ENAM BELAS CERITERA PADA MENYATAKAN HIKAYAT TANAH HINDIA
G. J. F. BIEGMAN
ENAM BELAS CERITERA PADA MENYATAKAN HIKAYAT TANAH HINDIA
karya
G. J. F. BIEGMAN
Tercitak di bandar Batawi, pada percitakan Gubernemen
1894
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Two Three-Master Ships off a Coastline after 1600, attributed to workshop of Willem Jansz. Blaeu
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
FASAL I.
PADA MENYATAKAN HAL AHWAL PULAU-PULAU HINDIA PADA ZAMAN PURBAKALA
Adapun pulau-pulau Hindia ini didiami suatu bangsa orang, yang bernama bangsa Melayu, hanya tanah Papua serta beberapa pulau yang sakelilingnya diduduki bangsa Papua. Lain dari pada pulau yang tersebut itu tanah Malaka dan pulau-pulau yang kecil di benua Australia dan pulau Madagaskar pun didiami juga oleh bangsa Melayu. Maka yang menyatakan, bahua segala orang itu sama bangsanya, ialah warna rambutnya dan rupa mukanya dan beberapa sifat lagi yang sama; tambahan pula bahasa-bahasa orang itu pun tentulah sama asalnya, boleh dikatakan sarum pun. Sung-guh pun orang itu sabangsa, tetapi adatnya dan kapan-daiananya berlainan.
Adapun hikayat tanah Hindia yaitu hikayat bangsa-bangsa, yang terlebih pandai dan yang terlebih halus adatnya, sebab ia telah bercampur dengan bangsa yang lebih pandai.
Maka orang asing yang telah mengobahkan dan membaiki adat lembaga orang Hindia, yaitu orang Hindu dan orang Arab dan orang Portugis dan orang Belanda.
Akan tetapi bukan segala bangsa Hindia berjinak-jinakan dengan orang asing itu; ada yang beratus-ratus tahun di bawah hukum orang itu, upamanya orang Jawa; ada yang jarang bertemu dengan marika-itu, ada pula yang tiada berjumpa dengan orang asing itu. Maka di antara orang yang di bawah hukum orang Hindu ada, yang terutama mengobalikan adat nenek moyangnya, yaitu yang dekat kaduduukan raja Hindu; tetapi yang jaeoh dari ibu negeri hampir tiada berobah kalakuannya, sahingga pada abad yang katujuhbelas ada lagi di pulau Jawa suatu bangsa orang, yang salalu berpindah-berpindah dengan tiada tetap tempat kadiamannya; bangsa itu bernama bangsa Kalang.
Hatta, maka peri hal orang sini sabelumnya orang Hindu datang tiada kita katahui: agaknya sama halnya dengan bangsa Hindia, yang sakarang lagi bodoh, tetapi marika-itu sudah pandai juga menempa besi dan bertanam padi di ladang, karena kata besi dan padi yaitu kata asali, bukan kata Hindu; kata itu lazim pada saleruh tanah Hindia; akan tetapi sebutannya tiada sama dalam segala negeri. Orpamanya »besi“ dinamai oleh orang Jawa »wesi,” oleh orang Batak »besi,“ oleh orang Harafura »wasai.”
Adapun agama orang pada zaman purbakala itu saperti yang tersebut di bawah ini: Pada sangka orang itu segala barang bernyawa, baik binatang, baik tumbuh-tumbuhan, baik batu dan lain-lain; ada yang sakti, yaitu yang amat besar kuasanya, upamanya pohon kayu yang besar dan gunung dan senjata. Apabila orang mati, maka kahidupannya di akhirat saperti di dunia ini, sebab itu orang yang kamatian biasanya meletakkan makanan dan perkakas dan senjata dalam kooburan, dan lagi dibunuhnya tawanan dan hamba, supaya nyawa orang yang dibunuh itu menjadi hamba nyawa orang yang mati itu.
Demikianlah pikiran orang pada zaman dahelulu itu. Sungguhpun kabanyakan orang Hindia sakarang sudah lama masuk Islam, tetapi beberapa adatnya asalnya dari pada agama yang lama itu.
Bermula; maka tiada kita katahui, apabila orang Hindu mendapatkan tanah Hindia, tambahan lagi tiada juga tentu pulau yang mana mula-mula disinggahinyya; tetapi sapanjang khabar orang pada abad yang kadua pulau Jawa sudah diduduki oleh Hindu, serta dinamaininya Yaba-diu.
Yaba ertinya enjelai, diu ertinya tanah; jadi Yaba-diu ertinya tanah enjelai.
Maka orang Hindu saolah-olah guru kapada orang Hindia, diajarkannya rupa-rupa ilmu; yang terutama sakali, yaani: menulis, main wayang dan gamelan, bersawah, membuat jalan, memahat batu hidup, membuat batu tembok. Oleh karena itu adat yang kasar dihaluskan oleh orang Hindu; akan tetapi orang Hindu tiada mengajar orang Hindia dengan sengaja, melainkan orang negeri meniru pekerjaan dan adat orang asing itu.
Adapun orang Hindu bercampur dengan orang besar-besar di tanah Hindia, maka orang banyak dihinakannya amat sangat saperti hamba sahaya, di Hindustan orang terbahagi atas empat pangkat, yaani:
Pertama: Orang Brahmana; dalam orang yang berpangkat demikian dipilih orang, yang akan menjadi pandita. Kadua: Orang Ksatriya; yaitu raja-raja dan hulubalang. Katiga: Orang Wesya; yaitu saudagar, pemukat, orang ladang dan tukang-tukang. Kaempat: Orang Sudra; yaitu katurunan orang yang taaluk.
Maka aturan ini dipindahkan oleh orang Hindu ka tanah Hindia; sebab itu orang yang kabanyakan dimasukkannya pangkat Sudra. Pada persangkaan orang Brahmana orang Sudra bukan manusia; oleh karena itu membunuh orang itu bukan dosa yang besar.
Syahdan, maka agama orang Hindu ada dua macam yang terutama sakali, agama Brahma dan agama Buddha namanya.
Maka menurut agama yang pertama itu dewa Brahma yaitu pokok saluruh isi alam, maka Brahma disertai dua dewa yang besar-besar, Wishnu dan Siwa namanya. Adapun Wishnu memeliharakan isi alam; ialah yang menguasai hujan dan ayar dan udara. Maka Siwa membinasakan segala sasocatu, yang diadakan oleh Brahma; oleh sebab itu Siwa disamakan orang dengan api dan waktu: bukan- kah api membinasakan barang sasuatu yang ada, bukankah tiap-tiap barang lama kalamaan lapuk atau rusak?¹
Sungguhpun Brahma dewa yang terutama sakali, tetapi banyak orang Hindu menyembah Wishnu dengan tiada mengendahkan Brahma dan Siwa; ada pula yang menghormati Siwa lebih dari pada dewa yang lain itu. Adapun berhala Siwa di pulau Jawa saparonya mukanya haibat, saparonya seperti orang bertapa, maka dewa yang bertapa itu dinamai orang Jawa Batara Guru. Maka isteri Siwa bernama Durga, tetapi disebut oleh orang Jawa Lara Jongrang, maka dewa itu memperanakkan dewa Ganesa, berhalanya saorang orang yang gemuek badannya, kapalanya kapala gajah akan alamat dewa itu berbudi dan bijaksana.
Lain dari pada dewa yang tersebut di atas ini ada lagi yang disembah oleh orang Hindu, misalnya Surya, yaitu dewa yang menguasai matahari, dan Indra, yang menjaga sorga.
Maka adalah socatu adat orang yang menyembah Siwa: apabila raja atau orang besar-besar mangkat, maka maitnya dibakar, serta segala isteri goondiknya menikam dirinya dengan keris, lalu rebah kadalam api.
Hatta, maka nama agama Buddhha asalnya dari pada orang yang membangunkkan agama itu ± 600 tahun s. b. N. I., maka orang itu anak raja, namanya Gautama, negerinya di kaki gunung Himalaya. Adapun Gautama dukacita melihat sangsara manusia, maka terbitlah niat dalam hatinya hendak membangunkkan agama yang lain. Oleh karena itu dibuangkannya sakalian kasockaan dan kabesarannya, serta ia bertapa enam tahun lamanya; kemudian dari pada itu ia menyadi fakir dan mengajarkan agamanya di Hindustan.
Maka Gautama digelari oleh muridnya Buddhha, ertinya yang mulia.
Adapun perkara agama Buddhha yang terutama sakali, yaani:
Barang siapa yang membunuh nafsunya dan mengasehi segala orang, baik mulia, baik hina, dan lagi dengan sungguh-sungguh hati mengampuni dosa orang yang menganiaya dia, maka orang itulah berbahagia.
Jikalau orang manusia malang untungnya, tadapat tiada karena ia berdosa, sabelumnya ia lahir, sebab sapanjang pikiran Buddha tiap-tiap manusia lahir beberapa kali di dunia ini; apabila ia mati, maka nyawanya masuk pula kadalam badan yang lain. Demikianlah nyawa itu berpindah dari sabuha tubuh kadalam sabuha tubuh, hingga tiada berdosa sadi-kit jua pun; kemudian nyawa yang semporna itu hilang kadalam Brahma, saperti sungai bermuara di laut.
Supaya manusia salekas-lekasnya merasai selamat itu, haruslah dibuangkannya kasukaan dunia ini, sahingga nasu yang jahat tiada timbul dalam hatinya.
Lagi pula Buddha hendak menghilangkan kaempat pangkat orang di Hindustan, katanya: »Segala orang sama pada pemandangan Brahma, barang siapa yang suci dan lurus hatinya, ialah yang dikasehi Brahma.
Maka Buddha biasanya mendapatkan orang yang melarat serta menghiburkan hatinya.
Arkian, maka tatkala agama Buddha dibawa ka tanah Hindia, maka Buddha sudah lama meninggal; sebab itu agamanya sudah berobah dan bercampur dengan agama yang lain, pada sangka orang, Buddha yaitu dewa Wishnu, yang telah menjelma.
Syahdan, maka di tanah Jawa tengah ada tempat sembahyang (candi) orang Hindu, yang endah-endah, saparonya candi Siwa, saparonya candi Buddha; maka candi Buddha yang mashur sakali, yaitu candi Barabudur di Kedu; ada pula di Padang Darat dekat Mocara Takus. Maka kabanyakan candi di pulau Jawa didirikan oleh orang, yang menyembah Siwa; yang elok sakali, yaani: candi Penataran dekat Blitar, candi yang amat banyak di gunung Dieng, candi Sewu² dekat Prambanan di batas Surakarta dengan Jogyakarta.
Maka di tanah Jawa sabelah barat tida ada candi, hanyalah batu bersurat dan berhala, yang buruk rupanya.
¹ Siwa dinamai juga Kala; kata kala itu sakarang juga ertinya waktee, upamanya: sediakala, tatkala dan sabagainya.
² Sewu ertinya saribu, tetapi dengan sabenarnya candi itu 254 buah saja.
FASAL II.
HIKAYAT KARAJAAN-KARAJAAN HINDU
Bermula, maka dalam fasal yang dahulu sudah diceriterakan, bahua tiada nyata pada kita, bilamana orang Hindu datang dan di mana mula-mula tempat kadudukannya. Adapun pokok hikayat, yang menyatakan hal tanah Hindia pada zaman purbakala, yaitu surat dan barang, yang tinggal dari pada masa itu, upamanya surat, yang terukir pada berhala dan pada batu dan loyang yang berkeping-keping, ada juga yang tercat pada batu besar di lereng gunung. Maka surat itu sadikit saja, serta satengahnya sampai sakarang belum terfaham ertinya.
Lagi pula ada banyak dongeng dan syair dari zamau dahulu; tetapi tiada berapa gunanya, sebab dalam ceritera itu diriwayatkan dewa-dewa Hindu dan orang yang sakti, sabagni Arjuna dan Kresyna dan Bima. Ada suatu ceritera Jawa, namanya Baron Sakendar; dalam ceritera itu tersebutlah hikayat Mur Jang Kun, yaitu Gouverneur-General Yan Pieterszoon Kun, maka surat itu dihiasi amat sangat, sa-hingga berlainan sakali dengan hikayat Tuan Besar Are, yang di karangkan oleh orang Belanda.
Maski pun hikayat yang lama (babad) itu tiada benar3. tetapi tida ada khabar dari pada zaman dahulu yang lain; oleh karena itu di bawah ini diriwayatkan beberapa karajaan Hindu sapanjang babad Jawa itu.
Alkesah, maka tersebutlah perkataan saorang orang Hindu, yang bernama Aji Saka. Maka orang itu membunuh raja di Mendang Kamulan dengan tipu daya, maka raja itu raksasa serta biasanya memakan orang dagang, yang masuk kadalam negerinya. Kemudian Aji Saka menyadi raja di situ, maka terlalu baik pamerentahannya, dihalus-kannya adat anak buahnya, dan di ajarkannya tarikh Hindu dan huruf Jawa. Adapun karajaan Mendang Kamulan tiada tentu tempatinya: entah keraton Aji Saka di Blora, entah di Prambanan.
Satelah karajaan Mendang Kamulan hilang, maka ada pula beberapa karajaan yang berturut-turut, yaitu karajaan Ngastina di gunung Dieng karajaan Daha di Madiun, karajaan Jenggala di kabuptan Sida-arja.
Hatta, maka Raja Jenggala; yang amat mashur Lembu Hamiluhur namanya, pada masa kecinla ia belajar di Hindustan. Maka puteranya bernama Panji Ina Kerta Pati; dan menjadi pangkal beberapa ceritera wayang; ia dipuji amat sangat karena beraninya dan kapandaianinya dan bijak-sananya yang tiada berhingga; pada akhirnya ia mati kena tumbak dalam perang dengan orang Madura.
Syahdan, satelah karajaan Jenggala habis binasa oleh ayar besar dan gempa, maka raja berangkat ka tanah Jawa sabelah barat, lalu di dirikannya karajaan Pejajaran; keratonnya di negeri Giling-Wesi dekat Ci-anjur.¹
Maka kata sahibu'lhikayat ada saorang anak raja di Pejajaran, Raden Tanduran namanya, maka ia pun dibalau-kan oleh adiknya. Maka sakali peristiwa Raden Tanduran bertemu dengan saorang orang bertapa, maka orang itu memberi nasehat kapadanya, katanya: »Apabila Tuanku mendapati buah maja yang pahit rasanya, baiklah Tuanku membuat kota di situ, niscaya kota itu akan menjadi mashur pada saluruh bumi.“—Maka pada suatu hari Raden Tanduran duduk di bawah pohon kayu, sambil di makanoya buah maja; kabetulan buah itu pahit rasanya, sebab itu Raden Tanduran, terkenang akan perkataan orang bertapa itu, lalu disuruhnya pengiringnya membuat keraton di situ, maka keraton itu menjadi pangkal Majapahit.
Syahdan, maka dalam babad itu pun di ceriterakan, bahua Majapahit dibangunkan dalam tahun 1300, akan tetapi pada zaman ini didapati orang sakeping loyang yang bersurat, bunyinya: bahua Maharaja Majapahit menganugerakan sabidang tanah kapada saorang manteri pada tahun 840, jadi tadapat tiada Majapahit didirikan orang lebih dahulu dari pada tahun 1300.
Adapun sampai sakarang ada bekas keraton dan candi Majapahit dekat desa Maja-agung di kabopaten Maja-kerta. Maski pun berjuta-juta batu tembok sudah diambil orang akan membuat masyid dan fabriek gula dan rumah dan jalan, tetapi sakarang ini lagi ada di situ beribu-ribu juta batu terserak-serak pada sabidang tanah yang amat luas. Akan keraton Maharaja temboknya 30 kaki tingginya dan 100 kilometer kelilingnya, astana yang di tengah-tongah 40 kaki tingginya; kira-kira 300 manteri dan hu-lubalang bersama-sama dengan anak isterinya dan anak bu-ahnya dan hambanya diam di dalam keraton itu. Lain dari pada keraton raja ada pula beberapa keraton sanak saudara Baginda.
Maka Maharaja memerentah ibu negeri dengan daerahnya saja; yang salebihnya terbahagi atas beberapa bahagian, masing-masing beraja (bupati) sendirinya; maka raja itu wayib menghadap Maharaja dan menghantar upeti sakali satahun, dan lagi marika itu membantu Maharaja dalam perang.
Adapun orang besar-besar dan hulubalang dan manteri tiada makan gaji, melainkan dianugerai Baginda sabidang tanah; tanah itu dikerjakan oleh anak buabhnya, maka orang itu harus membocat pekerjaan negeri (pancen) serta mempersembahkan sabahagian hasil sawah ladangnya kapada tuannya. Maka orang negeri dikampungkan oleh kapalanya: ada perkumpulan 1000 buah cacah (isi rumah); ada yang 100 buah, ada yang 50 buah dan ada yang 25 buah cacah.
Maka nama kapala kampung orang itu sakarang juga dipakai di Sala dan di Jogya.²
Demikianlah pamerentahan dalam segala karajaan Hindu serta dalam karajaan Islam, yang didirikan kemodian dari pada itu di pulau Jawa.
Sabermula, maka dalam raja-raja Hindu di tanah Hindia tida ada, yang lebih besar dan mulia dari pada Raja-Raja Majapahit. Maka kapalnya, baik kapal perang, baik kapal perniagaan berlayar sampai ka Hindustan dan ka benua Cina pun.
Kalau orang Majapahit singgah di tanah yang asing, maka acap kali dibuatna kampung di situ, di antara kampung itu ada yang menjadi bandar yang ramai; sebab itu jajahan Majapahit bertambah-tambah luas.
Syahdan, maka tanah dan pulau yang taaluk kapada Maharaja di Majapahit, yaitu tanah Jawa tengah dan timur, pulau Bali, pulau Lombok (Selaparang), pulau Sumbawa, pulau-pulau Riau dan Lingga, Jambi, Inderagiri, Palembang, Pasai (telock Semawe) pantai pulau Berunai, pulau Banda, pulau Serang (Ceram) dan pulau Ternate.
Maka dalam hikayat Melayu diceriterakan, bahua Singapura pada masa itu amat ramai, maka negeri itu dibinasakan oleh raayat Majapahit; serta Raja Singapura, Seri Iskaudar Syah lari menyoberang selat Singapura, lalu mendirikan Malaka. Satelah beberapa lamanya maka negeri itu terlalu ramai, sahingga orang dagang banyak berpindah kositu, terutama kampung Jawa di Malaka amat luas.
Hatta, maka pada abad yang kaempatbelas di pulau Perca tengah adalah sabuah karajaan Hindu; akan tetapi barangkali rajanya taaluk kapada raja Jawa sabelah barat; menuroat batu bersurat, yang sakarang lagi ada di Tanah Datar, ada saorang raja, yang bernama Aditia Warman.
Adapun karajaan itu pun diserang oleh balatantara Majapahit satelah berperang kadua belah pihak itu beberapa lamanya, maka ditentuukan oleh orang Melayu dan orang Jawa, bahua diadunya kerbau dua ekur, maka bangsa orang itulah menang, yang kerbaunya mengalahkan kerbau yang lain. Kasudahannya kerbau Melayu menang, lalu orang Jawa pulang ka negerinya; khabar orang karajaan Melayu itu pun sejak masa itu dinamai karajaan Menangkabau atau Minangkabau.
¹ Sapanjang persangkaan orang yang faham dalam hikayat, di tanah Jawa sabelah barat ada dua karajaan yang berturut-turut; rajanya taaluk kapada Maharaja di Majapahit.
² Panewu (kapala 1000 cacah); panatus (kapala 100 cacah); paneket (kapala 50 cacah); panglawe (kapala 25 cacah).
FASAL III.
HIKAYAT KARAJAAN-KARAJAAN ISLAM
Alkesah, maka sapeninggal Nabi Mohamad pada tahun 632 orang Arab pergi menaalockkan dan mengislaukan bangsa-bangsa orang yang sakeliling negerinya, sahingga karajaan Arab teramat besar dan mulia. Maka dengan hal yang demikian itu perniagaan orang Arab makin kembang, sahingga saudagar Arab dan Parsi sampai juga ka pulau-pulau Hindia; Sungguhpun maksud orang itu hendak berniaga, tetapi dengan sarajin-rajiinnya marika-itu mengajar kan juga agamanya kapada orang, yang menyembah berhala dalam negeri asing. Maka acap kali disampaikannya maksudnya, karena orang Arab biasanya tulung menulung, serta marika-itu bijaksana dan panjang akal; tambahan lagi diperisterinya anak orang negeri itu. Lama kalamaan orang Arab bercam-pur dengan pamerentahan negeri, sahingga ada juga raja di tanah Hindia, yang asalnya dari pada orang Arab, misalnya Sultan Pontianak.
Adapun orang Arab mula-mula duduk di bandar pulau Perca. Maka pada tahun 1354 sudah ada saorang raja Islam di Samudera¹, Maliku'saleh namanya.
Arkian, maka pada permulaan abad yang kaenambelas
Raja Pedir, yang terutama sakali dalam raja-raja Islam di pulau Perca sabelah utara, Raja Aceh pun taaluk kapadanya, akan tetapi pada masa itu ada saorang Raja Aceh, Sultan Ibrahim namanya, maka ia pun dapat melepas-kan dirinya, tambahan lagi Pedir dan Pasir dialahkannya pada tahun 1524. Sejak kutika itu karajaan Aceh makin lama bertambah besar, sahingga pada masa pamerentahan Sultan Iskandar Muda (dari tahun 1606 sampai tahun 1636) pulau Sumatera sabelah barat sampai ka Inderapura, Deli, Siak dan Johor di bawah hukum Raja Aceh. Kemudian dari pada itu pada abad yang katujubelas tanah Aceh diperentahkan oleh raja perampuan empat orang berturut-turut, maka kabanyakan negeri yang tersebut itu lepas pula.
Di pulau Sumatera tengah karajaan Menangkabau yang mashur; satelah karajaan Majapahit binasa, maka jaja-han di pantai sabelah timur pulau Perca menjadi karajaan, yaitu Palembang, Jambi dan Indragiri.
Maka kata sahibu'lhikayat di tanah Jawa sabelah timur Wali'ullah² yang pertama saorang orang Arab, Maulana Malik Ibrahim namanya; jiratnya ada juga di Gersik, dan terbuat dari pada batu pualam (kima); maka surat pada jirat itu, lain dari pada kalimat Arab, bunyinya, bahua Malik Ibrahim wafat pada 12 hari bulan Rabiu'lwal tarikh hejrah 822 tahun, yaitu 8 hari bulan April tarikh mesihi 1419 tahun. Khabar itulah bukan agak³ melainkan benar sungguh.
Maka beberapa lamanya Malik Ibrahim diam di Leren dekat Gersik, maka datanglah mamaknya, yaitu Raja Cermen³ hendak mengunjungi Raja Bra Wijaya di Majapahit akan mengislamkan Raja itu. Mula-Mula Raja Majapahit mendengarkan pengajaran Raja Cermen; akan tetapi sakali peristiwa timbullah suatu penyakit, maka beberapa orang pengiring raja itu mati, demikian pun anak perampuan Raja Cermen, yang akan dinikahkannya dengan Raja Bra Wijaya. Sebab itu Raja Majapahit berpaling hatinya, katanya: »Orang ini ditimpa murka dewa; niscaya agamanya tiada baik.“ Maka khabar orang di kuburan puteri Cermen itu didirikan sabucah masyid akan tanda peringatan, maka masyid itulah yang pertama di pulau Jawa.
Syahdan, maka Wali'ullah yang mashur juga, yaitu Raden Rahmat, anak ipar Raja Bra Wijaya. Adapun Raden Rahmat dikasehi Maharaja, dianugerainya Ampel (Ngampel), diberinya izin mengajarakan Islam. Maka negeri Ampel yaitu asal Surabaya.
Maka amat banyak orang datang mengaji kapadanya, serta memooji budi pakertinya dan kamu rahannya dan salehnuya, tambahan lagi Raden Rahmat digelarinya Susuhunan (Sunan) Ampel, saorang dalam muridnuya, yang mashur sakali Raden Paku namanya, atau Sunan Giri sapanjang nama tempat kadudukannya Giri dekat Gersik. Maka katurunan Wali itu pun amat besar kuasanya seraya diaku orang Jawa penghulug segala orang Islam di tanah Jawa, oleh karena itu Sunan-Sunan Giri dimalui raja besar-besar.
Arkian, makin banyak orang Jawa masuk Islam, bertambah kurang kuasa Maharaja di Majapahit, sebab orang Islam itu pun menjunjung titah penghulunya saja, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang (di Tuban), Sunan Drajat (di Sedayu), dan Sunan Kudus (di Japara). Maka Raden Patah ialah yang mengumpulkan orang Islam hendak membinasakan Majapahit.
Maka tersebutlah dalam babad, bahua Raden Patah putera Bra Wijaya dengan saorang gundik, maka gundik itu dianugerakan oleh Baginda kapada puteranya Arya Damar di Palembang; di situlah Raden Patah lahir. Satelah lahir, maka ia pun belajar kapada Raden Rahmat di Ampel, maka tatkala sudah cookup pengajaran itu, maka sapanjang nasihat Raden Rahmat dibuatnya keraton, maka tempat kadudukannya itu asal negeri Demak. Sungguhpun keraton itu di daerah Maharaja Majapahit, tetapi Raden Patah tiada mau menghadap Baginda. Adapun Bra Wijaya tiada menitahkan raayatnya mengusir dia, entah sebab tiada berani, entah sebab sayang akan Raden Patah. Oleh karena itu Raden Patah tiada mengendahkan Maharaja, apa lagi timbul niat dalam hatinya hendak menyerang Majapahit.
Hatta, maka salanna hidupnya Sunan Ampel melarang Raden Patah melakukan niatnya; akan tetapi baru ia mangkat, maka Raden Patah bermasyawarat dengan Wali tujuh orang akan membinasakan Majapahit; akan tanda peringatan musafakat itu dibuatnya sabueah masyid di Demak, yang menjadi termashur sakali pada saluruh tanah Jawa.
Kemudian dari pada itu Wali-Wali dan Raja-Raja Islam menge rahkan raayatnya; ada yang hendak mengembangkan agama Islam, ada yang berharap melepaskan dirinya dari pada hu kum Maharaja di Majapahit. Mula-Mula orang Islam tiada selamat: balatanteranya alah, habis cerai berai dekat Sedayu; tetapi hulubalang Majapahit lalai dan lengah saja, tiada dikejarnya musuhnyia, sebab itu orang Islam dapat ber kumpul pula, lalu didatanginya dan alahkannya raayat Majapahit. Pada akhihrna orang Islam masuk kadalam kota Majapahit, maka negeri yang endah-endah itu habis dibinasakannya (barangkali pada tahun 1478). Adapun babad-babad mengatakan hal Raja Majapahit tiada sama bunyinya samuanya: sapanonya mengkhabarkan Baginda mati, sebab dipasangnyia obat bedil, kutika musuhnyia masuk kadalam keraton; separonya menceriterakan Bra Wijaya lari ka sabelah timur bersama-bersama banyak pengiringnya, lalu mendirikan sabueah karajaan pula. Khabarnya kunan dalam perang di Majapahit itu orang Jawa mula-mula mempergunakan mariam.
Hatta, maka karena Raden Patah mengambil alat karajaan (upacara) Majapahit, sebab itu ialah, yang diaku oleh orang Islam Maharaja serta digelarnya Sultan Demak.
Sabermula, maka tersebutlah dalam hikayat tanah Jawa, bahua pada masa Majapahit binasa ada saorang orang Arab, yang bernama Syekh Nuru'ddin Ibrahim bin Maulana Israel atau Sunan Jati sapanjang nama tempat kadudukannya, yaitu bukit Jati dekat Cerebon. Adapun Sunan Jati mengajarakan agama Nabi Mohamad kapada orang Pejajaran, terlalu selamat pekerjaannya, sahingga orang itu bertambah-tambah banyak masuk Islam. Maka anaknya, Hasanu'ddin namanya, tiada hendak mengislamkan orang yang menyembah berhala dengan lemah lembut, melainkan dengan kakerasan; maka dikuempulkannya orang Islam, lalu dikepungnya ibu negeri Pejajaran dekat Bogor yang sarakang. Arkian, maka pada suatu malam raayat Hasanu'ddin menaiki pagar tembok, dan mengalahkan orang Pejajaran (sapanjang babad pada tahun 1481). Maka Raja Pejajaran, bersama-sama anak buahnya yang setia lari ka sabelah selatan, tetapi acap-acap kali kemudian dari pada itu dilanggarnya negeri di batas tanah Banten. Demikianlah Pejajaran lenyap, diganti oleh tiga karajaan, yaani: tanah Cerebon, yang diperentahkan oleh Sunan Jati, Jakarta (karesidenan Batawi), yang di bawah hukum saorang anak Sunan Jati, dan Banten, yang dikuasai Pangeran Hasanu'ddin. Pada persangkaan orang yang faham dalam hikayat Jakarta masuk jajahan Raja Banten.
Syahdan, maka kata orang, bahua orang Badui di tanah Bante sabelah selatan dan orang Tengger katurunan orang zaman dahelul itu, yang segan masuk agama Islam.
Maka tersebutlah perkataan karajaan Demak; salama hideop Raden Patah tanah Jawa tengah sentausa, karena perentahnya keras; maski pun bupati-bupati berdengki-dengkian, tetapi tiada juga marika-itu berani berperang-perangan.
Adapun Raja Demak yang katiga bernama Pangeran Trang-gaan, dibuatnya undang-undang dan ditetapkannya agama Islam, dan lagi diperanginyna orang Hindu di tanah Jawa sabelah timur. Karajaan Hindu yang terutama sakali yaitu Supt Oorang (dekat Malang) dan Pasuruhan; sapanjang saponya babad karajaan itu dibinasakannya; satelah itu orang Hindu undur ka Blambangan (Banyuwangi) dan ka Bali.
