MAX HAVELAAR
ATAU LELANG KOPI PERSEKUTUAN DAGANG BELANDA
MULTATULI
KOLOFON
MAX HAVELAAR
ATAU LELANG KOPI PERSEKUTUAN DAGANG BELANDA
karya
MULTATULI
Terjemahan: H. B. Jassin
Pendahuluan dan Anotasi: Drs. G. Termorshuizen
Buku ini diterbitkan dengan subsidi Pemerintah Kerajaan Belanda—Djambatan 1972—Percetakan Karya Nusantara
© 2025 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: multatuli.online
Ilustrasi sampul: The Result of Evil Companions 1925-1932, karya John Held Jr.
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam.com
MULTATULI
KATA PENGANTAR
Bagi bangsa Indonesia, Multatuli mempunyai arti yang khusus. Karena itu, ketika saya diminta untuk membuat suatu kata pengantar atas hasil karyanya yang telah diterjemahkan oleh saudara H.B. Yassin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda”, maka dengan hati yang gembira saya penuhi.
Bukan saja karena dengan penerbitan terjemahan ini, makin diperkaya khazanah kepustakaan kita, tetapi karena buku Multatuli ini mempunyai nilai kesusasteraan dunia yang besar, terutama sekali dilihat dari segi ilmu sejarah.
Dengan ketelitian, ketepatan dan penuh rasa penghayatan, yang menunjukkan rasa senasib-sepenanggungan dengan obyeknya, dalam hal ini penderitaan bangsa kita, Multatuli menggambar keadaan sejarah Indonesia, khususnya kehidupan masyarrakat bangsa kita di daerah kabupaten Banten Selatan, sebagaimana dijumpai pada pertengahan abad 19 dengan berbagai-bagai seginya, antara lain:
- Kehidupan masyarakat petani yang penuh penderitaan pada jaman Tanam Paksa yang kejam dan acap kali mengalami bahaya kelaparan.
- Sifat-sifat bangsa kita yang mempunyai hati setia dan pemurah, tetapi sering kali disalahgunakan oleh sementara bupati yang kurang bertanggung jawab.
- Kehidupan rumah tangga seorang bupati dengan biaya yang mahal, dalam sistim masyarakat feodal waktu itu, dan untuk memenuhi keperluan itu, acap kali para petani yang menjadi korban pemerasan dan penindasan.
- Hubungan antara pihak penguasa Belanda (Residen, Asisten residen, kontrolir) dengan pangreh praja (bupati, patih, demang, jaksa dan lain-lain) dalam masyarakat kita.
Dengan demikian buku ini merupakan bahan dokumentasi yang penting bagi studi ilmu-ilmu kemasyarakatan dan politik.
Tetapi nilai yang tiada taranya, terletak pada segi-segi kemanusiaan kesatriaan dan pendidikan watak.
Perhatikanlah baik-baik, bagaimana Multatuli menunjukkan kepincang-an-kepincang-an dalam masyarakat. Betapa halus dan luhur jiwanya dalam mengisahkan suatu segi kehidupan penuh derita yang dialami bangsa kita, seperti misalnya pada Saijah dan Adinda.
Multatuli bukan hanya mengkonstatir keadaan yang pincang, tetapi berusaha dan bertindak untuk meluruskan keadaan. Betapa beraninya ia membongkar keburukan-keburukan dalam pemerintahan Hindia Belanda yang biasanya disembunyi-semgunyi-kan, sehingga membawa risiko yang menyedihkan bagi dirinya. Betapa kecewa hatinya terhadap orang-orang Belanda seperti terhadap Droogstoppel dan Sliymering.
Sungguh berat perjuangan Multatuli dalam usahanya mene-gakkan keadilan dan kebenaran.
Bagi Multatuli tidak berlaku sikap setengah-setengah. Orang harus sepenuh hati dalam memperjuangkan kebenaran. Jiwa inilah yang rupanya mengilhami perjuangan Dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara dalam menghadapi penjajahan Belanda setengah abad kemudian.
Kemudian baik pula didengar, kata-kata Multatuli, sebagaimana diucapkan di hadapan Sebah (persidangan) di Lebak pada bulan Januari 1856, sebagai berikut:
“Sebab kita bersuka-cita bukan karena memotong padi, kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanam”.
Ucapan Multatuli itu tetap berlaku hingga hari ini, lebih-lebih dalam alam Pembangunan. Kata-kata itu menimbulkan jiwa yang tegak dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Hasil karya
Multatuli ini adalah sebuah hasil kesusasteraan yang tinggi. Di dalamnya terdapat banyak hikmah-hikmah yang perlu kita renungkan, nilai-nilai yang menyentuh lubuk hati umat manusia.
Sebuah buku yang perlu dibaca!
Jakarta, 11 Februari 1972
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I.
ttd. (Mashuri)
SEPATAH KATA
Karya yang termasyhur “Max Havelaar of de Koffijveilingen der Nederlandse Handelmaatskhappij”, karangan pengarang Belanda Multatuli, sudah diterjemahkan ke dalam beberapa puluh bahasa, sehingga telah menjadi sebagian dari kesusastraan dunia. Tapi dalam bahasa Indonesia belum ada terjemahannja. Maka adalah suatu gagasan yang baik untuk memikirkan hal itu sesudah lebih 25 tahun Indonesia merdeka. Sudah lewat masanya karya seperti “Max Havelaar” dibicarakan dalam suasana yang emosionil—kini yang penting ialah aspeknya yang artistik dan yang bertalian dengan sejarah.
Karena itu adalah suatu “perbuatan yang adil” bahwa sekarang, dengan bantuan Kementerian Kebudayaan, Rekreasi dan Pekerjaan Sosial di negeri Belanda, buku itu dapat disajikan kepada pembaca Indonesia dalam bahasanya sendiri. Oleh sifat permasalahan yang dikupas dalam buku ini sesungguhnyalah “Max Havelaar” bukan saja menjadi milik negeri Belanda, tapi juga milik Indonesia. Berapa banyak orang Indonesia yang sejak kecilnya sudah mengenal cerita “Saijah dan Adinda” atau “Pidato Lebak”?
Kepada tuan H.B. Jassin yang menerjemahkan karya ini, kepada Penerbit “Djambatan” dan kepada Drs. G. Termorshuizen, lektor sastra dan budaya Belanda pada Universitas Indonesia di Jakarta, patut disampaikan segala hormat kami untuk terlaksananya penerbitan ini. Hal ini berarti perluasan yang menggembirakan dari proyek-proyek terjemahan buku-buku Belanda ke dalam bahasa Indonesia, yang sudah dimulai dan sedang berjalan dalam rangka kerjasama kebudayaan antara Indonesia dan negeri Belanda.
Semoga penerbitan ini merupakan sumbangan yang berharga bagi persahabatan antara kedua bangsa.
Jakarta, Maret 1972
Hugo Skheltema
Dutabesar Kerajaan Belanda
PENDAHULUAN
‘Ya, aku bakal dibaca!’
(Max Havelaar)
Tahun 1860 terbitlah Max Havelaar, sebuah buku yang membuat pengarangnya, Multatuli, segera mendapat nama yang cemerlang dan yang menjadi terkenal di seluruh dunia, berkat terjemahannja ke dalam banyak bahasa-bahasa. Buku itu men-dedahkan dengan tajam dan tanpa kenal am pun ketidakadilan dan penderitaan di Hindia Belanda ketika itu. Apabila kita bertolak dari dalil bahwa kesusastraan harus merupakan suatu tenaga sosial, bahwa ia harus mencoba memperbaiki masyarakat, maka Max Havelaar adalah suatu contoh yang istimewa untuk itu, baik bagi penguasa Maupun yang dikuasai, baik bagi negeri Belanda Maupun bagi Indonesia.
Multatuli bukanlah satu-satunya dan juga bukan yang pertama yang mensinyalir dan menggugat ketidakadilan yang menimpa penduduk bumiputera. Tapi sedangkan suara yang lain-lain itu tidak kedengaran atau hampir tidak kedengaran, Max Havelaar segera 'menggetarkan seluruh negeri'. Untuk itu kemampuan Multatuli sebagai seniman adalah menentukan.
Multatuli ialah nama samaran Eduard Douwes Dekker, lahir tahun 1820 di Amsterdam. Ayahnya seorang kapten kapal yang penuh ketetapan hati, ibunya seorang wanita yang amat emosionil. Kedua sifat itu, kekerasan hati dan sifat emosionil, kita dapati kembali pada sang putra.
Eduard dicita-cetakan untuk menjadi pendeta, karena itu masuk sekolah yang disebut 'Latiynse Skhool', Sekolah Latin. Ia tidak selesai di sekolah itu dan bekerja di kantor dagang.
Pengalaman-pengalamannya di sekolah dan di kantor diolahnya dalam bukunya 'Wouterce Pieterse', ditulis sesudah Max Havelaar. Wouterce Pieterse (alias Eduard) nampak kepada kita dalam karya ini sebagai seorang anak yang megah dan ingin kehormatan, yang dengan khayalan-khayalannya tentang kebenaran dan kesateriaan senantiasa bentrokan dengan keborjuisan yang sempit dan kemunafikan lingkungan sekitarnya.
Sebagai seorang pemuda 18 tahun Dekker berangkat dengan kapal ayahnya ke pulau Jawa, di mana ia masuk bekerja pada Pemerintah Hindia Belanda, mula-mula pada Dewan Pengawas Keuangan di Betawi. Tahun 1842 ia mendapat promosi dan berangkat sebagai kontelir ke Natal di Sumatera, suatu daerah yang penuh ketegangan. Di sana ia terlibat dalam suatu intrik kepala-kepala bumiputera. Ia dipanggil kembali ke Padang, dan bulan Januari 1844 ia dibebastugaskan untuk sementara dengan tuduhan telah menyebabkan tekor dalam kas di Natal (baru kemudian ternyata ketekoran kas itu tidak pernah terjadi!). Sampai September 1844 ia tinggal di Padang, suatu masa kesengsaraan dan kemiskinan yang sangat. Pengalaman-pengalamannya di Natal dan di Padang panjang lebar dilukiskannya dalam Max Havelaar bab 12 sampai dengan 14, suatu bukti betapa dalam semuanya itu meninggalkan bekas dalam jiwanya. Di sana sesungguhnyalah ia telah banyak menderita, seperti dikatakannya sendiri.
Ia kembali bekerja pada Gubernemen; antara tahun 1845 sampai 1852 ia menduduki berbagai jabatan dan akhirnya menjadi asisten residen Ambon. Itulah masa tahun-tahunnya yang paling bahagia, juga disebabkan karena perkawinannya tahun 1846 dengan Everdine Huberte van Wiynbergen, yang bernama Tine dalam Max Havelaar.
Tahun 1852, setelah 14 tahun terus menerus tinggal di daerah khatulistiwa, ia berangkat dengan isterinya menjalani perlop di negeri Belanda. Anak mereka yang pertama, anak laki-laki, lahir di sana (si 'Max Kecil'). Untuk selebihnya masa perlop itu menjadi kekecewaan yang besar: Dekker tak dapat lagi
menyesuaikan diri di negeri Belanda yang sempit di masa itu. Tambahan pula ia terlalu banyak grand seigneur, suatu gaya hidup yang memang menjadi cirinya, sehingga ia tertimbun dalam hutang-hutang.
Tahun 1855 ia kembali dengan Tine dan Max ke Betawi, di mana ia segera mendapat kesempatan bertemu dengan Gubernur Jenderal Duymaer van Twist, yang mengangkatnya jadi asisten residen Lebak (Bantam) tanggal 4 Januari 1856. Bertahun-tahun kemudian Duymaer van Twist menulis tentang ini antara lain: ... (ia) memperoleh simpati saya karena kecintaannya kepada orang bumiputera. Ketika ada lowongan di Lebak dan saya tahu bahwa nasib penduduk di sana amat buruk, saya berpikir bahwa di sana ia akan merupakan orang yang tepat dalam jabatan yang tepat dan (...) saya angkat dia jadi asisten residen.
Dekker menganggap pengangkatan itu sebagai tugas istimewa. Sebab sekarang ia dapat mewuyudkan cita-citanya tentang keadilan dan kesateriaan yang dikandungnya sejak muda, menjadi kenyataan! Kenyataan itu baginyya tersimpul dalam sumpah jabatan yang diucapkannya di Rangkas-Betung tanggal 21 Januari, antara lain dengan kata-kata, bahwa ia akan melindungi penduduk bumiputera terhadap penindasan, penyiksaan dan penganiayaan (bab VII). Ia ingin menepati sungguh-sungguh sumpahnya itu, ia tidak mau tawar menawar seperti lazimnya. Inilah intipati perkara Lebak, yang digambarkan dalam Max Havelaar. Sebab justru kesungguhan itulah, keinginannya untuk menunaikan kewajibannya, yang membawanya berhadap-hadapan dengan orang-orang atasannya, tapi pada hakekatnya dengan susunan kekuasaan sebagaimana yang nampak dalam prakteknya. Dalam bab V susunan kekuasaan itu dijelaskan panjang lebar, tapi supaya orang mengerti lebih baik peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah itu, perlu rasanya menggambar-kan intipatinya di sini.
Apa yang disebut Hindia Belanda dahulu terbagi dalam berbagai residensi, dikepalai masing-masing oleh seorang residen.
Tiap residensi terdiri pula dari berbagai asisten residensi, dengan asisten residen sebagai penguasa tertinggi. Karakteristik bagi pemerintahan Belanda ialah, bahwa penduduk tidak langsung diperintah oleh orang Belanda, tapi dengan melalui kepala-kepalanya sendiri. di pulau Jawa kepala itu pertama-tama adalah regen atau bupati. Wilayah kekuasaannya bertepatan dengan wilayah asisten residen. Jadi tiap daerah asisten residen mempunyai dua bentuk pemerintahan: pemerintahan Eropa dan pemerintahan bumiputera. Resminya bupati demikian adalah seorang pegawai negeri dengan wewenang yang terbatas, tapi dalam prakteknya ia adalah seorang yang amat penting, karena ia berasal dari lingkungan bangsawan yang paling tinggi dan karena itu mempunyai prestise yang besar pada penduduk. Politik pemerintah Belanda senantiasa ialah memastikan adanya kesetiaan korps bupati, suatu syarat yang mutlak untuk memerintah rakyat Indonesia yang jumlahnja jutaan dengan korps pegawai yang rada terbatas. Karena itulah seorang bupati selalu diperlakukan dengan segala kehormatan dan harus ada kerjasama surat-eratnya antara asisten residen dan bupati.
Dekker mulai bertugas dalam jabatannya yang baru. Tanggal 22 Januari, sehari sesudah sumpah jabatannya, ia berpidato di hadapan kepala-kepala negeri Lebak. Dalam bentuknya yang distilir kita dapati kembali pidato itu dalam bab VIII. Ia segera mulai mempelajari arsip dan catatan-catatan yang ditinggalkan oleh almarhum asisten residen yang digantikannya, Carolus. Berkat penyelidikan arsip yang sangat luas oleh pengarang dan eseis Du Perron, sejak 1940 kita mengetahui dengan teliti apa yang ditemukan oleh Dekker: laporan-laporan perangai yang kurang baik dari bupati tua, Raden Adipati Karta Natanegara, dan tentang kepala-kepala bumiputera rendahan, terutama demang Wira Kusuma, menantu bupati. Ia membaca tentang penyalahgunaan-penyalahgunaan yang keterlaluan terhadap penduduk Lebak: kesewenang-wenangan mengenai pekerjaan rodi, pencurian kerbau-kerbau, penindasan dan ancaman, dengan akibat banyak penduduk Lebak melarikan diri. Ia menemukan juga bahwa asisten residen yang digantikannya mencoba membanteras penyalahgunaan-penyalahgunaan itu, Sia-sia. Pertama disebabkan karena mereka yang telah memasukkan pengaduan, menarik kembali pengaduan itu karena takut kepada kepala-kepalanya, kedua, karena sepnya, Brest van Kempen (residen Bantam), sudah pasti tidak mau membuat malu sang bupati, hal mana akan sangat tidak menyenangkan bagi Pemerintah Belanda!
Dalam menjalankan tugasnya Dekker dengan segera dihadapkan dengan keadaan buruk yang sama. Pengaduan-pengaduan terus juga masuk, peringatan-peringatan Dekker yang hati-hati kealamat bupati, sia-sia belaka.
Peristiwa-peristiwa sesudah itu cepat ganti berganti: berhubung dengan maksud keponakannya, seorang bupati dari Pringan, untuk mengunjunginya, Karta Natanebara mengerahkan sejumlah besar orang-orang untuk membersihkan rumput dari pekarangannya, jumlah mana melewati jumlah yang diizinkan. Dekker memerintahkan kepada Adipati untuk mengembalikan mereka ke desanya masing-masing. Akibatnya: ketegangan antara Dekker dan bupati. Tidak lama kemudian Dekker mendengar bahwa Carolus kabarnya mati diracuni oleh demang Wira Kusuma. Kemudian kabar itu ternyata tidak benar, tapi baginya Bagaimanapun juga kabar itu beralasan. Untuk berunding dengan sepnya, Brest van Kempen, ia merasa tidak ada gunany—dan memanglah demikian halnya—maka ia pun memutuskan untuk memasukkan pengaduan resmi: tanggal 24 Pebruari ia menulis surat resmi kepada Brest van Kempen, mengadukan sang bupati dan beberapa orang keluarganya, dan mendesak dengan sangat untuk memanggil bupati itu ke Serang dan menangkap yang lain-lainnya supaya dapat dilakukan pemeriksaan secara murni dan mendalam.
Residen terkejut, ia segera datang ke Rangkas Betung dan meminta supaya Dekker menarik kembali pengaduannya. Dekker menolak, menolak pula memperkuat pengaduannya dengan bukti-bukti, sebelum syarat yang dikemukakannya dipenuhi, yakni mengeluarkan bupati dan beberapa orang keluargannya dari yabatannya. Residen kini merasa terpaksa menyampaikan pengaduan itu kepada Gubernemen, hal mana memang diharapkan oleh Dekker, sebab ia mengira bahwa Gubernur Jenderal akan mendukungnya. Itulah pula sebabnya maka ia tanggal 29 Februari langsung, menjadi dengan tidak melalui sepinya, berkirim surat kepada Gubernur Jenderal.
Dan apa yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal? Ia bertindak semata-mata atas pertimbangan politik dan jabatan: pengaduan terhadap bupati dianggapnya keterlaluan, dan baginya tidak kurang kesalahan Dekker telah melanggar hierarkhi jabatan. Dan jawaban Gubernur Jenderal sejalan pula dengan itu: Dekker akan dipindahkan, antara lain dengan cealan bahwa 'tindakannya sedikit menimbulkan kesan bahwa ia tidak cakap memangku jabatan dalam Pangreh Pradia'. Kecewa dan dengan perasaan marah Dekker minta berhenti dari yabatannya, hal mana diluluskan tanggal 4 April, dan ia pun berangkat ke Betawi. Tiga kali berturut-turut ia mohon menghadap Gubernur Jenderal, tapi ditolak. Inilah pukulan yang paling besar bagi Dekker, sebab dengan demikian ia tidak mendapat kesempatan terakhir untuk memberikan pertanggungan-jawab.
Dalam pada itu pengaduan tidak dapat disisihkan begitu saya: sebab dimasukkan dengan surat resmi. Sesudah keberangkatan Dekker dilakukan penyelidikan, yang membenarkan tuduhan yang dilancarkannya. Karta Natanegara mendapat peringatan (selanyutnya beberapa tahun kemudian ia dipecat karena kesalahan lain), beberapa orang kepala negeri, antaranya Wirakusuma, dipecat.
Jadi, serangan Dekker terhadap suatu sistim yang sangat korup memang beralasan sekali. Meskipun demikian ia secara pribadi menjadi korban perbuatannya itu. Orang mengatakan—dan secara formil memang sebenarnya demikian—bahwa ia tidak ckup mempunyai pengertian tentang kedudukan bupati yang sukar dan tentang hubungan hukum adat di pulau Jawa; pun orang menyalahkannya telah melanggar hierarkhi jabatan, karena ia sebenarnya telah melewati sepnya yang langsung, Brest van Kempen. Tapi sebaliknya Dekker hendak memberikan bentuk kepada sumpah jabatannya dan cita-citanya. Pemakaian hak dengan sewenang-wenang sudah bukan main keterlaluan. Perlu ada campur tangan. Karena itu Dekker harus meninggalkan saluran-saluran resmi dan ia melakukan apa yang ia harus lakukan sebagai manusia. Drama Lebak merupakan akhir kariernya sebagai pejabat dan permulaan kariernya sebagai pengarang.
Bulan April 1857 Dekker berangkat ke Eropa, anak isterinya ditinggalkannya pada keluarga. Ia hidup sebagai pengembara bohemien. Uangnya habis. Tahun 1858 ia tiba di Brussel, di mana ia tinggal di hotel kecil, menyewa kamar loteng. Ia berusaha keras untuk direhabilitasi dan diangkat kembali dalam jabatan Gubernemen. Sia-sia. Tahun 1859 anak isterinya kembali di negeri Belanda, dan tinggal pula menumpang pada keluarga, antara lain karena keadaan keuangannya yang buruk sekali. Maka ia pun memutuskan menyampaikan kejadian di Lebak kepada rakyat Belanda. Di kamar lotengnya, hidup dalam segala kemiskinan, ia menulis dalam bulan September sampai Desember 1859 bukunya Max Havelaar, dengan memakai nama samaran Multatuli (== aku telah banyak menderita), nama samaran yang dipakainya juga dalam karya-karyanya kemudian. Maksud utama Max Havelaar ada dua: haruslah diakhiri pemerasan terhadap orang Jawa dan kehormatannya, kehormatan Max Havelaar (yakni Douwes Dekker) harus dipulihkan.
Max Havelaar tidak segera membawa hasil yang diharapkan oleh Multatuli dan yang juga ia percaya akan terjadi. Salah satu sebabnya ialah karena ia tidak mempunyai uang dan karena itu menyerahkan penerbitan buku itu kepada pengarang Van Lennep yang mengakui buku itu sebagai mahakarya, tapi Van Lennep mengganti semua angka tahun dan nama tempat yang penting dengan titik-titik, untuk dengan jalan demikian menghilangkan daya bukti buku itu. Seorang konservatif tulen seperti Van Lennep menganggap serangan sengit seperti itu terhadap politik kolonial Belanda, tidak pantas! Cetakan ke-4 barulah Multatuli sendiri yang menyelenggarakannya. Dan baru tahun 1949 naskah aslinya diterbitkan dan terjemahan dalam bahasa Indonesia ini berdasarkan versi yang otentik itu.
Rehabilitasi yang sangat diharapkannya itu, tidak terjadi dan Dekker harus mencoba mencari nafkah sebagai pengarang. Ia hidup sebagai petualang yang tidak berketentuan, sering mengembara, selalu dalam kemiskinan. Ia menjadi orang asing bagi keluarganya: Tine, mendapat bantuan keuangan dari kawan-kawan, berangkat ke Itali di mana ia meninggal tahun 1874. Multatuli sendiri kawin lagi dan kemudian hidup lebih tenang. Tahun-tahun yang terakhir dari hidupnya ia tinggal di Nieder-Ingelheim (Jerman) di mana pengagum-pengagumnya membeli-kannya sebuah rumah. Tanggal 19 Pebruari 1887 ia meninggal di sana.
Ketika ia meninggal, Multatuli sudah menjadi seorang pengarang yang masyhur. Banyak sekali buku-buku yang ditulisnya, banyak di antaranya yang sedikitnya menyamai Max Havelaar. Bukan tempatnya di sini untuk membicarakannya lebih menda-lam. Cukuplah kiranya karakteristik umum ini: Multatuli sadar akan kejenialannja. Tidak kurang sadar ia akan panggilan jowanja untuk menolong sesamanya manusia yang mendapat perlakuan tidak adil. Ketidakadilan itu bukan hanya ada di Hindia Belanda tapi juga di Eropa, di negeri Belanda. Ia tiba pada keyakinan bahwa tiap kekuasaan, apakah kekuasaan agama, adat istiadat Ataupun politik, sering kali berdasarkan kepentingan diri, bela diri dan kemunafikan. Multatuli membela proletariat industri yang diperas, ia melihat kebohongan segala dogmatik keagamaan, ia mengingatkan raja akan kewajibannya terhadap rakyat, ia membela kaum wanita dalam memperduyangkan emansipasi, ia menyerang segala kemunafikan yang bertopengkan 'sopan santun' yang aduhai alangkah sucinya. Bagi Multatuli yang penting ialah martabat manusia. Pekerjaan merombak yang dilakukannya, terarah kepada satu tujuan utama: 'Panggilan manusia ialah mewujud sebagai manusia'.
Kembali kita kepada Max Havelaar. Max Havelaar (sering disebut Havelaar) ialah tokoh utama buku. Anak judulnya berbunyi: 'atau lelang kopi Persekutuan Dagang Belanda'. Anak judul ini sarat memuat kritik: di bawah sistim Tanam Paksa yang waktu itu masih berlaku, penduduk harus menyerahkan seperlima tanahnya kepada Gubernemen. Di kebun-kebun itu (disebut cultures) harus ditanam hasil bumi, yang penting bagi pasaran Eropa: yakni terutama kopi, selain itu teh dan gula. Untuk pekerjaan yang dilakukan oleh penduduk di kebun-kebun itu, harus dibayar apa yang disebut upah tanam, tapi wang itu biasanya tidak sampai ke tangan mereka. Berhadapan dengan 'alat perkakas penanam kopi yang disebut inlander itu', berhadapan dengan korban-korban sistim tanam kopi secara paksa itu, berada kepentingan Belanda, antara lain terwuyud dalam Persekutuan Dagang Belanda, didirikan tahun 1824. Maskapai itu mengangkut hasil bumi kepunyaan Gubernemen (yadi juga kopi) ke negeri Belanda dan melelangnya di sana. Untuk itu ia boleh memperhitungkan ongkos angkut yang royal dan ongkos pelelangan yang tinggi. Penghasilan mendatangkan keuntungan bagi ekonomi Belanda.
Max Havelaar melukiskan pengalaman-pengalaman Douwes Dekker di Lebak. Pemeriksaan-pemeriksaan membuktikan, bahwa fakta-fakta pada umumnya digambarkan sangat teliti. Karena itu Max Havelaar banyak mengandung unsur biografis. Buku itu dapat disebut sebuah pamflet politik dalam bentuk sebuah roman. Justru bentuk roman inilah yang memberikan kemungkinan-kemungkinan kepada bakat seniman Multatuli yang dimanfaatkannya dengan sangat lihai.
Buku itu seolah-olah ditulis oleh tiga orang: oleh makelar kopi Amsterdam Batavus Droogstoppel, pemuda Jerman Stern dan Multatuli sendiri. Batavus Droogstoppel (wakil kepentingan Belanda) yang sangat materialistis dan munafik, kebetulan bertemu dengan Max Havelaar, si idealis yang terkandas dalam masyarakat. Droogstoppel hendak menulis buku tentang kopi, ia mendapatkan 'bungkusan Syaalman' (yang berisi antara lain dokumen-dokumen mengenai 'perkara Lebak') dan memutuskan untuk mempergunakan keterangan-keterangan mengenai kopi yang ter-dapat di dalamnya. Dalam menulis buku itu ia mempergunakan bantuan asistennya, pemuda Jerman Stern yang romantis. Stern inilah yang menceritakan kejadian-kejadian di Hindia Belanda. Droogstoppel menyela di sana-sini dengan menuliskan sebuah bab untuk memberi buku itu wajah yang 'solide', wa-jah yang padat, tapi juga untuk memberikan komentar atas apa yang ditulis oleh Stern, yang sama sekali tidak memuaskan baginya. Akhirnya Multatuli pada penutup buku mengambil alih peranan mereka sebagai penulis untuk menuliskan sendiri kli-maks cerita.
Komposisi yang digambarkan dengan singkat ini dipergunakan oleh Multatuli untuk menampilkan pandangan orang terhadap Douwes Dekker: Stern melihatnya sebagai idealis Max Have-laar, Droogstoppel menganggapnya sebagai Syaalman yang gagal, yang tidak mempunyai wang untuk membeli jas dan karena itu hanya memakai syal ke sana ke mari, dan Multatuli melihat dirinya sendiri sebagai orang yang banyak menderita.
Kebanyakan tokoh-tokoh lain dalam buku itu adalah historis, Meskipun orang-orang Belanda—kecuali Tine—mendapat nama-nama lain: Slotering yang digantikan oleh Havelaar sebe-narnya bernama Carolus, residen Sliymering ialah Brest van Kempen, kontelir Verbrugge adalah salinan Van Langeveld van Hemert. Si militer Duclari namanya Collard dan Vandamme ialah jenderal Mikhiels yang ditakuti.
Beberapa nama yang dipergunakan sangat karakteristik bagi orang-orang yang dilukiskan: Batavus Droogstoppel (Batavus Si Kersang Hati), Syaalman (Orang pakai Syal), Sliymering (Si Lidah bergetah), Wawelaar (Tukang Ngoceh). Mengenai pen-jelasan nama-nama itu lihatlah catatan pada nama-nama bersangkutan. Tokoh-tokoh bumiputera tetap memakai namanya sendiri, kecuali tokoh-tokoh dalam cerita Saijah dan Adinda.
Buku Max Havelaar yang terbit tahun 1860 boleh dibilang tampilnya Multatuli yang pertama kali. Dalam proses perkembangannya sebagai pengarang sebelum itu, penting sekali surat-suratnya (terutama yang dikirimnya kepada Tine dalam masa pertunangan mereka). Dalamnya ia dengan sadar melatih diri dalam 'menulis bahasa Belanda yang hidup', dengan maksud 'untuk berbicara dengan rakya', demikian tulisnya. Multatuli adalah pengarang Belanda yang pertama yang berhasil melepas-kan diri dari berbagai tradisi dan konvensi kesusastraan. Caranya menulis merupakan pantulan dari pribadinya yang romantis: lincah, spontan dan jujur. Dengan demikian dapatlah ia menulis kepada seorang teman: 'Gayaku, itulah aku'.
Kejadian di Lebak sudah jauh di belakang kita, tapi pertemuan dengan Havelaar tetap aktuil: manusia Havelaar yang tidak terikat secara historis, individu yang berjuang melawan kepentingan diri kolektivitas. Terutama motif-motif manusiaawi, itulah titik tolak Multatuli, yang menjadi buku itu mengandung tenaga yang begitu hebat.
Drs. G. Termorshuizen
Kepada E. H. v. W.
“J'ai souvent entendu plaindre les femmes de poète, et, sans doute, pour tenir dignement dans la vie ce difficile emploi, aucune qualité n'est de trop. Le plus rare ensemble de mérites n'est que le strict nécessaire, et ne suffit même pas toujours au commun bonheur. Voir sans cesse la muse en tiers dans vos plus familiers entretiens,—recueillir dans ses bras et soigner ce poète qui est votre mari, quand il vous revient meurtri par les déceptions de sa tâche;—ou bien le voir s'envoler à la poursuite de sa chimère, ...... voilà l'ordinaire de l'existence pour une femme de poète. Oui, mais aussi il y a le chapître des compensations, l'heure des lauriers qu'il a gagnés à la sueur de son génie, et qu'il dépose pieusement aux pieds de la femme légitimement aimée ; aux genoux de l'Antigone qui sert de guide en ce monde à cet ”aveugle errant”, —
Car, ne vous-y-trompez-pas : presque tous les petits-fils d'Homère sont plus ou moins aveugles à leur façon;—ils voient ce que nous ne voyons pas ; leurs regards pénètrent plus haut et plus au fond que les nôtres ; mais ils ne savent pas voir droit devant eux leur petit bonhomme de chemin, et ils seraient capables de trébucher et de se casser le nez sur le moindre caillou, s'il leur fallait cheminer sans soutien, dans ces vallées le prose où demeure la vie”.
(Henry de Pène)
POLISI: Tuan hakim, itulah orang yang membunuh Barberce.
HAKIM: Ia harus digantung. Bagaimana ia melakukan itu?
POLISI: Dicincang-cincangnya lalu digaraminya.
HAKIM: Itu kesalahan besar ... ia harus digantung.
LOTHARIO: Tuan hakim, saya tidak membunuh Barberce; saya memberinya makan, pakaian dan saya urus dia baik-baik ... saya punya saksi-saksi yang bisa menerangkan, bahwa saya orang baik dan bukan pembunuh ...
HAKIM: Kau harus digantung ... dosamu tambah besar karena kesombonganmu. Tidak pantas orang yang dituduh bersalah, menganggap dirinya seorang yang baik.
LOTHARIO: Tapi tuan hakim ..., ada saksi-saksi yang bisa membuktikan itu; dan karena saya dituduh membunuh ...
HAKIM: Kau harus digantung. Kau telah mencincang-cincang Barberce, menggaraminya dan kau puas dengan dirimu sendiri ... Tiga kesalahan besar. Siapa kau, hai, perempuan?
PEREMPUAN: Saya Barberce ...
LOTHARIO: Syukur alhamdulillah ... tuan hakim, tuan lihat, saya tidak membunuhnya! ...
HAKIM: Hm ..., ya ..., begitu ..., tapi bagaimana tentang penggaraman? ...
BARBERCE: Tidak, tuan hakim, dia tidak menggarami saya;—sebaliknya, dia banyak berjasa kepada saya ... dia seorang manusia yang mulia!
LOTHARIO: Tuan dengar, tuan hakim, katanya saya seorang yang baik ...
HAKIM: Hm ……, jadi, kesalahan ketiga masih tetap ada. Polisi, bawa orang itu; dia harus digantung. Dia bersalah karena congkak. Panitera, kutip dalam dalil-dalil yurisprudensi sesepuh dalam karya Lessing …… *)
(Sandiwara yang tidak diumumkan)
*) Yang dimaksud ialah sesepuh (patriarkh) dalam drama Lessing, Nathan der Weise, yang menolak semua kesaksian yang meringankan dan menjatuhkan hukuman bakar sampai mati kepada seorang Yahudi.
Bab I
Saya adalah makelar kopi, tinggal di Lauriergrakht¹ No. 37. Bukanlah kebiasaan saya menulis roman atau semacam itu, dan karena itu lama juga saya berpikir sebelum saya putuskan untuk membeli beberapa rim kertas ekstra, dan memulai karya yang barusan anda pegang, pembaca yang budiman, karya yang harus anda baca, kalau anda makelar kopi, atau mempunyai pekerjaan lain. Bukan saja saya belum pernah menulis sesuatu yang serupa dengan roman, tapi malahan saya tidak suka membati yang semacam itu, karena saya adalah seorang pedagang. Sudah bertahun-tahun saya bertenya apa gunanya semua itu, dan saya heran melihat betapa kurangajarnja seorang penyair atau pencerita roman mengibuli anda dengan cerita yang tidak pernah terjadi, dan sering kali tidak mungkin bisa terjadi. Jika saya dalam vak saya—saya adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergrakht No. 37—memberikan keterangan kepada seorang prinsipal—seorang prinsipal ialah orang yang menjual kopi—dalam keterangan mana kedapatan sebagian kecil saja dari kebohongan-kebohongan yang anda temukan dalam sajak-sajak dan roman-roman, sudah pasti ia segera pindah kepada Busselinck & Waterman. Yang tersebut kemudian ini pun adalah makelar kopi, tapi alamatnya tak usah anda tahu. Karena itu saya tidak akan menulis roman, atau memberikan keterangan palsu lainnya.
Saya selalu melihat, bahwa orang-orang yang melakukan pekerjaan itu, biasanya buruk akhirnya. Umur saya empat puluh tiga tahun; selama dua puluh tahun saya mengunjungi bursa, dan bolehlah saya tampil ke depan, kalau ada orang yang meminta tenaga berpengalaman. Sudah banyak saya melihat firma dagang yang runtuh! Dan sering kali, bila saya selidiki sebab-sebabnya, maka saya mendapat kesan bahwa sebabnya ialah karena kebanyakannya diberi arah yang salah semenjak kecil.
Saya berkata: kebenaran dan pikiran sehat; saya tetap berpegang padanya. Tentu saja saya kecualikan Alkitab. Kesalahan sudah mulai pada Van Alphen², yakni segera pada baris pertama mengenai “anak-anak yang manis”. Setan alas mana yang menggerakkan orang tua itu untuk bertindak sebagai pemuja adik saya Truice, yang matanya sakit, atau saudara saya Gerrit, yang selalu bermain dengan hidungnya?—namun demikian, katanya: “ia menyanyikan sajak-sajak itu, karena didorong oleh cinta”. Sebagai anak kecil sering saya berpikir: “bung, saya ingin bertemu anda, dan apabila anda tidak mau memberikan gundu marmar, yang akan saya minta, atau nama saya lengkap berupa kuwe,—nama saya Batavus³—maka saya anggap anda seorang pendusta. Tapi saya belum pernah melihat Van Alphen; saya kira dia sudah mati, tatkala ia menyeritakan kepada kami, bahwa ayah saya adalah teman saya yang paling baik,—saya lebih suka kepada Pauwelce Winser, yang tinggal di sebelah kami di Batavierstraat—dan bahwa anjing saya yang kecil sangat berterima kasih—kami tidak memelihara anjing, karena kotor.
Semuanya dusta. Dan demikianlah anak-anak terus dididik. Si adik kecil datangnya dari pedagang sayur dalam sebuah kubis yang besar. Semua orang Belanda berani dan berhati mulia. Orang Rumawi bersukacita, bahwa kaum Batavir tidak mencabut nyawa mereka. Bey di negeri Tunis mulas ususnya, kalau ia mendengar bendera Belanda berkibar-kibar. Hertog Alva⁴ adalah bangsat. Air surut saya kira tahun 1672⁵, agak lama dari biasa, semata-mata untuk menyelamatkan negeri Belanda. Bohong. Negeri Belanda tetap negeri Belanda, karena orang tua kita menjaga harta bendanya dengan baik, dan karena mereka mempunyai keyakinan yang benar, itulah soalnya.
Lalu kemudian datang lagi kebohongan-kebohongan lain. Seorang gadis adalah bidadari. Siapa yang menemukan pendapat itu pertama kali, tidak pernah punya kakak perempuan. Cinta adalah suatu kebahagiaan, orang lari dengan sesuatu ke ujung dunia. Bumi tidak punya ujung, dan cinta pun suatu kegilaan. Tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa saya tidak hidup dengan baik dengan istri saya,—dia adalah putri Last & Co, makelar kopi,—tidak ada orang yang dapat menyalahkan sesuatu dalam perkawinan kami; saya adalah anggota Artis⁶, dan dia mempunyai sebuah syal panjang harga sembilan puluh dua gulden, dan antara kami tidak pernah ada cinta gila yang mau hidup di ujung dunia. Sesudah kami kawin, kami jalan-jalan ke Den Haag—di sana dia membeli flanel,—yang dibuat baju kaos dan sampai sekarang masih saya pakai,—dan selanjutnya cinta itu tidak pernah memburu kami ke dunia luas. Jadi, semuanya itu hanya kegila-gilaan dan dusta.
Dan apakah sekarang perkawinan saya kurang berbahagia dari perkawinan orang-orang yang karena cinta sampai sakit batuk kering, atau mencabut rambut dari kepalanya? Atau apakah anda pikir, bahwa rumahtangga saya akan kurang baik diatur-nya dari yang berlaku, jika saya tujuz belas tahun yang lalu mengatakan kepada pacar saya dengan sajak, bahwa saya ingin mengawininya? Gile. Saya pun bisa membuat sajak seperti orang lain, sebab pekerjaan itu mudah, pasti tidak sesukar membuat barang gading. Jika tidak, bagaimanakah olivela dengan semboyan-semboyan?⁷ bisa begitu murah? (Frits selalu menyebut “Uhlefeljes”, saya tidak tahu mengapa), dan cobalah tanyakan harga satu stel bola bilyar!
Saya tidak punya keberatan apa-apa terhadap sajak-sajak. Kalau orang hendak menjajarkan kata-kata, baiklah, tapi jangan katakan sesuatu yang tidak benar. “Udara hitam pekat, dan sudah jam empat”. Saya tidak keberatan, kalau udara memang pekat, dan waktu jam empat. Tapi kalau jam menunjuk jam tiga kurang lima belas, maka saya, yang tidak menjejerkana kata-kata dalam barisan, dapat mengatakan: “udara hitam pekat dan waktu jam tiga kurang lima belas”. Tapi sipenyair karena ada hitam pekat di baris pertama, terikat kepada jam empat; sekiranya waktu jam lima, dua, satu, maka udara tidak boleh hitam pekat. Maka mulailah ia bertukang; atau udara harus diubah, atau waktu harus diganti. Salah satu adalah dusta.
Dan bukan hanya sajak-sajak yang menggoda anak-anak muda untuk membohong; cobalah masuk Gedung Komedi, dan dengarkan segala macam dusta yang dijual kepada publik. Pahlawan dalam cerita diangkat dari air oleh seseorang yang hampir bangkrut. Lalu ia memberikan separoh kekayaannya; itu tidak mungkin benar. Tatkala baru-baru ini di Prinsengrakht topi saya jatuh ke dalam air, (Frits mengatakan: terjatuh) orang yang mengembalikan topi itu, saya beri sepicis, dan ia merasa senang. Saya tahu bahwa saya harus memberikan lebih banyak, jika saya yang diangkatnya dari dalam air, tapi pastilah tidak separoh kekayaan saya,—sebab jelas, dengan cara itu orang hanya dua kali bisa jatuh ke dalam air, lalu menjadi miskin semiskin-miskinnya. Celakanya ialah, bahwa pada pertunjukan di atas pentas demikian itu, publik sudah begitu terbiasa kepada segala kebohongan itu, sehingga menganggapnya bagus dan memujinya. Kadang-kadang saya ingin melemparkan seluruh penonton dalam parterre itu ke dalam air, untuk melihat siapa yang sungguh-sungguh memuji pertunjukan itu. Saya, yang cinta kebenaran, memberitahu kepada setiap orang, bahwa saya tidak mau membayar upah begitu tinggi untuk mengangkat tubuh saya dari air. Kalau orang tidak senang, biarkan saya di dalam air. Hanya hari Minggu saya bersedia memberi persen lebih banyak, karena pada hari itu saya memakai rantai kantilia⁸ dan roki lain.
Ya, banyak yang rusak gara-gara sandiwara itu; lebih banyak dari orang yang rusak karena roman. Sebab nampak dengan mata. Dengan emas keroncang dan rendah dari kertas yang putih bersih, semua itu nampaknya sangat menarik. Maksud saya, untuk anak-anak dan orang yang tidak berdagang. Bahkan apabila hendak mempertunjukkan kemiskinan, pertunjukan itu selalu dusta. Seorang gadis yang ayahnya jatuh bangkrut, bekerja untuk menolong keluarga; baiklah. Nampaklah ia menjahit, merajut atau menyulam. Tapi cobalah hitung beberapa kali ia menusuk, selama seluruh babak. Ia berbicara, mengeluh, berjalan ke jendela, tapi tidak bekerja. Keluarga yang bisa hidup dengan pekerjaannya itu, tidak banyak keperluannya. Gadis semacam itu tentu saja merupakan wanita perkasa. Beberapa orang penggoda dilemparkannya dari atas tangga ke bawah, selalu ia berseru: “O, ibuku! o, ibuku!”, yadi dia melambangkan kebaikan. Kebaikan apakah itu, yang memerlukan setahun untuk menyelesaikan sepasang kaus wol? Bukankah itu memberikan gambaran yang palsu tentang kebaikan dan “bekerja mencari nafkah”? Semuanya itu kegila-gilaan dan dusta.
Maka datanglah kekasihnyya yang pertama, yang dulu bekerja sebagai klerk penyalin surat-surat,—tapi sekarang kaya raya,—tiba-tiba kembali dan mengawininya. Bohong lagi. Siapa yang punya uang, tidak mengawini seorang gadis dari keluarga yang pailit. Dan jika anda mengira, bahwa itu mungkin saja di atas tonil, sebagai kecualian, saya tetap berpendapat bahwa orang merusak ukuran kebenaran pada rakyat, yang menerima kekecualian sebagai kelaziman, dan rasa kesusilaan rakyat dirusak dengan membiasakannya memuji sesuatu di atas tonil, yang oleh setiap makelar atau pedagang yang baik, dianggap sebagai kegilaan yang menggelikan di tengah masyarakat. Ketika saya kawin, kami berada di kantor mertua saya—Last & Co,—kami tiga belas orang, dan banyak yang terjadi!
Dan banyak lagi kebohongan-kebohongan di atas tonil. Apabila sang pahlawan berangkat dengan langkah sandiwaranya yang kaku untuk membela tanah air, mengapa pintu belakang kembar selalu terbuka dengan sendirinya?
Dan selanjutnya, ... bagaimana tahu seorang yang bicara dalam sajak, apa jawab lawannya bicara, untuk memudahkanya membuat rima? Jika panglima besar berkata kepada tuan putri: “Terlambat nyonya, sudah tertutup pintu gerbang” bagaimana dia tahu lebih dulu bahwa tuan putri akan berkata: “Jangan takut, marilah, cabut pedang”? Sebab, kalau tuan putri, setelah mendengar bahwa gerbang tertutup, menjawab bahwa ia akan menunggu sampai terbuka, atau kembali lain kali, di manakah rima dan irama? Maka, bukankah bohong semata-mata, jika panglima memandang tuan putri sambil menunggu jawaban apa yang akan dilakukannya sesudah gerbang tertutup? Sekali lagi: sekiranya ia ingin tidur dan bukan hendak mencabut pedang? Bohong semua!
Lalu, kebaikan yang mendapat ganjaran! O, o,—saya sudah tujuh belas tahun jadi makelar kopi—Lauriergrakht No. 37,—jadi saya sudah menghadiri yang demikian itu,—tapi saya selalu kesal kalau melihat kebenaran yang begitu baik diputar balik. Kebaikan yang mendapat ganjaran ... bukankah itu berarti bahwa kebaikan dijadikan barang dagangan? Tidak demikian halnya di dunia ini,—dan untunglah tidak demikian halnya, sebab di manakah jasa, jika kebaikan mendapat ganjaran? Jadi, mengapa selalu berpura-pura dengan kebohongan-kebohongan yang hina itu?
Misalnya si Lucas, kuli gudang, yang sudah bekerja pada ayah Last & Co,—nama firma waktu itu Last & Meiyer, tapi keluarga Meiyer sudah keluar,—dia adalah seorang yang baik. Tidak pernah ada sebiji kacang yang hilang, dia tepat pada waktunya pergi ke gereja, dan tidak pernah dia minum; kalau ayah mertua saya di Driebergen, ia mengurus rumah, kas, dan segalanya. Sekali ia menerima tujuh belas gulden kebanyakan dari bank, dan uang itu dikembalikannya. Sekarang ia sudah tua, sendi-sendii tulangnya pada sakit dan ia tidak bisa bekerja lagi. Sekarang ia tidak punya apa-apa, sebab banyak sekali yang dikerjakan pada kami, dan kami perlu orang muda. Nah, saya beranggapan bahwa Lucas itu orang yang baik sekali, tapi apakah sekarang ia mendapat ganjaran? Apakah datang seorang pangeran memberinya intan, atau seorang peri yang melumur rotinya dengan mentega? Sama sekali tidak, ia miskin dan tetap miskin,—dan seharusnya demikian. Saya tidak bisa menolongnya,—sebab kami memerlukan orang muda, karena di tempat kami sibuk sekali,—tapi Meskipun saya bisa, di mana jasanya kalau ia pada hari tuanya dapat hidup enak? Tentu semua kuli gudang akan menjadi orang baik, dan setiap orang, hal mana bukan demikian maksud Tuhan, sebab jika demi-kian, tidak ada lagi sisa ganjaran istimewa bagi orang-orang yang baik di akhirat. Tapi di atas tonil semua itu diputar balik; …… semua bohong.
Saya pun orang baik, tapi apakah saya minta hadiah untuk itu? Kalau perdagangan saya baik jalannya,—dan memang baik jalannya—jika istri dan anak-anak saya sehat, sehingga saya tidak banyak cengcong dengan dokter dan apoteker;—dan jika saya tahun demi tahun dapat menyimpan sejumlaah kecil untuk hari tua;—jika Frits sekolah dan menjadi pintar untuk menggantikan saya, kalau saya pergi ke Driebergen⁹,—maka saya merasa senang. Tapi itu semua adalah akibat yang wajar dari keadaan, dan karena saya hati-hati dalam perdagangan;—untuk kebajikan saya, saya tidak minta apa-apa.
Dan bahwa saya sungguh-sungguh orang yang baik, ternyata dari kecintaan saya kepada kebenaran;—artinya, sesudah kecintaan saya kepada agama, itulah kecenderungan saya yang utama; dan saya ingin supaya anda percaya akan hal ini, pembaca, sebab itulah dalih saya menulis buku ini ...
Suatu kecenderungan lain, yang saya anggap sama tinggi dengan kecintaan kepada kebenaran, ialah kegairahan saya terhadap vak saya ... saya adalah makelar kopi, Lauriergrakht No. 37. Nah, pembaca, karena cinta saya yang jujur kepada kebenaran, dan kerajinan saya mengurus pekerjaan, maka terlahir tulisan yang anda baca ini. Akan saya ceritakan bagaimana asal mulanya. Karena sekarang saya harus berpisah dengan anda,—saya harus ke bursa,—maka saya undang anda nanti bertemu dalam bab kedua ... Sampai ketemu.
Ayolah, simpan saja, ... tidak menyusahkan, ... mungkin diperlukan, ... nah, ambillah, ... kartu nama, ... Co itu adalah saya, sejak keluarga Meiyer keluar, ... Last senior adalah ayah mertua saya:
LAST & Co
MAKELAR KOPI
LAURIERGRACHT No. 37
¹ Nama sebuah jalan di Amsterdam (di kiri kanan sebuah parit), di mana hanya tinggal warga yang kaya.
² Seorang pengarang Belanda terkenal di abad 18 yang membuat sajak-sajak untuk anak-anak.
³ Berasal dari Batavir, nenek moyang orang Belanda.
⁴ Seorang panglima besar Spanyol abad 16 yang ditakuti dan dibenci; ia mendapat perintah memadamkan pemberontakan yang timbul di negeri Belanda.
⁵ Tahun 1672 negeri Belanda diserang oleh Perancis dan Inggris, tapi serangan itu dipatahkan.
⁶ Sebuah perkumpulan.
⁷ Gula-gula yang dibungkus dengan kertas yang ditulisi sajak-sajak.
⁸ Rantai dari benang mas yang dipilin.
⁹ Dusun yang bagus letaknya, di mana tinggal rentenir-rentenir yang kaya.
Bab II
Bursa lesu saja; lelang musim semi akan lebih baik. Jangan kira tidak ada kesibukan di tempat kami ……… pada Busselinck & Waterman lebih lesu lagi. Dunia yang aneh, kita menghadiri hal-hal yang semacam itu, kalau mengunjungi bursa sudah dua puluh tahun lamanya. Coba bayangkan, mereka di sana,—maksud saya Busselinck & Waterman,—mencoba merebut langganan saya Ludwig Stern. Saya tidak tahu, apakah anda kenal keadaan di bursa, tapi saya hendak mengatakan, bahwa Stern adalah rumah dagang kopi yang utama di Hamburg, yang selalu dilayani oleh Last & Co. Kebetulan saja saya tahu itu …… maksud saya permainan Busselinck & Waterman itu. Mereka itu akan mengurangi seperapat persen dari upah makelar,—mereka itu penggunting dalam lipatan, tidak lain,—dan lihatlah apa yang saya lakukan untuk menangkis pukulan itu. Orang lain mungkin akan menulis surat kepada Ludwig Stern, bahwa ia juga akan mengurangi upah makelar, bahwa ia minta dipertimbangkan jasa-jasa Last & Co yang sudah punya hubungan lama (menurut perhitungan saya firma Last & Co selama lima puluh tahun telah mendapat untung empat ton dari Stern; hubungan itu sudah berasal dari jaman sistim kontinental¹, waktu kami menyelundupkan barang-barang dari negeri jajahan melalui Helgoland); dan seterusnya. Tidak, saya tidak menggunting dalam lipatan. Saya pergi ke “Polen”², minta kertas dan pena, dan menulis:
“bahwa karena perluasan yang pesat dari perdagangan kami belakangan ini, terutama oleh banyaknya pesanan dari Jerman Utara, (ini adalah sungguh-sungguh benar), maka pegawai perlu ditambah; (ini adalah benar;—kemarin masih pengurus buku ada di kantor sesudah jam sebelas malam untuk mencari kacamatanya); bahwa terutama dirasakan perlunya pemuda-pemuda yang sopan dan berpendidikan baik untuk surat menyurat dalam bahasa Jerman. Bahwa, memang, banyak pemuda-pemuda Jerman, yang tinggal di Amsterdam, mempunyai kepandaian yang diperlukan itu, tapi bahwa sebuah kantor dagang yang menghormati dirinya, (ini adalah sungguh-sungguh benar),—maksud saya Last & Co, makelar kopi, Lauriergrakht No. 37,—harus berhati-hati benar menerima oknumoknum untuk bekerja, berhubung dengan bertambah meningkatnya kesemberonoan dan kecabulan di kalangan pemuda, dengan menanjaknja setiap hari jumlah pencari keuntungan, dan berhubung dengan perlunya menggabungkan kesungguhan bekerja dengan kesungguhan melaksanakan perintah-perintah yang diberikan (sungguh, semuanya itu benar) …….”
Semuanya itu adalah sungguh-sungguh benar, pembaca. Tahukah anda, bahwa pemuda Jerman yang berdiri di bursa ditiang 17 itu, lari dengan anak gadis Busselinck & Waterman? Anak kami Mari juga akan berusia tiga belas tahun bulan September.
“Bahwa saya mendapat kehormatan mendengar dari tuan Saffeler—Saffeler melakukan perjalanan untuk Stern,— bahwa sep yang terhormat dari firma Ludwig Stern, mempunyai seorang putra, tuan Ernest Stern, yang ingin beberapa waktu bekerja di kantor dagang Belanda, untuk menyempurnakan pengetahuannya tentang perdagangan”.
"Bahwa saya, berhubung dengan,—(di sini saya mengulangi lagi segala macam ketidak senonohan, dan menceritakan perihal anak gadis Busselinck & Waterman; tidak ada buruknya mereka mengetahuinya); bahwa saya, berhubung dengan itu, ingin sekali menugaskan tuan Ernest Stern mengerjakan surat menyurat kantor dagang kami dalam bahasa Jerman".
Demi kesopanan saya tidak menyebut-nyebut honorarium atau gadiy; tapi saya tambahkan lagi: "bahwa, jika tuan Ernest Stern, suka tinggal di rumah kami,—Lauriergrakht, No. 37,—maka istri saya bersedia untuk mengurusnya sebagai seorang ibu, dan bahwa pakaiannya akan ditambal di rumah".
Itu adalah sungguh-sungguh benar, sebab Mari pandai menambal dan memperbaiki rajutan. Dan akhirnya: "bahwa di rumah kami orang taat beribadat".
Itu mengenai sasaran, sebab keluarga Stern pengikut Luther. Lalu saya kirimkan surat itu. Anda mengerti, bahwa bapak Stern tidak bisa pindah dengan sukarela kepada Busselinck & Waterman, kalau anaknya ada di kantor kami. Saya ingin tahu apa jawabnya.
Untuk kembali kepada buku saya. Beberapa waktu yang lalu saya berjalan malam hari di Kalverstraat, dan berhenti di depan sebuah warung rempah-rempah. Saya lihat pemiliknya sedang menyusun sebuah partai "kopi Jawa, yang biasa, yang bagus, yang kuning, jenis Cirebon, yang agak rusak, yang bercampur kotoran", hal mana sangat menarik perhatian saya, sebab saya memperhatikan segala sesuatu. Tiba-tiba saya melihat seorang tuan yang berdiri di depan toko buku di sebelahnya, dan rasa-rasanya, saya kenal. Dia pun nampaknya mengenali saya, sebab pandangan kami saban kali bertemu. Saya harus mengakui, bahwa perhatian saya terlalu terpusat pada kopi bercampur kotoran itu, dan saya tidak segera melihat apa yang kemudian saya lihat, yakni laki-laki itu berpakaian agak miskin; jika tidak, tentu saya biarkan saja; tapi tiba-tiba timbul pikiran saya, bahwa ia mungkin seorang agen keliling dagang Jerman, yang mencari makelar yang bisa dipercaya. Nampaknya seperti seorang Jerman dan juga seorang agen keliling; rambutnya rambut jagung, matanya biru, dan dalam sikap dan pakaian nyia nampak, bahwa ia seorang asing. Ia tidak memakai jas dingin yang tebal, hanya semacam syal tersandang di bahunya (Frits mengatakan “shawl”, tapi saya tidak), seolah-olah dia baru kembali dari perjalanan. Saya mengira bertemu seorang langganan dan memberikan kartu nama,—Last & Co, makelar kopi, Lauriergrakht No. 37. Kartu itu di dekatkannya kenyala gas, dan ia berkata: “Terima kasih, tapi rupanya saya salah tampa; saya kira bertemu seorang kawan sekolah lama, tapi …… Last …… bukan itu namanya” ……
— “Maaf, kata saya, sebab saya selalu hormat, saya adalah Tuan Droogstoppel³, Batavus Droogstoppel …… Last & Co adalah firma, makelar kopi Lauriergr …….”
— “Nah, Droogstoppel, anda tak kenal saya lagi? Coba pandang saya.”
Tambah lama saya memandanginya, tambah saya ingat bahwa saya sudah pernah melihatnya; tapi, aneh, mukanya menyebabkan saya seolah-olah mencium wangi-wangian asing. Jangan tertawa, pembaca, nanti anda akan mengerti apa sebabnya. Saya yakin bahwa ia tidak membawa minyak wangi barang setetes, namun demikian saya mencium sesuatu yang enak, yang keras, sesuatu yang mengingatkan saya kepada …… nah, saya ingat!
— “Kaukah itu, yang menyelamatkan aku dari orang Yunani?”
— “Ya, sahutnya, apa kabar anda?”
Saya ceritakan, bahwa kami tiga belas orang di kantor, dan bahwa kami sibuk. Lalu saya tanyakan dia, apa kabarnya; kemudian saya menyesal telah memajukan pertanyaan itu, sebab ia rupanya dalam keadaan tidak begitu baik, dan saya tidak suka kepada orang miskin, sebab biasanya kemiskinan itu karena salah sendiri; Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang mengabdi kepadanya dengan setia. Sekiranya saya hanya mengatakan, “kami tiga belas orang”,—dan selanyutnya “selamat malam”, maka saya terbebas daripadanya; tapi karena bertonya jawab itu keadaan saya tambah lama tambah sukar (Frits mengatakan: bertambah sukar, tapi saya tidak), jadi tambah sukar untuk melepaskan diri daripadanya. Sebaliknya, saya harus pula mengakui, bahwa buku ini tidak akan sampai ke tangan anda, sebab ia merupakan akibat pertemuan itu; …… saya suka mengatakan yang baiknya, dan orang yang tidak melakukan itu, adalah orang yang tidak pernah puas, dan saya tidak suka orang begitu.
Ya, ya, dialah yang membebaskan saya dari tangan orang Yunani itu! Jangan anda kira bahwa saya pernah dilarikan bajak laut, atau saya pernah berkelahi di Levant. Sudah saya katakan kepada anda, bahwa sesudah kawin saya pergi ke Den Haag dengan istri saya; di sana kami melihat Gedung Maurits⁴, dan membeli kain flanel di Veenstraat. Itulah sekali-kalinya saya jalan-jalan, sepanjang kesibukan dagang mengizinkan, karena kami sibuk sekali. Tidak, di Amsterdam sendiri dia memukul seorang Yunani sampai berdarah hidungnya karena membela saya, sebab dia selalu campur tangan dalam hal-hal yang bukan urusannya.
Peristiwa itu terjadi tahun tiga puluh tiga atau tiga puluh empat, saya kira; dan bulan September, sebab ada kermis di Amsterdam. Karena orang tua saya ingin menjadikan saya seorang pendeta, maka saya berlayar bahasa Latin. Kemudian saya acap kali bertonya kepada diri sendiri, mengapa orang harus mengerti bahasa Latin untuk mengatakan dalam bahasa sendiri: “Tuhan adalah baik”. Baiklah, saya di sekolah Latin,—sekarang namanya Gymnasium,—dan ada kermis,—di Amsterdam, maksud saya. Di pasar barat ada kedai-kedai, dan jika anda seorang Amsterdam, pembaca, dan kira-kira seumur dengan saya, anda akan ingat bahwa salah satu kedai itu menarik perhatian istimewa, karena adanya seorang gadis yang berpakaian sebagai orang Yunani, dengan mata yang hitam dan jalinan rambut yang panjang; ayahnya pun seorang Yunani, artinya ke-lihatannya seperti seorang Yunani. Mereka menjual bermacam-macam wangi-wangian.
Saya kebetulan sudah cukup mencapai usia untuk mengagumi kecantikan gadis itu, tapi tidak berani menegurnya. Lagipula tidak akan ada gunanya, sebab gadis-gadis delapan belas tahun menganggap seorang pemuda enam belas tahun sebagai anak kecil, dan anggapan mereka itu benar. Namun demikian, kami, anak-anak dari Quarta⁵, selalu datang malam hari di pasar barat untuk melihat gadis itu.
Sekali waktu, orang yang berdiri memakai syal di depan saya itu, ada di situ, Meskipun ia beberapa tahun lebih muda dari yang lain-lain, jadi masih kekanak-kanakan untuk melihat gadis Yunani itu; tapi dia adalah yang unggul di kelas kami,—dia pintar, harus saya akui,—dan dia suka sekali bermain, bergelut-gelutan dan berkelahi;—karena itu dia bersama kami. Kami kira-kira sepuluh orang. Dari kejauhan kami memandangi gadis Yunani itu, dan merundingkan apa yang harus dilakukan untuk berkenalan dengannya; akhirnya diputuskan untuk mengumpulkan uang dan membeli sesuatu. Tapi kemudian kami mendapat kesukaran untuk menunjuk siapa yang akan menegur gadis itu. Masing-masing ingin, tapi tidak ada yang berani. Lalu diundi, dan saya kena. Saya mengakui, bahwa saya tidak ingin menem-puh bahaya; saya seorang lelaki dan seorang ayah, dan meng-anggap tiap orang yang mencari bahaya, orang gila, seperti yang dikatakan pula dalam Alkitab. Memang saya senang, bahwa pendirian saya tidak berubah mengenai pikiran tentang bahaya dan segalanya itu, karena sekarang pun saya masih berpendapat demikian tentang semua itu, seperti malam hari ketika saya berdiri di depan kedai orang Yunani itu, dengan wang dua belas kelip yang kami kumpulkan, tergenggam di tangan. Tapi karena malu, saya tidak berani mengatakan bahwa saya tidak berani, lagipula, saya terpaksa maju, karena teman-teman saya mendorong saya dan segera juga saya sudah berdiri di depan kedai.
Saya tidak melihat gadis itu, saya tidak melihat apa-apa. Mata saya berkunang-kunang; ... tergagap-gagap saya menyebutkan bentuk aoristus primus dari kata kerja yang saya tidak tahu entah kata kerja apa ...
— “Plait-il?”⁶ tanyanya. Saya menguasai diri sedikit dan meneruskam:
— “Meenin aeide theoos”⁷, dan “bahwa Mesir adalah hadiah sungai Nil” ...
Saya yakin bahwa saya akan berhasil dalam perkenalan itu, jika tidak pada saat itu salah seorang teman saya karena ke-nakalan kekanak-kanakan mendorong saya dari belakang, sehingga saya menubruk lemari pajangan yang menutup kedai itu di depan, setinggi separoh tinggi manusia. Saya merasa cengkaman di leher saya, kemudian satu lagi, agak ke bawah, ... beberapa ketika saya melayang ... dan sebelum saya tahu apa yang ter-jadi, saya sudah berada dalam kedai orang Yunani itu, yang berkata dalam bahasa Perancis yang jelas, “bahwa saya seorang gamin⁸ dan bahwa ia akan memanggil polisi”. Sekarang saya sudah dekat kepada sigadis, tapi saya sama sekali tidak merasa senang. Saya menangis dan minta am pun, sebab saya takut bukan main. Tapi sia-sia; orang Yunani itu mencekal tangan saya, dan menendang saya. Saya mencari teman-teman saya, ... pagi itu kami kebetulan ramai membicarakan Scae-vola, yang memasukkan tangannya ke dalam api, ... dalam karangan-karangannya dalam bahasa Latin, mereka mengatakan bahwa perbuatan itu baik sekali ... tapi ya, tidak ada di antara mereka yang tinggal untuk memasukkan tangannya ke dalam api guna menolong saya ... Itulah maksud saya. Tapi tiba-tiba si Syaalman⁹ itu menero bos dari pintu belakang kedai; ia tidak besar atau kuat, dan umurnya baru kira-kira tiga belas tahun, tapi ia tepat dan berani. Masih terbayang matanya yang berkilat-kilat,—biasanya redup,—tinjunja melayang mengenai orang Yunani itu, dan saya pun lolos. Kemudian saya dengar, bahwa orang Yunani itu memukulnya habis-habisan;—tapi karena saya berpegang pada prinsip, bahwa saya tidak akan mencampuri sesuatu yang saya rasa bukan urusan saya, maka saya segera melerikan diri, jadi saya tidak melihatnya.
Itulah sebabnya maka wajahnya mengingatkan saya kepada wangi-wangian, dan bagaimana orang di Amsterdam bisa berkelahi dengan orang Yunani.
Kemudian, apabila ada kermis lagi dan laki-laki itu berdiri di kedainya di Pasar Barat, saya selalu pergi ke tempat lain untuk bermain-main.
Karena saya suka kepada ucapan-ucapan yang berbau filsafat, saudara pembaca, saya ingin mengatakan, betapa ajaibnya berbagai hal saling berhubungan di dunia ini. Jika mata sigadis itu tidak begitu hitam, jika jalinan rambutnya agak lebih pendek, atau jika orang tidak mendorong saya menubruk lemari kedai itu, maka anda tidak akan membati buku ini; maka bersyukurlah bahwa semua itu telah terjadi. Percayalah, segalanya di dunia ini adalah baik, sebagaimana adanya, dan orang-orang yang tidak pernah merasa puas, yang selalu saja mengeleuh, bukanlah teman-teman saya. Ada Busselinck & Waterman, …… tapi saya harus melanyutkan, sebab buku saya harus selesai sebelum lelang musim semi.
Terus terang saja—sebab saya cinta kebenaran,—pertemuan kembali dengan orang itu, tidak enak bagi saya. Saya segera melihat, bahwa ia bukan orang yang bisa dipercaya, dia nampak pucat sekali, dan ketika saya tanyakan jam berapa, ia tidak tahu. Itu adalah hal-hal yang diperhatikan oleh orang yang sudah dua puluh tahun mengunjungi bursa, dan menghadiri banyak peristiwa, …… saya sudah banyak melihat firma dagang yang bangkrut!
Saya kira bahwa dia akan ke kanan, jadi saya harus ke kiri; tapi lihat, dia juga belok ke kiri, jadi saya tidak bisa menghindarkan untuk bercakap-cakap dengannya; tapi saya terus ingat, bahwa ia tidak tahu jam berapa, lagipula saya lihat, bahwa jasnya tidak ditutup sampai kedagu; itu suatu gaya yang buruk sekali, sehingga saya berbicara sepatah dua patah saja. Ia bercerita, bahwa ia pernah ke Hindia, bahwa ia beristri dan mempunyai beberapa orang anak. Saya tidak keberatan terhadap semua itu, tapi saya tidak menganggapnya penting. Di Kapelsteeg,—biasanya saya tidak pernah berjalan di lorong sempit itu, karena tidak pantas bagi orang baik-baik, saya rasa,—tapi sekali ini saya hendak membelok ke kanan di Kapelsteeg. Saya tunggu sampai kami hampir melewati lorong itu, untuk memastikan apakah ia akan berjalan terus; lalu saya berkata hormat sekali,—sebab saya selalu hormat, kita tidak tahu mungkin kita akan memerlukan pertolongan,—“saya senang sekali telah bertemu kembali dengan tuan ….. dan ….. dan, silahkan tuan berhubungan dengan saya ….. saya harus ke kanan”.
Ia memandang saya dengan aneh, dan menarik nafas panjang, lalu tiba-tiba dipegangnya kancing jas saya …..
— “Droogstoppel yang baik, katanya, ada yang hendak saya minta kepada anda”.
Saya menggigil. Dia tidak tahu jam berapa, dan hendak meminta sesuatu dari saya! Tentu saja saya menjawab, bahwa saya tidak punya waktu, dan harus ke bursa, Meskipun malam hari,—tapi kalau kita sudah dua puluh tahun mengunjungi bursa ….. dan orang hendak minta sesuatu dari kita, tanpa ia mengetahui jam berapa hari …..
Saya lepaskan kancing baju saya, saya memberi salam hormat sekali,—sebab saya selalu hormat,—dan masuk lorong Kapelsteeg, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan, karena tidak pantas; dan kesopanan bagi saya adalah segala-galanya. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat.
¹ Sistim kontinental—peraturan yang diadakan oleh Napoleon tahun 1806 supaya barang-barang Inggris tidak bisa masuk kedaratian Eropa.
² Restoran orang Polandia di Amsterdam.
³ Droogstoppel, Si Kersang Hati, orang yang membosankan sekali, orang yang hanya memikirkan materi belaka. Lihat Pendahuluan.
⁴ Museum lukisan.
⁵ Quarta—kelas tiga.
⁶ “Apa maksud anda?”
⁷ Kata-kata permulaan dalam “Ilias”, karya Homerus: Dewi, lagukanlah perjuangan ...
⁸ Anak nakal.
⁹ Orang pakai Syal. Lihat Pendahuluan.
Bab III
Ketika saya sehari sesudah itu keluar dari bursa, Frits mengatakan, bahwa ada orang datang hendak bicara dengan saya. Menurut lukisan yang diberikannya, orang itu mestinya si Syaalman. Bagaimana ia menemukan alamat saya ... ya, dari kartu alamat! Saya berpikir-pikir hendak mengambil anak-anak saya dari sekolah, sebab saya merasa terganggu juga sesudah dua puluh, tiga puluh tahun kemudian dikejar-kejar oleh seorang teman sekolah, yang memakai syal dan bukan jas,—dan tidak tahu pula jam berapa hari. Saya pun melarang Frits pergi ke Pasar Barat, jika di sana ada kedai-kedai.
Keesokan harinya saya mendapat sepucuk surat dengan bungkus besar. Anda dengarlah bunyi surat itu:
“Droogstoppel yang baik!“
Saya rasa, seharusnya dia mengatakan: “Tuan Droogstoppel yang terhormat“, sebab saya seorang makelar.
“Kemarin saya ke kantor anda dengan maksud hendak memajukan suatu permohonan; saya kira anda dalam keadaan yang baik”,
memang benar, kami tiga belas orang di kantor.
“dan saya hendak memohon pinjaman dari anda untuk memulai suatu usaha yang penting sekali buat saya”. mungkinkah ia hendak minta order di pelelangan musim semi?
“Karena bermacam-macam hal saya pada saat ini agak mendapat kesukaran dengan keuangan”;
agak! Kemeja pun ia tidak punya. Itulah yang disebutnya:
“agak”.
“saya tidak dapat memberikan kepada istri saya yang tercinta segala yang dapat menyenangkan dalam kehidupan ini; pun juga pendidikan anak-anak saya, dari sudut keuangan, tidak seperti yang saya inginkan”. Menyenangkan dalam kehidupan? ... Pendidikan anak-anak? ... Apakah maksudnya bahwa ia hendak menyewa untuk isterinya sebuah lose dalam Opera, dan hendak menyekolahkan anak-anaknya pada sebuah institut di Jenewa? Waktu itu musim gugur dan cukup dingin,—ia tinggal di loteng atas tanpa api pemanas. Waktu saya menerima surat itu, saya tidak mengetahui hal itu, tapi kemudian saya pergi ke tempatnya, dan sekarang pun saya masih merasa terganggu oleh nada tulisannya yang edan itu. Persetan, siapa yang miskin boleh mengatakan bahwa ia miskin; orang miskin harus ada, itu perlu dalam masyarakat; asal dia jangan minta-minta dan tidak mengganggu siapa-siapa, saya tidak keberatan sama sekali bahwa ia miskin, tapi membagus-baguskan soalnya, itu tidak pantas. Dengarkan lagi: “Karena saya berkewajiban untuk mencukupi keperluan keluarga saya, maka saya memutuskan untuk mempergunakan bakat, yang saya kira dikaruniakan Tuhan kepada saya. Saya adalah penyair”, Puh! Anda tahu, pembaca budiman, bagaimana saya dan semua orang yang berakal, berpikir tentang itu. “dan pengarang. Sejak kecil saya menyatakan perasaan saya dalam sajak-sajak; dan kemudian pun saya setiap hari menuliskan apa yang bergolak dalam jiwa saya. Saya kira di antara semua itu ada beberapa karangan yang berharga, dan saya mencari penerbit untuk itu. Tapi itulah yang sukar. Publik tidak kenal saya, dan para penerbit mempertimbangkan karya-karya lebih banyak dengan melihat nama pengarang yang sudah dikenal dari mempertimbangkan isinya”. Persis seperti kami menilai kopi pada merek yang terkenal. “Jadi jika karya saya baik, maka itu baru akan terbukti sesudah diterbitkan, dan pedagang-pedagang buku minta upah cetak dan sebagainya dibayar lebih dulu”, Tepat permintaan mereka itu. “hal mana sekarang ini tidak dapat saya penuhi. Tapi karena saya yakin, bahwa hasil karya saya akan dapat menutup ongkos-ongkos, dan saya berani memastikan itu, maka saya, digembirakan oleh pertemuan kita kemarin dulu”, Digembirakan, katanya, hm! “tiba pada suatu keputusan untuk meminta kepada anda supaya anda suka menjamin saya pada seorang pedagang buku untuk mengeluarkan ongkos-ongkos penerbitan yang pertama, Sekalipun hanya untuk buku yang kecil. Saya serahkan kepada anda untuk memilih buku percobaan yang pertama itu. Dalam bungkusian yang saya sertakan bersama ini, anda akan menemukan banyak naskah-naskah. Anda akan melihat, bahwa saya banyak berpikir, bekerja dan mengalami”; Saya tidak pernah mendengar, bahwa ia berdagang. “dan jika saya mempunyai bakat untuk mengatakan sesuatu dengan cara-cara yang baik, maka bukanlah karena saya kekurangan kesan-kesan, jika saya tidak berhasil. Sambil menunggu jawaban yang menyenangkan, bekas Teman Sekolah anda …….” Dan ditulisnya namanya di bawah, tapi saya tidak akan menyebutnya, sebab saya tidak suka menjadikan orang jadi buah percakapan. Pembaca yang budiman, anda dapat bayangkan betapa melongo saya, ketika orang tiba-tiba mau mengangkat saya jadi makelar sajak-sajak. Saya yakin, kalau Syaalman,—begitu saya akan menyebutnya seterusnya—melihat saya siang hari, ia tidak akan datang kepada saya dengan permintaan semacam itu, sebab perbawa dan kesopanan tidak bisa disembunyikan; tapi waktu itu malam hari, jadi saya tidak peduli. Dengan sendirinya saya tidak mau tahu menahu tentang kegilaan itu. Saya ingin menyuruh kembalikan bungkusian itu oleh Frits, tapi saya tidak tahu alamatnya, dan dia tidak memberi kabar. Pikir saya, mungkin ia sakit atau mati.
Minggu yang lalu ada pertemuan di rumah keluarga Rosemeiyer,—pedagang gula. Frits buat pertama kali ikut serta; umurnya enam belas tahun, dan saya suka anak muda berkenalan dengan dunia, kalau tidak ia akan pergi ke pasar barat atau semacam itu. Gadis-gadis main piano dan menyanyi, dan selesai makan mereka saling mengganggu dengan sesuatu yang rupanya terjadi di kamar depan,—sementara kami di belakang bermain kartu,—sesuatu yang rupanya menyangkut Frits. “Ya, ya, Louise, seru Bethsy Rosemeiyer, kau menangis tadi,—Papa, Frits membuat Louise menangis”.
Istri saya mengatakan, jika demikian, untuk selanjutnja Frits tidak boleh lagi ikut menghadiri pertemuan; pikirnya, Frits mencubit Louise, atau semacam itu, yang tidak senonoh, dan saya pun bersiap-siap untuk menambahkan sepatah kata, ketika Louise berseru: “tidak, tidak,—Frits baik sekali, saya ingin ia melakukan itu sekali lagi!”
— “Apa yang dilakukannya?” Frits tidak mencubitnya, ia membacakan sajak; nah!
