TUAN KALANGAN DAN RADIN BUNGSU
CERITA RAKYAT DARI WAY KANAN
PENERJEMAH:
ERWIN WIBOWO
WAHYU SEKAR SARI
JUFRI
TUAN KALANGAN DAN RADIN BUNGSU
CERITA RAKYAT DARI WAY KANAN
Sumber: Verhandelingen van het bataviaasch genootschap van kunsten en wetenscappen. deel XLV. Helfrich O.L. 1891. Batavia: Albrecht & Rusche.
Ceghita ghek Uti Utian
Djufri, 2004
Lampung: Way Kanan.
Penerjemah: Erwin Wibowo, Wahyu Sekar Sari, dan Jufri
Penyunting: Yulfi Zawarnis
Illustrator: Mutiara Arum Kiranasuci
Penata letak: Eva Krisna
Diterbitkan pada tahun 2021 oleh
Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran
Telukbetung, Bandarlampung
Provinsi Lampung
© 2025 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: repositori.kemendikdasmen.go.id
Ilustrasi sampul: Fighting Cock II, karya Walter Williams
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
SEKAPUR SIRIH
Penerbitan prosa naskah Lampung dalam bentuk buku ini dimaksudkan sebagai bahan bacaan bagi siswa SD dan untuk menambah pengayaan bahan literasi. Selanjutnya, penerbitan buku ini adalah sebagai bentuk kepedulian Kantor Bahasa Provinsi Lampung dalam melestariakan sastra daerah di Provinsi Lampung.
Buku ini bersumber dari tulisan yang terkumpul dalam Ceghita ghek Uti Utian oleh Djufri, 2004. Kumpulan cerita tersebut mengisahkan kehidupan sosial masyarakat tradisional Lampung dan terdapat pula banyak nilai di dalamnya sehingga sangat bermanfaat bagi siswa.
Buku ini disusun oleh Erwin Wibowo bersama Wahyu Sekar Sari, diterjemahkan langsung oleh Bapak Djufri, dan disunting oleh Yulfi Zawarnis.
Terima kasih kepada penulis, penerjemah, penyusun, dan penyunting buku bertajuk Tuan Kalangan dan Cerita-cerita Lain ini. Semoga bacaan ini bermanfaat bagi khalayak, khususnya siswa SD. Selamat membaca dan selamat berliterasi.
Bandarlampung, September 2021
Dr. Eva Krisna
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung
KATA PENGANTAR
Buku cerita Tuan Kalangan dan Radin Bungsu: Cerita Rakyat dari Way Kanan ini berisi tiga cerita rakyat Lampung yaitu cerita “Si Radin Bungsu”, “Tuan Kalangan”, dan “Ayam Hitam” yang merupakan terjemahan dari cerita “Tatimbay Si Radin Boengsoe”, yang ditulis oleh O.L. Helfrich yang disusun dalam manuskrip yang berjudul Verhandelingen van het bataviaasch genootschap van kunsten en wetenscappen. deel XLV “Verzameling Lampongsche Teksten” yang diterbitkan pada tahun 1891 oleh Albrecht & Rusche. O.L. Helfrich adalah seorang berkembangsaan Belanda yang pernah juga menjadi residen di Jambi pada tahun 1908 sampai 1910.
“Tuan Kalangan”, dan “Ayam Hitam” (“Manuk Halom”) adalah cerita rakyat yang ditulis kembali oleh Djufri, seorang pensiunan guru di Kabupaten Way Kanan. Cerita-cerita tersebut ditulis dalam bahasa Lampung dialek Way Kanan.
Penerjemahan buku-buku tersebut bertujuan menarik minat masyarakat terhadap cerita rakyat Lampung, baik pembaca penutur jati bahasa Lampung Maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.
Semoga buku ini dapat menjadi salah satu alternatif bahan bacaan literasi yang bisa dinikmati oleh anak-anak Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu hingga terbitnya buku ini. Selamat membaca, semoga bermanfaat!
Tim Penerjemah
TUAN KALANGAN (1)
Konon kabarnya pada awal abad ke-20 di Sumatra bagian Selatan banyak terdapat orang sakti. Di antara orang sakti tersebut dikenal seorang pria yang bernama Tuan Kalangan. Kesaktian Tuan Kalangan konon tidak dimiliki orang pada umumnya.
Menurut cerita, salah satu keunikan Tuan Kalangan terletak pada kerongkongannya. Di kerongkongan Tuan Kalangan tumbuh bulu seperti rambut di kepala sehingga dia tidak bisa makan makanan yang mudah lengket, termasuk nasi ketan. Bila Tuan Kalangan makan nasi ketan, nasi itu akan melekat pada rambut yang ada di kerongkongannya.
