Baca EPUB (OCR): Hikayat Midan, Orang Dayak

23 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 9 ms

Daftar isi
  1. HIKAYAT MIDAN, ORANG DAYAK
  2. W. P. DE VRIES
  3. DAFTAR ISI
  4. Landmarks
  5. DAFTAR GAMBAR-GAMBAR
  6. FASAL YANG PERTAMA
  7. FASAL YANG KEDUA
  8. FASAL YANG KETIGA
  9. FASAL YANG KEEMPAT
  10. FASAL YANG KELIMA
  11. FASAL YANG KEENAM
  12. FASAL YANG KETUJUH
  13. FASAL YANG KEDELAPAN
  14. FASAL YANG KESEMBILAN
  15. FASAL YANG KESEPULUH
  16. FASAL YANG KESEBELAS
  17. FASAL YANG KEDUABELAS
  18. FASAL YANG KETIGABELAS
  19. FASAL YANG KEEMPATBELAS
  20. FASAL YANG KELIMABELAS
  21. FASAL YANG KEENAMBELAS
  22. FASAL YANG KETUJUHBELAS
  23. UNCOPYRIGHT

HIKAYAT MIDAN, ORANG DAYAK

W. P. DE VRIES


Logo Penerbit MasasilaM

HIKAYAT MIDAN, ORANG DAYAK

karya

W. P. DE VRIES



TERSALIN KEPADA BAHASA MELAYU OLEH F. B. SANDERS

TERHIAS DENGAN 8 HELAI GAMBAR

Gebruders Graauw's Uitgeversmaatskhappij en Boekhandel N.V.

Amsterdam-Surabaya

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: delpher.nl

Ilustrasi sampul: Jungle Clearing with Spreading Palms 1928, karya Francesco Dal Pozzo

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



DAFTAR GAMBAR-GAMBAR

  1. Midan dilepaskan, tatkala diserang oleh orang Melayu.
  2. Perahunya digalahkan dengan memakai buluh panjang.
  3. Berdirilah ia di hadapan anak.
  4. Orang Kayan membunuh orang Melayu dengan lembingnya.
  5. Orang Batang-Lupar berkata cara riuh.
  6. Dengan ati-ati ia menyelina dibelukar.
  7. Lalu orang Cina mulaï bercerita.
  8. Midan melambai dengan tangan.

Midan dilepaskan, tatkala diserang oleh orang Melayu

Midan dilepaskan, tatkala diserang oleh orang Melayu.


FASAL YANG PERTAMA

Ada orang yang meriwayat cerita MIDAN.

Di negeri Grunburg tinggallah Tuan Notaris Van Haalen. Pada suatu hari anaknya—bernama Koos—duduk di kamarnya, sedang belajar ilmu bumi. Diha dapannya letaklah kitab peta; pada peta pulau Berunai ditunjuknya dengan jarinya suatu bagian pada peta itu. Sementara itu dibacanya dengan suara nyaring, dari kitab ilmu bumi:

“Bagian pulau Berunai sebelah hulu belum diketa hui orang benar-benar. Yang mengediami daerah itu, ialah bangsa Dayak. Orang itu masih liar, kenamaan ka rena kesukaannya, yaïtu: mengayau.”

“Itu perkataan sia-sia.” Itu dikatakan olêh orang yang tiba-tiba berdiri di belakang kursi tempat duduk Koos. Demi terdengar suara itu—yang sudah dikenalnya—Koos menolêh,...... lalu mukanya berseri. Katanya: “Selamat pagi, mamak!” Kemudian ia menyambung lagi, katanya: “Yang mamak sebutkan: ”perkataan sia-sia“ itu apa?”

Biarlah diterangkan duloë kepada pembaca-pembaca, siapakah orang yang dipanggil olêh Koos “mamak”. Bi arlah Tuan itu seolah-olah dikenalkan kepada pembaca kitab ini.

Tuan Hendrik Van Haalen, ialah saudara Notaris Van Haalen, yang tinggal di negeri Grunburg. Mamak Henk bekas opsi laut. Setelah umurnya sampai limapuluh tahun, dimintanya lepas dari pada pangkatnya. Katanya sendiri: Ia melabuhkan sauhnya, yaïtu di pelabuhan: rumah tempat tinggal saudaranya Notaris Van Haalen, di negeri Grunburg.

Koos Van Haalen terlalu amat senang hati, karena mamaknya itu menumpang di rumah bapaknya. Lain dari itu Koos juga besar hati disebabkan sekarang ada orang serumah, yaïtu opsi laut yang telah melihat ba- nyak negeri asing, serta yang pandai meriwayat rupa- rupa cerita tentang sekalian negeri yang sudah dilihatnya. Koos tiada jemu mendengarkan cerita-cerita yang diri- wayat olêh mamaknya. Cerita-cerita itu dimalumkan olêh Koos pula kepada teman-teman sekolahnya. Sesungguh- nya temannya itu mengatakan, bahwa Koos tertalu som- bong, karena ada mamaknya yang bekas opsi laut; tetapi merèka mendengarkan juga dengan hirau cerita Koos... Lain dari itu: Mamak Henk ialah seorang yang sikapniya baik, muka menyatakan ialah orang laki-laki yang baik hatinya.

Koos mengulangkan pertanyaannya: “Yang kamu maksudkan apa itu, mamak? Mengapa- kah kamu mengatakan: perkataan sia-sia?” “Yang kamu baca tadi itu: perkataan sia-sia!” ja- wab mamak.

Koos bimbang hati karena pengira mamaknya berbèda, katanya: “Mamak, sebenarnya...... dikitab ini ternyata yang kita sebutkan tadi!”

“Bolèh jadi, Koos, tetapi...... isi kitabmu itu tiada sesucai dengan kebenarannya. Sebetulnya orang bangsa Dayak, ialah orang yang biadab, artinya: orang bangsa Dayak itu belum diajari cara Eropah; sebab itu orang Eropah menamakan dia ”orang liar“. Sebetulnya orang itu tiada bersifat liar; Adapun kesukaan mengayau......”

“Mamak, benarkah atau tidakkah...... orang Dayak masih suka mengayau?” tanya Koos yang amat hèran. Lain dari itu Koos cemburu hati juga sedikit: baharulah dibacanya cerita orang bangsa bumi putera Berunai, yang mengediami pulau Berunai=Tengah. Cerita itu menyatakan suatu ayo¹; tanda kemenangannya dibawa nya ke kampungnya. Di situ merèka diterima dengan hor mat sebagai orang gagah berani betul.

“Coba dengar, Koos,” kata mamak; “tatkala kita masih anak, berumur seperti kamu sekarang, kita juga bersangka bahwa orang bangsa Indiaan (di=Tanah Amerika) selalu membawa tengkorak orang yang masih ber darah! Kemudian hari pengetahuan kita dibaiki, sehingga sekarang mengetahui bahwa orang bangsa Indiaan itu bukan orang sekian kasar, seperti diceriterakan dalam kitab-kitab. Sesungguhnya orang Indiaan—dike palai orang yang bergelar ”Burung Nasar“ atau ”Pang lima Besar“ d.l.l.—mengeluari musuh akan merampas tengkorak orang. Demikianlah juga hal orang bangsa Dayak. Pada masa dulu merèka suka mengayau, barang kali pada masa kini ada lagi kaum:kaum yang socka mengayau. Tetapi pembunuhan itu jarang sekali ke jadian. Pada masa kini adat buruk itu ta‘ lazim lagi.”

Kata Koos:

“Kalau begitu halnya, buruklah perbuatan penga- rang kitab yang suka meriwayat hal itu lagi dalam ki- tabnya.”

“Itu ada sebabnya, Koos; sejak lama orang Eropah tiada mengetahui keadaan tanah di hulu pulau Berunai dan penduduknya. Yang termalum dalam kitabmu itu asal dari pada orang pemberita yang tiada kepercayaan. Kabar itu asal...... dari pada waktu yang sudah lama lalu.”

“Mamak! Mengapa orang Belanda tiada menyelidiki daerah itu dengan sungguh-sungguh? Sejak tiga abad lamanya daerah itu sudah termasuk jajahan keraja- an Belanda. Kalau kalau pulau Berunai tiada terbilang jajahan Kompeni!”

“Pada masa Kompeni, Koos, yang terlebih diindahkan oleh kongsi itu, pulau-pulau Meluku. Dari pulau- pulau Meluku keluarah banyak kehasilan ”rempah- rempah“ yang terlalu amat tinggi harganya. Sesungguh- nya di negeri Banyarmasin didirikan oleh Kompeni kantor dagangan (factoriy) pada abad yang ketaejuhbelas; de- mikian juga di negeri Sukadana dan di negeri Sambas di pihak barat pulau Berunai, tetapi kantor-kantor itu ditinggalkan dalam tahun 1625. Kata orang, ”sebab Kom- peni tiada dapat berniaga dengan penduduk pulau ini; orang bumi putera di situ amat biadab serta ta‘ keper- cayaan, lain dari itu bangsa orang di situ terlalu amat bengis!“ Ingatlah, Koos, saudagar-saudagar berani menye- butkan orang negeri bersifat demikian, Walaupun ham- pir ta’ bergaul dengan dia, dan juga tiada diketahui- nya adat-istiadat dan bahasanya!”

“Tetapi, mamak! kemuedian hari orang Belanda kem- bali ke pulau Berunai; orang Belanda menyelidiki tanah itu dengan saksama serta memeriksakan adat-istiadat bangsa yang diam di situ atau tidak?“

“Sesungguhnya orang Belanda kembali ke pulau Berunai, yaïtu sesudah Raja Napoleon kalah; pada masa itu orang menyerahkan pulau-pulau Hindia-Nederland kembali kepada orang Belanda. Tetapi Pemerintah Belanda harus mengatur banyak perkara di pulau Berunai (dan juga pada pulau-pulau lain), sehingga pekerjaan menyelidiki tanah dan orang penduduknya harus ditangguhkan dulu. Sebenarnya pekerjaan Kerajaan Belanda tiada diusik oleh kelakuan orang bumi putera di pulau Berunai. Yang mengadakan banyak susah, ialah orang bangsa Cina, yang berani melawan Pemerintah Belanda. Seperti kamu sudah mengetahui Tanah Cina (Kerajaan ”Surga“) terlalu kerap diduduki orang, itulah sebab orang Cina berpindah ke-Tanah Hindia-Nederland; merèka mendirikan rumahnya dan tokonya dalam kebanyakan negeri di-Tanah Hindia; maksudnya: berniaga di situ. Orang negeri kurang diindahkannya; ke datangan orang Cina tiada membawa faëdah kepada orang bumi putera. Pada akhir abad yang kedelapanbelas orang Cina di situ melampauï banyak orang negeri. Pada su atu hari orang Cina menyilakan orang bangsa Dayak, katanya hendak diperjamoëinya di negeri Montrado. Te tapi tengah-tengah fësta orang Cina menyerangi jamoënya; banyaklah orang Dayak dibunuhnya.”

Demi terdengar kata mamaknya itu, Koos berteriak, katanya:

“Hai, buruk sekali kelakuan orang Cina-itu! Ta‘ dapat tiada orang Cina dihukum dengan kekerasan sekali oleh Pemerintah Belanda, bukan?”

“Perkara menghukum orang Cina itu bukan per- kara mudah jua. Adapun raja-raja bumi putera tiada berani melawan orang Cina, yang pekerjaannya membuka tambang. Orang Cina yang bekerja ditambang-tambang itu terbagi atas beberapa tumpuk—kongsi namanya—; kongsi itu tolong-menolong; kuasanya amat besar. Tatkala orang Belanda datang di pantai barat—pada tahun 1818—merèka dilawan olèh orang Cina. Sebab itu Pemerintah Belanda menyeruh balatentera ke sana akan mengalahkan orang Cina. Sayanglah! pada masa itu ada juga durhaka di pulau Jawa (Dipo Negoro). Berbangkitlah perang besar—dari tahun 1825 hingga tahun 1830—sehingga segenap balatentera Belanda terpakai di pulau Jawa. Baru pada tahun 1855 orang Cina dialahkan sama sekali.“

“Ta‘ dapat tiada orang Dayak amat senang, karena kemenangan Pemerintah Belanda atas orang Cina. Pada pemandangan kita, baiklah orang Belanda bersahabat dengan orang bumi putera sejak waktee itu!”

“Rupa-rupanya Pemerintah tiada terlalu ingin akan bersahabat dengan orang itu, entah apa sebabnya. Yang diindahkan lebih-lebih olèh Kompeni, ialah pulau-pulau Meluku, akan tetapi sementara pemerintahan raja Belanda Willem I yang diindahkan lebih-lebih, yaïtu pulau Jawa. Jajahian di luar pulau Jawa hanya diindahkan, jika kiranya ada durhaka di situ; lalu Gubernemèn Belanda mengirim balatentera ke sana akan mengalahkan orang yang durhaka itu. Pada tahun 1838 pegawai-pegawai Gubernemèn dilarang akan masuk negeri yang letaknya di hulu.

Dengan demikian nyatalah susah payah benar akan berolèh keterangan tentang keadaan pulau besar ini: orang Eropah hanya mengediami beberapa tempat dipantainya; serta terlaranglah kepada pegawai-pegawai akan bercam-pur dengan orang penduduk di tempat sebelah hulu! Pada permulaan abad yang kedelapanbelas pengetahuan itu tiada maju terbanding dengan yang diketahui olêh pembesar-pembesar Kompeni, ketika baru datang dipu-lau Berunai: orang bangsa Dayak tetap disebut bersifat: “jahat, ta’ setia pada janjinya dan bengis.” Ada seorang Eropah berpangkat assistent-resident yang mengajak Pe-merintah Besar, supaya memperjangdiyikan suatu perse-kutuan dagangan dengan Sultan Berunai yang berku-asâ di bagian pulau yang masih bèbas—yang belum ta’aluk kepada Pemerintahan Belanda. Percobaanya itu sia-sia saja; Pemerintahan Besar tiada mau bercampur perkara orang bumi putera di pulau Berunai. Apakah teryadi sesudah itu? Ada seorang bangsa Inggeris, Yames Brooke namanya. Ia mendirikan suatu kerajaan didaërah Serawak, di sebelah utara negeri Sambas. Ialah merajakan diri sendiri, merajaï Tanah Serawak……

Dalam pada itu pun Pemerintahan Inggeris merampas pulau Labuan.”

“Ta’ ada orang Belanda yang berani menuju ke tanah di sebelah hulu pulau Berunai?” tanya Koos.

“Ada juga. Pada tahun 1843 ada seorang Eropah yang memalumkan maksudnyâ, hendak melalui hutan rimba di antara negeri Banjarmasin dan negeri Pontianak. Sesungguhnya orang itu bukan orang Nederland, tetapi ia menjadi pegawai Gubernemên Belanda juga. Ialah seorang bangsa Jerman—Dr. Skhwaner namanya—; ialah memeriksaï tanah sebelah hulu didaërah tersebut. Perjalanananya dari tahun 1843 hingga tahun 1847. Mula-mula ia melayari sungai Kahayan (dinamaï juga sungai Dayak Besar) arah kehulu—coba, periksalah,

Koos, dipetamu!—Sampailah ia ke sungai Melawi (anak sungai Kapuas). Kemudian kapalnya berhanyut di sungai Melawi. Pada akhrinya ia sampai di negeri Pontianak.

Tuan Skhwaner bercampur dengan orang Dayak; kam pungnya diperiksaï benar-benar. Kata Tuan itu: “orang bangsa Dayak berlaku seperti anak-anak saja, bukan orang liar.” Keterangan nyia itu berbeda sekali dengan tampa Gubermèn, bukan?...... Lain dari itu ada lagi suatu hal yang menyatakan, bahwa orang bangsa Jayak ta’ bolêh disebut: ”tiada tetap pada janji.” Itulah nyata dengan cerita negeri Banjarmasin pada tahun 1870, ya itu kelakuan Suto Ano, kepala kaum orang bangsa Dayak. Itulah durhaka di negeri Banjarmasin.”

“Coba, mamak, ceritakan kiranya hal itu!”

“Penyerangan di negeri Banjarmasin bolêh disebut bagian akhir suatu durhaka melawan Gubernemèn Belanda, yang mulaï pada tahun 1859 dan tahun yang berikut. Jika kiranya Pemerintahan dan pegawainya me ngetahoëi dengan sungguh-sungguh hal ihwal pendu duk pulau Berunai dan kehendak orang bumi putera, kalau-kalau durhaka itu ‘tiada berbangkit serta tida’ tertocempah banyak darah orang. Orang durhaka dike palaï olêh Hidayat dan menterinya Lehman—seorang kepala negeri bangsa bumi putera—; adakalanya Hidayat dapat mengalahkan orang Belanda; pada suatu hari Hidayat beserta pengiringnya merampas kapal Belanda ”Onrust”, yang berlayar arah ke sebelah hulu di sungai Barito. Anak kapal “Onrust” dibunenuhnya habis belaka. Peperangan itu lima tahun lamanya; pada akhrinya orang Belanda—yang dikepalaï olêh Verspiyck dan Happé—dapat menawan kepala-kepala orang durhaka; ada juga beberapa kepala orang durhaka yang dibu nuhnya. Sesudah itu banyak orang bangsa Melayu yang menurut durhaka itu, lari ke sebelah udik, yaïtu ke- hulu sungai Barito. Pantai-pantai pulau Berunai di- diam olêh orang Melayu dan orang Cina; lama-kelamaan orang bangsa Dayak mundur, seakan-akan tertolak olêh orang Melayu dan orang Cina. Pada tahun 1870 orang pelari itu dihimpunkan olêh seorang kepalanya—na- manya Wangkang—lalu merêka mencobakan suatu penyerangan di negeri Banjermasin. Sesungguhnya penye- rangan itu tiada ada hasilnya untuk orang Melayu, te- tapi orang Belanda kuatir, kalau-kalau penyerangan sede- mikian diulangkan sekali lagi.

Pada masa itu Suto Ano—yang namanya disebut di atas—mempersembahkan pertolongannya kepada Gu- bermèn. Ialah menyusuli orang pelari serta menolong serdadu Gubermèn. Pada suatu hari terjadilah per- kelahian besar: Wangkang mati dalam perkelahian itu. Suto Ano dihormati amat sangat, akan pembelas jasanya: ia dianugerahi bintang “Militaire Willemsorde”. Kehor- matan yang sedemikian jarang sekali dianugerahkan ke- pada orang bangsa bumi putera pada masa itu. Hai, sekarang ada orang bangsa Dayak yang dadanya dihiiasi dengan bintang, yang diukiri perkataan: “Voor mud, beleid en trouw” (artinya: karena gagah, bijaksana dan setia). Alangkah berbeda sifat-sifat ini dengan sifat: “ja- hat, bengis, ta‘ kepercaan!”

“Itu dia!” kata Koos. “Sejak waktu itu tentu Gu- bermèn mengubahkan pengiranya tentang orang bangsa Dayak, mamak!”

“Ingatlah, Koos! Apakah termalum dalam kitabmu ini? Jikalau pengira orang manusia tentang barang su- atu hal dinyatakan ”buruk“, dengan susah payah pengi- Hikayat ra itu diubahkan. Dengan perlahan-lahan saja kebennaran menang pada bohong. Baru sejak beberapa ta'hun, pengetahuan tentang orang bangsa Dayak disempurnakan. Yang patut dihormati, karena mengumpulkan keterangan sedemikian, ialah tuan Dr. Nieuwenhuis.“

Kata Koos: “Kita teringat akan nama itu. Kalau ta‘ salah, ia diterima dengan hormat besar di negeri Amsterdam, bukan, mamak?”

Demi terdengar kata Koos bunyinya sedemikian, maknya tertawa tersenyum, lalu katanya:

“O, tidak! Bukan penduduk negeri Amsterdam yang menghormati dia. Tatkala beliau pulang ke negeri Amsterdam, ia diterima oleh suatu perhimpunan orang alim di kebun binatang di situ.”

“Betapa peri pemergiannya, mamak?”

“Bukan sekali saja, melainkan tiga kali ia berangkat ke tanah diudik. Dua kali pulau Berunai dilaluninya dari sebelah barat ke sebelah timur, ya'itu dari negeri Pontianak (dengan menyusur sungai Kapuas) ke negeri Samarinda. Coba, tunjuklah perjalanan itu dipeta mu, Koos! Alangkah panjang perjalanan itu! Ingatlah: Jalan dari Pontianak ke-Samrinda itu bolèh diupamakan dengan perjalanan dari negeri Gibraltar kepu lau Nova Zembla! Apa lagi: ta‘ ada jalan rata, ta’ ada lorong-lorong kecil untuk orang berjalan kaki. Jikalau bersua dengan sungai-sungai, yang tiada dapat dilayari kapal atau perahu, terpaksalah orang berjalan kaki jua dengan melalui hutan lebat-lebat dan payapaya. Dipayapaya itu diperbuat orang duloë suatu jalan dengan memakai batang-batang pohon. Orang bangsa Eropah menderita susah payah besar tatkala meliwati payapaya itu!”

“Bilamana Doctor Nieuwenhuis menyelesaikan perjalanen itu? Sebetulnya ia doctor atau dokter? (tabib).”

“Tuan Nieuwenhuis sebenarnya berjawatan tabib. Beliau menjadi opsir dokter dibalatentera Hindia-Belanda. Datangnya di sini pada tahun 1891, tempat diamnya di negeri Sambas. Perjalanen pertama kalinya pada tahun 1894. Pada perjalanen itu beliau menyertaï tuantuan Mungraaf, Büttikofer dan Hallier. Tatkala tuantuan tersebut itu pulang ke pulau Jawa, tuan Nieuwenhuis lah ketinggalan diudik pulau Berunai; tempat kedia mannya di kampung orang Dayak. Maksudnya hendak menyelidiki adatistiadat dan bahasa orang Dayak dengan saksama.

Niat lain lagi, yaïtu meneruskan perjalanen menu ju kehulu sungai Mahakam. Pada tampa tuan Nieuwenhuis perjalanen sebegitu hanya bolêh berfaëdah, jika sudah mengerti bahasa dan adat orang Dayak. Katanya, perlulah ia berbicara dengan orang negeri sendiri.

Sayanglah! Tuan Nieuwenhuis tiada dapat membenarkan niatnya itu: beliau dipanggil olêh Gubermèn Belanda akan menyertaï balatentera—sebagai tabib!—ke pulau Lombok. Di situ baïru terbitlah perang.

Setelah selesai perang di pulau Lombok, Tuan Nieuwenhuis kembali ke pulau Berunai (pada tahun 1896), lalu dimulaïkannya suatu perjalanen dari pihak barat ke pihak timur. Beliau disertaï tuan Demmani dan tuan Berkhtold. Dalam bulan Yuni pada tahun yang berikut, beliau pulang ke pulau Jawa.

Perjalanen akhir kali pada tahun 1898. Ia disertaï olêh tuan Barth yang diangkat menjadi wakil Gubermèn didaëerah Mahakam-Hulu. Maksud perjalanen ini akan menyelidiki kaum Dayak cabang Kenyah. Kaum itu mengediami daerah di sebelah utara sungai Bulu- ngan. Pendapatan Dr. Nieuwenhuis, bahwa bangsa Dayak itu bersifat...... lain juga dari “jahat, kurang setia dan bengis!”

Koos memandang mamaknya, rupa-rupanya hendak bertanya.

“Nah, Koos, ada apa?” tanya mamak.

“O, kita ingin sekali mengetahui hal ihwal orang bu- mi putera di pulau Berunai didaëerah itu dengan lebar- panjang, mamak!”

“Koos, keinginanmu itu bolêh kita kabaelkan juga- Tatkala kita berlayar di laut-laut didaëerah Tanah Hindia, kita bertemu dengan seorang pemuda bangsa Dayak—Midan namanya—. Jika kamu socka mendengarkan ceritanya, coba datanglah di kamar kita ini malam, setelah selesai pekerjaanmu! Lain dari cerita Midan, cerita itu kita tambahi hal ihwal perjalanan tuan Dr. Nieu- wenhuis.”

Yang diceriterakan olèh mamak Henk itu, akan diri- wayat dalam fasal-fasal yang berikut di bawah ini.

¹ Ayo = kayau.


FASAL YANG KEDUA

Keterangan apa sebabnya orang Dayak mengediami hutan rimba.

Sekali peristiwa pada bulan September, tahun 1875 adalah beberapa buah kapal berlayar dianak sungai Mendalam, yang airnya dialirkan oleh sungai Kapuas (dinamaï juga sungai Pontianak). Pelayaran itu bukan buatan: sesungguhnya anak sungai itu pandak saja, tetapi arusnya terlalu deras, sana-sini ada batu besar yang mengalangi pelayaran kapal. Adakalanya bersua dengan riam, yang sukar dilalui kapal dan perahu. Untunglah ada orang bumi putera (sebelas orang banyaknya) yang amat pandai melayarkan perahu meliwati riam. Kalau bersua dengan riam, orang berdiri di dalam perahu, lalu perahunya digalahkan dengan memakai buluh panjang.

Adakalanya bersua dengan alangan lain: upama bagian sungai yang terlalu tohor atau air terjun kecil. Dalam hal itu orang keluear dari dalam perahu. Pada susuh perahu dikebatkan tali, lalu merèka berlumpat dari batu kepada batu lain sedang menghèla perahu. Sekali-sekali perahu juga dipikul orang yang sedang mengarung di air akan mengantarkan perahu ke sebelah udik, yaïtu pada tempat sungai yang airnya lebih dalam.

-

Perahunya digalahkan dengan memakai buluh panjang

Perahunya digalahkan dengan memakai buluh panjang.

Pada tepi sungai seberang-menyeberang ada hutan rimba; sana-sini dahan pohon melengkungi sungai, sehingga kapal melalui tempat yang dinaungi pohon ka- yu. Kebanyakan kali orang terpaksa menolakkan perahu; rupa-rupanya orang tiada bolèh dapat lelah.

Pada beberapa tempat tepi sungai ta‘ berhutan lagi: hanya ada bekas-bekasnya, yaïtu tunggul-tunggul ka- yu. Nyatalah tunggul itu ketinggalan dari pada pohon- pohon kayu yang telah dibakar orang. Pada tempat sedemikian ada juga bekas ladang, yang sudah diting- galkan orang sesudah penuaian. Tanah ladang tiada per- nah dikerjakan dua kali; habis penuaian, orang ber- pindah kepada tempat lain yang masih berhutan. Di situ pohonnya dibakar pula akan berolèh tanah ladang.

Tanah yang ditinggalkan orang itu ditumbuhi pula dengan lekas-lekas; dalam beberapa tahun saja, tanah berhutan lebat pula.

Tiba-tiba sampailah pada tepi yang terjal; disisi kiri terdirilah tebing yang tingginya dari 15 hingga 25 meter. Dalam celah-celahnya bertumbuhlah belukar dan rupa- rupa pohon yang menjalar, sehingga tebing itu seolah- olah ditutupi kain hijau; diantaranya bertumbuhlah berjenis-jenis bunga yang èlok rupanya. Sana-sini masih kelihatan sebagian tebing yang berbatu-batu gundul; rupanya sebagai tahi hitam besar: itulah tempat suatu guha; dari situ keluare-masuk burung-burung la- yang guha.¹

Demi dilihat oleh orang pelayaran akan tebing itu, perahu-perahu ditujukan arah ke tempat itu. Muatan perahu diturunkannya, yaïtu keranjang-keranjang, yang berisi beras dan ikan kering serta rupa-rupa perkakas, terutamalah kapak dan beliung. Setumpuk orang disuruh memikul barang muatan itu, setumpuk lain disuruh memikul perahu. Laloë tebing didakinya menurut suatu lorong yang sempit saja. Biarlah sekarang orang perjalanan kita kenalkan kepada pembaca pembaca.

Kesebelas orang perjalanan semua terbilang kaum Dayak Kayan yang tempat kediamannya di tepi sungai Ka- pus. Orang yang faham perkara adatistiadat orang bangsa pulau Berunai dapat menentukan itu pada memandang cara mecorèngnya; tiap-tiap kaum ada cara men- cerèngnya sendiri, ada gambarnya masing-masing berbèda rupanya. Lain dari itu orang Dayak Kayan tiada berbèda dengan orang kaum bangsa Dayak lain.

Sikapnya sederhana tinggi, rupanya baik, hanya kakinya dan lengannya kurus. Warna kulit mèrah muda. Se- sungguhnya orang bangsa Dayak masuk bilangan bangsa “Melayu”, tetapi warna kulit muda jua terbanding dengan kebanyakan bangsa Melayu lain, yang mengediami kepulauan Hindia-Nederland. Tatkala umurnya masih muda, kulinya hampir putih, tetapi, lama-kelamaan war- nanya berubah, menjadi lebih tua, disebabkan panas dan hawa. Pakaianinya hanya sedikit; dipakainya hanya suatu ba (cawat perbuatan kain mèrah atau biru) dan lawong (kain kepala). Sebab orang Dayak bersifat hèmat-hèmat, dipakainya pada perjalanan ini suatu cawat yang sudah tua; ada yang memakai cawat yang diperbuat dari pada kulit pohon: sesungguhnya kurang èlok, tetapi lebih teguh. Jika orang Dayak menurut fèsta, dipakainya cawat yang panjangnya sampai duabelas meter.

Lawong (kain kepala) dibelutnya pada kepalanya, hu= lu kepala ta‘ tertetutop dengan kain itu.

Sesungguhnya pakaian nyia tiada diperduli banyak oleh orang Dayak; yang diindahkannya lebih-lebih, ya'itu: perhiasan kulit tubuhnya. Seperti telah diperkatakan ku-litnyia dicorèngnya. Lain dari itu anak telinga dilubangi. Pada masa kecilnya (acapkali beberapa minggu sesudah lahir), anak telinga sudah diberi berlubang; lalu dalam lubang itu dimasukkan tangkai besi, sampai waktu luka sudah sembuh. Kemudian anak telinga diberatkan cincin telinga perbuatan timah putih atau tembaga. Makin anak berumur, makin juga anak telinga diberratkan dengan cincin yang lebih berat, sehingga pada akhiirnya bertambah panjang, serta hiasannya kena pada bahu. Antara orang yang menurut perjalanan ini ada yang memakai cincin telinga perbuatan kayu; ada juga yang memakai cincin dari pada pèrak. Cincin itu diukiri rupa-rupa ukiran. Sesungguhnya hiasan ini dapat mengusik orang pada pekerjaannya...... apa boleh buat!...... Orang yang hendak menghiasi diri, patut lah menderita siksa sedikit!

Ada juga orang Dayak yang gigi saignnya dikikir; ada yang bulue keningnya dan bulue matanya tercabut. Orang Dayak tiada segan menderita kesakitan, jika maksudnya membagusi (menurut tampanya sendiri!) rupanya atau sikapnya. Ada seorang Dayak yang sudah tua betul: telinganya dilubangi juga pada bagian sebelah atas, lalu disisipkan gigi tutul. Ia terlalu sombong akan perhiasannya itu, sebab perhiasan begitu rupa ta‘ boleh dipakai oleh orang kebanyakan. Perhiasan ini seakan akan suatu bintang, yang dianugerahkan hanya kepada orang yang sudah menyatakan gagah beraninya dalam perang. Adapun orang tua itu kuatir, kalau-kalau per- hiasan itu hilang. Sebab itu gigi tutul itu dihubung satu dengan lain dengan sejenis tali karangan. Semua orang memakai gelang, baik pada lengan baik pada kaki. Perbuatan gelang itu dari pada rotan atau tali; ada juga yang diperbuat dari pada kayu atau gading, di- ukiri bagus-bagus. Tetapi pada perjalanan ini gelang-gelang itu ta‘ dipakai, demikian juga kalungnya. Tat- kala menurut fêsta besar, orang Dayak memakai kalung manik-manik; kalung sedemikian amat tinggi harganya. Makin tua manik-maniknya, makin juga naik nilaian- nya. Acapkali kalung itu menyadi pustaka, yang di- wariskan orang tua kepada anaknya. Menurut ketera- ngan tuan Dr. Nieuwenhuis, Sultan Kutei mempuc- nyai kalung yang (menurut taksiran orang bangsa Da- yak!) harganya seperempat juta rupiah. Nyatalah bahwa orang Dayak yang menurut kafilah ini, tiada suka mem- bawa kalungnya; kalau-kalau kehilangan. Sebab itu ka- lungnya ditinggalkannya di rumah.

Apa mulanya orang Dayak sebelas orang ini meninggal- kan kampungnya akan berjalan jauh-jauh dari tem- pat kediamannya? Ta‘ dapat tiada perjalanan ini bukan akan menyenangkan hati saja! Bukan perjalanan akan bertemu dengan orang kemanakannya atau orang sekao- umnya. Lain dari itu orang tiada membawa juga ba- rang dagangan yang dapat ditukarkan dengan barang da- gangan lain. Yang menjadi maksudnya, tatkala menurut kafilah ini, yaïtu hendak mengempulkan uang sedikit. Penuaian padi tiada jadi sebab hujan terlalu ba- nyak; kalau begitu yang akan datang...... lapar. Sebetul- nya orang Dayak banyak kali kedatangan bela kelaparan. Datanglah juga...... Li=Uang, ialah seorang Cina yang diam di negeri Putus-Sibau. Dari negeri itu orang Cina tersebut berlayar dengan perahuna di sungai Kapuas dan anak sungainya. Ia berdagang dengan orang Dayak yang diam sepanjang sungai-sungai. Tetapi dalam dagangan itu yang beruncung saja, ialah Li Uang. Dalam perahuna dimuatnya berjenisjenis barang yang amat disukaï oleh orang Dayak: kain rupa-rupa warna, gelang perbuatan gading, tembakau dan garam. Orang perempuan Dayak mengamat-amati barang itu, matanya berseri; orang laki-laki ingin mendapat tembakau dan garam, tetapi ini kali Li Uang punya barang dagangan ta‘ bolêh laku: orang Dayak tiada mempunyaï barang ke- hasilan yang dapat ditukarkan dengan tembakau, garam, perhiasan, kain, d.s.b. Hai, Li Uang pintar betul, ia berakal...... Tiada ada beras? Tidak apa-apa; ditokonya, di negeri Putus-Sibau masih ada banyak beras! O, ta’ u-sah dibayar dengan uang tunai, o, tidak! Biarlah orang yang membeli barangnya menurut dia ke negeri Putus-Sibau dalam perahuna. Orang Dayak itu harus berjan-ji mengumpulkan berjenisjenis hasil hutan untuk Li Uang: karèt, rotan, damar. Hasil hutan itu tiada bolêh dikumpul didaërah kampung orang Dayak, tum-buh-tumbuhan yang menghasilkan barang tersebut itu, sudah lama dibinasakan oleh orang negeri. Pohon-pohon yang dibinasakan oleh orang Dayak, tiada diganti baru! Orang Dayak terlalu lalai!

Jadi akan memperoleh hasil hutan itu, perlulah orang pergi kepada hutan rimba yang letaknya jauh dari kampung tempat kediamannya. Sesungguhnya orang Dayak tiada segan meninggalkan kampungnya, biarlah lama sedikit; tetapi ada hal yang menakutkan orang: daërah tempat pemergiannya belum sentosa. Di situ ber-kembara orang bangsa Dayak lain, yaïtu kaum Bukat dan kaum Batang-Lupar, orang bangsa Dayak yang asal dari tanah Serawak. Orang Dayak itu biasa datang di daerah Belanda akan merampas.

Meskipun demikian, orang Dayak seolah-olah terpaksa menurut ikhtiar Li-Uang akan menurut dia ke negeri Putus-Sibau, supaya mendapat beras seberapa berguna. Tatkala di negeri tersebut, orang Dayak diberi beras d.l.l., tentu merèka disuruh berjanji akan membayar dengan hasil hutan. Jadi: orang Dayak berhutang kepada Li-Uang. Hutang itu dibesarkan lagi, karena orang Dayak membeli juga barang hiasan dan kain-kain untuk bi-ninya.

Akan menjelaskan hutang itu, ada setempuk orang Dayak laki-laki (sepuluh atau duabelas orang banyaknya) meninggalkan kampungnya. Itulah tumpuk orang yang sekarang mengediami tebing, yang baru didaki olèh orang kafilah. Dengan sengaja tebing batu ini dipilihnya, supaya terlindung dari pada bahaya didatangi bangsa Dayak Batang-Lupar dan Bukat. Sebab letaknya tinggi, tampaklah di situ segala kapal dan perahu, yang berlayar di-sungai Mendalam. Dari sebelah udik tempatnya itu tiada bolèh didatangi orang, sebab sungai kecil tiada dapat dilayari pada bagian itu.

