Baca EPUB (OCR): Penyuratan Pekerjaan Perang di Negeri Aceh

17 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 5 ms

Daftar isi
  1. PENYURATAN PEKERJAAN PERANG DI NEGERI ACEH
  2. W. J. PHILIPS
  3. Isi Surat
  4. Landmarks
  5. Perkataan yang Dhulu
  6. Perang di Kampung Lembu
  7. Pelanggaran Benteng Senelop
  8. Perbuwatan L. H. 3e. Batalyon Sakutika Mengambilkan Missigit Raiya
  9. Perang di Pekuboran ka-Sabelah Wetan Kota Raja
  10. Perangkatan Perang ka-Longbatta
  11. Perkara Mengambil Kampung Lamara Uleylo
  12. Pekerjaan Patrouille yang Berjalan dari Benteng Cade ka-Benteng Silang
  13. Pekerjaan Patrouille yang Berjalan dari Krung Raba ka-Bukit Sebun
  14. Perang di Tanjong-Semantok
  15. Penyerangan Transport pada antara Oleh-Karang dan Kota-Alam
  16. Pelanggaran Transport yang Berangkat dari Kota-Raja ka-Oleh-Karang
  17. Kelakuan Soldadu Jawa Ternama Wirokromo Sedang Berjalan Patrouille dari Bukit-Daru ka-Jempit
  18. Uncopyright

PENYURATAN PEKERJAAN PERANG DI NEGERI ACEH

W. J. PHILIPS


Logo Penerbit MasasilaM

PENYURATAN PEKERJAAN PERANG DI NEGERI ACEH

karya

W. J. PHILIPS

(KAPITEIN INFANTERIE)




TERCETAK OLEH

G. C. T. VAN DORP & Co.

SEMARANG

1889

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: The Siege of a Fortress 1527, karya Albrecht Dürer

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



Perkataan yang Dhulu

Maka gunanya cerita cerita ini, iya-itu supaya soldadu soldadu muda mendapat tertunyuk pada perbuwatan yang masyhur kawannya, sedang perang di negerie Aceh, dan juga supaya dia orang menurut kalakuan pelawan itu, kalu iya di kirimkan ka medan perang.

Janganlah sakali kali kamu lupa, kamu itu mengikut bala tantara di Hindia Nederlan, yang tida berbagey lagi kabraniannya, serta yang santiyassa tetap di tengah perang, maski terlebih berkuwasa lawannya itu.

Haruslah cerita cerita ini menyukakan akan segala perbuwatan, yang menjadikan puji dan kamuliyaan bala tantara itu.


Perang di Kampung Lembu

Pada hari 25 December 1873

Dari pada segala perbuwatan pelawan di negeri Aceh, yang harus di ceriterakan, iya-itu sakutika batalyon tiga berperang di kampung Lembu pada hari 25 bulan Dec. 1873.

Maski pun waktu itu beberapa soldadu mininggal duniya di medan perang, akan te-tapi kabraniannya itu memberikan kahormatan kapada bandera naranji, yang mengikut batalyon tiga.

Dari sabab itu dan akan lain perbuwatan di medan perang, pada titah Raja bandera itu beroleh bintang karajaan, ternama Militaire Willemsorde.

Haruslah satu-satu soldadu yang mengikut batalyon tiga itu, salamanya mengingati perbuwatan pelawan temannya dhulu.

Maka baiklah satu-satu soldadu tahu perbuwatan batalyon tiga, sedang berperang akan mengalahkan kampung Lembu, yang teramat kuwatnya.

Pada hari yang tersebut di atas ini, batalyon tiga bersama dengan lain-lain Batalyon di suruh berangkat ka-kampung Lembu.

Berbahaya betul batalyon tiga itu, sedang menghadap benteng-benteng yang berkuliling pinggir kampung.

Duwa kali benteng itu di serang sabaik-baiknya, maka duwa kali juga batalyon itu di undurkan oleh musuh.

Tatkala itu menjadikan kecil hati soldadu, maka Ajudant onder-officier E. C. O. von Bredow, yang memikul bandera naranji itu lalu berlari ka pinggir kampung, serta bandera itu di tanamkan di kaki tembok benteng.

Barulah orang menengok berbahaya bandera itu, maka sacepat-cepatnya officier dan soldadu berlari kahadapan, sedang bandera itu di kepungkan berkuliling.

Seperti karang batu di tengah laut, yang siya-siya di pukul ombak, serta tida bisa di rubuhkan, bagitulah orang-orang pelawan itu tetap tinggal di tampatnya.

Maskilah beribu pelor musuh berbahayakan officier dan soldadu yang mengepung bandera itu, maka tida ada satu yang mengingat akan mundur.

Bersama-sama, benteng Aceh itu di langgar dengan sungguh-sungguh, maski pun kuwat sangat pelawanan musuh itu.

Seperti macan galak batalyon tiga itu tampil menyerang benteng-benteng Aceh, serta merebahkan segala barang, yang menahankan jalannya; musuh itu yang berani melawan di tikam dengan bayonet.

Tida lama kamudian dari pada itu, antero kampung di kalahkan.

