DARI KEBANGUNAN NASIONAL SAMPAI PROKLAMASI KEMERDEKAAN
KENANG-KENANGAN KI HAJAR DEWANTARA
KI HAJAR DEWANTARA
DARI KEBANGUNAN NASIONAL SAMPAI PROKLAMASI KEMERDEKAAN
KENANG-KENANGAN KI HAJAR DEWANTARA
karya
KI HAJAR DEWANTARA
NV Pustaka—Penerbit Endang—Jakarta
© 2025 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: pustaka.taratsa.id
Ilustrasi sampul: The People (Das Volk) 1922/1923, karya Käthe Kollwitz
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
KATA PENGANTAR
Dengan penerbitan buku ini tidak lain maksud si penulis daripada memberi sekadar kenang-kenangan guna perlengkapan “dokumentasi nasional” yanz bertali dengan pergerakan rakyat, mulai ”Hari Kebangunan Nasional”, 20 Mei 1908, sampai “Hari Proklamasi”, 17 Agustus 1945. Apabila nanti ada orang berhajat menulis sejarah bangsa kita, yang berhubungan dengan ”bergantinya zaman kolonial menjadi zaman nasional”, seyogyanyalah mereka dapat bahan-bahan penyelidikan dari simpanan rakyat kita sendiri. Janganlah mereka meryari-cari bahan-bahan itu hanya dari lembaran-lembaran buah penyelidikan, berasal dari golongan-golongan lain; golongan-golongan yang mungkin tidak mudah dapat menghargai atau mengerti cita-cita rakyat kita dengan “netral” dan ”obyektif” sepenuhnya. Tiap-tiap kisah dalam sediarah bangsa kita seharusnyalah ditulis oleh bangsa kita sendiri, atau dikarang dengan menggunakan bahan-bahan dari arsip simpanan rakyat kita sendiri.
Isi buku yang kecil dan jauh daripada lengkap ini, semata-mata hanya mengenai “pergerakan rakyat sesudah tahun 1908”; atau di sekitar tahun timbulnya pergerakan nasional di-tanah-air kita itu. Janganlah kiranya ada anggapan, bahwa penulis karangan ini kurang mengindahkan gerakan-gerakan yang dilakukan berbagai golongan rakyat kita di-zaman sebelumnya. Sekali-kali tidak! Kita tahu, bahwa gerakan bangsa kita dahulu pada umumnya ditujukan ke arah hancur leburnya kekuasaan bangsa-bangsa asing di tanah-air kita juga, sama dengan maksud dan tujuan gerakan bangsa kita sesudah tahun 1908. Kegiatan mereka dalam segala cara mereka berjaoang, kita akui sepenuhnya. Kerap kali sepak teryang mereka mengagumkan kita yang hidup di dalam jaman sekarang ini. Keikhlasan dan kerelaan nenek moyang kita untuk mengorbankan diri, mengorbankan segala kenikmatan hidup dan penghidupan, mengorbankan harta-benda dari iwa guna maksud dan tujuannya yang suci itu, hingga kiu. etap kita hargai setinggi-tingginya. Nama para pahlawan zaman dahulu kita masukkan ke dalam pengajaran sejarah yang kita berikan kepada anak-anak kita di zaman ini. Segala gerak-gerik mereka, baik yang mengenai taktik perjoangan mereka, Maupun yang berhubungan dengan pandangan-hidup atau kebijaksanaan mereka kita ambil dan kita jadikan contoh-contoh dan teladan bagi kita yang hidup di zaman sekarang.
Apabila dalam buku kita ini hanya termuat ikhtisar sejarah singkat dari apa yang terjadi dalam periode 1908—1945, maka tidak lainlah maksudnya daripada menggambarkan sifat perjoanganan rakyat kita dalam waktu itu, waktu “lahirnya cita-cita nasional” dan ”diperjoangkannya dengan cara-cara baru”, yang sesuai dengan alam dan zamannya. Yang paling penting dalam perjoanganan rakyat yang akhir-akhir itu ialah: 1. hidup tumbuh dan berkembangnyia cita-cita nasional “Indonesia yang wutuh Satu”; 2. diingati dan dipenuhinya syarat-syarat ”kenegaraan menurut faham modern”. Di sinilah letak bedanya dengan gerakan-gerakan di zamannya nenek-moyang kita, yang sesudah zaman Majapait, merupakan zaman perpecahan.
Dari zaman sesudah 1908 itu pun tidak semua peristiwa-peristiwa penting dan nama-nama orang-orang pemimpin yang terkemuka atau berjasa kami dapat atau berani memasukkan nyia dalam ikhtisar yang sepended karangan ini. Dalam hal itu sebaiknyalah orang-orang yang mempunyai bakat mengarang, suka mengumpulkan bahan-bahan dan kenang-kenangan yang mengenai golongannya masing-masing, untuk dibukukan kelaknyia. Kami sendiri dalam buku ini hanya dapat memberi uraian tentang golongan kami sendiri, yaitu “Indiskhe Partiy”, dalam bentuk yang lebih luas daripada apa yang saya dapat uraikan nyia tentang golongan-golongan lainnya. Pun tentang I. P., partai kami, tidak semua hal kami mengetahuinyia dengan lengkap atau luas. Hendaknya hal ini diingati agar orang dapat mengerti apa sebabnya kami seakan-akan lebih mengutamakan golongan kami sendiri, lebih dari golongan lainnya.
Saya pertayaka, bahwa para pembaca mengerti tentang hal itu dan mungkin mereka dapat menghargai pula, bahwa peristiwa-peristiwa yang kami dapat memasukkannya dalam buku kecil ini, sebagian besar saya telah mengalaminya sendiri atau ikut mengalaminya bersama-sama kawan-kawan perjoangan lain-lainnya.
Setain itu mungkin para pembaca dapat menghargai juga, bahwa dalam buku kita ini dapat kami muatkan sumbangan kenang-kenangan dari enam orang “pemimpin-pemimpin ter-ke muka yang tertua”, yang kini masih hidup di-tengah-tengah kita; yaitu “Bapak-bapak Kusumo-Utoyo, Suryopranoto, Rajiman Wejodiningrat, Agus Salim, Wuryaningrat dan Alimin”.*)
Semoga buku kenang-kenangan ini dapat bermanfa'at dan memperoleh tempat dalam perpustakaan dokumentasi pergerakan rakyat, mulai “Hari Kebangsaan Nasional” sampai “Hari Proklamasi Kemerdekaan.”
Sudah barang tentu tiap-tiap pembetulan dari pihak pembaca tentang segala kesalahan dan kekeliruan atau kurang lengkapnya sesuatu uraian dalam buku ini, akan sangat kami hargakan.
Selamat membaca!
Jakarta/Yogyakarta, September 1952.
KI HAJAR DEWANTARA.
*) Dengan terkejut pada hari 20 September 1952 kami dengar, bahwa pada hari itu Bapak Dr. Rajiman Wejodiningrat wafat di Walikukun dan pada hari berikutnya dimakamkan di desa Melati-Yogyakarta, di mana saudara sepupu-nya, yaitu Dr. Wahidin Sudirohusodo, sudah sejak tahun 1917 beristirahat untuk selama-lamanya.
KEBANGUNAN NASIONAL 20 MEI 1908
Di dalam hidup tiap-tiap bangsa di seluruh dunia, ada hari-hari istimewa, yang dimuliakan oleh rakyat dengan maksud untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kebangsaannya masing-masing. Hari-Hari istimewa itu kebanyakan berasal dari hidup keagamaan, diantarana dari zaman lama, zaman purbakala, terbukti dari bentuk dan caranya peringatan, yang kadang-kadang masih bersifat agak animistis. Ada pula peringatan-peringatan hari-hari mulia itu, yang erat berhubungan dengan hidup kemasyarakatan, misalnya hidup pertanian, hidup kenegaraan, hidup ketentaraan dll. sebagainya.
Apakah yang terkandung di dalam adat memperingati peristiwa-peristiwa yang penting itu?
Pertama: orang mementingkan dan menjunjung tinggi kejadian-kejadian yang diperingati itu.
Kedua: orang ingin mengalami kembali segala perasaan, baik yang gembira, Maupun yang sedih yang disebabkan oleh kejadian-kejadian tadi.
Ketiga: orang ingin menarik pelajaran dari segala peristiwa-peristiwa yang penting-penting itu, guna se-dapat-dapat menambah keselamatan dan kebahagiaan hidupnya, lahir dan batin.
Begitulah kiranya maksud Bung Karno, ketika beliau pada tahun 1948 mengambil initiatif untuk menggerakkan rakyat, supaya hari 20 Mei 1908 dirayakan secara besar2an. Hari itu menurut beliau adalah hari yang patut dianggap hari mulia oleh bangsa Indonesia, karena pada hari itu perhimpunan kebangsaan yang pertama, yaitu “Budi Utomo”, didirikan dengan maksud untuk menyatukan rakyat, yang dulu masih terpecah-belah, agar dapat mewuyudkan satu bangsa yang besar dan kuat. Selain itu “Budi-Utomo” men-tiyita-tiyitakan berubahni segala keadaan yang merintangi kemajuan rakyat, agar nanti rakyat dalam segala lapisannya dapat mengecap kesejahteraan yang layak bagi manusia. Dalam pada itu rakyat harus dipersiapkan untuk dapat mengurus dirinya sendiri, kalau nanti datang waktunya yang tepat. Tidak ini sajalah kiranya yang mendorong Bung Karno untuk mengambi kiatifnya guna mengadakan peringatan besar2an tadi. Beliau ra, nyna bermaksud pula untuk menginsyafkan rakyat, bahwa kemerdekaan yang telah kita cpai se-jak 17 Agustus 1945 itu, adalah hasil perjoangan segenap rakyat, mulai 20 Mei 1908. Karenanya: janganlah buah perjoangan yang 40 tahun lamanya itu nanti batal disebabkan perpecahan dan kegelisahan di dalam kalangan rakyat, justru pada waktu Belanda melakukan aggressi secara hebat. Merurut Bung Karno perlulah kita mengenangkan segala kejadian da-lam 40 tahun yang silam itu, sambil mengenangkan pula segala jasa3 sekalian mereka yang dalam perjoangan sejak 1908 itu telah mengorbankan jiwa dan raganya sebagai pahlawan-pahlawan kebangsaan. Begitulah kira-kira laku fikiran Bung Karno yang mendorong beliau untuk merayakan hari 20 Mei tersebut sebagai hari kebangsaan.
Di sinilah saya ingat keterangan Wakil Presiden Moh. Hatta dalam percakapannya dengan seorang wartawan, yang menanya-kan apakah hari 20 Mei tahun itu (1950) akan dirayakan atau tidak. Bung Hatta menerangkan, bahwa hari 20 Mei tidak akan dirayakan. karena kita hanya mempunyai “hari Nasional” satu saja, yaitu 17 Agustus 1945. Hari proklamasi itu menurut Bung Hatta tidak boleh disampingi hari nasional yang lain. Juga tidak boleh umpamanya hari penerimaan penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia itu, dijajarkan “hari nasional” yang satu2nya itu. Keterangan Bung Hatta itu ada benarnya, tetapi ada salahnya pula. Benar, karena “hari nasional” yang diresmikan sebagai “hari raya” atau “hari besar” umum oleh negeri, memang hanya hari 17 Agustus. Tidak benar, karena sekhtulnya rakyat kita, dan dalam hal ini sama dengan rakyat di negeri-negeri lain, sebetulnya mempunyai beberapa hari-hari nasional. Misalnya kita kini mempunyai: Hari Angkatan Perang, Hari Kartini, Hari Diponegoro, Hari Pahlawan dan mungkin nanti akan tambah hari-hari peringatan lain-lainnya. Alankah miskinnya rakyat yang hanya mempunyai satu hari nasional saja. Saya sendiri berpendapat, bahwa peringatan peristiwa apa saja, yang dapat memberi didikan kepada rakyat ke arah keutamaan, adalah perlu. Cara memperingati tadi tidak usah besar-besaran, tidak usah secara perayaan, tidak ‘h menutup kantor atau sekolah, seperti peringatan yang k,.akukan terhadap “Hari Proklamasi” kita itu, kalau rakyat kita sudah kebanyakan hari-hari libur.
Kepentingan apakah yang terkandung dalam pemuliaan hari 20 Mei itu?
Pada hari 20 Mei 1908, berdirilah di Jakarta sebuah perhimpunan nasional yang pertama, yaitu “Budi Utomo” yang sangat menarik perhatian, baik dari pihak rakyat Maupun dari pihak pemerintah Hindia Belanda. Oleh para penciptanya, yaitu pelajar-pelajar kita di Stovia (Skhool tot opleiding van inlandskhe artsen, sekolah tinggi Ketabiban yang dulu ada di Jakarta) di bawah pimpinan dua orang pemuda, yang kelaknya sangat terkenal sebagai “Dr. Sutomo” dan “Dr. Gunawan Mangunkusumo”, dinyatakan dengan tegas, bahwa maksud mereka ialah memulai gerakan nasional umum, menuju ke arah berubahnya jaman “kolonial” menjadi jaman “nasional”, dengan cara yang oleh mereka disebut cara yang “radikal”. Panggilan dari para pelajar di STOVIA, yang merupakan “proklamasi” dan ditujukan kepada sekalian para cerdik pandai itu tidak saja diikuti oleh sekalian pemuda pelajar di sekolah-sekolah kepandaian menengah tinggi, yang dulu ada (seperti “Middelbare Landbouw-skhool” dan “Veeartsenskhool” di Bogor, sekolah-sekolah OSVIA dan “KWEEKSKHOOL” di seluruh Jawa), pun kaum cendekiawan dewasa dan tua mendengarkan suara pemuda dari Jakarta itu dengan perhatian besar serta menyanggupkan segala bantuannya.
Terbuktialah pada saat itu, bahwa sebenarnya di seluruh masyarakat kita sudah tersedia tenaga-tenaga pemimpin, yang penuh cita-cita dan hasyrat untuk bergerak di segala lapangan: ekonomi, kebudayaan, bahkan juga di lapangan politik. Dalam pada itu nampak tegas coarak-warnanya yang sama, yaitu “revolusioner” dan “nasionalistis”.
Sebagai keadaan air yang berderajat jauh di bawah “nol” Celsius, pada satu saat sekaligus menjadi beku dan menjadi
“ès”, hanya karena sesuatu gerak kecil saja, demikianlah masyarakat kita pada saat itu dengan “serentak” bangun dan bergerak, hanya karena par n dari pihak pemuda di STOVIA tadi. Dalam tahun 1905. l yuga, dapatlah diadakan “Kongres Nasional” di Yogyakarta, kongres umum yang pertama dan dikundungi olkh wakil-wakil dari segala lapisan rakyat, kaum tua dan muda, golongan Islam, Keristen dan Katholiek, golongan-golongan rakyat, mulai yang ta‘ bergelar sampai para pangeran, di bawah pimpinan Dokter Wahidin Sudirohusodo itu?
Dengan diadakannya kongres nasional di Yogyakarta, sert.. didirikannya persatuan kebangsaan, yang terkenal dengan namanya “Budi-Utomo” tadi, terbuktialah dengan je!as, bahwa rakyat kita dengan segala lapisannya, dapat dipersatukan, apabila ada kepentingan bersama, yang sungguh-sungguh dirasai dan diinsyayi. Dan kepentingan bersama tadi ta‘ bukan dan ta’ lain yalah adanya “antithese” atau pertentangan antara “si-penjujah” dan “si-erayajah”, antara “yaham kolonial” dan “faham-nasional”, antara “kekuasaan bangsa asing” dan “nasib masyaraat kebangsaan”. Antithese itulah yang terdapat, ya'ni dirasai di semua golongan dan lapisan rakyat kita. Antithese itulah yang berakibat memahkan dan mengaicaukan hidup dan penghidupan rakyat di seluruh kepulauan Indonesia. Syukur bahwa antithese itulah pula, yang menyebabkan adanya rasa satu dan (sejak berdirinya “Budi-Utomo” pada hari 20 Mei 1908) adanya keinsyafan dan timbulnya keyakinan, bahwa hanya kesatuan tekad dan laku, yang bercorak “revolusioner” dan “nasional” menuju ke arah Indonesia yang Satu dan Merdeka, hanya itulah dapat memusnahkan penjajahan dari bangsa asing.
Segera sesudah “Budi-Utomo” berdiri, berdirilah pula perhimpunan-perhimpunan lainnya di seluruh Indonesia, dengan maksud dan tujuan memperbaiki nasib rakyat dipelbagai lapangan, sosial, ekonomi, kebudayaan dll., termasuk persatuan-persatuan sejenis B.U., yang merupakan pusat perjoangan nasional guna menentang penjajahan dari bangsa Belanda. Walaupun pada waktu itu persatuan-persatuan tadi biasanya hanya meliputi satu daerah atau satu kepulauan, karena belum adanya hubungan organisatoris yang mewuyudkan persatuan untuk seluruh tanah air, akibat politik “divide et impera” dari si-penjajah namun “understanding” atau hubungan batin sebetulnya su'ada dan dirasai benar. Tidak saja karena seluruh rakyat di masai oleh satu kekuasaan kolonial dan karenanya memikul penderitaan yang sama, namun pula karena dalam jaman-jaman lama yang megah dan gemilang, kita sudah pernah merupakan satu bangsa, yang merdeka dan berdaulat penuh. Kebesaran Seriwijaya dan Majapait belum lenyap dari peringatan rakyat.
Juga runtuhnya Majapait, sebagai permulaan kemundu:an hidup kebangsaan kita, belumlah kita lupa. Ingat akan sebab3-nya Majapait jatuh, karena adanya perpecahan di dalam negeri, pula tidak berdaya kerajaan-kerajaan Mataram, Banten, Cirebon, Yon lain-lain daerah, seperti Aceh, Minangkabau, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dll.-nya, disebabkan karena semua daerah tadi tidak merupakan “,kesatuan bangsa dan negara”, ingat akan semuanya tadi sungguh sangat perlu. Di samping ingat pada keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwa perpecahan, yang menyedihkan itu, perlu pula kita ingat akan kejadian-kejadian di dalam sejarah kebangsaan kita, yang menggembirakan. Yaitu bahwa sejak adanya penjajahian asing, ber-turut-turut dari bangsa-bangsa Portegis, Belanda, Inggris, Perancis dan Belanda pula, sampai pada hari Proklamasi 17 Agustus 1945, belum pernah kaum penjajah dapat hidup senang, tenteram dan damai, di tanah air kita ini. Pemberontakan-Pemberontakan yang ta‘ dapat terhitung jumlahnya, perang-perang besar dan ketiyil, di seluruh kepulauan kita, menunjukkan dengan nyata dan jelas, bahwa rakyat kita tidak pernah doyan dijajah. Yang penting dan patut selalu kita ingati, yaitu bahwa tiap-tiap ada kesatuan tekad dan tenaga dari rakyat, di situlah rakyat sanggup dan mampu mengalahkan musuh secara integral. Daripada perhimpunan-perhimpunan yang menyusul berdiri dan mengusahakan pelbagai kepentingan hidup dan penghidupan tadi (misalnya perkumpulan-perkumpulan agama, pengajaran, penabungan, sripah (kematian), kepanduan, pertanggungan jiwa, ko-operasi, pertanian, perdagangan, kerajinan dll. sebagainya) maka yang patut diperhatikan ialah badan-badan perhimpunan, yang bertendens politik.
Tadi sudah saya uraikan, bahwa di dalam B.U. tergabung para pemuda, para tua dan setenang tua. Sungguh! mereka itu semuanya menghe ‘i adanya persauan nasional, ingin atau menghendaki kem...aan nusa dan bangsa, namun dapat dimengerti, bahwa dalam tekad, sepak dan terjangnya nampak-lah adanya perbedaan, yang kadang-kadang sangat besar. Hal ini sudah dapat dilihat selama berlangsungnya “Kongres Nasional” yang pertama dan diadakan di Yogya itu. Kaum muda dan kaum tua di dalam B.U. tadi masing-masing merupakan “sayap kiri” dan “sayap kanan”. Makin lama makin besarlah jurang yang memisahkan kedua sayap tadi. Inilah yang menyebabkan atau mempercepat timbulnya “Syarikat Islam”, yang tadinya dipimpin oleh Hadiy Samanhudi (dalam bentuknya sebagai “Syarikat Dagang Islam”), kemudian diperbaharui oleh almarhum H.O.S. Cokrosmimoto pada tahun 1912. Sebagai diketahui S.I. itu memusatkan kegiatanya dalam gerakan ekonomi dan ke-Islaman, namun di samping itu mulai mempunyai tendens politik yang bercorak revolusioer dan nasionalistis. Banyak anggauta-anggauta dan sementara pemimpin-pemimpin B.U. meninggalkan organisasinya dan masuk ke-dalam S.I. untuk mencahari keguasan hati. Pada tahun itu juga berdirilah “Indiskhe Partiy” atas initiatif E.F.E. Douwes Dekker (Dr. D. D. Secabudi). Douwes Dekker adalah seorang “indo”, yang tidak mau digerombolkan dalam golongan “Euopeaan”, oleh karena ia merasa seorang Indonesia dan berbangsa Indonesia. Partainya I.P. tsb. didirikan sebagai “partai politik’, bukannya ”berselimut“ sebagai suatu perhimpunan ”sosial“ yang hanya bertendens atau bercorak ”politik“. Menurut statutennya I.P. akan melakukan segala usaha. yang dapat menuju ke arah ke-merdekaan nusa dan bangsa. Tiap-Tiap orang tak dengan diperbedakan agamanya, warna kulitnya, asalkan ia merasa dirinya se-orang putera Indonesia, boleh masuk. Sekalipun ia berasal dari turunan bangsa-bangsa lain, (Tionghoa, Arab, Eropa, India dll. sbg.).
Perkembangan gerakan rakyat, yang mulai dengan kesadaran kebangsaan umum dalam arti..kultureel“ dalam gerakan B.U., nielalui kesadaran Ekonomi dan ke-Tuhanan dalam gerakan S.I. dan akhirnya kesadaran politik dalam gerakan I.P. sungguh menunjukkan kemajuan yang sehat. Differensiasi nampak nyata di sini, menuju ke arah kesempurnaan. Dapat dimengerti, bahwa kaum penjajah makin la nakin tambah gelisah. Dr. Hazeu, adviseur voor Inlandskhe Zaken, dikirimkan ke-ka-langan B.U. untuk melemahkan kaum tua dan kaum moderate. Dr. Rinkes diperbantukan kepada S.I. (Rinkes berkewajiban “meringkas”, kata orang), dan terhadap I.P. yang tak kenal kompromis2an, bukannya dikirimkan seorang diplomat, tetapi gobnor-jenderal Idenburg sendiri, yang berseomboyan: “Indië zal nooit onafhankeliyk worden”,¹ dan “ze zullen op iy-er biyten”.² Dia membuang, menginterneer tiga orang pemimpin I.P. yang terkemuka, yaitu Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Pemerintah kolonial mengira dengan tangan-besinya itu akan dapat mematahkan semangat pergerakan, namun …… sebaliknyalah yang akan dialami oleh pihak penjajah. Makin berkobarlah semangat revolusioner: I.P. dimatikan, pada saat itu juga “Insulinde” berdiri; “Insulinde” dilarang, N.I.P. (Nationaal Indiskhe Partiy) berdiri. Akhirna I.P. dinyatakan sebagai “verboden vereeniging”.
Sesudah periode yang pertama itu, ya’ni zamannya B.U., S.I. dan I.P. lalu berdirilah ber-turut-turut partai-partai lainnya.
Di luar gerakan politik terus berkembang pula gerakan-gerakan lainnya, di lapangan ekonomi, sosial, kebudayaan, keagamaan dll. Diantaranya yang terpenting ialah berdirinya perguruan-perguruan partikelir, seperti a.l. Muhammadiah, Neutrale Skhoolvereeniging, Arjuno-Skhoolvereeniging, Adhi Dharmo, Taman Siswa dll.nya. Para pemuda tidak tinggal diam dan mengikuti panggilan jam-an. Dalam pada itu kadang-kadang mereka memberi contoh persatuan yang tegas dan kokoh. Misalnya timbulnya “Sumpah Pemuda” pada tahun 1928: “Satu-Bangsa, Satu-Negara, Satu-Bahasa”.
Juga kaum wanita menunjukkan kesadaran dan kegiatan nyia. Pelbagai perhimpunan wanita didirikan.
Pemerintah Hindia B ‘a untuk seterusnya tidak dapat melakukan diplomasi. “L...ne Koers'nya” (Politik Budi-baik) ta’ mempan lagi. Karena itu pemerintah penjajah lalu melakukkan segala macam kekerasan, tangkapan-tangkapan dan pembuangan-pembuangan. Yang secara besar-besar'an yaitu pada tahun 1926, sesudah ada pemberontakan kaum Komunis. Banyak pemimpin-pemimpin nasionalis dan komunis dibuang ke-Digul dan pulau- keci!. Namun gerakan rakyat terus maju, terus aktif, bahkan makin lama makin tambah giat, makin revolusioner.
Hingga..... datanglah hari 17 Agustus 1945! Gerakan Rakyat memuncak pada saat Proklamasi yang terkenal. Revolusi nasional bermulai, dengan barisan-barisan pelopornya, yaitu para pemuda. Seluruh Indonesia menjadi negara yang Satu dan Merdeka.
Dengan berdirinya negara-kesatuan “Republik Indonesia”, selesailah sebenarnya “pergerakan kemerdekaan nasional”, tetapi tidaklah ini berarti selesai nyia perjuangan rakyat. Tidak saja perjuangan harus terus ada, untuk dapat membangun hidup dan penghidupan yang benar-benar nasional, namun suasana penjadahan kolonial, yang 350 tahun lamanya merajalela di seluruh Indonesia, ta‘ mungkin lenyap dengan sekali-gus. Ini terbukti nyata dalam berbagai usaha dan daya-upaya pihak Belanda, untuk “redden wat te reddent valt” (mempertahankan segala apa yang dapat dipertahankan). Masih perlu ada roundingan-roundingan dan persetujuan-persetujuan, mulai Linggarjati melalui Renvi'tle sama’. K. M.B. dengan dua kali “perang kolonial” di-tengah2nya. Juga di luar negeri kita masih harus melakukan perjuangan, untuk memperkuat kedudukan kita sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat. Kekacauan di dalam negeri, baik biki-nan Belanda Maupun sebagai akibat revolusi (seperti kurangnyia rasa bertanggung jawab dan perpecahan di kalangan kita sendiri), masih tetap memerlukan semangat perjuangan dari rakyat. Sisa-Sisa “penjajahan kolonial” baik yang berupa tradisi atau yang sudah menjelma di dalam sanubari setengah orang putera“
Indonesia, masih terus perlu diberantas. Syukurlah, bahwa Tuhan senantiasa ada pada kita, karena perjuangan kita adalah perjuangan yang berjiwa “Panca-Sila.”
¹ “Hindia Belanda tidak akan menjadi negara Merdeka”.
² “Meréka akan menggigit besi”: ini ditujukan kepada para pemimpin I.P.
HARI 20 MEI PERLU DIPERINGATI
Sejak berdirinya pada 17 Agustus 1945 Republik kita tidak terluput dari banyak kesukaran-kesukaran yang ber-anekawarna, baik yang datang dari luar Maupun dari dalam negeri kita sendiri. Ber-macam-macam muslihat dari bekas penjajah kita, mulai zaman rundingan Linggarjati sampai zaman Renville, dapatlah kita menyaksikan sendiri betapa giatnya pemerintah Nederland menggerakan para diplomat-diplomatnya yang ulung, untuk se-dapat-dapatnya mempertahankan segala apa yang kiranya masih dapat dipertahankan. Jikalau tidak mungkin mengembalikan keadaan lama, menghidupkan kembali status “kolonie” dari pada Indonesia, yang telah menyatakan diri dan bersikap serta bertindak sebagai negara yang merdeka dan bebas sejak Hari Proklamasi kita itu, maka nampaklah dalam segala taktiknya, untuk menerima kembali negeri kita Indonesia paling sedikit sebagai negeri setengah jadidahan, sebagai daerah semi-kolonial. Persetujuan “Linggarjati” tak lainlah maksud dan tujuannya dari pada yang tersebut.
Pemimpin-Pemimpin kita sebenarnya menginsyafi segala gerak-gerik para diplomat Belanda itu, dan mereka pun menunjukkan tekad dan melihatkan sepak teryangnya untuk juga “mempertahankan apa yang dapat dipertahankan”, dalam arti selalu menegakkan kemerdekaan Indonesia yang sudah kita tiapai dengan jalan revolusi sejak 17 Agustus 1945 itu. Tetapi takyat dapat melihat juga betapa kuatnya desakan-desakan pihak Belanda, dibantu oleh negara-negara kawannya, yang kekuatan dan kekuasaannya nampak lebih besar daripada yang dapat ditunjukkan oleh para diplomat kita. Inilah yang senantiasa menggelisahkan rakyat murba dan lambat laun se-akan-akan menyebabkan turunnya penghargaan dan rasa baik, pula berkurangnya keseediaan untuk taat dan patuh terhadap kedaulatan pemerintah kita. Lebih-Lebih sesudah terbukti diplomat-diplomat kita terpaksa menyetu- diyui apa yang dikehendaki pihak Belanda dan pemerintah kita menunda-tangani “Persetujuan Linggarjati” yang terkenal itu.
Perkembangan rasa gelisah, rasa tidak puas, rasa dendam di dalam hati sanubari rakyat seben. yang dapat daya pengaruh yang tidak sedikit dari segala keadaan pada waktu itu. Perjoangan revolusi belum berakhis, jauh da:ipada itu. rakyat masih tetap bergelora, tidak saju dalam jiwanya namun dalam segala sepak teryang serta tindakan“nya yang konkrit; rakyat masih ada di dalam pelaksanaan perang-gerilyanya, ber-sama-sama dengan tentara nasional kita. Tambah-tambah rakyat masih ada di dalam tekanan jiwa massal yang disebabkan karena pengaruh pecahnya revolusi serta caranya revolusi dilakukan, buah membunuh secara besar-besaran dan se-olah-olah dibolehkan, dihalalkan, bahkan dibenarkan. Semua ini di-anjur”kan oleh pemimpin“nya, yang waktu itu menerima—Sekalipun terpaksa—usul perundingan Linggarjati, kemudian melihatkan tidak atau kurang berdayanya dalam menghadapi muslihat dan gertak lawan, akhirnya terpaksa mengalah.
Dalam keadaan yang sedemikian maka dapat mudah dimengerti timbulnya perpisahan atau perpecahan di kalangan rakyat. Dan ini makin hari tidak makin berkurang, namun sebaliknya. Apalagi karena barang tentu—seperti biasanya teryadi—ada golongan“ ketiga, yang giat berusaha membesar-hesarkan segala pertentangan, meruncing-runcingkan segala perselisihan yang ada di dalam kalangan rakyat. Dengan car mencari ikan di air yang keruh mereka berusaha menambah kekeruhan dan kegaduhan di kalangan rakyat murba, dengan maksud mempertahankan kepentingannya sendiri. Ada yang nemung digunakan oleh pihak musuh, ada pula yang bertindak atas dasar ”opportunisme“, mencari dan mengejar keuntungan” untuk dirinya sendiri.
Bolehlah di sini kita tambahkan pengaruh dari pada perjoangan“ kepertaian cara modern. yang dulu sudah dimulai pada bulan November 1945, tiga bulan sesudah revolusi dimulai, atas dorongan dan tekanan kaum Sekutu (Inggeris) yang bertugas: mengoper kekuasaan di negeri kita untuk diserahkan kembali kepada kawan-sekutunya bangsa Belanda. Sebetulnya sejak saat itulah perpecahan terus berkembang dan perebutan kekuasaan di kalangan para pemimpin kita semangkin nampak. Daya upaya untuk menyalurkan semangat kepartaian, mulai dengan disiarkan-nya Amanat Presiden Sc... supaya hanya mengadakan gerakan nasional, jangan perjoaan partai-partai, sampai pada saat-saat krisis yang menimbulkan berontaknya gerombolan-gerombolan, rupa-rupanya tak berdaya. Sudah sementara kali dicoba usaha untuk menggabung-kan segala kekuatan dalam satu ikatan, agar ber-sama-sama rakyat dapat menghadapi segala bahaya yang selalu mengancam, tetapi semua itu tidak dapat terus berjalan. Sudah selayaknoyalah kekuatan rakyat makin lama makin berkurang dan ini berarti tambahnya daya kekuatan di pihak musuh.
Di balik itu rakyat tidak pernah kehilangan pengharapan atau berputus-asa. Mulai dengan zaman pendudukan Jepang segala perkembangan keadaan, segala proses di dalam masyarakat bangsa kita, selalu menunjukkan bahwa awal atau akhir rakyat atau bangsa kita selalu keluar dari segala kesulitan sebagai pihak yang menang. Penyerbuan Jepang menyebabkan jatuhnya Hindia Belanda; kekalahan Jepang menimbulkan revolusi kita, revolusi membawa kemerdekaan kita; kemenangan Sekuta melahirkan hak-hak azasi kemanusiaan serta keharusan menyadulu segala bentuk penjajah dari bangsa yang satu terhadap bangsa yang lain; revolusi kita menarik perhatian dunia internasional; kegiatan usaha para diplomat kita, yang di Indonesia sendiri nampak kalah kekuatan dan penguasa, menyebabkan teriyapainya beberapa kemenangan di-Luar-negeri umumnya, khususnya di kalangan P.B.B. di Lake-Succes. Selain itu perbawa (gezag) revolusi kita di-Luar-negeri besar sekali, lebih di-negeri-negeri yang masih terjajah oleh bangsa lain. Dengan terus terang negeri-negeri Arab, negeri-negeri Asia dll. menyatakan “kagum” terhadap caranya rakyat Indonesia melemparkan dan memenah-kan penjajahana Belanda di negerinya.
Dalam pada itu ternyatalah selatu, bahwa selama kita ada di dalam perpecahahan, gampong sekaliitai tiap-tiap musuh dapat mengu- lahkan kita. Sebaliknya dalam waktu ada kebutuan tekad terbaik-tiah bahwa tiap-tiap lawan, juga yang terkadat, tidak sanggup atau mampu untuk menaklukkan kita. Ingatlah kita pada carya dan kesudahannya rakyat melawan kekuasaan Jepang, carya dan kesudahannya para pahlawan kita menyerang tentara Sekuta Yi
Surabaya di bawah pimpinan Bung Tomo. Jangan dilupakan lyarra dan kesudahannya rakyat melak...an gerilya dalam Perang Kolonial ke-1 dan ke-2.
Akan tetapi, kita tidak boleh lupa pula, bahwa tiap“ kemenangan yang gilang-gemilang itu, selalu disusul dengan perpecahan, yang barang tentu sangat melemahkan kita. Lebih-lebih janganlah dilupakan, bahwa sebenarnya sampai saat ini pun negara kita belum juga bebas dari ancaman” bahaya, baik dari luar Maupun dari dalam. Karena itu janganlah sekali-kali kita melengahkan kewajiiban kita untuk tetap memelihara kesatuan seluruh rakyat. Kesatuan di kalangan keprajuritan; kesatuan di kalangan kemasyarakatan; kesatuan di kalangan politik; pendek kesatuan di semua kalangan. Wuyudkanlah batas“ yang patut dan mutlak antara hidup diri dengan hidup bersama, antara hidup kenegaraan umum dengan hidup kepoltikan partai.
Fikiran“ yang tersebut tadilah sebenarnya, yang menjadi alasan bagi Bung Karno untuk menganjurkan diadakannya peringatan secara besar-besaran akan artinya hari 20 Mei 1908 sebagai hari kebangunan nasional, hari lahirnya ciita-ciita kemerdekaan nusa dan bangsa, hari timbulnya tekad untuk bersatu wutuh, agar dapat menghadapi segala kesukaran bersama.
Pembicaraan yang pertama kali diadakan oleh Mr. Assaat sebagai wakil Bung Karno, dengan perwakilan golongan“ dan partai”, dapat berlangsung dengan baik dan dapat menghasilkan dibentuknya Panica Pusat, yang terdiri atas saudara:
- Ki Hajar Dewantara sebagai Ketua;
- Cugito, wakil “Front Demokrasi Rakyat”;
- A.M. Sangaji (marhum), wakil “Masyumi”;
- Sabital Rasyad, wakil P.N.I.;
- Ny. A. Hilal, wakil “Kongres Wanita Indonesia”;
- Tatang Mahmud dan H. Benyamin (marhum), sebagai wakil “Pemuda: I.P.P.I dan G.P.L.I.”
Sesuai dengan pesanan Bung Karno maka panica“ peringatan, baik yang pusat Maupun yang didirikan di-daerah” terdiri atas orang“, yang resminya Ataupun nyalanya benar” dapat dianggap mewakili rakyat. Para ketua atau anggauta“ perwakilan rakyat dalam Dewan” yang resmi, wakil“ partai politik dan golongan” kemasyarakatan, orang-orang yang dalam jaman pergerakan nasional kita yang lampau ikut serta secara aktif dan lain-lain sebagainya, hendaknya mereka itu c... ikut serta secara aktif. Dengan begitu maka segenap rakyat yang melaksanakan peringatan, hingga peringatan hari nasional tadi sungguh-sungguh bersifat peringatan nasional. Dalam pada itu Pemerintah dengan segala jawatan-jawatan-nya, terutama Jawatan Penerangannya memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan.
Adanya bantuan-bantuan dari Pemerintah, atau dari golongan rakyat tidak berarti, bahwa kita kalu merayakan hari 20 Mei itu dengan megah dan mewah: tidak! Sesuai dengan ciaraknya peringatan maka di dalam segala usaha dan upacara kita harus sederhana. Ini sesuai juga dengan keadaan-keadaan pada waktu kesukaran atau kesulitan dan saat yang genting waktu itu. Yang perlu yaitu menginsayakan rakyat dengan ciara yang praktis, yakni gampang dilakukan, akan arti kebangsaan kita, kenegaraan kita, kemayarakatan kita, hidup dan penghidupan kita, demikian seterusnya, yang semuanya sejak hari 20 Mei 1903 sudah mulai dilakukan segala persiapannya, yang sewutuhnya disebut gerakan kebangsaan, sampai waktu menjehmanya ciita-ciita kebangsaan itu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam penerangannya maka Panica Pusat hanya memberikan garis-garis besar, misalnya tentang mengadakan penerangan-penerangan dengan perantaraan radio dan pers. atau rapat-rapat dengan pidata-pidata lrg, perlu-perlu, tentang mengadakan “sayembara” atau “teka-teki” dalam sekolah-sekolah, pertandingan-pertandingan menggambar atau melukis, olah-raga dsb., pertunjukkan-pertunjukkan kesenian, sandiwara dll, yang dapat memin-bulkan atau menambah kesadaran rakyat. Rapat-Rapat samudera dan pawai-pawai dapat diselenggarakan, asal jangan memberatkan rakyat. Lebih baik diadakan rapat-rapat, di mana para kadernya dapat penerangan secara jitu, yang boleh diharapkan akan lebih mendalam dan meninggalkan bekas-bekas dalam angan-angan. Pula dian-jurkan oleh Panica Pusat untuk mengadakan usaha-usaha pem- kanganan, mulai dengan pembersihan rumah dan pekarangan masing-masing, pembersihan kota, untuk keperluan mana Kementerian Pembangunan dan Pemuda memberikan bantuannya. Tidak ketinggalan unjuran memperingati jasa-jasa para pemimpin, yang menjadi korban pergerakan zaman dahulu dan yang akhi-akhi ini. baik karena kekejaman Jepang Maupun agressi Belanda, dengan menghibur para keluarganya serta memuliakan mokam-mokam dan “taman-taman-bahagia”. Bila tidak mungkin menyelenggarakan usaha-usaha pada hari tanggal 20 Me: hendaknya hari itu ditetapkan sebagai permulaan berusaha. mi misalnya yang mengentai penerbitan kitab-kitab peringatan, kitab-kitab bacaan dengan gambar-gambar untuk rakyat murba (yang dapat dihubungkan dengan usaha pemberantasan buta-huruf), mendirikan gedung-gedung nasional dll. sebagainya. Oyeh Panica Pusat sendiri mulai tg. 10 diadakan staran-staran radio istimewa, yang bertali dengan peringatan nasional itu, tidak hanya untuk dalam-negeri, tetapi juga untuk karnegeri. ditujukan kepada sekalian putera-puteri Indonesia yang ada di luar tanah-air. Berhubung dengan sempitnya waktu persiapan, maka ditetapkan, bahwa antara Panica-Panica Daerah tidak diadakan hubungan organisatoris dan segala instruksi dari Pusat se-mata-mata harus dianggap sebagai tuntunan dalam garis-garis besarnya. Hanya Kementerian Penerangan dengan jawatan-jawatannya di daerah-di daerah disiapkan untuk menjadi penghubung dan perantara serta untuk memberi segala bantuan yang perlu-perlu.
Sambutan dari golongan rakyat sungguh mengharukan. Semua partai-partai politik, badan-badan gerakan kaum buruh, golongan-golongan keagamaan dan kebudayaan, gerakan pemuda, para pemimpin wanita, pendek segenap badan-badan perjoangan dan sosial ikut serta dalam peringatan nasional itu. Ini dapat dianggap sebagai bukti yang nyata akan adanya keinsyafan, bahwa seruan Bung Karno sungguh-sungguh tepat dan perlu dilaksanakan. Adanya bahaya yang terus-menerus mengancam kemerdekaan negara dan bangsa kita, begituolah seruan Panica Pusat, keharusan untuk mempersatukan jiwa dan tenaga, agar kita cukup kuat untuk menolak segala baha, yang mengancam sampai yang menimpa, ingat pada semua korban-korban agressi kolonial, agressi fascis dengan rasa terima kasih dan hormat-batin terhadap arwah-arwah yang mulia dan bahagia itu......... itulah semua kita rasai, kita akui secara dalam-dalam. Dan itulah semua yang pada saat itu mendorong kita, untuk menghentikan segala pertentangan antara kita sama kita, untuk memusatkan segala kekuatan tenaga kita ke arah luar, ke arah kantiur-leburnya musuh kita bersama. Dan pemusatan itu akan kita teruskan, selama bahaya mengancam, selama kemerdekaan kita belum diakui, baik de yure Maupun de facto-nya. Lebih baik hancur-lebur dari pada kembali dijajah. Untuk itu kita sanggup menghentikan segala pertentangan yang dapat melemahkan kita, dan kita yakin akan ampu melaksanakan kesanggupan kita itu, karena cieta kita terhadap Negara dan Bangsa kita bersama.
UPACARA PERINGATAN 20 MEI 1948 DI YOGYAKARTA
Orang sudah menduga sel-selumnya, bahwa upacara peringatan “10 Tahun Kebangunan Nasional” pada tg. 20 Mei 1948 di Yogyakarta itu akan menjadi upacara yang agak merupakan upacara keresmian. Sekalipun formeel Pemerintah R.I. berada di harinya. Seperti sudah tersebut di muka. Bung Karno mengambil inistatifinyia untuk mengadakan itu tidak selaku “Kepala Negara” namun dalam kedudukannya sebagai “pemimpin besar” pengerukan nasional. Penyerahan pelaksanaannya kepada mr. Arwati, waktu itu Ketua K.N.I., tidak berarti penyerahan kepada “Ketua D.P.R.” namun melambangkan penyerahan kepada orang yang waktu itu formeel menduduki tempat pemusatan kemauan rakyat. Selanyutnya mr. Assaat menyerahkan tugasnya kepada Panica yang dibentuk oleh wakil-wakil segala golongan dan semua partai yang waktu itu ada di Ibu-kota R.I. dulu. Hendaknya diketahui bahwa di samping pengiriman surat undangan kepada golongan-golongan dan partai-partai yang diketahui alamatnya diumumkan pula undangan dengan jalan pers dan radio. ditujukan kepada golongan-golongan dan partai-partai yang mungkin belum dapat surat undangan. Skhingga rapat persiapan yang diadakan dibangsaf Kepatihan Yogyakarta itu sungguh-sungguh merupakan rapat perwakilan rakyat yang serba lengkap. yakni..parlemen“, Meskipun hanya bersifat..de facto”.
Selain itu Pemerintah menyediakan segala alat-alat yang diperlukan untuk peringatan besar-besaran itu dengan melalui Kementerian Peneranganinyia. yang waktu itu dipimpin oleh Menteri Moh. Natsir. Tidak saja Kementerian tersebut menyerahkan jawatan-jawatannya pers dan radio dan lain-lainnya yang diperlukan oleh Panica Pusat, namun segala hubungan dengan Kementerian lain-lainnya. a.l. Dalam-negeri, Luar-negeri, Keuangan dll.-nya. Dapat dimengerti bahwa dengan begitu peringatan hari yang dianggap..hari-nasional“ tadi nampak sebagai usaha pemerintah.
Ankhnya dalam hal itu ialah ikut besertanya semua golongan dan partai ta‘ dengan keryualinyu, dan yang paling penting ialah Yapatnya diperoleh kata-senakat yang bulat-bulat tentang rencana..Statement Bersama’. apoma tidak terhalang oleh keadaan-keadaan yang mendadak, upatlah kiranya “statement” tersebut menyatukan rakyat di dalam suatu “Front Nasional” yang menurut perhitungan dapat dipakainya untuk menghadapi segala bahaya yang mengancam bangsa dan negara kita:politik, militer, ekonomi dsb.) baik yang datang dari luar Maupun yang selalu dapat bertumbuh di dalam lingkungan sendiri, karena kurang rapatnya hubungan dan kerya-sama antara golongan-golongan dan partai-partai kita. Sebenarnya itulah semua yang menjadi alasan bagi pemulis ikhtisar sejarah pergerakan nasional yang sedang-nya kita baca sekarang ini, untuk membukukan segala apa yang berhubungan dengan perayauan hari..20 Mei“ pada tahun 1948 itu.
Upacara peringatan dilakukan di Gedung Presidenan di Yogyakarta dengan ciara yang tidak berbeda dengan upacara peringatan hari 17 Agustus dan lain-lain hari-hari nasional, yang tiap-tiap tahun diadakan di Gedung Negara yang resmi itu. Dalam kartu acara terdapat antara lain: pidato Kema Panica, yang menyelaskan maksud dan tujuan upacara peringatan sebagai..aksi nasional“, pidato anggauta yang tertua dan masih hidup dari pada persatuan nasional ”Budi-Utomo“ di tahun 1908, yantu Dr. Rajiman Wejodiningrat (sekarang almarhum) dan sambutan Presiden Soekarno.
Tentang pidato Bapak Wejodiningrat baiklah di sini kita ketahui, bahwa beliau hanya memberi gambaran tentang segala keadaan, hubungan-hubungan antara rakyat dan pemerintah Hindia-Belanda pada ayiran itu. dalam mana dijelaskan, betapa buruknya semuanya itu. Kadang-Kadang para hadlirin tercengang, misalnya bila Dr Wejodiningrat menceriterakan bahwa marhum Dokter Wahidin Sudirkhusodo harus berjongkok dan herdu-duk,sila“ serta harus memberi sembah terhadap seorang assistant-resident. Para hadlirin lalu dapat mengerti apa sebabnya marhum Dr. Wahidin memandang perlu mendekati para bupati dan menggunakan mereka untuk keperluan gerakan nasional yang direncanakan beliau dan marhum Dr. Sutomo di zaman itu. Kalau para bupati ikut serta maka itu tidak sadar berarti pemerintah Hindia-Belar akan meng-halangi dan menyukarkan aksi yang direncanakan, namun rakyat pula layu akan berani membantu gerakan baru tadi. Maklumlah di zaman itu pemerintah melakukan kekuasaannya dengan ciara yang sangat menakutkan rakyat. Di samping mendekati, membesi hati dan menyokong terhadap lapisan atas dari pada rakyat, pemerintah kadang-kadang melakukan sikap yang fascistis terhadap rakyat murba.
Pidato Bapak Dr. R. Wejodiningrat kita muat selengkapnya di bagian “Kenangan para Pengetua” di belakang.
MAKSUD DAN TUJUAN
Yang sangat penting dan di sini patut diperingati ialah dapat- nya ditetapkan suatu pernyataan bersama, suatu “Statement Bersama” yang telah dimulakati oleh segenap golongan dan partai-partai politik, seperti tadi sudah kita sebutkan. Statement ter- sebut patutlah kiranya disimpan sebagai “dokumentasi”;en- ting dalam “arkhief nasional” kita. agar nanti di mana perlu bolehlah dokumen tadi kita pakai sebagai petunjuk atau con- ton teladan untuk waktu3 yang akan datang.
Agar kita dapat mengikuti laku fikiran yang ternyata dapat membawa hasil yang baik di sekitar perayaan peringatan “Hari Kebangunan Nasional” tadi maka di bawah ini kita cantumkan lebih dahulu pidato Ketua Panitia Pusat dalam malam upa- fiara tg. 20 Mei 1948 yang tersebut.
P.Y.M. Presiden dan Wakil Presiden! Y.M Para Menteri dan Panglima Besar! Sekalian Hadirlin yang terhorniat! Merdeka!
Hari ini, hari 20 Mei, adalah hari mulia dan bahagia; baik bagi kita, yang kini dengan segala khidmat sedang melakukan upacara peringatan dalam bangsal istana kita ini, Maupun bagi staudara-staudara di-luar ruangan ini. di seluruh Indonesia, bahkan di- seluruh dunia, yang mengikuti upacara ini dengan perantaraan pesawat-radionya. Hari 20 Mei ialah hari bangunnya bangsa Indonesia, hari bangkitnya semangat kebangsaan, yang dengan penuh keinsyafan ditujukan ke arah runtuhnya penjajahan Belanda di Indonesia, hari dimulainya segala persiapan secara modern untuk menyongsong kemerdekaan bangsa dan negara kita, tepat 40 tahun yang lalu.
Gerakan nasional sejak 20 Mei 1908 itu, sudah berakhir pada saat diproklamasikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Berakhirnya “gerakan nasional” karena telah tercapainya tujuan, berarti selesainya perjungan bagi rakyat kita. Hari 17 Agustus ‘45 adalah hari berkibarnya Bendéra Revolusi Nasional kita, hari Pernyataan Kemerdekaan negara dan bangsa kita. pernyataan mana harus di-rayudkan. Dengan syiakur dan rasa bangga kita dapat menyaksikan ketaatan seluruh rakyat pada isi proklamasi 17 Agustus itu, serta kegiatan-nya dan keikhlasannya dalam mereka melaksanakan segala konsekwensi dari pada pernyataan kemerdekaan tadi. Dituntun oleh Pemuda-Pemuda kita, tidak dengan mengdiharukan segala bahaya mutut, seluruh rakyat serentak menyerhu ke-labu-labu dan pangkalan-pangkalan Jepang, menurunkan bendéra-ra Himazari, merebut semua senjatu-senjatu dari tangan musuh dan mengibarkan Sang Merah-Putih. Be-ribu-ribu dari pada mereka itu kini beristirahat untuk se-lama-lamanya di Taman-Taman-Bahagia. yang secura khidmat dipelihara se-baik-baiknya dan dimulikian oleh rakyat, dengan begitu memperlambangkan rasa terimakasih serta hormat-batinnya terhadap Pahlawan-Pahlawan kita itu.
Sesudah rakyat berhasil mematahtkan kekuasaan tentara Jepang datanglah waktuunya, tentara pendudukan Sekutu, kemudian disusul oleh Belanda, mengoper kekuasaan; pun waktu-waktu itu juga pemuda-pemuda ber-sama-sama dengan rakyat, maju ke depan untuk mempertahankan kemerdekaan negara kita. Sungguh ta‘ boleh disangsikan kesanggupan, kegiatan, keikhlasan dan ketamian rakyat, untuk mengatasi segala kesukaran dan pende-riana Dan ini terbukti lagi dengan terang, sesudah rakyat dan Pemerintah diserang dari segala jurusan oleh agressi Belanda semenjak 21 Juli 1947.
Kami percaya, ta‘ ada seorang pun berani menyangkal, bahwa sebenarnya sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus ’45 itu, rakyat kita belum terluput dari kesukaran-kesukaran dan penderitaan-penderitaan, karena terus-menerus adanya bahaya-bahaya yang mengancam atau menimpa, sebagai akibat tipumulihat serta kekerasan atau agressi Belanda dalam segala lapangan, teristimewa dalam lapangan politik, ekonomi dan ketentaraan.
Dalam pada itu kita lihat, bahwa hingga saat ini belumlah terdapat kesatuan sikap, program dan tindakan yang sempurna dari pada Partai Politik kita. Bahwa hal ini dapat dipergunakan oleh musuh untuk nahkan kita, ta‘ usah dijelaskan. Adanya perbedaan faham dan keyakinan, yang mutlak berhubung dengan adanya ideologi-ideologi dalam masyarakat kita, sebetulnya tidak usah menjadi sebab untuk tidak bersatu dalam mengejar ciit-ciit yang sama, serta dalam kita mewuyudkan kesatuan sikap, program dan tindakan guna menolak segala bahaya bersama, yaitu bahaya yang mengancam atau menimpa kemerdekaan negara dan/atau keselamatan dan kebahagiaan rakya! kita. Di mana bahaya-bahaya bersama itu sekarang bertambah besar, sedangkan kesatuan sebagai kami maksudkan tadi, tidak berarti menghentikan tugus kewajiiban Partai, Ataupun melalaikan dasar-dasar dan azas-azas perjoangan masing-masing, tetapi hanya bermaksud menyelenggarakan bersama apa yang dapat dipersatukan; atau yang perlu dipersatukan untuk kepentingan negara dan rakya! kita, maka kami pandang sangat perlunya. hari 20 Mei ini kua tetapkan sebagai saat permulaan untuk menggalang kesatuan nasional itu.
Sidang yang mediat!
Mungkin apa yang kami uraikan di atas tadi, juga yang hidup dalam hati sarubari pemimpin-besar, yang kini menjadi Kepala Negara kita, dan yang untuk beliau pun menjadi alasan-alasan untuk mer-njorkan diadakannya peringatan hari nasional 20 Mei, sebagai peringatan 40 tahun kebangunan nasional, setiyau vesaritan.
Kita. Rakyat, menerima anjuran Bung Karno itu, denga sangat girang, sebab apa yang oleh beliau kerapkali dianjurkan dan dipertahankan, yaitu: “Kesatuan adalah syarat mutlak untuk Kemerdekaan kita”, dan: “Binneka tunggal ika.” (yaitu “Kesatuan” tidak mengharuskan hapusnya perbedaan-perbedaan yang khusus“) pada saat yang genting ini, perlu kita peringati, agar kita semua tetap kokoh kuat dalam menghadapi segala ke mun_khinan.
Memperingati timbulnya keinsyafan kebangsaan, memperigati bangunnya jiwa nasional, bangkitnya semangat untuk menentang segala bentuk penjaje pada hari 20 Mei 1908, kini tepat 40 tahun yang lalu, betmakasud mengenangkan keyadiain itu, serta peristiwa lain, yang dapat menguatkan jiwa kita serta menggiatkan tenaga kita dalam perjoangan kita sekarang. Di samping itu patutlah pula kita ingati adanya petuah, yang mengajarakan bahwa: Sejarah selalu berulang, dan adanya “hukum biogenese” dari Ernst Haëckel, yang mengajarakan, bahwa hidupnya sesuatu manusia (ontogenic) itu ulangan singkat dari pada hidupnya yenis-manusia (philogenie). Ini berarti, bahwa dengan mempelajari kisah perjoangan rakyat kita dalam zaman yang lampau, kita dapat membayangkan atau me-raba, apa yang mungkin teryadi dalam perjoangan kita sekarang. Dan ini pasti hanya akan dapat menguntungkan kita.
Apakah arti tanggal 20 Mei 1908? Berdirinya “Budi-Utomo” sebagai organisasi yang modern, yang diiyiptakan oleh pemuda pelajar kita di Stevia yang bersemangat nasionalis dan revolusionér, pada hari itu, yang kemudian diserahkan kepada orang pemimpin golongan tua, yang berpengalaman dan sanggup bekerja. itelah saat bermulainya cerakan nasional. Karena adanya perbedaan faham dan keyakinan tentang caranya melaksanakan perjoangan nasional itu, maka segera timbul perselisihan, yang dalam hakikatnya merupakan “differensiasi”. Sebagai “ibu-perhimpunan” B.U. terus hidup, sebagai badan dan yang bersifat kulturil, tetapi sesudah 20 Mei 1908 itu timbul lah macam perhimpunan baru. Yang menarik perhatian yalah timbulnya gerakan “Syarikat Islam” pada tahun 1911 dan “Indiskhe Partiy” pada tahun 1912. Corak gerakan S.I. ialah keagamaan dan ke-ekonomian, ini memperlambangkan, bahwa manusia itu, sesudah sadar dan insyaf akan hidup kemanusiaan, yang berwadiud kebudayaan. lalu ingat kepada “hidup-rokhani”-nya dan “hidup-jasmani-nya”. Lahirna I.P. sebagai organisasi politik berarti timbulnya kesanggupan untuk mengadakan “tata-tertio” dalam hidupnya. Dengan begitu maka urutan E.C., S.I. dan I.P. itu tepat sekali dan sesuai dengan hukum kodrat evolusi. Kemudian menyusul gerakan buruh dan lainnya yang memelihara kepentingan khusus: kemasyarakatan, kebudayaan, keagamaan, vanitaan dll. sebagainya.
Meskipun partai dan organisasi lainnya masing-masing mempunyai dasar dan azas serta siasat perjoangan sendiri, akan tetapi semuanya tiap waktu mengadakan sikap bersama. bila ada bahaya bersama yang mengancam. Dan ternyatalah, bahwa sikap yang sedemikian itulah yang seringkali ditakuti oleh kaum penjajah, baik si-kapitalis Maupun si-imperalis. Kita masih ingat adanya “Nationaal Komité” yang diadakan oleh B.O., adanya “Radikale Concentrasi” dari segala partai politik dan gerakan “buruh”. dan pula yang pada tahun 1932 teryadi, yaitu gerakan menentang “Wilde Skholen-ordonnancie”, yang semuanya berhasil baik.
Lain kejadian dalam kisah perjoangan rakyat kita sejak 20 Mei 1908 sampai 17 Agustus 1945 mengandung banyak bahan, yang dapat memberi semangat dan contho kesatuan tekad, guna mengatasi kesukaran atau untuk menolak bahaya yang mengancam atau menimpa, yang dapat berguna bagi perjoangan kita sekarang.
Hadlirin yang mulia.
Di sini dapatlah saya menyatakan dengan tegas, bahwa anjuran Presiden untuk mengadakan peringatan hari 20 Mei itu, disambut dengan amat hangat oleh seluruh rakyat. Semua Partai Politik, Sarikat Buruh dan Tani, Organisasi Remuda, Barisan dan Golongan lainnya, ikut beserta untuk meramaikan peringatan itu. Kalau rakyat murba pada umumnya mengadakan rupa usaha untuk memperingati hari 20 Mei itu dengan perayaan, pertundukan, sayembara, pertandingan dll. sebagainya, maka kaum perjoangan merasa wayib, menetapkan hari 20 Mei ini sebagai saat permulaan untuk menyelenggarakan kesatuan tekad, guna mempertahankan kemerdekaan Negara dan menyelamatkan Rakyat pada umumnya. Juga agar Pemerintah kita, yang kini sedang berunding, pendaknya merasa dapat sokongan mereka, se-tidaknya dapat menunyuk- kan kepada Dunia Internasional, bahwa Rakyat Indonesia kini merupakan satu Kesatuan Nasional yang kokoh, dan sanggup menghadapi kemungkinan apa pun ga. Sekarang akan saya bacakan “STATEMENT BERSAMA”, akan tetapi lebih dahulu saya minta sekalian anggauta Panica Pusat suka tampil ke-muka untuk menanda-tangani dokumen tersebut.
DOKUMEN KESATUAN NASIONAL
PERNYATAAN (statement) bersama disetujui oleh Organisasi Rakyat dalam memperingati 40 tahun Kebangunan Nasional.
“Permusyawaratan, yang diselenggarakan PANITIA PUSAT pada tanggal 18 Mei 1948 di Yogyakarta dan dihadiri oleh wakti“ segenap Partai Politik, Serikat-serikat Buruh, Tani, Organisasi Pemuda, Barisan-Barisan dan golongan-golongan Kemasyarakatan, baik yang berdasarkan ke-agamaan, kebudayaan atau kesosialan pada umumnya, Maupun yang memelihara serta menyelenggarakan usaha-usaha khusus dalam lapangan-lapangan Perguruan, Kewanitaan, Perekonomian, Kependuan, Persurat-kabaran, Kesenian dan lain-lain sebagainya;
MENGINGAT:
- bahwa sejak 20 Mei 1908, dengan tidak memperdulikan segala kekangan dan tindasan, rakyat Indonesia sesungguhnya telah bangun menyusun diri menentang penjajahan yang menimbulkan kemelaratan, kesengsaraan, dan kehinaan bangsa Indonesia;
- bahwa sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia belum terluput dari pelbagai kesukaran dan penderitaan, karena terus-menerus adanya bahaya, baik yang mengancam Maupun yang menimpa hidup dan penghidupan rakyat Indonesia sebagai akibat tipu muslihat serta kekerasan atau agresi Belanda dalam segala lapangan, teristimewa dalam lapangan politik, ekonomi, dan ketentaraan;
- bahwa kesanggupan, kegiatan, kecakapan serta ketaatan seluruh rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Negara dan Bangsa tidak boleh disangsikan dan telah terbukti dengan terang dan nyata, terutama sejak Rakyat dan Pemerintah kita diserang dari segala jurusan oleh agresi Belanda semenjak tanggal 21 Juli 1947;
- bahwa perbedaan paham dan keyakinan yang hidup dalam masyarakat, kadang-kadang nampak sebagai perselisihan yang bersifat khusus tentang sikap dan tindakan-tindakan, tetapi semuanya itu menuju ke arah kemerdekaan Negara dan Bangsa serta kesejahteraan Rakyat;
- bahwa kini bahaya yang mengancam kemerdekaan Negara serta keselamatan dan kebahagiaan Rakyat bertambah besar;
- bahwa hingga saat ini belum terdapat kesatuan sikap, program, dan tindakan yang sempurna dari Partai-Partai Politik, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi sikap dan tindakan musuh.
MENIMBANG:
- bahwa untuk dapat mengatasi segala kesukaran dan penderitaan rakyat, dan menolak tiap-tiap bahaya yang mengancam atau menimpa keselamatan Negara Republik Indonesia yang bertambah besar itu, sangat perlu adanya kesatuan sikap, program, dan tindakan terhadap segala agresi musuh, baik dalam lapangan politik, ekonomi, Maupun militer;
- bahwa diadakannya kesatuan sikap, program, dan tindakan tidak berarti menghentikan tugas kewajiban Partai-Partai, Ataupun melalaikan dasar-dasar dan amanat perjuangan masing-masing, akan tetapi hanya bermaksud menyelenggarakan bersama apa yang perlu guna kepentingan Negara dan Rakyat.
MENGINGAT DAN MENIMBANG PULA
bahwa hari tanggal 20 Mei ini yang oleh seluruh rakyat sedang diperingati secara khidmat sebagai hari peringatan 40 tahun kehangunan nasional, memberi kesempatan serta mendorong kita semua untuk mempertegak cita-cita kita bersama, yang telah tercapai dengan Proklamasi Negara I'rsatuan Republik Indonesia. dengan demikian mewuyudkan r kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa terima kasih serta rasa hormat batin kita kepada se-kalian mereka yang di dalam 40 tahun itu sudah mencurahkan segala kekuatan dan tenaganya, begitu pun pengorbanan, yang semuanya terbukti tidak sia-sia belaka, bahkan kita akui sebagai perjoangan nasional, yang kita teruskan sampai sa'at tercapai- oya cita-cita rakyat Indonesia seluruhnya.
MEMUTUSKAN:
- Menetapkan hari 20 Mei 1948 ini sebagai saat permulaan menggalang kesatuan sikap, program, dan tindakan;
-
Menyatakan akan segera melaksanakan maksud itu dan
melaksanakan segala putusan bersama untuk menolak bahaya
yang mengancam atau menimpa bangsa Indonesia umumnya dan
Negara Republik Indonesia khususnya, dengan dasar-dasar
antara lain sebagai berikut:
- supaya Pemerintah tetap mempertahankan dan mengusahakan berlangsungnya hubungan Republik dengan Luar Negeri sampai pada berdirinya Negara Indonesia Serikat yang berdaulat dan merdeka;
- menggiatkan seluruh rakyat Indonesia untuk perjuangan kemerdekaan yang total dalam lapangan politik, ekonomi, sosial, dan ketentaraan;
-
Menyusun segala tenaga dan kekuatan ketentaraan dan ekonomi
dengan menyerukan:
- hendaknya Tentara dan Rakyat mengadakan latihan besar-besaran sampai ke desa-desa untuk menolak serangan musuh;
- hendaknya Rakyat dan Tentara bersama-sama lebih giat menyusun kekuatan ekonomi dengan bekerja di ladang, sawah, dan perusahaan untuk mencukupi segala keperluan Tentara dan Rakyat;
- hendaknya segenap rakyat menghindarkan segala selisih paham dalam barisan atau Partai, dan segala usaha ditujukan kepada kerja bersama dengan tekad yang bulat mencapai Indonesia merdeka dan berdaulat, untuk menyusun masyarakat yang demokratis dalam segala lapangan;
- Mendesak kepada Pemerintah supaya mengusahakan perawatan yang lebih baik bagi pengungsi, korban perjuangan, dan korban Tentara Hijrah beserta keluarganya.
Yogyakarta, 20 Mei 1948
PANITIA PUSAT PERINGATAN 40 TAHUN KEBANGUNAN NASIONAL
Anggota:
Front Demokrasi Rakyat: ttd. Soegito
Partai Politik Islam “Masyumi”: ttd. A.M. Sangaji
Partai Nasional Indonesia: ttd. S. Rasyad
Kongres Wanita Indonesia: ttd. Ny. A. Hilal
Pemuda: ttd. Tatang Mahmoed
ttd. H. Benyamin
Diumumkan pada tanggal 20 Mei 1948 pukul 20.00 dalam upacara peringatan 40 Tahun Kebangunan Nasional di Istana P.Y.M. Presiden.
SETIALAH KEPADA SUMBERMU!
Pidato Presiden Republik Indonesia
pada HARI KEBANGUNAN NASIONAL.
20 Mei 1952.
Saudara-saudara!
Merdeka!
Hari ini 20 Mei 1952. Saya mulai dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah terhadap Tuhan, bahwa ia memelihara Kebangunan kita sampai kehari ini.
