HIKAYAT PANJA TANDERAN
YAITU YANG DINAMAI OLEH ORANG MELAYU HIKAYAT GALILAH DAN DAMINAH
ABDULLAH BIN ABDULKADIR MUNSYI
HIKAYAT PANJA TANDERAN,
YAITU YANG DINAMAI OLEH ORANG MELAYU HIKAYAT GALILAH DAN DAMINAH
karya
ABDULLAH BIN ABDULKADIR MUNSYI
VAN OPHUIJSEN
KITAB BACAAN BAGI MURID SEKOLAH MELAYU.
ZALT-BOMMEL
N.V. VAN DE GARDE & Co's DRUKKERIJ
1927
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: delpher.nl
Ilustrasi sampul: The Fox and the Crow 1950, karya Antonio Frasconi
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
De Hikayat Panja Tanderan behoort m. i. tot het beste van hetgeen ‘Abdu'LLAH heeft geleverd. Om begriypeliyke redenen kan ze ekhter op de Inlandskhe skholen niet gebruikt worden, en dat is, waar het werkye zooveel guds bevat, te betreuren.
Ik heb getrakht door het vervangen van eenige verhalen door andere van geliyke strekking, door het wiyzigen van sommige vertellingen, in het algemeen door het aanbrengen van miy wenskheliyk of noodig gebleken veranderingen de Hikayat Panja Tanderan te maken tot een geskhikt leesbuk voor genumde skholen.
Biy het bewerken van deze uitgave heeft de door VAN DER TUUK gepubliceerde tekst dienst gedaan. Wiyl verreweg het grootste deel van ‘Abdu'LLAH's arbeid is behouden, heb ik gemeend deze skhool-editie onder den ouden titel te mogen uitgeven.
VAN OPHUIYSEN.
Bahwa ini hikayat yang dinamaï Panja Tanderan, yang amat indah-indah karangannya dan yang telah dipatut oleh segala pendeta seperti mutiara yang terpilih oleh jauhari adanya.
Hikayat ini asalnya dari pada bahasa Hindu; maka dipindahkan oleh fakir ila Allah ta'ala ‘Abdu'llah bin ’Abdu'l-kadir Munsyi kepada bahasa Melayu dalam negeri Melaka, yaïtu dengan tolongan seorang sahabatku yang bijaksana dalam bahasa itu, yaïtu Tambi Matu Berapa Patar, pada tarikh sanat 1251, pada dua puluh hari bulan Jumadi'lakhir, yaïtu pada tahun masëhi sanat 1835, pada dua belas hari bulan October.
Bahwa sesungguhnya adalah dalam hikayat ini beberapa kias dan ‘ibarat, yaïtu akan menjadi haluan bagi segala orang yang bijaksana dan ber'akal. Maka adalah diumpamakan fakir hikayat ini seperti suatu taman, yang amat permai lagi dengan indah-indah perbuatannya. Maka adalah dalamnyia itu beberapa pohon buah-buahan yang amat lazat citarasanya dan beberapa bunga-bungaan, yang amat harum baunya. Maka berkehendaklah beberapa manusia masuk ke dalam taman itu; akan tetapinya di antara merêka itu adalah orang yang bijaksana dan orang yang bebal. Bermula Adapun orang yang bijaksana itu, apabila ia masuk ke dalam taman itu, maka terlihatlah ia kepada segala pohon buah-buahan dan bunga-bungaan itu. Maka teringinlah ia, lalu diambilnya buah-buahan itu, dimakannya. Maka diketahuinyalah akan lazat rasa buah itu. Lagi pula dipersuntingkannya bunga-bungaan itu. Dengan beberapa sukacitanya—sebab mendapat perkara yang indah-indah itu—keluarliah ia dari dalam taman itu. Maka apabila ia bertemu dengan segala sahabatnya, maka bertanyalah merēka itu kepadanya: “Apakah faēdahnya engkau masuk ke dalam taman itu?” Maka dijawab olēh orang yang bijaksana itu, katanya: “Hai sahabatku, telah kulihat akan segala ‘ajaib dan khasiat dalamnya, serta kumakan buah-buahan yang terlalu lazat rasanya, dan kupersuntingkan bunga-bungaan, yang terlalu harum baunya.” Maka sukacita merēka itu sekalian; maka masing-masing pun hendaklah masuk ke dalam taman itu.
Sebermula Adapun orang yang bebal itu, apabila ia masuk ke dalam taman itu, serta ia melihat segala buah-buahan dan bunga-bungaan dalam taman itu, lalailah ia, serta dengan malasnya hendak tidur, serta hēranlah ia akan dirinya dengan tercengang-cenganglah ia ke sana kemari; tiadalah ia teringat hendak mengambil buah-buahan dan bunga-bungaan itu. Maka dengan hal yang demikian itu keluarliah ia dari dalam taman itu dengan hampa tangannya serta dengan lapar dahaganya. Maka bertemulah ia dengan segala sahabatnya; maka bertanyalah merēka itu: “Apakah faēdahnya engkau masuk ke dalam taman itu?” Maka jawabnya: “Suatu pun tiada ku-perolēh dalamnya; adalah halku dengan lapar dahagaku.” Maka bencilah segala sahabat handainya akan dia, sebab bebal dan alpanya itu adanya. Syahdan maka demikianlah ‘ibaratnya: Bahwa orang yang ber'akal itu, niscaya dikias-kannyalah segala ceritera dan hikayat itu; maka diperolēhnyalah faēdahnya.
Hubaya-hubaya, hai segala saudaraku yang membaca hikayat ini dan yang mendengarkan dia, hendaklah kiranya tuan-tuan menurut kelakuan orang yang bijaksana itu, supaya adalah engkau berolêh faêdah ceritera ini. Karena kebanyakan orang muda-muda pada zaman ini membaca hikayat itu, sebab suka mendengar lagunya sahaja; ada pula yang mendengarkan hikayat itu, sebab hendak tertawa sahaja.
Bahwa sesungguhnya hikayat ini dikarangkan pada bagai segala binatang, hanya ‘ibaratnya dan kiasnya itu atas manusia juga. Sebab itu hendaklah engkau ambil ’ibarat itu atas dirimu! Maka sebab perkara yang telah tersebut itulah, telah fakir berjinak-jinakkan dengan hikayat dan ceritera-ceritera itu, sehingga ‘asyik hatiku sebab merasai lazat cita kias dan ’ibaratnya itu. Maka kueesahakanlah diriku menterjemahkan bahasa itu ke dalam bahasa Melayu. Jikalau kurang fahamku Sekalipun dan singkat pengetahuanku, harap fakir bukan sedikit: Mudah-mudahan dengan tolong Allah usahaku-memberi manfa'at akan segala saudaraku, bagi barang siapa yang sudi membaca dan mendengarkan hikayat ini. Maka jikalau ada kiranya khilaf atau yang tersalah dari pada bahasanya atau hurufnya, melainkan telah haraplah fakir akan am pun dan ma'af tuan-tuan, karena bukannya fakir ini ahli bagi yang demikian.
CERITERA YANG PERTAMA
Kata yang empunya ceritera ini: Bahwa adalah sebuah negeri, yang bernama PADALI PARUM; maka raja, yang memerintahkan negeri itu, bernama SUGADARMA. Maka adalah raja itu berputera empat orang laki-laki. Adapun anak raja itu tersangat dungu lagi dengan bebalnya, tiada menerima nasihat orang. Maka dari sebab yang demikian, maka sangatlah murka Baginda akan anakda itu; karena seolah-olah ia hendak menghilangkan dan merusakkan keturunan raja-raja yang dahulu kala. Maka titah Baginda: “Jikalau anak yang demikian itu seribu Sekalipun, tiadalah memberi faëdah akan daku; maka jikalau kiranya ada seorang anak yang berbahagia, niscaya berguna kepadaku. Apatah dosa telah kuperbuat dari dahulu kalanya, maka kuperoleh anak yang demikian?”
Setelah raja berpikir-pikir yang demikian itu serta dengan dukacitanya di atas takhta kerajaannya, dihadap segala menteri, hulubalang, ra'iat sekalian, bentara, sida-sida, dayang-dayang, biti-bititi, perwara, seraya ia mengeluh, katanya: “Wahai, sia-sialah kehidupanku sekian lama ini, sebab anak yang dungu lagi tiada ber'akal ini keempatnyia! Adakah dalam majelis orang yang ber'akal yang bolëh mengajar dan memberi nasihat akan anak-anakku ini?”
Maka adalah dalam antara majelis itu seorang Berahmana, yang bernama SUMASANMA, berbangkit serta berdatang sembah kepada raja, katanya: “Jika ada am pun serta karunia duli tuanku, bahwa patiklah cakap memberi nasihat serta mengajar paduka anakda keempat ini.”
Maka demi didengar olëh raja akan sembah Berahmana
‘itu demikian, maka tersangatlah sukacita hati Baginda; maka Berahmana itu dikaruniai oleh Baginda beberapa harta dan mata benda, serta diantarkan bersama-sama dengan anak raja keempatnya seperti ’adat anak raja-raja yang besar adanya.
Hatta maka diamlah anak-anak raja itu di rumah Berahmana itu. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, sekali peristiwa pada suatu hari, maka berkata Berahmana itu: “Hai anak-anakku keempat, maukah engkau mendengar suatu hikayat, yang amat ‘ajaib?”
Demi didengar oleh kanak-kanak itu akan perkataan Berahmana itu, lalu jawabnya: “Ya tuanku, hikayat apakah itu?”
Maka kata Berahmana itu: “Adalah lima perkara hikayat yang amat ‘ajaib, umpama mutiara yang amat indah-indah, tiada ternilai oleh segala jauhari akan harganya itu.”
Maka kata anak-anak raja itu: “Apakah yang lima perkara itu, ya tuanku?”
Maka kata Berahmana: “Adapun hikayat yang pertama itu, yaitu peri menceriterakan kekasih dengan kekasih-nya; dan hikayat yang kedua itu peri menceriterakan orang yang berteguh-teguhan serta dengan sahabatnya; dan hikayat yang ketiga itu peri orang membinasakan orang, kemudian selamat kehidupannya: dan hikayat yang keempat itu peri menceriterakan benda yang diberikan orang lain, kemudian ia menyesal, duduk dengan du-kacitanya; dan hikayat yang kelima itu peri menceriterakan orang membuat suatu pekerjaan tiada dengan periksanya, maka kemudian ia menyesal. Demikianlah faēdahnya hikayat-hikayat yang tersebut itu.”
Syahdan maka demi didengar oleh anak-anak raja itu akan perkataan Berahmana itu, maka jawabnya: “Ya tuanku, apakah gunanya perkataan tiada dengan kesu-dahannya?”
Maka Berahmana itu pun terlalu sukacitanya serta berceritera, katanya: “Sekali peristiwa adalah seëkor raja singa bersahabat dengan seëkor lembu jantan; tiba-tiba maka dicerai beraikan oleh seëkor serigala.”
Maka kata anak-anak raja itu: “Bahwa sesungguhnya ‘ajaib adanya hikayat itu; ceriterakanlah oleh tuanku betapakah hikayat itu, supaya hamba dengar!”
Maka kata Berahmana itu: “Diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini: ”Maka adalah di sebelah pihak selatan sebuah negeri, bernama MAGILAGIUM. Maka dalam negeri itu ada seorang saudagar, terlalu amat kayanya serta dengan murahnya. Maka pikir saudagar itu: Apalah halku duduk yang demikian ini? Jikalau aku bernia-gakan hartaku ini, niscaya aku mendapat faëdahnya, supaya aku membuat pahala.“ Setelah sudah ia berpikir demikian itu, maka dibelinya beberapa mata benda, lalu dimuatkannya ke atas sebuah pedati; maka ditarik oleh dua ëkor lembu jantan; seëkor bernama TANAMANDAGAM dan seëkor bernama CANCIBAGAN, yang disebut orang Melayu si TERUBUH; lalu berjalanlah ia. Hatta beberapa lamanya ia berjalan itu, maka sampailah ia ke tengah rimba besar. Maka kaki lembu yang bernama SI TERUBUH itu pun patahlah, lalu jatuhlah ia dite-ngah jalan. Maka ditinggalkan saudagar itu lembu itu di tengah hutan; maka ia pun berjalanlah menuju tempat yang dikehendakinya.
Sebermula maka lembu itu pun duduklah dalam hutan itu. Beberapa lamanya dengan takdir Allah ta'ala maka lembu itu pun sembuhlah dari pada penyakitinya; maka tambunlah tubuhnya. Maka pada suatu hari berteriaklah lembu itu dengan suaranya yang amat besar. Maka suara itu pun terdengarlah kepada raja segala binatang, yaitu Raja Singa. Maka ketakutanlah ia dengan ketakutan yang amat sangat, sehingga dua hari tiadalah ia kelua dari dalam istananya, dengan tiada makan dan minum. Maka adalah pada Raja Singa itu dua orang menteri, yaïtu dua ēkor serigala: seēkor bernama GALILAH dan seēkor bernama DAMINAH. Maka telah diketahuilah oleh kedua menteri, bahwa Raja itu dalam ketakutan dan dukacita itu. Maka kata GALILAH kepada DAMINAH: “Hai sahabatku, adakah tuanhamba ketahui akan hal raja kita itu?” Maka jawab DAMINAH: “Hai sahabatku, tiada berfaēdah kita berkata-kata yang sia-sia itu. Jikalau ada lebih makanan hari ini, apakah gunanya kita ganggukan pekerjaaan orang? Maka jikalau kita berkata-kata juga, adalah seperti hikayat kera, yang mati tersepit itu; niscaya demikianlah kelak pada akhirnya. Maka jawab GALILAH: ”Hai DAMINAH, betapakah hikayatnya itu? Ceriterakanlah, kudengar!“ Maka kata DAMINAH:
“Adalah sebuah negeri; maka dalam negeri itu ada sebuah rumah, yang hendak diperbuat. Maka segala orang dalam negeri itu pun masuklah kedadah hutan mencahari kayu, lalu didapatinya sebatang kayu bulat. Maka dibubuhnya baji, dibelahnya. Maka hari pun rembanglah matahari. Maka pulanglah segala merēka itu ke rumahnya.
Hatta maka dalam hutan itu banyaklah kera; maka turunlah segala kera itu pergi mengguncang-guncang baji kayu itu. Maka tercabutlah baji itu, lalu tersepit ēkor kera itu. Maka matilah ia sebab kesakitan itu
Demikianlah hikayatnya, hai sahabatku! Jikalau kita masuki pekerjaaan yang tiada layak bagi kita, niscaya demikianlah kesudahannya kelak.“
Maka kata GALILAH: “Hai DAMINAH! Adapun kita ini hanya menantikan ayapan dari pada raja kita juga. Apalah kita pedulikan pekerjaaan yang lain?”
Maka jawab DAMINAH: “Hai sahabatku, jikalau tiada kita menolong sesuatu mara bahaya, yang datang kepada tuan kita, bahwa sia-sia adanya yang bernama hamba itu. Sekali-kali janganlah tuanhamba berkata hendak menantikan ayapan dari pada tuan kita sahaja; bahwa sua- tu ‘aib adanya di antara segala manusia. Jikalau tiada kita dapat menolong sesuatu dukacita Raja itu, bukanlah ia itu yang bernama menteri yang budiman. Adalah misal seorang memberi makan gajah, bukankah dengan alatnya, dan memberi makan anjing, bukankah dalam suatu tembikarjuga? Demikianlah pikirkan oleh-mu, hai sahabatku, atas barang pekerjaan raja-raja!“
Maka jawab GALILAH: “Hai sahabatku DAMINAH! Jikalau bagaimana Sekalipun kebaktian kita kepada Raja itu, tiadalah juga kita akan dijadikannya menteri besar; demikian juga martabat kita adanya.”
Maka jawab GALILAH: “Adakah orang menyadi menteri itu sebab kebaktiannya atau sebab bangsanya? Melainkan barang siapa yang beruntung ialah yang mendapat martabat itu. Maka barang siapa yang ber'akal lagi bijaksana dan budiman, niscaya ditunjukkannya ‘akalnya itu; bahwa itulah yang bernama bijaksana lagi bangsawan. Adapun ’adat Raja itu, barang siapa yang ber'akal dan bijaksana lagi pêtah lidahnya, maka itulah yang bolêh hampir, lagi dikasihi oleh Raja.”
Maka jawab DAMINAH: “Jikalau demikian, marilah kita pergi menghadap Raja.”
Maka keduanya itu pun pergila. Demi dilihat Raja menterinya keduanya itu datang, maka ditegurnya, katanya: “Ke manakah menteriku sekian lama ini, maka baharu tuan-tuan datang?”
Maka jawab GALILAH seraya memyembah, katanya: “Apabila patik ada melihat sesuatu ‘ajaib, maka baha-rulah patik datang, tuanku!”
Maka titah Baginda: “Apakah ‘ajaib yang telah kaulihat itu, hai menteriku?”
Maka jawab DAMINAH: “Apakah sebabnya telah dua hari lamanya tuanku tiada berangkat meminum air?”
Maka titah Raja: “Akoë kedatangan suatu bahaya. Sekian lamanya aku diam dalam hutan ini, belumlah pernah aku dengar suatu suara yang besar lagi membe- ri dahsyat dan gementar segala sendi tulangku, seperti suara yang kedengaran itu; seolah-olah pecahlah rasanya anak telingaku. Entah apakah gerangan yang empunya suara itu? Bahwa hendaklah engkau kedua segera pergi periksa akan dia, karena engkau kedua pun orang bijaksana!“
Maka sembah menteri kedua itu: “Daulat tuanku syah ‘alam! Telah patik junjunglah akan titah duli yang mahamulia itu.”
Maka sembah GALILAH: “Bahwa janganlah kiranya tuanku sangkakan dalam hati, bahwa patik ini seperti serigala kebanyakan itu; karena dēwa-dēwa yang besar-besar itu lagi menjelma menjadi kura-kura; maka patik ini pun demikianlah: telah menjelma menjadi serigala ini. Maka adalah pada bicara patik hamba yang hina ini, janganlah tuanku dengar-dengaran akan suara itu. Maka jikalau tuanku ketakutan dan dahsyat, niscaya segala ra'iat tuanku pun ketakutanlah adanya. Maka adalah seperti hikayat dahulu kala.”
Maka titah Raja: “Bagaimanakah hikayat itu? Ceriterakanlah olēhmu!”
Maka kata GALILAH: “Alkissah adalah sebuah negeri; maka nama rajanya SYULARAJA. Maka datanglah seorang raja hendak berperang dengan dia. Kemudian pecahlah perangnya raja itu; maka segala ra'iatnya pun cerai berailah. Maka banyaklah ra'iatnya mati, lain dari pada gajah kudanya. Maka tinggallah segala perkakasnya dan genderang perangnya di tengah padang itu. Maka datanglah segala serigala dari dalam hutan itu memakan bangkai itu. Maka pada ketika itu turunlah angin keras meniup dahan kayu itu; maka berpalu-paluanlah sama sendirinya. Maka terpaluelah kepada genderang perang itu; maka berbunyilah genderang itu. Maka terkejutlah segala serigala itu, habislah berlarian serta dengan hēran akan dirinya. Maka berpikirlah seēkor serigala: ”Apakah gerangan bunyi ini? Karena seorang manusia pun tiada.“
Malu dihampirinya akan genderang itu. Maka dilihatnya seorang pun tiada, hanyalah dahan kayu juga memalu genderang itu. Lalu dibelahkannya genderang itu, dilihatnya kosong, suatu pun tiada dalamnya. Setelah itu maka berbaliklah segala serigala itu pula memakan bangkai itu. Demikianlah hikayatnya itu. Maka sebab yang demikianlah, sekali-kali jangan tuanku dengar-dengaran akan bunyi yang demikian itu.“
Hatta maka kedua menteri itu pun kelocarlah berjalan mencahari bunyi itu,masuk ke dalam hutan.Maka bertemulah ia dengan seëkor lembu jantan, terlalu hébatnya dengan tambunnya. Maka serta dilihat oléh kedua serigala itu, maka tundocklah keduanya, lalu menyembah kepada lembu itu dengan ta'lim, seraya berkata: “Ya tuanku, Adapun hamba ini hamba Raja. Hendaklah tuanku ketahui, bahwa adalah raja segala binatang dalam hutan ini, yaïtu Raja Singa; ialah yang memerintahkan segala merëka itu; sebab itu barang siapa yang datang ke dalam hutan ini, ta‘ dapat tiada hendaklah pergi menghadap Raja itu. Sekarang pun hendaklah tuanhamba pergi menghadap, supaya hamba memohonkan suatu kebesaran akan tuanhamba. Maka jikalau tiada mau tuanhamba menghadap, bahwa janganlah tuanhamba diam dalam hutan ini.”
Maka jawab lembu itu: “Hai serigala kedua! Adapun hamba ini tiada mengenal raja tuanhamba dan tiada mengetahui tempatnya dan kelakuannya; jikalau ada kasihan tuanhamba, bawalah hamba menghadap Raja Singa itu.”
Maka kata kedua menteri itu: “Baiklah, tetapi biarlah hamba pergi memberi tahu kepada Raja hamba dan memohonkan am pun, sebab kesalahan tuanhamba berteriak itu.”