Tentu saja nyonya rumah ingin supaya ada “yang menggem-birakan” sesudah makan;—sesuatu untuk pengisi waktu. Nyonya Rosemeiyer,—keluarga Rosemeiyer minta disebut “nyonya”, karena mereka berdagang gula, dan punya saham pada sebuah kapal,—nyonya Rosemeiyer tahu bahwa apa yang menjadikan Louise menangis, juga akan menyenangkan hati kami, dan meminta sebuah da capo¹ kepada Frits, yang mukanya merah padam. Saya sama sekali tidak tahu apa yang telah disajikannja; saya tahu betul repertoarnya. Yakni: Perkawinan Dewa-dewa, Kitab-kitab Wasiat Lama Bersanjak, dan sebuah babak dari Perkawinan Kamakho, yang sangat disenangi oleh anak-anak, sebab di dalamnya ada semacam “tandas”; dan apa yang dapat membuat orang menangis, sungguh jadi rahasia bagi saya;—memang, seorang gadis mudah menangis.
— “Ayoh, Frits; ia, Frits; ayoh dong Frits;”—dan Frits pun mulailah. Saya tidak suka menegangkan perhatian pembaca, karena itu akan saya katakan saja. Di rumah bungkusan Syaalman dibuka, dan Frits dan Mari menemukan di dalamnya kesombongan dan kesentimentilan, yang kemudian banyak mendatangkan kesukaran di rumah kami. Saya katakan, saudara pembaca, bahwa buku ini pun berasal dari bungkusan itu, dan lambat laun saya akan mempertanggungyawabkannya dengan baik, sebab saya ingin orang menganggap saya sebagai pencinta kebenaran dan orang yang mengurus perdagangannya dengan baik. (Last & Co, makelar kopi, Lauriergrakht, No. 37).
Kemudian Frits mendeklamasikan sesuatu nonsen yang dirangkaikan, tidak, ia tidak dirangkaikan. Seorang muda menulis kepada ibunyia, bahwa ia jatuh cinta, dan bahwa gadisnya kawin dengan orang lain,—tidak bisa disalahkan, saya kira—namun, Meskipun demikian, ia tetap mencintai sangat ibunya. Apakah tiga baris yang terakhir itu jelas atau tidak? Apakah menurut anda perlu kata-kata banyak untuk mengatakannya? Nah, saya makan roti pakai keju, sesudah itu mengupas dua buah per, dan saya sudah separoh habis memakan yang kedua, baru Frits selesai dengan ceritanya. Tapi Louise menangis lagi, dan para wanita mengatakan bahwa sajak itu bagus sekali. Lalu Frits, yang saya kira menganggap bahwa ia telah melakukan pekerjaan yang hebat, menceritakan, bahwa ia menemukan sajak itu dalam bungkusan orang yang memakai syal itu, dan saya menceritakan kepada hadirin, bagaimana bungkusan itu sampai ke rumah saya, tapi saya tidak cerita tentang gadis Yunani, karena Frits ada di situ, dan juga saya tidak cerita tentang Kapelsteeg. Semua menganggap bahwa tindakan saya tepat dengan menjauhkan diri dari laki-laki itu. Nanti anda akan lihat, bahwa masih ada beberapa benda lain dalam bungkusan itu, yang lebih baik, dan mengenai itu akan diceritakan dalam buku ini, karena Lelang Kopi Persekutuan Dagang ada hubungannya dengan itu, sebab saya hidup untuk vak saya.
Kemudian Penerbit menanyakan kepada saya, apakah saya tidak akan melampirkan apa yang dideklamasikan oleh Frits.
Saya mau melakukannya, asal orang tahu bahwa saya tidak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam itu. Semuanya dusta dan gila. Saya tidak mengemukakan pendapat saya, nanti buku saya akan terlalu tebal. Saya hanya hendak mengatakan, bahwa cerita itu ditulis tahun 1843 di Padang, dan merek ini buruk;—kopinya, maksud saya.
Ibu, jauh memang tempat ku lahir, Negeri tempat kulihat cahaya mentari, Airmataku berlinang pertama kali, Kau besarkan aku dalam bimbingan; Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin Penuh kasih sayang seorang ibu Setia kau mendampingiku Kau angkat jika ku jatuh;—Nasib kejam memutus hubungan kita Tapi hanya lahirnya saja ……. Sendiri aku berdiri di pantai asing Seorang diri, …… dan Tuhan ……..
Namun, ibu, apa pun menggelisahkan hati, Yang menyenangkan Maupun menyedihkan Janganlah ragu cintanya beta Cinta puteramu di dalam hati!
Belum ada empat tahun yang silam Aku berdiri penghabisan kali nun di sana Tanpa kata di tepi pantai Menatap jauh kemasa depan; Kubayangkan segala yang indah Yang menunggu di masa depan, Kulecehkan masa kini dengan berani Kuciptakan surga firdausi; Hatiku tak gentar menempuh jalan Melanda segala hambatan,
Yang melintang di depan mata, Kurasa dunia bahagia semata ……..
Tapi masa itu, sejak pertemuan penghabisan kali Betapa cepat hilang menjauh, Seperti kilat tidak terperi. Seperti bayangan melintas lalu ………. Namun alangkah dalam, alangkah dalam Bekasnya yang tinggal! Aku merasa gembira dan sedih sekali datang, Aku berpikir, dan aku berjuang, Aku bersorak, dan aku mendoa ………. Ku rasa berabad-abad menghilang lalu! Aku mengejar kebahagiaan hidup, Aku menemukan dan aku kehilangan, Masa kanak kujalani cepat Bertahun-tahun rasa sesaat ……..
Namun percayalah bundaku sayang Demi langit yang melihat kita Percayalah ibu percayalah ………. Puteramu tidak melupakanmu!
Aku mencintai seorang gadis. Seluruh Hidup ku rasa indah karena cintaku; Ku lihat dirinya laksana mahkota Ganjaran akhir cita-citaku Yang diberikan Tuhan sebagai tujuan;—Bahagia menerima karunia Yang ditentukannya untuk diriku Yang dikaruniakannya kepadaku Aku pun bersyukur dengan airmata berlinang …….. Cinta dan agama adalah satu. Dan jiwaku bahagia membubung tinggi Mengucapkan syukur kepada Yang Mahatinggi
Mengucapkan syukur dan mendoa untukna sendiri ...
Susah hatiku karena cintaku, Hatiku resah gelisah, Tiada tertahan rasanya duka citaku Mengiris melukai hatiku lemah; Hanya takut dan derita yang ku dapat Bukan nyia nikmat yang ku harap, Selamat bahagia yang ku cari, Racun dan petaka datang mendekat ...
Aku senang dalam derita tanpa kata! Aku tabah penuh harapan;—Untung malang menambah gairahku, …… Untukna biar ku pikul beban derita! Tiada ku hirau pukulan malapetaka, Sukacita aku dalam duka citaku, Aku rela, aku rela memikul segala …… Asalkan nasib jangan merenggutna dari padaku!
Gambaran wajahnya, yang terindah bagiku di atas bumi Ku bawa di dalam hati Laksana barang tiada ternilai, Ku simpan setia dalam hatiku, …… Tiba-tiba asing ia bagiku! Walau cintaku bertahan Sampai tarikan nafas penghabisan Akhirnyia mengembalikannya padaku Di tanah air nan lebih indah, …… Aku mulai mencintainya!
Apakah cinta yang baru mulai,
Dibanding cinta bersama hidup Dimasukkan Tuhan dalam hati si anak, Sebelum pandai ia bicara? ………
Tatkala ia di dada ibunya, Baru saja meninggalkan kandungan, Menemukan susu pertama pemuaas dahaga, Cahaya pertama di mata Bunda? ……
Tidak, tiada ikatan yang lebih erat, Lebih kuat memadu hati, Dari ikatan Tuhan ciptakan Antara si anak dan hati ibunda!
Dan hati yang begitu terpaut Pada keindahan sesaat berkilau; Yang memberiku duri semata, Dan tiada menjalin satu pun kembang, …… Apakah hati itu, hati itu juga Lupakan kesetiaan hati ibunda;—Dan cinta wanita Yang menerima dalam hatinya gundah Teriakanku pertama sebagai bayi,—Yang membujuk daku jika menangis, Mencium kering airmata dari pipiku, …… Yang memberi ku makan dengan darahnya? ……
Bunda janganlah percaya, Demi Tuhan yang melihat kita. Bunda janganlah percaya, Tidak, anakmu tiadalah lupa!
Di sini aku jauh dari kehidupan Yang di sana penuh kemanisan dan keindahan; Kenikmatan masa pertama Sering dipuji dan disanjung tinggi, Di sini bukan bagianku Di tempatku yang sepi dan suram,—Curam dan penuh duri jalanku,
Untung malang menekan jiwaku, Beban ku pikul memberat pundakku Dan menghimpit hatiku; —
Biarlah airmataku menjadi saksi Bila kepalaku terkulai pilu Di saat-saat tanpa harapan Di tengah alam yang luas; …… Sering bila harapan tiada lagi, Hampir-hampir lepaslah keluhan: “Tuhan, berilah daku di alam barzah, “Apa yang di dunia tidak kau berikan!—“Tuhan, berilah daku di dunia sana, “Bila maut menyentuh bibirku,—“Tuhan, berilah daku di dunia sana “Apa yang di sini tidak ku kecap …… ketenangan!”
Tapi, terbenam dalam bibirku, Doaku tak sampai kepada Tuhan, …… Memang aku berlutut,—Memang keluhan lepas dari bibirku,—Tapi ucapanku: “jangan dulu, ya Tuhan “Kembalikan dulu ibuku padaku!”
¹ Ulangan dari semula.
Bab IV
Sebelum saya lanjutkan, saya hendak mengatakan kepada anda, bahwa Stern Yunior sudah datang; ia seorang pemuda yang manis. Nampaknya ia pandai dan cekatan, tapi saya kira dia seorang “Skhwarmer”¹. Mari umurnya tiga belas tahun. Pakaiannya necis sekali; ia mengerjakan Kitab Salinan, untuk membiasakan diri dengan gaya bahasa Belanda. Saya ingin tahu, apakah Ludwig Stern akan segera mengatur pesanan. Mari akan menyulam beberapa selop baginya,—bagi Stern Yunior, maksud saya. Busselinck & Waterman datang terlambat, …… makelar yang baik tidak menggunting dalam lipatan, demikianlah pendapat saya.
Sehari sesudah pertemuan pada keluarga Rosemeiyer, pedagang gula, saya panggil Frits, dan saya suruh dia membawa bungkusan Syaalman. Anda harus tahu, saudara pembaca, bahwa di tengah keluarga saya sangat keras berpegang pada agama dan adat kesopanan. Nah, tadi malam, justru sesudah mengupas buah per yang pertama, saya melihat pada air muka salah seorang anak gadis, bahwa dalam sajak itu ada sesuatu yang kurang beres. Saya sendiri tidak mendengarkan sajak itu, tapi saya lihat bahwa Bethsy meremah-remah rotinya, dan itu saya rasa sudah cukup. Anda akan melihat, saudara pembaca, bahwa saya berhadapan dengan seseorang yang mengenal dunia. Maka saya minta kepada Frits untuk memperlihatkan karangan semalam itu, dan segera juga saya menemukan baris yang menyebabkan Bethsy meremah-remah rotinya. Di situ dikatakan tentang seorang anak, yang sedang menyusu pada ibunya,—itu bolehlah,—tapi: “baru saja meninggalkan kandungan ibunya”, nah, itu saya rasa tidak baik,—untuk bicara tentang itu, maksud saya,—dan istri saya pun merasa tidak baik. Mari usianya tiga belas tahun. Tentang “kubis” atau yang semacam itu, orang tidak bicara dalam keluarga kami, tapi menyebut barang pada namanya demikian pun tidak perlu, sebab saya suka adab kesopanan. Saya peringatkan Frits yang sudah hafal sajak itu “di luar kepala”, seperti kata Stern, untuk tidak lagi mendeklamasikannya, dan Frits berjanji,—artinya sebelum ia menjadi anggota Doctrina², sebab di situ tidak datang anak-anak gadis, lalu saya simpan dalam meja tulis, sajak itu, maksud saya. Tapi saya ingin tahu, apakah tidak ada lagi yang lain dalam bungkusana itu, yang mungkin menyinggung perasaan; maka saya mencari-cari dan membuka-buka halaman demi halaman, saya tidak bisa membaca semuanya, sebab di dalamnya saya menemukan bahasa-bahasa yang tidak saya mengerti; mata saya tertarik pada sebuah berkas: “Laporan mengenai Perusahaan Kopi di Residensi Menado”.
Hati saya melonjak, karena saya makelar kopi, (Lauriergrakht No. 37) dan Menado adalah suatu merek yang baik. Jadi, Syaalman yang menulis sajak-sajak cabul itu, pernah bekerja dalam perusahaan kopi. Pandangan saya terhadap bungkusana itu jadi berubah. Saya menemukan karangan-karangan yang tidak saya mengerti seluruhna, tapi yang sungguh memperlihatkan pengetahuan soal. Ada daftar-daftar, pemberitahuan-pemberita-huan, perhitungan-perhitungan dengan angka-angka yang sama sekali tidak memakai sanjak, dan semuanya itu dikerjakan dengan ketelitian dan kehati-hatian, sehingga terus terang saja,—sebab saya suka kepada kebenaran,—saya teringat, bahwa Syaalman bisa saja menggantikan klerk ketiga jika ia keluar,—hal mana mungkin saja, karena ia makin hari makin tua dan canggung. Tentu saja saya harus mencari informasi dulu tentang kejujurannja, agama yang dianutnya dan apakah ia seorang yang sopan santun, sebab saya tidak menerima seseorang sebelum saya pasti tentang dirinya; itu adalah prinsip saya yang tegas. Anda telah melihat itu dalam surat saya kepada Ludwig Stern.
Saya tidak ingin Frits mengetahui, bahwa saya mulai tertarik kepada isi bungkusan itu, karena itu saya suruh dia pergi. Saya sungguh-sungguh jadi pusing ketika mengambil berkas demi berkas, dan membacai judul-judulnya.
Memang, di antaranya banyak sajak-sajak, tapi banyak pula yang berguna, dan saya takjub dengan aneka-ragamnya soal-soal yang dibcarakan. Saya mengakui—sebab saya cinta kebennaran,—bahwa saya, yang selamanya jadi pedagang kopi, tidak dapat menilai pentingnya semua itu, tapi pun tanpa penilaian itu, daftar judul-judul itu saja sudah suatu hal yang ajaib. Karena saya telah menceritakan kepada anda tentang orang Yunani itu, anda tahu bahwa saya di masa kecil saya sudah agak kena pengaruh Latin, dan Meskipun saya dalam surat menyurat sebisa-bisanya tidak mempergunakan kutipan-kutipan—hal mana memang tidak pantas di sebuah kantor makelar,—akan tetapi ketika melihat semua itu, saya berpikir: “de omnibus aliquld, de toto nihil”, atau “multa non multum”³.
Tapi itu disebabkan karena semacam rasa marah, dan karena keinginan menegor segala kepintaran yang terletak di depan saya itu dalam bahasa Latin, bukan karena saya sungguh-sungguh berpikir demikian. Sebab, bila saya agak lama membacai sesuatu dokumen, saya harus mengakui bahwa pengarang itu nampak mempunyai pengetahuan tentang pekerjaannya, mala-han mantap dalam jalan pikirannya.
Saya temukan risalah-risalah dan karangan-karangan seperti berikut:
Tentang bahasa Sansekerta sebagai induk cabang-cabang bahasa German.
Tentang ketentuan-ketentuan hukuman atas pembunuhan anak-anak.
Tentang asal usul kaum bangsawan.
Tentang perbedaan pengertian-pengertian: Waktu tanpa "akhir" dan "Keabadian".
Tentang perhitungan kemungkinan kalah menang.
Mengenai kitab Ayub. (Ada lagi tentang Ayub, tapi sajak-sajak).
Tentang protein di udara atmosfir.
Tentang ilmu kenegaraan Rusia.
Tentang huruf-huruf vokal.
Tentang penjara-penjara seluler.
Tentang dalil-dalil lama mengenai "horror vacui"⁴.
Tentang perlunya penghapusan ketentuan-ketentuan hukuman atas fitnah.
Tentang sebab musabab pemberontakan Belanda terhadap Spanyol, yang tidak berdasarkan hasrat kepada kemerdekaan agama atau negara.
Tentang "perpetuum mobile"⁵, kwadratur lingkaran dan akar bilangan yang tanpa akar.
Tentang bobot cahaya.
Tentang kemunduran peradaban sejak timbulnya agama Kristen.
Tentang Mitologi Eslandia.
Tentang Emile karangan Rousseau.
Tentang Tuntutan Hukum Sipil dalam perkara perdagangan.
Tentang Sirius sebagai titik pusat sistim matahari.
Tentang bea masuk yang tidak tepat, tidak pantas, tidak adil dan tidak sopan. (tentang itu saya tidak pernah mendengar).
Tentang sajak-sajak sebagai bahasa paling tua. (saya tidak percaya).
Tentang semut putih. Tentang tidak fitrinya Gedung-gedung Sekolah. Tentang prostitusi dalam perkawinan. (ini karangan yang memalukan). Tentang soal-soal hidrolik berhubung dengan penanaman padi. Tentang keunggulan semu peradaban Barat. Tentang kadaster, pendaftaran dan segel. Tentang buku anak-anak, dongeng-dongeng dan cerita perumpamaan. (saya ingin baca, karena dia menganjurkan kebenaran). Tentang perantaraan dalam perdagangan. (saya tidak suka;—agaknya dia hendak menghapuskan makelar-makelar, tapi saya sisihkan juga, karena di dalamnya ada hal-hal yang bisa saya pergunakan untuk buku saya). Tentang bea warisan. Tentang kesutiyian sebagai penemuan. (ini saya tidak mengerti). Tentang perkalian. (judulnja sederhana sekali, tapi banyak hal-hal di dalamnya yang dulu tidak saya sangka sama sekali). Tentang semacam semangat orang Perancis, sebagai akibat kemiskinan bahasanya. (itu mungkin saja. Semangat dan kemiskinan ... dia tahu). Tentang hubungan antara roman-roman August Lafontaine⁶ dan batuk kering. (saya ingin baca, sebab ada beberapa buku Lafontaine di loteng; tapi katanya pengaruuhnya baru muncul pada keturunan kedua;—Kakek saya tidak membaca). Tentang kekuasaan orang Inggris di luar Eropa. Tentang Hukum Tuhan di abad pertengahan dan sekarang. Tentang ilmu berhitung pada orang Rumawi. Tentang kemiskinan puisi pada komponis-komponis. Tentang kesalehan, biologi dan meja menari. Tentang penyakit-penyakit menular. Tentang gaya bangunan bangsa Mor. Tentang daya prasangka-prasangka yang rupanya berasal dari
penyakit-penyakit yang disebabkan karena angin. (bukankah sudah saya katakan, bahwa daftar ini aneh?).
Tentang kesatuan Jerman.
Tentang panjang di laut. (saya kira di laut segalanya sama saja panjangnya seperti di darat).
Tentang kewajiban-kewajiban pemerintah mengenai keramaian umum.
Tentang persamaan antara bahasa-bahasa Skot dan Frislan.
Tentang prosodi.
Tentang kecantikan wanita di Nimes dan di Arles, disertai penyelidikan mengenai sistim kolonisasi bangsa Funisia.
Tentang kontrak-kontrak pertanian di pulau Jawa.
Tentang daya isap pompa model baru.
Tentang sahnya dinasti-dinasti.
Tentang sastra rakyat dalam syair-syair Jawa.
Tentang cara baru mengecilkan layar.
Tentang membenturkan granat tangan. (Karangan ini bertanggal 1847, jadi sebelum Orsini⁷.
Tentang pengertian kehormatan.
Tentang kitab-kitab apokrif⁸.
Tentang hukum-hukum Solon, Lykurgus, Zoroaster, & Kong Fu Tse.
Tentang kekuasaan orang tua.
Tentang Shakespeare sebagai penulis sejarah.
Tentang perbudakan di Eropa (apa yang dimaksudnya, saya tidak mengerti).
Tentang kincir air pakai sekerup.
Tentang hak memberikan grasi oleh raja.
Tentang unsur-unsur kimiah kayu manis Sailan.
Tentang tatatertib di kapal-kapal dagang.
Tentang pak candu di pulau Jawa.
Tentang ketentuan-ketentuan mengenai penjualan racun. Tentang penggalian tanah genting Suez dan akibat-akibatnya. Tentang pembayaran pajak bumi in natura. Tentang tanam kopi di Menado. (ini sudah saya sebut). Tentang retaknya kerajaan Rumawi. Tentang “gemuthlikhkeit“⁹ orang Jerman. Tentang Edda Skandinavia. Tentang kewajiban Perancis untuk membuat tenaga imbang-an terhadap Inggris di kepulauan Hindia. (ini dalam bahasa Perancis; saya tidak tahu mengapa). Tentang pembuatan cuka. Tentang penghormatan terhadap Skhiller dan Gothe di kalangan pertengahan Jerman. Tentang hak manusia atas kebahagiaan. Tentang hak untuk berontak kalau ditindas. (ini dalam bahasa Jawa, baru kemudian saya mengetahui judul itu). Tentang tanggungjawab seorang menteri. Tentang beberapa hal dalam tuntutan hukum kriminil. Tentang hak rakyat, untuk menuntut supaya pajak dipergunakan untuk kepentingannya. (ini dalam bahasa Jawa lagi). Tentang A kembar dan huruf Eta Yunani. Tentang adanya Tuhan tanpribadi dalam hati manusia. Tentang gaya. Tentang undang-undang dasar untuk kerajaan “Insulinde“ (saya belum pernah mendengar nama kerajaan itu). Tentang tidak adanya ephelkustik¹⁰ dalam aturan-aturan bahasa kita. Tentang sikap sombong. (saya kira ini ditulis oleh orang yang ahli dalam persoalan itu). Tentang kewajiban Eropa kepada orang Portugis. Tentang bunyi-bunyi di dalam hutan. Tentang air yang bisa terbakar. (saya kira maksudnya “air keras“).
Tentang laut susu¹¹ (saya belum pernah dengar; agaknya ini ada di dekat Banda). Tentang pelihat dan nabi-nabi. Tentang listrik sebagai daya penggerak, tanpa besi lunak. Tentang pasang surut dan pasang naik peradaban. Tentang kebusukan menular dalam urusan rumah tangga negara. Tentang Maskapai-maskapai Dagang yang mendapat hak-hak istimewa. (dalam karangan ini ada beberapa hal yang saya perlukan untuk buku saya). Tentang etimologi sebagai sumber pembantu dalam mempelayari etnologi. Tentang karang sarang burung di pantai Selatan pulau Jawa. Tentang tempat, di mana hari mulai. (ini saya tidak mengerti). Tentang pengertian-pengertian pribadi sebagai ukuran tangan-gunjawab dalam dunia sopan. Tentang galanteri¹². Tentang bangunan sajak pada orang Ibrani. Tentang “Century of Inventions” karangan; Markis dari Worcester. Tentang penduduk yang tidak makan di pulau Roti dekat Timor (mestinya murah hidup di sana). Tentang orang Batak yang makan orang dan orang Alifuru yang mengayau. Tentang kecurigaan terhadap kesopanan umum. (dia rupanya hendak menghilangkan pembuat kunci, saya tidak setuju). Tentang “hukum” dan “hak-hak”. Tentang Beranger¹³ sebagai filosof (ini juga saya tidak mengerti). Tentang kebencian orang Melayu kepada orang Jawa. Tentang tidak bernilainya pengajuran di sekolah-sekolah yang disebut sekolah tinggi.
Tentang ketiadaan rasa cinta pada leluhur kita, rupanya karena pengertian mereka tentang Tuhan.
Tentang antarhubungan paniyaindera. (memang, waktu saya melihat dia, saya mencium bau minyak mawar).
Tentang akar luncus pohon kopi. (ini saya sisihkan untuk buku saya).
Tentang perasaan dan kepekaan. ("sensiblerie", "empfindelei").
Tentang mengacaukan Mitologi dan Agama.
Tentang saguwer di kepulauan Maluku.
Tentang masa depan Perdagangan Belanda. (karangan inilah sebenarnya yang mendorong saya untuk menulis buku saya; dia mengatakan, bahwa tidak akan selalu diadakan lelang kopi yang besar, dan saya hidup untuk vak saya).
Tentang Kitab Kejadian. (sebuah karangan yang keji).
Tentang kongsi-kongsi gelap orang Cina.
Tentang menggambar sebagai tulisan fitri.
Tentang kebenaran dalam puisi. (tentu saja).
Tentang tidak populernya penggilingan padi di pulau Jawa.
Tentang hubungan antara puisi dan ilmu matematika.
Tentang Wayang Cina.
Tentang harga kopi Jawa. (ini saya sisihkan).
Tentang sistim mata uang di Eropa.
Tentang pengairan ladang-ladang bersama.
Tentang pengaruh pertiyampuran bangsa-bangsa pada kehidupan batin.
Tentang perimbangan dalam dagang. (di sini ia bicara tentang agio wesel¹⁴; saya sisihkan untuk buku saya).
Tentang bertahannya kebiasaan-kebiasaan orang Asia. (katanya Yesus pakai serban).
Tentang pikiran-pikiran Malthus¹⁵ mengenai angka penduduk, berhubung dengan bahan keperluan kehidupan.
Tentang penduduk asli Amerika. Tentang pangkalan-pangkalan di Betawi, Semarang dan Surabaya. Tentang ilmu bangunan, sebagai pernyataan buah pikiran. Tentang hubungan antara pegawai-pegawai negeri Eropa dan bupati-bupati di pulau Jawa. (tentang ini akan saya ceritakan dalam buku saya). Tentang tinggal di dalam kelder di Amsterdam. Tentang kekuatan kekhilafan. Tentang menganggurnya Tuhan jika hukum-hukum alam sudah sempurna. Tentang monopoli garam di Jawa. Tentang ulat dalam pohon sagu. Tentang amsal-amsal, Pendeta, Lagu segala Lagu dan Pantun-pantun orang Jawa. Tentang “yus primi occupantis“¹⁶. Tentang kemiskinan Senilukis. Tentang kecabulan memancing. (siapa yang pernah dengar ini?). Tentang kejahatan-kejahatan orang Eropa di luar Eropa. Tentang senjata jenis-jenis binatang yang lebih lemah. Tentang “yus talionis“¹⁷.
Dan ini belum semuanya. Beberapa berkas tidak ada judulnja, belum lagi sajak-sajak,—dalam semua bahasa;—syair-syair dalam bahasa Melayu, lagu-lagu perang dalam bahasa Java, dan segala macam! Pun saya menemukan surat-surat, banyak yang dalam bahasa yang saya tidak mengerti. Beberapa ditujukan kepadanya, yang lain lagi ditulis olehnya, atau lebih tepat, salinannya, tapi rupanya ada maksudnya dengan surat-surat itu, sebab semuanya ditandatangani oleh orang lain, dengan catatatan: “sama dengan aslinya“. Kemudian saya menemukan lagi kutipan-kutipan dari buku harian, catatatan-catatatan dan pikiran-pikiran lepas, beberapa daripadanya sungguh-sungguh lepas sama sekali.
Seperti saya katakan, beberapa karangan saya sisihkan, karena saya rasa berguna bagi vak saya, dan saya hidup untuk vak saya;—tapi harus saya akui, bahwa saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan yang selebihnya. Saya tidak dapat mengirim kembali bungkusannya itu, sebab saya tidak tahu di mana dia tinggal. Bungkusannya itu sudah terbuka; saya tidak dapat menyangkal, bahwa saya sudah melihat isinya, dan saya tidak akan menyangkalnya, karena saya cinta kebenaran; saya tidak dapat menyangkal, bahwa saya sia-sia mencoba menutupnya kembali, seperti semula. Lagipula saya tidak dapat menyangkal, bahwa beberapa karangan yang mengenai kopi, saya rasa menarik, dan saya ingin mempergunakannya. Tiap hari saya membaca beberapa halaman, dan saya makin yakin, (Frits mengatakan: “makin lama makin yakin”), bahwa orang harus makelar kopi untuk mengetahui dengan tepat kejadian-kejadian di dunia ini. Saya yakin, bahwa keluarga Rosemeiyer, yang berdagang gula itu, belum pernah melihat yang semacam itu.
Saya kuatir Syaalman tiba-tiba akan berdiri lagi di depan saya, dan mengatakan apa-apa lagi kepada saya. Saya menyesal sekarang, bahwa malam itu saya masuk ke jalan Kapelsteeg, dan saya mengerti bahwa kita tidak boleh meninggalkan jalan yang baik. Tentu saja ia meminta uang kepada saya, dan bicara tentang bungkusannya. Mungkin saya memberinya uang sedikit, dan jika ia keesokan harinya mengirimkan tulisan-tulisannya yang banyak itu, maka semuanya jadi milik saya yang sah. Dapatlah saya memisahkan ampas dari kelapa, dapatlah saya mengambil nomor-nomor yang saya perlukan untuk buku saya, dan sisanya saya bakar, atau buang kekeranjang sampah. Sekarang hal itu tidak dapat saya lakukan, sebab kalau dia kembali, saya harus menyerahkannya, dan jika dia lihat saya punya perhatian terhadap beberapa karanganya, tentu ia akan meminta banyak; sebab penjual akan berada di pihak yang lebih kuat, kalau sipembeli nampak memerlukan baranganya. Karena itu posisi demikian sebisa-bisanya dihindarkan oleh pedagang yang mengerti vaknya.
Satu pikiran lain, saya sudah bicara tentang ini, yang membuktikan betapa orang menjadi peka terhadap kesan-kesan perikemanusiaan karena mengundungi bursa, ialah ini: Bastiaans, pelayan ketiga, yang sudah amat tua dan canggung, akhir-akhir ini tidak teratur lagi masuk kantor; dari tiga puluh hari kerja, dia masuk kurang dari dua puluh lima hari, dan Kalaupun dia masuk kantor, pekerjaannya sering kali tidak beres. Sebagai manusia jujur, saya berkewajiban terhadap firma Last & Co,—sejak keluarga Meiyer keluar,—untuk menjaga supaya masing-masing bekerja baik, sebab saya tidak boleh membuang-buang uang milik firma, karena belas kasihan atau kesentimentilan yang orang salah mengerti. Begitulah prinsip saya. Saya lebih suka memberi Bastiaan itu tiga gulden dari kantong saya “sendiri”, daripada saya terus membayarnya tujuh ratus gulden setahun, yang tidak lagi dia berhak menerima. Saya telah menghitung, bahwa ia sejak tiga puluh empat tahun menerima jumlah wang hampir lima belas ribu gulden gaji—baik dari Last & Co, Maupun dahulu dari Last & Meiyer, tapi Meiyer sudah keluar; dan bagi seorang warga jumlah sebesar itu bukan kecil; sedikit sekali warga biasa yang mempunyai sebanyak itu. Jadi, dia tidak berhak mengeluh. Saya menghitung jumlah itu, karena karangan Syaalman mengenai multiplikasi.
Syaalman itu bagus tulisannya, pikir saya, nampknya miskin, dia tidak tahu jam berapa,—bagaimana, pikir saya, jika saya beri dia tempat Bastiaans? Kalau jadi, akan saya katakan, bahwa dia harus menyebut saya “tuan”, itu tentu dia mengerti sendiri, sebab seorang pelayan tidak bisa menyebut majikannya pada namanya, dan mungkin ia tertolong seumur hidup. Sebagai permulaan dia boleh menerima empat atau lima ratus gulden; Bastiaans juga lama bekerja baru mencapai tujuh ratus gulden, dan saya pun berjasa. Ya, dengan tiga ratus gulden bolehlah dia mulai, sebab dia belum pernah bekerja dagang, dan tahun-tahun pertama boleh dianggapnya sebagai waktu belajar, dan itu adalah adil, sebab dia tidak bisa menyamakan diri dengan orang yang sudah banyak bekerja; saya kira dengan dua ratus pun dia sudah senang ……
Tapi, saya tidak pasti tentang kelakuannya …… dia pakai syal; lagipula, saya tidak tahu di mana dia tinggal.
Beberapa hari kemudian Stern Yunior dan Frits pergi bersama-sama ke lelang buku “Het Wapen van Bern”. Saya telah mela-rang Frits membeli apa-apa, tapi Stern yang punya banyak wang saku, membeli beberapa buku buruk, itu soal dialah. Tapi Frits menceritakan, bahwa ia melihat Syaalman, yang rupanya beker-ya di pelelangan buku itu. Syaalman mengambil buku-buku dari lemari, dan mendorongnya di atas meja panjang tukang lelang. Frits mengatakan, bahwa ia pucat sekali, dan seorang tuan yang rupanya jadi pengawas, memarah-marahi dia karena menjatuhkan beberapa jilid Aglaia; itu memang tolol, sebab majalah-majalah itu adalah kumpulan pekerjaan tangan wa-nita yang manis sekali; Mari memilikinya bersama-sama dengan keluarga Meiyer, pedagang gula, dia merajut dari situ, dari Aglaia, maksud saya. Waktu memarah-marahi itu Frits mende-ngar, bahwa Syaalman menerima lima belas kelip sehari. “Kau kira aku mau membuang-buang lima belas kelip sehari memba-yarmu?” kata pengawas itu. Saya hitung-hitung, lima belas kelip sehari, jadi dua ratus lima puluh gulden setahun,—saya kira hari-hari Minggu dan libur tidak dihitung, kalau dihitung tentu orang itu menyebut gaji bulanan atau tahunan. Saya cepat me-ngambil keputusan,—kalau kita sudah lama dalam perdaga-ngan, kita segera tahu apa yang harus kita lakukan,—dan keesokan harinya saya sudah menemui Gaafzuiger, pedagang buku yang mengadakan lelang itu. Saya menanyakan orang yang menjatuhkan Aglaia itu!
— “Sudah saya pecat, kata Gaafzuiger, dia malas, sok pintar dan penyakitan”.
Saya beli sekotak owel¹⁸, dan bermaksud berpikir-pikir dulu tentang Bastiaans; saya tidak sampai hati memecat orang setua itu begitu saja. Saya harus tegas, tapi di mana mungkin, lembut hati, itulah selalu prinsip saya. Saya tidak pernah lalai untuk mencari tahu apa yang mungkin berguna bagi kepentingan da-gang, karena itu saya tanyakan kepada Gaafzuiger di mana Syaal-man itu tinggal. Dia berikan alamatnya dan saya tuliskan.
Saya selalu merenungkan buku saya, tapi karena saya cinta kebenaran, terus terang saya katakan, bahwa saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Satu hal sudah pasti: bahan-bahan yang saya temukan dalam bungkusn Syaalman, penting untuk makelar kopi. Soalnya hanya, bagaimana saya harus memilih dan menyusun bahan-bahan itu dengan baik; tiap makelar tahu betapa pentingnya menyusun partai-partai dengan baik.
Tapi, menulis, kecuali surat-menyurat dengan prinsipal¹⁹, bukanlah keahlian saya, namun demikian saya merasa bahwa saya harus menulis, mungkin karena masadepan vak saya ter-gantung daripadanya. Keterangan-keterangan yang saya temukan dalam berkas-berkas Syaalman, tidak hanya berguna untuk Last & Co saja; kalau hanya berguna untuk Last & Co saja, tentu saya tidak bersusah payah untuk mencetak buku, yang juga akan dibaca oleh Busselinck & Waterman, sebab barang siapa yang menolong saingannya, adalah seorang gila; itu prinsip saya yang tegas. Tidak, saya menyadari bahaya yang mengancam seluruh pasaran kopi dengan kerusakan;—suatu bahaya yang hanya dapat dielakkan dengan mempersatukan tenaga semua makelar, malahan mungkin tenaga-tenaga itu tidak cukup kuat untuk itu, dan perlu diikutsertakan rafinadeur²⁰ dan pedagang-pedagang nila (Frits mengatakan: “rafineur”, tapi saya menulis “nadeur”. Rosemeiyer juga menyebutnya demikian, dan mereka berdagang gula. Saya tahu, bahwa orang mengatakan penjahat yang “gerafineerd”, dan bukan “gerafinadeerd”, tapi itu disebabkan karena orang harus singkat dan tegas menghadapi penjahat-penjahat).
Kalau saya pikir-pikir sementara menuliskan ini, rasa-rasanya pun perusahaan-perusahaan pelayaran berkepentingan, juga armada niaga ... memang, itu betul. Dan pembuat layar juga, dan menteri keuangan, dan pengurus-pengurus orang miskin, dan menteri-menteri lainnya, dan pembuat pastei, dan penjual barang kelontong, dan wanita-wanita, dan arsitek kapal, dan pedagang-pedagang besar dan kecil, penjaga rumah, dan pekerya kebun.
Dan, sungguh aneh bagaimana pikiran-pikiran timbul saja sementara menulis, buku saya juga penting bagi pemilik kincir, dan pendeta, dan penjual pil Holloway, dan pembuat likir, dan pembuat genteng, dan mereka yang hidup dari hutang Negara, dan pembuat pompa, dan pemintal tali, dan tukang tenun, dan tukang jagal, dan klerk-klerk di kantor makelar, dan pemegang saham Nederlandse Handelmaatskhappiy, dan sebenarnya, jika dipikir-pikir bagi semua orang lain juga ... Pun bagi Raja, ... ya, terutama Raja!
Buku saya harus diterbitkan. Tidak bisa lain ... biarlah Busselinck & Waterman juga membacanya, ... saya bukan orang yang iri hati; tapi mereka adalah orang korup dan penggunting dalam lipatan, sungguh! Hal ini saya katakan juga kepada Stern Yunior, ketika saya memperkenalkannya di “Artis“, biar dia tulis kepada ayahnya.
Sedang saya beberapa hari mengalami kesukaran dengan buku saya, tiba-tiba Frits menolong saya. Saya tidak mengatakan itu kepadanya, sebab saya tidak suka orang mengetahui kita berhutang budi kepadanya, itu adalah prinsip saya, tapi itu betul. Ia mengatakan, bahwa Stern seorang yang pintar, bahwa ia madiyu pesat dengan bahasa Belandanya, dan bahwa ia menerjemahkan sajak-sajak Syaalman dalam bahasa Jerman keda-lam bahasa Belanda. Nah, serba terbalik semuanya di rumah saya: orang Belanda menulis dalam bahasa Jerman, dan orang Jerman menerjemahkan kebahasa Belanda; kalau masing-masing mempergunakan bahasanya sendiri, orang tidak usah capek-capek. Tapi, pikir saya bagaimana kalau saya suruh Stern menulis buku saya, ... kalau ada yang hendak saya tambahkan, sekali-sekali akan saya tulis sendiri sebuah bab. Frits juga bisa membantu; dia mempunyai sebuah daftar kata-kata yang ditulis dengan dua ee, dan Mari bisa membuat salinan apik; ini sekaligus bagi pembaca merupakan jaminan bahwa tidak ada yang cabul, anda tentu mengerti bahwa seorang makelar yang sopan tidak akan memberikan kepada anak gadisnya sesuatu yang tidak sesuai dengan adat kesopanan.
Saya kemudian membicarakan rencana saya itu dengan Frits dan Stern, dan mereka setuju saja. Hanya nampaknya Stern, yang mempunyai sedikit bakat sastra, seperti semua orang Jerman, ingin mempunyai suara dalam cara pelaksanaan. Ini kurang menyenangkan bagi saya, tapi karena lelang musim semi sedang mendatang, dan saya belum mendapat pesanan dari Ludwig Stern, saya tidak mau terlalu membantahnya. Dia mengatakan, bahwa “bila jantungnja membara karena keindahan dan kebenaran, tiada kekuasaan di dunia yang dapat mencegahnya menyanyikan lagu yang seirama dengan perasaan itu; dan bahwa ia lebih baik diam dari membiarkan kata-katanya terbelenggu oleh rantai-rantai keji keseharian”. (Frits mengatakan “kesehari-harian”, tapi saya tidak setuju, kata itu sudah cukup panjangnya). Saya rasa Stern ini aneh juga, tapi saya utamakan vak saya, dan Stern Senior adalah langganan yang baik. Maka kami tetapkanlah:
- Bahwa ia setiap minggu akan menyerahkan beberapa bab untuk buku saya.
- Bahwa saya tidak akan merubah-robah tulisannya.
- Bahwa Frits akan memperbaiki kesalahan-kesalahan bahasa.
- Bahwa saya mempunyai hak untuk sekali-sekali menulis satu bab, supaya buku itu nampaknya padat.
- Bahwa judulnja ialah: Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda.
- Bahwa Mari akan membuat salinan rapi untuk dicetak, tapi harus diberi waktu kalau ada barang cucian.
- Bahwa bab-bab yang sudah selesai tiap minggu akan dibacakan dalam pertemuan.
- Bahwa segala yang asusila akan dihindarkan.
- Bahwa nama saya tidak akan dicantumkan pada judul, karena saya seorang makelar.
- Bahwa Stern akan boleh menerbitkan buku saya dalam terjemahan Jerman, Perancis, dan Inggris, sebab menurut dia, karya-karya demikian lebih dimengerti di luar negeri dari di dalam negeri.
- (ini permintaan Stern yang sangat) Bahwa Syaalman dikirimi satu rim kertas, satu gros pena, dan satu botol tinta.
Saya terima semua syarat itu, sebab buku saya perlu lekas selesai. Keesokan harinya Stern sudah selesai dengan babnya yang pertama,—dan itulah saudara pembaca, jawaban mengapa seorang makelar kopi (Last & Co, Lauriergrakht No. 37) menulis buku, yang seperti roman.
Tapi baru saja Stern mulai, ia sudah terbentur pada beberapa kesukaran. Kecuali kesukaran untuk mencari yang perlu-perlu dari bahan-bahan sebanyak itu, dan menyusunnya, selalu saja di dalam naskah-naskah itu, ia bertemu dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan, yang dia tidak mengerti, dan saya pun tidak tahu. Kebanyakannya bahasa Jawa atau Melayu; pun di sana-sini ada singkatan-singkatan yang sukar diartikan. Saya sadar, bahwa kami memerlukan Syaalman, dan karena menurut anggapan saya anak muda tidak baik menghubungi orang yang tidak beres, maka saya tidak mau mengirim Stern Ataupun Frits. Saya membawa sedikit gula-gula, sisa malam pertemuan terakhir, sebab saya ingat segala sesuatu, dan saya pergi mengunjunginya. Tempat tinggalinya tidak hebat, tapi persamaan bagi semua manusia, jadi juga mengenai tempat kediamannya, adalah suatu impian. Dia sendiri mengatakan ini dalam karangannya tentang hak manusia atas kebahagiaan. Lagipula, saya tidak suka orang yang selalu merasa tidak puas.
Ia tinggal di sebuah kamar belakang digang Leidskhe Dwarsstraat yang panjang. Di rumah bawah tinggal seorang tukang lowak, yang mendiyual segala macam, mangkuk, piring, perabot, buku-buku tua, barang kaca, potret-potret Van Speijk²¹ dan sebagainya. Saya takut sekali menyentuh sesuatu, sebab dalam hal demikian orang-orang itu selalu minta lebih banyak untuk barang yang pecah dari harganya yang sebenarnya. Seorang gadis kecil duduk di atas tangga, sedang memakaikan baju pada bonekanya, dan saya bertanya apakah Tuan Syaalman tinggal di situ; gadis itu lari ke dalam, dan ibunya keluar.
— “Ya, dia tinggal di sini, tuan. Naiklah tangga itu, sesudah serambi pertama, kemudian naik lagi sesudah serambi kedua, kemudian satu tangga lagi, di situlah dia. Manis, pergi bilangin dulu ada tuan. Kalau ditanya, siapa nama tuan?"
Saya katakan, bahwa saya Tuan Droogstoppel, makelar kopi, tinggal di Lauriergrakht, tapi saya akan menemuinya sendiri; saya naik seperti dikatakannya, dan di serambi ketiga saya dengar suara anak-anak menyanyi: “nanti papi pulang, papi yang manis". Saya mengetok dan pintu dibukakan oleh seorang perempuan atau seorang wanita,—saya sendiri tidak tahu persis harus disebut apa. Ia pucat sekali, dan air mukanya kelihatan letih; ia mengingatkan saya kepada istri saya sesudah selesai mengurus pakaian. Pakaian nyia kemeja panjang putih atau baju yang tanpa pancung sampai kelutut, di depan dikat dengan peniti hitam. Dia tidak memakai yapon atau rok yang pantas dibawhnya, tapi kain hitam berbunga-bunga, yang rupanya beberapa kali dililitkan sekitar tubuhnya, dan menutup pinggul dan lututnya dengan ketat. Tidak ada lipatan, tidak ada yang longgar atau lepas, seperti seharusnya pada seorang perempuan. Saya bersyukur tidak menyuruh Frits, sebab pakaian nyia saya rasa ceroboh sekali, dan keanehan itu ditambah lagi oleh cara ia bergerak dengan bebasnya, scolah-olah ia menganggap dirinya sudah baik betul demikian, dan rupanya ia sama sekali tidak mengetahui bahwa pakaian dan tingkah lakunya tidak seperti perempuan lain;—pun nampaknya ia sama sekali tidak merasa malu dengan kedatangan saya; ia tidak menyembunyikan apa-apa di bawah meja, tidak menggeser kursi-kursi, pendeknya, ia tidak melakukan sesuatu seperti lazimnya, jika ada orang asing datang dengan muka orang bermartabat.
Rambutnya disisirnya ke belakang seperti perempuan Cina, dan diikatnya di belakang menjadi semacam jerat atau buhul. Kemudian saya mendengar, bahwa pakaiannya itu adalah semacam “pakaian di Hindia”, yang di negeri itu disebut sarung dan kebaya, tapi saya rasa jelek sekali.
— “Apakah anda yufvrouw Syaalman?” tanya saya.
— “Dengan siapa saya mendapat kehormatan bicara?” tanyanya kembali, dengan nada seolah-olah ia hendak mengatakan bahwa saya pun seharusnya mesti lebih “hormat” bertanya.
Nah, saya tidak suka berbasa-basi. Dengan prinsipal soalnya lain, dan saya terlalu lama dalam perdagangan, untuk tidak mengetahui dunia saya; tapi untuk hormat menghormati di tingkat ketiga, saya rasa tidak perlu. Jadi, dengan singkat saya menjawab: “saya adalah Tuan Droogstoppel, makelar kopi, Lauriergrakht No. 37, dan bahwa saya hendak bicara dengan suaminya”.
Ditunjukkannya kursi rotan kepada saya, lalu diraihnya anak gadis kecil yang bermain di atas lantai, didudukkannya di pangkuannya. Anak laki-laki kecil yang saya dengar menyanyi tadi memandangi saya dengan tegang, dan melayangkan pandangnya dari kepala hingga ke kaki saya. Dia juga tidak memperlihatkan sikap malu-malu; umurnya kira-kira enam tahun, pakaiannya juga aneh; celananya yang longgar tidak sampai menutupi separoh pahanya, dan kakinya terbuka saja dari situ sampai kemata kaki. Sangat tak senonoh, saya rasa.—“Kau datang untuk bicara dengan Papa?” tiba-tiba ia bertanya kepada saya, dan saya segera mengetahui, bahwa anak itu kurang sekali pendidikannya; kalau terdidik, tentulah ia berkata: “Apakah Tuan”. Tapi karena saya tidak tahu bagaimana harus bersikap, dan ingin bicara-bicara, saya pun menjawab:—“Ya, uyung, saya datang untuk bicara dengan Ayah anda; apakah ia segera pulang?”—“Aku tidak tahu. Dia keluar, mencari wang untuk membelikan aku sekotak cat.” (Frits mengatakan sekotak cet, tapi saya tidak mau. Cat adalah cat, dan bukan cet).—“Sudah, yang, kata perempuan itu; pergilah bermain-main dengan gambar-gambarmu, atau dengan kotak mainan cina”.—“Kau tahu bukan, tuan itu sudah membawa semuanya kemarin”. Ibunya pun disebutnya dengan “kau”, dan rupanya ada seorang “tuan yang telah membawa semuanya” …… suatu kunjungan yang gembira! Perempuan itu pun nampaknya tidak berlega hati, sebab diam-diam ia menyapu air matanya, ketika membawa anak gadisnya kepada anaknya yang laki-laki itu.—“Nah, kata-nya, bermainlah dengan Noni”. Aneh nama itu. Dan anak-anak itu pun bermain-main.—“Nah, Yufvrouw, tanya saya, apakah suami anda akan segera pulang?”—“Saya tidak bisa memastikan” …… jawabnya. Tiba-tiba anak laki-laki yang tadinya bermain “kapal-kapalan” dengan adiknya itu, meninggalkan adiknya, dan bertanya kepada saya!—“Tuan, mengapa kau sebut mamaku “Yufvrouw”?²²—“Jadi, bagaimana yang, apa yang harus aku katakan?”—“Semua orang bilang …… “yufvrouw” ialah perempuan di bawah sana, yang menjual piring”. Saya adalah makelar kopi, Last & Co, Lauriergrakht, No. 37, kami tiga belas orang di kantor, dan kalau Stern yang tidak mendapat gaji, diikutsertakan, maka kami empat belas orang. Nah, istri saya disebut “Yufvrouw”, apakah saya sekarang harus menyebut perempuan di depan saya itu “mevrrouw”,—nyonya? Kan tidak bisa; setiap orang menurut kelasnya ... dan lagi pula, kemarin juru sita mengangkut segalanya, ... jadi, cukuplah saya menyebut “yufvrouw”, dan saya tetap pada pendirian itu.
Saya tanyakan mengapa Syaalman tidak datang kepada saya untuk mengambil kembali bungkusannya. Perempuan itu rupanya tahu tentang itu, dan mengatakan bahwa “mereka pergi ke Brussel, bahwa ia di sana bekerja untuk “Independance”, tapi tidak bisa tetap di situ, karena karangan-karangannya menyebabkan surat kabar itu sering diizinkan masuk ke dalam perbatasan Perancis; bahwa mereka sudah beberapa hari kembali di Amsterdam, karena Syaalman akan mendapat pekerjaan di sini ...”
— “Tentunya pada Gaafzuiger?” tanya saya.—“Ya, itulah dia; tapi gagal”, katanya. Saya lebih banyak tahu tentang itu. Dia menjatuhkan Aglaia, lagipula ia malas, sok pintar dan penyakitan ... karena itu ia diusir ...—“Dan, ia melanyutkan, dalam beberapa hari ini tentu ia akan datang kepada saya, dan barangkali juga sekarang ini sedang dalam perjalanan ke rumah saya, untuk meminta jawaban atas permohonannya”.
Saya katakan bahwa Syaalman harus datang, tapi ia tidak boleh membunyikan lonceng, sebab itu menyusahkan bagi pelayan; kalau dia mau menunggu, kata saya, maka pintu akan terbuka, kalau ada orang keluar. Lalu saya berangkat, dan saya bawa lagi gula-gula yang saya bawa, sebab terus terang saja, saya tidak suka di tempat itu. Saya tidak merasa senang. Make-lar bukan kuli, dan saya katakan tampang saya tampang orang baik-baik; saya memakai jas dengan bulu binatang, namun dia duduk saja dengan biasa dan berbicara dengan tenang kepada anak-anaknya, seolah-olah tidak ada orang lain. Lagipula nampaknya ia habis menangis, dan saya tidak suka orang-orang yang selalu tidak puas; dan lagi tempat itu dingin dan suasananya tidak akrab, mungkin karena barang-barang telah diangkut, dan saya suka suasana akrab dalam kamar. Dalam
perjalanan pulang, saya memutuskan untuk mempertimbangkan kedudukan Bastiaans sekali lagi, sebab saya tidak suka memecat seseorang.
Sekarang menyusul minggu pertama bagi Stern. Sudah barang tentu banyak hal-hal di dalamnya yang tidak saya suka, tapi saya harus berpegang pada pasal dua, dan keluarga Rosemeiyer setuju;—tapi saya kira mereka memuji-muji Stern, karena ia mempunyai paman di Hamburg, yang berdagang gula.
Syaalman memang datang ke rumah; dia bicara dengan Stern, dan menjelaskan kepadanya beberapa kata dan hal-hal yang dia tidak mengerti, yang Stern tidak mengerti, maksud saya. Saya minta sekarang pembaca dengan sabar membacai bab-bab berikut, nanti kemudian saya akan memberikan lagi sesuatu yang padat dari saya, Batavus Droogstoppel, makelar kopi: (firma Last & Co, Lauriergrakht, No. 37).
¹ Pengagum.
² Sebuah sositet.
³ “Semua ada sedikit-sedikit, berarti sama sekali tidak ada apa-apa”, atau: “Anekaragam (berarti) tidak banyak”.—Segalanya ada sedikit-sedikit, tidak ada yang mendalam.
⁴ Keengganan kepada kekosongan.
⁵ Perkakas yang selalu memberikan pekerjaan berguna, tanpa bantuan tenaga kerja manusia.
⁶ Seorang Jerman pengarang roman, ± 1800.
⁷ Seorang Itali, yang dalam tahun 1858 mencoba membunuh Napoleon III dengan bom.
⁸ Kitab-kitab yang tidak dimasukkan dalam Kitab Injil dan tidak diakui oleh Gereja.
⁹ Suasana keakraban.
¹⁰ Bunyi yang merdu dalam hubungan kata.
¹¹ Laut yang memancarkan cahaya fosfor.
¹² Sikap hormat terhadap wanita.
¹³ Seorang penyair rakyat abad ke-19.
¹⁴ Kurs yang lebih tinggi.
¹⁵ Seorang pendeta dan ahli ekonomi Inggris (±1800), terkenal karena ajarannja mengenai kelebihan penduduk.
¹⁶ Hak untuk memiliki sesuatu sebagai orang pertama.
¹⁷ Hak balas membalas.
¹⁸ Lem surat.
¹⁹ Yang memberikan perintah.
²⁰ Pemurni gula.
²¹ Seorang tokoh yang amat dikagumi dalam zamannya.
²² Yufvrouw pada waktu itu adalah sebutan biasa bagi seorang wanita yang sudah kawin; mevrrouw dipakai untuk wanita kalangan tinggi yang sudah kawin.
Bab V
Pagi-pagi jam sepuluh ada keramaian yang tidak lazim di jalan besar yang menghubungkan daerah Pandeglang dengan Lebak. “Jalan besar” mungkin terlalu hebat untuk jalan kecil yang demi menghormati dan karena tidak ada yang lebih baik, disebut jalan; tapi jika kita, dengan kereta empat kuda berangkat dari Serang, ibukota Bantam, dengan maksud untuk pergi ke Rangkas-Betung, ibukota baru daerah Lebak, maka bolehlah dipastikan bahwa kita akan sampai ke tempat itu se-sudah beberapa waktu. Jadi, itu memang jalan. Saban se-bentar kereta masuk ke dalam lumpur, yang di tanah rendah Bantam itu padat, lihat dan kental;—setiap kali terpaksa diminta bantuan dari penduduk di desa-desa dekat situ,—mes-ki pun tidak terlalu dekat, sebab desa-desa itu tidak banyak di-daerah itu,—tapi apabila kita akhirnya berhasil mengumpulkan dua puluh petani dari sekitar situ, maka biasanya tidak lama kemudian kuda-kuda dan kereta sudah berada di tanah keras lagi. Sang kusir membunyikan cambuknya; pejalan kaki,—di Eropa saya kira disebut “palfrenier”, atau sebenarnya di Eropa tidak ada yang bisa disamakan dengan pejalan-pejalan kaki ini,—pejalan-pejalan kaki yang tidak ada samanya itu, dengan cambuk-cambuknya yang pendek dan tebal, melom-pat-lompat lagi di samping kuda yang empat, mereka itu ber-teriak-teriak mengeluarkan bunyi-bunyi yang tidak bisa dilukis-kan, dan mencambuk kuda-kuda itu di bawah perutnya untuk menggalakkannya.
Demikianlah perjalanan diteruskan beberapa waktu tergoncang-goncang, sampai datang lagi saat yang menyedihkan, kereta masuk lagi sampai keasnya ke dalam lumpur. Maka kedengaran pula teriakan minta tolong,—ditunggu sampai pertolongan itu datang, dan diteruskanlah perjalanan dengan susah payah.
Sering kali apabila saya melewati jalan itu, saya merasa seolah-olah akan menemukan di salah satu tempat sebuah kereta dengan penumpang-penumpang abad yang lalu, masuk ke dalam lumpur dan dilupakan. Tapi ini tidak pernah terjadi. Jadi, saya kira, tiap orang yang pernah melalui jalan itu, akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.
Orang akan keliru sekali, jika mempunyai gambaran tentang seluruh jalan besar di pulau Jawa, menurut ukuran jalan di daerah Lebak itu. Jalan raya yang sebenarnya, dengan cabang-cabangnya yang banyak, yang disuruh Marsekal Daendels buat dengan pengorbanan yang besar dari rakyat, sesungguhnya merupakan suatu pekerjaan yang hebat, dan kita takjab dengan semangat orang itu, yang dengan menempuh segala kesukaran yang dilintangkan orang-orang yang iri hati dan kawan-kawannya di tanah airnya, berani menghadapi rakyat yang enggan dan kepala-kepala yang tidak senang, untuk mengerjak sesuatu, yang sampai sekarang masih menimbulkan kekaguman tiap pengundung dan sepantasnya dikagumi.
Tidak ada jalan pos kuda di Eropa, pun tidak di Inggris, Rusia atau Hongaria, yang dapat disamakan dengan jalan pos kuda di pulau Jawa. Melalui punggung gunung yang tinggi-tinggi, menyusur jurang yang mengerikan, kereta yang sarat barang-barang, terus mencongklang tiada hentinya. Sang kusir duduk di atas terpul seperti terpaku, berjam-jam, ya, berhari-hari terus menerus, dan mengayun cambuk dengan tangan besi. Dan dapat menghitung dengan tepat di mana dan sampai berapa jauh ia harus menahan kuda-kuda yang sedang berlari, dan kemudian sesudah terbang menuruni lembah-lembah lereng gunung, nun di ujung itu ……
— “Ya, Tuhan, jalan itu …… kita masuk ke dalam jurang, jerit orang yang tidak berpengalaman, di situ tidak ada jalan …… di situ ada jurang!”
Ya, demikianlah nampaknya. Jalan meliku, satu loncatan lagi dan jatuhlah pasangan kuda depan ke dalam jurang, tapi justru pada saat itu kuda-kuda membelok, dan kereta melayang memutar sudut. Mereka terbang ke gunung tinggi, yang saat sebelumnya tidak anda lihat, …… dan jurang sudah ada di belakang anda.
Ada saat-saat tatkala kereta hanya berpijak pada roda di sisi dalam busur yang dijalaninja. Tenaga sentrifugal telah mengangkat roda-roda luar dari atas tanah. Perlu ketenangan luar biasa untuk tidak memejamkan mata, dan barangsiapa yang pertama kali melakukan perjalanan di pulau Jawa, biasanya menulis surat kepada keluarganya di Eropa, bahwa ia terlepas dari bahaya maut; tapi mereka yang sudah biasa, tertawa saja.
Saudara pembaca, bukanlah maksud saya, terutama tidak pada permulaan cerita saya, untuk meminta perhatian anda lama-lama terhadap lukisan tempat-tempat, tamasya alam atau gedung-gedung. Saya kuatir anda akan bosan karena cerita saya yang bertele-tele; baru kemudian, jika saya merasa bahwa anda memperhatikan sepenuhnya cerita saya, jika saya melihat dalam pandangan dan sikap anda, bahwa anda memperhatikan nasib tokoh pahlawan wanita yang meloncat dari tingkat keempat, barulah saya, dengan tidak memperhatikan sama sekali segala hukum gaya berat, membiarkan dia melayang antara langit dan bumi, sampai saya puas menggambarkan dengan teliti keindahan-keindahan tamasya alam, atau gedung yang rupanya ada di situ, untuk memberi kesempatan bicara berhalaman-halaman mengenai arsitektur abad pertengahan. Semua puri serupa yang satu dengan yang lain. Puri-puri itu tidak berubah-obah dan selalu merupakan susunan bangunan yang heterogen. “Corps de logis”¹ selalu berasal dari beberapa pemerintahan terdahulu, kemudian tambahan-tambahan ditambahkan ketika seseorang raja berkuasa sesudah itu. Menara-menara dalam keadaan bobrok ...
Saudara pembaca, tidak ada menara-menara. Suatu menara adalah buah pikiran, suatu impian, suatu ideal. Ada “menara-menara separoh” dan “menara-menara kecil”.
Orang-orang yang fanatik, yang mengira harus membangun menara-menara di atas gedung-gedung yang didirikan untuk menghormati orang suci ini atau itu, tidak cukup lama hidup untuk menyelesaikannya, dan puncak tajam yang harus menunjukkan sorga kepada orang-orang beriman, biasanya terletak beberapa jalan berputar di bawah yang semestinya, di atas dasar yang masif, yang mengingatkan kepada orang laki-laki tanpa paha dikermis. Hanya “menara-menara kecil”, menara-menara runcing yang kecil, di atas gereja-gereja dusun, yang dikerjakan dengan rapi sampai selesai.
Bukanlah suatu hal yang membanggakan bagi peradaban Barat, bahwa jarang pikiran untuk mewuyudkan karya yang besar, dapat bertahan, cukup lama untuk melihat karya itu selesai dikerjakan. Saya sekarang tidak bicara tentang pekerjaan-pekerjaan yang perlu diselesaikan untuk menutup ongkos-ongkos; barangsiaapa yang hendak mengetahui dengan tepat apa yang saya maksud, hendaklah melihat gereja Dom di Keulen. Hendaknya ia menggambarkan dengan jelas tanggapan yang agung tentang gedung itu, dalam jiwa arsiteknya;—membayangkan keimanan dalam hati rakyat, yang memungkinkan arsitek itu memulai pekerjaan dan meneruskannya;—membayangkan pengaruh pikiran-pikiran yang diperlukan oleh bangunan raksasa demikian, supaya dapat menjadi gambaran yang nyata dari rasa keagamaan yang tidak kelihatan;—dan hendaklah ia membandingkan kerasukan itu dengan arahnya, yang beberapa abad kemudian melahirkan saat di mana orang menghentikan pekerjaan ...
Ada suatu celah yang dalam antara Erwin Van Steinbakh² dan arsitek-arsitek kita! Saya tahu, bahwa sudah bertahun-tahun orang sibuk menimbun celah itu; ... pun di Keulen orang membangun lagi gereja Dom. Tapi dapatkah tali yang putus disambung kembali; dapatkah kita menemukan kembali di zaman kita ini, apa yang ketika itu merupakan tenaga pemangku gereja dan arsitek? Saya kira tidak. Uang bisa disediakan, dengan itu bisa dibeli batu dan kapur;—seniman yang membuat rencana bisa dibayar, demikian pula tukang batu, yang memasang batu ... Tapi tidak bisa dibeli dengan wang perasaan yang kesasar namun patut dihormati, yang melihat suatu rencana bangunan sebagai suatu sajak, suatu sajak dari granit yang bicara keras kepada rakyat; suatu sajak dalam batu pualam yang berdiri di sana sebagai dua abadi yang tidak bergerak, dua terus menerus.
Nah, di perbatasan antara Lebak dan Pandeglang pada suatu pagi ada keramaian yang luar biasa. Beratus-ratus kuda berpela-na menutup jalan, dan sekurang-kurangnya seribu orang, jumlah yang banyak untuk tempat itu, berjalan mondar-mandir sibuk menunggu. Nampak di sana kepala-kepala desa, kepala-kepala distrik daerah Lebak, masing-masing dengan pengiring-nya; dan melihat kuda Arab baster yang elok dan berpakaian mewah sedang menggigit kekang perak dalam rombongan itu, mestinya turut hadir seorang kepala yang tinggi kedudukannya di tempat itu. Dan memang demikian. Bupati Lebak, Raden Adipati ... meninggalkan Rangkas-Betung dengan iringan yang besar, dan Meskipun usianya sudah tinggi ia telah menjalani dua belas atau empat belas pal³, yakni jarak antara tempat kediamannya dan daerah Pandeglang.
Mereka sedang menunggu seorang asisten residen yang baru; dan kelaziman yang di negeri Hindia mempunyai kekuatan hukum, lebih-lebih dari di tempat lain, menghendaki bahwa pejabat yang bertugas memerintah suatu daerah, harus disambut secara meriah waktu ia datang di daerah itu. Pun kontelir, seorang laki-laki separoh baya, yang telah beberapa bulan sejak meninggalnya asisten residen yang lalu, menjalankan pemerintahan sebagai orang pertama di bawah pangkatnya, hadir di sana.
Segera setelah diketahui bahwa asisten residen yang baru itu tidak lama lagi akan datang, cepat-cepat didirikan sebuah “pendopo”; sebuah meja dan beberapa kursi dibawa ke sana, disediakan buah-buahan dan minuman yang sejuk, dan di dalam pendopo itu bupati dan kontelir menunggu kedatangan sep baru itu.
“Pendopo” adalah ekspresi yang paling sederhana dari ide “atap”, yaitu jika tidak terhitung topi berpinggir lebar, payung, atau pohon yang berlobang di dalam. Anda bayangkanlah empat atau enam tiang bambu yang dipancangkan di atas tanah, ujung-ujungnya dihubungkan dengan bambu-bambu yang lain, dan ditutup dengan daun-daun nipah yang di daerah ini disebut “atap”; itulah pendopo. Anda lihat, sederhana sekali, dan memang maksudnya hanya sebagai “pied a terre”⁴, untuk pejabat-pejabat Eropa dan Bumiputera, yang datang di sana untuk mengelu-elukan kepala baru di perbatasan.
Kurang tepat jika saya menyebut asisten residen juga adalah kepala bupati. Perlu dijelaskan panjang lebar susunan pemerintahan di daerah-daerah itu.
Mengenai hubungan negeri Belanda dengan penduduk, apa yang disebut “Hindia Belanda”—saya rasa penggunaan ajektif kata “Belanda” kurang benar, tapi sudah resmi,—dapat dibagi dalam dua bagian utama. Satu bagian terdiri dari sukubangsa-sukubangsa, yang raja-rajanja, besar atau kecil, mengakui kedaulatan pemerintah Belanda sebagai pelindung, tapi pemerintahan langsung sedikit banyaknya masih tetap dalam tangan kepala-kepala Bumiputera sendiri. Satu bagian lain, termasuk dalamnya seluruh pulau Jawa, dengan beberapa kekecualian kecil yang semu pula, langsung takluk sama sekali kepada negeri Belanda. Di sini tidak ada soal bea atau upeti atau persekutuan. Orang Jawa adalah kaula Belanda. Raja Belanda adalah rajanja. Turunan raja-raja dan tuan-tuannya dahulu adalah pejabat-pejabat Belanda; mereka diangkat, dipindahkan, dinaikkan pangkat, dipecat oleh gubernur jenderal, yang memerintah atas nama raja. Penjahat dikenakan hukuman dan divonis menurut undang-undang yang keluar dari s Gravenhage. Pajak yang dibayar oleh orang Jawa masuk ke dalam kas negeri Belanda ……..
Di dalam buku ini terutama dimaksud hanya bagian ini dari hak milik Belanda, yang karena itu sungguh-sungguh merupakan bagian dari Kerajaan Belanda.
Gubernur jenderal didampingi oleh sebuah dewan, tapi dewan itu tidak mempunyai pengaruh menentukan atas keputusan-keputusannya. Di Betawi berbagai cabang pemerintahan itu terbagi atas departemen-departemen, yang dikepalai oleh direktur-direktur; mereka ini merupakan mata rantai pemerintahan tinggi gubernur jenderal, dan residen-residen di propinsi-propinsi. Tapi dalam urusan-urusan yang bersifat politik, pejabat-pejabat itu langsung berhubungan dengan gubernur jenderal.
Penamaan “residen” berasal dari masa tatkala negeri Belanda hanya menjadi penguasa tak langsung atas rakyat, dengan meminjamkan tanah, dan diwakili diustana-istana raja-raja yang masih memerintah, oleh residen-residen. Raja-raja tidak ada lagi; residen-residen telah menjadi penguasa-penguasa swapraja, mereka itu jadi gubernur-gubernur daerah, prefek-prefek. Lingkungan kerjanya sudah berubah, tapi namanya tetap.
Residen-residen itulah sebenarnya yang mewakili Kekuasaan Belanda terhadap penduduk Jawa. Rakyat tidak mengenal gubernur jenderal, anggota-anggota dewan Hindia, Maupun direktur-direktur di Betawi; rakyat hanya mengenal residen dan pejabat-pejabat bawahannya yang memerintah mereka itu.
Residensi itu—ada yang berpenduduk hampir satu juta jiwa—terbagi atas tiga, empat atau lima daerah atau kabupaten, yang dikepalai oleh asisten residen asisten residen. Di bawahnya pemerintahan dilakukan oleh kontelir-kontelir, op-siner-opsiner dan sejumlah besar pejabat-pejabat lain, yang diperlukan untuk menagih pajak, mengawasi pertanian, medi-rikan gedung-gedung, untuk pekerjaan jawatan pengairan, polisi dan urusan hukum.
Dalam setiap daerah seorang kepala Bumiputera berpangkat tinggi dengan gelar Bupati, mendampingi asisten residen. Bupati demikian, Meskipun hubungannya terhadap pemerintah dan ling-kungan kerjanya, semata-mata sebagai pejabat bayaran, selalu dari golongan bangsawan tinggi, dan sering berkeluarga dengan raja-raja, yang dahulu pernah memerintah sebagai penguasa merdeka di dalam swapraja atau diderah sekitar situ. Dengan demikian secara politis dipergunakan pengaruh feodal mereka yang lama, yang di seluruh Asia penting sekali, dan pada ke-banyakan sukubangsa dianggap sebagai soal keagamaan. Dengan mengangkat kepala-kepala itu menjadi pejabat, terciptalah semacam hierarkhi, di puncaknya kekuasaan Belanda yang di-jalankan oleh gubernur jenderal.
Tidak ada sesuatu yang baru di bawah kolong langit. Bukan-kah Graf Kerajaan, Graf Daerah Mark, Graf Daerah Gau, Graf Perbatasan dan Graf-graf lainnya dalam kerajaan Jerman juga diangkat oleh Kaisar, dan biasanya dipilih dari baron-baron? Saya tidak akan bicara panjang lebar tentang asal usul kaum bangsawan, yang sama sekali adalah hal yang fitri, namun saya ingin mengatakan, bahwa di sini Maupun di negeri Hindia, yang jauh itu, sebab-sebab yang sama mempunyai akibat-akibat yang sama. Sebuah negeri harus diperintah dari jarak jauh, maka untuk itu diperlukan pejabat-pejabat yang mewakili pemerintah pusat. Di bawah sistim pemerintahan militer yang sewenang-wenang, untuk itu bangsa Rumawi memilih prefek-prefek, biasanya panglima legiun⁵ yang menaklukkan daerah yang direbut. Maka itu daerah-daerah demikian disebut “Propinsi”, artinya: wilayah taklukan. Tapi ketika kemudian kekuasaan pusat kerayaan Derman perlu mengikat suatu bangsa yang jauh dari pusat dengan carai lain dari kekuatan fisik belaka, apabila suatu daerah yang jauh dianggap menjadi sebagian dari kerayaan karena persamaan keturunan, bahasa dan adat kebiasaan, maka dirasakan perlunya menugaskan seseorang untuk memimpin, seseorang yang bukan saja berasal dari daerah itu, tapi juga yang karena kedudukannya lebih tinggi derajatnya dari sesamanya warga daerah itu, supaya perintah-perintah kaisar mudah dipatuhi, karena sama-sama ada kesediaan untuk tunduk kepada orang yang ditugaskan menyalankan perintah-perintah itu; dengan demikian dapatlah pula dihindarkan seluruhnya atau sebagian pengeluaran untuk tentara yang waspada setiap waktu atas beban kas negara, atau seperti yang biasanya terjadi, atas beban daerah-daerah itu sendiri, yang harus dijaga oleh tentara demikian. Maka dipilihlah graf-graf yang mula-mula dari baron-baron di dalam negeri, menjadi sebarnya “graf” itu bukan suatu gelar bangsawan, tapi hanya panamaan bagi seseorang yang diberi sesuatu jabatan. Jadi saya kira di abad pertengahan orang berpendapat, bahwa kaisar Derman berhak untuk mengangkat “Graf-graf” (pemerintah swapraja) dan “Hertog-hertog” (panglima-panglima tentara), tapi baron-baron mengatakan, bahwa menurut kelahirannya, mereka sama dengan kaisar, mereka hanya tunduk kepada Tuhan, di samping kewadibannya mengabdi kepada kaisar, itu pun hanya jika kaisar itu dipilih dengan persetuyuan mereka dan dari kalangan mereka. Seorang Graf menduduki jabatan yang untuk itu kaisar memanggilnya; seorang Baron menganggap dirinya “baron karena karunia Tuhan”. Graf mewakili kaisar, dan sebagai demikian memakai panji-panji kaisar; seorang baron mengerahkan rakyat di bawah panji-panjinja sendiri sebagai Pemangku Panji-panji.
Keadaan bahwa graf dan hertog biasanya dipilih dari baron-baron, menyebabkan bahwa mereka mempergunakan pengaruh pentingnya pekerjaan mereka bersama-sama dengan pengaruh
keturunannya, dan rupanya itulah sebabnya maka kemudian gelar Graf dan Hertog dianggap lebih utama dari Baron, terutama sesudah orang terbiasa dengan turun temurunnya jabatan itu. Sampai sekarang banyak keluarga baron, yang menolak dijadikan graf, sebab itu dianggap merendahkan; karena mereka itu tanpa restu kaisar atau raja—menganggap kebangsawanannya asli, mereka selalu bangsawan, sejak adanya negeri, karena itu mereka bangsawan. Banyak contoh-contohnya.
Orang-orang yang ditugaskan memerintah suatu wilayah graf, tentu saja mencoba mempengaruhi kaisar, suapaya putra-puteranya, atau jika mereka tidak berputera, keluarganya yang lain menggantikan mereka dalam jabatannya. Dan memang lazimnya demikian yang terjadi, Meskipun saya kira hak penggantian itu tidak diakui secara organik⁶, sedikitnya mengenai jabatan-jabatan demikian di negeri Belanda, seperti misalnya graf Holland, Selandia, Vlaanderen, Henegouwen; hertog Brabant, Gelderland, dan lain-lain. Jabatan itu mula-mula merupakan suatu anugerah, kemudian suatu kebiasaan, dan akhiirnya suatu keharusan, tapi tidak pernah hak turun temurun itu menjadi hukum undang-undang.
Hampir dengan cava yang sama, mengenai pilihan orang-orang, sebab di sini tidak ada persamaan penuh lingkungan keraya, suatu wilayah di pulau Jawa dikepalai oleh seorang pejabat Bumiputera, yang menghubungkan pangkat yang diberikan kepadanya oleh gubernemen dengan pengaruh “autokhton”⁷, untuk memudahkan pejabat Eropa yang mewakili kekuasaan Belanda, menjalankan pemerintahan. Pun di sini hak turun temurun, tanpa ditetapkan dengan undang-undang, menjadi kebiasaan. Selagi bupati masih hidup soal ini biasanya sudah diatur, dan adalah sebagai ganjaran atas kerajinan dan kesetiaan, jika kepadanya dijanjikan, bahwa ia dalam jabatannya akan digantikan oleh puteranya; kalau orang menyimpang dari kebiasaan ini, tentu ada sebab-sebab yang penting sekali, dan jika demikian halnya, biasanya yang dipilih sebagai pengganti itu, masih anggota keluarga pejabat itu yuga.
Hubungan antara pejabat-pejabat Eropa, dan pembesar-pembesar Jawa yang tinggi kedudukannya demikian, sangat halus. Asisten residen suatu wilayah adalah orang yang bertanggungyawab; dia mendapat petunjuk-petunjuk, dan dianggap sebagai kepala wilayah. Tapi ini tidak mencegah bahwa bupati jauh lebih tinggi kedudukannya daripadanya, karena pengetahuannya tentang tempat, karena kelahiran, karena pengaruhnya kepada penduduk, karena penghasilannya berupa keuangan, dan karena caranya hidup yang sesuai dengan itu. Lagipula bupati, sebagai lambang "unsur Jawa" dalam wilayohnya, dianggap berbicara atas nama seratus ribu atau lebih penduduk kabupatennya, dan merupakan orang yang jauh lebih penting dalam mata gubernemen dari pegawai Eropa biasa. Orang tidak perlu takut kepada pejabat Eropa itu kalau ia tidak senang, sebab banyak yang lain yang bisa menggantikannya, sedangkan kemarahan seorang bupati mungkin bisa menjadi benih huru-hara dan pemberontakan.
