NONA KULIT KUCING
ANTOLOGI CERITA PENDEK INDONESIA PERIODE AWAL (1870-AN–1910-AN)
PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
NONA KULIT KUCING
ANTOLOGI CERITA PENDEK INDONESIA PERIODE AWAL (1870-an–1910-an)
Penyelia: Dendy Sugono, Sugiyono
Penyusun: Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta, Saksono Prijanto, Erlis Nur Mujiningsih, Sri Sayekti, Widodo Djati, Dwi Pratiwi
Pembantu Teknis: Radiyo, Tukiyar
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun, Jakarta 13220
© 2025 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: repositori.kemendikdasmen.go.id
Ilustrasi sampul: Cats I (Katzen I) 1914, karya Karl Schmidt-Rottluff
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT BAHASA
Sastra menggambarkan kehidupan suatu masyarakat, bahkan sastra menjadi ciri identitas suatu bangsa. Melalui sastra, orang dapat mengidentifikasi perilaku kelompok masyarakat, bahkan dapat mengenali perilaku dan kepribadian masyarakat pendukungnya serta dapat mengetahui kemajuan peradaban suatu bangsa. Sastra Indonesia merupakan cermin kehidupan masyarakat dan peradaban serta identitas bangsa Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan dari waktu ke waktu, baik sebagai akibat tatanan kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta teknologi informasi Maupun akibat peristiwa alam. Penghayatan fenomena seperti itu yang dipadu dengan estetika telah menghasikan satu karya sastra, baik berupa puisi, cerita pendek, Ataupun novel. Cerita pendek, misalnya, dapat memberikan gambaran tata kehidupan masyarakat Indonesia pada masanya. Periode awal perkembangan cerita pendek Indonesia dapat memberi gambaran, selain tata kehidupan pada masa itu, kehidupan sastra Indonesia pada masa tersebut. Penelusuran kembali karyakarya cerita pendek masa itu memiliki makna penting dalam penyempurnaan penulisan sejarah sastra Indonesia.
Buku Nona Koelit Koetjing: Antologi Cerita Pendek Periode Awal (1870-an–1910-an) yang memuat dua puluh cerita pendek ini disusun oleh Melani Budianta dkk. Untuk itu, saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada penyusun buku ini. Mudah-mudahan penerbitan buku ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda, dalam memahami, menghayati, dan memperoleh manfaat dari cerita pendek periode awal untuk menata kehidupan ke depan.
Jakarta, 5 November 2005
Dendy Sugono
UCAPAN TERIMA KASIH
Kita sambut dengan gembira terbitnya buku Nona Koelit Koetjing: Antologi Cerpen Indonesia (1870-an—1910-an) yang merupakan kerja keras Tim Penelitian dan Penyusunan Sejarah Sastra Indonesia, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional di bawah bimbingan Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan Prof. Melani Budianta, M.A., Ph.D. Cerita pendek yang terkumpul dalam antologi tersebut merupakan sebagian dari data penelitian yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti Perpustakaan Nasional, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (koleksi Adji Damais), serta beberapa perpustakaan pribadi, antara lain milik almarhum D.S. Mulyanto. Mengingat data tersebut dicari dengan susah payah dan merupakan “barang langka”, dianggap perlu untuk memperkenalkan cerita-cerita pendek itu kepada khalayak sastra melalui penerbitan khusus agar mereka juga dapat menikmati keindahan karya tersebut.
Sehubungan dengan itu, dalam kesempatan yang baik ini kami ucapkan terima kasih kepada beberapa pihak sebagai berikut.
Nama-nama itu, antara lain Kepala Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono dan mantan Kepala Pusat Bahasa, Dr. Hasan Alwi; Kepala Bidang Pengembangan Bahasa dan Sastra, Dr. Sugiyono, mantan Kepala Bidang Sastra Dr. Edwar Djamariis, APU dan Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A.; Kepala Bagian Tata Usaha, Dra. Yeyen Maryani, M.Hum. dan mantan Kepala Bagian Tata Usaha Drs. Hasjmi Dini; Kepala Subbidang Sastra Dra. Siti Zahra Yundiafi, M.Hum. Kemudian kepada para pembimbing dalam penyusunan antologi ini, yaitu Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan Prof. Melani Budianta, M.A., Ph.D., serta teman-teman penyusun yang lain, yakni Drs. Saksono Prijanto, M.Hum., Dra. Erlis Nur Mujiningsih, M.Hum., Dra. Sri Sayekti, Drs.Widodo Djati, dan Dra. Dwi Pratiwi. Namun, dari beberapa nama itu ada dua nama yang sangat berjasa dalam “pengejaran” data tersebut, yaitu Dr. Mujizah dan Drs. Prih Suharto, M.Hum. Kepada mereka berdua, kami ucapkan terima kasih secara khusus. Semoga penerbitan buku antologi yang telah banyak menyerap biaya dan menguras tenaga, terutama memeras pemikiran ini berguna untuk khalayak sastra, khususnya peneliti sastra, guru sastra, dan pelajar sastra.
Penyusun
Kolase Multikultural
Sang Tukang Cerita
Cerpen Indonesia 1870-an–1910-an
Membaca cerpen-cerpen yang diterbitkan dalam media massa di Hindia Belanda sejak tahun 1870-an sampai 1914, seperti yang dikumpulkan dalam antologi ini, kita seperti dibawa oleh mesin waktu. Kita tidak hanya memasuki zaman kolonial dengan berbagai permasalahannya yang kompleks, tetapi juga diantar untuk melihat awal perkembangan genre cerpen di Indonesia yang bernuansa multikultural.
Antologi cerpen ini merupakan hasil dari Penelitian Sejarah Sastra Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Bahasa sejak tahun 1993. Sejak awal, persoalan definisi “Sastra Indonesia” telah mengemuka dalam penelitian tersebut. Pengertian Sastra Indonesia dalam proyek ini tidak dipahami sebagai sastra-sastra yang dihasilkan dalam konteks sebuah Negara Bangsa–yang baru diproklamirkan pada tahun 1945, dan yang terdiri dari sastra dalam berbagai macam bahasa yang digunakan di Indonesia–melainkan sastra dalam bahasa Melayu–yang kamudian berkembang menjadi Bahasa Indone- sia. Bahan-bahan yang dikumpulkan dalam proyek ini adalah karya sastra dalam huruf latin yang telah dipublikasikan dalam bentuk cetak.
Dua puluh cerpen ini adalah cerpen-cerpen yang terbit di media massa di Hindia Belanda sebelum tahun 1920, yang dapat dikumpulkan oleh Proyek Penelitian Sejarah Sastra Indonesia, Pusat Bahasa. Mengapa 1920? Tahun 1920 telah lazim dipakai sebagai tonggak kelahiran Sastra Indonesia Modern, dengan terbitnya novel Balai Pustaka, yakni karya saduran Merari Siregar berjudul Azab dan Sengsara. Akan tetapi, seluruh proses penelitian yang menghasilkan antologi ini menunjukkan bahwa kesusastraan Indonesia telah diproduksi dan disebarluaskan jauh sebelumnya. Selama ini sejumlah tokoh sastrawan Indonesia yang dianggap sebagai pelopor genre cerpen adalah Soeman H.S., yang menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Kawan Bergeloet, dan Mohammad Kasim dengan kumpulan cerpen Teman Doedoek, keduanya di tahun 1941. Padahal, seperti kita lihat dalam antologi ini, bahkan sejak 70 tahun sebelumnya, cerpenis-cerpenis yang tidak pernah tercatat dalam sejarah kesusastraan Indonesia, baik yang anonim Maupun yang bernama, telah mengolah genre ini di berbagai penerbitan berkala dalam bahasa Melayu lingua-franca (untuk menyebut bahasa Melayu, tinggi Maupun rendah yang penuh keragaman lokal, yang dipakai sebagai bahasa komunikasi di kawasan Hindia Belanda). Berbagai aspek cerpen yang di kemudian hari dikembangkan oleh cerpenis Balai Poestaka dan sesudahnya, seperti pengolahan humor dan anekdot, nada didaktis, pemanfaatan folklore, hikayat dan legenda, gaya realis sketsa perjalanan, serta pemaduan hikayat dan jurnalisme, terlihat kuat dalam cerpen-cerpen yang menjadi bagian tak terpisahkan dari koran dan majalah di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Dengan mengumpulkan dan membaca cerpen-cerpen yang berceceran–dan nyaris terabaikan (sebagian besar hilang tanpa sempat didokumentasikan)–kita menemukan benang-benang awal kesusastraan Indonesia.
Cakupan Antologi: 1873 - 1914
Dua puluh cerpen yang dikumpulkan dalam antologi ini diurutkan secara kronologis berdasarkan waktu penerbitannya. Hal ini dilakukan pertama-tama karena sebagian ditulis secara anonim. Yang kedua, urutan seperti ini penting untuk melihat perkembangan genre cerpen pada masa ini–walau-pun dengan data yang sangat minim. Cerpen terawal dalam antologi ini adalah “Hikayat Amal Beramal” (anonim), yang dimuat dalam Surat Kabar Bintang Johar, pada terbitan no 2, 18 Januari, 1873. Surat kabar Kristen (didukung oleh misionaris Zending) yang diterbitkan oleh Bruining en Wijt, di Betawi dari tahun 1873 sampai 1886 ini merupakan kelanjutan dari Surat Kabar Bianglala yang beredar sejak tahun 1867¹. Dapat dipastikan bahwa cerpen ini bukan cerpen pertama yang dapat ditemukan, sebab dengan meliat adanya cerpen dalam surat kabar di tahun 1873, kita dapat memperkirakan kehadiran cerpen-cerpen dalam surat kabar yang terbit sebelumnya. Seperti kita ketahui, surat kabar dalam bahasa Melayu sudah terbit sejak tahun 1850.² Sayangnya, sebagian besar penerbitan di Hindia Belanda tidak dapat ditemukan kembali.
Empat cerpen anonim berikutnya berasal dari 7 nomor majalah Çahabat Baik yang diterbitkan pada tahun 1891. Majalah ini diterbitkan oleh penerbit Stoomdruckery Hodent & Co di Amsterdam dengan tiga agennya di Batavia yakni toko buku Albereet & Rusche, di Semarang, toko buku H. Marting dan toko J.C. Holtzapffel serta Datoe Sutan Maharadja di Padang. Selain 7 nomor di atas, tidak ditemukan ke lanjutan dari majalah, yang dimotori oleh editor tunggal bernama Patmo di Soerijo.
Tujuh cerpen yang paling awal ditemukan dari tahun 1900-an diambil dari buku kumpulan cerpen H.F.R. Kommer, yakni Boekoe Tjerita Warna Sari jilid kedua, yang diterbitkan oleh Boekhandel Tan Swan Ie, di Surabaya (dicetak oleh Drukkeerij Al-Irsyad di Surabaya) pada tahun 1912. Dapat dipastikan bahwa masih bisa ditemukan cerita pendek lainnya dalam Boekoe Tjerita Warna Sari jilid pertama, yang menjanjikan “roepa-roepa Tjerita-Tjerita jang indah-indah”. Dari namanya, yang dalam kulit buku disebut sebagai Toean H.F.R. Kommer, besar dugaan pengarangnya Orang Belanda, seperti halnya pengarang terkenal pada periode 1900-an, yakni H. Kommer, pengarang novel Nyi Paina (1900). Pramoedya Ananta Toer membedakan dua pengarang ini, dan menyebutkan bahwa H.F.R. Kommer, pengarang 7 cerpen dalam antologi ini, sebagai redaktur harian Pewarta Soerabaia dan Primbbon Soerabaia, dan pengarang yang pernah memplagiat novel karya FDJ Pangemannan berjudul Tjerita Rossina (1903).³ Jika melihat kecenderungan yang ditujukkan oleh majalah Çahabat Baik, yang didominasi oleh tulisan dan gambar yang dikumpulkan oleh Patmo di Soerijo, kita bisa menduga bahwa Boekoe Tjerita Warna Sari juga merupakan kerja mandiri H.F.R. Kommer.
Sembilan cerpen selanjutnya diterbitkan di tahun yang sama, yakni 1914, oleh 2 penerbit yang berbeda, yakni dua majalah yang diterbitkan oleh penerbit Melayu Tionghoa, Penghiboer dan Bok Tok. Seperti cerpen H.F.R.Kommer, keenam cerpen ini menyebut nama pengarang–Walaupun umumnya nama samaran—, seperti Que, Juvenile Kuo, atau Orang Kecil. Penghiboer diterbitkan oleh penerbit Ho Ban Seng Kongsie di Pakojan, Batavia, yang juga menerbitkan Surat Kabar Melayu Tionghoa terkenal, Sin Po, sedangkan Bok Tok diterbitkan oleh NV Handels Drukkerij di Surabaya. Kedua majalah mingguan ini hanya bertahan satu tahun lamanya, yakni dari tahun 1913 sampai 1914.⁴ Dapat diperkirakan bahwa masih banyak cerpen yang seharusnya dapat dikumpulkan sampai tahun 1919, tetapi sekali lagi, sebagian surat kabar, majalah dan buku yang terbit sebelum tahun 1920-an sudah tidak dapat dilacak keberadaannya. Dengan berbagai keterbatasan itu, cakupan antologi ini terbatas pada karya yang paling awal dan paling akhir diketemukan dalam kurun waktu sebelum tahun 1920, yakni 1873–1914.
Akibat akses yang terbatas terhadap media penerbitan yang pernah diproduksi di zamannya, antologi ini sudah pasti tidak dapat mewakili keragaman cerpen yang ada pada kurun waktu 1870-an sampai akhir 1919. Tidak dapat diteliti di sini, jika ada, cerpen yang diterbitkan di koran berafiliasi kiri, seperti yang diterbitkan oleh Mas Marco dan Semaoen, yakni Sinar Djawa (kamudian berganti nama menjadi Sinar Hindia.) Demikian pula, seandainya ada, tidak diketahui ra- gam cerpen apa yang dapat dilihat dalam surat kabar dan penerbitan berkala yang diterbitkan oleh perkumpulan wanita atau kaum ibu, seperti majalah Poetri Hindia, yang terbit di tahun 1913 (majalah ini pernah mendapat penghargaan dari Ibu Suri Ratu Wilhelmina selama satu tahun). Dengan demikian, persinggungan kita dengan genre cerpen di era 1870-an sampai akhir 1910-an ini bersifat terbatas pada perca-perca yang dapat dikumpulkan dari masa lalu, dan perlu dilengkapi dengan berbagai bahan yang dapat dipastikan amat menarik, yang sampai saat ini masih menjadi harta karun terselubungi bagi khazanah kesusastraan Indonesia.
Media Massa sebagai Konteks Cerpen Indonesia 1870an - 1910-an
Munculnya genre cerpen di Indonesia di tahun 1870-an tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri percetakan dan media massa di Hindia Belanda. Industri percetakan yang mulai muncul di abad ke-18 di Hindia Belanda merespons kebutuhan untuk menyiarkan berita-berita perdagangan di kalangan Belanda. Salah satu media cetak yang paling awal adalah Bataviase Nouvelles pada tahun 1744, Bataviashue Courant pada tahun 1817 yang disusul oleh sejumlah koran lain dalam bahasa Belanda di Batavia, Surabaya dan Semarang. Media cetak dalam bahasa Melayu mulai muncul pada pertengahan abad ke-19. Yang umumnya dianggap sebagai pers Melayu pertama adalah Soerat Kabar Bahasa Malajoe yang diterbitkan di Surabaya pada 1856, tetapi ada pula catatan bahwa sebuah surat kabar bernama Bintang Timoer terbit di Surabaya pada tahun 1850.⁵ Perkembangan persuratkan dari 1850-an sampai 1920-an sangat cepat, Pada tahun 1918 sudah didirikan kurang lebih 40 surat kabar yang pada umumnya berbahasa Melayu, sedangkan di akhir tahun 1928 diperkirakan jumlah penerbitan media cetak meningkat dan semakin beragam jenisnya menjadi 400 jenis harian, mingguan dan bulanan (Ricklefs, 1998: 176).
Penerbitan media cetak sangat terkait dengan perkembangan kota-kota besar di Hindia Belanda, terutama kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan dan tempat berdirinya kantor-kantor pemerintah serta sekolah. Dari situ lah muncul pergerakan dan asosiasi pemuda serta kaum terpelajar yang mendukung media percetakan dan penerbitan. Surat kabar- surat kabar yang pertama, seperti Soerat Kabar Bahasa Melajoe dan Soerat Chabar Betawi diperkirakan dituju- kan terutama bagi khalayak pedagang, mengingat banyaknya berita perdagangan, seperti harga barang dan acara lelang (Adam, 1985: 35-37).
Kata pengantar terbitan perdana Majalah Çahabat Baik di tahun 1891 berikut menunjukkan dinamika kehidupan media massa di masa itu:
Sabermula kita mengchabarkan yang Surat Ka- bar India Nederland yang contonya tahun lenyap di kirimkan kepada sakaliyan orang isi negeri di Tanah India-Nederland tidak boleh di teruskan tebitnya, maka sebab iya tidak dapat pertulungan Bagimana mestinya.
Bahuwa sekarang adalah maktsudnya mengaluwar- kan buku ini, agar supaiya saparti kahendak S. K India Nederland iya itu akan menambahkan rupa- rupa ilmu dan lagi akan membri kasenengan hati kepada yang membaca, iya itu tetapi sekarang ini tiyap-tiyap bulan cuma sakali.
Melalui pengantar ini, editor Patmo di Soerijo, menunjukkan bahwa Çahabat Baik merupakan pengganti dari Surat Kabar India Nederland yang tampaknya tidak berumur panjang. Penyebab matinya surat kabar itu tidak terlalu jelas. Kata “tidak boleh diteruskan terbitnya” bisa diartikan pembredelan, tetapi “sebab tidak dapat pertolongan Bagimana mestinya” dapat pula berarti bahwa secara finansial koran ini tidak mendapat dukungan. Penggantian kala penerbitan menjadi sebulan sekali (tidak disebutkan apakah Surat Kabar India Nederland terbit setiap hari atau seminggu sekali) juga menunjukkan usaha efisiensi dan perubahan orientasi bisnis.
Kata pengantar di atas menunjuk pada dua konteks penting dalam penerbitan media cetak di Hindia Belanda pada periode ini, yakni masalah politik dan ekonomi. Pada awal tumbuhnya media cetak, pemerintah kolonial cenderung berhati-hati, bahkan represif terhadap kebebasan pers karena khawatirkan merugikan kepentingan dagang dan kepentingan politik mereka (Smith, 1986). Pengawasan oleh pemerintah kolonial ini didasari pada Undang-Undang Pers 1856 yang mewajibkan para pencetak dan penerbit menyerahkan kepada pejabat hukum satu salinan semua karangan sebelum diterbitkan. Oleh karena itu, Meskipun diterbitkan oleh orang Belanda, beberapa media massa mengalami pembredelan. Koran berbahasa Belanda yang mengalami pembredelan adalah Bataviase Nouvelles (ditutup 1746), sedangkan sejumlah penulis dan redaktur penerbitan berbahasa Belanda dari Java Bode dan Semarangsche Courant mengalami pengusiran.
Situasi ini berubah dengan dicabutnya Undang-Undang Pers 1856 di tahun 1905 yang dampaknya terlihat dari maraknya penerbitan di tahun 1910-an. Mungkin bukan kebetulan bahwa pada tahun 1914 sampai 1919, pemerintah kolonial di- pimpin oleh Gubernur Jenderal Graff Van Limburg Stirum, yang dikenal sebagai pejabat yang toleran. Sejak dicabutnya UU Press di tahun 1905, pemerintah kolonial telah mengubah strateginya untuk menghadapi pers yang bebas dengan cara menyainginya dengan penerbitan resmi. Di tahun 1908 suatu badan yang disebut dengan Komisi Bacaan Rakyat dibentuk untuk “memilih bahan bacaan yang sesuai untuk rakyat Hindia Belanda” (Balai Pustaka, 1997). Badan yang merupakan cikal bakal Balai Pustaka ini mengumpulkan bahan bacaan dari cerita rakyat, legenda dan bahan-bahan bacaan dari berbagai daerah, Ataupun bahan-bahan dari kesuastraan dunia untuk disadur. Pada tahun 1917, Komisi Bacaan Rakyat diubah statusnya menjadi Kantoor voor de Volkslectuur, dipimpin oleh D.A. Rinkes, yang telah dianggap berhasil memotori Komisi Bacaan Rakyat sejak tahun 1910. Dalam tahun pertama, lembaga ini mulai menerbitkan lebih dari dua ratus buku. Tetapi publikasinya sebelum tahun 1920 sebagian besar memakai bahasa-bahasa daerah (Jawa, Sunda, Arab, Madura, Batak, Atjeh, Bugis, Makassar) selain berbahasa Melayu. Sampai diterbitkannya majalah mingguan Pandji Poestaka di tahun 1923, tidak ditemukan kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh lembaga ini. Dengan demikian, perkembangan genre cerpen pada kurun waktu 1870 sampai 1910-an ini sepenuhnya terjadi di media massa swasta menurut dinamikanya sendiri–dan belum tersaingi oleh terbitan Balai Pustaka, yang menjadi dominan di tahun 1920-an.
Seperti yang terlihat dari pengantar majalah Çalıhabat Baik, usia media massa yang terbit sampai pada tahun 1910-an, kecuali beberapa, relatif singkat. Satu penerbitan berkala diganti dengan yang lain, dalam waktu satu atau dua tahun. Jika pada masa sebelum 1905 usaha penerbitan dapat dihentikan sewaktu-waktu oleh pemerintah kolonial, pada masa se- sudah dicabutnya UU Pers 1856 hidup matinya majalah lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor yang lain. Seperti penerbitan majalah Çahabat Baik, yang dimotori oleh editor tunggal Padmo di Soerijo, banyak penerbit dikelola sendiri oleh para pemilik percetakan atau pengarang. Mas Marco, misalnya menulis sebagian besar isi surat kabar Doenia Bergerak (1914). Seringkali pula satu tokoh bisnis dan politik memiliki lebih dari satu penerbitan. Tjipto Mangoenkoesoemo menerbitkan Goentor, Goentor Bergerak, Madjapahit, de Voorpost dan de Indier. Selain diterbitkan oleh pengusaha dan tokoh budaya atau politik, surat kabar dan majalah juga diterbitkan oleh organisasi agama, politik, dan sosial budaya. Perubahan nama surat kabar seringkali juga mengikuti perubahan orientasi kelompok pendukungnya. Demikian pula satu bentuk penerbitan, seperti surat kabar, dapat berubah menjadi majalah, untuk kepentingan pemasaran yang lebih luas. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bahwa banyaknya jumlah penerbitan baru di tahun 1910-an diikuti pula dengan tingginya jumlah penerbitan lama yang gulung tikar.
Fungsi media massa untuk menyebarkan pengetahuan (“menambahkan rupa-rupa ilmu”) dan sekaligus untuk menghibur (“memberi kesenangan hati”) mewarnai rubrik-rubrik yang dimuat di media masa pada masa itu. Selain berita dagang, media massa di Hindia Belanda juga memuat berita-berita lain, dan pengetahuan umum dari berbagai pelosok dunia yang dianggap bermanfaat untuk komunitas pembacanya. Syair dan cerpen berupa anekdot pengalaman sehari-hari atau yang bersifat didaktis tidak jarang mengisi kolom-kolomnya. Sebaliknya, menurut Jakob Soemardjo, banyak cerita dalam cerpen dan flueilleton Melayu Cina yang dimuat dalam majalah dan surat kabar itu ditulis berdasar laporan kriminal dari pengadilan dan berita-berita lainnya (Soemardjo, 1986).
Cerpen-cerpen yang dikumpulkan dalam periode 1873-1914 ini hampir sepenuhnya muncul dalam majalah-majalah budaya atau hiburan, seperti Penghiboer dan Bok Tok. Cerpen koran hanya diperoleh dari Koran Bintang Johar pada tahun 1873. Terbatasnya dokumentasi cerpen koran menjadi sebab ketimpangan ini. Dibandingkan dengan koran, dokumentasi majalah mingguan atau bulanan lebih tersedia. Akan tetapi, pada saat yang sama hal ini juga menunjukkan meningkatnya penerbitan majalah, yang mengemas cerita rekaan sebagai komoditi untuk “menghibur” pembacanya. Penerbit-penerbit yang pada awalnya berkonsentrasi pada surat kabar seperti Harian Sin Po secara khusus juga menerbitkan majalah sastra berkala yang diberi nama–sesuai fungsinya–Penghiboer.⁶
Tukang Cerita Lintas Budaya
Dua puluh cerita pendek yang dikumpulkan di sini menunjukkan keragaman gaya, bahasa, ragam dan genre, serta sumber acuan dan asal budaya. Bahkan, cerpen-cerpen dalam Boeke Tjerita Warna Sari yang dalam kulit buku disebut sebagai karangan Toean H.F.R. Kommer menunjukkan keragaman gaya bercerita, bahasa, dan genre yang dipakai. Jika disimak lebih lanjut, hanya satu cerita yang kemungkinan merupakan karangan H.F.R. Kommer sendiri, yakni “Si Marinem atau Mata Gelap” yang diberi subjudul “Satoe tjerita jang betoel soedah djadi di Djawa Wetan belon seberapa lama.” Beberapa cerita lainnya diberi keterangan mengenai asal negara, seperti “Tjerita Alksenoff, atau Satoe soedagar jang soedah dihoekoem tiada berboeat salah; satoe tjerita dari negeri Roes” dan “Tjerita Ditoeloeng Seekor Andjing; cerita dari negeri Frans” dan “Malaikat Djibrail dan Doea Orang Bersaoedara; satu dongeng dari negeri Arab.” Dari latar dan nama-nama tokoh, sebagian lagi cerita berasal dari Belanda, Inggris, dan India. Tidak pernah disebutkan nama pengarang asli cerita-cerita itu, seandainya bukan anonim, dan dari mana sumber cerita didapat.
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kata “karangan” dimaksudkan bukan dalam arti karya asli. Dengan demikian, seorang pengarang tidak harus mencipta, tetapi dapat menuliskan kembali cerita-cerita yang pernah dibaca, didengar, atau diketahuinya. Konsep kepengarangan dalam hal ini adalah konsep tukang cerita, suatu yang berasal dari tradisi lisan. Dalam pengertian seperti itu tidak mengherankan, jika Pramoedya menemukan bahwa H.F.R. Kommer ‘menjiplak’ karya Pangemanan. Di sini, kita melihat dua ‘hukum’ dan konsep kepengarangan saling bertanding: konsep kepengarangan yang individual dengan hak kepemilikan yang jelas seperti yang telah mentradisi di Eropa pada waktu itu, dan tradisi tukang cerita yang dengan bebas dapat mendongengkan apa saja yang pernah didengar dan dibacanya, kalau perlu melakukan improvisasinya sendiri. Akan tetapi, melihat gaya, bahasa dan genre berbeda-beda dalam cerpen-cerpen tersebut, tampaknya H.F.R. Kommer cenderung untuk meniru atau mungkin menerjemahkan dari sumber aslinya Walaupun hal ini memerlukan penelitian yang lebih lanjut.
Editor tunggal Patmo di Soerijo dalam Çahabat Baik, melakukan hal yang mirip, tetapi sedikit berbeda dengan tukang cerita Toean H.F. R. Kommer. Dalam Çahabat Baik, yang dilakukan editor adalah mengumpulkan berbagai tulisan, cerita, gambar dari berbagai sumber, seperti disebutkan dalam halaman judul majalah:
Çahabat Baik Hikajat, Tjerita, dongeng, syair, pantoen dan lain-lain daripada itoe Dikoempoelkan dan di Hiyasi Dengan bebrapa Gambar-Gambar Oleh Patmo di Soerijo
Tulisan yang dikumpulkan dari berbagai genre dan sumber, baik lisan Maupun tertulis, dan gambar-gambar grafis yang sebagian besar menunjukkan gaya ilustrasi buku dari Eropa, tidak disebutkan sumber aslinya. Termasuk dalam majalah ini teka-teki silang, berita jurrnalitis tentang raja dan ratu Belanda, yang besar kemungkinan merupakan terjemahan dari majalah atau surat kabar berbahasa Belanda.
Yang menarik dari buku dan majalah di tahun 1890-an dan 1900-an tersebut adalah keramaian lalu lintas budaya, bahasa, genre, dan ragam yang membentuk cerpen di masa itu. Perlu dicatat di sini bahwa pengertian cerpen sebagai genre fiksi pendek dengan fokus pada salah satu atau beberapa elemennya, seperti alur, penokohan, tema seperti yang dikembangkan oleh Edgar Allan Poe dan para cerpenis Eropa tidak menjadi satu-satunya model acuan dalam masa ini. Baik hikayat, dongeng, fabel dari tradisi lisan, Maupun hikayat yang berasal dari naskah tulisan tangan dalam huruf non Latin seperti Hikayat Si Miskin dan Hikayat Abdullah menjadi sumber karangan dalam masa ini. Selain dari tradisi lisan dan naskah tulis dalam bahasa Arab Melayu, tampak menonjol masuknya sastra dunia melalui terjemahan, yang kemungkinan besar berasal dari Bahasa Belanda, seperti Hikayat Seribu Satu Malam, cerita-cerita Persia dan India, mitos Eropa dan lain-lain.
Di satu sisi, kecenderungan mengumpulkan kolase dari berbagai sumber ini memperlihatkan pluralitas budaya yang sangat kaya. Kita lihat sebagai contoh berbagai jenis ilustrasi yang menghiasi majalah Çahabat Baik. Judul majalah Çahabat baik, yang diawali dengan huruf sansekerta “Ç”. Dalam kulit muka, huruf sansekerta Ç ini diwujudkan melalui gambar kepala tokoh wayang kulit dengan penghias kepala (kuluk) berbentuk Ç, dan leher sang kesatria sebagai ekor dari huruf Ç (dibaca menjadi s). Di sini terlihat acuan pada budaya Jawa dengan bahasa yang berbasis pada sansekerta. Pada saat yang sama, kulit muka dihiasi dengan gambar malaekat kecil di atas ombak, yang diambil dari ilustrasi buku-buku Eropa. Adapun halaman pengantar, dengan judul “Kepada Yang Membatja Boekoe Ini” dihiasi dengan ilustrasi sebuah panji yang bertuliskan huruf Cina, Arab pegon, dan Jawa. Bisa diperkirakan bahwa majalah ini ditujukan kepada khalayak Hindia Belanda yang plural.
Walaupun demikian, tidak bisa dielakkan bahwa perspektif kolonial turut mewarnai kumpulan karangan dari periode paling awal ini. Majalah Çahabat Baik, misalnya, dibuka dengan “Hikajat Maharadja Nederland” yang tidak dimuat dalam buku antologi cerpen ini karena merupakan naratif bersambung dalam beberapa edisi, isinya mengurai-kan sejarah raja-raja Belanda dalam bentuk hikayat. Selain itu, cerita-cerita dari negeri lain (India, Arab, Cina) yang dikumpulkan dalam majalah itu diperkirakan berasal dari terjemahan bahasa Belanda. Hal ini terlihat dari ilustrasi grafisnya yang berasal dari Eropa dengan penggambaran ketimuran yang bersifat eksotik dan stereotipis.
Lalu lintas budaya yang heterogen semacam ini, dan tradisi tukang cerita mengawali perkembangan cerpen di Hindia Belanda. Jika kita mengamati bentuk dan tema cerpen yang diurutkan secara kronologis, kita dapat melihat perkembang- an genre ini, dari kecenderungan mengacu pada mitos, dongeng, hikayat, dan legenda dari berbagai sumber dunia, menuju pada penceritaan yang bersifat realis tentang pengalaman hidup sehari-hari, dan pengembangan cerita humor dan detektif.
Melihat cairnya bentuk kisah dan cerita yang ada pada periode 1890-an-1900-an ini, penggolongan genre “cerita pendek” dalam buku ini juga dilakukan secara lebih longgar, mencakup semua karangan naratif yang tidak ditulis secara bersambung dalam majalah atau buku. Di sini kata naratif menggantikan kata rekaan karena sejumlah karangan yang menarik ditulis dalam bentuk jurnal, catatan perjalanan, anekdot, atau pengalaman sehari-hari. Dalam masa itu muncul juga kebiasaan untuk menceritakan “perkara yang benar-benar terjadi”–Walaupun seperti disebutkan oleh Ibnu Wahyudi dan pengamat lainnya, istilah “benar-benar terjadi” di sini perlu dibaca, bukan sebagai acuan yang bersifat jurnalistis terhadap kenyataan, melainkan sebagai konvensi umum gaya bercerita untuk meningkatkan daya tarik pembaca. Kecenderungan terakhir ini memperlihatkan orientasi perkembangan cerpen, dari dongeng dan mitos ke pengalaman sehari-hari.
Dari penerbitan kumpulan cerpen di masa Hindia Belanda dari tahun 1873–1914 ini kita dapat melihat luasnya ragam bahasa Melayu Lingua Franca yang dipakai oleh para penulis. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari kekayaan kosa kata, dialek, dan ragam bahasa yang dipakai. Yang jelas, kumpulan karangan ini, yang ditulis dari berbagai kalangan (Melayu Tionghoa, Belanda, Jawa), menunjukkan pemakaian bahasa yang beragam. Bahasa Melayu yang dipakai dalam Çahabat baik, majalah yang banyak mengambil dari sastra lama, seperti Hikayat Si Miskin, Hikayat Abdulallah, serta dongeng-donggeeg lokal Ataupun mancanegara, berbeda dengan bahasa Melayu yang dipakai oleh Toean H.F.R. Kommer, dan dari cerita-cerita karangan pengarang Melayu Tionghoa yang dimuat di majalah Penghiboer dan Bok Tok. Jadi diperlukan pendekatan lintas disiplin untuk menggali kekayaan dalam antologi ini: para ahli filologi perlu meneliti keterkaitan hikayat dan dongeng dengan yang ditulis dalam naskah-naskah berhuruf jawi atau pegon, peneliti linguistik dapat memetakan keragaman bahasa Melayu lingua franca, dan jika sumber penerjemahan bisa ditelusuri, baik cerita-cerita terjemahan Maupun adaptasi dari dunia - melalui Eropa menjadi sumber yang sangat menarik.
Kolase Sastra: Dongeng, Hikayat, Cerita Humor, Kisah Perjalanan, Cerita Detektif, dan Kisah Nyata.
Gaya penceritaan yang menonjol dalam kumpulan cerpen ini adalah cerita dongeng atau hikayat suatu tempat atau tokoh tertentu, yang di beberapa cerpen bercampur dengan pola kedua, yakni gaya bercerita didaktis untuk mengajarkan pesan moral tertentu. Didaktisme juga mewarnai beberapa cerpen yang bergaya romantis - umumnya terjemahan dari Bahasa Belanda. Cerita lucu dengan humor situasi atau permainan bahasa yang kocak mewarnai sejumlah cerita pendek lainnya dalam antologi ini. Cerita pengalaman sehari-hari yang disampaikan dengan gaya realis, kisah perjalanan, dan cerita detektif memperkaya ragam cerita pendek masa ini. Di tangan para penulis masa kolonial ini, cerita dengan beragam gaya ini menjadi sumber yang sangat menarik untuk melihat silang budaya, kelincahan berbahasa, dan perkembangan genre cerpen.
Dongeng-dongeng Eropa yang populer, seperti Androclus dan Singa, Cinderella, Dongeng Raja Midas dengan “sentuhan emas” diterjemahkan, diceritakan kembali atau diadaptasi oleh berbagai cerpen dalam masa ini. “Androclus dan Satu Singa” menampakkan kepatuhan pada dongeng aslinya, demikian juga dongeng Raja Midas, diceritakan kembali tak terlalu jauh dari versi yang beredar di Eropa. Agak berbeda dan mengalami transformasi adalah “Nona Koelit Koetjing” karya Touchstone dalam Majalah Penghiboer tahun 1914. Motif Cinderella tetap sama, tetapi sang gadis miskin mempunyai identitas lain yang lebih eksotis dari si tukang sapu abu, yakni gadis yang selalu memakai baju dari kulit kucing. Jika Cinderella lari pukul 12 malam dari pesta di istana ke rumah ibu tirinya, si Nona Koelit Kutjing lari dari istana untuk berganti baju dan kembali ke istana sebagai pembantu koki. Kita tidak dapat diyakinkan bahwa cerita ini sepenuhnya karangan asli Touchstone sebab motif Cinderella dengan berbagai variasinya juga banyak beredar di Eropah. Jadi, perkara keaslian masih merupakan tanda tanya. Akan tetapi, dalam masa ini, keaslian bukan hal yang penting, bahkan mungkin sama sekali tidak penting. Yang menjadi taruhan dalam penulisan cerpen masa ini adalah bagimana tukang cerita mengolah kembali bahan inspirasinya–baik dari tulisan Maupun lisan–secara meyakinkan. Bagi saya yang justru menarik dari karya ini adalah ideologi kelas menengah yang sangat menonjol–pentingnya ‘bobot-bebet-bibit’ di kalangan Melayu Tionghoa. Nilai “keturunan” yang digarisbawahi dalam cerpen ini membedakannya dari cerita Cinderella yang beredar di Eropah. Cerita Cinderella di Eropa berhenti pada saat sang pangeran telah menemukan cinta sejatinya, dan mengangkat si jelita miskin menjadi putri yang kaya. Akan tetapi, dalam cerita Si Nona Koelit Koetjing, sri Ratu tidak bisa menerima menantu dari kalangan tak berada, sampai si gadis bisa membuktikan dan diterima kembali oleh sang ayah, hartawan kaya raya yang pernah membuang dan menolak mengakui anak perempuannya. Cerita baru berakhir secara bahagia setelah status sebagai anak orang kaya dipastikan dan disahkan kembali. Dua nilai kalangan Melayu Tionghoa yang sangat menonjol di sini adalah pentingnya kesamaan kedudukan sosial dalam mencari jodoh, dan yang lain, nilai Patriarki–posisi anak perempuan sebagai yang subordinat dari anak laki-laki.
Selain dari Eropa, cerita mitos dan dongeng bersumber juga dari Arab dan India, yakni “Prins Rajam Panahore dan Harganya Peruntungan” serta “Malaikat Djibrail dan Dua Orang Bersaudara, Satu Dongeng dari Negeri Arab” karya Tuan H.F.R. Kommer, 1912. Dua dongeng ini juga secara kuat mengandung unsur didaktis, tetapi norma-norma yang disampaikannya agak unik. Prins Rajam Panahore siap mengorbankan apa saja demi menjadikan seorang budak idamannya menjadi istrinya, termasuk harta kekuasaan dan nyawa orang tuanya. Semua siap diberikannya, kecuali yang terakhir, yakni kesengsaraan ditusuk jarum beribu kali dalam setiap hidupnya. Cerita ini mengajarkan bahwa kekuasaan yang diwariskan oleh sang Ayah: untuk sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri ternyata mempunyai batas, yakni ketika kebebasan dan kemauan itu menyakiti diri sendiri. Yang menarik bagi saya, cerita ini menunjukkan di satu sisi keterbatasan individualisme dan kebebasan Eropa, yang semula dijanjikan dalam wasiat sang ayah:
Dari sekarang kuangkat Angkau jadi pengurus ka-hendakmu sendiri, jadi pengurus segala perbuat-anmu yang bejik. Tiada satu orang boleh alangken Angkau dalam segala perkara. Angaku sendiri mesti lepaskan nasib kau.