Pada suatu ketika Tuan Kalangan hendak menumpang kereta api yang hendak menuju Palembang dari Stasiun Blambangan Umpu.
Pada masa itu kereta api yang melintas antara Lampung dan Palembang memiliki beberapa nama dan jenis. Setiap jenis memiliki fungsi masing-masing.
Paling tidak, ada empat macam kereta yang ada saat itu, yaitu Kereta Api Lamsam, Kereta Api Ekstra, Kereta Api Senel, dan Kereta Api Singatrem.
Kereta Api Lamsam (dari langzaam ‘lambat’ dalam bahasa Belanda) adalah kereta api biasa yang mengangkut kaum pribumi. Kereta Api Ekstra adalah kereta api yang berfungsi mengangkut barang-barang. Kereta Api Senel (dari snel ‘cepat’ dalam bahasa Belanda) adalah kereta api cepat yang berfungsi mengangkut penumpang dan tidak berhenti di setiap stasiun. Sementara itu, Kereta Api Singatrem (kereta api yang jalannya secepat terkaman singa) adalah kereta api penumpang yang berjalan cepat yang khusus mengangkut orang-orang berkulit putih. Tidak ada satu pun orang pribumi yang diizinkan menaiki kereta tersebut. Bila ada yang melanggar, orang tersebut akan dihukum atau dikenai denda. Kereta tersebut hanya dapat digunakan oleh orang Belanda. Bila ada orang yang bukan orang kulit putih menaikinya, orang tersebut akan dijatuhi hukuman penjara dan paling ringan dijatuhi hukuman denda.
Pada suatu ketika, Kereta Api Singatrem meluncur dari Tanjungkarang menuju Palembang. Seperti biasanya, kereta tersebut berhenti di Stasiun Blambangan Umpu. Tak seorang pun penumpang kereta itu yang bukan orang Belanda.
Tiba-tiba naiklah seorang laki-laki berkulit hitam, berbadan kurus, berpenyakit kulit, dan berpakaian
compang-camping ke atas kereta itu. Seketika aroma tubuh laki-laki itu menguar, memenuhi gerbong kereta.
Melihat kejadian itu tentu saja orang-orang Belanda yang ada di tempat itu marah. Berbagai ungkapan kekesalan mereka lontarkan. Mereka juga tak segan memperlakukan laki-laki itu dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Laki-laki tersebut tak membalas sepatah kata pun. Sambil tertatih, dia ke luar dari gerbong kereta dan pergi entah ke mana.
Sejurus kemudian terdengar suara peluit sebagai tanda kereta harus segera berangkat. Kereta api yang mengangkut beberapa laki-laki dan noni Belanda itu pun bersiap hendak berangkat. Akan tetapi, penumpang mulai panik ketika kereta tersebut tak kunjung bergerak Walaupun suara roda kereta yang berputar di atas rel terdengar dengan jelas.
Menyadari kondisi ini, semua orang yang mengetahui hal itu menjadi heran. Para penumpang kereta turun semua. Mereka melihat ke bagian bawah dan sekitar kereta dengan penuh selidik.
Mereka terperanjat begitu melihat seorang anak kecil yang berdiri di bagian depan kereta. Anak itu menempelkan telunjuknya ke gerbong seperti sedang menahan laju kereta.
Orang-orang Belanda itu semakin heran ketika melihat kejadian itu. Dalam hati mereka timbul bermacam-macam pertanyaan. Mereka menduga laki-laki yang sudah mereka usir dari atas kereta tadi kini sudah berubah menjadi anak kecil. Hal ini terlihat dari warna raut wajah dan warna pakaian yang dikenakan anak itu.
Mereka pun mendatangi anak kecil itu seraya meminta maaf atas segala kesalahan mereka.
“Maaf, Nak. Kami tahu engkau adalah laki-laki yang kami usir tadi,” kata salah seorang di antara mereka.
“Ya, saya maafkan. Tadi kalian melarang saya naik,” ujar anak itu.
“Ya, sekali lagi kami minta maaf dan minta am pun, Nak!” ujar orang-orang itu.
Akan tetapi, anak kecil itu hanya diam. Perlahan dia pergi dan menghilang dalam sekejap. Setelah itu seluruh penumpang kembali ke atas kereta. Kereta kemudian melaju dengan cepat.
Sepanjang perjalanan, hampir seluruh penumpang memperbincangkan apa yang sudah mereka alami. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi andai anak kecil itu tidak mau memaafkan kesalahan mereka.
Tak lama kemudian kereta tersebut sampai di Stasiun Baturaja. Beberapa penumpang melihat sosok laki-laki yang
mereka usir saat menaiki kereta itu. Beberapa di antara mereka berusaha mendekati laki-laki itu dan bermaksud meminta maaf.
“Tuan, kau sudah di sini rupanya,” kata salah seorang di antara mereka.
