CERITA-CERITA NEGERI ACEH
J. P. SCHOEMAKER
CERITA-CERITA NEGERI ACEH
TERCERITA PADA BEHASA WOLANDA
karya
J. P. SCHOEMAKER
Kapitein der Infanterie
TERPINDAH KAPADA BEHASA MELAYU
OLEH
H. AARS
1ste Luitenant der Infanterie
BEHAGIAN YANG PERTAMA
CITAKAN YANG KADUWA
BATAVIA
G. KOLFF & Co.
1897
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl
Ilustrasi sampul: Battle of the Foot Soldiers with Lances 1514/1516, karya Hans Burgkmair I
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
CERITA DARI SUWATU SETAN
Waktu cerita ini, maka tida berberapa jahu dari Kota Raja, ada suwatu benteng. Benteng ini sekarang sudah di rombak. Tetapi dahaelu kulilingnya itu benteng melayinkan ada rawah-rawah saja. Siapa-Siapa yang tinggal di pos ini menjadi sakit saja; dan lagi pos ini jahu sekali dari pos-pos layin, dan cuma satu jalan kecil pergi ka-pos itu. Melayinkan akan dienst saja orang-orang pergi ka-situ, dan lagi selamanya orang itu membawa pengantaran, suka ada sampai 25 orang yang pakey senapan. Siapa-Siapa yang mau pergi ka-benteng ini misti masuk dulu di suwatu hutan besar; seperapat jam bagitu, lantas orang ketemu suwatu galangan, di muka galangan itu ada suwatu kebon tebu, yang sudah di tinggalkan oleh punyanya. Kalu sudah liwat kebon tebu ini, baru orang sampey di benteng. Benteng ini rupanya seperti benteng-benteng layin; melayinkan orang-orang soldadu saja rupanya pucet dan kurus sekali. Dan lagi dekat pada benteng itu ada satu tempat kuburan kecil. Cerita Aceh I.
Dienst di pos ini juga susah sekali, dan lagi membikin capey sekali pada orang-orang soldadu. Kalu orang kaluwar dari benteng, tentu orang di pasang, kalu tida di tubruk orang Aceh. Seringkali juga patrulie-patrulie sudah di bunuh sama sekali dekat pada benteng ini. Malam-Malam orang tida bisa tidur sebab di gigit nyamuk beribu-ribu.
Banyaknya orang di pos itu duwa opsier dan kira-kira seratus orang soldadu.
Pada suwatu malam kira-kira jam pukul duwa belas, di kasih tahu pada opsier kommandan jaga, bahuwa satu sekilwak di seblah lor mendapat lihat suwatu orang berpakey pakeyan putih di tempat kuburan. Sekilwak ini, suwatu orang jawa, takut pasang itu orang, dari apa di kirakan setan. Itu litte-nan kata barangkali salah lihat, barangkali sepotong kayu di kirakan orang. Tetapi sekilwak itu kata tida salah lihat, betul tadi diya sudah lihat orang pakey putih.
Ampat malam lamanya bagitu saja. Layin-Layin sekil-wak mendapat lihat juga orang pakey putih di tempat kuburan itu, dan lagi selamanya kalu kira-kira jam pukul 12.
Lama-Lama orang jawa itu menjadi takut samocwanya. Cobalah pikir, bukan boleh menjadi susah sekali nanti? Sebab itu, tuwan kommandan su- ruh sembuni berberapa orang di tempat kuburan; tetapi sekarang tida ada apa-apa. Bagitu rupa di bikin duwa tiga kali, tetapi selamanya tida kelihatan setan. Sekarang tuwan kommandan suruh sediya berberapa pelor-pelor kembang api di bastion, dan lagi itu pos-pos di tambah orang. Waktu jam pukul 10 malam opsier-opsier dengan soldadu-soldadu tunggu ngintip saja. Di luwar benteng diyam sekali.
Lama-Lama bagitu sekilwak di muka senapan buni lonceng pukul 12. Baru habis di pukul sebentar kalihatan itu orang pakey putih kaluwar dari tanah. Pada sama waktu di pasang juga dari bastion dengan pelor kembang api; lantas itu tempat kuburan menjadi terang. Orang-Orang di bastion sudah di sediya akan pasang, tetapi belon di bikin apa-apa lantas itu setan sudah hilang lagi; cuma kedengaran ketawa saja. Wah, betul setan itu, katanya orang jawa itu.
Besoknya bagitu, ada suwatu sersan jawa bernama Wakidin minta bicara kapada tuwan kommandan. Katanya diya mau periksa itu perkara setan, kalu boleh dapat 24 jam permisie akan tinggal di luwar benteng. Lantas kommandan itu tanya kapada si-Wakidin bagimana maunya bikin. Wakidin ini katanya: “ya, tuwan kommandan, saya tida percaya itu perkara setan; saya sudah lihat, itu orang putih selamanya kaluwar kalu sudah di bunuh lampu di rumah jaga aceh di sebelah situ. Kalu tuwan kommandan kasih permisie, ini malam saya mau masuk di hutan; saya mau ngintip di dalam rumah jaga itu; kalu saya membawa revolver sama keris, saya tida takut puntianak atawa setan“.
Lantas bagitu, sersan Wakidin di kasih permisie. Jam pukul anam sorey, tempo orang-orang soldadu semuwa misti ada di dalam benteng, dari apa jam pukul 6 di tutup pintunya benteng, sersan Wakidin itu tinggal di luwar, tersembuni di belakang rimba-rimba. Diya tinggal tunggu di situ sampey gelap. Tempo jam pukul tujuh lantas diya keluwar dari tempat sembuniananya; dengan sembuni-sembuni badan lantas diya sampey di pinggir hutan. Satu jam lagi diya sampey dekat rumah jaga orang Aceh.
Sebab rumah³ aceh itu selamanya di bikin tinggi sekali pakey tiyang, dari apa suka ada banjir besar, si-Wakidin itu boleh sembuni di bawahnya rumah jaga orang aceh itu. Tempo sudah sembuni di bawah dawon-dawon kering,diya tinggal tunggu saja. Tida berapa lama, ada kira-kira tiga puluh orang aceh datang di muka rumah itu, semuwanya membawa senjata. Bersatu-Bersatu orang aceh itu nayik tangga; sampey di dalam rumah diya orang duduk di pinggir dinding. Segala perkara ini kaliha- tan deri bawah rumah, di mana si Wakidin tinggal ngintip saja, sebab bambu-bambunya lantai tida rapat sekali.
Di tengah-tengah orang-orang yang berkumpul di situ, ada terdiri satu orang berpakey pakeyian putih; di kepalanya ada satu surban sutera berkembang-kembang; di ikat pinggangnya ada klewang pakey emas dan intan, dan lagi ada satu revolver; di tangannya kanan dia memegang satu tas-beh; di tangannya kiri ada satu koran. Umurnya kira-kira 40 tahun, mukanya kuning, pakey brewok; rupanya seperti orang arab betul. Tempo diya sudah periksa dan hitung orang-orang di dalam rumah itu, diya mulai bicara. Lantas si-Wakidin dengar diya suruh berkumpul semuwa orang-orang aceh di dalam mesigit jam pukul satu, malam ini. Lagi si-Wakidin dengar nanti diya mau unjuk suwatu tempat di mana ada banyak senjata dan di belakang nanti diya mau kasih perentahnya.
Lantas semuwa orang-orang aceh itu meratib memukul dadanya dan betereyak la ilah illa allah.
Tempo orang yang pakey putih itu baca suwatu doa dari koran, orang-orang layin itu goyang kiri kanan kepalanya sampey lama kelamaan menjadi panas hati.
Sekarang si-Wakidin sudah sampey lihat; kalu diya tinggal terlalu lama barangkali boleh dapat cilaka, sebab itu diya berangkat, akan kasih tahu pada tuwan kommandan apa yang diya sudah dapat lihat.
Kira-Kira 200 pas dari benteng diya menurut suwaranya burung; bagitu juga di bikin tempo diya datang sampey 150 dan 100 pas dari benteng. Dari benteng orang menyahut bagitu rupa juga.
Dengan pelahan-pelahan pintu benteng di buka, habis si-Wakidin ada di dalam benteng lagi.
Tempo si Wakidin sudah cerita segala perkara yang diya sudah diya dapat lihat tadi, tuwan kommandan suruh antree semuwa'soldadu-soldadu; lantas tuwan kommandan kasih tahu apa yang si-Wakidin sudah dapat lihat tadi.
Sekarang orang³ jawa baru mengarti yang bukan setan itu tetapi pengintip. Opsier-Opsier pikirannya tentu itu tempat di mana itu setan selamanya di lihat, di sitee juga di simpan senjata-senjata; bagitu juga pikirannya si-Wakidin. Sebab itu diya minta permisie akan periksa betul itu tempat kuburan.
Sekarang ini, baharu kira-kira jam pukul 11; jadi masih sampey tempo. Lantas si-Wakidin pilih berberapa soldadu-soldadu yang sampey brani. Bersama-sama diya orang berjalan sembuni-sembuni ka-tempat kuburan, cu- ma membawa kapmes sehaja. Sasudahnya sampey di situ, di periksa betul tanahnya. Satengah jam orang sudah cari kiri kanan, tetapi percuma. Si-Wakidin sudah mau kumpul orang-orangnya akan pulang lagi, lantas ada suwatu soldadu jatoh di dalam suwatu lobang sampey di pinggangnya. Ini barangkali tempatnya itu setan, kiranya si-Wakidin. Sebentar orang membikin beresih itu lobang, lantas kalihatan suwatu lobang kira-kira satu elo satengah dalamnya.
Itu lobang tadinya di tutup dengan bambu, lantas di atas bambu itu di taroh alang-alang Sama lantera kecil lobang itu lantas di periksa, lantas di bawah lobang itu kalihatan klewang-klewang, tumbak-tumbak, senapan-senapan, obat pasang dan pelor-pelor.—Di dalam lobang-lobang bagitu rupa, yang dulu di pakey akan simpan pekakas-pekakas kerja sawah, seringkali patrulie-patrulie sudah dapat segala rupa senjata.—Sebentar segala barang-barang di keluwarkan dari lobang itu, lantas di bawa ka-dalam benteng.
Di dalam benteng orang-orang juga sudah mengatur dan sediyakan segala barang-barang. Pos-Pos dan jaga di tambah orang; pelor-pelor dan obat pasang dan pelor-pelor kembang api di sediya di bastion; ember-ember dan ketel-ketel di sediya di muka gudang obat dan gudang rangsoom, supaya se- bentar boleh di pakey kalu barangkali rumah-rumah itu kena di makan api.
Perampuwan-Perampuwan dan anak-anak di kumpul dan di sembunikan di tempat di mana tida bisa mendapat cilaka. Bagitu rupa pada jam pukuel satu segala rupa sudah tersediya; orang tinggal tunggu saja. Supaya di luwar benteng orang jangan mendapat tahu apa-apa, itu soldadu-soldadu, melayinkan sekilwak-sekilwak, di suruh tinggal duduk sembuni di blakang tembok. Orang setablan di suruh tidor di belakang meriyam, yang sudah di isi tadinya. Benteng itu ada duwa bastion; tiyap-tiyap bastion ada satu meriyam, dan lagi di bastion yang di sebelah lor ada meriyam kodok juga.
Lama-Lama bagitu sudah jadi jam setengah duwa; kuliling benteng tida kedengeran satu apa. Sekilwak-Sekilwak dan opsier-opsier tengok saja ka-luwar benteng, tetapi tida kalihatan dan tida kedengaran satu apa. Melayinkan buninya angin dan suwatu pancuran kecil saja di dengar.
Jam pukuel duwa baru kadengaran betereyak di dalam hutan; sebentar kiri kanan kedengaran betereyak juga. Sebentar lagi kedengaran seperti suwaranya beribu-ribu tawon. Dan lagi dilihat dari benteng ada orang-orang berjalan sembuni-sembuni dekat di benteng tentu buwat periksa dulu.
Tetapi di benteng orang tinggal diyam, tinggal tunggu saja.
Bayiknya itu benteng cuma boleh de tubruk dari duwa tempat; sebelah kulon dan sebelah kidul ada ayer. Pintunya benteng itu ada di sebelah lor, tentu nanti dari situ orang coba masuk di benteng.