Dengan penuh minat saya mendengarkan “Pernyataan Bersama” dari partai dan organisasi-organisasi, serta uraian yang diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara.
Dan wayib mengucapkan terimakasih atas Pernyataan Bersama itu, oleh karenan apa yang dikemukakan di situ, memang mencerminikan apa yang perlu untuk menyapai hasil-baik dalam kelanyutanya perjoangan kita yang sesulit dan seberat itu, yaitu:
“Kesatuan sikap, program dan tindakan” antara segenap bangsa Indonesia.
Meskipun tidak semua partai menandatangani Pernyataan itu, maka tetaplah Pernyataan ini menggembirakan, oleh karena di dalamnya selengen teges dikenukakan hal Kesatuan.
Ya, kesatuan sikap, program dan tindakan!
Alangkah lebih kuatnya, dan alangkah lebih berhasilnya perjoangan kita itu, bilamana syarat kesatuan itu benar-benar terpenuhi! Di dalam waktu 44 tahun usianya pergerakan nasional kita itu, perkataan “persatuan” dan “kesatuan” sering diucapkan, sering dianjukan, sering diusahakan terwujudnya, tetapi sering juga mengalami kegagalan, sering juga ta‘ terlaksana.
Sekarang, buat keseyalan kalinya, persatuan dan kesatuan itu dianjurkan lagi, bahkan dikemukakan sebagai keputusan dari-pada sebagian partai-partai dan organisasii-organisasii akyat, dan keputusan itu dikemukakan pula pada satu hari yang amat penting, yaitu hari 20 Mei, yang justru pada suatu hari 20 Mei-lah, 20 Mei 1908,—kita bangsa Indonesia buat per-tama-tama kali mutai lamat-lamat menyedari pentingnaya persatuan dan kesatuan itu.
Di situlah letaknya salah satu faedah memperingati 20 Mei tiap-tiap tahun, memperingati 20 Mei secara besar-besaran tiap-tiap 10 tahun. Memperingati, bahwa pada 20 Mei 1908 kita buat per-tama-tama kali, meski lamat-lamat, mulai sedar akan arti persatuan. Sehab, apa yang teryadi pada hari 20 Mei 1908 itu? Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan satu “Idea”: satu naluri-pokok daripada bangsa Indonesia; naluri-pokok ingin merdeka; naluri-pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa; naluri-pokok ingin tidak miskin, tidak papa, tidak sengsara. Dan apakah cara baru itu? Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi politik, cara berjoang dengan perserikatan dan perhimpunan politik.—cara berjoang dengan tenaga persatuan. Cara berjoang dengan tenaga persatuan dalam organisasi politik itu adalah cara baru, oleh karena sebelum 20 Mei 1908 itu kita belum pernah memakai cara itu, melainkan cara lainlah yang kita pakai: sebelum 20 Mei 1908 itu cara kita ialah cara mentaklid kepada seseorang yang kita kira dia seorang Ratu Adil, atau cara memohon dan merekes kepada Kanjeng Gubernemen dengan surat-surat-permohonan yang amat merendah, atau cara “mengeraman” dengan senjata di bawah pimpinan seseorang yang kita keramatkan.
Nyata, perobahan cara ini adalah satu kemajuan. Karena itu- lah maka hari 20 Mei adalah satu hari kegembiraan, satu hari untuk memperingati satu kemajuan. Banyak hari-hari-peringatan yang digeringati oleh pelbagai bangsa, banyak corak dan arti-isinya, banyak pula cara-memperingati itu, tetapi pada umumnya peringatan-peringatan itu adalah untuk memperingati saat lahirnya satu kemajuan.
17 Agustus 1945 bagi kita, 14 Juli—penyerangan Bastille—bagi bangsa Perancis, 7 Nopember bagi Russia, 1 Mei bagi kaum buruh seluruh dur‘—semua itu adalah miylpaal-miylpaal kemajuan dalam evolusi...ya sejarah masinga, 17 Agustus ’45 adalah satu kemajuan oleh karena pada saat itu kita pindah dari keadaan terjajah kepada keadaan merdeka; 14 Juli adalah satu kemajuan, oleh karena pada hari itu kedaulatan rakyat mulai mengatasi absolutisme; 7 Nopember adalah satu kemajuan, oleh karena pada hari kollektivisme mulai diikhtiarkan di atas padangnya peleksanaan; 1 Mei adalah satu kemajuan, oleh karena pada 1 Mei itu azas keadilan bagi kaum buruh mulai menang dan diakui umum. “En daarom was de 10 urige arbeidsdag niet zoo zeer een groot practiskh succes, het was de over-winning van een beginsel”,—demikian Marx mencakapkan arti 1 Mei itu di dalam satu kalimat.
Maka bagi kita puni 20 Mei itu tidak per-tama-tama dan tidak se-mata-mata hanya “een groot practiskh succes” saja, yaitu practiskh-succesnya lahirnya satu perkumpulan keciil dari kum priyayi yang bernama Budi Utomo,—ia adalah berarti lahirnya dan menangnya satu “beginsel”: beginsel hak- dan -adiinyia berserikat dan berkumpul meski di bawah ancaman pentung kolonialisme pun, beginsel hak- dan -adiinyia manusia ingin berharkat manusia dan bangsa ingin berharkat bangsa. beginsel bahwa di alam kolonialisme tiap-tiap perobahan hanyalah dapat diperoleh dengan desakannya satu kekuatan dan tidak sekadar dengan berimohon saja, beginsel bahwa kekuatan ini harus disusun menurut caranya organisasi perserikatan, beginsel bahwa organisasi perserikatan inilah jalan yang utama untuk memenuhi ajaran “rukun agawé santosa”. “persatuan membuat kekuatan”.
Datas persadanya beginsel inilah,—beginsel, sekali lagi beginsel, dan bukan sekadar “practiskh succes” lahirnya Budi Utomo—maka pergerakan nasional kita makin lama makin tumbuh, makin lama makin mekar. Di atas persadanya beginsel inilah Sarckat Islam memassal, Nationaal Indiskhe Partiy mengnikmati dunia keterpelajaran. Paguyuban Pasundan menjelma, I.S.D.V. dan P.K.I. menyebarkan idee socialisme dan komunisme, Parindra bergerak. Muhamaddiyah dan Nahdatul Ulama me- reformir masyaraqat Muslimin. Indonesia Muda dan Yong Islamieten Bond meresapi alam pemuda, Partai Nasional Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia meng-kobar-kobarkan kesedaran nasional. Di atas persadanya beginsel malah pula pemimpin-pemimpin kita di zaman Jepang dengan susah-payah memelihara naluri-pokok nasional dengan mendirikan Putera dan Hookookai, dengan Barisan Pelopor dan Barisan Peta. Dan sebagai hasil pelaksanaan beginsel itulah kita pada 17 Augustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan, dan lima tahun lamanya kemudian dari pada itu mempertahankan dan membela kemerdekaan itu mati-matian.
Apakah ini berarti bahwa dus Budi Utomo tiada berarti, dan Wahidin Sudiro Husodo tiada berjasra? Samasekali tidak. Kita berterimakasih kepada Budi Utomo oleh karena Budi Utomo adalah pendobrak daripada pintu yang menuju kepada cara baru itu, dan kita menghormati Dr. Wahidin Sudiro Husodo oleh karena beliaulah yang memberikan kommando pertama untuk pendobrakan itu. Beliau berdiri di atas miylpaal antara cara kuno dan cara baru, beliau berdiri di situ sebagai pencunduk ja-lan, dan tangannya menunjuk kejurusan arah yang benar.
Aku pernah berdiri di tepi dua sumber, dua mata-air yang amat kecil: sumbernya sungai Berantas dan sumbernya sungai Serayu. Alangkah kecilnya dua sumber itu! Tetapi aku merasa dihikmati oleh satu rasa hormat, dan aku berdiri di situ dengan diam, dengan tiada ber-kata-kata: sebab sumber kecil itu adalah Sumber-Ibunya dua sungai yang besar, satu diantaranya malah menjadi Sungai-Ibunya kerajaan-kerajaan Kediri, Jagala, Singasari. Majapahit. Rasa yang demikian itulah pula menghikmati kalbu saya, kalau saya ingat kepada Dr. Wahidin Sudiro Husodo itu. la berdiri di tepinya satu sumber. Sungguh, hidupnya ialah satu hidup yang tidak ter-sia-sia.
Sumber kecil kita pun telah menjadi Sungai-Besar yang maha dahsyat! Ia telah menjadi lebih besar daripada Berantas, lebih besar daripada Serayu, dan iebih besar pula daripada Musi dan Barito dan Kapuas, daripada Gangga dan Brahmaputera dan Hoang Ho dan Amazonie dan Wolga! Sebab ia akhirnya telah menyapu dengan gelombangnya yang maha dahsyat itu satu gedung kolonialisme yang luasnya meliputi Nusantara dan tingginya menyakar langit dan umurnya tiga abad limapuluh tahun, dan ia dapat berbuat demikian itu oleh karena ia sedari mulanya telah berdiri di atas kekuatan yang “nbui dari jumlah yang disatukan: individu bersatu menjadi jumlah kecil, jumlah-jumlah kecil dipersatukan menjadi jumlah besar, persatuan-persatuan kecil dipersatukan menjadi persatuan besar, dan persatuan besar ini akhirnya meliputi seluruh jumlah 75.000.000 yang mengisi seluruh tanahair Indonesia,—menyapai klimaks tenaganya, menggelombang mendesak, menggelombang menghantam, menggelombang merevolusi pada 17 Agustus 1945 menggugurkan kekuasaan penjajahana dengan suara gugur yang maha dahsayat.
Di sinilah denean agar terlihat bahwa 20 Mei 1908 dan 17 Agustus 1945 adalah perbedaannya satu sama lain. Tidak mungkin ada 17 Agustus kalau tidak ada 20 Mei 1908 lebih dahulu. Tidak mungkin ada Konferedakan Nasional kalau tidak ada beginsel menyapai tenaga dengan persatuan lebih dahulu. Tidak mungkin mendapat 1600 mil kalau tidak langkah pertama lebih dahulu. Tidak mungkin ada sungai menyapai lautan, kalau tidak ada mata-air lebih dahulu!
Karena itu, janganlah se-kali-kali kita berkata:..Buat apa memuliakan Budi Utomo atau tingkatan yang sudah-sudah yang satu-persatunya tokh tidak memuaskan lagi hati kita di zaman sekarang! “Ucagan yang demikian itu sama saja nitiknya dengan ucapanyna se-orang-orang yang mencicmeohkan manusia, bahwa manusia itu anak kecil lebih dahulu. Ya memang, kebangunan kita di dalam waktu empat puluh empat tahun itu meliati beberapa tingkatan, yang satu lebih tinggi darigada yang lain. Budi Utomo, Sarekat Islam, Parindra, Partai Nasional Indonesia, dan lain-lain sebagainya, semuanya adalah fase-fase dalam Kebangunan kita.
Tetapi tidakkah Revolusi Perancis juga melalui fase-fase dan tingkatan-tingkatan.—tingkatan Mirabeau, Robespierre, Maraatt, Hebert, Babocuf? Tidakkah Revolusi Rusia pula melalui tingkatan-tingkatan, sejak dari Kerensky sampai ke Lenin, sejak dari Trotsky sampai ke Stalin? Kita, sebagai orang-orang yang mengarti adanya hukum “Panta Rei” di dalam sejarah, kita harus dapat menghargaai jasa daripada semua. Kita harus menghargaai tingkatan-tingkatan itu sebagai nata-nata di dalam satu rantai, yng bersambung satusama- lain tiada putusnya. Victor Hugo, penulis Perancis yang masyhur itu, mengagungkan persambungan tingkatan-tingkatan dalam Revolusi Perancis dengan kata-kata: “Pada satu hati-kalbu yang tidak kita ketahui, Mirabeau merasakan akan dahangnya Robespierre; Robespierre merasakan Marat; Marat merasakan Hebert; Hebert merasakan Baboeuf”. Marilah kita yuga mengagungkan semua tingkatan dalam Kebangunan kita itu. Marilah kita tidak mengagungkan muara sungai saja, marilah kita mengagungkan seluruh sungainya!
Di sinilah tempatnya aku menganjurkan kepada pemuda dan pemudi kita untuk lebih mengetahui seyarahnya dan jasa-jasanya pemimpin-pemimpin kita yang sudah mangkat. Banyak pemuda-pemudi kita yang tidak tahu siapa Cokroaminoto, siapa Cipto Mangunkusumo, siapa Kyai Dahlan, siapa Setiaabudhi, siapa Sutatmo Suryokusumo. Keadaan demikian itu harus diperbaiki selekas mungkin!
Panta Rei! Tetapi, ya, sudah barang tentu, perbedaan azas antara partai-partai dan golongan-golongan di zaman sebelum kemerdekaan itu tentu ada. Sudah barang tentu sedari mulanya ada diversiteit di-alam kebangunan kita. Ada aliran nasionalistis, ada aliran sosialis, ada aliran keigamaan, seperti sekarang. Dan sudah barang tentu pula terutama sekali perbedaan taktik-melawan-penjajanlah sering menimbulkan perselisihan dan perpisahan. Politik antitese contra politik assosiasi, non-cooperation versus cooperation. Tetapi Wahyu Persatuan selalu menang. P.P.P.K.I. mengatasi perpecahan, GAPI pun mengatasi perpecahan. Dan persatuan itu semakin rapat, tiap-tiap kali perjoangan mendekati sesuatu klimaksnya. Demikian di zaman Belanda, demikian di zaman Jepang. Demikian pula di zaman sesudah Proklamasi, sebelum kedaulatan kita diakui oleh Belanda dan dunia internasional.
Pada tanggal 27 December 1949 selesailah separoh daripada tujuan perjoangan kita, dan mulailah perjoangan yang separoh lagi. yang memang baru mungkin peleksanaannia, manakala bagian pertama telah selesai. Kini kemerdekaan tanah-air kita—kecual Irian—telah tercapai; kini perjoangan menggugurkan kolonialisme di tanah air kita—kecual Irian—telah sciesai. Tetapi apa yang kita lihat?
Empat puluh tahun kita berjoang untuk kemerdekaan, tetapi hasilnya ialah terasa yangan ber-bagi-bagi paradox, sebagai yang ternyata pula dari pernyataan-bersa4 yang ditandatangani oleh saudara sekalian. Kita mengira kemerdekaan berarti enyahnya kolonialisme samasekali dari bumi tanah-air kita, tetapi di Irian Barat masih ada kolonalisme merajaletla. Kita mengira kemerdekaan segera mendatangkan berlakunya demokrasi yang sempurna, tetapi sampai sekarang sistim itu belum dapat berjalanan sempurna karena belum terjamin keamanan dan belum dapat diadakan pemilihan umum. Kita mengira kemerdekaan segera mendatangkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial, tetapi sampai sekarang kita masih harus men-jerit-jerit memanggil kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Kita mengira kemerdekaan segera dapat melenyapkan ikatan3 dengan negara-negara yang merugikan rakyat dan Negara, tetapi sampai sekarang Unie Indonesia Belanda masih ada dan fatsal-fatsal dalam K.M.B. yang merugikan kita pun masih ada. Kita mengira kemerdekaan berarti berhentinya serangan elemen-elemen reaksioner dari dalam dan dari luar, tetapi elemen-elemen reaksioner masih menyerang dengan terang3an dan dengan diam-diam dari dalam dan dari luar. Kita mengira kemerdekaan menambah keamanan dunia se-mata-mata. tetapi bahaya peperangan-dunia ke-III malah makin menghintai di cakrawala. Kita mengira kemerdekaan mendatangkan “freedom from fear”, tetapi gerombolan-gerombolan bersenjata di beberapa tempat meniadakan tiap-tiap rasa “freedom from fear”. Kita mengira kemerdekaan mendatangkan keberesan di semua lapangan, tetapi di dalam banyak hal belum ada samasekali keberesan. Kita mengira kemerdekaan meninggikan kegiatan bekerja, tetapi di banyak kalangan nyata merosot sekali prestasi pekerjaan. Kita...... kita tadinya berjoang mati2an untuk mencapai kemerdekaan, tetapi sekarang kadang-kadang kita mengeluh bahwa...... terlalu banyak kemerdekaan!
Apa sebab? Sekali lagi apa sebab? Sebabnya ialah oleh karena kita kurang insyaf, bahwa kemerdekaan sekedar membuka kemungkinan untuk mendatangkan keberesan, sekadar membuka kemungkinan untuk mendatangkan kemakmuran, keamanan, kebahagiaan,——dan tidak menjamin adanya segala keberesan itu. Kita kurang mau mengarti, bahwa tidak benar,
“sekarang merdeka, sekarang beres”, “tidak benar: ‘sekarang merdeka, sekarang makmur”. Keberesan dan kemakmuran itu adalah hasil usaha mati-matian mempe- ’nakan kemungkinan yang diberi oleh kemerdekaan itu, hasil usaha membanting tulang “uitbuiten” kemungkinan yang diberi oleh kemerdekaan itu. Keberesan dan kemakmuran itu datangnya kemudian daripada kemerdekaan itu, sesudah berusaha, sesudah membanting tulang. Kalau usaha-mati-matian itu tidak ada, kalau pembantingan tulang itu tidak ada,—seribu kemerdekaan ta‘ akan dapat menda-tangkan kemakmuran dan keberesan.
Karena itulah maka saya amat bergembira dan berterimakasih, bahwa saudara-saudara dalam Pernyataan-Bersama yang dibacakan tadi itu telah memutuskan (ad 3):
“Menyatakan kesediaan untuk segera melaksanakan pembangunan nasional, dalam arti pembangunan sosial, ekonomi dan kebudayaan untuk kepentingan segenap Rakyat”.
Bahwa pembangunan sosial, ekonomi dan kebudayaan itu adalah untuk kepentingan segenap Rakyat. ya bahwa pembangunan itu harus untuk kepentingan segenap Rakyat, itu adalah satu barang yang semustinya, satu barang yang sesuai dengan cita-cita kita. dan malahan adalah satu barang yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara kita.
Kewajiiban seluruh rakyatlah untuk menjaga supaya ketentuan-ketentuan di dalam Undang-Undang Dasar itu tidak didurhakai orang. Kewajiiban kita semualah untuk menjaga supaya ketentuan-ketentuan itu ditaati dan dihormati, dan dikerjakan. Tetapi primair adalah kenyataan, bahwa kesejahteraan itu ta‘ jatuh dari langit. te-tapi harus dibangun
Primair adalah pernyataan Tuan-Tuan yang saya hargai, bahwa Tuan-Tuan bersedia untuk segera melaksanakan pembangunan nasional itu. Jikalau semua kita bekerja keras untuk melaksanakan pembangunan, bekerja keras dengan penuh keinsafan dan ke-sedaran, maka akan berakhirlah kekurangan-kekurangan kita satu demi satu. Sebaliknya, jikalau kita tidak bekerja keras, maka kekurangan-kekurangan kita itu akan tetap ada, bahkan akan ber-tambah-tambah makin lama makin negeri. sebagai misainya dalam hal urusan beras. Semboyan setengah orang: “perbaikilah nasib kita dulu, baru kita bekerja keras”, adalah satu semboyan yang salah, satu semboyan yang berdiri di atas kepalanya. Nasib kita tidak bisa menjadi baik, kalau tidak dibeli dengan usaha. Karena itu semboyan kita harus kebalikannaya dari semboyan yang salah itu, dan harus berbunyi: “Mari bekerja keras. agar nasib menjadi baik”.
Demikian pula maka adanya dari keputusan bersama itu saya hargai: menggalang kesatuan sikap, program serta tindakan “untuk melaksanakan demokrasi, untuk kesejahteraan dan keadilan sosial, untuk menghapuskan perjajiann-perjajiann yang merugikan rakyat, untuk kembalinya Irian-Barat”.
Memang kita di mana mungkin harus lekas melaksanakan demokrasi di segala lapangan; memang kesejahteraan Rakyat dan keadilan sosial harus menjadi kenyataan yang dapat diraba se-lekas3nya; memang segala perjajiann-perjajiann yang merugikan Rakyat dan Negara harus segera diikhtarkan hapusnya atau robohnya; memang Irian-Barat harus mutlak masuk ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.
Bhwa sampai sekarang demokrasi itu belum dapat dilaksanakan di segala lapangan, itu adekah oleh karena kita belum dapat mengadakan pemilihan umum dan oleh karena keamanan di banyak tempat belum terdiyamin. Oleh karena itulah maka kita harus berusaha ber-sama-sama agar supaya kondisi-kondisi untuk dapat diadakan pemilihan umum lekas tercipta. dan agar supaya keamanan umum di-mana-mana lekas terselenggara pula.
Demikian pula kita semua harus bekerja keras untuk men-ciptakan segaia kondisi2nya kesejahteraan dan keadilan sosial. Sebab sungguh, tidak ada sesuatu hal di dunia ini yang begitu ter-gantung kepada kondisi, dari pada kesejahteraan dan kemak-muran. Kondisi itu harus diselenggarakan. “Ook welvaart moest geskhapen worden”,—juga kemakmuran harus dicipta. demikianlah Marx berkata.
Dan tentang “keadilan”, itu pun ditentukan dalam Undang-Undang Da-sar kita, dan kewajiban kita-semualah,—kewajiban, kewad-yiban saudara-saudara, kewajiban rakyat, kewajiban kita-semua tua-muda—untuk menjaga supaya ketentuan itu dilaksanakan.
Tentang perjanjian-perjanjian dengan Negara-Negara lain,—siapa tidak merasa sebagai kewajiiban, untuk meninjau kembali segala perjanjian yang merugikan Rakyi dan Negara? Baik Unie Indonesia Belanda Maupun beberapa ketentuan-ketentuan lain hasil K.M.B., Maupun perjanjian-perjanjian lain apa pun juga, yang merugikan Rakyat, yang merugikan Negara, harus kita ikhtiarkan rebahnya atau hapusnya, dengan jalan yang sesuai dengan kederajatan Negara, oleh karena kita telah ber Negara.
Dan Irian?
Sudah semestinyalah saudara-saudara memasukkan hal Irian-Barat itu dalam putusan saudara-saudara itu. Irian adalah wilayah kita, dan Irian harus dikembalikan mutlak ke dalam kekuasaan kita. Alasan-Alasan ta‘ perlu saya tambahkan di sini, saudara-saudara sendiri tentunya sudah “penuh alasan” untuk menuntut kembalinya Irian-Barat itu, dan—untuk “menggagang kesatuan sikap, program dan tindakan” (sebagai saudara-saudara putuskan) untuk memperkuat tun-tutan itu. Dengan nanti “menggulang sikap, program dan tindakan” untuk mengembalikan Irian-Barat ke dalam kekuasaan Republik kita itu, saudara-saudara memang sekadar menjalankan kewajiiban saudara-saudara sebagai bantsa yang terborniat. Saya hanya ingin menambah sekadar kata tehadap rakyat Negeri Belanda dan rakyat-rakyat di seluruh Dunia-Luaran. Kata itu ialah; Keadaan dunia senakin bertambah mendung. Tagi apiinya aspirasi-aspirasi nasional tidak ada yang padam karena tehainya mendung itu. “Api Irian” di dalam kalbu kita pun tetap menyala. Api itu malahan makin “memesra”. Mankala kami pada waktu sekarang ini menunda perundingan kami dengan filuk Belanda mengenai status Irian-Barat itu.—menuruggu selezainya pemilihan umum di negeri Belanda—, itu janganlah diartikan kami menunda claim nasional kami. Perundinganlah yang kami tunda, perundinganlah yang kami hentikan buat sementara, tetapi claim kami itu tetap, claim itu tetap menghikmati segenap kami punya jiwa, dan akan kami kemukakan lagi dan kemukakan lagi, dengan dibantu segenap jnamisnya kami punya banya, sampai Irian-Barat diberikan kembali ke dalam kekuasaan Republik Indonesia!
Saudara-Saudara, demikianlah maka fasal-fasal a-b-c-d dalam keputusan saudara-saudara ad 2 itu saya hargai. Tinggal sekarang melaksanakannya. Tinggal sekarang mengangkat hal-hal yang termaktub dalam a-b-c-d itu menjadi tugas yang harus dikerjakan.
Dan bicara tentang tugas—, lebih dahulu telah kukatakan sering-sering, bahwa kita, sesudah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949 itu belum berada dalam keadaan “boleh-leha-leha-dan-goyang-kaki”, tetapi sebaliknya masih menghadapi tugas bermacam, yang dapat digolongkan dalam tiga golongan yang terang dan nyata.
- Mengatasi semua akibat-akibat perjoangan kita yang telah lambat.
- Menyemppurnakan dan memberi isi kepada kemerdekaan kita sesuai dengan cita-cita nasional.
- Menyelamatkan kemerdekaan kita dalam hamuknya taufan internasional yang mungkin akan datang.
Tegasnya, ibarat kita baru mendapat kembali kita punya rumah, yang selama ini di tangan musuh, maka kita belum boleh goyang kaki, tetapi masih harus bekerjya keras:
- Memperbaiki (mereparasi) rumah itu karena banyak kerusakannya dalam perjoangan merebutnya kembali
- Memperlengkapi rumah itu dengan bagian-bagian yang masih ditanngan musuh, serta mengisi rumah itu dengan segala perabot dan segala bekal-bekal keperluan hidup;
- Menyelamatkan rumah itu jangan nanti ia rusak kembali atau musna kalau ada apa-apa diuuar pagar.
Lihat: Fasal a–b–c–d dari keputusan saudara-saudara sesuai dengan semangatnya tiga tugas yang saya sebutkan itu!
- (demokrasi dalam segala lapangan) masuk dalam golongan tugas ke-2, oleh karena demokrasi mengenai “penyempurnaan kemerdekaan” dan “pemberian isi” kepada kemerdekaan, tetapi juga masuk dalam golongan tugas ke-1, oleh karena demokrasi membutuhkan keamanan, dan ketidakamanan adalah “akibat perjuangan kita yang lampau” yang harus diatasi;
- (kesejahteraan dan keadilan sosial) masuk pula dalam golongan tugas ke-2, oleh karena kesejahteraan dan keadilan sosial itu mengenai “pemberian isi” kepada kemerdekaan, tetapi masuk pula dalam golongan tugas ke-1, oleh karena tak mungkin “memberi isi” apabila banyak akibat-akibat perjuangan yang lampau tidak kita atasi lebih dahulu;
- (menghapuskan perjanjian-perjanjian yang merugikan) masuk dalam tugas ke-2, oleh karena mengenai “penyempurnaan” kemerdekaan;
- (Irian) masuk dalam golongan tugas ke-2 pula, oleh karena mengenai “penyempurnaan” kemerdekaan.
Bagaimana dengan golongan tugas ke-3, yaitu: “menyelamatan kemerdekaan kita dalam hamukni taufan internasional yang mungkin akan datang”? Di dalam Pernyataan saudara-saudara, bagian “MENGYNGAT”, fasal d, saudara-saudara mengemukakan, bahwa “sampai pada tanggal 20 Mei 1952 ini Negara dan Rakyat Indonesia masih menghadapi bahaya perang dunia yang dapat menimbulkan kerusakan, kehancuran, kemelaratan, kesengsaraan dan kehinaan umat manusia umumnya”.
Dan dalam bagian KEPUTUSAN. ad 1, saudara-saudara memutuskan “melanyutkan dan menyemputnaikan usaha menggalang kesatuan sikap, program serta tindakan yang telah dimulai pada tanggal 20 Mei 1908, juga dalam menghadapi bahaya perang dunia yang mungkin datang, yang mengancam Rakyat dan Negara Indonesia”.....................
Semangat yang terkandung dalam dua kalimat saudara-saudara ini ternyata satu kekhawatiran bahwa perang-dunia ke III akan meledak, oleh karena perang dunia ke III itu dianggap sebagai satu bahaya “yang mengancam Rakyat dan Negara Indonesia”. Dan ki Hajar Dewantara pun dalam pidatonya tadi mengatakan bahwa “ketakutan akan datangnya perang-dunia ke III—plus sebab-sebab lain—antaranya bahaya kelaparan, penyakit kekacauan, memuncaknya harga-harga barang, kerisis akhlak, perpecahan antara kita dengan kita, dan lain-lain sebagainya—menimbulkan keinginan untuk mengadakan peringatan Hari Kebangsaan Nasional yang sedang kita langsungkan sekarang ini”.
Ya, memang,—kalau perang-dunia ke III itu pecah, niscaya ia akan mengancam keselamatan kemanusiaan. nisiyaya ia akan mengancam keselamatan Pakiyat Indonesia dan Negara Indonesia. se-dikit2nya akan amat mengulitkan keadaan kita. Siapa yang senang kepada peperangan? Saya kira tidak ada satu nggara pun yang senang kepada peperangan, peperangan yang berarti keben-canaan. Oleh karena itulah, maka banyak sekali anggota P.B.B. (U.N.O.) berikhtlar menenteramkan kegentingan-kegentingan. Oleh karena itulah, maka Republik Indonesia pun, Republik yang masih amat muda ini dan ingin hidup selamat-sentausa buat se-lama3nya. Republik yang berdasarkan Panca Sila, Republik “perikemanu-siaan”, menjalankan suatu politik-perdamaian yang aktif, satu “actieve vredespolitiek” yang kuat untuk ikut-ikut membantu ter-elaknya malapetaka-duria itu. Oleh karena itulah pula kita menjalankan politik-luar-negevi yang hebas, dengan tidak ikut kepada blok yang ini atau kepada blok yang itu. Dan kalau perang-dunia ke III tokh meledak? Moga-Moga Tuhan mengelakkan perang-dunia ke III itu! Tetapi kalau perang-dunia ke III tokh meledak, kalau diluer pagar kita hamuk dan hantam mulai ber-jalan, maka dari saya sendirinya telah sering kuberikan amanat dengan tegas: “selamatkanlah kemerdekaan kita dalam hamuk-nya taufan interna-yonal itu!” Selamatkanlah rumahmu sendiri, kamu di kanan-kirimu rumah-rumah lain terbakar! Tetapi bantulah pula sedapat mungkin, untuk memadamkan kebakaran itu. Kalau mereka mulai meledak, ya—tetap Insya Allah, kita akan meneruskan vred spolitiek dan politik bebas. Tetap, Insya Allah, kita tidak akan ikut blok ini atau blok itu. Tetap, Insya Allah, kita tidak akan mengangkat senjata kegada siara pun, kecuali kalau kita diserang. Dan tetap pula, Insya Allah, kita menerus-kan semua tugas-tugas nasional kita dapat menangkis bahaya-bahaya yang hendak menimpa diri kita nanti, agar kita dapat meneruskan actieve vredespolitiek, agar supaya kita dapat terus pula menjalankan semua tugas-tugas nasional, tepat saudara-saudara telah katakan: kita harus menggalang kesatuan! Menggalang kesatuan sikap, program dan tindakan,—sekali lagi: menggalang kesatuan sikap, program, dan tindakan!
Dan kesatuan atau persatuan ini, bukan saja untuk menghadapi bahaya yang mengancam kita dari peperangan itu, tetapi, sebagai saudara-saudara katakan sendiri, juga untuk melaksanakan keputusan saudara-saudara ad 2 a-b-c-d setrr ‘keputusan saudara-saudara ad 3 pula. Menjadi: baik tertinjau dari sudut luar negeri, Maupun tertinjau dari sudut dalam negeri, kita ini di konfrontir dengan keharusan-mutlak akan persatuan. Way-out lain memang tidak ada! Satu-Satunya way-out adalah persatuan ini! Galanglah persatuan dan kesatuan itu inikali benar-benar! Jangon seperti didaian tahun 1948, yang persatuan dan kesatuan itu kemudian tidak terwujud sama sekali! Didaiam pidatonya tadi Ki Hajar Dewantara tentang tahun 1948 itu berkata: “Sayang scribu sayang! Pelbagai bahaya yang tadinya hanya mengancam, datanglah menyerbu dengan se-konyong-konyong............. sebelum Front Nasional yang kita rumuskan menjadi kenyataan. Di kalangan kita sendiri timbul ke-ragu-raguan tentang sifat, bentuk dan isi kesatuan perjoangan. Sisa-Sisa perselisihan dan persengketaan antara golongan yang satu dengan yang lain, karena tidak segera diwujudkan Front Nasional tadi, darat kesempatan untuk tumbuh kembali. Pada saat datangnya bahaya, kita tidak siap. Bahaya yang satu, disusul bahaya yang lain, begitu seterusnya. Kita tidak ckup berdaya untuk menolaknya. Sebaliknya perpecahan nampak timbul kembali....................”.
Demikianlah keluhan Ki Hajar, dan demikian pulalah keluhanku.
Janganlah pengalaman-sedih dari tahun 1948 itu terulang kembali! Kita-ini malam mengadakan peringatan Hari Kebangunan Nasional,—buat apa kita mengadakan peringatan itu, kalau tidak untuk mengambil pengajaran-pengajaran dari pengalaman yang sudah-sudah? Ya. ada persamaan³ antara pergerakan nasional kita sebelum Proklamasi dan pergerakan nasional kita sesudah Proklamasi, tetapi ada juga perbedaan-perbedaannya. Persamaannya ialah, sebagai tadi telah kukatakan, adanya diversiteit antara partai-partai, baik mengenai ideologi, Maupun mengenai cara memperjoangkan tujuan. Dulu ada diversiteit itu, sekarang pun ada diversiteit itu. Itulah persamaan. Tetapi ada pula perbedaan antara dulu dan se- karang. Dulu, sebelum Proklamasi, dalam istilah “geskheiden samengaan” diletakkanlah tekanan-kata kepada samengaan, kepada jalan berbareng, kepada persatuan. Ingat P.P.P.K.I., ingat GAPI! Sekarang, sesudah roklamasi,—tidaklah tekanan kata terlalu diletakkan kepada geskheiden, kepada perpisahan?
Jikalau saudara-saudara benar-benar ingin menggalang persatuan, jangan-lah nanti ada sesuatu partai yang selalu ingin “main menang”. Janganlah ada sesuatu partai yang selalu ingin “main yang di-pertuan”. Persatuan menghendaki “good relationship”, menghendaki menghargai satu samalain. Persatuan Nasional menghendaki discipline nasional, dan tidak menekankan accent kepada discipline partai. Persatuan Nasional tidak dapat berjalan, jikalau sesuatu partai ingin memainkan dominasi partoinya di atas partai-partai yang lain di dalam persatuan itu. Jikalau main dominasi, niscayalah nanti persatuan bubar!
Saya melihat bahwa belum semua yang menandatangani per-nyataan bersama tanggal 20 Mei 1948 di Jokyakarta dulu, turut menandatangani pernyataan sekarang ini. Saya tidak mengetahui sebab-sebabnya. Saya berharap, kalau memang ada sebab-sebab, jangan itu teryadi karena terasa adanya ber-lain-lainan niat di antara yang sama-sama menandatangani. sehingga akan kandaslah usaha di dalam penglaksanaannya nanti. Dengan demikian bukanlah kesatuan yang akan menjadi buah, tetapi perpecahan yang lebih besar, seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah Negara kita sesudah Mei 1948. Memang dalam saat seperti sekarang ini diperlukan sekali adanya persatuan diyiwa dan tenaga dari pada seluruh lapisan masyarakat dalam usahanya memperkokoh dan memba-ngun Negara, tetapi dalam kesempatannya itu tindakan-tindakan harus sesuai dengan Martabat Negara yang sudah merdeka dan Rakyat yang sudah merdeka!
Kecuali dari pada itu. masih adalah pesananku yang lain:
Benar, sebagai yg tertulis dalam PERTIMBANGAN saudara-saudara fasal b, partai-partai dan Organisasi-Organisasi tidak harus dihapuskan, partai-partai dan organisasi-organisasi tetap ada, tugas kewajiiban masing-masing tidak di-hentikan, dasar-dasar dan asas-asas masing-masing tidak dilahirkan, tetapi per-mintaan saya kepada saudara-saudara ialah, supaya persatuan itu betul-betul mengandung persatuan-batin, artinya tidak hintai-menghintai sa- tusamalain, dan supaya saudara-saudara dalam pada memelihara partai-partai dan organisasi-organisasi itu tokh mengutamakan Negara di atas partai-partai dan organisasi-organisasi saudara-saudara itu. Ini bukan berarti aku ta‘ mengerti pertumbuhan partai-partai dan organisasi-organisasi da. alam demokrasi, bukan; ini pun tidak berarti aku meremehkan partai-partai dan organisasi-organisasi yang sekarang ada, samasekali tidak.—ini hanya berarti aku mengatakan bahwa bagi kita Negara haruslah primair. Tidak mungkin partai dan organisasi-organisasi kita bergerak seperti sekarang ini, kalau tidak ada Negara Republik kita! Oleh karena itu saya ulangi di sini citaat-Quezon yang sudah saya sitirkan dalam sidang K.N. I.P. pleno di Malang beberapa tahun yang lalu: “My loyalc to my parc ends, where my loyalc to my country begins”.
Ya kita hidup dalam zaman demokrasi, dan demokrasi berarti kemerdekaan berfikir, dan malahan kita memutuskan untuk “ma‘ laksanakan demokrasi dalam segala lapangan”. Tetapi demokrasi pun harus tahu membatasi diri. Demokrasi bukan sesuatu hal yang tiada ikaten samasekali, demokrasi ongebondenheid. Ketabuillah, bahwa demokrasi bukan'ah doel, melainkan sekadar satu bumi-dasar, satu jalan, satu cara untuk mencapai sesuatu. Untuk mencapai sesuatu apa? Untuk mencapai kesentausaan dan keskhatan Negara, untuk mencapai kesentausaan dan kesehatan Bangsa, untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuan masyarakat. Ibarat badan Negara sekarang sedang sakit, maka jalan mengobatinya talah jalan demokrasi, dan bukan misalnya jalan fascisme atau jalan feudalisme. Janganlah jalan-mengobati sesuatu badan yang sakit: diutamakan di atas badan yang sakit itu. Janganlah obat diebih pentingkan dari pada tubuh. Janganlah badan yang sakit itu dikorbankan kepada jalan mengobatinya itu.
Menjadi, saudara-saudara, kesimputan kita ialah: marilah kita benar-benar suci bersatu, marilah kita sama-sama mengutamakan Negara. marilah kita bekerja konstruktif dalam arti benar-benar melaksankan Pembangunan Nasional.
Marilah kita “sepi hing pamrih, rame hing gawe”, marilah kita mensulat kepada keikhlasan pemimpin-pemimpin dan perjoangan-perjoangan kita yang telah mangkat,—keikhlasan yang begitu indah meryinari Kebangunan Nasional yang malam ini kita peringati ber- sama-sama. Akh, saudara-saudara, aku pernah melawat Cokroaminoto dalam gubukriya-miskin di Kedungjati, aku pernah meguru kepada Setiabuddi waktu beliau berdagang telur-ayam di Selatan Bandung, aku pernah mendunyungi mereka dalam keadaan sakit di dalam penjara, aku pernah berkorrespondensi bertahun-bertahun dengan Cipto Mangunkusumo di tempat pembuangannya di pulau Banda, aku pernah bergaul dengan Mas Maru di rumah-nya kecil di kampung Keprabon Solo, aku pernah menerima surat dari dua pemimpin kita yang hendak menyalani hukuman mati, aku pernah melihat penderitaannya ber-puluh-puluh pemimpin-pemimpin lain besar dan kecil,—pemimpin-pemimpin yang kadang-kadang tidak mempunyai apa-apa mclainkan sedikit pakaian yang menutuci tubuhnya belaka,—akh, saudara-saudara, siapa dari kita sekarang yang seikhlas mereka itu? En tokh, saudara-saudara, mereka yang melarat dan menderita itulah arsitek-arsiteknya Kebangunan Nasional kita yang telah lampau, mereka dus arsitek-arsiteknya Kemerdekaan kita di zaman sekarang. Mercka yang kecil-kecil tubuh itu adalah raksasa-raksasa keikhlasan, dan oleh karena itulah mereka raksasa-raksasa pembinaan. Tundukkanlah kepala kita terhadap keikhlasan mereka itu, dan tundukkan pula kepala kita terhadap keikhlasannuya semua pejoang¹ kita yang telah gugur di padang perjoangan. Tundukkanlah kepala kita, dalam arti menyedari ciacad-ciacad kita sendiri, dan dalam arti hendak mentaulad dan mencontoh keikhlasan-budi mereka itu.
Ya, mereka orang-orang yang besar, sebagaimana di dalam sejarah-nya bangsa-bangsa yang besar selalu adalah orang-orang yang besar. Mercka orang-orang yang besar, tetapi sungguh-sungguhun begitu, lebih besar lagi daripada mereka adalah Idee, Ciia-Ciia, yang bersemayam di dalam merekapunya kalbu. Idee itulah yang memberi tenaga kepada mereka untuk berkorban, untuk tetap bersenyum meski menderita kemiskinan, tetap bersenyum meski meringkuk di dalam penjara atau di alam pembuangan, tetap bersenyum meski menghadapi tiang-penggantungan. Idee itulah Wahyu Cakraringrat mereka, dan meski mereka telah mati, Idee itulah tidak mati, Idee itulah terus hidup, Idee itulah malah mewahyui kita puia di zaman sekarang. Idee itulah Mata-ainnya Sungai Kebangunan Nasional, yang kini telah mengalir 44 tahun.
Maka,—mengalirlah Sungai itu terus! Mengalirlah ta‘ tertahan! Panta Rei! Ke lautan terlaksananya Cita-Cita! Mengalirlah ia terus, dengan kita di dalamnya, dengan generasi yang akan datang pun di dalamnya, mengalirlah ia terus, ke Lautan Besar,—Lautan Besarnya keagungan bangsa, Lautan Besarnya kesentausaan negara, Lautan Besarnya kesejahteraan masyarakat, Lautan Besarnya kebahagiaan kemanusiaan. Mengalirlah ia terus—terus—, karena setia kepada Asalnya Sebagai kukatakan di Surabaya tempohari: “Door de zee op te zoeken, is de rivier trouw aan haar b-on”. Dengan mengalirlanya ke lautan, sungai setia kepada sumbernya! Moga-Moga Tuhan memberkatinya!
Sekian!
Terimakasih!
Merdeka!
INTI PIDATO BUNG KARNO
Galanglah Persatuan Nasional!
Kita harus menyusun makhtspolitik!
Dalam pidato yang diucapkan pada upacara hari 40 tahun kebangunan Nasional, Presiden Sukarno menurut Harian Nasional di Yogya antara lain menganjurkan supaya segera dibentuk suatu panica yang akan menyiapkan pembuatan (barang milik nasional) yang besar, misainya gedong rakyat, stadion, bibliothec dan lain-lain.
Juga dianjurkan supaya setiap 10 tahun Hari Nasional ini diperingati secara besar-besaran I lebih jauh Presiden menyatakan, bahwa dalam 40 tahun ini kita mengalami jatuh dan bangun, serta beberapa kekalahan, tetapi garis besarnya pada umumnya ialah terus naik, karena tiap kekalahan selalu kita pergunakan untuk mengambil pelajaran dari padanya.
Dikatakannya, tidaklah benar kalau orang menganggap pergerakan kebangsaan kita ini sebagai suatu pergerakan yang berdiri sendiri, terlepas dari kebangunan Asia umum.
Kebangkitan itu adalah suatu peristiwa dalam proses revolusi kemerdekaan seluruh bangsa-bangsa jajan, suatu cincin dalam rantai revolusi kemerdekaan seluruh bangsa-bangsa jajan (taklukan).
Ia adalah historis-revolutionair, bukan bikinan suatu hukum konstitutioneel bukan pula bikinan suatu instantie di luar negeri.
Banyak pemimpin-pemimpin kita telah wafat, tetapi idee kita terus hidup. Sebaliknya apakah evolusi idee itu pada pihak Belanda?
Sayang sekali tidak, kata Bung Karno.
Memang pada hakekatnya imperialisme adalah saudara kandung dari pada fasisme. Di dalam 40 tahun itu di pihak kita tunbuhlah cita-cita demokrasi, tetapi berbarengan dengan itu banyaklah jumlah pemimpin-pemimpin kita yang dilemparkan ke dalam penjara atau dalam pengasingan. Kita makin lama makin menciintai idee kemerdekaan, fihak sana makin lama makin menjauhi, kita menaik mereka menurun.
Presiden kemudian menerangkan, bahwa di tahun seribu sembilan ratus dua puluh sembilan sudah terang bagi kita bahwa perang Pasifik akan pecah yang akan menyérét imperialisme Belanda di dalam hamuknya taufan prahara peperangan itu. (Ini ramalan Bung Karno pada th. 1929 KHD.).
Pada waktu itu kita juga tahu: kalau imperialisme Belanda sudah remuk, maka itu adalah suatu situatie revolusionair yang baik untuk melepaskan Indonésia dari imperialisme itu.
Pada saat demikianlah mulai sejarah yang paling baru. yaitu sejarahnya Republik.
Meski “Renville” telah ditanda tangani, ikhtiar untuk mere-mukkan Republik dengan jalan lain beriaku terus menerus.
Bahaya tetap mengancam Republik dari segala penjuru. Tetapi kita tidak perlu khawatir, akhirnya insya Allah—kita-lah yang akan menang, asal kita memenuhi beberapa syarat yang perlu untuk kemenangan itu. Kemudian Presiden menguraikan ikhitisar sejarah pergerakan Indonesia sejak tahun 1908.
Dapatkah partai-partai di dalam bentuknya yang dulu itu membawa rakyat Indonesia kepada kemerdekaan yang kekal dan abadi?
Jawabnya: Tidak!
Sebabnya ialah partai-partai itu semuanya satu persatu menderita kekurangan-kekurangan. Misalnya, partai Komunis indonesia dan Serikat Rakyat dalam bentuk dan politiknya yang dulu tidak bisa mencapai Indonesia merdeka, karena politik mereka membuat suatu kesalahan fundamenteel, yaitu “mau dengan sekaligus mengadakan revolusi sosial dengan melompat “revolusi Nasional”.
Partai Nasional Indonesia dulu tidak akan bisa menyapai Indonesia Merdeka, karena ia terlalu memandang perjuangan Rakyat Indonesia sebagai suatu perjuangan Nasional tersendiri, dan kurang memperhatikan kedudukan perjuangan bangsa Indonesia sebagai suatu bahagian dari Revolusi Besar Internasional.
Kita sekarang telah merdeka, sudah mempunyai Republik, tetapi Republik kita sekarang lebih kecil dan malahan hendak dipepeskan orang sama sekali. Kalau kita tidak memperhatikan pengalaman-pengalaman sejarah dan tidak memberi bentuk dan politik yang benar kepada perjuangan kita, maka kemerdekaan itu mungkin terbang ke awang-awang.
“Apakah yang harus kita perhatikan?”
Periama: Kita harus menyusun suatu makhtspolitik; artinya di belakang adilnya tuntutan kita, haruslah berdiri kekuatan rieel yang sebesar-besarnya. Karena itu peliharalah bergeloranya masa, dinamiknya masa. Perjuiangan politik zonder masa adalah perjuangan jendral zonder tentara.
Kedua: Kita harus menggalang persatuan.
Janganlah persatuan Nasional itu dipecahkan oleh pertentangan-pertentangan kelas, janganlah menjalankan klassenstriyd, tetapi humpulah semua tenaga, yang anti imperialisme itu. Ingatlah bahwa kita sekarang sedang dalam revolusi Nasional.
Meskipun Republik sekarang lebih kecil badannya dari pada dulu, janganlah ia lebih kecil di dalam hatinya.
Tetaplah hendaknya ia jadi modal perjuangan seluruh Indonesia. Kemudian Presiden menegaskan bahwa kita ini tidak anti Belanda, tetapi hanya anti imperialisme dan anti exploitative.
Presiden bertanya kepada Belanda: “Kenapa tidak mengambil sikap yang royal, merelakan kita benar-benar merdeka dan kemudian mengadakan kerja sama antara Nederland Merdeka dan Indonesia Merdeka?
Buat apa koloniale verhouding, meski dengan cara tertutup-pun, masih diulur-ulur?.
“Tiada suatu bangsa yang cukuo baik untuk memerintah bangsa lain”, kata Lincoln.
Kepada kaum buruh Belanda Bung Karno menyampaikan peringatan Marx: “Rakyat yang menindas rakyat lain tidak bisa merdeka”. Kemerdekaan tak dapat dibagi-bagi.
Dunia tak dapat aman dengan separoh dunia dalam keadaan merdeka dan separoh dalam keadaan penjajaahan. Akhirnya Bung Karno menfiringutkan bahwa susunan organisasi apa pun akan menjadi barang mati dalam tangan manusia kalau tidak ada idee yang hidup didalamnia. Jangaln kita, terutama para pemimpin, berhenti ideenya. Idee kita itu harus diévolusi-kan dari idee “partai” ke idee “negara”.
Kalau pemimpin berhenti, maka itu berarti mendurhakai rakyat jelata, mendurhakai massa. Sebab massa tidak pernah berhenti, massa selalu berdiyalan. Kejarlah terus Persatuan Nasional dan Kemerdekaan Nasional, dirikanlah kesejahteraan Rakyat. Dengan ingat kepada Tuhan kita yakin bahwa kita akan menang!
PERINGATAN 20 MEI DI ZAMAN PENDUDUKAN
Disiarkan di seluruh Indonesia oleh K.H. Dewantara dengan tenaga para anggauta P.P.I. di Yogyakarta.
Tepat 1 tahun yang lalu, kita—rakyat seluruh Indonesia—memperingati hari 20 Mei sebagai “Hari Kebangunan Nasional”. Berdirinya perhimpunan nasional yang pertama, ya'ni “Budi Utomo”, pada hari 20 Mei 1908, terbukti menjadi isyarat atau tenaga kebangunan bangsa kita Indonesia. Beberapa dan pelbagai perhimpunan, baik yang bersifat kultureel dan sosial, Maupun yang berdasarkan agama, politik dan ekonomi, segera menyusul berdiri di tengah-tengah masyarakat kita di-segenap daerah-daerah tanah-air kita.
Bahwa perayaan peringatan pada tahun yang lalu itu dapat kita laksanakan bersama secara besar-besaran, dengan ikut sertanya semua golongan politik, agama, kebudayaan, kemasyarakatan, keekonomian, pendidikan, kepanduan, pemuda, keputerian dll. membuktikan adanya kesatuan jiwa nasional dalam dada sekalian pemimpin rakyat kita. Untuk memupuk dan membintbing, memelihira dan mengembangkan kesatuan jiwa itu, menuju ke-arah keselamatan dan kebahagiaan rakyat kita, kesejahteraan dan keluhuran Nusa dan Bangsa kita sewutuhnya, maka se-tabun yang lalu kita berjanji, akan memperingati Hari Kebangunan Nasional kita itu untuk seterusnya.
Tahun ini, keadaan dan suasana tidak membolehkan, kita bersama memperingati Hari Kebangunan Nasional 20 Mei itu secara besar-besaren, secara umum, secara demonstratif. Cukuplah kirany“ apabila kita masing-masing di rumah kita sendiri, dalam suasana tenteram dapat mengheningkan cipta, bersyukur terhadap Tuhan yang Maha-Esa, serta berterima kasih kepada sekalian, yang mu- lai 20 Mei 1908 hingga kini dengan giat telah berjoang dalam lapangannya masing-masing, dengan ikhlas mengorbankan hidupnya untuk kemajuan dan kemuliaan Nusa. Bangsa dan Rakyat Indonesia. Semoga Tuhan melimpahkan al-ugerah-Nya kepada mereka semua itu, baik yang kini masih ada di-tengah-tengah kita, Maupun yang telah mendahului kita meninggalkan dunia yang sana ini.
Selain itu maka dalam kita memperingati Hari Kebangunan Nasional kita itu, perlulah kita semua berjanji, akan meneruskan perjoangan rakyat kita se-umumnya, yang dengan segala keinsyafan kita tujukan ke-arrah keselamatan dan kebahagiaan rakyat, dalam arti yang seluas-luasnya, sedalam-dalamnya dan seluhur-luhurnya.
Kini kita menghadapi status kemerdekaan Nusa dan Bangsa kita Indonesia seluruhnya, tidak sebagai cita-cita, tidak sebagai perjoangan, pun tidak sebagai “hadiah” bangsa lain, karena untuk itu kita telah berjoang dan berkorban selama 41 tahun. Status Kemerdekaan kita, yang sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 telah kita nyatakan bersama untuk seluruh Indonesia, kini mungkin segera akan diresmikan, disyahkan serta diakui oleh Nederland, di-muka mata dunia Internasional.
Marilah kita semua menyongsong saat yang mulia itu. Marilah kita seluruh rakyat menjaga. jangan sampai datangnya kemer-dekaan. yang sempurna dan ta‘ bersyurat itu, terhalang di-tengah-tengah jalan. Marilah kita bersiap-siag dan bersedia, untuk membuktikan kepada seluruh dunia, bahwa kita sanggup dan mampu untuk mewujudkan hidup merdeka yang wutuh dan sempurna, dalam arti yang seluas-luasnya dan sebaik-baiknya, sebagai bangsa yang hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain se-dunia raya!
Sebagai penutup kata, perkenankanlah di sini saya mengutangi apa yang selalu saya naskhatkan kepada sekalian, yang berjoang untuk kemerdekaan:
- Merdeka tidak hanya berarti bebas dari perintah paksaan orang lain, tetapi berarti pula siap-sedia, sungguh serta mampu untuk mewujudkan hidup sendiri lahir dan batin dengan kekuatan sendiri.
- Merdeka menuntut tertib serta damai-nya hidup lahir dan batin yang diatur sendiri itu, sesuai dengan adab perikemanusiaan.
- Merdeka memberi kewajiiban menghormati kemerdekaan orang lain, serta kesanggupan untuk mewuyudkan keselamatan dan kebahagiaan bersama.
- Merdeka memberi pula kewajiiban, untuk siap-sedia, sanggup dan mampu memelihara dan mempertahankan kemerdekaan itu, baik untuk lingkungannya sendiri, Maupun untuk lingkungan bersama.
- Merdeka sejati hanya dapat sehat, kuat dan abadi, bila timbul dari jiwa merdeka, dalam arti yang suci dan murni.
Sekianlah sekedar nasehat dari saya, atas permintaan saudara-saudara puteri, yang menyelenggarakan peringatan Hari Kebangunan Nasional tahun ini di Yogyakarta. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi rakyat kita seluruh Indonesia, yang ta‘ lama lagi pasti akan dapat pungut serta merasakan buah perjoangan kita bersama, mulai hari 20 Mei 1908 sampai sekarang.
Yogyakarta, 20 Mei 1949.
KI HAJAR DEWANTARA.
IKHTISAR PERJUANGAN
IKHTISAR SEJARAH SINGKAT
Hari 20 Mei 1908 adalah hari berdirinya “Budi Utomo”, suatu badan perhimpunan, yang untuk pertama kali didirikan oleh bangsa kita di Jawa dan Madura secara modern. “Budi Utomo”, disingkat menjadi B.U., mempunyai maksud yang modern pula, yaitu mempertahunkan segala kepentingan hidup dan penghidupan dalam arti yang se-luas3nya, yaitu kulturil dan sosial. Adapun tunjuannya ialah: mempertinggi derajat kebangsaan kita. Demikian maksud dan tujuan B.U. menurut statutennya, dalam mana digunakan istilah: “een waardig volksbestaan”.
B.U. lahir pada tg. 20 Mei 1908 di Jakarta, sebagai buah usaha para pelajar di Stovia, yaitu Perguruan Tinggi Ketabiban pada jaman itu. Yang mendirikan adalah marhum dr. Sutomo, marhum dr. Gunawan Mangunkusumo (waktu itu ke-duanya masih student) serta pelajar-pelajar lainnya. Pelajar-Pelajar dari sekolah-sekolah menengah (Landbouwskhool dan Veeartsenskhool di Bogor, semua Osvia di seluruh Jawa, juga Kweekskhool-Kweekskhool, H.B.S. dll.) menyambut berdirinya B.U. dengan gembira; mereka segera mendirikan cabang-cabang di tempatnya masing-masing.
Berkat kebijaksanaan dr. Sutomo cs., yang menghendaki B.U. menjadi perhimpunan nasional, yang umum dan secara besar2an, untuk mana pemuda-pemuda kita di Jakarta itu mencari hubungan dengan pemimpin-pemimpin tua, dan sanggup menyerahkan pimpinan dan organisasinya kepada golongan tua, maka B.U. yang waktu itu menamakan dirinya dengan sebutan “Badan sementara” (provisoriskh likhaam), tidak bersifat “yeugdvereeniging” atau perhimpunan pemuda, tetapi terus tumbuh sebagai badan perhimpunan nasional umum.
Sifat B.U. yang “sementara” itu sungguh-sungguh “nasionalistis” dan “revolusioner” dan ini dapat dinengerti, bila kita mengingati tingatan kecerdasan para maha-siswa kita di Stovia, yang waktu itu merupakan perguruan bagi bangsa kita yang paling tinggi.
Pada jaman itu sebelumnya dipelbagai kalangan di seluruh Jawa dan Madura sudah nampak tanda-tanda kebangunan nasional; teristimewa di Yogyakarta dan Surakarta. Misalnya di Yogya ada suatu golongan orang-orang terkemuka, yang sibuk berusaha menyapkan berdirinya “Studiefonds”. Diantaranya yang patut disebut yaitu: marhum Pangeran Notodirojo, marhum R. Dwiyosewoyo, marhum Mas Budiarjo, marhum R. Sosrosugondo dan lain-lain, sedangkan pusat dari gerombolan itu bukan lain ialah M. Ng. Sudirohusodo alias Dokter Wahidin. Untuk mempropagandakan berdirinya Studiefonds tadi, pada tahun 1906 dr. Wahidin mengellungi seluruh Jawa, guna menarik perhatian para bupati dan orang-orang terkemuka. Inilah sebabnya ada hubungan antara beliau dengan Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo c.s. Dr. Wahidin sanggup ”mengoper” gerakan nasional yang dimulaikan para pemuda tadi, dan begituolah B.U. menjadi perhimpunan besar dan umum, berdasarkan “nasional” dan menuyu ke-arah ”kemuliaan bangsa”; diciptakan oleh pemuda, dioper oleh kaum tua, lalu diselenggarakan bersama.
Kongres para pemimpin, yang diadakan di Yogyakarta pada bulan-liburan Puasa tahun 1908, yang waktu itu disebut “Eerste Yong-Yavanencongres”, sangat menarik perhatian umum. Bersuana kaum tua dan kaum muda menimbulkan banyak pertentangan faham, sikap dan laku. Para pemuda dapat bantuan penuh dari beberapa kaum ”setengah-tua” (diantaranya: marhum dr. Cipto Mangunkusumo, Sutozo Wonoboyo, Sumarsono alias “Ki Cokrodirjo” d.l.l. yang tidak kalah ber-kobar-kobarnya semangat dengan para pemuda). Hasil dari pada pertentangan antara golongan ”revolusioner nasionalis” dengan kaum “kon-servatif” ialah terbentuknya pengurus besar pertama yang bercorak ”konsili”, sedangkan budi-Utomo, untuk seterusnya tetap bersifat “kulturil-nasional” dengan penuh ”politieke ten- denzen“. Berhubung dengan hebatnya pertentangan antara tua dan muda, maka marhum dr. Wahidin (saat itu beliau menangis) menolak, ketika dipilih menjadi li ketua. ”Saya akan bekerya, tidak sanggup memimpin“, ta beliau. Tetapi kemudian beliau toh menerima kedudukan wakil-ketua; yang menjadi pemimpin pertama ialah marhum bupati Karanganyar Tirtokusumo.
(Baik di sini diperingati adanya opposisi yang sangat hebat pada Kongres yang ke-2, tahun 1909, di Yogyakarta juga, yang menuntut turunnya Pengurus Besar; dari kaum-tua hanya dr. Wahidin yang dipertahankan oleh sayap-muda. Sebagai ketua baru, dipilih marhum Pangeran Notodirjo dari Pakualaman, yang sudah lama ber-sama-sama dengan dr. Wahidin melakukan persiapan untuk berdirinya “Studiefonds” dan kemudian berdirinya “Neutrale Skhoolvereeniging”. Salah satu sebab yang menimbulkan opposisi yang hebat itu, ialah karena pemerintah kolonial dapat berhasil menyelundupi gerakan nasional B.U.).
Mengingati peristiwa-peristiwa tadi sungguh perlu bagi kita untuk da-nat mengerti, apa sebabnya makin lama makin banyak kaum “revolusioner” meninggalkan organisasi B.U., lalu menggabungkan diri pada perhimpunan-perhimpunan baru yang kemudian menyusul, yaitu “Sarikat Islam” dan Indiskhe Partiy“; atau berjoang sendirian selaku ”wilde politici“ (politicus bebas). Kaum-tua dan setengah-tua. yang berhaluan ”kiri“ dan masih terus berjoang dalam kalangan B.U., ada puya; misalnya K.R.M.T.H. Wuryaningrat, R.M. Sutatmo Suryokusumo, R.M. Sutopo Wonoboyo, R. Sumarsono Cokrodirjo. dan masih banyak lain2nya.
Sesudah kita tahu, bahwa Budi-Utomo sebagai organisasi secara modern yang pertama, sudah bercorak politik (Meskipun sifatnya kulturil). lagi pula menjadi pangkalun pertamu dari pada calon-calon pemimpin nasionalis-revolusioner, maka tepat atau dapat diterimalah, apabila saat berdirinya B.U. pada hari 20 Mei 1908 itu kini dianggap “hari nasional”. Malah sudah pada tahun 1918, ulang-tahun B.U. yang ke-10, olkh studenten kita yang ada di Nederland dirayakan sebagai “hari nasional” juga. Ketua Panica adalah marhum dr. Tumbelaka yang waktu itu tinggal di negeri Belanda untuk menyiapkan diri sebagai ”specialist” dalam il 1 penyakit urat-syaraf.
Meskipun B.U. itu bersifat “Yong-Yavanenbond” (perhimpunan Jawa-muda) namun ta’ boleh disebut ”provincialistis”. Jaman itu belum ada bentuk kebangsaan Indonesia wutuh, nama “Indonesia” pun belum dipakai, namun rasa-satu, rasa se-hangsia benarnya sudah ada. Ini terbukti dengan adanya hubungan yang sangat baik antara B.U. dengan perhimpunan-perhimpunan di-daerah-daerah di seluruh kepulauan Indonesia. yang kemudian menyusul. Menurut statutennya bahkan boleh B.U. menerima orang-orang sebagai anggauta, yang berasal dari Maluku, Sulawesi, Bali, Borneo, Sumatera dll. (Bukankah hingga kini masih ada perhimpunan-perhimpunan ”Pasundan”. Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Ketiil, Pemuda Indonesia Maluku, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi dll. sebagainya?). Bukti yang nyala tentang sifat B.U. yang tidak provincialistis itu ialah berfusinya B.U. dengan P.B.I. menjadi “Parindra”. Sesudah nama ”Indonesia” disyahikan oleh rakyat, maka dengan dipelopori oleh pemuda-pemuda kita, yang pada tahun 1929 bersumpah satu Negara, satu Bangsa, satu Bahasa”, dan melebur “Yong-Yava”, ”Yong-Ambon”, “Yong-Sumatranenbond” dll. sebagainya menjadi ”Indonesia Muda”. Mulai saat itulah bentuk-bentuk kedaerahan baru dapat ditinggalkan.
Sesudah B.U. lahir, maka rakyat nampak mulai bangun dan sadar. Banyak perkumpulan-perkumpulan didirikan, baik yang bercorak agama, Maupun sosial, ekonomi, kesenian, pendidikan, yournalistiek, olah raga, dll. sebagainya. Begitu juga rakyat mulai memberanikan diri untu mendirikan badan-badan perekonomian, seperti perseroan-perseroan dagang, tanggung-jiwa, creditbank, tabungan, pertanian dll. sebagainya.
Tahun 1911; inilah tahun yang istimewa. Pada tahun itu timbul gerakan baru yang ingin mewuyudkan cita-cita politik. Marhum Umar Said Cokroaminoto yang berjiwa nasionalis-islam-revolusioner, sesudah bertemu dengan Haji Samanhudi
(yang waktu itu mempunyai perserikatan dagang, yang bernama “Sarikat Dagang Islam”, dan mempunyai ciarak Islam dan revolusioner juga) dapat membentuk badan baru, yaitu “Sarikat Islam”, yang dalam waktu yan pendek saja dapat mengumpulkan anggauta-anggauta sejumlah setengah juta orang. Pemerintah kolonial sangat gelisah. Di samping penyelundupan atau “infiltrasi” biasa, pemerintah kolonial mengirimkan dr. A. Rinkes-nya (pembantu adviseur voor inlandskhe zaken) ke dalam lingkungan S.I. (Sarikat Islam). Kclak S.I. hanya dibolehkan berdiri setempat-setempat lokal), yang tidak boleh saling berhubungan secara “organisatoris”. Cokroaminoto cs. (pemimpin-pemimpin lainnya misalnya H.A. Salim, Suryopranoto, Abdul Muis, marhum Sangaji, marhum H. Fakhrudin, H. Samanhudi, marhum Sosrokardono dan banyak lain-lainnya), tak dapat digertak begitu saja. Mereka lalu mendirikan perhimpunan baru yaitu C.S.I. berarti “Centrale Serikat Islam”, dan yang menjadi anggauta-anggautanya ialah semua S.I. lokal. Pada waktu itu “Sarikat Islam” belum terus terang berwujud “partai politik”; sifatnya ialah ke-agamaan, ke-ekonomian, dan ke-sosialan, yang berciarak politik dan revolusioner.
Pada tahun 1912 lahir “Indiskhe Partiy” (terkenal dengan singkatannya “I.P.”). yang didirikan oleh marhum E.F.E. Douwes Dekker, yang di zaman “Indonesia-Merdeka” terkenal dengan namanya: Dr. Danu Dirjo Secabudj. I.P. adalah partai politik yang pertama, yang didirikan se-mata-mata sebagai “partai politik”. Cita-Cita I.P. ialah: Indonesia merdeka dan ber-aaulut, kewarga-negaraan secara modern (tak mengingati asal kebangsaan apa, asalkan mengakui Indonesia sebagai negara dan kebangsaannya), demokratis............... pendek kata seperti sifat serta bentuk negara kesatuan kita “Republik Indonesia” sekarang. Pada 18 Agustus 1913 tiga orang pemimpin I.P., yaitu Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat di-interneer, ber-turut-turut ke Timor Kupang, Banda Neira dan Bangka. Akan tetapi mereka dibolehkan meninggalkan tanah-airnya, jadi secara “extermeering” manusuka. Di sinilah teryadi peristiwa yang sangat mengharukan. Anggauta-Anggauta Budi-Utomo dan Sarikat Islam, menganggap korban-korban yang pertama (sejak 1908) itu, sebagai pengorbanan mereka sendiri. Segera mereka mengumpulkan uang untuk memungkinkan “tiga-serangkai-1‘ ” (driemanskhap I.P.) itu menghindarkan “interneering”-nya lan pergi keluar-negeri, agar di sana mereka nanti dapat meneruskan aksinyia ke arah kemerdekaan Indonesia. Begitulah DD., Cipl dan Suwardi dengan segenap keluarganya tg. 6 September 1913 dapat berangkat dari Tan-jung Priuk, menuju ke Nederland.
