seraya berseru: Wai, apakah kubawa kelak kapada Tuwanku? Karena dikatahuinyia juga, iya kena marah Sultan, jikalau iya kombali ka Karta dengan tangan hempa. Maka disuruhnya menyerang, benteng itu, tiada jadi.

Satelah itu disuruhnya menarbis ayer Ci-Liwung, supaya negari Betawi kamaraun. Demikianlah Sultan Mataram telab mengalahkan bandar Surabaya juga, sangkanya negari Betawi dapat dialahkan demikian juga. Maka 1000 orang bekerja 30 hari lamanya, tiada berguna, karena ayer mengalir terus saperti dehulo juga. Maka musimnya musim hujan, bulan November. Satelah itu di suruhnya menyerang kota lagi, tetapi sialah; maka disuruhnya membunuh panglima serta dengan laskarnya, barang 700 orang banyaknya, sebab bertiwas. Hata maka tanggal 3, bulan December, tahun 1628 tantara Suro-ngalogo berangkat pulang ka Karta. Ada orang yang menceriterakan, Sura-ngalogo di bunuh Sultan; ada yang menceriterakan, Sura-ngalogo mati dalam perang, tahun 1638.

¹ Supaya senang dibaca, Panembahan Mataram disebut Susuhunan dan Sultan Mataram, kendatinya nama itu diperolihnyia kemudian dari pada perang dengan Kompeni.


13. Negari Betawi Dikepungkan Ka Duwa Kalinya. Tuwan-Besar J. P. Kun Mati 1629. J. Spex Dipilih Mengganti Dia

1629—1632

Sabermula, maka kendatilah Sultan Agung bertiwas, tiada iya maeo mungkir, melainkan mencoba sakali lagi. Terdehulu di alahkannya Susuhunan Giri, yang dialahkan olish Pangeran Pekik, iyaitu Adipati Surabaya. Maka pada kutika itu Tuwan-Besar berdamei dengan Pangeran Banten, maka disuruhnya saorang hulubalang ka Banten, yang membawa saeikor kuda dari tanah Arab amat bagus bangunnya serta dengan pesannya: Jikalau Pangeran di perangi olish Sultan Mataram, nanti Kompeni bercakap menelulung Pangeran Banten. Maka pemberian itu ditarima Pangeran. lalu Tuwan-Besar berjanji an dengan Pangeran, bertulung-bertulungan.

Syahadan, maka pada kutika itu datang saorang utusan Wargo namanya menghadap Tuwan-Besar, lalu mengunjuk surat dari Tumanggung Tegal. Maka segala kasalahan perang itu ditanggungkan atas Tumanggung Bau-Rakso, maka katanya Sultan amat marah dengan dia, karena Sultan bertuntut berdamei dengan Kompeni. Maka utusan itu amat manis dan sopan, maka kalakuannya layin dari pada kabiasaan utusan Sultan. Sebab itu di dalam hati Tuwan-Besar: kalau-kalau yang ini daya Sultan lagi. Maka disuruhnya hambanya dan laskarnya berjaga bayik-bayik, dan lagi ditambahi mariam dan disimpannya banyak obat-bedil dalam gudang. Kadengaran ada berhim pun banyak beras di negari Tegal; sebab itu Tuwan-Besar menyeruh bertanya kapada Tumanggung Tegal, apa sebabnya orang menghim pun banyak beras di situ. Jawab Tumanggung: Adapun beras ini di him pun, supaya menjuwal kapada Kompeni. Bawha senya dikirim-nya 13 perahu bernmuwat dengan beras. Akan tetapi Tuwan-Besar belom percaya. Maka saorang pengiring Wargo membuka rahasia, lalu Wargo ditangkap; satelah itu maka diakukannya segala beras, yang dihim pun di Tegal, disimpan, supaya bekal tantara Sultan, yang menuntoot mengalahkan negari Betawi. Maka dengan segera Tuwan-Besar menyeruh kapal ka Tegal dan ka Gabang, yang membakarkan gudang dan beras yang terhiim pun di situ. Kendatilah itu Sultan tiada mau mungkir, melainkan dengan tantara 80000 orang banyaknya iya berangkat ka Betawi. Ada tiga bulan sabelomnya tantara serta dengan mariamnya dan bekalinya berjalan dari Karta ka Betawi. Maka tanggal 21, bulan Augustus, tahun 1629 pendahuluan tantara itu menyaberang Ci-Tarum. Maka barang 6 jumaat lamanya orang Jawa mengepung negari Betawi sampeii tanggal 2 bulan October, tetapi tiada dapat mengalahkan negari itu. Maka orang Jawa melindungkan dirinya dalam lobang-lobang, supaya jangan kena peluru mariam; dan lagi Tuwan Van Diemen dengan 350 orang kaluwar kota, hendak merusakkan perlindungan orang Jawa, tiada banyak gunanya. llata, maka pada malam 21 bulan September matilah Tuwan-Besar, maka sakitnya, sakit sampar. Sayang-Sayang juga, karena Tuwan-Besar ini saperti hati Kompeni; bilamana segala orang takut, maka Tuwan Kun sendiri berharap, dan memberi hati kepada segala hambanya, bahwa senya iyalah terlebih besar dari pada segala Tuwan-Besar adanya. Maka Majelis di Betawi memilih Yacques Spek, menjadi Tuwan-

Besar, pengganti Tuwan Kun. Maka Tuwan Spex belom sampe ka negari Betawi, tetapi kapal yang ditumpanguya telah sampe di pelabuhan itu.

Syahadan, maka satelah Sultan Agung melihat tiada dapat mengalahkan negari Betawi, maka disuruhnya pulang; akan tetapi banyak-banyak orang dibunoh, atau mati kasakitan dan kalaparan. Maka tantara yang pergi 800000 orang, dan tantara yang pulang kombali ka Karta 14000 orang banyaknya. Maka sapanjang jalan ada bertemperasan bangkei karbau dan mait orang beribu-beribu banyaknya. Maka Sultan Agung dipermaluukan, dan Kompeni dimuliakan. Maka Raja Bali dan Raja Balambangan minta Kompeni, supaya membangunkan gedung di negarinya, dan lagi Pangeran Banten minta juga kapada Kompeni, hendak membangunkan gedung, yang telah dirombakkan.

Bermula, maka pada kutika itu Sultan Mataram dapat idzin dari pada Sultan Rum, (Konstantinopel) menyebutkan dirinya Sultan. Maka memang namanya Panembahan, kemudian dia dapat nama Susokhunan, dan beharu, salah pada tahun 1629, diperolihnya nama Sultan.


14. Pemerintahan Tuwan-Besar Antonie Van Diemen

1636—1645

Sabermula, adapon Tuwan-Besar, yang mengganti Tuwan-Besar Y. P. Kun, iyaitu Yacques Spex, 1629—1632, tiada di amanatkan oliah Majelis ber XVII, sebab itu dengan segera diganti oliah Tuwan-Besar Hendrik Brouwer, 1632—1636. Maka Majelis ber XVII itu bernasihatkan kapada Tuwan-Besar, supaya berdamei dengan Sultan Mataram. Akan tetapinya Sultan itu terlalu congkak, karena dituntutnya, tiap³ tahun utusan Kompeni disuruh dari Betawi menghadap Sultan, menjunjung duli, Maka Tuwan-Besar dengan Majelis pemerintahan di Betawi merasa tiada dengan sapatutnya, Kompeni memperhambakan dirinya kapada Sultan Mataram, maka di enggannya, lalu Majelis ber XVII memanggil pulang Tuwan-Besar, maka Tuwan Antonie Van Diemen dipilih, mengganti akandia (*).

Bermula, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Van Diemen, 1636—1645, kuwasa Kompeni dilowewaskan di mana-di mana, dari pulau Mauritius sampe Australia. Maka orang yang berduduck di pulau Bali, di pulau Sumbawa dan di pulau Floris itu minta berjanji³an dengan Kompeni. Maka orang kaya mendapat tungkat berhulupirak dan topi dan pakeian laken, sarupra alamat pangkatanya; maka Kompeni berjanji menulung marika-itu, dan orang pulau itu berjanji, hendak berniaga dengan Kompeni belaka. Demikian juga Kompeni berjanji dengan Raja Tonkin, Siam dan Kamboja dan lagi dengan Sultan Makassar. Lagi pula orang di pulau Solor dan Timor menbiarkan, orang Wolanda membangunkan di situ du-wa benteng, sabuwah di pulau Solor, sabuwah di pulau Timor. Maka di pulau itu orang Wolanda membli banyak kayu cendana, yang dijuwalnya ka tanah Cina dan ka pantei Coromandel. Adapon di pulau Sailan itu, maka Raja Singa minta

(*) Adapon Tuwan Van Diemen itu, dia sampeika Betawi pada sementara pemerintahan Tuwan-Besar Kun. Maka iya masuk kerja Kompeni, dan menyadi laskar. Maka dengan segara Tuwan-Besar Kun melihat Tuwan Van Diemen amat pandei; lalu berulang-berulang Tuwan Van Diemen di angkat sampei dapat pangkat besar. Maka satelah Tuwan-Besar Brouwer di panggil pulang, maka Majelis yang Maha Tinggi di negari Betawi memilih Tuwan Van Diemen mengganti Tuwan-Besar Brouwer itu. pembantuan Kompeni, hendak menghalaukan orang Portugal, maka ditulung Kompeni dan orang Portugal di alahkan. Maka diperolih Kompeni duwa buwah negari, iyaitu Negombo dan Punt de Gallo; maka orang Wolanda bolih berduduk di situ, lagi beli-juwal, dan lagi dijanji Raja Singa, segala kayu-manis dan gading itu dijuwalnya kapada Kompeni belaka.

Lagi pula bandar Malaka direbut juga dari pada kuwasa orang Portugal. Maka berulang2an orang Wolanda telah mencoba mengalahkan negari itu, tetapi sia3lah, maka benteng itu terlalu teguh; maka pada akhirnya, pada tahun 164!, panglima-laut Ka ar de- ku bersampeian mengalahkan bandar itu, dan menghalaukan orang Portugal, lagi pula di alahkannya pulau Bintang. Maka samenjak itu perniagaan di negari Betawi bertambah-bertambah makin lama, makin lebih, karena kapal orang Portugal tiada dibiarkan di bandar Malaka lagi, sebab itu banyak kapal bersinggah di bandar Betawi.

Hata, maka orang Portugal di usir juga pada ku-tika itu dari tanah Je pun, bukan olih orang Wolanda, melainkan olih Mikado iyaitu raja. Maka agama Khristen telah bertambah amat banyak sakali di tanah Je pun, beribu3 orang banyaknya. Maka orang Khristen itu ditukaskan, saolah marika-itu hendak membalikkan adat dan perintah karajaan Je pun. Maka orang Khristen di aniayakan dan disangsarakan amat ngeli, beribu3 banyaknya; ada yang disulakan, ada yang diterjunkan sampei terpecah badannya, sahingga segala orang Khristen ditumpaskan. Maka orang Portugal dilarangkan berniaga lagi, melainkan orang Wolanda dibiarkan, tetapi tempat kadudukannya dipindah dari pulau Firando ka pulau Decima ±1640.

Hata, maka Kompeni berolih silihan dengan pulau Formosa, dengan ibu-negarinya Tayowan. Maka pulau itu amat besar dan bagus, dan lagi tempat kadudukannya bertampan dengan hal berniaga, karena ada dekat tanah Cina dan dekat pulau-pulau Maluku. Lagi pula orang Formosa, yang sadia orang Cina, bersuka menarima agama Khristen. Maka pada kutika Tuwan-Besar Van Diemen ada empat pandita, sadia orang Wolanda, dan lagi tiga guru agama, sadia orang Wolanda, dan lagi lima puluh orang penelung pandita, sadia orang Formosa. Maka pulau itu amat di indahkan Kompeni,

Lagi pula disuruh olih Tuwan-Besar berbuwat bandar tempat pelabuhan di pulau Mauritius, karena dari dehulu kala pulau itu sunyi-sennyap.

Maka banyak orang Wolanda laki-bini pergi berduduck di situ, supaya kapal pergi-datang ka Betawi bolih bersinggah di situ. Kemudian dari pada itu pada tahun 1650 orang Wolanda berduduck di Penanjung Pengharapan, dan segala orang peduduk di pulau Mauritius dipindah ka penanjung itu. Maka sakarang pulau itu dipunyai olih orang Inggris.

Adapon di tanah Borneo orang Wolanda mencoba juga berduduk di bandar Banjermasin, tetapi tiada jadi. karena tiap³ kali orang Wolanda berduduk di situ, dibenuh juga olih Sultan Martapura. Bahwa senya kapal, yang disuruh Tuwan-Besar ka Banjermasin itu, tiada bersampei ka darat olih ombak bersabung amat tinggi.

Adapon pada tahun 1640 orang Portugal melepas-kan dirinya dari pada orang Hispanye. Satelah itu di akannya berdamei dengan orang Wolanda. Sebab itu ditulis olih Majelis ber XVII kapada Tuwan-Besar, supaya mencehari jalan layin hendak mendapat untung. Maka katanya, satelah berapa lamanya nanti kita berdamei dengan orang Portugal, dan tiada berolih untung lagi dengan memerangkan orang Portugal. Maka disuruh Tuwan-Besar beberapa kapal hendak mencehari tanah, yang belom pernah dilihat orang Airopah. Maka juragan Abel Tasman mendapat pantei besar, yang disebutnya van Diemensland, dan benuwa itu disebutnya tanah Wolanda-Beharo e, lagi pula didapatnya pulau, yang disebutnya juga pulau Van Diemensland, tetapi sakarang nama itu disebut Tasmania.

Maka olih karena pelayaran dan perniagaan, yang amat luwas itu, ada berhajat banyak orang, maka tiap-tiap tahun datang dari tanah Wolanda 3000 orang, dan Tuwan-Besar menulis ka Majelis ber XVII ada masih kurang, karena 5000 orang belom cukup, supaya segala pekerjaan diperbuwat.

Hata, maka di pulau Ambon orang negari kurang senang, sebab marika-itu dipaksa menjuwal cengkeh (bunga-lawang). Maka Tuwan-Besar merasa Tuwan Residen di situ terlalu keras, lalu mengganti dia, akan tetapi pengganti itu lebih keras lagi, sebab itu orang Ambon berdurhaka, lalu berprang. Maka orang Ambon di anjurkan olih saorang hulubalang Kakiali namanya, yang melindungkan dirinya dalam benteng Luciel a. Maka lama-lama orang Ambon melawan, tiada bolih di alahkan. Maka Tuwan-Besar pergi ka Ambon, hendak memeriksa perkara itu, karena dituntut Tuwan-Besar menyenangkan orang Ambon.

Satelah perkara itu diselidik, maka orang Ambon rupanya senang, dan perkara menjuwal bunga-lawang di aturkan. Maka Tuwan-Besar pulang lagi; akan tetapi orang Ambon berdurhaka pula, lalu dialahkan. Maka Kakiali dibenuh olih saorang hambanya, sadia orang Ilispanye.

Hata, maka satelah berapa lamanya orang Ambon berdurhaka lagi; maka kapalanya, Tulukabesi namanya, melindungkan dirinya di benteng Kapaha. Maka perang itu amat galak, banyak orang Ambon di bunuh dan banyak orang Wolanda juga, tetapi pada akhirnya orang Ambon bertiwas; maka benteng Kapaha dirombakkan dan Tulukabesi itu ditawankan, lalu dipang- gal lehernya. Maka samenjak itu orang Ambon tiada berdurhaka lagi.

Bermula, maka Tuwan-Besar itu bukan mengapikan hal berniaga dan hal memerintahkan sehaja, melainkan perkara pengajaran agama dan pengatahuan di indahkannya juga. Maka kita telah melihat bageima na agama Khristen telah dirambakkan di pulau Formosa; maka di Betawi juga Tuwan-Besar menyeruh membangunkan sekola, supaya anak orang Wolanda dan anak orang Jawa dapat di ajar membatta, menulis, menghitung dan lagi di ajar dengan hal agama Khristen. Lagipula disuruh Tuwan-Besar menegakan duwa rumah gereja, sabuwah dibelanjak an olib Tuwan-Besar sendiri, dan sabuwah layin dibelanjak an olib segala hamba Kompeni samuwanya sakalian.

Maka pada tahun 1644 ada banyak orang Jawa, yang bermusyawarat, hendak membunuh Tuwan-Besar, tetapi sabelomnya sempat berbuwat itu, rahasia telah dibuoka, maka orang itu ditangkap dan dibunuoh.

Maka berulang'an Tuwan-Besar telah minta lepas, hendak pulang ka tanah Wolanda, melainkan tiap-tiap kali Majelis ber XVII mempersilakan Tuwan-Besar, hendak melanjutkan pemerintahannya. Maka pada akhirnya Tuwan-Besar dapat lepas, tetapi sabelomnya surat itu sampe i kamari, maka Tuwan-Besar telah meninggal dunia 1645. Lalu Tuwan Van der Liyn dipilih mengganti dia.

Bermula, maka orang Wolanda pada kutika itu tiada membelanjak an banjak duwit, supaya makan minun enak dan berpakei pakeian bagus dengan hiasan mas atau peirak. Maka orang Wolanda di Betawi senantiasa berjalan berkaki, karena ada di negari Betawi sabuwah kareta, yang dipakei olib nyonya isteri Tuwan-Besar, supaya berjalan ka rumah gereja.


15. Bahwa Inilah Ceritera Perkara, Yang Jadi Pada Samantara Pemerintahan Tuwan-Besar Van Der Lijn Dan Reiniersz

1645—1653

Sabermula, maka Tuwan-Besar, yang mengganti Tuwan-Besar A. v. Diemen iyaiteo Tuwan-Besar Cornelis Van der Liyn, yang memerintahkan dari 1645 sampe 1650. Satelah iya pulang, maka penggantinya Tuwan-Besar Karel Reiniersz 1650—1653, yang mati di negari Betawi. llata, maka Tuwan-Besar Cornelis V. d. Liyn berjanji dengan Sultan Mataram pada tahun 1647. Maka Sultan Agung telah meninggal dunia pada tahun 1646, lalu putera Sultan, yang bernama Amangkurat, yang bergelar Sultan Tegal Wangi, mengganti dia.

Adapon Sultan Amangkurat berkahendak berdamei dengan Kompeni, sebab itu manterinya Wiro Guno menyorong perdameian, lamun Kompeni menyeruh utusan ka Mataram. Maka menurut perjanjian itu Kompeni akan menulung Sultan, melawan musuhnya, lamun musuh Sultan itu musuh Kompeni juga, dan lagi utusan Sultan dan orang yang nayik haji akan dibawa dengan kapal Kompeni ka Mekka; dan lagi orang, yang lari dari pada Sultan, diserahkan pula kapada Sultan dan orang, yang membelut dari pada Kompeni, di serahkan pula kapada Kompeni d. l. s.

Bermula, maka Majelis ber XVII mengirim juga surat hendak mengaturkan kalakuan segala hamba Kompeni. Maka di dalamnya ada disuruh, segala dagangan akan dibli murah dan dijuwal mahal, supaya berolih banyak untung; dan lagi jikalau ada terlalu banyak pala atau bunga-lawang, maka pohonnya akan ditebang. Satelah iu Tuwan Vla ming, yang memerintahkan di pulau-pulau Maluku, memberi

‘tahu, maka Kompeni tiada membeli pala dan bunga-lawang lagi, melainkan sabanyaknya berhajat di Airo-pah, dan lagi tiap-tiap tahun datang kapal Kompeni, supaya memeriksaikan di mana terlalu banyak pohon pala dan bunga-lawang. Maka orang-kaya di Ternate dan Tidore dan di pulau-pulau layin amat marah, tetapi tiada berani melawan, melainkan satelah Tuwan Vlaming telah pulang ka Betawi, maka orang berdurhaka melawan Sultan Ternate, karena iya terlalu tersangkut kapada Kompeni.

Maka segala orang Wolanda dibenuh dengan sangsara. Maka Sultan Mandarsyah minta per-tulungan Kompeni, lalu Tuwan-Besar menyouruh Tuwan Vlaming, hendak membalas pembunuhan itu, dan lagi menebang segala pohon pala dan pohon bunga-lawang, melainkan di pulau Ambon dan Banda tiada. Maka perang itu anam tahun lamanya dengan amat keras, maka di pulau Ambalu, Manipa dan Buru segala pohon pala ditebang. Maka orang di pulau-pulau itu melawan sakuwat2nya, tetapi bertiwas dan satelah hulubalangnya dibenuh atau mati atau ditawan, orang banyak tiada melawan lagi. Maka perdameian itu jadi pada tahun 1656; samenjak itu orang di pulau-pulau Maluku tiada berdur-haka lagi.

Maka orang Ternate dan Tidore dapat bertahan salama, sebab marika-iteo dibantukan oih Sultan Makassar; maka Tuwan-Besar berniat juga ber-perang dengan Sultan Makassar, tetapi masih ada perang di pulau Sailan dengan orang Portugal. Satelah sudah habis itu beharulah Kompeni bersempat memerang-kan Sultan Makassar.

Hata, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Reiniersz ada saorang tabib sadia orang Wolanda, Antonie Van Riebeek, namanya, yang bersinggah dengan kapalnya di pelabuhan dekat Penanjung Pengharapan, maka tanah itu su- nyi sennyap, tetapi kadudukannya terlalu tampan kapada kapal pergi-datang ka Betawi hendak bersinggah. Satelah Tuwan A. v. Riebeek sudah pulang ka tanah Wolanda, maka dicenderongkannya hati Majelis ber XVII, supaya diberinya bibit orang dan perkas, hendak menyusockkan di situ sabuwah negeri, supaya kapal, yang bersinggah di situ, dengan gampang berolih bekal dan ayer. Maka permintaan Tuwan v. Riebeek diloluskan, lalu banyak orang Wolanda berduduk di situ, dan lagi orang dari Mauritius dipindah ka negeri Pengharapan 1652, lalu orang Wolanda berduduk di situ dan menghamburkan dirinya sampe datang kapada tahun 1806. Maka pada tahun itu orang Inggris merebut negeri Pengharapan dari pada kuwasa orang Wolanda juga adanya.

Sabermula, maka pada tahun 1653 Tuwan-Besar Reiniersz meninggal dunia, lalu orang pemerintah di Betawi itu memilih Yoan Maatsuiycker menyadi Tuwan-Besar. Maka pemerintahan Tuwan-Besar ini dari 1653 sampe 1678.


16. Pemerintahan Tuwan-Besar Joan Maatsuycker

1653—1678

Sabermula, maka kutika pemerintahan Tuwan-Besar ini amat beruntung kapada Kompeni, maka samantara kutika itu kuwasa Kompeni berembang, dan utung-nya tiada dengan sajodonya, melainkan ada cuma satu perkara yang beruntung-malang, iyaitu pulau Formosa karontohan dari pada Kompeni.

Maka akan diceriterakan empat perkara: 1a Perang di pulau Sailan. Ka-Ka Pulau Formosa diruntunkan dari pada Kompeni.

Ka3 Perang dengan Sultan Palembang dan lagi dengan orang Aceh. Ka4 Perang dengan Sultan Makassar. 1a Perang dengan orang Portugal di pulau Sailan.

Maka pada tahun 1644 orang Wolanda telah berjanji dengan orang Portugal, hendak berhenti berperang sapuluh tahun lamanya, sebab itu pada tahun 1654 perang itu bernyala pula. Maka saorang hulubalang, Van Hulft namanya, berlayar ka pulau itu dengan banyak kapal, lalu negari Colombo dialahkan. Maka hulubalang Hulft mati, tetapi hulubalang Van der Laan melanjutkan kamena-ngan itu, sampe orang Portugal di usir dari pulau itu, lalu orang Wolanda berjanji dengan Raja Sailan, maka segala dagangan dibeli dan di juwal oleh Kompeni.

Lagi pula hulubalang Riyklof Van Guns berlayar ka pantei barat tanah Hindostan, yang disebut pantei Malabar, lalu meruntunkan banyak bandar dari pada kuwasa orang Portugal. Bahwa senya niatnya mengalahkan juga bandar Goa, tetapi dengan segera dapat khabar dari tanah Wolanda, maka orang Portugal berdamei dengan orang Wolanda 1663, maka sebab itu bandar Goa tiada dialahkan; maka bandar Goa masih di dalam kuwasa orang Portugal sampe sakarang ini.

Ka 2 Pulau Formosa diruntunkan dari pada kuwasa Kompeni.

Hata, maka samantara kuwasa Kompeni dilowewaskan di sabelah barat, maka di sabelah octara itu Kompeni kena karuqian. Maka pada fasal 14 muka 52 ada dice-riterakan betapa pulau Formosa di indahkan oleh Kompeni sebab hal berniaga, dan lagi bageimana agama Khristen dirambakkan di situ.

Syahadan, maka pada tahun 1652 orang Cina, yang berduduk di pulau itu, berdurhaka, tetapi kadur- hakaan itu dipadamkan dengan keras. Maka pada samantara itu ada juga perang di tanah Cina. Maka raja orang Cina di pecatkan, dan orang layin menjabat karajaan. Maka banyak orang Cina dihalaukan dari tanahnya, lalu nayik perahu beratus-beratus banyknya, bersimpang-siur dan merompak-merompak. Maka yang mengapalakan marika-itu, iayitu Koksinganamanya. Adapon hulubalang orang Wolanda, Koyet namanya, berkhawatir dan mengidapkan dirinya, sebab itu dikirimnya khabar kapada Tuwan-Besar seraya minta pembantuan, supaya dapat mengembari musuh, kalau3 Koksinga nayik darat. llata, maka di Betawi ada ahli majelis-besar, Tuwan Verburgh namanya, yang bersateru dengan Koyet, maka katanya: Adapon perkara itu jangan diapikkkan olih Tuwan-Besar, melainkan Koyet takut sehaj, sebab kurang berani. llata, maka satelah berapa bulan lamanya Tuwan-Besar menyeruh hulubalang Cau dengan pembantuan. Maka pada samantara itu dengan sasungguhnya Koksinga nayik darat, lalu segala orang Cina, yang di pulau itu, menulung dia, dan segala orang Wolanda yang didapatnya dibenuh, melainkan yang sempat berlari melindungkan dirinya di benteng Zeelandia, dan satelah hulubalang Cau sampeki ka pulau Formosa, maka pulau itu telah dialahkan, dan benteng Zeelandia di kepengkkan orang Cina; lagi pula musim sudah kasip tiada bolih nayik darat olih karena ombak besar.

Kalakian, maka di antara orang Wolanda, yang tertawan ada juga saorang Pandita, Antonius Hambruk namanya. Maka pandita itu disuruh Koksinga kabenteng hendak mencenderongkan hati hulubalang Koyet, supaya menyerahkan dirinya serta dengan segala dagangan dan harta-benda Kompeni. Maka di amangkan Koksinga akan dia katanya: »jikalau engkau tiada »pulang, nanti duwa anakmu dan isterimu dibu- »nuh, dan jikalau Koyet tiada mau menyerahkan

» dirinya, maka kusuruh panggal lehermu.“ Maka percilah Tuwan Pandita Hambruk, tetapi di ajaknya Koyet: jangan menyerahkan dirimu, melainkan tahan sampei dapat pembantuan dari Betawi¹.

Maka Koyet membujuk akan dia, supaya tinggal di situ, jangan kombali ka Koksinga, tetapi kata Pandita Hambruk: »adapon kahidupanku dalam tangan »Tuhan, jikalau tiada kupulang, anakku dan isteri- ku dibunuh juga, sakali-sakali tiada kumau, mari- »ka-itu kena behaya, dan aku terlepas.“ Ada lagi duwa anaknya di dalam benteng yang minta, supaya bapanya tiada kombali, tetapi tiada iya mau menengar, maka dengan segera iya pulang ka Koksinga. Satelah Koksinga menengar, Koyet tiada menyerahkan dirinya, melainkan tahan, maka bertunu hatinya, lalu disuruhnyia membunuh segala orang tawanan serta dengan pandita Hambruk anak-isterinya.

Hata, satelah berapa bulan lamanya Koyet tiada bolih tahan lagi, sebab itu iya bermuwafakatkan dengan segala kawannya, hendak menyerahkan dirinya. Maka orang terlepas, dan bolih pulang ka Betawi, tetapi segala harta-benda Kompeni katinggalan.

Hata, satelah datang ka Betawi, maka Tuwan-Besar menyeruh memanjarakan dia. lalu iya dibuwang ka pulau A i salagi hidupnya. Maka ampat blas tahun kemudian dari pada itu Koyet terlepas bolih pulang ka tanah Wolanda, sebab Yang-Dipertuwan Willem III menulung dia, supaya dapat am pun. Rupanya Koyet tiada bersalah, melainkan Tuwan Verburgh, yang berbicara melambatkan membantu orang Wolanda di pulau Formosa. Maka samenjak itu pulau Formosa di dalam kuwasa orang Cina sampei sarakrang ini.

Ka 3. Prang dengan Sultan Palembang. Hata, maka sakali peristiwa duwa kapel orang Wolanda mudik sungei Musi sampei ka negari Palembang, tetapi kapal itu dirampas Sultan, dan segala orang, yang menumpang kapal itu dibenuh. Satelah didengar itu oih Tuwan-Besar, maka disuruhnya hulubalang Vander Laan ka Palembang, dengan beberapa kapal 1659. Maka negari Palembang di-alahkan dan Sultan minta perdameian, maka dijanjinya, menjuwal lada kapada Kompeni, dan lagi Van der Laan menyusukkan benteng pada sabrangan negari Palembang, supaya orang Wolanda dapat perlindungan.

Maka pada samantara itu Sultan Menangkabau tiap-tiap tahun didatangi oih orang Aceh, sebab itu dipintanya pertulungan Kompeni. Maka Tuwan-Besar menyeruh kasitu panglima Cau, yang mengusir orang Aceh sampei bandar Tiku, lalu disusukkannya benteng dekat bandar Padang.

Hata, maka pada tahun 1666 Tuwan-Besar menyeruh lagi kapal ka Padang, yang dijurukan oih hulubalang Poleman. Maka orang Aceh di halaukan sampei ka Singkel, dan lagi Sultan Indrapura membri pantei dekat Salida dan Painan, supaya orang Wolanda berduduk di situ. Maka kata orang, ada juga mas di situ, akan tetapinya mas, yang digali- kan di situ sadikit, sebab itu orang Wolanda tiada menggalikan lagi.

¹ Barangkali sipembaca yang orang Khristen heiran; maka barangkali dalam hatanya: bageimana saorang pandita bolih mengajak orang menahan berperang; remaklah iya menasi-hatkan: bayiklah kamu berdamei. Adapon pada sangka Pengarang itu, Pandita Antonius Hambruk berbuwat sakedar wajiibnya, karena pengharapannya, nanti dengan lekas bersampei pembantuan dari pada Betawi dan dengan itu pulau Formosa kombali kapada Kompeni, dan agama Khristen menang di pulau itu. Jangan kita lupa pada kutika itu ada lebih dari pada 5 laksa orang Khristen, peduduk di pulau Formosa. Maka demi Kompeni dialahkan di pulau Formosa, maka agama Khristen tertempas juga dari pulau itu. Jikalau kiranya hulubalang Koyet sempat bertahan sampei dapat pembantuan, saniscaya sampei sakarang ini agama-agama Khristen menang juga di pulau itu juga adanya.


17. Sambungan

Perang dengan Sultan Makassar

1660—1669

Bermula, maka perkara yang ka empat, yang peristiwa pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Maatsuycker iyaitu perang dengan Sultan Makassar, Hassan Udin namanya.

Syahadan, maka pada tatkala orang Wolanda berprang dengan orang Ternate dan Tidore, yang berdurhaka melawan Kompeni; maka Sultan Makassar menulung musuh Kompeni, dan lagi orang durhaka yang lari, dapat perlindungan di negari Makassar; lagipula orang Ternate dan Tidore dan Ambon menjuwal pala dan bunga-lawang di bandar Makassar, lalu orang Portugal datang membli dagangan itu; lagipula kadengaran, Sultan Makassar telah berjanji dengan Susuhunan Amangkurat hendak mengennyihkan orang Wolanda, dan lagi orang Portugal hendak menulung marika-itu.

Ilata, maka Sultan Makassar pada zaman itu amat berkuwasa, karena segala raja, yang di pulau Selebesi disabelah selatan itu, ditaalok olik Sultan Makassar; lagipula di rambakkannya agama Islam sampeik pulau Kei dan Aru dan lagi ka pulau Timorlaut, Babber, Letti dan Wetter.

Maka negari Makassar amat teguh; ada duwa benteng Panakukang dan Sumbopu dan lagi Ujung Panjang, maka di benteng itu banyak mariam, yang dapat merusakkan segala kapal, yang berlabuh dekat. Tambahan pula Kompeni masih berprang di pulau Sailan dengan orang Portugal, sebab itu Tuwan-Besar bersabar dan menangguhkan perang dengan Sultan Makassar.

Hata, satelah perang dengan orang Portugal di pulau Sailan sudah habis, maka dikumpulkan segala kapal perang 33 buwah banyaknya, yang ditumpangkan olish 3000 orang khalasi, 1200 orang sadia orang Wolanda, yang layin orang Ambon, orang Bugis d. l. l., di kapalakan olish hulubalang Van Dam dan Truitman. Maka duwa kapal mendehulukan kapal banyak, lalu berjuwang dengan kapal orang Portugal, anam buwah banyaknya, maka orang Wolanda pada kutika itu belom berdamei dengan orang Portugal, sebab itu kapal orang Wolanda menampuh dan menyerang anam kapal orang Portugal dengan galak, saperti singa lakunya, maka orang Portugal melawan dengan kabranian sakuwat'nya. Maka di tengah perang yang ramei itu kapal laksamana orang Portugal meletus, sebab obat-bedil kena api, lalu duwa kapal layin kena api terbakar hangus, duwa kapal layin dilanggarkan ka pantei, dau sabuwah dijarahkan orang Wolanda.

Maka orang Makassar, yang telah melihat perang, yang galak itu, amat takut; maka pada samantara itu kapal layin telah sampeii, lalu orang Wolanda turun kadarat dan menampuh benteng Panakukang, yang dialahkannya, lalu orang Wolanda berduduk di benteng itu, dan orang Makassar mengepung benteng itu, hen'ak mengalahkan pula, tetapi orang Wolanda tahan. Maka Sultan Hassan Udin minta perdameian, lalu kapal pulang ka Betawi, hendak minta bicara dan perintahan Tuwan-Besar.