Baru lonceng bunyi jam pukul duwa, sebentar itu setan kelihatan lagi di tempatnya dulu, tetapi sekarang diya membawa orang. Pada sama waktu juga itu tempat di terangkan dengan pelor kembang api. Sekarang baru orang mendapat lihat orang Aceh banyak sekali, yang bediri berkumpul-berkumpul di situ di sana. Dengan betereyak dan surak orang aceh itu lari maju sampey dekat tembok, tetapi di situ sekarang di pasang oleh soldadu-soldadu. Setablan juga sudah pasang sama kartets.
Orang-Orang Aceh itu tentu percuma sudah cari senjata-senjata yang di sembuni di lobang itu. Sebab itu diya orang sudah mulai menyadi takut sedikit. Tetapi di sana masih ada banyak orang yang membawa senapan; orang ini pasang kumbali ka-benteng.
Di sini sana kentara orang mulai jadi takut sedikit, di sebelah wetan orang Aceh sudah mulai mundur. Tetapi sekarang itu tuwan putih lumpat ka-muka memegang klewang di tangannya Lagi sekali orang coba masuk di benteng. Lebeh dari 300 orang Aceh lari maju ka-benteng memegang klewang dan senapan dan tumbak. Sebab terang orang boleh lihat rupanya orang Aceeh itu. Wah, rupanya seperti orang tida takut mati, seperti orang mengamok. Tentu tida satu orang soldadu nanti di kasih ampon oleh orang Aceh.
Soldadu-Soldadu itu tinggal pasang sampei kuliling ada asap saja. Benteng itu seperti gunung api. Di sini kedengeran senapan, di sana meriyam, di sana lagi bunyi selompret, wah, ribut betul. Musuh itu tiyap³ kali di pukul sampey mundur.
Ada satu orang Aceh yang terlalu brani maju, kena kesangkut di kawat, kena ranju. Dari luwar orang Aceh lempar api ka-dalam benteng, tetapi di sini di gayet dari genteng dengan gala³ lantas di bunuh, tetapi hampir gudang obat tebakar juga.
Musuh itu rupanya sekarang sudah capec; kiri kanan diya sudah mulai mundur. Di sebelah lor sekarang datang maju banyak sekali orang Aceh, barangkali buwat buka pintu benteng. Tuwan kommandan suruh pasang pada orang itu; banyak sekali yang luka dan mati, tetapi musuh itu tida mau mundur. Maunya orang Aceh itu ambil itu brajak di muka pintu benteng. Maski berbrapa brani juga, iya percuma juga.
Habis bagitu orang Aceh lama-lama mundur, betereyak dan maki-maki saja. Dari belakang batang-batang bambu dan ketinggi-tingi-an tanah diya orang tinggal pasang sampey jadi pagi hari.
Kira-Kira pukul 5 bagitu, kedengeran selompret kompenie, ada datang pertulungan. Dengan surak dan suka hati teman-teman ini di bawa kadalam benteng. Soldadu-Soldadu dari benteng juga sudah capey, tetapi bayiknya tida ada banyak orang mati atawa luka.
Tempo orang buka pintu, pertama orang lihat suwatu orang berpakey putih; tangannya yang satu mempegang brajak, yang layin sender di tanah masih mempegang klewangnya; kapalanya disender di pinggir brajak, matanya lihat ka-pintu saja, da-danya hancur kena pelor.
Bagitu setan itu sudah mati. Sersan Wakidin yang dulu sudah dapat bintang, sekarang terima bintang tanjong; tida bagitu lama diya mati tempo kompeni mau ambil suwatu benteng Aceh, tetapi namanya dan kabrani-annya tida di lupakan.
SUWATU JAGA ORANG ACEH YANG DISERANG OLEH SOLDADU-SOLDADU BUGIS
Kompenie itu, tempo habis perang di 22 mukim, suwatu malam cari tempat berhenti (bivak). Satu-satu orang soldadu cari tempat buwat tidor, supaya besok hari badan kuwat lagi akan berjalan sini sana dan berperang lagi dengan orang Aceh.
Kuliling bivak, sepi dan diyam sekali; tempo-tempo saja kedengaran suwaranya burung serak atawa senapan Aceh. Tempo-Tempo juga kalihatan kembang api di atas pohon-pohon kelapa akan mengujuk tempatnya bivak kapada jaga-jaga dan patrulie-patrulie.
Sekilwak-Sekilwak juga bediri diyam sekali, lihat betul saja, sebab diya-orang tahu, kalu ngantuk sedikit saja, tentu nanti di bunuh orang Aceh, yang selamanya intipkan kita orang punya pos-pos.
Tempo kira-kira jam pukul sebelas malam kelihatan satu patrulie soldadu-soldadu bugis kalowar dari bivak. Soldadu-Soldadu ini jalan diyam-diyam sekali dengan sembuni betul badannya; jalannya seperti hantu. Lantas tida kalihatan lagi, dari apa diya masuk di alang-alang. Di sini diya orang berjalan merangkang sampey dapat pinggirnya hutan. Ini patrulie tadinya sudah dapat perentah akan beradang akan tahan musuh yang mau datang ka-bivak.
Pekerjaan ini susah sekali dan banyak behaya, tetapi orang bugies orang brani sekali dan lagi itu littenan yang ikut, juga pinter dan brani sekali.
Satu berjalan di belakang layin, dan tida kedengeran satu apa. Melayinkan tempo-tempo saja orang berhenti kalu kedengeran “St” deri littenan. Tunggu sebentar, lantas maju lagi seperti tadi, dengan ati-ati dan diyam-diyam sekali. Bagitu rupa kira-kira 50 pas lagi, orang hampir sampey di pinggir hutan, lantas kedengeran seperti tangkey-tangkey yang di patah orang. Tentu patrulie ini dapat di lihat oleh musuh, barangkali sebentar lagi di tubruk. Sebentar sol dadu-dadu itu kepungi littenannya; senapan sebentar di sediya akan pasang. Lantas kedengeran lagi seperti tadi. Tetapi sekarang orang dapat tahu yang tadi itu suwatu kalong yang terbang di pohon-pohon akan makan buwah-buwah. Sekarang dengan tida takut lagi orang berjalan terus sampey dapat pinggirnya hutan.
Sasudahnya sampey di dalam hutan, orang cari dan dapat juga suwatu jalan kecil; di sebelah jalan itu orang beradang. Kalu orang beradang selamanya di cari tempat di pinggir jalan-jalan kecil sebab itu yang paling bayik di negeri Aceh, dari apa orang Aceh selamanya pakey jalan-jalan kecil ini, akan bawa di kampongnya bekelan atawa barang-barang yang diya sudah curi.
Dalam sedikit tempo itu littenan sudah mengaturkan orang-orangnya; sepulokh orang di mocka, lima orang di belakang. Perentahnoya itu tida boleh pasang kalu tida di suruh. Perentah ini di kasih dengan bisik-bisik satu pada layin.
Kalu orang tida tahu, orang tida kira yang di situ ada tersemubeni orang Bugis.
Bagitu rupa orang sudah tunggu lebih daripada satu jam lamanya, tetapi tida satu musuh kalihatan. Orang Bugis itu hampir tida sabar lagi. Sekarang ini ada suwatu soldadu Bugis yang jalan sembuni-sembuni ka-littenannya dan bagini rupa diya bicara: “Littenan”, katanya si-Baco, satu soldadu tuwa dari kompenie Bugies, “littenan, lagi duwa tiga jam nanti terang, dan kita orang misti pulang percuma; orang-orang Bugies ini sudah sumpah pada teman-temannya nanti diya mau balas orang Aceh ini malam juga. Littenan tahu yang kita orang selamanya berperang betul buwat kompenie dan banyak orang Bugies sudah mati; coba littenan kasih permisie maju sedikit, di sana di gunung nanti kita ketemu apa yang kita cari, dan sungguh mati, littenan, nanti orang Aceh boleh lihat yang orang Bugies tida takut sama diya.“
“Bayik, Baco”, katanya littenan itu. “Aku tahu, orang Bugies itu berani sekali dan diya malu, kalu nanti diya pulang di bivak dengan tida ketemu orang Aceh; nanti, sabelomnuya nayik matahari, kita orang tentu sudah balas itu orang Aceh. Ayo, anak-anak, maju, tuwan Allah nanti tulung sama kita...”
Satu-satu dan rapat, soldadu-soldadu ini berjalan maju; littenan jalan di muka sekali, di belakang-nya itu littenan ada berjalan si-Baco, akan tulung kalu ada apa-apa.
Lama-Lama orang datang sampey di gunung; sampey di sini tida ketemu satu apa, tetapi sekarang jalan jadi susah sekali. Kiri kanan ada lobang-lobang dan batu-batu besar dan akar-akar puhun. Lama-kalamaan orang sampey di suwatu tempat di mana boleh berhenti sedikit. Di mana juga di lihat, kuliling cuma hutan saja, dan gelap sekali. Dalam sekali di hutan, orang lihat terang-terang sedikit.
Sebab bagitu jahu, orang tida boleh lihat terang ini dari api rumah jaga atawa dari lentera. Kalu dari lentera, boleh jadi itu orang tukang cari ikan, yang pergi ka-pinggir laut: ini orang selamanya biasa bawa lentera kalu cari ikan. Tetapi orang tida boleh percaya; sebab itu orang mau periksa dulu. Jadi bagitu orang maju lagi dengan pelahan-pelahan.
Lama-kalamaan, dengan banyak susah, orang sampey di suwatu belahan gunung. Duwa orang di suruh periksa dulu itu jalan. Ada sepuluh miniet, itu orang kumbali dengan kabar yang terang itu datang dari suwatu lobang, di mana ada banyak sekali orang Aceh bersenjata. Barangkali itu orang di suruh jaga jalan ini.
Sekarang orang Bugies itu misti di tahan sebab terlalu braninya, mau bekelahi saja.
Perentahnya littenan itu, tida boleh pasang kalu tida di suruh, dan lagi maju dengan diyam-diyam sekali. Bayonet itu di periksa betul dulu dan patroonzak di taroh di muka badan; sekarang semuwa orang ikut sama littenan itu. Dengan pelahan-pelahan soldadu-soldadu itu datang dekatnya musuh. Di mukanya gua itu ada terdiri suwatu orang. Tangannya satu sender di batu, yang layin tergantung di sebelah badan. Ini orang di ngintipi be- tul dulu, tetapi diya tidor; sebentar lagi senapannya dan tumbaknya di ambil oleh orang Bugies. Sudah bagitu, ini orang Aceh di bunuh oleh orang Bugies dengan badeh-badeh. Satu kali tusuk saja lantas diya mati, tida kata satu apa-apa lagi.
Di dalam gua itu ada t.rtidor kira-kira tiga puluh orang Aceh; ada yang memegang klewang, ada yang memegang senapan atawa tumbak. Di dalam gua itu cuma ada pelita saja.
Soldadu-Soldadu itu masuk satu-satu. Matanya mendelik. Baru semuwa orang sudah masuk, lantas kedengeran tongtong di kampong. Barangkali orang kampong itu kasih tanda kalihatan patrulie bivak layin. Orang Aceh itu melumpat bangun. “Vuur” di kommandeer oleh littenan; sebentar gua itu menjadi gelap dari asap.
Bingung betul sekarang itu orang Aceh. Orang Bugies itu sudah cabut badeh-badehnya, tida peduli klewang, melumpat kiri kanan, menikam saja. Sebab kecil gua itu, klewang-klewang sering kena batu sampey patah. Rupanya itu orang Bugies, dan itu orang Aceh dengan rambut dawul-dawul, wah, seperti setan alas betul.
Orang Bugies dan orang Aceh sama braninya, tetapi orang Bugis yang menang. Ada sedikit yang kena luka, tetapi orang luka ini tida kataapa-kataapa, tida rasa sakit. Cerita Aceh I.
Tetapi sekarang kuliling di pukul tongtong, tentu musuh mendapat tahu apa-apa. Sebentar itu soldadu-soldadu di kumpul lagi. Sekarang juga jadi tempo, sebab berberapa pelor-pelor hampir kena soldadu-soldadu ini. Jadi bagitu orang mundur. Kiri kanan berdatang orang Aceh, kiranya ada banyak soldadu di situ. Lama kalamaan soldadu-soldadu itu sampey di pinggir hutan, sudah boleh lihat api bivak. Tempo bunyi reveille soldadu-soldadu itu sudah kumbali lagi di bivak.