Yang menjadi sebab pemerintah kolonial menggunakan “exorbitanterekht”-nya ialah karena Suwardi Suryaningrat menulis brosurnya “Als ik eens Nederlander was!”¹ untuk memprotes akan diadakannya perayaan Kemerdekaan Nederland 100 tahun (dari penindasan Perancis dalam zaman Napoleon pada tahun 1813). Untuk perayaan itu rakyat sampai di-desa-desa, diharuskan mengumpulkan uang guna membiyai “onaf-hankeliykfeesten” Belanda itu. Sambil berprotes Panica Nasional yang didirikan oleh S. Suryaningrat di Bandung itu, menuntut adanya Parlement.
“Indiskhe Parc” kemudian dilarang, lalu semua anggautanya masuk ke dalam organisasi yang telah mempunyai hak “rekhts-persoon”, yaitu “Insulinde”, tetapi hanya untuk sementara, karena “Insulinde” bukan badan politik. Setelah dr. Cipto dibolehkan pulang kembali pada tahun 1914 (karena sakit), maka dibentuk organisasi baru dengan nama N.I.P. (Nasional Indiskhe Partiy), partai mana pada tahun 1922 dilarang lagi oleh pemerintah kolonial. Pucuk pimpinan N.I.P. memutus:
- tidak mendirikan partai baru;
- menganjurkan sekalian anggotanya memasuki suatu partai kepunyaan rakyat yang ada (B.O., S.I., P.K.I., dll.), atau pada umumnya melakukan usaha atau berjuang yang bersifat nasional.
Cipto terus berjoang dalam lapangan politik secara bebas serta meneruskan penerbitannya harian dalam bahasa Jawa “Panggugah” di Solo; DD. mcndirikan “Ksatryan-instituutnya” di Bandung dan Suwardi Suryaningrat “Taman-Siswa”-nya di Yogyakarta.
Sesudah B.U., S.I. dan I.P., sebagai organisasi-organisasi yang pokok, melakukan perjoangan yang pertama, menyusul lambat laun kesedaran serta keinsyafan, yang menieh bkan timbulinya “differensiasi”.
Para pemuda mendirikan organisasi-organisasi umum: “Tri-Koro-Darmo” di Jawa, yang kelak menjadi “Yong-Yava”; menyusul “Yong Sumatranenbond”, lalu “Yong-Ambon”, tak ketinggalan “Yong-Islamietenbond” dll., yang pada tahun 1929 berfusi menjadi “Indonesia Muda”. Juga kepanduan tumbuh dengan subur. Meskipun ada yang menyeburkan diri dalam N.I.P.V. (Nederlandskh Indiskhe Padvinders Vereeniging) namun kebanyakan ingin mempunyai organisasi kepanduan sendiri yang berjiwa nasional. Berdirilah I.N.P.O. (Indonesiskh Nationale Padvindersorganisasie) yang didirikan antaranya oleh Sdr. Usman Sastroamijoyo (Mr. Usman kini pegang yabatan penting dalam Kementerian Luar-negeri); kemudian timbul K.B.I. (Kepanduan Bangsa Indonesia); S.I.A.P. (S.I. Afdeling Pandu); Kepanduan Katholik dll.
Perhimpunan-Perhimpunan sosial senantiasa pesat kemajuannya. Yang berdasar agama adalah misalnya “Muhammadiyah” dengan “Aisiyah”-nya di bawah pimpinan marhum Kyai H. Ahmad Dahlan dan marhum Nyai Dahlan; akhirnya disusul oleh berbagai perhimpunan Islam lain-lainnya. Semuanya mempunyai bagian usaha perguruan. Dalam soal usaha pendidikan yang berdasar kebudayaan bangsa yang paling terkenal ialah Taman Siswa dengan sistimnya pendidikan dan organisasi yang istimewa, didirikan, pada 3 Yuli 1922 di Yogyakarta oleh Suwardi Suryaningrat, yang sejak ia berusia 40 tahun berganti nama Ki Hajar Dewantoro. Usaha-Usaha perguruan lain-lainnya ada pula, diantaranya “Adhi-Darmo”, “Neutrale Skhoolvereeniging”, “Islamiyah” dan banyak lagi lain-lainnya. Di Sumatera yang sangat terkenal ialah I.N.S. (Indonesiskh Nederlandse Skhool) yang didirikan oleh Mohamad Syafei di Kayutanam, dengan sistimnya pendidikan “belajar dan bekerja” (Arbeitsskhule). Selain itu ada pula perguruan-perguruan Islam, diantaranya perguruan “Adabiah” yang didirikan oleh perkumpulan “Syarikat Usaha” di Padang. Juga perguruan Islam puteri, sekolah “Diniah”, yang dipimpin oleh Encik Rahman El Yunusiah di Padang-Panjang; dan banyak lagi lainnya.
Para wanita ta‘ suka i inggalan; banyak organisasi wanita berdiri (diantaranya “W anito-Utomo” dengan pemimpinnya yang terkenal: nyonya Sukonto, Abdulkadir, Gondoatmojo dll. di Yogyakarta); “Isteri Sedar”, dipimpin oleh Nyonya Suwarni Pringgogidgo, Nyonya Sunaryati Sukemi dll. Berdiri pula “Isteri Indonesia” dan lain perhimpunan wanita di seluruh kepulauan kita. Perhimpunan itu kemudian berfederasi dalam P.P.I. (Perikatan Perempuan Indonésia) yang kemudian menjadi P.P.I.I.(Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia) yang didirikan pada tahun 1927 di Yogyakarta.
Differensiasi pergerakan rakyat kita yang paling penting ialah tumbuhnya Surikat-sarikat Buruh, yang pada umumnya dipimpin oleh kaum S.I. (Suryopranoto, Sosrokardono, Semaun, Alimin, Darsono dll.) Pada periode itu juga mulai tersebarnya benih sosialisme dengan aksinya yang hebat dan berpusat di Semarang: I.S.D.V. (Indiskhe Sociaal-democratiskhe Vereeniging) di bawah pimpinan Ir. Baars, H. Sneevliet dll. yang kemudian menjadi P.K.I. (Partai Komunis Indonésia) dengan S.R. (Sarikat Rakyat) sebagai “onderbouw”-nya (lapisan bawah).
Berhubung dengan timbulnya perselisihan dan perpecahan maka sementara kali dilakukan usaha untuk mempersatukan tenaga, yang dianggap perlu untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan rakyat. “Radicale Concentrasi” dibentuk, P.P.P.K.I. (Permufakatan Partai Politik Kebangsaan Indonésia) untuk memusatkan aksi partai-partai politik (di Surabaya).
Di Surabaya marhum dr. Sutomo c.s. mendirikan “Studieclub” yang sebenarnya adalah suatu bibit partai politik. Kemudian “Studieclub” itu menjadi P.B.I. (Persatuan Bangsa Indonesia), yang kelaknya berfusie dengan B.U. lalu menjadi “Parindra” (Partai Indonésia Raya). Partai ini mementingkan kebudayaan dan ke-ekonomian di samping politik. Di sini lah berkumpulnya pemimpin-pemimpin Wuryaningrat, Dr. Rajiman Wejodiningrat marhum, dari B.U., H.M. ‘I hamrin dari “Kaum Betawi”, marhum, Mr. Singgih, Sunjoto, Sukarjo Wir opranoto dan banyak lain-lainya.
Mereka yang merasa lebih radikal - ri pada kaum “moderate” yang masuk ke dalam “Parindra”. mendirikan partai baru yang se-mata3 mementingkan perjoangan politik. Di bawah pimpinan umum Ir. Soekarno berdirilah P.N.I. (Partai Nasional Indonésia); pemimpin-pemimpin lainnya iatih drs. Moh. Hatta, mr. Sartono, mr. Suyudi, mr. Ishak Cokroadisuryo, Syahrir, Amir Syarifuddin, mr. Moh. Yamin dll. Kemudian P.N.I. pecah menjadi dua, yaitu “Partindo” (Partai Indonésia) dan yang lain terus memakai singkatan P.N.I., tetapi lengkapnya berbunyi “Pendidikan Nasional Indonésia”: biasanya menamakan golongannya dengan nama “Pendidikan”. Ir. Soekarno, mr. Sartono, mr. Suyudi dll. masuk ke dalam “Partindo”, sedangkan Hatta. Syahrir dengan kawan-kawan-nya sefahami memilih “Pendidikan”.
Ada pula gorombolan. juga dari pecahan P.N.I. lama, yang kemudian mendirikan partai sendiri. yaitu “Gerindo” (Gerakan Rakyat Indonésia), yang dipimpin misalnya oleh mr. Amir Syarifudin, mr. Moh. Yamin, S. Mangunsarkoro dll.
Dalam keadaan yang begitu mudah dimengerti timbulnya beberapa perselisihan-perselisihan pula; pun dirasanya perlu mengadakan pemusatan tenaga. “Gappi” dibentuk (Gabungan Partai Politik Indonésia): gerakan “Indonésia Berparlement” dilakukan dsb.
Perserikatan-Perserikatan yang berusaha dalam lapangan Kebudayaan, makin lama makin tambah jumlahnya. Di-mana-mana timbul gerakan kesenian. baik yang nasional Maupun yang bersifat umum; ada yang traditioneel, ada pula yang revolusioner, misalnya gerombolan “Pujangga Baru” dengan pemimpin-pemimpin-nya mr. Sutan Takdir Alisyahbana, Armiyn Pane dll.
Patut disebutkan pula adanya gerakan“ pemuda yang merupakan masyarakat mahasiswa, sesudah di Jakarta cukup jumlah anggauta2nya. U.S.I., (Unitas Studiosorum Indonesiensis) berdiri, sedangkan kemudian mereka yang berfaham nasionalistis radikal. mendirikan P.P.P.I. (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia).
Di lapangan yournalistik terdapat pula kemajuan yang pesat. Dulu, kira-kira tahun 1892 di Yogyakarta dan Solo sudah ada surat-surat berkala di Yogya “Retnodunilah” yang dipimpin oleh marhum dr. Wahidin Sudirohusodo; di Solo “Jawi-Kondo”, “Bramartani” dll. Semuanya masih bercorak kesusasteraan. Kira-Kira pada tahun berdirinya B.U. ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tadiyamnya pena yang ia pegang. Yaitu marhum R.M. Jokomono, kemudian bernama Tirtoadisuryo, bekas murid Stovia yang waktu itu bekerya sebagai redacteur harian “Bintang Betawi” (yang kemudian bernama “Berita Betawi”), lalu memimpin redaksi “Medan Priyayi” dan “Suluh Pengadilan”. Beliau boleh disebut “pelopor” dalam lapangan yournalistik. Selangkah demi selangkah ke-wartawanan dapat kemajuan dan yang akhir-akhir ini dengan amat pesat, hingga membutuhkan..Kantor Berita“ sendiri (Amara), dan dalam saat peralihan, di sekitar 17 Agustus 1945, dapat mengusahakan suatu badan-berita secara besar-besaran, yang berhubungan langsung dengan luar-negeri.
Cukup sekianlah ikhtisar kisah pergerakan rakyat kita, dengan kemajuannya sejak berdirinya B.U. tg. 20 Mei 1908. ikhtisar mana pasti jauh dari pada lengkap, karena banyak yang tidak bersandar “dokumentasi”. hanya berupa kenang-kenangan dari satu orang saja. Hendaknya para pemimpin-pemimpin tua lainnya, suka melengkapkan kisah-kisah tadi, teristimewa yang berhubungan dengan lingkungan-lingkungan mereka masing-masing.
Karena pergerakan rakyat kita sejak 20 Mei 1908 itu menuyu ke arah kemerdekaan nusa dan bangsa Indonésia, maka sebenarnya pada hari 17 Agustus 1945 sudah selesaiatlah pergerakan itu. Tujuan yang terakhir sudah tercapai. Ini tidak berarti selewinya “perjuangan”. Pertama kali haruslah diingati, bahwa untuk membangun negara kita, yang baru berdiri dan dalam segala hal masih dalam keadaan sangat sederhana itu, memerlukan perjuangan. Kedua kalinya tak sekali-kali boleh dilupakan, bahwa penjajan yang tidak kurang dari 3½ abad lamanya itu, tidak mungkin dapat musnah sekaligus, hanya dengan “proklamasi” saja. Sisa-sisa keadaan dan tenaga kolonial, sisa jiwa dan suasana penjajar barang tentu masih ada; baik karena kekuasaan tradisi, mau, karena dengan sengaja dan mungkin dengan siasat yang tertu. Nederland tidak akan menyerahkan kedudukannya sebagai “pemilik” Indonésia yang kaya raya itu dengan suka-rela, dengan ikhlas dan ridla. Boleh dipastikan, Belanda akan mempertahankan kedudukannya itu dengan mati-matian, mungkin dengan bantuan dari negara Barat lainnya, yang banyak sedikit akan ikut tanggung r'ngi. Untuk menghadapi itu semua, perlulah pula rakyat kita terus siap sedia, untuk meneruskan perjoangannya, juga secara mati-matian.
Dugaan-dugaan itu dibenarkan oleh kenyataan nyya. Jaman Linggaji datang dengan campur tangannya Luar Negeri. Terbukaialah pintu untuk kembalinya penjajahian, Sekalipun secara “semi-kolonial”. Sebagai akibat mutlak timbullah “perang kolonial” yang ke-I. Pihak Luar-Negeri merasa perlu pula untuk bercampur-tangan dan menekan dan memaksa ter-laksananya “persetujuann Renville”. Timbullah “perang-kolonial” yang ke-II. Atas putusan “Persatuan Bangsa-Bangsa” datanglah jaman K.M.B. dengan persetujuannya, yang seperti persetujuann “Linggaaji” dan “Renville”, hanya dapat disah-kan sebagai persetujuann yang berdasar “compromis”. Syukurlah Tuhan tetap terus melindungi kita. Tentara Nasional kita, ber-sama dengan para pemuda, bahkan dengan seluruh rakyat dapat merupakan “tentara-gerilia”, yang amat ditakuti oleh Belanda dan kawan nyya Luar Negeri. Segala apa yang diciptakan oleh pihak Belanda, perpecahan dan perpisahan rakyat, berdiri-nya daerah dan negara bagian di seluruh Indonésia, kemudian runtuh semua. Pada saat ini boleh dikata, bahwa Negara Kesatuan menurut proklamasi 17 Agustus dalam dasarnya sudah pulih kembali. Ini semua adalah buah daripada siap sedianya rakyat kita, untuk meneruskan perjoangannya, secara matian. Dan inilah buah pemeliharaan serta latihan semangat perjuangan, sejak 20 Mei 1908, empatpuluh empat tahun yang lampau.
Marilah pada tiap-tiap “Hari Kebangsaan Nasional” 20 Mei, kita merenungkan, pelajaran apakah kiranya yang dapat kita pungut dari pada sejarat perjoangan kita sejak 20 Mei 1908 itu. Dapatlah kiranya pei yaran itu kita simpulkan demikian:
- terbuktilah, bahwa seluruh rakyat, dalam segala lapisannya, menghendaki kemerdekaan nusa dan bangsa, lepas dari penjajaahan dari siapa pun;
- perpecahan-perpecahan yang teryadi di kalangan pergerakan kita itu pada dasarnya adalah perpisahan-perpisahan differensiasi, untuk memurnikan atau menggiatkan usaha masing-masing; janganlah diberi arti dan maksud lain;
- hasrat untuk bersatu, berhubung dengan adanya pokok-pokok kepentingan bersama yang dirasai benar-benar, selalu timbul di mana ada bahaya mengancam dari luar; hendaknya rasa-satu itu dipelihara baik;
- kekuasaan dan kekuatan pihak penjajah hanya dapat menguasai kita, selama kita berpecah belah;
- di mana ada kesatuan tekad dan laku, di situlah kita dapat mendesak dan mengalahkan musuh kita bersama;
- tetap terus adanya sis-sis penjajaahan, mengharuskan kita untuk tetap terus awas dan waspada serta siap sedia untuk berjuang;
- tetap Tuhan akan melindungi kita, selama kita melakukan perjuangan kita dengan dasar Pancasila.
Sekali merdeka, tetap merdeka!
¹ Termuat di bagian belakang, baik naskah aslinya Maupun terjemahannya.
HARI KEBANGUNAN MENJADI HARI KESATUAN
Menurut rencana semula maka Hari Kebangunan Nasional—seperti telah dijanjikan oleh Presiden Sukarno pada malam peringatan tahun 1948 di Yogyakarta—akan dirayakan tiap-tiap 10 tahun sekali. Namun dalam prakteknya ada golongan-golongan dalam masyarakat kita yang menghendaki pemulihan Hari Kebangsaaan Nasional itu saban tahun pada hari 20 Mei. Dirasai bahwa hari itu adalah “hari nasional” yang mengandung maksud memelihara kesatuan nasional. Mungkin perasaan itu timbul sebagai reaksi atas perkembangan gerakan politik, yang makin lama makin merupakan perjoangan keparahan, dalam arti menempatkan kepentingan partainya sendiri di atas kepentingan nasional yang umum. Rakyat yang mengikuti perkembangan menjadi gelisah dan makin lama makin berkurang kepercayaannya terhadap Dewan Perwakilan Rakyat-,nya”. Tiap-Tiap ada putusan yang penting di dalam Parlemen, biasanya menusul ”mosi” atau “resolusi’ dari kalangan-kalangan tertentu, yang menoia putusan Dewan Perwakilan kita yang tertinggi itu. Malahan pernah kejadian Dewan-Dewan Perwakilan di-daerah-daerah menentang putusan yang telah diambil Parlemen dengan jalan kezal dan resmi menurut Undang-Undang, yang skharusnya mengikat kita semua itu. Nampak di situ senanazat atau gelagat autokrasi diktatur, fascisme atau anarkhie timbul sebagai akibat peperangan partai politik, baik di luar Maupun di-dalam Gedung-Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Bukankah itu suatu taniparan terhadap azas Demokrasi, yang skharusnya kita laksananakan dengan melalui saluran-saluran yang berdasarkan hukum, dengan kesangguan kita untuk menerima apa yang dikehendaki sebagian terbesar dari pada rakyat, sekalin pun bertentangan dengan keinginan kita atau golongan kita sendiri.
Di dalam Parlemen sendiri banyak sudah anggota-anggota yang menginsyafi adanya “Krisis Gezag” terhadap Dewan Perwakilan Rakyat kita di Jalan Wahidin itu. Perlakuan-Perlakuan yang bersifat merendah- kan putusan-putusan Parlemen, kita lihat dan kita alami sendiri, baik berasal dari Pers yang tergolong Pers nasional, Maupun dari instansi-instansi Pemerintah, sinil dan militer. Perlakuan merendahkan anggauta-anggauta perseorangan r lemen ciara perseorangan adalah semata-semata akibat dari pada ‘urang menghormatinya status D.P.R. kita seperti tersebut tadi. Semua ini dapat dimengerti apabila kita menginsyafi, bahwa memang sesungguhnya di dalam Gedung Parlemen kita seringkali nampak lebih dipentingkannya kemenangan-kemenangan partai dari pada kewajiiban per-undang-undangan. Dengan begitu kepentingan kenegaraan nampak se-olah-olah terdesak oleh semangat kepartaian. Kita mengerti, bahwa sebenarnya bukan itulah yang dikehendaki para anggauta yang “bersemangat” tadi. namun pendirian kejiwaan mereka mau tidak mau menuntun mereka ke arah perpecahan. Terus ber-ganti-gantinya Kabinet, berganti-bergantinya Program pemerintahan sehingga tak mungkin dalam keadaan yang sedemikian dapat diperoleh Kontinuiteit, yang perlu sekali untuk membangun kemakmuran atau kesejahteraan rakyat, semua itu adalah buah dari pada pertentangan-pertentangan partai-partai. Golongan-Golongan itu biasanya tidak suka mengalah dalam so'ali-ali yang keciil-keciil; sebaliknya kerap kali menunyukkan sikap “menang-menangan”. seperti pernah diucapkan oleh Presiden Sukarno dalam uraianinya pada upacara peringatan Hari Kebangsaan Nasional 1952, pidato mana karena amat pentingnya, kita muat dalam halaman-halaman yang berikut dalam buku ini.
Banyak anggauta-anggauta Parlemen yang menginsyafi adanya Krisis terhadap Gezag Parlemen, saya katakan tadi, ini terbukti antara lain dengan dibentuknya “Bidan Permusyawaratan Partai-Partai” (B.P.P.) oleh Fraksi-Fraksi yang progresif. B.P.P. bermaksud menggalang Kesatuan antara partai-partai, agar segala kekuatan potensi dapat dipergunakan untuk memperkuat Negara kita, yang masih muda dan masih tetap terancam oleh pelbagai bahaya itu. Revolusi kita belum selesai. Kesatuan Rakyat tetap masih diprlukan. B.P.P. tidak bermaksud menghentikan perjoangan partai-partai masing-masing, sebaliknya hanya akan melakukan aksi bersama, yang telah disetujiui bulat-bulat oleh anggauta-anggautanya. B.P.P. inginkan Kontinuiteit dalam Program Pemerintah, Meskipun Kabinet iana satu diganti oleh Kabinet yang lain. Tetagi..... B.P.P. tidak dapat melakukan usahanya seperti yang dimaksud semua. karena...... karena masih kerap kali ada semangat “kepartaian” yang timbul dan meng-halangi terwujudnya kesatuan aksi.
Ada pula reaksi lain terhadap perantangan-perantangan kepartaian yang kadang-kadang melebihi batas dan biasanyi. mengakibatkan krisis Kabinet, yang ber-kali-kali itu. Yaitu timbulnya angan-angan: kembali pada sistem “Presidentiil Kabinet”, seperti pada permulaan berdirinyia Republik kita pada tanggal 17 Augustus 1945 sampai bulan November tahun itu.
Akibat lain lagi dari pada selalu timbulnya perpecahan tersebut iaalah adanya dorongan dari satu dua piliak untuk membubarkan partai-partai atau se-tidak2nya mengurangi yumlah partai-partai yang kini ada. Dalam pada itu diberikan petunyuk, agar kita meniru sistem “dua-partai” yang dipakai di Amerika misalnya (partai Liberal dan partai Demokrat), atau mengadakan sistem yang sesuai dengan keadaan kita sendiri, misalnya mewuyudkan satu partai Nasional, satu partai Sosialis dan satu partai Komunis sedangkan untuk golongan-golongan Agama masing-masing satu partai.
Tidak lengkap kiranya ikhtisar kita tentang reaksi atau akibat-akibat dari pada merajaletanya pertengkaran partai-partai dalam hidup politik rakyat kita apabila kita melupakan adanya orang-orang pemimpin pergerakan pada waktu ini, yang dengan terang-terangan mengucapkan pengharapan akan munculnya seorang pemimpin yang bertangan hesi, seperti Kemal Pasha atau Jenderal Najiib, yang dapat menindas segala kekacauan yang membahayakan tertib dan damainya masyarakat serta kesejahteraan hidup dan pengludapan rakyat kita.
Cukup sekianlah sekadar uraian yang bersifat ikhtisar tentang adanya ber-jenis-jenis reaksi terhadap bergelorania semangat kepartaian, yang mengakibatkan perpecahan dalam gerakan politik rakyat kita. Dapat dimengerti bahwa keadaan yang sedemikian sangat memudahkan masuknya daya-daya infiltrasi dari pihak3 ke-niga, yang ingin menangkap ikan dalam air yang keruh. Misalnya dengan mengadu-dombakan golongan yang satu dengan yang lain, memperuncing antithese antara suku-suku bangsa kita, menganjur- kan azas-azas federalisme dan lain-lain sebagainya. Bahwa dalam keadaan perpeyahan yang sedemikian itu tidak mungkin potensi-potensi nasional dapat berkembang mudah dapat dimengerti. Sebaliknya keadaan itu pastilah akan memberi kesempatan yang se-besar-besarnya kepada pihak musuh atau lawan kita, untuk mencampatkan rakyat kita di bawah penguasannya, baik direct Maupun indirect. Bagaimanapun juga keadaan perpeyahan di dalam masyarakat kita itu menimbulkan pelbagai bahaya yang mengantiyum; bahkan bahaya-bahaya yang sudah memimpin hidup dan penghidupan kita sebagai krisis akhlak, sebagai krisis gezag dan sebagai krisis lain-lainnya yang kini belum dapat nama atau sebutan.
Sebenarnya perpeyahan-perpeyahan yang tergambar tadi-lah, yang mendorong sebagian besar dari rakyat kita, untuk menggalang kesatuan nasional yang se-bulat-bulatnya. Bukan orang lain yang mempelopori gerakan itu, namun Bung Karno sendirilah, dalam mana beliau menggunakan hari 20 Mei, yang kemudian kita sebut “Hari Kebangunan Nasional” dan kita kenali sebagai Hari Kesatuan.
Ada baiknya di sini kita ingati, bahwa pada tahun 1948, dapat dibentuk sebuah badan “Panitia Pusat”. yang anggota-anggotanya dengan jalan pemilihan terdiri atas 7 orang, yaitu: 1. wakil ”Front Demokrasi Rakyat” sdr. Ciugito. 2. marhum sdr. A. M. Sane-Saneji sebagai wakil Partai Politik Islam “Masyumi”. 3. wakil PNI sdr. Sabilal Rasyad. 4. wakil ”Kongres Wanita Indonesia”, sdr. Nyonya A. Hilal. 5. dan 6 sdr. Tatang Mahmud dan sdr. marhum H. Benyamin. yang mewakili gerakan pemuda, sedangkan selaku ketuanya saya yang dipilih.
Menèbuh nama-nama serta kedudukannya para anggota Panitia Pusat tadi stia rasa perlu, agar dielas gambaran sifat: dari pada gerakan yang merefleksi peringatan Hari Kebangunan Nasional tsh. Waktu itu kita dapat merayakan Hari Kebangunan Nasional setiara umum dan setiara besar-besaran. Di seluruh tanah air, sampai di-pelosok-pelosok yang diduduki musuh, di-front-front dan di-kantong-kantong tentara kita. rakyat ikut merayakan hari yang mulia itu, berkat kegiatan para penyiar Radio Republik kita, yang resmi dan illegal. para “koerier” perjoangan rakyat waktu itu dan sekalian mereka, yang meneruskan instruksi-instruksi kita ke-man-man. Di samping hiburan-hiburan bagi rakyat murba, pembersihan makam-makam para korban perjoa- ngan, menghibur pahlawan-pahlawan yang sedang dirawat di rumah-di rumah sakit, mengibarkan Sang Dwi-warna dan melagukan lagu kebangsaan kita dsb. Di samping semuanya itu Panitia Pusat dapat merancangkan sebuah “Statement” atau ”pernyataan Bersama”, yang disetujui bulat-bulat oleh sekalian para./akil segenap organisasi. “Statement Bersama” setelah dibatiyakan, lalu ditanda-tangani clh para anggauta Panitia Pusat di dalam upacara peringatan yang bersifat khidmat dan resmi itu.
Yang penting ialah dapat diadakannya pernyataan semua organisasi, termasuk partai-partai politik, dalam mana kita sekalian sanggup membubalatkan tekad serta menyatukkan sikap dan tindakan guna mengatasi segala kesukaran dan bahaya yang mengancam atau sudah menimpa. Lebih dari itu sebenarnya yang kita tencanakan dan kita janjikan; kita sanggup dan berjanji pulia untuk menggunakan hari 20 Mei tahun 1948 itu sebagai permulaan aksi bersama, untuk mewuyudkan kesatuan usaha guna keselamatan dan kebahagiaan rakyat dan negara pada umumnya dan untuk seterusnya. Kita bermaksud membentuk “Front Nasional” selama masih ada bahaya, yang mengancam atau menimpa hidup dan penghidupan rakyat. Kita tidak bermaksud menghentikan atau membekukan aksi di dalam golongan kita masing-masing. sekali-sekali tidak. Kita hanya bermaksud, bersatu-padu dalam mengatasi kesukaran-kesukaran dan menentang bahaya-bahaya. yang mengancam atau menimpa kita bersama. Dalain pada itu barang tentulah kita harus berani dan berikhlas hati untuk mengorbankan kepentingan kita masing-masing, baik kepentingan golongan kita atau kepentingan diri perseorangan kita. apabila keselamatan dan kebahagiaan kita bersama, iaitu keselamatan dan kebahagiaan rakyat dan negara kita, terancam.
Gerakan rakyat mulai 20 Mei 1908 sampai 17 Augustus 1945 penuh contoh bahwa kita selalu menang apabila kita bersatu. Sebaliknya kita selalu kalah di waktu kita herpecah belah.
Sayang, scribu sayang. Pelbagai bahaya yang tadinya hanya mengancam, datanglah menyerbu dengan se-konyong-konyong…… sebelum “Front Nasional” yang kita rumuskan menjadi kenyataan. Di kalangan kita sendiri waktu itu timbul ke-ragu2an tentang sifat, bentuk dan isi kesatuan perjoangan. Sisa-Sisa perselisihan dan per- sengketaan antara golongan yang satu dan yang lain, karena tidak segera diwujudkan “Front Nasional” tadi, dapat kesempatan untuk tumbuh kembali ’ da saat datangnya bahaya, kita tidak siap. Bahaya iang satu, d usul bahaya yang lain, begitu seterus-nya. Kita tidak cukup oerdaya untuk menolaknya. Sebaliknya perpecahan nampak timbul kembali……
Hari Kebangunan Nasional di-tahun 1949 tidak dapat kita peringati secara biasa, karena waktu itu kita tidak mampu pula untuk menolak “perang kolonial” yg. ke-II. Ibu-kota R.I. diduduki musuh, seperti juga hampir seluruh daerah Republik. Sekalipun begitu di Yogyakarta ada segerombolan pemudi-pemudi P.P.I. (Perjoangan Puteri Indonesia) di bawah pimpinan saudara Sri Menteg, (sekarang nyonya Maswar di Pontianak), yang cara di bawah-tanah dapat juga melakukan peringatan hari ”20 Mei itu. Mereka menghibur para orang-tua yang ikut berdoaang pada jaman sekitar 20 Mei 1908 itu, dengan mengirimkan sekeran-jang buah2an yang dihiasi dengan bunga-bunga merah-putih beserta sajak penghormatan dan terimakasih. “Untuk penganten ’, jawab para puteri tadi kalau ditanya serdadu-serdadu peronda (patru-li) yang biasanya bersikap amat kerasnya. Selain itu mereka dapat pula menyebar siaran kilat, yang ditulis oleh Ketua Panica Pusat tahun 1948. Siaran tsb. tidak saja disebarikan di-daerah-daerah gerilya di Yogyakarta, namun juga di-kota-kota besar: Jakarta. Semarang, Surabaya d.l.l. yang dapat diselundupi oleh para puteri golongan P.P.I. tsb. Dapat di sini diperingati, bahwa ada harian-harian yang berani memuat isi siaran tsb., walauun dengan di-selubungi cara dan bentuk yang mengurangi bahaya persdelict.
Dalam tahun 1950 dan 1951 Hari Kebangunan Nasional di-peringati juea, tetapi secara terbatas. Hanya sementara golongan saja, diantaranya Pers dan Radio kita, yang memperingati hari 20 Mei itu dengan penuh semangat.
Rakyat tidak ikut, karena para pemimpinnya rupa2nya tidak menganggap perlu untuk memperingatinya. Mungkin karena mercka sibuk dengan memikirkan soal-soal politik yang penting-penting; baik di luar Maupun di dalam Parlemen. Untuk memperingati Hari Kebangunan Nasional ta’ ada perhatian rupa2nya.
Pada tahun 1952 keadaan agak lain! Di beberapa daerah, a.l. di bekas daerah “Indonesia-Timur”, li Sumatra, di beberapa tempat di Jawa, terutama di Jawa Barat orang merencana-kan peringatan hari 20 Mei secara umum, bahkan yang boleh dikata secara besar-an, misalnya di Jawa Barat. Dan di Ibu-kota Jakarta ini ada pemimpin-pemimpin golongan-golongan politik ber-siap-siap untuk mengadakan peringatan Hari Kebangunan Nasional itu; Sekalipun tidak secara besar-an namun boleh dikata secara umum. Dan...... dengan maksud yang tertentu.
Apakah gerangan yg. memberi semangat kepada rakyat, tidak2nya kenada para pemimpin pergerakan, di Sulawesi, di Jawa Barat d.l.l. daerah untuk memperingati hari 20 Mei tahun 1952 itu? Tidak usah kita berfikir-berfikir dengan panjang dan lebar. Dengan analysa yang sederhana dapatlah kiranya kita menghubung2kan adanya. semangat itu dengan adanya bahaya-bahaya yang kini merupakan bahaya-bahaya yang mengancam, bahkan ada yang sudah menimpa. Berbagai kesukaran dapat kita rasakan sendiri, dapat kita lihat dengan mata-kepala sendiri, banyak kesulitan kini sedang kita alami. Ketakutan akan datangnya perang-dunia yang ke-3, ketakutan akan merajaletanya bahaya kelapa-an, ketakutan akan terus menerus berjangkitinya penyakit ke-kacauan, kegelisahan disebabkan terus memuncaknya harga bahan-bahan penghidupan, kegelisahan tadi, terus berpecah-belohnya golongan-golongan yang dulu pernah berjanji untuk menggalang kesatuun tekad. program dan tindakan, adanya krisis akhlak yang hingga kini tak dapat dibanteras. Itulah semuanya yang menghi-langkan atau menghancurkan ketertiban dan kedamaian dalam hidup rakyat pada waktu itu. Dan...... itulah semuanya yang kira-nya menimbulkan keinginan. untuk mengadakan peringatan Hari Kebangunan Nasional pada tahun 1952 tadi.
Jangan dilupakan, bahwa sejak peringatan hari 20 Mei pada tahun 1948 itu, sebutan “Hari Kebangunan Nasional” sudah memasuki jiwa kita sebagai anjuran. sebagai “displin” yang mutlak untuk bersatu, untuk ber-cita-cita nasional, untuk menjunjung tinggi segala keluhuran dan keindahan hidup manusia, untuk mengejar terwuyudnyna keadilan sosial, untuk melaksanakan azas demokrasi dan untuk membersihkan hidup kita menurut keyakinan kebatinan kita masing-masing. Tiap-Tiap peringatan hari-hari yang dimuliakan, sebenarnya adalah adat kebiasaan di-dalam hidup manusia, cak mengalami kembali segala rasa senang Ataupun susah, yg. ertali dengan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup-diriaya, dalam hidup keluarganya, hidup bangsanya, negaranya, demikian seterusnya. Begitulah kita merayakan Hari Ke-bangunan Nasional kita, karena hari itu adalah hari lahirnya ciita-ciita kita bersama, yang penuh semangat kesucian, keadilan, kerakyatan, kebangsaan dan perikemanusiaan, serta menuntun pergerakan rakyat kita dari hari 20 Mei tahun 1908 sampai kehari 17 Augustus tahun 1945. Kita ingin merasakan kembali segala kenikmatan dan segala kesedihan pun, yang telah dialami oleh Bapak-Bapak para pejoang kita di dalam jaman yang silam itu, di mana banyak dari mereka sudah meninggalkan kita, sebelum mereka melihat sendiri buah perjoangan mereka sejak hari 20 Mei 1908 itu.
Tiap-Tiap peringatan seperti tersebut tadi sebenarnya mengandung yuga maksud (yang biasanya tak dengan disadari) untuk dapat mengenangkan segala laku dan tindakan dari mereka yang mendahului kita itu, untuk mendapat contoh-contoh dan teladan guna melakukan koreksi yg. perlu-perlu, agar perjoangan kita sekarang dapat terluput dari marabahaya dan mendekatkan kita kepada tujuan yang kita kejar.
Akhirnya tiap-tiap peringatan tadi pada umumnya—dan ini ber-laku untuk kalangan rakyat merata—ialah se-akan-akan orang meng-harap-harapkan “berkat pangestu” dari apa yang di-mulia-muliakan, agar ia dapat keselamatan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak sedikit daya pengaruh yang biasanya didapat orang sesudah minta berkat pangestu dari ye ia muliakan itu. Ia bertambah berani, bertambah tawakal, bertambah kekuatan hatin, bertambah kesucian. Hilanglah biasanya ke-ragu-raguan, kegelisahan, kecemasan, ketakutan dsb., hingga kadang-kadangan, in merup-merupkan manusia baru yang berjiwa baru.
Bandingkanlah adat tersebut dengan pandangan kebatinan, yang psykhologis pula, tentang adanya hubungan pengertian serta nilai antaranya tradisi “minta berkah” Ataupun ”bertobat (biekht) dengan apa yang disebut “konfrontasi” (ya’ni berhadapan muka) dengan ”pusat-jiwa” atau “geweten” manusia sendiri-sendiri.
PERNYATAAN BERSAMA
PERMUSYAWARATAN yang diselenggarakan oleh Paritiya Peringatan 44 × tahun Hari Kebangunan Nasional pada tanggal 18 Mei 1952 di Jakarta dan dihadiri oleh Wakil-Wakil Partai Politik, Serikat-Serikat Buruh, Organisasi-Organisasi Tani, Pemuda, Wanita, Pelajar dan segenap Golongan dalam masyarakat, baik yang berdasarkan Keagamaan, Kebudayaan atau Kesosialan pada umumnya, mau-pun yang memelihara serta menyelenggarakan usaha-usaha khusus Dalam lapangan Perguruan, Perekonomian, Kepanduan, Persu-rat-kabaran, Kesenian dan lain sebagainya.
MENGINGAT:
- bahwa sejak 20 Mei 1908, dengan tidak memperdulikan segala macam kekangan dan tindasan, Rakyat Indonesia seluruhnya telah bangun menyusun diri menentang penjajahan yang menimbulkan kemelaratan, kesengsaraan, dan kehinaan bangsa Indonesia;
- bahwa sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua dan sejak berdirinya Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Rakyat Indonesia belum terluput dari pelbagai kesukaran dan penderitaan, karena adanya bahaya, baik yang mengancam Maupun yang telah menimpa hidup dan penghidupan Rakyat Indonesia sebagai akibat penjajahan dalam segala lapangan, teristimewa dalam lapangan politik, ekonomi, dan sosial;
- bahwa kesanggupan, kegiatan, keikhlasan, serta ketaatan seluruh Rakyat untuk mempertahankan demokrasi dan kemerdekaan nasional yang sejati tidak boleh disangsikan;
- bahwa sampai pada tanggal 20 Mei 1952 ini, Negara dan Rakyat Indonesia masih menghadapi bahaya Perang Dunia yang dapat menimbulkan kerusakan, kehancuran, kemelaratan, kesengsaraan, dan kehinaan umat manusia umumnya.
MENIMBANG:
- bahwa untuk dapat mengatasi segala kesukaran dan penderitaan Rakyat serta untuk menolak tiap-tiap usaha yang mengancam atau telah menimpa keselamatan Negara Republik Indonesia, sangat perlu adanya kesatuan sikap, program, dan tindakan terhadap segala sifat penjajahan, baik dalam lapangan politik, ekonomi, sosial, Maupun militer;
- bahwa dengan diadakannya kesatuan sikap, program, dan tindakan tidak berarti menghentikan tugas kewajiban Partai-Partai dan Organisasi-Organisasi, Ataupun melalaikan dasar-dasar dan asas-asas perjuangan masing-masing, akan tetapi hanya bermaksud menyelenggarakan bersama apa yang perlu guna kepentingan Rakyat dan Negara.
MENGINGAT DAN MENIMBANG PULA:
bahwa tanggal 20 Mei ini yang oleh seluruh Rakyat sedang diperingati secara khidmat sebagai Hari Peringatan 44 tahun Kebangunan Nasional memberi kesempatan serta mendorong kita semua untuk mempertegak cita-cita kita bersama, yang telah tercapai dengan proklamasi Negara Republik Indonesia, dan dengan demikian mewuyudkan syukur kepada Tuban Yang Maha Esa dan rasa terima kasih serta rasa hormat batin kita kepada sekalian mereka yang telah di dalam 44 tahun itu sudah menyurahkan segala kekuatan fikiran dan tenaganya begitu pun jivanya, yang semuanya terbukti tidak sia-sia belaka, bahkan kita akui sebagai perjoangan nasional, yang kita teruskan sampai saat tercapainya cita-cita Rakyat Indonesia seluruhnya;
MEMUTUSKAN:
- Melanjutkan dan menyempurnakan usaha menggalang kesatuan sikap, program, serta tindakan yang telah dimulai pada tanggal 20 Mei 1948, juga dalam menghadapi bahaya Perang Dunia yang mungkin datang, yang mengancam Rakyat dan Negara Indonesia serta dapat menimbulkan kehancuran, kemelaratan, kesengsaraan, dan kehinaan umat manusia seluruhnya.
-
Menyatakan kesediaan untuk segera terwujudnya maksud tersebut:
- untuk melaksanakan demokrasi dalam segala lapangan;
- untuk mencapai kesejahteraan Rakyat dan keadilan sosial dalam masyarakat;
- untuk menghapuskan segala perjanjian dengan negara lain yang merugikan Rakyat dan Negara Republik Indonesia.
- Menyatakan kesediaan untuk segera melaksanakan pembangunan nasional, dalam arti pembangunan sosial, ekonomi, dan kebudayaan untuk kepentingan segenap Rakyat, serta pertahanan nasional dalam arti kerja sama seerat-eratnya antara Tentara, Polisi, dan alat-alat Negara lainnya dengan Rakyat untuk mengatasi kecacauan-kecacauan yang timbul dari dalam dan/atau yang datang dari luar.
Diumumkan:
Pada upacara peringatan 44 tahun Hari Kebangsaan Nasional.
Jakarta, 20 Mei 1952. Sekretaris Panica Peringatan
(Akhmad Soelaji.)
1391P-26941
23 - 5 - ’52
Turunan Kawat
Kepada: Ki Hajar Dewantara
Kemlu. Djakarta.
Dari: Paris
pw1314 psse69 f paris 72/69 21 1525 indonesiangovt etat =
nr=ie/52/ee masyarakat indonesia di paris dalam pertemuan
untuk memperingati hari kebangunan nasional 20 mei yang
diadakan di bawah perlindungan duta-besar nazir pamoncak
kma merasa terdorong menyampaikan ucapan selamat dan turut
menyokong maksud seruan persatuan kepada seluruh rakyat
indonesia untuk pelaksanaan cita-cita proklamasi 1945
serta doa semoga pemerintah dan pemimpin sendiri sanggup
menciptakan dan memelihara persatuan yang dirindukan oleh
rakyat stop aann rapai dtt akbarjuhana ketua ttkhbs =
indonesia paris
Ki Hajar Dewantara
cc Dir Kebudayaan
Dirpen Dir Eropa
Duln DP.
PEMUDA KITA DI NEDERLAND
Sebelum tahun 1908, yakni tahun kebangsaan nasional, maka di Nederland sudah ada sementara pemuda-pemuda bangsa kita untuk keperluan pengajaran. Tidak saja mereka itu menuntut peiajaran di Universiteit—sesudah menamatkan pelajaran di H.B.S. di Indonesia atau di negeri Belanda—namun ada yuga yang di sana mulai kecil dan bersekolah di sekolah rendah atau menengah. Biasanya mereka itu putera para bangsawan luhur yang berada, karera di Indonesia hanya anak-anak bangsawan boleh masuk ke-sekolah Belanda, di “Europeeskhe Lagere Skhool” atau di H.B.S.; dan biaya bersekolah di Nederland sangat besar dan hanya mungkin bagi orang-orang kaya. Yang pertama kali dikirim ke negeri Belanda itu misalnya sementara anggauta-anggauta Keluarga Paku-Alam (diantaranya Drs. Kusumoyudo, bekas Edeeleer). Ada juga yang waktu itu, sebelum tahun 1900, ada di Nederland untuk meneruskan pelajarannya dalam salah satu vak, misalnya Dr. Bunyamin, Dr. Abdul Rivai, (keduanya kemudian mencapai titel “arts”), Ismangun Danuwinoto dan Soetan Casayangan, keduanya guru yang kemudian lulus ujian Hoofdakte di Nederland. Patut diperingati bahwa sekalian mereka itu di sana sambil bekerjia selaku wartawan. Tidak saja mereka mengirimkan karangan-karangan-nya kepada majalah-majalah atau harian-harian di Indonesia, namun di Nederland mereka membantu majalah “Bintang Hindia” yang terkenal sebagai majalah-bergambar yang populer, diterbitkan oleh bekas opsi Hindia Belanda yang terkenal juga, yaitu Clockener Brousson. Dalam pada itu dapatlah di sini saya beritahukan, bahwa Dr. Bunyamin kala itu menerbitkan sendiri sebuah majalah dalam bahasa Belanda, Indonesia dan Jawa, yang ia beri nama “Oejana Pengawikan”. Bahwa lama sebelum zaman itu Raden Saleh pernah ada di Nederland juga, untuk menerima didikan sebagai pelukis, kita semua mengetahuinya.
Sesudah para “indiskh arts” dari Stovia Jakarta dibolehkan meneruskan pelajaran dalam aliran ketabiban dengan dibebaskan dari uyian “candidaat”, apa lagi sesudah mereka dibebaskan dari uyian “doctoraal” banyaklah tambahnya pelajar kita di negeri Belanda. Misalnya Dr. Y.E. Tehupeiory dan adiknya Dr. W.Y. Tehupeiory, Dr. Tumbelaka, Dr. Asmaun dan lain-lainya, yang termasuk angatan pelopor tertua, yang boleh disebut periode pertama.
Sesudah jaman itu datanglah pula angatan baru, yang boleh disebut “angkatan kebangsaan nasional”, yaitu di jaman sekitar tahun 1908. Inilah periode yang ke-dua.
Periode yang ke-dua ialah sesudah “Budi Utomo” dibentuk dalam tahun 1908 dan segera disusul dengan berdiri ya perhimpunan-perhimpunan lainnya di seluruh Indonesia. Para pelajar kita di Nederland tidak suka ketinggalan, mereka mendirikan organisasi persatuan yang dinamakan “Indiskhe Vereeniging”. Perkumpulan I.V. tadi mempunyai sifat-sifat yang sama dengan B.O., yaitu hanya mementingkan so’al-al Kebudayaan. Bedanya dengan B.O. inalah karena “Indiskhe Vereeniging” diperuntukkan bagi sekalian putera Indonésia, tidak hanya untuk pelajar-pelajar dari suku-bangsa Jawa saja, seperti B.O. pada permulaannya.
Waktu itu para student kita di Nederland berhubungan sangat rapatnya dengan orang-orang bangsa Belanda, baik yang pernah bekerja di Indonesia Maupun lain2nya, teristimewa yang termasuk dalam golongan “Sahabat-Sahabat Indonesia”, yaitu penganut-penganut aliran yang disebut “Ethiskhe Koers”, (aliran Budi-baik), yang di jaman itu dianggap kaum “progressif”. Diantaranya yang patut diperhati, karena banyak jasa2nya kepada para pelajar kita, yaitu misalnya: Mr. dan nyonya Van Deventer, Ir. H.H. van Kol (seorang sosialis), Mr. dan nyonya Abendanon, Dr. Hazeu, Prof. dr. Snouck Hurgronye dan banyak lain-lain-nya. Nama-Nama ini dan lain2nya ada tersebut di dalam buku R.A. Kartini. (Door duisternis tot likht).
Citay-Citay para pemuda kita pada waktu itu sudah mulai ber-aneka-warna, akan tetapi aliran yang paling umum ialah “Associatie van Oost en West”. Pemimpin I.V. yang pertama kali ialah marhum R.M. Notoseroeto. seorang candidaat yurist yang terkenal sebagai ahli kesusasteraan, lebih-lebih sebagai “dikhter”, yang menyiptakan buah-penanya dalam bahasa Belanda, dengan begitu mahir dan sangat indahnya, sehingga banyak orang4 pengarang bangsa Belanda sendiri mengagun ‘nya. Buah ciptaannya a. i. ialah: “Melatiknoppen”, “Moeders Haarwron” “Fluisteringen” d.l.l., yang semuanya diwujudkan sebagai “gedikht in proza” à la Rabindranath Tagore.
Selain terkenal sebagai pujangga marhum Noto Soeroto terkenal juga dalam usahana untuk mempropagandakan cita-cita-nya dalam so'al-al kuituril dan politik. Dapat dimengerti, bahwa aliran Noto Soeroto seialu dapat tentangan dari pihak nasionalis yang revolusioner yang mengingini kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dengan segera dan lepas dari Nederland. Noto Soeroto, dengan jujur dan konsekwén, mempertahankan alirannya “as-sosiasi” antara Indonesia dan Nederland, tidak untuk tetap menjadi negeri jajan, namun untuk mencapai kemerdekaan secara seksama. Barang siapa ingin mempelajari haluan Noto Soeroto, yang menurut pendapat kami patut diketahui, hendaknya suka membata buku karangannya yang terkenal, yaitu: “Van Wingewest tot Zelfbestuur” sebagai jembatan untuk mencapai indonesia yang Merdeka dan Berdaulat. Selain itu banyak karangan-karangan-nya mengenai berbagai so'al kebudayaan dan kesosi-alan, yang semuanya pernah terinuat dalam majalah “Udaya” yang diterbitkan olehnya, sampai zamannya ia sudah kembali di tanah-air dan bckerja berturut-turut sebagai secretaris marhum Mangkocenagoro ke-VII dan sebagai “panewu-jaksa” di Mangkunegaran Surakarta. Yang penting dan patut diketahui yaitu misalnya haiuan Noto Soeroto dalam so'al kebudayaan, dalam mana ia menganjurkan adanya “kultuurgebied” Jawa, mulai Pasundan sampai Bali, kultuurgebied Sumatra, Borneo, Sulawesi usb., Sekalipun semua daerah tadi merupakan satu negara Indone-sia yang merdeka dan berdaulat. Dalam so'al kemasyarakatan Noto Soeroto mendukung cita-cita “kawula-gusti” yang dihubungtan dengan ideaalstellingna “aristo-demokrasi”.
Sekalipun saya bukan penganut aliran Noto Soeroto, bahkan dalam beberapa so'al semata-mata menjadi “antipode”-nya. Namun marhum pujangga Noto Soeroto saya anggap seorang yang berpribadi, seorang “persoonliykheid” yang jujur dan be- rani serta sanggup dan mampu melahirkan segala angan-angan-nya serta mewuyudkan cita-citanya itu dalam bentuk kepujanggaan yang menarik perhatian, juga dari kalangan luar-negeri. Perlu kiranya bagi perpustakaan-perpustakaan ita untuk menyimpan peninggalan¹ tersebut sebagai “dokumentasi nasional” yang berharga.
Marilah kita kembali pada berkembangnya cita-cita periode kedua dari pada hidupnya para pelajar kita di Nederland, yaitu periode “kulturil-nasional” yang meliputi gerak-gerik hidup batinnya. Pada waktu itu nampak adanya tokoh-tokoh di dalam masyararakat pelajar di negeri Belanda, yang menarik perhatian karena keistimewaan yang ada pada sifat mereka masing-masing. Pemuda-Pemuda Hoesein Jayadinginrat, (yang kita semua kenal), Sosrokartono (terkenal sbagai ”dokter ajaib” di Bandung dan banyak jasanya serta sangat dicintai rakyat di Bandung. Sebelumnya itu Drs. Sosrokartono mengetuai “Middelbare Taman Siswa-skhool” di Bandung. Belum selang lama ia wafat dalam usia lanjut, t.k. 80 tahun, dan dimakamkan di makam keluarganya di Jepara, bersama-sama adiknya, yaitu R.A. Kartini).
Lain-lain pemuda dalam peirode kedua itu ialah: Leatemia, Sarengat, Suryomiharjo, (ketiganya menjabat ingenieur), Suryoputro (salah satu pemimpin Taman Siswa yang pertama, terkenal sebagai ahli musik dengan “suling-theorie”-nya dan pencipta ”rebab modern” serupa “cello” yang dapat memajudkan nilai konsert Jawa; ia telah wafat dan dimakamkan di makam ”Giriganda” di dekat Wates Yogyakarta, yaitu makam keluarga Pakualam). Lain-lainnia a.l. pemuda-pemuda Sumitro Kolopaking, yang terkenal, Wreksodiningrat (kini Decaan Faculteit Tekhnik di Universiteit Negeri “Gajah-Mada”), Soerakhman, bekas President Universiteit Indonesia, Notokuworo marhum (dulu dokter dan Röntgenoloog di Semarang), Lockman Jayadinginrat marhum (dulu Directeur Departement van Onderwiys en Eredienst), dan masih ada lain-lainnia. Di waktu itu mereka semua merupakan anggauta-anggauta ”Indiskhe Vereeniging”, yang ikut memberi nilai tinggi kepada hidup kolonie kita di Nederland. Boleh dikata bahwa mereka senuanya memunjukkan dan membuktikan adanya kesanggupan dan kemampuan pada bangsa Indonesia, untuk menuntut pelajaran dalam berbagai ilmu pengetahuan modern, dalam hal mana mereka tidak kalah dengan pelajar-pelajar dari bangsa-bangsa lain.
Datanglah periode ketiga, mulai dengan datangnya “driehanskhap I.P.”, yaitu “tiga serangkai Indiskhe Partiy”, Douwes Dekker, Cipto Yan Soewardi sebagai “bannelingen” di Nederland, dalam musim rontok tahun 1913. Bahwa ke-tiga-tiganya tadi dibuang karena “nationalistiskhe actie”-nya, dibuang oleh “Nederlandskh-Indiskhe Regeering”, sedikit banyak menyebabkan tercengangnya para student Indonesia di Nederland. Sesudah “banneling” yang termuda, atas permintaan pengurus “Indiskhe Vereeniging”, memberikan ceramahnya di muka para pelajar kita dan para “belangstellenden” di salah satu Café di Den Haag, maka nampaklah segera adanya peralihan fikiran di kalangan para anggauta I.V.: dari sikap “assosiasi” menjadi sikap “nasional-progressif”. Perdebatan antara pemberi ceramah dengan para tamu bangsa Belanda, yang mersa berkeawdiyiban memberi “perlindungan” kepada para pemuda kita, kadang-kadang memuncak menjadi perdebatan yang pedas (maklum si-pemberi ceramah waktu itu masih muda belia). Justru karena perdebatan yang hebat itulah yang menyebabkan mulai adanya perpisahan batin antara para “perlindung” dan para “terlindung”.
Aksi yang dilakukan oleh para pelajar kita di Nederland sejak tahun 1913 itu. tidak hanya meliputi usaha kebudayaan, namun mulai bersifat perjoangan politik juga. Dalam periode ke-3 itu datanglah pemuda-pemuda baru dari Indonesia, antara lain pemuda-pemuda: Samsi, T. G. Mulia, Yojana, Gunawan Mangunkusumo, G. S. Ratulangi. W. Laoh, Samud, Tan Malaka d.l.l. yang sekaliannya barang tentu membawa kesan-kesan yang terakhir dari pada perkembangan gerakan nasional di tanah-air, sehingga dengan sendiri tambahlah semangat revolusioner nasionalistis dalam jiwa para student kita.
Dari pada beberapa peristiwa-peristiwa, yang menunjukkan sudah ber-ahlnya pendirian dan sikap para maha-siswa kita di Nederland itu, terkenanglah saya akan tiga kejadian yang patut juga diperlingati. Yang pertama yaitu ketika pemimpin aksi kebudayaan kita, marhum R. M. H. Soeryopoetro, di waktu diadakannya pemilihan umum untuk anggauta-anggauta Parlemen bagian “Tweede Ka- mer“, menyiarkan selebaran dengan berkepala: ”Indonesiërs, stemt Rood!“. Sebagai alasan dinyatakan dalam surat selebaran itu, bahwa di luar kalangan sosialis dan komunis sebenarnya tidak ada satu orang Belaria pun, yang suka melepaskan Indonesia sebagai milik bangsa Belanda.
Peristiwa yang kedua ialah ketika di “Prins Hendrik-Café” kaum Liberal mengadakan “verkiezings-vergadering” dengan bekas-gobnor-jendral Idenburg sebagai pembicara. Yang oleh I.V. ditunduk sebagai “debater” ialah Suwardi Suryaningrat, yang oleh G.G. Idenburg dijatuhi putusan “interneering”.
Peristiwa yang ketiga ialah ketika Dr. Gunawan Mangunkusumo bersama Suwardi Suryaningrat mengadakan “openbare lezing” di gedung “Diamantbewerkersbond” di Amsterdam, yang penuh pengundung, lebih-lebih dari kaum komunis dengan Sneevliet-nya sebagai debater. Kaum komunis melakukan siasat menyerang, karena mereka sangat berkecewa, bahwa golongan kita berhubungan rapat dengan Troellstra dengan S.D.A.P.-nia. Adapun kita menghubungkan diri dengan S.D.A.P. (Social-democratiskhe Arbeidspartiy) itu sebenarnya hanya berdasarkan siasat praktis, karena waktu itu S.D.A.P. di dalam Tweede Kamer merupakan kekuatan-suara yang sangat besar, hampir sama dengan Fraksi Katholik. Dalam perdebatan di Amsterdam tadi marhum Dr. Goenawan Mangunkusumo menggunakan perkataan-perkataan yang pecas terhadap kaum komunis Belanda, diantaranya: “Kalau saudara Sneevliet bertanya kepada kami: ”Wat doen yullie hier in de kou?“, maka saya bertanya kembali: ”wat doen yullie daar in de warmte van ons land; wiy hebben yullie niet nodig!“ Ucapan inilah yang menimbulkan kemarahan besar di antara kaum komunis, sehingga hampir-hampir saja saat itu akan ada perkelahian. Berkat adanya penjagaan keamanan dari polisi maka saudara-saudara kita dapat selamat kembali pulang ke-hotelinya masing. Demikianlah kekerasan hati pemuda-pemuda kita di waktu itu.
Periode yang keempat dari hidup para pemuda-pemuda kita di Nederland yaitu sesudah datangnya angkatan yang paling baru dari Indonesia ke Nederland. Mereka itu antara lain saudara-saudara: Moh. Hatta, Ali Sastroamijoyo, Soekiman, Sitanaia, Dr. Mokhtar (marhum), Kusumaatmaja, St. Nazif (marhum), Sunaryo, Su-
Yudi, Wiryono, Natsir Pamuncak, Subarjo, Iwa Kusumasumantri, Dr. Soetomo, Susanto, Gondokusumo (marhum), Maramis, Sastromulyono, Abdulmajid, A. K. dan A. G. Pringgodingdo dan banyak lain-lainnya. Merekalah yang meneruskan proces “nasionalisasi” terhadap “Indiskhe Vereeniging”, yang sudah dimulai sejak datangnya “Driemanskhap I.P.” di tahun 1913. Dalam periode itulah “Indiskhe Vereeniging” dapat diganti namanya menjadi “Perhimpunan Indonesia”.
Masih ingatlah kita kesibukan dan kegiatan mereka untuk incrévolutionérkan masyarakat pelajar kita di Nederland, untuk ccluaskan aksinya, hingga dapat berhubung dengan aksi bangsa-bangsa Asia lainnya yang terjajah oleh bangsa-bangsa Barat. Masih terkebanglah dalam jiwa kita bagaimana studenten kita di bawah pimpinan Bung Hatta memasuki “Liga anti penjajahan kolonial”, bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin bangsa Asia dan Afrika, diantaranya terdapat juga Jawaharlal Nehru, yang kini mengemudikan pemerintahan India. Termasuk dalam Liga itu juga orang-orang Eropah yang progressif a.l. prof. dr. Einsteyn, Madame curie, Arthur Lehning d.l.l. Belum lupalah kita akan peristiwa-peristiwa di Nederland yang sangat menarik perhatian kita, yang di tanah-air sedangnya melakukan segala daya-upaya untuk menyapkan kemerdekaan Nusa dan Bangsa. Antara lain terus teringatlah kita akan penangkapan saudara-saudara kita, atas perintah pokrol-jendral di Nederland, penangkapan-penangkapan terhadap saudara-saudara Hatta, Ali Sastroamijoyo, Natsir Pamuncak dan A. Majid, yang didakwa hendak melakukan revolusi dengan bantuan pergerakan-pergerakan revolusioner di India dan negeri-negeri koloni lainnya. Masih terkandunglah di dalam peringatan kita peristiwa yang mengharukan, yaitu ketika saudara Ali Sastroamijoyo oleh polisi di Den Haag diambil dari penjara dan diantarkan ke muka sidang Senat Universiteit Leiden, untuk melaksanakan ujian yang penghabisan, dalam ujian mana saudarah tsb. berhasil menggondol “bul”-nya sebagai “meester in de rekhten”.
Dalam pada itu mengharukan juga, bahwa mereka kemudian dapat mencurahkan tenaganya untuk seterusnya di-tanah-air, mulai dalam pergerakannya, pergerakan “Partai Nasional Indonesia”, sampai terjadinya revolusi nasional, sesudah mana me- reka kebanyakan memegang kemudi pemerintahan tanah-tumpah-darahnya, sebagai pegawai-tinggi, sebagai duta-duta di luar negeri, sebagai menteri, sebagai wakil-presiden dan lain-lain jabatan pimpinan di dalam masyarakat Indonesia Merdeka. Kita dapat merasakan segala rasa terharu mereka sendiri pada waktu mereka dapat bertemu dan berjabatan tangan dengan Nehru dan lain-lain pemimpin pemerintahan negara-negara yang kini bersahabatan dengan negara kita, yang juga merdeka dan berdaulat. Semua kenang-kenangan ini sungguh menebalkan hati kita, mengokohkan kepercayaan kita, bahwa kemerdekaan yang direncanakar: dan disiapkan sejak lama, dengan segala pengorbanan-pengorbanan yg. berharga, pula dengan hubungan lahir Maupun batin dengan negeri-negeri jajahan lainnya, yang kini semuanya telah menjadi negara-negara yang merdeka dan berdaulat itu, tidak mungkin akan dapat dibatal-kan dan tidak mungkin negara kita akan jatuh kembali menjadi negeri jajahan. Sekali merdeka, tetap merdeka!
Perkembangan politik di Indonesia makin lama makin menunyukkan adanya kemajuan di dalam pergerakan rakyat, yang nyata-nyata ditujuhkan ke arah kemerdekaan nusa dan bangsa. Sesudah Volksraad berdiri dan mau tak mau menjadi alat untuk menguatkan tuntutan para pemimpin ke arah demokrasi dan kenasionalan, timbulah gerakan “Indië Weerbaar” yang dipelopori oleh Budi Utomo dan perkumpulan-perkumpulan “moderate” (kaum tengahan), yang menuntut adanya “militie” guna mempertahankan Indonesia, yang sudah dibayang-bayangkan sebagai negara yang pasti akan merdeka. Pemerintah Nederland tetap ragu-ragu dan tidak percaya akan ketulusan hati para pemimpin, Sekalipun mereka ini menganjur-anjurkan ancan-angan “assosiatie” antara Indonesia dan Nederland. Nederland bersedia untuk memperkuat K.N.I.L.-nya, namun tuntutan akan diadakannya milisi, nampak menakutkan kaum penjajah.
Sampai pada saat timbulnya ketakutan mereka akan kehilangan tanah-jajahannya, yaitu ketika situasi internasional sedemikian rupa memuncaknya, sehingga ada kemungkinan Hindia-Bclanda terlibat dalam perang dunia, yang berarti mungkin inyapnya “gordel van smaragd” sebagai milik Nederland. Dengan cara tergesa-gesa gobnor-jendral Graaf van Limburg Stirum menawarkan kemerdekaan, Sekalipun hanya status “dominion” dalam kerajaan Nederland, tawaran mana kemudian terkenal sebagai “November-belofte”. Meskipun ada partai-partai yang suka menerima tawaran tsb., namun ada pula golongan-golongan non-cooperatoren yang menolaknya. Bagaimanapun juga setelah bahaya internasional sudah agak reda, Nederland kembali pula sebagai negara penjajah, yang tak mau lagi tawar-menawar. Sebutan “Novemberbelohte” karena itu dapat arti “sikap cidera” terhadap para nationalisten; sampai saat Jepang menyerbu, ketika mana Nederland tidak mungkin lagi menarik bangsa kita untuk bersatu pada guna mempertahankan Indonesia sebagai “bondgenoot” Nederland.
Yang hendak kami jelaskan di sini ialah bahwa perkembangan politik di tanah-air mempengaruhi situasi para student bangsa kita dan student-student lain di Nederland, yang berasal dari Indonesia dan atau akan bekerja di Indonesia. Atas initiatif para pelajar yang tergolong dalam “Indiskhe Nederlanders” dan para pelajar bangsa Tionghoa dapatlah di Nederland dibangun sebuah badan Federasi dengan nama “Indonesiskh Verbond van Studeerenden”. Dalam federasi itu tergabung “Indiskhe Vereeniging”, perhimpunan “Khung Hwa Hui Csa Dih”, perhimpunan-nya golongan Student Indo-Eropa dan perhimpunannya pelajar bangsa Belanda yang dididik untuk yabatan3 di Indonesia. Organan mereka diserahkan kepada tiga orang redacteurs, yaitu Sewardi Suryaninzzrat, Dr. Yap Hong Coen dan mr. Y. A. Yonkman. H. Y. van Mook masuk ke dalam pengurusnya Verbond.
Terbukti bahwa sukar sekali untuk menyapai “kesatuan” dari pada mereka. yang di kemudian hari, Sungguhpun akan bersama-sama “mengabdi” kepada Indonesia, namun sebagai golongan penjajah dan golongan terjajah. Ketegangan kerap kali teryadi, misalnya apa yang pernah teryadi dalam Kongresnya “Indonesiskh Verbond van Studeerenden” di Wageningen, di mana seorang anggauta I.V., pemuda Ratulangi, tidak suka mengakui Raja Wilhelmina sebagai raja Indonesia. Pada waktu itu nampak sikapnya golongan Belanda, ingin mendekati bangsa Indonesia, sebaliknya studenten kita nampak makin lama makin berkurang semangat untuk tergabung dalam satu golongan bersama-sama dengan kaum penjajah.