Maka dari sabab kalakuan, yang amat beraninya, bintang tanjung, iya-itu Militaire Willemsorde di berikan kapada Ajudant onder-offleier von BREDOW, Sergeant mayoor J. BAKH, dan Sergeant ambon L. LATUMAINA.

Bintang tanjung itu yang sudah di berikan kapada bandera naranji batalyon tiga menunjukan kabranian dan satiya orangnya.

Maka haruslah anak-anak soldadu yang mengikut batalyon tiga itu, baik di medan perang baik di tampat perdameyan salamanya mengingat akan laku jalan temannya dhelulu, yang dengan hati besar boleh tunjuk pada perbuwatannya itu.

Harus juga satu-satu soldadu mengingat akan kaharusannya, kalu di serahkan pelawanan banderanya.

Maski berbahaya betul, jangan sekali-kali orang mengingat akan tinggalkan banderanya, maka lebih baik tetap di tampatnya atawa meninggal duniya di medan perang.


Pelanggaran Benteng Senelop

Pada hari 25 Juli 1878

Pagi kira-kira pukul satengah sapuluh benteng Senelop itu menjadi kalihatan. Sabentar juga kaduwa compagnie, yang di muka sakali maju ka Senelop, dan lalu melanggar benteng itu, serta sampey kira-kira 100 pas di hadapannya. Maski pun sakuwat-kuwat pelanggaran itu maka kaduwa compagnie itu di undurkan oleh musuh. Sakutika itu, Luitenant-Ajudant batalyon duwa W. F. Krusen menyuruh maju compagnie Afrikaan, yang mengikut batalyon duwa itu. Seperti angin ribut merubuhkan segala barang, yang menahankan jalannya, maka bagitu juga soldadu-soldadu Afrikaan itu melanggari benteng, maski kuwat pelawanan musuh itu; siapa yang tinggal melawan, di rebahkan serta di bunuh dengan bayonet. Maka yang mendhului temannnyia, iya-itu Korporaal Bonimbie dan soldadu Koor. Perkasa betul pelanggaran soldadu Afri- kaan itu; bolehlah di sepertikan pasukan raksasa yang membinasakan bumi.

Sedang compagnie Afrikaan itu mulai melanggar, maka bagian-bagian yang lain mengepungi benteng, serta musuh yang berlari kaluwar di tegak dan di tembak.


Perbuwatan L. H. 3e. Batalyon Sakutika Mengambilkan Missigit Raiya

Pada hari 6 Januari 1874

Pada waktu itu, bala tantara yang di bawah parentah Luitenant-Generaal J. van Swieten ada terkumpul di Penayung dan di sabrangnya, iya-itu kampung Jawa.

Dekat dari pada Penayung ada satu benteng ternama loopgravenwakht, yang di pergunakan akan menembaki kraton dan Pakan Aceh dengan mariyam besar.

Maski pun Generaal van Swieten tahu betul tampatnya missigit raiya, iya-itu missigit yang sudah teralah pada waktu perang bermula kali di negeri Aceh, maka missigit itu tida kalihatan, dari sabab berimbu betul tanah, yang di sabrang kali Aceh itu.

Pada hari 6 Yanuari, brigade duwa, yang di bawah parentah Kolonel de Roy van Zuydewiyn di parentahkan akan mengalahkan missigit raiya itu.

Brigade duwa itu ada terbagi atas ampat batalyon, iya-itu R. H. dan L. H. 3e. Batalyon dengan R. H. dan L. H. 14e. Batalyon.

Pagi pukul delapan, batalyon-batalyon yang tersebut tadi di kumpulkan di kampung Jawa, serta L. H. 3e. Batalyon di aturkan di muka sakali.

Sabelomnya pasukan-pasukan itu berjal-an, maka dari pada loopgravenwakht, kraton missigit dan Pakan-Aceh di tembaki dengan tida berhenti.

Sasudahnya itu, L. H. 3e. Batalyon, mulai berjal-an, serta di belakangnya berturut turutan R. H. 3e. Batalyon, R. H. 14e. Bataly. dan L. H. 14e. Batalyon.

Colonne itu menurut pinggir kali Aceh, sabab di situ ada jalan kecil, yang terus ka missigit, tetapi tanah itu berimbu betul; maka dengan kapmes barang kasangkutan itu di rombak akan mendapatkan jalan yang baik sadikit.

Kira-kira pukul sambilan, sa-sudahnya de-ngan susah sakali, orang berjal-an terus di rimbaan itu, maka dengan kaget di tembaki oleh beratus-ratus orang Aceh, yang tida kalihatan.

Sabentar juga compagnie di muka sakali, yang sudah di hamburken saboleh-bolehnya menembak kombali, serta lantas di tulungi oleh compagnie-compagnie yang di belakang-nya itu.

Maka antero batalyon itu dengan berlumpat maju kahadapan, maski sakuwat-kuwatnya di tembak oleh musuh.

Serta sampey di tampat yang terang sadikit, maka ada kalihatan tembok benteng musuh, yang teramat kuwatnya, serta di belakangnyia itu beribu-ribu orang Aceh dengan tida berhanti melepaskan isi bedlnya.