Senapan itu di keluwarkan isinya lantas orang pergi ka-tampatnya lagi. Bagitu rupa pekerjaan ini di bikin oleh orang Bugies.
Littenan itu di cinta sekali oleh orang-orang Bugiesnya. Tida berapa lama diya dapat bintang tanjung, tempo iya mengapalakan orang Bugies lagi.
Siyapa-Siyapa yang baca ini, cobalah masuk di kamarnya kompenie duwa batalyon lima, tentu kalu itu orang-orang Bugies berkumpul cerita dari negri Aceh di dengar juga sebut namanya itu littenan.
CERITA DARI KEBRANIANNYA SOLDADU AMBON
Ada lebeh dari lima belas tahun orang Ambon itu sudah perang di negri Aceh. Batalyon tiga, batalyon soldadu Ambon. Bandulnya batalyon ini juga sudah dapat bintang tanjung. Memang soldadu-soldadu Ambon soldadu yang paling satiyawan dan brani. Orang Aceh itu takut sekali pada orang Ambon; sebab begitu, patrulie-patrulie dan transport-transport dari orang Ambon jarang sekali di tubruk musuh. Ada suwatu hulubalang orang Aceh namanya Tuku Muda Baid, katanya batalyon tiga itu batalyon macan.
Tetapi sekarang ini tida bagitu banyak lagi orang Ambon di negri Aceh. Banyak yang sakit berri-berri, sudah pergi dari negri Aceh. Sekarang ini kita mau cerita dari kebrani-annya orang Ambon itu, dengan dari satiyanya pada bandul.
Tida ada satu soldadu yang bagitu cinta opsier-opsiernya, dan selamanya juga diya ikut opsier-opsiernya, tida peduli di mana, tida peduli luka atawa mati. Coba baca cerita ini.
Bulan Februari tahun 1876 benteng Aceh yang bernama Cot Putu sudah di ambil oleh kompeni. Kampung Meru dan mesigitinya kita sudah bakar. Habis bagitu itu kolono-kolono pulang lagi ka-bivak di Pango. Di kolono ini ada juga batalyon tiga, dan bivak itu ada di sebelah kanan dari kali Aceh. Di tampatnya bivak nanti kompeni mau bikin benteng sebelah kanan dan kiri dari kali Aceh. Benteng-Benteng ini namanya Pango dan Pagar-ayer.
Bikinnya benteng Pagar-ayer ini susah sekali, dari apa ayernya kali Aceh tinggi sekali, dan sebab banjir itu, orang-orang tida bisa menyebang. Akan menyebang cuma ada duwa sampan Aceh, kecil sekali, cuma bole¹ muwat duwa orang saja. Sappier sudah bikin getek dari pohon pisang, te-tapi masih susah juga.
Ada suwatu tuwan obos, namanya obos Meiyer, iya kasih tahu pada jendral Pel, kali itu tida bisa sekali di nyebang di situ. Tetapi jendral Pel iya tida peduli kali ini tinggi; soldadu-soldadu misti juga menyebang, dan lagi dalam duwa tiga hari iya mau taroh satu kompeni dengan meriyam di benteng Pagar-ayer itu.
Susah sekali sekarang itu obos, sebab pekakas akan menyebang tida ada sekali.
Tetapi heyran sekali: kalu orang dapat susah besar, selamanya pertulungan dekat sekali. Di sini bagitu rupa juga.
Ada suwatu tuwan mayor, namanya mayor Diepenheim. Mayor ini dengar bicaranya tuwan jendral pada tuwan obos itu, lantas iya pergi pada tuwan obos, tempo tuwan jendral sudah pergi lagi. Katanya pada tuwan obos, iya mau bernang ka-sebrang sama soldadu-soldadunya orang Ambon.
Bermulai tuwan obos itu tida kasih, sebab barang-kali boleh tenggelam; tetapi tuwan mayor ini pinter sekali bicaranya, sampey tuwan obos kasih permisie, pikirnya: orang Ambon itu pinter bernang.
Sebentar tuwan mayor ini suruh antree soldadu-soldadunya, lantas iya buka pakeyannya dan lumpat di kali, katanya pada soldadu-soldadu: “orang Ambon turut!”
Orang Ambon ini tida berkata satu apa, tetapi melumpat juga di kali, mengikut kommandannya, yang di cinta sekali.
Dengan pedangnya di mulut, tuwan mayor ini bernang di muka sekali. Di pinggir kali orang tinggal nonton; heyran sekali kabraniannya tuwan mayor itu dengan soldadu-soldadu Ambon.
Tetapi di tengah kali tuwan mayor Diepenheim menjadi capey; di lihat dari pinggir kali, rupanya seperti tida bisa bernang lagi sebab terlalu payanya
Betul ini. Tempo benteng Cot Putu di ambil oleh kompeni, tuwan mayor Diepenheim sudah kena pelor tangannya kanan. Luka ini belom bayik sama sekali; jadi bagitu tempo bernang, luka itu berasa sakit lagi. Coba tida di tulung oleh ordenansnya, yang di mana juga mengikut tuwan mayor, coba orang Ambon tida tulung, tentu tuwan mayor Diepenheim sudah tenggelam. Betul, diya anyut sedikit; tetapi sampey juga di sebrang. Tempo di lihat itu, orang-orang di seblah sini surak; bagitu girangnyra.
Jendral Pel itu, yang lihat juga segala yang berlaku di kali, kata kapada tuwan obos: “coba lihat, bisa juga sekarang!”
Pada waktu itu, sudah di bawa rotan panjang ka-sebrang, rotan itu di ikat di situ. Lantas sampan-sampan itu di sambung di bikin satu. Dengan sampan ini sekarang senjata-senjata dan barang-barang di bawa ka-sebrang.
Di sebrang kali, masih ada tuwan mayor Diepenheim dan orang-orang Ambonnya, semuwa telanjang tunggu sampan yang bawa barang. Tempo dilihat ini, sampey tuwan jendral mulai ketawa keras.
Sappier itu juga sudah bikin getek yang lebih kuwat; dengan getek ini soldadu-soldadu di bawa ka-sebrang.
Sasudanya sampei di sebrang, sebentar orang mulai bikin itu benteng Pagar-Ayer, dan sedikit hari lagi benteng itu sudah terdiri maski juga dengan banyak susah.
DIHUKUM DAN DIUPAH
Pada waktu perang di Aceh memang banyak sekali orang yang brani. Di sini kita mau cerita dari suwatu soldadu yang amat braninya.
Di dekatnya suwatu benteng dari kompeni, ada suwatu gunung kecil. Di atas gunung itu, orang Aceh sudah dirikan suwatu bendera, dan di dekatnya bendera itu ada suwatu jaga dari orang Aceh akan menjaga bahuwa tida di ambil bendera itu.
Bendera itu sengaja di taroh di situ akan ganggu soldadu-soldadu; sudah tentu soldadu-soldadu jadi panas hatinya. Tempo-Tempo kommandannya benteng sudah coba ambil bendera itu, tetapi selamanya kita orang mendapat orang luka.
Jadi bagitu orang kasih tinggal saja itu bendera. Tetapi tempo-tempo masih ada orang yang minta akan mengambil bendera itu. Kommandan itu tida mau kasih permisie lagi, sebab percuma kiranya. “Tunggu saja”, katanya.
Musuh itu tida berhenti betereyak dan maki-maki; tetapi kita orang di sini tida menyahut satu apa.
Bagini rupa sudah ada duwa tiga hari, sampey suwatu pagi, ada suwatu soldadu blanda keluwar dengan diyam-diyam dari benteng, pergi ka-gunung kecil itu. Dari apa kadengaran orang Aceh pasang di luwar, semuwa orang pergi lihat ka-bastion. Lantas ketahuan apa sebabnya pasang itu. Belanda itu di panggil kumbali; tetapi diya tida mau dengar, diya tinggal berjalan saja. Orang Aceh itu tinggal pasang sahaja tetapi tida satu pelor yang kena orang belanda itu.
Sasudahnya sampey di gunung kecil, belanda itu berhenti, tangannya di taroh di belakangnya, lantas diya tinggal memandangkan saja benderaitu. Lantas tangannya diya gosok dengan tanah sedikit; lantas diya nayik di tiyang bendera itu; lantas di tariknya kabawah bendera itu; sasudahnya bagitu dari dalam jasnya di ambilkannya bandera blanda yang diya ikat di pu-cuknya tiyang itu. Sasudahnya di ikat betul bendera blanda itu, lantas diya turun, lantas lihat ka-musuh dan di seyka kakinya dengan bendera Aceh itu. Maka di pasang oleh orang Aceh yang ada di pinggirnya hutan itu, tetapi tida satu pelor yang kena. Lantas diya unjuk ka-atas, ka-bendera blanda, seperti diya mau kata coba kowe bikin bagitu juga, kalu kowe brani. Lantas di benteng orang surak; orang Aceh itu betereyak tetapi tida brani keluwar.
Sasudahnya pulang lagi di benteng, orang blanda itu di kerpoos 14 hari, sebab tida menurut perentah; tetapi tuwan kommandan itu minta bintang juga buwat diya. Bintang tanjong ini sedikit tempo lagi diya dapat juga, sebab terlalu braninya.
SARINA
Suwatu pagi, di tengah jalan dari Kota Raja pergi ka-suwatu benteng, ada satu perampuwan jawa, rupanya masih mudah sekali. Coba kita periksa betul perampuwan ini, yang bernama si Sarina. Di pundaknya ada suwatu selendang sutera, rambutnya di bikin sanggul, di sanggul ini ada bunga melati. Matanya hitam betul dan terang sekali; mukanya halus sekali; rupanya hitam-hitam manis, kulitnya seperti kulit langsap. Boleh orang kira ini perampuwan bukan orang selam. Tetapi diya orang Jawa betul dari negeri Solo. Bajunya baju kurung biru, di kancing dengan kancing perak, dan sarongnya sarong merah berkembang-berkembang. Betul lucu sekali perampuwan itu.
Dengan pelahan-pelahan perampuwan ini datang dekatnya benteng. Sudah diya lihat banderanya benteng itu, di mana ada lakinya, sersan Wirojoyo. Tetapi sekarang kadengaran apa-apa di rimba-rimba, lantas kelihatan orang. Dengan kaget si-Sarina tinggal bediri di tengah jalan, dari apa diya tida tahu musuh itu atawa teman. Barangkali patruli. Kasian betul si-Sarina itu; salahnya sendiri; kenapa juga diya tida minta di antar tempo pergi kaluwar kraton? Diya bukan sudah tahu musuh itu tida peduli anak atawa perampuwan, jikalau bukan bangsanya?
Baru si-Sarina ini jalan maju sedikit, lantas sebentar di kepung orang; kira-kira ada duwa belas orang. Si-Sarina ini sudah mau di bunuh, lantas ada suwatu orang Aceh yang larang bunuh perampuwan ini. Diya bicara sedikit dengan teman-temannya, tetapi si-Sarina tida mengerti apa-apa. Lantas orang Aceh ini pandangkan si-Sarina, dan cara melayu di tanyakannya: “kuwe siyapa, kuwe mau pergi ke mana?”
Si-Sarina kaget betul; jadi tida bisa menyahut. Orang Aceh itu lantas kata: “kuwe rupamu bagus sekali, kalu kuwe turut, kuwe tida di bikin apa-apa”.
Katanya si-Sarina: “aku tida mau turut; janggan tahan sama aku”. Suwaranya si-Sarina ini hampir tida kedengeran lagi sebab telalu takutnya. Lantas di pukul kepalanya dengan cepernya klewang sampai jatoh kelenger. Lantas di bawa oleh orang Aceh.
Suwatu patruli yang tida beberapa lama liwat tempat ini, ketemu di situ selendang satu dan keris satu. Soldadu-Soldadu jawa dari patruli itu katanya: kentara di sini tadi orang gelut; tetapi tida kalihatan darah dan kuliling percuma di cari musuh.