Hata, maka berapa lamanya ada duwa kapal Wolanda, yang tersangkut ka pantei, lalu orang Makassar nayuk kapal beramei?, maka orang penumpang dibenuhnya dan muwatan dirampasnya. Maka utusan orang Wolanda, yang minta silihan, disergahkan dan dinistakan Sultan itu. Maka rupanya Sultan memekis Kompeni hendak berperang lagi, maka Sultan berani dengan demikian, sebab telah dilangkapkannya angkatan kapal 700 buwah banyaknya dengan orang khalasi 25000 orang, maka sangkanya: sakarang dapat mengembarikan Kompeni itu. Lagi pula dengan kapal itu dilanggarkannya Sultan Buton, yang bertiwas, dan segala orang Wolanda yang di pulau itu di usir juga.

Hata, maka pada kutika itu datang ka Betawi saorang orang-kaya di Boni, Aru Palakka namanya, yang menghadap Tuwan-Besar dan Majelis pemerintah di Betawi, hendak minta pertulungan, dan mengasut orang Wolanda, hendak berprang dengan Sultan Hassan-Udin. Maka katanya, Sultan itu telah membunuay ayanda dan nenenda hamba, sebab itu hamba datang berkhidmat kapada Tuwan-Besar, supaya mengikut perang melawan Sultan Hassan-Udin, karena hamba hendak membalas kamatian ayanda dan nenenda hamba, satelah sudah beharulah puwas hati hamba. Lagipula hamba bercakap hendak mengasut segala raja di pulau Selebesi, supaya membelut. Lagi pula Sultan Buton minta juga, supaya kapal Kompeni mengusir kapal Sultan Makassar.

Satelah di dengar itu Tuwan-Besar, maka berkumpullah Tuwan-Besar dengan Majelis yang Maha-Tinggi, lalu Tuwan-Tuwan itu samoweanya bicara, bayiklah kita berprang lagi dengan Sultan Hassan-Udin, supaya Sicongkak itu merasa bekas kuwasa Kompeni. Adapon Aru Palakka itu, maka dehulu iya mengikut perang di pantei barat Sumatra, maka dilihat orang Wolanda Aru Palakka itu pahalawan, yang amat prawira dan bijaksana.

Hata, satelah berapa lamanya angkatan kapal telah dilangkapkan 31 Dec. 1666, ada kapal 13 buwah banyaknya, maka yang mengapalakan angkatan kapal itu iyaitu hulubalang Speelman, saorang yang amat berani dan prawira, maka laksamana muda iyaitu Poleman. Maka dengan segera kapal orang

Wolanda berlayar ka pulau Buton, tempat kapal Sultan Makassar masih berlabuh, Maka dengan segera kapal itu ditampuh, sabelomnya marika-itu tahu kapal Wolanda telah sampai; maka terkejutlah marika-itu hendak lari, tetapi tiada sempat lagi, lalu di jarahkan dan khalasi di tawankan. Maka orang tawanan dibawa ka pulau Aru dan Timor-Laut, dan segala jarahan di bawa ka Betawi, bulan Yanuari tahun 1667. Maka laksamana Speelman berlayar ka pulau-pulau Maluku sedang Poleman berlayar ka Ban-taeng, maka di situ datang juga Aru Palakka dengan pembantuan, lalu ka Turatea.

Hata, satelah berapa lamanya datang lagi laksamana Speelman. Maka orang Wolanda turun ka darat, lalu mengalahkan benteng Galesung dan Sumbopu. Maka segala raja, yang telah ditaalok, membelut, minta pertelungan Kompeni. Satelah itu Sultan Makassar bertiwas, tiada kuwat lagi mengembari kuwasa Kompeni, lalu minta perdameian, 18 November 1667. Maka dijanjinya, orang Wolanda dapat berniaga dengan tiada membayar upeti, dan lagi orang Makassar membli-juwal dengan orang Wolanda, segala bangsa layin di kacuwalikan; lagipula orang Makassar tiada bolih meliwat penanjung Lasoa arah ka timur, supaya jangan berniaga dengan orang Maluku; lagi pula segala benteng dirombakkkan, hanya Sumbopu, tempat kadudukan Sultan tiada; maka orang Wolanda dapat Ujung Pandan, lagi pula diperolih orang Wolanda 1000 orang abdi serta dengan 25000 ringgit, silihan perang; dan lagi segala raja yang tertaalok dibebaskan.

Maka laksamana Speelman berkumpul dengan segala raja itu di kampung Bongaya, lalu bermuwafakat hendak berjanji-an; maka Kompeni melindungkan segala raja itu, dan segala raja menuruh rayat-rayatnya jangan membli-juwal dengan orang layin melainkan dengan Kompeni; dan lagi jikalau ada per- kara apa-apa, nanti perkara itu diselidik oih Wali Kompeni kelak. Maka raja yang bermuwafakat itu iyaite: Sultan Ternate, Tidore dan Buton dan lagi Raja Boni, Sopeng dan Lawu. Maka perjanjian itu disebut perjanjian Bongaya, 18 November 1667. Adapon Aru Palaka dapat kombali segala tanah ayandanya dan lagi negari Bantaeng dengan uang jasa 500 rupiah tiap-tiap bulan. Maka pada tahun 1672 iya dipilih Raja Boni.

Bermula, maka Sultan Hassan-Udin saperti hangus hatinya, sebab bertiwas dari pada Kompeni. Maka dide-ngarnya banyak khalasi laksamana Speelman kena sakit, maka dalam hatinya: sakarang aku sempat melepaskan diriku dan memuwaskan hatiku. Maka dicucahkan-nya lagi orang Wolanda, yang datang ka Makassar, maka laksamana Speelman tiada dapat memaksa Sultan.

Maka dengan segera laksamana menyeruh kapal ka Betawi minta pembantuan. Satelah sudah sampei pembantuan itu, maka dialahkannya benteng Sumbopu 1669; lalu segala mariam Sultan di jarahkan dan lagi Ujung Pandan dijadikan benteng saperti benteng orang Wolanda punya, lalu tersebut benteng Rotterdam, yang ada sampei sakarang ini. Maka samenjak itu Sultan Makassar tiada berani lagi melawan Kompeni, maka Raja Boni makin kuwat, tetapi salama-salamanya kuwasa Raja Boni bertimbalan dengan kuwasa Sultan Makassar. Adapon orang Maluku itu tiada berdurhaka pula melawan Kompeni, lagi pula di pulau Ceram dan Goram dibangunkan benteng.

Bermula, maka pada kutika orang Wolanda berdamei dengan orang Hispanye, maka orang Hispanye masih berduduk di pulau Tidore, di tanah Minahassa dan di pulau Siao. Maka lama kalaman orang Hispanye beralih dari pulau Tidore dan dari tanah Minahassa juga, tetapi marika-itu tetap berduduk di pulau Siao. Maka pada tahun 1677 Wali

Kompeni, Pad tbrugge namanya, mengasut Sultan Ternate, supaya mengusir orang Hispanye dari pulau Siao itu, satelah sudah itu, maka Sultan membri segala pulau Sangi kapada Kompeni. Inilah sebabnya pulau Sangi di bawah kuwasa Kompeni sampey saka-rang ini juga adanya.¹

¹ Rupanya orang Hispanye menegakan di pulau Sangi agama Khristen, yang berunggun di situ sampey sakarang.


18. Hikayat Taruno Joyo Melawan Sultan Tegal-Wangi, dan Lagi Putera Sultan Itu Ditulung Kompeni

1674—1680

Bermula, bayiklah kita sakarang menoleh ka pulau Jawa. Maka kita telah melihat § 15 muka 55, bahwa Kompeni berjangdi dengan Susuhunan Mataram, Amangkurat I namanya, yang bergelar Sultan Tegal-Wangi, maka waktu pemerintahannya dari tahun 1646—1677. Maka salagi Sultan itu hidup, perdameian itu tiada putus, karena tiap-tiap tahun datang utusan Kompeni menghadap Sultan, dan mempersembahkan barang-barang yang indah-indah. Maka sangkanya utusan Kompeni menjunjung duli dengan persembahan itu. Akan tetapinya duwa kali iya itu pada tahun 1656 dan 1664 itu dilarangkannya menjuwal beras kapada Kompeni dengan tiada sebabnya, dan lagi dibrinya pula idzin dengan tiada dipinta; demikianlah Sultan itu bertingkah-bertingkah, banyak kali iya marah dengan tiada samena-samena.

Maka salagi Tuwan Riyklof van Guns Wakil Kompeni di hadapan Sultan itu, maka Sultan amat ramah2an dengan dia, sebab Sultan dan manterinya amat bersukaan dengan Tuwan K. v. Guns, karena bilamana barang-barang, yang amat indah-indah, telah dibawa ka Betawi, maka Tuwan v. Guns menyeruh mempersembahkan itu kahadapan Sultan. Akan tetapinya kalakuan Sultan dengan segala rayat³ dan manteri³nya amat bengis, jahat dan tlalim, Maka sakali peristiwa disuruhnya membunuh 6000 haji, sebab kadengaran ada beberapa haji, yang berhati-kecil dengan Sultan, mau memowaskan hatinya dengan membunuh Sultan, lalu disuruh Sultan, membunuh segala haji, yang terdapat.

Lagi pula pada waktu layin Raden Ayu, isteri Sultan, mati, lalu disuruhnya mengambil 200 orang perampuan, yang disuruhnya mati kalaparan, lalu maitnya kahanyut sungei Solo. Lagipula sakali peristiwa Pangeran Yapara datang bersembah di hadapan Sultan, lalu disuruh Sultan membunuh akan dia dengan tiada samena-samena. Maka salagi pemerintahannya Sultan itu membunuh kira³ 20000 orang dengan tiada sebabnya. Maka rupanya Sultan itu bageikan hendak gila, karena disuruhnya masing³ orang Jawa akan piarakan duwa bini, saorang bagei dirinya sendiri, saorang bagei Sultan; bahwa senya disukakannya dirinya dengan mayin layangan, dan lagi digombalakannya kambing di alun³ keraton, kendatinya ada banyak musuh, yang hendak merubuhkan karajaannya,

Kalakian, maka jangan terheiran ada banyak orang, yang berhati-kecil, bayik rayat-rayat bayik manteri dan priyayi; dan bilamana ada saorang, yang berani berdurhaka melawan Sultan, sanistiyaya banyak orang dengan suka-hati mengikut dia. Maka orang itu saorang muda, Taruno Joyo namanya, yang bergelar juga Prabu Maduretna.

Adapon Taruno Joyo itu, saorang muda yang dipelihara di dalam keraton Sultan Tegal-Wangi, karena adinda ayandanya Cakra-ning-Rat II, Pangeran Sampam, berduduk juga di keraton Sultan. Maka orang muda amat berhimat-tinggi, dan lagi orang Ma- dura amat bersuka dengan dia, sebab sadia orang Madura.

Hata, maka satelah perang orang Makassar dengan Kompeni habis, ada beratus3 orang Makassar, yang ber- alih ka pulau Madura dan ka pulau Jawa dengan hulubalangnya iyaite Kraeng Galesung, Daeng Manepok dan Kraeng Montemerano 1672.

Adapon Kraeng Montemerano ini dehulumenulung Sultan Hassan-Udin. Sebab itu dengan perdameian ditageh Kompeni, Kraeng Montemerano akan diserahkan kepada Kompeni, melainkan iya melepaskan dirinya, lari ka pulau Jawa. Maka dengan pertulungan hulubalang orang Makassar itu Taruno Joyo berdurhaka, lalu dengan segera saluruh pulau Madu-ra menurut perintahnya.

Hata, satelah sudah itu, maka Taruno Joyo, dengan tantaranya orang Madura dan pembantunya orang Makassar itu menyabrang selat Madura, lalu mengalahkan dengan segera pantei utara, yang didu-duki orang Madura, dan lagi segala tantara orang Jawa, yang disuruh menahankan dia, bertiwas juga. Maka negari Pasuruan, Gombong, Gresik. Jaratan dan Surabaya dialahkannya, dan segala orang dekat pantei laut lari ka udik. Satelah didengar itu olih Sultan Tegal Wangi, maka di suruhnya Pangeran Yapara, Wongso Dipo namanya, minta pertulungan, kapada Kompeni menurut perjanjian tahun 1647. Maka disuruh Tuwan-Besar hulubalang Holstein dengan tantaranya ka selat Madura, hendak mengalahkan orang Makassar; tetapi Holstein itu tiada dapat berprang dengan orang Makassar, sebab marika-itu terlalu tangkas. Maka pulanglah Holstein, lalu Tuwan-Besar menyoceruh hulubalang Poleman dengan 300 orang.

Hata, maka hulubalang Poleman itu lebih prawira dan perkasa dari pada Holstein, sebab itu dengan segera dialahkannya orang Makassar dan lagi negari Ampel, tempat kadudukan Taruno Joyo, dialahkannya, maka Kraeng Montemerano kena luka, mati. Maka dengan segera segala pantei dari Pasuruan dan Surabaya sampe ka Yapara kombali di bawah kewasa Sultan Mataram. Maka segela musuh lari ka udik dan Taruno Joyo berpindah berduduk di negari Kediri, lalu disebut Prabu-Maduretna. Sakarang hulubalang Poleman tiada bolih berbuwat lagi, melainkan tantara orang Jawa.

Bahwa senya Sultan Mataram mengerahkan laskarnya, 60000 orang banyaknya, yang dikapalakan olih Pangeran Adipati Anom, akan tetapinya tantara itu berjalan dengan perlahan sahingga Taruno Joyo dan Kraeng Galesung sempat menyawatukan tantaranya, lalu dengan segera ditampuhnya tantara Jawa itu, yang bertiwas, lalu lari tercerei-berei. Maka dengan demikian segala untung, yang di perolih hulubalang Poleman, telah hilang adanya, maka Adipati-Anom lari, tiada berani pulang ka Mataram.

Hata, maka Tuwan-Besar sakarang berikhtiar menyuruh hulubalang Speelman sebab iyalah prawira perkasa dan bijaksana, bulan Yanuari 1677. Maka iya bersinggah di Cirebon dan di Tegal, karena ada utusan Taruno Joyo, yang hendak membelutkan hati orang itu, tetapi sebab kadatangan Speelman tiada jadi, lalu Speelman berlayar ka Yapara bermuwafakat dengan Wongso Dipo, Pangeran Yapara. Maka dengan segera dilihat Speelman, maka karajaan Mataram akan rubuh, lamun ditunjang Kompeni, maka di dalam latinya: bayiklah kami meletakkan perjanjian dehulu, supaya kami tiada dipertipudayakan Sultan Mataram itu. Maka ditentuukan beberapa syariat, supaya Kompeni berolih untung dari pada perang itu, 28 Feb. 1677.

Maka disuruhnya hulubalang Kooper ka Mataram, supaya Sultan menyungguhi perjanjian itu dengan tanda tangannya. Maka pada tatkala Kuper datang ka Mataram, ada banyak huru-hara di negari itu, karena ampat ananda Sultan berlumba-berlumba berban-tah-tahan, siapa dapat karajaan, jikalau ayahandanya mati kelak, dan lagi Sultan yang tuwa itu terlalu bingung, tiada tahu apa-apa akan diperbuwat. Maka ananda Sultan menyunnguhi perjanjian, lalu Kuper kombali ka Yapara.

Satelah sudah itu hulubalang Speelman dengan segera pergi ka Surabaya dengan maksudnya, mencoba berdameikan Taruno Joyo dengan Sultan, tetapi di enggannya, lalu dengan segera negari Ampel, tempat kadudukan Taruno Joyo ditampuh, lalu dialahkan, maka Taruno Joyo terlepas lari ka Kediri. Maka mak-sud hulubalang Speelman menggulung musuh yang lari, tetapi datang pesan Tuwan-Besar, jangan mudik lagi, kalau³ kita berprang dengan Sultan Ban-ten. Maka hulubalang Speelman itu menyabrang ka Madura, lalu mengalahkan negari Arosabaya dan me-naalok pulau itu, yang dikombalikan kadalam kuwasa Sultan Mataram. Maka pada samantara itu Taruno Joyo sempat menampuh negari Mataram, maka disu-ruhnya hulubalangnyia DandangWacana de-ngan orang Madura dan RadenKajoran de-ngan orang Jawa ka negari Mataram hendak menga-lahkan negari itu. Adapon Raden Kajaran itu, mantuwa Taruno Joyo, dikirakan bersakti juga adanya.

Maka dengan segera Sultan, yang tuwa itu lari dengan tiada sempat mengambil alat-senjata karajaan dan harta bendanya. Maka dirampas orang Madura barang-barang yang didapatnya: alat-senjata karajaan, makota mas, bekas-raja Mojopahit, duwit mas dan peirak amat banyak dan ananda perampuan dan dayang Sultan. maka Taruno-Joyo beristeri dengan RadenTampa ananda Sultan, lagi pula duwa ananda laki-laki menjun-jung duli dan mengikut Taruno-Joyo.

Kalakian, maka Sultan yang tuwa itu lari dengan sadikit manteri dan hulubalang yang masih satiawan, lalu ka Bagelen dan Banyumas; maka di situ Sultan berjumpa dengan anandanya yang sulung, Pangeran Adipati Anom, maka dititahkannya kapada segala manteri itu, Adipati Anom berhak mengganti dia, lalu disuruhnya kapada Pangeran itu, supaya iya melindungkan dirinya dekat hulubalang Speelman, dan heramanat Kompeni; nanti dengan kuwasa Kompeni diperolihnyia pula karajaanya. Satelah berapa hari lamanya, maka Sultan itu mati, maka orang mengu-sung mait Sultan itu duwa hari, sampeii didapat tegal harum atau wangi; sebab itu Sultan ini disebut dengan namanya Sultan Tegal Wangi.

Hata, maka Adipati Anom itu dehulu berniat berlayar ka Mekka nayik haji, tetapi Pangeran Tegal, Merta Loyo mencenderongkan hati Sultan muda itu, jangan melakukan niatnya; maka katanya: barangkali Sultan Banten berkahendak menulung Tuwanku, tetapi Sultan Banten, tiada mau; lalu Adipati tiada berdaya lagi. melainkan minta pertulungan Kompeni; lalu iya pergi ka Yapara bertemu hulubalang Speelman. Kata hulubalang itu, Kompeni menulung juga, lamun Adipati menyungguhi perjanjian yang dehulu ditentukan, dan lagi menanggungkan hu-tang ayandanya, dan lagi pantei tanah Jawa dari ujung Untung Jawa sampeii Kali Pamanukan diserahkan kapada Kompeni. Maka perjanjian itu dikabulkan Adipati itu, dan di sungguhi dengan bekas-tangannya. Akan tetapi karajaan Adipati, yang disebut Sultan Amangkurat Senapati Ingalogo, masih dalam kuwasa musuhnya yang banyak itu.

1a Taruno Joyo, sampei gunung Lawu. Ka-Ka Raden Kajaran atau Panembahan Rono pada sablah barat gunung Lawu.

Ka 3 Pangeran Puger dekat Mataram dan Bagelen, dan lagi Ka 4 orang Makassar berduduk dekat Surabaya di benteng Kapar; lagi pula Pangeran Tegal menyyoba melepaskan dirinya juga; akan tetapi disuruh Sultan membunuh dia.

Bermula, maka pada samantara itu hulubalang Speelman pulang ka Betawi, karena Tuwan-Besar Maatsuycker mati, di ganti Tuwan-Besar Riyklof Van Guns, dan hulubalang Speelman mengganti Tuwan Van Guns dengan pangkatanya 1678. Maka hulubalang yang mengganti Speelman itu, Hurdt namanya, dengan gambira melakukan perang itu. Maka dengan tiga pasukan tantara Wolanda, yang di sertai oliy 5000 orang Jawa berangkat ka negari Grompol. Maka hulubalang Tak datang dari negari Samarang, hulubalang Renesse dan Muller berduwa itu datang dari negari Blora, Jipang dan Bojonegoro, sedang hulubalang Hurdt dengan Susuhunan datang dari Yapara. Satelah sudah sampei ka negari Grompol, maka hulubalang Tak dengan pasukannuya berjalan berkuliting gunung Lawu sampei ka negari Singkal dekat sungei Brantas, maka di situ tiga pasukan Wolanda berjumpaan.

Hata, maka dekat negari Singkal ada negari Tokon. maka di situ tantara Wolanda menyabrang sungei Brantas kendatinya di lawankan dengan amat galak oliy orang Madura, tetapi orang Madura bertiwas, 13 October 1678. Satelah berapa hari lamanya negari Kediri ditampuh, lalu dialahkan. Maka Taruno Joyo lari, terlepas, tetapi katinggalan alat-senjata karajaan dengan makota mas bekas-raja Mojopahit, yang dipersembahkan kapada Susuhunan; akan tetapi ada kabilangan intan besar, maka sangka-sangka Susuhunan, hulubalang Tak telah mencuri itu, tetapi bukan; maka sebab itu Susuhunan berdendam akan hulubalang

Tak; maka kemudian dari pada itu dipuwaskannya hatinya¹. Satelah negari Kediri dialahkan, 25 November 1678, maka hulubalang Hurdt pergi ka negari Surabaya, maka di situ orang Wolanda sempat berhentikan lelanya, dan lagi datang pembantuan juga iyaitu hulubalang Poleman dengan orang Wolanda dan Aru Palaka dengan orang Makassar.

Hata, maka pada bulan September Kapitein Sloot, berangkat dengan pasukan ka Wonokerto, tempat kadudukan Raden Kajoran, maka negari Wonokerto dialahkan, dan Raden Kajoran bertiwas, ditangkap dan di bunuh. Maka pada samantara itu hulubalang Hurdt pulang ka Betawi kena sakit dan diganti olih hulubalang Poleman, maka satelah berapa lamanya hulubalang Poleman kena sakit mati, diganti hulubalang Kuper, yang menyeruh mengpung benteng Kapar,² tempat kadudukan Kraeng Galesung dengan orang Makassar, maka dilawannya amat galak, tetapi pada akhirnya bertiwas; maka Aru Palakka melawan dan berperang dengan prawira dan perkasa. Maka benteng Kapar dialahkan, Kraeng Galesung mati, dan orang Makassar lari tercereiberei, tiada terkumpul lagi.

Hata, maka tinggal lagi Taruno Joyo, yang berkelana dekat Malang, lalu di gunung Kelud. Maka saorang Kapitein orang Ambon iyaitu kapala pengawal Susuhunan, Yonker namanya, mengepung dia dengan prajuritna, lalu Taruno Joyo tiada berdaya lagi, melainkan menyerahkan dirinya. Maka Kapitein Yonker menyerahkannya kapada hulubalang Kuper, lalu ka Susuhunan, yang menikam dia, mati,

Demikianlah perang ini putus; karena Panembahan

Giri di alahkan juga, dan dibunuh serta dengan segala kulawarganya. Maka pada tahun 1680 Pangcran Puger datang juga menjunjung duli, lalu dapat am pun.

Hata, maka Susuhunan tiada bolih membayar segala hutang kapada Kompeni, sebab itu Kompeni dapat Tegal, Pekalongan dan Samarang serta dengan dairahnya salaku gadeian. Adapon negari Mataram itu, maka Susuhunan Amangkurat II tiada suka lagi berduduk di situ, melainkan disuruhnya membangunkan keraton di negari Wonokerto, yang disebutnya Kerto Suro 1681.

¹ Coba lihat hikayat Surapati fasal 20.

² Adapon bekas Kapar itu dekat negari Porong di residenan Pasuruan.


19. Pemerintahan Tuwan-Besar Rijklot van Guns 1678—1681, dan Lagi Pemerintahan Tuwan-Besar Cornelis Janszoon Speelman

1681—1684

Sabermula, maka ceritira hikayat perang dengan Taruno Joyo dan safakatnya dihabiskan dehulu, supaya jangan terputus. Maka pada samantara perang itu Tuwan-Besar Maatsu iycker mati, diganti olish Tuwan-Besar Rijklot van Guns. Maka satelah sudah memerintahkan tiga tahun lamanya Tuwan-Besar itu mati, lalu diganti olish Tuwan-Besar Speelman, yang memerintahkan dari 1681 sampei 1684. Maka tatkala pemerintahan duwa Tuwan-Besar ini ada 3 perkara besar, yang akan diceriterakan. 1° Sultan Ternate Kaicili Sibori atau Sultan Amsterdam dipecatkan. Ka 2 Sultan Cirebon berjanji dengan Kompeni. Ka 3 Sultan Banten ditulung Kompeni, lalu Sultan dengan Kompeni berjanji-berjanjian.

Bermula, adapon Sultan Ternate itu rupanya berjinak-berjinak dengan Kompeni, tetapi dalam hatinya bersate- ru. Maka sakali peristiwa disuruhnya utusan ka pulau Ambon hendak mengasut orang Islam, membunuh segala orang Wolanda, Akan tetapi rahasia itu terpecah dan utusan itu dibunuh. Satelah berapa lamanya, maka Tuwan Padtbrugge iyaitu Wakil Kompeni dipersilakan hendak dijamuukan, akan tetapinya dengan kisad hatinya hendak meracunkan Tuwan itu. Maka datanglah Tuwan itu, tetapi bersangka-bersangka Tuwan, karena kalakuan adinda Sultan itu rupanya bergundah-gelana, maka Tuwan Padtbrugge tiada makan minum apa³. Lagi pula disuruh Sultan membunuh beberapa laskar orang Wolanda, lalu iya pergi melindungkan dirinya ka udik.

Maka Sultan itu dibenci oliah segala manterinya sebab kalakuannya bengis. Maka datanglah segala manteri menghadap Tuwan Padtbrugge, lalu katanya: kami ini satiawan kapada Kompeni, tiada mau menulung Sultan. Satelah didengar itu Tuwan Padtbrugge, maka disuruhnya menangkap Sultan, lalu ka Betawi. Satelah tiga tahun lamanya Sultan itu pulang dan dapat kombali karajaannya, tetapi bersakei kapada Kompeni. Maka Tuwan Padtbrugge berlayar ka Menado, lalu membri tahu, bahwa samenjak itu orang Menado diperintahkan Kompeni. Adapon Sultan Ternate itu dari pada kutika itu bergantung kapada Kompeni.

Adapon perkara yang ka duwa itu, iyaitu perkara dengan Panembahan Cirebon. Bermula, maka memang Panembahan Cirebon bergantung kapada Susuhunan, tetapi sebab kuwasa Susuhunan itu dikuedungi, maka Panembahan Cirebon telah lama terlepas dan bebas. Tetapi Sultan Banten iyaitu Sultan Tirtayasa mengakan juge berolih perintahan karajaan Cirebon, sebab itu di ambilinya tiga Panembahan itu ka Banten dan mengaruniakan kapananya nama Sultan, lamun marika-itu mengaku bergantung kapada Sultan Banten. Maka maksud Sul- tan Banten itu, menyesakkan Kompeni sampei dapat menulak sakali-sakali, karena pada kutika itu Taruno Joyo masih berkuwasa di Kediri, dan Kraeng Galesung di benteng Kapar dan Panembahan Giri dekat Surabaya dan Pangeran Puger dekat Mataram, maka samuwanya itu membenci amat akan orang Wolanda, dan berharap menulak orang Kasir itu, akan tetapi masing³ menuntut karajaan bagei dirinya sendiri, dan tiada beramanat yang layin; sebab itu Kompeni sempat mengalahkan masing³ berturut³an. Demikianlah tuntutan Sultan Banten dibatalkan, tetapi Panembahan Cirebon masih bergantung kapada Sultan Banten, yang saperti duri dalam hati Kompeni.

Hata, sakali peristiwa orang perampok telah merampas di Tegal, yang pada kutika itu dalam kuwasa Kompeni, lalu bersinggah di bandar Cirebon. Satelah didengar itu Tuwan-Besar, maka dengan segera disuruhnyia kapal ka Cirebon dengan pesan ini: Panembahan Cirebon dipersilakan menyerahkan siperompak itu, dan jikalau tiada berkuwasa, nanti khalasi Kompeni turun kadarat menangkap orang perompak itu. Maka Sultan Cirebon bertiga itu berdalah³, melainkan Sultan Sepuh berdiam³ membri tahu dengan syahbandar kapada utusan Kompeni, jikalau Kompeni bercakap melepaskan dia dari pada kuwasa Sultan Banten, nanti Sultan Cirebon berlindung kapada Kompeni. Maka utusan itu menyampeikan pesanan Sultan kepada Tuwan-Besar. Maka dengan segera Tuwan-Besar menyouruh Wakil Kompeni ka Cirebon dengan tantaranya, hendak menangkap orang Banten yang di Cirebon, dan lagi bermusyawarat dengan Sultan bertiga itu, Maka orang Banten dengan segera lari, lalu Wakil Kompeni bermusyawarat dengan Sultan bertiga. Maka satelah berapa lamanya Sultan bertiga itu berjanja³in dengan Kompeni, iyaitee sama jan-jinya saperti Susuhunan, artinya: segala dagangan di Cirebon dijuwal kapada Kompeni dan lagi segala blian dibli dari pada Kompeni belaka. Lagipula marika-iteo bergantung kapada Susuhunan, dan lagi larangan disebut dengan nama Sultan, tetapi saorang di sebut Pangeran Sepuh, yang ka duwa Pangeran Anom, dan yang ka tiga Adipati; maka dari pada segala hasil Pangeran Sepuh berolih 125. Pangeran Anom 124, dan Adipati 123. Maka kemudian dari pada itu tiada lagi huruhara di tanah Cirebon.

Adapon perkara yang katiga iya itu dengan Sultan Banten, inilah ceriteranya:

Bermula, maka Sultan, yang memegang perintah di Lanten pada kutika Tuwan-Besar Maatsuycker, Sultan Agung namanya. Maka Sultan menghubungkan dengan selokan Ci-Pontang dan Ci-Durian, lalu disoceruhnya membangunkan negari beharue, yang disebut Tirtayasa, sebab itu maka Sultan ini disebut dengan namanya Sultan Tirtayasa

Hata, maka pada tahun 1671, bulan Februari, dikeromongkan di negari Banten, bahwa ananda Sultan telah berolih nama Sultan dari negari Mekka, dan lagi disebut dengan namanya Sultan Abu'n Natsr Abdool Kahhar. Satelah berapa lamanya Sultan Tirtayasa menyesal, karena remaklah iya ananda layin Pangeran Purbaya. Maka Sultan Abu'n Natsr mungkir, lalu ka Mekka nayik Haji. Maka satelah itu Sultan ini disebut dengan namanya Sultan Haji. Lagipula orang Banten amat bersuka dengan Sultan abid itu, sebab itu ayandanya menarima dia dengan bayik dan menyerabkanya perkara karajaan, sedang Sultan Tirtayasa berduduk di negarinya bersuka'an berburu memancing ikan d. l. s. Akan tetapinya berdiam-berdiam diasutnya orangnya menyusahkan Kompeni, saperti telah diceriterakan muka 76.

Hata, satelah segala museoh Kompeni dialahkan berturut-berturut, maka dalam hati Sultan Haji: kalau-kalau kami berperang dengan Kompeni, lantas bertiwas juga, bayiklah kami berjinak dengan Kompeni. Tetapi ayan- danya tiada mau, maka harapnya dibantukan orang Inggris dan orang Deen. Maka tiba Sultan Haji mengambil dengan gagah perintahan karajaan Banten, dan memecatkan segala manteri ayandanya, yang bersateru dengan Kompeni, Satelah itu diseruhnuya utusan kapada Kompeni, hendak memperpengatahocankan, iya sendiri menjabat karajaan dan hendak berdamei dengan Kompeni, bulan Mei, tahun 1680. Maka disahut Tuwan-Besar, bayiklah Sultan melepaskan dehulu segala orang pembelut, kendatinya dia orang masuk agama Islam, dan lagi menyilih segala rampasan, yang dirampas olih orang Banten. Maka disahut Sultan lagi, tiada bolih, karena yang ini melawan syariat agama Islam¹. Maka sebab itu perjanjian itu tiada jadi.

Hata, maka pada samantara itu Sultan Tirtayasa berdiam bermuwafakat dengan manterinya, yang terlepas dan lagi dengan segala orang, yang tiada bersuka dengan Sultan Haji, istimewanya dengan segala orang perompak dan pencuri dan orang perisau, sebab Sultan Haji telah melarangkan bermusuh dengan Kompeni dan mencuri atau merompak barang Kompeni itu. Akan tetapi kendatinya itu orang tiada ferdulikan perintah Sultan Haji, sebab diasut Sultan Tirtayasa.

Kalakian, maka pada malam 27, bulan Februari, tahun 1682, sakunung banyak rumah di negari Banten kena api, lalu di tengah huruhara itu orang pengikut Sultan Tirtayasa itu berdurhaka dan mengamok serta dengan membunuh segala hamba Sultan Haji, bahwa senya jikalau Sultan itu tiada dengan segera lari melindungkan dirinya di dalam keratoniya saniscaya dibunuoh juga olih orang pengamuk itu. Ada sabuwah benteng Surusu aan namanya, yang dibangunkan olih saorang Wolanda, Lukas Cardeel, atau Hendrik Laurens namaouya, maka orang itu telah masuk agama Islam dan dapat nama Wira Guna. Maka dalam benteng itu Sultan melindungkan, dan lagi kahilangan harapnya, tetapi ada hulubalang Wolanda, Yakob de Roiy, yang membri hati kapada orang yang lari dan menuruh menutup segala pintu, lalu berkata kapada Sultan: jangan pu-tus asa, ya Tuwanku melainkan dengan segara minta pertulungan Kompeni, saniscaya Kompeni membantu Sultan juga. Maka dengan segara disuruhnya saorang utusan ka Betawi minta pertulungan, lalu Tuwan-Besar menuruh hulubalang St.Martin dengan tantara ka Banten, tanggal 6, bulan Maart.