Maski beberapa officier dan soldadu sudah jatoh terkena luka, maka tida sakali-kali L.H. 3e. Batalyon itu menjadi kecil hati.

Sa-sudahnya saboleh-bolehnya orang membalskan penembakan musuh itu, maka dengan menyurak hurah“ antero batalyon itu melanggar tembok benteng, maski di hadapannya penuh barang kasangkutan.

Kaduwa compagnie blanda L. H. 14e. Batly. dan satu compagnie R. H. 14e. Batalyon mengikut juga.

Serta L. H. 3e. Batalyon itu sudah menaik tembok benteng, maka di hadapannya itu pada kira-kira 175 pas ada kalihatan tembok missigit.

Lalu batalyon itu maju terus ka missigit, dengan memburu musuh, yang berlari pada segala pehak.

Bersama-sama dengan musuh itu, orang masok dalam missigit, serta di situ siapa yang berani melawan di tembak atawa di bunuh dengan bayonet.

Maski pun tida berbagey lagi kalakuan ba- talyon tiga itu, dan bagian-bagian yang lain, akan tetapi pada hari itu kompeni kahilangan sabelas officier dengan duwa ratus duwa onder-officier dan soldadu.


Perang di Pekuboran ka-Sabelah Wetan Kota Raja

Pada hari 17 Augustus 1874

Ka-sabelah wetan Pakan Aceh yang dhulu di namai benteng Panglima Polim, ada satu kampung ternama Longbatta, iya-itu yang di duduki kapalanya Imam Longbatta. Maka dari pada mulanya perang di negri Aceh, Imam itu boleh di bilang orang yang teramat melawan kompeni dan berani betul.

Hampir saban malam, musuh itu mendekati benteng Pakan Aceh dan Kota Raja, akan menembaki orang-orang yang di dalam itu; sring juga orang itu kena luka, sabab tembok benteng Pakan Aceh tida sampey tinggi akan menahankan pemandangan orang, yang berdiri di luwarnya.

Pada siang hari, musuh itu berani juga mendekati benteng akan menembaki orang yang pegi ka-sabelah kali; maka tida ada gunanya, kalu musuh di tembak kombali, sabab tampatnya itu sabannya di dalam penggalian tanah atawa di belakang peninggian tanah.

Mula-mula bulan April tahan 1874, satu compagnie blanda dan satu compagnie ambon Batalyon tiga bertempati benteng Pakan Aceh serta di bawah parentah kapitein C. A. van Randwiyk.

Supaya jangan musuh berani mendekati lagi benteng itu, kapitein van Randwiyk menyuruh angkat segala barang kasangkutan dan rimba-rimbaan yang di luwarnya itu, serta penggalian tanah di tutup dan gunungan di rombak, maka begitu rupa musuh bisa di lihati, kalu pada siang hari dia mencoba akan mendekati benteng Pakan Aceh.

Mula mula soldadu soldadu ada kase-nengan sadikit, sabab orang Aceh tida ada tampat sembunikan lagi, maka dia orang bisa melepaskan isi bedil dari jauh saja; tetapi lama-lama lain lagi akalnya. Kira-kira 500 pas ka-sabelah wetan Kota Raja ada satu gunungan, yang dhulu pekuboran orang Aceh. Maka dari pada tampat itu musuh sekarang menembaki benteng Pakan Aceh dan Kota-Raja. Maskipon musuh itu di tembaki dengan mariyam, tida bisa dia di usirkan dari pada tampatnya itu.

Dari sabab itu kolonel Pel, yang waktu itu menjadi kapala perang di negeri Aceh, menantukan akan mengusirkan musuh dari pada tampatnya dan akan menduduki sendiri tampat itu.

Pada hari 17 bulan Augustus pagi-pagi, satu compagnie dari Pakan Aceh di bawah parentah kapitein van Randwiyk di suruh mentempati kadudukan musuh itu; betullah waktu itu musuh tida ada di situ.

Sabentar juga compagnie itu di hamburkan akan memeliharakan orang yang mengerja di pekuboran itu.

Serta kolonel Pel mendapat kabar akan pekerjaannya compagnie itu, maka sacepet-cepetnya, 1 kapitein 15 mineur dan kulie-kulie di kirimkan ka-sana, akan membikinkan benteng.

Tetapi barulah orang mulai mengerja, maka di kampong-kampong yang berkuliling itu tong-tong berbuni; sabentar juga dari kiri kanan orang Aceh beratus-ratus datang menembaki compagnie dan orang bekerja itu. Maskipon berbahaya bagitu, soldadu dan mineur samuwa tinggal bersentawsa betul.

Tetapi makin lama makin lebih musuh mendatang, maski santiasa di tembaki dengan mariyam dari pada Pakan Aceh. Dari sabab itu, satu compagnie ambon Batalyon tiga di suruh menulung, akan mengusirkan musuh itu.

Kira-kira pukul 11 pada siang hari, su- dah ada jadi tiga tembok benteng, ya-itu yang menghadap tampat musuh, maka karung-karung pasir yang bertindih-tindih di pergunakan akan meninggikan tembok itu.

Perlahan-lahan compagnie yang terhambur itu di undurkan di belakang tembok benteng yang sudah jadi itu.

