Baca EPUB (OCR): Terkubur dalam Penasaran

14 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 6 ms

Daftar isi
  1. TERKUBUR DALAM PENASARAN
  2. R. P. CONDROWINUYUNG
  3. DAFTAR ISI
  4. Landmarks
  5. ISIFATNYA PENGADILAN PERBATA
  6. IISUWARANYA HATI
  7. IIIPENDEKAR AJAIB
  8. IVTURUN GUNUNG
  9. VMENGUMBARA
  10. VILELAKI CERIWIS
  11. VIIKASENANGAN DI TEPI TELAGA
  12. VIIIPENUTUP
  13. UNCOPYRIGHT

TERKUBUR DALAM PENASARAN

R. P. CONDROWINUYUNG


Logo Penerbit MasasilaM

TERKUBUR DALAM PENASARAN

karya

R. P. CONDROWINUYUNG



Diterbitkan tiap-tiap pertengahan imlek oleh The Monthly Stories “BULAN PURNAMA”, Bandung.

Tahun ke-2 Augustus 1930 No. 15

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Ilustrasi sampul: Man Walking Towards a Grave, German 15th Century

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



Orang-orang yang tida makan barang berjiwa ada yang bikin ikan bandang dan kakap palsu dari taohu, katanya supaya enak makan. Kalu bagitu saya pun mau Ciacay, bikin taohu palsu dari daging kerbo dan babi, dan saya anggep itu sebagai sayuran

Im Yang Cu.


I

SIFATNYA PENGADILAN PERBATA

Pada itu jeman, yah, kira-kira lebi dari satu satenga abad yang lalu, di mana perkumpulan dagang Olanda yang pake merk Oost-Indiskhe Compagnie pegang pamerentahan sabagian kecit dari Yava ini, di berbagi-bagi tempat, di mana pamerentahan masih digenggam dalem tangannya pamerenta ka-Sultanana Jawa, sasuatu afdeeling ada dicokolken satu Bupati (samanya Regent dari gouvernement sekarang ini), satu Kliwon (samanya patih dari pamerenta yang sekarang) dan bebrapa penggawe negeri rendahan, saperti Demang, Camat enz. enz. Ini Bupati, salaen dari musti merangkep pakerja'an voorzitter dari Raad pengadilan Perbata, juge ada menyadi kapala dari sajumbla besar tentara negeri, pelindung dari kakuwasa'an pamerenta aguno. Itu sebab juga, sasuatu “orang” dari kaum bangsawan yang dipilih menyadi Bupati, cuma dari kaum bangsawan yang memang ada turunan panglima-perang.—Menurut anggepannya orang-orang pande di'itu je-man, cuma turunannya membrani saja yang bernyali gede.

Saperti juga di laen-laen afdeeling di bawah pamerentahan ka-Sultanen Jawa, di Pandanaran pun ada mempunyai Raad pengadilan Perbata, yang mempunyai kakuvasa'an tida berwates.

Pada tatkala itu, justru sanghyang baskara baru saja kasi unjuk rupanya di ujung dunia timur, Raad pengadilan Perbata di itu tempat (Pandanaran), telah mulai bersidang, di mana salaen satu Bupati tua yang ompong dan peyot duduk di sama tengah sebagi voorzitter, juga di situ ada tertampak Kliwon, Demang, Camat dan Carik (jurutulis) pengadiian.

Saperti biasanya, di depan dari gedong pengadilan tersebut ada dijaga oleh sapu-lu laskar perang dan bebrapa politie rendahan, guna menggeba-gebahin “orang” yang brani brenti di depan itu gedong. Ini ada menurut prentanya sang hakim, yang di waktu lagi melakuken papeksa'an perkara-perkara, supaya keada'an dalem ruwangan dan saputernya itu gedong tinggal sunyi.

Satu persakitan satenga tua, yang kadua tangannya di'iket ka blakang kaliatan digu-sur masuk ka dalem itu ruwangan oleh dua mandor penjara yang berpengawakan tinggi besar serta mukanya sanget bengis. Tida lama kamudian, menyusul masuk ka dalem ruangan tersebut, saorang satenga tua yang kapalanya gundul bekas cukuran piso, dengen dianter oleh satu Lurah kampung yang berpakean dienst.

“Akhmad Salim!” memanggil itu hakim tua seraya memandang ka jurusan tempat duduknya itu orang kapala gundul, “sekarang kaeo boleh mulai kasi katerangan tentang duduknya perkara dengen betul, mengapa kaeo punya tetangga, si kafir bapa Darmoh, suda brani berlaku sanget lancang, lakuken penyolongan kapunya'ah kaeo.”

“Gusti yang maha adil,” menutur Akhmad Salim dengen suara lancar, “dengen sesunggunya juga, duduknya perkara yang betul tentang itu penyolongan yang dilakuken oleh hamba punya tetangga, si bapa Darmoh, ada bagini: Di samping kiri dari hamba punya ruma, ada tumbu tiga puhun kelapa yang termasuk dalem hamba punya pekarangan. Ini puhun suda turun menurun ada menyadi hak dari familie hamba. Selang limabelas hari ini, yaitu kabetulan pada hari Jumahat lepas tengahari, selagi hamba pergi sembahyang ka Masigit guna menetapin ka-Islaman, sedeng yang berada di ruma cuma hamba punya bini dan kadua anak yang masi kecil, itu bapa Darmoh dengan tida minta perkenan lebi dulu pada bini hamba, lalu panjat sala satu dari itu puhun dan petik tuju butir bua kelapa, kamudian terus dibawa ka ruma sendiri. Wakte hamba punya bini menegor atas kelancangannya, bapa Darmoh suda jadi sanget gusar dan mendamprat kalang-kabut, malah kata-ken juga, bahuwa hamba ini ada saorang Jawa nyasar, sebab brani memuja agama Rasellulolah. Sapulangnya dari Masigit iantas dibritauken tentang itu hal oleh bini hamba, hamba lalu coba buat kasi tegoran dengan sacara sopan pada ini tetangga, tapi apa mau, baru saja hamba ucapken bebrapa pata perkata'an, itu bapa Darmoh lantes jadi kalap dan mengancem dengan satu badi-badi, katanya, kapan hamba brani buka mulut lagi, itu sen-jata yang ia pegang tentu tida bisa mengampunnin.“

“Kamudian, kaeo lantes berbuat apa?” “Sebab hamba ada saorang yang beragama Rasellulolah, maka hamba pun tida suka percekcokkan pada tetangga. Hamba lalu tinggal diam saja; tapi apa mau, dia yang ditinggal diam bukannya suka bikin suda saja itu perkara kecil, malahan maki-maki seraya kata, bahuwa sasuatu orang Jawa-Islam musti berhati judes, buruk, jelus d.l.l. pula yang hamba merasa malu buat sebutken di hadepan gusti. Sebab penasaran dimaki cara bagitu rupa, hamba lalu bertauken itu kejadian pada hamba punya ade-ipar, yalah ini kapala kampung, yang juga turut merasa tida senang hati dan lalu tangkep bapa Darmoh, digusur ka kantoor Demang, yang kamudian sasuda dapet perkenannya ini ambtenaar, barulah ia dijblosken ka dalem penjara tahanan.”

“Hei Lurah!” berkata sang hakim sambil memandang itu kapala kampung, “apa penuturannya si Akhmad Salim itu tida menyimpang dari duduknya perkara yang benar?”

“Tida menyimpang gusti”, jawabnya mas Lurah dengen suara tetap, “apa yang dia suda tuturkenitu, samua benar. Memang, ini bapa Darmoh ada sanget jail dan pembenci agama Rasellulolah.”

“Kurang ajar betul!” kamudian itu hakim ompong membentak sambil melototin matanya yang sagede jengkol, ka jurusannya bapa Darmoh, yang kaliatan masi duduk terpekur memikirin nasibnya yang malang. “Hei bangsat! Bagitu kurang ajar?! Nah sekarang cobalah kaeo hinaken lagi agama Islam? Aku sendiri juga ada saorang Islam, bukannya kafir-kufur saperti macem kaeo. Sebagi hakim, aku tida mau hukum persakitan yang belon bikin pem-belaan atas dirinya, maka sabelon aku kasi putusan ini perkara merampok bua Kelapa di waktu siang hari bolong, lekas bikin pembelaan, tapi ingat, kapan kaeo punya cara membela ada bertentangan atawa bersifat menyangkal sama duduknya perkara yang betul, aku nanti kasi hukuman berat, mengarti?”

“Dengen sesunggunya juga”, demikian dengen suwara tida lancar sebab rada-rada takut, bapa Darmoh telah majuken perlawanan atas itu tuduhan heibat di atas dirinya, “apa yang tadi mas Akhmad Salim telah bilang, cuma sabagian kecil saja yang benar, sedeng yang sabagian paling besar, ada penu dengan kajustaan. Itu tiga puhun Kelapa yang berada dalem pekarangan ruma ia, sabenar-benarnya du-lu berada di dalem pekarangan kebon samping dari ruma hamba, di sabelia luar pager pekarangan rumanya mas Akhmad, terpisa kira-kira satenga depa jaunya, tapi saban kali mas Akhmad itu mengganti pager dari pekarangannya, selalu mendesak sajengkal dengen sajengkal, hingga lambat-laun itu tiga puhun Kelapa kena termasuk dalem ia punya pekarangan. Tentang ini hal, duluan hamba suda kasi tegoran padanya, tapi apa mau, bukannya ia suka dengar dengen baek itu tegoran, malah suda memaki kalang-kabut seraya katain diri hamba kafir-kufur dan laen-laen per- kataan yang sanget tida sedap, ia lalu undang ade-iparnya, yaitu si mas Lurah, hingga ini ade-ipar yang brangasan lantes mara besar terhadep pada hamba saruma tangga, seraya mengancem, kapan laen kali hamba kena kasangkut perkara politie, maski bagimana kecil pun, ia bakal tarik panjang dan kamudian aken kasi ajaran. Sadari dulu, hamba jadi orang paling tida suka sama percekcokkan, maka sekali pun suda diperlakuken bagitu tida adil, tokh hamba masih ingat namanya tetangga dekat dan abisken saja itu perkara kecil. Laen minggunya, selagi hamba pergi ka ladang, sedeng anak hamba, si Darmoh yang baru berusia delapan taon, hamba suru menunggu sambil duduk di bawah puhun penedu, sakunoyung-kunyung hamba yang kurang perdata, tida dapat liat datengnyna saekor macan doreng yang lebi gede dari saekor sampi Jawa, yang sigra menerkam anak hamba itu, terus dibawa lari masuk ka utan lebat. Selagi hamba dalem kabingungan, cara bagimana harus membriken pertulungan pada anak hamba, apa lacur hamba rasaken satu pukulan heibat dengen gunaken barang keras yang mengenaken punduk hamba, hingga kapala menyadi puyeng dan mata gelap..... Hamba baru sedar dari pangsan, satelah lama sekali di-rebaken di atas papan dalem satu kamar pembocian. Gusti yang maha adil, sunggu, pada itu pagi, selagi hamba hendak brangkat ka ladang, hamba punya bini yang lagi sakit keras, ada pesan dengen poma-poma, supaya hamba tida pulang terlalu laat, sebab ia merasa saperti tida kuat aken berdiam sendirian di dalem ruma. Hamba tida tau, bagimana dengen kejadiannya si Darmoh yang digondol macan, dan bagimana dengen keadaan bini hamba di dalem ruma. Berhubung dengen itu, hamba sanget bermuhun atas Gusti yang maha adilampunya belas kasian, supaya itu tuduhan yang dimajuken oleh Mas Akhmad Salim digegurken dan kasi kombali kamerdika'an diri hamba, yang dengen sesunggunya juga memang tida berdosa suatu apa.“

Mendengar keterangan yang dibriken itu, sedeng leden yang kabanyakan, saperti Kliwon, Demang dan Camat merasa amat pilu, adalah itu hakim ompong kalitan tarik urat mengunjuk rupa amarah.

“Kurang ajar!” sambil geprak meja si hakim lalu mendamprat, “bangsat betul-betul. Apa kau kira yang aku ini ada satu boca yang masi bau dringo, hingga kau brani maen putar duduknya perkara sampe bagitu rupa? Maka anak kau si Darmoh digondol macan, sebab memang turunan dara busuk. Tida ada anaknya orang baek-baek yang dimakan binatang buwas! Maski pun barusan kau suda coba meluputken diri kau dari samua tudokhan, tapi tokh aku lebi percaya omongannya Akhmad Salim, saorang beragama, bukan saperti kau, saorang kafir-kufur yang memang biasa menjusta lantaran tida mengenal Nabi dan tida mempunyai Allah. Sebab menjusta pada hakim itu ada satu kadosa'an yang tida bisa diampunin, maka jangan menyesal dan dengar biar betul. Kau punya kesalahan suda jadi terang dan sekarang dijatoken hukuman kerja paksa tuju taon!”

Vonnis lalu ditulis oleh secretaris dan kamudian lantes diteeken...... cara kuno, oleh voorzitter yang tida mengenal mata surat itu, yalah dengen cap dari jempol tangannya kiri yang pendek.

Persidangan lalu ditutup, Akhmad Salim bersama mas Lurah berlalu dengen perasa'an puwas, itu hakim ompong yang memang suda biasa kasi hukuman berat-berat pada banyak orang yang tida berdosa, anggep saperti suda bisa beresken satu perkara sulit dengen gampang dan.... sembari kalua dari itu gedong, ia mesam urung sebab geli, mengapa sabutir bua Kelapa musti ditebus dengen pakerja'an satu taon.....


II

SUWARANYA HATI

Tiga bulan sigra juga suda liwat dengen tida bawa lelakon suwatu apa, yang pembaca perlu dapet tau.

Pagi-pagi sekali, justru matahari baru saja muncul, dari ruma pembuian di Pandanaran, telah digiring kalocar kira-kira ampatpulur orang hukuman, yang masing-masing lehernya ada dipasang selongsong besi, hingga bikin sasuatu orang yang diselongsongin itu tida laluwasa berpaling. Kapan marika berpaling, musti bersama-sama kisarken badannya, tida bagitu, saupama paksa saja menengok, bagian lehernya aken dapet luka, tergencet oleh besi tersebut.

Ini selongsong besi baru dibuka, kapan “orang” suda abis menjalanin hukuman-nya.

Maka sasuatu persakitan, baek pun yang dapet hukuman enteng, Maupun yang dihukum berat, lehernya musti dipasangin selongsong, sebabnya, supaya kapan persakitan itu melariken diri dari penjara, gampang dikenalin oleh penggawe negri. Laen dari itu—bisa jadi sekali—menurut anggepannya pamerenta di itu je- man, sasuatu orang hukuman itu ada orang-orang berdosa besar yang boleh disamaken saperti babi utan, yang bila mene-ngok musti berbareng sama gerakin antero badannya.

Itu ampatpulur orang hukuman ada dikapalaken oleh ampat mandor penjara yang salaen masing-masingnya ada bekai sabatang rotan besar, juga di pinggang-nya ada diselipken keris, selaku penjaga'an diri.

Barisan persakitan tersebut, oleh mandornya digiring terus menuju ka kebon koffie, di mana yang sabagian disuru petik bua dan sabagian pula disuru cabutin rumput-rumput di bawahnya itu puhun koffie.

Bapa Darmoh yang turut pada rombongan menyabutin rumput-rumput, telah beker-ja keras, di sapanjang tepinya itu kebon yang sanget luwas. la terpisa dari kawan-kawannya, semingkin jau, semingkin jau, hingga kamudian ini persakitan telah sampe di satu tempat sepi, dekat pada ladang dari ia punya tetangga,—Bapa Samudra.

Itu tetangga yang lagi giat paculin tanah, tida ambil perhatian sama sekali dengan segala apa yang ada di dekatnya. Ia mema-cul terus, dan ia baru brenti satelay ditegor oleh bapa Darmoh, yang berdiri tida jau di blakangnya.

“Oh!” katanya bapa Sumadra seraya tarik napas panjang, “akhir-akhir aku bisa katemu juga pada kau, kakang. Sadari lama sekali, yaitu sasudanya kau ditangkep liwat kira-kira lima hari, aku mau kasi kabar duka pada kau, tetapi menyesal, lantaran aku tida mempunyai kenalan yang bekerja dalem pembuian, hingga tida bisa menyampeken itu kabaran. Samentara pada harian mengaso, Jumahat, aku suda coba bawa barang-barang makanan buat dikirimken pada kau, tapi apa mau, satelah barang-barang makanan di-preksa oleh mandor pengawal pintu, aku lalu diusir pergi, tida diperkenankan katemu bicara sama kau, sebab, menurut katanya, aku ini bukan ada kulawarga dekat dengan kau. Kau punya sanaksanak kulawarga, sadari kau ditangkep, tida ada satu diantaranya, yang brani me-ngakuin kau ada menjadi anggota ku-lawarganya; lantaran apa, kau punya ruma dan pekarangan lalu dipunyakken oleh itu santri Akhmad Salim, sedeng kau punya ladang dirampas oleh Lurah kampung.”

“Hei!” berserue bapa Darmoh dengen biji mata terputar, sedeng mukanya mendadak beroba jadi sanget buas, “terlalu! Dan bagimana selanjutnya? Coba lekas kasi tau.”