Di pulau Bali sampai sarakang orang negeri menurut beberapa adat dan agama orang Hindu.
Arkian, maka sapeninggal Sultan Tranggana karajaan Demak dibahagi oleh anaknya dan menantunya, serta alat karajaan Demak diperoleh Adipati Pajang⁴, Mas Karebet namanya. Adapun segala raja itu berbantah-bantahan: sa-orang hendak membinasakan saorang, sahingga Mas Karebet dapat mengempulkan hampir segala negeri, yang dahaelu di bawah hukum Pangeran Tranggana, maka Adipati Surabaya pun menghantar upeti kapada Mas Karebet, dan Sunan Giri mengelari dia Sultan. Akan tetapi beberapa mulia dan besar sakali pun karajaan Sultan Mas Karebet itu, tiada juga berapa lamanya hilang lenyap juga.
Alkesah, maka adalah saorang kakasih Sultan Mas Karebet, Kyahi Ageng Pamanahan namanya. Adapun orang itu membunuh Adipati Jipang dengan tipu daya, sebab itu dikaruniai negeri Mataram (Jogya) oleh Sultan. Pada masa itu hampir saluruh tanah Mataram hutan rimba saja; orang yang diam di situ hanya 300 cecah (isi rumah). Maka Kyahi Ageng Pamanahan amat bijaksana dan pandai; sebab itu negeri Mataram bertambah-tambah ramai, tambahan lagi beberapa raja, yang sa-kalelingnya membawa dirinya kabawah hukum Raja Mataram.
Satelah Kyahi Ageng Pamanahan mangkat, maka ia digantikan dengan rila Sultan Pajang oleh anaknya Mas Ngabehi Suta Wijaya.
Maka Sultan Mas Karebet belas akan Suta Wijaya, dan menyadikan dia panglima besar balatantera Pajang; sebab itu Suta Wijaya dinamai juga dalam hikayat Senapati; yaitu Senapati-ing-ngalaga, ertinya panglima besar dalam perang. Akan tetapi Suta Wijaya tiada juga puas hatinya, maksudnya hendak membesarkan namanya dan melocaskan negerinya. Satelah dibuatnya sabuh karaton dekat Pasar Gede⁵, maka ia pun bertapa di gunung Kidool serta mengaku dirinya suami Nyahi Lara Kidul⁶), kemudian dari pada itu dihimpunkannya raayatnya, lalu ditaalukkan- nya beberapa negeri.
Maka titah Sultan Pajang tiada difadulikannya dengan tiada mengingatkan kabajikan tuannya; pada akhirnya diperranginya dan dialahkannya Sultan Mas Karebet, lalu Sultan itu ditawannya bersama-sama kaum kaluarganya. Tiada lama antaranya, maka Baginda meninggal; khabar orang diracun oleh Senapati.
Syahdan, maka Senapati merajakan Adipati di Demak, serta putera Mas Karebet dijadikannya Adipati Jipang; akan tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka kadua raja itu berperangan, lalu Raja Pajang dibuang oleh Senapati.
Satelah itu, maka Senapati mengambil alat karajaan, sambil ia mengaku dirinya Panembahan (Raja) Pajang.
Adapun Raja-Raja Jawa masgul hatinya, sebab itu marika- itu berteguh-teguhan janji hendak mengusir Senapati; maka Raja-Raja itu kalah; sahingga diakunenya di bawah perentah Panembahan.
Satelah itu, maka Senapati menalukkan tanah Jawa sabelah barat sampai ka Ci-Tarum; akan tetapi pemerenta- hannya tiada juga dengan sentausa, sebab acap kali raja-raja yang taaluk durhaka kapada Yang-dipertuan. Maka tengah perang itu Demak dan Pajang binasalah. Pada akhirnya saluruh tanah Jawa menjunjung titah Panembahan Mataram, hanya Raja Banten dan Raja Blambangan yang bebas.
Arkian, maka pada 1601 mangkatlah Panembahan Suta Wijaya, lalu puteranya yang bungsu naik takhta karajaan.
Adapun Raja itu bernama Mas Jolang, tetapi dalam hikayat tanah Jawa ia pun dinamai Seda Krapyak, menurut nama negeri Krapyak, tempat ia meninggal (seda).
¹ Di tanah Aceh.
² Orang yang mula-mula mengajarkan agama Islam di tanah Jawa dinamai orang Wali'ullah.
³ Cermen tiada tentu tempatinya, dalam babad Jawa Cermen disebut negeri yaung saberang.
⁴ Bahagian sabelah octara karesidenan Sala.
⁵ Sebab itu ia pun dinamai juga Ngabehi salor-ing-pasar ertinya Ngabehi disabelah octara pasar.
⁶ Pada sangka orang Jawa Nyahi Lara Kidul yaitu dewi, yang menguwasai pantai dan laut sabelah selatan pulau Jawa.
FASAL IV.
HIKAYAT ORANG PORTUGIS DI TANAH HINDIA
Bermula, maka pada zaman dahelue dagangan dari Hindustan dan dari benua Asia sabelah timur dibawa orang ka benua Airopah dengan kafilah melalui Afganistan, tanah Parsi, tanah Syanu dan tanah Mesir; di situ barang itu dimoat ka'dalam kapal, lalu dikirim kapada bandar-bandar yang ramai di tepi laut Tengah, saperti Venetia dan Genua.
Maka jalan itu pun terlalu susah dan panjang, lagi dengan berbagai-bagai bahaya: saudagar iu acap kali dilanggar penyamun dan perompak. Oleh karena itu kahasilan Asia amat mahal harganya di benua Airopah, istimewa pula rempah-rempah yang dibawa dari pulau-pulau Moloko.
Adapun pada abad yang kalimabelas adalah suatu bangsa orang Airopah, yang amat berani berlayar ka tanah-tanah, yang belum dikatahuninya; maka bangsa itu bernama orang Portugis. Maka orang itu berlayar kasabelah selatan makin lama, makin jaoh, sahingga lama kalamaan didapatinyha hampir saluruh pantai barat benua Afrika.
Arkian, maka pada tahun 1486 sampailah saorang nakhoda ka ujung selatan benua Afrika, maka nama nakhoda itu Bartholomeus Diaz. Maski pun ia ingin amat sangat akan berlayar ka Hindustan, tetapi ia berbalik pulang, karena angin ribut; dan lagi karena anak kapal durhaka; orang itu khawatir, kalau-kalau kapalnya diterkam ikan yang haibat, atau dipecahkan oleh raksasa dan jin.
Adapun Raja Portugis amat sukacita mendengar khabar mengatakan Diaz sudah sampai ka ujung benua Afrika; maka ujung itu dinamaininya Cabo de Bone Esperanza ertinya Tanjung Pengharapan, sebab Baginda berharap anak buhanya tiada lama lagi akan sampai ka Hindustan, demi-kianlah dagangan mudah dibawa ka Airopah dari pada dengan kafilah.
Pada akhirnya saorang nakhoda, Vasco de Gama namanya, sampai ka negeri Kalikut di Hindustan dalam tahun 1498. Satelah berlabuh di situ, maka orang Portugis hendak berniaga dengan orang Hindu, tetapi maksudnya tiada boleh dilakukannya, sebab saudagar Arab dan Parsi dengki kapan- danya; pada sangkanya orang kulit putih itu merugikan perniagaannya.
Maka sebab hal yang demikian itu Raja Portugis berpikirlah: »Sabelum beberapa bandar yang ramai di benua Asia di bawah hukum kami, niscaya anak buah kami tiada berniaga dengan sentausa.“
Maka dihimpunkannya beberapa kapal perang; terlalu baik kalangkapannya, maka laksamana angkatan itu bernama d'Alboquerque. Kemudian dari pada itu orang Portugis berlayar kalaut Hindia, lalu dialahkannya Goa di Hindustan, negeri Ormus di teluk Parsi dan negeri Malaka, supaya perniagaan di Hindustan dan di tanah Parsi dan di tanah Hindia dikuasai orang Portugis.
Bahua senya negeri Malaka amat ramai pada masa itu, lagi terlalu luwas, panjangnya beberapa pal, dan lagi berkota berparit.
Maka di antara orang asing yang duduk di situ orang Jawa terlebih banyak, sebab itu Raja Jawa¹ tiada membiarkan orang Portugis, melainkan mencoba menghalau- kan dia.
Hatta, maka Pati Hunus Bupati Demak menyouroh kalangkapan kapal ka Malaka, kapalnya 90 buah dan raayat- nya 12000 orang.
Sungguhpun orang Portugis amat sesak, tetapi kasu- dahannya menang joga. Pada suatu hari kapal Jawa itu berlabuh rapat(2); maka orang Portugis membakar sabuah kapal, lalu api berpindah-pindah ka kapal yang lain. Maka terlalu kacau-balau kapal itu samuanya: ada yang dimakan api, ada yang terdampar; ada yang tenggelam ber- banting-bantingan sama sendirinya; yang tinggal lagi sigera berlayar pulang.
Bermula, maka baru negeri Malaka di tangan orang Portugis, maka laksamana d'Abren berlayar ka pulau-pulau Moloko akan beroleh monopoli rempah-rempah di situ, yaitu: orang Moloko berjooal rempah-rempah kapada orang Portugis saja, serta bangsa orang yang lain dikecuwalikannya.
Maka tatkala d'Abren di pulau Ambon, maka ia dihadap oleh utusan Sultan Ternate dan Sultan Tidore, yang menyampaikan permintaan Rajanya masing⁴, mudah-mudahan orang Portugis datang ka Ternate dan Tidore akan berniaga. Maka d'Abren menerima permintaan suruhan Sultan Ternate. Satelah sampai, maka laksamana menghadap Sultan, disambutinya dengan sapertinya, diberinya izin membuat benteng dan loji² di pulau Ternate.
Sejak kutika itu orang Portugis makin lama makin kembang kuasanya; pada beberapa pulau dibangunkaonya loji dan benteng, terutama sakali di pulau-pulau Moloko; lain dari pada itu didoodockinya Mangkasar dan pulau Berunai. Di pulau Jawa kuasanya tiada berapa besar, sebab raja-raja pulau itu ketiyl hati orang Portugis berniaga di pulau Moloko; hanyalah di Banten marika-itu lama duduk, sebab negeri itu banyak menghasilkan lada.
Syahdan, maka di pulau Sumatera sabelah utara orang Portugis tiada selamat; orang Portugis bercampur dalam socatoo perselisihan Raja Pedir dengan Sultan Ibrahim³ di Aceh, tetapi kalangkapannya dibinasakan oleh orang Aceh serta mariamnya banyak pucuk direbut musuh, dan laksamana Portugis pun mati dalam perang itu. Satelah itu maka negeri Pasai ditaalukkan oleh Sultan Ibrahim, seraya loji Portugis di situ dirusakkannya (pada tahun 1524).
Maka tiada berapa lamanya orang Portugis duduk di pulau-pulau Moloko, maka datanglah orang Ispanyol ka tanah Hindia.
Adapun orang itu anak buah laksamana Magelhaes, yang bermula sakali berlayar keliling bumi dengan melalui selat Magelhaes di antara benua Amerika sabelah selatan dan Tanah Api; tatkala orang Ispanyol itu sampai ka tanah Hindia, maka laksamana Magelhaes telah dibunuh oleh orang Filipinas. Maka orang Ispanyol itu diterima dengan baik-baik oleh Sultan Tidore, maka orang Portugis marah, sebab monopoli rempah-rempah dilanggar oleh orang Ispanyol.
Hatta, maka lama kalamaan orang Moloko dianiaya oleh orang Portugis; kabanyakan wakil Raja Portugis kurang cerdik dan lalai, seraya soldadunya loba dan bengis kalkuannya.
Dengan hal yang demikian itu orang Moloko menaruh dendam dalam hatinya kapada orang Portugis; pada akhrinya lalim orang Portugis tiada tertahan lagi; sebab itu raja-raja dan orang kaya berkumpul akan membicarakan halnya itu, maka putuslah mufakatnya hendak membunuh segala orang asing itu. Maka pada hari yang tetap segala orang Portugis di pulau-pulau Moloko didatangi orang negeri; hampir samuanya dibunohnhya. Rupa-rupanya kuasa orang Portugis habis lenyap, akan tetapi pada tahun 1537 ada saorang wakil Raja Portugis, Galvano namanya, maka wakil itu amat pandai dan panjang akal, lagi hatinya lurus, sahingga orang Moloko dapat didamaikannya pula. Sayanglah wakil yang kemudian tiada sabagai Galvano, melainkan kalakuannya saperti wakil yang dahulu.
Maka dengan hal yang demikian itu orang Belanda, yang datang ka pulau-pulau Moloko pada tahun 1598 diterima oleh orang Moloko dengan sukacita, sebab marika-itu bermusuh dengan orang Portugis. Pada tahun 1600 orang Ambon berteguh-teguhan janji dengan laksamana Belanda, Van der Hagen namanya, serta meminta pertulungan akan menghalaukan orang Portugis. Sungguhpun orang Belanda sia-sia mengepung benteng Portugis, tetapi orang Ambon percaya juga akan dia dan menulung membuat sabuah benteng.
Arkian, maka orang Belanda bertambah-tambah banyak berlayar ka pulau-pulau Hindia, sahingga raja muda Ispanyol⁴ di Hindustan dan di tanah Hindia berniat akan membinasakan segala orang Belanda serta menyiksa raja-raja yang bercam-pur dengan orang itu.
Oleh karena itu dikumpulkannya kapal perang 30 buah di pelabuhan Goa; di antara kapal itu 8 buah yang besar-besar; samuanya di bawah perentah Laksamana Mendoca.
Mula-Mula kapal itu menuju haluan ka tanah Aceh; satelah sampai, maka Laksamana Mendoca meminta izin mendirikan sabuah benteng di situ; tetapi permintaan itu tiada dikabulkan oleh Sultan Aceh. Maka orang Portugis dan orang Ispanyol itu tiada jua memerangi orang Aceh; entah karena tiada berani, entah karena kahendaknya tiada sungguh-sungguh.
Kemudian dari pada itu orang Portugis dan orang Ispanyol itu mengepung negeri Banten, sambil diempangoya kapal Banten yang kaluear, sebab orang Banten telah berniaga dengan orang Belanda.
Adapun pada kutika itu jua lima buah kapal Belanda berlayar di selat Sunda menuju ka Banten; laksamana kalangkapan itu bernama Wolfert Harmensz. Maka terdengarlah khabar kapadanya, bahua kapal Portugis dan Ispanyol mengepung Banten.
Maski pun kapal Belanda sadikit saja lagi kecil, tetapi Laksamana Wolfert Harmensz berani jua hendak mele-paskan orang Banten dari pada musuhnya. Satelah bertemu, maka kalangkapan Portugis diperangi oleh orang Belanda, maka dua buah kapal Portugis dibinasakannya. Tengah perang itu Laksamana Mendoca menujukan beberapa perahu, yang dibakar orang, kapada kapal Belanda, tetapi perahu itu dielakkannya. Pada kaesuukan harinya kapal Portugis meninggalkan pelabuhan Banten, lalu berlayar ka pulau Ambon.
Maka tatkala Laksamana Mendoca sampai ka pulau Ambon, maka disuruhnya raayatnya naik darat; kemudian kampung-kampung habis dibakarnya, dibunokhnya barang siapa yang melintang, serta pohon cengkeh ditebangnya. Maka dalam pada itupoon orang Belanda mengepung Malaka; sebab itu Mendoca berlayar kasitu, lalu melepaskan negeri itu.
Arkian, maka bertahun-tahun lamanya lagi orang Portogis dan orang Belanda berperang-perangan, berganti-ganti menang; kasudahannya pada tengah-tengah abad yang katujuh-belas orang Ispanyol berpiudah ka pulau-pulau Filipinas, dan orang Portogis surut kapada pulau Timur; sampai sakarang bahagian sabelah utara pulau itu di bawah perentah Raja Portogis.
Adapun negeri yang kemudian sakali dialahkan oleh orang Belanda yaitu Malaka, pada tahun 1640 Malaka diserangnya.
Maka raayat Belanda mengepung kota Malaka dengan susah payah, yang amat sangat, sebab kota itu amat tegokh-tegokh serta saparohnya dikelilingi rawah; tambahan lagi orang Portogis berperang dengan gagah berani. Maka kadua pihak kasangsaraan: dalam balatantara Belanda banyak orang mati kena penyakit yang berpindah-pindah, dan orang Portogis kakurangan beras bekal. Satelah Malaka satu tahun lamanya terkepung, maka sabahagian pagar tembok runtuh oleh peluru mariam. Pada kutika itu orang Belanda masuk, sambil berperang terlalu ramai, pada akhihrna orang Portogis terpaksa menyerahkan dirinya, (pada tahun 1641).
Demikianlah putus kuasa orang Portogis di tanah Hindia.
Sabermula; maka orang Portogis biasanya bercampur dengan orang negeri, sambil menorut adat lembaganya; ada yang membeli sabidang tanah serta beristerikan orang negeri; oleh sebab itu sakarang ini di pulau Flores dan di pulau Timur banyak peranakan Portogis, yaitu katurunan orang Portogis, yang dahulu kala diam di situ. Akan tetapi orang Portogis di mana-mana jua kadudockannya suka mengembangkan agama Masebi; sebab itu orang Islam benci kapadanya, istimiwa imam khatib.
Maka sampai sakarang banyak kata Portogis lazim dalani bahasa Melayu, misalnya: meja, kameja, peluru, lelang dan lain-lainnya; dan lagi sampai abad yang katujuhbelas banyak orang kulit putih di Batawi berbahasa Portogesis.
¹ Raja Jawa yang mana tiada tentu.
² Loji yaitu rumah saudagar dan gudang dagangan, loji yang kabanyakan berpagar teguh-teguh dan bermariam.
³ Bacalah alaman.
⁴ Sejak tahun 1580 tanah Portugis di bawah hukum Raja Ispanyol.
FASAL V.
PADA MENYATAKAN HAL AHWAL NEGERI-NEGERI DI TANAH HINDIA PADA MASA KOMPAKI DIDIRIKAN
Bermula, maka dalam kitab »Pelayaran dari Singapura sampai ka Kelanten“ yang terkarang oleh Abdu'llah bin Abdu'lkadir, diceriterakan hal ahwal beberapa negeri Melayu di tanah Malaka.
Adapun kaadaan negeri itu pada masa Abdu'llah banyak yang sama dengan, peri hal negeri di tanah Hindia pada zaman dahulu, sabelum Kompani datang. Maka di antara negeri itu Bantenlah, yang terutama kita katahui halnya, sebab pada pernulaa'n abad yang katujuhbelas negeri itu amat ramai; sakarang pun ada lagi beberapa surat orang Airopah, yang duduk di situ pada masa Banten mashur sakali.
Hatta, maka dalam surat itu diceriterakan, bahua kota Banten berpagar tembok yang bersiku-siku amat banyak; tebalnya dua kaki.
Pada tiap-tiap siku ada sabuah mariam; satengahnya berkuda-kuda (bercagak), satengahnya tiada. Sapanjang tembok terdiri beberapa bangunan kayu, yang bertingkat tiga, maka antaranya dua buah bangunan kira-kira sapelontaran; pagar tembok itu berpintu gerbang tiga buah, tetapi pintu itu tiada berengsel besi dan tiada juga berkunci besi, melainkan ditutup dengan sabatang palang saja, serta ditung-gui banyak orang kawal; malam hari sungai dan anak sungai diempang orang dengan sabatang betung.
Maka dalam saluruh kota Banten hanya tiga lurung saja, pangkalnya satu-satu di pintu gerbang dan ujungnya di tanah lapang yang locas di pusat kota. Disabelah selatan padang itu astana Raja dan astana Mangku Bumi; disabelah timur terdiri gudang senjata; disabelah barat ada masjid raya. Rumah yang tersebut itu bertiang kayu, yang amat elok ukirannya; dinding rumah sasak dan atap-nya ilalang atau rumbia (nipah).
Maka sungai, yang melaloci Banten, tohor; kira-kira tiga kaki dalamnya, ayarnya tenang lagi keruh dan busuk baunya, sebab sampah segala rumah di tepinya dibuangkan orang kadalam ayar, akan tetapi orang negeri mandi juge di situ.
Akan rumah orang yang kabanyakan buruk rupanya, alamannya (pekarangannya) cemar dan bersemak-semak; tiap-tiap kampung dikelilingi pagar aur duri. Sakeliling kota Banten ada pula banyak rumah sampai ka tepi laut, maka rumah itu kabanyakan didiami orang Melayu, dan orang Benggala dan orang Guzerate (di Hindustan) dan orang Habesyi pun; kampung Cina disabelah darat berpagar cerucupe, disabelah laut ada rawah yang dalam. Dan lagi loji orang Portugis di kampung Cina; demikian juga loji orang Belanda dan orang Inggeris, yang datang ka Banten kemudian dari pada orang Portugis.
Adapun dagangan bermacam-macam dibawa orang ka Banten, upamanya: padi dan beras dari tanah Jawa dan Johor, kayu sepang dan kayu cendana dari pulau-pulau Sunda yang kecil; pala dan bunga pala dan cengkeh dari pulau-pulau Moloko; lada dari tanah Banten dan dari tanah Lampong; intan dan emas dari pulau Berunai; sutera dan piring mangkok dari benua Cina; tenunan dari Hindustan.
Satiap hari mengitam orang di pasar saperti sarang semut rupanya; di bahagian sabelah kanan perampocan berjual lada, lebih-lebih kapada orang Cina; baru saorang tukang lada sampai ka pasar, maka sabentar itu juga beberapa saudagar Cina datang berlari-lari dahulu-mendahului hendak mem- beli; ada juga yang menyongsong perampuan yang pergi ka pasar. Maka orang Portugis terutama berniaga di pasar rempah-rempah di balik pasar ikan dan daging. Lobih jauh sadikit dari situ ada lapau (warong) berlirit-lirit dan kedai, tempat di juarl orang barang-barang besi dan senjata dan barang yang endah-endah terbuat dari kayu cendana; orang amat banyak berjuarl kacang dan sayuran dan ayam dan itik dan unggas serba jenis, saperti burung nuri dan burung kakatua. Lebih jauh pula ada kodai orang Cina penuh dengan pelbagai sutera, kimkha, antelas, beludu sangkelat dan piring mangkok yang halus-halus; orang Arab berjuarl permata; orang Parsi berjuarl obat.
Akan pasar kain terbahagi dua: sabelah tempat perampuan, sabelah tempat laki-laki; barang siapa masock ka tempat larangan itu kena denda yang amat banyak.
Adapun orang Banten, baik orang besar-besar, baik orang kecil tiada bagus pakaianinya: saorang pun tiada berbaju, tetapi ikat pinggang orang kaya bertatahkan emas dan permata, dan kerisnya endah-endah hulunya.
Akan perkakas rumah tiada berapa macamnya; yaani periok dan tempurung dan bakul; hanya beberapa orang kaya memakai perkakas rumah buatan Cina dan Je pun.
Adapun rumah di dusun amat buruk dan kecil; pakaian laki-laki sahelai cawat saja, orang perampuan berkain pendek hingga ka lututnya. Makanan orang itu ubi dan buah-buahan; perkakas rumah hampir tiada; permainan tiada dikatahuninya dan uang pun jarang-jarang dipakai orang. Maka perampuan sadikit saja di dusun, sebab kabanyakan berpindah ka kota Banten; sapanjang adat pada masa itu makin orang besar, makin bininya dan hambanya banyak orang. Upamanya: ada suatu surat orang Airopah, yang pada zaman itu diam di Banten, mengatakan, tatkala saorang anak perampuan syahbandar nikah, maka ia pun diberi oleh bapanya 50 orang budak laki-laki dan 50 orang sahaya perampuan dan 40 anak gadis dan uang 56 rupiah.
Maka orang yang kabanyakan di kota Banten bininya empat atau lima orang, tetapi ada juga yang berbini sapuluh atau duabelas orang; oleh karena itu dalam kota Banten perampuan kira-kira sapuluh kali sabanyak laki-laki.
Adapun isteri orang kaya atau bangsawan kabidupannya senang-senang; suatu pun tiada dikerjakannya, melainkan sabari-harian berbaring di balai-balai, sambil dikipas dan dipijit oleh hambanya. Suaminya tiada juga berapa pekerjaannya, hanya duduk bersila makan sirih dan bermain judi atau berseoka hati memandang hamba perampuan yang menari (tandak), sambil bunyi-bunyian dipalu orang.
Maka orang besar itu pun saparohnya amat luas sawah ladangnyna, saparohnya melepas perahu; tetapi sakalian marika-itu berjual-beli budak.
Adapun orang dusun ada dua macamnya; ada yang duduk di tanah orang besar-besar, orang itu tiada boleh ber-pindah, saolah-saolah marika-itu masuk tanah itu, tetapi orang itu tiada boleh dijual. Orang dusun yang lain macamnya menanami tanahnya sendiri, atau menyewa sabidang tanah. Maka orang besar-besar biasanya menyewakan tanahnya kapada orang Cina, bersama-sama orang, yang dudoock di situ, menjadi anak buah itu harus menurut perentah orang Cina itu dan mengerjakkan tanah itu. Sebab itu lada dan padi kabanyakan diperniagakan oleh orang Cina; lada amat banyak dihasilkan oleh tanah Banten, tetapi pada tiada cukup yang kurang dibawa dari tanah Jawa dan Johor. Apabila perahu bermuatan beras padi dirampas perompak, maka orang Banten kalaparan.
Syahdan, maka di kota Banten ada juga orang, yang milik orang besar-besar; orang laki-laki pencahariannya bertuckang atau belayar, orang perampuan kabanyakan berjual lada di pasar.
Adapun orang besar-besar dan orang bangsawan kocasanya ada tiga perkara, yaitu: pertama, orang itu boleh bermasyawarat dengan Raja dari hal pemerentahan negeri; kadua, marika-itu boleh menghukum anak buahnya dengan sakahendak hatinya, asal jangan orang yang bersalah itu di bunuhnya; katiga, ia boleh memerangi musuhnya. Jikalau dirampas- nya sabuah perahu, maka sabahagian harta benda dan tawanan dalam perahu itu harus dipersembahkan kapada Raja; apabila Raja memerangi musuhnyia, maka orang besar-besar itu wajiib membantu Baginda.
Hatta, maka dengan hal yang demikian itu barang siapa yang banyak anak buahnya, ialah yang besar kuasanya; maka dipilh nyia dalam hambanya orang yang tegap dan kukuh badanya, lagi dengan berani‘, dijadikannya laskar. Kemudian orang besar-besar yang demikian itu melangkapkan perahu; lalu berlayar ka negeri yang lain. Di mana-mana anak perahu naik darat dibakarnya rumah, di bunuhnyia orang yang melawan dia; kasoodahannya ditawannya perampuan yang muda dan anak gadis, dibawanya pulang.
Dengan hal yang demikian itu tadapat tiada orang perompak amat banyak pada zaman itu; oleh karena itu segala kapal dan perahu berlila atau bermariam.
Syahdan, maka di kota Banten orang tiada juga sentausa: hampir tiap-tiap hari beberapa orang mati diamook orang di tengah jalan, jangan dikata lagi orang yang kacurian atau kabakaran. Pada tahun 1603 banyak orang Lampong masuk kadalam Banten, maka sabulan lamanya marika-itu berjalan berkeliling; jikalau orang itu bertemu dengan orang yang saorang diri, maka tiba-tiba dikayaunya orang itu. Adapun kalakuan itu terbit dari pada suatu adat di tanah Lampong, yaitu raja menganugerakan saorang perampuan kapada barang siapa anak buahnya, yang mempersembahkan sabuah kapala manusia.
Maka dalam pendapa orang besar-besar malam hari barang sapuluh orang berjaga dengan memakai tumbak dan parisai; tambahan lagi dalam beberapa rumah ada mariam atau lila sapucuk.
Di ujung kota banyak orang kawal berjaga malam hari; rumah penjara ditunggui lima puluh orang.
Kemudian diceriterakan dari hal kuasa Raja di Banten. Mula-Mula Raja itu bergelar Pangeran Ratu, lalu gelarnya Sultan.
Adapun sawah ladang Raja terlebih luas dari pada sawah ladang orang besar-besar, serta perahunya amat banyak, sebab Raja berniaga juga. Maka Raja bersama-sama orang besar-besar menjadikan persarikatan, seraya Syahbandar melakuakan perniagaan persarikatan itu. Saorang jupaun tiada boleh berjual beli, hanya dengan izin Raja dan dengan satahu Syahbandar. Apabila sabuah kapal dari negeri yang asing sampai ka Banten, maka nakhoda harus mempersembahkan daftar sakalian mocatan kapal itu kapada Raja. Mula-Mula Raja yang membeli; satelah itu baru orang yang lain boleh berniaga dengan nakhoda itu; jadi Raja mempunyai monopoli segala macam barang dagangan. Akan barang, yang kaluar dari pada Banten harganya ditentuukan oleh persarikatan syahbandar dan orang besar-besar. Segala barang, yang tiada dibeli atau dijuaI oleh Raja kena beya, maka uang itu bersama-sama beya yang lain, upamanya ruba-ruba (beya kapal yang berlabuh) sabahagiannya bagi Raja, sabahagiannya bagi syahbandar.
Syahdan, maka Raja yaitu hakim, yang memutuskan perkara orang bangsawan dan orang dagang, serta beroleh denda. Jikalau orang besar membunuh saorang budak, bangunnya 20 ringgit; kalau orang yang terbunuh itu mardahika, bangunnya 50 ringgit, dan jika orang itu bangsawan, bangunnya 100 ringgit. Jikalau orang yang telah membunuh orang orang yang kabanyakan, niscaya ia dibounuh juga. Dan lagi hukuman orang dagang saperti hukuman orang bangsawan.