Tatkala kapilah sampai kepada puncak tebing itu, perahu-perahu disembunyikan di bawah belukar, lalu ditutupi lagi dengan daun-daun dan ranting-ranting; gunanya akan dua hal: pertama, supaya jangan dirampas orang, kedua supaya terlindung dari pada panas matahari.

Kemudian sebagian hutan yang letaknya pada tebing itu disediakan akan tempat bermalam: belukar-belukar dicabut.

Pada tempat yang dibersihkan itu didirikan orang sebu ah rumah. Ta‘ dapat tiada rumah itu bersaja=saja ru panya. Tatkala orang Eropah masuk ke dalam rumah itu, lantainya berjungkit, sehingga merèka kuatir mingin= jaknya, akan tetapi orang Dayak tiada demikian; sudah diketahui bahwa lantai itu melentai saja, tetapi ta’ bo leh terperosok. Atap rumah diperbuat dari pada daun dan ranting saja. Dalam beberapa jam jua rumah sudah sedia.

Pada hari ini orang bekerja keras sekali, itu sebab ditentukannya pekerjaan mengempulkan hasil hutan ditangguhkan sampai keèssukan harinya.

Makanan bersaja=saja juga: nasi ketupat dan ikan kering. Sesudah makan, orang merokok atau makan sirih. Sementara itu orang membicarakan perjanjian dengan Li=Uang tentang pekerjaan mengempul hasil hutan. Beberapa waktu lamanya orang menyenangkan hati dengan teka=teki. Pada akhirnya penghulu kafilah ini—Sirang namanya, ialah orang yang menghiasi telinganya dengan gigi tutul—memberi alamat akan masuk tidur.

Keèssukan harinya—tatkala fajar baru terbit—bangunlah orang. Orang Dayak tiada bolèh disebut celik akan tubuhnya. Mandinya ditangguhkan saja sampai waktu pergi ke sungai. Orang semua memakai sabuk; pada sabuknyia tergantunglah pedang. Sarung pedang itu menjadi juga tempat simpanan peleting kecil yang berisi bakal rokok. Sebelah dalam sarung pedang tersimpan lagi suatu pisau kecil—nyu namanya—yang dipakainya dulu akan membersihkan tengkorak yang baru dikayaunya. Kemudian orang mengambil sebagian perbekalan masing=masing serta menurut penghulunya, Sirang. Tatkala sampai kepada salah suatu pohon, ka- paknya dikenakan pada batangnya: orang semua mendengar-dengarkan dengan hirau...... ada seekor burung disisi kanan seraya terbang arah ke sebelah kanan.......Itelah menyadi padak baik: jika kiranya burung itu terbang arah ke sebelah kiri, itulah padak yang jahat; orang ta‘ berani masuk ke hutan dalam hal itu!

Tempat hutan tiada jauh dari tebing. Rupa-rupanya hutan ini belum didatangi orang bangsa Bukat atau orang bangsa pengembara lain. Sirang amat senang hati pada melihat ada banyak rotan pada tempat itu. Orang kafilah terus mulai memotong rotan dengan malat (kapak). Pekerjaan memotong rotan tiada terlalu sukar, akan tetapi adakalanya rotan itu menjalar pada pohon tinggi-tinggi. Pekerjaan melepaskan rotan dari pada pohon tempat penumpangnya amat amat sukar!

Adapun rotan itu suatu tumbuh-tumbuhan yang masuk bilangan “pohon-pohon yang berpelepa” seperti pohon enau, pohon nyiur d.s.b. Di tanah sebelah udik pulau Berunai ada banyak jenis rotan (Calamus); semuanya masuk bilangan sulur-suluran. Ada yang panjangnya 400—500 kaki. Pohon rotan berdahan serta berduri, sehingga diadakannya suatu jala.

Orang Dayak biasa memotong rotan pada bagian yang berdekatan dengan tanah, supaya jangan kehilangan bagian yang terlebih tebal. Ta‘ dapat tiada matilah tumbuh-tumbuhan itu, tetapi hal itu tiada diperdulinya. Jika kiranya batang terpotong pada bagian yang tinggi seku-rang-kurangnya semeter, rotan bertumbuh kembali. Pa-da banyak tempat di hutan pulau Berunai ta’ ada pohon rotan lagi, ditumpas sama sekali karena kebodohan orang Dayak. Untunglah ada bangsa Dayak lain, yang mulai memeliharakan pohon dengan saksama benar.

Menurut nasihat Sirang, rotan yang dikumpul itu dibagi atas bagian yang panjangnya kira-kira 4 hingga 6 meter. Setelah dijemur sedikit, batang itu diperbuat ikatan. Pucuknya dan bagian yang alus saja dipergunakan sebagai tali kebatan oleh orang bumi putera. Di-Tanah Eropah rotan itu digunakan akan membuot tongkat, kursi dan keranjang.

Sesudah beberapa hari terkumpullah beberapa timbunan rotan. Dengan nasihat Sirang, orang berhenti memotong rotan; perjalanan diteruskan akan mengumpul damar dan karèt.

Pada suatu hari—ketika pagipagi—, tatkala orang baru berangkat, tiba-tiba kedengaran bunyi burung “penelahan” untuk bangsa Dayak. Bunyi itu asalnya dari sebelah kiri. Sesudah beberapa detik bunyi burung tsit itu kedengaran sekali pula. Orang kafilah te-rus pulang kepada kemahnya yang baru ditinggalkannya. Menurut kepercayaan orang Dayak terlaranglah bekerja pada hari itu (larangan itu disebutnya mèlo). Larangan mèlo itu terlalu amat keras, ta‘ bolèh dilanggar sekali pun. Meskipun ada pekerjaan perlu sekali, orang ta’ berani melanggar mèlo. Karena sesungguhnya jin yang baik itu biasa menasihatkan orang manusia dengan perantaraan binatang, terutamalah cécak dan ular. Jika kiranya nasihat itu tiada diindahkan, tentu orang kena bahaya yang diadakan oleh jin yang jahat. Lain dari itu dalam hal itu jin yang baik ta‘ suka memberi nasihat lagi kepada orang yang lalai itu.

Sebenarnya orang kafilah ini ta‘ bersua dengan susah karena terpaksa tinggal lagi pada tempatnya ini: lain dari itu merèka senang hati betul karena diam di hutan rimba; merèka merasaï diri terlindung dari pada bahaya. Ta’ ber- sua dengan orang Batang-Lupar atau Bukat, bekasnya pun tiada dapat!

Pada hari yang berikut, orang dapat mengempulkan banyak karèt. Tiba-tiba orang beruntung! Seorang da- lam kafilah—namanya Paku—menjauhi tempat te- mannya. Hai, dilihatnya batang pohon yang ta‘ pernah dili- hatnya; sebab itu dipanggilnya penghulu Sirang. Ialah orang yang sudah berjalan jauh-jauh, ialah menyadi tempat bertanya orang sekaumnya. Baru dilihatnya akan pohon itu, diperhatikannya bahwa daunnya sebagai ku- lit binatang rupanya, baru diisyaratnya kepada teman akan mendekati dia. Katanya (setelah temannya semua sampai kepada tempatnya):

“Jin yang baik memberi anugerah kepada kami, kalau- kalau pohon ini memberi hasil banyak; harga hasil itu melampauï utang kami kepada Li-Uang. Coba, tebang- lah, supaya dapat menentukan berapa besar untung kami!”

Lalu orang bekerja bersama-sama; tiada antara lama re- bahlah pohon. Pada ketiak dahan dan pada celah dibat- tangnya kelihatanlah sejenis zat yang kelabu warnya; ber- butir-butir yang berbèda-bèda besarnya.

Kata Sirang: “Inilah kapur Barus! Coba kumpullah zat kelabu ini, Walaupun butir kecil jua, jangan dilalaikan!”

Demi terdengar nama zat itu, orang kafilah ta‘ usah diajak lagi akan bersungguh-sungguh bekerja me- ngumpulkan butir-butir kapur Barus. Sudah nyata kepadanya, bahwa zat ini berharga mahal serta bahwa orang Cina amat ingin membelinya.

Untunglah! batang pohon ini tua betul; banyaklah celahnya dibatangnya yang penuh-penuh dengan kapur

Barus. Kalau kalau harganya zat yang diperoleh dari pohon sebatang ini lebih dari seribu rupiah.²

Ta‘ dapat tiada orang Dayak terus memeriksaï daerah dengan sungguh-sungguh; kalau kalau masih ada batang pohon kapeur barus lain lagi. Tetapi sia-sia saja! Pohon yang baru ditebang itu ada sendiri diri di hutan ini.

Sesungguhnyta ta‘ bersua lagi dengan pohon kapeur Barus, akan tetapi sedang mencari, tiba-tiba didapatnya pohon rotan bangsa lain, “Calamus draco” namanya. Bu-ahnya mengandung sejenis zat merah warnanya, yang dinamaï orang Melayu “jerennang”. Itulah sejenis damar, yang amat disukaï orang Cina. Jerennang itu di-pergunakan sebagai obat dan sebagai caat juga.

Setelah terkumpullah banyak jerennang, Sirang berikhtiar akan pulang saja, supaya kembali ke kampung, sebelum hari raya nawo (fësta merumput tanah ladang).

Hasil hutan semua dibawanya ke tepi sungai. Seti-banya di situ, orang mengambil kembali perahunna...... Tatkala sampai kembali dikèmah, orang terkejut semua...... didapatnya seorang anak laki-laki yang bergu-ling di sebelah kemah; anak itu tiada bergerak, rebah pingsan rupanya. Kalau kalau anak ini kedatangan lapar dan kelelahan. Umurnya barangkali 9 hingga 10 tahun.

Kebanyakan orang kafilah iba hati pada melihat anak kasihan itu...... Tetapi ada dua orang, yang ta‘ begitu perasaannya: Yung dan Saung sudah banyak kali menyatakan sakit hatinya karena di kampungnya ta‘ ada tengkorak orang yang dikayau olèh kampung sendiri. Jika hendak menangkal bahaya, perlulah meminjam tengkorak kepunyaan kampung lain. Yung dan Saung bolèh disebut orang “kuno”, merèka masih terkenan akan adat istiadat masa dulu. Sudah beberapa kali dimalumkan nya niatnya hendak keluar akan mengayau. Tetapi niatnya itu tiada dibenarkan juga, sebab menakuti kemaraham kepala kampung: ialah orang yang ta’ dapat dipermainkan!

Hai, sekarang terbitlah kesempatan akan merampas tengkorak! Kesempatan itu ta‘ bolèh dilalaikan. Kebetulan kedua orang itu menghunus malatnya (kapaknya), hendak membunuh anak itu. Tetapi Sirang mengantara, berdirilah ia di hadapan tempat anak berguling itu; ka- tanya:

“Hai, kamu bodoh benar. Kiramu bahwa kita suka dimarahi olèh hipui? (kepala kampung). Jika kiranya orang sekaum dengan anak ini mendapat tahu, bahwa anaknya ini kami bunuh, atau jika kiranya kabar pembunuhan itu malum kepada Raja Serawak, niscaya merèka mendatangi kampung kami akan meminta uang pembalas pembunuhan ini; kalau tiada dibayar,......ten- tu kampung kami akan dibakarnya! Mengapakah kamu ingin mempunyai tengkorak sendiri? Bukankah tengkorak pinjaman itu beruna juga dalam banyak hal? Pada pemandangan kita tengkorak pinjaman itu jauh lebih kuat dari pada tengkorak anak ini: ingatlah tengkorak yang kami biasa memakai itu menyadi pusaka besar, kepunyaan kepala kampung, ialah Amung.”

Kebanyakan orang Dayak menurut pihak Sirang; de- ngan demikian kehiduapan anak pungut itu terpelihara.

Berdirilah ia di hadapan anak

Berdirilah ia di hadapan anak.

Tetapi anak itu harus dijagaï benar-benar, supaya jangan mati kelak. Ada seorang kafilah terus memerah tebu, lalu airnya dicampur dengan air minum. Cam puran itu ditucangkannya ke dalam mulut anak! Tat kala anak membuka matanya, diberi makan nasi. Hai, terlalu rakus ial...... Seperti diceritakan kemudian hari olêhnya, ia kelaparan. Sementara lima hari lamanya ia ta‘ makan, hanya sekali-sekali didapatmya buah hutan. Orang Dayak terlalu ingin tahu akan ceritanya dan betapa peri anak sampai kepada kemah ini. Tetapi segala pertanyaan dijawabnya dengan katanya: bahwa ia bernama Midan.

Budak itu terlalu lelah, sehingga terus tidur lelap sesudah makan. Sedang tidur ia diangkat oleh seorang Dayak, lalu dibawa ke tepi sungai. Midan baru sedar pula, tatkala perahu sudah tengah berlayar mengilir. Lalu ia ditanyaï pula, tetapi jawabnya kurang terang. Yang ternyata saja bahwa kampung tempat kediaman orang tuanya habis dibakar sedang orang pendudoock nya dibunuh; hanya beberapa orang saja dapat berlari arah ke hutan. Ibunya lari juga, ia menyertaï dia pada kelariannya. Tetapi ibunya berluka, lukanya bertambah buruk, pada akhirnya ibunya mati di tengah jalan. Kemudian ia meneruskan kelariannya sendiri jua. Anak tiada dapat menerangkan siapakah bangsa Dayak yang membakar kampung dan apa sebabnya dibuat demikian. Lama sekali pada kemudian hari orang kafilah ini berolêh kabar yang lebih terang. Pada akhirnya baru sekalian ke- jadian menjadi nyata juga. Riwayatnya dinyatakan da- lam fasal yang berikut di bawah ini.

¹ Di situ dinamakan juga: salangan. Sarang burung itu dapat dimakan. Orang Cina amat suka makan hidangan yang disediakan dengan memakai sarang burung layang guha.

² Kapur Barus yang terpakai oleh orang di-Eropah, asal dari Tanah Cina dan Tanah Je pun. Orang Cina lebih suka memakai kapeur Barus yang asalnya dari pulau Berunai, kata orang: kapeur Barus Berunai lebih kuat. Harganya lebih tinggi dari pada kapeur Barus Cina atau Je pun. Hikayat


FASAL YANG KETIGA

Apa sebab kampung Midan diserang serta dibinasakan oleh bangsa Batang-Lupar.

Bukan orang Dayak semua ada tempat kediaman tetap. Di sebelah selatan sungai Kapuas diamlah bangsa Punan, di sebelah utaranya tinggallah bangsa Bukat. Merèka suka berkembara saja di hutan rimba. Pencariannya berburu serta mengumpulkan karèt. Adapun orang bangsa Bukat itu adakalanya bersua dengan orang Dayak yang mengediami daèerah kesultanan Serawak. Pertemuan itu adakalanya berubah...... menjadi perkela- hian! Acapkali orang Bukat atau orang Batang-Lupar itu menduduki sebidang tanah di tepi sungai, yaitu dalam kampung orang yang tetap diam di situ. Pekerjaan mengusahakan tanah dipandangnya hina jua, diserahkan kepada orang kampung.

Pada suatu hari ada orang bangsa Bukat tiga orang mendiami suatu tempat di dalam kampung yang letaknya di tepi sungai Mendalam. Merèka berumah bersama-sama dengan mentuanya; menurut adat orang Dayak, orang yang menumpang di rumahnya cara demikian, berwajib menolong dia pada pekerjaannya; selama menumpang, orang Batang-Lupar itu menurut jua kewajiiban- nya. Akan tetapi pada suatu hari merèka berpindah kepada rumahnya sendiri bersama-sama bininya dan anak- nya. Tiada antara lama terbitlah keinginannya berkembara pula, nafsunya itu tiada dapat ditahannya. Nafsunya itu diturutnya jua, lalu pergi berkembara pula di hutan rimba. Pencariannya mengumpul hasil hutan yang di- jualnya kepada orang Cina dan saudagar bangsa Melayu. Mula-mula orang yang diam di kampung itu membiarkan kelakuan orang Bukat yang sedemikian.

Jika kiranya orang kampung dapat mengira dulu bahwa pada akhirnya orang pengembara menyebabkan ba- haya akan orang kampung sendiri, tentu dilarangnya ke- pada orang itu akan mengembara di hutan atau dibu- ang saja dari dalam kampung.

Pada suatu hari ketiga orang pengembara keluar akan mengumpul hasil hutan. Merèka disertaï beberapa orang kampung juaga. Tiba-tiba dilihatnya ada orang bangsa Batang-Lupar dua orang, rupa-rupanya merèka sesat jalan, ta‘ sempat lagi akan mendapatkan setumpuk orang sekaumnya. Orang Batang-Lupar merampas karèt banyak didaëerah ini, sehingga ta’ sisa lagi karèt untuk orang bangsa Bukat ketiga orang. Itulah mengadakan kemaraham orang Bukat. Kedua orang Batang-Lupar yang ketinggalan tatkala teman-temannya meneruskan per- jalanannya, berguling dinaung pohon besar. Rupa-rup- panya merèka sedang tidur. Pada pengira orang Bukat, orang Batang-Lupar ta‘ usah ditakutinya. Tetapi tatkala orang Bukat mendekati dia, merèka berlumpat akan te- gak, lalu terbitlah perkelahian. Sesungguhnya seorang Batang-Lupar mati dalam perkelahian itu, tetapi, yang seorang dapat berlari. Orang pelari itu lalu dikejar oleh orang Bukat, sia-sia saja, bekasnya pun tiada dapat.

Inilah suatu hal yang bolèh mengadakan bahaya akan orang bangsa Bukat! Ta‘ dapat tiada orang yang lari itu akan memalumkan kepada temannya pertemuan dengan orang Bukat tadi itu, niscaya orang Batang-Lupar berniat menaruh dendam. Perbuatan orang Bukat tentu akan dibalasnya!

Ketiga orang kampung berharap, supaya dipandang juga masuk bilangan orang Bukat, yang ta‘ mempunya'i tempat kediaman tetap. Kalau-kalau kampungnyia tiada diserang olèh orang bangsa Batang-Lupar. Merèka bersangka, bahwa kepala kampungnyia hendak menyerahkan orang yang bersalah itu—orang yang bersalah tiada terbilang kaumnya—kepada Raja Serawak.

Beberapa minggu lamanya ta‘ kedengaran kabar apa-apa tentang pembunuhan itu; pada persangkaannya kabarnya tiada sampai kepada orang Batang-Lupar. Tetapi persangkaan itu tiada sah: pada suatu hari datanglah di kampung suruhan beberapa orang, yang mengantar permintaan, supaya orang yang bersalah itu diserahkan kepadanya.

Itulah suatu perkara penting: ta‘ bolèh diputus olèh kepala kampung sendiri saja. Perlulah didengarnya dulu nasihat sekalian orang laki-laki yang diam dikampungnyia. Kepala kampung memanggil orang laki-laki semua akan bermusyawarat. Tempat bermusyawarat itu di rumah awa (balai désa); suruhan dapat menyertaï persidangan itu juga.

Apa itu awa? Akan menjawab pertanyaan ini, biarlah kita terangkan keadaan kampung orang bangsa Dayak dulu.

Dusun, tempat kediaman orang Dayak, hanya sebuah rumah saja (ta‘ terhitung beberapa rumah kecil, tempat simpanan hasil hutan dan beras, d.s.b.). Rumah itu menyadi tempat kediaman sekalian orang sekaum. Ke banyakan kali tempatnya di tepi sungai. Tepi sungai ter- hubung dengan tempat masuk rumah dengan suatu jalan perbuatan papan. Rumah itu bertonggak; lantai rumah acapkali 6 meter tingginya di atas tanah rata. Tonggaknya amat banyak, kayu keras betul, supaya su- kar dipotong dengan kapak atau dibakar musukh. Tong- gak tonggak dijuru-jurunya diukiri bagus-bagus; terutamalah tonggak pada rumah kepala kampung diu- kiri amat halus. Akan masuk ke dalam rumah diperbuat tangga, tetapi rupanya bersaja-saja: yaïtu suatu ba- tang pohon yang diberi bertakik-takik. “Tangga” itu da- pat diangkat, supaya mengalang orang menaikinya. Ru- mah dikelilingi serambi, pada segala sisinya; lebarnya 4 hingga 5 meter. Adakalanya panjang serambi 250 meter pada kelilingnya. Pada serambi itu kedapatan dapur be- berapa buah. Ketika malam orang laki-laki yang belum bernikah harus tidur diserambi, ta‘ bolêh di sebelah da- lam rumah. Dinding rumah diperbuat papan, banyaklah pintu-pintunya. Ambangnya tinggi. Tiap-tiap isi rumah ada kamarnya sendiri masing-masing sebuah. Kamar ke- pala kampung bertempat di tengah-tengah betul, ta’ ber- beda besarnya dengan kamar-kamar lain, hanya diberi ber- atap yang lebih tinggi. Adalah suatu kamar yang besar, itulah tempat bersidang serta akan menerima jamo- jamunya. Kamar besar itu dinamakan awa.

Jadi nyata, orang kampung tiada usah berjalan jauh-jauh akan menurut perintah kepala kampung. Tiada antara lama sesudah datang suruhan, orang ber- him pun di-awa.

Banyaklah orang memberi nasihat dalam persidangan, supaya permintaan pesuruh itu dikabulkan juga. Jangan kira, bahwa nasihatnya itu beralasan pada ke- adilan, o, tidak! Orang kampung kuatir, kalau-kalau kampungnya dirusakkan, jika kiranya permintaan itu tiada dikabulkan. Lain dari itu orang memperhatikan, bahwa yang bersalah itulah orang yang bukan sekaum, melainkan orang bangsa asing jua!

Orang Bukat tiga orang tiada menantikan keputusan persidangan itu: merèka sudah berlari, sebulum permulaan perhimpunan. Ta’ dapat tiada ada sebabnya! Kepala kampung menyeruroh beberapa orang sekampungnya akan mengejar orang Bukat tiga orang itu, akan tetapi pengejarannya ta’ berhasil. Itulah mengadakan kemarahan suruhan yang datang dari Tanah Serawak. Rupa-rupanya orang itu melupakan, bahwa merèka sendiri banyak kali bersalah karena mengayau; merèkalah yang sudah kenamaan karena kesukaannya mengayau. Kaum-kaum yang mengediami pantai atau negeri yang dekat pantai Tanah Serawak, keluar tiap-tiap tahun dengan menumpang kapal, maksudnya mengayau didaëerah. Pantai di sebelah utara serta di sebelah selatan itu senantiasa didatanginya.

Kebanyakan kali dusun-dusun diserang ketika malam; orang isi negeri dibenuhnya habis belaka. Tengkorak yang dirampasnya kepunyan kaum bilangan serdadu. Tengkorak itu tersimpan dalam rumah yang di dirikan hanya akan tempat simpaman tengkorak; adakalanya tengkorak dipergunakan sebagai perhiasan pada rumah kaum. Di situ tengkorak—yang dicat dulu—digantungkan pada tiang rumah.

Yames Brooke—Raja Tanah Serawak—bersungguh-sungguh akan menidakkkan adat mengayau; orang yang didapatinya sedang mengayau atau yang membawa tengkorak dihukumnya dengan kekerasan Sekalipun. Pada akhirnya kejahatan itu dapat juga dihilangkannya.

Tengkorak-tengkorak harus diserahkan kepada beliau; orang yang melanggar lagi undang-undang larangan mengayau itu didenda.

Orang bangsa Batang-Lupar terpaksa pulang dengan tiada membawa orang tawanan; kepala kampung berjanji kepada suruhan Batang-Lupar itu, bahwa ia terus bersungguh-sungguh akan mengejar orang ja-hat; lalu diantar kepada tempat kaum Batang-Lupar. Tetapi orang Serawak sudah mengerti juga, bahwa perjanjian itu ta‘ bergeona!

Tiada antara lama datanglah kembali beberapa orang penyuruh menuju ke kampung; hal orang Bukat yang lari itu tiada diperkatakan lagi, melainkan ia menda-wa saja, bahwa orang kampung membayar denda besar pada sa'at itu juga. Denda itu harus dibayar dengan menyerahkan tempayan, gung dan manik-manik yang tua-Uang belum payu didaërah itu.

Sebab itu orang kampung dipanggil akan berhim pun sekali lagi olêh kepalanya. Penyuruh lalu memalumkan dawanya di hadapan orang kampung yang sedang bersi-dang.

Orang bersungu-tunguet seraya menyatakan bahwa yang didawa itu ta‘ ada dikampungnyna. Harga tempayan sebuah bolêh ditaksir beberapa ribu rupiah. Adapun tempayan itulah sejenis yang dihiasa naga dan gambar-gambar ajaib rupanya. Kalau-kalau asalnya dari Hindas Belakang. Orang bumi putera memandangi tempayan itu cara berhormat; pada persangkaannya tempayan itu berkodrat. Demikian juga hal gung; itulah juga barang yang dinilaikan amat tinggi olêh orang bumi putera.

Kepala kampung mempersembahkan kepada orang pe- nyuruh barang pusaka, kepunyaannya sendiri; ada orang kebanyakan yang suka menyerahkan juga barang kepunyaannya sendiri yang berharga. Tetapi hati orang Batang-Lupar ta‘ dapat ditawarkan. Dawanya tiada diubah kannya! Nyatalah yang didawanya itu tiada dapat dikasbulkan. Orang Batang-Lupar menyatakan pengamangan: kaum kampung itu didatangi bala, artinya: kampung akan diserang olèh orang Batang-Lupar kemudian hari. Ta’ dapat tiada pengamangan itu menggaduhkan pen-duduk kampung beberapa waktu lamanya. Orang tiada berani keluar dengan ta‘ bersenjata dan ta'disertaï olèh beberapa orang temannya. Pagi-pagi hari orang kampung pergi mandi disungaï dengan cara pakaian seperti biasa dipakainya dipeperangan. Demikian juga pakaian orang tatkala bekerja diladang. Biasanya hanya seorang berka-wal diserambi rumah sementara waktu malam. Sekarang ditetapkan olèh kepala kampung akan berkawal beberapa orang bersama-sama. Demi didapatnyia olèh pengawal ada barang bahaya, wajiblah ditabuhnya gung, supaya orang isi kampung diberi ingat!

Pada suatu malam—ketika gelap gulita—datang-lah orang Batang-Lupar beratus-ratusan banyaknya. Pengharapannya akan menyemui orang kampung. Dalam hal itu orang laki-laki semua dibunuhnya habis belaka, serta orang perempuan dan anak dilarikannya, dijadikan-nya hamba-sahaya.

Tetapi niatnyia itu ta‘ dapat disahkannya karena peraturan penjagaan tersebut. Sebab itu merèka menanti-kan keësukan hari akan mencobakan penyerangan. Setumpuk orang Batang-Lupar berbedil; orang yang berbedil itu disuruh menèmbak orang kampung. Setumpuk lain disuruh memanjati serambi dengan memakai pohon yang bertakik; atau dengan mendirikan batang po- hon kayu yang bertakik juga di bawah lantai rumah.

Penèmbakan bedil ta‘ berhasil; bedil itu suatu jènis yang lama, kalau kalau sudah lama sekali tiada ter- pakai lagi serta tiada terpelihara. Lain dari itu orang Batang=Lupar tiada pandai membedil; tatkala menèmbak- kannya, orang melihat arah ke sebelah, sebab takut akan das! Orang Dayak tiada biasa memakai busur dan pa- nah; senjata yang dipakainya akan melawan musuh yang bertempat jauh sedikit, yaïtu lembing dan sumpitan. Dengan sumpitan itu dilèmparkannya panah kecil yang runcingnya diracuni dulu. Tetapi pelèmpar sumpitan itu tiada jauh. Jadi orang kampung yang melawan musuh, sedang bertempat diserambi rumah, berharaplah akan lembingnya dan kapaknya. Lain dari itu dikapainya batu akan melèmpari musuh. Dengan bambu yang pan- jang dicobakannya menolak orang yang sedang menaiki serambi. Orang yang berani sampai diserambi ditikam dengan pedangnya atau malatnya.

Sudah tiga kali penyerangan orang Batang=Lupar di- tolak; musuh kehilangan banyak orang sebab mati di- peperangan itu, tetapi orang kampung tiada begitu, hanya beberapa orang kena luka saja. Sayanglah! orang kampung ditipu olêh orang Btang=Lupar dengan mus- lihat perang, sehingga keluar dari dalam rumahnya. Be- ginilah muslihatnya:

Setumpuk orang musuh berlari, setumpuk lain bersembunyi diri dalam suatu pengadangan. Demi dilihat itu, orang kampung Dayak itu seakan-akan diajak akan mengejar orang “pelari” itu, maksudnya membunuh musuh seberapa bolêh. Tetapi merêka diserang dari sebelah belakang. Orang perempuan berteriak sekuat= kuatnya akan mengingatkan orang laki-laki; sia-sia jua! Sekarang orang kampung diserang baik dari sebelah belakang baik dari sebelah hadapan: sesungguhnya merèka berlawan sebolèh-bolèhnya, tetapi pada akhirnya banyak orang terbunuh; yang ta‘ terbunuh, ditawan olèh musuh. Orang perempuan terkejut sekali; dicobanya akan berlari bersama-sama anaknya. Hanya beberapa orang berentung; sampai kepada hutan rimba. Kebanyakan orang pelari didapat olèh orang Batang-Lupar, lalu dijadikan hamba sahaya. Rumah dirampas, lalu dibakar. Yang ke-tinggalan dari pada kampung, hanya sebidang tanah yang gundul, hitam warnanya karena bekas kebakaran. Sesudah beberapa tahun bekas kampung ini ta’ nyata lagi, akan ditumbuhi pula.

Seperti telah diperkatakan di atas ini, Midan tiada dapat menjawab pertanyaan tentang kejadian ini. Sebenarnya ia tiada mengingat lagi perbuaten ini, karena ia terlalu bingung, disebabkan dahsyatnya. Lain dari itu dideritanya banyak susah karena kematian ibunya dan karena ia sendiri kelaparan.

Baru sesudah beberapa hari Midan dapat meriwayat untung malangnya, sejak kelarian dari kampung.

Ta‘ dapat tiada ibunya sudah kena luka, tatkala ber-tempat di dalam rumah sedang melindung anaknya; ituslah nyata dengan kain putih yang dibebat pada kepalanya. Kain itu bertahi mèrah asal dari luka yang berdarah. Kalau kalau dengan nasihat ibunya, Midan tiada berlari bersama orang kampung lain, sebab itu merèka tiada ditawan olèh musuh.

Dengan susah payah yang ta‘ terkata orang perempu-an itu dapat melalui hutan yang lebat, menurut suatu lorong kecil. Baru ia berhenti, ketika ta’ kedengaran gaduh lagi. Pada akhirnya ia terjatuh, luka pada kepalanya mulai berdarah pula dengan amat sangat. Ibu berisyarat kepada anaknya supaya ia meneruskan perjalan. Tetapi anak menangis saja, sementara dudock di sebelah ibunya. Pertanyan anak tiada dijawab lagi olêh ibu. Pada pemandangan Midan, ibu sedang tidur. Lalu ia sendiri mengantuk, kemudian ia tidur lelap, karena digagahi kelelahan. Tatkala sedar dari tidurnya, Midan hendak membangunkan ibunya...... tetapi tubuhnya sudah dingin dan kaku; rupanya seperti sau daranya mang, tatkala dikafani pada fèsta nugal (fèsta akan merayakan penaburan diladang). Ibunya mati...... anak muda ada sendiri diri di hutan rimba, yang ta‘ berkampung orang. Tiada ia tahu berjalan arah ke mana. Lama-lama ia tinggal tetap di sebelah mayat. Tiba tiba didengarnya gaduh yang asal dari belukar...... lalu ia berlari selekas-lekasnya; kuatirlah ia kalau-kalau orang Batang-Lupar sudah mendapat bekasnya! Tetapi sebe tulnya ta’ begitu. Kalau-kalau gaduh tadi itu asal dari binatang besar, umpamanya badak atau lembu hutan yang hendak bernaung di bawah pohon. Sementara tiga hari lamanya Midan berjalan melalui hutan; dahaga dipadam dengan air yang tersimpan lagi dalam lubang batang pohon; makanannya...... buah hutan. Ketika malam ia tidur di dalam belukar. Untunglah! Ia tiada diusik olêh binatang liar; sebetulnya didaëerah itu ada banyak tutul. Demikianlah ia sampai pada tebing tempat kemah. Tatkala hendak menaiki tangga kemah, ia kedatangan pusing kepala, terjatuhlah ia. Begitu halnya, tatkala didapat olêh orang bangsa Kayan yang pus lang kepada tempat perahunya.


FASAL YANG KEEMPAT

Midan diamangi pula; Sirang dapat memeliharakan dia.

Sebelum orang Dayak hendak berangkat dengan pera hunya, merèka membuka fa’al dulu. Adakalanya orang Dayak suka menolong jin dalam perkara menelah; demikianlah perbuatan Sirang. Orang kafilahnya diatur pada suatu tempat di hutan. Sirang bersangka bahwa pada sisi kanannya ada burung tsit. Persangkaannya itu sah juga. Tiada antara lama—tatkala ditabuhnya batang pohon—terbanglah burung itu...... kebetulan disisisi kanan. Lalu perahu-perahu dilengkapkannya dengan sebentar juga.

Sekarang pelayaran mudah jua sebab arahnya ke sebelah ilir. Orang yang melayarkan perahu itu harus bersifat ati-ati, sebab di sungai ada banyak riam dan air terjun. Sekali-sekali orang terpaksa keluear dari perahu serta menurunkan muatannya, supaya mengikut tepi sungai saja dengan memikul perahu. Ta’ dapat tiada pekerjaan sedemikian makan banyak waktu; tetapi merèka berharap supaya pulang ke kampung sebelum fès ta nawo. Tentu pengharapan itu bolèh sah, asal...... beruntung, tatkala meliwat suatu bagian sungai yang kenamaan karena berbahaya adanya. Pada bagian itu air sungai mengalir di antara tepi sungai yang bertebing terjal; keadaan tebing itu dari pada batu pasir. Batu itu berguha dan bertanjung yang menganjur jauh ke- dalam pengaliran sungai. Lain dari itu sungai dileng- kungi olèh dahan-dahan pohon, sehingga terang mata hari terempang, Walaupun ketika tengah hari; pada tem- pat itu terangnya seperti sabur-lembur rupanya.

Itulah disebut olèh orang Dayak: tanah ja'ak (tanah berbahaya), tempat kediaman jin jahat; antaranya To Belarè (yin guruh) terlebih ditakutinya. Akan mela- wan jin-jin itu orang Dayak membawa batu, yang ditimbunkan disusuh perahuna. Setibanya di tanah ja'ak, orang mulai melèmpar batu-batu itu; semen- tara itu orang bertempik-sorak senyaring-nyaringnya. Tiba- tiba diamlah orang dari pada berteriak. To Belarè menya- hut! Ada guruh! Halilintar (mata To Belarè) nyata keli- hatan! Tentu To Belarè murka sekali, karena orang berani mendatangi tempat kediamannya. Hai! Melulung- lah ia, bunyinya diulungkan sebagai gaung rupanya. Orang Dayak semua kena dahsyat, ta‘ berani lagi mem- buka matanya. Tangannya diletakkannya dihulud pedang- nya, bersediaialah akan melawani jin, yang berambut pan- jang dan bercakar tajam. Gigi taringnya terlalu besar dan beruncing tajam!

Menurut kepercayaan orang bangsa Dayak tempat ke- diaman jin-jin pada tempat-tempat yang menyebabkan ketakutannya: dalam guha, di antara batu-batu besar di gunung dan pada lèrèng gunung. Jin itu disang- kakannya bertuboh seperti manusia, tetapi lebih besar dan jauh lebih kuat. Seluruh badannya ditumbokhi rambut, yang amat panjang. Barangkali itulah sebabnya orang Dayak biasa mencabut rambut misai dan jang- gut dari mukanya. Orang Eropah yang bermisai atau berjanggut itu dipandangnya dengan syak hati. Akan melindung diri dari pada bahaya didatangi jin, merèka memakai jimat penangkal cetlaka: benih dan urat berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan; batu yang ajaib rupanya dan gigi anjing dan beruang. Lain dari itu dicobakannya menjauhkan jin dari daerah dengan pujaan: dalam dan dekat kepada rumahnya ditempatkan patung atau kayu berukiran akan penangkal jin yang hendak menyebabkan penyakit kepada orang isi rumah. Yang dipergunakannya lebih-lebih akan penangkal jin jahat, yaïtu mengurbankan hidangan-hidangan yang ke sukaannya, seperti nasi, telur ayam, ayam, daging babi. Pengantara jin dan manusia, ialah dayung (baik laki-laki, baik perempuan = pendëta).