Maka berjalanlah keduanya pergi menghadap Raja. Serta sampai, maka menyemballah keduanya serta berdantang sembah: “Ya tuanku! Adapun bunyi yang tu- anku dengar itu, adalah patik membawa khabarnya.“ Maka titah Raja: ”Apakah khabarnya itu?“ Maka jawab kedua menteri itu: ”Adapunyangempu- nya bunyi itu seckor raja lembu jantan, bernama si TERUBUH. Maka ia berbunyi seperti halilintar yang membelah bumi, lagi dengan gagah perkasanya; suatu bina- tang dalam hutan itu pun tiadalah dapat berhadapan dengan dia. Maka sudahlah patik ceriterakan kepadanya peri gagah perkasa tuanku; maka adalah hatinya telah lembutlah, hendak datang menghadap tuanku; dan telah patik bercakap hendak memohonkan kebesaran, supaya tuanku yadikan dia menteri yang besar ke bawah duli tuanku.“ Maka sabda Raja: ”Jikalau demikian, terlalulah baik bicara menteriku. Jika patut kepada ‘akal menteriku kedua yang demikian itu, bawah akan dia kemari!“ Maka lalu keduanya itu pun berjalanan pergi mendapatkan si TERUBUH itu. Setelah sampai maka katanya: ”Hai raja lembu! Bahwa sudahlah hamba persembahkan perkataan tuanhamba itu, dan sudahlah hamba pohon- kan kebesaran akan tuanhamba; dosa tuanhamba pun telah diampunniyalah. Marilah tuanhamba bersama- sama!“ Maka si TERUBUH itu pun pergila menghadap Raja Singa. Telah bertemu, maka sukacitalah Raja Singa akan lembu itu, lalu dijadikannya menteri besar. Hatta beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka pada suatu hari berkatalah DAMINAH kepada GALILAH, katanya: ”Hai sahabatku GALILAH! Telah hilanglah kebe- saran kita, sebab si TERUBUH cetlaka itu telah menyadi menteri. Maka semuanya itu pun datangnya dari sebab salah kita juga. Adalah seperti hikayat dahaelu kala.“ Maka jawab GALILAH: ”Betapa hikayat itu?“ Maka kata DAMINAH: ”Adalah seorang bertapa, bernama DEWASANMA; maka ia itu telah mencahari beberapa ban- yak harta. Maka pikirnya: “Adapun jikalau kutaruh. harta ini, niscaya banyaklah bencananya.“ Laloë pergilah ia kepada suatu kedai jauhari, dibeliaya beberapa mata benda yang besar-besar harganya, laloë dimasukkannya ke-dalam tongkatnya; kemudian ditutupnya baik-baik. Maka barang ke mana ia pergi, tiadalah ia bercerai dengan tong-kat itu. Sebermula maka pada tatkala dimasukkannya benda-benda itu ke dalam tongkatnya, ada seorang anak Berahmana melihat; maka ia itu seorang dagang, yang tiada beribu bapa; maka segala harta pusakanya telah habislah dibinasakannya dengan orang penjudi. Maka pikir budak itu: ”Jikalau aku menjadi khadam Ber-rahmana ini, maka dengan daya upayaku niscaya kut-yuri jugatongkatnya itu; bolehlah aku selama-lamanya berjudi dengan teman-temanku itu.“ Maka setelah sudah ia berpikir demikian itu, maka pergilah ia perlahan-lahan serta dengan ta'lim hormatnya sambil menyembah kaki Berahmana itu, serta katanya: ”Ya tuanku! Adapoën hamba ini seorang anak dagang yang tiada bertempat diam. Biarlah hamba menjadi khadam tuanku selama hideop hamba!“ Maka jawab Berahmana itu: ”Baiklah!“
Hatta maka budak itu pun diamlah bersama-sama dengan Berahmana itu; tetapi Sungguhpun ia bersama-sama itu, tongkatnya itu tiada bercerai dengan dia. Kak-lakian pada suatu hari maka dijamolah oleh seorang akan Berahmana itu; maka ia pun pergilah bersama-sama dengan muridnya. Setelah sudah makan, kembalilah Ber-rahmana itu. Maka olëh budak itu diambilya ujung atap orang yang empunya rumah itu, ditaruhkannya di atas kepalanya, laloë berjalanlah ia bersama-sama den-gan Berahmana itu. Setelah jauhlah ia berjalan, maka pura-pura dirabanya kepalanya, terdapatlah sampah itu. Maka berseru-serulah ia, katanya: “Hai guruku! Kita pergi makan di rumah orang itu; lihatlah hamba terbawa atapnya sedikit; terlalu besar dosanya. Biarlah hamba pergi mengembalikan dia.” Maka jawab Berahmana itu: “Tiadalah engkau berdosa, karena bukannya dengan sengaja engkau mencuri itu.“ Maka jawab budak itu: ”Bukankah tuanku mengajar hamba jangan mengambil harta orang? Biarlah hamba kembalikan.“
Hatta maka berlari-larilah budak itu kembali. Setelah sampai kebalik hutan itu, kira-kira selama sampai ke rumah orang itu, maka segeralah ia kembali mendapatkan gurunya. Maka apabila dilihat oleh Berahmana itu akan tabi'at budak itu, terlaluh sukacitanya seraya ia berpikir: “Bahwa sesungguhnya kanak-kanak ini terlalulah benarnya!” Maka sampailah budak itu seraya memberi hormat akan Berahmana itu, katanya: “Terlalulah besar dosa hamba, karena tuanku menanti akan hamba.” Maka kedua merēka itu pun berjalanlah sehingga sampailah kepada suatu danau, yang terlalu amat jernih airnya. Maka dilihat oleh merēka itu ada dua ēkor kambing jantan berlaga. Maka pada ketika itu Berahmana itu pun hendak mandi, sebab hari panas sangat. Maka pikirnya: “Budak ini bolēhlah kupercaya kuberikan tongkatku ini.” Lalu diberikannya tongkat itu kepada muridnya, lalu pergilah ia mandi. Maka pikir budak itu: “Pada ketika inilah baik kucuri tongkatnya ini.” Maka setelah Berahmana itu berjalan terlindung kebalik hutan, maka larilah ia. Adapun Berahmana itu lalailah melihat kambing itu berlaga sehingga bercucuranlah darah dari pada kepala kambing itu. Maka datanglah sečkor serigala menjilat darah di bumi; maka tiba-tiba datanglah kambing itu berlaga pula; maka tersepitlah serigala itu, lalu mati. Maka tertawalah Berahmana itu melihat hal itu. Setelah sudah mandi, maka berpakailah ia, lalu kembali ke tempatnya itu. Maka berteriaklah ia akan muridnya itu dan dicaharinya ke sana kemari, tiadalah bertemu lagi. Maka menangislah ia serta katanya: “Wahai, telah dicurilah olēh budak celaka itu akan tongkatku itu!” Lalu berjalanlah ia dengan dukacitanya yang amat sangat. Maka hari pun petanglah. Maka dicaharinya pada segenap tempat, tiadalah dapat budak itu. Demikianlah hika-
Panja Tanderan itu pun pergilah mendapatkan singa itu. Demi dilihat singa binatang datang terlalu banyak, maka hēranlah ia; maka adalah pada sangkanya datang hendak berperang dengan dia. Maka bertempiklah ia, katanya: “Apakah kehendak kamu sekalian datang ini?” Maka jawab segala binatang itu: ”Ya tuanku! Adapun patik sekalian datang menghadap tuanku ini, karena patik sekalian sudah berjanji datang meminta kasihan tuanku. Janganalh kiranya tuanku binasakan patik-patik sekalian: ada yang pecah kepalanya, dan patah kaki. Maka tuanku pun berlelah-lelah. Biarlah patik sekalian antarkan ayapan tuanku pada sehari seēkor binatang pagi-pagi!” Maka jawab singa itu: “Sungguhkah perjanjian kamu itu?” Maka jawab segala binatang itu: ”Sesungguhnya! Maka jikalau tiada yang demikian itu, tuanku binasakanlah patik sekalian.” Maka berteguh-teguhanlah jangji merēka itu; maka kembalilah segala binatang itu, masing-masing ketemapatnya. Maka adalah pada tiap-tiap hari merēka itu membuang undi; kepada barang siapa yang kena undi-undi itu, dialah pergi kepada singa itu adanya.
Hatta pada suatu hari segala binatang itu membuang undi; maka terkenalah kepada seēkor pelanduk yang tua. Maka kata segala binatang itu: “Hai pelanduk, segeralah engkau pergi kepada singa itu, karena hari telah tinggilah; raja itu pun laparlah.” Maka segala anak isteri pelanduk itu pun bertangis-tangisan terlalu susah. Maka gementarlah kaki tangan pelanduk itu, seraya bermohon kepada segala keluarganya, lalu berjalanlah ia perlahan-lahan mencahari daya upaya. Maka pikirnya: ”Jikalau bagaimana Sekalipun, aku perdayakan juga singa itu; jikalau mati pun, matilah.” Maka adalah pada jalan itu tanah cair; maka pelanduk itu pun berjalanlah kepada tanah cair itu, serta ia berguling-guling kepada air tanah itu. Setelah itu maka berjalanlah ia perlahan-lahan; sampailah tengah hari. Adapun singa itu laparlah sangat serta dengan marahnya; maka menerkamlah ia ke kanan dan ke kiri. Maka setelah dekat, maka belari-larilah pelanduk itu seperti laku orang yang dikejar. Maka datanglah ia mendapatkan singa itu serta dengan takutnya, sambil menyembah dengan hormatnya. Maka kata raja singa: “Hai pelanduk claka, apa sebabnya engkau lambat pada hari ini; segala keluargamu tiada melepaskan engkaukah atau dengan beranimukah tiada mau datang itu?” Maka jawab pelanduk itu dengan takutnya, katanya: “Ya tuanku! Adapun pada hari ini pagi-pagi patik berjalanan hendak mendapatkan tuanku. Maka tiba-tiba patik bertemu di jalan dengan seēkor singa terlalu besar serta dengan garangnya, terlebih pula besar dari pada tuanku. Maka katanya kepada patik: ”Hendak ke manakah engkau ini, hai pelanduk?“ Maka jawab patik: ”Acu hendak pergi menda- patkan raja singa, karena aku ini ayapannya.“ Maka katanya: ”Adakah raja yang terlebih besar lain dari pada aku dalam hutaan ini? Akulah raja!“ Maka patik jawablah dengan patik membesarkan serta memuliakan akan gagah perkasa tuanku. Maka apabila didengarnya, maka marahlah ia serta menista-nista tuanku dengan berbagai-bagai perkataan yang keji-keji, sambil dikejar- nya patik hendak dimakannya. Maka ketakutanlah patik; maka dengan sebab pantas patik berlari, tiada patik tertangkap olēhnya. Akan tetapi beberapa kali patik jatuh; tuanku lihatlah: habis tubuh patik ini berlumur dengan tanah! Sekarang janganlah tuanku sangat murka; segeralah makan akan patik!”
Syahdan maka apabila didengar olēh raja singa itu akan perkataan pelanduk itu, maka makinlah marah ia seperti api bernyala-nyala, serta menggigit-gigitkan giginya. Maka ketakutanlah pelanduk itu serta berdatang sembah: “Janganlah tuanku sangat murka akan patik binatang yang kecil ini, lagi dengan lemah patik! Sebab takut patik akan tuankulah, maka patik berlari-lari terlelah-lelah itu. Adapun yang datang itu, binatang yang gagah terlebih dari pada tuanku. Tiadakah terbicarakan olēh tuanku? Bukankah seteru tuanku yang datang itu; mengapa tiada tuanku bicarakan? Maka adalah pada bicara dan kira-kira patik, pada hari ini sahaja bolēh tuanku diam dalam hutan ini; pada ēsok hari tiadalah bolēh tuanku diam di sini, karena patik melihat mukanya pun, gementar tulang sendi patik. Maka dalam pada itu pun terlebih-lebih ma'lumlah tuanku akan bicara itu. Maka sekalian yang setahu patik, telah patik khabarkan, melainkan sekarang segeralah tuanku makan akan patik.“ Maka titah raja singa: ”Hai pelanduk! Sebelum acu menbunuh seteruku itu, haramlah dagingmucitu kepadaku. Marilah segeralah engkau unjuk-kan tempatnya itu kepadaku!“ Maka jawab pelanduk itu: ”Baharu ini juga patik melihat ia menangkap seēkor rusa, maka dibawanya ke dalam perigi itu, dimakan-nya, katanya hendak menantikan tuanku datang juga.“ Maka bertitahlah raja singa itu: ”Unjukkanlah perigi itu!“ Maka olēh pelanduk itu dibawanyalah akan singa itu kepada suatu perigi, terlalu dalamnyia serta dengan jermihnyia, sambil katanya: ”Patik terlalu takut akan dia; tuanku peganglah akan tangan patik ini!“ Maka olēh singa itu dipegangnyalah tangan pelanduk itu. Maka dilihatnya ke dalam perigi itu, maka kelihatanlah bayang-bayangnyia: ada seēkor singa memegang tangan pelanduk. Maka kata pelanduk itu: ”Lihatlah, baharu didapatnya pula kawan patik; itulah dipegangnyala. Lepaskanlah tangan patik ini; segeralah tuanku bersikap diri; dari pada ia dahulu, terlebih baik tuanku terkam!“ Maka marahlah singa itu terlalu sangat, serta diterkamnyia ke dalam perigi itu; maka masuklah ia ke dalam air, tenggelamlah ia, mati. Maka pelanduk itu pun melompat serta bertempik, memanggil segala kawannya. Maka sekaliannyia itu pun berhimpunlah, lalu ditutupkannya perigi itu dengan batu-batu dan kayu. Demikianlah hikayatnya, hai GALILAH, orang membinasakan seterunya itu.”
Ada pula lagi suatu ceritera seékor ketam membu-nuh burung bangai. Tiadakah engkau ketahui?“ Maka jawab GALILAH: ”Betapakah hikayatnya itu? Katakanlah, kudengar.“ Maka kata DAMINAH: ”Ada suatu kolam, terlalu banyak ikannya. Maka adalah seékor bangau diam di situ. Maka pikir bangau itu: “Bagaimana upayaku hendak menangkap ikan ini, supaya jangan berlelah-lelah? Maka ia pun duduklah di tepi kolam itu serta mengejamkan matanya dan menengadah ke langit, seperti laku orang bertapa, dengan tiada memandang ke kiri dan ke kanan, mendiamkan dirinya. Maka segala ikan dan ketam, yang dalam kolam itu pun, bermain-main dekatnya, dan katak pun melompatlah keatasnya. Itu pun tiadalah diindahkannya, diam juga ia. Maka beberapa lamanya yang demikian itu, maka berhimpunlah segala ikan dan ketam dan katak dalam kolam itu semuanya pergi kepadanya bertanya, katanya: ”Hai bangau, apakah sebabnya tuanhamba ini kami sekalian lihat, berlainan sekali tabi'at tuanhamba dari pada bangau yang banyak? Karena beberapa kali hamba bermain dekat-dekat dan melompat ke atas tuanhamba, itu pun tiada tuanhamba indahkan.“ Maka jawab bangau itu dengan perlahan-lahan serta katanya: ”Tiadalah berguna dunia ini lagi kepada hamba, sebab itulah hamba bertapa di sini. Maka kelamarin ada lalu di sini empat orang nelayan; maka katanya: “Kolam ini terlalu banyak ikannya; baiklah kita tangkap semuanya sekali!” Maka sebab hamba telah terdengar perkataannya itu, menyadi terlalu dukacita hati hamba. Maka sebab itulah hamba ingat akan dosa itu, sekian banyak jiwa itu akan mati. Maka itulah hamba ingat akan Allah sahaja, hamba bertapa di sini. Mudah-mudahan hilang dosa hamba itu. Maka semenjak hamba mendengar perkataan itu sampai ketika ini, tiadalah hamba makan dan minum. Maka sekarang sudahlah hamba sampaikan kepada tuan-tuan, tiada hamba menanggung dosa itu lagi, melainkan ikh- tiarlah tuanhamba sekalian, supaya bolēh lepas dari pada bahaya itu.“
Maka segala ikan dalam kolam itu pun berhimpunlah serta mupakat. Setelah putuslah mupakat itu, maka timbullah sekalian ikan itu, datang mendapatkan bangau itu serta katanya: “Hai tuanku, bukankah tuanku hendak bertapa? Bagaimanakah hal hamba sekalian ini? Hendaklah tuanku memberi suatu ikhtiar, supaya terpelihara jiwa hamba sekalian ini dari pada bahaya nelayan itu; maka tuanku pun berolēhlah selamat dalam pertapaan tuanku adanya.” Maka jawab bangau itu: “Hai saudaraku sekalian, apakah ikhtiar hamba lagi? Jikalan hendak hamba lepaskan ke dalam sungai pun, terkadang, apabila kemarau, niscaya kekeringan juga ia. Akan tetapi ada di balik hutan ini sebuah danau, terlalu indahnya lagi dengan dalamnya, serta jernih airnya. Jikalau berapa kemarau pun, tiada akan kering airnya. Maka jikalau kiranya tuan-tuan sekalian suka, biarlah hamba bawa seekor anak ikan, supaya ia melihat sendirinya. Maka jikalau berkenan, bolēhlah hamba bawa pergi ke sana.”
Hatta kalakian mupakatlah segala ikan itu memberi seekor anak terbul pergi bersama-sama dengan bangau itu melihat. Maka olēh bangau itu dipagutnyalah perlahan-lahan, lalu dibawanya terbang kepada danau itu, dilepas-kannya. Maka anak ikan itu pun berenanglah pergi kema-na-mana melihat danau itu, serta dengan sukacitanya berenang ke sana kemari. Maka makanan pun terlalu banyak. Maka sebentarlagi ia pun timbullah datang mendapatkan bangau itu. Maka olēh bangau itu dipagutnyalah perlahan-lahan, lalu dibawanyalalah kembali ke tempatnya. Maka berkhabarlah anak ikan itu akan peri keēlokkan danau itu kepada segala ikan, katanya: “Terlalu sekali indahnya danau itu, se'ōemur hideop pun tiadalah akan kering danau itu; dan nelayan dan pemukat pun tiada akan sampai ke sana.” Demi didengar olēh segala tolannya, maka sekali-annya pun sukacitalah hendak berpindah ke sana, serta melompat ke darat mendapatkan bangau itu. Maka olēh bangau itu dipagutnyalah perlahan-lahan; maka sekalian ikanitu pun sukacitalah, lalu dibawanyalah terbang naik ke atas sebuah batu yang amat besar, lalu dimakannya. Maka yang selebihnya dijemernya di atas batu itu. Maka dengan hal yang demikian itu beberapa lamanya diangkutnya, segala ikan dalam kolam itu pun habislah. Maka adallah tinggal sečkor ketam. Maka kata ketam itu: “Hai tuanku, sekalian jiwa itu telah sentosalah; tuanku lepas-kanlah jiwa hamba pun.” Maka jawab bangau: ”Adapun badan tuanhamba terlalu kerasnya; bagaimanakah bolēh hamba pagut?” Maka kata ketam itu: “Jikalau kiranya ada kasih tuanku, biarlah hamba sepit perlahan-lahan lēhēr tuanku; tuanku-bawalah hamba terbang.” Maka jawab bangau: ”Baiklah!” Maka naiklah ketam itu ke darat serta disepitnya batang lēhēr bangau itu perlahan-lahan; maka dibawalah terbang olēh bangau itu. Maka apa bila hampirlah kepada batu itu, maka dilihat olēh ketam itu tulang ikan bertimbun-timbun. Maka pikir ketam itu: “Wahai! Bahwa sesungguhnya teperdayalah kami sekalian ini; telah dimakanlah olēh bangau celaka ini akan segala tolanku itu. Jikalau demikian, baiklah ia ini ku-bunuh; biarlah aku pun mati.” Telah itu maka disepitnyalah lēhēr bangau itu; maka putuslah lēhērnya. Maka keduanya itu pun jatuhlah, lalu mati. Demikianlah hikayatnya, hai sahabatku DAMINAH! Dengan upaya kita tia-dakah bolēh berbuat suatu pekerjaan? Lihatlah olēhmu, hai DAMINAH, dengan sesa'at juga dapat koopersete-rukan Raja Singa itu dengan SI TERUBUH, lembu jan tan itu!”
Maka kata DAMINAH: “Perbuatlah olēhmu, hai GALILAH!”
Maka GALILAH itu pun datanglah menghadap Raja Singa itu serta dengan ta'limnya dan hormatnya, sambil menyembah, kepalanya lalu ke tanah, seraya berkata: “Hai tuanku syah ‘alam, Raja segala binatang! Bahwa se- sungguhnya adalah haluan, yang amat indah-indah hendak patik persembahkan ke bawah duli tuanku. Adakah kiranya tuanku pakai; atau sebab kasih tuanku akan si TERUBUH itukah, barangkali tiada tuanku percaya? Maka jikalau tuanku tiada percaya Sekalipun, sebab sudah kedengaran ke telinga patik, ta‘ dapat tiada hendaklah patik khabarkan juga.“
Maka sabda Raja Singa: “Segeralah katakan olēhmu, hai menteriku!”
Maka kata GALILAH: “Ya tuanku! Adapun akan si TERUBUH itu, dengan usaha patik telah patik menjadikan hamba ke bawah duli tuanku. Maka sekarang ini patik lihat, tiadalah ia bēnakan Raja; lagi pun perkataan yang tiada layak dikatakannya ke bawah duli tuanku. Dan lagi katanya, bahwa sekali-kali Raja Singa itu tiada dapat berhadapan dengan dia, karena ia mengaku akan gagahnya terlebih dari pada tuanku.” Maka banyaklah perkataan GALILAH itu lagi.
Demi didengar olēh Raja Singa itu akan perkataan GALILAH itu, maka tertawalah Raja Singa seraya bertitah, katanya: “Hai GALILAH, perkataan apakah yang engkau katakan ini? Adakah diterima olēh orang yang ber'akal akan perkataanmu itu; adakah orang yang di bawah perintahku dan yang memakan ayapanku—adakah berani ia mengeluarkan perkataan yang demikian itu? Dan jikalau ada Sekalipun terlebih gagahnya dari padaku, dapatkah ia seorang dirinya merebut kerajaanku ini? Dan lagi, adakah pernah si TERUBUH itu berbuat suata pekerjaan yang durhaka kepadaku?”
Maka jawab GALILAH: “Ya tuanku! Jikalau demikian tiadakah tuanku percaya akan perkataan patik ini? Insya Allah bolēhlah tuanku sendiri melihat. Dalam dua tiga hari ini ia akan datang hendak berperang dengan tuanku; maka terlebih baiklah tuanku bersikap diri tuanku dan berjaga-jaga; bolēhlah tuanku ketahui akan kebaji-kan si TERUBUH itu.”
Maka jawab Raja Singa: “Hai GALILAH, diamlah engkau dari pada perkataan yang sia-sia itu!”
Maka sahut GALILAH: “Ya tuanku syah ‘alam! Empat perkara yang tiada dipeliharakan. Pertama-tama: nasi yang telah bercampur dengan racun; kedua: gigi yang ber-goyang di tengah-tengah; ketiga: orang yang khianat; keempat: menteri yang hendak melebih dari pada rajanya. Bahwa empat perkara yang tersebut itu, ta’ dapat tiada haruslah dicabutkan dengan akar-akarnya, dibuangkan. Maka jikalau tiada, niscaya akan memberi bahaya yang amat besar pada akhihrinya.”
Maka jawab Raja Singa: “Hai menteriku! Adapun orang yang datang membawa dirinya ke bawah hukumku dan menyerahkan nyawanya ke bawah perintahku, adakah patut orang yang demikian itu kita binasakan? Jikalau ia mendatangkan yang demikian itu Sekalipun, apakah dayaku?”
Maka kata GALILAH: “Hai tuanku syah ‘alam! Sudalah ’adatnya! Adapun perkataan menteri yang ber'akal itu, barang suatu perkataan yang dikeluarkannya itu, adalah seperti racun pada mulanya; pada akhihrinya kelak terlebih manis dari pada madu adanya. Akan tetapi perkataan orang yang jahat itu, adalah pada mulanya manis seperti madu, dan kemudiannya terpahitlah dari pada empedu adanya.”
Maka sabda Raja: “Hai GALILAH, betapakah gagahnya seëkor lembu itu; sampai ke manakah gagahnya?”
Maka kata GALILAH: “Hai tuanku syah ‘alam! Adapun akan bangsa lembu itu sekali-kali tiadalah tegoh setianya; tiadalah dapat dipercaya akan dia.”
Maka kata Raja Singa: “Apakah sebabnya engkau berkata demikian itu?”
Maka jawab GALILAH: “Tiadakah tuanku mendengar hikayat dahulu kala: sebab pijat-pijat tuma mati?”
Maka kata Raja: “Bagaimanakah hikayatnya itu, hai GALILAH?”
Maka kata GALILAH: “Alkissah maka adalah pada tilam seorang raja seékor tuma diam. Maka beberapa lamanya ia diam pada tilam itu, maka apabila raja dua laki isteri telah beradu lelap, maka keluarah tuma itu, digigitnya sedikit; kemudian masuklah ia ke tempatnya berdiamkan dirinya. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka tiba-tiba datanglah seékor pijat-pijat masuk ke dalam tilam itu. Maka kata pijat-pijat kepada tuma: ”Hai tolanku, kesukaanlah bagimu! Bolehlah kita bersahabat selama-lamanya dengan kesentosaan.” Maka jawab tuma: “Adapun engkau ini terlalulah tajam gigimu, seperti jaroom; maka adalah ke-lakuanmu itu seperti hendak mencium orang, maka engkau gigit akan dia. Bahwa jikalau kiranya aku bersahabat dengan dikau, niscaya aku pun binasalah. Maka jikalau bagaimana sekalii pun perkataanmu, tiadalah aku percaya akan dikau. Nyahlah engkau dari sini!”
Maka pijat-pijat pun segeralal menyembah kaki tuma serta meminta kasih, katanya: “Bahwa barang apa perintahmu, sekali-kali tiadalah kulalui.” Maka kasihanlah hati tuma akan dia, serta katanya: ”Jikalau bagaimana pun telah kuketahuilah bahwa engkau ini orang yang jahat adanya; akan tetapi sebab kasihan hatiku, biarlah aku ajar akan dikau pekerti yang baik. Dengarlah oleh mu, supaya sentosa hidupmu! Apabila raja ini dua laki isteri telah beradu lelap, baharulah engkau gigit sedikit-sedikit; setelah itu segera-segeralal engkau masuk ketempatmu perlahan-lahan.” Maka jawab pijat-pijat: “Baiklah, hai tolanku; aku junjunglah pengarjaranmu itu.” Maka kemudian bersahabatlah pijat-pijat dengan tuma itu. Hatta maka beberapa lamanya pada suatu malam raja dua laki isteri duduklah bersuka-sukaan berceritera-ceritera sambil tertawa-tawa. Maka keluarah pijat-pijat itu, lalu digigitnya akan raja. Maka apabila dirasaí raja kesakitlan itu, maka raja pun berteriaklah meminta api. Maka disuluhnya. Maka pijat-pijat itu pun segeralal lari masuk ke dalam tilam. Maka didapatlah oleh raja akan tuma itu, lalu dibu-nuhnya akan dia dengan tiada semena-mena dan tiada kesalahannya. Demikianlah hal orang yang berkampung-kampung dengan orang yang jahat itu; ta‘ dapat tiada kelak akan mendatangkan kejahatan juga adanya. Syah-dan maka hendaklah tuanku berjaga-jaga! Adapun ketikanya datang lembu itu, ta’ dapat tiada ‘alamatnya: turunlah angin ribut dan hujan; maka pada ketika itulah ia akan datang; kepalanya ditundukkannya ke-bumi dan ekornya diangkatkannya, dan kepalanya digoyang-goyangkannya. Jagalah tuanku; pada ketika itulah ia hendak membunuh tuanku. Bahwa sesungguhnya perkataan patik ini sama-sama kebajikan adanya. Jang-anlah tuanku buangkan perkataan patik ini; taruhlah dalam hati tuanku!“
Maka keluarlal GALILAH dari dalam istana Raja Singa itu, lalu ia pergi kepada SI TERUBUH itu. Setelah sampai, maka GALILAH pun memberi salam, katanya: “Assalamu ‘alaikum, ya raja lembu!” Maka disahoot oleh si TERUBUH: “Wa ’alaikumu ‘ssalam, hai menteri yang budiman!” Maka kata GALILAH: “Adakah tuanhamba baik?” Maka jawab SI TERUBUH: “Hai sahabatku GALILAH, adakah orang yang menyadi hamba raja dalam ke-sukaannya? Adapun orang yang diam pada raja itu seperti orang yang bersahabat dengan ular yang bisa adanya. Maka jika lepaslah dari pada bencananya itu, niscaya sejahteralah ia. Maka ta’ dapat tiada ia akan mendapat bencana yang besar-besar juga adanya. Maka sebab itulah, Adapun barang siapa yang tahu memeliharakan hati raja itu terlebih dikasihinya dari pada anaknya sendiri.”