Sudah gelap, tempo si Sarina ini bangun. Diya tadinya di taroh di suwatu baleh-baleh, tetapi diya tida mendapat tahu di mana adanya. Melayinkan kepalanya saja di rasa sakit sekali. Tempo di rasakannya kapalanya, lantas kumbali pengingatannya, sebentar diya kaget sekali, sebab si-Sarina ini kiranya cilaka besar sekarang. Apa nanti aku di bikin, pikirannya si-Sarina. Dengan diyam-diyam lantas diya bangun dari baleh-baleh akan memperiksa rumah itu. Dindingnya rumah itu di raba-raba; lantas dari lobang-lobang dinding itu si-Sarina mendapat lihat terang di luwar. Diya tengok betul, lantas di lihatnya ada api besar, dan kuliling api itu ada berduduk orang-orang lelaki, perampuwan-perampuwan dan anak-anak Si-Sarina ini, mangkin betul lagi menengok; rupanya, orang-orang itu rameh sekali. Lantas si-Sarina mendapat lihat juga satu soldadu belanda. Tanganinya di ikat di tangkey-tangkey pohon waringin yang besar. Orang belanda ini lihat kamuka saja; matanya rupanya kaget dan mendelik.
Lantas si-Sarina ini dengar betereyak orang blanda itu; diya ngintip, lantas kelihatan orang-orang Aceh, ada yang potong hidungnya, ada yang potong kakinya dan langannya blanda itu. Dan lagi tiyap-tiyap kali, kalu belanda itu kena di tusuk atawa kena di bacok, semuwa orang Aceh itu betereyak: allah il allah, mohamad rasael allah
Si-Sarina ini mendapat kasian betul pada blanda itu; tetapi diya sendiri bulu badannya bediri, dan diya sendiri menjadi takut sekali.
Maski bagimana capey juga, si-Sarina ini sekarang mau coba akan lari, dari apa barangkali nanti diya di bikin bagitu juga. Lantas di raba-rabanya dinding rumah itu; barangkali ada suwatu behagian yang kurang kuwat; tetapi dinding itu bikinnya kuwat sekali. Lantas bagitu, si-Sarina menjadi kesel betul, mau bunuh dirinya.
Kabetulan, tempo diya tengok ka-atas, di lihatnya bintang mengkilap di langit. Sebab matanya si-Sarina ini sudah biyasa di gelap, sekarang di lihatnya di atas rumah itu ada bolong.
Sebentar si-Sarina pegang tiyang bambu dari rumah itu. Kakinya di taroh di bambu yang di ikat di pinggir dinding itu, lantas dengan pelahan-pelahan diya mulai nayik. Sebentar saja sampey di bolong itu. Dahulu kapalanya di kaluwarkannya lantas diya tengok betul ka-kiri ka-kanan; bayiknya tida ada apa-apa. Rupanya seperti semuwa orang dari kampong itu sudah keluwar pergi nonton bunuh soldadu blanda itu. Si-Sarina ini lantas keluwar dari bolong itu; dengan pelahan-pelahan diya tu-run dari atapnya rumah, dan dari dinding itu diya melorot ka-bawah.
Bayiknya di dekat rumah itu ada banyak sekali pohon-pohon mangga. Si-Sarina ini sembuni badannya di bawah suwatu pohon mangga tetapi sekarang ini baru mulai susahnya. Maunya si-Sarina ini sebentar pergi lari kaluwar kampong itu, tetapi di mana jalan? Bayiknya di belakang rumah itu ada suwatu hutan; di pinggir hutan ini ada ‘alang-alang dan lagi banyak pohon-pohon kecil. Di sini si-Sarina sembuni dirinya. Dengan banyak susah lantas diya cari jalan di hutan ini. Saban kali di kirakan ada orang lihat sama diya. Lama-Lama di dapat olehnya penghabisan hutan itu, tetapi sekarang masih susah juga berjalan. Tempo-Tempo ketemu ular, tetapi ular ini si-Sarina tida takut. Orang Aceh saja yang diya takut. Tempo-Tempo diya tinggal bediri akan dengar barangkali diya di buru; tetapi tida ada satu apa; melayinkan tempo-tempo kedengeran ngalup anjing alas saja.
Bagini rupa si-Sarina sudah berjalan wira-wiri ada duwa jam lamanya, tetapi belom ketemu jalan. Tiba-Tiba diya dengar betereyak dari jahu. Inilah tanda perkenalannya musuh; dulu juga sering-kali diya sudah mendapat dengar betereyak bagitu rupa. Sekarang si-Sarina balik lagi, cari tempat jalan layin, kiranya, barangkali musuh sudah mendapat tahu yang diya sudah mingga.
Habis bagitu, ada setengah jam lagi, diya sampai di suwatu tanah lapang. Selamat, kiranya si-Sarina. Dari jahu diya lihat lentera; jahuan sedikit ada lentera lagi; tentu diya ada di dekat benteng-benteng kompeni. Si-Sarina ini juga sudah terlalu capec, hampir mati. Sudah boleh kalihatan tembok-temboknya benteng, lantas diya mau panggil, tetapi sekarang ada orang tegor pada diya. “Berhenti, sapa itu”, katanya sekilwak; lantas di pasang.
Sekilwak itu yang di taroh di sabelah wetan, bikin rapport pada tuwan kommandan, bahuwa tadi diya sudah lihat orang di luwar benteng. Tentu brandal itu, yang kirakan sekilwak tidor.
Besoknya jam pukul anam pagi pintu benteng di buka, akan kasih kelu war patruli yang saban pagi periksa di luwar benteng apa ada musuh. Sebab tadi malam itu ada sekilwak pasang, patruli jalan ku-liling benteng dulu; barangkali brandal itu kena; seringkali malam-malam sudah kena di pasang orang Aceh. Wah, betul; sekarang kena juga. Coba pikir. Di antara pohon-pohon kecil itu ada tertidor telentang suwatu orang, mukanya madap kabenteng. Mukanya ini penuh darah dan lumpur; tida kelihatan apa lagi dari pada mukanya. “Brandal ini sekarang tentu sudah kapok”, katanya suwatu soldadu; “sayang kita orang tida bisa bunuh lebih banyak. Ayo, bayik buwat doktor ini; tetapi ati-ati, maski mati, tida boleh di percaya.”
Tempo di angkat kapalanya, rambutnya lolos. “Loh!” katanya soldadu yang bicara tadi; “aku kira perampuwan ini. Tentu tadi malam diya cari gendak di benteng sini, tetapi sekilwak itu barangkali tida kepengen. Sayang betul; barangkali perampuwan bagus”. Lantas di ambil tandu dan perampuwan itu di bawa ka-benteng.
Tuwan kommandan itu sudah di kasih tahu itu perkara. Tuwan doktor kebetulan ada di jaga, masih rapport sakit; jadi orang mati itu di bawa di sana juga. Lantas tuwan doktor suruh cuci mukanya. Satu dari pada soldadu jawa katanya, itu perampuwan tida pakey pakeyan Aceh, tetapi pakeyan jawa, dan lagi tida kadapatan senjata padanya. Jadi bagitu, tuwan doktor periksa betul badannya. Tida kelihatan luka, cuma kepalanya saja bengkak sedikit, seperti ada bisul kecil. Hatinya di periksa juga; kedengeran bunyi, tetapi sedikit sekali. “Belom mati”, katanya tuwan doktor itu. “Belom mati,” katanya juga itu soldadu-soldadu.
Sebentar segala rupa di buwatkan akan bikin hidup lagi perampuwan itu. Lama sekali, baru di buka matanya, tetapi diya belom sampey ku-wat akan kata apa-apa. Tuwan doktor itu lantas suruh bawa di rumah tempo, lantas di situ ada suwatu upas yang kenal sama diya. Ampat belas hari bagitu, si-Sarina keluwar dari rumah tempo. Semuwa orang lantas mendapat tahu clakanya si-Sarina, dan daripada hari itu si-Sarina itu di namakan perampuwan Aceh.
PERANG DI LEMBU
Kali Aceh itu di gunakan oleh orang Aceh akan membawa kaluwar barang-barang dagangannya. Jadi bagitu pikirannya tuwan jendral van Swieten itu: kalu kali Aceh ini di ambil kompeni, lantas di larang liwat prahu-prahu Aceh, tentu orang Aceh tiada bisa perang lagi, sebab kurang duwit. Kali Aceh itu sudah di ambil dari Penayong sampey kasebelah laut, ada kira-kira satu jam setengah jahunya. Di Penayong ada rumahnya tuwan jendral itu.
Di bawah sini nanti kita lihat pikirannya tuwan jenjal itu tiada betul.
Maski berapa kali juga orang Aceh itu sudah di pukul, masih brani juga melawan kompeni. Tempo-Tempo di pasang bivak di Penayong, dan lagi di pinggir kali sudah di bikinkan benteng akan melawan kompeni.
Sebab Penayong ini baik sekali akan bikin tempat akan mengaluwarkan kolono-kolono, dan lagi sebab gampang sampey ka-kapal-kapal yang berlabu di laut, jadi bagitu bivak ini di bikin kuwat sekali, maunya di bikin benteng di situ.
Jadi bagitu di bikin jembatan ka-kampong Jawa, di seberang kali.
Di kampong Jawa itu ada satu batalyon. Sebab di kampong Jawa itu tida bagitu banyak penyakitan, tuwan jendral van Swieten mengaley kasitu, tanggal 21 bulan December tahun 1873.
Maqtsudnya (niatnya) tuwan jendral van Swieten ini, akan ambil kratonnya Sultan Aladin Makhmud Syah.
Sabelomnya bermulai perang, tuwan jendral van Swieten hendak bicara dahaelu pada Sultan itu, akan kasih tahu pada diya, apa sebabnya belanda itu masuk di negerinya, dan lagi kalu diya mau bersobat dengan kompeni, apa nanti diya misti janji pada kompeni.
Tanggal satu bulan December tahun 1873 tuwan jendral van Swieten itu sudah menulis surat pada Sultan Aceh, akan kasih tahu pada diya, kompeni ini percuma di lawan; dan lagi tuwan jendral minta di dalam surat itu bahuwa Sultan ini jangan mendengarkan orang-orangnya yang mau perang saja. Dan lagi tuwan jendral katanya, kalu Sultan itu mau bersobat, biyar lekas diya kirim pesuruhan ka-tuwan jendral, akan dengar ka-hendaknya.
Tuwan jendral van Swieten itu, mengirim surat satu lagi kapada Sultan Aceh, katanya, kalu nanti perang juga, iya minta bahuwa orang-orang yang kena di tangkap dan yang luka di pelihara dengan baik-baik jangan di ganggu atawa di bunuh. Mintanya lagi, pekerja-an perang itu biyar patut.
Perentahnya juga tuwan jendral van Swieten itu, kalu perang, di mana datang kompeni tida boleh merampas atawa membakar rumah. Siapa-Siapa yang melawan kompeni sudah tentu di lawan juga. Dan lagi tida di kasih bunuh perampuwan-perampuwan dan anak-anak dan orang-orang lelaki yang tida mengikut berperang.
Benteng-Bentengnya musuh boleh di rombak, tetapi rumah-rumah dan kampong-kampong tida di kasih di bakar. Siyapa-Siyapa tida mengikut perentahan ini nanti di hukum mati, dan lagi, kalu rumah-rumah dan kampong-kampong itu di bakar, susah nanti cari tempat berhenti-an dan pondokan. Bagini kahendaknya tuwan jendral van Swieten itu. Maka perentah-perentah ini di kaluwarkan pada tanggal 20 bulan November tahun 1873.
Surat-Suratnya tuwan jendral van Swieten nanti mau di suruh bawa oleh hulubalang dari 25 Mukim, namanya Raja Muda Setia. Tetapi di belakang, hulubalang ini menjadi takut, katanya nanti diya di bunuh, oleh orang-orangnya sebab diya sudah bersobat dengan kompeni.
Lantas ini, ada suwatu tuwan kapitein, namanya tuwan Vervlut, katanya iya mau bawa itu surat ka-kraton. Tetapi tuwan jendral itu tida kasih sebab barangkali nanti diya di bunuh. Lantas bagi-ni, surat itu di suruh bawa oleh suwatu orang jawa, namanya Mas Sumo Widikjo, umurnya ada tujuh puluh tahun. Si Mas Sumo ini dari dahulu selamanya sudah mengikut tuwan jendral van Swieten, iya-itu di Bali, di Boni dan di Aceh. Mas Sumo ini, sudah biyasa di suruh membawa surat-surat dan kabar-kabar ka-musuh. Dan lagi, sebab diya orang selam juga, dan kulitnya hitam, di kirakan oleh tuwan jendral orang Aceh barangkali tida bagitu benci seperti pada orang belanda.