Ikhtisar tentang kesibukan dan kegiatan para pemuda kita di negeri penjajahnya, ya'ni negerinya bangsa Belanda, tak akan lengkap jika kita tidak memberi sekedar keterangan tentang satu peralatan yang amat penting, peralatan yang merupakan organisasi penuusatan tenaga, yang memungkinkan kelancaran segala usaha. Peralatan tersebut ialah yang terkenal sebagai “Indonesiskh Persbureau” di Den Haag, hal mana dengan singkat kita peringati dalam bagian yang berikut.
TENTANG INDONESISKH PERSBUREAU DI DEN HAAG
Yang dinamakan “Indonesiskh Persbureau” itu adalah badan pemusatan penerangan dan propaganda pergerakan nasional Indonesia, yang pada tahun 1913 dipersiapkan oleh Suwardi Surya Ningrat di Den Haag. Meskipun pokok usahannya sebagian besar mengenai pemancaran warta berita, komentar-komentar dan pemandangan-pemandangan tentang pergerakan rakyat Indonesia seumumnya, termasuk pula penerbitan majalah-majalah dan risalah-risalah, akan tetapi lebih dari pada itulah maksud tujuan I.P.B. Menurut rencananya maka I.P.B. bermaksud mengadakan pameran (exposities) juga dan pertunjukan-pertunjukan kesenian di seluruh Nederland, agar rakyat Belanda mendapat penerangan, gambaran dan pengertian yang benar tentang segala tuntutan pergerakan rakyat pada waktu itu, baik yang bersifat politik Maupun kulturil. Di dalam mana P.B. terpakailah untuk pertama kali sebutan ”Indonesia” secaia resmi.
Sebenarnya “Indonesiskh Persbureau” itu pada bermulanya berupa usaha diri (persoonliyk) dari pada S. Surya Ningrat, yang setubanya di Nederland segera melakukan ”correspondentskhap” untuk sementara harian bangsa kita, ialah selain untuk “De Express” harian ”Indiskhe Partiy” sendiri, juga untuk: “Utusan Hindia” di Surabaya, yang waktu itu dipimpin sendiri oleh marhum H.O S. Cokroaminoto, ”Cahya Timur” di Malang, di bawah pimpinan marhum R. Joyosudiro, “Sinar Jawa” di Semarang, yang dipimpin oleh Sdr. Semaun dan Darsono dari gerombolan Serikat Islam, dan ”Kaum Muda” di bawah pimpinan marhum sdr. A. H. Wignyadasstra di Bandung. Pada waktu itu harian-harian yang berbahasa Jawa atau Indonesia selain yang tersebut tadi, misalnya “Darmokondo” di Solo, ”Retnodumilah” di Yogya dan lain-lain, sudah ada juga, akan tetapi bukan kepunyaan Indonesia. Di samping harian-harian yang tersebut di muka itu, masih ada majalah-majalah, mingguan atau bulanan, yang diterbitkan oleh orang-orang Indonesia. Mengetahui keadaan pers kita pada zaman itu adalah perlu untuk dapat mengerti, bahwa “persbureau” yg. scbenar-benarnya, pada waktu itu belum diperlukan dan berhubung dengan so‘ al keuangan nyia belum mungkin berdiri.
Ketika correspondentskhap S. Surya Ningrat meluas menjadi “Indonesiskh Persbureau”, belum juga dasar “commercieel” dapat dimasukkan; I.P. Bureau masih tetap berdiri sebagai “badan propaganda” dan “alat pergerakan” semata-mata. Pers di Nederland rupa-rupanya mengerti juga akan sipat dari pada I.P.B. itu. Tidak saja hanya harian-harian dan majalah-majalah yang sosialistis atau progressif yang suka berlangganan warta-berita dari pada “Indonesiskh Persbureau” itu, bahkan ada pula yang dengan tidak segan-segan mengeluarkan fitnahan-fitnahan yang tajam dan pedas. Dalam pada itu patut diketahui, bahwa ada harian-harian keciil (provincie-bladen), yang bersikap “neutraal”, suka juga mengambil persberikhten dari I. P. B., kecuali yang oleh mereka dianggap “al te rood”.
Sikap dari pada pers bangsa kita di Indonesia ada baik sekali. Tidak saja harian-harian yang tersebut di atas terus mengirimkan ko-rannya (ada yang rangkap dua atau tiga), pun majalah-majalah tidak ketinggalan membanjiri meja-redaksi I.P. Bureau, sehingga kantoran I.P.B. di Fahrenheitstraat 473 Den Haag, seolah-olah menjadi “leeszaal” bagi studenten kita. Patutlah diketahui, bahwa di Indonesia pada waktu itu partai-partai yang sudah ada, masih hidup “rukun” dan seringkali bertindak secara “gotong-royong”. Yontoh yang mengharukan misalnya keridlaan dan keikhlasan anggauta-anggauta dari partai-partai tersebut untuk turut membiyai berangkat-nya “Tiga-serangkai” (driemanskhap) dari “Indiskhe Partiy”, yaitu Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat sekeluarganya ke Nederland, yang memakan biaya sementara ribu rupiah.
Adapun studenten kita di Nederland, yang zaman itu hanya berjumlah lebih kurang 40 orang, semuanya mengakui “Indonesiskh Persbureau” tadi sebagai badan-usahanya. Dalam kitab peringatan dari pada perhimpunan mereka “Perhimpunan Indonesia” (yang tadinya bernama “Indiskhe Vereeniging”) kita dapat mengetahui, bahwa kedatangan “Driemanskhap” DD-Cip-Suwardi pada tahun 1913 itu menyebabkan berbaliknyia aliran “k-
‘ional“ dalam ”Indiskhe Vereeniging“ ke-aliran ”nasionalistiskhe“ yang murni.
Apakah yang telah diselenggarakan oléh “Indonesiskh Persbureau” di negeri Belanda? Yang pertama kali ialah penyiaran berita-berita pers pada umumnya, khususnya berita-berita tentang kejadian dan peristiwa-peristiwa, yang dengan sengaja oleh pers Belanda di Indonesia digunakan untuk men-jelek-jelek-kan pergerakan kita. Kadang-Kadang I.P.B. menyiarkan “bulletins”, yang dikirimkan kepada semua anggauta “Tweede Kamer” dan “Eerste Kamer”, kepada pengurus partai-partai dan “Leeszalen dan Bibliotheken” yang terkemuka, yaitu di mana pers Belanda tidak suka memuatkan berita-berita yang penting bagi kita. Dengan begitu maka I.P.B. dapat menggagalkan sikap memblokeer berita-berita yang penting dari Indonesia oleh pers Belanda, yang masing-masing mempunyai “Indiskhe medewerker” sendiri-sendiri, kadang-kadang “speciale correspondent”, yaitu biasanya orang berpangkat tinggi, misalnya seorang professor, seorang resident atau gobnor-jendral pensiun, bahkan kadang-kadang seorang minister sendiri.
Sementara kali I.P. Bureau mengorganiseer “Debat-vergaderingen” di Amsterdam dan di Den Haag, yang resminya diselenggarakan oleh “Indiskhe Vereeniging”, yaitu perhimpunan studenten kita. Di situlah tempat dan waktunya yang tepat untuk menjual brokhures dan mengadakan tentoonstelling harian-harian majalaha-majalaha dan risalah-risalah yang mengenai so'al Indonesia, termasuk pula buku-buku karangan auteurs bangsa Belanda yang progressif dan membela tuntutan-tuntutan pergerakan rakyat Indonesia.
Oléh “Indonesiskhe Persbureau” bagian “Brokhurehandel” telah diterbitkan sementara risalah-risalah misalnya “Onze Verbanning”, tentang “Industrialisatie” oléh H.H. van Kol, “Poenale Sancties” oleh dr. P. Endt, “Het Geval Suwardi” oleh mr. P. H. Fromberg (yang menundukkan “onwettig”-nya interneering Suwardi Suryaningrat, karena tentang perkaranya sudah diputuskan “rekhtsingang” oleh Raad van Yustitie di Jakarta), “De Taalkwestie” oleh S. Suryaningrat (yang menuntut pemakaian bahasa Indonesia dan daerah untuk mengganti bahasa Belanda sebagai “bahasa pengantar” di-sekolah-sekolah negeri dan pelapuran
Kongres dari pada “Indonesiskh Verbond van Studeerenden di Wageningen. (Dalam Kongres itu pemimpin-pemimpin di kalangan pelajar-pelajar kita mempertahankan hak-kemerdekaan bangsa kita; di antara pemimpin-pemimpin itu ialah misalnya marhum dr. Ger.. S. Ratu langi marhum dr. Gunawan Mangunkusumo, ir. Surakhman, dr. Samsi dll.). Teringatlah adanya perdebatan yang hébat pada kongres itu di antara studenten kita dengan Y.A. Yonkman, H.Y. van Mook dan lain-lain studenten Belanda, yang disebabkan karena salah seorang studen kita berkata: ”H.M. Wilhelmina is uw koningin, maar niet de onze“; rapat itu jatuh pada hari 31 Agustus dan hendak melakukan upacara penghormatan ulang tahun Raja, yang ditolak oleh studenten kita.
Orgaan “Indiskhe Vereeniging”, yang tadinya hanya terbit pada waktu yang tertentu. sejak adanya “Indonesiskh Persbureau” keluar sebagai majalah bulanan dengan nama “Hindia Putera”, dalam mana tidak saja dimuat karangan-karangan dari pelbagai penulis, juga dari kalangan bangsa Belanda, tetapi juga selalu memuat “Persoverzikht”, yang berasal dari harian-harian dan majalah-majalah kita dari Indonesia.
Di antara “perscampagne” yang diadakan oleh Indonesiskh Persbureau dan patut diperingati, yaitu misalnya perlawanan terhadap rencana “Koloniale Raad”, yang di Indonesia sendiri ditentang oleh Pers kita waktu itu. Karangan-Karangan berasal dari harian kita diteryemahkan ke dalam bahasa Belanda dan disiarkan ke pada sekalian anggauta Tweede Kamer dan para minister, juga kepada harian-harian di Nederland. Mungkin zaman sekarang ada yang mengira, bahwa “Volksraad” yang diadakan pada tahun 1917 di Jakarta dan agak dapat memberi kepuasan kepada para pencinta politik, lahir sebagai Dewan Rakyat seperti sifatnya yang kita kenali. Artinya sebagai tempat di mana pemimpin-pemimpin rakyat kita berkesempatan untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan rakyat, Sekalipun kedudukannya yang resmi dari pada Volksraad itu tidak lebih dari pada badan penasehat.
Hendaknya diketahui, bahwa tadinya maksud pemerintah Nederland hanya hendak membentuk “Koloniale Raad”, yang jauh lebih rendah kedudukannya dari pada Volksraad almarhum; baik yang mengenai jumlah angautanya Maupun hak-haknya.
Soal lain yang dimajudkan oleh “Indonesiskh Perbureua” sebagai bahan perjoangan nasional ialah so’al akan diadakan-nya perguruan tinggi tekhnik di Indonesia. Dari pembantu2nya bangsa Belanda I.P. Bureau dapat sebuah ”geheim verslag” yang sangat penting. Yaitu pelaporan rapat para “industrieelen”, di-antaranya pemilik-pemilik onderneming-onderneming di Indonesia. Menurut pelaporan tadi oleh rapat tersebut diputuskan untuk memberi stootkapitaal kepada perguruan tinggi tekhnik yang direncanakan itu, yang untuk seterusnya perguruan tadi hendaknya berdiri sebagai milik suatu ”stikhting”, yang akan dimintakan subsidie kepada pemerintah. Yang pentirg pula dalam rencana tadi ialah bahwa perguruan tinggi tekhnik itu janganlah diberi status sama dengan “Tekhniskhe Hogeskhool Delft”, tetapi cukup diberi nama dan status ”Hoogere Polytekhniskhe Skhool”. Abiturientennya nantinya dapat diberi kesempatan untuk meneruskan pelajaran-nya di Delft.
Siukurlah, bahwa di dalam Tweede Kamer so’al-al kedua-duanya seperti yang tersebut di muka tadi oleh anggauta-anggauta-nya yang progressif, a.l. dari Fraksi-Fraksi S.D.A.P., dapat dijadikan so’al-al yang “dipentingkan”. Maklumlan, biasanya so’al3 Indonesia itu di dalam Parlement Belanda dianggap ”so’al-al martil”, yaitu tidak perlu dibicarakan panjang dan lebar (kecuali apabila termasuk dalam “Indiskhe Begrooting”). Ketua Parlemen dengan memegang martil, hanya membaca nomor-nomor-nya so’al dan siap memukulkan-nya martil itu di-mejanya untuk meresmikan keputusannya ”voor”.
Di samping “perscampagne”, yang pada pokoknya bersifat aksi politik, I.P. Bureau melakukan pula ”cultureele propaganda” dengan mengadakan pertunjukkan-pertunjukkan kesenian dan pidato-pidato dan atau pertunjukan “likhtbeelden” di beberapa tempat di Nederland. Studenten kita menginsyafi benar-benar, bahwa rakyat Nederland pada umumnya menganggap bangsa kita adalah bangsa yang belum ber-adab, belum berkesusilaan dan belum berke-budayaan. Indone’ia bagi mereka hanya terkenal sebagai tar-ak yang kaya bahan-bahan hasil bumi seperti gula, kopi, teh, karet, kina, kopra, tembakau, minyak tanah, timah dan lain-lain sebagainya. Mereka sangat mencintai Indonesia sebagai Kolonie Nederland, serta insyaf pula, bahwa ”Indonesia is de kurk, waarop Ne- derland driyf“, bahwa: ”Indië verloren, rampspoed geboren, bahwa Indonesia adalah: “een gordel van smaragd” dan sebagainya. Akan tetapi mereka itu menganggap kita sebagai “on-beskhaafd volk” yang harus mendapat tuntunan dan pertolongan serta pendidikan kuturi! dari bangsa Belanda. Inilah semuanyu yang menjadi alasan bagi pemuda-pemuda kita di Nederland, untuk menunjukkan dan membuktikan pada rakyat Belanda, bahwa Indonesia adalah bangsa yang lebih tua dari pada Nederland dan lama sebelum Nederland, sebelum Holland lahir di muka bumi ini, sudah merupakan negara dan bangsa yang beradab dan berkebudayaan. Untuk keperluan itulah dirasa sangat perlu oleh para pelajar kita, di-kota3 yang agak besar atau kota yang berkebudayaan, misalnya Leiden, Delft, Den Haag, Amsterdam, Rotterdam, dsb. kadang-kadang diadakan pertunjukan-pertunjukan dan atau pidato-pidato, yang dapat memberi bukti-bukti yang nyata kepada bangsa Belanda tentang adanya kebudayaan Indonesia yang asli, yang luhur dan halus. Pengaruh dari pada usaha ini, tidak sedikit. Banyak orang-orang ahli kesenian, ahli keagamaan, ahli pengetahuan dll. sebagainya, ingin hidup berdekatan dengan bangsa kita, sc-telah mereka itu dapat pengertian yang benar tentang bangsa kita, sesudah mereka itu mengundungi lezingen dan atau cultureele demonstraties, yang diselenggarakan oleh studenten kita itu. Sebelum “Indonesiskh Persbureau” ada, lezingen dan demonstraties itu juga sudah diadakan, tetapi belum secara besar-besaran.
Baiklah kiranya di sini diperingati, bahwa pemimpin I.P.-Bureau sendiri yaitu Suwardi Surya Ningrat, atas permintaan dari Universiteit Leiden dan Utrekht, Landbouw-Hoogeskhool Wageningen dan Handels-Hoogeskhool Rotterdam pernah mengadakan lezing pada para studenten dan professoren dari madrasah-madrasah luhur yang tersebut itu.
Patut pula di sini diperingati, bahwa studenten kita di Nederland pada tg. 20 Mei 1918 mengadakan perayaan “Hari Nasional” sambil memperingati berdirinya perhimpunan nasional yang pertama “Budi Utomo” pada hari 20 Mei 1908. Pada hari itulah diterbitkan buku peringatan “Sumbangsih”, yang merupakan sebuah kitab besar dan tebal serta dihiasi dengan gambar-gambar yang historiskh. Penerbitannya sesungguhnya diserahkan kepada suatu panica, akan tetapi pemimpin I.P. Bureau duduk dalam panica penyelenggaraan tersebut.
Kerja sama antara “Indonesiskh Persbureau” dengan badan-badan penerbit lain kadang-kadang dilakukan pula, yaitu misalnya penerbitan buku-buku kecil yang meriwayatkan (biographie) hidupnya pemimpin pertama dari ”Budi Utomo” (dr. Wahidin Sudirohusodo) dan pemimpin ke - 2 (Pangeran Aryo Notodirojo). Kedua-duanya kitab biographie itu dikarang oleh Suwardi Surya Ningrat dan diterbitkan oleh Uitgeversmaatskhappiy “Adi-Pustaka” kepunyaan R.M. Noto Suroto di Den Haag. Demikian pula penerbitan ”Kinanti Sandung, proce eener piano-bewerking, met tekst van wiylen Mangkunagoro IV en vertaling van Noto Suroto”, yang diterbitkan oleh I.P.-Bureau dengan bantuan clikhé dari “Adi-Pustaka”.
Cukuplah kiranya kenang2an saya ini untuk menggambarkan usaha dari pada “Indonesiskh Persbureau” di Den Haag, dalam tahun 1913 sampai 1919, yang diselenggarakan oleh Suwardi Surya Ningrat dengan bantuan para Studenten Indonesia di Nederland. Saya ulangi pula, bahwa I.P.-Bureau tsb. bukannya Persbureau semata-mata akan tetapi boleh disebut sebuah badan-propaganda umum dari pada gerakan rakyat Indonesia, lebih te-cas sebuah, badan-perjoangan, yang mewakili seluruh perjo-angan rakyat Indonesia dalam segala kepentingan politik dan kulturii.
I.P. Bureau tidak hanya menggunakan alat-alat pers, ya’ni pe-nerbitan majalalah, risalah, bulletins, pancaran berita di harian3 dsb., akan tetapi “Indonesiskh Persbureau” menyelenggarakan pula pertunjukkan-pertunjukkan kesenian, pidato-pidato (lezingen dan voor-drakhten) dengan pertunjukkan ”likhtbeelden”, juga exposities.
I.P.-Bureau tidak berdiri atas commercieele basis, tetapi meng-gunakan “zelfbedruipingssysteem” dengan bantuan dari segala lihak, juga yang berupa financieel, asal tidak mengikat.
I.P.-Bureau bekerja bersama dengan beberapa badan, baik badan penerbitan dan kantor-kantor-pekaaran (Vas Dias, Neder- landskh Persbureau dil.) Maupun dengan partai-partai politik, (teris-timewa S.D.A.P. dan C.P.N.) dan kaum Seniman-merdeka pada umumnya.
Mudah-mudahan keterangan yang agak global dan summier ini dapat juga terpakai sebagai dokumentasi, yang membuktikan bahwa systeem perjoangan dengan Pers dan Kulturecle Propaganda pada tahun 1913 sudah ada yang melakukan, yaitu pemuda-pemuda kita di negeri asing, di Nederland, untuk menyeraang Kolonialisme dan Kapitalisme Belanda, di negerinya sendiri.
JAMAN KOLONIAL
ZAMAN DI SEKITAR TAHUN 1908
Berhubung dengan teryadinya adat peringatan “Hari Kebangunan Nasional” pada tian-tian tg. 20 Mei, maka beberapa peristiwa penting di sekitar hari 20 Mei tahun 1908, diceriterakan; baik di surat-di surat kabar Maupun dalam pidato-pidato peringatan. Meskipun sebagai ikhtisar untuk memberi gambaran ”global” dari segala apa yang ada dalam zaman di sekitar 1908 itu, uraian-uraian tsb. mungkin cukup, namun sangat boleh menjadi tentang nilai peristiwa-peristiwa tadi orang di zaman sekarang kurang tepat penghargaan-penghargaan nya. Ini disebabkan karena tiap-tiap peristiwa, tiap-tiap kejadian, tidak terlepas dari suasana yang meliputinya. “Suasana” itu berisikan dua arti: alam nya dan zamannya dan 2 inti itu yang ikut menetapkan ”nilai” dan “penghargaan” terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Dalam arti kebudaya n maka ”alam” itu tidak lain dari pada seluruh leadaan yang ada dan merupakan anasir yang “statis”. scdangkan yang disebut ”zaman” ialah segenap manusia, yang dalam waktuyangtertentu merupakan masyarakat yang hidup serta mewuyudkan sifat “jnamis” atau gerak-gerik lahir dan batin. Inilah yang biasanya disebut ”zaman”. Begitulah alam dan zaman yang ada di-sekitar tahun 1908, harus dikenali benar-benar, apabila kita hendak mendapat kesa n-n yangbenar, agar dapat mencetapkan “nilai” yang tepat dari pada peristiwa-peristiwa tsb.
Marilah untuk maksud itu kita meninjau suasana yang ada pada zaman kebangkitan atau kebangunan nasional pada tanggal 20 Mei 1908, pula sebelumnya dan sesudahnya itu. Zaman itu ialah waktu beralihnya abajang ke-19 menjadi abajang ke-20. Di tanah air kita masih berkuasa sepenuhnya bangsa Belanda, dengan hukum penjajahannya di atas negeri kita. Pemerintah “Hindia Belanda” bukan pemerintah yang bertanggung jawab kepada rakyat, namur semata-mata badan penyelenggara, yang bekerja di bawah pe- rintah dan atas tanggung yawab pemerintah Nederland, yang untuk itu mempunyai kementerian sendiri, ya'ni “ministerie van koloniën” di Den Haag. Di sini hanya diadakan “wali negara” (landvoogd), yang dengan bantuan para anggauta “Raad van Nederlands Indië” menyerahkan segala tugas kewaji-bannya kepada “departementen van algemeen bestuur”. Begitu pula kepala daerah “provincie” (yang bertitel “gouverneur”), kepala-kepala “resi-densi” (resident) dan kepala “afdeeling” (asisten-resident) semuanya bangsa Belanda. Mulai daerah “kabupaten” dipimpin seorang “bupati”, namun di bawah “pengawasan” (sebenarnya “di bawah perintah”) seorang “controleur” Belanda. (S.cara sambil lalu baiklah diingati di sini, bahwa waktu itu ada seorang academicus keluaran Universit Leiden, bagian “Indologie”, yaitu R.M.A. Kusumoyudo, tidak dibolehkan, seperti teman-nya belajar, menjadi “controleur B.B.” sebab ia seorang “in- lander”. Kelak di zaman sesudah pergerakan rakyat kita meru pakan suatu kekuatan yang ditakuti Belanda, Kusumoyudo itu, yang tadinya berjabat “regent”, diangkat menjadi “edeleer”).
Meskipun zaman itu sebenarnya segala pekerjaaan praktis dikerjakan oleh pegawai bangsa kita, dan belum banyak orang Belanda, tetapi “jiwa kenasionalan” tidak sanggup menyelundup ke dalam pemcrintahan. Ini disebabkan karena systimnya dan organisasinya pemerintahan semata-mata bersifat “kolonial”. Ini berarti hidup suburnya jiwa “fascis” dan “dictator” serta terpeliharanya baik-baik haluan “imperialis” dan “kap'talis”. Sebenarnya ada juga bangsa kita yang termasuk dalam golongan yang dipentingkan, yaitu para bupati. Mereka ini diberi kedudukan sebagai “raja”2 kecil, misalnya dengan diadakannya “erf-opvolgingsysteem” bagi anak-turunannya untuk menggantikan kedudukan ayahnya. Para bupati tadi dan semua orang yang metupakan “kelas-atasan”, dipakainya oleh Belanda untuk membantu mempertahankan kedudukan Belanda, sehingga mereka semua itu terpaksa ikut serta dalam menekan dan menindas rakyat.
Pernah seorang pemuda zaman kini, berhubung dengan susun-a:i pemerintahan seperti yang tersebut tadi, terkeluar fikirannya, bahwa sebetulnya waktu itu gampang sekali untuk mengerahkan rakyat guna melakukan revolusi. Memang begitu! Beberapa
“pemberontakan” telah dilakukan oleh berbagai golongan. Bahkan ada yang sampai merupakan “perang”, karena bersifat umum dan berjiwa “nasional”, seperti a.l. perangnya rakyat Aceh di bawah pimpinan Tengku Unar, perangnya rakyat Sumatra Teungah yang dipimpin Imam Bonjo!, perangnya rakyat Sulawesi di bawah komando pahlawan Hasanuddin, rakyat Ambon di bawah kemudi Pattimura, rakyat di Jawa yang berturut-turut dipimpin oleh Sultan Agung, Mangkubumi dan Diponegoro, pula lain-lain pahlawan di seluruh Indonesia. Namun semuanya tidak dapat memusnahkan kekuasaan Belanda. Justru itulah, yang menjadi salah satu alasan bagi para pelopor “kebangunan nasional” tahun 1908, untuk melakukan siasat lain, yang pokoknya ialah: 1. menyatukan rakyat dengan ikatan nasional; 2. memperkuat jiwa dan raga dalam arti se-luas-luas ny a, khususnya dalam arti “moril” dan “intelektui”, juga “sosial” dan “ekonomis” akhirnya dalam arti “politik”; 3. segala aksi dan usaha dilakukan secara modern, dengan mengingati segala keadaan yang nyata, ya'ni “obyektif” dan “konkrit”.
Janganlah dilupakan adanya perlengkapan pemerintah Belanda, yang mempunyai K. L. dan K.N.I.L.-nya yang serba modern dan terpelihara baik-baik. Janganlah pula dilupakan adanya alat-alat kekuasaan dan kedaulatan lain2ny a, yang serba lengkap: polisi, yang biasa dan yang rahasia, dengan P.LD.-nya. Semua alat-alat kekuasaan tadi bertugas menyaga keamanan dan berwaji bertindak keras, dengan cara yang sering kali melampaui batas-batas perikemanusiaan, menangkap, membelenggu, membuang, me-ngcdrél (menembak mati secara besar2an), dll. sebagainya.
Waktu itu mulai bertumbuh rasa kumanusiaan di kalangan se-mentara golongan Belanda di Nederland. Timbullah sikap “ethik” (baik-budi yang mengakibatkan timbulnya siasat “ethiskhe politik”). Pemerintah mulai melakukan sikap atau siasatethik: di sini membantu usaha (yang tidak membahaya-kan kepentingan2ny a kolonial, tentunya), di sana mencari contact dengan pemuka-pemuka rakyat. Orang3 yang berbudi baik, seperti Snouck ‘Hurgronye dan Hazeu, dimasukan ke dalam “markas ethiskhe koers“-nya. Namun anehnya lagi: Jenderal Van Heutsz mendapat tugas secara ”vol mandaat“ untuk membersihkan Aceh dll. daerah yang dikhawatirkan. Nampaklah di sini gerak-gerik jiwa bangsa Belanda zaman itu, yang serupa dengan gerak-gerik jiwa seorang manusia, yang menderita ”minderwaardigheids-complexen“. Ingin berkuasa, insyaf akan kelemahannya (moril dan fisik), karena itu terus menerus gelisah, dengan menunjukkan sikap yang penuh dengan ”anti-thesen“ (sikap yang saling bertentangan).
Waktu itu rakyat pada umumnya terus menerus berketakutan, boleh jadi seperti dalam waktu “pendudukan” dan “pembersihan”, ketika clash ke-II y.l.
Perkataan “merdeka” sekali-kali tak boleh diucapkan; tiap-tiap kritik terhadap sesuatu tindakan pemrintah, sangat membahayakan, karena dapat menyebabkan “spreekdelict” yang kerap kali disertai penahanan preventif. Aksi politik tidak mungkin dan dilarang menurut fasal III R.R., ya'ni “Undang-undang-dasar” Hindia Belanda, yaitu yang disebut “regeeringsreglement”. Tidak usah kami jelaskan bahwa sikap yang sedemikian itu adalah tabiatnya orang yang menderita penyakit “rasa-rendah” atau “minderwaardigheidscomplexen” yang terkenal itu.
Di luar lingkungan politik (betulnya lingkungan masyarakti umum, tetapi mengandung tujuan politik) zaman itu, ada rag³ adat yang sangat anehnya, apabila dipandang dengan kacamata sckarang. Yaitu misalnya adanya peraturan, bahwa seorang “resident” mempunyai hak atas penghormatan, yang sama dengan penghormatan rakyat terhadap Sultan atau Sunan. Mereka itu harus dihormati dengan “dodok” dan “sembah” dan........ memakai “payung” yang sama dengan payungnya raja Jawa yaitu “songsong gilap” (payung berwarna emas). Juga “assistent-resident” dapat dodok sembah dan pakai payung “endog-setugel”, ya'ni yang bercorak: emas-putih-emas, sseperti payungnya seorang pangeran.
Adanya sebutan “kanjeng tuan” untuk seorang resident assistent-resident, controleur dll. sebagainya cukup diketahui, karena hingga zaman yang akhir-akhir ini masih dapat kita dengar.
Belum habis ceritera kami tentang adanya adat kebiasaan yang aneh-aneh di zaman itu. Ketika marhum R. Ismangun Danuwinoto dan Raden Kamil (ke-dua-duanya terkenal sebagai inspecteur onderwiys yang ulung) menempuh ujian “hoofdakte”, bersama-sama dengan guru-guru Belanda, maka di ruangan ujian keduanya intelektuul kita itu tidak boleh duduk dikorsi dengan meja tulis, namun bagi kedua mereka itu disediakan tempat duduk di bawah, dengan tikar di atas lantai. Dokter-Dokter kita, para patih, wedana se-bawahannya, zaman itu selalu duduk di bawah. Sebaliknya tiap-tiap orang Tionghoa, Arab, Hindu, selalu duduk di kursi, bersar:asama dengan orang-orang Belanda.
Dalam caranya bangsa Belanda bercakap-cakap dengan orang-orang bangsa kita di daerah Jawa ada keanehan pula. Mere-ka menggunakan bahasanya sendiri (Belanda) atau bahasa Melayu, tetapi bangsa kita hanya dibolehkan berbahasa Jawa (barang tentu bahasa “kromo-inggil”), sedangkan terhadap pembesar Belanda, yang belum mengerti bahasa Jawa, harus digunakan bahasa Melayu. Yang aneh itu, tidak dibolehkannya bangsa kita menggunakan bahasa Belanda. Rupa-Rupanya jangan sampai timbul pergaulan ramah-tamah atau sama-rata, antara mereka yang berkult putih dengan bangsa kita yang dianggap sesama ”sudra”.
Masih ada hal yang aneh pula. Zaman itu rakyat tidak diboleh-kan dengan naik kendaraan menyebearang alun-alun, di muka istana keraton atau istana para regen. (Baiklah di sini diperingati, bahwa untuk Solo hapusnya peraturan itu disebabkan karena aksinya marhum Dr. Cipto Mangunkusumo, yang diikuti oleh rakyat murba).
Cukup sekian contoh-contoh yang dapat menggambarkan suasana di zaman dulu, lima puluh tahun yang lalu. Teranglah kini kiranya, betapa besar keberani:anya Dokter Sutomo dan kawan-kawanrya, yang pada tanggal 20 Mei 1908 memulaikan gerakannya ke-arah ke-nasionalan dan kedemokrasian, dengan meng-obar-obarkan semangat revolusioner.
Dalam pada itu perlu diingat juga, bahwa sebelum perang Jepang-Rusia, sebétulnya sudah muiai ada bukti-bukti kesadaran, iepas dari peristiwa³ di luar negeri. Timbulnya cita-cita baru di-dalam jiwa Kartini, segala usaha Dr. Wahid an
Sudirohusodo (sebelum “Budi-Utomo” lahir), dan lain-lain sebagainya, adalah bukti-bukti kebangunan, Meskipun waktu itu masih individueel. Dalam suasana yang sedemikian dapat di-mengerti, bahwa kemenangan Jepang tadi menambah gerakan-gerakan sentimen dalam jiwa para cerdik pandai dan pemuda-pemuda peyajar kita. Mereka waktu itu merupakan generasi baru, yang boleh digambarkan sebagai orang-orang yang cukup “berpribadi” untuk melakukan aksi pembaharuan, nasional dan sosial.
Pelopor-Pelopor kita para pemuda pelajar tahun 1908 itu terang-terang merupakan orang-orang “berpribadi”, karena mereka semua memiliki sifat-sifat yang tersendiri, yang lain dari sifat-sifat kebanyakan orang-orang pada zaman itu. Mereka semua nampaknya jemu terhadap adat-istiadat, yang mengikat manusia dan kadang-kadang bahkan mematikan semangat perikemanusiaan pada umumnya. Subyectiviteit jarang terlihat dalam segala usaha rakyat kita waktu itu. Spontaniteit-Spontaniteit nihil. Zaman itu adalah zaman 100% kolonial. Orang-Orang bangsa kita biasanya hanya bertindak, kalau ada perintah atau takut ke pada hukuman yang mengancam. Keadaan yang sedemikian itu menyebabkan adanya banyak orang, yang dipandang dari sudut kelahiran, disebut orang-orang yang “putus asa”. Dan ini mempunyai ekibat pula, yang merugikan perkembangan hidup kemasyara-katan kita secara normal. Misalnya banyak orang (dan mereka ini orang-orang yang berpribadi) meninggalkan keramaian hidup bersama, untuk mencari alam lain, yang mungkin dapat memberi sckedar kepuasan batin. Mereka menjadi orang “tapa” untuk mencari “kesempurnaan”, ya'ni kesempurnaan hidup batin dengan menyatukan diri dengan Hyang yang Maha-Esa.
Biasanya mereka itu memang orang-orang yang mempunyai dasar kejiwaan yang “idealitis”, jauh dari semangat “kebendaan” atau “materialisme”, dan pula mempunyai bakat “mystik”, (ter-tarik kepada segala so'al yang bertali dengan hidup “gaib”). Kalau dalam jiwa mereka itu terdapat “correlasi” (campuraan atau hubungan) dengan dasar “jiwa politik” maka kadang-kadang akhirnya mereka itu ada yang lalu merupakan cpe “mysticus” yang “revolusioner”. Banyak pemberontak-pemberontak melawan pemerintah, gerakan-gerakan “ratu adil” dsb. termasuk dalam golongan tadi. Meskipun gerakan-gerakan itu boleh dianggap ada gunanya sebagai penghalang siasat kolonial, yang imperialistis, dan kapitalistis, pula sebagai
“pro-paganda semangat kebangsaan”, namun dapat dimengerti adanya bahaya-bahaya yang mudah menjadi akibat-akibatnya pemberontakan-pemberontakan atau gerakan-gerakan, yang se-mata-mata didasarkan atas kepercayaan dan fanatisme “kegaiban”, tidak dengan perhitungan fikiran yang se-hat serta mengabaikan realiteit, ya'ni keadaan yang nyata adanya.
Di sinilah letaknya perbedaan antara sikap para pemuda kita, yang pada tanggal 20 Mei 1908 memulai aksinya, yang nasionalitis dan revolusioner itu, bedanya dengan gerakan-gerakan menentang penjajahana pada zaman sebelumnya. Mereka menginsyafi aka-aka hakekatnya penjajahana Belanda di tanah-ainrya, akan kekuasaan Belanda di Indonesia. Mereka mengerti adanya hubungan antara negeri Belanda dengan negeri-negeri lain di Eropa, yang semuanya menjadi bangsa-bangsa penjajah di seluruh benua Asia. Pemuda-Pemuda kita waktu itu tahu benar akan sifatnya kapitalisme, yang internasional dan karenanya sangat kuat. Mereka sadar benar akan adanya alat-alat kekuasaan dan kedaulatan kepunyaan Belanda, yang ada di Indonesia, dan siap sedia untuk menghancurkan tiap-tiap gerakan yang berani melawan pemerintahan Hindia Belanda.
Untuk dapat menyelami apa yang hidup dalam kalbu para pelopor kita pada waktu itu, hendaknya diketahui, bahwa justru sebelum beralihnya abad ke-19 ke dalam abad ke-20, ada perang besar antara Jepang dan Rusia. Kita tahu bahwa Jepang yang menang. Waktu itu kita belum kenal apa dan siapa Jepang itu, apa dan siapa Rusia itu, namun kita tahu bahwa Jepang adalah negara dan bangsa Asia, dan bahwa Rusia adalah negara dan bangsa Eropa. Rasa ikut bangga hati atas kemenangan negara Asia dalam perangnya melawan negara Eropa, itu membuktikan adanya rasa “solidér”, rasa “senasib” dengan bangsa Asia lain. Di sinilah nampak keinsyafan, Sekalipun masih suram-suram, akan adanya sifat penjajahana bangsa-bangsa Asia oleh bangsa-bangsa Eropa, se-tidak-tidaknya keinsyafan akan adanya “antithese” atau pertentangan antara Eropa dan Asia. Kemenangan Jepang seakan-akan menyadarkan jiwa kita dan menginsyafkan rakyat akan kedudukan kita sebagai “rakyat negeri yang dijajah”. Lebih-Lebih para pemuda kita yang masih berjiwa murni, pula karena kecerdasannya serta idealismenya pada zaman itu merasakan bergeloranya se-mangat di dalam uyiwanya.
Hanya kekuatan seluruh rakyat yang bersatu, tidak berpecah belah, digerakan secara teratur. dengan perhitungan logika. hanya itulah yang dapat dipakai pada instansi pertama, untuk dapat menghadapi kekuasaan dan kekuatan pemerintah kolonial pada zaman itu.
Sebelum Sutomo, Gunawan Mangunkusum o dan lain2nya memulaikan aksinya di sekitar hari 20 Mei 1908 itu, sebenarnya sudah ada usaha ke arah persatuan nasional, yaitu yang dilakukan oleh Dr. Wahidin dan kawan2nya (diantaranya: Pangeran Notodirejo, M. Budiarjo, R. Ng. Dwijosewoyo, dan banyak lain2nya, semuanya di Yogyakarta). Namun aksi tsb., tidak ber hasil karena para bupati kebanyakan takut untuk ikut beserta, padahal oleh Dr. Wahidin justru merekaalah yang diperlukan. Baru sesudah para pemuda di Jakarta memproklamirkan berdirinya B.U.. dan Dr. Wahidin menggabungkan aksinya dengan aksi para pemuda tersebut dapatlah dimulaikan aksi ke arah persatuan nasional secara besar-besaran.
Sebagai dokumentasi ada baiknya, di sini kami sebut juga percobaan R. A. Kartini dan R. A. Rukmini, bersama-sama dengan puteri-puteri di Pakualaman-Yogyakarta, (sebelum 20 Mei 1908) untuk mengadakan persatuan kaum wanita, guna meneruskan cita-cita marhum R.A. Kartini. Seperti juga aksi Dr. Wahidin yang pertama, percobaan puteri-puteri tadi gagal, karena tak dapat sambutan yang diperlukan dari kalangan kaum wanita zaman itu. Apabila kegagalan ini dan kegagalan Dr. Wahidin dalam usahanya yang pertama tadi kita bandingkan dengan aksi para pemuda kita yang bersukses besar itu, maka dapatlah kita menetapkan, bahwa berhasilnya aksi Sutomo, Gunawan d.k.k. itu disebabkan karena mengandung tendens anti - penjad yahan dan pro-demokrasi dengan terang-terang. Perkembangan pergerakan rakyat seterusnya membuktikan, bahwa tendens tsb. memang hidup di dalam cita-cita rakyat seumumnya.
Timbulnya pergerakan-pergerakan yang bersifat khusus (sosial, ekonomis, politis, kulturil dll. sebagainya) segera sesudah B. U. berdiri, hendaknya dipandang sebagai satu bukti pula, yaitu bukti bahwa waktu itu di seluruh lapisan dan golongan masyarakat sudah hidup cita-cita progresif, dan sudah banyak orang-orang yang tidak saja sanggup, namun mampu pula untuk memimpin atau melaksana-kan segala usaha ke arah kemajuan dalam pelbagai lapangan.
PERSIAPAN KEMERDEKAAN
PERSIAPAN KEMERDEKAAN 1942—1945
Timbulnya revolusi nasional, mulai dengan direbutnya kekuasaan Jepang oleh pemuda kita, dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada h.b. 17 Agustus 1945 oleh pemimpin rakyat, di bawah komando Bung Karno dan Bung Hatta, adalah pemuncakan perjoangan nasional rakyat kita. Kerap kali dinyatakan, bahwa tercapainya kemerdekaan pada hari yang beriwayat itu, adalah hasil perjoangan rakyat sejak 20 Mei 1908, ya'ni “Hari Kebangunan Nasional” kita. Akan tetapi janganlah dalam pada itu dilupakan, bahwa sebenarnya sudah sejak bangsa Eropa mendarat di pantai Indonesia, mulai dengan Portegis dan kenrudian Belanda, menyusul Perancis dan Inggeris (dalam jaman Napoleon Bonaparte) akhiirnya Belanda menjadi bangsa yang untuk seterusnya berkuasa di kepulauan kita Indonesia itu, sudah bermulai perjoangan nasional itu. Raja seluruh Indonesia dari Aceh sampai Maluku dan Irian, terus menerus melakukan segala usaha untuk menyelamatkan rakyatnya, dengan melakukan perlawanan yang kadang amat hebatnya“ di bawah pimpinan para panglima yang gagahdan berani, seperti Tengku Umar, Imam Bonjol, Sultan Agung, Dinponegoro, Trunojoyo, Patimura, Hasanuddin dan banyak lainnya. Dari kalangan rakyat sendiri ta‘ ber-putus timbulnya pemberontakan dan perlawanan secara gerilya, serangan secara bergerombolan atau individueel. Semuanya itu membuktikan, bahwa rakyat kita bukanlah sekali-kali rakyat yg. berwatak ”budak“, sebaliknya nyata mempunyai tforak jiwa, yang boleh disebut watak kesatria: gagah dan berani. Sungguhpun dalam zaman yg. akhiir tforak gagah-berani itu agak suram tampaknya dan ini disebabkan karena siasat Belanda, baik dalam lapangan politik dan ketentaraan, Maupun dalam usaha nyia di lapangan pendidikan, kemasyarakatan, kebudayaan dl.l.-nya, akan tetapi di mana ada kesempatan terluang. di situlah masih kerap kali nampak watak atau tforak jiwa kesatria tadi. Timbulnya gerakan ”Ratu Adil“, Sekalipun bentuk dan ciara melaksanakannya biasanya sangat terpengaruh oleh dorongan-dorongan fanatisme, namun ta‘ bolkh dipungkiri nyia bahwa sifatnyia yang pokok ialah semata-mata memberontak kekuasaan penjajañan dengan segala peralatannya.
Apabila kita menyelidiki semangat sikap rakyat seluruhnya, baik di-desa-desa Maupun di-kota-kota, maka sebenarnya tidak pernah ada “perasaan baik” atau “sympathie” terhadap bangsa Belanda. Rakyat merasa dipaksa dan diperalat, ditindas dan diperas. Di-samping itu rakyat merasa ta'berdaya untuk mewuyudkan perlawanan yang kuat, tertib dan teratur. Barang tentu ada hubungan yang erat antara perasaan itu dengan kemiskinan dan kelemahan diyiwa raga pada umumnyia. Bagaimana juga bolehlah di sini diletapkan, bahwa sebenarnya tidak pernah rakyat kita mengakui pemerintahan Hindia-Belanda sebagai pemerintahnyia. Sebaliknyia berkali-kali terbukti, bahwa rakyat jelata di Jawa kebanyakan menganggap Sunan Solo dan Sultan Yogya-lah, yang berhak untuk berkuasa di Jawa. Dipandang dari sudut kejiwaan dapatlah hal itu dianggap sebagai sifat dan wujudnyia kepertayaaan rakyat murba, bahwa raja itu adalah lambang kemerdekaan bangsanya. Jadi, baik kerap timbulnyia gerakan-gerakan “Ratu Adil” di seluruh tanah-air kita, Maupun rasa keta'atan terhadap raja-rajanya itu mempunyai arti yang penting. Yaitu bahwa rakyat jelata dengan ta‘ ber-putus-putus senantiasa berjaoang untuk dapat terlaksananya gúa cita-cita yang pokok, yaitu keadilan sosial dan kemerdekaan hangsa.
Kini tiap-tiap 17 Agustus seluruh rakyat memperingati berdirinya Republik kita pada hari bulan 17 Agustus 1945. Barang tentu banyak peristiwa-peristiwa serta keadaan-keadaan sejak tanggal itu, diperingati, baik dalam karangan-karangan di surat-surat-kabar Maupun dalam pidato-pidato di-rapat-rapat atau di muka ciroong radio. Semua karangan-karangan dan pidato-pidato itu barang tentu banyak faedahnya dan besar gunanyia. Uraian yang satu menebalkan hati kita; yang lain memberi bukti-bukti akan benarnya kejadian-kejadian yang sebelumnyia hanya kita dengar dengan ciara sambil lalu. Lain pemandangan membuka fikiran kita tentang sesuatu so'al yang berkenaan dengan kemerdekaan negara kita. Lainnyia lagi memberi kesempatan bagi kita untuk melakukan “self-koreksi” atau untuk menguatkan usaha-usaha yang ternyata baik, bagi rakyat dan negara kita. Demikianlah veterusnyia
Pada saat peringatan itu janganlah hendaknya kita hanya bersuka ria dan bergembira saja, akan tetapi ingatilah adat yang hidup dalam masyarakat kita, yaitu bahwa tiap-tiap peringatan baik yang bertalian dengan hidup kebatinan atau agama, Maupun yang berhubungan dengan hidup lahir kita, selalu kita rayakan dengan cara “selamatan”. Perkataan ini mengandung arti, bahwa dalam memperingati sesuatu kejadian itu, kita tidak saja ber-senang-senang (kenduri, memberi pertundukan-pertundukan, wayang atau lainnya dsb), akan tetapi juga melakukan upacara mendo’a kepada Yang Maha Kuasa, semoga kita terus dikeruniai selaniat dan bahagia oleh Tuhan.
Dalam buku ikhtisar yang sangat singkat ini, saya tidak hendak ikut memberi bahan peringatan tentang berdirinya Republik kita sejak tanggal 17 Agustus 1945, akan tetapi niat saya hanya hendak memberi sedikit kenang-kenangan tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin rakyat kita sebelum Hari Proklamasi Kemerdekaan kita.
Kita mulai dengan peristiwa yang maha istimewa, yaitu penyerbuan tentara Jepang di Jawa pada h.b. 8 Maret 1942. Tentara Belanda yang sebelumnya sudah bersumpah: “Liever staande sterven dan knielende leven” (lebih baik mati berdiri dari pada hidup berjongkok) segera bertekuk lutut dengan tiada perjanjian suatu apa pun. ”Dilalah kersa Allah”, kata orang Jawa yang berarti: “Itulah kehendak Tuhan”. Be-ratus-ratus tahun rakyat kita berusaha melepaskan diri dari Nederland, dengan segala cara yang mungkin dilakukan; misalnya dengan melakukan pemberontakan, bahkan dengan perang-perang yang hebat, ber-puluh-puluh tahun. Sejak 20 Mei 1908 rakyat melakukan perjangan politik beserta mendirikan partai-partai politik; dengan melakukan sikap ”noncooperasi”, atau dengan sikap “liydeliyk verzet”. Tidak kurang pula yang melakukan pemberontakan; tetapi semua sikap dan usaha itu tidak dapat mematahkan kekuatan Belanda sebagai kolonisator atas tanah air kita Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1942 yang tersebut tadi, Tuhan mewayangkan ”Raja Sebrang” berlawan “Raja Raksasa”. Si Rak-sa yang menguasai dan menindas rakyat kita, kalah dengan sempurna dalam sekejap mata saja, serta hancur lebur kekuasaan dan penguasaannya atas Indonesia. “Dilalah”. Mulai hari 8 Maret 1942 itu Raja-Seberang-lah yang menggenggam tanah tumpah darah kita. Di samping janji-janji yang muluk-muluk kita melihat gerak-gerik dan isyarat-isyarat yang sangat mengkhawatirkan, karena bahaya-bahaya yang dahsyat pasti akan datang dari fihak Tentara Seberang itu. Berjaga-jagalah! Pada waktu itu kita lihat ada 5 golongan yang bersikap nyata, sebagai yang berikut:
- Mereka yang melawan masuknya Jepang, sayang karena Sungguhpun berjuang dan bertempur, bahkan ada yang gugur sebagai pahiawan, akan tetapi sebagai pengikut Belanda, atau kekuasaan Nederlands Indië, mereka itu ikut berperang untuk menguntungkan penjajah Belanda.
- Golongan yang menyerah bulat-bulat kepada Jepang atau “pasrah bongkokan” menurut kata orang Jawa; kita menege: bahwa ada dari mereka itu yang “terpaksa” (kaum lemah), tetapi ada pula yang hanya mengejar hidup senang buat dirinya séndiri; dulu budak Belanda lalu menjadi budak Jepang, asal selamat, katanya.
- Golongan yang menolak Jepang dalam bathinnya, akan tetapi merassa tidak mampu dan tidak sanggup untuk melawan dan menentangnya; kebanyakan dari pada mereka itu lalu “menghilang”; ada yang berdagang, bertani, menjadi “kiyai”, asal dapat menghindarkan diri dari pergerakan atau perjuangan.
- Golongan yang ke-4 ini adalah mereka yang berniai akan menggalang kekuatan se-dapat-dapatnya dengan cara “infiltrasi”; yakni menyelusupi, bekerja ber-sama-sama dengan kekuasaan baru, tidak untuk menyerah, tetapi untuk “to make the best of things”; yakni se-dapat-dapatnya mempergunakan segala keadaan baru untuk keperluan kebangsaan kita. Bagi saya sendiri (yang termasuk dalam golongan ini) sikap ini saya namakan “politieke guerilla”, gerilia politik.
- Golongan yang berjuang di bawah tanah ada juga, tapi tidaklah mereka sampai merupakan gerombolan yang besar dan yang berjuang secara positif dan teratur atau berko-ordinasi.
Demikianlah keadaan pada sa’at lenyapnya kekuasaan Belanda dan datangnya kekuasaan Jepang, yang menurut perhitungan umum adalah kekuasaan yang benar-benar sangat luar biasa besarnya, hingga tak mungkin dilawannya.
Golongan ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-5 tidak hendak kita bicarakan di sini, karena kita hanya hendak memberi “coretan” atau ”catatatan” tentang usaha-usaha yang dilakukan untuk menyilapkan gerakan ke arah kemerdekaan Indonesia. Yang pertama kali patut dicatat ialah berdirinya beberapa “Komite Nasional”; pada permulaan di Yogyakarta, di Magelang, di Solo dan di Semarang, atas inisiatif beberapa pemimpin dari segala golongan. Nam-Nam mereka di sini baik tidak di-sebut-sebut dahulu. Kemudian berdiri pula komité di lain-lain tempat, atau gerombolan-gerombolan pemimpin, yang bersama tujuan, yakni mengadakan gerakan kebangsaan dengan cara bekerja ber-sama-sama dengan Jepang. Kemudian komite-komite itu dilara-dilarag oieh pemerintah-balatentara Jepang, bahkan di Magelang, Purworejo, Kebumen dan lain-lain tempat, ada anggauta-anggautanya yang ditangkap oleh ”Kempei”. Pada waktu itu kita mendapat pelaporan, bahwa di seluruh Jawa para pemimpin sanggup mengadakan cabang dari pada “Komite Nasional” itu, yang akan berpusat di Yogyakarta. Di Jakarta dan Bandung gerakan yang sedemikian itu ada pula, Walaupun pada waktu itu sukar sekali mengadakan hubungan, tetapi kemudian dapatlah juga komite-komite itu saling berhubung.
Tidak antara lama datanglah sementara pemimpin dari Jakarta, yang menerangkan bahwa dari fihak Jepang telah ada kesanggupan membolehkan adanya gerakan kebangsaan, asal diarahkan kepada “lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya”, seperti yang terkenal pada zaman yang lampau itu. Fiñak Jepang lalu meminta daftar dari pada nama-nama pemimpin-pemimpin yang paling terkemuka, diurutkan mulai yang paling besar sampai pemimpin-pemimpin yang berkaliber di bawahnya, sejumlah 20 orang tiap-tiap daftar. Kabarnya pada waktu itu, di mana-mana diadakan pen-daftaran itu, dan sesudahnya disaring-saring dengan teliti, ”Gunseikanbu” lalu mengambil 4 orang, yang katanya memperoleh “stem” terbanyak. Mereka ini yang diwajiibkan memimpin gerakan yang dibolehkan itu.
Pada bulan September 1942 empat orang tersebut, yang dapat nama “Empat Serangkai”, berkumpul di Jakarta, dan buat seterusnya merupakan “badan persiapan” gerakan kebangsaan, yang kelaknya ditambah dengan beberapa orang-orang pemimpin lainnya. Pada tanggal - Maret 1943 berdirilah “PUTERA”, singkatan dari pada “Pusat Tenaga Rakyat”. Usaha dari pada PUTERA barang tentu kita semua mengetahuinyia, yaitu: memusatkan segala tenaga yang ada di dalam masyarakat kebangsaan kita, untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia........... “sebagai anggauta Lingkungan kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya”. Begitu-lah maksud tujuan yang resmi, akan tetapi sebenarnya para pemimpinnya bersumpah di dalam hatinya masing-masing. bahwa “kemerdekaan Indonesia 100%” itulah dicica-citakan, serta dikejar secara “gerilya-politik”.
Pada tanggal 1 April 1944 PUTERA dibubarkan oleh Gunseikanbu, yaitu sesudah dari pihak “Empat Serangkai” dimaju-kan tuntutan-tuntutan, yang bersifat radikal, dan rupa-rupanya sangat mengejutkan Gunseikanbu. PUTERA dibubarkan dan........................ pada saat itu Gunseikanbu mendirikan “Jawa Hookookai”, yang terkenal. Sementara pemimpin lalu mengundurkan diri, Walaupun dengan amat sukar memperolehnya idzin untuk itu. Usaha “Hookookai” kita semua masih ingat sebagai “Badan Kebaktian yang beriwayat”.
Dalam pada waktu itu harus dicatat juga berdirinya “Kyukan Seido Coosa Iinkai” atau “Panitia Penyelidik Adat dan Tatanegara Lama”, pada tanggal 1 November 1942, serta pula “Cuoo Sangi In” dan “Sangi Kai”, masing-masing di Jakarta dan di-daerah-daerah Syuu. Di dalam badan-badan tsb. yang menjadi anggautaniya ialah kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat kita yang terkemuka, yang semuanya tidak pernah melepaskan cita-citanya, yaitu melakukan sikap dan tenaga menyiapkan kemerdekaan dengan diam-diam. Dalam waktu itu terus menerus berpengaruh ramalan yang terkenai, yaitu ramalan Joyoboyo. “Hanya seumur jagung Jepang dapat menguasai kita, kemerdekaan menyusul”. Tidak sedikit orang-orang yang percaya akan benarnya ramalan tsb. Di samping itu para pemimpin menggunakan ramalan Joyoboyo itu sebagai “sembayan” yang berpengaruh pada rakyat untuk propaganda. pendek kita semua mementingkan ramalan tersebut.
Kemudian oleh Gunseikanbu diangkatnya sementara orang pemimpin menjadi “Sanyo” atau “Penasehat”, pada akhir tahun 1944, yang lalu disusul dengan berdirinya “Sanyo Kaigi” atau “Dewan Penasehat”. Kalau segala rundingan di dalam “Iyuoo Sangi In” sangat dibatasi dan diawasi, bahkan boleh dikatakan dituntun semata-mata oleh Gunseikanbu, maka di dalam sidang-sidang-nya “Sanyo Kaigi” itu pembicaraan berlaku dengan sangat bebas. Tidak satu orang Jepang turut berhadir di dalam segala perundingannya. Kemerdekaan ini terdapat juga di dalam sidang-sidang dari pada “Badan Penyelidik Adat dan Tatanegara Lama”. Meskipun para anggauta mengerti, bahwa ini adalah muslihat pemerintah balatentara untuk mengetahui benar-benar cita-cita para pemimpin (semua pembicaraan dicatat dengan stenografiskh!), tetapi para anggauta tsb. selalu bersikap dan berniat menyatakan apa yang menjadi cita-cita rakyat, teristi mewa dalam segala so'al kemerdekaan Indonesia. Di dalam pidato-pidato di muka rapat ramai atau di muka microfoon memang benar pemimpin-pemimpin kita itu dicensuur keras, sebaliknya di dalam rapat-rapat badan-badan tersebut tadi mereka sangat merdeka untuk mengeluarkan fikirannya. Dan kesempatan ini dipergunakan sebaik2nya oleh mereka. (Misalnya pernah ditanyakan tentang dibunuhnya Prof. Dr. Mokhtar, Dr. Kayadu dan korban-korban lainnya).
Pada bulan Mei 1945 oleh pemerintah Jepang didirikan “Dokuritu Zyumbi Coosa Kai”, yaitu “Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan”. Di mana diterangkan oleh Gunseikanbu, bahwa pemimpin-pemimpin rakyat sendiri yang harus melakukan usaha ke arah kemerdekaan itu, fihak Jepang hanya membantu sebagai “bidan‘ katanya, maka inilah membuka kesempatan baru bagi para pemimpin, untuk meneruskan langkah-langkah-nya yang termasuk di dalam siasatnya yang besar.
Pada bulan Yuli tahun itu juga, Gunseikanbu atas dorongan pemimpin-pemimpin besar kita, mengidzinkan sementara Departement diserahkan pimpinannya kepada orang-orang Indonesia; misalnya Naimu- bu, Bunkyo Kyoku, Eisey Kyoku dsb. Maksud pemimpin-pemimpin besar kita tidak lain ialah supaya dengan berangsur-angsur pimpinan pemerintah dipegang oleh orang-orang Indonesia, agar nanti mudah kita akan melakukan “coup d’etat” yang sempurna, apabila datang waktunya yang tepat.
Pada bulan Yuli itu teryadilah “staatsgreep” (Meskipun masih secara theoretiskh) di dalam rapat dari pada Badan Penyelidik Kemerdekaan. Oleh Ir. Sukarno, yang hanya menjadi ”anggauta biasa” dari pada badan itu, (Ketuanya ialah marhum Dr. Rajiman) dituntut dengan sangat keras, supaya Badan itu dibolehkan membicarakan tentang bentuknya negara (sebagai Republik atau Monarkhie, dan supaya Badan tsb. dibolehkan merencanakan “Undang-Undang-Dasar”. Lagi pula Badan itu supaya jangan pulang sebelum membentuk ”Badan Persiapan Kemerdekaan”. Pada saat itu, yang sungguh-sungguh sangat “historis”, nampak kegelisan seluruh fihak pemerintah Jepang. Tuntutan dibolehkan, rupa-rupanya sesudah ada pembicaraan kilat istimewa antara Jakarta dan Tokyo.
Pada waktu itu datanglah saatnya Jepang menyerah kepada Sekutu tidak dengan perjanjian suatu apa. Badan Persiapan Kemerdekaan terus bekerja dengan giat, tidak dicampuri sedikit pun oleh fihak Jepang. Para “Buco” bersedia-sedia untuk melakukan ”staatsgreep” di dalam departementnya masing-masing. Badan Persiapan, oleh ketuanya Ir. Sukarno ditambah dengan sementara anggauta di luar angkatan Gunseikanbu, (misalnya diri saya sendiri), melepaskan diri dari fihak Jepang. Kementerian-Kementerian dibentuk, menteri-menteri diangkat, demikian pula gupernur-gupernur dan lain-lain pembesar negeri. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Indonesia diprolamasikan dengan resmi oleh Ir. Sukarno dan Drs. Hatta. Segala pekeryaan persiapan terus dilakukan, siang dan malam.
Pada waktu itu wakil-wakil Sekutu datang di Jakarta. Sekalian pegawai Republik Indonesia diminta sumpahnya oleh Presiden kita, dalam mana mereka harus menyatakan, hanya menjadi pegawai Republik, dan hanya menurut pada perintah Presiden Republik Indonesia. Dalam pada itu ada sementara orang, yang tidak suka menepati perintah itu; atau kemudian suka sesudah dipaksa oleh Pemuda-Pemuda di-departemen-departemen masing-masing. Para “Buco” diperintahkan melakukan ”coup d’état” di departemenya masing-masing, yang semuanya dapat melaksanakar.nya dengan selamat. Dengan selamat, karena para Buco Jepang sekonyong-sekonyong menyerahkan pimpinan-pimpinan-nya, rupanya merasa sudah hilang kekuasaannya. Demikianlah berakhir usaha persiapan Kemerdekaan sampai hari bulan 17 Agustus 1945.
IKHTISAR SEJARAH PENDIDIKAN-PENGAJARAN DI INDONESIA
Uraian di bawah ini berupa sekedar sejarah dan pandangan scpintas lalu, yang bertali dengan pendidikan dan pengajaran. Untuk membatasi persoalannya maka kami hanya akan membrikian sekedar keterangan tentang apa yang disebut “koloniaal onderwiys“ dan apa yang dimaksud dengan sebutan ”pendidikan nasional“. Pula bagaimana sifatnya perjuangan ke arah itu dan yang terakhir, bagaimanakah dasar azas dan usaha pendidikan dan pengajaran di dalam lingkungan kenegaraan Republik Kita sejak 17 Augustus 1945.
1. Zaman V.O.C. dan Hindia-Belanda.
Pada zaman beralihnya V.O.C. (Vereenigde Oost-Indiskhe Compagnie) menjadi pemerintah “Hindia Belanda“, maka sebenarnya se-kali-kali tidak ada perubahan sikap dan tindakan terhadap segala urusan tanah-air kita. Pada hakikatnya pemerintah H.B. merupakan konsolidasi, yakni penetapan dari apa yang tadinya dilakukan oleh V.O.C. tsb. Baru sesudah nampak adanya kebangunan nasional pada permulaan abad ke-XX, bersamaan waktu dengan mulai tumbuhnya aliran ”kolonial modern“. yang disebut “ethiskhe koers“ atau ”ethiskhe politiek“ di Nederland, barulah nampak adanya perubahan dalam sikap pemerintah kolonial. Sayang hanya mengenai sementara hal; a.l. yang bertali dengan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat, hal mana kini akan kami jelaskan lebih lanjut.
Seperti diketahui maka dalam zaman O.I.C. (Oost-Indiskhe Compagnie) bangsa Belanda menganggap tanah-air kita semata-semata sebagai obyek perdagangan. Mencahari dan mendapat keuntungan materiil yang se-besar-besarnya, itulah maksud dan tu-juan dari pada segala ussahanya dalam segala lapangan. Pendidikan dan Pengajaran diserahkan sama sekali kepada para pendeta Kristen. Kemudian ada instruksi yang menegaskan bahwa kepada fihak rakyat hendaknya diberikan pengajaran membaca, menulis dan berhitung akan tetapi hanya secukupnya saja dan melulu untuk mendidik orang-orang pembantu dalam beberapa usahannya. Jadi semata-mata guna memperbesar keuntungan perusahaannya sendiri.
Pada zaman Napoleon Bonaparte, jatuh kekuasaannya, dan pemerintah Nederland dibentuk kembali (th. 1816) maka di negeri kita Indonesia oleh pemerintah H.B. diadakan beberapa perobahan. Diantaranya pada th. 1818 itu diadakan peraturan pemerintahan pokok. semacam “undang-undang dasar” (yang disebut Regeeringsreglement, singkatan dari ”Reglement op het beleid van de regeering van Nederlands Indië). Dalam R.R. 1818 itu mulai disebut-sebut tentang pemeliharaan pengajaran, akan tetapi tidak pernah dilakukan. Pada th. 1836 R.R. dirubah dalam R.R. 1836 tadi sama sekali tidak di-sebut-sebut lagi tentang pengajaran. Baru-Baru dalam R.R. th. 1854 terdapat fatsal-fatsal yang mengenai pendidikan dan pengajaran. Diantaranya dicantum-kan fatsal 125, yang berbunyi “Het openbaar onderwiys vorm een voorwerp van aanhoudende zorg van den gouverneurgeneraal”. (Pengajaran negeri adalah hal yang senantiasa menjadi perhatian gobnor jenderal). Ketetapan ini sungguh baik dan bagus, akan tetapi pasal-pasal berikutnya membuktikan jiwa kolonialna pemerintah H.B. Pasal 126 misalnya menetapkan, bahwa pemberian pengajaran kepada anak-anak bangsa Eropa dibolehkan secara bebas (Het onderwiys aan Europeanen is vriy). Pasal 127 berbunyi selengkapnya: ”Voldoend openbaar lager onderwiys moet worden gegeven overal, waar de behoefte der Europese bevolking dit voordert en de omstandigheden het toelaten,” yang artinya ialah se-dapat-dapat harus ada pemberian pengajaran rendah dari pemerintah, yang mencukupi kebutuhan penduduk bangsa Europa.
Teranglah di situ maksudnya; jangan sampai ada anak-anak bangsa Europa tidak dapat pengajaran. Bagaimanakah sikap pemerintah H.B.—terhadap anak-anak Indonesia? Pasal 128 dalam soal itu menyebutkan: “De gouverneur-generaal zorgt voor de oprikhting van skholen tendienste van de inlandse bevolking,” dan ini berarti bahwa untuk rakyat gobnor-jenderal diserahi untuk mendirikan sekolah-sekolah. Lain tidak; lebih dari pada mendirikan pun tidak. Tak ada di-sebut-sebut di situ tentang keharusan, tentang kebutuhan, tentang perlunya ada usaha yang mencukupi d.i.l. sebagainya.
Pada waktu itu ada beberapa bupati mendirikan “sekolah-sekolah kabupaten”, tetapi hanya untuk mendidik calon-calon pegawai. Kemudian lahir “Reglement voor het Inlandskh onderwiys”; lalu didirikan sekolah guru di Solo, yang kemudian pindah ke Magelang, lalu ke Bandung (1886). Dengan ber-angsur-angsur dapat didirikan “sekolah bumiputera”, yang hanya mempunyai 3 kelas, sedang gurunya seorang dari Kweekskhool, dan lain-lainnya (pembantu) berasal dari “sekolah-bumiputera” itu juga, sesudah mendapat didikan tambahan.
Maksud dan tujuan dari segala usaha itu, tetap untuk mendidik calon-calon pegawai negeri dan pembantu perusahaan-perusahaan kepunyan-an Belanda. Maksud dan tujuan tsb. tidak berubah, ketika pemerintah memberi kelonggaran kepada anak-anak Indonesia, untuk memasuki “Eropeeskhe Lagere Skhool”, karena yang dibolehkan ialah hanya, calon-calon murid “Dokter Jawa”, murid “Hoofdenskhool” dan “Kweekskhool”. Suatu bukti, bahwa pemerintah Belanda se-mata-mata mementingkan pendidikan calon-calon pegawai negeri, ialah adanya ujian, yang sangat digemari oleh anak-anak bumiputera, yang disebut “Kleinambtenaarsexamen”.