Laki-laki itu hanya diam.
“Maafkan kami, Tuan. Kami tak akan berbuat buruk lagi kepada kaum pribumi,” lanjut yang lain.
Laki-laki itu hanya manggut-manggut. Setelah itu, dia kembali menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, Kereta Api Singatrem tak hanya dikhususkan untuk mengangkut orang Belanda.
TUAN KALANGAN (2)
Syahdan Tuan Kalangan mengembara dari satu umbul¹ ke umbul lain, dari satu talang² ke talang yang lain, dan dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Waykanan. Selama pengembaraannya, Tuan Kalangan telah melewati beberapa umbul, kampung, dan talang. Jalan mendaki Maupun menurun sudah dilaluinya.
Pada suatu ketika Tuan Kalangan sampai di sebuah umbul yang hanya terdapat beberapa sapu³ di sana. Dia memasuki umbul itu selayaknya orang biasa.
Saat melewati sebuah sapu, tiba-tiba pandangannya tertuju pada kerumunan orang di sebuah sapu yang tak jauh dari sana. Tuan Kalangan mempercepat langkahnya dan bermaksud mendatangi sapu itu.
Semakin dekat dengan sapu, Tuan Kalangan semakin jelas melihat sejumlah orang yang memenuhi sapu itu. Mereka terlihat sedang menunggu sesuatu.
Di antara mereka ada yang hanya duduk diam, ada yang bercakap-cakap, dan ada yang sibuk kian kemari. Sebagian di antara mereka terlihat bingung, cemas, dan gelisah.
Tuan Kalangan memutuskan untuk singgah di sapu itu. Dia merasa ada sesuatu yang tak biasa yang sedang terjadi di sapu itu.
“Banyak sekali orang yang berkumpul. Melihat raut wajah mereka, saya yakin mereka sedang dilanda kesusahan,” gumam Tuan Kalangan.
Tuan Kalangan segera menuju sapu yang dipenuhi orang tersebut. Sebenarnya dalam hatinya berharap akan mendapat suguhan air minum karena dia merasa sangat haus setelah berjalan jauh.
“Assalammu’alaikum,” ujar Tuan Kalangan.
“Waalaikumsalam,” sahut beberapa orang yang sedang duduk.
“Saya hendak numpang istirahat, Tuan-tuan,” sambungnya.
Beberapa orang di antara mereka bangkit dari duduknya.
“Silakan, silakan duduk, Tuan!” kata salah seorang di antara mereka sambil mengulurkan tangannya mempersilakan Tuan Kalangan untuk duduk.
Tuan Kalangan pun duduk di antara orang itu. Dia memperkenalkan diri sebagai seorang pengembara yang kebetulan singgah di tempat itu.
Orang-orang itu hanya menyimak apa yang disampaikan Tuan Kalangan sambil manggut-manggut.
“Tolong ambilkan air minum untuk tamu kita, Bu,” kata seorang laki-laki yang duduk di samping Tuan Kalangan. Sepertinya laki-laki itu adalah sang pemilik sapu.
Tak lama kemudian keluarlah seorang perempuan setengah baya dari dalam sapu. Dia menghidangkan air minum beserta sedikit makanan kepada Tuan Kalangan.
“Silakan diminum!” katanya dengan ramah.
Tuan Kalangan segera menyeruput air minum yang sudah disajikan. Rasa lapar dan dahaga setelah menempuh perjalanan jauh sejenak menghilangkan rasa malunya.
Bebberapa orang berbisik-bisik melihat gerak-gerik Tuan Kalangan. Mata mereka melirik penuh selidik.
Sementara itu, Tuan Kalangan terus saja menyantap makanan yang sudah disajikan. Dia pura-pura tak mendengar apa yang sedang diperbincangkan orang-orang itu.
Tak lama kemudian, laki-laki yang tadi meminta disajikan minuman berbicara kepada Tuan Kalangan.
“Maaf, Tuan, maafkan bila perlakuan kami kepada Tuan tidak berkenan di hati Tuan. Bukannya kami kurang
hormat atau kurang sopan kepada Tuan. Inilah keadaan kami yang sesungguhnya, Tuan,” kata laki-laki itu dengan hati-hati.
Dia tidak ingin tamunya itu merasa tidak nyaman atau tersinggung melihat perlakuan orang-orang yang ada di situ.
“Kami ini sedang susah, Tuan,” kata laki-laki itu meneruskan.
Tuan Kalangan hanya menyimak apa yang disampaikan laki-laki itu.
“Sudah lebih dari dua minggu ini kami dirundung kecemasan dan kebingungan. Pasalnya sudah dua pekan ini anak saya yang sedang hamil merasakan sakit yang tak tertahankan. Sudah waktunya dia melahirkan,” kata laki-laki itu dengan suara yang semakin melemah.