Maka Sultan Tirtayasa mengepungkan anandanya dengan pertulungan orang Inggris dan orang Deen, sebab itu pembantu Kompeni tiada berguna banyak, karena orang Inggris dan orang Deen menembak dengan mariam kapal Kompeni, yang hendak bersinggah di bandar Banten. Sebab itu makin takaet Sultan, lalu di kiriminya lagi surat kapada Tuwan-Besar hendak minta pertulungan lagi dengan janjinya, jikalau Kompeni bersampeian mengalahkan ayandanya dengan safakatnya, maka diloluskannya Kompeni memepatkan segala dagangan bli-juwal dengan dikacuwalikan segala orang layin. Maka dengan segera disuruh Tuwan-Besar hulubalang Tak dengan pembantuan. Maka hulubalang itu lebih berakal dari pada hulubalang St. Martin, maka diceharinya tempat layin, supaya kapalnya bersinggah, lalu pada malam diturunkannya laskarnya ka darat, lalu satelah malam siyang, maka dengan tantaranya ditampuhnya musuh, yang amat terkejut, lalu bertiwas. Maka tantara

Sultan Tirtayasa dialahkan serta dengan orang Inggris dan orang Deen, lalu Sultan Haji terlepas.

Maka Sultan Haji amat marah dengan orang Inggris dan orang Deen, kahendaknya membunuh marika-iteo, tetapi dilarangkan hulubalang Tak katanya: jangan Sultan membunuh Wakil Kompeni orang Inggris dan orang Deen, melainkan melarangkan dia bersinggah di bandar Banten lagi. Maka Sultan Haji menghalaukan orang Inggris dan orang Deen, dan sebab itu maka orang Inggris amat marah, karena ditanggungkannya larangan itu atas hamba Kompeni; akan tetapi diperolihnya itu sebab pertulungan kapada Sultan Tirtayasa yang kalah. Saniscaya jikalau Sultan Haji bertiwas, maka orang Wolanda dilarangkan juga. Maka orang Inggris beralih ka negari Benkulen, tempat duduknya sampeai tahun 1824.

Hata, maka Sultan Haji tiada terpada dengan mengalahkan ayandanya, melainkan disuruhnya menggulung musuh yang lari sampeai ditangkap. Maka Sultan Tirtayasa telah lari ka negarinya, lalu melawan sakuwat'nya, tetapi tiada dapat mengembarikan tantara Wolanda, lalu disuruhnya meletuskan negari Tirtayasa, lalu lari ka udik dengan anandanya, Pangerevan Purbaya. Maka pada akhirnya tiada tahan lagi, melainkan menyerahkan dirinya kapada anandanya, Sultan Haji. Maka Sultan itu amat keras, hendak membunuh ayandanya, tetapi dengan pertulungan Wakil Kompeni itu Sultan tuwa itu dihidupi, tetapi dipanjarakan. Maka sebab Sultan Haji terlalu keras, maka Tuwan-Besar minta, supaya Sultan tuwa itu dipiarakan di Betawi sampeai kamatiannya, tahun 1692.

Hata, maka satelah perang itu habis, maka Kompeni menageh hutang 600.000 ringgit banyaknuya, akan tetapi dijanjikan Kompeni tiada menageh duwit itu, salagi Kompeni dapat memepatkan segala dagangan bli-ju-wal; jikalau Sultan menidakkkan perjanjian itu sa- yugianya membayar juga hutangnya. Maka perjanjian itu belom pernah diputuskan.

Maka pada tatkala perjanjian itu diletakkan, Tuwan-Besar Speelman telah mati 1684. Maka samenjak tahun ini Kompeni bersampeian memepat dagangan pada saluruh tanah Jawa, karena pada tahun 1677 dijanjikan dengan Sultan Amangkurat II, dan pada tahun 1681 dengan Panembahan Cirebon.

¹ Bahwa senya ada disyariatkan dengan agama Islam: suwafu perjanjian tiada bolih berlama lebih dari pada sapeluh tahun; dan lagi orang Banten berjanji dengan Kompeni pada tahun 1659. Sebab itu dari pada tahun 1669 orang Banten berprang dengan Kompeni, kendatilah tiada diperpengatahuankan.


20. Pemerintahan Tuwan-Besar Johannes Camphuis

1684—1691

Sabermula, maka sapeninggal Tuwan-Besar Speelman Majelis, yang Maha Tinggi di Betawi, memilih ahli-majelis yang muda, iyaitu Yohannes Camphuis. Maka Tuwan-Besar itu saorang yang bayik dan bijaksana dan lagi beribadat; lagipula disukainya menulung orang berilmu dan berpengatahuan. Maka tatkala pemerintahannya ada banyak orang berilmu, yang menulis kitab, bayik dari pada hikayat, bayik dari pada ilmu sakalan alam dan pengatahuan tumbuh'an, tanam'an dan bunga'an d. l. s.

Syahadan, maka salagi pemerintahan Tuwan-Besar itu ada senang santosa di antara bangsa-bangsa, yang di bawah perintahan Kompeni, dan lagi di Banten, di Cirebon dan di Mataram; melainkan satu perkara cideraan Kompeni dengan Sultan Amangkurat II tertimbul. Inilah ceriteranya.

Alkisah, maka pada samantara Kompeni masih berprang dengan orang pengikut Sultan Tirtayasa, maka hulubalang Ruis berjumpa dengan pasukan orang Bali, yang dikapalakan oliy Si Untung, yang bergelar Surapatı, sadia orang Bali juga; maka orang itu samuwanya sehaya pelari, yang merisau-merisau. Maka hulubalang Ruis mencenderongkan hati orang itu, supaya masuk kerja Kompeni hendak mengejar musuhnya. Maka orang itu amat rajin, sahingga diperolihnya pangkat opsi; bahwa senya ditangkapnya Syeikh Yusup, dan lagi Pangeran Purbaya ananda Sultan Tirtayasa di cenderongkannyalah, menyerahkan dirinya kapada Kompeni. Satelah dide-ngar itu olik Tuwan-Besar, maka disuruhnya opsi Kuffeler hendak menghantar Pangeran itu ka Betawi. Maka dengan sasungguhnya Pangeran itu datang berjumpa dengan opsi itu. Akan tetapinya Tuwan Kuffeler itu saorang bodoh, yang tiada tahu adat orang Jawa, maka ditagehnya, Pangeran serta dengan segala pengiringnya menyeralikan senjatanya; maka diperbu-watnya juga, melainkan Pangeran tiada mau menyerahkan keris pusakaan. Maka Si Untung menulung Pangeran itu katanya: bukan itu adat orang Jawa, tetapi Tuwan Kuffeler bergusar, tiada mau mungkir. Maka Pangeran Purbaya lari, dan Tuwan Kuffeler menanggungkan pelarian itu atas Si Untung, yang mengamuk, dan membunuh 16 orang Wolanda, lalu lari juga; lalu Tuwan Kuffeler menuduh Si Untung berkhianat kapada Kompeni.

Hata, satelah berapa lamanya Tuwan-Besar menyuruh hulubalang Kuper dengan pasukan hendak menangkap Surapati, tetapi tiada jadi, karena Surapati terlepas, lari berlindung dekat Sultan Amangkurat.

Maka pada perjalanan itu hulubalang Kuper mengaturkan perkara di tanah Priangan. Adapon tanah Priangan memang di bawah perintahan Sultan Mataram, tetapi dikirakan Kompeni, maka tanah Priangan peroli-han dengan perjanjian pada tahun 1677. Maka beharulah pada tahun 1704 perkara itu diseleseikan dengan Sultan Paku-Buwono I. Maka hulubalang Kuper berjumpa dengan Pangeran Sumedang, dengan Demang Timbangantan iya itu Bupati Bandong, dengan Tumanggung Sukapura, dengan Tumanggung Galunggung d. l. l. di negari Tanjung Pura. Maka ditentuukan, Kompeni dapat orang hendak menebang pohon, dan lagi segala orang pelari akan di tangkap dan dibawa ka Betawi. Maka tanah Priangan pada kutika itu berhasil sadikit, dan lagi sadikit orang mengadiami tanah itu. Maka sakarang tanah itu berhasil banyak.

Bermula, maka satelah Tuwan-Besar menengar, Surapati terlepas berlindung dekat Sultan Amangkurat II, maka dilayangkan surat kapada Sultan, supaya diserahkannya orang pelari itu, tetapi Sultan bengal, tiada menyahut apa³.

Hata, satelah berapa lamanya, tahun 1686, Tuwan-Besar mengutus hulubalang Tak k hendak menyelidik perkara itu. Dehulo huelubalang Tak bersinggah di negari Cirebon dan mencendrongkan hati Panembahan Anom mengikut ka Kertosuro hendak menjunjung duli di hadapan Sultan, maka Panembahan Anom di iringkan dengan 1600 orang. Maka hulubalang Tak berlayar ka Samarang, dan bertemu dengan Van Vliet, iyaitu Wakil Kompeni di situ, karena godung Kompeni telah dipindah dari Yapara ka Samarang, rupanya pelabuhan Yapara pada kutika itu mulai bercetek.

Syahadan, maka hulubalang Tak menuruh dehelulu beberapa orang hendak mewartakan kadatangannya, seraya ditagehnya, Sultan menyerahkan Surapati, bayik hidup, bayik mati. Maka Sultan bergundah-gulana, maka iya takut Kompeni, tetapi iya takut juga Surapati. Adapon manteri Sultan itu, disurulnya menangkap Surapati itu, maka pada kutika hulubalang Tak sampei ka Kerto suro, maka negari itu amat banyak berhuruhara, ada rumah kabakaran, dan berbunyi³ tembakan snapan. Maka Surapati dengan kawanya orang Bali mengamok, dan orang Jawa lar³; dan lagi orang

Madura, yang menyertai hulubalang Tak, mundur, lantas lari juga. Maka di tengah haru-biru itu orang Bali mengamok dan menghantam sadapat-sadapatnya. Maka hulubalang Tak hendak nayik kuda, tetapi di tikam tumbak, mati serta dengan segala orang Wolanda. Maka perkara itu dengan sakunoyung-sakunoyungnya sahingga orang pengawal, yang di benteng orang Wolanda, tiada tahu apa-apa, sabelomnya segala orang Wolanda sudah dibunuh. Maka kaesukan harinya datang Sultan membawa udzur, tetapi disahut kapala segala pengawal: bayiklah Sultan mengudzurkan dirinya di hadapan Tuwan-Besar.

Satelah perkara itu didengar di Betawi, maka dikatakan Tuwan-Besar, dengan sasungguhnya Sultan itu pura-pura melawan Surapati, tetapi dalam hatinya iya bersuka, orang Wolanda dibunuh, istimewa hulubalang Tak, karena hatinya masih berdendam, sebab intan makotanya telah hilang dengan perang melawan Taruno Joyo di Kediri. Akan tetapi berulang-berulangan Sultan mengudzurkan dirinya di hadapan Tuwan-Besar juga. Maka rupanya sangka-sangkaan Tuwan-Besar itu benar juga, karena kemudian dari pada itu, orang Wolanda dapat surat, yang dikirim Sultan itu kapada Panembahan Cirebon, hendak mengasutkan dia melawan orang Wolanda; dan lagi ada saorang perompak, yang disebut Yang-Dipertuwan Menangkabau, maka perompak itu ditulung Sultan hendak menyusahkan orang Wolanda dan merampas-merampas. Behkan di Banten juga ada orang, yang diasut Sultan Amangkurat, membunuh orang Wolanda.

Bahwa senya rupanya Kapitein Yonker, yang berduduk di Tugu, menumpang pekerjaan khianat itu juga, sebab itu Yonker dibunuh olih laskar Kompeni. Entah benar, entah tiada, maka Sultan menimpakan hukum atas dirinya juga, karena satelah beberapa lamanya Surapati lari dari Kertosuro serta dengan mencuri banyak harta-benda Sultan dan duwa kuda yang amat bagus; lagi pula Surapati mem- bangunkan karajaan yang amat luwas dari Madiun sampe Balambangan, dan menyesakkan Sultan. Maka dipinta Sultan pertulungan Kompeni, tetapi tiada dipertiyayai. Kata Tuwan-Besar, jikalau laskar Kompeni datang berperang dengan Surapati, saniscaya tantaara Kompeni dilawan oliy orang Surapati dan oliy orang Sultan juga. Kendati Sultan minta berulang'an, tiada ditulung sampeii sapeninggalnya juga adanya; demikianlah khianat Sultan itu dibalaskan.


21. Perang Pusakaan yang Pertama di Tanah Jawa

1703—1708

Bermula, maka Tuwan-Besar Camphuis diganti oliy Tuwan-Besar Willem van Outhoorn 1691—1704. Maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar itu tiada perang atau haru-biru di tanah Jawa, melainkan di pulau Selebesi ada perkara dengan Raja Ioni melawan Raja Gowa, maka perkara itu dipetuskam dengan membuwang Aru Teku ka pulau Sailan. Lagi pula ada perang di tanah Borneo, maka Sultan Sukadana berperang melawan raja Landak. Maka hamba Raja Landak telah mendapat intan bagus; satelah didengar itu Sultan Sukadana, maka ditamakannya intan itu, maka bertiwas Raja Landak, lalu iya minta pertulungan Sultan Banten, yang beringin intan itu, tetapi sebab kurang berkuwasa mela- wan Sultan Sukadana, yang ditulung orang Inggris, maka dipintanya pertulungan Kompeni dengan berjanji menyilih belanjaan perang itu. Maka dengan pertulungan Kompeni Sultan Sukadana dan orang Inggris dialahkan, lalu intan itu diperolih Sultan Banten. Satelah sudah itu Kompeni dapat lada muwatan duwa kapal itu. Maka perolihan itu bukan banyak, akan tetapi yang lebih di indahkan Kompeni, iya itu orang Inggris dilarangkan berniaga di pantei barat tanah Borneo.

Kemudian dari pada itu Sultan Banten menyerahkan kuwasanya atas duwa karajaan itu kapada Kompeni; inilah asalnya Guvernement sakarang berkuwasa juga di pantei barat tanah Borneo juga adanya.

Bermula, maka pada tahun 1704 Tuwan-Besar Van Outhoorn menyerahkan perintahnya kapada menantunya Yohan Van Hoorn yang memerintahkan 1704—1709¹. Maka pada samantara perintahan Tuwan-Besar itu ada perang yang amat galak di tanah Jawa, maka sebabnya datang dari hal pusakaan karajaan. Maka kitab ini terlalu kecil, supaya menteriterakan segala halahuwal perang itu, melainkan mulanya, lako enya dan penghabisannya sehaja.

Mulanya. Alkisah, maka Sultan Amangkurat II meninggal dunia tahun 1703. Maka sabelomnya iya mangkat, dipanggilnya puteranya, adindanya dan mante-rinya, lalu dinasihatkannya: jangan bercidera, maka di tegurkannya anandanya, supaya dibaca Nitri Sastra dan Nitri Praja dan surat layin, lalu iya mangkat beradu; maka anandanya bernama Mangkurat Mas atau Sunan Mas atau Dipati Anom.

Maka beharulah Sultan itu dikuburkan, maka dengan segera nayik haru-biru olih karena Sultan yang beharu itu. Ada yang berkata, Sultan itu tiada berpatut Sultan, karena iya menimpang; ada larangan dengan agama Islam orang bertimpang diangkat Sultan. Akan tetapinya bukan itu sebabnya betul, melainkan kabengisan Sultan itu pada kutika masih Pangeran. Maka iya beristeri dengan ananda mamanda, Pangeran Puger, lalu ditalaknya perampuan itu, maka satelah itu isteri yang ditalak bersandar gurau dengan anak manteri Sultan, maka satelah di dengar itu olih bapanya, maka disuruhnya mencekekkan anaknya, sebab katakutan ananda Sultan itu, dan mukanya, serta dengan sanak sudaranya dibunuh juga.

Satelah Pangeran itu nayik Sultan, maka bertambah bengisnya; jikalau kiranya ada saorang bayik manteri bayik priyayi bayik rayat,2 yang beristeri saorang perampuan, yang eilok parasnya, maka diambilnya perampuan itu, dan laki‘ nya dibunuhnya. Lagipula disuruhnya memagari sabidang tanah di keraton, dan lagi di dalamnya sabuwah rumah kecil, yang bertembok batu dan bertingkap, maka terkadang-terkadang disukakan hatinya dengan melihat perampuan telanjang, yang diterkam macan sampeu mati; sedang Sultan itu berdudock dalam rumah kecil melihat temasya itu.

Maka dengan sasungguhnya sakali peristiwa Pangeran Puger disuruh kabetek² sebab ananda Pangeran Puger itu mengikut orang berdurhaka, Suryakusuma dia lahkan, lalu dibunuh, dan ananda Pangeran Puger dengan ayandanya kabetek Maka Pangeran Puger amat malu dan marah, lalu lari mencehari perlin dungan dekat Wakil Kompeni di Samarang. Lagipula ada banyak manteri, istimewanya Pangeran Cakaningrat dan Jayeng Rondo, yang mengasut dia katanya: apabila Tuwan berdurhaka, nanti kami menulung, dan lagi dengan pertulungan Kompeni Tuwan bersempat merebut karajaan dari tangan Sultan Sitlalim itu. Maka Sunan Mas itu³ minta Wakil Kompeni menyerahkan Pangeran Puger, tetapi disahuninya: bayiklah perkara ini diselidik Tuwan-Besar; lagi pula Sunan Mas mencoba mengemasi hamba Kompeni, tetapi tiada jadi.

Hata, maka duwa-duwa itu, Pangeran Puger dan Sunan Mas menyeruh utusan ka Betawi, minta pertulungan Kompeni. Maka satelah utusan duwa Sultan itu sampei ka Betawi, maka Tuwan-Besar berbicara dengan Majelis yang Maha-Tinggi katanya: Apa kita berbuwat, karena saniscaya kita berperang; siapa garangan kita hendak menulung? Maka berbicara kabanyakan ahli Majelis itu: bayiklah Kompeni menulung Pangeran Puger; karena Sunan Mas itu dibenci, sebab bengisnya, dan lagi dia beripar dengan Surapati, dan pada tatkala iya masih Pangeran, diasuninya ayandanya bermusuh dengan Kompeni; lagipula tiada iya menanggungkan hutang ayandanya, sedang Pangeran Puger bercakap hendak menanggungkan segala hutang. Maka ditentukan Majelis yang Maha-Tinggi, bahwa Kompeni menulung Pangeran Puger melawan Sunan Mas.

Hata, satelah didengar Sunan Mas itu, maka iya amat menyesal, lalu dengan segera dikuempulkannya duwit sabolih3 nya, 70 ribu ringgit banyaknya, hendak membayar Kompeni, tetapi duwit itu kahilangan di tengah jalan. Syahadan, satelah Pangeran Puger menengar Kompeni akan menulung dia, maka iya amat bersukahati, lalu dikabulkannya segala syariat perjanjian Kompeni, maka namanya Paku Buwono I; maka diakukannya karajaan Jawa diperoIihnya dari tangan Kompeni.

Lakunya. Hata, satelah Paku Buwono I di angkat Sultan, maka hulubalang Knol dan De Wilde mengerahkan laskarnya, 500 orang banyaknya, lalu berangkat berjumpa dengan tantara orang Jawa, yang 40000 orang banyaknya. Maka perang Sunan Mas pecah, lalu tantara itu lari. Satelah itu hulubalang Bintang pergi mengalahkan negeri Demak, lalu tunggu sampei musim hujan sudah lalu.

Hata, satelah sudah itu, maka hulubalang De Wilde berangkat dari Samarang hendak berjumpa dengan tantara Sunan Mas itu, tetapi rupanya orang Jawa tiada suka akan Sunan Mas, karena tiga paseokan pengawal di gunung Ungaran itu berbelut, lalu tantara yang besar lari-lari dengan tiada melawan, saorang pun tiada dibunuh dan 400 mariam dijarahi. Maka dengan segera hulubalang De Wilde serta dengan Sultan Paku Buwono berjalan ka Kertosuro. Maka Sultan di tarima dengan suka-hati, rupanya orang bersuka sebab terlepas dari pada Sultan bengis itu, Akan tetapi Sultan Paku Buwono tiada tahu membri ampon, bahwa senya anandanya, yang bermuwafakat dengan Sunan Mas, dibunuhnya juga adanya.

Hata, maka di negari Kertosuro di tetapkan perjanjian dengan Kompeni. Maka Kompeni bolih membli-juwal dengan orang Jawa dengan tiada membaryar beya; dan lagi bolih membangunkan gedung dan galangan dimana3 d. l. s. Lagipula hutang kapada Kompeni, 1200000 ringgit banyaknya, dihapuskan, lamuen Sultan membri tiap tahun 800 koyan beras. Lagipula, jikalau orang Jawa membli apa-apa dari tanah layin, maka diblinya itu dari pada Kompeni.

Akan tetapinya sabelomnya Surapati dibunoh, dan Dipati Anom (Sunan Mas) di tangkap, tanah Jawa tiada senang. Sebab itu diseruh Tuwan-Besar pada tahun yang berikut, 1706, hulubalang Knol dari Surabaya hendak mengalahkan Surapati. Maka tantara Wolanda, 2400 orang banyknya, ditambahi dengan tantara Jayeng Rono, Bupati Surabaya, tetapi pembantuan itu tiada tulung banyak, karena tiap kali tantara Wolanda ditampuh musuh, maka tantara Jayeng Rono itu lari-lari serta bertereiak³, maka dengan sakian itu ditawarkannya hati orang layin, maka sangka-sangka hulubalang Knol, Bupati Surabaya itu pura-pura menulung, tetapi hatinya berleket kapada Adipati Anom. Maka tantara Wolanda menyabrang kali Porong dengan 5 jembatan, tetapi dengan segera ada kakoorangan bekal, karena Bupati Surabaya itu telah berlalei menyelanggarakan, sebab itu dirasai orang Wolanda amat susah, maka banyak orang kena sakit, tetapi marika-itu tahan juga.

Maka negari Bangil di tampuhkan, dan orang di dalamnya berlawan dengan berani dan kuwat, tetapi tiada dapat mengembarikan orang Wolanda, lalu bertiwas, dan negari Bangil di alahkan. Maka di tengah perang yang ramei itu Surapati kena luka, olih peluru api; maka selang tiga jumaat Surapati itu mati. Hata, maka hulubalang Knol pulang ka Surabaya, tetapi di alpakannya membangunkan benteng pengawal, sebab itu kahilangan segala kamenangan, dan musuh itu menjarah-rayah sampei ka Surabaya; maka kampungnya dibakarkannya dan bekalnya dijarahkannya.

Maka tahun yang berikut 1707 Tuwan-Besar menyeruh hulubalang De Wilde mengekalkan perang itu, karena Tuwan-Besar tiada berkenan akan kalakuan hulubalang Knol, maka hulubalang De Wilde berangkat dari Samarang, lalu ka Kertosuro; maka di situ orang Wolanda ditarima dengan sukahati dan atlamat. Maka dari Kertosuro hulubalang De Wilde herangkat ka Kediri sedang hulubalang Knol berangkat dari Surabaya dengan Jayeng Rono, maka tantara itu 20000 orang banyaknya. Maka sakarang Bupati Surabaya menulung dengan betul, karena iya marah, sebab musuh telah merusakkan tanahnya.

Hata, maka tanggal 24 bulan Augustus negari Kediri dialahkan dan Dipati Anom lari ka Pasuruan; maka berniatlah Dipati itu menyerahkan dirinya, tetapi dikatakkan orangnya: jangan Tuwan, kalau-kalau orang Wolanda membunuh Tuwan, lalu iya tahan.

Maka dekat Pintu-larat ada jurang sepit, maka di situ orang Jawa mengawal, karena jalan itu jatoh ka Bangil, dan Pasuruan. Maka orang, yang disuruh mendehulukan tantara itu, ditulak, dan banyak orang dibenuh. Maka sebab itu ada perang yang galak dekat Pintu-larat, tetapi pada akhirnya orang Jawa bertiwas.

Hata, maka kemudian dari pada itu tantara Dipati Anom itu mundur, lalu tahan dekat Sengirit dan melawan dengan sakuwat-sakuwatnya dan kaberaniannya, tetapi bertiwas juga, maka tantara Jawa tercereiberei tiada terkumpul lagi. Maka negari Pasuruan di alahkan, lalu hulubalang De Wilde suruh membangunkan benteng, supaya kamenangan itu tiada hilang lagi, lalu iya pulang ka Surabaya. Maka satelah berapa lamanya hulubalang De Wilde mati, karena kalelahannya.

Penghabisan. Maka pada tahun 1708 hulubalang Knol dengan tantaranya berangkat hendak menangkap Dipati Anom, tetapi Dipati itu telah putus- asanya, lalu menyerahkan dirinya; maka hulubalang Knol berjangdi, Adipati dapat am pun dan barangkali tanah, supaya berolih biayaannya. Maka Adipati Anom itu dihantar dengan kapal ka Betawi; lalu menghadap Tuwan-Besar dan Majelis yang Maha Tinggi, lalu minta ampon, maka dikata Tuwan-Besar, Adipati dapat ampon juga, tetapi tiada bolih duduk lagi di tanah Jawa, melainkan di pulau Sailan, dan lagi dapat juga uwang mati, 250 ringgit tiap-tiap bulan. Demikianlah penghabisan perang kapusakaan, yang pertama di tanah Jawa 1708.

Bhwa sasungguhnya dengan perang yang ini Sultan Kertosuro bergantung kapada Kompeni, akan tetapi kasudahannya bersaidah kapada orang Jawa iyaitu orang kecil, karena sakarang kalakuan Sultan tiada bolih terlalu bengis saperti dehulu, dan lagi berperang³ an saperti sadiakala itu diputuskan juga adanya. Samenjak ini orang kecil dilindungkan olih Kompeni, supaya jangan ditukul orang baungsawan.

¹ Maka pada tahun 1699 tanggal 5, bulan Yanuari, gunung Salak meletus, dan oih karena itu ada gempa bumi di negari Betawi, maka 21 rumah dan 25 bangsal terubuh, dan 28 orang mati katimpa rombakan rumah, lagi pula oih kabanyakan lumpur dan batu, yang berpancar gunung itu, Cidani dan Ciliwung disumpal, dan tubir sungei itu berpindah. Maka bekasnya masih kalihatan dekat Pasar-Mingga dan Lenteng-Agung. Maka samenjak itu negari Betawi itu kurang nyaman, terkadang negari itu di sebut kuburan orang Wolanda.

² Adapon siksa kabetek itu iya ini: saorang yang kabetek dikurungi dalam kurungan bambu, saperti kurungan burung rupanya, supaya disindirkan dan dimalui dan diolok-diolok orang lalu-lalang.

³ Demikianlah nama putera Susuhunan Amangkurat II.

Maka inilah namanya samuwanya: Paku Buwono Senapati Ingalogo Abdul rakhman Saidin Penotop ogomo.

Maka dengan perang ini pandita Valentiyn mengiring juga hulubalang Knol; maka segala halahuwal perang itu diceriterakan olih pandita itu. Lihat fasal 23.


22. Perang Kapusakaan di Tanah Jawa Kaduwa Kalinya

1719—1723

Sabermula, adapon Tuwan-Besar Van Hoorn itu diganti olih Tuwan-Besar Van Riebeek 1709—1713. Maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar itu orang Priangan mulai menanam pohon kahwah, maka satelah datang kapada tahun 1712 pada bermula kalinya buwah kahwah dikirim ka tanah Wolanda. Maka pohon kahwah asalnya dari negari Mokka, dari situ orang tanam pohon itu ka pantei Malabar lalu ka tanah Jawa; maka sakarang pohon itu ditanam di mana-di mana, dan lagi berjuta-berjuta pikul di kirim ka tanah Wolanda.

Lagipula ada cidera antara Raja Boni dengan Raja Gowa, maka Wakil Kompeni menyeliseikan perkara itu. Ada lagi perkara berantara Sultan Ternate dan Sultan Tidore, karena Sultan Tidore berbantah dengan Sultan Ternate sebab bandar Dodingo di pulau Halmheira, lalu Wakil Kompeni membangunkan benteng di situ, supaya Sultan Ternate tiada melarang lagi kapada rayat Sultan Tidore berjalan di situ.

Hata, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Van Riebeek itu Kompeni berjanji dengan Sultan Johor, maka sebab itu Kompeni berolih lu-lusan berniaga di pantei timur tanah Sumatra; maka inilah asalnya Kompeni berkuwasa dekat sungei Siak.

Adapon Tuwan-Besar itu menyuruh menebas jalan dari Betawi sampeii Tanjung Kulon, ara selatan-daya tanah Priangan, supaya dengan segara dapat khabar, ada kapal bersampei dari tanah Wolanda.

Bermula, maka Tuwan-Besar Van Riebeek diganti oleh Tuwan-Besar Van Swol 1713—1718. Maka Tuwan-Besar itu amat bayik budiman dan bijaksana dan lagi adil. Maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar itu ada perang di Hindostan; maka Kompeni melawan Zamorin Kalikut, yang di tulung orang Inggris, maka Kompeni menang.

Adapon Tuwan-Besar itu diganti oleh Tuwan-Besar Zwaardekroon 1718—1725¹. Maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar ini ada duwa perkara yang akan diceriterakan 1ª Perang pusakaan yang kaduwa di tanah Jawa, ka 2 negari Betawi diloputkan dari pada behaya besar.

1ª Perang kapusakaan yang ka du-wa 1719—1723 Alkisah, maka Sultan Paku Buwono telah suruh membunuh Bupati Surabaya, Dayeng Rono namanya, 1709. Maka oih karena itu adinda Bupati itu berdurhaka dan bersafakat dengan anak Surapati itu, lalu tanah Jawa sabelah timur dan pulau Madura itu diruntunkan dari pada kuwasa Sultan Paku-Buwono. Maka terkadang³ Sultan minta pertulungan Kompeni, tetapi tiada sempat, karena perang di pantei Malabar. Satelah sudah itu, 1617, tantara Kompeni mengalahkan orang berdurhaka itu. Saorang anak Surapati ditawan, lantas di buwang ka Penanjung Pengharapan, tetapi saorang anak layin terlepas, tahun 1619.

Syahadan, maka Sultan Paku Buwono sudah tu-wa, sebab itu satelah datang sampei kapoda tahun 1712. maka dipintanya kapada Tuwan-Besar, supaya menulung anandanya Pangeran Prabu Mangku Negoro, jikalau kiranya adindanya dan kakandanya melawan dia sapeninggal ayandanya, karena sadiakala orang Jawa diharubirukan sapeninggal Sultan oih ku-lawarga marhuem Sultan itu. Maka permintaan itu telah sudah diloluskan olih Tuwan-Besar. Sebab itu satelah Paku Buwono meninggal dunia, maka Prabu Mangku Negoro diangkat Sultan dengan nama Sunan Prabu 1719. Akan tetapinya kulawarga Sultan itu tiada terpadai, melainkan mengakan juga mendapat pangkat Sultan. Ada banyak yang menuntut pemerintahan, iyaitu Dipo Negoro dan Dipo Sonto, adinda Sultan Paku Buwono, yang sudah lari mendapatkan anak Surapati hendak berdurhaka melawan Sultan, dan lagi Pangeran Purboyo dan Pangeran Blitar, adinda Sultan Prabu, dan lagi Aryo Mataram, mamanda Sultan, yang mengambil juga ananda Sultan itu, lalu meninggalkan Kerto suro dan mengerahkan tantaranya. Maka dengan segara ditampuhkannya negari Kertosuro hendak membunuh Sultan, tetapi tampuhan itu ditangkis oleh pasukan Wolanda, yang berkawal di benteng dekat Kertosuro. Maka amat sukacitalah Sultan, lalu dipintanya, benteng itu dibesarkan lagi, dan pasukan pengawal ditambahi juga.

Kalakian, maka Tuwan-Besar menyeruh hulubalang Bergman, yang telah mengalahkan dehulu Dipati Sampang, Maka dengan segera dialahkannya Aryo Mataram yang ditawankan, lalu dibawa ka Kertosuro, maka Sultan suruh mencekekkan dia serta dengan anak-isterinya, 10 orang banyaknya. Maka Pangeran Blitar melawan dengan berani dan perkasa, maka iya tahan sampeii tahun 1722. Maka pada kutika itu tantara Wolanda dan tantara orang Jawa kena sakit banyak, maka Pangeran Blitar kena sakit juga, lalu mati. Maka Pangeran itu dengan kaberanian nyia dan kapintarannya kapala segala orang berdurhaka itu kendatinya marika-itu bercidera banyak. Sebab itu maka satelah Pangeran Blitar sudah mati, terpatahlah kuwasa orang berdurhaka itu.

Maka disuruh Tuwan-Besar tantara beharu pada tahun 1723, karena banyak orang paya dan berlelah, dan lagi banyak orang kena sakit mati. Maka tantara yang beharu itu tiada berperang, melainkan mengepung orang berdurhaka, supaya jangan berbekal, maka pada akhiirinya orang berdurhaka terlalu kalaparan, kapapaan, kasookaran dan kasakitan, sebab itu marika-itu datang menyerahkan dirinya, iyaitu Panembahan Purboyo dengan Mangku Negoro, dan Dipo Negoro dan Wiro Guno, anak Surapati, maka orang itu di bawa ka Betawi, supaya jangan di bunuh oleh Sunan Prabu, maka orang itu dibuwang ka pulau Sailan 1723; dengan demikian kasudahan pe- rang itu. Maka orang Wolanda mengucap syukur kapada Tuhan Allah.

Hata, maka dengan perang yang lama ini kuwasa Kompeni di luwaskan, dan lagi ada saidah besar kapada orang Jawa iyaitu rayat-rayat, tetapi hutang Kompeni bertambah³ amat banyak sakali, karena hutang Sultan itu dihapuskan, lamun dibayar dengan kayu jati, dengan padi, kapas, dan hasil yang layin. Maka 80 tahun ke-median dari pada itu Kompeni tiada bolih lagi menanggungkan kaberatan hutang, lalu rebah.

Bermula, maka perkara yang ka duwa, yang dijadikan pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Zwaardekroon iyaitu perkara Pieter Elberfeld.