Merèka sudah tahu betapa peri menyediakan hidangan itu supaya disukaï oleh jin dan bagaimana cara mengurbankannya. Menurut kepercayaan orang bangsa Kayan, jin baik mengediami negeri asal orang Kayan, yaïtu tepi sungai Kayan (atau sungai Bulungan). Jwa orang mati juga berpindah ke sana; yaïtu ke negeri Apu Kesia, yang letaknya arah ke sebelah hilir dari negeri Apu Lagan. Lebih jauh arah ke sebelah udik tinggal lah jin yang bernama Amei Tingei; ialah berkusasa pada jin, jiwa manusia dan orang manusia.

Tetapi Amei Tingei (jin yang mahatinggi) tiada diindahkan oleh orang Dayak bilangan orang kebanyakan. Yang diindahkannya, ialah to saja. Ialah jin yang menga-tur (menurut persangkaannya) pekerjaan segala hari, seperti To Belarè……

Jin Guruh sama sekali tiada menakuti batu-batu yang dilëmparkan kepadanya oleh orang pelayaran, begitu juga ta’ menakuti pedangnya. Kilat mata To Belarè terus menyilaukan mata orang Kayan. Tië-tiba dibelah- nya pohon besar dengan cakarnya. Pada sa'at itu juga turunlah hujan lebat, sehingga orang Kayan terpaksa mencari tempat perlindungan. Perahunya ditujukan arah kepada suatu rantau, yang terlindung dari pada angin dan hujan olêh batu-batu besar yang menan- jung kepengaliran sungai. Di situ perahu dilabuhkan- nya, supaya jangan kedatangan ombak besar dan arus deras; tatkala ujan, air sungai bertambah-tambah tinggi serta derasnya bertambah juga amat sangat.

Guruh ta‘ berhenti: air sungai makin lama, makin tinggi, hujan terlalu lebat. Sirang memberi perintah, supaya perahu-perahu dikebat dengan tali rotan pada batang pohon yang terdiri di tepi. Sesungguhnya perahu ta’ bolêh lepas serta ta‘ bolêh berhanyut juga, tetapi kalau-kalau air masuk kedalamnya, sehingga tenggelam.

Dalam pada itu pun Yung dan Saung sedang berbisik-bisik kepada orang Kayan lain. Nyatalah perkara apa yang dibilicarakannya, sebab sekali-sekali merèka meman- dang arah kepada Midan. Tiba-tiba Yung menuju kepada Sirang, katanya:

“Hai, nyatalah To Belarè ta‘ mengindahkan kelakuan- mu ini, ta’ dapat kamu melembutkan hatinya: makin lama, makin dekat cakarnya dianjurkannya kepada kami. Tiada antara lama kami ditelannya...... asal kami menda- pat daya-upaya akan menangkal claka itu!”

Demi didengarnya perkataan Yung, Sirang memandang temannya cara berenung. Sudah nyata kepada Sirang, bahwa kata Yung itu tiada terus terang, melainkan ada niatnya lain. Kata Sirang:

“Nah, kalau begitu, marilah, kami menghunus pe- dang jua: kalau-kalau perbuatan sedemikian mena- kutkan To Belarè!”

Pada mendengar yawab ini, Yung tertawa saja, laku nya seperti orang hendak menyindiri saja, katanya: “Tadi kami sudah memegang hulu pedang (malat); To Belare belum menjadi takut; ada hanya satu daya yang dapat menangkal kami dari pada kemurkaannya.” “Daya itu bagaimanakah?” tanya Sirang. Sedang bertanya demikian, Sirang menganjur tangan nya arah kepada Midan, lalu anak itu dihèlanya kepada tempatnya. Midan gemetar karena dahsyat disebabkan guruh dan halilintar. Yung menunjuk arah kepada anak serta berisyarat.... arti isyarat itu sudah terang kepada sekalian orang ka filah. Kata Yung: “Daya upaya, yaïtu suatu pujaan...... mempergunakan tengkorak yang akan dikayau sekarang!” Sirang sudah mengira dulu, bahwa Yung bermaks sud begitu; ia memandangi muka orang semua yang menyertaï dia. Pada persangkaan Sirang muka kebanyakan orang pengiringnyia menyatakan, bahwa merèka setuju dengan niat Yung. Orang terlalu dahsyat karena perbu atan To Belare, serta terlalu ingin akan menangkal ba haya, sehingga ingin juga melakukan pujaan yang diikhtiarkan oleh Yung............. Saung sedang menyediakan pedangnya, bersedialah ia akan mengayau anak...... akan menceraikan kepalanya dari pada tubuhnya...... Kebetulan pada sa‘ at itu kedenga ran bunyi guruh...... Tetapi sudah nyata bunyi seka rang sudah asal dari jauh...... Hal itu dipergunakan oleh Sirang. Katanya: “Coba dengar! To Belare sedang mundur!” Jawab Yung:

“Tetapi...... kalau kalau ia mendekat kembali!” “Itu belum tentu, harus menantikan saja!” kata Sirang.

Kebanyakan orang kafilah setuju dengan ikhtiar Sirang...... Jadi kehidupan Midan terpelihara. Akan tetapi kalau kiranya To Belarè berniat pula akan mendekati tepi sungai, tentu anak itu akan mampus! Sebetulnya Sirang dapat melembutkan hati temannya. Perbuatannya demikian:

Mulamula temannya diperingatkan apa yang diceriterakan oleh Midan, yaïtu kebinasaan kampung orang tuanya. Sesungguhnya belum diketahuinya apa sebabnya orang berlaku begitu, tetapi pada persangkaan Sirang yang menjadi mulanya, yaïtu karena orang kampung mengayau seorang kaum BatangLupar. Sirang meriwayat, dengan terang sekali, bahwa kampung orang Dayak tentu akan diperbuat demikian juga, kalau berani menuntut bela orang BatangLupar dengan mengayau anak laki-laki Midan. Ruparupanya cerita Sirang ini makan dalam hati orang pengiring. Sirang menyambung lagi, katanya:

“Sekarang marilah kita malumkan apa sebab jin yang baik membiarkan bahwa To Belarè mengejutkan kami. Suara burung tsit yang memberi nasihat kepada kami, ta‘ kami indahkan. Itu sebab jin baik hendak menghu kum kami!”

Semua orang hèran demi didengarnya keterangan ini... Karena sesungguhnya burung terbang pada sisi kanan!......Sirang mengaku, bahwa sebetulnya burung tsit bertempat disisi kiri; burung itu seolah-olah dipermainkannya...... orang sendiri disuruh bertempat di sebelah kiri, jadi hanya rupanya burung ada di sebelah kanan. Sirang berset sal diri; berjanjilah ia (sepulangnya di kampung) akan membayar denda serta akan meminta kepada dayung-dayung, supaya merèka bersungguh-sungguh akan menghapuskan dosanya.

Yang dikatakan oleh Sirang itu...... dengan yakin hatinya? Ataukah ia berkata demikian saja supaya hati orang pengiringnya dipalingkan? Supaya jangan memiskirkan lagi niat membunuh anak? Supaya jangan memikirkkan lagi daya-upaya penangkal yang harus dibayar dengan kehidupan Midan? Jika betul begitu,......sampailah juga maksudnya!

Sekarang orang Dayak lebih percaya akan denda itu dari pada percaya akan pengamangan To Belare..... sebab bunyi guruh makin lama makin menjauhi tempat orang.

Tetapi bahaya belum dijauhkan sama sekali: anak sungai Mendalam sudah berbanjir. Ta‘ bolèh menerus-kan pelayaran; terpaksalah orang tetap di dalam rantau akan berlindung. Dengan demikian hilanglah dua hari; tatkala sampai di kampungnya fèsta merumput (nawo) sudah lama mulai. Terlaranglah kepada orang yang baru pulang dari perjalanan akan menurut fèsta itu; lain dari itu merèka ta’ bolèh masuk ke rumahnya serta ta‘ bolèh menumpangkan anak laki-laki Midan ke rumah kepala kampung. Larangan itu dinamakan lali.

Larangan-larangan lali ada banyak dalam kehidupan orang penduduk pulau Berunai sebelah udik. Ada larangan tentang makanan dan permainan. Ada lagi larangan tentang pakaian dan minuman. Beberapa hal masuk larangan lali ketika anak baru lahir, atau ketika ajal orang sudah sampai; jika hendak bernikah dan juga dalam hal orang keluear akan berjalan atau pulang dari perjalanana. Pendèknya: ada lali dalam segala hal yang penting sedikit dalam kehidopean orang bangsa Dayak. Yang menjaga supaya lali itu jangan dilanggar orang, ialah dayung.

Menurut cerita Dr. Nieuwenhuis ada setempuk orang Kayan, yang keluear akan bertemu dengan kaum yang diamnya di tepi sungai Kayan (anak sungai Menda- lam). Tatkala orang itu masih di situ, datanglah hari raya nawo. Sebab itu orang jamu ta‘ bolèh berangkat. Tat- kala pulang di kampungnya, di situ fèsta nawo baru mulai. Jadi di situ juga ta’ bolèh masuk ke rumah- nya. Merèka tentu mati kelaparan kalau ta‘ ditolongi olèh kontrolir yang bersemayam di negeri Putus-Sibau.

Orang kampung lain yang juga keluear akan me- ngumpul hasil hutan, untuk menjelas hutangnya kepada Li Uang pulang ke kampung sebelum mulai fèsta nawo. Merèka diterima dengan senang hati olèh penduduk kampungnya.

Orang yang di bawah perintah Sirang itu membawa ha- sil jauh lebih banyak. Sayanglah merèka terpaksa ber- malam dalam hutan rimba. Sesudah selesai fèsta nawo, merèka diterima dengan tempik-sorak di amin aya (rumah besar).


FASAL YANG KELIMA

Pelajaran Midan.

Midan menolong si Usun yang ada dalam sengsara.

Tiada antara lama Midan lupa akan hal kehilangan orang tuanya. Sekali-sekali ia masih teringat akan penyersangan kampung serta akan kematian bapaknya dan ibu nya; akan tetapi ia ta‘ tertenggelam dalam pikiran begitu rupa. Sekarang ia diterima sebagai anak piara di rumah kepala kampung bernama Pagong. Ialah juga berkus asa akan hamba-sahaya (dinama'i kawan). Hamba-sahaya itu bolêh disuruhnya bekerja menurut kehendaknya. Pada masa dulu (ketika ada banyak perselisihan antara kaum-kaum Dayak, perselisihan itu ditidakkkan dengan perkelahian dan pengayauan) ada amat banyak hamba-sahaya di tiap-tiap kampung. Orang yang menang dalam peperangan, mengantar sekalian orang kampung yang ditawannya ke kampungnya sendiri. Orang itu dijadikan hamba-sahaya kepunyan kaum. Kawan itu diserahkan kepada keperintahan kepala kampung. Pagong sendiri tiada mempunya'i banyak hamba-sahaya. Yang sekarang masih ada, ialah ketorunan hamba yang ditawan dalam perang. Midan menjadi teman hamba-sahaya itu. Jangan kira bahwa Midan terpaksa menderita kehidopean yang bersusah payah saja, sebab termasuk bilangan hamba-sahaya! Adapun kawan itu tiada berhak akan memilih tempat kediamannya; merëka harus bekerja. Kerjanya seakan-akan pembalas makanan, minuman, pakaian dan tumpangan yang diberi kepadanya. Sekalian kerja di dalam rumah, diladang dan di hutan itu dilalukannya dengan pimpinan orang Dayak bèbas. Hasil pekerjaan yang lain dari yang tersebut di atas ini, diserahkan kepada hamba sahaya, bolèh dipergunakan sesukanya jua. Dengan demikian merèka bolèh menyadi orang yang berada ke lak. Seperti akan diterangkan dalam cerita ini, Midan tiada mengaduhkan halnya, Walaupun ia terbilang hamba sahaya.

Sementara keempat tahun yang mula-mula ia disuruh bekerja hanya ketika ada banyak kerja serta keku rangan orang; yaïtu diladang jua. Kerjanya: merum put dan mengusir burung ketika padi mulaï matang. Kerja itu dilakukannya bersama-sama anak kampung lain.

Adakalanya ia disuruh menolong orang kampung pada pekerjaan menangkap ikan, tetapi itu.... tiada di pandangnyia kerja. Melainkan dipandangnyia suatu permainan bagus. Pada waktu yang masih sisa, ia beridin bermain diluear. Permainannya, yaïtu berlumpat, bergu mul dan berenang. Anak-anak juga bermain gasing. Midan sudah beroleh sebuah gasing, diperbuat olèh Sirang dari pada kayu besi. Midan amat pandai bermain gasing, ta‘ dilampauï olèh temannya lain di kampung.

Midan pandai juga membuat sumpitan; ta‘ ada orang di kampung dapat membuat sumpitan sekian lurus; sumpitannya halus benar disisi sebelah dalam: ta’ bergerutu di dalamnya, rata dan licin benar.

Gurunya—Sirang—sombong benar karena mu-ridnya—Midan—terlalu amat pandai dalam peker- jaan ini. Pada suatu hari Sirang berkata kepada Midan:

“Apabila sudah liwat lagi tiga kali orang merayakan festa nangei......, tentu di daerah sungai Kayan ta‘ ada orang bangsa Kayan yang dapat membuat sumpitan (mput) yang sebagus dan sebaik perbuatanmu. Kemu-dian hari kita hendak menunjukkan kepadamu tempat di hutan, di situ bertumbuhlah daun-daun yang patut dipergunakan pada melicinkan mput sebelah dalam. Da-mak perbuatanmu masih terlalau tebal sedikit. Ta’ per-lu damak itu sesuai dengan lubang sumpitan! Hanya ujungnya harus sesua tetapi akan itu harus dipakai sepotong kayu kecil serta ringan. Coba ingat, Midan! Akan membuat damak, pakailah tangkai daun bulung (pohon rumbia). Ada orang yang suka mempergunakan tangkai daun jenis lain, tetapi damak perbuatan sedemikian ta‘ bolêh terbanding baiknya dengan damak yang diperbuat dari pada tangkai daun rumbia.... Runcingnya patut dibakar sedikit, supaya menjadi keras... Hai, apa itu?... Itukah suatu telanga?¹ Kamukah yang membuat? Nyatalah kamu menurut nasihat kita: lama-kelamaan menyadi amat baik! Sudah sekarang jauh lebih baik dari yang duloi!”

Sesungguhnya Midan amat senang hati pada mendengar pujian Sirang, akan tetapi ia berlaku sebagai orang yang malu karena pujian itu; katanya:

“Bahwasanya Lèjo tiada pandai membuat sumpitan yang sebaik sumpitan kita ini, tetapi Lèjo pandai mem-buat hulu pedang yang amat halus dari pada tanduk rusa, lebih bagus betul dari pada hulu pedang yang kita buat.”

“Tentu benar seperti katamu, Midan,” kata Sirang;

“bapak Lèjo—si Akam—bolèh disebut orang yang terlebih pandai dalam pekerjaan itu. Hulu pedang yang dibuat olèh si Akam terlebih mahal harganya di daerah Mendalam...... Pada persangkaan kita si Ajang melampauï kamu dalam pekerjaan membangunkan kapal, bukan?”

Midan membenarkan kata Sirang.

“Hai, anak!” kata Sirang lagi; “perlulah kamu bela jar segala jenis pekerjaan yang dibuat olèh orang bangsa Dayak itu. Perlu sekali kamu menjadi pandai menger jakan berjenisjenis perkakas dan senjata, tetapi.... ingatlah! Mustahil kamu melampauï orang semua da lam sekalian jenis pekerjaan! Kamulah berpekerti akan membuat sumpitan, Lèjo berpekerti akan membuat hulu pedang dari pada tanduk rusa; orang lain berpekerti akan membuat kapal, lain orang pula berpekerti akan menempa senjata. Biarlah tiap-tiap orang belajar suatu kepandaian yang sesuai dengan pekertinya masing-masing. Ta‘ dapat tiada kalau begitu orang mendapat untung yang terbesar. Jika kiranya kamu hendak berolèh suatu hulu pedang yang halus, pergilah kepada Lèjo; bolèh ditukar dengan sumpitan atau tarkasy perbuatanmu sendiri.”

Tatkala hari hujan Midan bermain dengan temannya diserambi rumah. Ta‘ ada tempat bermain di dalam rumah-rumah kampung. Bukan sebabnya rumah itu kecil saja, melainkan sebab rumah itu menjadi juga tempat simpanan perkakas dan perkakas rumah, senjata dan barang yang berharga. Di luar rumah—diserambi—terdapatlah tempat lesung yang dipakai akan menum-buk padi.

Adapun anak-anak bangsa Dayak riuh juga tatkala bermain, ta‘ berbeda dalam hal itu dengan anak bangsa lain di mana-mana jua diboomi! Wah! Riuh besar tat kala Midan beserta temannya Lèjo menurut permainan! Keadaan demikian tiada disukaï oleh orang perempuan yang tinggal di dalam rumah; adakalanya orang perempuan keluar dari dalam rumah akan menegur anak yang terlalu riuh itu. Nasihat orang perempuan biasanya diturut juga oleh anak-anak; anak bangsa putih patut menurut teladan anak bangsa Dayak ten tang sifat penurutan!

Jika gaduh ta‘ berhenti atau kalau gaduh mulai baru kembali sesudah liwat beberapa waktu, anak-anak yang bermain diserambi dilarang tinggal lagi di situ, sehingga terpaksa pergi ke tempat lain.

Pada suatu hari anak diusir juga dari serambi, lalu Midan mengikhtiar akan pergi ke sungai hendak menangkap ikan di situ. Hujan sudah berhenti, sudah mulai terang kembali. Orang tua memberi idin akan anaknya bolèh pergi mengikan.

Kebanyakan anak-anak mengambil pancing, anak perempuan tiada terkecuali. Anak besar memakai bakir, itulah lembing yang beruncing satu atau serapang, itulah lembing yang beruncing tiga. Sayanglah! Serapang yang dibawanya itu sudah tua, ta‘ terpakai lagi oleh bapaknya. Serapang bapak punya beruncing yang amat tajam.

Orang bangsa Kayan memakai serapang akan mengikan ketika malam; ikan dipikat dulu, sehingga menuju ke muka air; yang dipakainya akan pemikat, ialah damar yang dibakarnya disusuh hadapan perahu. Tatkala pengail melihat ikan besar seèkor, serapangnya dilèmparkannya arah kepada ikan itu.

Budak-budak menuju kepada sebuah telaga ke- cil akan menangkap ikan di situ; sebetulnya telaga itu diadakan oleh air sungai. Hanya berhubung-hubungan dengan sungai tatkala sungai bah. Ada anak duapu luh orang, semuanya memakai pancing: merèka bere nung arah kepada muka air. Midan dan temannya me mandangi juga muka air, sedang berjalan sepanjang tepi danau. Lembingnya ditujukan kepada air. Orang tiada perduli ikan kecil: menangkap ikan kecil itu di serahkannya kepada anak lain yang memakai pancing. Merèka—yang berlembing!—hanya mengindahkan ikan besar.

Kalau kalau ikan dikejutkan karena gaduh; orang yang berpancing tiada mendapat ikan. Ada budak kecil menuju kepada Midan, katanya demikianlah: “Midan, kita mempunya tuba; bolèhkah dipakai akan mengikan?”

Midan terlalu hèran sedang memandang temannya yang masih muda benar itu. Lalu dipanggilnya Lèjo dan beberapa anak lain. Inilah perkara yang terlalu penting: ta‘ bolèh diputus olèh Midan sendiri diri.

Mula-mula anak muda ditanyaï olèh Midan. “Hai, Kringin, kamu mempunya tuba?” Kringing menyadi malu, katanya bengap: “Itu kita ambil cara curi-curi!” Jawab itu didengarkan olèh orang yang hadir dengan bèrang hati. Kata Midan pula: “Adakah kamu tahu, bahwa dengan demikian kamu bersifat ”takut parid?“ Jaharu?” Itu mèmang sudah nyata kepada Kringin; ia terus menangis. Anak disebut “takut parid” jikalau mengambil bà rang cara curi-curi. Menurut kepercayaan orang bang- sa Kayan anak yang berlaku begitu bolèh ditimpa penyakit: lengannya dan kakinya menyadi bengkok. Ta‘ dapat tiada Kringin tiada senang sebab berdosa demikian.

Tetapi...... apa bolèh buat!...... ada tuba; baiklah dipergunakan juga! Anak muda disuruh menyerahkan tubanya. Diambilnya keranjang kecil perbuatan rotan; isinya akar-akar dan beberapa potong kulit pohon. Itulah dinamaï tuba. Barang campuran itu sejenis racun. Kalau dimasukkan ke dalam air sungai, mabuklah ikan-sikan didaëerah tempat sungai itu.

Jika tuba sedikit yang dibawa oleh Kringin itu di-campur dengan air disoëngai—yang berarus!—racun ta‘ berhasil. Akan itu perlu dipakai banyak akar dan banyak kulit pohon.

Campuran akar dan kulit pohon dipalu dengan ka-yu; terjadilah sejenis zat sebagai tepung putih rupanya. Obat itu dibuang ke dalam air kolam, sehingga air berwarna putih juga. Tiada antara lama berlum-patlah ikan kecil-kecil dari dalam air, lalu terapung di muka air.

Hai, sekarang mulaïlah kesukaan! Anak-anak ber-lumpat ke dalam air, yang tohor pada tepinya; sedang bersorak. Lalu merèka mencari dan mencapai ikan, ke-median dilëmpar ke tepi danau. Di situ ikan dikumpul oleh anak beberapa orang yang ketinggalan di darat. Pen-dapatannya diisikan ke dalam sebuah keranjang. Semua anak tertawa dan beramaï-ramaian...... Hanya Kringin tiada menurut kesukaan itu: ia teringat akan dosanya: “takut parid”. Duduklah ia saja di tepi, nyatalah ia iba hati! Tiba-tiba kesukaan itu...... ada kesudahan-nya! Kedengaranlah orang berteriak: “Ada buaya! Bu-aya! Buaya!”

Sebenarnya ada seèkor buaya sedang berhanyut di tengah-tengah danau. Hanya kelihatan punggungnya. Pengail-pengail yang muda semua bergopoh-gopoh arah kepada tepi danau. Siapa-siapa yang masih mencapai ikan, terus melepaskannya. Semua anak bersungguh-sung-guh akan menyampaikan tepi. Dalam pada itu pun ada seorang anak perempuan—Ousun namanya, ialah anak kepala kampung—tergelincir, jatuh kembali dalam air, lalu berhanyut arah ke tengah-tengah danau. Ta‘ ada anak yang berikhtiar mencapai temannya sebab bingung adanya. Tatkala berdiri di tepi, baru dilihatnya anak perempuan berbahaya. Anak terus berhanyut menjauhi tepi. Hai, orang terkejut terlalu! Ada yang berteriak: “Buaya! Usun berhanyut kepada tempat buayal!” Yang lain berteriak: “Buaya sudah membuka mulutnya, hendak menelan Usun!”

Demi terdengar perkataan itu, anak semua lari, bergopoh-gopoh menuju kepada kampung akan mewartakan kabar bahaya itu. Hanya Midan—disertaï beberapa orang temannya—tiada lari, melainkan tinggal saja pada tempat di tepi. Midan berlumpat ke dalam air, lalu bernang arah kepada anak perempuan yang berbahaya itu. Sementara itu temannya yang tinggal di tepi berteriak senyaring-nyaringnya seraya melèmparkan batu-batu kepa da buaya akan mengusir binatang buruk itu! Tetapi buaya rupa-rupanya tiada mengindahkan gaduh itu. Dengan perlahan-lahan ia berhanyut menuju arah ke pada Usun. Seakan-akan telah diketahuinyya bahwa mangsanya itu tiada dapat berlepas.

Buaya tiada berburu-buru akan mencapai mangsanya!

Tetapi Midan dapat mendahului binatang. Usun di capainya. Untunglah! Orang yang bertempat di tepi ber- tambah kuatir: sebab bersangka buaya akan menujui kedua anak bersama-sama. Sebab itu merèka berteriak pula. Tetapi orang terlalu hèran karena melihat buaya seakan-akan tiada perduli mangsanya lagi. Terus berha- nyut saja dengan perlahan-lahan. Budak-budak ber- lumpat ke dalam air kembali, hendak menolong Midan akan menaikkan Usun ke tepi. Kemudian merèka me- mandang arah kepada buaya. Kata Lèjo: “Hai, baik juga, kami sudah bertempat kembali di- darat. Kalau kiranya berlambat sedikit, tentu binatang bangsat itu dapat mencapai kamu bersama-sama dengan Usun, badanmu terhancur dalam rahangnya!” Midan memandang dulu si Lèjo, lalu berpaling ke- pada temannya lain. Sementara itu ia tertawa cara lucu. Kemudian ia tertawa gelak-gelak, katanya: “Hai, buaya jenis bagus itu! Hai, kamu belum menentukan, bahwa yang berhanyut itu...... batang ka- yu?” Sebenarnya, yang ditakutinya itu, yaïtu...... sepotong kayu! Kalau-kalau itulah pohon kayu, yang dahannya tertutup dengan lumpur, sehingga tertenggelam dalam air kolam, ta‘ kelihatan lagi. Tatkala air dikarau oleh anak yang sedang mengikan, dahan-dahannya lepas, lalu batang dapat naik ke muka air, serta terapung di situ. Untunglah Midan menyertaï orang pengail. Jikalau karanya Midan ta’ ada, kalau-kalau Usun akan mati! Ti- ada diketahuïnya dulu yang ditakutinya, itu bukan buaya. Ingatlah: pada bagian danau sebelah tengah, air dalam sidikit! Setibanya di kampung Midan dipuji amat sangat; yang memuji dia lebih-lebih, ialah Pagong yang diam diru- mah amin ayo.

Sirang berpaling kepada Yung dan Saung (yaïtu kedua orang yang berniat dulu akan membunuh Midan!), katanya: “Hai, Yung dan Saung! Penelahanmu dulu itu sah juga: kepala anak ini memberi berkat di dalam kampung. Tetapi syurkurlah! Kepala itu tiada tercerai dari ba dannya! Masih terlekat kepada bahunya!”

¹ Bumung kecil, tempat simpanan damak.


FASAL YANG KEENAM

Keterangan apa sebab Midan menghiasi diri dan apa dibawanya sepulangnya dari perjalanan memburu.

Baru dilalukan keempat kalinya fësta nawon (fësta penaburan) sesudah Midan diterima dalam kampung orang bangsa Kayan. Waktu anak sudah liwat, sekarang ia disebut orang pemuda. Akan merayakan itu, ia menghiasi dirinya. Giginya dikikir, lalu diberi berwarna hitam dengan memakan sirih. Sekarang mulutnya tiada “menyerupaï lagi mulut anjing” seperti biasa dikatakan orang Dayak! Bulu kening dan bulu mata dicabutnya dengan memakai kakatua kecil. Badannya akan dicorèng juga. Perhiasan badan mencorèng itu tiada bolèh dilalukannya sendiri; haruslah dimintanya pertolongan orang yang sudah pandai pada pekerjaan itu. Pada bangsa Kayan pekerjaan itu diserahkan kepada orang perempuan; orang pandai mencorèng mengajarkan kepandaian itu hanya kepada anak perempuannya sendiri, lain orang dikecoalikan. Demikianlah turun temurun kepandaian itu pada anak cucunya. Akan mencorèng dipakianya papan kecil, yang diukiri dulu dengan gambar yang dikehendakinya. Papan itu dibubuhi suatu campuran air jelaga dan damar. Badan orang lalu dicétaki gamba ran itu. Tukang mencorèng memakai jarum tembaga akan mencacah gambar dikoloit orang. Sebelumnya jarum itu dibasahi dengan cat. Adakalanya dipakainya juga palu kecil akan memasukkan jarum ke dalam kulit. Teryadilah banyak luka kecil-kecil. Tatkala luka itu sudah sembuh kembali, gambar tertinggal, war nanya biru. Perbuatan itu memberi siksa sekali pada orang yang dicorèng, terutamalah kalau bagian luas kulit dicorèng. Midan hanya dicorèng pada bahuna sebelah; gambarnya, yaïtu suatu bunga mawar kecil. Jikalau disuruh keluar olêh kepala kampung akan bertemu dengan kaum lain, Midan hendak menyeruroh mencorèng kulitnya olêh orang kampung lain. Tanda tanda cerèng itu menjadi tanda peringatan akan perjalanen sedemikian.

Adat mencorèng badan itulah suatu adat yang sudah lama dilakukan olêh orang bangsa Kayan, seperti dilakukan juga olêh sekalian orang Dayak kaum lain. Tentang adat itu adalah suatu hikayat: cerita itu diri wayat olêh orang Kayan dengan senang hati sekali. Demikianlah ceriteranya:

“Sekali peristiwa pada masa dulukala ada seèkor burung gagak, yang pandai juga dalam kepandaian mencorèng. Burung gagak itu berikhtiar kepada seèkor burung kuau argus (burung yang bermata amat banyak!) akan membagusi bulunya seorang kepada seorang. Burung kuau itu setuju, lalu burung gagak mulaï pekerjaannya. Ialah burung yang pintar dan cerdik, pekerjaannya dilakukannya dengan saksama betul. Se telah selesai pekerjaan mencorèng itu, burung kuau seakan-akan memakai pakaian yang amat-amat bagus. Pakaian yang dipakainya pada masa kini, asal dari waktu itu! Jadi sekarang giliran gagak akan dicorèng. Burung kuau malu benar, sebab ia tiada pandai mencorèng, sedikit pun tiada diketahuinya tentang kepandaian itu! Sebab bingung, burung kuau mengambil cat hitam saja, lalu dibubuh pada kulit burung gagak. Itulah asalnya, bahwa burung gagak memakai pakaian hitam belaka, sampai sekarang terus begitu!¹

Sekarang Midan menyadi orang pemuda atau orang teruna. Ia berwajiib akan menurut sekalian jenis pekerjaan, yang biasa diserahkan kepada orang laki-laki. Adat orang Dayak bukan sebagai adat orang bangsa Indiaan. Orang bangsa itu menyerahkan sekalian jenis pekerjaan kepada orang perempuan, sedang orang laki-laki melihatinya sedang merokok. Orang laki-laki bangsa Dayak bekerja diladang dan di hutan, dan lagi bekerja sebagai tukang-tukang. Orang perempuan diserahi pekerjaan pemerintahan rumah tangga. Anak perempuan disuruh menghiasi pakaian serta mengutas manik-manik.

Orang pemuda hampir segenap hari bekerja diladang atau memeliharakan kebun-kebun kecil. Dalam kebun itu ditanamkan orang kentang, tebu dan berjenisjenis sayur. Kalau selesai pekerjaan sehari-hari, orang membuat hulu pedang dan bumbung dari pada bambu atau membangunkan kapal dan perahu. Sekali-sekali orang laki-laki disuruh menangkap ikan atau memburu binatang perburuan. Pada suatu hari Midan disuruh memburu binatang perburuan.

Keluarliah ia, disertaï temannya Lèjo. Yang dibawanya, yaïtu pedang, lembing dan sumpitan. Lain dari Lèjo dan Midan ada yang menurut juga, ialah orang pem-bantu. Orang semua itu dipimpin olèh Sirang. Ialah kenamaan karena kepandaian nyia berburu. Sebenarnya orang Kayan ta‘ bolèh disebut pemburu jati, seperti orang bangsa Punan, orang bangsa Bukat; pekerjaaan memburu itu dilakukan hanya sekali-sekali saja. Akal-nya dan daya-upayanya tiada sempurna ketika keluar akan berburu. Akan tetapi setibanya di hutan, terbitlah kesukaan akan berburu; merèka memasang telinga akan mendengarkan sebarang bunyi, kalau-kalau asal dari bi-natang perburuan. Orang itu beruntung; dengan damak yang dilèmparkan dengan sumpitannya orang membunuh burung beberapa èkor. Midan membèdek damaknyia kepada burung kuau; tetapi binatang ini ter-lalu amat takut; binatang itu tiada mendekati pemburu, jarak terlalu besar, sehingga ta’ dapat dikenakan dengan damak sumpitan. Runcing damak diberi bera-cun: kalau binatang kena luka kecil jupaun, mati-lah. Racunnya dibawa olèh pemburu dalam keranjang kecil, adakalanya digulung saja dalam sehelai daun pisang. Racun itu diperolèh dari pada kulit sejenis pohon. Racunnya ada dua jenis: tasem dan ipu. Yang terlebih kuat ialah racun ipu. Mengumpulkan ra-cun-racun tersebut itu ada suatu kepandaian. Orang bangsa Kayan tiada mengetahuï akal-akal akan membèda- kan kulit pohon yang mengandung racun. Tasem dan ipu yang dibawanya sekarang asal dari pada orang bangsa Bukat. Jika racun dibiarkan saja, sehingga kena u-dara, racun kurang berunga. Sebab itu damak tiada dibasahi dengan racun, tatkala masih di rumah. Racun dibawa ke hutan, dipakaikan pada damak baru ketika hendak memanah binatang. Damak ditiupkan dengan mem-pergunakan sumpitan, yang panjangnyia kira-kira dua meter. Pada seujung dipasang runcing lembing, pada ujung lain terpasang barang sebagai paku, gunanya, supaya madak dapat dibèdèkkan arah kepada binatang yang hendak dipanah. Alat pembèdèk yang dibuat olèh Midan itu amat bagus serta berunga, mudahlah peker-jaan membèdèk dengan memakai alat itu yang didapat sendiri olèh Midan.

Di hutan rimba jarang orang bersua dengan binatang perburuan besar. Tiba-tiba anjing perburuan, yang dis-turutkan, mulaï menyalak. Tandanya ada binatang besar didaëra! Tatkala sudah dekat, dilihat olèh pemburu, ada seèkor bawui (babi hutan); demi terlihat itu, an-jing menjadi galak. Tetapi anjing tiada berani mende-kati babi itu; dan lagi babi hutan itu tiada perduli anjing yang terus menyalak. Hanya sekali-sekali kede-ngaran bunyi babi mendengus. Yang ditakuti olèh babi, itulah kedatangan manusia. Demi dilihatnya ada orang, babi lari, diikut olèh anjing-anjing, yang sedang menyalak. Daging babi hutan disukaï olèh orang Dayak. Se-bab itu Sirang mengepalaï orang pemburu akan mengejar babi, hendak dibunuh dengan lembing. Kalau kalau orang Eropah tiada suka menyertaï orang pembu-ru bangsa Dayak tatkala mengejar babi hutan cara demikian.