Maka jawab GALILAH: “Hai raja lembu! Enam perkara yang tiada adanya. Pertama-tama: orang yang dur-haka kepada ayah bundanya tiada beroleh bahagia; kedus: seorang pun tiada dapat bersemunyi dari pada maklaku'l-maut; ketiga: kehendak raja itu tiada dapat di- ketahui; keempat: orang yang berkampung-kampung dengan orang yang jahat itu pun tiada akan sentosa; kelima: bahwa orang yang mencuri itu tiadalah bolkh ia menjadi kaya; keenam: tiadalah orang yang lepas dari pada hukum raja.“
Maka kata si terubuh: “Hai galilah, apakah sebabnya maka tuanhamba berkata demikian ini; adakah apa-apa perkataan Raja Singa itu kepada tuanhamba?”
Maka jawab galilah: “Hai si terubuh! Adapun rahasia raja-raja itu, jikalau hamba bukakan, niscaya hilanglah jiwa hamba; tetapi jikalau bagaimana Sekalipun, karena tuanhamba dengan hamba ini seperti saudaralah adanya, hamba katakan juga perkataan raja akan tuanhamba itu yang telah terdengarlah kepada hamba. Sebab itulah hamba datang pada hari ini kepada tuanhamba. Maka adalah pada hati raja itu, pada ēsok hari ia hendak memberi kenduri kepada segala tenteranya; maka kehendak raja itu hendak menyembelih tuanhamba; maka daging tuanhamba itulah hendak diberinya makan kepada segala merēka itu.”
Demi didengar olkh si terubuh perkataan galilah itu, maka gementarlah segala sendi tulangnya dan berubahlah warna mukanya, dan mengalirlah pelukhnya seperti hujan yang lebat adanya; maka pingsanlah ia, lalu ja-tuh. Maka apabila sedarlah ia dari pada pingsannya itu maka mengeluh ia, lalu berkata: “Apakah sebabnya dan apakah dosaku, maka raja hendak membunuh aku?”
Maka jawab galilah: “Hai raja lembu, siapakah dapat mengetahui hati raja,—dan murkanya itu dapatkah diketahui? Laut yang dalam itu dapat diduga. Hati manusia dapatkah diketahui? Adapun kehendak raja itu, adakah kita sekalian mengetahui dia? Dan lagi adallah Raja Singa itu telah bersumpah dengan bertegokhehteguhan janji dengan tuanhamba; maka sekarang ini telah ingkarlah Raja dari pada sumpahnya itu. Bukankah dosa yang amat besar adanya? Itulah faēdahnya orang yang berkampung-kampung dengan orang jahat itu; inilah perolahannya. Tiadakah tuanhamba mendengar hikayat dahulu kala: Alkissah adalah seëkor gagak bersahabat dengan seëkor unta; maka pada akhirnya hilanglah nyawanya?“
Maka jawab si TERUBUH: “Betapakah hikayatnya itu, hai GALILAH?”
Maka kata GALILAH: “Ada suatu hutan yang amat èlok lagi dengan permainya; dan buah-buahan pun terlalu banyak. Maka adalah dalam hutan itu seëkor raja singa diam; maka ada pada raja itu tiga orang menteri: seëkor serigala dan seëkor harimau dan seëkor gagak. Maka beberapa lamanya merëka itu diam dalam hutan itu, maka tiba-tiba sesatlah seëkor unta masuk ke dalam hutan itu, lalu bertemulah ia dengan gagak itu. Maka bertanyalah gagak itu kepadanya: ”Siapakah engkau ini?“ Maka jawab unta: ”Adapun hamba ini seëkor unta, telah sesatlah berjalan, sampailah hamba kemari.“ Maka kata gagak itu sambil bersumpah: ”Bahwa janganlah tuanhamba takut dan gentar; marilah hamba bawa pergi mendapatkan raja hamba!“ Maka dibawanyalah kepada Raja Singa; maka terlalulah sukacica Raja Singa itu akan unta itu; maka dijadikannya menteri yang keempat. Maka keempat-empat menteri itu pun bersumpah-sumpahanlah dan berteguh-teguhanlah janji, bahwa se'uomur hideop dengan tiada menaruh khianat seorang akan seorang. Hatta pada suatu hari maka berkampunglah ketiga èkor binatang itu seraya mupakat: ”Bagaimana daya upaya kita hendak membunuh akan unta itu? Maka setelah putuslah bicara merëka itu ketiganya, maka pergilah merëka itu mendapatkan Raja Singa. Setelah sampai maka masing-masing menyembah serta dengan hormatnya berdatang sembah: “Ya tuanku syah ‘alam! Bahwa adalah patik sekalian ini telah tiga hari tiada dapat makanan; maka sekarang terlalulah lapar patik sekalian. Jikalau bolëh kiranya, keluarlah tuanku ke hutan mencaha- rikan patik-patik makanan!“ Maka kata Raja: ”Baiklah, hai menteriku; pergilah kamu sekalian sekali lagi mencahari makanan! Jikalau tiada dapat, bolêhlah aku keluear.“ Maka pergilah mereka itu ke hutan; maka apabila sampai kepada suatu tempat, maka mupakatlah ketiga menteri itu, katanya: ”Marilah kita kembali kepada Raja; kita katakan sudalah puas kita mencahari makanan, tiadalah dapat; melainkan unta itulah yang ada.“ Maka datanglah merêka itu kepada raja seraya berkata-kata demi-kian: ”Ya tuanku, telah pusaloh patik jalani dari masyrik sampai kemagrib, tiadalah dapat makanan. Jikalau kiranya tiada dengan tolongan tuanku, niscaya matilah patik-patik ini sekalian. Peliharakanlah nyawa patik ini, supaya termasy-hurlah nama tuanku kepada segala ‘alam ini!’” Maka jawab Raja Singa: “Hai segala menteriku, apakah pikiran yang ada dalam hatimu itu? Katakanlah, kudengar!” Maka sembah menteri itu ketiganya: “Hai tuanku syah ‘alam! Jikalau kiranya tuanku perkenankan akan sembah patik ini, patik pohonkan am pun! Jikalau kiranya kita bunuh akan unta itu, niscaya kenyanglah segala ra'iat kita sekalian.” Maka apabila didengar oleh Raja akan perkataan itu, maka mengucaplah Raja “astagfirul-lah,” serta menutup lubang telinganya, sambil berdiam dirinya. Maka sembah gagak: “Ya tuanku! Adalah pada zaman DARMARAJA, tatkala merêka itu hendak pergi menyerang sebuah negeri, maka kata ahlu’ nnujumnyia, yang bernama KISNA:”Jikalau tuanku bunuh anak tuanku ini buatkan kurban, niscaya dapatlah negeri itu.“ Maka sebab darurat dalam itu, maka dibunuhnyalah anaknya; tiadalah berdosa, karena kita memeliharakan nyawa orang banyak.” Maka titah Raja Singa: “Hai menteriku, adakah benar kepadamu, jikalau kiranya seorang membawa dirinya kepada kita dan menyerahkan nyawanya ke bawah hukum kita—patutkah kita menganiayakan dia?” Maka jawab gagak: “Hai tuanku, dengan mulutnya sendiri meminta bunuh, bolêhkah kita bunuh akan dia atau tiadakah?“ Maka titah Raja: ”Sekali-kali tiada harus dibenuh.“ Hatta maka Raja pun berdiam dirinya, tiada lagi berkata-kata. Setelah itu, maka ketiga menteri itu pun datanglah mendapatkan unta serta berkata: ”Hai menteri besar, apakah bicara tuanhamba sekarang? Karena Raja kita tiadalah ada makanannya, maka kelaparanlah ia. Maka kita keempat masuk ke dalam hutan mencaharikan makanannya.“ Maka jawab unta: ”Baiklah!“ Maka keempat meréka itu pun bersetialah berteguh-teguhan, lalu berjalanan meréka itu masuk hutan, keluar hutan mencaharikan makanan itu, tiadalah dapat. Maka kembalilah pula keempatnya menghadap Raja. Serta sampai, lalu ia menyembah sambil berkata: ”Ya tuanku, telah puaslah patik sekalian jalani segala hutan ini mencahari rezeki, tiadalah patik peroleh jua adanya!“ Maka kata gagak: ”Hai tuanku, janganlah tuanku lapar; makanlah akan patik!“ Maka jawab Raja: ”Adapun badanmu terlalu kecil; tiadalah pada dagingmu itu.“ Maka sembah serigala: ”Makanlah tuanku akan patik!“ Maka kata Raja: ”Dagingmu itu pun tiada berapa besarnya; jikalau aku makan, dicelah gigiku pun tiada pada.“ Maka unta itu pun berpikir dalam hatinya: ”Ada pun kehendak menteri-menteri ini hendak membunuh aku rupanya. Apakah dayaku lagi, melainkan Allah yang amat mengetahui akan nasibku“—serta ia berkata: ”Hai tuanku! Bahwa sesungguhnya di antara kami sekalian hanyalah patik, yang ada terbesar tubuh patik. Jikalau kiranya tuanku berkehendak, santaplah akan patik ini!“ Maka sebelum sudah perkataan unta itu, maka harimau itu pun melompatlah keatasnya serta menggigit. Demi dilihat oleh Raja Singa kelakuan harimau, maka ia pun melompatlah menggigit batang lêhër unta itu serta meminum darahnya. Maka harimau memakan otaknya dan serigala memakan hatinya dan gagak memakan dagingnya. Demikianlah hikayatnya itu. Maka sekarang pada bicara hamba, jikalau orang yang khianat de- mikian itu, dari pada ia mendahului kita, baiklah kita mendahului dia. Bunuhlah dengan tanduk tuanhamba yang amat tajam itu!“
Maka kata GALILAH pula: “Adalah pada sangka Raja Singa itu tuanhamba ini tiada dapat berhadapan dengan dia; maka sebab itulah tiada diindahkannya akan tuanhamba. Adapun pada bicara hamba, dari pada tuanhamba dibenuhnya di sini, terlebih baik tuanhamba pergi berhadapan dengan dia. Maka jikalau tuanhamba mati pun, niscaya adalah beroleh pahala dengan tempat kebajikan. Dan lagi barang suatu pekerjaan, jikalau terlalu banyak waswas dan pikiran, niscaya tiadalah sempurna adanya; sebab itu janganalh demikian, supaya sempurna pekerjaan tuanhamba, seperti suatu hikayat dahulu kala. Dengarlah tuanhamba! Alkissah adalah sekor burung kedidi hendak berkelahi dengan laut. Belumkah tuanhamba mendengar ceriteranya itu?”
Maka jawab si TERUBUH: “Bagaimanakah hikayat itu?”
Maka kata GALILAH: “Ada suatu tepi laut, maka ada dua ekor burung kedidi laki bini diam di situ. Maka kata burung betina itu kepada burung jantan: ”Di manakah aku ini hendak bertelur?“ Maka jawab burung jantan itu: ”Ada pohon-pohon kayu di tepi laut itu; di bawahnya itulah engkau bertelur.“ Maka jawab burung betina itu: ”Susahku mengandung telur ini dengan beberapa kesakitanku mengeluarkan dia! Maka jikalau di situ aku bertelur, niscaya ditariklah oleh air laut itu.“ Maka jawab burung jantan itu: ”Demikiankah sekali ia tiada menbilang aku dan tiada hormat akan aku? Jikalau ditariknyia telurmu itu, ia akan merasa; anjing tiada merasa demikian itu!“ Maka kata burung betina itu: ”Akal apakah tuanhamba katakan itu? Adalah seperti hikayat kura-kura mati jatuh itu, demikianlah.“ Maka jawab burung jantan itu: ”Bagaimanakah hikayatnya itu?“ Maka jawab burung betina: ”Alkissah adalah pada zaman dahulu kala sebuah kolam yang amat ēlok; maka kolam itu, adalah dua ēkor burung anum diam di situ pada pohon teratai. Maka kedua burung itu pun bersahabat dengan seēkor kura-kura. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka datanglah kemarau; maka air kolam itu pun keringlah. Maka kedua ēkor burung itu pun berkata kepada sahabatnya kura-kura itu: “Hai sahabatku! Apakah halku sekarang, karena air kolam ini telah keringlah? Biarlah aku berpindah kepada kolam yang lain, supaya dapat aku mencahari makan di sana; tetapi adalah suatu muskil dalam hatiku hendak meninggalkan tuanhamba ini. Maka sebab itu biarlah hamba bawa tuanhamba dan hamba lepaskan kepada tempat yang berair, supaya sentosa hati hamba. Akan tetapi hendak hamba terbangkan tuanhamba tiada bolēh, karena kulit tuanhamba itu terlalu kerasnya, tiada dapat hamba pagut. Maka jikalau demikian ada suatu bicara: hamba bawa suatu kayu, maka tuanhamba gigitlah pada sama tengah kayu itu; maka hamba terbangkan seorang suatu penjuru. Tetapi jangang tuanhamba bukakkan mulut dari pada kayu itu!” Maka jawab kura-kura: “Baiklah; mana kata tuanhamba itu hamba turutlah!” Maka dibawalah oleh burung itu sepotong kayu; maka digigitlah oleh kura-kura itu. Maka olēh burung anum itu diterbangkannyalah, seorang suatu penjuru. Setelah sampailah burung itu terbang kepada kampung orang, maka hēranlah sekalian orang melihat hal itu: kura-kura terbang di tengah, dan dua ēkor burung pada kiri kanan. Maka sekalian orang itu pun bersoraklah serta menepuk-nepuk tangannya. Maka demi didengar oleh kura-kura itu akan bunyi orang riuh rendah, maka katanya: “Apakah sebabnya maka orang itu semuanya bersorak?” Maka serta dibukakannya mulutnya itu, maka jatokhlah ia ke bumi, lalu mati. Demikianlah adanya hikayat itu.“ Maka kata kedidi betina kepada jantannya itu: ”Barang siapa tiada menurut per- kataan kekasihnya, niscaya ia akan mendapat seperti hal kura-kura itulah adanya.“ Maka kata kedidi betina: ”Adalah lagi suatu hikayat dahulu kala. Dengarlah oleh tuanhamba!“ Maka jawab kedidi jantan: ”Ceriterakanlah, hamba dengar!“ Maka kata kedidi betina:
“Alkissah adalah sebuoh kolam; maka dalam kolam itu adalah tiga čkor ikan diam di situ; sečkor bernama IKAN KUAT dan sečkor bernama IKAN BER'AKAL dan sečkor bernama IKAN BODOH. Maka adalah beberapa lamanya ia diam dalam kolam itu, maka pada suatu hari lalulah dua orang pemukat di situ serta ia berkata: ”Ésok hari acu hendak datang kekolam ini membubuh pukat.“ Maka didengarlah oleh IKAN BER'AKAL akan segala perka-taan pemukat itu; maka pergilah ia kepada IKAN KUAT dan IKAN BODOH, serta katanya: ”Hai tolanku! Marilah kita segera berpindah dari pada kolam ini kepada tempat yang lain!“ Maka jawab IKAN KUAT itu: ”Maukah tu-anhamba mendengar hikayat bagaimana ‘akal bolēh mele-paskan diri dari pada bahaya pemukat itu?“ Maka jawab IKAN BER'AKAL: ”Betapakah hikayatnya itu?“ Maka kata IKAN KUAT: ”Adapun dalam suatu negeri adalah seorang saudagar yang terlalu amat kaya; emas pērak, permata intannya tiada tepermanaĩ banyaknya. Maka sekali peristiwa pada suatu malam adalah seorang pencuri hendak masuk ke dalam rumah saudagar itu. Maka dibookanya pintu rumah itu. Maka saudagaritu pun jagalah dari pada tidurnya olēh mendengarpencuriitu; maka digerakkanya akan isterinya. Maka katanya sambil berbisik-bisik: “Hai adinda! Ada pencuri masuk ke dalam rumah kita. Sekarang hendaklah adinda bertanya kepada kakanda peri hal kakanda berolēh harta yang amat banyak itu!” Maka bertanyalah isterinya seperti yang disuruh suaminya itu, katanya: “Hai kakanda,hendaklah tuanhamba katakan kepada adinda bagaimana jalannya tuanhamba menghimpunkan harta sebanyak ini?” Maka jawab saudagar itu: “Hai adinda, janganlah tuan tanyakan jalan kakanda menjadi kaya; sebab itulah suatu rahasia kakanda!“ Maka kata isterinya: ”Katakanlah juga kepada hamba; masakan hamba khabarkan kepada orang lain!“ Maka kata suaminya: ”Adapun segala harta kita kakanda perolkh dengan mencuri di rumah orang yang kaya-kaya.“ Maka kata isterinya: ”Sebagaimana orang tiada sadar tatkala tuanhamba masuk ke dalam rumah orang itu?“ Maka sahut saudagar itu: ”Jangan adinda tanyakan ‘ilmu itu akan kakanda; bukan kerya adinda mengetahui itu.“ Maka kata isterinya: ”Katakan jugalah sebagaimana ’ilmunya itu!“ Maka saudagar itu pun pura-pura amarah, katanya: ”Janganlah kautanya kepadaku ‘ilmu itu.“ Maka isterinya pun pura-pura membuat marah, katanya: ”Hendaklah tuan katakan kepada hamba. Sia-pakah ada mendengarkan rahasia itu pada tengah malam ini?“ Demi didengar oleh saudagar itu isterinya marah, maka katannya: ”Janganlah marah akan kakanda; den-garkanlah baik-baik! Adapun apabila hamba naik ke atas rumah orang atau hendak membuka pintu rumah orang yang terkunci Sekalipun, maka hamba bacalah suatu mantera; niscaya tidur lelaplah orang yang empunya rumah itu, tiada khabarkan dirinya, dan pintu rumah itu terbuka dengan mantera itu.“ Maka kata isterinya: ”Bagaimanakah bunyi mantera itu? Katakan juga kepada adinda! Tiada siapa yang lain, yang mendengar akan kata tuanhamba pada ketika ini.“ Maka sahut saudagar itu: ”Sungguhlah seperti kata adindaitu. Apabila hamba hendak masuk ke dalam rumah orang, maka hamba baca tujuh kali berteruret-turut “saulam”; niscaya tiadalah orang yang di dalam rumah itu jaga dari pada ti-durnya. Maka hamba ambil barang yang hamba kehendaki dari pada hartanya itu.“ Maka jawab isterinya: ”Haruslah tuanhamba berolkh harta yang amat banyak karena mantera itu.“ Tiada berapa lamanya antaranya maka tertidurlah isteri saudagar itu; dan saudagar itu pun pura-pura tidur juga sambil mendengkur. Setelah didengar pencuri kata saudagar laki isteri itu, maka ia pun amat sukacita di dalam hatinya: “Sekali ini baharulah aku perolēh hikmat pencuri yang amat baik.” Serta didengarnya saudagar itu mendengkur, maka dibacanya manteranya tujuh kali. Kemudian maka masuklah ia ke dalam rumah itu, berjalan ke sana kemari mencahari harta dengan lalai lengahnya. Maka saudagar itu pun bangunlah perlahan-lahan, lalu berlindung di balik pintu biliknya dengan suatu tongkat pada tangannya. Maka serta pencuri masuk ke dalam bilik itu; maka dengan segeranya dipalu olēh saudagar itu; maka rebahlah pencuri itu lalu pingsan. Maka diikatlah olēh saudagar itu, serta disuruhnyia bawa kepada hakim negeri. Demikianlah hikayat orang yang melepaskan dirinya dari pada bahaya dengan ‘akalnya adanya. Sebab itu biarlah datang pemukat itu; ēsok bolēhlah kita libat kepandaian aku itu.”
Maka kata IKAN BER'AKAL itu: “Baiklah, jikalau kamu tiada mau mendengar perkataanku, tinggallah engkau! Aku hendak berpindah dari sini.” Lalu melompatlah ia kepada kolam yang lain di sebelah kolam itu. Hatta maka pada kecsokan harinya datanglah pemukat itu membu-buh pukatnya; maka dapatlah IKAN KUAAT, lalu dijadi-kannya dirinya seperti mati. Maka olēh pemukat itu dibu-angkannya ke darat. Maka dibubuhnyia pula pukatnya. Maka dapatlah IKAN BODOH, lalu ditangkapnya, dilocerut-nya sisiknya, dibuangkannya ke darat. Maka olēh pemukat itu dipecahkannya kolam itu, dilepaskannya airinya, hendak dikeringkannya air kolam itu. Maka apabila ikan kedua itu mendapat air, maka melompatlah ikan keduanya itu, maka sampailah kepada kolam yang sebuah itu dengan kesakitannya. Demikianlah adanya.”
Sebermula maka kata kedidi betina itu: “Demikianlah hikayatnya itu: ”Sementara belum datang bahaya itu, baiklah undur.” Maka jawab kedidi jantan itu: “Janganalh banyak perkataanmu itu lagi; di situlah engkau bertelur!” Maka jawab burung betina itu: ”Baiklah!”
Lalu bertelurlah ia di tepi laut itu. Hatta maka pada bulan purnama air pun besarlah, lalu datanglah ombak memeekuel telur kedidi itu, dibawanya ke laut. Maka kedua ekor burung kedidi itu pun berteriaklah ia, katanya: “Hai laut! Segeralah engkau pulangkan telurku itu; maka jikalau tiada engkau pulangkan, niscaya engkau kelak mendapat siksa yang amat sangat!” Maka suatu pun tiada dijawab oleh lautan itu. Maka oleh burung keduanya itu, apabila dilihatnya tiada diindahkan oleh laut itu, marahlah ia, lalu terbanglah ia pergi mengampungkan segala kawan-kawannya, dan diberinya tahu kepada burung-burung yang lain. Katakan maka segala burung itu pun berkampunglah, serta mupakat merëka itu sekalian, katanya: ”Apalah hal telur kita itu tiada dikembalikan oleh laut itu?” Maka kata sekalian burung itu: “Jikalau demikian, baiklah kita beri tahu kepada raja kita, burung lang itu.” Maka pergilah sekalian merëka itu menghadap rajanya, mempersembahkan hal ahwlnya. Maka titah Raja Lang: ”Dari mana kamu sekalian ini datang?” Maka yawab burung-burung itu: “Bahwa telur kedidi itu telah diambil oleh lautan itu.” Maka yawab Raja Lang: ”Baiklah; nanti aku pergi memberi tahu Dëwa Bisnu!” Setelah sudah Raja Lang itu memberi tahu Dëwa Bisnu, maka dipanggilnyalah malaëkat yang memerintahkan lautan itu. Maka datanglah malaëkat itu. Serta sampai, maka kata Dëwa Bisnu: “Segeralah engkau pulangkan telur burung kedidi itu!” Lalu dipulangkannyalalh telur burung itu. Demikianlah hikayatnya itu, hal si TERUBUH! Jikalau ‘akal itu semporna, niscaya sampailah barang hekendaknya. Sebab itu janganlah tuanhamba berbanyak pikir lagi!”