Hata, barangkali kamu telah melihat di jalan Jokerto, dari kota ka Gunung-Sahari dekat greja, tembok besar dan di atasnya kapala-kapalaan orang, yang ditembusi lembing, maka kapala-kapalaan itu bekas kapala saorang jahat, Pieter Elberfeld namanya. Adapon orang itu saorang kaya, umurnya 61 tahun, sadia orang Germania dan ibunya saorang Jawa, maka orang itu bermurtad, masuk agama Islam, lalu bermu-wafakat dengan banyak orang Jawa beribu-beribu banyaknya, kira-kira 17000, hendak membunuh segala orang Wolanda, maka ditentoukan tanggal 1, bulan Yanuari, tahun 1722. Maka kapala orang Jawa itu Karta Driya namanya serta dengan haji amat banyak sakali. Maka dengan takdir Allah Taala itu rahasia itu terbuka, kadengaran Sultan Banten, yang membri tahu itu kapada Tuwan-Besar, 28 Dec. 1721. Sebab itu sabelomnya orang berdurhaka bersempat melakukan khianatinya. kapala-kapala itu telah ditangkap dan dibelunggui. Maka dalam rumah dan kebon Si Elberfeld itu didapat senjata berupa-berupa: snapin, lembing, tumbak, pedang, golok d. l. l., maka masing-masing telah dapat jimat, su-paya dipertuwahkan dan dikebalkan. Adapon perkara itu diperiksai dengan saksamanya 3 bulan lamanya, lalu 49 orang dibunuh dengan sangsara.

Maka ditentukan rumah Si Elberfeld itu karombak, dan lagi larangan membangunkan lagi rumah, melainkan tempat bekas rumah itu sunyi sampei sakarang ini juga adanya.

¹ Maka sapeninggal Tuwan-Besar Van Swol, Majelis yang Maia Tinggi di Betawi memilih Tuwan van Khastelein, tetapi Tuwan itu mengudzur dirinya. Adapon Tuwan itu mengaruniakan tanah Depok kapada abdinya, lamun marika itu masuk agama khristen 1722; maka inilah asal orang Depok yang sakarang.


23. Daripada Salinan Kitab Suci kapada Bahasa Melayu, yang Dibelanjakan Kompeni

Sabermula, maka bayiklah kita memutuskan silsilah nama Tuwan-Besar sampei Tuwan-Besar A. Valkenier, yang memerintahkan 1737—1741, karena perkara, yang dijadikan pada samantara 4 Tuwan-Besar, yang berantara Tuwan-Besar Zwaardekroon dengan Tuwan-Besar Valkenier, trausah diapikkan, melainkan ada yang jangan akan dilupakan iyaitee salinan Kitab Suci itu kapada behasa Melayu, yang diperbuwat oleh pandita Valentiyn dan pandita Leidekker. Adapon pandita Valentiyn itu, maka sampei ka Hindia tahun 1685, lalu iya pandita di negari Ambon, maka Wakil Kompeni Tuwan Padtbrugge bersuka amat dengan dia, karena pandita Valentiyn yang muda itu (beharulah umurnya 19 tahun) amat rajin menyelidik segala perkara, bayik hikayat, bayik adat dan kalakuan orang, dan lagi tiada dilopeanya mengkhabar indiyl juga. Maka pada tatkala itu ada juga tuwan Rumph yang mengarangkan kitab, melakukan segala tumbuh-tumbuhan d. l. l. Maka pandita Valentiyn pulang ka tanah Hollanda tahun 1695, lalu sapuluh tahun lamanya diaturkannya segala peringatannya, supaya nanti mengarangkan kitab. Maka pada tahun 1705 iya kombali ka Hindia, lalu di iringnya hulubalang Knol dengan perang tanah Jawa 1706,¹ maka ceritera hikayat perang itu di karangkan pandita itu, lalu iya berlayar lagi kapulau Ambon. Maka di situ disalinnya Kitab Suci itu kapada behasa Melayu, tetapi pada behasa Melayu rendah; dan lagi di karangkannya kitab besar lima buwah banyaknya, yang di citakkan tahun 1724—1726; maka di dalamnya diceriterakan segala halahuwal kalakuan, adat dan hikayat orang Hindia Timur, bayik orang Jawa, bayik orang Melayu, bayik orang Keling d. l. l., karena Kompeni pada kutika itu berkuwasa dari Penanjung Pengharapan sampei pulau Papua. Lagi pula di salinnya kitab suwal-jawab pengajaran agama khristen dan lagi kitab masmur dan nyanyian.

Syahadan, maka pada samantara itu ada pandita layin, Leidekker namanya, yang beripar dengan Tuwan-Besar Van Riebeek. Maka pandita itu mengarangkan kitab loghrat iyaitu segala perkataan Melayu dengan salinan behasa Latiyn di belakangnya; lagi pula kitab Wasiat Lama dan Beharu disalin juga olth tuwan pandita Leidekker. Maka duwa tuwan itu minta kapada Kompeni, supaya membelanjakan salinan itu, maka tuwan Leidekker ditulung olth iparnya, Tuwan-Besar Van Riebeek, sebab itu Kompeni menarima salinan tuwan Leidekker itu. Akan tetapinya di tengah pekerjaan salinan itu dicitak di tanah Wolanda, maka kerja itu terluput dari pada tangannya, karena iya mati, sebab itu ada pandita layin yang memeriksa lagi salinan itu dan menghabiskan pekerjaan itu, iyaitu pandita V. d. Vorm dan Werndleiy. Maka duwa pandita pulang ka tanah Wolanda, supaya membayiki tuladan cap itu, lalu Kitab Suci habis dicitak pada tahun 1733.

Maka segala belanjaan itu di tanggungkan Kompeni juga adanya. Maka bayiklah kita mengingatkan di sini, betapa Kompeni itu memperhatikan pengkhabaran injil dan karambakan agama khristen; nanti kita berkahendak menyebot itu pada pengabisan kitab ini bayiklah sakarang dengan ringkas katanya. Maka kabiasaan dikirakan orang, Kompeni itu tiada mengapikkan apa-apa, melainkan hal berniaga sahaja, akan tetapinya bukan demikian, karena segala pandita dipiarakan juga olish Kompeni, maka sadiakala ada tiga puluh duwa di negari Hindostan, sapuluh di pulau Sailan, karena ada di situ 200,000 orang khristen, yang sadia orang kasir, ada lima di negari Betawi, dan ada barang sabelas di pulau-pulau Maluku, maka kabanyakan itu tiada cu-kup, karena pandita itu tiada sempat mengendungi segala sidang-jimaat di pulau-pulau Ternate, Tidore. Sangi d. l. l., tetapi ada juga banyak penelung pandita atau pandita muda, yang bolih mengajar anak dan berkotbat. Lagi pula ada sekola Seminari di pulau Sailan dan di negari Betawi hendak mengajar orang taruna menyadi pandita, tetapi hasilnya itu bukan banyak dan taidahnya sadikit.

Bahwa senya pada sakarang ini pekerjaaan injil dilowaskan dan ditambahi, barangkali dilipatkan bersapuluh, tetapi bayiklah kita membenarkan Kompeni, jikalau kiranya ada orang yang menugas Kompeni, sebab kurang memperhatikan pengkhabaran injil. Bahwa senya pada pengabisan abad yang ka 18 itu Kompeni berlalei, akan tetapinya pada kutika itu hutang Kompeni amat besar sakali, sahingga katenggelam olish saratan hutang itu.

¹ Coba lihat muka 91.


24. Pemerintahan Tuwan-Besar A. Valkenier 1737—1741.

Orang Cina Berdurhaka.

Sabermula, maka pada samantara Tuwan-Besar Valkenier memegang perintah, orang Cina berdurhaka, tetapi kadurhakaan itu disiksakan dengan keras amat sangat, maka orang Cina itu dibunoh beribu³ banyaknya. Maka pembunuhan itu ditanggungkan atas Tuwan-Besar, tetapi rupanya bukan Tuwan-Besar menyeruroh itu melainkan dijadikan, sebab orang Wolanda takut, dan menaroh syak akan orang Cina. Maka dari pada kadurhakaan itu dijadikan lagi perang di tanah Jawa.

Alkisah, maka dari pada dehulu kala iyaitu pada kutika Tuwan-Besar Kun ada banyak orang Cina mengadiami negari Betawi, dan lagi kabanyakan itu bertambah, karena tiap-tiap tahun datang orang Cina dari pada tanahnya mencehari kahidupan di tanah Jawa, dan lagi mana orang Wolanda, maka dengan segera mari-ka-itu di ikut oih orang Cina. Maka hamba Kompeni bersuka dengan orang Cina, karena dia orang rajin, pandei, bersuka berniaga d. l. s. Akan tetapinya makin bertambah juga kabanyakan orang Cina, yang tiada tahu bekerja atau tiada mau bekerja apa-apa, melainkan merisau dan menjalang-kelana. Sebab itu telah disuruh Tuwan-Besar Van Durven, maka segala orang Cina, yang tiada dapat kahidupan atau yang terlalu miskin atau yang tiada dapat surat keterangan itu, di tangkap dan dibuwang ka Tanjung Pengharapan. Akan tetapi ada hamba Kompeni yang tiada bayik, maka di tangkapnya orang Cina, yang bukan miskin, supaya disuwapi oih orang Cina itu. Maka banyak orang lari ka udik, supaya jangan ditangkap.

Hata, maka datanglah ka Betawi Wakil Kompeni, Tuwan Imhof namanya, dari pulau Sailan, maka bicaranya, bayiklah orang Cina dikirim ka pulau Sailan, maka katanya, di sana ada berhajat orang, hendak mengupas kulit pohon kayu manis, di sini orang tiada dapat kahidupan; bayiklah orang Cina yang melarat dikirim ka pulau Sailan. Maka satuoju bicara ini Tuwan-Resar dan Majelis yang Maha Tinggi itu menentockan juga. Maka tiba-tiba datang khabar dusta dibawa angin, bahwa orang Cina, yang ditumpangkan kapal, bukan dikirim ka pulau Sailan, melainkan di tengah jalan dibuwang kadalam laut, maka lari³ orang Cina, supaya jangan ditumpangkan kapal. Maka dengan sademikian ini ada beribu-beribu orang Cina yang melarat, merisau, merampas, dengan kahendaknya menampuh negari Betawi, hendak membunuh segala orang Wolanda.

Maka Tuwan-Besar dapat khabar itu dari Littenan orang Cina. Maka Kapitein orang Cina Ni-Hu-Kong disuruh menghadap Tuwan-Besar, lalu ditanyai: ada kadengaran khabar, orang Cina hendak menampuh negari Betawi, dan membunuh segala orang Wolanda, sebab apa Kapitein tiada membri tahu itu kapada Tuwan-Besar? Maka jawabnya: hamba tiada tahu apa-apa. Maka Ni-Hu-Kong itu rupanya berdusta, karena kemudian dari pada itu ada terdapat dalam rumahnya banyak senjata dengan obat-bedil dan snapan; barangkali berdiam-berdiam iya bersafakat dengan orang berdurhaka.

Satelah berapa hari lamanya maka datang orang Cina berlaksa banyaknya, hendak mengepung negari Betawi, lalu Tuwan Imhof dan Tuwan Van Arden, ahli Majelis yang Maha-Tinggi, pergi ka Tanah Abang hendak berjumpa dengan orang berdurhaka. Ada duwa orang Cina, yang membawa surat dari kapala-kapala orang Cina dengan nasihatnya, jangan berdurhaka, sebab tiada bolih mengembarikan kuwasa Kompeni. Akan tetapi orang Cina, yang berdurhaka itu, amat selamba, maka jawabnya, bayiklah Kompeni berperang dengan kami, siapa menang siapa kalah¹, kami tiada mau berdamei, lalu duwa Tuwan pulang ka Betawi.

Maka dengan segera disuruh pasukan ka benteng dekat Tangerang, tetapi pasukan itu dialahkan, lalu dibunokh. Maka segala kampung berkuliling negari Betawi dibakar dan dirampas, dan segala orang Wolanda dibunuh; demikian di Tanjung-Priuk, di Marunda dan di mana-mana. Maka orang Wolanda, yang di dalam negari Betawi, amat takut, karena sadikit laskar Kompeni hendak melawan musuh; sebab itu disuruh Tuwan-Besar membri senjata kapada segala orang bayik orang khalasi bayik juru-tulis; barangsiapa yang dapat memasang snapan didapatnya juga snapan. Maka duwa tiga kali orang Cina mencoba nayik tembok, tetapi ditangkis juga. Maka kata orang banyak: kalau-kalau orang Cina, yang di dalam kota itu, menelung sudaranya, yang diluwar; karena kabanyakan orang Cina, yang di dalam kota itu, kira³ 10,000 orang banyaknya. Maka berbicara Tuwan-Besar mengennyihkan segala orang Cina, supaya jangan yang di dalam menelung yang diluwar, tetapi kabanyakan ahli Majelis yang Maha Tinggi itu tiada menarima bicara Tuwan-Besar, melainkan dikatakannya bayiklah orang banyak ditegurkan, supaya jangan terlalu khuwatir dan takut.

Maka pada hari itu, 9 October, tiba-tiba beberapa rumah orang Cina kena api, terbakar hangus, maka sebab itu orang banyak berharubiru dan bingung, ada yang berkata: orang Cina hendak membakarkan segala rumah negari ini, ada yang berkata: inilah sembuyan kapada orang Cina diluwar, supaya menampuh. Sebab itu segala orang Wolanda orang hina-dina masuk rumah orang Cina, lalu membunuh segala isi-rumah bayik laki-laki bayik perampuwan bayik orang muda bayik orang tuwa, dan lagi segala orang Cina, yang lari itu dibunuh juga. Maka tiga hari tiga malam lamanya orang Cina dibunuh sampei mati samuwanya yang di dalam kota, 10,000 orang banyaknya. Maka pada samantara itu orang Cina, yang diluwar menampuh duwa kali, tetapi ditangkis juca.

Hata, maka saorang Wolanda, yang mengawal orang Cina, yang di dalam panjara itu, pergi menghadap

Tuwan-Besar, sembahnya: Ya Tuwan, barangkali segala orang di dalam panjara itu terlepas, bayik orang itu dibunuh, supaya jangan kita ini dibunuh. Maka dipesan Tuwan-Besar membunuh marika-ite; bahwa senya dibunuh orang sakit juga. Demikianlah nama orang Wolanda dibusukkan, karena memang bukan itu adat orang Wolanda membunuh orang, yang tiada bolih melawan juga.

Syahadan, satelah sudah itu, orang Cina yang di-luwar itu di alahkan dan lari ka udik, dikejar olish pasukan Kompeni, lalu lari ka tanah Jawa dekat Samarang dan Solo, lalu berperang melawan Kompeni tiga tahun lamanya. Akan tetapinya ada juga banyak orang Cina yang minta ampon, supaya mendapat idzin berduduk lagi di Betawi. Maka dibrinya tempat di-luwar kota, maka sampeii sakarang orang Cina masih berduduk di situ, iya itu kampung orang Cina Glodok namanya.

Hata, satelah Majelis ber XVII mendapat khabar itu, maka disuruhnya memeriksa perkara itu. Maka Tuwan-Besar menouduh Tuwan Imhof, dan menyuruh Tuwan Imhof bertiga teman, ahli Majelis yang Maha Tinggi, dibawa ka tanah Wolanda, supaya membenarkan dirinya. Maka Majelis ber-XVII itu membenarkan Tuwan Imhof dan mengangkat dia Tuwan-Besar, dan Tuwan-Besar Valkenier disuruhnya dipanjarakan. Maka sabelomnya khabar itu telah sampeii ka Betawi, maka Tuwan-Besar berikh-tiar pulang ka tanah Wolanda, karena kadengaran Tuwan Imhof dibenarkan di sana, maka dalam hati Tuwan-Besar bayiklah kupergi sendiri hendak menerangkan perkara itu.

Hata, maka diserahkannya pangkatnya kapada Tuwan-Besar Thedens, yang berpangkat Tuwan-Besar salagi Tuwan Besar Van Imhof belom sampeii ka Betawi. Adapon Tuwan-Besar Valkenier itu maka pulanglah iya ka tanah Wolanda. Maka di tengah jalan kapal, yang ditumpang Tuwan-Besar Valkenier, bersinggah di Penanjung Pengharapan. Maka di situ sudah sampe i surat pesanan Majelis ber XVII itu hendak membelunggui Tuwan-Besar dan menghantar dia ka Betawi, supaya perkaranya diperiksa di sini. Maka sapu-luh tahun lamanya sampe i tahun 1751 Tuwan-Valkenier di panjarai, lalu mati, maka pada tatkala kamatiannya perkara itu belom diselidik dan diseliseikan, dan sampe i sakarang ini orang tiada tahu siapa menyeruh membunuh orang Cina. Hata, maka satelah kamatian Tuwan Valkenier, maka isterinya berolih silihan 725.000 rupiah banyaknya.

Bermula, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Thedens itu, 1741—1743, ada perang di tanah Jawa, maka orang Cina yang berdurhaka melawan Kompeni. Bahwa senya nyaris Kompeni bertiwas, karena Tuwan-Besar Thedens tiada pandei dan berakal, supaya mereka daya-upaya mengalahkan musuh, dan lagi orang yang akan menulung Tuwan-Besar tiada bersafakat, melainkan bercidera, akan tetapi musuh Kompeni bercidera juga, karena jikalau kiranya pada kutika itu saorang hulubalang saperti Taruno Joyo atau saperti Surapati atau Pangeran Blitar lakunya berdurhaka kelak, saniscaya kuwasa Kompeni tiada dapat mengembari musuhnyia.

Maka dalam perang itu ada termasyur hulubalang Roos, dan kemudian dari pada itu hulubalang Veriyssel. Maka Panembahan Madura berganti-berganti menulung Sultan atau melawan dia; demikianlah Sultan berganti-berganti menulung orang Cina atau melawan dia. Maka hatinya bercenderong menulung orang Cina, tetapi katakutan kalau-kalau marika-itu bertiwas. Maka benteng orang Wolanda yang di Kertosuro di alahkan dan orang pengawal dibenuh atau di paksa bermurtad.

Maka pada akhirnya orang Cina bertiwas dan CakraningRat, Panembahan Madura, mengalahkan negari Kertosuro. Adapon dengan perdameian yang memu- tuskan perang itu, maka pulau Madura terontoh dari pada kuwasa Sultan, dan lagi Kompeni dapat tanah Jawa sablah timur dari pada Pasuruan sampei Banyuwangi, dan lagi kuwala segala sungei barang duwa paal ka udik sabrang menyabrang, dan lagi Sultan tiada bolih mengangkat manteri, sabelomnya membri tahu itu kapada Wakil Kompeni, dan lagi tiada bolih mengangkat manteri, yang bersateru dengan Kompeni d. l. l. Maka perjanjian itu ditetapkan olih Tuwan-Besar Van Imhof. 1743.

¹ Adapon kalah ditulis ganti kaalah; pohonnya: kata alah, bertiwas.


25. Tuwan-Besar G. W. Baron van Imhof 1743—1750, dan Tuwan-Besar J. Mossel

1750—1761

Sabermula, maka dengan perang yang banyak ini kuwasa Kompeni di rambakkan, tetapi sebab belanjaannya amat banyak sakali, maka Kompeni pinjam duwit kapada orang kaya di negari Wolanda, dan lagi orang itu meminjamkan dengan suka hati,karena marika-itu beramanat atas Kompeni, dan lagi Kompeni membayar hunga duwit amat banyak sakali. Akan tetapi dengan kalakuan yang itu hutang bertimbun-bertimbun, dan ada kalihatan terus mata, maka terkemudian kuwasa Kompeni terbenam. Sebab itu satelah Tuwan Imhof sudah sampei ka negari Amsterdam, maka dikatakan Majelis ber XVII bayiklah kita berbicara lagi dengan Tuwan hendak mentehari jalan, supaya Kompeni terluput dari pada behaya yang berdamping itu.

Maka dikarangkan Tuwan Imhof sapucuk surat panjang hendak menerangkan jalan akan membayiki perkara itu, lalu bermusyawarat dengan segala Tuwan-Tuwan yang berkuwasa dalam Kompeni. Maka diakannya membayiki itu dengan hal berniaga dan dengan menu-lung orang yang memperusahkan tanah, supaya dapat hasil banyak, istimewanya lada, kapas, kahwah d. l. l. Kalakian, maka satelah itu Tuwan-Besar Imhof kom- bali dengan banyak atlamat ka tanah Jawa menumpang kapal yang beharo dibekin. Satelah sampe di Betawi maka ditetapkannya perdameian dengan Susu-hunan Kertosuro. Maka kisad hati Tuwan-Besar hendak berlayar dan berjalan berkuliling, supaya memeriksakan segala hal ahuwal tanah Jawa, akan tetapi dengan segera kadengaran, maka Panembahan Madura sakit hati dengan Kompeni sebab kaciwalah.

Hata, maka dengan perang melawan orang Cina dari Sultan Mataram, maka Cakra-ning-rat telah menulung banyak, sebab harapnya nanti kuwasanya diluwaskan. Maka dengan perdameian itu kuwasanya ditambah juga dan anandanya dapat jajahana Sidayu, menjadi milik pusaka, tetapi bukan terpadalah hatinya; sebab itu satelah Wakil Kompeni menyuruh orang Madura meninggalkan tanah dan negari yang dialahkannya, maka di enggan Panembahan Madura. Maka terdehlu Wakil Kompeni mencoba dengan bayik, maka katanya, Kompeni berkahendak juga membalias penu-lungan Panembahan; bayiklah kita tawar, karena ditagehkan terlalu banyak¹, tetapi Panembahan itu tegar tiada mau di tawarkan.

Hata, maka pertama Cakra-ning-rat itu beruntung sebab tantaranya besar dan dipegangnya segala negari dan kota, yang telah dialabkannya dehulu, dan lagi di-tulung olih cucu Surapati Wira Negoro namanya, yang masih berkuwasa di Malang, tetapi kemu-dian dari pada itu perang Panembahan itu terpecah, lalu bertiwas dari pada Kompeni. Maka iya lari ka Banjermasin hendak berluput ka Benkulen, tetapi ditangkap, lalu dibuwang ka Penanjung Pengharapan dan duwa anandanya ka pulau Sailan, maka ananda layin, yang sa iawan kapada Kompeni, berolih karajaan ayandanya 1745.

Bermula, maka pada samantara itu Tuwan-Besar berjalan ka udik hendak melihat tanah Priangan. Maka dijalanya dari negari Betawi meliwat negari Tangerang, Sampura = Serpong, Kuripan, Campea, ka Bogor. Maka di situ didapatnya tanah bagus dan nyaman, dengan pemandangan indah, maka disuruhnya menebas sabidang tanah yang luwas, lalu membanggunkan di situ astana, maligei, yang bagus, dikulilingi dengan taman yang indah-indah. Maka inilah asalnya negari Bogor, karena dekat astana itu dijadikan negari juga.

Syahadan, maka dari Bogor Tuwan-Besar berjalan ka Batu-Tulis dan ka Ciapanas meliwat gunung Megamendung, lantas ka Cianjur, ka Raja-Mandala, ka Cikao, ka Tanjung Pura, ka Bekassi, ka Pulau Gadung, lantas ka Betawi. Maka di tengah jalan itu Tuwan-Besar dibhadapkan olih segala Demang dan Bupati dan Tumanggung d. l. l. Maka dilihat Tuwan-Besar padi tiada subur di sablah udik, sebab pada kutika itu orang tiada berolih banyak ayer memperusahkan sawah, lalu dititahkan Tuwan-Besar bayiklah orang tanam lada hendak menjuwal ka Betawi, maka sembah orang, jikalau berkenang Tuwan-Besar bayiklah disuruh hamba tanam pohon kahwah, tetapi disahut Tuwan-Besar: adapon buwah kahwah itu tiada laku sakarang, maka Kompeni membli itu dengan murah. Maka pada kutika itu orang Airopah tiada suka minum koppi saperti sakarang, itulah sebabinya koppi tiada bagitu laku saperti sakarang. Maka mana-mana Tuwan-Besar datang, ada jarangan orang, melainkan berkuliling negari Betawi ada banyak.

Syahadan, satelah perang melawan Cakra-ning-Rat sudah habis, maka Tuwan-Besar berlayar juga ka sablah timur, 24 Maart 1746, maka dari Betawi iya berlayar ka Rembang, ka Surabaya, ka Sumenep, ka Pasuruan, ka Gresik dan ka Sambilangan di pulau Madura, lalu menyeleseikan perkara di pulau Ma- dura, lantas ka Yapara dan ka Samarang, maka di situ Tuwan-Besar di kunjungi Sultan. Maka Tuwan-Besar membalas kunjungan itu, lalu pergi ka Surokerto, maka di situ diseleseikannya segala perkara dengan Sultan, lalu pulang ka Betawi meliwat Bagelen, Banyumas ka Tegal, lantas ka Cirebon, Indramayu dan Pamanukan; lalu sampei ka Betawi, 10 Yuni. Maka di tengah jalan dilawati Tuwan-Besar candi di Prambangan dan kuburan di Cirebon d. l. l.

Maka di mana Tuwan-Besar berjalan, kalihatan tanah dan jajihahan, yang bagus dan indah dan mamur, melainkan sunyi-sennyap katinggalan orang sebab perang; maka rumah dan kampung dan desa terombak atau terbakar, dan pohon terlintang-pukang, karena dengan perang yang banyak itu ada kurang senang-santosa. Syukurlab sakarang lebih bayik; kendatinya pemrintahan Gouvernement tiada dengan sempornanya, maka dengan sasungguhnya sakarang orang bolih berduduk dengan senang-santosa dan bersalaman dan olih kuwasa Gouvernement ditegahkannya perang berolang3 an saperti dehulu-kala.

Hata, satelah Tuwan-Besar sudah kombali ka Betawi, maka diaturkannya segala cukei dan beya, karena Kompeni telah memberongkan beya dan cukei dengan membri silihan kapada kulawarga Sultan dengan uwang mati tiap3 bulan. Akan tetapinya sayang juga jalan hendak memungut beya itu kurang bayik, karena Tuwan-Besar menjuwal pajak, iyaitu hak memungut beya itu, kapada orang Cina dan lagi orang Cina tiada samuwanya satiawan; ada orang bayik, tetapi ada juga orang kikir dan ceti, saperti pada kutika Tuhan Yezus di tanah Kanaan. Ada juga orang yang mengingatkan itu kapada Tuwan-Besar istimewanya Wakil Kompeni di Samarang, Sterrenberg namanya, tetapi Tuwan-Besar tiada mau mungkir, melainkan gusar, lalu membuwang Tuwan Sterrenberg itu ka pulau Ai.

Maka dengan ini kalihatan saorang pun tiada suci dari pada salah, kendatilah Tuwan-Besar amat bayik, budiman dan bijaksana, yang mengakan kabayikan segala rayat-rayatnya, maka dianiayakannya saorang, yang berani menegurkan dia. Adapon sapeninggal Tuwan-Besar Imhof itu Tuwan Sterrenberg dibenarkan juga.

Syahadan, maka Tuwan-Besar mengapikkan juga hal belajar, karena diadakannya sekola tinggi di Betawi, 4 Nov. 1745, hendak mengajar orang tavuna menyadi pandita. Satelah sudah belajar di Betawi barang lima tahun, maka orang itu pergi ka tanah Wolanda hendak masak diajar. Adapon Seminari itu kurang berfaidah, karena cuma saorang, yang belajar di situ, ditarima pandita Satelah itu Seminari itu ditiadakan 1756.

Lagi pula di akannya membayiki hal menghumakan tanah; maka banyak orang Wolanda laki-bini dapat sabidang tanah dekat negari Betawi berantara sungei Tangerang dan Ci-Angke, supaya memperusahkan itu. Maka rupanya bolih juga dan berhasil, tetapi selang sapeluh tahun lamanya ada haru biru di Banten, maka orang itu samowannya dibenuh, dan rumahnya dibakar hangus 1752.

Maka Tuwan-Besar Van Imhof mati pada tahun 1750, lalu diganti olish Tuwan-Besar J. Mossel, yang memerintahkan dari 1750 sampeii 1761. Maka Tuwan-Besar itu mengakan juga berfaidah kapada Kompeni dan kapada orang banyak juga. Maka turut fikirannya orang memburuskan banyak duwit dengan mengharirayakan, dan menjamukan, sebab itu dengan undang-undang diaturkannya perkara itu, tetapi kurang berguna. Maka Tuwan-Besar Mossel itu mati pada tahun 1761.

¹ Maka ditagehnya jajahana Blora, Jipang dan Lamongan serta dengan bandar Gresik, Tuban dan Sidayu.


26. Perang Kapusakaan yang ka Tiga di Pulau Jawa. Karajaan Mataram Terpecah-Terpecah

1757

Bermula maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Van Imhof dan Mossel itu ada lagi perang di tanah Jawa sapuluh tahun lamanya 1747—1757. Inilah mulanya.

Hata, maka pada kutika Tuwan-Besar Imhof mengunjungi Sultan Surokerto, ada saorang Pangeran adinda Sultan, Mangku Bumi namanya, yang berhadilr pada perjamuan itu. Maka Sultan minta kapada Tuwan-Besar, supaya Tuwan-Besar menegurkan dia, sebab kalakuan yang jumawa dan congkak itu. Maka ditegurkan Tuwan-Besar akan dia dihaldapan segala manteri hulubalang kulawarga Sultan. Sebab itu Mangku Bumi marah dan kecil-hati, lalu meninggalkan keraton pada malam itu.

Maka Mangku Bumi pergi mendapatkan Pangeran layin, yang dehulo bersateru dengan dia, Mas-Said namanya, ananda adinda Sultan, maka duwa itu bermuwafakat berdurhaka melawan Sultan dan membe-hagikan karajaan, maka dianugrahakan Mangku Bumi puterinya kapada Mas-Said itu. Maka perang itu amat lama, karena banyak kali duwa Pangeran itu dialahkan, dan bertiwas, lalu lari, tetapi selang berapa lamanya marika-itu kombali dengan tantara beharu. Ada saperti alang-alang rupanya, apabila angin keras, maka alang-alang tunduk, tetapi asal angin tedub, maka alang-alang sudah bangun juga. Istimewanya Mas-Said saorang prawira dan perkasa. Maka satelah perang itu duwa tahun lamanya, rupanya orang berdurhaka hendak berdamei, tetapi Sultan kena sakit dan mati, lalu dengan gambira perang bernyala lagi.

Satelah Sultan merasa dunia ini terluput dari pada genggamnya, maka disuruhnya memanggil Wakil Kompeni dari Samarang, lalu diserahkannya kapada Kompeni karajaan seraya dipintanya, hendaklah Kompeni mengaruniakan karajaannya kapada barang siapa, yang layik menarima itu. Maka pada kaesukan harinya Sultan mati, lalu Wakil Kompeni mengangkat ananda Sultan, yang sulung itu, menyadi Sultan bulan December, tanggal 15, tahun 1749¹. Satelah didengar itu olih Mangku Bumi, maka dengan segera dan dengan banyak upacara iya dilantik Sultan.

Maka tiada sempat menceriterakan segala hal ahewal perang itu, yang di lakuikan di Surokerto, di Madiun, di Samarang, di Banyumas, di Bagelen sampeika Tegal; maka di mana ada kampong dan desa dibakar dan sawah dirusakkan, dan lagi salamat orang Jawa yang banyak diserepih saperti tungkat terpatal rupanya. Banyakkali orang berdurhaka bertiwas, lalu lari berlindung di gunungan Kidul, akan tetapi selang berapa lamanya Pangeran berdurhaka telah mengerahkan tantara beharu; karena salamanya ada orang yang lebih bersuka merampas dan merisau, dari pada di upabi, atau kulian, atau menghumakan tanah, atau menyawahkan d. l. s.

Kalakian, satelah perang itu anam tahun lamanya maka Wakil Kompeni, Hohendorf namanya, minta lepas, maka katanya aku ini tiada bolih memutuskan perang itu. Sebab itu Tuwan-Besar mengangkat hulubalang layin, Harting namanya, maka hulubalang ini amat kenal dan biasa dengan adat orang Jawa.

Adapon hulubalang Harting itu maka disuruhnya saorang syeikh ka Mangku Bumi dengan pesannya: apabila Mangku Bumi hendak berdamei, bayiklah disebutnyia apa yang ditagehnya. Maka pada kutika itu Mas-Said dan Mangku Bumi bercidera, karena Mas Said mencapei juga mendapat makota Sultan, dan menuntut karajaan sendiri; bahwa senya dehulu iya telah membicarakan dengan hulubalang Hohen-dorf, tetapi tiada jadi. Satelah Mangku Bumi menengar pesanan hulubalang Harting, maka dalam hatinya: bayiklah kudameikan dengan Kompeni, supaya si congkak Mas-Said itu tiada dapat untung lebih besar dari padaku. Maka dicakapnyahendak berdamei, lamun iya dapat nama Sultan, dan lagi saparah dari pada karajaan Mataram. Maka Susuhunan beridla membe-hagikan karajaan dengan Mangku Bumi, sebab itu satelah berapa lamanya Susuhunan dan Mangku Bumi berdamei3an; maka Mangku Bumi menghadap Susu-hunan, lalu baginda berduwa itu berdekap'an. Maka samenjak itu ada duwa karajaan iyaitu Serokerto atau Solo dan Jugyakerto atau Jugya. Maka baginda, yang memerintahkan di Solo itu, disebut Susuhunan dan baginda, yang memerintahkan di Jugya, disebut Sultan² 1755.

Hata, maka duwa tahun kemudian dari pada itu, Mas-Said datang juga menghadap Susuhunan menjundung duli, lalu di perolihnya tanah di Gunungan Kidul dengan nama pangkatnya Pang-eran Adipati Aryo Mangku Negoro. Maka tanggal 17, bulan Maart, tahun 1757 perdameian itu ditekapkan.

Hata, maka pada samantara perang itu ada juga haru-biru di Banten, tetapi pada tahun itu juga karajaan Banten itu bersenang juga adanya. Lagi pula Kompeni menulung Sultan Siak, lalu ber-janji dengan dia olih karena hal berniaga, maka de-hulu tanah itu tiada bertaidah banyak, tetapi saka-rang orang tanam di situ tembako, yang amat laku.

¹ Adapon nama Sultan itu Paku Buwono III, 1749—1787.

² Adapon nama Sultan Jugya yang pertama itu Amang-ku Buwono I.