Sekarang musim hujan; bagian hutan yang letaknya rendah, berubah menjadi paya. Kebetulan bawui lari ke sebelah paya itu. Tetapi orang pengejar tiada perduli itu. Di dalam tanah yang berpaya itu ada suatu jalan kecil, yang dibangunkan dulu dengan memakai pan pan atau batang pohon kayu. Dengan menurut jalan kecil ini orang Kayan meneruskan perjalanannya; adakalanya jalan yang dituruti, empat meter tingginya atas paya. Orang Kayan tiada merasa susah akan menjalani jalan yang berbahaya ini; lakunya sebagai orang yang meliwat jembatan yang lebarnya luar biasa. Ujung jalan itu diladang yang telah ditinggalkan orang; tanahnya sudah ditumbuhi dengan belukar yang lebat-lebat. Anjing sudah tertetutop belaka dengan lumpur, bintang itu tetap tinggal di pinggir bekas ladang itu; terus menyalak, seolah-olah menyadi gila. Kata Sirang: “Pada tempat ini mestilah kami mendapat bawui!” Demi didengarnya perkataan Sirang sedemikian, orang menyediakan lembingnya, hendak melèmparnya kepada binatang, sehingga mati. Setibanya di tempat anjing,... yang dilihatnya bukan bawui......melainkan seèkor badak. Binatang itu baru mandi di dalam air paya. Rupa-rupanya ia marah, sebab diusik oleh orang tatkala mandi. Ia memandangi orang dengan matanya yang amat kecil, rupa-rupanya ia tiada suka lari; bawui ta‘ ada lagi. Kalau kalau menyembunyikan dirinya akan membuang kelelahannya, kalau kalau juga senang karena dapat mempermainkan orang pemburu yang mengejar dia dengan sia-sia jua. Hai, keciwa benar orang pemburu! Badak tiada dapat dibenuh dengan sumpitannya, damknya tiada dapat menerusi kulitnya yang amat tebal! Menyerrang binatang itu dengan lembing...... itolah pekerja- an yang bolèh berbahaya. Orang Kayan juga tiada suka mengejar badak, kalau bukan berbanyak-banyak orang-nya. Meskipun ada orang banyak, tetapi bolèh juga baru dalam dua, tiga hari binatang galak itu dibunuh-nya. Itu sebabnya Sirang menasihatkan akan jalan kembali: ta’ ada orang yang melawan. Istimèwa pula an-jing-anjing terlalu senang karena dipanggil kembali olèh tuannya. Anjing itu ta’ suka sekali mengejar badak!

Anjing yang menyertaï orang Dayak, kecil jua si-kapnya, jaranglah tingginya melampaui sekaki; tetapi ba-dannya kuat. Rambutnya pandak jua, telinganya ber-diri tegak, kepala panjang serta runcing. Jika kiranya anjing itu diajiari akan mengejar binatang perburu-an, tentu bergeona juga. Tetapi orang Dayak kurang mengindahkan pemeliharaan anjingnya; dibiarkan saja, binatang itu terpaksa mencari makanannya sana-sini. Ta’ dapat tiada amat kurus badannya; lain dari itu anjing Dayak amat takut.

Pada hari itu orang pemburu tiada beruntung. Hanya didapatnya kucing hutan yang dibunuh olèh Midan dengan damak sumpitan. Lèjo mengikhtiarkan akan mengikan, kalau-kalau beruntung. Orang tiada senang, jika kiranya pulang ke rumah dengan tiada membawa perburuan. Biarlah membawa ikan yang besar! Baiklah! Orang berniat mengikan, ……tetapi mengikan di mana?…… Seperti dalam sekalian hal yang sukar…… Siranglah yang tahu daya-upaya! Ialah tahu suatu sungai kecil, yang biasa didatangi tapa; barangkali di situ orang beruntung, menangkap ikan yang besar. Sebetul nya orang tiada membawa perkakas mengikan, apa lagi ta’ ada alat akan menangkap ikan tapa! Alat itu suatu kayu panjang; pada ujungnyia ter- pasanglah kait. Kait itu ditikam kepada badan ikan, lalu kait itu terlepas dari pada kayu, tetapi kait itu ada bertali. Tali itu ditarik oleh pengail akan menarik ikan itu ke tepi. Pekerjaan itu harus dilakukan atisati: ikan tapa terlalu galak. Ikan tapa besar betul. Panjangnya sampai semeter, beratnya duapeluh pon atau lebih. Warnanya merah tua, kepalanya besar, mulutnya pepat dan lebar, bergigi yang tajam, berjèjèr banyak sebelah menyebelah. Jika orang bolèh menangkap ikan tapa seèkor saja, tentu orang bolèh disebut beruntung benar!

Sebetulnya tiada beruntung. Tatkala sampai di tepi sungai, menjadi nyata ada orang penangkap ikan mendahului dia,...... lain dari itu sungai itu masuk bilangan “tempat larangan akan mengikan”. Akan menyatakan larangan itu, orang telah memasang rotan panjang dari tepi hingga kepada tepi di seberang. Pada rotan itu bergantunglah berjenis benda. Orang yang ta’ faham dalam perkara adat itu, tentu tiada dapat mengartikan tanda-tanda itu. Tetapi akan orang Kayan tanda tersebut itu nyata benar, sama nyatanya dengan fasal undang undang yang tertu lis pada papan. Ada suatu simpai, perbuatan rotan, itu artinya: orang yang melanggar larangan ini, didenda membayar suatu gung yang sebesar simpai rotan itu. Ada pula suatu kerpus perang tiru an; di sebelahnya ada bambu, yang mengiasiaskan sumpitan; ada juga sebuah lembing. Artinya itu semua: orang yang melanggar larangan, akan dikejar, lalu dibenuh. Larangan itu juga diberi bertanda tangan! Ada suatu tangkai kayu kecil, terpotong, sehingga menyerupai bulu èkor burung enggang. Warnanya juga begitu! Itu akan menyatakan, bahwa larangan ini dimalumkan oleh seorang kepala kaum.

Arti larangan ini nyata sekali kepada Sirang dan te- mannya. Tiba-tiba kelihatanlah ikan tupa beberapa ekor! Tetapi orang Kayan tiada berani melemparkan lembing arah kepada ikan. Keciwa betul, apa bolêh buat! Orang terpaksa pulang dengan tiada membawa ikan!

Tetapi orang tiada pulang ke rumah bertangan kosong! Tiba-tiba dilihatnya rusa seèkor sedang melintang di jalan. Binatang itu tiada dibenuhnya. Adat orang Dayak melarang akan makan daging rusa. Yang diingini saja, yaïtu tanduknya. Rusa hanya dibenuh, kalau merusakkan tanah ladang yang baru dikerjakan. Tan- duk rusa dipergunakan pada membuat berjenis-jenis hiasan. Barang perbuatan tanduk rusa diukiri bagus-bagus. Tatkala matahari mulai turun, hampir terbenam, Midan mendengar bunyi gemercik, tatkala menolêh dili- hatnya ada seèkor beruang. Binatang itu sedang menu- runi pohon, kehendaknya menangkap kumbang dan be- lalang. Beruang bangsa Berunai itu tiada bolêh disebut binatang liar. Makanannya, yaïtu buah-buah dan bina- tang kecil. Tingginya seèlo, panjangnya dua elo. Ba- dannya umbang, kultnya ditumbuhi rambut yang ber- warna hitam serta berkilap.

Di sebelah-menyebelah mulutnya warna kulit kuning. Pada dadanya ada suatu tanda yang lebih muda war- nanya, bangunnya sebagai kasut kuda. Matanya kecil terbanding dengan mata beruang bangsa di negeri lain.

Tatkala beruang memperhatikan gaduh, ia hendak memanjat pohon kembali setingga-tingginya. Sesungguh- nya binatang ini pandai sekali memanjati pohon kayu, tetapi ini kali ia tersemoëi: ia ditikam oleh Midan dengan lembing; binatang tergelincir dari pada batang pohon.

Setibanya di tanah, dibenuh orang.

Beruang itu menjadi mangsa disukaï sekali olêh orang Dayak, baik karena dagingnya, baik karena kulitnya. Lain dari itu yang payu, ialah cakarnya dan pundi pundi ampedunya. Pundi-pundi ampedu itu dijoéal kepada orang Cina. Harga yang dibayarnya akan itu tinggi sekali. Cakar dan pundi-pundi dipandang olêh orang Cina sebagai obat yang amat bergeona. Gigi juga ada gunanya; dipakai akan perhiasan. Sesungguhnya ta‘ payu seperti gigi tutul, tetapi disukaï orang akan membuat perhiasan juga.

Dengan yang tersebut di atas ini sudah menyadi nyata bahwa beruang yang ditangkap itu memberi faëdah banyak. Setibanya di kampung orang pemburu diterima dengan tempik-sorak. Perjalanana pemburuan pertama sekali yang disertaï Midan itu jadi juga!

¹ Adapun burung Kuau (jenis “argus”) bolèh disebut sejenis burung yang terlebih indah didaërah Tanah Hindia. Bulunya berwarna mèrah tua, bergaris-garis yang putih dan hitam. Sana-sini adalah jonjot berwarna lain pula. Lain dari itu pakaianinya terhias dengan hiasan “mata merak”, menyerupai sedikit hiasan burung merak. Ekornya acapkali sampai tiga kaki panjangnya. Itulah suatu hiasan yang memberi burung kuau itu sikap yang terlalu amat indah. Adatnya seperti adat burung cenderawasih; pada waktu yang tetap burung kuau berkumpul pada salah suatu tempat di hutan, maksudnya menunjukkan pakaianinya yang sekian bagus itu seorang kepada seorang, serta akan bermain-main.

(Salinan dari kitab karangan Tuan van Lith: “Nederlandskh Oost-Indië”).


FASAL YANG KETUJUH

Midan kehilangan bapak piaranya. Kampung berolèh tengkorak terkayau.

Menurut kepercayaan orang bangsa Dayak sekalian benda-benda di alam ada berjiwa; bukan hanya makhluk yang hidup, tetapi juga barang yang ta‘ hidup. Jikalau jiwa suatu benda dinistakan orang karena suatu perbuatannya—upama karena menebang pohon kayu—perbuatan itu harus diperdamaikan kembali. Biasanya orang berpuasa beberapa waktu lamanya atau tiada makan suatu jenis hidangan yang disukainya se-mentara beberapa hari lamanya. Yang menetapkan hidangan manakah yang menjadi lali dalam salah suatu hal, ialah dayung. Merèkalah mengatur upacara yang harus dilakukan menurut adat. Kebanyakan kali upacaranya, yaïtu mengurbankan ènakan dan perhiasan. Jikalau orang membangunkan rumah baru—niscaya dalam hal itu banyaklah pohon kayu harus ditebang dulu—lama berpuasa sekurang-kurangnyia setahun. Ada banyak jiwa dinistakan; jiwa itu harus diperdamaikan. Sementara perusahaan diladang (bertanam padi), dayung bekerja banyak! Ingatlah: tatkala bekerja diladang, ke-hilangan beras dengan sia-sia jocal Ta’ dapat tiada padi yang hilang itu ta‘ ada gunanya, harus diperdamaikan. Jika kiranya jiwa parei (padi) tiada didamaikan, alangkah buruk penuaiannya!

Adapun orang manusia termulia antara sekalian makha luk dan benda; manusia berjiwa dua (bruwa nama nya). Yang satu dinamakannya mata kanan, ialah bersifat: suka meninggalkan tubuh manusia. Hal itu terjadi, tatkala orang Dayak menderita iba hati atau merasa suka hati. Dalam hal itu terjadilah penyakit atau ia didatangi malang. Jika bruwa lain (mata kiba) meninggalkan tubuh juga, orang akan mati.

Pada socatu hari Midan mendengar kabar menyatakan, bahwa dayung-dayung dipanggil kepada Sirang. Jiva Sirang sudah lari dari pada tubuhnya, dayung-dayung disuruh mengajak jiwa pulang kembali kepada tu buh Sirang. Midan terlalu iba hati karena mendengar kabar itu. Sesungguhnya Midan amat dikasihi serta dipelihara dengan sepertinya olèh orang isi rumah Pas gong. Tetapi yang dikasihi olèh Midan terlampau sangat, ialah Sirang. Midan terus menujui rumah Sirang hendak mendapat kabar tentang penyakitnya. Dan lagi ia ingin menurut upacara yang akan dilakukan olèh dayung- dayung akan mengembalikan kesèhatan kepada orang tua itu. Penyakit Sirang itu payah betul; Walaupun diobati olèh tabib bangsa Eropah, kalaukalau ta‘ bolèh sembuh. Persangkaan dayung-dayung itu barangkali begitu juga, akan tetapi persangkaannya sedemikian ti ada dimalumkannya: karena sesungguhnya merèka di panggil kemari; lain dari itu...... berolèh pembayaran! Jangan kira dayung-dayung suka bekerja dengan tiada dibayar. Pembalasannya, yaïtu hadiah, seperti manik-manik yang tua dan pedang-pedang. Menurut taksiran orang Dayak sendiri, pembayaran tersebut itu tiada sedikit!

Tatkala masuk ke rumah sahabatnya yang tua, Midan melihat ada dayung empat orang. Biasanya—kalau orang kebanyakan jua sakit—hanya ada seorang dayung; tetapi Sirang berpangkat manteri, ialah orang kampung yang termulia! Itu sebabnya ada dayung banyak juga.

Adapun serapah itu dimulaïkan dengan suatu per- jamuan yang diturut olêh sekalian orang yang hadir itu. Jin-jin yang baik seakan-akan disilakan juga akan menurut perjamuan itu akan mengajak dia memberi pertolongannya. Hidangan harus dipersembahkan kepada jin hanya olêh dayung. Hidangan-hidangan sebagian, di- bungkus dalam daun pisang. Lalu bungkusan itu diikat menyadi bungkusan besar—kawit namanya—, yang diletakkan bersama-sama perhiasan rupa-rupa di- hadapan jendèla. Lakunya demikian, supaya jiwa Si- rang dipikat akan datang kembali. Lain dari hidangan- hidangan itu diletakkan di situ juga daun pisang dan daun pohon jenis lain, yang berisi darah babi, yang baru dibantainya.

Menurut tampa dayung-dayung jiwa ingin akan mendapat makanan itu, sehingga suka datang kembali kepada rumah Sirang. Jendèla diatap rumah terbuka betul, bergantunglah di situ suatu tangga kecil, itu- lah supaya jiwa dapat turun dengan mudah...... Hai, sebenarnya jiwa datang juga; itu hanya diperhatikan olêh scorang dayung. Demi didapatnya itu, maka dayung menadah jiwa itu dalam sebuah keranjang kecil. Ker- anjang itu terus ditutup, lalu disimpan dalam ju- ru rumah, yang gelap. Sebelum mata hari terbenam—tatkala gelap gulita—orang sakit ta‘ bolêh mendapat kembali mata kanan.

Dalam pada itu pun orang yang hadir makan daging babi, yang baru dibantai itu. Sesudah mata hari terbe- nam, tatkala sudah gelap betul di dalam rumah, dayung yang termulia mengambil keranjang, lalu dibukanya dengan ati-ati seraya meniupkan jiwa kembali ke dalam kepala orang sakit. Perbuatan itu disertai pula berjenis jenis upacara.

Midan pergi; berharaplah ia, kalau kalau bapak piaranya sembuh sedikit...... Tetapi keesukan hari—tatkala baru bangun dari tidurnya—terdengar kepada nya bunyi orang perem pun yang berbiji ratap. Sirang sudah meninggal dunia, jiwanya—mata kiba—akan berangkat kepada tempat perhimpunan jiwa-jiwa. Akan memudahkan perjalanan jiwa itu, tubuh orang mati perlu dilengkapi dengan rupa-rupa barang yang gunanya akan membujuk jin baik serta akan menjauh kan jin buruk. Daya-upayanya yang terutama, itolah kafan. Kafan itu digambari rupa-rupa gambar yang hitam warnanya serta dihiasai manik-manik. Dalam sebuah keranjang bagus dikumpulkan sekalian benda-benda kepunyaan orang mati itu, supaya dapat dipergunakan pada akhirat. Benda-benda besar tiada dimuat dalam keranjang, melainkan ditaruh sebelah-menyebelah kuburan, seperti lembing, senjata-senjata lain dan kayuh. Mayat dimasukkan dalam sebuah peti, yang diperbuat dari pada batang kayu dua batang, yang didodos dulu. Peti itu tiada dimasukkan ke dalam tanah, melainkan ditaruh di atas tanah, atau dipasang pada suatu para-para. Ada juga bangsa Dayak, yang tiada menguburkan mayatnya, melainkan tulang-tulang orang mati disimpan dalam suatu tempayan.

Peti mayat dipikul oleh orang laki-laki kepada salong, itulah rumah kecil perbuatan kayu besi, yang beratap. Atap itu dihiasi bagus-bagus. Orang kebanyakan ta‘ dikuburkan cara demikian. Hanya orang mulia dan kaum kelosearganya dikuburkan cara begitu. Ingatlah: Sirang masuk kaum Pagong, bekas kepala kampung. Orang perempuan beberapa orang banyaknya disuruh berbiji ratap sementara mayat diantar kepada kuburan-nya.

Sesungguhnya Midan tiada terbilang kaum Sirang, jadi bukan ia berwajib berkabung, tetapi hiasannya ditanggalkan sementara beberapa waktu lamanya; pakaian-nya diganti dengan pakaian perbuatan kulit pohon. Itu-lah akan menghormati Sirang serta akan menyatakan du-kanya karena kematian Sirang. Sesudah waktu berka-bung Midan disilakan akan menurut perjamuan di-rumah marhum Sirang. Perjamuan itu akan menyatakan kesudahan lali: yaïtu larangan, bahwa orang asing tiada bolêh mendatangi rumah atau tiada bolêh mengin-jaki tanah ladang kepunyaan orang yang berkabung itu.

Akan merayakan fêsta itu, perlulah ada...... tengkorak yang terkayau. Pada masa dulue senantiasa ada juga tengkorak. Orang sebagai Yung dan Saung acapakali me-nyatakan sesalnya, bahwa kampungnya tiada mempunyaï tengkorak sendiri. Menurut tampa orang itu mesti ada tengkorak kepunyaan kampung sendiri. Sekali-sekali merèka menyatakan niatnya, hendak kelouar akan menga-yau. Niatnya itu sudah mengadakan perselisihan dikam-pung.

Pagong dan Sirang beserta beberapa orang mulia lain melawan niat itu sedapat-dapatnya, katanya kalau niat itu dibenarkan, tentu kampungnya akan didatangi orang yang hendak membalas dendam. Jadi di kampung ada dua pihak: orang yang suka mengayau dan orang segan me-ngayau. Sesudah kematian manteri tua, pihak “pengayau” bertambah kuasa; kalau kalau pada suatu hari merèka berani kelocar akan mengayaul! Tetapi merèka tiada kelocar juga dengan sengaja akan membenarkan niatnya. Orang Kayan memperoleh tengkorak cara lain.

Di daerah sebelah udik pulau Berunai mengembaralah orang bangsa Melayu. Maksudnya hendak mengum pulkan karèt. Adakalanya merèka meninggalkan tempat kediamaanya—di pantai—; sebab berbuat perkara jahat, akan menjauhi negeri negeri dan supaya jangan disuruh menghadap hakim pengadilan karena perkara buruk yang dilakukannya; orang Melayu itu berani menipu orang bangsa Dayak serta mencuri barang perhiasan yang didapatnya pada kuburan orang Dayak. Pada suatu hari ada suatu tumpuk orang laki-laki dan orang pemuda kampung pulang ke kampungnya. Hari sudah malamlah! Sesampainya pada salong, tempat kuburan mayat Sirang, tiba-tiba didengarnya bunyi-bunyi. Mula-mula disangkakannya bunyi itu asal dari pada jin buruk. Sebab berbanyak merèka berani memeriksaï daerah akan menentukan dari mana asal bunyi itu. Di dapatnya...... ada orang yang sedang membelah barang dengan kapaknya. Orang Kayan meninggalkan lorong yang menuju ke kampungnya, lalu orang yang mengadakan bunyi itu disemuï oleh orang Kayan. Ada seorang bangsa Melayu sedang mencari manik-manik yang tersimpan dalam peti mayat Sirang; senjata-senjata dan barang lain sudah diambilnya. Tatkala orang itu melihat orang Kayan itu mendekati dia, dicobanya berlari, akan tetapi ia dikelilingi pada segala pihak oleh orang Kayan. Sebab memperhatikan bahwa ta‘ dapat berlari, berniatlah ia akan melawan musuhnya dengan memakai pedang, bekas marhum Sirang punya; yang diserangnya mula-mula, ialah Midan. Hai, mustahil, Sirang berpikir tatkala masih hi-dup...... bahwa pedang dia punya dipakai akan menyerrang Midan! Tetapi Midan dapat menangkis malat, ia hanya berluka sedikit pada lengannya. Demi terlihat itu, bergopohgopohlalh tiga, empat orang Kayang, yang dapat membunuh orang Melayu dengan lembingnya. Kepalanya diceraikan dari tubuhnya, lalu dibawa ke kampung sebagai tanda kemenangan! Hai, sekarang kampung mempunya'i tengkorak sendiri!

Orang Kayan membunuh orang Melayu dengan lembingnya

Orang Kayan membunuh orang Melayu dengan lembingnya.

Pada persangkaan Pagong, orang Kayan tiada usah kutir akan didatangi orang Melayu, yang hendak membalas dendam; kalau kalau ta‘ malum kepada orang Melayu, temannya, bahwa kehilangan orang itu. Sebab itu orang yang membawa tengkorak itu sama sekali tiada ditegur oleh Pagong. Dan lagi diberinya idin akan merayakan festa menurut adat lama.

Inilah pengayauan pertama kali dan juga pengayauan akhir kali, yang diturut oleh Midan.


FASAL YANG KEDELAPAN

Perkunjungan di kampung. Betapa peri orang memilih tanah ladang baru serta cara mengerjakan tanah itu.

Beberapa bulan kemudian dari pada wafat Sirang, kam-pung dikunjungi oleh suatu perkumpulan, delapan orang banyaknya.

Orang itu asal dari kampung yang letaknya dianak sungai Mahakam sebelah hulu. Nama bangsa itu bangsa Pnihing. Kedatangan sedemikian sudah lazim antara orang bangsa Dayak; maksud: orang hendak bertemu dengan orang kemanakannya dan juga akan berniaga. Perkunjungan inilah akan memeriksa kalau kalau bolèh berdagang dengan orang Kayan. Orang Mahakam datang mengunjungi orang Kayan akan membeli garam. Di darah Mahakam-Hulu kekurangan garam; harga sekilo di situ seringgit atau lebih. Nyatalah akan membayar garam itu tiada dipergunakan uang, melainkan dibayar dengan beras, cincin, manik-manik, d.s.b.

Pada masa sekarang garam dibawa ke negeri negeri diudik dari negeri Pontianak dan Samarinda. Pada masa du-lu ta‘ ada garam di situ, atau jarang sekali kedapatkan. Garam dipandang oleh orang Dayak senjenis ènakan. Garam itu ta’ dipakai akan memasak makanannya, melainkan dimakan begitu saja tatkala makan. Sana-sini di pulau Berunai terdapatlah sepan. Itulah mata air dilèrèng gunung, yang airnya payau. Air itu ditadah orang, lalu di- hangati, supaya memperoleh garam yang dikandung dalam air sepan itu.

Kedatangan orang Mahakam menyebabkan keramaian di kampung, lebih-lebih di rumah Pagong, sebab ialah berwajib akan memperjamuokan orang asing. Jika kiranya ta‘ cukup tempat di rumahnya, kepala kampung menentukan, bahwa orang lain berwajib menerima orang asing juga dalam rumahnya. Orang jamu itu diterima dengan merayakan festa. Untunglah orang kampung ada dalam kesejahteraan; masih sisa barang hasil hutan yang dikumpul oleh Sirang dan temannya; barang itu dapat dijual kepada orang Cina Li-Uang.

Adakalanya—kalau kiranya penuaian padi tiada jadi—jamu ta‘ diterima seperti orang bangsa Mahakam sekarang oleh orang bangsa Kayan. Tetapi dalam hal sedemikian orang jamu menurut saja juga. Biasanya orang jamu menolong orang yang menjamu itu dengan pertolongan dalam pekerjaaan diladang.

Ketika malam hari orang kampung berhim pun bersama-sama jamunya diawa, yang diterangi dengan suluh atau dengan sejenis lilin, yang diperbuat dari pada damar yang terbungkus dalam gulungan daun. Semen-tara duduk di situ orang bertekateki atau bercerita dari masa dulukala; dalam cerita itu banyaklah diriwayat hal ihwal mengayau. Pagong tiada suka mendengar cerita ini, kuatirlah ia, kalau orang kampung diajak akan kekular mengayau. Pada akhirnya Pagong senang juga, karena orang yang mendengar cerita itu, tiada menjadi galak, melainkan tetap diam saja: Saung dan Yung pun diam juga! Kalaukalau kedua orang itu sudah dirèlakan, sebab sekarang kampung sudah mempunyaï tengkorak sendiri. Lain dari cerita pengayauan, diriwayat per- kara lain: orang bermusyawarat betapa peri cara melawan penyerangan orang Batang-Lupar dan bagaimana orang dapat melindung diri dari pada bahaya samuan orang Melayu mengembara didaërah. Ada seorang jamu; ialah sudah berlayar di sungai Mahakam arah ke hilir sampai di negeri Tepuh. Di situ dilihatnya orang Tanah dipa (Orang dari Tanah di seberang). Orang itu berperintah didaërah sebelah hilir sungai Mahakam. Nasihatnya me- minta pertolongan kepada orang putih serta akan meny- rahkan diri kepada Pemerintahan Tanah Nederland. Per- bicaraan itu dilakukan semua dengan cara yang pa- tut betul; kalau-kalau orang berlaku demikian, sebab orang Kayan tiada biasa minum minuman keras. Pada pemandangannya tiada patut membuat minuman keras dari pada beras; sayanglah beras—makanan terlalu ha- lus diperbuat barang buruk itu—; merèka belum suka minum “air api”, yang dipakai oleh orang puthi. Kebiasaan minum air api itu dipandang sebagai socatu bala besar! Syukurlah! Biarlah orang Dayak tiada dikenai bala itu!

Perkunjungan orang Mahakam menyadi perkara penting untuk Midan! Orang jamu memperhatikan, bahwa kampung orang Kayan ada bersejahtera; sebab itu orang Mahakam suka berdagang dengang orang Ka- yan; tentu orang itu dapat membeli banyak barang. Orang sudah memperhatikan, bahwa kepala kampung—Pa- gong—tiada mempunyaï banyak tempayan den gung. Tetapi merèka sendiri mempunyaï gung dan tempayan. Sebab itu diperjanjikan, bahwa pada yang akan datang orang Kayan mengunjungi kampungnya. Midan dan Lejo bolëh menurut perkunjungan itu kelak. Sa- yanglah orang Kayan tiada bolëh berangkat bersama-sama orang Mahakam, tatkala pulang ke kampungnya: dalam beberapa hari Pagong hendak membuka tanah baru untuk ladang. Sesudah selesai pekerjaan itu Pagong akan menyeruroh setumpuk orangnya mengunjungi kam-pung Mahakam.

Setelah orang jamu berangkat hendak pulang, orang Ka- yan memulaikan pekerjaan yang dimaksudkannya. Biasanya orang Dayak memilih untuk ladangnya tanah hutan yang sudah tua; tanah sedemikian lebih gemuk; lain dari itu tiada sukar dirumput. Orang Dayak tiada tahu tanah sawah, yaïtu tanah perusahaan yang dapat dike-nangi air, seperti di pulau Jawa. Akan memilih tanah, tempat ladang, patutlah diminta keterangan kepada to. Alamatnya, yaïtu teriak burung dan cëcak. Pagong menabuh batang salah sebatang pohon. Untunglalh! Pada pertama kali menabuh, kedengaran bunyi burung telajang, asal bunyi dari sebelah kanan. Orang terlalu senang hati, karena mendapat tanda yang baik itu. Ke-median diambil tanah sedikit, yang diisikan dalam su-atu keranjang. Tanah itu dibawa ke rumah; di situ disimpan sementara empat hari lamanya (simpanan itu dinamakannya mèlo). Perbuatan begitu diulangkan dua atau tiga kali, baru sesudah itu, pekerjaan membuka tanah bolêh diteruskan dengan tiada berkeputusan lagi.

Tempat yang dipilih itu—menurut nasihat burung telajang—jauh letaknya dari kampung; sebab itu perlœ didirikan sebuah rumah di situ dulu. Ada ba-nyak pohon kayu besar-besar, yang harus ditebangnya. Jika kiranya ketika orang mulaï menebang pohon, ada burung terbang di pihak kiri, terpaksalah orang berhenti dari pada pekerjaan. Akan menegahkan itu, orang Ka- yan memulaikan pekerjaan menebang pohon ketika ma- lam: tentu pada malam hari ta‘ ada burung yang terbang di hutan. Nyaris Midan beserta beberapa orang te- mannya mati tatkala baru mulai nebas (menebang pohon). Orang pemuda itu sedang menebang pohon kayu belian (kayu besi). Sebab kayu itu terlalu keras, sukarlah ditebang; pekerjaannya berlambat-lambat. Tiada jauh dari situ (kira-kira seratus langkah jauhnya) ada orang sedang menebang pohon yang besarnya luar biasa. Me- nurut persangkaan orang, pohon sebesar itu baru ha- bis direbahkan dalam sehari. Tiba-tiba...... sesudah di- kapak beberapa kali saja—pohon mulai singit, serta kedengaran bunyi kerepak,......pohon rebah!...... Orang melumpat ke sebelah seraya berteriak; kebetulan orang yang dekat pada tempat itu dapat berlari dengan mening- galkan perkakasnya; sehingga terpelihara. Tatkala diperik- sai pohon yang rebah itu, pendapatannya, bahwa pohon itu kosong di tengah-tengahnya; kayu sebelah dalam di- makan anai-anai.

Pohon kayu yang tertebang itu dipergunakan olèh orang Kayan akan membuat perahu dan kapal; kayu yang kurang baik itu dibakar saja. Sementara peker- jaan menebang pohon, berteriaklah kera-kera, seakan- akan marah, karena dirampasi rumahnya dan tempat ber- main. Orang Kayan tiada perduli teriak kera itu; merèka tiada suka makan daging kera. Daging burung enggang (dinamaïnya tinggang) juga tiada disukaïnya; yang di- ingininya saja, yaitu bulu èkornya, yang diperguna- kannya akan menghiasi kerpus perang dan topi. Midan ber- untung; didapatnya sarang burung enggang di dalam batang yang kosong. Isinya: burung betina beserta anak- nya tiga èkor. Binatang itu tiada dapat keluear dari da- lam sarang...... seakan-akan di penjara di dalam sarang oleh burung jantan, yaïtu lelakinya dan bapaknya! Setelah sepasang burung enggang mendapat tempat yang baik akan membuat sarang di dalam batang pohon yang hampa, betina bertelur. Lalu jantannya menutup ce- lah dibatang itu dengan tanah liat dan lumpur, terting- gallah hanya suatu lubang kecil. Lubang itu kecil saja, cukup luas, supaya betina—sedang mengeram—dapat mengeluarkan paruhnyia saja. Sementara be- tina terpenjara, ia diberi makan oleh jantannya. Ketika betina beserta anak burung ta’ usah diberi makan lagi, jantan telah kurus betul. Betina kehilangan bulo- nya, menjadi gundul.

Burung itu panjangnya (terhitung bersama-sama pa- ruhnyia dan ekornya) duabelas centimeter. Orang amat ingin mendapat bulu ekornya. Ketiga anak burung tinggang yang didapat oleh Midan itu, dibawanya keru- mah. Burung itu mudah jinakkan; senang juga, tatkala terpenjara dalam kurungan.

Tanah sudah hampir sedia, tertinggal lagi belukar sedikit dan beberapa batang pohon. Hai, rupa-rupanya pekerjaan yang sudah diselesaikan...... sia-sia jua!... Pada suatu hari orang sedang menuju ke tanah ladang, hendak menyudahkan pekerjaan. Tiba-tiba Lèjо ber- henti, ditunjuknya kepada Midan sepasang binatang yang sedang bermain. Midan menolèh, katanya berbisik- bisik kepada orang laki-laki yang berikut:

“Kijang!”

Demi terdengar itu, orang berhenti semua, sebab terke- jut. Orang Kayan tiada menakuti binatang itu. Mustahil! Kijang binatang kecil saja serta tiada galak. Menga- pakah kijang itu ditakutinya? Kalau binatang itu men- datangi tanah yang baru dibuka itu, tempat ini harus ditinggalkan oleh orang Kayan. Tentu orang terlalu sakit hati, sebab tanahnya hampir sedia! Ta‘ dapat tiada orang melihat dengan hirau sekali kelakuan kijang dua ekor itu.......Pada akhiirnya binatang itu lari karena dilihatnya ada orang; lenyaplah dalam belukar!...... Pe- kerjaan dapat diteruskan; sebelum malam turun, po- hon sudah tertebang. Syukurlah!

Sebelum kayu dibakar, orang membuang kelelahan- nya, kemudian perlu dirayakan suatu fêsta. Tiap-tiap bagian pekerjaan ta‘ bolêh dimulaïkan kalau belum dirayakan fêstanya. Maksud fêsta itu akan membujuk hati jin. Sebab itu peraturan fêsta itu diserahkan ke- pada dayung.

Mula-mula dayung mengali to dengan memalu gung. Lalu dikurbankannya nasi dengan ikan serta didirikan- nya rumah-rumah kecil diladang. Dan lagi pada ladang itu ditanamnya kayu kecil. Inilah perbuatan semua akan membujuk hati jin yang baik. Akan menangkal jin yang buruk, dipakainya jimat dan benda-benda yang dapat mengedutkan dia. Terutamalah fêsta nugal (fê- sta penaburan benih) dan fêsta nangei (fêsta permulaan pengusahaan padi). Fêsta nangei itu juga dirayakan akan menyatakan tahun baru. Menurut perjanjian Midan beserta temannya akan disuruh berkunjung di kampung orang Mahakan ketika orang itu merayakan fêsta nugal. Biarlah kami menyertaï dia ke sana!


FASAL YANG KESEMBILAN

Perjalanan ke kampung orang Pnhing di sungai Muhakam.

Jikalau memandang peta pulau Berunai, nyatalah ketiga sungai yang terbesar di pulau ini berhulud di pertengahan pulau. Di situ terdirilah gunung besar dan tinggi; puncak seakan-akan menyadi pusat beberapa jéjér gunung, yang berbentang arah kepada beberapa arah. Nama sungai itu: Kapuas, Barito dan Mahakam, panjangnya kira-kira sama dengan panjang sungai Riyn di benua Eropah. Puncak gunung yang tertinggi 2500 meter. Nyatalah juga, bahwa orang Kayan, tatkala hendak berkunjung kepada orang Mahakam, harus meliwat jurang gunung, yang menjadi perceraian pengaliran sungai Kapus dan sungai Mahakam.

Mula-mula orang perjalanan menumpang perahu dua buah. Sesudah pelayaran enam hari sungai tiada dapat dilayari perahu lagi, sebab ada banyak riam dan air terjun, sehingga orang terpaksa mengeluarkan perahu dari sungai serta memikulnya di darat sepanjang sungai. Adakalanya orang harus menjauhi tepi sungai, karena banyak alangan. Sesudah alangan itu terliwat pula, orang menujui pula tepi sungai; tepi sungai itulah pandu yang terlebih kepercayaan!

Makin maju ke sebelah timur, makin bertambah tinggi juga tanah, serta makin juga lebat hutan rimba.

Lèrèng gunung dan lembah-lembah diantaranya ditum-buhi hutan lebat, hanya gunung yang tertinggi berpuncak yang gundul. Hutan itu beruna sekali; ditarik nya uap air, yang kemudian mengadakan hujan. Hokejan banyak itu menyebabkan sungai di pulau Berunai selalu berair banyak. Lain dari itu olèh karena hutan yang lebat itu hawa menjadi sejuk, orang yang berjalan di dalam hutan itu selalu bernaung.

Orang perjalanana diusik karena banyak hujan; itu sebabnya seorang dayung yang menyertaï tumpuk ini, memikirkan akal (abeï namanya) akan menegahkan kesukaran itu. Akalnya demikian:

Dari hutan diambilnya kayu dua batang; pada tiap tiap batang itu diikatnya akar pohon. Batang itu ditanamkannya. Akar itu dicelahnya, lalu ditaruhinya telur ayam sebutir. Lalu dayung berbicara kepada to. Kalau kalau to itu dikejutkan olèh perbicaraan dayung: itu mèmang tiada nyata! Kebetulan cuaca berubah; se-mentara hari yang berikut terang saja, ta‘ turun hujan lagi. Ta’ dapat tiada dengan demikian, orang perjalanana memuliakan dayung! Lain dari pada hujan orang juga diusik olèh nyamuk yang amat banyak di-daerah itu. Akan menegahkan susah disebabkan nyamuk, orang Kayan membakar kayu basah, yang dipasang di bawah tempat tidurnya. Orang bangsa Eropah tentu tiada dapat menderita kesiksaan yang diadakan olèh nyamuk, tetapi orang Dayak bolèh tidur dengan lelap saja. Sesudah mata hari terbenam, mulailah gaduh, yang disebabkan olèh bunyi berjenisjenis binatang: segenap malam bunyi itu tiada berhenti. Ada kumbang yang hidup di dalam tanah yang terus berdengung-dengung. Ada katak yang menguwèk dengan tiada berkeputusan.