“Itu hal yang laen-laen sabenarnya aku pandang ada perkara kecil.”

“Perkara kecil?” “Betul, sebab tokh harta-benda masi bisa dicari, tapi...... oh sobatku, selang lima hari sadari kau ditangkep, istri kau meninggal dunia dalem keadaan mererasken hati.” “Hola!”.... Demikianlah bapa Darmoh lalu jato pangsan, hai mana telah keja itu tetangga menjadi sanget ibuk. “Yah, dewa maha besar,” sesambat bapa Darmoh satelah jadi ingat orang pula, “diriku sendiri, biniku dan aku punya katimpa bincana besar, dari sebab aku suda berbuat banyak mengalah terhadep itu tetangga. Hm.... ” Sakunoyung-kunoyung sikapnya bapa Darmoh jadi beroba sanget garang dan beringas, saolah-olah orang yang tersedar dari kesalahannya. “Tapi sobatku,” kamodian dengen rupa sedih itu persakitan berkata, “satelah meninggal dunia, siapa yang suda urusin maitnya biniku itu?” “Yang diwajibken mengubur, Lurah kampung dan Akhmad Salim, sebab marika yang dapatken samua warisan kau....” “Dewa yang maha besar! Dulu, selagi aku dijeblosin dalem penjara, lantaran masih ada punya pengharepan, sakaluarnya dari hukuman aken citiyipin sadikit kase- nangan dalem dunia, maka aku terus menerus berbuat mengalah terhadep kawan-kawan persakitan dan juga terhadep itu bebrapa mandor bui yang sadikit-sadikit maen gebuk, tapi sekarang, sebab suda tida ada apa-apa lagi yang aku harep, saupama kamudian aku bisa lepas dari ini hukuman; biarlah sekarang aku bersumpa buat tida lagi mau mengala terhadep siapa juga.“

“Nah, sobatku, sebab aku rasa suda lama kita-orang bicara, maka lekaslah masuk ka dalem kebon, jangan sampe ketauan oleh mandor.”

“Ketauan atawa tida, bagi aku sarupa saja, paling banyak ia nanti gebuk badanku dan aku boleh lakueken pembalesan yang lebi heibat, atawa kapan perlu binasaken sekalian ia punya jiwa.”

“Tapi, bukan saja kau yang bisa dianggep bersala, sedeng aku pun bakal tida terluput.”

“Yah, ampir saja aku lupa, yang pertemuan ini, kapan diketahui oleh mandor, bisa membahayaken diri kaeo.” Abis berkata bagitu, bapa Darmoh lalu menerabas ma-suk ka sabela dalem kebon.

Selagi ia bertindak dengan pelahan-pelahan sembari memikirken nasibnyia yang sanget malang, sakunyung-kunyung ia jadi merandek, tatkala dengan sawat ia dapet dengar suwara demikian: “Buat kasalahan apa kaeo dihukum tuju taon? Tuju taon bukan ada satu tempo yang pendek.” la lalu berpaling ka sana-sini dan kamudian mendongak ka atas, tapi ia tida dapet liat makhluk berjiwa, kacuwali saekor burung citi yti otan yang sembari mengantuk dengen patoknya mengadep ka atas, berbunyi cecutian.

“Siapatah yang tadi suda berkata-kata?”: akhir-akhir bapa Darmoh menggrutu sembari lanjutken tindakannya.

“Ai, panasnya ada bagini keras,” kamudian ia brenti dan berkata-kata saorang diri sambil mendongak ka atas, “panteslah, sebab suda lepas tengahari.” la lalu mengaso, duduk di bawah sala satu puhun koffie yang amat tedu.

“Buat kasalahan apa kaeo dihukum tuju taon?” kombali itu suwara tadi kadengaran pula di kupingnya bapa Darmoh. “Tuju taon bukan ada satu tempo yang pendek.”

“Eh,” menggrutu ia, “lagi-lagi aku mendengar itu perkata'an, siapatah sabenarnya yang suda menanya? Iblis? Ha, iblis! coba kaeo kasi unjuk rupa di hadepanku.”

Itu pertanya'an kombali terulang dan terulang lagi, tapi bapa Darmoh tida mau meladenin lebi jau, hanya terus duduk menjublek layangken pikirannya ka dunia

Cakrawala. Berkesiurnya angin gunung yang alus telah paksa telakupan matanya bapa Darmoh jadi rasaken berat dan tida merasa lagi ia jadi pules sambil senderken dirinya di itu puhun.

Apa lacur, justru baru saja menginjak dalem dunia impian, mendadak ia telah dibikin kaget oleh satu gebukan heibat. la membuka matanya, gebukan yang kadua, katiga dan ka'ampat menyusul beruntun-runtun.

“Bangsat!” memaki itu orang yang menggebuk, yalal si mandor bui, “kau brani maen gila sama aku. Apa kau tida mengarti yang diri kau ini dihukum kerja paks?”

Bapa Darmoh tida menyaut sapatah kata, hanya saban-saban membekus saperti saekor banteng kena bau obat bedii.

Tatkala lagi-lagi mandor menggebuk, ia lalu bangun berdiri dan melototken matanya bagitu rupa. Mandor jadi lebi sengit dan menggebuk lebi santer, hal mana suda keja bapa Darmoh menjadi kalap dan......dengencepat ia lalu menubruk badannya mas mandor, kamudian lalu pelok dengen sakuatnya tenaga.

Bukan maen ia punya girang, waktu sabela tangannya kena raba itu mandor punya sarungan keris. la lalu menggrepeken tangan dan tatkala dapat pegang gagangny keris tersebut, tida ayal lagi sigra dicabut, aken kamudian lalu ditikamken di bagian kempungan perutnya itu mandor bui yang galak.

Mas mandor betreak keras dan rubu sakutika itu juga, tapi kaki dan tangannya terus bergerak-gerak kelojotan. Bapa Darmoh mesam buwas dan lalu menyerang lagi bebrapa kalih, sampe kaki tangannya itu mandor brenti bergerak.

“Membunu jangan kepalang......” demikian bapa Darmoh yang suda ilang sifat kemanociaannya mendengar pula suwara sawat, hingga satelah berpaling ka sana-sini tida dapet nampak suwatu apa, kacuwali puhun-puhun koffie yang berkesiur katiup angin, lalu mengelah napas.

“Apatah itu ada suwara dari dalem hati?” bagitu akhir-akhir ia berkata sendirian. “Yah, memang, segala apa tida harus kepala ng; sasudanya aku bunu mati ini satu mandor, harus bunu mati juga mandor yang laen-laennya.—Pukul dulu, bicara blakang.....”

Dan, justru ia selagi hendak tinggalken itu mait, mendadak telah kena ditubruk dan kamudian lalu dipelok pinggangny dari blakang.

“Siapa ini?” ia menanya dengan suwara keren.

“Kusen, aku mandor Kusen,” jawabnya orang yang ditanya, “dan kau barusan suda buno mati aku punya kawan sajabat, Wangsa, maka janganlah coba melepaskenn diri, sebab aku mau bawa kaeo ka penjara buat ditahan.”

Bahna tersurung oleh kagusaran yang meluwap dari takerannya, bapa Darmoh lalu merontak dengen seantero tenaganya; tapi sebab mandor Kusen pun ada ber-tenaga kuat, maka sasuda bergutet sadikit lama'an, barulah bapa Darmoh lepas dari pelokannya itu mandor. Mandor Kusen sigra menyabut keris dari sarungannya, tapi apa lacur, sabelonnya keris itu tercabut seanteronya, keris yang ditusuken oleh si pengamuk telah sampe lebi dulu di blakang kupingnya, hingga mandor Kusen punya alus mangkat zonder pamitan lagi.

“Cuma tinggal dua!” kamudian, sembari bertindak mencari itu dua mandor yang masi bernyawa, bapa Darmoh telah berkata-kata sendirian, “dan kalu itu dua mandor, si Kasman dan si Kasmin belon binasa dalem tanganku, sunggu kalu aku mati alusnya aken berglandangan sana-sini, sebab dalem penasaran. Tida! ia orang musti binasa dalem tanganku!”

Sunggu apes sekali, selagi ia berjalan dengan terindak-indak di sapanjang selasenan papuhuhan koffie, lantaran kurang perdata, telah kena dideluloin tusuk dengan keris oleh mandor Kasmin dari samping, hingga senjata itu mengenaken ia punya pinggang; bapa Darmoh tida mau bertreak, hanya sigra lompat menyamping dan kamu-dian, satelah meliat teges pada itu penyerang, dengen sanget bernafsu lalu mener-jang gunaken kerisnya yang tadi ia dapet merampas.

Mandor Kasmin coba tangkis itu serangan, tapi sebab tida biasa beklai, maka penangkisannya sia-sia. Itu senjata yang menyamber ia punya leher, lantaran ditangkis ka atas, malahan mengenaken ia punya sabela mata. la betreak sakuat-kuatnya, tapi sabelon orang banyak dateng membri pertu-lungan, ia punya isi perut suda dikaluwarin oleh itu pengamuk.

Sasuda lakokeen ini perbuatan, bapa Darmoh rasaken luka di pinggangnya ada teramat sakit, sebab racunnya sang keris pelahan-pelahan mulai bekerja di dalem daranya. Sakunoyung-kunyung ia rubu, sedeng dari lukanya senantiasa dara masi berketel-ketel mengucur. Bapa Darmoh pangsan.....


III

PENDEKAR AJAIB

“Bangun dan duduk!” dengan mendadak bapa Darmoh sedar dari pangasnna, satelah mendengar itu suwara memerenta yang sanget berpengaru. Dengen pelahan ia lalu berduduk di atas rumput sambil teken lukanya dengen sabela tangan, dan tatkala ia mendongak ka depan, saklebatan ia dapet liat saorang tua berbadan kurus, tinggi, mukanya mera, alinsya puti, jidatnya lebar, jangutnya papak, matanya tajem dan berpengaru sekali, rambutnya terure ka blakang, tida memake baju, hanya cuma memake ceyelana pendek dan sabela tangannya memegang satu tungket dari rotan-itam yang bergemirlap terjuju sorotnya matahari. Ini aki-aki berdiri teger di hadepannya itu pembunu.

“Nama kau ini siapa?” sambil mesam si aki menanya.

“Sastro,” ia menjawab, “tapi umumnya orang sebut bapa Darmoh. Dan, apa aku boleh dapet tau kae punya nama?”

“Aku ini,” si aki menyaut, “Ki Hajar Sela Manik. Apa kaeo yang mempunyai anak si Darmoh, yang kira-kira berselang satenga taon selagi bersama bapanya di ladang, digondol saekor macan besar?”

“Yah, itu ada aku punya anak. Di mana ia sekarang?” “Si Darmoh sekarang tinggal di gowa pertapaaanku, di lampingnya gunung Merapi jurusan barat-laut. Ia ada dalem slamat.” “Apa sekarang aku boleh pergi ikut kaeo ka sana?” Itu aki-aki golengin kapalanya dan berkata: “Tida, sebab lagi sabentar pasti kaeo bakal mangkat ka dunia sunyaruri, mengaso dengen senang. Maka aku sengaja sedarin kaeo dari pangsan, tida laen cuma mau kasi tau, pertama keadaan kaeo punya anak, kadua, supaya kaeo jangan sampe mati dalem penasaran, sebab tadi aku dengar nyata sekali, kaeo bilang, sabelon bunu mati itu ampat mandor bui, hati kaeo aken tetap tinggal penasaran. Sekarang ternyata, sabelon kaeo bisa membunu itu ampat mandor, jiwa kaeo sendiri musti pinda ka akherat. Itu tiga mandor yang kaeo suda bunu mati, samuanya mati dengen penasaran, hingga alusnya bakal bergelandangan tida keruan; ia-orang punya alus lebi ciilaka dari pada terhukum di noraka api. Mangarti kaeo?” Bapa Darmoh tunduken kapalanya. “Temponya cuma tinggal sadikit, sigra juga orang banyak bakal dateng ka mari.

Maka dengarlah...“ Sasuda berkata demikian, itu orang tua sigra maju mendekatin dan kamudian tempelken bibirnya di kuping bapa Darmoh seraya ucapken bebrapa patah perkata'an dengan pelahan.—Jampe pembuka jalan ka laen dunia.

“Mengarti? Dan coba kau apalin itu; aku mau dengar.”

Bapa Darmoh lalu ucapken itu bebrapa patah perkata'an yang dipelajarken oleh si aki.

“Boleh, suda boleh. Hayo apalin terus sampe dateng itu kutika......dan...” sakutika itu juga Ki Hajar Sela Manik linyap dari pemandangan.

Bagimana terheran-herannya bapa Darmoh, itulah pembaca bisa menduga sendiri. Satelah merasa kaheranan sabentar, kombali itu pembuncu lalu membaca lagi jampenya pembocka jalan ka sunyaruri......

Tida lama kamudian, mandor Kasman yang sadari tadi ubek-ubekan mencari kawan-kawan sajabatnya, telah sampe di situ. Bukan maen ia punya kaget, tatkala dapet meliat mait adenya menggletak di atas rumput dengan mandi darah.

Ia jadi gusar dan mendadak jadi sanget buwas, waktu berpaling ka satu jurusan menampak bapa Darmoh lagi duduk tepokur mengadepin satu keris yang belopotan darah.

“PENDEKAR AJAIB.

“Bangsat! Kau musti ganti jiwa!!” sembari berkata demikian mandor Kasman lalu maju menghamperi dan kamudian sigra menuseok lehernya itu pembuncu dengan ia punya keris. “Sraaat!” bapa Darmoh menarik napasnya yang paling pengabisan, tapi masi saja kaliatan duduk saperti biasa, cuma bedanya suda tida bernapas lagi dan kadua matanya meram. Meliat demikian, mandor Kasman jadi lebi sengit dan dengen laku teramat buwas, menuseok badannya itu mait berulang-ulang, malahan ia punya keris sampe menyadi patah. Masi saja itu mandor belon menyadi puwas, dan dengen ia punya keris yang suda patah ujungnyia, ia amuk maitnya bapa Darmoh.

Tatkala itu, bebrapa orang hukuman yang suda cape bekerja dan dateng waktunya mengaso, tida dapet liat marika punya mandor-mandor, dengen rupa kurang senang, sabagian besar telah mengomel panjang pendek, kerna sedeng perutnya suda pada merasa lapar, tapi belon juga dibriken tanda buat brenti mengaso dan tangsel perut di waktu tengahari. Dua di antara ia-orang yang kaliatan rada cerdik, dengen suara kuwat-kuwat telah berseru: “Tida usa perduli mandor dan kita-orang mengaso saja. Hayo kita berame makan itu nasi jagung yang disediaken!”

Tida menunggu seruhan itu diulang-ken buat yang kadua kalihnyia, ia-orang lalu tinggalken masing-masing punya kerja'an dan menghamperi bakul nasi jagung, yang mana sasuda ditumplekin di atas tetampa besar, lalu berame menangsel perutnya. Tatkala suda menjadi kenyang, tapi masi juga marika punya mandor-mandor belon ada kasi unjuk batang idungnyia, marika lalu jadi curiga, menduga yang mandor-mandor itu brangkali digondol binatang liar, maka dengen anjurannya itu dua persakitan yang rada cerdik, marika berame lalu bikin pengusutan dengan berpencaran jalannya.

Bebrapa di antara marika itu, yang meno-bros masuk ka dalem kebon telah kate-muken mandor Kasman yang lagi menga-muk maitnya bapa Darmoh. Tentu sekali marika jadi sanget terkejut dan dengen suwara kuwat lalu bertreak memanggil kawan-kawannya yang laen, hingga sasaat kamudian berkumpullah marika itu, di dekat tempat pengamukan.

Mandor Kasman tida perduliken marika, hanya masi saja kaliatan kalap dan belon brenti amuk itu mait, yang boleh dikata badannya suda mendekatin ancur kena tikeman senjata.

Satu di antara itu orang-orang huku-man, yang rupanya lebi mengenal kamenu-siaan dari kawan-kawannya yang laen, satelah meliat perbuatannya itu mandor bui, dengen suwara kuwat dan tandes lalu berseru terhadep kawan-kawannya sendiri: “Nah, kawan-kawanku sekalian, ketahuilah bahuwa kita punya mandor itu, sasuda lakuken pembunuhan atas dirinya sala satu kawan kita, kaliatan belon juga merasa puwas. Maitnya kawan kita ia lagi coba bikin ancur lebur. Liatlah ia punya kaboweswan yang meliwatken wates?! Ingat baek-baek kawanku sekalian, kapan nanti kita-orang pulang ka penjara, tentu bakal dipitenah olehnya dan diaduken pada pembesar negri, mengeniaya itu kawan, supaya sendirinya tida dapet kesalahan.”

“Itu suda boleh dipastiken!” jawab bebrapa diantaranya, “sebab mandor kita, samua-mua suka mempitenah.”

“Dari pada tida makan nangkanya, tapi kena getanya,” kata lebi jau itu saorang hukuman, “ada lebi baek kapan tangan kita sadikitnya turut merasaken kasi ajaran pada itu mandor Kasman yang memang terkenal paling jahat. Hayo, kawan-kawanku jangan ayal dan siapa brani ringkus pandanya? Maju, maju, maju!”

Saperti juga seruhan itu ada bawa pengaru besar, hingga keja marika berame tida sempet berpikir lebi dulo, hanya dengen membuta sigra maju ber- bareng mengerung mas mandor di sama tengah.