27. Dari Peri Hal Kompeni Terbenam. Lalu Pemerintahan Tukong Pulau-Pulau Hindia-Timur Ini Disambut oleh Guvernement Tanah Holland

Sabermula, maka samenjak berdameian, yang pada tahun 1757 di negari Salatiga, ada waktu, yang barang lima puluh tahun lamanya, tiada lagi perang di tanah Oyawa, dikacuwalikan haru-biru sadikit di sablah timur di Banyuwangi dan di Besuki, karena ada di situ sadikit orang, dan banyak kali orang perompak nayik darat dan merampas, dan lagi kuwasa Kompeni sadikit, karena ada sadikit pasukan Kompeni, sebab hasilnya juga tiada banyak. Jikalau zaman itu ditentangkan dengan waktu sakarang, saniscaya diaku-kan orang, waktu sakarang beratus-beratus ganda lebih bayik dan beruntung; sakarang orang bolih berduduk de-ngan senang santosa.

Hata, maka di karajaan Solo dan Jugya orang tiada berprang, karena Sultan dan Susuhunan berdamei. dan hal pusakaan karajaan di aturkan oleh Kompeni. Bahwa senya orang ketiyil masih dianiayakan dan ditukul oleh orang besar dengan hal membayar beya dan pekerjaan negari, sahingga orang miskin salaanya miskin, tiada bolih menyadi kaya atau orang ugahari. Sayugianya mengaku juga, maka hamba Kompeni tiada suci dari pada salah itu, karena dituntutnya menambah kakayaannya, maka dibelinya barang-barang murah dan menjuwal itu dengan mahal. Lagipula pemerintah di Betawi terlalu lemas, dan timbul tenggelam dalam pekerjaan, sebab itu kendatinya pemerintah di Betawi berkatahuan segala perkara itu, tiada bolih menegahkan. Lagipula di tanah Hindostan kuwasa Kompeni makin berkerut, dan kuwasa orang Inggris terbit.

Syahadan, maka Majelis di tanah Wofanda tiada tahu lagi daya-upaya hendak mendugang Kompeni, yang mau rubuh, karena karubuhan itu dengan segera amat sangat. Maka pada tahun 1723 masih ada 5 juta rupiah, tetapi pada tahun 1737 ada hutangnya 1 ½ juta, dan pada tahun 1742 ada hutangnya 5 juta rupiah, dan pada tahun 1774 hutangnya sudah nayik sampe 18 juta rupiah. Lagipula jikalau ada kapal sarat yang pulang, maka terkadang kapal itu terkaram, menjadikan karugian besar.

Hata, maka pada tahun 1780—1784 orang Wolanda berperang dengan orang Inggris.¹ Maka orang Inggris mengadang kapal yang pulang, lalu merampas dengan muwatannya dan lagi dialahkannya pantei Coromandel, yang tiada dibrinya pulang dengan perdameian itu. Maka satelah perang itu habis Majelis Tuwan‘ Staten menyeruroh memeriksa hal Kompeni, lalu dilihatnuya, hutang sudah nayik sampe 74 juta rupiah. Bahwa senya di utuskannya beberapa Tuwan hendak menyelidik segala hal alhuwal di Hindia-Timur, tetapi tiada berfaidah, karena mata orang itu dibutai hamba Kompeni. Maka satelah orang itu telah menyelidik segala perkara, maka didapatnya hutang sudah nayik sampe 134 rupiah.

Tambahan pula maka pada kutika itu ada juga banyak haru-biru dan cideraan di tanah Wolanda, maka orang berbantah'an olih karena hal pemerintahan. Maka bangsa yang dekat tanah Wolanda, iyattu orang Inggris dan orang Prasman, mencampurkan dirinya dengan perkara itu². Maka bangsa, Wolanda pada kutika itu terbelah, ada yang ditulung orang Prasman, ada yang melawan marika-itu. Maka pada akhirnya orang, yang dibantu orang Prasman, menang, dan Yang-Dipertuwan Willem V itu lari menyaberang ka tanah Inggris berlindung di situ.

Hata, maka Yang-Dipertuwan itu bukan sehaja kapala segala orang Wolanda, yang duduk di tanah Wolanda, tetapi martabatnya juga kapala segala Pegawei Kompeni. Sebab itu maka tatkala Yang-Dipertuwan berduduk di tanah Inggris, maka di layangkan-nya surat perintahan kapada segala Pegawei Kompeni dengan pesanan ini: »Segala Pegawei Kompeni disuruh »Yang-Dipertuwan akan menyerahkan kaempunyaan Kom- »peni dan segala harta benda, dagangan, godung dan »senjata kapada orang Inggris, yang telah bercakap »memegang kaempunyaan Kompeni, supaya jangan »orang Prasman merebut itu.“

Maka segala Pegawei Kompeni, yang berpaut kapada Yang-Dipertuwan itu, me yerahken dirinya serta dengan pemegangnya kapada orang Inggris, tetapi orang, yang beramanat kapada orang Prasman, melawan orang Inggris. Demikianlah dengan sagampangnya orang Inggris berolih Penanjung Pengharapan, pulau Sailan, bandar Malaka, Padang dan Riouw, pulau Ambon dan Tidore. Bahwa senya angkatan kapal orang Wolanda di alahkan sebab khalasi tiada mau melawan orang Inggris, karena kapal orang Inggris berbandeira bandeira Yang-Dipertuwan punya.

Maka sebab perkara yang samuwa ini, jangan heiran Kompeni tiada bolih tahan lagi. Maka Guvernement tanah Wolanda itu bercakap menyambut segala kaempunyaan Kompeni dengan segala hutanguya, lalu Kompeni kahancur dan Guvernement Wolanda memegang kuwasa atas Pegawei bekas Kompeni 1800.

Pada kutika itu Guvernement di tanah Wolanda terlalu diberatkan dengan pekerjaan, tiada senipat menyeleseikan perkara di Hindia Timur ini. Akan te-tapinya satelah sampei kapada tahun 1807 raja Wolanda mengangkat hulubalang Daendels, supaya mengaturkan dan menyeleseikan segala perkara di tanah Jawa. Maka tanggal 14, bulan Yanuari, tahun 1808 Tuwan-Besar itu menjabat perintahan. Maka pada fasal yang berikut hikayat Tuwan-Besar Daendels akan diceriterakan.

¹ Adapon mulanya dan lakunya dan penghabisannya perang itu bolih dibaca di Hikayat orang Wolanda muka 150.

² Maka segala hal ahuwal itu dapat dibaca di Hikayat orang Wolanda, muka 154—178.


28. Pemerintahan Tuwan-Besar H. W. Daendels

1808—1811

Sabermula, maka dari pada tahun 1795 sampei tahun 1816 tanah Jawa dan segala pulau Hindia Timur hampir di asingkan dari tanah Wolanda, karena orang Wolanda pada kutika itu tiada dapat mengembarikan dengan orang Inggris; kendatilah orang Prasman pada kutika itu lebih berkuwasa di darat, maka di laut itu satu bangsa benuwa Airopah tiada bolih mengembarikan orang Inggris. Sebab itu segala kapal pergi-datang ka tanah Wolanda dirampas oih orang Inggris; bahwa senya surat atau khabar pun amat jarrang, karena khabar atau surat disampeikan oih kapal orang Amerika atau bangsa, yang tiada berprang dengan orang Inggris.

Behkan orang Inggris berdamei dengan orang Wolanda pada tahun 1801, dan lagi dijanjikan, segala kaempunyaan Guvernement diberi pulang dengan dikacuwalikan pulau Sailan, dan sebab itu banyak kapal dari tanah Wolanda berlayar ka Hindia, tetapi selang satahun lamanya perdameian itu diputuskan lagi, dan segala kapal sarat, yang pulang ka tanah Wolanda dirampas lagi oih orang Inggris¹.

Kendatinya prihal itu, maka Pemerintah yang Maha Tinggi di Betawi mempertahutkan tanah Jawa dengan bayik; tiada harubiru besar ditimbul, dan orang Jawa bersenang; lagipula kendatinya Pemerintah di Betawi tiada dapat duwit dari tanah Wolanda, dan tiada bolih menjuwal hasil yang terkumpul, maka segala Pegawei Kompeni dan segala Punggawa orang Jawa dan Pangeran d. l. l. dibelanjakannya; dan lagi salebihnya pada kutika Tuwan-Besar Daendels menjabat perintahan itu, kira 221 juta rupiah uwang tunei dan dagangan dengan harganya 8 juta rupiah. Sebab itu maka budiman dan kabijaksanaan Tuwan-Besar Van Overstraten 1796—1804, Sieberg 1804—1804, dan Wiese 1804—1808 akan dipuji amat sangat.

Bermula, maka Tuwan-Besar tiada bolih menumpang kapal orang Wolanda sebab tiap 2 kapal Wolanda, yang melintas selat Kanaal itu dirampas orang Inggris, sebab itu iya berjalan dari Amsterdam ka Pariys dan ka Lissabon, maka di situ ditumpangnya kapal orang Portugal, yang berlayar ka pulau Kanari, lantas dengan kapal orang Portugal ka tanah Jawa, di iringkan dengan saorang kondangan sehaja, lagi pula hambanya yang layin dan surat keterangan telah hilang, dijarahi orang Inggris; kendatinya itu Tuwan-Besar Wiese tiada mengenggan menyerahkan martabatnya.

Hata, maka pertama 2 diupayakannya, hendak mengembarikan orang Inggris, kalau 2 marika-iteo datang berperang di tanah Jawa. Maka dekat telok Cam ar di susuknya benteng dengan pelabuan tempat perlinduangan kapal, bilamana di tampuh kapal orang Inggris, karena dehulu segala kapal di pelabuhan Betawi dan di bandar Surabaya dibakarkan orang Inggris. Maka pekerjaan itu amat berat dan muskil, dan lagi banyak orang sakit demam sebab tanah galian itu, maka orang Jawa dan orang Sunda melarat beratus 2 banyaknya, menjadi, pekerjaan itu amat berlambat. Maka kasalahan itu ditanggungkan Tuwan Besar atas manteri ferdana Sultan Banten, Warga di Reja namanya, karena manteri itu membenci orang Wolanda, maka di pesan Tuwan-Besar Wakil Guver- nement kapada Sultan dengan pesanan ini: Sultan Banten akan menyelengkari, pekerjaan di telok Camar dilakokekan dengan bayik dan dengan lekas. Maka Sultan menyuruh utusan ka negari Betawi hendak mengudzur dirinya, tetapi Tuwan-Besar marah, lalu dipesannya manteri ferdana itu disuruh menghadap Tuwan-Besar, dan lagi keraton Sultan dipindahkan ka Anyer, dan lagi tiap-tiap hari akan disuruh saribu kuli menghabiskan pekerjaan di telok Camar. Maka Sultan berdalih-berdalih, lalu disuruh Tuwan-Besar Wakil Guvernement menghadap Sultan, supaya minta penya-hutan mau atau tiada mau. Maka Wakil itu dibunuh serta dengan orang pengiringnyia. Maka satelah didengar itu oleh Tuwan-Besar, maka kaesukan harinya dikumpulkannya pasukan saribu orang banyaknya dengan mariam 4 buwah, lalu ka Banten. Maka Sultan amat terkejut, seraya dilihatnya tantara Wolanda; dan lagi kendatinya tantara Sultan tiga kali ganda tantara Tuwan-Besar, maka tiada iya berani melawan.

Hata, maka keraton Sultan itu dialahkan, karena pintu keraton ditumbuk dan di rampok, lalu tantara Wolanda masuk, maka Sultan dibuwang ka Ambon, manteri ferdana di hukum mati dan keraton di rombakkan. Maka ananda Sultan itu dapat karajaan bapanya, tetapi satelah berapa lamanya iya dipecatkan pula, karena ada banyak orang pencuri dan penyamun, maka Sultan itu tiada berbuwat apa-apa, hendak menangkap atau mengusir orang jahat itu. Maka kuwasa Sultan dikudungkan lagi, maka pada akhirnya karajaan Banten ditiadakan dan Sultan berolih silihan iyaitu belanja mati tiap-tiap bulan. Adapon orang penyamun dan perompak itu, Tuwan-Besar mencoba mengusir dia, tetapi tiada dapat, karena diam-diam marika-itu di asut dan ditelulung oliyh orang Inggris, istimewa oliyh Tuwan Raffles.

Ilata, kemudian dari pada itu Tuwan-Besar meli- hat, pelabuhan dekat telok Camar tiada berguna banyak, lalu disuruhnya pelabuhan di Surabaya, akan di kotai, dan lagi atas pulau Menari di selat Madura disusuknya benteng, supaya melawan kapal orang Inggris juga.

Kalakian, maka Tuwan-Besar menambahkan juga balatantara Guvernement sampei 19000 orang banyaknya, maka 16,000 tinggal di tanah Jawa, dan 3000 di pulau layin. Lagipula, supaya tantara itu bolih, berjalan dengan lekas sapanjang tanah Jawa, dan lagi supaya dengan segera khabar dari sabelah timur dapat disampeikan ka Betawi, maka disuruh Tuwan-Besar memperbuwat jalan-raya dari Anyer ka Banyuwangi.

Maka perkerjaan itu amat berat juga, tetapi kendatinya itu jalan itu sudah habis selang satahun lamanya. Maka penggalan dari Bogor sampei ka Cianjur itu amat muskil, karena jalan-raya melintas Gunung Megamendung dan meliwat Puncak; lagipula penggalan dari Samarang ka Gr esik amat berat juga, karena jalan itu di putusskan banyak kali [oli] sungei atau rawa sahingga 70 jembatan akan diperbuwat, hendak menyambungkan segala penggalan itu. Lagipula, supaya dengan segera bolih berjalan berkuda atau berkareta, maka selang lima paal ada tempat pergantian kuda; maka dengan sakian ini selang 7 hari lamanya orang bolih melalui jalan dari Anyer ka Banyuwangi. Maka dehulue orang pakei 40 hari lamanya. Maka olih karena jalan itu balatantara di tanah Jawa dengan segera dapat berjalan; dan apabila orang mendurhaka, maka dengan segera kadurhakaan itu dapat di padamkan. Maka sampei sakarang ini jalan raya itu amat berguna.

Kalakian, maka tantara, yang banyak itu dikuempulkannya dekat Meester Cornelis, yang dikubui amat kuwat, supaya menahankan, kalau-kalau orang Inggris turun ka darat. Lagipula ada lengkok di Ci-Liwong pada tempat, yang sakarang disebut Weltevreden, maka di tanah, yang dilalui olih lengkok itu, Tuwan-Besar menyeruroh berbuwat rumah orang sakit dan tangsi dengan rumah, tempat kadudukan opsir dan hulubalang; dan lagi di Tanah-lapang Singa di suruhnya membangunkan astana yang amat indah-indah.

Lagipula di kota Betawi disuruhnya merombakkan banyak rumah, supaya jangan jalan dan lurung terlalu sepit, maka dengan sakian itu negari Betawi lebih nyaman kadudukan dari pada dehulu. Maka gedung Kompeni dan tempat kadudukan Pegawei dipindah-kannya ka Weltevreden, ka Noordwiyk atau ka Riyswiyk; maka olih karena itu pri hal sehat dan nyaman orang Wolanda dibayiki juga.

Hata, maka di negari Cirebon ada juga haru-biru, karena orang banyak dianiayakan olih Sultan Sepuh, yang telah menjuwal pajak kapada orang Cina; dan lagi orang Cina, terlalu menuckul dan menindis orang. Maka haru-biru itu ditanggungkan olih Sultan Sepuh atas raja Kanoman, sebab itu raja Kanoman dibuwang ka Ambon, tetapi satelah didengar itu olih orang banyak, maka haru-biru bertambah³ dan orang banyak pergi ka Betawi menghadap Tuwan-Besar minta, supaya raja Kanoman terlepas. Maka Tuwan-Besar meluluskan permintaan itu; maka raja Kanoman dipanggil pulang, dan dikombalikan pada pangkatnya, tetapi haru-biru itu tiada dipadamkan. Sebab itu, maka Tuwan-Besar memutuskan perkara itu sendiri, maka kuwasa Sultan dikudungi dan Gouvernement memborongkan segala beya dan cukoi; maka Sultan dapat belanja mati tiap³ tahun, dan lagi tanah Cirebon dikecilkan. Maka jajan Sukapura dan Limbangan dikepilkan dengan tanah Priangan, dan Galuh dikepilkan dengan karajaan Jugeya, ditukar dengan jajan layin.

Syahadan, maka satelah perkara dengan Sultan Cirebon diseleseikan, maka Tuwan-Besar memasukkan tangannya dalam perkara dengan Susuhunan dan Sultan, karena duwa baginda itu kecil-hati oih karena perintahan beharu Tuwan-Besar. Maka Tuwan Residen, yang herduduk di Solo dan di Jugya, bergantung kapada Wakil Guvernement di Samarang, tetapi dititahkan Tuwan-Besar: samenjak ini 1810 Tuwan-Tuwan Residen bergantung kapadaku sendiri dan lagi Tuwan-Tuwan itu Wakil Guvernement. Sebab itu dari pada kutika itu pangkat Tuwan Resident bertimbalan dengan Susuhunan dan Sultan, dan lagi ditiadakan Tuwan-Besar adatnya, Residen memperhambakan dirinya kapada duwa baginda dan berkhidmat.

Sebab itu duwa baginda amat gusar dan kecil-hati; pura-pura perintahan itu dikabulkan, tetapi diam-diam direkakannya hendak berdurhaka; maka berlalei baginda itu melakukan perintahan Tuwan-Besar. Sebab itu Tuwan-Besar dengan segera mengerahkan balatantara Guvernement. 6000 orang berangkat dari Betawi ka Samarang, 3000 orang telah dilangkapkan di Surabaya hendak berjalan ka Surekerto. Maka sebab jalan raya itu tantara bolih melalukean jalan ini dengan barang 5 hari; lagi pula ada 6000 orang Madura yang sudah sadia hendak membantu. Satelah didengar itu oih baginda berduwa itu, maka dengan segera di-junjungkannya titahan Tuwan-Besar.

Satelah berapa lamanya ada lagi perkara dengan Sultan Jugya, sebab Bupati Madiun, yang amat ju-mawa. Maka dirintangnya Manteri-ferdana Sultan, yang berpaut kapada orang Wolanda, menyadi, manteri itu dipecatkan Sultan. Maka disuruh Tuwan-Besar, Manteri itu diangkat lagi, dan Sultan tiada berani meng-enggan, tetapi segala perkara karajaan diseleseikan dengan tiada memperpengatahuankan Manteri itu. Maka disuruh Tuwan-Besar, Raden Ranggo menghadap Tuwan-Besar. Satelah didengar itu Raden Ranggo, maka iya lari hendak mendurhaka, tetapi Sultan suruh menangkap dia, lalu Raden Ranggo mati dibu-nuh dalam perang itu². Maka kendatilah hu-ruhara itu dipadamkan, maka Tuwan-Besar berikhtiar, menyelidik sendiri perkara di Solo dan di Jucya, lalu Tuwan-Besar pergi mendatangkan duwa baginda itu, lalu mengudungkan kuwasa duwa baginda itu, dan mengaturkan lagi beberapa perkara, lalu pulang ka Betawi.

Hata, maka pada tahun 1810 orang Inggris menam-puh pulau dan bandar Ambon. Maka di situ hulubalang. Filz namanya, yang diamanan Tuwan-Besar sebab kaberenianinya, akan tetapi kendatinya tantara orang Wolanda 1000 orang banyaknya dan tantara orang Inggris 200 orang banyaknya, maka hulubalang Filz menyerahkan dirinya dengan tiada melawan. Maka Tuwan-Besar amat marah dengan dia; sebab itu sate-lah hulubalang Filz datang menghadap Tuwan-Besar di negari Betawi, maka disuruh Tuwan-Besar memanjarakan dia, lalu perkaranya diperiksa, lalu iya dihukumkan mati ditembak snapan.

Hata, maka Tuwan-Besar membelanjakan banyak duwit dengan segala perkara yang dibayiki, sebab itu dijuwalnya tanah di Probolinggo kapada duwa orang Cina yang kaya, dan dengan duwit itu dibelanjakannya belanjaan Guvernement itu.

Kalakian, maka pada tahun 1810 tanah Wolanda dikepilkan dengan karajaan Prasman,³ lalu tanah Jawa ini diperintabkan oih Kaisar Napoleon, maka amat sukacitalah Tuwan-Besar, sebab iya amat berpaut kapada Kaisar itu, maka bandeira Wolanda ditukar dengan bandeira Prasman, karena segala orang Wolanda dijadikan orang Prasman. Maka satelah itu orang Inggris melangkapkan dirinya, menyerang tanah Jawa, karena berkahendaknya merebut tanah itu dari pada kuwasa orang Prasman, sebab orang Inggris membenci orang Prasman dan Kaisar Napoleon amat sakali. Satelah didengar itu Tuwan-Besar, maka disadiakannya segala perkara hendak mengembarikan orang Inggris, dan dengan saniscaya Tuwan-Besar akan mengembarikan musuh itu dengan prawira dan budiman; akan tetapi tiba-tiba datang khabar ka tanah Jawa, maka Kaisar telah melepaskan Tuwan-Besar dan telah mengangkat hulubalang Yansens, bulan April 1841, lalu Tuwan-Besar menyerahkan pangkatnya kapada hulubalang Yanssens, lalu pulang ka tanah Wolanda.

Bahaha senya Tuwan-Besar Daendels itu amat keras juga, tetapi selang tiga tahun lamanya Tuwan-Besar iui berbuwat lebih dari pada Tuwan-Besar layin telah berbuwat selang saratus tahun lamanya. Maka pada samantara kahidupan Tuwan Besar itu iya dibenci orang sebab kalakuannya yang keras, tetapi kemudian dari pada itu diakukan orang, maka pemerintahan Tuwan-Besar Daendels amat berfaidah kapada orang Jawa juga adanya.

¹ Barang siapa yang menuntut mengenal lebih bayik akan kutika itu, maka ceritera itu terdapat di Hikayat orang Wolanda muka 168—190.

² Adapon ananda Raden Ranggo itu bernama Sentot, maka kemudian dari pada itu dengan perang melawan Dipo Negoro, Sentot melawan dengan amat berani menulung Dipo Negoro itu 1825—1830. Tetapi pada tahun 1829, maka iya berbelut dan menulung Guvernement melawan orang Padri.

³ Lihat hikayat orang Wolanda muka 182.


29. Tuwan-Besar J. W. Janssens, Thomas Stamfort Raffles. Tanah Jawa Dialahkan olih Orang Inggris

1811

Sabermula, adapon hulubalang Janssens, yang diangkat Tuwan-Besar oih Kaisar Napoleon itu, maka dehuloie iya Tuwan-Besar di Penanjung Pengharapan, tetapi pada tahun 1806 iya bertiwas dari pada orang Inggris, lalu dibawa tawanan ka tanah Inggris, lalu terlepas dan pulang ka tanah Wolanda. Maka Tuwan-Besar itu memerintahkan empat bulan sehaja iyaitu dari pada bulan Mei sampe bulan September tahun 1811, sebabnya orang Inggris datang menampoh tanah Jawa, lalu Tuwan-Besar bertiwas; akan tetapi bukannya itu salah Tuwan-Besar Janssens, melainkan salah itu akan ditanggungkan atas hulubalang Yumel, saorang Prasman yang diangkat oih Kaisar Napoleon menjadi hulubalang besar, iyaitu kapala segala hulubalang dan opsir tantara Guvernement di tanah Jawa, maka perintahan Tuwan-Besar tiada dilakuikan atau dibatalkan. Lagi pula kabanyakan hulubalang itu orang Prasman, yang tiada mengindahkan faidah orang Wolanda atau orang Jawa, melainkan mengakan dengan segera pulang ka benuwa Airopah.

Bermula, maka pada samantara Tuwan-Besar Daendels masih memegang perintah di negari Betawi ada saorang muda di Pulau Pinang, Thomas Stamford Raffles namanya, yang mengakan dan menuntut hendak merubuhkan kuwasa orang Wolanda di tanah Jawa, dan satelah sudah itu, membangunkan kuwasa orang Inggris, dengan maksudnya menjadi Tuwan-Besar di negari Betawi.

Hata, maka Sir Raffles itu pegawei Kompeni orang Inggris, pangkatnya juru-tulis, akan tetapi iya amat pandei dengan behasa Melayu, dan lagi beramah'an dengan orang Melayu, bayik orang besar, bayik orang keciil; lagi pula dituntutnya juga faidah orang terenak, tetapi hubaya‘ dituntutnya faidah orang Inggris; maka orang Wolanda, menurut sangkanya, bangsa yang terlalu jahat antara segala bangsa. Maka ditulisnya banyak kitab dan surat, maka di dalamnya orang Wolanda amat dihinakan dan kalakuannya ditiyelukan, melainkan kalakuan orang Inggris, istimewa kalakuan Sir Raffles itu amat dipooji.

Kalakian, maka Sir Raffles itu telah dehulum- ngasutkan Tuwan-Besar di negari Kalkuta, Lord Minto namanya, supaya mengalahkan pulau-pulau Malu-ku dengan harapnya, nanti diangkat Wakil Tuwan-Besar, tetapi keciwalah iya. Satelai itu diasutkannya Tuwan-Besar Lord Minto, katanya: sabelomnya tanah Jawa dialahkan, Tuwan-Besar tiada bolih berdudock dengan senang di takhta di negari Kalkuta. Maka disa-hut Tuwan-Besar: bayiklah Tuwan menyelidik dan menyadiakan perkara itu, supaya kerja yang berat itu diringankan. Satelai didengar itu oih Sir Raffles, maka sukacitalah iya, lalu disuruhnya beberapa utusan kamana³, supaya mengasutkan raja-raja, yang di bawah perintahan Tuwan-Besar Daendels, hendak berbelut. Maka disuruhnya utusan kapada Sultan Pal-lembang dengan pesannya: bayiklah Sultan mengusir orang Wolanda, dan apabila Tuwan kurang kuwat atau takut orang Wolanda, nanti kami orang Inggris menu-lungkan Sultan. Lagipula dikirimnya banyak snapan dan obat bedil dan peluru. Maka dengan surat yang layin diasutnya Sultan katanya: Hendaklah Sultan mem-buwang orang Wolanda sehaja.

Demikianlah di tulungnya Pangeran Ahmed di negari Banten, bukan sebab iya berkasehan dengan orang Banten, melainkan supaya mencucahkan Tuwan-Besar Daendels.

Tambahan pula di kirimnya utusan kapada Susu-hunan dan Sultan, tetapi marika-itu tiada ditawarkan hati, karena dilihatnya, apabila orang Inggris mengalah-kan tanah Jawa, maka perintahan bertukar sehaja dari tangan orang Wolanda kapada tangan orang Ing-gris, dan belom marika-itu tahu apa yang lebih bayik. Rupanya‘ Pangeran Noto Kasumo, yang di buw-uang oih Tuwan-Besar Daendels ka Cirebon, menu-lung orang Inggris diam³ dengan menawarkan hati orang besar di negari Jugya. Maka Panembahan Ma-dura berjanji dengan orang Inggris hendak menu-lung, apabila marika-itu menang, kendatinya Panem- bahan itu amat dianugrahi olish Tuwan-Besar Daendels.

Tambahan pula diselidiknya dengan bayik jalan pelayaran ka tanah Jawa dan tempat yang bertampan, hendak nayik ka darat, dan lagi disuruhnya menghin-teikan segala hal ahuwal tanah Jawa dari peri hal jalan dan jembatan dan tantara. Dengan ringkas katanya Sir Raffles telah menyajiakan samuwanya, lalu ditulisinya kapada Tuwan-Besar Lord Minto: bayiklah Tuwanku sakarang mengalahkan tanah Jawa, karena Tuwan Daendels telah pulang ka tanah Wolanda, dan lagi Tuwan-Besar Janssens dan hulubalang Yumel tiada sajodo dengan dia.

Bermula, maka satelah Tuwan-Besar Janssens telah menjabat pangkatnya, maka banyak orang mengaduckan di hadapannya seraya katanya: Ya Tuwan! hamba ini merasa amat susah, sebab Tuwan-Besar Daendels telah memutuskan segala jembatan, dan merusakkan lurung‘ dan jalan-jalan, maka amat susah pergi-jalan. Maka disuruh Tuwan-Besar, bayiklah jembatan yang rusak itu diganti dengan jembatan buluh, dan lagi jalan-jalan dibayiki juga, dan lagi tanah yang dira-wai, kakeringan pula; demikianlah diringankannya jalan orang Inggris, yang hendak mengalahkan tanah Jawa.

Kalakian, maka pada bulan Augustus tahun 1811 tiba-tiba datang khabar, orang Inggris telah mendatangkan tanah Jawa dengan balatantara besar. Maka dengan 12000 orang, yang menumpang 100 kapal, tantara Ingeris berlabuh dekat Cilincing, maka hulubalang besar bernama Aukhmutiy, dan hulubalang yang memerintahkan pada samantara orang turun ka darat, Gillespie namanya, maka Lord Minto dan Sir Raffles berhadilir juga.

Hata, maka tantara orang Inggris berjalan dengan perlahan³, karena katakutan di adangkan atau dihendapkan, tetapi tantara orang Prasman telah mundur sampe ka Gambir dan Tanah-lapang Singa, maka segala bekal dan dagangan yang di gudang, telah dirusakkan dengan ayer, supaya busuk. Maka satelah dilihat orang Inggris, negari Betawi telah ditinggalkan laskar, maka dengan segera dia orang berjalan ka situ, lalu berduduk di negari itu. Maka di sampeikan Lord Minto sapucuk surat kapada Tuwan-Besar menyerahkan dirinya, tetapi di enggan Tuwan-Besar; lalu tantara Inggris mudik sampe ka Gambir. Maka Tuwan-Besar berkahiendak, tantara tahan di situ; sebab itu di suruhuya, mengubui tanah itu dekat jalan-raya dan sungei; akan tetapi di kiri-kanan jalan itu ada kebon sirih, maka kalupaan mengawal di situ; sebab itu pada samantara tantara duwa sibak itu berlawan-berlawan an, maka pasukan tantara Inggris bersimpang jalan, lalu melawan pada sisi tantara itu; maka satelah dilihat olil hulubalang Yumel, musuhnya terlalu dekat, hampir tantara Wolanda dikepungi, maka dengan segera disuruhnya mundur sampe ka Meester Cornelis. Maka Tuwan-Besar amat marah, seraya menengar itu, karena dekat Tanah-lapang Singa astana dan tangsi dan rumah-sakit dan 300 mairam dan bauyak bekal-perang, maka samuwanya itu dijarahkan orang Inggris.

Syahadan, maka satelah berapa hari lamanya, maka tantara Inggris mudik lagi sampe ka Meester, dan hulubalang Yumel telah menyadiakan samuwanya hendak melawan sakuwat'nya; bahwa senya orang melawan empat hari lamanya bertembak'an, tetapi orang Prasman terlalu segan, maka Tuwan-Besar menyeruh mengawal lebih bayik dan membayiki kubu, yang telah dirusakkan peluru. Maka kaesukan hariuya pada pagi-pagi datang Tuwan-Besar, hendak memeriksakan, kalau pesanya telah dilakukan, maka tiba3 kadengaran, orang Inggris yang bersurak-bersurak, karena saorang Prasman, yang telah membelut, menunjuk jalan nayik kubu, lalu tantara Inggris masuk.

Satelah dilihat Tuwan-Besar, perang orang Wolanda terpecah, maka disuruhnya mundur lagi, hendak mudik, tetapi beharulah tantara kalowar tanah-lapang, yang dikotai, maka dengan segera samuwanya lari-lari, lalu tantara Inggris menggulung musuh yang lari, maka dengan sakian 6000 orang ditawankan, dan beratus-beratus dibunoh. Maka Tuwan-Besar mudik ka Bogor di iring oliah salebihnya tatara, yang telah dialahkan; datang juga hulubalang Yumel, tetapi dipandangkan muda oliah Tuwan-Besar, lalu iya disuruh ka Cirebon, hendak melawan musuh di situ, jikalau kiranya negari itu belom di alahkan.

Satelah hulubalang Yumel ka negari Cirebon, maka orang Inggris telah nayik darat, dan mengalahkan negari itu, maka bicara kondangannya: jangan hulubalang masuk negari itu, kalau³ di tawankan orang Inggris, maka tiada kadengaran hulubalang Yumel, lalu ka Cirebon, lalu ditawankan orang Inggris.

Adapon Tuwan-Besar itu pertama-pertama ka Ci-Sarua, sebab di situ tempat kadudukan Majelis Pemerintah, lalu dilepaskaunya Pegawei Guvernement dengan janjinya: jangan Tuwan-Tuwan menocelung orang Inggris dengan bicaranya, salagi bandeira orang Prasman masih berkipas-berkipas di tanah Jawa ini. Satelah itu Tuwan-Besar berangkat dengan hulubalang dan op-sirnya ka Samarang.

Arakian, maka dekat negari Serondol di Residen-nan Samarang ada tempat, yang amat kuwat, dan dengan gampang tantara bolih dilindungkan, hendak menahankan musuh; maka tempat itu disebut Jati-ngali. Maka disuruh Tuwan-Besar menahankan musuh di situ, apabila dikahendaknya mudik, lalu dikerahkannya laskarnya. Akan tetapinya ada sadikit orang berkulit putih dan banyak orang Jawa, maka senjata orang Jawa seligi atau buluh yang tajam, dan sadikit memegang snapan; ada kira-kira 8000 banyaknya.

Maka orang Inggris telah merantau, lalu turun ka darat dekat Samarang, maka satelah didengarnya, Tuwan-Besar bertahan dekat Jati-ngali, maka dengan segera hulubalang Inggris menyeruh tantaranya mudik, lalu ka Jati-ngali. Maka beharulah orang Jawa melihat musuoh, maka larilah marika-iteo, dan Tuwan-Besar dengan segala hulubalang dan opsirnya katinggalan; maka dengan sasungguhnya orang Jawa tiada mau menulung orang Wolanda melawan orang Inggris. Maka Tuwan-Besar mundur lagi ka Salatiga, lalu menyerahkan dirinya serta dengan saluruh tanah Jawa kapada hulubalang Aukhmuc. Maka Tuwan-Besar dibawa tertawan ka tanah Inggris, lalu terlepas, maka Kaisar Napoleon menarima dia dengan bayik, lantas diperolihnyia pangkat lagi.