Pada hari 22 bulan December, jadi tiga hari di mukanya cerita ini, si Mas Sumo Widikjo pergi ka-musuh. Yang mengantar pada diya, iya itu suwatu orang melayu, namanya Ma-Asrah, dan lagi orang jawa, namanya Mas Kerto Sudiro, dan lagi Suro Melangi dan raden Tugoh.
Ada suwatu orang dari kampong Penayong, yang mengunjukan jalan sampey di benteng-bentengnya musuh.
Kasian sekali si Mas Sumo ini. Diya itu di bunuh oleh musuh, sasudahnya dahulu di bikin sakit sekali badannya. Bagitulah kelakuannya orang Aceh. Pesuruhan itu, maski orang musuh, bukan tida boleh di ganggu, apa lagi di bunuh?
Segala rupa, yang di bikin oleh Mas Sumo Widikjo, di belakang di cerita oleh teman-temannya, yang sudah mengikut pada diya.
Teman-Temannya ini untung sekali tida di bunuh oleh orang Aceh, sebab boleh lari.
Tempo si Mas Sumo Widikjo itu, sampey di benteng-bentengnya musuh, lantas diya di tahan oleh orang Aceh. Sasudahnya di kasih ketrangan, si Mas Sumo minta akan di bawa di mukanya Sultan.
Samantara itu, datang Tuku Talang dan panglima 25 mukim dan panglima 26 mukim. Yang pertama ini terima surat-suratnya si Mas Sumo Widikjo.
Lama-Lama begitu, banyak sekali orang Aceh berkumpul di situ, dan pesuruhannya kita ini di kepung. Ada yang sudah mau bunuh orang-orang ini; kiri kanan orang-orang ini di pegang, di tolak, di jo-rok, dan si Mas Sumo sampey di rampas tempat sirihnya. Coba pada waktu itu tida ada datang suwatu haji, tentu pesuruhan kita ini sudah di bunuh di situ juga. Haji ini kata pada orang-orang Aceh, bahuwa pesuruhan-pesuruhan selamanya tida boleh di ganggu, dan lagi selamanya bagitu biyasanya Sultan-Sultan Aceh.
Orang-Orang Aceh jadi bagitu, tahu adatuya. Kalu bagitu, jadi mangkin besar salahnya.
Bermula orang-orang itu tida bagitu di ganggu; tetapi makanannya terlalu sekali. Ada bagitu, sudah di tutup lebeh dari ampat belas hari lamanya, lantas di kasih tahu diya nanti di bunuh esok harinya. Lantas di ikat dan di jaga betul orang-orang itu.
Sorey, jam pukul anam, tempo diya-orang di tinggali sendiri, si Mas Kerto Sudiro coba gigit talinya, sampey putus. Lantas orang lain yang duwa itu di buka juga talinya.
Kira-Kira jam pukul tujuh malam, diya-orang jalan tersebuni-tersebuni di pinggir rumah-rumah, dan lagi sebab gelap dan banyak rimba-rimba, diya orang sampey di kali.
Si Suro Melangi itu kurang ati-ati; tinggal berhenti sebentar di pinggir kali. Jadi diya di dapat lihat, lantas di tangkap lagi, dan di seret ka-kali. Lantas kapalanya di masuki di ayer, sampey mati. Lantas di tusuk tumbak dadanya sampey duwa kali; lantas di buwang di dalam lobang.
Coba pikir; kita orang ini sudah tentu panas hati sekali, tempo kedengeran clakanya pesuruhan-pesuruhan itu.
Pikirannya semuwa soldadu-soldadu: orang Aceh itu percuma kompeni kasian.
Kompeni itu, selamanya baik sekali akan orang-orang Aceh yang sudah kena di tangkap. Melayinkan di lepas lagi, di kasih duwit juga.
Sebab musuh ini tahu perkara itu, jadi maunya kompeni, musuh bikin bagitu rupa juga.
Tentu soldadu-soldadu sekarang benci betul orang Aceh.
Tuwan jendral van Swieten ini, sekarang pikirannya juga, percuma orang Aceh itu di bikin baik. Jadi sekarang musuh itu mau di paksa dengan keras.
Selamanya tuwan jendral baik sekali akan orang Aceh; tetapi, sebab sekarang itu orang Aceh kurang tarima sekali, sekarang musuh itu mau di rasakan kekuwatannya kompeni.
Kraton itu sekarang mau di ambil betul-betul. Meriyam-Meriyam besar sekali di bawa ka-Penayong. Kraton itu mau di pasang dahulu sampey hancur, lantas di belakang mau di serang.
Kompeni itu sudah mendapat tahu dari patruli-patruli, bahowa di sebelah kidul dari pada Penayong, ada suwatu tanah lapang. Di tanah lapang ini mau di taroh meriyam-meriyam besar itu sebab dari sini gampang di pasang kraton itu.
Supaya boleh tahu tempatnya betul dari pada tanah lapang itu, mau di periksa dahulu ka-sebelah kidul dan ka-sebelah wetan.
** Hari 25 bulan December tahun 1873 orang pergi periksa ka-sebelah sana itu. Pemeriksaan ini namanya perang di Lembu.
Kira-Kira jam pukul 8 pagi hari, ada kelu-war dari kraton batalyon tiga, tiga kompeni setablan, setengah kompeni minuran, dan husaran.
Semuwa itu di perentah oleh tuwan kornel Wiggers van Kerkhem. Tuwan kapitein van Daalen jadi opsier stap.
Tuwan jendral van Swieten dan tuwan jendral Verspiyck nanti datang di belakang kolono itu.
Baharulah kolono itu keluwar dari bivak, sebentar di pasang dari sebelah wetan dan dari sebelah kidul sebelah wetan.
Kampong itu, dari mana kita orang di pasang, sudah di bikin kuwat sekali oleh musuh. Di pinggir kampong itu ada benteng-bentengan dan lagi ada parit³ juga di segala tempat, di mana boleh masuk dengan gampang di kampong.
Tuwan jendral van Swieten ini, belom mau berperang dahaelu; mau tahu saja tanah lapang itu ada atawa tida. Jadi iya kirim satu opsier kakolono yang di muka itu, dengan perentah bahuwa kolono itu misti pergi ka-sebelah kidul dengan mengikut pinggir kali Aceh itu.
Lantas bagitu, hoofdkolono itu membiluk ka-sebelah kidul, tetapi waktu berjalan di pasang saja dari benteng-benteng oleh musuh. Benteng-Bentengnya orang Aceh itu, rupanya di bikin baik sekali.
Lantas kolono itu mau ambil benteng-benteng ini. Waktu mariyam-mariyam tinggal pasang saja, orang-orang soldadu yang layin maju, sampey ketemu musuh.
Bunyinya mariyam-mariyam itu terlalu sekali; tinggal pasang saja benteng-bentengnya musuh. Wah, rusuh betul di situ; dan perang itu terlalu sekali.
Dalam sedikit tempo hampir tida kalihatan lagi orang, sebab terlalu banyak asap. Musuh itu juga brani sekali; tida bisa di pukul oleh soldadu, dari apa kurang banyak orang soldadu. Jadi bagitu, tuwan jendral van Swieten minta tulung dari belakang.
Lantas maju lagi batalyon sembilan, dan tiga meriyam akan tulung orang di muka itu. Di bivak itu, semuwa orang soldadu sudah berkumpul tunggu perentah maju.
Bermula, di coba ambil kampong Lembu. Kampong ini juga kulinginyya ada benteng-benteng; betul kecil tetapi kuwat sekali. Di muka benteng-benteng ada bambu duri; banyak sekali; jadi susah sekali di ambil.
Sasudahnya mariyam-mariyam itu kira-kira nya sudah sampey pasang, lantas batalyon tiga maju. Terlalu sekali batalyon ini di pasang oleh musuh; tetapi tida mau mundur. Memang berani betul batalyon tiga ini; sudah biyasa menang kalu perang. Batalyon tiga itu, yang tadinya di bagi duwa, hampir dengan bersama-bersama sampai di mukanya pagar-pagar bambu duri itu. Temponya batalyon tiga sampey di pinggir kampong kasebelah kulon, tuwan Obos Engel maju ka-sebelah lor dengan separolnya batalyon sembilan.
Benteng-Bentengnya musuh itu seperti laut api; kiri kanan kedengaran lila dan senapan saja; teta-pi kita orang pasang banyak juga.
Musuh itu masih belom mau mundur; sudah tentu; diya ini bisa sembuni di belakang benteng-bentengnya, dan lagi, sebab ada pagar bambu duri, kita orang tida bisa maju.
Tempo di lihat kita ini di tahan sebab bambu duri itu, lantas tuwan kapitein van Daalen kasih perentah akan berhenti pasang, dan suruh cabut kapmes akan potong pagar-pagar itu.
Soldadu-Soldadu sebentar mengikut perentah itu. Diya orang tida peduli di pasang; tinggal bacok saja. Tetapi bambu duri itu tida kena di buwang.
Ada suwatu ajidan, namanya van Bredow, yang pegang bandul, diya takut, soldadu-soldadu itu barang-kali nanti kecil hati; sebab itu diya melumpat maju dengan memegang bandul di tangannya. Dengan susah sekali diya masuk di bambu duri itu; lantas sasudahnya sampey di bentengan di belakangnya pagar, di memperdirikannya bandul itu.
Semuwa orang sekarang mau ikut maju kabandul itu, rupanya seperti di tarik besi berani. Kiranya soldadu-soldadu itu, di mana ada bandul, misti ada juga soldadu, tida boleh di tinggalkan sendiri.
Yang sampey di bandul itu duwa kapitein, tiga littenan, satu sersan mayor dan soldadu-soldadu ambon namanya Patimana dan Latumaina.
Lantas opsier-opsier dan soldadu-soldadu ambon ini coba nayik di bentengan itu, tetapi tida bisa saja, terlalu susah, sebab di tahan tanaman-tanaman di atasnya.
Tuwan kapitein van Daalen itu dari jendral stap, suwatu opsier yang terlalu beraninya, sepor kudanya dan melumpat liwat pagar bambu duri itu. Diya itu mau tulung orang-orangnya; sasudahnya sampey di situ, sekarang juga di lihatnya, bentengan itu tida kena di nayik.
Lantas katanya pada orang-orang yang di sebelah bandul: “soldadu-soldadu jangan angkau mundur dari sini, maski ada apa juga; aku nanti ambil per-tulungan.”
Orang-Orang itu lantas bersurak-bersurak.
Tuwan kapitein van Daalen ini, yang di cinta sekali oleh antero balatantara hindia, sebab terlalu beraninya, kata terima kasih pada orang-orang itu, lantas keluwar lagi dan pergi ka-sebelah lor sebelah kulon ka-tuwan mayor Cavalyee, yang jadi reserp dengan suwatu bagian dari batalyon sembilan.
Di tengah jalan, iya ketemu suwatu opsier stap, yang kasih kabar bahuwa tuwan kornel Wiggers van Kerkhem sudah kena luka, dan lagi tuwan obos
Engel tida bisa ganti dengan tuwan kornel itu, sebab diya sendiri masih perang di sebelah lor.
“Kalu bagitu, aku nanti pegang kommando”, katanya tuwan kapitein itu; “dan lagi, pergilah ka-tuwan jendral van Swieten, kata aku minta tulung.”
Tuwan kapitein van Daalen lantas pergi ka-tuwan mayor Cavalyee, cerita bagimana sekarang perang itu. Tuwan mayor ini lantas kata, kalu bagitu, iya mau ikut perentahnya tuwan kapitein van Daalen, yang memang pinter sekali.
Lantas tuwan kapitein van Daalen kumbali lagi ka-tempat yang dahaelu, dan girang sekali hatinya tempo di lihatnya pagar itu hampir sudah di rombak sama sekali oleh soldadu-soldadu dan minuran, dan lagi bahuwa semuwa soldadu-soldadu sekarang sudah berkumpul di sebelah bandul.