Demi didengar oleh SI TERUBUH akan segala perkataan dan hikayat GALILAH itu, maka percayalah ia. Maka kata GALILAH: “Hai SI TERUBUH! Pada bicara hamba, jika tuanhamba hendak membunuh Raja Singa itu, hendaknya pada ketika matanya mërah, dan segala romanya berdiri dan
ēkornya diangkatnya, dan mulutnyad dingangakannya; maka pada waktu itulah hendaknya tuanhamba pun bersikap diri. Kepala tuanhamba tundukkan ke bumi, dan ēkor tuanhamba angkatkan; biarlah pada ketika hujan lebat; karena ketika itulah pa'sa yang baik berkelahi.“ Setelah sudah ia berkata-kata dengan SI TERUBUH itu, lalu ia pun datang mendapatkan DAMINAH.
Arkian maka pada suatu hari turunlah hujan dan ribut serta dengan kilatnya sabung menyabung. Maka SI TERUBUH pun teringatlah akan pesanan GALILAH itu, lalu ia bersikap dirinya: kepalanya pun ditundukkannya ke bumi, dan ēkornya diangkatkannya. Maka berlarilah ia serta berteriak-teriak seperti laku orang hendak berperang. Maka sampailah ia kehadapan Raja Singa. Demi dilihat olēh Raja Singa kelakuan lembu itu datang bersalahan maka ia pun segeralah bangun dan mengembangkan bulunya serta mengangkatkan ēkornya, seperti laku orang hendak menerkam. Maka pada ketika itu dilihat olēh DAMINAH segala hal ahwal kedua binatang itu; maka berkatalah ia kepada GALILAH: “...Hai tolanku! Pekerjaaan apakah yang engkau kerjakan ini? Terlalulah besar dosanya mengadu-adu orang demikian ini. Sekarang baha-rulah puas hatimu melihatkan laku yang demikian! Adakah patut pekerti menteri yang setiawan membuat kela-kuan yang demikian, mencerai beraikan orang dengan sa-habatnya tiada dengan semena-menanya? Maka kemudian engkau hendak bersahabat pula dengan yang seorang. Maka ini bukannya ‘akal orang yang setiawan adanya, dan bukannya menyadi kebesaran atas nama menteri; kehinaan juga. Jikalau rajanya mendapat bahaya yang besar, patutkah menterinya sukacita? Bahwa sesungguhnya kelakuan yang demikian ini terkeji kepada segala isi ’alam, hai GALILAH! Bahwa barang siapa yang berbuat empat per-kara ini, maka sekali-kali tiadalah ia mencium bau sur-ga; pertama: orang yang mengampungkan hartayang haram; kedua: orang yang merusakkan hukum keluarganya; ketiga: dengan kekerasan ia merusakkan anak isteri orang; keempat: orang yang mencerai beraikan orang dengan sahabatnya tiada dengan sebenarnya. Maka adalah seperti hikayat orang dahulu kala: orang yang khianat itu mendapat khianat. Tiadakah engkau mendengar hikayatnya?“
Maka kata GALILAH: “Bagaimanakah hikayatnya itu, hai DAMINAH?”
Maka kata DAMINAH: “Demikian! Alkissah maka adalah sebuah negeri, maka dalam negeri itu ada dua orang saudagar. Maka keduanya itu ada beranak; seorang bernama TUSTA PUTI, artinya ”‘akal jahat”, dan seorang bernama DARMAN PUTI, artinya “‘akal baik.” Maka adalah kedua anak itu bersahabat terlalu akrab. Hatta maka keduanya itu pun berlayarlah kepada sebuah negeri, pergi berniaga. Setelah sampailah ke negeri itu, maka pada suatu hari si ‘Akal Baik pun mendapatlah seribu dirham; si ‘Akal Jahat itu tiadalah berolêh untung suatu pun. Maka dukacitalah hatinya, sebab tiada mendapat untung itu. Maka kata si ‘Akal Baik: ”Hai sahabatku! Adalah hamba telah diberi Allah untung seribu dirham hamba berniaga itu; akan tuanhamba, suatu pun tiada tuanhamba perolêh. Sebab itu ambillah olêh tuanhamba lima ratus dirham; marilah kita kembali ke negeri kita!” Setelah sudah, maka keduanya pun berjalanlah pulang. Maka serta hampirlah sampai ke negeri, ada sebuah kebun. Maka pada ketika itu datanglah suatu khianat ke dalam hati si ‘Akal Jahat itu, lalu ia berkata kepada si ‘Akal Baik: “Hai sahabatku, adalah pada bicara hamba harta kita yang seribu dirham ini, janganlah kita bawa pulang; biarlah kita tanamkan di bawah pohon kayu ini! Setelah lepas dua hari, bolêhlah kita datang mengambil pula.” Maka jawab si ‘Akal Baik itu: ”Baiklah!” Setelah sudah ditanamkan harta itu, maka pulanglah merêka itu, masing-masing ke rumahnya. Maka akan si ‘Akal Jahat, datanglah ia pada malam itu juga ke dalam kebun itu, lalu diambilnya seribu dirham itu, dibawanya pulang ke rumahnya. Hatta setelah dua hari maka datanglah si ‘Akal Baik memanggil sahabatnya hendak pergi mengambil dirham itu. Maka keduanya pun datanglah ke bawah pohon kayu itu; maka dilihatnya dirham itu tiadalah lagi. Maka kata si ’Akal Jahat kepada si ‘Akal Baik: “Bahwa sesungguhnya engkaualah khianat, telah mengambil dirham itu!” Maka seorang menuduh akan seorang; maka dengan hal yang demikian maka berkelahilah keduanya, lalu pergila kepad hakim. Kata seorang: “Engkau mengambil!” Jawab seorang: “Engkau mengambil!” Maka kata hakim: “Tatkala engkau kedua menaruh dirham itu adakah saksinya?” Maka jawab si ’Akal Baik: “Ya tuanku, hanya kami kedua inilah yang mengetahui itu; seorang yang lain pun tiada mengetahui itu.” Maka menjawab pula si ‘Akal Jahat: “Ya tuan, ada saksi hamba!” Maka kata hakim: “Siapakah saksimu itu?” Maka jawabnya: “Pohon kayu itulah saksi hamba. Maka kata hakim: ”Bolehkah pohon kayu itu berkata-kata?“ Maka sahut si ’Akal Jahat: ”Bolêh ia berkata.“ Maka kata hakim: ”Jikalau pohon kayu itu bolêh berkata-kata, niscaya menanglaah engkau! Esoklah bolêh aku periksa saksimu itu.“ Maka masing-masing pun kembali lah ke rumahnya.
Setelah si ‘Akal Jahat sampai ke rumahnya, maka katanya kepada bapanya: “Ya bapaku, adalah esok hari hakim hendak pergi memeriksa pohon kayu itu. Jikalau bolêh, pergila bapaku kepada pohon kayu itu. Ada suatu lubangnya; maka masuklah bapaku ke dalam lubang itu! Jikalau hakim bertanya, katakanlah si ’Akal Baik yang mengambil dirham itu; janganlah bapaku berkata-kata yang lain lagi!” Maka jawab bapanya: “Adapun perka taanmu itu, jikalau kuperbuat, niscaya kerugianlah atasmu juga adanya. Adalah seperti hikayat burung bangau kehilangan telur; demikianlah kelak kedatangan nya. Maka jawab anaknya itu:”Bagaimanakah hikayatnya itu?“ Maka kata bapanya:
“Alkissah adalah seēkor burung bangau bertelur di atas pohon kayu; maka sehari-hari dicuri oleh ular akan telurnya itu. Maka pada suatu hari dilihatnya telurnya tiada, maka pergilah bangau itu kepada sahabatnya, yaītu seēkor ketam; maka diceriterakannyalah akan segala hal ahwal telurnya itu dicuri oleh ular itu. Setelah itu maka berkatalah ia: ”Sekarang apakah halku ini? Ajar-kanlah suatu ‘akal, supaya ular itu terbunuh!” Maka jawab ketam itu: “Hendak membunuh ular itu pun suatu susahkah? Pergilah engkau ambil ikan banyak-banyak; maka engkau aturkan ikan itu dari lubang cer-pelai itu sampai kelubang ular itu. Apabila dilihat oleh cerpelai akan ikan itu, niscaya diturutnyalah akan dia; maka apabila sampai kelubang ular itu, niscaya dibu-nuhnya akan ular itu.” Setelah didengar oleh bangau akan pengajaran ketam itu, maka diperbuatnyalah. Maka ke-luarlah cerpelai itu, lalu diturutnya ikan itu. Maka serta sampai kelubang ular itu, maka bertemulah ia dengan ular itu, lalu dibunuhnyalah akan dia. Demikianlah hikayatnya. Hendakkah engkau membunuh akan daku?” Maka oleh anaknya itu, dengan kekerasannya ditangkapnya pinggang bapanya lalu dibawanya kepada pohon kayu itu, dimasukkannya ke dalam lubang pohon itu; setelah sudah maka kembalilah ia ke rumahnya.
Hatta pada keēsokan harinya maka kedua orang yang berda’wa itu pun pergilah mendapatkan hakim; maka hakim pun datanglah kepada pohon kayu itu, serta bertanya. Maka dijawab oleh bapa si ‘Akal Jahat, yang di dalam lubang kayu itu: “Adapun yang mengambil dirham itu si ‘Akal Baik!” Demi didengar oleh hakim akan perka-taan itu, terlalulah ta’ajubnya, karena pohon kayu tahu berkata-kata itu, sambil ia berpikir: ”Adakah pernah pohon kayu bolēh berkata-kata; melainkan adalah juga sesuatu di dalamnya.” Maka disuruhnyalah panjat po-hon itu; maka dilihat orang ada sebuah lubang, maka dalam lubang itu gelap, suatu pun tiada kelihatan.
Maka oleh merēka itu sekalian diambilnya batang padi kering, lalu dibakarnya pohon itu. Maka jatuhlah bapa si ‘Akal Jahat itu ke bawah, lalu mati. Maka ditangkap oranglah akan si ’Akal Jahat, lalu dibawanya menghadap raja; maka oleh raja dibukumkannya akan dia membayar seribu dirham itu kepada si ‘Akal Baik. Setelah sudah dibayarnya dirham itu, maka dibunuh oleh raja pula akan dia, sebab ia membunuh bapanya itu. Demikianlah hikayat orang yang khianat itu; akhirnya datang khianat itu ke atas dirinya juga. Dan lagi ada suatu hikayat; dengarkan olehmu, hai GALILAH!
Alkissah ada sebuah negeri, maka dalam negeri itu ada dua orang saudagar bersahabat berkasih-kasihan keduanya. Maka beberapa lamanya yang demikian itu, maka seorang membeli besi seribu pikul banyakanya; maka ditaruhkannya amanat kepada sahabatnya itu serta berkata: “Biarlah tinggal besi ini pada tuanhamba karena hamba hendak pulang ke negeri hamba; maka apabila hamba datang, bolēhlah kita julai!” Maka saudagar itu pun kemballah. Maka oleh saudagar sahabatnya itu dijualkan-nyalah besi itu dengan harga yang baik. Setelah beberapa lama antaranya maka pulanglah saudagar yang empunya besi itu; maka kedengaranlah kepadanya khabar mengatakan baik harga besi. Maka segeralah ia datang mendapatkan sahabatnya serta bertanya: “Apakah hal besi kita itu? Karena sekarang hamba dengar, baik harganya.” Maka jawab sahabatnya itu: “Tiadakah tuanhamba mendengar khabarnya, bahwa besi yang tuanhamba amanatkan kepada hamba itu, sudah habis dimakan tikus?” Maka jawab saudagar yang empunya besi itu: “Jikalau sudah habis dimakan tikus sudahlah!” Maka Adapun kelakuannya itu terlebih pula ia berkasih-kasihan dengan sahabatnya itu dari pada dahulunya. Hatta pada suatu hari dijamu oleh saudagar yang khianat itu akan sahabatnya. Setelah sudah makan dan minum, maka sahabatnya itu hendak pergi mandi; maka oleh saudagar itu diberikannya ke- pada anaknya bedak langir, katanya: “Pergilah engkau bersama-sama mandi dengan sahabatcu ini!” Lalu berjalalalah keduanya pergi mandi; setelah sudah maka kembalilah keduanya itu. Setelah sampai ke tengah jalan, maka saudagar itu memanggil budak itu, dibawanya kepada sebuah kampung, lalu disembunyikannya akan dia. Setelah itu maka kembalilah ia ke rumah sahabatnya. Maka kata saudagar yang empunya anak itu: “Mana anak hamba yang bersama-sama dengan tuanhamba tadi?” Maka jawab sahabatnya itu: “Tiadakah tuanhamba mendengar khabarnya itu? Tatkala ia mandi bersama-sama dengan hamba tahadi, maka tiba-tiba datanglah seëkor lang, lalu disambarnya akan dia, dibawanya terbang.” Maka jawab saudagar tu: “Ajaib sekali! Adakah bolëh lang menyambar kanak-nanak sebesar itu?” Jadi bantahlah merëka itu keduanya; maka pergilah keduanya mendapatkan hakim. Setelah mengadulah yang kehilangan anak itu kepada hakim, maka kata hakim: “Manakah anaknya yang engkau bawa sertamu itu; adakah bolëh lang menyambar kanak-kanak sebesar itu?” Maka jawab saudagar itu: “Adakah, tuanku, tikus bolëh memakan seribu pikul besi? Jikalau lang tiada bolëh menyambar kanak-kanak sebesar itu, tikus pun tiadalah bolëh memakan besi sebanyak itu!” Demi didengar oleh hakim akan perkataan saudagar itu, maka tercenganglah ia serta berkata: “Apakah artinya perkataanmu itu? Tiada aku mengerti dia; ceriterakanlah olëhmu!” Maka diceriterakanlah oleh saudagar yang empunya besi itu halnya dari pada permulaan sampai kekesudahannya. Maka demi didengar oleh hakim akan ceritera saudagar itu, maka hëranlah ia, serta berkata kepada saudagar yang empunya anak itu: “Jikalau demikian, pulangkanlah besinya itu, niscaya dipoielangkannya anakmu.” Maka oleh saudagar itu di-julalkannya rumah tangganya dan harta bendanya, lalu dibayarkannyalah kepada saudagar itu. Setelah sudah maka anaknya itu pun dikembalikannyalah kepadanya. De- mikianlah hikayatnya. Barang siapa yang menggali telaga akan orang lain, ia juga terjatuh kedalamnyia. Adapun orang yang ber'akal itu, sepatah kata itu pun padalah adanya. Maka sekarang pun, hai GALILAH, hendaklah segera engkau pergi damaikan SI TERUBUH dengan Raja Singa itu, serta engkau baiki akan keduanya itu!“
Maka GALILAH pun bangunlah segera berlari-lari pergi mendapatkan Raja Singa itu; kehendaknya hendak mendamaikan dengan SI TERUBUH itu. Maka didapatinya si TERUBUH telah matilah diterkam oleh Raja Singa itu. Maka Raja pun menangislah serta dukacitanya, sebab kematian SI TERUBUH itu. Demi dilihat GALILAH akan hal Raja dalam percintaan itu, maka sembahnya: “Ya tuankusyah ‘alam! Apakah yang tuanku dukacitakan itu? Telah patutlah sudah orang yang hendak membunuh kita itu dibenuh pula akan dia.” Maka jawab Raja Singa: “Hai GALILAH! Jikalau kita sudah menanam sepohon kayu, jikalau racun Sekalipun, tiadalah sampai hati kita mencabutkan dia itu.” Maka sembah GALILAH: “Hai tuanku! Jikalau kiranya dalam pertapaan kita mendapat saudara kita atau anak kita Sekalipun, jikalau hendak membunuh kita itu, patutlah kita bunuh akan dia.”
Maka Raja Singa itu pun sembuhlah dari pada penyakit dukacita itu oleh sebab mendengar nasihat GALILAH itu. Maka bangkai SI TERUBUH itu pun diangkatlah oleh segala serigala, lalu berkampunglah segala binatang itu memakan dia dengan sukacitanya.
Syahdan maka apabila didengar oleh anak raja yang berempat itu akan hikayat itu, maka sukacitalah hatinya dengan sukacita yang amat sangat, serta ia berkata kepada Berahmana, yang bernama SUMASANMA itu: “Telah hamba dengarlah hikayat ini; jikalau ada iba kasihan tuanhamba, mudah-mudahan tuanhamba hikayatkanlah ceriterayang kedua itu, supaya hamba dengar.” Maka diceriterakanlah oleh Berahmana itu akan ceritera yang kedua.
CERITERA YANG KEDUA
Maka diceriterakan oleh Berahmana, yang bernama SUMASANMA: “Adalah seékor tikus dan seékor gagak dan seékor kura-kura dan seékor kijang; maka adalah keempat škor binatang itu bersahabat terlalu berkasih-kasihan. Hatta beberapa lamanya maka sekali peristiwa keempat binatang itu pun masuklah ke dalam suatu hutan; maka dalam hutan itu adalah seorang pemburu diam dengan sukacitanya.
Alkissah maka adalah sebuah negeri, maka dalam negeri itu ada sebuah kebun, terlalu besarnya. Maka adalah seékor gagak diam di situ. Adapun di antara segala unggas ialah yang terlebih ber'akal; maka adalah ‘akalinya itu seperti seorang menteri yang budiman. Nama gagak itu SI PANDAI TERBANG; maka adalah tabi'atnya, pada tiap-tiap pagi dihimpunkannya segala keluarganya pergi mandi kepada suatu kolam. Kalakian maka pada suatu pagi datanglah seorang pemburu serta membawa jaring dan panah. Maka terdirilah ia di tepi kolam itu; maka adalah kelakuannya seperti malaku'lmaut hendak mengambil nyawa. Demi dilihat oleh segala gagak itu, maka sekali-annya itu pun terbanglah. Maka tinggallah seékor gagak yang bernama SI PANDAI TERBANG itu, bersempunyi pada kolam itu, seraya berpikir dalam hatinya, hendak melihat bagaimanakah kelakuan pemburu itu. Syahdan maka pemburu itu pun merentangkanlah jaringnya, dan membubu umpannya berkeliling; kemudian maka bersempunyilah ia di balik hutan itu.
Hatta maka seketika lagi datanglah sekawan burung tekukur; maka adalah dalam kawan tekukur itu seékor rajanya. Maka sekalian tekukur itu pun singgahlah memakan umpan itu; maka sekaliannya itu pun terkenalah jaring itu. Demi dilihat oleh pemburu itu segala tekukur itu sudah terkena jaring, maka seokacitalah ia terlalu sangat serta berlari-lari datang hendak menangkap burung itu. Maka pada ketika itu berkatalah raja tekukur itu kepada segala ra'iatnya: “Hai kamu sekalian, dengarlah oléhmu bicaraku: sementara belum datang pemburu itu, hendaklah kamu sekalian terbangkan jaring itu, supaya kita terlepas dari pada bahaya ini!” Demi didengar oleh segala tekukur itu akan titah rajanya, maka sekaliannya itu pun terbanglah ke udara membawa jaring itu. Maka oleh pemburu itu, diikutnyalah akan dia; kalau-kalau ia jatuh.
Maka segala hal ahwal itu semuanya dilihat oleh gagak yang bernama si PANDAI TER BANG itu; maka ia pun terbanglah dari belakang, sebab hendak melihat kesudahan pemburu itu dengan tekukur. Maka setelah lelahlah pemburu itu dari pada berlari, maka pulanglah ia kembali. Maka tekukur itu pun jauhlah. Setelah itu maka kata raja tekukur kepada ra'iatnya: “Hai kamu sekalian, ketahuilah oléhmu, bahwa adalah dalam hutan ini seorang sahabatku!” Maka jawab segala ra'iatnya: “Siapakah ia itu, ya tuanku?” Maka jawab raja tekukur: “Seëkor tikus, inilah tempatnya; jikalau kita lalui tempat ini, niscaya tiadalah orang yang lain akan menolong kita.” Maka segala tekukur itu pun turunlah di hutan itu. Maka tikus itu pun keluearlah dari dalam lubangnya, lalu datang mendapatkan sahabatnya, raja tekukur itu. Maka dilihatnya masing-masing ada berulung-gu-lung dengan jaring itu. Maka oleh tikus itu digigitnya jaring itu, lalu dikeluarkannya raja tekukur itu; maka dibawanya naik ke atas istananya, didudukkannya akan dia. Setelah itu maka berkatalah raja tekukur itu kepada sahabatnya: “Wahai sahabatku! Adapun hamba sekalian telah kedapatkanlah dalam jaring pemburu itu;”—maka diceriterakannyalah kepada sahabatnya segala hal ahwalnya, dari pada permulaannya sampailah kekesudahannya. Maka dukacitalah hati tikus itu sebab mendengar sahabatnya itu, serta ia berkata: “Hai sahabatku! Bukankah tuanhamba telah mengetahui perkara yang akan datang dan ketika yang ada dan ketika yang telah lalu? Mengapakah tuanhamba kedapatkan dalam jaring pemburu itu?” Maka jawab raja tekukur itu: “Hai sahabatku, dengarlah olêh tuanhamba! Adapum dari pada ‘akal kita dan kepandaian kita itu, sekalkali tiada bolêh melawan suratan pada awalnya”. Maka jawab tikus: “Sebenarnyalah perkataan tuanhamba itu. Jikalau dalam tujuh lapis kota Sekalipun, tiadalah bolêh melalui suratan itu. Adapum ikan yang diam dalam tujuh lapis lautan itu pun telah kena dalam pukat; dan gajah yang diam dalam rimba itu, tiadakah dapat ke-dalam tangan manusia?”
Setelah itu maka tikus itu pun menggigit segala jang itu, lalu dilepaskannya ra'iat tekukur itu semuanya. Maka segala burung itu pun memberi hormat dan ta'lim serta mengatakan terima kasih kepada tikus itu. Setelah sudah maka bermohonlah segala burung itu, terbanglah kembali ke tempatnya; dan tikus itu pun kembalilah kelubangnya.