“Hei, bangsat-bangsat!” memerenta itu mandor yang masi saja hendak coba berlaku galak-galakan, tatkala meliat ia-orang maju semingkin dekat, “lekas maju dan bantu padaku, bikin ancur lebur badannya ini persakitan busuk, yang suda menge-niaya kaeo sekalian punya mandor Kasmin.”

Bukan saja ini prenta tida diladenin, malahan satu di antara marika telah tersenyum ewa dan kamodien sembari maju lebi dekat, dengen suwara yang saparo dikaluwarin dari lobang idung, telah berkata menyindir: “Mas, hamba mau bicara sadikit dan si mas jangan ambil marah, ya? ltu si mas punya sudara muda, sebab apa suda dibunu mati oleh ini persakitan busuk?”

“Bangsat kaeo tida perlu tau apa sebabnya, hanya kaeo sekalian, cuma boleh mendengar aku punya prentah, atawa kapan membandel, nanti tau sendiri di dalem pembuian!”

“Pintu noraka suda terbuka dan sedia buat sambut sukma kaeo, tapi masi saja kaeo mau coba berlaku galak?!” itu persakitan kombali menyindir.

Dapet firasat tida baek, ini mandor bui yang memang banyak akal, lalu berkata merendah: “Tokh barusan aku cuma omong memaan saja. Sobat-sobatku yang baek, marilah tulungin aku bantu ancurken ini mait.”

“Aku mau tau lebi dulu, sebabnya kenapa, ade kaeo dibunu mati oleh ini persakitan yang pendiam dan tabiatnya mengalah?”

“Tadinya, lebi dulu adeku prenta suru ia brenti kerja, sebab suda waktunya mengaso dan makan tengahari. Ia membanta dan suru adeku tinggalken saja ia sendirian, sebab katanya ia punya perut kabetulan masi kenyang. Adeku kuwatir, kapan ia melariken diri tentu jadi urusan panjang, maka lalu bilang, maski pun tida turut makan, baekan duduk mengaso di sana, bersama kawan-kawan yang lagi makan. Ini bangsat jadi gusar dan memaki kalang-kabut, hingga adeku yang tida bisa menahan sabar sigra bales memaki. Ini bangsat jadi lebi kalap, terus merampas kerisnya adeku dan lalu ditikamken ber-ulang-ulang hingga si Kasmin mati.”

“Tapi, mengapa kaeo tida mau briken pertulungan sabelonnya ade kaeo dibunu mati oleh bapa Darmoh?”

“Yah, sebab aku baru mengetahui sa-sudanya mati.”

“Bagus, bagus. Tapi siapatah yang kasi tau pada kaeo tentang duduknya perkara ada bagitu rupa? Ini kaeo suda kaje- blos dalem pembicaraan kau sendiri. Sedeng pada ini persakitan yang suda tida bernyawa, kau ada itu kategahan hati buat mempitenah, lebi lagi terhadep kita-orang sekaiian. Nah, pendeknya bagini saja, kau sendiri mau mati atawa masi ingin lebi lama bisa memandang matahari...?“

“Diriku ini mau diapain sih?” “Kapan kau memilih mati, kita-orang bera-me suda ambil putusan buat krubutin dan ajar kau sampe tiwas jiwanya, sedeng kapan kau memilih idup, kita-orang mau suru kau... jalanken satu perkara...” “Apa itu satu perkara?” “Kau tentu masi ingat, bahuwa suda kerepkali, kapan ada orang yang tertuedu mencuri kambing, di dalem penjara kau paksa orang yang tertuedu itu makan najis kambing, kapan ada orang yang tersangka mencuri kuda, di dalem tahanan, orang yang disangka itu lalu kau suru makan najis kuda. Sekarang, sebab kita-orang pun menudu kau suda mencuri jiwanya sala satu kita-orang punya kawan, maka aku mau suru kau makan najis menusia! Mau atawa tida?” “Akh, kau ini sunggu kaliwatan sekali! dan.....” Belon abis ia berkata, oleh itu orang hukuman yang cerdik sigra ditubruk dan dipelok sakuat-kuatnyia. la punya kawan- kawan sigra maju dan ikat ka blakang tangannya mas mandor, dengen gunaken ikat kapalanya itu korban. “Jangan banyak mulut lagi,” itu saorang hukuman berkata terhadep kawan-kawannya, “dan sekarang kita-orang boleh mulai babakan yang pertama lebi dulu, yaitu ebat bebokongnyia ini penjahat dengen gunaken ia punya rotan.” Itu tigapulu sembilan orang lantes bergiliran mengebat bebokongnyia mas mandor, yang mana saban-saban sang rotan jato, selalu ia berjengit dan merintih-rintih kesakitan. “Am pun, sobat-sobatku, ampuninlah alembar jiwaku ini.” “Kau merasa sakit, mas mandor?” itu saorang hukuman menyindir, “kapan di dalem penjara, kalu ada orang hukuman kena kesalahan sadikit saja, kau lalu minta perkenannya cipier buat mengajar bebokong orang dengen rotan. Aku kira, kau rasa yang bebokong kau sendiri tentu tida sakit, kapan di-ebat! Baek, sekarang kita brentiken ini cara menyiksa, tapi buat gantinya ebat bebokong, kita-orang mau ebat muka kau sampe putus jiwa!” “Tahan dulu, sobatku, tahan; aku mau bicara sadikit lebi dulu.” “Baek, dan lekas mengucap?” “Apatah dengen sesunggunya juga kau ada itu kategahan hati, bunu mati kau yang tokh tida berdosa terhadep kau sekalian? Cobalah pikir-pikir dulu, ba huwa membri keampunan pada saorang berdosa, ande kata kau ini dianggep berdosa, artinya berbuat kebaekan besar yang tida berwates dan buat itu, Allah nanti mem briken berkah slamat, panjang umur dan beruntung.“

“Genjul, akal bagitu tida bisa keja lumer amarah kita-orang yang suda meluwap-luwap saking lamanya ditahan dalem perut. Kita-orang tau, bahowea sekarang Allah tida berlaku adil, sebagimana dulu ada diduga, sebab buktinya, di antara kita-orang tigapulu sembilan jiwa ini, yang benar-benar bersalah, belon tentu ada saparonya, sedeng yang sabagian besar, dihukum atas pitenahan laen orang, yang ada bersobat sama penggawe negeri. Mana itu keadilan? Sudalah, baekan kau menurut saja diperlakuken saperti yang kita-orang ingin-ken.”

“Sabar dulu, saupamanya saperti barusan kau suda meminta dikesianin bagitu rupa, tokh tida berhasil juga, apa boleh buat, tapi kau sekarang mau majuken perminta'an yang paling pengabisan, yaitu, sasuda tida dapet keampunan, kau minta bunu saja dengen kris, tikam kenika ulu hatiku.”

“Justru itu kita-orang tida bakal lakucken, sebab kau gampang matinya, hal mana pasti keja amarahny samua malaikat dan dewa yang maha kuwasa. Suda jangan banyak omong.....”

Itu mandor coba mau berkata lagi, tapi oleh si orang hukuman tida diladenin. Ebatan yang pertama sigra jato di bagian batang idung, yang kadua, katiga dan yang ka'ampat pun beruntun-runtun menge naken itu bagian, hingga sakutika itu juga, mandor Kasman menyadi pangsan, batang idungnyia amblek masuk ka dalem, sedeng dari luka tersebut telah menga luarken banyak sekali darah idup.

Baru saja anem orang yang dapet giliran mengebatt, sakunung-kunung marika telah dibikin kaget oleh satu suwara yang sanget berpengaro: “Tahan dan jangan bunu mati ia!”

Marika celinguken berpaling ka sana-sini, tapi tida menampak bayangan-bayangannya orang yang melarang itu. Marika mengira, boleh jadi ada iblis yang tida mengidzinin marika bunu itu mandor, maka ampir saja marika lari tinggalken sang korban, coba tida mendengar lagi suwara demikian: “Jangan takut, kau menusia biasa dan ada di sini!”

Benar saja tatkala ia-orang berpaling ka itu jurusan, dapet nampak satu aki-aki yang sabela tangannya memegang sabatang tungket rotan-itam, lagi berdiri tegar di bawah puhun koffie sambil mesam.

Sala satu di antara marika lalu maju mendekatin dan menanya: “Siapatah nama kiyai ini dan berasal dari mana?”

“Jangan bahasaken aku kiyai, kerna aku bukan saorang Jawa-Islam, aku ini ada saorang Jawa tulen, tida mempunyai nama, sedeng tempat tinggalku, di mana saja aku sampe, di situlah ada kadiamanku.”

“Abis musti dibahasaken bagimana?”

“Sebut saja, Ki Hajar. Aku dateng kamari perlunya mau kasi mengarti pada kau sekalian. Tiga mandor dan satu persakitan suda mati berselang belon lama, hingga kadudukan kaeo sekarang ini ada saopama telor di atas tanduk. Lebi berbahaya lagi kadudukan kaeo sekalian, kapan ini mandor pun kaeo buno mati juga. Apa kaeo mengarti, bagimana jalanya, supaya kaeo sekalian tida katarik dalem ini perkara buno?”

Marika berdiri bungkam saopama puhun, masing-masing cuma bisa letletken lidanya saja.

“Dalem ini perkara, kaeo sekalian tida dapet tempo banyak aken berpikir, sedeng mentar kapan suda waktunya kaeo pulang tapi tida kaliatan balik ka penjara, suda musti sigra dikirim soldadu buat me- nyusul dan tangkep-tangkepin kaeo sekalian. Aku mau unjuk kaeo satu jalan yang paling slamat, yaitu lekas-lekas kaeo sekalian minggat pergi ka laen tempat.“

“Itu justru tida bisa dilakuken,” memotong saorang hukuman yang cerdik itu, “sebab leher kita samua suda dise- longsongin besi yang dibukanya maski dengen pekakas apa juga, tida bisa ram-pung dalem tempo saperampat harian, buat saban lehernya, hingga kapan kita-orang melariken diri gampang sekali dikenalin buat sigra diringkus kombali.”

“Itu boleh jadi, kalu saja kaeo sekalian melariken diri bukan atas aku punya prenta. Tapi sekarang kaeo sekalian diprenta oleh aku, Ki Hajar..... yang dalem tempo sakejapan mata saja bisa lepasken itu selongsongan besi dari leher kaeo sekalian. Hayo lekas meramin mata samua, jangan buka dulu sabelon dapet aku punya prenta. Ingat baek-baek kalu suda lepas dari itu selongsongan besi, kaeo sekalian kudu melariken diri ka jurusan selatan.”

Marika lakuken itu prenta yang berpen-garu sekali.

Suwara berkletekan sigra terdengar dan tatkala Ki Hajar berseru: “melekin!” marika lalu pada membuka masing-masing matanya. Bukan maen ia orang punya pe- rasaan heran, kerna bukan saja itu selongsongan besi samua suda terlepas dari marika punya leher, malahan suda ter-tumpuk dengen rapi di sampingnyia mandor Kasman, yang tatkala itu suda terlepas dari ikatannya, tapi masi dalem keada'an pangsan.

Lebi heran lagi, adalah si aki-aki suda terlinyap dari pemandangan.

“Sobat-sobat!” satu di antara iaorang memperingatken, “hayo lekas kita-orang kalua dari ini kebon, melariken diri. Siapa tau kalu saja berlaku ayal, datengnyia bahaya tida bisa dicega lagi.”

Dengen tindakan pesat marika berame sigra menoblos maseok ka sabela dalem itu kebon koffie, aken kamudian, lanjutken perjalanannya ka jurusan kulon.....


IV

TURUN GUNUNG

Tiga bulan kamudian, pagi-pagi sekali, di sapanjang tepinya aloon-aloon depan kaboupaten kota Pandanaran, di antara sapulu orang hukuman yang lehernya dipasangin selongsongan besi, ada tertampak satu persakitan idung sumpung, yang lagi menyabutin rumput-rumput yang tumbu melintang ka jalanan orang. Ini persakitan sumpung, bukan laen orang, hanya ada itu bekas mandor Kasman, yang tentu suda dikenal dengan baek oleh pembaca.

Mandor bui yang mengepalaken marika bekerja, keliatannya ada bagitu jahat dan bengis, hingga kapan ada satu di antara marika berlaku sadikit ayal saja, tida am pun lagi, rotan yang ia pegang dan belon perna mengenal kesian, tentu sigra diayun ka punggungnyia itu orang hukuman yang olehnya dianggpeg males.—Yah, tida dulu tida sekarang, kapan tida bisa berlaku jahat dan bengis, lebi baek tida usa pangku itu jabatan.

Kasman, yang dulu perna menyadi mandor, sebab biasanya cuma mengapalaken orang-orang hukuman bekerja dan sekarang dirinya sendiri menjadi saorang hukuman yang dikepalain, tentu sekali bukan maen menggrodknya, kapan dibentak-bentak oleh mandornya, sedeng bila ia brani membantah, sapatah kata saja cukup aken digebuk sadiktnya sapulu kalih.

Lebi cilaka lagi bagi persakitan-persakitan di itu jeman Aristocraat, adalah sanak kulawarganya tida dibri perkenan mengirim roko atawa barang-barang makanan, baek pun ka penjara, Maupun kapan katemu di tenga jalan, malahan tida dibri idzin juga, aken marika katemu bicara, maski cuma buat bebrapa patah saja.

“Ai, bagini sengsara adanya orang-orang hukuman,” demikian sembari bekerja giat, Kasman menggrutu saorang diri, “biarlah, sasuda aku sendiri menjalanken ini seksa'an dalem dunia, aku punya anak cucu terbebas dari segala marah bahanya Allah..... dan marika tida alamken seksa'an saperti diriku sendiri. Samumua biarlah aku saja yang menjalanin.....”

Salah satu persakitan kurus kering, matanya benggul, jidatnya ketiyl dan batang idungnya blengkok ka bawah, yang kabetelan bekerja di dekatnya Kasman, tatkala mendengar itu suwara keloh kesah, telah menyaut dengen pelahan: “Oh, Mas Kasman, bukan saja kaeo yang dapet seksa'an bagitu sengsara zonder berdosa, sedeng aku pun ada menerima nasib sarupa dengen kaeo.....“

“Plak!” suwara ebatan seru yang diayun oleh mas mandor mengenaken punggungnya itu persakitan kurus, hingga lantaran tida tahan sakitnya lalu ia sesambatan seraya pegangin itu bekas yang di-ebat.

“Bangsat!” membentak itu mandor seraya melototin biji matanya yang gede dan bersorot kejam, “kau ini tokh ada satu persakitan, yang dihukum buat menjalanken kerja paksa, kenapa bagitu lancang, tida minta perkenan lebi dulu, lalu pasang omong sama itu buaya darat?”

Sambil berkata demikian, kombali ia mengayun rotannya, hantem punggungnya Kasman, hingga ia itu menyadi teramat kesakitan dan meminta am pun.

“Coba, lekas di depanku kaeo berdua mengobrol, kapan ingin diajar sampe mam-pus?! Hayo, coba!”

“Am pun mas mandor, am pun beribu am pun,” yawabnya marika dengen suara ampir berbareng.

Ampir tengahari, kerja'an di situ suda jadi beres, maka oleh mas mandor lalu digiring pulang ka dalem bui, menangsel perut lebi dulu, aken kamudian digiring pula blakang pager pekarangan kabupaten, membikin bersi rumput-rumput yang tumbu di sapanjang tepinya pager.

Tatkala hari suda jadi lohor dan sebab kerjaan di itu tempat pun suda menyadi beres, maka atas perkenannya itu mandor bui, orang-orang hukuman tersebut lalu duduk berkumpul, mengaso di bawah puhun mangga.

Mas mandor yang berdiri teger dengan congkak di depan marika, sebab merasa kaisengan, telah menanya pada Kasman:

“Bangsat, tadi kau bilang apa sama itu bajingan kurus?”

“Aku menggrutu sendirian, comelin nasib jelek yang menimpa di atas diriku sendiri, sedeng itu mas Lurah lalu maju menghiburin.”

“Eh, apa ia dulu suda perna menjadi Lurahnya bangsat-bangsat?”

“Bukan, boleh jadi mas mandor tida dapet tau ia punya kadudukan tempo dulu sebab mas mandor ini saperti orang dari laen tempat.”

“Betul, belon lama aku dateng di sini sedeng bekerja menjadi mandor pun baru selang beberapa hari saja. Aku berasal dari desa Pingit. Si kurus itu dulu menjadi Lurah apa dan di mana?”

“Dulu ia menjadi Lurah kampung, blakangan, selang kira-kira tiga bulan yang lalu, lantaran ditudu lakuken pencurian di ruma Bupati, maka oleh pengadilan Perbata telah dihukum kerja paksa lima- belas taon. Ia menjadi heran bukan maen, sedeng ia tida sekali-kali lakuken pencurian, tapi barang-barang bukti, saperti keris berikut sarungannya dari nias, tungket dan salembar bajunya Bupati, dikatemu-ken dalem ia punya ruma, hingga maski pun ia suda menyangkal waktu perkaranya dipreksa, tokh percuma saja.“

“Tapi bagimana dengen kau, apa juga cuma tertuudu saja dalem satu perkara, saperti ia?”