Pukul 1 sore compagnie kapitein van Randwiyk di ganti dengan bagian lain, yang kira-kira 150 soldadu banyaknya. Musuh itu sudah mundur, tetapi tinggal menembak dari jauh saja.

Pukul 5 sore satu bagian, 50 soldadu banyaknya dengen duwa officier di suruh mentempati benteng baru itu, serta bagian-bagian, yang di kirim lebih dhulu dan mineur kombali lagi ka Kota-Raja.

Pada hari itu, orang Aceh merasa lagi, maski pun beratus atawa beribu dia mendatang melawan kompeni, maka tida sekalkali ada satu soldadu yang menjadi kecil hati, atawa yang mengingat akan mundur atawa berlari.

Dengan sentawsa dan dengan kagemaran dia mengikut kapalanya, baik ka mana juga.


Perangkatan Perang ka-Longbatta

Pada hari 31 December 1874

Sasudahnya kompeni bertempati kampung Lembu, maka sekarang kolonel PEL dapat pengingatan, akan mengalahkan kampung Longbatta. Dari sabab banjir besar, tida bisa kompeni berangkat lebih dulu, maka bernanti sampey aer sudah mengalir lagi.

Pada hari 31 bulan December kolonel PEL menantukan akan mengangkat perang ka Longbatta.

Pagi-pagi kira-kira pukul 5, bagian-bagian perang, yang tertunjuk itu di kumpulkan di Pakan Aceh. Satengah anam betul, pasukan pasukan yang sudah terbagi itu mulai berangkat.

Batalyon lima, yang di bawah parentah mayoor J. W. Romswinckel berjalan lebih dhulu, di belakangnya ada satu compagnie ambon batalyon tiga dengan satu compagnie marinier (soldadu laut) di bawah parentah kapitein J. C. van Blokland, serta di belakang sekali batalyon sapuluh di bawah parentah mayoor A. M. van der Meer.

Barulah bagian yang di muka sekali mulai berjalan, maka di kampung-kampung musuh itu orang berbunikan tong-tong.

Sabentar juga batalyon lima maju kasabelah kidul ka-kampung Lampu-Uk, sedang batalyon sapeluh terus ka-wetan, akan masok di kampung Lampu-Iju. Bagiannya kapitein van Blokland mengikut batalyon 5 ka-sabelah kanannya.

Sasudahnya meliwat benteng, ternama Oosterbenteng, mayoor Romswinckel dapat kalihatan beratus-ratus musuh, yang ada di dalam bentengnya. Sabentar juga benteng musuh itu di tembaki dengan mariyam, serta compagnie-compagnie di aturken akan maju. Sasudahnya beberapa pelor masuk di dalam benteng, maka mayoor Romswinckel menja: tuhkan parentah akan melanggar benteng itu.

Maski pun pelanggaran itu di jadiken dengan kebranian yang tida terbagey lagi, maka tida bisa orang masok di dalam benteng, sabab banyak dan kuwat sakali barang kasangkutan yang di muka benteng itu.

Sedang batalyon lima melanggar benteng itu, bagian yang di bawah parentah kapitein van Blokland berjalan terus ka-kidul. Di muka sakali ada voorhude, yang kira-kira 25 soldadu ambon banyaknya, di bawah parentah satu luitenant.

Voorhude itu dapat kadengaran penembakan dan tempik surak musuh, tetapi musuh itu tida kalihatan, sabab sabelahnya itu ada pagar bambu duri yang menahankan pemandangan mata.

Sa-cepat-cepatnya voorhude itu berjalan sapanjangnya pagar bambu durie itu, sampey mendatang di tampat yang terang sadikit; sekarang voorhude itu dapat kalihatan pada kira-kira 75 pas ka-sabelah kirinya benteng yang penuh musuh, maka musuh itu ada berperang dengan batalyon lima, yang tersebut di atas ini. Sabentar juga Commandant voorhude itu menjatuhkan paren-tah “attaqueeren.”

Sa-cepat-cepatnya benteng musuh itu di langgar, maka tida di tembaki dhulu. Betullah di sabelah benteng itu barang kasangkutan yang di mukanya gampang boleh di angkat.

Commandant voorhude itu dengan Sergeant ambon W. F. Adriaansz bersama-sama menaik tembok benteng, serta musuh yang di dalam itu di tembaki oleh Sergeant Adriaansz; sabentar juga soldadu-soldadu yang lain masok di benteng, serta musuh di usir-kan kalowar dan di buru.

Sasudahnya itu benteng musuh ternama Lampu-Uk di tampati oleh satu compagnie batalyon tiga.


Perkara Mengambil Kampung Lamara Uleylo

Pada hari 14 bulan Februari 1875

Di benteng Mandarsa Putih ada satu compagnie batalyon 3, yang di bawah parentah 1e. Luitenant E. G. T. von Ende. Sring sakali pada malam kalu gelap betul, Luitenant itu dengan patrouille yang kira-kira 30 atawa 40 soldadu banyaknya, kalowar akan merusaki gudang padi, gedong-gedong atawa benteng di dalam kampung musuh.