“Apakah di umbul ini tidak ada dukun yang biasa membantu wanita melahirkan?” kata Tuan Kalangan.
“Kami sudah minta bantuan pada dukun dan orang pandai. Akan tetapi, tidak ada di antara mereka yang sanggup menolong anak saya, Tuan,” kata laki-laki itu.
“Sekarang harapan saya, Tuan dapat menolong anak saya. Saya ingin anak saya tidak kesakitan lagi dan cucu saya bisa segera lahir,” kata laki-laki itu penuh harap.
Tuan Kalangan sejenak terdiam. Dengan hati-hati dia menjawab, “Mohon maaf, Tuan. Saya ini hanyalah orang biasa. Bukannya saya tidak mau menolong, apalagi tidak punya rasa iba. Akan tetapi, saya tidak memiliki ilmu dan pengetahuan yang memadai. Jangankan untuk menolong orang lain, untuk makan dan minum saja saya menunggu belas kasihan orang yang iba.”
“Cobalah dulu, Tuan. Barangkali melalui perantara Tuan, anak saya bisa segera melahirkan,” ujar laki-laki itu sambil memohon.
Melihat itu Tuan Kalangan tidak tega untuk mengecewakan laki-laki itu.
“Maaf, Tuan, tadi sudah saya katakan bahwa saya tidak punya pengetahuan. Akan tetapi, saya akan mencoba sesuai dengan kemampuan saya. Semoga Allah Swt. mengabulkan doa kita,” kata Tuan Kalangan.
Tuan Kalangan bangkit dari tempat duduknya. Bersama laki-laki pemilik sapu itu, Tuan Kalangan menuju kamar tempat perempuan hamil itu terbaring lemah.
Melihat kondisi perempuan itu yang sedang merintih kesakitan, Tuan Kalangan hanya berdiri di samping perempuan itu sambil menatapnya lurus-lurus.
Tiba-tiba orang-orang melihat Tuan Kalangan mengayunkan tangan dan menghentakkan kaki seperti
hendak menyerang perempuan yang sedang terbaring lemah itu. Melihat kejadian itu, orang-orang yang hadir marah. Mereka balik menyerang Tuan Kalangan. Tuan Kalangan tak melawan. Dia lari menghindari amukan warga yang sedang marah.
Umbul yang tadinya senyap karena menunggui perempuan yang akan melahirkan seketika menjadi riuh. Orang-orang semakin ramai berdatangan. Mereka ingin tahu perkara apa yang sedang terjadi di umbul itu.
Di tengah keriuhan yang sedang terjadi, tiba-tiba terdengar suara menderu disertai ringkikan kuda dari arah barat. Serentak pandangan mereka tertuju ke arah datangnya suara.
Mereka melihat seorang raja bersama permaisurinya yang sedang mengendarai kereta kencana. Kereta itu diarak oleh sekelompok orang yang menari nigel⁴, bermain pencak, dan bermain pedang dengan sukacita.
Melihat kejadian itu, orang-orang yang melihat berlarian pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka berganti pakaian lalu berkumpul untuk menyambut sang raja dan permaisuri yang mereka lihat tadi.
Setelah sekian lama menunggu, raja dan permaisuri tak kunjung menemui mereka. Mereka berusaha mengejar kereta kencana yang membawa raja dan permaisuri itu.
Akan tetapi, usaha mereka sia-sia. Sang raja dan permaisuri tak kunjung dapat mereka temui.
Akhirnya mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah perbuatan sia-sia. Di sisi lain, mereka telah meninggalkan perempuan hamil tadi sendiri di kamarnya. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada perempuan tersebut setelah diserang oleh Tuan Kalangan.
Mereka pun bergegas kembali ke sapu tempat perempuan hamil itu terbaring lemah. Sesampai di sana, mereka tercengang. Yang mereka lihat bukanlah perempuan hamil yang sedang merintih kesakitan. Sebaliknya, mereka melihat perempuan itu sedang duduk menggendong anaknya dengan wajah yang cerah. Pakaiannya harum dan rapi, begitu pun bayi yang digendongnya.
Tentu saja orang-orang itu heran melihat keajaiban di depan mata mereka.
“Apa yang terjadi padamu? Bukankah tadi kamu diserang oleh laki-laki itu?” tanya salah seorang perempuan di antara mereka. “Aku tidak merasakan apa-apa begitu laki-laki itu melihatku. Rasa sakit dan rasa tidak nyaman yang sudah lama saya rasakan tiba-tiba hilang. Waktu anakku lahir,
aku tidak merasakan apa-apa. Tahu-tahu anakku sudah lahir tanpa ada kendala apa pun,” kata perempuan itu.