Jadi, dari semua ini timbul keanehan, bahwa sebenarnya orang bawahan memerintah orang atasan. Asisten residen memerintahkan kepada bupati memberikan laporan kepadanya;—dia memerintahkan supaya bupati mengirim orang untuk mengerjakan jembatan dan jalan-jalan;—dia memerintahkan bupati untuk memungut pajak;—dia memanggilnya hadir dalam sidang pengadilan negeri, di mana dia, asisten residen, menjadi ketua; dia menegur bupati, jika ia lalai melakukan kewajibannya. Hubungan yang aneh ini hanya dimungkinkan dengan tatacara yang hormat sekali, tanpa meninggalkan keakraban, atau di mana perlu, ketegasan, dan saya kira suasana yang harus berlaku dalam hubungan ini dinyatakan dengan baik dalam aturan resmi tentang itu: "pejabat Eropa" harus memperlakukan pejabat bumiputera yang mendampinginya, sebagai “saudaranya yang lebih muda”.
Tapi dia jangan lupa, bahwa “saudara yang lebih muda” itu sangat dicintai,—atau ditakuti,—oleh orang tuanya, dan bahwa jika terbit pertengkaran, kelebihan umurnya segera akan disebut-sebut sebagai alasan untuk memarahi dia, karena tidak memperlakukan “adiknya” dengan lebih sabar.
Sifat hormat yang telah menjadi pembawaan pembesar Jawa,—bahkan orang Jawa yang sederhana pun jauh lebih hortat dari orang Eropa yang sama sederajat dengannya,—membuat hubungan yang nampaknya sukar itu menjadi mudah, lebih mudah dari yang disangka. Orang Eropa hendaklah tahu adat, sopan, dan tingkah lakunya berwibawa, ramah, niscaya sang bupati sebaliknya akan memudahkan pekerjaannya dalam pemerintahan. Perintah yang keras, dinyatakan dengan cara meminta, dijalankan dengan cermat. Perbedaan kedudukan, kelahiran, kekayaan, dihapuskan sendiri oleh bupati, yang merangkul siorang Eropa sebagai wakil raja Belanda, dan akhirnya terciptalah suatu hubungan, yang jika dilihat sepintas lalu, harusnya menimbulkan bentrokan, tapi sering menjadi sumber pergaulan yang menyenangkan.
Saya katakan, bahwa bupati-bupati demikian juga lebih utama karena kekayaannya, dan itu sudah sewajarnja. Si orang Eropa, jika ia mendapat tugas untuk memerintah suatu propinsi, yang luasnya sama dengan kebanyakan wilayah hertog di Jerman, biasanya adalah orang yang separoh baya atau lebih dari separoh baya, sudah beristri dan punya anak,….. dia bekerja untuk mencari nafkah. Penghasilannya pas-pasan saja, dan malahan sering tidak cukup untuk keperluan keluarganyya. Bupati itu ialah “Tumenggung”, “Adipati”, ya bahkan “Pangeran”, Raja Jawa. Soalnya baginya bukanlah supaya ia bisa hidup,—dia harus hidup sebagaimana rakyat biasa melihatnya dalam kedudukannya sebagai bangsawan. Sedangkan orang Eropa meninggali sebuah rumah, sering kali tempat kediaman bupati ialah sebuah “Keraton”, dengan rumah-rumah dan desadesa di dalamnya. Di mana orang Eropa mempunyai seorang istri dengan tiga, empat anak, maka bupati memelihara seyumlah perempuan dengan segala embel-embelnya. Di mana orang Eropa bepergian dengan diiringi oleh beberapa orang pejabat, cukup untuk memberikan beberapa keterangan dalam perjalanan inspeksi,—maka bupati diiringi oleh beratus-ratus orang, yang di dalam mata rakyat tidak bisa dipisahkan dari derajatnja yang tinggi. Orang Eropa hidup sebagai warga; sang bupati hidup,—atau dianggap hidup,—sebagai raja.
Tapi untuk semua ini harus keluar ongkos. Pemerintah Belanda, yang bersandar pada pengaruh bupati-bupati itu, tahu akan hal ini, jadi, lebih dari wajar bahwa ia meningkatkan penghasilannya begitu tinggi, sehingga orang “bukan Bumiputera” menganggapnya berlebih-lebihan, tapi sebenarnya penghasilan itu jarang mencukupi untuk menutup pengeluaranpengeluaran yang berhubungan dengan cara hidup kepala Bumiputera demikian. Bukan hal yang tidak lazim, bahwa bupati-bupati yang mempunyai penghasilan dua kali, ya, tiga kali seratus ribu setahun, mengalami kesukaran keuangan. Hal yang demikian itu disebabkan pula oleh sikap mereka yang acuh tak acuh, laksana raja, menghambur-hamburkan penghasilannya; oleh kelalaian mereka dalam mengawasi bawahannya; oleh penyakit mereka mau membeli segalanya, dan terutama, oleh karena sifat-sifat itu sering disalahgunakan oleh orang Eropa.
Penghasilan kepala-kepala bangsa Jawa, dapat dibagi dalam empat bagian. Pertama, wang bulanan yang sudah ditentukan; kemudian suatu jumlah tetap sebagai ganti rugi atas hak-hak yang sudah dibeli, yang sudah pindah ke tangan pemerintah Belanda; ketiga suatu hadiah yang sebanding dengan jumlah barang yang dihasilkan oleh kabupatennnya: kopi, gula, nila, kayu manis, dan sebagainya; dan akhirnya, mereka dengan sewenang-wenang mempergunakan tenaga dan barang kepunyaan rakyatnya.
Dua macam sumber yang disebut terakhir, memerlukan sedikit penjelasan. Orang Jawa sebenarnya petani; tanah di mana dia lahir, yang banyak menghasilkan dengan sedikit keluar keringat, membikin hatinya tertarik untuk menjadi petani; dan terutama, ia dengan seluruh jiwa raganya berkeinginan untuk menanami sawahnya, dan dalam hal itu ia sangat cekatan. Ia tumbuh di tengah sawah-sawahnya, gagah-gagah dan tiparnya, sejak kecil ia mengikuti ayahnya ke ladang, di mana ia membantu ayahnya membajak dan mencangkul, mengerjakan bendungan dan saluran air untuk mengairi ladang-ladangnya. Usianya dihitungnya dengan berapa kali panen, lamanya waktu dinyatakannya dengan warna batang padi di ladang; dia merasa senang dite ngah teman-temannya memotong padi; ia mencari jodohnya di tengah gadis desa yang sambil menyanyi gembira malam hari menumbuk padi untuk melepaskan kulitnya; memiliki sepasang kerbau yang akan membajak sawahnya, itulah cita-citanya;... pendeknya, menanam padi bagi orang Jawa, adalah sama dengan memetik anggur bagi orang di daerah Riyn dan di Selatan Perancis.
Tapi datanglah orang-orang asing dari Barat; mereka itu menjadikan dirinya pemilik tanah itu. Mereka hendak mendapat untung dari kesuburan tanah itu, dan menyuruh penduduk memberikan sebagian tenaga dan waktunya untuk menghasilkan tanaman-tanaman lain, yang lebih menguntungkan di pasar-pasar Eropa. Untuk menggerakkan orang-orang yang sederhana itu, cukuplah mempunyai pengetahuan politik sedikit. Mereka patuh kepada kepala-kepalanya; jadi cukuplah kalau dapat mempengaruhi kepala-kepalanya itu, dengan menjanjikan sebagian keuntungan kepada mereka ..., dan,—mereka berhasil.
Kalau kita perhatikan betapa banyaknya hasil-hasil pulau Jawa, yang dilelang di negeri Belanda, menjadi yakinlah kita betapa suksesnya politik itu, Meskipun tidak mulia. Sebab, kalau ada orang bertanya apakah sipetani sendiri mendapat upah sebanding dengan hasilnya, maka saya harus mengatakan tidak. Pemerintah mewajibkan menanam di tanahnya sendiri apa yang dikehendaki oleh pemerintah; pemerintah menghukumnya, jika ia menjual hasil yang diperoleh dengan cara itu kepada siapa pun juga, kecuali pemerintah, dan pemerintah sendiri yang menetapkan harga, yang akan dibayarnya untuk itu. Ongkos-ongkos pengangkutan ke Eropa dengan perantaraan badan perdagangan yang diberi hak istimewa, tinggi; wang penggairah yang diberikan kepada kepala-kepala, memberatkan pula harga beli,—dan karena seluruh perdagangan harus memberikan untung, keuntungan itu tidak bisa didapat dengan cara lain dari membayar siorang Jawa sekedar supaya ia jangan mati kelaparan, hal mana akan mengurangi tenaga hasil bangsa itu.
Pun kepada pejabat-pejabat Eropa dibayarkan upah sebanding dengan penghasilan ……
Memang orang Jawa yang miskin dilecut oleh dua kekuasaan; memang ia ditarik dari mengerjakan sawah-sawahnya;—memang tindakan-tindakan itu sering kali mengakibatkan bahaya kelaparan, …… tapi di Betawi, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Probolinggo, Pacitan, Cilacap, bendera-bendera berkibar gembira di kapal-kapal yang sarat memuat hasil panen yang menjadikan negeri Belanda kaya raya.
Bahaya kelaparan? …… di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, bahaya kelaparan? Ya, saudara pembaca; beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan, …… ibu-ibu menjual anaknya untuk makan, …… ibu-ibu memakan anaknya sendiri ……
Tapi kemudian negeri Belanda turun tangan. Di ruang-ruang sidang perwakilan rakyat orang merasa tidak senang dengan hal itu, dan gubernur jenderal tatkala itu memerintahkan jangan lagi menambah apa yang disebut Hasil-hasil pasar Eropa sampai orang kelaparan …… Saya jadi merasa geram. Siapakah yang dapat menuliskan hal-hal demikian tanpa merasa geram?
Akhirnya saya akan membicarakan jenis penghasilan yang terakhir dan terutama dari kepala-kepala Bumiputera, yakni penggunaan sewenang-wenang tenaga orang dan milik rakyat.
Menurut pengertian umum hampir di seluruh Asia, rakyat dengan segala miliknya adalah kepunyaan raja. Demikian pula di pulau Jawa. Keturunan atau keluarga raja-raja dahulu mempergunakan kebodohan penduduk yang tidak mengerti bahwa Tumenggung, Adipati atau Pangeran sekarang ini adalah pegawai yang digaji, yang telah menjual hak-haknya sendiri dan hak-hak rakyat untuk penghasilan tertentu, dan bahwa pajak yang dahulu dibayarnya kepada raja-rajanja telah diganti dengan pekerjaan yang dibayar sedikit di kebun kopi atau ladang tebu. Orang merasa hal yang biasa, bahwa beratus-ratus keluarga mendapat panggilan dari tempat yang jauh, untuk, tanpa bayaran, mengerjakan ladang-ladang milik bupati, orang merasa hal yang biasa, bahwa mereka memberikan tanpa bayaran barang makanan untuk keperluan rumah tangga bupati; dan jika bupati berkenan menyenangi seekor kuda, seekor kerbau, seorang anak gadis, seorang istri orang biasa, maka dianggap luar biasa dan mustahil jika orang itu tidak mau menyerahkan tanpa syarat apa yang diinginkan itu.
Ada bupati-bupati yang tidak begitu sewenang-wenang, dan hanya meminta dari rakyat biasa apa yang sungguh-sungguh diperlukannya untuk memelihara gengsinya. Yang lainnya bertindak lebih jauh lagi, ... dan di mana-mana tentu ada pelanggaran hukum itu. Karena itu sukar, ya, tidak mungkin untuk menghilangkan kesewenang-wenangan demikian sama sekali, karena kesalahannya terletak pada sifat penduduk sendiri yang menderita di bawah tekanan itu. Orang Jawa sifatnya pemurah, terutama di mana ia hendak membuktikan kasihnya kepada kepalaanya, kepada keturunan orang-orang yang dipatuhi oleh orang tuanya; dan ia merasa kurang hormat kepada junjungannja turun-temurun, jika ia menjejak Keraton tanpa membawa barang persembahan. Hadiah-hadiah itu sering kali tidak berarti, sehingga penolakan akan dianggap suatu penghinaan, dan kebiasaan ini acap kali dapat dibandingkan dengan penghormatan seorang anak yang hendak menyatakan kecintaannya kepada ayahnya dengan mempersembahkan sebuah hadiah kecil, dan bukan harus dianggap sebagai upeti kepada seorang raja yang zalim dan sewenang-wenang.
Tapi dengan demikian suatu penyalahgunaan sukar dihilangkan, karena adanya cara penggunaan yang menyenangkan.
Jika “alun-alun” di depan kediaman bupati dalam keadaan kacau bilau, maka penduduk sekitar situ akan malu, dan tidak sedikit wibawa yang akan diperlukan untuk mencegahnya membersihkan tanah lapang itu dari rumput-rumput, dan menyesuai-kannya dengan keadaan yang pantas bagi martabat bupati. Jika mereka hendak dibayar, hal itu umumnya akan dianggap sebagai penghinaan. Tapi di samping alun-alun itu, atau di tempat lain, sawah-sawah masih menunggu untuk dibajak, atau menunggu air disalurkan ke sana, sering kali dari jarak bermil-mil jauhnya;—sawah-sawah itu kepunyaan bupati. Untuk mengerjak-kan ladang-ladang kepunyaannya, dikerahkanya seluruh penduduk kampung-kampung, yang sawahnya sendiri pun memerlukan tenaga ... itulah penyalahgunaan.
Semua ini diketahui oleh pemerintah; dan barangsiapa membaca lembaran-lembaran negara yang berisi undang-undang, instruksi-instruksi dan pedoman-pedoman untuk pejabat-pejabat, memuji rasa perikemanusiaan dan keadilan, yang rupanya menjadi tujuan waktu merencanakannya. Dimanama diperingatkan kepada orang Eropa yang memegang kekuasaan di pedalaman, untuk menunaikan salah satu kewajibannya yang paling berat, yakni melindungi penduduk terhadap kepatuhannya sendiri, dan ketamakan kepala-kepalanya; dan seolah-olah tidak cukup memerintahkan kewajiban itu pada umumnya, kepada Asisten Residen pun diminta, pada waktu menerima pemerintahan suatu wilayah, untuk mengucapkan sumpah tersendiri, bahwa mereka akan menganggap perlindungan terhadap penduduk sebagai kewajiban yang pertama.
Itu adalah panggilan yang mulia. Menegakkan keadilan; melindungi sikecil terhadap yang kuat; menolong yang lemah terhadap keunggulan orang yang kuat; meminta kembali “anak domba betina” kepunyaan simiskin dari kandang “penyamun kerajaan”, ... nah, hati kita berdebar-debar karena senang, teringat bahwa kita terpanggil untuk melakukan sesuatu yang begitu indah;—dan barangsiaapa di pedalaman pulau Jawa barangkali kurang senang dengan tempat kedudukannya atau gajinya, hendaklah ia menyadari kewajibannya yang mulia, kepuasan batin apabila kewajiban demikian telah terlaksana, dan ia pun tidak akan menginginkan ganjaran yang lain.
Tapi kewajiban itu tidak mudah melaksanakannya. Mula-mula orang justru harus menilai di mana penggunaan berhenti, dan digantikan oleh penyalahgunaan; dan di mana penyalahgunaan ada, di mana sesungguhnya telah terjadi perampasan atau kesewenang-wenangan, sering kali korban-korban sendiri turut membantu, baik karena terlalu patuh, Maupun karena ketakutan, atau karena kecurigaan kepada kemauan atau kekuasaan orang yang harus melindunginyya. Setiap orang tahu, bahwa pejabat Eropa tiap saat bisa dipanggil menempati jabatan lain, bahwa Bupati, Bupati yang berkuasa itu, tetap di tempatnya. Selanjutnja banyak cara-cara untuk merampas milik manusia miskin yang dengu. Jika seorang “Mantri” mengatakan kepadanya, bahwa bupati menginginkan kudanya, sehingga kuda itu segera mendapat tempat dalam kandang kuda bupati, hal itu belum berarti bahwa bupati tidak bermaksud membelinya dengan harga yang tinggi, pada suatu waktu. Jika beratus-ratus orang bekerja di ladang-ladang seorang kepala, tanpa mendapat upah untuk itu, hal ini belum berarti bahwa ia menyuruh mereka itu untuk kepentingan dirinya. Bukankah dia mungkin saja bermaksud menyuruh kerjakan penuaan padi, karena pertimbangan perikemanusiaan bahwa tanahnya letaknya lebih baik, lebih subur dari kepunyaan mereka, dan karena itu pekerjaan mereka akan dibayar lebih baik?
Lagipula, dari mana pejabat Eropa itu akan mendatangkan saksi-saksi, yang berani memberikan keterangan yang menentang tuannya, sang bupati? Dan jikalau siorang Eropa itu berani menuduh, tanpa dapat membuktikan tuduhannya, di manakah hubungan “saudara tua”, yang dalam hal demikian telah menyinggung kehormatan “saudara mudanya” tanpa alasan? Di manakah karunia pemerintah yang memberinya makan untuk pekerjaannya, tapi yang menghentikan nafkahnya, memecatnya sebagai orang yang tidak pandai, apabila ia mencurigai orang yang tinggi martabatnya seperti Adipati atau Pangeran demikian, atau mengadukannya tanpa pertimbangan yang matang?
Tidak, tidak, tidaklah mudah kewajiban itu! Buktinya, tiap orang mengetahui pasti bahwa tiap kepala Bumiputera melampau wewenangnya untuk memakai tenaga kerja dan mempergunakan milik rakyat;—bahwa semua asisten residen bersumpah akan membanteras perbuatan yang jahat itu, namun demikian jarang sekali seorang bupati diadukan karena menyalahgunakan kekuasaan atau sewenang-wenang.
Jadi, memang ada kesukaran yang hampir tidak bisa diatasi untuk melaksanakan sumpah: “melindungi penduduk Bumiputera terhadap penghisapan dan penganiayaan“.
¹ Bagian yang didiami.
² Seorang ahli bangunan Abad Pertengahan.
³ Satu pal = ± 1½ km.
⁴ Pondok, pasanggrahan.
⁵ Bagian tentara yang terdiri dari 3 sampai 6 ribu orang.
⁶ Berdasarkan undang-undang atau undang-undang dasar.
⁷ Pengaruh negeri itu sendiri, pengaruh asli.
Bab VI
Kontelir Verbrugge adalah seorang manusia yang baik. Jika kita melihatnya duduk dalam jas rokinya dari lakan biru, dikerah dan lipatan lengan bajunya dibordir dahan-dahan eik dan oranye, sukarlah untuk tidak mengenalnya sebagai suatu tipe yang banyak kedapatan di antara orang-orang Belanda di Hindia,—yang, sambil lalu, sangat lain dari orang Belanda di negeri Belanda. Lamban, jika tidak ada yang harus dikerjakan, tidak repot-repot mau mengatur segala, yang di Eropa dianggap kerajinan, tapi rajin di mana diperlukan kesibukan;—sederhana, tapi hangat terhadap orang di sekitarnya;—suka bicara, suka menolong dan suka menerima tamu;—beradab, tanpa menjadi kaku;—terbuka bagi kesan-kesan yang baik;—jujur dan ikhlas, tapi tidak ingin mati syahid untuk itu;—singkatnya, seorang yang, seperti kata orang, di mana-mana bisa mendapat tempat, tapi kita jangan membayangkan bahwa ia akan menjadi orang yang penting, zamannya akan disebut dengan namanya, hal mana ia pun tidak menghendakinya.
Ia duduk di tengah pendopo dekat meja, yang ditutup dengan taplak putih, dan sarat dengan makanan. Dengan tidak sabaran, dengan kata-kata seperti istri sijenggot biru¹, ia bertanya kepada mandor, yakni kepala pohisi dan opas kantor asisten residen, apakah belum kelihatan juga orang datang?
Lalu ia berdiri, dengan sia-sia mencoba membunyikan taji sepatunya di atas lantai pendopo yang terbuat dari tanah lihat yang padat, memasang cerutunya untuk keduapuluh kalinya, lalu duduk kembali. Ia tidak banyak bicara.
Meskipun ia dapat bicara, sebab ia tidak seorang diri. Maksud saya bukan bahwa ia dikelilingi oleh duaapuluh atau tigapuluh orang Jawa, pelayan-pelayan, mantri-mantri dan opasopas, yang menjongkok di tanah di dalam dan di luar pendopo, pun ia tidak dikelilingi oleh orang banyak yang terus keluar masuk, Maupun oleh sejumlah besar orang-orang yang berbeda pangkatnya, yang memegang kuda-kuda di luar, atau berkeliling naik kuda, ... bupati Lebak sendiri, Raden Adipati ... duduk di depannya.
Menunggu selalu menjemukan; seperempat jam rasanya sejam; sejam rasanya sehari, dan seterusnya. Verbrugge mes-tinya lebih banyak bicara. Bupati Lebak adalah seorang tua yang beradab, yang bisa bicara tentang macam-macam dengan mengemukakan pendapat dan pikiran. Cukuplah orang memandang kepadanya untuk merasa yakin, bahwa kebanyakan orang Eropa yang bergaul dengannya, lebih banyak belajar dari dia, dari dia belajar dari mereka. Matanya yang hitam menyala oleh sinarnya berlawanan dengan kelesuan pada airmukanya, dan keputihan rambutnya. Apa yang dikatakannya, biasanya sudah lama dipikirkan, hal mana memang umum pada orang Timur yang beradab, dan kita merasa, kalau kita sedang bicara de-ngannya, kata-katanya itu seolah-olah kata-kata dalam surat, yang aslinya disimpannya baik-baik dalam arsip, dan, jika perlu, bisa dicari kembali. Ini mungkin tidak enak bagi orang yang tidak biasa bergaul dengan pembesar-pembesar Jawa, tapi mudah sekali untuk dalam percakapanan menghindari segala soal yang mungkin menyinggung perasaan, karena mereka dari pihaknya tidak pernah dengan tiba-tiba memberikan arah yang lain kepada jalaninya percakapan, sebab hal ini menurut pengertian ketimuran bertentangan dengan adat yang baik. Jadi, barangsiapa mempunyai alasan untuk menghindari pebicaraan sesuatu soal, cukuplah dia berbicara tentang hal-hal yang tidak berarti, dan pastilah pembesar Jawa itu, tidak akan mengalihkan pembicaraan kesuatu lapangan yang tidak diinginkan oleh kita.
Tapi mengenai cara pergaulan dengan kepala-kepala itu, bermacam-macam pendapat orang. Saya berpendapat, bahwa kejuduran yang sederhana, tanpa berhati-hati seperti diplomat, lebih baik.
Bagaimanapun juga, Verbrugge mulai bicara tentang udara dan tentang hujan.
— “Ya tuan kontelir, sekarang musim hujan.”
Verbrugge juga tahu hal itu, sekarang bulan Januari; tapi apa yang dia katakan tentang hujan, bupati pun tahu. Lalu mereka diam pula beberapa waktu. Dengan gerak kepala yang hampir tidak kelihatan, bupati memanggil salah seorang pelayan yang berjongkok di pintu pendopo. Seorang anak laki-laki, yang dengan manisnya memakai baju ketat dari beludru biru, pantalon putih, dengan sabuk emas yang menahan sarungnya yang berharga pada pinggangnya, dan dikepalannya melekat dengan amannya kain kepala, matanya yang hitam memandang dengan nakalnya dari bawah kain kepala itu; anak itu mengingsut-ingsut hingga ke kaki bupati, diletakkannya kotak emas yang berisi sirih, kapur, pinang, gambir dan tembakau, dibuatnya sembah dengan mengangkat kedua tangannya yang dirapatkan telapaknya sampai ke kepala yang ditundukkan dalam-dalam, dan kemudian kotak itu dipersembahkan kepada tuannya.
— “Jalan akan sukar, sesudah banyak turun hujan,” ujar bupati, scolah-olah hendak menyelaskan mengapa mereka harus begitu lama menunggu, sambil melabur daun sirih dengan kapur.
— “Di daerah Pandeglang jalan tidak begitu buruk,” jawab Verbrugge, yang, jika ia tidak hendak membicaraan sesuatu yang menyinggung perasaan, sebenarnya memberikan jawaban itu agak terlalu cepat; sebab ia seharusnya menyadari, bahwa seorang bupati Lebak tidak suka mendengar orang memuji jalan-jalan di Pandeglang, Meskipun memang lebih baik dari jalan-jalan di daerah Lebak.
Adipati tidak melakukan kesalahan memberikan jawaban terlalu ceput. Si “Mas” kecil sudah mengingsut-ingsut ke belakang, sampai ke pintu pendopo, di mana ia mengambil tempat di antara teman-temannya; bupati telah memerahi bibir dan giginya yang tinggal sedikit dengan ludah sirihnya, sebelum ia berkata:
— “Ya, di Pandeglang banyak orang.”
Bagi orang yang mengenal bupati dan kontelir,—bagi orang yang tahu keadaan di Lebak, sudah jelas bahwa percakapan itu telah merupakan suatu perkelahian. Pujian sambil lalu lalu bahwa keadaan jalan-jalan di wilayah tetangga lebih baik, rupanya merupakan sambungan atas percobaan-percobaan sia-sia untuk juga membuat jalan-jalan yang lebih baik di Lebak. Tapi perkataan bupati adalah benar, bahwa Pandeglang lebih padat penduduknya, terutama jika dibandingkan dengan luasnya yang jauh lebih kecil, jadi di sana pekerjaan di jalan-jalan besar, dengan tenaga yang disatukan, lebih mudah dari di daerah Lebak, suatu wilayah yang luasnya beberapa ratus pal, tapi penduduknya hanya tujuh puluh ribu orang.
— “Memang, kata Verbrugge, kita di sini tidak banyak orang, tapi …….”
Adipati memandang kepadanya, seolah-olah menunggu serangan. Ia tahu, bahwa sesudah perkataan “tapi” itu mungkin menyusul sesuatu, yang tidak enak kedengarannya baginya, yang sudah tigapuluh tahun jadi bupati Lebak. Verbrugge hendak memutuskan percakapan, dan bertanya lagi kepada opas, apakah ia tidak melihat orang datang.
— “Saya belum melihat apa-apa dari jurusan Pandeglang, tuan kontelir, tapi di sana, di jurusan lain, ada orang naik kuda …… itu ialah komandan.
“Tentu saja Dongso, kata Verbrugge, sambil memandang keluar, itulah komandan, dia berburu di sekitar ini, pagi-pagi tadi dia sudah berangkat …… hai, Duclari …… Duclari! …….”
— “Dia mendengar tuan, dia datang ke mari. Pembantunya menyusul dengan seekor kidang di belakangnya, di atas kuda.
— “Peganglah kuda tuan komandan,” perintah Verbrugge kepada salah seorang pelayan di luar. “Bonyour, Duclari, basahkan anda …… apa hasil perburuan anda? …… Masuklah” ……
Seorang laki-laki yang kuat berusia tigapuluh tahun, dan bersikap militer, Meskipun tidak memakai seragam, masuk ke dalam pendopo. Itulah letnan Duclari, komandan garnisun kecil di Rangkas-Betung. Verbrugge bersahabat dengan dia, dan pergaulan mereka bertambah akrab, karena Duclari sejak beberapa waktu tinggal di rumah kediaman Verbrugge, sambil menunggu selesainya sebuah benteng baru. Mereka bersalaman, Duclari memberi hormat kepada bupati, dan mengambil tempat duduk sambil bertanya: “ada minuman apa di sini?”
— “Anda mau teh, Duclari?”
— “Ah, jangan, saya sudah kepanasan. Ada air kelapa? Itu segar” ……
— “Jangan air kelapa. Kalau anda kepanasan, air kelapa tidak baik untuk kesehatan anda …… anda akan pegal-pegal dan sakit encok karenanya. Lihatlah kuli-kuli yang mengangkut barang-barang berat di gunung, mereka itu lentun dan tangkas karena minum air hangat atau kopi daun …… tapi teh jahe lebih baik lagi ……
— “Apa? …… kopi daun, teh dari daun kopi? Saya belum pernah melihatnya.”
— “Karena anda tidak pernah bekerja di Sumatra, di sana itu biasa.”
— “Berilah saya teh saja …… tapi jangan daun kopi, dan juga jangan jahe …… ya, anda pernah di Sumatra …… dan asisten residen baru juga, bukan?”
Percakapan ini dilakukan dalam bahasa Belanda, yang bupati tidak mengerti. Mungkin karena Duclari merasa kurang hormat untuk tidak mengikutsertakan bupati dalam percakapan, mungkin karena ada maksudnya yang lain, tiba-tiba ia sambil membalik kepada bupati, meneruskan dalam bahasa Melayu:
— “Tahukah tuan adipati, bahwa tuan kontelir mengenal asisten residen baru itu?"
— "Tidak, saya tidak berkata begitu, saya tidak kenal dia, seru Verbrugge, juga dalam bahasa Melayu. "Saya belum pernah melihatnya; dia bekerja di Sumatra beberapa tahun sebelum saya. Saya hanya mengatakan kepada anda, bahwa di sana saya banyak mendengar orang bicara tentang dirinya."
— "Nah, itu sama saja; kita tidak perlu melihat orangnya untuk mengenalnya ... bagaimana pikiran tuan adipati?"
Adipati kebetulan memerlukan dan memanggil seorang pelayan; jadi agak lama juga ia menjawab, "bahwa ia setuyu dengan komandan, tapi sering kali perlu juga melihat orangnya, sebelum bisa menilainya."
— "Pada umumnya itu mungkin benar,"—Duclari berkata dalam bahasa Belanda, mungkin karena bahasa itu lebih mudah bagiannya, dan dia merasa sudah cukup ia menyatakan hormatnya kepada bupati, mungkin juga karena ia hanya mau dipahami oleh Verbrugge saja, —" itu bisa saja pada umumnya benar, tapi tentang Havelaar orang tidak perlu kenal pribadi ... dia orang gila.
— "Itu tidak saya katakan, Duclari."
— "Tidak, anda tidak mengatakan itu, sayalah yang mengatakannya, sesudah mendengar segala cerita anda tentang dia. Saya menyebut orang yang melompat ke dalam air untuk menolong seekor anjing dari mulut hiu, orang gila."
— "Memang tidak cerdik ... tapi ..."
— "Dan, coba, sajak yang mengeritik jenderal Van Damme itu ... itu tidak pantas."
— "Sajak itu lucu ..."
— "Ya, tapi seorang muda tidak boleh melucu terhadap seorang jenderal."
— "Anda harus ingat, bahwa dia masih muda sekali ... itu empat belas tahun yang lalu ... umurnya baru dua puluh dua tahun."
— "Dan ayam kalkun yang dicurinya itu?" ...
— "Itu dia lakukan untuk mengganggu pak jenderal."
— "Betul. Seorang anak muda tidak boleh mengganggu seorang jenderal, lagipula jenderal itu sebagai gubernur sipil, adalah sepna ... Sajak yang satu lagi saya rasa bagus, ... tapi ia selalu berduel ..."
— "Biasanya ia berduel untuk orang lain; ia selalu memihak kepada yang lemah."
— "Sudahlah, biarkan setiap orang berduel untuk dirinya sendiri, kalau mereka memang mau berduel. Saya sendiri berpendapat, bahwa perang tanding jarang perlu; jika memang perlu, apa boleh buat, tapi ... untuk saban hari perang tanding ... terima kasih. Mudah-mudahan dia telah berubah dalam hal ini ..."
— "Memang, itu tidak perlu diragukan lagi. Sekarang dia sudah jauh lebih tua ... sudah lama pula beristri, dan jadi asisten residen ... Lagipula, saya selalu mendengar bahwa hatinya baik, dan dia mencintai keadilan."
— "Itu perlu baginya di Lebak. Di sana saya barusan mengalami sesuatu, yang ... Apakah bupati itu mengerti kita?"
— "Saya kira tidak, tapi ... coba tunjukkan sesuatu kepada saya dari tas anda, supaya dia kira kita bicara tentang itu."
Duclari mengambil tasnya, dikeluarkannya beberapa burung punai, dan sambil meraba-raba, seolah-olah berbicara tentang perburuan, ia mengatakan kepada Verbrugge, bahwa tadi di ladang ia dikejar oleh seorang Jawa, yang menanyakan apakah ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan beban penduduk yang berat.
— "Dan, ia melanyutkan, itu aneh sekali, Verbrugge! Bukan karena saya heran tentang soal itu sendiri; saya sudah cukup lama di daerah Bantam, untuk mengetahui apa yang terjadi di sini; tapi bahwa seorang Jawa biasa, yang biasanya begitu hati-hati dan segan, jika bicara tentang kepala-kepalanya, menanyakan yang semacam itu kepada orang yang tidak punya urusan dengan itu, itulah yang mengherankan saya!"
— "Dan apa jawab anda, Duclari?"
— "Bahwa itu bukan urusan saya; bahwa ia harus datang
kepada anda, atau kepada asisten residen yang baru, jika sudah tiba di Rangkas-Betung, dan mengadu kepadanya.
— “Itu mereka datang, tiba-tiba opas Dongso berseru, saya lihat scorang mantri yang melambai-lambaikan tudungnya.”
Semua orang berdiri. Duclari, yang oleh kehadirannya di pendopo, tidak mau orang mengira bahwa ia juga berada di-perbatasan untuk mengelu-elukan asisten residen, menaiki kudanyya dan meninggalkan tempat itu, diikuti oleh pelayannya; asisten residen itu memang atasannya, tapi bukan sepnya, lagipula ia gila.
Adipati dan Verbrugge berdiri di pintu masuk pendopo, dan melihat sebuah kereta mendekat, ditarik oleh empat ekor kuda; kereta itu tidak lama kemudian berhenti di depan pondok bambu, penuh lumpur.
Sukar untuk menduga apa yang ada dalam kereta itu, sebelum Dongso, dibantu oleh pejalan-pejalan kaki dan sejumlah besar pelayan-pelayan yang mengiringi bupati, membuka semua tali dan buhul yang menutup kereta itu dengan foudral² kulit hitam, yang membikin kita ingat bagaimana singa dan macan dibawa masuk ke dalam kota tahun-tahun yang silam, sangat berhati-hati, tatkala kebun-kebun binatang masih merupakan rombongan sirkus keliling. Tapi tidak ada singa dan macan dalam kereta itu; segalanya ditutup rapat karena musim hujan, jadi karena takut akan hujan. Keluar dari kereta sesudah lama tergoncang-goncang di jalan, bukanlah semudah gambaran orang yang tidak pernah atau jarang melakukan perjalanan. Hampir-hampir seperti binatang Saurus³ yang malang dari dunia purba, yang karena lama menunggu akhirnya jadi sebagian dari tanah lihat, sedang mereka datang sebenarnya bukan dengan maksud untuk menetap di situ, demikian pula terjadi sesuatu yang saya namakan “asimilasi” pada musafir-musafir yang agak terlalu lama duduk dalam kereta, tindih menindih dan dalam sikap yang terpaksa. Akhirnya orang tidak tahu lagi dengan jelas, di mana bantal kulit kereta itu berakhir, dan di mana pribadi aku mulai; ya, saya bisa membayangkan bahwa di dalam kereta semacam itu kita sakit gigi atau kejang dan menyangka ada ngengat di dalam lakan, dan sebaliknya.
Tidak banyak hal-hal di dalam dunia benda ini yang tidak membuat manusia berpikir membuat catatan yang bersifat rasionil, dan saya sendiri sering bertanya pada diri sendiri, apakah kebanyakan kekeliruan yang mempunyai kekuatan hukum dalam pergaulan kita, “kemencongan-kemencongan” yang kita anggap “lurus”, bukan disebabkan karena kita terlalu lama duduk bersama dalam satu kumpulan dalam satu kereta? Kaki kita harus kita lunjurkan antara kotak topi dan keranjang buah;—lutut kita menempel pada pintu kereta, supaya jangan menyentuh nona di depan kita, yang mungkin mengira kita mau kurang ajar;—kaki kita yang sakit katimumul kita takut terinjak oleh “commis-voyageur”⁴ di samping kita;—leher kita harus kita miringkan ke kiri, karena di kanan air menetes, ... nah, leher-leher, lutut-lutut, dan kaki-kaki itu akhirnya terpiuh. Saya rasa baik untuk sekali-sekali bertukar kereta, tempat duduk dan teman perjalanan. Dapatlah kita meluruskan leher kita; kita dapat sekali-sekali menggerakkan lutut kita, dan barangkali di samping kita ada seorang nona dengan sepatu dansa, atau seorang anak kecil yang kakinya tidak sampai ke lantai. Maka lebih besar harapan untuk melihat lurus dan berjalan lurus, sesudah kita berjalan di atas tanah lagi.
Apakah juga dalam kereta yang berhenti di depan pendopo itu, ada sesuatu yang melawan “terputusnya kontinuitas”, saya tidak tahu, tapi yang pasti ialah bahwa lama sesudah itu baru keluar sesuatu. Nampaknya orang berlomba-lomba menyatakan budi bahasanya; kedengaran orang berkata: “Silahkan Nyonya!” dan “tuan Residen!” Bagaimanapun juga, akhirnya keluar seorang tuan, yang sikap dan tampangnya ada mengingatkan binatang Saurus yang telah saya sebutkan tadi. Karena kita akan melihat dia nanti lebih sering lagi, saya sekarang hanya hendak mengatakan, bahwa ketenanganya itu tidak semata-mata disebabkan karena asimilasi dengan kereta, sebab Sekalipun tidak ada kereta bermil-mil jauhnya di sekitar itu, ia akan tetap memperlihatkan ketenangan, kelambanan dan kehati-hatian, yang membikin keluarga Saurus iri hati, dan yang oleh kebanyakan orang dianggap merupakan ciri-ciri orang besar, sabar dan berbudi. Seperti kebanyakan orang Eropa, di Hindia, ia kelihatannya pucat sekali, tapi kepucatan itu sama sekali tidak dianggap suatu tanda kurang sehat di tempat itu; airmukanya halus, hal mana menandakan pendidikan yang baik. Hanya ada sesuatu yang dingin dalam matanya, sesuatu yang membikin kita teringat kepada daftar logaritma, dan Meskipun parasnya cukup menyenangkan dan sama sekali tidak menimbulkan antipati, namun kita mendapat kesan, bahwa hidungnya yang besar mantung itu seolah-olah merasa jemu di atas mukanya itu, karena sedikit sekali yang terjadi.
Dengan hormat ia mengulurkan tangannya kepada seorang nyonya untuk membantunya turun dari kereta, dan sesudah nyonya itu menyambut seorang anak kecil umur tiga tahun, berambut pirang, dari seorang tuan yang masih berada di dalam kereta itu, mereka pun masuk ke dalam pendopo. Sesudah itu menyusul tuan tersebut, dan barang siapa yang kenal pulau Jawa, akan tertarik perhatiannya bahwa ia menunggu di pintu kereta untuk menolong seorang “babu” tua turun. Tiga orang pesuruh laki-laki dengan susah payah telah keluar sendiri dari kotak bertutup kulit, yang menempel di belakang kereta itu, seperti anak tiram pada tiram tua.
Tuan yang mula-mula turun tadi, mengulurkan tangan kepada bupati dan kontelir Verbrugge; mereka menyambut uluran tangan itu, dan dari sikapnya kelihatan bahwa mereka merasa berhadapan dengan seorang yang penting. Orang itu adalah residen Bantam, daerah yang luas di mana Lebak merupakan salah satu wilayahnya, suatu daerah kabupaten, atau seperti disebut dengan resmi, suatu asisten residensi.
Apabila saya membaca cerita fantasi, sering saya kesal karena pengarangnya tidak menghormati selera publik, dan terutama demikian halnya apabila ia menceritakan sesuatu yang lucu atau burlesk; ditampilkannya seseorang bicara dalam bahasa yang ia tidak mengerti atau diucapkanya dengan buruk; seorang Perancis disuruhnya mengatakan: “Saya tidur-r jam delapa(ng)”, atau “Jangga(ng) bicar-r-ra ker-r-rass-ker-r-rass”. Kalau tidak ada orang Perancis, ditampilkan seorang yang gagap; atau di-ciptakan seorang yang suka mengulang-ulang kata-kata tertentu. Saya pernah melihat suatu vaudeville⁵ yang gila-gilaan tapi “sukses”, karena di dalamnya ada seorang yang selalu berkata: “Nama saya Meiyer”. Cara melucu seperti itu saya rasa murahan, dan terus terang saja, saya marah kalau anda merasa itu lucu.
Tapi sekarang saya sendiri hendak mengusulkan yang seperti itu. Saya sekali-sekali harus menampilkan seseorang di atas pentas,—saya sebisa-bisanya akan membatasi diri—yang se-sungguhnya mempunyai cara bicara, yang saya kuatir anda curiga bahwa saya dengan sengaja hendak membikin anda tertawa, tapi gagal; karena itu saya harus mengatakan, bahwa bukan salah saya kalau residen Bantam yang amat mulia, yang saya ceritakan ini, ada sesuatu yang aneh dalam caranya bicara, sehingga sukar bagi saya untuk mengungkapkannya, dengan tidak menimbulkan kesan, bahwa saya mencari efek kelucuan dalam “tic”⁶. Ia bicara seolah-olah di belakang tiap kata ada titik, atau malahan sebuah tanda istirahat yang panjang, dan waktu antara kata-katanya mengingatkan saya kepada keheningan yang menyusul, sesudah orang berkata “amen”, dalam dua yang panjang di gereja; kata itu, seperti kita tahu, adalah suatu isyarat, bahwa kita boleh batuk-batuk atau membuang ingus kita. Apa yang dikatakannya biasanya dipikirkan dengan matang, dan jika ia memaksa dirinya untuk menghilangkan waktu-waktu istirahat yang tidak pada tempatnya, maka bagian-bagian kalimatnya, di-tinjau dari sudut retorik, memberikan kesan yang sehat, tapi karena terputus-putus, tersangkut-sangkut dan terbentur-bentur, maka susah juga untuk mengikutinya. Karena itu sering orang salah mengerti; sebab biasanya, jika orang menjawab karena mengira kalimatnya sudah habis, dan untuk melengkapinya dise-rahkan saja kepada ketajamana otak pendengarnya, keluarlah kata-kata yang belum diucapkan seperti “trainards”⁷ tentara yang kalah perang, menyusul di belakang; dan kita pun merasa telah memotong pembicaraannya, hal mana selalu tidak enak rasanya. Publik di Serang, yang bukan pegawai gubernemen, ke-rema hubungan itu membikin orang berhati-hati, menyebut caranya bicara “bergetah”⁸; saya rasa kata itu tidak begitu bagus, tapi saya harus mengakui, bahwa kata itu tepat menunjukkan sifat utama dari kepandaian bicara tuan residen.
Saya belum cerita apa-apa tentang Max Havelaar dan isterinya, sebab merekaalah orang-orang yang keluar dari kereta sesudah residen, dengan anaknya dan babunya; dan barangkali juga cukuplah saya melukiskan rupa-rupa-rupa dan watak mereka sementara berjalannja peristiwa-peristiwa, atau saya serahkan saja kepada khayalan anda, tapi karena saya sekarang sedang melukiskan, saya hendak mengatakan kepada anda bahwa nyonya Havelaar tidaklah cantik; tapi dalam pandangan dan bicaranya ada sesua-tu yang manis sekali; dari gerak-geriknya yang bebas dan tidak kaku, nampak bahwa ia mengenal dunia, dan biasa bergerak di kalangan atas. Ia tidak canggung dan tidak ada sikap yang tidak enak seperti pada warga-warga yang “tahu adat”, yang mengganggu dirinya dan orang lain dengan “gene”⁹, supaya
dianggap "distingue"¹⁰; karena itu ia pun tidak terlalu banyak memperhatikan hal-hal lahiriah, yang justru penting bagi kebanyakan wanita lain. Pun dalam hal pakaian ia sangat sederhana. "Baju" putih dari muselin dengan "cordillere"¹¹ biru,—saya kira baju demikian di Eropa disebut "peignoir"¹²,—itulah pakaiannya dalam perjalanan. Di lehernya tergantung sebuah tali sutera yang tipis, dengan dua medaliun kecil, tapi tidak kelihatan, karena tersembunyi dalam lipatan baju ditentang dadanya; rambutnya didandan "a la khinoise"¹³, dengan seuntai "melati" di dalam "konde", itulah seluruh dandanannya.
Saya katakan, bahwa ia tidak cantik, namun saya tidak mau anda mengira ia jelek. Saya harap anda akan menganggap ia cantik, apabila saya mendapat kesempatan menggambarkannya sedang berapi-api karena marah tentang apa yang disebutnya "tidak mengakui jeni", jika bicara tentang Max, atau apabila ada pikirannya yang bertalian dengan kesejahteraan anaknya. Sudah sering dikatakan, bahwa wajah seseorang adalah cermin jiwanya, sehingga orang tidak lagi menghargai potret wajah yang diam, yang tidak mencerminkan sesuatu, karena tidak terpantul jiwa daripadanya. Nah, dia memiliki jiwa yang cantik, dan butalah orang yang tidak juga menganggap wajahnya cantik, jika jiwanya terbayang di dalamnya.
Havelaar adalah seorang yang berumur tiga puluh lima tahun. Tubuhnya lampai, dan cepat gerak geriknya; kecuali bibir atasnya yang pendek dan mudah bergerak, dan matanya yang besar ke biru-biruan, yang seperti merenung jika ia dalam suasana tenang, tapi berapi-api bila ia sedang memikirkan sesuatu yang besar, tidak ada sesuatu yang luar biasa dalam roman mukanya. Rambutnya yang pirang merungkau kaku pada pelipisnya, dan saya tahu jika orang pertama kali melihatnya, orang tidak akan menyangka sedang berhadapan dengan seorang yang jarang bersua, orang yang istimewa pikiran dan hatinya. Dia adalah sebuah "bejana penuh pertentangan". Tajam seperti taji dan lembut seperti seorang gadis, dia sendiri yang selalu pertama kali merasakan luka yang ditikamkan oleh kata-katanya yang tajam, dan ia menderita lebih-lebih dari orang yang dilukainya. Ia cepat mengerti, segera menangkap arti yang paling tinggi, yang paling rumit, ia suka bermain-main mencari pemecahan soal-soal yang sukar, untuk itu ia bersedia mengorbankan segala-galanya, jerih payah, pikiran, tenaga,—namun demikian sering ia tidak mengerti hal yang paling mudah, yang anak ketili pun dapat menjelaskannja kepadanya. Penuh kecintaan kepada ke-adilan, dan kebenaran, sering ia melalaikan kewajiban-kewajibannya yang paling dekat, untuk memperbaiki suatu ketidak-adilan yang letaknya lebih tinggi atau lebih jauh atau lebih dalam, dan yang lebih menggairahkanyia karena kemungkinan bahwa ia harus mengeluarkan tenaga lebih besar dalam pertarungan itu. Ia seorang kesatria, tapi seperti juga Don Kisot, sering kali keberaniannya habis terbentur sia-sia pada kincir angin. Ia berkobar-kobar inginkan kemegahan yang tak jenuhjenuhnja, yang membikin ia memandang remeh segala peng-hormatan biasa dalam masyarakat, namun demikian ia meng-anggap kebahagiaan yang paling besar ialah hidup tenang di-rumah bersama keluarga, tidak diperhatikan oleh siapa-siapa. Ia adalah seorang penyair dalam arti yang paling tinggi dari perkataan itu, ia impikan sistim-sistim matahari bila melihat bunga api, ia mentiyptakan di dalamnya makhluk-makhluk bikin-annya sendiri, ia merasa dirinya raja dalam dunia yang dicipta-kannya sendiri, namun segera sesudah itu ia bisa saja keluar dari impianinya itu, dan bicara tentang harga beras, aturan-aturan bahasa, atau keuntungan-keuntungan ekonomis dari suatu pe-meliharaan ayam mesir. Tidak ada ilmu pengetahuan yang asing baginya, ia "rasa-rasakan" apa yang tidak diketahuinya, dan ia mempunyai kepandaian untuk mempergunakan yang sedikit yang diketahuinya, dengan cara yang melipatgandakan kadar pengetahuannya. Semua orang memang tidak banyak tahu, dan dia pun tidak terkecuali, tapi ia lebih banyak tahu dari beberapa orang lain. Ia cermat dan teratur, ditambah pula sangat sabar, tapi justru karena kecermatan, ketertiban dan kesabaran sukar baginya, karena jiwanya agak liar; ia lamban dan hati-hati dalam pertimbangannya, Meskipun tidak demikian nampaknya bagi orang yang mendengarnya dengan cept mengambil kesimpulan. Kesan-kesannya terlalu hidup untuk dianggap tahan lama, namun demikian ia membuktikan bahwa kesan-kesannya itu sering kali tahan lama. Segala yang besar dan luhr menarik hatinya, dan sekaligus ia tidak tahu apa-apa dan naif seperti anak kecil. Ia jujur, terutama di mana kejujuran beralih menjadi keagungan, hutangnya yang beratus-ratus tidak akan dibayarnya, karena ia menghadiahkan beribu-ribu. Ia betah dan pandai memikat perhatian, di mana ia merasa bahwa ia dime-ngerti, tapi selain itu ia kaku dan pendiam. Ia ramah terhadap kawan-kawannya, dan ia menjadikan kawannya segala orang yang menderita; ia peka terhadap cinta dan kesetiaan, selalu menepati janji yang sudah diberikan, lemah dalam hal-hal yang kecil, tapi tetap hati sampai keras kepala, di mana ia me-nganggap perlu menunjukkan watak; ia rendah hati dan rela bagi siapa yang mengakui kelebihan budinya, tapi rewel bagi orang yang melawannya; ia terus terang karena harga diri, dan sekali-sekali pendiam di mana ia kuatir bahwa orang mengira kejujurannja adalah ketololan; ia pun peka terhadap kenikmatan pancaindera Maupun kenikmatan batin; ia malu-malu dan tidak bisa bicara, di mana ia mengira orang tidak mengerti dirinya, tapi lancar bicara di mana ia merasa bahwa kata-katanya jatuh di tanah yang subur; ia lamban jika tidak didesak oleh rang-sangan jiwanya sendiri, tapi rajin, bersemangat, jika ada rangsangan demikian; selanyutnya ia ramah, sopan dalam tingkah lakunya dan kelakuannya tiada celanya. Itulah kira-kira gambaran Havelaar.
Saya katakan: kira-kira; sebab jika semua keterangan sukar, maka hal itu lebih-lebih berlaku dalam melukiskan seseorang yang menyimpang sekali dari bentuk dasar sehari-hari. Itulah juga mungkin sebabnya maka pengarang roman biasanya menjadikan pahlawan-pahlawannya setan-setan atau bidadari-bidadari. Hitam atau putih mudah melukisnya, tapi lebih sukar menggambarkan dengan tepat peralihan warna di antaranya, jika kita terikat kepada kebenaran, jadi tidak boleh memberi warna terlalu gelap atau terlalu cerah. Saya merasa bahwa gambaran yang saya berikan tentang Havelaar, sangat tidak sempurna. Bahan-bahan yang ada pada saya, begitu bermacam-macam dan bertentang-tentangan sifatnya, sehingga sukar bagi saya untuk membentuk pendapat oleh kekayaaan yang melimpah-limpah, dan mungkin saya akan membicarakannya lagi sebagai pelengkap, sementara berkembangnya peristiwa-peristiwa yang hendak saya ceritakan. Yang pasti ialah, bahwa ia manusia luar biasa yang berharga untuk dipelajari. Sekarang saja pun saya teringat, bahwa salah satu sifatnya yang utama yang belum saya sebut, ialah bahwa ia menangkap sudut yang lucu dan yang serius dari masalah-masalah dengan kecepatan yang sama dan sekali-gus; oleh sifatnya ini maka caranya bicara, tanpa disadarinya sendiri, mengandung semacam “humor”, yang menyebabkan pendengarnya selalu ragu-ragu, apakah mereka itu terharu oleh perasaan yang dalam di dalam kata-katanya, atau apakah mereka harus tertawa oleh kelucuan yang tiba-tiba meningkah kesungguhan itu.
Menarik perhatian bahwa airmukanya, dan malahan perasaan-perasaannya, sedikit sekali memperlihatkan bekas-bekas kehidupan di masa silam. Membangga-banggakan pengalaman adalah kekonyolan yang menertawakan; ada orang-orang yang selama lima puluh atau enam puluh tahun turut mengapung dengan arus di mana mereka mengira sedang berenang, dan tentang waktu yang panjang itu mereka hanya dapat bercerita, bahwa mereka pindah rumah dari jalan A ke jalan B; dan biasa pula kita mendengar pengalaman yang dibangga-banggakan justru oleh orang-orang yang begitu mudah rambutnya putih. Dan ada pula orang yang membanggakan pengalamannya berdasarkan perkisaran nasib yang sungguh-sungguh dijalani, tapi sedikit pun tidak ada bukti bahwa mereka itu tergugah jiwanya oleh hempasan nasib. Saya bisa membayangkan, bahwa ada orang-orang yang menghadiri atau mengalami peristiwa-peristiwa penting, tapi peristiwa-peristiwa itu hanya sedikit saja atau sama sekali tidak meriakkan jiwanya. Barangsiapa meragukan ini, cobalah renungkan apakah dapat disebut berpengalaman semua penduduk Perancis, yang berusia empat puluh atau lima puluh tahun dalam tahun 1815. Dan mereka itu semua bukankah orang-orang yang melihat pertunjukan drama besar yang dimulai tahun 1789¹⁴, malahan mereka sendiri sedikit banyak nya turut memainkan peranan dalam drama itu?
Dan sebaliknya, betapa banyak orang yang mengalami serentetan perasaan-perasaan, sedangkan tidak ada alasan untuk itu melihat keadaan lahiriahnya. Ingatlah kepada roman-roman Crusoe; kepada Silvio Pollico¹⁵ yang dipenjarakan; kepada Picciola yang manis dari Saintine¹⁶; perjuangan batin seorang “perawan tua”, yang seluruh hidupnya mencintai seseorang, tanpa membuka rahasia dengan sepathat kata pun apa yang bergolak dalam hatinya; ingatlah kepada perasaan-perasaan seseorang pencinta manusia, yang pada lahirnya tidak kelihatan terlibat dalam peristiwa-peristiwa, namun penuh perhatian terhadap kesejateraan sesama warga atau sesama manusia; betapa ia silih berganti berharap dan kuatir, betapa ia memperhatikan setiap perubahan, gembira karena suatu pikiran yang mulia, dan berkobar-kobar karena amarah jika ia melihat pikiran itu disisihkan dan diinjak-injak, oleh orang yang untuk sementara, lebih kuat dari pikiran-pikiran yang indah itu. Ingatlah kepada seorang ahli pikir, yang dari selnya mencoba mengajarkan kepada orang apakah kebenaran itu, kemudian ia menyadari bahwa suaranya hilang di tengah-tengah teriakan orang yang munafik kesalehsalehan atau tukang jual obat yang mencari untung. Bayangkanlah Sokrates,—bukan ketika ia meminum racun dari piala, sebab yang saya maksud di sini ialah pengalaman jiwa, dan bukan pengalaman yang timbul karena keadaan lahiriah—betapa sedih jiwanya, ketika dia, orang yang mencari kebaikan dan kebenaran, mendengar orang menyebutnya “seorang perusak anak muda dan penista dewa-dewa”.
Atau, lebih baik lagi, ingatlah kepada Kristus, ketika ia dengan sedih merenung memandang ke Yerusalem dan mengeluh “bahwa Yerusalem tidak menghendaki!“
Jeritan dukacita semacam itu,—sebelum piala berisi racun atau kayu salib—bukanlah keluar dari hati yang tiada luka. Orangnya menderita …… orangnya menghayatinya!
Lepaslah kata-kata yang teatral itu …… sekarang kata-kata itu sudah saya tuliskan, biarlah tetap di sana. Havelaar telah banyak mengalami. Apakah anda menghendaki sesuatu yang lebih hebat dari pindah rumah dari jalan A? Ia berkali-kali kapainya karam; dalam buku hariannya ia mencatat kebakaran, pemberontakan, pembunuhan secara khianat, perang, perang tanding, kekayaan, kemiskinan, kelaparan, kolera, percintaan dan “cinta-cinta”. Ia telah mengunjungi Perancis, Jerman, Belgia, Itali, Swis, Inggris, Spanyol, Portugal, Rusia, Mesir, Arab, India, Cina dan Amerika.
Jadi, jika melihat keadaan kehidupannya, banyak kemungkinan bahwa ia banyak mengalami. Dan bahwa ia sesungguhnya memang banyak mengalami, bahwa ia tidak melintasi kehidupan tanpa menampung kesan-kesan yang banyak diberikan oleh kehidupan itu, hal itu dibuktikan oleh kecepatan pikirannya dan jiwanya yang mudah menerima.
Inilah yang menimbulkan keheranan semua orang yang mengetahui atau menduga, betapa banyak ia menghadiri dan menderita, bahwa semua itu tidak terbaca pada airmukanya. Memang nampak semacam kelesuan pada airmukanya, tapi ini lebih banyak mengingatkan kepada usia muda yang terlalu cepat dewasa dari pada usia tua yang bertambah dekat; dan sepatutnya itu adalah usia tua yang tambah mendekat, sebab di Hindia orang berumur tiga puluh tahun bukan orang muda lagi.
Pun perasaannya, saya katakan, tetap muda. Ia dapat bermain-main dengan anak kecil dan seperti anak kecil, dan sering kali ia mengeluh bahwa si Max kecil itu masih terlalu muda untuk main layangan, sedangkan ia, “Si Max Besar” suka sekali permainan itu. Dengan anak-anak ia bermain “bajing loncat”, dan ia senang sekali menggambarkan pola untuk bordiran anak-anak gadis; bahkan sering ia meminta jarum anak-anak itu dan asyik membordir, Meskipun ia selalu berkata lebih baik mereka melakukan pekerjaan lain dari “menghitung tusukan-tusukan seperti mesin”. Di tengah-tengah pemuda-pemuda delapan belas tahun ia adalah seorang mahasiswa baru, ia senang turut menyanyikan “Patriam canimus”¹⁷, atau “Gaudeamus igitur” 17),—ya, kalau saya tidak salah, baru-baru ini, ketika sedang perlop di Amsterdam, ia menghancurkan sebuah papan merek yang tidak disenanginya, sebab di atasnya ada gambar seorang negro, terbelenggu di kaki seorang Eropa yang mengisap pipa panjang, dan sudah tentu di bawahnya tertulis: “Saudagar Muda Sedang Merokok.”
Babu yang ditolongnya turun dari kereta itu, sama seperti semua babu-babu di Hindia, jika mereka sudah tua. Jika anda kenal pelayan-pelayan semacam itu, tidak perlu saya mengatakan bagaimana rupanya, dan jika anda tidak mengenalnya, saya pun tidak dapat mengatakannya; hanya satu yang membedakannya dari babu-babu lain di Hindia, yakni bahwa ia tidak banyak pekerjaan, sebab nyonya Havelaar mengurus sendiri anaknya, dan apa yang harus dikerjakan untuk dan dengan si Max kecil, dilakukannya sendiri, sehingga mengherankan nyonya-nyonya lain, yang tidak membenarkan ia menjadikan dirinya “budak dari anak-anak suaminya”.
¹ Tokoh yang kejam dari cerita dongeng Eropa, suka menyiksa perempuan. Kata-kata isterinya yang dimaksud ialah: Kakak Anna, belum nampak jugakah orang datang?
² Tutup.
³ Sebangsa kadal yang besar.
⁴ Pedagang keliling.
⁵ Banyolan dengan lagu.
⁶ Tarikan-tarikan otot yang tidak dikuasai.
⁷ Sisa-sisa.
⁸ Dalam bahasa Belanda “sliymerig”, berlendir, bergetah. Karena cara-nya berbicara itu, maka residen disebut Sliymering. Lihat Pendahuluan.
⁹ Sikap malu-malu.
¹⁰ Istimewa.
¹¹ Tali pinggang.
¹² Baju pagi.
¹³ Cara Cina.
¹⁴ Tahun meletusna revolusi Perancis.
¹⁵ Penyair patriot Perancis ± 1830; ia menulis tentang pengalamannya ditawan oleh orang Austria.
¹⁶ Pengarang Picciola (1836), juga tentang pengalaman dalam tawanan.
¹⁷ Lagu-lagu mahasiswa yang terkenal.
Bab VII
Residen Bantam memperkenalkan bupati dan kontelir kepada asisten residen yang baru. Havelaar memberi hormat kepada kedua pejabat itu dan bersalam-salaman dengan mereka; sang kontelir,—selalu ada sesuatu yang tidak enak dalam pertemuan dengan sep yang baru,—segera diambilnya hatinya dengan beberapa kata yang ramah, seolah-olah ia segera hendak memasukkan semacam keakraban yang akan memudahkan pergaulan. Dengan bupati pertemuannya adalah seperti seharusnya dengan seorang yang memakai “payung keemasan”, tapi yang sekaligus pula akan menjadi “saudara muda”-nya. Dengan tegur sapa seorang yang berkedudukan tinggi, ia menegur bupati mengapa bersusah payah betul; dalam udara yang demikian buruk ia datang juga sampai ke perbatasan wilayahnya; dan memang hal itu, menurut aturan sopan santun, tidak perlu dilakukan oleh bupati.
— “Sungguh, tuan adipati, saya marah kepada anda, bahwa anda begitu bersusah payah untuk saya ... mula-mula saya kira saya akan bertemu anda di Rangkas-Betung ...”
— “Saya ingin melihat tuan asisten residen sesegera mungkin, kata adipati, untuk bersahabat.”
— “Tentu, tentu, saya merasa dapat kehormatan besar, tapi saya tidak ingin melihat orang yang setinggi pangkat anda dan usia anda terlalu berpayah-payah ... lagi pula berkuda?”
— “Ya, tuan asisten residen, di mana jabatan memanggil saya, saya masih tetap sigap dan kuat.”
— “Itu keterlaluan ... bukankah demikian, residen?”—“Tuan. Adipati. Sangat.”—“Baik, tapi ada batas ...”—“Rajin,” tambah residen.—“Baik, tapi ada batas,” kata Havelaar sekali lagi, seolah-olah untuk menelan kembali yang dikatakannya sebelumnya,—jika anda tidak keberatan, residen, kami akan beri tempat dalam kereta. Babu bisa tinggal di sini, kami akan kirimkan tandu dari Rangkas-Betung untuknya ... Istri saya akan memangku Max ... ya, Tine? ... dan tempat cukup.”—“Bagi. Saya.”—“Verbrugge, anda juga akan kami beri tempat; saya ti-dak mengerti mengapa ...”—“Baik saja,” kata residen.—“Saya tidak mengerti mengapa anda harus berkuda me-nempuh lumpur; ada tempat buat kita semua, dan kita segera bisa berkenalan ... bukankah begitu, Tine, kita akan atur … … sini Max, ... lihatlah Verbrugge, anak manis bukan ... itulah anak saya ... namanya Max!”
Residen duduk bersama adipati. Havelaar memanggil Verbrugge untuk menanyakan kepunyaaan siapa kuda dauk yang mema-kai selimut merah, dan ketika Verbrugge melangkah ke pintu pendopo, untuk melihat kuda mana yang dimaksudnya, Havelaar meletakkan tangannya di atas bahunya, dan bertanya:—“Apakah bupati itu selalu begitu rajin dalam pekerja-an?”—“Ia seorang tua yang masih kuat, tuan Havelaar, dan anda tentu mengerti bahwa ia ingin memberikan kesan yang baik ke-pada anda.”—“Ya, saya mengerti. Saya banyak mendengar yang baik-baik tentang dirinya ... apakah ia halus budi?”—“O ya ...”—“Dan keluarganya besar?”
Verbrugge memandang Havelaar, seolah-olah tidak mengerti perbelokan itu. Memang ini agak sukar bagi orang yang tidak
mengenalnya. Karena cetaptnya ia berpikir, dalam percakapan-percakapan sering ia melampaui beberapa matarantai dalam penuturannya, dan betapa pun berangsur-angsur peralihan itu terjadi dalam pikirannya, namun orang yang tidak begitu cetap atau tidak biasa dengan kecetapannya, tidak bisa disalahkan jika pada percakapan demikian memandang kepadanya dengan pertanyaan yang tidak diucapkan di bibir: “apakah anda gila … ….. atau bagaimana?”
Pertanyaan demikian pula yang nampak pada airmuka Verbrugge, dan Havelaar harus mengulang pertanyaan itu sebelum ia menjawab:
— “Ya, keluarganyya besar sekali.”
— “Dan adakah masjid-masjid sedang dibangun dalam wilayahnya?” Havelaar melanyutkan, dengan nada suara pula yang, bertentangan dengan kata-kata itu, seolah-olah hendak menyatakan bahwa ada hubungan antara masjid-masjid itu dengan “keluarga besar” sang bupati.
Verbrugge menjawab, bahwa orang memang bekerja keras mendirikan masjid-masjid itu.
— “Ya, ya, saya tahu itu, seru Havelaar. Dan coba katakan, apakah banyak orang yang menunggak pembayaran pajak tanah?”
— “Ya, pembayaran mestinya bisa lebih baik …….”
— “Betul, dan terutama di distrik Parangkujang,” ujar Havelaar, seolah-olah ia merasa lebih mudah untuk menjawab sendiri.
— “Berapa tinggi penetapan pajak tahun ini?” ia melanyutkan, dan ketika Vebrugge agak ragu-ragu seolah-olah hendak berpikir-pikir apa yawabannya, Havelaar mendahuluinyya, dan melanyutkan tanpa berhenti:
— “Baik, baik, saya sudah tahu ….. delapan puluh enam ribu dan beberapa ratus gulden … lima belas ribu lebih banyak dari tahun yang lampau ….. tapi hanya enam ribu di atas tahun 1845 ….. sejak 43 kita hanya maju delapan ribu ….. dan penduduk pun tipis ….. ya, Malthus! ….. dalam dua belas
tahun kita hanya naik sebelas persen, dan itu pun masih pertanyaan, sebab perhitungan dahulu sangat tidak teliti ... dan sekarang pun juga! ... dari 1850 ke 1851 malahan ada kemunduran ... peternakan pun tidak maju ... itu satu pertanda yang buruk ... persetan, coba lihat kuda itu melom-pat-lompat, saya kira dia gila ... mari sini, Max!”
Verbrugge menyadari, bahwa tidak banyak yang harus diajar-kan kepada asisten residen baru itu, dan bahwa tidak ada kelebihannya dalam hal “pengalaman kerja setempat”, dan memang ia tidak ingin minta dianggap demikian.
— “Tapi itu suatu hal yang wajar, Havelaar melanyutkan, sambil mengangkat Max, “di daerah Cikandi dan Bolang¹ mereka gembira sekali karena itu ... dan pemberontak-pembe-rontak di Lampung² juga. Saya harapkan sekali bantuan anda, tuan Verbrugge; bupati sudah lanjut usia ... apakah menan-tunya masih tetap kepala distrik? Ditinjau segala-galanya, saya rasa kita patut bersabar terhadapnya ... terhadap bupati, maksud saya ... saya bersukacita, karena semuanya begitu miskin di sini ... mudah-mudahan saya bisa lama tinggal di sini.”
Kemudian ia menjabat tangan Verbrugge, dan bersama-sama mereka kembali kemeja di mana residen, adipati dan nyonya Havelaar sedang duduk. Lain dari lima menit yang lalu, Ver-brugge merasa bahwa “Havelaar itu tidak gila” seperti dikatakan oleh komandan. Verbrugge sama sekali bukan orang yang bodoh, ia mengenal wilayah Lebak, sejauh daerah yang sebesar itu, di mana tidak ada surat kabar Ataupun buku, dapat dikenal oleh satu orang, dan ia mulai menyadari bahwa ada hubungan antara pertanyaan-pertanyaan Havelaar yang nampaknya lepas-lepas, dan juga bahwa asisten residen yang baru itu, Meskipun belum pernah menjejak wilayah itu, mengetahui serba sedikit apa yang terjadi di dalamnya. Hanya ia tidak mengerti mengapa ia bersukacita karena kemiskinan di Lebak, tapi pikirnya, mungkin ia salah dengar perkataan itu. Tapi kemudian, ketika Havelaar berkali-kali mengatakan hal itu kepadanya, ia menyadari betapa agung dan mulia perasaan sukayita itu.
Havelaar dan Verbrugge duduk di depan meja, dan sambil minum teh, mereka menunggu, bicara-bicara tentang hal-hal yang tidak penting, sampai Dongso memberitahu kepada residen, bahwa kuda-kuda baru sudah dipasang. Maka masuklah berjejal-jejal sekaliannya ke dalam kereta, lalu berangkat. Agak sukar bercakap-cakap karena kereta tergoncang-goncang dan terbentur-bentur. Max diberi pisang supaya diam; ibunya memangkunya, dan sama sekali tidak mau mengakui bahwa ia letih, ketika Havelaar meminta untuk menyerahkan anak yang berat itu kepadanya. Ketika kereta terpaksa berhenti karena terperosok ke dalam lumpur, Verbrugge bertonya kepada residen, apakah ia telah berbicara tentang nyonya Slotering.
— “Tuan. Havelaar. Mengatakan.—“Tentu saja, Verbrugge, mengapa tidak? Dia boleh tinggal pada kami, saya tidak ingin …….”—“Bahwa. Dia. Setuju. Saja,” residen menambahkan sepatah demi sepatah dengan susah payah.—“Saya tidak mau menutup pintu buat seorang wanita dalam keadaan demikian ……… dengan sendirinya ……… bukan begitu, Tine?”
Pun Tine menganggap bahwa hal itu sudah sewajarnja.
— “Anda punya dua rumah di Rangkas-Betung, kata Verbrugge; cukup tempat untuk dua keluarga.”—“Tapi, Sekalipun tidak demikian halnya …….”—“Saya. Tidak. Berani.”—“Ah, residen, seru nyonya Havelaar, tidak ada keraguan pada kami.”—“Menjanjikan. Kepadanya. Sebab.”—“Biar mereka sepuluh orang, asal mereka menerima apa adanya di rumah kami.”—“Menyusahkan. Saja. Dan. Dia.”
— "Tapi melakukan perjalanan dalam keadaan demikian tidak mungkin, residen."
Terasa kejutan kereta yang hebat karena dikeluarkan dari lumpur, seolah-olah suatu tanda seru di belakang keterangan, bahwa perjalanan tidak mungkin bagi nyonya Slotering; semuanya terpekik "aduh", pekikan yang biasanya menyusul sudah goncangan demikian; Max menemukan kembali pisangnya yang terlempar dalam pangkuan ibunya, dan perjalanan sudah jauh, sudah mendekati lubang lumpur berikutnya, baru residen memutuskan untuk mengakhiri kalimatnya, dengan menambahkan:
— "Seorang. Perempuan. Bumiputera."
— "O, itu sama saja," nyonya Havelaar mencoba bicara terang. Residen mengangguk, seolah-olah ia setuju bahwa soal itu sudah diurus, dan karena mereka tambah sukar bicara, mereka menghentikan percakapan.
Nyonya Slotering adalah janda asisten residen yang digantikan oleh Havelaar, yang meninggal dua bulan yang lalu. Verbrugge yang buat sementara ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan asisten residen, sebenarnya berhak untuk mendiami rumah yang luas itu, yang didirikan oleh pemerintah di Rangkas-Betung untuk kepala pemerintahan, seperti juga di wilayah-wilayah kabupaten lainnya. Tapi ia tidak mempergunakan hknya itu, sebagian karena kuatir harus pindah pula cepat-cepat dari situ, sebagian pula untuk membiarkannya dipergunakan oleh janda itu dengan anak-anaknya. Selanjutnja, tempat cukup luas, sebab kecuali rumah asisten residen yang besar itu, di samping itu, di "pekarangan" yang sama, masih ada sebuah rumah lagi yang dahulu dipakai untuk kediaman asisten residen, dan Meskipun sudah agak runtuh, tapi masih cukup baik untuk di-tinggali.
Nyonya Slotering meminta kepada residen untuk membicarakan dengan pengganti suaminya, supaya ia boleh meninggali rumah tua itu, sampai ia bersalin beberapa bulan lagi. Permohonan inilah yang oleh Havelaar dan isterinya dikabulkan dengan
senang hati, sebab mereka sangat terbuka hatinya menerima tamu-tamu.
Residen mengatakan, bahwa nyonya Slotering adalah seorang "perempuan Bumiputera". Ini perlu dijelaskan kepada pembaca yang tidak pernah tinggal di Hindia, kalau tidak orang akan mengira bahwa yang dimaksud ialah seorang perempuan Jawa tulen, hal mana adalah keliru.
Masyarakat Eropa di Hindia, terbagi dalam dua golongan yang jelas batasnya: orang Eropa tulen,—dan mereka yang, Meskipun menurut undang-undang tunduk di bawah hukum yang sama, tidak lahir di Eropa, dan sedikit banyak mempunyai darah Bumiputera dalam tubuhnya. Demi menghormati pengertian-pengertian perikemanusiaan di negeri Hindia, saya segera harus menambahkan, bahwa betapa pun tajamna batas yang ditarik orang dalam pergaulan masyarakat antara kedua jenis oknum itu, yang, di mata orang Bumiputera, sama-sama bernama orang Eropa, namun pembatasan itu sama sekali tidak bersifat bengis, seperti halnya di Amerika pada pemisahan tingkat golongan. Saya tidak menyangkal bahwa dalam hubungan itu masih tetap banyak hal-hal yang tidak adil dan memuakkan, dan bahwa kata "lilap" sering saya dengar, sebagai bukti betapa jauh masih orang bukan lilap, yakni orang kulit putih, terpisah dari peradaban yang sesungguhnya. Memang bangsa lilap hanya sebagai kecuali dibiarkan masuk ke dalam pergaulan, biasanya mereka "tidak dianggap penuh", jika saya boleh memakai ungkapan yang sangat umum itu, tapi jarang penolakan atau anggapan rendah semacam itu dikemukakan atau dipertahankan sebagai suatu prinsip. Setiap orang bebas memilih lingkungannya sendiri, dan tidak bisa orang Eropa totok disalahkan, jika ia lebih suka bergaul dengan orang sebangsanya dari dengan orang yang tidak sama kesan-kesan dan pikiran-pikirannya 'dengan dia,—tidak kita persoalkan apakah derajat moril dan intelektuallnya lebih tinggi atau lebih rendah,—atau,—dan inilah mungkin sebab utama,—yang prasangka-prasangkanya menjurus ke arah lain dari padanya.
Seorang “lilap”,—untuk mempergunakan istilah yang dianggap lebih sopan, seharusnya saya katakan: “apa yang disebut anak Bumiputera”; tapi izinkanlah saya tetap mempergunakan kata sehari-hari itu yang lahir dari aliterasi, saya tidak bermaksud menghina dengan perkataan itu, lagi pula apa artinya kata itu?—seorang lilap banyak kebaikannya, pun orang Eropa banyak kebaikannya. Keduanya pun banyak keburukan-keburukannya; jadi, dalam kedua hal itu mereka sama. Tapi kebaikan dan keburukan yang menempel pada masing-masing mereka itu, terlalu berbeda-beda, sehingga pada umumnya pergaulan mereka tidak akan menyenangkan bagi kedua belah pihak. Tambahan pula, dan dalam hal ini pemerintah membuat kesalahan banyak, orang lilap sering kali tidak mendapat pendidikan yang baik. Soalnya sekarang bukan bagaimana seharusnya seorang Eropa, jika ia sejak kecilnya terhambat dalam pendidikannya; tapi sudah pasti bahwa kekurangan pendidikan ilmiah si lilap pada umumnya, menyukarkan penyamaan haknya dengan orang Eropa, juga di mana ia sebagai individu, karena kecerdasannya, pengetahuannya atau keseniannya, seharusnya lebih diutamakan dari seorang Eropa tertentu.
Ini pun bukan sesuatu yang baru. Adalah menjadi politik Willem Sang Penakluk³ untuk mengutamakan seorang Normandia yang paling tidak berarti di atas seorang Saksen yang paling berpendidikan; dan tiap orang Normandia membanggakan keunggulan bangsa Normandia pada umumnya, untuk minta diakui, juga di mana ia tidak berarti apa-apa tanpa pengaruh sepesukuanannya sebagai pihak yang berkuasa.
Karena keadaan semayam itu, maka secara a priori lahirlah hubungan yang serba terpaksa dalam pergaulan, yang hanya bisa dihilangkan dengan pengertian filsafat dan wawasan yang luas dari pemerintah.
Dengan sendirinya orang Eropa, yang dalam hubungan ini berada di pihak yang menang, mudah sekali membiasakan diri dengan kemenangan yang tidak wajar itu; tapi sering kita merasa geli mendengar seseorang yang memperoleh pendidikan-nya dan bahasanya sebagian besar di Zandstraat⁴ di Rotterdam, menertawakan seorang lilap, karena ia menyebut gelas water dan gouvernement dengan jenis kata jantan dan zon atau maan, netral.