Ada burung yabak yang buninya sebagai orang yang mengaduh. Kedengaran juga bunyi cangkerik atau sanggit dayung dan belalang. Campuran bunyi-bunyi tentu mengusik orang yang tiada biasa tidur di hutan rimba; jika kiranya orang Eropah menyertai orang perjalanin ini, ia diusik lagi...... karena bunyi mendengkur, yang asal dari orang Dayak yang tidur lelap. Akan mengusik orang bangsa Dayak...... hai, harus dipergunnakan bunyi lain lagi! Meskipun demikian orang perjalanin diusik juga pada suatu malam!

Pada suatu malam orang Dayak mendirikan tempat ti-durnya pada suatu tempat yang letaknya berdekatan suatu kolam, tempat binatang hutan memadam dahaganya. Orang semua masuk tidur, kecuali Midan. Ialah disuruh jaga-jaga. Sekali-sekali didengarnya bunyi rusa yang berteriak atau bunyi babi yang mendengus. Makin lama, makin juga bunyi itu bertambah nyaring, nyatalah binatang mendekat. Pada akhirnya didengarnya bunyi mencebur-cebur, yang diadakan olêh binatang yang berja-lan di dalam air. Rumah tempat tidur orang perjalanin itu tercerai dari pada kolam dengan belukar sejèjèr yang kurang lêbar. Midan tiada kuatir: di pulau Ber-unai orang tiada usah menakuti binatang buas; rimau ta‘ ada di situ; ada tutul saja, tetapi binatang itu tiada biasa menyerang orang manuisia. Ada beruang, akan te-tapi binatang itu tiada bolêh disebut galak. Tiba-tiba Midan diali olêh bunyi menghembus-hembus! Dan lagi kedengaran bunyi gemercik yang diadakan olêh binatang menginjak ranting kayu dan belukar. Midan berkata dalam hatinya: “Hai, itulah lembu hutan, yang hendak memadam dahaganya.” Sesoodah beberapa detik didengarnya binatang sedang mencucup air. Tiba-tiba kedenga- ran bunyi binatang yang mengangu, nyatalah ada lembu jantan. Orang Kayan tersedar dari tidurnya! Pada persangkaannya bunyi itu asal dari To Belare, tetapi Midan menerangkan kepadanya To Belare ta’ ada di daerah.... Bunyi mengaum dan mengangu diam! Sekarang kedengaren bunyi memekik saja; serta bunyi yang diadakan oleh binatang menceurceur, seakan-akan ada binatang luar biasa besarnya, sedang mengarung di air dengan berlangkah besar. Kemudian kedengaran bunyi gemercik dahan, rupanya sebagai dahan besar dipatahkan oleh binatang jatuh.

Hai, binatang membelahak... lalu diam semua! Orang Kayan terkejut, berhim pun pada suatu tempat sedekat-dekat seorang kepada seorang, tiada berkata. Setelah diperhatikannya bunyi tiada mulai kembali, mereka berbicarakan kejajan cara berbisik-bisik saja. Ada orang yang mengikhtiarkan akan meninggalkan tempat selekas-lekasnya; menurut orang itu yang melakukan kejadian ini, ialah jin yang buruk! Nyatalah rumah tempat bermalam itu didirikan terlalu dekat kepada tempat to; akan membalas dendam, to-to itu mengejutkan orang. Patutlah orang menjauhi tempat claka ini; kalau tidak, orang kedatangan bahaya. Tetapi Midan menyungguhkan dengan sekuat-kuatnya, bahwa didengarnya lembu; lain dari itu ada orang yang meningatkan temannya, bahwa belum tentu mendapat tempat—tat kala malam hari—yang ta’ didiami jin. Itu sebab tumpuk orang memutus akan tinggal saja pada tempatnya ini. Ta’ dapat tiada orang tiada berani masuk ti dur kembali!

Ketika fajar baru terbit, orang pergi akan mencari keterangan. Tiada antara lama didapatnya juga betapa peri kejadian gaduh tadi malam. Pada tempat yang ja- uhnya kira-kira limapuluh langkah dari kemahnya orang Kayan mendapat keterangan tentang gaduh itu. Ada se- ekor lembu jantan mati; badannya berdarah. Di sebelahnya letaklah tutul, mati juga. Tanduk lembu masih ter- masuk ke dalam tubuhnya. Sesungguhnya tutul itu gila karena kelaparan; kalau tidak begitu, tutul tiada berani menyerang lembu. Percobaan nyaka akan menerkam mangsanya disisi sebelahnya itu tiada jadi; lembu telah melihat tutul, lalu musuhnya diserang dengan tan- duknya yang tajam. Kalau kalau tutul melawan diri dengan cakarnya; cakar kaki belakang melukakan lem- bu pada lehernya. Binatang yang menang itu mati juga.

Kedua binatang itu bagus sekali sikapnya, orang se- nang hati benar pada memandang mangsanya, yang dipers- olèhnya dengan ta‘ berusaha. Tutul terus dikolultnya. Kulit lèjo (tutul) dipergunakan akan membuat ba- ju perang yang terlebih mulia. Orang mengambil ju- ga taringnya, yang dipergunakan akan perhiasan telinga untuk orang gagah berani. Daging tutul tentu diam- bilnya juga, kalau kiranya ta’ ada juga daging lembu ini. Daging lembu itu lebih disukaïnya; dan lagi da- ging sekian banyak itu cukup juga.

Lembu Berunai sebangsa dengan bantèng, yang ter- dapat didaërah lain di Tanah Hindia-Nederland. Binatang itu bolèh disebut bersikap amat amat baik. Pada me- mandang kepalanya dan bahunya sudah menjadi nyata bahwa binatang ini amat kuat badan. Tubuhnya be- rambut pandak, hitam warnanya, belakangnya dan kaki- nya berwarna putih. Tempat yang disukaïnya, yaïtu ba- gian hutan yang berair banyak. Sebab binatang ini amat takut, jaranglah orang bertemu dengan lembu di hutan.

Kalau tiada berbanyak orang, orang Dayak tiada berani menyerang lembu. Dengan lembing lembu ditikam berulang ulang, lalu dikejar menurut bekas darah yang bercécèran itu. Pada akhirnya—kalau binatang yang dikejar itu sudah lemah—binatang dimatikan dengan melèmpar lembing. Acapkali lembu mati saja karena kehilangan terlalu banyak darahnya.

Bagian daging yang terbaik dipotongnyia, lalu dipanggang diapi. Daging yang masih sisa dibawanya seberapa dapat dipikulnya. Orang Kayan tiada beruntung sementara perjalanan yang berikut: perbekalan yang baru diperolèhnya hilang!

Orang perjalanan sudah meliwat bagian gunung Bu-kit Antara, yaïtu bagian yang tertinggi; di situlah batas perceraian air sungai Kapuas dan sungai Mahakam. Jurang itu kurang lèbar, miringnyia ke sebelah barat dan ke sebelah timur, keduanya terjal. Sesampainya di situ, orang Kayan mengurbankan telur kepada to yang mendiami daërah itu. Dulu juga dikurbankan telur; pada persangkaannya itulah kurban yang disukai olèh jin: pembalasan, yaïtu daging lembu banyak!

Ketika petang hari sampailah di hadapan suatu sungai yang arusnya amat deras. Lain dari itu sungai lèbar, sehingga orang tiada berani menyeberang dengan mengaerung saja.

Perlulah perahu diturunkan kembali ke dalam sungai, supaya menyeberang dengan menumpang perahu. Pada pemandangan Midan berbahayalah menyeberang cara demikian; akan menentukan deras arus sungai, dibuangnya dahan kayu ke dalam pengaliran sungai; keliha tanlah dahan itu berhanyut dengan deras sekali; kalau kalau deras arus bertambah lagi ketika sampai diper tengahan pengaliran. Tetapi orang Kayan yang lebih tua tiada ada keberatan, diamlah Midan; lalu ia masuk ke- dalam perahu, tempat simpanan beras, ikan dan daging. Seorang berdiri disusuh belakang dan seorang berdiri disusuh hadapan perahu akan menujukannya. Kedua orang memperhatikan, bahwa sebetulnya arus di tengah- tengah pengaliran jauh lebih deras dari pada persang- kaannya dulu; merèka harus berdayung sekera-keras- nya, supaya jangan terbawa olèh harus. Orang yang berdiri disusuh hadapan perahu jatuh ke dalam air. Itu sebab perahu mulaï berpusing, lalu tersejam. Sesungguhnya orang penumpang perahu tiada kena ba- haya, sebab pandai berenang. Dengan mudah jua orang itu menyampaikan tepi. Akan tetapi perahu bersama-sama isinya hilang. Ta’ ada daya akan mendapat kembali perahu yang hilang itu, sebab berhanyut dengan deras. Lalu perahu kena batu besar; tatkala tersandung, pecah-belah. Perahu yang lain sampai ke tepi di seberang dengan selamat. Jadi orang perjalanan kehilangan perbekalannya sama sekali. Untunglalh di hutan pulau Berunai banyak buah-buahan dan pohon rumbia. Gumbar pohon rum- bia dijadikan orang sagu. Sagu itu diperbuatnya pa- pèda dan pati sagu. Orang bangsa Dayak biasa makan sagu, bukan hanya pada waktu kekurangan padi, me- lainkan juga ketika padinya masih cukup. Meskipun demikian, perjalanan juga terusik serta diperlambat- kan, karena pekerjaan memangkur bulung nanga (itulah nama pohon rumbia di daerah Dayak) makan ba- nyak waktu.

Perjalanen diteruskan dengan melaloëi hutan pula. Tiba-tiba Midan mendapat pohon rumbia sebatang. Un- tunglalh didapatnya juga, bahwa pohon itu belum berkembang. Jika pohon rumbia sudah berkembang, gumbarnya menjadi keras, sehingga ta‘ berguna lagi akan membuat sagu. Pohon rumbia itu tingginya tiga puluh kaki; setelah ditebang, batangnya dibagi beberapa bagian, kira-kira setengah meter panjangnya. Potongan batang rumbia itu dibawanya.

Setelah sampai kembali ke sungai kecil, batang dibelah dua menurut sisi panjang; gumbar dipangkur dengan memakai bagian tumpul dari malat, sebab tiada terbawa perkakas pangkur yang biasa dipakai di kampung tatkala memangkur sagu. Pelepa h pohon rumbia dipergunakan sebagai palung. Dalam palung itu gumbar dicampuri air banyak. Sebab campuran gumbar dan air itu dilanyaklanyknya dengan kaki, maka urat tercerai dari pada sagu. Sagu itu ditadah pada bagian rendah palung. Dengan demikian orang memperoleh sagu kira-kira dua puluh pon.

Antara orang perjalanan ada orang tua, katanya hi langlah banyak waktu dengan membuat sagu cara demikian. Lain dari itu susah payah benar, sedang un-tungnya sedikit jua! Pada masa dulu halnya lain se kali! Pohon rumbia ta‘ mengandung sagu, melainkan berisi beras yang bersih betul! Pada masa itu cu- kuplah menebang pohon, lalu dibelah: kelihatanklah beras yang terkandung di dalamnya. Tetapi ada seorang Dayak tua, yang terlalu malas! Usahkan menebang pohon rumbia, digurdinyia lubang di dalam batang. Kemudian butir-butir bergelung kelocar dari dalam lubang itu. Sesudah diambilnya beras seberapa bergeona, lubang di batang ditutupnya dengan sepotong kulit pohon. Itu lah dibuat, supaya kemudian hari ta’ perlu menggurdi lubang sekali pula. Alangkah malas orang tua itu!

Hikayat

Akan tetapi tatkala kembali pada batang pohon rumbia itu, akan mengambil beras lagi,...... butir-butir beras menyadi majemu dengan isi batang. Beras berubah menyadi gumbar, yang melekat kepada urat-urat kayu. Dengan demikian orang bangsa Dayak yang hidup pada masa sekarang, seakan-akan dihukum karena kesalahan seorang nènèk-moyangnya!

Sementara beberapa waktu orang perjalanan terpaksa makan bulung yang dikempulnya. Kemudian sampai lah orang bangsa Pnihing. Kepala kampung bernama Bo-Yok.


FASAL YANG KESEPULUH

Perkunjungan kepada orang Pnihing.

Bo-Yok, kepala kampung orang Mahakam, ialah orang yang suka menjamu orang. Rumah kampung terdiri di tepi tinggi. Akan menyampaikan rumah itu, disediakan sejenis tangga: batang pohon yang diberi bertakik. Ba-ngun rumah sama dengan bangun rumah orang Kayan, tetapi perbuatannya lebih bagus, rupa-rupanya dikero jakan dengan sepertinya.

Tonggak-tonggak rumah diukiri semua; bagian di atas tonggak itu diukiri tiruan kepala orang dan binatang. Sekat-sekat di bawah atap dihiasi dengan ukiran juga, demikian juga rupa pintu-pintu. Nyatalah orang bangsa Pnihing pandai benar pada pekerjaaan mengukir. Dise-rambi bergantung beberapa buah tengkorak, dikelilingi karangan sembilu kayu. Rupa-rupanya tengkorak itu sudah lama sekali.

Rumah kaum Pnihing itu didiami oleh isi rumah enampuluh banyaknya. Rumah itu sederhana besarnya, ta‘ ada tempat akan menumpangkan jamunya semua. Sebab itu orang jamu disuruh menumpang dalam kubu, yaïtu sebuah rumah kecil, yang letaknya ber- tentang tempat masuk rumah besar. Ketika perang, kubu itu dipergunakan selaku bentèng; dindingnya diperbuat dari pada papan yang tebal dan teguh. Lain dari itu rumah kecil itu dikelilingi ceracak. Kubu itu dipergunakan oleh orang bangsa Kayan hanya akan tempat bermalam. Tatkala siang hari merèka tinggal dise- rambi rumah atau di dalam awa, bersama-sama orang bangsa Pnihing. Ramai sekali di dalam awa, karena tiada antara lama hendak dirayakan fèsta penaburan. Pada ma- lam yang pertama orang pemuda kampung berkanjar; orang jamu melihat perbuatan itu dengan hirau. Pa- kaian orang Pnihing sehari-hari itulah cawat dan baju, diperbuat kain belacu. Tatkala berkanjar, pakaian itu ditanggalkannya, diganti dengan pakaian perang. Bagaian pakaian perang yang terutama, itulah sejenis baju zirah, rupanya sebagai baju yang tiada berlengan. Baju itu diperbuat dari pada kain dua lapis, di antara kedua lapis kain itu diisi kapuk. Zirah itu menjadi pakaian akan melindungi orang dari pada tikaman lembing dan penabuh padang. Akan melindungi lengannya dipakai- nya lengan pakaian, yang berhubungan dengan pias kain yang meliwat bahu.

Kepalanya ditudungi kerpus perang, diperbuat dari pada rotan. Kerpus perang itu dihiasi oleh bininya de- ngan manik-manik. Pada bagian muka kerpus itu di- pakai suatu topèng; di atas kerpus ada bulu èkor bu- rung enggang (tinggang). Lain dari itu orang yang ber- kanjar memakai juega baju perbuatan kulit tutul atau kulit kambing. Tetapi kuranglah orang yang me- makai kulit tutul: didaèrah tempat kediaman orang bangsa Pnihing jaranglah tutul, sebab itu kulitnya mahal.

Senjata perbuatan Eropah hampir tiada terpakai oleh orang Dayak yang mengediami tanah diudik. Senjata yang dipakai oleh orang berkanjar itulah mandau (pe- dang yang diperbuat dari pada baja yang amat amat keras; ujungnya beruncing yang amat tajam). Mandau orang Dayak bolèh disamakan dengan kapak toma-hawk, yang dipakai olèh orang bangsa Indiaan. Hulu mandau serta sarungnya diukir bagus-bagus. Kebanya-kan kali sarung mandau diperhiasi dengan cemara. Pada masa duloë cemara itu asal dari pada kepala orang yang dikayau. Pada masa kini diganti rambut binatang atau rambut yang dibelinya kepada orang bangsa lain. Perisai yang dipakai orang berkanjar itu dihiasai juga cemara, tetapi hanya kalau perisai itu dicat. Kalau ta‘ dicat, orang tiada menghiasi perisainya dengan cemara.

Kanjar yang dilakukan olèh orang bangsa Pnihing di-dalam awa, ta‘ bolèh dibanding dengan kanjar yang biasa dilakukan olèh bangsa Kulit Mèrah. Kanjar orang Da-yak itu tiada akan menyatakan sifat galaknya. Orang Ero-pah yang memandang fèsta berkanjar itu, tentu mengat-takan: “memberi bosan”.

Akan tetapi orang bumi putera amat senang melihat pertunjukan ini; demikian juga orang yang mela-kukannya. Orang terus hadir sementara segenap malam.......Seakan-akan orang pemuda hendak menyatakan, bahwa mèrèka tiada mudah dilelahkan: keèsukan harinya dimulaïkannya fèsta lain. Merèka menuju ke hutan, diambilnya di situ daun pisang banyak. Sepulangnya di-rumah daun pisang itu dipotongnya bercarik-carik. Dengan carik-carik itu badannya ditutup. Pada muka-nya dipakainya sejenis topèng perbuatan kayu yang dicat. Lalu orang menari di hadapan rumah. Tarinya itu di-namaï tari topèng.

Demikianlah orang merayakan fèsta beberapa hari lama-nya. Orang Kayan mempertunjukkan kepada orang yang menjamu dia suatu permainan, yang belum diketahui orang Pnihing, yaïtu main raga. Raga itulah sebuah bola yang diperbuat dari pada rotan. Orang yang bermain dibagi dua tumpuk: yang setumpuk harus menabuh bola ke sebelah kemari, setumpuk lain harus menabuh bola arah ke sebelah ke sana……

Bagian fësta yang terlebih disukaï orang, itulah menyabung.

Bo-Yok kenamaan didaëerah karena mempunyaï ayam sabungan. Banyaknya lebih dari limapuluh. Binatang itu dipeliharakan olêh Bo-Yok dengan sepertinya. Ayam sabungan harus diberi makan cara baik sekali. Lain dari itu ayam itu senantiasa dimandikan serta dipijit, su-paya bertambah kuat. Akan menghormati jamunya—tetapi mèmang juga akan menyenangkan hatinya sendiri!—disilakannya kepala kampung yang letaknya tiada jaoh dari situ akan perlumbaan. Pada waktu yang dijanjikan datanglah kepala kampung yang disilakan itu, diiring olêh beberapa orang sekampung. Dibawa-nya ayam jantan enam èkor, semuanya jalak betul. Mula-mula binatang itu dipertunjukkannya kepada orang kampung Pnihing. Kemudian orang menuju ke tempat sabungan: itulah suatu padang kecil, persegi empat rupanya, yang rumputnya dicabut habis belaka serta diratakan. Orang penonton duduk sekellling tempat sabungan itu (gelanggang). Mula-mula ayam jantan punya balung dan susuh dilepaskan. Susuhnya diganti dengan suatu pisau kecil, taji namanya. Pada penyabungan pertama kali Bo-Yok tiada beruntung; ayam jantan yang diajak itu sabung-menyabung, bulunya terbang di udara sekellilingnya! Ayam jantan asing meretas perut lawannya; ayam jantan kepunyaan orang jamu menang. Tuannya disoraki oleh orang yang hadir.

Pada sabungan¹ yang berikut ayam jantan kepunyaan Bo-Yok menang pada ayam jantan asing. Sebab orang bertaruh, orang Mahakam beroleh banyak untung. Demikian juga orang jamu—orang bangsa Kayan—sebab menurut adatnya yang lazim antara orang Dayak, wajiblah orang bertaruh akan ayam jantan kepunyaan orang yang menjamunya. Untung sebagian diperoleh juga oleh Midan. Sejak lama Midan ada berniat: hendak menebus dirinya dari pada perhambaan. Uang tebusan itu amat banyak, nilaiannya sama dengan nilaian enam ratus rupiah. Adakalanya Midan putus asa, karena berpikirkkan susah payah akan mengumpulkan uang sekian banyak. Penerimaanya hanya sedikit, yaïtu dengan membuat sumpitan dan bumung. Upah pekerjaan itu harus diserahkan separuhnya kepada Pagong. Dari pada uang yang sisa, haruslah dibelinya gelang tangan dan gelang kaki, serta perhiasan hulud pedangnyia. Jika kiranya barang itu tiada dibelinya, tentu ia kurang diindahkan oleh orang sekampung. Midan amat senang karena beroleh idin akan menurut perjalanan ke kampung Mahakam. Jika ia dapat idin akan berdagang, tentu perolèhannya jauh lebih banyak; apa lagi dari pada perolèhan berdagang ta‘ usah diserahkan sebagian kepada kepala kampung. Sementara perjalanan sudah dikum-pulnya karèt dan hasil lain. Sayanglah barang itu hilang, tatkala perahu tersejam.

Orang Kayan beruntung dengan dagangan: yang dibelinya kepada orang Mahakam, itulah tempayan bagus dan gung dengan harga murah saja. Midan membawa beberapa sumpitan, yang halus perbuatannya; sumpitan itu ditukarkannya dengan gelang perbuatan gading dan kayu. Manik-maniknya ditukarkan juga barang perhisasan itu, diketahuininya, bahwa benda-benda itu payu benar di kampung orang Kayan. Jadi perjalannya menurut orang Kayan ke kampung orang bangsa Pnihing itu bermuna dua jenis: memberi kesukaan serta memberi faèdah juga.

Akan tanda peringatan perkunjungan ini, Midan dan Lèjo dicorèng pada dadanya; gambarnya seperti gambar yang lazim pada orang bangsa Pnihing. Ada seorang bangsa Pnihing tua, dicorèng cara bagus benar. Midan dan Lèjo memandangi gambarnya dengan ajab,...... juga dengki hati sedikit. Hampir seluruh badannya dicorèng, dari lèhèr sampai kepada lututnya. Itulah tanda-tanda peringatan akan perjalananinya; ia melihat daèrah banyak: telah dikunjunginya kaum-kaum yang diam di hulu sungai Kapuas dan di hulu sungai Mahakam dan anak sungainya, serta orang Dayak yang mengediami tepi sungai Barito di pihak selatan pulau Berunai. Orang tua itu sombong benar, sedang menunjukkan beberapa gambar pada tubuhnya, yang menjadi tanda peringatan pengayauan, yang dilakukan ketika tubuhnya masih kuat dan kakinya masih cepat. Sedang berkata demikian, ia berkelah kesuh. Rupa-rupanya orang senang hati juga karena mengingat bahwa pada masa kini orang Dayak tiada kuluar lagi akan mengayau; jadi ia tiada usah bersesal diri bahwa badannya sudah menjadi lemah lembut.

Adapun perdamaian orang Kayan dengan orang bangsa Mahakam itu bukan hanya nyata dengan meniru co-rengnya. Sorang—anak laki-laki Pagung—berbuat perjanjian atas nama bapaknya dengan Bo-Yok. Perjanjian itu seakan-akan ditahbiskannya, yaïtu dengan “menukarkan darah”. Demikianlah perbuatan itu:

Dalam awa berhimpunlah sekalian orang laki-laki yang tahu perang, bersama-sama dengan orang jamoë. Dengan nyu (pisau kecil, yang selaiu dibawa olêh orang Dayak) Sorang dan Bo-Yok melukakan seorang kepada seorang, yaïtu pada lengannya sebelah atas. Darah yang bercécèr dari luka itu masing-masing ditadah pada daun pisang. Lalu ditambah tembakau; daun pisang digulung. Orang mempersembahkan rokok itu kepada temannya masing-masing, lalu diisap. Sedang mengisap orang menjanji kan persahabatan dan pertolongan akan seumur hidupnya; sementara itu disebutnya nama jin-jin yang baik. Dan lagi kedua orang mengenaï suatu jimat yang mulia sekali: suatu gigi rimau. Perjanjian sedemikian tiada mudah dirombak olêh orang bangsa Dayak. Orang yang tiada teguh setianya, akan ditimpa olêh penyakit hèbat. Segenap kaumnya juga kena penyakit itu. Akan penyakit yang sedemikian asalnya, tiada dapat dipu-ja dengan penangkal atau cucaan.

Dua minggu sebelum waktu orang Kayan pulang ke kampungnya di tepi sungai Mendalam, merèka kesempatan akan menyatakan kesetiaannya kepada sekutunya.

Pada suatu malam Midan beserta Lèjo dan beberapa orang kampung orang Pnihing keluear, hendak menangkap ikan. Setelah sampai disunggai, orang milir dengan menumpang perahu. Tempat yang ditujuinya itu ke namaan karena banyak ikan. Orang hendak memakai jala; sebab itu perlulah ada cahaya bulan. Kebiasaan daèrah Mahakam berkabut: karena sesungguhnya di situ banyak air, yang diuapkan pada siang hari, sehingga udara selalu mengandung banyak air. Pada malam ini kebetulan ca haya bulan terang betul. Seorang penumpang perahu harus berdiri diperahu akan melihat muka air; jika didapatnya muka air bergerak, dibuangnya jala. Peker jaan menujukan perahu diserahkan kepada orang pe numpang lain. Orang pengikan itu senang hati betul, sebab perolèhannya banyak. Kesenangannya dinyatakan dengan nyaynian, yang disertai olèh orang yang bermain bunyi bu nyian; kedengaranlah suara orang yang berseru. Kelihatana lah dua orang laki-laki sedang keluear dari dalam belu kar. Sebab orang itu diterangi cahaya bulan, merèka di kenal: itulah orang yang mengediami kampung yang le taknya berdekatan kampung orang Pnihing. Dari jauh kedengaran juga bunyi gung yang ditabuoh orang. Ta’ dapat tiada di kampung dekat ada gempar. Orang pengikan bergopoh-gopoh berkayuh menuju ke tepi tempat orang laki-laki itu. Setibanya di tepi, orang itu memalumkan, bahwa orang kampungnya disemui olèh orang bangsa Batang-Lupar tatkala mengumpul rotan di hutan. Merèka diutus olèh kepala kampung akan mengabarkan hal itu serta akan meminta pertolongan ke pada kampung Bo-Yok.

Dengan tiada berlambat orang pemuda pulang keru mah akan memberi tahu hal itu kepada Bo-Yok dan

Sorang. Sebelum matahari terbit, berbunyilah gung-gung, orang kampung semua tersedar dari tidurnya, lalu bergopoh-gopoh kepada awa; senjatanya dibawanya. Setelah berhim pun, kepala kampung mewartakan kepa-da orang, kabar yang diterimanya dari orang pengikan; kemudian bermusyawarat. Sorang menyatakan, bahwa ia suka menyertaï orang kampung akan melawan orang Batang-Lupar. Sorang disoraki amat sangat karena berniat demikian.

Tetapi orang belum semupakat tentang peraturan perlawanan itu. Menurut orang yang terlebih gagah berani—orang muda semua—baiklah pergi kekam-pung dekat, menantikan di situ penyerangan orang Batang-Lupar.

Orang yang sabar menimbang, bahwa ikhtiar orang pe-muda itu kurang baik; karena sesungguhnya dalam hal itu kampung ini akan ditinggalkan. Orang perempuan terpaksa tinggal di rumah, itu berbahaya sekali. Nyatalah kampung yang diserangi oleh orang Batang-Lupar mula-mula itulah kampung dekat, tetapi pada akhirnya kampung ini juga didatanginya. Sedang bermusyawarat, tiba-tiba datanglah orang pelari, yang asal dari kampung dekat. Itulah hanya orang perempuan dan anak-anak. Merèka menyatakan, bahwa orang laki-laki dari kampung akan datang kemari juga. Rumah di situ sudah tua serta sahajakan roboh. Itu sebabnya kepala menasihatkan akan mencari perlindungan kepada kam-pung orang Pnihing. Sebelum meninggalkan rumah, per-kakasnya dan barang yang berharga akan disembunyikan dalam guha.

Setelah didengarnya kabar sedemikian bunyinya, orang berhenti dari pada musyawarat. Semua orang bersung- guh-sungguh akan meneguhkan rumahnya, supaya dapat melawan penyerangan musuh.

Babi-babi ditangkap, lalu dibawa ke dalam rumah. Kalau kiranya penyerangan itu lama, binatang itu akan dibantai supaya berolèh perbekalan. Sebenarnya daging babi dimakan olèh orang Dayak hanya tatkala berbuat pujaan. Beras diambil dari dalam lumbung; pekerya-jaan itu diserahkan kepada orang perempuan. Semen-tara dilalukannya pekerjaan itu, orang perempuan mengadakan gaduh besar. Diserambi orang mengumpulkan batu, gunanya akan melempar musuh. Setibanya orang dari kampung dekat, diperintah olèh Bo-Yok akan mengankat tangga-tangga dan batang kayu, yang dipakai akan menaiki serambi dan rumah. Setelah selesai pekerjaan itu, orang menantikan kedatangan musuh dengan hati tetap jua. Jika kiranya orang Batang-Lupar tiada ter-lalu banyak, orang kampung tiada usah kuatir: rumahnya teguh, banyaklah orang bersenjata dan banyak juga perbekalan.

Sesudah tiga hari, belum kelihatan musuh. Kalau-kalau orang Batang-Lupar merampas kampung yang ditggalkan orang serta mengediami rumah. Itu berlanwanan dengan adatnya: setelah barang dirampasnya, rumah dibakarnya, lalu berangkat saja. Kalau-kalau merèka menantikan orang kampung yang pulang. Kalau-kalau maksudnya menangkap orang itu, supaya dijadikan hamba-sahaya. Akan mendapat ketentuan tentang hal itu, kedua orang kepala kampung hendak mengirim penghintai. Yang dipilih akan penghintai, yaitu delapan orang pemuda. Antara kedelapan orang itu ada juga Midan dan Lèjo. Dengan atiati Sekalipun penghintai itu hendap-hendap sepanjang lorong-lorong hutan, yang hanya diketahui oleh orang kampung Mahakam; sampailah mereka pada kampung dekat. Ta‘ kedengaran bunyi, diam saja! Orang penghintai bersembunyi diri dalam belukar yang lebat, lalu menantikan malam hari akan melihat rumah kampung. Tatkala masuk ke rumah, keadaannya didapatnya dalam hal ketika orang meninggalkan rumah! Pada pendapatannya rumah itu tiada dimasuki orang. Keesukan harinya keadaan rumah diselidiki dengan saksama: sebenarnya tiada didatangi orang. Hanya banyak barang dirusakkan oleh...... babi-babi! Sebab ta’ ada orang di dalam rumah dan dihalamannya, binatang itu menyusupi pagar, lalu jagung dan ubi yang ada di kebun, dimakniya habis. Seëkor babi pencuri ditangkap oleh penghintai, lalu dibantainya, dagingnya dimakannya. Kemu-dian orang penghintai pulang kepada kampung Bo-Yok.

Sebab ta‘ ada musuh, orang penghintai menjadi ku-rang atiati. Jika kiranya kebetulan ada orang bangsa Batang-Lupar didaërah, seorang pun dari kedelapan orang penghintai tiada terpelihara, tiada pulang ke kampung-nya. Itulah sebab dengan sekonyong-konyong orang bersua dengan setempuk orang asing, kira-kira duapu-luh orang banyaknya. Orang itu menantikan penghintai, mereka bersedia akan menyerang rupanya. Untunglah! Bukan musuh! Melainkan setempuk orang bangsa Dayak juga, yang bersahabat dengan bangsa Pnihing. Tempat kediamannya di tepi sungai Mahakam juga, arah ke sebelah hilir sedikit. Nama kaum itu Longglat. Merèka sedang mengumpul getah-Percah, yang akan dibawa ke negeri Tupu. Di situ hasil hutannya dijual kepada saudagar bangsa Bugis.² Orang Longglat sudah lama di dalam hutan, tetapi tiada bertemu dengan orang Batang-Lupar, bekasnya pun tiada didapatnya. Mereka hanya bertemu dengan orang bangsa Punan yang mengembara di daerah. Sebab itu orang Pnihing dinasihat- kannya akan pulang selekas-lekasnya. Orang penghintai menurut nasihat itu juga. Keesukan harinya orang pelari pulang juga kepada kampungnya. Sesungguh-nya orang kampung yang sedang pulang ke rumahnya amat senang karena tiada ada orang Batang-Lupar di-daerah; akan tetapi merèka bersungut-sungut juga, sebab kampungnya ditinggalkannya sia-sia saja: orang Longglat itu dipandangnya...... musuhnyya, yaïtu orang Batang-Lupar.

¹ Di-Tanah Jawa dan juga di-Tanah Cina orang suka mengadakan penyabungan jangkrilik. Di-Tanah Cina binatang kecil itu dijinakkan dulu sedikit: akan itu jangkerik dibuang ke dalam air; baru ketika hampir mati lemas, dikeluarkan dari dalam air. Sesudah itu jangkerik itu digantungkan pada kaki belakangnyia. Tatkala sudah sedar pula, binatang itu tiada suka berlepas lagi, lalu diajak akan perkelahian dengan menggaru kepalanya. Adakalanya jangkerik kepunyaan lawannya, digaru pada mulutnya dengan kayu yang dibasahi dengan air ikan asin, supaya jangkerik ta‘ dapat berkelahi. Penyabungan itu terutama dilakukan akan bertaruh.

² Adapun orang bangsa Bugis itu ialah bangsa asil dijazirah sebelah selatan pulau Selèbes. Banyaklah orang Bugis berpindah ke pantai timur pulau Berunai. Pencahariannya, yaïtu berdagang.


FASAL YANG KESEBELAS

Midan dan Lèjo ditawan, tetapi berlepas kembali.

Perkunjungan orang Kayan di kampung orang Pnihing dua bulan lamanya. Terbitlah maksudnya akan pulang ke negerinya. Akan memuatkan tempayian, gung dan lain barang dagangan, orang berhajat sebuah perahu pengganti perahu yang hilang. Mula-mula Sorang mengikhtiarkan membuat sebuah perahu sendiri, tetapi waktu tiada cukup. Sementara belum selesai fêsta penaburan, terlarang orang memakai kapak dan beliung. Jika kiranya baru mulaï setelah fêsta selesai, waktu pulang diperlambatkan. Sorang memutus akan membeli perahu dari orang Pnihing, Walaupun perbuatan perahu itu kurang baik dari pada perahu, yang dibuatnya sendiri. Orang Dayak membuat kapalnya dan perahunya dari pada batang pohon. Tatkala pohon ditebang, batangnya ditebas di hutan itu dulu, tetapi cara kasar saja. Kemudian dibawa ke rumah, di situ kapal disediakan terus. Sorang mencari sebuah perahu yang diperbuat dari pada kayu liat, yang berguna akan melayari sungai di pihak udik. Kapal yang dipakai akan melayari sungai yang tohor harus berlantai yang melenting sedikit, supaya jangan pecah tatkala terserandung kepada batu.

Harga pembeli perahu itu barang yang niliaiannya seperti duapeluh rupiah uang Belanda. Orang Pnihing mengantarkan jamu sampai pada tempat permulaan perjalanan pergi, sebab barang yang dibawanya jauh lebih banyak. Bagian perjalanan mendaki Bukit Antara perlahan-lahan saja. Orang terpaksa berjalan dengan ati-ati; didaèrah ini berkembaralah penyamun bangsa Melayu. Jika orang penyamun itu mendapat tahu bahwa ada orang Dayak yang membawa barang dagangan yang mahal, tentu dicobanya akan merampas barang itu. Lain dari itu orang Kayan masih teringat akan orang Batang Lupar: kalau-kalau orang itu ada didaèrah. Itu sebabnya setiap-tiap hari hanya maju sedikit, supaya waktu siang yang sisa bolèh dipergunakan pada memilih tempat bermalam yang terlindung sebolèh-bolèhnya dari pada bas haya disemoë musuh. Orang sampai pada puntak gunung Bukit Antara. Di situ orang berbuat kurban pula.

Makin orang perjalanan mendekati sungai Mendalam, makin mudah juga perjalanan, sebab lorong-lorong di situ diketahuinyia. Menurut sangka Sorang, tumpuk bolèh sampai di tepi sungai dalam empat atau lima hari: perahu-perahu akan diturunkan ke dalam air. Dengan demikian bagian akhir perjalanan dimudahkan. Orang bertambah-tambah senang, karena berharap menyampaikan kampungnyia dalam beberapa hari saja. Niscaya kepala kampung menyenangi juga hasil perjalanan orang penghintai!