Namun, pada akhirnya bukan rasa sayang dan hormat pada orang tua, atau norma-norma sosial yang menghentikan kebebasan itu. Kesadaran Prins Rajam Panahore baru datang setelah permintaan-permintaan yang keterlaluan itu mengancam menyakiti badannya sendiri. Ketika badan Ibu dan Ayah harus dikorbankan, sang anak bergeming, tetapi ketika badan sendiri diminta juga, baru Prins Rajam Panahore menyadari betapa konyolnya pengorbanan demi cinta semacam itu. Norma yang juga sangat unik–tampak dalam cerita “Malaikat Djirail dan Dua Orang Bersaudara, Satu Dongeng dari Negeri Arab.” Dalam cerita ini Malaikat Djibrail menguji hati seorang Kepala Rampok, dengan cara bertamu di rumahnya. Ketika dijamu makan, Malaikat Djibrail meminta tujuh hati, dan untuk memuaskan hati tamunya, Kepala Rampok mengorbankan apa saja–bahkan dua anaknya, untuk memuaskan hati tamunya. Dalam tataran nilai yang lazim, perbuatan seorang ayah untuk membunuh anaknya demi seorang tamu yang tak dikenal, barangkali dianggap biadab, tidak masuk akal, dan tidak berperikemanusiaan. Akan tetapi, dalam tataran nilai yang dipakai dalam cerpen ini, perbuatan ini menunjukkan bahwa Meskipun “tiada berbuat ibadat, tiada sumbayang, angkau sudah berbuat segala aken bikin senang pada tetamu sehingga anakmu Sekalipun kau sudah bunuh buat senangken engkau tetamu. Angkaulah dikasi am pun dari semua dosamu, buat angkaulah dibuka pintu surga.” Jadi, nilai yang diutamakan di sini adalah penghor-matan dan pelayanan sehabis-habisnya untuk memuaskan hati orang lain. Disimpulkan oleh pencerita “dari ini dongeng boleh diambil natsehat, orang yang tiada pernah berbuat ibadat, tetapi suka trima sasamanya dengan manis, niscaya berkat dan slametlah dirinya.” Akan tetapi, nilai pengorbanan semacam ini bukan tidak lazim jika kita bandingkan dengan kisah-kisah dalam kitab suci semitik–seperti kisah Ibrahim yang siap menyembelih putranya sendiri demi perintah Allah.
Hikayat yang berkaitan dengan bumi Nusantara, tetapi sekaligus sarat bernuansa kolonial adalah “Ihajat Tanah Djawa,” anonim dari Çahabat Baik, tahun 1891. Cerita ini mengisahkan asal-usul tanah Jawa, dari sumber yang belum jelas. Menurut cerita ini, tanah Jawa–yang semula berisi ra’yat raksasa, setan dan jin,—pada akhirnya berhasil dihidupi oleh manusia berkat upaya Sultan dari negari Roem–yang menurut Pramoedya berarti Romawi Timur atau Byzantium. Dalam upaya pembudayaan tanah Jawa dari kuasa jin dan setan itu, Sultan Roem mencoba beberapa upaya. Pertama, mencari informasi dari nakhoda, dagang, dan orang asing yang pernah berlayar 40 hari lamanya mengelilingi “kabesaran Pulau Jawa dengan empat puluh gunung yang besar”. Kata empat puluh di sini menegaskan dimensi yang tak terukur. Setelah itu, baginda mengirim “ampat laksa orang” terdiri dari dua puluh perempuan dan dua puluh laki-laki, separuhnya “habis dibinasakan …raksasa, setan dan jin” dan separuhnya pulang ke negeri Rum. Baru setelah Sultan mengirim pandita untuk memakai “sastera yang amat sakti”, raksasa, setan, dan jin lari ketakutan ke lautan, kawah gunung dan lautan. Baru setelah itu, Pulau Jawa dapat dihuni dengan aman oleh empat puluh pasang manusia yang pada akhirnya “duduk di sana masing-masing pada tampatnya juwa.” Sastra di sini bisa dimaknai sebagai kesaktian bahasa yang bernuansa magis, Ataupun karya yang mengandung ilmu pengetahuan dan kebijakan. Terlihat persilangan antara sastra sebagai ilmu, seni, Ataupun kekuatan mantra atau magis. Menarik disimak di sini bahwa hikayat Pulau Jawa adalah hikayat kolonisasi–dalam arti penaklukan suatu wil- yah yang dianggap liar—oleh manusia yang datang dari luar untuk mendirikan suatu permukiman baru. Ilmu pengetahuan dan kesusastraan menjadi alat untuk membudayakan wilayah tak bertuan itu, dan informasi untuk menjadi dasar kolonisasi didapatkan dari pengetahuan pedagang, pelancong, dan nakhoda—hal-hal yang menjadi dasar pengembangan wilayah di negara tak bertuan.
Sebagian besar dongeng dan hikayat, baik yang mengisahkan peristiwa yang jauh—dari segi tempat dan waktu dan—Maupun cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari dalam antologi ini bersifat didaktis. “Alksenoff atau Satu Saudagar yang Sudah Dihukum Tiada Berbuat Salah, Satu Cerita dari Negeri Roes”, karya H.F.R. Kommer, 1912, dan “Satu Perboeatan Djahat Dibales dengan Kabaekan”, karya Juvenlie Kuo, 1914, menunjukkan Bagimana hukum bisa diputarbalikkan atau memberi keputusan yang bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang sama, cerita itu juga menjunjung moral bahwa akhirnya kebenaran juga yang menang. Keduanya menggarisbawahi pentingnya hati nurani untuk mengakui kesalahan. Kedua cerita itu mengambil latar negeri jauh, di Rusia dan di Venesia, dan tampaknya merupakan penceritaan ulang dari cerita-cerita Eropa. Dua cerita lagi, “Henri Lest atau Habis Ujan Tentu Panas Lagi”, dan “Nona Lizzij atau Saorang Prampuan Muda Alus Adat” juga karangan H.F.R. Kommer pada tahun 1912, merupakan cerita romantik tentang kehidupan rumah tangga. Yang pertama tentang kemati-an seorang anak perempuan, dan yang kedua tentang kesetia-an dan kebesaran hati seorang gadis yang disia-siakan kekasihnya. Kedua cerita ini mengolah perasaan haru dan menyanjung kebesaran hati untuk menerima kenyataan pahit dengan tabah.
“Tjerita Seorang Saudagar yang Bernama Talip”, anonim, Çahabat Baik tahun 1891, dan “Tjerita dari Satu Pohon Mangga” Penghiboer, 1914 juga merupakan cerita didaktis, yang terkait dengan sikap manusia terhadap uang atau terhadap kepemilikan barang berharga. Cerita pertama mengajarkan pentingnya kejujuran dalam berdagang, sedangkan cerita kedua menunjukkan bagimana kemurahan hati untuk membagi keberuntungan–Walaupun berisiko–pada akhirnya akan membawa kebahagiaan berlipat ganda. Beberapa cerita juga mensosialisasikan perilaku yang diidealkan bagi perempuan, seperti sosok Nona Lizzy yang pengalah, setia, dan siap berbakti pada sang kekasih Walaupun sang kekasih mengkhianatinya. Sebaliknya, sosok perempuan yang dikritik dalam “Tjerita Seorang Saudagar yang Bernama Talip” adalah istri tamak harta yang mempengaruhi suami jujur untuk menipu. Sampai akhir cerita, ketika Saudagar Talip kembali ke jalan yang benar, sang istri tetap saja bersungut-sungut karena kehilangan kesempatan menikmati kekayaan.
Dengan gaya penceritaan bernuansa humor yang jauh berbeda dengan nuansa dongeng didaktis yang serius dalam kedua cerita di atas, “Hikayat Amal-Beramal” (anonim, Bintang Johar, di Betawi 1873) menyajikan suatu “ajaran modern” tentang perdagangan yang sangat rasional dan sekuler. Cerita yang paling awal dalam sejarah cerpen Indonesia dalam antologi ini justru bernada paling radikal dibandingkan cerita-cerita lainnya. Cerita ini mengkritik penghamburan uang melalui ritual keagamaan. Diawali dengan suatu pembahasan umum tentang hakikat beragama yang benar dan yang sekadar ritual, narator mengajak pembaca mendengar suatu cerita, “yang kita orang boleh meliat sendiri, berhari-hari siasianya, baik di antara orang Islam, baik di antara orang kulit puti, yang belum disunat atau dibresikan di dalam jiwanya.”
Cerita pun bergulir dengan membandingkan dua tokoh di dua tempat yang berbeda, Baba Telosin, orang Cina di kampung Tapekong yang berjualan petasan dan lilin, dan Si Bejikir, bapa Sorban, pedagang kambing bandot dan tukang kebiri binatang yang tinggal di kampung Mesigit (Perhatikan penamaan tokoh, nama tempat tinggal dan pekerjaan yang secara stereotipikal mengacu pada dua kelompok budaya yang berbeda).
Jika sosok perempuan dalam cerita-cerita yang lain mengikuti pola gender konvensional, cerita ini menampilkan “solidaritas perempuan” lintas agama dan lintas budaya, untuk balik mengkritik para suami. Istri Baba Telosin dan istri Baba Bejikir sama-sama tertekan karena dimarahi oleh suami yang tidak mengerti mengapa isi tabungan hasil dagang mereka habis tak tahu ke mana. Oleh narator cerita, kedua istri itu dipertemukan dalam dialog, saling mengadu, saling memaki, saling menghitung pendapatan dan pengeluaran, dan akhirnya sama-sama menyadari kebodohan mereka: bahwa uang tabungan habis untuk ritual keagamaan. Yang sangat menarik dalam cerita ini adalah gaya bahasa narator dan tokohnya yang melontarkan ejekan rasial dan agama secara blak-blakan dan ringan:
Sekarang si Telosin dan si Bejikir duduk be-ngong sekalian pucat mukanya tra brenti memaki bininya cara Tjina, cara Selam, cara gunung, cara Djawa, “Lu anjing! ”Lu babi! Lu setan! Dan rupa-rupa lain. Duwa-duwa ini orang anaknya dipukul, sanaknya abis dikata-katain dan dilabrak
Perhatikan humor fisik antara nyonya Cina dan Embok Sorban yang digambarkan berikut:
Ini Nyonya Tjina kliwat panas hati berkata dan bertreak sampe Embok Sorban kaget dan lata, manggut-manggut selagi locok sirinya, mau disuwap buwat makan, tapi sini tra masuk di mulut, daeri sebab lagi lata, tumpa itu aer sini di baju licin Nyonya Tjina punya pangku.
“Astaga kurang ajar betul ini selam!” “Baju kita yang mahal; ditumpain luda siri, cis tobat!” Bagus lu itu, nanti guwa ajar sama Embok Sorban, “Kalu mau tau itu uwang ka kanan jalannya, memang orang kampong asal kerbo kurang cepet itu yang itu uwang baik lagi guwa Tjina, baek laki lu Selam, najis abis di sombayangin jadi asep.”
Gaya bercerita seperti ini mengingatkan kita pada cerita lisan Betawi yang penuh humor. Di sini kita melihat, bagaimana interaksi global-lokal terwujudkan secara efektif. Ideologi rasionalitas sekuler Barat disosialisasikan melalui tradisi cerita humor Betawi yang enteng makian dan ringan, langsung tembak ke sasaran. Di antara cerpen bernuansa hikayat di akhir abad ke-19, cerpen “Hikayat Amal Beramal” ini bak anomali. Akan tetapi, hal ini juga sekaligus menunjukkan pluralitas keragaman genre cerpen pada waktu itu, yang bersumber dari segala arah budaya.
Satu cerpen yang juga merupakan anomali di antara cerita dongeng yang didaktis adalah “Dari Kitsah Perjalanan Abdullah Pergi meliat Tentehoewi”, dari Çalhabat Baik, 1891. Berbeda dengan ragam Melayu Betawi dari “Hikayat Amal Beramal”, kisah perjalanan Abdullah memakai ragam Melayu Semenanjung yang bernuansa formal. Narator akuan disebut dengan nama Encik Doellah oleh tokoh lainnya. Untuk menyebut dirinya, narator membedakan kata ganti orang pertama “aku” dalam narasi, dan “sahaya” dalam dialog dengan orang lain. Demikian pula penggunaan kata “hatta”, “saber- mula“ dan ”maka“ yang mengacu pada tradisi tulis Melayu. Akan tetapi, seperti dalam kisah-kisah perjalanan Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, cerita perjalanan Abdullah di sini merupakan catatan yang bersifat sangat realis, mencatat tahapan perjalanan dari waktu ke waktu dengan observasi ruang, waktu, dan indrawi yang rinci dan cermat. Jurnal perjalanan ini meliputi waktu 34 jam, dari pukul lima pagi hari Sabtu ketika Abdullah berangkat dari Malaka mengikuti anak Cina untuk melihat tempat orang Tentehoewi, sarang penyamun di perbatasan negeri Singapura. Kisah diakhiri pukul 3 sore ketika Abdullah ”sampai ka Singapura serta dengan lapar dan letih-lelah badanku adanya.“
Perjalanan ini penuh ketegangan karena Abdullah memasuki daerah terlarang yang rawan, dalam hutan yang terpencil, di kalangan penjahat bangsa Cina yang menganggap dirinya orang asing. Untuk itu, Abdullah menyamar sebagai pengemis yang diajak oleh si anak Cina, teman Dullah, seorang mata-mata yang diterima di kelompok penyamun tersebut. Berikut cuplikan yang memperlihatkan gaya realis dalam kisah ini:
Maka sambil makan itu kulihat dalam rumah itu terlalu banyak senjata tersiyap di tepi dinding; maka kubilang perisai besar itu ada sepuluh buwah, dan lagi besi tiga cabang dan pedang pendek-pendek ada barang dua puluh, dan pedang yang berbatang panjang ada enam tujuh, dan senapang pon banyak tersandar, dan lagi ada kulihat terletak di atas peti enam tujuh helai seluwar orang putih berlipat, bekasnya beharu disuci oleh dobi. Maka berdebarlah hatiku sebab meliat seluwar itu; maka pada sangkaku: Tak dapat tiyada inilah barang orang putih, dicurinya. Maka sekaliyan itu kuperhatikan belaka, tetapi aku membuat bodoh diriku. Maka aku hendak minum ayar, maka kuunjuk tangan ka mulut, maka hendak diberinya ayar, tiyada aku mau, sebabsamuwanya mangkoknya itu kulihat terlalu kotor rupanya, lagipon bau arak terlalu keras. Maka berkerumunlah Tjina-Tjina itu kepadaku, ada yang meliat saputanganku, ada yang eegang janggutku, samuwanya kudiyamkan, sebab pada masa itu penuhlah aku dengan katakutan, sebab kawanku itu lagi tengah makan.
Observasi benda-benda yang dilihat, termasuk bau, dan gerak-gerik orang secara rinci, diikuti oleh pemerian emosi yang dirasakan pada saat kejadian, merupakan ciri gaya realis yang tidak terdapat dalam dongeng, mitos, hikayat lainnya pada antologi ini.
Dalam kadar yang lebih ringan, sejumlah cerita dalam antologi ini menggarap situasi keseharian, untuk efek yang berbeda, yakni menampilkan hal-hal yang konyol dan lucu. Sebagian besar di antaranya diceritakan kembali dari cerita-cerita Eropa, seperti “Di Toeloeng Saekor Andjing Satoe Tjerita dari Negeri Frans,” yang diceritakan oleh H.F.R. Kommer, 1912. “Kawanana Penipoe Jang Amat Pinter” oleh Que, 1914 merupakan kisah detektif yang juga disadur dari cerita Eropa. Satu perkecualian adalah pengalaman ditipu orang yang diceritakan oleh Que dalam “Itu Tasch jang Terisi dengan Inten” (1914). Cerita ini menarik perhatian kita pada orientasi budaya kolonial dalam masyarakat Hindia Belanda pada waktu itu. Peristiwa penukaran tas yang berisi perhiasan intan berlian dengan tas berisi sampah terjadi karena narator, yang beristri “nona Olanda tulen” terkesima oleh kenalan baru di kereta api, yang mengaku “suda bepergian di kuliling negri... ke antero Eropa, di Gunung Alpen, di Italie dan laen-laen sebaginya.” Karena kenalan baru memuji perempuan
Olanda, narator merasa “cocok” dan langsung menceritakan kehidupan pribadinya dan hadiah untuk istrinya. Dari situlah penipuan diawali, dan diakhiri dengan kebesaran hati Nyonya Olanda, yang memaafkan kebodohan suaminya.
Cerita lain yang menggarap humor dengan mengolah kelincahan berbahasa secara maksimal adalah “Aspirant Luitenant Tan Ping Tjiat dan Wak Tjoen Lee” karangan Orang Kecil (1914). Cerpen ini tidak banyak memakai alur, tetapi mengandalkan pada dialog yang jenaka, antara Wak Tjun Lee, seorang peramal nasib, dengan Aspirant Luitenant Tan Ping Tjiat yang ingin tahu nasib baiknya. Ketika Tan Ping Tjiat bertanya, misalnya, apakah badannya yang “racengan” bisa jadi gemuk, “Wak Tjoen Lee mesem sebentar dan menyaut: - Biarpun makan dua cikar batu, tiada nanti kau bisa jadi gemuk” Yang jenaka bukan hanya istilah “dua cikar batu”, melainkan juga deskripsi raut wajah, dan gerak gerik sang tukang nujum dan pasiennya, seperti dalam dialog berikut:
“Wak apa saya boleh pasang taocang⁷ lagi? Mendengar itu pertanyakan, Wak Tjoen Lee matanya jadi mencorot dan kata: Itu memang paling pantes, sebab orang badan cacing tiada buntutnya kurang ganteng dan lagi taocang bole dipake juga piranti gantung susur yang suda terpake. Seraya bicara demikian Wak Tjoen Lee angkat dada dan tangannya dengan segala upacara serta puter susurnya dari wetan ka kulan dan dari lor ka kidul. Dengan mulut terbuka siansing tan Ping Tjiat awasin puternya itu susur seperti student-student di universiteit mendenger pelajaran professor dalam ilmu puternya dunia.
Sasuda ilang kasima, siansing Tan Ping Tjiat tanyak lagi: Wak, sabenarnya saya kapingin jadi gouverneur generaal, apa itu pengharepan bisa kasampean? Wak Tjoen Lee tatkala itu angkat kepalanya seperti mau liat bintang di langit, tapi matanya cuma bisa ketemu lampu yang berlapis debu satu meter. Kamudian hujin itu kata: -Kau punya nasib tiada lebi dari pada satu tukang uber walang di alon-alon, tapi kapan kau punya hati keras, bukan saja kau bisa jadi gouverneru general, tapi jgua bisa jadi tukang puter pers weekblad Bok Tok dan itu nasib kau bole masukin dalem saku.
Simile yang nakal dan liar (cara Tan Ping Tjiat mengawasi berputarnya susur di mulut Wak Tjoen Lee dibandingkan dengan mahasiswa mengawasi profesor menerangkan berputarnya bumi), jawaban yang diplintir, dari mengejek (nasib tidak lebih dari pencari belalang di alun-alun), menyanjung (bisa jadi gubernur jendral), lalu membanting lagi (tapi juga bisa jadi pengedar majalah Bok Tok), serta keluguan Tan Ping Tjiat dalam menanggapi ejekan dukun perempuan ini menjadi sumber lelucon. Silat lidah yang cerdas, kaya dan kocak seperti ini menunjukkan potensi sastra dan kelenturan bahasa Melayu Lingua Franka yang sulit dicari padanannya dalam ragam Melayu formal.
Satu kisah orisinal lain yang mencuat dalam antologi ini adalah “Si Marinem atau Mata Gelap” karya tuan H.F.R. Kommer (1912). Ini adalah satu-satunya kisah dalam buku Warnasari II, yang merupakan karya dengan latar Hindia Belanda. Cerpen ini mengingatkan kita pada kisah-kisah cinta tragis yang diangkat menjadi karya sastra masa itu, seperti cerita terkenal Nyai Dasima (1896) karya G. Francis, atau Si Tjonat karya (1900) F.D.J. Pangemanan. Mengikuti kebiasaan yang berlaku, ada keterangan bahwa kisah diangkat dari peristiwa yang “betul-betul terjadi” di Kota Malang. Kemungkinan besar kisah ini memang terinspirasi dari peristiwa kriminal, dan menunjukkan kedekatan antara jurnalisme dan karya sastra di masa itu, apalagi mengingat sebagian penulis juga berprofesi sebagai wartawan atau menerbitkan surat kabar, seperti halnya H.F.R. Kommer.
Cerpen ini menunjukkan keseriusan dalam menggarap latar, pemerian gerak laku yang rinci dan penggunaan bahasa daerah untuk membangkitkan suasana keseharian yang realis. Cerpen ini dibuka dengan latar yang digambarkan secara filmis, dimulai dari sorotan terhadap cuaca, udara dan suasana kota Malang “suatu soreh di musim panas, kira sudah jam dua lewat seprapat” dengan langit yang digambarkan “terang cemerlang, tempo-tempo kaliatan awan puti liwat di udara di sapu angina, yang bawa hawa gunung terlampau sejuk dan nyaman, itu suruh kuliling kota Malang kliwat sepih, tiada kadengeran satu suara, saolah-olah kota itu sudah tiada penduduknya lagi.” Suasana indah, sekaligus sepi ini membangkitkan atmosfir khusus: indah, tetapi sekaligus mencekam, seolah-olah peringatan akan petaka. Dari langit, kamera narator turun pada bukit dan hamparan padi kuning, dengan petak-petak hijau “yang tergerak-gerak dilenggor angin gunung” dan diibaratkan dengan “batu jambrut diapit mas.” Kamera kemudian menyorot “Satu jalanan kecil terus ka kota Malang, sabentar-sabentar membiluk ka kiri kanan sebagai uler sedang merayap” lengkap dengan detailnya: “sana-sini debu doing, tempo-tempo berhamburan murak marik kuliling tempat diaduk angin”–suasana galau yang menyimbolkan ketegangan hati tokoh antagonis, Amat, soldadu
Compagni yang menunggu kedatangan kekasihnya Sarinem, istri Sidin, soldadu tukang terompet, keduanya anggota tangsi soldadu Djawa Compagni Tiga, Malang.
Cerpen ini menyorot satu hari sebelum terjadinya pembunuhan Sarinem dan Sidin oleh Amat, yang kecewa karena Sarinem memutuskan untuk pindah ke Atjeh bersama suaminya, menolak ajakannya untuk lari bersamanya. Klimaks peristiwa penembakan terjadi pada saat pesta tandak di tangsi untuk menghormati sersan yang pensiun dan sekaligus perpisahan bagi Sidin yang dikirim ke Atjeh. Cerpen diakhiri dengan epilog yang menceritakan hukuman yang harus dipikul Amat 2 bulan sesudahnya, dan sikapnya menghadapi keputusan tersebut. Secara menyeluruh cerpen ini yang menggarap unsur-unsur cerpen, latar, alur, dialog dengan serius menunjukkan kematangan sebuah cerpen modern. Dalam keterbatasan ruang, penokohan dalam cerpen ini bersifat stereotipikal. Yang menarik, dua tokoh utama, baik Amat Maupun Marinem, disebutkan berasal “dari bumi Priangan”. Kedua tokoh–yang namanya tidak menyiratkan nuansa Sunda ini–digambarkan berdialog dalam bahasa Indonesia, sedangkan dialog dalam bahasa Jawa rendahan (ngoko) dilakukan oleh Amat dengan penduduk lokal.
Empat cerpen yang dibahas paling akhir, “Hikayat Amal Beramal”, “Kitsah Perjalanan Abdoellah Pergi Meliat Ten-tehoewi, “Aspirant Luitenant Tan Ping Tjiat dan Wak Tjoen Lee” serta “Si Marinem atau Mata Gelap” adalah karya-karya terbaik dalam antologi ini. Kehadiran cerpen-cerpen ini menunjukkan bahwa di tahun 1873–1914 genre cerpen telah berkembang dengan kekayaan ragam, bahasa, tema, dan teknik penceritaan yang selama ini belum diapresiasi dengan seelayaknya. Cerpen pada masa ini menggambarkan dinamika masyarakat masa kolonial dengan berbagai permasalahannya, kekayaan lalu lintas budaya, dan sekaligus juga kreativitas dan gairah seni yang bergelegak. Dengan mempelajari 20 cerpen dalam antologi ini kita memperbaharui konsep-konsep kita tentang kesusastraan Indonesia. Kita menemukan bahwa konsep cerpen Eropa bukan satu-satunya acuan, bahwa tradisi tukang cerita tidak bisa disamakan dengan plagiat, bahwa cerpen Indonesia tidak hanya berawal dari Balai Pustaka, melainkan dari berbagai sumber lisan dan tulisan–termasuk terjemahan naskah tulis Nusantara. Berbagai ragam tulisan dari tradisi yang berbeda-beda itu bertemu, lebih sebagai sebuah kolase berbagai tulisan yang berlainan jenis daripada sebuah mozaik. Antologi ini menunjukkan betapa multikultural dan kompleksnya kebudayaan di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Antologi yang tidak lengkap ini seyogyanya menjadi awal pencaharian dan penggalian aspek multidimensi dalam sejarah sastra Indonesia.
Acuan
- Balai Pustaka. 1997. Balai Pustaka Menjelajah Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
- Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: Sebelas Maret University Press dan Pustaka Sinar Harapan.
- Ricklefs, M. C. 1988. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Watson, C. W. 1973. “Some Preliminary Remarks on the Antecedents of Modern Indonesian Literature”, dalam BKI, 127, hlm. 417–433.
¹ Menurut Tribuana Said, Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila, CV. Haji Masagung, 1988, hal. 17. Dalam buku Garis Besar Perkembangan Pers Indonesia terbitan Serikat Penerbit Suratkabar (tanpa nama pengarang) 8 Juni 1971, disebutkan bahwa Bianglala terbit pada tahun 1854 di Weltevreden, oleh Zending, dengan redaksi Stefanoes Sandiman dan Maas Markus Garito.
² Lihat Tribuana Said (1988) dan Claudine Salmon (1985).
³ Pramoedya Ananta Toer, Tempo Doeloe. Jakarta, Hasta Mitra, 1982.
⁴ Majalah Bok Tok yang baru muncul setelah kemerdekaan, yakni pada tanggal 15 Desember 1945 di Malang, dengan agen-agen di Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Tulungagung, Madiun, dan Solo.
⁵ Lihat Tribuana Said, 1988: 17.
⁶ Kecenderungan ini berkembang secara fenomenal di kalangan penerbit Melayu Tionghoa di tahun 1920-an dan 1930-an, dengan terbitnya berbagai cerita rekaan berseri.
⁷ Kuncir orang Cina laki-laki zaman dahulu.
Hikayat Amal-Beramal¹
Tuhan Allah paling suka berkabah di dalam hati manusia yang renda, yang berhaus akan menengar suwaranya, dan menurut prentanya, dan yang dengan sangat cari, meminta (sombayang) padanya seperti kita punya ibu dan bapa di dunia, tentu sayang itu dan bapa di dunia, tentu sayang anaknya, yang menurut prenta dan pelajarannya, bagitu juga tiada bedanya, Bapa kita, yang di dalam sorga berharap deri kita.
Manusia selamanya cari keadilan buwat angkat (sucikan) dirinya sendiri, tetapi Tuhan Allah trada bole trima bagitu rupa keadilan; apa kiranya anak kita boleh membalas piarahana, atau rawatan orang tuwa, cuma dengan pembayaran sedekah pada orang miskin saja, atau kapitrahan di mesigit, atau dengan bakar kertas seperti orang tjina, atau teh yan kapada Saikong dan Whesio (padri tjina), tentu ibu bapanya lebeh suka lihat anaknya turut prentanya, dan membri hormat padanya, dengan hidup Bagimana bapa punya kasukaan, memuji namanya di dalam kehidupannya.
Apa sebab orang banyak, bole kata ampir semuwa bikin buta tuli satu rupa adat yang kalihatan gelap pikirannya, yang dia sendiri tiada suka jikalo anaknya turut itu perbuwat-an.
Coba dengar satu cerita yang kita orang boleh meliat sendiri, berhari-hari sia-sianya, baik di antara orang Islam, baik di antara orang kulit puti, yang belun disunat atau dibresikan di dalam jiwanya.
Maka ada duwa urang; satu bernama Telosin yang tinggal di kampong Tapekong, dan yang lain bernama si Bejikir, bapa Sorban yang tinggal di kampong Mesigit.
Yang pertama berdagang petasan dan lilin, yang lain berdagang kambing bandot, dan sekalian tukang kebiri bintang. Duwa-duwa dengan rajin dan berbanting tulang, siang dan malam cari untung, sopaya boleh dapat rejeki buwat berkat waktu hari tuwa yang nanti datang, dan buwat piara dan kasi mengaji, atau takce anaknya sampe tamat. Maka saban bulan dia orang beritung habis potong ongkos makan dan pake, dia simpan uwang kontan deri untung bresinya di dalam celengan dan peti uwang; pikirannya disimpan dan dikumpul itu harta, biar jadi jumla bulet akan mendapat juga senang hati, sepanjang umur tuwanya.
Tetapi liat apa jadinya, suda liwat duwa blas bulan lamanya, dia orang harap preksa brapa jumla untung bresinya di dalam satu tahon dia suda dapat leri dia punya dagangan. Satu-satu Bagimana biasanya ada bukunya, atau rupa itungannya. Baba Telosin itung di sini pun; abang Bejikir deri geretan kapur siri di bale-bale bambu. Baba Telosin dapat jumla untung bresi, suda potong ongkos, f 1718:12 dan guru Bejikir dapat jumlah berisi f 170. Tetapi bukan patut dia orang punya heran; yang buku atau itungan menunjuk bagitu ba- nyak uwang, dan bininya disuru buka itu peti uwang atau celengan, habis bini Telosin cuma itung f 13,- dan bini Bejikir habis sekali duwitnya kosong celengannya.
Ka mana itu uwang larinya banyak-banyak yang suda dicari, itu harta siang malam diharap dan dijaga.
Sekarang si Telosin dan si Bejikir duduk bengong sekalian pucat mukanya tra brenti memaki bininya cara Tjina, cara Selam, cara gunung, cara Djawa, “Lu anjing!” “Lu babi!”, “Lu setan!” dan rupa-rupa lain-lain. Duwa-duwa ini orang anaknya dipukul, sanaknya abis dikata-katain dan dilabrak.
Ini perusuhan iblis suda habis ramenya semuwa baek baba Tjina, baek abang Selam, dan antero sanak branaknya, tinggal lemas, tinggal diam bengong, satu tida bisa omong lagi sapata, dan berpikir apa guna sekarang berkuwat lagi cari untung buwat kumpul itu harta, buwat cari lagi rejeki bagitu rupa, sedang ini hati masih kaku, masih jengkel mendongkol.
Ini duwa laki kluwar ruma, satu minum arak duduk pasang poh di meja cap jiki, yang laen gade sorbannya di penggadean pergi nonton adu ayam abis pasang rebananya, dengan mengawas orang isep madat.
Ini duwa bini duduk diam di rumah berpikir tiada habishabis ini perkara, bagimana boleh jadi musna, pata pora ini duwit banyak-banyak; perasaan tadinya beli baju, kabaya, terlalu sayang, sebab mau disimpan buwat menjaga hari tuwa.
“Tuwan am pun kenapa guwa bole jadi jodo?” berkata bininya Telosin.
“Kenapa?” Bini Bejikir bertanya, “Ai kanapa guwa seperti orang ilang otak, kaya suda gelap pikiran!” Berteriak nyonya Tjina baba Telosin.
Bukan bagitu! dasar kita suda bingung tra kruwan pikiran.“ Bini Bejikir timpa lim.
“Nyonya kenapa? Apa yang dipikirin?” “Dasar laki guwa Tjina, ya Tjina juga.” “Bukan kliwat, kita dimaki-maki, apa kita colong itu uwang banyak-banyak? Kalu sedikit pantas juga, kita blanja ruma tangga atau kasi makan; pake anak kita, tetapi ini seribu lebi 700. Bilang ribu! sama ratusan! guwa mau buwang ke mana si! ”Kita yang cape-cape bantu itung sama baba Telosin, sama-sama disimpan di peti uwang, sama-sama dikunci, dan kuncinya disembunyiin jangan kegatelan dipake, abis sekarang dimakiin.“
Ai Nyonya saut embok Sorban, “Laki saja, suda kita dimaki, dia hantam kita, anaknya dilabrak, nenek moyang kita abis-abis dikorek dere kubur. Apa kita mau kata lagi? Ya Nyonya! tra brenti disebut-sebut, ”Suda kita orang Selam ponya jodo bagitu!“ Kalo saya Nyonya! Ayo? Kita menyebut saja.
“La-Illah Mohammad Rasul Allah.” “Adu biang!” Biar kita cari setiar-setiar atau aer penawar, atau biar kita sedekain sama Tuwan Olia di kramat luwar batang.
“Abis apalagi?” “Lu obrol! saut Nyonya Tjina. ”Astaga ini Embok Sorban, itu dia yang kita kenang kutuk, segala tra urusan, yang kalo dipikir bertamba cilaka kita, yang bikin kita duraktra karuwan kapiran.“
Ini Nyonya Tjina kliwat panas hati berkata dan bertreak sampe Embok Sorban kaget dan lata, manggut-manggut selagi locok sirinya, mau disuwap buwat makan, tapi sini tra masuk di mulut, deri sebab lagi lata, tumpa itu aer sini di baju licin Nyonya Tjina punya pangku.
“Astaga kurang ajar betul ini Selam!” “Baju kita yang mahal; ditumpain luda siri, cis tobat!” Bagus la itu, nanti guwa ajar sama Embok Sorban, “Kalu mau tau itu uwang ka mana jalannya, memang orang kampong asal kerbo kurang cepet itu yang itu uwang baik laki guwa Tjina, baek laki lu Selam, najis, abis di sombayangin jadi asep.” “Coba dengar nanti saya kasi beritungan, na lebih dulu di bulan. Tjia Goe Tji-it Tahun baru Tjina soban ruma masing-masing pada bangun gelap-gelap kasi hormat sama tapekongnya, pasang lilin, pasang hio, dan baru buka pintu pasang patasan, datang barongsai kasi hormat kepadanya. Dan kalo sudah trang kira-kira pukul 5 pagi kita orang misti pegi kasi hormat tapekong di klenteng dan ongkosnya yang dia misti pake iya itu:
Ongkos sembayang di rumah
f 1
Ongkos pegi sembayang tapekong klenteng atau Kwan Im it Oet Tjo
f 16,47
Ongkos sombayang orang mati
f 40
Balik To, Tji pejet
f 50
Sembayang pah hoe poen (mati branak)
f 80
Ongkos wesio
f 1000
Kalo bagini saya dengar Nyonya Telosin punya cerita saut Embok Sorban, percuma saja orang Tjina cari untung, trada berkat itu dagang tenglang karena itu sombayang tapekong bikin habis kita punya rejeki tenaga krengit.
Apa lu kata betreak Nyonya Telosin. Nah cara Selam apa gunanya, coba Embok Sorban itung uwang lu f 170, ka mana larinya. Nanti dulu bersabda Embok Sorban pelan-pelan saya Selam bodo, nanti sabar; saya urut-urut dada, nanti juga ketemu itungan saya:
Sedeka
f 140
Bayar kaulan yang mati dikubur 40 haji
f30
Jumlah: f 170
“Ai tobat! bersorak ini kaduwa prampuwan Telosin dan Sorban kita punya lacur menumpa saudara ini igama Tjina dan Selam kita punya modal tenaga memakan ka situ. Guwa ini serain uwang guwa untung guwa sama Whesio, dan dia abisin di bakaran kertas, dan lu Embok Sorban sama haji tra ketemu jumlahnya.”
¹ Bintang Johar, No. 2, 18 Januari 1873.
Hikayat Tanah Jawa¹
Bahwa ini ceritera dahulu kala. Maka tersebutlah pada masa itu tanah Djawa lagi sunyi, belum dikadiyami orang, adalah isi nagerinya ra'yat raksasa dan setan dan jin juga. Maka tersebutlah adalah saorang sultan di negeri Roem; maka sultan itu pun menitahkan membawa orang kapada sagala pulau yang sunyi itu. Maka titah sultan kapada manterinya sabdanya, “Hai manteriku, sekarang ini di manatah ada pulau yang lagi sunyi adanya? Maka sambah mantri itu, ”Ya Tuwanku, bahwa patik ini belom periksai hai pulau itu. Maka titah Sultan Rum itu, “Pargilah angkau sigera bertanya dari-pada sagala nahkoda dan dagang dan orang asing yang dalam negeri ini. Maka sembah manteri itu, lalu kaluwarlalh iya dari dalam astana. Maka iya menyuruh memanggil sagala nakoda dan dagang dan orang asing yang dalam negeri itu. Maka iya pun datanglah dan oleh menteri itu pun diperiksai akan hal pula itu. Maka sagala nakoda dan dagang dan orang asing itu pun berkata, ”Ya manteri, bahwa kami tahu akan sabuwah pulau, Pulau Djawa namanya yang lagi sunyi dan amat besar sahingga ampat puluh hari berhajat akan berlayar kuliling pulau itu, demikiyan besar Pulau Djawa itu. Ada pun akan gunung yang besar atansya sakira-kira ampat puluh banyaknya dan lagi beberapa lain yang kecil adanya!“
Satelah itu maka manteri pun masuklah menghadap baginda, lalu sujud pada kaki baginda sambil dipersembahkannya segala kata orang itu. Maka titah baginda, “Hai Manteriku hendaklah angkau dengaan segera melangkap duwa laksa orang laki-laki dan duwa laksa orang perampuwan dengan kalangkapan yang sempurna itu. Tiyada berapa lamanya maka genaplah ampat laksa orang yang dihimpunkan manteri itu. Maka titah baginda, ”Hendaklah bawa diya ka Pulau Djawa.“ Satelah itu maka orang itu dibawanya, lalu didudukkannya di Pulau Djawa itu. Satelah duwa bulan lamanya maka orang ampat laksa itu habis dibinasakan dikenakan kedal oleh raksasa, setan dan jin, sahingga sakaliyannya mati dengan kasukaran yang terlalu amat sangat; hanya duwa puluh orang laki-laki dan duwa puluh orang parampuwan yang ditinggalkannya sahaja. Maka marika itu pun pulanglah ka nagari Roem, lalu dipersembahkannya kapada baginda, bahwa sagala orang yang lain itu sakaliyan dibinasakan oleh raksasa itu. Satelah itu maka baginda pun menyuruh memanggil sagala pandita.
Satelah marika itu berhim pun maka baginda berkata, “Hai kamu sagala pandita, apa bicara tuwan hamba sakaliyan akan hal Pulau Djawa itu; karena sasungguhnya ada raksasa di sana dan setan dan jin; dan ampat laksa orang itu habis dibinasakannya, hanya ampat puluh orang yang lagi tinggal itu.” Maka sembah sagala pandita, “Kalu-kalu baiklah pakai sastera, iya itu sastera yang amat sakti”
Maka titah Baginda, “Baiklah, Kerjakan olehmu sastera yang amat sakti.”