Adapum segala hal ahwal tekukur dengan tikus itu semuanya dilihatlah olêh gagak itu; maka berpikirlah ia: “Jikalau kiranya akupon bersahabat dengan tikus ini, nistiyaya adalah kelak tolongannya akan daku!” Setelah sudah ia berpikir demikian itu, maka datanglah ia kelu-bang tikus itu serta ia berseru-seru, katanya: “Hai sahabatku!” Demi didengar olêh tikus akan suara gagak itu, maka jawabnya: “Siapakah engkau, dan siapakah namamu, dan apakah kehendakmu memanggil aku itu?” Maka jawab gagak: “Acu gagak, dan namaku sr PANDAI TERBANG. Adapum aku datang bersama-sama dengan raja tekukur; maka aku telah melihat setiamu dan kelokuanmu dan tabi'atmu yang baik itu; sebab itulah aku hendak bersahabat dengan tuanhamba.“ Maka jawab tikus: ”Hai sahabatku, segala perkataanmu itu sesungguh-sungguhnya; akan tetapi apakah daya upayaku hendak bersahabat dengan engkau ini? Adapun tabi'atmu itu berlainan sekali dengan tabi'at tekukur itu. Adapun engkau ini makan menyambar; aku pun takut barangkali engkau sambar pula akan daku. Dan lagi aku lihat kelakuanmu itu, apabila makan, seperti orang mencium; maka dalam itu engkau menggigit.“ Maka jawab gagak: ”Hai sahabatku! Jikalau aku memakan akan dikau, kenyangkah perutku; dan tiadakah lagi rezeki dalam dunia ini? Jikalau tiada Sekalipun, bangkai yang busuk-busuk tiadakah lagi? Maka jikalau kiranya kita bersahabat kedua ini, niscaya berkekalan juga selama-lamanya. Dan lagi, jikalau sudah kita bersahabat, se'emur hidup selamatlah adanya sampai kepada anak cucu kita kasihanlah akan dikau. Bahwa perkataanku ini seperti suatu sumpahlah adanya!“
Syahdan maka jawab tikus: “Bahwa ‘akalmu dan tabi'atmu sekali-kali tiada mupakat dengan ’akalku; maka tiadalah patut aku bersahabat dengan dikau. Maka jikalau barang apa perkataanmu Sekalipun, niscaya engkau makan juga akan daku; seperti kata ‘arif: Tiga perkara yang tiada kebajikan dalamnya; pertama-tama: perempuan muda bersuamikan orang yang tua; kedua orang ’abid berkampung-kampung dengan orang jahat; ketiga: berjinak-jinakkan dengan ular yang bisa. Maka sekalian ini tiada kebajikan dalamnya.” Maka jawab gagak: “Bahwa sesungguhnya bersahabat dengan orang yang jahat itu sekali-kali tiada patut adanya. Janganlah tuanhamba kirakan hamba ini pun seperti gagak yang lain, yang tiada teguh setianya itu; jikalau barang apa perkataan tuanhamba Sekalipun, ambillah juga akan hamba ini buat sahabat. Jikalau kiranya tiada tuanhamba mau bersahabat dengan hamba, niscaya hamba bunuhlah diri hamba di atas lubang tuanhamba ini; demikianlah niat hamba!“ Maka kata tikus: ”Jikalau demikian aku terimalah sumpahmu itu!“
Hatta maka bersahabatlah keduanya serta bersetia dan berteguh-teguhan adanya. Apabila seorang mendapat rezeki, dibahaginya kepada seorang; demikianlah hal kedua binatang itu duduk dengan sentosanya. Hatta beberapa lamanya ada sekali peristiwa gagak itu pergi mencahari makan; maka tiadalah didapatnya. Lalu datanglah ia mendapatkan sahabatnya tikus itu serta mengaduukan halnya; maka katanya kepada tikus: “Hai sahabatku! Adalah suatu sahabat pada hamba dahulu, yaitu kura-kura. Jikalau kiranya kita pergi mendapatkan dia, niscaya adalah padanya sesuatu rezeki, yang bolêh kita makan.” Maka kata tikus: “Baiklah, mana bicara tuanhamba, hamba turut; tetapi adalah suatu syak dalam hati hamba; maka apabila hamba sampai, bolêhlah hamba katakan.” Maka olêh gagak itu, disambarnyalah dengan kakinya akan tikus itu serta dibawanya terbang; maka beberapa ketika ia terbang itu, maka sampailah ke tepi sebuah kolam. Demi dilihat olêh kura-kura akan sahabatnya itu datang, maka segeralah ia datang mendapatkan seperti laku orang yang rindu dendam lama bercerai, serta berpelook dan bercium, masing-masing bertanyakan hal. Maka kata kura-kura kepada gagak itu: “Ke mana-kah tuanhamba pergi, sekian lama ini tiada kelihatan; adakah tuanhamba baik; siapakah yang datang serta tuanhamba ini dan siapakah namanya?” Maka olêh gagak itu, segala hal ahwalnya bertemu dengan tikus itu semuanya diceriterakannyalah kepada kura-kura. Maka sukacitalah kura-kura itu, sebab mendengarkan hal itu. Maka bertanyalah kura-kura kepada tikus: “Di manakah negeri tuanhamba dan apakah nama negeri itu, dan apakah sebab tuanhamba sampai kemari ini?” Maka jawab tikus: “Adapun nama negeri hamba MAKAILARUBUM; maka dalam negeri itu ada sebuah lubang, maka dalam lubang itu ada seorang pertapa diam. Ia meminta sede- kah: barang apa perolahannya ditaruhnya ke dalam lubang itu; di situlah ia bermasak-masak makanannya. Maka apabila ia sudah makan, maka barang makanannya yang lebih itu ditutupnya, kehendaknya hendak memberi sedekah pula kepada orang miskin. Setelah sudah ia makan minum itu lalu tidurlah. Maka apabila orang pertapa itu tidur lelap, maka keluarliah hamba mencahari makanannya itu. Demikianlah hal kehidupan hamba beberapa laamanya. Hatta maka pada suatu hari datanglah seorang pertapa yang lain: maka kedua merēka itu duduklah bersōil jawab ‘ilmunya terlalu lambat. Maka pada ketika itu perut hamba pun terlalulah laparnya, lalu pergilah hamba mencuri makanannya itu. Demi didengar olēh orang pertapa itu akan bunyi hamba itu, maka dikejarnyalah akan hamba. Maka larilah hamba masuk ke dalam lubang itu. Maka kembalilah orang pertapa itu kepada tolannya. Maka kata tolannya itu: “Adakah engkau ingat akan segala ’ilmu yang kuajarkan kepadamu tadi?” Maka jawab orang pertapa itu: “Suatu perka- taan tuanhamba itu tiadalah masuk ke dalam telingaku, melainkan tikus itulah yang mengetahuinya.” Maka kata tolannya: “Apakah sebabnya engkau berkata demikian ini?” Maka jawabnya: “Adapun halku meminta sede- kah pada tiap-tiap hari akan makananku; maka barang selebihnya aku taruh; bahwa kehendakku hendak mem- beri sedekah pula kepada orang yang lain. Maka nasi itu pada tiap-tiap hari habis dimakan olēh tikus itu dengan sukacitanya; maka beberapa kali aku jaga-jaga hen- dak memukul dia, tiada dapat; segeralah ia lari. Se'u- mur hidupku belum pernah aku lihat tikus yang pandai seperti tikus ini.” Maka demi didengar olēh tolannya itu, lalu katanya: “Seēkorkah tikus itu atau banyakkah?” Maka jawab orang pertapa itu: “Hanya seēkor juega, seperti nēnēk moyang segala tikus rupanya.” Maka jawab tolannya: “Jikalau demikian adalah suatu faēdah dalamnya.” Maka kata orang yang bertapa itu: “Apa- kah faḍahnya?“ Maka jawab tolannya itu: ”Adalah seperti hikayat seorang Berahmana dahulu kala yang menyteriterakan suatu hikayat kepada isterinya; demikianlah!“ Maka sahut orang pertapa itu: ”Bagaimanakah hikayat itu?“ Maka kata tolannya:
“Alkissah maka ada suatu kampung Berahmana; maka adalah di sana seorang Berahmana menjadi guru bagi segala merēka itu. Pada suatu hari berkatalah Berahmana itu kepada isterinya: ”Hai isteriku! Jikalau ada barang suatu rezeki diberi Allah, kita makan; selebihnya itu kita berikan sedekah. Demikianlah hendaknya kehidopean kita di dalam dunia. Maka jikalau kita terlalu tama‘ dan hendak berlebih-lebih, niscaya adalah seperti hikayat seorang pemburu dengan seékor serigala yang telah mati.“ Maka jawab isterinya itu: ”Bagaimanakah hikayatnya itu?“ Maka kata Berahmana: ”Alkissah ada pada suatu hari seorang pemburu masuk ke hutan, lalu berburu berkeliling ia di hutan itu. Maka bertemulah ia dengan seékor kijang; maka dikejarnya akan kijang itu, serta dipanahnya. Setelah mati maka diangkatnya, hendak dibawanya pulang. Setelah sampai ke tengah jalan, maka bertemulah pula ia dengan seékor babi hutan. Maka kijang itu pun diletakkannya, lalu dikejarnya akan babi hutan itu: maka dipanahnya, tiadalah kena. Maka hendak dipanahnya sekali lagi, maka diterkamlah oleh babi itu akan dia, serta digigitnya. Maka matilah ia bersama dengan babi itu; tetapi anak panah itu ada juga terkena pada busurnya, yang di tangan pemberu itu. Maka segala hal itu ada dilihat oleh seékor serigala; maka berlari-lari ia datang, seraya berkata: “Bahwa sepeluh hari lamanya tiadalah aku mencahari makanan lagi!”—serta datanglah ia menghampiri pemburu itu. Maka digigitnya tali busur itu; tiba-tiba anak panah itu pun datanglah menikam serigala itu; maka ia pun matilah. Demikianlah hikayatnya. Orang yang tama’ itu, pada akhiurnya demikianlah kelak datangnya.“
Demi didengar oleh isteri Berahmana itu, maka sukacitalah ia.
Bermula Adapun pekerjaan isteri Berahmana itu pada tiap-tiap hari ia menjemour bijan; maka berhimpunlah segala gagak dalam negeri itu datang memakan bijan itu, serta dikaisnya, habislah bertaburan. Maka perempuan itu pun susahlah hatinya serta dikampungkannya dan diikatinya serta dibawanya ke rumah seorang Berahmana yang lain. Maka dipanggilnya isteri Berahmana itu, lalu katanya: “Maukah engkau bertukar bijan ini dengan kacang?” Ia berkata itu dengan bahasa halus; maka diketahuilah oleh Berahmana yang empunya rumah itu, sebab ada sesuatu kecelaannya bijan itu, maka demikian. Hatta maka demikianlah hikayatinya itu. Maka tikus itu pun demikianlah, ada juga faēdah dan sebabenya.” Maka jawab orang yang bertapa itu: ”Jikalau demikian, haruslah kita ketahui apakah faēdahnya itu.” Maka diambilinya cangkul. Adapun apabila ia pergi mengambil cangkul itu maka aku pun melompatlah lari; lalu datanglah ia serta digalinya lubang itu. Maka didapatinya ma‘dan emas, lalu diambilnyalah serta dengan sukacitanya. Setelah sudah maka lubanghamba itupendutupkannyalalah; maka hamba pun berpindahlah ke tempat yang lain bertapa. Kalakian maka adalah pada suatu hari hamba pergi juga ketempatinya itu hendak mencuri nasi; maka dikejarnya dan dipockulnya akan hamba serta ia mengatakan suatu perkataan, demikian bunyinya: “Hai tikus yang tiada bermalu! Tatkala dahulelengkau du-duck di atas emas, engkau mencuri nasiku, aku diamkan; sekarang telah habislah sudah emas itu, lagikah engkau datang hendak mencuri pula? Tiadakah engkau malu?” Maka perkataan orang pertapa itu sampai sekarang adalah lekat juga pada hati hamba. Maka pada ketika itu datanglah pikiran hamba dalam hati: ”Jikalau seseorang tiada berharta dan tiada pula ber‘akal, bukankah keben-cian segala manusia adanya? Jikalau demikian, baiklah aku pergi diam dalam hutan.“ Maka keluearlah hamba setahun lamanya tinggal dalam suatu hutan adanya. Syahdan maka sekarang pun telah dipertemukan Allah antara kita bertiga bersahabat dan berteguh-teguhan setia.”
Demikianlah hal merēka itu bertiga-tiga dengan kela-kuan setiawan, seorang membahagikan rezekinya kepada seorang. Hatta beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu sekali peristiwa pada suatu hari, maka berlari-larilah seēkor kijang jantan keluear dari dalam hutan itu serta dengan ketakutannya. Demi dilihat olēh gagak dan tikus dan kura kura akan kelakuan kijang berlari-lari itu datang, maka kata merēka itu: “Hai kijang, apakah sebabnya engkau berlari-lari ini dengan ketakutannmu?” Maka jawab kijang: “Ada seorang pemburu datang seperti laku malaku'lmaut hendak mengambil nyawa, dengan panahnya hendak memanah aku; maka olēh sebab ketakutanku akan dia itulah, aku datang mendapatkan tuan-tuan. Maka sekarang pun hendaklah tuan menaruh kasihan akan hamba ini, supaya tetap hati hamba; terlalulah besar pahalanya!”
Maka kata merēka itu: “Baiklah! Siapakah namamu?” Maka jawab kijang itu: “Nama hamba saratangkadan hamba ini yatim dengan tiada beribu bapa; sekarang pun tuan-tuanlah menjadi ibu bapa hamba, serta pertayallah hamba. Jikalau tuan-tuan ada belaskan kasihan akan hamba, biarlah kita bersahabat. Se'emur hidep se-kali-kali tiada akan hamba lupakan kasihan tuan-tuan!” Maka jawab kura-kura: “Baiklah! Sekarang kita ada bertiga; maka ini seorang, menyadi empat!” Maka ting-gallah merēka itu bersahabat keempat binatang itu serta berkasih-kasihan.
Hatta beberapa lamanya maka pada suatu hari berjalalnalah kijang itu dalam hutan mencahari makan. Maka adalah seorang pemburu merentang jaring; maka terkenalah kijang itu dalam jaring; maka kesakitanlah ia serta dengan siksanya. Maka pada ketika itu ada gagak terbang; maka dilihatnya sahabatnya kijang itu sudah kedapatan dalam jaring. Maka berseru-serulah gagak kepada kura-kura dan tikus; itu pun keluarliah. Maka datanglah ketiga itu mendapatkan kijang itu serta berta-nyakan halnya. Maka kijang itu pun menceriterakanlah segala hal ahwalnya dari pada mula terkena dalam jaring itu sehingga kesudahannya; habislah diceriterakannya kepada sahabatnya bertiga itu. Maka kata gagak: “Hai sahabatku kijang! Sungguhpun berani tuanhamba terbesar adanya, tetapi ‘akal tuanhamba itu tersangat ketilnya; karena bukankah dahelul tuanhamba sudah kedapatan di tangan pemburu itu? Mengapa pula tuanhamba pergi juga ke tempat itu?” Maka jawab kijang: “Bukannya pada ketika ini bersoäl jawab; jikalau seben-tar lagi datang pemburu itu, niscaya matilah hamba dibenuhnya. Maka dahelul pun dengan tolongan tuantuan juga maka lepas jiwa hamba; maka sekaran pun telah haraplah hamba akan tuan-tuan juga!” Maka kasihlanh ketiga sahabatnya itu akan dia. Maka tikus dan kura-kura pun segeralah menggigitkan jaring itu. Ma-ka seketika itu juga pemburu itu pun sampailah ke-tempat itu; demi dilihat oleh merëka itu, maka’ kijang itu pun melompatlah lari, dan gagak pun terbanglah dan tikus itu pun berlarilah masuk ke dalam hutan, hanya kura-kura juga ketinggalan. Maka kedapatanlah kepada pemburu itu. Maka pikir pemburu itu dalam hati-nya seraya menyesal akan dirinya, sebab terlambat datang itu: “Kijang itu telah terlepaslah lari, hanya kura-kura inilah yang tinggal; baik aku tangkap, supaya aku bawa pulang!” Setelah sudahlah ia berpikir demikian itu, lalu ditangkapnya kura kura itu; maka dimasukkannya-lah ke dalam pundi-pundi serta diikatnya teguh-teguh. Kalakian maka ketiga binatang yang lari itu pun berhim-punlah pada suatu tempat serta musyawarat, katanya: “Sekarang apakah bicara kita sekalian, karena kita sudah- lah selamat dari pada bahanya pemburu itu? Sekarang apakah hal sahabat kita kura-kura itu sudah kedapatan itu?“ Maka ketiganya pun mengeluarkan bicaranya masing-masing. Maka menyahuetlah gagak, katanya: ”Jikalau mau tuan-tuan menurut bicara hamba, adalah suatu ‘akal supaya kita sekalian pun bolêh selamat, dan kura-kura itu pun bolêhlah terlepas dari pada bahaya pemburu itu.“ Maka jawab kedua merêka itu: ”Bagaimanakah bicara tuanhamba itu?“ Maka kata gagak: ”Biarlah kijang ini membuat mati dirinya dan hamba naik keatasnya memagut-magut; maka apabila dilihat olêh pemburu itu akan hal itu, niscaya dilêmparkannya pundi-pundi itu dan dikejarnya kijang itu. Maka pada ketika itu hendaklah tikus segera-segera pergi menggigit pundi-pundi itu. Maka sementara pemburu itu sampai kepada kijang itu, biarlah kura-kura itu segera melompat ke dalam air dan tikus itu pun lari masuk ke dalam hutan. Maka apabila ia hampir kepada kijang, maka hamba pun terbang dan kijang itu pun melompat lari.“
Demi didengar olêh merêka itu akan ‘akal gagak itu, sangat benar, maka sukacitalah keduanya. Maka pada ketika itu juga kijang itu pun terlentanglah seperti laku kijang yang mati; maka gagak pun naiklah keatasnya memagut-magut seperti laku memagut bangkai. Demi dilihat olêh pemburu akan hal itu, maka pikirnya: “Wahai, telah matilah kijang yang lari tadi, sebab kena jeratku itu!” Maka segeralah diletakkannya pundi-pundinyna, maka berlarilah ia mendapatkan kijang itu. Maka pada ketika itu berlari-larilah tikus datang menggigit pundi-pundi itu. Maka kura-kura itu pun keluarliah. Serta dilihatnya sahabatnya tikus itu melepaskan dia, maka sukacitalah ia seraya mengucap syukur kepada Allah. Maka kata tikus: “Hai sahabatku kura-kura! Segeralah tuanhamba melompat ke dalam air ini, sementara belum datang pemburu itu!” Maka kura- kura pun melompatlah ke dalam air; maka tikus itu pun larilah masuk ke dalam hutan itu bersembunyikan dirinya. Hatta maka apabila hampirlah pemburu itu kepada kijang, maka gagak pun terbanglah ke udara dan kijang itu pun melompatlah lari ke dalam hutan. Maka pemburu itu pun terdirilah tercengang serta dengan hêrannya akan hal itu seraya berkata: “Wahai, sekian banyak kepandaianku, maka binatang ini memperdayakan aku!” Lalu kembalilah ia hendak mengambil pundi-pundinyna. Setelah datang maka dilihatnya pundi-pundi itu pun telah habislah pesuk-pesuk, bekas digigit tikus. Maka kura-kura itu pun tiada lagi. Maka makinlah bertambah-tambah dukacitanya serta ta'ajub, katanya: “Bahwa sesungguhnya aku ini adalah seperti kata ‘arif: ”Yang dikejar tiada dapat, dan yang dikandung bercêcêran.“ Maka pada hari ini claka sungguh aku, tiada mendapat rezeki! Adapun yang di dalam pundi-pundiku pun hilanglah.”
Syahdan maka pemburu itu pun berjalanlah dengan putus harapnya serta dengan lelah jerihnyna. Sebermula maka binatang yang keempat bersahabat itu pun masing-masing keluarah mencahari sahabatnya. Setelah bertemu maka masing-masing pun berpelook dan berciumlah serta berkasih-kasihan. Maka masing-masing pun berceriterakanlah halnya; lalu kembalilah serta dengan sukacitanya, selamat selama-lamanya bersetia dengan sahabatnya.
Maka kata Berahmana SUMASANMA: “Hai anakku keempat! Demikianlah hal orang bersahabat serta dengan kelakuan yang setiawan seorang dengan seorang; niscaya selamatlah adanya.” Maka jawab anak raja keempat itu dengan sukacitanya: “Ya tuanku! Telah sudah hamba sekalian mendengar hikayat yang kedua itu, maka sekarang pun tuanku ceriterakanlah pula akan hamba sekalian hikayat yang ketiga itu.”
Maka kata Berahmana SUMASANNA: “Ingat-ingat engkau sekalian, hai anakku! Jikalau seteru itu, maka ke- mudian ia bersahabat pula, sekali-kali janganlah engkau percaya akan dia. Adalah seperti hikayat seëkor gagak telah membunuh segala kaum keluarga burung han-tu itu akhirnya; dëmikianlah adanya!“
Maka jawab anak-anak raja itu: “Bagaimanakah hikayatnya itu, ya tuanku? Ceriterakanlah akan dia!”
Maka diceriterakanlah oleh Berahmana SUMASANMA ceritera yang ketiga.
CERITERA YANG KETIGA
Adalah suatu rimba yang besar, maka dalamnya itu adalah sepohon kayu jawi-jawi; maka pohon itu tempat segala gagak diam. Maka di antara gagak yang banyak itu adalah seorang rajanya, bernama MAGABANAN. Maka adalah banyak ra'iatnya seuta, dan menterinya lima orang. Maka adalah pada tiap-tiap hari raja itu dihadap oleh segala ra'iatnya dan menteri, hulubalang, sida-sida, bentara sekalian. Maka adalah pula di balik hutan itu sebuah gunung; maka di atas gunung itu adalah suatu gua.
Maka dalam gua itu burung hantu diam, tiadalah tepermanaai banyaknya. Maka adalah seorang rajanya, bernama LUGA; dan adalah pula beberapa banyak menterinya. Maka hal merēka itu sekalian, pada malam ia keluear mencahari makan dengan kekerasannya; seorang pun tiada dapat menegahkan dia.
Hatta maka beberapa lamanya berhimpunlah pada suatu hari segala gagak itu pergi mendatangi burung hantu itu; maka banyaklah ra'iat burung hantu itu mati dan luka. Setelah itu maka hari pun malamalah. Maka berhim pun pula segala ra'iat, menteri, hulubalang burung hantu itu, berangkat datang memukuel gagak itu. Maka gagak itu pun banyaklah mati dan luka. Demikianlah hal kedua pihaknya binatang itu; pada tiap-tiap hari berperang juga. Hatta maka pada suatu hari berhimpunlah segala burung hantu itu datang menghadap Rajanya hendak bermusyawarat. Maka Raja itu pun memberi titah memanggil segala menterinya, serta katana: “Hai menteriku! Jikalau sudah terbit matahari, niscaya tiada kita sekalian terlawan akan ra'iat gagak itu. Pada seketika inilah juga baik kita berperang.”
Maka serta didengar oleh menteri itu sekalian akan titah Rajanya, maka dihimpunkannyalah segala ra'iat hulubalangnya, lalu berangkat terbang pergi kepada pohon jawi-jawi itu. Serta bertemulah dengan kawan gagak itu, lalu berperang. Maka dibunuhnyalah ra'iat gagak itu; ada yang mati, ada yang luka, ada yang patah. Maka hari pun sianglah. Maka segala ra'iat burung hantu itu pun kembalilah ke dalam gua itu. Maka bangkai gagak itu pun bertimbunlah, dan darahnya pun mengarliah ke bumi. Maka Raja gagak itu pun bersemunyikan dirinya pada malam itu dalam bangkai yang banyak itu. Maka setelah sianglah hari, maka keluarah raja itu serta membilang ra'iat dan menterinya. Maka banyaklah yang mati dari pada yang hideop. Maka raja itu pun memberi titah menghimpunkan segala ra'iat dan menterinya yang telah cerai berai itu. Setelah berhimpunlah maka barang yang sakit diberilah obat. Maka berpindahlah Raja gagak itu serta segala ra'iatnya sekalian kepada sepohon kayu yang lain. Serta berpikir, maka kata Raja itu: “Hai segala menteriku! Apakah hal kita sekarang ini dan bagaimanakah kehidopean kita dengan tiada bolkh pergi mencahari makan dan minum ini? Apakah cełaka kita sekalian kedatangan bala ini?” Maka jawab menteri yang pertama: “Ya tuanku! Adapun ‘adat orang yang berseteru itu, jikalau tiada dapat kita lawan akan dia, maka haruslah kita berkhidmat akan dia dengan mengerjakan pekerjaannya. Maka jikalau tiada kita mau yang demikian itu, berpindahlah kita ke negeri yang lain supaya bolkh kita mencari kehidopean. Itulah ’akal patik; maka dalam itu pun terlebih ma'lumlah tuanku akan hal itu.”
Maka bertanyalah pula Raja kepada menteri yang kedua: “Bagaimanakah bicaramu, hai menteriku?” Maka jawab menteri itu:“Ya tuanku! Adalah pada ‘akal patik: Jikalau anjing sekali pun, apabila ia berpindah dari pada tempatnya kepada tempat yang lain, tiadalah dibilang orang lagi akan dia. Maka jikalau singa itu Sekalipun, apabila ia berpindah dari pada tempatnya kepada tempat yang lain, seperti anjinglah adanya. Demikianlah, ya tuanku! Jikalau kita pun berpindah ke tempat yang lain, niscaya menjadi ‘aiblah nama kita kepada segala ’alam ini.‘
Maka bertanyalah Raja kepada menteri yang ketiga: “Engkau, apa pula bicaramu, menteriku?” Maka jawab menteri itu: “Ya tuanku! Adapun pada bicara patik kedudukan kita sekarang ini serba salah; tiadalah pemandangan orang sekali-kali. Maka dari pada duduk yang demikian ini, terutamalah kita pergi berdamai dengan seteru itu, supaya sempurna kehidupan kita adanya.”