2. Zaman Ethik dan Kebangunan Nasional.
Haluan dari pada sistim pendidikan, yang diadakan oleh pihak Belanda seperti tergambar di atas semua itu, tetap tcrus mempengaruhi segala usaha pendidikan. Juga yang dilakukan sesudah aliran “Ethiskh politik” atau “Etriskhe Koers” timbul pada permulaan abad yang ke-XX (dan sebenarnya sebagai akibat “kebangunan nasional” pada permulaan abad ke-20). Haluan tadi boleh digambarkan sebagai haluan “kolonial lunak”, yang dalam sistim pendidikannya tetap, menunjukkan sifat “intellectualistis”, pula “individualistis” dan “materialistis”. Se-kali-kali tidak mengandung cita-cita kebudayaan. Pada hal pendidikan dan pengajaran itu sebenarnya harus bersifat pemeliharaan tumbuh-nya benih-benih kebudayaan. Juga sekolah-sekolah yang didirikan oleh bangsa kita sendiri (sesudah kita menginjak ke dalam zaman “kebangunan nasional”) tidak dapat melepaskan diri dari belenggu intellectualisme, individualisme materialisme dan kolonialisme tadi. Sungguhpun cita-cita Raden Ajeng Kartini (1900) sudah mulai mengandung jiwa nasional dan cita-cita Dokter Wahidin Sudirohusodo (1908) sudah membayangkan aliran kultureel, namun organisasi dan teknik pendidikan dan pengajaran tetap tak berubah. Karena ”jiwa” dan “raga”, yadi sifat dan bentuk sistim Belanda itu sudah mewuyudkan ”dwitunggal”, maka amat sukarlah untuk dapat membedakan aliran pendidikan dan pengajaran ke arah yang semestinya. Masuknya anasir-anasir kebudayaan ke dalam sekolah-sekolah yg. bermaksud mewuyudkan perguruan kebangsaan, pula masuknya anasir-anasir agama ke dalam sekolah-sekolah Islam, tidak dapat menghapuskan ttorak-warna jiwa kolonial dengan sekaligus.
Baru pada tahun 1920 timbullah cita-cita baru, yang menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Cita-Cita baru tadi se-akan-akan merupakan gabungan kesedaran “kultureel”, dan ”politik”. Idam2an kemerdekaan nusa dan bangsa, sebagai jaminan kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa, itulah pokoknya sistim pendidikan dan pengajaran, yang pada tahun 1922 dapat tercipta oleh “Taman Siswa” di Yogyakarta. Bahwa aliran Taman Siswa itu sebenarnya sudah terkandung dalam jiwa rakyat di seluruh tanah-air kita. adalah terbukti dengan berdirinya perguruan-perguruan Taman Siswa di seluruh kepulauan Indonesia, di Jawa, Sumatera, Borneo, Sulawesi Sunda-Keciil dan Maluku. Pun sekolah yang berdasarkan ”keagamaan” (Islam, Kristen, Katholik), asalkan berani berdiri sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda, di samping dasar-dasar keagamaannya masing-masing, memasukkan juga dasar-dasar kebudayaan bangsa, bahkan dengan sendiri berjiwa politik nasional dan bersemangat revolusioner. Dengan begitu maka gerakan pendidikan berlaku se-jalan dengan gerakan politik, dan inilah yg. menyebabkan amat banyaknya orang-orang bekas murid sekolah nasional tadi (tidak haya yang terdidik dalam perguruan Taman Siswa saja) kini secara bermanfaat dan efficient dapat ikut serta dalam segala usaha kenegaraan, baik dalam gerakan revolusi Maupun dalam usaha pembangunan bangsa dan negara.
3. Di Zaman Jepang.
Tentang usaha pendidikan dan pengajaran dalam zaman Jepang tak usah kita memerlukan uraian yang panjang lebar. Cukuplah kita ketahui, bahwa zaman Jepang tadi bolehlan dianggap sebagai penjelmaan jiwa penjajah secara mentah-mentah. Hasyrat meng-exploitasi bangsa dan negara kita, berdasarkan imperialisme dan kapitalisme, di lapangan ekonomi, sosial, kebudayaan...... pendek di lapangan hidup dan penghidupan sewutuhnya, nampak dalam segala gerak-gerik bangsa Jepang, mulai mereka mendarat dalam tahun 1942 sampai mereka mengalami kekalahan yang hebat pada tahun 1945. Rakyat kita Sungguhpun sangat gelisah dan terus menerus berketa-kutan, karena sikap dan laku kebengisan dan kelaliman orang-orang Jepang, namun syukurlah, dalam kalbu rakyat kita hidup ke-pertiyaaan yang kuat teguh, berasal dari zaman Joyoboyo, yang meramalkan bahwa bangsa kulit kuning, yang bertubuh setengah cebol, datang dari Utara, akan menguasai negeri kita......... selama umurnya tanaman jagung. Artinya tidak lama. Dan ini cocok dengan keadaannya. Hanya 3½ tahun kekuasaan Jepang dapat merajalela di tanah-air kita.
Tadi sudah kami terangkan, bahwa sikap dan tindakan bangsa Jepang selama mereka menduduki negeri kita, selalu bersifat bengis dan lalim, pula menunjukkan sifat penjelmaan jiwa penjajah secara mentah-mentahan. Sekolah-Sekolah menengah ditutup semuanya. Sekolah-Sekolah lainnya diperendah pelajarannya. Kaum terpelajar banyak yang disiksa, bahkan dibunuh secara besar-besaran di Borneo. Nampak maksud dan tujuannya untuk menguasai Indonesia zonder bangsa Indonesia.
Siasat Bung Karno dan Bung Hatta dengan “PUTERA”nya, untuk dapat memelihara semangat nasional, dalam lahirnya di- setujui oleh pemerintah “Balatentara Nippon”, namun sebenarnya tetap terus dicurigai. Sampai datanglah saatnya bangsa Jepang jatuh dan bangsa Indonesia. melakukan “coup d'état”; mulai secara “theoretis” dalam lingkungan “Panitia Penyelidik Kemerdekaan” bikinan Jepang, sampai kekuasaan kenegaraan dapat terrebut secara revolusi semata-mata.
Apakah sebenarnya yang teryadi dalam saat “theoritiskhe coup d'état” itu?
Ketabuialah bahwa waktu itu Bung Karno sebagai pemimpin “Panitia Penyelidik Kemerdekaan” dengan pemimpin-pemimpin lainnya menuntut dipersiapkannya Kemerdekaan Indonesia dengan rencana Undang-Undang Dasarnya yang lengkap. Semula pemerintah balatentara Jepang tidak mengizinkannya, namun sesudah berunding dengan Tokyo—katanya diperkenankan juga. Selain rencana Undang-Undang Dasar, diselesaikan juga rencana yang menganai usaha-usaha Ke-ekonomian, Ke-uangan, Pertahanan dan Pendidikan-pengajaran, Sekalipun dalam maksudnya hanya bersifat “peninjauan”.
Waktu itu penulis karangan ini, selaku Ketua “Sub-Panitia Pendidikan dan Pengajaran”, ber-sama-sama dengan anggauta2nya (yaitu saudara3: prof. dr. Hoesin Jayadingrat, prof. dr. Astikin, prof. dr. Rooseno, Ki Bagus Haji Hadikusumo, Kyai Haji Masykur dapat merencanakan kesimpulan cita-cita pendidikan dan pengajaran nasional, yang kemudian dengan sedikit perubahan disyahkan oleh Panitia Pusat, yang ada di bawah pimpinan Bung Karno. Sebagai “dokumentasi” maka baik juga rencana usaha pendidikan dan pengajaran, yang lahir bersama-sama dengan rencana Undang-Undang Dasar kita, pada saat kita akan berpisahan dengan Jepang dan akan berdiri sebagai negara dan bangsa yang merdeka dan berdaulat, dimuat di sini untuk diketa-hui. Silahkan membacanya:
4. Rencana P.P. & K. di Zaman Persiapan/Kemerdekaan.
- Dengan “undang-undang kewajiban belajar”, atau peraturan lain jika keadaan di suatu daerah memaksanya, Pemerintah memelihara pendidikan kecerdasan akal budi untuk segenap rakyat dengan cukup dan sebaik-baiknya, seperti ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar Pasal 31.
- Dalam garis-garis adab perikemanusiaan, seperti terkandung dalam segala pengajaran agama, maka pendidikan dan pengajaran nasional bersendi agama dan kebudayaan bangsa serta menuju ke arah “keselamatan” dan “kebahagiaan” masyarakat.
- Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan bangsa, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembang atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
- Untuk dapat memperhatikan serta memelihara kepentingan-kepentingan khusus dengan sebaik-baiknya, teristimewa yang berdasarkan agama dan atau kebudayaan, maka pihak rakyat diberi kesempatan yang cukup luas untuk mendirikan sekolah-sekolah partikelir, yang penyelenggaraannya sebagian atau sepenuhnya boleh dibiayai oleh Pemerintah.
- Tentang susunan pelajaran pengetahuan dan kepandaian umum harus ditetapkan suatu daftar pengajaran sekurang-kurangnya (minimum-leerplan), yang menetapkan luas dan tingginya pelajaran pengetahuan dan kepandaian umum, serta pula pendidikan budi pekerti, teristimewa pendidikan semangat bekerja, kekeluargaan, cinta tanah air, serta keprajuritan. Syarat-syarat ini diwajibkan untuk semua sekolah, baik kepunyaan negeri Maupun partikelir.
-
Susunan sekolah diatur sebagai berikut:
- Mulai tingkatan sekolah rakyat sampai tingkatan sekolah menengah tinggi diadakan sekolah-sekolah “pengetahuan umum” dan “kepandaian khusus” (vakschool).
- Untuk murid-murid yang tidak meneruskan pelajarannya, maka di tiap-tiap sekolah rakyat diadakan kelas sambungan, yaitu “kelas masyarakat”, untuk mengajarkan permulaan kepandaian khusus yang sesuai dengan alam dan masyarakat di tempat kedudukan sekolah masing-masing, serta pelajaran ilmu kemasyarakatan yang praktis.
- Tiap-tiap “sekolah pengetahuan umum” mempunyai hubungan lanjutan dengan “sekolah kepandaian khusus”.
- Sekolah-sekolah menengah dan menengah tinggi dibagi menjadi bagian A (Alam) dan bagian B (Budaya).
- Pada sekolah-sekolah menengah atau menengah tinggi putri, daftar pelajaran pengetahuan umum sama dengan sekolah sejenis untuk anak-anak laki-laki.
- Lamanya pelajaran di masing-masing tingkatan sekolah ialah tiga tahun.
- Tentang sekolah-sekolah kepandaian harus diadakan sekolah-sekolah khusus yang cukup bagi kepentingan masyarakat dan kebudayaan.
- Sekolah-sekolah untuk pendidikan guru harus dipentingkan, termasuk usaha pendidikan guru secara kilat.
- Untuk mencetak tenaga-tenaga pemimpin, harus diadakan universiteit dan/atau sekolah-sekolah tinggi yang cukup, termasuk sekolah tinggi keprajuritan.
- Biaya belajar harus serendah-rendahnya dengan pembebasan biaya bagi mereka yang tidak mampu.
-
Tentang pelajaran Bahasa dan Kebudayaan, dengan mengingat Pasal 32 dan 36
U.U.D., ditetapkan sebagai berikut:
- Bahasa Indonesia diajarkan di segala sekolah dan dipakai sebagai bahasa pengantar.
- Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, diwajibkan mengajar bahasa persatuan.
- Di sekolah menengah tinggi bagian Budaya diajarkan bahasa Arab dan Sanskerta.
- Bahasa asing yang perlu diajarkan di sekolah menengah dan menengah tinggi.
-
Selain di dalam sekolah, pendidikan rakyat dilaksanakan melalui:
- latihan keprajuritan bagi pemuda-pemudi;
- pendidikan bagi orang dewasa;
- pendidikan khusus bagi kaum ibu;
- pengembangan bacaan dan perpustakaan.
- Mendirikan “Balai Bahasa Indonesia”.
- Mengirimkan pelajaran-pelajaran ke seluruh Indonesia.
5. Sesudah Roda Pemerintahan R. I. berputar.
Rencana usaha pendidikan dan pengajaran seperti yang termaktub di muka tadi (hasil peninjauan sewaktu Kemerdekaan Indonesia disiapkan) untuk seterusnya senantiasa menjadi “modal” bagi rakyat dan pemerintah kita untuk meneruskan rencana-nya di lapangan pendidikan dan pengajaran. Segera sesudah pemerintahan Jepang meninggalkan kantor-kantor-besar pemerintah-nya, dan pemerintah Republik Indonesia menduduki tempat-tempat tsb. maka menteri P.P.&K. yang pertama (penulis karangan ini) menyiarkan beberapa pedoman tentang penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, berdasarkan rencana yang termaktub di atas tadi. Pengibaran “Sang Merah Putih” tiap-tiap hari di halaman sekolah, melagukan ”Indonesia Raya”, menghentikan pengibaran bendera Jepang dan menghapuskan nyanyian “Kimigayo”, memberi semangat kebangsaan kepada anak-anak sekolah dan mentiada-kan pelajaran bahasa Jepang serta segala upacara yang berasal dari pemerintah balatentara Jepang, itulah instruksi yang di-berikan kepada sekalian kepala sekolah. Para penilik sekolah dipanggil ke-Kementerian untuk dapat segala penjelasan yang perlu-perlu, karena banyaknya hal-hal yang sukar untuk di-instruksikan secara tertulis.
Marilah kita meninjau Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia untuk mengetahui apakah yang termaktub di situ dalam lingkungan pendidikan dan pengajaran serta kebudayaan nasional sebagai dasarnya. Kewajiban Pemerintah tentang pengajaran rakyat tercantum di dalam U.U.D. Pasal 31, yang menetapkan:
- bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran;
- bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.
Fasal ini nyatalah mengandung maksud akan adanya “kewajiiban belajar” di kelak kemudian hari, serta keharusan men-dasarkan segala usaha pendidikan dan pengajaran pada dasar kebangsaan. Tentang ”dasar kebangsaan” ini, yang dalam hubungannya dengan pendidikan dan pengajaran mempunyai arti kulturil, maka fasal 32 U.U.D. menetapkan dengan singkat na-mun terang: “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”, sedangkan fasal 36 dalam Konstitusi kita tentang bahasa yang kita pakai sebagai bahasa resmi ialah bahasa Indonesia.
Ada pula fasal-fasal di dalam U.U.D. kita, yang harus di-ingati dalam segala rencana untuk mengatur bentuk serta isi pengajaran bagi rakyat kita. Fasal 27 ayat ke-1 menetapkan kesamaan kedudukan sekalian warga-negara atas pekerjaan dan penghi-dupan yang layak bagi kemanusiaan. Pula fasal 34 U.U.D. me- netapkan, bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Nyatalah di sini, bahwa organisasi usaha pendidikan dan pengajaran menurut grondwet kita tidak boleh mem-beda-beda-kan orang-orang atau golongan-golongan rakyat yang satu dengan yang lain. Serta harus menjamin penghidupan dan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan. Pula mewajiibkan pemeliharaan anak-anak yang terlantar.
Kesimpulan dari pada fasal-fasal dalam U.U D. kita, yang ada pertaliannya dengan maksud dan tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti yang tertera di atas semua tadi, ialah bahwa pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan serta kemasyarakatan bangsa Indonesia, bersifat demokratis merata bagi segenap rakyat, akhirnya menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan hidup, lahir dan batin.
6. Usaha-Usaha Pemerintah yang konkrit.
Baik pemerintah Maupun rakyat sejak 17 Agustus 1945 itu tidak tinggal diam, dan telah menunjukkan kegiatannya dalam pelbagai usaha yang mengenai pendidikan dan pengajaran bagi rakyat.
Pada tg. 12 - ‘46 menteri P.P. dan K. mr. Soewandi membentuk PPPRI atau “Panitia Penyelidik Pendidikan Pengajaran Republik Indonesia” dengan l.k. 50 anggauta dari berbagai golongan dan tingkatan sekolah, yang diketuai oleh penulis kenang-kenang-an ini. Ber-macam-macam soal yang mengenai pendidikan pengajaran, mulai sekolah rendah sampai sekolah tinggi, baik sekolah kepandaian Maupun sekolah umum’ sekolah-sekolah yang berdasarkan agama dan yang tidak, tentang sistim-sistim pengajaran yang ditinjau secara dalam dan luas, pula tentang bentuk dan isinya pendidikan dan pengajaran, pendek PPPRI bertugas meninjau seluruhnya usaha pendidikan dan pengajaran. Sekalipun hanya berupa “peninjauan” namun dapat dimengerti betapa besarnya guna faedah peninjauan tadi. Berdasarkan hasil-hasil peninjauan tsb. maka menteri mr. Soewandi telah melakukan berbagai perbaikan dalam usaha Kementeriannya. (Pelaporan lengkap dari pada penyelidik-kan PPPRI itu sudah dicetak sebagai buku yang agak tebai, kan tetapi sayang, tidak pernah disiarkan secara luas, berhubung dengan adanya keributan “clash” ke-1 dan ke-2). Baiklah di sini diketahui, bahwa rencana peninjauan “Panitia Penyelidik Kemerdekaan” dari waktu kita merebut kekuasaan dari tangan Jepang (termuat di muka) terpakai sebagai “modal” cita-cita yang sebagai “dasar” dàn “garis-garis besar” umumnya disetujui oleh para anggauta PPPRI.
Menteri PPK mr. Ali Sastroamijoyo, yang menggantikan mr. Soewandi, pada tahun 1948 membentuk “Panitia Pembantu Pembentukan Undang-Undang Pokok Pendidikan Pengajaran”, yang dike-tuai oleh penulis kenang-kenangan ini. Hasil pekerjaaan panitia tsb. sesudah diperbaiki oleh B.P.-K.N.I.P. kemudian disyahkan oleh Acting Presiden mr. Assaat di Yogyakarta. Waktu itu Kementerian P.P.K. ada di bawah pimpinan Menteri Ki Mangunsarkoro, tadinya salah seorang anggauta Panitia Pembantu Pembentukan yang tersebut tadi. Menurut pernyataan orang tentang Undang-Undang Pokok Pengajaran R.I. itu sering disebut dengan nama sifat “Nasional” dan “Demokratis”.
7. Gerakan dan Usaha Partikelir.
Juga pihak Sekolah-Sekolah Partikelir tidak ketinggalan dalam usaha-nya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat. Taman-Siswa hidup giat kembali, ber-sama-sama dengan badan-badan pendidikan dan pengajaran lain-lainnya. Kini sudah menjadi keinsyafan umum, bahwa di dalam negara yang demokratis, adanya “sekolah-sekolah partikelir” itu dianggap perlu. Tidak hanya se-mata-mata untuk membantu usaha pemerintah guna pengluasan pendidikan dan pengajaran, namun atas dasar dan pertimbangan, bahwa tiap-tiap aliran ideologis, baik yang berarti dengan keyakinan “ke-bathinan” Maupun “kemasyarakatan”, berhak untuk memelihara usaha pendidikan dan pengajaran, yang didasarkan atas keyakin-an atau kepercayaannya masing-masing. Dalam pandangan itu tiap-tiap sekolah yang memakai dasar khusus itu, tidak hanya berhak untuk ada, namun pula berhak untuk mendapat subsidi, karena sebe-tulnya mereka itu melakukan pekerjaaan, yang semestinya harus dilakukan oleh pemerintah.
Hal ini sekarang sudah dibenarkan pula oleh pihak pemerintah. Dalam rancangan peraturan subsidi, yang tidak lama lagi akan dikeluarkan (penulis ini kini sudah dapat mengetahuinya, karena dalam Panitia merancang peraturan subsidi tsb. dimasukkan juga wakil-wakil dari pelbagai badan-badan penyelenggara sekolah-sekolah partikelir), dasar-dasar yang dipakai ialah kenasionalan, kerakyatan dan keadilan sosial,.
Jangan dikira bahwa kini segala usaha di lapangan pendidikan dan pengajaran itu sudah dapat berjalan dengan lancar. Seribu satu persoalan dan kesukaran harus dipecahkan da1 diatasi. Tak mengapa; asal antara fihak pemerintah dan rakyat ada hubungan yang baik, pastilah pendidikan dan pengajaran bagi rakyat akan memasuki zaman dan alam baru, yang memberi kemungkinan-kemungkinan dan pengharapan-pengharapan baik bagi kita rakyat dan bangsa INDONESIA.
Mudah-mudahanlah!
KENANG-KENANGAN
KENANG-KENANGAN PENGALAMAN SAYA
Saya dilahirkan dalam th. 1871, jadi sekarang sudah umur 81 th. Dari itu maafkanlah kalau omong-kosong ini ditimbang tidak berfaedah.
Bermula saya belajar di sekolah desa Bedoeg (sebelah Selatan Purworejo, di mana ayahanda menjabat assistent-wedana), sambil mengaji di pesantren yang jauhnya dari rumah saya lk. I K.M. Setelah mengkamakan Kur'an (kataman atau tamatan ini dirayakan dengan kepala-kepala desa se-onderdistrik) saya dikirimkan semayam di Purworejo akan belajar di sekolah Belanda rendah.
Kemudian (1882) saya turut ayahanda yang diangkat menjadi Patih di Pekalongan. Sebetulnya setelah saya habis belajar di sekolah rendah, saya akan dikirimkan ke sekolah Bestuur di Magelang. Akan tetapi saya melihat teman sekolah saya (seorang Belanda) pulang dari ujian H.B.S. 5 (hogere burgerskhool) pakai pet hitam dengan bintang emas ditengahnya sebagai tanda ia diterima jadi pelajar H.B.S. Pet ini saya pandang begitu bagus hingga saya ingin jadi pelajar H.B.S.
Ayahanda tidak tahu sama sekali, bahwa H.B.S. itu lebih tinggi dari sekolah Bestuur, yang diketahui hanya lebih mahal, sebab H.B.S. yang paling dekat dari Pekalongan ialah di Semarang dan di situlah saya akan perlu dan dipondokkan di rumah seorang Belanda, tapi dari cintanya ayahanda kepada saya, saya pun dikirimkan ke sekolah H.B.S. (1886).
Setelah l.k setahun saya ada di H.B.S., R.M. Ismangun Danuwinoto, seorang Jawa yang menjabat Inspekteur Inlandskh Onderwiys, menemui ayahanda dan berkata: ia kurang setuju saya tidak sekolah di sekolahan Bestuur di Magelang dan belajar di H.B.S. Semarang, sebab belum ada orang Indonesia yang menghabisi sekolahan “H.B.S.-5”; semua yang mencoba kandas di kelas 3 atau 4.
“Tapi rapport anak saya baik, penuh 7 dan 8” kata ayahanda. “Tapi tokh lebih baik ia sekolah Bestuur” sahut tuan Ismangun, “sebab ia terang akan dapat menghabisi”. Saya terus sekolah H.B.S. dan dalam th. 1891 membikin ujian penghabisan. Dengan ini saya adalah orang Indonesia pertama yang lulus dalam ujian itu. No. 2 kalau saya tidak salah, ialah R.M. Sosrokartono (1897?) dan No. 3 P. Akhmad Jayadinigrat (1898?), dua-duanya sekarang sudah wafat. Apakah dalam th. 1891 R.M. Ismangun Daruwinoto masih hidup atau sudah wafat, saya tidak tahu. Waktu saya pamit dari guru-guru saya, tuan Kok de Yong, guru Riwiyat dan Ekonomi, berkata: “Kalau di pulau Jawa sudah ada 100 pemuda yang cerdknya seperti kamu, pulau Jawa musti akan dapat mengejar kemerdekaan”. Setelah saya menghabisi H.B.S.-5, saya menjadi “magang”, yaitu jurutulis tidak bergajih. Itu waktu jaman kolonial masih merajalela. Jadi saya mengalami jaman kolonial tulèn dan jaman kemajuan hingga sekarang ini. Selama saya jadi magang (7 bulan) dan kemudian jadi jurutulis controleur, (4 tahun), di Bandar Sidayu (dengan menerima gajih f 20,—sebulan), di kantor saya bekerjia menulis di meja rendah, duduk ditikar di tanah belaka. Saya mengalami buntut “Cultuurstsel”, yaitu orang desa di pegunungan masih harus tanam kopi dan jual buahnya pada Pemerintah, sudah tentu dengan harga murah. Bandar Sidayu itu adalah daerah pegunungan, jadi harus tanam kopi. Saya sering disuruh meng-amati kebon kopi Pemerintah. Kalau ada inspekteur akan datang memeriksa, kebon kopi itu disulami dengan pohon kopi muda. Di pinggir jalan yang akan diliwati tuan inspekteur betul disulami pohon muda, tapi saya tahu di-kebon-kebon yang jauh dari jalan itu, yang dipakai untuk menyulami ialah cabang-cabang pohon yang dipotong dari pohon tua; kalau dilihat dari jauh (jalan) memang seperti pohon kopi muda. Waktu saya jadi assistent-wedana di Buwaran (3½ th.), dekat kota Pekalongan, saya masih harus memelihara dan memperbaiki jalan raya dengan orang “herendines”. Di kabupaten Pekalongan semua jalan raya harus di pelisir dengan batu besar, hingga Bupati Pekalongan, R.A. Notodirjo diberi nama paraban oleh orang desa “Kanjeng Noto sélo”, artinya bupati yang suka mengatur batu.
“Otot didu karó coycot” keluhnya orang desa; artinya: ”Kekuatan kita harus terus sedia akan menjalankan perintah mulut priyayi”. Waktu saya jadi assistent-wedana itu masih biasa kalau ada pembesar—Resident atau Inspecteur—secara dines meliwati onderdistriknya pakai “kereta pos” (auto belum ada), assistent-wedana dengan pakai baju itam, dan semua lurah desanya, juga berpakaian dines, harus naik kuda mengiringkan kereta itu. Wedana yang mempunyai dis'ik juga turut naik kuda.
Setelah saya jadi bupati (1902) adat itu saya mohon dan dapat diperhentikan.
Yang sangat menganjurkan supaya saya jadi bupati yaitu almarhum Prof. Snouck Hurgronye yang amat cinta pada saya. Maksudnya mengangkat seorang pemuda (umur 31 th.), yang bukan anak bupati, dan baru dines 10 th. lamanya, katanya ialah, supaya banyak orang Indonesia di sekolahkan di H.B.S., dan berdaya-upaya akan lulus ujian penghabisannya. Saya rasa maksud ini tercapai, sebab sctelah tahun 1902 itu banyak sekali pemuda-pemuda Indonesia, yang mengejar ujian H.B.S. penghabisan.
Kemajuan nampak dalam tahun 1906 dan 1907 almarhum Dr. Wahidin Sudirohusodo berkeliling di seluruh pulau Jawa akan mendirikan perkumpulan untuk menyokong pemuda-pemuda yang cerdik tapi tidak mampu akan meneruskan pelajarannya (studiebeurs).
Maksud ini sia-sia belaka, akan tetapi maksud akan mendirikan perkumpulan diterima baik oleh beberapa pelajar sekolah Dokter Stovia di Jakarta, asal maksud perkumpulan itu jangan hanya mengadakan “studiebeurs” saja tapi diluaskan. Perkumpulan dengan maksud yang lebih luas ini didirikan antara lain oleh R. Sutomo dan R. Gunawan Mangunkusumo pada hari 20 Mei 1908 dan diberi nama Budi Utomo.
Sekarang tanggal 20 Mei dijadikan Hari Nasional, sebab sejak hari 20 Mei 1908 itu timbulah beberapa perkumpulan pelajar-pelajar sekolahan menengah sebagai cabang Budi Utomo dan perkumpulan lain-lain. Dr. Wahidin Sudirohusodo dijadikan ketua cabang B.U. di Jokyakarta dan R. Sutomo dari cabang di Jakarta.
Bermula Budi Utomo tidak memperhatikan politik, karena dilarang oleh Pemerintah Hindia Belanda. Di negeri Belanda larangan itu tidak ada. Dari itu perkumpulan pelajar Indonesia yang ada di negeri Belanda, yang sebetulnya cabang B.U., tapi diberi nama “Indiskhe Vereeniging”, sibuk membicarakan hal politik dan mengumumkan pendapatnya di-surat3 kabar. Kemudian mengeluarkan surat kabar sendiri, diberi nama “Hindia Putra”, yang dikemudikan oleh R.M. Suwardi Suryaningrat, yaitu Ki Hajar Dewantoro, waktu beliau “dibuang” keluar pulau Jawa. Majalah tersebut banyak dibaca oleh pemuda-pemuda Indonesia di Nederland dan sangat mempengaruhi sikap mereka. Kemudian yang menjadi kemudi antara lain Drs. Mohamad Hatta, Mr. R.M. Sartono, Mr. R. Iwa Kusuma Sumantri dll.
Budi Utomo bermula tidak lain dari pada memperhatikan hal pengajaran, kesenian, pertanian, perdagangan dan sesamanya, dengan menerima sokongan dari almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono VII di Yogyakarta sebesar Rp. 145,—untuk studiebeurs.
Tetapi lambat laun B.U. dipengaruhi oleh Perhimpunan Indonesia, yang anggauta2nya sudah ada yang pulang di pulau Jawa dan bikin propaganda, supaya pendapatnya diterima oleh pemuda-pemuda di Indonesia. Hanya sikapnya tentang “non-coöperation” (tiada bekerja bersama dengan Pemerintah Hindia Belanda) tidak pernah diterima baik oleh B.U. Sebaliknya B.U. tidak keberatan jika ada anggautanya yang melakukan non-coöperation, tapi, B.U. sendiri harus ada wakilnya di badan perwakilan yang diadakan oleh Pemerintah, supaya dapat melindungi kepentingan rakyat.
Sejak berdirinya Volksraad dalam tahun 1918, sebab tidak ada larangan lagi, Budi Utomo terus terang menjadi partai politik dengan programma sendiri. Meskipun diterangkannya dengan jelas, bahwa anggautanya suka bekerja bersama dengan Pemerintah Hindia Belanda, akan tetapi karena keterangan ini ditambah dengan kalimat: “akan tetapi kalau perlu tidak se- gan akan mengucapkan critiek terhadapnya“, maka banyak anggauta-anggautanya yang dapat rintangan dari pembesar-pembesar Pemerintah. Jika mereka berapat senantiasa mereka diawaskan oleh polisi dan barang siapa dengan pedas berani mencela aturan-aturan Pemerintah atau pembesar-pembesarnya maka mereka mendapat rintangan rupa-rupa dalam pekerjaannya se-hari-hari.
Saya ingat waktu saya pertama kali jadi anggauta Volksraad yang pertama, dalam sidangnya saya berkata: “Sayang sekali politik Belanda terhadap orang Indonesia ialah perut dipenuhi, tapi jangan jadi kaya” (De buik gevuld, maar ook niets meer). Saya disuruh keluar dari Volksraad atau mohon pensiun. Sebab saya masih suka menjabat bupati, maka saya mohon keluar dari Volksraad. Meskipun demikian, saya mengalami rintangan rupa-rupa dalam pekerjaan saya. Dari itu dalam tahun 1925, setelah saya jadi bupati lebih dari 23 tahun, saya mohon pensiun.
Setelah saya pensiun, dalam tahun 1926, saya dipilih jadi ketua Budi Utomo dan dalam tahun 1927 dipilih juga jadi anggauta “Gedelegeerde” Volksraad. Budi Utomo saya ketuai selama lk. 10 tahun hingga penghabisan ia menyatukan diri dengan “Studie-club” di Surabaya, menjadi Parindra. Rintangan yang saya uraikan di atas ini perlu saya ceriterakan sebagai contoh rintangan anggauta-anggauta B.U. lain-lainnya.
Jemu dari segala rintangan itu, dalam tahun 1929 B.U. mencebur dalam P.P.P.K.I. (Permucakan Perhimpunan Politiek Kebangsaan Indonesia) dan dengan ini menyatakan setujunya dengan persatuan Indonesia. Dari itu lama-kelamaan B.U. menimbang kurang perlunya berdiri sendiri, baik menyatukan diri dengan perkumpulan lain, supaya lebih kuat, Dari sebab itu B.U. menyatukan diri dengan Studie-club di Surabaya, yang diketuai oleh almrahum Dr.R. Sutomo, yaitu bekas pelajar disekolahan Dokter Jawa yang dalam tahun 1908 mendirikan B.U. juga. Nama persatuan baharu diganti jadi “Partai Rakyat Indonesia Raya”, atau tersingkat Parindra. Yang dipilih jadi ketua, ialah Dr.R. Sutomo tersebut di atas, ketua dari “Studie-club” di Surabaya.
Dengan ini lenyaplah Budi Utomo dari muka bumi.
Di sekitar BERDIRINYA BUDI-UTOMO
KATA PENGANTAR
Banyak orang tahu, bahwa Suryopranoto adalah pemimpin S.I. yang kemudian diberi tugas oleh partainya untuk memimpin gerakan buruh. Dalam kedudukannya itulah Suryopranoto mendapat julukan “Raja pemogok” atau “de Stakingskoning”.
Banyak orang tahu juga, bahwa Suryopranoto adalah pemimpin “Adhi-Dharma”. ya'ni badan sosial yang berusaha secara hebat di Yogyakarta dan beribu-ribu jumlah anggautanya. Salah satu buah aksi “Adhi-Dharma” ialah perguruaninya, yang terkenal sebagai “Adhi-Dharmoskhool” dan sejak tahun 1915 diberdirikan di Yogyakarta pula. Adhi-Dharmoskhool adalah sekolah partikelir yang untuk pertama kali diberdirikan oleh bangsa kita dalam bentuk H.I.S. Sayang sekali, bahwa “Adhi-Dharma”, baik badan induknya Maupun perguruaninya tidak dapat terus hidup berhubung dengan ber-macam-macam halangan.
Orang tahu juga, bahwa Suryopranoto di dalam penerbitan majalah banyak sekali pengalamannya. Memang gerak-penanya sangat lancar, cita2nya sangat menarik hati orang dan fikiran serta pengetahuannya tidak pernah bersikap ragu-ragu, sebaliknya ia senantiasa tegas dan terang dalam melahirkan isi hatinya.
Suryopranoto juga kerap kali menerbitkan buku-buku, baik terjemahan Maupun tiptaannya yang asli. Pernah ia mengarang buku “Sosoca Rinunce” dalam bahasa Jawa, yang berisikan pelbagai fatwa yang indah-indah dan diterbitkan oleh Balai-Pustaka Jakarta. Pada waktu itu (sebelum 1908) Suryopranoto ada seorang “theosooft” (seperti juga Haji Agus Salim).
Dalam zaman S.I. yang pertama pernah juga Suryopranoto menerbitkan “Encyclopaedie” secara serie nomor-nomor yang ber-turut-turut. Penerbitan tak dapat terus langsung, karena kemudian segenap oplaagnya dibeslag oleh polisi Hindia-Belanda, disebabkan karena keterangan serta penjelasannya tentang “sosialisme” dan “komunisme” dianggap membahayakan masyarakat.
Pernah pula Suryopranoto mengarang kitab kamus “Jawa - Belanda” dan “Belanda - Jawa”, tetapi sayang sekali. copynya morat-marit karena dobrakan, yang pernah dilakukan polisi berhubung dengan sesuatu penggeladahan di rumahnya.
Masih banyak ceritera-ceritera tentang Suryopranoto, yang sampai ia berusia lanjut boleh dikata tidak pernah beristirahat. (Pada hari Kamis Paing tanggal 19 Romadlan tahun 1371 Hijrah atau 1883 çaka, bersamaan dengan 12 Juni 1952 Y.l. ini, ia tepat berusia 80 tahun Islam).
Yang banyak orang tidak tahu yaitu bahwa Suryopranoto sebelum tahun 1908 yaitu di tahun 1900, sudah berusaha mendirikan suatu: badan koperasi, yang olehnya dinamakan “Mardi-Kaskaya” di Yogyakarta. Pula bahwa di tahun 1908, sebelum pemuda Sutono mendirikan Boedi-Oetomo, Suryopranoto sudah berusaha menyatukan para pemuda pelajar, untuk maksud mana ia ber-sama-sama dengan saudara Akhmad. Kedua-duanya, Suryopranoto dan Akhmad, adalah pelajar pada “Middelbare Landbouwskhool” di Bogor. Akhmad kemudian menjadi pemimpin S.I. dan kelaknya masuk ke kalangan Pamong-praja. Suryopranoto dan Akhmad pernah mengadakan pembicaraan dengan para pelajar di Stovia, te-tapi tidak berhasil, karena......... ya, karena belum tepat saatnya. Kemudian barulah pemuda-pemuda Soctomo, Goenawan dan kawan-kawan-nya mendirikan “Budi-Utomo”-nya.
Sesudah B.O. terbentuk pada tanggal 5 Oktober 1908 di Yogya. Suryopranoto terus dimasukkan ke dalam pimpinannya sebagai secretaris Hoofdbestuur yang pertama. Itulah sebabnya kami telat: minta kepada Suryopranoto, untuk memberi sekedar kenang2annya tentang Budi-Utomo, dalam periodenya yang permulaan. Silahkan para pembaca mengikuti sumbangan tulisannya sendiri yang berikut.
PERGULATAN RAKYAT KECIL DALAM MEMBELA NASIB HIDUPNYA.
Barangkali tidak perlu keterangan lebih lanjut, bahwa warisan daripada stelsel kapitalisme-modern pada abad ke 19 terutama berbentuk kenyataan adanya bagian dari rakyat Indonesia yang menderita dan compang-camping, dan yang sekarang yiasa disebut “kaum proletaar”. Mereka itu penjual tenaganya pada kaum ”ondernemer” dengan harga yang sangat rendah. Kehidupan ekonominya tergantung pada hukum kehendak dan tawar, dan karena itu, jika ada “malaise” atau krisis ekonomi sedikit saja, maka dengan mudah tergelincir dalam kesengsaraan, hidup selalu diikuti oleh bayangan hantu keraguan tentang hari kemudian.
Karena itu mudah dimengerti, bahwa hati rakyat yang demikian itu mengandung dendam yang tidak habis2nya terhadap nasib yang malang, yang mereka rasakan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Hal ini merupakan sumber kegentingan sosial yang dahsyat. Kepincangan dalam kehidupan ini adalah umum di-Indonesia pada waktu itu.
Keadaan yang demikian ini merupakan pusat perhatian pemimpin-pemimpin kita, hingga timbulah perkumpulan-perkumpulan nasional, yang akan berusaha mengurangi penderitaan rakyat, Meskipun berjalan setapak demi setapak. Dengan demikian kita lihat timbulnya “PIRUKUNAN JAWI”, ”BUDI-UTOMO”, “SA-REKAT ISLAM”, ”ADHI-DHARMA” dan lain-lain sebagainya. Adhi-dharma yang merupakan satu Arbeidsleger(tentera kerja) yang kami pimpin sendiri bermaksud menolong rakyat dalam segala lapangan sosial, ekonomi dan politik dengan mendirikan sekolah-sekolah, kantor pertolongan yang akan membela di muka hakim, polikliniek-polikliniek, pemeliharaan kanak-kanak dan orang-orang tua, mendirikan bank pasar dsb.
Pada hakekatnya perkumpulan-perkumpulan nasional ini tidak lain yalah untuk sekadar meningkatkan kehidupan rakyat Indonesia ke- tingkatan yang pantas bagi manusia “een menswaardig bestaan”. Tetapi semua usaha tidak ada artinya sama sekali, seperti setetes air dalam lautan, dan sedikit pun tidak kuasa mendesak pemerintah Belanda merobah sikapnya.
Yah, apa akan dikata jika seorang pegawai Belanda dalam pabrik gula dengan duduk ongkang-ongkang mendapat persenan tahunan 500.000 rupiah berhadapan dengan kuli, yang membuat lubang dalam tanah yang panjangnya 24 kaki, lebar dan dalamnya masing-masing 1 kaki, dengan upah 1 1/2 sen. Hal yang demikian ini sudah terang menggambarkan betapa sengsaranya rakyat kita, dan pantas juga kalau Belanda segan mengubah sikapnya.
Menghadapi kepincangan yang hebat itu tidak ada jalan lain dari pada memakai senjata yang paling dahsyaat yang jika dilakukan se-wenaug-wenaug dapat makan diri sendiri, yakni pemogokan.
Waktu itu memang sudah masak, se-masak2nya, untuk mengadakan aksi yang lebih nyata dari pada mengadakan usaha-usaha sosial saja untuk menghilangi kegencetan hidup yang rasanya tidak mungkin dilemparkan. Yah, bagaimana, kalau untuk membeli cenggamm beras saja orang mesti ber-deret-deret, sampai 1 km. panjangnya. Hal ini disebabkan, karena akibat perang, hingga beras sukar didapatkan, jalan kapal untuk mendatangkan beras dari luar negeri tidak dipergiat. Sudah barang tentu harga pakaian menjadi tinggi sekali. Gangguan-Gangguan dari pegawai-pegawai Belanda, gangguan keamanan dan gangguan berhubung dengan pekerya-pekerya sangat dirasakan oleh rakyat-kecil; suatu nasib yang dahsyat dan tidak terelakkan.
Pada waktu itu sudah ada perserikatan-perserikatan buruh kereta api N.I.S. (P.P.K.A.) yang dipimpin oleh saudara Semaun dan kawan2nya.
Pada suatu hari di bawah pengawasan seorang anggauta S.D. A.P. Bergsma diadakan sidang di rumah sekolah Adhi-Dharma di Pakualaman, untuk merundingkan permintaan kenaikan gajih bagi para pegawai N.I.S., yang telah mengalami kegagalan itu.
Maka diadakanlah aksi pemogokan yang pertama. Gerakan ini diatur sedemikian hingga pada jam 12 siang tepat pekerjaan di-bengkel-bengkel, di-stasiun-stasiun Maupun dalam kereta- kereta api yang sedang berjalan di tengah perjalanaunya, mesin-mesin dibentikan dan masinis-masinis, stoker-stoker, dan kondektur-kondektur semuanya meninggalkan pekerjaannya. Aksi ini dianggap demikian berbahaya, hingga Pemerintah Belanda mengerahkan perajurit-perajurit “Legioen Mangkunegaran” untuk menjaga keamanan jalan-jalan kereta api.
Aksi pertama telah dimulai, dan be-runtun-runtun rakyat Indonesia di-masing-masing lapangan menanti saatnya sendiri untuk beraksi.
Para bekel-bekel yang menyewakan tanahnya pada onderneming-onderneming ditetapkan sebagai mandor. Mereka diwajiibkan bekerja ‘iap’ hari. Dulu mereka bekerjanya hanya memungut pajak yang kemudian diserahkan pada patuhnyia, yaitu pada hari Gerebeg Maulud. Kemudian mereka bekerja se-hari-harian, mengawasi orang-orang menanam tebu tiap-tiap hari zonder hari Minggu. Mereka mengeluh dalam suatu rapat umum Adhi-Dharma, yang diadakan tiap-tiap hari Kemis malam Jumaat di-desa-desa. Berhubung dengan itu kami anjurkan untuk jangan masuk kerja pada tiap hai: Jumaat alias mogok; dengan alasan akan melakukan kewajiiban agama di mesjid. Aksi ini berhasil juga. Para pekerja-rendah onderneming sejak itu tiap seminggu sekali mendapat istirahat. Hanya harinya saja atas anjurran Pastoor Van Lith, yang terkenal juga sebagai pembela rakyat, diganti hari Ahad. Hal ini kami terima, karena hari Ahad adalah hari istirahat internasional.
Gerakan mengurangi nasib yang jelek dari buruh ini mendapat sympathy dari kanan-kiri.
“Opium-Regie Bond” (perserikatan pegawai Opium-Regie, yang telah berdiri agak lamia, tetapi tidak berhasil mencapai maksudnya, menyerahkan pimpinannya pada kami.
Untung sekali, bahwa dalam membela buruh Opium-Regie kami tidak perlu mengangkat senjata pemogokan. Dengan perundingan dengan Gobnor-Jenderal Fock saja mereka mendapat kenaikan gajih dengan kekuatan mundur (terugwerkende krakht).
Di rumah pegadaian terjadi peristiwa yang sangat menghina bangsa kita. Seorang pegawai yang termasuk bukan pegawai rendahan, yang berpakaian jas lengkap, dipaksa menyunggi (dibadiatas kepala) dandang (periuk untuk masak) dan menjalan- kan pekerjaaan kasar-kasar. Hal ini dianggap sebagai suatu penghinaan. Pemogokan terjadi dengan sendirinya. Banyak buruh yang dilepas, hingga banyak yang jadi terlantar. Dan oleh karena ketua saudara Sosrokardono sedang masuk tahanan, maka sepulangnya kami dari menjalani hukuman penjara di-Semarang, (karena delict bicara di Delanggu) segera kami adakan Panica pertolongan pemogokan dengan dibantu saudara Suwardi (Ki Hajar Dewantara) sebagai Penningmeester.
Perhatian atas gerakan melawan nasib yang buruk memang besar, sehingga banyak pegawai-pegawai pabrik gula datang di kantor Adhi-Dharma yang minta diadakan perkumpulan pegawai pabrik gula. Berkat propaganda para pemuda belum ada 6 bulan kira-kira 200 onderneming tercatat sebagai anggauta.
Suasana di kalangan buruh pabrik-pabrik gula menjadi panas, karena umum merasa perlunya perkumpulan ini, sebab upah mereka rendah sekali, terlalu rendah untuk dapat hidup sebagai manusia yang pantas.
Dalam suatu rapat yang pertama datanglah seorang employé pembantu Administrateur dengan berita, bahwa “tuan besar” tidak mengijinkan pegawai-pegawai masuk P.F.B. (perkumpulan Pegawai Fabriek Bond) Tantangan ini disambut dengan suatu keputusan dengan “acclamasi” untuk mengadakan pemogokan. Sejak hari itu tidak ada orang masuk kerja. Kebanyakan yang ikut dengan aksi ini yalah pegawai kasar yang amat rendah upahnya: tukang-tukang besi, mandor-mandor, kulì², tukang-tukang gerobak pengangkut tebu, sedang pekerjaa-pekerjaa yang halus seperti jurutulis, laborant sedikit sekali yang ikut mogok, Meskipun mereka belum puas dengan gajihnya dan kurang senang terhadap sikap majikan asing.
Dalam pada itu kaum pabrik juga tidak tinggal diam. Suikersyndicaat dan Ondernemersbond berusaha keras untuk mialwan P.F.B. Merckya bersatu dalam P.E.B. (Politiek Economise Bond) yang diketuai oleh bekas resident Palembang, Engelenberg, yang bermaksud “untuk bertindak ber-sama-sama dengan orang-orang yang hatinya tenang” (regent-regent dan ambtenaar-ambtenaar) melawan orang-orang yang panas kepalanya dan mempercepat jalan kema- juan evolusi, di tanah ini, supaya Hindia Belanda tidak cerai berai“. Demikian keterangan nyia pimpinan P.E.B.
Di antara pegawai-pegawai Belanda pada onderneming-onderneming ada juga yang tidak puas dengan gajihnya dan mereka mengadakan permintaan ber-sama-sama mengadakan pemogokan. Tetapi menurut penyelidikan kami, mereka hanya akan memperkuda kita saja untuk mendapat gajih mercka sendiri. Karena itu kami larang anggauta-anggauta kita untuk membantu mereka.
Pernah juga kami mendapat tawaran sekian ribu rupiah dari seorang ondernermer, asal kami tidak mengganggu pekerdiaan- nya. Atas advies saudara Haji Agus Salim tawaran ini kami yawab, bahwa kami mau menerima uang tersebut, asal surat permintaannya boleh disiarkan di-surat kabar. Tentu saja mereka malu kalau soal ini diketahui umum, dus hal ini ditariknya kembali.
Lain usaha mereka untuk menindas gerakan buruh menundukkan tidak adanya rasa-perikemanusiaan.
Umpamanya di Krian (Surabaya), di mana rumah-rumah buruh yang berani, diikat tiang-tiang pokoknya untuk kemudian ditarik roboh.
Pembongkaran yang demikian ini tidak diberitahukan terlebih dahulu hingga pegawai-pegawai itu tidak dapat kesempatan untuk menyingkirkan perkakas rumah tangganiya, yang akibatnya hancur sama sekali.
Begitu juga di Mojoagung, di mana dilakukan pembeslahan gerobak pengangkutan tebu, sapi dan sebagainya, sehingga kehilangan mata pencahariannya dengan sekali gus.
Sebenarnya gerakan tsb. tidak semuanya anjuran P.F.B. Pu- sat. Mereka ambil inisiatip sendiri, karena rakyat umumnya, dan tentu saja juga semua pekerja di-pabrik-pabrik, menaruh kebencian pada Belanda umumnya, yang kejam dan angkuh itu.
Sering kami usahakan penyelesaian secara damai, seperti pertemuan kami ber-sama-sama dengan sekretaris P.F.B., saudara Haji Agus Salim dengan Gobnor Jenderal Graaf van Limburg Stirum. Di sana kami ceriterakan segala keadaan pincang di-pabrik-pabrik, kekejaman-kekejaman administrateur.
Tiga perempat jam kami berbicara.
Hasilnya Gobnor Jenderal berdiri, terus pergi dengan tidak beri kesanggupan apa......
Sejak itu rencana pemogokan terjadi. Di mana saja kami datang, Meskipun untuk keperluan privé, buruh pabrik naik gajhnhya dengan sendirinya dan seketika itu juga.
Jaman gelora telah berlalu di hadapan kami, tetapi memang sesungguhnya, keadaan telah memaksa kita.
Si-lawan terlalu kejam dan terlalu nékad, untuk membandei tidak suka merubah sikapnya.
Jika kita sekarang tidak dapat menggambarkan kesengsara-an rakyat Indonesia, maka karena jarak antara waktu itu dan sekarang adalah sangat jauh dan mengaburkan, dan pula karena sekarang kita tidak mengalami jebakan-jebakan seperti dulu. Idee kesengsaraan se-olah-olah asing bagi kita sekarang.
Tetapi bagi mereka yang pernah mengalami sejarah yang ialu maka ia tidak akan heran bahwa melawan pemerintah Belanda dengan jalan apa saja merupakan suatu tradisi yang semestinya. Perkataan dihukum, mogok, pemogokan mendengung tiada ada jemunya.
Keadaan yang mencemaskan seperti dulu bagi buruh sekarang sudah jauh berbeda. Kami sekarang tidak dengan bahwa ada pekerja batik perempuan kakinya dirantai supaya tidak dapat pergi mengaso, sehingga tiba-tiba diketemukan meninggal. Kita tidak dengan lagi ada pekerja yang malas dihukum dengan dirantai dan di dublik kotoran dll. Kita sekarang tidak mempunyai pemintah asing, melainkan pemerintah nasional. Kita sekarang mempunyai Parlemen di mana keadaan-keadaan pincang rakyat dapat dibicarakan dengan baik-baik. Kita sekarang sudah mempunyai P4 (Pantiya Penyelesaian Perburuhan) yang menyelesaikan ketegangan buruh dengan berpedoman pada “kelayakan, keadilan dan perikumanusiaan” sebagaimana tercantum dalam Panca Sila.
Soal-Soal buruh sekarang bukan lagi soal antara buruh dan majikan, melainkan adalah soal Negara. Itulah sebabnya Pemerintah di-mana-mana campur tangan. Onderneming-Onderneming modern sekarang adalah lain kedudukannya daripada dulu. Onderneming modern adalah satu orgaan masyarakat. Masalah produksi, pengangguran dan upah semuanya bersangkutan dengan kepentingan masyarakat.
Kalau teryadi penghentian produksi maka harga barang menjadi naik dan karenanya menyinggung kehidupan rakyat seluruhnya. Pengangguran yang menimpa be-ratus-ratus atau be-ribu-ribu kaum buruh, karena produksi berhenti, hanya menjadi beban baru bagi Negara. Apa yang dulu menjadi beban perusahaan, sekarang menjadi beban Negara. Karena itu kami agak heran kalau sering-sering ada pemogokan tidak terhadap perusahaan asing saja, tetapi juga terhadap sesuatu yang perlu untuk rakyat sekalian, seperti terhadap pengangkutan beras di pelabuhan Semarang seperti yang baru-baru ini.
Kami setujui kalau perkumpulan-perkumpulan buruh menganut paham Sosialisme. Bagi kami Sosialisme terutama yl. “pemeliharaan manusia dalam masyarakat”. Tiga abad kita menderita, kita sekarang sedang mengangkat diri kita dari akibat pergulatan kita. Karena itu kita harus ber-hati-hati niengangkat senjata yang paling dahsyat itu, ya’ni pemogokan.
Serikat3 sekerja kami kira ada lebih baik memusatkan pikirannya pada keamanan dalam tempat bekerja, berunding dan beri advies untuk mendirikan dan mengawasi rumah hiburan atau untuk perkembangan pengetahuan si buruh; ikut merundingan aturan-aturan tanggungan sakit dan kecelakaan, atau merupakan central pembeli kebutuhan-kebutuhan hidup dan murah. Pokoknyia titik berat diletakkan pada lapangan ekonomi.
Dengan demikian akan ada keamanan bekerja yang akan mengakibatkan kesenangan bekerja. Produksi akan meningkat. Dan kita sekalian akan memetik hasil yang memuaskan dan mengisi arti kemerdekaan.
Setelah menyelidiki berbagai so’al perekonomian, kemasyarakatan, kebudayaan dan sebagainya yang berkenaan dengan hidup kebangsaan kita, maka timbullah hajat dalam hati saya, untuk menggerakkan hati pemuda-pemuda jaman itu, dengan maksud mendirikan perserikatan yang tulén nasional sifatnya dan dapatlah kiranya membawa bangsa kita ke arah tingkatan hidup yang layak. Hajat itu tumbuh menjadi hasrat tertulis yang diedarkan berupa surat propaganda. Perserikatan yang dian-jurkan itu hendaknya dinamakan “Pirukunan Jawi”. Surat itu pada suatu hari dibawa ke Jakarta ke kalangan para siswa Sekolah Dokter, yaitu Stovia, dengan perantaraan saiah seorang dari mereka, yaitu Suwardi (yang kini bernama Ki Hajar Dewantara). Pada waktu rencana perserikatan tersebut sedang dibicarakan maka pendengar-pendengarnya makin lama makin bertambah, sehingga pertemuan tadi agaknya merupakan propaganda-meeting kecil-kecilan. Yang dalam pada itu amat saya sayangkan yaitu bahwa pada waktu itu pemuda Soetomo (alm. Dr. Soetomo) tidak ada. Selesai itu, saya yang masih menjadisiswa Sekolah Pertanian Bogor, pulang dan surat propaganda yang saya bawa ditinggalkan supaya diedarkan pada Siswa-Siswa Kedokteran lain-lain-nya yang tidak turut hadir. Sdr. Soetomo yang pada waktu itu tidak ada, sebagai salah satu pemuda yang hasrat dan semangat perjoangannya besar, kabarnya menyayangkan tidak diberitahu akan kedatangan saya, sehingga beliau tidak turut hadir.
Kemudian kira-kira sebulan, surat propaganda tersebut dikembalikan ke Bogor dengan tidak membawa hasil.
Daiam tahun 1906-1907 dokter Wahidin Sudiro Husodo berkeliling ke-kota-kota di Jawa, dengan maksud untuk mendirikan “Studiefonds”. Studiefonds itu mengandung maksud untuk menjunjung tinggi derajiat penduduk bumiputera di pulau Jawa. Saya kenal betul dokter ini, karena beliau di Yogyakarta menjadi dokter-rumah keluarga ayah saya. Memang betul bahwa dalam pembicaraannya dengan ayah, beliau itu kagum mençengar kegiatan-kegiatan bangsa Jepang, yang dalam waktu jangka pendek dapat mencapai kemajuan yang menggemparkan bangsa-bangsa lainnya di Asia dan tingkat kedudukan negaranya sama tingginya dengan Negara-Negara Barat.
Selanjutnya dikatakan bahwa bangsa kita sebagian besar masih kecil hatinya, dangkal dan kecil fikirannya dan juga kecil kantongnya. Oleh karena itu beliau berhasrat mendirikan “Studiefonds” tersebut. Dan pada waktu itu beliau mengira bahwa tidak dengan tunjangannya pegawai-pegawai negeri, yang mempunyai gajih tetap, mustahil fonds itu dapat berdiri.
Pada suatu ketika Dr. Wahidin datang di Bogor dan menginap cirumah saya. Atas permintaannya saya mengadakan pertemuan di-Kewedanan Kota pada waktu maiamnya, akan tetapi usahannya Wedana dan saya untuk mendatangkan pegawai-pegawai pemerintah tidak berhasil baik. Pihak pegawai-pegawai negeri sedikit sekali yang hadir, dan yg. datang kebanyakan orang-orang partikelir dan siswa-siswa Sekolahan Pertanian. Dari pihak pegawai-pegawai negeri yang hadir dimutakati, bahwa gajinya akan dipungut 5% guna kepentingan “Studiefonds” yang direncanakan oleh Dr. Wahidin. Menurut tuturannya, memang di mana-mana rupanya kurang nampak perhatian dari golongan pegawai negeri. Harus diakui pula bahwa sesungguhnya pada waktu itu orang kurang pengertiannya tentang perkumpulan; kesedaran organisasi belum timbul. Pengertian mereka baru sampai kumpulan dalam kerja, perkawinan atau selamatan. Pada waktu itu surat propaganda “Pirukunan Jawi” saya serahkan juga kepadanya. Seperginya dokter Wahidin dari Bogor orang tidak dengar lagi tentang usaha “Studiefonds” selanjutnya.
Dalam bulan Mei 1908 puteri Bupati Jepara, R. A. Kartini, menulis karangan, yang dimuat dalam salah satu surat-kabar Belanda, “de Locomotief”, dan mengandung sugesti tertujukan orang-orang tua yang mempunyai anak-anak perempuan, supaya merelakan memberi kemerdekaan bergerak pada anak-anaknya dan mendidik anak yang laki-laki ke arah pengertian itu juga, sehingga kelak kemudian hari jika anak-anak ini telah menjadi orang tua, kedua-duanya akan bertindak sama terhadap anak-anaknya yang perempuan. Pokok anjurannya ialah memerdekakan orang perempuan dan memasukkan mereka ke dalam usaha kemasyarakatan (“vrouwen-emancipatie” dan “opname van de vrouw in het sociale leven”). Rupa-Rupanya anjuran ini mendapat perhatian dan tanah yang subur di kalangan siswa-siswa Kedokteran. Salah seorang siswa mengirim tilgram kepada Kartini untuk menyatakan simpatinya atas karangan itu.
Rupa-Rupanya suasana masa pada waktu itu mengandung isi akan datangnya jaman baru yang mempunyai cita-cita baru dan cara berjoang baru. Memang tidak lama kemudian lahirlah “Budi Utomo” sebagai kristalisasi daripada fikiran jaman pada waktu itu. Dan kehahirannya organisasi ”Budi Utomo” didukung oleh siswa-siswa Sekolahan Kedokteran di Jakarta atas kegiatan-kegiatan pemuda Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo, pada tanggal 20 Mei 1908. Berhubung kekurangan waktu dan lain-lain maka penyeleng-garaan organisasi diserahkan pada Dr. Wahidin. Persiapan-Persiapan yang diperlukan untuk kelancaran jalannya organisasi dilakukan oleh dr. Wahidin dan Pangeran Notodirojo. Dan pada tanggal 5 Oktober 1908 kongres B.U. yang pertama diadakan, di mana Statuten dan Peraturan Rumah-Tangga perserikatan ditetapkan dan diterima baik.
Maksud perserikatan ialah “Harmoniskhe ontwikkeling van Land en Volk”.
Usahanya meliputi usaha memperbaiki perguruan-perguruan, mendirikan Studiefonds, mendirikan sekolah pertanian, memajukan tehnik dan perusahaan, meninggikan rasa perikemanusiaan dan menjunjung deradat penduduk bumiputera pada umumnya.
Sebagai voorzitter yang pertama yang dipilih ialah Bupati Karanganyar, Tirtokusumo, sebagai onder-voorzitter, Dr. Wahidin dan saya sebagai sekretaris hoofdbestuur. Dan tugas ini saya jalankan dalam dinas jabatan saya sebagai landbouwleeraar di Kejajar (Wonosobo).
Pernah saya bertemu dengan marhum Mr. Van Deventer, yang sedang beristirahat di Wonosobo, untuk mengucapkkan terima kasih atas nama B. U. berhubung dengan perbuatan-perbuatannya, yang mcnunjukkan perhatiannya terhadap B.U. Di situ Van Deventer menerangkan tentang sikap ethik (ethiskhe koers) yang waktu itu dilakukan di Nederland, politik mana didasarkan atas hubungan Timur dan Barat (associatie van Oost en West).
Sayang, bahwa menurut perasaan saya jalannya organisasi B.U. masih sangat berhati-hati dan lambat. Cita-Citanya cultureel, nasional dan sosial boleh dikatakan belum dapat dilaksanakan, masih tinggal jadi cita-cita saja, dan dalam prakteknya selain membantu berdirinya sekolah-sekolah tidak terasa, sedang pemerintah kolonial Belanda diam-diam mengadakan rintangan-rintangan, perlambatan dan kontrole atas perserikatan itu.
Sebagai contho: Cabang B.U. Yogyakarta memasukkan permohonan kepada pemerintah daerah untuk mendapatkan idzin mendirikan rumah pemondokan untuk murid-murid sekolah mene-ngah.
Idzin ditunggu-tunggu hingga hampir satu tahun belum keluar. Ketiga pemimpin Cabang yang lama, Dr. Abdulkadir, datang di Yogyakarta dan menanyakan kepada Residen, yang sesungguh-nya memegang kuasa di belakang layar pemerintah daerah “Kepatian” pada waktu itu, mengapa idzin belum turun, dijawab-nya bahwa di antara anggota-anggota bestuur Cabang B.U. Yogya ada kaum merahnya, yaitu Si A. dan B. Dan jika kedua orang itu belum berhenti sebagai anggota idzin tidak akan dikeluarkan.
Juga anehnya pada waktu itu, banyak Bupati-Bupati yang tidak mengidzinkan pegawai-pegawainya menjadi anggauta B.U., sedang hoofdbestuur yang mengetahui hal itu tidak ambil tindakan.
Letak kesalahannya yang menghambat kemajuan B. U. yalah karena pimpinanhoofdbestuur diserahkan kepada se-orang Bupati, seorang pegawai tinggi di kalangan pemerintah kolonial Belanda. Beliau mengerti bahwa pemerintah sesung-guhnya tidak senang melihat kemenangan perkumpulan bumi-putera. Dengan demikian B.U. tetap hidup di meja dan di kamar dan tidak terasa di kalangan rakyat tingkatan bawah. Maka oleh karena kurang memuaskan, banyak anggota-anggota keluar dari “Budi Utomo” dan menggabungkan diri dalam perserikatan-perserikatan lain.
Tetapi Bagaimanapun juga, pentingnya B.U. yalah terletak dalam pemeloporan cita-cita baru yang sipatnya nasional, yang mengandung arti historis. Juga B.U. boleh diartikan sebagai tempat persemaian atau “kweekbed” pejoang-pejoangnya yang pertama; sebagai gelanggang latihan berjoang secara teratur (georganiseerd) yang telah dapat mendobrak jalan tingkat pertama ke arah Indonesia Merdeka.
Sadar akan itu, dengan rasa terima kasih, pada tanggal 20 Mei tiap-tiap tahun, kita semua perlu menengok sebentar ke belakang guna mengambil moraalnya dan menarik garis kontinueitnya, yang perlu, untuk berjoang terus ke arah kemakmuran dan ke-jayaan Indonesia Merdeka, sekarang dan di kemudian hari.
EMPAT PULUH TAHUN BANGSA INDONESIA BANGKIT
Sebelum pembentukan perkumpulan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 terlaksana, umum tak mengetahui, bagaimana jerih payah almarhum Dokter Wahidin Sudirohusodo untuk mencapai citayita yang telah lama dikandungnya, ialah mempertinggi kedudukan masyarakatnya (bangsanya) yang selayknya Secara diam-diam beliau terus berusaha, dengan mengadakan perjalanan propaganda di seluruh Pulau Jawa. Untuk meminta idzin guna mengadakan rapatnya umum yang pertama di Jetis, Yogyakarta, pada tanggal 5 Oktober 1908 itu, beliau datang sendiri kepada “Hoofd van Plaatseliyk Bestuur” di Yogya, Walaupun beliau mengerti, bahwa nanti beliau pasti akan disuruh duduk di bawah. Di situlah beliau bersikap seperti orang yang sedang beradu jago ayam jantan), yaitu “mengalah” (ngalah, ulah ngisor). Maksudnya pun tercapai. Rapat umum diidzinkan dengan mendapat pesanan dari asisten-residen yang keras: “Sekali lagi, kamu saya peringatkan, kamu tak boleh merembug soal politik. Mengerti?”
Dibalasnya dengan senyuman: “Inggih Kanjeng Tuan?” Dengan pengorbanan Dokter Wahidin yang penuh dengan penghinaan itu, Budi Utomo terbentuklah sebagai tulang punggung pergerakan bangsa Indonesia seluruhnya.
Setelah B.U. terbentuk dengan diketuai oleh almarhum Bupati Karanganyar Tirtokusumo, Dokter Wahidin Sudiro Husodo meng-adakan lagi perjalanan propaganda ke seluruh Pulau Jawa untuk membentuk Studiefonds “Darma Wara”. Maksudnya pun ini pun terlaksana dan banyak putera-putera Indonesia yang mendapat pengajaran sejajar dengan bangsa Barat dengan biaya dari Darma Wara.
Dari perjalanannya yang penuh penderitaan dan sering-sering juga pengkhinaan, beliau mendapat penyakit yang tak mudah sembuh-nya dan yang kemudian menjadi sebabnya beliau mangkat pada tanggal 26 Mei 1916.
Pada tahun 1911 menusul terbentuklah Sarekat Islam yang promotornya ialah Haji Saman Hudi dan lalu dapat berkembag baik di bawah pimpinan almarhum Haji Cokroaminoto. Pada tahun 1914 sebelum perang dunia ke I pecah, B.U. di bawah pimpinan kami dengan mengundang S.I. mengadakan rapat umum di Semarang; di mana B.U. pada waktu itu mulai merembug soal politik, sebab di situlah diperbincangkan: Bagaimana sikap Bangsa Indonesia seandainya nanti Negeri Belanda turut terlibat dalam peperangan.