30. Pemerintahan Sir Stamford Raffles

1811—1816

Bermula, maka satelah tanah Jawa diserahkan kapada orang Inggris, maka Lord Minto dengan Sir Raffles itu bermuwafakat hendak memerintahkan di sini ganti Kompeni orang Inggris, lalu Tuwan-Besar, Lord Minto, pulang ka Kalkuta dan Sir Raffles diangkat Wakil Tuwan-Besar.

Hata, maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Raffles itu Sultan Banten dipecatkan, dan lagi Pangeran Ahmed, yang dehulu menulung orang Inggris, ditangkap, lalu dibuwang ka pulau Banda. Lagi pula Sultan Cirebon dipecat juga dan tanah-nya dikepilkan dengan tanah Jawa yang layin. Maka di Jugya ada juga haru-biru, karena Sultan Sepuh, yang dipecatkan oih Tuwan-Besar Daendels itu, mengataskan dirinya lagi, dan memecatkan anan- danya. Sebab itu ada duwa fihak, sabelahnya disebut Kasepuhan dan sabelahnya disebut Karajan.

Maka dengan segera Noto Kasumo kombali ka Jugya menulung fihak karajan, karena iyin berpaut kapada orang Inggris. Maka hulubalang Gillespie mengalahkan negari Jugya dan menjarahkan keraton, lalu dirampasnya 750.000 ringgit yang di dalamnya. Maka Sultan Sepub dipecatkan lagi dan anandanya diangkat pula. Maka Noto Kasumo dapat juga pusakaan dengan namanya Paku Alam. Sampei sakarang ini anak cicinya bermilik di Jugya. Adapon Sultan A mangku Buwono III itu mati pada ta-hun 1814, lalu anandanya mengganti dia, maka ananda yang sulung itu, Onto Wirio tiada bolih meng-ganti dia, sebab bundanya gundik Sultan. Maka Onto Wirio disebut juga Dipo Negoro; nanti hika-yatnya diceriterakan juga.

Maka Susuhunan ditegurkan juga, dan perolihan hasilnya dikeroangi juga, sebab itu hatinya berden-dam, maka diam-diam Susuhunan bermuwafakat dengan laskar orang Inggris, orang Supai, hendak memu-waskan dendam hatinya, maka diperjanjinya, segala orang Inggris dan orang Wolanda dibenuh, maka Susuhunan akan berolih kombali karajaan nenek moyangnya, dan orang Supai akan berolih pantei utara tanah Jawa. Syukurlah rahasia itu terpecah, karena behaya besar bagei orang berkulit putih, maka Tuwan-Besar menyouruh orang Supai di pindahkan ka tempat layin, lalu Susuhunan tiada berolih mak-sudnya,

Kalakian, maka di Probolinggo ada haru-biru juga, maka orang Cina, tuwan-tanah di situ, dibu-nuh serta dengan banyak opsir orang Inggris. Maka Tuwan-Besar Daendels telah menjuwal tanah kapada orang Cina dengan janjinya duwit belian diangsur duwa kali satahun, maka supaya duwit itu dibayar, orang Cina itu melobakan uwang dan menghisap darah orangnya, sebab itu orang peduduk tanahnya berdurhaka dan mengamok. Maka Tuwan-Besar mengambil pula tanah itu dan anak orang Cina itu berolih silihan.

Bermula, tadi telah diceriterakan, maka Sir Raffles itu mengasut Sultan Palembang, supaya membuewang segala orang Wolanda, sebab itu satelah Sultan itu, Badruddin namanya, dapat khabar, orang Wolanda di tanah Jawa di alahkan, maka ditumpangkannya segala orang Wolanda laki-laki perampuan dan anak-anak atas sabuwah kapal, rupanya hendak memulangkan ka Betawi, tetapi diam-diam pada malam disuruhnya membunuh orang itu, kira³ barang duwa puluh orang.

Hata, satelah berapa lamanya maka Tuwan-Besar melayangkan surat kapada Sultan Badruddin dengan memperpengatahucankan, orang Wolanda telah dialahkan dan orang Inggris mendapat kuwasa atas tanah Jawa seraya katanya: sakarang Sultan Badruddin di pertahutkan olih Kompeni orang Inggris. Maka dijawab Sultan itu: bayikilah Tuwan cahabatku telah mengalahkan orang Wolanda, maka akan daku telah sudah kulepasikan diriku dari pada orang Wolanda, dan segala orang Wolanda di Palembang di buwang juga, dan lagi aku ini terlepas juga dari pada orang Inggris.

Hata, satelah didengar itu oili Tuwan-Besar, maka pura-pura iya marah, kendatinya telah sudah diasutkannya Sultan itu dehulu, tetapi maksudnya telah dipero-lihnya, sakarang trausah lagi ditulung Sultan; saperti orang yang makan duriyon, buwahnya dimakannya, ku-litnya dibuwangnya. Maka dengan segera disuruhnya hulubalang Gillespie, yang mengalahkan Sultan, lalu dipecatnya Sultan itu, yang diganti dengan adindanya, Adipati Ahmed Naj muddin namanya, maka Sultan beharoie itu menyerahkan pulau Biliton kapada orang Inggris, maka pulau itu amat di indahkan oih Tuwan-Besar, sebab banyak kolong timah-putih di situ. Maka nama ibu-negari pulau itu di-sebutnya Minto. Akan tetapinya beharu hulubalang Gillespie sudah pulang, maka dengan segera ada lagi huru-hara; maka pada kutika orang Wolanda kombali ka tanah Jawa haru-biru belom dipadamkan, behkan perkara itu beharu diputuskan pada tahun 1825, nanti yang ini diceriterakan kelak,

Kalakian, maka di tanah Borneo dekat bandar Banjermasin itu teman Tuwan-Besar, Hare namanya, menuntut mengadakan karajaan, yang diasingkan daripada Kompeni, maka Tuwan-Besar menyouruh menangkap orang Jawa laki-laki dan perampuan, menjadi bibit karajaan itu, tetapi tiada jadi.

Syahadan, di pulau Selebesi ada juga perang, karena raja Boni, AruPelakka, tiada mau menurut perintahan orang Inggris, maka panglima-laut Nightingal tiada bolih memadamkan itu, sahingga masih haru-biru pada kutika orang Wolanda kombali ka tanah Jawa.

Syahadan, maka pada samantara bandeira Wolanda tiada kalihatan di mana-di mana, maka di pulau Decima dekat tanah Je pun masih terpasang. Ada di situ hulubalang, HendrikDuf namanya, yang tahan dan tiada mau menurut perintahan Tuwan-Besar Raffles, maka berulang-ulang disuruh Tuwan-Besar kapal, serta dibujuknya hati hulubalang Hendrik Duf, tetapi tegarlah iya. Beharulah pada kutika orang Wolanda dapat kombali tanah Jawa, maka hulubalang itu diganti dengan hulubalang layin.

Kalakian, maka pengharapan Tuwan-Besar, nanti Kompeni orang Inggris tiada mengombalikan tanah Jawa kapada kuwasa orang Wolanda, sebab itu dia-turkannya segala peri hal pemerintahan dan aturan membayar beya. Maka dengan sasungguhny kabu-diman Tuwan-Besar itu amat tajam, dan aturannya ini dipungut juga oih orang Wolanda, maka atu- ran itu saperti bagan rupanya, yang disempurnakan oliah orang Wolanda.

Maka pada kutika Kompeni, orang Jawa dipaksa menjuwal hasil tanahnya bayik padi, bayik kapas, bayik nila, bayik buwah niur d. l. s. kapada bekel, lurah, petinggi, wedana, bupati d. l. l. yang menjuwal itu kapada Kompeni. Maka Kompeni membli itu dengan murah, tetapi orang kecil menjuwal itu dengan murahan kapada orang besar; lagipula ditanggungkan atas tiap³ desa tugas, iyaitu berapa banyaknya akan dijuwal tiap³ tahun. Maka iyaini ditiadakan Tuwan-Besar Raffles, dan lagi ditukar dengan membayar beya, iyaitu dari pada hasil sawah, maka sewanya 21,52 atau 81 daripada hasilnya dan lagi tegal-itee dibeyai dengan 31,41 dan 51 daripada hasil, sakedar tanah itu berhasil banyak atau sadikit.

Maka dengan sasungguhnya aturan itu lebih ber-untung kapada orang Jawa, tetapi Tuwan-Besar tiada bersabar, supaya perobahan itu dilakukan dengan perlahan, supaya orang kecil dibiasakan dengan itu, maka sebab itu orang rayat-rayat membenci aturan itu, dan tiada mengarti faidahnya.

Bermula, maka pada samantara itu segala hal ahuwal di benuwa Airopah terbalik; maka Kaisar Napoleon bertiwas dari pada segala musuhnya, lalu dibuwang ka pulau Elba, dan ananda Yang-Dipertuwan dikombalikan atas takhta ayandanya¹ Maka sa-karang tadapat tiada orang Inggris memberi pulang segala kaempunyaan ananda Yang-Dipertuwan. Maka Tuwan-Besar Raffles amat berdengkei, lalu dicobainya membujuk hati Majelis Kompeni orang Inggris, supaya mengacuwalikan tanah Jawa, tetapi sabelom-nya itu, Tuwan-Besar Raffles dipanggil pulang lalu perintahan diserahkannya kapada Yohn Fendal, yang Tuwan-Besar sampei kadatangan orang Wolanda 1816.

¹ Coba melihat Hikayat orang Wolanda 69 dan 70.


31. Tanah Jawa Dikombalikan kapada Raja Wolanda 1816. Tuwan-Besar Van der Capellen

1816—1825

Bermula, satelah Kaisar Napoleon di alahkan dekat Waterloo, maka Raja Wolanda Willem I, 1813—1840, menyeruh tiga Tuwan Wakil Raja, hendak menyambut pemerintahan dari pada Tuwan-Besar Fendal, maka Tuwan bertiga itu di iringkan olish 10000 orang, lalu ka tanah Jawa. Maka sampeilah marika-iteo bulan April 1816. Akan tetapinya Tuwan-Besar Fendal berdalah katanya: aku ini belom dapat khabar dari pada negari Kalkuta, kendatinya sudah lama khabar itu telah sampei ka Betawi dari tanah Inggris. Maka dengan sakian tiga bulan lamanya ditanggulnya perkara itu, dan lagi segala gudang dan rumah, yang dibangunkan olish Tuwan-Besar Daendels, dirombakenya, dan batu dengan kayunya dijuwalnya, supaya dibakarkan; tetapi Tuwan bertiga itu bersabar, supaya jangan bersusah lagi. Satelah khabar itu sudah sampei, maka orang Inggris nayik kapal, lalu meninggalkan negari Betawi.

Hata, satelah berapa lamanya, maka Sir Raffles kombali lagi ka negari Benkulen, maka hatinya ter-tuno sebab orang Wolanda kombali ka tanah Jawa. Maka pertama-pertama di enggannya memulangkan negari Padang, sampei Tuwan-Besar di Kalkuta menyeruh dia. Satelah itu dicobainya merampas tanah berkuliling telok Semangka; satelah itu diasutkannya Sultan Palembang, seraya dikirimnya obat-bedil dengan snapan kapada Sultan itu; tambahan pula dikirimnya utusan, Salmond namanya, supaya mengajak Sultan jangan berjangyi dengan orang Wolanda, melainkan dengan orang Inggris. Maka utusan Tuwan Raffles itu ditumpangkan kapal, lalu dihantar ka negari

Benkulen. Satelah itu dicobainya merugikan orang Wolanda dengan menyusukkan negari Singapora, maski pun pulau itu dari dehuloce kala di bawah perintahan Kompeni. Demikianlah Sir Raffles sampeki kamatiannya mencucahkan orang Wolanda.

Hata, maka di pulau Ambon timbul juga huruhara, sebab saorang, Matulesia namanya, mengapalakan orang, hendak melawan perintahan Tuwan-Besar. Maka satelah berapa lamanya orang berdurhaka bertiwas, dan lagi kemudian dari pada itu datang Tuwan-Besar hendak menyelidik segala perkara di pulau Maluku, lalu orang bersenang santosa. Adapon Susuhunan mencoba berolih kombali kuwasanya dari dehuloce, maka ditulinsya kapada segala Punggawa dan Pegawei, bahwa kuwasa Susuhunan saperti dehuloce, iyaitee sabelomnya tahun 1812. Satelah didengar itu olib Residen Nahuis, maka dengan segera iya pergi ka Solo, lalu bertanya kapada Susuhunan katanya: ada kadengaran di negari Jugya khabar demikian dan demikian, maka dengan sasungguhnya Susuhunan tiada tahu apa³; adindamu merasa, manteri ferdana punya salah. Dijawab Sultan: iya sungguh kakandamu tiada tahu apa³ dari pada itu. Maka manteri ferdana diteguri olib Residen, tetapi satelah kaluwar dikatakan Tuwan Residen kapada manteri katanya: bayiklah Tuwan menanggungkan salah, karena lebih bayik salah itu ditanggungkan atas Tuwan dan bukan atas Susuhunan. Demikianlah olib cerdik Tuwan Residen huruhara itu terbantut. Maka pada tahun 1822 Sultan Amangku Buwono IV itu mati dan anandanya beharu duwa tahun umurnya maka Tuwan-Besar mengangkat duwa Pangeran menjadi Wakil Sultan. Adapon saorang Wakil mamanda Sultan, Dipo Negoro namanya, bersungut-bersungut sebab berawei, akan tetapi disimpangnya dalam hatinya, sebab belom sadia, tetapi diam-diam disadiakannya dirinya tiga tahun lamanya.

Hata, maka di tanah Sumatra ada juga huruhara, karena ada tiga haji, yang hendak membetulkan agama Islam, maka dilarangkannya menyabung dan lagi minum madat, behkan makan sirih dan mengulum tembakau dilarangnya. Ada saorang raja, yang membunuh adik bundanya, sebab iya telah mengulum tembakau; dan lagi dilarangkannya minum anggur dan menjudi, dan disuruhnya berkiblah dengan betul dan mencukur rambut kapalanya, dan memakeikan dastar dan layin-layin. Maka orang itu disebut orang Padri sebab dipakeinya baju puthi, atau sebab hendak mencucikan adatnya dari pada segala kasalahan. Adapon raja orang Padri, Tuwanku-nan-tuwa dan Tuwanku-nan-rinceh dan Tuwanku-Imam itu, membunuh kulawarga raja Menangkabau. Maka saorang yang terlepas dari pada pembunuhan itu datang menghadap Tuwan Residen, DeRaaf namanya, minta pertulungan. Maka Tuwan Residen menulung ju-ga, lalu Pagar - ruyung dialahkan, tetapi orang Padri berduduk lagi di negari Lintau di balik gunung, lalu Tuwan Residen menyusuk kota FortVanderCapelle di Tanah-Datar, tetapi sebab pa-sukannya sadikit, kamenangan tiada bolih dilanjutkan. Maka orang Padri berjanji dengan Tuwan Residen Stuers, iyaite peganti Tuwan Residen Raaf, maka dari pada duwa fihak itu orang tiada berprang lagi, melainkan masing-masing tinggal pada tempatnya 1824.

Maka pada samantara itu ada juga perang yang amat galak di Palembang, duwa tahun lamanya, maka diam-diam orang Inggris menulung dari Benkulen; maka kapal perang itu mudik sungei Musi, lalu menampuh keraton dan benteng, yang pada sabelah-menyabelah sungei itu, maka banyak orang Wo!anda dibenuh, karena orang Melayu melawan dengan berani dan prawira juga, tetapi pada akhirnya Sultan bertiwas, lalu minta perdameian. Maka Sultan di tawankan, lalu dibuwang ka pulau Banda 1821.

Satelah sudah itu huru-hara di Sambas dan di Montrado dipadamkan juga.

Tambahan pula ada juga huru-hara di pulau Selebesi, karena Raja Boni dan Raja Sopeng tiada mau mengabulkan syariat beharu, yang ditentukan oih Tuwan-Besar dengan perjanjian Bongaya; maka perang itu barang duwa tahun lamanya, lalu duwa Raja itu menyambut syariat beharu juga.

Bermula, maka pada tahun 1824 perkara Hindia-Timur itu diseleseikan, maka utusan Raja Inggris dan utusan Raja Wolanda bermuwalakat di negari Londen, lalu diperjanjikan inilah:

Ka 1 Negari Benkulen dengan dairahnya ditukar dengan negari Malaka dan dairahnya.

Ka 2 Pulau Biliton ditukar dengan pulau Singapura.

Ka 3 Orang Inggris tiada mencampurkan dirinya dengan perkara di pulau-pulau, dan orang Wolanda tiada mencampurkan dirinya dengan perkara di daratan.

Ka 4 Duwa bangsa itu bertulung-bertulungan menghalaukan dan mengalahkan segala orang perompak di mana-mana.

Ka 5 Orang Wolanda membayar lagi 1,200,000 rupiah silihan segala belanjaan, yang dibelanjakan orang Inggris dehulu.—Maka pada tahun itu juga Sir Raffles pulang ka tanah Inggris.


32. Perang dengan Dipo Negoro

1825—1830

Sabermula, maka pada muka 136 telah sudah diceriterakan, Sultan Amangku Buwono IV mati pada tahun 1822, lalu diganti oih anandanya, yang beharu 2 tahun umurnya, dan sebab itu mamandanya ber- duwa, wakil Sultan sampe akalnya sudah balighr. Maka saorang Wakil itu, Pangeran Dipo Negoro, sakit hati sebab berawei, tetapi disimpannya dendam hatinya, dia-singkannya dirinya dari pada astana Sultan, melainkan iya berdudurok dalam rumahnya di Tegal Rejo terfekur dari hal dunia yang fana ini, dan lagi dunia yang baka di indahkannya; maka pakeian yang bagus ditanggalkannya, melainkan dipakeinyia pakeian hitam, saperti orang pertapa rupanya; lagi pula iya berkiblah serta dengan minta doa; lagi pula iya bermuwafakat dengan banyak haji dan imam-imam, yang berkumpul dalam rumahnya di Tegal Rejo. Maka saorang namanya Kyai Mojo, yang menulung Pangeran Dipo Negoro sakuwat-sakuwatnya.

Maka satelah berapa lamanya disangkakannya dirinya ditakdirkan Allah Taala, supaya mengusir segala orang kasir, iyaitu orang Wolanda, dan membayiki agama Islam.

Bahwa senya maka sangkanya menengar suwara Allah firmaniya: »Dikaruniakan kapadamu menyadi Sultan, melainkan jaga bayik³, jangan memegahkan dirimu.“ Maka masih bimbang hatinya, kalau suwara itu suwara Melaikat atau Iblis, akan tetapi dibilicarakan temannya, jangan mundur; maka katanya: »Sapala³ Tuwan saorang berdurhaka, jangan kapalang, jika-lau Tuwan ditangkap sakarang, nanti Tuwan dibu-uang ka sabrangan laut; bayiklah kita berdurhaka dengan lekas.”

Bahwa senya Tuwan Residen, Smissaert namanya, telah menengar, Pangeran Dipo Negoro hendak berdurhaka, lalu disuruhnya memanggil dia, tetapi dienggannya menghadap Tuwan Residen; satelah itu disuruhnya menangkap dia, tetapi Pangeran telah lari dari Tegal Rejo ka Silarong. Maka dengan segera dilayangkannya diam-diam surat kiriman berkuling, bunyinya: »He cahabat³ dan teman-teman di karajaan Mataram! Barang siapa yang berpaut kapada

Pangeran Dipo Negoro, mari dengan lekas kapada Pangeran dan mamandanya, yang berduduk bersama di Silarong. Datanglah dengan lekas, barang siapa yang berleket kapadanya, dengan senjata hendak berperang.“ Maka dari pada segala siah orang Jawa berkarumun beribu-beribu banyaknya.

Hata, satelah dilihat Tuwan Residen, maka orang Jawa berdurhaka bukan alang-alang, maka di sampeikannya surat kapada Tuwan-Besar hendak memberi tahu itu, 24 Augustus 1825. Maka Tuwan-Besar amat terkejut, karena beharulah Tuwan Residen telah menulis, maka orang Jawa di Jugya amat senang santosa; lagi pula ada sadikit pasukan di tanah Jawa, karena saparoh tantaranya di Padang, berprang dengan orang Padri, dan saparohnya di pulau Selebesi, berprang dengan Raja Boni.

Akan tetapi dengan segera disuruhnya hulubalang De Cock, yang diangkat Tuwan-Besar-muda, supaya dengan segera bereka membantutkan kadurhakaan, supaya jangan Susuhunan membelut juga. Maka Sultan muda itu dilindungkkan dalam benteng dengan pasukan orang Wolanda, karena orang berdurhaka telah berangkat ka Jugya, lalu mengalahkan negari itu. Maka Pangeran Dipo Negoro dilantik Sultan dengan nama Abdu ‘ l Hamid EruCakraKabiru ’ l muminina Kalifatu‘ l rasaelu ’llahi Amangku Buwono Senopati ingalogo sab'lullah ing Tanah Jawa. Maka dikatakan yang menceriterakan perang ini dengan behasa Jawa: “maka perkara yang ini menyadi batu kasontohan, karena telah dilarangkan: jangan memegahkan dirimu; dan dengan nama yang amat tinggi itu, maka dimegahkannya dirinya; sebab itu Pangeran Dipo Negoro bertiwas dari pada orang Wolanda”.

Maka tanggal 31 bulan Augustus 1825 datang hulubalang VanGeen dengan tantara pembantuan dari negari Makassar, lalu dengan segera dihalaukannya orang berdurhaka dari Demak dan Grobogan, lalu ka negari Jugya, lalu ka negari Silarong; akan tetapinya Pangeran Dipo Negoro dengan tantaranya telah meninggalkan negari itu, lalu pergi ka Dekso, sebab itu hulubalang De Cock tersebal.

Maka senantiasa akal Pangeran Dipo Negoro dengan safakatnya iya itu melindungkan dirinya dalam hutan atau gunungan atau dalam guha dan jurang atau limbangan; maka jikalau tantara Wolanda besar, orang Jawa bersembuni sehaja, tetapi jikalau pasukan kecil, maka tiba-tiba didatangkannya dengan orang banyak, lalu dibinasakannya pasukan itu. Maka dengan ini tantara Wolanda mencehari-mencehari musuh, tiada dapat, tetapi satelah berapa lamanya didengarnya, pasukan ini, atau itu telah diseregap musuh, lalu dibunuh samuwanya saka-llian bayik orang Wolanda bayik orang terenak.

Akan tetapinya segala orang berdurhaka dihalaukan dari pada residenan Madiun dan Pacitian disablah timur dan Banyumas dengan Bagelen di sabelah barat; lagipula dari Kedu juga, maka jalan ka negari Brossot dibayiki, dan lagi Sultan muda dipulangkan ka negari Jugya. Adapon hulubalang De Cock berangkat ka Betawi, karena Tuwan-Besar dipanggil pulang, lalu diganti dengan Tuwan-Besar, Du Bus namanya.

Hata, maka pada bulan April hulubalang De Cock kombali ka Jawa, lalu bersafakat dengan Tuwan Residen di Kadu, di Samarang dan di Rembang dengan hal betapa perang itu dilakukan lagi.

Maka ada di Mataram bekas keraton dari purbakala, Sultan Mataram punya, Plered namanya, maka keraton itu luwasnya, 3 paal panjangnya, dan 3 paal lebaranya. Maka keraton itu dialahkan oih tantara Wolanda, lantas ditinggalkan, lantas dialahkan pula, karena tiap-tiap kali musuh itu kombali berduduk di situ.

Satelah itu tantara Wolanda berangkat ka negari Dekso, tempat kadudukan Pangeran Dipo Negoro, tetapi terkaciwa lagi, karena negari itu telah ditinggalkan; rupanya Pangeran Dipo Negoro disedarkan dehulo. Maka dengan sakian tantara Wolanda berlelah dan penat dengan tiada berolih maksudnya.

Maka Wakil Sultan berduwa itu telah menyertai tantara Wolanda ka Dekso; maka sebab hulubalang Van Geen tiada berjumpa dengan musuh dari Jugya ka Dekso, maka sangkanya jalan dari Dekso ka Jugya tiada berbehaya lagi, maka satelah Wakil Sultan hendak pulang ka Jugya, maka disuruh hulubalang Van Geen sadikit laskar hendak mengiring duwa Pangeran itu. Maka di tengah jalan dekat negari Langkong tiba³ orang itu diseregap musuh, lalu dibunuh samuwanya bayik orang Wolanda bayik orang Jawa. Maka penganjur pasukan Pangeran Dipo Negoro iyaitu Sentot namanya. maka Sentot itu ananda Raden Ranggo, Bupati Madiun.¹ Adapon Sentot itu saorang muda, beharulah 19 tahun umurnya, tetapi amat prawira dan perkasa saperti singa muda lakunya.

Hata, maka dengan sakian ini segala untung, yang diperolih salagi satahun lamanya, kahilangan dengan kaalahan itu, karena segala orang Jawa berbitiyara: Kompeni tiada kuwat lagi mengembarikan Pangeran Dipo Negoro dengan safakatnya.

Kalakian, maka berikhtiar hulubalang De Cock hendak mengangkat Sultan Sepuh, yang dipecatkan oleh Tuwan-Besar Daendels 1810; sangkanya, maka banyak Pangeran dan Adipati, yang mengikut Pangeran Dipo Negoro itu, akan membelut, supaya dengan demikian kuwasa Pangeran ditawarkan. Akan tetapi tiada banyak gunanya, karena saorang-pun tiada mengapikkkan Sultan itu, hanya Bupati Kedu berbelut, akan tetapi sebab iya dialahkan oih tantara Wolanda.

Kalakian, maka pada tahun 1827 hulubalang De Cock bereka akal, supaya kamenangan yang telah diperolih jangan terhilang lagi. Maka disuruhnya menyusuk benteng-benteng berselang-berselangan, dan diantaranya jalan yang bayik, supaya orang yang berkawal di situ dengan segera bolih bertulung-bertulungan, maka dengan sakian itu musuh dipagari dengan rantei-ranteian benteng itu. Maka terdehulu musuh itu tiada mengarti akal hulubalang itu, dan satelah hampir habis, beharu marika-itu melihat maksud hulubalang De Cock. Satelah sudah itu maka dicobainya membatalkan niatnya, tetapi tiada jadi; maka dekat Pasar Gedeh ada perang yang amat ganas, karena orang berdurhaka hendak menegahkan, benteng itu dibangunkan, tetapi Pangeran Dipo Negoro bertiwas, lalu musuh itu di sepitkan antara kali Progo dan Bogowonto.

Maka satelah dilihat itu oih Pangeran Dipo Negoro, maka disorongkannya perdameian, tetapi tiada jadi, karena ditagehnya nama Ponotogomo; sebab itu pada tahun 1828 prang bernyala pula.

Hata, maka rupanya orang berdurhaka beruntung lagi, karena pada tahun 1828 orang yang berduduk di Madiun di Rembang dan di Kediri berdurhaka juga, tetapi marika-itu bertiwas dekat Plunturan 28 Yanuari 1828. Lagipula sakali peristiwa Pangeran Oipo Negoro berhariraya amat ramei-rameian dekat Sambarot, maka ada beribu-beribu orang berseoka-berseokaan, tetapi tiba-tiba orang banyak itu didatangi tantara Wolanda, lalu tercerei-berei dan Pangeran itu hampir tertawan. Maka Sentot, yang telah berolih nama Ali Bas-sa Prawira Dirjo, mencoba menyaberang kali Bogowonto, 30 September tetapi selang tujuh hari lamanya iya ditulak lagi.

Lagi pula Kyai Mojo, yang saperti turus kuwasa Pangeran Dipo Negoro itu, di alahkan, lalu ditawan-kan dihantar ka negari Betawi. Satelah sudah itu maka dicobai Tuwan-Besar membujuk hati Pangeran Dipo Negoro dengan pertulungan Kyai Mojo, maka ditulisinya surat kapada Pangeran itu, bahwa perang ini bukan perkara agama, karena fasal agama itu dibebaskan, olish Guvernement, lalu saorang Kapitein, Rups namanya, bercakap menyampeikan surat itu kapada Pangeran, tetapi siya'lah, lalu Kyai Mojo dibuwang ka Menado.

Hata, maka pada bulan September Pangeran men-coba menyaberang Kali Progo, tetapi tiba‘ pasukannya didatangi olish tantara Wolanda, lalu Pangeran lari sacepat'nya di iringkan kawanya. Maka nyurislah iya ditangkap, karena hulubalang Sollewiyn itu mengenal dia, sebab jubanya hiju dengan dastarnya, lalu katanya kapada temannya, yang samuwa mengandarai kuda: “inilah Pangeran yang berharga lebih dari pada 10000 orang Jawa”, lalu laskar Wolanda mengejar dia sacepat'nya saperti kilat lekasnya; maka jalan itu bergelegar di bawah kaki kuda yang banyak itu; maka Pangeran terjun kadalam sungei, tetapi laskar Wolanda terjun juga, maka Pangeran pertama-pertama di saberangan, tetapi rapat dengan dia saorang laskar Wolanda, yang memasang pistolnya, tetapi luncas, lalu dipegangnya tali kang kuda Pangeran, tetapi pada sasaat itu juga laskar itu ditikam duwa tumbak orang, yang mengiring Pangeran, maka orang itu dibunoh juga olish teman orang Wolanda, tetapi pada samantara itu Pangeran itu terlepas juga.

Hata, maka kendati Pangeran itu terlepas, nyatalah juga iya tiada bolih lagi mengembarikan kuwasa Kompeni; sebab itu ada beberapa hulubalangnya, yang datang minta ampon. Pada bulan October datang hulubalang Sentot minta ditarima olish Guvernement, lalu iya ditarima dengan bayik dan dapat pangkat itu juga, yang telah diperolihnya dari pada Pangeran Dipo Negoro. Maka terkemudian iya amat berguna dengan perang melawan orang Padri. Lagipula datang juga Imam Mus-bah, menghadap hulubalang Wolanda, minta ampon, bulan Yanuari 1830.

Kalakian, maka sakarang dilihat Pangeran Dipo Negoro itu, tiada tertahan lagi, sebab itu datangnya hendak menyorong perdameian, tetapi hulubalang De Cock telah berangkat ka Betawi dan lagi di enggan Pangeran berjangyi dengan hulubalang muda, melainkan dengan yang tertinggi itu. Satelah hulubalang De Cock pulang, maka ada puwasa dan Pangeran tiada mau menyusah-kan dirinya dengan perkara dunia pada samantara ku-tika puwasa itu. Maka satelah puwasa sudah habis, Pangeran menghadap hulubalang, 28 Maart 1830, di negeri Minoreh. Maka hulubalang De Cock bertanya: Apakah di minta Pangeran dari pada Guvernement? jikalau bolih, sanistayaya dikaruniakan juga oliy Guvernement itu. Akan tetapi dehulu Pangeran itu tiada menyahut trus-trang, melainkan berdalih-berdalih, kendatinya hulubalang besar itu bertanya³ dengan berulaug³. Maka pada akhiirnya didatangkannya permintaannya, iyaitu ditagehnya, disebut dengan nama Sultan dan Ponotogomo. Maka marahlah hulubalang De Cock seraya katanya: Pangeran sendiri tahu juga, yang ini tiada bolih dilubeskan; rupanya Pangeran mempermainkan Guvernement, sebab sudah tiga kali permintaan itu di enggan; tetapi sakarang Pangeran tiada bolih pulang lagi, melainkan dihantar ka negeri Betawi menghadap Tuwan-Besar. Lalu Pangeran Dipo Negoro dengan pengiringnya dihantar ka Betawi, lantas ka Menado dan kemuedian dari pada itu ka Makassar. Maka mangkatlah Dipo Negoro tahun 1855.

Demikianlah penghabisan perang di tanah Jawa sebab pusakaan takhta Sultan, maka kemudian dari pada itu belom pernah perang lagi, iyaitu anam puluh tiga tahun lamanya. Maka samantara perang itu mati dibenuh atau kena sakit 8000 orang Wolanda dan 7000 orang terenak, dan lagi dibelanjakan 20 juta rupiah iyaitu dari pada fihak orang Wolanda, karena dari fihak Pangeran Dipo Negoro tiada terkira³kan.

Syahadan, maka sakarang perkara karajaan Jugya dan Solo diselidik lagi dengan saksamanya, lalu diten-tukan Tuwan-Besar, maka residenan Madiun dan

Kediri di sablah barat dan lagi residenan Bagelen dan Banyumas di sablah timur itu dirompangkan dari pada duwa karajaan itu. Maka Susuhunan itu sakit-hati oih itu, lalu meninggalkan keraton, tetapi dengan segera iya dikejar, lalu dibawa pulang, lantas di buwang ka pulau Ambon. Lagi pula hal membayar beya di seleseikan juga, karena di karajaan Solo dan di Jugya orang kecil membayar beya 34 kali, berupa-berupa sebabnya. Maka dengan segera 24 sebabnya ditiadakan, karena kurang adil, dan lagi orang kecil terlalu ditindiskan oih pembayaran beya yang banyak itu. Maka pada samantara perang itu, orang Menado dan orang Madura melawan dengan amat berani dan prawira. Adapon Panembahan Sumenep itu dikarunia-kan dengan nama Sultan, sebab iya amat satiawan ka-pada Guvernement Wolanda.

¹ Coba lihat muka 122.


33. Pemerintahan Tuwan-Besar J. Van den Bosch

Aturan hal tanam pohon kahwah mengganti hal membayar beya.

Sabermula, maka oih karena segala perang di tanah Jawa, dan Sumatra dan Selebesi, maka Guvernement Wolanda membelanjakan amat banyak uwang. Tambahan pula ditagehkan banyak duwit silihan oih orang Inggris, sebab dipulangkannya segala kaempunyaan orang Wolanda di Hindia-Timur ini, berjuta-berjuta rupiah banyaknya. Sebab itu raja Wolanda telah pinjam banyak duwit dari pada orang layin hendak membayar hutang ini dengan harapnya nanti bunga duwit itu dibayar dengan hasil dan beya orang Jawa. Akan tetapinya sia-sia harap itu, karena hutang bertambah-bertambah, dan hasil segala pulau dengan segala beya itu tiada sampei membayar bunga duwit segala hutang itu.