Pada suatu malam Sorang menyuruh tumpuk berhenti, Walaupun baru petang hari. Lakunya demikian, karena tiba-tiba didapatnya suatu tempat yang amat berguna akan mendirikan kemah. Setelah tempat bermalam hampir selesai, kedengaran bunyi burung kuau. Pada hati Midan dan Lejo terbitlah niat akan menangkap burung itu: merèka ingin mendapat daging burung kuau. Sebab burung kuau terlalu amat takut, per lulah orang yang hendak menangkapnya, menyelinap akan mendekati burung. Midan dan Lèjo menanggalkan lembing dan pedang, supaya jangan terusik sedang menyelinap. Yang dibawanya hanya sumpitan. Damak-damak yang akan dipakai untuk membunuh burung diperiksaïnya dulu dengan saksama. Dalam bumbungnyia dibawanya rupa-rupa damak. Pada persangkaan orang Dayak tiap-tiap jenis binatang harus dibenuh dengan sejenis damak juga. Damak yang beruna akan membunuh bajing dan kera, ta‘ bolèh dipakai akan membunuh binatang jenis lain.

Midan dan Lèjo menyelinap arah kepada tempat asal bunyi; merèka memasang telinga akan mendengarkan bunyi kuau, yang kedengaran hanya sekali-sekali. Hèranlah! Jarak antara orang dan burung...... tetap jua! Beberapa kali Midan bersangka melihat burung yang bersembunyi di dalam belukar, lalu damak ditiupkannya; sia-sia saja! Seakan-akan burung kuau menyindiri orang pengejar,......bunyi pemikatnya...... didengar pula, tepati asal dari jauh sedikit......

Pengejaran sedemikian sudah sementara sejam lamanya. Lèjo mengajak temannya akan kembali saja. Tetapi Midan segan memperhentikan pengejarannya, selama kedengaran bunyi pemikat burung kuau: rupa-rupanya burung berani menyindiri dia. Pada akhirnya ke dua orang terpaksa berhenti: matahari sudah terbenam, burung sudah diam.

Sesungguhnya Midan dan Lèjo orang bangsa Dayak jati; merèka biasa berjalan di hutan. Tetapi sementara pengejaran burung, yang diindahkannya lebih-lebih, ya itu burung, bukan jalan, yang dijalaninya. Sebab demikian merèka tiada bolèh mendapat jalan kembali: orang terusik karena gelap-gulita. Sesudah menyelinap dan berjalan beberapa waktu lamanya, Midan—yang berjalan di hadapan—mengaku, bahwa ia sesat di jalan, tiada tahu arah ke mana akan kembali pada tempat asalnya. Lèjo bersungut-sungut; sia-sia saja! Midan tiada perduli kemarahen Lèjo, katanya: “Apa bolèh buat?”

Kata Midan: “Jangan kuatir! Marilah kami tidur saja di sini di dalam belukar!”

Lèjo teringat akan hal teman. Tenèu merèka bercin- ta, karena Midan dan Lèjo tiada kembali. Kalau kalau merèka keluar akan mencari dia. Kata Midan: “Jadi baiklah, kami berseru, supaya diketahuinyaka kami bertempat di mana!”

Lalu Midan berseru senyaring-nyaringnyna, menyebut- kan nama orang tumpuk. Pada akhirnya Midan hampir haus napas, lalu diganti olèh Lèjo...... Suaranya ten- tu terdengar,......tetapi bukan kepada temannya! Kedua orang sampai kepada bagian hutan lapang. Berteriaklah Lèjo, katanya: “Hai, sudah ada!”

Sesungguhnya: sudah ada!, tetapi bukan temannya! Bukan orang Kayan!... Itulah... musuhnya... orang Batang-Lupar! Orang itu telah mendirikan kèmah di- dalam hutan didaèrah ini. Merèka diali karena seruan Midan dan Lèjo, lalu masuk ke dalam hutan serta mengelingi kedua penghintai bangsa Kayan...... Midan dan Lèjo ditawan, lalu diikat kakinya dan lengannya serta disèrèt kepada tempat bermalam orang Batang-Lupar.

Midan memperhatikan bahwa ada banyak orang: kira-kira seratus orang banyaknya. Semua bersenjata, yaitu ber-malat. Malat itu senjata biasa; selalu dibawa oleh orang Dayak kalau kelocar. Tetapi dalam kemah ada juga kapak besar dan beliung. Itu menyatakan, bahwa orang Batang-Lupar datang kemari akan melakukan pe-kerjaan di dalam hutan……

Sebenarnyalah orang Batang-Lupar meliwat batas antara Tanah Serawak dan bagian pulau Berunai yang masuk jadzahan Tanah Nederland, akan mengempul hasil hutan serta akan membuat perahu. Kalau kalau pohon kayu yang bertumbuh di tanahnya sendiri dipan- dangnya kurang bermuna. Orang tawanan itu hampir tiada diindahkannya: karena sesungguhnya orang itu dikebat benar-benar, ta’ bolêh berlari. Orang Batang-Lu- par berkata cara riuh, sekali-sekali ditunjuknya arah kepada kedua orang tawanannya.

Dengan mengingat itu, Midan bersangka, bahwa yang dibilicarakannya, ……yaitu ialah dan temannya Lèjo. Mi- dan tiada mengerti bahasa Batang-Lupar. Bahasa-bahasa orang bangsa Dayak berbèda-bèda menurut tempatnya. Hanya orang yang mengediami daerah dihuloë dapat ber- bicara seorang dengan seorang karena memakai bahasa umum, yaitu cara Busang.

Midan berbisik kepada temannya Lèjo, katanya: “Hai, Lèjo, orang tiada setuju, hendak diperbuat apa dengan kami! Coba lihat, orang yang memakai bu- lu delapan tangkai! Yang terlalu marah rupanya! Ten- tu ialah yang menang! Nyatalah ia orang gagah berani! Hai, kami akan mampus!” Jawab Lèjo (berbisik-bisik juga):

Orang Batang-Lupar berkata cara riuh

Orang Batang-Lupar berkata cara riuh.

”O, tidak begitu! Jikalau kiranya maksudnya mengayau, niscaya sudah dilakukan, tatkala mendapat kami di hutan...... Seperti kamu ketahui,......Rajanya tiada membiarkan, bahwa raiatnya mengayau lagi. O, tidak, yang diingininya...... bukan kami punya kepala. Pada persangan kita...... kami diantarnya ke rumahnya, kami dija-dikan hamba-sahaya, serta disuruhnya bekerja. Lain dari itu kita bersangka, yang berhim pun di sini...... kepala-kepala beberapa orang; kalau-kalau berbantah-bantahan siapakah memperoleh tawanan dua orang ini. Hai, biarlah orang itu berbantah-bantahan...... sekarang kami ada dalam genggamannya,...... tetapi ada pertanyaan: kami tetapkah dalam genggamannya? Itu belum tentu!“

Kata-kata yang akhir disebut oleh Lèjo itu...... sudah terang akan Midan: nyatalah Lèjo berpikirkan daya upaya akan berlari! Tetapi undinya ketiyil jua. Betapa peri berlari: musuh terlalu banyak orang! Tentu Midan dan temannya dijagaï benar-benar. Lain dari itu.... merèka dikebat dengan tali! Untunglah! sampai sekarang Midan dan Lèjo terpelihara...... sampai sekarang!

Orang menghiburkan hati dengan pengharapan, kalau kalau dapat berlari; tiada antara lama lelaplah ia!

Keësukan hari, tatkala bangun dari tidurnya, tali kebatan orang tawanan dilepaskan; selama orang berjalan menurut orang Batang-Lupar, orang tawanan tiada terkebat dengan tali. Ketika malam hari tangannya dan ka-kinya diikat pula dengan tali rotan (pucuk pohon ro-tan). Sebetulnya kedua orang tawanan tiada dianiaya; orang yang melarikan dia, terus mengamat-amati kela-kuannya; terpaksa Midan dan Lèjo berjalan di tengah tengah tumpuk orang. Lain dari itu merèka tiada diin-dahkan oleh orang Batang-Lupar. Waktu makan dua kali sehari; pertama kali tatkala bersedia akan berangkat, kedua kalinya tatkala sampai pada tempat perhentian ketika malam. Makanan yang diberi kepada orang tawanan seberapa berguna. Orang Batang-Lupar mempunyai banyak beras; sekali-sekali dikumpulkannya lagi sagu di hutan. Ta‘ kekurangan juga daging babi; tanah yang dilalui orang didiami babi hutan amat banyak. Di daerah terdapat babi hutan berjanggut; babi jenis ini tiada terdapat di pulau-pulau lain di-Tanah Hindia. Namanya demikian, sebab pipinya ditumbuhi rambut panjang, seperti ijuk rupanya. Warna rambut itu mèrah tua. Moncong panjang serta kurang lèbar, ujung èkor berjambu-jambu, yang besar. Babi hutan berjangut itu kurang galak dari pada jenis babi hutan lain, akan tetapi kalau diserang, ia melawan musuhnya dengan taringnya. Akan menangkap babi, orang Dayak mengepung dia, lalu dibunoh dengan tikaman lembing.

Pada memandang tempat matahari di langit, Midan dan Lèjo dapat menentukan arah perjalanan, yaïtu arah kesebalah barat-daya; menurut cara orang Kayan itulah arah mengudik. Orang Dayak tiada menyatakan arah pelayaran seperti bangsa lain di-Tanah Hindia. Akan orang Dayak hanya ada dua arah; yaïtu hudik (mengudik) dan haö (menghilir). Sungai Mendalam mengalir (dari pada kampung orang Kayan) arah ketenggara; jadi menurut bahasa orang Dayak, Midan dan Lèjo hudik (mengudik).

Perjalan lambat-lambat saja. Orang Batang-Lupar amat suka mengindahkan tanda alamat; merèka tiada lupa memeriksakan tanda alamat itu dengan tiada berkeputusan. Yang diindahkannya lebih, yaïtu bunyi bilang (sejenis tokèk). Tatkala didengarnya bunyi ketika malam atau ketika fajar baru terbit, orang tiada berpindah dari tem- patnya, melainkan tetap tinggal di situ dulu. Yang diindahkan juga, yaïtu cara terbang burung dan lagi hal bersua dengan ular. Hal-hal itu dapat mengubahkan waktu permulaan perjalanan atau meneruskan pekerya-jaan. Orang Batang-Lupar terus mengumpul getah-Percah; acapkali tetap pada suatu tempat sementara tiga atau empat hari lamanya; upamanya kalau hasil di situ amat banyak. Orang tawanan harus menolong orang Batang-Lupar pada pekerjaan itu. Tatkala berjalan, merèka harus memikul keranjang yang berisi beras atau perbekalan lain. Dengan kerèlaan hati kerja itu dibu-atnya; merèka berlaku seolah-olah senang juga. Itu sebabnya, orang Batang-Lupar menyangkakan, bahwa orang tawanan itu meringankan halnya jua serta menurut nasibnya saja. Tetapi...... pada dalam itu pun orang berpikirkkan kelariannya; jika tiada terusik olèh musuhnya, maksud kelarian itu dibilicarakannya. Tentu orang tawanan tiada kesempatan berlari ketika malam hari. Jadi maksudnya itu perlu dibenarkan ketika siang hari. Tetapi segenap hari merèka dikelilingi olèh musuhnya, rupa-rupanya sama sekali ta‘ ada kesempatan akan berlari. Meskipun demikian merèka tiada putus harap.

.............

Tanah yang dilaluï sekarang makin bergenung-gu-nung; makin bertambah juga kesukaran perjalanan, sehingga majunya perlahan-lahan saja. Sesungguhnya Midan dan Lejo tiada tahu hal ihwal batas-batas tanah, tetapi merèka sudah mengerti juga, kesempatan berlari berkurang, jika sudah meliwat batas Tanah Serawak. Tatkala sudah tiba di-Tanah Serawak—tempat kediaman orang Batang-Lupar,—niscaya putus asa! Selama be-lum sampai di tempat kediaman orang Batang-Lupar, ka- laukalau bersuc dengan orang bangsa Bukat, yang biasa berkembara di daerah ini. Ta‘ bolèh berharap lagi akan bersuc dengan orang dari seberang laut (orang Belanda) yang memerintah di tanah di sebelah hilir; yang semuanya berbedil itu! Hanya inilah pengetahun Midan dan Lèjo tentang orang Belanda. Pengetahuan itu didengarnya dari orang Kayan yang melayari sungai Kapuas sampai negeri Putus-Sibau atau Sintang. Merèka tiada tahu di mana batas tanah yang diperintahkan olèh orang putih. Meski pun demikian ia terus berharap akan bertemu dengan serdadu Belanda. Ta’ dapat tiada orang itu memberi perlindungan kepadanya, akan melawan orang Batang-Locpar.

Dalam pada itu pun perjalanan diteruskan, orang melaloëi hutan lebatlebat, tanahnya hampir segenapnya berpaya-paya. Bagian gunung yang tertinggi itu belum disampaikan. Orang tinggal lama dalam hutan ini, sebab ada banyak getah-Percah. Pada suatu hari orang sedang menebang pohon kayu yang besarnya luar biasa. Tiba-tiba orang mengejar seèkor binatang yang ajaib rupanya. Terlihat dari jauh orang bolèh bersangka itulah seèkor gajah muda, yang belalainya belum panjang. Tingginya kira-kira semeter, panjangnya dua meter setengah. Yang menghèrankan orang lebih-lebih, yaïtu warna kulitnya. Hampir segenap kulitnya hitam-hitaman warnanya, hanya pada punggungnya serta pada lambungnya warnanya kelabu, rupa-rupanya binatang itu berselimut. Itulah...... seèkor tapir.

Demi dilihatnya ada binatang buas, orang Batang-Locpar mencapai lembingnya, hendak memburu tapir itu. Orang yang wajib menjagaï Midan dan Lèjo itu bin-gung karena hurushara, sehingga melupakan kewaji- bannya. Hai, itulah kesempatan yang baik! Midan dan Lèjo memandang seorang kepada seorang, lalu berlari arah berlawanan dengan arah yang ditujui oleh orang pengejar tapir...... Untunglah! Baik Lèjo, baik Midan amat pandai berlari cepat: sudah beberapa kali kedua orang itu menang dalam perlumbaan berlari di kampungnya. Dengan tiada menolèh, merèka berlaris-lari saja. Mu la mula dilaluninya hutan beriring-iringan, setelah sudah jauh orang penghintai itu bersembunyi dalam belukar. Sayanglah! Sedang berjalan di dalam belukar yang amat lebat itu, Midan dan Lèjo cerai-berai, sehingga keduanya terpaksa meneruskan kelariannya seorang diri saja. Hai, susah payah benar melalui hutan rimba ini. Banyaklah tumbuhan yang berjalar. Adakalanya kelarian nya tertahan karena bersua dengan rotan, yang seakan akan mengadakan jala besar yang ta‘ dapat diterusi. Mi dan terus mendengar gaduh orang yang mengejar dia (atau tapir?). Sekali-sekali bunyi itu asal dari dekat, sekali-sekali asal dari jauh. Hai, pada akhirnya keden ngaran suara orang yang bertempat di hadapannya. Midan tetap berguling di tanah; lalu menyelinap melalui belukar selekas-lekasnya. Sesudah beberapa menit bunyi hu ruhara sudah jauh! Makin maju, makin ia sampai kepada daerah yang tanahnya lebih keras, serta berbatu adanya. Sana-sini ada lapang yang dihamburi dengan batu-batu besar, ada yang tingginya melampauï lima meter. Setibanya di situ, Midan kedadangan dahsyat: diperhatikan nya: inilah tempat tinggal jin buruk; ia menolèh ke kiri kanan, makin bertambah juga dahsyatnya. Karena bi ngung, dipersangkakannya, bahwa dilihatnya cakar-cakar jin, yang dianjur kepadanya...... Berteriaklah ia, dis sebabkan oleh dahsyatnya yang tiada terkata...... Ia hendak meneruskan kelariannya, supaya menjauhi tempat buruk ini. Tetapi ia tiada dapat menggerakkan kakinya lagi, seakan-akan terpaku pada tanah. Ia pusing: semua barang sekelilingnya berpusing! Ada orang yang meletakkan tangannya pada bahunna, lalu ia ditindis ke bawah. Midan menutup matanya, supaya jangan melihat to yang mur-ka itu. Ia terjatuh, rebah pingsan.


FASAL YANG KEDUABELAS

Midan ada di hutan rimba sendiri diri. Pada akhienya sampailah ia ....

Ketika Midan sedar pula dari pingsannya, hari sudah malamlah. Gelap gulita sekelilingnya serta hujan lebat turun. Ngerilah ia sedang berdiri. Dicobanya akan mengingat lagi apa yang kejadian serta di mana tempat tinggalnya. Hai, sudah teringat! Merèka, Lèjo dan dia berlari; tatkala dikedayar olèh orang Batangs Lupar dimur-ka—tiada dengan sengaja!—jin-jin buruk se-bab masuk ke dalam tempat kediaman nyia. Bagaimana? Ia sekarang masih di dalam tempat kediaman jin? Ataukah ia disèrèt olèh jin ke dalam guha, yang ta‘ dapat dite-rangi matahari? Midan menganjur tangan akan meraba barang didaërahnya. Hai, yang dirabanya...... sebuah batu besar serta belukar-belookar. Hai, di sinilah ia ter-jatuh! Jadi to-to meninggalkan dia juga, tiada di-bawanya. Inginlah ia akan meninggalkan tempat buruk ini dengan sebentar juga, tetapi karena gelap gulita ia tiada dapat melihat apa-apa, sehingga terpaksa tetap pada tempatnya. Sebab hujan masih turun, ia berlin-dung di belakang batu besar; demikianlah ia menantikan fajar. Lama-kelamaan hatinya menjadi tetap. Berpikir-lah ia beginilah: “Tentu to-to itu tiada memurkai dia amat sangat, karena sesungguhnya ia masih hidup, tiada terbunuh olèh jin buruk. Kalau kalau to-to tiada mengambil marah, asal tempat kediaman jin ini diting- galkannya selekas-lekasnya. Tatkala berpikir terus, nyatalah kepadanya, bahwa awaknya...... dilindungi oleh jin baik yang berkuasa besar! Kalau-kalau dengan sengaja jin yang baik mengantar dia kemari, yaïtu suatu tempat yang bukan tempat kediaman jin buruk, sebagai di- sangkakan oleh orang Batang-Lupar! Hai, orang itu salah betul, karena menakuti tempat ini!...... Persanga- kaan benar juga: sebab lapang berbatu dikuatiri ol?.. orang Batang-Lupar; Midan terpelihara! Orang itu tiada berani mendekati tempat berbatu ini.

Ia terlalu suka hati, tatkala fajar terbit. Sekarang ia dapat meninggalkan tempat teduh ini, supaya sampai pula ke hutan. Bukan hanya akan berlindung, melain- kan juga akan mencari makanan. Sejak kemarin pagi, ia tiada makan apa-apa, badannya lemah karena lapar. Hai, di mana Lèjo? Sayanglah, bercerai dengan teman- nyla! Midan putus asa, sebab tiada tahu jalan di hutan ini. Betapa peri menyampaikan tempat yang terlindung dari pada bahaya-bahaya? Tatkala matahari sudah tinggi sedikit, sinarnya memanasi anggotanya yang sudah men- jadi kaku. Kem'balilah hati! Hai, ada bunyi gemer- cik, asal bunyi itu dari dalam belukar disisi kanannya! Ada sekor burung yang berbunyi; lalu burung itu terbang dari dalam belukar menuju kepada batang pohon tinggi. Itulah...... telajang; itu tanda baik!......

Sesudah berjalan sejam lamanya, sampailah ia ke- hutan rimba. Tempat buruk yang mengejutkan dia dulu sudah jauh di belakang. Mula-mula dicarinya buah akan memuaskan laparnya. O, ta'usah mencari lama- lama; tiba-tiba kelihatanlah banyak buah salak (disebut oleh orang Dayak: ujok duyang). Itulah buah rotan.

Sedang makan buah itu, ia dikelilingi oleh burung merpati menggeleparlah di daerahnya. Kedengaran juga bunyi ayam hutan. Sayanglah, ta‘ ada sumpitan; itu dirampas oleh orang BatangLupar...... Lalu ia berpikir demikian: biarlah, ta’ ada sumpitan! Apa gunanya ada sumpitan? Betapa peri menggorèng burung itu, ta‘ ada api! Sedang berpikir demikian, terbitlah akal. Dari dalam cawatnya diambilnya pemantik api. Hai, itulah barang yang amat beruna pada ketika ini. Pada sa’ at ini ia tiada mau menukarkan perkakas itu dengan manik-manik kepunyaan Pagong. Pemantik api diberi kepada nya oleh orang BatangLupar akan memasang api. Midan lupa mengembalikan batu itu kepada yang empunya, yang kebetulan tiada juga minta kembali pemantik api nya. Sesoungguhnya Midan tiada dapat membunuh binatang perburuan—sebab tiada ada senjata—, tetapi makanan buah-buahan boleh diganti dengan makanan kentang dan ubi, yang ada banyak di hutan. Sebelum masuk tidur, Midan memasang api. Dengan memakai pemantik api dinyalakannya daun-daun kering, lalu pada api itu ditambahnya ranting kayu dan dahan kecil. Ubi ubi yang digalinya, dimasaknya dalam abu yang masih panas. Akan memadam dahaganya, dimakannya beberapa buah salak; ta‘ ada air di daerahnya.

Makanan pada keesukan harinya juga hanya salak dan ubi. Sebab tidur lelap tadi malam, ia merasa dirin ya segar pula. Pada hari itu ia beruntung: didapatnya batu yang tajam, yang dapat dipakai akan memotong rotan; tentu sockar sekali memotong rotan dengan batu tajam saja; tetapi pada akhirnya jadi juga. Diambilnya setangkai yang panjangnya enam kaki; pada satu ujung, rotan itu ditajamkan, serta diberi beruncing.

Lalu runcing itu dimasukkan dalam nyala api, sehingga runcing itu menjadi keras. Batang rotan lain diperbuat juga senjata. Pada ujung batang itu diikat nya batu dengan tali rotan. Sekarang Midan mempunyaï senjata, perbuatan sendiri. Tentu rupanya bersaja saja, tetapi berguna juga: bolêh dipakai akan mela wan musuh atau binatang. Pada lembing (demikian dinamakannya rotan yang diberi beruncing itu!) diikat lagi batu, yaïtu sedikit ke bawah dari mata lembing. Sedang mencobakan “lembingnya”, didapatnya, bahwa senjata dapat dilèmpar lebih jauh, kalau matanya diberat kan. Sebab lembing dipakai berulang-ulang, ia menja di pandai mempergunakan senjata itu. Pada suatu hari dibunuhnya seëkor ayam hutan pada jarak dua puluh meter. Binatang lain şemua penakut, sukar se kali memburunya. Sebab itu Midan terpaksa makan buah hutan saja. Untunglah! Tiada kekurangan ma kanan sebegitoë: jika sudah jemu makan salak, di ambilnya jeruk atau jambu. Ada juga serikaya dan nangka. Sana-sini ia bersua juga dengan pohon durian dan pohon manggistan, lalu buhnhya dipetik serta di makan. Sesoodah berkembara di hutan sepuluh hari lamanya, baru dilihatnya pohon pisang. Pohon pisang jarang kedapatan di hutan, hanya bertumbah didaërah kampung orang. Midan hëran benar karena mendapat pohon pisang itu. Buhnhya dipetik atau dijolok dengan lembingnya. Midan berhenti sedikit, hendak makan pisang yang baru diperolehnya. Yang sisa dibawanya seberapa dapat dipikulnya. Sejak beberapa hari ta‘ kekurangan air minum; ia menyusur tepi sungai kecil, yang menjadi juga...... pandunya. Pada sang kanya sungai kecil ini bermuara di sungai Kapus atau di salah suatu anak sungainya. Jauhnya itu tiada da- pat ditaksirnya. Setiap-tiap hari ia berharap tiba di tepi sungai besar, tetapi setiap-tiap hari ia keciwa juga. Tetaplah ia sendiri diri di dalam hutan rimba, ta’ ada kampung, ta’ ada orang, bekasnya pun tiada dapat. Sekali-sekali ia bersocea dengan tempat, yang rupa-rupa- nya bekas ladang; tetapi sudah ditumbuhi kembali, hampir tiada ada bekasnya lagi.

Pada siang hari keadaan di hutan ramai sedikit: setelah matahari baru terbit, sedarah kera-kera, lalu mulai gaduh yang biasa diadakan kera itu; seolah-olah binatang itu bersalam-salaman. Jika kera itu melihat orang per- jalanana, ia terus berteriaik, kalau-kalau akan menasihat- kan kaum-kelucarganya. Lalu menyembunyikan diri di- dalam pohon. Hanya kedengaran lagi bunyi gemercik, yang asal dari ranting dan dahan yang patah. Kera yang hideop di hutan-hutan pulau Berunai diudik itu ber- sikap kecil jua. Ada juga kera besar—orang-utan—dinamaï oleh orang Dayak mayas; tetapi tempat kedia- mannya didaërah yang berpaya-paya, di muara sungai atau jauh sedikit keudik. Di tanah yang bergenung ta’ ada orang utan.

Ada sejenis kera, yang hideop di tanah bagian udik, yaïtu gibbon. Itulah kera yang sikapnya tinggi, acapkali tingginya sampai semeter. Adapun gibbon itu binatang yang penakut. Seganlah ia menunjukkan diri pada ma- nusia. Tetapi ia tiada segan mendengarkan suaranya ke- pada orang manusia yang lalu pada tempatnya. Tatkala matahari terbit serta ketika matahari akan terbenam, gib- bon-gibbon setumpuk berhim pun, lalu berseru-seru bersama-sama. Teriknya amat buruk.

Midan bersocea juga dengan burung berjenisjenis bangsa. Ada yang besar, ada yang kecil, kebanyakannya berbulu yang èlok. Burung itu menggelepar di antara pohon-pohon; demi terdengar ada orang datang, binatang itu bersembunyi dalam belukar. Sudah banyak kali Mi- dan mencoba menangkap burung, yaïtu dengan melèm- pari dia dengan rotan yang berbatu itu, akan tetapi kebanyakan kali tiada kena. Sekali-sekali saja diperolèh- nya ayam hutan atau burung merpati. Pekerjaan me- nangkap atau membunuh ular dan landak tanah lebih mudah. Tatkala membunuh ular, Midan berlaku ati- ati: antara ular-ular ada beberapa jenis yang berguna untuk orang Dayak, sebab binatang itu memberi nasi- hat kepadanya. Tatkala menentukan, bahwa pedah ular kurang baik, berhentilah ia beberapa waktu lamanya, sebelum meneruskan perjalanannya. Landak, yang di- dapatnya, dibunohnyia, bukan akan memperolèh daging- nya, melainkan perutnya dibukanya akan mencari batu gliga. Batu itu amat disukaï orang Cina, sebab dapat dipakai akan mengobati penyakit. Orang Dayak juga ingin memperolèh batu gliga; dipergunakannya sebagai jimat.¹

Ada juga sejenis mustika yang kedapatan dalam perut ku- cing; kejadiannya dari pada buloë binatang ini, yang ditelannya, tatkala menjilati badanya. Buloë itu menyadi keras di dalam perut serta membangunkana batu.

Pada malam harinya Midan beruntung benar tatkala mencari tempat bermalam. Biasanya akan bermalam dipilihnya tempat yang tinggi sedikit; sebab tiada mempunyaï perkakas, ta‘ bolêh mendirikan rumah kecil atau kêmah. Tempat yang dipilihnya akan bermalam, diperlindungkan dengan dahan-dahan, yang ditanam dalam tanah saja. Di-bawahnya dihamparnya daun kering sebagai tempat tidur. Ta’ dapat tiada tempat tidur jenis ini bersaja-saja, akan tetapi Midan dapat tidur lelap juga di dalam kë-mahnya.

Tatkala sudah hampir selesai këmahnya, maka kedengaran bunyi gemercik; dilihatnya ada binatang kecil, yang jarang sekali kedapatan di hutan pulau Berunai. Sikap binatang itu amat kecil, matanya amat amat besar, tiada berkadar dengan sikapnya. Binatang ajaib ini memandangi Midan beberapa sa'at lamanya, lalu lenyap dalam ceIah pohon kayu. Itulah pukang. Menurut orang yang ahli dalam ilmu binatang, pukang masuk bilangan kera.

Panjangnya kira-kira dua decimeter, ekornya amat panjang, melampauï panjang badannya. Kepalanya bulat benar, sebagai peluru, ta‘ kelihatan bahunya, rupa-rupanya kepala bersandar ditogok badan saja. Matanya juga terlalu amat besar, tiada berkadar dengan besar tubuhnya. Kaki belakang panjang, hanya separuhnya berbulu, ujung kakinya seolah-olah berbantal kecil, rupanya sebagai ujung kaki katak pohon......

Demi dilihatnya pukang ini, Midan terkejut, takutnya melampauï ketakutan pukang sendiri. Midan lari dengan sebentar, kêmah yang hampir selesai itu ditinggalkannya saja. Menurut kepercayaan orang bumi putera, pukang (yang sebetulnya sama sekali tiada menye babkan bahaya) itulah binatang yang mendatangkan penyakit dan celaka. Sebab itu orang bumi putera menja uhi tempat kediaman pukang.

Jadi Midan terpaksa mencari tempat lain akan bermalam. Tiba-tiba dilihatnya pohon tinggi sekali, akar-akarnya menganjur di atas tanah. Akar itu hendak ditutupi dengan daun-daun dan pelepah; pada dasar di bawah akar-akar hendak dihambur daun pakis. Alangkah ba-gusnya tempat tidur demikian!...... Tatkala baru mulai pekerjaan menyediakan tempat tidur, tiba-tiba Midan seakan-akan diusir dari dalam kemahnya, oleh...... bau yang amat buruk. Bau sedemikian sudah dikenal oleh Midan! Katanya dalam hatinya: Hai, ada seekor saât! Ten-tu ia tiada suka tinggal didaëerah ini, bau yang sekian busuk tiada terderita!

Ia terpaksa mencari tempat bermalam lain pula, jadi itulah ketiga kalinya!

Sebelum masuk tidur, ia tertenggelam dalam pikiran; hai, berharaplah ia, supaya kehidupannya cara demikian bolêh diperhentikan selekas-lekas. Pengembaraan sudah hampir sebulan lamanya. Pengharapannya menjadi sah juga! Betapa perinya akan diriwayat dalam fasal yang berikut.

¹ Dalam perut binatang jenis lain (kambing batu, domba dan lain-lain binatang yang memamah biak dan kera-kera) acap- kali kedapatan juga batu, yang dinamakan olèh orang Melayu mustika. Kejadian batu mustika itu demikianlah: jika ditelan olèh binatang benda, yang tiada dicernahkan, benda itu dibun- kus dalam perut dengan zat serupa kapur. Batu mustika sekali- sekali berbau ènak. Pada masa dulu mustika dipandang sebagai obat; lebih-lebih dipergunakan akan menidakkan racun yang se- konyong-konyong kemasukan perut orang. Harga mustika mahal betul, amat disukaï olèh orang Cina.


FASAL YANG KETIGABELAS

Midan bertemu dengan orang Cina Li=Uang, serta menurut dia ke negeri Pontianak.

Seperti sudah nyata dalam fasal yang mendahului ini, Midan menderita banyak siksa pada hari kelemarin. Ia berjalan jauh-jauh serta terpaksa menyediakan tempat bermalam tiga kali pada malam harinya. Sebab itu ia amat lelah; tidurnya lelap betul. Kebiasaan Midan sedar sebelum fajar terbit, tetapi ini hari ia baru ba ngun, takkala matahari sudah tinggi di langit. Takkala sedar, mula=mula disangkakannya bahwa ada di hutan bersama-sama dengan teman kampung, sedang menebang pohon kayu. Bunyi kapak...... masih berdengung dite linganya. Tetapi...... benarkah...... ia bermimpi? Sekarang kebetulan terdengar...... bunyi orang menebang pohon,......pak! pak! pak!!! hai, sebenarnya itu bunyi kapak yang ditabuhkan pada pohon. Dan lagi didengarnya bunyi gemercik dahan yang jatuh ke tanah. Benarkah...... ia di hutan ini bersama-sama dengan Lèjo dan teman-teman lain?

Tatkala mengingat akan Lèjo, sekonyong-konyong juga teringat dengan terang sekali peristiwa yang berlaku kemarin. Tetapi sebab senantiasa mendengar bunyi—se betulnya asal dari orang manusia!—kapak d.l.l., hilang lah perasaannya, bahwa ia sendiri diri dalam hutan. Yang sudah lama diharapkan...... itu ada juga pada akhirnya; ada orang menusia! Tentu tempatnya dekat saja. Meskipun hatinya terlalu senang, tetapi ia terus menaruh atiati...... Kalau kalau tukang penebang kayu itu...... orang Batang Lupar! Jika demikian bolêh jadi Midan ditawannya sekali lagi. Dengan atiati ia menyelinap dibelukar, sampai kepada suatu tempat yang tiada jauh dari orang bekerja; hai, tampak juga sekarang. Banyak orang dibilangnyya: satu, dua,......ada duabelas orang. Semuanya orang bangsa Melayu. Merèka bekerja di bawah perintah atau penjagaan seorang bangsa Cina yang sudah berumur...... ialah...... Li Uang. Seperti su dah diriwayat dulu ialah orang Cina yang meminjamkan uang kepada orang Kayan; yang menuruh orang kam pung Midan mengumpul hasil hutan akan menjelas kan hutang. Sebenarnya apa mulanya, bahwa Midan ter pelihara? Ingatlah! Jika kiranya orang Kayan tiada ter paksa keluear akan mengumpul hasil hutan, tentu Mi dan mati kelaparan di hutan rimba, tatkala ia berlari dari kampungnyya. Karena sesungguhnyya yang mendapat dia—tatkala kelaparan—ialah orang Kayan. Dan siapakah mengajak orang Kayan akan mengumpul hasil hutan. Kalau bukan Li Uang, siapatah? Li Uang sendiri tentu tiada bersangka begitu, tatkala Midan menujui dia. Orang Kayan tiada memalumkan kepadanya, bahwa merèka mendapat Midan di hutan.

Betapi peri Li Uang datang di hutan?

Dengan ati-ati ia menyelinap, dibelukar

Dengan ati-ati ia menyelinap, dibelukar.

Orang Cina tua ini—umurnya kira kira enampu luh tahun—terus berdagang hasil hutan. Adakalanya Li Uang ditipu olêh orang yang disuruhnyya mengumpul getah. Percah atau hasil hutan lain, terutamalah ia kena tipu kalau disuruh orang Melayu. Orang bangsa itu berolêh perskot dari Li Uang, yaïtu pakaian, perkakas dan perkebalan. Nilaian perskot harus dibayar kembali dengan menyerahkan kepada Li Uang perolehannya, yaitu hasil hutan. Hasil hutan yang dikumpul oleh orang Melayu, itulah: getah-Percah, rotan, acapkali juga batu mustika. Sesungguhnya Li Uang menilai-kan barang yang diserahkan nyka kepada orang Melayu sebagai perskot itu amat amat tinggi: orang Cina amat pintar perkara berniaga! Tetapi adakalanya ia ditipu jug ga oleh orang Melayu. Jika orang setumpuk itu su dah ada di hutan, ia tinggal di situ lama-lama, menurut sukanya jua; orang Cina itu tiada diperduli. Li Uang menantikan kedatangan orang Melayu; sia-sia saja! Adakalanya Li Uang dapat menjuaI banyak hasil hutan dengan harga tinggi, tetapi sebab kelalaian orang Melayu, ta‘ ada barang yang payu. Lain dari itu acapkali banyak hasil hutan yang dibawanya, kurang dari pada yang di-janjikannya; yang kurang akan diambil oleh orang Melayu kemudian, menurut katanya. Tetapi “kemudian hari” adakalanya dijadikannya “kemudian tahun”. Yang lebih buruk lagi, inilah: tatkala orang Melayu bekerja di hutan, merèka memboroskan waktu dengan bermain (main kartu atau mengadakan sabungan). Sudah beberapa kali orang itu kalah pada sabungan. Petaruhannya—yaïtu hasil hutan yang sudah terkumpul—sama sekali hilang. Akan menjauhkan hal sedemikian, Li Uang menyertaï tukangnyia sendiri diri.