Perhatian sangat besar. Keputusannya ialah: “Karena kita (pada waktu itu) masih terlalu terbelakang di dalam se-gala³-nya, maka seandainya kita hendak menolong, sebagai penuntun kuda pun, tak dapat.”
Pada tahun 1916 di Bandung B.U. merembug soal Militie-plikht dengan keputusan mengajukan permintaan diadakannya Militie plikht untuk bangsa Indonesia. Permintaan ini diabaikan oleh pemerintah penjajaahan, sebab tak mendapat yawaban sepatah pun.
B.U. dan S.I. terus disusul oleh partai-partai banyak. Pergerakan bangsa Indonesia mulai menyala. Yang tak boleh dilupakan ialah:
- Indiskhe Partiy dengan Tiga-Serangkainya: Douwes Dekker (dr. Setia Buddi, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryadiningrat;
- P.B.I. di bawah pimpinan Dokter Sutomo; 3. P.N.I. pada th. 1929, partai yang dipimpin oleh Ir Sukarno, sekarang Presiden kita bangsa Indonesia.
Perkumpulan para bupati dengan nama “Tirta Yasa” difusikan dengan B.U. Pada tahun 1933 B.U. difusikan dengan P.B.I.-nya almarhum Dr. Sutomo, yang lalu dinamakan Parindra.
Pergerakan Bangsa Indonesia selalu dapat berkembang dengan hatsil yang memuaskan, sampailah waktunyia Wahyu tume-lung pada Bangsa Indonesia pada th. 1945 - 17 Agustus, di mana bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, dengan perjoangan yang penuh penderitaan dan kegentingan. Bangsa Indonesia selalu mendapat ujian yang berat dan bangsa Indonesia senantiasa dapat lulus di dalam ujian-ujian dengan memegang tegus semboyannya: “Jer basuki mawa beya.”
Maka dari itu mulai 20 Mei 1948 setelah Bangsa Indonesia 40 tahun bangun, kami di sini menyerukan: “Usahakanlah dengan kekuatan yang ada pada kita untuk ”Bersatu yang kuat“ guna menegakkan kemerdekaan kita, agar supaya kita selalu menduduki kebenaran dan keadilan”.
Walikukun, 20 Mei 1948.
DARI BUDI-UTOMO SAMPAI PARINDRA
“Kemerdekaan mungkin doyong jika tak diisi ....”
HARI 20 Mei adalah hari yang mulia, hari yang mengandung sejarah bagi pergerakan kebangsaan Indonésia. Karena setelah mengalami penjajahian sadarlah bangsa kita, bahwa jika kita tidak menghim pun kekuatan nasional akan sukarlah bagi bangsa Indonésia di kemudian hari. Kesadaran itu dijelmakan dan pada 20 Mei 1908 lahirlah perhimpunan kita yang pertama-tama yalah Budi Utomo, dipelopori oleh alm. Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan digerakkan oleh mahasiswa kedokteran dan pelajar-pelajar lainnya.
Memang mula-mula Budi Utomo berdasarkan kebudayaan dan bergerak dalam lapang pengajaran, karena bangsa kita telah mempunyai kebudayaan yang tidak rendah, sedang kebudayaan adalah ukuran derajat bangsa, sehingga tak boleh diabaikan. Adapun hal pengajaran perlu untuk dapat berlomba-lomba dengan bangsa lain. Maka didirikanlah studiefonds Darmo Woro.
Walaupun demikian sejak semula aliran berpolitiek dalam Budi Utomo telah dan senantiasa ada. Karena pada waktu itu dipandang belum saatnya serta belum cukup bahan-bahannya, pun kaum penjajah tentu akan mempersukarkannya, maka hal politiek disabarkan dahulu.
Pada permulaan Budi Utomo boleh dikatakan perkumpulan priyayi-priyayi dan pelajar-pelajar serta baru terbatas pada tanah Jawa dan Madura. Akan tetapi makin lama makin meluaskan anggauta-anggautanya. Terdorong oleh keinginan penduduk Bali dan Lombok untuk turut dalam Budi Utomo dan dianggap sama kebudayaannya, daerah Budi Utomo diluaskan sampai pada pulau-pulau itu.
Setelah Budi Utomo berdiri lahirlah bermacam-macam perkumpulan termasuk perkumpulan kesenian.
Pada tahun 1913 Meskipun belum bercorak politiek, Budi Utomo telah mengadakan National Congres di Semarang dengan perkumpulan-perkumpulan dan golongan-golongan terkemuka, untuk menentukan bagaimanakah sikap kita jika negeri Belanda dan negeri kita tersérét dalam kancah peperangan, yang sungguh meletus pada tahun 1914. Kesimpulannya karena bangsa kita belum mempunyai kekuatan, maka kita tinggal diam saja. Pada waktu itu timbul pembtiyaraan tentang milisi untuk bangsa kita.
Dalam Congresnya tahun 1915 Budi Utomo membuat resolusi menyetujui milisi dengan parlemen. Sebab suatu negara tak akan kuat jika tidak dibela oleh bangsanya sendiri, dan keadaan negara tidak akan sejahtera kalau tidak diatur parlemennya sendiri.
Kemudian Budi Utomo turut mengirimkan utusan dalam Panica Indië Weerbaar ke negeri Belanda untuk menyampaikan resolusi tentang milisi yang harus diadakan dengan putusan parlemen Indonésia. Tetapi belum ada hasil yang memuaskan, selain akan diadakan Volksraad. Maksud Belanda mendirikan Volksraad itu tak lain hanya hendak mengumpulkan suara-suara. Jadi bangsa kita belum mempunyai kekuasaan.
Walau maksud milisi tidak tercapai, namun semangat keperajuritan sudah berkobar-kobar, sehingga melahirkan gerakan kepanduan di-mana-mana. Budi Utomo pun mempunyai kepanduan.
Gerakan kepanduan ini disusul oleh adanya bermacam-macam perkumpulan keolah-ragaan.
Dengan adanya Volksraad, Budi Utomo lalu masuk politiek, sebab hanya dengan jalan demikianlah Budi Utomo dapat turut memperhatikan kepentingan bangsa dalam segala lapangan serta dapat mencatat bagaimanakah sebenarnya politiek penjajan itu.
Adapun partai programnya yalah:
- pemerintahan demokratis dalam bentuk nasional;
- pemilihan umum;
- kerja-sama dengan partai-partai lainnya.
Sampai pada waktu itu sebenarnya Budi Utomo suka menerima self-government, akan tetapi karena tindakan-tindakan Pemerintah masih jauh dari self-government itu, maka dalam Budi Utomo timbul aliran non-coöperatie (tidak suka kerja-sama dengan Pemerintah).
Meskipun Budi Utomo berpolitiek, akan tetapi tidak lupa kebudayaan, malahan memajukan jalan kebatinan (moreel) sebab moreel ialah syarat yang terpenting untuk persatuan.
Setelah mengetahui banyak dan ber-macam-macam perkumpulan yang dapat memecahkan persatuan, sedang Budi Utomo insyaf, bahwa kekuatan kita yang jitu adalah persatuan, maka Budi Utomo senantiasa berusaha menyatukan perkumpulan-perkumpulan (federasi). Mula-mula mengadakan Nasional Komite yang terdiri dari:
- Sarikat Islam;
- Budi Utomo;
- Perkumpulan Bangsawan Solo dan Yogya;
- Perkumpulan Bestuursambtenaren.
Akan tetapi tidak tahan lama.
Kemudian setelah Volksraad berdiri Budi Utomo turut dalam Radicale Concentratie yang terdiri dari:
- I.S.D.P.
- Sarikat Islam;
- Insulinde;
- Budi Utomo.
Dalam tahun 1927 menjadi anggauta P.P.P.K.I. (Permufakatan Partai Politiek Kebangsaan Indonesia) yang terdiri dari:
- P.S.I.I.
- Indonesiskhe Studieclub;
- P.N.I.
- Serikat Sumatera;
- Pasundan;
- Budi Utomo.
Daïam tahun 1928 Budi Utomo meluaskan tujuannya, yalah mempersatukan bangsa Indonésia, maka daérahnya bertambah luas meliputi seluruh Indonésia.
Dari semula ketika masih berdasarkan kebudayaan sampai pada waktu berpolitiek Budi Utomo tidak lupa memperhatikan keadaan dan kedudukan desa, karena mengetahui bahwa desa adalah sendi masyarakat kita. Ini terbukti dengan dibuatnya pedoman untuk Guru Desa.
Pada tahun 1929 Budi Utomo mengadakan Nationaal Onderwiys Congres yang kemudian menjadi P.P.I. (Permusyawaratan Pengajaran Indonésia) yang berusaha menyatukan perkumpulan-perkumpulan yang mempunyai sekolahana.
Oleh karena adanya federasi perkumpulan-perkumpulan tadi belum memuaskan dan banyak perkumpulan yang azas tujuannya sama masing-masing berdiri sendiri-sendiri, maka timbulah suatu idee untuk melebur perkumpulan-perkumpulan itu menjadi satu perkumpulan (fusi).
Dalam tahun 1923 teryadilah fusi antara perkumpulan-perkumpulan:
- P.B.I. (Persatuan Bangsa Indonésia);
- Budi Utomo;
- Tirtayasa;
- Serikat Sumatera;
- Partai Serikat Selebes. dengan nama PARTAI INDONESIA RAYA. Budi Utomo, P.B.I. dll. sama ikhlas meleburkan diri, tidak ada kecurigaan, yang dilihat hanya zakeliyyk, maka berjalan dengan lancarnya. Anggauta-anggauta pengurus yang tak dipilih, tidak merasa suatu apa, sedang yang dipilih sama terus bekerja dengan giatnya.
Dengan lahirnya PARINDRA ini dinyatakan dengan terang-terangan azas-tujuannya yalah:
- Satu bangsa—BANGSA INDONESIA,
- Satu tanah air—TANAH AIR INDONESIA,
- Satu negara—INDONESIA MERDEKA.
Pun menetapkan bendera Merah Putih menjadi bendera kebangsaan, lagu INDONESIA RAYA—ciptaan Saudara W.R. Supratman—sebagai lagu kebangsaan dan memakai bahasa Indonésia sebagai bahasa persatuan.
PARINDRA mempunyai suatu barisan yalah Surya Wirawan dan hampir seluruh Indonésia ada cabang dari PARINDRA.
Untuk memajukan desa disempurnakannya bagiannya Rukun Tani yang sangat berfaedah bagi Rakyat desa umumnya dan yang mempunyai anggauta beribu-ribu jumlahnya. Pun PARINDRA melindungi vakverenigingen, sedang hal politiek—oleh karena berhubungan dengan umum—dijalankan oleh PARINDRA.
Jadi teranglah sudah bagi kita semua, bahwa Budi Utomo menanam bahan-bahan untuk cita-cita Indonésia merdeka, dan cita-cita Indonésia merdeka ini berwujud dalam PARINDRA.
Pada tahun 1941 Jepang datang, memerintahkan semua perkumpulan—termasuk PARINDRA—dibubarkan. Meskipun demikian jiwa keberanian untuk merdeka telah berkobar menyala-nyala di dalam dada bangsa Indonésia.
Menurut riwayat yang saya uraikan di muka terang dan tak dapat dipungkiri lagi, bahwa kemerdekaan yang kita tiapai sekarang ini adalah hasil pergerakan kebangsaan, dimulai sejak didirikannya perkumpulan kita yang pertama Budi Utomo.
Berdirinya Negara kita sekarang telah sesuai dengan cita-cita kebanyakan pergerakan kebangsaan, yakni merdeka, negara kesatuan. Hanya tinggal bagaimana mengisinya agar dapat sentausa, makmur, aman dan tenteram. Sebab jiaka ini tidak tercapai, kemerdekaan mungkin doyong.
Apa yang saya sebutkan di atas—hemat saya—tergantung pada kesatuan perjoangan kita sendiri. Telah terbukti dalam riwayat-riwayat banyak negara yang mula-mula kuat menjadi surut atau jatuh. Sebaliknya negara yang tadinya lemah menjadi kuat. Riwayat ini patut kita pelajari supaya kita tidak jatuh dalam keadaan yang kurang seyogya.
Menurut pemandangan saya, keadaan yang kurang seyogya itu tak hanya kurang memperhatikan kelahiran saja melainkan juga kurang memikirkan kebatinan. Diyika pemandangan saya ini benar, tepatlah sudah seperti kehendak Pemerintah, kita dewasa ini mengejar pembangunan. Dalam pada itu kita jangan sampai melalaikan dasar-dasar kebatinan kebudayaan kita.
Sesungguhnya menurut sejarah serta bukti-bukti pun ada. tak hanya kita sendiri, bangsa lain juga ada yang mengatakan bahwa kebatinan bangsa Indonésia adalah baik dan sesuai dengan ke- budayaan kita sendiri. Artinya sudah tepat dan selaras dengan keadaan alam, sehingga dapat dikatakan Kehendak Tuhan atau telah menjadi hukum alam.
Sudah barang tentu saya tak dapat tidak senang dan gembira, bahwa PARINDRA—partai politiek kebangsaan—yang pernah saya pangku bangun kembali. Menurut zaman ini partai kebangsaan perlu ada. Jika tidak bangsa kita akan mumet diombang-ambingkan, tersérét kian kemari oleh gelombang aliran. Selain dari itu PARINDRA adalah penjelmaan atau pertumbuhan dari Budi Utomo. Jadi Walaupun berpolitiek tentu tidak akan mengabaikan kebatinan dalam kebudayaan kita. Ini adalah kekuatan yang jitu. Pun PARINDRA—yakni Partai Indonésia Raya—perkataan RAYA ini politis amat luas.
Suatu partai kebangsaan tak dapat diperbudak, malahan dapat fanatiek dan menjadi—isme. Inilah yang perlu kita ingati, sebab sering-sering menjadi adigang-adigung, kurang humaniteit dan jnamis.
Bagi saya sendiri tidak khawatir jika bangsa kita menjadi fanatiek, karena kebudayaan kita adalah ke-Tuhanan. Ke-Tuhanan dalam kebudayaan kita sudah terang, semua manusia ada benih satu. Hanya karena perbedaan keadaan tanah air maka manusia berbeda-beda. Pun semua yang tersebut dalam Pancasila sudah termasuk Ke-Tuhanan dalam kebudayaan kita. Di desa-desa yang menjadi sendi bangsa semangat gotong royong, rukun, damai, prasaja (suka berterus terang), gastvriyheid, masih hidup berkobar. Maka bangsa kita disebut bangsa yang tidak rendah dan dapat menyesuaikan diri. Di sini bukan tempat-nya menguraikannya lebih lanjut.
Adapun anjuruan saya kepada PARINDRA yang baru bangun ini, oleh karena keadaan sudah berlainan, yakni kita telah merdeka, penjajahana sudah lenyap, sehingga kita berhadapan dengan kita sendiri dan tak boleh tidak berhubungan dengan internasional, maka hendaknya tujuan, sikap, dan sepak-terjang PARINDRA diobah, disesuaikan.
Harapan saya supaya PARINDRA menyalankan politiek yang waardig. Jauhkanlah segala sesuatu yang dapat mengakibatkan doyongnya kemerdekaan. Ingatlah pada pemimpin-pemimpin yang telah mendahului kita, yakni almarhum Dr. Soetomo dan Thamrin.
Pada waktu itu Walaupun PARINDRA menjalankan politiek, akan tetapi tidak lupa realiteit. Sentimen pun dipakai juga, karena ini adalah kekuatan yang besar, akan tetapi harus dipimpin oleh redeliykheid dan bijaksana.
Seperti telah saya sebutkan tujuan PARINDRA Indonésia merdeka, tetapi bukanlah cita-cita yang terakhir. Cita-cita terakhir dari PARINDRA ialah “hidup mulia bangsa Indonésia”.
Meskipun PARINDRA dapat berdiri lagi, tetapi jangan lupa mengambil initiatief untuk sedapat mungkin berfusi dengan partai-partai yang azas-tujuannya sama. Sebab banyaknya kepartaian dapat membingungkan Rakyat dan menimbulkan perpecahan.
Maafkanlah beribu maaf, sekarang saya tak dapat memangku PARINDRA lagi berhubung dengan keadaan badan dan usia saya. Dalam keadaan seperti saya ini, tepatnya hanya sedapat-dapat “heneng”. Tetapi saya siap sedia akan membantunya.
Sebagai penutup uraian saya ini, mengingat negara kita merdeka masih muda, mengingat keadaan dunia masih sama ruwet, mengingat pula bahwa PARINDRA bangun kembali, maka puji-do'a saya simpulkan dalam semboyan perkumpulan kita yang pertama, yakni Budi Utomo, yang saya pandang tepat, berbunyi:
Santosa waspada anggayuh utomo.
SEDIKIT TENTANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA
Atas inisiatif Ki Hajar Dewantara sekarang telah dimulai menghim pun beberapa tulisan dari golongan tua untuk diterbitkan sebagai brosur kenangan kepada perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Inisiatif ini patut disambut dengan baik dan patut disokong. Brosur ini akan memberikan beberapa penerangan dan penjelasan atas beberapa hal yang telah teryadi di hari yang telah lampau, oleh karena itu akan besar artinya bagi pejuang angkatan baru yang mau mengenal sejarah perjuangannya sendiri.
Dalam hal ini saya sendiri hanya dapat menyumbangkan sekedar tulisan singkat untuk sekedar menjelaskan pendirian dan ciat3 dari Partai Komunis Indonesia.
Partai Komunis Indonesia didirikan kira-kira pada pertengahan tahun 1920. Golongan progresif yang membentuk partai ini adalah berasal dari kalangan suatu organisasi besar, yaitu Sarekat Islam yang dipimpin oleh almarhum O.S. Cokroaminoto. Setelah ada Sarekat Islam sudah lahir lebih dahulu Sarekat Dagang Islam, yaitu gerakan golongan dagang menengah yang sejak lahirnya telah mengumumkan pemboikotan umum terhadap “modal asing” (terutama ditujukan pada kaum menengah Tionghoa, yang berakibat adanya pertentangan-pertentangan hebat dengan golongan ini). Kemudian Sarekat Dagang Islam menjelma menjadi suatu gerakan politik dengan nama Sarekat Islam. Dalam prinsipnya Sarekat Islam adalah gerakan nasional iang pertama, di mana tergabung ber-macam-macam aliran, yang menentang imperialisme. Menurut penyelidikan kita, P.K.I. yang didirikan tahun 1920 adalah suatu partai baru yang merupakan continuiteit (kelanyutan) dari inti yang revolusioner yang ada dalam Sarekat Islam. Jadi P.K.I. itu ada1al, suatu partai nasional yang lahir dan tumbuh di-tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sejak lahirnya hingga kini P.K.I. dengan tidak henti2nya melakukan perjuangan nasional selyara revolusioner guna memerdekakan Rakyat Indonesia dari genggaman imperialisme Belanda. P.K.I. berpendirian, bahwa sebelum klas proletar dapat melaksanakan suatu bentuk negara atau suatu bentuk masyarakat, lebih dahulu dan pertama-tama Rakyat dan negaranya harus dimerdekakan dari kekuasaan penjajahah. Jadi kemerdekaan nasional adalah syarat mutlaq bagi bangsa-bangsa yang terjajah.
Dalam proses pertumbuhannya, selama 32 tahun P.K.I. telah melakukan perjuangan revolusioner dengan satu2nya maksud untuk memerdekakan Rakyat Indonesia dari kekuasaan penjajahah. Dalam proses pertumbuhannya P.K.I. telah banyak mendapat pengalaman dan mempelaji banyak teori-teori penting, menginsyafi akan kekuatan dan tenaga raksasa daripada Rakyat sebagai senjata untuk menjatuhkan organisasi imperialisme duni. Menurut ciatatant secara ilmu, sejak akhir abad ke 19 imperialisme dunia telah berhasil menguasai seluruh tanah jajahah yang ada di atas bumi. Maka untuk menentang kekuatan raksasa ini harus diwujudkan suatu persatuan bulat dari seluruh bangsa-bangsa yang tertindas dan terjajah. Menurut pendapat P.K.I. hanya dengan persatuan perjuangan dari bangsa-bangsa tertindas sa-ja, bangsa-bangsa yang tertindas itu dapat menentang tindasan-tindasan imperialisme dan akhirnya untuk menggempur kekuasaan yang teguh itu.
Telah diketahui, bahwa mati hidupnya imperialisme itu ter-gantung pada tanah jajahah. Soal tanah jajahah sering membulukan bentrokan antara negeri-negeri imperialis sendiri, dan inilah yang menjadi sebab dari peperangan-peperangan. Tetapi rakyat-rakyat terjajah, menjadikan peperangan imperialis menjadi peperangan kemedekaan yang revolusioner. Dengan bebasnya negeri jajahah dari kekuasaan imperialis, berarti berangsurs-angsur lenyaplah kekuasaan imperialis dunia. Dahulu sebelum pecahnya perang dunia pertama kedudukan imperialisme masih kuat. Akan tetapi setelah habis perang dunia pertama dan perang dunia kedua kedudukan negeri-negeri imperialis menjadi lemah. Dalam perang dunia pertama Rusia sebagai salah satu negeri yang terbesar di Eropa bagian Timur telah tec-pas dari cengkeraman imperialisme dan telah menjadi suatu negara yang merdeka dan bebas. Dari sinilah mulai runtuh- nya kekuasaan imperialisme. Pada akhir perang dunia kedua negeri-negeri imperialis kehilangan Tiongkok sebagai pasaran yang terbesar. Sedangkan pasar-pasar lainnya seperti India, Philipina, Malaya, Vietnam, Indonesia, negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah dll. menjadi pasar yang tidak aman bagi imperialisme. Kekalahan-Kekalahan ini memperdalam krisis umum dalam tubuh imperiaslime. Oleh keadaan yang semacam ini, maka golongan imperialis berdaya upaya dengan segenap kekuatannya dan dengan tipu muslihat untuk mempertahankan kedudukannya. Juga dengan jalan paksaan mereka mau merebut kembali negeri-negeri jajanyahan yang telah terlepas. Kejadian yang semacam itu dapat dilihat di Korea dan di negeri Tiongkok di mana imperialis Amerika dengan segala kekejaman bertindak se-wenang-wenang untuk merebut kembali negeri-negeri tersebut.
Sebagai partai nasional lainnya, P.K.I. berjuang untuk pertama-tama memerdekakan Rakyat Indonesia dari cenkeraman pcnjadahan Belanda. Berhubung dengan adanya politik expan- si secara baru antara golongan imperialis, maka P.K.I. pandang perlu menambah taktik perjuangan nasional itu dengan bahan-bahan dan pengalaman internasional yang baru. Taktik dan syarat-syarat nas- sional yang lama tidak dapat lagi menentang serangan dan in- filtrasi politik, ekonomi dan militer daripada golongan impe- rialis. Dari golongan imperialis sudah dengan nyata hendak me- ngadakan lagi peperangan dunia yang baru dengan maksud untuk mengadakan “redivision” (membagi-bagi kembali) negeri-negeri jad- yahan dalam bentuk baru antara golongan imperialis. Maka itu sekarang telah tiba waktunya bagi Rakyat Indonesia untuk lebih bersatu daripada yang sudah-sudah. Seperti telah diketahui, P.K.I. adalah suatu partai yang mempunyai dua program perjuangan, yaitu program maximum dan program minimum, program jauh dan program dekat, program nasional) P.K.I. dengan ulet telah berjuang untuk menggalang persatuan nasional dengan men- dapat sukses-sukses. Program nasional P.K.I. yaitu program perjuanga- an yang progressif, telah mendapat sambutan yang baik dari par- tai-tai politik nasional di Indonesia. Sejak tahun 1950—1951 banyak partai-partai nasional yang telah mengikuti aliran ini. Ada par- tai nasional yang telah menginsyafi betapa pentingnya ada kerja- sama antara partai-partai nasional dan sejak tahun tersebut tingkatan kemajuannya daripada beberapa partai politik nasional mulai menjadi lebih tinggi lagi daripada yang sudah-sudah. Harus di-terangkan di sini, bahwa P.K.I. sebagai partai-partai nasional lainnya menghendaki dan berduyang untuk membebaskan Rakyat Indonesia dari segala pengaruh dan tindasan imperialis. Meskipun semua itu sudah menjadi jelas, akan tetapi ada desas desus dan kegelisahan antara beberapa partai nasional lainnya yang menundukkan kekuatiran se-olah-olah P.K.I. mau menyelwengkan program persatuan keluar garis-garis nasional. Ada yang mengatakan, bahwa P.K.I. hendak memaksakan bentuk suatu masyara-kat Komunis, satu sistim masyarakat baru. Kekuatiran dan kegelisahan ini adalah dugaan-dugaan yang tidak beralasan. P.K.I. tidak dapat memaksakan hal-hal yang belum mungkin, yang belum ada syaratnya dalam masyarakat Indonesia sendiri. Untuk membentuk masyarakat Komunis harus diadakan persiapan secara besar-besaran. Pertama Indonesia harus berindustri. Indonesia adalah negeri setengah jajan yang terbelakang. Cara hidup Ra'yat dan hubungan sosial umumnya masih berlaku secara feodal atau setengah feodal. Untuk membentuk masyarakat Komunis pertama harus diubah keadaan ekonomi dan ideologie dari berbagai-berbagai golongan dalam masyarakat. Untuk membentuk masyara-kat Komunis harus didahului dengan pendidikan kader-kader buruh dan tani untuk menjadi pejuang yang dengan sukarela beker-ja untuk menambah dan memperbesar produksi untuk kepen-tingan Rakyat umum. Harus diketahui, bahwa bentuk daripada masyarakat Komunis itu adalah bentuk masyarakat yang tertinggi. Masyarakat Komunis tidak jatuh dari langit, jadi tidak mungkin dibentuk dengan begitu saja. Menurut keadaan umum di Indonesia sekarang, belum dapat dijanjikan untuk mem-bentuk masyarakat Komunis di-waktu-waktu yang dekat. Jadi terang-lah, bahwa untuk membentuk masyarakat Komunis membutuh-kan perjuangan yang lama dan ulet. Jadi semua kekhawatiran dan kegelisahan, se-olah-olah P.K.I. mau memaksakan bentuk masyarakat Komunis di Indonesia, adalah dugaan-dugaan yang tidak ber-alasan.
Dan selanjutnya, saya sebagai salah seorang anggota Partai yang tertua berpendapat, bahwa dalam waktu 32 tahun dari sejak lahirnya dan hingga kini, P.K.I. telah mengutamakan perjuangan nasional daripada lain-lain hal. Satu-Satunya tujuan yang masuk akal dan kongkrit buat waktu ini yalah memerdekakan dan membebaskan Rakyat Indonesia dari segala pengaruh dan penindesan imperialis. P.K.I. sebagai partai³ nasional lainnya ber-cita-cita dan berjuang guna mendapatkan kemerdekaan nasional, mengkonsolidasi semua hasil-hasil yang didapat dari per-joangan nasional sejak pecah revolusi nasional d'alam 1945, dan selanjutnya melaksanakan program pembangunan nasional sebagai syarat untuk pembentuk masyarakat Indonesia yang aman dan adil.
SATU DAN LAIN DARI HIDUP ALMARHUM-ALMARHUM
DOKTER WAHIDIN SUDIROHUSODO
1. Anak desa menjadi pemimpin besar.
Dalam sebuah dusun, teratur indah di kaki gunung Merapi yang tampak kehijau'an, tinggal l.k satu abad berselang suatu keluarga, yang dalam segala kesederhanaannya tetap merarik perhatian orang. Sebagai salah seorang penduduk yang tertua di Mlati,—demikian nama dusun yang tahu memegang nama-nya—kepala keluarga tersebut sangatlah dihormati serta disayangi oleh orang-orang sekampunganya; dan ajaib juga, orang-orang lain pada umumnya pun sangat menghargai dia. Nyatalah hal semikian itu disebabkan karena keunggulan budinya, sifat yang dimiliki juga oleh seluruh anggauta keluarganya.
Keadaan yang luar biasa pada keluarga tersebut, tiada luput dari perhatian orang-orang kota, yang untuk sementara waktu meninggalkan ibu kota Yogyakarta dan datang berkunjung ke Mlati, baik untuk keperluan, Maupun untuk beristirahat. Lebih-Lebih Wahidin yang kaia itu masih kanak-kanak, tetapi telah menunj'ukkan pandangan mata yang memancar jernih, selalu menjadi pusat perhatian. Dalam kalangan-kalangan terkemuka, baik kalangan Eropa Maupun kalangan Jawa, orang berpendapat bahwa Wahidin harus bersekolah.
Demikianlah maka Wahidin meninggalkan dusun menuju ke-kota, kemudian kita lihat dia sebagai seorang dari beberapa anak Jawa, yang mula-mula sekali mengunjungi “Europese lagere skhool” (sekolah rendah Belanda). Oleh sebab Wahidin jauh melebihi teman-temannya karena fikirannya yang cerdas tiada terhingga, orang pun mengusahakan agar dapatlah ia melanyutkan pelajarannya, sehingga akhirnya tercatatlah juga nama Wahidin sebagai murid “Sekolah Dokter-Jawa” di Jakarta (dulu Betawi). Di sini pun dalam kalangan guru-guru ia terkenal sebagai seorang murid yang giat bekerja, cerdas otaknya serta sehat jiwanya.
Sebagai “dokter-jawa” di waktu itu ia pun boleh dikata luar biasa sehingga dipandang patut serta terpilih untuk menjadi seru-bani atau ”asisten-leraar” pada sekolahnya. Kelak sesuah itu ia berkedudukan tetap di Yogyakarta, tempat ia mengetap pendidikan yang pertama dan akhirnya menjadi salah seorang penduduknya yang terkenal dan budiman. Di sana Dr. Wahidin tinggal sampai wafatnya, yalah pada hari bulan Mei, tahun 1917.
Siapa kelak membuka kitab-kitab sejarah kebangsaan kita, ia pun pasti akan menghadapi lembaran bersih berhiaskan nama orang, yang sedang kita peringati jasa2nya dengan terbitinya risalah ini.
Ber-tahun-tahun nama Dr. Wahidin (di kalangan Jawa terkenal dengan sebutan Mas Ngabéhi Sudirohusodo) terikat erat dengan pergerakan nasional, sehingga orang yang meriwayatkan hidupnya ta’ boleh tidak harus memberi pandangan tentang pergolakan masa di waktu itu, masa yang sungguh-sungguh merupakan titik perhentian dalam perjalanan sejarah bangsa kita.
Grang memamakan Dr. Wahidin Bapak dari “Budi-Utomo”, perkumpulan pemuda Jawa, tetapi setelah tiada lagi ia hidup di-tengah-tengah kita, lazimlah juga orang mengakui dia sebagai Bapak pergerakan kebangsuan Indonesia. Memang antara lain ta’ dapat disangkal, bahwa ”Budi Utomo” adalah ibu-perkumpulan yang melahirkan ber-jenis-jenis aliran dalam masyarakat Indonesia. Hal ini tidak saja dinyatakan oleh kaum “Budi Utomo”, melainkan diakui juga oleh wakil-wakil pelbagai aliran dan golongan. Dan Meskipun ”Budi Utomo” tidak dapat memadai segala harapan Ataupun idam2an, tetaplah orang berpendapat, bahwa terlahirinya pergerakan yang mula-mula bersifat revolusioner-nasionalistis itu adalah peristiwa yang maha-raya, karena kala itulah mulai terdengarnya detik kebangunan dari ber-juta-juta rakyat yang diperbudak. Lain dari pada itu, Meskipun Dr. Wahidin sebenarnya bukan pendiri “Budi-Utomo” seperti akan kita ketahui nanti, dialah yang memberi isyarat untuk memulaikan kebangunan nasional.
2. Pendidikan dan Pengajaran pintu pembangunan.
Terkenanglah kita akan masa yang belum jauh lampau, lk. 50 tahun berselang, tatkala orang belum dapat menyaksikan kegiatan hidup seperti kita alami sekarang ini. Tetapi sebagaimana sering kita jumpai, keadaan yang tenang-tenteram di waktu itu disebabkan belum adanya pengertian serta belum tumbuhnya keinsyafan.
Barang tentu di waktu itu sudah mulai tampak usaha-usaha mengejar kemajuan, lebih dari pada yang biasa diperoleh di-sekolah rakyat atau volksskhool. Akan tetapi oleh karena tiap kesempatan untuk melanjutkan pelajaran memerlukan biaya banyak, maka sebenarnyalah kemajuan secara modern hanya mungkin dikejar oleh golongan kaum berada saja.
Kala itulah tumbuh keyakinan pada Dr. Wahidin, bahwa kepada lapisan yang terbesar di dalam masyarakat perlu diberi-kan pengajaran yang se-baik-baiknya. Perjoangan hidup tidak terelakkan lagi dan bangsa Jawa harus memilih: berjoang atau mati. Namun perkataan “mati” tiada sejenak juga menjelang alam pikiran Dr. Wahidin, sehingga lekas-lekas disiap-kanlah bangsanya menghadapi perjoangan. Dua soal memikat hati-sanubarinya: memperluas pengajaran yang sempurna dan memperhebat kesadaran nasional. Suatu hal yang ta‘ boleh dibiarkan demikian saja yalah, bahwa anak-anak dari golongan yang tidak berada tetapi luar biasa kepandaian nyia,—seperti dia sendiri sebagai contoh yang paling nyata—masih terlalu banyak yang belum dapat melanjutkan pelajaran. Selain itu ia mempersalahkan jalannya kemajuan secara Barat, yang tidak sedikit merugikan sifat murni dari bangsa Jawa. Ke-jadian itu ta’ boleh terulang, kata Dr. Wahidin.
Dengan diam-diam lagi bersungguh hati ia pun ber-siap-siap melaksanakan cita-citanya. Dalam majallah Jawa “Retno-Dumilah” yang dipimpinnya sendiri, tiada jemunya ia berusaha menginsyafkan pembaca akan pentingnyia pengajaran. Di samping itu dipergunakannya majallah tersebut untuk mempropagandakan cita-citanya, yang ternyata tidak sia-sia belaka. Buktinya, banyak nian penduduk Yogyakarta ber-lomba-lomba membawa anak-anaknya ke sekolah. Hasil yang baik ini mendorong Dr. Wahidin untuk melanyutkan gerakannya. Terlebih dahulu akan dimulaikannya mendirikan “studiefonds”, karena ternyata kebanyakan pemuda tidak puas dengan pendidikan sekolah rendah saja, sedangkan usaha melanyutkan pelajaran sering kandas dirintangi oleh biaya. Setelah beberapa orang terkemuka menyanggupi bantuan lahir-batin, maka Dr. Wahidin lalu mengambil keputusan akan melakukan perjalanan propaganda ke seluruh Jawa. Di antara orang-orang yang sangat besar pengaruhnya perlu disebut nama Pangéran Notodirojo dari keluarga Sri Paku-Alam, seorang bangsawan yang sejiwa dengan Dr. Wahidin dan yang turut giat membantu usahannya. Persahabatan karib antara kedua orang ini, masing-masing dari lapisan yang paling berjauhan, se-akan-akan membawa bukti, bahwa perbedaan golongan di dalam masyarakat sedikit pun tidak berarti bagi jiwa kita. Pada th. 1906 Dr. Wahidin mulai menolakkan langkahnya. Maksudnya terlebih dahulu akan mengadakan rapat³ pada tempat³ penting di Jawa Barat. Harapannya tiada lain, hendaknyalah golongan priyayi makin percaya akan keharusannya mengadakan suatu gerakan yang meliputi seluruh masyarakat serta bertujuan mempertinggi derajat bangsa. Menurut rencananya pendirian studiefonds nasional harus dikerjakan lebih dahulu. Dalam beberapa pertemuan yang rapat antara Dr. Wahidin dan golongan priyayi dipelbagai tempat, untuk pertama kalinya bangsa kita meninjau dan menjadii kedudukannya di dalam masyarakat. Kelak terbukti pula, bahwa saat itulah mulai tertanam-nya benih kesadaran, yang kemudian tumbuh bersemi mengembangkan pergerakan nasional.
3. Gerakan para Pemuda minta pimpinannya.
Tiba di rumah dari perjalanan berat, propagandis kita harus menyaksikan pula, bahwa penyokong tidaklah cukup banyak untuk dapat mendirikan studiefonds. Dalam harian “Yava-Bode”, tertanggal 5 Nopember 1906, Y.E. Yasper menulis tentang perjalanan-propaganda, yang telah dilakukan oleh Dr.
Wahidin seraya menerangkan, bahwa kebanyakan bupati beririhati, karena usaha pendirian perkumpulan yang sangat berguna itu tidak pula datang dari fihak mereka sendiri. Padahal, lepas dari bantuan para bupati, sedikit sajalah yang boleh diharapkan dari pegawai“ kabupaten yang barang tentu sangat tergantung dari fihak atasan.
Untunglah Mas Ngabèhi Sudirohusodo bukan orang yang mudah dipatahkan semangatnya. Tetapi belum lagi dimulaikan- oya mengadakan gerakan baru, telah tersiar kabar dari beberapa sudut, bahwa usahanya itu akan segera dilanjutkan oleh tenaga-tenaga muda. Dua orang yang kemudian menjadi tabib, Raden Sutomo dan Mas Gunawan Mangunkusumo, waktu itu masih bersekolah di Jakarta, mengumumkan pendirian “Budi-Utomo” pada tahun 1908. Semua pelajar sekolah kepandaian menengah (middelbare vakskholen) menggabungkan diri dalam perkumpulan tersebut dan kemudian diputuskanlah untuk menyeraikan seluruh pimpinan pergerakan kepada Dr. Wahidin. nanti di dalam Kongres yang segera akan dilangsungkan di Yogyakarta. Sementara itu propagandis kita tiada berhenti menjalan- kan rencamanya. Setelah selesai mengadakan rapat-rapat persediaan dengan pendiri-pendiri di Jakarta, ia pun bertolak lagi dari tempat ke- tempat, sehingga segera juga persiapan kongres dapat disudahi. Siapa dahulu turut mengundungi kongres yang pertama itu, pasti ta‘ kan dapat melupakan, betapa cakapnyia Dr. Wahidin selaku ketua kongres memikat dan menguasai seluruh rapat dengan pidato pembukaannya. “Bangsa Jawa menghadapi hari gemilang”, demikian ujarnya. Hari itu dibuktikan dengan mengu- pas perjalanana sejarah. Kata-Kata Dr. Wahidin itu menyalakan keberanian serta memperteguh kepercayaan para cendekiawan kita, yang hadir serta memperteguh kepercayaan para cendekiawan kita, yang hadir pada saat itu. Maka ta’ dapat disangkal lagi. dialah sesungguhnya pembawa suara bahagia: hidup- nya ciid-ciid kebangsaan. Tatkala kongres bubar, segera dimulai- kan orang mengadakan gerakan yang teratur. Demikian maka tumbuhlah pergerakan kebangsaan dengan Dr. Wahidin sebagai Bapaknyia.
Pabila kini rangkaian kejadian yang lampau itu kita kenangan kembali, satu demi satu, maka terbayanglah Dr. Wahidin dalam pikiran kita, jiwa besar yang memisahkan waktu yang silam daripada masa yang akan datang.
4. Dokter dan Dukun, Kawan dari Pengetua yang ulung.
Adapun kekuatan besar, yang senantiasa memperteguh semangat Dr. Wahidin dalam segala perjuangannya, ialah cinta yang dalam terhadap bangsanya. Dan kita yakin cintanya itu pasti akan meliputi seluruh umat manusia, pabila kebetulan bangsanya bukanlah golongan yang tertindas. Maka sesungguhnya yalah cinta, yang memberi kekuatan kepadanya itu, adalah cinta kepada sesama manusia. Masih perlukah kiranya orang ber-tanya-tanya, apakah Dr. Wahidin sebagai tabib dapat memenuhi syarat-syaratnya?
Dengan singkat telah kita tuliskan di atas, bahwa ia pernah menjadi guru-bantu pada sekolah Dokter-Jawa di Jakarta. Kemudian setelah ia berkedudukan di Yogyakarta, se-akan-akan seruuh penghargaan dan kepertayayaan penduduk ditumpahkan kepadanya, karena orang menyaksikan sendiri, bahwa Dr. Wahidin menganggap pekerjaan tabib itu sebagai panggilannya. Terutama terkenal sekali kecakapannya, dan yang lebih penting lagi di kalangan rakyat, sikapnya tiada berticla. Jika orang-orang kuya memandang dia sebagai seorang tabib, yang dapat menyembuhkan segala penyakit, maka bagi si miskin ialah seorang yang besar kasih sayangnya serta ta‘ pernah menghitung diri. Tidak sedikit jasanya dalam hal memajudkan cava pengobatan modern di kalangan penduduk yang paling kolot. Kalau dalam menge-ja: keselhatan biasanya harus ada paksaan dari atas, maka dengan sangat mudahnya Dr. Wahidin senantiasa berhasil me-yakinan penduduk untuk melakukan hal-hal, yang berhubungan dengan keskhatan.
Sebuah contoh daripada daya pengaruhnya kita saksikan di bawah ini. Seorang puteri bangsawan kolot, yang mendapat gangguan penyakit kepala pening dan tak berhasil menolaknya dengan khat'an buatan sendiri, memanggil Sudirohusodo, tabib yang tersohor itu. Dr. Wahidin pun datang. Resep ditulisnya dan ia berpesan: “Minumlah dari obat itu, tiap hari tiga kali sesendok teh”. Setelah Dr. Wahidin pergi, puteri tersebut memasukkan kertas berisikan tulisan yang tak dapat difahamkannya tadi, kedalami mangkuk putih berisikan air. Kemudian air yang pada pendapatnya telah disucikan itu diminumnnya, tiap hari tiga kali sesendok teh. Demikian juga selalu diperbuat dengan kertas berkhasiat dari para dukun. Pada hari yang ketiga Dr. Wahidin datang dan menjumpai ”patient”nya dalam keadaan sehat-wal’afiat. Seminggu kemudian patient yang sangat berterima kasih itu, mengirimkan tiga ékor ayam besar bewarna hitam ke rumah Dr. Wahidin. Itulah semua ayam yang biasanya disajiikan dalam selamatan dan selalu menjadi hak milik sidukun.
Lebih-Lebih di musim penyakit beryangkit merupakan wabah, Dr. Wahidin jugalah satunya tenaga yang paling dibutuhkan. Sedangkan tabib-tabib bangsa Eropah, ya, bahkan tabib-tabib Jawa lainnya sekali-pun sering dipersukar, kalau hendak memasuki kampung yang terserang penyakit, maka kunjungan Dr. Wahidin selalu disambut dengan suka-gembira dan tiap orang melakukan segala petunjuknya.
Terkenal dan sangat digemari orang segala tulisan Dr. Wahidin dalam majalah “Guru-Desa”; demikian juga halnya dengan pidato-pidato, yang dengan bantuan dari fihak atas sering diucapkan pada rapat-rapat yang dikunjungi oleh rakyat. Tempat demi tempat dikunjunginya, semata-mata hanya untuk mengingatkan penduduk, apa yang harus dilakukan dalam keadaan bahaya penyakit. Dalam hal ini Surabaya pun tak ketinggalan mendatangkan dia.
5. Tidak sempat beristirahat.
Sekali terpikir oleh Dr. Wahidin,—yang dalam usia lanjut masih terlampau banyak pekerjaannya,—akan ber-angsur mengundurkan diri dan akhirnya hendak menempuh hidup yang lebih tenang dan tenteram. Maka dipanggillah anaknya yang bernama Mas Suleman, seorang dokter-jawa juga, untuk diserahi segala pekerjaan ketabiban. Selanjutnya ia sendiri berhasrat akan hanya terus melayani keluarga Sri Paku-Alam, karena selain menjadi tabib-pura (hofarts), sejak dahulu ia merangkap menjadi penasihat umum dan menjadi sahabat karib dari Pangéran Notodirojo. Dalam pada itu ia masih sanggup datang ke sana-sini, terutama kalau pertolongannya sangat dibutuhkan. Dr. Suleman datang, dan tinggal serumah dengan ayahnya. Tetapi pekerjaan yang diharapkan semula tiada menjadi bagiannya, karena tiap kali datang suruhan dengan permintaan, agar “dokter yang tua” suka datang. Bukan saja penduduk asli, bahkan penduduk Tionghoa Sekalipun lebih menyukai dia dari pada tabib-tabib lainnya. Dun sekali orang memilih dia sebagai dokter, akan tetaplah ia berobat kepadaanya. Ya, bagi kebanyakan orang ia bukan saja seorang tabib, bahkan terutama seorang teman, yang sangat dipertayayai dan dihormati. Agaknya tiada mengherankan lagi, bahwa ia pernah dipanggil oleh suatu keluarga Tionghoa, karena tuan dan nyonya saling bertengkar dengan heca-nya. Dan waktu Dr. Wahidin kehilangan seorang anaknya perempuan, yang kemudian dimakamkan di Mlati, maka ber-duyun⁸ penduduk Tionghoa mengundungi tempat yang jauh itu, sekedar untuk memberi penghormatan yang terakhir. Seorang di antara mereka menyatakan dengan kata-kata yang keluar dari hati sucinya, betapa besar arti Dr. Wahidin bagi seluruh masyarakat Tionghoa di Yogyakarta.
Meskipun orang-orang pada uniumnya mengerti, bahwa dokter yang tua itu perlu beristirahat, namun Wahidin tetap menjadi tabib sampai pada hari-hari akhirnya, terutama di sana, pabila orang sangat membutuhkan pertolongannya.
6. Ahli Kebudayaan Dan Seniman.
Tinggallah kini pada kita untuk menghormat Dr. Wahidin sebagai seorang ahli kebudayaan Jawa dan sebagai orang yang penuh berbakat seni. Di antara kaum cendekiawan kita dewasa ini boleh dikata hanya sedikit orang saja yang telah berhasil menyelami jiwa kebudayaan bangsanya seperti pernah diselami oleh Dr. Wahidin. Ahli-Ahli bahasa serta ahli-ahli bangsa dari Eropa yang untuk keperluan penyelidikannya datang sendiri mengundungi pusat tanah Jawa akan dapat menyatakan betapa dalam dan luas pengertian Dr. Wahidin tentang Nusa dan Bang- sanya. Sebagai seorang Jawa yang mencapai kemajuan secara Barat, akan tetapi dalam segala hal masih tetap seorang Jawa, Dr. Wahidin adalah satunya yang dapat memutuskan kaum cerdiik pandai bangsa Barat menjelang alam pikiran Jawa yang sukar difahamken itu.
Sebagai seorang ahli musik Dr. Wahidin cakae memainkan segala alat gamelan dan hafizilah ia banyak ciptaan gending lama d.a baru. Pada sebuah tempat yang tertentu di ruangan pendapa- niya selalu tersedia alat-alat gamelan, siap lengkap untuk seketika di- nutakan. Diyuga sebagai dalane yalah yang terbaik di antara peng- genar-genar dalam kalangan keşenian di Jopyakarta. Dikatakan ban- wa tidak benyak dalang yang lebih digemari dan lebih terkenal dari dia. Olkh karena itu seringlah benar Dr. Wahidin mendapat kesempatan untuk mempertunjukkan kecakapannya yang ber- jenis-jenis itu.
7. Penghormatan dan penghargaan, para Cendekiawan.
Mas Ngabéhi Dr. Wahidin Sudirohusodo nyata benar seorang yang luar biasa dalam masyarakat Jawa. Kebanyakan kaum cendekiawan kita mengenal dia dari dekat, karena orang selalu bangga dapat berjabatan tangan dengan dia. Diham bulan Puasa, pabila orang-orang pergerakan banyak yang singgah di Yogya- karta untuk mengundungi rapat-rapat, maka dapat dipastikan ru- nakh Dr. Wahidin menjadi pusat pertemuan ramah-tamah. Di sanalah ber-ulang-ulang telah tertambat tali persaudaraan antara pelbagai kaum nasionalis kita, karena memang selalu diusah- kan oleh Dr. Wahidin untuk mempertcmukan segala tenaga yang berguna bagi gerakan kebangsaan Indonesia.
Begitu pun pelajar-pelajar sekolah menengah yang telah dapat me- ngicsyafi tugas kewajiibanya terhadap Nusa di hari depan, se- muanya menganggap suatu kehormatan dapat berhadapan sendiri dengan Dr. Wahidin, serta dapat mendengarkan wejang- anya yang bijaksana. Di-hari-hari liburan sering kita lihat Dr. Wahidin sebagai seorang bapak dan teman dikerumuni oleh pemuda“ H.B.S., Artsenskhool Landbouw dan Vecarissenyskhool, Kweek dan Opleidingskholen dll.
Kata“ diucapkan oleh Dr. Wahidin senantiasa memberi kesan yang dalam kepada pemuda terscbut.
Sesungguhnya, Dr. Wahidin adalah pemimpin yang paling disukai dalam pergerakan kebangsaan di waktu itu. Kaum nasionalis kita dengan caraknya masing-masing memandang kepadany sebagai kepada seorang saudara tua yang bijaksana dan yang selalu dibutuhkan petunjuk2nya. Bahkan mereka yang melihat kekecewaan “Budi-Utomo” dan akhirnya berjoang di bawah panji“ ”Indiskhe Partiy atau “Sarikat Islam” yang revolusioner itu, tiada se-kali-kali juga memutuskan hubungan dengan Sudirohusodo, pendorong dan pelopor gerakan kebangsaan.
Semoga segala giliran baik menyampagi dia dalam persema yamannya di alam beka. Amia.
8. Pendorong usaha perekonomian.
Dr. Wahidin Sudirohusodo bukan saja seorang ahli kebudayaan, penggemar gending, tari dan wayang, seorang perintis persuratkaoran dan pengejaran, dia sangat mementingkan pula so'at ekonomi pada umumnyya. Sudah disebutkan di muka tentang penarbitan majalah “Guru Desa” oleh Budi-Utomo, yang dipimpin sendiri oleh Bapak Wahidin. Majalah tsb. bermaksud mendidik rakyat di-desa-desa ke arah kesadaran sosial pada umumnyya. misalna dalam segala so'at kesehatan, tetapi tiap-tiap nomor majalah itu memuat pelbagai nasehat dan pengajaran tentang perekonomian juga. Ilmu pertanian, perdagangan, koprasy dll. sebagainya, secara populer agar mudah dimesgerti, selalu terdapat di dalam majalah tsb.
Teringat di sini pada suya, bahwa sudah lama sebelum ada pergerakan, kira-kira tahun 1895, dr. Wahidin mendirikan paberik-sabun secara kecil2an. Bolah jadi usaha itu se-mata-mata untuk mendorong rakyat ke arah hidup ekonomi secara baru, untuk mengajarakan pada rakyat caranya membikin sabun; boleh jadi hanya sebagai “experiment”. Bagaimanapun juga perusahaan industri sabun tadi tidak hidup lanjut.
9. Keturunan Dr. Wahidin.
Sudah menjadi kebiasaan, orang ingin mengetahui asal-usul keturunan seseorang, yang mempunyai sifat yang luar biasa. Begitulah banyak orang ingin tahu akan hubungan sifat pribadi Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan darah yang mengalir dalam tubuh jasmaninya. Siapakah gerangan orang-orang, yang menurunkan dia, Wahidin, seorang anak-desa di kaki gunung Merapi, yang kini menarik perhatian seluruh rakyat Indonesia itu? Pabila kita melihat tubuh dan wajahnya, yang berbeda dengan tubuh wajah seseorang dari lapisan rakyat jelata umumnya, tentulah kita mudah dapat sangkaan bahwa pastilah Dr. Wahidin bukan seorang yang berdarah Jawa-murni. Mungkin dia berketurunan Hindu-Jawa, sama dengan kebanyakan orang-orang bangsawan di Jawa, Bali, dan lain-lain daerah kepulauan kita Indonesia, yang pernah menjadi pusat kolonisasi Hindu di jaman purba.
Sangkaan tentang adanya darah bercampur dalam bayu-bayu dan jantung sanubari Dr. Wahidin, timbul pula berhubung dengan adanya teori dalam ilmu-keturunan, yang antara lain mengajar kan sering terdapatnya kemajuan hidup tumbuh rokhani dan jasmani, bila dua jenis bangsa bersua dalam perkawinan, yang menurunkan.
Marilah kita mcninjau asal-usul Wahidin Sudirohusodo—dan keluarganya—agar sangkaan-sangkaan tadi dapat kita simpulkan menjadi keteguhan, untuk memuaskan mereka yang ingin mengetahuinyia, pun untuk melengkapkan “dokumentasi’ sejarah bangsa kita sejak 20 Mei.
10. Turunan Daéng Kraéng Nobo.
Sangkaan, bahwa Dr. Wahidin bukan seorang yang berdarah Jawa murni, sungguh benar. Salah seorang yang menurunkan dia yalah Daeng Kraeng Nobo, seorang bangsawan Mangkasar, golongan prajurit, yang dalam jaman Mataram ke-II (Mataram-Islam) dengan pasukannya mendarat di Jawa, karena huru-hara dalam negeri di Sulawesi Selatan memaksa dia menghindarkan diri ke Jawa, untuk mencari bantuan keten- taraan. Di Mataram Daeng Kraeng Nobo, dapat menghadap Sri Sultan sendiri, yaitu Sunan Mangkurat Tegal-arum, yang ingin menggunakan tenaga sang Hulubalang Bugis itu, karena Mataram kala itu sangat terdesak oleh pasukan-pasukan pemberontakan sang Trunojoyo. Demikianlah keadaan memaksa Daeng Kraeng Nobo ikut bertempur, sebagai pemimpin Pasukan Bugis di Mataram.
Bersangkutan dengan masuknya Kraeng Nobo dalam tentara Mataram itu diceriterakkan pula, bahwa saudara-mudanya, d'uga seorang pemimpin prajurit Bugis, bernama Daeng Aru Palaka, dan yang lebih dahulu datang ke Jawa dengan maksud yang sama, setibanya di Mataram, tidak langsung menghadap Sri Sultan, melainkan terus menyerahkan diri kepada Trunojoyo dengan sangkaan, bahwa inilah Sultan Mataram. Karena jasa-jasanya, maka kemudian Aru Palaka menjadi anak menantu sang Trunojoyo.
Adapun Sultan Mangkurat memberi titah kepada Kraeng Nobo, untuk menarik saudara mudanya, Aru Palaka, ke dalam tentara Mataram. Karena usaha itu berhasil, maka Kraeng Nobo kemudian mendapat hadiah sebidang tanah yang luas di kaki Gunung Merapi, serta dapat bernikah dengan seorang puteri bangsawan. Ksatrya Bugis dan puteri Mataram inilah yang kelak menurunkan Dr. Wahidin Sudirohusodo. (Tentang Daeng Aru Palaka diceriterakan, bahwa kemudian dia dapat dipegang kembali oleh Trunojoyo dan dihukum mati menurut adat-perang).
11. Hubungan dengan famili Kahle.
Keterangan tentang asal-usul Dr. Wahidin seperti tertera di atas tadi, iaitu yang kami dapat dari Dr. Rajiman Wejodiningrat, scorang saudara sepupu Wahidin Sudirohusodo, yang sampai tg. 19 September 1952 masih ada di-tengah-tengah kita hidup sebagai orang-tani di Walikukun dan anggauta Parlemen kita, bekas anggauta “Dewan Pertimbangan Agung”. Untuk melengkap dokumentasi, perlu bagi mereka yang hendak meneruskan pe- pendidikan tentang Bapak pergerakan nasional itu, maka di bawah ini kami sajikan sekedar penerangan hal asal-usul Dr. Wahidin, seperti yang kami dapat dalam harian “Tanah Air”, No. 3, th. I bulan Maret 1948, ditulis oleh “Pembantu Istimewa” harian tersebut yang ada di Solo dan rupa“nya sebagai hasil interview” dengan Dr. Suleman Mangunhusodo, putera sulung Bapak Wahidin, yang dulu menjabat tabib dalam Kotaprada Surakarta. kini sudah marhum.
Menurut interview tersebut ayah Wahidin adalah seorang “ronggo” di daerah Bayelen. Setamatnya dari sekolah Jawa di yogya, Wahidin dipungut oleh tuan Frits Kahle, administrateur-eigenaar onderneming gula di Wonolopo sebelah Timur Takmadu, daerah Sragen, Surakarta. Frits Kahle tadi adalah ipar ayah Wahidin, karena saudara perempuan Pak-Ronggo (yadi bibi Wahidin) menyisih hidup Frits Kahle sebagai isteri nikah. Begitalah dapat kita bacakan dalam interview tsb., akan tetapi di-bagian ini interview itu disangkal oleh Dr. Rajiman Wejodiningrat. Menurut beliau Frits Kahle tadi adaiah ipar Wahidin, karena kakak perempuan Dokter Wahidin menjadi isterinya. Wahidin adalah adik nyonya Kahle.
Tentang Wahidin di sekolahkan di Solo, ini pun dibantah oleh Dr. Wejodiningrat karena menurut beliau Wahidin di sekolahkan di “Europeeskhe Lagere Skhool” di Yogyakarta. Yang pula tidak dibenarkan oleh Dr. Wejodiningrat yaitu bahwa isteri Dokter Wahidin ada seorang wanita Indo, asal Bengkulu dari keluarga Feuilletau de Bruyne. Menurut Dr. Rajiman Dr. Wahidin beristerikan seorang wanita Jakarta, yang jadi saudara “tunggal ibu” dengan seorang hoofdofficier De Bruyne.
Ketika berusia 16 tahun Wahidin sudah tamat sekolah, lalu dimasukkan “Sekolah Dokter Jawa” di Jakarta. Karena Wahidin pandai bahasa Belanda, maka dapatlah ia menambah pengetahuan yang didapatnya dari para dokter-dokter guru, dengan mempergunakan bahan-bahan ilmu kedokteran dari buku-buku bahasa Belanda. Jaman itu Sekolah Dokter Jawa masih bertingkat rendah dan nyonya mempunyai 3 kelas tahunan, sedangkan ba- hasa penggunaan islan bahasa “Melayu”. Wahidin hanya belayar 22 bulan, lalu dipandang cuukup pandai untuk mendapat iiyazah “Dokter Jawa”. Kemudian Dr. Wahidin pernah menjalah “assistent-lecturer” pada “al du moter”-nya Societé Dokter itu. Dalam majallah “Tanah Air” tadi dapat kami baca pulu, bahwa Dr. Wahidin Sudirohusodo dilahirkan pada tahun 1850 dan meninggal pada tahun 1916, jadi mencapai usia 65 tahun.
12. Keluarga Dr. Wahidin.
Mungkin berdasarkan keyakinan “ogenetik”, ilmu kehaikan turunan yang antara lain mengajarakan guna dan faedahyu per-campuran darah untuk menyehatkan turunan, maka banyak di dalam keluarga Wahidin Sudirohusodo itu terdapat perkawinan dengan anggauta-anggauta suku bangsa lain. Se-tidak-tidaknya adat pernikahan dengan saudara-saudara “misan” atau “mindo” dan sebagainya tidak terdapat. Dr. Wahidin sendiri bernikah dengan seorang puteri “Betawi”. Seorang puteranya, Abdullah Senior, yang terkenal sebagai pelukis yang ulung, bernikah dengan seorang puteri Sunda. Basuki Abdullah Yunior, cucu Wahidin beristerikan seorang puteri Beilanda.
Dr. Wahidin adalah putera scorang tani yang terhormat di-desa Mlati dan cucu Lurah desa tersebut. Salah scorang saudara Bapak Lurah tadi adalah nenek Dr. Rajiman Wejodiningrat. Di sinilah kita lihat, scorang pemimpin yang dalam tahun 1908 ikut mengemudikan “Budi-Utomo”, kemudian terkenal sebagai tabib yang ulung dan tabib-keraton yang berjasa (hingga dapat kerunia sebutan “Kanjeng Raden Tumenggung” dari Sri Sunan Paku-Buwono ke-X), juga terkenal sebagai scorang cerdik-pandai yang bersemangat filsafat, bekas anggauta “Dewan Pertimbangan Agung” dan sampai hari wafatnya anggauta Parlemen kita, adalah saudara “misan” Wahidin Sudirohusodo, yang sama berketurunan Daeng Kraeng Nobo juga.
Dr. Wahidin berputera dua orang; yang sulung ialah marhum Dokter Suleman Mangunhusodo, yang dulu lama menjabat “hofarts” di Solo, dan kemudian di jaman Republik menjadi dokter Kotapraja Surakarta. Yang bungsu ialah marhum Abdullah Sr., seorang pelukis yang terkenal, teristimewa sebagai “aquarellist”.
Kita semua kenal akan Basuki Abdullah., seorang pelukis yang ulung pula, teristimewa terkenal sebagai “portretskhilder”. Pelukis muda ini adalah putera Abdullah Sr. Juga pelukis Sujono, saudara Besuki, adalah putera marhum Abdullah Senior. Yang sangat menarik perhatian pula ialah seorang puteri Abdullah Senior pula, yaitu Nyi Trijoto, isteri marhum Ki Cokrosuharto, yang dulu berkedudukan di Bandung, akhirnya di Yogyakarta. Nyi Trijoto Cokrosuharto itu sejak lama terkenal sebagai puteri pemahatarca yang pertama. Banyak sudah ciptaan-ciptaan Tri Cokrosuharto yang menarik perhatian para seniman; misalnya arca-arca yang menggambarkan Drs. Sosrokartono, yang mewujudkan seorang puteranya sendiri, borstbeeld Sri Sultan Hamengkubuwono ke VIII, dan lain-lainnya. Sebagai diketahui maka monument “Banteng Kurdo” di Madiun, yang memperlambatkan perjoangan kemerdekaan kita, adalah ciptaan serta buah tangan Nyi Trijoto. Baru-Baru ini Nyi Cokro dapat pesanan dari AURI untuk membuat patung peringatan para pahlawan Angkatan Udara yang telah gugur, patung mana waktu ini sudah dimulai di-dekat lapang terbang Maguwo.
H.O.S. COKROAMINOTO
Namanya yang lengkap ialah: Raden Mas Haji Oemar Said Cokroaminoto, tetapi tidak pernah ia memakai sebutannya “radenmas” dan orang hanya tahu bahwa di muka namanya hanya ada tiga huruf H.O.S. Apabila Cokroaminoto membuang litel bangsawannya itu tidak berarti bahwa ia meninggalkan sifat kebudayaan suku bangsanya, yaitu kebudayaan Jawa. Sekali kali tidak. Cokroaminoto adalah orang Indonesia, yang berjiwa Islam dan herbentuk Jawa. Dulu ia selalu berpakaian Jawa, berkain Jawa dan ber-ikat-kepala Jawa. Tidak saja di lam caranya ia berpakaian orang dagat tahu bahwa ia ada seorang berasal Jawa-Tengah, juga dalam hidup batinnya yang mengenai rasa-keseniannya, Cokroaminoto tidak pernah berpisahan dengan sifat kebudayaan suku-bangsanya, suku bangsa Jawa. Ia bukan saja seorang yang faham dalam kesusasteraan Jawa, namun saban orang tahu bahwa Cokroaminoto penggeinar kesenian wayang pula. Ini berarti bahwa ia tidak asing dalam kesenian sastera dan gending, ya’ni musik Jawa, karena seni wayang mengandung beberapa anasir-anasir kesenian, diantaranya seni “sastera” dan “gending”.
Sifat hidup batin seperti yang tergambar tadi sebenarnya bukan sifat khusus dari pada seorang yang istimewa, yang terkenal sebagai H.O.S. Cokroaminoto. Bukan! Sifat itu adalah sifat yang terdapat pada hidupnya orang-orang Jawa-Tengah yang berasal turunan bangsawan Jawa, turunan Keraton, dan memeluk agama Islam. Dalam pada itu Cokroaminoto sebagai orang yang berketurunan bangsawan Jawa yang beragama Islam, pun agak berbeda juga dengan orang-orang lain yang bersamaan turunan dan beragama Islam pula. Hidup ke-Islaman Bapak Cokroaminoto lebih tebal dan lebih dalam. Hal ini dapat kita mengerti kalau kita mengetahui bahwa Cokroaminoto adalah turunan seorang Kiyai yang besar dan ternama. Ia adalah cucu Kiyai Bagus Kasan
H.O.S. COKROAMINOTO
Ketua Komite Sarikat Islam
Besari di desa Tegalsari daerah Ponorogo. Kiyai ini adalah putera menantu Susuhunan ke-III di Surakarta. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putera yang kelak menjadi bupati Ponorogo, yaitu Raden Mas Adipati Cokronegoro, yang berputera R. M. Cokroamiseno, seorang Wedana district Kléco, dan inilah ayah H.O.S. Cokroaminoto, pemimpin besar yang kini sedang kita peringati ini.
H.O.S. Cokroaminoto dilahirkan di tahun 1883 di-desa Bakur. Di waktu kecinya ia terkenal sebagai anak yang nakal, tidak suka bersekolah secara tertib dan rajin, hingga seringkali dikeluarkan dari perguruanyia dan karenanya terpaksa berpindah-pindah sekolahnya. Akan tetapi perkembangan jiwanya rupa-rupanya tidak tergantung pada sekolahnya. Buktinya Raden Mas Umar Said dapat juga meningkat pengajarannya hingga sampai tamat O.s.v.i.a (Opleidingsskhool voor Inlandskhe Ambtenaren) di Magelang.
Ketika berumur 19 tahun, yaitu di tahun 1902, Cokroaminoto tamat bersekolah di O.s.v.i.a. Magelang, kemudian masuk ke dalam kalangan B.B. (Binnenlandskh Bestuur) menjadi juru-tulis patih di Ngawi. Tiga tahun kemudian ia meninggalkan yabatan-nya dan menjadi pegawai pada Firma KOORY & Co di Surabaya, sedangkan pada malam harinya ia bersekolah di “Burgerliyke Avondskhool”, bagian “werktuigkundige”, yaitu dalam tahun 1907—1910. Selanjutnya untuk dua tahun lamanya ia bekerya sebagai “leerling makhinist” dan kemudian menjadi “khemiker” di fabrik gula di dekat Surabaya. Sesudah itu beliau memasuki dunia yournalistik, dan itulah waktu Cokroaminoto mencampuri gerakan Haji Syamanhudi, pemimpin “Syarikat Dagang Islam” di Solo, gerakan mana oleh H.O.S. Cokroaminoto direorganiseer menjadi “Syarikat Islam” yang sangat termasyhur itu dan hingga kini masih tetap hidup, Sekalipun dengan nama lain, yaitu “P.S.I.I.”