Hata, maka titah raja Willem I kepada segala manterinya dan kapada segala orang pandei dalam karajaan Wolanda titahnya: Adakah di antara segala orang faham dalam karajaanku saorang yang tahu bereka dan menkhari daya-upaya, supaya hasil, dan beya orang Jawa bertambah dengan tiada menindiskan orang Jawa, supaya hutang karajaan bolih dihapuscan, dan lagi orang Jawa tiada dipaksa membayar lebih dari pada memangnya. Maka ujar saorang yang pandei antara segala orang Wolanda katanya: Ya, Tuwanku! hamba mau coba; lalu dinyatakannya niatnya dan rekanya dengan terang, lalu titah Raja: Angkaualah di angkat Tuwan-Besar; bayiklah angkau mengaturkan perkara ini menurut kabudimanmu. Maka Tuwan itu Van den Bosch namanya. Itulah sebabnya Tuwan J. v. d. Bosch di angkat Tuwan-Besar, 16 Yanuari 1830.

Bermula, bayiklah dehulu diterangkan sadikit dari pada adat orang Jawa. Hata, maka menurut adat orang Jawa itu, maka yang empunya tanah Jawa iya-itu Sultan atau Susuhunan, dan lagi tanah itu disanggamkan kapada segala rayat‘, lamun marika-itu membayar beya 51 dari pada hasil tanah, bayik dengan hasil, bayik dengan duwit, bayik dengan pekerjaaan. Maka biaya tuwan punggawa atau pegawei atau priayi dibayar juga dengan dikaruniakan hak memungut beya atau cukie saperlimanya dari pada hasil tanah, demikianlah masih adat di karajaan Solo dan Jugya.

Kalakian, maka dari pada tanah sunyi sennyap atau hutan-rimba itu tiada ditagehkan beya, melainkan dipunyai orang yang menebas hutan itu, dan selang tiga tahun lamanya trausah dibayar beya, maka satelah tiga tahun itu orang, yang empunya tanah tebasan-itu, membayar juga beya saperlima dari pada hasil itu.

Syahadan, maka Kompeni, dan kemudian dari pada itu, Guvernement orang Wolanda berolih dari pada

Sultan Mataram dan Sultan Banten dari dehulu kala segala hak, yang di empunya dehulu oih Sultan itu, maka pada hikayat ini sudah di ceriterakan dengan jalan betapa, hak itu di perolih oih Kompeni dan Guvernement; sebab itu sakarang yang empunya tanah Jawa iyaitu Guvernement Wolanda. Demikian juga dengan tanah dan pulau layin di Hindia-Timur ini. Inilah sebabnya orang peduduk, bayik orang terenak bayik orang berkulit putih membayar beya kapada Guvernement, karena tanah itu disanggamkan oih Guvernement kapada orang yang memperusahkan tanah itu.

Akan tetapi di tanah Jawa itu sawah atau tegal bukan di sanggamkan kapada masing-masing, melainkan kapa-da desa itu menurut banyaknya isi-desa itu; kalau banyak, behagiannya besar, kalau sadikit, behagiannya kecil. Maka tiap-tiap tahun ditentukan oih kapala desa behagian masing-masing; dan lagi tiap-tiap tahun behagian itu ditockar juga, supaya orang, yang telah dapat behagian kurang bagus, berolih behagian yang lebih bagus; maka kerap kali orang tiada menukar tanah, iyaitu bilamana orang bersafakat, jangan menukar.

Kalakian, bilamana saorang berpindah dari pada suwatu desa ka desa layin atau bilamana iya berbini dengan saorang perampuan, yang bukan bersadesa dengan dia, lalu berduduk di desa, yang bukan memang desanya, maka orang itu berolih juga behagiannya, melainkan apabila tanah akan dibehagikan kurang, maka orang, yang beharu datang, bertangguh sampei dapat behagian orang, yang sudah mati.

Maka dengan ini kalihatan orang Jawa tiada mempunyai sawahnya, melainkan bersewa sahaja, sebab itu dibayarnya tiap-tiap tahun sewanya. Maka kacuwali dari pada itu masing-masing mempunyai rumahnya dan kebon berkuliling rumah itu, dan lagi jikalau saorang me-nebas tanah yang berhutan, maka tanah tebasan dipunyainya salagi dia membayar beya. Maka bilamana beya tanah itu tiada dibayar, maka tanah itu di pusakai desa, lalu dibehagikan kapada orang layin.

Kalakian, maka rupanya adat itu diperadatkan olish orang Hindu, dan lagi orang Islam, yang menaalok orang Hindu itu membiarkan adat ini sampeii sakarang, dan orang Wolanda tiada mengobahkan adat itu, karena orang Wolanda mengakan dan menuntut memerintahkan orang terenak turut adatnya dari dehulu kala, di mana-di mana juga.

Arakian,maka adat orang Sunda berlainan dari pada orang Jawa, karena orang Sunda mempunyai tanahnya sendiri, sebab itu marika-itee bolih menjuwal kebonnya dan sawahnya menurut kamauannya dan tuwan-tanah itu menarima sewa sehaja, beharulah bilamana sewa itu tiada dibayar, maka tuwan-tanah itu berolih hak menjuwal tanah itu. Maka sebabnya perbedaan itu barangkali datangnya, sebab orang Hindu tiada berkuwasa di situ saperti di tanah Jawa. Lagi pula di Besuki dan di Banyuwangi adatnya sama saperti adat orang Sunda, tetapi berlainan mulanya, karena dehulu kala amat banyak perang di situ, orang Hindu dilawan orang Islam, sebab itu orang peduduk amat jarang juga, rupanya segala orang peduduk menebas tanah juga, dan anak cucu-ciiyinya memusakakan tanah dari pada nenek moyangnya. Inilah juga sebabnya banyak orang Madura menyaberang, karena di pulau Madura bera-mei3 orang, dan di tanah Jawa sabelah timor orang itu jarang3. Sebab itu sakarang kabanyakan orang Madura di residenan Probolinggo, Besuki dan Banyuwangi.

Hata, maka menuju adat yang diterangkan ini Tuwan-Besar Van den Bosch membagankan aturan hal membayar beya, yang dilakukan barang 50 tahun di tanah Jawa. Bahwa senya sakarang aturan itu berlama-lambat di obahkan sadikit-sadikit, karena kalihatan orang Jawa terlalu ditukul dan di tindis dengan itu; akan tetapinya bukan itu salah aturan, melainkan salah orang yang melakukan aturan dan undang itu, yang bertama‘ terlalu banyak. Itulah sebabnya Guvernement Wolanda tiap-tiap kali membayiki hal pembayaran beya.

Bermula, inilah aturan Tuwan-Besar Van den Bosch: Suwatu desa yang mengasingkan saperlima dari pada sawahnya atau tegalnya, supaya menanamkan di situ tanaman, yang dapat dijuwal ka tanah Wolanda, dibebaskan dari pada membayar beya; dan lagi jikalau kiranya harga juwalan tanam-tanaman itu lebih dari pada beya pun, maka salebihnya dibehagi-dibehagikan antara orang desa itu, lagipula jikalau buwah-buwahan atau tanam-tanaman itu dirusak oliah celaka barang apa, iyaitee angin keras atau banjir atau kamaraue, maka rugi itu ditangungkan Guvernement itu. Maka tanam-tanaman itu iyaitee pohon kahwah, nila, tebu atau pohon teh dan lain-lain.

Kalakian, maka dengan hal penggilingan tebu itu iya ini, saperempat dari pada orang desa tanam tebu dan memeliharakan itu sampeui sudah tuwa, saperempat memotong tebu, dan saperempat membawa tebu itu ka penggilingan, dan lagi saperempat menulung menggiling tebu itu. Maka desa itu pun tiada membayar beya, lagi pun orang itu dapat beras dengan garam menurut hajatnya. Maka aturan itu diceriterakan dengan ringkas katanya, karena belom di sebut nama tempat yang dikacuwalikan dari pada pekerjaan Kompeni itu.

Lagipula orang yang tanam pohon kahwah itu berolih 14 atau 15 rupiah sapikul, yang dibawa ka gudang Guvernement. Maka di residenan Pasuruan orang sudah biasa menanam tebu dan ber lih upaha, maka orang itu membayar juga beya.

Arakian, maka ada juga jajahan tempat pekerjaan itu terlalu susah, sebab itu telah sudah dipasang kebon oliah Guvernement di sablah udik desa itu; maka segala kapala-desa, iyaitee Locrah atau Bekel atau Petinggi d. l. l. menuruh orang beker- ja dalam kebon itu, iyaitu tiap-tiap bahu empat orang yang bekerja selang sajumaat atau sabulan; dan lagi ada mandur atau manteri koppi, yang meliharkan kerja itu. Adapon di residenan Ranyuwangi aturan ini tiada dilakukan, melainkan orang desa disuruh menanam pohon kahwah, nila, tebu, lada kayu-manis d. l. s. Maka hasil itu, dibayar Guvernement dengan harga mati. Lagipula di residenan Priangan aturan itu tiada dilakukan, melainkan orang Priangan menanam pohon kahwah dan buwahnya dijuwal kapada Guvernement dengan harga mati. Maka pada taohen 1859 aturan itu dilakukan di residenan Kediri dan Madiun.

Bermula, maka aturan itu bayik sakali, karena maksudnyia berfaidah kapada orang Jawa dan lagi bersatuju adat orang Jawa juga, akan tetapinya kasudahannya bukan dengan sabayiknya saperti di tuntut Tuwan-Besar; karena orang Wolanda kurang periksa akan halahuwal tiap-tiap desa dan jajahan dan residenan saluruh tanah Jawa, maka bukan tiap-tiap desa bersamaan; dan lagi orang Wolanda kurang periksa akan kabesaran dan kaluwasan dairah tiap-tiap desa; dan lagi rupa tanah, ma'murnya dan hasilnya itu kurang diperiksai juga. Sebab itu orang Wolanda minta pertulungan orang kapala-desa atau Wedono atau Bupati d. l. l. maka disuruhnya kapala-desa membilangkan kabanyakan orang desa dan kaluwasan dairah desa itu, akan tetapinya pendapatan orang itu kurang bayik, sebab terlalu ketiyil atau terlalu sadikit. Maka satelah berapa lamanya orang Wolanda melihat juga, maka pendapatan itu tiada betul, dan lagi bilamana disuruh membayiki atau membetulkan, maka orang itu berlalei atau segan membetulkan itu, atau barangkali dengan sengaja ditipudayakannya Tuwan-Kontroleur dan Tuwan-Residen, supaya berolih laba banyak atau dengan sebabnya barang mana. Maka jika- lau orang Wolanda memeriksa sapuluh tahun lamanya sakali pun, maka belom dapat bilangannya betul.

Hata, satelah itu dilihat oih Tuwan-Besar, maka titahnya; bayiklah kita mengaruniakan untuk hasil kapada Lurah dan Wedana dan Bupati sakedar hasilnya: yang berhasil banyak berolih untuk besar, yang berhasil sadikit berolih juga sadikit dari pada harga juwalan. Maka dari pada kutika itu orang Wolanda berolih banyak hasil, tetapi sakarang orang kecil ditindiskan oih orang besar dan kapala, yang menuntut kakayaan; dan lagi duwit yang didapat oih kapala-desa itu supaya dibehagi³ kan, tiada salamanya dibehagikan dengan betul, hanya disimpangkannya juga barang sadikit, yang tiada dibehagikan, iyaitu kendatilah Guvernement menuntut melindungkan orang kecil tiada salamanya bersampeian juga.

Tambahan pula maka kacuwali dan pada 51 itu maka orang membayar lagi 101 dari pada hasil kapada Bupati dan lagi 101 kapada Penghulu, maka beya itu disebut jakat; sebab itu tinggal lagi 53 kapada orang yang memperusahkan tanah. Maka bilamana sawah berhasil sadikit, maka orang desa dapat juga sadikit; itulah sebabnya orang Jawa miskin juga, kendati tanah itu bagus dan berhasil banyak. Maka lama kalamaan aturan ini diviadakan, supaya diganti dengan uturan layin.

Hata, maka aturan yang diterangkan ini berlaku di tanah Jawa sehaja, maka di pulau dan tanah layin itu adatnya dan aturan itu berlainan juga adanya.


34. Perang di Tanah Sumatra

1830—1838

Bermula, maka Tuwan-Besar Van den Poskh tiada memadakan dirinya dengan mengaturkan hal membayar beya dan menghasilkan tanah Jawa, tetapi dituntutnya juga mempergunakan tanah Sumatra, karena oih perjangdian dengan orang Inggris pada tahun 1824, maka orang Wolanda, bersempat dengan tiada dicucahkan orang Inggris lagi. Sebab itu disuruhnya Wakil Guvernement, Elout namanya, ka Padang dengan pesanan ini: Bayiklah Tuwan meluwaskan kuwasa orang Wolanda, tetapi sabolih'nya jangan berperang dengan orang Padri, akan tetapi jikalau orang Padri menampuh kampung orang Melayu, atau jikalau marika-itu kurang satiawan, bayiklah Tuwan berperang sakowat'nya 1831.

Hlata, ada saorang raja orang Melayu, Tuwan - nan - Cerdik namanya, yang telah menyeruruh membunuh saorang Cina, yang memungut cukie. Maka Tuwan Resident telah mempersilahkan Raja itu menghadapkan dia, supaya menerangkan perkara itu, tetapi tiada iya mau datang, melainkan mengkuwatkan dirinya di negari Naras; dan lagi Ayer - Bangis dikepungkan oliah orang Aceh dan orang Padri. Sebab itu tadapat tiada Tuwan Resident Elout menyeruruh tantara ka Naras, maka negari itu dialahkan, te-tapi Tuwan-nan-Cerdik itu terlepas lari ka Bonjol. Maka tantara Wolanda mengalahkan jadzahan VII Kota itqe; lagi pula dialahkannya negari Mengoppo di V Kota dan Kapan di jadzahan Agam 1832; lalu ditulisinya kapada Tuwan-Besar segala prihal yang diperbuwatnya, seraya dipintanya penyuruh-an Tuwan-Besar lagi. Maka disahuet Tuwan-Besar titahnya: Jangan Tuwan berperang lagi, karena Raja kita sakarang terlalu banyak susah dengan perang melawan orang Belgia¹.

Hlata, satelah berapa lamanya di dapat khabar dari Betawi: bolih berperang lagi; lalu hulubalang Krie - ger mengalahkan negari Lintau dan jadzahan Agam. Maka negari Bonjol tempat perlindungan orang Padri; maka negari itu amat kuwat rupanya, saperti penunjang karajaan orang Padri, sebab itu disuruh Tuwan Residen melanggar kota itu, maka dari duwa fihak tantara Wolanda menampeoh itu; ada tantara yang mudik dari Priaman, ada tantara yang milir dari Agam dan Padang Ulo. Maka orang Padri melawan sakuwat3 nya istimewanya dekat Andelas, akan tetapi orang Padri bertiwas, lalu tantara Wolanda masuk kota Bonjol itu 21 September 1832. Maka Tuwanku-Muda itu diangkat Yang-Dipertuwan di jajan Alahan Panjang. Tambahan pula negari Rau minta juga diperlindungkan Guvernement, dan lagi jajan Mandaheling. Maka Tuwan Elout menyeruroh menyusukkan di situ benteng Amerongen. Maka dengan sakian ini rupanya niat Tuwan-Besar dijadikan dan kuwasa orang Wolanda dirambakkan sampe ka tanah orang Batak, dan tiada tinggal lagi orang yang dapat mengembarikan orang Wolanda, bulan December 1832.

Hata, satelah berapa lamanya, bulan Yanuari 1833, maka tiba-tiba segala pri hal itu terbalik. Maka hulubalang Krieger dapat khabar, maka duwa laskar orang Wolanda dibunuoh oih 8 kuli, yang mengiring marika-itee, dan lagi anak negari itu amat nakal, lalu berdurbaka. Maka hulubalang itu menyeruroh pasu-kannya berangkat ka Bonjol hendak memeriksakan perkara itu, tetapi satelah sampe ka kampung Pisang, maka dilihatnya langkara berjalan lebih jauh, dan lagi didengarnya segala laskar di Bonjol itu dibunuoh samuwanya sakalian. Sebab itu dengan segera dilihatnya, seekat diundurnya ka Bukit Kusiri, marika-itee dapat melupotkan dirinya; tetapi jalan itu amat sepit, dan lagi musuhnya beribu-beribu banyak-nya, melainkan tiada lagi daya-upaya hendak terlepas dari pada marabehaya ini. Maka hulubalang Krieger itu mengempulkan segala laskarnya, lalu diceritera-kannya segala khabar, yang didengarnya, dan tiada disembunikannya, maka marabehaya ini amat besar, melainkan dikatakannya, insya Allah kita terlepas juga, jikalau bukan samuwanya sakalipon sakurang2nya banyak dari antara kita, lamun kamu dengar3an dengan sabetulnya barang apa yang disuruh, dan menurut perintahku. Maka orang itu, 112 laskar banyaknya, berjalan-berjalan nayik turun, masuk hutan kaluwar houtan anam puluh paal jauhnya sakali gus, dan sapanjang jalan yang sempit itu laskar di hambatkan siang malam olih musuh beribu-beribu banyaknya; maka apabila musuh terlalu dekat, maka sakunyung-sakunyung di pasangnya snapan samuwanya, lalu berjalan lagi. Maka dari pada 112 orang itu mati di tengah jalan 17 orang, tetapi samuwanya kalukaan bayik olih pelu-ru bayik olih ranju yang di tengah jalan; jikalau kiranya ada saorang yang terlalu penat, tiada bolih berjalan lagi atau kena luka hendak mati, maka dipinta-nya temannya hendak membunuh dia, supaya jangan dibenuh olih orang Padri itu. Demikianlah hulubalang dengan temannya terlepas ka Bukit Tinggi.

Syahadan, apa sebabnya kabalikan yang demikian ini, karena dehulu rupanya orang bersuka diperintahkan orang Wolanda, dan lagi selang sabulan lamanya samuwanya itu terbalik-terbalik. Maka dehulu orang Melayu minta ditulung orang Wolanda melawan orang Padri, sakarang orang Melayu bersafakat dengan orang Padri. Maka rupanya inilah sebabnya: pada samantara perang yang tadi itu banyak laskar, bayik orang Wolanda, bayik orang Jawa dan orang Ambon, menakalkan orang Melayu; dan lagi orang Melayu di paksa berkulian dengan tiada berolih upaha, lagi pula hal menjuwal madat itu dipepat Guvernement, dan lagi ada larangan menyambungkan ayam, dan lagi orang yang juwal di pasar itu akan membayar upeti. Maka orang Padri itu kecil-hati sebab mesjid dine-jiskan, istimewanya mesjid di negari Bonjol. Sebab itu dengan sagampangnya orang Melayu diasutkan orang Padri berperang melawan orang Wolanda. Maka dengan segera Tuwan Resident Elout mudik dengan Alibasa Prawira Dirjo iyaitu Sentot, dan lagi Yang-Dipertuwan Pagar-ruyyung dan Tuwan-nan-Cerdik itu ka tanah ulu, supaya memadamkan harubiru itu; akan tetapi selang berapa lamanya disangka-disangka kan Tuwan Resident, maka tiga Punggawa itu bersafakat hendak berkhiamat dengan Guvernement, sebab itu Punggawa bertiga itu di kirim ka Betawi, maka Sentot dapat pangkat pula, tetapi Tuwan-nanCerdik dibowang ka Ambon.

Satelah Tuwan-Besar itu mendapat khabar dari pada segala hal ahuwal itu, maka dengan segera Tuwan-Besar berangkat ka Padang serta dengan 1100 laskar yang dikapalakan oih hulubalang Bauer dan lagi Tuwan Resident Elout diganti oih Tuwan Sevenhoven. Maka diseleseikan Tuwan-Besar segala hal pemerintahan di Padang-Ulu dan Ilir, dan lagi ditidakkannya segala perintahan, yang mengecilkan hati orang Melayu, hanya larangan menyambungkan ayam, dan pri madat di pepatkan itu tiada ditidakkam.

Maka disuruh Tuwan-Besar mengalahkan kota Bonjol, tetapi kendati tiga pasukan disuruh dari pada tiga fihak itu, maka satu pasukan sampei, te-tapi sendirian tiada tahan, maka kaduwa pasukan layin itu tiada berolih sampei sebab amat susah berjalan ka udik ka balik gunung. Sebab itu disuruh Tuwan-Besar mencangkulkan dan mencatukkan jalan dari Kayutan am menurut Batang Aneh, maka jalan itu cuma tiga paal panjangnya dan 12 kaki lebarinya, tetapi adalah saperti pintu berantara Padang Ilir dengan Padang Ulu; maka disuruh Tuwan-Besar membekin jalan ini, supaya meringankan perjalanan orang, yang hendak mudik ka Padang-Ulu.

Satelah sudah itu Tuwan-Besar pulang ka Betawi, tetapi satelah berapa lamanya Tuwan-Besar pulang ka tanah Wolanda, karena Tuwan-Besar dipersilakan Mah-Raja pulang, supaya menjabat pangkat Manteri Pemerintah segala pulau dan tanah Hindia Timur dan Barat, maka Tuwan-Besar Baud 1833—1836 mengganti dia. llata, sapeninggal Tuwan-Besar, maka dikatahan hulubalang Bauer kapada Tuwan Residen Francis kata-nya: bayiklah kita mencoba mengalahkan kota Bonjol, karena demikianlah dipesan Tuwan-Besar yang berangkat ka tanah Wolanda. Maka berbicara Tuwan Residen, bayiklah kita bersabar dehulo dan mencoba hendak mengambat hati orang Melayu barangkali kita trausah berperang. Demikian juge bicara Tuwan-Besar Baud, sebab itu selang tahun 1834 itu orang Wolanda berhenti berperang. Akan tetapinya satelah orang Padri dan orang Melayu melihat orang Wolanda tiada berperang lagi, maka disangkakannya, bahwa orang Wolanda tiada kuwat lagi melawan marika-itu, sebab itu amat sombong tiada mau menengar lagi, sebab itu maka Tuwan Residen berkata, bayiklah kita melanjutkan perang ini sampehi habis. llata, maka pada tahun 1835 tantara Wolanda berangkat, hendak mengalahkan kota Bonjol, akan te-tapi perkara itu bukan barang-barang, karena kota itu di pagari dengan buluh duri amat tebal dan tinggi tiada terpanjat, tertetas pun dengan pelocru mariam itee, langkara juga. Lagi pula tantara Wolanda tiada dapat menghampiri kota itu, karena jalan yang ja-tuh ka kota Bonjol itu di empangkan terlalu ku-wat, dan lagi Tuwanku Imam, yang mengapalakan orang Padri, melawan dengan berani amat prawira. Maka duwa tahun satengah lamanya tantara Wolanda menge-pung kota Bonjol itu, dan lagi pada akhirnya tantara Wolanda murung dan sebal, karena banyak orang jatuh sakit; demikian juga hulubalang Bauer, yang diganti dengan hulubalang Prager. dan lagi banyak orang mati; maka dikatakan orang Wolanda: amboi tiada dapat dialahkan negari ini, jikalau sapuluh tahun sakali pun dikepungkan, tiada dapat dialahkan juga. Maka hulubalang Cleerens, yang mengganti hulubalang Prager itu, meuyuruh membawa mariam hendak menetas, maka pagar itu ditetaskan juga sadikit, tetapi lancutlah laskar mencoba masuk, ditulak juga. Syahadan, maka satelah sudah itu Tuwan-Besar berikhtiar menyuruh hulubalang Cokhius, yang amat prawira dengan perang melawan Dipo Negoro, maka titahnya dipersilakan Tuwan pergi ka Padang mengalahkan kota Bonjol, karena kahendak Maha Raja, kota Bonjol dialahkan, bayiklah Tuwan berpangkat Wakil-Raja di situ barang apa, yang dititahkan Tuwan, dikabulkan juga. Maka pergila hulubalang Cokhius ka Padang. Satelah sudah sampei ka Bonjol, maka dititahkan hulubalang itu: Adapon kota ini tiada bolih di alahkan, melainkan jikalau kita mengepungnya saperti kota di tanah Wolanda dikepungkan lakunya. Maka pertama-pertama di alahkannya segala kubu dan benteng, yang berkuliling itu, supaya menghampiri kota itu lebih dekat, dan lagi dibangunkannya kubu3 dengan mariam di atasnya, dan lagi dicebaknya parit, supaya amat rapat dekat pagar itu. Kendatinya banyak laskar dan opsirnya mati, maka orang bekerja dengan gambira, karena hulubalang Cokhius itu di pertiyayai tantara Wolanda; maka berkatalah marika-itu, dengan hulubalang Cokhius bersampeian juga. Maka dengan peluru mariam orang menetas lagi pagar, lalu musuh itu menyorong perdameian, tetapi syariat, yang diletakkan hulubalang Cokhius itu, tiada dikabulkan Tuwanku Imam. Maka hulubalang muda Mikhiels mengalahikan benteng, yang dekat Bonjol, yang di atas gunung, lalu orang Padri berhilang hati, lalu bersurut, meninggalkan kota itu. Maka tanggal 16, bulan Augustus, tahun 1838 tantara Wolanda masuk kota Bonjol dengan tiada dilawankan; akan tetapi Tuwanku Imam sudah lari terlepas. Maka selang berapa lamanya dia datang menghadap hulubalang Cokhius, minta ampon, lalu dibowang ka pulau Ambon. Hata, satelah sudah itu hulubalang besar Cokhius pulang ka Betawi; maka hulubalang muda Mikhiels mengganti dia.

Syihadan, maka dengan kaalahan kota Bonjol itu kuwasa orang Padri terpecah, dan lama lambat Padang-Ulu dan Tapanuli itu bersenang. Maka hu-lubalang Mikhiels mengekalkan kamenangan itu, lalu disuruhnya pasukan Wolanda mengawal di negari Rau, dan lagi pada bulan December dialahkannya D alu‘, tempat kadudukan Tuwanku Tambesi, yang mati dalam perang itu. Lagi pula pada tahun 1839 kuwasa orang Wolanda dirambakkan juga di Portibi, di Padang Lawas dan di Sipirok. Tambahan pula pada tahun itu juga 1839, bandar Baros di langgarkan oleh orang Aceh, lalu-anak negari itu minta perlindungan Guvernement, supaya melawan orang Aceh; maka orang Aceh bertiwas, lalu di halau-kan dari Baros, dan lagi dari bandar Singkel juga. Maka dengan sakian ini tanah Sumatra pantei barat itu di bawah perintahan Guvernement sampei bandar Singkel.

Tambahan pula maka di sabelah timur itu orang Wolanda berduduk di Muwara Kompeh dekat sungei Jambi, dan lagi tanah Indragiri dipertahut juga dengan benteng Ringat dekat sungei Indragiri, lagi pula sungei Kampar sabrang menyabrang di taalok orang Wolanda.

Adapon sakarang orang Wolanda merambakkan ku-wasanya dari sablah barat dan timur sampei ka Kota Raja, yang di utara tanah Sumatra, balwa senya orang Aceh masih melawan, tetapi tadapat tiada orang itu bertiwas kelak. Maka perang dengan orang Aceh diceriterakan juga kelak.

¹ Coba lihat muka 211 Hikayat orang Wolanda.


35. Perang dengan Orang Aceh

1873

Sabermula, maka kemudian dari pada perang dengan orang Padri ada lagi kerap kali susah kapada Guvernement iyaitu: pada tahun 1845 ada beberapa kapal, yang dikirim ka pulau3 Sulu disabelah arah ka timur-laut pulau Borneo, hendak menyiasat orang perompak; karena kerap kali kapal berniaga diamoki orang itu.

Syahadan di pulau Bali ada juga perang. Sebab orang Bali menjarahkan tiap-tiap kapal, yang terkandas di situ, kendatinya raja-raja Bali telah berjanji dengan Guvernement, jangan berbuwat lagi demikian. Maka perang itu amat galak; hulubalang Mikhiels mati dalam perang itu, tetapi hulubalang Van Swieten melanjutkan kamenangan itu; maka pada tahun 1849 pulau Bali itu tertaalok kapada Guvernement, dan sakarang pulau Bali dan Lombok diperintahkan Tuwan Residen.

Kalakian, di tanah Borneo ada huruhara dekat negeri Sambas dan Pontianak, karena orang Cina tiada mengindahkan perintahan Guvernement, tahun 1851. Maka Tuwan-Besar menyeruh kasitu beberapa kapal perang dengan pasukan laskar, lalu pada tahun 1855 orang Cina dialahkan dan orang jahat antara marika-itu dihukum atau dibuwang.

Lagi pula pada tahun 1859 ada lagi huruhara di Banjermasin, karena adinda Sultan berkahendak menurunkan kakandanya dari pada takhta karajaan, maka diam3 diasutkannya rayat3, istimewanya orang Islam hendak membunuh segala orang Wolanda; sebab itu dibunuhnya juga pandita 4 orang iyaitu Tuwan Pandita Hofmeister dengan isterinya, Tuwan Pandita Rott, Kind dan Wigand, hanya Tuwan Pandita Klammer, Denninger, Zimmer dan Van Hufen terlepas. Maka yang ini tiada bolih diceriterakan dengan segala halahu-walnya, melainkan minta itu kapada gurumu, supaya diceriterakan. Maka pada tahun 1862 itu adinda Sultan ditangkap, lalu di buwang ka Bandung. Maka samenjak itu negari Banjermasin itu diperintahkan oleh Tuwan Residen.

Sabermula, maka pada akhirnya akan diceriterakan lagi perang dengan orang Aceh, supaya kamu tahu mulanya perang, yang pada sakarang ini belom habis.

Alkisah, inilah mulanya perang dengan orang Aceh. Adapon orang Wolanda telah berjanji dengan orang Inggris pada tahun 1824 akan menukar bandar Benkulen dengan bandar Malaka, dan lagi orang Inggris akan terpada dengan segala kaempunaan di daratan, selang orang Wolanda terpada dengan kaempunaan di pulau, lagi pula dijanjinya, orang Aceh tiada bolih ditaalok, sebab marika-ite dari pada dehulo kala berjinak-berjinakan dengan orang Inggris. Akan tetapinya orang Wolanda bercakap juga, hendak menegahikan orang Aceh merampas dan menjarahkan lagi, karena dari dehulo kala adatnya orang Aceh, merantau saluruh tanah Sumatra sampei Benkulen, lalu nayik darat dan merampas³ barang yang didapatinya, bayik orang bayik binatang atau harta-benda dan layin-layin, lalu pulang.

Maka perjanjian itu menyusahkan amat sekali akan Tuwan-Besar, karena orang Aceh terlalu berani, sebab dikatahoinya akan perjanjian itu, sangkanya: apabila kami dilanggarkan orang Wolanda, nanti kami ditulung orang Inggris juga. Sebab itu diam-diam ditelungnya orang Padri melawan orang Wolanda 1833—1838; dan lagi dicobainya mengalahkan bandar Baros dan Singkel. Maka amat amarahnyia, sebab duwa bandar itu ditaalok orang Wolanda, dan lagi dicobainya dapat pertulungan dari pada orang Inggris, tetapi sia-sia, karena salagi orang Wolanda tegokh satiawan dengan janjinya, maka orang Inggris tiada bolih menulung orang Aceh.

Hata, maka satelah orang Aceh tiada bolih merampas lagi di pantei barat tanah Sumatra, maka dia orang menyabrang ka pulau Nias nayik darat, lalu menjarah-rayah, lalu pulang serta dengan melarikan orang laki-laki dan perampuan, orang tuwa-muda; maka banyak kali Tuwan-Besar menyusuh utusan hendak ber- muwafakat dengan Sultan, supaya menegahkan itu, tetapi Sultan sendiri tiada berkuwasa, karena ada banyak raja-raja dan hulubalang, yang berkuwasa, yang tiada mengindahkan perintahan Sultan; ada saperti pada ku-tika hakim antara orang Israel: mas ing-ing meno e-rut kah enda knya sendiri. Hakim 21: 25, demikian juga di karajaan orang Aceh.

Maka pada tahun 1855 Sultan Aceh berjangyi juga dengan Tuwan-Besar, jangan merampas lagi, tetapi cuma-cuma itu, orang Aceh tiada menerut perintahan Sultan itu. Maka sangka-sangka Sultan, nanti kami berperang dengan orang Wolanda, sebab itu disuruh-nya utusan kapada Sultan Istambul, minta pertu-lungan, kalau-kalau orang Aceh diperangi oliah orang Wolanda, tetapi di enggan Sultan Istambul katanya: Adapon kalakuan Raja Wolanda itu, dengan sapatutnya kamu dilarangkan menjarahi kapal yang ter-dampar, dan merampasi orang di pulau Nias. Kami tiada mau menulung kamu.

Kalakian, maka berikhtiar manteri Maha Raja hendak menyeleseikan perkara itu, lalu pada tahun 1870 manteri Raja Wolanda bermuwafakat dengan manteri Raja Inggris, supaya perkara itu diseleseikan juga; maka dijangyinya, Raja Wolanda memberi kapada Raja Inggris segala kaempunyaan di pantei barat benuwa Afrika, dan lagi dijangyi Raja Inggris tiada menulung orang Aceh, jikalau Tuwan-Besar ber-perang dengan marika-itu, oliah karena hal merampas-merampas.

Satelah sudah itu maka Tuwan-Besar menyeruh lagi utusan kapada Sultan oliah karena perkara itu, tetapi tiada banyak gunanya. Maka sakali peristiwa, tahun 1873, datang utusan Sultan Aceh kapada Tuwan-Residen di pulau Riouw minta pertulungan di saberangkan ka bandar Singapura, maka utusan itu ditarima dengan bayik, lalu di saberang-kan dengan kapal Guvernement ka bandar Singapura. Maka terkemudian didengar Tuwan-Besar utusan

Utusan orang Aceh ka Singapura.

Sultan Aceh telah mencoba mengambat Raja Inggris dan Raja Prasman dan Sultan Istambul hendak menulung berperang dengan orang Wolanda, tetapi dijawab Wakil-Raja bertiga itu, bahwa orang Wolanda dengan sapatutnya menutut, kamu tiada merampas lagi.

Bahwa senya Sultan Aceh berbuwat bayik kelak jikalau kiranya dipintanya pertulungan Guvernement, supaya memaksakan segala hulubalang, yang tiada mau menurut perintahnya, tetapi dari pada Guvernement Wolanda, yang berkuwasa memaksa orang jahat, manteri Sultan lebih bersuka Sultan yang muda, yang tiada berkuwasa.