Sudah beberapa kali patrouille itu masok di kampung Lamara Uleylo akan meng-angusi gedong dan gudang padi, maka tida sakali orang Aceh berani melawan kombali, sabab dia orang tida tantu tau banyaknya soldadu patrouille itu.

Maka satu kali ya-itu pada hari 14 bulan Febr. 1875, Luitenant von Ende menantuken akan membikin patrouille ka kampung Lohong, sabab sring sakali orang kampung itu datang menembaki benteng Mandarsa Putih.

Pada malam kira-kira satengah sabelas,

Luitenant von ENDE dengan 2e. Luitenant J. B. van HEUTZ dan 34 onder-officier dan soldadu berangkat dari benteng Mandarsa Putih. Supaya jangan di lihati musuh, patrouille itu berjalan sapinggir kampung Nesuh dan kampung Atuh, tetapi serta sampey di tampat yang berawah sakali, maka tida bisa maju lagi.

Dari sabab itu Luitenant von ENDE pulang kombali dengan patrouille, serta menyuruh mengangusi dhulu beberapa rumah musuh, yang dekatnya itu.

Barulah patrouille mulai mundur, maka dari segala pehak orang Aceh datang menembaki rumah berangus itu.

Sa-cepat-cepatnya Luitenant von ENDE pulang ka benteng Mandarsa Putih.

Sedang melangkahi sawah, yang di hadapan benteng itu, Luitenant von ENDE dapat lihat banyak orang kaluwar dari kampung Lamara-Uleylo akan menulung kawannya di kampung Lohong.

Dari sabab itu, sa-cepat-cepatnya Luitenant von ENDE menghantarkan patrouillenya terus ka-kampung Lamara-Uleylo; di dalam kampung itu, tida ada manusia bergerak.

Perlahan-lahan patrouille itu maju di dalam kampung, sampey mendapat satu benteng yang berkuliling dengan segala barang kasangkutan. Serta mendapat pintunya, pa- trouille itu ati-ati masok ka-dalam benteng, dengan mencari musuh, tetapi tida ada satu orang.

Sabentar juga satu soldadu di suruh kombali ka Mandarsa Putih, akan minta penambahan soldadu dengan pengiriman patroon dan makanan.

Maka bersama-sama itu, Luitenant von ENDE menyeruh kirimkan kabar kapada Commandant batalyon.

Patrouille itu berkumpul di benteng Aceh, dan berjaga betul.

Pagi-pagi kira-kira satengah anam, serta sudah mulai terang, patrouille itu dapat de ngar orang yang mendekati benteng itu; sabentar juga bebrapa orang Aceh mendatang, akan mentempati bentengnya seperti saban, tetapi baru sampey kira-kira 20 pas dari pada tembok benteng itu, maka dengan kaget dia orang di tembak oleh patrouille; satu orang Aceh mati, serta orang yang lain terus berlari.

Tetapi sabentar juga di dalam kampung itu dan kampung-kampung yang lain orang berbunikan tong-tong, serta tida lama lagi dari kiri-kanan musuh mendatang akan mengambil kombali bentengnya. Maski pun beratus-ratus musuh itu, maka tida sakalikali Luitenant von ENDE menjadi kecil hati; dengan sentawsa orangnya menurut parentah, serta dengan kuwat musuh itu di tembaki kombali.

Kira-kira pukuI anam pagi, Luitenant von ENDE mendapat penambahan soldadu dari Mandarsa Putih, serta kamudian dari pada itu, batalyon lima di bawah parentah Mayoor Romswinckel di kirimkan juga ka-kampung Lamara Uleylo, maka bagitulah musuh itu di usirkan ka-luwar kampungnya.

Duwa bulan kamudian dari pada waktu, yang tersebut di atas ini, sayang sakali Luitenant von ENDE, yang terlalu beraninya, kena luka kamatiian, sedang perang di kampung Giciel Uleylo.


Pekerjaan Patrouille yang Berjalan dari Benteng Cade ka-Benteng Silang

Pada hari 22 bulan Januari 1877

Pada tahun 1877 ada satu benteng, ter-nama Cade, serta dekatnya itu ada benteng yang lain, Silang namanya.

Maka saban hari tuwan docter yang tinggal di benteng Cade pegi ka-Silang, akan meng-obati orang sakit.

Pada waktu yang tersebut di atas ini, tu-wan docter Y. B. A. K. Wolff berangkat dari benteng Cade ka-benteng Silang dengan peng-hantaran patrouille yang 1 Sergeant blanda dan 12 soldadu jawa banyaknya; satu Aju-dant onder-officier stabelan mengikut pa-trouille itu juga.

Serta sampey kira-kira 600 meter dari pada Silang, patrouille itu dengan kaget di tembaki oleh beberapa orang Aceh, yang tinggal di tampat beradang ka-sabelah jalan itu. Sa-bentar juga patrouille yang berjalan pada satu gelid itu, berhenti dan menghadap ka-pada musuh, serta menembak kombali.

Tetapi sa-sudahnya menembak ka-duwa kali, lalu orang Aceh itu merampok patrouille dengan klewang dan tumbak.