Seorang lilap bisa saja halus budi bahasanya, berpendidikan atau terpelajar,—memang ada yang demikian,—tapi apa-bila orang Eropa yang berpura-pura sakit supaya bisa diturun-kan dari kapal di mana ia jadi tukang cuci piring, dan yang mendasarkan basa basinya pada kata-kata “uwee” dan “verexcuseer”⁵, mengepalai sebuah perusahaan dagang, yang mendapat keuntungan “luar biasa” atas nila dalam tahun 1800 sekian,—tidak, jauh sebelum ia memiliki “toko” itu, di mana ia men-jual ham dan senapang pemburu,—apabila orang Eropa semacam itu mengetahui bahwa orang lilap yang paling terpe-lajar pun sukar membedakan “h” dan “g”, maka ia akan men-tertawakan orang itu, yang tidak tahu perbedaan antara hek dan gek.
Tapi, supaya ia jangan tertawa, ia pun seharusnya mengetahui, bahwa dalam bahasa Arab dan Melayu “kha” dan “hha” ditulis dengan satu huruf, bahwa “Hieronymus” melalui Geronimo berubah menjadi “Yerome”, bahwa Huano kita jadikan Guano, bahwa “want” adalah “handschoen”, bahwa “kous” berasal dari “hose”, dan bahwa “Guild Heaume” dalam bahasa Belanda kita ucapkan “Huillem” atau “Willem”. Tapi itu ter-lalu sukar bagi orang yang mencari untung “dalam” nila.
Dan orang Eropa demikian tentu saja tidak bisa bergaul dengan orang lilap seperti itu.
Saya mengerti bagaimana Willem berasal dari Guillaume, dan saya harus mengakui, bahwa saya, terutama di Maluku, berkenalan dengan banyak orang lilap, yang keluasan pengetahuannya mengagumkan saya, dan yang membikin saya berpikir, bahwa kita orang Eropa betapa pun banyaknya fasilitas pada kita, sering kali dan bukan saja secara perbandingan, jauh ketinggalan dari orang-orang paria yang miskin itu, yang sejak lahirnya harus berkelahi dengan kedudukan yang lebih rendah, kedudukan rendah yang disengaja tidak adil, yang dibuat-buat, dan berkelahi melawan prasangka gila terhadap warna kulitnya.
Tapi nyonya Slotering sekali bebas tetap bebas dari membuat kesalahan-kesalahan dalam bahasa Belanda, karena ia berbicara dalam bahasa Melayu. Kita akan melihatnya nanti ketika kita minum teh dengan Havelaar, Tine dan Max kecil di serambi muka tempat kediaman asisten residen di Rangkas-Betung, di mana rombongan musafir kita akhirnya tiba dengan selamat sesudah tergoncang-goncang dan terantuk-antuk dalam kereta.
Residen yang hanya datang untuk melantik asisten baru dalam jabatannya, mengatakan bahwa ia ingin pulang hari itu juga ke Serang, “karena. Ia”.
Havelaar pun menyatakan keinginannya untuk segera bekerja.—“Sibok. Sekali.” dan diadakanlah persetujuan, bahwa setengah jam lagi akan diadakan pertemuan di serambi besar depan rumah bupati. Verbrugge sudah siap sedia, dari jauh-jauh hari ia telah memerintahkan kepala-kepala distrik, Patih, Kliwon, Jaks, penagih pajak, beberapa orang Mantri, dan semua pejabat Bumiputera yang harus menghadiri upacara itu, untuk berkumpul di ibu kota.
Adipati pamitan lalu pulang ke rumahnya. Nyonya Havelaar melihat-lihat rumahnya yang baru, dan sangat puas, terutama karena kebunnya luas, justru baik untuk Max yang harus banyak menghirup udara segar. Residen dan Havelaar masing-masing masuk sebuah kamar untuk berganti pakaian, sebab pada upacara yang akan dilangsungkan, diwajibkan memakai pakaian resmi yang ditentukan. Sekitar rumah berkumpul beratus-ratus orang yang telah mengiringi kereta residen dengan berkuda, atau yang mengiringi kepala-kepala yang berhim pun itu. Polisi dan opas-opas kantor ramai mundar-mandir; pendeknya, pada segalanya nampak bahwa kesepian di tempat yang terlupa itu untuk sementara berganti dengan kesibukan.
Tidak lama kemudian sebuah kereta yang indah kepunyaan adipati masuk pekarangan; residen dan Havelaar, pakaian nyia berkilauan dengan emas dan perak, tapi mereka tersandung-sandung pada pedangnyia; mereka masuk ke dalam kereta, dan dibawa ke rumah bupati, di mana mereka disambut dengan gong, gamelan, dan alat-alat musik memakai senar.
Pun Verbrugge yang telah mengganti pakaian nyia yang berlumpur, sudah sampai di sana. Kepala-kepala bawahan duduk dalam lingkaran besar, menurut cara ketimuran duduk di atas tikar di bawah, dan di ujung serambi yang panjang itu, ada sebuah meja di mana residen, adipati, asisten residen, kontelir dan beberapa orang kepala, mengambil tempat duduk. Diedarkan teh dan kuwe, dan mulailah upacara sederhana itu.
Residen berdiri dan membacakan keputusan gubernur jen-deral di mana disebutkan, bahwa tuan Max Havelaar diangkat jadi asisten residen daerah Bantam Kidul atau Bantam Selatan, sebagaimana Lebak disebut oleh anak Bumiputera. Lalu diam-bilnya Lembaran Negara di mana termaktub sumpah yang harus diucapkan pada waktu menerima jabatan umumnya, bunyinya ialah “bahwa untuk diangkat atau dinaikkan pangkatnyia menjadi ……, orang tidak boleh pernah menjanjikan atau mem-berikan sesuatu kepada seseorang, tidak akan menjanjikan atau memberikan sesuatu, bahwa ia akan setia dalam segala keadaan kepada Seri Baginda raja negeri Belanda, patuh ke-pada wakil Seri Baginda di daerah-daerah Hindia, bahwa ia dengan cermat akan mematuhi, dan menyuruh patuhi undang-undang dan peraturan-peraturan yang telah diberikan dan akan diberikan, dan bahwa ia dalam segala hal akan bertindak sebagai …… (di sini: asisten residen) yang baik.”
Sesudah itu tentu saja menyusul kata-kata sakramentil:
“Semoga Tuhan Mahakuasa membantu saya”.
Havelaar mengulangi menyebutkan kata-kata yang diucapkan itu. Sebenarnya dalam sumpah itu mestinya sudah dianggap ter-masuk janji untuk melindungi penduduk bumiputera terhadap penghisapan dan penindasan, sebab jika orang bersumpah akan menegakkan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang ada, cukuplah ia memperhatikan sekian banyak aturan-aturan tentang itu, dan tahulah ia bahwa sebenarnya tidak perlu ada sumpah khusus mengenai itu. Tapi rupanya pembuat undang-undang menganggap kebaikan yang berlebih-lebihan tidak merugikan, nyatanya, kepada asisten residen diminta mengucapkan sumpah khusus, di mana kewajiban itu sekali lagi disebutkan secara jelas, dan Havelaar sekali lagi bersaksi kepada: “Tuhan Mahakuasa”, bahwa ia “akan melindungi penduduk bumiputera terhadap penindasan, penyiksaan dan penganiayaan”.
Bagi orang yang halus penglihatannya, akan menarik memperhatikan perbedaan antara sikap dan nada residen dan Havelaar pada upacara ini. Keduanya sudah berkali-kali menghadiri upacara demikian; jadi, perbedaan yang saya maksudkan bukanlah soal tersentuhnyia perasaan mereka sedikit banyaknya oleh hal-hal yang baru dan tidak lazim, tapi semata-mata disebabkan karena berbeda-bedanya watak kedua orang itu. Residen bicaranya agak lebih cepat dari biasanya, karena ia hanya membacakan keputusan dan sumpah itu, sehingga ia tidak perlu mencari-cari kata penutup, namun demikian segalanya terjadi dengan penuh martabat dan dengan kesungguhan yang memberikan kesan kepada orang yang melihat, bahwa ia sangat menganggap penting soal itu. Sebaliknya Havelaar, pada wajah, suara dan sikapnya ada sesuatu, ketika ia dengan jari diangkat mengulangi menyebutkan sumpah, seolah-olah hendak berkata: “itu sudah dengan sendirinya, pun tanpa “Tuhan Mahakuasa” saya mau melakukannya”, dan barangsiaapa mengenal manusia, akan lebih mempercayai sikapnya yang tidak dipaksa-paksa dari cara yang kaku formil dari residen.
Bukankah sesungguhnya menertawakan, jika kita mengira bahwa orang yang terpanggil untuk menegakkan keadilan, orang yang diberi tanggungjawab atas keselamatan beribu-ribu jiwa, akan merasa dirinya terikat oleh beberapa bunyi yang diucapkan-nya, jika ia tidak, juga tanpa bunyi-bunyi itu, merasa terpanggil untuk itu oleh hati sanubarinya sendiri?
Kami kira Havelaar akan melindungi orang miskin dan orang tertindas, di mana pun ia temukan mereka, Sekalipun ia demi “Tuhan Yang Mahakuasa” menjanjikan yang sebaliknya.
Kemudian menyusul pidato residen kepada kepala-kepala, di mana ia memperkenalkan asisten residen sebagai kepala yang paling tinggi dalam daerah; ia minta kepada mereka supaya patuh kepadanya, memenuhi kewajibannya dengan cermat dan kata-kata konyol lainnya seperti itu. Kemudian kepala-kepala seorang demi seorang diperkenalkan namanya kepada Havelaar: Havelaar mengulurkan tangannya kepada masing-masing, dan pelantikan pun selesai.
Mereka makan siang di rumah adipati, di mana komandan Duclari pun diundang. Segera sesudah selesai, residen yang ingin malam itu juga tiba di Serang, “karena. Dia. Sangat. Sibok”, naik keretanya, dan Rangkas-Betung menjadi sunyi kembali, sebagai sebuah pos di pedalaman pulau Jawa yang sedikit penduduk Eropahnya, lagipula tidak terletak di jalan raya.
Perkenalan antara Duclari dan Havelaar segera menjadi akrab: adipati nampaknya senang dengan “saudara tua”nya yang baru, dan Verbrugge menceritakan kemudian bahwa pun residen yang diiringinya sebentar dalam perjalanannya pulang ke Serang, sangat senang dengan keluarga Havelaar, yang dalam perjalanannya ke Lebak beberapa hari tinggal di rumahnya; tapi ia menambahkan pula, bahwa mungkin sekali Havelaar yang mempunyai nama baik pada pemerintah, tidak lama lagi akan diberi jabatan yang lebih tinggi, atau sedikitnya dipindahkan ke daerah yang lebih “menguntungkan”.
Max dan Tine baru-baru ini kembali dari perjalanan ke Eropa, dan merasa letih oleh apa yang orang sebut “kehidupan koper”, suatu penamaan yang agak ganjil. Jadi, mereka senang bahwa mereka sesudah banyak mengembara, akhirnya tinggal lagi di suatu tempat di mana mereka merasa aman. Sebelum keberangkatan mereka ke Eropa, Havelaar jadi asisten residen di Ambon; di sana ia menghadapi banyak kesukaran, karena penduduk pulau itu sedang bergolak dan dalam suasana pemberontak, disebabkan banyaknya aturan-aturan yang salah yang diadakan masa belakangan ini; semangat pemberontakan itu dapat dipadamkannya, dengan banyak enersi, tapi ia sedih karena sedikitnya bantuan yang diberikan kepadanya dari pihak atasan dan kesal oleh buruknya pemerintahan yang telah berabad-abad membinasakan penduduk dan merusak daerah-daerah Maluku yang indah itu;—cobalah baca apa yang dikatakan tentang itu sudah dalam tahun 1825 oleh baron Van der Capellen⁶, tulisan-tulisan pencinta manusia itu dapat anda baca dalam Indiskh Staatsblad tahun itu, dan sejak itu keadaan tidak bertambah baik;—karena kesal memikirkan semua itu Havelaar jatuh sakit, dan ini menyebabkan ia minta perlop ke Eropa. Sebenarnya, pada penempatan kembali, ia berhak memilih tempat yang lebih baik dari daerah Lebak yang miskin dan jauh dari makmur itu, sebab lingkungan kerjanya di Ambon jauh lebih penting, dan di sana ia bebas, tanpa seorang residen di atasnya. Lagipula sebelum ia berangkat ke Ambon, ada pembicaraan untuk menaikkan pangkatnya jadi residen, karena itu orang merasa heran mengapa ia dikirim ke daerah yang begitu sedikit penghasilan ekstra dari hasil buminya; kebanyakan orang mengukur pentingnya suatu jabatan kepada keuntungan tambahan semacam itu. Tapi ia sendiri tidak mengeluh mengenai hal ini. Keinginannya untuk dihormati tidak begitu rupa-rupa-rupa, sehingga ia mau mengemis-ngemis minta pangkat lebih tinggi atau keuntungan lebih besar.
Dan keuntungan, itulah sebenarnya yang diperlukannya, sebab dalam perjalanannya di Eropa wang sedikit yang dikumpulkannya dalam tahun-tahun sebelumnya, habis dipergunakannya; malahan ia terpaksa meninggalkan hutang di sana, jadi ia terus terang saja, miskin. Tapi tidak pernah ia bermaksud mencari keuntungan dengan jabatannya, dan ketika ia ditunjuk untuk bekerja di Lebak, dengan senang hati ia berniat untuk membayar hutang-hutangnya dengan berhemat, dan isterinya yang sederhana dalam selera dan kebutuhannya, berjanji akan membantunya dalam hal itu.
Tapi Havelaar tidak pandai berhemat. Dia sendiri dapat membatasi diri kepada yang perlu-perlu saja, tapi bila orang lain memerlukan bantuan, ia tidak bisa menahan diri untuk menolong. Dia sendiri tahu bahwa ini adalah suatu kelemahan, ia memikirkan dengan pikirannya yang sehat betapa tidak adil ia menolong seseorang, sedang ia sendiri lebih memerlukan pertolongan; ia merasakan ketidak adilan itu lebih keras lagi, jika pun “Tine”nya dan Max, yang keduanya sangat dicintaininya, menderita sebagai akibat kemurahan hatinya, ia menyalahkan kebaikan hatinya sebagai kelemahan, sebagai keriahan, sebagai keinginan untuk berlagak sebagai pangeran yang menyamar, ia berjanji akan memperbaiki dirinya, tapi selalu, jika ada orang yang datang kepadanya mengatakan bahwa ia menjadi korban nasib yang buruk, ia pun lupa segalanya lalu memberikan bantuan. Pada hal ia mempunyai pengalaman yang pahit sebagai akibat dari sifatnya yang terlalu baik itu. Delapan hari sebelum Max lahir, ia tidak mempunyai apa-apa untuk membeli buaian tempat tidur anak kesayangannya itu, dan tidak lama sebelumnya ia mengorbankan barang perhiasan isterinya yang sedikit, untuk menolong seorang yang pasti keadaannya lebih baik dari padanya.
Tapi semua itu sudah lama pula lampau, ketika mereka tiba di Lebak; dengan tenang dan gembira mereka menempati rumah itu, “di mana mereka mengharap akan tinggal beberapa waktu”. Dengan perasaan nikmat yang aneh mereka memesan perabot di Betawi, yang akan memberikan segalanya suasana “comfortable”⁷ dan akrab; mereka saling menunjukkan tempat di mana mereka akan makan pagi, di mana Max kecil akan bermain-main, di mana perpustakaan akan ditaruh, di mana ia malam hari akan membacakan apa yang ditulisnya hari itu;—sebab ia terus menuliskan pikiran-pikirannya di atas kertas …… “sekali waktu itu semua dicetak, kata isterinya, dan tahulan orang siapa Max, suaminya ……” Tapi tidak pernah ia menyuruh cetak apa yang hidup dalam benaknya, karena ada sesuatu keengganan padanya, yang mirip-mirip rasa kesopanan. Dia sendiri tidak bisa lain dari menggambarkan keengganan itu dengan menanyakan kepada orang yang menganjurkan untuk mengumumkan tulisannya itu: Apakah anda akan menyuruh putri anda berjalan di tengah jalan tanpa baju?”
Ini adalah pula salah satu “boutade”⁸, yang membuat orang sekitarnya mengatakan “bahwa Havelaar itu seorang yang aneh”, dan saya tidak akan mengatakan yang sebaliknya; tapi jika kita mencoba menerjemahkan caranya yang tak lazim, maka mungkin kita akan menemukan dalam pertanyaan yang aneh mengenai pakaian anak gadis itu, teks untuk suatu uraian mengenai kesucian pikiran yang takut kepada pandangan orang lewat yang kasar dan yang menyembunyikan diri dalam selimut keengganan yang suci.
Ya, mereka akan bahagia di Rangkas-Betung, Havelaar dan isterinya Tine! Satu-satunya yang menekan jiwa mereka ialah hutang-hutang yang ditinggalkannya di Eropa, ditambah lagi dengan ongkos-ongkos perjalanan kembali ke Hindia yang belum terbayar, dan pengeluaran-pengeluaran untuk perabot rumah. Tapi bukankah mereka akan hidup dari separoh, dari sepertiga penghasilannya ….. barangkali ia segera akan jadi residen ….. dan dapatlah segalanya diatur dalam beberapa tahun saja …..
— “Meskipun aku merasa sayang, Tine, untuk meninggalkau Lebak, sebab banyak yang harus dikerjakan di sini. Kau harus hemat sekali manis, mungkin kita bisa lunaskan semua, juga tanpa kenaikan pangkat ….. dan aku ingin tinggal lama di sini.”
Anjuran untuk berhemat, tak perlu ia tujukan kepadanya. Bukan salahnya bahwa mereka sekarang harus berhemat, tapi ia telah begitu menyatukan diri dengan suaminya Max, sehingga sama sekali tidak menganggap anjuran itu sebagai suatu penyesalan, dan memang itu bukan penyesalan, sebab Havelaar tahu benar, bahwa dia sendirilah yang gagal karena kedermawanannya yang keterlaluan, dan bahwa kesalahan Tine,—Kalaupun ada kesalahan pada pihaknya,—hanyalah karena ia, oleh cintanya kepada Max, selalu membenarkan apa yang dilakukannya.
Ya, dia membenarkan suaminya membawa keliling dikermis Haarlem⁹ dua orang perempuan miskin dari jalan Nieuwstraat, perempuan-perempuan yang belum pernah meninggalkan Amsterdam, dan tidak pernah “pesiar”, dengan dalih yang lucu, bahwa raja memerintahkan kepadanya untuk “menyenangkan perempuan-perempuan tua yang berkelakuan baik”. Dia membenarkan suaminya mentraktir anak-anak yatim piatu dari semua rumah piatu di Amsterdam dengan kuwe dan susu badam, dan melimpahi mereka dengan mainan. Dia mengerti sepenuhnya suaminya yang membayarkan rekening losmen untuk keluarga penyanyi miskin yang hendak kembali ke negerinya, tapi tidak mau meninggalkan milik mereka, termasuk harpa, dan biola, dan bas yang amat diperlukannya untuk usaha mereka yang kecil. Dia tidak bisa menolak, anak gadis yang dibawa suaminya malam hari, gadis yang menyapa suaminya di jalan, diberinya makan dan penginapan, dan suaminya tidak mengucapkan kata-kata “pergilah dan jangan lagi berbuat dosa!” sebelum ia memberinya pesangon yang cukup supaya “tidak berbuat dosa” lagi. Dia menganggap perbuatan Max sangat terpuji, ketika ia menyuruh kembalikan klavir di kamar depan sang ayah, yang didengarnya berkata betapa sedih hatinya, bahwa anak-anak gadisnya tidak bisa lagi main musik sesudah ia bangkrut. Dia mengerti benar perbuatan suaminya yang membeli dan membebaskan keluarga budak di Menado, yang sedih sekali karena harus naik meja untuk dilelang. Dia menganggap suatu perbuatan yang wajar, bahwa Max memberikan kuda lain kepada orang-orang yang kudanya mati dipacu oleh opsi-opsir Bayonnaise. Dia tidak keberatan ketika suaminya di Menado dan Ambon mengajak semua penumpang kapal Amerika “Whalers”¹⁰ yang karam ke rumahnya, dan merasa dirinya terlalu “grand seigneur”¹¹ untuk menyodorkan kwitansi penginapan kepada pemerintah Amerika. Dia mengerti sepenuhnya mengapa opsi-opsir tiap kapal perang yang datang, sebagian besar menginap pada Max dan rumahnya menjadi “pied a terre” mereka.
Bukankah Max suaminya?—Apakah tidak terlalu kecil, terlalu kerdil, apakah tidak bertentangan dengan pikiran sehat, untuk mengikat orang yang begitu mulia pikirannya, kepada aturan-aturan kehematan dan kerumahtanggaan, yang berlaku bagi orang lain? Lagipula, Meskipun sekarang barangkali agak kurang berbanding penghasilan dan pengeluaran, bukankah Max, “suaminya Max,” akan mempunyai karier yang gilang-gemilang di masa depan? Bukankah tidak lama lagi keadaannya akan memungkinkan dia mengikuti sesukanya kecenderungan-kecenderungannya yang mulia, tanpa melampaui penghasilannya? Mengapa “suaminya Max” tidak akan menjadi gubernur jenderal, atau seorang raja? Malahan apakah tidak aneh, bahwa ia belum juga jadi raja?
Kalau bisa didapatkan kesalahan padanya, maka itu disebabkan karena kecintaannya kepada Havelaar, dan jika pernah ada, di sinilah berlaku ucapan: “bahwa kita harus banyak memaafkan orang yang telah banyak mencintai”.
Tapi tidak ada yang harus dimaafkan. Kita tidak usah setuju dengan pendapat-pendapatnya yang berlebih-lebihan mengenai suaminya Max, tapi memang dapat diterima bahwa ia mempunyai karier yang baik di masa depan, dan apabila harapan yang beralasan ini telah terlaksana, sesungguhnya dapatlah dihilangkan akibat-akibat yang kurang enak karena kedermawanannya. Tapi ada lagi satu sebab lain yang membikin mereka keduannya beralasan untuk tidak usah berpikir susah-susah.
Tine kehilangan orang tuanya waktu masih kecil, dan ia dibesarkan pada keluarganyya. Ketika ia kawin, ia mendapat kabar bahwa ia mempunyai harta sedikit, dan itu dibayarkan kepadanya; tapi Havelaar menemukan dalam beberapa surat masa lampau, dan beberapa catayan lepas yang disimpan Tine dalam sebuah peti kecil yang didapatnya dari ibunya, bahwa keluarganya dari pihak ayah ma pun ibunya kaya sekali, tapi ia tidak mengerti di mana, karena apa atau bila kekayaan itu hilang. Dia sendiri, yang tidak pernah punya perhatian dalam hal-hal keuangan, sedikit sekali atau sama sekali tidak bisa menyawab, ketika Havelaar mendesaknya untuk memberikan beberapa keterangan mengenai harta benda keluarganyya dahulu. Kakeknya, baron van W, menyingkir ke Inggris bersama Willem Kelima¹², dan menjadi kapten kavaleri dalam tentara hertog York. Rupanya ia hidup berfoya-foya dengan anggota-anggota keluarga stadhouder yang menyingkir itu, dan itulah yang kata orang menjadi sebab maka kekayaannya habis tandas. Kemudian di Waterloo ia tewas dalam suatu serangan sebagai husar di bawah pimpinan Boreel. Mengharukan membaca surat-surat ayah Tine kepada ibunya, di mana ia mengeluh telah mencari dengan siasia mayat ayahnya di tengah medan pertempuran.
Ayah Tine ketika itu seorang pemuda delapan belas tahun, yang sebagai letnan dalam pasukan itu, dalam serangan yang sama kena palu pedang di atas kepalanya, yang menyebabkan ia delapan tahun kemudian mati gila.
Dari pihak ibunya Tine ingat, bahwa kakeknya hidup mewah sekali, dan dari beberapa surat-surat ternyata, bahwa ia memiliki perusahaan pos di Swiss, seperti yang sekarang ini masih kedapatan disebagian besar negeri Jerman dan Itali; cabang penghasilan itu merupakan “apanage”¹³ dari raja-raja Turn dan Taxis. Ini membikin orang menduga, bahwa ia mempunyai kekayaan yang besar, itu pun tidak ada atau sedikit sekali berpindah kepada keturunan yang kedua, oleh sebab-sebab yang sama sekali tidak diketahui.
Sesudah perkawinannya barulah Havelaar mendengar sedikit apa yang dapat diketahuinya, dan dalam pengusutannya ia heran, bahwa peti kecil yang saya sebutkan tadi, dan yang disimpan oleh isterinya bersama isinya karena perasaan hormal, tanpa menduga bahwa di dalamnya mungkin ada surat-surat yang penting dari sudut keuangan,—telah hilang dengan cara yang tidak dapat diterangkan. Meskipun ia tidak mencari keuntungan, namun berdasarkan hal ini dan banyak hal-hal lainnya, ia membangun gambaran bahwa di belakang semua ini tersembunyi suatu “roman intime”, dan kita tidak bisa menyalahkannya, bahwa ia, yang untuk caranya hidup mempunyai banyak keperluan itu, akan suka hati jika roman itu diakhiri secara menggembirakan. Bagaimanapun roman itu, apakah ada atau tidak ada terjadi “spoliatie”¹⁴, yang pasti ialah bahwa dalam khayalan Havelaar lahir sesuatu, yang dapat disebut: suatu “reve aux millions”¹⁵.
Tapi nampak pula keanehan, bahwa orang yang dengan cermat dan tajam dapat mengusut dan membela hak orang lain ini, Sekalipun tertimbun jauh di bawah surat-surat perlawanan berdebu, dan di bawah sarang laba-laba yang tebal, bahwa ia, kalau menyangkut kepentingan sendiri, lalai mempergunakan saat yang baik untuk menyelesaikan soal itu. Seolah-olah ia malu, bahwa ia di sini memperjuangkan keuntungannya sendiri, dan saya yakin, jika “Tinenya” kawin dengan orang lain, dan orang itu meminta pertolongan kepadanya, untuk menyingkirkan sarang laba-laba yang menjerat kekayaan leluhur isterinya itu, bahwa ia akan berhasil untuk mengembalikan kekayaan itu kepada “anak piatu yang menarik” itu, kekayaan yang memang miliknya. Tapi sekarang anak piatu yang menarik itu adalah isterinya, kekayaan isterinya adalah kekayaannya, jadi ia merasa seperti pedagang; ada sesuatu yang “derogend”¹⁶, menurut perasaannya, jika ia atas nama isterinya bertonya: “Bukankah anda masih punya hutang kepada saya?”
Meskipun demikian ia tidak bisa melupakan impian harta karun itu, Sekalipun hanya sebagai dalih terhadap penyesalan diri yang selalu muncul, karena ia terlalu banyak mengeluarkan uang.
Tidak lama sebelum pulang ke Jawa, ketika ia telah banyak menderita karena tekanan keuangan, ketika ia terpaksa menundukkan kepalanya yang gagah di bawah “furca caudina”¹⁷ dari penagih hutang yang banyak, barulah ia dapat mengatasi kelambanannya atau keengganannya, untuk mengurus harta karun yang disangkanya masih ada itu. Dan orang memperlihatkan kepadanya sebuah rekening kuran tua, yang seperti dimaklumi, merupakan argumen yang tidak bisa dibantah.
Tapi mereka akan berhemat di Lebak. Dan mengapa tidak? Di negeri yang biadab demikian, tidak ada gadis-gadis berjalan malam hari, gadis-gadis yang menjual kehormatannya untuk sekedar mendapat makan; tidak ada orang gelandangan yang hidup dari pekerjaan yang tidak menentu. Di sana tidak pernah terjadi, bahwa suatu keluarga tiba-tiba binasa karena nasibnya buruk, …… dan itulah biasanya batu karang, di mana terkandas maksud-maksud Havelaar yang baik. Jumlah orang Eropa di darah itu, begitu sedikit sehingga tidak berarti; dan orang Jawa di Lebak terlalu miskin, untuk—pada pergantian nasib mana pun juga,—jadi menarik oleh kemiskinan yang lebih besar. Semua itu tidak begitu dipikirkan oleh Tine; untuk itu seharusnya ia lebih tepat memikirkan sebab-sebab keadaan mereka yang kurang baik, tapi itu tidak hendak dilakukanya justru karena ia mencintai Max; tapi lingkungan mereka yang baru bernafaskan ketenangan, tidak ada sebab musabab, yang bercorak romanesk palsu, yang membuat Havelaar dulu sering berkata: “bukankah demikian Tine, bukankah itu suatu hal yang aku tidak bisa biarkan begitu saja tanpa campur tangan?” dan Tine menjawab: “tentu saja tidak Max, kau tidak bisa berlepas tangan.”
Kita akan melihat, betapa Lebak yang sederhana dan nampak tenang itu, lebih banyak memerlukan pengeluaran Havelaar dari segala pergolakan hatinya dahulu bersama-sama.
Tapi mereka tidak tahu! Mereka memandang kemasa depan dengan penuh kepercayaan, dan mereka begitu bahagia dalam cintanya, bahagia dengan anaknya ……
— “Alangkah banyaknya bunga mawar di kebun itu, Tine berseru, dan lihat, di sana juga ada rampah dan cempaka, dan begitu banyak melati, dan lihat kembang bakung yang indah itu …….”
Dan, laksana anak-anak, mereka bermain-main dalam rumahnya yang baru, dan ketika Duclari dan Verbrugge, setelah berkunjung kepada keluarga Havelaar, pada malam hari pulang ke rumah yang didiaminya bersama, mereka banyak berbicara tentang kegembiraan kekanak-kanakan keluarga yang baru datang itu.
Havelaar pergi ke kantornya, dan bekerja di situ sampai kesokan paginya.
¹ Perkebunan-perkebunan di daerah ini terutama mempergunakan tenaga-tenaga pelarian dari Lebak.
² Pelarian-pelarian dari Lebak menggabungkan diri dengan mereka.
³ Hertog Normandia (di Perancis), yang menaklukkan orang Angel dan Saksen di negeri Inggris, tahun 1066.
⁴ Sebuah jalan di Rotterdam dulu, yang didiami oleh rakyat jelata.
⁵ Mestinya: “uw” dan “excuseer”; kekeliruan ucapan yang dilakukan oleh rakyat biasa yang mau bicara seperti orang terpelajar.
⁶ Gubernur Jenderal (1819-1826), terkenal karena sikapnya dan tindakan-tindakannya yang menguntungkan bagi penduduk Bumiputera.
⁷ Senang.
⁸ Kelucuan yang bernadakan kritik.
⁹ Kota Haarlem ± 25 kilometer dari Amsterdam.
¹⁰ Penangkap ikan paus.
¹¹ Tuan besar.
¹² Pangeran Oranye yang dalam tahun 1794 menyingkir ke negeri Inggris, ketika tentera Perancis menduduki negeri Belanda.
¹³ Milik keluarga raja yang menghasilkan nafkahnnya.
¹⁴ Perampokan.
¹⁵ Impian harta karun.
¹⁶ Merendahkan derajat.
¹⁷ Sesudah pertempuran di Caudium orang Rumawi yang kalah perang harus berjalan di bawah gandar yang terbuat dari tiga batang tombak—lambang penghinaan.
Bab VIII
Havelaar meminta kepada kontelir untuk mengundang kepala-kepala yang hadir di Rangkas-Betung, supaya tinggal di sana sampai keesokan harinya untuk menghadiri “sebah” (persidangan), yang hendak diadakannya. Rapat demikian biasanya diadakan sekali sebulan, tapi mungkin karena ia tidak ingin beberapa kepala yang jauh tinggalnya dari ibukota, capek-capek bulak-balik, mungkin juga karena ia tanpa menunggu-nunggu hari yang ditentukan, hendak segera berbicara kepada mereka dengan upacara, maka ia menetapkan mengadakan hari sebah yang pertama, pada keesokan harinya.
Di sebelah kiri di depan rumahnya, tapi masih dalam “pekarangan” yang sama, dan di seberang rumah yang didiami nyonya Slotering, ada sebuah gedung yang sebagian dipakai sebagai kantor asisten residen, termasuk dalamnya kas negeri, dan sebagian merupakan serambi terbuka yang cukup luas, yang baik sekali untuk mengadakan rapat demikian. Di sanalah kepala-kepala keesokan harinya pagi-pagi sudah berkumpul. Havelaar masuk, memberi salam dan duduk. Ia menerima laporan-laporan mengenai pertanian, kepolisian dan kehakiman, dan menyisih-kannya untuk diperiksa lebih lanjut.
Masing-masing mengira akan mendengarkan suatu pidato seperti yang diucapkan oleh residen sehari sebelumnya, dan mungkin juga Havelaar sendiri tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang lain kepada kepala-kepala, tapi kita harus pernah mendengar dan melihatnya pada waktu-waktu demikian, untuk mengerti bagaimana ia, pada pidato-pidato seperti ini, jadi bersemangat, dan oleh caranya bicara yang khas, memberikan warna baru kepada hal-hal yang paling biasa; bagaimana ia tegak, bagaimana matanya memancarkan api, bagaimana suaranya beralih dari lemah merayu menjadi tajam mengiris, bagaimana kiasan-kiasan mengalir dari bibirnya seolah-olah ia menaburkan barang-barang yang berharga ke sekitarnya, barang-barang yang tidak usah dibelinya, dan bagaimana, bila dia berhenti bicara, semuanya memandangnya dengan mulut terbuka, seolah-olah bertanya: “masya Allah, siapakah anda?"
Memang benar, bahwa ia sendiri, yang pada waktu demikian berbicara seperti rasul, seperti nabi, kemudian tidak tahu lagi bagaimana ia bicara, dan kefasihannya lebih bersifat menimbulkan kekaguman dan menubruk sasaran, dari meyakinkan dengan jalan menguraikan secara ringkas. Sekiranya ia hidup di masa Yunani ketika diambil putusan untuk berperang melawan Philippus¹, ia dapat memberikan semangat berapi-api kepada orang Athena, tapi ia tidak akan begitu berhasil, sekiranya ia mendapat tugas untuk mempengaruhi mereka supaya mau berperang, dengan memberikan uraian. Pidatonya kepada kepala-kepala Lebak terus saja dalam bahasa Melayu, dan karena itu mempunyai satu keistimewaan lagi; bahasa-bahasa Timur amat sederhana, sebab itu banyak ungkapan-ungkapannya yang penuh tenaga; bahasa-bahasa Barat sudah kehilangan tenaga itu karena sifatnya yang dibuat-buat; sebaliknya nada yang mengalir manis dalam bahasa Melayu sukar dinyatakan dalam bahasa lain;—lagipula harus diingat, bahwa sebagian besar pendengarnya terdiri dari orang-orang sederhana, tapi sama sekali tidak bodoh, dan lagi mereka itu orang Timur, yang penenerimaannya berbeda sekali dari penerimaan kita.
Havelaar berkata kurang lebih sebagai berikut:
“Tuanku Raden Adipati bupati Bantam Kidul dan sekalian para Raden Demang, yang menjadi kepala distrik di daerah ini, tuan Raden Jaksa, yang bekerja menegakkan keadilan dan tuan Raden Kliwon, yang menjalankan kekuasaan di ibu kota, dan sekalian para Raden, Mantri-Mantri, serta sekalian kepala-kepala di daerah Bantam Kidul, terimalah salam saya.
Saya merasa gembira melihat tuan-tuan berkumpul di sini, mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut saya.
Saya tahu di antara tuan-tuan ada yang unggul dalam ilmu dan kebaikan hati; saya harap pengetahuan saya akan bertambah dengan ilmu tuan-tuan, sebab saya tidak begitu banyak tahu seperti yang saya kehendaki; dan saya suka kebaikan, tapi sering saya merasa, bahwa di dalam hati saya ada kesalahan-kesalahan yang menutupi kebaikan dan menghambat pertumbuhannya, sebab tuan-tuan tahu bagaimana pohon yang besar mendesak yang kecil dan membunuhnya. Sebab itu saya akan memperhatikan orang-orang di antara tuan-tuan yang unggul dalam kebajikan, dalam usaha saya supaya jadi lebih baik dari sekarang.
Terimalah salam takzim saya.
Tatkala Gubernur Jenderal memerintahkan saya untuk datang kepada tuan-tuan menjadi asisten residen di daerah ini, hati saya gembira. Tuan-tuan sekalian tahu, bahwa saya belum pernah menjejak Bantam Kidul; karena itu saya minta tulisan-tulisan mengenai daerah tuan-tuan, dan saya lihat bahwa banyak hal yang baik di Bantam Kidul. Rakyat tuan-tuan memiliki sawah-sawah di lembah-lembah, dan ada pula sawah-sawah di gunung-gunung. Dan tuan-tuan ingin hidup damai, dan tuan-tuan tidak suka tinggal di wilayah-wilayah yang ditinggali orang lain. Ya, saya tahu, banyak hal-hal yang baik di Bantam Kidul.
Tapi bukan karena itu hati saya gembira, sebab di wilayah-wilayah lain pun saya akan bisa menemukan banyak hal-hal yang baik.
Tapi saya lihat bahwa rakyat tuan-tuan miskin, dan itulah yang menggembirakan hati nurani saya.
Sebab saya tahu bahwa Allah cinta orang yang miskin, dan bahwa Ia melimpahkan kekayaan kepada orang yang hendak diujiNja, tetapi kepada orang miskin diutusNya orang yang menyampaikan firmanNya, supaya mereka bangkit dalam kemeratannya.
Bukankah Dia mencurahkan hujan di mana batang layu mengering dan meneteskan embun dalam kelopak bunga kehausan?
Bukankah tugas yang mulia dikirim untuk mencari orang-orang yang lelah yang ketinggalan sesudah selesai bekerja dan tersungkur di tepi jalan karena lututnya tak kuat lagi untuk berjalan ke tempat menerima upah? Tidakkah saya akan gembira mengulurkan tangan kepada orang yang jatuh ke dalam lubang, dan memberi tongkat kepada orang yang mendaki gunung? Tidakkah hati saya akan menggejolak karena terpilih antara yang banyak untuk merobah keluhan menjadi dua dan ratapan menjadi tasyakkur?
Ya, saya amat gembira terpanggil ke Bantam Kidul.
Saya berkata kepada wanita yang turut menanggung derita saya dan yang memperbesar bahagia saya: “bergembiralah, karena kulihat Allah menurunkan sempana di atas kepala anak kita! Dia utus aku kesatu tempat di mana pekerjaan belum selesai, dan Dia anggap aku cakap untuk berada di sana, sebelum panen. Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa manusia bukan tumbuh karena upah, tapi karena ker-ya yang membikin ia berhak untuk menerima upah.
Dan saya berkata kepadanya: “Allah mengaruniai kita seorang anak, yang sekali waktu akan berkata: anda tahu bahwa saya anaknya?”, maka di dalam negeri ada orang-orang yang mem-beri hormat kepadanya dengan kasih sayang, dan menaruh tak-ngannya di atas kepalanya sambil berkata: “marilah makan bersama, dan tinggallah di rumah kami dan pergunakanlah apa yang kami miliki, sebab aku pernah mengenal ayahmu.”
Sebab, kepala-kepala negeri Lebak, banyak yang harus diker-jakan di wilayah tuan.
Katakan kepada saya, bukankah sipetani miskin? Bukankah padi menguning sering kali untuk memberi makan orang yang tidak menanamnya? Bukankah banyak kekeliruan di negeri tuan? Bukankah jumlah anak tuan sedikit?
Tidakkah ada rasa malu dalam jiwa tuan, apabila orang Bandung yang terletak di Timur sana, mengunjungi daerah tuan dan bertanya: “di manakah desa-desa, dan di mana petani-petani, dan mengapa tidak kudengar gamelan yang menyatakan kegi-rangannya dengan mulut tembaga, Ataupun bunyi anak-anak gadis tuan menumbuk padi?"
Tidakkah getir untuk berjalan dari sini ke pantai Selatan dan melihat gunung-gunung yang tidak mengandung air pada lereng-lerengnya, atau tanah-tanah datar di mana tidak pernah kerbau menarik bajak?
Ya, ya, ya, saya katakan itu kepada tuan, bahwa jiwa tuan dan jiwa saya sedih memikirkannya; dan justru itulah sebab-nya kita bersyukur kepada Allah, bahwa Ia memberi kita kekuasaan untuk bekerja di sini.
Sebab di negeri ini ada huma buat banyak orang, Meskipun penduduk tidak banyak. Dan bukannya tidak ada hujan, sebab puncak-puncak gunung menghisap awan-awan dari langit ke-bumi. Dan tidak di mana-mana ada batu yang tidak mau mem-beri tempat kepada akar, sebab banyak tempat yang tanahnya gembur dan subur, yang meminta ditanami padi, yang akan dikembalikannya dalam batang yang merunduk. Dan tidak ada perang di dalam negeri yang menyebabkan padi terinjak-injak tatkala masih hijau, dan tidak ada penyakit yang membikin pacul tidak berguna. Pun tidak ada sinar matahari, lebih panas dari yang diperlukan untuk mematangkan padi, padi yang akan menjadi makanan tuan dan anak-anak tuan, dan tidak ada banjir yang menyebabkan tuan berkata: “tunjukkanlah tempat di mana saya menabur dahulu."
Di mana Allah mengirim banjir yang melanda huma, di mana Ia mengeraskan tanah seperti batu yang kering, di mana Ia me-manaskan matahari hingga pijar membakar, di mana Ia me-nimbulkan perang yang melunyah tanah, di mana Ia menurunkan penyakit yang melemahkan tangan-tangan, atau menyiksa dengan musim kering yang mematikan bulir-bulir ... di situlah, kepala-kepala negeri Lebak, kita menundukkan kepala dan berkata: “Demikianlah kehendakNya!”
Tapi tidak demikianlah halnya di Bantam Kidul!
Saya dikirim ke mari untuk menjadi sahabat tuan-tuan, menjadi saudara yang lebih tua. Apakah tuan tidak memberitahu adik tuan, jika tuan melihat ada harimau di jalan yang akan dilaluinya?
Kepala-kepala negeri Lebak, kita sering melakukan kesalahan-kesalahan dan negeri kita miskin, karena kita melakukan banyak kesalahan-kesalahan.
Sebab di Cikandi dan Bolang dan di daerah Krawang dan di tanah-tanah sekitar Betawi, banyak tinggal orang-orang yang lahir di negeri kita, dan yang meninggalkan negeri kita.
Mengapa mereka mencari kerja jauh dari tempat mereka menguburkan orang tuanya? Mengapa mereka lari dari desa, di mana mereka disunat? Mengapa mereka lebih suka mencari keteduhan pohon yang tumbuh di sana, dari naungan hutan-hutan kita?
Malahan nun di barat laut di seberang laut, banyak orang yang sebenarnya anak kita, tapi meninggalkan Lebak untuk mengembara di daerah-daerah asing, membawa keris dan kelewang dan senapan. Dan mereka mati dengan menyedihkan, sebab di sana ada kekuasaan pemerintah, yang mengalahkan pemberontak.
Saya bertonya kepada tuan, kepala-kepala negeri Lebak, mengapa banyak yang pergi untuk tidak dikuburkan di tempat kelahirannya? Mengapa pohon bertonya: “di mana orang yang kulihat bermain sebagai anak kecil dikakiku dahulu?”
Havelaar di sini berdiam diri sejenak. Untuk mengetahui betapa mengesankan kata-katanya, orang harus mendengar dan melihatnya. Ketika ia berbicara tentang anaknya, ada sesuatu yang lembut dalam suaranya, sesuatu yang mengharukan yang tidak bisa kita mengerti, yang memancing kita untuk bertonya: “di manakah sikecil itu, aku ingin menciumnya sekarang juga, anak yang membuat ayahnya berkata demikian”, tapi tatkala beberapa saat sesudah itu, dengan agak tiba-tiba ia mulai bertanya: mengapa Lebak miskin, dan mengapa begitu banyak penduduk daerah itu pindah ke tempat lain, ada sesuatu dalam nada suaranya yang mengingatkan kepada bunyi gurdi, apabila diputar dengan kekerasan dalam kayu yang keras. Pada hal ia tidak berbicara keras, dan tidak pula memberi tekanan istimewa pada beberapa kata-kata, malahan ada sesuatu kedataran dalam suaranya, tapi entah karena dipelajari atau memang sudah sifatnya, justru karena kedataran itu, ia memperkuat kesan kata-katanya pada jiwa orang-orang yang amat peka terhadap bahasa demikian.
Kiasan-kiasannya selalu diambil dari kehidupan sekitarnya, dan baginya sungguh-sungguh jadi alat pembantu untuk justru menjelaskan apa yang dimaksudnya, dan bukan, seperti sering terjadi, merupakan tambahan-tambahan yang menggangggu, yang memberati bagian-bagian kalimat pembicara, tanpa memperjelas pengertian soal yang hendak dijelaskan. Sekarang kita sudah terbiasa dengan kemustahilan ungkapan: “kuat seperti singa”, tapi orang yang mempergunakan perumpamaan itu di Eropa pertama kali, rupanya tidak mengambil perbandingan itu dari puisi jiwa yang memberikan gambaran untuk penuturan, dan tidak bisa berkata lain, klise itu diambilnya dari salah satu buku,—dari kitab Injil barangkali,—di mana diceritakan sekor singa. Sebab tidak seorang pun pendengarnya pernah mengalami kekuatan singa, dan mestinya lebih perlu menjadikan mereka ingat akan kekuatan itu, dengan membandingkan singa dengan sesuatu yang lain, yang mereka ketahui tenaganya, dari sebaliknya.
Tahulah kita bahwa Havelaar sungguh-sungguh seorang penyair; kita merasa, apabila ia berbicara tentang sawah-sawah di gunung-gunung, matanya memandang ke sana melalui sisi balairung yang terbuka, dan sungguh-sungguh melihat sawah-sawah itu; orang merasa, apabila ia menyuruh pohon bertanya: di manakah orang yang dahulu sebagai anak bermain di kakinya, bahwa pohon itu sungguh-sungguh ada di sana, dan dalam khayalan para hadirin yang mendengarkan Havelaar sungguh-sungguh pohon itu memandang sekitar dengan mata bertanya mencari orang-orang Lebak yang telah pergi. Ia pun tidak mengadakan-ada; didengarnya pohon berkata, dan ia merasa hanya mengulang apa yang dengan jelas didengarnya dalam tanggapan kepenyairannya.
Mungkin ada orang berkata bahwa cara Havelaar bicara diragukan keasliannya, sebab bahasanya mengingatkan gaya para nabi dalam Wasiat Lama; saya ingatkan bahwa pernah saya berkata, dalam saat-saat ia berada dalam ekstase, ia sungguh-sungguh seperti seorang resi, dan bahwa mungkin tidak akan lain caranya berbicara, Sekalipun ia tidak pernah membaca syair-syair yang indah dalam Wasiat Lama, mengingat bahwa kehidupan di hutan-hutan dan di gunung-gunung banyak mening-galkan kesan dalam jiwanya dan karena suasana dunia timur yang bernafaskan puisi.
Bukankah telah kita dapati dalam sajak-sajak yang berasal dari masa mudanya, baris-baris seperti ini, yang ditulis di gunung Salak,—salah satu raksasa, tapi bukan yang paling besar, di antara gunung-gunung dalam kabupaten-kabupaten Priangan,—sajak yang permulaannya melukiskan kelembutan perasaan hatinya, tapi tiba-tiba ia menirukan guntur yang didengarnya di bawahnya:
...
Lebih senang di sini memuja sang pencipta; Indah bunyinya dua di lereng gunung dan bukit; Lebih tinggi di sini hati melambung dari di sana: Lebih dekat kita ke Tuhan di gunung-gunung. Dia sendiri ciptakan altar di sini dan kor kelenting, Belum pernah dinodai jejak kaki manusia; Di sini ia terdengar dalam guruh mengguntur ... Dan mengguntur guruhNya menyeru: Tuhanku!
...
dan tidakkah kita merasakan bahwa baris-baris yang terakhir tidak akan dapat ditulisnya demikian, kalau ia tidak sungguh-sungguh mendengar guruh Tuhan menyampaikan baris-baris itu kepadanya, dengan getaran-getaran berderai-derai memantul dari tembok-tembok gunung?
Tapi ia tidak suka sajak-sajak, "itu adalah korset yang jelek", katanya, dan apabila ia disuruh membaca apa yang telah "dilakukannya", sebagaimana katanya, ia senang merusak pekerjaannya sendiri, baik dengan membacakannya dengan nada yang mesti menggelikan, Maupun dengan tiba-tiba berhenti pada bagian kalimat yang isinya sungguh-sungguh dan melontarkan lelucon di antaranya, yang menyakitkan bagi pendengar, tapi baginyya hanya merupakan satire atas ketidakimbangan antara korset dan jiwanya, yang merasa sesak dalam korset itu.
Di antara kepala-kepala itu hanya beberapa orang yang mengambil penganan dan minuman yang diedarkan. Dengan isyarat Havelaar telah memerintahkan untuk mengedarkan "teh dan manisan" yang tak boleh tidak diedarkan pada pertemuan demikian. Rupanya ia dengan sengaja mengambil istirahat, sudah bagian kalimat yang terakhir dari pidatonya, dan memang beralasan. "Hai," demikian agaknya pikir kepala-kepala itu, "dia sudah tahu bahwa banyak orang-orang yang meninggalkan wilayah kita, dengan hati yang getir. Dia sudah tahu betapa banyak keluarga yang pindah ke wilayah-wilayah yang berdekatan untuk menghindari kemiskinan yang berkecamuk di sini. Malahan dia tahu bahwa banyak orang Bantam di antara gerombolan-gerombolan yang di Lampung mengibarkan bendera penberontakan terhadap pemerintah Belanda. Apa maunya, apa maksudnya, kepada siapa ditujukan pertanyaan-pertanyaannya?"
Dan ada pula yang memandang ke arah Raden ……, kepala distrik Parangkujang². Tapi kebanyakannya menunduk ke tanah.
"Mari sini, Max," seru Havelaar, yang melihat anaknya bermain-main di pekarangan, dan adipati memangku anak itu; tapi anak itu terlalu lasak untuk lama-lama tinggal dalam pangkuan; ia meloncat dan berlari-lari mengelilingi lingkaran dan menyukakan hati kepala-kepala oleh omongannya, dan bermain-main dengan hulu keris mereka. Ketika ia tiba kepada jaksa, yang pakaian nyia lebih indah dari yang lain-lain, dan karena itu menarik perhatian anak itu, tuan jaksa membisikkan sesuatu kepada Kliwon yang duduk di samping nyia sambil menunduk sesuatu di kepala Max, dan Kliwon nampak nyia membenarkan perkataan jaksa itu.
“Pergilah, Max, kata Havelaar, ayah hendak mengatakan sesuatu kepada tuan-tuan ini,” dan sikecil itu pun pergi sesudah memberi hormat dengan mencium tangannya sendiri.
“Tuan-tuan kepala negeri Lebak, kita semua mengabdi raja Belanda. Tapi raja yang adil itu, yang ingin supaya kita melakukan kewajiban kita, jauh dari sini. Tigapuluh kali seribu kali seribu jiwa, ya, lebih dari itu, harus mematuhi perintahnya, tapi dia tidak bisa dekat kepada semua orang, yang tergantung kepada kehendak nyia.
Tuan besar di Bogor adil, dan ingin supaya tiap orang melakukan kewajibannya, tapi dia pun, meski berkuasa, dan memerintah segala yang berkuasa di kota-kota, dan segala yang tertua di desa-desa, menguasai balalentara dan kapal-kapal di lautan, dia pun tidak dapat melihat di mana berlaku ketidakadilan, sebab ketidakadilan tetap jauh daripadanya.
Dan residen di Serang, yang adalah penguasa wilayah Bantam, di mana berdiam lima kali seratus ribu manusia, ingin supaya keadilan berlaku di daerah nyia, dan supaya berlaku keadilan di swapraja-swapraja yang patuh kepadanya. Tapi di mana ada ketidakadilan, ia jauh daripadanya, dan orang yang melakukan kejahatan, bersembunyi dari pandangannya karena takut akan hukuman.
Dan tuan adipati yang adalah bupati Bantam Selatan, ingin supaya hiduplah orang yang mencari kebaikan, dan janganlah hendak nyia ada kenistaan di wilayah kekuasaannya.
Dan saya yang kemarin bersaksi kepada Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa saya akan berlaku adil dan penuh kasih sayang, bahwa saya akan menyalankan keadilan tanpa ketakutan dan tanpa kebencian, bahwa saya akan menjadi "seorang asisten residen yang baik",—saya pun hendak melakukan kewajiban saya.
Tuan-tuan kepala negeri Lebak, kita semua menginginkan itu.
Tapi jika ada orang di antara kita yang melalaikan kewajibannya untuk mencegahnya, yang menjual keadifan demi uang, atau yang merampas kerbau dari orang miskin, dan buah kepunyaan orang yang lapar ... siapa yang akan menghukumnya?
Jika salah seorang dari tuan-tuan mengetahuinya, tentu dia akan mencegahnya, dan bupati tidak akan membiarkan yang demikian terjadi dalam daerah kekuasaannya, dan saya pun juga akan mencegahnya di mana saya bisa, tapi apabila tuan tidak tahu, adipati tidak tahu, saya tidak tahu ...
Tuan-tuan kepala negeri Lebak, siapakah yang akan menjalankan keadilan di Bantam Kidul?
Dengarkanlah saya, jika saya katakan kepada tuan, bagaimana akan dijalankan keadilan.
Akan tiba masanya anak-anak dan istri kita akan menangis mempersiapkan kain kafan kita, dan orang lalu akan berkata: "ada orang meninggal." Maka orang yang tiba di desa akan membawa berita tentang kematian orang yang meninggal itu, dan orang yang memberi tumpangan kepadanya akan bertanya; "siapakah orang yang meninggal itu?"
"Dia adalah orang yang baik dan adil. Dia mengadili dan tidak mengusir orang yang mengadu dari pintunya. Dia mendengarkan dengan sabar orang yang datang kepadanya, dan mengembalikan apa yang dirampas. Dan orang yang tidak dapat membajak tanah, karena kerbaunya dicuri orang dari kandangnya, ditolongnya orang itu mencari kerbaunya; dan di mana ada anak gadis diculik dari rumah ibunya, dicarinya penculik itu dan sigadis dikembalikannya. Dan di mana orang telah bekerja, ia tidak menahan upahnya, dan tidak diambilnya buah dari orang yang menanam pohon; dan ia tidak mengenakan pakaian yang seharusnya menutup badan orang lain, dan tidak ia memakan makanan kepunyaan orang miskin."
Maka berkatalah orang di desa-desa: "Allah Maha Besar, Allah telah memanggilnya kembali. KehendakNya berlaku; seorang baik telah meninggal."
Tapi sekali lagi orang lalu berhenti di depan sebuah rumah, dan bertanya: "Ada apa maka gamelan tidak berbunyi dan gadis-gadis tidak bernyanyi?" dan orang berkata pula: "Ada orang meninggal."
Dan orang yang berkeliling di desa-desa, malam hari akan duduk bersama tuan rumah, dan sekitarnya duduk putra-putri tuan rumah, dan anak-anak penghuni desa, dan ia akan berkata: "Telah meninggal seorang yang berjanji akan berlaku adil, dan menjual keadilan kepada orang yang memberinya uang. Ia pupuk ladangnya dengan keringat pekerja, yang dipanggilnya dari ladangnya. Upah pekerja tidak dibayarnya dan ia makan makanan orang yang miskin. Ia menjadi kaya dari kemiskinan orang lain. Banyak barang mas dan perak kepunyaannya, dan banyak batu permata, tapi sipetani yang tinggal di dekat situ, tidak tahu bagaimana menghilangkan lapar anaknya. Ia tersenyum sebagai manusia yang bahagia, tapi orang yang mengadu mencari keadilan menggertapkan giginya. Wajahnya bersinar puas, tapi tidak ada air susu dalam tetek ibu-ibu yang menyusukan."
Maka berkatalah penghuni desa: "Allah Maha Besar ... kita tidak mengutuk siapa-siapa!"
Tuan-tuan kepala negeri Lebak, kita semua akan mati!
Apa kata orang di desa-desa di mana pernah kita berkuasa, dan apa kata orang lalu yang menyaksikan penguburan kita?
Dan apa jawab kita, kalau sesudah kita mati, ada suara menegur roh kita dan bertanya: "mengapa orang meratap di-ladang-ladang, dan mengapa pemuda-pemuda menyembunyikan diri? Siapa yang mengambil panen dari lumbung dan menyeret kerbau yang akan membajak ladang dari kandang? Apa yang telah kau lakukan dengan saudaramu yang kuserahkan penjagaannya kepadamu? Mengapa sicelaka itu bersedih hati dan mengutuk kesuburan isterinya?"
Di sini Havelaar berhenti pula berkata-kata, dan sesudah berdiam sejenak, ia melanyutkan, dengan nada yang biasa sebiasa-biasanya, dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang tak dapat tidak seharusnya mengesankan:
Saya ingin hidup bersahabat dengan tuan-tuan, dan karena itu saya minta tuan-tuan menganggap saya sebagai sahabat. Siapa-siapa yang tersesat, percayalah bahwa saya akan mengadili dengan lunak, sebab saya sendiri sering khilaf, sebab itu saya tidak akan keras; artinya saya tidak akan menghukum berat dalam kesalahan-kesalahan pekerjaan atau kelalaian-kelalaian biasa. Hanya di mana kelalaian menjadi kebiasaan, saya akan mencegahnya. Adapun kesalahan-kesalahan yang lebih besar ……… penganiayaan dan penindasan, saya tidak akan membicarakanyna ……… itu tidak akan terjadi bukan, tuan adipati?
— “O tidak, tuan asisten residen, itu tidak akan terjadi di Lebak."
— “Nah, tuan-tuan kepala negeri Bantam Kidul. Marilah kita bersukacita, bahwa daerah kita miskin sekali. Kita dapat melakukan sesuatu yang mulia. Kalau Allah melindungi kita, kita akan usahakan supaya negeri menjadi sejahtera. Tanah cukup subur, penduduk patuh, jika setiap orang dibiarkan menikmati hasil usahanya, pastilah dalam waktu yang singkat penduduk akan bertambah, baik dalam jumlah, Maupun dalam harta benda dan peradaban, sebab semua itu sering kali berjalan sama. Sekali lagi saya minta tuan-tuan menganggap saya sebagai sahabat, yang akan membantu tuan-tuan di mana dapat, terutama di mana ketidakadilan harus dibanteras. Dan dengan ini saya mohon agar tuan-tuan bekerjasama dengan saya, bekerjasama dengan baik.
Saya akan kembalikan laporan-laporan yang saya terima menganai pertanian, peternakan, kepolisian dan kehakiman, disertai keputusan-keputusan saya.
Tuan-tuan kepala negeri Bantam Kidul, sekianlah. Kembali-lah tuan ke rumah tuan masing-masing. Terimalah salam takzim saya.
Ia membungkuk, diulurkan nyia tangannya kepada bupati, dan dituntun nyia orang tua itu melalui pekarangan rumah nyia, di mana Tine menunggu di beranda muka.
— “Mari, Verbrugge, jangan pulang dulu, marilah, minum segelas Madera! Dan, ya, itu saya ingin tahu, Raden Jaksa, coba katakan!”
Havelaar mengatakan ini ketika semua kepala bersiap-siap akan pulang, sesudah banyak bungkuk membungkuk. Pun Verbrugge sudah akan meninggalkan pekarangan, tapi kembali lagi dengan jaksa.
“Tine, aku ingin minum madera, Verbrugge juga. Jaksa, coba katakan, apa yang anda bilang kepada Kliwon mengenai Max?”
— “Minta am pun tuan asisten residen; saya melihat kepala-nya, karena tuan berbicara.”
— “Persetan, apa hubungannya dengan kepalanya? …… Saya sendiri tak tahu lagi apa yang saya katakan …….”
— “Tuan, saya katakan kepada Kliwon …….”
Tine mendekat; anak kesayangannya Max jadi pembicaraan!
— “Saya katakan kepada Kliwon, bahwa Sinyo anak raja (Sinyo berasal dari bahasa Portugis Senho, yang di sini berlaku sebagai lucus a non lucendo³, untuk tuan muda).
Tine senang mendengarnya, ……… dia juga berpendapat demikian!
Dan adipati melihat kepala sikucil itu, dan sungguh, ia pun melihat “user-useran”, yang menurut tahyul di pulau Jawa, akan menjunjung mahkota.
Karena menurut etiket jaksa tidak boleh disilahkan duduk sementara ada bupati, ia pun pamitan, dan mereka berkumpul beberapa waktu, tanpa menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan “jabatan”. Tapi bupati tiba-tiba bertanya “apakah uang yang harus diterima oleh pemungut pajak, tidak bisa dibayarkan?”
— “Tidak, kata Verbrugge, tuan adipati tahu bahwa ini tidak boleh dilakukan, sebelum selesai pertanggunganjawabnja.”
Havelaar bermain dengan Max, tapi dia melihat juga pada air muka bupati, bahwa ia tidak senang dengan jawaban Verbrugge itu.
— “Jangan, Verbrugge, janganlah kita menyusahkan orang lain,” katanya; dan disuruhnya panggil seorang klerk dari kantor. “Kita akan membayarnya, pertanggunganjawabnja pasti akan disetujui”.
Sesudah adipati berangkat, berkata Verbrugge yang senang sekali dengan lembaran-lembaran negara:
— “Tapi, tuan Havelaar, itu tidak boleh! Pertanggungan-jawab pembantu pemungut pajak sedang diperiksa di Serang …… sekiranya ada kekurangan?”
— “Nanti saya tambahkan,” kata Havelaar.
Verbrugge tidak bisa mengerti mengapa ia begitu sabar terhadap pemungut pajak. Klerk segera kembali dengan beberapa surat-surat; Havelaar menandatangani, dan mengatakan bahwa pembayaran harus cepat dilaksanakan.
— “Verbrugge, saya akan katakan kepada anda mengapa saya lakukan itu. Bupati tidak punya sepeser pun di rumah; jurutulisnja mengatakan itu kepada saya …… dia sendiri memerlukan wang itu, dan pemungut pajak hendak meminjaminya lebih dulu. Saya lebih suka atas tanggungjawab sendiri melanggar suatu tatacara dari membikin susah orang yang mempunyai kedudukan dan sudah tua seperti dia. Lagipula, Verbrugge, di Lebak orang menyalahgunakan kekuasaan secara mengerikan …… anda harus tahu …… tahukah anda?”
Verbrugge berdiam diri.
— “Saya tahu, Havelaar melanyutkan, saya tahu! Bukankah tuan Slotering meninggal bulan Nopember? Nah, sehari sesudah
ia meninggal, bupati mengerahkan rakyat untuk mengerjakan sawahnya, tanpa bayaran. Anda seharusnya tahu, tahukah anda?"
Verbrugge tidak tahu.
— "Anda seharusnya tahu. Saya tahu, Havelaar melanjutkan. Di situ ada daftar-daftar bulanan dari distrik-distrik,"—dan ditunjukkannja bungkusnya surat-surat yang diterimanya dalam rapat—"lihatlah, saya tidak buka apa-apa; di dalamnya antara lain ada laporan-laporan mengenai pekerj-a pekerja rodi di-bukota ... nah, apakah laporan-laporan itu benar?"
— "Saya belum melihatnya ..."
— "Saya juga belum, namun saya bertanya kepada anda apakah laporan-laporan itu benar? Apakah laporan-laporan bulan yang lalu benar?"
Verbrugge berdiam diri.
— "Saya akan katakan kepada anda, semuanya palsu! Sebab yang dikerahkan untuk bekerja pada bupati tiga kali lebih banyak dari yang dibolehkan menurut aturan pekerjaan rodi, dan itu orang tidak berani menyebutnya dalam daftar. Benarkah yang saya katakan?"
Verbrugge tidak berkata.
— "Juga daftar-daftar yang saya terima tadi, palsu, kata Havelaar selanjutnja. Bupati miskin; bupati-bupati Bogor, dan Tjianjur adalah anggota-anggota kaumnya dan dialah yang menjadi kepala kaum. Dia adalah "Adipati" dan bupati Ci-anjur hanya "Tumenggung", namun penghasilannya tidak cukup untuk bersaingan dalam hal kemewahan dengan seorang "demang" biasa di Priangan, yang akan menahan kendali bila keponakan-keponakannya naik kuda; sebabnya karena Lebak tidak baik untuk menanam kopi, dan karena itu tidak membe-rikan penghasilan tambahan kepadanya. Betulkah itu?"
— "Ya, betul."
— "Dia tidak punya apa-apa selain gajinya, dan itu pun dipotong untuk membayar pinjaman yang diberikan oleh pe-merintah kepadanya, ketika ia ... tahukah anda?"
— "Ya, saya tahu."
— “Ketika ia hendak menyuruh bangun masjid baru, yang memerlukan wang banyak; ditambah lagi, banyak anggota keluarganya …… tahukah anda?”—“Ya, saya tahu.”—“Banyak anggota keluarganya—yang sebenarnya tidak tinggal di Lebak, dan karena itu juga tidak populer pada penduduk,—mengelilinginya seperti gerombolan perampok, dan meminta uang kepadanya, …… benarkah itu?”—“Ya, kata Verbrugge.”—“Dan jika kasnya kosong, suatu hal yang sering terjadi, mereka ambil dari penduduk apa yang mereka suka, …… betulkah itu?”—“Ya, betul.”—“Jadi, benar keterangan-keterangan yang saya dapat, tapi tentang itu kita bicara lagi nanti. Bupati yang bertambah tua itu, sejak beberapa tahun ingin berjasa dengan memberikan hadiah kepada orang-orang agama; dia banyak keluar uang untuk mengongkosi orang yang hendak pergi ke Mekah, dan mereka itu memberikan kepadanya kain-kain buruk pusaka, barang penangkal dan “jimat”. Bukankah begitu?”—“Ya, betul.”—“Nah, itulah yang menjadikannya begitu miskin. Demang Parangkujang, Raden Wira Kusuma, adalah menantunya. Bupati sendiri malu mengambil apa-apa karena kedudukannya, tapi demang itulah,—dan bukan dia sendiri—yang berkuasa di rumah adipati dan meminta wang dan harta benda dari penduduk yang miskin, menarik mereka dari sawahnya sendiri untuk mengerjakan sawah bupati; dan bupati …… saya percaya bahwa ia ingin lain, tapi karena keadaan ia terpaksa mempergunakan cara-cara demikian. Tidak benarkah semua itu, Verbrugge?”—“Benar, benar,” kata Verbrugge, yang tambah lama tambah yakin, bahwa Havelaar mempunyai pandangan yang tajam.—“Saya tahu, bahwa ia tidak punya uang di rumah. Tadi pagi anda sudah mendengar, bahwa saya bermaksud melakukan kewajiban saya. Saya tidak akan biarkan berlaku ketidakadilan, demi Tuhan, saya tidak akan biarkan!" Dan ia pun berdiri, dan dalam suaranya ada sesuatu yang lain sama sekali dari sehari sebelumnya, ketika ia mengangkat sumpah dengan resmi.
— "Tapi, ia melanyutkan, saya akan melakukan kewajiban saya dengan lemah lembut. Saya tidak mau mengetahui dengan teliti apa yang telah terjadi. Tapi apa yang terjadi sejak hari ini, adalah tanggungjawab saya; itu akan saya urus. Saya harap saya akan lama tinggal di sini. Tahukah anda, Verbrugge, bahwa panggilan hidup kita indah sekali? Tapi, tahukah pula anda, bahwa segala yang saya ceritakan tadi itu, seharusnya saya dengar dari anda? Saya tidak kenal anda, seperti juga saya tidak tahu siapa yang membuat garam gelap di Pantai Selatan; anda seorang yang baik, saya tahu, tapi mengapa anda tidak mengatakan kepada saya, bahwa di sini terjadi banyak hal-hal yang tidak benar? Anda dua bulan lamanya menjadi wakil asisten residen, lagipula sudah lama jadi kontelir di sini, jadi anda seharusnya tahu."
— "Tuan Havelaar, saya belum pernah bekerja di bawah orang seperti anda, ... anda istimewa sekali, maafkanlah saya."
— "Tentu, tentu; saya tahu bahwa saya tidak seperti orang lain ... tapi apa hubungannya dengan persoalan?"
— "Soalnya ialah, bahwa anda datang dengan pengertian-pengertian dan pikiran-pikiran yang dulu tidak ada."
— "Bukan, pikiran-pikiran itu ada, tapi terlelap di bawah kebiasaan resmi-resmian yang jahanam, dengan gaya "dengan hormat saya memberitahukan ...” dan ungkapan perasaan "demi menyukakan pemerintah.” Tidak, Verbrugge, janganlah anda mengumpat diri sendiri. Anda tidak perlu belajar apa-apa dari saya ... misalnya pagi tadi, disebah, apakah saya menceritakan sesuatu yang baru kepada anda?"
— "Tidak, sesuatu yang baru tidak ... tapi anda bicara lain dari orang lain."
— "Ya, itu karena pendidikan saya terbengkalai ... saya bicara tidak karuan. Tapi coba katakan kepada saya, mengapa
anda diam saja melihat segala kesalahan di Lebak?"
— "Saya tidak pernah melihat adanya inisiatif ... lagipula, semua itu sejak dahulu sudah begitu di daerah ini."
— "Ya, ya, saya tahu ... tidak semua orang bisa jadi nabi, atau rasul ... kayu akan menjadi mahal karena menyalib mereka. Tapi bukankah anda mau membantu saya meluruskan semua itu, anda mau melakukan kewajiban anda, bukan?"
— "Tentu! Terutama dengan anda. Tapi tidak semua orang akan menuntut pelaksanaan yang keras, atau menilainya tinggi, dan kita pun dengan mudah jadi seperti orang yang berkelahi dengan kincir angin."
— "Tidak, jika demikian orang yang menyukai ketidakadilan, karena mereka hidup daripadanya, akan mengatakan bahwa tidak ada ketidakadilan, supaya mereka bisa mengejek anda sebagai Don Kisot, dan sekaligus tetap memutar kincir anginnya. Tapi Verbrugge, anda tidak perlu menunggu saya untuk melakukan kewajiban anda. Tuan Slotering seorang yang pandai dan jujur; dia tahu apa yang terjadi, dia tidak membenarkan, dan menentangnya. Lihatlah di sini!"
Havelaar mengambil dua lembar kertas dari sebuah portepel, dan sambil memperlihatkannya kepada Verbrugge, ia bertanya:
— "Tulisan siapa ini?"
— "Tulisan tuan Slotering ..."
— "Betul. Nah, ini konsep nota-nota yang rupanya mengenai hal-hal yang hendak dibicarakannya dengan residen. Bacalah: 1. Tentang penanaman padi. 2. Tentang rumah kepala-kepala desa. 3. Tentang pemungutan pajak tanah, dan sebagainya". Di belakangnya terpacak dua tanda seru; apa maksud tuan Slotering?"
— "Saya tidak tahu," kata Verbrugge.
— "Saya tahu. Itu artinya bahwa jauh lebih banyak pajak tanah yang dibayar, dari yang masuk kas negeri. Tapi sekarang saya akan tunjukkan apa yang kita ketahui berdua karena ditulis dengan huruf dan bukan dengan tanda-tanda. Ini:
- Tentang penyalahgunaan penduduk oleh bupati-bupati dan kepala-kepala bawahan. (Tentang memiliki beberapa rumah atas kerugian penduduk), dan seterusnya”.
Jelas? Anda lihat, bahwa tuan Slotering adalah orang yang pandai mengambil inisiatif; jadi, anda sebenarnya bisa bekeryasama dengan beliau. Dengar:
- Bahwa banyak anggota keluarga, dan pesuruh-pesuruh kepala bumiputera yang tercatat dalam daftar pembayaran gajii, tapi sebenarnya tidak turut bekerja; sehingga mereka mendapat untung, atas kerugian orang-orang yang sungguh bekerja. Pun mereka dibiarkan memiliki secara tidak sah sawah-sawah, sedangkan yang boleh memilikinya hanyalah orang-orang yang turut menanaminya.”
Di sini ada satu nota lagi, ditulis dengan potlot. Lihatlah, di situ pun jelas sekali dikatakan:
Kemunduran rakyat Parangkujang hanya disebabkan karena penduduk disalahgunakan secara keterlaluan”.
Apa kata anda? Bukankah saya tidak begitu eksentrik, seperti kesan orang, jika saya mempermasalahkan keadilan, dan bukankah orang lain pun melakukan itu?”
— “Benar, kata Verbrugge, tuan Slotering sering membicarkan hal ini dengan residen.”
— “Lalu apa yang terjadi kemudian?”
— “Bupati pun dipanggil …… lalu diadakan pembicaraan…”
— “Ya! Dan kemudian?”
— “Biasanya bupati menyangkal segalanya. Lalu dipanggil saksi-saksi …… tidak ada yang berani melawan bupati dalam kesaksiannya …… tuan Havelaar, soalnya sukar sekali!”
Sebelum pembaca selesai membataya buku ini, ia akan tahu, sama seperti juga Verbrugge tahu, mengapa soalnya sukar sekali.
— “Tuan Slotering marah sekali tentang itu; kontelir melanjutkan, ia menulis surat yang bernada tajam kepada kepala-kepala …….”
— “Saya telah membatayanya tadi malam,” kata Havelaar.
— “Dan sering saya dengar dia berkata, kalau tidak ada perubahan, dan kalau residen tidak mengambil tindakan yang tegas, ia akan langsung berhubungan dengan gubernur jenderal. Dan itu dikatakannya juga kepada kepala-kepala pada sebah yang terakhir, yang dia sendiri mengetuainya.”
— “Itu satu perbuatan yang tidak benar, sebab residen adalah sepni yang tidak boleh dia langkahi, dan mengapa pula dia akan melangkahinyia? Tidak mungkin bahwa residen Bantam akan membenarkan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, bukan?”
— “Membenarkan …… tidak, tapi dia tidak mau menggugat seorang kepala …….”
— “Saya tidak suka menggugat siapa pun juga; tapi kalau harus, biar dia kepala tentu saya gugat. Tapi syukurlah, di sini kita belum perlu menggugat. Besok saya akan berkunjung kepada bupati. Saya akan mengatakan kepadanya tidak baik menyalahgunakan kekuasaan, terutama mengenai hak milik orang miskin. Tapi sementara menunggu sampai segalanya beres, saya akan menolongnya sebisa-bisanya dalam kesukarannya. Itulah sebabnya saya segera memerintahkan kepada pemungut pajak untuk membayarkan wang itu. Pun saya bermaksud memaju kan permohonan kepada pemerintah untuk menghapuskan hutang persekotnya. Dan kepada anda, Verbrugge, saya anjurkan melakukan kewajiban kita dengan cermat, sebisa-bisanya dengan lemah lembut, tapi kalau terpaksa, tanpa perasaan takut. Anda seorang yang jujur, saya tahu, tapi anda segan-segan. Mulai sekarang katakanlah terus terang apa yang harus dikatakan ……… advienne que poura⁴ ……… lemparkan sifat setengah-setengah itu jauh-jauh …… dan sekarang, janganlah pergi dulu, makan di rumah kami, kami ada kol kemang dalam kaleng …… tapi kita makan sederhana saja, sebab saya harus berhemat sekali …… mari, Max!”
Dan dengan Max di atas bahunya, mereka masuk ke dalam serambi, di mana Tine sudah menunggu mereka dengan makanan di meja, yang seperti kata Havelaar, memang sangat sederhana.
Duclari yang menyusul Verbrugge untuk menanyakan apakah ia tidak pulang makan siang, juga ditahan makan, dan jika anda menghendaki pergantian suasana dalam cerita saya, silakanlah membaca bab berikut, di mana saya akan menceritakan apa yang dibilicarakan dalam perjamuan itu.
¹ Raja Macedonia (382-326 s.M.), ayah Iskandar Zulkarnain, yang menaklukkan negara-negara Yunani, antaranya Athena.
² Kepala distrik Parangkujang, Raden Wira Kusuma, menantu bupati, salah seorang kepala negeri yang ditakuti.
³ Lat. Kata lucus (hutan) berasal dari non lucere (tidak bersinar, gelap). Etimologi yang diragukan.
⁴ Apa pun yang akan terjadi.
Bab IX
Saya ingin mengetahui saudara pembaca, berapa lama saya dapat membiarkan pahlawan srikandi saya melayang di udara, sebelum anda, sementara saya melukiskan sebuah istana, meletakkan buku saya dengan jemu, tanpa menunggu srikandi itu jatuh di atas tanah. Jika saya di dalam cerita saya, memerlukan loncatan di udara demikian, untuk amannya saya masih akan memilih tingkat pertama sebagai point de depart¹, dan sebuah istana yang tidak banyak yang akan diceritakan. Tapi jangan kuatir, rumah Havelaar tidak beringkat, dan srikandi buku saya,—Tine yang “ansprukhlose”² yang manis, yang setia, seorang srikandi!—tidak pernah meloncat dari jendela.