Midan diterima oleh orang Cina dengan senang hati. Dengan hirau didengarkannya riwayat tentang pertawanan-nya serta kelariannya. Dengan hirau juga Midan ditanyaïnyia tentang hasil hutan yang ada di tanah pegunungan.

Li Uang menyatakan kepada Midan, bahwa ia sekarang bertempat pada suatu tempat yang jauhnyia perjalan nan lima hari dari negeri Sintang. Sesudah liwat beberapa hari lagi perkumpulan orang ini akan berangkat ke sana. Li Uang mengikhtiarkan kepada Midan akan tinggal di sini, menyertaï dia, sampai berangkat ke Sintang, seraya menu rut dia ke sana. Di negeri Sintang tentu ada kapal atau perahu yang hendak berlayar menghilir, supaya bolèh menyampaikan negerinya di sungai Kapuas.

Akan pembalas, Midan harus bekerja. Tentu Midan setuju dengan perjanjian itu. Gliga—kepunyaan Midan—dibeli olèh orang Cina, dibayar dengan...... uang ringgit beberapa mata. Itulah uang tunai, yang pertama kali diperolèh Midan. Pada pemandangannya uang tunai itu suatu harta besar.

Mula mula Midan diberi makan olèh orang Cina. Hai, ènak sekali nasi itu; sudah lama tiada dirasanya! Apa lagi ikan kering yang menjadi lauk lauknya. Ka tanya dalam hati: makanan seperti disantap hanya olèh raja raja! Setelah makan kenyang, diambilnya kapak se bilah, lalu disertaïnya pekerjaan orang Melayu. Pada malam hari itu Midan diajak akan meriwayat sekalian untung malangnya; baru ketika jauh malam orang masuk tidur.

Tumpuk orang masih bekerja di hutan sementara li ma hari, sesudahnya, hasil hutan disuruh mengumpul olèh Li Uang. Kemudian barang semua itu diantar kepada tepi sungai kecil, yaïtu anak sungai Kapuas. Di situ barang dimuatkan ke dalam perahu beberapa buah. Dalam tiga hari orang sampai di negeri Sintang.

Adapun negeri Sintang itu letaknya di tepi sungai Kapuas, pada tempat pertemuan dengan sungai Melawi. Negeri ini di bawah perintah seorang yang bergelar pa- nembahan, yaïtu seorang raja bangsa Melayu. Pada masa dulu raja-raja itu mengambil dengan paksa upeti dari orang bangsa Dayak, yang diam dikerajaan nya. Pada masa kini keadaan sudah berubah sekali. Ada seorang assistent-resident bersemayam di negeri Sintang, yang melihat sekalian perbuatan kepala-kepala bangsa Melayu. Lain dari itu ada setumpuk serdadu, 10 orang banyaknya. Pada masa kini kuasa memungut upeti diserahkan kepada pegawai Gubermèn, kuasa raja-raja dikerurangkan.

Midan amat hèran tatkala melihat serdadu Kompeni. Lain dari itu dilihatnya banyak hal lagi yang menghèrankan dia atau yang menerbitkan ajabnya. Midan terlebih dihèrankan karena melihat kapal apil! Hai, kapal itu berlayar, Meskipun ta‘ ada orang yang berkayuh! Lajunya bukan main! Jauh lebih laju pelayarannya dari pada sekalian kapal jenis lain. Yang ditakutinya, yaïtu bu nyi sulingnya. Pada melihat banyak asap hitam yang ke luar dari dalam tforong asap, Midan menjadi bingung; bertanyalah ia dalam hati: kalau kalau ada jin buruk, yang mengerjakan kapal asap itu!

Negeri Sintang ramai juga, yang mengadakan keramaian itu, yaïtu kapal-kapal yang berlayar di sungai Me lawi. Antara kapal-kapal itu ada juga yang mengantar hasil hutan untuk Li Uang. Kerjanya amat banyak; setiap-tiap hari diterimanya barang. Banyak kuli-kuli yang disuruhnya bekerja akan menurunkan hasil hutan dari dalam perahu serta membawa barang itu kegus dang-gudangnya. Tentu dibelanjakannya banyak uang akan membayar upah kuli-kuli dan tukang perahu. Midan keciwa! Ta‘ ada kapal yang berlayar menghilir tereus sampai pada kampungnya. Ada beberapa kapal yang pulang ke negeri Bunut, yang letaknya pelayaran sehari lamanya dari negeri Sintang. Sebab itu Midan menurut dengan senang hati ikhtiar Li Uang, hendak menyertaï dia ke negeri Pontianak. Di negeri Sintang tiada ada saudagar bangsa Belanda yang dapat membeli barangnya. Orang Cina yang diam di negeri Sintang juga suka membeli barangnya, akan tetapi harga yang ditawarkannya terlalu rendah. Sebab itu Li Uang memutus akan berlayar ke negeri Pontianak. Di situ ada banyak saudagar bangsa Eropah yang suka membeli barangnya.

Li Uang menyèwa perahu-perahu seberapa berguna dan juga orang yang mengayuhnya. Midan disèwanya juga, disuruh mengayuh.

Adapun sungai Kapuas itulah sungai yang lèbar, di sebelah hilir negeri ini sungai itu amat lèbar. Pada tepinya di sebelah-menyebelah terdapat bukit-bukit. Makin menuju kemuara, makin berkurang tinggi bukit itu. Bagian tepi sungai yang dekat pada muara ditum-buhi nipah. Tanah tempat bertumbuh pohon nipah itu berpaya-paya. Kapal, tatkala menujui negeri Pontianak, meliwat beberapa buah dusun. Penduduknya berjenis bangsa: orang Dayak, orang Melayu, dan orang Cina. Negeri-negeri yang terpenting di situ, yaïtu Sekadu, Sangau, Meliau dan Tayan. Segenap penduduk di afdeeling pulau Berunai sebelah Barat itu banyaknya—menurut taksiran—belum sampai 400.000 jiwa; di antaranya ada kira-kira 40.000 orang Cina, 2000 orang Arab dan hanya 300 orang bangsa Eropah, kebanyakannya orang asal dari Tanah Belanda.

Setelah meliwat negeri Tayan, tamasya di tepi sungai amat menghèrankan Midan: banyaklah pohon nipah, yang tiada bertumbuh di tanah yang berpaya-paya, asal tanah itu terletak berdekatan laut atau pada tepi sungai yang kena air pasang dan air surut dari laut.

Kapal sampai kepada tempat sungai Kapucas bersimpangan dua. Makin dekat muara, makin juga bertambah banyak simpangannya. Dengan demikian teryadilah sebuah pulau yang berbatas dengan laut pada sepiahk dan berbatas pada dua sisi lain dengan simpangan sungai. Orang Eropah menamakan pulau sedemikian rupa: delta. Sungai Berunai semua mengadakan delta dimocaranya. Delta di negeri Pontianak amat luas, sisi sepanjang laut kira-kira 100 k.m. panjangnya! Li Uang menurut simpangan di pihak utara, pada tepi simpangan itu leh taklah negeri Pontianak. Sampailah di situ pada hari yang ketiga sesudah berangkat dari Sintang.

Adapun negeri Pontianak itu ibu negeri Afdeeling Berunai-Barat. Isi negerinya hanya 9000 jiwa saja. Di antaranya ada kira-kira 300 orang bangsa Eropah. Pada pemandangan orang yang sudah melihat negeri-negeri besar di Tanah Hindia-Nederland, Pontianak sebuah “du-sun” juc. Akan tetapi pada pemandangan Midan, itu lah sebuah kota yang hèban. Orang Eropah tentu memperhatikan pada melihat negeri ini, bahwa rumah-rumah didirikan dengan tiada beraturan serta bahwa rumah itu dan jalannya kurang dipeliharakan orang. Orang Belanda mengediami bagian timur kota pada tepi sungai sebelah utara. Rumahnya semua putih, berjèjer sepanjang sungai. Rumah orang bumi putera, orang Cina dan orang bangsa Bugis bertonggak, perbuatannya kayu, beratapkan daun rumbia. Banyaklah rumah orang bangsa itu separuhnya terdiri di dalam air sungai.

Sungai Kapuc di hadapan negeri Pontianak lebar 400 meter, di situ pergi datang kapal-kapal, besar dan kecil.

Ada juga kapal api dua, tiga buah. Kapal api besar yang datang “dari seberang laut” tiada ada.

Bagian muara yang berdekatan laut itu tiada dapat diliwati kapal api besar, sebab tohor serta banyak alangan. Sayanglah! Midan ta‘ dapat melihat kapal sedemikian. Kapal Li=Uang berlabuh di kampung Cina, yang letaknya di tepi sebelah utara. Barang=barang muatan kapalnya di simpan dalam gudang=gudang, yang terdiri pada tonggak tinggi=tinggi. Itu perlu juga: tatkala air pasang, air sungai naik, terutamalah ketika air pasang purnama. Adakalanya air naik sampai ke dalam rumah!

Midan bekerja dengan rajin akan memikul barang serta menyimpan dalam gudang. Sebagai pembalasan di perolêhnya dari orang Cina sebilah malat dan baju bi ru, perbuatan cita. Dengan uang tunai, yang diperolêhnya dulul, dibelinya suatu ba baru dan suatu lawong baru. Itu perlu juga: cawatnya dan kain kepalanya hampir haus. Sesodah itu Midan pergi ke pasar dida lam kampung Cina, hendak melihat keadaannya.

Negeri Pontianak didirikan pada sebidang tanah bekas paya=paya. Tanahnya amat bêcak, jalan biasa seperti da pat dibuat pada tanah pasir, ta‘ ada di situ. Jalannya diperbuat dari pada...... papan, yang dibubuhkan pada tiang=tiang, yang dipancang ke dalam tanah paya. Rumah=rumah diperbuat papan juga. Hanya rumah=rumah dan istana raja dikelilingi tembok batu.

Midan terlalu hèran pada melihat pasar: hai, ada rupa=rupa barang yang dapat dibeli di situ. Kebanyakan orang yang berkedai itulah orang bangsa Cina. Di antara toko toko orang Cina ada juga orang bangsa Melayu yang berjoael rupa=rupa barang di kedainya atau diwarung nya. Orang Melayu dan orang Dayak hanya berjoael hasil tanah, seperti sayur-mayur, buah-buahan dan bakal makan sirih. Midan tiada dapat menahan diri akan membeli beberapa perhiasan: kalung, yang diperbuat dari manik-manik murah, gelang tangan sepasang perbuatan emas tiruan dan s.b. Sedang membayar barang yang baru dibelinya itu, ada seorang Melayu yang berkata kepada Midan. Orang Melayu telah melihat, bahwa pemuda bangsa Dayak itu mempunya'i ringgit beberapa mata, kalau kalau terbitlah keinginannya akan memperoleh sebagian dari pada harta itu. Orang Melayu disertai seorang temannya. Midan disilakan oleh orang itu akan melihat kedai-kedai yang lain. Katanya: di situ bolêh beli barang perhiasan yang jauh lebih indah lagi. Sebenarnya mak-sud orang itu lain: Midan diantarnya ke rumah tempat bermain judi. Sebab orang asing itu bermain palsu, Midan lekas kalah, wagnya hilang sama sekali! Sesung-guhnyia Midan memperhatikan, bahwa orang Melayu itu bermain palsu, sebab itu terbitlah perbantahan. Kalau kalau perbantahan itu berkesudahan yang kurang baik untuk Midan. Untunglah! Ada orang yang baru datang di pasar. Dengan orang itu pembaca-pembaca akan dikenalkan dalam fasal yang berikut.


FASAL YANG KEEMPATBELAS

Tuan Van Haalen berkenal dengan Midan, yang kemudian diantarnya ke negeri Betawi.

Tuan Van Haalen berpangkat opsir laut pada kapal perang kerajaan Nederland. Kapal perang itu disuruh oleh Pemerintah Maha Besar akan berkeliling di Tanah Hindia beberapa tahun lamanya. Tuan Van Haalen bersahabat dengan Tuan Doctor Kolmans, yang berjawatan tabib di negeri Sambas. Kedua Tuan itu bersahabat sejak kecilnya. Tuan Van Haalen sudah banyak kali disilakan oleh Dr. Kolmans akan melihat dia di negeri Sambas. Opsir laut berolêh idin dari Pembesarnya akan pergi ke Sambas. Itu sebab Tuan Van Haalen berangkat dari negeri Betawi menuju ke negeri Sambas. Usahkan belayar dengan kapal api sampai di negeri Pemangkat, opsir laut suka berjalan menurut jalan di darat, mulai di negeri Pontianak. Dengan demikian ia dapat mengembangkan pengetahuan tentang adat-istiadat orang Berunai dan lagi kesempatan akan bertemu dengan kenalannya beberapa orang yang diam di negeri Pontianak. Sampailah ia di negeri Pontianak sehari lebih dulu dari tibanya kapal kapal Li Uang.

Malam hari itu beliau pergi ke kamar bola. Keesukan harinya Tuan Van Haalen melihatı kota dan pada hari yang berikut berkeliling pasar akan melihatı keramain di situ. Tatkala berjalan di pasar, tiba-tiba didengarnya ga duh yang diadakan oleh orang yang berbantah-bantahan.

Perbatahan antara orang bumi putera tiada peristiwa yang jarang kejadian, tetapi didengar oleh Tuan Van Haalen, bunyi senjata, yang dikenakan satu pada yang lain...... Sebab itu ia menujui tempat perbantahan itu, kebetulan ia datang pada waktu yang berguna: Midan dilepaskannya, tatkala diserang oleh orang Melayu. Orang itu tiada menantikan kedatangan orang Belanda, melainkan lari saja, ringgit kepunyaan Midan dilarikannya.

Orang yang dirampasi itu menerangkan perbantahan kepada Tuan Van Haalen dan sahabatnya. Midan sudah mengerti bahasa Melayu sedikit karena bercampur, dengan orang bangsa Melayu yang berkembara di daerah Tanah Dayak. Tentu pengetahuan bahasa Melayu belum sempurna, tetapi cukup akan menyatakan halnya kepada orang lain. Sementara mencerita hal ihwal perbantahan, Midan memperhatikan bahwa ia dalam kesusahan besar. Tiada ada uang,...... di dalam negeri asing, jauh dari kampungnya! Di negeri ini ada hanya seorang kenalan, ialah orang Cina Li Uang. Kalau kalau orang Cina tiada suka memberi perskot, sebab Midan tiada mempunyai lagi barang gadaian. Ia putus asa.

Tuan Van Haalen menaruh kasihan pada Midan. Kata Tuan Van Haalen kepada sahabatnya: “Anak ini kita perkenankan, rupanya tampan dan cerdik......!”

“Masakan,...... cerdik! Ingatlah ia ditipu oleh......”

Sahabat Tuan Van Haalen tiada dapat menyudahkan kalimat, Tuan Van Haalen mengaru, katanya:

“Olèh dua orang...... bangsat!” Jangan lupa orang berhawa nafsu kalau bermain judi! Bagaimana pikiranmu? Betulkah orang pemuda ini baik rupanya?“

Itu diaku juga oleh sahabat. Kata Van Haalen:

“Kita berniat mengikhtiar kepada orang itu akan menyadi jongos yang menyertaï kita pada pelayaran.”

Lalu ia menuju kepada Midan, katanya: “Hai, sukakah kamu menjadi jongos kita akan menyertaï kita dipelayaran ke negeri Sambas. Uang ringgit yang kehilangan itu tentu kamu berolêh kembali; lebih banyak lagi. Jika lepas dari pada pekerjaan itu, kita berpikirkan daya-uopaya, supaya kamu diantar kembali ke kampungmu.”

Ikhtiai itu diterima juga oleh Midan. Jadi Midan berolêh kembali wagnnya...... lain dari itu ia kesempatan berlayar lagi; dapat menyampaikan maksudnya, yaïtu berjalan berkeliling negeri. Itulah kesukaan segala orang bangsa Dayak.

Tuan Van Haalen memandangi Midan; pada pemanda ngannya pakaian Midan kurang patut, Walaupun baru dibaruï oleh Midan sendiri. Pakaian itu tiada berpatutan dengan pekerjaan yang akan dilakukan olêh Midan. Sebab itu orang pulang ke pasar. Dalam toko Cina Tuan Van Haalen membeli pakaian seberapa beruna untuk Midan. Midan diajaknya akan menukarkan malat dengan keris.

Di pelabuhan Pontianak berlabuh kapal api keciil. Kapal itu hendak berlayar dalam beberapa hari di sungai Dambu (disebut juga: sungai Landak) arah kehuloë. Tuan berniat menurut pelayaran itu, hendak melihat keadaan pulau Berunai diudik. Midan disuruhnyia me ngantar kopor-kopor ke kapal.

Mula-mula ia segan menyerahkan tubuhnyia pada barang ini, yang terus mengeluarkan asapnya, kalau-kalau di sebelah dalam bertempatlah jin-jin yang buruk. Te tapi ketakutannya hilang, tatkala dilihatnya di kapal ada juga orang bangsa Melayu. Orang itu ta‘ diusik olèh to; nyatalah ia juga tiada diusiknya. Sudah lama orang Melayu itu menumpang kapal api ini. Kalau-kalau to itu tiada suka bercampur dengan orang yang berkulit putih, sebab itu barangkali to menjauhi kapal ini.

Menurut Midan, yang disangkakannya itu sah juga: sementara pelayaran kapal Merapi ta‘ kejadian celaka apa-apa. Jika kiranya kejadian celaka, tentu Midan per-caya, bahwa orang Belanda juga dikuasaï olèh to.

Sungai Landak melaluï mula-mula suatu lembah, yang tanahnya subur; lembah itu dibatasi olèh gunung-gunung di pihak timur dan di pihak barat. Lalu sungai berubah tujunya, arahnya ke sebelah barat, kemudian bermuara di sungai Kapucas dekat negeri Pontianak. Pada hari yang pertama ta‘ kelihatan daërah yang permai. Tepi tepinya rendah, ditumbuhi hutan, ta’ ada kampung orang. Sesoodah berlayar lebih jauh berubahlah tama-sya. Tepi sungai berbukit-bukit, tanah berhutan ber-ganti dengan tanah ladang dan sawah. Sana-sini ada pohon nyiur mengadakan hutan kecil. Ada juga pohon ber-buah jenis lain. Dekat pada tempat perusahaan ada rumah orang. Setelah orang pelayaran meninggalkan kapal, perjalanan diteruskan dengan menunggang gerobak, yang dihèla kerbo atau berjalan kaki saja. Sekali-sekali Tuan Van Haalen berhenti akan mengamat-amati daërah yang permai itu. Kedua orang kuli, yang diturutkan olèh opsir laut, rupa-rupanya tiada mengindahkan ta-masya. Yang diindahkannya, yaïtu bahwa merèka bolèh berhenti,...... akan makan. Kerajaan Landak tiada amat luas, di sebelah utara mengalirlah sungai Sambas. Pada tempat sungai Sambas yang dapat dilayari kapal, kuli-kuli dilepaskan olèh Tuan Van Haalen, lalu disèwanya perahu akan menyampaikan negeri yang dimaksudkannya, yaïtu Sambas.

Tatkala melihat negeri Sambas, Midan keciwa. Pontianak melampauï Sintang; Midan bersangka, bahwa Sambas akan melampauï pula negeri Pontianak! Kebenarannya lain sekali! Di negeri Sambas bersemayamlah seorang wakil Be-landa, yang bergelar assistent-resident. Sesungguhnya negeri Sambas menjadi nomor dua tentang mulianya di-daërah Berunai-Barat. Rumah-rumah kurang baik, se-muanya didirikan di atas tonggak, yang termasuk ke dalam air sungai. Istana(1) Panembahan juga amat bersaja-saja, serupa dengan rumah orang kebanyakan, tetapi lebih besar.

Di negeri Sambas ta‘ ada tamaşya permai, sebab itu Tuan Dr. Kolmans mengikhtiarkan kepada jamunya—Tuan Van Haalen—akan keluear saja. Kesêhatan ser-dadu dibëntèng baik betul; diluear bëntèng ta’ ada jug ga orang sakit. Jadi ta‘ ada alangan akan keluear beberapa hari akan melihat tamaşya di hutan rimba yang ada didaërah negeri Sambas. Pada perjalanan itu Midan disuruh menyertaï kedua orang Tuan. Pekerjaannya memikul perbekalan. Lama-kelamaan Midan menyenangkan dirinya dalam hal ihwlnya yang sudah amat berbèda de-ngan cara Dayak. Bolëh disebut Midan menjadi jongos yang hampir sempurna, yaïtu menurut kata Tuannya. Midan amat setia kepada Tuan Van Haalen. Adakalanya Midan tersiksa amat sangat karena kehiduannya berlai-nan sekali dengan cara kehiduapan di kampung: sudah beberapa kali dilihatnya burung, yang terbang disisi ki-rinya atau bilang (cecak) yang menyembunyikan dirinya dalam cełah batu yang bertempat disisi kirinya juga! Tetapi tuan-tuan tiada mengindahkan bunyi burung dan kegerakan cècak; merèka berani meneruskan perjalanannya dalam hal sedemikian. Sekali-sekali Midan dihèrankan amat sangat karena kelakuan tuannya, upamanya kalau bergopoh-gopoh mengedayar kupu-kupu, sehingga berpeluh sangat; atau jika orang Belanda itu duduk di tanah menghintai seèkor kumbang, yang bersayap sebagai emas. Dengan sabar orang menantikan bìn natang itu. Tatkala kelihatan kembali, kumbang itu ditangkapnya. Setelah diketahuinyia, bahwa Tuannya suka mendapat kumbang-kumbang, Midan bersungguh-sungguh akan menangkap kumbang dan kupu-kupu. Perkumpulan kumbang dan kupu-kupu kepunyaan opsi r laut ditambahi banyak jenis, yang ditangkap olèh jongosnya, Midan. Sungguhpun demikian, Midan sekali-sekali dalam kesukaran, disebabkan ketakutannya akan jin-jin buruk.

Pada suatu hari Dr. Kolmans mengikhtiar akan belayar kemuara sungai Sambas. Jauhnya dari kota duà belas jam. Kedua orang bersahabat memutus akan belayar arah kemuara, yaïtu ke negeri Pemangkat. Di situ ada juga gosong laut, sehingga kapal besar tiada dapat masuk ke sungai; hanya ketika air pasang purnama kapal besar bolèh meneruskan pelayaran dari laut ke negeri Sambas dengan melayari sungai. Tuan dokter sudah memuji tamasya di muara, perkataannya sah juga. Deè kat muara sungai Sambas itu terlalu amat lèbar, ru-panya sebagai danau. Pada kedua tepinya ada bukit-bukit yang ditumbuhi lebat-lebat. Disisi kiri kelihatan gunung Penibungan, di belakangnya terdirilah gunung Pemangkat yang tingginya 800 hingga 900 meter. Disisi kanan terdirilah gunung Kalimbu, yang ditumbuhi pohon nyiur. Arah ke sebelah timur ada hutan lebat, pada sisi yang berbatas dengan laut ada hutan cemara. Kelihatan pada sisi itu dua buah gunung, yaïtu gu- nung Kumè dan gunung Bayong. Sungai mengalir di antara kedua buah gunung itu, rupanya sebagai pita pèrak, kalau terpandang dari jauh. Di tepinya ada tanah sawah dan kebun-kebun kelapa, menyerupai pu- lau-pulau hijau warnanya dalam hutan, yang seakan- akan laut hijau. Di tengah-tengahnya terdirilah gunung Pemangkat. Puncak gunung ditutupi habis belaka dengan pohon kayu besar-besar, pada lèrèngnyia bertuom- buhlah berjenis-jenis pohon yang berpelebah (palm). Sana-sini diantaranya ada lapang semai untuk padi. Pada segala pihak turunlah air sungai kecil. Pada beberapa tempat harusnya terlalu amat deras, sedang mengalir me- nyusur tebing-tebing yang gundul. Tebing itu ditum- buhi dengan kembang bagus (orkhidee) dan tumbuh- tumbuhan yang menjalar (sulur-suluran). Di pihak sebelah barat berbentanglah laut, yang airinya hijau war- nanya. Airinya senantiasa berombak, rupa-rupanya me- nyelisik batu-batu besar yang seakan-akan terhambur di- pantai laut. Tanah di sebelah udik ta’ ada permai; pada pemandangan Tuan Van Haalen daèerah itu ajaib ju- ga, sebab ditumbuhi rupa-rupa pohon yang bagus dan besar luar biasa. Dalam hutan itu diamlah orang- utan, yang dinamakan olèh orang bumi putera mayas. Didaèrah ini Midan bersua dengan...... jin buruk!

Orang sedang berjalan kembali. Van Haalen menya- takan kehendaknya akan berlabuh sebentar di tepi sebelah utara, sebab dilihatnya ada kupu-kupu, sejenis yang belum pernah dilihatnya. Midan bersungguh-sungguh akan mengejar kupu-kupu itu; sebab terlalu rajin ia mendahuloëi tuan-tuannya, sampailah ia di tengah- tengah hutan yang berpaya-paya. Hai, kupu-kupu hinggap pula pada setangkai bunga. Midan mendekati tempatnya, lalu tangannya dianjurkannya, hendak men-capai binatang...... Tiba-tiba kedengaran bunyi gemercik, asal dari dalam belukar, dahan-dahan tesorong ke sebelah-menyebelah...... Midan berdiri di hadapan...... to, yang berjanggut. Hai, to itu murka betul, ia kerising, terus memandangi Midan. Dengan lengannya—yang amat panjang—diguncangnyia batang-batang pohon, nyatalah ia terlalu amat marah.......Midan lari secepat- cepatnya, menujui tepi sungai. Setibanya di situ perte-muannya diriwayat kepada tuantuan. Sedang berkata, sekali-sekali dilihatnya arah ke sebelah hutan, tempat to. Kalau-kalau ia kuatir, to mengejar dia lagi. Kedua orang tuan menahan tertawanya saja, tiada mau menyin-diri Midan karena ketakutannya. Sepulangnyia di rumah Dr. Kolmans, Midan diantarnya kepada sebuah kamar besar di rumahnya, seraya berkata:

“Coba, Midan, turutlah saja; jin buruk, yang tadi mengejutkan kamu kita perlihatkan kepadamul!”

Lalu Midan masuk ke kamar besar. Kamar itu bolèh disebut: kamar “ilmu alam”. Di mana-manana—di-dasar, di dalam lemari, di atas papan yang terpasang sepanjang tembok dan bergantung pada lotèng—kelihatanlah binatang kecil-besar, burung, binatang yang melata dan ulat-ulat.

Kata tuan dokter lagi: “Tatkala tadi di hutan kamu menyemui...... seèkor mayas. Kebiasaannya tinggal di atas dahan-dalam di dalam pohon kayu yang tinggi. Pada ketika pertemuan ia tu-run dari pohon, tempat tinggalnya, akan memetik buah yang ènak atau akan memadamkan dahaganya dikolam.

Adakah kamu mengenal binatang itu sekarang?“ Benarlah, Midan sekarang mengenal binatang itu: betullah demikianlah rupa mukanya, yang keresik kepadanya. Betullah panjang sekali lengannya, yang mengguncangkan dahan-dahan. Ia lari karena menakuti orang utan. Baik juga bahwa ia lari saja. Orang utan itulah lawan yang amat berbahaya, kalau kiranya dimarahi. Sen-jatanya: yaïtu lengannya yang kuat sekali dan giginya.

Pada suatu hari ada orang Dayak melihat seekor orang utan besar, yang sedang makan pucuk pohon berpelapah. Binatang itu diserangnyia dengan lembing dan pendang, tetapi orang yang mula-mula menyerang dia, dicapainya, lalu digigitnyia pada lengan sebelah atas. Lu-kanya terlalu amat hebat. Kalau kalau orang itu dibunuhnya, jika binatang itu tiada dibunuh dengan se-bentar juga oleh orang lain. Kata orang bahwa orang utan tiada menakuti buaya. Binatang itu dilumpatinya, duduk dipunggungnyia, rahangnyia dicapainya serta dikoyaknyia sebagai mengoyak secarik kain.

Nyatalah baik juga bahwa Midan berlari saja!

Tuan Van Haalen tinggal menumpang di rumah Dr. Kolmans sebulan lamanya. Lalu beliau kembali, melihat negeri-negeri Montrado, Singkawang dan Mempawa, lalu ke negeri Pontianak. Dr. Kolmans mengantar sahabat sampai di negeri Montrado; di situ merèka pergi melihat tambang emas. Sesungguhnyia di negeri lain ada juga tambang emas, tetapi tambang yang terdapat didaërah negeri Montrado itu terlalu luas dan terlebih penting.

Hai, alangkah banyak orang bangsa Cina yang bekerjadisitu! Adapun pekerjaan ditambang-tambang di situ dilakukan oleh orang bangsa Cina. Orang bangsa itu membangunkan suatu perkumpulan, kongsi namanya.

Kongsi itu mengempulkan uang seberapa perlu akan mengerjakan tambang emas. Cara mengempul uang itu demikian: ada orang yang memberi uang kepunyan annya sendiri atau kongsi meminjam uang kepada orang Cina kaya.

Pemerintah kongsi itu dipilih oleh orang yang menjadi anggotanya (lid). Orang yang terpilih itu wajib menjaga pekerjaan tambang serta akan menjul emas yang digali oleh kongsi itu. Giliran pemerintahnya tiada lama. Setiap-tiap empat bulan pemerintah diganti lain. Orang bekas pemerintah menjadi tukang pula, disur ruh bekerja di dalam tambang kembali.

Dalam suatu buku kongsi di surat dengan saksama sekali, perbuatan sekalian orang kuli: berapa jam ia bekerja, berapa banyak uang dibelanjakan untuk makanan d.s.b. Dan juga upah koki (tukang masak) dan tukang cukur harus dibayar oleh orang kongsi, tiap-tiap orang sebagian masing-masing. Setelah tambang ditinggalkan orang, uang perolèhan dibagi-bagi kepada orang lid. Banyak lid-lid bergantung kepada besar tambang atau berkadar dengan uang yang dipergunakan akan membuka tambang.

Jika hendak membuka tambang baru, tanahnya di-periksaï orang dahulu dengan memakai gurdi besar. Jika pendapatan tanah itu mengandung emas, orang memulaïkan pekerjaannya. Yang mula-mula diperbuat, itulah pancuran air. Air yang akan dipergunakan harus dialirkan dari danau Montrado. Emas itu diperoleh cara mencuci air yang mengandung emas. Danau tersebut itu danau perbuatan saja. Akan mengadakan danau itu, didirikan orang bendung di dalam air sungai. Sesudah itu digali suatu palung (didairah ini palung itu dinamaï kotak). Dasar palung itu dipaluti papan, demikian juga tebingnyya. Palung itu tiada lurus rupanya, melainkan berbèlok-bèlok adanya. Dalamnya dari 3 hingga 9 kaki. Akan memasukkan air dalam pa-lung dipergunakan pintu air. Di sebelah kotak digali orang suatu lubang besar, tanahnya dibuang ke dalam palung. Tanah itu diaduk dengan banyak air. Lumpur dan batu dialirkan, tetapi emas......—yang tertalu amat berat—mandap ke dasar palung, lalu emas yang keting-galan itu dikumpul. Jika lubang itu sudah amat dalam, sehingga penöeh dengan air, airnya dikeluarkan dengan suatu penggilingan air, serta dibuang ke dalam kotak. Pada akhiirnya sampailah pada bagian tanah di dalam lubang yang berbatu kelikir, habislah emas. Sampailah pada “tanah mati”, yaïtu selapis tanah liat yang tiada mengandung emas. Ketika itu tambang ditinggalkannya, lalu digalinya lubang baru.

Orang penggali emas itu tiada mengindahkan Gubermén Belanda. Orang Cina enggan mengaku kuasanya didaërah ini. Sebab itu Gubermén mengirim balatentera ke sana akan mengalahkan orang durhaka itu. Sesudah beberapa tahun lamanya baru negeri negeri yang teru-tama dialahkan olêh balatentera. Pada tahun 1853 negeri Montrado ditalukkan. Sejak waktu itu orang Cina mendirikan kongsi rahasia; maksudnya melawan Gu-bermén serta mengusir orang Belanda. Kongsi itu dinamaïnya Sam-Can-Fui, artinya “Kongsi tiga jari”; lidnya ada di mana-mana juga didaërah antara sungai Kapuas dan Tanah Serawak. Pada suatu hari lid Kongsi itu membakar negeri Montrado; sebagian kota itu terbinasa karena kebakaran itu. Dengan sekonyong-konyong pem-besar balatentera menawan orang Cina yang mempunyai surat kecil, yang menyatakan bahwa ia lid Kongsi Sam-Can-Fui. Dengan surat ini Gubermèn beroleh ke-terangan yang luas tentang tempat kediaman orang Cina yang durhaka itu. Pada suatu malam kepala-kepala kongsi didatangi balatentera Belanda. Kepala-kepala ter-paksa lari; ada yang lari ke-Tanah Serawak, ada yang me-nujui daerah di sebelah udik. Dengan demikian dur-haka orang Cina ditidakkkan; Montrado ditalukkan oleh Gubermèn Belanda.

Sepulangnya di negeri Pontianak bersama-sama Tuan Van Haalen, Midan terus menujui kampung Cina, hendak mencari tempat kediaman Li-Uang; berharaplah ia akan berlayar ke kampungnya dengan menumpang ka-pal kepunyaan Li-Uang. Tetapi orang Cina sudah me-ninggalkan kota pula, setelah barang dagagannya habis dijul. Tatkala bertemu pertama kali dengan Midan, didapatnya keterangan tentang keadaan hutan rimba le-bih jauh keudik. Sebab itu ia pergi ke sana, supaya bolèh mengumpul hasil hutan banyak. Sebab ta‘ ada kapal lain yang bolèh ditumpangnya, Midan kembali ke-pada Tuan Van Haalen. Tuan itu berpikir dalam hati:

“Hai! Mengapa Midan tiada bolèh kita turutkan ke-negeri Betawi?”

Kapal perang, yang sekarang masih ada di-Betawi akan berangkat ke pulau Selèbes, sebab harus berlayar ber-keliling laut Selèbes. Di laut itu letaklah banyak pu-lau-pulau kecil. Konon kabar penduduk pulau itu merompak didaërah; akan melawan orang perompak itu, kapal perang Belanda dikirim ke sana oleh Gubermèn. Dalam pelayarannya ke sana, kapal akan singgah di negeri Banjermasin dan di negeri Kutei.

Jikalau kiranya Midan turun di darat di dalam satu dari kedua negeri itu, tentu Midan kesempatan akan mudik, berlayar di sungai Baritu atau di sungai Mahakam, akan menyampaikan kampungnya. Pada timbangan opsir laut ia akan berolèh idin, supaya Midan bolèh di-turutkannya. Midan ingin juga menurut Tuan Van Haalen: sesudah seminggu Midan naik kapal akan berlayar ke negeri Betawi.


FASAL YANG KELIMABELAS

Midan berlayar ke negeri Banjarmasin. Di situ ia bertemu dengan seorang temannya.

Tatkala sampai di muara sungai Kapuas, sukarlah orang menentukan di mana batas pantai dengan laut. Sebagian besar dari pantai terampuh ketika air pasang; sebagian besar dari laut berdekatan pantai...... ditumbuhi sejenis tumbuh-tumbuhan! Itu bukan tumbuh-tumbuhan kecil dan rendah, melainkan pohon ka- yu baser, yaïtu pandan. Ada yang tingginya 40 kaki. Tatkala air pasang, yang kelihatan dari pada pohon itu, hanya kemuncaknya. Tatkala air surut berubahlah ta masya! Kelihatanlah pohon sama sekali, yang tampak juga, itulah akarnya. Akar-akar itu dikelilingi tanah lumpur saja, di dalam lumpur itu hiduplah teripang.

Di dalam air berdekatan akar-akar ada juga berjenis jenis ikan. Ada sejenis ikan, bernama “ikan duri pe manjat.” Panjangnya kira-kira dua decimeter. Insangnya berduri, rupanya sebagai gergaji. Ikan itu dapat memanjati akar-akar pohon pandan dengan mempergunakan duri-duri itu serta sirip diperut dan didada.