“Yah, aku sendiri suda ditudu brani melepaskan tigapelulu sembilan persakitan yang bekerja di kebon koffie, sasudanya marika itu lakuken pembunuhan atas dirinya sala satu kawan sendiri dan tiga mandor penjara. Sedeng sesunggunya, di waktu marika pergi buron, aku lagi di dalem keadaan lupa-lupa orang, lantaran dikeniaya oleh ia-orang, hingga saperti mas mandor bisa saksiken, idungku suda jadi sumpung bagini rupa.”

“Dan kau dihukum brapa taon?”

“Saumur idup.......”

Itu mandor bui dengen mesam sindir lalu berkata: “Itulah tida mengapa, sebab kau berdua sama ia tokh ada laki-laki yang harus menerima nasib jelek dengen gagah.......”

Marika itu samua lalu jadi bungkam, sedeng masing-masing punya mata pun saling memandang satu pada laen.

“Mas mandor,” kata satu persakitan tua yang keliatannya rada alim, “apa aku boleh menanya apa-apa?” “Boleh sekali, mengapa tida?” “Kabarnya gusti Bupati sekarang lagi dihinggaapi sarupa penyakit aneh, maka nanti sadikit hari di dalem ini kota bakal dibikin keramean besar, saperti adu kapala-kapala desa sama celeng, priyayi-priyayi melabrak macan dengen tumbak, adu sampi dan laen-laen sebaginya, guna merayaken putranya gusti Bupati yang bakal diwajiibken mengganti kadudukan ayahnya. Apa ini kabaran ada betul?!” “Betul, sebab sedari ampir dua bulan kemariken, katanya gusti Bupati telah dihinggaapi penyakit lumpu, sedeng sabela tangannya yang kanan di bagian sambungan tulangny terlepas, tapi pikiran dan bagian anggota badannya yang laen-laen ada dalem baek. Bebrapa dukun suda dicoba buat membriken pertulungan, tapi percuma saja, maka gusti itu, lalu ambil putusan aken mengaso dan suru putranya menggantiken.” “Menurut aturan biasa,” kata satu persakitan laen yang turut ngomong, “dulu, kapan ada angkatan Bupati baru, orang-orang hukuman di bawah satu taon dibebasin, sedeng yang hukuman lama, kapan suda menjalanin saparo, lalu di- lepas, yaitu dapat keampunan. Aku dihukum sapulu taon lantaran didakwa mencuri kambing, dan sekarang aku suda menjalanin hukuman anem taon, maka ada pengharepan bakal sigra dilepas. Wah, itu kabar bikin aku sanget girang.....“ ”Yah,“ jawabnya itu mandor, ”memang itu aturan tida boleh dilanggar, yang suda berlaku turun menurun.“ Demikianlah, sedeng itu bebrapa persakitan laen, yang ada mempunyai kans aken dilepas dari hukumannya berhubung dengan bakal ada angkatan Bupati baru, pada berdingkrak bahna kagirangan, adalah itu dua persakitan, bekas kepala kampung dan bekas mandor bui yang sumpung, sebab tida mempunyai pengharepan aken turut kaluear dari pintu noraka, keliatannya berduka sekali. Inilah diluear marika punya tau, telah menambahken beratnya hukuman batin marika sendiri.

** Tatkala matahari ampir silam di pojok dunia kulon, hingga sinarnya yang kuning-mas, tersebar di saluru badannya gunung Merapi yang sabela barat. Pada lampingan barat-laut dari ini gunung, antara laen-laen ada terdapat satu gowa batu cadas yang mengadepin sagundukan tanah di mana ada tumbu rupa-rupa puhun kembang te-rutama kembang kamuning, yang senantiasa, kapan matahari suda ambles, tentu menyiarken ia punya bau harum, menyerang masuk ka dalemnia itu gowa, hingga maski siapa pun, yang suka tinggal pada kasu-nyian, pasti aken merasa bunga, kapan duduk tepekur di dalem itu lobang tanah.

Keadaan di situ ada sanget resik, satu tanda kerepkali dibikin bersi oleh tangan menusia yang rajin. Sementara di dalemnia itu gowa yang luwasnya tida lebi dari kira-kira tiga atawa ampat meter pesegi, cuma ada kadapetan dua lembar tiker yang terbikin dari rumput dan dua biji bantal yang terbikin dari kayunya puhun kapuk, yang suda kering.

Terpisa kira-kira saratus tindak di jurusan selatan dari mulutnya itu gowa ada terdapat satu sumber mata-aer di bawahnya sapasang puhun waringin yang sanget tedu. Aer dari ini sumber mengalir turun ka jurang di dekatnya tempat tersebut, dari mana aer itu tumpa ka sawahnya pendu-duk dari padusunan di bawah gunung.

Saperti juga di laen-laen bagian, di depan itu gowa dan sautarnya pun tatkala itu keliatannya ada sanget bagus, banyak lebi bagus dari pada keada'an kebon Raja yang didiriken menelan onkost bilang miliun rupia banyaknya.

Saorang tua yang mukanya bercahaya mulia, yang bukan laen ada Ki Hajar Sela Manik (itu nama Selamanik, sabenarnya bukan ada ia punya nama betul, hanya nama tempat pertapaannya, gowa Selamanik), tatkala itu sedeng duduk di atas batu gigilang yang terletak di samping mulut gowa, mengadepin itu gundukan tanah.. la memandang dengen mesam pada puhun-puhun kembang yang lagi bergerak-gerak katiup silirannya angin gunung yang adem.

Satu anak muda yang berpengawakan sedeng, sifat mukanya bejik, badannya rada tegep, sedeng ia punya sapasang mata yang jeli ada sanget berpengaru, dengen sakunung-kunung telah kaluear dari sela-selanya itu papuhunan kembang. Ini anak muda lalu jongkok membri hormat pada itu orang tua.

“Soroh Pati,” Ki Hajar Sela Manik menegor dengen suwara nyaring, “kau dari mana?”

“Dari Rawa Pening, bapa-guru,” sautnya itu anak muda. “Hatiku sanget katarik dengen pemandangan alam di sana. Aku girang sekali kalu upama gowa ini bisa dipindaken di dekatnya itu rawa yang luwas, dan bagimana bapa mufakat?”

“Itu justru tida boleh anak, sebab saupama bisa dipindaken ka sana, jadi sifat yang sutiyi dari gowa ini aken musna.

Rawa Pening cuma baek dan sanget mengasi aken menusia bikin plesiran dengan duduk sasak atawa prace, tapi tida mengasi buat orang bertapa suciken diri. Sasuatu tempat yang seringkali dapet kunjungan menusia, salaen jadi rusak sebab dirombak-rombak guna marika mengaso dan laen-laen, saperti didiriken ruma atawa dipasang beton dan sebaginya, juga tempat itu aken menjadi satu tempat brisik.“ ”Tapi, bapa, aku sanget katarik dengan pemandangan di sana.“

“Itulah tida heran, anak, sebab kaeo punya dara daging ada dari menusia biasa; cuma sebab kaeo ada dari kalahiran sumanget tinggi, maka ada jodo beruru padaku. Tapi, anak, menurut peritungan perhubungan kita-orang cuma sampe pada ini wates saja.” “Oh, bapa guru.....” bermuhun itu anak muda, Soroh Pati, sigra menubruk dan pelok kakinya sang guru sambil menangis dan berkata dengen suwara terputus-putes, “am pun, bapa guru, ampuninlah samua kasalahanku tadi. Sunggu, maski pun di laen-laen tempat ada lebi bagus dan nyaman dari ini gowa, tapi tokh aku lebi senang aken berdiam terus di sini, di dampingnya bapa guru, yang dulu suda rebut nyawaku dari tangannya malaikat maut. Ki Hajar lalu angkat bangunin sang murid dan suru ia itu ambil tempat duduk di hadepannya.

“Diam dan jangan berlaku saperti anak kemaren sore, Soroh Pati, sekarang kaeo suda dewasa. Saperti juga kaeo, aku sendiri pun rasanya ada sanget berat kalu musti berpisahan dengen kaeo, tapi apa mau dikata, setab takhdir itu memang tida boleh dirobah, maka lebi baek kaeo menurut saja apa yang aku suru.” “Aku menurut, Sekalipun bapa guru suru aku masuk ka dalem api yang berkobar-kobar menjilat langit, asal saja tida disuru pergi, diusir dari ini tempat.” “Soroh Pati, kaeo ini bukan anak yang masih berbau dringo, mengapa bagitu meta? Kaeo musti menurut dan tida boleh battah apa yang aku bakal suru kaeo berlaku.” Meliat gurunya unjuk itu kasengitan, itu anak muda jadi mengkerat dan lalu tundukin kapalanya, memandang muka bumi. “Dengar, Soroh Pati, bukan saja cuma kaeo, tapi juga aku sendiri, sabentar malem bakal berlalu tinggalken ini tempat pertapaan buat tida balik kombali. Aku mau pergi kuliling memutar tanah Jawa, kamudian aku bakal tinggal di pagunuangan Dieng. Kaeo jangan turut aku pergi mengumbara, sebab aku mau suru kaeo urus satu perkara besar.....“ ”Aku sedia buat lakuken bapa guru punya prenta-prenta.“ ”Bagus, tapi sekarang belon. Eh, anak, apa kaeo tau, suda brapa lamanya kaeo turut aku bertapa di sini?“ ”Bapa guru, aku cuma ingat, yang di sini aku suda lama sekali.“ ”Di sini, kaeo suda tinggal kira-kira delapan taon lamanya. Dulu waktu aku tulung kaeo punya diri dari cengkeraman macan, lebi kurang kaeo baru berumur duabelas taon, sedeng sekarang, diliat dari kaeo punya sifat, bisa diduga suda berusia kira-kira duapulu taon. “Saperti waktu aku baru dateng dari Pandanaran suda bilang,” Ki Hajar berkata lebi jau, “yang ayah kaeo suda meninggal dunia dalem keada'an sanget menyediken. Apakah terhadep ia punya musu-musu, kaeo tida ada ingatan aken membales sakit hati?” “Kapan bapa guru dulu bilang, bahuwa ayahku suda alamken itu nasib malang sebab salahnyia sendiri, yaitu terialu suka mengalah. Menurut aku punya pendapetan, memang, sasuatu orang yang salah, harus pikul tanggungan atas kesalahannya, tida harus tolak resico. Dari itu, jadi aku pikir, tida ada alesan aken aku membales sakit hatinya ibu dan ayahku.—laorang salah menindak di jalanen yang licin dan jato, itulah bukan si jalanen yang harus disesalin.“ ”Itulah betul sekali anak,“ Ki Hajar berseru sambil tepok paha sendiri, ”dan sunggu aku merasa amat girang yang kaeo ini suda bisa isap sarinya ilmu gaib yang aku belajarken. Tapi, apakah kaeo mengarti, dengen maksud apa, aku suda mengangkat kaeo jadi murid?“ ”Aku cuma bisa menduga, bahuwa maka bapa guru angkat diriku menyadi murid, itulah sakedar aken menjalanken kabejikan sebagai saorang suci yang berhati mulia.“ ”Salaennya itu?“ ”Inilah aku tida mengarti.“ ”Sekarang aku mau kasi tau aku punya maksud,“ Ki Hajar berkata sambil memandang mukanya sang murid, ”dengen sesunggunya juga, maksudku bukan laen, terutama yalah, supaya kaeo bisa bantu menjalanken aku punya tujuan. Sekarang kaeo punya sunanget suda jadi tegu, sedeng kaeo punya ilmu kesaktian pun bisa dikata suda tinggi juga, tapi kaeo belon bisa keja diri kaeo tida terliat oleh mata menusia.“ ”Menurut katanya orang-orang tua, ilmu mengilang itu, yang dinamaken aji

Limunan, tapi aku belon perna katemu orang yang mempunyai ilmu samacem itu“

“Kiranya bagitu? sekarang kau lagi berhadapan sama siapa? Coba kau angkat muka.”

Bukan maen terkejutnya Soroh Pati, tatkala mengangkat muka, gurunya suda ilang......

“Sekarang aku ada di mana?” demikian ia mendengar suwara gurunya dari jurusan blakang, tapi waktu ia berpaling ka itu jurusan, ternyata tida ada apa-apa

“Aku tokh masih duduk di depan kau, anak.”

Benar saja, tatakala ia berpaling kombali, ia dapet nampak sang guru lagi duduk sambil mesam. Salaen kagum dan heran, Soroh Pati sanget kapengen mempunyai ilmu sarupa itu.

“Dengen sanget aku minta, bapa guru suka turunin padaku, ilmu yang sarupa itu.”

“Tentu....” Ki Hajar lalu bisiken kuping muridnyia dengen suwara yang laen orang tida bisa dengar.

“Sasudanya kaeo jadi paham betul dengen itu ilmu,” dengen sunggu-sunggu Ki Hajar berkata, “juga kaeo masih belon boleh anggep, yang di dunia ini tida ada orang sakti yang melebihi diri kaeo, kerna jangan kata kita-orang, sedeng Sanghyang Guru yang bagitu sakti, tokh masi kala sama putranya sendiri, yaitu Sanghyang Whisnu. Mengarti kaeo anak?“

“Mengarti, dan tentu sekali sasuatu nasehat yang bapa guru briken, senantiasa aku catet di dalem hati. Dan tadi bapa guru bilang, supaya aku bantu menjalanken bapa guru punya tujuan; apakah aku boleh tau dan bapa guru suka terangkan dengan jelas, tentang itu tujuan?”

“Bagini, anak: Sasuda kaeo turun gunung, pastilah yang kaeo nanti bakal bercampur gaul sama kabanyakan menusia. Di sana dalem pergaulan idup, kaeo kudu bisa membedaken antara kajahatan dan kabaekan, kabeneran dan kakliruan, kasabaran dan kakerasan, juga kakejeman dan kabejikan. Dalem penghidupan, bagi kaeo tida ada suatu pantangan, hanya boleh melakuken sajamknya menusia. tapi sebab kabanyakan menusia atawa ampir samua menusia cuma memilih satu jurusan saja, yaitu ambil perjalanan muliaken lahir atawa muliaken batin, saperti: menipu, memeres dan menindes dengen kejam buat dapetken kauntungan, sasudanya menyadi kaya berbuat lebi buwas lagi, kerna seiningkin banyak didapetkennya harta benda, semingkin merasa kakurangan, atawa yang dinamaken mu-liaken batin, yalah: iaorang bekerja berat sahari liwat sahari, tapi satelah bisa mengempulken sajumbla besar harta benda, iaorang lalu bagi-bagiken pada orang banyak, pendeknya kata lantes berlaku dermawan dengen gunaken harta bendanya yang iaorang cari dengen susa paya. Itu dua-duanya ada kalakuan tersesat, anak, kaeo tida boleh tiru. Kalu diupamaken orang berjalan, ia-orang dua-dunanya telah berjalan pincang, yang satu pedok kakinya sabela kiri, yang laen pedok kakinya sabela kanan. Perlu apa sasuda cari dan dapat itu harta benda, bukannya lantes mengaso dan menyenangken diri tentramin pikiran, hanya malahan mau cari lebi banyak lagi, yang akhirnya, sabelon ia-orang bisa pake guna kasenangan, suda kaberu mati, sedeng bagi yang satunya, perlu apa musti bekerja berat mengempulken harta benda, kapan sasuda bisa mengempul banyak tokh sendirinya tida mampuh pake? Orang idup kudu mengenal wates, tapi, oh., wates itu sabenarnya ada di mana....?“

“Itulah bapa guru, sebabnya, mengapa iaorang menyadi pincang perjalanannya, sebab iaorang tida tau, dimanatah ada terletak itu wates. Wates gampang disebut, tapi boleh dikata tida ada saorang yang tau dimanatah ujudnya sang wates.”

“Dtustru sebab itu, sabelonnya kita-orang berpisahan, perlu aku musti bicara banyak pada kaeo. Boleh jadi memang ampir samua orang tida mengetahui di mana sang wates ada terletak, tapi tokh wates itu ada, dan memangnya ada. Ujudnya wates, yaitu sama saperti ujudnya nyalinya kangkung (galihing kangkung) atawa isihinya bungbung bambu bolong (wuluh wungwang).”

“Tapi, bapa guru, bagimanakah rupanya itu dua macem benda?”

“Bagini, anak: dimanatah ada kangkung bernyali dan bambu bolong berisih? Sekalipun dicari sampe di mana pun tida bakal didapetken, tapi tokh ada dan itu samua letaknya dekat, dekat sekali, tapi tida bisa diraba; sebab itu samua benda bertempat di dalem kaeo sendiri punya angen-angen yang padang. Lebi teges lagi, dalem badan kita ini ada katempatan ampat sudara yang menjadi kita punya sumanget, yaitu: Aluhamah, Amarah, Sufiah dan Mutmainah. Aluhamah bertempat di tenggorokan, Amarah bertempat di mulut, Sufiah bertempat di telinga dan Mutmainah bertempat di angen-angen. Orang yang cuma memikirin kaserakahannya saja, satu tanda Aluhamhnya berpengaru besar, orang yang sanget brangasan, Amarahnyia berpengaru besar, orang yang gampang percaya segala cerita burung, Sufiahny berpengaru besar dan orang yang suka berbuat kadermawanan melulu, Mutmainahnya berpengaru besar. Salaen dari itu ampat sudara tunggal yang bertempat di dalem sanubari kita, masi ada lagi satu yang mengapalaken marika, yaitu yang disebut Allah, Allah yang terbesar! Orang yang batinnya bersi, ada dari kelahiran yang tinggi dan Allahnya mamerenta itu ampat sudara dengen adil dan menyenangkan. Orang demikianlah yang dinamaken beruntung dari tau artinya wates, tegesnya: marika bisa watesin segala apa, saperti upamanya melakuken kajahatan, kabaekan, kajelusan dan laen-laen sebaginyna cuma sampe di satu wates. Jadi teranglah sekarang bagi kaoc, bahuwa wates itu sabenarnya ada bertempat di dalem angenan-angen?“

Soroh Pati manggut-manggutken kapalanya, satu tanda suda mengarti pengutara'an dari sang guru.