Selama berjoang sebagai pemimpin-umum S.I. maka amat banyaklah kesukaran-kesukaran yang dihadapi, kesusahan-kesusahan yang diderita, tidak saja yang berasal dari kaum penjajah namun dari golongan-golongan perjoangan lainnya. Salah satu kesulitan yang terpenting yaitu misalnya kesulitan-kesulitan yang bertali dengan apa yang disebut “S.I. Afdeling B.” Berhubung dengan perkara itu Cokroami- noto dipenjarakan selama 8 bulan. Menurut uraian, yang kami pakai sebagai sumber untuk karangan yang amat singkat ini, (yaitu uraian sdr. Loethan Mohd. Isa dalam “Panji Islam”, no. 38 tg. 10 Oktober 1938) maka yang dinamakan “S.I. Afdeeling B” itu sebenarnya golongan S.I. yang menamakan dirinya dengan S.I. juga, namun berhaluan komunis. Oleh penulis L. Moh. Isa tsb. diceriterakan pula segala kritik dan fitnahan yang hebat yang disiar2kan mengenai hidup Cokroaminoto, menurut penulis tadi oleh golongan yang ingin memuat S.I. agar menjadi komunis.
Karena cecatian dan fitnahan tadi maka S.I. yang tadinya beranggota 2 1/2 juta itu kemudian hanya tinggal ribuan saja anggotanya. Akan tetapi, berkat kegiatan H.O.S. Cokroaminoto dan kawan-kawannya yang terus giat, lambat laun bertambah juga jumlah anggotanya, apalagi sesudah S.I. diubah bentuknya menjadi P.S.I.I., yaitu dengan terang-terangan, formil dan materiil, menjadi partai politik dengan nama “Partai Syarikat Islam Indonesia”.
Saya sendiri, penulis buku kenang2an ini, kenal marhum Kanda Cokroaminoto karena saya pada tahun 1912, sebelum menyeburkan diri ke dalam “Indiskhe Partiy”, menjadi anggauta S.I. bahkan pernah duduk dalam pimpinan S.I. cabang Bandung, bersama-bersama dengan saudara Abdel Muis (seorang ahli kesusasteraan dan pengarang yang terkenal, yg. kini hidup sebagai orang-tani di Garut), dan saudara St. Muhamad Zain (kini Kepala Balai Bahasa di Jakarta). Selain itu saya menjadi pembantu pula dari harian “Utusan Hindia” di Surabaya, yang dipimpin marhum saudara Cokroaminoto sendiri. Patutlah di sini saya mengingati jasa Kanda Cokro terhadap aksi kami di Nederland, ketika saya bersama-bersama Douwes Dekkers (Seca buddi) dan Cipto Mangunkusumo sebagai “orang-buangan” berada di negeri Belanda dan menyemangatkan para pelajar kita di sana. Lebih-Lebih ketika kami berusaha mendirikan “Indonesiskh Persbureau”, dan menerbitkan majalah “De Indiër” dan “Hindia Putera”, ya'ni orgaannya para pelajar kita, maka marhum saudara Cokroaminoto menyokong kami, baik dengan mengirimkan berita-berita untuk disiarkan di Nederland, Maupun dengan menyariarkan berita-berita yang kami kirimkan ke- padanya. Kadang-Kadang ia megirimkan uang sokongan juga karena tahu, bahwa kami sebagai orang-buangan yang merdeka, tidak dapat apa-apa dari pemerintah Hindia Belanda dan hanya menerima sokongan dari partiylonds kami (yang terkenal dengan namanya “Tado-fonds”, yaitu “Tot Aan De Onafhankeliykheids-fonds”), ditambah dengan hasil keringat sendiri.
Di situ terbuktilah, betapa luasnya pandangan jiwa almarhum Cokroaminoto dan betapa kesediaannya untuk berkorban. Tidak memandang partainya, asal aksinya ditujukan ke arah tujuan kemerdekaan Indonesia, pemimpin-besar S.I. Cokroaminoto selalu menyokong.
Cukuplah apa yang termuat di atas, semata-semata sebagai “ke-nang'an”. Bagi mereka yang ingin mengetahui kisah perjoangan marhum H.O.S. Cokroaminoto yang lengkap, hendaknya membaca buku yang telah terbit sebagai buku tebal. yaitu: “H.O.S. Cokroaminoto, Hidup dan Perjuangannya” disusun oleh Amelz; penerbitan “Bulan Bintang” di Jakarta. Buku tsb. dapatlah saya seyogyakan untuk dibaca oleh sekalian orang yang ingin menyelami akan sifat, bentuk, isi dan cara melakukannya pergerakan rakyat kita menuju ke arah kenierdekaan nasional.
DR. K.R.T. RAJIMAN WEJODININGRAT
Pada tanggal 19 September 1952 Dr. Rajiman Wejodiningrat, salah scorang pemimpin yang termasuk golongan “plaisepuh”, yah orang nua yang dihormati, meninggalkan kita. Waktu itu Presiden Sukarno sedangnya berkeliling meninjau sebagian daerah Jawa Tengah, justru di wilayah Madiun. Dapat dimengerti dan orang sudah menduga sebelumnya, bahwa beliau tentunya akan memerlukan mampir ke Walikukun, di rumah marhum Dr. Rajiman, untuk memberi hormat yang penghabinan kepada pemimpin yg. mangkat dan oleh pemimpin besar kita Ir. Sukarno selalu dihormati secara istimewa itu. Peristiwa ini memperlambangkan penghormatan seluruh masyara-kaat kebangsaan Indonesia terhadap almarhum Bapak Rajiman Wejodiningrat.
Saya kenel beliau sejak tahun 1903, ketika saya memasuki Storia di Jakarta dan selama 1½ tahun mondok di rumah beliau. Waktu itu Dr. Rajiman menjabat “assistent-leeraar” di perguruan taib ye. terkenal dengan namanya “Stovia” tadi. Sesudah itu saya selalu dekat dengan beliau, karena dalam pergerakan politik Meskipun marhum Dr. Rajiman memasuki Budijito, namun selalu berhubungan secara bebas dan ramah-tamah dengan pemimpin-pemimpin golongan-golongan lainnya. Juga dalam gerakan kebudayaan, lebih-lebih dalaam usaha pendidikan dan kese- nian. Bapak Rajiman selalu bersikap membimbing para pemuda. Teringatlah saya pada bantuan beliau ketika Taman Siswa di Yogyakarta berhajiat membeli gamelan yang pertama kali pada tgl. 1-1-26. Pula patut diperigati, bahwa tiap³ kali datang meninjau perguruan yang saya pimpin itu, selalu beliau memberi nasihat-nasihat yang berharga, juga kadang-kadang tidak lupa memberi sokongan materieel sekadarnya. Lagi tak dapat dilupakan kerelaan beliau memberi karangan untuk majalah kita “Wasita” tentang apa yg. selalu menjadi cita-citanya, yalah cita-cita “Déwarurci”.
DR. K.R.T. RAJIMAN WEJODININGRAT
Di lapangan politik sebelum dan sesudah “Hari Proklamasi” saya berdekatan lagi dengan beliau. Dalam zaman Jepang dapatlah saya menyaksikan sendiri betapa giat dan uletnya jiwa marhum Bapak Rajiman, mulai dalam Badan “Cuuoo Sangi In” sampai dalam Badan “Penyelidik” dan Badan “Persiapan Kemerdekaan”. Sesudah itu masih yuga saya berdekatan dengan beliau, yaitu di dalam “Dewan Pertimbangan Agung” di zaman R.I. dan kemudian di dalam “Parlemen” sesudah “Negara Kesatuan” terbentuk (17 Augustus 1950).
Kawan-kawan beliau di dalam Parlemen semua tahu, bahwa Bapak Dr. Rajiman sudah sejak bulan Juli 1952 tidak nampak duduk di dalam gedung Parlemen karena sakit. Akan tetapi kabar tentang wafatnya pada 19 September tahun itu masih juga mengejutkan kita sekalian. Sebenarnya kita masih meng-harap akan datangnya kembali Bapak Raajiman dite- ngah-ngah para anggota kawan2nya di Parlemen. Sebagai diketahui, pada bulan Mei 1952 Bapak Rajiman selama satu minggu, untuk pertama kali, tidak menduduki kursinyia di sebelah kiri kursi Ketua D.P.R. di dalam gedung di Jalan Dr. Wahidin yang kita kenali itu. Untuk pertama kali Pak Wejodiningrat mang-kir! Biasanya beliau nampak duduk dikursinyia itu, tiap-tiap hari sidang. Beliau selalu datang paling awal, lebih awal dari pada lain-lain anggota yang muda-muda. Dan tidak pernah Pak Dokter meninggalkan tempat duduknya itu, kecuali kalau beliau harus ke kamar ketil. Dur. liga empat jam beli'u du'uk di situ dan... tidak pernah pergi pulang ke-hotelinyia (Hotel Des Indes) sebelum rapat ditutup. Pada tahun 1950, ketika pak dokter Rajiman untuk pertama kalinya memasuki Gedung D.P.R., orang dapat lihat betapa sukarnya beliau berjalan dan beliau selalu dituntun oleh seorang pegawai Parlemen. Sesudah satu tahun kita lihat beliau tidak lagi berjalan dengan tuntunan orang, cukuplah beliau dapat bantuan kekuatan dari tongkatnya yang besar itu. Selain itu kita dapat menyaksikon sendiri betapa majunya keskhatan beliau, baik yang nampak pada wajah beliau Maupun pada gerak gerik badannya. Hal ini menyenangkan sekalian kawan2nya di dalam Parlemen, karena kita semua yakin, bahwa seorang yang banyak pengalamannya seperti Bapak Raji- man itu, pasti masih akan banyak faedahnya di dalam Parlemen kita, Sekalipun beliau tidak ikut aktif dalam pekerjaan Dewan Perwakilan Rakyat itu dan hanya duduk di tengah-tengah para anggauta lainnya se-mata-mata sebagai seorang penasehat, yang sangat dihargai.
Ketika Dr. Rajiman Wejodiningrat, atas nasehat prof. dr. Asikin, memutuskan untuk “mengundurkan diri”, banyak ka-ka wan-wannya menganjurkan kepada Pak Dokter, untuk “beristirahat” saja, tidak usah keluar sebagai anggauta Parlemen. Peryuanya supaya nanti, kalau beliau sembuh kembali, dapat sewaktu hadir ke dalam Gedung D.P.R. lagi sebagai anggauta. Di sini terbukti bahwa orang masih berpengharapan baik atas kesehatan Bapak Rajiman sebagai anggauta D.P.R. yang tertua.
Kebanyakan orang mengira, bahwa Dokter Rajiman Wejodiningrat hanya berjasa pada jaman “Kebangunan Nasional” disckitar berdirinya “Budi Utomo” pada hari 20 Mei 1908. Ada pula yang tahu, bahwa beliau tidak saja aktif dalam gerakan B.U. tsb., namun ber-tahun-tahun ikut serta pula dalam beberapa usaha kebangsaan, baik yang bersifat politik (di dalam B.U. dan Parindra) Maupun yang bertali dengan kebudayaan. Misalnya orang tahu betapa aktifnya Bapak Rajiman di dalam beberapa usaha pendidikan dan pengajaran, usaha bimbingan perkembangan bahasa Jawa, kesenian Wayang, dan Musik Jawa dan lain-lain sebagainya. Di dalam “Yava Instituut” barang tentu beliau termasuk anggauta yang sangat dihargakan. Dalam pada itu banyak orang tahu juga, betapa giatnya Pak Dokter Wejodiningrat mempelaji serta memelihara pelbagai pengetahuan hidup kebatinan pada umumnya, khususnya dalam soal-soal mystik. Beliau yakin, bahwa kemajuan bangsa kita tidak akan berdiyalan lancar, apabila kita hanya mengejar keseja-teraan materieel, melupakan inti hidup manusia yng se-fyati, yang terpenting, yaitu hidup kebatinan. Janganlah hidup batin kita diperintah oleh nafsu kita, yang bergolak untuk mengejar kemewahan dan kenikmatan hidup di dunia ini. Sebaliknya haruslah segala gerak-gerik hidup kita, segala nafsu terhadap hidup lahir kita di dunia ini, diperintah dan dikendalikan oleh jiva kita yang luhur dan murni, yakni buddi kita.
Dalam hubungan ini kita dapat mengutipkan syukur, bahwa satu bulan sebelum Dr. Rajiman meninggalkan dunia yang fara ini, ya'ni tepat pada hari 17 Augustus 1952, berkat usaha dr. Sutejo Brojonagoro (pemimpin majalah “Jiwa Baru” di Yogyakarta) dapatlah diterbitkan sebuah buku “Himpunan karangan Dr. Rajiman Wejodiningrat”, yang berisikan 10 karangan dalam bahasa Indonesia (yang tertulis dalam bahasa Jawa disampingi teryemahannya dalam bahasa Indonesia). Barang siapa ingin kenal dengan jiwa almarhum Dr. Wejodiningrat dipersilahkan membaca buku tersebut.*)
Yang kami uraikan di muka tadi (yaitu jasa-jasa beliau sebagai projuang sejak “Hari Kebangunan Nasional”, sampai jaman scsudah Indonesia berdiri sebagai Negara yang Merdeka dan Berdaulat, pula sifat almarhum sebagai seorang pemelihara kebudayaan kebangsaan pada umumnya, khususnya sebagai orang yang mementingkan soal-soal filsafat nasional) dapat khalayak ramai mengetahui serta menghargainya, justru karena Bapak Rajiman sejak berpulihnya Republik kita pada bulan Augustus 1950 menduduki kursi dalam Parlemen kita di jalan Dr. Wahidin itu. Karena kebanyakan orang mengira, bahwa hanya itu sajalah yang merupakan jasa-jasa atau sifat yang baik dari pada beliau, maka perlulah kita mengetahui, bahwa masih ada pula jasa-jasa beliau dalam lapangan lain; yaitu lapangan ilmu pengetahuan ketabiban.
Dr. Rajiman, yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Yogyakarta, menerima didikannya permulaan di sekolah E.L.S. (Eropese Lagere Skhool) di Yogyakarta juga. Beliau meneruskan pelajarannya di “Dokter Jawaskhool” di Jakarta, yang waktu itu mempunyai 6 kelas tahunan. (Pada jamannya Dr. Wahidin Sekolah Dokter Jawa terdiri atas 3 kelas, sedang di jamannya marhum Dr. Cipto sekolah tersebut berganti nama “Stovia” dan sudah mempunyai 9 kelas tahunan).
Pada tahun 1898 Bapak Rajiman tamat sekolah Dokter Jawa. Sesudah berpraktek 5 tahun sebagai dokter negeri, pada tahun 1903 beliau diangkat menjadi “Assistent-leeraar” di Stovia, dalam waktu mana beliau meneruskan pelajarannya, teristimewa dalam vak ”Obstetri” atau “Ilmu Bersalin”. Tahun 1904 beliau lulus dalam ujian ”Inlands Arts”. Beliau terus belajar di Universiteit Amsterdam, di mana pada tahun 1910 beliau tamat belajar dengan mendapat derajat “Arts”. Lalu Bapak Rajiman meneruskan pelajarannya dalam ”Ilmu Bersalin” (Verloskunde), ilmu “Penyakit Kandungan”, ilmu ”Endoscopieurinaire” dan “Ilmu Bedah” di Universiteit Berlin, pada tahun 1911. Pada tahun 1919-1920 beliau datang lagi di Amsterdam untuk belajar dalam ilmu ”Rontgenologie”. Juga di Paris Dr. Rajiman memperdalam keahliannya dalam vak-vak yang telah dipelajarinya di Berlin tadi, pada tahun 1930, dalam tahun mana beliau memperoleh tiga macam “keterangan keahlian” atau ”certificaat”. Perlu diketahui pula, bahwa Dr. Rajiman menuntut pelajaran di Amerika juga, yaitu di Washington, New York dan Frisco.
Berhubung dengan nama-baiknya sebagai “Dokter” maka Bapak Rajiman kemudian diminta oleh Sri Susuhunan Surakarta, untuk bekerja pada jawatan ketabiban di Swapraja tsb. Di situlah Pak Raajiman kemudian dinaikkan pangkatnya (sesudah beliau berderajat ”arts”) menjadi pemimpin jawatan serta mendapat titel “Kangjeng Raden Tumenggung” sedangkan kepada beliau dianugerahi nama ”Wejodiningrat”. Sejak itulah beliau terkenal sebagai: Dr. K.R.T. Rajiman Wejodiningrat.
Janganlah orang mengira, bahwa Pak Dokter Rajiman setelah memperoleh titel dan nama yang luhur itu, lalu hidup mewah atau berlagak-lagu dan mengatur penghidupannya secara adat leodal, tidak se-kali-kali. Beliau tetap hidup sederhana dan tetap bersikap ramah-tamah terhadap tiap3 orang dari kalangan rakyat murba.
Dalam jaman Belanda Dr. Rajiman pernah menjadi anggauta “Volksraad” sbagai wakil Budi Utomo dalam kedudukan mana beliau kerap kali dengan bebas dan berani mengritik tindakan-tindakan pemerintah yang bersifat ”kolonial”, baik kolonial dalam arti politik Maupun kultural.
Di dalam zaman Jepang Pak Dokter Rajiman termasuk orang pemimpin, yang diperlukan oleh “Bung Karno” guna melakukan persiapan secara diam ke arah kemerdekaan negera dan bangsa. Pak Rajiman menjadi Ketua ”Sangi-kai” di Madiun dan anggauta “Cuuoo Sangi-in” juga. Dalam ”Badan Penyelidik Kemerdekaan Indonesia” beliau bahkan diangkat menjadi ketuanya. Dalam kedudukan itu pernah beliau bersama dengan Bung Karno dan Bung Hatta terbang ke Birma untuk menemui Jendral Terauci.
Dalam zaman Indonesia Merdeka Bapak Rajiman diangkat oleh Presiden menjadi anggauta K.N.I.P. dan kemudian menjadi anggauta “Dewan Pertimbangan Agung”. Sebagai anggauta D.P.A. tsb. maka pada bulan Augustus 1950 Pak Dokter Rajiman dengan sendirinya beralih tempat keanggautaanya, dan menjadi anggauta Parlemen, sampai hari wafatnya tanggal 19 September 1952 di rumahnya di Walikukun dekat Madiun.
Tentang asal keturunan Dr. Rajiman baiklah diketahui bahwa beliau adalah “saudara misanan” dari Dr. Wahidin Sudirohuto-sono. Dengan begitu Pak Dr. Rajiman mempunyai darah Bugis. Selain itu Ibu beliau adalah seorang wanita Gorontalo. Ayahnya adalah Ki Sutodrono, seorang Yogya ”tulen”, pensiunan “onder-officier”.
Barang tentu segenap pembaca akan bersedia mengucapkan do’a dalam hatinya: Semoga Tuhan memberikan kurnia-nya kepada Arwah almarhum Bapak Dokter Rajiman Wejodiningrat.
Amin!
*) Dapat dipesan pada penerbit majalah “Jiwa Baru” Yogya.
SEJARAH HIDUP: DR. SOETOMO
Ngepeh, kabupaten Nganjuk termasuk karesidenan Kediri adalah tempat kelahiran Dr. Soetomo.
Dr. Soetomo adalah bapak pergerakan nasional Indonesia. Para pengikutnya terdiri dari rakyat Indonesia dari segala tingkatan dan golongan. Baik lapisan atas, Maupun bawah.
Pak Tom, begitulah sebutan yang ia dapat dari kawan2nya sehari. ia dilahirkan pada tanggal 30 Yuli 1888. Setelah memantau pelajarannya di Sekolah Rendah, maka ia meneruskan pelajaran pada Sekolah Kedokteran di Jakarta.
Pada masa menjadi siswa itulah ia mendirikan Budi Utomo. Semula hanya bercorak perhimpunan yang mementingkan kemajuan pengajaran saja. Tetapi makin lama kelihatan tumbuh menjadi perkumpulan yang bersifat nasional. Bergerak dalam lapangan politik, sosial dan ekonomi. Tanggal kelahiran Budi Utomo inilah selanyutnya dianggap sebagai tanggal kelahiran pergerakan nasional Indonesia.
Pada tahun 1911 Dr. Soetomo lulus dari ujiannya. Kemudian dia diangkat sebagai dokter di Stadsverband Semarang. Sesudah itu berturut-berturut ia dipindahkan ke pelbagai tempat. Seperti: Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera), Kepanjen, Magetan, Blora dan Baturaja (Sumatera) sampai tahun 1919. Di samping menjabat dokter itu, ia tidak lupa bekerja dalam lapangan yang bekerja untuk kepentingan umum. Dan tidak lupa ia menolong budan-budan yang mengurus penderitaan-penderitaan rakyat-rakyat di masa itu.
Pada tahun 1917 ia telah kawin dengan zuster E. Bruring yang pada waktu itu bekerja di rumah sakit zending Blora.
Dalam tahun 1919 ia meninggalkan Indonesia untuk meneruskan pelajarannya di Negeri Belanda. Sesudah menempuh ujian ia bekerja pada klinik dermatologie Universiteit yang dipinpin oleh Prof. Mendes da Costa di Amsterdam. Kemudian ia pindah pada Dermatologicum Prof. Unna di Hamburg, lalu menjadi pembantu Prof. Dr. Plant di Weenen.
Dr. R. Sutomo, Ketua Umum Parindra.
Pada masa itu ia turut mendirikan dan pernah pula menjabat sebagai Ketua dari “Indonesiskhe Vereniging” yang kemudian berganti nama: “Perhimpunan Indonesia”.
Pada bulan Juli tahun 1923 ia bertolak ke Indonesia kembali. Ia berpesan kepada temannya di Negeri Belanda, supaya meneruskan perjuangannya. Dan diharap bertemu kembali di Indonesia dalam pergerakan total.
Setelah tiba di tanah air ia lalu ditempatkan sebagai Guru pada Sekolah Kedokteran di Surabaya. Di samping itu ia diangkat sebagai anggauta Dewan Kota (Gemeenteraad). Peryuangannya dalam dewan kota itu terbukti tidak berhasil. Kemudian teryadilah peristiwa pemogokan pertama. Dia bersama temannya yaitu: R. M. H. Soeyono, M. Soenjoto, dan Asmowinangoen telah mogok! Dari kalangan mesyarakat sudah tentu timbul reaksi hebat. Diantaranya yang menyesali tindakan Dr. Soetomo ialah Tan Malaka. Akan tetapi Walaupun demikian Dr. Sutomo tetap hendak keluar dari Dewan Kota dan akan meneruskan perjuangannya di luar. Karena ia yakin, bahwa di luar Dewan itu perjuangannya akan menyapai hasil yang lebih memuaskan bagi kepentingan rakyat!
Tanggal 4 Duli 1924 berdiriiah “Indonesiskhe Studieclub”. Satu perhimpunan yang menyelidiki hal-hal dan kemungkinan-kemungkinan dapat memajukan kecerdasan dan perkembangan politik yang berguna bagi rakyat Indonesia. Untuk menimbulkan tali persatuan dalam perhimpunan itu, maka para pengurusnya telah sengaja dipilih dari pelbagai suku bangsa dari daerah Indonesia.
Pada tanggal 11 Juli 1925 telah diadakan “interinsulaire dag” sebagai tindakan dalam usaha pemberantasan semangat kederaerahan. Pada hari tersebut telah diundang putra Indonesia dari pelbagai daerah Indonesia untuk berkumpul di Gedung Perlindungan Pelajar, Surabaya.
Indonesiskhe Studieclub telah menerbitkan sebuah Majalalah Bulanan berbahasa Belanda: “Suluh Indonesia”. Hampir tiap nomor terdapat tulisan dari Dr. Soetomo. Kemudian majalalah ini disatukan dengan Majalalah “Indonesia Muda” yang diterbitkan oleh Algemeene Studieclub yang dipimpin oleh Ir. Sockarno di Bandung. Nama majalalah baru itu menjadi: “Suluh Indo- nesia Muda“. Untuk rakyat umum telah diterbitkan: ”Suluh Rakyat Indonesia‘.
Dr. Soetomo selain terkena! sebagai pemimpin besar, juga orang yang dapat mendamaikan sentu perselisihan..Diantaranya pada tahun 1962, sewaktu ada peristiwa perselisihan antara kaum buruh dan majikan. Dr. Soetomo telah berhasil mendamaikan kedua fihak. Begitu juga sewaktu Sarckat Islam dan Muhammadiyah bertentangan satu sama lain, berkat Dr. Soetomo kedua'nya saling mengerti.
Pada tahun 1927 Dr. Soetomo menerima surat angkatan menjadi anggota Dewan Rakyat. Akan tetapi studieclub yang mementingkan tenaga Dr. Soetomo untuk perjuangan di luar, telah menolak pengangkatan itu. Pada akhir tahun 1927 berdiri sebuah Majelis yang merupakan badan gabungan dari pergerakan politik yang bernama: P.P.P.K.I. ialah singkatan dari Permusafakatan Perkumpulan-Perkumpulan Politik Kebangsaan Indonesia. Di dalamnya termasuk antara lain Budi Utomo, Partai Nasional Indonésia, Serikat Islam, Paguyuban Pasundan, Serikat Kaum Betawi Sumatranenbond, beberapa Studieclub. Sebagai ketua majelis diangkat Dr. Soetomo.
Pada tahun 1930 tanggal 16 Oktober berdirilah Persatuan Bangsa Indonesia (P.B.I.) yang diketuai oleh Dr. Soetomo sendiri. Partai ini sebenarnya adalah hasil leburan dari Studieclub yang telah dirasakan sudah masak untuk dilebur dan bekerja langsung untuk kepentingan rakyat.
Di samping itu ia berusaha menerbitkan sebuah majalah berbahasa Jawa dan Madura: “Swara Umum‘. Dan sesudah itu menjelma menjadi harian nasional ”Suara Umum“ yang berbahasa Indonesia.
Pada tahun 1931 akhir Desember telah diadakan kongres Indonesia Raya atas inisiatipnya. Ir. Sukarno yang pada waktu menjabat sebagai ketua dari partai Nasional Indonesia bertepatan keluar dari Sukamiskin. Justru untuk menyokong pemimpin kita yang besar ini kongres diadakan.
Pada tanggal 24 Desember tahun 1935 telah diadakan fusi antara Persatuan Bangsa Indonesia (P.B.I.) dengan Budi Utomo. Ini adalah hasil gilang gemilang dalam langkah persatuan. Kemudian partai kedua yang berfusi ini menjelma menjadi
Partai Indonesia Raya atau disingkat Parindra. Setelah diadakan pemilihan ketua antara Dr. Soetomo atau K.R.T.H. Woeryaningrat, maka Dr. Soetomo-lah yang terpilih. Kemudian terdengar pula bahwa Perhimpunan Kaum Betawi yang dipimpin oleh M. H. Thamrin dan perhimpunan “Tirtayasa” menggabungkan diri pada Parindra.
Pada bulan Maret 1636 Dr. Soetomo melawat keluar negeri. Negeri-Negeri yang dituju ialah; Jepang, Malaka, India, Sailan, Mesir, Nederland, Inggeris, Turki dan Palestina.
Di semua negeri yang dikundungi itu ia memetik buah yang dapat dibuat cermin oleh bangsa Indonesia pada umumnya.
Dalam satu pertemuan yang lain ada seorang Belanda terkemuka yang memajudkan pertanyaan, bagaimana sikap bangsa Indonesia kelak kiranya, apabila bangsa Indonesia sudah sungguh-sungguh mencapai kemerdekaannya, apakah kiranya orang-orang Belanda akan diusir? Pertanyaan ini dibalas oleh pertanyaan kembali “Apakah ketika Nederland dulu dilepaskan oleh Spanyol, bangsa Spanyol itu diusir oleh bangsa Belanda?”
Pada tanggal 15 Mei 1937, sewaktu Parindra mengadakan kongresnya Dr. Soetomo dipilih kembali menjadi Ketua Umum Partai. Waktu itu baru saja dia kembali dari perantauannya keluar negeri.
Sebagai dokter yang cinta kepada rakyat, maka di samping pekeryaan di nasnya, maka sering-sering dia menerima be-ratus-ratus tamu dan rakyat jelata yang berobat dengan tidak memungut bayaran sedikit pun.
Pada bulan April tahun 1938 Dr. Soetomo jatuh sakit. Baru itulah dia menderita sakit sejak menginjak usia dewasa. Dan sakitnya makin lama makin keras. Sehingga tanggal 30 Mei tahun 1938 hari Senin Kliwon, pada jam 16.15 pemimpin yang sangat kita hargai ini telah mangkat untuk meninggalikan kita selama2nya.
Pesannya terakhir ialah, supaya teman2nya dapat meneruskan perjuangannya mencapai cita-cita mulia bagi seluruh bangsa Indonésia. Jenazahnya diminta sedapat mungkin dikubur di gedung Nasional.
Beberapa golongan seperti keluarga Mangkunegoro VII minta untuk mengubur jenazahnya di keluarga istana di Surakarta. Sedang para bangsawan Surabaya minta agar dimakamkan di tempat makam para bupati di Surabaya. Akan tetapi akhirnya diputuskan untuk memakamkan jenazahnya itu di tengah-di tengah halaman Gedung Nasional Surabaya.
Banyak pula yang hadir dalam upacara penguburan itu antara lain tampak Ki Hajar Dewantara, K.R.T. Woeryaningrat, Mr. Muhammad Yamin, M. H. Thamrin dan lain-lain. Semuanya ditaksir kl. dari 60.000 orang.
Dipandang sebagai orang biasa, Dr. Soetomo adalah seorang yang gemar bergaul dan tidak membedakan pangkat dan derajiat. Hidupnya sehari-sehari bila dibandingkan dengan penghasilannya, adalah sangat sederhana.
Kecuali pengajaran sekolah, Dr. Soetomo juga penganjur bagi pendidikan masyarakat umumnya. Kursus pemberantasan Buta Huruf, Kursus Pengetahuan Umum dan pencerangan secara tertulis.
Di samping ia melakukan sebagai dokter sehari2nya, tidak yarang pula ia sempat menulis karangan-karangan ang bersifat penerangan antara lain kita kenai buku2nya seperti: “Sesalan kawin‘ 1928, Perkawinan dan Perkawinan anak-anak” 1928, “Pelita Baruh”, “Suluh Sarekat Kerja” 1934, “Puspa Rinonce’ 1938.
Usaha Dr. Soetomo dalam lapangan penerbitan surat-surat kabar ialah terdorong oleh hasrat memberikan penerangan untuk kepentingan masyarakat pada umumnya.
SEJARAH HIDUP: M. HUSNI THAMRIN
Moehammad Hoesni Thamrin dilahirkan pada tanggal 16 Februari tahun 1894 di kota Jakarta. Ia adalah anak dari Tuan Tabri Thamrin yang pada waktu itu menjabat sebagai Wedana Batavia (Jakarta).
Wedana Tabri Thamrin adalah seorang yang mengetahui seluk beluknya kota Betawi sampai kepelosokannya. Pekeryaannyna sangat berat, karena pada waktu itu banyak kejadian perampukan-perampukan dan pencurian-pencurian. Akan tetapi Walaupun kewajibannya yang berat menekan bebannya sehari-sehari, tak lupa dia memikirkan nasib pendidikan anak-anaknya yang berjumlah enam itu. Diantaranya ialah Mokhammad Hoesni Thamrin!
Setelah cukup usianya, maka Husni dimasukkan ke sekolah Instituut Boskh. Di sana ia mendapat pelajaran bahasa Belanda ilmu berhitung.
Dari instituut Boskh pelajarannya diteruskan ke sekolah menengah “Koning Willem III” scrupa dengan H.B.S. sekarang, juga di Jakarta.
Duduk di bangku sekolah Willem III tidak sama dengan se-waktu di instituut Boskh. Sekarang Husni harus memikirkan nasibnya kemudian hari. Dahulu ia selalu dimanjakan dengan dimanjakan dengan diberi uang saku tiap-tiap bulan, tetapi dalam sekolah Willem III uang saku tidak lagi diterima. Karena itu sebelum ia tammat sekolah, maka ia telah menceburkan diri sebagai buruh di kantor Kepatian (magang).
Dari kantor patih ia dipindahkan ke Resident Kantor Batavia dan dengan begitu gajihnyia sudah lumayan.
Dia sudah lama berhenti dari sekolahnya dan begitu pula di kantor Keresidenan itu tidak lama ia tinggal bekerja. Lalu pin-dah di kantor K.P.M.
Peryuangan yang pertama ialah di Gemeenteraad yang tertua di Indonesia. Yaitu di gementeraad Betawi (Jakarta). Oleh karena kota Betawi tambah lama besar, tambah sulit juga soal untuk mengatur kebersihan, kampung-kampung dan simpang siur, apalagi anggaran belanja. Karena itu diadakan gementeraad yang anggauta2nya pada semula di angkat oleh Pemerintah.
Pada waktu itu Husni Thamrin masih menjadi buruh di K.P.M. Namanya di kalangan kaumnya sendiri cukup populer. Sampai didirikan orang perhimpunan “Kaum Betawi”.
Thamrin pada waktu itu sudah tidak merasa puas dengan kedudukannya. Semangatnya tidak mau terikat pada sesuatu Pergaulannya dengan socialist van der Zee lebih rapat. Antara mereka berdua selalu dilakukan perdebatan politik sehari-sehari.
Kiesvereniging menawarkan kepada Thamrin untuk duduk di Gemeenteraad ketika kesempatan terbuka pada bulan September 1919. Permintaan itu tidak ditolaknya.
Pada tanggal 27 Oktober 1919 pembukaan zitting gemeenteraad, kelihatan Thamrin sudah menjadi anggauta resmi. Usianya yang baru 25 tahun itu adalah usia yang paling muda di antara anggauta lainnya.
Peryuangan digemence didampingi oleh socialis van der Zee. Thamrin tetap sebagai pemuda yang rajin belajar. Dan pekerjaannya sebagai pemegang buku di K.P.M. tidak diabaikan.
Tetapi semangat yang telah berkobar-berkobar dalam dadanya terus menyala dan pada akhirnya ia telah minta berhenti dari pekerjaannya.
Aksinya mulai dikenal oleh rakyat. Suaranya di gementeraad tetap mengupas keburukan-keburukan kampung-kampung rakyat Betawi tahun 1921. Hasil kritiknya mendapat sokongan pula dari golongan socialisten. Dengan begitu saluran air, Ciuwung Kanaal telah siap dikerjakan dalam tahun 1922. Gemeenteraad Betawi semakin menghargai tenaga Thamrin.
Pada tanggal 17 September 1924 raad itu membutuhkan tenaga 4 orang wethouders, maka pilihan yang pertama sekali jatuh kepada Thamrin.
Pada tahun 1928 dia lalu mendirikan “Nationale Fractie” antara anggauta Indonesiers dalam raad itu. Dan pada tahun 1929 Fraksi bekerja keras.
Pada tahun 1930 bulan Januari Thamrin diangkat menjadi Loco Burgemeester II. Dan enam bulan kemudian dia dinaikkan menjadi Loco Burgemeester I.
Semenjak itu sampai pada akhiurnya ia tetap berjuang dalam lapangan gemeenteraad ini. Di dalam surat-surat kabar semakin hebat-nya sambutan terhadap verslag Thamrin dalam gemeenteraad tersebut.
Pada waktu itu pergerakan politik sudah mencapai puncaknya! Di Volksraad terbuka lowongan. Dan tawaran diberikan kepada H.O.S. Cokroaminoto dan Dr. Soetomo alm. Tetapi kedua'nya menolak.
Oleh Dr. Sarjito maka wali negeri mengunjukkan Thamrin sebagai calon Voiksraad. Dan pada tanggal 16 Mei tahun 1927 Thamrin telah masuk gelanggang Dewan Rakyat.
Pergerakan politik bangsa Indonesia kian tampak maju. Mulai tahun 1927 sampai tahun 1928 P.N.I. menjadi perhatian rakyat yang terbesar. Partai ini langsung di bawah pimpinan Ir. Soekarno.
Pada malam tanggal 17-18 Desember 1928 didirikanlah Perikatan Perkumpulan Politik Kebangsaan Indonesia (P.P.P. K.I.) di Bandung. Thamrin datang sebagai utusan “Kaum Betawi”. Oleh suara terbanyak maka dia terpilih menjadi penningmeester.
Mulai saat itu perjuangan tampak nyata. Tiap-Tiap ada rapat P.N.I. dan ada Ir. Sockarno berbicara, di situ ada Thamrin.
Sementara itu karena terseret oleh semangat kebangsaan, banyak kaum pergerakan yang jatuh karena pengabdiannya. Maka didirikanlah Fonds Na sional yang diketuai oleh Thamrin sendiri.
Nyatalah dari semenjak iut Thamrin makin iyederung ke-pergerakan kiri. Akan tetapi kewajibannya sebagai anggauta Volksraad tidak diabaikan.
Di tahun-tahun 1927 sampai 1930 keadaan kuli-kuli kontrak di Jawa dan tanah seberang sangat sulitnya, karena adanya Poenale Sanctie.
Penyelidikan di onderneming-onderneming telah dilakukan dengan seksama oleh Thamrin dengan Tuan Kusumo Utoyo. Dan di mana-mana mereka ini mengadakan pidato-pidato untuk mengobarkan-mengobarkan semangat massa membantu Fonds Nasional. Hasilnya sangat memuaskan dan banyak pula uang sokongan masuk.
Setelah tiba di Jakarta kembali, maka hasil penyelidikan⁶ mengenai akibat Poenale Sanctie dimulai dalam Volsraad. Betapa marahnya pers dan golongan Belanda dan Eropa tidak dapat dibentangkan. Pers Amerika mengutip verslag tersebut untuk disalin dalam surat kabar di Amerika Serikat. Tak lama kemudian timbulah propaganda luas di U.S.A. memboycot tembakau Deli selama kuli³ Jawa masih dikerjakan dibawa tangan-besi Poenale Sanctie.
Dan pemboycotan itu berhasil. Poenale Sanctie makin lama makin kendur. Dan dihapuskan dengan berangsur-berangsur.
Persidangan tahun 1930 dilangsungkan pada 27 Januari. Ketika itu anggauta-anggauta bangsa Indonesia menyusun barisan kesatuan merupakan “Fraksi Nasional”. Ketuanya tidak lain ialah......... Thamrin.
Dalam tahun 1932 Thamrin terus berhubungan dengan Ir. Soekarno dan tidak sedikit ia mendapat bahan untuk dibilicarkan di persidangan Volksraad dari sahabat-sahabatnya itu. Antara lain juga Mr. Sartono.
Peryuangan Thamrin masih banyak di Volksraad, Meskipun dalam dunia pergerakan tenaganya tidak boleh diabaikan.
Tetapi Meskipun ia kelihatan tertarik kepada Soekarno dan Sartono, tetapi dalam hati kecinya ia bercondong kepada pergerakan Dr. Soetomo yang berseomboyan: biar lambat asal selamat.
Pada akhir tahun 1932 tanggal 10 Desember atas inisiatif beberapa pelajar di Jakarta telah didirikan Vereniging van Indonesiskhe Academici (V.I.A.) Di sini juga Thamrin tidak ketinggalan.
Pada tahun 1933 hari Senen tanggal 1 Agustus teryadilah peristiwa penangkapan Ir. Soekarno di rumah Thamrin. Peristiwa ini sungguh mengejutkan Thamrin. Sekan-Sekan menjadi luluh perjuangannya.
Tetapi dia tegak terus menghadapi cita-citanya. Thamrin semakin gemas.
Sampai pada tahun 1935 ketika berlangsung fusi P.B.I. dengan B.O. lahirlah Parindra. Di situlah nama Thamrin kian menjadi populer. Apalagi dia telah diangkat menjadi Ketua Departement Politik.
Dalam akhir tahun 1935 lahirlah Partai Indonesia Raya. Dengan lahirnya Parindra ini, maka terbuka seluas-seluasnya bagi Thamrin untuk melakukan ci-cinya yang selama itu masih terkandung dalam hatinya.
Tahun 1935 dan tahun 1936 inilah. nama Thamrin bersejarah sebagai pemuka bangsa yang tulea. Karena dia sudah menyeburkan diri ke dunia politik.
Pada tanggal 21 Mei 1939 telah timbul satu persatuan partai politik yang bernama GAPI ialah singkatan dari Gabungan Politik Indonesia. Kantor sekretariat di Jakarta dipimpin oleh: Abikusno (PSII), Syarifudin (Gerindo) dan Thamrin (Parindra).
Sebulan kemudian yaitu pada bulan Yuni 1939 teryadilah pemilihan Volksraad. Setelah dilangsungkan pemilihan, maka dengan suara 45 lawan 14 Thamrin telah terpilih menjadi le Plv. Voorzitter dari Dewan itu.
Pada tahun 1940 bulan Mei tanggal 17 teryadilah peristiwa yang menggemparkan, yaitu surat kabar “Pemandangan” yang dipimpin Thamrin telah kena breidel. Tidak boleh terbit selama 7 hari.
Sesudah itu berturut teryadilah peristiwa-peristiwa yang penting, ya'ni pada bulan Yuni 1940! GAPI telah menyiarkan manifest menuntut Parlement Indonesia. Manifest-Manifest ini bertawanan sama sekali dengan wakil Pemerintah di Volksraad. Sehingga dengan demikian teryadilah penangkapan-penangkapan terhadap para pemimpin-pemimpin Gapi. Dianatranya Mr. Amir Syarifudin. Kemudian teryadilah perang pena dalam surat-surat kabar saling tuduh menuduh. Kesudahannya, sekretariaat GAPI diganti.
Akan tetapi nama Thamrin tetap masih harum. Bukan saja Prof. Mexinesia, bahkan Mme. Genevieve Tabouis juga tidak ketinggalan memuja-memuja Thamrin dalam tulisannya.
Pada tanggal 6-7 Januari 1940 diadakan penggledahan di rumah Thamrin. Pada waktu itu dia masih dalam keadaan sakit demam, malariatropica.
Sekonyong telah terdengar berita bahwa Thamrin pada jam 4 pagi hari Saptu tanggal 11 Januari tahun 1948 telah meninggal dunia.
Demikianlah riwayat singkat Thamrin, satu di antara orang besar di tanah air. Dia meninggal di tengah iklim pergerakan.
DOKTER CIPTO MANGUNKUSUMO
Marhum Dr. Cipto adalah salah seorang pemimpin pergerakan rakyat, yang sangat menarik perhatian karena kepribadian-nya, yang lain dari pada yang lain. Saya kenal dia di zaman sebelum berdirinya Budi-Utama, di zaman ia masih belajar di Stovia. Pada waktu itu ia dikenali orang, guru-gurunya Maupun kawan-kawannya, sebagai seorang pelajar yang paling baik, dalam arti paling rajin dan paling pintar. Selama hidup sebagai “pelajar”, Cipto mempunyai semboyan yang terkenal: “kewajiiban tiap-tiap orang pelajar ia'lah: belajar, belajar, belajar!” Namun dalam pada itu pelajar Cipto selalu menunjukkan perhatian-nya iang besar terhadap segala kejadian dan perkembangan di dalam masyarakat seumumnya, baik yang mengenai soal-soal politik Maupun soal-soal kemasyarakatan dan lain-lainnya. Sekalipun kerap kali ia menggusarkan para dosen-dosennya, lebih-lebih mereka yang masih bcrjiwa “kolonial” dan karenanya senantiasa menolak semangat nasionalitis dari para pelajar, namun ta'ada satu orang gurunya berani menegor atau mendebat Cipto tentang kepolitikan dan kemasyarakatan. Mereka semua menghormati pribadi-nya Cipto, tidak saja karena rajinnya dan pintarnya namun karena dalam caranya Cipto berfikir selalu nampak adanya tun-tunan logika yang sehat serta keyakinan batin yang kuat. Ada pula satu sifat yang selalu nampak dalam pribadi Cipto, yaitu kejujurannya dalam segala gerak-gerik budipekertinya.
Ketika Budi-Utama lahir pada tahun 1908, atas initiatif para pemuda Stovia (diantaranya selain pemuda Sutomo juga pemuda Gunawan Mangunkusumo, adik Dokter Cipto) maka Dr. Ciptolah yang pada pertama kali dimintai nasehat serta anjuran-anjurannya. Waktu itu Cipto sudah dua tahun bekerja sebagai dokter negeri di Demak. Teringatlah saya sangat gembiranya para intiatiefners, ketika pada suatu rapat kerja dibacakan surat dari Dr. Cipto, dalam mana disanggupkan sega'la bantuan, moril dan materiil, untuk mengobar-kobarkan semangat “perang melawan penjajan dan kemelaratan.”
DOKTOR CIPTO MANGUNKUSUMO DAN ISTRI
Dr. Cipto Mangunkusumo dan Isteri.
Apakah kiranya yang menyebabkan, bahwa baru pada tahun 1908 B.U. berdiri atas usaha pemuda-pemuda yang lebih muda dari pada Cipto? Mengapa tidak di tahun 1906 atau sebelumnya, ketika Cipto masih belajar di Stovia? Pertanyanya ini kita majukan, karena sebelum 1908 pemuda Cipto sudah terkenal sebagai “hintang” di antara para pelajar. Selain itu kita hendak mengemukakan di sini, bahwa rupa2nya memang ada carak-warna pada sifat jiwa pemuda Sutomo yg istimewa dan tidak terdapat pada karakter pemuda Cipto. Seperti senantiasa tampak di dalam hidupnya kedua pemimpin kita almarhum tadi, ternyatahlah bahwa Dr. Cipto mempunyai sifat “penggempur”, sedangkan Dr. Sutomo di samping ke-radikalannya memiliki hasyrat “membangun”. Hal ini misalnya terbukti dengan initiatif serta usaha Dokter Sutomo mendirikan serta memelihara “Bank Nasional” dan lain-lain usaha di lapangan per-ekonomian dsb.
Ada pula satu sebab yang memberi ketentuan dalam hal yg. tersebut. Yaitu bertemunya pemuda Sutomo dengan Dr. Wahidin Sudirohusodo, pula kesediaannya untuk menyerahkan segaia pimpinan gerakan B.U. kepada Bapak Wahidin, yang sudah se-mentara waktu mengadakan persiapan-persiapan guna terlaksananya pembentukan badan-persatuan, Sekalipun hanya dalam lapangan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat. Hubungan pemuda Sutomo dengan Bapak Wahidin itulah sebenarnya yang meng-akibatkan berdirinya Budi-Utama sebagai perhimpunan umum, tidak sebagai persatuan pelajar atau persatuan pemuda.
Dalam hal ini teringatlah pula kita pada usaha pemuda-pemuda Suryopranoto dan Akhmad, waktu itu pelajar pada Middelbare Landbouwskhool di Bogor, yang sebelumnya Sutomo memulai aksinya, mengajak para pelajar untuk mendirikan badan persatuan seperti yang kemudian nyna dapat diberdirikan oleh Sutomo di Stovia pada 20 Mei 1908 itu. Bolehlah kiranya di sini kita katakan, bahwa acap kali sesuatu peristiwa itu teryadi disebabkan karena adanya hal-hal yang tiba-tiba.
Kembaliilah kita pada pembicaraaan tentang sifat budipekerti almarhum Dokter Cipto. Apa yang olehnya disanggupkan dan dijanjikan kepada para pendiri B.U., tetap dipenuhinya. Ini terbukti pada Kongres Budi-Utama yg pertama di Yogyakarta di tahun 1908 itu juga. Terlihatlah di situ bagaimana caranya Cipto melahirkan fikirannya, memajukan usul2nya, mengemukakan saran2nya, melemparkannya, kecamannya, yg. pedas. Segala2nya dilakukan secara sengit dan hebat. Nampaklah di situ tforak-warna karakter Cipto yang di muka telah saya gamabarkan sebagai “jiwa penggempur”. Tidak saja waktu itu Cipto menggempur segala sifat penjajahan dari pihak Belanda, namun diserangnyalah juga sekalian pemimpin-pemimpin rakyat, teristimewa yang ada dalam lingkungan pemerintahan Hindia-Belanda, yang tidak ingat, malah ada yang tidak suka ingat, pada nasib rakyat murba.
Karena sepak terjangnyna di dalam Kongres tersebut, maka Cipto tidak saja dengan sendiri berdiri di situ sc-olah-olah seorang “panglima”-nya para pemuda yang mendirikan B.U. di Jakarta, namun pemuda-pemuda lainnya dan orang3tua dan setengah-tua yang berwatak radikal dan nasionalitis, dengan sendiri pula menempatkan diri di belakang Cipto. Seperti di lain halaman dalam buku ini sudah saya gambarkan, sebetulnya pada saat berdirinya B.U. sebagai persatuan kebangsaan umum (yang untuk pertama kali diketuai seorang Bupati, kemudian diganti seorang Pangeran, dan dibantu oleh kaum-tua dan kaum-muda), sudah pada waktu itu di dalam organisasi B.U. terdapat dua golongan, kaum “moderate” dan kaum “radikal” atau “progressif” atau “revolusioner”, yang terus menerus menanjukkan sikap saling bertentangan. Di situlah Cipto berdiri sebagai pemimpin golongan radikal, golongan mana kemudian terbagi menjadi dua golongan lagi, yaitu mereka yang akhirnya menyeburkan diri ke dalam gerakan “Syarikat Islam” dan yang lainnya mencahari kepuasan dengan memasuki “Indiskhe Partiy” (1912). Dalam I.P. inilah marhum Cipto berleluasa membimbing kaum “kader” yang diperlukan untuk perbagai aksinya, baik politis Maupun economis atau sosial, yg semuanya ditujuhan ke arah kemerdekaan dan kesejahteraan nusa dan bangsa.
Dalam golongan I.P. Cipto terpilih sebagai Ketua ke-II dari Pengurus-Besar, sedangkan di samping itu ia menjabat Redakteur harian-partai “De Expres”. Dalam kedudukannya sebagai pengarang harian tersebut maka Cipto segera menunjukkan sifat-sifat yg. istimewa. Tidak saja gaya atau caranya ia menulis sangat menarik, namun sangat meyakinkan para pembaca pula. Ini disebabkan karena Cipto biasa menggunakan kalimat-kalimat pendek secara penting-ringkas, dalam kalimat-kalimat mana ia dapat memasukkan perkataan-perkataan yang tepat. Dan semua ini tak bukan dan tak lain ialah sifat jiwanya, sifat wataknya, sifat budi-pekeretinya, yaitu: jujur dan sederhana. Watak yang sedemikian memang tidak membutuhkan ”tèdèng aling-aling”, tidak memerlukan kalimat-kalimat panjang atau indah. Sebagai pengarang Cipto selalu melahirkan apa yang di dalam hatinya sé-mata-mata. Ia selalu menunjukkan sifat dan caranya berfikir, yang istimewa pula: yaitu jernih dan rajam.
Dalam sifat2nya yang istimewa itu Cipto dilihat, dipandang dan dikenali khalayak ramai di-medan perjoangannya di dalam “Volksraad”. Dengan bekal semboyan: ”Rawé2 rantas malang-malang putung”, ia selalu melahirkan kecaman-kecaman yang hebat terhadap segala sepak terjang pemcrintah Hindia-Belanda yang serba merugikan rakyat. Itu dan begitulah sifat pribadi Cipto Mangunkusumo, yang dapat kita lihat dan kita kenali di dalam perjoangannya di zaman Kebangsaan Nasional (1908) ketika ia berdiri sebagai panglimanya para pemuda. Begitulah pula kita lihat dan kita kenali Cipto sebagai pemimpin “Indiskhe Partiy” dan Harian ”De Expres”. Begitulah juga kita lihat dan kita kenali Cipto sebagai anggauta “Volksraad”.
Apabila kita, di zaman kita sekarang ini dapat menghargai dan menjunjung tinggi jasa-jasa marhum Dokter Cipto Mangunkusumo (di zaman dan dalam kedudukannya seperti yang diuraikan tadi) maka orang dapat mengertinya. Akan tetapi masih banyak lagi jasa-jasa Cipto yang terletak di luar lingkungan-lingkungan yang tersebut. Apakah jasa-jasa itu dan di-lingkungan apa sajakab Cipto boleh dianggap berjasa pula? Marilah kita sekarang mengikuti jalan-hidup Cipto Mangunkusumo di-lapangan-lapangan yang lain
Ketahuilah bahwa Dokter Cipto, sebagai tabib dalam dines negeri, untuk pertama kalinya ditempatkan di Demak (1906). Waktu itu yang menjadi pubati di tempat tersebut adalah seorang bangsawan yang ber-cpe “kuna”. Di-daerah kabupaten-nya ia oleh rakyat se-olah-olah dianggap seorang ”raja”, yaitu seorang yang berkuasa secara tak terbatas. Hal ini mungkin kita mengertinya, namun sebenarnya memang begitulah keadaan di-zaman itu. Pemerintah kolonial tidak saja membiarkan keadaan yang sedemikian, sebaliknya pemerintah Hindia-Belanda memang bermaksud memberi kekuasaan yang luar biasa, yang istimewa itu kepada para “regent”-nya. Dengan begitu Belanda dapat menyelamatkan hasyrat kolonialnya, dapat memerintah negeri kita dengan menggunakan segala perbawa para bupati terhadap rakyat, yang pada umunnya masih sangat terikat oleh adatnya. menurut adat lama memang bupati dianggap wakil yang tertinggi dari pada penguasa negeri. Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan tradisi tersebut, bahkan lebih dari itu, Belanda menghidupkan systim pemerintahan, dalam systim mana para bupati diberi hak untuk berkuasa secara turun-menurun. Apabila ia meninggal dunia maka anak laki-lakinya yang tertualah yang menggantikannya, atau seorang keluarga lain yang ditunjuk oleh-nya, apabila tidak ada ”kroon-pretendent” seperti yang dimaksud. Systim inilah yang terkenal sebagai “erf-opvolgingssysteem” bagi para regenten dalam ”regiem kolonial”, dan systim inilah yang oleh marhum Dokter Cipto Magungkusumo terus-menerus diserang dan digempur. Kalau di zaman Belanda systim feodal yang sangat merugikan rakyat itu, secara ber-angsurn-angsurn akhirnya toh dapat dimusnahkan, maka bukan orang lain namun Ciptolalah yang paling berjasa.
Tidak sampai sekian saja jasa marhum Dokter Cipto terhadap rakyat. Lihatlah misalnya perjoangan Cipto di daerah “Zelfbestuur” Surakarta dan Mangkunegaran. Di situ Cipto terjun di dalam hidup dan penghidupan rakyat murba. Ber-sama-sama dengan marhum Haji Misbakh (yang dengan isterinya dibuang ke Boven-Digul dan ke-dua-duanya meninggal di sana karena serang- an “gele koorts’ yang sangat merajalela di-tempat perasingan yang terkenal itu) marhum Cipto dapat menggerakkan rakyat di-desa-desa untuk dapat perbaikan nasib. Tidak perduli siapa yang dihadapi Cipto, baik para pengusaha tanah dan pabrik. ya’ni orang-orang Belanda, Maupun para pegawai tinggi bangsa sendiri, dari Kesunanan dan Mangkunegaran, terus-menerus diserang oleh Cipto dengan cara mati-matian. Sekalipun karena aksinya itu kemudian Cipto di-interneer, di Solo dan akhirnya dipindahkan tempat-internirannya ke Bandung, namun rakyat Surakarta dan Mangkunegaran, secara ber-angsur-angsur pula, memperoleh perbaikan nasib dalam umumnya, khususnya dalam hidup pertaniannya.
Di muka sudah tergambar sifat-sifat Cipto yang istimewa, yaitu: jujur, sederhana, berami, radikal, d.s.b.; sekarang terbukti, bahwa Cipto di dalam hidupnya di-tengah-tengah masyarakatnya, secara istimewa pula, selalu menunjukkan sifatnya sebagai seorang demokrat tuién, sebagai orang anti-feodalisme dan criti-kapitalisme, yang dengan terus-menerus me-ngejar-ngejar sekalian orang dan golongan, yang olehnya dianggap musuh rakyat.
Sejak ia tinggal di Solo maka Cipto menerbitkan “Panggugah”, mingguan dalam bahasa Jawa, yang sangat digemari rakyat, sebaliknya sangat disegani pihak pemerintah. Dapat dimengerti, bahwa ”Panggugah” kerapkali dikenakan “persdelict”, yang sementara kali menyérét penulis-penulisnya (yang ingin bertanggung-jawab sendiri) ke dalam penjara.
Marilah kini kita meninjau hidup marhum Cipto Mangunkusumo sebagai dokter. Sebagai tabib Cipto termasuk golongan dokter yang modern. Sebelum dokter-dokter lain melakukan “suntikan”² (ini ada hubungannya dengan sifat kolotnya orang-orang yang menjadi passien), maka Ciptolah yang mulai memperaktikkan cara pengobatan model baru itu. Memang Dokter Cipto ada seorang arts yang terus memelihara ilmu-pengetahuannya dengan baik-baik serta tetap terus mengikuti segala perkembangan ilmu ketabiban, yang terdapat di dunia kesehatan internasional.
Yang dalam pada itu sangat menarik perhatian umum ialah caranya Dokter Cipto menetapkan “tarief”-nya terhadap para passiennya. Yaitu mahal terhadap orang-orang passiën yang kaya, se- baliknya gratis bagi orang-orang yang tidak mampu. Malah seringkali ia memberi uang untuk pembelian obat kepada golongan pasien yang olehnya dianggap tidak mampu tadi.
Masih ada satu peristiwa penting dalam hidup marhum Tipto sebagai dokter; satu peristiwa yang amat menarik perhatian umum dan menempatkan peribadi Cipto pada tingkatan orang pahlawan. Peristiwa tersebut ialah ketika di Kepanjen dekat Malang berjangkit wabah pes. Wabah penyakit yang sangat ditakuti orang dan di negeri kita untuk pertama kalinya terjadi, menyebabkan timbulnya kegelisahan di segala kalangan rakyat; tidak saja rakyat di sekitar daerah Malang, namun di seluruh Indonesia. Orang mengerti bahwa penyakit pes gampang sekali menularna ke-lain-lain tempat dan daerah. Orang tahu juga bahwa belum ada obat yang dapat menyembuhkan orang yang menderita sakit tersebut.
Pemerintah Hindia-Belanda waktu itu sangat kekurangan tenaga dokter. Dicoba memindahkan dokter-dokter negeri dari tempat-tempat lain ke-daerah Malang yang sedang ditimpa bahaya maut itu, namun percobaan tersebut gagal se-mata-mata. Dokter-Dokter yang dipindah Indonesia, semuanya takut dan tidak bersedia dipindahkan ke dan tidak bersedia dipindahkan ke Malang untuk melawan musuh yang belum pernah dapat dilawan itu....................
Pada saat itulah timbul suatu ilham dalam jiwa Dokter Cipto Mangunkusumo, suatu ilham yang terusa murni dan mendorong secara kuat. Segera Cipto mengirimkan kawat kepada Kepala Jawatan Kesehatan, dalam kawat mana ia menyediakan dirinya untuk segera dikirim ke Kepanjen-Malang, guna ikut serta dalam pemberantasan wabah pes yang sedangnya merajaletla dengan hebat itu. Ketika ditanya dengan kawat, syarat-syarat apakah yang kiranya dimajudkan olehnya maka Cipto menjawabnya dengan singkat namun tukup jelas: “Tidak bersyarat ttk bahkan tidak dengan gajh apabila perlu.”
Sudah barang tentu sikap yang sedemikian tadi menarik perhatian publick. Yang penting dalam pada itu ialah akibat dari pada pertukaran kawat antara Dr. Cipto dan pihak pemerintah tadi. Apakah akibatnya?........... Beberapa dokter Indonesia dan kemudian dokter3 Belanda yang tadinya be-ragu-ragu atau segan-segan Ataupun berketakutan untuk dipindahkan ke Malang itu, segera mengikuti jejak kawan sejawatnya Cipto dan menawarkan diri untuk ikut serta dalam pembanterasan pes yang sedang mengamuk itu.
Di dalam melakukan tugasnya Dokter Cipto tidak saja menolong para penderita, namun di sana-sini ia terpaksa memberi pertolongannya kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para korban pes itu, karena kadang-kadang tidak ada orang-orang lain yang dapat melakukan pertolongan yang diperlukan tadi. Malah pernah Dokter Cipto menemukan seorang bayi di dalam suatu rumah. yang semua penghuninya setain bayi tadi telah mati karena serangan pes. Anak bayi tadi dibawa pulang oleh Dokter Cipto dan untuk seterusnya dipelihara sebagai anaknya sendiri. Anak tersebut diberi nama Pestiaiti dan tetap terus tinggal di rumahnya sebagai anaknya sendiri, sampai waktu Pestiaiti bersuami.
Karena jasanya yang besar tadi, baik sebagai dokter Maupun sebagai manusia, maka pemerintah Hindia-Belanda merasa perlu memberi tanda penghormatan kepada sang Tabib dan Pahlawan Dokter Cipto: Cipto Mangunkusumo diangkat menjadi “Ridder in de Orde van Oranye-Nassau”.
Dekorasi Dokter Cipto oleh pemerintah Belanda, dengan bintang Oranye Nassau-Orde, yang menurut protocolnya dihadiahkan oleh Sri Maharaja Wilhelmina, sungguh terasa ada tidak enak-nya. Masa ia, seorang revolusioner nasionalis diangkat menjadi “Satriya Oranye-Nassau”. Mana boleh!
Banyak kawan-kawan Cipto menganjurkan kepadanya, supaya dekorasi tadi diterimanya saja. Mungkin nantinya akan ada guna-nya, Sekalipun dipandang dari sudut pergerakan dan dianggap sebagai “siasat”. Akan tetapi Cipto tetap tidak suka merasa ada hubungan dengan symbool kerajaan Belanda. Dengan cara yang ia sebut “diplomatis” Cipto menulis surat kepada pemecrintah Hindia-Belanda, bahwa ia merasa tidak berjsa dan semata-semata melakukan kewajiiban selaku manusia, ketika ia menyeraikan tenaganya untuk pemberantasan wabah pes di Kepanjèn dulu itu. Kepada kawan-kawannya ia berkata: “Saya tidak membutuhkan perhiasan blok di-dadaku.”
Sekalipun begitu namun pemerintah H.B. toh mengundang Dokter Cipto Mangunkusumo, untuk datang ke-departemen Kesehatan guna menerima dekorasi tersebut, yaitu pada hari 1 April tahun itu (1912). Di situlah Cipto teringat, bahwa hari satu April itu adalah hari gila'an dalam tradisi Belanda. “Een April doe wat hiy wil.” Baik. katanya. Cipto menulis kepada pihak yang bersangkutan, bahwa ia tidak suka di-permain-permainkan pada hari gila-gilaan itu. Ia tidak bersedia menerima “het blikken versiersei”.
Begitulah watak Cipto: jujur, berani, tak suka terikat, Sekalipun...... ia mendapat cad “tidak bijaksana”.
Mungkin karena terus-menerus dapat halangan dan serangan dari pihak Belanda dan pihak kolonial, rupa-rupanya makin lama Dokter Cipto makin nampak sebagai orang yang dalam segala keadaan menunyukkan sikap “tra'ferduli”. Banyak ceritera-ceritera pendek, yang penuh kelutiyuan, namun mengandung tforak-warna jiwa Cipto yang “karakteristik” (dalam bahasa asing disebut “anecdoten”), yang dikenali orang. Anekdoten itu misalnya se-bagai yang berikut:
Selama Cipto jadi orang “geinterneerde” di Solo dan di Bandung, ia selalu diawasi polisi. Seorang rekherkheur dengan cara ber-ganti-ganti selalu ada di dekat rumahnya. Kalau Cipto be-pergian (hanya dibolehkan di dalam kota) maka selalu rekherkheur tadi mengikuti dia. Kalau Cipto naik andong atau kendaraan lain, maka orang pengawas tersebut menaiki spédanya; apabila Cipto berjalan kaki maka si-pengawas berjalan kaki dan menuntun spédanya. Diceriterakan, bahwa Dokter Cipto kadang-kadang suka mempermainkan si rekherkheur tadi; yaitu ia meninggalkan rumahnya dengan berjalan kaki, lalu......... menyeberangi sungai. (Cipto selalu berpakaian cara adat Jawa: berkain). Kalau sudah di-tepi lainnya, dan si-pengawas dengan memanggul spédanya telah sampai pula di-tepi itu, maka Cipto kembali menyeberang, katanya: “O, kelupaan tidak bawa uang dsb.” Dapat dimengerti bahwa si-rekherkheur menjadi payah, bolak-balik menyeberang dengan memikul spéda. Pernah Cipto menyeberangi sawah yang agak luas, hingga si-rekherkheur tidak berani mengikutinya. Sekalipun dengan begitu ia melalaikan ke-wajibannya.
Pernah Dokter Cipto ber-sama-sama kawan-kawannya, bangsa Belanda dan Indo-Belanda, duduk beramah-tamah di salah satu Hotel-restaurant besar, yang biasanya hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa. Pada suatu saat Cipto harus ke-kamar-kecil; ia pergi ke-belakang dengan melalui ruangan “buffet”. Karena Cipto berpakaian kain panjang dengan ikat-kepalanya, maka “khef de buffet” (seorang Belanda besar dan gemuk) menegor Cipto dengan berkata secara menggertak: “Hééé, kowé mau apa!”......... Dokter Cipto se-kali-kali tidak gentar; ia mendekati si khef de buffet tadi dan menyawab secara mengejek: “Aku mau kencing, kowé mau apa!”
Pada suatu rapat openbaar “Syarika! Islam” di Bandung Dokter Cipto datang berhadirlr. Sebelumnya ia telah dengar, bahwa polisi akan bertindak terhadap salah satu orang yang akan berpidato. Karena ia lihat ada Commissaris Belanda duduk di barisan paling muka, di-tengahè, precis berhadapan dengan tanega podium, maka Dokter Cipto segera duduk paling muka: udak di salah satu korsi. namun......... di-tangga tersebut. Ketika komissaris polisi bertanya kepadanya: “Dokter, waarom zit U op de trap?” maka dengan ketawa Cipto menyawab: “Ik houd eenmaal van trappen.” (Dalam bahasa Belanda perkataan “trap” itu mempunyai dua arti, yaitu “tangga” atau “tendangan”; Sehingga pertanyaan: “kenapa doktor duduk di-tangga”, dijawab oleh Cipto dengan: “memang saya senang tendang-tendangan.”
Sebagai diketahui Dokter Cipto menerima angkatan menjadi anggauta “Volksraad”. Ketika ditanya anggauta-anggauta bangsa Belanda, kenapa Dokter Cipto menerima, sedangkan Douwes Dekker (Secabuddi) dan Suwardi Suryaningrat menolak, maka Cipto menyawab: “Ik wil miyn landgenoten in de Volksraad leeren, hoe ze kabaal moeten trappen.” (Artinya “Saya hendak mengajar kawan-kawan saya, bangsa Indonesia di dalam Volksraad, bagaimana caranya mereka harus mengacau.”)