Apabila orang Banten mati serta meninggalkan anak, yang belum berbini, maka anak bininya dan harta bendanya menyadi pusaka Raja.
Maka perkara dari hal pemerentahan negeri diputuskan oleh Raja, maka orang besar-besar membicarakan perkara itu bersama-sama Baginda, tetapi Raja menurut nasihatnya atau tidak sabagaimana kahendaknya saja. Pada masa perang segala orang negeri, yang kukuh badannya dikerahkan, dan diperentahkan oleh hulubalang 300 orang.
Maka kapal perang 200 buah, kabanyakan dibuat di Lasem dan di Banjarmasin; saparohnya bergeladak tiga lapis. Geladak yang di atas itu tempat soldadu dan mariam, geladak yang di bawah itu tempat orang yang berdayung; maka orang itu budak, yang dirantaikan dibangkunya. Sakalian kalangkapan kapal itu di bawah perentah saorang Tumenggung.
Demikianlah hal ahwal negeri Banten pada zaman itu. Sungguhpun kaadaan negeri Banten diceriterakan dalam fasal ini, tetapi negeri-negeri, di tanah Hindia halnya kira-kira sabagitu juga.
FASAL VI.
PADA MENYATAKAN ORANG BELANDA MULA-MULA BERLAYAR KA PULAU-PULAU HINDIA, DAN KAJADIAN KOMPANI
Maka tatkala orang Portugis bertambah-tambah besar kuasanya di tanah Hindia, maka ibu negerinya Lissabon menyadi bandar yang ramai sakali; akan tetapi bukan orang Portugis, yang membawa kahasilan tanah Hindia kapada berbagai-bagai negeri di benua Airopah, melainkan orang Belanda.
Maka pada masa itu orang Belanda berperang dengan orang Ispanyol, maka perang itu 80 tahun lamanya (dari tahun 1568 sampai tahun 1648); Sungguhpun Raja Ispanyol amat besar kuasanya, tetapi orang Belanda beruntung baik juga, terutama sebab perniagaannya ramai.
Syahdan, maka pada tahun 1578 Raja Portugis mati tengah perang; maka sebab tiada ditinggalkannya anak, oleh karena itu Raja Ispanyol mengaku dirinya Raja tanah Portugis.
Adapun Raja Ispanyol tahu, bahua orang Belanda amat ramai berniaga dengan orang Portugis, maka disuruhnya rampas kapal Belanda di Lissabon, supaya musuhnya merugi.
Hatta, maka orang Belanda tiada putus pengharapananya, melainkan dicaharinya daya upaya akan berlayar sendiri ka benua Asia.
Maka pelayaran itu amat susah, sebab tiada dikatahoinya betul-betul bagaimana jalan kasana; tiada orang yang telah membuat peta pelayaran itu, melainkan orang Portugis saja; maka barang siapa yang mencoba mengaluarkan peta itu dari negeri Portugis disiksa amat sangat. Tambahan lagi tempat-tempat kapal singgah akan beroleh bekal-bekalan samuanya di dalam tangan orang Portugis belaka, dan kapal perang Ispanyol dan Portugis banyak menjaga di laut.
Sebab itu beberapa nakhoda hendak berlayar kasabelah utara menyusur pantai benua Asia; pada sangkanya niscaya lama kalamaan sampai ka tanah Hindia; akan tetapi sia-sialah pelayaran itu, karena laut di sana satengahnya becu, sa-hingga nakhoda itu terpaksa pulang.
Maka satelah pelayaran itu tiada menjadi, maka beberapa saudagar Belanda mengumpulkan 290000 rupiah, dilang-kapkannya kapal, yang akan berlayar ka tanah Hindia dengan melalui Tanjung Pengharapan. Dan lagi pemerentah Be-landa memberikan mariam akan melawan orang Portugis dan perompak; maka di kapal menumpang nakhoda Cornelis de Houtman, yang memegang perkara perniagaan.
Arkian, maka pada dua hari bulan April tahun 1595 sauh dibongkar oranglah, lalu kapal empat buah itu ber-layar dari pelabuhan Tessel, kemudian menyusur pantai tanah Pransman dan tanah Portugis dan benua Afrika, sampai ka pulau Madagaskar. Pada kutika itu banyak anak kapal sakit seriawan, karena segala makanannya asin saja; serta 71 orang sudah mati.
Syahdan, maka satu tahun dan tiga bulan lamanya sudah berlayar, baru marika-itu sampai ka Banten.
Adapun Raja Banten pada masa itu lagi muda; ayenhenda
Baginda telah dibenuh orang tengah perang dengan orang Palembang; sebab itu Mangku Bumi serta beberapa orang besar-besar menjadi wakil raja.
Demi terdengar khabar kapada Syahbandar mengatakan orang asing datang, maka ia pun mendapatkan orang Belanda; satelah tiba, maka nakhoda De Houtman ditegurnya, ditanyakannya dari mana marika-iteo datang dan apakah kahendaknya. Maka jawab nakhoda, katanya: »Ya, Tuanku! kami ini orang Belanda, maksud kami akan membeli lada dan cengkeh dan pala.«
Maka syahbandar itu pun senang hati mendengar perkataan itu, lalu bermohuhun.
Sudah itu, maka nakhoda De Houtman serta beberapa anak kapal yang berpangkat menghadap Mangku Bumi, maka marika-iteo mendapat izin menyewa sabuah rumah akan tempat menaruh dagangannya.
Tatkala rumah itu selesai, maka orang Banten banyak datang melihat harta benda di dalam loji itu; kadang-kadang orang besar-besar dan Mangku Bumi pun mendapatkan saudagar Belanda.
Adapun orang Portugis sakit hati orang Belanda berniaga, maka diasutnya orang Banten dengan membusukkan nama orang Belanda.
Maka lama kalamaan orang Banten syak hati, sebab nakhoda De Houtman segan membeli lada yang lama. Dan lagi kaklakocan beberapa khalasi tiada patut. Maka orang Belanda gusar juga, sebab orang Banten sudah membeli rupa-rupa barang, tetapi tiada mau membayar.
Kalakian, maka pada suatu hari Tuan De Houtman di Banten dikawani beberapa anak buahnya, maka tiba-tiba marika-iteo samuanya ditawan oleh orang Banten, lalu di penjara-kannya. Maka orang Belanda yang tinggal di kapal terlalu marah mendengar khabar, mengatakan nakhoda dengan kawannya ditawan, maka ditembakenya kota Banten, dirampasnya beberapa perahu, tetapi tawanan itu tiada juga dilepas-kan orang.
Satelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka orang Belanda berdamai dengan orang Banten, serta ditebusnya tawanan itu; tetapi tiada lama antaranya, maka orang Portugis memperseterockan pula orang Banten dengan orang Belanda, sahingga orang Banten berniat hendak mengamuk. Kabetulan orang Belanda maalum akan niat itu, maka malam hari dimuatkannya harta bendanya kadalam kapalnya. Habis itu dirampasnya dua tiga buah perahu yang berisi lada akan ganti ruginya, lalu berlayar.
Maka karena kalakuan yang demikian itu saolah-olah dibenarkannya fitnah orang Portugis, yaitu orang Belanda perompak saja.
Mula-Mula orang Belanda singgah di negeri Jakarta, dibelinya di situ beras dan sayur-sayuran dan buah-buahan, tetapi rempah-rempah tiada.
Kemudian dari pada itu marika-itu sampai ka Sedayu.
Adapun orang negeri itu telah diasut oleh suruhan orang Banten, sebab itu marika-itu menaruh khianat dalam hatinya. Pada suatu hari beberapa perahu berisi buah-buahan sampai ka kapal. Satelah anak perahu naik kapal, maka sakunoyung-kunyung diamuknya khalasi, dibunuhnya beberapa orang; tetapi orang Belanda berhimpunlah, lalu dihalaukannya orang yang mengamuk itu. Maka orang Jawa banyak dibunuhnya; yang salebihnya terjun kadalam perahunya, maka perahu itu kabanyakkan tenggelam dipecahkan peluru mariam.
Maka di Arisbaya orang Belanda tiada juge selamat. Pada suatu hari Raja bersama-sama beberapa pengiringnya naik perahu hendak mendapatkan nakhoda De Houtman. Maka orang Belanda terkenang akan khianat orang Sedayu, serta dengan tiada meneriksa niat orang yang datang itu ditembaknya saja perahu itu, maka Raja dan beberapa anak buahnya mati.
Kemudian orang Belanda singgah di pulau Bawean dan di Blambangan, akan tetapi orang Hindu di Blambangan itu tiada sempat berniaga, sebab negerinya dikepung oleh bala- tantara Raja Islam di Paseruhan. Sebab itu orang Belanda menyebang selat Bali; di pulau itu dibelinya rupa-rupa hajat, lain dari pada rempah-rempah yang dikabendakinya.
Satelah itu, maka marika-itu menyusur pantai sabelah selatan pulau Jawa, kasudahannya sampai ka tanah Belanda.
Adapun pelayaran itu dua tahun empat bulan lamanya; 159 orang yang mati; 89 orang yang pulang. Maka saudagar, yang membelanjakkan uang kalangkapan itu amat banyak ruginya; akan tetapi pelayaran bermuna juga, karena hal ahwal tanah Jawa dan jalan kasitu sudah dikatahui orang.
Arkian, maka adalah pula beberapa saudagar Belanda melangkapkan kapal delapan buah, lak·amananya (Admiraal) Van Neck namanya.
Maka tatkala orang Belanda sampai ka Banten, maka marika-itu disambut dengan sapertinya, sebab pada masa itu orang Banten berbantahan dengan orang Portugis; jadi orang Banten bersahabat dengan orang Belanda, dijulynya muatan empat buah kapal dengan harga yang sedang. Sudah itu, maka kapal yang berisi itu pulang, yang tinggal herlayar ka pulau-pulau Moloko. Disitulalı orang Belanda mujur juga: orang Banda dan orang Ambon dan Sultan Ternate berteguh-tegoohan janji dengan orang Belanda, maka di-julynya rempah-rempah yang dikahendakinya. Satelah kapal empat buah sarat muatannya, maka laksamana menyeruh anak buahnya berlayar pulang.
Maka sejak pelayaran yang selamat itu teryadilah beberapa persarikatan saudagar, yang hendak membeli rempah-rempah di tanah Hindia. Maka persarikatan itu pun dinamai oleh orang Belanda Maatskhappiy atau Compagnie (disebut Kompanyi).
Adapun persarikatan itu berlumba-lumba hendak membeli rempah-rempah, oleh sebab itu harganya di tanah Hindia makin lama bertambah naik; sahingga acap kali saudagar itu merugi. Dan lagi, sebab persarikatan itu sendiri-sendiri saja, maka tiada dapat dilawannya orang Ispanyol dan orang Portugis dan raja-raja, yang mungkir janji.
Hatta, maka sebab hal yang demikian itu pemerentah Belanda mengumpulkan persarikatan itu samuanya pada tahun 1602.
Adapun persarikatan yang besar itu namanya Vereenigde Oost-Indiskhe Compagnie, ertinya perkumpulan persarikatan Hindia.
Maka persarikatan dianugerai beberapa karunia oleh pemerentah tanah Belanda; yang terutama sakali yaani: Kapal yang lain tiada boleh berlayar ka tanah Hindia, melainkan kapal Compagnie.
Compagnie kuasa berjangdi dan berperang dan bordanmai dengan raja-raja di tanah Hindia, dan boleh mendirikan benteng. Compagnie boleh mengangkat dan melepaskan orang, yang makan gaji pada Compagnie.
Syahdan, sebab Compagnie diberi kuasa itu, maka sabahagian labanya diserahkankannya kapada negeri Belanda akan membalas karunia yang tadi; tambahan lagi Compagnie berjangdi menulung orang Belanda dalam perang.
Tiap-Tiap orang boleh meminjamkan uang kapada Compagnie, demikianlah dikoompulkan orang 6, 5 joteca rupiah. Maka yang memeliharakan Compagnie 17 orang; nama pangkat Tuan itu Bewindhebber.
Adapun persarikatan itu lama kalamaan amat besar kuasanya di tanah Hindia. Maski pun Compagnie itu sudah lama hilang, tetapi sampai sakarang Gouvernement (pemerentahan) Belanda dinamai juya Kompani oleh orang Hindia.
Maka maksud Kompani bukan menaalukkan negeri-negeri, melainkan hendak berniaga saja; akan tetapi Kompani acap kali mau ta mau mencampuri perkara negeri di tanah Hindia, sebab raja negeri itu ada, yang bermusuh dengan Kompani, ada yang melanggar perjangjian, ada yang merompak, ada yang menulung musuhnya.
Bermula, maka angkatan, yang pertama-tama dilayarkan oleh Kompani, 11 buah kapal di bawah perentah Admiraal Van Warwiyk. Pelayaran itu selamat: Tuan Van Warwiyk membeli sabuah loji batu di Banten dan di Gersik, dan lagi Sultan Johor diberinya alat senjata dan obat bedil akan memerangi orang Portugis.
Lain dari pada Admiraal Van Warwiyk ada pula banyak nakhoda dan laksamana Belanda, yang berjanji dengan raja-raja di Hindustan, di pulau Ceilon, dan di pulau-pulau Moloko; dalam beberapa negeri dibangunkannya loji dan benteng, serta dihalaukannya orang Portugis.
Adapun untung baik itu tiada kekal adanya. Kompani ditimpa claka di pulau-pulau Moloko, yaitu pulau Ternate dilanggar oleh orang Ispanyol serta Sultan pulau itu ditawannya, karena ia pun bersahabat dengan Kompani; Admiraal Verhuff di bunuh dengan khianat oleh orang Banda; beberapa bangsa di pulau-pulau Moloko menaruh dendam dalam hatinya, sebab Kompani bersungguh-sungguh mencoba beroleh monopoli rempah-rempah. Tambahan lagi orang Ispanyol dan Portugis membinasakan beberapa kapal Belanda.
Maka untung malang Kompani itu mulanya, sebab nakhoda dan kapala loji masing-masing menurut kahendaknya sendiri; karena di tanah Hindia tiada saorang kapala, yang memerentah segala orang Kompani.
Oleh sebab itu Tuan-Tuan Bewindhebbers mengangkat saorang Tuan akan wakil Kompani di tanah Hindia; nama pangkatnya Gouverneur-Generaal; segala loji dan benteng dan kapal dan soldadu Kompani di bawah perentahnya.
Adapun Gouverneur-Generaal yang pertama Pieter Both namanya, lama pemerentahannya dari tahun 1610 sampai tahun 1614.
Maka Gouverneur-Generaal diangkat oleh Tuan Bewindhebbers dengan rila pemerentah negeri Belanda; Gouverneur-Generaal itu ditulung oleh beberapa manteri besar, pangkat Tuan itoclah bernama Raad van Indie,¹ serta memberi nasihat kapada Tuan Besar.
Syahdan, maka Gouverneur-Generaal bersama-sama dengan Raad van Indie mengangkat dan melepaskan manteri dan panglima Kompani, dan memutuskan perkara yang terutama sakali; upamanya berperang dan berdamai dan berteguhan janji dengan raja-raja. Dan lagi Raad van Indie itu masing-masing memeliharakan sasuatu bahagian tanah Hindia; dalam Tuan-Tuan itu ada saorang, yang memegang hutang pihutang tiap-tiap loji dan yang memeliharakan harta benda dalam gudang Kompani, pangkat itu bernama Directeur-Generaal.
¹ Orang Jawa menyebot Rad pan Hindia, atau Edeler, yaitu kata Belanda Edele Heer ertinya Tuan bangsawan.
FASAL VII.
HIKAYAT GOUVERNEUR-GENERAAL YAN PIETERSZOON KUNI
Alkesah, maka tatkala G. G. Both memeriksa loji di Banten dan di Jakarta, maka didapatinya kalakuan kapala loji itu kurang patut, sebab itu Tuan Both melepaskan orang itu serta mengangkat akan kapala kadua loji itu Gouverneur di pulau-pulau Ambon, Yan Pieterszoon Kun namanya.
Adapun Tuan Kun faham dalam segala hal ahwal perniagaan, lagi rajin dan bijaksana; kabajikan Kompani diperhatikannya dengan sungguh-sungguh, jikalau dengan kakerasan sakali pun. Tuan Kun tiada suka membujuk orang besar-besar; kalau titah Tuan-Tuan Bewindhebbers tiada satuju dengan pikirannya sendiri, maka Tuan Kun berani menyalahkan perentah itu.
Hatta, maka Mangku Bumi di Banten tiada berbaik dengan Kompani, akan tetapi tiada juga dikahendakinya orang Belanda meninggalkan Banten, karena perniagaan mendatangkan laba amat banyak kapada orang Banten Maka sejak tahun 1602 orang Inggeris doodock di Banten, maka beberapa Tuan Kun mencoba mengusir orang itu, tiada juga dapat; tambahan lagi orang Inggeris mendirikan sabuah loji di Jakarta dekat loji Kompani.
Arkian, maka Gouverneur-Generaal menyouroh utusan kapada Panembahan Mataram; maka Panembahan itu dinamai dalam hikayat Sultan Ageng, lama pemerentahannya dari tahun 1613 sampai tahun 1646. Maka utusan itu pun disambutnya dengan baik; Kompani diberinya izin memba-ngukan sabuah loji di Japara.
Demi terdengar khabar oleh Mangku Bumi Banten dan oleh Raja Jakarta, bahua Kompani telah mengutus kapa- da Panembahan Mataram, maka kadua-duanya masgul dan syak hatinya; pada sangkanya Kompani berteguh-teguhan janji dengan Sultan Ageng akan menyerang Banten dan Jakarta; sebab itu Mangku Bumi dan Raja Jakarta berkumpul hendak melawan orang Belanda.
Adapuu niat itu dikatahui oleh Tuan Kun, maka dengan sigera disuruhnya anak buahnya mendirikan sabuah benteng dengan tiada minta karilaan Raja Jakarta.
Maka perjanjian dengan Sultan Ageng tiada berfaidah kapada Kompani. Pada suatu hari tahun 1618 loji di Japara didatangi raayat Mataram, harta benda Kompani di-rampasnya, dan orang isi loji itu saparohnya dibenuhnya, saparohnya dihantarkannya ka Mataram.
Maka tiada dikatahui orang, apa mulanya kalakuan Sultan Ageng yang demikian itu; berangkali Panembahan marah, sebab Gouverneur-Generaal segan memerangi Banten bersama-sama balatantara Mataram.
Pada masa itu joga beberapa orang Jawa mencoba masuk kadalam benteng di Jakarta, tetapi marika-itu dihalaukan oleh soldadu Belanda. Demikianlah Kompani kadatangan marabahaya; rupa-rupanya akan binasa, tetapi Tuan Kun tiada takut, melainkan menyiapkan raayatnya akan menantikan musuhnya. Maka disuruhnya saorang laksamana ka Japara, supaya tawanan di situ lepas akan tetapi permintaan itu tiada diterima oleh Bupati Japara; sebab itu laksamana itu merampas perahu Jawa di pelabuhan, seraya membakar sabahagian negeri Japara, lalu pulang.
Adapun Raja Jakarta khawatir melihat Kompani membangunkhan benteng; sebab itu negerinya diteguhkannya, dengan kota parit; dan lagi orang Inggeris menelung Raja itu, serta mendirikan kubu di hadapan loji Belanda. Maka dalam pada itu pun Tuan Kun naik Gouverneur-Generaal.
Bermula, maka tiada lama lagi, maka orang Inggeris, yang bermula menyerang Kompani, yaitu laksamana Inggeris yang menghimpunkan 15 buah kapal di Banten, merampas sabuha kapal Belanda. Adapun G. G. Kun minta kapal itu dikembalikan oleh orang Inggeris, tetapi laksamana Inggeris tiada mau, katanya: bahua maksudnya hendak berlayar ka Jakarta akan mengusir orang Kompani serta menangkap Gouverneur-Generaal.
Maka terlalu marah Tuan Kun, maka diserangnya dan dibinasakannya kubu dan loji Inggeris di Jakarta, sung-guh pun marika-itu dibantu oleh Raja Jakarta.
Hatta, maka baru Admiraal Inggeris beroleh khabar mengatakan kubu dan loji itu binasa, maka dengan sigera berlayarlah ia hendak memerangi orang Belanda.
Adapun Tuan Kun amat sangat kasusahannya, sebab musuhnya sakian banyak itu; dan lagi benteng belum habis dibuat; soldadunya dan obat bedil dan peluru kurang banyak; tambahan lagi beberapa kapal sedang dibaiki. Maka saboleh-bolehnya kapal dan benteng disediakan orang.
Tatkala orang Inggeris bertemu dengan kapal Belanda, maka ditembaknya musuhnya; maka beberapa lamanya kadoca belah pihak berperang, tetapi tiada yang menang. Maka pikir Gouverneur-Generaal: »Baiklah aku pergi ka pulau Ambon akan mengambil bantuan, sebab di sini kapal dan soldadu kurang banyak, niscaya pada akhiinna Kompani alah.“—Maka dipanggilnya panglima Van den Bruke; titahnya: »Aku harus berlayar ka pulau Ambon akan mencari pertelungan; sebab itu sapeninggalku loji dan benteng ini Tuan peliharakan; jikalau kiranya kelak Tuan tersesak tiada berdaya lagi, baiklah benteng dan loji Tuan serahkan kapada orang Inggeris, dan harta benda kapada Raja Jakarta; dan lagi jaga baik-baik Tuan jangan ditipu oleh Raja itu.“—Sudah itu Tuan Kun berlayar.
Adapun orang isi benteng di Jakarta 400 orang; dalamnya 250 orang laki-laki yang memakai senjata.
Hatta, maka Raja Jakarta menaruh khianat; dikirimnya sapucuk surat kapada panglima Van den Bruke, bunyinya: »Raja hendak berdamaai, asal Kompani membayar 6000 rial; serta ia suka sakali bertemu dengan Tuan Van den Bruke.“—Maka Tuan Van den Bruke tiada terkenang akan nasihat Tuan Kun, melainkan pergilah ia ka astana Raja diiringkan lima orang. Pada kutika ia pun masuk kadalam penghadapan, maka tiba-tiba marika-itu ditawan dan dibantarkan orang ka rumah penjara. Maka Tuan Van den Bruke dipaksa Raja menulis sapucuk surat kapada anak buahnyia, bunyinya: bahua marika-itu disuruh menyer.hkan dirinya kapada Raja Jakarta.
Mula-Mula panglima muda dalam benteng tiada mau mela-kukan perentah itu, tetapi kasoodahannya dibuatnya juga, sebab pada sangkanya musuhnya tiada terlawan. Maka ditentukan oleh kadua belah pihak itu, bahua benteng akan diduduki orang Inggeris, serta harta benda akan diserahkan kapada Raja Jakarta; orang isi benteng akan dihantarkan kapada loji Belanda di Hindustan.
Maka dengan sabenarnya perjanjian itu tiada dilakukan; Adapun sebabnya diterangkan di bawah ini.
Samantara loji Kompani dikepung, maka datanglah ka Jakarta raayat Banten beberapa ribu orang, yang disuruh Mangku Bumi menjaga perbuatan Raja Jakarta,¹ sebab Mangku Bumi itu ingin beroleh sabahagian harta benda Kompani.
Hatta, maka tatkala hulubalang besar balatantara Banten itu mendengar khabar, bahua benteng akan diserahkan, maka sigeralah ia pergi ka astana diiringkan anak buahnyia; satelah masuk, maka dihunusnya kerisnya saporti laku hendak menikam akan Raja; serta katanya:
»Jikalau Tocanku tiada turun, niscaya Tocanku dibunoh sabentar ini. Maka terlalu takut Raja dengan gementar tubuhnya, maka salekas-lekasnya ditinggalkannya negerinya.
Sabermula, Adapun orang Inggeris terlalu sakit hatinya, karena orang Banten tiada menerima perjanjian orang Inggeris dengan Kompani; lalu orang Inggeris berlayar ka selat Sunda hendak merompak kapal Kompani, yang me-nuju ka tanah Hindia.
Kalakian, maka Mangku Bumi menyouruh orang isi benteng menyerahkan dirinya, seraya Tuan Van den Bruke dengan kawannya dihantarkan orang ka Banten. Akan tetapi orang Belanda memberani-beranikan hatinya pula, serta berharap Tuan Kun tiada lama lagi akan datang; oleh karena itu panglima muda itu pura-pura hendak melakuckan kahendak Mangku Bumi, sambil dilanjutkannya bicara dari hal perdamaian dengan orang Banten.
Tambahan lagi pada suatu hari marika-itu sedang ramai bersuka-sukaan makan minum, sambil dipalu orang bunyi-bunyian, maka benteng dinamai Batavia² oleh panglima muda. Maka segala orang yang halir itu bertepuk dan bersurak, maka mariam ditembakkan akan menghormati bandera Belanda, yang pada kutika itu juga dinaikkan orang di atas benteng.
Pada akhihrya 28 hari bulan Mei tahun 1619 G. G. Kun sampai ka Jakarta dengan membawa 16 buah kapal. Pada kaesokan harinya soldadu 1000 orang naik darat, lalu orang Jakarta dan orang Banten dialahkannya serta Jakarta dibakaruya. Sudah itu, maka Tuan Kun berlayar ka Banten hendak melepaskan Tuan Van den Bruke dengan kawannya.
Maka orang itu diserahkan oleh Mangku Bumi mau ta mau; tetapi Mangku Bumi amat benci, sebab itu dilarangnya lada akan dijul lagi kapada Kompani.
Kemudian dari pada itu G. G. Kun berbalik, lalu dititahkannya mendirikan sabuah negeri pada tempat bekas Jakarta. Adapun negeri yang baru itu menjadi ibu negeri saloceruh tanah Kompani, namanya Batavia juga.
Satelah itu, maka Gouverneur-Generaal pergi mendapatkan orang Inggeris; di mana-mana juga dilanggarnya kapalnya, sahingga orang Inggeris hampir habis diusir dari pada tanah Hindia. Sayang pada masa itu juga sampailah khabar, babohea Raja Inggeris dan Raja Belanda sudah berjanjian, maka dilarangnya anak buahnya berperangan lagi di tanah Hindia, dititahkannya kadua bangsa itu bersahabat.
Adapun Tuan Kun masgul hatinya, sebab orang Inggeris dibiarkan duduk pula di tanah Hindia, tetapi perentah itu dijunjungnya juga.
Maka pada perdamaian orang Inggeris dengan orang Belanda ditentuukan oleh kadua Raja itu bahoa tiap-tiap bangsa memilih beberapa orang, maka orang itu harus berkum-pul dan memperhatikan segala hal ahwal kadua bangsa itu; akan tetapi kadua belah pihak senantiasa berselisih juga.
Kalakian, maka pada tahun 1621 Tuan Kun berlayar ka pulau Banda akan menyiksa orang Banda, sebab acap kali dilanggarnya perjanjian dengan Kompani. Satelah sampai, maka balatantara Belanda membakar beberapa kampung, serta orang Banda banyak dibunuhnya dan banyak pula dihantarkannya ka Batawi.
Maka dua tahun kemudian dari pada itu Tuan Kun berangkat ka negeri Belanda, maka gantinya bernama De Carpentier.
Bermula, maka tersebutlah perkataan karajaan Mataram. Adapun Sultan Ageng berkahendak Kompani mengaku di bawah hukumnya, tetapi Sungguhpun Kompani suka sakali bersahabat dengan Baginda, tetapi tiada mau menjadi hambanya. Oleh karena itu Sultan Ageng menaruh dendam dalam hatinya, serta bersumpah akan membalas Kompani, tetapi pada masa itu tiada sempat, sebab mula-mula saluruh tanah Jawa tengah dan timur hendak ditaalook-kannya.
Maka dialahkannya berturut-turut. Rembaug dan Paseruohan dan Gersik, sambil kampung dan negeri dibakar orang Mataram, dan beribu-ribu orang dibunuhnya dan beribu-ribu orang dijadikannya sahaya.
Kemudian dari pada itu pulau Madura dilanggar oleh raayat Mataram. yang tiada tepermanai banyaknya, saolaholah menutupi padang gunung. Maka pulau Madura habis dibinasakannya, dan Panembahan tiga orang dibunuhnya dengan titah Sultan Ageng, hanya Panembahan Sampang yang dipeliharakan nyawanya, sebab dahulu ia sudah memperhambakan dirinya kabawah Sultan Ageng. Di antara orang Madura yang tinggal 10.000 orang disuruhnya beralih ka tanah Jawa akan mendiami negeri yang sunyi karena perang.
Adapun negeri yang besar dan ramai sakali yaitu Surabaya, maka negeri itu dikepung joga oleh raayat Mataram. Maka dititahkan oleh Sultan Ageng anak buahnya mengobahkan hiliran Kali Mas; satelah sudah, maka bangkai orang dan binatang dibuangkan kadalam sungai yang hampir kering ayarnya itu, supaya terbitlah penyakit dalam kota itu. Pada akhihrya Adipati Surabaya tiada berdaya lagi, maka anak isterinya dengan tangannya terkebat disuruhnya menghadap Sultan Ageng akan memouhun maaaf. Maka Adipati diampuni dosanya oleh Sultan Ageng, asal ia mengaku taalook kapada Panembahan Mataram (pada tahun 1625).
Maka satelah Susuhunan Giri dialahkan oleh Sultan Ageng, maka raja-raja yang taalook memberikan gelar Susuhunan kepada Panembahan Mataram.