“Kapan di satu waktu kau nanti menjadi bingung dan kaputusan daya,” lebi jau lagi Ki Hajar menasehatin, “tida usa kau menanya pada laen orang, hanya cukup dengen menanyaken hal itu pada kau punya angen-angen sendiri, dengen jalan syamhadi. Sabentar lagi sang bulan bakal muncul, kabetulan cuaca ada bagus, maka baeklah sabentar kita-orang berpisahan. Kau boleh pergi ka jurusan kaki gunung Sumbering barat-daya, tapi lebi dulu kau boleh pergi ka Pandananan, katemuken satru-satrunya orang tua kau. Ingat baek-baek, pada marika, saperti tadi kau sendiri suda bilang, jangan merasa penasaran atawa di sana lalu timbul ingatan aken bikin pembalesan. Itu tida baek dan lebi pula saopama di sana kau nanti membunu ia-orang, jadi saperti juga kau mengasi kaentengan hukuman yang marika suda dapetken. Biarlah ia-orang berusia panjang, cicipin kasengsara'an hidup di dalem dunia.”

Dengen tida dirasa lagi, itu guru dan murid suda bicara sanget lama.

“Putri malem naek semingkin tinggi,” akhir-akhir Ki Hajar berkata pula, “liatlah, itu...... dan kita-orang suda sampe waktunya berpisahan. Nah, sampe laen waktu, kita-orang nanti katemu kombali di satu tempat............”

Sasuda berkata demikian, Ki Hajar lantes saja linyap dengen tida tinggalken bekas. Samentara Soroh Pati, sasudanya memandang di saputernya itu tempat dengen perasa'an sanget terharu, lalu teturutan melinyapken diri.......


V

MENGUMBARA

“Sekarang ini suda jam brapa?” sala satu pengawal pintu dari kabuptan Pandanaran telah menanya pada kawannya.

“Ampir tenga malem, kerna sang bulan suda mendekatin tenga-tenganya langit,” yawabnya sang kawan, “tapi heran, mengapa orang yang dapat giliran buat menggantiken kita, belon juga dateng. Apa boleh jadi ia-orang katiduran.......”

“Sabentar lagi tentu ia-orang dateng. Kita boleh liwatken tempo sembari pasang omong. Lagi kemaren nyia dulu, kau ada bilang, bahuwa sakitnyia gusti Bupati tua, bukan ada sakit sewajar nyia; dan itu sesunggun nyia lantaran apa?”

“Apa kau belon dengar hal ikhwalin nyia?”

“Kalu suda tau atawa dengar, tentu aku tida menanya kau.”

“Menurut katanya sala satu bujang prampuan, pada siapa aku ada terikat kulawarga, hal ikhwalin nyia lebi kurang bagini: Pada itu malem, selagi gusti kita duduk sendirian di pertengahan gedong dengan dihadepin oleh selir-selirnyia, saku-nyung-kunyung sabela kaki dan sabela tangannya merasa saperti ditusuk dengan ujung jarum, sesaat kamudian itu kaki dan tangan dirasaken ngilu, rasanya saperti diantuk kalajengking. Orang lalu preksa itu bagian anggota yang tadi berasa ditusuk. Bukan maen orang punya kaget, waktu dapat liat di itu bagian ada terdapat luka kecil mengaluarken sadikit darah. Besok paginya, bangun tidur, tau-tau gusti punya kaki dan tangan yang semalemnyia dapat itu luka, tida bisa bergerak. Orang-orang dalem astana Bupati jadi lebi kaget lagi, waktu didapet kanyata'an keris pusakanya gusti kita, itu pagi juga ketauan suda linyap dari tempat simpenannya, tapi sala satu selirnyia gusti sigra kasi tau, bahuwa semalem selagi ia hendak meramin mata, dengen teges dapat dengar suwara demikian: “Awas, pusaka kabupten yang paling berharga bakal ilang, dicolong oleh maling haguna, atas prentanya Lurah kampung.” Itu sebab juga, satelah dilakuken papreksa'an dalem rumahnya itu Lurah, barang bukti tersebut dan juga rupa-rupa barang laen, saperti tungket dan sebaginya, dapat dikatemuken, maka itu kapala kampung sigra digusur ka depan pengadilan Perbata dan atas prentanya gusti Bupati, hakim yang mewakilin gusti kita mamereksa perkaranya, membri ganjaran limabelas taon pada itu Lurah. Laen dari itu, sedari gusti dihinggayi itu penyakit aneh, saban brapa malem sakalih tentu bertreak-treak ketakutan, dan katanya, di dalem ia punya kamar ada iblis tua yang bikin onar, sabentar enjot pembaringan, sabentar mengancem hendak menikem dengen senjata tajem dan sabentar lagi mengglantung dan lalu linyap dari pemandangannya.“

“Aku rasa, yang dikiraken iblis penggoda itu, sabenarnya ada saorang sakti yang ada bermusuhan sama gusti kita.”

“Itu tida boleh jadi, sebab umumnyia, sasuatu orang sakti tida suka keja laen orang, baek pun musunya atawa bukan, dapet bincana. Biasanya yang suka lakokeken itu macem perbuatan, cuma iblis-iblis saja.”

“Itu kau sala mengitung, tentang orang-orang sakti, ada juga yang alim dan suka mengalah atawa sabar dan mulia, tapi juga bukan tida ada yang berhati jail dan suka menyatronin laen orang yang dibenci.”

“Oh, bagitu?”

Sakunyung-kunyung marika itu jadi terkejut, waktu dengen mendadak dapet nampak bayangan itam berklebat liwat di hadepannya, tapi sasuda diperdataken ternyata tida ada apa-apa.....

“Inilah ada bayangannya saorang sakti,” itu pengawal yang rada cerdik berkata dengen suara pelahan.

“Apa bukan bayangan iblis?” kawannya menanya dengen suara takut.

“Bukan, sebab baek-pun waktu tertampak dan sabelonnya terliat, kita punya bulu badan tida bangun salembar dari salembar. Menusia tida mempunyai pengarue menakutin, saperti sang iblis.....................”

** Kiranya ada bapa guru sendiri,“ demikian sembari berjalan cevatnya saupama angin santer, Soroh Pati berkata sendirian, satelah kalocer dari astana kabopaten Pandanaran, meliwatken pintu yang dijaga oleh itu dua pengawal yang lagi mengobrol, ”yang suda tulung balesken sakit hatinya aku punya ibu-bapa. Apa boleh jadi perbuatan demikian, yang ia namaken melakuken kajahatan berbareng dengan menjalanken kabaekan? Boleh jadi, boleh jadi.......“

Soroh Pati berjalan terus, menuju ka jurusan barat, tapi ini anak muda sekarang suda bersifat laen, yaitu, sedeng tadinya tida berpakean, kacuwali tutupin bagian anggotanya yang terpenting dengen sapotong anyaman rumput alus, adalah sekarang ia ada memake baju itam potongan beskat (pendek blakang, panjang depan, sarupra pakean yang buat di itu jeman terpandang mentereng), ikat kapala kaen batik, celana pendek, puti dan di sabela luar ceyana ada ditutup dengan kaen sarung batik yang bernharga mahal.

Sabelonnya matahari terbit, Soroh Pati suda sampe di kakinya gunung Sumbing jurusan timur-laut. Ia brenti sabentaran, memandang dengen perasaan terharu, pada puncaknya itu gunung yang somplak, bekas meletus. Semingkin lama dipandang, puncaknya keliatan jadi lebi teges, hingga hatinya Soroh Pati jadi ketarik. Ini anak muda lalu berjalan gunaken ilmunya, menanjak ka itu puncak.

Di puncaknya gunung tersebut ia dapet nampak satu lapangan yang luwasnya kira-kira satu kilometer pesegi (inilah yang orang banyak namaken padang pasir dari gunung Sumbing), di dekat mana ada terdapat bebrapa kawah kecil yang masi brubusan, tapi ampir padem. Sasuda berdiam memandang lapangan itu sakutika lamanya, ia lalu turun di satu legokan, di mana ada terdapat batu-batu cadas yang tertu-tup rumput kurus.

Soroh Pati jadi terkejut, tatkala meliwatken satu tikungan dari cadas-cadas itu, mendengar suwara orang yang kaokin ia punya nama. Tapi sigra juga rasa kaget itu jadi linyap, tatkala ia berpaling ka satu jurusan dapet nampak saorang tua yang rambut, alis, kumis dan jeng-gotnya puti meletak, sambil tersenyum gapeken tanganinya. Dengen lantes Soroh pati maju mendekatin.

“Betul kau yang bernama Soroh Pati?” kamudian itu orang tua menanya.

“Ya, betul, tapi dari siapa kau dapet tau namaku?”

“Selang belon lama guru kau, Ki Hajar Sela Manik mampir di sini sabentar dan kasi tau, yang kau bakal sigra dateng.”

Buat sakutika lamanya itu anak muda merasa heran, mengapa ia punya guru suda mengetahui lebi dulo, yang ia bakal kunjungken puncak gunung tersebut.

“Kau jangan heran,” kata pula itu aki-aki, “sebab, kalu tida bisa mengetahui apa yang bakal kejadian, tentulah guru kau tida nanti brani taro gelaran Ki Hajar, di depan dari ia punya nama pertapa'an. Antara guru kau dan aku ada teriket persobatan yang kekal juga. Sadari dulo sekali, tatkala guru kau masih bertapa di dalem ini gowa, saban-saban liwatken temponya mengaso dengan mengobrol sama aku.”

“Tapi, apa aku boleh dapet tau panembahan (orang yang terhormat dan terjunjung) ampunya nama yang mulia?”

“Saperti juga guru kau, aku tida mempunyai nama, hanya cuma mempunyai gelaran saja. Gelaran dari pertapaanku, disebut Ki Hajar Puncak Hardi, tapi ber- hubung dengan pakerjaanku yang senantiasa membagi-bagi hartanya laen orang pada orang-orang melarat, orang banyak briken aku gelaran Panembahan Jugil Awar-awar. Suda lama aku niat undurken diri dari itu pakerjaan, sebab salaen suda berumur tinggi juga aku merasa suda dapat kopuwasan, tapi sayang sekali, lantaran belon ada saorang yang bisa gantiken itu, jadi kepaksa aku masi saja melanjutken pakerjaan tersebut. Ini hari aku merasa amat beruntung, sebab menurut pemandangan-ku, kaeo tentu bisa dan sanggup gantiken pakerjaanku. Guru kaeo pun suda bilang, bahuwa yang boleh diandelin gantiken pakerjaanku, cuma kaeo saorang saja.“

“Tapi, panembahan, aku belon mengarti cara-caranya melakuken itu pakerjaan yang panembahan belon sebutken dengen teges?”

“Itulah gampang, anak, gampang sekali. Pakerjaanku yalalh colong harta miliknya orang-orang kaya buat dibagiken pada orang-orang melarat.”

Soroh Pati manggutken kapalanya.

“Betul, menurut anggepannya orang-orang yang berigama,” Panembahan Jugil Awar-awar berkata lebi jau, “mencuri milik laen orang itu ada perbuatan tida baek dan sanget buruk, tapi menurut anggepan kaeom kita tida demikian. Kita mencuri miliknya orang-orang kaya dan

MENGUMARA. bagiken itu pada orang-orang melarat, ada baek dan mulia, banyak lebi mulia dari pada pagi dan sore kita sembahyang mengadep ka barat meminta berkah, sujud pada Allah, tapi abis sembahyang memikirken kejahatan, upama mengiri laen orang punya kaberuntungan, pikirken daya buat memeras kringat dan darahnya orang-orang bodo yang lemah. Kita-orang ini ada bangsa Jawa, maka kudu mengetahui Jawanya, Jawa artinya teges, terang, jelas dan mengenal baek atawa buruk. Buat tiga hari lamanya kaeo tinggal di dalem gowa pertapaanku sini, kamudian barulah kaeo turun gunung, di mana kaeo bakal ketemu jodo......“

Tiga hari kamudian, bangun tidur pagi, Soroh Pati menjadi sanget terkejut, kerna itu orang tuwa yang baek dan bejik suda linyap dari tempat syamhadhinya dengan tinggalken sadikit lender, di atas batu tempatna duduk. Oleh itu anak muda, benda itu lalu dipendem dan di atasna dipasangin batu pertandaan dengan dilu-kisin huruf Sanskrit yang berbunyi: “Tempat bersemayaminya sang Panembahan Jugil Awar-awar.......”

Satelah urus beres itu penguburan, Soroh Pati lalu turun gunung, menuju ka jurusan barat-daya........


VI

LELAKI CERIWIS

“Siam, Marsiam!” memanggil satu gadis eilok dan cantik, yang kulitannya mera tembaga, sapasang matanya tajem dan bening, rambutnya goinplok, alinsya saupama bulan tanggal tiga, idungnya mancung, dedek pengawakannya serba sedeng, potongan mukanya saupama daon siri, tapi bagian janggutnya tida lancip. Pendek kata, segala apanya, gadis ini ada menarik hati.

“Saya, Raden Rara”, sambil menyaut demikian, satu bujang prampuan dateng menghamperi ka tempat duduknya itu gadis.

“Di waktu musin panas bagini, sunggu rasanya aku sanget beta aken berdiam di sini, yang bukan saja kita bisa mengisep angin gunung yang seger, tapi juga dapat hawa nyaman dari puhun-puhun besar yang tumbu di ini utan. Bagimana dengan perasaan kaeo, Siam?”

“Yah, saperti juga Raden Rara, saya pun merasa hati saya tentram dan senang, berdiam di sini.”

“Tapi Siam, apa kaeo mengarti dengan maksudku, maka sengadaya aku ajak kaeo memaen ka ini tempat yang sepi dan nyaman?”

“Tida, Raden, saya tida tau apa yang

Raden maksudken, tapi tokh saya percaya, Raden nanti suka ceritaken dengen jelas atas itu maksud.“

“Betul, Siam, sama kaeo, aku musti tuturken dengen jelas, maksud-maksudku yang suda lama aku kandung.”

“Itulah saya percaya. Tapi cobalahRaden boleh mulai menutur?”

“Bagini, Siam, sebagimana kaeo tentu suda tau, yang nanti lagi tiga bulan, aku punya harian menika dengen Muhamad Idris, itu anak muda putranya Kiyai Akhmad Ngarib di Tanjongsari, bakal sampe....”

“Oh, itu harian slamat yang aken bawa Raden ka sorga dunia, kajadian di bulan Besar? Saya turut merasa girang, dan tentulah saya nanti aken mengikut Raden ka rumanya itu Kiyai yang hartawan dan ternama.”

“Goblok! Kaeo tida mengarti, semingkin dekat itu harian menika, semingkin hatiku jadi bertamba duka.”

“Sebabnya....?”

“Diam! Dengarkenlah, jangan potong aku punya penuturan. Aku sanget benci pada itu anak muda, si Muhamad Idris, sebab salaennya congkak dan sombong, juga seraka, buwas, kejam dan jahat sekali. Betul, kapan kita liat mukanya dengen saklebatan, kita tida bakal mampuh bade bagimana dengen ia punya hati, tapi kalu diperhatiken sadikit teliti kita aken lantes dapet tau, kerna Allah lahirken ia di dunia dengen dibrikutken cacat. Ia punya mata, bagian putinya bewarna biru, salaen itu ada terdapet juga satitik tai-laler dan biji matanya tida bisa anteng, ditamba lagi saban kedip, senantiasa bersusun-susun dua sampe tiga kalih. Dalem buku ilmu meliatin tampang muka ada disebut, orang bagitu musti dengki dan jahat.“

“Oh...... kenapa madiyikan saya yang baek, Raden punya ayah tida bikin penye- lidikan lebi dulu tentang kelakuannya itu bakal besan, hanya dengen bagitu gam- pang seraken peruntungan putrinya pada itu kiyai guru agama?”

“Sabenarnya, dulu ayahku tida mufaket aken berbesan sama itu kiyai, tapi blakangan, sebab didesak terus menerus oleh itu fihak dengen bantuan salah satu muridnya yang setia, yalah aku punya sudara tua sendiri, Raden Supo IX, maka ayahku lalu. jadi mufaket. Aku suda coba membantah, tapi menyesal sekali, aku punya sudara yang bagitu fanatiek dengen agama Islam dan setia dengen kliru terhadep gurunya, senantiasa mengelonin fihak sana dan lantes saja unjuk rupa kagusaran, kapan aku menyataken kurang senang hati. Itu sebab, sasudanya berpikir pergi dateng sakean lama, aku telah ambil putusan buat abisken jiwa sendiri saja, baek pun dengen jalan menggantung atawa godot leher....“

“Tapi, Raden, menurut saya punya pendapatan, itu ada jalan kliru. Pertama, dengen membunu diri sendiri, baek pun dengen jalan apa juga, ada teritung perbuatan kejam, kadua, saperti juga suda tida mempunyai Allah. Saya rasa, dari pada musti berbuat bagitu sesat, ada lebi baek......”