Pada kommandonya sekarang bentengan itu di nayiki, dan sebentar lagi semuwa soldadu-soldadu sam-pey di atasnya.
Orang Aceh itu sekarang tida bisa melawan lagi, maski juga diya lebeh banyak orangnya.
Dengan bayonet saja sekarang orang-orang Aceh itu di tubruk. Berani sekali diya melawan; kiri kanan diya memukul dengan klewangnya. Wah, rupanya seperti orang mengamuk. Terlalu sekali perang di situ.
Tetapi lama-lama musuh itu di paksa akan undur. Tempo dari kuliling diya di tubruk, diya tingal lari saja; orang yang mati dan yang luka tida di bawa olehnya.
Lantas bandul itu di perdirikan di pucuknya bentengan; dan surak-suraknya soldadu-soldadu dan buninya selompret memberi tahu pada teman-temannya, benteng ini sudah di ambil.
Tuwan mayor Cavalyee itu juga sudah datang dengan reserpnya, lantas ketemu orang Aceh di luwarnya pagar bambu duri itu. Pagar ini dekat di benteng yang bahuru sudah di ambil tadi.
Tuwan kapitein van Daalen itu lantas lari ka-tuwan mayor, dan katanya, iya sudah ada di belakang pagar, dan iya mau tubruk itu musuh dari belakangnya.
Bersama-Bersama sekarang musuh itu di tubruk, dan tida beberapa lama orang Aceh itulari, tersiar kiri kanan.
Sekarang semuwa soldadu-soldadu maju akan ambil lagi satu benteng, yang ada di sebelah kulon. Di sini juga musuh di pukul, dan benteng itu di ambil dengan bayonet.
Sekarang kiranya kita orang ini tida ada musuh lagi di kampong. Tetapi sebentar kedengeran betereyak dan jerit lagi; jadi, masih ada lagi benteng dan musuh.
Benteng itu tida kelihatan, tetapi sebentar lagi kedengeran betereyak hura; jadi benteng itu sudah di ambil juga oleh soldadu-soldadu. Betul bagini; sebab lantas bunyi selompret, kasih tahu benteng ini sudah di ambil.
Benteng ka-ampat itu, bagini rupa di ambil. Tuwan kapitein van Randwiyck dan tuwan kapitein Meis sudah tubruk benteng itu dari duwa tempat, lantas di ambil. Beratus-ratus orang Aceh, yang ada di dalam benteng itu, lantas ke-luwar dan lari ka-kali Aceh, coba bernang kasebrang. Tetapi banyak yang tenggelam atawa anyut, dan banyak mati di pasang.
Sebab terlalu kebraniannya soldadu-soldadu, benteng ini yang kuwat sekali, dapat di ambil. Jam pukul tiga sorey habis perang; tida ada musuh lagi.
Matahari belom turun, kompeni itu sekarang berangkat lagi ka-bivak. Di benteng-benteng itu di tinggalkan soldadu³ dari batayon duwa-belas.
Betul, musuh itu banyak sekali orangnyia mati; tetapi kita orang juga ada banyak yang mati.
Satu littenan satu mati; tuwan kornel Wiggers van Kerkhem, dan lima littenan-littenan dan satu doktor kena luka; soldadu-soldadu yang mati atawa luka ada tujuh puluh anam orang.
Apa yang mau di cari, pagi hari, iya itu di mana ada tanah lapang, sekarang tida jadi sebab perang itu. Jadi bagitu, besoknya hendak di cari lagi tanah lapang itu.
Betul susah, dan banyak orang mati dan luka, tetapi sekarang ini tida percuma, dari apa di dapat tanah lapang itu.
Tida ada satu orang melayinkan orang Ambon saja, yang paling suka dengar cerita dari perang Lembu itu, sebab bandul itu, yang sudah membikin kita ambil benteng-benteng di situ, iya-itu bandulnya batalyon Ambon.
Sering kali orang Ambon sudah pakey lagi itu bandul, dan di mana juga di lihat, di situ selamanya menang.
Orang-Orang Ambon, kita di sini memberi selamat kapadamu, dan kita harap bahuwa selamanya kela-kuannya orang Ambon senantiasa boleh tinggal bagini rupa, iya-itu selamanya setiya pada bandul!
PERANG DI LAMGUD
Di cerita ini nanti orang boleh mendapat tahu, bagimana susahnya, kalu di suwatu balatantara ada banyak orang-orang soldadu muda, yang belom biyasa perang.
Hari 29 bulan Yuni tahun 1882 pagi-pagi hari, dari benteng Tungkup, ada keluwar satu detakhment, banyaknya duwa opsier dengan 70 orang. Soldadu-Soldadu ini misti jaga duwa ratus kuli orang cina, yang kerja di jalan dari Tungkup ka-Senelop.
Di negeri Aceh selamanya kompeni sendiri bikin jalan besar, dari apa jalan-jalan kecil itu, yang di pakey oleh orang Aceh, kurang lebar akan setablan dan husaran.
Kerja jalan ini sudah tentu susah sekali di negerinya musuh; kiri kanan banyak sawah, dan lagi kalu di potong pohon-pohon kecil atawa tanam-tanaman, musuh itu selamanya pasang saja.
Ada sudah duwa bulan, saban hari detakhment itu keluwar dari Tungkup, dan selamanya juga pada waktu pagi-pagi hari. Musuh itu satu kali belom ganggu sama kita; itu perkara heyran sekali, sebab musuh selamanya biyasa pasang kalu di lihatnya kita kerja jalan. Tetapi kita orang ini tida percaya kelakuan bagitu rupa, jadi kita jaga betul-betul.
Kerja jalan itu sudah sampey di Cot-Rang; dan hari 29 ini, jalan itu mau di bikin terus kapasarnya kampong itu, lantas di belakang mau di bikin sampey di Bungcala, tempat berkumpu-lannya si Tuku Nya Hassan.
Sebelumnya berjalan, detakhment itu sudah di bagi dengan patut oleh kommandannya, tuwan littenan Everts. Di muka sekali ada jalan spits tiga orang, lantas voorhude. Voorhude ini di perentah oleh suwatu littenan duwa, namanya Luske. Hoofdkolonne itu di perentah oleh tuwan littenan Everts, lantas di belakang bahagian ini ada orang-orang kuli itu, dan di belakang sekali ada akhterhude. Dengan kuli-kuli itu ada juga mandur-mandur, akan jaga berjalau rapat betul. Kiri kanan ada patruli juga.
Bagini rupa orang sudah berjalan setengah jam, lantas patruli sebelah kiri kasih kabar kelihatan musuh banyak sekali, dekat kampong Lamgud.
Musuh ini sudah lihat juga pada kita orang; lantas diya pasang.
Tuwan littenan Luske itu lantas suruh sembuni badan, spits dan patruli di sebelah kanan kiri di suruh rapat lagi.
Hoofdtrup itu juga lantas membikin halt, akan suruh berkumpul kuli-kuli itu. Susah sekali ini, sebab orang cina itu, kalu baru mulai pasang sedikit saja, lantas beterayak seperti sudah di bunuh.
Voortrup itu juga sudah pasang tadinya. Tuwan littenan Luske sebentar saja sudah kena luka; dulutangannya kiri kena luka, lantas keteyaknya kanan.
Tetapi littenan itu tinggal memerentahkan juga orang-orangnya, sampey terkena pelor di atas pahanya; sekarang baru diya jatoh.
Tempo orang-orang Aceh lihat hal demikian itu, lantas diya orang bersurak-bersurak. Dengan cepat sekali diya maju, sampey kira-kira lima puluh pas dari soldadu-soldadu itu. Tetapi sekarang di pasang dengan salvovuur oleh hoofdtrup, yang datang tulung voortrup itu. Musuh itu jadi tida brani maju lagi.
Tuwan littenan Everts itu lihat temannya jatoh. Lantas dengan pertulungannya suwatu selompret littenan Luske di bawa ka-belakang. Tetapi sekarang ini, musuh maju lagi, mau tubruk dengan klewang. Soldadu-Soldadu baru dan mudah, yang lihat perkara demikian itu, mulai memjadi takut sedikit. Orang-Orang lama itu coba tahan, tetapi sebab kuli-kuli cina itu mulai lari juga, sekarang menjadi kalang kabut; semuwa orang lari. Ini menjadi cilaka besar. Cobalah dengar.
Orang-Orang lama itu mundur, tetapi orang-orang baru lari, tida peduli lagi larangan dan perentah-perentah opsiernya.
Tuwan littenan Everts itu coba kumpul lagi soldadu-soldadunya itu, dan dengan pedangnya diya tahan orang-orang yang lari.
Tuwan littenan Luske masih boleh kumpul tiga orang, dan di cobakannya tahan musuh. Tetapi percuma ini, maski berapa braninya juga. Dengan mundur, diya tinggal pasang saja; tetapi orang Aceh itu, sebab kiranya sekarang gampang menang, lantas tubruk dengan klewang.
Tuwan littenan Luske itu, yang sudah kena luka, dan sudah lemas badannya sebab hilang darah banyak sekali, mengikut berjalan tetapi dengan susah sekali. Jadi bagitu diya kena di tangkap musuh, lantas di pukul duwa kali dengan klewang kepalanya; tetapi sebab diya pakey helmhud, jadi tida terus klewang itu; kelengar saja orangnyia.
Lantas jatoh di sebelah kirinya, di suwatu pagar bambu duri.
Tempo orang Aceh yang layin memburu soldadu-soldadu ada juga yang tinggal pada littenan itu. Diya ini sekarang di cincang. Sebentar saja diya masih bangun, mau ambil pistolnya, tetapi tangannya ku-rang kuwat akan cabut; masih di cobanya juga pukul dengan pedangnya, tetapi tangannya di bacok sampey pedang itu jatoh.
Orang Aceh tida berhenti bacok dan pukul littenan itu. Jadi bagitu, melayinkan tiga luka yang kena di pasang, diya sudah dapat 23 luka dari klewang. Luka-Luka dari pelor itu bagini ter-bagi di badannya: Satu luka di keteyak kanan, satu di tangan kiri, satu di atas paha; luka dari klewang: duwa di kepala, ampat di tangan kanan, sampey putus jari manis, dan jari cincin dan separoh dari tangan kanan; satu di langan atas, luka itu panjangnya sejenkal (sekilan); satu di perut, sampey keluwar isi perut; anam di paha kanan dan pangkal paha; sembilan di dengkul dan betis.
Bagini rupa orang Aceh itu tinggalkan littenan itu, kiranya sudah mati.
Baiknya diya di kirakan mati, coba tida, diya di bikin seperti littenan Niyenhuis.
Opsier ini, juga tempo kena luka, di tangkap oleh musuoh. Lantas di potong hidungnya dan kuping-nya, dan di korek keluwar matanya. Lantas delapan orang Aceh berduduk berjongkok kulilingnya lantas di bacok dengan klewang. Supaya jangan terlalu lekas mati, luka-luka itu sengaja tida di bikin dalam.
Tempo di ketemu patruli, diya masih hidup; tiga hari di belakang diya mati.
Tuwan littenan Luske itu juga di dapat oleh patruli.
Cobalah pikir, orang-orang yang baca ini, apa tida terlalu orang Aceh itu? Bukan tentu kita misti benci pada diya? Tuwan littenan Luske itu, bagini rupa di dapat: Tuwan kapitein Bendien itu, tempo kedengaran pasang, lantas keluwar dari benteng akan tulung. Di tengah jalan diya ketemu orang-orang soldadu dan kuli-kuli yang berlari kiri kanan. Soldadu-Soldadu itu di tahan, lantas musuh di tu-bruk sampey lari; sudah bagitu orang pergi cari orang-orang mati dan orang-orang yang kena luka. Tuwan littenan Luske di ketemu di pagar bambu duri, dan sebab tida bergerak lagi, dan usunsya keluwar, di kirakan sudah mati.
Susah sekali diya di tulung, sebab sudah ten-tu sakit sekali kalu bergerak sedikit saja. Sebelah kanannya rupanya di iris-iris. Kasian betul, orang masih mudah itu di lihat bagitu rupa. Soldadu-Soldadu itu ada yang sampey nangis.
Dengan pelahan-pelahan lantas di angkat, supaya boleh tidor lebeh gampang, dan boleh di bungkus luka-lukanya.