Kasudahannya Sultan Ageng berniat hendak mengalahkan Kompani; maka samantara balatantara dilangkapkannya Tuan Kun datang ka Batawi pula dengan berpangkat Gouverneur-Generaal (pada tahun 1627).
Moola-Moola Sultan Ageng mencoba mengalahkan Batawi dengan tipu daya. Pada suatu hari tahun 1628 sampailah ka Batawi beberapa perahu berisi beras padi dan lembu, yaitu bingkisan Susuhunan bagi Kompani. Adapun Gouverneur-Generaal syak hatinya, dititahkannya perahu diberi masuk kadalarn kota berdua sakali saja. Dengan sabenarnya banyak raayat Mataram bersemenbunyi dalam perahu itu; pada socatu malam yang kabut orang itu kalocar, lalu menyerang tetapi dihalaukan oleh soldadu Belanda.
Pada kaesukan harinya balatantara Mataram datang mengepung Batawi, hulubalangnyia besar bernama Tumenggung Bahu Reksa.
Maka beberapa lamanya orang Mataram mengelelingi Batawi, maka tiba-tiba marika-itu didatangi orang Kompani. Adapun orang Jawa alah, serta pecah belah; dalam bangkai orang di peperangan ada juga mait Tumenggung Bahu Reksa berdua dengan anaknya.
Maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu raayat Mataram 10.000 orang sampai ka Batawi; di bawah perentah panglima Sura-ing-ngalaga, tetapi balatantara itu tiada juga dapat masuk. Tiap-Tiap hari orang Jawa ada yang mati karena kasangsaraan dan karena penyakit, sahingga balatantara itu pulang saja. Pada kutika raayat Mataram hendak meninggalkan daerah Batawi, Sura-ing-ngalaga menyeruh bunuh lebih dari pada 700 anak buahnya beserta hulubalangnyia, sebab orang itu sia-sia menyerang. Khabarnya Sura-ing-ngalaga dibenuh juga oleh Sultan Ageng.
Adapun akan Susuhunan amat pedih hatinya, lagi dengan malunya kapada raja-raja di tanah Hindia. Maka dititahkannya, bahua raayat 80.000 orang dan alat senjata dikumpulkan; dan lagi di Tegal diboceat orang gudang yang besar berisi beras akan bekal balatantara itu.
Maka Tuan Kun tahu akan maksud Susuhunan, maka disuruhnya saorang laksamana membinasakan gudang itu. Satelah sampai ka Tegal, maka orang Kompani membakar gudang itu bersama beras 4000 pikul dan 200 buah porabu yang bermuat.
Hatta, maka balatantara Mataram berjalan empat bulan lamanya, baru sampai ka Batawi pada 21 hari bulan Augustus tahun 1629.
Maka dalam pada itu pun Kompani ditimpa untung malang yang amat besar, yaitu malam 21 hari bulan September Gouverneur-Generaal Kun mangkat. Maka segala orang Kompani dukacita amat sangat, maka mait Tuan Kun diarak oleh orang Batawi, lalu dikuborkan sabagaimana adat orang besar-besar.
Syahdan, maka pemerentah Kompani tiada menyeruroh soldadu kalocar akan berperang; pada sangkanya musuh itu tiada lama lagi akan undur, karena orang Mataram kakourangan makanan. Maka betullah pikiran itu: rayaat Susohunan kalaparan, sahingga terpaksa pulang, tetapi kira-kira saperempat saja yang sampai ka Mataram. Di jalan yang dilaluninya tersiar-siar bangkei orang dan bangkei kerbau dan mariam dan senjata, yang ditinggalkan orang.
Maka Sultan Ageng menitahkan bunuh beberapa panglima serta banyak anak buahnya.
¹ Pada sangka orang, yang faham dalam hikayat, Raja Jakarta bukan Raja yang bebas, melainkan taaluk kapada Raja Banten.
¹ Nama Batavia asalnya dari pada kota Batavier, yaitu nama bangsa orang, yang pada zaman dehuloce kala mengadami tanah Belanda. Batavia disebut Batawi oleh orang Hindia.
FASAL VIII.
HIKAYAT SULTAN HASANUDDIN DI MANGKASAR
Bermula, maka sejak balatantara Sultan Ageng alah di Batawi, maka Kompani makin lama bertambah mulia, serta dimaloci raja-raja di tanah Hindia, terutama sakali satelah Malaka dialahkan oleh orang Belanda pada masa pemerentahan G. G. Van Diemen (dari tahun 1636 sampai tahun 1645).
Adapun Gouverneur-Generaal itu berlayar ka pulau-pulau Molocko, lalu ditaalukkannya beberapa bangsa orang, yang durhaka kapada orang Belanda, sebab Kompani memaksa orang negeri menjucal rempah-rempah dengan harga, yang ditetapkan oleh Kompani, seraya menyeruroh tebang pohon pala dan pohon cengkeh dalam beberapa negeri, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak.
Syahdan, maka pada masa itu karajaan Mangkasar atau Goa mashur pada saluruh tanah Hindia; orang Mangkasar berlayar kapada segala bandar di pulau-pulau Hindia akan berniaga; maka bangsa-bangsa Hindia takut kapadanya, sebab orang Mangkasar dan orang Bugis perompak yang gagah berani.
Pada tahun 1653 ada saorang raja di tanah Goa, yang bernama Sultan Hasanu'ddin. Adapun Raja itu tiada mengendahkan Kompani: orang Moloko, yang durhaka kapada Kompani, dibantunya, tambahan lagi diperanginya Sultan Buton, yang bersahabat dengan orang Belanda. Maka di pulau itu pun ada sabuah benteng yang diduduki soldadu Kompani. Maski pun orang isi benteng amat berani kalakuannya, tetapi musuhnya masuk juga.
Maka pada kutika itu juga orang Belanda membakar obat bedil, sahingga benteng meletus: saorang pun tiada lepas dari pada bahaya maut, seraya orang Mangkasar amat banyak terbunuh juga.
Arkian, maka terdengarlah khabar kapada Gouverneur-Generaal Maetsuiyker (dari tahun 1653 sampai tahun 1678), bahua Sultan Hasanu'ddin berutus kapada Susuhunan Mataram akan berteguh-teguhan janji hendak memerangi Kompani. Maka dengan hal yang demikian itu Gouverneur-Generaal tiada sabar dari pada menyerang Mangkasar, maka angkatan kapal bersama-sama perahu orang Moloko, yang bermusuh dengan orang Mangkasar, berkumpul di pulau Ambon di bawah perentah laksamana dua orang, Truitman dan Van Dam namanya. Maka kalangkapan itu pun saku-nyung-kunyung tiba di pelabuhan Mangkasar; di situlah enam buah kapal Portugis berlabuh.
Mula-Mula kapal itu dibinasakan oleh orang Kompani, lalu marika-itu naik darat, maka sedang ramai berperang di alahkannya benteng Panakoke dekat Mangkasar.
Hatta, maka kemudian dari pada itu Sultan Hasanu'ddin berdamai; dijanjikannya bahua orang yang durhaka ka- pada Kompani tiada akan dibantunya lagi, serta Raja Mangkasar tiada berteguh-teguhan janji dengan Susu-hunan Mataram; dan lagi benteng Panakoke senantiasa di dalam tangan Kompani, (pada tahun 1660).
Satelah beberapa lamanya, maka Sultan Hasanu'ddin tiada menyampaikan janjinya. Pada suatu hari dua buah kapal Belanda terkaram di pantai tanah Mangkasar, maka kapal itu dirampas serta anak kapal dibunuh dengan sa-tahu Sultan. Maka wakil Kompani di Mangkasar menghadap Sultan, maka dipintanya perompak itu kena hukoom; akan tetapi Baginda menolak permintaan itu dengan perkataan yang tiada laik.
Maka sebab hal yang demikian itu Kompani berlangkap hendak berperang pula. Adapun laksamana Kompani, Cornelis Speelman, berangkat dari Batawi dengan membawa 13 buah kapal yang besar.
Maka pada kutika itu pun Sultan Buton tersesak oleh raayat Mangkasar, sahingga ia lari ka gunung. Maka dalam pada itu pun Admiraal Speelman sampai kasana, lalu habis membinasakan balatantara Mangkasar. Sudah itu, maka kapal Belanda berlayar ka Mangkasar; maka Sultan Hasanu'ddin minta am pun, dibayarnya uang akan bangun orang Kompani, yang dibunuh anak buhnhya, serta orang Mangkasar dilarangnya merompak lagi.
Adapun dalam perang itu Kompani ditulung oleh Pangeran Aru Palaka dengan orang Bone.
Kemudian, maka tersebutlah perkataan Pangeran Aru Palaka, anak raja di Sopeng.
Maka sakali peristiwa karajaan Bone dialahkan oleh orang Mangkasar, maka dalam perang itu pun Raja Sopeng, yang bercampur dengan orang Bone, ditawan, lalu dibunuh dengan titah Sultan Mangkasar, serta anaknya Aru Palaka menyadi bamba dalam astana Raja Mangkasar. Satelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka Pangeran Aru Palaka dapat lari ka Batawi akan memper-hambakan dirinya kapada Kompani.
Syahdan, maka ia pun menurut balatantara Belanda, yang memerangi orang Aceh di pulau Perca sabelah barat akan membantu Raja Menangkabau (dari tahun 1660 sampai tahun 1664). Maka terlalu berani kalakuan Pangeran itu. Pada masa perang Kompani dengan Mangkasar diajaknya orang Bone melepaskan dirinya dari pada hukum Raja Mangkasar. Adapun orang Bone mengusir orang Mangkasar seraya menulung Kompani akan memerangi Sultan Hasanu’ddin.
Sabermula, maka maski pun Sultan Hasanu’ddin telah merasai kuasa Kompani, tetapi dilangkahinya pula jangyinya, raayatnya melanggar sabuah perahu Kompani.
Adapun Tuan Speelman pada kutika itu tinggal di pulau Ambon, maka baru didengarnya khabar, bahua orang Mangkasar telah merampas perahu Kompani, maka segeralah disuruhnya laskarnya menyerang tanah Mangkasar.
Kalakian, maka balatantara Mangkasar alah di darat dan di Iaut, sahingga Sultan Hasanu’ddin tawar hatinya dan tunduck.
Maka fasal perdamaian itu amat berat kapada Sultan Mangkasar; yang terutama sakali, yaani:
Pertama: Segala negeri yang dahaelu ditaalukkan oleh Raja Mangkasar harus lepas dari pada hukumnyia.
Kadua: Kapal Mangkasar tiada boleh berlayar kasabelah timur tanjung Lasoa.
Katiga: Kompani beroleh monopolii beberapa macam dagangan di tanah Mangkasar.
Kaempat: Sultan Mangkasar membayar belanja perang 25000 ringgit.
Maka perdamaian itu bernama dalam hikayat perdamaian di Bungaya sapanjang nama kampung Bungaya dekat Mangkasar, tempat perjanjian itu ditetapkan oleh Tuan Speelman dan Sultan Hasanu’ddin.
Dan lagi raja negeri-negeri yang dilepaskan oleh Kompani mengaku Kompani menjadi Yang-dipertuan (pada tahun 1667). Hatta, maka pada tahun 1672 Raja Bone turun, ke- mudian raja-raja kecil di Bone memilih Pangeran Aru Palaka akan ganti Raja itu, menocrut adat kabanyakan karajaan di pulau Selebes, yaitu Raja harus dipilih oleh beberapa orang besar-besar (raja kecil).
Adapun Sultan Hasanu'iddin tiada dapat menahan hatinya; dititahkannya pula merompak sabuah kapal Kompani.
Satelah itu, maka Raja yang mungkir janji itu habis ditaalukkan oleh Kompani; kuasanya dikoorangi pula, segala benteng dan alat perang harus diserahkannya, tambaban lagi Sultan sakali-kali tiada boleh meninggalkan keratonnya di Ujung Pandan.
Demikianlah lenyap kabosaran tanah Mangkasar. Maka lama kalamaan karajaan Bone mengganti Mangkasar, sebab Raja Aru Palaka dan raja-raja yang kemudian dari padanya mengembangkan kuasanya, sahingga pada abad yang kade-lapanbelas banyak negeri di pulau Selebes taaluk kapada Raja Bone.
FASAL IX.
HIKAYAT SUSUHUNAN TEGAL WANGI DENGAN TRUNA JAYA
Alkesah, maka tersebutlah perkataan Sultan Ageng Raja Mataram. Adapun saumur hidupnya Baginda menaruh dendam yang amat sangat kapada Kompani; maka beberapa dicoba oleh Kompani hendak berdamai; baik dengan kakerasan, baik dengan lemah lembut, tiada juga menjadi.
Hatta, maka G. G. Van Diemon mencahari daya upaya hendak melepaskan orang Belanda, yang telah ditawan di Japara.
Sakali peristiwa beberapa utusan Susuhunan menum-pang di kapal Inggeris akan mempersesembahkan bingkisan kabawah Syarif (penghulu agama) di Mekah, sebab Susuhunan telah beroleh gelar Sultan dari pada Syarif itu. Maka kapal itu dilanggar oleh kapal Kompani; serta suruhan itu ditawan, anak kapal dibantarkannya ka Batawi. Akan tetapi Sultan Ageng tiada juga mau mempertukarkan tawanan itu dengan orang Belanda di Mataram.
Arkian, maka pada taheen 1646 Sultan Ageng mangkat; yang menggantikan karajaannya yaitu puteranya yang bungsu, Susuhunan Amangku Rat namanya; sateleh Raja itu berpulang, maka namanya Susuhunan Tegal Wangi juga.
Demi Susuhunan itu naik takhta karajaan, maka tawanan Belanda dilepaskannya samuanya, serta dititahkannya utusan ka Batawi hendak berdamai.
Maka pemerentah Kompani bermasyawarat dengan suruhan itu; satelah putus bicaranya, maka ditentukannya perkara yang di bawah ini, yaani:
Pertama: Sakali satahun Kompani menyeruh utusan kapada Susuhunan akan memberi tahu harta benda apakah yang endah-endah telah dibawa dari negeri Belanda ka Batawi.
Kadua: Kompani berjangji hendak memerangi raja yang durhaka kapada Susuhunan, asal raja itu bermuseoh dengan Kompani; demikian pula Susuhunan berjangji akan memerangi musuh Kompani.
Katiga: Anak buah Susuhunan tiada boleh berniaga di pulau-pulau Moluko, dan lagi nakhoda kapal Mataram yang melalui negeri Malaka harus minta izin kapada Kompani.
Sabermula, maka kemudian diceriterakan hikayat Susuhunan Tegal Wangi.
Bahua senya raja-raja di tanah Hindia pada zaman itu memerentah dengan sakahendknya saja; ia pun dihormati dan disembah oleh anak buhnya saperti dewa; oleh karena itu sejak kecilnya raja itu berbuat sasuka hatinya serta memuaskan hawa nafsunya: saorang jua pun tiada boleh menyalahkan kalakuannya. Dengan hal yang demikian itu anak buhnya disangkakannya hamba sahaya, yang hina sakali, saolah-olah permainan saja; sebab itu raja yang kabanyakan lalim; acap kali anak buhnya dibunuhnya akan memuaskan murka atau kasuaan Baginda.
Adapun dalam Raja-Raja Mataram Susuhunan Tegal Wangi ialah yang terlebih buruk namanya, karena bengisnya dan nafsunya yang jahat.
Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera ini, ba-hua Susuhunan mencahari akal hendak membinasakan Patihnya Wira Guna; inilah nulanya kabencian Baginda: Pada masa ayahenda Baginda lagi hideep, maka dilarikan oleh Pangeran Adipati Anom¹ akan saorang gundik Wira Guna; Adapun Patih itu menghadap Sultnan Ageng serta mengadukean halnya; akan tetapi Baginda murka kapadanya, sebab gundik itu tiada dipersembahkannya kapada Pangeran Adipati Anom. Maka Pangeran itu kena murka ayahenda juga, ia pun dititahkannya mengembalikan gundik itu kapada suaminya. Maka titah itu dijunjungnya, sambil ia bersumpah dalam hatinya Patih itu akan dibinasakannya kelak.
Satelah Pangeran Adipati Anom naik raja, maka dititahkannya Wira Guna menaaloukkan karajaan Belambangan dan pulau Bali, akan tetapi raayatnya sadikit orang saja, sahingga perentah itu tiada boleh dilakukannya; oleh karena itu Wira Guna dibunuh bersama-sama sakalian ka-umnya dengan titah Susuhunan.
Adapun kakanda Baginda Pangeran Alit bersahabat dengan Patih Wira Guna, sebab itu ia pun katakutan, kalau-kalau binasa juga; dan lagi Susuhunan dibencinya, karena ialah yang dirajakan ayahenda.
Maka Pangeran itu bermuafakat dengan beberapa orang besar-besar dan orang alim hendak menurunkan Baginda; akan tetapi rahasia itu terbuka akan Susuhunan, maka dititahkannya hulubalangnyra membunuh orang besar-besar yang durhaka itu. Sudah itu, maka Pangeran Alit dipanggil menghadap Susuhunan. Tatkala Pangeran Alit sudah masuk kadalam penghadapan, maka Baginda mencenjukkan kapala sahabatnya, sambil Pangeran Alit dititahkannya menikam kapala itu dengan kerisnya sendiri. Kemudian Pangeran Alit dihantarkan orang kapada gurunya yang lama, supaya budi akalnya bertambah terang. Adapun Pangeran Alit amat malou, kasuedahannya tiada dapat menahan hatinya lagi, melainkan masuk kadalam astana Susuhunan salaku orang gila, kerisnya terhunus hendak ditikamkannya kapada Baginda. Maka kawal Madura diisyaratkan oleh Susuhunan, lalu Pangeran Alit dibenuhnya.
Syahdan, maka Susuhunan berniat hendak membunuh orang alim, yang bersakutu dengan Pangeran Alit, tiada dikatahoinya siapa dalam orang alim itu durhaka, siapa tiada. Maka segala orang alim dipanggil Susuhunan; satelah berkumpul, maka marika-itee samuanya habis dibenuh oleh raayat Susuhunan bersama-sama sanak saudaranya pun; demikianlah dalam satengah jam lamanya kira-kira 6000 orang mati.
Sakali peristiwa Susuhunan kamatian saorang isterinya, yang amat sangat dikasehinya; maka tatkala mait permaisuri itu dikuburkan, maka dititahkan Baginda mengurung perampuan saratus orang, hingga mati kalaparan samuanya; yaitu akan alamat cinta Baginda kapada isterinya, yang telah berpulang itu.
Jikalau segala hal ahwal kalakuan dan tabiat Susuhunan Tegal Wangi diceriterakan, niscaya jemu orang yang membaca hikayat ini; yang diriwayatkan di atas ini sudah cukup.
Sabermula; Sungguhpun orang yang kabanyakan pada zaman itu biasa dianiaya oleh rajanya, tetapi lalim dan bengis Susuhunan Tegal Wangi tiada terderita lagi; saorang juapurn tiada senang hati, baik orang besar, baik orang kecil: sanak saudaranya pun kecil hati.
Maka dengan hal yang demikian itu, tatkala saorang Pangeran hendak melepaskan dirinya dari pada hukoom Susuhunan, maka sadikit orang saja, yang setia kapada Baginda. Adapun Pangeran, yang durhaka kapada Susuhunan saorang Pangeran Madura, Truna Jaya namanya.
Alkesah, maka Pangeran Truna Jaya anak saudara Panembahan di Sampang, Cakra-ning-Rat II namanya. Adapun akan Truna Jaya timbullah niat dalam hatinya hendak naik raja; maka maksudnya itu mudah disampaikannya, sebab orang Madura tiada senang hati, seraya Panembahan Cakra-ning-Rat senantiasa duduk di Plered.²
Hatta, maka pada tahun 1675 Pangeran Truna Jaya berteguh-teguhan janji dengan dua orang Mangkasar, Kraeng Galesung dan Bonto Burane namanya. Adapun tatkala Sultan Hasanu'ddin dialahkan oleh Admiraal Speelman, maka kadua orang itu meninggalkan negerinya dengan anak buahnya, lalu merompak dan merusakkan negeri-negeri di pantai laut.
Satelah sudah berkumpul dengan Truna Jaya, maka orang Mangkasar duduk di Pasuruhan dan di Besuki serta didirikannya kubu dan benteng di situ. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka datanglah raayat Mataram akan mengusir orang Mangkasar, akan tetapi balatantara itu habis dibinasakan oleh orang Mangkasar dan orang Madura.
Kemudian dari pada itu Susuhunan minta pertulungan kapada Kompani sapanjang perjanjian pada tahun 1646. Mula-Mula G. G. Maetsuiyer tiada mau mencampuri hal ahwal karajaan Mataram, tetapi pada akhiirnya dibuatnya juga, sebab orang Mangkasar merompak perahu orang Jawa, yang hendak berlayar ka Batawi.
Adapun soldadu Belanda mengalahkan orang Mangkasar, serta Bonto Burane mati tengah perang itu; kemudian balatantara itu pulang ka Batawi. Pada sangka panglima besar Belenda orang Mangkasar, yang cerai berai itu dapat habis dibinasakan oleh balatantara Mataram, yang akan datang di bawah perentah anak sulung Susuhunan. Maka Pangeran itu pun lalai dan lambat dan koorang berani; oleh karena itu orang Mangkasar sempat berhim pun, lalu dialahkannya balatantara Mataram yang amat banyak itu.
Maka sebab hal yang demikian itu orang Jawa bertambah-tambah banyak menyembah Pangeran Truna Jaya; jangankan orang di pantai laut, di tengah-tengah tanah Jawa pun orang tiada menjunjung lagi titah Susuhunan, maka kapala orang yang durhaka itu yaitu Raden Kajoran, niaratua Truna Jaya.
Adapun akan Susuhunan yang sudah berumur lagi dengan lemah badannya itu saolah-olah hilang akalnya; kasukaannya menggombala kambing dan main layang-layang. Maka dalam pada itu pun raayat Raden Kajoran berjalan ka Plered. Demi terdengar khabar itu kapada Susuhunan, maka ia lari diiringkan beberapa orang, yang lagi setia kapadanya. Mula-Mula Baginda berlindung ka kuburan nenek moyangnuya di Imagiri, lalu ia bertemu dengan puteranya dua orang, akan tetapi Pangeran itu segan menulung ayahenda Baginda. Maka empat hari lamanya Susuhunan berjalan, maka di Bagelen bersualah ia dengan Pangeran Adipati Anom.
Syahdan, maka Baginda berdua puteranya berjalan pula kasabelah utara hendak mendapatkan orang Belanda. Akan tetapi di Ajibarang Susuhunan jatuh sakit, serta merasa ajalnya sudah sampai. Maka beberapa alat karajaan, yang dibawanya, diamanatkannya kapada Pangeran Adipati Anom, serta memberi nasihat kapada puteranya hendak memuhun-kan portelungan kapada Kompani. Maka dua hari lamanya lagi Baginda berjalan berusung, lalu ia meninggal dunia, sapanjang babad Jawa mait Susuhunan dikuburkan orang pada sabidang tanah yang harum baunya; sebab itu Susuhunan dinamai Susuhunan Tegal (= ladang) Wangi (= harum). Sungguhpun Susuhunan amat bengis dan lalim kalakuannya, tetapi sampai sakarang juga banyak orang Jawa berziarah ka keramat itu dekat Tegal.
Bermula, maka samantara Susuhunan Tegal Wangi lari dari dalam keratonnnya, maka datanglah pula soldadu Kompani di bawah perentah Admiraal Speelman ka Surabaya; lalu dihalaukannya Pangeran Truna Jaya dari situ, akan tetapi Truna Jaya lari ka udik sampai ka Kediri. Tambahan lagi Raden Kajoran merampas keraton di Plered, maka segala harta benda dan isteri gundik Susuhunan dihantarkannya ka Kediri.
Kalakian, maka lama kalamaan Pangeran Adipati Anom sampai kapada Admiraal Speelman di Japara akan meminta pertulungan, sebab hampir segala bupati tiada mau mera-jakan dia. Adapun Pangeran Adipati Anom laai dan lengah saja, dan tiada bersungguh-sungguh hati menulung Kompani akan menaalukkan orang yang durhaka itu.
Maka pada tahun 1678 Tuan Speelman berteguh-teguhan janji dengan Pangeran Adipati Anom, fasalnya yang ter-utama sakali, yaani:
Pertama: Perjanjian pada tahun 1646 diulangkan.
Kadua: Susuhunan membayar belanja perang; sabelum dibayarnya, maka Kompani memungut beya di bandar-bandar Mataram.
Katiga: Kompani boleh mendudukkan soldadu di Japara.
Kaempat: Daerah Kompani diluaskan sampai ka Ci Pamanockan dan sampai ka laut Hindia.
Kalima: Kompani beroleh monopolii beberapa macam barang dagangan.
Hatta, maka satelah beberapa bulan lamanya Kompani beroleh lagi negeri Samarang dengan daerahnya.
Syahdan, maka pada tahun 1678 itu juga G. G. Maetsuiyker mangkat, sebab itu Tuan Van Guns naik Gouverneur-Generaal, serta Tuan Speelman menjadi Directeur-Generaal.
Adapun Gouverneur-Generaal yang baru itu menyuruh berperang dengan sungguh-sungguh, maka 2300 orang soldadu
Kompani berhim pun di Japara di bawah perentah Gouverneur di pulau-pulau Moloko, Antonie Hurdt namanya. Satelah balatantara itu berkumpul dengan raayat Adipati Anom, maka Tuan Hurdt menyouroh soldadunya berjalan ka Kediri.
Maski pun hal tanah Jawa tengah tiada dikatahui orang Belanda, dan lagi jalan amat buruk, maka Tuan Hurdt maju saja, sambil dialahkannya orang Mangkasar dan orang Madura, yang hendak menahan orang Belanda, lama kalamaan orang Kompani dengan susah payah yang tiada terkira-kira masuk kadalam Kediri, sambil perang terlalu ramai. Maka Truna Jaya sempat lari, sebab orang Jawa, yang disouroh Tuan Hurdt mengelelingi keraton, merampas harta benda saja.
Adapun Pangeran Adipati Anom tiada bercampur dalam perang itu, melainkan esok hari baru ia masuk kadalam keraton dan meminta kapada Tuan Hurdt makota Mataram, yang ditinggalkan oleh Truna Jaya.
Syahdan, maka pada hari lusa Tuan Hurdt memberikan makota kepada Pangeran Adipati Anom, serta merajakan dia bersama-sama manteri-manteri dengan gelar Susuhunan Amangku-Rat.
Bermula, maka Pangeran Truna Jaya dikejar oleh laskar Kompani masuk hutan kaleear hutan, masuk padang, kaleear padang, sahingga ia berlindung ka gunung Klut; tetapi disitoolah raayatnya kakorangan makanan. Sebab itu Truna Jaya terpaksa menyerahkan dirinya, lalu dihantarkan orang kapada Susuhunan (pada tahun 1679).
Maka pada kutika ia pun menghadap Susuhunan berdatang sembah, rupa-rupanya Baginda lembut hati, tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka Truna Jaya dibunuhnya sendiri.
Arkian, maka orang yang lagi durhaka dialahkan berturut-turut oleh Kompani: orang Mangkasar habis dibinasakan dekat Bangil, serta Kraeng Galesung mati terbunuh; Raden Kadoryan ditawan, lalu dibunuh; kasudahannya adinda Baginda, Pangeran Puger alah juga. Adapun Pangeran
Puger telah mengaku dirinya Susuhunan; satelah balatan-taranya dicerai-beraikan oleh laskar Kompani di tepi sungai Bagawanta, maka ia tawar hati serta meminta am pun.
Maka pada masa itu Susuhunan tiada bersemayam lagi di Plered, melainkan dalam keratonnya yang baru di Karta-sura-adi-ning-Rat, disabelah negeri Surakarta yang sakarang.
¹ Pangeran Adipati Anom yaitu gelar putera raja, yang akan menjadi ganti ayahenda, jadi dalam ceritera ini Pangeran Adipati Anom yaitu Susuhunan Tegal Wangi.
² Plered yaitu tempat kadudukan Sultan Tegel Wangi dekat negeri Jogyakarta yang sakarang.
FASAL X.
HIKAYAT SULTAN TIRTAYASA DENGAN SULTAN HAJI DI BANTEN
Alkesah, maka pada tahun 1651 mangkatlah Sultan Banten, maka gantinya yaitu Abu'lFath Abu'lFatah cucunda Marhum; Adapun Sultan itu dinamai dalam hikayat Sultan Ageng atau Sultar Tirtayasa. Maka Sultan itu cerdik bijaksana dan tetap hati, serta rukun Islam dikerjakannya dengan sungguh-sungguh, tetapi kalakuannya acap kali bengis dan hatinya tiada lurus. Maka saumur hidupnya Sultan itu dangki kapada Kompani, niatnya hendak meramaiken Banten serta membinasakan Batawi.
Adapun raayat Sultan Banten merompak dan kadang-kadang me-langgar kampung di daerah Batawi; maka kalau kapal Kompani datang mengempang perahu di pelabuhan Banten, maka Sultan Tirtayasa berdamai, tetapi baru kota Banten tiada tersesak lagi, maka kalakuan orang negeri itu saperti sediakala.
Hatta, maka pada suatu hari tahun 1671 orang ramai di alun-alun (medan) Banten, sambil mariam ditembakkan dan nobat karajaan dipalu oranglah, sebab putera Sultan yang sulung naik Raja Muda serta digelari oleh Syarif di Mekah Sultan Abu'nNasar Abu'lKahar; sapanjang adat Banten, kalau
Raja sudah berumur, maka puteranya yang sulung memerentah berdua dengan ayahenda Baginda.