“Minggat ka laen tempat, kaeo mau bilang?”

“Betul.”

“Itulah aku tida bisa berbuat, sebab kalemahan badanku tida mengidzinken aku bertindak ka itu jurusan...... Oh, Siam, aku nanti bakal menyadi saorang cilaka atau paling lacur di dalem dunya, kapan sampe kajadian aku menika sama itu pemuda. Aku nanti rasaken idup dalem noraka api yang paling heibat, kapan aku suda masuk di dalem rumahnya itu kiyai hartawan. Oh, Siam! perutku nanti bakal di'isihken nasi atawa barang makanan yang dibeli dengen uwang yang belopotan dara, daranya menusia sasama idup...... Oh, Allah, ya, Dewa yang maha besar, prentakenlah malaikat maut buat sigra betot nyawaku, dari pada aku musti idup dalem keadaan saperti sekarang ini...........”

Itu gadis, yang bukan laen hanya Endang Supiawati, putrinya Supo VIII di Sendang Sidayu, satelah abis berkata demikian, lalu tekap mukanya sendiri dan menangis sanget sedi. Marsiam, ia punya bujang yang bodo tapi sanget setia, kerna tida mengarti musti berbuat cara bagimana terhadep sang majikan, cuma sesengguakn seraya tutupin kadua matanya dengen ia punya ujung baju. la-orang tida mengetahui, yang di blakang ia-orang menedu itu, dari setadian ada mengintip sapasang mata yang sanget berpengaru, tapi muka dan badannya tida keliatan, sebab ketotutopan grombol puhun puyeng yang gemuk. Sorotnya ini sapasang mata pun, yang sadari tadi memandang dengen penu perhatian, mendadak keliatan jadi guram, satu tanda makhluk yang mempunyai sapasang kaca hati itu, merasa turut berduka, dukaken nasibnyia sang gadis yang bagitu malang.

Sakunung-kunung dari satu jurusan telah dateng ka itu tempat, satu anak muda yang dedek pengawakannya sedeng, kulitnya kuning langsap, mukanya cakap, tapi ada mempunyai cacat-cacat yang tida harus ada pada badan lelaki, yaitu: rambutnya alus serta itam jengat (tandanya satu pengecut yang tida tau malu), jidatnya ketiyil (tandanya tida mem- punyai kabejikan), alisnya tipis serta ber-gurat lurus (tandanya pemales dan nakal), daon kuping sanget ketiyil (tandanya judes dan jelus), matanya legok (tandanya suka mempitenah sasamanya).

“Endang Supiawati,” satelah berdiri di depan itu gadis, anak muda itu telah menegor, “dari setadian aku cari kau di sana-sini, sukur sekali bisa: katemu di sini. Kenapa kau menangis, manis, tangisin siapa? Liat, aku suda dateng dan mau minta bicara sadikit, ya, sadikit saja, manis. Manis, kau punya tundangan sendiri, putranya Kiyai Akhmad Ngarib, itu guru agama yang termashur dan kayah besar....” berkata lebi jau itu anak muda.

Sorotnya itu sapasang mata keliatan semingkin bertamba jenga.....

“Idris, kau jangan ganggu padaku, aku lagi kesal dan lekaslah berlalu.”

“Eh......Supi, kenapa saban kalih aku katemu kau dan sabelon diajak mengomong, tentu kau majuken alesan lagi kesal, suru aku jangan dekat-dekat saperti juga kau ini tida liat mata pada diriku. Kau tokh suda tau, Supi, yang orang tua kau sendiri suda seraken nasib kau dalem tanganku?”

“Boleh jadi bagitu, tapi kalu sampenya itu tiga bulan lagi aku masi bernyawa dan kajadian menika sama kau. Sekarang, aku masi merdika dan sadikit pun kau belon mempunyai hak atas diriku.“ ”Oh, manis, lagi tiga bulan atawa sekarang, tokh sama saja. Janganlah kau usir aku dari sini, sebab dari aku punya kacapean sadari tadi pagi, belon didapet onkost dari kaeo. Itu onkost tokh cuma berupa jawaban kaeo yang sedap didengar saja, manis.“ ”Ooooo, Idris, janganlah kaeo mengganggu terus menerus padaku, hatiku bukan saja lagi kesal, tapi juga luka, hingga rasanya amat perih.“ ”Siapatah yang keja hati kaeo luka, coba bilang? Kau punya tundangan ini masi bernyawa, hingga tida saorang boleh keja hati kaeo luka....“ ”Kacuwali kaeo sendiri, kaeo mau bilang....?“ ”Malahan kaeo jadi gusar. Kau ada satu prempuan dan masi gadis, Supi, buwanglah itu tabeat sekaker dan sombong, kerna sunggu tida baek sekali.“ ”Tetap kaeo mau membear di sini? Coba, bilanglah terus terang, Idris?“ ”Supi, bukannya kaeo membear, hanya aku bicara atas aku punya hak sendiri. Tapi kaeo ingat baek-baek, yang kasabarranku pun ada watesnya. Kau tau, yang di sini ada satu tempat sepi yang jau ka sana ka mari?“

“Kau mengancem? Mau bunu?! Silaken, lekaslah cabut kaeo punya golok dan tikemlah perutku lantes!” “Tida, Supi, bukannya kaeo mau membunoc....” “Mau berbuat tida senunu.....?” “Bukan.” “Abis mau apa lagi?!” Meliat si gadis tida boleh digertak, Idris jadi kuncup, hingga Marsiam yang mengawasin ia, mendadak tersenyum urung. “Sabenarnya aku mau bicara sadikit saja, Supi, dengarkenlah, kerna sabelonnya kaeo mau dengar aku punya omongan, suda tentu sekali aku tida bakal mau berlalu dari ini tempat.” Oleh kerna merasa kewalahan, apa boleht buat Endang Supiwati lalu menjawab: “Nah lekas bicara dengan ringkes, kamudian lantes berlalu....” “Bagitu do‘, barulah hatiku merasa senangan. Sabenarnya aku mau kasi tau, yang nanti sasudanya kita-orang menika dengen sah, aku mau angkat kaeo buat menyadi kuwasa samoca-mua dalem aku punya ruma yang besar serta penu dengan harta benda.” “Cukup! Aku suda mengarti, maka lekaslah kaeo berlalu, Idris, aku merasa jemu sekali aken mendengar itu perka-taan yang bersifat sombong.”

“Oh.......” “Suda, jangan bicaraken lagi, kerna aku tokh sampe tau, dari mana kaeo punya ayah bisa kumpulken itu sakean banyak harta benda.” “Yah, aku percaya yang kaeo tentu tau, sebab ayahku pun ada satu Kiyai, yang mana tentu sekali tida kasudian menyimpem harta haram!” “Itulah betul, di mana sih ada harta benda yang belopotan darahnya orang-orang miskin yang bodo bisa dikata haram? Cukup halal harta benda kaeo itu.” “Belopotan darahnya orang-orang miskin yang bodo? Ingat, Supi, kaeo tida boleh sembarangan menghinaken nama dari kulawargaku. Itu uwang tokh bukannya didapet dengen jalan merampok atawa mencuri; mengarti kaeo?” “Betul, aku pun tida aken bilang bagitu, tapi... uwang yang dikumpulken oleh ayah kaeo itu, ada uwang bunga. Apakah uwang bunga tida boleh disebut uwang yang belopotan darah?” “Jangan kaliwatan, Supi, kasabaranku pun ada watesnyia. Kaeo tida mengarti, Supi, bahuwa uwang bunga itu ada halal. Maka bisa dikata halal, sebabnyia yalah dengan sukanya orang yang membayar rente.” “Yah, itulah boleh jadi.”

“Tapi kenapa tadi kaeo menghinaken nama kulawargaku?” “Kaeo mara dan tentu mau lampiasken amara kaeo. Nah, jangan cerewet, silaken cabut kaeo punya golok, bunulah aku di ini tempat yang sunyi.” “Kaeo tida takut mati?” “Tida!” Idris lalu cabut golok dari sarungannya, tapi sigra juge ia masuken kombali. Kamudian, sambil menyengir ia lalu maju hendak pegang si gadis punya pundak, tapi..... alangkah terkejutnya, tatkala mendadak satu timpukan dengen batu mengenaken jitu di bagian lengannya. “Adu!” ia bertreak dan lalu memaki, sebab ia kira tangannya itu katimpuk dengan bandringannya boca angon. Tapi, apa lacur, sabelon ia abis memaki, saorang muda yang sikapnya gaga dan mukanya sanget keren telah muncul dari itu grombolan puhun di dekatnya. Satelah berhadapan dengan tida banyak omong lagi anak muda itu lalu cekel batang lehernya Idris yang lalu dibentak hingga si Idris jato miring di atas tanah. “Mulut kaeo ada sanget ceriwis,” kamudian anak muda itu berkata, “melebihhi ceriwisnya prempuan yang bawel. Aku jemu meliat kelakuan kaeo, maka kapan kaeo tida senang hati lantaran aku berbuat bagitu rupa, hayo lekas bangun dan ca-butlah golok.“

Tersurung dengan perasa'an malu, “orang” hinaken ia di depan tundangannya, Idris lalu bangun sambil menyabut golok. Tida banyak omong lagi ia lalu maju menikem...... Tatkala itu Supiwati dan Marsiam lantes tekap masing-masing punya muka sambil betreak ngerih.

Waktu goloknya Idris ampir sampe, itu anak muda lalu mengegosken dadanya, sebab ia kuwatir baju yang ia pake menyadi soweek, berbareng dengan itu, itu anak muda lalu tangkep tangan tersebut dan sentak ka blakang. Buat yang kadua kalihnya Idris kombali jato, tapi sekarang ia jato tengkurub.

Si anak muda lantes buka ia punya baju dan angkat bangunin itu lawanan seraya menangtang: “Kenapa kaeo boleh tida mengenal adat? Tadi aku belon sedia buat trima tikeman, tapi dengen cerobo kaeo menyerang. Sekarang, cobalah serang lagi, sasuda aku buka baju? Lekas, jangan dipikir-pikir dulu!”

Saking gemasnya, Idris lalu menikem dengen sauwat tenaga, tapi alangkah terkejut dan herannya, yang tikeman itu ada saupama jari yang ditusukin pada bota karet. Satelah menikem lagi sakalih dan tida bisa melukain musunya yang gaga dan sakti itu, Idris sigra lompat ka blakang dan.... terus ngiprit pulang ka kandangnya sendiri dengen tida ambil pusing, apa yang bakal kejadian dengen diri.... tunda-ngannya.

“Hm! pejajaran,” itu anak muda menggrendeng, “itu kurcaci pengecut yang hendak coba-coba unjuk laga tengik. Sukurlah juga aku belon bales menyerang, coba andenya aku suda turun tangan dan ia pulang ka ruma cuma namanya saja, tentulah yang aku bakal merasa keciwa, mengapa bertanding sama satu pengecut yang tida ada harganya.” Tatkala itu Supiwati dan Marsiam telah membuka masing-masing matanya. Ini gadis jadi terkesiap kutika meliat anak muda asing itu. Dan, boleh jadi sebab malu aken menegor, maka Supiwati lalu bangun dari tempatnya duduk sambil berkata pada sang bujang: “Siam, hayo kita lekas pulang......”

“Raden Rara,” dengen nyaring itu anak muda berkata, “aku ada menusia biasa, aku punya maksud muncul di depan kaeo, bukannya hendak mengganggu kaeo punya kasenangan, hanya dari sebab hatiku tida tahan, meliat itu kelakuan tengik dari itu santri muda. Silaken kaeo duduk terus, aku sedia buat lantes angkat kaki, kapan kaeo merasa terganggu dengan beradanya aku di sini.”

Supiwati urungken maksudnya ting-galken tempat tersebut dan dengan suwara saparo dalem tenggorokan lalu berkata: “Tida, aku tida merasa terganggu dengan kadatengan kau di sini, malahan aku merasa, yang barusan kau suda tulung usirken satu penggoda, penggoda yang senantiasa keja hatiku amat kesal.”

“Aku merasa suker dan beruntung sekali, Raden Rara,” kamudian itu anak muda berkata, “yang dengan hati mura kau mengidzinken aku becokol lebi lama di depan kau, Raden Rara, kau tentu tida tau, yang sabenarnya sadari tadi, sabelon itu santri muda dateng, lebi dulu aku suda ada di blakang kau duduk, malahan aku suda dapet tau juga duduknya perkara antara kau terhadep itu santri muda, dengan mendengar pembicara'an kau sama ini bujang prempuan dan juga sama itu anak kiyai.”

“Kalo bagitu, kau suda curi dengar aku punya pembicara'an......?”

“ltulah aku tida mungkir, tapi suda tentu sekali, ande kata aku tida mempunyai perasa'an sympathie pada kau, aku tida perlu ambil tau banyak tentang itu kajadian tadi.”

“Tapi, sabenarnya siapatah kau ini?”

“Dengen terus-terang aku musti bilang, bahuwa aku ini ada bernama Soroh Pati, berasal dari kota Pandanaran. Sekarang aku lagi jalan mengumbara, menurut prentanya bapa guruku........“

“Kalo bagitu, aku ini lagi berhadapan sama saorang alim.....” sambil berkata demikian, Endang Supiwati lipat-lipat ujung bajunya, kamudian dilepas dan lalu dilipat kombali. Samentara itu, mukanya mendadak jadi merah, kerna merasa malu pada diri sendiri, mengapatah ia boleh ‘merasa suka terhadep itu anak muda yang justru baru saja dikenal.

Melia kalakuannya itu gadis yang mendadak jadi bagitu rupa, Soroh Pati lantes bisa membade, maksud-maksudnya yang tersemubeni, maka ia lalu memandang dengen diam. Sigra juga ia keliatan menjadi girang, kerna ia lantes bisa membaca perasa'an hatinya si gadis. Ia lalu berpaling dan pandang Marsiam dengen gunaken sumanget penu dan kamudian ucapken prentahan: “tidur!”

Saperti telapukan matanya kena geta nangka, sakutika itu juga Marsiam jadi pules. Ini bikin Supiwati jadi sanget heran.

“Sekarang kita-orang boleh bicara ampat mata,” dengen sunggu-sunggu Soroh Pati berkata, “sabenarnya kau ada suka sama aku, tida beda saperti aku suka pada kau: Aku suda ramalken, yang kau ini tida ada jodo dengen itu santri muda.”

“Oh... tapi...”

“Tapi kaeo punya bakal jodo, sekarang lagi berdiri di depan kaeo. Kaeo bakal menyadi istrinya Soroh Pati yang nanti disahken oleh dasar suka sama suka.”

Saperti jamaknya gadis padusunan di itu jeman, Supiwati cuma bisa memandang jempolan kakinya sendiri saja. Ia merasa amat malu aken ucapken pernyataannya.

“Jangan terkesiap, Supi, kalu kita-orang punya pernikahan tida disahken di depan Penghulu, kerna maski aku tau yang kaeo ini ada peluok agama Islam, tapi dengen sabenar-benarnya kaeo ada darah Jawa tu- len, tida beda saperti adanya daharku. Sadari jeman kuno sahnya pernikahan bukan lantaran disaksiken oleh wali dan laen-laennya, tapi sahnya yang betul ada berdasar saling cintanya itu penganten. Dengen berkata demikian, bukan maksuedku aken menyela agama Islam, tapi apa yang aku kata, itu samua tida kurang tida lebi, ada menurut aku punya pengrasa'an dan pendapetan.”

Maski pun tida menyaut, tapi tokh Endang Supiwati diam-diam merasa satuju dengan pengutara'annya itu anak muda.

Bahna kalu terus-menerus ajakin omong si gadis yang masi saja keliatan malu-malu dan kuatir nanti dipandang sebagai lelaki ceriwis, maka Soroh Pati lalu ambil slamat berpisa seraya bilang: “Raden Rara, dalem ini pertemuan yang pertama kita-orang tida bisa bicara laluwasa, maka baeklah laen hari saja kita-orang bikin pertemuan kombali. Idzinkenlah aku berlalu....”

Sabelonnya si gadis sempet ucapken perkata'an aken menanya, anak muda itu telah menghamperi Marsiam yang masi menggeros. Ia lalu raba pundaknya ini bujang prempuan dan berkata: “Bangun! dan kaeo aken jadi lupa dengen segala apa yang tadi kaeo liat di sini.”

Kamudian, dengen gerakan yang sebet itu anak muda telah mengilang.....

Benar saja, saperti medium yang kena betul pengarunya satu Hypnotiseur yang pandei, itu bujang prampuan satelah bangun jadi lupa sama sekali, apa yang tadi ia suda saksiken itu kejadi di depan matanya. Satelah menjadi sedar, ia lalu ajak majikannya pulang, saperti juga di situ sadari tadi tida ada kejadi suatu apa. Itu anak dara yang masi saja duduk saperti orang kasima dari sebab kagum meliat kesaktiannya itu pemuada, barulah menjadi sedar satelah ajakan bujangnya itu diulangken lagi sakalih.