Ketika saya menyudahi bab sebelum ini dengan berjanji akan memberikan pergantian suasana dalam bab berikut, sebenarnya hal itu hanya merupakan suatu siasat seni pidato, dan untuk membuat suatu pengakhiran yang “cocok”, bukan karena saya sungguh-sungguh beranggapan bahwa bab berikutnya hanya mempunyai nilai “untuk pergantian suasana”. Seorang pengarang bersifat riah seperti …… lelaki. Anda boleh menjelek-jelekkan ibunya, atau warna rambutnya, anda boleh mengatakan bahwa ia mempunyai aksen Amsterdam, suatu hal yang tidak pernah dibenarkan oleh orang Amsterdam, mungkin ia akan memaafkan semua itu; tapi jangan sekali-kali menyinggung bagian luar dari bagian sekecil-kecilnya pun dari sesuatu yang berada di samping tulisannya, ... sebab itu tidak dapat dimaafkannya. Jadi, jika anda menganggap buku saya tidak bagus, dan anda bertemu saya, buatlah seolah-olah kita tidak saling kenal.
Tidak, pun juga suatu bab “untuk pergantian suasana”, menurut saya, dilihat dari kaca pembesar keriahan saya sebagai pengarang sangat penting dan tidak boleh dihilangkan, dan jika anda melampauinyya, dan kemudian anda tidak senang dengan buku saya seperti semestinya, saya tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa anda tidak dapat menghargai buku saya, justru karena anda tidak membaca bagian yang dilampaui itu, sebab anda tidak membaca bagiannya yang “esensiil”. Maka tiap bab yang anda lewati dengan kesemberonoan seorang pem-baca yang tidak bisa dimaafkan, akan saya anggap “esensiil”,—sebab saya seorang lelaki dan pengarang.
Saya dapat membayangkan istri anda bertonya: “Apakah ada sesuatu yang baik “pada” buku itu?” dan misainya anda menjawab—horrible auditu³ bagi saya,—dengan kelimpahan kata-kata yang kita temukan pada laki-laki yang sudah kawin:
“Hm ... anu ... saya belum tahu.”
Nah, orang utan, bacalah terus, segera akan anda baca yang penting. Dan dengan bibir gemetar saya memandang anda, dan mengira-ngira berapa halaman sudah yang anda baca ... dan saya mencari-cari pada wajah anda pantulan dari bab “yang begitu bagus” itu ... “Tidak, kata saya, dia belum sampai di situ, ... sebentar lagi dia akan melompat, ... dengan ter-pesona memeluk sesuatu, ... mungkin isterinya ...”
Tapi anda membaca terus; “bab yang bagus” itu sudah lewat, saya kira ... tapi anda tidak melompat, dan tidak memeluk apa-apa ...
Dan semakin tipis jumlah halaman yang belum anda balik, ... dan semakin sedikit harapan saya atas pelukan itu ... ya sungguh, saya malahan mengharapkan setetes air mata!
Dan anda baca roman itu sampai habis, sampai “mereka saling bertemu”, dan anda berkata sambil menguap,—ini adalah pertanda lain lagi dari kefasihan dalam hidup perkawinan, —
— “Yah, …… yah …… inilah buku yang …… ya, orang banyak sekali menulis sekarang ini!”
Tapi, tidakkah anda tahu, setan, harimau, orang Eropa, pembaca! tidakkah anda tahu, bahwa anda sejam lamanya menggigit-gigit jiwa saya seperti menggigit pencungkil gigi; memamah-mamah dan mengunyah-ngunyah daging dan tulang kaum anda ……? Pemakan manusia, di dalamnya ada jiwa saya, yang anda telah kunyah seperti mengunyah rumput yang masuk perut anda …… Itulah jantung saya, yang telah anda telan sebagai juadah, …… sebab di dalam buku itu telah saya curahkan hati saya dan jiwa saya, dan banyak air mata jatuh di atas naskah itu, dan darah saya surut dari urat nadi saya, sementara saya menulis, dan saya berikan itu semua kepada anda, dan anda membelinya dengan beberapa kelip …… dan anda berkata “Hm!” ……
Saudara pembaca tentu mengerti bahwa saya di sini tidak bicara tentang buku saya.
Sehingga saya hanya hendak mengatakan, seperti Abraham Blankaart⁴ mengatakan ……
— “Siapa itu, Abraham Blankaart?” tanya Louise Rosemeiyer, dan Frits menjelaskannja, hal mana menyenangkan bagi saya, sebab saya mendapat kesempatan untuk berdiri, dan menyudahi pembacaan untuk malam itu. Anda tahu bahwa saya makelar kopi, (Lauriergrakht No. 37) dan bahwa saya mempertaruhkan segala-galanya untuk vak saya; jadi, anda bisa mengerti bahwa saya tidak begitu puas dengan pekerjaan Stern. Saya mengharapkan kopi, dan dia memberi kami …… ya, entah apa.
Tiga kali malam pertemuan dia membayakan kepada kami sepuluh bab terakhir, dan celakanya, keluarga Rosemeiyer menganggapnya bagus. Kalau saya mencela sesuatu, ia mengemukakan pendapat Louise. “Pujiannja, katanya, baginya lebih penting dari segala kopi di seluruh dunia, dan lagi, kalau hati saya membara, dan seterusnya. (Lihat tirade di halaman sekian, atau lebih baik, tak usah lihat). Saya jadi melongo, dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan! Bungkusan Syaalman itu sungguh-sungguh seperti kuda Troya⁵; Frits pun menjadi rusak. Saya lihat dia menolong Stern, sebab Abraham Blankaart terlalu Belanda bagi seorang Jerman. Keduanya begitu sombong, sehingga saya sungguh-sungguh jadi tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan perusahaan. Malangnya saya telah mengadakan perjanjian dengan Gaafzuiger untuk menerbitkan buku tentang pelelangan kopi. Seluruh negeri Belanda menunggu, dan Stern mengambil jalan lain sama sekali. Kemarin dia berkata: “Jangan kuatir, semua jalan menuju ke Roma, tunggulah dulu penutup kata pendahuluan …… (apakah semua itu baru kata pendahuluan?)” saya berjanji bahwa soalnya akan tiba kepada kopi, kopi dan tidak lain dari kopi. Ingatlah kepada Horatius, ia melanjutkan, bukankah dia pun telah mengatakan: “omne tulit punctum, qui miscuit”⁶, …… kopi dengan sesuatu yang lain? Bukankah anda pun melakukan yang demikian, jika anda menaruh gula dan susu di dalam cangkir?”
Dan saya pun harus berdiam diri: bukan karena ia benar, tapi karena saya berkewajiban kepada firma (Last & Co) untuk menjaga supaya Stern senior jangan lari kepada Busselinck & Waterman, yang akan melayaninya tidak baik, karena mereka itu ceroboh.
Kepada anda, saudara pembaca, saya curahkan hati saya, dan supaya anda, sesudah membaca tulisan Stern,—apakah anda sungguh telah membacanya?—supaya anda jangan melimpahkan kemarahan anda kepada orang yang tidak bersalah,—sebab siapakah yang mau memakai makelar yang mengatakan bahwa ia pemakan orang?—saya ingin supaya anda yakin saya tidak bersalah. Saya kan tidak bisa mengeluarkan Stern dari firma dalam buku saya, sebab setiap Louise Rosemeiyer keluar dari gereja, (rupanya pemuda-pemuda itu selalu menunggunya), ia meminta supaya Stern malam itu datang lebih ceapat, supaya bisa lebih banyak membacakan cerita tentang Max dan Tine.
Tapi karena anda telah membeli atau meminjam buku itu dengan pembayaran, tertarik kepada judulnja yang menjanjikan sesuatu yang baik, saya akui hak anda untuk mendapatkan sesuatu yang baik untuk uang anda, dan karena itu saya tulis pula beberapa bab. Anda tidak turut dalam pertemuan di rumah keluarga Rosemeiyer, saudara pembaca, jadi anda lebih berbahagia dari saya, yang harus mendengarkan segalanya. Anda bisa saja melampauil bab-bab yang berseorangat Jerman, dan hanya membaca apa yang saya tulis, saya, orang yang penting, dan makelar kopi.
Dengan heran saya mengetahui dari tulisan Stern, dan dari bungkusn Syaalman ia membuktikan bahwa itu memang benar; bahwa di daerah Lebak tidak ditanam kopi. Itu suatu kesalahan besar dan saya akan bersenang hati jika pemerintah oleh buku saya menyadari kesalahan itu. Dari dokumen-dokumen Syaalman ternyata, bahwa tanah di daerah itu tidak baik untuk menanam kopi, tapi ini bukan sekali-kali suatu alasan untuk memaafkan, dan saya berpendapat bahwa di sini orang telah melakukan kesalahan besar melalaikan kewajibannya terhadap negeri Belanda pada umumnya, dan terhadap makelar kopi pada khususnya, ya, terhadap orang Jawa sendiri; mengapa tanah itu tidak diubah, (orang Jawa toh tidak punya pekerjaan lain), atau kalau mereka merasa tidak dapat merobahnya, mengapa tidak dikirim orang-orang yang tinggal di sana ke daerah-daerah lain, di mana tanah baik untuk ditanami kopi?
Saya tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak saya pertimbangkan betul-betul, dan saya berani mengatakan bahwa saya di sini berbicara sebagai orang yang tahu persoalan, sebab menganai hal ini saya telah berpikir masak-masak, sejak mendengar khotbah pendeta Wawelaar⁷ waktu sembahyang mendoakan supaya orang-orang tidak beragama terbuka hatinya untuk memeluk agama.
Terdadinya hari Rebo malam. Anda harus tahu, saya selalu melakukan kewajiban saya sebagai ayah dengan cermat, dan saya sangat memperhatikan pendidikan kesusilaan anak-anak saya—Sudah beberapa waktu Frits berubah sikapnya, nada dan tingkah lakunya tidak saya senangi (itu semua pengaruh bungkusian janam itu), karena itu saya marahi dia dan saya katakan: “Frits, tingkah laku anda tidak saya senangi; saya selalu mengajar kan yang baik, tapi anda menyimpang dari jalan yang baik; anda sombong dan brengsek, anda membuat sajak-sajak, dan mentium Bethsy Rosemeiyer. Takwa kepada Tuhan ialah sumber segala kearifan, jadi, anda tidak boleh mentium keluarga Rosemeiyer, dan anda tidak boleh begitu sombong. Kecabulan membawa keruntuhan, bacalah dalam Alkitab, dan coba perhatikan Syaalman. Dia telah meninggalkan jalan Tuhan, sekarang ia miskin dan tinggal di kamar yang kecil, itulah akibat kecabulan dan tabiat yang buruk; dia menulis karangan-karangan yang tidak benar dalam Independance dan dia menjatuhkan Aglaia, begitulah jadinya kalau orang menganggap dirinya arif; sekarang ia tidak tahu jam berapa hari, dan anaknya separoh telanjang. Ingatlah bahwa tubuh anda adalah kuil Tuhan, dan bahwa ayah anda selalu harus bekerja keras untuk mencari nafkah (itu memang benar). Mintalah petunjuk kepada Tuhan, dan cobalah berusaha menjadi seorang makelar yang baik, jika saya pergi ke Driebergen. Dan perhatikanlah orang-orang yang tidak mau mendengarkan nasehat yang baik, orang yang meaginjak-injak agama dan kesusilaan, dan bercerminlah kepada mereka itu. Dan jangan anda samakan diri anda dengan Stern, yang ayahnya kaya, dan karena itu selalu punya wang banyak, Sekalipun ia tidak mau jadi makelar. Ingatlah bahwa segala kejahatan akan mendapat hukuman, lihatlah Syaalman, yang tidak punya jas musim dingin, dan tampangnya seperti pemain komedi. Pasanglah kuping baik-baik dalam gereja, dan jangan duduk gelisah di bangku anda, seolah-olah anda jemu; dan jangan menunggu gadis-gadis kalau gereja sudah usai, nanti hilang pahala ibadat. Dan jangan pula membuat Mari tertawa, jika saya membaca dari Alkitab waktu sarapan; semua itu tidak pantas dalam rumah tangga yang baik. Pun anda menggambar boneka di kertas penanda halaman kepunyaan Bas-tiaans, ketika ia tidak masuk lagi, karena selalu sakit encok, itu mengganggu orang sedang bekerja di kantor, dan di dalam Kitab Injil dikatakan bahwa kebodohan-kebodohan demikian membawa kepada keruntuhan. Si Syaalman pun melakukan yang demikian waktu masih kecil; sebagai anak-anak ia memukul seorang Yunani di Pasar Barat, sekarang ia malas, sombong dan penyakitan. Jadi janganlah selalu berkelakar dengan Stern, ayahnya kaya, berbuatlah pura-pura tidak melihatnya, kalau ia menyeringai-nyeringai kepada pemegang buku; dan jika ia di luar kantor sibuk membuat sajak, katakan kepadanya lebih baik ia menulis kepada ayahnya, mengatakan bahwa ia senang pada kita, dan bahwa Mari menyulum selop untuknya. Tanyakan kepadanya sambil lalu apakah menurut pikirannya ayahnya akan beralih kepada Busselinck & Waterman, dan katakan kepadanya bahwa mereka itu sembrono. Nah, dengan cara demikianlah anda membawanya ke jalan yang benar, itulah kewajiban kita kepada sesama manusia, dan pekerjaan membuat sajak-sajak itu nonsen belaka. Berbuat saleh dan patuhlah, Frits, dan jangan tarik rok pelayan, kalau ia membawa teh ke kantor, dan ingatlah bahwa Yesus mati disalib demi keselamatan anda, dan janganlah bikin malu saya, sebab nanti dia jatuh; Paulus mengatakan seorang anak sama sekali tidak boleh membikin sedih ayahnya. Saya sudah duapuluh tahun mengundungi bursa, dan berani mengatakan bahwa saya dihormati di pilar⁸saya. Jadi, dengarkanlah nasehat-nasehat saya, Frits, dan ambillah topi anda, dan pakailah jas anda, dan marilah ikut sembahyang, itu baik bagi anda.”
Demikianlah saya berbicara dan saya yakin, bahwa perkataan saya berkesan kepadanya, terutama karena pendeta Wawelaar mengambil sebagai pokok pembicaraan: Kasih Tuhan ternyata dari murkaNya terhadap orang-orang kafir⁹.
Selama mendengarkan khotbahnya saya senantiasa berpikir alangkah beda kebijaksanaan manusia dan kebijaksanaan Tuhan. Saya sudah katakan bahwa di dalam bungkusann Syaalman itu, di antara barang-barang rombengan itu, banyak juga yang baik tutur bahasanya, tapi alangkah kecil artinya jika dibandingkan dengan bahasa pendeta Wawelaar. Dan bukan karena kemampuannya sendiri, sebab saya kenal Wawelaar, dan saya anggap dia manusia biasa; tidak, dia mendapat tenaga dari sorga. Perbedaan itu tambah jelas karena banyak hal-hal yang dibilicarakannya yang juga dibilicarakan oleh Syaalman, sebab anda lihat bahwa di dalam bungkusannya banyak yang mengenai orang Jawa dan orang-orang kafir lainnya. (Frits mengatakan bahwa orang Jawa bukan kafir, tapi saya menyebut tiap orang yang berpegang pada agama yang salah, seorang kafir).
Saya akan kemukakan di sini beberapa keping dari khotbahnya, yang sangat menarik, sebab dari pidato Wawelaarlah saya memetik pendapat bahwa penghentian peraturan penanaman kopi di Lebak tidak sah, hal ini akan saya bicarakan nanti, lagipula sebagai orang yang jujur saya tidak mau pembaca tidak akan menerima apa-apa untuk wang yang dikeluarkannya.
Wawelaar dengan singkat membuktikan kecintaan Tuhan dari kata-kata yang dikutipnya dari Kitab Injil, dan segera membicarakan hal yang penting di sini, yakni menasranikan orang-orang Jawa, Melayu dan entah apa lagi namanya bangsa-bangsa itu.
“Demikianlah para Kekasihku, panggilan tugas kaum Israil yang mulia, (maksudnya membinasakan penduduk Kanaan), dan demikian pula panggilan tugas negeri Belanda! Tidak, orang tidak akan mengatakan bahwa terang yang menyinari kita, kita tutup dengan takaran gandum, bahwa kita pelit dalam membagikan rezeki kehidupan yang kekal. Pandanglah pulau-pulau di Samudera Hindia, yang didiami oleh berjuta-juta cucu dari putra nabi Nuh yang dibuang, dan memang sepantasnya dia dibuang—sedangkan nabi Nuh yang mulia itu berkenan kepada Tuhan. Di sana mereka itu merayap dalam lubang-lubang ular yang baunya menjijikkan, sarang-sarang kebodohan orang kafir, di sana mereka itu menundukkan kepalanya yang berambut keriting di bawah gandaran pendeta-pendeta yang hanya ingat kepentingan sendiri. Di sana mereka itu menyembah Tuhan sambil memanggil nabi yang palsu, suatu kejijikan di mata Tuhan; dan, para Kekasih, seolah-olah tidak cukup tunduk kepada seorang nabi yang palsu, malahan ada yang menyembah Tuhan yang lain, menyembah tuhan-tuhan, yang terbuat dari kayu atau batu yang mereka bikin sendiri, menurut gambaran dirinya, hitam, menjijikan dengan hidung pesek, dan laksana setan. Ya, para kekasih, hampir-hampir saya tidak dapat meneruskan karena air mata mendesak, lebih parah lagi keruntuhan akhlak keturunan Kham¹⁰. Di antara mereka ada yang tidak mengenal Tuhan, dengan nama apa pun juga, yang mengira cukuplah mematuhi hukum-hukum pergaulan umum; yang menganggap lagu panen yang menyatakan kegembiraan mereka karena pekerjaannya berhasil, cukup sebagai terima kasih kepada Yang Mahautama yang menjadikan panen itu; di sana ada orang-orang yang tersesat, para Kekasih, yang mengira cukuplah men-cintai anak dan istri, dan tidak mengambil dari sesamanya apa yang bukan kepunyaannya, dan malam hari membaringkan diri dengan tenang untuk tidur! Tidakkah anda ngeri mengingat tamasya itu, tidakkah hati anda remuk memikirkan bagaimana jadinya orang-orang yang dengu itu, apabila sangkakala ber-bunyi membangkankitkan orang-orang yang mati untuk memisahkan yang benar dari yang tidak benar? Tidakkah anda dengar, ya, anda dengar, sebab dari kata-kata Alkitab yang dibacakan itu, anda melihat bahwa Tuhan anda adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Tuhan yang memberi pembalasan dengan adil, ya, anda dengar tulang-tulang berderak-derak dan nyala api mendedas di dalam Gehenna¹¹ yang abadi, penuh tangisan dan gertapan gigi,—di sana, di sanalah mereka dibakar, tapi tidak binasa, sebab hukumannya untuk selama-lamanya;—di sana nyala api menjilat dengan lidahnya yang tidak puas-puasnya orang-orang kafir yang menjerit-jerit;—di sana cacing-cacing tidak me-ngenal mati, cacing-cacing yang terus menerus menggeragoti hati mereka, tanpa membinasakannya, supaya selalu ada saja hati yang dapat digeragoti di dalam dada orang yang lupa kepada Tuhan. Lihatlah bagaimana anak yang tidak dibaptis itu dikuliti, dikeluarkan kulitnya yang hitam, anak yang begitu lahir, direng-gutkan dari tetek ibunya, dilontarkan ke dalam kubangan neraka di mana ia disiksa untuk selama-lamanya …….”
Seorang perempuan jatuh pingsan.
“Tapi, para Kekasih, Pendeta Wawelaar meneruskan, Tuhan adalah Tuhan cinta kasih. Ia tidak mau orang berdosa jadi binasa, tapi supaya ia bahagia \textit{dengan} anugerah, \textit{di dalam} Kristus, \textit{oleh} kepercayaan! Karena itulah negeri Belanda terpilih untuk menyelamatkan apa-apa yang dapat diselamatkan dari orang-orang yang celaka itu. Untuk itu Ia, dalam Kebijaksanaannya yang tidak dapat diduga, memberikan kekuasaan kepada sebuah negeri yang kecil, tapi besar dan kuat karena pengetahuannya akan Tuhan, untuk menguasai penduduk daerah-daerah itu, supaya mereka dapat diselamatkan dari azab neraka oleh Injil yang suci dan mulia. Kapal-kapal negeri Belanda melayari samudera luas, dan membawa peradaban, agama, kekristenan, kepada orang Jawa yang tersesat.
Tidak, negeri Belanda yang bahagia, tidak menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri; kita juga ingin membaginya kepada orang-orang yang celaka di pantai-pantai yang jauh, orang-orang yang terbelenggu dalam ketidakpertiyayaan, tahyul dan kecabulan. Dalam bagian khotbah saya yang ketuyuh saya akan membicarakan kewajiban-kewajiban kita dalam hal ini.”
Sebab bagian khotbah sebelumnya adalah yang keenam. Kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi terhadap orang-orang kafir yang malang itu, antara lain disebut:
”1. Memberikan sumbangan-sumbangan yang besar berupa uang kepada perkumpulan zending.
”2. Menyokong perkumpulan-perkumpulan Alkitab, supaya sanggup membagi-bagikan Injil di pulau Jawa.
”3. Mengadakan “Kebaktian-kebaktian” di Harderwiyk untuk keperluan persediaan tentera jajahan.
”4. Menuliskan khotbah-khotbah dan nyanyian keagamaan yang cocok untuk dibacakan dan dinyanyikan oleh soldadu-soldadu dan matros-matros kepada orang Jawa.
”5. Mendirikan sebuah perkumpulan orang-orang berpengaruh yang tugas kewajibannya ialah memohon kepada seri baginda raja: a) supaya hanya mengangkat gubernur-gubernur, opsir-opsir dan pegawai-pegawai yang dapat dianggap teguh memegang agamanya yang benar. b) supaya mengizinkan orang Jawa mengunjungi tangsi-tangsi dan juga kapal-kapal perang dan kapal-kapal niaga yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan, agar mereka dapat bergaul dengan soldadu-soldadu dan matros-matros dan dengan demikian dapat dididik untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. c) melarang menjual kitab-kitab Injil atau risalat keagamaan di rumah-rumah minuman keras. d) memasukkan ke dalam syarat-syarat untuk mempak madat di pulau Jawa, ketentuan bahwa dalam tiap rumah madat disediakan sejumlah kitab Injil, sebanding dengan jumlah orang yang mungkin akan mengunjungi rumah demikian; dan pemilik rumah pak harus berjanji tidak akan menjual madat kepada orang yang tidak mau sekaligus membeli pula risalat keagamaan. e) memerintahkan supaya orang Jawa dibimbing kepaada Tuhan dengan bekerja.
"6. Memberikan sumbangan-sumbangan yang besar kepada perkumpulan-perkumpulan zending."
Saya tahu bahwa isi angka enam ini sudah saya sebut pada angka satu, tapi dia mengulanginya, dan kelebihan semacam itu saya rasa tidak mengherankan kalau diingat betapa bersemangatnya ia bicara.
Tapi, pembaca yang terhormat, adakah anda perhatikan nomor 5 e? Nah, anjuran itulah yang begitu mengingatkan saya kepada lelang kopi dan tanah di Lebak yang katanya tidak subur; tentulah anda tidak heran lagi, kalau saya katakan bahwa soal ini sejak Rebo malam tidak hilang-hilang lagi dari pikiran saya. Domine Wawelaar membacakan berita-berita orang zending, jadi tidak bisa disangkal bahwa ia mempunyai pengetahuan yang mendalam. Nah, kalau dia, setelah mendapat laporan-laporan dan mengingat kepada Tuhan, mengatakan bahwa dengan bekerja keras orang Jawa akan dapat ditaklukkan jiwanya untuk masuk ke dalam Kerajaan Tuhan, maka bolehlah dipastikan bahwa saya tidak bohong, kalau saya mengatakan bahwa di Lebak bisa saja ditanam kopi;—dan lebih lagi, barangkali Yang Maha Kuasa justru membikin tanah itu tidak subur untuk menanam kopi, supaya penduduk daerah itu dapat menjadi bahagia, dengan mengeluarkan keringat, bekerja memindahkan tanah yang subur ke sana.
Mudah-mudahan saja buku saya ini akan dibaca oleh baginda raja dan bahwa dengan adanya pelelangan yang lebih besar segera ternyata betapa erat hubungan pengenalan Tuhan dengan kepentingan seluruh warga masyarakat. Lihatlah betapa Wawelaar yang sederhana dan rendah hati itu, tanpa kearifan, menurut manusia—(dia belum pernah menjejakkan kaki di bursa), tapi diterangi oleh Injil, yang merupakan lampu dalam perjalanannya, tiba-tiba memberi petunjuk kepada saya, makelar kopi, yang bukan saja penting bagi seluruh negeri Belanda, tapi yang akan memungkinkan saya, pergi ke Driebergen, mungkin lima tahun lebih cepat, kalau Frits berhati-hati (dalam gereja cukup diam-diam dia duduk). Ya, kerja, kerja, itulah semboyan saya; kerja untuk orang Jawa, itulah prinsip saya, dan prinsip-prinsip saya adalah keramat.
Bukankah Injil barang yang paling mulia? Adakah yang lebih tinggi dari pada kebahagiaan? Maka bukankah kewajiban kita untuk membahagiakan manusia? Dan jika untuk itu diperlukan kerja,—saya sendiri dua puluh tahun mengunjungi bursa,—bolehkah kita melarang orang Jawa bekerja, pekerjaan yang diperlukan untuk kebahagiaan jiwanya, supaya nanti tidak akan dibakar dalam api neraka? Itulah ketamakan, ketamakan yang keji, jika kita tidak melakukan segala usaha supaya orang-orang malang yang sesat itu jangan mengalami masa depan yang dahsyat, yang digambarkan oleh Pendeta Wawelaar dengan begitu fasis. Seorang perempuan jatuh pingsan, ketika ia bercerita tentang seorang anak kecil berkulit hitam; barangkali ia mempunyai anak yang kulitnya agak hitam; memang perempuan begitu.
Dan apakah saya tidak akan menganjurkan untuk bekerja, saya yang dari pagi sampai malam ingat kepada pekerjaan? Dan bukankah malahan buku ini, buku yang begitu menyusahkan saya gara-gara Stern, merupakan suatu bukti betapa besar keinginan saya untuk memperbaiki kesejahteraan negeri ini, dan betapa saya mempertaruhkan segala-galanya untuk itu? Dan jika saya begitu keras harus bekerja, saya yang dibaptis (di gereja Amstel), maka tidakkah boleh kita menuntut dari orang Jawa, yang masih harus bekerja untuk mencapai bahagia, supaya mereka itu menyingsingkan lengan bajunya?
Jika perkumpulan itu sudah berdiri (perkumpulan yang disebut pada 5 e maksud saya), saya akan masuk jadi anggota, dan saya juga akan mengajak keluarga Rosemeiyer, sebab perusahaan pemurnian gula juga berkepentingan, Meskipun saya kira mereka tidak begitu murni dalam pengertian-pengertiannya, maksud saya keluarga Rosemeiyer itu, sebab pelayannya seorang gadis Katolik.
Betapa pun juga, saya akan melakukan kewajiban saya. Saya sudah berniat demikian ketika pulang bersama Frits dari upacara sembahyang di gereja. Di rumah saya orang mengabdi kepada Tuhan, itu akan saya usahakan, dan saya akan lebih rajin lagi, sebab tambah lama tambah jelas bagi saya betapa bijaksana segalanya diatur, betapa penuh kasih jalan-jalan Tuhan memimpin kita, betapa Ia memelihara kita untuk kehidupan abadi dan untuk kehidupan sementara, sebab tanah di Lebak itu dapat disuburkan untuk penanaman kopi.
¹ Titik permulaan.
² Rendah hati, tanpa pretensi.
³ Tidak enak untuk mendengarkan.
⁴ Tokoh roman Belanda abad ke-18, “Sara Burgerhart”.
⁵ Mengingatkan peristiwa bersejarah penghancuran kota Troya di Asia-Kecil oleh orang Yunani. Orang Yunani membuat kuda dari kayu dan menyembunyikan di dalamnya beberapa orang prajurit. Orang Troya menyeret kuda itu ke dalam kotanya. Hal ini berarti keruntuhan mereka: malam hari prajurit Yunani keluar dari kuda itu; mereka membuka gerbang kota dan masuklah tentara Yunani.—Dengan lain perkataan: dengan tidak sengaja menyebabkan keruntuhan sendiri.
⁶ Lat. Barangsiapa menggabungkan yang berguna dengan yang menyangan, mendapat pujian setingga langit.
⁷ Dari kata kerja “wawelen” = bicara bodoh dan menjemukan, menceloteh. Wawelaar = Tukang Celoteh. Lihat Pendahuluan.
⁸ Seorang makelar mempunyai tempat yang tetap pada salah sebuah pilar atau tiang yang banyak di dalam gedung bursa.
⁹ Lihat kitab Samuel XV: 33b.
¹⁰ Putra nabi Nuh, yang menurut kitab Injil memperolok-olokkan ayahnya. Ia digambarkan oleh Wawelaar sebagai moyang “orang yang tidak beriman“, yakni orang bukan Kristen.
¹¹ Neraka.
Bab X
Meskipun saya, mengenai prinsip-prinsip, tidak pandang bulu, namun saya mengerti bahwa saya harus menempuh jalan lain dalam menghadapi Stern, lain dari dalam menghadapi Frits, dan karena bisa dibayangkan bahwa nama saya (nama firma ialah Last & Co, tapi nama saya Droogstoppel, Batavus Droogstoppel), bahwa nama saya akan dihubung-hubungkan dengan sebuah buku, yang di dalamnya ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kehormatan diri setiap orang dan setiap makelar yang baik, maka saya merasa berkewajiiban untuk mengatakan kepada anda, betapa saya telah berusaha untuk juga mengembalikan Stern ke jalan yang benar.
Saya tidak bicara kepadanya tentang Tuhan, karena ia pengikut Luther, tapi saya mencoba mempengaruhi jiwanya dan rasa kehormatan dirinya. Dengarlah bagaimana usaha saya itu, dan perhatikanlah betapa jauhnya orang bisa berhasil dengan mengenal sifat manusia. Saya dengar dia berkata: “auf Ehrenwort“ dan saya tanyakan apa maksudnya?
— “Yaitu, katanya, bahwa saya mempertaruhkan kehormatan saya atas kebenaran perkataan saya.“—“Itu banyak sekali, kata saya pula, begitukah yakinnya anda atas kebenaran yang anda katakan?“—“Ya, ia menjelaskan, saya selalu mengatakan yang benar. Kalau hati saya menyala ...“ Pembaca tahu lanjutannja.—“Itu indah sekali," kata saya, dan saya pura-pura percaya. Tapi begitulah justru halusnya jerat saya, sambil menjaga supaya Stern senior jangan sampai jatuh ke tangan Busselinck & Waterman, saya hendak menunjukkan kekeliruan sibuyung itu, sehingga ia merasa betapa besar bedanya orang yang baru mulai, Meskipun ayahnya punya perusahaan besar, dengan seorang makelar yang sudah duapuluh tahun mengunjungi bursa. Saya tahu bahwa ia hafal banyak rombengan sajak-sajak (dia bilang: “hafal di luar kepala“), dan karena saya tahu bahwa sajak-sajak selalu berisi kebohongan-kebohongan, saya merasa pasti akan segera mempergokinya berkata tidak benar. Dan memang tidak lama saya mendapat kesempatan itu. Saya duduk di kamar samping, dan dia duduk di"suite"¹, sebab kami mempunyai suite. Mari sedang merajut, dan dia hendak menceritakan sesuatu kepadanya. Saya mendengarkan penuh perhatian, dan sesudah selesai, saya menanyakan apakah ia memiliki buku yang memuat sajak itu, sajak yang baru saja dibacakannya dengan suara keras. Katanya ya, dan diberikannya buku itu kepada saya; buku itu ialah satu jilid dari karangan-karangan orang yang bernama Heine. Keesokan harinya saya berikan ciatatan berikut kepadanya, kepada Stern maksud saya:
ULASAN MENGENAI CINTA KEBENARAN SESEORANG
YANG MEMBACAKAN SAJAK KITSKH HEINE
YANG BERIKUT KEPADA SEORANG GADIS
YANG DUDUK MERAJUT DI DALAM SUITE
Auf Fluglen des Gesanges, Herzliebkhen, trag ikh dikh fort
Herzliebkhen ...? Mari Herzliebkhen anda? Tahukah orang tua anda tentang itu, dan Louise Rosemeiyer? Apakah pantas mengatakan yang demikian kepada seorang anak yang bisa menjadi tidak patuh kepada ibunya karena perkataan itu, karena dia mengira dia sudah dewasa, karena ada yang menyebutnya: “Herzliebkhen“? Apa arti “membawa terbang di atas sayapku“?
Anda tidak punya sayap, dan lagu anda pun tidak. Cobalah dulu terbang melintasi lauriergrakht, yang tidak begitu lebar. Tapi Sekalipun anda punya sayap, bolehkah anda mengajak anak gadis melakukan itu, anak gadis yang belum lagi masuk jadi anggota gereja Protestan? Dan Sekalipun ia diterima, apa arti ajakan untuk terbang bersama itu? Huh!
Fort nakh den Fluren des Ganges, Da weiss ikh den skhonsten Ort.
Pergilah sendiri, dan sewalah pondok, tapi jangan bawa seorang gadis yang harus menolong ibunya mengurus rumah tangga. Tapi memang anda tidak sungguh-sungguh; pertama-tama anda belum pernah melihat sungai Gangga, dan tentu saja anda tidak bisa mengetahui apakah enak hidup di sana. Bolehkah saya mengatakan kepada anda bagaimana keadaan sesungguhnya? Semua itu bohong belaka, yang hanya anda ceritakan karena dalam segala persadayakan itu anda menghambakan diri kepada metrum dan rima. Jika baris pertama berakhir pada “kina", anda akan mengajak Mari ke kota Cina, dan seterusnya. Anda lihatlah bahwa rute perjalanan anda itu hanya dicari-cari, dan bahwa segalanya itu hanya sekedar bunyi kata-kata yang tidak ada ujung pangkalnya dan tidak ada artinya. Bagaimana kalau Mari sungguh-sungguh mau melakukan perjalanan itu? Belum lagi saya bicara tentang cara yang tidak mudah, yang anda usulkan; tapi syukurlah, ia terlalu cerdik untuk merindukan negeri yang anda katakan:
Da liegt ein rothbluhender Garten, Im stillen Mondenskhein; Die Lotosblumen erwarten Ihr trautes Skhwesterlein; Die Veilkhen kirkhen und kosen, Und skhau'n nakh den Sternen empor; Heimlikh erzahlen die Rosen Sikh duftende Mahrkhen in's Ohr!
Anda mau apa di taman dengan Mari di malam terang bulan? Apakah itu sopan, apakah itu baik, apakah itu pantas, Stern?
Apakah anda mau saya mengandung malu seperti Busselinck & Waterman, yang tidak satu pun perusahaan dagang yang baik mau berhubungan dengannya, karena anak gadisnya melarikan diri, dan karena mereka itu tidak bisa dipercaya? Apa yang harus saya jawab kalau orang bertanya di bursa mengapa anak gadis saya begitu lama tinggal di taman? Sebab anda tentu mengerti, bahwa tidak ada orang yang mau percaya, kalau saya katakan bahwa ia harus ke sana untuk mengundungi bunga seroja, yang menurut kata anda, sudah lama menanti-nantinya. Demikian pula tiap orang yang waras akan menertawakan saya, jika saya begitu gila untuk mengatakan: Mari berada dalam taman yang merah itu (mengapa merah, dan bukan kuning atau ungu?), untuk mendengarkan kembang-kembang biola berceloteh dan terkikih-kikih, atau mendengarkan dongeng-dongeng yang diceritakan sembunyi-sembunyi oleh kembang mawar yang satu kepada yang lain. Sekalipun yang demikian itu mungkin terjadi, apa gunanya bagi Mari, kalau diceritakan sembunyi-sembunyi, sehingga dia tidak bisa menangkap isinya? Tapi semua itu dusta, dusta yang cempelang, dan jelek lagi; sebab cobalah ambil potlot dan gambarkan kembang mawar yang bertelinga, dan lihatlah bagaimana rupanya. Dan apakah artinya itu, bahwa “Mahrkhen” itu “duftend”? Anda ingin tahu bagaimana saya mengatakannya dalam bahasa Belanda yang baik? Artinya, ada sesuatu yang tidak beres dengan dongeng-dongeng itu …… itulah soalnya!
Da hupfen herbei, und lauskhen Die frommen, klugen Gazellen; Und in der Ferne rauskhen Des heiligen Stromes Wellen……. Da wollen wir niedersinkan Unter den Palmenbaum, Und Ruhe und Liebe trinkan Und traumen seligen Traum.
Tidakkah anda dapat pergi ke “Artis”, kalau anda hendak melihat hewan yang asing sama sekali? Haruskah itu menjangan sungai Gangga, yang tidak akan dapat dilihat jelas di dalam hutan, tidak begitu jelas seperti di dalam pagar rapi dari besi yang diter hitam? Mengapa hewan-hewan itu saleh dan cerdik? Cerdik, baiklah, saya bisa terima, sedikitnya mereka tidak membikin sajak-sajak yang gila seperti itu, tapi saleh? Apa artinya itu? Apakah itu bukan menyalahgunakan perkataan yang keramat, yang hanya boleh dipergunakan untuk orang-orang yang menganut kepercayaan yang benar? Dan arus keramat itu? Bolehkah anda mengatakan kepada Mari hal-hal yang akan membuat ia menjadi seorang musyrik? Bolehkah anda meng-goncang keimannanya bahwa tidak ada air keramat lain dari air baptisan, dan tidak ada sungai keramat lain dari Yordan? Bukankah itu merusak kesusilaan, kebajikan, agama, kristendom dan tingkah laku yang baik?
Pikirkanlah semua itu, Stern. Ayah anda dari keluarga yang baik, dan saya merasa pasti bahwa ia membenarkan saya berbicara kepada hati nurani anda, dan bahwa ia suka berdagang dengan orang yang membela kebajikan dan agama. Ya, prinsip-prinsip saya anggap suci, saya tidak segan-segan mengatakan terus-terang pendapat saya; jadi, tak usah anda sembunyi-sem-bunyikan apa yang saya katakan, tulislah kepada ayah anda bahwa anda di sini tinggal pada keluarga yang bisa dipercaya, bahwa saya menunjukkan anda hal-hal yang baik, dan cobalah anda bayangkan apa yang akan terjadi dengan anda, sekiranya anda pergi kepada Busselinck & Waterman. Di sana pun anda pasti mengucapkan sajak-sajak yang demikian, tapi di sana orang tidak akan berbicara kepada hati nurani anda, sebab mereka itu penipu-penipu; tulislah ini kepada ayah anda, sebab jika soalnya mengenai prinsip, maka saya tidak takut siapa-siapa. Di-sana gadis-gadis akan turut beserta anda ke sungai Gangga, dan barangkali anda di sana sekarang ini terbaring di bawah pohon di dalam rumput; sedangkan sekarang, karena saya memperingat-kan anda, maka anda boleh saja tinggal bersama kami dalam rumah yang pantas. Tulislah semua itu kepada ayah anda, dan katakan kepadanya bahwa anda sangat bersyukur bahwa anda datang kepada kami, dan bahwa saya menjaga anda dengan baik, dan bahwa anak gadis Busselinck & Waterman melarikan diri, dan sampaikan salam saya yang khidmat kepadanya, dan tulis pula bahwa saya akan menurunkan upah kurtasi² 1/16 persen di bawah tawaran mereka, karena saya tidak suka kepada orang-orang yang licik itu, yang mencuri rezeki saingannya dengan mengemukakan syarat-syarat yang lebih baik.
Dan gembirakanlah hati saya dengan memberikan sesuatu yang lebih baik dalam pembacaan-pembacaan anda pada keluarga Rosemeiyer. Di dalam bungkusan Syaalman saya melihat laporan-laporan mengenai produksi kopi dalam duapuluh tahun terakhir, dari semua residensi di pulau Jawa; cobalah bacakcan yang seperti itu. Dan janganlah sebut gadis-gadis dan kami semua ini bangsa kanibal, yang menelan sesuatu dari anda, itu tidak baik, anakku; percayalah kepada orang yang tahu asam garam dunia. Saya telah melayani ayah anda sebelum ia lahir (maksud saya firma Last & Co, dulu Last & Meiyer), jadi, anda tahu maksud saya baik terhadap anda. Dan ingatkan Frits supaya lebih berhati-hati, dan jangan ajar dia membuat sajak, dan buatlah seolah-olah anda tidak melihat, jika ia menyingainyingai kepada juru buku, dan segala macam itu. Berilah contoh yang baik kepadanya, karena anda lebih tua dari padanya, dan tanamkanlah ketenangan dan kewibawaan padanya, karena ia harus jadi seorang makelar.
Saya, sahabat yang bersikap sebagai ayah terhadap anda, Batavus Droogstoppel (firma Last & Co, makelar-makelar kopi. Lauriergrakht No. 37)”
¹ Salah sebuah dari dua atau beberapa kamar yang berderet, dipisahkan oleh pintu yang bisa dibuka dan ditutup atau pintu sorong.
² Upah makelar, provisi.
Bab XI
Jadi, saya hanya hendak mengatakan, sebagaimana kata Abraham Blankaart, bahwa saya menganggap bab ini bab “inti", sebab, menurut pikiran saya, memperkenalkan Havelaar lebih baik, dan dia agaknya adalah pahlawan cerita.
— “Tine, ketimun apa itu? Manisku, jangan sekali-kali taruh asam tumbuhan pada buah-buahan; ketimun dengan garam, nenas dengan garam, jeruk besar dengan garam, segala yang tumbuh dari tanah dengan garam. Cuka pada ikan dan daging …… ada ditulis dalam Liebig ……."—“Maxku sayang, kata Tine sambil tertawa, berapa lama kita di sini? Ketimun itu dari nyonya Slotering."
Dan Havelaar dengan susah mengingat-ingat, bahwa ia baru kemarin tiba, dan bahwa Tine, Meskipun ia mau, belum sempat mengatur dapur atau rumah tangga. Dia sudah lama di Rangkas-Betung! Bukankah dia semalam-malaman membaca dalam arsip, dan bukankah sudah banyak yang dipikirkannya yang berhubungan dengan Lebak, sehingga ia tidak segera dapat mengetahui bahwa ia baru kemarin berada di sana? Tine mengetahui ini;—dia selalu mengerti keadaan jiwanya.
— “Ah ya, benar juga, kata Havelaar, namun baik juga anda membaca sedikit apa yang ditulis Liebig. Verbrugge, anda banyak membaca tulisan Liebig?"
“Siapa itu?" tanya Verbrugge.
— “Dialah yang banyak menulis tentang mengasinkan ketimun; pun dia menemukan cara bagaimana merubah rumput jadi bulu domba …… anda mengerti?"
— “Tidak, jawab Verbrugge dan Duclari serentak.—“Begini, soalnya sudah lama diketahui …… lepaskan domba ke ladang, dan anda akan lihat. Tapi dia menyelidiki cara bagaimana itu terjadi; tapi ada lagi yang mengatakan, bahwa dia tidak tahu apa-apa …… sekarang orang mencari jalan untuk tidak mempergunakan domba dalam pengolahan itu …… o, sarjana-sarjana itu! Moliere tahu …… saya senang sekali dengan Moliere. Kalau anda mau, kita akan mengadakan kursus membaca malam hari; Tine juga ikut kalau Max sudah tidur.
Duclari dan Verbrugge ingin serta. Havelaar mengatakan bahwa ia tidak banyak punya buku, tapi di antaranya ada buku Skhiller, Gothe, Heine, Lamartine, Thiers, Say, Malthus, Scialoya, Smith, Shakespeare, Byron, Vondel ……….
Verbrugge tidak mengerti bahasa Inggris, katanya.—“Persetan, anda sudah lebih tiga puluh tahun, apa saja yang anda kerjakan selama itu? Pasti anda banyak menemui kesukaran di Padang, di sana bahasa Inggris banyak dipergunakan. Anda kenal miss Mata-Api?”—“Tidak, saya tidak kenal nama itu.”—“Memang itu bukan namanya; kami menyebutnya demikian, karena matanya berapi-api. Sekarang dia tentu sudah kawin, waktu itu sudah sekian lama berlalu. Tidak pernah saya melihat yang seperti itu …… ya, ada, di Arles …… cobalah anda pergi ke sana. Itulah yang paling indah yang pernah saya temukan dalam semua perjalanan saya. Tidak ada sesuatu, saya pikir, yang menggambarkan lebih jelas keindahan abstrak, sebagai gambaran yang nampak dari kebenaran, kesucian yang tiada berwujud, dari seorang wanita yang cantik …… Percayalah, pergilah ke Arles dan Nimes¹ …….”
Duclari, Verbrugge, dan saya harus mengakui, juga Tine, tidak dapat menahan tawanya memikirkan begitu saja ia meloncat dari pojok Barat pulau Jawa ke Arles atau Nimes.
Havelaar yang rupanya dalam khayalnya berdiri di atas menara yang dibangun oleh orang Sarasen² pada putaran arena di Arles, harus berusaha payah baru mengerti apa sebab orang tertawa, lalu ia melanyutkan:
— “Baiklah, maksud saya, kalau kebetulan anda ke sana. Saya belum pernah melihat yang seperti itu. Saya sudah biasa kecewa melihat segala yang dipuji setinggi langit. Misalnya lihatlah air terjun yang begitu banyak dibcarakan;—saya tidak merasakan apa-apa di Tondano, di Maros, di Skhafhausen³, di Niagara. Orang harus melihat buku untuk mengetahui ukuran kekagumannya yang tepat tentang “sekian meter air jatuh", dan “sekian meter kubik" air tiap menit, dan jika angka-angka itu tinggi, maka orang berkata: “Heh!" Saya tidak mau lagi melihat air terjun, yakni jika saya harus mengambil jalan memutar untuk itu. Air terjun itu tidak berkata apa-apa buat saya. Gedung-gedung lebih nyaring bicara buat saya, terutama jika berkenaan dengan halaman-halaman dari sejarah, tapi perasaan itu lain sekali; kita terkenang masa silam, dan terbayang di depan kita gambaran-gambaran masa itu seperti dalam gambar hidup; di antaranya ada yang sangat mengerikan, jadi, Meskipun penting, orang tidak selalu mendapatkan kepuasan untuk rasa keindahan, artinya tidak pernah secara murni. Dan tanpa mengingat sejarah, memang banyak keindahan dalam beberapa gedung tapi keindahan itu dirusak lagi oleh penunjuk. penunjuk jalan,—dari kertas atau dari daging dan tulang,—yang menghilangkan kesan anda dengan keterangan-keterangan-nya yang senada: “gereja itu didirikan oleh uskup Munster tahun 1423; tiang-tiangnya tingginya 63 kaki, dan bertopang pada" ….. entah apa. Itu menjemukan, sebab kita merasa bahwa kekaguman kita harus berdasarkan enam puluh tiga kaki kalau kita tidak mau disebut bangsa Vandal⁴ atau seorang pedagang keliling. Tentu saja orang bisa berkata, simpan saja buku petunjuk anda di dalam kantong kalau sudah dicetak, dan biarkan dia berdiri di luar, atau berdiam diri saja dalam hal yang lain; namun sering kali orang memerlukan sedikit penerangan kalau hendak mempunyai pendapat yang tepat, tapi kecuali itu—Meskipun orang tidak memerlukan penerangan—orang sia-sia juga mencari sesuatu di dalam gedung yang agak lama memenuhi keinginan kita kepada keindahan, karena sesuatu itu tidak bergerak. Ini juga berlaku saya kira, untuk pahatan dan lukisan. Alam adalah gerak. Tumbuh, lapar, berpikir, merasa, adalah gerak …… diam adalah maut. Tanpa gerak tidak ada dukacita, tidak ada kenikmatan, tidak ada keharuan. Co-balalh anda duduk di sana tanpa bergerak, tiap orang akan segera melihat anda seperti hantu, malahan anda sendiri membayangkan anda sudah menjadi hantu. Bila melihat “tableau vivant”⁵ orang segera ingin melihat nomor berikutnya, betapa pun indah serta mengesankan pemandangan pada mulanya. Karena hasrat kita akan keindahan tidak dapat terpenuhi dengan satu tatapan saja kepada sesuatu yang indah, tapi perlu ada serentetan tata-pan berturut-turut kepada gerak keindahan, maka kita mendehrita suatu ketidaksempurnaan waktu menatap jenis karya seni semacam itu, dan karena itu saya berkata, bahwa seorang wanita cantik paling mendekati ideal keilahian, asal saja dia bukan sebuah potret yang diam tidak bergerak.
Betapa perlunya gerak yang saya maksud, dapat anda rasakan bila anda merasa muak melihat seorang penari, baik dia Elsler Ataupun Taglioni⁶, yang sesudah melakukan tarian, berdiri di atas kaki kirinya, dan menyeringai kepada publik.”
— “Itu tidak berlaku di sini, kata Verbrugge, sebab itu sungguh-sungguh buruk.”
— “Saya juga berpendapat demikian, tapi dia melakukannya sebagai sesuatu yang indah, dan sebagai klimaks pada segala yang sebelumnya, di mana sesungguhnya mungkin banyak yang indah. Dia melakukannya sebagai “pointe”⁷ dari epigram; sebagai “aux armes”⁸ dalam Marseillaise yang dinyanyikannya dengan kakinya; atau sebagai berdesaunya pohon kamboja di atas kuburan percintaan yang baru saja digagalkan. Penonton pun menganggap saat itu sebagai saat yang paling mengharukan, publik yang biasanya, seperti kita semua sedikit banyaknya, mendasarkan seleranya pada kebiasaan dan ikut-ikutan, buktinya pada saat itulah mereka meledak bersorak-sorak, seolah-olah meneriakkan: “semua yang sebelumnya adalah indah, tapi sekarang saya tidak dapat menahan lagi kekaguman saya.” Anda mengatakan bahwa “sikap-sikap” itu sungguh-sungguh buruk; saya juga berpendapat demikian, tapi apa sebabnya? Sebabnya ialah karena gerakannya berhenti, dan bersama itu sejarahnja, yang diceritakan oleh sipenari. Percayalah, berhenti sama dengan maut.
— “Tapi, kata Duclari menyeling, anda juga menolak air terjun sebagai pernyataan keindahan …… bukankah air terjun bergerak? ……
— “Ya, tapi tanpa sejarah. Ia bergerak, tapi tidak berkisar dari tempatnya. Ia bergerak seperti kuda mainan, dan tidak pula dapat “va et vient”⁹. Ia bernyanyi, tapi tidak berkata ……. ia berseru: “rru …… rru …… rru!” Cobalah anda berseru enam ribu tahun, atau lebih lama lagi, “rru, rru” …… dan anda akan melihat betapa sedikit orang yang menganggap anda sebagai orang yang ramah dalam pergaulan.”
— “Saya tidak akan mencoba, kata Duclari; tapi saya tetap tidak setuju dengan anda, bahwa gerak mutlak perlu. Tak usah kita bicara tentang air terjun;—tapi lukisan yang baik, menurut saya, banyak yang dapat dinyatakannya."—“Tentu saja, tapi hanya sebentar. Saya akan coba menjelaskan pendapat saya dengan sebuah contoh. Sekarang ini bulan Pebruari tanggal sekian ……—“Bukan, kata Verbrugge, sekarang ini bulan Januari …..—“Tidak, tidak, sekarang ini tanggal sekian Pebruari¹⁰ 1587, dan anda ditahan dalam Tower¹¹ ……—“Saya?” tanya Duclari, yang mengira kurang jelas pendengarannya.—“Ya, anda. Anda merasa bosan dan mencari hiburan. Di sana, ditembok itu, ada sebuah lubang, tapi terlalu tinggi untuk mengintip keluar, tapi anda ingin mengintip. Anda taroh meja di depannya, dan di atas meja itu sebuah kursi berkaki tiga, salah satu kurang teguh. Dikermis pernah anda melihat seorang akrobat, yang menyusun tujuh buah kursi susun bersusun, dan berdiri di atasnya dengan kepala ke bawah. Karena cinta diri dan rasa jemu anda ingin melakukan yang serupa. Anda naik ke atas kursi, tergoyang-goyang, dan mencapai tujuan anda …… anda melihat melalui lubang …… “Ya Tuhan!” Anda jatuh ... Dan tahukah anda mengapa anda jatuh?”—“Saya kira karena kaki kursi yang ketiga patah,” kata Verbrugge dengan cerdas.—“Ya, kaki kursi itu patah,—tapi bukan karena itu anda jatuh; kaki kursi itu patah karena anda jatuh. Di depan tiap lubang yang lain anda dapat berdiri setahun lamanya di atas kursi itu, tapi sekarang anda harus jatuh, Meskipun kursi itu berkaki tiga belas, ya, Sekalipun anda berdiri di atas tanah ……”—“Saya terima kalah, kata Duclari, saya lihat anda bermaksud coute que coute¹² hendak menjatuhkan saya. Baiklah, saya jatuh telentang sekujur badan …… tapi saya tidak tahu mengapa?”
— “Ah, mudah sekali bukan? …… anda melihat seorang perempuan, berpakaian hitam, berlutut di depan sebuah blok; dan ia menundukkan kepala, lehernya putih sebagai perak di latar beludru hitam …… dan ada seorang laki-laki berdiri dengan pedang yang besar, yang dipegangnya tinggi-tinggi, matanya menatap leher yang putih itu …… dan direka-rekanya keluk yang akan dijalani pedangnya, untuk ditetakkan di sana …… di antara ruas-ruas tulang leher, dengan tepat dan penuh tenaga …… Lalu anda jatuh, Duclari, anda jatuh karena melihat pemandangan itu, dan itulah sebabnya anda berseru: “Ya Tuhan!”, bukan karena hanya tiga kaki kursi.
Dan lama sesudah anda lepas dari Tower, dengan jaminan keponakan anda, atau karena orang jemu memberi anda makan lebih lama seperti burung kenari,—lama sesudah itu, ya, hingga sekarang ini, anda bermimpi dengan mata terbuka tentang perempuan itu, dan bahkan dalam tidur anda pun anda bangun terkejut, dan jatuh terhempas di atas tempat tidur, karena anda hendak menangkap tangan algojo itu …… Bukankah begitu?”
— “Saya mau percaya, tapi saya tidak begitu pasti, sebab saya tidak pernah mengintip dari lubang dalam tembok di penjara Tower.”
— “Baik, baik, saya pun tidak pernah. Tapi sekarang saya ambil sebuah lukisan, yang menggambarkan Maria Stuart dipancung kepalanya. Tarohlah gambar itu sempurna, …… ia tergantung di sana, dalam bingkai bersadur emas, digantung pada tali yang merah, kalau anda mau …… saya tahu apa yang hendak anda katakan, baiklah! Tidak, anda tidak melihat bingkai itu, …… anda malahan lupa bahwa anda telah menyerahkan tongkat anda pada pintu masuk ruang lukisan …… anda lupa nama anda, anak anda, kopiah polisi model baru, untuk tidak melihat “sebuah lukisan,” tapi sungguh-sungguh melihat di atasnya
Maria Stuart¹³, persis sama dengan yang di Tower. Si algojo berdiri persis sebagaimana ia mestinya berdiri di sana, ya, saya maju selangkah lagi, anda mengulurkan tangan hendak menangkis pukulan pedang, dan anda berteriak: “biarkan perempuan itu hidup, barangkali ia memperbaiki dirinya,” …… anda lihat, saya beri anda “beau yeu”¹⁴ mengenai pertunjukan lukisan itu …….”
— “Ya, tapi bagaimana selanjutnja? Apakah kesannya tidak sama mengharukan seperti ketika saya melihat pemandangan itu juga sesungguhnya di penjara Tower?”
— “Tidak, sama sekali tidak, dan itu disebabkan karena anda tidak memanjat kursi berkaki tiga. Anda ambil sebuah kursi,—berkaki empat sekali ini, sebaikna sebuah fauteuil,—anda duduk di depan lukisan itu, supaya dapat menikmati dengan baik dan lama, (kita selalu menikmati sesuatu yang mengerikan), dan apa kesannya pada anda, menurut pikiran anda?”
— “Tentu saja kaget, takut, kasihan, terharu …… seperti ketika saya mengintip dari lubang di dalam tembok. Anda mengatakan, bahwa lukisan itu sempurna; jadi saya harus mendapat kesan yang sama betul seperti melihat kejadian yang sebenarnya.
— “Tidak, dalam dua menit anda merasa sakit pada tangan kanan anda karena simpati dengan si algojo, yang begitu lama mengangkat baja yang berat itu tinggi-tinggi dan tidak bergerak …………
— “Simpati dengan si algojo?
— “Ya, sama menderita, sama merasakan, …… dan juga dengan perempuan yang begitu lama duduk di depan blok, dengan sikap yang tidak enak, dan mungkin dengan hati yang tidak senang. Anda masih tetap kasihan kepadanya, tapi sekali ini bukan karena ia akan dipancung; tapi karena orang membiarkannya begitu lama menunggu sebelum dipancung; dan jika anda masih sempat mengatakan atau meneriakkan sesuatu pada akhir-nya,—sekiranya anda merasakan keinginan untuk campur tangan dalam soal ini,—mungkin anda tidak mengatakan lain dari: “Ayoh, ayunlah bung, dia sudah menunggu!” Dan bila anda kemudian melihat kembali lukisan itu, dan berkali-kali melihatnya kembali, maka kesan anda yang pertama malahan ialah: “Apakah belum selesai juga? Masihkah si algojo itu berdiri di sana dan masihkah perempuan itu berlutut di sana?”—“Tapi gerak apakah yang ada dalam keindahan perempuan-perempuan di Arles?” tanya Verbrugge.—“O, itu lain halnya! Pada air mukanya nampak berlangsung sejarah. Karthago¹⁵ bersemarak, dan membangun kapal-kapal di atas jidatnya …… dengarlah sumpah Hannibal¹⁶ terhadap Roma …… di sana mereka menjalin tali untuk busur …… di sana kota terbakar ……—“Max, Max, aku kira hatimu ketinggalan di Arles,” kata Tine.—“Ya, sebentar …… tapi sekarang sudah kembali; anda akan mendengarnya. Bayangkan, saya tidak mengatakan, saya telah melihat seorang perempuan di sana, yang cantiknya demikian atau demikian, tidak, semuanya mereka cantik, karena itu tidak mungkin kita jatuh cinta, sebab tiap perempuan berikutnya mendesak yang sebelumnya dalam kekaguman kita; dan saya sungguh teringat kepada Caligula atau Tiberius¹⁷,—tentang siapa orang menceritakan fabel itu?—yang menginginkan supaya seluruh keturunan manusia hanya berkepala satu, …… nah, demikianlah pada saya tanpa disadari timbul keinginan supaya wanita-wanita di Arles itu ……—“Hanya berkepala satu saja?”—“Ya …….”
— “Untuk dipancung?”—“O, tidak ….. untuk ….. dicium jidatnya, begitu hendak saya katakan, tapi bukan itu ….. tidak, untuk memandanganya, dan memimpikannya, dan untuk ….. berbuat baik!” Duclari dan Verbrugge tentu saja menganggap akhir keterangannya itu sangat aneh pula. Tapi Max tidak menyadari itu, dan melanjutkan:—“Sebab begitu mulia air mukanya, sehingga kita merasa malu bahwa kita hanya seorang manusia, dan bukan suatu bunga api, ….. suatu sinar, ….. bukan, itu adalah unsur, ….. suatu pikiran! ….. Tapi, ….. tiba-tiba ada saja seorang saudara atau seorang ayah di samping perempuan-perempuan itu, ….. dan ya Tuhan, saya lihat seorang membuang ingusnya!”—“Saya tahu, anda akan mencoret bagian itu,” kata Tine.—“Saya tidak dapat berbuat apa-apa. Saya lebih suka melihat dia jatuh dan mati;—gadis demikian tidak boleh menodai dirinya jadi makhluk biasa.”—“Tapi, tuan Havelaar, tanya Verbrugge, bagaimana kalau dia pilek?”—“O, dia sepautunya tidak boleh pilek dengan hidung yang secantik itu” ….. Seolah-olah setan hendak turut bicara, tiba-tiba Tine harus bersin ….. dan sebelum disadarinya, ia telah membuang ingusnya!—“Max-ku sayang, jangan marah ya?” katanya dengan tawa yang ditahan. Havelaar tidak menjawab; dan betapa pun anehnya atau aneh nampaknya, ya, ia memang marah. Dan aneh pula kedengarannya, Tine senang bahwa ia marah dan menuntut dari padanya lebih dari perempuan-perempuan Phoce¹⁸ di Arles itu, Sekalipun bukan karena ia beralasan membanggakan hidungnya. Jika Duclari masih juga menganggap Havelaar “gila", orang tak dapat menyalahkannya, bila ia bertambah kuat dalam anggapannya itu ketika melihat kemarahan sekejap yang nampak pada wajah Havelaar, sesudah dan oleh karena Tine membuang ingus. Tapi Havelaar sudah kembali dari Karthago, dan dibacanya di atas wajah tamu-tamunya, dengan kecepatan membaca yang mungkin baginya, jika pikirannya tidak terlalu jauh menerawang, bahwa mereka itu mengemukakan dua dalil berikut:
"1. Barangsiapa yang tidak mau isterinya membuang ingus, adalah seorang gila." "2. Barangsiapa berpendapat bahwa hidung yang mancung tidak boleh beringus yang harus dibuang, berbuat keliru jika memakaikan pendapat itu pada nyonya Havelaar, jika hidungnya mirip “pomme de terre"¹⁹.
Dalil yang pertama tidak mau disinggung oleh Havelaar, tapi yang kedua!...—“O, serunya, seolah-olah ia harus menjawab, Meskipun tamu-tamunya cukup beradab untuk tidak mengucapkkan dalil-dalilinya,—itu akan saya jelaskan kepada anda. Tine ……"—“Max-ku sayang!" ia memohon. Artinya: “Janganlah ceritakan kepada tuan-tuan itu, mengapa aku dalam penghargaan harus jauh berada di atas hidung yang pilek ……
Havelaar nampaknya mengerti apa yang dimaksud Tine, sebab ia menjawab:—“Baiklah, sayang. Tapi tahukah tuan-tuan, bahwa orang sering salah tampa dalam menilai hak-hak orang atas ketidak-sempurnaan jasmaniah?" Saya merasa pasti bahwa tamu-tamu itu tidak pernah mendengar tentang hak-hak itu. —“ Saya pernah mengenal seorang gadis di Sumatra, ia melanjutkan, anak seorang “Datuk” …… nah, saya menganggap bahwa dia tidak berhak atas ketidaksempurnaan itu; namun demikian saya melihat dia jatuh ke dalam air waktu kapal karam, …… sama seperti orang lain. Saya, seorang manusia, terpaksa menolongnya dan membawanya ke darat.
— “Tapi apakah dia seharusnya terbang seperti burung camar?”
— “Ya, tentu, …… atau, tidak …… seharusnya ia jangan punya badan.
Anda mau dengar bagaimana saya berkenalan dengannya? Waktu itu tahun 42; saya kontelir di Natal, anda pernah ke sana, Verbrugge?”
— “Ya.”
— “Nah, kalau begitu anda tahu bahwa diderah Natal ada penanaman lada. Kebun-kebun lada terletak di Teluk-Balai, di-sebelah Utara Natal, di pantai. Saya harus memeriksanya, dan karena saya tidak tahu menahu tentang lada, saya bawa dalam perahu seorang datuk, yang lebih banyak tahu tentang itu. Anak gadisnya, ketika itu berumur tiga belas tahun, turut serta. Kami berlayar sepanjang pantai dan merasa jemu …….”
— “Lalu perahu karam?”
— “O, tidak, udara cerah waktu itu …… perahu karam ter-jadi lama kemudian; jika tidak, saya tidak akan merasa jemu. Kami pun berlayar sepanjang pantai dan udara panas membakar. Di dalam perahu demikian tidak banyak kesempatan untuk bersenang-senang, dan selain itu saya sedang dalam keadaan bersedih hati karena berbagai sebab. Pertama, saya mengalami cinta yang tak sampai,—itu pengalaman saya tiap hari waktu itu,—tapi selain itu saya berada dalam masa antara dua keinginan akan kemegahan. Saya menjadikan diri saya raja, tapi kemudian dimakzulkan lagi, saya naik menara, tapi jatuh lagi ke atas tanah, …… saya tidak akan menceritakan apa sebabnya. Cukuplah, saya duduk di sana di dalam perahu dengan muka asam dan hati yang gundah gulana; saya dalam keadaan yang disebut orang Jerman: “ungeniessbar“²⁰. Saya merasa tidak sepantasnya orang menyuruh saya memeriksa kebun-kebun lada, dan bahwa saya sudah lama seharusnya diangkat jadi gubernur alam semesta. Lagi pula saya merasa semangat saya, jiwa saya dibunuh, dengan menaruh saya seperahu dengan datuk yang bodoh itu dan anaknya.
Perlu saya katakan bahwa saya biasanya senang kepada kepala-kepala bangsa Melayu, dan dapat bergaul dengan mereka. Mereka malahan banyak memiliki sifat-sifat yang membuat saya lebih menyukainya dari pembesar-pembesar Jawa. Ya, saya tahu, Verbrugge, bahwa anda tidak setuju dengan saya, sedikit orang yang setuju dengan saya dalam hal ini …… tapi saya tidak akan bicara tentang itu.
Sekiranya saya melakukan perjalanan itu pada hari yang lain,—dengan tidak banyak pikiran yang kalut,—mungkin saya segera bercakap-cakap dengan datuk itu, dan barangkali saya merasa percakapan itu cukup berharga. Barangkali juga saya berhasil memancing anak gadis itu bercakap-cakap, dan itu akan menghibur hati saya, sebab anak-anak sering kali ada sesuatu yang asli padanya,—Meskipun saya sendiri waktu itu masih terlalu anak-anak juga untuk mempunyai perhatian terhadap keaslian. Sekarang lain halnya; sekarang saya melihat dalam tiap gadis umur tiga belas tahun suatu naskah yang tidak dicoret-coret atau sedikit sekali yang dicoret. Kita mempergoki sang pengarang “en neglige“²¹ dan itu sering kali menyenangkan.
Anak itu menguntai manik pada seutas tali, dan nampaknya mencurahkan seluruh perhatian untuk pekerjaan itu. Tiga merah, satu hitam …… tiga merah, satu hitam, …… bagus sekali!
Namanya Si Upik Keteh. Artinya di Sumatra kira-kira: si putri kecil …… ya, Verbrugge, anda tahu itu, tapi Duclari selalu bertugas di Jawa. Namanya Si Upik Keteh, tapi dalam hati saya menyebutnya: si pandir, sebab saya jauh lebih tinggi daripadanya, menurut anggapan saya.
Hari petang ... hampir malam; manik-manik disimpan. Daratan perlahan-lahan menggeser di samping kami, dan gunung Ophir makin lama makin kecil di belakang kami. Di sebelah kiri, di Barat, di atas lautan yang luas, sangat luas tidak berteyi sampai Madagaskar, dan Afrika di belakangnya, matahari menurun, dan “melancang-lancang” sinarnya yang bertambah pendek lengkungnya di atas gelombang, dan ia pun mendinginkan diri di dalam laut ... Persetan, bagaimana bunyinya itu?”—“Apa ... matahari?”—“Ah, bukan, ... waktu itu saya membuat sajak ...”
Anda bertanya mengapa gerangan Samudera di pelabuhan Natal, Di mana-mana patuh dan ramah, Namun ganas bergelora di pelabuhan Natal, Senantiasa menggelegak dan bergolak? Anda bertanya, dan si anak nelayan Yang papa mendengar pertanyaan anda, Berkedip matanya hitam, Ia menunduk arah ke Barat nun jauh di sana Di bawah langit melengkung luas. Dialihkannya pandang dari mata yang legam, Dan ia memandang arah ke Barat, Ke mana pun anda memandang, Hanya air, air semata, Dan laut, laut di mana-mana.
Itulah sebabnya Samudera di sini Menggesel keras pasir di pantai; Sekitar anda laut semata, Dan air, air, tiada lain, Sampai-sampai ke pantai Madagaskar.
Dan banyak korban disampaikan Sebagai pampasan kepada Samudera Dan banyak jeritan terbenam di air, Tiada yang mendengar, istri, anak Maupun keluarga Yang tahu hanyalah Tuhan.
Tangan menggapai penghabisan kali, Menggapai-gapai di atas air, Meraba-raba, mencekau, mencepuk-cepuk berputar-putar, …… Mencari-cari tempat bertumpu, …… Lalu tenggelam selama-lamanya Selanjutnya aku tak tahu lagi …….”
— “Anda akan dapat menemukannya kembali jika anda menulis surat kepada Kriygsman yang jadi klerek anda di Natal, dia memilikiinyya,” kata Verbrugge.—“Bagaimana dia mendapatkannya?” tanya Max.—“Barangkali dari keranjang kertas anda ……, Tapi jelas ada padanya. Bukankah di dalamnya menusul legende tentang dosa pertama yang menenggelamkan pulau yang dahulu melindungi pelabuhan Natal, …… kisah Jjiwa dengan dua orang saudaranya?”—“Ya, itu benar. Legende itu …… bukan legende. Yang saya buat ialah parabel, perumpamaan, yang beberapa abad lagi akan menjadi legende ……, jika Kriygsman sering-sering menceritakannya. Begitu mulanya segala mitologi. “Jiwa” ialah ziel, sebagaimana anda tahu …….—“Max, di mana tinggal si putri kecil dengan manik-manik itu?” tanya Tine.—“Manik-manik sudah disimpannya. Hari jam enam, dan di sana di bawah garis katulistiwa, jam enam adalah waktu untuk merenung malam,—Natal letaknya beberapa menit di Utara; jika saya berjalan darat ke Air-Bangis, saya naik kuda melalui garis itu, atau hampir-hampir saya terjatuh melaluinya. Saya rasa malam hari orang selalu lebih baik, atau tidak begitu
nakal dari pagi hari, dan itu adalah wajar. Pagi hari kita menguasai diri (bahasa Belanda: houdt zikh te zamen—pent.)—saya tahu bahwa ungkapan ini (dalam bahasa Belanda—— pent.) adalah suatu Germanisme, tapi bagaimana saya harus mengatakannya dalam bahasa Belanda?—anda juru sita atau kontelir atau ... tidak, cukuplah itu. Seorang juru sita “halt sikh zusammen” untuk melakukan tugasnya dengan baik hari itu, ... Ya Tuhan, tugas yang bagaimana. Bagaimanakah rupa-rupa-rupa hati yang “zusammen gehalten” itu. Seorang kontelir, saya tidak mengatakan ini tentang anda, Verbrugge, seorang kontelir menggosok-gosok matanya, dan segan-segan menemui asisten residen, yang berlagak memperlihatkan kelebihannya karena di nasnya beberapa tahun lebih lama; atau hari itu ia harus mengukur ladang dan ragu-ragu apakah ia akan mempertahankan kejujurannja,—anda tidak tahu itu, Duclari, sebab anda militer, tapi sungguh ada kontelir-kontelir yang jujur,—ia ragu-ragu antara mempertahankan kejujur dan ketakutannya kepada Raden Demang ... anu, jangan-jangan kuda dauknya diminta kembali, kuda yang begitu pandai “menderap”;—atau hari itu ia harus dengan tegas mengatakan ya atau tidak membalas surat dinas nomor sekian. Pendeknya, pagi-pagi waktu bangun, dunia menyerang hati anda; dan itu berat bagi hati, Meskipun hati itu kuat.
Tapi malam hari anda istirahat. Ada sepuluh jam antara sekarang dan saat anda melihat kembali jas anda; sepuluh jam; tiga puluh enam ribu detik untuk hidup sebagai manusia! Itu menyenangkan bagi tiap orang. Itulah saat saya berharap akan menemui maut ... supaya tiba di sana dengan wadhay yang tak resmi. Itulah saat ketika istri anda menemukan kembali sesuatu dalam wadhay anda, yang “menangkap”nya, ketika ia memberikan kepada anda saputangan itu, dengan huruf E²² pada sudutnya ...—“Dan ketika ia belum bisa pilek,” kata Tine.
— “Ah, jangan ganggu saya …… Saya hanya hendak mengatakan, bahwa malam hari orang lebih “gemuthlikh"²³. Jadi, ketika matahari terbenam, saya menjadi orang yang lebih baik, dan sebagai buktinya yang pertama, saya berkata kepada putri kecil itu:—“Sebentar lagi udara sejuk."—“Ya, tuan," diyawabnya. Tapi saya, tuan besar, membungkuk lebih dalam lagi kepada “si pandir" itu, dan mulai bercakap-cakap dengannya. Jasa saya bertambah besar lagi, karena ia tidak banyak menjawab. Segala yang saya katakan dibenarkannya; dan itu pun menjemukan juga, Meskipun saya tinggi hati.—“Apakah kau ingin ikut lain kali ke Teluk-Balai?" tanya saya.—“Jika tuan menyuruh saya."—“Bukan, saya bertanya kepadamu apakah kau senang melakukan perjalanan demikian?"—“Jika ayah saya menghendaki," diyawabnya. Bukankah itu membikin orang gila. Nah, saya tidak menjadi gila; matahari sudah terbenam, dan saya cukup merasa “gemuthlikh" untuk tidak merasa kapok menghadapi kebodohan yang demikian; atau lebih tepat, saya kira saya mulai senang mendengar suara saya,—sebab sedikit orang yang tidak suka mendengarkan suaranya sendiri;—dan sesudah sikap saya yang diam sehari-harian, saya merasa, sesudah saya akhirnya berkatakata, bahwa saya patut menerima yang lebih baik dari jawaban-jawaban yang bodoh dari Si Upik Keteh itu. Saya akan menceritakan kepadanya sesuatu, pikir saya, supaya saya sendiri mendengarnya pula, dan tidak perlu dia menjawab saya. Anda tahu, seperti juga waktu membongkar kapal, keranjang gula yang paling akhir dimuat, itulah pula yang pertama kali dikeluarkan, maka kita pun biasanya mengeluarkan lebih dulu pikiran atau cerita yang dimasukkan paling akhir. Di dalam Tijdschrift van Nederlands Indie belum selang lama saya membaca sebuah cerita Yeronimus²⁴ tentang “Pemahat Batu Jepang” ….. Dengarlah, si Yeronimus itu menulis hal-hal yang menyenangkan. Apakah anda baca karangannya: Lelang dalam Rumah Mati? Dan karangannya “Kuburan”? Dan terutama, Pedati? Nanti akan saya berikan.
Jadi, saya baru saja membaca: “Pemahat Batu Jepang”. Sekarang tiba-tiba saya ingat bahwa tadi saya kesasar dalam lagu, di mana saya “menyuruh memandang berkeliling” “mata hitam” anak nelayan itu, sampai menjadi juling ….. dalam satu ju-rusan. Aneh sekali. Itu adalah asimilasi pikiran-pikiran. Ke-kesalan saya hari itu bertalian dengan bahaya di pelabuhan Natal ….. anda tahu, Verbrugge, kapal perang tidak boleh merapat di pelabuhan itu, terutama dalam bulan Juli ….. ya, Duclari, musim hujan di sana paling keras bulan Juli, justru sebalik-nya dari di sini, ….. nah, bahaya di pelabuhan itu berkait pula dengan rasa kehormatan saya yang terluka, dan rasa kehormatan itu bertalian pula dengan lagu Jiwa itu. Berkali-kali telah saya usulkan kepada residen untuk membuat pelindung pantai di Natal, atau sekurang-kurangnya sebuah pelabuhan buatan di-muara sungai, dengan maksud supaya ada perdagangan di daerah Natal, yang menghubungkan negeri Batak dengan lautan. Satu setengah juta manusia di pedalaman tidak tahu bagaimana menyalurkan hasil buminya, karena pelabuhan Natal terkenal buruk, dan memang demikian. Nah, usul-usul itu tidak diterima oleh residen, atau sedikitnya ia mengatakan bahwa pemerintah tidak akan mengabulkannya, dan anda tahu bahwa residen-residen tidak pernah memajudkan sesuatu usul, selain yang menurut perhitungan mereka akan menyenangkan bagi gubernemen. Pembuatan pelabuhan di Natal bertentangan dalam prinsipnya dengan sistim penutupan, bukannya kapal-kapal diusahaakan kedatangannya, malahan dilarang kapal-kapal layar masuk pelabuhan, kecuali dalam hal “force majeure”²⁵. Kalau masuk juga sebuah kapal, biasanya penangkap ikan paus bangsa Amerika, atau orang Perancis yang memuat lada di daerah-daerah kerajaan kecil yang merdeka di sudut Utara, maka selalu saya menyuruh kapten kapal itu menulis surat kepada saya, di mana ia meminta izin untuk memuat air minum. Kekesalan karena gagalnya usaha-usaha saya untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi Natal, atau lebih tepat, rasa keriahan yang terluka karena diri belum lagi berarti sehingga pelabuhan pun tidak dapat saya suruh buat di mana saya suka, dan semua ini berhubungan dengan pencalonan saya untuk mengatur alam semesta, ... nah, itulah yang membuat saya hari itu kesal saja. Ketika saya karena terbenamnya matahari agak sembuh, sebab kesebalan adalah penyakit, maka kesembuhan itu membuat saya teringat kepada Pemahat Batu Jepang, dan barangkali saya memikirkan cerita itu keras-keras, untuk secara diam-diam meneguk tetes terakhir dari obat yang saya rasa saya perlukan, sambil membayangkan kepada diri saya sendiri bahwa saya melakukan itu demi hendak berbuat baik kepada anak itu. Tapi anak itu menyembuhkan saya,—sedikitnya untuk sehari dua hari—lebih baik dari cerita saya.