Tuwan docter Wolff kena luka kamatian dengan tumbak; Sergeant blanda, yang menyadi Commandant patrouille itu sudah mati terkena pelor, serta Ajudant onderofficier stabelan mendapat luka besar, sahingga patrouille itu tida ada kapalanya.

Pada waktu itu, satu soldadu jawa, ternama Jogatie menanggungkan parentah patrouille itu.

Maski pun orang Aceh itu terlebih banyaknya, maka tida sakali-kali Jogatie dan temannya menyadi kecil hati.

Dengan sentawsa dia memarentahkan orangnya, serta dengen sungguh-sungguh musuh itu di lawan kombali.

Dengan kalakuwan yang berani betul, Jogatie memberi hati kapada temannya; maka tida ada satu soldadu yang mundur satu pas saja.

Ajudant onder-officier stabelan, yang sudah berluka itu, hampir di bunuh orang Aceh dengan klewang, kalu orang itu tida di tembak oleh Jogatie.

Tida lama lagi satu patrouille mendatang dari Silang akan menulungi bagian yang berperang itu.

Serta sampey di bentengnya, JOGATIE itu di berpangkatkan Korporaal, dan kamudian di berikan bintang karajaan, ya-itu Militaire Willemsorde.

Maka cerita ini menunjukkan bagimana musuh itu; maski berkuwasa betul, boleh di lawani oleh bagian soldadu, kalu kepalanya berani betul serta dengan sentawsa dan dengan tetap hati dia memarentahkan orangnya.

Nama-nama orang seperti JOGATIE itu ada tersebut dalam hikayat dan harus di hortaken oleh siapa juga baik orang besar atawa orang kecil.


Pekerjaan Patrouille yang Berjalan dari Krung Raba ka-Bukit Sebun

Pada hari 15 bulan Maret 1877

Benteng yang ka-sabelah kidul sakali, ternama Krung Raba sring sakali menyuruh berjalan patrouille ka-Bukit Sebun, iya-itu benteng yang paling dekatnya, akan memelihara-kan perubogenan dengan benteng itu.

Pada hari yang tersebut di atas ini, satu patrouille, 1 Korporaal dan 20 soldadu banyaknya serta di bawah parentah Sergeant ja- wa ternama Sariman, berangkat dari Krung-Raba.

Maka di antara kampung Lamgabus dan Lampaya, sabelah jalan itu kiri kanannya ada pagar, serta betul di tempat itu jalannya bersiku.

Serta sampey di situ, patrouille dengan ka- get di tembaki oleh beberapa orang Aceh, yang beradang di dalam lobang-lobang besar sapinggair jalan itu.

Bagitulah Korporaal dan satu soldadu, yang di muka sakali lantas kena luka.

Sabentar juga Sergeant SARIMAN yang bersentawsa betul, merapatkan orangnya, serta dengan berlutut menyuruh menembaki satu-satu orang Aceh, yang kalihatan di atas pinggir lobang itu.

Bagitulah patrouille itu tinggal menembak dengan menuju sabetul-betulnya, sampey musuh itu di usirkan dari pada tampatnya, dengan peninggalan 4 orang mati dan 1 orang berluka besar, serta sapanjang jalan orang pelarian itu penuh bekas darah.

Tida lama lagi, patrouille-patrouille dari Bukit Sebun dan Krung Raba mendatang di tempat perang itu dan mendapat beberapa senjata orang Aceh, yang katinggalan di situ.


Perang di Tanjong-Semantok

Pada hari 14 November 1876

Di pantey wetan negeri Aceh dekat dari pada Edi ada karajaan ternama Simpang-Olim, yang harus di hukumkan dengan sungguh-sungguh, sabab Rajanya menjadi bermu-suh kapada Gouvernement dan mengusir satu kepala Tuku Muda Angkasa, yang bersobat kapada kompeni.

Dari sabab itu, 1 compagnie blanda dan ambon batalyon 3, yang di bawah parentah Kapitein H. E. Skhoggers dengan stabelan di kirimkan ka Simpang-Olim akan menulung Tuku Muda Angkasa.

Pada sama waktu 1 compagnie Linkerhalf 12e. batalyon yang di Edi berangkat joga ka Simpang-Olim, maka segala bagian itu ada di bawah parentah Mayoor F. C. Burgers, yang di ikut Luitenant-ajudant A. G. Popelier.

Pada hari yang tersebut di atas ini, Mayoor Burgers berangkat dengan colonne, yang terbagi atas 1 compagnie batalyon 3 dan 1 sectie Linkerhalf 12e Batalyon, akan mengalahkan benteng Tanjong-Semantok dan benteng-benteng yang dekatnya itu.

Kapitein Skhoggers berjalan di muka sakali dengan 1 peloton, serta di ikut Luitenant-ajudant Popelier.

Benteng musuoh, yang di dapat lihat lebih dhulu iya-itu Bukit Tiga Ratus. Kapitein Skhoggers dengan satu peloton, yang menyadi voorhude lantas maju ka-benteng itu.

Maski pun di tembaki dengan sungguh-sungguh oleh musuoh itu, maka voorhude itu tida melepaskan satu pucuk patroon.