Marika lalu berjalan pulang ka du- sunnya. Di sapanjang jalan Endang Su-piwati merasa amat menyesal, kenapa tadi, waktu itu pemuda hendak berlalu, ia tida mau menanya, nanti kapan aken bikin pertemuan kombali dan di mana..........................


VII

KASENANGAN DI TEPI TELAGA

Satenga bulian kamudian, Soroh Pati yang sadari berlalu dari tempat pertemuan itu lalu dateng dan terus tinggal di desa Sapuran, yang cuma terpisa kira-kira dua kilo-meter dari dusun Sendang Sidayu; namanya sigra juga tersiar sebagai satu dukun muda yang sakti dan pandei sekali mengobatin rupa-rupa penyakit cuma dengan cara meraba dan prenta si sakit sembu dengen lantes. Bukan saja cuma demikian, tapi juga itu anak muda ada berlaku sanget dermawan dalem hal membriken pertulungan uwang pada orang-orang melarat, hingga oleh pendu-duk di situ ia dipandang sebagi satu dewa dan dijunjung sebagi kapala dalem itu desa sedeng orang yang menjadi kamituwa dari desa Sapuran pun turut menjunjung padanya.

Sadari berdiam di sitee itu pemuda belon perna berlaku alpa dalem hal menyelidikin dengen jalan resia, tentang penduduk di Sapuran dan saputarnya yang ada mempunyai harta kekayaan, kerna sebagi satru dari orang-orang judes (yang menurut anggepannya, sasuatu orang yang bisa mengumpulken harta kekayaan, cuma ada orang-orang itu kwaliteit saja), di saban waktu ada kaperluan, supaya gampang menyatronin kekaya'annya marika itu, buat dibagi di antara orang-orang miskin yang meiarat dalem penghidupannya.

Tatkala itu justru ada hari Wage (pasaran), di mana menurut adat kabiasa'an penduduk pribumi Jawa, ada dipandang hari tida baek aken meminta obat pada dukun; maka pada itu hari Soroh Pati punya ruma tida dapat kunjungannya tetamu. Ini anak muda duduk sendirian di ruangan pertengahan rumanya, layangken ia punya pikiran seraya memandang ka jurusan pintu.

Sakunoyung-kunoyung ia bangun berdiri dan satelah rapetin daon pintu rumanya dari luar, lantes jalan berlalu. Belon brapa jau ia tinggalken dusunnya, mendadak ia brenti dan berdiri mengawasi ka jurusan depan dengan teliti, kerna ia punya mata telah dapat liat satu prempuan berjalan mendatengin. Maski pun masi jau, tapi tokh ia sigra juga bisa kenalin parasnya itu prempuan. Itulah ada ia punya kacintaan, Endang Supiwati yang eilok. Dengen tida mau buwang tempo,‘ia sigra memburu dan kutika suda berhadapan, sembari mesam lalu menegor: “Raden Rara, ka mana kaeo mau pergi?” “Mau ka Sapuran,” yawabnya Supiwati sambil rada mesam. Rupanya sekarang ia suda tida bagitu likat saperti waktu pertama kalihinya katemu sama itu anak muda.

“Apa kaeo suka bilang juga, ada kaperluan apa?” “Mau dateng sama itu dukun sakti yang namanya bagitu terkenal di saputarnya ini tempat. Dan sekarang ini kakang tinggal di mana?” “Sadari berpisahian itu hari, aku lalu mengambil tempat tinggal di Sapuran. Mana itu bujang prempuan, mengapa tida manganterken?” “Itu bujang memang sengaja aku tinggalken di ruma, sebab aku perlu mau menanyaken peruntungan diriku pada itu dukun yang terkenal pandei dengen tida saorang laen boleh mengetahui.” “Tapi, Raden Rara, bagimana kalu saupamanya aku yang turut mengetahui itu hal; apa kiranya ada halangan juga.....?” Endang Supiwati tida menyaut, hanya cuma mesam sambil berpaling ka satu jurusan, hal mana suda keja hatinya itu pemuda merasa kabetot. “Sebab tida tega hati aken menggoda kaeo, Raden Rara,” kamudian ia berkata pula, “biarlah aku bicara terus-terang saja. Ini hari justru ada hari Wage, maka itu dukun yang kaeo maksudken tida membuka pintunya, maski buat siapa juga. Tapi tida apa, sebab si dukun itu, ten-tulah dalem segala waktu sedia buat bri jawaban pertanya'an-pertanya'an yang kaeo bakal majuken, sebab..... dukun itu, sasunggunya ada.... aku sendiri.“

“Oh, kakang,” dengen rupa terkejut itu. gadis berseru, “jadinin kau sendiri...? Nah, dari sekarang jangan lagi kaeo panggil aku dengen bahasaken Raden Rara, hanya cukup dengen sebut saja aku punya nama Supiwati.”

“Trima kasi, manis. Sengaja ini hari aku kaluar pintu hendak mencari kaeo, perlu penuken aku punya janjian itu hari. Di sini kurang laluwasa kita-orang pasang omong; apatah kaeo mau ikut aku pergi ka tempat yang lebi sentosa?”

“Di mana?”

“Mari aku gendong, tapi ingat, kaeo musti pegangin leherku dan meramin kadua mata. Kaeo nanti baru boleh membuka kadua mata, kapan suda tida mendengar lagi suwara angin gumuru.” Demikianlah itu pemuda lalu egosken badan memblakangin itu anak dara.

“Manis, sekarang kita-orang suda berada di itu tempat yang sentosa,” akhir-akhir Soroh Pati berkata sasuda sampe di satu tempat yang dituju, “di mana kita-orang bisa pasang omong dengen laluwasa.”

Endang Supiwati lalu buka kadua mantanya, dan ia jadi sanget heran taikala dapet kanyataan yang dirinya suda berada di tepinya satu telaga yang sanget luwas, sedeng aernya itu telaga bergerak-gerak kapukul angin gunung yang alus.

“Kita-orang berada di mana sekarang?”

“Aku sendiri,” jawabnya itu pemuda, “maski suda dua kalih kunjungin, tapi belon dapet tau namanya ini tempat, tapi aku tau pasti yang tempat ini terpisa tida terlalu jau dari gunung Dieng.”

“Apa boleh jadi ini yang dinamaken telaga Menjer? Oh, ya, betul, tida salah yang telaga ini yang disebut Menjer. Aku sekarang jadi ingat, yang selang kira-kira anem bulan kamariken, aku telah diajakin ayah pergi ka gowa Semar di Dieng dan mampir di sini; itu sadapour pokhun bambu buddha yang tumbu di tepi selatan, keadaannya masi belon beroba. Tapi... masatah cuma dalem tempo sabentaran saja dari Sendang Sidayu, ”orang“ bisa lari sampe di sini.......?”

“Itulah kaeo tida usa heran, manis, sebab aku yang jalan gendong kaeo dengan gunaken ilmu jalan cepat, yang dinamaken ”ilmu sypi angin.“ Dari sini ka Dieng pun aku bisa jalan lebi cepat dari larinya saekor Kancil, yang di antara binatang utan ada terkenal paling gesit. Kalu aku pergi ka sana, sabelon orang mengunya siri jadi mera, aku suda sampe.“

Endang Supiwati jadi kamek-mek mendengar bicaranya itu anak muda; ia percaya betul apa yang ini anak muda bilang, sebab barusan pun ia sendiri suda menyaksiken si anak muda punya ilmu jalan yang cepatnya ada sanget luwar biasa.

“Manis,” kata itu anak muda satelah saling memandang lama, “tadi aku lupa menanyaken suatu hal....”

“Nah, coba sekarang kakang boleh bilang, hal apatah itu?”

“Tadi kau bilang, mau ka Sapuran menanyaken nasib, apa sekarang aku boleh menanya?”

“Tentu sekali boleh, dan cobalah kau itung-itungin, bagimana dengen nasib diriku ini?”

“Tapi, manis, maski pun aku bisa kasi tau tentang nasih kau, aku tida boleh tuturken dengen jelas, apa yang kamudian bakal terjadi atas diri kau, kerna itu ada melanggar wetnya maha kuwasa. Apa yang sekarang aku boleh kasi tau pada kau, adaih cuma tentang kau punya perjodoan dengan aku tida bisa dihalangin maski pun oleh siapa juga. Kita-orang punya perjodoan suda ditakhdir oleh yang maha kuwasa. Itu tida bisa dibanta lagi dan bisanya terpisa cuma kalu sala satu menutup mata. Kita-orang berdua ada saopama sapasang pelita yang menyala, yang kapan dateng angin puyu memukul, yang satu padem, yang laen sigra mengikutin. Demikianlah, adanya ramalanku, yang aku rasa tida bakal meleset.“

“Tapi apa kiranya perjodoan itu ada panjang?”

“Ini aku tida boleh bilang, tapi puwas dan senang itulah pasti. Kita-orang bakal hadepin kaberuntungan yang.....ter-sambung oleh kamuliaan buat selama-lamanya.......”

“Aku tida mengarti terang, kakang, apa yang barusan kau telah kataken.”

“Ya, apa yang barusan aku bilang memang ada samar dan tida boleh dituturken lebi jelas dari itu. Aku minta, manis, kau tida usa meneges lebi jau lagi, sebab kalu dengen kepaksa tokh aku musti terangken itu, lantaran kau mendesek, aku nanti bakal dapet hukuman dari yang maha kuwasa, hukuman di dunia dan di akherat.”

“Kapan demikian, biarlah aku merasa puwas dengen apa yang tadi kau suda ramalken saja.”

“Sukurlah! Manis, dalem itu sapan jang hari, sadari pertemuan kita-orang yang pertama, aku suda pikir pergi dateng dan ternyata tida dapat suatu jalan yang baek buat meminang diri kaeo dengen berterang, sebab ayah kaeo tentu tida aken mufaket putusken itu tali pertundangan, lebi lagi kaeo punya sudara lelaki menunjang dengan kuwat. Itu sebab juga, manis, aku suda ambil putusan buat bawa lari kaeo di luar taunya siapa juga. Aku mau dapetken kaeo punya jawaban yang pasti, supaya aku boleh sedia-sedia dari besok. Bagimana, manis, kasilah jawaban?“

“Tapi, kakang, kaeo ada tinggal di Sapuran, satu tempat yang terpisa tida sabrapa jau dari Sendang Sidayu dan Tanjungsari, apatah itu tindakan tida berbahaya?”

“Kau sala duga, manis, sala duga. Kapan kaeo suda mufaket aku bawa dengen diam-diam, suda tentu sekali aku tida bakal bawa kaeo pulang ka Sapuran, hanya nanti aku ambil tempat yang sentosa dan jau dari sana.”

“Di mana?”

“Itulah melinken, tinggal kaeo punya suka. Kau mau di tempat yang rame atawa yang sepi, nanti aku menurut saja kahendak kaeo.”

“Kalu saupamanya aku pili tempat yang tersebut blakangan?”

“Aku nanti bikinin satu gubuk keci di kakinya gunung Bisma, supaya ruma kita terpisa tida jau dari ini telaga yang indah sekali di pemandangan, di mana satiap hari kita boleh gunaken tempo yang senggang dengen duduk prau, plesir di atas aer.”

“Saupamanya aku pili tempat yang rame?”

“Aku nanti beliken satu gedong yang bagus di mana saja kaeo suka, upama di Mataram, Pandanaran atawa Kartasura dan laen-laen tempat pula, pendek asal kotanya besar dan rame.”

“Coba kakang boleh terangken, kasenangan apa yang bisa didapet di kota besar yang rame atawa di pagunungan yang sepi?”

“Baek, dan dengarkenlah sambil perhatiken. Di kota-kota besar yang rame, kita bisa dapet kasenangan dari pengliatan-pengliatan indah buatan tangan menusia, saperti gedonggedong dan astana yang bagus, tontonan dan arak-arakan yang seringkali dibikin oleh pendoduk guna rayaken hari lahirnya Raja, tontonan wayang wong, wayang kulit, sulapan dan sebaginya yang saban-saban ditanggap oleh orang-orang berpangkat atawa orang-orang hartawan yang mempunyai kerja mantu. Ada terlalu banyak buat bisa disebut satu per satunya. Sementara kasenangan yang kita bisa dapet di pagu-nungan, adalah mata kita senantiasa disu-guin dengan pemandangan alam yang cantik,

Yuwas dan tida membosenin, salaen itu, kita-orang tida usa saban-saban musti mendengarin suara ribut-ribut dan rin-tiannya penduduk kampung yang sabentar dirampas harta bendanya, sabentar lagi dirampas anak gadis atawa istrinya oleh orang-orang bangsawan, buat dianterken pada Pangeran-Pangeran, yang marika rasa manti bisa voorstelken pada Raja buat kasi kadudukan pada marika itu.“ ”Kakang, apatah di kota-kota besar seringkali kajadian itu perkara-perkara tida senunu?“ ”Betul, malahan lebih hebat dari apa yang aku suda tuturken.“ ”Kalu bagitu, pengidupan di tempat semingkin rame, keada'annya semingkin kotor, mesum dan jorok!“ ”Tida sala, manis, memang bagitu.“ ”Aku lebi socka pilih tempat sepi guna kita punya kadiaman.“ Soroh Pati manggutken kapalanya seraya kasi unjuk rupa girang dan lalu gandeng tangan kacinta'annya diajak jalan memu-tari sapanjang tepinya telaga tersebut sambil meliat-liat banyak macam papuhunan yang tumbu di itu sapanjang pinggiran telaga. Tentu sekali marika itu tida lupa buat mengobrol bergantian, seraya bayangken kaberuntungan yang bakal mendatengin. ”Suda lepas tengahari, manis,“ akhir-akhir

Soroh Pati berkata, “aku rasa baekan kita tinggalken ini tempat dan laen hari kita boleh dateng kombali.” “Betul kakang,” sautnya Supiwati sambil mesam, “dan sekarang perutku rasanya suda mulai jadi lapar. Itu laen hari, kapan, dan di mana kita-orang bertemu lebi dulu, aken kamudian kunjungin pula ini tempat?” “Lagi sapulo hari, teritung mulai sekarang, yaitu sedengnya gubuk yang aku bakal diriken suda jadi rampung. Pada itu hari, kaeo boleh sedia di jurusan sabelah timur desa Sendang Sidayu, di waktu menghadepi menggerip. Aku nanti samper.” “Baek. Tapi mengapa tida mau siang hari saja?” “Tida, sebab itu hari kaeo berlalu dari sana buat tida dateng kombali. Kita-orang terus pinda, maka kaeo perlu bekel juga pakean saperlunya.” “Kau harus pikir juga, kakang, yang berhuboueng dengan minggatnya aku di itu hari, kalu berbareng dengan linyapnya kaeo dari Sapuran, orang banyak nanti bakal menyangka jelek atas diri kaeo dan kamudian lalu tida lagi menjunjung nama kaeo yang terkenal baek dan harum!” “Itulah aku suda pikir dengan baek, manis; maka juga sengaja aku pili waktu menghadepin dunia gelap. Saperti biasanya, saban di waktu ampir menggerip, aku lalu tutup pintu ruma, dan kapan aku suda menutup pintu, pastilah tida saorang yang brani gegaba samper aku, ketok-ketok daon pintu serta memanggil, sebab saban waktu demikian, biasanya aku duduk bersyamhadi. Penduduk di sana samua suda kenal baek itu pelaturan. Sedeng pada besokan paginya, pasti sekali, sabelonnya matahari terbit, aku suda sampe di sana dan bercokol di ruangan pertengahan itu ruma. Demikian salanjutnya, aku nanti atur, aku cuma membuka pintu buat tetamu satenga harian saja, sedeng temponya yang satenga harian, aku nanti gunaken buat berdampingan dengen kau, yaitu saban lohor aku musti suda sampe di sini dan besok paginya suda duduk di ruma sana. Cara demikian, aku rasa tida nanti ada “orang” yang curigaken padaku.“

“Tapi itu ada sanget berabe dan membikin kau banyak capeken tenaga.”

“Tida, sebab aku bisa berjalan ceplet dengen gunaken ilmu, hingga tentu sekali tida bakal merasa cape, apa-lagi tokh dari sana ka mari boleh dibilang tida sabrapa jaunya.”

“Ya, kapan kau pikir baek bagitu, masa bodo. Dan, sekarang marilah kita brangkat pulang......”

Sigra juga Endang Supiwati suda berada di blakangnyia itu pemuda, yang mana lalu digendong dibawa lari saperti terbang. Dalem tempo sakejapan mata saja marika suda sampe di luar desa Sendang Sidayu, brenti di satu tempat sepi. Satelah turunken si eilok dari gendongannya, itu pemuda lantes mengilang dari pemandangan, pulang ka rumahnya di Sapuran.....


VIII

PENUTUP

Matahari suda miring ka jurusan barat, malahan ampir selulup ka blakangnya gunung Bisma, inilah ada mengunjuk, yang lagi tiga jem dunia aken menjadi gelap. Tatkala itu, satu prempuan muda berparas eilok, yang dari satadian duduk terpekur di depan satu gubuk, yang terpisa tida sabrapa jau dari telaga Menjer, mendadak bangun berdiri dan kamudian memburu ka depan dengan rupa amat girang.