“Upik, adalah seorang laki-laki yang memahat batu dari gunung. Pekerjaannya amat berat, dan dia bekerja banyak, tapi upahnya sedikit, dan ia tidak puas.
Ia mengeluh karena pekerjaannya berat, dan ia berseru: ah, sekiranya aku kaya, aku akan tidur di balai-balai dengan kelambu sutera merah.
Lalu turun seorang malaikat dari langit, dan berkata: anda akan menjadi kaya sebagaimana anda kehendaki.
Dan ia pun menjadi kaya. Dan ia tidur di atas balai-balai dan kelambunya dari sutera merah.
Pada suatu hari, raja berkeliling kota dengan penunggang kuda di depan keretanya; pun di belakang kereta ada penunggang kuda dan payung keemasan memayungi kepala raja.
Tatkala siorang kaya mendengar tentang itu, hatinya berduka-cita karena tidak ada payung menaungi kepalanya, dan ia tidak merasa puas.
Ia mengeluh dan berseru: aku ingin menjadi raja. Lalu turun seorang malaikat dari langit dan berkata: anda akan menjadi raja, sebagaimana anda kehendaki. Dan ia pun menjadi raja. Dan di depan keretanya banyak penunggang kuda, pun di belakang keretanya ada penunggang kuda, dan orang memayunginya dengan payung keemasan. Dan matahari bersinar dengan sinarnya yang terik dan membakar kerajaan bumi, sehingga rumput menjadi layu. Dan raja mengeluh bahwa matahari membakar wajahnya, dan lebih berkuasa daripadanya, dan ia tidak merasa puas. Ia mengeluh dan berseru: aku ingin menjadi matahari. Lalu turun seorang malaikat dari langit, dan berkata: anda akan menjadi matahari. Dan ia berubah menjadi matahari. Dan dikirimnya cahayanya ke atas dan ke bawah; ke kanan dan ke kiri, dan ke mana-mana. Dan dibakarnya rumput di atas bumi, dan wajah raja-raja yang ada di bumi; Dan segumpal awan berhenti di antaranya dan bumi, dan cahaya matahari dipantulkan kembali. Dan ia menjadi murka, karena ada yang berani menentang kekuasaannya, dan ia mengeluh bahwa awan itu lebih berkuasa daripadanya, dan ia tidak puas. Ia ingin menjadi awan yang begitu berkuasa. Lalu turun seorang malaikat dari langit, dan berkata: anda akan menjadi awan sebagaimana anda kehendaki. Dan ia pun menjadi awan, dan berhenti di antara matahari dan bumi, dan menampung cahaya matahari, sehingga rumput menjadi hijau; Dan awan itu menjadi hujan dan turun dengan tetesan-tetesan besar di atas bumi, dan membanjiri sungai-sungai, dan banjir melanda kawanan-kawanan hewan; Dan banjir itu merusak ladang-ladang karena banyaknya air; Dan ia jatuh di atas batu yang tidak berkisar. Dan ia jatuh menderu merupakan arus yang besar, tapi batu itu tidak bergeser. Dan ia menjadi murka, karena batu itu tidak mau menggeser; dan karena betapa pun deras arusnya, sia-sia belaka. Dan ia tidak merasa puas. Ia berseru: “batu itu lebih berkuasa dari padaku; aku ingin menjadi batu." Lalu turun seorang malaikat dari langit, dan berkata: anda akan menjadi batu, sebagaimana anda inginkan. Dan ia menjadi batu, dan tidak bergerak ketika matahari bersinar, pun tidak apabila hujan turun. Lalu datang seorang laki-laki membawa cangkul, dan pahat yang tajam, dan palu yang berat, yang memahat batu dari batu gunung. Dan batu itu berkata: apa pula ini, laki-laki ini lebih berkuasa daripadaku, dan memahat batu dari pangkuanku. Dan ia tidak merasa puas. Ia berseru: “aku lebih lemah dari orang ini; aku ingin jadi dia." Lalu turun seorang malaikat dari langit, dan berkata: anda akan menjadi orang itu. Dan ia menjadi pemahat batu. Dan ia memahat batu dari gunung batu, dengan kerja yang berat, dan ia bekerja berat sekali, dengan upah yang sedikit, dan ia merasa puas."—“Bagus sekali, kata Duclari, tapi anda belum membuktikan kepada kami, bahwa si Upik kecil itu mestinya “imponde-rabel"²⁶.—“Tidak, saya tidak menjanjikan bukti itu. Saya hanya hendak menceritakan kepada anda, bagaimana saya berkenalan dengannya. Sesudah selesai bercerita, saya bertanya: “dan kau Upik, apa yang kau pilih, sekiranya ada malaikat dari langit bertanya kepadamu, apa yang kau kehendaki?"
— “Tuan, saya akan memohon kepadanya supaya dibawanya serta ke langit."—“Bagus sekali, bukan?" kata Tine kepada tamu-tamunya, yang barangkali merasa hal itu aneh sekali. Havelaar berdiri, dan menyapu sesuatu dari jidatnya.
¹ Kota-kota di Perancis Selatan.
² Orang Islam bangsa Arab yang dalam Abad Pertengahan menduduki Spanyol dan Perancis Selatan.
³ Sebuah kota Swis.
⁴ Bangsa barbar yang suka merusak.
⁵ Semacam pertunjukan: pengelompokan orang-orang untuk menyatkan sesuatu.
⁶ Penari-penari terkenal.
⁷ Maksud.
⁸ Panggul senjata.
⁹ Pergi dan datang.
¹⁰ Dalam cetakan lain disebut 18 Pebruari.
¹¹ Penjara di London.
¹² Bagaimanapun juga.
¹³ Ratu Skotlan yang menuntut hak atas singgasana kerajaan Inggris. Ia dipenggal tahun 1587.
¹⁴ Kebebasan.
¹⁵ Sebuah kota di Afrika Utara, yang dibinasakan oleh orang Rumawi tahun 146 s.M.
¹⁶ Panglima Karthago yang termasyhur.
¹⁷ Dua orang kaisar Rumawi yang ditakuti (abad pertama).
¹⁸ Bangsa Phoce ialah suatu kaum bangsa Yunani yang antara lain pernah menjajah beberapa kota di Perancis Selatan.
¹⁹ Kentang.
²⁰ Tidak dapat dibawa berhandai-handai.
²¹ Dalam pakaian seadanya.
²² Huruf pertama Everdine, nama istri Havelaar, Tine.
²³ Ramah tamah.
²⁴ Nama samaran baron Van Huvell, pendeta di Betawi, kemudian jadi anggota parlemen, di mana ia membela kepentingan penduduk bumiputera di tanah jadahan.
²⁵ Terpaksa.
²⁶ Badannya tanpa bobot
Bab XII
— “Max sayang, kata Tine, tambul kita begitu sedikit ... apakah kau tak bisa ... kau tahu, Madame Scarron¹ ... ?”—“Bercerita lagi, ganti makan kuweh? Persetan, suaraku parau; giliran Verbrugge sekarang.—“Ya, tuan Verbrugge, gantikanlah Max,” nyonya Havelaar memohon.
Verbrugge berpikir sebentar, lalu mulai:—“Adalah seorang laki-laki yang mencuri ayam kalkun.—“O, anda nakal, seru Havelaar, anda dapat itu dari Padang. Dan, bagaimana selanjutnya?”—“Tak ada lagi lanjutannja. Anda tahu akhir cerita itu?—“Tentu saja, saya sudah makan kalkun itu, bersama-sama dengan ... orang lain. Tahukah anda mengapa saya di Padang dibebastugaskan?—“Kata orang ada kekurangan dalam kas anda di Natal, jawab Verbrugge.—“Itu ada benarnya, tapi tidak seluruhnya benar. Di Natal saya karena bermacam-macam sebab ceroboh sekali dalam pertanggungan jawab keuangan, sehingga banyak saya mendapat tegoran. Tapi yang demikian itu banyak terjadi waktu itu, keadaan di Utara Pulau Sumatra, tidak lama sesudah penaklukan Baros, Tapus dan Singkel, begitu kalut, segalanya begitu rusuh, sehingga kita tidak bisa menyalahkan seorang muda yang lebih suka naik kuda dari menghitung uang atau mengisi kasbuk, bahwa semuanya tidak begitu teratur dan cermat, seperti yang dapat dituntut dari seorang pengurus buku di Amsterdam yang kerjanya itu saja. Tanah Batak sedang bergolak, dan anda tahu, Verbrugge, segala yang terjadi di negeri Batak, selalu berpengaruh ke daerah Natal. Malam hari saya tidur berpakaian, supaya segera siap sedia dan itu sering kali perlu. Lagipula bahaya itu menarik,—beberapa waktu sebelum kedatangan saya terbongkar sebuah komplotan untuk membunuh pejabat sebelum saya dan membuat huru hara,—bahaya itu menarik, terutama bagi orang yang baru berusia dua puluh dua tahun, dan karena itu orang jadi tidak cakap mengerjakan kantoran dan tidak dapat bekerja teliti seperti yang diperlukan untuk mengurus soal-soal keuangan dengan baik. Selain itu banyak pikiran-pikiran gila dalam kepala saya ……—“Tidak perlu,” seru nyonya Havelaar kepada seorang pelayan.—“Apa yang tidak perlu?”—“Aku tadi mengatakan supaya memasak lagi apa-apa di-dapur …… dadar misalnya.”—“Ah, …… dan itu tidak perlu lagi karena aku mulai hendak menceritakan tentang pikiran-pikiranku yang gila …… kau nakal, Tine. Baiklah, tapi kaum pria juga punya suara. Verbrugge, anda lebih suka apa, dadar atau sejarah?—“Sukar menjawabnya bagi orang yang tetap hendak bersikap hormat, jawab Verbrugge.—“Dan saya pun lebih suka tidak memilih, tambah Duclari pula, sebab memilih di sini berarti menyalahkan salah seorang, tuan atau nyonya, dan “entre lecorce et le bois, il ne faut pas mettre le doigt”².—“Saya akan tolong tuan-tuan, dadar itu ……”—“Nyonya, kata Duclari yang sangat hormat, dadar itu pastilah sama berharga seperti ……—“Seperti sejarah? Tentu, kalau ia berharga, tapi ada keberatannya ……—“Bertaruh bahwa belum ada gula di rumah, seru Verbrugge, ah, suruuhlah ambil di rumah saya apa yang anda perlu.—“Ada gula …… dari nyonya Slotering; bukan, bukan itu soalnya. Jika dadarnya baik, itu bukan soal ……—“Jadi, bagaimana, nyonya, apakah ia jatuh ke dalam api?”—“Sekiranya itu benar! Tidak, ia tidak dapat jatuh ke dalam api; ia ……….—“Tapi Tine, seru Havelaar, jadi apa yang terjadi???”—“Dadar itu tidak dapat ditimbang, Max, seperti seharusnya wanita-wanitamu di Arles …… Aku tidak punya dada …… aku tidak punya apa-apa lagi.—“Jika demikian, demi Tuhan, sejarah saja, kata Duclari dengan keputusasaan yang lucu.—“Tapi ada kopi, seru Tine.—“Baiklah; mari kita minum kopi di serambi depan, dan panggil nyonya Slotering dan gadis-gadis, kata Havelaar, dan mereka pun pindah keluar.—“Aku rasa dia tidak mau, Max, kau tahu makan pun dia tidak mau bersama kita, dan aku tidak bisa menyalahkannya.”—“Mungkin dia telah mendengar bahwa aku suka menceritakan hal-hal yang sudah terjadi, kata Havelaar, dan karena itu ia enggan mendekat.—“Ah, tidak, Max, bukan itu soalnya, dia tidak mengerti bahasa Belanda. Tidak, dia mengatakan kepadaku bahwa ia hendak mengurus rumah tangganya sendiri, dan aku mengerti. Kau masih ingat bagaimana kau menerjemahkan namaku, E.H.v.W.³?—“Eigen haard veel waard,—dapur sendiri sangat berharga.
— “Itu dia. Dia benar; lagi pula dia nampaknya tidak suka bergaul dengan orang lain. Bayangkan, jika disuruhnya penjaga-penjaga mengusir semua orang yang tidak dikenal dari pekarangannya …….—“Saya minta sejarah atau dadar,” kata Duclari.—“Saya juga,” seru Verbrugge, dalih-dalih tidak diterima. Kami berhak mendapat makanan yang lengkap, karena itu saya minta cerita kalkun.—“Itu sudah saya ceritakan, kata Havelaar kalkun itu saya curi dari jenderal Van Damme, dan saya makan dengan seseorang.—“Sebelum seseorang itu masuk surga, kata Tine dengan jenaka.—“Tidak, itu curang, seru Duclari, kami harus tahu mengapa anda curi kalkun itu.”—“Tentu saja karena saya lapar, dan itu adalah salah jenderal Van Damme yang memberhentikan saya untuk semetara.”—“Kalau anda tidak mau menceritakan lebih banyak, lain kali saya akan bawa sendiri dadar, kata Verbrugge.—“Percayalah, tidak ada rahasia di belakangnya. Dia banyak punya kalkun, dan saya tidak punya seekor pun. Binatang-binatang itu dihalau melewati pintu saya; saya tangkap seekor, dan saya berkata kepada orang yang berlagak menjaganya: “katakan kepada jenderal bahwa saya, Max Havelaar, menangkap kalkun ini, karena saya hendak makan.”—“Lalu, epigram itu?”—“Verbrugge bercerita tentang itu kepada anda?”—“Ya.”—“Itu tidak ada pertaliannya dengan kalkun. Itu disebabkan karena ia membebastugaskan banyak pejabat-pejabat; di Padang ada tujuh atau delapan orang yang dibebastugaskannya dengan cara yang kurang atau lebih adil. Kebanyakan di antara mereka kurang pantas mendapat hukuman demikian, lebih kurang daripada saya. Asisten residen Padang sendiri di sekorsnya, dengan alasan yang saya kira bukan alasan yang dikemukakan dalam surat keputusan. Saya akan ceritakan itu kepada anda, Meskipun saya tidak bisa memastikan bahwa saya mengetahui segalanya dengan betul, dan hanya menceritakan kembali apa yang dianggap orang benar di Padang, dan yang juga mungkin benar, terutama jika kita perhatikan sifat-sifat jenderal itu.
Ia kawin dengan isterinya untuk memenangkan pertaruhan; taruhannya satu angker anggur. Jadi dia sering keluar malam, dan ngeluyur ke mana-mana. Pejabat sementara Valkenaar konon pernah memukulnya di jalan sepi dekat rumah piatu gadis-gadis sebagai pelanggar jalan biasa, ketika ia berjalan di sana secara in cognito. Tidak jauh dari sana tinggal Miss ... Ada desas desus bahwa Miss itu melahirkan seorang bayi yang kemudian menghilang. Asisten residen baru saja bermaksud hendak campur tangan dalam perkara ini, dan maksudnya itu rupanya diucapkannya malam hari ketika diadakan pertemuan bermain kartu di rumah jenderal. Keesokan harinya ia menerima perintah untuk pergi ke suatu daerah, di mana kontelir yang memerintah daerah itu disekors karena tidak jujur,—entah benar entah tidak,—untuk mengadakan pengusutan dan “memberikan kabar” tentang itu. Asisten residen itu agak heran juga, bahwa ia diperintahkan mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungan dengan daerahnya, tapi karena ia, sebenarnya dapat menganggap perintah itu sebagai suatu kehormatan, dan karena ia bersahabat baik dengan sang jenderal, sehingga ia tidak beralasan untuk curiga diperangkap, maka diterimanyalah tugas itu, dan ia pun berangkat ke ... saya tidak ingat lagi ke mana, untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya. Sesudah beberapa waktu ia kembali, dan memasukkan suatu laporan yang bunyinya tidak menyalahkan kontelir itu. Tapi lihatlah, sementara itu orang di Padang mengetahui, yakni setiap orang dan tidak siapa-siapa, bahwa kontelir itu hanya dibebastugaskan, agar terbuka kesempatan untuk memindahkan asisten residen dari tempat itu, supaya ia tidak dapat melaksanakan maksudnya untuk mengusut hilangnya bayi tersebut, atau sedikitnya memperlambat pengusutan itu sehingga bertambah sukar mencari keterangan. Sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak tahu apakah ini benar, tapi sesudah saya kemudian lebih banyak mengetahui tentang jenderal Van Damme, maka cerita itu saya rasa dapat dipercaya; pun di Padang tidak ada orang yang meragukan bahwa ia dapat melakukan yang demikian, menilik keruntuhan akhlaknya. Kebanyakan orang hanya melihat satu sifatnya yang menonjol, yakni keberanian dalam bahaya; dan jika saya, yang pernah melihatnya dalam bahaya, berpendapat bahwa ia apres tout⁴ adalah seorang yang berani, maka hal itu hanya akan menggerakkan hati saya untuk tidak menceritakan kisah ini. Memang benar, di Sumatra banyak yang “disuruhnya babat", tapi kalau kita lihat sendiri dari dekat, tidak seberapa juga keberaniannya itu, dan betapa pun aneh kedengarannya, saya kira keharuman namanya sebagai prajurit sebagian besar disebabkan karena kecenderungan kita mempertentang-tentangkan, kecenderungan yang sedikit banyaknya ada pada kita semua. Orang suka berkata: benar bahwa Peter atau Paulus begini, begini atau begini, tapi itulah dia, biarkan dia begitu; tapi pastilah anda akan dipuji, jika anda mempunyai kekurangan yang besar, yang mencolok mata. Misalnya anda, Verbrugge, tiap hari mabuk saja ……—“Saya?" tanya Verbrugge, yang merupakan teladan orang yang sedikit sekali minum.—“Ya, saya membuat anda mabuk, tiap hari. Anda begitu mabuk sehingga malam hari Duclari tersandung pada tubuh anda di serambi depan. Dia tidak senang dengan kejadian itu, tapi segera ia teringat ada sesuatu sifat yang baik pada anda, yang dahulu tidak menarik perhatiannya. Dan jika saya datang, dan saya temukan anda begitu ……. horisontal, maka ia akan memegang tangan saya, dan berkata: “ah, percayalah, biasanya ia baik, saleh dan pandai!"
— “Itu saya katakan tentang Verbrugge, juga apabila ia berdiri, vertikal, kata Duclari.—“Tapi tidak begitu berapi-api dan penuh keyakinan. Co-balah ingat betapa sering orang berkata: “O, kalau laki-laki itu suka berhati-hati, pasti ia jadi orang berarti, tapi …….” lalu menyusul cerita bagaimana ia tidak berhati-hati, jadi bahwa ia bukan siapa-siapa. Dan saya kira saya tahu sebabnya. Pun menganai orang yang sudah meninggal kita hanya mendengar yang baik-baiknya saja, yang dahulu tidak pernah diperhatikan. Ini disebabkan karena mereka itu tidak mengganggu siapa-siapa lagi. Semua orang boleh dibilang bersaing; kita ingin menundukkan orang lain seluruhnya dan dalam segala hal. Tapi kita tak dapat mengucapkannya karena kurang sopan dan malahan karena kepentingan kita sendiri, sebab segera juga tidak ada orang yang percaya kepada kita, Meskipun kita mengatakan sesuatu yang benar. Jadi, harus dicari jalan memutar, dan lihatlah bagaimana kita melakukannya. Jika anda, Duclari, mengatakan: “letnan Slobkous seorang prajurit yang baik, sungguh, ia seorang prajurit yang baik, saya tidak cukup mengatakan kepada anda betapa baik letnan Slobkous sebagai prajurit …… tapi dia bukan seorang ahli teori” …… bukankah anda mengatakan demikian Duclari?”—“Saya tidak pernah mengenal atau melihat seorang letnan yang bernama Slobkous.”—“Baiklah, ciptakan seorang, dan katakan demikian tentang dirinya.”—“Baik, saya ciptakan dia dan saya katakan demikian.”—“Tahukah anda, apa yang anda katakan sekarang? Anda mengatakan bahwa anda, Duclari, “a kheval”⁵, mengenai teori. Saya tidak lebih baik sedikit pun. Percayalah, kita berlaku tidak adil untuk memarahi orang yang jahat, sebab orang yang baik di antara kita sangat dekat kepada yang jahat. Sebutlah kesempurnaan itu nol, dan yang jahat seratus derajat, alangkah kelirunya kita, kita yang terumbang-ambing antara sembilan puluh delapan dan sembilan puluh sembilan, menyeru “haro”⁶ kepada seseorang, yang berdiri di atas seratus satu. Dan saya kira masih banyak orang yang tidak mencapai derajat yang keseratus karena ketiadaan sifat-sifat yang baik, misalnya keberanian, untuk sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri."—“Aku berdiri pada derajat keberapa, Max?"—“Aku memerlukan kaca pembesar untuk bagian-bagian derajat yang lebih kecil, Tine."—“Saya keberatan, seru Verbrugge,—tidak nyonya, bukan terhadap dekatnya anda kepada nol,—bukan, ada pejabat-pejabat yang dibebastugaskan, ada bayi yang hilang, ada seorang jenderal dituduh …… saya minta “la piece”⁷!—“Tine, usahakanlah supaya lain kali ada apa-apa di rumah. Tidak, Verbrugge, anda tidak akan mendapat “la piece", sebelum saya puas bicara tentang pertentangan-pertentangan yang saya senangi. Saya mengatakan: tiap orang melihat dalam manusia sesamanya semacam saingan. Orang tidak boleh selalu mencela, hal itu akan mencolok, karena itu kita suka memuji suatu sifat yang baik berlebih-lebihan, supaya tambah menje-laskan sifatnya yang buruk, yang sebenarnya itulah yang hendak kita tonjolkan, tanpa memberikan kesan bahwa kita berpihak. Jika ada orang yang marah kepada saya, karena saya mengatakan: “anak gadisnya cantik, tapi ayahnya seorang pencuri," maka saya menjawab: “bagaimana anda marah tentang itu, saya mengatakan bahwa anak anda seorang gadis yang manis." Anda mengerti, bahwa jawaban ini menguntungkan lipat ganda. Kami keduanya adalah tukang warung; saya menarik langgan-annya yang tidak mau membeli rusen pada seorang pencuri,—dan sekaligus orang mengatakan tentang saya, bahwa saya seorang baik, sebab saya memuji anak gadis seorang saingan."—“Ah, tidak begitu buruk maksudnya, kata Duclari, itu terlalu."—“Anda berpendapat demikian, karena perbandingannya saya buat singkat dan tegas. Anda harus membayangkan ucapan saya: “dia seorang pencuri” sebagai ucapan terselubung. Tapi, jika kita sungguh-sungguh hendak mengakui bahwa seseorang memiliki suatu sifat yang patut dihormati, dijunjung atau dikagumi, maka kita merasa senang jika dapat menemukan di samping sifat itu sesuatu yang kurang, yang membebaskan kita sebagian atau seluruhnya dari upeti berupa sanjungan yang wajiib. “Kepada penyair semacam itu, kita harus hormat, tapi …… ia memukul isterinya.” Lalu kita pakai bekas-bekas yang biru pada badan perempuan itu sebagai alasan untuk tidak menghormati penyair itu; dan akhiirnya kita merasa senang bahwa ia memukul isterinya, yang sungguh merupakan suatu perbuatan yang buruk. Jika kita harus mengakui bahwa seseorang mempunyai sifat-sifat yang membuat ia pantas dijunjung tinggi; jika kita tidak dapat lebih lama mengingkari keistimewaan-nya, tanpa orang menuduh kita tidak tahu apa-apa, tidak punya perasaan atau iri hati, maka kita mengatakan: “baiklah, dia patut dijunjung tinggi!” Tapi sementara orang menaruhnya di atas tempat yang tinggi, dan orang yang diharga itu mengira bahwa kita sungguh kagum dengan keistimewaan-nya, kita sudah membuat jerat di dalam “lasso” yang dimaksud untuk menarik nya ke bawah, pada kesempatan baik yang pertama. Makin banyak mutasi di antara “inhaber”⁸, pijakan kaki, makin besar harapan bagi setiap orang untuk mendapat giliran pula, dan ini adalah suatu kenyataan, sehingga kita karena kebiasaan, dan untuk latihan, seperti seorang pemburu yang menembak burung gagak tanpa memungutnya, juga ingin meruntuhkan patung-patung, yang dipijakannja tidak akan pernah kita naiki. Jika Kappelman⁹ makan sirkol dan minum bir murah, ia suka berkata; “Iskandar tidak agung …… dia serba berlebih-lebihan," Walaupun Kappelman tidak perlu bersaing dengan Iskandar dalam penaklukan dunia.
Bagaimanapun juga, saya yakin bahwa kebanyakan orang tidak akan pernah menganggap jenderal Van Damme begitu berani, jika keberaniannya itu tidak dapat dipergunakan untuk ucapan yang selalu ditambahkan: “tapi ... tidak punya rasa susila!" Lagipula, ketiadaan rasa susila itu tidak akan dianggap begitu penting oleh kebanyakan orang, yang juga bukan orang yang bersih sama sekali, jika mereka tidak memerlukannya untuk meniadakan keharuman namanya sebagai orang yang berani, yang membuat beberapa orang tidak dapat tidur.
Satu sifatnya yang istimewa: ia punya kemauan yang kuat. Apa yang diniatkannya harus terjadi, dan biasanya terjadi juga kemudian. Tapi, --- anda lihat bahwa saya segera mengemuka-kan kebalikannya lagi, --- tapi dalam memilih cara-cara, dia agak ... bebas; dan seperti Van der Palm¹⁰, menurut anggapan saya kurang tepat, mengatakan tentang Napoleon: “rintangan-rintangan kesusilaan tidak pernah menjadi halangan baginya," maka tentu lebih mudah orang mencapai tujuannya dari apabila ia merasa terikat oleh rintangan semacam itu.
Singkatnya, asisten residen Padang memberikan laporan yang baik bunyinya mengenai kontelir yang dibebastugaskan itu, yang karena itu pemecatannya dirasakan kurang adil. Desas desus di Padang terus juga beredar, orang bicara tentang sianak yang hilang, asisten residen terpaksa memeriksa lagi perkara itu, tapi sebelum ia sempat menjernihkan persoalan, ia mendapat surat keputusan dari gubernur Sumatera Barat yang membebas-tugaskannya “karena melalaikan kewajiiban." Dikatakan bahwa ia, karena rasa persahabatan atau rasa kasihan, memberikan gambaran yang palsu tentang perkara kontelir itu, Meskipun ia mengetahui hal yang sebenarnya.
Saya tidak membataya surat menyurat mengenai perkara ini, tapi saya tahu bahwa asisten residen itu sama sekali tidak punya hubungan dengan kontelir itu, buktinya, orang memilih dia untuk memeriksa perkara itu; selain itu saya tahu bahwa ia seorang yang terhormat dan bahwa pemerintah pun menganggapnya demikian, buktinya, pemecatannya dibatalkan sesudah perkara itu selesai diperiksa, di tempat lain di luar Sumatera Barat. Pun kontelir itu kemudian direhabilitasi. Pemecatan mereka itulah yang memberikan saya ilham untuk menulis epigram itu, yang saya suruh letakkan di atas meja makan jenderal, oleh seorang yang waktu itu bekerja padanya dan dulu bekerja pada saya.
Putusan pemecatan berpindah-pindah, memerintah kita sambil memecat, Yang Serbapecat, gubernur, manusia serigala zaman sekarang, Memecat nuraninya sendiri dengan gembira,—Kalau belum ia memecatnya lama sudah untuk selamalamanya.
— “Saya rasa itu tidak pantas," kata Duclari.—“Saya juga, ... tapi saya harus melakukan sesuatu. Bayangkan, saya tidak punya uang, tidak menerima apa-apa, sehari demi sehari saya takut mati kelaparan, dan itu memang hampir terjadi. Saya tidak punya relasi di Padang, atau sedikit sekali, lagipula saya telah mengatakan kepada jenderal bahwa dialah yang bertanggungjawab kalau saya mati karena penderitaan, dan bahwa saya tidak akan menerima bantuan dari siapa pun juga. Di pedalaman ada orang yang mendengar tentang keadaan saya dan mengundang saya untuk datang ke rumahnya, tapi jenderal melarang memberikan surat jalan kepada saya untuk pergi ke sana. Berangkat ke Jawa pun saya tidak boleh. Di mana-mana saya bisa menolong diri saya sendiri, dan barangkali juga di sana, kalau orang tidak begitu takut kepada jenderal yang maha kuasa itu; rupanya dia bermaksud membiarkan saya mati kelaparan. Itu berlangsung sembilan bulan lamanya!"
— “Dan bagaimana anda dapat bertahan selama itu; atau apakah jenderal itu banyak punya kalkun?”—“Tidak, saya hanya melakukan itu sekali …… saya menulis sajak-sajak, dan komedi-komedi, …… dan sebagainya ……”—“Dan anda bisa beli beras dengan itu di Padang?”—“Tidak, dan saya pun tidak minta beras untuk itu, …… tidak, lebih baik tidak saya katakan bagaimana saya hidup waktu itu.” Tine menjabat tangannya, dia tahu.—“Saya membaca beberapa baris, yang kabarnya anda tulis waktu itu, di belakang sehelai kwitansi,” kata Verbrugge.—“Saya tahu apa maksud anda; baris-baris itu melukiskan keadaan saya. Ketika itu ada sebuah majalah, “De Kopiist”, saya berlangganan. Karena majalah itu dilindungi oleh pemerintah,—redakturnya amtenar pada Sekretari Umum,—wang langganannya dibayar kepada kas negeri. Saya disodori kwitansi sejumlah dua puluh gulden. Wang itu harus diurus di biro-biro gubernur, dan kwitansi itu jika tidak dibayar, harus melalui biro-biro itu untuk dikembalikan ke Betawi, maka saya pergunakan kesempatan itu untuk memprotes kemiskinan saya di belakang kwitansi:
Vingt florins …… quel tresor! Adieu, litterature, Adieu, Copiste, adieu! Trop malheureux destin Ye meurs de faim, de froid, dennui et de khagrin, …… Vingt florins font pour moi deux mois de nourriture. Si yavais vingt florins …… ye serais mieux khausse, Mieux nourri, mieux loge; yen ferais bonne khere …… Il faut vivre avant tout, soit vie de misere: Le crime fait la honte, et non la pauvrete.
Tapi ketika kemudian saya membawa dua puluh gulden kepada redaksi “Kopiist”, dikatakan bahwa saya tidak usah bayar apa-apa. Rupanya jenderal itu sendiri yang membayarkan untuk saya, supaya tidak terpaksa mengirim kembali kwitansi yang bertulis itu ke Betawi.
— “Tapi, ... apa yang dilakukannya sesudah anda mengambil kalkun itu, itu kan pencurian, dan sesudah epigram itu?”
— “Dia menghukum saya kejam sekali. Jika saya untuk soal-soal itu disuruhnya adili karena bersalah tidak menghormati gubernur Sumatera Barat, hal mana pada waktu itu bisa saja ditasfirkan sebagai “usaha untuk merobohkan kekuasaan Belanda, dan menghasut untuk berontak", atau “mencuri di-jalan umum", maka ia membuktikan bahwa ia seorang manusia yang baik hati. Tapi tidak, dia menghukum saya dengan cara yang lebih baik! Kepada orang yang menjaga kalkun itu ia memerintahkan supaya selanjutnja mengambi jalan lain, dan mengenai sajak saya ... itu lebih sial lagi, dia tidak mengatakan apa-apa, dan tidak berbuat apa-apa. Itulah yang kejam! Dia sama sekali tidak memberi saya kesempatan untuk menjadi martir ... saya tidak menjadi penting karena dituntut, dan tidak boleh merasa claka karena kepetahan saya yang keterlaluan ... sungguh, saya jadi muak dengan epigram dan kalkun. Karena tidak adanya perhatian padamlah api jeni, sampai nyalanya yang terakhir ... inklusif! Saya tidak pernah melakukannya lagi.
¹ Tentang Madame Scarron diceritakan bahwa karena makanan serba irit, ia terpaksa menghidangkan cerita-cerita sebagai jamuan.
² Janganlah memasukkan jari antara kulit dan kayu, janganlah campur tangan dalam pertentangan keluarga.
³ Singkatan nama lengkap istri Max Havelaar: Everdine Huberte van Wiynbergen. Sama dengan singkatan Eigen Haard veel Waard = Dapur sendiri sangat berharga.
⁴ Betapa pun juga.
⁵ Hebat, senang sekali.
⁶ Cis.
⁷ Tanda bukti.
⁸ Pemilik.
⁹ Penamaan bagi tipe orang kecil.
¹⁰ Pengarang Belanda abad ke-19.
Bab XIII
— “Dan bolehkah sekarang kami tahu mengapa anda dibebastugaskan?” tanya Duclari.
— “O ya, semua yang saya katakan ini sungguh benar dan malahan masih bisa dibuktikan; anda akan bisa melihat bahwa saya tidak berlaku lancang, dalam cerita saya mengenai anak yang hilang, desas-desus di Padang itu tidak bisa ditolak begitu saja, sebab sangat bisa masuk akal jika orang sudah mengenal jenderal itu dalam hal-hal yang mengenai diri saya.
Di dalam rekening-rekening kas saya di Natal ada yang kurang teliti dan kelalaian-kelalaian. Anda tahu, kurang teliti mengaki-batkan kerugian; tidak pernah orang untung karena kesem-bronoan. Dikatakan bahwa ketekoran ada ribuan gulden. Tapi, perhatikanlah, selama saya di Natal, tidak pernah orang me-ngatakannya kepada saya. Tiba-tiba saja saya dipindahkan ke negeri-negeri hulu Padang. Anda tahu, Verbrugge, bahwa di Sumatera, penempatan di hulu Padang dianggap lebih mengun-tungkan dan lebih menyenangkan dari penempatan di residensi Utara. Beberapa waktu sebelumnya saya bertemu gubernur itu di kantor saya,—nanti anda akan tahu mengapa, dan bagaimana,—dan selama ia bermukim di daerah saya dan malahan di rumah saya, ada terjadi hal-hal, di mana saya merasa berkelakuan “sa-ngat baik”; karena itu saya menganggap kepindahan itu sebagai suatu kehormatan, dan saya pun berangkat dari Natal ke Padang. Saya berlayar dengan kapal Perancis: “Baobab”, dari Marseille, yang barusan memuat lada Aceh, dan, tentu saja, di Natal “kehabisan air minum". Ketika saya tiba di Padang dengan mak-sud dari sana berangkat kepedalaman, tentu saja saya ingin menghadap gubernur, tapi kepada saya dikatakan bahwa ia tidak bisa menerima saya, dan bahwa keberangkatan saya ke tempat pekerjaan yang baru itu harus ditunda sampai ada perintah lagi. Anda mengerti bahwa saya amat heran tentang hal ini, lebih-lebih karena di Natal ia meninggalkan saya dengan perasaan yang membuat saya mengira bahwa ia menyenangi saya. Saya tidak banyak kawan di Padang, tapi dari kawan-kawan yang sedikit itu saya mendengar, atau lebih tepat, saya mendapat kesan dari mereka itu, bahwa sang jenderal sangat gusar kepada saya. Saya katakan saya mendapat kesan, sebab, di pos luar seperti Padang waktu itu, sikap baik kebanyakan orang dapat menjadi ukuran apakah seseorang disenangi oleh gubernur. Saya merasa akan timbul badai, tapi saya tidak tahu dari mana datangnya. Karena saya memerlukan uang, saya minta pinjaman kepada beberapa orang, tapi saya sungguh heran, di mana-mana orang mengatakan tidak punya uang. Di Padang, dan demikian juga di tempat-tempat lain di Hindia, pikiran orang dalam hal itu biasanya luas. Orang dengan senang hati, dalam hal yang lain, memberikan uang muka beberapa ratus gulden kepada seorang kontelir yang dalam perjalanan, dan tiba-tiba tidak bisa meneruskan perjalananjna. Tapi orang tidak mau menolong saya sama sekali. Saya bertanya kepada beberapa orang apa sebab saya dicurigai, dan “de fil en aiguille"¹ saya akhi-rinya mendapat tahu, bahwa orang menemukan kesalahan-kesalahan dan kelalaian-kelalaian dalam urusan keuangan yang di-percayakan kepada saya di Natal, hal mana menyebabkan saya dicurigai “tidak jujur dalam administrasi". Bahwa ada kesalahan-kesalahan dalam administrasi saya, tidak mengherankan bagi saya. Saya akan heran jika dikatakan yang sebaliknya. Sang gubernur sendiri telah melihat bagaimana saya terus menerus jauh dari kantor saya, bergulat dengan ketidaksenangan penduduk dan percobaan-percobaan mengadakan pemberontakan, sehingga ia memuji saya sebagai orang yang “berani", bagaimanakah ia dapat menyebut saya tidak setia atau tidak jujur; dia sendiri, lebih-lebih dari orang lain, tahu bahwa di dalam hal ini tidak ada lain dari “force mayeure"².
Dan Sekalipun orang tidak mau mengakui force mayeure itu, Meskipun orang menganggap saya bertanggungyawab terhadap-kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat-saat saya, kerap kali dengan menghadapi bahaya maut, jauh dari kas dan yang semacam itu, harus menyerahkan penyelenggaraannya kepada orang lain, Meskipun orang menuntut dari saya, bahwa saya harus melakukan pekerjaan yang satu tanpa melalaikan yang lain, masih dapat saya mengatakan bahwa saya hanya dapat disalahkan karena ceroboh, tapi bukan sama sekali “tak setia". Lagipula pada masa itu terutama, ada contoh-contoh di mana pemerintah mengakui sukarnya kedudukan kebanyakan pejabat negeri di Sumatera, dan nampaknya “dalam prinsipnya" diterima, untuk tidak bersikap keras dalam hal-hal semacam itu. Dirasa sudah cukup untuk meminta kembali uang yang kurang dari pejabat-pejabat bersangkutan, dan haruslah ada bukti-bukti yang jelas sekali baru orang mengucapkan perkataan “tak setia". Saya pun di Natal mengatakan sendiri kepada gubernur, bahwa saya kuatir sesudah memeriksa perhitungan saya di kantor-kantor di Padang, akan harus membayar banyak, lalu dia menjawab sambil mengangkat bahu: “Ah ... soal keuangan itu ...” seolah-olah ia merasa sendiri bahwa yang tidak penting harus mengalah kepada yang penting.
Memang saya harus mengakui bahwa soal-soal keuangan adalah penting, tapi Bagaimanapun pentingnya, di dalam hal ini masih kurang penting dari lain-lain urusan dan kegiatan. Diyika karena sembrono atau karena lalai ada kekurangan beberapa ribu dalam kas saya, maka saya sebut ini bukan perkara kecil; tapi jika kekurangan beberapa ribu itu disebabkan karena usaha-usaha saya yang berhasil untuk mencegah pemberontakan yang akan membakar daerah Mandailing, dan mengembalikan orang Aceh ke tempat-tempat dari mana kami baru saja mengusir mereka dengan banyak mengorbankan uang dan rakyat, maka kekurangan itu tidak apa-apa, dan adalah kurang adil untuk menuntut pembayarannya kembali dari orang yang telah menyelamatkan kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar.
Namun saya setuju dengan pembayaran kembali, sebab jika tidak diminta kembali, maka pintu akan terbuka lebar bagi ketidakjujuran.
Sesudah tinggal beberapa hari, anda bisa bayangkan dengan pikiran bagaimana, saya menerima surat dari sekretari gubernur, di mana dikatakan bahwa saya diragukan kesetiaan saya, dan diminta supaya saya menjawab beberapa pertanyaan yang menyangkut hal-hal yang terjadi di kantor saya. Beberapa hal segera dapat saya jelaskan, tentang beberapa yang lain saya perlu membacai surat-surat, dan terutama penting bagi saya untuk memeriksa beberapa hal di Natal. Saya harus memeriksa pada klerk-klerk atau pegawai-pegawai sebab-sebab timbulnya kekeliruan-kekeliruan dan mungkin sekali saya di kota itu akan berhasil dalam usaha-usaha saya untuk menjelaskan segalanya. Kelalaian misalnya untuk menghapuskan uang yang dikirim ke Mandailing,—anda tahu, Verbrugge, bahwa pasukan-pasukan di pedalaman dibayar dari kas Natal,—atau kelalaian semacam itu, yang mungkin segera dapat ditemukan, jika saya dapat memeriksa di tempat, itulah mungkin yang menyebabkan timbulnya kesalahan-kesalahan yang menyedihkan itu. Tapi sang jenderal tidak mengizinkan saya berangkat ke Natal. Penolakannya itu membuat saya lebih-lebih memperhatikan anehnya cara saya dituduh tidak setia. Mengapa saya tiba-tiba dipindahkan dari Natal, pada hal dia seolah-olah menyenangi saya, jika ia mencurigai kesetiaan saya? Mengapa saya baru diberitahu tentang kecurigaan yang memalukan itu sesudah saya jauh dari tempat di mana saya mempunyai kesempatan untuk mempertanggung-jawabkan diri saya? Dan terutama, mengapa perkara itu disodorkan kepada saya begitu tiba-tiba dengan kesannya yang sangat buruk, bertentangan dengan kelaziman dan keadilan?
Sebelum saya dapat menjawab semua tuduhan itu sebaik-baiknya, tanpa arsip atau keterangan lisian, saya mendengar, bahwa sang jenderal sangat gusar kepada saya: “karena saya di Natal telah melawan kemauannya” hal mana kata orang menambahkan, “adalah kesalahan yang besar” dari pihak saya.
Maka timbullah sesuatu dalam pikiran saya. Ya, saya telah melawan kemauannya, tapi dengan naif saya mengira bahwa ia akan menghormati saya karena itu. Saya telah melawan kemauannya, tapi waktu ia berangkat tidak ada sesuatu yang memberi alasan kepada saya untuk menduga bahwa ia gusar karena itu; saya bodoh, kepindahan yang menguntungkan ke Padang saya terima sebagai bukti bahwa “perlawanan” saya menyenangkan hatinya. Anda akan lihat betapa sedikit saya mengenalinya waktu itu.
Tapi sesudah mendengar bahwa inilah sebabnya orang membang administrasi keuangan saya dengan begitu tajam, maka saya merasa tenang. Pasal demi pasal saya jawab sebaik-baiknya, dan saya akhiri surat saya, saya masih punya aslinya, dengan kata-kata:
“Saya telah menjawab kritikan-kritikan terhadap administrasiy yang saya pegang, sebaik yang mungkin saya lakukan tanpa arsip atau pemeriksaan di tempat. Saya mohon Paduka Yang Mulia supaya jangan memakai pertimbangan-pertimbangan yang lunak terhadap diri saya. Saya masih muda dan tidak berarti dibandingkan dengan kekuasaan pengertian-pengertian yang berlaku yang harus saya lawan demi prinsip-prinsip saya, tapi saya tetap bangga atas kebebasan saya yang berdasarkan susila, bangga atas kehormatan saya.”
Keesokan harinya saya dibebaskan karena administrasi yang tidak jujur, Jaksa Umum diperintahkan untuk melakukan “tugas dan kewajiannja” terhadap saya.
Demikianlah saya berada di Padang, dalam usia belum lagi duapuluh tiga tahun, memandang kemasa depan yang akan membawa kekejian kepada saya. Ada orang menasehati saya untuk mengemukakan usia saya yang masih muda,—saya belum dewasa ketika melakukan kesalahan-kesalahan yang dituduhkan itu,—tapi saya tidak mau. Saya sudah terlalu banyak berpikir dan menderita, dan saya berani berkata, sudah terlalu banyak bekerja, karena itu saya tidak mau bersembunyi di belakang usia saya yang masih muda. Anda lihat dari penutup surat yang saya kutip tadi, bahwa saya tidak mau diperlakukan sebagai anak kecil, saya yang di Natal telah melakukan kewajiiban saya terhadap sang jenderal sebagai laki-laki; lagipula dari surat itu dapat anda lihat betapa tidak tepat dasar tuduhan yang dilontarkan orang terhadap diri saya, sebab barangsiapa yang bersalah, dia tidak akan menulis begitu.
Orang tidak menangkap saya, dan ini seharusnya terjadi, kalau tuduhan itu dianggap sungguh-sungguh. Barangkali kelalaian yang kelihatan itu bukan tidak beralasan. Orang kurungan harus diberi makanan dan rawatan. Karena saya tidak dapat meninggalkan Padang, sebenarnya saya adalah seorang kurungan, tapi seorang kurungan tanpa atap dan tanpa makanan. Saya berkali-kali menulis surat kepada sang jenderal, dengan sia-sia, bahwa ia tidak boleh menghalangi keberangkatan saya dari Padang, sebab Meskipun saya bersalah, tidak boleh kejahatan saya dihukum dengan “menderita kelaparan".
Majelis pengadilan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dan akhirnya memutuskan bahwa mereka tidak berwenang, sebab tuntutan kejahatan yang dilakukan dalam hubungan dinas, hanya dapat dijalankan, jika ada izin dari pemerintah di Betawi. Sesudah itu sang jenderal, sebagaimana saya katakan, menahan saya sembilan bulan di Padang. Akhirnya gubernur jenderal Merkus memerintahkan kepadanya untuk memberangkatkan saya ke Betawi.
Sesudah saya beberapa tahun kemudian mendapat wang sedikit,—Tine-ku sayang, kaulah yang memberikannya,—saya bayar beberapa ribu gulden untuk mencocokkan rekening-rekening di Natal tahun 1842 dan 1843, lalu berkata seseorang
yang dapat dianggap sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda: “kalau saya di tempat anda, saya tidak akan melakukan itu …… saya tidak akan membayarnya untuk selama-lamanya. Ainsi va le monde!”³
Baru saja Havelaar hendak memulai cerita yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh tamu-tamunya dan yang akan menjelaskan dalam hal apa dan mengapa ia “melawan kemauan” jen-deral Van Damme di Natal, nyonya Slotering muncul di serambi depan rumahnya, dan menggamt opas polisi yang duduk di atas bangku di samping rumah Havelaar. Opas itu pergi kepadanya, dan meneriakkan sesuatu kepada seorang laki-laki yang tadi masuk ke dalam pekarangan, rupanya dengan maksud hendak pergi ke dapur yang letaknya di belakang rumah. Kami mungkin tidak memperhatikan hal itu, jika siang itu nyonya Havelaar tidak mengatakan waktu makan, bahwa nyonya Slotering sangat penakut dan melakukan semacam pengawasan terhadap tiap orang yang masuk pekarangan. Kami melihat orang yang dipanggil oleh opas itu, menuju kepadanya, dan rupanya nyonya Slotering memajudkan pertanyaan-pertanyaan yang akhirinya tidak dapat dijawab dengan baik oleh orang itu. Artinya, ia berbalik dan keluar lagi dari pekarangan.
— “Sayang sekali, kata Tine, barangkali orang itu hendak menyual ayam atau sayar; saya belum punya apa-apa di rumah.”—“Suruh saja orang membelinya, kata Havelaar, anda tahu bahwa wanita bumiputera suka berkuasa. Suaminya dahulu orang penting di sini, dan Meskipun seorang asisten residen sebenarnya tidak banyak artinya, di dalam wilayahnya ia adalah seorang raja kecil; isterinya belum biasa dengan pikiran bahwa ia tidak berkuasa lagi. Janganlah kita mengambil kenikmatan kecil dari perempuan yang malang itu, buatlah seolah-olah anda tidak melihatnya. Bagi Tine hal ini tidak sukar; dia tidak suka kekuasaan.
Perlu di sini berpanjang kalam, malahan saya hendak berpanjang kalam tentang kepanjangan kalam. Tidak mudah bagi seorang pengarang, mengambil jalan tengah, jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit, dan bertambah sukar lagi kalau ia melukiskan keadaan-keadaan yang menempatkan pembaca di negeri yang tidak dikenal. Terlalu erat hubungan antara tempat-tempat itu dan kejadian-kejadian, sehingga lukisan tempat-tempat itu tidak bisa dihilangkan sama sekali, dan menghindari kedua ranyaw yang saya maksud itu jadi berlipat ganda sukarnya bagi orang yang memilih Hindia, sebagai pentas ceritanya, sebab di mana pengarang yang menggambarkan keadaan-keadaan di Eropa, menganggap banyak yang sudah diketahui, orang yang menampilkan ceritanya bermain di Hindia, harus selalu bertanya kepada dirinya sendiri apakah pembaca yang bukan orang Hindia dapat menanggapi beberapa keadaan dengan tepat. Jikalau pembaca Eropa membayangkan nyonya Slotering “menumpang” pada keluarga Havelaar, sebagaimana halnya di Eropa, maka ia tidak akan mengerti mengapa dia tidak hadir bersama orang-orang yang minum kopi di serambi depan. Memang sudah saya katakan, bahwa ia mendiami rumah tersendiri, tapi untuk pengertian yang tepat dan juga untuk mengerti kejadian-kejadian kemudian, memang perlu saya memperkenalkan kepada anda rumah dan pekarangan Havelaar sekedarnya.
Orang sering menyalahkan pengarang besar yang menulis buku Waverley⁴ bahwa dia acap kali menyalahgunakan kesabaran pembacanya, dengan menyediakan halaman terlalu banyak untuk melukiskan tempat, tapi celaan itu saya rasa tidak beralasan, dan saya kira, untuk menilai kebenaran kritikan yang demikian itu, kita harus memajudkan pertanyaan: apakah perlu pelukisan itu supaya orang mendapat kesan yang tepat tentang apa yang hendak disampaikan oleh pengarang kepadanya? Jika perlu, maka janganlah salahkan dia mengharapkan anda bersusah payah membaca, apa yang dia tuliskan dengan bersusah payah pula; jika tidak, maka lemparkanlah buku itu; sebab pengarang, yang begitu bodoh untuk tanpa ada perlunya memberikan topografi sebagai pengganti buah pikiran, jarang yang cukup berharga untuk dibaca, juga di mana akhirnya lukisannya menganai tempat berhenti. Tapi juga pendapat pembaca tentang perlu atau tidak perlunya suatu penyimpangan, sering kali tidak benar, karena sebelum terjadi bencana dia tidak dapat mengetahui apa yang perlu dan apa yang tidak perlu untuk memperkembangkan keadaan sedikit demi sedikit; dan apabila sesudah terjadi bencana, ia mengambil lagi buku itu,—saya tidak bicara tentang buku-buku yang hanya dibaca sekali,—dan masih berpendapat bahwa penyimpangan ini atau itu bisa dihilangkan tanpa merusak kesan keseluruhan, masih tetap jadi pertanyaan apakah ia dari keseluruhan itu mendapat kesan serupa itu, jika pengarang tidak dengan cara yang sedikit banyak dibuat-buat memberinya kesan itu, justru karena penyimpangan-penyimpangan yang dianggapnya tidak perlu itu.
Apakah anda mengira bahwa kematian Amy Robsart akan begitu mengharukan anda, jika anda seorang asing di serambi-serambi Kenilworth⁵? Dan percayakah anda bahwa tidak ada hubungan antara pakaian yang mewah yang dipakai oleh Lester yang claka itu waktu menemui Amy Robsart, dan jiwanya yang hitam,—hubungan berupa pertentangan? Tidakkah anda merasa bahwa Lester,—semua orang mengetahui hal ini dari sumber-sumber lain dari roman itu,—bahwa ia jauh lebih jahat dari yang dilukiskan dalam Kenilworth? Tapi pengarang roman yang besar itu yang lebih suka memikat dengan cara menyusun warna-warna dengan indah, dari dengan kekasaran warna, merasa di bawah martabatnya untuk mencelupkan penanya dalam segala lumpur dan segala darah yang melekat pada kekasih Elisabeth⁶ yang tak pantas itu. Dia hanya hendak menunjukkan sebuah titik di dalam bencah kotoran itu, tapi dia pandai menampilkan titik-titik demikian dengan memperlihatkan hal-hal lain di samping itu, di dalam tulisan-tulisannya yang abadi. Barangsiapa yang mengira bisa membuang segala yang ditaruh di samping itu karena tidak perlu, sama sekali tidak ingat, bahwa untuk mencari efek, orang harus pindah kepada aliran yang sejak 1830 bersemarak di Perancis begitu lama, Meskipun saya harus mengatakan demi kehormatan negeri itu, bahwa pengarang-pengarang yang dalam hal ini paling banyak melakukan kesalahan terhadap selera yang baik, justru paling dihargai di luar negeri, dan tidak di Perancis sendiri. Pengikut-pengikut aliran itu—saya kira sekarang tidak ada lagi,—merasa mudah meraup ke dalam genangan darah dan melontarkan gumpalan-gumpalan besar ke atas lukisan, supaya kelihatan dari jauh. Mudah saja melukis garis-garis kasar merah dan hitam, lebih mudah dari menarik garis-garis halus yang nampak dalam kelopak kembang bakung. Karena itulah mereka biasanya memilih raja-raja sebagai pahlawan cerita-ceritanya, sebaikna dari zaman dahulu kala ketika bangsa-bangsa masih biadab. Lihatlah, kesedihan raja dilukiskan di atas kertas dengan tangisan rakyat; kemarahannya memberi pengarang kesempatan untuk membunuh beribu-ribu orang di medan perang; kesalahan-kesalahannya memberi peluang untuk melukiskan kelaparan dan penyakit sampar ... itulah yang bisa digambar-kan oleh pensil-pensil yang kasar. Jika anda tidak terharu oleh mayat laki-laki yang tergeletak di sana, nah, di dalam cerita saya ada tempat untuk seorang “lagi” yang masih meregang-regang dan menjerit-jerit; apakah anda tidak menangis melihat ibu yang sia-sia mencari anaknya, nah, saya perlihatkan kepada anda seorang ibu lain yang menyaksikan anaknya dibelah empat; kalau anda belum juga terharu dengan siksaan orang laki-laki itu sampai mati, saya akan melipatgandakan perasaan anda seratus kali dengan menyuruh siksa sembilan puluh sembilan orang lain di sampingnya; jika anda membatu juga dan tidak ngeri melihat serdadu yang memakan tangan kirinya di dalam benteng terkepung karena laparnya ...
Epikuris! Saya usulkan anda memberi komando: “Kanan dan kiri, bentuklah lingkaran, masing-masing makan tangan kiri orang yang berdiri dikanannya …… kerjakan!” Ya, demikianlah seni yang berlebih-lebihan itu menjadi kebodohan, …… saya hanya hendak membuktikannya sambil lalu. Dan itulah yang terjadi jika orang terlalu cepat menyalakan seorang pengarang, yang hendak mempersiapkan anda melihat bencana, tanpa mempergunakan warna-warna menyala. Tapi sebaliknya bahaya lebih besar lagi. Anda benci pengarang yang kasar, yang mencoba menguasai perasaan anda dengan senjata yang begitu kasar, tapi jika pengarang itu menempuh jalan sebaliknya, jika ia melakukan kesalahan dengan terlalu banyak menyimpang dari soal utama, dengan terlalu banyak memperlihatkan garis-garis yang dibikin-bikin, maka anda lebih murka lagi, dan memang pantas anda marah; sebab ia telah menjemukan anda, dan itu tidak bisa diampuni. Kalau kita jalan bersama-sama dan anda selalu menyimpang, dan memanggil saya ke dalam belukar, hanya dengan maksud untuk memperpanjang perjalanan, saya tidak akan senang, dan saya berniat lain kali akan berjalan sendiri. Tapi jika anda dapat menunjukkan saya tumbuhan yang tidak saya kenal, atau saya melihat sesuatu padanya yang dulunya luput dari perhatian saya; jika anda sekali-sekali memperlihatkan kepada saya sekuntum bunga yang ingin saya petik dan taruh dalam lubang kancing saya, maka saya maafkan anda menyimpang, malahan saya berterima kasih kepada anda. Bahkan juga tanpa kembang atau tumbuhan, jika anda mengajak saya ke tepi untuk menunjukkan jalan di antara pohon-pohonan yang nanti akan kita jalani, tapi masih jauh di depan kita jauh di bawah dan melingkar seperti garis yang hampir tidak kelihatan melalui padang di bawah saya, pun dalam hal itu saya tidak akan marah anda menyimpang. Sebab jika kita akhirnya sudah sampai ke sana, tahulah saya betapa jalan kita melingkar-lingkar di pegunungan, apa sebabnya maka matahari yang tadinya berada di sana, sekarang sudah di sebelah kiri kita, mengapa bukit itu sekarang ada di belakang kita, bukit yang puncaknya tadi kita lihat di depan kita ... Dalam hal itu, dengan penyimpangan tadi, anda memudahkan saya mengerti perjalanan saya, dan mengerti adalah suatu kenikmatan.
Saya, saudara pembaca, sering kali meninggalkan anda di jalan besar dalam cerita saya, Meskipun sukar bagi saya untuk tidak membawa anda masuk ke dalam belukar. Saya kuatir perjalanan itu akan menyedihkan anda, karena saya tidak tahu apakah anda senang dengan kembang-kembang atau tumbuh-tumbuhan yang hendak saya tunjukkan kepada anda; tapi karena saya kira bahwa nanti anda akan senang telah melihat jalan kecil yang nanti akan kita jalani, maka saya terpaksa mengatakan sesuatu tentang rumah Havelaar.
Orang keliru jika menggambarkan rumah di negeri Hindia menurut pengertian orang Eropa, dan mengira rumah itu ialah seonggokan batu-batu terdiri dari kamar-kamar besar dan kecil yang tersusun yang satu di atas yang lain, di depannya ada jalan, di kiri kanan tetangga-tetangga, yang dewa-dewa rumahnya bersandar pada dewa-dewa rumah anda, dan di belakangnya sebuah taman dengan tiga pohon bezi. Kecuali beberapa, rumah-rumah di negeri Hindia tidak bertingkat. Ini agak aneh bagi pembaca bangsa Eropa, sebab adalah suatu keanehan peradaban, atau apa yang disebut peradaban, bahwa ia merasa aneh segala apa yang wajar. Rumah-rumah di negeri Hindia lain sekali dari rumah-rumah kita, tapi bukan rumah-rumah itu yang aneh, tapi rumah-rumah kita. Orang yang mula-mula dahulu cukup kaya dan tidak usah tidur bersama dalam satu kamar dengan sapi-sapinya, membuat kamar lain di rumahnya, bukan di atas, tapi di samping kamarnya, sebab membangun selantai lebih mudah dan juga lebih mudah meninggalinya. Rumah-rumah kita yang tinggi dibangun karena kekurangan ruang, kita cari di udara apa yang tidak ada di atas tanah, dan demikianlah sebenarnya tiap gadis pelayan yang malam hari menutup jendela kamar lotengnya di mana ia tidur, merupakan suatu protes terhadap kelimpahan penduduk, Meskipun ia sendiri teringat kepada sesuatu yang lain, hal mana saya percaya.
Jadi, di negeri-negeri, di mana peradaban dan kelimpahan penduduk belum lagi mendorong penduduk ke atas karena di bawah sudah keliwat penuh, rumah-rumah tidak bertingkat, dan rumah Havelaar tidak termasuk kekecualian yang sedikit dalam hal itu. Kalau anda masuk, ... tapi tidak, saya hendak membuktikan bahwa saya tidak hendak melukiskan keindahan. “Di-ketahui”: Sebuah persegi panjang, terbagi atas dua puluh satu bidang, tiga lebar, tujuh tinggi. Anda nomori bidang-bidang itu, dimulai dengan pojok kiri atas, ke kanan, sehingga bidang empat berada di bawah bidang satu, dan begitu seterusnya.
Tiga nomor pertama bersama-sama merupakan serambi muka, yang terbuka pada tiga sisinya, atapnya di depan bertumpu pada tiang-tiang. Dari sana kita masuk melalui dua pintu kembar ke dalam serambi dalam, yang digambarkan dengan tiga bidang berikutnya. Bidang-bidang 7, 9, 10, 12, 13, 15, 16 dan 18 adalah kamar-kamar, yang kebanyakannya dihubungkan dengan pintu-pintu dengan kamar di sebelahnya. Tiga nomor terakhir merupakan serambi belakang yang terbuka, dan apa yang tidak saya sebut adalah semacam serambi dalam yang tertutup atau ruang jalan. Saya sungguh bangga atas gambaran ini.
Saya tidak tahu kata apa di negeri Belanda yang menggambar-kan apa yang di negeri Hindia dinyatakan dengan kata: “pekarangan”. Pekarangan di sana bukan kebun, bukan taman, bukan ladang, bukan pula hutan, tapi sesuatu yang menyerupaininya, atau semua itu, atau sama sekali bukan semua itu. Pekarangan ialah tanah yang merupakan sebagian dari rumah itu, sepanjang tidak ditempati oleh rumah itu, sehingga di Hindia ungkapan “kebun dan pekarangan” dianggap sebagai pleonasme. Di sana tidak ada atau tidak banyak rumah tanpa pekarangan demikian. Beberapa pekarangan meliputi hutan dan kebun dan padang rumput, dan mengingatkan sebuah taman; yang lainnya ialah kebun bunga; di tempat lain lagi seluruh pekarangan merupakan padang rumput yang luas; dan akhirnya ada pula pekarangan yang sama sekali dijadikan tanah lapang berbatu kersik, yang barangkali tidak begitu enak dipandang mata, tapi rumah-rumah tetap bersih karenanya, sebab kebanyakan serangga tertarik oleh rumput dan pohon-pohon.
Pekarangan Havelaar luas sekali, ya, betapa pun aneh kedengarannya, sisinya yang satu boleh dikatakan tidak berujung, sebab berbatasan dengan jurang yang membentang sampai ketebing-tebing Tjiujung, sungai yang memeluk Rangkas-Betung dalam salah satu keluknya yang banyak. Sukar menentukan di mana berakhirnya pekarangan rumah asisten residen, dan di mana mulainya tanah kotapraja, sebab batas-batasnya selalu berubah karena banyaknya air yang mengalir ke dalam sungai Tjiujung; sekali-sekali pinggirannya mundur sampai sejauh mata memandang, dan lain kali pula air memenuhi jurang sampai dekat sekali ke rumah Havelaar.
Karena itu nyonya Slotering selalu benci kepada jurang itu, dan hal itu dapat dimengerti. Di mana-mana di negeri Hindia tumbuh-tumbuhan cepat sekali tumbuhnya, dan oleh lumpur yang tinggal, tumbuh-tumbuhan subur sekali di jurang itu, begitu suburnya, sehingga, Meskipun air naik dan turun dengan kekuatan yang mencabut akar-akar belukar dan air itu menyeretnya; sebentar saja tanah sudah tertutup lagi dengan tumbuh-tumbuhan, sehingga sukar membersihkan pekarangan, juga dekat rumah. Dan ini sungguh mengesalkan, juga bagi orang yang bukan ibu rumah tangga. Sebab biasanya malam hari bermacam-macam serangga berputar-putar sekeliling lampu, begitu banyaknya sehingga orang tidak bisa membaca dan menulis, hal mana amat mengganggu di banyak tempat di negeri Hindia. Selain itu di dalam belukar itu banyak ular dan binatang-binatang lain, yang tidak hanya tinggal di dalam jurang, tapi juga selalu ke-dapatkan di dalam kebun di samping dan di belakang rumah atau di dalam rumput di tanah lapang depan.
Tanah lapang itu letaknya persis di depan jika orang berdiri di serambi luar membelakang ke rumah; di kirinya terletak gedung dengan kantor-kantor, kas dan ruang rapat di mana Havelaar pagi itu berpidato di hadapan kepala-kepala, dan di belakangnya terbentang jurang, yang meluas sampai ke Tjiujung. Persis di seberang kantor-kantor itu berdiri rumah asisten residen yang tua, yang kini buat sementara didiami oleh nyonya Slotering; dari jalan besar kepekarangan itu orang dapat masuk melalui dua jalan di kedua sisi padang rumput itu; maka dengan sendirinya setiap orang yang memasuki pekarangan itu untuk pergi ke belakang gedung utama itu, ke dapur atau kandang kuda, harus melewati kantor-kantor atau rumah nyonya Slotering itu. Di samping gedung utama dan di belakangnya, terletak kebun yang lumayan besarnya, yang menyenangkan Tine karena banyaknya kembang-kembang yang ditemuinya di sana, dan lebih-lebih karena si Max ketiy begitu sering main di sana ……
Havelaar mengirim salam kepada nyonya Slotering dan mohon maaf, bahwa ia belum sempat berkunjung kepadanya; dia akan datang keesokan harinya, katanya. Tapi Tine sudah berkunjung dan berkenalan dengannya. Sudah saya katakan bahwa nyonya itu seorang “anak bumiputera”, yang hanya bicara bahasa Melayu. Dia menyatakan keinginannya untuk terus mengurus rumah tangganya sendiri, dan Tine tidak keberatan apa-apa. Bukan karena ia tidak suka menerimaya dalam rumah, tapi terutama karena kuatir bahwa ia, yang baru saja tiba di Lebak, tidak akan bisa menerima nyonya Slotering seperti mestinya, dalam keadaannya yang masih berdukacita. Memang nyonya itu yang tidak mengerti bahasa Belanda, tidak akan “terganggu” oleh cerita-cerita Max, seperti kata Tine, tapi ia mengerti bahwa soalnya bukan hanya itu. Lagi pula niat Tine hendak berhemat dengan belanja dapur, membuat ia sungguh-sungguh dapat memuji sikap nyonya Slotering itu. Sekiranya keadaan lain, masih diragukan apakah pergaulan dengan orang yang hanya bicara satu bahasa, dalam bahasa mana tidak ada sesuatu yang tercetak yang dapat menghaluskan jiwa, dapat membawa kesenangan bagi kedua belah pihak. Agaknya Tine akraa juga omong-omong dengan nyonya itu, dan banyak bicara tentang “dapur” dan “penganan”, tapi itu selalu merupakan pengorbanan; jadi, karena nyonya Slotering mau semuanya serba sendiri, dirasa sebaiknya masing-masing mengatur sendiri rumah tangganya menu-rut kemauannya. Tapi aneh juga bahwa nyonya itu tidak mau makan bersama, malahan tidak mau menerima tawaran untuk memasakkan makanannya di rumah Havelaar, dan “kerendahan hati itu, kata Tine, agak keterlaluan, sebab dapur cukup besar."
¹ Dari yang satu kepada yang lain.
² Keadaan yang terpaksa.
³ Begitulah dunia.
⁴ Roman Sir Walter Scott
⁵ Istana graf Leicester dalam roman Walter Scott yang judulnja sama.
⁶ Seri Ratu Inggris (1558-1603).
Bab XIV
“Anda tahu, Havelaar mulai, bagaimana tanah-tanah milik Belanda di Pantai Barat Sumatera berbatasan dengan kerajaan-kerajaan merdeka di sudut Utara, antaranya Aceh adalah yang paling penting. Kata orang ada satu pasal rahasia dalam perjanjian 1824, dalam mana kita berjanji kepada orang Inggris tidak akan melewati sungai Singkel. Jadi jenderal van Damme yang dengan “faux air Napoleon”¹ ingin meluaskan pemerintahan seluas-luasnya, tertumbuk pada rintangan yang tidak dapat diatasi dalam jurusun itu. Saya cenderung percaya akan adanya pasal rahasia itu, sebab saya heran juga mengapa raja-raja Trumon dan Analabu, yang daerah-daerahnya penting untuk perdagangan lada yang ramai di sana, tidak ditaklukkan sudah lama ke bawah kedaulatan Belanda. Anda tahu betapa mudah mencari dalih untuk memerangi kerajaan-kerajaan kecil seperti itu, dan menaklukkannya. Mencuri suatu wilayah selalu lebih mudah dari mencuri kincir. Tentang jenderal van Damme saya rasa kincir pun dia mau merampasnya, kalau dia suka, maka saya tidak mengerti mengapa ia tidak menaklukkan daerah-daerah di Utara itu, sekiranya untuk itu tidak ada alasan-alasan yang lebih kuat dari hukum dan keadilan.
Betapa pun juga, ia tidak mengarahkan pandangannya, pandangan seorang penakluk, ke Utara tapi ke Timur. Tanah-tanah Mandailing dan Angkola,—inilah nama daerah asisten residen yang dibentuk dari tanah Batak yang baru saja diamankan, —belum lagi bersih dari pengaruh Aceh,—sebab di mana telah berakar semangat fanatik, sukar sekali menghilangkannya,—, tapi orang Aceh tidak ada lagi, namun ini tidak cukup bagi gu-bernur. Ia meluaskan kekuasaannya sampai ke pantai Timur dan dikirimlah pejabat-pejabat Belanda dan garnisun-garnisun Belanda ke Bila dan Pertibi, tapi pos-pos itu, seperti anda tahu, kemudian ditinggalkan lagi.
Ketika di Sumatera datang seorang komisaris pemerintah, yakni tuan Merkus, yang menganggap perluasan itu tidak berguna dan karena itu tidak menjetujuinja, terutama juga karena bertentangan dengan aturan-aturan penghematan, sebagaimana dianjurkan oleh mereka di negeri Belanda, jenderal van Damme mengatakan bahwa perluasan itu tidak berpengaruh mem-beratkan bagi anggaran belanja, karena garnisun-garnisun baru itu dibentuk dari pasukan-pasukan yang biayanya sudah diizin-kan, sehingga ia menaklukkan suatu daerah yang luas sekali ke bawah pemerintah Belanda, tanpa pengeluaran uang. Dan se-lanjutnja mengenai pengosongan sebagian tempat-tempat lain, terutama di daerah Mandailing, ia tidak melihat sesuatu kebe-ratan, karena ia beranggapan dapat mengandalkan kesetiaan dan kepatuhan Yang Dipertuan, kepala negeri yang paling ter-ke muka di tanah Batak.
Dengan enggan tuan Merkus mengalah, yakni sesudah jen-deral berulang-ulang mengatakan bahwa ia pribadi menjamin kesetiaan Yang Dipertuan.
Adapun kontelir yang sebelum saya memerintah daerah Natal, adalah menantu asisten residen tanah Batak, dan asisten residen ini kemudian hidup bermusuhan dengan Yang Dipertuan. Kemu-dian saya banyak mendengar tentang pengaduan yang dimasuk-kan orang terhadap asisten residen itu, tapi kita harus berhati-hati mempertayayai tuduhan-tuduhan itu, karena berasal dari Yang Dipertuan, bertepatan pula dengan waktu sesudah Yang Diper-tuan diadukan melakukan hal-hal yang jauh lebih berat sifatnya, hal mana barangkali memaksanya mencari kesalahan-kesalahan orang yang mengadukannya untuk membela diri. Betapa pun juga, kontelir Natal memihak mertuanya melawan Yang Dipertuan, dan ini lebih-lebih karena kontelir itu bersahabat rapat dengan seorang yang bernama Sutan Salim, seorang kepala negeri Natal yang juga benci sekali kepada kepala orang Batak itu. Ada permusuhan antara keluarga kedua kepala itu; pernah lamaran kawin ditolak, ada irihati mengenai pengaruh, kebanggaan di pihak Yang Dipertuan yang merasa lebih tinggi derajiat keturunannya, dan banyak lagi sebab-sebab yang menegangkan hubungan antara Natal dan Mandailing.
Sekonyong-konyong tersiar desas-desus bahwa telah ditemukan komplotan di Mandailing, di mana Yang Dipertuan terlibat, dan yang bermaksud mengadakan pemberontakan, dan membunuh semua orang Eropa. Komplotan itu pertama kali diketahui di Natal, hal mana adalah wajar, karena biasanya orang di daerah-daerah berdekatan lebih mengetahui keadaan dari di tempat keadaan itu sendiri, sebab banyak orang yang di kampung halaman sendiri tidak berani mengumumkan sesuatu yang mereka ketahui, karena takut kepada kepala bersangkutan, tapi sesudah mereka berada di daerah lain di mana kepala tersebut tidak mempunyai pengaruh, mereka lalu agak berani sedikit.
Inilah pula sebabnya, Verbrugge, mengapa saya bukan orang asing dalam soal-soal Lebak. Saya banyak mengetahui tentang apa yang bergolak di sini, sebelum saya termimpi akan pernah ditempatkan di sini. Tahun 1844 saya di daerah Krawang, saya banyak berkeliling di tanah Priangan, di mana saya dalam tahun 1842 sudah menemukan pelarian-pelarian dari Lebak. Pun saya mengenal banyak pemilik tanah-tanah partikelir di daerah Bogor dan tanah-tanah sekitar Betawi dan saya tahu betapa pemilik-pemilik tanah itu sudah lama merasa senang dengan keadaan yang buruk di daerah ini, sebab hal itu berarti bahwa tanah mereka menarik penduduk ……
Nah, demikian juga agaknya cara orang mengetahui komplotan di Natal itu, yang memperkenalkan Yang Dipertuan sebagai pengkhianat,—jika memang ada komplotan semacam itu, hal mana tidak saya tahu. Menurut keterangan saksi-saksi yang didengar oleh kontelir Natal, ia bersama-sama dengan saudaranya Sutan Adam telah mengumpulkan kepala-kepala Batak dalam sebuah hutan keramat, di mana mereka bersumpah tidak akan berhenti sebelum kekuasaan anjing Kristen di Mandailing hancur binasa. Sudah barang tentu untuk itu ia mendapat petunjuk dari Tuhan, anda tahu ini selalu mesti begitu pada kejadian demikian.
Apakah memang ada maksud itu pada Yang Dipertuan, saya tidak bisa memastikannya. Saya telah membaca keterangan saksi-saksi, tapi anda akan lihat mengapa keterangan-keterangan itu tidak bisa dipercaya begitu saja. Yang dapat dipastikan ialah bahwa, sebagai orang Islam yang fanatik, ia bisa saja melakukan yang demikian itu. Belum lama berselang ia dengan seluruh penduduk Batak telah diislamkan oleh kaum Paderi, dan orang yang baru saja memeluk agama baru, biasanya fanatik.
Setelah komplotan itu diketahui, entah beralasan entah tidak, Yang Dipertuan pun ditangkap. Ia dibawa ke Natal, di mana kontelir menahannya di dalam benteng, dan pada kesempatan yang pertama ia dinaikkan ke kapal dan dikirim ke gubernur Sumatera Barat di Padang, yang telah menerima segala surat-surat yang memuat kesaksian-kesaksian memberatkan dan yang membenarkan tindakan-tindakan keras yang telah diambil terhadapnya. Jadi Yang Dipertuan berangkat dari Mandailing sebagai tawanan, di Natal ia tawanan, di kapal perang yang mengangkutnya ia tentu juga seorang tawanan, jadi ia mengira,—apakah ia bersalah atau tidak, hal itu tidak penting, sebab ia secara hukum dituduh melakukan pengkhianatan terhadap pemerintah,—ia mengira akan tiba di Padang juga sebagai orang tawanan, maka tentulah ia sangat heran ketika turun ke darat dan kepadanya dikatakan bahwa ia bebas, malahan jenderal yang keretanya telah menunggu ketika ia turun dari kapal, mengundangna ke rumahnya dan menyediakan penginapan baginya. Pastilah tidak pernah ada seorang yang dituduh mengkhianati negara begitu heran dan gembira seperti Yang Dipertuan ketika itu. Tidak lama sesudah itu asisten residen Mandailing dipecat dari jabatannya, karena bermacam-macam kesalahan yang tidak akan saya tanggapi di sini. Sebaliknya Yang Dipertuan, sesudah beberapa waktu tinggal di rumah jenderal di Padang, dan sesudah mendapat perlakuan yang sangat hormat dari pembesar itu, kembali ke Mandailing melalui Natal, bukan dengan perasaan harga diri seorang yang dinyatakan tidak bersalah, tapi dengan kebanggaan seorang yang kedudukannya begitu tinggi sehingga ia tidak memerlukan keterangan tidak bersalah. Sebab perkara itu tidak diperiksa, dan jika orang menganggap bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya palsu, maka seharusnya diadakan pemeriksaan dan jika perlu menghukum saksi-saksi palsu, dan orang-orang yang menyuruh bikin keterangan palsu itu.