Kemudian dari pada itu Sultan Ageng meninggalkan kota Banten hendak bersemayam di keratonnya yang baru di Tirtayasa di situlah disuruhnya gali sabuah terusan yang menghubengkan Ci-Ujung dengan Ci-Durian. Maka dalam orang yang mengerjakan pekerjaan itu ada yang kena hokum karena makan madat dan minum rokok, sebab pada sangka Sultan kasuekaan itu haram. Adapun terusan itu dinamai orang Tirtayasa¹, oleh karena itu Sultan Ageng bernama juga Sultan Tirtayasa.
Arkian, maka tiada berapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka adalah kadua Sultan itu berselisih, sebab Sultan Tirtayasa tiada mau memberikan saparo labanya perniagaan kapada puteranya, dan lagi ia pun khawatir, kalau-kalau Sultan Muda berniat hendak memerentah tanah Banten saorang diri. Kasudahannya Sultan Abu'nNasar turun raja, lalu naik haji ka Mekah akan membesarkan namanya; satelah dua tahun lamanya, pulanglah ia ka negerinya. Oleh karena itu Sultan Abu'nNasar dinamai juga Sultan Haji.
Maka samantara itu Sultan Tirtayasa diasut oleh Mangku Bumi menyadikan Pangeran Purbaya putera Baginda yang sulung, Sultan Muda di tanah Banten, tetapi ia pun tiada berani sebab Sultan Haji dihormati dan dikasehi amat sangat oleh anak buhnya; sebab itu Sultan Haji naik Sultan Muda pula, serta Sultan Ageng berangkat pula ka Tirtayasa hendak diam di situ.
Syahdan, maka Sultan Tirtayasa amat sukacita melihat orang Belanda kasusahan karena perang dengan Pangeran Truna Jaya, maka raayatnya disuruhnya merompak kapal Kompani dan melanggar kampung di daerah Batawi; tambahan lagi Raja-Raja Cerebon² dibujuknya bermusuh dengan Kompani; sahingga hendak diperolehnya Krawang dan Sumedang, karena kadua luak itu masuk jajahan Cerebon pada zaman dahelu kala; oleh sebab itu Gouverneur-Generaal menyouruh bangunkan sabuha benteng di Tanjung Pura di batas Krawang dengan Cerebon.
Adapun Sultan Tirtayasa bertambah-tambah berani mengganggu Kompani, maka disuruhnya utusan ka Jambi dan ka Siam dan ka Ternate pun akan mengasut Raja-Raja negeri itu hendak memerangi Kompani.
Sakali peristiwa pada socatu hari Sultan Tirtayasa ada di penghadapannya, dihadap oleh segala manteri, hoolubalang, raayat sakalian, maka wakil Kompani dan utusan Raja Pransman dan utusan Raja Inggeris dan utusan Raja Denemarken halir juga. Maka titah Sultan kapada Resident Belanda, bahua Batawi niscaya akan dilanggar oleh raayatnya, jikalau kiranya Kompani berani memerangi Raja Cerebon. Adapun G. G. Van Guns amat marah, maka pada tahun 1680 dititahkannya balatantara ka Cerebon; maka negeri itu dialahkan dengan mudah, serta Raja Cerebon mengaku Kompani Yang-dipertuan.
Hatta, maka lepas perang Truna Jaya, Sultan Haji minta berdamai dengan Kompani, tetapi permintaan itu tiada dikabulkan oleh Gouverneur-Generaal, sebab tiada dengan satahu Sultan Tua. Maka Sultan Haji diasut oleh sahabatnya, katanya; bahua ayahenda Baginda berniat menu-runkan dia dan mengangkat Pangeran Purbaya; baiklah Sultan Haji menyadi raja saorang diri.
Arkian, maka pada tahun 1682 Sultan Haji mengaku dirinya Sultan Banten, lalu dilepaskannya segala manteri, yang tiada berbaik dengan Kompani, supaya orang Belanda hendak bersahabat dengan dia; dan lagi Sultan Haji melarang raayatnya merompak dan menyamun di tanah Kompani.
Maka dalam pada itu pun Sultan Tirtayasa tiada menghentikan tangan saja, melainkan menghimpunkan segala raayatnya yang setia, lalu berperang. Adapun Sultan Haji tiada selamat dalam perang itu, tambahan lagi panglima besar dua orang khianat pergi menyembah Sultan Tirtayasa.
Maka pada suatu hari tiba-tiba terbakar beberapa rumah di kota Banten, maka sedang orang negeri gemparlah, maka rayaat Pangeran Purbaya masuk, sahingga Sultan Haji lari berlindung kadalam benteng Surusuan, lalu dike-pung musuhnya.
Maka bingunlah Sultan Haji tiada berdaya lagi; maka dalam benteng itu ada saorang-orang Belanda, namanya Yakob de Rooy; maka ia pun dapat memberamkan hati Baginda, katanya: »Janganalh sakali-kali Pangeran Purbaya diberi masuk, melainkan baiklah Tuanku minta bantuan kapada Kompani.“—Adapun isteri Sultan membenarkan perkataan Tuan de Rooy, lalu salekas-lekasnya dikirimnya dengan izin suaminya sapucuk surat kapada Gouverneur-Generaal Speelman akan menyatakan segala hal ahwal Banten dan akan memuhunkan pertelungan; kalau musuhnya alah, tentu Kompani akan beroleh monopolii di Banten.
Maka pada bicara pemerentah Kompani, apabila Sultan Haji memerentah di Banten, baru Batawi sentausa, sebab itu dua buah kapal berisi soldadu dititahkannya ka Banten. Satelah sampai, maka laskar itu tiada dapat naik darat, sebab saluruh pantai dijaga oleh rayaat Sultan Tirtayasa disertai orang Inggeris dan orang Pransman.
Hatta, maka salekas-lekasnya Kompani menyediaan pula angkatan perang, laksamananya saorang-orang yang cerdik bijaksana lagi berani, namanya Tuan Tak. Maka kapal itu sakunoyung-kunyung tiba di pelabokhan Banten, lalu soldadu yang pilihan dalam sekoci beraoyeng dengan per-lahan-lahan ka darat. Maka saparonya sudah naik darat, baru dikatahui orang Banten musuhnya telah datang.
Maka oleb kawal dipalunya gong akan tanda bangoon, maka orang Banten teperanjat dari pada tidurnya, lalu datang berlari-larian mengamuk musuhnya, sambil bertempik; akan tetapi segala orang Kompani dapat naik darat serta diundurkannya orang Banten.
Kemudian dari pada itu soldadu Kompani dihambat pula oleh raayat Banten yang amat banyak dekat kampung Karang Hantu; maka terlalu haibat perang itu: mariam dan bedil tiada dapat dipakai orang, sebab malam kelam kabut, melainkan kadua belah pihak berperang sama saorang tikam menikam parang memarang; pada akhirnya orang Banten lari.
Maka hari pun sianglah kutika balatantara Belanda sampai ka Surusuan. Adapun Sultan Haji amat sukacita, disongsonganya Kommandeur Tak hendak menyembah kakinya, tetapi Tuan Tak segeralah mendirikan Baginda.
Syahdan, maka balatantara Belanda mengaluari raayat Sultan Tirtayasa di daerah kota Banten, sahingga musuh Sultan Haji dikejarnya sampai ka gunung-gunung.
Adapun perang itu tiada putus, sabelum Sultan Tirtayasa ditawan; maka Sultan itu lagi duduk di keratonnya berserta banyak anak buahnya, dan lagi perahunya amat banyak mengedari laut akan merompak di mana-mana saja.
Pada penghabisan tahun 1682 Kompani menyerang Tirtayasa dengan sungguh-sungguh; balatantara Belanda dibahagi dua tumpuk; satumpuk sabelah timur, satumpuk sabelah barat. Maski pun raayat Sultan Tirtayasa amat gagah berani kakluannya, tetapi tiada juga dapat ditahannya musuhnya. Pada suatu malam keraton di Tirtayasa ditinggalkan oleh Sultan Tua, maka dilettakkannya murang yang telah dicucuhkannya di dalam gudang obat bedil.
Satelah Sultan bersama-sama anak buahnya sudah jauh, maka keraton itu meletus saperti gunung api, maka sasaat lagi habis runtuh.
Arkian, maka Sultan Tirtayasa kadua puteranya Panggeran Purbaya lari barang kamana dibawa untungnyia, sambil dikejar oleh raayat Sultan Haji dengan tiada berkaputusan. Pada tahun 1683 Baginda menyerahkan dirinya, lalu dihantarkan orang ka kota Banten, kemudian ka Batawi; di situlah Sultan Tirtayasa mangkat pada tahun 1692.
Adapun Sultan Haji amat sangat murkanya kapada barang siapa, yang telah menulung ayahenda, maka segala orang Inggeris dan orang Pransman dan orang Portugis dan orang Denemarken samuanya dibuangnyia dari tanah Banten. Maka Kompani diberinya monopolii lada di Banten serta jajahannya, dan lagi Raja-Raja Cerebon kemudian lepas dari pada hukum Sultan Banten; maka Sultan Haji tiada membayar belanja perang, asal perjanjiannya itu tiada dilanggarnya.
¹ Tirta = ayar; yasa = dibucat.
² Raja Cerebon 3 orang; yang pertama bergelar Raja Syamsu'ddin atau Raja-Sepuh; yang kadua bergelar Raja Kamaro'e‘ddin atau Raja-Anom, pada tahun 1677 Raja itu beroleh gelar Sultan dari pada Sultan Tirtayasa.
FASAL XI.
HIKAYAT SURAPATI DAN SUNAN MAS
Alkesah, naka tersebutlah perkataan Pangeran Purbaya, adinda Sultan Haji; Adapun Pangeran itu dengan pengiringnya mengombarra di tanah Priangan, dikejar oleh raayat Kompani, yang hendak menawan dia.
Maka sakali peristiwa beberapa soldadu Belanda di bawah perentah Kapitein Ruiys bertemu dekat desa Cikalong¹ dengan sakawan sahaya, yang telah lari dari Batawi; kahidu-pannya menyamun; maka orang itu berbagai-bagai bangsanya, kapalanya entah peranakan Bali entah peranakan Mangkasar, namanya Surapati.
Adapun Kapitein Ruiys membujuk orang itu masuk pekerjaan Kompani dengan janji dosanya diampuni Kompani, asal dicarinya tempat Pangeran Purbaya. Maka Surapati berusaha menangkap Pangeran itu, lagi kalakuannya baik, sebab itu ia pun dijadikan Luitenant oleh Kapitein Ruiys.
Kasudahannya Pangeran Purbaya puas hatinya dikejar musuhnya, maka dikirimnnya sapucuk surat kapada Gouverneur-General akan minta maaf. Maka permintaan itu dikabulkan oleh Tuan Besar, seraya dititahkannya Luitenant
Kuffeler menyampaikan surat am pun kapada Pangeran Purbaya serta menyuruh Surapati berbalik ka Batawi.
Maka pada kutika itu juga Kapitein Ruiys menyuruhkan Surapati beserta dengan dua orang kapala Jawa pergi bertemu dengan Pangeran Purbaya. Tatkala sampai ka Cikalang, maka Pangeran Purbaya baru menerima surat Tuan Besar. Adapun Tuan Kuffeler tiada adat Jawa, maka Pangeran Purbaya dengan pengiringnya dipintanya menyerahkan kerisnya, sebab marika-itu tawanan Kompani. Maka sia-sialah Pangeran Purbaya mencoba mengobahkan pikiran Tuan Kuffeler dengan perlahan-lahan dan dengan manis perkataannya, katanya: «Ya, Tuan! bukan adat orang Jawa menanggalkan kerisnya, janganlah kiranya Tuan malukan saya; saya ini bukan tawanan, sebab saya sudah beroleh am pun dari pada Tuan Besar!»—Akan tetapi Tuan Kuffeler tiada juga menerima permintaan itu.
Adapun segala perkataan itu didenger oleh Surapati, maka dicobanya juga mengobahkan pikiran Luitenant itu; akan tetapi Tuan Kuffeler marahlah serta merentak dan berseru-seru, katanya, bahua sakali-kali jangan patut saorang bekas budak masuk mulut dalam perkara itu. Pada akhiirnya Pangeran Purbaya berjanji esok hari kerisnya akan diserahkannya; tetapi malam hari ditinggalkannya Cikalang.
Syahdan, maka malam itu juga Surapati bermasyawarat dengan kawanu ya hendak membalas kalakocan Tuan Kuffeler; lalu sakunoyung-kunyung diamuknya laskar Kompani, sahingga kira-kira duapeluh orang mati terbunuh; yang tinggal lagi dibawa oleh Tuan Kuffeler dengan susah payah ka Tanjung Pura.
Arkian, maka duabelas hari kemudian dari pada itu Pangeran Purbaya datang menyembah Kompani, maka ia pun disambut oleh Gouverneur-Generaal dengan lemah lembut.
Adapun Surapati dengan kawannya menyamun pula di tanah Priangan, sahingga saorang panglima disuruh Kompani menangkap akan dia. Maka penyamun itu banyak yang dibenuhnya, tetapi Surapati lari kasabelah timur sampai ka Kartasura, serta memperhambakan dirinya kabawah Susuhunan Amangku-Rat (pada tahun 1684).
Adapun sejak perang dengan Truna Jaya di Kartasu- ra ada saboceah benteng ketiyil, yang didodudoki beberapa soldadu Belanda, panglimanya pada masa itu Kapitein Grevink namanya. Maka terdengarlah khabar kapadanya, bahua Surapati dipeliharakan oleh Susuhunan; maka ‘dipintanya kapada Baginda atas nama Kompani, mudah-mudahan Surapati diserahkan kadalam tangannya, akan tetapi Susuhunan menolak permintaan itu.
Hatta, maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu dalam tahun 1686 Kapitein Tak dititahkan oleh Gouverneur-Generaal akan melihat loji-loji di pantai Jawa sabelah utara, dan lagi akan membicarakan hal ahwal Raja Cerebon tentang Susuhunan dan tentang Kompani, serta akan menyampaikan permintaan Surapati diserahkan kapada Kompani.
Tatkala Tuan Tak di Samarang, maka disuruhnya Kapitein Leeman beserta dengan beberapa soldadu berjalan dahulu ka Kartasura akan menjaga bingkisan Kompani bagi Susuhunan.
Maka di tengah jalan Tuan Tak beroleh sapucuk surat dari pada Mangku Bumi Mataram, bunyinya: bahua balantara Susuhunan hendak membinasakan Surapati bersama-sama dengan raayatinya, baiklah soldadu dalam benteng Kompani di Kartasura tiada menuloong.
Arkian, maka kutika Kapitein Tak sudah dekat Karta- sura, maka ia pun bertemu dengan orang Jawa dan orang Madura yang lari. Maka bertanyalah Kapitein Tak, apa sebabnya orang sakian banyak lari samuanya, jawabnya, bahua marika- itu telah disuruh mengepung dan menangkap Surapati, tetapi marika-itu dialahkannya. Satelah Tuan Tak sampai ka keraton, maka dikhabarkan orang, bahua Susuhunan sudah berangkat pura-pura hendak menawan Surapati.
Syahdan, maka Kapitein Grevink disuruh oleh Tuan Tak menunggu keraton dengan beberapa soldadu, kemudian
Kapitein Tak dengan raayatnya kaluear hendak mendapatkan Surapati kasabelah timur sapanjang nasihat Bupati Japara. Adapun balantantara itu tiada bertemu dengan Surapati, sebab khabar Bupati Japara itu bohong saja. Satelah sudah berjalan beberapa lamanya, maka terdengarlah bunyi mariam dan bedil, serta kalihatan api yang besar di atas keraton.
Maka dengan segera Tuan Tak berbalik, sudah sampai, maka didapatinya Kapitein Grevink dengan soldadunya dibuenuh orang, masyid raya terbakar serta Surapati dengan kawannya duduk di astana Susuhunan dikepung oleh raayat Mataram. Maka anak bual Surapati mengamuk hendak kaluear dari pada tempatnya, sambil menyerbukan dirinya kadalam musuhnya, sahingga orang Mataram diundurkannya kacau balau samuanya. Maka orang yang lari itu bercam-pur dengan laskar Kompani; perentah officier tiada kadengaran lagi, karena hiru-hara yang tiada terkira-kira itu, serta asap dan api menahan pemandangan. Maka orang Belanda kabanyakan mati; Tuan Tak pun kena tumbak kutika hendak naik kuda, lalu mati; orang yang tinggal lagi dihimpunkan oleh Kapitein Leeman, dihantarkannya masuk kadalam benteng. Pada sangkanya segala hal ahwal itu dengan satahu Susuhunan, yang mengahendaki membunuh Tuan Tak; maka bagaimana sakali pun suruhan Baginda mencoba mengobahkan pikirannya, tetapi tiada juga dapat.
Kalakian, maka lepas perang di Kartasura itu, maka Surapati berjalan ka sabelah timur, sambil merampas di kampung yang dilaluinya.
Kasudahannya sampailah ia ka Pasuruhan; maka dihalaukannya Bupati negeri itu serta mengaku dirinya raja. Maka sebab Surapati cerdiik dan adil dan berani, maka makin lama makin banyak orang memperhambakan dirinya kapadanya, sahingga karajaannya dikembangkannya dari Panaraga sampai ka Puger, dan dari Bangil sampai ka Iaut Kidul.
Bermula, maka lama kalamaan nyatalah kapada Gouverneur-Generaal, bahua bukan Susuhunan yang hendak bermusoh dengan Kompani, melainkan Pangeran Adipati Anom dengan
Mangku Bumi yang melakukan khianat itu kapada Kapitein Tak; akan Susuhunan Amangku-Rat pemerentahan negeri Mataram tiada berapa difadulikannya.
Adapun Kompani tiada mengendahkan lagi akan Susuhunan, orang isi benteng di Kartasena erat dititahkannya berjalan ka Samarang, dan lagi beberapa perkara diselesaikannya sendiri saja, upamanya: Sultan Cerebon dititahkan Kompani lepas dari pada hukum Mataram dan taalook kapada Kompani; demikian juga Kompani mengangkat saorang Panembahan di Madura dengan tiada menanyakan rila Susuhunan.
Hatta, maka pada tahun 1703 mangkatlah Susuhunan Amangku-Rat, maka puteranya naik raja. Adapun Raja itu Amangku-Rat-Mas namanya, tetapi dalam hikayat Raja-Raja Mataram ia pun dinamai Sunan-Mas. Maka Sunan-Mas tiada dikasehi oleh anak buahnya, sebab hatinya gaduk dan bengis saperti laku Susuhunan Tegal Wangi; acap kali dibunohnhya anak buahnya dengan tiada samena-mena saja. Maka diceriterakan oleh sahbul'hikayat kaseokaannya mengadu harimau dengan perampuan yang telanjang!
Maka tiada berapa lamanya Sunan-Mas sudah naik Susuhunan, maka adalah Pangeran Puger, bapa bongsunya, lari ka Samarang berlindung kapada Kompani, sebab takut akan dibunoh oleh Sunan-Mas; anaknya saorang telah dibunoh, sebab doorhaka, serta Pangeran Puger dihukum dengan hukuman kabeteck².
Adapun G. G. Van Outhoorn (dari tahun 1691 sampai tahun 1740) masgul hatinya, sebab Sunan-Mas tiada berbaik dengan Kompani, sebab itu Kompani merajakan Pangeran Puger dengan gelar Susuhunan Paku Buana, serta menitahkan Raad van Indie, Tuan De Wilde ka Semarang berserta dengan laskar 2000 orang (pada tahun 1704). Maka Sunan-Mas terkejut mendengar khabar, mengatakan Pangeran Puger dirajakan oleh Kompani; maka dengan segera diseruhnhya utusan ka Batawi menyampaikan permintaannya, yaitu mudah-mudahan bapa bongsoonya diserahkan kapadanya; jikalau permintaan itu dikabulkan, tentu dilakukannya barang kahendak Kompani. Akan tetapi sahut Gouverneur-Generaal, bahua Sunan-Mas patut mengaku Pangeran Puger Susuhunan; jikalau ia tunduk, maka sabahagian tanah Mataram akan diperolehnya.
Hatta, maka bupati dan manteri makin banyak meninggalkan Sunan-Mas, sahingga kutika balatantara Belanda masuk kadalam Kartasura saorang jua pun tiada melawan, seraya Sunan-Mas sudah lari ka Kediri.
Satelah itu, maka Susuhunan Paku Buana didudukkan oleh Tuan De Wilde dalam keraton, lalu iapoon berteguh-teguhan janji dengan Kompani; perkara yang terutama sakali perjanjian itu, yaani:
Pertama: Perjanjian pada tahun 1677 dan 1678 diulangkan.
Kadua: Kompani beroleh daerah Mataram, yang disabelah barat baris yang mempertalikan muara Ci-Losari dengan muara Ci-Donan (dekat Celacap).
Katiga: Kompani beroleh pulau Madura sabelah timur.
Kaempat: Susuhunan memeliharakan isi benteng 200 orang di Kartasura.
Kalima: Sakalian utang Mataram baik yang lama, baik yang baru tiada akan dibayar lagi.
Sabermula, maka Sunan-Mas meminta bantuan kapada Surapati, maka permintaan itu diterima oleh Surapati, asal ia diakunya Raja Pasuruhan.
Arkian, maka pada tahun 1706 Mayoor Knol berangkat dari Surabaya dengan membawa soldadu Belanda 1000 orang dan bumi putera kira-kira 10.000 orang; Adapun orang itu raayat Bupati Surabaya dan raayat Cakra-ning-Rat, Panembahan Madura.
Maka tiada terkira-kira susah payah perjalanan balatantara itu: dilalunya tanah yang sunyi, diarungnya rawah yang dalam, diseberanginya batang ayar yang besar dan deras; banyak orang sakit demam, banyak mati karena penyakit dan sangsara dan panas, dan lagi bekal-bekalan habis dimakannya; pada sangka Tuan Knol Bupati Surabaya tiada lurus hati, sebab ialah yang menunjukkan jalan yang buruk itu.
Kasudahannya, satelah perang yang amat ramai, maka balatantara maseok kadalam Bangil; tengah perang itu Surapati kena peluru, lalu mati.
Adapun balatantara Belanda banyak orang mati; yang lagi hidup letih badannya, sebab itu Mayoor Knol pulang ka Surabaya.
Pada tahun 1707 Tuan De Wilde menghalaukan Sunan-Mas dari Kediri, lalu mengalahkan anak Surapati, sahingga balatantara Kompani maseok kadalam Pasooruhan. Kemu-dian dari pada itu penerentahan negeri, yang ditaalukkan oleh Kompani, diaturkan oleh Tuan De Wilde, diberikannya kapada Bupati-Bupati, yang setia kapada Pangeran Puger. Soodah itu, Tuan De Wilde pulang ka Batawi, dengan lemah dan sakit badannya karena payah dan sangsara perang itu, maka tiada berapa lamanya lagi, Tuan De Wilde meninggal.
Syahdan, maka Mayoor Knol dititahkan Kompani menawan Sunan-Mas, yang berseombuni di hutan rimba tanah Malang.
Maka teikala Sunan-Mas amat sangat disesakkan musuh-nya, maka ia pun tawar hatinya serta menyerahkan dirinya, lalu dihantarkan ka Batawi.
Maka bermasyawaratlah Gouverneur-Generaal dengan Raad van Indie, maka putus bicaranya, bahua Sunan-Mas ber-anak isteri dengan beberapa orang pengiring dibuang ka pulau Ceiylyen, serta diperolehnya gaji 250 ringgit sabulan dan beras saberapa yang berguna (pada tahun 1708).
¹ Di kaboupaten Cianjur.
² Orang yang kena hukum itu dikurung orang dalam sabuah sangkar (betek) di tengah pasar, supaya malu dipandang segala orang yang lalu.
FASAL XII.
HIKAYAT RAJA-RAJA MATARAM SAMPAI TAHUN 1757
Bermula, maka pada tahun 1719 Susuhunan Paku Buana meninggal dunia, lalu digantikan oleh puteranya yang sulung, Amangku-Rat atau Sunan Prabu namanya, akan tetapi Susuhunan yang baru itu tiada diaku raja oleh saudaranya, apa lagi putera Sunan Prabu pun meninggalkan ayahenda Baginda, dibujuk oleh Pangeran, yang durhaka itu.
Adapun segala Pangeran itu tiada samuafakat, sebab itu marika-itu dialahkan oleh balatantara Kompani bersama-sama dengan raayat Mataram, lalu lari ka Malang dikejar musuhnya. Pada tahun 1723 putuslah perang itu, maka Pangeran itu saparonya sudah mati, saparonya dibuang dari tanah Mataram beserta dengan anak Surapati dua orang, maka Pangeran Mangku Negara, putera Baginda, dikembalikan kepada ayahenda, asal jangan disiksanya.
Maka tiada lama lagi Sunan Prabu duduk di atas takhta karajaan: pada tahun 1727 mangkatlah Baginda; maka puteranya yang sulung menyadi gantinya dengan gelar Paku Buana II. Maka ia pun lagi muda, sebab itu dipangku oleh bundanya Ratu Ageng dan oleh Mangku Bumi (Patih) Mataram. Pada masa itu sanak saudara Susuhunan senantiasa berselisihan saja, saorang memfitnakan saorang, saorang membinasakan saorang dengan akal yang jabat. Maka Pangeran Mangku Negara dan Patih dibuang ka pulau Ceiylon dengan rila Kompani.
Alkesah, maka tersebutlah perkataan hikayat negeri Batawi. Maka sejak Batawi dibuat, maka datanglah orang Cina makin lama bertambah banyak diam di situ, sahingga pada tahun 1730 kira¹ 100.000 orang banyaknya.
Adapun Kompani khawatir, kalau-kalau orang Cina yang sakian banyak itu mendatangkan bahaya, sebab itu dititahkan oleh Gouverneur-Generaal, bahua beberapa negeri tiada boleh diduduki lagi oleh orang Cina; yang sudah diam di situ harus beralih; dan lagi barang siapa, yang tiada berjaban dibawa ka pulau Ceiylon akan mengupas kulit manis di sana.
Hatta, maka banyak orang Cina yang melarat berkumpul dilua rata Batawi akan menyamun, maka dibounuhnya orang Belanda, dibakarnya rumah dan penggilingan tebu di daerah Batawi, seraya benteng pun di Bekasi dirusakkannya.
Maka dengan hal yang demikian itu orang Batawi syak hatinya, pada sangkanya orang Cina di dalam negeri itu bermunfakat dengan kawannya, yang durhaka itu hondak membunuh segala orang Belanda samuanya.
Maka dititahkan oleh G. G. Valckenier (dari tahun 1737 sampai tahun 1741), bahua mata-mata Kompani harus memeriksa rumah orang Cina di Batawi, maka didapatinya senjata dan obat bedil amat banyak; Kapitein Cina pun menyembunikan senjata dalam rumahnya. Sudah itu, pintu gerbang ditutup, serta segala orang negeri diberi senjata oleh pemerentah.
Arkian, maka orang Cina yang di luar menyerang kota Batawi bulan October tahun 1740, akan tetapi tiada dapat masuk. Maka kaesokan harinya Gouverneur-Generaal bersama-sama Raad van Indie bermasyawarat; pada bicara Tuau Valckenier baiklah otang Cina sakalian dihalaukan dari dalam kota. Maka samantara itu terbakarlah sabuah rumah di kampung Cina; maka orang hina-dina dan soldadu dan khalasi dan orang risau pun berkaroomun di situ, tetapi jangan dipadamkannya api itu, melainkan rumah yang lain dibakarnya juga, sambil orang Cina yang terdapat dibu-nuhnya belaka.
Maka tengah gempar itu orang Cina yang di luar negeri mengamuk pula, tetapi diusir orang. Lama-kalamaan saluruh kampung Cina itu habis terbakar dan bangkai kira-kira 10.000 orang tersiar-siar di jalan atau terbakar dalam rumahnya.
Maka dalam pada itu pun Gouverneur-Generaal tiada menegahkan perbuatan yang jahat itu, tetapi jikalau kiranya dilarang sakali pun, niscaya perentah itu tiada difadulikan oleh pembunuh itu.
Arkian, maka beberapa hari kemodian dari pada itu dititahkan oleh Gouverneur-Generaal, bahua orang Cina di luar kota, yang menyerahkan diriuya, diampuni dosanya, serta boleh menbangunkan rumahnya pada sabidang tanah disabelah barat Ci-Liwong; maka inilah ‘pokok kampung Cina, yang sakarang di Batawi.
Hatta, maka orang Cina banyak lagi menyamun di daerah Batawi, tetapi marika-itee diusir oleh laskar Kompani, lalu lari ka pulau Jawa tongah; di situlah orang yang durhaka itu berkumpol dengan kawannya, maka Juana dibinasakannya dan Samarang dikepungnya.
Adapun wakil Kompani di Samarang meminta bantuan kapada Cakra-ning-Rat IV, Panembahan di Madura; maka Raja itu amat sukacita, sebab berharap meluaskan karajaannya dan melepaskan dirinya dari pada hukum Susuhunan.
Syahdan, maka makin lama bertambah banyak orang Cina yang durhaka, saperti api makan ilalang; lebih-lebih sebab Susuhunen Paku Buana menulung orang Cina itu sembuni3. Pada sutau hari benteng Kompani di Kartasoura diserang oleh raayat Susuhunan; maka sebab orang isi benteng tiada tahu akan khianat itu, oleh karena itu soldadu itu ditawan dan panglimanya dibounooh orang. Tambahan lagi Susuhunan menyouruh Bupati-Bupati di pantai Jawa sabelah utara membantu orang Cina.