Tida lama kamudian, ia telah balik kombali ka itu gubuk dengen bergandengan tangan sama satu lelaki muda berparas cakep dan keren.

“Suda tiga hari lamanya,” demikian sate-lah masing-masing ambil tempat duduk di atas tiker yang tergelar di depan pintu, si eilok, yang ternyata Supiwati berkata, “sadari kita berdiam di sini, kakang, tapi kau belon perna ceritaken, apa yang suda kajadain di Sendang Sidayu dan Tanjung-sari, berhubung dengen linyapnya aku dari sana?”

“Betul, manis, aku belon ceritaken hal itu pada kau,” menyaut itu lelaki muda, yang ternyata ada Soroh Pati, “sebab dalem itu tempo tiga hari tida ada kabar penting, yang aku rasa perlu dapet diketahui oleh kau. Di sana cuma terjadi, yang besokan paginya dari harian kau berlalu. orang-orang sadalem dusun Sendang Sidayu, sabagian atas maunya sendiri dan sabagian pula atas prenta rama kau, telah pergi mencari ubek-ubekan di utan-utan saputernya itu dusun, sedeng penduduk di desa Tanjungsari pun telah disebar buat mencari kau, tapi atas prentanya itu kiyai guru agama dengen paksa'an....“

“Dan..... apa tida ada saorang yang suda dateng pada kau, menanyaken itu kajadain....?”

“Tida, tapi belon tau besok atawa nusa. Kapan ada orang yang dateng menanyaken tentang itu hal, nanti aku jawab bagini: Itu Endang masi idup dan dalem keada'an tida kurang suatu apa, tapi buat tempo yang lamanya tida boleh disebut, orang tida boleh katemun ia, sebab itu ada maunya dewa yang berkuwasa.....”

“Apa menjusta bagitu rupa, tida ada hukumannya?”

“Tida, kerna menusia memang dikasi mulut buat bicara benar dan omong kosong. Siapa yang senantiasa bicara benar aken dapet gelaran goblok, sedeng siapa yang selalu omong kosong atawa ngebohong, aken disebut penjusta. Orang boleh ngebohong, tapi juga tida jelek bicara dengan jujur; samua-mua boleh, asal saja tau di mana pakenya.“

Pada besokannya, juga di waktu lohor, kombali Supiwati menyambut kadatengan itu suwami. Dan sang suwami lalu menuturken, yang dari Sendang Sidayu, tadi ada dateng dua orang lelaki, yang minta di'itung-itungin tentang ilangnya sang Endang. la kasi jawaban saperti apa yang kamarennya suda dirundingken, hingga kadua orang yang menanyaken itu lantes berlalu dengen rupa puwas.

“Kakang,” kamudian sang istri berkata, “sekarang barulah aku mengarti dan tau baeknya itu jawaban yang kae briken. Itu dua lelaki dari Sendang Sidayu, bisa diduga tentu ada suruannya rama. Rama pastilah tida terlalu pikirken diriku dengen penu rasa kuatir serta duka, kapan itu dua orang suruan suda sampeken kaeo punya ramalan, yang sanget dipercaya oleh pendoduk di sana.”

Soroh Pati mangut-mangutken kapalanya sambil tersenyum girang.

Anem bulan kamudian, sapulangnya dari Sapuran, Soroh Pati telah ajakin istrinya jalan-jalan ka tepinyia telaga. Tida saperti biasanya, ini hari keliatan mukanya anak muda itu ada amat kusut, sedeng sorot matanya pun rada-rada guram.

Tatkala marika suda duduk di atas rumput di pinggirnya itu telaga Menjer, seraya memandang ka laen tepi yang keliatannya sanget jau, sang istri yang kapengen tau sebab-seabnya itu perobahan dari kela-kuannya ia punya suwami, dengen manis telah menegor: “Kakang, tida sari-sarinya kaeo punya muka keliatan bagitu kusut saperti ini hari. Apa kaeo tida aken merasa kaberatan, saopama tuturken sebab-seabnya, apa yang suda keja kaeo jadi berduka?”

“Tentu, manis,” yawabnya itu anak muda, “tentu sekali, kalu kaeo kapengen tau lantarannya aku berduka, dengen segala senang hati sabentar aku tuturken.”

“Sunggu, kakang, aku selalu sedia buat kasi hiburan, kalu kaeo perlu daptken hiburan dari aku.”

“Tida usa kaeo briken hiburan, kerna kapan aku berdamping dengen kaeo dan kaeo mau berkata apa-apa, itulah suda cukup keja kasedianku menyadi banyak kurangan. Sekarang dengarlah, manis, aku mau mulai menuturken sebab-seabnya, mengapa hatiku menyadi kusut tida ke-ruanan. Tadi pagi, telah dateng satutetamu dari desa Bruna, yang minta jimat kias buat mengusir iblis-iblis yang menurut katanya ada bertempat di puhun klupa di ia punya kebon. Sasua aku briken sapotong surat jimat kias padanya dan satelah ia berlalu dari hadepanku, sakunyung-kunyung aku lantes jadi ingat perkara dulu hari.... yang sanget menyediken.....“

“Perkara apatah itu?”

“Suatu perkara cuma............ lantaran petik 7 butir bua klapa dari puhun miliknyia sendiri yang dikangkangin ”orang“, ayahku suda dihukum 7 taon penjara.” (Lebi jau ia lalu menuturken satu per satu tentang nasib jelek yang menimpa diri ayahnya, hingga ia punya ibu pun turut katarik menjadi korban).

“Oh.......” bagitulah berkata sang istri sasudanya dengar itu samua penuturan keliatannya sanget berduka.

“Kau jangan bersedi, sebab itu perkara tokh suda liwat lama sekali. Tatkala itu, aku masi anak-anak dan tida mengetahui itu kajajan yang menyediken, sebab aku kabetulan buat pertama kalihnyia mengikut ayahku pergi di ladang, yang terpisa tida jau dari kota Pandanaran, selagi aku ditinggal sendirian di dalem gubuk, telah digondol oleh saekor macan doreng sanget besar dan dibawa masuk ka dalem utan yang lebat. Bruntung sekali bagi aku, sabelonnya badanku disowek buat dimakan, yaitu selagi aku diletakin di atas tanah di depan gowanya itu binatang buwas, dapet diketahui oleh Ki Hajar Sela Manik, yang kabetulan jalan liwat di situ. Orang berilmu itu lalu mengawasken dengen penu perhatian. Menurut katanya Ki Hajar, sasuda letakin diriku, sang macan lalu memutarin badanku tiga kalih. Aku lantes bangun dan membuka pakeanku, tapi sabelonnya membuka slese, Ki Hajar lantes menubruk dari blakang dan bawa aku lompat kalear dari kalangan yang dikitari oleh sang macan. Tida lama itu macan dateng dan dapet liat aku tida ada di situ, mendaadak yadi gusar sekali, la menggerung dengen seru dan satelah dapet endus baonenya badan menusia, lalu menyerang Ki Hajar dengan sengit, tapi sabelon ia bisa dateng dekat, oleh Ki Hajar telah dibentak dengan suara bengis, hingga saperti kena pengarunya ilmu kasaktian yang gaib, sang macan telah jato melosodan kamudian kepot-kepotin ekornya sambil kakinya yang depan melonjor maju, saperti sifatnya orang yang berlutut lminta am pun. Ki Hajar lalu usir ia pergi dari hadepannya. Aku punya pengrasaan cuma saperti mengimpi saja, yaitu di sananya.... aku diprenta oleh saorang tua buat membuka-bukain pakean yang aku pake. Salaennya ini, aku tida ingat apa-apa lagi. Menurut katanya Ki Hajar, tatkala itu aku telah jato di bawah pengaru ilmu kasaktiannya sang macan; orang yang dimakan macan tentu tida bersama pakeannya, kerna macan itu bisa prenta supaya orang yang hendak dimakan membuka pakeannya sendiri. Kalu saupamanya sasuda aku membuka rampung pakeanku dan reba kombali, katanya tida bisa ditulung jiwanya, sebab itu suda telaat. Aku punya nama yang dibriken oleh ibu dan ayah, sabenarnya yalah si Darmoh, tapi sebab menurut kata-nya itu bapa guru, Ki Hajar, ada tida baek, maka lalu diganti nama Soroh Pati. Bagitulah adanya itu riwayat, manis, yang sekarang kita boleh anggep saja saperti tida perna kajajan, agar kita terlepas dari libetan duka.“

Buat lupaken itu samua peringetan yang memiluken sasuda marika lama tuturken laen-laennya, Supiwati lalu ajak suaminya puter-puter di telaga Menjer.

Dengan bergandengan tangan marika lalu berjalan pulang, di mana satelah dahar bua-buahan (kerna sadari tinggal di situ, Supiwati pun lantes tida lagi makan nasi, hanya saperti suwaminya, ia cuma makan bua-buahan saja) hingga kenyang, lalu balik kombali ka telaga Menjer, sembari sang suami dorong-dorong prau ketiyil yang ia bikin, tapi cara bikinnya legokan tida gunaken piso, hanya cuma digarukin dengan tangan saja, hingga bekas jari-jarinya keliatan teges.

Justru baru saja marika sampe dan turunin praunya ka dalem aer, sang bulan lalu mengintip dari blakang gunung Sumbing, yang semingkin lama naek semingkin tinggi. Marika lalu duduk prau tersebut dan kamudinya dipegang oleh Soroh Pati. Sang prau dijalanken dengen pelahan, hingga suaranya ikan-ikan besar yang bercanda antara kawannya sambil sabentar-bentar melompat ka atas dan lalu jatoken dirinya di aer, oleh marika terdengar nyata. Samentara buat linyapken itu kasunyian yang tida menggumbiraken hati, marika lalu menyanyi dalem lagu jawa saling sautan.

Bahna saking gumbiranya marika plesir cara demikian di atas aer, marika jadi tida mengenai wates Marika tida mau perduli, maski pun sang bulan suda miring ka jurusan barat, sedeng suaranya ayam jago berkruruk dari desa yang terpisat tida sabrapa jau pun saban-saban kadengaran rada teges. Marika terus plesir dengen tida sekali merasa bosen atawa jadi kakurangan gumbiranya.

Apa lacur, kabetulan marika berada di tenga-tenga (pusernya) itu telaga yang amat luwas, mendadak sang aer telah muncrat naek saperti disemburken dari satu pipa besar, hingga prau yang ditumpangin bergoncang sanget hebat dan kadampar minggir. Sabelonniya marika sempet mengawasken ka itu jurusan, sakunung-kunyung satu benda itam yang sagede puhun klapa dan sanget panjang telah dateng menyamber. Supiwati bertreak ngeri, sedeng ia punya suwami dengan cepatnya saperti kilat sigra pelok ia punya badan dan dibawa melompat ka pinggiran. Satelah kakinya menginjek tanah, Soroh Pati lantes berpaling ka blakang, di mana ia menyadi sanget terperanjat, waktu sapasang matanya dapat liat teges, saekor uler itam besar lagi gondol itu prau yang lalu dibawa tenggelam ka pusernya telaga. (Antara bulan Augustus 1929, lantaran aer telaga Menjer surut ampir sampe di dasarnya, ini prau telah keliatan dan diambil oleh Lurah desa Telaga).

Soroh Pati sigra dukung bawa pulang ka gubuknya, itu istri yang rupanya daem keada'an pangsan lantaran kagetnya Satelah sampe di gubuknya dan nyalaken pelita, ia lalu pangku badannya itu istri yang masih saja belon ingat orang. Satelah ditunggu sakutika lamanya tapi masih saja sang istri tida berkutik, ia lalu rebaken dengan pelahan di atas tikar dan preksa dengan raba-raba dari ujung kaki sampe di embun-embunan kapala. la bertreak dan pangsan, tatkala dapet kanyata'an istrinya suda tida bernapas lagi. Kamudian, satelah sedar dari pangasnya, dengen rupa gusar ia lalu kaluear pintu dengen maksud hendak bikin pembalesan pada sang uler di itu telaga. Tapi baru saja ia berjalanan bebrapa tindak, ia telah brenti kerna mendengar suara memanggil: “Soroh Pati, brenti, aku yang dateng.”

Ia lalu berdiri menjublek bahna kliwat marah, bingung dan duka.

“Kau bukan satu anak kecil, muridku,” katanya pula suara tadi, yang ternyata ada suaranya Ki Hajar Sela Manik. “Kamatian istri kau itu ada kamatian yang amat senang, tida usa lebi dulumenggung kuatir, duka atawa sakit. Kau jangan lakuken pembalesan pada itu uler, kerna maski pun saupama berperang tanding dengen ia, kau yang bakal menang, tapi perlu apa, kalu buat kamenangan itu, kau jadi berdosa besar dan menyadi utang jiwa dari ia? Sedarlah! Mait istri kau boleh dikubur di lampingan gunung Mojotengah dan kau boleh siarken cerita di desa dekatnya, bahuwa di situ telah dikubur jinasatnya Nyi Agung Soroh Pati. Sasuda lakuken itu, kau boleh trausa balik kombali ka ini tempat, hanya terus saja tinggal di Sapuran. Sebagi laki-laki, kau jangan lupa buat bertauken itu kajadian pada ayahnya itu Eniang, agar sampenya di jeman akhir nama kau tida tercemar.“

Sakutika itu juga Soroh Pati menjadi sedar dari kakliruannya...., tapi sabellonnya sempat menanya pada sang guru, guru itu telah linyap....

Itu waktu juga ia sigra lakuken prenta gurunya, tapi sebab ia punya cara menyiaerken itu cerita ada kurang teges, maka penduduk dusun di dekatnya itu lampingan bukit, sala dengar. Marika pandang pakuboran itu ada pakuborannya Ki Agung Soroh Pati. (Sampe sekarang itu kakliruan masih berjalan terus, penduduk di sana pandang kuburan itu ada pakuboran Soroh Pati. T.).

Laen harinya Soroh Pati telah bertaucken itu kajadian pada Supo tua, hal mana suda membikin Supo muda jadi sanget gusar, tapi ia ini tida brani unjuk ka-gusarannya dengan berterang. Itu Supo muda lalu bermuafaketan sama Mokhamad Idris, di mana ini santri telah kasi advies supaya Supo muda buno mati itu satru dengen bergelap, ya-itu tikam dengen keris selagi si satru tidur pules.

Dengan gunaken keris Mojopait yang sanget beracun, tinggalan dari leluhurnya, pada suatu malem dengen dianter oleh itu santri, Supo muda telah pergi ka

Sapuran. Sasudanya pasang sirep (ilmu guna paksa orang tidur) marika berdua lalu masuk dalem rumanya Soroh Pati dengen jalan menggasir. Marika dapetken itu orang muda lagi tidur pules di atas satu tiker, maka dengan tida ayal lagi Supo muda lalu menikam dengen sakuat tenaga, tapi bukan maen terkejutnya marika itu, sebab badannya Soroh Pati membal saupama karet. Kuatir tuan ruma bangun, marika lantes ngeloyor pulang.

Besokan paginya, Soroh Pati rasaken ia punya dada peri dan ngilu. Tatkala ia preksa diitu bagian anggota, ia menjadi kaget, kerna berurat saperti kena senjata kuno yang sanget beracun. la rasaken badannya semingkin lama bertamba paya, hingga ia dapat firasat yang pada itu hari juga ia bakal mangkat susul kekasihnnya di akherat.

Ia lalu kumpulken penduduk desa Sapuran dan ‘kasi dengar sumpahannya: “Menurut itunganku, lagi samalem dua orang lelaki telah masuk dalem ini ruma dengen jalan menggasir. la-orang ada mempunyai maksud jahat. Kau nanti boleh liat, orang yang pertama saturunturunannya aken bersengsara, sedeng orang yang kadua bakal tertumpes saruma tangganya. Sobat-sobatku yang baek, badanku ini sekarang ada dapat luka sanget berbahaya dan aku tau pasti tida bakal bisa jadi sembu. Slamat tinggal, slamat tinggal....!“

Abis ucapken itu perkataan, Soroh Pati telah tarik napasnya yang paling pengabisan. la punya jinasat sigra dikubur di dekatnya itu desa dan sampenya ini buku terbit-masi menjadi tempat jiarah yang terkenal. Itu satu kaheranan, pembaca, bahuwa-puhun-puhun yang tumbu di paku-burannya itu orang berilmu di bagian-dekat kapala, samua daon-dan cabang-cabangnya menghadep ka jurusan Parakan, sebab belakangan Supo punya turunan: pinda ka itu tempat. Inilah ada unjuk rasa penasarannya itu orang berilmu, yang dibunu dengan curang, tida dibawa mati; hanya ditinggaalken di pakuborannya.

Sumpahan itu sunggu ada manjur sekali, kerna sedeng saruma tangganya itu santri liwat brapa hari kamudian mati tumpes ludes, adalah blakangan, ternyata yang turun-turunannya Raden Supo dapet sengsara dalem pengidupannya.......

Sampe di sini ini cerita yang berhikayat kita tutup dengan ucapan slamat pada sekalian pembaca.

TAMAT.


Siti Jenar kata: “Allah yaitu Siti Jenar!” Kalu bagitu, Siti Jenar, saya ini pun Allah juga........

Im Yang Cu.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekeryaan semacam itu.

Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.