Maka bertanyalah Raja kepada menteri yang keempat, katanya: “Engkau, betapa pula bicaramu? Maka jawab menteri itu: ”Ya tuanku! Adapun pada bicara patik, bagaimana hal kita hendak berdamai dengan burung hantu itu, karena pada siang hari itu tiada kelihatan matanya; dan kita, pada malam hari tiada kelihatan. Niscaya menjadi pergadeohan juga pada akhirnya, melainkan pada bicara patik sementara belum hari malam ini baiklah tuanku berangkat serta segala ra'iat, supaya kita habiskan sekali segala kaum keluarganya; janganlah kita tinggalkan barang se'ekor jocapurn lagi.“
Maka berpalinglah Raja kepada menteri yang kelima serta bertitah: “Hai menteriku! Apakah bicaramu sekarang? Karena empat orang menteri itu telah mempersembahkan kehendak masing-masing; telah ma'lumlah aku. Engkau ini, betapa pula bicaramu?” Maka jawab menteri itu: “Ya tuanku! Adapun ‘adat raja-raja yang berbudi itu,—jikalau ada barang seorang menterinya yang ber'akal bepersembahkan sesuatu rahsia, maka ditaruhnyalah ke dalam perbendaharaan hatinya. Dan lagi tertegahlah kepada segala raja-raja itu dari pada barang perbuatan yang jahat adanya. Syahdan adalah pada bicara patik empat perkara, ta’ dapat tiada hendaklah kita turut salah suatunya, supaya sentosa kehidupan kita. Pertama: Hendaklah kita berdamai dengan seteru itu. Kedua: Kita sekalian pergi membunuh dia sehingga habis sekali. Ketiga: Kita berpindahlah dari pada tempat ini ke negeri yang lain. Keempat: Janganalh kita bergerak dari pada tempat ini sampai selesailah pekerjaan kita ini. Dan lagi pada bicara patik, jikalau kita pergi kepada seteru itu, hendak berperang dengan dia, maka keadaan kita kekurangan ra'iat, dan kuasa kita pun telah lemahlah. Adapun perseteruan antara gagak dengan burung hantu itu, dari pada dahelul kala adanya. Maka sekarang kita hendak berdamai dengan dia; bahwa sekali-kali tiadalah bolêh lagi.“
Maka sabda Raja: “Apakah sebabnya antara kita dengan burung hantu itu menjadi perseteruan?” Maka yawab menteri itu: “Asalnya dari pada mulut juga datangnya.” Maka titah Raja: “Ceriterakanlah juga olêhmu, hai menteriku, betapakah asalnya!” Maka yawab menteri itu: “Ya tuanku! Ada seorang benara memeliharkan seçkor keledai. Maka ‘adatnya, pada tiap-tiap hari, apabila sudah ia membasuh kain, maka dimuatkannya ke atas keledai itu, dibawanyalah ke negeri, dipu langkannya. Kemedian diambilnya pula kain-kain yang cemar, dimuatkannya ke atas keledai itu, dibawanya pulang ke rumahnya. Setelah malam hari diambilnya suatu kulit harimau, diselimutkannya ke atas keledai itu; lalu dilepaskannya dalam ladang orang. Demikianlah halnya benara itu pada tiap-tiap hari. Maka apabila dinihari, pulanglah keledai itu ke rumah tuannya itu. Maka beberapa kali bertemu dengan yang empunya ladang itu, ketakoctanlah ia; disangkakannya harimau, larilah ia pulang. Maka apabila terdengar khabar itu kepada kepala kawal, hêranlah ia, serta berkata: ”Adakah pernah harimau memakan padi! Entah ’alamat akhir zamanlah sudah!“ Maka diambilnya sebatang lembing, lalu pergilah ia, sebab hendak melihat hal itu. Maka bertemulah ia dengan kele- dai itu. Maka serta dilihat keledai itu manusia datang, maka berteriaklah ia. Serta didengar oleh kepala kawal itu secara keledai itu, maka dihampirinyalah akan dia, lalu ditikamnya dengan lembingnya. Maka matilah keledai itu. Demikianlah adanya. Permulaan perseterocean itu, dari pada mulut juga asalnya.“
Maka titah Raja: “Apakah sebabnya itu, hai menteriku? Ceriterakanlah, aku dengar.” Maka jawab menteri itu: “Ya tuanku! Ada pada suatu masa zaman da-hulu kala berhimpunlah segala unggas pada suatu tempat bermusyawarat, hendak menjadikan raja akan burung hantu itu. Maka dalam antara segala unggas yang banyak itu ada seëkor gagak tua. Maka kata gagak itu: ”Hai segala unggas! Bagaimanakah kamu sekalian hendak menjadikan raja akan burung hantu ini! Pertama-tama bangsanya hina dan perangainya pun bengis dan matanya buta pada siang hari. Dan lagi mukanya sial dan buninya pun kasar; dan barang di mana ia berteriak, adalah suatu bencana akan datang di sana. Demikianlah keadaannya. Bagaimanakah kamu sekalian hendak menjadikan dia raja? Adapun raja itu, apabila disebut orang namanya, bolëhlah menyadi obat kepada segala ra'iatnya. Alkissah pada suatu zaman bahwa seëkor pelanduk menyebotkan nama bulan; maka gajah dan binatang yang besar-besar habislah lari. Demikianlah hendaknya nama raja itu! Adalah hikayatnya. Maka kata segala unggas itu: “Bagaimanakah hikayatnya?” Maka gagak yang tua itu pun berceriteralah, katanya:
“Alkissah ada dalam suatu hutan tempat gajah. Maka dalam gajah yang banyak itu ada seorang rajanya. Maka beberapa lamanya ia diam dalam hutan itu, maka pada suatu ketika datanglah musim kemarau. Maka keringlah segala air. Maka disuruh oleh raja gajah akan seëkor gajah pergi mencahari air. Maka pergilah ia. Hatta maka sampailah gajah itu kepada sebuah gunung; maka di bawah gunung itu adalah sebuah kolam, pe- nuh airnya. Maka apabila dilihatnya itu, maka segeralah ia kembali memberi tahu kepada Rajanya. Maka berangkatlah Raja itu serta segala ra'iatnya, hendak pergi meminum air. Sebermula maka adalah pada tepi kolam itu seëkor Raja pelanduk serta dengan ra'iatnya berbuat tempat diam di situ. Maka serta kedengaranlah bunyi segala gajah itu datang seperti ribut, maka berkatalah pelanduk itu sama sendirinya: “Jikalau datang gajah itu kemari, niscaya tiadalah bolêh kita diam di tempat ini.” Maka olêh Raja pelanduk itu, dipanggilnya menterinya, seraya bersabda: “Apakah bicaramu? Jika datang gajah itu kemari, niscaya tiadalah bolêh kita diam lagi di sini.” Maka jawab menteri pelanduk itu: “Jikalau dengan titah tuanku akan patik, maka patiklah pergi menghalaukan gajah itu dengan barang daya upaya patik.” Maka diberilah olêh raja perintah akan menteri itu. Maka menteri pelanduk itu pun berlarilah pergi mendapatkan Raja gajah itu, seraya berpikir dalam hatinya: “Hendak menghalaukan gajah ini suatu susahkah? Adapun seperti segala raja-raja itu, jikalau hendak membunuh orang itu seperti laku orang tertawa. Bahwa demikianlah Raja ini pun dengan sebentar ini juga aku halaukan. Jikalau demikian, baiklah aku naik ke atas gunung ini.” Setelah didakinya gunung itu, maka kelihatanlah Raja gajah itu serta dengan segala tenteranya. Maka bersru-serulah pelanduk itu dengan nyaring suaranya, katanya: “Adakah tuanku serta tentera tuanku sekalian baik?” Maka menolêhlah Raja gajah itu serta dengan marahnya, katanya: “Hai binatang yang kecil lagi hina, apa sebabnya engkau menyeru aku di tengah jalan dengan kelakuan yang biadab itu? Siapakah engkau ini?” Maka jawab pelanduk: “Dengarlah tuanku akan perkataan patik ini! Adapun tuan yang menerangi segala ‘alam du-nia ini serta laut dan darat, yaitu Bulan. Maka patik ini seorang hambanya yang dipercayanya; maka disuruhnya patik datang kepada tuanku minta khabarkan.” Maka ja- wab Raja gajah itu: “Apakah khabarnya? Katakanlah oleh mu!” Maka pelanduk itu pun sambil memandang ke langit, pura-pura ia menyembah bulan, seraya katanya:
“Adapun tuanku Bulan itulah yang empunya gunung dan kolam ini; itu pun ialah membuatnya akan tempat mandi. Maka apabila ia pulang petang ke langit, maka disuruhnya jaga kolam itu kepada beberapa singa yang garang. Maka sebab itulah apabila dilihatnya tuanku berangkat datang kemari, disuruhnya akan patik memberi tahu. Maka apabila tuanku datang kekolam itu, niscaya dibunuahlah oleh singa itu. Maka dosanya itu di atasnya. Maka sebab itulah ia menyuruhkan patik datang memberi tahu tuanku sekalian, menyuruhkan balik segera. Maka terlalulah sangat marahnya akan tuanku; tetapi tiada mengapa. Segeralah tuanku berbalik, supaya bolêh patik pergi membujuk Raja Bulan dan membaiki hatinya itu! Dan lagi, pikirlah tuan-tuan sekalian: bahwa sekian lama sudah kemarau, segala kolam habislah kekeringan. Apa sebabnya kolam ini banyak airnya? Maka sekalian ini pun sebab kasihan hati hamba akan jiwa tuan-tuan, supaya jangan mati teraniyaya.” Sebermula setelah didengar oleh Raja gajah akan segala perkataan pelanduk itu, maka ketakutanlah ia, sambil menyembah arah ke langit. Maka segera-segeralah ia berbalik dengan dahaganya. Demikianlah ceriteranya.” Maka kata gagak yang tua itu: ”Pikirlah oleh tuan-tuan! Jikalau nama yang demikian, apabila didengar oleh orang, menjadikan ketakutan, demikianlah hendaknya orang yang menyadi raja itu. Adakah layaknya burung hantu yang sial ini hendak dijadikan raja? Dan lagi kelakuannya seperti orang yang bodoh; lagi pun buta, senantiasa mendiamkan dirinya. Maka jikalau kita pergi menghadap dia pun, datanglah bencana ke atas jiwa kita. Adalah seperti hika-yat seëkor burung tiung dan seëkor pelanduk pergi meminta bicara kepada seëkor kucing; maka akhirnya keduanya mati.” Maka kata segala unggas itu: “Bagai- manakah hikayat itu?“ Maka jawab gagak itu: ”Alkissah adalah seëkor burung tiung bersarang di atas sepohon kayu. Maka kemudian beberapa lamanya datanglah pula seëkor pelanduk membuat lubang di bawah pohon itu. Maka pada suatu hari dilihat oleh burung tiung itu. Maka katanya: “Siapakah memberi izin akan engkau diam di bawah pohon ini? Karena beberapa zaman aku diam di atas kayu ini.” Maka jawab pelanduk: “Hai burung tiung! Empat perkara, yang tiada bolëh diperintah oleh manusia; pertama: hutan; kedua: kolam; ketiga: jalan raya; keempat: tempat wakaf. Maka keempat perkara itulah, tiada harus meminta izin.” Maka kedua binnatang itu pun berkelahilah. Maka kata pelanduk: “Apa-lah gunanya kita berkelahi? Baiklah kita pergi bertanya-kan kepada orang tua-tua. Maka barang apa ketentuanya, itulah bolëh kita dengar.” Kalakian maka kedua binnatang itu pun berjalanlah hingga sampailah ke tepi sungai. Maka di sana adalah seëkor kucing duduk mengejamkan matanya sambil berjemur. Maka kata pelanduk: “Hai tiung, inilah orang yang betul lagi bertapa. Marilah kita bertanya kepadanya!” Maka jawab tiung: “Gilakah engkau? Jikalau kita pergi mendapatkan dia, niscaya dimakannyalah kita.” Maka kata pelanduk: “Jikalau tiada percaya akan dia, biarlah dari jauh sahaja kita bercakap.” Maka lalu dihampirilah oleh kedua binnatang itu akan kucing itu; maka dilihatnya janggut dan misainya. Maka kata keduanya itu: “Sesungguhnya ini orang besar!” Maka datanglah keduanya menyembah serta dengan hormatnya. Maka kucing itu pun pura-pura membukakan matanya, seraya berkata: “Siapakah engkau kedua ini, dan dari manakah kamu datang? Bagaimanakah engkau bolëh mengenal akan dakoë? Marilah dekat-dekat, karena telingaku tiada mendengar! Apakah kamu takoët dekat kemari? Tahukah engkau apa sebab aku bertapa ini? Adapun sebab aku bertapa ini, atas tiga perkara. Pertama-tama: sekali-kali tiada maeo men- gambil nyawa orang; kedua: janganlah ada menaruh amarah sekali-kali; ketiga: janganlah membuat aniaya kepada orang. Apakah engkau takutkan, berkata-kata dari jauh? Marilah engkau dekat-dekat; yang mana benar aku benarkan dan yang mana salah aku salahkan.“ Maka apabila didengar olêh kedua binatang itu kata kucing itu, maka percayalah ia, lalu datanglah hampir. Maka direnungrenung olêh kucing akan binatang itu; maka diterkamnya serta ditekankannya dengan tangannya. Maka matilah keduanya. Demikianlah hal orang yang percaya akan musohnya. Betapakah ‘akal tuan-tuan hendak menjadikan raja akan burung hantu itu?’ Hatta maka setelah sudah gagak yang tua itu berkata-kata demikian, maka terbanglah ia. Maka dari pada waktu itu hingga sekarang ini berseterulah gagak dengan burung hantu itu adanya. Demikianlah hikayat asal perseterocean itu, tuanku; sebab mulut juga datangnya.” Maka titah Raja gagak itu: “Bahwa sekaranglah telah kuketa-hui perseterocean ini dari pada mulut juga asalnya!” Lalu dibawa Rajalah akan menterinya itu kepada seoaetu tempat yang sunyi, lalu bertitah: “Hai menteriku yang bijaksana! Sekarang apakah hal kita ini? Berilah olêhmu suatu bicara, supaya kukerjakan.” Maka sembah menteri itu: “Ya tuanku! Dengarlah ikhtiar patik, hamba yang hina ini. Bahwa biarlah patik seorang diri juga pergi kepada seteru itu; dengan barang daya upaya patik, patik bersahabat juga dengan dia. Maka setelah percayalah ia akan patik, niscaya patik bunuhlah akan dia semuanya, seorang pun tiada tinggal lagi. Akan tetapi rahasia ini janganlah tuanku katakan kepada seorang jupaun, sehingga patik kembali. Dan lagi janganlah tuanku diam lagi pada tempat ini; pergilah tuanku sekalian masuk ke-dalam rimba besar sampai patik kembali.” Hatta maka Raja gagak serta dengan segala ra'iatnya itu pun ber-pindahlah kepada sebuah gunung yang amat tinggi adanya.
Sebermula Adapun menteri gagak itu terbanglah pergi hendak menyamar ke dalam ra'iat burung hantu itu. Maka hari pun petanglah; maka mata gagak itu pun tiadalah kelihatan lagi. Maka pada tatkala itu Raja burung hantu serta segala ra'iatnya pun keluearlah dari dalam gua itu hendak membunuh gagak yang lagi tinggal itu. Maka setelah sampai, dilihatnya seëkor gagak pun tiada lagi tinggal. Maka pada ketika itu Raja burung hantu itu pun bertitahlah dengan sukacitanya kepada menterinya, katanya: “Hai menteriku! Bahwa dari pada hari ini telah habislah seteru kita itu, sudah kita bunuh semalam.” Maka apabila dilihat oleh menteri gagak akan kelakuan Raja burung hantu itu, maka masuklah ia ke dalam darah segala bangkai-bangkai itu, lalu berteriaklah ia dengan secara yang nyaring. Maka serta didengar oleh Raja itu akan secara gagak, maka titah Raja: “Hai menteriku, aku dengar bunyi gagak itu. Segeralah engkau pergi periksa akan dia!” Maka pergilah beberapa èkor memeriksa. Maka dilihatnya adalah seëkor gagak seperti laku hendak mati; maka dibuatnya patah sayanpya. Maka diam-bil burung hantu itu akan dia, dibawanya kehadapan Rajanya. Maka titah Raja itu: “Siapakah engkau ini?” Maka jawab gagak itu: “Ya tuanku! Hambalah seorang menteri kecil Raja gagak itu. Maka adalah empat menteri besar di atas hamba; maka keempat merèka itulah empunya asutan kepada Raja itu. Maka sebab itulah menyadi perang ini. Maka apabila patik mendengar akan perkataan merèka itu, maka kata patik: ”Apakah gunanya kita berperang itu? Sekarang malam niscaya datanglah membunuh kita pula.“ Maka tiada didengar oleh merèka itu sekalian, seraya keluearlah merèka itu sekalian berperang dengan tuanku. Maka pada malam itu datanglah pula tuanku membunuh sekaliannya itu, habislah mati; tinggal lagi empat puluh èkor gagak dan lima orang menterinya dengan seorang Raja juga yang terlepas; lainnya habislah mati. Maka pada èsoknya mupakatlah se- kaliannya itu hendak pergi berperang juga. Maka jawab patik: “Sedangkan ketika ada ra’iat kita begitu banyak lagi tiada bolêh menang berperang; ini pula! Sekarang dari pada itu baiklah kita pergi mendapatkan Raja burung hantu itu, kita minta am pun, supaya lepaslah jiwa kita sekalian.” Maka apabila didengar olêh merêka itu sekalian akan perkataan patik itu, marahlah ia lalu dipukulnya patik sampailah patah sayap patik; seperti mati ini ditinggalkannya, lalu pergilah ia. Maka tuanku pun datanglah. Maka apabila patik menengar, patik pun hendaklah datang menghadap; maka kaki dan sayap patik terlalulah sakit, tiadalah terjalan. Maka sekarang pun sudalah patik datang ke bawah kaus tuanku; melainkan pulanglah iehtiar kepada tuanku. Tuanku hendak membunuh, baik; atau tuanku hendak menghidupkan, baik! Mana titah tuanku patik junjunglah!”—seraya ia menyembah, kepalanya lalu ke tanah, dengan tangisinya. Maka apabila dilihat olêh Raja akan kelakuan gagak itu, maka kasihanlah ia serta bertitah kepada menterinya sekalian: ”Betapakah bicara kamu sekalian?” Maka sembah menterinya: “Ya tuanku! Jikalau kiranya kita dapat harimau dalam jaring, haruslah kita lepaskan dia?” Maka kemudian ditanya Raja pula kepada menteri yang lain: ”Apakah bicaramu?” Maka sembah menteri itu: “Ya tuanku! Jikalau seteru itu telah datang mendapatkan kita, haruslah juga dibenuh akan dia hukumnya. Maka jikalau dilepaskan,—sekali-kali tialalah pernah patik melihat yang demikian.” Maka bertitah pula Raja kepada menteri yang lain: ”Engkau apakah bicaramu?” Maka sembah menteri itu: “Ya tuanku! Jikalau seteru itu datang mendapatkan kita dengan kebenarannya dan dengan perkataannya yang baik, maka haruslah kita memeliharakan jiwanya. Maka pekerjaan yang demikian itu,—kebanyakanlah orang yang berbuat yang demikian itu. Tiadakah tuanku mendengar suatu ceritera daheloce kala, bahwa ada seorang pencuri hendak pergi mencuri ke rumah seorang perempuan, maka ke-mudian ditolongny akan perempuan itu?“ Maka titah Raja: ”Betapakah hikayatnya itu?“ Maka sembah men-teri itu:
“Alkissah ada sebuah negeri; maka dalam negeri itu ada seorang perempuan janda terlalu kayanya, tetapi sangatlah da'if badannya, sebab terlalu tuanya. Segala kulitnya menggelsambirlah; rambutnya seperti kapas di-busur dan kelopak matanya pun telah menutur manta-nya. Maka adalah cucunya perempuan seorang, baharu empat belas tahun ‘emurnya dengan ĉlokinya, tiada bertara pada masa itu. Maka adalah halnya anak itu, terlalu amat jahat perangainya. Sebab nēnēknya tua dan bu-ruk, maka tiada dipandangny nēnēknya, melainkan di-pandanguya sahayanya. Jangankan ia mau menolong nē-nēknya itu, memandang mukanya dan berkata-kata den-gan nēnēknya tiadalah ia mau; sebagai tiada diindahkannya. Meskipun demikian kasih juga perempuan itu akan cucunya yang sombong dan durhaka itu, dan terlalu inginnya akan peluk coiem cucunya itu. Maka adalah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka pada suatu malam datanglah seorang pencuri mengorēk rumahnya, lalu masuklah ia ke dalam rumah itu. Maka serta dilihat olēh anak itu akan pencuri itu, terkejut-lah ia serta berlari-lari datang memeluk dan mencium nēnēknya dan minta am pun dan berjanji-janji hendak mengubahkan perangainya yang durhaka itu. Lagi ka-tanya: ”Ya nēnēk, pencuri masuk ke rumah kita!“ Serta mendengar perkataan anak itu, maka kata nēnēknya: ”Hai anakku pencuri! Beberapa lamanya aku sudah menan-tikan ni'mat dan sukacita ini; sekarang baharulah ku-perolēh. Maka sekarang pun barang berapa harta yang kaukehendaki, ambillah olēhmu; tiada lah aku larangkan!“ Maka apabila didengar olēh pencuri akan perka-taan perempuan itu, sukacitalah hatinya serta berkata: ”Hai ibuku, seperti sudahlah harta ini sampai ke rumah- ku. Maka sekarang duduklah tuanhamba dengan selamatnya bersama-sama cucu tuanhamba. Dan lagi, jikalau cucu engkau durhaka akan engkau, ingatlah engkau akan namaku; niscaya datanglah aku!“ Maka sebab pencuri itu selamatlah perempuan tua itu selama-lamanya berkasih-kasihan dengan cucunya itu. Demikianlah hikayatnya. Maka sekarang ini seteru itu telah datang menyerahkan dirinya kepada kita. Jikalau kita peliharakan dia, terlaluelah besar pahalanya; dan jikalau kita bunuh akan dia, niscaya lalim tuanku akan dia serta mendatangkan dosa yang besarlah ke atas kita.”
Setelah itu maka bertanyalah pula Raja kepada seorang menterinya yang lain: “Apakah bicaramu akan seteru ini?” Maka jawab menteri itu: “Ya tuanku! Adapun akan hal jikalau seorang berperang dengan kita, maka alahlah ia datang berkhidmatkan dirinya kepada kita,—bahwa ta'dapat tiada hendaklah kita mengasihani akan dia; karena yang demikian itu adalah ceriteranya pada zaman dahulu kala.” Maka jawab Raja: “Betapakah ceriteranya?” Maka sembah menteri itu: “Ya tuanku! Ada seorang Berahmana memeliharakan seëkor lembu, terlalu dikasihinyna serta dengan sukacitanya. Maka ada pula seorang pencuri membuuh hati beberapa lamanya hendak mencuri lembu itu. Maka pada suatu hari pencuri itu pun memanjatlath pagar serta turun hendak mencuri lembu itu. Maka ada pula suatu sëtan tinggal di hadapan pintu rumah Berahmana itu. Maka kata sëtan kepada pencuri itu: ”Siapakah engkau ini?“ Maka jawab pencuri itu: ”Engkau ini siapa?“ Maka jawab sëtan itu: ”Akulah penghulo segala sëtan yang dalam negeri ini.“ Maka menjawab pula pencuri itu: ”Jikalau engkau hendak mengetahui, akulah kepala segala pencuri dalam negeri ini. Apakah pekerjaanmu datang kemari ini?“ Maka jawab sëtan itu: ”Aku datang ini hendak membunuh Berahmana yang empunya rumah ini.“ Maka sahut pencuri itu: ”Adapun aku da- tang ini hendak mencuri lembunya.“ Maka kata setan itu: ”Biarlah aku bunuh akan dia dahelul; kemudian bolêh engkau curi lembunya!“ Maka jawab pencuri: ”Biarlah aku curi dahelul lembunya; kemudian bolêhlah engkau bunuh akan dia!“ Maka dengan hal yang demikian itu, jadi berbantahlah pencuri dengan setan itu. Maka kedengaranlah bunyi orang berkelahi itu kepada Berahmana itu; maka segeralah dibangunkannya segala anak buahnya. Maka diberinya seorang suatu tongkat. Maka keluarlah semuanya hendak memeokul kedua merêka itu. Maka kata pencuri itu: ”Ya tuan! Janganlah dipokul hamba, karena setan ini datang hendak membunuh tuanhamba!“ Maka menjawab pula setan itu: ”Ya tuan! Janganlah dipokul hamba, karena pencuri ini datang hendak mencuri lembu tuanhamba!“ Maka jawab Berahmana itu: ”Jikalau demikian, baiklah jangan engkau kedua berkelahi lagi; biarlah aku perdamaikan!“ Maka olêh Berahmana itu diperdamai-kannyalah merêka itu keduanya; maka dengan Berahmana itu menyadi bertiga bersahabat serta dengan setia-wannya selama-lamanya. Demikianlah hikayatnya, tuanku! Jikalau kiranya seorang menyerahkan dirinya kepada kita, maka jikalau kita tolong akan dia,—niscaya pada kemudian kelak kita dapat kebajikan adanya.”