Maka sagala pandita itu mengerjakan sastera yang terlalu sakti, lalu, memakai diya di Pulau Djawa itu. Satelah itu maka bumi pun goncanglah dan laut itu pun beralunlah dan gunung itu pun saperti akan meruntuh rupanya akan raksasa dan setan dan jin itu, iya pun heran tercenganglah, seraya menangis daripada terlalu sangat takutnya, lalu iya pun berlari-lari; adalah yang ka guwa gunung dan adalah yang ka dalam laut, dan adalah yang ka udara itu.
Satelah didengar oleh Sultan Roem akan peri halnya itu maka iya pun bersabda, “Hai manteriku, ambil olehmu laki-laki duwa laksa orang dan parampuwan duwa laksa orang dan pindahkanlah diya ka Pulau Djawa itu!” Satelah genaplah amat laksa orang itu maka oleh menteri itu dilangkapi dengan kalangkapan yang sempurna, lalu dibawanya ka Pulau Djawa. Satelah sampai maka iya duduk di sana masing-masing pada tempatnya juwa.
¹ Cahabat Baik, No. 3, 1891.
Cerita Seorang Saudagar yang Bernama Talip¹
Alqisah maka pada zaman dahulu kala adalah saorang saudagar beras dan makanan binatang-binatang, yang bernama Talip, duduqnya di tanah Arab di negeri Bagdad.
Maka saudagar itu saorang yang lurus hati. Tentang barang-barangnya baik belaka dan juwalnya dengan harga murah; karana senanglah hatinya apabila diperolehnya untung sadikit. Oleh sabab itu kalu pada sangka orang lain taq dapat tiyada majulah perniyagaannya dan bolehlah kadang-kadang disimpannya sadikit-sadikit daripada untungnya. Akan tetapi, daripada untung yang sadikit itu, jangankan dikata menyimpan, saqedar makanan mareka itu laki-isteri dan anaq-beranaq pun tiyada cukup.
“Beruntunglah kita, karana duwa orang sahaja anaq kita; kalu bertambah saorang lagi, taq dapat tiyada kita kakurangan.” kata isterinya kadang-kadang.
Yang sabetulnya apabila kabar juga marika itu dalam hal yang demikiyan itu, taq dapat tiada mereka itu medlarat.
Acapkali isterinya berkata kapada suwaminya, katanya, “Hai Kakanda, lihatlah banyaqnya uwang Simbad, yang tidak bagitu lama dan payah bekerja saperti Kakanda. Waqtu hari lahirnya, maka diberikannyalah kapada isterinya sabuwah makota, yang bertatahkan retna mutu maqnikam, yang beribu-ribu rupiyah harganya. Bagitulah rupanya orang yang baharu berniyaga; sudah pula dihiyasinya rumahnya dan digajinya tiga orang anaq samang, yang akan menghirukan pekerjaan isterinya. Maka oleh sabab itu istrinya tiyada lagi susah akan bertanaq menggoreng dan membersihkan rumah marika itu, melainkan duduq di rumah sahajalah bersenangkan diri.”
Demikiyanlah pekerti isterinya itu, salamanya diambilnya tuladan daripada saudagar-saudagar yang lain, yang memeliharakan isterinya dengan sentausa, karana tiyada kakurangan apa-apa adanya.
Maka Talip menjawab dengan perkataan yang lemah lembut, katanya, “Maski pun banyaq uwangnya, kita tidaq turut bahagi; pediyarlah dikaluwarkannya saberapa banyaq sukanya. Barangkali marika itu mangatahuwi suwatu aqal yang saya tidaq tahu, atau yang saya tidaq mahu kerjakan, melainkan hendaqlah kita jaga jangan lebih banyaq kita kaluwarkan daripada yang kita peroleh, kalu demikiyan taq dapat tiyada kita kaya dan hidup dengan santausa.”
“Hentikanlah perkataan yang siya-siya itu”, kata isterinya, yang bernama Zaila, dengan marahnya, “Itu sudah tentu, marika itu mengerti akan hal perniyagaan, akan tetapi angkau tiyada; karana angkau terlalu suka mengusahakan dirimu, tentang untung yang amat sadikit. Marika itu tidaq mahu sarupa itu, melainkan dicaharinya daya upaya, supaya memperoleh untung banyaq; atau yang sabetulnya kapintaran mereka itu tidaq saperti kapintaranmu, karana karung yang seratus pond beratnya kapada mareka itu hanya 96 atau 97 dan lagi mareka itu tidaq takut mencampur rupa-rupa padi. Oleh sabab itu diperoleh marika itu lebih banyaq untungnya dan bertambah ramai dan banyaq dagangannya, karana dijuwalnya lebih murah. Oleh sabab yang demikiyan itulah, maka lebih bagus pekayan isteri mareka itu daripada pekayan isterimu.“
Adapun tentang sagala pekerti saudagar-saudagar yang lain itu semuwanya dikatahuwi Talip. Akan tetapi iya tiyada mahu mengerjakan yang demikiyan itu, karana iya saorang lurus; oleh karana itu, maka digoyang-goyangnyalah kapalanya, satelah didengarnya akan perkataan isterinya, lalu dipandangnya dirinya dengan dukacitanya.
Sebab digoyangnya kapalanya, karana iya saorang-orang yang lemah lembut, yang tiyada mahu menjawab perkataan isterinya dengan perkataan yang kasar. Maka tumbuhlah dalam fikirannya, bahwa isterinya tidaq kiranya merasa beruntung, maski pun sudah ada anaq mareka itu duwa orang yang sangat dikasihi.
“Dengarlah dahulu”, kata suwaminya kapada isterinya pada suwatu hari, “Kalu saya yang mengaku makanan kuda raja kita itu, taq dapat tiyada kita beruntung. Saya aku saya jadi mashur, karana saya simpan padi dan makan makanan binatang-binatang yang amat eloq, dan lagi karana saya saorang saudagar yang lurus. Tetapi apa boleh buwat, karana raja kita tidaq tahu, kalu dikatahuwinya hal saja ini, taq dapat tiyada saya menjuwal padi dan dedaq berkarung-karung: oleh sabab itu maka kuperolehlah untung banyaq-banyaq, sa- hingga tiyap-tiyap tahun bolehlah saya menyimpan beberapa rupiyah; maka tidaq lagi saya pergi berniyaga ka mana-mana.“
Maka isteri Talip termenung memikirkan jawab suwaminya, karana kenalah pada hatinya yang dikatakan suwaminya itu; karana itu maka dicaharinyalah daya upaya akan memberi tahu raja, bahwa suwaminya menjuwal padi dan dedaq yang paling dan murah harganya.
Satelah beberapa malam lamanya iya yang berfikir itu, maka tumbuhlah dalam hatinya saperti yang tersebut di bawah ini.
Ada pun raja acap kali naiq kuda pagi-pagi bersama-sama dengan hulubalangnya akan mengambil angin ka tanah lapang atau ka pantai sungai, yang dihiyasi oleh rupa-rupa bunga-bungaan. Dengan tidaq satahu suwaminya, maka diambil Zaila sakarung padi, yang amat eloq dan pergi ka pintu gerbang astana raja itu, dari mana raja lalu mengendarai kudanya. Satelah nampaq kapada Zaila, bahuwa raja kaluwar bersama-sama dengan hulubalangnya, maka karung tempat padi itu dipegangnya dengan sabelah tangannya dan tangan-nya yang lain akan mengaluwarkan isinya, supaya berjatuhan saperti hujan mutiyara.
Maka kuda raja yang pilihan lantas berhenti, satelah iya mencium bau padi; maka diunjurkannya kapalanya dan memakan padi itu dari dalam karung.
Maka pekerjaan kuda itu lekas sakali, sahingga tidaq bisa ditahan tuwannya dan lagi raja itu terlalu kasih akan kudanya, karana itu tidaq dilarangnya memakan padi itu.
“Tentu padimu eloq sakali”, kata raja kepada isteri Talip, “Sabab kuda saya yang tiyada pernah kakurangan, berhenti memakan padimu itu.”
“Am pun beribu kali am pun tuwangku padi yang tiyada bercampur, itulah yang teramat eloq; maka Talip, suwami hamba, tiyada menjuwal yang lain rupa dari ini.”
Satelah terdengar kapada raja akan jawab perampuwan itu, maka iya pun bersabda, “Di mana tinggal Talip itu?”
Maka perempuan itu pun mengunjuqkan tempat tinggalnya kapada raja itu.
Satelah itu maka raja pun terus berkuda dengan perjanjiyan akan mengingat perkataan parempuwan itu.
Akan tetapi telah beberapa hari lamanya sudah lalu, belum juga nampaq suruhan raja.
Maka pada suwatu hari pergi pulalah paranpuwan itu membawa sakarung padi ka pintu gerbang astana raja itu.
Apabila raja kaluwar, maka kudanya pun meringislah, sabab amat riyang hatinya sabelum iya sampai kakarung padi itu. Maka raja pun memandang ka kiri dan ka kanan akan meliat, apa sababnya maka kudanya beriyang hati; tiba-tiba maka tampaqlah kapadanya isteri saudagar itu.
Maka raja pun berkata kapadanya, “Tentu padimu ini sama bagus pula dengan padimu yang dahulu itu, maka kudaku ini berhenti pula memakannya, nantilah boleh kusuruh tukang pariksa kapadamu.”
Maka Zaila pun pulanglah ka rumahnya dengan suka citanya, lalu diceritakannyalah kapada suwaminya, Bagimana diperbuwatnya, supaya raja ingin akan barang marika itu.
Maka Talip tercengang mendengar bijaqsana isterinya, lalu dipeloqnya dan diciumnya akan diya.
Kira-kira pukul tiga sore-sore betullah datang suruhan raja serta dimintanya akan meliat padi dan dedaq mareka itu. Sedang suruhan itu meliat padi dan dedaq itu, maka Talip pun berkata: demikiyan inilah semuanya yang ada padaku; maka diberi lihatnyalah sagala karung padi dan dedaq kepada suruhan raja itu.
Kamudiyan maka suruhan itu pun bertanyalah harga padi dan dedaq itu.
Satelah dikatakan Talip harga padi dan dedaq itu, maka suruhan itu pun tercenganglah, karana padi saudagar yang lain, yang kurang dari situ eloqnya, sama juga harganya. “Baiklah”, kata suruhan itu, “Kirimlah 20 karung padi dan 10 karung dedaq ke kandang kuda raja dan harganya nanti kubayar dengan segera.”
Satelah suruhan itu pulang, maka isteri Talip pun berkata dalam hatinya, “Untung besarlah kapada kami sakali ini, karana padi yang eloq boleh dapat banyaq-banyaq dari orang huma dengan harga murah.” Maka fikirannya itu dikatakan-nya kapada suwaminya.
Adapun suwaminya tiadalah mau berkata-kata tentang hal itu, katanya iya saorang yang cerdiq, sabab iya takut kadengaran kapada orang lain.
Ada pun yang biyasa, kalu suruhan raja membeli padi kapada saudagar yang lain, dikurangi juga beberapa persen harga pada itu, sabab salamanya tunai dibayarnya, tetapi pada waqtu itu suruhan raja itu tiyadalah bicara dari kurangnya. Oleh karena itu maka Talip pun berkata kapada isterinya, “Hairan sakali, sakali ini, karana suruhan raja tidaq min-ta kurangnya, maski pun tunai dibayarnya nanti kapada kita.”
Maka isterinya pun menjawab, “Itulah rupanya kabodohanmu, sakarang orang tidaq minta kurangnya diingat-ingat juga, apa gunanya itu kalu tidaq orang minta, tentu untung kitalah itu.”
Maka suruhan raja mengatakan juga, bahuwa rumput kering dan jirami itu eloq pula, maka oleh sabab itu dimintanya pula beberapa padati banyaqnya.
Adapun Talip bukan lagi terkatakan riyang hatinya, satelah iya jadi tukang aku makanan kuda raja itu.
Taq dapat tiyada lagi pada sangkanya orang patut, patut pun sukalah kaluwar masuq rumahnya; kalu demikiyan tentu boleh dikatakan iya saorang yang beruntung.
“Sakarang nampaqlah kapadamu,” katanya kapada isterinya, “Bahuwa baik sakali tidaq saya turut pekerti saudagar yang lain itu, tetapi tinggal lurus salama-lamanya.”
“Betul,” kata Zaili; akan tetapi kalurusanmu itu tiyada memberi faidah kapadamu, kalu tidaq saya tolong kapadamu, akan memberi tahu raja.“
Maka Talip tiyadalah melawan perkataan isterinya lagi, karana kenalah pada hatinya yang dikatakan isterinya itu adanya.
Adapun satelah salasai daripada penjuwalan yang pertama kapada raja itu, maka dijunjungkanlah kapada isterinya sabuwah duku emas.
Maka tiyap-tiyap minggu suruhan raja pun datang meminta barang-barang kapada mereka itu.
Arkiyan maka perniyagaan Talip itu pun majulah, sahingga iya pun membeli padilah banyaq-banyaq kapada orang huma akan dijuwalnya.
Tiyada berapa lama maka diizinkannyalah isterinya mengambil babu saorang, dan belum sampai sabulan sudah itu, maka diunjuqkannya pulalah kapada isterinya sasuwatu yang besar harganya. Maka oleh karana itu membagaqlah isterinya.
Ada pun kasukaan isterinya itu, ya itu berpakaiyan yang rancaq-rancaq, supaya diparagakannya kapada isteri saudagar-saudagar yang lain. Akan tetapi maski pun bagitu belum senang hatinya, melainkan dicaharinya daya upaya, supaya untung mereka itu minkin lama minkin bertambah maju.
Ada pun barang-barang Talip itu, satelah sampai di astana raja, maka mula-mulanya ditimbang benar-benar; akan tetapi satelah beberapa minggu sudah lalu, maka hal itu ditinggalkan karana menghilangkan waqtu sahaja. “Kalu barang-barang Talip taq usah ditakuti kurang, salamanya cukup.” demikiyanlah kata orang samuwanya dalam negeri itu, “Karana iya saorang yang lurus, salamanya ditimbangnya dengan sabetulnya.”
Maka hal itu kadengaranlah kapada Zaila, jadi tumbuh-lah fikiran yang kurang baik dalam hatinya, “Sakarang waqtunyalah diperoleh untung banyaq dengan tidaq paya mencaharinya.”
Maka dicaharinyalah daya upaya kapada suwaminya, supaya diturutnya akan mengurangi berat barang-barang yang diserahkan, karana apabila dikurangi sadikit dalam hal sebanyaq itu, tentulah tidak nampaq.
Pada awalnya tiyadalah diturut Talip kahendaq isterinya, akan tetapi karana diulang-ulangi isterinya juga, akhirnya dikurangi juga sadikit dalam sakarung.
Maka hal itu tiyadalah lantas katahuwan kapada orang lain; maka oleh sabab itu makin jahatlah Talip, dikuranginya- lah barang-barang yang akan diserahkannya itu, makin lama makin banyaq. Dan lagi yang dipesan suruhan raja itu makin lama, makin banyaq pula, sahingga menjadi 30 karung padi dan 50 karung dedaq; karana itu maka diperolehnya untung banyaq-banyaq. Maka sajaq dari waqtu itulah kapercayaan raja kapadanya dirusaqkanya.
Maka pada sangka Talip dan Zaila tiyada sakali-kali orang tahu dalam astana tipu mareka itu.
Syahdan pada suwatu hari datanglah suruhan raja sendiri akan meminta barang itu dan dikatakannya, bahuwa sakarang padi makanan kuda itu lebih lekas habis daripada dahulunya.
“Barangkali sabab terlalu banyaq-banyaq sakali memberikan,” kata Zaila yang tiyada pernah kurang jawab kapadanya selama-lamanya.
“Bukan karana itu,” kata suruhan raja.
Sahingga itulah perhabaran marika itu tentang itu.
Maka kehendaq Zaila, sagala apa yang eloq yang dikatakan suwaminya, jangan diturut, melainkan selalu dilalukan juga tipu mereka itu.
“Tiyadakah angkau mengarti,” kata Zaila kapada laki-nya, “Apabila angkau berikan kembali yang sabetulnya, tentulah nampaq kasalahanmu; tetapi apabila tidaq, tentu orang tidaq tahu.” Satelah itu nampaqlah kapada Talip, bahuwa raja tiyada lagi membayar harga barang-barangnya tiyaptiyap minggu; tetapi tiyada beraturan lagi. Tetapi kalu kapada orang huma, tempatnya membeli barang-barang itu; wajib pada waqtu yang ditentukan dibayar Talip. Maka waqtunya membayar kapada orang huma itu hampirlah tiba dan yang akan dibayarnya itu sudahlah banyaq; maka akan pembayar-nya itu adalah terpihutang samuwanya kapada raja.
Maka Talip tiyadalah bersusah hati, sabab ada yang diharapnya akan pembayar hutangnya itu. Pihutangnya dan hutanya itu, kalu dipereksa benar-benar tiyadalah berapa lagi bersalisih.
Pada suwatu kutika maka iya pun dipanggil oleh raja. Satelah iya sampai ka hadapan raja maka raja pun bersabda dengan muka manis., “Talip! Sakarang sudahlah banyaq hutangku kapadamu; tentu salah sayalah itu, apabila tidaq kubayar dengan sabenarnya dan saadilnya kapadamu, yaitu sa-rupa dengan angkau memberikan barangmu kapadaku.
Di sini ada tiga buwah kadut yang sama besar. Sabab terlampau lama nanti, apabila dibilang pula, timbang sajalah lebih baik, karana angkau tahu juga berat mata uwang, percayalah kapada saya, bahuwa uwang di dalamnya.
Maka Talip, sabab iya terlalu percaya kapada raja, de-ngan tidaq dipareksanya lagi, salalu diambilnya sahajalah kadut yang tiga buwa itu, lalu didukungnya dibawanya ber-jalan, sahabis bermuhun pulang ka hadapan raja.
Satalah iya sampai ka rumah maka diletakkannya katiga kadut itu ka dalam lamari.
Pada kaesokan harinya, maka datanglah orang huma ka-pada Talip akan meminta harga padinya masing-masing yang telah diambil oleh Talip.
Maka Zaila pun menerima marika itu dengan suka hati serta diajaqnya minum kopi.
Di antara itu maka dibayar Taliplah hutangnya kapada saorang-orang huma itu, iya itu kadut itulah sabuwah di-unjuqkannya.
Maka orang huma yang menerima kadut itu adalah ku-rang percayanya kapada Talip, oleh sabab itu maka dibuka-nyalah kadut itu. Maka satelah nampaq kapadanya, uang lan-cungan kiranya yang di dalam kadut itu, maka bersoraqlah iya, katanya, “Apakah yang angkau hendaq berikan kapada-ku; angkau oloq-oloqankah akan daku, karana ini samuwa-nya uwan timah.”
Maka Talip pun terkejutlah mendengar perkataan orang huma itu, dan Zaila jatuh pangsan, karana putuslah harapnya pada waqtu itu akan berpakai pekayan yang kaemasan.
Kamudiyah maka dibuka pulalah kadut yang kaduwa dan adalah isinya timah juga seperti isi kadut yang katiga.
Maka saudagar Talip pun menyintaq-nyintaqkan rambutnya pula, sabab putus pulalah harapnya. Maka sagala orang huma itu, yang menyangka marika itu ditipu Talip, menagih pihutangnya masing-masing dengan keras. Maka khabar itu pun tersiyarlah sakuliling negeri dalam sabentar itu juga; oleh sabab itu, sagala orang yang ada pihutangnya kapada Talip, datang pulalah marika itu ka rumah Talip, masing-masing menagih pihutangnya. Maka pada waqtu itu saorang pun tidaq ada lagi dalam negeri itu, yang menaruh hiba kasihan kapada Talip, akan meminjaminya uwang, dan saorang pun tidaq ada pula yang mahu bertangguh pihutangnya. Oleh sebab itu maka terpaksalah iya menjual rumahnya, perkakas rumahnya dan sagala dagangannya.
Kasudahannya maka medlaratlah marika itu lebih lagi dari dahulunya dan bersusah hati benar-benarlah iya sabab anaknya sudah banyaq bertambah besar; kamudiyah sabab sudah biyasa marika itu senang dan berpekaiyan yang eloq; hampir tiyada tertahan marika itu lagi hal kasukaran itu.
Akan tetapi beruntung lagi Zaila karana ada lagi disimpannya dalam petinya permata-permata dan barang-barang yang besar-besar harganya.
Satelah marika itu agaq senang sadikit, maka kata Talip, “Saya kira saya sudah gila, sabab sampai begitu susah daya; karana kadut yang tiga buwah itulah, maka kita sampai susah saperti ini; saya kira barangkali raja ada salah sadikit atau diya hendaq mempermain-mainkan kita, nantilah aku pergi kapadanya, tentu nanti dibayarnya kapada saya, uwang saya yang ada lagi tertinggal kapadanya.“
Akan tetapi satelah iya sampai di hadapan raja, maka raja pun berkatalah kapadanya dengan marahnya, “Apalagi kamu mahu! Kamu hendaq mendawa dirimu sendiri?
Sudah beberapa bulan lamanya kamu mencuri harta yang laiq kapadaku, karana kamu kurangi berat barang-barang yang kamu berikan kapadaku daripada sadiyakala; maka oleh sabab itulah maka kubayar kapadamu dengan uwang lancungan; jadi sakarang tidaq ada lagi kita yang berhutang-pihutang.“
Maka Talip pun gemetarlah sagala sendi tulangnya, lalu menyembah dengan lututnya ka tanah.
“Ingatlah”, kata raja lagi, “Bahwa tidaq kulakukan kapadamu sapanjang yang wajib; sabetulnya kamu wajib dibunuh, sabab sudah merusaqkan kapercayaan; akan tetapi, sakali ini kuampuni dosamu karana tiga perkara, pertama kalu tidaq demikiyan tiada angkau menyesal kumudiyan hari, yang akan mengubahkan kalakuwanmu itu, kaduwa karana kamu salamanaya saorang saudagar yang lurus akan te-tapi sabab ada yang membjuq kamu, yaitu anaq rumahmu, yang memindahkan kamu dari jalan kelurusan kapada jalan yang bengkoq, katiga sabab ada lagi anaqmu duwa orang yang masih muda-muda lagi, yang belum kuwasa akan men-cahari makanannya sendiri. Nyahlah dari sini dan ubahlah kalakuwanmu. Saboleh-bolehnya, kombali saperti yang dahulu, saorang saudagar yang lurus.”
Dengan sesal dan kasusahan yang tiyada terkira-kira lagi sangatnya, kombalilah iya kapada isterinya dan anaq-anaqnya, lalu masuq ka dalam sabuwah rumah yang kecil; karana kasitulah marika itu berpindah, satelah diusir yang membeli rumah marika itu akan marika itu.
“Sakarang hendaqlah kita berangkat dari sini ka tempat yang lain.” katanya kapada isterinya, “Di sana bolehlah kita cahari kahidupan kita lebih murah daripada di sini.”
Maka berangkatlah marika itu dari negeri Bagdad itu ka nagri yang lain, yang tempatnya di tepi Sungai Euphrat.
“Apalah jadinya kita ini,” kata Zaila dengan susah hatinya?
“Kita bekerja,” sahut suwaminya, “Akan pembalas salah kita itu dan akan mencahari makanan anaq-anaq kita ini.”
“Ka manalah kita sampainya sarupa ini dengan tiyada mempunyai suwatu juwa pun,” kata Zaila hiba hatinya?
“Apalah gunanya kau tanyakan lagi yang demikiyan itu, kalu kita masih mampu, tentu kita tidaq berpindah dari negeri Bagdad; dari tidaq adalah kapada kita maka kita medlarat sarupa ini. Itu pun janganlah kau sangkakan saperti waqtu kita di negeri sendiri, ada yang menjaga rumah, bermasaq, membasuh kain, membaiki pekayan, bukan begitu, sakarang apa yang kau boleh kerjakan, taq dapat tiyada kau kerjakan-lah, Tuhan Allah nanti akan menolong kita.” kata suwaminya.
Ada pun Talip, sabab iya saorang yang lunaq hati, tiyadalah iya mahu mencirca isterinya, maski pun isterinya yang menjadikan marika itu medlarat.
Tetekala marika itu berkata-kata demikiyan, maka tampaqlah kapadanya, bahuwa isterinya ada kiranya membungkus sabuwah kotaq-kotaq dengan sahelai syal serta disisipkannya di bawah katiyaqnya..
“Apa itu”, kata suwaminya?
Maka Zaila pun berubahlah warna mukanya, lalu menyahut, “Itulah permata-permata yang katinggalan pada kita.”
“Tiyadakah kiranya terjuwal samuwanya bersama-sama dengan barang-barang yang lain,” kata Talip dengan riyang hatinya. “Sakarang patutlah kita minta terima kasih pula kepada Tuhan Syarwa sakaliyan alam, sabab masih ada lagi pembeli beras kapada kita ditinggalkannya,” katanya lagi sambil iya mengambil kotaq-kotaq itu dari tangan isterinya.
“Buwat apakah ini kapadamu lagi, kau fikirkan jugakah berpekayan yang sarupa itu dalam hal kamiskinan kita ini? Kajuwalkanlah ini dengen segira, supaya harganya itu kita jadikan pokoq akan perniyagaan yang baharu.” katanya pula kapada isterinya. Kamudiyah maka dikerjakannyalah seperti yang dikatakannya dan dimulainya pulalah berniyaga.
Sajaq daripada itu maka tiyadalah diacukannya lagi akan permintaan isterinya dan bersumpahlah iya, sakali-kali tiyada lagi mendengar pengajaran dan nasihat isterinya. Di situlah nampaq kapadanya, bahuwa perampuwan itu, sakali-kali tiyada mengira-ngira yang akan datang.
Arkiyan maka hiduplah marika itu dalam negeri itu dengan sampornanya dan di ajarnyalah anaq-anaqnya meng-usahakan diri dan bekerja rajin. Hanyalah Zaila sahaja yang berdukacita, sabab sudah lenyap sagala barangnya yang besar-besar harga itu; dan malulah iya, karana kamiskinan marika itu; dan malulah iya; karana kamiskinan marika itu; oleh sabab itu maka tinggallah iya salamanya berhati rewan dan disumpahinya akan hal hidupnya itu.
¹ Çahabat Baik, No. 3, 1891.
Dari Kisah Perjalanan Abdullah Pergi Melihat Tentehuwi¹
Sabermula, maka kadengaranlah panas-panas kabar orang Tentehoewi itu kunon hendak melanggar negari Singapoera itu; maka penyamun pon terlalulah banyak, di sana sini ada yang masuk menyamun siyang-siyang. Maka kuperiksailah kapada anak cina, sahabatku itu, maka katanya: iya sungguh; ada juga kahendak marika itu hendak membuwat demikiyan, te-tapi tiyada sampai hikmatnya.
Maka dalam hal demikiyan adalah sudah marika itu ber-kirim surat ka Malaka kapada saudara-saudara yang di sana, dan ka pulau Pinang, akan mencehari ikhtiyar pekerjaan itu, tapi jangan encik berkhabar-khabar kapada saorang pon ini khabar, karena sehaya sudah bersumpah. Lagipon jikalu da-pat khabar itu kapada kapala sehaya, tentulah sehaya, dibunuhnya. Maka aku pun bersumpahlah akan menyimpan rahasiya itu…. Maka kataku akan diya: Bolehkah, baba, sehaya hendak pergi meliat tempatnya itu? Maka tertawalah iya, katanya: Apa guna Entjik Doelah pergi bagitu jauh; tiyada- kah takut mati? Maka jawabku: Sehaya mau liat sehaja; apakah takut? Kalu baba mati, sehaya pon matilah. Lalu katanya: Baiklah, kalu bagitu, nanti lagi tiga hari sehaya mau pergi……
Satelah itu, maka pada lusanya, pagi-pagi, hari Sabtu pukul lima pagi, datanglah iya memangil aku, katanya: Ada sehaya bawa roti dan gula pasir dan pisang; boleh encik makan. Maka tawakkullah aku kapada Allah, lalu berjalanlah aku pergi, dengan memakai seluwar buruk koyak-koyak dan satu selimut buruk, dan sapu tangan koyak-koyak aku ikat kapala. Maka aku bawa duwit satu rupiyah, dan sabilah pisau kecil, dan sabatang pensil dan sakeping kartas, lalu berjalanlah kami berenam orang, lima orang Cina dan aku saorang.
Adapon berjalan itu, tiyada menurut bekas jalan yang dijalani orang, melainkan pintas memintas, naik batang turun batang, simpang siyur dalam paya dan ayar. Maka aku bertanya kepada kawanku itu: Apa sebab jalan ini demikiyan? Tiyadakah boleh dibaiki? Bukan boleh senang pergi datang? Maka iya tertawa, katanya: Kalu jalan baik, bukankah semuwanya orang nanti berjalan? Maka mata-mata dan supai dan orang putih pon boleh berjalan. Maka kalu ada orang jahat, bukankah boleh lekas ditangkapnya?
Maka apabila aku menengar perkataannya, maka berpikirlah aku: Bahwa betullah ini akal pencuri; patutlah mata-mata pon takut pargi ka tempat itu. Adapon sapanjang jalan itu bertemulah orang-orang Tjina itu ada yang pergi, ada yang datang, tapi kulihat samuwanya itu kenal iya anak Tjina, kawanku itu.
Maka kataku: Bagimana baba boleh kenal sama orang-orang ini samuwanya? Maka iya tertawa, Entjik Doelah tidakkah tahu? Sehayalah menjadi mata-mata dalam pekerjaan itu.
Maka serta kudengar perkataannya ini, maka berdebarlah hatiku, sebab takut, barangkali iya-ini hendak menipu akukah? Iya hendak masukkan ka dalam mufakat inikah? Tetapi sakaliyan pikiran itu dalam hati sehaja. Maka oleh aku hendak mengetahui akan rahasiya itu, maka sambil aku berjalan itu aku bertanya kapadanya: Adakah bangsa lain pon boleh masuk dalam muafakat itu? Maka jawabnya: Mana boleh, karena takut, diya-orang nanti pecahkan khabar itu; dan lagi kalu orang Melayu, atau orang Islam masuk, diya-orang tidak percaya datuk, dan tidak boleh minum arak, dan tiyada makan darah. Mana boleh!
Maka apabila kudengar perkataannya itu demikiyan, tetaplah pikiranku. Kemudiyan pula kata anak Tjina itu kepadaku: Entjik Doelah, sakarang buwat bodoh sehaja; jangan berkata-kata, diyam-diyam sehaja nanti kalu sudah dekat. Sakarang ambil bungkusan ini, pegang bersama-sama payung ini, supaya boleh sehaya kata: Ini orang Melayu meskin, hendak datang minta sedekah, sehaya buwat kawan berjalan. Itu sudah lepas tengah hari, maka belom juga sampai, maka perutku pon sudahlah lapar rasanya, maka kataku: Baba, perut sehaya sudah lapar, marilah kita makan roti. Maka jawabnya: Ini sudah dekat kebon Tjina, ini boleh kita singgah.
Maka kemudiyan berjalan-jalan sampailah di kebon ladang gambir, orangnya menggeremut kalihatan.. Satelah didengarnya bunyi orang itu, maka datanglah anjing, ada barang sapuluh eikur, meluru sehaja hendak menggigit. Kemudiyan anak Tjina itu bertareyak nama tuwannya, maka datanglah iya. Satelah bertemu, maka diajaknya masuk duduk. Maka orang-orangnya itu pun datanglah berkerumun meliat aku, sambil marika itu bertanya cara Tjina: Orang mana ini? Maka dikatakan oleh anak Tjina itu: Ini orang dagang, beharu datang, hendak meminta-minta sedekah, guwa buwat kawan berjalan. Kemudiyan diberilah oleh marika itu henti- mun dan ubi sudah berbakar. Maka makanlah aku di bawah pohon cempedak; maka anak Tjina itu pon pergilah makan bersama-sama dengan orang Tjina itu. Maka sambil aku makan itu kulihat dalam rumah itu terlalu banyak senjata tersiyap di tepi dinding; maka kubilang perisai besar itu ada sepuluh buwah, dan lagi besi tiga cabang dan pedang pendek-pendek ada barang duwa puluh, dan pedang yang berbatang panjang ada enam tujuh, dan senapang pon banyak tersandar, dan lagi ada kulihat terletak di atas peti enam tujuh helai seluwar orang putih berlipat, bekasnya beharu disuci olih dobi. Maka berdebarlah hatiku sebab meliat seluwar itu; maka pada sangkaku: Tak dapat tiyada inilah barang orang putih, dicurinya. Maka sakaliyan itu kuperhatikan belaka, tetapi aku membuwat bodoh diriku. Maka aku hendak minum ayar, maka kuunjuk tangan ka mulut, maka hendak diberinya ayar, tiyada aku mau, sebab samuwanya mangkoknya itu kulihat terlalu kotor rupanya, lagipon bau arak terlalu keras. Maka berkerumunlah Tjina-Tjina itu kepadaku, ada yang meliat saputanganku, ada yang memegang janggutku, samuwanya kudiyamkan, sebab pada masa itu penuhlah aku dengan katutan, sebab kawanku itu lagi tengah makan.
————000————-
Hata, maka sabentar lagi iyapon sudahlah makan, kemudiyan berjalanlah kami. Maka adalah kira-kira pukul empat petang, maka beharulah sampai ka tempat-tempatnya itu. Maka adalah kulihat bangsal besar ada tiga buwah, maka adalah satu-satu bangsal itu panjangnya kira-kira tiga puluh depa; maka orang dalam bangsal-bangsal itu menggeremut saperti hulat. Maka satelah dekat, lalu kata anak Tjina, ka- wanku itu: Entjik Doelah, duduk diyam-diyam sehaja, buwat bodoh. Maka sabentar lagi datanglah anjingnya, ada barang duwa puluh eikur, mengejar. Maka katakutanlah aku meliat bagitu banyak anjing. Maka ditareyak oleh anak Tjina itu akan orang dalam bangsal itu, maka kaluwarlah iya memanggil anjingnya. Maka adalah di pintu-pintu bangsal itu diperbuwatnya parit besar-besar, ada tiga depa lebarnya, dan diperbuwatnya titiyan. Maka apabila marika-itu sudah menyaberang, ditariknya titiyan itu, maka orang lain tiyada boleh menyaberang lagi. Maka apabila marika-itu meliat anak Tjina itu datang, maka datanglah tiga orang membawakan titiyan itu, lalu dinaikkannya pada parit itu, maka lalulah kami. Satelah sampai ka saberang itu, ada pula diperbuwatnya duwa tiga pelobang, ada dibubuhnya tanda. Maka datanglah orangnya membawa jalan ka dalam; maka jikalu orang yang tiyada tahu jalan, niscaya terperosoklah ka dalam lobang itu. Bermula, adapon dalamnya lobang itu adalah tiga depa, maka dari atasnya dibubuhnya ranting-ranting, halus kemudiyan dibubuhnya daun pisang kering-kering, satelah itu ditaburnya tanah sarupa dengan tanah asal itu. Maka apabila aku sampai ka dalam, maka kujengoklah ka dalam bangsal itu, adalah beratus-ratus pelita terpasang, kiri-kanan orang makan candu; dan lagi di kuliling-kuliling bangsal itu ada bertimbun kerat kayu yang sudah ditajamkan hujung pangkalnya, maka dalam bangsal itu beratur senjata. Maka adapon kerat kayu itu, gunanya akan peluntar orang. Maka adalah berkapar perisai dan pedang, dan ada pula kayu panjang-panjang sadepa, ditajamkannya hujungnya saperti seligi ada berberkas tersandar. Maka aku bertanya kapada kawanku itu perlahan-perlahan: Inikah tempatnya? Maka katanya: Iya, ini satu, ada lagi lima enam tempat, lagi besar daripada ini, jauh sadikit ka darat, tetapi sakarang malam nanti berkampung samuwanya kamari. Inilah tempatnya orang masuk muafakat ini, boleh entjik lihat, sakarang malam ada beharu dapat lima orang hendak dimasukkan, karena iya terlalu keras di Singapoera yang mengatai dan memaki-maki orang Tentehui ini, maka sebab itulah dengan keras hendak dimasukkan.
Maka jawabku: Di manakah kita boleh tinggal malam ini? Maka katanya: Nanti sehaya tumpangkan dalam bilik kawan sehaya di sabelah itu.
Satelah petanglah hari, maka dipukullah oleh mareka itu buluh, bunyinya terlalu jauh kadengaran. Maka sabentar lagi pulanglah orang-orangnya itu masing-masing ka dalam bangsal itu. Maka pada sangkaku isi katiga buwah bangsal itu adalah kira-kira lima enam ratus orang. Maka adalah dalam orang sabanyak itu tiyadalah duwa puluh orang, yang tiyada tahu makan candu, melainkan samuwanya makan belaka. Maka apabila samuwanya itu sudah pulang, maka riyuhlah bunyinya orang, saperti kalakuwan orang berperang rupanya.
Maka pada masa itu aku pon dibawalah oleh anak Tjina itu ka sabelah bilik itu; kulihat ada dengan kelambunya, karena iya itu bilik juru-tulisnya. Maka diyamlah aku di situ; maka anak Tjina itupon memberi aku sadikit nasi dalam daun pisang dengan daing sepat dibakar dan pisang duwa butir, maka kumakanlah, supaya jangan kalaparan malam itu. Maka sabentar lagi datanglah iya kapadaku, katanya: Entjik duduklah di sini. Ini lobang dinding boleh menghintai ka sabelah sini. Maka diyam-diyam, lagi sabentar orang itu hendak datang. Maka kataku: Baba pon marilah di sini. Lalu jawabnya: Entjik Doelah jangan takut, sehaya ada di sini jadi mata-mata akan muafakat ini. Mana bolih sehaya tiyada di situ. Sebab inilah sehaya datang. Nanti sabentar-sabentar sehaya da- tang. Saorang pon tak berani membuwat apa-apa sama Entjik Doelah. Maka jawabku: Baiklah.
Maka adalah kira-kira pukul tujuh malam, maka samuwanya marika-itupon berkampunglah makan minum arak, serta dengan gaduhnya, seperti orang berperang lakunya, ada sajam lamanya. Satelah sudah, maka dipukulnya bereng-bereng dan tambur, terlalu riyuh bunyinya, maka sakaliyan orang-orang itu pon beraturlah iya duduk. Maka kulihat muka masing-masing pon merahlah saperti bunga raja sebab mabok itu; maka sakaliyannya menghadap datuk pekungnya itu. Maka dalam antara marika itu adalah saorang orang besarnya, maka datanglah iya duduk di atas kursi tinggi. Kemudiyan datang duwa orang berdiri di kanannya, dan duwa orang berdiri di kirinya. Kemudiyan kaluvarlah pulah dulapan orang memegang pedang panjang, yang telah terhunus, berdiri di kiri-kanannya. Kemudiyan datanglah saorang orang lain membakar kartas di hadapan berhalanya itu. Satelah itu datanglah pula dulapan orang memegang pedang yang terhunus serta membawa saorang, yang hendak dimasukkan dalam muafakat itu….. (Kemudiyan diceritakan dengan Bagimana peri dimasukkan empat orang berturut-turut, dan perihal saorang yang tiyada mau masuk. Maka sakaliyan itu tiyada kusebutkan di sini, hendak meringkaskan kisahnya).