“Hutan di dalam air laut” itu didiami juga oleh binatang besar yang berbahaya; di dalam lumpur ada bu- aya yang senantiasa menghintai mangsanya.

Kapal asap, tempat menumpang Tuan Van Haalen dan Midan berlayar pada sungai Kapuas; menurut aluran yang diadakan di dalam “hutan air” olèh pengali- rannya. Paluh yang sedemikian ada banyak di dalam hutan pandan itu. Alur yang dilayari olèh kapal mengandung banyak lumpur; hal itu nyata kelihatan di sebelah bela- kang kapal; warna air berubah setelah kapal meliwat di sana, menjadi mèrah karena terkacau dengan lumpur.

Sesampainya di laut, Midan tiada dapat berkata lagi ka- rena kehèranannya: hai, hanya ada air, air, air saja, pan- tai pulau Berunai ta’ kelihatan lagi. Tatkala tiba di negeri Betawi dilihatnya kapal api terlampau besar, rumah-ru- mah batu, kerèta api. Semua barang, yang belum per- nah dilihatnya itu menghèrankan dia amat sangat. Mula- mula ia kurang senang, tiada mengerti keadaan di negeri besar ini, halnya seperti orang yang bermimpi; tiada per- caya lagi akan dirinya.

Kapal perang tiada ada di pelabuhan Betawi; menurut kabar yang diterima olèh Tuan Van Haalen, kapalnya sudah berangkat ke Surabaya, harus diperbaiki di situ. Dengan demikian Tuan Van Haalen berolèh idin tinggal lagi tiga bulan lamanya di negeri Betawi. Waktu itu dipergunakan akan memperlihatkan kepada jongosnya—Midan—tamasya negeri Betawi.

Sesudah tiga bulan, kapal perang sudah dibaiki, lalu berangkat akan berkeliling di laut Selèbes.

Hai, sekarang Midan berlayar akan pulang ke kampung- nya. Ia ta’ bersesal diri karena itu! Sesungguhnya ia senang hati sebab sudah melihat banyak barang ajaib dan banyak negeri asing. Yang menyenangkan dia lebih-lebih, bahwa mempunyai mata uang pèrak banyak. Pada per- sangkaannya wagnya itu hampir cukup akan menebus dirinya. Kalau kalau Pagong—kepala kampungnya—tiada minta uang tebusan banyak; ialah orang yang ha- tinya lemahlembut, senantiasa Midan diperbuatnya baik. Midan amat terkenan akan negerinya dan akan hutanhu tan di tepi Mendalam. Terkenan juga akan dia punya amin. Hai, seolaholah ia duduk pula diserambi rumahnyia, dikelilingi oleh orang isi rumah semua. Seakan akan untung malang diceriterakan kepada orang itu, yang mendengarkan riwayatnya dengan hirau...... Di mana Lèjo sekarang? Bolêhkah bertemu dengan dia pula? Adakah ia melihat banyak barang ajaib juga? O, tentu tidak. Sesungguhnya Lèjo tiada bertemu dengan orang kulit putih dan juga ta’ berlayar di laut menuju keutanah dipa (tanah di seberang laut), seperti dia!... Hai! Kalau bertemu kembali dengan Anya, apa dikatakannya?...

Tatkala teringat akan Anya, Midan berpindah kepada suatu penjuru gelap di kapal hendak menghitung ringgitnya.... Betapa peri uang itu berhubung dengan hal anak perempuan itu?...... Anya ialah anak perempuan, cucu marhum Sirang.......Rindunna yang terlebih sangat, yaïtu bahwa Anya menjadi bininya, lalu beroleh sebuah kamar sendiri di dalam rumah besar. Te tapi rindunna ini tiada dapat dibenarkannya, selama ia masih dalam perhambaan; selama ia masih terbilang kawan. Menurut adat orang bangsa Dayak terlarang orang bebas bernikah dengan orang kawan; barang siapa melanggar undangundang itu, menjadi orang hamba sahaya juga. Nyatalah sebelum Midan dapat berbicarakan hal nikah dengan Anya, perlulah ia dimerdekakan duloëe. Sebelumnya ia ta’ diterima oleh orang tua Anya, akan membicarakan nikah. Uang kawin itu tiada diindahkannya; itulah hanya sedikit. Tetapi orang laki-laki harus me numpang rumah mentuanya serta bekerja untuk dia sementara beberapa tahun.

Hal itu semua dipikirkan oleh Midan. Dalam pada itu pun kapal mendekati muara sungai Baritu, negeri Banjermasin letak pada tepi sungai itu. Tamasya dimu-ara Baritu sama saja dengan tamaesya di sungai Kapuas: pohon-pohon yang bertumbuh di dalam air, lebih jauh arah keudik tanah berpaya-paya. Di hadapan muara sungai ini letaklah suatu gosong yang mengalangkan kapal masuk ke sungai tatkala air surut. Pada muara sungai ini lebar sekali, kira-kira 2300 kaki. Sayanglah sungai Barito banyak kali bah, terutamalah pada musim penghujan. Ketika itu air sungai mengacapi daerah, jauh kese- belah udik; berbangkitlah berjenis-jenis penyakit, jika air bah itu tiada dapat mengalir ke laut dalam beberapa hati.

Sesudah berlayar di sungai Baritu dua, tiga jam lamanya, kapal menyimpang, masuk ke dalam sungai Martapura, yaïtu anak sungai Barito. Tiada antara lama lagi sampai di negeri Banjarmasin. Itulah negeri di pulau Berunai yang terbanyak orang isi negerinya. Ada beberapa kampung, tempat kediamaan orang bumi putera, kam-pung Cina dan kampung, tempat kediamaan orang Eropah. Isi negerinya 30.000 jiwa, menjadi ibu negeri af-deeling Pulau Berunai bagian selatan dan timur. Kere-sidènan ini hanya 650.000 orang penduduk sama sekali, diantaranya ada orang Eropah 600 orang, orang Cina 4500 orang dan orang Arab 1500 orang. Perniagaan disi-tu amat ramai, selainnya rupanya sama saja dengan bandar-bandar di pantai pulau Berunai. Rumah-rumah semua bertonggak, separuhnya bersandar di atas rakit. Kota acapkali disebahai air sungai, sehingga jalan-jalan tiada dapat dijalani orang. Kebiasaan orang bumi pu-tera dan orang Cina memakai perahu akan berpindah dari pada setempat pada tempat lain.

Tuan Van Haalen turun dari kapal, perahu yang di gunakannya dikayuh oleh Midan. Kemudian beliau pergi ke rumah Tuan Rèsidèn akan mengunjukkan surat surat Gubermèn. Dalam pada itu pun Midan menoju kepada kampung Cina. Orang bangsa itu berniaga dengan saudagar-saudagar diudik. Pada pikiran Midan di sinilah ia dapat beroleh keterangan tentang kapal-kapal yang berlayar keudik. Masuklah ia ke dalam kedai orang Cina, dibelinya salah suatu barang, serta minta keterangan kepada yang empunya toko, kalau ada kapal yang menuju keudik, yaitu ke-Tanah Dusun, atau lebih jauh lagi.

Tatkala bertanya demikian, orang Cina memandangi dia, nyatalah ia hèran. Jawab orang Cina: Dalam dua atau tiga hari berangkat kapal ke negeri Mengkatip... Itukah bermuna kepadamu?... Ta‘ ada kapal yang berani berlayar lebih jauh!... Ta’ dapat tiada kamu mendengar kabar, bunyinya, ada hantu di sana?..., yaitu di negeri Bekumpai dan di-Tanah Dusun“... Tidak! Ta‘ kedengaran kepada Midan kabar sedemikian bunyinya. Barulah ia tiba di negeri Banjarmasin. Orang Cina menyambung lagi, katanya: ”Pada masa kini kita juga tiada berani berlayar ke negeri Tèwèh! Kita sudah berlayar ke sana duapuluh kali, barangkali lebih. Kalau-kalau hendak ke sana atau...... lebih jauh lagi?“ Benarlah, Midan suka berjalan lebih jauh lagi; maksudnyia melayari sungai Barito dulu akan menyampaikan sungai Kapuas bagian sebelah hulu. Demi di dengarnya kata Midan itu, Orang Cina berkata: ”Kalau begitou,......kamu berasal didaërah Mendalam, coba, turut saja.“

Midan tiada dapat bertanya lagi; Midan diantar oleh saudagar Cina ke dalam kamar yang bertempat di belakang toko. Di situ duduklah seorang Cina lain di atas bangku yang berbantal. Kata orang Cina toko, sedang me-nujuk arah kepada orang Cina lain:

“Inilah orang dapat memberi keterangan lebih sempurna!”

Midan menghampiri orang Cina...... siapakah itu? Midan terlalu hèran. Yang duduk di bangku, ialah...... Li=Uang. Kata Midan:

“Hai, Tuan Li=Uang di sini?”

Sebetulnya ialah Li=Uang. Orang Cina tertawa sedikit, rupanya sebagai orang yang lemah badannya; lalu ia berkata:

“Benarlah! Gunung-gunung tiada bertemu satu dengan yang lain, tetapi orang manusia bersua seorang dengan seorang di mana=mana jua! Mula=mula kamu bersua dengan kita di hutan rimba didaèerah Sintang, sekarang kamu menghadap kita di sini dibandar Banjar=masin...... Kalau=kalau pada akhirnya...... kami bersua seorang dengan seorang di...... Surga!”

Midan memperhatikan, bahwa orang Cina tua itu rupanya kurang sèhat; lengan kirinya terbungkus dengan kain. Kata Li=Uang:

“Rupa-rupanya kamu belum mendapat ketahuan tentang claka yang mendatangi kita! Menjadi nyata kepada kita, bahwa kamu baru tiba di sini, sehingga belum bertemu juga dengan orang kampungmu.”

Hai, demi terdengar itu, Midan terlampauï hèran. Katantaya:

“Apa? Orang kampung kita? Di sinikah orang dari daèerah Mendalam?”

“Ada! Adakah kamu bersangka, bahwa kita datang kemari sendiri diri saja?...... Hai, halnya belum malum kepadamu? Coba duduklah, biarlah untung malang itu kita riwayat dulul!“

Di kamar ada kursi-kursi. Midan sudah tahu memakai kursi itu, tetapi ia lebih suka menurut cara orang bangsa Dayak, yaïtu duduk ditikar yang terhampar di lantai. Laloë orang Cina mulaï ceritanya:

“Setelah Li=Uang menjoéal barangnyá dibandar Pontianak, ia pulang ke negeri Sintang, maksudnya menyéwa sekali lagi orang Melayu dan orang Dayak hendak menoëjuï hutan, tempat pengembara Midan. Tengah jalan didengarnya kabar menyatakan, bahwa banyaklah getah-Percah di hutan yang terletak didaërah Tanah Barito-Hulu dan dianak sungainya Busang.

Kata orang, belum pernah daërah itu didatangi orang akan menebang pohon. Itulah sebab niatnya diubahkan. Mula-mula ia berlayar arah keudik menurut sungai Melawi. Sampailah di district Siang-Murong dengan meliwat pegunungan. Ia senang hati karena bertemu di situ—dalam sebuah kampung—dengan beberapa orang kenalan dari duloë-duloë: orang Dayak delapan orang banyaknya, yang berasal dari daërah Mendalam. Orang itu sudah mengempulkan duloë untuk Li=Uang hasil hutan!“

Midan mengaru, katanya: “Adakah orang kedelapan itu menurut kamu juga ke negeri Banjarmasin?” Jawab Li=Uang: “O, tidak! Hanya dua orang menurut kita. Orang lain pulang kekampungnyá.... Halnya akan diterangkan kelak!”

Lalu orang Cina mulai bercerita

Lalu orang Cina mulai bercerita.

Kepala kampung memberi idin kepada Li=Uang akan mengempul hasil hutan, asal bagian sepersepeluh di serahkan kepada kepala kampung. Ta‘ dapat tiada ia setu ju dengan perjanjian itu, istimèwa pula supaya da pat menyèwa orang di kampung itu akan bekerja di hutan. Banyaklah orang kampung yang suka menurut, ada juga orang Mendalam. Li Uang berjanji dengan orang yang disèwanya, bukan hanya akan menebang pohon, melainkan akan mengantar kesahilan semuc kepada negeri Buntok. Di situ—menurut pengaharapan Li Uang—ada kapal yang dapat memuat barang itu akan membawanya ke negeri Banjarmasin.

Sah juga perkataan, yang menyatakan, bahwa didaèrah itu banyak getah Percah. Sesudah beberapa bulan ter kumpullah banyak getah. Li Uang tiada bersua kesu karan akan memuat barang; sungai amat baik akan dilayari perahu dan kapal. Orang bangsa Dayak yang menge diam di daèrah Baritu-Hulu berdamai saja. Ta‘ usah kuatir akan perkelahian. Tatkala sampai di Tanah Dusun, dekat negeri Montalat halnya berubah. Ada kabar angin, bunyinya orang Melayu berniat melawan Gu bermèn Belanda dan orang bangsa Dayak (yaïtu orang Dayak yang bermupakat dengan Pemerintah Belanda). Ada juga orang bumi putera yang bermupakat dengan orang durhaka. Ada orang Melayu yang berkeliling di negeri negeri akan mengasut orang kampung, supaya melawan juga Kompeni. Di dusun yang dilalui oleh Li Uang dengan kapalnya, ada orang yang hendak menyerang orang pelayaran itu. Dengan susah payah kapal sampai di negeri Buntuk, ibu negeri daèrah Dusun-Hilir. Li Uang keciwa betul, karena di negeri ini ta’ kedapatan kapal yang dapat membawa barang kehasilan ke negeri Ban jarmasin; Li Uang mencoba mengajak orangnya, soc paya merèka menyertaï dia kebandar Banjarmasin. Siasia jua percobaanya. Di negeri Buntuk orang membicarakan gaduh didaërah Bekumpai. Konon kabar angin ada beberapa buah perahu, yang ditumpangi orang durhaka bersenjata. Tempatnya di muara sungai, yang menghubungkan sungai Barito dengan sungai Kapuas-Mu rong (dekat negeri Mengkatip). Orang Dayak tiada suka membarui perjanjian dengan LiëWang, Walaupun u pahnya hendak dibesarkan. Merèka ta‘ suka meneruskan pelayaran. Hanya dua orang pemuda yang asal dari daërah Mendalam menurut LiëWang, karena hendak melihat ta masya kampung besar di muara sungai Baritu.

Demi didengarnya kata LiëWang itu, Midan mengaroëe, katanya:

“Jadi, kedua orang sekarang ada di sini! Merèka ada di mana?”

“Itu kita tiada ketahui”, kata LiëWang; “tetapi saha bat kita barangkali tahu tempatnya.”

Kemudian orang Cina toko dipanggil olëh LiëWang, lalu ditanyaïnya di mana tempat kediaman kedua orang bangsa Kayan, yang menurut dia kemari.

Kata orang Cina toko:

“Yang kamu maksudkan itu... Sunang dan... Lëjo?...kedua orang itu menumpang di rumah kepala kampung Si Ulow, kampungnyia di seberang sungai....”

Tatakala didengarnya nama Lëjo, Midan berlumpat seakaëakan ia berpegas di dalam badannya, katanya:

“Jadi, Lëjo ada di sini! Ada di kampung Si Ulow?”

Sesudah berkata demikian, Midan bergopoh-gopoh, ke luar dari dalam toko... Orang Cina dua orang diting galkannya begitu saja dengan ta‘ bermohon. Orang Cina memandang seorang kepada seorang, karena terlalu hèran!


FASAL YANG KEENAMBELAS

Lèjo menceriterakan untung malangnya. Betapa peri temannya berlepas dari kesukatannya.

Rumah si Ulow ada di tepi utara sungai Martapura, yaïtu di bagian kota yang letaknya terlebih arah ke sebelah timur. Orang kampung itu sudah masuk agama Nasarani. Sungguhpun demikian ia masih terkenan akan adat istiadat nènèk-moyangnya. Kata orang ia masih mempunyai tengkorak terkayau—mèmang amat amat tua—akan tetapi kata itu sukar juga disahkan. Ta‘ dapat tiada Si Ulow tiada suka menunjuk pusakanya itu kepada orang lain. Nyatalah ia masih suka menurut adat orang bangsa Dayak: ia masih suka menjamu orang. Sunang dan Lèjo diterimanya dengan suka hati serta diberi tum-pangan di rumahnya.

Midan sampai kepada rumah Si Ulow; kedatangannya diberi tahu kepada Si Ulow olèh seorang perempocean, katanya ada orang bangsa Dayak hendak bertemu dengan beliau. Si Ulow memberi selamat datang kepada Midan, ia disilakannya akan masuk ke rumahnya.

Midan mengira, bahwa ia diterima dengan senang hati sekali olèh teman kampung, tetapi sebetulnya... halnya lain sekali! Midan dipandangi olèh temannya dengan menyatakan dahsyatnya; tatkala mendekati dia, merèka mundur saja, rupa-rupanya takut. Itu ada sebabnya: pada pikiran Lèjo dan Sunang, temannya Midan dibunuoh oleh orang Batang-Lupar tatakala berlari. Menurut ke-percayaan orang Kayan, jiwa orang yang terbunuh tiada pernah bolèh masuk ke dalam Apu Kesio (kerajaan jiwa), karena orang sedemikian tiada bersenjata. Itu se-babnya temannya mengira mula-mula melihat mata Midan usahkan Midan sendiri (mata = jiwa). Tetapi Midan dapat menerangkan kepada temannya bahwa merèka bersalah; benar-benar ialah Midan, tubuhnyia dan darahnya. Lalu kedua orang teman menyatakan kesenangannya cara riuh. Merèka tiada berharap dulu akan melihat kembali te-mannya, Midan. Merèka terlalu ingin mendapat tahu untung malangnya dan lagi betapa peri ia dapat menyam-paikan negeri Banjarmasin. Akan tetapi keinginan teman-nya itu tiada bolèh disampaikan dulu, karena orang bersahabat disilakan oleh Si Ulow makan. Sesungguh-nya Lèjo dan Sunang biasa makan amat banyak, tetapi ini kali... merèka makan sedikit jua, katanya sudah kenyang. Sebetulnya terlalu ingin mendengarkan cerita Midan.

Lèjo dan Sunang terlalu hèran, demi terdengar ceri-ta tentang pelayaran Midan, yang menyertaï Li-Uang kene-geri Pontianak! Sesungguhnyia orang Cina memalumkan kepada Lèjo dan Sunang, bahwa ia sudah pergi keban-dar Pontianak, tetapi tiada dimalumkannya, bahwa Midan menurut dia ke sana. Kalaukalau ia berlaku demikian, karena kuatir akan dimarahi orang, tatkala orang bangsa Kayan mendengar, bahwa seorang sekampung—yang hilang itu—telah bekerja ditokonya. Kehèranan te-mannya bertambah lagi, tatkala mendengar riwayatnya ten-tang pelayaran Midan ke negeri Montrado dan Sambas. Dan lagi bahwa ia menurut seorang tuan opsi laut, sebagai jongos. Hai, Midan sudah melihat kota Be- tawi, yaïtu tempat bersemayam Tuan Maha Besar, kepala Kompeni! Lèjo dan Sunang, beserta orang Cina menggiling kepala karena hèran, demi terdengar maksud Midan, hendak pulang kedaërah Mendalam bersama-sama sahabat-sahabatnya, Lèjo dan Sunang. Midan tiada suka meminta keterangan, apa sebabnya orang menggiling kepala; Midan terlalu ingin akan mendengar riwayat Lèjo dan betapa peri Lèjo dapat menyampaikan kampungnya kem bali dan apa yang dilihatnya sementara pelayaran ke negeri Banjarmasin. Riwayat Lèjo beginilah:

“Talkala kami bercerai pada kelarian itu, kita memperhatikan, bahwa bekas kita diikut oleh orang bangsa Batang-Lupar. Kita menyembunikan diri di bawah akar-akar melata dari damit, ketipai dan duyang.¹ Dengan demikian tubuh kita tertutup habis belaka. Di situ kita tinggal, sampai ta‘ kedengaran lagi gaduh apa-apa. Orang Batang-Lupar pergi menjauhi kita pada sisi kanan, jadi kita terpaksa berlari arah ke sebelah kiri. Sebelum kita meninggalkan tempat lindungan, kita teringat, bahwa seorang pengejar melemparkan lembing arah kepada tempat kita. Lembing itu masuk ke hutan belukar. Terdengar ke pada kita orang Batang-Lupar itu bersumpah, karena kehilangan lembingnya, ta’ bolèh didapatnya kembali... Kita berniat mencari senjata itu... Tiada jauh dari tempat sembunyi kita, lembing itu kita dapat. Matanya termasuk ke dalam tanah. Lembing itu kita cabut dari dalam tanah.

Kemudian kita berlari selekas-lekasnya. Orang Batang-Lupar ta‘ ada lagi, bekasnya pun tiada kita dapat. Sebab lari terlalu cepat, badan kita letah-letih. Kita berguling di bawah batang pohon, lalu terus tertidur.

Ketika tengah malam kita tersedar, sebab berdahaga. Pe-rut kita lapar juga, tetapi lapar itu tiada kita indahkan. Kita berniat mencari air. Tetapi di hutan gelap-gulita, waulapum bulan terang! Atiati kita menyelinap di dalam belukar, beberapa jam lamanya. Pada akhirnya sampai pa-da suatu lapang, di situ ada suatu kolam. Kita ber-gopoh-gopoh kekolam itu. Setelah dekat kepada kolam, kita terkejut, lalu berhenti: kedengaran ada binatang melulung. Nyatalah ada binatang yang tiada suka dius-sik! Kelihatlanlah bantèng dan badak! yang sedang memadamkan dahaganya... Kita menepi sedikit hendak menyampai kan tempat kolam yang tiada nyata kepada binatang-binatang itu; tiba-tiba bantèng dan badak mengangkat kepala seakan-akan mengamang kita! Kita berlari kembali, lalu memanjat batang pohon... Hai, kita menderita siksa yang tiada terkata; hampir mati karena dahaga! Semen-tara itu tampaklah kepada kita... air banyak!... Dan kedengaran bunyi air, sebab binatang-binatang mence-bur-cebur di dalamnya!

Baru ketika fajar terbit, binatang itu meninggalkan kolam serta masuk kembali ke dalam hutan... Hai, datanglah giliran kita akan memadamkan dahaga! Untung-lah di situ ada duyang yang berbuah. Dengan buah duyang itu kita dapat memuaskan lapar.

Pada hari-hari yang berikut, telah sudah kita bertemu, bahwa berguna sekali kita membawa lembing kepunyaan orang Batang-Lupar itu! Kita hampir tiada bersua de- ngan pohon-pohon berbuah yang buhanya dapat dimakan; tentu kita menderita banyak susah karena lapar, jika kiranya tiada bersenjata. Sebab mempunyaï lembing, kita dapat memburu binatang kecil. Dagingnya tiada da- pat kita masak, karena ta‘ ada api. Jadi dimakan mentah saja. Pada suatu hari kelihatanlah pada lapang di hutan seèkor babi hutan, disertaï anaknya enam èkor. Dengan atiati kita menyelinap ketemapatnya; lalu seèkor anak babi itu kita tikami dengan lembing... Bawui yang tua men- jadi amat marah, setelah diperhatikannya kehilangan seèkor anaknya. Akan menjauhi binatang, kita berlari, lalu kita memanjat batang pohon. Tetapi kita dikejar juga olèh induk babi; binatang itu tetap di kaki pohon seten- gah hari lamanya. Kalau kita bergerak sedikit, binatang mengamat-amati kita dengan matanya yang kecil itu serta menggigit batang pohon, sebab marah. Untunglah kita tiada terpaksa membuang babi kecil, dengan demikian kita dapat memuaskan lapar sementara beberapa hari la- manya.

Pada akhirnya babi hutan pergi saja; seakan-akan di- perhatikannya, kita tiada dapat ditangkapnya. Sungguh- pun demikian, kita tetap tinggal di dalam pohon. Baru tatkala malam turun, kita berani turun dari pohon akan meneruskan perjalanan. Kemudian kita berjalan lagi tiga hari lamanya. Kita bertemu dengan setumpuk orang bangsa Bukat. Bersama-sama dengan orang itu kita pulang kedaërah Mendalam.“

“Apa kata orang, tatkala kemu pulang di kampung?” tanya Midan.

“Hai, ta‘ dapat tiada orang senang hati benar karena kita pulang. Tetapi ada juga orang yang menyatakan iba hatinya, terutamalah di rumah... Pagong. Sebabnya: kita pulang sendiri diri jua. Teman-teman kami su-dah menceriterakan kelarian kami berdua. Orang kam-pung tiada berharap lagi kami dapat pulang ke kampung; hanya Pagong belum putoas asa: tiap-tiap hari ia me-nantikan kamu pulang ke kampung.

Adapun perjalanan kami ke kampung orang Pnihing itu amat menyenangkan hati Pagong. Katanya, kamu di-beri kesempatan akan memperoleh uang banyak dengan pekerjaan mengempul hasil hutan; lalu kamu.... akan dimerdekakannya!

Kabar sedemikian dapat menyenangkan hati Midan; ia tertawa tatkala memperlihatkan kepada temannya Lèjo beberapa mata uang Ringgit, seraya menyatakan bahwa perolehannya ini jauh melampauï penerima yang diperoleh dengan pekerjaan mengempul hasil hutan.

Midan bertanya kepada Lèjo: “Mengapu kamu pergi kedaëerah sungai Busang?² Se-panjang pengetahuan kita, bahwa orang bangsa Kayan didaëerah Mendalam tiada bersahabat dengan orang kam-pung didaëerah Murung!“

Jawab Lèjo: “Sebenarnya kami—orang Kayan dari Mendalam—tia-da bersahabat dengan orang daëerah Murung; konon ka-bar yang kita dengar dari Ageng, orang bangsa Kayan berseteru dengan dia. Pada masa duloë orang Murung meliwat pegunungan akan menawan orang yang mengediami kampung di tepi sungai Kapus dan dianak sungainya. Orang tawanan itu diantarkannya kepada kampungnya sendiri. Tatkala seorang kepala kampung mati, seorang tawanan, yang ada di kampungnya, dibunuh akan merayakan festa kematian. Akan tanda peringatan didirikannya tiang-tiang; sebelum didirikannya tiang-tiang itu, di dalam leobangnya ditanamnya tubuh orang tawanan yang baru dibunuhnya. Atas tiang dihiasai dengan tengkorak orang asing itu.

Perbuatan orang Murung dibalas oleh orang Kayan. Tatkala beberapa orang Kayan dirampas oleh orang Murung, maka keluarah orang Kayan, masuk ke daerah yang didiami oleh orang bangsa Murung, akan mengayau. Banyaklah tengkorak, yang asal dari daerah Busang! Sekarang masih di dalam tangan orang Kayan, menurut kata Ageng. Tetapi kejadian itu sudah berlaku pada masa dulu! Tatkala Pagong masih muda, ia berjalan keluar; pada perjalanannya ia bertemu dengan seorang kepala kampung bangsa Busang, yaïtu di tempat kediaaman orang bangsa Longglat dari daerah Mahakam. Pada ketika itu Pagong berbuat perjanjian persahabatan dengan orang Busang. Sesungguhnya sejak waktee itu orang Kayan tiada berperang-perangan lagi dengan orang kaum Busang, tetapi kedua kaum jarang bertemu seorang kepada seorang. Tatkala Pagong berkunjung kepada kaum Pnihing ada seorang bangsa Melayu datanglah mengunjung Pagong akan membawa kabar yang asal dari Bang, yaïtu kepala kaum Busang (ialah yang berjanji persahabatan dengan Pagong dulu). Akan membalas pesuruhan itu Pagong memutus, bahwa patutlah mengirim seuruhan juge kepampung Busang. Demi terdengar kabar itu, kita minta, supaya menurut su- ruhan itu. Itulah sebabnya kita datang di daerah Mu-rung.“

“Di situlah kamu didapat oleh Li-Uang, lalu dia-jaknya akan mengumpul hasil hutan.”

“Betullah! Tetapi pengajakkan itu disertakannya dengan perjanjian, yaitu hendak meninggihkan upah amat banyak. Tetapi betapa peri berolêh kabar sedemikian?”

Kemudian Midan menceriterakan hal ihwal pertemu-an dengan saudagar Cina dan betapi peri ia berolêh kabar dari Li-Uang menyatakan, bahwa Lèjo dan Sunang menumpang di rumah Si Ulow. Demi terdengar itu, Lèjo mengaru, katanya:

“Kalau begitu, tentu kamu juga tahu, bahwa kami diserang olêh orang di daerah Bekumpai!”

Itu tiada diketahui Midan, sebab ia terus berlari dari rumah orang Cina, ketika baru didengarnya kabar tentang Lèjo dan Sunang, buninya kedua orang sa-habatnya ada di negeri Banjarmasin. Lèjo menyatakan kepada sahabatnya—Midan—, bahwa kabar angin, bu-ninya bahwa durhaka di daerah Bekumpai, benar juga. Sedang kapal-kapal masih ada sebelah utara negeri Marabahan, datanglah setumpuk orang Malayu, yang menerang Li-Uang dan orangnya. Kebanyakan orang itu dibenuh olêh orang Melayu. Orang Cina sendiri ber-luka pada lengannya; dengan pertolongan Lèjo dan Sunang, Li-Uang dapat menyampaikan tepi sungai di-seberang. Dari situ orang sampai ke negeri Marabahan. Kapal-kapal serta muatan yang berharga, dirampas olêh penyamun. Orang Melayu tiada berani datang di negeri Marabahan, sebab di situ ada serdadu Gubermèn. Setelah luka Li-Uang diobati, komandan tumpuk ser-dadu di negeri Marabahan menyuruh mengantarkan Li-

Uang, Lèjo dan Sunang ke negeri Banjarmasin dengan menumpang kapal.

Kabar, menyatakan ada durhaka di Tanah Dusun dan di Bekumpai mengadakan huruhara diibu negeri; orang penduduk masih teringat akan penyerangan Wangkang pada tahun 1870. Penyerangan itu menyebabkan, bahwa orang tiada berani berlayar menujui udik dengan melayari sungai Baritu.

Sahabat-sahabat bermusyawarat lama-lama maksud akan pulang ke kampungnya, Si Ulow menyertaï juga musyawarat itu. Tetapi musyawarat itu tiada berhasil: sekalian ikhtiar harus ditinggalkan sebab ta‘ ada daya-upaya akan membenarkannya. Pada akhirnya Midan keluear dari dalam rumah Si Ulow, maksudnya...... minta bicara kepada...... tuan opsir. Pada persangkaan Midan, ialah yang dapat menolong orang Dayak dalam kesukarannya.

¹ Damit, ketipai dan duyang itulah nama Dayak untuk tum-buhan yang berjalar. Dari akar damit dibuatnya tuba. Itulah sejenis racun, yang dipakai akan menuba ikan. Ketipai menghasilkan getah-Percah juga, tetapi jenis yang kurang payu, tiada dijocalnya, melainkan dipakainya akan melekatkant huluc pedang pada pedang. Duyang itu menghasilkan juga getah-Percah (ucok); buhnya dapat dimakan.

² Sungai Busang itu suatu simpangan sungai Murung; Murung itulah nama sungai Baritoë pada bagian udiknya. Di sebelahnya Pegunungan Perceraian air, berhulu sungai Kaso, yang bermocara di sungai Mahakam, Sungai Busang dan sungai Kaso mengadakan sungai perhubungan antara kedua sungai besar itu, sebab itu pegunungan itu mudah diliwat orang.


FASAL YANG KETUJUHBELAS

Orang Kayan pulang ke kampungnya.

Kepercayaan pada nasihat tuan opsir sah juga. Tat-kala Midan bertemu pula dengan Tuan Van Haalen, serta menyatakan kesukarannya, beliau memalumkan ke-pada jongosnya socatu kabar, yang dapat menyenangkan hati orang Dayak tiga orang itu. Midan—bersama-sama dengan sahabatnya dua orang—Lèjo dan Sunang—bolèh menumpang kapal perang, yang akan mengantarkan dia ke-Tanah Kutei.

Tatkala Tuan Van Haalen mengunjungi Tuan Rèsidèn, beliau sudah berolèh kabar tentang durhaka yang kejadian dihuloë sungai Baritu. Di kantor kerèsidènan diperolèhnya juga kabar menyatakan bahwa Li-Uang dirampasi orang durhaka, serta dari kedatangan orang Cina itu di negeri Banjarmasin, disertaï orang bangsa Dayak dua orang. Tuan Van Haalen diuga meriwayat hal Midan, Tuan Rèsidèn berikhtiar akan mengantar orang pengembara, orang Dayak, ke negeri Kutei, supaya merèka bolèh menyampaikan kampung dari negeri Kutei. Me-nurut timbangan Wakil Gubermèn, baik juga ikhti-arnya itu dibenarkan, karena orang Dayak senang hati betul, tatkala memperhatikan, bahwa Gubermèn Belanda menolong ketiga orang bangsanya yang dalam senga-sara. Ta‘ dapat tiada dengan demikian orang Dayak yang diam diudik akan memujikan nama Kompeni.

Setelah didengarnya kabar demikian bunyinya, Midan bergopoh-gopoh berlari kembali ke rumah Si Ulow: pada malam hari itu juga ketiga orang pengembara su-dah naik di kapal perang. Li-Uang mendapat idin juga akan menumpang kapal perang, akan tetapi orang Cina belum sehat betul, ia lebih suka tunggu dulu, su-paya badannya sembuh sama sekali.

Pelayaran kedaërah Mahakam berselamat.

Keadaan muara sungai Mahakam sama juga dengan rupa muara sungai Kapuas. Pada suatu simpangan sungai Mahakam letaklah negeri Samarinda: itulah su-atu bandar yang ramai. Di kota Samarinda bersemayamlah seorang wakil Gubermèn, yang bergelar assistent-residèn. Tempat bersemayam Sutan Kutei ada di negeri Tengarong, yang letaknya arah ke sebelah hulu sungai Mahakam. Sebenarnya segenan daërah Mahakam ada di bawah perintah Sultan Kutei, akan tetapi orang bangsa Dayak, yang mengediami daërah diudik itu, hampir tiada mengindahkan kuasa Sultan Kutei.

Di negeri Samarinda Midan bermohon kepada Tuan-nya, demikianlah juga Sunang dan Lèjo. Dengan per-antaraan Tuan Van Haalen, ketiga orang pengembara itu berolèh surat tanda tangan, yang harus diunjuk-kannya kepada Sultan Kulei. Dalam surat itu assistent-residèn minta pertolongan kepada Sultan, supaya orang Dayak itu dapat menumpang kapal, kepunyaan raja itu. Kapal itu berlayar ke negeri Tepu, yang disinggahi oleh orang bumiputera akan menjual getah-Percah dan rotan. Midan menderita susah hati benar, tatkala‘ ber-mohon dengan tuan opsir laut. Selama kapal yang me-nuju ke negeri Tengarong masih kelihatan dari darat, opsir laut dapat melihat bahwa Midan sedang melambai dengan tangan.

Midan melambai dengan tangan

Midan melambai dengan tangan.

.............

Kata Koos: (sesudah mamaknya selesai menceriterakan hikayat): “Hai, Mamak, kita ingin mendapat tahu, kalau Midan beserta Lèjo dan Sunang sampai kembali kepada kampungnya, serta kalau Midan dimerdekakan supaya bolêh bernikah dengan Anya.”

“Demikian juga keinginan kita, Koos!” kata mamaknya. “Kita tiada mendapat kabar lagi tentang Midan. Se-sungguhnya kita masih datang beberapa kali di pantai pulau Berunai. Tetapi di situ hampir ta‘ kedengaran kabar, yang asal dari tanah diudik. Lain dari itu...... Midan tiada tahu menulis, tiada tahu juga membaca. Jadi Midan tiada kesempatan akan mengirim kabar ke- pada kita. Kita berharap, supaya lama-kelamaan Guber- mèn Belanda bersungguh-sungguh akan membaiki ke- adaan daerah orang Dayak, supaya keadaan orang bangsa Dayak juga diketahui orang seperti keadaan orang ne- geri di pulau Jawa.”

TAMMAT.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.