“Aku dan anakku diurus betul-betul, dimandikan, diberi pakaian, diobati, dan diminyaki oleh seorang perempuan. Setelah itu, aku tidak tahu entah ke mana perginya laki-laki dan perempuan itu,” lanjutnya.
Orang-orang yang mendengar cerita perempuan itu semakin bingung. Dalam hati mereka timbul penyesalan karena hampir saja mencelakai laki-laki itu. Kemarahan yang teramat sangat telah membuat mereka gelap mata. Akan tetapi, mereka bersyukur karena laki-laki itu tidak celaka sedikit pun. Berkat bantuannya dan atas izin dari Allah Swt., perempuan hamil itu melahirkan dengan selamat. Sejak saat itu, mereka selalu menghargai setiap tamu yang datang ke umbul mereka.
AYAM HITAM
Alkisah di sebuah kampung ada seekor ayam hitam betina yang mempunyai delapan ekor anak. Anak-anak ayam itu sudah cukup besar dan sudah bisa mencari makan sendiri. Mereka pun sudah pandai terbang bila ada yang menyerang tiba-tiba.
Setiap hari setelah ke luar dari kandangnya, induk ayam dan anak-anaknya hilir-mudik mencari makan. Mereka mengais-ngais dari satu semak ke semak yang lain. Ketika sudah kenyang, mereka pun pulang ke kandang.
Suatu ketika mereka tidak pulang ke kandang Meskipun hari sudah gelap. Mereka tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Walaupun demikian, mereka terus berusaha agar sampai di kandang mereka.
Hari semakin sore dan langit semakin gelap. Tanpa diduga, mereka melihat ada sebuah sapu di pinggir hutan.
“Nah, kita menumpang menginap di sapu itu saja, anakku,” kata induk ayam.
Anak-anak ayam menurut saja. Mereka langsung menuju sapu yang mereka lihat itu. Ketika mereka tiba di halaman rumah, induk ayam mengucapkan salam, “As-salāmu ‘alaikum!”
“Wa‘laikum salām!” jawab tuan rumah. “Bolehkah kami menumpang menginap?” kata induk ayam. “Silakan…silakan! Mari, masuklah!” kata pemilik sapu. “Mengapa suara yang menjawab terdengar janggal?” gumam induk ayam. Sementara itu, dari dalam sapu terdengar hiruk-pikuk ketika mendengar ada yang datang. Samar-samar terdengar suara-suara yang saling berebut bicara. “Mak, saya ingin paha ayam,” kata yang satu. “Saya mau hati ayam,” timpal yang lain. “Saya minta daging ayam yang gemuk!” kata yang lain lagi. “Diam…diam! Jangan berbicara keras-keras! Nanti mereka pergi,” terdengar sayup-sayup suara dari dalam sapu itu. Dengan penuh selidik induk ayam mencoba mencari tahu. Didekatkan kepala dan telinganya ke arah pintu. Kalau-kalau dia bisa melihat siapa yang ada di dalam sapu itu. Induk ayam terperanjat. Dari balik lubang dia melihat makhluk berbulu dengan gigi taring yang tajam sedang mendiamkan anak-anaknya di dalam sapu itu. Rupanya pemilik sapu itu adalah seekor musang.
Mengetahui hal itu, induk ayam merasa bahwa jiwanya dan anak-anaknya sedang terancam. Mereka tidak mungkin bisa segera pergi karena hari semakin larut. Lagi pula mereka tidak tahu akan pergi ke mana.
Induk ayam hanya bisa memohon kepada Yang Mahakuasa agar diselamatkan dari ancaman maut.
“Masuklah!” terdengar suara dari dalam sapu.
“Terima kasih! Saya di luar saja, Nyonya,” sahut induk ayam.
“Masuklah, nanti kalian kena hujan! Kalau kehujanan, tentu anak-anakmu akan sakit,” kata pemilik sapu melanjutkan.
“Tidak apa-apa. Biarlah kami di luar saja. Anak-anak ini tiap sebentar ingin buang air. Nanti rumah Nyonya bisa kotor dibuatnya,” kata induk ayam.
“Ya, baiklah kalau begitu,” jawab musang.
Induk ayam lantas berpikir, “Apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan diriku dan anak-anakku ini, ya Allah?” gumamnya.
Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk mencari batu besar. Dia berusaha mencari di sekitar sapu itu. Ternyata apa yang dicarinya akhirnya dia dapatkan. Sebuah batu asahan besar tergeletak di antara onggokan jerami tak jauh
dari tempat mereka. Induk ayam segera membawa batu asahan itu ke dekat tempat mereka tidur.
Musang yang masih mendengar kegaduhan di halaman rumahnya bertanya, “Wahai ayam, apakah kalian sudah tidur?”
“Belum, Nyonya!” sahut induk ayam.
“Wah, mengapa kalian belum tidur?” kata musang melanjutkan.