Nampaknya jenderal itu menemukan sebab-sebab untuk tidak meneruskan pemeriksaan itu. Tuduhan yang dilontarkan terhadap Yang Dipertuan dianggap sebagai “non avenu"², dan saya merasa pasti bahwa surat menyurat mengenai hal itu tidak pernah dikirimkan kepada pemerintah di Betawi.
Tidak lama setelah Yang Dipertuan kembali saya tiba di Natal, untuk mengambil alih pemerintahan daerah itu. Pejabat sebelum saya tentu saja menceritakan kepada saya apa yang terjadi tidak lama sebelumnya di daerah Mandailing, dan menyelaskan yang perlu-perlu mengenai hubungan politik daerah itu dan daerah saya. Saya tidak dapat menyalakhannya bahwa ia menganggap ayah mertuanya mendapat perlakuan yang menurut pendapatnya sangat tidak adil, dan ia tidak mengerti mengapa Yang Dipertuan nampaknya mendapat perlindungan dari jenderal. Saya Maupun dia pada saat itu tidak mengetahui bahwa jika Yang Dipertuan dikirim ke Betawi, hal itu merupakan tamparan di muka sang jenderal, dan bahwa sang jenderal cukup punya alasan, berapa pun harganya, untuk membebaskan kepala negeri itu dari tuduhan pengkhianatan terhadap pemerintah. Hal ini tambah penting bagi sang jenderal, sebab dalam pada itu tuan Merkus telah menjadi gubernur jenderal, dan pastilah ia akan memanggil sang jenderal kembali dan memecatnya dari pemerintahan, karena tentulah ia marah bahwa sang jenderal dahulu telah mempercayai Yang Dipertuan, dan berdasarkan kepercayaan itu berkeras tidak mau mengosongkan Sumatera Timur.
“Tapi, kata kontelir yang saya gantikan, apa pun yang menyebabkan jenderal menerima semua tuduhan yang dilontarkan orang kepada mertua saya, dan apa pun yang menyebabkan ia tidak mau memeriksa Sekalipun tuduhan-tuduhan yang lebih berat kepada Yang Dipertuan, ... perkara ini belum lagi berakhir! Dan jika di Padang seperti dugaan saya, kesaksian-kesaksian orang telah dibinasakan, lihatlah di sini ada hal lain yang tidak bisa dibinasakan!"
Dan diperlihatkannya kepada saya keputusan Rapat di Natal, yang diketuainya, berisi hukuman yang dijatuhkan atas orang yang bernama Si Pamaga, yakni hukuman dera, di selar (waktu itu tahun 1842), dan, saya kira, kerja paksa dua puluh tahun, karena percobaan membunuh Tuanku Natal.
— “Bacalah berita acara persidangan pengadilan ini, kata-nya lagi, dan nilailah apakah mertua saya akan dipercaya di Betawi, jika dia di sana menuduh Yang Dipertuan berkhianat kepada pemerintah!"
Saya bacai surat-surat itu. Menurut keterangan saksi-saksi, dan menurut pengakuan terdakwa, Si Pamaga itu dibayar untuk membunuh Tuanku, bapak angkatnya Sutan Salim, dan kontelir yang menjalankan pemerintahan, di Natal.
Untuk melaksanakan maksudnya itu, ia pergi ke rumah Tuanku, dan berbicara-bicara dengan pelayan-pelayan di sana yang sedang duduk-duduk ditangga serambi dalam. Ia berbicara-bicara mengenai sebuah sewah³, dengan maksud supaya bisa lebih lama duduk-duduk menunggu sampai Tuanku datang; dan memang tidak lama kemudian muncul Tuanku bersama beberapa orang keluarga dan pelayan-pelayan. Pamaga menyerang Tuanku dengan sewahnya, tapi entah mengapa, ia gagal membunuhnya. Dengan terkejut Tuanku melompat dari jendela, dan Pamaga melarikan diri; ia bersembunyi di dalam hutan dan beberapa hari kemudian tertangkap oleh polisi Natal.
“Kepada terdakwa ditanyakan, apakah yang menyebabkan ia mencoba melakukan pembunuhan itu dan hendak membunuh pula Sutan Salim dan kontelir Natal?" Jawabnya: “ia dibayar untuk itu oleh Sutan Adam, atas nama abanguya, Yang Dipertuan negeri Mandailing."
— “Jelaskah atau tidak? tanya kontelir yang saya gantikan itu. Keputusan itu sesudah “fiat eksekusi"⁴ residen lalu dilaksanakan, Si Pamaga didera dan di selar, dan kini dalam perjalanan ke Padang dan dari sana ia dikirim ke pulau Jawa sebagai orang rantaian. Bersama dengan kedatangannya dokumen-dokumen perkara itu tiba pula di Betawi, dan bolehlah orang di sana mengetahui siapa orang yang diadukan oleh mertua saya itu sehingga mertua saya dibebastugaskan. Keputusan itu tidak bisa dibinasakan oleh jenderal, Meskipun ia mau."
Saya mengambil alih pemerintahan daerah Natal, dan kontelir yang saya gantikan itu berangkatlah. Beberapa waktu kemudian saya mendapat kabar bahwa jenderal itu akan datang dengan kapal perang ke daerah Utara dan juga akan mengunyungi Natal. Ia mampir di rumah saya dengan iring-iringan yang besar jumlahnja, dan meminta supaya kepadanya diperlihatkan dokumen-dokumen asli perkara “orang malang yang telah diani-aya dengan kejam itu."
“Mereka sendiri yang sebenarnya harus didera dan di selar," katanya menambahkan.
Saya tidak mengerti suatu apa. Sebab asal usul pertikaian mengenai Yang Dipertuan waktu itu gelap bagi saya, dan tidak dapat timbul dalam pikiran saya, bahwa kontelir yang menda-hului saya itu dengan sengaja telah menghukum orang yang tidak bersalah dengan hukuman yang berat sekali, atau bahwa jenderal itu melindungi seorang penjahat terhadap keputusan yang adil. Saya diperintahkan untuk menangkap Sutan Salim dan Tuanku. Karena Tuanku yang muda itu sangat dicintai oleh rakyat dan kami hanya mempunyai pasukan kecil dalam benteng, saya minta supaya ia dibolehkan bebas bergerak, hal mana diizinkan, tapi bagi Sutan Salim, musuh Yang Dipertuan, tidak ada ampuh. Rakyat tegang. Penduduk Natal merasa bahwa sang jenderal merendahkan dirinya menjadi alat kebencian orang Mandailing, dan dalam hal demikianlah saya waktu ini dan waktu itu sekali-sekali dapat melakukan sesuatu yang dianggapnya “berani”, lebih-lebih karena ia tidak memberikan kepada saya pasukan kecil yang bisa dikirimkan dari benteng dan detasemen marinir yang dibawanya dari kapal, apabila saya pergi ke tempat-tempat orang berkumpul-kumpul. Pada kesempatan demikian saya melihat bahwa jenderal van Damme menjaga betul keselamatan dirinya, dan itulah sebabnya saya tidak menjetuji pendapat orang bahwa ia seorang yang berani.
Ia membentuk sebuah dewan, yang saya sebut dewan “ad hoc”. Anggota-anggotanya: beberapa orang ajudan, opsir-opsir lain, jaksa, kami masih menyebutna “fiskal” waktu itu, yang dibawanya dari Padang, dan saya. Dewan itu akan melakukan pemeriksaan mengenai cara kontelir yang mendahului saya mengadili Si Pamaga. Saya harus memanggil sejumlah saksi-saksi, yang diperlukan keterangannya mengenai hal itu. Jenderal tentu saja jadi ketua, ia memajudkan pertanyaan-pertanyaan, dan berita acara dituliskan oleh fiskal. Tapi karena fiskal itu tidak begitu mengerti bahasa Melayu, dan sama sekali tidak mengerti bahasa Melayu yang dipakai di sebelah Utara Sumatera, sering kali jawaban saksi-saksi harus diterjemahkan, hal mana biasanya dilakukan oleh jenderal sendiri. Dalam sidang-sidang pengadilan itu keluarlah surat-surat yang seakan-akan membuktikan sejelas-jelasnya: bahwa Si Pamaga tidak pernah ber maksud untuk membunuh siapa-siapa, siapa pun juga; bahwa ia tidak pernah melihat Ataupun mengenal Sutan Adam Maupun Yang Dipertuan; bahwa ia tidak menyerang tuanku Natal, bahwa tuanku Natal tidak melarikan diri melalui jendela, dan seterusnya! Selanjutnya: bahwa keputusan terhadap Si Pamaga yang malang itu dibuat atas desakan ketua pengadilan, kontelir yang mendahului saya, dan anggota dewan pengadilan itu, Sutan Salim, keduanya mengadakan-adakan kesalahan Si Pamaga untuk memberikan senjata pembela diri kepada asisten residen Mandailing yang dibebastugaskan, dan untuk melampiaskan ke-benciannya terhadap Yang Dipertuan.
Cara jenderal memajudan pertanyaan mengingatkan kepada permainan whist seorang kaisar Maroko yang saya lupa namanya, yang berkata kepada lawannya main: “Keluarkan harten, kalau tidak kupancung kepalamu.” Juga terjemahanterjemahan yang disuruhnyia tuliskan oleh fiskal, tidak kena sama sekali.
Apakah kontelir yang saya gantikan dan Sutan Salim melakukan “tekanan” terhadap majelis supaya menyalahkan Si Pamaga, saya tidak tahu, tapi yang saya tahu ialah bahwa jenderal van Damme melakukan “tekanan” terhadap orang-orang supaya memberikan keterangan bahwa Si Pamaga tidak bersalah. Meskipun waktu itu saya belum tahu maksudnya, saya telah membangkang, sampai-sampai saya menolak untuk ikut menandatangani beberapa berita acara, dan dalam hal ini saya telah “menghalang-halangi” sang jenderal.
Mengertilah anda apa maksud kata-kata saya pada akhir surat jawaban saya mengenai kritikan terhadap pertanggungan-jawab keuangan saya, dan di mana saya meminta supaya jangan ada pertimbangan-pertimbangan dengan “maksud baik”.—“Itu berani sekali bagi orang seumur anda,” kata Duclari.—“Saya rasa itu wajar, tapi yang pasti ialah bahwa jenderal van Damme tidak biasa dengan yang semacam itu. Karena itu saya pun banyak menderita akibat perkara itu. O, tidak, Verbrugge, saya tahu apa yang anda hendak katakan, saya tidak pernah menyesal karena itu. Malahan saya tambahkan bahwa saya tidak hanya akan memprotes saja terhadap cara pemeriksaan saksi-saksi oleh jenderal, dan saya tidak hanya akan menolak menandatangani beberapa berita acara, sekiranya waktu itu saya sudah dapat menduga apa yang baru kemudian baru saya ketahui, bahwa segalanya itu dijalankan dengan keputusan yang sudah ditetapkan lebih dulu untuk memberatkan kontelir yang saya gantikan. Saya mengira bahwa sang jenderal, yakin bahwa Si Pamaga tidak bersalah, dan sungguh-sungguh karena pertimbangan yang mulia hendak menyelamatkan seorang korban akibat kekhilafan hukum. Pikiran ini memang menimbulkan keogahan juga dalam hati saya karena di sini ada soal pemalsuan keterangan, tapi saya tidak marah seperti halnya jika saya mengetahui bahwa di sini sang jenderal sama sekali bukan hendak menyelamatkan seorang yang tidak bersalah, tapi mempunyai maksud untuk membinasakan bukti-bukti yang merugikan bagi sang jenderal, dan hal itu dilakukannya dengan mengorbankan kehormatan dan keselamatan pejabat yang mendahului saya.
— “Dan bagaimana jadinya dengan kontelir yang anda gantikan itu?” tanya Verbrugge.—“Untunglah ia sudah berangkat ke Jawa sebelum jenderal kembali di Padang. Rupanya ia berhasil memberikan pertanggunganjawab kepada pemerintah, artinya ia tetap dalam jabatannya. Sedangkan residen Air Bangis yang menaruh “fiat eksekusi” pada keputusan itu, di …….—“Dibebastugaskan?”—“Tentu saja. Maka benarlah apa yang saya katakan dalam sajak sindiran saya bahwa gubernur “memerintah sambil memecat”.—“Dan apa jadinya dengan semua pejabat-pejabat yang dibebastugaskan itu?”—“O, yang dibebastugaskan lebih banyak dari itu. Semuanya, yang seorang demi yang lain, dikembalikan dalam jabatannya. Beberapa daripadanya kemudian menduduki jabatan-jabatan yang penting.—“Dan Sutan Salim?”—“Sang jenderal membawanya sebagai tahanan ke Padang, dan dari sana ia dikirim sebagai orang buangan ke pulau Jawa. Sekarang ia masih di Tjianjur di kabupaten Priangan. Tahun 1846 saya di sana, dan mengunjunginya …… Masih tahukah kau, apa yang kulakukan di Tjianjur, Tine?”—“Tidak, Max, aku sudah lupa sama sekali.”—“Memang kita tidak bisa ingat segala-galanya …… saya di sana kawin, tuan-tuan.—“Tapi, tanya Duclari, karena anda sudah mulai bercerita, benarkah bahwa anda di Padang sering berduel? —“Ya, sering sekali. Banyak sebabnya. Sudah saya katakan kepada anda bahwa di pos luar seperti itu sikap gubernur kepada kitalah yang menjadi ukuran apakah orang menyenangi kita atau tidak. Jadi, kebanyakan orang tidak menyenangi saya, dan sering kali sikap orang menjadi kasar. Saya lekas marah. Teguran saya yang tidak dijawab, sindiran tajam orang yang mengatakan “tolol orang yang mau melawan jenderal”, kata-kata yang menyebut-nyebut kemiskinan saya, bahwa saya kela-paran, bahwa “barangsiapa yang hendak bebas merdeka rupanya harus makan makanan yang buruk”, …… anda mengerti semua itu membuat saya jadi geram. Lebih-lebih di antara opsir-opsir banyak orang yang mengetahui bahwa jenderal suka sekali melihat orang berduel, lebih-lebih dengan orang yang kena mur-ke seperti saya. Jadi, barangkali juga orang menimbulkan kemarahan saya dengan sengaja …… Pun saya sekali-sekali berduel untuk orang lain, yang saya anggap teraniaya …… Betapa pun juga, hampir saban hari saya duel, dan pernah beberapa kali saya berduel dua kali pagi hari; …… ada sesuatu yang sangat menarik dalam perkelahian satu lawan satu itu, lebih-lebih dengan pedang, orang menyebutnya “atas” pedang, mengapa saya tidak tahu. Tapi anda mengerti bahwa sekarang ini saya tidak akan mau melakukannya lagi, Meskipun banyak alasan untuk itu seperti dahulu ……. Mari sini, Max, ……. jangan, jangan tangkap binatang itu, mari sini. Dengar, jangan sekali-kali menangkap kupu-kupu. Binatang itu lama merayap-rayap sebagai ulat di atas pohon, sungguh tidak enak hidupnya. Sekarang ia baru mendapat sayap dan ingin terbang keliling di udara, bersenang-senang; ia mencari makan di dalam bunga dan tidak menyakiti siapa-siapa, ... lihatlah, bukankah lebih senang melihatnya terbang keliling mengepak sayap?”
Dengan demikian percakapan mengenai duel itu berpindah kepada kupu-kupu, kepada orang baik yang mengasihani ternak-nya, kepada hal mengganggu binatang kepada “loi Grammont”⁵, kepada rapat nasional di Paris di mana undang-undang diterima, kepada republik, dan entah apa lagi!
Akhirnya Havelaar berdiri. Ia minta maaf kepada tamu-tamunya, minta diri karena banyak pekerjaannya. Ketika kontelir keesokan harinya mengunjunginya di kantornya, ia tidak mengetahui bahwa asisten residen baru itu sehari sebelumnya sesudah bicara-bicara di serambi keluar dengan keretanya pergi ke Parangkujang, dan baru pagi itu kembali dari sana.
Percayalah pembaca budiman, bahwa Havelaar terlalu sopan untuk bicara begitu banyak terutama dimejanja sendiri seperti saya ceritakan dalam bab-bab terakhir, seolah-olah saya hendak menggambarkan dia telah menguasai seluruh percakapan dan melalaikan kewajiban seorang tuan rumah yang baik, yang harus memberi kesempatan kepada tamu-tamunya “untuk mempernyatakan dirinya”. Dari sekian banyak bahan-bahan yang ada di depan saya, hanya beberapa yang saya ambil, dan saya dengan mudah bisa saja memperpanjang percakapan-percakapan di media itu, lebih mudah dari saya menghentikannya. Saya harap apa yang telah saya ceritakan itu sudah cukup untuk membenarkan gambaran yang saya berikan tentang watak dan sifat-sifat Havelaar, dan bahwa pembaca tergugah perhatiannya untuk mengikuti hal ihwalnya dan keluarganya di Rangkas Betung.
Keluarga kecil itu menjalani hidupnya selanjutnja diam-diam dan tanpa diketahui orang banyak. Havelaar sering keluar siang hari, dan sampai tengah malam bekerja di kantornya.
Hubungannya dengan komandan garnisun baik sekali, dan juga dalam pergaulan sehari-hari dengan kontelir tidak nampak sedikit pun perbedaan pangkat, yang di negeri Hindia biasanya membikin pergaulan jadi kaku dan menjemukan, sedang kesukaan Havelaar untuk menolong di mana saja ia bisa, sering kali bermanfaat bagi bupati, yang karena itu amat senang dengan “saudara tuanya"; dan akhirnya sikap nyonya Havelaar yang ramah tamah banyak pula membantu memperenak pergaulan antara orang Eropa yang sedikit itu dengan kepala-kepala bumiputera. Surat menyurat jabatan dengan residen Serang memperlihatkan sikap senang menyenangi yang timbal balik, perintah-perintah residen diberikan dengan kesungguhan, dan ditaati dengan tepat.
Rumah tangga Tine segera juga dapat diatur. Sesudah menunggu agak lama perabotan datang dari Jakarta, ada ketimun digarami, dan jika Max menceritakan sesuatu di meja makan, maka hal itu selanjutnya tidak lagi dilakukannya karena tidak ada telor untuk dadar, Meskipun masih tetap nampak benar bahwa cara hidup keluarga ketil itu irit sekali karena tekad mereka untuk menghemat.
Nyonya Slotering jarang keluar dari rumahnya, dan hanya beberapa kali minum teh dengan keluarga Havelaar di serambi depan. Bicaranya sedikit dan ia masih selalu memperhatikan tiap orang yang mendekati rumahnya atau rumah Havelaar: orang sudah terbiasa dengan apa yang orang sebut penyakit monomania-nya, dan tidak memperhatikannya lagi:
Semuanya nampaknya tenang, sebab bagi Max dan Tine tidak begitu sukar untuk menyesuaikan diri dalam hidup berkekurangan, yang tidak bisa dihindari di pos pedalaman yang letaknya tidak di jalan besar. Karena di tempat itu orang tidak membuat roti, maka mereka pun tidak memakan roti. Bisa saja didatangkan dari Serang, tapi ongkos angkutnya terlalu tinggi. Max mengetahui seperti juga yang lain-lain bahwa banyak caranya untuk mendatangkan roti tanpa bayaran dari Rangkas Betung, tapi pekerjaan tanpa bayaran, penyakit kanker di negeri Hindia itu, menjijikan baginya. Banyak lagi di Lebak yang bisa diperoleh tanpa bayaran, dengan kekuasaan, tapi tidak bisa dibeli dengan harga murah, dan dalam hal semacam itu Havelaar dan isterinya bersabar dalam kekurangannya. Mereka sudah biasa hidup dalam kekurangan. Bukankah Tine pernah berbulan-bulan berlayar dengan kapal Arab tanpa tempat tidur, hanya di atas dek? Tidak ada perlindungan dari panas matahari dan hujan lebat musim penghujan kecuali meja kecil, berpegang pada kaki-kakinya. Bukankah ia di kapal itu harus menerima rangsum kecil nasi kering dan air kotor? Dan bukankah ia dalam keadaan itu dan dalam banyak keadaan lain senang-senang saja, asalkan bersama Max tersayang?
Hanya satu hal yang menyedihkan hati Tine di Lebak: Max kecil tidak dapat main di kebun karena banyak ular. Ketika ia mengetahui hal itu diberitahukannya kepada Havelaar, dan suaminya menjanjikan kepada pelayan-pelayan akan memberi hadiah buat tiap ular yang mereka tangkap; tapi hari-hari yang pertama saja ia sudah membayar begitu banyak untuk hadiah-hadiah, sehingga ia terpaksa menarik kembali janjinya untuk selanjutnja, sebab juga dalam keadaan sehari-hari, dan tanpa mengadakan penghematan yang begitu perlu, pembayaran itu akan segera melampaui batas kemampuan keuangannya. Dite-tapkanlah bahwa Max yunior untuk selanjutnja tidak boleh lagi meninggalkan rumah, dan bahwa ia, untuk menghirup udara segar, cukup bermain di serambi depan saja. Meskipun telah diadakan peraturan ini, Tine masih juga ketakutan, dan terutama malam hari, sebab kita tahu bahwa ular sering kali merayap ke dalam rumah, dan untuk mencari kehangatan, bersembunyi di kamar tidur.
Ular dan binatang berbahaya seperti itu, memang ada di mana-mana di negeri Hindia, tapi di ibukota-ibukota yang penduduknya tinggal lebih berdekatan, tentu saja agak kurang dari diderah-daerah yang masih penuh hutan seperti Rangkas Betung. Tapi jika Havelaar menyuruh bersihkan rumputan di pekarangannya sampai-sampai ke tepi jurang, memang ular-ular itu masih juga akan kelihatan di dalam kebun, tapi tidak dalam jumlah besar seperti sekarang ini. Menurut tabiatnya binatang-binatang itu lebih suka tinggal di tempat gelap dan tersembunyi dari di tempat terang dan terbuka, sehingga sekiranya pekarangan Havelaar tetap bersih keadaannya, binatang-binatang itu tidak akan meninggalkan jurang yang penuh semak-semak itu kecuali jika terpaksa atau kesasar. Tapi pekarangan Havelaar tidak bersih, dan saya ingin menjelaskan sebabnya, karena hal ini akan menjelaskan pula penyalahgunaan yang ada di mana-mana di tanah jajahan Hindia Belanda.
Rumah-rumah penguasa pemerintah di pedalaman didirikan di atas tanah kepunyaan kotapraja, sepanjang kita bisa bicara tentang milik kotapraja, di negeri di mana pemerintah mengambil apa saja untuk keperluannya. Sudah bagus bahwa pekarangan-pekarangan itu bukan milik pejabat penghuni. Sebab jika demikian halnya, ia akan berpikir-pikir dulu sebelum membeli atau menyewa tanah yang pemeliharaannya melampaui batas kemampuannya. Jika pekarangan rumah yang diberikan kepadanya terlalu besar untuk dipelihara, maka pekarangan itu sebentar saja berubah menjadi hutan karena suburnya tumbuh tanaman. Namun jarang sekali atau hampir tak pernah kita melihat pekarangan demikian dalam keadaan tidak terpelihara; ya, musafir sering kali terheran-heran melihat taman indah sekitar rumah residen. Tidak ada pejabat di pedalaman yang cukup penghasilannya untuk menyuruh kerjakan pekerjaan itu dengan bayaran yang pantas, dan karena memang perlu bahwa rumah penguasa kelihatannya megah, supaya penduduk yang mementingkan wajah lahiriah tidak mendapat alasan untuk meremehkannya, maka timbullah pertanyaan bagaimana mencapai maksud itu. Dikebanyakan tempat disediakan beberapa tenaga orang rantaian bagi penguasa-penguasa: yakni penjahat-penjahat yang dijatuhi hukuman di tempat lain, tapi yang tidak ada di Bantam karena alasan politik; tapi pun di tempat-tempat di mana ada orang-orang hukuman seperti itu, jumlahnja dibandingkan dengan pekerjaan yang lain, jarang
yang berbanding dengan pekerjaan yang diperlukan untuk memelihara pekarangan yang besar dengan baik. Jadi harus dicari cara-cara lain, dan yang paling mudah ialah mengerahkan pekerja-pekerja untuk menjalankan pekerjaan rodi. Bupati atau demang yang menerima panggilan demikian itu cepat-cepat memenuhinya, sebab ia tahu benar bahwa pejabat penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya itu, kemudian akan sukar menghukum kepala bumiputera yang melakukan kesalahan yang sama, dan dengan demikian kesalahan yang seorang menjadi jaminan bebas bagi yang lain.
Tapi menurut pendapat saya kesalahan penguasa demikian, dalam beberapa hal tidak boleh dinilai terlalu keras, dan terutama tidak menurut pengertian-pengertian Eropa. Penduduk sendiri akan merasa aneh, barangkali karena tidak biasa, jika ia selalu dan dalam segala hal berpegang erat pada ketentuan-ketentuan mengenai angka untuk orang waji b rodi yang harus bekerja di pekarangannya, sebab selalu ada saja kemungkinan bahwa keadaan tidak tercakup dalam ketentuan.
Tapi sekali batas yang sah mutlak dilampauui, akan sukar menentukan titik batas di mana pelanggaran demikian berubah menjadi kesewenang-wenangan yang bersifat kejahatan, dan terutama kita harus berhati-hati sekali jika kita mengetahui bahwa kepala-kepala negeri itu hanya menunggu contoh yang buruk untuk ditiru secara berlebih-lebihan. Ada cerita tentang seorang raja yang tidak mau orang lalai membayarkan hutang-nya Sekalipun hanya sebutir garam yang dimakannya dalam santapan sederhana waktu ia mengepalai tentaranya dalam perjalanan mengelilingi negerinya,—sebab, katanya, ini adalah permulaan ketidakadilan yang akhirnya akan membawa keruntuhan kepada kerajaannja,—raja itu entah bernama Timurleng, Nuruddin atau Jengis Khan⁶, yang pasti ialah bahwa fabel itu, atau jika itu bukan fabel, kejadian itu sendiri, berasal dari Asia; dan seperti juga kalau kita melihat pematang di tepi laut kita percaya akan kemungkinan air pasang, kita pun harus percaya bahwa ada kecenderungan akan terjadi pelanggaran seperti itu, di negeri di mana orang memberikan pelajaran seperti itu.
Orang-orang yang menurut hukum boleh digunakan tenaganya oleh Havelaar, hanya dapat mengerjakan sebagian kecil sekali dari pekarangannya, bagian yang terdekat dengan rumahnya, yakni membersihkannya dari rumputan dan belukar. Bagian yang selebihnya dalam beberapa minggu saja sudah menjadi hutan belukar. Havelaar menyurati residen bagaimana cara memperbaiki keadaan ini, yakni dengan memberikan tambahan keuangan, atau dengan mengusulkan kepada pemerintah untuk mempekerjakan orang rantaian di residensi Bantam, seperti di tempat-tempat lain. Ia menerima jawaban, usulnya ditolak dengan ciatatan bahwa ia berhak untuk menyuruh “bekerja di jalan umum", yakni di pekarangannya orang-orang yang di-jatuhinja hukuman berdasarkan peraturan kepolisian. Havelaar memang mengetahui peraturan ini, tapi tidak pernah ia mau mempergunakan hak itu, baik di Rangkas Betung, Maupun di Ambon, di Manado, Ataupun di Natal. Ia enggan menyuruh kerjakan kebunnya sebagai hukuman untuk kesalahan-kesalahan kecil, dan sering ia bertanya kepada dirinya sendiri bagaimana pemerintah dapat membiarkan ketentuan-ketentuan yang mungkin menyebabkan pejabat menghukum kesalahan-kesalahan kecil yang bisa dimaafkan, tidak berimbang dengan pelanggaran, tapi dengan keadaan atau luasnya pekarangannya. Pikiran bahwa terhukum, juga yang dijatuhi hukuman dengan adil, mengira bahwa keputusan yang dijatuahkan itu mengandung pertimbangan kepentingan diri, pikiran itu saja menyebabkan ia, kalau ia harus menjatuhkan hukuman juga, lebih suka menjatuhkan hukuman penjara yang dianggap sangat tidak baik.
Dan itulah sebabnya maka Max yunior tidak boleh bermain di kebun dan mengapa Tine tidak begitu banyak menikmati kembang-kembang seperti dibayangkannya pada hari ia tiba di Rangkas Betung.
Dengan sendirinya hal-hal kecil yang kurang menyenangkan ini dan beberapa hal kecil lainnya seperti itu tidak mempengaruhi suasana suatu keluarga yang banyak punya bahan untuk membangun suatu kehidupan keluarga yang bahagia, dan bukanlah disebabkan karena itu jika Havelaar kadang-kadang dengan muka yang suram masuk kamarnya, pulang dari sesuatu perjalan-an, atau sesudah mendengarkan sibadu atau sipolan yang mohon bicara dengannya. Telah kita dengar dari pidatonya kepada kepala-kepala negeri bahwa ia hendak melakukan kewaji-bannya, bahwa ia hendak membanteras ketidakadilan, dan saya harap pula bahwa pembaca, dari percakapan-percakapan yang saya ceritakan, telah mengenalnya sebagai seorang yang mampu menemukan sesuatu dan menjernihkan apa yang bagi beberapa orang lain tersembunyi atau masih gelap. Jadi bolehlah kita perkirakan bahwa tidak banyak dari apa yang bergolak di Lebak luput dari perhatiannya. Pun kita lihat bahwa sudah bertahun-tahun sebelumnya ia memperhatikan daerah itu, sehingga sudah pada hari pertama ketika Verbrugge bertemu dengannya di pendopo di mana cerita saya mulai, ia nampak bukan seorang asing dalam lingkungan kerjanya yang baru. Setelah melakukan pengusutan di tempat-tempat itu sendiri ia mendapat kepastian tentang banyak hal-hal yang dahulu hanya diduga-duganya, dan terutama dari arsip ternyata kepadanya bahwa daerah itu sungguh-sungguh berada dalam suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Dari surat-surat dan catatant-yatatatan pejabat yang mendahuluinyia ia melihat bahwa pejabat itu telah membuat catatant-catatant yang sama. Surat-surat kepada kepala-kepala itu mengandung penyesalan demi penyesalan, ancaman demi ancaman, dan kita pun mengerti bagaimana akhirnya pejabat itu mengatakan bahwa ia akan langsung berhubungan dengan pemerintah, jika keadaan yang buruk itu tidak diakhiri.
Ketika Verbrugge mengatakan hal ini kepada Havelaar, Havelaar menyawab bahwa perbuatan pejabat itu salah, sebab asisten residen Lebak sama sekali tidak boleh melewati residen Bantam, dan ditambahkannya pula bahwa perbuatan itu sama sekali tidak bisa dibenarkan oleh apa pun juga, sebab tidak mungkin pejabat tinggi itu memihak kepada orang yang melakukan pemerasan dan paksaan.
Memihak bukanlah dalam arti seperti yang dimaksud oleh Havelaar, yakni bukanlah seolah-olah residen itu akan mendapat sesuatu laba atau keuntungan dari pelanggaran itu; tapi ada suatu hal yang menyebabkan residen itu enggan menilai dengan adil pengaduan-pengaduan asisten residen yang digantikan oleh Havelaar itu. Kita telah melihat bagaimana pejabat itu berkali-kali berembuk dengan residen mengenai penyalahgunaan yang berlaku, namun sia-sia. Jadi perlulah kita menyelidiki, mengapa ia, yang sebagai kepala seluruh residensi, seperti juga asisten residen, ya lebih-lebih lagi dari asisten residen, berkejiban untuk menegakkan hukum, mengapa ia lebih suka terus menerus menghambat jalannya hukum itu.
Di Serang sudah ketika menginap di rumah residen itu, Havelaar telah membicarakan dengannya hal penyalahgunaan hukum di Lebak, dan ia mendapat jawaban, “bahwa semuanya itu di mana-mana terjadi, sedikit atau banyak." Ini memang tidak bisa dibantah oleh Havelaar; siapalah yang bisa mengatakan bahwa ia pernah melihat suatu negeri di mana tidak ada terjadi kesalahan-kesalahan. Tapi ia merasa bahwa ini bukan alasan untuk membiarkan penyalahgunaan itu menerus di mana kita menemuinya, terutama jika kita terpanggil untuk membanterasnya; dan lagi sesudah ia mengetahui segala sesuatu di Lebak itu, dalam hal ini soalnya bukan “sedikit atau banyak", tapi banyak sekali, lalu residen itu antara lain menjawab “bahwa di daerah Ciringin (juga di wilayah Bantam) lebih buruk lagi keadaannya."
Jikalau kita menerima, seperti kita bisa menerima bahwa seorang residen tidak langsung mendapat keuntungan dari pemerasan dan penggunaan tenaga penduduk dengan sewenang-wenang, maka timbul pertanyaan apakah yang menyebabkan kebanyakan orang, bertentangan dengan sumpah dan kewajiban, membiarkan penyalahgunaan seperti itu, tanpa memberitahuannya kepada pemerintah? Dan barangsiapa memikirkan hal ini akan merasa aneh sekali, bahwa orang dengan tenang saja mengakui adanya penyalahgunaan itu, seolah-olah hal itu di luar jangkauan atau kekuasaan. Saya akan mencoba menguraikan sebab-sebabnya.
Pada umumnya untuk menyampaikan kabar buruk saja sudah suatu hal yang tidak enak, dan seolah-olah kesan buruk yang dibawa itu sebagian melekat pada orang yang kebetulan mendapat tugas untuk menyampaikan kabar demikian itu. Maka jika hal ini saja pun sudah menjadi sebab bagi beberapa orang, untuk, bertentangan dengan pengetahuannya, tidak mengakui adanya sesuatu yang tidak enak, apalagi jika orang terancam kena murka, hal mana rupanya menjadi nasib orang yang menyampaikan berita buruk, ditambah lagi bahwa ia dianggap sebagai penyebab berita buruk itu.
Pemerintah Hindia Belanda senang sekali menulis kepada majikannya di negeri Belanda bahwa segalanya berjalan dengan baik. Para residen suka sekali memberitakan ini kepada pemerintah. Para asisten residen, yang juga menerima dari para kontelirnya berita-berita yang hampir semuanya baik belaka, mengirimkan pula berita-berita menyenangkan kepada residen-residen. Dengan demikian dalam menyelesaikan soal-soal dengan resmi dan dalam surat menyurat, lahirlah suatu optimisme yang dibikin-bikin, bertentangan dengan kebenaran, dan bertentangan pula dengan pendapat orang-orang optimis itu sendiri, apabila mereka membicarakan soal-soal itu dengan lisan, atau lebih aneh lagi, bertentangan malahan dengan berita-berita mereka sendiri yang tertulis. Banyak contoh-contoh yang bisa saya kemukakan, laporan-laporan yang memuji setinggi langit baiknya keadaan dalam sesuatu residensi, tapi sekaligus pula, terutama di mana angka-angka ikut bicara, ternyata kebohongan-annya. Contoh-contoh itu sekiranya soalnya tidak meminta perhatian kita yang sungguh-sungguh—karena akibat-akibatnya nanti—membuat kita tertawa dan mengejek, dan kita ter-cengang melihat kenaifan orang mempertahankan kebohongan yang terlalu jelas dalam hal semacam itu, Meskipun penulis beberapa kalimat kemudian memberikan sendiri senjata untuk membantah kebohongan-kebohongan itu. Saya hanya akan memberikan sebuah contoh yang bisa saja saya tambah dengan contoh-contoh banyak yang lain. Di antara dokumen-dokumen yang terletak di meja saya, saya temukan sebuah laporan tahunan dari suatu residensi. Sang residen memuji-muji jalannya perdagangan di sana dan mengatakan bahwa di mana-mana nampak kesibukan dan kemakmuran yang besar. Beberapa kalimat kemudian, berbicara tentang alat-alat yang tidak cukup untuk membanteras dagang gelap, ia dengan segera hendak menghilangkan kesan buruk yang mungkin timbul pada pemerintah bahwa jika demikian dalam residensi itu banyak orang yang mengelakkan diri dari pembayaran bea masuk. “Tidak, katanya, tentang itu janganlah kuatir, di dalam wilayah saya sedikit atau tidak ada barang yang dimasukkan secara selundup, sebab, …… di sini sedikit sekali kegiatan, sehingga tidak ada orang yang berani memasukkan modal dalam perdagangan.”
Saya pernah membaca laporan yang mulai dengan kata-kata: “Dalam tahun yang lampau keadaan tenang tenang-tenang saja ……” Kata-kata semacam itu memang menunjukkan ketenangan yang amatlah tenangnya menghadapi kelunakan pemerintah terhadap tiap orang yang tidak membawa berita kurang enak baginya, atau seperti istilahnya: “tidak menyukarkan” dengan berita-berita tidak enak!
Di mana penduduk tidak bertambah hal itu disebabkan karena kurang benarnya ccah jiwa tahun-tahun sebelumnya. Di mana pajak tidak bertambah, hal itu katanya disebabkan karena pajak sengaja direndahkan untuk menggiatkan pertanian, yang justru sekarang ini akan berkembang, dan tidak lama lagi akan memberikan hasil yang tidak terduga,—nanti kalau pelapor sudah meletakkan jabatannya. Di mana terjadi keonaran, yang tidak bisa disembunyikan, peristiwa itu disebabkan oleh beberapa orang jahat yang untuk selanyutnya tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena umumnya orang merasa puas. Di mana penduduk menipis karena kekurangan atau kelaparan, dikatakanlah bahwa ini disebabkan karena padi tidak menjadi, karena musim kemarau, karena hujan atau semacam itu, tidak pernah karena salah urus dalam pemerintahan.
Nota pejabat yang digantikan oleh Havelaar, di mana ia mengatakan bahwa “boyongnya penduduk dari distrik Parangkujang disebabkan karena penyalahgunaan yang keterlaluan", ada di atas meja saya. Nota itu sifatnya tidak resmi, dan mengandung beberapa soal yang harus dibicarakan oleh pejabat itu dengan residen. Tapi sia-sia Havelaar mencari dalam arsip bukti bahwa pejabat itu dengan terus terang menyebut perkara itu pada namanya dalam suatu surat dinas yang resmi.
Dengan singkat berita-berita resmi dari pejabat-pejabat kepada pemerintah, jadi juga laporan-laporan yang didasarkan atasnya kepada pemerintah di negeri Belanda, sebagian terbesar dan terpenting tidak benar.
Saya tahu bahwa tuduhan ini adalah berat, tapi saya tetap pada tuduhan itu, dan saya merasa bisa membuktikannya. Barangsiapa merasa terganggu dengan pendapat saya yang tanpa tedeng alingaling ini, hendaklah ingat betapa berjuta-juta uang dan betapa banyak jiwa manusia dapat diselamatkan oleh Inggris, sekiranya di sana mata mereka terbuka sebelum terlambat mengenai hal ihwal yang sebenarnya di India. Ingatlah betapa besar terima kasih orang kepada orang yang mempunyai keberanian menyampaikan berita malang itu sebelum terlambat untuk memperbaiki kesalahan tanpa pertumpahan darah ……
Saya mengatakan bahwa saya bisa membuktikan tuduhan saya. Di mana perlu saya akan membuktikan bahwa sering kali ada bencana kelaparan di daerah-daerah yang dilaporkan sebagai contoh teladan daerah yang makmur; dan di mana penduduk dikatakan senang dan tenang, saya mengatakan bahwa mereka itu hampir-hampir meledak karena amarah. Saya tidak bermaksud memberikan bukti-bukti itu dalam buku ini; tapi saya percaya bahwa orang tidak akan melepaskan buku ini sebelum percaya bahwa bukti-bukti itu ada.
Sekarang ini saya hanya hendak memberikan satu contoh lagi mengenai optimisme yang pernah saya sebut, optimisme yang menertawakan; contoh ini bisa saja dipahami setiap orang, baik yang mengetahui Maupun yang tidak mengetahui hal ihwal di negeri Hindia.
Tiap residen memasukkan laporan bulanan mengenai beras yang dimasukkan ke dalam daerahnya, atau yang dikirim dari daerahnya ke tempat lain. Dalam laporan itu pengangkutan beras dipisah menjadi dua bagian, yakni yang diangkut dalam daerah Jawa sendiri, dan yang dikirim keluarnya. Jika kita perhatikan jumlah yang menurut laporan itu diangkut dari residensi-residensi di Jawa keresidensi-residensi di Jawa, maka akan kita lihat bahwa jumlah itu beribu-ribu pikul lebih banyak dari beras yang, menurut laporan itu juga, dimasukkan ke dalam residensi-residensi di Jawa, dari residensi-residensi di Jawa.
Saya tidak akan menanyakan apa pikiran pembaca mengenai ketajamin pandangan pemerintah yang menerima laporan-laporan seperti itu dan mengumumkannya, dan saya hanya hendak meminta perhatian pembaca terhadap maksud kepalsuan itu.
Pejabat-pejabat Eropa dan bumiputera mendapat sekian persen hadiah untuk hasil-hasil yang harus dijual ke Eropa, dan peraturan ini menyebabkan penanaman padi jadi terbelakang sehingga di beberapa daerah berkecamuk bencana kelaparan yang tidak dapat disunglap hilang di depan mata bangsa. Sudah saya katakan bahwa kemudian dibuat peraturan-peraturan supaya jangan terjadi lagi hal yang demikian itu. Dari sekian banyak akibat peraturan-peraturan tersebut termasuk laporan tentang keluar masuknya beras yang saya sebut tadi, supaya pemerintah selalu dapat mengawasi pasang surutnya barang makanan itu. Keluar dari suatu residensi berarti kemakmuran, masuk berarti kemiskinan.
Apabila kita selidiki laporan-laporan itu, akan ternyata bahwa persediaan beras di mana-mana begitu banyak, sehingga semua residensi bersama-sama, mengeluarkan beras lebih banyak, dari yang dimasukkan ke dalam semua residensi bersama-sama. Saya ulangi bahwa di sini tidak ada pengangkutan ke seberang lautan, yang dilaporkan tersendiri. Jadi kesimpulan kita di sini ialah dalil yang mustahil: bahwa di Jawa lebih banyak beras dari beras yang ada ... itu kan kemakmuran!
Sudah saya katakan bahwa keinginan untuk sama sekali tidak menyampaikan berita-berita kecuali yang baik-baik kepada pemerintah, bisa jadi menertawakan, sekiranya akibat semua ini tidak demikian menyedihkan. Perbaikan apakah yang boleh diharapkan dari banyak kesalahan-kesalahan jika sebelumnya sudah ada maksud tertentu untuk membengkokkan segala-galanya dan memiuh berita-berita yang disampaikan kepada pemerintah? Apakah misalnya yang boleh kita harapkan dari penduduk, yang dengan sifatnya yang lemah lembut dan penurut, telah bertahun-tahun mengeluh di bawah penindasan, jika ia melihat residen yang seorang demi yang lain turun dari jabatannya karena perlop atau pensiun atau dipanggil untuk memegang jabatan lain, tanpa terjadi sesuatu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang membebani diri mereka? Bukankah pegas yang melentur akhirnya melenting kembali? Tidakkah ketidakpuasan yang sekian lama ditahan-tahan itu,—ditindas, supaya orang terus bisa mengingkarinya,—akhirnya berubah menjadi amarah, putus asa, mata gelap? Tidakkah di ujung jalan itu menunggu Jacquerie⁷?
Dan di manakah akan berada pejabat-pejabat itu yang sejak bertahun-tahun ganti berganti, tanpa tiba pada pikiran bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari “karunia pemerintah", yang lebih tinggi dari “kepuasan gubernur jenderal?" Di mana kah mereka itu akan berada, penulis-penulis berita yang pengecut itu, yang menyilaukan mata pemerintah dengan kebohongan-kebohongannya? Apakah mereka itu yang dahulu takut menuliskan kata yang berani di atas kertas, akan memanggul senjata dan mempertahankan negeri jajahan untuk pemerintah Belanda? Apakah mereka itu akan mengembalikan kepada pemerintah Belanda harta benda yang akan diperlukan untuk memadamkan pemberontakan, mencegah revolusi? Apakah mereka akhirnya akan mengembalikan nyawa beribu-ribu orang yang jatuh menjadi korban karena kesalahannya?
Dan pejabat-pejabat itu, kontelir-kontelir dan residen-residen itu, bukanlah orang yang paling bersalah. Pemerintah sendiri yang seperti buta menganjurkan orang memasukkan berita-berita yang menyenangkan, memancing dan menyediakan hadiah untuk itu, dan terutama ini terjadi di mana ada penindasan penduduk oleh kepala-kepala bumiputera.
Menurut kebanyakan orang perlindungan terhadap kepala-kepala itu disebabkan karena perhitungan yang kurang mulia bahwa mereka itu, karena harus memamerkan kemewahan dan kemegahan supaya penduduk tetap menghormati mereka, hal mana diperlukan oleh pemerintah untuk menegakkan kekuasa-annya, seharusnya untuk itu mendapat gaji yang lebih tinggi dari sekarang ini, jika mereka tidak diizinkan untuk melengkapi apa yang kurang dengan mengambil secara tidak sah harta benda dan tenaga kerja penduduk. Bagaimanapun juga pemerintah hanya dengan enggan mempergunakan ketentuan-ketentuan yang katanya melindungi orang Jawa terhadap pemerasan dan perampokan. Sering kali orang mengemukakan alasan-alasan yang tidak dapat dinilai dan acap kali diada-adakan saja sebagai sebab untuk menyelamatkan bupati ini atau kepala itu, dan di negeri Hindia memang umum gagasan bahwa pemerintah lebih suka memecat sepuluh residen dari seorang bupati. Pun juga apa yang disebut alasan-alasan politik itu,—Kalaupun didasarkan atas sesuatu,—biasanya berdasarkan keterangan-keterangan palsu, sebab tiap residen berkepentingan dalam memuji-muji pengaruh bupati-bupatinya atas penduduk, supaya dapat bersembunyi dibelakangnyia, jika kemudian ada persoalan bahwa ia terlalu lunak terhadap kepala-kepala itu.
Saya lewati sekarang kemunafikan yang menjijikkan dari ketentuan-ketentuan yang kedengarannya penuh perikemanusiaan itu, dan kemunafikan sumpah-sumpah yang melindungi orang
Jawa dari kesewenang-wenangan di atas kertas, dan saya minta pembaca mengingat kembali betapa Havelaar ketika mengucapkan kembali sumpah-sumpah itu mengatakan sesuatu yang mirip-mirip penghinaan;—saya sekarang hanya hendak menunjukkan betapa sukarnya kedudukan Havelaar, yang merasa dirinya terikat kepada kewajibannya, bukan sekedar oleh suatu rumus yang diucapkan.
Dan kesukaran itu baginya lebih besar lagi dari bagi kebanyakan orang lain, karena hatinya lembut, berlawanan sekali dengan ketadayaman pikirannya yang sudah tidak asing lagi bagi pembaca. Jadi ia bukan hanya harus berjuang dengan ketakutan kepada manusia, atau kekuatiran akan kehilangan pekerjaan atau tidak mendapat kenaikan pangkat, bukan pula ia harus berjuang hanya dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya sebagai suami dan kepala keluarga, tapi ia-pun harus menundukkan musuh dalam hatinya sendiri. Ia tidak dapat melihat penderitaan tanpa menderita, dan terlalu menyimpang rasanya jika saya kemukakan contoh-contoh, bagaimana ia senantiasa, juga di mana ia merasa disakiti hatinya dan merasa terhina, melindungi pihak lawannya terhadap dirinya sendiri. Diceritakannya kepada Duclari dan Verbrugge betapa ia semasa kecilnya senang sekali berduel dengan pedang, hal mana memang benar, tapi ia tidak mengatakan pula betapa ia sesudah melukai lawannya, biasanya menangis, dan merawat bekas musuhnya seperti biarawati perawat sampai sembuh. Saya dapat menceritakan betapa ia di Natal memanggil orang rantaian yang menembaknya, berbicara baik-baik dengan orang itu, memberinya makan, dan memberinya kebebasan lebih dari yang lain-lain, karena ia merasa bahwa kegeraman orang hukuman itu disebabkan karena suatu keputusan yang terlalu berat, keputusan yang di-jatuhkan di tempat lain. Biasanya kelembutan hatinya itu tidak diakui, atau dianggap menertawakan. Tidak diakui oleh orang yang mengacaukan hatinya dengan semangatnya. Dianggap menertawakan oleh orang yang tidak bisa mengerti bagaimana seorang yang waras bersusah payah menyelamatkan seekor lalat yang terperangkap dalam sarang laba-laba. Tidak diakui pula oleh setiap orang,—kecuali Tine,—yang kemudian mendengarnya memaki-maki “binatang-binatang dengu” itu dan “alam dengu” yang menciptakan binatang-binatang seperti itu.
Tapi ada lagi cara lain untuk meruntuhkannya dari tempatnya berdiri, tempat tinggi yang terpaksa diberikan lingkungannya kepadanya,—orang yang suka Ataupun tidak suka kepadanya. “Ya, memang ia cerdik …… tapi ada ketergesaan dalam ke-cerdikannya. Memang ia pandai …… tapi ia tidak memperguna-kan otaknya dengan baik. Ya, memang ia baik hati, tapi …… ia suka menarik perhatian dengan kebaikan hatinya itu!”
Saya tidak membela kecerdikannya, kepandaian ny, …… tapi hatinya? Lalat-lalat malang yang ditolongnya ketika ia seorang diri, apakah anda hendak membela hatinya itu terhadap tuduhan bahwa ia hendak membikin enak orang saja?
Tapi anda sudah terbang pergi, dan tidak memperdulikan Havelaar,—anda yang tidak dapat mengetahui bahwa sekali waktu ia akan memerlukan kesaksian anda.
Apakah Havelaar sekedar mau menarik perhatian ketika ia di Natal melompat ke dalam air di muara sungai, hendak meno-long seekor anjing,—namanya Sappho,—karena ia takut binatang yang masih kecil itu belum cukup pandai berenang untuk mengelakkan diri dari ikan-ikan hiu yang begitu banyak di tempat itu? Saya rasa cara menarik perhatian dengan kebaik-an hati seperti itu sukar mempercayainya, lebih sukar dari mem-percayai kebaikan hati itu sendiri.
Saya panggil anda, semua yang pernah mengenal Havelaar, jika anda belum jadi beku oleh kedinginan udara musim dingin dan mati seperti lalat-lalat yang ditolongnya itu, atau mati kering oleh hawa panas di bawah khatulistiwa sana. Saya panggil anda untuk memberikan kesaksian mengenai hatinya, anda se-kalian yang pernah mengenalnya. Terutama sekarang ini saya panggil anda dengan kepercayaan, karena anda tidak perlu lagi mencari tempat di mana tali harus diikatkan untuk menariknya ke bawah, betapa pun rendahnya tempat itu.
Dalam pada itu, betapa pun aneka warnanya, di sini akan saya turunkan beberapa baris tulisannya, yang barangkali akan membikin kesaksian-kesaksian semacam itu tidak perlu. Sekali waktu Max jauh, jauh dari anak dan isterinya. Ia terpaksa meninggal-kannya di Hindia dan berada di Jerman. Dengan kecepatan yang saya akui, tapi saya tidak bertanggung jawab kalau ada kekurangannya, ia mempelajiari bahasa negeri Jerman itu, di mana ia tinggal beberapa bulan. Lihatlah di bawah ini beberapa baris sajak yang memperlihatkan betapa mesra hubungannya dengan keluarganya.
(a) “Mein Kind, da skhlagt die neunte Stunde, hor! Der Nakhtwind sauselt und die Luft wird kuhl, Zu kuhl fur dikh vielleikht, dein Stirnkhen gluht Du hast den ganzen Tag so wild gespielt Du bist wohl mude, komm, dein tikar harret —”
“Akh Mutter, lasz mikh nokh nen Augenblick Es ist so sanft zu ruhen hier—und dort, Da drin auf meiner Matte skhlaf ikh gleikh, Und weisz nikht einmal was ikh traume,—hier Kann ikh dokh gleikh dir sagen was ikh traume, Und fragen was mein Traum bedeutet—— hor, Was war das?”—“s War ein Klapper der da fiel.”—— “Thut das dem Klapper weh?”—“Ikh glaube nikht, Man sagt die Frukht, der Stein hat kein Gefuhl.” —
— “Dokh eine Blume, fuhlt die aukh nikht?”—— “Nein
Man sagt sie fuhle nikht.”—Warum denn Mutter, Als gestern ikh die pukul empat brakh Hast du gesagt: es thut der Blume Weh?” —
— “Mein Kind, die pukul empat war so skhon, Du zogst die zarten Blattkhen roh entzwei, Das that mir fur die arme Blume leid, Wenn gleikh die Blume selbst es nikht gefuhlt Ikh fuhlt es fur die Blume, weil sie skhon war.” —
— “Dokh Mutter, bist du aukh skhon?”—“Nein mein Kind Ikh glaube nikht.”—— “Ya, Menskhen habens,—dokh nikht alle gleikh” —
(b)
— “Allein du hast Gefuhl——?”
— “Und kann dir etwas weh thun? thut es weh, Wenn dir im Skhoos so skhwer mein Kopfkhen ruht?” —
— “Nein, das thut mir nikht weh!” —
— “Und, Mutter ikh,
Hab ikh Gefuhl?” —
— “Gewisz, erinre dikh
Wie du gestraukhelt einst,—an einem Stein Dein Handkhen hast verwundet, und geweint. Aukh weintest du als Saudin dir erzahlte Dasz auf den Hugeln dort ein Skhaflein tief In eine Skhlukht hinunter fiel und starb; Da hast du lang geweint,—das war Gefuhl” —
— “Dokh Mutter, ist Gefuhl denn Skhmerz?” —
— “Ya oft,
Dokh immer nikht,—bisweilen nikht! Du weisst Wenns Skhwesterlein dir in die Haare greift, Und krahend dirs Gesikhtkhen nahe druckt Dann lakhst du freudig, das ist aukh Gefuhl.” —
— “Und dann mein Skhwesterlein—es weint so oft, Ist das vor Skhmerz—hat sie denn aukh Gefuhl?” —
— “Vielleikht, mein Kind, wir wissen s aber nikht, Weil sie so klein es nokh nikht sagen kann.” —
— “Dokh Mutter …… hore, was war das?”——— “Ein Hirskh Der sikh verspatet im Gebuskh, und yetzt Mit Eile heimwarts kehrt und Ruhe sukht Bei andern Hirskhen die ihm lieb sind” —
—— “Mutter, (c) Hat solkh ein Hirskh ein Skhwesterlein wie ikh Und eine Mutter aukh?”——— “Ikh weisz nikht, Kind.” —
— “Das wurde traurig sein wenns nikht so ware! Dokh, Mutter, sieh—was skhimmert dort im Straukh, Sieh wie es hupft und tanzt—ist das ein Funk?”
“S ist eine Feuerfliege”——— “Darf ikh s fangen?” —
“Du darfst es, dokh das Flieglein ist so zart, Du wirst gewisz es weh thun und sobald Du s mit den Fingern all zu roh beruhrst Ist s Thierkhen krank, und stirbt und glanzt nikht mehr.” —
— “Das wurde Skhade sein—ikh fang es nikht,—— Sieh da verskhwand es——— nein, es kommt hierher,—— Ikh fang es dokh nikht—— wieder fliegt es fort, Und freut sikh dasz ikh s nikht gefangen habe,—— Da skhwirrt es—hokh—da oben—was ist das, Sind das aukh Feuerflieglein dort?”——— “Das sind Die Sterne” —
— “Ein und zwei und zehn und tausend! Wieviel sind denn wohl da?”—— “Ikh weiss es nikht; Der Sterne Zahl hat Niemand nokh gezahlt” —
— “Sag Mutter, zahlt aukh Er die Sterne nikht?” —
— “Nein lieber Kind, aukh Er nikht”—— “Ist das weit Dort oben wo die Sterne sind?”—— “Sehr weit” —
— “Dokh haben diese Sterne aukh Gefuhl? Und wurden sie, wenn ikh sie mit der Hand (d) Beruhrte, gleikh erkrankan, und den Glanz Verlieren wie das Flieglein?—— Sieh, nokh skhwebt es—— Sag, wurd es aukh den Sternen weh thun?”
— “Nein
Weh thuts den Sternen nikht,—dokh s ist zu weit Fur deine kleine Hand, du reikhst so hokh nikht” —
— “Kann Er die Sterne fangen met der Hand?” —
— “Aukh Er nikht, das kann Niemand.”—— “Das ist Skhade Ikh gab so gern dir einen———wenn ikh gross bin Dann wil ikh so dikh lieben dasz ikh s kann.”
Das Kind skhlief ein und traumte von Gefuhl, Von Sternen die es faszte mit der Hand———Die Mutter skhlief nokh lange nikht! Dokh traumte Aukh sie, und dakht an den der fern war—— —
Cassel, Yanuar 1859
Pukul empat—kembang yang membuka kelopaknya jam empat
Saudin—penjaga anah
Ya, ada kemungkinan orang menuduh saya menyugukan gado-gado dengan menuliskan baris-baris ini di sini. Saya ingin mempergunakan tiap kesempatan untuk memperkenalkan orang yang memegang peran utama dalam cerita saya ini, supaya menarik bagi pembaca, apabila nanti bahaya mengancamnya.
¹ Meniru-niru Napoleon.
² Tidak terjadi.
³ Keris.
⁴ Catatam “Setuju dilaksanakan”.
⁵ Undang-undang Perancis mengenai perlindungan hewan (1850).
⁶ Nama-nama penakluk dari Asia.
⁷ Pemberontakan rakyat.
Bab XV
Pejabat sebelum Havelaar menginginkan kebaikan, tapi rupanya dia takut pula dapat amarah atasannya,—dia banyak anak, dan miskin pula,—karena itu dia hanya bicara saja dengan residen mengenai apa yang dia sendiri anggap kesalahan yang keterlaluan, dan tidak menyebutnyia dalam laporan yang resmi. Dia tahu bahwa seorang residen tidak suka menerima laporan resmi tertulis yang tetap akan tinggal dalam arsipnya, dan kemudian akan dapat menjadi bukti bahwa orang telah tepat pada waktunya mengingatkannya kepada sesuatu kesalahan, sedangkan jika laporan itu disampaikan secara lisam, dia bisa saja tanpa risiko apa-apa melayani atau tidak melayani sesuatu pengaduan. Laporan lisam demikian biasanya disusul dengan panggilan terhadap bupati, yang tentu saja menyangkal segala tuduhan dan meminta bukti-bukti. Maka dipanggillah orang-orang yang begitu berani memasukkan pengaduan, dan sambil menyembah kaki adipati mereka minta am pun atas pengaduan-nya itu. “Tidak, kerbaunya tidak diambil begitu saja, mereka percaya bahwa akan dibayar harganya lipat ganda.” “Tidak, mereka bukannya dipanggil dari ladangnya, untuk bekerja tanpa bayaran di sawah-sawah kepunyaan bupati, mereka tahu betul bahwa adipati akan membayar mereka dengan royal kemudian.” “Mereka memasukkan pengaduan pada saat mereka kesal tanpa alasan,—mereka gila dan memohon supaya dihukum karena kekurangajarannja itu” ……
Maka tahulah residen alasan sesungguhnya dari penarikan kembali pengaduan itu, namun penarikan kembali itu memberinya kesempatan yang baik untuk mempertahankan bupati dalam yabatannya dan kehormatannya, dan dia sendiri tidak perlu “mempersulit” pemerintah dengan berita yang kurang baik, suatu tugas yang tidak enak. Pengadu-pengadu yang dakar itu dihukum dera dengan rotan, sang bupati tampil sebagai pemenang, dan sang residen kembali ke ibu kota, dengan perasaan senang bahwa ia telah “menyelesaikan” perkara itu dengan baik.
Tapi apa yang harus dilakukan asisten residen kalau kesokan harinya datang lagi pengadu-pengadu lain kepadanya? Atau, dan ini sering terjadi, kalau pengadu-pengadu itu juga kembali dan menarik kembali pernyataan mereka menarik kembali? Apakah ia harus mencatat lagi perkara itu dalam laporan nya, untuk membicarakannya lagi dengan residen, untuk melihat lagi komedi yang sama dipentaskan, dengan akhirnya dianggap sebagai orang bodoh dan jahat yang selalu memajukan pengaduan dan selalu pula pengaduannya ditolak sebagai tidak ber-alasan? Dan apa jadinya dengan hubungan persahabatan yang begitu perlu antara kepala bumiputera yang paling penting dengan pejabat eropa yang pertama, jika pejabat itu selalu saja mendengarkan pengaduan-pengaduan palsu terhadap kepala bumiputera itu? Dan terutama, apa jadinya dengan pengadu-pengadu yang malang itu, sesudah mereka kembali kedusunnya, di bawah kekuasaan kepala distrik atau kepala kampung yang mereka adukan sebagai pelaksana kesewenang-wenangan sang bupati?
Apa jadinya dengan pengadu-pengadu itu? Barang siapa yang bisa lari, larilah. Itulah sebabnya begitu banyak orang Bantam di propinsi-propinsi berdekatan. Itulah sebabnya begitu banyak penduduk Lebak di antara pemberontak-pemberontak di distrik-distrik Lampung. Itulah sebabnya Havelaar dalam pidatonya bertanya kepada kepala-kepala: “Apakah sebabnya, maka begitu banyak rumah yang kosong di dusun-dusun; dan mengapa kebanyakan orang lebih suka bernau ng di hutan-hutan di tempat lain, dari berdiam di hutan-hutan Bantam Kidul yang sejuk?”
Tapi tidak semua orang dapat melarikan diri. Orang yang pagi hari mayatnya terapung menghilir sungai, sesudah ia malam sebelumnya secara diam-diam, ragu-ragu, ketakutan, minta bertemu dengan asisten residen, dia tidak perlu lagi melarikan diri. Barangkali dapat dianggap lebih berperikemanusiaan untuk segera membunuhnya dari pada membiarkannya hidup beberapa saat lagi. Dia luput dari penganiayaan yang menunggunya bila kembali ke kampung, luput dari deraan rotan sebagai hukuman bagi orang yang sekejap mengira bahwa ia bukan binatang, bukan sepotong kayu atau batu yang tidak bernyawa; hukuman bagi orang yang sekejap mengira bahwa ada hukum di dalam negeri, dan bahwa asisten residen mempunyai kemauan dan kekuasaan untuk menegakkan hukum itu.
Bukankah sesungguhnya lebih baik mencegah orang itu kembali keesokan harinya kepada asisten residen, sebagaimana yang dinasehatkan kepadanya malam hari oleh suruhan pejabat itu, dan membenamkan pengaduannya ke dalam air Tjiujung yang kuning, yang akan membawannya perlahan-lahan kemuara? Sungai itu sudah biasa jadi pembawa hadiah muhibah dari hiu-hiu di pedalaman kepada hiu-hiu di lautan.
Dan Havelaar tahu semua itu! Dapatkah pembaca merasakan apa yang bergolak dalam hatinya, bila ia mengingat bahwa ia wajib menegakkan hukum, dan untuk itu bertanggung jawab kepada kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan suatu pemerintahan, yang mewajiibkan hukum dalam undang-undangnya, tapi tidak selalu suka menyalankannya? Dapatkan pembaca merasakan betapa ia terumbang ambing oleh keragu-raguan,—bukan keragu-raguan tentang apa yang harus dilakukannya, tapi tentang cara melakukannya?
Ia mulai dengan lemah lembut. Ia berbicara dengan adipati sebagai “saudara tua”. Janganlah anda kira bahwa saya, karena senang dengan pahlawan cerita saya, membagus-baguskan caranya berbicara, tapi dengarlah bagaimana sekali waktu sesudah percakapan demikian, sang bupati mengirim patihnya kepadanya untuk mengucapkan terima kasih atas keikhlasan kata-katanya, dan bagaimana lama sesudah itu, sang patih dalam pembicaraannya dengan kontelir Verbrugge, sesudah Havelaar tidak lagi jadi asisten residen Lebak, jadi, sesudah orang tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi dari padanya atau tidak perlu takut lagi kepadanya,—bagaimana sang patih itu merasa terharu teringat kata-kata itu, dan berseru: “Belum pernah ada tuan besar yang berbicara seperti dia!”
Ya, dia hendak menolong, menyelamatkan, bukan mencelakan-kan. Ia kasihan kepada bupati. Ia tahu bagaimana tertekannya orang yang tidak punya uang, lebih-lebih jika ia terancam kehinaan dan keaiban, maka ia mencari-cari alasan untuk membenarkan sang bupati. Bupati itu sudah tua, dia adalah kepala suatu kaum yang hidup mewah di propinsi-propinsi yang berdekatn, di mana banyak dihasilkan kopi dan banyak hasil tambahan. Bukankah ia merasa hina jika tingkat hidupnya jauh di bawah keluarganya yang lebih muda? Lagipula ia fanatik dan mengira dengan bertambahnius usianya, ia dapat membeli keselamatan jiwanya dengan membayarkan orang lain naik haji, dan memberi sedekah kepada penganggur-penganggur yang mendoa untuknya. Pejabat-pejabat sebelum Havelaar di Lebak, tidak selalu memberikan contoh yang baik, dan akhirnya keluarga bupati di Lebak itu, yang hidup atas biayanya, jadi begitu besar, sehingga sukar baginya untuk kembali ke jalan yang benar.
Demikianlah Havelaar mencari-cari alasan supaya jangan bertindak keras, dan sekali lagi, dan sekali lagi mencoba apa yang dapat dilakukan dengan cara yang lemah lembut.
Dan dia lebih jauh lagi menempuh jalan yang lebih dari lemah lembut. Dan dengan kemuliaan hati yang mengingatkan kesalahan-kesalahan yang membikin dia begitu miskin, ia selalu meminjami bupati itu uang atas tanggungjawabnja sendiri, sehingga bupati itu tidak terpaksa harus melakukan kejahatan mencuri, dan ia seperti biasa sampai lupa diri dan menghemat keperluannya sendiri dan keluarganya sehemat-hematnya, supaya dapat menolong sang bupati dengan wang sedikit yang masih dapat disisihkannya dari penghasilannya.
Kalau masih perlu lagi membuktikan betapa lemah lembutnya Havelaar menjalankan kewajibannya yang sukar, hal itu dapat dibuktikan dengan pesannya secara lisan kepada kontelir waktu ia untuk beberapa hari berangkat ke Serang: “Katakan kepada residen yang mendengar tentang kesalahan-kesalahan yang terjadi di tempat ini, jangan dia mengira bahwa saya masa bodoh tentang kesalahan-kesalahan itu. Saya tidak segera melaporkannya secara resmi, karena saya kasihan kepada bupati itu, dan saya tidak mau dilakukan tindakan keras terhadapnya, sebelum saya mencoba menyadarkan dia akan kewajibannya dengan jalan yang halus."
Havelaar sering kali berhari-hari keluar. Kalau ia ada di rumah, biasanya ia di kamar yang di dalam peta kita dinyatakan dengan bidang ketujuh. Di sana ia biasanya menulis dan menerima orang-orang yang hendak bicara dengannya. Sengaja dipilihnnya tempat itu supaya dekat dengan Tine yang biasanya berada di kamar sebelahnya, begitu mesra hubungan mereka, sehingga Max, juga apabila ia sedang mengerjakan sesuatu yang memerlukan tenaga dan perhatiannya, selalu ingin melihat atau mendengarnya. Sering kali lucu rasanya bagaimana ia tiba-tiba menegornya dan berbicara tentang hal-hal yang sedang dipikirkannya, dan betapa cepat Tine, tanpa mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, menangkap arti pendapat yang dikemukakannya, yang biasanya pula tidak dijelaskannja lagi, seolah-olah dengan sendirinya Tine tahu apa dimaksudnya. Sering kali pula diyika ia tidak senang dengan pekerjaannya atau dengan sesuatu berita yang baru diterimanya, ia melompat, dan mengatakan sesuatu yang tidak enak kepadanya, yang sebenarnya tidak bersalah apa-apa dalam hal itu. Tapi Tine suka mendengarnya, sebab itu membuktikan bahwa ia ada di dalam hati Max. Dan memang tidak pernah Max menyatkan menyesal telah berkata kasar demikian, dan Tine tidak merasa perlu memberi maaf. Ini bagi mereka sama saja seolah-olah orang meminta maaf kepada diri sendiri, karena memukul kepalanya sendiri sangkin kesalnya.
Tine mengenalnya baik sekali sehingga ia tahu, bila ia harus datang kepadanya untuk memberinya hiburan sebentar,—tepat pada waktu suaminya memerlukan nasehatnya, dan ia tahu pula bila ia harus meninggalkannya seorang diri.
Di kamar itulah Havelaar duduk pada suatu pagi, ketika kontelir masuk dengan surat “baru saja diterima” di tangannya.—“Ini perkara yang sukar, katanya sambil masuk, sukar sekali.”
Jika saya katakan bahwa surat itu hanya berisi perintah untuk memberitahukan kepada Havelaar mengapa ada perubahan dalam harga-harga kayu dan upah kerja, maka pembaca akan berkata: cepat sekali kontelir Verbrugge menganggap sesuatu sukar. Jadi, perlu segera saya tambahkan bahwa kebanyakan orang lain pun akan merasa sukar menjawab soal yang mudah itu.
Beberapa tahun yang lalu di Rangkas Betung didirikan sebuah penjara. Sudah umum diketahui bahwa pejabat-pejabat di pedalaman pulau Jawa pandai mendirikan gedung-gedung yang harganya beribu-ribu, dengan hanya mengeluarkan beberapa ratus rupiah. Mereka dengan demikian jadi terkenal sebagai orang yang cakap dan rajin untuk jabatan negeri. Perbedaan antara wang yang dikeluarkan dan harga barang yang diperoleh dengan wang itu, dicukupi dengan barang yang diserahkan tanpa bayaran dan tenaga manusia yang tidak dibayar. Sudah beberapa tahun ada peraturan-peraturan yang melarang praktek semacam itu. Tidak dipersoalkan di sini apakah peraturan-peraturan itu dipatuhi, pun tidak dipersoalkan apakah pemerintah sendiri ingin supaya dipatuhi dengan ketelitian yang akan memberatkan bagi anggaran belanja departemen pembangunan. Agaknya halnya sama dengan semua peraturan lain yang nampaknya begitu penuh perikemanusiaan di atas kertas.
Nah, di Rangkas Betung banyak gedung yang harus didirikan, dan insinyur-insinyur yang mendapat tugas untuk merencanakan proyek itu, tentu saja minta keterangan tentang harga-harga setempat, upah kerja dan bahan-bahan. Havelaar memerintahkan kepada kontelir melakukan pemeriksaan yang teliti tentang itu dan meminta kepadanya untuk memberikan harga-harga yang sebenarnya, tanpa melihat apa yang dahulu terjadi, dan Verbrugge memenuhi permintaan itu. Tapi sekarang ternyata harga-harga itu tidak sama dengan yang dilaporkan beberapa tahun dahulu. Perbedaan itulah yang sekarang ditanyakkan sebabnya, dan itulah yang dianggap oleh Verbrugge begitu sukar. Havelaar yang tahu benar apa yang tersembunyi di belakang soal yang nampaknya sederhana itu, menjawab bahwa ia akan memberitahukan secara tertulis pikiran-pikirannya mengenai kesukaran itu, dan saya menemukan di antara surat-surat yang terletak di meja saya sebuah salinan dari surat yang dijanjikan itu.
Jikalau pembaca mengeluh bahwa saya menyodorkan kepada-nya surat menyurat mengenai harga-harga kayu yang nampaknya bukan urusannya, saya minta perhatiannya bahwa di sini sebenarnya ada soal lain, yakni keadaan rumah tangga pemerintahan Hindia, dan bahwa surat yang saya ceritakan tidak hanya menyoroti optimisme buat-buatan yang telah saya sebut, tapi melukiskan pula kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh orang seperti Havelaar, yang hendak menempuh jalan lurus ke depan dan tanpa melihat ke belakang.
“No 114. Rangkas Betung, 15 Maret 1856.
Kepada Kontelir Lebak.
Ketika saya meneruskan kepada anda surat dari direktur pekerjaan umum tanggal 16 Pebruari yang lalu, no. 271/354, saya minta kepada anda menjawab apa yang tersebut dalam surat itu setelah membicarakannya dengan bupati, dengan memperhatikan apa yang saya tulis dalam surat saya tanggal 5 bulan ini no. 97.
Surat itu mengandung beberapa petunjuk umum mengenai apa yang dianggap pantas dan adil dalam menentukan harga-harga bahan-bahan, yang harus diserahkan oleh rakyat kepada pemerintah dan atas pesanan pemerintah.
Dengan surat anda tanggal 8 bulan ini no. 6 anda telah memenuhi permintaan itu dan saya percaya, menurut pengetahuan anda yang paling jujur; sehingga saya, percaya akan pengetahuan anda mengenai keadaan setempat dan pengetahuan bupati, telah mengirimkan laporan yang telah anda susun itu, kepada residen.
Sesudah itu menyusul sepucuk surat dari pejabat tinggi itu tanggal 11 bulan ini no. 326, di mana diminta keterangan tentang perbedaan antara harga-harga yang saya laporkan dan harga-harga yang dikeluarkan tahun 1853 dan 1854, waktu mendirikan sebuah penjara.
Tentu saja saya serahkan surat itu kepada anda, dan memerintahkan kepada anda dengan lisan, untuk membenarkan laporan anda, hal mana tidak begitu sukar karena anda dapat berpegang pada peraturan-peraturan yang saya berikan dalam surat saya tanggal 5 bulan ini, dan yang telah berkali-kali kita bicara-kan dengan lisan secara panjang lebar.
Hingga ini segalanya mudah dan berjalan berangsur-angsur.
Tapi kemarin anda datang ke kantor saya dengan surat dari residen di tangan anda, dan anda mulai bicara tentang kesukaran menyelesaikan soal yang tersebut di dalamnya; saya lihat lagi pada anda keengganan untuk menyebut beberapa soal pada namanya yang sebenarnya; suatu hal yang sudah berkali-kali saya katakan kepada anda, antara lain baru-baru ini waktu residen hadir;—suatu hal yang dengan singkat saya sebut sikap setengah-setengah, dan saya telah peringatkan anda baik-baik berkali-kali terhadap sikap semacam itu.
Dan sikap setengah-setengah tidak akan menghasilkan apa-apa.
Separoh baik sama dengan tidak baik. Separoh benar sama dengan tidak benar.
Dengan gaji yang penuh, dengan pangkat yang penuh, sesudah mengangkat sumpah yang penuh dan jelas, haruslah orang melakukan kewajibannya secara penuh.
Jika perlu keberanian untuk melaksanakan kewajiban itu, maka haruslah orang memiliki keberanian itu.
Saya tidak akan berani untuk tidak mempunyai keberanian itu. Sebab, lepas dari ketidakpuasan dengan diri sendiri sebagai akibat dari melalaikan kewajiiban atau keteledoran, kita lebih susah dan lebih besar lagi bahayanya jika kita mencari-cari dalih-dalih, selalu dan di mana-mana menghindari bentrokan, lebih senang “mencari jalan bijaksana"; lebih baik dan lebih mudahlah bagi kita untuk menempuh jalan lurus.
Sewaktu menyelesaikan suatu perkara yang sangat penting yang sekarang ini telah sampai kepada gubernemen untuk dipertimbangkan, dan yang sebenarnya anda karena jabatan anda harus turut serta memecahkannya, secara diam-diam saya membiarkan anda seolah-olah tidak tahu menahu, dan hanya secara berkelakar saya sekali-sekali menyebutnya.
Misalnya ketika baru-baru ini laporan anda tiba ke tangan saya mengenai sebab musabab kemiskinan dan bahaya kelaparan di kalangan penduduk, saya menulis pada laporan itu: “semua ini mungkin benar, tapi bukan seluruh kebenaran, bukan pula kebenaran yang paling penting, sebab utamanya lebih dalam lagi"; anda membenarkan catatan saya itu sepenuhnya, dan saya tidak mempergunakan hak saya, untuk menuntut anda supaya juga menyebutkan kebenaran utama itu.
Saya punya banyak alasan untuk bersabar, antara lain, saya merasa tidak adil menuntut dari anda apa yang kebanyakan orang lain juga tidak akan dapat lakukan sekiranya mereka di tempat anda; memaksa anda tiba-tiba begitu saja meninggalkan kebiasaan untuk tidak bererus terang dan segan kepada orang, hal mana bukanlah kesalahan anda, tapi kesalahan pimpinan yang diberikan kepada anda. Akhirnya saya ingin lebih dulu memberi anda contoh betapa lebih sederhana dan lebih mudah melakukan kewajiiban secara keseluruhan dari pada separoh-separoh.