Arkian, maka pada masa itu juga datanglah ka Samarang saorang wakil Kompani, Veriyssel namanya. Adapun Tuan Veriyssel mencerai-beraikan orang Cina dan orang Jawa, yang mengopung Samarang; sudah itu, maka dilepaskan-nya Tegal dan Japara dari pada musuh itu; samantara itu Panembahan Cakra-ning-Rat mengusir orang Cina dari Pasuruhan.
Maka dengan hal yang demikian itu Susuhunan menyesal, sebab orang Cina ditulungnya, serta dengan takut dan masgul hatinya; sebab itu disuruhnya utusan kapada Tuan Veriyssel akan memuhun am pun.
Demi didengar oleh orang Cina, bahua Susuhunan berpaling hatinya, maka dirajakannya Mas Gerendi, cucu Sunan Mas; maka Susuhunan itu pun digelari orang
Sunan Kuning. Kemudian orang Cina mendatangi dan membakar Kartasura, sahingga Susuhunan Paku Buana lari ka Panaraga (pada tahun 1742). Maka Baginda memu-hunkan pertulungan kapada Kompani, sambil menghinakan dirinya dan berjanji akan melakukan barang kahendak Gouverneur-Generaal.
Maka dalam pada itu pun Tuan Veriyssel menaalukkan Boopati-Boopati disabelah pantai utara; maka kutika balatantara hendak mendapatkan orang Cina di Kartasura, maka pecahlah khabar, mengatakan Panembahan Cakra-ning-Rat telah masuk kadalam Kartasura dan mengalahkan orang Cina. Demikianlah hilang karajaan Sunan Kuning, maka ia menyerahikan dirinya kapada wakil Kompani di Surabaya, lalu dibuang ka pulau Ceiylon.
Maka Panembahan Madura diboojuk oleh Kompani meninggalkan Kartasura mula-mula ia pun tiada mau, sebab amat sangat benci kapada Susuhunan; tetapi pada akhiurnya pergilah juga ia.
Hatta, maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka pada saluruh tanah Jawa orang Cina taalook pula.
Maka Susuhunan tiada suka lagi duduk di Kartasura, pada sangkanya tempat itu celaka; oleh karena itu Baginda berpindah pada tahun 1744 ka Surakarta-Adi-ning-Rat. Maka kasalahannya diampuni oleh Kompani, asal Susuhunan berteguh-teguhan janji; maka fasal perjanjian itu pun yang terutama sakali, yaani:
Pertama: Patih dan Bupati di Mataram diangkat oleh Susuhunan dengan rila Kompani.
Kadua: Pulau Madura, Surabaya, Rombang, Japara, dan tanah Jawa sabelah timur dari Pasuruhan sampai ka selat Bali diserahkan kapada Kompani.
Katiga: Kompani beroleh pantai saluruh tanah Jawa 350 depa lebarnya.
Kaempat: Susuhunan tiada membayar belanja perang salama perjanjian ini tiada dilangkahinya.
Kalima: Perjanjian pada tahun 1704 diulangkan,
Adapun Panembahan Cakra-ning-Rat lepas dari pada hukum Susuhunan dan mengaku Kompani menyadi Yang-dipertuan, serta puteranya dikarunai kaboupaten Sidayu; akan tetapi Cakra-ning-Rat tiada senang hati, sebab dikahendakinya segala negeri yang dahulu dialahkannya. Oleh karena itu terbitlah perang, kasudabannya Panembahan alah, lalu dibuang.
Bermula, maka G. G. Van Imhoff (dari tahun 1742 sampai tahun 1751) hendak melihat jajahan, yang baru diperoleh oleh Kompani, sebab pada masa itu orang Belanda tiada mengatahui hal ahwal dan kaadaan tanah Jawa. Mula-Mula Tuan Besar menjalani daerah Batawi; kutika sampai ka Bogor, maka hairanlah Gouverneur-Generaal melihat tanah yang saelok itu; maka dititahkannya membuat sabuah astana di situ; maka astana itu didirikan pada tahun 1747 seraya dinamai Buitenzorg.
Arkian, maka lepas perang dengan Panembahan Cakra-ning-Rat G. G. Van Imhoff menjalani Rembang, Surabaya, Sumenap, Pasuruhan, Gersik, Japara dan Samarang, maka di Samarang Susuhunan Paku Buana II datang mengunjungi Tuan Van Imhoff, diiring segala sanak saudaranya dan manteri-manteri besar. Kemudian dari pada itu Gouverneur-Generaal pergi jua mengunjungi Susuhunan di Surakarta akan membalas tanda kahormatan itu. Maka kadua orang yang mahakuasa itu menyelesaikan beberapa perkara; ditentokannya, bahua Tegal dan Pekalongan masuk tanah Kompani, hanyalah beya, yang dipungut orang dalam negeri itu akan diserahkan oleh Kompani kapada Susuhunan.
Sudah itu Gouverneur-Generaal pulang ka Batawi, dilaluinya Tegal, Cerebon, Dermayu dan Panarukan.
Alkesah, maka tatkala G. G. Van Imhoff di Surakarta, maka tanah Mataram tiada sentausa, sebab beberapa Pangeran durhaka kapada Baginda; yang terutama sakali Raden Mas Said, anak Pangeran Mangku Negara.
Adapun tanah Sukawati (bahagian sabelah timur karosi- denan Sala yang sakarang) telah dialahkannya. Maka beberapa lamanya Raden Mas Said duduk di Sukawati, lalu ia pun diusir oleh Pangeran Mangku Bumi, adinda Susuhunan, maka Pangeran itu dijadikan Baginda Bupati dalam negeri itu. Maka Patih Mataram tiada berbaik dengan Pangeran Mangku Bumi; difitnakannya Pangeran itu kapada Susuhunan, sahingga Pangeran Mangku Bumi diturunkan Baginda.
Adapun Pangeran Mangku Bumi malu lagi dengan amat sangat marahnya, maka ia pun berkumpul dengan Raden Mas Said. Lalu kaduanya menyerang negeri Surakarta; maka dibakarnya sabahagian negeri itu, tetapi marika-itu dihalaukan oleh Tuan Von Hohendorff, Gouverneur tanah Jawa sabelah utara dan timur pada tahun 1746.
Hatta, maka pada tahun 1749 Susuhunan Paku Buana II sakit payah, merasa sudah sampai ajalnya, maka dipanggilnya Tuan Von Hohendorff, lalu diserahkannya karajaan Mataram kapada Kompani.
Sungguhpun Susuhunan berputera saorang, tetapi Pangeran itu tiada juga dirajakannya, sebab ia kena murka ayahenda Baginda.
Demi Susuhunan berpulang ka rahmatu'lllah, maka Pangeran Adipati Anom dirajakan juga oleh Kompani dengan gelar Paku Buana III.
Maka Susuhunan yang baru itu mengaku dirinya di bawah Kompani, sebab karajaan Mataram diperolehnya saja karena kasehan dan karunia Kompani.
Maka pada hari itu juga Pangeran Adipati Anom naik Susuhunan, maka Pangeran Mangku Bumi dirajakan oleh orang besar-besar yang bersakutu dengan dia; kemuedian dari pada itu disuruhnya dirikan sabuah keraton di Nga-yogyakarta-Adi-ning-Rat (Jogyakarta). Oleh sebab hal yang demikian itu jadilah perang yang amat lanjut: kadang-kadang balatantara Kompani serta raayat Susuhunan menang, kadang-kadang alah; rupa-rupanya kadua belah pihak itu balui. Apabila Pangeran yang durhaka itu disesakkan musuhnya, maka dengan segera marika-itee lari ka gunung Kidool; tetapi kalau kutika baik, maka sakunung-kunyung kaluarlah ia dari dalam tempatnya dan melanggar negeri yang sakelelingnya.
Satelah beberapa tahun lamanya tanah Mataram dibinasakan oleh perang itu, maka Pangeran Mangku Bumi berselisih dengan Raden Mas Said, sahingga pada suatu hari Raden Mas Said menyerang Pangeran Mangku Bumi: salah sadikit dialahkannya Surakarta; maka segala negeri yang dilalooinya habis dibinasakannya; pada akhirnya ia pun dihalaukan Kompani ka gunung Kidool.
Kalakian, maka Pangeran Mangku Bumi berdamai dengan Susuhunan dan dengan Kompani, maka diperolehnya bahagian sabelah selatan Mataram, yaitu Ngayogiyakarta dengan gelar Sultan Amangku Buana turun temurun kapada anak-cucunya; dan lagi ia pun berjangyi menulung Susuhunan. Adapun tanah mataram sabelah utara atau Surakarta di bawah hukum Paku Buana III dengan gelar Susuhunan (pada tahun 1755).
Sudah itu raayat Sultan Amangku Buana berhim pun dengan raayat Susuhunan dan dengan laskar Kompani akan memerangi Raden Mas Said.
Maka lama kalamaan Raden Mas Said tawar hatinya, maka pada tahun 1757 ia pun menghadap Susuhunan berdatang sembah minta maaf; lalu dikaruniai bahagian sabelah tunggara karesidenan Surakarta yang sakarang serta digelari Pangeran Adipati Arya Mangku Negara.
FASAL XIII.
HIKAYAT KASUDAHAN KOMPANI DAN LAGI PAMERENTAHAN G. G. DAENDELS
Bermula, maka dalam fasal yang dahulu telah diriwayatkan, bahua Kompani yaitu persarikatan saudagar, yang hendak berniaga di tanah Hindia dengan beroleh monopolii. Akan tetapi maksudnuya itu tiada dapat disampaikannuya dengan lemah lembut: acap kali Kompani terpaksa memerangi raja-raja, sebab ada yang melanggar kapal dagangan, ada yang mungkir janjinya, ada yang berkumpul dengan musuh Kompani. Apabila saorang raja alah, maka haruslah ia melakokekan kahendak Kompani, serta menyerahkan sabahagian negerinya, supaya ia pun jangan berperang pula. Sebab itu lama kalamaan Kompani saolah-olah menyadi karajaan yang besar.
Hatta, maka pada tengah-tengah abad yang katujuhbelas Kompani termulia sakali, namanya mashur dari masyrik sampai ka magrib.
Maka orang, yang pada masa itu menaruhkan uang kapada Kompani, kadang-kadang beroleh bunga uang lebih dari pada 100 rupiah dalam 100, jadi nyatalah orang suka meminjamkan modal.
Adapun aturan pemerentahan Kompani beginilah: Yang mahakuasa di tanah Hindia yaitu Gouverneur-Generaal serta Tocan-Tocan Raad van Indie; Gouverneur-Generaal mengangkat dan melepaskan manteri (ambtenaar).
Maka tanah Kompani dibahagi saperti tersebut di bawah ini: Ada saorang Gouverneur di pulau Ambon, saorang di pulau Banda, saorang di pulau Ternate, saorang di Mangkasar dan saorang di Malaka.
Sejak tahun 1748 tanah Jawa sabelah utara dan timur diperentahkan juga oleh saorang Gouverneur. Maka jajan yang lain di bawah hukum Resident atau Directeur; di antara Resident ada yang wakil Kompani kapada saorang Raja, upamanya Resident di Banten.
Syahdan, maka perolehan Kompani yaitu beya dagangan yang masuk dan yang kalua; dan cockai yang dibayar oleh orang Cina, dan laba monopoli rupa-rupa kahasilan, dan upeti, yang dipersembahkan oleh raja-raja dan bupati yang taaluk, terutama gula dan kopi.
Adapun untung baik dan untung malang bumi pu- tera tiada berapa diendahkan oleh Kompani, orang itu di bawah perentah kapalanya sendiri; maka kapala itu, jikalau lalim sakali pun, jarang-jarang diturunkan, asal dihantarkannya upeti pada waktu yang tetap.
Maka dalam kahasilan tanah Jawa kopi yang terutama sakali.
Pada tahun 1696 Tuan Adriaan van Ommen, Kommandeur tanah Malabar di Hindustan mula-mula berkirim anak pohon kopi ka pulau Jawa, tetapi pohon itu tiada menjadi, sebab pada tahun 1699 gunung Salak meletus amat sangat, sahingga Ci-Liwong melimpah seraya merusakkan tanam-tanaman itu.
Kalakian, maka pemerentah Kompani menyuruh menanam kopi pula, maka pada tahun 1706 kopi Jawa yang bermula sakali dikirim ka negeri Belanda. Pada masa pemerentahan G. G. Zwaardekroon (dari tahun 1715 sampai tahun 1725) kopi banyak ditanam orang Jawa, lebih-lebih di tanah Priangan.
Bermula, maka berapa mashur dan mulia Kompani, sakali pun lama kalamaan hilang juga; sebabnya yang terutama sakali, yaani:
Orang Inggeris datang berniaga ka tanah Hindia makin lama bertambah banyak, serta disungguh-sungguhinya mengembangkan kuasanya, terutama sakali di Hindustan dan di pulau Ceiylon dan di pantai sabelah barat pulau Perca; lagi pula didirikannya juga.
Kompani Hindia, maka Kompani itu makin lama makin besar kuasanya.
Tambahan lagi belanja perang Kompani Belanda sudah amat banyak, serta pemerentahan negeri yang sabanyak itu amat mahal harganya; Sungguhpun ambtenaar Kompani gajinya sadikit saja, tetapi kabanyakan mengumpulkan uang untuk dirinya dengan akal yang tiada patut.
Maski pun laba tiada berapa, tetapi Kompani berulang-ulang membayar juga bunga uang yang banyak, sebab Tuan-Tuan Bewindhebbers takut orang yang menaruhkan uang mengem- balikan uang itu, kalau bunganya kurang. Demikianlah Kompani berlaku saperti orang, yang membelanjakan uang lebih dari pada upahnya: tadapat tiada orang itu akan berutang.
Alkesah, maka diceriterakan hal ahwal negeri Belanda. Maka pada abad yang katujuhbelas orang Belanda berperang beberapa kali dengan karajaan di Airopah, lebih-lebih dengan orang Inggeris dan dengan orang Pransman.
Maka pada tahun 1713 putuslah suatu perang yang besar dengan orang Pransman; satelah itu, maka pemerentah Belanda tiada mau bercampur lagi dalam perkara negeri yang lain, sebab belanja akan melakukan perang itu sudah amat banyak. Akan tetapi oleh karena kalakuan yang demikian itu pemerentahan kurang kencang, sahingga tanah Belanda tiada difadulikan lagi oleh raja-raja di benua Airopah.
Adapun Kompani demikian juga halnya: kapal perang dan soldadu sadikit saja, dalam ambtenaar ada banyak yang lalai dan lengah, niatnya akan mengumpulkan uang salekas-leksnya, supaya hidupnya dengan senang di tanah Belanda. Maka oleh karena perang dengan orang Inggeris dari tahun 1780 sampai tahun 1784 Kompani karugian amat banyak, sebab kapal dagangan terlalu banyak dirampas musuh. Sebab itu utang Kompani bertambah-tambah banyak, sahingga pada tahun 1782 jumlahnya sudah sampai 20 juta rupiah. Pada akhirnya Tuan-Tuan Bewindhebbers meminta tulung kapada pemerentah. Belanda, maka permintaan itu dikabulkannya, tetapi hal Kompani tiada juga berobah.
Bermula, maka pada kasudahan abad yang kadelapanbelas jadilah perobahan pemerentahan di tanah Pransman. Adapun orang hina-dina dalam negeri itu sudah lama dianiaya oleh orang besar-besar, sahingga marika-itu durhaka; maka aturan pemerentahan habis diobahkannya, tambahan lagi banyak orang bangsawan serta Raja pun dibunuhnya.
Adapun di negeri Belanda ada juga orang, yang tiada senang hati; pada sangkanya Stadhouder (Raja) Willem V kurang baik pemerentahannya; maka orang itu memuhun pertelungan kapada orang Pransman hendak menghalaukan Rajanya; maka datanglah beberapa ribu soldadu Pransman, sahingga pada tahun 1795 Stadhoulder Willem V lari ka tanah Inggeris.
Maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka orang Belanda menyesal amat sangat, karena orang Pransman lalim kalakuannya; saolah-olah negeri Belanda masuk baha-gian tanah Pransman.
Tambahan lagi negeri Belanda bercampur dalam perang orang Pransman dengan orang Inggeris. Apabila orang Ing-geris bertemu dengan kapal Belanda, maka diboojuknya anak kapal itu menyerahkan dirinya, katanya: »Kami ini bukan musuh orang Belanda; maksud kami hendak mengem-balikan kapal ini kapada Stadhoulder Willem V. Maka acap kali disampaikannya niatnya dengan akal itu.
Maka dengan hal yang denikian itu nyatalah Kompani makin lama makin lemah, sahingga utangnya sampai 112 juta rupiah. Kasudahannya ditentuukan oleh pemerentah Belanda, bahua Kompani ditiadakan, monopolii Kompani dihentikan serta utang Kompani akan dibayar berangsur-ang-sur oleh pemerentah Belanda; dan lagi Tuan-Tuan Bewindhebbers dilepaskan dari pada pangkatnya serta digantikan oleh Tuan sembilan orang, nama majelis itu Raad der Aziatiskhe Bezittingen (Diwan jajahan di benua Asia).
Demikianlah kasoudahan Kompani dalam tahun 1800; ke-mudian tanah Hindia dipeliharakan oleh pemerentah (Gouver-nement) Belanda.
Kalakian, maka dalam tahun 1804 tanah Pransman dipe-rentah oleh Keizer (Maharaja) Napoleon. Adapun Napoleon dahaelu luitenant, maka sebab pandai dan panjang akal, maka ia pun makin lama makin naik, sahingga menjadi Keizer. Maka Keizer Napoleon amat mashur; bahua senya ia tiada terlawan oleh Raja-Raja di benua Airopah; beberapa karajaan ditaalukkannya, lalu dianugerakannya kapadanya saudaranya atau kapada panglimanya; hanyalah tanah Inggeris dan tanah Rusia tiada dapat dialahkannya, sebab tanah
Inggeris di tengah laut, tiada terhampiri balatantara Prans-man, dan tanah Rusia jauh dan amat luas.
Arkian, maka pada tahun 1806 negeri Belanda di bawah hukuem Raja Lodewiyk Napoleon, adinda Keizer Napoleon. Pada masa itu hal pemerentahan tanah Hindia belum berapa dibaiki, serta kabanyakan pulau lain dari pada pulau Jawa sudah di dalam tangan orang Inggeris, karena soldadu dan alat senjata kurang atau karena khianat raja-raja.
Adapun Raja Lodewiyk Napoleon menitahkan saorang Gouverneur-Generaal ka tanah Hindia, yang mahakuasa mengobahkan pemerentahan tanah Hindia, barang apa yang disangkakannya baik boleh dilakukannya.
Maka Tuan yang dipilih Raja Belanda yaitu Maarskhalk (panglima besar) Daendels; Sungguhpun lama pemerentahan tiga tahun saja (dari tahun 1808 sampai tahun 1811), tetapi ia pun kanamaan sakali di antara Gouverneur-Generaal.
Adapun G. G. Daendels berniat membaiki peri hal tanah Hindia dengan sungguh hati; barang apa yang menghambat maksudnya dan barang siapa yang melawan kahendaknya, dijauhkannya belaka, jikalau dengan kakerasan sakali pun tetapi hatinya benar, maksudnya hendak memperhatikan selamat orang Hindia.
Bermula, maka baru Tuan Daendels sampai ka Batawi, maka ia berangkat ka Jawa tengah hendak memeriksa dan mengaturkan pemerentahan di situ. Sudah itu, maka Tuan Daendels harus pergi ka Banten; Adapun sebabnya diceriterakan di bawah ini: Gouverneur-Generaal telah menitahkan membaiki Telook Camar (Meeuwenbaai) serta mendirikan benteng dan kubu di situ, supaya telook itu menyadi tempat kapal berlindung dari pada angin ribut dan dari pada musuh, maka orang yang disuruh mengerjakan pekerjaan itu, yaitu orang Banten.
Maka pekerjaan itu pun amat lambat dijalankan orang, sebab kuli itu banyak yang sakit dan banyak jugea lari. Adapun Mangku Bumi di Banten ditimpa murka Gouverneur-Generaal, sebab pada sangka Tuan Besar ialah yang melanjutkan pekerjaan itu dengan sengaja seraya mengasuet Sultan.
Syahdan, maka Resident Du Puiy disuruh ka Banten akan menyampaikan kahendak Gouverneur-Generaal tiga perkara, yaitu: Sultan patut berpindah ka Anyar, dan Mangku Bumi dihantarkan ka Batawi, dan Sultan menyuruh anak buhnya menyudahkan pekerjaan di teluk Camar itu.
Arkian, maka kutika Tuan Du Puiy masuk kadalam keraton, maka tiba-tiba ia pun diamuk dan dibenuh bersama-sama pengiringnya oleh raayat Mangku Bumi. Demi khabar itu pecahlah, maka kaesokan harinya Tuan Daendels berangkat ka Banten dengan membawa soldadu 1000 orang dan mariam beberapa pucuk. Sudah sampai, maka bala-tantara itu menyerang keraton, lalu masuk. Adapun Sultan dibuang ka pulau Ambon, serta Mangku Bumi ditembak sampai mati dengan titah Gouverneur-Generaal (pada tahun 1808). Syahdan, maka tanah Lampong serta bahagian sabelah timur tanah Banten di antara Ci-Dani dan Ci-Durian dimasukkan tanah Gouvernement; maka bahagian tanah Banten yang tinggal lagi di bawah hukum putera Sultan yang dibuang itu.
Adapun Sultan yang baru itu lemah pemerentahannya; anak buhnya, yang merompak dan yang menyamun tiada dapat ditegahnya; oleh karena itu bahagian tanah Banten sabelah utara dijadikan pula jajan tanah Gouvernement oleh Tuan Daendels.
Kemudian tersebutlah perkataan hikayat karajaan Jogyakarta dan Surakarta. Bahua Sultan Jogya pada masa itu Amangku Buana II (dari tahun 1792 sampai tahun 1828); maka dalam hikayat ia pun dinamai juga Sultan Sepuh (yang Tua).
Maka Sultan itu menaruh dendam kapada Gouvernement, sebab ia diasuet oleh isterinya dan adinda Baginda, Pangeran Nata Kusuma; maka di antara orang besar-besar di Jogya, yang hendak bersahabat dengan Gouvernement Belanda Patih yang terutama sakali.
Adapun Tuan Daendels menyamakan Resident di Jogya dengan Sultan, serta beberapa adat, yang menghinakan wakil Raja Belanda itu, dibuangnya samuanya. Oleh karena itu Sultan bertambah benci, maka raayatnya menyamun di daerah Sala dan di tanah Gouvernement, kapalanya Raden Rangga Prawira-di-Reja, menantu Baginda.
Arkian, maka pada tahun 1811 Gouverneur-Generaal membawa balatantaranya ka Jogya. Maski pun Raden Rangga mati tengah perang dengan raayat Sultan, tetapi Tuan Daendels tiada juga puas hatinya, melainkan Sultan Sepuh diturunkannya seraya Pangeran Adipati Anom dirajakannya dengan gelar Sultan Amangku Buana III. Maka Sultan Sepuh boleh tinggal di keratonnya, asal jangan dicampurinya perkara negeri, maka Pangeran Nata Kusuma beserta dengan anaknya dihantarkan orang ka Cerebon; maka salama G. G. Daendels memerentah di tanah Hindia marika-iteu tiada lepas.
Tatkala Gouverneur-Generaal di Jogya, maka diperolehnya katerangan, bahua Susuhunan Paku Buana IV (Sunan Bagus) di Sala dahaelu samuafakat dengan Sultan hendak melawan Gouvernement; sebab itu Tuan Besar berangkat ka Sala; maka dikeroanginyaa kuasa Susuhunan.
Sabermula, maka aturan negeri yang masuk pemorentahan Belanda diobahkan sakali oleh Tuan Daendels. Pada masa itu jajahan Gouvernement di tanah Jawa sabelah ootara dan timur di bawah perentah saorang Gouverneur; Adapun pangkat itu ditiadakan, serta tanah itu dibahagi atas beberapa bahagian, satu-satu diperentahkan oleh saorang Resident. Maka Bupati (Regent) dijadikan ambtenaar oleh Tuan Daendels; sediakala Bupati itu saperti raja kuasanya, dipongutnya beya dan hasil tanah sabanyak ia suka; akan tetapi kenoodian diperolehnya gaji yang tetap, dan lagi pangkatnya di bawah pangkat Resident. Pada masa dahaelu beberapa macam hasil tanah harus diserahkan kapada Kompani; aturan itu pun diobahkan oleh Tuan Daendels; yaitoo, bumi putera dititahkannya menanam suatu macam tanam-tanaman, yang harus dijulna kapada Gouvernement dengan harga yang tetap; maka upah itu tiada diberikan kapada Bupati, melainkan kapada orang negeri sendiri.
Maka gaji ambtenaar ditambah oleh Gouverneur-Generaal, tetapi saorang jua pun tiada boleh mengambil barang sasuatu dari pada anak buahnya dengan akal yang tiada patut.
Maka Tuan Daendels amat keras kalakuannya kapada barang siapa, yang menganiaya orang atau yang lalai dan kurang berani, bagaimana besar sakali pun pangkat orang yang demikian itu; upamanya: ada saorang Kolonel (panglima besar) di pulau Ambon; Sungguhpun bentengnya teguh dan soldadunya banyak, tetapi saluruh pulau Ambon diserah-kannya kapada orang Inggeris; oleh karena itu Tuan Daendels menitahkan soldadunya menembak Kolonel itu sampai mati.
Syahdan, maka aturan hukoom hakim diobahkan juga oleh Tuan Daendels. Maka dalam tiap-tiap karesidenan didirikan sabuah Landraad, yaitu majelis beberapa manteri Jawa di kapalai oleh Resident; dan lagi dalam tiap-tiap kaboupaten hukooman dipuotescan oleh Regent beserta dengan beberapa kapala Jawa. Tambahan lagi di Samarang dan di Surabaya dijadikan Raad van Yustitie (Landraad yang tinggi); pekerjaannya menghukoom kasalahan yang besar.
Adapun kaelokan Batawi dan kasenangan isinya diperhatikan juga oleh Tuan Daendels; sebab sejak gunung Salak meletus pada tahun 1699, lumpur amat banyak dihilirkan Ci-Liwong, sahingga sungai dan pelabuhan Batawi tohor serta hawa tiada sihat karena lumpur itu. Maka Gouverneur-Generaal menitahkan, bahua lurung yang sempit dilebarkan dan sungai didalamkan orang; dan lagi diajaknya orang mendirikan rumah lebih jauh ka udik. Demikianlah teryadi negeri Batawi yang baru; bahagiannya Weltevreden, Riyswiyk dan Noordwiyk namanya. Di Weltevreden diperbuat orang sabuah astana bagi Gouverneur-Generaal, maka astana itu pun dihabiskan sapeninggal Tuan Daendels; sakarang rumah itu menyadi kantor beberapa Tuan Directeur.
Maka pekerjaan yang termashur sakali, yaitu jalan raya dari Anyar sampai ka Panarukan 200 jam perjalanan panjangnya, maka jalan itu diperbuat orang negeri kira-kira satu tahun lamanya.
Maka perihal balatantara dipeliharakan juga oleh Tuan Daendels dengan sungguh hati; di Meester Cornelis diperbuat orang tempat kadiaman soldadu, yang dikelelingi parit dan kubu; di Weltevreden didirikan orang tangsi dan rumah sakit, yang sampai sakarang dipakai oleh Gouvernement. Maka di Salatiga dibangunkan sabuah benteng, demikian juga di pulau Menari di selat Madura akan menjaga Surabaya; di Samarang dan di Surabaya Gouverneur-General menitahkan membuat fabriek, tempat orang menyediakan kapal dan mariam dan senjata.
Tatkala Tuan Daendels datang ka Hindia, maka soldadu sadikit saja, tetapi sasudahnya satu tahun lamanya soldadu 18000 orang dan officier 500 orang; serta sudah siap 45 buah kapal perang yang kecil (perahu keruis) akan memerangi perompak, sebab orang itu makin lama bertambah berani pada masa pemerentahan Kompani kurang kencang.
Adapun nyatalah Gouvernement membelanjakan banyak uang akan melakukan segala perobahan itu; oleh sebab itu dititahkan oleh Tuan Daendels, bahoca beberapa bidang tanah yang luas sakali harus dijucal; barang siapa yang membeli sabidang tanah saolah-olah ganti Gouvernement di tanah itu serta boleh mendapat hasil, yang ditentukan oleh Gouvernement, kapada orang yang duduk di situ.
Demikianlah dijucal daerah Batawi dan Bogor dan Samarang dan Surabaya dan Krawang dan Prabalingga dan Besooki; maka tanah itu dinamai tanah particulier. Sakarang ini lagi ada di karesidenan Batawi, di Krawang dan di Samarang; tanah yang lain sudah ditebus pula oleh Gouvernement.
Hatta, maka pada tahun 1811 Tuan Daendels dititahkan pulang oleh Keizer Napoleon; maka gantinya yaitu G. G. Yanssens.
FASAL XIV.
HIKAYAT PEMERENTAHAN ORANG INGGERIS
Alkesah, maka tatkala G. G. Yanssens menggantikan pemerentahan G. G. Daendels, maka kalangkapan orang Inggeris berlayar dari Malaka akan mengalahkan tanah Jawa. Maka Lord Minto, Gouverneur-Generaal Kompani Inggeris menumpang di kapal, akan tetapi yang sabenarnya menjalan-kan aturan angkatan itu, yaitu Tuan Raffles.
Adapun Tuan Raffles dahulu Secretaris di pulau Pinang, maka karena kapandaiananya dan bijaksananya ia pun disoceruh oleh Lord Minto kapada raja-raja di Hindia akan membujuk raja itu membawa dirinya kabawah hukum orang Inggeris; maka beberapa raja mendengarkan asut Tuan Raffles.