——————000——————
Maka sabentar itu anak Tjina, kawan ku, itu pon datang-lah meliat aku, serta katanya: Lihatlah, entjik, puwas-puwas. Kemudiyan berbalik pula iya….. Satelah penglihatan yang kulihat itu, maka adalah kira-kira pukul duwa tengah malam maka ditiyupnyalah bambu itu, maka masing-masing pon kembalilah, ada yang pergi makan candu, ada yang pergi tidur, maka ada pula yang turun menyamun ka Singapoera. Maka kemudiyian datanglah anak Tjina itu kapadaku, maka didapatinya aku duduk. Maka katanya: Belomkah encik tidur lagi? Lalu jawabku: Belom mengantuk. Tetapi Allah sehaja yang tahu Bagimana katakutanku. Kemudiyian duduklah iya kapadaku, berbisik perlahan-lahan akan hal segala perkara itu, serta katanya: Ini malam ada duwa ratus orang turun ka Singapoera, hendak mencehari makan. Maka apabila aku menengar itu, makinlah bertambah-tambah katakutanku, serta berdebar-debar hatiku, sambil teringat bilakah kiranya hari siyang, supaya segera aku boleh undur daripada tempat cilaka ini, duduk dalam katakutan sehaja. Maka ada pula di rumah, tempat aku menumpang itu, di luwarnya penuh orang bermain judi, duwa tiga kali berkalahi pada samalam itu. Maka kataku: Baba, esok pagi gelap-gelap baik kita berjalan. Maka katanya: Baiklah.
Maka halku duduk itu rasanya hendak terlayang mataku; maka kurebahkanlah diriku sabentar, ada kira-kira pukul empat, maka kudengar riyuh bunyi orang. Maka kubangkan Tjina itu, kataku: Apa gaduh di luar itu? Maka jawabnya: Entjik diyam-diyam; itulah orang yang pergi ka Singapoera itu samalam, sudah balik. Maka apabila kudengar itu kumatikanlah diriku, sambil minta doa, bilakah siyang lekas. Maka sabentar lagi terang tanah, maka kubangkanlah kawanku itu; maka iya tiyada mau bangun, katanya: Nantilah sabetar lagi. Maka kataku: Inilah kutika baik kita berjalan, semantara belom terbit matahari ini. Lalu bangunlah iya, maka katanya: Tak usahkah kita makan? Maka jawabku: Boleh; Kita sampai di kebon-kebon orang itu boleh makan. Maka dalam hatiku asal terlepas daripada tempat cilaka ini, jadilah. Maka anak Tjina itu pon pergilah bertemu dengan orang besarnya itu; entah apa-apakah iya bercakap sajurus lamanya? Lalu datanglah iya, maka aku tanya kapadanya: Apa cakap bagitu banyak? Maka katanya: Satu pun tidak. Maka itulah saperkara, yang tiyada kuketahui rahasiya cakapnya itu, maka yang lain daripada itu samuwanya diberinya tahu kapadaku, seperti yang kutuliskan di atas itu.
Syahadan, satelah itu maka berjalanlah aku dengan kawanku itu berduwa; maka sambil berjalan itu maka kata-nya; Entjik Doelah tahu, samalam diya orang turun ka Singapoera itu, samuwanya orang sapu arang mukanya. Maka kataku: Mengapa bagitu? Maka jawabnya: Supaya orang tiyada boleh kenal. Maka kataku: Samalam di rumah siyapa diya orang pergi, dan apa-apa dapat? Lalu jawabnya: Sebab Entjik gesa-gesa hendak pulang, itulah tiyada sempat sehaya hendak bertanya. Lagi pon diya orang samuwanya ada tidur lagi.
Maka pada hati aku: Ya Allah, bilakah boleh sampai ka Singapoera? Maka beberapa aku menyesal tiyada terkira-kira akan pekerjaan yang sudah aku perbuwat ini; akan tetapi apalah boleh buwat lagi, perkara yang sudah terlanjur.
Maka kami berjalan-jalan itu, maka sampailah kapada suatu kebon Tjina, maka adalah kira-kira pukul sabelas, maka singgahlah di situ sabentar, maka kemudiyian berjalanlah pulla. Adapon dari hal jalannya itu tiyadalah aku tuliskan dan tiyadalah boleh aku kenangkan; bahwa saumurku hidup pon belom aku meliat jalan yang sajahat itu; kadang terperosok sampai ka paha; ada enam tujuh kali aku jatoh, maka kawan-ku itu pon demikiyan. Maka hairanlah aku berpikir, Bagimanakah boleh orang-orang penyamun itu berjalan turun naik tengah malam dengan gelap gulita itu, Allah juga yang tahu. Maka pada masa itu rasanya hatiku jikalu kiranya boleh aku sampai ka Singapoera dengan sakejap itu, sapuluh ringit berani aku bayar. Maka dengan hal yang demikiyan adalah pukul tiga lalu, ditulung Allah, maka salamatlah aku sampai ka Singapoera serta dengan lapar dan letih-lelah badanku ada-nya.
¹ Çahabat Baik, No. 3, 1891.
Cerita Alksenoff¹
Ataoe
Satu Saudagar yang Sudah Dihukum Tiada Berbuat Salah.
Satu Cerita dari Negeri Roes
Kira limapuluh taon yang sudah di kota Wladimir di negeri Roes tinggal satu orang muda, nama Alksenoff, cari penghidupan dagang ‘kecil’, buka dua toko, di mana dijual segala macem barang makanan dan minuman. Kendati dagang kecil, Alksenoff dapat banyak untung, cukup guna pelihara anak istri, tambahan orang muda itu pandei urus perkara orang, hidup diam, tiada suka memboros, pun jarang melancong, kalu tiada perlu rekokin perkara dagang, tiada kaluar pintu. Semingkin lama orang muda itu semingkin banyak dapet untung. Begitu bilang taon Alksenoff hidup senang sama anak istrinya.
Satu hari orang muda itu niat pergi di kota, jauh dari tempat tinggalnya. Satu malem sabelon berangkat, Alksenoff kasi tau niat itu pada istrinya.
“Istriku yang tercinta”, kata itu sudagar muda. “Besok pagi aku niat pergi di kota, mau urus beberapa perkara dagang. Ini malem baik kau sedia yang perlu aku bekal.”
“Besok kau mau pergi di kota, suamiku?” saut istrinya sambil menanya dengen kuatir. “Ach, suamiku! Angguran kau tinggal di rumah, jangan kaluar pintu. Kalu kau sungguh cinta, sungguh sayang anak istri kau, lebih baik kau jangan pergi di kota, Sekalipun musti urus perkara Bagimana perlu juga”.
“Kenapa kau minta aku jangan pergi di kota, Soeranne?” tanya Alksenoff, yang sudah heran, tiada mengerti apa sebab istrinya sudah bicara begitu rupa. “Apa baru satu kali ini aku pergi di kota? Bukankah kau sudah tau betul, seandee tiada amat perlu, aku tiada suka kaluar pintu?”
“Ya, aku tau, semua aku tau betul,” saut istrinya, “tapi aku minta dengan sanget, jangan kau pergi satu dua minggu ini, aku sungguh kuatir, aku sudah dapat pirasat kurang baik.
“Pirasat kurang baik?” tanya pula sudagar itu yang sudah lebih heran. “Pirasat apa kau sudah dapet?”
“Suamiku,” bicara lagi istrinya dengan sabar. “Kemarendulu malem aku sudah mengimpi amat ajaib, alamat impi itu kurang baik. Aku sudah mengimpi, rambut kau semua mendadak sudah jadi puti, artinya kita orang mau dilanggar susah besar, setau bahaya apa bakal mendekatin. Kutika kau kasi tau niatmu, hatiku lantas tiada karuan rasa, saolah-olah mau menyataken, angkau nanti dilanggar cilaka tengah jalan. Percaya, suamiku, apa yang aku sudah ceritain, semua betul, bukan cerita kosong. Bagimanakah seandee angkau dapet cilaka tengah jalan, ada tiada kasian anak istri kau?“
“Ach, ”Soersanne, istriku yang manis!“ treak Alksenoff sembari goleng kepala. ”Angkau ada saja, angkau masih ter-laluh tahayul, suka percaya habis segala perkara bukan-bukan! Mustahil lantaran angkau sudah mengimpi rambutku semua mendadak sudah jadi puti, artinya aku bakal dilanggar susah? Aku cinta, amat cinta angkau, tapi lantaran impi kau aku tiada bisa urungin niatku. Besok aku mau pergi di kota.“
Istrinya lantas membujuk, minta pada sudagar itu urungin niatnya, jangan pergi di kota. Bagimana juga dibujuk, percumah saja, Alksenoff tiada mau ladenin dan sudah tetap niat pergi di kota besok pagi, sebab perlu.
Besoknya sedang masih gelap, sudagar itu berangkat ka kota. Tengah jalan dekat satu dusun, orang muda itu ketemu saorang sobatnya lama, yang sudah bilang taon tiada kaliat-an. Alksenoff lantas diajak sobatnya mampir di satu dusun, di mana ia orang musti tinggal bermalem dan besoknya boleh berangkat terus ka kota. Marika itu sudah dateng mondok di satu rumah makan. Bila sampeii di sana, sudah malem, di luar sudah gelap buta. Sasudah dahar di itu rumah makan, Alksenoff dan sobatnya masing-masing lantas masuk di kamar, mau tidur, sebab amat capeh, sudah jalan terus bilang jam tiada brentinya.
Besoknya sedang masih gelap. Alkesnoff berangkat lagi, tingalken sobatnya yang masih pules. Sengaja sudagar itu sudah berangkat begitu pagi, supaya boleh lekas sampeii di kota, yang masih amat jauh. Dengen cepat orang muda itu jalan, tiada mau sia-siaken tempo. Sesudah jalan ampat jam, sudagar itu sampeii di satu dusun, di mana ia lantas mampir di satu rumah cafee, aken dahar sedikit, sekalian mau lepas capenya.
Belon lama duduk di itu cafee, tiba-tiba dateng satu orang politie, terus masuk dan lantas tangkep itu sudagar, sabelon bisa engah satu apa. Kagetnya Alksenoff itu tempo bukan patut, ia tiada habis mengarti, kenapa orang politie mendadak sudah tangkep padanya.
“Apakah salahku angkau sudah tangkep aku ini?” tanya itu sudagar, suaranya gumeter, mukanya sudah pucet.
“Apa salahmu? Mustail angkau tiada tau?” begitu itu orang politie menyaut sambil bales menanya. “Angkau tiada usah banyak cengcong, tiada usah melaga bodo, angkau sekarang ditangkep. Mana barang kau? Ayo, kasi semua pada-ku, aku mau preksa.”
Barang Alksenoff semua lantas dipreksa, koffernya dibuka, akhirnya itu koffer sudah didapet satu piso masih berlepot darah.
“Hai!” kata itu orang politie sembari kasi kaluar itu piso dari koffer, diunjukin pada Alksenoff. “Ha, ini buktinya! Angkau masih brani mungkir, masih juga mau menyangkal? Liat ini piso, masih darah doang. Ya, ya, bukan lain orang, angkau juga yang sudah berbuat itu perkara. Sekarang angkau musti dibawa rumah bui.”
Alksenoff sudah kaget, amat kaget, bila meliat dari koffernya dikasi kaluar satu piso masih berlepot darah, tiada tau siapa yang punya itu piso dan tiada tau, bagimana gegaman itu sudah ada di dalem koffernya.
Bingungnya orang muda itu sudah tambah menambah, sambil sumpah ia membilang, tiada tau satu apa perkara piso itu, tapi percumah saja, ceritanya tiada dipercaya, mau tiada mau, kepaksa turut itu orang politie, yang sudah tangkep padanya.
Tiga hari orang muda itu dikurung di rumah bui, bernantiken dipreksa perkaranya. Alksenoff sabetulnya tiada tau, kenapa ia sudah ditangkep.
Di muka pengadilan orang muda itu baru dapet tau, sobatnya sudah dibunuh di rumah makan, kamudian sudah dicolong uangnya dua ribu rubel dan sudagar itu dituduh sudah bunuh sobatnya aken gampang curi uangnya. Di itu rumah makan itu malem tiada ada orang dateng mondok, melainken Alksenoff dan sobatnya, lantara begitu, orang muda itu dituduh sudah bunuh sobatnya, tambahan di koffernya sudah didapet satu piso masih darah doang.
Kendati Alksenoff sudah kasi cerita terus terang sambil sumpah tiada bunuh sobatnya, tiada colong uangnya, semua sia-sia saja, hakim tiada percaya segala ceritanya, malahan sudah semingkin sangka, orang muda itu betul sudah berbuat perkara, yang telah dituduh padanya.
“Tiada boleh jadi,” begitu hakim kata, sasudah dengerin cerita orang muda itu dengen sabar. “Tiada boleh jadi, tentu angkau yang sudah bunuh sobatmu sendiri. Seandee angkau tiada salah, Bagimana itu piso yang masih darah doang, boleh kasasar di koffer angkau dan apa sebab itu tempo angkau sudah berangkat pergi masih begitu pagi, sedang masih gelap? Salah angkau sekarang sudah terang, pun buktinya sudah didapet, tak boleh tiada angkau musti dihukum berat, sebab mungkir, tiada mau mengaku, maski salah angkau sudah nyata”.
Orang muda itu tiada bisa kata satu apa lagi, bagimana juga ia melawan, tiada gunanya, Hakim sudah hukum buang itu sudagar saumur hidup di lain negri.
Sabelon jalanken itu hukuman, Alksenoff di tahan di penjara. Dengan hati sedih kabina-bina, orang muda itu duduk bengong di rumah bui, pikirin anak istrinya. Sekarang ia baru percaya, cerita istrinya tiada salah. Alksenoff sekarang menyesal, amat menyesal tiada turut nasehat istrinya.
“Akh, benar juga cerita istriku”, begitu Alksenoff meratap di rumah bui. “Tapi, apa sekarang mau dibikin, dasar sudah nasibku musti dilanggar cilaka begini rupa. Akh, apa nanti jadi pada anak dan istriku, yang saumur hidup aku tiada bisa ketemu lagi?”
Alksenoff sudah tumpah aer mata, sudah sesenggukan amat sedih, kutika dapat inget pada anak istrinya, yang begitu dicinta.
Suatu hari, sedang orang muda itu duduk bengong lagi di rumah bui, tiba-tiba istrinya dateng, ajak dua anaknya yang kecil.
Cipier rumah bui sudah kasi izin aken ketemuin itu orang muda, suaminya. Alangkah kagetnya orang prampuan itu, bila sampe di kamar, di mana Alksenoff ditutup dan meliat rambut suaminya, yang tadinya item mulus semua suda puti, suda jadi uban belaka.
Di hadapan suaminya orang prampuan itu lantas tumpah aer mata, menangis amat sedih, sesunggukan. Pun Alksenoff tiada bisa tahan aer matanya, yang sudah mengembeng, terus menangis juga sebagai anak kecil.
“O, Allah! Suamiku!” menyebut istrinya sembari meratap. “Kenapakah angkau tiada turut netsehatku? Sekarang, apa sekarang musti dibikin, sedang angkau sudah dihukum saumur hidup di lain negeri yang begitu jauh? Akh, suamiku, kasian—angkau, aku kasian angkau! Sekarang kau baru percaya, alamat impi itu tiada salah.
Alksenoff tiada lantas menyaut, cumah sesenggukan amat sedih, aer matanya kaluar bercucuran sebagai ujan.
“Ya, istriku, yang tercinta!” begitu kamudian orang muda itu meratap. “Aku sekarang sudah dilanggar cilaka begini rupa, lantara tiada turut natsehat angkau, tapi, sudah apa boleh buat, baik sabar dulu. Tiada ada lain pengharepan, melainken surat kepada baginda Keizer, minta am pun, barangkali masih boleh terlepas dari hukuman...”
“Percumah, suamiku, percumah!” treak istrinya sembari meratap. “Sabelon dateng di sini, aku sudah mohon am pun buat angkau, tapi tiada dikabulken, permintaanku sudah ditampik. Apa sekarang musti dibkin buat tulung angkau?”
Dengan bercucuran aer mata, Alksenoff sudah denger bicara istrinya, sedihnya sudah semingkin tambah, lantaran sekarang sudah ilang pengharepan sama sekali, tiada bisa dapat am pun.
Sakutika lamanya laki isteri itu bicara, kamudian sambil meratap istrinya kasi slamat tinggal, terus kaluar dari rumah bui, diawasin Alksenoff, yang masih sesenggukan. Sorehnya Alksenoff lantas berbuat ibadat sambil mendoa, muhun pada Tuhan, supaya ia boleh terlepas dari hukumannya. Begitu sejak itu waktu saben hari orang muda itu tiada lupa mendonga terus sampei di anter ka lain negri, di mana ia musti jalanken hukumannya.
Dua bulan Alksenoff sudah jalanken hukumannya, selama itu, badannya sudah kurus, semingkin lama semingkin kurus.
Suatu hari tiba-tiba saorang Yahudi dateng di tempat, di mana Alksenoff seudah dihukum buang. Orang yahudi itu, yang juga sudah dihukum buang, perkara sudah mencuri, su- dah ajar kenal pada Alksenoff, kamudian cerita, apa sebab ia sudah dihukum begitu berat.
“Akh, kendati sudah dihukum”, cerita lagi itu orang Yahudi, “Sabetulnya aku musti mengucap syukur cumah dihukum buang dua taun, padahal kesalahanku lebih besar, tapi hakim tiada dapet tau. Seandee ketahuan, tentu aku dihukum lebih berat lagi.”
Dengen heran Alksenoff sudah dengerin cerita itu orang Yahudi. Sekunyung-kunyung Alksenoff dapat inget, siapa tau, barangkali orang Yahudi itu sudah bunuh sobatnya, kamudian sudah umpetin itu piso di dalem koffernya, yang memang tiada dikunci, waktu mondok satu malem di rumah makan. Alksenoff lantas niat pancing itu orang Yahudi, mau tau habis semua rasianya.
Alksenoff tiada mau lantas kasi tau, kenapa ia sudah dihukum. Dengen sabar ia ajak bicara itu orang Yahudi, supaya tiada kentara maksudnya pancing itu orang.
“Jadi kau cumah dihukum dua taun?” tanya Alksenoff. “Di mana kau sudah mencuri?”
Orang Yahudi itu, yang tiada kenal Alksenoff, lantas cerita terus terang segala halnya, bikin Alksenoff semingkin cemburuan, terlebih lagi, kutika orang Yahudi itu bilang, sudah bunuh orang di rumah makan, kamudian sudah rampas uangnya.
“Astaga!” menyebut Alksenoff, sasudah denger itu cerita sembari tekap dada.
“Kalu begitu boleh jadi angkau yang sudah bunuh sobatku, hingga lantaran demikian aku sudah ditahan, diterkah campur itu perkara, terus dihukum buang seumur hidup, sedang tiada salahku.”
“Angkau sudah dituduh bunuh orang?” tanya orang Yahudi itu dengan kaget, tapi kasian pada Alksenoff, sebab memang betul sudagar itu tiada salah. “Habis, Bagimana kau boleh dihukum, apa sudah didapat buktinya?”
“Ya,” saut itu orang muda. “Di dalem kofferku sudah didapat satu piso masih darah doang, waktu aku ditangkep. Aku sendiri tiada tau siapa sudah umpetin itu piso di dalem kofferku. Akh, seandee benar angkau sudah bunuh sobatku, apa kau tega, meliat orang yang tiada salah sudah dihukum begitu berat?”
Orang Yahudi itu tiada lantas mau mengaku, tiada mau buka rasianya, maski ia amat kasian meliat itu orang muda sudah dihukum berat, tiada dosanya, Alksenoff sudah tetap duga, bukan orang lain,tentu itu orang Yahudi juga yang sudah bunuh sobatnya. Alksenoff sakutika itu sudah gemas, tiada sudi liat lagi itu orang Yahudi.
Antero, malem orang muda itu tiada bisa tidur, sedikit-pun tiada, sabentar-bentar inget perkataan itu orang Yahudi, kenapa orang itu, yang sudah berbuat salah begitu besar, tiada duhukum berat, sedang yang tiada berdosa dikasi hukuman amat berat. Alksenoff sudah inget juga anak istrinya, yang seumur hidup tiada bisa ketemu lagi, hatinya kliwat sedih, bila inget begitu. Seboleh-boleh Alksenoff sabarin hatinya, terus mendonga lagi, muhun berkat Tuhan Yang Maha Kusasa, supaya ia boleh lekas terlepas dari segala kesusahannya yang amat besar, jangan sampehi menanggung pula begitu banyak sangsara dunia. Sasudah mendonga orang muda itu duduk bengong di rumah penjara, inget lagi anak istrinya dan hal dirinya yang amat cilaka itu.
Pikirannya sudah ribut, sudah tiada karuan, sakutika itu juga ia sudah niat habisin umur, supaya lantas terlepas dari segala sangsara, yang sekarang musti dikandung masuk ka- luar hari, tapi pikirannya kamudian sudah berbalik lagi, bila inget anak istrinya. Begitu saben malem Alksenoff duduk be-ngong di rumah bui, badannya sudah semingkin kurus, su-dah tinggal tulang doang ditutup kulit. Alksenoff amat ingin ketemu lagi anak istrinya yang begitu dicinta.
Suatu malem, kutika orang muda itu sedang duduk be-ngong lagi, pikiran segala halnya, tiba-tiba orang Yahudi itu buka pintu kamar penjara dengen kunci palsu, terus masuk di tempat Alksenoff yang lantas kaget.
“Hei, orang Yahudi, apakah meksudmu dateng di tem-patku ini?”, begitu Alksenoff menegor, kutika liat orang Ya-hudi itu masuk. “Angkau satu orang jahat, lebih baik angkau lekas pergi....”
“Jangan gusar, jangan gusar,” kata itu orang Yahudi, tia-da tungguh lagi sampeii Alksenoff habis bicara. “Sabar sedikit. Perlunya aku dateng jumpah pada angkau, hei orang muda, tiada lain, cumah mau sampeiken niatku. Aku kasian, amat kasian pada angkau, yang betul tiada salah, sudah dihukum begitu berat, terlebih lagi, sebab angkau masih muda, belon puas hidup di ini dunia. Buat aku, kalu dihukum begitu berat, tiada mengapa, aku sudah banyak umur sudah kenyang hi-dup. Hei, orang muda! Aku tiada bisa liat lebih lama angkau menanggung sansara begitu banyak, ayolah sekarang juga turut padaku, aku mengaku terus terang salahku pada cipier rumah bui, supaya angkau boleh lantas dibebas dari hukum-an angkau!”
Bukan patut herannya Alksenoff mendenger, bicara orang Yahudi itu.
Kendati betul musti menanggung banyak sansara, Alksenoff sakutika itu lantas kasian pada itu orang Yahudi.
“Ayolah, jangan ajal, lekas turut aku,” kata pula itu orang Yahudi.
“Tiada, ”saut Alksenoff dengen sedih. “Aku tiada suka dibebas hukumanku. Biar aku tinggal dihukum, aku sudah serahken jiwaku pada Tuhan Yang Maha Kuasa.”
“Akh, am pun beribu am pun,” berseru itu orang Yahudi, terus berlutut di hadapan Alksenoff. “Ampunilah aku ini, patut sekali aku yang musti dihukum berat, bukan angkau, yang tiada berbuat salah suatu apa. Pantes sekali aku pikul hukuman angkau! Ayolah turut padaku, biar ini perkara lantas seleseh, biar angkau lantas dibebas dari hukuman angkau...”
“Tiada aku tiada bisa turut,” saut lagi Alksenoff dengan sabar. “Dengen segala suka hati aku kasi am pun pada angkau, tapi biar aku pikul itu hukuman, kendati aku sudah dihukum tiada dosaku. Lagi sekali aku bilang, aku sudah pasrahken jiwaku pada Tuhan Yang Maha Suci, Tuhan nanti lepasken aku dari semua sangsara dunia.”
Orang Yahudi itu membujuk lagi sabentar, tapi sia-sia. Alksenoff tetap tiada mau turut, kamudian orang Yahudi itu dateng menghadep sendiri pada cipier bui, terus buka semua rasianya. Dengen kaget cipier sudah dengerin cerita orang Yahudi itu, kamudian itu malem juga disampeiken pada hakim segala yang sudah diceritain orang Yahudi itu.
Besoknya orang Yahudi itu dipreksa hakim dan sudah mengaku terus terang salahnya, kasi tau semua rasianya, membilang, betul ia sudah bunuh orang di rumah makan di itu dusun, kamudian sudah curi uangnya dua puluh rubel dan buat bikin susah politie, piso bekas dipakei bunuh itu orang, sudah diam-diam dimasukin di koffer Alksenoff, yang memang tiada dikunci, akhirnya Alksenoff sudah ditangkep dan dihukum berat. Orang Yahudi itu muhun lantas dikasi kaluar orang muda itu dari penjara.
Pun hakim sudah heran, amat heran, tadinya tiada lantas mau percaya cerita orang Yahudi itu.
“Apa sebab baru sekarang angkau mengaku salah angkau?” begitu hakim tanya, sasudah orang Yahudi itu buka semua rasianya. “Kenapa dulu tiada lantas angkau dateng serahkan diri pada politie? Bukankah angkau mengarti lantar-an perbuatan kau orang bakal cilaka.”
“Am pun tuan hakim beribu am pun,” saut orang Yahudi itu. “Betul saya mengarti, orang lain bakal cilaka, lantaran perbuatan saia, tapi itu tempo saia tiada dapet pikiran seperti sekarang, pun saia tiada kira, itu orang muda nanti dihukum begitu berat. Sekarang saia sudah liat orangnya saia kliwat kasian, saia tiada teegah liat orang yang tiada salah sudah dihukum begitu berat, lantaran perbuatan saia, yang amat busuk. Sekarang saia muhun, orang muda itu dikasi kaluar dari penjara, dibebas hukumannya, biar saia pikul itu hukuman. Kasian itu orang masih begitu muda, lagi pun betul tiada dosanya, dihukum begitu berat, disuru menanggung kliwat banyak sangsara.”
Sasudah preksa lagi itu orang Yahudi, hakim lantas kasi prentah, kaluarin itu orang muda dari penjara, mau dibebas hukumannya, tapi sudah kasep..., itu malem juga Alksenoff sudah tutup mata, sudah di akherat.
Orang Yahudi itu sudah dapet am pun pemerentah negeri, tiada dihukum berat, cumah sepuluh tahun.
Dari ini cerita boleh diliat orang yang dihukum tiada salah, akhirnya tak dapat tiada, tentu musti nyata betul tiada salahnya.
¹ Warna Sari, Penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Cerita Ditolong Seekor Anjing¹
Satu Cerita dari Negeri Frans
“Selagi masih muda, satu tempo saia sudah ditulung satu anjing”, begitu satu hari mayoor Duran cerita waktu duduk kumpul di rumah bola sama bebrapa ofsir muda. “Siapa kira, satu binatang seperti anjing bisa tulung orang? Saia kliwat ke-pengen bikin satu patung buat tanda peringetan pada itu binatang, yanh sudah tulung saia.”
“Zoo,” kata salah satu ofsir. “Tuan mayoor sudah ditulung saekor anjing? Ai betul aneh, cobalah tuan mayoor ceritaken, kita orang semua tentu suka denger.”
“Ya,”kata lain ofsir, yang memang suka denger segala cerita lucu. “Saia minta tuan mayoor ceritain hal itu anjing yang sudah tulung tuan.”
“Hum,” menyaut mayoor Duran seraya dehem. “Itu cerita memang lucu, barangkali berguna besar bagi orang muda, yang boleh dapat natsehat dari itu cerita. Dengerlah, saia mau rencanaken itu cerita, tapi baiklah kita minum dulu satu glas wiski soda.“
Mayoor Duran dan masing-masing ofsir lantas minum satu glas wiskiy soda, yang sudah di sedia di meja.
“Sampei umur dua puluh dlapan taon saia cerita, sa-sudah minum habis satu gelas wiskij soda.
“Pun itu tempo saia belon inget mau nikah, saia pikir, se-ribu kali lebih senang tinggal bujang, tiada banyak pusing kepala, boleh pergi ka mana kau suka, tiada yang larang, tiada yang beratin. Sering juga saia inget, mau tinggal bujang sa-umur hidup. Ibu saia tiada senang, kutika saia kasi tau itu niat, malahan saia sudah diomelin panjang pendek, dan ibu saia bilang,saia sendiri nanti menyesal, bila sudah tua tiada punya istri, tiada punya anak. Tadinya saia tiada mau ladenin itu natsehat. Bahna terlaluh sering disindir ibu saia, tambahan pula bebrapa ofsir, sobat saia, yang suda janji mau tinggal bu-jang, hampir semua tiada pegang perjanjiannya, pikiran saia lantas berubah, saia mulai mengarti orang lelaki di dunia me-mang pantes beristri.
Apa mau, suatu hari, sedang pulang baris, saia sudah ketemu nona Fenande de Labriolle, saorang perampuan mu-da, elok cantik molek. Itu tempo hati saia lantas bergerak, saia lantas gilain itu nona, yang dicinta juga satu orang bangsa-wan kaum baron. Beberapa hari kamudian saia kasi tau itu rasia pada ibu saia, yang lantas gemar dan kepengen, supaya nona Fenande jadi istri saia. Pun orang tuah nona itu laki istri ingin buat mantu pada saia.......“
Mayoor Duran lantas ketawa, putusin ceritanya.
“Habis, Bagimana kamudiaannya, yuan mayoor?” tanya satu ofsir, yang ingin tau akhirnya itu cerita.
“Ya, saia musti ketawa, kalu inget itu tentu tanya. ”Sa-sudah ajar kenal, suatu hari saia dan nona Fenande pergi di satu pesta. Saia sendiri pakei pakean bagus, amat rapi, jas item panjang, celana item, sepatu verlak, ujungnya kecil, semacem sepatu yang disuka tuan-tuan itu zaman. Sebelon berangkat ka tempat pesta, ibu saia sudah tentukan, waktu duduk di seblah nona Fenande. Permintaan itu sudah diturut.
Nona Fenande sudah bawa satu anjing kecil, dinamain Jim. Di tempat pesta binatang itu dipangku nona Fenande, yang duduk sama saia di satu bangku panjang, diales bludru. Tadinya dengen senang hati saia duduk bicara, kamudian saia tiada bisa omong lagi begitu senang, kaki saia dua-dua mulai sakit, kajepit sepatu baru, yang amat sesak. Nona Fenande sudah bicara terus, tapi saia tiada bisa menyaut sapantesnya, sabentar-bentar saia kapaksa diam, bahna merasa kliwat sakit di kaki. Apa cilaka, nona Fenande yang tadinya tiada begitu mengopenein, sudah dapet tau, saia kurang senang.
“Kenapa angkau, tuan Duran?” begitu itu nona menanya sembari awasin saia. “Rupa kau sebagai orang tiada senang hati. Apa kau sudah bosen dengerin bicaraku?”
“O, bukan begitu, nona manis” manyaut saia dengen tersenyum, kentati kaki saia sudah semingkin sakit. “Saia senang sekali dengar nona punya bicara.”
Supaya nona itu tiada menanya lebih jauh, sakutika itu saia lolosin sepatu saia dari kaki kanan kiri dan lantas tiada merasa sakit lagi. Sejak itu saia bisa bicara pula dengan senang, sautin apa yang ditanya dan nona Fenande lantas gemar mendenger cerita saia, tempo-tempo tertawa sembari bersender.
Sedang saia dan nona Fenande lagi asyik bicara, kita diawasin itu tuwan Baron, yang sudah jato, hati juga sama nona Fenande. Rupanya itu baron tiada seneng, mukanya merengut seperti orang yang lagi amat mendongkol. Saia tiada ladenin, malahan melaga tiada liat itu baron, yang sabentar-bentar milirikin matanya. Sakutika itu, tiba-tiba si Jim lompat turun dari pangkuan nona Fenande terus menggonggong di kolong bangku. Sembari, ngawasin itu nona, saia tendang si Jim, supaya brenti menggonggong, sebab amat brisik.
Sasudah perjamuan makan hampir selese, saia mau pakei lagi sepatu saia, sebab sabentar pula saia musti anter itu nona ka ruang tenpat dansa. Dengan kaki sebelah saia mengusut sembarangan di kolong meja, di mana sudah ditaro itu sepatu. Tiada sebrapa lama saia sudah dapet sepatu kaki kiri, yang lantas saia pakei kombali, kamudian mengusut pula, cari sepatu yang satunya. Bagimana juga saia usut sama kaki, percumah saja. Saia itu tempo sudah amat bingung, apa pula tatkala barang santapan yang penghabisan sudah dihidangkan, dan pintu pertengahan sudah dibuka. Tetamu masing-masing sudah bangun, mau pergi di ruang tempat dansa.
Bingung saia sudah semingkin jadi. Apa musti bikin sekarang? Saia tiada bisa pimpin nona Fenande ka ruang tempat dansa, saia malu jalan satu kaki pakei kaos saja.
Tiba-tiba nona Fenande, yang rupanya sudah heran meliat kalakuan saia, lantas bilang, “Ayoh, tuan Duran, pimpin saia, ka tempat dansa!”
“Maaf nona,” begitu saia sautin, “maaf! Saia kailangan barang di kolong meja, saia tiada bisa bangun dari ini tempat, izinken saia aken cari itu barang.”
“Baik,” kata nona itu, “tapi lekas sedikit, kita tiada bisa tungguh lama di sini, liatlah, tetamu hampir semua sudah pergi di ruang tempat dansa.”
Sabelon saia bisa menyaut lagi, tiba-tiba itu Baron sudah dateng menyamperin, angsurken tangannya pada nona Fenande, yang lantas turut Baron itu masuk ka tempat dansa. Lagi sekali saia liat di kolong meja, mau cari itu sepatu yang satunya. Itu waktu sekunyung-kunyung saia denger orang banyak ketawa cekakak cekikik dan bila saia menengok, saia liat sepatu saia yang ilang sudah dibawa si Jim, anjing nona Fenande.
Itu sepatu sudah tiada karuan rupa, sudah digigit pecah. Sekarang saia tiada bisa masuk lagi di tempat dansa, tentu bakal diketawain orang banyak dan boleh bikin kurang senang nona Fenande.
Seperti satu anjing yang kalah berkalai, saia jalan kaluar, terus pulang, sedang nona Fenande tinggal bersuka hati terus sama itu baron yang akhirnya sudah nikah pada nona itu. Tadinya saia menyesel, meliat nona Fenande sudah jadi istri itu baron, tapi kamudian saia girang tiada jadi nikah sama itu nona, satu orang prampuan mata kranjang.
Kutika sudah nikah, Baron itu dan nona Fenande tiada hidup beruntung, akhirnya sudah berceree, lantaran itu nona sudah jato hati pada satu orang muda.
Begitulah saia sudah ditulung satu anjing, hingga sudah urung nikah sama satu orang prampuan mata kranjang, tiada bisa hidup kekal di tangan satu suami. Seandee tiada ditulung itu anjing yang sudah bawa lari saia punya sepatu, tentu saia sudah buat istri itu nona, yang suka tukar menukar suami dan alangkah susah saia, kalu musti hidup sama satu istri begitu macem.
“Ya, saia musti mengucap syukur, begitu mayoor Duran tamatin ceritanya, ”dan apa tiada pantes saia bikin satu tanda peringetan di atas kuburan itu anjing, yang sudah jauhken saia dari susah, sudah jadi lantaran saia urung kawin sama satu nona mata kranjang?“ Ofsir yang sudah denger itu cerita, semua lantas ketawa, bila mayoor Duran sudah tamatin ceritanya.
¹ Warna Sari, penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Cerita Henri Lest
atau
Habis Hujan Tentu Panas Lagi¹
Suatu hari, masih pagi, sedang udara jernih, amat terang, angin sedang teduh, daun puhun semua tiada kaliatan tergerak, pun burung tiada satu kadengeran mengacu, itu pagi berjalan di luar kota satu nyonya muda, tuntun satu anak prampuan kecil, anaknya sendiri.
Nyonya itu jalan perlahan, gremat-gremet, tempo-tempo ketawa mendengar anaknya, yang bicara sepanjang jalan tia-da pegalnya.
“Maace!” begitu anak itu tanya, kutika sudah bicara banyak. “Kapan paace dateng, apa masih lama, maace?”
“Ya, Truus,” saut ibunya sembari tersenyum pandeng nona Truus, begitu namanya itu anak. “Maace kira, barangkali papa lekas dateng, maace tiada tahu betul. Kita orang sudah berangkat dari rumah lebih siang dari biasa, papa tentu bakal menyusul.“
“Maace tiada tau betul kapan papa dateng?” tanya lagi itu anak. “Paace tadi bilang, masih banyak pekerjaan, tiada sempet, barangkali paace tiada bakal menyusul.”
“Mustail papa tiada nanti susul kita,” saut pula ibunya. “Sabentar lagi tentu dateng. Sabar saja, papa musti dateng.”
Nona Truus dan ibunya jalan terus, selalu dengen perlahan, liwat tempat pekuburan.
“Maace?” tanya lagi Truus, kutika sampai di tikungan jalan, dekat tempat pekuburan, seraya menunjuk ka satu kuburan. “Maace!” Cobah liat, itu apa, maace? Tempat apa itu, sana sini sakulilingnya kaliatan batu doang?“
“Itu tempat satu tempat pekuburan,” kata ibunya, “Orang yang sudah mati semua dikubur di situ, di atas kuburannya diadain batu, di mana diukir nama orang mati yang dipendem di situ.”
“Maace, apa saya juga nanti lekas dikubur di situ?” begitu Truus tanya pula.
Ibunya tiada menyaut, cumah lantas pelok Truus dengan gumeter, sedang hatinya sudah berdebar-debar; sudah memukul keras sebagi digoncang. Beberapa kali Truus dicium ibunya, kamudian diajak jalan lebih jauh. Sigrah juga tempat pekuburan sudah diliwatin.
“Maace! Cobah maace menengok,” kata Truus dengen girang. “Tu pa paace lagi jalan cepat, menyusul kita.”
Ibunya lantas menengok, terus menyaut sambil turunin Truus, yang barusan didukung: “Nah, pergi samperin papa, hati-hati, jangan lari, nanti jato kasumptet.”
Sakutika itu Truus samperin papanya. Juga ibu Truus sudah dateng menyamperin, rupanya sebagi orang yang lagi susah.
“O, istriku!” kata Henri Lest, suami nyonya itu, satu tukang gambar. “Angkau tentu capeh, sudah dateng menysul begini jauh!”
Henri Lest terus kasi cium istrinya dengen tersenyum.
“Kita orang sudah jalan perlahan sampai di sini, tiada merasa capeh,” saut istrinya. “Cobah tanya Truus, pun Truus tiada capeh, bukan betul begitu, Truus?”
“Memang betul, paace, Truus dan maace tiada capeh,” kata itu anak, tangannya masih pegangin tangan ayahnya. “Truus sudah susul paace, sebab kliwat cinta pada paace.”
“Nah, ayohlalh sekarang kita pulang,” menyahut Henri Lest. “Nanti kaburu soreh, barangkali ujan lagi seperti kemaren.”
“Ayohlalh,” kata istrinya, “tapi, Henri, lebih baik kita ikutin lain jalanan di dalem dusun, di mana tiada begitu panas, banyak puhun yang bikin teduh sepanjang jalanan.”
“Suka kau, ayolah, aku turut saja,” begitu suaminya sautin, terus ajak isteri dan anaknya masuk di desa ikutin atau jalanan kecil, kanan kiri sepajangnya diapit puhun besar, yang berjejer sebagi pager.