Sekian sementara “anekdoten” yang menggambarkan watak Dokter Cipto, se-tidak2nya beberapa cerak dan warna yang ter-dapat di dalam jiwanya. Sebagai tertera di atas semua tadi maka jelaslah sifat budipekerti almarhum Dokter Cipto Mangunkusumo, baik sebagai nasionalis yang bersemangat revolusioner, Maupun sebagai manusia yang progressif dan sebagai dokter ting bercerak pahlawan.
Barang temu orang ingin mengetahui tentang asal-usul atau kelurunan almarhum Dokter Cipto Mangunkusumo, pula tentang keluarganya sendiri. Dokter Cipto adalah putera sulung dari Bapak Mangunkusumo, seorang guru pemimpin sekolah H.I.S. negeri di Semarang. Saudara-Saudara sekandungnya adalah: Dokter Boediarjo, Dokter Gunawan Mangunkusumo, marhum Dokter Samsulma'arif, Ir. Dermawan Mangunkusumo, Mr. Su-yitno dan tiga orang lainnya, diantaranya dua orang puteri. Dengan mengetahui saudara-saudara Dokter Cipto tsb. dengan kedudukan2nya, dapatlah kita mengerti bahwa keluarga Bapak Mangunkusumo adalah keluarga yang sudah hidup secara baru. Menurut buku biografi tentang Dokter Cipto (yang diterbitkan oleh “Jambatan”) marhum Bapak Mangunkusumo adalah putera dari seorang guru-agama Islam, dan Meskipun beliau mendidik putera-putera-nya, secara adat baru, yaitu sudah mementingkan pendidikan Barat, namun di samping itu masih memberi didikan Islam kepada putera-putera-nya, juga kepada Cipto. Saya sendiri dalam hal ini dapat menyaksikan bahwa Dokter Cipto memang mempunyai cerak-cerak religius, Sekalipun tidak menurut adat sya-ri'at Islam. Ketika kita berada di Bandung (1913) maka saban “malam Sciasa Kliwon” Cipto mengundang kawan2nya karvo untuk mengadakan bacaan-bacaan yang mengadung keagamaan; misal-nya dari Bhagavad Gita dari “Maulid Nabi Muhammad”. dari “Baabad Tanah Jawi” teristimewa yang mengenai “Wali-Sanga” yang terkenal d.l.l. sebagainya. Waktu itu Cipto hidup ber-dekatan dengan kaum Theosoof, teristimewa dengan pemimpin-nya D. van Hinlopen Labberton.
Dokter Cipto beristeri tiga kali dalam hidupnya. Dengan isteri yang pertama (puteri seorang patih di daerah Bagelen dan kakak sdr. R. Rujito, pemimpin O.L. Miy “Bumiputera” di Yogyakarta) ia tidak dapat anak. Dengan isterinya yang ke-2 Dokter Cipto dapat seorang anak, namun kemudian anak itu meninggal. Dengan isterinya yang ke-3, yang boleh disebut kawan-perjoangan, kawan-keagamaan dan karenanya kawan hidup sejati, pun juga Dokter Cipto tidak mendapat anak Isteri tsb. ialah seorang janda, yaitu nyonya Vogel dari Surakarta, yang banyak dikenal orang Solo sebagai seorang Theosof yang sudah lama menjadi anggauta ”Indiskhe Partiy”. Nyonyah Cipto-Vogel itulah yang mulai zamannya Cipto di-interneer di Solo, lalu di Bandung dav akhirnya di tempat pembuangannya yang terakhir, Banda, terus mengikuti sang suawi dengan penua cintakasih dan kesetiannya. Berhubung dengan sakitinya Cipto, yang terus-terusan mengganggu kesehatannya, sampai saat wafatnya, yaitu penyakit asthma yang terkenal, maka nyonya Cipto, geboran Vogel boleh dibilang sangat berjasa sebagai “verpleegster” yang berkorbam.
Baiklah di sini diperingati, bahwa dua orang kemanakan nyonyah Cipto oleh Dokter Cipto telah di-adopteer sebagai anak-nya.
Sekianlah cukap kiranya sekadar keterangan tentang hidup dan penghidupan almarhum Dokter Cipto Mangunkusumo. yang kita uraikan di sini tidak untuk memberikan sejarahnya. namun se-mata-mata sebagai gambaran yang menjelaskan comak-warnanya budipckeri almarhum. Barang siapa ingin mengetahu sejarah hidupnya yang agak lengkap, dipersilahkan membaca buku biografi “Dr. Cipto Mangunkusumo” Demokrat se-jati”, yang dikarang M. Bulyas dan diterbitkan oleh ”Penerbit Jambatan” Jakarta/Amsterdam 1952.
DR. D. D. SETYABUDDI DALAM SEJARAH PERJUANGAN KITA
Meskipun kami dan banyak kawan-kawan lainnya tahu, bahwa Secabuddi sudah sejak lama ada dalam keadaan sakit, menurut dugaan ta‘ akan ia dapat sembuh kembali, namun khabar tentang wafatnya pada 28 Agustus 1950 pun masih mengedui-tkan. Memang, begitulah biasanya kesan yang timbul, apabila seseorang yang sangat dihargai, moninggalkan kita, juga kalau diketahui lebih dulu akan wafatnya tadi. Se-olah-olah orang tetap meng-harap-harap sangat akan kesembuhan itu, se-olah-olah ia hupa kepada hukum kodrati, yang bertali dengan kesakitan dan kematian manusia.
Satu bulan sebelum ia meninggal, ketika saya memberitakan kepadanya, bahwa ta‘ lama lagi kami berdua akan sa-ring berjumpa di-gedung Parlemen di Jakarta (karena Secabuddi sebagai anggota D.P.A. akan dimasukkan ke-dalam D.P.R. “Republik Indonesia” yang baru) maka ia menjawab, bahwa mungkin diywanya akan mengikuti upacara pembukaan Parlemen kita, akan tetapi dia yakin, bahwa badannya ta’ akan ikut beserta, karena ia telah ber-siap-siap untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Yang amat mengharukan kalah pernyataannya, bahwa kesedihan hatinya terhadap dirampasnya arsip dan banyak dokumen-dokumennya yang penting-penting, oleh ten-tara Belanda dalam “clash yang ke-II” pasti akan dibawanya ke-dalam liang kuburnya, yang sudah lama menanti kedatangannya.
Tentang peristiwa yang sangat menyedihkan itu, (tidak saya menyedihkan Secabuddi, namun pula menyedihkan Kementerian Penerangan kita), hendaknya diketahui, bahwa Secabudj di samping pekerjaaannya sebagai guru-besar dari pada “Akademi Ilmu Politik”, pula berkedudukan sebagai pegawai tinggi Kementerian Penerangan kita, dengan tugas membuku-kan sejarah perjoangan nasional kita seluruhnya mulai berkuasanya bangsa Belanda atas Indonesia, dengan melalui zaman “Kebangunan Nasional”. sampai ke-zaman Perjoangan revolusi-nasional kita, yang pada hari “Proklamasi 17 Agustus 1945” memuncak, hingga melahirkan Negara Indonesia yang Merdeka dan Berdaulat sepenuhnya. Untuk dapat melaksanakan tugas yang amat penting tadi, maka Secabuddi sudah dapat mengumpulkan banyak bahan-bahan dokumentasi. pula sudah ada sebagaiman yang telah terkarang. Semua itu hilang lenyap karena dibeslah oleh anggauta3 tentara Belanda di Kali-Urang, di mana Secabuddi bertempat-tinggal. Usaha yang telah dilakukan oleh beberapa kawan (a.). saya sendiri dengan dibantu oleh Kementerian Penerangan, Kementerian Kehakiman dan D.P.A. ta‘ dapat berhasil sebagai yang diharapkan.
Sebagai diketahui Dr. Secabuddi pernah diangkat menjadi Menteri Negara dalam Kabinet Syahrir. Teringatlah saya pernyataan Secabuddi. ketika ia untuk pertama kali menghadap Presiden Sukarno. Ia berkata:..Sepenuh diriku kuserahkan kepada Republik kita. Pemerintah boleh menggunakan tenagaku untuk segala apa yang diperlukan dan dapat kukerjakan. Di mana perlu juga untuk ikut berperang; sebab............. “ik ben een goed skhutter”. (Saya seorang penembak yang lancar dan pandai).
DR. SETYABUDDI (DOUWES DEKKER) DAN KI HAJAR DEWANTARA
sedang menyesuaikan pendapat
Secabuddi dapat kembali ke Indonesia itu dengan cara yang aneh dan avontuurliyk pula. Ketika saudara-saudara kita bangsa Indonesia akan dikembalikan dari Nederland ke Indonesia, maka Secabuddi ta‘ dibolehkan turut, karena dia dianggap seorang Orang-Belanda, apa lagi seorang Belanda yang dianggap “Staatsgevaarliyk” (membahayakan negeri, yaitu Hindia-Belanda). Sebagai diketahui pada saat Jerman menyerbu ke Nederland. Secabuddi (waktu itu masih bernama Douwe Dekker) ditangkap dan ditawan oleh Belanda di Ngawi, kemudian ia dibawa ke Suriname, ber-sama-sama dengan orang-orang bangsa Jerman, yang ada di Indonesia. Sesudah Jepang menyerah, ia dibawa ke Nederland. Jadi sebetulnya Secabuddi ta’ dapat kembali ke Indonesia, namun......... tiba-tiba salah seorang pemuda kita, yaitu putera marhum Dr. Rajiman Wejo-diningrat, berhalangan untuk ikut berangkat dengan kapal yang sudah ditentukan. Di situlah Secabuddi muncul sebagai: “S. Rajiman”, nama mana sudah tertulis dalam daftar.
Cukup sekianlah penerangan singkat dari kami tentang masuknya Secabuddi ke dalam alam-perjoangan dan alam-pemerintahan R.I. kita. Tentang riwayat hidup Secabudj pada umumnya, harian-harian dan majalah-majalah sudah memuat atau akan memuat ber-jenis-jenis penerangan. Bagi kami cukuplah kiranya sekedar ikhtisar dan sementara ceritera, yang mungkin belum diketahui oleh khalayak umum, sebagai yang berikut.
Banyak orang dulu mengira bahwa Secabuddi baru pada tahun 1912 (yaitu tahun berdirinya “Indiskhe Partiy”) memasuki alam perjoangan rakyat kita. Sebenarnya sudah lama sebelum itu, pada tahun 1908, waktu “Budi-Utomo” didirikan oleh marhum Dr. Sutomo dengan kawan2nya, D.D. (singkatan namanya yang dulu yaitu “Dowes Dekker”) sudah ikut serta dalam segala persiapan2nya. Rumahnya adalah rumah permus-syawaratan, pula menjadi tempat pembacaan dan perpustakaan bagi para pemuda pelajar kita di Jakarta. Waktu itu D.D. menjabat redacteur harian “Bataviaaskh Nieuwsblad”, dalam harian mana dia terus menerus membela segala kepen-tingan rakyat kita. Karena pemimpin-pemimpin kita, yang pandai menulis, setiap waktu diberi kesempatan se-banyak2nya untuk mengisi hariannya, yang berbahasa Belanda itu, maka dalam satu tahun saja cukuplah segala cita-cita kebangsaan, yang tertera dalam harian itu, dapat tersiar di kalangan Belanda dan dikenal oleh orang-orang yang terkemuka atau yang berkuasa dalam lingkungan pemerintahan dan masyarakat Hindia-Belanda. D.D. sendiri mulai waktu itu digolongkan pada getombolan orang-orang yang dianggap membahayakan keamanan. Oleh directie “Bat. Nbl.” ia dikeluarkan dari jabatannya; tetapi mulai saat itu D.D. menerbitakan majalah sendiri, yaitu “Het Tiydskhrift”, yang cukup tersiar dan terbaca dalam kalangan kaum intelectueelen bangsa kita. Beberapa orang pemimpin kita yang bersemangat nationalistis dan revolusioner, menjadi pembantu tetap dari majalah tersebut.
Sesudah dengan jalan siaran-siaran tertulis itu D.D. dapat memasuki alam fikiran dan alam perasaan bangsa kita, maka pada tahun 1912 ia mendirikan I.P. yang pada lahirnya terus mengenalkan diri sebagai “partai politik” yang berhaluan kebangsaan, kerakyatan dan kemerdekaan. Pada waktu itu D.D. tidak mengadakan ”partai-discipline“, bahkan ia menganjurkan adanya hubungan yang erat antara I.P. dengan ”Budi Utomo“ dan ”Sarikat Islam“. Berdirinya I.P. sebagai partai politik dimaksudkan se-mata-mata untuk mewuyudkan cita-cita bersama, yaitu tercapainya kemerdekaan dengan jalan politik. Hendaknya diketahui, bahwa B.U. waktu itu memusatkan perhatian dan usahaanya pada cita-cita kultureel, dengan sifat ke-Jawaan. sedangkan S.I. memakai agama Islam sebagai syarat keanggautaanya. Pernah dinyatakan oleh D.D., bahwa dia tersedia untuk membubarkan I.P. apabila syarat ke-Islaman dari S.I. dan syarat ke-Jawaan dari B.U. dihapuskan. Ini cita-citanya dalam hal bentuk-bentuk kepartaian. Memang begitulah comak jiwanya Secabuddi. Untuk seterusnya, sampai jaman Republik kita. dia tidak suka memasuki sesuatu partai; sebaliknya ia sedia untuk menyokong tiap-tiap partai, yang menuju ke arah kemerdekaan Indonésia.
Dulu banyak orang-orang dan golongan-golongan serta partai-partai pula, yang tidak suka menerima D.D. ke dalam kalangannya, karena mereka mamandang D.D. adalah seorang “Belanda-Indo.” Sebenarnya D.D. sendiri tidak suka disebut Belanda, tidak mau disebut Indo; dia menamakan kebangsaannya ialah dengan sebutan “Indier” (perkataan “Indonesia” dulu belum ada). Ketika D.D. handak dipromoveer sebagai “doctor ekonomii” di Universiteit Zürikh, dan harus menyatakan kebangsaannya, maka dengan konsekewen ia menyebut nama “Indiër” Dari pihak Universiteit itu ditolak, karena sebutan “Indiër” di kalangan internasional hanya diakui sebagai nama kebangsaan India. Lalu D.D. mengisi daftar kebangsaannya dengan sebutan “Yavaan”.
Tentang sebutan “Nederlanden” D.D. tidak saja tidak menyukainya. namun sebetulnya ia sudah kehilangan statusnya sebagai “Nederlanden”, disebabkan karena ia memasuki tentara Transvaal, tidak dengan dispensasi dari raja Belanda. Pada zaman itu Transvaal diserang secara tidak adil oleh Inggeris, dan D.D. merasa tertarik oleh perjoangan bangsa Afrika Selatan (yaitu bangsa “Boer”), yang ditindas oleh bangsa Inggeris itu. Setahun lamanya ia ikut berperang secara gerilya di Afrika Selatan. Kemudian ia ditawan dan sesudah perang di Transvaal selesai, ia kembali ke Indonesia.
Pernah D.D. menerangkan, bahwa perang gerilya adalah satu2nya cara melawan tentara yang bersenjata modern, sc. dangkan seluruh bumi Indonesia benar-benar sangat memudahkan perang gerilya. Lebih dari itu ia meramalkan, bahwa awal atau akhir rakyat Indonesia akan berontak berontak dengan metaku-kan sisat gerilya, dan itulah sisat satu2nya yang akan ditakuti dan akan dapat mengalahkan tentara Belanda, betapa modern persenjataannya pun juga. Jadi bergolaknya revolusi nasional kita sesudah 17 Agustus 1945 itu benar-benar sesuai dengan pandangan dan pikiran Secabuddi.
Keika D.D. mendirikan I.P.-nya pada tahun 1912, banyak orang-orang Indo Belanda masuk ke dalam partai itu. Akan tetapi tambat laun mereka meninggalkan I.P., karena D.D. tidak menyukai adanya golongan “minoriteit” dan menuntut leburnya silat “Indo” ke dalam rakyat murba.
Salah satu pernyataan dari mulut Secabuddi, yang sangat mengecewakan orang-orang Indo-Belanda, yaitu yang mengenai “milik tanah”. Secabuddi berkata, bahwa orang Indo-Belanda se-taliif jangan dibolehkan memiliki tanah. Bumi Indonesia hanya untuk putera-putera Indonesia. Tiap-Tiap Indo yang suka mempunyai tanah milik, harus menjadi orang Indonesia lebih dahulu, dengan bersedia melakukan segala kewajiiban rakyat, sampai harus ikut melakukan “ronda malam” dll. pekerjaan yang biasanya disebut pekerjaan rendah, ia harus bersatu hidup dan peng-hidupan dengan rakyat murba.
Di muka sudah di-sebut-sebut tentang tugas Secabuddi untuk mengumpulkan bahan-bahan yang historis dokumenter, guna membukan sejarah perjoangan Rakyat Indonésia seumumnya. Da-lam pekerjaan itu memang Secabuddi mempunyai kesang-gupan yang istimewa. Dalam dissertasinya (buku untuk menem- puh ujian doctor di Universiteit) yang kemudian diperluas untuk dijadikan “buku-standaard” dengan berkepala “Indië” (tiga dari l.k. 6 jilid yang direncanakan sudah terbit) maka Secabuddi dapat mengumumkan naskah-naskah beberapa surat-surat dokumentér a.l. yang mengenai instruksi gobnor-jenderal untuk membinasa-kan pohon-pohon cengkeh di Maluku (guna menaikkan harga pasar di Amsterdam). Juga surat instruksi dari Staten-generaal di Nederland kepada gobnor-jenderal di Jakarta, untuk mengadu raja yang satu terhadap yang lain, lalu membantu pihak yang lebih kuat, dan lain-lain tipu muslihat. Dalam surat itulah terdapat semboyan “divide et impera”.
Apabila ikut berperangnya Secabuddi di Afrika Selatan kami sebut sebagai hasrat untuk membela bangsa “Boer” serta memprotes agressi Ingeris. maka ada pula suatu contoh akan kesanggupan Secabuddi untuk membela kepentingan-kepentingan bangsa-bangsa kulit-berwarna terhadap imperialisme dan kapitalisme Eropa pada umumnya. Yaitu ketika Secabuddi oleh golongan “Sekutu” (dalam perang-dunia yang pertama; ditangkap di San Francisco, kemudian dikirim ke Hongkong dan akhirnya di-interneeer di Singapura. Waktu itu memang ada hubungan antara pergerakan-pergerakan di berbagai negeri-negeri jajahian (India, Filipina, Korea dll) dan Indonesia dengan perantaraan D.D. selaku pemimpin umum “Indiskhe Partiy.” Maksud D.D. ialah mengadakan aksi “Pan-Asia”. Rupañna ini diketahui oleh “Intelligence Service” Sekutu. sesudah diketahui, bahwa pusat gerakan itu terletak di Berlin di bawah pemimpin-pemimpin India, seperti Khattopadaya, Khempakaraman Pillai d.l.l.
Waktu itu Secabudj disinyalceer oleh dunia Eropa sebagai “international scoundrel” (penjahat internasional), sebutan mana membuktikan keberanian D.D., yang ta‘ kunjung padam. pula kebenkhannya terhadap agresi bangsa-bangsa Barat terhadap negeri-negeri Asia. Bahwa kebencihan itu ta’ pernah ia tutup-tutupi, ter-buktii pula ketika ia memihak Jepang dalam zaman Belanda.
Secabudj ada scorang ahli seni-sastera. namun ia tak berkesempatan untuk berkembang sebagai auteur pengarang. Bagaimana juga buku-buku karangannya, yang tidak banyak itu, membuktikan adanya pembawaan atau bakat mengarang dalam jiwanya. Ia pernah menulis buku roman-sejarah yang berkepala “Ratu Darawati” (melukiskan jatuhnya kerajaan Mojopahit), pula buku “Siman de Yavaan” (menggambarkan nasib rakyat jelata dan tani, yang diperkuda oleh bangsa Belanda). Saya sendiri pernah membaca berbagai “ceritera” yang ditulis oleh D.D. ketika ia ada dalam tawanan di Ceylon, terhias dengan gambaran-gambaran lukisan dari tangannya. Sayang ceritera-ceritera tadi ta‘ pernah diterbitkan dan hanya diserahkan kepada anak2nya, karena semuanya memang berupa ceritera-ceritera untuk kanak-kanak. Dapatlah kami menyatakan di sini, bahwa Secabudj memang ada seorang seniman.
Filsafat yang dianut oleh Secabudj boleh dikatakan filsafat budi yang berontak, jiwanya adalah jiwa revolusioner. Berdekatannya Secabudj dengan Nietskhe dan Bolland, mungkin dianggap tanda-tanda bahwa Secabudj adalah seorang yang ta‘ berketuhanan, namun ini tidak benar. Ini dapat dibuktikan dengan penghargaannya yang sangat besar terhadap Yezus Khristus dan Biybelinya, D.D. selalu membawa Biybel ketiyil di dalam sakunyya. Sungguhpun ia biasanya ambil dari Biybel itu segala pelajaran yang menyemangatkan revolusioner, namun pada umumnyia ia sangat menghargai Kitab Suci tadi. Lebih-Lebih dalil-dalil dari Reshi Buddha dipakai oleh Secabudj untuk menjelaskan segala apa yang hidup dalam jiwa budi manusia. Dalam hal kepertiyaannya terhadap keagamaan, nampaklah dalam waktu yang akhir-akhir ini tertariknya Secabudj kepada agama Islam. Ia berpendapat, bahwa pelajaran-pelajaran Islam sangat sesuai dengan hidup manusia yang riëel pada umumnyia, khususnya sesuai dengan jiwa rakyat Indonesia. Lebih-Lebih semangat orang-orang yang beragama Islam terhadap perjoangan untuk keadilan sosial, demokrasi dll. bagian dari “Pancasila” sangat dipuji olehnya Seperti diketahui Secabuddi telah masuk ke dalam agama Islam, sejak ia datang kembali dalam zaman Indonesia sudah merdeka. Dalam hubungan ini bolehlah di sini kami nyatakan, bahwa dalam jiwa nasionalnya Secabudj terdapat banyak inti sosialisme, yang olehnya dianggap inti hidup perikemanusiaan se-mata-mata.
Tentang keturunan dan hidup keluarga-nya maka hendaknya diketahui, bahwa D.D. berasal dari kebangsaan Belanda. Eduard Douwes Dekker, yang termasyhur sebagai pengarang dengan namanya Multatuli, bagi bangsa kita lebih-lebih termasyhur sebagai pengarang “Max Havelaar”, adalah kakak dari pada nenek marhum Dr. Secabuddi. Hingga se-olah-olah Secabuddi itu melanyutkan perjoangan Max Havelaar, yang selaku assistent-resident di Lebak secara hebat melindungi dan membela rakyat di daerah Banten itu, dengan “Saija” dan.. Adinda“-nya.
Secabuddi berketurunan juga dari kebangsaan Perancis dan Jerman. Mungkin untuk menunjukkan hal itu nama-kecilnya Secabuddi atau Douwes Dekker itu ialah: Ernest Francois Eugène. Dan ia sangat gemar pada bahasa-bahasa Perancis dan Jerman.
Ernest sendiri (begitulah kawan2nya menyebut namanya, yang kadang-kadang bahkan disingkat lagi menjadi “Nés”) ber-ibu seorang wanita “Indo”, sedangkan kedua neneknya (dari keturunan ibu-nya itu) suami-isteri adalah orang-orang Jawa asli dari Pasuruan, di mana ayah Secabuddi bekerjia sebagai employé pada salah satu perusahaan tembako.
Marhum Dr. Danu Dirjo Secabuddi pada pertama kalinya beristerikan seorang wanita Jerman, Clara Deye, seorang puteri Officier van Gezondheid dalam Tentara Hindia Belanda: dr. Deye, kelahiran di Munkhen. Dari isterinya yang pertama itu Secabuddi menurunkan tiga orang anak perempuan, yang ketiga2nya telah bersuami dengan orang-orang Belanda, hingga mereka itu kembali kepada kebangsaan Belanda, dan berpisahan dengan ayahnya. Dengan isterinya tadi DD. kemudian bercerai.
Pada kedua kalinya Secabuddi beristerikan seorang wanita Indo. guru di-sekolah “Ksatryan-Instituut”-nya di Bandung. Kemudian sesudah ia bercerai dengan isterinya yang ke-dua tadi maka untuk ke-tiga kalinya, yaitu sudah di zaman Indonesia Merdeka, Secabuddi bernikah secara Islam dengan seorang wanita Indo pula, seorang juru-rawat, berasal dari Bandung. Dengan isterinya yang ke-dua dan ke-tiga itu ia tidak mendapat turunan.
Dr. Hampaka
Zaman Silam salah seorang pemimpin India National Congress yang menjadi penghubung dengan gerakan Nasional Indonesia
H. Samanhudi
R. Adipati Sintokusumo
Ketua Umum Budi Utomo (1908-1911)
Dr. Gunawan Mangunkusumo
R.A. Kartini
Pendékar Wanita Indonésia.
Drs. Moh. Hatta,
gambar semasa dalam pembuangan
Senawi.
Ir. Sukarno. semasa Muda.
Mr. SARTONO
UPACARA PERINGATAN 20 MEI 1948 DI NEDERLAND
BAHAN-BAHAN DOKUMENTASI
“ALS IK EENS NEDERLANDER WAS ....”
Suwardi Suryaningrat.
In couranten-artikelen wordt thans ten overvloede het denkbeeld gepropageerd om een groot feest hier in Indië te houden: het eeuwfeest van Neerlands Vriyheid. Het mag voor de inwoners van deze landen niet ongemerkt voorbiy gaan, dat het in de komende maand November yuist honderd yaren geleden zal ziyn, dat Nederland een koninkriyk werd en de Nederlanden een onafhankeliyke natie vormden, al stond het als zoodanig ook akhteraan in het gelid der mogendheden.
Uit een oogpunt van redeliykheid valt inderdaad veel te zeggen voor deze aanstaande viering van een nationale gebeurtenis. Immers pleit dat alleen voor de vaderlandsliefde der Nederlanders, voor hun piëteit yegens het land, waar eens hun voorvaderen heldendaden verrikhten. De herdenking zal ziyn een uitdrukking van hun gemoed van trots, dat een eeuw geleden het aan Nederland gelukt was, het vreemde overheersingsyuk af te skhudden en zelf een natie te vormen.
Ik kan miy gemakkeliyk in den gemoedstoestand indenken van den Nederlandse patriot van thans, wien het gegeven is zulk een yubileum te vieren. Want ook ik ben patriot, en, geliyk de Nederlander van zuiver national rikhting ziyn Vaderland lief heeft, zoo heb ik ook miyn eigen Vaderland lief, meer dan ik zeggen kan.
Wat een vreugd, wat een genot zal het wezen een nationalen dag van zoo groot gewikht te kunnen herdenken. Ik wilde, dat ik voor een oogenblik Nederlander kon wezen, niet een Staatsblad-Nederlander, dokh een zuiver onvervalste zoon van Groot Nederland, gehcel vriy van vreemde smetten. Wat zou ik dan yubelen als straks in November de lang verbeide dag komt, de dag der vriyheidsfeesten. Wat zou ik dan yuikhen biy het vriyeliyk zien wapperen der Nederlandse vlag met het strookye Oranye daarboven. Ik zou tot hees worden toe medezingen het “Wilhelmus” en het “Wien Neêrlands bloed”, als straks de muziek zou inzetten. Ik zou verwaand kunnen ziyn van al die manifestaties, ik zou God danken in de Khristeliyke kerk voor ziyn goedheid, ik ou een wens, een smeekbede ten hemel zonden om ‘t behoud van Nederlands makht, ook in deze Koloniën, opdat het ons mogeliyk zou bliyven, onze grootheid te handhaven met deze kolossale makht akhter ons. Ik zou alle Nederlanders hier in Insulinde vragen om financiële steun, niet alleen voor het feest zelf, dokh ook voor de vlootplannen van Collin, die zo iyverde voor het behoud van Nederlands onafhankeliykheid, ik zou......... ik weet waarskhiynliyk niet, wat ik dan verder zou doen, als ik Nederlander was; want ik zou tot alles in staat ziyn, geloof ik.
Neen, tokh niet! Als ik Nederlander was, zou ik nog niet tot alles in staat ziyn. Ik zou inderdaad wensen, de komende onafhankeliykheidsfeesten zoo uitgebreid mogeliyk te organiseren; dokh ik zou niet willen, dat de inboorlingen dezer landen aan die herdenking meededen, ik zou hen verbieden mee te yubelen biy de festiviteiten, ik zou zelfs het feestterrein wensen af te zetten, opdat geen inlander wat zoude kunnen zien van onze uitgelaten vreugde biy deze herdenking van onzen vriyheidsdag.
Daar ligt dukt me, zoo iets van onwelvoegeliykheid in, het liykt me zo ongegeneerd, zo ongepast, indien wiy—ik ben nog altiyd Nederlander in verbeelding—den inlander laten mede yuikhen biy de herdenking onzer onafhankeliykheid. Wiy kwetsen hen eerstens in hun fiyn eergevoel, doordat wiy hier in hun geboorteland, waar wiy overheersen, onze eigen vriyheid herdenken. Wiy yubelen thans, omdat we honderd yaren geleden verlost werden van een vreemde heerskhappiy; en dit alles zal nu plaats hebben ten aanskhouwe van hen, die nu nog steeds onder onze heerskhappiy staan. Zouden wiy niet denken, dat die arme geknekhten ook niet snakten naar het ogenblik, dat ze evenals wiy nu, eenmaal zulke feesten zouden kunnen vieren?! Of meenden wiy soms, dat wiy door onze lang doorgezette, geestdodende ruik-politiek den inboorlingen alle menseliyke zielsgevoelens hadden gedood? Dan zouden wiy tokh zeer zeker bedrogen uitkomen, want zelfs de onbeskhaafde volken verwensen allen vorm van overheerskhing. Als ik Nederlander was, zou ik dan ook geen onafhankeliykheidsfeest vieren in een land, waar wiy het volk ziyn onafhankeliykheid onthouden.
Geheel in de liyn van dezen gedakhtengang is het onbilliyk niet alleen, maar ook ongepast, om de inlanders te doen biydragen ten bate van het feestfonds. Beledigt men ze reeds door de idee der feesteliyke herdenking zelf van Nederlands vriyheid, thans maakt men ook hun beurzen leeg. Voorwaar een morele en stoffeliyke belediging!
Wat denkt men tokh met al dat feestgevier te kunnen bereiken, hier in Indië? Als het een uiting van nationale vreugde moet beduiden, dan is het wel onverstandig om het hier in een overheerst land te doen. Men stoot het volk hier voor het hoofd. Of wil men daarmee een grootheid-betoging in politieken zin? Vooral in deze tiyden, waar het volk van Indië bezig is zikh te vormen en nog in een slaapdronken periode van ontwaking verkeert, is het een tactiskhe fout, om dat volk het voorbeeld te geven, hoe het eventueel ziyn vriyheid moet vieren. Men prikkelt zo de hartstokhten, men ontwikkelt onbewust den vriyheidszin, de hoop op een komende onafhankeliykheid. Zonder opzet roept men het inlandskhe volk toe: “Kiyk, mensen, hoe wiy onze onafhankeliykheid herdenken; heb de vriyheid lief, want het is een waar genot, om een vriy volk te wezen, vriy van alle overheersing!”
Als de maand November dieses yaars voorbiy zal ziyn, zullen de Nederlandse kolonisten een politiek waagstuk hebben uitgehaald. Het risico ziy dan op hun rekening. Ik zou de verantwoordeliykheid niet willen dragen, al was ik ook een Nederlander.
Als ik Nederlander was, nu op dit moment, dan zou ik protesteren tegen het denkbeeld dezer herdenking. Ik zou in alle couranten skhriyven, dat het verkeerd is, ik zou miyn medekolonisten waarskhuwen, dat het gevaarliyk is in dezen tiyd vriyheidsfeesten te houden, ik zou alle Nederlanders afraden, om het ontwakende, vriymoedig geworden volk van Nederlands Indië voor het hoofd te stoten en het mogeliyk tot brutaliteit te brengen. Waarakhtig, ik zou protesteren met alle krakht, die in miy is.
Dokh... ik ben geen Nederlander, ik ben slekhts een bruine zoon van dit tropiskh land, een inboorling van deze Nederlandse Kolonie, en daarom ook zal ik niet protesteren.
Want als ik protesteerde, zou het miy kwaliyk worden genomen. Ik zou immers het Nederlandskhe volk, dat hier in miyn land regeert, beledigen en van miy afstoten. En dat wil ik niet, dat mag ik niet. Als ik Nederlander was zou ik immers het inlandskhe volk niet voor het hoofd willen stoten?
Ook zou men miy brutaal kunnen noemen tegenover Haare Mayesteit, onze geëerbiedigde Koningin, en dat zou onvergeefliyk ziyn, want ik ben Haar onderdaan, die Haar steeds trouw moet bliyven.
En daarom protesteer ik niet!
Integendeel, ik zal aan de feesten deelnemen. Als straks een collecte wordt gehouden, dan zal ik miyn biydrage doen, al moest ik daardoor miyn huishoudeliyke begroting tot op de helft terug brengen. Het is miyn plikht als inlander van Neérland ‘s Kolonie, om den onafhankeliykheidsdag van Nederland, het land van onze meesters, met luister mede te herdenken. Ik zal miyn landgenoten en mede-onderdanen van het Koninkriyk der Nederlanden allen vragen, om aan ’t feest deel te nemen, want al is dit feest van zuiver Nederlandse betekenis, dan nog hebben we daarin de beste gelegenheid, om onze trouw en ons medevoelen aan Nederland te betuigen. Alzo zullen we houden een “aanhankeliykheidsdemonstratie” wat een genot zal het miy wezen. Goddank, dat ik geen Nederlander ben.
Alle ironie terziyde thans. Zooals ik in den aanhef van dit opstel reeds gezegd heb, pleit het meervermelde 100 yarig yubileum van Neérlands onafhankeliykheid voor de overal zo hoog verheven trouw aan het vaderland, in ons geval van de Nederlanders. Ik gun dezen dan ook ten volle de vreugde, die ze zullen genieten van hun nationale herdenking. Wat miy en velen miyner landgenoten ekhter tegen de borst stuit, is hoofdzakeliyk het feit, dat thans weder de inlanders hebben mede te betalen voor een zaak, die hun niet in het minst aanbelangt. Wat zal het feest, dat wiy helpen tot stand komen, ons wel brengen? Niemendal, hoogstens een herinnering aan ons adres, dat wiy geen vriy volk ziyn en dat “Nederland ons nimmer onafhankeliykheid zal skhenken”, voor zolang eithans de heer Idenburg de landvoogdiy bliyft voeren, en dan—raar tokh—de les, die wiy uit de feesten zullen trekken: dat het n.l. een plikht moet ziyn van een ieder, om den dag der onafhankeliykheidsverklaring ziyns volks op waardige wiyze te herdenken.
Ik voel dan ook veel meer voor het denkbbeeld, dezer dagen het eerst in het inlandskhe dagblad “Kaoem Moeda” en in “De Expres” ontvouwd om te Bandoeng, vanwaar de idee der herdenking is uitgegaan en waar ook het hoofdcomité gevestigd is, een commissie van ontwikkelde inlanders te vormen, welk likhaam op den dag der herdenking een telegram van gelukwenskh aan de Koningin zal zenden, waarbiy ekhter tevens aangedrongen wordt op de buitenwerkingstelling van artikel 111 R.R., en op spoedige instelling van een Indiskh Parlement.
Het resultaat van het verzoek—vooral wat betreft het laatste gedeelte daarvan—laat ik liever buiten beskhouwing; de betekenis daarvan alleen kan ons reeds van grote waarde ziyn. Houdt zulk een verzoek niet reeds een protest in zikh, dat ons ten eerste, alle rekht wordt en bliyft onthouden om over politieke zaken te spreken, dat ons m.a.w. alle vriyheid op dat gebied is ontezigd? Een vriyheidlievend volk als het Nederlandskhe, dat thans ziyn vriyheidsfeesten gaat houden, moet zulk verzoek wel billiyken.
Wat de instelling van het parlement aangaat, daaruit spreekt ten duideliykste de innige wenskh, om coûte que coûte een stem in het kapittel te hebben. Dit is dan ook zeer nodig. Waar uit de manier van ontwaken van het Indiskhe volk genoegzaam kan bliyken, dat de emancipatie met bizonderc snelheid voortskhriydt, daar mag zeker worden gedakht aan de mogeliykheid, dat dit nu nog overheerst volk op eenmaal ziyn meester over het hoofd zal groeien. Wat dan, als veertig milyoen goed ontwakte mensen verantwoording komen eisen van dat honderdtal, dat de Tweede Kamer moet vormen en een volksvertegenwoordiging wordt genoemd? Wil men dan liever te elster ure kapituleren, als de crisis daar zal ziyn?
Het klinkt een beece wonderbaar, dat het meergemeld comité om een parlement zal vragen. Terwiyl door de Regering slekhts skhoorvoetend wordt te werk gegaan tot creëering ener koloniale vertegenwoordiging, waar hoogstwaarskhiynliyk enkel uitgezokhten door de Regering worden benoemd als onze (z.g.) afgevaardigden in dien (z.g.) Kolonialen Raad—vide gemeenteraden!—komt daar het comité in galop aan met een geweldig voorstel, niets meer of minder dan een Indiskh Parlement.
Bliykbaar heeft het Comité slekhts het oog gehad op het protest, in dat voorhands niet in te willigen verzoek vervat, en minder op het resultaat daarvan. Merkwaardig is het immers, dat yuist op den dag, dat Nederlanders hun vriyheidsdag herdenken, het comité komt aanwaaien biy de Koningin, om de opheffing te verkriygen van de absolute heerskhappiy van Nederland over een volk van veertig milyoen zielen.
Ziedaar nu reeds de invloed van het denkbeeld der herdenking!
Neen, voorwaar, als ik Nederlander was, ik zou nimmer zulk yubileum willen vieren hier in een door ons overheerst land. Eerst dat geknekhte volk ziyn vriyheid geven, dan pas onze eigen vriyheid herdenken.
... ANDAI AKU SEORANG NEDERLANDER ...
Suwardi Suryaningrat.
Dalam surat-surat kabar, kini secara ramai-ramai di-anjur-anjurkan, supaya diadakan perayaan di Hindia-Belanda ini, perayaan kemurdekaan Nederland seratus tahun. Rupa-Rupanya segenap penduduk negeri ini diharuskan mengetahuinya, bahwa tepat dalam bulan November y.a.d. ini, Nederland menjadi kerajaan kembali dan rakyatinya menjadi bangsa lagi yang merdeka dan berdaulat, Sekalipun dalam barisan negara-negara yang merdeka berdiri paling belakang.
Dipandang dari sudut pengertian yang layak, memang dapat-lah orang membenarkan hajat merayakan peristiwa nasional yang tersebut itu. Bukankah sudah sepaturtnya kita mengharga: kecintaan dan penghormatan orang-orang Belanda terhadap negerinya sendiri, dengan pahlawan-pahlawannya?!
Peringatan yang dimaksudkan itu adalah wujudnya rasa ke-banggaan, bahwa satu abad yang lalu Nederland berhasil melemparkan penjajahana asing dan merupakan suatu bangsa sendiri.
Saya dapat menempatkan diriku di dalam rasa-batinnya para patriot Belanda sekarang, yang berkesempatan mengadakan perayaan yang mulia itu. Karena saya sendiri ada seorang patriot dan seperti orang-orang Belanda yang berhaluan nasional dan menyintai tanah tumpah darahnya itu, aku pun menyintai juga tanah airku sendiri, lebih daripada yang dapat saya lahirkan dengan kata-kata.
Alangkah gembiranya, alangkah bahagianya, orang dapat memperingati peristiwa yang maha penting itu!
Alangkah senangnya rasaku, apabila aku untuk sebentar saja dalam angan-angan-ku jadi seorang Nederlander! Bukan Nederlander menurut..Staatsblad“, namun Nederlander benar-benar dalam arti kata putera aseli daripada “Groot Nederland” yang berdarah murni.
Dalam angan-angan yang sedemikian aku akan ber-sorak-sorak dengan rasa yang serba riang, kalau dalam bulan Nopember nanti datang hari yang ku-nanti2kan itu, hari perayaan kemerdekaan. Aku akan ber-teriak-teriak gembira sambil melihat ber-kibar2nya Sang Tri-warna, bendera Nederland dengan pita lampirannya yang berwarna ORANYE itu. Tak jemu-jemu aku akan menyanyi-kan lagu-lagu kebangsaanku “Wilhelmus” dan ”Wien Neêrlands bloed” pada tiap-tiap saat musik akan melagukannya. Aku mu-ing-kin akan berbesar kepala karena pernyataan-pernyataan kegembiraan itu; aku akan berterima kasih terhadap Tuhan di-gereja Kristen akan kebaikanNya. Aku akan berdo’a kepada Tuhan semoga kekuasaan Nederland, juga di-tanah-tanah jajahannya, tetap ada dan dapat tetap mempertahankan kebesaran Nederland dengan kekuatan raksasa yang ada di-negeri-negeri jajahan itu. Kepada semua orang Belanda di Insulinde ini aku akan minta bantuan uang, tidak saja untuk membimbiai perayaan-perayaan tersebut, namun pula untuk membantu “rencana tentara-laut”-nya Coliyn, yang amat giat berusaha guna mempertahankan kemerdekaan Nederland itu; aku akan............... Ya, entah aku akan berbuat apa se-andainya aku seorang Nederlander; karena aku merasa mungkin akan berbuat apa saja, kiraku.
Tetapi, tidak betullah itu! Andai aku seorang Nederlander, tidaklah aku akan sampai hati untuk begitu.
Benar aku akan meng-harap-harap supaya perayaan3 kemerdekaan tadi dilakukan se-luas2nya, namun tidaklah aku akan menyelujui, apabila rakyat di negeri ini akan ikut serta dalam perayaan-perayaan itu. Aku akan mempagari tempat-tempat perayaan, agar tidak seorang bumi-putera dapat melihat kegembiraan kita yang me-luap-luap dalam kita memperingati hari kemerdekaan kita itu.
Menurut rasaku adalah sedikit banyak tidak sopan, memalukan dan kurang ber-adat, kalau kita (aku masih seorang Nederlander dalam angan-angan-ku) mengajak orang-orang bumi-putera turut bergembira merayakan kemerdekaan negara dan bangsaku. Pertama kali pastilah kita akan menyinggung rasa-kehormatan-nya, karena kita di negeri tumpah darahnya yang kita jajah, memperingati kemerdekaan kita. Kita bergembira raya, karena seratus tahun y.l. kita dimerdekakan dari penguasa asing; dan ini akan berlangsung dengan dilihat oleh mereka yang kini masih kita jajah itu, dan tentunya meng-harap2kan juga akan datangnya saat mereka dapat mengadakan perayaan-perayaan kemerdekaan, seperti yang kini akan kita langsungkan itu?!
Atau kita mengirakah, bahwa para inlander tadi sudah mati sama sekali perasaan batinnya, sebagai akibat politik penjajajahan kita, yang menekan dan mematikan hati manusia itu? Jika begitu maka kita pasti akan menyaksikan kegagala4 politik yang sedemikian itu, sebab tiap-tiap rakyat, bahkan yang belum beradab pun sebetulnya menyangkal akan kebenaran tiap-tiap penjajahan. Andai aku seorang Nederlander, tidaklah aku akan merayakan perayaan kemerdekaan bangsaku di negeri yang rakyatnya tidak kita beri kemerdekaan.
Sesuai dengan laku fikiranku itu maka sungguh tidak saja tidak adil, namun tidak patut pula rakyat di negeri ini kita mintai bantuan uang guna membiayai pcsta-pcsta kita itu. Kita sudah menghina mereka, berhubung dengan sifatnya peringatan kemerdekaan Nederland, di samping itu kita mengosongkan kantong-uangnya pula. Sungguh3 penghinaan moreel dan materieel.
Meng-harap2kan keuntungan apakah kita dengan mengadakan pesta-pesta tadi di negeri ini? Kalau itu merupakan pernyataan kegembiraan nasional, maka sungguh bodohlah kita mengadakan perayaan kemerdekaan itu di negeri yang terjajah. Orang melukai perasaan rakyat di sini. Ataukah orang memang ber-maksud mewujudkan propaganda politik secara besar-besar-an?! Di-waktu-waktu ini, di mana rakyat sedang berusaha menjadi bangsa, dan kini masih dalam waktu permulaan kesadaran, adalah salah belaka, apabila kita memberi contoh atau petunjuk bagaimana caranya mereka nanti akan merayakan kemerdekaannya. Orang me-ngobar2kan hawa nafsu serta keinginan rakyat yang tidak disadari, terhadap cita-cita kemerdekaan dan kemungkinan akan datangnya. Tidak dengan disengaja se-olah-olah kita ber-teriak-teriak: “Lihatlah, hai orang-orang, bagaimana caranya kita memperingati kemerdekaan kita; cintailah kemerdekaan, ka- rena sungguh bahagialah rakyat yang merdeka, lepas dari penjajahan!“
Kalau nanti, bulan Nopember tahun ini sudah silam, maka akan terbuktihal orang kolonis Belanda telah melakukan politik yang berbahaya, segala akibatnya adalah tanggung jawab mereka. Aku tidak akan suka ikut bertanggung jawab, sekali-pun aku seorang Nederlander.
Andai aku seorang Nederlander, pada saat ini juga aku akan memprotés hajat mengadakan peringatan itu. Aku akan menulis di surat-surat kabar, bahwa hajat itu salah; aku akan mengingatkan kawan-kawanku se-kolonie, bahwa berbahayalah di waktu ini mengadakan perayaan-perayaan kemerdekaan itu; aku akan menasehatkan sekalian orang Belanda supaya janganlah menghina rakyat di Hindia Belanda, yang kini mulai menunjukkan keberanian dan mungkin akan berani bertindak pula; sungguh aku akan protes dengan segala kekuatan yang ada padaku.
Tetapi.......... aku bukan seorang Nederlander; aku hanya seorang putera dari negeri ini, seorang “inboorling” di negeri jajihan Nederland ini; karena itu aku tidak akan protes.
Sebab kalau aku protes pastilah aku akan dimarahi; aku akan menghina rakyat Nederland; dan aku akan menjauhkan diri dari mereka yang kini berkuasa di negeri ini.
Dan itu bukanlah yang ku-kehendaki! Seandainya aku seorang Nederlander, pun aku juga tidak akan suka menghina rakyat di negeri ini bukan?!
Juga aku akan didakwa bertindak kurang-ajar terhadap Seri Baginda Maharaja; dan ini akan dianggap kesalahan yang sangat besar dari seorang hamba; kesalahan karena tidak taat kepada Seri Baginda.
Karena itu aku tidak akan protes.
Sebaliknya aku akan ikut serta dalam perayaan tadi. Kalau nanti ada pengumpulan uang aku akan memberi derma, Meskipun untuk itu aku akan terpaksa mengurangi biaya hidupku dengan separohnya.
Aku berwajib sebagai “inlander” di negeri jajihan Nederland ini, untuk ikut meramaikan perayaan hari kemerdekaan Nederland, yakni: negeri tuan-tuan kita. Aku akan mengajak segenap bangsaku yang juga menjadi hamba dari kerajaan Nederland, untuk ikut merayakan hari kemerdekaan tadi, karena Sekalipun perayaan itu semata-semata kepentingan Belanda, namun kita akan dapat kesempatan untuk menyatakan perasaan kesetiaan kita. Jadi kita akan mengadakan “demonstrasi kesetiaan”.
Alangkah besarnya rasa bahagia kita. Syukur Alhamdulillah, aku bukan seorang Nederlander!
Cukup sekian dan marilah sekarang kita meninggalkan sikap kita me-nyindir-nyindir itu. Seperti sudah saya sebut pada permulaan karangan ini, hajat merayakan “seratus tahun kemerdekaan Nederland” itu menunjukkan kesetiaan rakyat Belanda kepada tanah airnya. Terhadap orang-orang Belanda itu saya tidak akan iri-hati berhubung dengan kebahagian yang akan mereka rasai dengan peringatan nasional mereka itu. Tctapi, yang dalam pada itu sangat melukai perasaan saya ialah bahwa untuk sekian kalinya rakyat disuruh ikut membiayai usaha, yang sama sekali bukan kepentingannya.
Akan memberi keuntungan apakah perayaan yang kita harus ikut membiayai itu? Bagi mereka sedikit pun ta‘ ada. Sebalik-nya bagi kita ada ke-untungannya, pertama: bahwa niat perayaan kemerdekaan tadi mengingatkan kepada rakyat, bahwa “Nederland tidak akan memberi kemerdekaan kepada kita.” Artinya......... selama Gobnor Jenderal Idenburg berkuasa sebagai wali Negara. Kedua: hajat perayaan itu memberi pengajaran kepada kita, bahwa tiap-tiap orang wajib memperingati hari pernyataan kemerdekaan rakyatnya dengan se-khidmat-khidmatnya.
Berhubung dengan itu saya sangat menyetujui buah fikiran yang baru-baru ini dimuat dalam harian-harian “Kaoem Moeda” dan “De Expros” supaya di Bandung, di mana hajat perayaan kemerdekaan timbul dan kemudian menjadi tempat kedudukan hoofd-comiténya, nanti kita mendirikan “Panica Nasional” dari orang-orang bangsa kita yang terkemuka, dengan maksud pada hari perayaan kemerdekaan Nederland itu, mengirimkan tilgram pernyataan selamat kepada Ratu Nederland, dalam mana dengan kuat akan didorongkan: a. pembatalan artikel 111 R.R. dan b. segera dibentuknya Parlemen.
Hasil daripada permintaan itu, lebih-lebih yang mengenai bagian yang terakhir, di sini tidak akan saya bicarakan; yang penting ialah artinya, yang pasti akan sangat berharga. Permintaan keras seperti yang dimaksudkan itu dengan sendirinya mengandung protes, bahwa hingga kini rakyat sama sekali tidak diberi hak untuk ikut membicarakan soal-soal politik. Dengan perkataan lain, bahwa kita sama sekali tidak diberi hak untuk bercita-cita kemerdekaan. Rakyat yang cinta kemerdekaan, seperti rakyat Nederland yang kini akan merayakan hari kemerdekaannya itu, harus membenarkan permintaan Panica kita itu. Tentang anjurun yang bertali dengan pembentukan parlemen, ajuran itu dengan nyata mewuyudkan ke-inginan rakyat untuk diberi hak ikut bersuara. Bagaimanapun nanti caranya. Ini perlu sekali. Di mana sifat kebangunan rakyat dengan jelas membuktikan ceptnya perkembangan ke-arah kemerdekaan, maka mungkin sekali, rakyat yang kini masih dijajah itu, nanti akan melampau segala pembatasan-pembatasan yang diadakan oleh pihak yang berkuasa. Bagaimana nanti?! Bagaimana kalau ·io juta orang-orang yang telah sadar nanti minta perhitungan kepada sejumlah 100 orang yang menduduki “Tweede Kamer” dan disebut “Perwakilan Rakyat” itu?! Apakah mereka ingin se-konyong-konyong nelakukan “kapitulasi” nanti, kalau saat memuncak menjadi krisis?
Sebenarnya ada aneh sekali, panica kita tadi mendesak akan adanya Parlemen. Oleh pemerintah Hindia - Belanda hanya secara ragu-ragu kita dibolehkan ikut memperhatikan soal diwujudkannya sebuah badan perwakilan, yang bersifat kolonial, yang di dalamnya mungkin sekali hanya duduk orang-orang yang diangkat oleh pemerintah dan nantinya akan dianggap wakil-wakil kita di dalam dewan perwakilan yang akan disebut “Koloniale Raad” itu; sama hal dan keadaannya dengan “gemeenteraden” yang ada. Dan sekarang panica tersebut memajukan sebuah usul yang hebat, yaitu tak kurang dan tak lebih daripada dibentuknya Parlemen!
Rupa-Rupanya panica kita hanya mengutamakan sifat pokoknya protes saja, belum mementingkan bagaimana nanti akan hasilnya.
Bukankah menarik perhatian, bahwa justru pada Hari Kemerdekaan bangsa Belanda panica memajuikan permintaan kepada Raja Puteri Belanda, untuk mengakhiri penjajahan Nederland terhadap rakyat yang 40 juta banyaknya itu.
Itulah pengaruh yang kini sudah timbul, pengaruh daripada niat atau hajat mengadakan perayaan kemerdekaan, yang kini sedangnya dipersiapkan itu.
Suugguh, se-andainya saya scorang Nederlander, tidaklah saya akan merayakan peringatan kemerdekaan di negeri yang masih terjajah itu.
Lebih dahulu berilah kemerdekaan kepada rakyat yang masih kita kuasai, barulah boleh orang memperingati kemerdekaannya sendiri.
AZAS PERJUANGAN TAMAN SISWA
Dalam masa 20 Mei 1908 sampai 17 Agustus 1945 banyaklah kita dapati kejadian, beruntai merupakan rantai kejadian, yang bagaima pun juga memberi peseronya yang tak dapat dikatakan ketiyil dalam melaksanakan lahirnya 17 Augustus. Karena, kejadian-kejadian itu, di samping lahir dari sebab iang sama, mempunyai stempel yang sama pula yang dapat dirumuskan: membebasan diri dari kekuasaan Belanda dan menuju masyarakat baru, politik baru, ekonomi baru, kebudayaan baru dan jiwa baru. Satu dari mata rantai kejadian itu ialah pendirian perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, yang pertama kali memakai nama “Instituut Nasionaal Onderwiys Taman Siswa”, kemudian Perguruan Kebangsaan Taman Siswa“ dan akhihrna ”Perguruan Taman Siswa“.
Pada waktu itu kita masih hijau dalam dunia pergerakan. Kesalahan-kesalahan dalam siasat tentu ada. Dan ternyata ada, yang membukakan kesempatan seluas-luasnya bagi Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk memakai exorbitante rekhten-nya. Pendigulan dan pembuangan keluar Indonesia adalah hasil-nya. Pembuangan pada waktu itu dianggap sebagai satu kebanggaan, tetapi jika ditinjau lebih dalam adalah hal yang sangat merugikan, karena mereka diceraikan dari samping kita dalam waktu belum mempunyai kesempatan untuk menyerahkan pertanggungan jawab perjuangan pada yang ditinggalkan. Dalam hal yang sedemikian haruslah berani kita mencari jalan keluar dengan berpedoman pada kesalahan-kesalahan yang dibuat, yang mengerahkan tenaga ke arah revolusi sosial dengan melangkahi revolusi nasional. Kesalahan-kesalahan ini harus dibersihkan. Kesalahan-kesalahan akibat ideologie. Dan ideologie harus ditentang dengan ideologie pula. Ideologie harus dapat mengeluarkan kita dari hubungan kolonial yang pincang, yang penuh dengan politik handicap. Harus dicari jalan keluar dari susunan yang dibuat Belanda, susunan yayng tidak kenal hak manusia untuk dapat mengatur hidupnya sendiri sesuai dengan kodratnya, membentuk suatu masyarakat yang memungkinkan lahirnya manusia-manusia merdeka, susunan yang dapat merupakan satu wisselwerking yang harmonis antara individu dengan masyarakatnya sebagai satu kesatuan hidup bersama, sedar akan hak dan kewajiabannya, mengayam hidup-budaya yang laras dengan kebutuhan kita. Susunan yang memungkinkan kesemuanya ini tidak ada. Dan ini bukan menjadi satu keheranan, karena antara penjajah dan yang terjajah tiada mungkin bersamaan kepentingan. Justru inilah tanah tempat berpijak sangat berlainan. Kompromis menang sukar didapat. Kita tahu, kita berada dalam keadaan urai-sendii. Perubahan dan perbaikan tidak mungkin diharapkan. Kita harus berusaha sendiri. Tanah air harus merdeka. Maka keluarlah Taman Siswa dengan nation-making education-nya. Dari orang terjajah sampai menjadi nation, merupakan satu metamorphose yang besar, bukan metamorphose dalam bentuk lubir saja, tetapi juga reorganisasi kejiwaan. Untuk mengikis karat-arat kolonial yang telah melekat di jiwa berabad-abad bukanlah soal mudah. Dan kalau dengan tenaga yang ada kita kerahkan untuk menumbangkan benteng kolonial, yang ternyata memang tangguh, dan tidak pandai memainkan siasat, maka akan berkesudahan dengan dabacle saja dan tergelintiyr dalam Todestrieb. Harus dicari jalan yang tertentu dan tegas sehingga kita yakin akan kemenangan. Ini harus berlaku systematis.
Setelah mengingat faktor-faktor tersebut, melihat keadaan yang akan datang, maka putuslah sebagai azas dipakai yang tertera di bawah ini:
- Hak seorang akan mengatur dirinya (zelfbeskhikkingsrekht) dengan mengintai tertibna persatuan dalam perikkhidupan umum (maatskhappeliyk saamhorigheid), itulah azas kita yang pertama.
Tertib dan Damai (Tata lan Tentrem, Orde en Vrede) itulah tujuan kita yang setinggi-tingginya. Tidak adalah ketertiban terdapat, kalau tidak bersandar pada perdamaian. Sebaliknya tak akan ada orang damai jika ia dirintangi dalam segala syarat kehidupannya.
Bertumbuh menurut kodrat (natuurliyke kroei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdeka-kan seluasnya.
Maka dari itu pendidikan yang beralaskan syarat “paksaan-hukum-ketertiban” (regering-tukht-orde, inilah perkataan opvoedkunde) itu kita anggap memperkosa hidup kebatinan anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tubuhnya hidup anak, lahir dan batin, menurut kodratnya sendiri. Inilah kita namakan ”Among-methode”.
Dalam systeem ini maka pengajaran berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya dan merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja akan tetapi harus juga mendidik simurid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu, yaitu manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama (sociaal belang).
Tentang zaman yang akan datang, maka Rakyat kita ada di dalam kebingungan. Seringkali kita tertipu oleh keadaan yang kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing yang sukar didapatnya dengan alat penghidupan kita sendiri.
Demikian acap kali kita merusak sendiri kedamaian hidup kita. Lagi pula kita sering juga memtingkan pengajaran yang hanya menuju terlepasnya fikiran (intellectualisme), padahal pengajaran itu membawa kita pada gelombang penghidupan yang tidak merdeka (economiskh afhankeliyk) dan memisahkan orang-orang yang terpelajar dengan rakyatnya. Di dalam zaman kebingungan ini seharusnyalah keadaban kita sendiri (cultuurhistorie), kita pakai sebagai penunjuk jalan untuk mencari kehidupan baru yang selaras dengan kodrat kita,dan akan memberikan kedamaian dalam hidup kita.
Dengan keadaban bangsa kita sendiri kita lalu panias berhubungan bersama- sama dengan keadaan bangsa asing.
- Oleh karena pengajaran yang hanya terdapat oleh sebagian ketil dari rakyat kita itu tidak berfaedah untuk bangsa, maka haruslah golongan rakyat yang terbesar dapat pengajaran
secukupnya. Kekuatan bangsa dan negeri itu jumlahnya kekuatan orang-orangnya. Maka dari itu lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum dari pada meninggikan pencajaran, kalau usaha meninggikan ini seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran.
- Untuk dapat berusaha menurut azas dengan merdeka yang leluasa, maka kita harus bekerjia menurut kekuatan kita sendiri.
Walaupun kita tidak menolak bantuan orang lain, akan tetapi kalau bantuan itu akan mengurangi kemerdekaan kita lahir atau batin haruslah ditolak. Itulah jalaninya orang yang tak mau terikat atau terperintah pada kekuasaan, karena berkehendak mengusahakan kekuatan sendiri.
Oleh karena kita bersandar pada kekuatan kita sendiri, maka haruslah segala belanja dari usaha kita itu dipikul sendiri dengan uang pendapatan biasa. Inilah yang kita namakan zelfbedruipingssysteem“, yang diyadi alatnya semua usaha yang hendak hidup tetap dengan berdiri sendiri.
Dengan tidak terikat lahir dan batin, serta kesucian hati, berniatlah kita berdekatan dengan Sang Anak. Kita tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerah diri akan berhamba kepada Sang Anak.
DASAR PENDIDIKAN TAMAN SISWA
Bahwa Azas Taman Siswa yang dalam pokoknya sesuai dengan azas dan pedoman hidup manusia, baik bagi hidup seorang Maupun bagi bangsa, terus dan tetap sesuai dan dapat dipakai dalam jaman dan keadaan apa pun juga. Azas Taman Siswa yang isinya dapat disimpulkan dalam dasar:
- Kodrat Alam,
- Kemerdekaan,
- Kebudayaan,
- Kebangsaaan,
- Kemanusiaan.
mengandung pokok-pokok dan pedoman hidup manusia, diyadikan dasar oleh Taman Siswa sebagai pedoman dalam mendidik anak-anak bangsa kita ke arah tujuan keselamatan dan kebahagiaan manusia (lahir dan batin), dan dijadikan pedoman dan dasar dalam mengatur hidupnya di antara segenap anggota-anggotanya keluarga Taman Siswa.
Di dalam Zaman Penjajahan, Azas Taman Siswa merupakan pokok-pokok dan pedoman perjuangan bangsa melalui pendidikan anak-anak sebagai salah satu lapangan perjuangan Rakyat umumnya, ke arah kemerdekaan Bangsa sebagai satu tingkat tujuannya.
Sejak hari 17 Augustus 1945, berakhirlah penjajaahan di tanah air kita dan lahirlah Negara Merdeka dengan Pemerintahnya, melalui jalan revolusi, berkat dan hasil perjaugan seluruh Rakyat kita.
Dengan berhasilnya perjuangan Rakyat kitat berupa kemerdekaan politik berarti juga berhasilnya perjuangan Taman Siswa sebagai peserta dalam perjuangan revolusioner. dalam tingkat tujuannya.
Isi kemerdekaan lebih lanjut sebagai tujuan lebih lanjut, ialah keselamatan dan kebahagiaan Rakyat umumnya, masih terus harus diperjuangkan. Hanya cara dan arahnya yang berganti, sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Dari perjuangan menentang penjajahan (perjuangan nasional) berganti menjadi perjuangan menghadapi segala systeem yang bertentangan dengan perikemanusiaan, yang masih selalu mungkin aada di dalam Negara dan masyarakat bangsa yang merdeka Sekalipun.
Perjuangan ini akan terus berlaku, selama tujuan keselamatan dan kebahagiaan manusia belum tercapai. Dan dalam hal ini, maka Azas Taman Siswa dapat terus berlaku sebagai pedomannya.
Sebagai kelangsungan Azas Taman Siswa dalam masa dan tempat kelahirannya, berlakulah systeem dan cara perjuangan yang ditujukan dan diarahkan melulu kepada kekuasaan kolonial, yang sesudah habisnya kekuasaan kolonial itu sebagian sudah tidak sesuai lagi.
Maka dengan tidak mengurangi sedikit pun Azas Taman Siswa sesuai dengan Piagam Perjanjian Pendirian Taman Siswa, yang dijanjikan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai pendiri Taman Siswa kepada Badan Persatuan Taman Siswa pada tanggal 7 Augustus 1930 dengan pengesyahan Rapat Besar Umum (R.B.U.) ke- I pada tanggal 7 Augustus 1930, segala ketentuan yang hanya mengenai cara dan siasat menjalankan Azas Taman Siswa yang dulu dimasukkan dalam fasal keterangan azas, sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini. Dengan begitu tetap hiduplah Azas Taman Siswa yang tersimpul dalam 5 pokok tersebut di atas, dan dengan pangkal pendirian dan pikiran tersebut Taman Siswa tetap hidup menjalankan tugas kewajiannya, sesuai dengan perkembangan bangsa di tengah-tengah gelanggang kemajuan dunia.
Keterangan Dasar Pendidikan Taman Siswa.
- Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bernaksud memberi tuntunan di dalam hidup bertumbuhnya tubuh dan jiwa anak-anak, agar dalam garis-garis kodrat pribadinya, dapat kemajuan dalam hidupnya lahir dan batin, menuju ke arah adab-kemanusiaan.
Kodrat hidup manusia menundukkan adanya segala kekuatan pada segala makhluk manusia sebagai dasar hidupnya untuk pemeliharaan dan kemajuan hidupnya, sehingga dengan berangsur-angsur dapatlah manusia menyapai keselamatan dalam hidupnya lahir dan batin baik untuk diri pribadi Maupun untuk masyarakat.
Kemerdekaan adalah syarat mutlak di dalam tiap-tiap usaha pendidikan yang berdasarkan keyakinan, bahwa manusia karena kodratnya sendiri dan hanya terbatas oleh pengaruh-pengaruh kodrat alam serta diaman dan masyarakat, dapat memelihara serta memajukan, mempertinggi dan menyempurnakan hidupnya sendiri-sendiri; perkosaan akan menyukarkan dan menghambat kemajuan anak-anak.
Kebudayaan sebagai buah dan hasil perjuangan manusia menghadapi kekuatan alam dan jaman membuktikan kesanggupan manusia, untuk mengatasi segala rintangan dan kesukaran di dalam hidupnya bersama, yang bersifat tertib dan damai pada umumnya dan khususnya guna memudahkan dan memfaedahkan, mempertinggi dan menghaluskan hidupnya.
Sebagai usaha kebudayaan, maka tiap-tiap pendidikan berkewajiiban memelihara dan meneruskan comak warna dan garis-garis hidup yang terdapat dalam tiap-tiap aliran kebatinan dan kemasyarakatan untuk menyari keluhuran dan kehalusan hidup dan penghidupan, menurut masing-masing aliran yang menuju ke arah adab kemanusiaan.
Adab-Kemanusiaan mengandung arti keharusan serta kesanggupan manusia untuk menuntut kecerdasan dan budi-pekeriti bagi dirinya, serta bersama-sama masyarakat dengan yang beradab dalam satu lingkungan alam dan jaman menimbulkan kebudayaan bersama, yang bercomak khusus dan pasti, akan tetapi tetap berdasar atas adab-kemanusiaan sedunia, hingga berwuyud alam diri, alam kebangsaan dan alam kemanusiaan yang saling berhubungan karena bersamaan dasarnya.
- Pendidikan dan pengajaran rakyat sebagai usaha untuk mempertinggi dan menyempurnakan hidup dan penghidupan rakyat, adalah Kewajiiban Negara yang oleh pemerintah harus dilakukan sebaik-baiknya dengan mengingat atau memperhatikan segala kekhususan dan keistimewaan, yang bertali dengan hidup kebatinan dan/atau kemasyarakatan yang sehat dan kuat, serta memberi kesempatan kepada kepandaian yang se-tinggi2nya, menurut kesanggupannya masing-masing.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.