Ususnya di cuci dahaelu sebab kotor kena tanah, lantas littenan itu di bawa ka-Tungkup.
Sebelas bulan diya tinggal sakit, dan tiga bulan lamanya diya tida tahu akan dirinya.
Tempo diya baik sedikit, diya pergi ka-negeri blanda, dan di sini diya di obati sampey duwa tahon lamanya, beharu diya boleh jalan dengan tida pakey tungkat, tetapi jari tengahnya tinggal bengkok, jari unjuknya tida berasa apa-apa dan jempolnya tinggal kaku.
PERANG DI COTRANG
Pagi-Pagi hari tanggal tujuh bulan Augustus tahun 1882, jam pukul setengah ampat, di tempat antree di benteng Lambaru, ada teratur satu patruli. Patruli ini banyaknya orang: duwa littenan, ampat selompret, duwa puluh anam soldadu-soldadu belanda dan anam puluh tujuh soldadu-soldadu jawa. Kommandannya tuwan kapitein Bode.
Orang-Orang ini di suruh bikin patruli dari Lamburu, liwat Cot-Rang ka-benteng Payau. Benteng ini baru di dirikan.
Bersama dengan patruli ini ada mengikut satu tuwan controleur. Tempo itu bagitu biyasanya.
Baru lonceng di jaga bunyi jam pukul ampat, lantas di buka pintunya benteng dengan ati-atı, dan patruli itu keluwar.
Sebelomnya berjalan, tuwan kapitein Bode sudah tanya kapada tuwan controleur itu apa nanti boleh ketemu brandal. Katanya tuwan controleur itu: “tida, barangkali ada tiga ampat orang; brandal yang banyak ada di sebelah gunung-gunung”.
Bagini aturan berjalan patruli itu: satu sectie di muka, di perentah oleh satu littenan satu, namanya littenan Roiyen; satu sectie di belakang, di perentah oleh satu littenan duwa, namanya littenan van Swieten; sectie-sectie yang layin itu berjalan di tengah-tengah di perentah oleh tuwan kapitein Bode sendiri. Di muka, di tengah dan di belakang ada satu selompret, dan lagi bersama dengan patruli itu di bawa juga tandu-tandu. Di antara tiyap-tiyap bagian ada tiga puluh atawa ampat puluh pas kira-kiranya. Sampey di kampung Gani orang mengikut jalan besar; lantas di ikuti jalan kecil, yang ada di sebelah lor dari kampong ini, dan lagi terus ka-kampung-kampung dan sawah-sawah. Di sawah-sawah itu susah sekali berjalan; tetapi lebeh susah lagi dikampong-dikampong itu; boleh dapat claka. Jalan itu kecil sekali; kiri kanan tanah tinggi dan lagi banyak rimba-rimba di tutupi pagar. Jadi bagitu patruli itu cuma boleh berjalan satu-satu, menjadi susah betul sekarang.
Sasudahnya berjalan bagini rupa kira-kira duwa jam lamanya, lantas keluwar di jalan besar dari Tungkup ka-Payau, ada lima ratus pas di sebelah lor dari pasar Cot-Rang.
Sekarang ini sudah jadi jam pukul anam. Waktu berjalan tida ketemu apa-apa. Melayinkan jam satengah anam kelihatan duwa orang yang lari dari sawah ka-suwatu kampong. Pada sama waktu dari jahu kedengeran pasang satu kali, tetapi tida nyaring suwaranya.
Melayinkan heyran sekali, di kampong-kampong itu tida keli-hatan api, dan tida satu orang dilihat. Rupanya seperti orang-orang kampong itu sudah lari semuwanya, dan lagi tida ada suwatu tanda juga yang boleh dikirakan, bahuwa kebetulan di sini ada musuh beradang.
Sasudahnya di jalan besar kolono itu sudah rapat lagi, kommandannya suruh terus berjalan sampeydi Cot-Rang. Di pasarnya kampong ini kolono itu berhenti.
Lantas di situ tuwan controleur minta pada tuwan kapitein Bode, apa diya boleh periksa itu rumah-rumah; barangkali boleh dapat tangkap brandal.
Sasudahnya bagitu, lantas patruli itu maju lagi akan masuk di kampong. Sebab jalan ka-kampong itu kecil sekali, jadi misti berjalan lagi satu-satu.
Jam setengah tujuh bagitu, dari sebelah Payau kadengaran pasang. Barangkali suwatu patruli dari benteng itu sudah bertemu dengan musuh. Jadi sekarang patruli kita ini jalan ka-sebelah sana, dengan pas cepat; tetapi baru voorhude itu ada maju seratus pas, lantas di pasang oleh musuh dari sebelah kanan. Voorhude ini maju dengan pelahan-pelahan dengan pasang, akan cari tempat baik. Soldadu-Soldadu layin membikin front ka-kanan dan ka-kiri.
Voorhude itu, sasudahnya dapat tempat baik, mulai pasang.
Kita ini di pasang dari suwatu mesigit, yang ada di dalem kampong, kira-kira duwa ratus pas dari kolono. Jadi tuwan kommandan itu mau ambil dahaelu mesigit itu. Tetapi dari tempatnya kolono susah di ambil mesigit itu; jadi orang biluk akan cari tempat yang lebeh gampang, dan lagi akan cari tempatnya keluvar dari kampong itu.
Baru kolono itu mulai berjalan, lantas tuwan controleur itu datang kasih kabar bahuwa orang yang mengunjuk jalan itu, sudah mati kena pelor. Tida satu orang sekarang tahu jalan; jadi susah sekali. Bagimana sekarang kolono itu mau berjalan? Kita ini tahu di sebelah mana adanya benteng Payau, tetapi sampey di situ ada satu jam satengah lamanya berjalan.
Sampey sekarang ini rupanya seperti di mesigit itu saja adanya musuh; sebab demikian itu tuwan kapitein Bode mau coba biluk.
Baru voorhude itu mundur akan berkumpul, lantas kolono itu, yang masih bediri satu gelid, di tubruk kiri kanan, dan di pasang dari dekat sekali. Jadi bagitu kita ini sudah di kepung musuh, dan musuh ini ada sepuluh kali lebeh banyak dari kita orang.
Sebab kita orang gampang boleh di tubruk dengan klewang, dan kita orang tida bisa bikin apa-apa sebab tida baik tempat itu, lantas di suruh mundur dengan pasang musuh. Baiknya kita dapat suwatu sawah kecil, dan di belakang sawah itu tida bagitu banyak pohon-pohon. Lebarnya sawah ini ada anam ratius pas dan lagi ada ayer di situ, sampey soldadu-soldadu masuk sampey di dadanya. Tempo mundur bagini rupa, satu sersan blanda mati kena pelor perutnya. Musuh itu mankin lama mankin banyak pasang; tentu diya dapat pertulungan.
Orang Aceh itu, yang sudah tubruk patruli dari Payau, tetapi kala, datang kamari tulung teman-temannya di sini. Ini perkara kita mendapat tahu kemudian.
Di sawah ini kita tida boleh tahan lagi. Kiri kanan dari kolono itu ada berjalan beratus-beratus orang Aceh, mau kepung kita orang.
Dari sawah ini kelihatan pasarnya kampong Cot-Rang. Di pasar ini belom ada musuh.
Baiknya kita sampey di pasar itu, lantas di belakangnya kita berhenti. Soldadu-Soldadu itu sudah ca-pey sekali, dan susah sekali akan membawa orang-orang luka dan mati. Di sini sekarang tuwan kommandan mau berhenti sebentar, kiranya itu penembakan barangkali kedengeran di pos-pos; jadi barangkali nanti dapat pertulungan dari itu.
Tetapi sekarang celaka lebeh besar lagi, sebab musuh itu mulai pasang dengan lila. Ada tempat-tempat di mana diya sudah dekat sampey ampat puluh pas; tetapi diya tinggal sembuni badannya. Kita orang ini tida bisa pasang banyak, sebab pelor sedikit, dan lagi barangkali perang ini masih lama.
Mankin lama mankin banyak soldadu-soldadu mati dan kena luka, sering kali tuwan kapitein Bode suruh tiyup selompret akan minta tulung, kiranya batalyon 15, yang ada di Tungkup, barangkali dengar selompret itu.
Syukur sekali kolono itu, tida ada satu opsier yang mati atawa yang kena luka. Tuwan kapitein Bode itu rupanya kebal (tida bisa di kena pelor). Jasnya dan topinya saja banyak sekali lobang-lobang bekas kena pelor.
Sebab tida datang pertulungan dari Tungkup, tuwan kapitein Bode itu mau mundur sampey di benteng itu.
Cuma ka-Tungkup saja kita boleh balik; tetapi di pinggir jalan kasitu penuh musuh yang mau tahan pada kita orang.
Sedang bagini rupa, soldadu-soldadu mulai kecil hati. Orang-Orang jawa itu minta tulung pada kapiteinnya dan ada yang bediri di sebelah kapitein itu kiranya nanti tida di kena pelor. Tetapi di kena juga: dan pakeyan kapitein itu sampey merah dari darahnya orang mati itu.
Sekarang ini sudah jam pukul delapan; jadi sudah duwa jam lamanya patruli itu sudah berperang. Maunya tuwan kapitein pergi ka-jalan besar. Orang-Orang luka sekarang di kumpul. Cuma ada tiga puluh orang yang masih bisa pegang senapan.
Orang mati itu tida bisa di bawa; kalu di bawa tida sampey orang; jadi di tinggali saja. Betul kasian; dari apa musuh itu biyasa bikin rusak badannya orang mati.—Senapan-Senapan dari orang-orang mati dan yang memikul orang-orang luka di bagi. Satu-satu opsier membawa sampey duwa senapan. Bagini rupa sekarang kita mundur. Pekerja-annya dan ketanggungannya tuwan kapitein itu sekarang menjadi susah sekali.
Orang mati dan orang luka ada duwa puluh tujuh orang banyaknya; jadi sepertiganya patruli itu; dan sepertiga bahagian lagi pikul orang luka. Musuh itu lama-lama bagitu dekat, sampey patruli itu misti bikin front ka-kanan, ka-kiri, ka-muka dan kabelakang. Orang luka itu di taroh di tengah-tengah nya.
Musuh itu tida brani tubruk dengan klewang; cuma akhterhude itu, tempo keluwar dari pasar, di tubruk, sampey mati duwa orang. Coba tuwan kapitein Bode tida dapat lihat itu, tentu kommandannya akhterhude itu, tuwan littenan van Swieten, sudah di bunuh juga.
Tuwan littenan van Swieten ini, tempo liwat di sawah, sudah jatoh di dalam suwatu sumur, sampey menjadi sakit sekali badannya. Dengan banyak susah diya mengikut kolono itu, tetapi sampey habis perang diya tida kecil hati.
Di jalan besar itu kita masih di buru saja oleh musuh. Ada orang musuh itu yang tinggal di belakang, kerja rusak badannya orang-orang mati, tetapi baiknya banyak orang Aceh mati, tempo kita pasang pada diya.
Satu kali lagi tuwan kapitein Bode suruh tiyup selompret akan kasih tahu yang kita masih minta pertelungan. Di pinggir kampong-kampong di sebelah jalan besar itu, ada berberapa musuh; dan lagi ada yang buru kita orang.
Kita orang inisudah mendapat kabar bahuwa ada suwatu orang didong, yang dahulu sudah minggat, tulung orang Aceh itu.
Tempo kita orang mundur, ada banyak susah lagi. Semuwa jembatan-jembatan di jalan ka-Tungkup sudah di bakar oleh musuh, tinggal balok-balok hangus saja, dan meliwat di atas balok-balok hangus ini orang-orang yang sudah kena luka misti di bawa ka-sebrang, tempo musuh tida berhenti pasang.
Lama-kalamaan kita orang sampey di suwatu sawah besar, di sebelahnya Tungkup. Di sini musuh baharu berhenti memburu, sebab diya takut nanti di kepung oleh soldadu-soldadu dari benteng Tungkup.
Sayang sekali kita tida dapat pertelungan dari benteng ini. Barangkali bunyinya selompret patruli itu tida kadengaran di situ.
Baiknya musuh sekarang tida buru lagi, sebab soldadu-soldadu semuwa sudah capey sekali. Soldadu-Soldadu yang memikul orang luka itu, hampir tida bisa berjalan lagi.