Induk ayam hanya diam, tak menjawab.
Setelah mengambil batu asahan, induk ayam itu pun mengambil beberapa jerami dan sabut enau yang ada di sekitarnya. Jerami dan sabut itu diletakkan di atas batu asahan hingga menutupi seluruh bagian batu itu.
Sementara itu, induk musang masih berusaha memeriksa keberadaan ayam.
“Apakah kalian sudah tidur?” kata musang.
“Belum, Nyonya!” jawab induk ayam.
Anak-anak musang yang sudah tidak sabar ingin segera makan tidak berhenti merengek kepada induk mereka.
Tiba-tiba, “Pppuuuuuuuuurrrrr!” terdengar suara anak ayam yang berhamburan karena disuruh pergi oleh induk mereka.
“Bunyi apa itu?” kata induk musang penuh selidik.
“Oo, bunyi daun kayu jatuh, Nyonya,” jawab induk ayam.
“Oo, ya, biarlah!” jawab musang.
Beberapa menit kemudian terdengar lagi bunyi yang sama, “Pppuuuuuuuuurrrrr!” Anak ayam terbang lagi.
“Bunyi apa lagikah itu?” tegur musang.
“Ah, hanya suara daun kayu jatuh,” jawab ayam.
Keadaannya terus begitu sampai akhirnya semua anak ayam pergi.
Anak-anak musang masih belum juga tidur. Mereka kasak-kusuk karena sudah tidak sabar menunggu. Sementara itu, semua anak ayam telah pergi menjauh dari sapu itu. Induk ayam pun pelan-pelan pergi menjauh.
Saat musang menyadari di luar sepi, dia pun bertanya, “Sudah tidurkah kau, Nyonya!”
Tak ada jawaban dari luar.
“Barangkali mereka sudah tidur nyenyak, jadi mereka tidak menjawab,” pikir musang.
Untuk mengobati rasa penasarannya, musang itu kembali memanggil, “Nyonya, apakah kalian sudah tidur?” Musang tak mendengar jawaban dari luar. Dia berpikir, “Pasti ayam-ayam itu sudah tidur pulas.”
Sementara itu, induk ayam dan anak-anaknya sudah semakin jauh meninggalkan sapu milik musang. Sambil
terseok-seok, mereka menembus semak belukar dan malam yang gelap.
Induk musang berbisik kepada anak-anaknya, “Diam! Jangan berbicara lagi! Mereka sudah tidur.”
Induk musang merangkak mengintip dari celah-celah dinding rumah. Dia melihat sesuatu teronggok di sudut sapu-nya.
“Itu dia mereka sudah tidur,” kata induk musang berbisik.
Musang itu kembali memanggil, “Sudah tidurkah kalian?”
Musang tak mendengar jawaban dari luar. Keadaan semakin sunyi dan malam semakin larut. Hanya suara jangkrik yang terdengar memecah kesunyian.
“Wah, sepertinya mereka benar-benar sudah tidur nyenyak,” pikir musang.
“Habis kalian! Kalian sengaja mengantarkan nyawa kalian,” gumam musang dengan perasaan gembira dan penuh harapan.
Dibukanya pintu rumah pelan-pelan. Mulutnya terbuka lebar sehingga terlihat giginya yang tajam-tajam. Sekuat tenaga dia melompat menerkam onggokan yang dipikirnya adalah induk ayam dan anak-anaknya.
“paaaaaaaamm...!” terdengar bunyi mendempam.
Induk musang itu jatuh pingsan. Seluruh giginya patah. Mukanya lebam penuh luka dan berdarah.
Melihat kejadian itu, anak-anak musang bersorak gembira. Mereka berpikir bahwa induk mereka sudah berhasil menangkap ayam-ayam itu. Akan tetapi, mereka hanya menunggu di dalam sapu sambil membayangkan makanan enak yang akan tersaji.
Setelah beberapa saat, induk musang siuman. Dia menceracau sambil menahan sakit, “Ya, am pun, anakku! Kalau begini, aku bisa mati.”
Musang itu pun merangkak masuk sapu.
“Lihat saya, Nak!” lanjutnya sambil meringis.
Melihat induk mereka yang kesakitan, anak-anak musang menangis meraung-raung sambil berpelukan.
Di tempat lain, induk ayam dan anak-anaknya sudah semakin jauh dari sapu milik musang. Mereka mengucap syukur karena akhirnya menemukan jalan pulang.
Sesampai di kandang mereka, induk ayam menasihati anak-anaknya.
“Nak, apa yang kita alami ini akan jadi pelajaran bagi kita. Sesibuk apa pun kita mencari makan, kita tidak boleh lengah dan tidak boleh menyerah,” kata induk ayam kepada anak-anaknya.