Istri tukang gambar itu tiada banyak bicara sawaktu jalan, bikin kurang senang suaminya, yang lantas menanya, “Tillij, isteriku! Kenapa angkau begitu pendiam, tiada banyak bicara seperti biasa? Apa kau barangkali sakit? Rupa kau pun tiada seperti sehari-hari.”
“Tiada, Henri, aku tiada sakit,” saut istrinya, “cumah kepalaku puyeng sebagi orang mabok, tapi kau tiada usah kuatir, sabentar barangkali aku sudah baik lagi.”
Tukang gambar percaya cerita isterinya, tiada menanya lagi. Setengah jam kamudian marika itu sampai di rumah, terus duduk di kamar makan di mana sudah disedia roti dan sebaginya, semua diatur di meja. Sasudah dahar, Henri Lest pergi di satu kamar kecil, di mana ia biasa duduk bikin gambar. Nona Truus sebelon pergi tidur, sudah main di kebon di samping rumah. Ibu Truus sudah ikut suaminya masuk di itu kamar kecil, duduk di depan satu gambar, yang lagi dibikin, sudah hampir habis. Dengan bengong Nyonya Lest awasin itu gambar.
Henri Lest sudah heran, meliat isterinya duduk bengong seperti boneka, hatinya sudah kuatir lagi, belon pernah ia dapetin isterinya duduk bengong begitu rupa.
“Tillij, isteriku!” kata itu tukang gambar, terus cium isterinya.
“Kenapa angkau bengong? Bilanglah apa angkau kurang, apa yang kau pikirin? Aku kurang senang, kalu kau tiada cerita terus terang. Belon tahu aku liat angkau begitu susah hati?”
“Sungguh aku tiada kurang satu apa, Henri,” saut istri-nya, yang belon mau cerita terus terang, apa sebab ia begitu susah hati. “Aku tiada sakit, cumah pusing sedikit. Kau tiada usah kuatir, sungguh aku tiada kurang satu apa.”
“Ah, Tillij,” kata lagi suaminya, “mustail angkau begitu susah, kalu betul tiada kurang satu apa. Bilanglah, apa angkau kurang, barangkali aku bisa tulung.”
“Percayalah ceritaku, Henri,” saut pula isterinya. “Aku brani sumpah, kalu angkau masih belon mau percaya.”
Henri Lest lantas goleng kapala, ia tiada percaya bicara isterinya, tapi tiada menanya lagi. Sakutika itu istrinya dateng tubruk, terus pelok leher tukang gambar itu, laluh dicium ca- ra satu isteri yang cinta suaminya sapenuh hati. Isteri tukang gambar itu kamudian kaluar dari kamar, kasi tidur anaknya. Sambil kelonin anaknya, nyonya Tillij kata saorang diri, Ah, apa nanti jadi, kalu ini anak terpisah dari orang tuahnya? O, ancur, bakal ancur hati papanya...“
Sasudah kata begitu, nyonya Tillij cium anaknya yang sudah pules, sembari tumpah aer mata jatuh bertetes di pipi itu anak.
——————000——————
Sudah liwat dua bulan. Itu tempo sudah musim dingin, daon puhun semua sudah rontok, berarakan sana sini, dibuat main angin. Sedang di luar sudah dingin, nyonya Tillij duduk di pembaringan anaknya, yang lagi sakit payah, bernantiken satu doktor, sudaranya sendiri, yang mau dateng dari lain tempat, kasi obat anak itu dan preksa penyakitnya, apa barangkali masih boleh katulungan.
Sudah tuju hari anak itu sakit, semingkin hari semingkin payah. Dengan goyang kepala dokter bilang, tiada ada harepan, anak itu tiada bakal katulungan lagi. Nyonya Tillij dan suaminya sudah sedih, amat sedih mendengerin perkataan dokter, masing-masing kliwat cinta itu anak. Hari kadlapan penyakit anak itu tambah sanget. Dokter sudah dateng preksa lagi, terus goleng kepala, anak itu tiada bisa ditulung, sudah lupa orang, tiada kenalin pula ibunya sendiri.
Bahna sudah kliwat kuatir, nyonya Tillij mau kirim surat telegram, minta saudaranya lekas dateng. Justru sakutika itu ia denger orang ketok pintu. Nyonya Tillij lantas lompat bangun dari krosi, terus buka pintu, dan dapet liat sudaranya yang baru dateng. Sembari pelok dan kasi cium, nyonya Tillij ajak sudaranya masuk di kamar anaknya, yang sudah kempas-kempis napasnya, sudah hampir habis.
Nyonya Tillij sudah lemas, hampir tiada tanaganya lagi, beberapa malem tiada tidur, sedikit pun tiada, siang malem selalu jaga anaknya.
“Johan, tulunghlah Johan!” begitu nyonya Tillij kata pada sudaranya, kutika sudah sampe kaluar di kamar, suaranya sedih, air matanya sudah kaluar bercucuran. “Kau musti tulung, kasian Truus, hati jiwaku yang begitu dicinta. O, Johan, kau tiada tahu, bagimana aku cinta itu anak!”
“Sabar Tillij! Sabar sedikit,” saut sudaranya, terus raba badan itu anak, yang sudah semingkin payah, napasnya sudah mau habis.
Nyonya Tillij sembari sesunggukan sudah awasin saudaranya dengan kuatir. Kutika liat saudaranya tarik napas panjang dan goleng kepala, nyonya Tillij lantas mengarti, anaknya tiada bakal katulungan lagi.
Sakutika itu nyonya Tillij sudah buang diri di atas divan, terus meratap mengulun-ngulun, tiada bisa tahan sedihnya, hatinya dirasa seperti mau ancur.
Dua hari kamudian nonta Truus sudah tutup mata, pulang di negri baka. Dengan sedih nyonya Tillij duduk bengong di dalem kamar, di mana mait anaknya masih rebah di atas bangku. Beberapa lama nyonya Tillij duduk bengong, tiada bergerak, saolah-olah sudah ilang sumangetnya.
Suaminya itu waktu di kamar, rupanya pun amat sedih.
“Henri! Henri!” begitu nyonya Tillij berseru, bila liat suaminya masuk di kamar. “Siapakah sudah ambil anak kita, yang begitu dicinta? Apakah tiada cukup dirawatin, dikasi pakai, dikasi makan, tiada perdulikan capeh, susah dan ong- kos? Kenapatah Truus sekarang musti terpisah? O, Henri, dari mana dan Bagimana kita bisa dapet penghiburan...“
Nyonya Tillij tiada tiada bisa terusin bicaranya, bahna kliwat sedih. Suaminya saboleh-boleh sudah hiburken, supaya Tillij jangan begitu sedih.
Nyonya Tillij sudah menangis menggerung-gerung, kutika inget, tiada lama pula mait anaknya musti dikubur. Sembari bercucuran air mata ia samperin anaknya, terus dipelok, dicium beberapa kali, kamudian ia buka jendela kamar, memandeng ka kebon, saolah-olah mau ilangin sedihnya, tapi sia-sia, hatinya sudah tiada karuan rasa, kalu bisa, itu waktu juga ia ingin mati supaya dikubur satu lobang sama anaknya.
Sekunyung-kunyung nyonya Tillij merasa pundaknya dipegang. Sigrah ia menengok dan liat suaminya sudah berdiri di blakangnya.
“Tillij, isteriku yang tercinta!” kata suaminya. ‘Sudah Tillij, jangan kau terlaluh sedih. Ingetlah sedikit! Apakah aku tiada musti menanggung juga susah sebagai angkau? Apa angkau sekarang sudah tiada cinta aku lagi seperti dulu? Inget, Tillij, ingetlah, jangan kau begitu sedih! Takdir Yang Maha Kuasa tiada boleh dirobah lagi!“
Nyonya Tillij sudah semingkin sedih, dengar perkataan suaminya, yang lantas dipelok, terus dicium.
Besuknya nyonya Tillij pimpin suaminya, diajak masuk di kamar, di mana sudah disadia peti mati. Mait nonta Truus sudah dikasi masuk di peti.
Bila sampe, nyonya Tillij lantas tumpah air mata lagi, inget anaknya, yang begitu dicinta dan sabentar bakal dipendem.
“Henri,” kata nyonya itu, suaranya sesenggukan. “Apa kau masih inget, dua bulan yang sudah aku sudah pergi susul kau, ajak Truus, kamudian waktu mau pulang, aku sudah minta lain jalan?“
“Ya, aku masih inget,” saut suaminya, suaranya pun sedih. “Kenapa kau menanya begitu, Tillij?”
“Ah, itu hari hatiku sudah tiada karuan rasa,” kata pula nyonya Tillij. “Kutika pergi susul angkau, aku sudah liwatin tempat pekuburan dan justru di itu tempat, tiba-tiba Truus menanya, apa gunanya batu dan kayu begitu banyak diatur sana-sini kuliling tempat itu. Tatkala aku kasih tahu, tempat itu satu tempat pekuburan, Truus lantas menanya, apa ia juga bakal lekas dikubur di situ. Aku sudah kaget, mendenger itu pertanyaan, terus sedih. Sekarang angkau mengerti, kenapa aku sudah minta ambil lain jalan itu waktu, tiada lain, supaya jangan liwat lagi di itu tempat pekuburan. Itulah sebabnya aku sudah susah hati, tiada mau banyak omong seBagimana biasa.”
“Suaminya tiada menyahut, ia mengarti, isterinya sedang sedih, terus dituntun kaluar. Itu hari mait nona Truus dikubur. Malemnya nyonya Tillij dan suaminya duduk, bengong di pertengahan rumah, tempo-tempo masing-masing sesunggukan, bila pikirin perkara yang telah jadi.
Bebrapa bulan sudah liwat lagi. Suatu hari nyonya Tillij duduk lagi di kamar, di mana suaminya sedang menggambar, tapi rupanya amat sedih.
Meliat suaminya begitu sedih, nyonya Tillij lantas hiburken, seraya kata, “Henri! Sudah, jangan terlaluh inget lagi perkara yang sudah. Sabarlah, hati kita yang amat duka bakal dapat penghiburan pula, tiada sebrapa bulan lagi kita nanti dapat lain anak.”
Nyonya Tillij laluh pelok suaminya. Sebagai puhun kayu ditimpah air ujan, begitu pun Henri Lest lantas segar lagi mendengar perkataan isterinya, yang lantas dicium. Sakutika lamanya laki isteri itu tinggal duduk saling pelok, sambil pikirin peruntungannya, habis ujan tentu panas lagi.
¹ Warna Sari, penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Malaikat Jibril dan Dua Orang Bersaudara¹
Satu Dongeng dari Negeri Arab
Kata yang ampunya cerita ini, di zaman dahulu kala, sebelonnya ada Raja Haroen Al Rasjid, di negeri Arab kulon, ada dua orang bersudara, yang satu seorang alim, siang malem tiada lupa pada Tuhan, siang malem tiada brentinya berbuat ibadat, tiada luput sembayang tiap-tiap waktu dan jarang tau keluar dari rumahnya di satu tempat pertapaan di kaki Gunung Harafa, sementara saudara yang lain menjadi kepala penyamun, tiada sekali inget pada Tuhan, belon pernah berbuat ibadat belon tau mau perduliken agama dan pekerjaannya siang hari malem cumah menyamun, membegal, dan merampok saja, hingga namanya sudah kasohor jahat di antero negeri.
Pada suatu hari malaikat Djibrail dipanggil mengadep pada Tuhan dan diprentah mengunjungi itu dua orang bersudara buat uji hatinya.
Malaikat Djibrail sigrah melakuken prentah Tuhan, laluh melayang turun di bumi, terus dateng di rumahnya suda- ra yang alim, yang sudah ampat puluh taon umurnya. Orang alim ini, yang tiada kenalin malaikat Djibrail dan tiada suka campur orang, sudah terkejut dan sudah trima malaikat dengan tiada seneng hati, cuma sungguhken padanya satu dua rupa bebuahan serta sediaken satu tempat di pojok rumah buat tetamunya bermalem. Kamudian ia berbuat ibadat, lagi, tiada mau open pada tetamunya. Malaikat Djibrail sanget heran, meliat perbuatannya itu orang alim.
Besok paginya malaikat Djibrail berangkat lagi, terus pergi ka utan, di mana ada tinggal si kepala rampok, sudaranya orang alim itu. Rumahnya kecil, tiada bedah sebagi gubuk, ditutup kain layar lebar sakitar dan atasnya.
Kepala rampok ini, yang juga tiada kenalin malaikat Djibrail, sudah trima malaikat ini dengan segala suka cita dan seneng hati. Malaikat Djibrail lantas diajak dan disilahkan masuk di dalem gubugnya, tetapi malaikat tiada suka masuk dan minta bermalem di luar gubuk saja. Si kepala rampok tiada mengarti perbuatan tetamunya, yang tiada mau tidur di dalem gubuk, maka kutika si tetamu sudah tidur pules, si kepala rampok pindahkan gubuknya pada tempat, di mana tetamunya tidur, supaia ia ini tiada kena embun.
Heran, amat herannya malaikat Djibrail meliat si kepala rampok, satu orang jahat, ada begitu telaten, hingga Djibrail niat mau uji hatinya penyamun itu, yang tiada inget pada Tuhan. Pada besok paginya, tatkala si kepala rampok sudah sadia barang makanan, ia silahkan tetamunya bersantap, tetapi malaikat Djibrail tiada suka bersantap, membilang, ia sudah sumpah tiada mau dahar apa juga, kalu tiada disuguhken sarupa barang santapan, di mana ada tuju hati.
Si kepala rampok sudah heran mendengar perkataan tetamunya. Ajaib, begitulah ini kepala rampok berpikir, sung- guh ajaib permintaan ini tetamu. Dari mana musti didapet itu tuju hati?
Tiba-tiba kepala rampok ini lantas inget, ia ada punya lima ekor kambing. Buat bikin senang tetamunya, ia sigrah potong itu lima kambing dan ambil hatinya, terus dimasak, kamudian disajiken pada tetamunya, tapi ia ini belon juga suka makan, kerna belon cukup tuju hati.
Alangkah bingungnya si kepala rampok.
Apa sekarang musti dibikin? Di luar dekat gubuk, ada dua anaknya, Ali dan Abdulkader sedang asyik main lari-larian.
Ini dua anak si kepala rampok sanget cinta.
Sakutika lamanya si kepala rampok tinggal berdiri be-ngong di pintu gubug, kepalanya tunduk, hatinya bimbang, dengulnya sudah gumeter, saolah-olah ia mau jato.
“Apakah musti dibikin? Bunuh itu dua anak? Astaga!........, anaknya sendiri musti dibunuh buat bikin senang te-tamunya?”
Begitulah si kepala rampok berpikir. Ia goyang kepala-nya sambil tarik napas panjang, kamudian dengan cepet ia lari kaluar. Tangannya memegang piso, amat tajem.
Tiada lama lagi ia sudah kombali, membawa dua hati di tangan kiri, ia itu...... hati anaknya sendiri!
Ali dan Abdulkader, anaknya sendiri, ia sudah bunuh, sudah ambil hatinya buat disuguh pada tetamunya!
Malaikat Djibrail, yang sudah tau semua ini, sudah jadi terlebih heran lagi, meliat kepala rampok, yang belon pernah berbuat ibadat, belon pernah sebut nama Tuhan, ada begitu baik hati, begitu telaten. Dengan pura-pura tiada tau satu apa,
Malaikat Djibrail minta liat itu dua anak, yang tadi main deket gubuk.
Si kepala rampok kombali sudah jadi bimbang lagi dan tiada lantas berbuat sebagimana sudah diminta malaikat.
Kentara sekali ini kepala rampok ada suah hati. Kamudian dengen melaga marah, malaikat kasi tau padanya, mau lantas berangkat kalu permintaannya tiada diturut.
Dengan hati susah si kepala rampok lantas mengaku, ia sudah bunuh anaknya dua-dua buat suguhken pada tetamu-nya barang yang sudah diminta.
Malaikat Djibrail sekarang dapet tau tulus hatinya kepala rampok ini, laluh bikin hidup lagi itu dua anak, kamudian pulang kombali, penghadep pada Tuhan dan ceritaken pendapetannya hal dua sudara itu.
Tuhan prentah lagi pada Djibrail aken sampaiken pada si orang alim perkataan ini: “Hei, angaku! Angkau yang begitu alim yang sudah berbuat ibadat siang malem ampat puluh taun, angkau tiada suka trima tetamu dengan patut, maka tiada guna angkau berbuat ibadat, Sekalipun lagi seratus taun angkau ibadat ebadat, kami belon suka trima padamu!”
Pada Djibrail di prentah lagi aken sampeiken pada si kepala rampok perkataan ini: “Hei, angkau! Angkau yang tiada berbuat ibadat, tiada sumbayang, angkau sudah berbuat segala aken bikin senang pada tetamu hingga anakmu Sekalipun kau sudah bunuh buat senangken angkau punya tetamu. Angkaulah dikasi am pun dari semua dosamu, buat angkulah dibuka pintu surga.”
Dari ini dongeng boleh diambil natsehat, orang yang tiada pernah berbuat ibadat, tetapi suka trima sasamanya dengan manis, niscaya berkat dan slametlah dirinya.
¹ Warna Sari, penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Cerita Nona Lizzij
atau
Seorang Perempuan Muda Halus Adat¹
Suatu soreh. waktu menggerip, di luar sudah mulai gelap, dengan banyak susah Nyonya Wergert bangun dari krosi males, di mana ia sudah duduk berlonjor, mau pasang lampu. Nyonya Wergert sudah lama, selaluh sakit, tambahan sudah banyak umur tiada pun heran nyonya itu sudah menggerendeng, kutika bangun dari krosi males sudah menggerutu, musti pasang lampu sendiri di dalem rumah, satu pekerjaan yang biasa diurus anaknya prampuan. Nona Lizzij, begitu nama anak Nyonya Wegert, itu hari dari jam dua soreh sampai jam tuju malem belon pulang, masih urus pekerjaan di toko. Sambil menyomel Nyonya Wegert pasang lampu supaya anaknya lelaki, sinyo Cor, umur sepuluh taon, bisa baca buku, aken apalin bebrapa fatsal yang besoknya musti diajar di sekola.
Kira satu jam kamudian, tiba-tiba Nona Lizzij, satu anak prampuan cantik molek, umur duablas taon, pulang, terus masuk di kamar ibunya sembari kasi hormat dengen senyum, laluh atur barang makanan di meja dan rekokin lain-lain pekerjaan seperti biasa.
“Laat sekali ini hari kau pulang, Lizzij,” menyomel ibunya, terus duduk dahar.
“Ya, laat sedikit ibuku,” saut itu nona manis. “Pekerjaan ini hari kliwat banyak, tiada bisa ditinggal.”
Ibunya tiada menanya lagi, terus dahar. Sasudah bersantap, Nona Lizzij ambil surat kabar aken dibaca buat ibunya, yang sudah kurang awas, tiada bisa baca sendiri surat kabar itu.
“Lizzij,” kata ibunya sembari lepas diri di krosi males. “Cobah kau preksa di ruang advertentie, siapa ini hari sudah meninggal dunia, ibu ingin tau.”
“Ah, ibu,” saut Nona Lizzij, tiada lain yang ibu demem denger.
Perlu apakah dibaca kabar hal orang mati? Angguran saia bacain ibu lain-lain kabar yang aneh.“
Nyonya Wegert tiada mau paksa anaknya baca kabar hal orang mati, terus kata pula, “Nah kalu begitu, baik kau baca dulu, siapa sudah tunangan dan siapa sudah kawin. Tentu ini hari banyak orang tunangan.”
Nona Lizzij buka itu surat kabar, kamudian ditekuk seraya dibaca menurut permintaan ibunya. Sekunyung-kunyung Nona Lizzij lepas itu surat kabar dari tangannya, se-dang mukanya lantas berubah, terus jadi pucet, bikin terkejut ibunya.
“Astaga!” menyebut ibunya dengan kaget, “Kau kenapa. Lizzij? Mengapa kau mendadak sudah pucet sambil be-ngong?”
“Tiada mengapa Ibu, saya tiada kurang satu apa,” begitu nona itu sautin, kamudian baca lagi semua kabar hal orang tunangan di itu surat kabar, di mana sudah dimahlumken ju-ga luitenant Meijhuis telah tunangan dan sudah dekat nikah-nya.
“Zoo!” berseru ibunya, kepalanya mangut beberapa kali. “Zoo! Luitenant Meijhuis sekarang lagi tunangan. Syukur kalo begitu, syukurlah! Kasian itu luitnant! Baik sekali kalu ia da-pet tunangan satu nona kaya dan jaya, kalu tiada, tentu nanti payah. Luitenant Meijhuis memang saorang miskin seperti kita, tambahan sekarang ia lagi dilanggar susah..”
“Benar Ibu, benar sekali kata Ibu,” menyaut pula Nona Lizzij, terus baca lagi beberapa kabaran, kamudian letakin itu surat kabar di atas meja, dan lantas pergi di blakang. Sabentar lagi Nona Lizzij sudah balik, bawa teh dan susu buat ibunya. Sasudah atur itu teh dan susu di meja, Lizzij anter sinyo Cor, adehnya sendiri ka tempat tidur.
Pun ibunya tiada lama lagi sudah masuk di kamar tidur.
Satelah ibu dan adehnya sudah pules, Nona Lizzij duduk saorang diri di kamarnya sambil sapu air matanya, yang sudah kaluar bercucuran, jatuh seperti ujan kaluar bercucuran, jatuh seperti ujan di bajunya. Sakutika itu Lizzij inget pada Luitenant Meijhuis, satu ofsir baik budi, yang ia sanget cinta, sudah amat harep bisa jadi istrinya, habis sekarang ofsir itu sudah tunangan sama lain orang. Tadi soreh, kutika pergi di toko. Lizzij sudah ketemu itu luitanant dekat jembatan dan sudah bicara bagimana sehari-hari, masing-masing sudah mengaku suka, sudah mengaku cinta satu pada lain. Cumah sawaktu itu Luitenant Meijhuis rupanya sedikit kesal, saboleh-boleh tiada mau kasi kentara dan tiada cerita perkara ia sudah tunangan sama lain nona.
Pun Lizzij itu kutika tiada duga, Luitenant Meijhuis sudah tunangan. Sekarang Lizzij pikir, boleh jadi Luitenant itu tiada ceritain itu perkara, sebab tiada mau bikin sedih padanya. Lizzij sudah tumpah aer mata, bukan lantaran sedih dapet tau Luitenant itu sudah tunangan, malahan Lizzij girang dan pikir, tentu itu ofsir sudah kapaksa cari buat istri satu nona kaya, yang kamudian bisa tulung padanya.
Seraya pikir begitu, Nona Lizzij tutup mukanya dengen bantal, terus rebah di tempat tidur, sebentar-bentar dapet lia Luitenant Meijhuis berkeblat, berbayang-bayang di ujung bulu matanya.
Satu bulan sudah liwat Luitenant Maeijhuis sudah nikah sama satu nona elok, lagi hartawan, yang blakang hari sudah lahirken dua anak prampuan. Luitenant Meijhuis hidup seneng, rukun dan beruntung sama istrinya, yang amat dicinta. Liwat dlapan taon sejak sudah nikah, istr Luitenant itu mendadak dapet sakit peparu, semingkin lama semingkin payah sakitnya. Bebrapa rupa obat nyonya itu sudah gunaken, semua percumah saja, tiada satu bisa tulung. Tambah hari Nyonya Meijhuis tambah kurus, mukanya sudah perok, matanya sudah dalem.
Dokter yang obatin Nyonya Meijhuis sudah kasi natsehat pada suami nyonya itu, minta pertulungan satu orang prampuan juru pengrawat yang biasa rawatin orang sakit buat jaga Nyonya Meijhuis. Luitenant Meijhuis tiada bikin kaberatan, malahan suka turut itu nasehat dan dokter lantas minta pertulungan satu orang prampuan juru pengrawat, nama zuster Elisabeth, aken rawatin dan jaga Nyonya Meijhuis.
Juru pengrawat itu sudah lama dikenal tuan dokter, yang sudah puji rajin, manis budi dan sabarnya zuster Elisabeth, pande rawatin orang sakit.
Memang juru pengrawat itu harus dipuji, siang malem ia rawatin Nyonya Meijhuis sesungguh hati, tiada mau jauh dari pembaringan nyonya itu, juga pekerjaannya gesit, tiada boleh dicelah, sedikit pun tiada.
Luitenant Meijhuis amat seneng, meliat pekerjaan itu juru pengrawat, yang begitu pande jaga dan rawatin orang sakit. Lauitenant itu sudah rasa, ia kenal pada itu juru pengrawat, melaenkan belon dapet liat tegas muka orang prampuan itu, sebab cumah ketemu di kamar istrinya, yang selaluh musti tinggal gelap, menurut nasehat dokter.
Seringkali Luitenant itu ingin ajak kaluar sebentar itu juru pengrawat, supaya bisa diliat tegas mukanya, tiap niat itu tiada diterusin.
Kendati diobatin, dirawatin bagimana baik juga, sakitnya Nyonya Meijhuis tiada kaliatan mendingan, tiada keliatan kurang, malahan suatu hari nyonya itu sudah lebih payah, kapaksa lantas diminta dateng dokter, yang sigrah tulung sembari gugup, kuatir nyonya itu tiada bakal katulungan lagi.
Itu waktu suaminya duduk bengong di ujung pembaringan, mukanya pucet, kentara sekali lagi susah hati, pikiran hal istrinya. Tuan dokter, yang kasi obat, saben hari rajin dateng preksa penyakit istri Luitenant itu. Beberapa malem nyonya itu bisa tidur, sakitnya kliwat payah. Pun itu orang prampuan juru pengrawat sudah pelok Nyonya Meijhuis sembari berbuat sabisa-bisanya, mau tulung itu istri ofsir, yang sedeng menanggung banyak sangsara.
Itu malem hampir jam lima pagi Nyonya Meijhuis baru bisa pules.
Perlahan itu juru pengrawat rebahken kepala Nyonya Meijhuis di atas bantal empuk, kamudian ia sendiri lantas lepas diri di bangku divan, sebab sudah amat capeh, sudah bergadang siang malem bilang hari.
Paginya jam tujuh, dokter sudah dateng lagi, rupanya amat senang, meliat Nyonya Meijhuis bisa pules.
“Sekarang nyonya bisa ditulung,” kata tuan dokter pada Luitenant Meijhuis, yang masih kuatir. “Tadinya saya sudah selempang, sudah kliwat selempang, tapi sabar sekarang, jangan putus pengharepan.”
“Trima kasi Tuan dokter, o, besar sungguh budi Tuan,” kata Luitenant Meijhuis, yang sudah legah hati mendenger perkataan tuan dokter. “Saya tiada nanti lupa budi tuan dokter!”
“O, bukan pada saya,” saut tuan dokter, “Bukan pada saya, sabetulnya pada itu orang prampuan sudah banyak tulung, sudah rawatin, istri tuan berhari-hari dengan rajin dan sungguh hati. Harus sekali dipuji itu juru pengrawat.”
Tuan dokter preksa lagi sabentaran Nyonya Meijhuis, yang masih pules, kamudian jalan kaluar, diikutin suami nyonya itu.
Sejak itu hari penyakit Nyonya Meijhuis mulai kurang, semingkin lama semingkin kurang, pun mukanya sudah berubah, sudah tiada begitu pucet lagi seperti dulu. Luitenant Meijhuis bukan alang-kepalang senangnya meliat istrinya sudah semingkin sembuh.
Suatu pagi, kutika matahari baru terbit, memancarken sinarnya salebar bumi, juru pengrawat itu buka jendela kamar Nyonya Meijhuis, klambu atau tirei jendela disingkap sedikit supaya kamar itu terang kajuju sinar matahari. Kamudian ia berlutut di depan pembaringan Nyonya Meijhuis, rangkep tangan di dada, terus mengucap syukur pada Tuhan, yang sudah membri berkat, sampe ketulungan jiwa nyonya itu, yang tadinya sudah begitu payah.
Justru itu waktu Luitenant Meijhuis masuk di kamar istrinya dan dapet liat tegas muka itu juru pengrawat. Luitenant Meijhuis sigrah membilang trima kasih banyak pada itu orang prampuan juru pengrawat, yang sudah rawatin istrinya begitu rajin.
Sasudah awasin sakutika lamanya Luitenant Meijhuis lantas pegang tangan itu juru pengrawat, terus menyebut, “Astaga! Betul tiada salah angkau! Saya kenal angkau! Bukankah angkau ini Nona Lizzij?”
“Benar, saya ini Lizzij Wegert,” satu itu juru pengrawat. “Saia sekarang amat bunga hati, sudah bisa rawatin istri tuan sampei slamet.
Luitenant Meijhuis lantas mau pegang lagi tangan itu orang prampuan, tapi dengen cepat juru pengrawat itu bangun dari bangku divan, ambil bungkusan, terus jalan kaluar sembari puji Tuhan.
“Terpujilah Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Rahim!” begitu juru pengrawat menyebut.
Luitenant Meijhuis sudah kaluar juga dari kamar istri-nya sambil turut puji Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tiada sekali-kali Luitenant itu nyana, Nona Lizzij bakal jadi juru pengrawat dan justru nona itu bakal musti rawatin istrinya.
Sambil berlinang-linang aer mata, Luitenant Meijhuis tinggal berdiri di depan rumah, awasin Nona Lizzij, yang sedang jalan pulang dengan senang.
Begitulah tabiat saorang prampuan muda, yang alus adat, tiada dendem sakit hati, maski orang yang tadinya dicinta, sudah nika sama orang lain.
¹ Warna Sari, penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Cerita Pangeran Rajam Panahore
Harganya Peruntungan¹
Suatu hari, kutika Prins Rajam Panahore sudah sampei umur, sudah akhir baleg, raja tua, ayahnya sendiri, minta dateng menghadep Prins itu di hadapan makuta karajahan, terus kata.
“Rajam, putraku yang dicinta! Sekarang angkau sudah sampei umur, sudah dateng temponya aken gantiken aku jadi raja di negri Panahore. Dari sekarang juga aku angkat angkau jadi pengurus kahendakmu sendiri, jadi pengurus segala perbuatanmu yang bejik. Tiada satu orang boleh alangken angkau dalem segala perkara. Angkau sendiri musti bakal lepas-ken nasib kau.”
Bukan patut bunga hatinya Prins Rajam, sakutika itu juga ia manggut sambil mengucap trima kasi pada ayahnya, kamudian lantas paranin Goernaida, satu budak prampuan, masih muda, amat cantik manis.
Prins Rajam sigrah berdiri di hadapan Goernaida, yang lagi duduk di dalem astana.
“Goernaida, prampuan yang cantik molek!” begitu Prins Rajam kata sasudah berdiri di depan budak itu. “Goernaida, aku cinta, amat cinta angkau! Hal punyain angkau itulah, sudah lama jadi impi peruntunganku, sudah lama, kliwat lama aku ingin buat istri angkau. Goernaida angkau saorang! Goernaida! Sukakah angkau jadi punyaku? Di hadapan sekalian dewa dan manusia, aku mau jadiken angkau istriku!”
Goernaida mendenger itu perkataan lantas goleng kepala dengan sedih.
“Am pun duli Tuanku!” sembah Goernaida, “Pun patik sudah lama amat cinta duli Tuanku! Cinta patik pada Tuanku bukan terkira! Pun bagi patik tiada ada peruntungan lebih besar di dunia ini melainken aken jadi istri Tuanku. Tapi, ah, tiadah pernah patik aken dapat peruntungan, tiada pernah patik bakal bisa jadi istri Tuanku yang amat bijaksana.”
“Tiada bisa Goernaida?” tanya Prins Rajam yang sudah heran terheran-heran mendenger perkataan Goernaida. “Tiada bisa? Kenapa tiada bisa? Apa sebab, aku sekarang jadi kuasa kahendakku sendiri, jadi pengurus segala perbuatanku. Apakah yang bisa tahan kahendakku dan apakah yang nanti bisa alangin kahendak angkau, Goernaida?”
Budak prampuan itu lantas goleng kepala lagi sambil tarik napas panjang.
“Am pun Tuanku Prins Rajam!” saut Goernaida, suaranya sedih. “Patik tiada ada harepan bakal bisa jadi istri Tuan-ku, yang patik begitu cinta, tiada ada lain di ini dunia, yang patik lebih cinta, cumah Tuanku saorang!”
“Goernaida, buah hatiku! berseru pula Prins itu. ”Bilanglah apa aku musti bikin, supaya bisa dilulusin pengharepan- ku aken buat istri angkau. Percayalah Goernaida, tiada sa-suatu apa juga bakal aku pandeng berat, asal saja bisa punya-in angkau!“
“Tuanku Prins Rajam!” kata Goernaida dengan sedih seperti orang yang sudah putus asa, sudah ilang pengharepan. “Kalu Tuanku begitu cinta patik, baik Tuan pergi, lekas pergi jumpah pada bibi patik, Dewi Maghanoer! Tanyalah padanya brapa mahal itu peruntungan. Tanyalah brapa Tuanku musti bayar buat dapat patik! Kamudian, kalu Tuanku sudah tau itu semua dan masih sudi buat istri patik, Tuanku boleh balik lagi di sini, niscaya saumur hidup patik jadi milik Tuanku, tiada bakal dipunyain lain orang.”
Prins Rajam tiada banyak cerita lagi, terus prentah satu pegawai saja satu kuda tunggang, yang paling gancang lari.
“Baik Goernaida!” begitu Prins Rajam kata, sabelon berangkat. “Sekarang juga aku mau berjumpah pada Dewi Meghanoer, apa juga aku mau serahken asal saja bisa ber-untung dapat angkau buat istri, biar Bagimana mahal, aku bi-lang tiada mahal. Nah, Goernaida, slamet tinggal, aku se-karang mau berangkat, kamudian bakal lekas balik lagi pada kau.”
Prins Rajam sigrah lompat naik di kuda tunggangnya yang lantas dilariken kencang sepanjang jalan. Dua hari dua malam terus tiada brenti Prins Rajam lariken kudanya ka tem-pat Dewi Meghanoer. Paginya hari ketiga Prins Rajam sampai di tempat dewi itu, terus menghadep, kasi tahu maksudnya.
“Dewi yang maha mulia!” begitu Prins Rajam mulai bi-cara. “Jangan heran meliat kami dateng menghadep Tuanku Dewi! Maksud kami tiada lain, cumah mau lamar Goernaida, kami ingin buat istri padanya, Goernaida pun cinta kami, tapi tiada ada harepan bisa jadi istri kami, itulah Goernaida sudah bri nasehat pada kami, dateng menghadep di bawah duli Tuanku yang maha mulia, supaya Tuanku kasi tau, apa kami musti bikin, buat dapet itu peruntungan besar, buat nikah sama Goernaida.“
“O, Prins Rajam, tiada gampang!” saut Dewi Meghanoer.“ Kau musti beli itu budak, Prins Rajam.”
“Dengen segala suka hati,” kata Prins itu. “Kami sudah tau kami musti beli Goernaida. Segala yang kami punya dan bisa kasi, dengen seneng hati kami serahkan buat dapet itu peruntungan besar. Kami tiada perduli brapa harganya, asal saja kami dapat Goernaida, yang kami amat cinta. Bilangin Tuanku Dewi, brapa kami musti bayar?”
“Mahal, Prins Rajam, mahal,” saut pula Dewi Meghanoer dengan mesem. “Buat dapet Goernaida, kau musti serahkan makota angkau.”
“Baik, dengen segala suka hati kami serahkan itu makota, kapan saja mau diambil kami lantas kasi.”
“Ya, bukan itu saja, ada lagi! Kau musti serahkan juga kuasa dan kekayaan angkau.”
“Pun dengen suka hati kami serahkan kuasa dan kekayaan kami,” kata Prins Rajam, rupanya sudah amat girang.
“Ada lagi! Pun hati kau musti diserahkan juga.”
“O, dengen segala senang, kami serahkan hati kami, asal saja Goernaida boleh jadi milik kami.”
“Pun jiwa angkau musti diserahkan, Prins Rajam!”
“Juga baik, kami dengen senang mau mati, kalu kami sudah beruntung.”
“Itu pun belun cukup, juga jiwa ayah kau kudu diserahkan, bila kau betul cinta Goernaida dan ingin buat istri padanya.”
Prins Rajam lantas terkejut, ia tida nyana, musti serahkan juga jiwa ayahnya. Sakutika Prins Rajam tiada bicara, tinggal berdiri bengong.
“Jiwa ayah kami juga mau diambil?” tanya Prins Rajam, mukanya sudah pucat.
“Ya.” saut Dewi Meghanoer dengan mesem.
“Jiwa ayah kau diserahkan juga.”
“Apa boleh buat,” kata pula Prins Rajam seraya angkat pundak, “Kalu musti, baik kami suka serahkan jiwa ayah kami.”
“Itu belun sampai, berseru Dewi Meghanoer, ”Jangan kaget, Prins Rajam, jangan kaget, pun jiwa ibu kau musti diserahkan, bila tiada, kau tiada bisa dapet Goernaida buat istri.“
Mendenger perkataan itu, Prins Rajam sudah lebih kaget, terus menjerit.
“Astaga!” menyebut Prins itu, sembari goleng kepala. “Jiwa ibu kami? Ah, tiada, sekali-kali tiada bisa serahkan jiwa ibu kami!”
“Itu melainken tergantung pada kau p[rins Rajam,” kata Dewi Meghanoer. “Angkau bilang, kau amat cinta Goernaida, kau ingin buat isteri itu perempuan muda. Bila kau tiada serahkan jiwa ibu kau, tentu kau tiada usah harep Goernaida aken jadi isteri angkau.”
Prins Rajam sakutika itu sudah begong, sudah ribut pikiran. Ia cinta, amat cinta ibunya, habis sekarang jiwa ibunya musti diserahkan buat dapet Goernaida. Pun Goernaida amat dicinta Prins Rajam, apa sekarang musti dibikin? Prins Rajam sudah semingkin ribut pikiran, terus bengong.
“Apa boleh buat,” begitu Prins Rajam kamudian kata, suaranya perlahan, hampir tiada kadengeran. “Kalu musti, baiklah kami lulusin itu permintaan kami serahken jiwa ibu kami.”
Dewi Meghanoer lantas mesem, pandeng Prins Rajam, seraya kata. “Prins Rajam. Kami tadi cumah main-main saja, kami ingin tahu Bagimana hati kau. Buat dapet itu kauntungan, kau tiada usah bayar begitu mahal.”
“Terlalulah!” kata Prins itu dengan girang. “Tapi bilanglah terus terang, brapa kami musti bayar?”
“Tiada seberapa,” sahut Dewi itu. “Jangan kuatir, angkau tiada usah kasi makuta angkau, tiada usah serahken ayah dan ibu kau, pun hati kau tiada usah diserahkan, cumah saben hari selama kau hidup, sampai pada ajalmu, kau musti ditusuk jarum beribu kali! Cumah sabegitu saja, bila kau suka, tentu kau boleh lantas punyain Goernaida.”
Prins Rajam lantas pucat mendenger begitu, mukanya sudah putih seperti kapur, hatinya sudah berdebar-debar. Prins Rajam mundur dua tindak, terus tutup muka dengan kadua tangan dan tinggal berdiri begitu sakutika lamanya, tiada bicara satu apa, pun tiada bergerak.