Arkian, maka 4 hari bulan Augustus tahun 1811 balatantara Inggeris naik darat dekat Batawi, maka empat hari kemudian dari pada itu marika-itu masuk kadalam negeri itu; sebab G. G. Yanssens telah meninggalkan Batawi dan mengumpulkan raayaanya di Meester Cornelis. Tiada lama antaranya, maka orang Inggeris menyerang kota itu; kasu-dahannya orang Belanda alah, teroctama sebab Generaal Pransman Yumel lalai dan lengah kalakuannya. Satelah balatantara Belanda cerai berai, maka Gouverneur-Generaal berangklat ka Samarang hendak menahan mcesuh di situ, akan tetapi soldadunya sadikit saja, lagi hatinya kecil‘ dan lagi raayat Susuhunan dan Sultan dan Pangeran Mangku Negara yang menulung Gouvernement, tiada berapa gunanya.
Adapun orang Inggeris dengan segera mengejar balatantara itu, sahingga 17 hari bulan September G. G. Yanssens harus menyerahkan pulau Jawa serta segala jajahannya kadalam tangan orang Inggeris.
Sudah itu Lord Minto menyadikan Tuan Raffles Lui-tenant-Gouverneur ‘(G. muda) di tanah Hindia; kemudian dari pada itu ia pun pulang ka Hindustan.
Maka diceriterakan hikayat karajaan Jogya. Satelah Gouvernement Belanda berhenti, maka Sultan Sepuh tiada mau melakukan perjanjian dengan Tuan Daendels, melainkan ia pun naik Sultan pula seraya puteranya di-turunkannya.
Mula-Mula Tuan Raffles tiada melarang perbuatan itu, oleh sebab itu Sultan Sepuh makin berani, maka orang yang dahelulu berbaik dengan G. G. Daendels disiksanya; Patih berdua beranak dibunuhnya; maka Sultan Anom (yang Muda) lari berlindung kapada orang Inggeris, sebab takut diracun orang.
Adapun Tuan Raffles kasusahan amat sangat, sebab pada kutika itu soldadu Inggeris kabanyakan sedang memerangi negeri Palembang. Satelah kembali di tanah Jawa, maka balatantara Inggeris menyerang negeri Jogya, lalu masuk. Maka Sultan Anom dirajakan pula oleh Tuan Raffles, serta Sultan Sepuh dibuangnyka ka pulau Pinang. Tambahan lagi tanah Kedu, Pacitan, Japan (Majakerta), Jipan (Bajanegara) dan Grobogan menyadi jajan Inggeris; maka dijanjikan oleh Sultan, bahua Patih boleb diangkat dan dieturunkan oleh Gouvernement Inggeris.
Maka Pangeran Nata Kusuma dianugerahi sabidang tanah oleh Tuan Raffles, karena teguh setianya kapada orang Inggeris; tanah itu yaitu distrikt Karang Kamuning di antara sungai Praga dan sungai Bagawanta, maka Pangeran itu beroleh gelar Pangeran Adipati Paku Alam turun temurun kapada anak cucunya (pada tahun 1812).
Kemudian dari pada itu Susuhunan Sala kadatangan juga oleh soldadu Inggeris, sebab safakat dengan Sultan Sepuh hendak membinasakan orang Inggeris; maka Susuhunan dipaksa oleh Tuan Raffles menurut sakahendaknya. Kalakian, maka sakali lagi Susuhunan mencoba memperdayakan Gouverneur; diasutnya soldadu Sipai akan durhaka kapada Gouvernement; akan tetapi khianat itu terdengar kapada Tuan Raffles; maka dengan segera disuruhnya soldadu Sipai itoo berpindah kapada negeri yang lain.
Bermula, maka sejak negeri Banten dikurangi kuasanya, oleh Tuan Daendels, maka orang negeri tiada juga sentausa, sebab banyak orang berkawan akan menyamoon dan merompak. Maka sia-sialah Sultan mencoba menegahkan orang itu, oleh karena itu ia pun turun serta menyerahkan tanah Banten kepada Gouvernement Inggeris, asal diperolehnya gaji salama lagi hidupnya.
Denikian juga hal Sultan Cerebon.
Adapun dalam fasal yang dahulu sudah diceriterakan, bahua Tuan Daendels menyouruh orang negeri menjual hasil tanah beberapa macam dengan harga yang tetap kapada Gouvernement. Akan tetapi Tuan Raffles lain pikirannya; pada sangkanya baiklah orang Jawa bebas menanam barang sasukanya dan menjual kapada barang siapa jua pun; tetapi masing-masing harus membayar cukai dengan uang tunai atau dengan padi. Pada zaman Hindu segala sawah ladang disangkakan orang milik Raja, maka anak buahnya harus menghanttar upeti kapada Yang-dipertuan. Oleh karena itu pada pikiran Tuan Raffles cukai yang dipungoot oleh Gouvernement yaitu saolah-olah sewa tanah, yang pada zaman dahulu kala dipersembahkan kapada Raja.
Adapun di tanah Jawa tengah ada suatu adat, yaitu sawah sabuah desa dimiliki segala orang isi desa itu, maka sakali satahun atau sakali dua tahun sawah itu dibahagikan oleh kapala desa kapada sakalian anak buahnya. Oleh karena hal yang demikian itu bukan saorang-saorang, membayar sewa tanah (pajeg), melainkan sadesa-sadesa menurut luas dan elok sawahnya.
Satelah aturan itu dijalankan beberapa lamanya oleh Gouvernement, maka pikiran Tuan Raffles berobah pula, dititahkannya, bahua tiap-tiap kapala cacah (isi rumah) wajib membayar pajeg, sebab pada sangka Gouverneur, kalau tiada demikian, orang kecil dianiaya oleh kapalanya.
Maka nyatalah Gouvernement patut mengatahui luas tiap-tiap sawah, supaya pajeg boleh ditentookan banyaknya; akan tetapi pada masa itu pulau Jawa beloom diukur dengan betul-betul saperti sakarang; jadi pajeg itu tiada juga boleh ditentukan Gouvernement dengan sabenarnya.
Syahdan, maka pekerjaaan negri dikurangi juga, hanyalah jalan raya dan jembatan harus dikerjakan oleh orang Jawa; tambahan lagi orang Jawa tiada disuruh menanam kopi, lain dari pada di tanah Priangan, sebab di situ kopi amat subur jadinya.
Adapun orang Cina dan orang dagang yang berjabatan wajiw membayar cukai masing-masing sakedar upahnya.
Maka L. G. Raffles menjuaal juga beberapa bidang tanah di Cerebon, di Krawang dan di Priangan saperti laku Tuan Daendels, tetapi Prabalingga dan Besuki ditebusnya pula.
Lain dari pada yang tersebut di atas ini dititahkan lagi oleh Tuan Raffles beberapa undang-undang, upamanya: Garam menyadi monopoli Gouvernement. Gouvernement melarang menyabung dan main judi. Orang budak tiada boleh dibawa dari pada sabuah pulau kapada sabuah pulau.
Bermula, maka diceriterakan hal negeri-negeri yang lain dari pada pulau Jawa. Maka sabelum tanah Hindia di dalam tangan orang Inggeris, maka Sultan Mahmood Badru'eddin di Palembang telah diasut oleh Tuan Raffles akan melepaskan dirinya dari pada hukoom orang Belanda. Tatkala terdengar khabar kapadanya, mengatakan orang Inggeris sudah mengalhkan pulau Jawa, maka tiba-tiba disuruhnya raayatnya membunuh orang isi benteng Belanda di Palembang; maka saorang jua pun tiada terpelihara nyawanya, baik laki-laki baik perampuan, baik kanak-kanak. Kemudian dari pada itu datanglah utusan Tuan Raffles akan meminta Sultan mengaku dirinya taaluk kapada Kompani Inggeris, tetapi permintaan itu ditolak oleh Baginda. Sebab itu balatantara Inggeris menyerang dan mengalahkan negeri Palembang; dalam pada itu pun Sultan Badru'eddin lari kahulu Palembang. Sudah itu Najmu'eddin, adinda Baginda, dirajakan oleh Tuan Raffles, asal pulau Bangka diberikannya kapada Gouvernement Inggeris (pada tahun 1812).
Maka di pulau Selebes Raja Bone diperangi oleh orang Inggeris, sebab karajaannya dikembangkannya, sahingga ia pun berniat menaalookkan negeri Goa. Pada tahun 1813 orang Inggeris menyerang negeri Sambas, sebab rajanya merompak di laut; maka negeri itu dibakar balatantara Inggeris dan Sultan Sambas lari ka udik.
Kalakian, maka pada tahun 1813 hilanglah kuasa Keizer Napoleon, sasocdahnya balatantaranya satengah juta orang habis binasa di tanah Rusia. Maka bangsa-bangsa Airopah, yang menanggung hukumnya suka ta suka, berbangkit, sahingga Keizer Napoleon dialahkannya, lalu dibuangnya ka pulau Elba.
Adapun orang Belanda menghalaukan juga orang Pransman serta merajakan putera Stadhouder Willem V, namanya Koning (Raja) Willem I. Sudah itu orang Belanda berdamai dengan orang Inggeris, lalu hampir saluruh tanah Hindia dikembalikan oleh Raja Inggeris kapada Raja Belanda (pada tahun 1814).
Maka pada tahun itu juga wakil Raja Willem I tiga orang (Commissaris-Generaal) berangkat ka tanah Hindia akan mempertukarkan pemerentahan, tetapi pada kutiika itu Keizer Napoleon berbalik dari pulau Elba, lalu naik darat di tanah Pransman; maka ia pun dirajakan pula oleh anak buahnya yang lama itu.
Adapun Keizer Napoleon tiada solamat; balatantaranya dialahkan dekat Waterloo oleh orang Inggeris dan orang Pruisen dan orang Belanda pada tahun 1815. Satelah beberapa lamanya, maka Keizer Napoleon menyerahkan dirinya kapada orang Inggeris, lalu ia dihantarkannya ka pulau Sint-Helena; di situlah Keizer Napoleon mangkat pada tahun 1821.
Hatta, maka pada tahun 1816 wakil Gouvernement Belanda, sampai ka Batawi; pada masa itu Tuan Fendall Luitenant Gouverneur, maka Tuan Raffles telah dijadikan oleh Kompani Inggeris Luitenant Gouverneur di Bangkahulu.¹
Maka Tuan Raffles menaruh dendam kapada orang Belanda, sebab itu diganggunya Gouvernement Belanda di mana-mana saja. Lagi pula dicampoorinya perselisihan dua anak Sultan Johor, maka disampikannya niatnya hendak beroleh pulau Singapura. Maka pulau itu pun terlalu elok tempatnya di tengah jalan dari Hindustan ka benua Cina dan ka negeri Je pun; sebab itu didirikan oleh Tuan Raffles sabuah negeri, maka negeri itu makin lama makin ramai.
Kasudahannya pada tahun 1824 dijanjikan orang lnggeris dengan orang Belanda perkara, yang tersebut di bawah ini:
Pertama: Anak buah Raja Belanda boleh berniaga dalam segala jajahian Inggeris dan anak buah Raja Inggeris boleh berniaga di tanah Hindia lain dari pada di pulau Molocko.
Kadua: Kadua Gouvernement akan memerangi orang pe- rompak dengan sakuat-kuatnya.
Katiga: Saluruh jajahian Inggeris di pulau Perca, yaitu Bangkahulu dan pulau Belitung diserahkan kapada Gouvernement Belanda, tetapi Malaka dan jajahian Belanda di Hindustan menjadi milik Kompani Inggeris.
Kaempat: Orang Inggeris tiada akan mencampuri perkara negeri-negeri di sebelah selatan Singapura.
Kalima: Pulau Singapura masuk jajahian Inggeris.
Bermula, maka pekerjaan Tuan-Tuan Commissaris-Generaal amat sukar, sebab hal tanah Hindia amat kusut: dalam beberapa negeri perobahan, yang dititahkan oleh Tuan Raffles sudah dilakukannya, dalam beberapa negeri tidak; lagi pula utang Gouvernement banyak, tetapi jumlahnya tiada dikatahuninya betul-betul. Maka rumah Gouvernement dan jalan raya dan jambatan dan post di tanah Jawa tiada berapa dipeliharakan pada masa pemerintahan Inggeris. Tambahan lagi di Banten dan di Cerebon banyak orang tiada senang hati, sebab Rajanya diturunkan oleh Tuan Raffles, sahingga Gouvernement harus menyentausakan orang yang durhaka itu dengan kakerasan; demikian juga di pulau Ambon.
Syahdan, maka rupa-rupa perobahan dijalankan oleh Tuan-Tuan Commissaris-Generaal itu, upamanya: Orang budak tiada boleh diperniagakan lagi, dan orang berutang di pulau Jawa dimardahikan samuanya. Aturan hakim hukom (Yustitie) dijalankan juga di pulau yang lain seperti aturan di pulau Jawa. Maka banyak lagi dilakukan Tuan-Tuan itu perobahan dari hal pengajaran dan tanam-tanaman dan balatantara dan kapal perang; Adapun perompak terlalu berani merampas dan membakar kampung dan mencuri orang di pantai pulau-pulau Hindia, sampai ka pulau Jawa pun perompak itu menyamun. Sebab itu Gouvernement berusaha membinasakan orang yang jahat itu. Hatta, maka pada tahun 1819 Tuan Commissaris-Generaal duа orang pulang ka negeri Belanda, maka Tuan Van der Capellen dijadikan Gouverneur-Generaal oleh Raja Willem I, maka Tuan itu memerentah tanah Hindia sampai tahun 1826 adanya.
¹ Satelah orang Inggeris dibalaukan oleh Sultan Haji dari Banten, maka marika-itu dudock di Bangkahulu.
FASAL XV.
CERITERA PERANG PADERI
Alkesah, maka tersebutlah perkataan karajaan Menangkabau. Adapun pada abad yang katujubelas Raja-Raja Menangkabau berselisih dengan orang Aceh, maka mulanya perselisihan itu yaitu siapa yang memiliki pantai sabelah barat Pulau Perca. Maka dalam perang itu Raja Menangkabau dibantu oleh Kompani; sebab itu orang Belanda mendapat izin membangunkan loji dalam beberapa negeri di pantai sabelah barat, upamanya Padang, Tiku dan lain-lain (pada tahun 1662).
Kalakian, maka pada tahun 1682 karajaan Menangkabau dibahagi tiga, jadi rajanya tiga orang; saorang bersemayam di Sungai Tarap, saorang di Pagar Ruyung, saorang di Surawasa. Maka sejak kutika itu kuasa Raja-Raja Menangkabau makin lama makin kurang; yang berkuasa dengan sabenarnya di Padang Darat yaitu penghulu suku (kapala kaum).
Maka sakali peristiwa pada tahun 1803 adalah tiga orang-orang Padang Darat naik haji. Pada masa itu juga di Mekah ada saorang syekh Baduwi Abd’ul Wahab namanya, maka syekh itu pun mengajarkan agama yang baru: pada sangkanya agama Islam sakali-kali tiada berpatutan dengan Koraan, sebab itu baiklah agama Islam disucikannya.
Satelah negeri Mekah dialahkannya, maka disuruhnya orang Islam rajin sembahyang dan jangan merokok dan jangan berpakaian yang endah-endah, serta Nabi Mohamad jangan diberi hormat terlalu sangat, sebab Nabi Mohamad manusia saja.
Adapun Sultan Turki masgul hatinya, sebab orang Arab banyak menurut pengajaran Abd’ul Wahab itu, maka dititahkannya Raja Muda di tanah Mesir membinasakan orang tarikat baru itu. Maka pada tahun 1818 lenyaplah karajaan Baduwi itu, serta kabanyakanya mati terboonuh.
Sabermula, maka orang Melayu bertiga itu pun percaya dengan sungguh-sungguh hati akan pengajaran Abd’ul Wahab; sudah pulang di Padang Darat, maka diajarkannya agama Abd’ul Wahab kapada orang Melayu; terutama saorang di dalam antaranya amat rajin usahanya, maka namanya Haji Miskin. Akan tetapi orang negeri tiada mendengar perkataannya, sebab maksud Haji Miskin hendak membuang adat istiadat nenek moyang, lalu ia pun dihalaukan orang dari negerinya Pandan Sikat di tanah Batipuh.
Kemudian dari pada itu Haji Miskin bertualang, maka lama-kalamaan sampailah ia ka negeri Kamang di tanah Agam; di situlah diam saorang Tuanku¹, Tuanku nan Rinceh namanya. Maka Tuanku nan Rinceh dan Haji Miskin beserta dengan enam orang ulema berteguh-teguhan janji akan mengembangkan tarikat yang baru itu. Adapun Tuanku delapan orang itu di namai orang “Harimau yang delapan” karena marika-itee tiada menarokh kasihan kapada barang siapa yang tiada samuafakat dengan marika-itee: baik orang Islam, baik orang Masih, baik orang yang menyembah berhala, samuanya dikatakanya kasir.
Lama kalamaan amat banyak orang menurut Tuanku itu, sahingga marika-itee berani memerangi orang yang masuk agama yang lama, maka dialahkannya museohnya dekat negeri Sungai Puar di lereng gunung Merapi.
Maka barang siapa bersakutu dengan Tuanku itu wajiib berpakaian putih, oleh karena itu orang itu dinamai “orang putih”. Lain dari pada itu namanya Paderi juga; barangkali kata itu asalnya dari pada kata Portugis “padere”, ertinya “bapa”, yaitu nama panggilan pandita.
Adapun orang putih itu tiada boleh makan sirih dan madat dan merokok dan menyabung dan berjuedi, melainkan marika-itee harus menyungguh-nyungguhi syarat agama, akan perampuan mukanya patut bertotutup saperti perampuan Arab. Maka terlalu amat siksa orang yang melanggar syarat itu; pada suatu hari terdapatlah oleh Tuanku nan Rinceh saorang perampuan yang makan sirih. Maski pun perampuan itu masuk kaumnyia, tetapi sabentar itu juga dibunohnya.
Hatta, maka Tuanku itu dapat mengembangkan kuasnya di tanah Agam dan di Batipuh dan di Limapuluh Kota; Adapun kalakuannya amat bengis: penghulu yang melawan dibunohnya belaka dan banyak orang negeri dijadikannya hamba, lalu dijucalnya. Maka dalam tiap-tiap negeri yang taaluk adat nenek moyang dibuangnyia, penghulu dipertukarkanya dengan dua orang kapala, saorang Tuanku Imam, yaitu penghulu agama, saorang Tuanku Kali, yaitu yang memutuskan hukuman.
Arkian, maka beberapa Tuanku minta kapada Raja3 Menangkabau membicarakan dengan marika-itee, bagaimana daya upaya akan menghentikan perang itu. Maka Raja itu berhim pun dengan Tuanku, maka sedang bermasyawarat berbangkitlah Tuanku Pasaman, katanya: bahua Raja itu terlalu jahat hatinya dan buruk kalakuannya, saperti laku orang kasir; jadi baiklah Raja itu dibunuh. Pada kutika itu juga orang Paderi mengamuk serta membunuh orang pihak yang lain itu, hanya Raja Pagar Ruyung berdua laki isteri lepas dari pada bahaya maut itu.
Hatta, maka isteri Raja Pagar Ruyung serta beberapa penghululain ka Padang hendak mengadukean halnya kapada Tuan Raffles, yang pada masa itu Luitenant Gouverneur di Bangkahulu. Maka dikhabarkan oleh orang Melayu itu, bahua orang Menangkabau sudah puas menanggung lalim orang Paderi itu; jikalau kiranya balatantara Inggeris menulung, niscaya orang Padang Darat akan membawakan dirinya kabawah hukum orang Inggeris.
Adapun Tuan Raffles menyouroh beberapa soldadu membuat benteng di Semawang dekat pangkal batang Ombilin, serta dikirimnya surat kapada Tuanku-Tuanku; bunyinya, bahua Tuan Raffles hendak mendamaikan orang Melayu dengan orang Paderi; akan tetapi Tuanku-Tuanku mau bicara dengan Gouverneur, asal ditulungnya mengembangkan agama paderi.
Kalakian, maka tatkala orang Belanda duduk pula di pantai barat pulau Perca, maka Semawang ditinggalkan oleh soldadu Inggeris, sebab itu penghulul yang telah lari itu menghadap Resident Du Puiy di Padang, maka dipuhunkannya pertelungan serta diserahkanya saluruh tanah Menangkabau kapada Gouvernement Belanda (pada tahun 1821).
Kemudian dari pada itu beberapa soldadu Belanda disuruh duduk di Semawang, akan tetapi orang Paderi sakali-kali tiada merilakan perjanjian, yang tersebut tadi. Maka sebab penghulul-penghulul tiada berkuasa lagi, oleh karena itu Gouvernement harus menaaluekkan Tuanku-Tuanku dengan kakerasan.
Maka pada tahun 1822 Luitenant-Kolonel Raaff mengalahkan Tanah Datar, tetapi balatantara Belanda beserta dengan orang Melayu yang membantu sia-sia mencoba masuk ka tanah Lintau dan Agam; samantara itu orang Paderi mengembangkan kuasanya di Bonjol di Rau sampai ka tanah Batak pun.
Maka sapeninggal Tuan Raaff Kolonel de Stuers, yang menjadi wakil Gouvernement di Padang, salama pemerentahannya (dari tahun 1824 sampai tahun 1829) perang dengan orang Paderi tiada diulangkan, sebab pada sangka Tuan de Stuers lama kalamaan orang Paderi akan menjunjung perentah Gouvernement, kalau orang Belanda lemah lembut kalakuannya; tambahan lagi pada kutika itu soldadu Belanda sadikit saja di Padang Darat, karena Gouvernement berperang dengan Pangeran Dipa Negara di tanah Jawa. Maka Tuan de Stuers mendirikan beberapa benteng, yang terutama sakali Fort Van der Capellen dan Fort de Kock.
Maka pada masa pemerentahan Luitenant-Kolonel Elout (dari tahun 1831 sampai tahun 1834) Gouvernement memerangi orang Paderi pula, sahingga saluruh Padang Darat sampai ka Rau taaluk. Dalam pada itu pun Mayoor Mikhiels berjalanan menyusur pantai sampai ka Baros, lalu dialahkanya orang Aceh, sebab orang itu telah menyerang benteng Belanda di pulau Poncang di telook Tapanuli.
Maski pun pada tahun 1832 pantai barat Pulau Perca taaluk kapada Gouvernement, tetapi tanah itu tiada juga sentausa dengan sungguh-sungguh, melainkan salaku gunung api, yang tiba-tiba meletus.
Maka pada suatu hari berhimpunlah beberapa Tuanku di Bonjol dikapalai oleh Tuanku Imam, gelarnya Malim Besar; Adapun marika-itu bersumpah-sumpahan membu-nuh segala soldadu Belanda.
Hatta, maka sakunoyung-kunyung orang Paderi mengamuk orang isi benteng di Bonjol, sahingga saorang soldadu juapuns tiada lepas.
Sudah itu kabanyakan benteng disabelah utara Fort de Kock dibinasakan musuh. Maka Tuan Elout amat mas-gul dan syak hatinya; maka segala penghulu yang setia kapada Gouvernement tiada dipertayainya lagi.
Maka tiada berapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka datanglah ka Padang wakil Gouverneur-Generaal, Generaal Riesz namanya, maka dibawanya soldadu 1000 orang.
Arkian, maka Generaal Riesz dan Kolonel Elout beserta dengan laskarnya masuk kadalam tanah Agam, lalu dengan susah payah ditaalukkannya pula Padang Darat, hanyalah negeri Bonjol tiada dapat dialahkannya: di situlah Tuanku Imam dengan kawannya melawan balatanntara Belanda dengan gagah berani. Adapun negeri Bonjol dikepung orang Belanda dari tahun 1833 sampai tahun 1837, baru soldadu Gouvernement masuk, maka Tuanku Imam ditawan, lalu dibuaung ka pulau Ambon.
Syahdan, maka tengah perang itu pun pada tahun 1833 Gouverneur-Generaal Van den Boskh datang melihat hal ahwal pulau Perca, maka ditentukkannya perjanjian dengan penghulo-penghulo Melayu, serta dititahkanoya membuat jalan raya dari Padang ka Bukit tinggi, demikianlah kahasilan dan barang dagangan boleh dibawa dengan pedati, tetapi dabulu dipikul saja oleh kuli atau kuda beban. Oleh karena itu Padang Panjang dan Bukit Tinggi menjadi negeri yang ramai. Pada tahun 1892 dibuat Gouvernement jalan kareta api dari Padang ka Padang Panjang, dan dari Padang Panjang ka Bukit Tinggi, dan lagi dari Padang Panjang kapada tambang batu arang dekat batang Ombilin.
Hatta, maka pada tahun 1837 Kolonel Mikhiels naik Gouverneur di Padang, Tuan itulah yang menyuruh orang Melayu bertanam kopi serta menjuar buah kopi kapada Gouvernement dengan harga yang tetap.
Bermula, maka saorang Tuanku Paderi tinggal lagi, yaitu Tuanku Tambusai. Adapun Tuanku itu terlalu lalim dan bengis kapada orang Batak, maka tempat kaduduokkannya dalam bentenguya di Dalu-dalu di tepi batang Sosak. Maka kota itu dialahkan oleh Tuan Mikhiels serta Tuanku Tambusai mati tenggelam di dalam sungai, ku-tika menyeberrang hendak lari.
¹ Tuanku yaitu nama panggilan penghulu agama, yang mengajar dalam saboceh madarsah (surau) yang besar.
FASAL XVI.
HIKAYAT TANAH HINDIA DARI TAHUN 1815 SAMPAI SAKARANG
Alkesah, maka diceriterakan hikayat tanah Palembang pada masa G. G. Van der Capellen memerentah tanah Hindia. Adapun Sultan Najmu'ddin diasut oleh Tuan Raffles di Bangkahaelu mengaku dirinya di bawah hukoom Raja Inggeris, maka diturutnyalah kahendak itu, tetapi Tuan Muntinghe wakil Gouverneur-Generaal di Palembang menu-runkan Sultan Najmu'ddin serta merajiakan pula Sultan yang lama, yaitu Sultan Badru'ddin; maski pun ialah yang dahaelu membunuh sakalian orang isi benteng Belanda di Palembang, tetapi Tuan Muntinghe percaya juga akan dia.
Maka sakali peristiwa pada tahun 1819 Tuan Muntinghe berangkat ka udik hendak memeriksa perbucatan orang Inggeris di situ.
Adapun Sultan Badru'ddin menaruh khianat dalam hatinyra, maka sapeninggal Tuan Muntinghe disuruhnya raayatnya mengamuk orang Belanda di Palembang. Sungguhpun Sultan tiada menyampaikan maksudnya, tetapi Tuan Muntinghe beserta dengan orang Belanda meninggalkan Palembang, sebab soldadu sadikit orang saja.
Syahdan, maka balatantara dititahkan oleh Gouverneur-Generaal menaelukkan tanah Palembang, akan tetapi kalang-kapan itu tiada dapat sampai ka Palembang, karena dekat negeri Palembang dibuat oranglah kubu yang bermariam, terutama poolau Kembaro di muara sungai Palaju amat sangat teguoh kotanya, dan lagi dari tepi ka tepi sungai Musi direntangkan musuh rantai besi akan mengempang kapal Belanda.
Maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu pada tahun 1821 berlayarlah pula angkatan Gouvernement kapada Palembang. maka panglima besar soldadu, yang menumpang di kapal, yaitu Generaal De Kock. Adapun balatantara itu sedang ramai berperang sampai ka Palembang, lalu bersedia menembak keraton. Maka Sultan Badru'ddin tawar hatinya seraya menyerahkan dirinya, lalu ia pun dibuang Gouvernement ka pulau Ternate.
Satelah itu, maka dirajakan oleh Gouverneur-Generaal Ahmad Najm'uddin, anak Sultan Najmu'ddin serta Najmu'ddin beroleh sabidang tanah dengan gelar Susuhunan. Akan tetapi sebab Sultan dan Susuhunan durhaka, maka kadua-duanya diturunkan oleh Gouverneur-Generaal. Sejak itu tanah Palembang di bawah perentah Gouvernement sendiri. Akan negeri-negeri di hulu Palembang belum taaluk, upamanya Rejang, Lebong, Empat Lawang, Pasemah dan lain-lain.
Maka lama kalamaan negeri itu kabanyakan membawa dirinya kabawah hukum Gouvernement, maka tanah Pasemah yang kasoodahan sakali masuk jajahian Belanda pada tahun 1868. Maka tanah Palembang makin lama makin ramai sebab orang negeri tiada dianiaya lagi oleh Sultan dengan sanak saudaranya.
Alkesah, maka pada tahun 1822 mangkatlah Sultan Amangku Buana IV di Jogya, ditinggalkannya saorang anak yang dua tahun umurnya, oleh karena itu Sultan yang muda itu dipangku oleh beberapa orang sanak saudaranya, maka dalam orang itu Pangeran Dipa Negara, yaitu mamanda Baginda.
Adapun orang Jogya pada masa itu tiada senang hatinya, sebab dibayarnya beya terlalu banyak kapada Sultan dan kapada priayi, maka hasil dan beya itu 34 macamnya, jangan dikata lagi yang diambil oleh manteri-manteri deugen batin, dan oleh orang Cina, yang menyewa (pak) beya itu; teru-tama orang Cina itu kabencian orang negeri terlalu amat dari kasangatan lobanya.
Dan lagi orang besar-besar tiada juga senang hati, sebab dititahkan oleh G. G. Van der Capellen, bahua tanahnya¹ tiada boleh disewakannya lagi kapada orang Belanda atau kapada orang Cina.