Hatta maka bertanyalah pula Raja kepada menterinya yang lain: “Apakah bicaramu, hai menteriku, akan hal seteru kita ini?” Maka jawab menteri itu: “Ya tuanku! Tiadakah tuanku mendengar suatu hikayat dahelul kala, ada seorang raja dipotongnyia dagingnyia, diberikaninya, sebab sêekor burung?” Maka titah Raja: “Bagaimanakah hikayatnya itu?” Maka sembah menteri itu: “Ya tuanku! Ada seorang pemburu masuk ke dalam hutan; maka bertemulah ia dengan sêekor burung. Maka hendak dipanahnyia akan dia, maka terbanglah burung itu. Maka dikejar olêh pemburu akan dia. Maka larilah burung itu pergi mendapatkan Raja dalam negeri itu. Serta sampai maka sembahnya: “Ya tuanku! Peliharakanlah jiwa patik dari pada pemburu ini!” Maka dengan seketika itu juga pemburu itu pun sampailah kepada raja; sembahnya: ”Ya tuanku! Manakah burung yang hamba kejar itu? Lepaskanlah dia.” Maka titah Raja: “Hai pemburu! Tiadakah engkau ketahui ‘adat raja-raja? Jikalau seorang menyerahkan jiwanya itu maka sekali-kali tiadalah ia membimbasakan dia. Maka jikalau engkau mau harta, atau daging aku ini Sekalipun engkau hendakkan, aku berikan akan dikau akan ganti burung itu. Akan tetapi burung itu sekali-kali tiada kuberikan.” Maka jawab pemburu itu: ”Jikalau demikian, bawalah burung itu; tuanku timbang dengan daging tuanku.” Maka olêh Raja itu dipotong-nyalah dagingnya, lalu dibubuhnya pada sebelah daun neraca, dan burung itu dibubuhnya di sebelah neraca; lalu diberikannya akan pemburu itu. Maka adalah Raja itu diberi Allah akan dia tempat kebajikan. Demikianlah hikayatnya. Maka apabila kita menolong akan seorang dalam kesakitannya itu, niscaya kita dikasihani Allah du-nia akhirat.” Maka kata menteri itu: “Demikianlah ‘adat raja-raja. Ada suatu ceritera, tiadalah tuanku den-gar? Adalah suatu negeri; di dalam negeri itu ada seorang tukang kayu.” Maka tatah Raja: ”Betapakah hikayatnya itu?” Maka kata menteri itu:
“Alkissah ada seorang tukang kayu dua laki-isteri. Maka isterinya itu seorang penjudi. Pada tiap-tiap hari setelah tukang kayu itu pergi mencahari upah, maka berjoodilah isterinya dengan beberapa orang, laki-laki perempuan. Apabila ia alah terlalu muram mukanya sepanjang hari, tiada hendak berkata-kata dengan suaminya; apabila ia sudah menang, seolah-olah hendak tertawa-tawa sahaja. Maka hêranlah suaminya melihat kela-kuannya itu; tiada diketahuinyaa akan seabnya. Lagi pula dilihatnya hartanya tiada bertambah, Meskipun banyak upah yang diterimanya; dan rumahnya dan perkakas rumahnya kurang dibersihkan, dan makanannya tiada dengan sepertinya; pakaianinya pun tiada ceria adanya. Maka berpikirlah tukang kayu itu: “Baiklah aku mencahari suatu daya upaya, supaya kuketahui akan rahasia ini.” Maka pada suatu hari berkatalah ia kepada isterinya: “Bahwa aku hendak pergi ke negeri Anu!” Maka diambilnyalah bekal-bekal akan perjalanannya. Maka keluarliah ia dari dalam rumahnya, lalu bersemenbenyi pada suatu tempat. Serta dilihat oleh perempuan itu suaminya sudah berjalanan, maka terlalulah sukacita hatinya; lalu pergilah ia memanggil kawannya berjudi itu. Setelah isterinya keluar, maka masuklah tukang kayu itu ke dalam rumahnya, bersemenbenyi di bawah tempat tidurnya. Tiada berapa lama antaranya datanglah isterinya dengan beberapa orang, laki-laki perempuan. Serta duduk, maka berjudilah merēka itu. Maka apabila dilihat oleh tukang kayu akan perbucatan isterinya itu, maka marahlah ia terlalo sanggat; akan tetapi ditaninyia juga, tiada ia keluar dari bawah tempat tidur itu. Baharu-baharu orang itu sekaliannya mulai berjudi, maka tiba-tiba terlihatlah isteri tukang kayu itu kepada suaminya. Maka gementarlah segala anggotaniya serta dengan ketakutannya, dan mukanya pun berubahlah warnanya. Maka apabila dilihat oleh merēka itu akan kelakuannya demikian, maka katanya: “Apakah sebabnya kelakuan tuan demikian ini?” Maka jawabnya: “Janganalah tuan-tuan bertanya-tanya juga! Olēh karena aku bebal lagi ahmak, maka telah jadilah aku jahat dan durhaka, sebab mau juga berjudi dengan engkau sekalian. Maka sekarang teringatlah aku akan suamiku, yang terlalu baik budi. Sesalku tiada terkira-kira; dosaku terlalu amat besar. Kasih suamiku akan daku tiada berhingga, dan hamba pun terlalu amat kasih akan dia. Sedangkan sekarang ini, pada hal aku berbuat pekerjaan yang jahat ini, nyawaku rasanya bersama-sama dengan suamiku. Sesungguhnya sesalku tiada berhingga! Tia- dalah aku mau berjudi lagi se'emur hidupku. Sebab itu baiklah sekarang ini juga tuan-tuan pulang mening-galkan aku dalam kedokaan hatiku ini, supaya boleh aku tobat dan meminta do'a; mudah-mudahan diampuni Tuhan juga akan kesalahanku.“ Maka tercengang-lah merēka itu mendengar perkataan perempuan itu, lalu pulanglah masing-masing ke rumahnya. Maka kelu-arlah tukang kayu dari bawah tempat tidur itu; marahnyia telah hilang lenyap, dan karena sukacitanya yang amat sangat dipuji-pujinya isterinya itu. Adapun segala pekerjaan ini telah jadi bukankah dari sebab peker-jaan yang manis lagi lemah lembut? Maka demikian lagi, jikalau seteru itu datang kepada kita, sekali-kali tiadalah patut kita mendatangkan sesuatu kejahatan keatasnya.”
Syahdan maka Raja burung hantu itu pun sangat-lah sukacitanya serta berkata kepada gagak itu: “Bahwa dari pada hari ini engkau kujadikan menteriku yang besar, dan aku memberi perintah ta‘ dapat tiada segala ra'iatku akan menurut perintahmu!” Maka apabila di-dengar olēh gagak itu akan titah Raja itu demikian, maka sembahhnya: “Ya tuanku! Bahwa patik pohonkan kepada Allah biarlah patik mati, supaya patik menjelma menyadi burung hantu, supaya patik balas dendam patik: patik bunuh segala kaeom keluarga gagak itu, baharulah puas hati patik.” Maka titah Raja: “Hai menteriku! Bukannya demikian; sekali-kali tiada boleh kita melawan suratan pada awalnya. Adalah seperti hika-yat seēkor lang menyambar tikus betina. Tiadakah engkau dengar?” Maka sembah menteri itu: “Bagaimanakah hika-yatnya itu, ya tuanku?” Maka titah Raja burung han-tu:
“Alkissah adalah sepohon kayu terlalu besar; maka di bawahnya itu ada seorang bertapa, senantiasa menge-jamkan matanya. Maka pada ketika itu terbanglah seēkor lang menyambar seēkor tikus; maka tiba-tiba jatuhlah tikus itu ke tangan orang yang bertapa itu. Maka apabila dirasa oleh orang bertapa itu, maka dibukanya matanya; lalu dilihatnya sekor tikus betina dalam tangannya. Maka orang pertapa itu pun meminta do'a kepada Allah; maka tikus itu pun jadilah seorang anak perempuan. Lalu dibawanya kepada isterinya serta katanya: “Ambillah anak perempuan ini, peyharakan olehmu baik-baik!” Maka diambil oleh isterinya serta dipeliharakannya seperti anak sendiri. Hatta beberapa lamanya anak perempuan itu pun baliglah serta dengan baik parasnya. Maka apabila dilihat oleh orang bertapa akan anaknya telah besarlah, maka ia berkata kepada isterinya: “Adapun anak kita ini patutlah kita persuamikan dengan orang berkucasa lagi gagah berani.” Maka orang pertapa itu pun memanggil Raja Matahari; maka ia pun datanglah. Maka kata orang bertapa itu: “Ambillah tuanhamba akan anak hamba ini menyadi isteri tuanhamba!” Maka jawabnya: “Bukanya aku berkucasa! Awan itulah menutup aku; maka ialah berkucasa dari pada aku.” Maka dipanggilnya awan serta katanya: “Kawinlah engkau dengan anakku ini!” Maka jawab awan: “Aku tiada berkucasa, melainkan angin itulah besar kuasanya dari pada aku!” Maka dipanggilnya pula angin. Maka kata angin: “Aku tiada berkucasa; berapa besar angin Sekalipun, ditahan oleh sebuah gunung.” Maka dipanggil pula Raja gunung. Maka katanya: “Aku tiada berkucasa; sekor tikus boléh mengorék aku; ialah terlebih besar kuasanya!” Maka dipanggillah Raja tikus. Maka setelah sudah putuslah bicara, maka Raja tikus itulah hendak kawin dengan anak orang pertapa itu. Maka kata Raja tikus: “Jikalau isteriku itu menyadi seperti aku, boléhlah aku kawin dengan dia; maka sekarang ini ia manusia. Betapakah periku kawin dengan dia?” Maka orang bertapa itu pun memintalah do'a; lalu anak perempuan itu pun kembalilah kepada asalnya; lalu kawinlah ia dengan Raja tikus itu. Demikianlah halnya: masing-masing dengan suratan- nya, tiadalah bolēh berubah-ubah. Sekarang janganlah engkau bersusahkan halmu; terlebih senang menjadi menteriku dari pada dahulu menjadi menteri gagak itu; melainkan engkaualah kuharapkan menjaga pintu kotaku.“
Hatta maka demikian halnya beberapa lamanya, setelah dilihat oleh gagak itu ia sudah dipercaya oleh Raja burung hantu itu, maka disuruhnyalah seēkor burung gagak memberi khabar kepada Raja gagak, katanya: “Segeralah himpunkan segala sampah-sampah; maka apabila aku pesankan, bawalah sampah itu bersama-sama.” Maka dilihat oleh gagak suatu hari, maka disuruhnyalah bawa segala sampah itu kepadanya. Maka segala ra'iat, gagak itu pun datanglah membawa segala sampah itu ditutupnya pintu gua itu. Maka terbanglah seēkor gagak pergi mengambil api, lalu dibakarnyalah sampah itu. Maka segala burung hantu, yang dalam gua itu, semuanya habislah mati sekali; seēkor pun tiada terlepas lagi. Maka kemuedian segala gagak itu pun kemballah pula ke tempat yang lama itu, diam dengan sejahteranya. Maka Raja gagak itu pun terlalulah sukacitanya serta memeuji-muji akan bijaksana menterinya itu dengan beberapa puji-pujian.“ Maka jawab menteri itu: ”Ya tuanku! Demikianlah halnya: terkadang seteru itu patut dijunjung di atas kepala, terkadang patut dipikul di atas bahu, terkadang dipijak di bawah kaki adanya. Maka jikalau tiada yang demikian itu, bahwa bukannya kelakuan yang bijaksana. Tiadakah tuanku mendengar hikayat seēkor ular memakan katak sebuah kolam habis?“ Maka titah Raja: ”Betapakah hikayatnya itu, hai menteriku?“ Maka sembah menteri itu:
“Ada seēkor ular tua duduk berpikir-pikir: ”Bagaimana ‘akal aku hendak memakan segala katak yang dalam kolam ini sekali!“ Maka pergilah ia duduk di tepi kolam itu seperti laku orang bertapa. Maka pada tatkala itu kelocarlah Raja katak serta segala bala tenteranya dengan segala bunyi-bunyian. Maka adalah rajanya itu mengendaraï seëkor katak berjalanan-jalan dalam kolam itu. Maka terlihatlah olëh Raja katak kepada ular yang di tepi kolam itu. Maka ia bertitah kepada seorang menterinya, katanya: “Pergilah engkau periksa kepada ular itu, apakah kehendaknuya duduk di sini!“ Maka pergila menteri itu bertanya. Maka jawab ular itu: ”Hai sahabatku! Sebab susahku dan kedokaanku maka aku datang kemari ini.“ Maka olëh menteri itu segala perkataan ular itu semuanya dipersembahkannya kepada Rajanya. Maka apabila didengar olëh Raja akan perkataan menteri itu, maka dihimpunkannya segala menterinya serta bertitah: “Apakah bicara kamu sekalian akan hal perkataan ular itu?“ Maka jawab menteri itu: ”Ya tuanku! Adalah pada kehendak patik sekalian, jikalau bolëh kiranya dengan barang daya upaya ular itu diken-darai olëh tuanku seperti kuda, terlalu kebesaran tuanku; niscaya masyhöerlah nama tuanku, disebut orang tuanku menaiki ular; maka diketahui olëh segala katak yang dalam dunia ini. Karena telah diketahui olëh segala isi ‘alam, bahwa ular itu seteru katak; maka sekarang telah menyadi kuda tuanku.“ Maka dibenarkanlah olëh Raja akan kehendak segala menterinya itu, lalu dipanggilnyalalah akan ular itu serta bertitah kepada-nya: “Hai ular! Jadilah engkau akan kudaku, supaya kunaiki atas belakangmu, dan aku bery akan dikau pada sehari seëkor katak makananmu.“ Maka jawab ular itu: ”Baiklah; jikalau ada kasihan tuanku akan patik, bahwa se‘umur hidup patik, patik menyadi hamba tuanku.“ Maka diamlah ular itu dengan katak yang banyak dalam kolam itu, menjadi kuda Raja katak. Maka pada tiap-tiap hari diberinya seëkor katak akan makanannya. Hatta beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu habislah segala katak yang dalam kolam itu dimakan ular itu, hanya tinggallah Raja katak itu juga seorang dirinya. Maka pada suatu hari laparlah ular itu, lalu ditelannyalah akan raja itu pun. Setelah habislah segala katak itu, maka ular itu pun keluarlah dari kolam itu. Demikianlah halnya: jikalau hendak membinasakan seteru itu, ta‘ dapat tiada hendaklah menurutkan kehendaknya dahulu, supaya lalailah ia dengan sukacitanya. Bahwa demikianlah kelakuan menteri yang bijaksana itu menjalankan pekerjaan tuannya itu dengan tiada melarat atas dirinya dan atas ra'iatnya.“
Maka apabila didengar olêh anak Raja keempat orang akan hikayat itu, maka sukacitalah sangat hatinya serta katanya: “Ya tuanku! Terlalulah ‘ajaib sekali kissah yang tuanku ceriterakan ini; maka sekarang pun ceriterakanlah pula hikayat yang keempat itu, supaya hamba sekalian mendengar akan dia.” Kemudian maka diceriterakanlah olêh Berahmana yang bernama SUMASANMA akan hikayat yang keempat dengan lemah lembut suaranya serta dengan manisnya.
CERITERA YANG KEEMPAT
Maka kata Berahmana SUMASANMA: “Hai anakku keempat! Adapun harta yang dalam tangan itu tiadalah harus kita berikan kepada orang, maka kemudian kita berdukacita. Adalah seperti hikayat buaya telah melepas-kan kera yang dalam tanganya, kemudian ia beroleh siksa sampailah ia mati. Demikianlah kelak akhiirnya.” Maka kata anak raja itu: ”Bagaimanakah hikayatnya itu, ya tuan-ku?” Maka kata Berahmana itu: “Alkissah adalah se-buah sungai; maka di tepi sungai itu adalah sepohon kayu kedempung. Maka di atas pohon itu adalah seëkor kera diam. Maka pada tiap-tiap hari dijatuhkannya buah kedempung itu ke dalam sungai; maka dimakanlah olëh buaya yang dalam sungai itu. Maka demikianlah kehidu-pan kedua merëka itu pada tiap-tiap hari. Hatta pada suatu hari naiklah buaya itu ke darat berjemur; maka pada ketika itu berkatalah buaya kepada kera yang di atas pohon itu: ”Hai sahabatku! Bahwa sesungguhnya adal-ah kehidupanku ini dari pada kasihanmu; maka aku diam di bawah pohon ini, sebab memakan buah-buah yang kaujatuhkan dari atas pohon ini. Maka aku berjanji sekali-kali tiadalah aku bergerak dari pada tempat ini.” Maka apabila didengar olëh kera itu akan perkataan buaya demikian, maka sukacitalah ia, sambil berkata: “Hai sahabatku! Jikalau demikian perkataanmu itu, terlebih banyaklah buah-buah akan kujatuhkan kepadamu, supaya bolëh kita bersahabat dengan setiawan selama-lamanya dengan selamatnya.” Kalakian maka ting-gallah kedua binatang itu dengan berteguh-teguhan setia seorang membahagikan rezekinya kepada seorang dengan berkasih-kasihan beberapa lamanya. Sebermula maka adalah isteri buaya itu tinggal dikuala sungai itu. Maka beberapa lamanya dinantikannya suaminya itu, tiada juga pulang; lalu disuruhnyalah seëkor buaya pergi memanggil suaminya itu, katanya: “Engkau katakan kepada suamiku bahwa aku terlalu sakit payah, hendak bertemu dengan dia.” Maka buaya yang disuruh itu pun datanglah bertemu dengan suaminya itu. Maka katanya: ”Adapun isteri tuanhamba itu terlalu sakit payah; hasratnya hendak bertemu dengan tuanhamba. Maka sebab itulah ia menyuruhkan hamba datang memanggil tuanhamba ini. Maka sekarang pun hendaklah segera tuanhamba datang bersama-sama dengan hamba ini.” Maka sahut buaya itu: “Adapun aku ini adalah bersahabat dengan seëkor kera, serta sudahlah aku berteguh-teguhan janji; maka sekarang pun jikalau ia memberi izin kepada hamba, bolëhlah hamba pergi.” Maka jawab buaya itu: ”Mengapakah tuanhamba berkata demikian itu?” Maka kata buaya: “Adapun yang menghidupkan aku dan yang memeliharakan aku, ialah, karena sudah menyadi sahabat. Maka sekarang sebab isteriku itu aku melepaskan dia, tiadalah pateet.” Maka apabila didengar olëh buaya itu akan perkataan itu, maka berpikirlah ia: ”Apakah periku hendak membawa ia ini kembali?” Maka berkatalah ia: “Adapun isteri tuanhamba itu terlalulah sakit payah; maka beberapa orang sudah mengobati dia, tiada juga sembuh; kemudian datang seorang tabib, katanya: ”Jikalau bolëh dapat hati kera, niscaya sembuh-lah penyakitinya itu.” Maka kata buaya itu: “Hai tolan-ku, apa periku hendak membunuh kera itu, karena terlalulah besar kebajikannya kepadaku? Tiadalah sampai hatiku hendak membunuh akan dia; lagi pun pekerjaan yang demikian itu bukankah dosa besar adanya?” Maka kemudian berpikir pula ia: ”Jikalau aku takutkan dosa itu, niscaya hilanglah isteriku dan binasalah segala isi rumahku, dan sunyilah negeriku.” Maka ia berpikirlah demikian itu dengan masygulnya. Maka kera saha- batnya itu pun pulanglah dari hutan dengan membawa buah-buahan, datang mendapatkan buaya itu. Maka serta dilihatnya akan hal buaya itu dalam dukacitanya, maka berkatalah kera itu: “Hai sahabatku! Pada hari ini hamba lihat berubahlah wajah tuanhamba, seperti laku orang yang menaruh percintaan rupanya.” Maka jawab buaya itu: ”Hai sahabatku! Benarlah seperti perkataan tuanhamba itu. Sebab lamalah sudah hamba meninggalkan kampung hamba dan anak isteri hamba, sebab itulah hamba berdukacita.” Maka kata kera itu: “Jikalau demikian, pergilah tuanhamba pulang bertemu dengan anak isteri tuanhamba; maka kemudian boléhlah tuanhamba kembali.” Maka jawab buaya itu: ”Tiada datang hati hamba hendak bercerai dengan tuanhamba; maka jikalau boléh kiranya tuanhamba bersama-sama pergi, barang seketika hamba bertemu dengan kekasih hamba itu, maka kemudian boléhlah kita kembali pula bersama-sama.” Maka beberapa pula perkataan buaya itu yang lemah lembut membuduk kera itu. Maka lembutlah hati kera itu hendak pergi bersama-sama dengan buaya sahabatnya itu. Hatta maka naiklah kera itu ke atas belakang buaya itu, lalu dibawanyalalah berenang ke laut. Maka adalah beberapa lama antaranya ia berenang itu, maka berpikirlah buaya itu dalam hatinya: “Apakah dayaku hendak membunuh kera ini, karena terlalulah kasih hatiku akan dia?” Maka sambil berpikir itu maka bereanglah ia perlahan-lahan dengan masygulnya. Maka setelah dilihat oleh kera itu akan hal buaya itu demikian, maka kata kera: ”Hai sahabatku! Apakah juga yang tuanhamba masygulkan ini, dan apakah juga sesoceatu yang ada dalam hati tuanhamba? Khabarkanlah kepada hamba!” Maka kata buaya itu: “Hai sahabatku! Adalah isteri hamba itu terlalu sakit payah; maka ia menyeruhkan seëkor buaya memanggil hamba. Maka beberapa orang tabib telah mengobati dia, tiadalah juga sembuh. Maka ada seorang tabib mengatakan: jikalau boléh dapat hati kera, niscaya sembuhlah penyakitnya itu. Maka sebab itulah hamba terlalu sangat dukacica ini.“ Maka apabila didengar oleh kera akan perkataan buaya itu, maka berdebar hatinya, seraya berpikir: ”Wahai, buaya ini hendak menipu akulah rupanya.“ Maka katanya: ”Hai sahabatku! Mengapakah tiada tuanhamba katakan kepada hamba tahadi, supaya bolêh hamba bawa hati hamba itu bersama-sama? Karena ‘adat sekalian kera itu, apabila hendak berjalan jauh, maka ditinggalkannya hatinya itu di rumah. Maka sekarang pun marilah segera kita berbalik mengambil hati hamba itu, supaya bolêh hasil pekerjaan isteri tuanhamba itu.“ Maka pada sangka buaya itu benarlah perkataan kera itu; maka ia pun segeralah kembali. Maka kata kera itu: ”Segera-segeralah tuanhamba berenang, karena hamba takut dimakan oleh burung burung hati hamba itu; karena hamba sangkutkan dipohon kedempung itu.“ Maka berlari-larilah buaya itu. Maka setelah hampirlah ke darat, maka melompatlah kera itu naik ke atas pohon kedempung itu. Maka kata buaya itu: ”Hai sahabatku, segeralah ambil hati tuanhamba itu, supaya kita pergi!“ Maka jawab kera itu: ”Hai sahabatku! Maukah tuanhamba mendengar suatu hikayat?“ Maka jawab buaya itu: ”Betapakah hikayat itu?“ Maka kata kera: ”Dengarlah oleh tuanhamba baik-baik, supaya jangan tuanhamba menjadi bodoh demikian itu! Alkissah maka adalah seëkor Raja singa dan menterinya seëkor serigala diam dalam suatu hutan. Maka pada suatu hari datanglah menterinya itu menghadap. Setelah dilihat oleh Raja, maka katanya: “Hai menteriku! Pada hari ini sakit perutku; jikalau bolêh engkau caharikan hati keledai, aku makan; niscaya segeralah sembuh penyakitku ini.” Maka sembah serigala: “Jikalau dengan titah tuanku, bolêhlah patik caharikan.” Hatta maka keluarlah serigala itu, lalu masuk ke dalam negeri. Maka pergilah ia ke kampung benara. Maka adalah di sana seëkor keledai. Setelah sudah benara itu membawa kain- kain, maka dilepaskannya keledai itu; dibubuhnya sengkang pada dua kakinya di hadapan, supaya jangan ia berjalan jauh-jauh. Maka datanglah serigala itu hampir kepada keledai itu, serta katanya: “Mengapakah tuanhamba ini terlalu kurus hamba lihat?” Maka jawab keledai itu: ”Hai serigala! Apa boléh buat? Demikianlah untung nasib hamba. Semenjak dibelinya akan hamba sampailah sekarang ini, pada tiap-tiap hari tiada berhenti, dimuatkannya segala kain orang dalam negeri ini di atas belakang hamba; maka apabila petang, diikatnya kaki hamba dua ini seperti tuanhamba lihat ini. Maka sebab itulah terlalu dukacica hati hamba, karena terkenangkan nasib cełaka itu.” Maka jawab serigala: “Adapun kita ini, binatang yang empat kaki, sekali-kali tiada patut merasai siksa yang demikian ini. Jikalau tuanhamba maeë me-nurut perkataan hamba ini, boléhlah tuanhamba mendapat kesenangan se’emur hidup. Marilah hamba bawa menghadap Raja singa; boléh hamba pohonkan kepadanya supaya diberinya martabat menteri besar.” Maka jawab keledai: ”Hai serigala! Adapun bangsa singa itu tiada ia menaruh kasihan akan hamba Allah; jikalau hamba pergi kepadanya, niscaya dibunuhnyalah hamba.” Maka kata serigala: “Bahwa sekali-kali jangan tuanhamba berpikir demikian. Sekian lama hamba ini sekalian duduk di bawah perintahnya, mengapakah tiada dibunuhnya? Adapun ‘adat singa itu: jikalau ia lapar, dimakannya gajah dan binatang yang besar-besar juga; tiada dirusakkannya akan hambanya. Maka jikalau syak hati tuanhamba, ku-rang percaya, biarlah hamba mengaku akan jiwa tuanhamba itu.” Maka apabila didengar oléh keledai perkataan serigala itu, percayalah ia, lalu diikootnya serigala itu. Maka dibawanya akan dia kepada Raja singa. Maka apabila dilihat singa keledai datang, maka berlari-larilah ia datang hendak menerkam akan dia. Maka keledai itu pun terkejut serta berteriak, lalu lari. Maka kata serigala: ”Mengapakah tuanku sangat gopoh? Sabarlah sedikit!” Maka serigala pun pergilah mendapatkan keledai itu seraya berkata: “Mengapakah tuanhamba berlari, karena ‘adat Raja singa itu demikian, jikalau dilihatnya barang sesoatu yang dikasihinya. Karena itulah segera ia datang hendak mencium tuanhamba, sebab sangatia berkenan melihatkan kelakuan tuanhamba itu, hendak dijadi-kannya menteri. Maka sebab ‘akal tuanhamba terlalu kecil, itulah dibuat aniaya olêh benara itu pada tiap-tiap hari.” Maka jawab keledai itu: ”Sebab hamba percaya akan perkataan tuanhamba itu, maka hamba datang. Maka sebelum hamba sampai, Raja singa itu hendak menerkam hamba. Adapun sekarang apakah guna perkataan tuanhamba lagi?” Maka jawab serigala itu: “Bahwa sesungguhnya engkau ini dungu. Adakah raja yang besar itu mau membunuh orang dengan tiada seme-na-mena; dan lagi adakah raja itu mungkir dari pada perkataannya? Se’umur hidup hamba belum meliyat orang menolakkan kebajikan, melainkan engkaualah. Bahwa nyatalah tuanhamba ini bebal. Maka sekarang pun marilah tuanhamba hamba bawa, dan turutlah perkataan hamba ini!” Maka berbagai-bagailah perkataannya; maka keledai itu pun dibawanyalah kepada Raja singa pula. Sebermula maka apabila dilihat oleh Raja akan keledai itu, segeralah ia datang mendapatkan dia seperti laku orang hendak berdakap. Setelah hampirlah maka ditangkapnya lekumnya, lalu diisapnya darahnya, serta berkata kepada serigala itu: ”Hai menteriku! Duduklah engkau di sini: aku hendak pergi minum air.” Maka ditinggalkannya serigala itu menunggu. Maka serigala itu pun memakan biji mata dan telinga keledai itu. Setelah datanglah singa itu, maka dilihatnya keledai itu tiada bermata dan bertelinga lagi; maka katanya kepada serigala: “Manakah mata dan telinga keledai ini?” Maka jawab serigala itu: ”Ajaib sekali perkataan tuanku ini! Jikalau ada ia bermata dan bertelinga, maukah ia berbalik kembali pula?” Hatta kemudian berhimpunlah segala serigala duduk memakan bangkai keledai itu. Demikianlah hikayatnya itu.“ Maka kata kera kepada buaya itu: ”Hai buaya! Engkaukah hendak menipu aku seperti keledai yang kena tipu itu? Sekarang pun telah putuslah sudah persahabatan kita dari pada waktu ini, dan tiadalah lagi aku memberi engkau buah-buahan itu, melainkan engkau caharilah rezekimu sendiri.“ Maka apabila didengar olēh buaya itu akan perkataan kera itu, maka menyesallah ia akan dirinya dengan tiada beruna, sehingga matilah buaya itu dengan hal yang demikian itu.”