“Cilaka! demikian Prins Rajam kamudian berseru, ”O, cilaka, ilanglah pengharepanku!“
Sasudah berseru begitu, Prins Rajam loncat lagi di atas kuda, terus dilariken, tiada pamitan lagi, tiada kata puti, tiada kata item. Prins Rajam tiada kombali lagi di tempat Goernaida, buah hatinya yang begitu dicinta. Sejak itu tiada pernah Prins Rajam ketemu muka lagi sama Goernaida, ia sudah buang pikirannya yang dulu, tiada ingin pula buat isteri Goernaida, yang kudu dibeli begitu mahal.
¹ Warna Sari, penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Cerita Si Marinem
atau
Mata Gelap¹
Suatu soreh di musim panas, kira sudah jam dua liwat seprapat, sedang udara di kota Malang amat jernih, terang cemerlang, tempo-tempo kaliatan awan puti liwat di udara di sapu angin, yang bawa hawa gunung terlampau sejuk dan nyaman, itu suruh kuliling kota Malang kliwat sepih, tiada kadengeran satu suara, saolah-olah kota itu sudah tiada penduduknya lagi.
Di Lembang bukit-bukit kecil besar, yang mengiterin gunung amat tinggih, sana sini katampak sawah, padinya semua sudah kuning, sudah musinnya dipotong. Antara padi yang sudah kuning, berkiklat-kilat sebagi mas dijuju matahari, sana sini kaliatan juga beberapa petak sawah yang masih ijo padinya, tergerak-gerak dilenggor angin gunung, hingga dari jauh kelihatan seperti batu jambrut di-apit mas.
Tengah sawah itu katampak satu jalan kecil terus ka kota Malang, sabentar-bentar membiluk ka kiri kanan sebagai uler sedang merayap. Jalan itu sepanjangnya amat sepih. Sana sini debu doang, tempo-tempo berhamburan murak marik kuliling tempat diaduk angin. Itu soreh di itu jalan melain-ken liwat saorang desa, tunggang kuda kecil, di blakangnya jalan beruntun tiga orang prampuan anak negri, tiada satu yang bicara, masing-masing jalan sembari tunduk.
Jauh, amat jauh di seblah wetan itu jalan kaliatan Gunung Smeru, menjagrok sebagai resaksa, mengaluarken banyak asep item, yang ngulek ka udara bergulung-gulung, kamudian terpencar dibuat main angin. Seblah wetan kidul katampak pula sebaris gunung, puncaknya masing-masing tada kaliatan, ditutup asep item yang kaluar dari kawa Gunung Smeru.
Justru itu sedeng berdiri satu soldadu anak negri, bersender pada puhum klapa, tiada pakei topi, tiada berbaju, celananya sudah digulung sainggan lututnya. Di itu tempat soldadu itu berdiri peluk tangan, memandeng ka sawah, rupanya sebagai orang yang lagi kesal, lagi kliwat jengkel.
Soldadu itu satu orang bumi putra dari tanah Priangan, nama Amat dan sudah berdiri bengong di itu tempat, tungguhin saorang prampuan, sukaannya, nama Marinem, yang saben soreh waktu asar biasa pulang dari tangsi ka desa di ujung sawah dan kudu liwatin tempat, di mana itu soldadu berdiri.
Sudah lebih satu jam si Amat menungguh belon juga kaliatan liwat itu orang prampuan. Yang di bernantiken. Amat sudah tambah kesal, dengen tiada sabar ia memandeng ka jalan, di mana Marinem musti liwat. Jalanan itu selalu sepih. Sambil menggerutu dan menggerendeng Amat kamu- dian masuk di latar satu rumah bambu kecil, di mana satu orang prampuan Djawa, sudah tua, lagi duduk membatik.
“Ciloko temen” (cilaka betul), begitu Amat kata, kutika sudah sampe di tempat itu orang prampuan tua duduk.
Itu orang prampuan tua lantas angkat kepala, awasin muka si Amat sembari kerja terus dan bicara dengan suara perlahan, tiada kadengeran teges.
“Marinem ora teko” (marinem tiada dateng). Kata lagi si Amat, mukanya sudah asem.
“Ora teko?” (tiada dateng?), tanya itu orang prampuan tua sambil membatik terus. “Moso ora teko, musti teko (masa tiada dateng, musti dateng). Enteni bae, mangke teko. (Tunggu-in saja, nanti dateng).”
“Wis dienteni pirang jam,” (sudah ditunggu bilang jam),“ saut Amat dengen jengkel. ”Mustahil kalu dateng, sampei begini waktu belon juga, matahari sudah miring jauh ka kulong. Aku kuatir Marinem tiada dateng ini hari.“
“Sabar saja,” menyumel itu orang prampuan tua, rupanya sudah kesal dengerin si Amat menggerutu, “Aku bilang, Marinem musti dateng.”
Amat tiada bicara lagi, terus duduk di balee di depan rumah, liatin itu orang prampuan tua membatik dengan tersenyum.
Tiada sebrapa, lama lagi kaliatan Marinem masuk di pekarangan itu rumah, terus kasi hormat pada itu orang prampuan tua dengan tersenyum.
“tadinya sudah dikuatir kau tiada bakal dateng,” kata itu orang prampuan tua.
“Masa tiada dateng?” saut Marinem sambil bales menanya. “Pekerjaan belon beres, jadi kasorean saia berangkat.”
Marinem satu orang prampuan muda, pranakan Priangan, mukanya bunder, item manis, badannya kecil, matanya jeli, kondenya besar. Kendati item manis, Marinem amat cantik, apalagi kalu sudah dandan dan berias, lebih timbul eloknya.
Dengan perlahan Marinem kaluarken beberapa rupa bebuan yang dikandut di selendang tersulam benang mas, dirias ronce-ronce benang sutra alus. Bebuahan itu diatur di balee, dikasi pada itu orang prampuan tua.
Amat tiada bicara, dengen sabar ia tinggal duduk di bale, menungguh sampe Marinem duduk juga di balee di seblahnya, kamudian baru diajak bicara bahasa Sunda dengan suara manis, lemah lembut.
Marinem sudah dateng di Malang, ikut Sidin, soldadu tukang trompet, yang tiada lama mau berangkat ka negri Atjeh, di mana ia sudah dipindah.
Amat sudah lama gilain Marinem, maski begitu, tiada mau paksa orang prampuan itu bercere dari suaminya. Sekarang Sidin bakal pergi di negeri Atjeh dan Amat minta, Marinem jangan ikut lagi si Sidin, disuru mengumpet di rumah itu orang prampuan tua, nama embok Saridjo, di mana Marinem musti tinggal sampe Sidin sudah berangkat ka Atjeh, baru nikah pada Amat dan balik pula di rumah tangsi.
“Aku sungguh cinta angkau,” begitu Amat terusin bicaranya. “Angguran kau ikut aku, bangsa kau sendiri, buat apa kau musti turut Sidin pergi di negeri Atjeh, satu negeri amat jauh dari negeri kita? Bagimana sekarang pikiran kau, sukakah kau turut aku?”
Marinem tiada menyaut, tinggal duduk bengong, tunduk kepala.
Dengan perkataan sedih Amat membujuk terus itu orang prampuan manis, yang dengerin bicara itu sembari bengong.
“Marinem,” kata lagi si Amat, suaranya sudah lebih sedih. “Marinem, inget, kau masih begitu muda, apa kau tia-da sayang diri kau, kalu ditangkep orang Atjeh? Kau belon tau, bagimana jahatnya orang Atjeh, ach, cilaka, sungguh cila-ka besar, kalu kau jato di tangan orang Atjeh. Marinem Marinem! Kalu kau sungguh cinta, tentu kau ikut aku, biar Sidin pergi persetan”.
Marinem belon juga menyaut, masih tinggal duduk be-ngong saolah-olah orang yang sudah ilang sumanget, poen Marinem sudah cinta si Amat, saorang masih muda, cerdik, lagi cakep, tentu di blakang hari bisa dapet pangkat sersan. Marinem pikir, betul Sidin sudah banyak umur, sudah tua, tapi adatnya baik, amat sayang padanya, selama jadi istrinya, belon pernah dicomelin, jangan pula dicomelin, pun perkata-an kasar belon tau Sidin kaluarken. Kalu inget begitu, Marinem amat sedih, hatinya tiada karuan rasa, seperti mau ancur. Kemaren Sidin baru beli buat Marinem, satu kain batik Djok-dja, amat bagus, harganya murah, barangkali tiga ringgit. Marinem pikir lagi, Sidin saorang sabar, belon pernah memaki, belon tau marah atau menggerutu, kalu liat Marinem nakal sama lain soldadu atau kalah main top.
“Bagimana sekarang pikiranmu?” tanya si Amat sa-sudah pegal bicara.
“Sekarang aku tiada bisa bilang,” saut Marinem, terus tarik napas panjang, seperti mau bikin longgar hati. “Sidin satu orang baik, adatnya baik, aku masih kasian, aku mau ikut pergi di Atjeh....”
“Ach, Marinem!” begitu amat putusin bicara, itu orang prampuan muda. “Kau tiada tau, apa kau bilang. Apa guna kau ikut begitu lama sama orang begitu tua, sedeng kau masih begitu muda, tiada pantes kau jadi istri satu tua bangka, betul seperti angkau sudah tiada laku, sudah tiada bisa dapet suami yang muda, satimpal pada kau. Bukankah sia-sia kau hidup sama satu suami begitu tua, barangkali sudah tiada sanggup ladenin segala kahendak kau. Percaya, Marinem, percaya apa aku bilang, aku sungguh cinta angkau, turut aku saja, jangan ikut Sidin lagi, biar ia pergi sendiri di Atjeh, cari lain bini di sana.”
“Tiada bisa aku masih kasian,” saut lagi Marinem dengan sedih. “Aku tiada tega, aku inget kebaikannya, sudah lebih satu taon aku ikut padanya, selama itu aku belon pernah dimaki, dicomelin pun belon.
“O, Allah!” menyebut si Amat, kepalanya digoleng-goleng. “Tiada urus, kalu kau masih inget begitu. Kau sendiri sudah bilang, suka padaku, habis sekarang, pumpung waktu bagus, kau berbalik pikiran, mau ikut juga si Sidin. Jadi kalu begitu, kau cumah cinta aku di bibir doang, tiada terus di hati?”
Amat lantas pegang tangan Marinem, di taro di ribanya, kamudian pelok itu prampuan muda, yang tinggal diam, tiada melawan.
Sembari ules-ules Marinem, Amat membujuk terus, tiada tau malu lagi, tangannya kanan kiri sudah klisikan di badan Marinem.
“Sudah, jangan begitu, apa kau tiada malu,” kata Marinem sambil tulak tangan si Amat dari dadanya.
“Ach, perduli apa. Orang tiada liat kita duduk di sini,” saut Amat, terus elus lagi Marinem, diusap kepalanya, kamudian dibujuk pula.
Dari lemas sampe kaku, dari alus sampe kasar si Amat membujuk, minta Marinem jangan ikut lagi si Sidin, tapi percumah saja, dengen suara tetap Marinem bilang mau turut suaminya, yang besok bakal bikin slametan di rumah tangsi dan lain harinya aken berangkat ka negri Atjeh.
“Jadi kau sekarang sudah tetep mau ikut Sidin?” tanya Amat dengen kesal.
“Ya, aku mau turut”, saut Marinem, suaranya gumeter.
Sekarang Amat jadi marah, hatinya kliwat mendongkol, dengen keras ia pegang pundak Marinem, ditarik, ditulak beberapa kali, sampe terbuka kondenya yang licin dan rapi, rambutnya amat panjang sudah teriap di balee, kembang ros yang tadinya terselit di kondee, sudah jatuh di bajunya yang puti bersih.
“Marinem!” kata Amat sambil pegang pundak orang prampuan itu. Jangan kau bentahan, Marinem, aku marah betul kalu kau tiada kabulken permintaanku. Aku sudah sampe lama sabar, habis sekarang kau tiada mau sampaiken perjanjian kau. Inget, Marinem, inget, aku kasi tau pada kau, angguran aku mati, kalu tiada bisa punyain angku.
Jangan kau menyesal, kalu sudah kasep, inget Marinem, inget! Aku tiada mau paksa lagi, aku mau buat bini angkau sapantesnya.
Sekarangsatu kutika bagus aken sampeiken itu perjanji-an, jangan kau bentahan lagi.“
Marinem sudah tumpah aer mata, sudah sesenggukan amat sedih, pundaknya kliwat sakit dicengkerem si Amat.
“Marinem, Marinem” begitu Amat ulangken lagi bicaranya. “Sayang diri kau, betul sayang! Apa boleh buat, kalu kau masih bertahan hati-hati, angkau tida sampei di negri Atjeh.
Percaya pada aku bilang, aku bicara begitu bukan main-main, kau musti tau sendiri“.
Marinem tiada menyaut, masih duduk sesenggukan sembari kondee lagi rambutnya.
Si Amat belon dingin marahnya, belon pegal mengancem begini dan begitu, tempo-tempo melototin Marinem. Ma Saridjo, yang masih duduk membatik, sudah angkat kepala sebentar, awasin itu dua orang muda, kamudian menyomel panjang pendek, kaluarken beberapa perkataan yang orang lain tiada mengarti.
“Dasar Marinem mau cari cilaka dirinya,” kata Amat dengan gergetan pada Ma Saridjo. “Tadinya mau, sekarang tia-da mau, kaya apa begitu?”
“Sudah jangan ribut di sini,” menyomel Ma Saridjo. “Ka-lu mau ribut pergi di sawah, jangan rewel di sini.”
“Marinem!” treak Amat, yang sudah mengambek, sudah kliwat jengkel.
“Maukah tiada kau turut aku? Buat pengabisan aku tanya. Inget, jangan menyesal, kalu sudah kasep.”
Marinem tiada sautin, dengen tangan baju ia sapu aer matanya yang berlinang-linang di pipinya kiri kanan, jatoh bertetes-tetes di dadanya.
Itu tempo dari jurusan rumah tangsi kadengeran suara trompet, satu tanda, soldadu semua musti kumpul. Sigrah si Amat pakei topi dan bajunya, yang sudah dibuka, terus awas-in lagi Marinem yang sudah duduk di tikar dekat Ma Saridjo kamudian jalan kaluar dari pekarangan rumah itu sembari mengambek. Amat sudah jalan separo lari, potong jalan di sawah, supaia lebih lekas sampei rumah tangsi. Sepanjang jalan Amat pikir, kalu Marinem ikut Sidin ka negri Atjeh, tentu ia sendiri dapet malu, bakal diketawain, bakal disindir semua temennya. Betul malu besar, kalu Marinem tiada bisa dipunyain. Amat sudah semingkin gemas, darahnya sudah panas, saboleh-boleh ia musti cari daya, jangan sampeii dapat malu, diketawain sekalian konconya.
“Biar, aku nanti bunuh Marinem, kalu ia mau ikut juga ka negri Atjeh, kata Amat saorang diri. ”Salah satu, aku punyain Marinem atau aku bunuh, aku tiada mau menanggung malu!“
Sambil bicara begitu, Amat sudah sampeii di rumah tangsi. Sasudah appel, sersan komandan jaga lantas kata pada Amat: “Hei, Amat, sebentar jam lima kau musti kerja di gudang pelor.”
“Baik, Tuan sersan,” saut Amat, mukanya sudah berobah kombali seperti biasa, terus masuk di ruang pertengahan di rumah tangsi.
——————000——————
Besoknya di rumah tangsi di tempat soldadu Djawa compagni tiga dari balatentara di Malang dirayahken pesta tandak, amat ramee, disertain gamelan. Tiga orang prampuan nayub cantik, masih muda, lagi asyik menandak sambil menyanyi pantun, dianter suara gamelan, lagu kebogiro, satu lagu merdu sekali.
Itu tempo Sidin, soldadu tukang trompet, suami Marinem, bikin slametan, sebab mau berangkat ka negeri Atjeh. Bilang puluh soldadu-soldadu Djawa dan bebrapa orang desa, Sobat Sidin, semua bekas orang militair, sudah kumpul di tempet pesta, liatin itu tiga prampuan nayup, yang asyik menandak.
Pun Sidin sudah duduk, temenin sekalian tetamu, yang disuguh dahar wajik, kowee, bebuahan dan sebaginya. Barang hidangan itu tiada banyak disantap, juga masing-masing tetamu tiada banyak omong, tempo-tempo isep roko dan minum kopi, yang masih panas.
Sдин tiada brentinya suru dahar tetamunya sabentar suguhin bebuahan, sebentar lagi suguhin kuwee.
Salah satu tetamu itu satu sersan pensiun, dadanya di-rias beberapa medali dan bintang tanda kahormatan. Sersan pensiun itu sudah asyik ceritain segala perkara tempo dulu, selagi ia masih jadi soldadu dan sudah kuliling di beberapa tempat, sudah turut perang juga di Banjarmasin, waktu negri itu dipukul kompani. Tetamu yang lebih muda, semua tinggal duduk dengerin cerita sersan itu, tiada satu yang bicara, cumah kadang-kadang manggut sambil kata: “Inggee” (Ya).
Prampuan nayub selaluh masih menandak, tiada pegalnya, saolah-olah mau hiburken sekalian tetamu, yang kumpul di tempat pesta itu.
Di atas tikar, sedikit jauh dari tempat duduk tetamu, kaliatan Marinem lagi asyik main kartu sama beberapa orang prampuan tua muda, semua bini soldadu Djawa. Marinem itu waktu pakei satu kabaya baru, kain batik Djokdja, sedang rambutnya sudah dikondee rapi, amat licin dan di itu kondee terselit dua kembang roos, mawar, masih segar, baunya harum.
Pun orang prampuan itu dan Marinem semua tiada banyak omong, masing-masing kliwat asyik main. Kalu ada yang menang main, lantas ia trima bayaran dari lawannya dan sigrah kocok kartu dengan cepat sembari harep, bisa menang pula.
Marinem, kendati asyik main, tiada senang seperti biasa, hatinya tiada karuan rasa, saolah-olah sudah dapet pirasat tiada baik. Mata Marinem sabentar-bentar meririkin si Amat, yang duduk di papan panjang tempat tidur soldadu, rupanya sudah tiada karuan, matanya kanan kiri sudah merah, mukanya sudah pucet, hingga Marinem sudah kuatir, sudah takut.
Marinem sudah tau betul, Amat tentu sudah sakit hati dan dapet inget perkataannya itu orang muda, yang kemaren soreh sudah mengancem di rumah Ma Saridjo. Kutika dapet inget anceman orang muda itu, Marinem mulai gumeter, hatinya sudah berdebar-debar, sudah memukul keras sebagi dogoncang.
Beberapa lama Amat duduk bengong di itu papan panjang, seperti orang lagi pikirin suatu perkara besar. Badannya tiada ditutup baju, kepalanya dibungkus satu handduk belang, dililit sebagi sorban, celananya di ikit kencang di pinggang, mulutnya bau candu, memang tadi pagi ia sudah isep roko dicampur candu. Kentara sekali Amat tiada perumah duduk bengong di itu tempat.
Sakutika itu Amat inget lagi, besok Marinem mau pergi dari Malang, turut Sidin ka negri Atjeh, tinggal Amat sendiri boleh jengat jengit, bakal dapet malu besar. Bila inget begitu, Amat sudah lebih sakit hati, sudah lebih hilap pikiran, sudah gemas bukan patut.
“Sekarang sudah temponya, baik aku bunuh Marinem di sini juga,” begitu itu soldadu muda kata saorang diri, matanya sudah mulai menyalah.
Marinem meliat Amat dateng menyamperin, sudah semingkin tiada seneng, sudah tiada karuan rasa, sakujur badannya sudah gumeter, kuatirnya bukan patut.
Tiba-tiba Marinem menjerit, terus bangun, lari ka papan tempat tidur, di mana ia lantas sembunyiken kepalanya di bawah bantal.
“Sial dangkal, lu!” treak Amat dengen gemas. “Habis perkara sekarang sama lu!”
Dengen cepet Amat udak Marinem, terus naik di itu papan, tendang bantal yang menutup kepala orang prampuan itu, kamudian dijuju dengan senapan. Sakutika itu juga kadengeran suara senapan dan Marinem lantas reba celentang mandi darah di jubin, terus ilang napas di situ juga, kepala-nya sudah pecah disamber pelor.
Ributnya di rumah tangsi itu tempo bukan patut. Tetamu seadanya semua sudah kalut. Orang prampuan yang tadi masih asyik duduk main, masing-masing sudah kalang kabut, sudah jerat-jerit tiada karuan. Sana sini kadengeran suara campur aduk, ada yang berkaok amuk, ada yang jejeritan tetulung-tulung setinggih langit.
Sidin, suami Marinem, sudah samperin si Amat, mau rampas itu senapan, yang masih dipegang di tangan. Sebelon bisa menubruk, tiba-tiba kadengeran lagi suara senapan dan sakutika itu juga Sidin rubu, terus mati, dadanya sudah mellowek diamuk pelor, darahnya kaluar borboran bergumpel-gumpel.
Amat sementara itu tinggal berdiri awasin mait Sidin, yang masih karejetan, darahnya kaluar bertetes-tetes dari lukanya.
Kutika kadengeran suara senapan di dalem tangsi, banyak soldadu yang ada di luar lantas masuk, Meliat Amat masih pegang senapan sambil berdiri awasin itu dua mait, beberapa soldadu sigrah kaluar lagi, kamudian balik kombali, masing-masing bekal gegaman, Dua soldadu Europa tinggih besar sudah samperin si Amat, terus ditangkep. Amat tiada melawan rupanya sudah sebagi orang yang ilang sumanget, tiada bisa bicara. Itu kutika juga si Amat diserahkan pada komandan rumah jaga.
Di rumah tangsi soldadu. Djawa compagni tiga itu soreh lantas sepih, terus sampei malem. Besoknya mait Marinem dan Sidin dikubur, dianter bebrapa soldadu, sobat dan kenalannya.
Dua bulan kamudian perkara itu dipreksa pengadilan militair.
Amat tiada mau mungkir, sudah mengaku terus terang salahnya dan sudah dihukum tembak mati. Dengan senang Amat trima itu hukuman, ia tiada menyesal, sedikit pun tiada atas perbuatannya, malahan girang, lantaran Marinem dan Sidin sudah mati, hingga Amat tiada pikul malu.
Satu bulan sasudah dihukum, Amat jalanken hukuman-nya sebagimana musti.
Begitulah adat orang laki yang betul lelaki, lebih suka mati dari pikul malu di kolong langit.
¹ Warna Sari, penerbit Boekhandel Tan Swan le, Surabaia, 1912.
Aspiran Letnan Tan Ping Tjiat dan Wak Tjoen Lee¹
Muncul lagi satu.......
Tapi ini sekali luar biasa sebab dia suda perna naek balon cari dares di udara, terjun dalem laut preksa buntutnya udang, cuma sayang dia blon coba masuk dalem tana aken bikin kalut di akhirat! Blon tau apa dia minta atawa dikasi itu pangkat.
Sebagi juga Kokbo Tjoesi marhum dan Raja Lodewijk XVI itu aspirant luitenant ada piara satu ahli nujum, bukan laen orang ialah Wak Tjoen Lee yang terkenal dan terhormat.....
Wak Tjoen Lee adalah satu di antara itu sedikit jumbla makhluk di ini dunia yang oleh Allah dibri itu kabiasaan aken liat dengen trang hari kamudian atawa barang yang tiada kliatan. Bukan sebagi kita yang cuma tau musti lantas lari ka kamar nomor seratus satu sasuda dua jam telan dua blas biji pil cauvin. Bukan, bukan sampe di situ saja kapandean itu hujan. Kapan ada satu prawan sakit perut dia bisa tau dalemnya ada satu gondoruwel kecil atawa tiada.
Begitu pada hari yang suda ditentukan dalem deminggu yang liwat dengan segala upacara itu hujin preksa nasib siansing Tan Ping Tjiat. Maski Wak Tjoen Lee umurnya sekarang suda lebi setengah abad toh masih kliatan aer mukanya yang terang dan mulia dan menunjukkan masi mudanya ten-tu bepin alias cantik.
Dengen dikiterin siansing Tan Ping Tjiat bersama sekalian sobatnya yang baek, Wak Tjoen Lee duduk dengen kabesaran di tenga kamar dan mulai kasi jalan ilmunya yang suci.
Siansing Tan Ping Tjiat mulai tanyak: “Wak, saya punya umur apa kira bisa panjang”? Sasuda berpikir sebentar Wak Tjoen Lee jawab: “Sasunggunya saya ini hatinya baek, tapi sekali ini saya kasi tau, lebi baek kau lekas masuk asuransi. Siansing Tan Ping Tjiat sabentaran jadi kaget, tapi sakejaban pula dia jadi taba kombali dan kata. ”Wak, apa saya bole kawin? Wak Tjoen Lee menyaut: “Itu paling baek, nanti kau bisa panjang umur sedeng nasibmu memang dinamaken nasib jilat udel. Siansing Tan Ping Tjiat serta sekalian sobatnya jadi ketawa besar dan ditanyak lagi: ”Wak, saya punya badan racengen apa bisa jadi gemuk“? Wak Tjoen Lee mesem sebentar dan menyaut: ”Biarpun makan dua cikar batu, tiada nanti kau bisa jadi gemuk“.
Itu waktu siansing Tan Ping Tjiat suda goyangken lida-nya, kira mulutnya suda kamasukan batu, tapi sabentaran lagi dia jadi inget kombali dan tanyak lebi jauh: “Wak apa saya boleh pasang taocang lagi? Mendenger itu pertanyakan, Wak Tjoen Lee matanya jadi mencorot dan kata: ”Itu memang paling pantes, sebab orang badan cacing tiada buntutnya kurang ganteng dan lagi itu taocang bole dipake juga pranti gantung susur yang suda terpake. Seraya bicara demikian Wak Tjoen Lee angkat dada dan tangannya dengan segala upacara serta puter susurnya dari wetan ka kulon dan dari lor ka kidul. Dengan mulut terbuka siansing Tan Ping Tjiat awasin puternya itu susur seperti student-student di universiteit mendengar pelajaran profesor dalem ilmu puternya dunia. Sasuda ilang kasima, siansing Tan Ping Tjiat tanyak lagi: “Wak, sabenarnya saya kapringin jadi gouverneur generaal, apa itu pengharepan bisa kasampean? Wak Tjeon Lee tatkala itu angkat kepalanya seperti mau liat bintang di langit, tapi matanya cuma bisa ketemu lampu yang berlapis debu satu meter. Kamudian hujin itu kata: ”Kau punya nasib tiada lebi daripada satu tukang uber walang di alon-alon, tapi kapan kau punya hati keras, bukan saja kau bisa jadi gouverneur generaal, tapi juga bisa jadi tukang puter pers weekblad Bok Tok dan itu nasib kau bole masukin dalem saku. Siansing Tjia Tjip Ling itu waktu juga di situ hatinya jadi sombong dan dengan angkat dada dia treakin jongos: “Kasi benzine”!
Akhirnya siansing Tan Ping Tjiat kata: “Wak sabetulnya ini pertanyakan semua buat coba wak punya kapandean dan sebab semua cocok maka sekarang saya mau tanyak apa tiada halangan saya jadi luitenant? Wak Tjoen Lee jawab: ”Pangkat luitenant makan hati, tapi kau lebi baek lantas pegang itu pangkat supaya lekas dapet penyakit mejen (sioli). Mendengar bicara itu dengan kaget siansing Tan Ping Tjiat sigra lompat berdiri dan bauin tempat duduknya tadi, sebab kuatir barangkali suda pec..............! Untung itu korsi masih tinggal bersi dan dengen mesem dia kata: “Sekarang suda habis, wak bole pulang”. Dengan tindakan dansa polka Wak Tjoen Lee lantas brangkat pulang, diikutin oleh treakan siansing Tjia Tjip Ling: “Jongos kasi lagi benzine”!
(Bok Tok, No. 17, I, Januari 1914)
¹ Bok Tok, No. 17, Th. I, Januari 1914.
Androclus dan Satu Singa¹
Dalem kota Rome (ibu kota dari negri Italie) pada dahulu kala, ada hidup satu budak miskin nama Androclus. Budak ini ada berhamba pada satu majikan yang tiada bersifat mulia kerna bukan saja ia senantiasa bri prenta-prenta dengan bengis, malah sringkali juga suka unjuk berbagi-bagi perbuatan yang tiada pantes atawa lebi bener jika dibilang, seksahan atas dirinya itu budak miskin. Achir-akhir, lantaran tiada bisa tahan seksahan itu lebi lama, itu orang yang bernasib jelek sudah tetepken pikirannya buat melinyapken diri dari ruma majikannya.
Begitulah satu hari ia suda melariken dirinya ka dalem satu utan besar, di mana, lantaran bebrapa hari tiada bisa mendapat barang makanan, ia suda jadi begitu lela serta lemas, hingga ia sendiri merasa yang ia tiada nanti bisa hidup lebi lama di dunia. Pada suatu hari ia suda merayap masuk ka dalem satu gowa, lalu rebaken dirinya di situ, dan lekas juga ia suda jadi pules.
Liwat sedikit waktu, kunyung-kunyung satu suara yang gumuru suda sedarken ia dari tidurnya yang nyenyak itu. Suara apatah itu? Ya, satu singa besar suda masuk ka dalem itu gowa dan menggerung sekuat-kuatnya.
Tiada usah dituturken lagi, begimana hal itu ada mem-bikin terkejut hatinya Androclus yang rasa sumangatnya jadi melayang, kutika ia meliat itu binatang buwas. Lebi jau ia telah merasa pasti yang itu singa nanti terkam dan makan padanya, sedeng buat coba meluputken dirinya dari itu baha-ya maut, ia tiada bisa dapet jalan“, Ha! Tunggu saja aku punya ajal”, demikianlah brangkali ia ada berkata dalem hatinya.
Tapi lekas juga ia dapat kenyataan yang dugahannya itu ada kliru, kerna maski itu singa ada mengaung begitu rupa, toch romannya tiada menunjukkan adanya kamurkaan, ha-nya ada berjalan dengan jinek dan pincang-pincang sebagai ada apa-apa di kakinya.
Di itu saat, Androclus sigra tabahken hatinya, lalu bertindak maju dan pegang kakinya itu binatang yang pincang buat liat apa sudah terjadi dengen itu anggota. Sementara itu, sang singa ada berdiri diam, dengen gosok-gosok kepalanya itu orang pemburonan. Rupa-rupanya itu makhluk hendak berkata: “Aku tau yang kau bisa briken aku pertulungan.”
Sigra juga Androclus suda dapet kanyataan, bahuwa satu duri panjang ada menancep di telapaken kaki itu. Barang inilah yang suda persakiti itu binatang begitu hebat, hingga ia suda mengaung sakuat-kuatnya.
Dengen tiada ilang tempo, ia sigra jepit itu duri dengen jarinya dan dengen sekali gentak, ia suda dapet cabut itu kaluar. Holah! Begimana girang adanya itu singa yang buat hunjuk pengrasaan trima kasihnya, suda berlompat-lompat sebagi satu anjing ambil menjilat-jilat kaki tangannya itu sobat baru atawa lebi betul, tuan-penulungnya.
Sampe di ini waktu, semua pengrasaan takut suda linyap dari hatinya Androclus, dan kutika hari suda jadi petang, bersama-sama itu singa ia rebahken dirinya dalem itu gowa.
Buat sakutika lamanya, sahari-hari sang singa ada mencari dan membawaken barang makanan pada Androclus, yang lantaran begitu, ada merasa hidup sanget beruntung. Nyatalah itu singa dan Androclus berdua suda jadi sobat atawa sudara yang sanget kekal!
Nasib jelek kombali menimpa atas dirinya itu orang yang baru saja bisa merasaken sedikit kasenangan, kerna pada satu hari, kutika bebrapa soldadu ada berjalan dalem itu utan, telah dapetken ia di itu gowa. Marika itu ada tau siapa adanya Androclus, maka ia orang lantes tangkep padanya aken dibawa kombali ka Rome.
Sekarang, menurut undang-undang negri yang dijalankan di kota Rome di itu jeman buat sesuatu budak-laskar yang brani minggat dari ruma majikannya, Andriclus itu nanti dibri hukuman dengen dikasi berklai sama satu singa yang sedeng lapar. Begitulah, seekor singa suda ditutup dalem satu krangkeng besi, tapi buat sementara waktu ini bintang buwas tiada dikasi makan, supaya ia menjadi lapar; sedeng hari, kapan itu hukuman bakal dijatoken atas dirinya itu budak yang buron, pun suda ditentuken.
Kutika hari itu sampe, ribuan orang dari yang berderajat bangsawan agung sampe yang hina-dina, dari yang hartawan sampe yang miskin, ada keliatan berkumpul di tempat di mana itu hukuman bakal dijalanken buat menonton, kerna pemandangan samacem itu pun, di itu masa ada menyenang- ken hatinya segala orang, seperti juga pertunjukan komedi atau gambar hidup ada menggirangken orang di ini jeman.
Pintu kalangan terbuka. Androclus, yang bernasib cila-ka, dengen dianter oleh beberapa penggawe negeri dibawa masuk ka dalem itu ruwangan. Keliatan orang ini di itu waktu ampir ilang sumangatnya lantaran ketakutan, kerna dari jau-jau suara menggerungnya singa, pada binatang mana ia bakal menjadi korban, suda kadengeran dengen santer. Kutika itu, Androclus angkat kepala sedikit buat menengok pada orang banyak, tapi ia dapet kenyataan dari parasnya marika itu, tida satu dari antaranya yang ada merasa kesian pada Androclus.
Kamudian pintu kerangkeng suda dibuka. Dengan sa-kali terjun saja singa yang mendekem di dalem krangkeng su-da sampe di depannya Androclus. Ia ini sigra bertreak, bukan dari lantaran takut, tai dari lantaran girang, kerna singa itu pun bukan laen dari pada ia punya sobat yang kekal, yaitu singa yang telah tinggal bersama-sama dengen ianya di da-lem gowa di utan.
Sekalian petonton yang harep bisa dapet liat orang hukuman itu dibeset dan dimakan oleh itu binatang buwas, telah jadi sanget kamekmek dengan merasa heran. Ia orang liat Androclus peluk itu singa punya leher. Ia orang liat bina-tang itu rebaken diri dibawa kakinya itu budak sambil men-jilat dengen kelakuan cinta. Ia orang liat itu binatang buwas gosok-gosok kepalanya di mukanya itu budak dengen maksud buat diusap-usap. Ia orang tiada mengarti begimana boleh jadi begitu!
Liwat sedikit waktu, Ia orang minta Androclus ceritaken itu pertemuan yang aneh. Demikianlah, dengen tangan yang masih memeluk lehernya itu singa, ia sigra tuturken satu per-satu, begimana ia telah bertemu dan tulungin cabut duri yang menancep di telapakannya binatang itu, dan begimana blakangan ia telah tinggal bersama-sama itu raja-utan di dalem gowa hingga sampe waktu ia ditangkep. Achir-achir ia berkata: “Hamba ini ada satu bangsa manusia, tapi bangsa manusia sendiri tiada sekali mempunyai hati kesian pada hamba; melaenken ini singa juga, satu bangsa binatang, ya bangsa binatang yang sanget buwas, yang ada mempunyai hati kesian dan melepas budi pada hamba. Ini sebab, maka hamba dan ini singa jadi saling cinta sebagai sudara putusan perut.”
Sampe di sini hati kejem dari orang-orang yang hadlir, kunyung-kunyung berbalik jadi hati kesian. “Biarlah kau hidup dengen merdika! Biarlah kau hidup dengen merdika! Begitulah ia orang suda berseru.
Laen fihak lagi ada bertreak begini: “Biarlah itu singa dikasi merdika juga! Brilah ia orang berdua dapat kamerdikan!”
Dengan cara begitu, Androclus suda dibebasken dari hukuman dan dilepas, sedeng itu singa juga dikasiken padanya.
Dari masa itu Androclus dan itu singa ada hidup bersama-sama hingga bebrapa taon.
¹ Penghiboer, No. 27 dan 28, 3 dan 10 Januari 1914.
Apa yang Terlanggar Menjadi Mas
(Bagiannya Orang yang Serakah)¹
Pada jeman dahulu kala, di satu negri ada duduk memerenta satu raja yang terkenal dengan nama Midas. Barangkali di itu jeman tida ada laen orang lagi yang lebi seraka sama mas-mas seperti raja ini.
Rupa-rupa barang yang ada di dunia, ampir boleh ditentukan Midas tida begitu suka, kacuwali pada anak-prampuannya, Marygold, dan mas-mas.
Tatkalah Marygold suda berusia tiga belas tahun rupanya ada begitu cantik tertamba pulah dengan pipi yang alus, maka tida heranlah Midas jadi begitu sayang padanya. Kasayangan itu, pembaca, sasunggunya ada mirip sebagai orang yang sayangi pada mustika yang sanget berharga.
Jika dipandang dari parasnya Marygold, jangan kata jejaka yang alim tida jadi kagum, hanya Biarpun satu padri yang bagimana suci, tida luput nanti kagumi dia. Dari itu Midas suda jadi bertamba giat aken menyari mas-mas, per- buatan mana ada dianggup oleh raja itu, supaya di kamudian hari, apabilah ia menutup mata, nanti bisa tinggalken banyak harta pada Marygold yang sanget tercinta.
Saban-saban jika raja itu pesiar dalem kebonnya, aken menyari hawa yang segar, matahari yang ampir silem, yang kaliatan cahayanya sebagi mas, sering-sering suka menerbit-ken rasa menyesal dalem hatinya hingga terkadang ia berkata, “Ai..., kenapa itu matahari tida bisa jadi mas yang tulen! Saande kata bisa kajadian begitu...tentu aku nanti simpen benda itu dalem peti besiku dengen ati-atii...”
Apabilah sang anak dateng padanya bawa satu tangke kembang, sering sekali Midas berkata begini, “Ah..., coba kalu ini kembang bisa jadi mas betul, wah..., harganya tentu lantas jadi berlipet ganda!”
Omongannya sang bapa, sanantiasa Marygold tida perdulikan, dan kalu sang anak suda berlalu, Midas lantas pergi ka kamarnya aken itung sakalian uwangnya, dan preksa itu dengen hati berdebar-debar oleh sebab ia terlalu salempang hartanya itu nanti jadi kurang.
Satu kali, salagi ia itung pergi-dateng itu uwang; dengen sakunyung-kunyung saorang tuwa yang tida katahuan dari mana datengnya, telah menyamperi pada Midas kita, sembari berkata begini, “Hah..., kau ini sunggu kaya sekali di ini masa! Barangkali di dunia ini yang sanget luwas, tida ada laen orang lagi yang ada begitu hartawan sebagai dirimu!”
“Hah..., kau ini sunggu kaya sekali di ini masa! Barangkali di dunia ini yang sanget luwas, tida ada laen orang lagi yang ada begitu hartawan sebagai dirimu!”
“Atas kadatenganku ini,” begitu itu orang tuwa terusken omongannya, “Aku harep dengen sakenep hati, kau tida menduga jelek! Dan jangan kau takut aku nanti rampas sakalian hartamu itu, hanya aku dateng di sini pun malaenkan buat tengok-tengok saja!“
Sahabisnya ucapken omongan, orang tuwa kita itu sigra hendak berlalu, aken tetapi Midas lantas berkata, “Ah... kendeti pun betul aku ada mempunyai harta begini banyak, tapi...ma...si....”
“Tapi masi kenapa?” tanya itu orang tuwa salaku orang yang sanget heran.
“Masi belon cukup buat bisa menyenangken aku punya hati.”