Hata, maka satelah Tuwan-Besar Loudon mene-ngar Sultan Aceh telah menyuruh utusan kapada orang Inggris, orang Prasman dan orang Turki minta pertulungan, maka diwartakannya itu kapada manteri Raja, seraya ditanya, apakah diperbuwat kelak? maka disahut manteri Raja Wolanda: jikalau Sultan Aceh mau dengan bayik, bayik; jikalau tiada dengan bayik, memaksa dia dengan kapal perang dan tantara, supaya dirasainya bekas kuwasa Guvernement orang Wolanda.

Kalakian, maka disuruh Tuwan-Besar Wakil Guvernement, yang di iringkan dengan 2 kapal perang dan 3000 orang laskar, lalu Wakil Guvernement, Nieuwenhuis namanya, melayangkan sapucuk surat dengan minta keterangan dari pada kalakuan Sultan.

Maka Sultan itu amat gundah-gulana, karena dita-kutnya perang dengan orang Wolanda; dan manteri, hulubalangnyia mengasutnya, jangan menengar. Maka ditangguhnyia, sahutnya: kuminta tangguhan barang duwa hari, tetapi lepas duwa hari itu sahutannya belom sampei, sebab itu Wakil Guvernement itu membri tahu, nanti esuk hari kami berperang; maka dipinta Sultan lagi tangguhan duwa hari, akan tetapi dilihat orang Wolanda dari kapalnya, maka pada saman- tara itu orang Aceh mengubui pantei itu saku-wat'nya, supaya melawan, apabila orang Wolanda hendak turun ka darat.

Hata, satelah duwa hari lamanya, maka disuruh Wakil Guvernement kapada hulubalang besar, yang mengapalakan segala tantara, Kohler namanya, kata-nya: ayo tuwan, sakarang pekerjaaanku sudah habis, bayiklah tuwan menyuruh laskar berperang, dan lagi disuruhnya panglima-laut, menulung tantara dengan turun ka darat. Maka kapal perang menembak ka pantei, samantara laskar dengan sampan berdayung ka darat, maka orang Aceh melawan sakuwat'nya dengan amat prawira terlalu berani, bayik dengan snapan, bayik dengan mariam dan dengan klewang duwa hari lamanya, tetapi selang duwa hari itu segala tantara Wolanda telah turun kadarat 5 April 1873.


36. Sambungan

Ceritera Perang

Bermula, satelah laskar Wolanda telah turun kadarat, maka dengan segera ditampuhnya benteng, yang kuwat, yang dekat pantei, maka kendatinya orang Aceh melawan dengan prawira, maka benteng itu dialahkan; ada 9 orang mati dan 80 orang kena luka, maka dari pada orang Aceh 80 orang mati.

Hata, maka satelah duwa hari lamanya hulubalang Kohler menyuruh tantaranya melantas lagi, tetapi dita-hankan olih mesjid, yang dikuellinci pagar tembok barang anam hasta tingginya, dan lagi dengan peluru mariam tiada bolih di rubuhkan atau dirombak. Maka beberapa kali ‘laskar Wolanda mencoba masuk tiada dapat, tetapinya dilihat hulubalang Kohler, maka mesjid diatapkan dengan daun nipah, lalu dengan segera disuruhnya menembak dengan peluru berapi, lalu atap itu kena api, dan mesjid terbakar; maka orang Aceh tiada menderita lagi panasnya, lalu lari, dan orang Wolanda masuk. Maka panasnya terlalu amat, menyadi berapa orang mati kahangatan api itu.

Syahadan, maka dilihat hulubalang, tiada bolih bermalam di situ, lalu disuruhnya kombali ka pantei, dan kaesukan harinya pulang lagi, maka orang Aceh kombali kadalam mesjid dan melawan lagi, tetapi bertiwas juga, lalu tantara Wolanda mengalahkan lagi mesjid itu. Satelah sudah itu hulubalang Kohler masuk juga, hendak memeriksakan, betapa mesjid itu dapat diobahkan menyadi tempat kadudukan tantara itu.

Hata, maka pada sabelah udik mesjid itu dipagari amat rendah; ada di situ pohon waringin yang bagus, maka hulubalang Kohler serta dengan hulubalang muda itu berkumpul, hendak musyawarat apa diperbuwat kelak; maka pada samantara itu tiba-tiba hulubalang Kohler kena peluru musuh lalu dengan segera mati, dengan tiada berkata apa-apa. llata, adapon hulubalang muda Van Daalen, yang mengganti dia, merasa amat susah, karena hulubalang Kohler yang mati itu, tiada menyatakan apa-apa dari pada maksudnya, lalu hulubalang Van Daalen serta dengan Wakil Guvernement dan Panglima-laut bersafakat hendak pulang; karena musim pada kutika itu musim hujan, maka kapal tiada sempat berdamping pantei, dan lagi mesjid tiada bolih diduduki orang, lagi pula tiada sempat membekin rumah atau bangsal, tempat kadudukan segala tantara Wolanda, sebab itu tantara Wolanda pulang ka Betawi. Maka dengan sakian ini, segala untung, yang diperolih itu, kahilangan lagi.

Hata, maka di tanah Wolanda masih hidup hulubalang Van Swieten, yang amat tuwa, maka orang Bali, yang amat berani itu, dialahkannya pada tahun 1849; sebab itu Maha Raja mempersilakan hulo- balang Van Swieten, hendak pergi ka Betawi, supaya mengapalakan tantara Wolanda ka tanah Aceh. Maka pada bulan December 1873 tantara Wolanda telah sadia berlayar hendak berperang lagi. Satelah sudah sampe hulubalang Van Swieten menyorong lagi perdameian, tetapi orang Aceh mengirakan Guvernement tiada berkuwasa lagi, sebab itu marika-itee tiada dengar, melainkan utusan, yang membawa surat itu, iyaitu saorang Jawa, Widekyo namanya, diambilnya, lalu menuwang ayer berdidih dalam mulutnya, menyadi orang berkasihan itu mati dengan amat banyak sakitnya.

Maka orang Aceh berjaga bayik-bayik, karena sangkanya orang Wolanda turun ka darat di tempatnya, yang dehulo, tetapi pada malam itu disuruh hulubalang Van Swieten diam-diam berangkat barang anam paal lebih jauh, lalu turun ka darat. Maka kaesukan pagi-pagi orang Aceh heiran tiada melihat lagi kapal orang Wolanda, tetapi terkejutlah marika-itee, seraya dilihatnya, tantara Wolanda telah sudah turun ka darat.

Hata, maka orang Aceh telah mempergunakan waktee, orang Wolanda pulang, karena mesjid di kuhui dan dikowatkan saperti kota, yang amat kuwat rupanya, dan lagi perang supaya masuk mesjid itu amat galak, maka banyak laskar Wolanda dibenuh kena peluru musuh itu, tetapi orang Wolanda membuwat tangga dari pada duwa pohon pinang, lalu memanjat tembok itu, kendatinya orang dibenuh, maka temannya nayik mengganti dia, ada yang berduduk mengangkang di atas tembok itu, dan memasang snapanya sedang temannya mengisi snapan, apabila peluru dan obat habis dipasang. Maka orang Aceh bertiwas dan mesjid itu dialahkan katiga kalinya, tetapi sarakang mesjid itu tiada katinggafan lagi, melainkan disadiakan menyadi tempat kadudukan tantara Wolanda.

Hata, satelah berapa hari lamanya hulubalang mu- da Pel namanya mengalahkan keraton dengan amat gampang, karena saorang pun tiada duduk lagi di dalamnya. Maka di dalam astana Sultan orang dapat banyak peirak dan mas 70000 rupiah harganya, rupanya Sultan telah mati. Maka dengan segera disuruh hulubalang Van Swieten opsir, yang pandei membuwat benteng, supaya mengkuwatkan keraton itu, karena maksudnya sakarang jangan meninggalkan tanah Aceh lagi. Maka sakarang keraton itu dijadikan ibu-negari segala tempat kadudukan orang Wolanda di tanah Aceh; maka tempat persinggahan Oleh-leh namanya dan negari bekas keraton Kota-Raja namanya. Maka duwa negari itu dihubungkan sakarang dengan jalan kareta-api.

Hata, maka satelah sudah keraton Sultan dialahkan dan segala perkara itu telah diseleseikan, hulubalang Van Swieten menyerahkan perintahan kapada hulubalang Pel, lalu pulang ka tanah Wolanda. Maka Tuwan-Besar menyuruh menegakan mesjid, yang beharu mengganti mesjid, yang telah dirusakkan oleh orang Wolanda. Maka mesjid yang beharu itu amat bagus, dan elok bangunnya, maka pada saluruh Hindia-Timur ini tiada sajodonya, maka belanjaannya berketi-berketi rupiah. Maka sebabnya Tuwan-Besar menyuruh itu, supaya orang Aceh berkatahouan, orang Wolanda tiada mau memaksakan orang Aceh dengan hal agama, melainkan dengan hal merampas menjarah sehaja.

Kalakian, satelah berapa lamanya hulubalang Pel pulang ka Betawi, hendak menghilangkan lelahnya, tetapi iya kombali ka Aceh dengan beberapa pasukan orang Wolanda. Maka dengan tantara itu ditaaloknya sabelah selatan sampei negari Tar umun, yang berjinak-berjinak dengan Guvernement, satelah sudah itu di taaloknya pantei utara sampei tanjung Pedir dan Segli.

Bahwa senya musuh itu, amat galak dan tunu- hati olish karena tiwasan itu, dan lagi jikalau kiranya ada sadikit laskar, yang terpencil itu, dibunuhnya dengan ganas, tetapi barang mana pasukan Wolanda berjalan, maka orang Aceh bertiwas. Maka Maharaja amat bersuka dengan hulubalang Pel dan mengaruniakan dia dengan bintang dari pada intan, dan mengangkat dia sampe pangkat, yang maha tinggi; tetapi kasihan hulubalang Pel terlalu berani dan terlalu prawira, tiada mengindahkan kalelahan badannya, maka sakali peristiwa iya berduduk dalam khemahnya, lalu tiba-tiba iya mati, rupanya terlalu penat.

Syahadan, maka hulubalang, yang mengganti dia, berikhtiar bersabar dehulu, hendak menyemapat sampe orang Aceh datang memperhambakan dirinya. Ada juga beberapa raja, yang datang melindungkan dirinya di bawah Guvernement, Yalu dia orang ditarima dengan bayik. Akan tetapinya raja, yang berjinak-berjinak dengan Guvernement itu, di nakalkan dan diganggui olish raja, yang bermusuh dengan Guvernement, istimewanya olish raja Samalangan, yang dekat Tanjung Raja, antara tanjung Pedir dan Samoi. Maka Raja itu telah membangunkan beberapa benteng, dan mengumpul beribu-beribu orang, hendak berperang dengan orang Wolanda.

Hata, maka pada kutika itu 1877 tantara Wolanda dikapalakan olish hulubalang Van der Heyden. Maka dengan segera hulubalang itu mengerahkan laskarnya, lalu dengan kapal iya merantau sampe tanjung Raja, lalu diturunkannya laskarnya, kendati galuran pecahan ombak terlalu besar dan tinggi. Satelah sudah ka darat, maka duwa pasukan disuruh mudik, hendak menyelidik tanah, yang berkulliling. Maka pada malam tiba-tiba datang orang Aceh, menampuh orang, yang katinggalan, hendak berkawal dekat segala alat-peperangan. Maka perang itu amat galak, ada 2 opsir 12 laskar dan 10 orang kuli mati, tetapi orang Aceh bertiwas, 58 orang mati, dan yang layin lari.

Orang Aceh bertiwas dekat Samalangan.

Hata, maka satelah itu hulubalang Van der Heyden menyeruroh menampuh benteng orang Aceh. Ada 4 buwah, dan lagi jikalau benteng itu tiada dialahkan, saniscaya orang Wolanda bertiwas. Maka orang berangkat menampuh, tetapi ditulak juga. Satelah dilihat itu hulubalang Van der Heyden, maka iya nayik kuda hendak memperhatikan laskarnya, tetapi pada kutika itu juga tiba-tiba peluru snapan menyambarkan sabiji matanya, dan peluru itu jatoh sampei dalam karongkongannya. Maka laskar yang berkuling amat terkejut, sangkanya: nanti bertiwas sebab hulubalang kita kalukaan, siapa sakarang menganjur kita.

Adapon hulubalang Van der Heyden kendatinya biji mata sabelahnya telah tercungkil, maka dengan segera dilihatnya laskarnya terbimbang-terbimbang. Maka tiadalah di apikkannya sakitnya yang perih, melainkan dengan mukanya berlumur dengan darah iya nayik kuda, lalu menganjur tantaranya katanya: inilah jalan hendak mengalahkan musuh.

Maka dengan gambira tantara Wolanda menampuh benteng musuh itu saperti harimau lakunya. Maka orang Aceh tiada tahan, mundur, lalu bertiwas, maka benteng berempat itu dialahkan dan musuh itu lari tercerei-berei. Maka pada tahun itu juga banyak orang Aceh datang menaalokkan dirinya kapada Guvernement iyaitee mukim XXII dan mukim XXVI, dan lagi hulubalang Habib Abd'ul Rakhman. Akan tetapinya ada banyak hulubalang orang Aceh, yang lebih bersuka merampas-merampas dari pada berduduk dengan senang. Maka diasutkannya orang banyak, hendak membunuh dan mencuri dan merampas; melainkan di jajahana yang berjinaq dengan Guvernement ada senang santosa. Sakarang laskar Wolanda berkawal sehadiya hendak melindungkan mukim-mukim, yang berjinaq dengan Guvernement, kalau-kalau marika-itu di ganggu olih orang jahat.

Sakarang laskar Wolanda tiada berperang lagi, melainkan apabila suwatu kampung telah membunuh orang Wolanda atau orang Aceh, yang berjinaek dengan orang Wolanda, maka kampung itu disiasat, dan lagi kapal perang memayiri pantei tanah Aceh, supaya jangan dibli-juwal dengan tanah sabrangan selat Malaka.


37. Bahwa dalam Fasal Ini Diceriterakan Segala Daya-Upaya yang Dilakukan Kompeni Hendak Merambakkan Agama Khristen

Sabermula, maka kitab ini tiada akan dihabiskan sabelomnya diceriterakan, yang diperbuwat Kompeni hendak merambakkan agama khristen.

Bahwa senya hubaya-hubaya Kompeni menuntut berlaba, dan akan diperolih untung; akan tetapi kacuwali dari pada itu Majelis ber XVII mengarti juga, Allah Taala tiada memberkati marika-itu, supaya jangan mengasingkan sauntook dari pada segala untung itu, hendak membehagikan berkat rohani, mengganti untung duniawi. Maka dicobainya juga menukar rupa-rupa dagangan dengan mutiara yang besar harganya Matth. 13: 46. Akan tetapinya tiada banyak gunanya, karena orang terenak lebih bersuka kagelapan dari pada keterangan, dan lagi jalan yang dilaku, hendak menegakan agama khristen tiada senang dijalani, seperti sakarang, dan orang kurang mengarti behasa orang terenak; lagi pula ada banyak hamba Kompeni, yang tiada bersuka, orang terenak beragama khristen; kendetilah hamba Kompeni bernama orang khristen, maka dengan hatinya bukan diapikkannya undang dan toret Allah. Maka antara segala Tuwan-Besar ada sadikit sehaja, yang berabid saperti Tuwan-Besar Van Die- men, Camphuis, Van Imhof, Van der Parre d. l., s. lakunya.

Adapon dalam surat beselit Majelis ber XVII bulan Februari, tanggal 27 tahun 1603 ada tertu lis ini. “Maka Kompeni memilih duwa Pandita, yang faham dan pandei akan mengkhabarkan injil kapada bangsa di Hindia-Timur, akan mengajar marika-itee dari pada Kitab Suci, dan akan berbalah dengan orang Islam dan orang Arab.” Lagipula ditentu kannya sa-kurang-kurang'nya duwa Pandita berduduk di Banten atau di Betawi; dan lagi empat orang muda akan dibiasakan dan diajar, supaya nanti berlayar ka Hindia-Timur menjadi pandita. Tambahan pula kapal Kompeni, yang berlayar ka Hindia ini ditumpangkan juga olih Guru agama, yang sarupea dengan Pandita muda atau Pandita kecil. Maka banyak-banyak dari Guru itu ditinggalkan di sini, hendak menulung Pandita dan mengajar anak-anak atau khalasi.

Syahadan, Majelis Kompeni yang di mukim Zeeland minta kapada Majelis ber XVII, supaya duwa Pandita di utuskan ka Hindia, maka duwa Pandita itu di utus juga tahun 1609, bulan December, tanggal 21. Maka ongkosnya dibelanjakan Kompeni.

Tambahan pula pada tahun 1610 ada lagi 4 Pandita dan 4 Guru yang di utus ka Hindia-Timur.

Maka dalam surat syariat jabatan Tuwan-Besar Pieter Both ada tertu lis: (memang dengan behasa Wolanda) “Tuwan-Besar di persilakan, hendak mela-kukan hal berniaga, supaya nama Tuhan Yezus dicayarkan dan orang, yang tiada beragama khristen, disalamatkan, dan lagi bangsa Wolanda dihormatkan dan Kompeni beruntung.” Maka dengan syariat ini dilihat, pengkhabaran agama khristen tiada kaluapaan.

Bahwa senya benarlah hubaya-hubaya Kompeni mencehari untung duniawa, dan lagi bamba Kompeni menuntut laba juga. Tetapi ada juga dengan sabenarnya Kompeni tiada mengkhabarkan Injil itu pura-pura soc- paya berolih untung dari pada pengkhabaran itu, atau supaya hal berniaga disorongkan oleh Injil itu.

Hata, maka pada tahun 1621 ada lima orang Ambon, yang muda, yang di hantar ka tanah Wolanda, supaya diajar di situ dan dibiasakan mengajar orang, yang bersakampung dengan dia, maka orang bertima itu menumpang rumah Pandita di negari Amersfoort, maka selang 8 tahun lamanya orang muda itu pulang ka pulau Ambon, tetapi satelah sudah pulang, maka kalupaan behasanya, dan lagi adat orang Ambon, menjadi, orang itu sarupa orang Wolanda lakunya, maka maksud pengajarannya tiada diperolih.

Hata, maka pada tahun 1633 ada sekola tinggi di Leiden hendak membiasakan orang Wolanda yang muda, supaya menjadi Pandita di Hindia-Timur, maka selang sabelas tahun itu ada 12 Pandita, yang telah belajar dan diutus kamari; akan tetapi sekola itu ditiadakan, sebab terlalu banyak duwit dibelanjakan oih sekola itu.

Maka pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Van Diemen ada juga di Betawi saorang Pandita Yunius, yang bercakap mengajar orang muda menyadi pandita, dan lagi Tuwan-Besar menegakan di Betawi sekola, supaya anak muda belajar membaca menulis dan berhitung serta dengan hikayat Toret dan Injil.¹

Lagi pula ada sekola tinggi di negari Colomb o di pulau Sailan dan di negari Yaffanapatnam juga, maka duwa sekola itu disuwatukan pada tahun 1723. Maka 20 anak diajar di situ, apabila anak sudah bertamat diajar, maka diganti dengan yang layin, lalu pulang ka rumahnya, betul sama seperti sekola Seminari di Depok. Maka sekola itu dipleliharakan sampeui penghabisan Kompeni itu. Sakarang di pulau Sailan amat banyak orang Khristen, yang sa-rupa buwah dari pada pohon itu.

Ada lagi sabuwah Seminari, yang ditegakan pada samantara pemerintahan Tuwan-Besar Van Imhof. Maka Seminari itu di tabbiskan oih Tuwan-Besar dan segala orang mulia di negari Betawi dengan atlamat amat banyak; akan tetapi buwahnya sadikit, cuma saorang, yang pergi ka tanah Wolanda, supaya belajar lebih; maka sapeninggal Tuwan-Besar v. Imhof Seminari itu ditiadakan.

Bermula, maka pada fasal 23 ada diceriterakan, betapa Kompeni, membelanjakan persalinan Elkita b oih Tuwan Pandita Leidekker, yang di habiskan oih Tuwan Pandita V. d. Vorm dan Werndley tahun 1733; trausah diceriterakan lagi. Lagi pula pada fasal itu juga ada diceriterakan segala perbuwatan Tuwan Pandita Valentiyn, supaya merambakkan agama Khristen di pulau Ambon.

Akan tetapinya kamuliaan Kompeni terbenam, dan dari pada pemerintahan Tuwan-Besar Van Imhof sampai penghabisan abad yang ka 18, maka Kompeni bersarat hutangnya, menyadi banyak perkara dialpakan, istimewanya perkara agama bergantung tiada bertali. Maka senantiasa kabanyakan Pandita itu tiada bercu-kup. Saandeinyna pada tahun 1772 ada di pulau Ternate saorang Pandita selang kabanyakan orang khristen 12000. Lagi pula ada pada tahun 1772 di tanah Wolanda saorang sudagar, yang dehulu berduduk di Hindia-Timur ini, tetapi pulang lagi ka tanah Wolanda.² Maka tuwan itu menyelidik perkara ini, supaya memeriksakan, kelak perkara agama yang terlucut dari pada tangan Kompeni tiada bolih disambut oih kumpulan orang Khristen, yang mengasehi orang Hindia dan mengindahkan Injil Tuhan kita yang bersalamatkan.

Adapon tuwan itu menyelidik, ada pada kutika itu, tahun 1772, lebih dari pada 240 gereja dan sekola dan lagi 500000 orang khristen, maka kabanyakan orang Pandita 44 ditentukan, tetapi dengan sabetulmya cuma saparohnya; dan lagi dari pada duwa puluh itu barang kali anan orang yang tahu herkhotbat dengan behasa Melayu. Bawha senya pengkhabaran Injil itu amat terserurot adanya; akan tetapinya dengan takdir Allah Taala itu ada banyak orang orang khristen di tanah Wolanda, yang berekan daya-upaya hendak menghidupkan pula pengkhabaran itu. Maka pada tahun 1797 ada banyak orang khristen di negari Rotterdam, yang memperhatikan perkara karambakkan agama khristen di tanah dan pulau-pulau yang jauh. Akan tetapinya sebab pulau-pulau Hindia-Timur ini pada kutika itu dalam kuwasa orang Inggris, dan lagi orang Wolanda amat bersusah bersampei ka Hindia, maka beharu pada tahun 1824 Pandita orang Wolanda berlayar ka pulau-pulau Hindia-Timur ini. Maka yang pertama pergi ka Hindia iayitu Pandita Gutzlaff yang mencoba mengkhabar Injil kapada orang Batak, tetapi tiada banyak gunanya, lalu pergi ka tanah Cina. Adapon Pandita Kam pergi ka pulau Ambon dan Pandita Le Bruyn ka pulau Timor, supaya menghidupkan pula sidang jumaait orang khristen, yang terbenam, karena lama-lama orang itu tiada dilayani oih Pandita atau menengar berkhotbat.

Kalakian, maka duwa Pandita Riedel dan Skhwarz pergi ka pulau Selebesi sabelah utara dan menegakan agama khristen di situ, maka orang Minahassa menarima Injil itu dengan suka hati dan sakarang orang khristen yang di situ berketi.

Lagi pula tanah Jawa didatangi juga oih Pandita, maka Kitab Suci itu disalinkan oih Tuwan Gericke, maka salinan ini dipakei sampei sakarang, tetapi pada tahun 1892 ada salinan beharu, yang diperbuwat oih Pandita P. Yansz. Maka di tanah Jawa ada lagi Pandita: Akersloot, Wentink, Cattenburg, Yellesma dan Kruyt bapa-anak di Mojo-Warno dan lagi Pandita Huzoo, Kreemer d. l. l.

Maka pada tahun 1863 ada pekumpulan beharu, yang mulai mengkhabarkan Injil di tanah Priangan, maka nama Pandita yang diutus oih pekumpulan beharu itu: Grashuis, Albers, V. d. Linden, Cusell, Diykstra, Geerdink, Coolsma, Giysman, Skhilstra, Zegers, Verhuven, De Haan, V. Eendenburg, Tiemersma, V. d. Brug d. l. l.

Maka di tengah tanah Jawa ada Pandita Vermeer, Wilhelm, Zuidema dan Horstman, yang masih hidup, dan lagi Pandita De Bur, Heider, Kamp, Yungst, Zimmerbeutel dan Heller. Lagi pula di residenan Samarang Pandita Yansz muda dan Fast.

Adapon di Sumatra Injil kasalamatan itu ditarima oih orang Batak. Kendatinya dehulu amat susah, behkan duwa Pandita yang pertama datang itu dibunuh dan dimakan orang, iyaitu Pandita Burton dan Liyman. Akan tetapi orang khristen, yang amat mengasilani orang, yang bersama manusia dengan dia, tiada mengapikkan itu melainkan di indahkannya penyuruhan Tuhan iyaini »Ajarkanlah Injil kapada segala manusia.“ Markus XVI: 15. Beharu Pandita-Pandita di bunuh di Banjermasin³ dan Pandita yang datang dari negari Barmen tiada bolih berduduk di tanah Borneo, maka dia orang pergi ka tanah Sumatra dan mencoba lagi menegakan agama Khristen di tanah Sipirok dan Silindung. Maka sakarang ada lebih dari pada tiga laksa orang Batak, yang sudah menarima agama Khristen dan lebih dari pada tiga puluh Pandita, sadia orang Germania, dan penelung orang Batak lebih dari pada saratus. Maka dalam kitab ini tiada segala Pandita bolih disebut cukuplah tersebut Pandita Nommensen, Skhuts, Yohannsen, Meerwaldt, Klammer, Hanstein, Mohrid l.l.

Tambahan pula di antara orang Dayak Injil Tuhan kita dikhabarkan juga oliah Pandita Barnstein, Zimmer, Van Huften, Brakhes, Feige, d.l.l.

Behkan di pulau Papua ada juga Pandita yang mengkhabar Injil iyaitu: Van Hasselt, Wulders. Yens, Bink, Van Balend l.l. Bahwa senya ada sadikit orang, yang menarima agama Khristen, tetapi ada sarupa bibit yang berbuwah kelak dengan berkat Allah.

Pada akhirnya disebut lagi pulau Sangir, maka ru-panya orang itu telah menarima agama Khristen dari pada orang Hispanye, dan lagi terkadang-terkadang orang itu dilawati oliah Pandita Kompeni, yang berlayar-berlayar hendak melihat orang terenak. Maka pada kutika kaempunyaan Kompeni diambil oliah orang Inggris, tiada lagi Pandita datang melihat marika-itu. Akan tetapi agama Khristen itu saperti api yang berunggun, kendatinya tiada bernyala, maka mati pun tiada juga, demikianlah hal orang Sangir. Maka pada tahun 1857 empat Pandita iyaitu: Skhroder, Steller, Grohe, dan F. Kelling bersampe ka pulau itu dan sakarang ada berlaksa-berlaksa orang khristen, yang bersatiawan dengan hal agama.

Tambahan pula Kitab Suci iyaitu Perjanjian Lama dan Beharu disalin kapada behasa Melayu duwatiga kali, 1a oliah Tuwan Leidekker, ka 2 oliah Tuwan Klinkert ka 3 oliah saorang Pandita orang Inggris; lagi pula kapada behasa Jawa duwa kali iyaitu oliah Tuwan Gericke dan lagi oliah Tuwan Yansz; lagi pula kapada behasa Sunda oliah Tuwan Coolsma; lagi pula kapada behasa Dayak oliah Tuwan Hardehand. Adapon Perjanjian Beharu disalin duwa kali kapada behasa Batak oliah Tuwan Leipold dan Skhreiber dan lagi oliah

Tuwan Nommensen. Lagi pula ada sekola, tempat pelajaran orang taruna menjadi penelung pandita iyaite: 1a di Depok, ka 2 di Pancur-na-pitu, ka 3 di pulau Ambon; dikacuwalikan sekola, tempat pelajaran guru di Purworejo, di Mojo Warno dan di pulau Siouw, dan lagi sekola Guvernement lima banyaknya.

Sayang, kitab ini terlalu kecil, supaya menceriterakan samuwanya; lagi pula saharusnya perkara ini diceriterakan dengan kitab yang layin, sebab itu terpadalah dengan ini, kendatinya ceritera bolih di lanjutkan amat banyak, karena sakarang lebih dari pada 100 Pandita muda mengajar Injil kapada orang terenak di Hindia-Timur ini

Syahadan, maka pada fasal yang pertama itu ada diceriterakan, betapa agama Islam di tegakan di tanah Jawa, maka dalam fasal ini diceriterakan, betapa agama Khristen berambak pada saluruh Hindia-Timur, saniscaya kamu telah menentangkan hal menegakan agama Islam dengan hal agama Khristen ditegakan. Sedang agama Islam di tegakan dengan perang yang galak dan yang lama-lama, maka agama Khristen itu ditegakan bukan dengan perang, bukan dengan tantara, bukan dengan pedang dan snapan, melainkan dengan mengkhabarkan yang ini:

Perdameian olih darah di kayu palang.

TAMAT.

¹ Di bab 14 muka 54 ada lagi diceriterakan apa diperbuat Tuwan-Besar Van Diemen, supaya menegakan gereja.

² C. Van Vollenhove namanya.

³ Coba lihat muka 160.


SILSILAH NAMA TUWAN-BESAR

No. Nama Masa Jabatan
1 P. Both 1610—1614
2 G. Reynst 1614—1615
3 L. Reaal 1615—1618
4 J. P. Kun 1618—1623
5 P. Carpentier 1623—1627
6 J. P. Kun (keduwa kalinya) 1627—1629
7 J. Spex 1629—1632
8 H. Brouwer 1632—1636
9 A. Van Diemen 1636—1645
10 C. Van der Lijn 1645—1650
11 K. Reijniersz 1650—1653
12 J. Maatsujcker 1653—1678
13 R. Van Guns 1678—1681
14 C. J. Speelman 1681—1684
15 J. Camphuis 1684—1691
16 W. Van Outhoorn 1691—1704
17 J. Van Hoorn 1704—1709
18 A. Van Riebeek 1709—1713
19 C. Van Swol 1713—1718
20 H. Zwaardekroon 1718—1725
21 M. De Haan 1725—1729
22 D. Durven 1729—1730
23 D. Van Cloon 1730—1735
24 A. Patras 1735—1737
25 A. Valckenier 1737—1741
26 J. Thedens 1741—1743
27 G. W. Baron Van Imhoff 1743—1750
28 J. Mossel 1750—1761
29 P. A. Van de Parre 1761—1775
30 J. Van Riemsdijk 1775—1777
31 R. De Klerk 1777—1780
32 W. A. Alting 1780—1796
33 P. G. Van Overstraten 1796—1801
34 J. Sieberg 1801—1804
35 A. H. Wiese 1804—1808
36 H. W. Daendels 1808—1811
37 J. W. Janssens 1811
38 Sir Thomas Stamford Raffles 1811—1816
39 Fendal

C. P. Elout, G. A. G. Baron Van der Capellen, A. A. Buijskes

Wakil Raja
1816
40 G. A. G. Baron Van der Capellen 1816—1825
41 H. M. De Cock¹ 1825—1830
42 L. P. J. Baron Du Bus 1826—1830
43 J. Van den Bosch 1830—1833
44 J. C. Baud 1833—1836
45 D. J. De Eerens 1836—1840
46 C. S. W. G. Van Hogendorp 1840—1841
47 P. Merkus 1841—1844
48 J. C. Reijnst 1844—1845
49 J. J. Rokhussen 1845—1851
50 A. J. Dujmaer Van Twist 1851—1856
51 C. F. Pahud 1856—1861
52 L. A. J. W. Slut Van de Beele 1861—1866
53 P. Mijer 1866—1871
54 J. Loudon 1871—1875
55 J. W. Van Lansberge 1875—1881
56 F.’s Jacob 1881—1884
57 O. Van Rees 1884—1888
58 C. Pijnacker Hordijk 1888

¹ Adapun Tuwan De Cock dan Tuwan Du Bus bersama Tuwan-Besar. Tuwan De Cock bertugas melakukan perang; Tuwan Du Bus bertugas menjalankan pemerintahan.


DARI PRIHAL

SULTAN ATAU SUSUHUNAN MATARAM

Bermula, maka kemuliaan suku Mataram terbit kira-kira pada permulaan abad yang ketujuh belas. Maka moyang suku itu, Panembahan Mataram, mengatas dirinya dan menakluk segala Susuhunan dan Sultan berkeliling, sampai ia sendiri menjadi Sultan seluruh tanah Jawa, dikecualikan Kerajaan Banten dan negeri Betawi dengan daerahnya.

Maka inilah nama Sultan dengan tahun mangkatnya:

No. Nama Keterangan Tahun
1 Sultan Agung Mangkat 1646
2 Sultan Amangkurat I Mangkat 1677
3 Sultan Amangkurat II Mangkat 1703 ¹
4 Sultan Paku Buwono I Mangkat 1719
5 Sultan Prabu Mangkat 1726
6 Sultan Paku Buwono II Mangkat 1749 ²
7 Sultan Paku Buwono III Sampai 1755

Maka setelah datang kepada tahun 1755, maka Kerajaan Mataram terbelah; sebelahnya disebut kerajaan Solo atau Surakarta, dan sebelahnya disebut Jogja atau Yogyakarta.

Susuhunan Solo

No. Nama Keterangan Tahun
1 Paku Buwono III Mangkat 1787
2 Paku Buwono IV Mangkat 1820
3 Paku Buwono V Mangkat 1823
4 Paku Buwono VI Dipecat 1830
5 Paku Buwono VII Mangkat 1858
6 Paku Buwono VIII Mangkat 1861
7 Paku Buwono IX - -

Sultan Jogja

No. Nama Keterangan Tahun
1 Amangku Buwono I Mangkat 1792
2 Amangku Buwono II Dipecat 1810
3 Amangku Buwono III Mangkat 1814
4 Amangku Buwono IV Mangkat 1822
5 Amangku Buwono V Mangkat 1855
6 Amangku Buwono VI Mangkat 1877
7 Amangku Buwono VII - -

¹ Adapun Susuhunan Amangkurat II memindahkan tempat istananya dari Mataram ke Kartasura pada tahun 1681.

² Adapun Susuhunan Paku Buwono II memindahkan tempat istananya dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1744.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.