Syahdan maka kata anak raja keempat itu: “Ya tuanku SUMASANMA! Telah sudahlah hamba sekalian dengar hikayat itu dengan sempornanya. Sekarang pun tuanku ceriterakanlah pula hikayat yang kelima.” Maka kata Berahmana itu: “Hai tuanku! Jikalau kita berbuat barang suatu pekerjaan dengan tiada periksa, akhirnya ta‘ dapat tiada kita akan menyesal juga adanya. Adalah seperti hikayat seorang isteri Berahmana memeliharakan seēkor cerpelai; maka sebab tiada dengan periksanya, akhirnya menyesallah ia.” Maka kata segala anak raja itu: “Ya tuanku! Bagaimanakah hikayatnya itu? Tuanku ceriterakanlah, supaya hamba sekalian dengar dengan sukacita adanya.” Maka diceriterakan olēh Berahmana seperti yang tersebut di bawah ini.
CERITERA YANG KELIMA
Maka diceriterakanlah oleh orang yang empunya hikayat: Adalah seorang Berahmana tiada beranak. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian, maka dibelinya sekor anak cerpelai. Maka dipeliharakannya akan dia seperti anaknya sendiri; pada tiap-tiap hari diberinya nasi dengan air susu. Meskipun demikian selalu ia meminta do'a juga, mudah-mudahan dikaruniakan Allah subhanahu wata'ala kepadanya seorang anak. Maka setelah beberapa lama antaranya, maka dengan takdir Tuhan berolehlah ia seorang anak laki-laki. Serta lahir anak itu, maka terlalu sukacitalah Berahmana itu. Maka katanya kepada isterinya: “Anak kita ini terlalu baik parasnya aku lihat. Niscaya dilanjutkan Tuhan ‘umurnya. Kalau panjang usianya boléhlah ia menyadi pandai dan bijak-sana. Ta’ dapat tiada ia akan menyadi penghulu kelak.” Maka kata isterinya kepada suaminya: “Ini baharu lahir anak kita, sekian panjang ceriteranya; jikalau ia sudah besar sedikit, niscaya terlebih pula panjangnya lagi ke-lak, seperti hikayat anak Berahmana, demikianlah ada-nya.” Maka jawab suaminya: “Bagaimanakah ceriteranya itu?” Maka kata isterinya: “Alkissah adalah sebuah negeri; maka dalam negeri itu adalah seorang Berahmana, terlalu sangat miskin. Maka pada suatu hari dijamu orang akan dia makan; maka pergilah ia makan. Setelah sudah maka diperiksa oleh orang yang empunya rumah itu akan segala hal ahwalnya. Maka jawabnuya: ”Adapun hamba ini seorang dagang, yang tiada beradik kaka, lagi pun yang tiada bertempat diam; terlalulah siksanya dari hal makan minum pada sehari-hari.“ Maka kata orang yang empunya rumah itu: ”Jikalau demikian baiklah.
Ada pada hamba suatu periuk tepung bertih; bawa oleh tuanhamba ke negeri Anu itu; tuanhamba jual, supaya bolēh tuanhamba mendapat faḍahnya.“ Maka diambil oleh Berahmana itu akan tepung itu, dibawanyalah berjalan. Setelah rembanglah matahari, maka ditaruhnyia periuknyia itu di bawah sepohon kayu, lalu berbaringlah ia. Maka dalam tidurnya itu berpikirlah ia dalam hatinya, katanya: ”Apabila sudah kujulal tepung ini, maka kubelikan pula seékor kambing. Maka apabila besar kambing itu, maka beranak-anaklah ia. Maka kujualkan pula kambing itu, kubelikan pula seékor lembu. Maka kupeliharakan lembu itu barang dua tiga tahun, niscaya menjadilah empat lima ēkor. Maka kemudian kujualkan air susuna; bolēhlah aku kawin. Setelah sudah aku kawin, maka beranaklah pula aku. Maka apabila anakku itu tidur, maka ibunya itu pergilah bekerja rumah. Maka kemudian menangislah anak itu; lalu aku pun bangunlah serta berkata: “Hai perempuan celaka! Mengapakah engkau biarkan budak ini menangis?” Maka naiklah marahkku, lalu kuambil kayu, kupeokul isteriku itu.“ Lalu dipuckulnya periuk tepung bertih itu pun pecahlah, habislah berhamburan sekalian tepung itu pun bercampurlah dengan pasir. Hatta menyesallah ia akan dirinya serta berkata: ”Bahwa salah sekali sangkaku yang demikian ini.“
Maka kata isteri Berahmana itu: “Demikianlah tuanhamba pun; anak kita baharu lahir, maka tuanhamba ceriterakan untungnyia dan segala hal ahwalnya.”
Syahdan pada suatu hari isteri Berahmana itu hendak pergi mandi, lalu diserahkannya anaknya itu kepada suaminya. Maka ditunggulah oleh Berahmana akan kanak-kanak itu. Maka pada ketika itu datanglah penyu-ruh Raja memanggil dia. Maka oleh Berahmana itu diambilnyalah cerpelai itu sambil katanya: “Tunggulah olēhmu adikmu ini, karena aku dipanggil Raja.” Maka ditunggulah oleh cerpelai itu. Maka dengan seketika itu juga datanglah seëkor ular hendak menggigit kanak-kanak itu. Serta dilihat oleh cerpelai akan ular itu, maka melompatlah ia; lalu ditangkapna ular itu, digigitnya berkeping-keping. Lalu berlari-larilah ia pergi hendak memberi tahu Berahmana itu serta dengan mulutnya berlumur darah. Maka pada ketika itu Berahmana itu pun pulang dari rumah Raja. Setelah dilihatnya cerpelai itu datang berlari-lari dengan berlumur darah mulutnya, maka berteriaklah ia dengan suaranya yang besar, katanya: “Wahai, binatang celaka ini telah membunuh anakku rupanya!” Lalu dipalunya akan dia dengan kayu yang pada tangannya itu; maka matilah cerpelai itu. Setelah itu maka masueklah ia ke dalam rumahnya, dilihatnya kanak-kanak itu lagi tidur lelap; ada ular berkeping-keping dekatnya. Maka menyesallah ia, sebab membunuh cerpelai itu dengan tiada periksanya. Demikian itu datanglah pula isterinya, lalu diceriterakamnyalah halnya itu kepadanya. Maka kata isterinya: “Sekalian ini telah jadi, sebab gopoh tuanhamba, lagi tiada dengan periksa. Adalah seperti ceritera tukang cukur.” Maka kata Berahmana itu: “Bagaimanakah ceriteranya itu?” Maka kata isterinya:
“Alkissah ada sebuah negeri: maka dalam negeri itu ada seorang saudagar. Maka isteri saudagar itu pun beranaklah seorang anak laki-laki. Maka oleh saudagar itu dipanggilnya ahlu’nnujum, disuruhnya lihat untung celaka kanak-kanak itu. Maka jawab ahlu’nnujum: ”Adapun kanak-kanak ini apabila diperanakkan, bapanya dan ibunya akan mati. Maka anak itu pun akan mendapat siksa, tetapi kemudian ia akan mendapat kesenangan.“ Maka apabila didengar oleh saudagar akan perkataan nujum itu, maka katanya: ”Jikalau demikian, apakah gunanya anak yang demikian ini dihidupi?“ Lalu disuruhnya buangkan ke tempat orang membuang sampah. Maka setelah dilihat oleh isterinya hal anaknya itu, maka susahlah hatinya, lalu mati. Maka apabila dilihat oleh saudagar akan hal isterinya telah mati itu, dan anaknya itu pun tiada lagi, maka pikirnya: “Apakah gunanya aku ini hidup?” Lalu dibenuhnyalah dirinya. Maka kedengaranlah khabar itu kepada Raja; maka datanglah orang memeriksa. Maka diambil oleh Raja segala harta bendanya; dan mayat keduanya itu pun ditanamkan oranglah. Maka segala dayang-dayang itu pun berpikirlah: “Bahwa harta tuan kita telah habislah; baiklah kita pergi memeriksa anak yang dibuangkannya itu.” Maka didapatinya kanak-kanak itu belumlah lagi mati; lalu diambilnya, dipeliharakannya. Maka sampailah kepada enam belas tahun usianya, terlalulah siksa kehidupannya. Hatta pada suatu malam ia tidur lalu bermimpilah ia, dilihatnya seorang pertapa terbang datang kepadanya seraya katanya: “Hai kanak-kanak! Terlalu sengsara kehidupannmu ini. Maka sekaran pun janganlah engkau takut; hendaklah engkau turut perkataanku ini: Esok pagi-pagi pergila engkau mandi dan sucikanlah rumahmu. Setelah itu akan datang tiga orang seperti aku ini rupanya meminta sedekah. Maka engkau ambil kayu, pukul olehmu akan dia. Maka barang perkataanmu niscaya diberinya.”
Setelah sudah maka jagalah budak itu, dilihatnya seorang pun tiada. Maka apabila pagi-pagi hari pergila ia mandi serta disucikannya rumahnya, lalu bercukurlah ia. Maka dipegangnya tongkatnya, duduklah ia dimu-ka pintunya. Maka apabila tengah hari betul, datanglah tiga orang meminta sedekah. Maka oleh budak itu dipu-kulnya mangkuk orang itu. Setelah itu dipuckulnya pula orang yang bertiga itu. Maka sukacitalah merëka itu melihat kanak-kanak itu, lalu diberinyalah harta terlalu banyak akan kanak-kanak itu, sehingga menjadi kayalah budak itu. Tetapi segala hal ahwal itu semuanya dilihat oleh tukang cukur itu. Setelah itu paelanglah ia ke rumahnya; maka pergila ia mandi dan mencucikan rumahnya serta bercukur kepalanya; lalu memegang suatu tongkat, duduklah di muka pintunya. Maka lalulah tiga orang meminta sedekah; maka dipu-kulnya akan merēka itu. Gemparlah orang mengatakan tukang cukur itu memukuI orang meminta sedekah. Maka berteriaklah ketiga merēka itu; lalu ditangkap oleh segala hamba Raja akan tukang cukur itu, dibawanya kehadapan Raja. Maka diperiksa Raja akan dia. Setelah itu, maka titah Raja akan dia: “Jikalau demikian kelakuan tukang cukur ceIaka itu, bawah akan dia, sulakan!” Demikianlah ceriteranya orang yang tiada dengan periksa atas barang suatu pekerjaannya.“ Dan lagi kata isteri Berahmana itu kepada suaminya: ”Mau-kah tuanhamba mendengar hikayat orang dengan periksanya kepada barang suatu pekerjaannya?“ Maka jawab Berahmana itu: ”Bagaimanakah ceriteranya itu, hai isteriku?“ Maka kata isterinya:
“Ada sebuah negeri; maka dalam negeri itu ada seorang saudagar, terlalu besar kayanya, dan lagi ada padanya isteri, terlalu ēlok rupanya; dan lagi ada seorang anak laki-laki ketiyil. Maka berpikirlah saudagar itu: ”Baiklah aku berlayar ke negeri yang lain.“ Maka musta‘idlah segala perkakasnya itu akan berlayar. Maka berpesanlah ia kepada isterinya, katanya: ”Hai kekasihku! Peliharakanlah anak kita itu baik-baik dan peliharakan pula dirimu dari pada fitnah dunia ini.“ Kemudian ia berpesan pula kepada anaknya, katanya: ”Hai anakku! Jikalau engkau bertemu dengan benda yang mulia-mulia, jikalau barang berapa harganya Sekalipun, belilah olēhmu, dan bernia-galah engkau!“ Maka saudagar itu pun berlayarlah.
Hatta berapalamanya maka kanak-kanak itu pun besar-lah dan tahuIah ia berniaga dan berjual beli. Alkissah maka dalam negeri itu juga adalah seorang Berahmana laki isteri dengan seorang anak laki-laki. Adapun anaknya itu telah pandailah akan segala jenis ‘ilmu dan kepan-daian. Maka sukacitatalah hati ibu bapanya sebab melihat anaknya telah fahamlah segala jenis ‘ilmu itu. Maka adalah pada tiap-tiap hari datang bapanya itu kerumahnyia, disuruhnya juga anaknya itu membaca surat dan belajar ‘ilmu. Maka sekali peristiwa pada suatu hari dilihatnya anaknya tiada mengaji; maka marahlah juga ia dan disuruhnya mengaji. Maka marahlah anaknya itu, lalu pergilah ia mendapatkan ibunya serta katanya: “Hai ibuku! Tiadalah tertahan lagi hamba akan kelakuan bapaku itu; pada tiap-tiap hari ia amarah. Dari pada hamba diam di sini, biarlah hamba membuangkan diri ke negeri yang lain. Maka ibuku katakanlah kepada bapaku itu.” Kemedian maka naiklah anaknya itu ke atas rumahnya, lalu bersembunyi, serti berpikir dalam hatinya: “Barang daya upayaku, aku bunuh juga akan bapaku itu; baharulah puas hatiku.”
Hatta maka bapanya itu pun pulanglah ke rumahnya, lalu dipanggilnya akan isterinya, katanya: “Manakah anak kita itu; sudahkah ia makan?” Maka jawab isterinya: “Janganlah engkau bertanyakan anak itu; sebab engkau membuat gaduh serta marah akan dia sehari-hari, telah sudahlah ia pergi membuangkan dirinya ke mana-mana.” Maka apabila didengar oleh Berahmana akan perkataan isterinya itu, maka dukacitalah ia dalam hatinya terlalu sangat, seraya menampar-nampar dadanya, katanya: “Wahai biji mataku dan buah hatiku! Apakah sebab ia membuangkan dirinya itu?” Maka kata isterinya: “Bagaimana engkau membuat aniaya akan dia, pada tiap-tipa hari engkau amarah akan dia.” Maka jawab suaminya: “Adakah engkau ketahui dalam hatiku ini? Adakah ibu bapa itu membuat aniaya akan anaknya?Apabila kita memuji anak sendiri, niscaya binasalah kelak akhirnya.” Maka segala perkataan ibu bapanya didengarlah oleh anaknya dari atas rumah itu. Maka pada ketika itu juga turunlah ia serta menyembah kaki bapanya. Maka didakap oleh bapanya serta diciiumnya kepala anaknya itu sambil menangis berbagai-bagai bunyinya. Maka kata anaknya: “Wahai bapaku! Adalah pada hatiku hendak membunuh bapaku juga. Maka sekarang bagaimanakah daya boleh ake menghilangkan dosa itu?“ Maka kata bapanya: ”Ji-kalau engkau hendak menghilangkan dosamu itu, pergilah engkau ke rumah mentuaru dan kerjakanlah perkedaannya, supaya disiksakannya akan dikau; niscaya hilanglah dosamu.“ Maka diperbuat oleh anaknya seperti perkataan bapanya itu. Setelah dua tiga bulan lamanya ia diam pada rumah mentuaranya itu, maka pada suatu hari disindir oleh mentuaranya akan dia dengan berbagai-bagai perkataan. Maka kata isterinya: ”Baiklah tuanhamba pergi mencahari, supaya lepas dari pada perkataan ibu bapaku itu.“ Maka oleh anak Berahmana itu dibuatnyalah suatu surat, lalu disuruhnya joael kepada isterinya. Maka oleh isterinya itu diberikannya ke tangan saudaranya, disuruhnya joael seraya katanya: ”Adapurn harganya surat ini seribu dinar.“ Lalu dibawanyalalah surat itu masuk ke dalam negeri. Maka beberapa orang hendak membeli surat itu; apabila didengarnya harganya, tiadalah mau ia membelinya. Lalu dibawanyalalah surat itu ke kedai anak saudagar yang telah berlayar itu. Maka adalah pada hari itoleah anak saudagar itu memulai membuka kedai; maka dibawalah oleh orang surat itu kepadanya. Maka apabila dilihat oleh anak saudagar itu akan surat itu, maka teringatlah ia akan pesan bapanya: ”Barang benda yang mulia-mulia itu belilah olêhmu.“ Lalu ditanyanyalah harganya. Maka jawab orang itu: ”Seribu dinar.“ Maka dibelilah oleh anak saudagar akan surat itu. Setelah itu maka disampulnya dengan kain sutera yang mulia; lalu dibawanya ke tempat tidurnya, digantungkannya.
Sebermula maka bapanya itu pun kembalilah ia dari pada pelayaramnya; pada malam hari sampailah ke rumahnya, lalu ia masuk ke dalam biliknya. Maka dilihatnya ada seorang laki-laki tidur dengan isterinya. Maka cemuruaanlah hatinya seraya berpikir: “Bahwa sesungguhnya inilah kejahatan isteriku ini.” Lalu dihunusnya pe- dangnya hendak memarang kedua merēka itu. Maka terkena pedangnya itu kepada tali surat yang tergantung itu, lalu putuslah jatuh kehadapannya. Maka dipungutnya surat itu, lalu dilihatnya adalah tersurat dalamnya dengan huruf yang besar, katanya: “Barang siapa membuat sesuatu pekerjan dengan tiada periksa, niscaya ia akan menyesal kelak adanya.” Maka serta dibacanya surat itu, maka digantungkannya pula; lalu ia kelocar. Maka hari pun sianglah; lalu kelocarlah isterinya itu mendapatkan sumaminya dengan anaknya; iteupundatang menyembah kaki bapanya. Maka bertanyalah saudagar itu kepada isterinya: “Siapakah laki-laki ini?” Maka jawab isterinya: “Inilah anak yang tuanhamba tinggalkan dahelul itu.” Maka olēh saudagar itu segala hal ahwalnya pada malam itu semuanya diceriterakannya kepada isterinya. Maka dipanggilnyalah anaknya itu, lalu ditanyanya: “Dari mana datang surat ini yang tergantung di atas tempat tidur itu?” Maka jawab anaknya: “Tatkala bapaku hendak berlayar dahelul itu, bapaku berpesan: Barang benda yang mulia dibawa orang, belilah olēhmu! Maka sebab itulah hamba beli surat ini seribu dinar.” Maka jawab bapanya: “Sejahteralah atasmu, hai anakku! Sebab surat inilah terpelihara jiwa kamu keduanya.” Maka sukacitalah saudagar itu kedua laki isteri serta anaknya selama-lamanya. Demikianlah hikayatnya memeriksa atas sesuatu hal itu.“
Maka apabila didengar olēh anak-anak Raja yang keempat itu akan hikayat yang kelima perkara itu, menyadi lembutlah hatinya serta menurut segala nasihat dan pengajaran orang serta menolakkan segala kejahatan dunia akhirat. Maka apabila dilihat olēh Berahmana SUMASANMA akan kelakuan anak-anak Raja itu, telah menurutlah ‘ibarat dan kias hikayat itu, sukacitalah hatinya, lalu dibawanya kepada ayahnya. Maka Raja pun sukacitalah, sebab melihat anaknya telah ber'akal dan bijaksana serta budiman lagi setiawan adanya. Maka diberinyalah harta terlalu banyak akan Berahmana itu dengan tiada terkira-kira adanya. Wa'llahu a'lam.
Telah tammatlah hikayat Panja Tanderan, yang amat indah-indah karangannya dalam negeri Melaka pada empat belas hari bulan Rajabu'lmukarram, pada tarikh 1251, yaitu pada 4 hari bulan November tahun maséhi 1885.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekeryaan semacam itu.
Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.