Di sini sekarang patruli itu berhenti sebentar. Baiknya ada ayer minum.
Soldadu-Soldadu itu, sampey orang-orang yang luka payah sekali, mengatakan banyak trima kasih pada tuwan kapitein Bode dan littenan-littenan. Coba pikir; cuma dengan 25 orang diya sudah mentahan musuh ada 300 orang, dan lagi musuh itu punya tempat baik sekali.
Sasudahnya berhenti sedikit, kita orang berangkat lagi. Jam pukul sepeluloh kurang seperapat kita sampey di benteng Tungkup.
Jadi begitu patruli itu sudah berperang ada tiga jam setengah lamanya.
Waktunya sampey di Tungkup kita ketemu suwatu kolono, ada duwa ratus orang, yang mau pergi ka Cot-Rang.
Kolono ini sudah dapat perentah akan cari orang-orang mati dan akan membawa kumbali ka-benteng.
Orang-Orang luka dari patruli itu di tinggali di Tungkup di rumah sakit. Soldadu-Soldadu yang layin trima pelor, dan lagi, sasudahnya berhenti sampey jam setengah duwa belas, diya orang berangkat ka-
Kota-Raja. Di sini patruli itu berhenti lagi dan dapat makan. Jam pukkul anam malam patruli ini sudah kumbali lagi di Lambaru, dan di sini orang-orang di terimakan dengan bersurak-bersurak.
Kapitein Bode itu, di mana di dapat lihat, di suraki saja.
Sedikit hari di belakang diya di obati oleh tuwan doktor, sebab kapalanya tempo perang itu kena luka. Tempo perang diya tida mau bilang itu pada soldadu-soldadunya. Tahun 1886 tuwan kapitein Bode terima bintang tanjong.
PERANG DI SURIAN
Kampong Surian itu ada di sebelah kidul dari jalan besar dari Oleh-leh ka-Kota-Raja.
Musim hujan, kalu ada ayer besar di kali Aceh, jalan itu di pakey oleh transport-transport. Selamanya transport-transport ini kalu berjalan, di pasang oleh musuoh. Jadi bagitu tuwan jendral Pel mau usir musuoh dari kampong Surian, lantas maunya membikin benteng di situ.
Di kampong Surian itu ada banyak benteng-benteng bejejer-jejer. Musuh itu kiranya kita tida mau ambil kampong itu; jadi banyak dari pada benteng-benteng itu tida ada orang-orang nya.
Perkara ini juga sudah di periksa oleh suwatu patruli dari Blang-u.
Jadi bagitu, kiranya tuwan jendral Pel, kampong itu baik di ambil sekarang.
Jam pukul ampat pagi-pagi hari ada berjalan suwatu kolono yang di perentah oleh tuwan mayor Groos. Kolono ini banyaknya orang separoh batalyon tiga, duwa meriyam dan orang-orang minuran. Kolono itu pergi ka-Blang-u; di sini nanti mau di bikin satu dengan duwa kompeni dari batalyon duwa yang di perentah oleh tuwan mayor Phaff.
Jam pukul anam pagi kolono itu sampey di tempatnya, lantas di bagi duwa. Satu bahagian nanti misti perang, dan bahagian yang layin menjadi reserp. Reserp ini, yang banyaknya orang satu kompeni setengah, nanti cari tempat di Blang-u. Reserp di perentah oleh tuwan mayor Groos. Kolono yang layin, di perentah oleh tuwan mayor Phaff. Kolono ini di suruh mengambil kampong Surian.
Tuwan jendral Pel memerentah semuwanya sama sekali.
Jam pukul setengah tujuh meriyam sudah mulai pasang. Jam pukul tujuh selompret bunyi voorwaarts, dan kolono itu maju.
Di voorhude itu ada satu kompeni, duwa meriyam dan orang-orang minuran.
Di voortrup itu, yang di perentah oleh littenan satu, namanya van der Zee, ada satu onderopsier belanda dan aprikan, delapan soldadu belanda dan delapan soldadu aprikan, dan lagi ada juga minuran.
Jalan itu susah sekali, dari apa banyak pagar-pagar. Pagar-Pagar ini misti di potong dahaelu, jadi bagitu kita ini maju dengan pelahan-pelahan sekali.
Lama-Lama kita sampey di kampong Cot-arum. Lantas, tempo kita sudah liwat kampong ini, kita mendapat lihat kampong Surian. Di antara kampong-kampong duwa ini ada suwatu sawah, lebarnya ada seratus elo.
Opsier³ itu mengunjuk kampong Surian pada soldadu-soldadu. Soldadu-Soldadu ini lantas sudah mengerti.
Voorhude itu di suruh menyebrang sawah; betul di pasang oleh musuh, tetapi sampey joga di pinggirnya kampong Surian, dan di sini ketemu pagar lagi. Supaya hoofdtrup itu boleh menyebrang sawah meriyam-meriyam itu mulai pasang, sahingga hoofdtrup ini juga sampey di sebrang sawah.
Minuran itu mulai bikin lobang di pagar. Lantas, tempo sudah ada lobang, voortrup itu maju, tetapi ketemu pagar lagi satu, lebeh besar lagi dan lebeh kuwat. Dengan banyak susah di sini di bikin lobang juga, tetapi, baru voortrup itu sudah tersiar dan maju, sebentar di pasang oleh musuh.
Tida bagitu banyak orang yang di kena pelor, dan lagi voortrup itu sampey di suwatu tanah lapang, ada lima puluh elo panjangnya dan lima puluh elo lebarnya. Di sebelahnya tanah lapang ini ada suwatu benteng; kulilingnya ada pagar bambu duri, dan kanan kiri ada lobang-lobang di mana ada orang Aceh, yang pasang pada kita orang.
Lantas sasudahnya voorhude merapat dengan voortrup, semuwa sekarang maju dengan looppas.
Tuwan littenan van der Zee coba tubruk benteng itu dari belakang, kiranya barangkali dari sini lebeh gampang.
Tetapi di sini ada pagar juga dari bambu duri. Littenan itu lantas coba masuk di pagar; diya berjalan merangkang dan pedangnya di seret pada kuwasnya di mulutnya tida di pedulikan duri-duri itu.
Tangannya dan mukanya luka semuwa, tetapi sampey juga di benteng itu. Lantas di sini diya melumpat nayik di atas. Tempo diya tengok kabelakang, di lihatnya tida ada satu orang mengikut dengan diya. Semuwa orang masih ada di muka pagar itu, sebab susah masuk dari apa membawa senapan dan barang kulit.
Ada satu onderopsier belanda, katanya: “littenan, turun, kita orang tida bisa tulung”. Tetapi littenan itu tida mau turun, maski di pasang, maski mau di bunuh dengan tumbak dan klewang. Diya melawan musuh dengan memegang pedang di tangan kanan dan revolvernya di tangan kiri; pada tiyap-tiyap kali pasang dan tiyap-tiyap kali pukul, di bunuh saorang musuh.
Tuwan kapitein Perelaer sekarang ini sudah datang juga sama orang-orangnya. Di lihatnya littenan itu, lantas diya mau tulung, tetapi tida bisa. Lantas diya betereyak, suruh turun littenan itu; tetapi littenan ini tinggal bederi bekelahi saja, tida mau mundur.
Littenan itu sudah kena klewang lehernya, dan kena tumbak dadanya, dan kena pelor kakinya, tetapi belom juga mau mundur. Lantas tangan kirinya kena di pasang; jadi jatoh revolvernya, tetapi dengan pedangnya saja sekarang diya tinggal bekelahi.
Lama-lama littenan itu tida bisa tahan lagi. Dengan pedangnya diya masih tangkis senapan yang di incer pada diya. Lantas kena pelor dadanya, sekarang diya jatoh, bayiknya di luwar benteng. Topinya dan revolvernya dan pedangnya ketinggalan di dalam benteng.
Sebentar orang Aceh itu melumpat kaluwar dengan bersurak, mau angkat littenan itu; tentu mau di cincang. Tetapi baiknya ada soldadu-soldadu di situ, sebab sekarang itu minuran sudah merubahkan pagar itu. Littenan itu lantas di angkat, di bawa ka-belakang.
Katanya satu orang aprikan kapada orang Aceh itu: “jangan ketawa, nanti kuwe rasa, bangsat”.
Dari benteng itu diya di pasang, tetapi topinya saja kena. Coba selompret tida bunyi mundur, tentu orang aprikan itu sudah melumpat masuk di benteng.
Tuwan kapitein Perelaer ini, kiranya percuma benteng itu di tubruk, sebab terlalu sedikit soldadu³nya; jadi bagitu diya mundur sedikit, lantas orang-orangnya di suruh cari tempat betul, dan siapa-siapa kelihatan di benteng di suruh pasang. Bagitu rupa diya tunggu pada hoofdtrup, akan tu-bruk bersama-bersama.
Tiada berberapa lama maka hoofdtrup itu sampey di pagar. Kompeni yang di muka di suruh atakeer, tetapi susah sekali itu, sebab banyak pagar dan ranju-ranju menahan akan orang-orang soldadu. Jadi kompeni itu misti mundur dan rapat lagi pada kolononya tuwan kapitein Perelaer.
Soldadu-Soldadu yang layin itu, sekarang sudah kepung benteng itu. Diya orang ini sembuni badannya di belakang galangan-galangan dan barang-barang layin, dan banyak sekali orang Aceh di pasang dari sini sampey mati. Banyak juga orang di bunuh oleh pelor meriyam.
Soldadu-Soldadu minuran itu, yang di perentah oleh suwatu littenan, di suruh rombak segala barang-barang yang menahan pada soldadu-soldadu, supaya boleh tubruk benteng itu.
Pekerjaan ini di bikin dengan patut sekali.
Sahabisnya pekerjaan ini, musuh itu di suruh serahkan dirinya; tetapi diya menyahut dengan maki-maki saja. Sudah tentu soldadu³ ini panas hatinya. Apa lagi orang-orang aprikan itu. Coba tida di tahan oleh opsier-opsier, tentu diya sudah maju sendiri.
Lantas bagitu katanya kolono-kommandan itu pada selompret: “Selompret, bunyi atakeeren”. Selompret-Selompret yang layin itu belom bunyi atakeeren juga, sebentar saja soldadu-soldadu sudah ma- ju, tinggal tubruk saja benteng itu. Orang-Orang aprikan itu suwaranya lebeh keras dari selompret.
Semuwa orang nayik di benteng itu, dan mentubruk orang Aceh, yang ada di dalamnya.
Di muka sekali ada opsier-opsier. Perang itu sekarang berperang mendada (satu dengan satu). Kuliling ribut, ke-dengeran tetak-tetak klewang dan pedang dan senapan, yang di pakey akan pukul saja. Kiri kanan kedengeran surak dan betereyak.
Lama-lama bagitu semuwa orang Aceh di benteng itu sudah di bunuh. Cuma satu orang yang lari. Di tanah itu penuh orang mati. Banyak kepala-kepalanya orang Aceh sudah mati pada waktu perang itu.
Kitajuga ada orang yang mati dan yang luka. Yang luka ada ampat opsier, dan dari pada soldadu-soldadu itu yang mati dan yang luka ada lima puloce ampat orang.
Tuwan kapitein Perelaer itu amat beraninya. Diya ini sudah coba bikin peca pintunya benteng dengan kampak; tida di pedulikannya di pasang. Ada suwatu sersan yang tulung padanya.
Ada juga suwatu tuwan mayor dari setablan, namanya van Ziyll de Yong, yang sudah menyadi legerkommandan, iya mitarkan sendiri mariyam-mariyam itu.
Ada juga suwatu ajidan onderopsier, tempo bandul yang di pegang olehnya di pasang sampey pata kayunya, tinggal membawa bandul itu, sampey diya jatoh, kena pelor dadanya.
Tuwan littenan van der Zee itu, yang sudah kena luka banyak sekali, lama sekali tinggal di rumah sakit, tida kena di obati. Lantas bagitu diya di suruh pergi ka-negeri belanda, lantas di sini diya jadi baik, tetapi tida bisa memegang dienstnya militair lagi. Banyak sekali orang yang mendapat bintang tanjong dari sebab kaberanian-nya pada waktu perang itu.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.