Sa-cepat-cepatnya benteng musuoh itu di langgar. Luitenant-ajudant Popelier dengan satu Sergeant blanda terus masok dalam benteng, serta di ikut soldadu yang lain, maka dengan kuwat musuoh itu di usirkan ka-luwar bentengnya.

Sabentar juga Kapitein Skhoggers dengan satu sectie, yang tinggal di luwar benteng memburu musuoh, sampey di hadapan benteng Bukit Pinyi. Maski pun di tembak oleh musuoh, maka Kapitein Skhoggers terus melanggar benteng itu, serta mengusirkan orangnya.

Lalu Kapitein Skhoggers berangkat kagedei Tanjong-Semantok, yang kalihatan dari benteng Bukit Pinyi. Luitenant-ajudant Popelier dengan orangnya berkumpul kapada Kapitein Skhoggers serta mengikut juga.

Serta sampey di hadapan gedei itu, Kapitein Skhoggers memarentahkan pasukannya, akan melanggar tempat musuh itu. Sa-cepatcepetnya orangnya itu maju dengan mnurak “hurah!”, serta musuh yang berlari di buru dan di usirkan keluwar.

Sedang Kapitein Skhoggers melanggari gedei Tanjong-Semantok itu, maka Luitenant-ajudant Popelier dengan anam soldadu ambon, ternama Israel, Kapoyas, Saselawany, Hehanusa, Tutuharima dan Siloy perlahan-lahan terindap-indap pegi ka benteng Kota-Bukit, yang kira-kira 200 pas jauhnya dari pada Tanjong-Semantok.

Benteng Kota Bukit itu kuwat sangat serta ada di atas bukit, yang kira-kira 60 Meter tingginya dan berimbu betul.

Perlahan-lahan Luitenant-ajudant Popelier dengan soldadunya menaik bukit itu, dengan menyembunikan badan akan tida di lihati musuh, maka musuh itu berameyramey menembaki soldadu, yang ada di Tanjong-Semantok.

Hampir bersama-sama Luitenant-ajudant Popelier dengan orangnya mendatang di bawah tembok benteng, sampey membikin kaget orang Aceh, yang betul mau melepaskan isi mariyam.

Sa-cepat-cepatnya Luitenant-ajudant Po-

PELIER dengan soldadu ambon itu melangkah tembok benteng, serta musuh yang beribut itu di tembaki dengan snelvuur, serta di usirkan keluwar.

Begitulah benteng musuh, yang di tempati kira-kira 80 orang Aceh bisa di kalahkan oleh tuju orang saja.

Dari pada waktu itu, berkuliling Tanjong-Semantok tida kalihatan musuh saorang lagi.

Kapitein Skhoggers dan Luitenant-ajudant Popelier boleh di namai Officier dengan kabranian yang tida berbagey lagi.

Satu-satu soldadu, baik blanda baik bangsa lain yang di bawah parentah kaduwa Officier itu, salamanya dengan senang hati mengikut kepalanya, maski pun di antarken katampat yang berbahaya betul.

Sayang sakali pada tahun 1878, Kapitein Skhoggers itu kena luka kamatian di negri Aceh, sedang menghantar transport dari Anak Galung ka-Lambaru, serta Luitenant-ajudant Popelier meninggal di negeri Wolanda pada tahun 1883.


Penyerangan Transport pada antara Oleh-Karang dan Kota-Alam

Pada hari 16 April 1876

Pada hari yang tersebut di atas ini, satu detakhment yang 1 Sergeant, 1 Korporaal dan 20 soldadu banyaknya, samuwa orang jawa, berangkat dari Oleh-Karang ka Kota-Alam akan pegi mengambil bakal rumah. Melainkan Sergeant itu membawa senjatanya, serta orang yang lain dengan kapmes saja. Maka detakhment itu di antarkan bagian, yang 1 Sergeant blanda dan 9 soldadu blanda banyaknya. Pada waktu berangkat ka Kota-Alam, sa-panjang jalan, detakhment itu tida dapat pertemuan satu apa. Maka sa-sudahnya 20 soldadu jawa itu di muwati dengan segala bakal rumah dan barang-barang yang perlu, detakhment itu kombali lagi ka Oleh-Karang. Sergeant jawa dengan 4 soldadu blanda berjalan di muka menjadi spits, serta Sergeant blanda dengan 5 soldadu blanda ber- jalan di belakang sakali, akan menjaga orang yang tida bersenjata itu.

Serta transport itu sampey kira-kira 800 Meter dari pada benteng Oleh-Karang, ya-itu tanah berimbu sakali, maka dengen kaget di langgar oleh musuh, yang kira-kira 40 orang banyaknya, serta di serang dengan klewang dan tumbak.

Sabentar juga, orang-orang yang bersenjata itu berkumpul kapada Commandantnya, serta orang Aceh di tembaki dengan sungguh-sungguh.

Sergeant blanda ternama FABEL dengan orangnya, ya-itu soldadu COUWELAERS, MULLER, RULS, KRAKEEL dan SKHOONHEID kena luka samuwa. COUWELAERS dan MULLER dapat luka kamatian, serta RULS yang jadi bakalahi dengan orang Aceh, kena luka klewang; hampir juga di bunuh, kalu tida di tulung oleh KRAKEEL, maka KRAKEEL sendiri sudah kena luka katuju kali.