“Jangan pula kesibukan mencari makan membuat kita lupa waktu,” kata induk ayam penuh haru. Sejak saat itu, setiap sore induk ayam berkakok untuk memanggil anak-anaknya segera pulang ke kandang.
SI RADIN BUNGSU
Ini adalah kisah zaman dahulu yang sudah sangat usang, yakni kisah sang Ratu Agung bersama dua saudaranya, yaitu Panjurit Agung dan Raja Simbangan Ratu.
Pada suatu ketika, sang Ratu Agung memerintahkan perdana menteri untuk mengumpulkan semua warga desa. sang Ratu Agung ingin membuka lahan baru dengan membuat sebuah dusun di tengah hutan. Dusun itu nantinya akan digunakan untuk tempat tinggal rakyatnya yang sudah tidak tertampung di Canagiri.
Berbagai strategi dilakukan agar keinginannya itu segera terwujud. Akan tetapi, dusun yang diharapkan tak kunjung jadi.
Semakin hari penduduk Canagiri semakin banyak. Hal ini membuat sang Ratu Agung dan para pemuka masyarakat berpikir keras bagaimana caranya agar penduduk yang semakin ramai ini tetap sejahtera.
Sepanjang malam sang Ratu Agung berdoa kepada Yang Mahakuasa agar permasalahannya segera
menemukan jalan keluar. Dia bahkan mengungsi ke tempat yang sunyi agar berdoa lebih khusyuk.
Pada suatu malam, di tengah lelahnya berdoa, sang Ratu Agung tertidur pulas. Dalam tidurnya dia didatangi seorang perempuan tua yang berpakaian serba putih dengan tongkat di tangan kanannya.
Perempuan tua itu menuju ke arah sang Ratu Agung yang terpana melihat kedatangannya. Kemudian dia berkata. “Wahai, Raja, kelak akan lahir seorang anak laki-laki di negerimu. Anak laki-laki tersebut merupakan anugerah dari Yang Mahakuasa. Meskipun tak lahir dari rahimmu, anak laki-laki tersebut akan membawa kebaikan bagi rakyatmu.”
Perempuan itu juga menyebutkan ciri-ciri anak yang akan lahir tersebut.
Sang Ratu Agung hanya mengangguk mendengar ucapan perempuan itu. Mulutnya terkunci dan matanya tak mampu berkedip. Tiba-tiba perempuan yang ada di hadapannya menghilang tanpa jejak.
Sang Ratu Agung segera tersentak. Dia menggosok-gosok kedua matanya dan segera kembali ke istananya. Sang Ratu Agung percaya bahwa mimpi yang dialaminya semalam bukan sekadar bunga tidur. Sang Ratu Agung
percaya bahwa mimpi itu adalah petunjuk atas segala doa-doanya.
Kedatangan Ratu Agung di istana disambut meriah oleh segenap warga dan juga para kerabat kerajaan. Mereka yakin bahwa sang Ratu Agung telah mendapatkan jawaban atas semua masalah yang sedang mereka hadapi. Sang Ratu Agung pun menceritakan perihal mimpi yang dialaminya.
Sang Ratu Agung percaya bahwa apa yang disampaikan oleh perempuan tua itu akan menjadi kenyataan. Dia pun bersiap untuk menyambut anak yang dipercayanya kelak akan menjadi penerus kerajaannya.
Semua prajurit dan pembesar kerajaan diminta berjaga-jaga di bibir pantai hingga di pelabuhan. Semua kapal yang sedang bersandar di pelabuhan tersebut diperiksa kalau-kalau membawa seorang anak laki-laki dengan ciri-ciri seperti yang disampaikan oleh perempuan tua.
Akhirnya, di suatu sore salah seorang prajurit melihat ada sebuah benda yang mengapung di laut. Perlahan benda itu mendekat ke pelabuhan. Semakin dekat, semakin terlihat bahwa benda itu seperti sebuah perahu tanpa nakhoda. Dengan sigap para prajurit itu menahan laju perahu yang terus dibawa ombak.
Para prajurit kemudian memeriksa perahu tersebut. Alangkah terperanjatnya para prajurit tersebut. Dalam perahu tersebut mereka dapati seorang bayi laki-laki yang sedang tertidur pulas di atas tujuh lapis kasur dengan alas tujuh lapis kain putih. Ciri-ciri fisik anak itu persis seperti mimpi yang dialami sang Ratu Agung.
Sebagian prajurit bergegas melaporkan penemuan mereka kepada sang Ratu Agung. Sebagian lagi segera membawa anak tersebut menuju istana.
Sang Ratu Agung bahagia bukan kepalang. Dia percaya bahwa anak laki-laki itulah yang dimaksud oleh perempuan tua dalam mimpinya.