“Oh...jadinya dengen ini sakean harta kau masi rasa belon cukup? Dan...brapatah yang nanti bikin kau rasa cukup dan senang hati? Bolehtah sekarang kau kasi aku tau?”
“Suda tentu boleh, kenapa tida?”
“Kalu begitu, lekaslah kau ceritaken!”
“Baeklah; tapi kau denger biar terliti; aku punya kainginan yang nanti bikin aku merasa cukup dan senang hati, ada begini; segala apa saja yang aku kenahkan (langgar) sama tangan dengen sakejap saja bisa beroba jadi mas.”
“Oh...Apa yang terlanggar menjadi mas (Golden Touch)?!”
“Ya, betul!”
“Apatah dengen cara demikian nanti sasunggunya bisa bikin kau merasa cukup dan senang?”
“Suda tentu!”
“Dan apatah kau tida nanti merasa menyesel di hari kamudian?”
“Ha...tida, tida, aku tida nanti jadi menyesel!”
“Kalu sasunggunya ada demikian, baeklah; di hari esok, pada waktu matahari baru mulai naek, kainginanmu itu nanti mulai dateng!”
Sahabisnya ucapken itu omongan yang pengabisan, dengan tida katauan lagi, orang tuwa itu suda mengilang. Midas tinggal berdiri bengong terlongong-longong sembari pikirken; betul atawa justa omongannya itu orang tuwa.
Pada malemnya, raja yang seraka itu, sembari rebaken badannya di pembaringan sanantiasa ia pikirken itu Golden Touch dan kalu betul itu peruntungan bagus bisa dateng di hari esok, niscaya ia nanti merasa sukur sekali.
Kutika matahari yang bakal kaluar mulai mengintip di bagian seba timur sedang lonceng baru berbunyi anam kali, Midas suda bangun dari tidurnya. Baru saja raja itu punya tangan kena langgar sprei yang ia pake, tida menunggu satu menit lamanya lagi, barang itu lantas beroba jadi mas lempengan, hal yang mana Midas rasaken bukan patut punya senang, hingga ia lantas loncat dari pembaringannya dengen penu kagirangan, dan lari bulak-balik di sakuliling itu kamar. Barang apa saja yang ia katemu, tida menunggu sedikit tempo lagi. Midas langgar sama tangannya. Lantaran cepetnya itu Golden Touch berkerja, maka tida heranlah itu barang-barang samua telah beroba jadi mas.
Kamudian Midas ambil satu buku dan bolak-balik lembarannya buat dibaca. Aken tetapi, sakejap saja itu kertas telah jadi mas lempengan, samantara huruf-hurufnya samua suda tida bisa dibaca lagi.
Banyak sekali barang-barang yang raja kita telah bikin beroba jadi mas, dari itu, menurut kita, si penulis punya rasa, tida begitu perlu itu hal dituturken satu per satu. Sasudanya puwas langgar pergi dateng sakalian barang yang ada dalem astanaya, kamudian raja itu berlalu dan pergi ka kebonnya.
Sasampenya di dalem kebon, Midas dapet liat banyak kembang-kembang, yang baru megar dan sedeng menyiaerken baunya yang harum. Tapi raja itu tida merasa senang dengan itu kaadahan, maka dengen sigra ia langgar pergi-dateng samua itu kembang-kembang. Tentu saja sama sekali telah beroba jadi mas, samantara kaharumannya pun sekarang suda tida ada lagi. Aken tetapi buat Midas punya pengrasahan, hal itu tida jadi kenapa, asal saja segala apa bisa menjadi mas, itu pun suda cukup buat penuken kainginannya (Pembaca, liatlah kasukahannya orang yang seraka sabagi Midas! Samua barang tida perlu, cuma mas saja ada berguna bagi dirinya! Th.L.H.).
Barang santapan telah sedia di atas meja, tida lama pulah Midas suda duduk di situ dan tunggu pada sang anak punya dateng. Sasaat kamudian Marygold dateng sembari menangis sasegukan. Meliat kaadahan demikian, raja kita yang seraka lantas menanya dengen merasa heran:
“Anakku yang manis! Begimanatah kaadahanmu di ini pagi?”
Gadis itu lalu tunjuki satu tangke kembang roos, yang sabagimana di atas penulis suda tuturken samua telah beroba jadi mas sembari nyataken juga pengrasahannya yang tida senang.
“Sunggu bagus!” treak Midas, dan apa apatah yang suda bikin kau jadi kurang senang dan menangis begitu sedi, se-deng itu kembang telah beroba jadi barang yang berharga besar?“
Dengen suara duka, gadis kita lalu berkata, “Ah...., ayah-ku yang tercinta! Samacem ini punya kembang tida mistinya dibilang ada bagus! Kau tau ayahku yang baek, bunga yang begini macem, tida berguna suatu apa, kerna bunga ini sekarang tida bisa menyiarke harum lagi! Abis, apatah gunanya bagi kita orang?”
“Diam, anak manis, dan jangan menangis lebih lama lagi,” kata pulah raja itu, marilah duduk di sini, dan mulai dahar.“ Gadis itu tida berani bantahan, dan lalu turut prentanya sang ayah aken duduk bersantap.
Marygold dahar dengan enak, tapi bagi Midas ada sanget tida leluwasa sekali, kerna baru saja ia ambil satu cangkir koffi aken diminum, lantaran itu koffi terlanggar dengan Midas punya lida, lantas saja beroba jadi mas. Apa saja yang raja itu coba dahar, samua telah jadi mas. Lantaran itu Midas jadi jengkel dan lalu berkata pada dirinya sendiri; “Kalu sanantiasa begini saja, begimanatah aku bisa kenyangi perutku yang ada lapar?”
Kamudian dengan ati-ati, Midas coba buat dahar kentang rebus yang masih panas. Aken tetapi di ini kali raja itu tida makan seperti cara menusia, hanya ia dahar seperti bina-tang. Tangannya ia takut gunaken, dan pake mulutnya saja makan itu kentang rebus (Seperti anjing makan apa-apa).
Kendatipun Midas berbuat cara demikian, tapi toh tida juga bisa jadi urus, kerna itu Golden Touch suda bekerja begitu sebat. Bukannya kentang yang Midas dapet makan, hanya mas geluntungan yang panas-panas telah terkemu dalem mulutnya, hingga lantaran itu, raja kita punya mulut jadi melepu dan ia lalu loncat-loncat lantaran kasakitan.
Marygold yang meliat kaadahannya sang ayah ada demikian, lalu jadi sanget kaget dan menanya,“ Ayahku! Ayahku! Kau kenapatah? Apa kau punya mulut telah jadi melepu?”
“Ah..., anakku yang tercinta! Sekarang aku tida tau apa bakal jadi dengan diri ayahmu ini!” treak Midas dengan sanget duka.
Gadis itu lalu samperi pada ayahnya dan peluk badannya. Midas lalu cium pada anaknya itu, aken tetapi...sakejep saja anak itu yang sanget tercinta suda jadi patung mas, dan tida bisa bergerak.
“Anakku yang tercinta! Anakku yang tercinta!” treak Midas berkali-kali, aken tetapi tida juga ia dapet penyautan.
Dengen terlolong-lolong, Midas awasi pada Marygold, yang telah jadi patung mas. Gadis itu punya paras yang tadi-nya ada begitu cantik,...sekarang kacantikan itu telah ilang. Mesamnya yang ada begitu manis, sekarang suda...tida bisa kaliatan lagi. Samuwa kacantikannya gadis itu, sekarang tida ada lagi, kacuwali warna kuningnya mas.
Di ini waktu Midas ada sanget jengkel, dan samingkin ia liat pada Marygold, kajengkelannya lantas jadi samingkin tamba. Akhir-akhir, lantaran tida tahan rasaken itu kadukahan, ia lalu kutuki dirinya sendiri sembari berkata, “Ah...barangkali di ini dunia, tida ada menusia laen lagi, yang mempunyai peruntungan sebagai aku ini! Lihatlah lantaran aku seraka sama mas, Allah suda kutuki diriku jadi begini rupa! Ah...menyesel sunggu aku suda bertabiat terlalu...se...ra...ka...” (Hm, sekarang baru bisa raseken menyesel? Th. L.H.).
Salagi Midas berdiri terlolong-lolong lantaran sanget duka, sakunyung-kunyung dengan tida katauan dari mana datengnya, itu orang tuwa yang kamaren dateng kembali.
“Hallo, sobatku Midas! Sekarang bagimanatah kaadah-anmu dengen itu Golden Touch?” menanya itu orang tuwa.
“Ah..., aku ada satu menusia yang seraka,” kata Midas, “Dan sekarang kasenanganku dengen itu Golden Tuch suda tida berguna, kerna, kasenanganku yang sajati juga sekarang suda tida ada lagi!”
“Begitu...?” kata pulah itu orang tuwa, sekarang kau sudah dapet sedikit pelajaran bagi dirimu. Cobalah kau pikir ini duwa barang, satu mangkok aer dingin dengan itu Golden Touch, yang mana satu, ada lebi berharga bagi kau punya diri?“
“Oh, satu mangkok aer dingin ada lebi berguna bagi aku!” berseru Midas, “Kerna ia tida nanti bikin melepu aku punya mulut lagi!”
“Golden Touch sama sakeping roti?” “Sakeping roti ada lebi berharga dari pada mas!” “Golden Touch atawa kau punya Marygold yang tercinta?” “Oh..., anakku yang tercinta, ada lebi baek daripada itu Golden Touch!”
“Sekarang kau ada lebi cerdik dari sabagimana kadahanmu yang kamaren! Dan bagimana, apatah sekarang kau masih sanget suka sama mas? Pun itu Golden Touch apatah kau masih suka?” “Ah..., itu Golden Touch ada berbahaya sekali bagi aku punya diri!”
“Kalu begitu, pergi dan, jeburi dirimu di itu kali dekat kau punya kebon, dan bawa juga satu tempayan buat ambil aer di itu kali. Kamudian, dengan itu aer kau sirami samua barang-barang yang kau hendak pulangken ka asalnya kombali! Saande kata kau suda berbuat cara begini, barulah kau bisa jadi satu menusia yang sajati, dan tida jadi orang yang begitu seraka lagi!”
Satelah itu, Midas lantas berlutut pada itu orang tuwa aken membilang trima kasi serta minta dimaafken dari kelakuannya yang tida patut. Baru saja, ia bangun, itu orang tuwa suda mengilang.
Dengen sigra Midas ambil satu tempayan-tempayan mana yang tadi ia telah bikin jadi mas-dan dengen terbirit-birit ia lalu terjun ka itu kali-yang tadi itu orang tuwa telah bilangken lantaran kapingin lekas dapat katulungan, sahingga ia lupa buka kasutnya lagi.
Kutika ia ada dalem itu kali, lalu ia tenggelemken itu tempayan dan penuken itu dengen aernya kali. Kamudian tempayan itu suda beroba kombali jadi asalnya, yaitu tana, bukannya mas, dan kaadahan ini membikin Midas jadi sanget girang. Pada masa itu Midas punya hati yang seraka sama mas, suda jadi ilang sama sekali, dan ia ada teritung satu menusia yang betul, bukan ada satu orang yang seraka lagi!
Sasudanya raja itu ambil satu tempayan aer kali, ia lalu masuk ka astananaya dan sirem pada Marygold punya antero tubu. Tida meliwatken satu menit lagi, anak yang sanget tercinta itu, suda pulang ka asalnya lagi, yaitu satu gadis yang cantik. Kamudian lalu ia sirem pada sakalian barang yang mana tadi suda beroba jadi mas, aken dibikin pulang ka asalnya kombali. Itu kembang-kembang, juga Midas tida lupa kasi pulang kombali ka rupanya yang sajati.
Akhirnya samua barang-barang suda beroba seperti biasa, Midas suda jadi sanget senang. Aken tetapi, pada Marygold ia tida mau bilangin, yang ia tadinya ada begitu bodo-bodo lantaran terlalu seraka sama mas-dan sadari itu hari ia mulai idup dengen enak sekali. (Tida tergoda lagi dengan tabiat seraka sama mas. Th.L.H.).
Pembaca, liatlah bagimana orang yang terlalu seraka suda dapet bagiannya! Dari itu, manusia idup di dunia baek-lah jangan berhati seraka. Maski pun ini cerita kita tida percaya dari kabenerannya, tapi toh kita misti selidiki maksudnya, yang ada kasi nasehat baek bagi kita orang, supaya tida berhati seraka sabagi juga raja Midas.
¹ Penghiboer, No. 28, 10 Januari 1914.
Itu Tas yang Terisi dengan Intan¹
Satu taon yang baru berselang, sala suda menika dengen satu prampuan, yang saya rasa ia ada paling manis di dalem ini dunia.
Itu taon yang telah liwat ada waktu yang paling brun-tung dalem saya punya pengidupan, dan saya hendak mem-bri satu tanda mata pada saya punya bini dikita punya hari kawin.
Saban hari saia pergi ka kota; kerna kita tinggal di udik dan saia punya kebiasahan adalah, jika saia berjalan, selama-nya saia membawa satu koffer kecil. Di itu hari yang tersebut di atas, di waktu saia berjalan pulang saia ada taro di dalem itu tas, selaennya babrapa barang laen, pun juga babrapa barang-barang mas inten buat membriken pada saia punya nyonya, ia itu; satu glang mas, satu rante leher dengen teriket satu inten yang bagus dan satu madalion matanya inten.
Dengen amat girang hati saia telah naek di dalem kreta api, yang nanti membawa saya pulang ka rumah.
Kutika itu saia duduk sendirian di satu pojok dari kreta klas satu dengan pegangken itu tas di saia punya tangan, aken tetapi, tatkala itu kreta mau brangkat, lalu dateng berduduk satu tuan yang berpakean bagus deket pada saia. Ia ada memegang satu tas kecil, yang rupanya tiada beda seperti saia punya dan sesudanya ia mengambil tempat duduk di sebrang saia, lalu ia taro itu tas di bawa bangku, blakangan di seblah dia, dan akhirnya ia memegang seperti saya itu tas di tangan.
Blon berselang brapa lama lalu kita orang beromong-omong dan saia punya kenalan baru rupa-rupanya telah suda berpergian di kuliling negri, kerna ia selamanya bicaraken dari hal perjalanan ka antero Europa, di Gunung Alpen, di Italie dan laen-laen sebaginya.
“Tetapi jikalu ditilik semua tiada adalah orang-orang prampuan yang begitu berhati baek seperti orang prampuan di negri Olanda.” ia membilang pada akhirnya ia punya cerita. “Bole jadi, ia orang kala dari kabagussannya dengen nonanonana dari laen negri, aken tetapi dari hal yang laen tiada ada prampuan dari laen negri bisa menangken padanya.”
Ini pembilangan ada cocok betul dari saya punya pembrasaan, kerna saia punya bini pun adalah satu nona Olanda tulen.
Lantaran denger ini cerita saia punya hati menjadi begitu senang, hingga saya suda ceritaken padanya dari saia punya pengidupan dari permulaan sampe akhirnya, dari saia punya gedong dan prihal saia punya hari kawin, begitu pun juga yang saia punya kofer buwat membri persen pada saya punya nyonya.
“Tuan tiada nanti bisa percaya.” ia membilang, sementara ia, sambil bicara berbisik, suda dateng deketken pada saya.“, yang saya ada bawa di saya punya tangan periasan barang permata harga delapan pulu ribu rupia. En toh maski pun harganya ada begitu besar, ini barang ada enteng sekali. Coba pegang!”
Saia taroken saya punya tas sendiri di sebla saya buat sambutken ia punya tas.
“Mas inten bukan barang yang brat!” Saia berkata, selagi saia timbang itu tas kecil, yang tiada lebi brat dari saia punya.
“Tetapi” saya membilang lagi dengan tertawa.“ itu tiada baek, yang Tuan bisa percayaken pada satu orang yang tiada terkenal seperti saya barang-barang, yang begitu besar haraganya?
“O, saia trrusa kwatir pada kau, dan di dalam saia punya pekerjaan saia sering ketemu segala macem orang-orang, hingga dengen melirik sedikit suda sampe cukup buat saia aken ajar orang-orang.
Sekunyung-kunyung kita pembicaraan suda menjadi putus, lantaran itu kreta api telah brenti.
“O, saia suda sampe,” berkata itu orang, lalu berdiri, sambil membilang, “Slamat malem, banyak senang hati!” Ia telah mengilang dengan itu tas di tangan.
Itu saia menyesel sekali yang saia telah kailangan satu sobat, yang begitu bisa bicara dan bahuwa saia tiada mengundang makan padanya di saia punya rumah.
Begimana girang hatinya saia punya bini, jikalu saia membawa satu orang yang mendapat liat begitu banyak negeri. Tatkala itu saia lalu berdiri buat liat padanya aken memanggil ia kombali, aken tetapi ia suda mengilang di antara orang banyak.
Sepulu menit ke blakangan, saya suda sampe di saia punya tempat tinggal dan dengen tindaken yang cepet saia pergi pulang ka rumah.
“Vrouwtje,” saia memanggil saia saia punya bini, “Apa kau tau, hari apa ini hari.”
“Suda tentu!” Ia menyaut dengen swara girang. “Ini hari ada kita punya hari kawin.”
“Ya,” saia berkata. “Dan saia ada bawa buat kau satu barang persenan buat tanda peringetan.”
Inila ada kabar yang menyenangkan hatinya. Dengan girang ia tepok tangan dan berkata, “Manis sekali kau punya budi! Coba kasi tahu, apa itu?”
“Liat saja sendiri,” saia berkata sembari seraken padanya itu tas dan saia punya sangketan kunci. Buka saja sendiri dan bole liat, barang apa pada di dalem itu tas.“
Inilah ada tempo yang amat bruntung. Saia berdiri diam sekali buat meliat ia punya air muka kutika ia kasi masuk itu kunci di dalem lobang kunci.
“Apa yang kau tungguin?” saia menanya, tempo ia beberapa kali telah puter itu kunci.
“Tiada bisa dibuka.”
“Kasi pada saya”, saia berkata dan ambil itu tas dari ia punya tangan.
Sayang sekali saia kira bahuwa ia ada kitwal girang maka ia tiada bisa buka itu tas. Aken tetapi setau apa lantaran nya saia juga pun tiada bisa buka. Itu kunci ada kliwat besar ata wa kliwat kecil; tentu musti ada barang kotor di dalem lobang kunci.
Saia punya nyonya ambil satu jarum, dan kita suda bresiken itu lobang kunci dan kuncinya; tetapi tiada bisa tulung satu apa.
Tiada ada laen jalan lagi melaenkan itu tas musti dibuka dengen paksa.
Sedeng saia pegang kenceng-kenceng itu tas, lalu saia tarik kras-kras itu pegangnya dan dengen sekejepan itu tas terbuka.
Di dalem sekejepan saya mendapat liat, yang itu tas bukan saia yang punya. Itu tuan brangkali telah suda kesalah-an membawa saia punya tas.
Suda tentu saia telah suda ceritaken pada saya punya nyonya apa yang saia masi inget dari itu percakepan antara itu tuan dan saya dan sekarang saia merasa lebi menyesel bahuwa saia tiada truskan saia punya niatan buat undang makan padanya.
Kutika itu lalu saya dapet inget ia punya cerita prihal itu barang mas inten di dalem itu koffer, dan lantas saia mendapat rasa begimana besar susa hatinya itu tuan sesampenya di ia punya rumah. Kasusahan yang paling besar ia itu, bahuwa saia dan dia juga pun tiada meninggalken satu adres atawa nama.
Saya punya nyonya sebagai satu prampuan suda tentu kepengen liat, begimana rupanya itu periasan barang permata di dalem itu koffer dan saia pun begitu juga, hingga kita orang hendak preksa semuwa isinya itu tas, yang lantas kita orang trusken itu niatan.
Di sebla atas ada bebrapa banyak kertas yang kita preksa dengan teliti, lantaran slempang, bahuwa ada satu inten atawa laen-laen barang nanti menjadi ilang. Aken tetapi tiada ada satu barang kluar dari situ, hingga akhirnya kita mendapetken di sebla bawa itu, kunci-kunci maling dan banyak laen-laen lagi barang-barang yang tiada berharga.
Saia tiada mau coba ceritaken, begimana besar susanya saia punya hati di itu waktu. Itu trausa dibilang lagi, bahuwa saia punya barang-barang suda dicuri dengen akal yang amat pinter. Saia punya nyonya tiada bisa tahan buat tersenyum, kutika ia meliat saia punya muka.
Inilah betul ada satu hal membikin hati menjadi senang. Tetapi tiada apa “Ia membilang sambil tersenyum yang amat manis, ”Coba lupakan itu perkara; saia pastiken pada kau, yang saia punya hati tiada merasa menyesel.“
¹ Bok Tok, No. 16, 17 Januari 1914.
Satu Percobaan buat Ajar Kenal Hatinya dari Ia Punya Bakal Suami¹
Di dalem satu pertengahan yang terias amat indah adalah berduduk di satu tempat yang sedikit glap satu tuan dan satu nyonya, yang ternyata dari ia orang punya paras muka lagi bicaraken tentang satu hal yang amat penting. Aken tetapi itulah ada sanget aneh, bahu marika berdua telah mengambil tempat yang luar biasa aken duduk beromong-omong. Marika berdua adalah Nyonya Ribber, satu nyonya janda yang masih muda berusia dua pulu tuju taon, adalah satu nyonya yang amat terkenal di antara orang-orang bangsawan dan hartawan, dan yang sanget suka pergi mengunjungken pesta-pesta buat menyenangkan hatinya.
Dan Tuan Strijkman adalah satu orang amat terhormat oleh ia punya sobat-sobat dan kenal-kenalannya dari itu nyonya. Ia berumur tiga pulu lima taon dan masih suka memaan segala rupa macem permaenan sport. Orang membilang, bahua ia sanget suka berpakean bagus, yang ia senantiasa ada berpake kraag dan manehet yang di strika paling licin dan bahua ia adalah orang yang paling pande bicara dari semua tuan-tuan di dalem itu kota besar hingga ia telah menarik banyak hatinya nyonya-nyonya bangsawan dan hartawan; maka bole dibilang yang Nyonya Ribber dan Tuan Strijkman pantes sekali menjadi satu pasangan istri dan suami. Akan te-tapi apa yang ia orang bicaraken adalah membikin pembaca terlebi heran.
“Jadinya kao tiada suka menika sama saia,” begitulah Tuan Strijkman berkata.
“Itulah saia tiada bilang,” Berseru itu nyonya janda muda.
“Jadi kao mau menika.”
“Juga tiada, saia punya sobat yang baek. Saya blon tahu, begimana saia mesti ambil putusan. Saia mesti menimbang lagi.”
“Kao telah menimbang sebelas bulan lamanya, dan ja-ngan ambil gusar dari
Saia punya perkatahan. Sekarang telah lewat lagi tiga pulu satu hari menjadi satu taon, kutika saia menyataken kao, yang saia menaro cinta dan telah melamar pada kao. Saia me-ngerti, yang orang musti pikir lebi dulu buat ambil putusan yang begitu penting, aken tetapi itulah ada kliwat lama, jikalo kao blon bisa ambil putusan juga di dalem tiga ratus tiga pulu empat hari. Di satu waktu kao membri saia pengharepan dan di laen waktu kao berlaku angku pada saia. Di satu hari kao punya budi bahasa ada amat manis, itu saia merasa, bahua suda dateng waktunya yang saia bakal mendapat saia punya pengarepan. Tetapi di hari besoknya kao telah berlaku seperti kao tiada kenal pada saia. Plahan kao membikin saia punya pikiran amat bingung. Lebi baek kao bunu saia lantas, kerna saia tiada tahan lebi lama menanggun rindu. Saia sangat cinta pada kao“.
“Apa betul?” “Ya, Nyonya.....betul....”
“Tetapi, saia punya sobat baek!....Baeklah kita jangan kluarken perkataan yang melebi-lebiken......Kau membilang, saia, baha saia membunuhun dengen plahan-lahan, dan laen-laen perkatahan lagi anak yang bagus. Itulah ada omongan kosong dari anak sekola—dan itulah bukan pembrasahan buat kita orang yang suda berumur dewasa! Jika kao membilang yang kao suka pada saia, baha kao rasa sa-yang punya rupa tida jelek....yang kerna sekarang kao mau menika, kao mendapetken saia ada itu orang yang pantes menjadi kao punya istri. Begitulah kao harus membilang dan jangan kluarken perkataan yang bukan-bukan. Dan apa yang saia tela meliat pada kao punya diri, ia itulah, satu tuan yang tiada ada kecelahannya lagi.”
“Jika begitu ayolah menika sama saia!”
“Itulah gampang dibilang. Dan jangan gusar pada saia, apa yang saia mau membilang. Betul saia rasa, kao ada satu tuan yang tiada ada kecelahannya tentang kao punya rupa dan tingka laku, tetapi saia baru kenal kao di luarnya, dan itu luarnya ada amat bagus sekali, tetapi blon tahu di dalemnya. Betul itu luarnya suda sampe cukup buat orang-orang yang mau idup seperti sobat ande saja, tetapi itulah blon cukup pruntungannya dari duwa orang yang musti hidup sebagai laki istri.
Tetapi, Nyonya Ribber-.“
Jangan berkata...,saia tau, apa yang kamu mau membilang, seblonnya kao membritahu pada saia, saia nanti kasi penyautan pada kao. Saia telah ketemu saia punya suami, ku- tika saia berusia sembilan belas taon dan saia tela menika sama dia zonder saia ada menaro cinta padanya. Itu nikahan begitu kita punya famili yang telah atur. Begimana dari mas kawinnya? Sanget besar. Prampuannya puti dan lakinya item. Tiada jadi apa, kerna pekerjahannya baek dan dari hal famili pun tiada kejelekannya. Prihal pikirannya, hatinya dan adatnya orang tiada memereksa. Ia orang telah bertemu sebentar-an, sahingga ia orang tiada bisa berlajar kenal pada satu sama laen. Maski pun begitu, itu urusan kawin suda menjadi tetap: Nona Geurts suda menjadi Nyonya Ribber, istrinya dari satu tuan, sama siapa ia teriket buat selama-lamanya dan yang ia tiada kenal sama sekali: Kutika ia suda kenal pada ia punya suami, ia mendapat tahu, bahua ia tiada bisa hidup rukun satu sama laen. Dan Nyonya Ribber telah hidup amat cilaka di dalem empat tahun lamanya. Ia misti merasa amat bruntung, yang penghiupan itu tiada menjadi lebi lama. Bole jadi juga sampe lima pulu tahun.......Na sekarang saia tiada berumur sembilan blas taon lagi, tetapi suda duwa pulu tuju taon. Saia sekarang telah mendapat rasaken paitnya dunia, maka saia tiada nanti begitu gegaba aken coba menika buat kaduwa kalinya seperti orang berjalan dengan mata tertutup oleh satu stangan.
“Aken tetapi Nyonya.- kao suda kenal saia di dalem bebrapa taon.”
“Ya, betul. Saia tau, yang kau berlaku baek, sebagimana orang bangsawan harus berbuat. Dan itu semuwa di luarnya saja dan itu luarnya saia suda kenal di dalem bebrapa taon. Saia misti membilang pada kao, yang saia sanget hargaken tinggi itu luarnya, tetapi saia perlu mendapat tau lebi banyak lagi. Saia kira, yang kao nanti tertawaken pada saia, aken te-tapi itu nanti membikin kurang baek buat kao. Kao misti tau, bahuwa saia mau menika sama satu lelaki, yang saia bisa menaruk cinta, sebagi saia punya suami yang kaduwa.“ Ya......dan toh......” “Saia tiada menaro cinta pada kao saia punya sobat baek! Saia cuma menaro inda besar pada kau. Kerna maski pun saia telah preksa saia punya hati dengen keker miceroscope yang tajem, saia pun tiada bisa mendapetken itu bibit yang kecil, yang bole membikin tumbu saia saia punya kecintaan hati. Makalah ini lantaran saia mendapat halangan buat trima kao punya lamaran. Saia upamaken kao seperti satu rumah yang bagus luarnya, tetapi saia blon mendapat tau begimana di dalemnya punya keadaan. Saia tiada tau, apa saia nanti merasa senang buat tingal di dalem itu rumah. Dengenlah saia punya pembicaraan! Orang telah ceritaken pada saia, yang di Zweden adalah satu kebiasaan yang luar biasa dan baek aken dipake buat tuladan. Jika di sana dua orang muda rasa, bahuwa marika berdua bisa menjadi pasangan suami istri, ia orang lalu belajar kenal satu sama laen di dalem tempo yang lama, anem bulan satu taon...... Laki muda itu senantiasa ada sama itu nona. Ia orang berpergian bersama-sama, dan ia orang berdua pun membikin perjalanan yang jau-jau.Tiada ada satu orang pikir yang hal itu ada luar biasa. Jika suda sampe temponya ia orang mengabarken dengen oficiel, bahuwa ia orang telah bertundangan dan kamudian ia orang menika–atawa jika tiada bisa kejadian begitu, ia orang lalu pergi terpisa dari satu dengen laen. Dengen berbuat demikian jika kejadian ia orang menika, ia orang telah mendapat itu bibit kecil, yang saia barusan telah ceritaken. Maka tiada pun heran, bahuwa di Zweden adalah banyak nikaan yang beruntung.”
“Ya saia juga, pun suka melakukan itu percobakan.”
“Itulah ada saia punya kainginan, kenapatah kita orang pergi di laen tempat di mana orang tiada kenal pada kita di satu dari itu pulo pulo Texel, Terschilling, Ameland, di mana saja kao suka tinggal. Kao liat maski pun saia tiada menaro cinta pada kao, saia menaro kahormatan besar pada kau. Apa kau suka turut saia punya permintaan?”
“Ya.”
Kita tiada bisa tinggal di sini,—di sini, di mana semuwa orang kenal pada kita, lalu orang menduga jelek dari kita.
Kao ada merdika dan saia pun merdika juga, Cobalah kita gunaken itu kebiasahan dari Zweden.
Dan begitulah telah terjadi....................
Kedatengannya dari Nyonya Ribber dan Tuan Strijkman suda membikin terpranjat pada itu penduduk dari itu tempat kecil tempat tinggalnya tukang penangkep ikan, di mana ia orang hendak tinggal tetep buat lakuken itu percobahan. Tat-kala orang meliat Nyonya Ribber berjalan dengen berpakean baju rok pendek, sepatu kuning dan memegang payung mera, semantara Tuan Strijkman memake baju jas en celana puti dari flanel, lalu anak-anak kecil ikutken itu pasangan dengan pembrasahan sanget heran, sedeng itu orang-orang pram-puan berdiri di depan pintu rumahnya dengen hati berdebar sembari mengawasken itu “orang aneh”.
Bebrapa orang membilang, bahuwa ia orang ada famili dari raja-raja, yang telah dateng bersembuni di ini tempat kecil. Jan Haring, yang telah berkerja pada kapal marine, dan yang telah mengunjungken kota-kota besar, membilang, yang itu duwa orang pelancongan adalah menjadi acteur, sebegima ia sering-sering meliat di dalem ruma komedi.
Ia selamanya berpakean begitu.
Aken tetapi delapan hari komedian, kutika orang mendapatken kenyatahan, bahuwa kedatengannya itu duwa orang pelancongan tiada membikin ia orang punya kesusahan, marika berduwa, apa lagi itu nyonya–ada berhati baek yang ia orang senantiasa dikuliling tempat berlaku manis sekali dan amat roiyal buat itu anak-anak kecil, perbuatan mana selamanya mendapat kebaekannya, lalu ia orang pun mulai berlaku manis pada ini duwa orang pelancongan sebagi ia orang ada penduduk di itu tempat.
Nyonya Ribber tiada merasa sedikit jengkel di tempat yang begitu sunyi, malahan ia senang sekali tinggal di situ dan campur bergaulan sama penduduk penduduknya di itu tempat. Jika ia orang tiada mau berjumpa pada itu orang-orang, marika berduwa pergi ka pinggir laut buat meliat ombak bergulung-gulung. Nyonya Ribber sanget suka sekali mengitung ombak sembari ia intip kelakuannya Tuan Strijkman.
Bole jadi, bahuwa orang bisa memaen komedi buat beberapa jem lamanya, aken tetapi tiada bisa menjadi yang orang bisa berlaku begitu macem terus menerus saban hari, maka ini tuan terpaksa musti kasi liat ia punya tingka laku yang betul ada di dalem dirinya. Dan apa yang itu Nyonya mendapat liat tentang tingka lakunya, ada menyenangkan hatinya Nyonya itu, maka ia mulai sedikit menaro cinta pada itu tuan.
Pada sasauatu hari telah terjadi satu hal, yang membikin repot penduduk di itu tempat, kerna satu prau ikan telah mendapat kerusakan. Sanget cilaka betul!
“Paling sedikit musti dipake tiga ratus rupia buat betulkan itu prau”, berkata Jan Haring yang punya itu prau.
Pada besok harinya Tuan Strijkman minta permisi pada ia punya bakal tundangan, buat pergi ka kota. Dan kutika di waktu sore pada itu hari juga Jan Haring telah mendapat trima satu postwisel dengan sebagitu banyaknya wang, yang ia perlu pake buat membuat betul itu kerusakan, tetapi di atas itu postwisel tiada tertulis namanya si pengirim.
Nyonya Ribber mendapat tau, siapa adanya itu orang yang berhati begitu baek. Di itu hari ia ada sanget girang.
Pada satu hari, kutika ada ombak besar, itu jembatan dari satu prau ikan “de Marianne” telah dipukul ombak, sa-hingga satu anak tukang penangkep ikan bernama Eric, yang ada berdiri di atas itu jembatan, telah jato di dalem laut.
Pada besok harinya orang telah mendapat maitnya ping-gir laut.
Kerna itu anak tiada ada mempunyai orang tuwa, Nyon-nya Ribber suda kluarken ongkos kuburnya. Bersama Tuan Strijkman ia telah pergi menganter itu mait ka kuburan. Rupanya itu tuan ada amat pucet dan ia punya mata telah penu dengan aer mata. Ia mau coba tahan aer matanya, tetapi percuma cuma. Sekunjung kunjung ia menangis begitu sedi buat satu anak, yang ia tiada kenal!
“Sobat baek”, berkata Nyonya Ribber, kutika ia orang te-lah berlalu dari kuburan. Itu percobahan suda slese, sekarang saia kenal kao. Kao punya kedok telah terbuka, kao ada satu orang yang berhati baek. Saia trima kao punya lamaran. Jika kita punya anak pertama ada satu anak lelaki, kita nanti namaken dia Eric, sebagai satu pringetan pada itu anak yang mati, yang suda ajar saia menjadi kenal pada kao.
Angsurken saia kao punya tangan......... Sobat yang tercinta!”
¹ Bok Tok, No. 20, I, 14 Februari 1914.
Kawanan Penipu yang Amat Pintar¹
Nyonya Rigaudin punya kesukaan adalah aken sering-sering memereksa isinya ia punya lemari dan memandang dengen senang hati pada barang-barang berharga, yang ada tersimpan baek di dalem itu lemari.
Pada suatu pagi, kutika ia lagi berbuat demikian, ia punya suami, yang dengan senang lagi membaca courant, telah menjadi daget oleh kerna mendenger treakannya itu nyonya. Tapi lantaran suda biasa mendenger ia punya istri menyomel, itu tuan tiada begitu mau ambil perduli dengen itu treakan, hanya ia cuma menanya saja dengen iseng-iseng.
“Ada apa?” Istrinya lantas kasi liat satu doos kecil atawa etui, di mana ia biasa simpeng langnya sambil berkata. “Saya punya glang suda ilang. Orang suda curi itu barang!” Sekarang Rigaudin baru jadi sanget terkejut. Itu glang dengen inten-inten yang berharga besar pun ada pusaka dari orang tuanya.
“Coba cari dengen betul!” kata Rigaudin.
“Saya suda cari di kuliling tempat.” Saut itu nyonya; kamudian ia mulain aduk-aduk lagi itu barang-barang yang tersimpan dalem lemari. Tetapi percula, glang itu tida dapat dicari.
“Kapan kau telah pake itu barang paling blakang?” tanya ia punya suami dengan swara serak lantaran berduka.
“Delapan hari yang lalu kutika saya dateng di perjamuan makan di rumanya kau punya sudara lelaki, dan saya tau betul, bahua saya telah simpen itu glang di dalem ini etui, tempo malemnya kita orang pulang ka ruma.”
“Apa kau brangkali telah tinggalken itu kunci di lobang kuncinya itu lemari?”
“Itu kau boleh kira!” saut si nyonya dengan murka. “Selamanya saya simpen itu dengen baek sekali.”
Kamudian orang preksa itu lemari dengan teliti, tetapi tiada kedapetan karusakan apa-apa.
Itu hari ada hari Minggu, maka ia punya anak-anak, satu lelaki nama Laurentt, student dari satu midrasa yang telah berusia delapan blas taon, dan satu anak prampuan nama Cecile yang 2 taon lebi muda dari sudaranya itu, dua-dua ada di ruma.
Ia orang berdua lantas dipanggil masuk buat dikasi tau dari hal itu kailangan.
Siapatah yang misti ditudu telah mencuri? Suda tentu, sebagimana biasa orang menudu bujang-bujang yang ada di dalem ruma. Maka itu, dua bujang Annette yang rupanya cantik dan yang bekerja buat membersiken kamar, dan Euphrosine, si koki gemuk telah dipanggil masuk. Tapi ia orang berdua menyataken kakerenan besar dan belaken diri sendiri sebagimana pantes dari itu tuduhan.
Tatkala itu dua bujang suda berlalu, Tuan Rigaudin lantas berkata, “Annette punya rupa beroba!”
“Itulah lantaran ia meliat Laurent, papa!” kata Cecile buat menganggu.
“Saya telah trima ia bekerja di sini atas pujiannya satu familie yang ternama maka saya tahu itu dengen pasti ia punya kesetiaan hati.” kata Nyonya Rigaudin, “Dan Euphrosine pun tiada nanti bisa berbuat demikian.”
Sekarang orang memikirken segala rupa hal, yang boleh terjadi. Betul ada beberapa orang yang menjualan liwat di depan pintu, tetapi tiada satu antaranya telah masuk di ruma.
Annette dateng kombali dengen membawa surat-surat pos. Antara itu surat-surat ada terdapat satu karcis yang bunyinya begini.
John Chuzzlewitt, ponggawa dari Kapolisian Inggris yang suda lepas pekerjaan negri, Villa Mon Reve di de rue de Paris. Mengurus perkara nikahan, percerehan, testamen dan segala rupa hal. Perkerjaan ditanggung baek dan cepet. Pembayaran kalu suda ternyata pekerjaan yang diurus suda beres.
Rigaudin tunjukan itu karcis pada istrinya, sedeng ia sendiri tiada begitu percaya aken apa yang tertulis di itu karcis. Tetapi Nyonya Rigaudin rasa itu hal yang kebetulan, ada sebagi satu penunjuk jalan dari langit.
“Kita boleh coba,” kata ia. “Kerna kita pun cuma misti membayar, jika itu barang bisa terdapat, tegesnya kita tida usa menanggung kerugian. Baek minta itu tuan Inggris dateng kamari.”
Rigaudin tiada begitu suka buat kabulken permintaan ia punya istri; tetapi itu waktu justru dateng Tuan Frederic sudara dari itu nyonya, pada siapa lantas di mana advies.