Bermula, maka Pangeran Dipa Negara menaruh juga dendam dalam hatinya, sebab pada sangkanya Gouvernement kurang mengendahkan akan dia, maka terbitlah niatnya dalam hatinya hendak durhaka. Mula-Mula ia pun bertapa dan berziarah kapada tempat yang keramat akan membesarkan namanya kapada orang Jawa, sambil bermuafakat dengan beberapa orang besar-besar dan dengan beberapa orang ulema.
Arkian, maka pada suatu hari Pangeran Dipa Negara dengan raayatnya menyerang negeri Jogya, tetapi tiada dapat masuk, sebab itu dikepungnya negeri itu; maka orang Jawa makin lama bertambah banyak berkumpul dengan Pangeran yang durhaka. Maka tatkala balatantara Belanda kembali dari pada pulau Selebes, baru negeri Jogya lepas dari pada musuh.
Maka sia-sialah Gouverneur-Generaal mencoba mendamai-kan Pangeran Dipa Negara, sebab Pangeran itu hendak naik Sultan segala orang Islam di pulau Jawa.
Syahdan, maka pada tahun 1826 G. G. Van der Capellen turun, lalu digantikan oleh G. G. Du Bus de Gisignies, serta Generaal De Kock menjadi Luitenant-Gouverneur-Generaal (G. G. Muda).
Adapun perang di pulau Jawa itu terlalu lanjut. Sungguhpun orang yang durhaka itu acap kali alalah, tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu marika-itu berhim pun pula, lalu didatanginya sakunung-kunyung satumpuk soldadu atau melanggar sabuah kota. Maka panglimanya yang amat pandai dan berani yaitu Sentot, anak Raden Rangga Prawira-di-Reja, yang digelari oleh Pangeran Dipa Negara Ali Basa. Di antara sahabat Pangeran itu ada saorang-orang alim, Kyahi Maja namanya; ialah yang memberi nasihat kapada Pangeran Dipa Negara membunuh sakalian tawanan, demikianlah dibenuhnya dua orang wakil Sultan yang muda, Sungguhpun kadua orang masuk kaum Pangeran Dipa Negara.
Adapun balatantara Gouvernement dibantu oleh raayat Susuhunan Sala dan oleh raayat Pangeran Mangku Negara dan oleh raayat Pangeran Paku Alam, maka Pangeran Mangku Negara serta anaknya mashur namanya dari sebab beraninya dalam perang itu.
Arkian, maka Gouverneur-Generaal menjadikan Sultan Amangku Buana wakil Sultan yang muda, sebab berharap orang yang durhaka suka menjunjung titah Sultan itu; tetapi niat itu tiada disampaikan oleh Tuan Besar, karena tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu Sultan yang tua itu berpulang ka rahmatu'llah.
Maka tatkala balatantara Belanda ditambah 3000 orang soldadu. maka Generaal De Kock mengepung tanah tempat orang yang durhaka itu; kalau sabuah negeri dialahkannya, maka disuruhnya dirikan sabuah benteng yang kecil, supaya negeri itu jangan diserang musuoh pula.
Demikianlah lama kalamaan karajaan Pangeran Dipa Negara susut, sahingga orang yang durhaka itu dikepung di tanah Jogya sabelah selatan di antara sungai Praga dengan sungai Bagawanta; jangankan orang banyak, sahabatnya pun tiada percaya lagi akan untung baik Pangeran Dipa Negara; Kyahi Maja khianat kapadanya seraya ‘Nentot memperhambakan dirinya kapada Gouvernement bersama-sama dengan raayatnya.
Kasoodahannya Pangeran Dipa Negara terpaksa menyerahkan dirinya kapada Generaal De Kock; lalu ia pun dibuang oleh Gouverneur-Generaal ka Menado pada tahun 1830.
Satelah sudah perang itu, maka perhinggaan tanah Jogya dan tanah Sala diobahkan oleh Gouvernement, yaitu tanah Banyumas, Bagelen, Madiun dan Kediri masuk jajahana Belanda, tetapi kadua Raja itu tiap-tiap tahun akan beroleh uang akan ganti ruginya.
Adapun Susuhunan kecil hati dari sebab perobahan itu, maka ditinggalkannya keratonnya hendak bertapa di kubur nenek moyangnya di Imagiri, saperti laku hendak meniru Pangeran Dipa Negara.
Maka khawatirlah Gouverneur-Generaal, maka Susuhunan dititahkannya buang ka pulau Ambon; lalu putera Bagingda naik takhta karajaan dengan gelar Susuhunan Paku Buana VII.
Bermula, maka karena perang itu utang tanah Hindia bertambah-tambah banyak, sabingga negeri Belanda membayauang yang kurang itu. Oleh sebab itu G. G. Van den Boskh mencari daya upaya, supaya belanja kurang serta kahasilan dan beya bertambah. Maka dijalankan oleh Tuan Van den Boskh undang-undang dari hal tanam-tanaman, yang harus ditanam oleh orang Jawa.
Adapun perkara aturan yang terutama sakali, yaani:
Sawah tiap-tiap desa saperlimanya wajiib ditanami dengan tanam-tanaman yang dikahendaki oleh Gouvernement, maka kahasilan itu harus dijoael orang kapada Gouvernement. Jikalau harga pekan kahasilan itu lebih dari pada beya, yang dibayar sediakala, maka orang desa beroleh kalebihan itu. Jikalau harga kahasilan kurang dari pada beya, maka yang kurang itu ditanggung oleh Gouvernement, asal rugi itu tiada disebabkan oleh lalai dan malas orang desa itu.
Maka tanaman, yang terutama sakali, yaitu kopi, gula, tembakau, tarum, lada, kayu manis dan teh. Maka dalam tanam-tanaman itu ada yang harus disediakan dahulu, sabelum boleh dijoael orang, upamanya: tembakau, tarum, gula dan lain-lain.
Oleh karena itu Gouvernement berjanji dengan orang Belanda, yang hendak mendirikan fabriek, bahua tebu dan nila, yang ditanam orang desa, disediakan dalam fabriek itu, lalu dibeli oleh Gouvernement dengan harga yang tetap.
Adapun aturan itu mendatangkan laba yang banyak, sebab harga kahasilan lebih banyak dari pada upah orang desa; tetapi pekerjaan orang itu tiada sama rata kapada segala orang desa, sebab sawah ladang ada yang elok, ada yang buruk. Upamanya: di Prabalingga orang, yang disuruh bertanam tebu, makan upah 21 sahari, tetapi di Tegal upah-nya 11, 5 sen; orang yang bertanam kopi di Pasuruhan 48 sen sahari, di Kediri hanya 3 sen sahari. Maka sebab beberapa macam tanam-tanaman mendatangkan rugi, oleh karena itu Gouvernement menitahkan berhenti dari pada bertanam tanam-tanaman itu; demikianlah pada zaman sakarang ditanam orang kopi saja dengan perentah Gouvernement dalam beberapa karesidenan di pulau Jawa, di Padang Darat dan di Tapanuli.
Satelah perang di tanah Jawa putus, maka pulau-pulau Hindia sentausa beberapa tahun lamanya, maka pada masa itu Gouvernement menyengguh-nyungguhi akan membinasakan orang perompak; Adapun orang itu hampir pada saluruh tanah Hindia, lebih-lebih di pulau-pulau Riau dan pulau-pulau Sulu. Bertahun-tahun lamanya orang itu diperangi oleh kapal Gouvernement, di mana-mana perahunya dan kampungnuya di bakar orang Belanda. Bukannya orang risau saja yang merompak, melainkan raja pun menyeruh raayatnya merampas kapal yang terkaram.
Adapun demikianlah mulanya, maka pada tahun 1846 G. G. Rokhussen (dari tahun 1845 sampai tahun 1851) menitahkan laskar memerangi Raja Beleling dan Raja Karang Asam dan Raja Klongkong di pulau Bali. Satelah sampai ka pulau Bali, maka balatantara Belanda mengalahkan keraton Raja Beleling di Singaraja, sahingga Raja itu minta maaf sambil bersumpah akan melakukan kahendak Gouvernement; tetapi baru kapal perang sudah berlayar dari pulau Bali, maka Raja itu mungkir janji.
Arkian, maka dengan segera kalangkapan Gouvernement berlayar pula ka pulau Bali; akan tetapi balatantara Belanda tiada dapat masuk kadalam kota Jagaraga, yang amat teguh-teguh, sebab itu angkatan itu pulang.
Maka pada tahun 1849 berangkat pula kapal 89 buab, satengahnya kapal perang, satengahnya kapal yang bermuat alat senjata dan bekal-bekalan, maka soldadu 5000 orang menumpang di kapal di bawah perentah Generaal-Mayoor Mikhiels.
Sungguhpun orang Bali 15000 orang menantikan mu- suhnya di kota Jagaraga, tetapi tempat yang teguh-teguh itu dialahkan juga oleh soldadu Belanda. Sudah itu Gene-raal-Mayoor Mikhiels berlayar ka Klongkong; dalam pada itu pun Raja Mataran di pulau Lombok mengalahkan Raja Karang Asam. Maka beberapa kali jadilah perang yang amat ramai; maka pada suatu malam Tuan Mikhiels luka tengah perang, lalu mati. Pada akhiroya Luitenant-Kolonel Van Swieten menaalookkan segala Raja Bali, yang melawan Gouvernement.
Adapun Raja Beleling dan Raja Karang Asam dibenuh oleh anak buahnya sendiri; sebab itu tanah Beleling diberikan oleh Gouvernement kapada Raja Mataran, tetapi orang Beleling minta di bawah hukoom orang Belanda, maka permintaan itu dikabulkan oleh Gouverneur-Generaal.
Sabermula, maka diceriterakan hal ahwal pulau Berunai.
Adapun pada awal abad ini pulau itu tiada berapa difa-dulikan oleh Gouvernement, sebab pulau Jawa dan pulau Perca terutama dipeliharakan oleh pemerentah Belanda.
Maka di pulau Berunai sabelah barat banyaklah orang Cina, yang bersarikat akan menggali emas. Maka orang yang masock suatu persarikatan (kongsi) bersumpah-sumpahan hendak tulung menulung dan hendak menjunjung perentah kapalanya, jikalau perentah itu jahat sakali pun. Maka segala hal ahwal kongsi itu amat batin; kalau saorang-orang kongsi berani melawan perentah kapalanya atau kalau dibukanya rahasia kongsi itu, niscaya ia pun dibenuh orang, maka orang yang membunuh dia tiada pernah terdapat, sebab ia disembunikan oleh orang yang sakongsi dengan dia. Acap kali di pulau Berunai sabelah barat kapala kongsi salaku raja dengan tiada mengendahkan Gouvernement, dan lagi barang-barang yang gelap dan larangan banyak dimasukkannya, serta orang Dayak dianiayanya.
Maka sakali peristiwa kongsi Tai-kong memerangi dan menghalaukan kongsi Sam-ti-kiu, yang berbaik dengan Gouvernement.
Demi terdengar khabar itu kapada G. G. Rokhussen, maka dititahkannya balatantara menaaluekkan orang Cina, yang melawan Gouvernement.
Satelah orang Cina itu alah serta negeri Pemangkat di dalam tangan orang Belanda, maka orang Cina minta berdamai, apa lagi sebab kapal perang mengempang kuala sungai, jadi orang Cina kakoorangan bekal-bekalan dan obat bedil. Akan tetapi tiada berapa lamanya kemedian dari pada itu orang Cina durhaka pula.
Arkian, maka pada tahun 1854 Luitenant-Kolonel Andresen mengalahkan orang Cina, lalu soldadu Belanda masuk kadalam negeri orang Cina, yang terutama sakali, yaitu Montrado. Sudah itu, maka kabanyakkan kongsi diuraikan oleh Gouverneur-Generaal serta kapalanya dihukoom.
Syahdan, maka tiga tahun kemedian dari pada itu Gouverneur-Generaal terpaksa pula menyeruh angkatan perang ka tanah Bone, sebab Raja negeri itu melanggar perjanjian di Bungaya; Adapun Raja itu perampuan, Base Kajuar namanya. Maka Luitenant-Generaal Van Swieten berlayar ka Bajoru, lalu mengalahkan Bone, dan Pasempa dan Pompanua; sudah itu Raja Base Kajuar diturun-kan oleh Gouvernement dari pada karajaannya, serta iparnya Aru Palaka naik raja dengan rila raja tujuh orang, yang berkusea memilih Raja Bone.
Bermula, maka dalam tahun 1859 itu juga ada perang di tanah Banjarmasin. Maka distiulah ada cucunda marhum Sultan dua orang, yang sulung Tamjidi'llah namanya, yang bungsu bernama Hidayatu'llah. Maski pun ibu Tamjid gundik dan ibu Hidayatu'llah permaisuri, tetapi Tamji'd‘llah dirajakkan oleh Gouvernement.
Oleh karena itu orang Banjarmasin bermusuh dengan Gouvernement, maka satelah Pangeran Hidayatu'llah ditawan dalam tahun 1862, maka baru perang itu lama kalamaan berhenti.
Hatta, maka satu tahun dahaelu Sultan Banjarmasin sudah turun dari pada takhta karajaan dengan rila hati, lalu tanah Banjarmasin masuk jajahan Gouvernement,
Alkesah, maka tersebutlah perkataan negeri Aceh. Adapun Gouvernement sudah lama tiada berbaik dengan orang Aceh, sebab marika-itu merompak dan mencuri orang di pulau-pulau sabelah barat pulau Perca. Maka pada tahun 1872 terdengarlah khabar kapada G. G. Loudon (dari tahun 1872 sampai tahun 1875), bahua utusan Sultan mencari per-tulungan kapada raja-raja yang lain, sebab Sultan Aceh takut diperangi oleh orang Belanda. Oloh karena itu Gouverneur-Generaal minta keterangan, akan tetapi jawab Sultan tiada terus terang.
Kalakian, maka angkatan Belanda berlayar ka tanah Aceh, maka wakil Gouverneur-Generaal yang menumpang di kapal mencoba sakali lagi berdamai serta berteguh-teguhan janji dengan orang Aceh, tetapi sia-sia saja. Maka Sultan bertanguh-tangguh akan membalas surat wakil Gouvernement, sambil raayatnya membuat benteng dan kubu dengan sakuat-kuatnya.
Maka apabila dikatahui oleh wakil itu, bahua Sultan Aceh tiada mau memalingkan hatinya, maka balatantara Belanda naik darat di bawah perentah Generaal-Mayoor Kohler (pada tahun 1873).
Maka sedang ramai berperang soldadu Belanda masuk kadalam masyid raya, maka kaesokan harinya kutika Tuan Kohler meninjau musuh, maka ia pun kena peluru, lalu mati. Kemwudian dari pada itu balatantara itu meninggalkan tanah Aceh, istimewa pula sebab musim penghujan tiada lama akan datang.
Arkian, maka pada kasudahan tahun 1873 dilangkapkan Gouvernement pula angkatan yang besar, satelah mustaid, maka kapal itu berlayar ka tanah Aceh. Sudah sampai, maka soldadu itu naik darat lalu berjalan berangur-angsur menuju ka keraton, sambil berperang dengan tiada berkaputusan, karena orang Aceh itu amat gagah berani.
Mula-Mula masyid raya dimasuki pula oleh soldadu Belanda, sudah itu maka panglima besar Luitenant-Generaal Van Swieten menyouruh soldadunya mengepung keraton, akan tetapi Sultan dengan hulubalangnyia dan raayat sudah lari. Maka beberapa hari kemudian dari pada itu Sultan mangkat, maka Gouverneur-Generaal menitahkan tanah Aceh di bawah perentah Gouvernement.
Adapun pada sangka Tuan Van Swieten tanah Aceh lama kalamaan akan sentausa, sebab itu ia pun berlayar pulang ka Batawi dengan membawa soldadu yang kabanyakan, tetapi dengan sabenarnya tanah Aceh belum habis taalook, maka acap kali orang Aceh tiba-tiba mengamuk satumpuk soldadu. Di antara Gouverneur-Gouverneur Aceh Kolonel Van der Heiyden yang kanamaan; Tuan itu selamat dalam perang, sahingga tanah Aceh sentausa. Oleh karena itu Gouverneur-Generaal menyamakan pemerentahan dan undang-undang di tanah Aceh saperti di dalam negeri, yang sudah lama di bawah hukum Gouvernement, yaitu undang-undang itu koorang keras dari pada undang-undang yang kabiasaan pada masa perang.
Maka pada tahun 1885 ibu negeri kota Raja dikelelingi beberapa benteng, yang dihubhungkan dengan jalan kareta api. Akan kapala-kapala Aceh ada yang menjunjung titah Gouvernement, ada yang mengaku berajakan Tuanku Daud, kamanakan marhum Sultan, demikianlah hal tanah Aceh sampai sakarang.
Bermula, maka kabanyakan yang tersebut di atas ini dari hal perang, biarlah kita menceriterakan juga undang-undang dan perentah yang dititahkan oleh Gouvernement akan memelihara-kan orang Hindia. Adapun undang-undang yang terutama sakali dijalankan oleh Gouvernement pada tahun 1855; undang-undang itu bernama dalam bahasa Belanda, Regeerings-reglement, perkaranya yang terutama sakali yaani:
Gouverneur-Generaal memerentah tanah Hindia atas nama Raja Belanda serta lima Tuan Raad van Indie membicarakan perobahan dan undang-undang, yang akan dititahkan oleh Gouverneur-Generaal.
Gouverneur-Generaal berkuasa akan membuang orang, yang mengharukan orang negeri.
Jikalau orang dihukum oleh hakim Gouvernement akan dibenuh, maka Gouverneur-Generaal boleh meringankan hukuman itu.
Gouverneur-Generaal menitahkan berperang dan berdamai dan berteguh-teguhan janji dengan raja-raja di tanah Hindia.
Adapun pemerentahan terbahagi atas lima bahagian, Departement namanya; tiap-tiap Departement dikuasai oleh saorang Tuan Directeur, maka Departement itu namanya:
Departement van Binnenlandskh Bestuur (dari hal pemerentahan negeri).
Departement van Onderwiys, Eeredienst dan Niyverheid (dari hal pengajaran, agama dan lagi dari hal tambang, fabriek dan sab.).
Departement van Financien (dari hal utang piutang Gouvernement).
Departement van Yustitie (dari hal hakim hukum).
Departement van Burgerliyke Openbare Werken (dari hal rumah-rumah Gouvernement, jambatan, kareta api dan sab.).
Lain dari pada itu ada lagi Departement van Oorlog (dari hal perang) yang dikuasai oleh Legercommandant (kapala panglima), dan Departement van Marine (dari hal kapal perang) yang dikuasai oleh Commandant der Zeemakht (laksamana).
Orang bumi putera saboleh-bolehnya diperentahkan oleh kapalanya sendiri.
Orang, yang telah membuat kasalahan dihukum sapan-jang oondang-oondang yang tetap oleh hakim, yang diangkat oleh Gouvernement.
Majelis hakim yang mahatinggi (Hooggerekhtshof) duduk di Batawi; Adapun Tuan itu menghukum orang yang tinggi pangkatnya, dan lagi memeriksa hukuman, yang diputuskan oleh hakim yang lain, maka hukuman itu boleh dibenarkannya atau disalahkannya.
Orang asing, yang hendak diau di tanah Hindia harus minta izin kapada Gouverneur-Generaal.
Berjual beli orang dilarang Gouvernement.
Anak buah Gouvernement boleh monurut agama, yang dikahendakinya, asal undang-undang negeri jangan dilanggarnya.
Gouverneur-Generaal memperhatikan pengajaran kapada kanak-kanak, baik anak Belanda, maka anak bumi putera.
Adapun sapanjang perkara yang tersebut kemudian sakali sudah didirikan oleh Gouvernement lebih dari pada 500 buah sekola, tempat anak orang negeri belajar membaca, menulis, menghitung dan beberapa ilmu yang lain; maka guru di sekola itu kabanyakan telah cukup belajar dalam sabuh sekola guru (kweekskhool); maka kweekskhool itu sarakang lima buah; yang pertama-tama dibangunkan Gouvernement di Sala pada tahun 1852. Lain dari pada sekola anak bumi putera ada lagi empat buah sekola, tempat anak orang besar-besar dan kaya belajar lebih dari pada di sekola yang kabanyakan.
Maka pada tahun 1875 didirikan oleh Gouvernement sabuh sekola Dokter Jawa; apabila anak sekola itu sudah tammat belajar, maka ia disuruh oleh Gouvernement kapada suatu negeri akan mengobati orang yang sakit dan akan menanam katumbuhan; lain dari pada Dokter Jawa itu ada juga Manteri cacar. Pada zaman dahulu amat banyak orang mati sakit katumbuhan, tetapi sarakang jarang-jarang orang yang dicicar kena penyakit itu. Lagi pula orang miskin boleh mendapat obat atau dipeliharakan dalam rumah sakit dengan tiada membayar suatu apa-apa.
Syabdan, maka Gouvernement saboleh-bolehnya berusaba akan meramaikan perniagaan; sebab perniagaan mendatangkan laba kapada amat banyak orang; sebab itu jalan raya dan jalan kareta api dan kawat dan post dipeliharakan atau dibuat dengan titah Gouvernement; dan lagi pelabuhan dibaiki, upamanya pelabuhan di Tanjung Priok dan di teluk Bayur (Emmahaven) disabelah selatan negeri Padang.
Sungguhpun jalan kareta api dan kawat (telegraaf) sudah banyak di tanah Hindia, tetapi belum lama diper-gunakan orang; jalan kareta api yang bermula sakali dibuat dari Samarang ka Sala pada tahun 1864, maka kawat yang pertama dikerjakkan orang pada tahun 1856 dari Batawi ka Bogor.
Adapun pokerjaan sawah ladang diperhatikan juga oleh Gouvernement; dalam beberapa negeri di tanah Jawa (Demak, Prabalingga) digali orang parit dan diboceat orang pintu ayar, supaya ladang yang tiada berapa harganya, akan menjadi sawah yang elok, dan supaya ayar besar jangan membinasakan kampung dan sawah.
Maka pada tahun 1870 dijalankan oleh Gouverneur-Generaal undang-undang mengatakan, bahua hutan rimba boleh disewa kapada Gouvernement 75 tahun lamanya dengan harga yang murah; demikianlah tanah yang sunyi, sakarang banyak ditanami tembakau, gula dan ll., sahingga banyak orang mencari kahidupannya di sana.
Adapun Raja-Raja di tanah Hindia ada yang taaluk kapada Gouvernement, ada yang berteguh-teguhan janji saja, Raja itulah boleh memerentahkan negerinya dengan kahendaknya sendiri, asal diturutnya beberapa perkara yang di-janjikannya dengan Gouvernement, yaani:
Anak buahnya tiada boleh merompak, melainkan patut menulung anak kapal yang terkaram. Raja itu tiada boleh berteguh-teguhan janji dengan Raja yang lain; anak buahnya tiada boleh memperniagakan hamba sahaya.
Jikalau kita bandingkan hal orang kecil pada zaman dahulu dengan zaman yang sakarang nyatalah, bahua halnya sakarang terlebih senang dan selamat dari pada kutika kuasa Raja-Raja tiada berhingga; Raja itu acap kali menganiaya anak buahnya, karena tiada undang-undang lain, melainkan ka-hendak dan kasukaan Raja saja.
¹ Di tanah Jogya dan Sala tiap-tiap manteri beroleh sabidang tanah, maka kahasilan tanah itu ganti gaji.
DAFTAR PADA MENYATAKAN BEBERAPA PERKARA HIKAYAT HINDIA
Adapun Hikayat Hindia terbahagi lima, yaani:
- Zaman Purbakala sakali.
- Zaman Hindu.
- Zaman Islam.
- Zaman Kompani.
- Zaman Gouvernement.
I. Zaman Purbakala sakali.
II. Zaman Hindu.
| 1354 | Sultan Maliku'saleh memerentah di Samudera. |
| 1419 | Maulana Malik Ibrahim berpulang di Gersik. |
| 1478? | Karajaan Majapahit binasa. |
| 1481? | Karajaan Pejajaran binasa. |
| 1486 | Bartholomeus Diaz sampai ka Tanjung Pengharapan. |
| 1498 | Vasco de Gama sampai ka Kalikut. |
III. Zaman Islam.
| 1509 | Orang Portugis sampai ka Malaka. |
| 1511 | D'Alboquerque menaaluekkan Malaka. |
| 1519—1521 | Magelhaes berlayar mengelelingi bumi. |
| 1524 | Sultan Ibrahim melepaskan tanah Aceh dari pada hukum Raja Pedir dan menghalaukan orang Portugis. |
| 1537 | Galvano menjadi Gouverneur di pulau Moloko. |
| 1596 | Cornelis de Houtman datang ka Banten. |
| 1598 | Admiraal van Warwijk singgah di Banten, di Banda, di Ambon dan di Ternate. |
| 1601 | Panembahan Sutan Wijaya mangkat serta digantikan oleh puteranya Seda Krapyak. Nakhoda Wolfert Harmensz berperang dengan Laksamana Mendoco di Banten. |
IV. Zaman Kompani.
| 1602 | Kajadian Kompani. |
| 1605 | Admiraal Van der Hagen mengalahkan orang Portugis di pulau Ambon dan di pulau Tidore. |
| 1606—1636 | Sultan Iskandar Muda memerentah di tanah Aceh. |
| 1610 | Gouverneur-Generaal yang pertama Pieter Both datang ka tanah Hindia. |
| 1613 | G. G. Both mengutus kapada Panembahan Mataram. |
| 1619 | Jan Pieterszoon Kun mendirikan negeri Batawi. |
| 1621 | G. G. Kun menaalookkan orang Banda. |
| 1641 | Malaka dialahkan oleh Kompani. |
| 1667 | Admiraal Speelman menaaluekkan Mangkasar. Perdamaian di Bungaya. |
| 1674 | Pangeran Truna Jaya durhaka kapada Susuhunan Mataram. |
| 1678 | Kompani beroleh Samarang. |
V. Zaman Gouvernement.
| 1800 | Tanah Hindia di bawah Gouvernement Belanda. |
| 1808—1811 | G. G. Daendels memerentah di tanah Hindia. |
| 1808 | Jalan raya dari Anyar sampai ka Panarukan dibuat orang. |
| 1811 | Orang Inggeris mengalahkan tanah Jawa. |
| 1811—1816 | Luitenant-Gouverneur Raffles memerentah di tanah Hindia. |
| 1825—1830 | Gouvernement berperang dengan Pangeran Dipa Negara. |
| 1830 | Undang-Undang tanam-tanaman di tanah Jawa dijalankan. |
| 1854 | Orang Cina di pulau Berunai sabelah barat taaluk. |
| 1864 | Jalan kareta api yang pertama di tanah Hindia dibuat orang dari Samarang ka Sala. |
| 1873 | Perang di tanah Aceh. |
| 1883 | Gunung Rakata (Krakatau) meletus. |
| 1890 | Raja Willem III mangkat, lalu digantikan oleh Puteri Wilhelmina. |
DAFTAR NAMA SEGALA GOVERNEUR-GENERAAL SERTA LAMA PEMERENTAHANNYA
- Both — dari tah. 1610 sampai tah. 1614
- Reijnst — 1614 sampai 1615
- Reaal — 1615 sampai 1619
- Jan Pieterszoon Kun — 1619 sampai 1623
- De Carpentier — 1623 sampai 1627
- Specx — 1629 sampai 1632
- Brouwer — 1632 sampai 1636
- Van Diemen — 1636 sampai 1645
- Van der Lijn — 1645 sampai 1650
- Reiniersz — 1650 sampai 1653
- Maetsuijker — 1653 sampai 1678
- Van Guns — 1678 sampai 1681
- Speelman — 1681 sampai 1684
- Camphuijs — 1684 sampai 1691
- Van Outhoorn — 1691 sampai 1704
- Van Hoorn — 1704 sampai 1709
- Van Riebeek — 1709 sampai 1713
- Van Swol — 1713 sampai 1718
- Zwaardekroon — 1718 sampai 1725
- De Haan — 1725 sampai 1729
- Durven — 1729 sampai 1732
- Van Cloon — 1732 sampai 1735
- Patras — 1735 sampai 1737
- Valckenier — 1737 sampai 1741
- Thedens — 1741 sampai 1743
- Van Imhoff — 1743 sampai 1750
- Mossel — 1750 sampai 1761
- Van der Parra — 1761 sampai 1775
- Van Riemsdijk — dari tah. 1775 sampai tah. 1777
- De Klerck — 1777 sampai 1780
- Alting — 1780 sampai 1796
- Van Overstraaten — 1796 sampai 1801
- Sieberg — 1801 sampai 1804
- Wiese — 1804 sampai 1808
- Daendels — 1808 sampai 1811
- Janssens — 1811
- Raffles (Luit.-Gouverneur) — 1811 sampai 1816
- Fendall — 1816
- Van der Capellen — 1819 sampai 1826
- Du Bus de Gisignies (Commissaris-Generaal) — 1826 sampai 1830
- De Kock (Luit.-Gouv.-Gen.) — 1830
- Van den Boskh — 1833
- Baud — 1833 sampai 1836
- De Eerens — 1836 sampai 1840
- Van Hogendorp — 1840 sampai 1841
- Merkus — 1841 sampai 1844
- Reijnst — 1844 sampai 1845
- Rokhussen — 1845 sampai 1851
- Duijmaer van Twist — 1851 sampai 1856
- Pahud — 1856 sampai 1861
- Slut van de Beele — 1861 sampai 1866
- Mijer — 1866 sampai 1872
- Loudon — 1872 sampai 1875
- Van Lansberge — 1875 sampai 1881
- s'Jacob — 1881 sampai 1884
- Van Rees — 1884 sampai 1888
- Pijnacker Hordijk — 1888 sampai 1893
- Van der Wijck — 1893
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.