Sang Ratu Agung mengadakan pesta besar-besaran di seluruh lingkungan kerajaan untuk menyambut anak laki-laki tersebut. Sejumlah hewan ternak dipotong untuk disajikan sebagai santapan para penduduk yang juga ikut berbahagia. Selama berhari-hari mereka berpesta. Dalam pesta itu anak laki-laki tersebut juga diberi nama. Radin Bungsu adalah nama yang diberikan sang Ratu Agung kepada anak laki-laki itu.
Radin Bungsu tumbuh menjadi anak yang pintar dan pemberani. Oleh Ratu Agung, Radin Bungsu diberikan bekal ilmu yang sangat banyak, termasuk ilmu bela diri.
Sang Ratu Agung menaruh harapan yang besar kepada penerus tahtanya tersebut. Semua pelayanan terbaik diberikan kepada Radin Bungsu.
Radin Bungsu kerap diajak oleh perdana menteri kerajaan ke hutan untuk berburu binatang buas Ataupun berlayar. Hal ini dilakukan agar Radin Bungsu semakin cekatan dan semakin banyak pengalaman.
Hari berganti hari, Radin Bungsu tumbuh menjadi laki-laki yang gagah dan tampan. Dengan segala pengetahuan yang dimilikinya, Radin Bungsu juga menjadi sosok pangeran yang disayang oleh rakyatnya.
Saat usianya dirasa sudah cukup matang, sang Ratu Agung memerintahkan perdana menteri agar mencarikan jodoh untuk Radin Bungsu. Akan tetapi, berbagai upaya yang dilakukan perdana menteri untuk menjodohkan Radin Bungsu tak pernah menemui hasil.
Akhirnya, pada suatu hari tanpa diduga Radin Bungsu mengatakan kepada perdana menteri bahwa dia sudah menemukan gadis yang dia sukai. Radin Bungsu ingin menjadikan gadis tersebut sebagai istrinya.
Rupanya Radin Bungsu jatuh hati pada Putri Amboran Cahya, seorang putri dari kayangan.
Konon putri Amboran turun dari langit ke bumi, dan menjelma menjadi seorang putri di hulu sungai di
Palembang. Radin Bungsu pun berlayar dari Canagiri menuju kerajaan di Palembang.
Akan tetapi, Radin Bungsu mendapat kabar dari penjaga lautan, bahwa Putri Amboran Cahya akan dipersunting oleh Radin dari negeri seberang.
Radin Bungsu merasa kecewa dan patah hati. Dia berjanji akan membawa Putri Amboran Cahya ke Canagiri walau bagaimana pun caranya.
Pada suatu hari sampailah Radin Bungsu di hulu Palembang, di tempat Putri Amboran Cahya berada. Sesampainya di pelabuhan, Radin Bungsu melihat banyak orang yang sedang sibuk. Mereka sedang mempersiapkan pesta perkawinan Putri Amboran Cahya dan Radin Jawa.
Radin Bungsu berhasil bertemu dengan Putri Amboran Cahya di istana Kagelang. Putri Amboran berpesan kepada Radin Bungsu, satu satunya cara untuk mendapatkan dirinya adalah dengan memenangi perlombaan sabung ayam.
Radin Bungsu kemudian membawa ayamnya yang bernama Biring Kuning untuk diadu dengan ayam milik Radin Jawa yang bernama Burik Sejelai Batu. Kedua ayam tersebut memiliki kekuatan sakti. Namun demikian, Biring Kuning dapat mengalahkan Burik Sejelai Batu.
Melihat ayamnya kalah, Radin Jawa tak tinggal diam. Dia berusaha membalas kekalahannya dengan menyerang Radin Bungsu. Perang antarkerajaan pun tak dapat dihindari.
Radin Jawa berusaha mengalahkan Radin Bungsu dengan cara yang curang. Akan tetapi, kecurangan yang dilakukannya telah membuat Yang Mahakuasa menghukum Radin Jawa. Akhirnya, Radin Bungsu dan pasukan Canagiri memenangi pertandingan dan berhasil mempersunting Putri Amboran Cahya.
Setelah memenangkan pertandingan tersebut, Radin Bungsu akhirnya menikah dengan Putri Amboran Cahya. Pernikahan tersebut disambut riang gembira oleh rakyat Canagiri.
GLOSARIUM
¹
Umbul: desa/dusun
²
Talang: kampung kecil yang di dalamnya hanya terdapat beberapa rumah
³
Sapu: rumah kecil berdinding kayu berlantai papan atau tanah
⁴
Nigel: tarian yang dilakukan di malam hari, yang
dilakukan oleh muda-mudi, biasanya dilakukan
saat ada acara begawi.
DAFTAR PUSTAKA
- Helfrich, O. L. 1891. Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Deel XLV. Batavia: Albrecht & Rusche.
- Djufri. 2004. Ceghita Ghek Uti Utian. Lampung: Way Kanan.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.