SKHOONHEID itu dapat beberapa luka dengan klewang, sedang dia berkumpul kapada Sergeant FABEL.

Terrapat satu kapada lain, maski berluka bagitu, Sergeant FABEL dengan orangnya melawan penyerangan musuh itu. Maski pun di kepung oleh beberapa orang Aceh, maka tida ada satu soldadu, yang menjadi kecil hati.

Serta di benteng Oleh-Karang orang dapat kadengeran penembakan itu, maka sa-cepat-cepatnya satu patrouille berangkat ka tampat perang itu.

Musuh itu sudah berlari, serta tinggal-ken 4 orang mati dan rupa-rupa senjata. Detakhement itu tida kahilangan satu apa.


Pelanggaran Transport yang Berangkat dari Kota-Raja ka-Oleh-Karang

Pada hari 28 Juli 1876

Pagi-pagi satu detakhment, yang 31 soldadu banyaknya serta di bawah parentah 2e. Luitenant Raden Ario Seco Negoro dari barisan Bangkallan berangkat dari Kota-Raja ka Oleh-Karang, akan menghantarkan tuwan docter P. J. L. Doring.

Ka-sabelah wetan benteng yang sudah di rombak, ternama Lembu-Oost, jalan yang di ikut itu berimbu betul, serta ada selokan juga, ya-itu kali Lingkar namanya, maka dekatnya selokan itu ada beberapa peninggian tanah.

Dari sabab jalan itu tida sampey lebar, maka detakhment melainkan bisa berjalan uit de flank pada duwa gelid, serta di muka sakali satu Sergeant blanda dengan 3 soldadu Madura di jadikan spits.

Serta sampey 25 pas dari pada kali Lingkar itu, maka dengan kaget detakhment itu di tembaki oleh musuh yang beradang di belakang rimba-rimbaan di pinggirinya selokan itu.

Sa-sasudahnya melepaskan isi bedil, lalu beberapa orang Aceh dengan klewang datang merampok detakhment, yang sudah terhambur sakali.

Tetapi sa-cepat-cepatnya, tuwan docter Doring dan Raden Ario Seco Negoro mengumpulkan orangnyya serta musuh itu di langgar dengan bayonet dan di usir ka kampung Lamkulupang, sedang di tembaki dengan snelvuur.

Serta di Kota-Alam orang dapat dengar penembakan itu, maka salekas-lekasnya satu patrouille berangkat ka tampat perang, serta satu patrouille dari Oleh-Karang hampir bersama-sama mendatang di situ juga.

Kulilingan tempat perang itu, ada 12 bankey orang Aceh, serta detakhment itu sudah kalah 5 soldadu mati dan 7 yang kena luka.


Kelakuan Soldadu Jawa Ternama Wirokromo Sedang Berjalan Patrouille dari Bukit-Daru ka-Jempit

Pada hari 28 Augustus 1876

Pada hari yang tersebut di atas ini, 21 soldadu di bawah parentah korporaal blanda berangkat dari Bukit-Daru ka Jempit, saperiti sabannya akan memarikksakan tanah berkuliling di antara kaduwa benteng itu.

Ka-sabelah kidul kampung Cabang orang-orang patrouille itu berjalan di atas ga-lengan sawah satu di belakang lain, maka commandantnya itu tida ingat akan berjaga betul, supaya jangan sekunyung-kunyung di langgar oleh musuh.

Serta orang sampey dekatnya satu kampung yang sudah berangus, maka dengan kaget patrouille itu di tembaki oleh beberapa orang Aceh, yang beradang di situ.

Sasudahnya melepaskan isi bedil itu, maka dengan menyurak dia orang kaluwar akan menyerang patrouille itu dengan klewang dan tumbak.

Maka pelanggaran musuh itu terlalu mengharu-biruken orang soldadu, sahingga beberapa orang bingung berlari ka kiri kanan, serta Commandant patrouille, iya-iteo Korporaal blanda meninggalkan parentahnya dan terus berlari juga.

Sakutika itu, satu soldadu jawa Wirokromo bekin malu kepalanya itu.

Dengan sentawsa dan tetap hati dia mengempulkan dan merapatkan kira-kira 8 soldadu muda, yang katinggalan itu, serta bersama-sama musuh itu di lawani dengan sungguh-sungguh.

Maka Wirokromo itu berkatai temannya: “Ayo anak-anak! biyar kita orang melawani musuh itu; maskilah dia terlebih berku-wasa, jangan kita orang bermallukan pangkat soldadu, maka lebih baik kita orang mati di medan peperangan.”

Maka perkataannya Wirokromo itu menambahkan kabranian temannya.

Maski pun di serang dari kiri kanan oleh musuh itu, maka Wirokromo dengan orangnya tinggal terrapat satu pada lain serta tida mundur satu pas jauhnyya.

Tida lama lagi, patrouille dari Bukit Daru datang menulungi orang-orang yang berbahaya itu.

Serta sudah mendapat penambahan orang lagi, patrouille menurut jalannya ka Jempit.


Uncopyright

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Meskipun demikian, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.