“Di Engeland betul ada banyak orang pnter di dalem pakerjaan politie,” kata Tuan Frederic.
Rigaudin lebi suka seraken ini perkara pada politiee. Te-tapi ini hal ada banyak susa, apalagi ia tiada bisa unjuk orang yang bisa disangka telah curi itu barang. Maka akhir-akhir ia orang ambil putusan buat menulis pada itu saingan dari Sherlock Holmes buat minta ia dateng. Annette diprenta bawa itu surat dan bebrapa jem blakangan, sesudanya ia orang bersantap, dateng satu telegram yang mengabarken, Tuan Chuzzlewitt sebentar malem pada jem setenga sembilan nanti dateng.
Kutika lonceng menunjuk jem 8.30, bel dari pintu berbunyi. Annette yang membuka pintu, lalu dateng kombali dengan satu tuan yang cuma memanggut saja buat membri salaman pada pada kulawarga di itu ruma. Rupanya itu tetamu betul mirip dengan satu politie resia yang tersohor: badannya kurus, mukanya dicukur licin, rambutnya dibla di sama tenga menurut model Inggris sedeng ia punya mata yang tajem, yang tertawung dengen alis tebel, ada membikin rupanya jadi kaliatan keren ia punya pakean ada amat rapi, tetapi tiada perlente.
Itu tetamu atawa Tuan Chazzelewitt berkata dengen lagu swara orang Inggris, “Slamat malem nyonya-nyonya dan tuan-tuan! Apa kau mau suru saya cari barang yang ilang dicuri orang?”
“Betul orang Inggris ada amat kocak!” kata Frederic, yang suka membaca buku-buku cerita prihal politie resia dengan berbisik, “Dia kaliatan seperti Sherlock saja!”
Tuan Rigaudin yang masih merasa sedikit bingung lantaran kedatengannya itu politie resia mulain bicara.
“Tadi pagi kita telah trima satu karcis...”
“O, ya betul!” kata itu politie resia, “Itulah saya punya circulaire. Saya baru dateng di Frankrijk.... Dan sekarang tempo harganya seperti uwang (time is money); apa kau mau seraken pekerjaan pada saya atawa tida? Jika tida....
Ia berlaku seperti ia tida ada banyak tempo buat beromong dan mau berjalan pergi.
“Tentu Tuan! Tentu!” kata tuan ruma terburu-buru, te-tapi dengen hati sedikit sangsi ia trusken bicaranya, “Juga, jika kau punya perjanjian...”
“Jikalu saya tiada dapet itu barang, kau trusa bayar apa-apa. Tetapi jika saya dapetken itu barang yang ilang-ya upaya suda tentu ada bergantung dengan harganya itu barang..
“Itu ada sarupa barang yang harganya tida kurang sa-ribu franc.”
“Tapi siapa yang punya itu barang?”
“Saya punya istri.”
Chuzzlewitt lantas berkata pada nyonya Rigaudin.
“Nyonya, apa kau suka kasitahu pada saya, begimana rupanya itu barang?”
“Itu ada satu glang mas tertabur inten yang bagus.”
“Begimana besarnya kira-kira?”
Nyonya Rigaudin unjukin jerijinya buat petaken begimana besarnya itu inten. Dan ia ceritaken juga, bahua itu glang ada barang pusaka, yang ia ingin sanget dapet kombali.
“Trima kasi!” kata itu politie resia, sasudanya dengerin si nyonya punya cerita. “Saya taksir itu glang harganya duwa ribu franc. Maka saya minta pada kau tiga ribu jika saya bisa dapetken itu.“
Semua orang di situ merasa sanget heran tentang itu permintaan yang amat besar.
Rigaudin pun tiada bisa tahan lidanya lebi lama lagi buat tiada menyataken ia punya keheranan.
Tetapi itu orang Inggris lantas berdiri dan berkata dengan kurang sabar. “Bilang saja mau atawa tida...Na, slamat malem...!”
Suda tentu itu familie tiada kasi itu politie resia berjalan pergi, pada sablonnya bicara putus tentang itu upahan. Begitulah sasuda tawar-menawar lagi, akhir-akhir itu upahan ditetepken buat dua ribu franc yang Rigaudin nanti membayar, jika itu barang yang ilang bisa dapat kembali. Itu toh ada lebi baek dari misti ilang itu pusaka buat selama-lamanya.
Kamudian ia orang membikin surat contract tentang itu perjanjian.
Sekarang orang mulain ceritaken pada itu politie resia apa yang telah kajadian di dalem ruma, dan membri tau juga padanya, yang orang tida dapetken tanda karusakan apa-apa, yang boleh unjuk begimana itu pencurian suda dilakuen; sementara itu concurent dari Sherloch menyataken ia punya keheranan tentang kepandeyannya itu pencuri glang. Dengen terikut oleh semua familie ia bikin pepreksaan di semua pojok, bikin banyak catetan dari segala hal dan ukur juga besar-nya tangan si nyonya, yang punya itu glang.
Kamudian ia minta satu roko dan satu glas cognac yang orang lantas bawaken padanya. Kira-kira saprapat jem ia duduk diam dengen tiada bicara satu apa sembari isep roko dan minum cognac. Ia punya paras ada menunjukan yang ia se- deng berpikir. Semua orang tiada brani beromong dan dengen mata bersorot heran ia orang memandang pada itu politie resia.
Kunyung-kunyung ia berlompat dan berkata; “Na, sekarang saya mulain preksa orang-orang yang ada di ini ruma.”
Ia minta semua orang berlalu dari kamar kamudian ia kunciken pintu, tapi sigra juga ia buka kombali.
Sambil awasin lijst di mana ada tercatet namanya orang sadalem ruma, ia berkata, “Tuan dan Nyonya Rigaudin tentu ada di luar golongan, tapi...Frederic!”
“Jangan gusar!” kata itu tuan tuwa yang ada pengertian di dalem pepreksaan politie resia, “Saya ada iparnya.”
“Itu tida ada halangan. Di dalem pepreksaan kita orang tiada kacualiken satu ipar. Kau misti masuk!”
Itu tuan tuwa mengangkat pundak dengen tingka yang amat lucu dan lantas, masuk ka itu kamar.
Chuzzlewitt memandang dia lama sekali dengen muka bengis dan kunyung-kunyung ia betreak; “Kau boleh pergi!”
Dan selagi Frederic berlalu dari kamar dengen goyang kepala, itu politie resia memanggil, “Sekarang Cecile.”
“Apa?” kata Nyonya Rigaudin dengan merasa heran, “Saya punya anak prampuan?”
“Dalem perkara menjalankan kewajiban kita orang tiada kenal anak prampuan.”
Kutika ia ada sendirian dengen itu nona, ia tanya dengen swara amat manis.
“Apa nona tida ada barang buat dipercayaken pada saya?”
Nona Cecile punya muka menjadi mera dan ia menyaut dengen swara putus-putus, “Ti...da, Tuan!”
“Jika begitu, percayaken pada saya buat sedikit tempo kau punya tangan yang bagus.
Ia lantas pegang tangan Cecile, lalu tarik dia sedikit deket dan menyium pada pipi si nona. Kamudian ia suru nona itu kaluar dan bertreak, “Laurent!”
Itu jejaka berjalan masuk dengen brani, tetapi ia menjadi kaget sedikit, tatkala itu politie resia tanya padanya. “Apa kau tiada mempunyai satu kacintaan?” Tetapi Laurent tiada kasi dirinya diganggu cara begitu, maka Chuzzlewitt lantas silakan ia kaluar.
Sekarang ada gilirannya Annette buat didenger. Sayang sekali Tuan Frederic tiada bisa menyaksiken dengen mata sendiri, tempo ini komedi dimaenken oleh itu dua orang. Itu politie resia yang bengis jadi ilang bengisnya dan sekarang ia bicara dalem bahasa Prasman, “Di sini ada itu glang, Annette! Lekas kasi masuk di dalem kau punya saku.”
“Apa itu barang bagus ditiru, Jules?”
“O, bagus sekali! Saya suda preksa sendiri itu barang. Dan apa tiada satu orang menaro hati cemburuan pada kau?”
“Tida, ia orang percaya saya besar sekali.”
“Bagus! Dan lekas kasi liat itu komedi!”
Itu bujang prampuan lantas bertutut dan berlaku seperti orang yang minta am pun sambil menangis.
Chuzzlewitt, alias Jules, membuka pintu.
“Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan, ini dia pencurinya...!” kata ia pada orang-orang yang ada di situ.
“Mengaku, yang kau suda curi itu glang.”
“Ya, Tuan! Ya...”
“Di mana kau simpen itu barang?”
“Di atas, di dalem saya punya koffer.”
“Pergi ambil itu barang....Dan jangan coba buat lari....”
Kita orang nanti jaga supaya ia tiada bisa lari,“ kata satu tuan, yang telah masuk ka dalem kamar dengan diam-diam dan tiada ketauan oleh semua orang yang ada di situ lantaran pikirannya marika ini sedeng kalut: ”Ayo maju, orang-orang!“
Bebrapa agen politie lalu tangkep itu “politie resia” dan ia punya kawan, yaitu Annette yang cantik.
Itu tuan ada commissaris politie tulen dan ia minta maaf pada Tuan Rigaudin buat ia punya kelancangan, yang ia telah masuk diam-diam di itu kamar. Ia orang telah ikutin Jules, yang menyaru sebagai politie resia Inggris dengan dibantu oleh Annette buat mencuri barang-barang berharga dengan gunaken kunci palsu. Pada orang yang telah dicuri, itu politie resia tetiron lantas kirimken karcisnya dan jika orang minta pertulungannya politie resia itu, lalu itu komedi dimaenken, seperti yang telah diceritaken di atas dan satu barang tiruan dari barang yang dicuri, dijual buat itu jumbla uwang yang telah dijanjiken padanya.
Jika orang tiada suka bikin abis itu perkara yang diperbuat oleh Annette, ini bujang prampuan lalu kaluarken satu surat palsu dengan tanda tangan tiruan dari sala satu famili buat pitena ini familie dengan tudu marika ada turut campur di dalem itu pencurian. Ia berbuat begini perlunya buat melyapken diri sebegitu lekas ia bisa.
Dengan tipu demikian, itu kawanan bangsat telah beruntung bebrapa kali melakuken kerjaannya dengen slamat.
Nyonya Rigaudin tiada dapet kombali ia punya glang yang tulen, tetapi masih boleh dibilang untung, sebab ia trausa ilang dua ribu franc, yang ia misti bayar buat glang palsu.
¹ Penghiboer, No. 42, 18 April 1914.
Cerita dari Satu Pohon Mangga¹
Dalem satu ibu kota, dari suatu negri pada bebrapa banyak taon yang telah lalu, ada hidup saorang miskin dengen istri-nya. Suami istri ini suda berumur tinggi dan tiada mem-punyai anak.
Pada suatu hari kutika ada di luar ruma, orang miskin itu suda dapet tangkep saekor burung kakatua puti yang besar, burung mana lalu dibawa pulang ka rumanya.
Lekas juga itu kakatua suda bisa belajar omong sebagai manusia, suatu kaadaan yang jarang terdapat pada laen-laen bangsa burung.
Kadua orang miskin itu pun ada rawatin itu kakatua begitu baek, saupama juga burung itu ada anaknya sendiri.
Pada satu hari, salagi duduk di atas wuwungan dari rumanya sang majikan, itu kakatua yang suda jadi jinek sekali ada dapet liat sakawan kakatua laen sedeng terbang melintasin itu tempat di mana ia berada. Juga ia ada dapet denger satu dari antara itu bebrapa kakatua ada bicaraken tentang pohon yang ajaib.
Mendenger itu bicaraan, kakatua dari itu orang miskin, yang dari sekarang baek kita bahasaken kakatua piaraan, su-da terbang menghampirken itu kawanan kakatua laen de-njen maksud buat minta katrangan tentang itu pohon yang ajaib.
Itu kawanan kakatua lantas kasi katrangan yang pohon itu ada tumbu dalem satu negri yang pernanya di sebrang lautan besar, sementara apabila saorang tua dapet makan bua dari itu puhun, niscaya tiada tempq lagi ia nanti berbalik jadi muda kombali. Inilah sebabnya maka puhun itu ada dinama-ken puhun ajaib.
Sasudanya dapet itu katrangan, si kakatua piaraan sigra terbang dateng mengadep pada dua majikannya. Pada mari-ka ini, ia suda ceritaken apa yang itu beberapa kakaktua barus-an ada kata dan sekalian minta ijin kalu ia pun boleh turut itu kawanan pergi dapetken itu bua dari puhun ajaib
“Kau berdua senantiasa jadi bertamba tua.” Begitulah itu kakatua piaraan suda berkata, “Aku ingin sekali meliat kau jadi muda lagi. Sakean lama kau ada berlaku baek sekali pada aku ini, maka ini sebab, aku dapet ingetan buat pergi bersama-sama itu beberapa kakatua aken ambil itu bua ajaib beberapa biji buat disuguken pada kau berdua.”
Kadua suami istri itu menjawab, “Ya, boleh sekali kau pergi, tapi inget jangan jadi kasasar di jalanan, sedeng sabra-pa boleh kau musti lekas balik kombali.”
Sasuda berjanji aken perhatiken itu pesenan, si kakatua piaraan terbang aken menyusul pada itu kawanan kakatua yang suda terbang lebi dulu. Ini kawanan telah terbang me-lintasin lautan-lautan dan pulo-pulo, dan sasuda itu barulah sampe di satu negri yang letaknya jau sekali. Di tempat inilah itu kawanan suda dapetken itu puhun ajaib.
Kutika suda bikin papreksaan buat sementara waktu, itu kawanan burung dapat kanyataan yang masing-masing kakatua melaenken bisa dapet kabagian satu bua yang lalu dibagi dengen zonder menerbitken percecokan.
Sigra juga itu bebrapa kakatua laen suda dahar buanya melaenken itu kakatua piaraan saja suda dapet pikiran begini, “Aku ini masih muda sedeng orang yang piara aku suda tua. Lantaran begitu, baeklah aku kasiken ini bua pada ia orang kerna brangkali saja betul kalu suda dahar bua ini, ia orang nanti jadi muda kombali.”
Antara pembaca niscaya ada yang ingin tau pohon ajaib apatah itu? Ya, puhun mangga, sedeng itu bua yang itu kawanan kakatua ada dahar ialah bua mangga.
Sekarang diceritaken itu kakatua piaraan yang sasuda jadi tetep pikirannya, ia sigra brangkat pulang dengen menggigit itu bua mangga. Lekas juga ia suda sampe di ruma tuan dan nyonyanya, lalu masuk ka dalem serta kasiken barang bawahannya itu pada itu kadua orang tua, lebi jau ia tuturken juga tentang perjalannya dan tentang kaadaan itu puhun ajaib.
Strimanya itu bua, orang miskin kita suda menengok seraya berpikir, “Aku ini ada tua dan miskin, serta tiada sekali mempunyai anak. Maski pun aku boleh hidup dan jadi muda lagi, tapi kabaekan apatah aku nanti bisa berbuat bagi ini dunia, sedeng sabaliknya maski pun aku mati siapatah yang nanti yang nanti ambil perduli?
“Sri Baginda junjunganku ada saorang yang bersifat arif bijaksana. Manakala ia bisa jadi muda kombali, oh! berapatah banyak kabaean ia nanti bisa berbuat bagi anak rahayatnya! Mana lebi baek aku persembahkan bua ini pada Sri Baginda!”
Demikianlah itu orang miskin yang berhati baek dan tia-da sekaker suda bawa mangganya ka kraton raja, di mana sa-telah bertemu muka dengen itu Sri Djoenjoengan, ia lantas ceritaken hal ihwalnya itu bua ajaib dan kemanjurannya.
Hal itu bukan patut suda membikin girang itu Sri Baginda ampunya hati, hingga ia ini suda briken satu kantong yang berisi uwang pada itu orang miskin sebagi penukaran buat ia punya bua mangga.
Kamudian Sri Baginda suda ambil itu mangga dari tang-ganya sambil berpikir, “Jika kami dahar ini mangga kami nanti jadi muda lagi, alangka senang kami punya hati!”
Baru saja ia ingin gigit itu bua, tiba-tiba Sri Djoenjoengan itu suda mendapat pula ini pikiran, “Betul begitu, sebagimana kami telah pikir barusan, tapi kami nanti merasa menyesal buat liat kami punya laen-laen sobat ada tua, sedeng kami sendiri jadi muda kombali. Kami ingin bahuwa sobat-sobat kami pun bisa jadi muda kombali. Ini sebab, kami sekarang tiada nanti dahar sendiri ini mangga, hanya nanti tanem lebi dulu. Kapan ia suda jadi satu puhun dan mengaluarken bua, barulah kami dan marika sekalian nanti dahar itu bua, supaya dengen begini kita orang sama-sama nanti menjadi muda kombali.”
Kamudian Sri Baginda lantas prenta tanem itu mangga dalem kebonnya. Dalem tempo bebrapa taon mangga yang ditanem itu suda tumbu dan jadi besar serta mengaluarken bua.
Tatkala mangga yang pertama kali kaluar suda jadi mateng, Sri Baginda lantas titaken hambanya petik dan kasiken itu pada saorang sobatnya yang paling tua. Kake ini suda ber-umur kira-kira seratus taon. Baru saja bua itu turun dalem perutnya kunyung-kunyung ia jato pangsan dan mati.
Mendenger hal itu, Sri Baginda suda jadi sanget tiada senang hati dan sigra bri prenta pada orangnya aken panggil mengadep itu orang miskin yang suda persembahkan bua itu padanya. Kutika orang itu suda mengadep Sri Makota lantas berkata padanya begini, “Brani bener kau menipu pada kami, buat hal mana kau harus trima hukuman dikorek kau punya bua biji mata.”
Alangkah kagetnya itu orang, satelah mendenger bicaranya itu raja! Ia tiada abis pikir begimana bua itu suda bisa mendatengken hal yang ia tiada sekali duga, kerna ia percaya betul perbilangannya ia punya kakatua. Sampe di sini ia jadi dapet kenyataan, bahuwa burung piaraan itu suda justaken padanya, hingga ia berjusta lagi pada baginda raja. Ya, apa mau dikata, sekarang trabuleh tida ia musti trima kadua matanya dikorek kaluar.
Sasuda menerima hukuman demikian, itu orang miskin, yang lantaran tiada seraka suda dapet bincana begitu rupa, ia lantas ceritaken pada istrinya, bagimana ia suda dapet itu sek-sahan, sedeng itu kakatua yang mendenger ini cerita sigra terbang pergi.
Ia terbang ka itu puhun mangga, yang itu kutika suda dikurung dengen pager atas titanya Sri Baginda yang telah ada kaluarken mahlumat aken larang sasuatu orang makan itu bua. Ia lalu petik satu bua dan bawa itu terbang kuliling kota sampe ia menampak satu prempuan tua yang sedeng duduk di depan pintu rumanya. Kakatua itu lalu jatuken bua yang ia bawa deket kakinya itu prempuan tua sambil berkata, “Makanlah! Makanlah!”
Itu prempuan tua ada saorang yang sanget miskin dan lebi dulu dari itu belon perna denger tentang halnya itu bua mangga. Dengan tiada ilang tempo lagi, ia lantas pungut itu bua yang dijatoken di kakinya dan sigra juga ia mulai dahar itu. Begitu lekas itu mangga masuk dalem perutnya, begitu lekas juga ia beruba jadi muda dan cantik kombali; ia bisa meliat dan mendenger saupama orang muda biasa.
Bua ini ada ajaib sekali,“ begitulah ia berkata. ”Aku nanti bawa bua ini pada Sri Baginda yang mulia serta bilangin hal ihwalnya.“
Satelah Sri Baginda meliat itu bua, ia lantas kenalin yang itu ada bua mangga dari puhunnya. Sekarang ini orang yang dipertuan jadi penasaran kombali. Aken ilangken itu napsu, ia sigra panggil mengadep ia punya tukang kayu yang tua, pada siapa ia kasiken satu mangga buat didahar. Betul sekali tukang kayu yang tua itu suda beroba jadi satu jejaka yang muda serta cakap.
Sampe di sini, hati penasaran dari Sri Baginda jadi ilang, hingga ia jadi percaya, bahua itu bua bener ada satu bua yang sanget ajaib. Dari sebab begitu, ia sigra mengadaken satu perjamuan dan undang sekalian mantri-mantri dan pahlawannya aken bersantap. Marika ini semua suda dahar itu bua mangga, dan masing-masing suda beruba jadi orang-orang muda yang cakap serta gaga.
Oleh kerna adanya hal ini, Sri Baginda jadi menyesel atas perbuatan diri sendiri lantaran suda mengukum itu orang miskin yang pertama kali suda persembahkan mangga padanya. Dengen sigra ia minta orang itu dateng dan kasiken padanya satu mangga buat didahar. Betul ajaib sekali, kerna sahabisnya dahar orang itu jadi muda kombali serta mempunyai mata yang baek.
Kamudian, sebagi jalan membales budinya itu orang, Sri Baginda suda ganjarken padanya gelaran Prins dan satu as- tana yang bagus. Sakiternya itu astana ditanemin banyak puhun mangga.
Apabilah kita orang dahar bua mangga, kita harus inget, begimana tiada seraka adanya itu burung kakatua piaraan, itu orang miskin dan itu raja besar, dan begimana senang ia orang suda bikin sasuatu orang yang bisa dapet dahar itu bua.
¹ Penghiboer, No. 44, 2 Mei 1914.
Satu Perbuatan Jahat Dibalas dengan Kebaikan¹
Antenore ada namanya saorang hartawan yang berhati dengki di kota Venetie; ia tiada suka liat orang yang lebi kaya dari dirinya sendiri. Maka di dalem itu kota tida ada saorang yang suka campur padanya, dan juga tida ada saorang yang begitu sombong, buat unjuk ia punya kekayaan seperti Antenore.
Antara orang-orang hartawan di kota Venetie, adalah satu sudagar bernama Galbajo, yang baek budi dan suka sekali menulung pada sasamanya menusia. Ia ada kaya besar, dan tida suka agungken dirinya dengan ia punya kekayaan.
Ia punya pakerjaan ada maju sekali, lantaran mana Antenore menjadi tida senang hati dan hendak keniaya padanya.
Buat melakuen ia punya perbuatan jahat, sigra juga ia siarken kabar yang Galbajo mendapat kekayaan dengan jalan yang tida halal.
Kunyung-kunyung di itu tempat ada terbit prang antara orang Venetie dan orang Turkye. Semua perdagangan telah jadi brenti; kapal-kapal semua itu boleh trusken perjalanan- nya dan misti berlalu dari itu tempat; begitu pun kapal-kapal dari laen negri tida boleh masuk di dalem pelabuan kota Venetie kerna dilarang kras orang-orang belayar ka laen tempat seblonnya itu peprangan dibikin dami. Ini larangan suda dikaluarken lantaran orang takut spion-spion Turkye nanti wartaken di mana ada tempat kediamannya balatantara orang Venetie.
Maka penduduk di itu tempat telah menjadi heran sekali, tempo meliat yang Galbajo punya kapal dari Smyrna suda bisa sampe di kota Venetie dengen slamat. “Siapa adanya Galbajo? Kenapa ia punya kapal suda dikasi liwat oleh Turkye? Dan apa ia ada jadi sobat dari kita orang punya musu?” Begitulah perkataan yang Antenore sering ucapken di hadepan sekalian penduduk itu tempat, aken bikin tercermar namanya ia punya musu. Akhir-akhir dengan itu jalan ia suda bisa dapetken maksudnya, hingga Galbajo yang ia keniaya lantas ditangkep.
Galbajo kasi masuk satu surat permohonan, dengen apa ia bri ketrangan yang pada sablonnya terbit prang, ia punya kapal telah belayar dari Smyrna, tapi kerna itu kapal dapet kerusakan, maka kandaran itu misti masuk di dok di Corfa, dari mana kamudian ia suda bisa sampe di Venetie pada waktu suda terbit prang.
Tetapi ketrangannya Antenore ada lebi banyak orang percaya, lantaran mana pembesar di itu tempat telah membri putusan yang Galbajo ada berdosa di dalem itu perkara, dan jatoken hukuman buang padanya buat saumur idup. Galbajo tau siapa yang suda keniaya padanya, tetapi ia tida mau kluarken satu pata perkataan buat belaken diri sendiri, hanya trima saja hukumannya.
Peprangan masih diterusken, tapi akhirnya tentara Turkye telah dapat kemenangan hingga kota Venetie suda jato di tangannya ini bangsa. Banyak sekali orang Venetie telah di- tawan dan dibawa pergi aken dijadiken budak, sedeng sebagian besar telah dibunu.
Antara itu orang-orang tawanan, ada anaknya Antenore, dan kerna anak ini cuma satu-satunya, maka tida heran kalo itu ayah yang dengki hati suda jadi kesel sekali, hingga ampirlah ia tida suka idup lebi lama di dalem dunia. Tapi oleh kerna ia masi blon putus harepan, maka ia menunggu saja kabar tentang ia punya anak sahari dengen sehari, hingga pengerepannya aken bisa bertemu kombali dengen ia punya anak, telah menjadi putus.
Pada suatu hari, bebrapa bulan blakangan, satu kapal telah sampe di kota Venetie, di mana ada satu anak muda yang turut belayar suda turun dari itu kandaraan dan terus sewa satu prau kecil aken pergi ka astananya Antenore.
Di itu waktu Antenore lagi duduk memikirken nasibnya ia punya anak dengen tunjang kapala dan berduka sanget. Maka ia tiada dapet denger swara tindakannya itu anak muda. “Papa!” betreak itu jejaka. Antenore jadi sanget terkejut, tatkala ia meliat yang anaknya suda ada di hadepannya. Tida tempo lagi ia lantas peluk anaknya itu, dan dengan aer mata berlinang-linang ia menanya dengan swara putus-putus, “Begimana kau suda bisa terlepas dari tangannya orang Turkye?
“Terlepas?” kata itu anak, “Tida! hanya aku suda ditolong oleh saorang bangsa Griek yang bernama Angelus. Dia ketemu aku di pembuian, dan tatkala aku dapet sakit paya, ia suda tebus aku punya kepala dari tengkulak budak, dan bawa aku di ia punya ruma. Ia rawatin aku hingga aku bisa terlepas dari bahaya maut, kamudian kerna merasa kesian pada-ku, ia lantas kirim aku pulang ka Venetie dengen satu surat buat kau.”
Dengan terburu-buru Antenore buka itu surat, oleh kerna ia sanget ingin mendapat tau, begimana bunyinya.
“Bersama ini surat kau nanti trima kombali kau punya anak yang kau paling cinta. Jika mau tau, siapa adanya aku, yang telah tulung kau punya anak, yalah orang yang kau telah keniaya, lantaran mana ia dibuang di Alexandria, di mana ia idup dengan menyamar seperti saorang Griek. Betul aku ada id-up senang di ini tempat, tapi toh aku masih inget aken balik kombali ka tanah air sendiri. Lantaran peruntungan kau punya anak ada sanget bagus, maka aku suda ketemukan padanya, dan merasa sa-yang dia seperti anakku sendiri, kerna ia ada berasal dari Venetie. Sebetulnya aku boleh bikin apa yang aku suka dengen ia punya diri buat membales sakit hati, tetapi aku tida mau dan tida tega berbuat demikian; dari itu maka aku kirim ia pulang. Ambillah anakmu, kerna kau ada ia punya ayah; ini ada satu ganjaran dari saorang, yang kau pandang sebagai kau punya musu yang paling besar. Sekarang kau suda tau bahua penulungnya kau punya anak yang kau sanget cinta, ada orang buangan:
Galbajo
Sehabisnya ia baca ini surat, Antenore punya sekujur badan menjadi gumeteran, oleh kerna ia merasa yang ia suda berbuat satu kejahatan pada Galbajo. Sekarang ia suda trima budi musunya itu begitu besar, maka saboleh-bolel ia ber-daya aken tulung Galbajo kombali, supaya ini orang buangan balik ka kota Venetie.
Sedari itu hari ia tida mau lagi ceritaken perkaranya Gal-bajo, hingga pelahan-pelahan orang-orang suda menjadi lupa bahua Galbajo telah dibuang.
Dengen diam-diam Galbajo suda balik kombali di kota Venetie dan berniaga seperti dulu. Antenore tau ia punya kesalahan maka ia dateng ketemukan Galbajo buat minta di-ampunken ia punya kedosaan. Sajek itu waktu ia orang ber-dua suda jadi sobat yang amat kekel satu dengan laen.
¹ Penghiboer, No. 47, 23 Mei 1914.
Nona “Kulit Kucing”¹
Saorang hartawan yang tinggal bersama ia punya istri dan lima anak prampuan, ada idup dengen amat senang di satu ruma yang besar, tapi ada satu perkara yang membikin ia berduka hati, oleh kerna ia tida ada mempunyai anak lelaki.
Di itu tempo kebetulan istrinya lagi hamil, jadi ia ada harepan besar yang ia nanti dapet satu anak lelaki. Pengarepannya telah menjadi putus dan berbalik menjadi sanget murka, tatkala ia denger yang istrinya bukan melahirken satu anak lelaki, tetapi satu anak prampuan. Ia prenta yang itu bayi misti lantas dikasi lalu dari rumanya, kerna ia tida suka meliat lagi.
Lantaran ia punya hati yang murka tida dapet dibujuk, maka ia punya istri terpaksa misti kasi laen orang piara anaknya.
Berbrapa taon blakangan, itu anak suda jadi besar, dan rupanya ada amat cantik, tapi papanya masi juga tida mau kasi ia tinggal dalem rumanya.
Maka ia telah dikirim ka satu sekola, di mana ia tinggal hingga ia berumur lima belas taon. Sang guru ada sanget cinta padanya; sementara ia punya mama juga sering-sering ada kirimken pakean yang bagus-bagus buat ia pake, cuma saja itu ibu tida brani ketemuken padanya.
Pada suatu hari itu nona yang tarsia-sia kirim sapucuk surat, aken minta permisi pada papanya buat pulang ka ruma, tetapi itu orang tuwa yang kejem tida mau kabulken permintaannnya.
Akhirnya pada kamudian hari, ia ambil putusan aken coba peruntungannya dengen menjadi bujang. Maka ia lantas beresken semua pakeannya yang bagus-bagus dan bungkus jadi satu; begitulah ia lantas berlalu dari ruma sekola. Ini bungkusan ia sembuniken di satu puhun besar yang tumbu dalem satu utan lebet, yang pernanya tida bebrapa jau dari kota. Ia cuma membawa satu baju yang terbikin dari bulu kucing, dan berjalan kuliling tempat aken cari pakerjaan. Orang-orang di itu tempat yang meliat ia ada pake itu baju yang aneh suda kasi ia nama Kulit Kucing. Tapi ini gadis tiada ambil perduli sama itu cuma nama kerna ia mau cari pakerjaan.
Pada suatu hari, tatkala sampe di satu astana dari saorang hartawan, ia punya perut merasa lapar, maka ia terpaksa ketok pintunya itu gedong besar buat minta dikasi sedikit makanan. Satu pengawal yang suda tuwa lalu bukaken pintu, kutika ia denger itu ketokan; ia telah menjadi kagum, tatkala meliat itu gadis begitu cantik, lantas anter itu nona pada ia punya nyonya yang tinggal di itu astana.
“Kau boleh tinggal sama aku,” kata itu nyonya. “Tetapi kau ada sanget cantik, hingga membikin aku jadi menyesel, lantaran tida ada laen pakerjaan yang aku bisa kasi pada kau, kecuali pakerjaan di dapur. Jika kau suka trima ini pakerjaan, kau boleh lantas masuk bekerja.“
Sekarang ia ada dibawa prentanya satu koki, yang ia misti turut prentanya. Jika ia berbuat sala, ia dapet pukulan dari itu koki biadab. Tapi ia tahan saboleh-bolel itu kasusahan, kerna ia harep bisa menjadi senang di kamudian hari, jika ia bekerja trus di dalem itu astana.
Bebberapa minggu blakangan, satu bujang yang bekerja di itu gedong ada cerita padanya, bahua di itu astana nanti dibikin satu pesta besar, oleh kerna anak lelaki dari ia punya majikan ingin cari satu tundangan.
Ini kabar suda membikin si gadis Kulit Kucing menjadi sanget girang, kerna ia harep nanti bisa jadi istrinya itu jejaka.
Kutika itu pesta dibuka, ia lantas minta permisi pada itu koki biadab, seraya berkata, “Nyonya koki, aku ingin kunjungken itu pesta.”
“Kau mau pergi dengen kau punya baju bulu kucing?” kata itu koki. “Betul kau ada satu anak yang tida tau diri. Apa kau kira, yang kau punya rupa ada lebi bagus dari itu gadis-gadis, anak-anaknya orang-orang hartawan?”
Sahabisnya ucapken ini perkataan, ia lalu ambil satu panci aer dan sirem di badannya itu nona Kulit Kucing.
Dengen baju yang masih basa, ia berlalu dari itu dapur dan pergi ka itu tempat di dalem utan, di mana ia ada simpen ia punya pakean bagus. Sesudanya pake itu baju yang indah, ia punya rupa menjadi begitu cantik, sebagai satu bidadari yang baru turun dari kayangan.
Kutika ia masuk di itu pesta semua orang jadi kagum lantaran meliat kaelokannya. Pun itu jejaka, anak dari ia punya majikan rasa, yang ia blon perna liat satu gadis yang begitu cantik.
Lantas saja ia maju ka depan dan menanya apa itu gadis suka berdansa dengen ianya.
“Baek,” saut itu gadis dengen bersenyum yang keja itu jejaka jadi lebi tergila-gila, hingga tida mau ambil perduli lagi sama laen-laen gadis, maski antaranya ada banyak yang bagus rupanya.
Tempo tetamu-tetamu brangkat pulang, itu jejaka lalu menanya pada nona Kulit Kucing: “Sudilah bri tau padaku, nona yang amat manis, di mana kau tinggal.”
Tapi si nona tida mau kabulken permintaannya itu jejaka, dan berkata, “Sabar tuwan, jika kau betul cinta padaku, aku nanti kasi tau pada kau di blakang hari, di mana aku tinggal.”
Sahabisnya berkata demikian, ia lantas berlalu dari itu pesta dengen terburu-buru dan kombali ka utan buat simpen ia punya baju yang bagus; kamudian ia pake pula itu baju dari bulu kucing.
Pada besok harinya, itu jejaka kasi tau pada ibunya yang ia suda ketemu satu gadis yang ia penuju, dan ia ingin yang itu gadis bisa jadi istrinya.
Ia minta pada ia punya ibu yang itu pesta jangan dibrentiken, seblonnya ia dapet tau di mana itu gadis tinggal.
Satu minggu sahabisnya pesta yang pertama, satu bujang dari dalem astana membri kabar lagi, bahua nanti dibikin pesta buat yang kadua kalinya.
Lagi sakali nona Kulit Kucing minta permisi pada si koki buat pergi ka itu pesta. Itu prampuan tua suda ketok kapalanya itu nona dengen satu adukan nasi yang besar.
Si nona Kulit Kucing lagi-lagi tiada ambil perduli sama itu pukulan, hanya lantas saja lari ka utan, dan pake ia punya baju yang lebi bagus dari pertama kali.
Tempo ia sampe di itu pesta, itu jejaka suda menunggu ia punya dateng. Dengen muka yang bersorot girang ia berkata, “Apa kau sudi, nona manis, dansa sama aku?”
“Dengen segala senang hati, tuwan,” jawab itu gadis, sembari kasi liat lagi senyumnya yang amat manis.
Tatkala pesta suda ampir ditutup, ia tanya pula di mana itu nona tinggal, dan dapet jawaban seperti dulu.
Tetapi pada waktu pesta dibuka aken katiga kali, itu jejaka suda buntutin itu gadis dengen diam-diam aken mendapat tau ka mana si nona hendak pulang.
Dengan itu jalan ia suda dapet kenyataan, bahua itu nona tinggal di dalem ia punya ruma sendiri.
Lantaran terlalu banyak pikir, itu jejaka suda dapet sakit. Satu doktor membri tau pada ibunya, yang ia tida nanti bisa sembu kombali dari ia punya penyakit jika ia tida dikasi kawin dengan itu nona yang cantik, yang ada bekerja sebagai satu bujang dapur.
Pada bermula kali ia punya ibu menjadi gusar mendengar itu nasehat, tetapi lantaran ia sanget sayang anaknya, maka ia terpaksa nikaken juga anaknya itu sama nona Kulit Kucing.
Itu suami istri ada idup dengen senang, kerna ia orang berdua menika dengen merasa sanget cinta satu pada laen; tetapi ibunya itu suami merasa kurang senang lantaran mantu prampuannya bukan anak orang hartawan. Maka seringsering ia bikin hatinya nyonya Kulit Kucing menjadi kurang senang, dengan hinaken dia sebagai anaknya satu pengemis.
Pada suatu hari, satu prampuan tua dengen ia punya anak ada dateng di itu astana aken minta dibagi sedikit makanan. Nyonya Kulit Kucing kasiken sedikit duit pada ia punya babu buat briken pada itu pengemis. Itu babu ada empo ia punya anak yang baru berumur satu taon. Itu duit di-taro di tangannya itu anak aken dikasiken pada anaknya itu pengemis.
“Coba liat,” kata ia punya mertua prampuan. “Begimana satu pengemis suda kasianin pada laen pengemis punya anak.
Ini perkataan suda membikin nyonya Kulit Kucing menjadi sanget sedi, maka lantas ia berkata pada suaminya, sembari menangis tersedu-sedu, “Mari kita pergi cari aku punya orang tua, supaya orang mendapat tau, yang aku ada anaknya orang hartawan.”
Tatkala sampe di tempat tinggalnya dari ia punya, orang tua, itu suami istri, dengen ia orang punya satu anak yang masih kecil, lalu menginep di satu hotel, pada seblonnya ia orang pergi cari rumanya nyonya Kulit Kucing.
Pada besok harinya, si suami pergi jalan kuliling buat cari ia punya mertua, sedeng itu waktu kebetulan ini orang tua lagi berduka hati, oleh kerna ia punya semua anak dan istri suda meninggal dunia.
Tatkala itu orang muda suda dapet cari itu ruma, lantas ia masuk ka dalem, dan hampirken pada mertuanya yang lagi duduk di satu korsi deket perapian, aken bikin panas badannya, kerna itu waktu ada musim dingin. Orang muda itu lantas menanya: “Apa tuwan ada punya satu anak yang tuwan tida mau aku?”
“Ya betul,” jawab itu orang tua dengen sedi. “Jika aku bisa ketemu seblon aku menutup mata, aku nanti kasi semua hartaku padanya.”
Dengan girang ia balik ka hotel, dan kasi cerita apa yang ia suda denger dari mertuanya pada ia punya istri. Maka lan- tas ia orang brangkat dari itu hotel aken ketemuken itu orang tua.
Lantaran kagirangan hati, begimana ia suda bisa ketemu lagi ia punya anak prampuan, mantu lelaki dan cucu, suda membikin itu orang tua keluar banyak aer mata.
Nyonya Kulit Kucing sekarang merasa sanget senang lantaran papanya suda mau aku padanya, dan juga ia suda dapet harta dari ia punya papa, yang membikin ia jadi terpandang oleh ia punya mertua prampuan yang angku.
Begitulah adanya pengaru uwang.
¹ Penghiboer, No. 48, 30 Mei 1914.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.