Tapi sekarang sesudah saya beberapa hari pula lebih lama melihat anda di bawah perintah saya, dan sesudah saya berkali-kali memberi anda kesempatan untuk mempelajari prinsip-prinsip yang akhirnya akan menang,—kecuali jika saya keliru,
— saya ingin supaya anda menerima; supaya anda mempergunakan tenaga yang bukannya tidak ada, tapi yang tidak dipergunakan lagi, tenaga yang rupanya diperlukan untuk senantiasa menurut pengetahuan anda dan menurut bisikan nurani anda, mengatakan dengan terus terang apa yang harus dikatakan, dan supaya anda tinggalkan sikap takut-takut dan tampil dengan berani memperjuangkan sesuatu kepentingan.
Jadi saya mengharapkan sekarang suatu laporan yang sederhana tapi lengkap yang menurut pendapat anda menjadi sebab perbedaan harga antara sekarang dan tahun 1853 dan 1854.
Saya harap dengan sangat supaya jangan ada satu bagian kalimat dari surat ini yang anda anggap bertujuan untuk menyakiti hati anda. Saya percaya bahwa anda sudah cukup mengenal saya untuk mengetahui bahwa saya tidak berkata lebih atau kurang dari apa yang saya maksud, lagipula perlu saya tegaskan bahwa kata-kata saya ini sebenarnya bukan terutama tertuju kepada anda, tapi kepada sekolah di mana anda dididik menjadi pegawai negeri Hindia.
Tapi “circonstance attenuate”¹ ini menjadi batal jika anda lebih lama bergaul dengan saya, dan mengabdi gubernemen di bawah pimpinan saya, tapi terus juga mengikuti kebiasaan yang saya tentang.
Anda sudah melihat bahwa saya tidak mau mempergunakan kata “Yang Mulia”: saya bosan dengan kata itu. Janganlah pula anda mempergunakannya, dan biarlah “yang mulia” kita, dan di mana perlu “yang sangat mulia” kita, terbukti kemuliaannya di tempat lain dan terutama hendaklah hal itu terbukti dengan cara lain, dari sekedar gelar yang membosankan itu, gelar yang mengganggu arti kalimat.
Asisten residen Lebak, Max Havelaar.”
Beberapa orang pejabat yang mendahului Havelaar marah dengan jawaban atas surat itu, suatu bukti bahwa ia tidak salah menyebutkan juga contoh-contoh yang buruk dari masa silam di antara sebab-sebab yang meringankan kesalahan sang bupati.
Saya mendahului waktu dengan menyebutkan surat ini, untuk memperlihatkan dari sekarang bahwa Havelaar tidak banyak harapan akan mendapat bantuan dari kontelir dalam hal ia harus berterus terang mengenai soal-soal lain, yang lebih penting, jika kontelir itu, yang pasti adalah seorang manusia yang baik, diminta mengatakan yang sebenarnya, memberikan perhitungan harga-harga kayu, batu, kapur dan gaji; dan bahwa Havelaar bukan saja harus melawan kekuasaan orang-orang yang mendapat keuntungan dari kejahatan, tapi juga harus melawan keengganan orang-orang yang tidak merasa terpanggil atau cakap untuk bertindak dengan berani,—Meskipun mereka itu sendiri tidak membenarkan kejahatan itu seperti dia.
Barangkali juga sesudah membaca surat itu orang tidak lagi akan begitu menganggap hina orang Jawa yang sifatnya selalu mau tunduk seperti budak, yang dengan cara pengecut menarik kembali tuduhannya jika kepalanya hadir, Meskipun tuduhannya itu beralasan. Sebab jika dipikir bahwa banyak alasan untuk takut, juga bagi pejabat Eropa yang boleh dianggap kecil kemungkinannya bahwa orang akan membals dendam terhadapnya, maka apakah bencana yang menunggu petani miskin, yang sama sekali berada dalam kekuasaan penindas-penindasnya yang diadukannya, di desa yang jauh dari ibukota? Apakah mengherankan bahwa orang-orang miskin itu, takut akan akibat kelancangannya, mencari selamat dari akibat-akibat itu atau memperlambutnya sambil tunduk dengan kerendahan hati?
Dan bukanlah hanya kontelir Verbrugge yang melakukan kewajibannya dengan takut-takut sebagaimana pantasnya pada orang yang melalaikan kewajiban. Pun jaksa, kepala Bumi-putra yang dipengadilan negeri bertindak sebagai penuntut umum, lebih suka datang malam-malam di rumah Havelaar, tidak kelihatan dan tanpa pengiring. Orang yang harus membanteras pencurian, orang yang ditugaskan menangkap basah pencuri yang mengendap-endap, dia sendiri yang menyelinap-nyelinap, seolah-olah diaalah pencuri yang takut tertangkap basah, dengan langkah perlahan-lahan memasuki rumah dari belakang, sesudah mengetahui betul bahwa tidak ada orang di sana, yang akan dapat membuka rahasianya sebagai orang yang melalaikan kewajiiban.
Apakah mengherankan bahwa jiwa Havelaar merasa sedih, dan bahwa Tine lebih dari yang sudah-sudah perlu memasuki kamarnya untuk menghiburnya, jika ia melihat betapa Havelaar duduk bertopang dagu?
Meskipun demikian keberatan yang paling besar baginya bukanlah keengganan orang-orang yang mendampinginya, bukan pula orang-orang yang secara pengecut membantu kebatilan, pada hal mereka meminta bantuannya. Tidak, seorang diri pun ia mau menegakkan keadilan, tanpa atau dengan bantuan orang lain, ya, dengan melawan semua orang, Biarpun ia berhadapan dengan orang yang memerlukan sendiri keadilan itu. Sebab dia tahu betapa besar pengaruhnya kepada rakyat, dan dia tahu bagaimana besar kuasanya untuk mempengaruhi jiwa mereka,—apabila orang-orang yang tertindas itu datang memenuhi panggilan pengadilan untuk mengatakan lagi dengan suara keras apa yang mereka bisikkan kepadanya malam hari dalam kesepian,—dan bagaimana tenaga kata-katanya lebih kuat dari ketakutan mereka terhadap pembalasan dendam dari kepala distrik atau bupati. Jadi dia tidak merasa terhambat karena takut bahwa orang-orang yang dilindunginya akan melepaskan tekadnya untuk membela perkaranya sendiri. Tapi berat sekali baginya untuk mengadukan adipati yang tua itu, itulah sebabnya maka ia ragu-ragu; sebab sebaliknya dia pun tidak boleh mengalah kepada perasaan enggan, karena seluruh rakyat, kecuali demi keadilan, juga berhak untuk dikasihani.
Dia ragu-ragu bukan karena takut akan penderitaan sendiri. Sebab Meskipun dia tahu bahwa pemerintah pada umumnyia tidak suka seorang bupati diadukan, dan bahwa lebih mudah untuk memecat seorang pejabat Eropa dari menghukum seorang kepala bumiputera, dia mempunyai alasan khusus untuk percaya bahwa justru pada saat ini ada dalil-dalil lain dari yang lazim dalam mempertimbangkan perkara demikian. Adalah benar bahwa tanpa pikiran itu pun ia akan melakukan kewajiabannja juga; lebih-lebih lagi jika menurut anggapan nyia bahayanya bagi dirinya dan keluarganya lebih besar dari yang sudah-sudah. Sudah dikatakan betapa ia tertarik kepada kesukaran, betapa ia ingin berkorban, tapi menurut pendapatnyia tarikan pengorbanan diri di sini tidak ada, dan ia kuatir bahwa jika pada akhirnyia ia harus berduyang lebih keras melawan ketidakadilan, ia tidak akan merasakan kenikmatan telah memulai pertarungan itu sebagai orang yang paling lemah.
Ya, itulah yang dia takuti. Dia mengira bahwa ditampuk pemerintahan ada gubernur jenderal yang akan menjadi sekutunya, dan ini merupakan pula keanehan dalam wataknya, bahwa pikiran itu menahannya untuk mengambil tindakan-tindakan yang keras, menahannya lebih lama dari alasan apa pun yang lain, karena ia enggan melawan ketidakadilan pada saat ia menganggap keadilan lebih kuat dari biasanya.
Sudah saya katakan dalam percobaan memerikan tabiatnya, bahwa ia naif, dalam segala ketajamannja.
Saya akan mencoba menerangkan, bagaimana Havelaar tiba pada pendapat itu.
Sedikit sekali pembaca Eropa yang dapat membayangkan dengan sebenarnya bagaimana tingginya derajat yang harus ditempati oleh seorang gubernur jenderal sebagai manusia, supaya tidak tetap berada di bawah derajat tugas yang harus dilakukannya, dan bukanlah suatu pendapat yang keras apabila saya beranggapan bahwa sedikit sekali, barangkali tidak ada, orang yang telah dapat memenuhi syarat yang begitu berat. Lepas dari sifat-sifat yang istimewa dari hati dan kepala yang diperlukan untuk itu, cobalah ingat betapa memeningkan tingginya orang itu tibatiba ditempatkan, orang yang—kemarin masih seorang warga biasa,—sekarang memegang kekuasaan atas berjuta-juta rakyat. Orang yang baru beberapa waktu yang lalu tersebunyi di antara lingkunganinya, tidak menonjol dalam pangkat atau kekuasaan, biasanya secara tiba-tiba, diangkat di atas orang banyak, yang jauh lebih besar jumlahnja dari lingkaran kecil yang dahulu membenamnya sehingga tidak kelihatan oleh orang; dan saya kira tepatlah jika saya menyebut tempatnya yang tinggi itu membuat pemandangan orang berputar-putar, seperti orang yang kepalanya menjadi pusing, karena tiba-tiba melihat jurang di depannya, atau seperti kita menjadi buta apabila kita dengan cepat dipindahkan dari tempat yang gelap pekat ke tempat yang cerah. Syaraf mata kita atau benak kita tidak tahan terhadap peralihan demikian, Meskipun syaraf kita itu kuat sekali.
Jadi, jika pengangkatan gubernur jenderal itu saja sering kali sudah mengandung sebab-sebab kerusakan mental, juga bagi orang yang mempunyai otak dan hati yang baik sekali, apakah yang dapat kita harapkan dari orang yang sebelum pengangkatan itu sudah mempunyai banyak kekurangan? Dan Sekalipun kita percaya bahwa raja selalu cukup mendapat informasi, sebelum ia menaruh tanda tangannya yang mulia di bawah surat keterangan, bahwa ia yakin akan “kesetiaan yang terpuji, kerajinan dan kecakapan” Wakil yang diangkatnya itu, Sekalipun kita menerima bahwa wakil raja yang baru itu memang rajin, setia dan cakap, masih kita bertanya-tanya apakah kerajinan dan terutama kecakapannya itu cukup, cukup tinggi di atas ukuran sedang untuk memenuhi syarat-syarat panggilan jiwanya.
Sebab soalnya bukanlah apakah orang yang meninggalkan kabine raja di s Gravenhage itu, untuk pertama kali sebagai gubernur jenderal, pada saat itu mempunyai kecakapan yang akan diperlukan dalam jabatannya yang baru,—ini tidak mungkin. Dengan pernyataan kepercayaan atas kecakapannya hanya dimaksudkan anggapan bahwa ia dalam lingkungan kerja yang lain sama sekali pada sesuatu saat, seolah-olah dengan mendapat ilham, akan mengetahui apa yang di s Gravenhage tidak mungkin telah dipelajarinya; dengan lain perkataan: bahwa ia seorang jeni; seorang jeni yang tiba-tiba harus tahu dan harus bisa, apa yang tidak diketahuinya dan apa yang dia tidak bisa. Jeni seperti itu jarang ada, pun antara orang-orang yang ber-naung di bawah karunia raja-raja.
Karena saya bicara tentang manusia jeni, anda merasa bahwa saya hendak melangkahi saja apa yang dapat dikatakan tentang sekian banyak wakil raja. Pun saya enggan menyisipkan dalam buku saya halaman-halaman yang merusak maksud baik karya ini, halaman-halaman yang menyebabkan orang mengira bahwa saya dengan sengaja mencari-cari cerita skandal. Jadi saya lewati saja hal ihwal yang menyangkut beberapa orang tertentu, tapi sebagai sejarah penyakit umum keadaan para gubernur jenderal, saya rasa bolehlah saya catatkan: Tahap pertama. Pusing-pusing. Mabuk kemenyan. Menganggap diri hebat. Kepercayaan diri berlebih-lebihan. Meremehkan orang lain, terutama “oudgasten”². Tahap kedua. Lelah. Takut dan kuatir. Lesu. Mau tidur saja dan diam. Percaya berlebih-lebihan kepada dewan Hindia. Rindu tinggal di dusun kecil di negeri Belanda.
Antara kedua stadium itu dan sebagai masa peralihan,—barangkali sebagai sebab peralihan itu,—sakit perut karena disentri.
Saya percaya bahwa banyak orang di Hindia yang berterima kasih atas diagnosa ini. Orang dapat mempergunakannya dengan baik, sebab dapat dipastikan bahwa orang sakit yang karena terlalu keras bekerja dalam periode yang pertama, kesal setengah mati kepada seekor nyamuk, kemudian, sesudah sakit perut, bisa saja menghadapi onta;—atau, lebih jelas lagi, bahwa seorang pejabat yang “menerima hadiah, bukan dengan maksud mem-perkaya diri”,—misalnya setandan pisang seharga beberapa duit,—diusir dengan ceriya dan nista dalam perioda pertama penyakit itu; tapi bahwa orang yang sabar menunggu babak masa yang terakhir, dengan tenang dan tanpa kuatir akan mendapat hukuman, dapat merampas kebun tempat pisang itu tumbuh, beserta kebun-kebun yang terletak sebelah menyebelahnya, dan rumah-rumah di sekitarnya, dan apa yang ada dalam rumah itu, dan lain-lain lagi ... ad libitum.³
Setiap orang boleh memetik keuntungan dari catatatan patologis-filosofis ini, dan hendaknya merahiasiakan nasehat saya ini, supaya jangan banyak saingan ...
Terkutuk bahwa amarah dan kesedihan sering kali memakai selubung satire yang compang-camping! Terkutuk bahwa airmata jika hendak dipahami harus disertai wajah yang menyeringai! Atau apakah karena saya kurang mahir maka saya tidak menemukan kata-kata untuk menyebutkan betapa dalamnya luka yang menggeragoti pemerintahan negara kita, tanpa mencari-cari gaya Figaro atau Polikhinel⁴?
Gaya, ... ya! Di depan saya ada surat-surat yang mengandung gaya: gaya yang menunjukkan bahwa ada manusia di dekat sini: seorang manusia yang berharga untuk diuluri jabatan tangan! Dan apakah yang tercapai oleh Havelaar yang malang dengan gayanya itu? Dia tidak menerjemahkan airmatanya menjadi muka yang menyeringai, dia tidak mengejek, dia tidak mencoba mengenai sasaran dengan warna anekaragam atau dengan berlucu-lucu seperti tukang teriak di depan kemah kermis; ... apakah yang tercapai olehnya?
Jika saya dapat menulis seperti dia, saya akan menulis lain dari dia.
Gaya ...? Apakah anda dengar bagaimana ia berbicara kepada kepala-kepala Lebak ...? Apakah yang tercapai olehnya?
Jika saya dapat bicara seperti dia, saya akan bicara lain dari dia.
Persetan dengan bahasa yang ramah tamah, persetan dengan kelembutan, keterus terangan, kejelasan, kesederhanaan, perasaan; persetan dengan segala yang mengingatkan kepada ucapan Horatius “yustum ac tenacem”⁵;—di sini terompet-terompet, dan gemerencang pukulan canang, desis panah api dan bunyi goresan dawai-dawai yang sumbang dan di sana sini kata yang benar, yang menyelinaq sebagai barang terlarang, tertutup oleh bunyi gendang yang gegap gempita dan suitan yang menusuk telinga!
Gaya ……? Dia punya gaya! Jiwanya terlalu kaya untuk membenamkan pikirannya dalam kata-kata seperti “saya mendapat kehormatan”, dan “paduka yang mulia” dan “menyerahkan dengan hormat untuk dipertimbangkan”, yang merupakan kenikmatan dalam dunia kecil tempat ia bergerak. Jika ia menulis, sesuatu merasuk ke dalam diri anda waktu membatianya, yang membuat anda mengerti betapa awan bergumpal-gumpal pada cuaca buruk mengandung guruh mendayu-dayu, dan bahwa anda bukannya mendengar bunyi gemertak guruh kaleng di atas tonil. Jika ia mencetuskan api dari buah pikirannya, kita merasakan kepanasan api itu, kecuali jika kita seorang komis tulen, atau gubernur jenderal, atau klerek yang menulis laporan buruk tentang “ketenangan yang tenang”. Dan apakah yang tercapai olehnya? ……
Jadi, jika saya hendak didengar,—dan terutama dipahami!—saya harus menulis lain dari padanya. Tapi bagaimana?
Demikianlah pembaca, saya mencari jawaban atas pertanyaam “bagaimana” itu, dan itulah sebabnya maka buku saya isinya anekragam; ia adalah peta contoh-contoh; boleh pilih, nanti saya akan berikan kepada anda kuning atau biru atau merah menurut kehendak anda.
Havelaar sudah sering kali melihat penyakit gubernur itu pada sekian banyak penderita,— dan acap kali “in anima vili”⁶, sebab ada penyakit-penyakit residen, kontelir, surnumerer yang seperti itu, yang dalam hubungannya dengan yang pertama seperti hubungan penyakit campak dengan penyakit cecar, dan akhirnya dia sendiri pernah menderita penyakit itu;—sudah sekian banyak ia melihat semua itu, sehingga ia mengenal baik gejala-gejalanja. Gubernur jenderal sekarang ini, pada permulaan penyakitnya, dilihatnya tidak begitu pusing kepalanya seperti kebanyakan yang lain, dan dari kenyataan itu ia menarik kesimpulan bahwa perkembangan selanjutnja penyakit itu juga akan me-nempuh jurusan lain.
Karena itu ia kuatir bahwa ia akan ternyata yang paling kuat, jika ia pada akhirnya harus tampil sebagai pembela keadilan yang menjadi hak penduduk Lebak.
¹ Keadaan yang meringankan.
² Oudgasten—orang-orang yang sudah lama tinggal di negeri Hindia.
³ Sampai semaanya.
⁴ Tokoh-tokoh terkenal dalam sandiwara gembira.
⁵ Orang yang lurus dan teguh pada pendiriannya.
⁶ Dalam jiwa yang rendah.
Bab XVI
Havelaar menerima sepucuk surat dari bupati Tjianjur yang memberitahukan bahwa ia hendak mengunjungi pamannya, adipati Lebak. Berita itu sangat tidak menyenangkan baginya. Ia tahu betapa kepala-kepala negeri di kabupaten-kabupaten Priangan biasanya memamerkan kemewahannya dan betapa temenggung Tjianjur melakukan perjalanan demikian dengan iringan beratus-ratus orang yang harus disediakan tempat dan makannya bersama kuda-kudanya. Ia ingin mencegah kunjungan itu, tapi sia-sia ia memikirkan bagaimana cara menghindarkannya, tanpa melukai hati bupati Rangkas Betung, sebab bupati itu sangat yongkak dan akan merasa sangat terhina jika kemiskinannya yang relatif dijadikan alasan untuk tidak mengunjunginya. Dan jika kunjungan itu tidak dapat dihindarkan, maka pasti akan memberatkan beban yang ditanggung oleh penduduk.
Kita ragu apakah pidato Havelaar mempunyai pengaruh yang mendalam pada kepala-kepala negeri; pada kebanyakannya pasti tidak dan memang dia tidak mengharapkannya; tapi pasti pula bahwa di dusun-dusun tersiar berita, bahwa “tuan” yang berkuasa di Rangkas Betung hendak menjalankan keadilan, dan sekali-pun kata-katanya tidak berhasil mencegah kejahatan, namun korban-korban kejahatan itu telah timbul keberaniannya untuk mengadu, Meskipun segan-segan dan sembunyi-sembunyi.
Mereka mengendap-endap malam hari melalui jurang, dan apabila Tine duduk di kamarnya ia terkejut oleh bunyi gemersik tiba-tiba, dan di depan jendela yang terbuka ia melihat sosok-sosok hitam yang menyelinap-nyelinap dengan langkah ketakutan.
Kemudian hilang kagetnya dan ia tenang kembali, sebab ia tahu apa artinya bila sosok-sosok itu laksana hantu mengembara sekitar rumah, dan mencari perlindungan pada suaminya Max. Lalu digamitnya suaminya, dan Max berdiri untuk memanggil orang-orang yang mengadu itu. Kebanyakannya datang dari distrik Parangkujang di mana menantu bupati menjadi kepala; dan Sekalipun kepala distrik itu juga mengambil bagian dari apa yang diperas itu, bukanlah rahasia bahwa ia sering kali merampok atas nama dan untuk bupati. Mengharukan betapa orang-orang malang itu percaya kepada kesatriaan Havelaar, bahwa ia tidak akan memanggil mereka untuk mengulangi keesokan harinya di muka umum apa yang mereka katakan dalam kamarnya. Ini akan berarti penganiayaan bagi semuanya, dan bagi kebanyakannya berarti kematian. Havelaar mencatat apa yang mereka katakan, kemudian ia menyuruh mereka itu pulang ke kampungnya. Ia berjanji bahwa hukum akan dijalankan, asal mereka tidak melawan dan tidak meninggalkan kampungnya, sebagaimana terniat oleh kebanyakannya. Sering kali ia, tidak lama sesudah itu berada di tempat di mana terjadi ketidakadilan, ya, acap kali ia sudah ke sana dan biasanya malam hari telah memeriksa perkara itu, sebelum si pengadu sendiri kembali di tempat tinggalnya. Demikianlah ia mengundungi di deraah yang luas itu, desa-desa, yang duapuluh jam jaunhja dari Rangkas Betung, tanpa diketahui oleh bupati, bahkan pun oleh kontelir Verbrugge, bahwa ia meninggalkan ibukota. Maksudnya ialah menghindarkan bahaya balas dendam terhadap pengadu, dan sekaligus supaya bupati jangan kehilangan muka dalam suatu pemeriksaan terbuka, yang apabila dilakukan oleh Havelaar, tidak akan berakhir dengan penarikan kembali pengaduan itu. Demikianlah ia masih terus mengharap bahwa kepala-kepala tidak lagi menempuh jalan berbahaya yang sudah sekian lama mereka tempuh, dan dalam hal itu ia akan puas dengan menuntut ganti rugi untuk orang-orang malang yang dirampas harta bendanya itu.
Tapi setiap kali ia berbicara lagi dengan bupati itu, nyata padanya bahwa janji-janjinya untuk memperbaiki diri sia-sia belaka, dan ia sedih sekali atas kegagalan usaha-usahannya.
Sekarang kita biarkan dia beberapa waktu dalam kesedihan nyia dan pekerjaannya yang sukar, untuk menceritakan kepada pembaca kisah pemuda Jawa Saijah di desa Badur. Saya pilih nama desa dan nama pemuda itu dari catatatan-catatatan Havelaar. Akan diceritakan pemerasan dan perampokan, dan apabila orang menganggap cerita saya ini hanya khayalan, saya jamin bahwa saya sanggup memberikan nama tiga puluh dua orang di distrik Parangkujang saja, yang dalam hanya satu bulan diambil tiga puluh enam kerbaunya untuk diberikan kepada bupati. Atau lebih tepat, bahwa saya dapat menyebutkan nama tiga puluh dua orang dari distrik itu, yang dalam waktu satu bulan telah berani mengadu, dan yang pengaduannya diperiksa oleh Havelaar dan terbukti beralasan.
Ada lima distrik seperti itu diderah Lebak. Jika orang beranggapan bahwa jumlah kerbau yang dirampas tidak begitu banyak diderah-daerah yang tidak diperintah oleh menantu bupati, hal itu mungkin saja, tapi dapat pula dipermasalahkan apakah sikap tak bermalu kepala-kepala yang lain tidak mempunyai dasar-dasar yang sama kuatnya seperti perkeluargaan kebangsawanan? Kepala distrik Cilangkahan di pantai Selatan misalnya, Meskipun tidak mempunyai seorang ayah mertua yang ditakuti, bertumpu pada pertimbangan betapa sukarnya untuk mengadu bagi orang-orang malang yang harus menempuh jarak empat puluh sampai enam puluh batu sebelum mereka malam hari dapat bersembunyi di jurang dekat rumah Havelaar. Dan jika diperhatikan pula sekian banyak orang yang berangkat dan tidak pernah mencapai rumah itu, sekian banyak orang yang tidak sampai berangkat dari desanya, karena takut oleh pengalaman mereka sendiri, atau oleh melihat nasib orang-orang lain yang mengadu, maka saya kira salahlah orang yang menganggap bahwa jika jumlah kerbau yang dicuri dari satu distrik dikalikan dengan lima, jumlah hasil kalian itu terlalu tinggi bagi orang yang menanyakan statistik jumlah kerbau yang tiap bulan hilang dirampas dalam lima distrik, untuk memenuhi keperluan rumah tangga dan keluarga bupati Lebak.
Dan bukan kerbau saja yang dirampas, malahan perampasan kerbau itu bukan kejahatan yang paling utama. Di Hindia, di mana “pekerjaan rodi” masih ada menurut hukum, diperlukan kurang sikap tak bermalu untuk mengerahkan rakyat melakukan pekerjaan tak dibayar dengan melawan hukum, lebih kurang dari yang diperlukan untuk mengambil hak milik orang. Lebih mudah membohongi rakyat bahwa pemerintah memerlukan tenaganya, tanpa membayarnya, dari pada meminta kerbaunya dengan cuma-cuma; dan Meskipun orang Jawa yang penakut itu berani menyelidiki apakah pekerjaan rodi yang dituntut orang daripadanya itu, sesuai dengan peraturan-peraturan, hal itu juga tidak akan mungkin baginya, sebab yang seorang tidak mengetahui tentang yang lain dan karena itu tidak dapat menghitung apakah jumlah orang yang ditentukan itu telah terlampau se-puluh kali atau lima puluh kali. Jadi, di mana hal yang lebih berbahaya, hal yang lebih mudah diketahui, dilakukan dengan keberanian yang begitu besar, bagaimanakah halnya dengan penyalahgunaan-penyalahgunaan yang lebih mudah dilakukan, dan lebih tidak berbahaya akan diketahui?
Telah saya katakan bahwa saya akan menceritakan sejarah pemuda Jawa Saijah. Tapi lebih dulu saya terpaksa menyimpang, hal mana tak dapat dihindarkan jika kita hendak menggambarkan keadaan-keadaan yang asing sama sekali bagi pembaca. Bertalian dengan itu saya akan menyebut pula sebab-sebab yang sangat menyukarkan bagi orang bukan-bumiputera untuk menanggapi hal-hal di negeri Hindia.
Berkali-kali saya berbicara tentang orang Jawa; dan betapa pun wajarnja hal ini bagi pembaca di Eropa, penamaan itu kedengarannya kurang benar bagi orang yang kenal pulau Jawa. Residensi-residensi di sebelah Barat, yakni Bantam, Betawi, Priangan, Krawang dan sebagian dari Cirebon,—semuanya disebut Tanah Sunda, dan dianggap tidak termasuk daerah Jawa yang sebenarnya; penduduk aslinya sungguh lain dari penduduk di Jawa Tengah atau di daerah yang disebut oosthoock, pojok timur, apalagi mereka yang datang dari seberang lautan di daerah-daerah yang disebut terdahulu. Bahasa, watak sukubangsa, adat istiadat, pakaian, sangat berbeda dari pada mereka yang tinggal lebih ke timur, sehingga sesungguhnyalah orang Sunda dibandingkan dengan orang yang disebut orang Jawa sebenarnya, lebih besar bedanya dari seorang Inggris terhadap orang Belanda. Perbedaan-perbedaan demikian sering kali menimbulkan pertikai-an dalam menilai banyak hal-hal di negeri Hindia. Jika dipikir bahwa pulau Jawa saja terbagi dengan tajam dalam dua bagian yang tidak sama, belum lagi kita memperhatikan sekian banyak pembagian kecil-kecil dari pembagian besar itu, dapatlah dibayangkan betapa besar perbedaan yang mestinya ada antara sukubangsa-sukubangsa yang tinggalkna lebih berjauhan dan dipisahkan oleh laut. Barangsiapa mengenal Hindia Belanda hanya dari pulau Jawa pun tidak dapat mempunyai gambaran yang tepat tentang orang Melayu, orang Ambon, orang Batak, orang Alifuru, orang Timor, orang Dayak atau orang Makassar, sama saja seolah-olah ia tidak pernah meninggalkan Eropa; karena itu bagi orang yang mendapat kesempatan melihat perbedaan antara sukubangsa-sukubangsa itu, acap kali terasa lucu mende-ngar percakapan-percakapan, dan terasa sedih membaca pidato-pidato orang-orang yang mendapat pengetahuannya mengenai soal-soal di Hindia, di Betawi atau di Bogor. Berkali-kali saya merasa heran melihat keberanian misalnya seorang bekas gubernur jenderal yang di dalam majelis perwakilan rakyat mencoba memberikan arti kepada kata-katanya dengan mengemukakan pengetahuan dan pengalamannya yang semu tentang tempat-tempat. Saya sangat menghargai pengetahuan yang diperoleh dengan studi yang mendalam di ruang pustaka, dan sering saya takjub dengan luasnya pengetahuan beberapa orang mengenai soal-soal negeri Hindia, tanpa pernah menjejak buminya, dan apabila seorang bekas gubernur jenderal membuktikan bahwa ia beroleh pengetahuan dengan cara itu, maka seharusnyalah orang merasa hormat kepadanya sebagai ganjaran yang pantas bagi pekerjaan bertahun-tahun, cermat dan berguna. Lebih besar lagi hendaknya hormat kita kepadanya, dari kepada seorang ahli ilmu pengetahuan yang tidak begitu banyak menemui kesukaran, karena yang tersebut kemudian ini dari jarak yang jauh tanpa pengamatan tidak begitu mudah membuat kekeliruan sebagai akibat pengamatan yang tak cukup seperti halnya bekas gubernur jenderal itu.
Saya katakan bahwa saya heran melihat keberanian beberapa orang dalam membicarakan soal-soal negeri Hindia. Mereka mestinya tahu bahwa perkataannya kedengaran juga oleh orang lain dari yang beranggapan bahwa cukuplah tinggal beberapa tahun di Bogor untuk mengenal Hindia; bahwa kata-kata itu juga dibaca oleh orang-orang di Hindia sendiri yang menyaksikan ketidakcakapan mereka, dan yang, seperti saya juga, heran dengan keberanian orang yang baru saja sia-sia mencoba menyembunyikan ketidakbecusannya di bawah pangkat tinggi yang diberikan raja kepadanya, tapi sekarang tiba-tiba berbicara se-olah-olah ia tahu betul soal-soal yang dibilicarakannya.
Karena itu tiap kali kita mendengar keluhan tentang campur tangan orang yang tidak berwenang, tiap kali sesuatu aliran dalam perwakilan rakyat mendapat perlawanan dari orang yang mengingkari wewenang orang yang mewakili aliran demikian, dan barangkali cukup penting untuk melakukan penyelidikan yang mendalam mengenai sifat-sifat yang membuat orang berwenang untuk menilai apakah seseorang berwenang.
Sering kali suatu pertanyaan yang penting diuji bukan kepada soal yang dibilicarakan, tapi kepada nilai orang yang mengemuka-kan pendapatnya tentang soal itu, dan karena biasanya orang itu orang yang dianggap “ahli”, terutama orang “yang di negeri Hindia memegang jabatan penting”, maka hasil suatu pungutan suara biasanya mengandung tforak kekeliruan yang rupanya sebati dengan “jabatan penting demikian”.
Kalau ini berlaku di mana pengaruh ahli demikian hanya dilakukan oleh seorang anggota perwakilan rakyat betapa besar kemungkinan untuk mengemukakan pendapat yang keliru jika pengaruh demikian disertai pula kepercayaan raja yang menempatkan bekas gubernur jenderal itu sebagai kepala kementerian tanah jajan.
Adalah suatu hal yang aneh,—barangkali disebabkan semacam kemalasan untuk mengemukakan pendapat sendiri,—betapa mudah orang percaya kepada orang yang bisa berpura-pura lebih tahu, asal saja pengetahuan itu diambil dari sumber asing. Sebabnya mungkin karena orang tidak merasa begitu terluka rasa cinta dirinya dengan mengakui kekurangannya dalam hal itu, lain halnya jika orang dapat mempergunakan sumber yang sama, bukan sumber asing; maka terjadilah semacam persaingan. Tidak sukar bagi wakil rakyat untuk meninggalkan pendapatnya bila ia dibantah oleh seseorang yang boleh dianggap pendapatnya lebih baik dari pendapatnya, asal saja kelebihan lawannya itu bukan kelebihan pribadi,—dalam hal itu lebih sukar untuk mengakui keunggulannya,—tapi karena lawannya itu pernah berada dalam keadaan yang istimewa.
Kita tidak bicara tentang mereka yang “menduduki jabatan-jabatan yang tinggi di negeri Hindia”, tapi sungguh aneh betapa sering kali orang lebih menghargai pendapat orang yang sama sekali tidak punya apa-apa yang membenarkan penghargaan itu dari “kenang-kenangan sekian tahun tinggal di wilayah-wilayah itu”, dan ini lebih-lebih lagi terasa aneh karena mereka yang mempercayai alasan seperti itu tidak serta merta menerima saja segala apa yang misalnya dikatakan kepada mereka menge-nai urusan rumah tangga negara Belanda, oleh orang yang membuktikan bahwa ia empat puluh atau lima puluh tahun tinggal di negeri Belanda. Ada orang-orang yang lebih tiga puluh tahun tinggal di Hindia Belanda tanpa pernah bergaul dengan penduduk Maupun dengan kepala-kepala negeri Bumiputera, dan adalah menyedihkan bahwa dewan Hindia sama sekali atau sebagian besar terdiri dari orang-orang semacam itu, ya, bahkan bahwa orang menemukan cara untuk menyuruh raja menandatangani pengangkatan seseorang jadi gubernur jenderal, yang termasuk “Ahli” seperti ini.
Ketika saya mengatakan bahwa kecakapan yang harus ada pada seorang gubernur jenderal yang baru diangkat mengandung pula pikiran bahwa orang menganggapnya seorang jeni, sekali-kali bukanlah maksud saya hendak menganjurkan supaya mengangkat manusia-manusia jeni. Keberatannya ialah pertama-tama bahwa jabatan sepenting itu selalu tidak akan terisi, tapi ada lagi sebab lain. Seorang jeni tidak akan bisa bekerja di bawah kementerian tanah jajahan, karena itu tidak akan berguna sebagai gubernur jenderal, seperti biasanya manusia-manusia jeni.
Barangkali ada baiknya jika kesalahan-kesalahan utama yang saya sebutkan berupa sejarah penyakit menarik perhatian orang-orang yang terpanggil untuk memilih seorang wali negeri yang baru. Bertolak dari pendirian bahwa semua orang yang diusulkan untuk itu adalah orang yang berhati tulus dan mempunyai daya tangkap yang sedikit banyak akan dapat memungkinkannya mempelajari apa yang harus mereka ketahui, saya menganggap penting sekali bahwa mereka jangan sok tahu pada mula pertama, dan terutama jangan apatis dan seperti orang mengantuk dalam tahun-tahun terakhir pemerintahannya. Sudah saya katakan betapa Havelaar dalam tugas kewajiabannja yang sukar itu mengira akan dapat mengharapkan bantuan dari gubernur jenderal dan saya tambahkan “bahwa anggapan itu adalah naif“. Gubernur jenderal itu menunggu penggantinya …… sebentar lagi ia istirahat di negeri Belanda!
Kita akan lihat apa akibat kecenderungan untuk mengantuk itu bagi daerah Lebak, bagi Havelaar, dan bagi siorang Jawa Saijah, yang kisah hidupnya sekarang hendak saya ceritakan, kisah yang menjemukan,—salah satu dari yang banyak!
Ya, menjemukan! Menjemukan seperti cerita semut yang rajin, yang menarik sumbangannya untuk persediaan musim dingin naik ke atas gumpalan tanah,—ke atas gunung,—yang terletak di tengah jalan ke lumbung. Setiap kali ia terguling ke bawah dengan bebannya, setiap kali ia mencoba lagi mencari tumpuan di atas batu kecil di atas,—di atas batu di puncak bukit. Tapi antara dirinya dan puncak itu ada jurang,—lubang yang tidak akan dapat diisi oleh seribu ekor semut,—ia harus memutari jurang itu. Untuk itu semut yang hampir-hampir tidak berdaya menyeret bebannya di atas tanah yang datar itu,—beban yang berlipat ganda lebih berat dari dirinya,—harus memikul beban itu ke atas dan ia harus berdiri di atas tempat yang goyah; ia harus menjaga keseimbangannya bila ia bangkit dengan bebannya antara kedua kaki depannya, ia harus memeluknya sambil berjalan miring ke atas dan meletakkannya di atas uyung yang menjulur dari tembok batu; ia terhuyung-huyung, tertatih-tatih, terkejut, roboh, mencoba berpegang pada batang pohon yang akarnya separoh tercabut, puncaknya menunjuk ke dalam jurang,—sebatang rumput;—ia tidak menemukan titik tumpuan yang dicarinya, pohon itu mengayun kembali,—batang rumput itu mengelak di bawah kakinya, ... dan semut itu jatuh ke dalam lubang dengan bebannya. Kemudian ia berdiam diri sejenak, ada sedetik waktu yang lama dalam hidup seekor semut. Apakah ia kelengar karena jatuh, atau apakah ia sedih karena usahanya yang habis-habisan sia-sia saja. Tapi ia tidak putus asa. Dipegangnya lagi bebannya itu, diseretnya lagi ke atas, dan sekali lagi dan sekali lagi ia jatuh ke dalam lubang.
Begitulah menjemukan cerita saya. Tapi saya tidak akan biytara tentang semut-semut yang suka dan dukacitanya tidak dapat kita lihat karena kasarnya pancaindera kita; saya akan cerita tentang manusia-manusia yang bergerak seperti kita. Memang, barangsiaapa yang tidak suka terharu dan tidak suka ikut merasakan penderitaan orang lain, akan mengatakan bahwa orang-orang itu kulitnya kuning atau sawo matang,—kebanyakan orang menyebut mereka hitam; dan bagi orang semacam itu perbedaan warna cukup menjadi alasan untuk memalingkan mukanya dari kesengsaraan itu, atau jika mereka tidak melengos mereka melihat dari ketinggian tanpa keharuan.
Jadi, cerita saya hanya ditujukan kepada mereka yang mempunyai kemampuan untuk percaya bahwa ada hati-hati yang berdebar di bawah permukaan kulit yang hitam itu,—sungguh sukar untuk percaya,—dan bahwa barangsiaapa diberkati Tuhan dengan kulit yang putih dan bersama itu budi bahasa, kemuliaan hati, pengetahuan berdagang dan ilmu Ketuhanan, kebaikan;—dapat mempergunakan sifat-sifat orang putih itu dengan cara lain dari yang hingga sekarang dialami oleh mereka yang tidak begitu beruntung dalam warna kulit dan keutamaan jiwa.
Saya percaya anda turut merasa dengan penderitaan orang Jawa, tapi tidaklah sedemikian rupa-rupa-rupa hingga saya bila menggambarkan bagaimana kerbau yang terakhir dirampas dari kandang, pada siang hari, tanpa malu-malu, dengan perlindungan kekuasaan Belanda;—bila saya gambarkan lembu yang dirampas dikuti oleh yang punya dan anak-anaknya yang menangis;—bila saya gambarkan orang itu duduk di atas tangga rumah perampok itu, tanpa bicara dan termangu-mangu dan tenggelam dalam dukacita;—bila saya gambarkan ia diusir dengan ceci maki, diancam akan didera dengan rotan dan dijebloskan dalam penjara ... Nah, saya tidak meminta, dan saya pun tidak mengharap bahwa anda akan terharu karenanya, sama terharunya seperti bila saya melukiskan nasib seorang petani kulit putih yang dirampas sapinya. Saya tidak meminta anda mencucurukan airmata bersama airmata yang mengalir pada wajah-wajah yang begitu hitam, saya pun tidak meminta rasa amarah dari hati yang mulia, jika saya bicara tentang keputusasaan orang-orang yang kena rampok. Saya juga tidak mengharap anda akan bangkit, dan dengan buku saya di tangan pergi kepada raja, dan berkata! “Lihatlah, hai raja, ini terjadi dalam kerajaan Anda, di Insulinde, kerajaan anda yang kaya dan indah!” ……
Tidak, tidak, saya tidak mengharapkan semua itu. Terlalu banyak penderitaan sekitar anda yang memenuhi perasaan anda, hingga tidak banyak lagi perasaan yang tinggal untuk penderitaan yang begitu jauhnya! Bukankah kemarin bursa lesu-lesu saja, dan bukankah pasaran kopi terancam penurunan harga karena agak banyak penawaran? ……
“Janganlah menulis hal-hal yang bukan-bukan seperti itu kepada ayahmu, Stern!” kata saya, dan barangkali saya mengatakannya agak marah, sebab saya tidak suka kebohongan, itulah senantiasa prinsip saya yang tidak bisa diganggu gugat. Malam itu saya segera menulis surat kepada Stern senior supaya ia ber-gegas-gegas, dan berhati-hati terhadap berita-berita palsu.
Pembaca tentu merasa apa yang saya alami waktu mendengarkan bab-bab yang terakhir. Di kamar anak-anak saya menemukan kartu-kartu permainan solitair¹, dan saya bawa kepertemuan. Benar juga kata saya bahwa Syaalman itu membikin gila semua orang dengan bungkusannya. Dapatkah kita mengenal kembali pemuda-pemuda yang dibesarkan dalam keluarga yang mulia dalam tulisan-tulisan Stern itu?—Frits juga turut menulis, itu pasti. Mereka mengeritik-ngeritik orang yang sakit rindu tinggal di luar kota, mengapa? Apakah mereka maksudkan saya? Apakah saya tidak boleh pergi ke Driebergen, jika Frits jadi make-lar? Dan siapa pula yang bicara tentang sakit perut jika ada wanita-wanita dan gadis-gadis? Sudah prinsip saya yang tak dapat diganggu gugat untuk selalu tetap tenang, sebab saya anggap itu berguna dalam perdagangan, tapi saya harus mengakui bahwa sering kali sukar bagi saya untuk tetap tenang jika mendengarkan kegilaan-kegilaan yang dibacakkan oleh Stern itu. Apa maunya? Apa akhirnya? Kapan ia membacakkan sesuatu yang mantap? Apa peduli saya apakah Havelaar itu membersihkan kebunnya, dan apakah orang masuk ke rumahnya dari depan atau dari belakang? Pada Busselinck & Waterman orang harus melalui lorong sempit, dekat sebuah gudang minyak, yang selalu kotor. Dan ocehan tentang kerbau-kerbau itu. Apa gunanya mereka punya kerbau, orang-orang hitam itu, ... saya tak pernah punya kerbau, Meskipun demikian saya senang; ada orang yang selalu menge-luh. Dan celaannya terhadap kerja paksa itu, nampak bahwa ia tidak mendengar khotbah pendeta Wawelaar, kalau pernah tentu ia tahu betapa berguna orang bekerja untuk perluasan kerajaan Tuhan. Benar juga, ia pengikut Luther ...
Memang, jika saya tahu lebih dahulu bagaimana ia akan menulis buku itu, yang harus menjadi buku penting buat semua makelar kopi,—dan orang lain,—lebih baik saya mengerja-kannya sendiri. Tapi ia dibelah oleh keluarga Rosemeiyer, yang berdagang gula, dan itu membuatnya jadi begitu berani. Terus terang saya katakan, sebab saya jujur dalam hal-hal itu, bahwa dongeng tentang Saijah itu boleh dihilangkan saja, tapi tiba-tiba Louise Rosemeiyer menentang saya. Rupanya Stern telah mengatakan kepadanya bahwa ada soal cinta di dalamnya, dan gadis-gadis semacam dia suka sekali cerita-cerita demikian. Tapi ini tidak akan begitu menjadikan saya segan, jika anak-anak Rosemeiyer itu tidak mengatakan kepada saya, bahwa mereka ingin berkenalan dengan ayah Stern. Tentu saja mereka dengan perantaraan ayahnya hendak berkenalan pula dengan pamannya yang berdagang gula. Jika saya terlalu berpihak kepada pikiran sehat dan menentang Stern yunior, maka saya se-olah-olah hendak menjauhkan mereka dari Stern, dan ini sama sekali tidak demikian, sebab mereka itu berdagang gula.
Saya sama sekali tidak mengerti maksud Stern dengan tulisannya. Selalu ada saja orang yang tak puas, dan apakah pantas jika ia, yang begitu banyak menikmati kebaikan di negeri Belanda,—dalam minggu ini istri saya baru saja membuatkan teh kamilia baginya,—untuk mencaci maki pemerintah? Apakah ia hendak memarakkan ketidakpuasanan umum? Apakah dia hendak jadi gubernur jenderal? Dia cukup sombong untuk itu;—maksud saya, untuk menghendaki jabatan itu. Saya tanyakan itu kemarin dulu kepadanya, dan saya tambahkan pula, bahwa bahasa Belandanya masih kurang baik. “O, itu tidak jadi keberatan, jawabnya, nampaknya jarang gubernur jenderal dikirim ke sana yang mengerti bahasa orang di negeri itu.” Apa yang harus saya lakukan dengan orang yang sok tahu seperti itu? Ia sama sekali tidak menghormati pengalaman saya. Ketika saya minggu ini mengatakan kepadanya bahwa saya sudah tujuh belas tahun jadi makelar, dan sudah dua puluh tahun mengundungi bursa, ia menyebut Busselinck & Waterman, yang sudah delapan belas tahun jadi makelar, “jadi, katanya mereka itu mempunyai pengalaman satu tahun lebih”. Dengan demikian ia memperangkap saya, sebab saya harus mengakui, karena saya suka kebenaran, bahwa Busselinck & Waterman tidak banyak tahu tentang perdagangan, dan bahwa mereka itu kerjanya serampangan.
Mari juga pikirannya kacau balau. Bayangkan, minggu ini,—gilirannya untuk membacakan pada waktu sarapan, dan sudah sampai pada kisah Luth²,—tiba-tiba ia berhenti, dan tidak mau membaca lagi. Istri saya yang juga senang agama seperti saya, mencoba membujuknja dengan lemah lembut untuk menurut, karena tidaklah pantas bagi seorang gadis yang sopan untuk berkeras kepala. Sia-sia belaka. Kemudian saya sebagai ayah harus memarahinya dengan kakas, karena dengan ketegarannya itu suasana ibadah waktu sarapan jadi rusak, hal mana selalu berpengaruh buruk pada pekerjaan sehari-harian. Tapi keadaan tak dapat diperbaiki, malahan ia berkata lebih baik ia mati dari meneruskan pembacaannya. Saya hukum dia, tak boleh meninggalkan kamar tiga hari dan hanya diantari roti dan kopi. Mudah-mudahan ia jadi baik. Dan supaya hukuman itu dapat pula memperbaiki rasa kesusilaannya, saya suruh dia menuliskan bab yang tak mau dibacanya itu sepuluh kali, dan tindakan keras ini terutama saya lakukan, karena saya lihat bahwa ia dalam waktu belakangan ini,—saya tidak tahu apakah ini pengaruh Stern,—menerima pengertian-pengertian yang saya rasa berbahaya bagi kesusilaan yang saya dan istri saya sangat junjung tinggi. Antara lain saya dengar ia menyanyikan lagu Perancis,—lagu Beranger, saya kira,—di mana ia menyatakan perasaan kasihan-nya kepada seorang pengemis perempuan tua, yang waktu mudanya menyanyi di teater, dan kemarin waktu sarapan ia tidak memakai korset,—Mari, maksud saya,—yang sungguh tidak sopan.
Juga harus saya akui bahwa Frits sedikit sekali membawa pulang berkat dari gereja. Saya sudah senang waktu melihatnya duduk diam-diam di gereja. Ia tidak bergerak dan matanya tidak berkisar dari mimbar; tapi kemudian saya dengar bahwa Bethsy Rosemeiyer duduk di pagar baptisan. Saya tidak menegor mereka, sebab kita tidak boleh terlalu kakas terhadap anak muda, dan keluarga Rosemeiyer itu keluarga baik-baik. Anak gadis mereka yang paling tua, yang kawin dengan Braggeman, pedagang rempah-rempah, mereka beri mas kawin yang lumayan³ dan karena itu saya kira Frits tidak tertarik ke pasar barat, dan saya senang karenanya sebab saya orang yang menjunjung tinggi kesopanan.
Namun saya merasa sedih juga melihat bahwa Frits hatinya membatu seperti Firaun, tapi Firaun tidak begitu besar dosanya karena ia tidak mempunyai seorang ayah yang selalu menunjukinya jalan yang benar, sebab tentang Firaun senior Alkitab tidak mengatakan apa-apa. Pendeta Wawelaar mengeluh tentang kesombongannya,—kesombongan Frits, maksud saya,—waktu katekisasi, dan rupanya ia,—lagi-lagi dari bungkusan Syaalman itu,—mengambil suatu sok kepintaran yang membikin marah Wawelaar yang lemah lembut itu. Bukannya ia menerima apa yang tersebut dalam Alkitab,—dan orang kan harus menerima, sebab dalam Alkitab sendiri dikatakan bahwa orang harus percaya,—malahan ia memajukan bermacam-macam pertanyaan: “Apakah cahaya sebelum ada matahari?—Apakah Melkhizedek⁴ membawa kepercayaan yang sebenarnya?—Apa yang terjadi jika Hawa tidak memakan apel itu?—Apakah adikku masuk neraka karena ia mati sebelum dibaptis?—Di manakah polisi, ketika Petrus⁵ menghukum Ananias dan Saffirah⁶ hingga mati?—Apakah Yesus memakai kaus, dan apakah ia bersorban?—Berapa jauh ia naik ke langit sebelum tiba di tepi atmosfir kita, dan ke mana ia pergi selanyutnya?—Mengapa ia kurang ajar kepada ibunya ketika ibunya mencarinya?—Apakah ada pengadilan mengenai harga babi-babi yang dihalau ke dalam air?—Untuk apakah babi-babi itu di negeri yang melarang orang memakan daging babi?—Bagaimana urusan warisan orang-orang yang bangkit kembali dari kuburnya?—Mengapa Yehezkiel⁷ harus makan kotoran?—Apakah kerja Yang Mahakuasa, jika hukum alam sudah sempurna?—Mengapa manusia baru diselamatkan, empat ribu tahun sesudah Penciptaan?—Mengapa Tuhan mengizinkan banyak orang menolak untuk diselamatkan?—Mengapa setan berkuasa jika Kristus telah mengalahkannya?—Bukankah Konstantin Agung⁸ seorang pembunuh yang keji?—Apakah sebabnya banyak abad-abad sesudah Kristus tidak begitu beradab seperti abad Agustus⁹?—Mengapa kita menutup rumah kita di negeri yang beragama Kristen, jadi, di mana tidak ada pencuri?—Mengapa Daud seorang yang diridoi Tuhan?—Mengapa orang Israil boleh membawa emas dan perak milik orang Mesir? Mengapa Yesus putra Daud, jika Yusuf yang adalah keturunan Daud, bukan ayahnya?—Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan agung, jika kita tidak mengertiNya?—Apakah Yudith¹⁰ seorang perempuan yang baik?—Bagaimana Nuh mendapatkan dua ekor beruang es untuk bahteranya?—Dari mana datangnya orang-orang yang tidak boleh membunuh Kain¹¹?—Apa yang terjadi jika dua orang yang beriman masing-masing berdoa untuk melawan yang lain? —”
Dan seterusnya! Anda boleh bayangkan betapa Wawelaar, yang yakin akan cinta kepada Kebenaran yang adalah Kehidupan, merasa dukacita atas pertanyaan-pertanyaan terlarang demikian. Mengharukan betapa laki-laki yang mulia itu, yang sering minum kopi di rumah kami, mencoba mempengaruhi perasaan Frits, dan betapa anak nakal itu terus juga memajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang menunjukkan ketegaran hatinya. Semua itu gara-gara bungkusan terkutuk si Syaalman itu! Dengan airmata perasaan pada pipinya hamba kitab Injil itu mencoba mem-pengaruhinya untuk melepaskan hikmat menurut manusia, dan masuk ke dalam serba rahasia hikmat Tuhan. Dengan lemah lembut ia memohon kepadanya janganlah hendaknya menolak roti kehidupan abadi, dan dengan demikian jatuh ke dalam ceng-keraman setan, yang menghuni neraka dengan kawan-kawannya, neraka yang disediakan untuknya selama-lamanya. “O, katanya kemarin,— Wawelaar, maksud saya,— O, sahabatku belia, buka-lah mata dan telingamu, dan dengar dan lihatlah apa yang Tuhan perlihatkan dan perdengarkan kepadamu, melalui mulutku. Per-hatikanlah kesaksian orang-orang suci yang mati untuk agama yang benar. Lihatlah Stefanus¹², bila ia roboh di bawah batu-batu yang menghancurkannya, lihatlah betapa matanya masih menengadah ke langit, dan betapa lidahnya masih menyanyikan mazmur …….”
“Saya lebih suka melempar kembali,” kata Frits kemudian. Pembaca, apa yang harus saya lakukan dengan anak itu?
Sebentar kemudian Wawelaar mulai lagi, sebab dia adalah seorang hamba yang rajin dan tidak berhentinya bekerja. “O, sahabatku belia, katanya, bukalah ……… (permulaannya seperti yang tadi juga). Dapatkah anda bermasa bodoh memikir-kan apa yang akan terjadi dengan anda, jika sekali waktu anda dimasukkan ke dalam golongan kambing jantan pihak kiri¹³” ……
Tiba-tiba anak nakal itu tertawa terbahak-bahak,—Frits maksud saya,—dan Mari pun tertawa. Malahan saya merasa-rasa wajah istri saya pun seperti mau tertawa. Lalu saya menolong Wawelaar, saya hukum Frits dengan menyuruhnya membayar denda dari celengannya kepada persekutuan paderi.
Tapi semua itu sungguh-sungguh mengharukan saya. Dalam penderitaan semacam itu dapatkah kita bersenang-senang mendengarkan cerita-cerita tentang kerbau dan orang Jawa? Apakah arti seekor kerbau dibandingkan dengan keselamatan jiwa Frits? Apa peduli saya dengan urusan orang-orang yang jauh itu, jika saya diganggu ketakutan bahwa Frits karena tidak percayanya merusak perdagangan saya sendiri, dan bahwa ia tidak pernah bisa menjadi makelar yang jempol? Sebab Wawelaar sendiri mengatakan bahwa Tuhan mengatur segalanya begitu rupa-rupa-rupa sehingga barangsiapa yang saleh dia akan menjadi kaya. “Lihat saja, katanya, bukankah banyak kekayaan di negeri Belanda? Itu disebabkan karena kepercayaan agama. Bukankah di Perancis orang selalu berbunuh-bunuhan? Itu disebabkan karena mereka di sana beragama Katholik. Bukankah orang Jawa miskin? Mereka itu kafir. Lebih lama orang Belanda bergaul dengan orang Jawa, tambah kaya kita di sini dan tambah miskin mereka di sana.”
Saya kagum betapa tajam pandangan Wawelaar dalam soal-soal perdagangan. Sebab sebenarnyalah saya, yang teliti menjalkan agama, mengalami kemajuan dalam perdagangan dari tahun ketahun, sedangkan Busselinck & Waterman yang tidak menghiraukan Tuhan Ataupun perintah agama, akan tetap bekerja serampangan selama hidupnya. Pun keluarga Rosemeiyer yang berdagang gula dan mempunyai pelayam Roma Katholik, baru-baru ini terpaksa pula mengambil 27% dari harta peninggalan seorang Yahudi yang melakukan kesalahan. Makin banyak saya berpikir makin jauh saya menyelidiki jalan-jalan Tuhan yang tidak terselidiki. Baru-baru ini ternyata bahwa ada keuntungan bersih lagi sebesar tiga puluh juta atas penjualan hasil-hasil yang dikirimkan oleh orang-orang penyembar berhala, belum lagi dihitung keuntungan saya atasnya dan orang-orang lain yang hidup dari perdagangan itu. Bukankah seolah-olah Tuhan berkata: “Itulah tiga puluh juta sebagai ganjaran keimananmu?” Bukankah itu pekerjaan Tuhan yang menyuruh orang jahat bekerja untuk menyelamatkan orang yang baik? Bukankah itu suatu isyarat untuk meneruskan perjalanan di jalan yang benar, dan menyuruh mereka di sana menghasilkan banyak, sedangkan kita di sini bertahan pada agama yang benar? Bukankah karena itu dalam Alkitab dikatakan: berdoa dan bekerjalah, supaya kita berdoa dan menyuruh kerja bangsa yang tidak menngenal dua “Ya, Bapak Kami”?
O, betapa benarnya perkataan Wawelaar apabila ia menyebut gandar Tuhan lembut! Alangkah ringannya beban bagi orang yang beriman! Umur saya empat puluh lebih dan saya bisa saja berhenti kalau mau, dan pergi ke Driebergen, dan lihatlah bagai-mana jadinya dengan orang lain yang meninggalkan Tuhan. Kemarin saya melihat Syaalman dengan isterinya dan anaknya. Mereka itu seperti hantu. Dia pucat seperti mayat, matanya melotot, dan pipinya cekung. Punggungnya bungkuk, Meskipun ia lebih muda dari saya. Isterinya pun pakaian nyia buruk, dan nampaknya ia baru menangis lagi; saya segera tahu bahwa ia seorang yang selalu tak puas; saya cukup sekali melihat orang untuk menilainya, karena saya punya pengalaman. Ia memakai mantel tipis dari sutera hitam, pada hal udara cukup dingin. Krinolin¹⁴ sama sekali tak nampak; gauninya yang sederhana terkulai pada lututnya dan pinggirinya berumbai-rumbai, Syaalman malahan tidak lagi pakai syal, seolah-olah musim panas. Namun nampaknya ia masih mempunyai semacam kebanggaan, sebab ia memberikan sesuatu kepada seorang perempuan miskin yang duduk di atas pintu air, (Frits bilang: jembatan; tapi apa yang terbuat dari batu, tanpa jungkatan, saya sebut pintu air) dan barangsiapa yang untuk dirinya sendiri tidak banyak punya apa-apa, berdosa jika ia masih memberikan sesuatu kepada orang lain. Lagipula, saya tidak memberi apa-apa di tengah jalan, itu adalah prinsip saya, sebab saya selalu berkata jika saya melihat orang-orang miskin demikian: siapa tahu apakah itu bukan salah mereka sendiri, dan saya tidak boleh membantu mereka meneruskan kesalahannya. Hari Minggu dua kali saya memberi: sekali untuk orang miskin, dan sekali lagi untuk gereja. Begitulah mestinya.
Saya tidak tahu apakah Syaalman melihat saya, tapi saya cepat-cepat lewat, dan memandang ke atas, dan mengingat keadilan Tuhan, yang tentu tidak akan membiarkan dia berjalan seperti itu, tanpa jas dingin, jika ia lebih berhati-hati, dan tidak malas, pongah dan sakit-sakitan.
Mengenai buku saya, sungguh saya harus minta maaf kepada pembaca atas cara Stern menyalahgunakan kontrak kami, cara yang tak dapat dimaafkan. Saya harus mengakui bahwa saya enggan hadir pada malam pertemuan yang akan datang, dan kisah cinta Saijah itu. Pembaca sudah mengetahui bagaimana pengertian saya tentang cinta, pengertian saya yang sehat; ingat sajalah kepada pendapat saya mengenai perjalanan ke sungai Gangga itu. Kalau gadis-gadis muda suka cerita seperti itu, saya mengerti, tapi jika laki-laki yang sudah berumur mendengarkan kegilaan-kegilaan seperti itu tanpa merasa jijik, saya tidak bisa menerangkannya. Saya merasa yakin bahwa pada lingkaran yang akan datang saya akan menemukan triolet¹⁵ dalam permainan solitair saya¹⁶.
Saya akan mencoba tidak mendengar apa-apa tentang Saijah itu, dan saya harap laki-laki itu cepat kawin, artinya kalau ia memang pahlawan kisah cinta itu. Untunglah Stern telah mengatakan lebih dulu bahwa kisah itu menjemukan. Kalau kemudian dia memulai cerita yang lain, saya akan memasang kuping lagi. Tapi bahwa ia menyalahkan pemerintah, itu pun menjemukan bagi saya, hampir sama menjemukan seperti kisah-kisah cinta. Dari segalanya kelihatan bahwa Stern masih muda, dan sedikit pengalaman. Untuk menilai sesuatu dengan baik, orang harus melihat segalanya dari dekat. Ketika saya kawin, saya sendiri datang di Den Haag, dan mengunjungi Mauritshuis dengan istri saya; saya bergaul dengan segala tingkatan masyarakat, sebab saya melihat menteri keuangan lewat, dan bersama-sama kami membeli kain flanel di Veenestraat,—saya dan istri saya, maksud saya,—dan di mana-mana saya tidak melihat pertanda sedikit pun bahwa orang tidak senang dengan pemerintah. Nona di toko itu kelihatannya makmur dan senang, jadi tatkala tahun 1848 beberapa orang mencoba meyakinkan kami bahwa di Den Haag tidak semuanya beres, saya menyatakan pendapat saya pada pertemuan lingkaran mengenai ketidaksenangan itu, dan orang percaya kepada saya, sebab setiap orang tahu bahwa saya bicara dari pengalaman. Juga dalam perjalanan kembali dengan kereta diligence kondektur meniu “bersukacitalah”, dan hal itu tentu tidak akan dilakukannya, jika banyak yang tidak beres. Begitulah saya memperhatikan segala sesuatu, dan saya pun segera mengetahui apa yang harus saya pikirkan tentang orang yang mengomel tahun 1848¹⁷ itu.
Di seberang rumah kami tinggal seorang nona, yang keponakan-nya punya toko di benua Timur. Jadi kalau semuanya tidak ada yang beres seperti kata Stern, tentu dia tahu sedikit-sedikit tentang itu, namun nampaknya ia puas sekali dengan keadaan, sebab saya tidak pernah mendengarnya mengeluh. Sebaliknya, katanya keponakannya itu tinggal di luar kota, dan bahwa ia anggota dewan gereja, dan bahwa ia mengirimni nona itu sebuah tempat serutu dari bulu burung merak yang dibuatnya sendiri dari bambu. Semuanya itu rasanya bukti yang jelas betapa tidak beralasan gerutuan orang tentang pemerintahan yang buruk itu. Pun nampak dari situ bahwa orang yang berkelakuan baik, di negeri itu masih bisa mencari nafkah, jadi bahwa Syaalman di negeri itu juga malas, pongah dan sakit-sakitan, kalau tidak tentu ia tidak pulang dalam keadaan miskin dan berjalan-jalan di sini tanpa jas dingin. Dan keponakan nona di seberang rumah kami itu bukan satu-satunya yang mencari kekayaan di benua Timur. Di “Polandia” saya melihat banyak orang yang pernah ke sana dan yang pakaian nyra rapi sekali. Tapi tentu saja, orang harus awas, di sana Maupun di sini. Di Jawa makanan enak tidak dengan sendirinya masuk ke dalam mulut orang;—orang harus bekerja keras, dan siapa yang tidak mau, adalah miskin dan tetap tinggal miskin, dengan sendirinya.
¹ Semacam permainan kartu untuk satu orang.
² Tokoh dalam Injil.
³ Pada orang Barat ada kebiasaan orang tua memberikan sesuatu harta kepada anaknya yang perempuan apabila ia kawin.
⁴ Tokoh dalam Injil.
⁵ Murid Yesus.
⁶ Tokoh-tokoh dalam Injil.
⁷ Tokoh dalam Injil.
⁸ Kaisar Rumawi (324-337) yang memberikan kebebasan penuh kepada Agama Kristen di bawah pemerintahannya.
⁹ Kaisar Rumawi (30 s.M.—14 M.).
¹⁰ dan ¹¹ Tokoh-tokoh dalam Injil.
¹² Seorang yang mati syahid bagi agama Kristen: Ia mati dirajam (abad pertama).
¹³ Mereka yang tidak akan masuk surga (perumpamaan dari Injil).
¹⁴ Rok simpai.
¹⁵ Set tertentu.
¹⁶ Lihat catatant kaki halaman 263.
¹⁷ Tahun revolusi di Eropa (juga di negeri Belanda terjadi ketegangan-ketegangan).
Bab XVII
Ayah Saijah mempunyai seekor kerbau; dengan kerbau itulah ia mengerjakan sawahnya. Ketika kerbau itu dirampas oleh kepala distrik Parangkujang, ia sangat bersedih hati, ia tidak berkata sepatah kata, berhari-hari lamanya. Sebab sebentar lagi tiba musim membajak, dan ia kuatir kalau tidak cepat ia mengerjakan sawah, waktu menyemai pun akan lewat, dan akhirnya tidak ada padi yang akan dipotong untuk disimpan di dalam lum-bung di rumah.
Perlu saya jelaskan bagi pembaca yang mengenal Jawa, tapi tidak mengenal Bantam, bahwa di residensi itu ada hak milik tanah pribadi, sedang di tempat lain tidak ada.
Maka ayah Saijah pun sangat prihatin. Ia kuatir isterinya akan kekurangan beras, dan juga Saijah yang masih kecil, dan adik-adiknya laki-laki dan perempuan.
Pun mungkin kepala distrik akan mengadukannya kepada asisten residen, jika ia terlambat membayar pajak tanah, sebab bisa dihukum menurut undang-undang.
Lalu ayah Saijah mengambil keris pusaka warisan ayahnya. Keris itu tidak begitu bagus, tapi sarungnya berikat perak, dan di ujung sarung itu ada pula pelat perak. Dijualnja keris itu kepada seorang Cina yang tinggal di ibukota, dan ia pulang ke rumah dengan dua puluh empat gulden; dengan wang itulah ia membeli seekor kerbau lagi.
Saijah, yang waktu itu kira-kira berusia tujuh tahun, segera bersahabat dengan kerbau baru itu. Bukan tanpa maksud saya mengatakan: bersahabat;—sebab sungguh mengharukan jika
kita melihat betapa senang kerbau Jawa itu dengan anak kecil, yang menjaga dan memeliharannya. Mengenai rasa senang kerbau itu nanti akan saya berikan contoh yang bukan khayalan. Bina-tang yang besar dan kuat itu menggerakkan kepalanya yang berat itu keknanan atau ke kiri atau ke bawah menurutkan tekanan jari sianak itu, yang dia kenal, dia mengerti, dengan siapa ia besar bersama-sama.
Memang Saijah kecil mempunyai rasa persahabatan yang sangat besar sehingga tamu baru itu segera merasakannya, dan suara kanak-kanak Saijah yang menggalakkannya itu seolah-olah memberi lebih banyak tenaga kepada pundak yang kukuh dari binatang yang kuat itu, apabila ia membelah tanah lihat yang padat, dan meninggalkan bekas bajaknja yang dalam dan tajam. Kerbau itu dengan patuh berbalik, bila ia tiba di ujung ladang dan tidak seinci pun tanah yang dilangkauninya ketika kembali membadiyak alur yang baru, yang selalu berhampiran dengan yang sebelumnya, seakan-akan sawah itu tanah kebun yang digaruk oleh gergasi.
Di sebelahnya terbentang sawah-sawah ayah Adinda, ayah gadis yang akan kawin dengan Saijah; dan bila adik-adik Adinda datang, di batas antara sawah-sawah mereka, justru jika juga Saijah ada di sana dengan bajaknja, mereka pun berseru gem-bira yang satu kepada yang lain, dan memuji atas mengatasi kekuatan dan kepatuhan kerbaunya. Tapi saya kira kerbau Saijahlah yang paling baik, barangkali juga karena Saijah pandai menegornya, lebih pandai dari orang lain, dan kerbau sangat peka terhadap tegoran yang baik.
Saijah sudah sembilan tahun dan Adinda enam tahun, ketika kerbau itu dirampas dari ayah Saijah oleh kepala distrik Parang-kujang.
Maka ayah Saijah yang amat miskin, menjual kepada seorang Cina dua penggait kelambu,—barang pusaka mertuanya,—laku delapan belas gulden; dan dengan uang itu dibelinya sekor kerbau lagi.
Tapi Saijah sedih sekali. Sebab ia mendengar dari adik-adik
Adinda bahwa kerbau yang sebelumnya dibawa ke ibukota, dan ditanyakannya kepada ayahnya apakah ia tidak melihat kerbau itu ketika ia pergi ke sana untuk menjual penggait kelambu. Ayah Saijah tidak mau menjawab pertanyaan itu. Karena itu ia kuatir kerbaunya itu telah disembelih, seperti kerbau-kerbau lain yang dirampas oleh kepala distrik dari penduduk.
Dan Saijah menangis dan menangis bila ia teringat kerbau yang malang itu, pergaulannya yang akrab dengannya dua tahun lamanya; dan ia tak dapat makan, lama ia tak dapat makan, sebab kerongkongannya terasa sempit bila ia menelan.
Kita harus ingat bahwa Saijah masih anak-anak.
Kerbau yang baru itu mulai mengenal Saijah, dan segera menggantikan kerbau terdahulu dalam hatinya. Terlalu cepat sebenarnya, sebab, aduhai, kesan-kesan lilin dalam hati kita begitu mudah hapus digantikan tulisan kemudian ... Betapa pun juga, Sekalipun kerbau baru itu tidak begitu kuat seperti yang sebelumnya, Sekalipun gandar yang lama terlalu lebar untuk pundaknyya, tapi binatang yang malang itu patuh seperti yang terdahulu yang sudah disembelih; dan Meskipun Saijah tidak dapat lagi membanggakan kekuatan kerbaunya, waktu bertemu adik-adik Saijah di perbatasan, namun ia mengatakan tidak ada yang lebih unggul dari kerbaunya dalam hal kemauan baik; dan bila alur tidak begitu lurus seperti yang dahulu, atau bila ada gumpal-gumpal tanah yang terlewat tanpa dibajak, dengan senang hati ia mencangkulnya dengan pacul, sebisa-bisanya. Lagi pula tidak ada kerbau yang punya user-useran seperti kerbaunya. Penghulu sendiri mengatakan bahwa kerbau itu membawa untung, karena ada sesuatu yang istimewa dalam jalan user-user di pundak bagian belakangnya.
Sekali di tengah padang Saijah sia-sia menyeru kerbaunya untuk bergesa. Binatang itu berdiri tanpa bergerak. Saijah, kesal karena ia begitu membangkang,—tidak biasa binatang itu membangkang demikian,—tidak dapat menahan diri dan mengeluarkan kata-kata menghina. Katanya: a. s. Tiap orang yang pernah ke Hindia mengerti apa maksudnya; dan barangsiapa yang tidak mengerti, beruntung jika saya tidak menerangkan ucapan yang kasar itu.
Tapi Saijah tidak bermaksud buruk dengan kata-katanya itu. Dia hanya mengatakannya, karena ia sering mendengar orang lain mengatakannya, jika mereka tidak senang. Tapi ia tidak perlu mengatakannya sebab sia-sia belaka; kerbau itu tidak beranjak selangkah pun. Ia menggelengkan kepala seolah-olah hendak melemparkan gandarnya, nafasnya nampak keluar dari lubang hidungnyna; ia mendengus, gemetar, matanya yang biru penuh ketakutan, dan bibirnya sebelah atas tertarik ke atas hingga gusinya kelihatan ……
— “Lari, lari, Saijah, teriak adik-adik Adinda, lari, ada macan!"
Dan semuanya melepaskan gandar kerbaunya, mereka melompat ke atas punggung-punggung kerbau yang lebar itu, dan men-congklang melalui sawah, galangan, menempuh lumpur, hutan belukar dan alang-alang, melalui lebuh dan padang, dan ketika mereka mendudu masuk ke desa Badur, penuh keringat, Saijah tidak ada bersama mereka.
Sebab setelah ia melepaskan gandaran kerbaunya, dan naik ke atas punggungnya untuk lari seperti kawan-kawannya, suatu loncatan tiba-tiba membuat ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Harimau itu sudah dekat sekali ……
Kerbau Saijah, terbawa oleh kecepatannya sendiri, terlewat beberapa loncatan dari tempat di mana tuannya kecil menunggu maut. Oleh kecepatannya sendiri, bukan dengan kemauannya sendiri binatang itu melewati Saijah, sebab baru saja ia mengalahkan gaya pendorong yang menguasai segala benda, juga sesudah tidak ada lagi sebab musabab yang mendorongnya,—dia pun berbalik, ia berdiri di atas kakinya yang umbang, tubuh-nya yang umbang di atas anak itu, melindunginya, dan dengan kepalanya yang bertanduk ia menghadapi macan itu. Binatang buas itu melompat, …… tapi ia melompat untuk penghabisan kalinya. Kerbau itu menyambutnya dengan tanduknya, ia hanya kehilangan sedikit daging pada lehernya kena cakar oleh macan itu. Macan itu terkapar di tanah dengan perut terbuka, dan Saijah selamat. Memang user-useran kerbau itu membawa untung!
Ketika kerbau itu dirampas dari ayah Saijah dan disembelih …… Saya telah katakan, pembaca, bahwa cerita saya menjemukan. Ketika kerbau itu disembelih, Saijah sudah berumur dua belas tahun, dan Adinda sudah pandai menenun sarung, dibatik-nya dengan kepala tajam. Dia sudah memasukkan pikiran dalam tabung cantingnya, dan digambarnya dukacita pada kain yang ditenunnya, sebab dilihatnya Saijah bermuram durja.
Pun ayah Saijah bersedih hati, tapi lebih-lebih lagi ibunya. Dialah yang menyembuhkan luka di leher binatang yang setia itu, yang membawa anaknya pulang dalam keadaan selamat; mendengar berita dari adik-adik Adinda ia mengira bahwa anaknya telah dibawa lari oleh harimau itu. Sering-sering ia melihat luka itu dan ia berpikir alangkah dalamnya cakar itu masuk ke dalam urat-urat kasar kerbau itu, sedalam itulah cakar itu sedianya masuk ke dalam tubuh lembut anaknya dan setiap kali bila ia menaruh daun-daunan yang baru pada luka itu, dielus-elusnya kerbau itu, diucapkannya kata-kata yang mesra, sehingga mestinyalah binatang yang baik dan setia itu mengetahui betapa besar terima kasih seorang ibu. Kemudian ia ingin hendaknya kerbau itu mengerti juga kata-katanya, sebab jika demikian tentu kerbau itu juga mengerti mengapa ia menangis, ketika ia dibawa untuk disembelih, dan tentu kerbau itu mengetahui bukanlah ibu Saijah yang menyuruhnya sembelih.
Beberapa waktu sesudah itu ayah Saijah melarikan diri dari desanya, sebab ia takut sekali dihukum jika tidak membayar pajak tanahnya, dan ia tidak mempunyai harta pusaka lagi untuk pembeli kerbau lain; orang tuanya seumur hidupnya tinggal di Parangkujang, karena itu sedikit sekali meninggalkan warisan. Pun kedua mertuanya seumur hidupnya tinggal di distrik yang sama. Tapi sesudah kehilangan kerbaunya yang terakhir ia masih bertahan beberapa tahun dengan bekerja mempergunakan kerbau sewaan, tapi pekerjaan itu sangat tidak menyenangkan, dan terutama menyedihkan bagi orang yang pernah memiliki kerbau sendiri. Ibu Saijah meninggal karena dukacita; dan ketika itulah ayahnya dalam saat putus asa menghilang dari Bantam untuk mencari pekerjaan diderah Bogor. Tapi ia dihukum dera dengan rotan, karena meninggalkan Lebak tanpa pas, dan ia dibawa kembali oleh polisi ke Badur. Ia dimasukkan ke dalam penjara karena dianggap gila, dan saya kira memang demikian, dan karena orang kuatir bahwa ia akan mata gelap dan mengamuk, atau melakukan kesalahan lain. Tapi ia tidak lama dalam penjara, sebab tidak lama sesudah itu ia mati.
Apa jadinya dengan adik-adik Saijah saya tidak tahu.
Rumah kecil yang mereka diam di beberapa waktu kosong, dan tidak lama kemudian roboh, karena hanya terbuat dari bambu dan memakai atap. Sedikit debu dan kotoran menutupi tempat di mana pernah orang mengalami begitu banyak penderitaan. Banyak tempat-tempat semacam itu di Lebak.
Saijah sudah lima belas tahun ketika ayahnya berangkat ke Bogor. Ia tidak ikut serta dengan ayahnya sebab ia mempunyai rencana-rencana yang lebih besar. Ia mendengar bahwa di Betawi banyak tuan-tuan yang naik bendi, jadi mungkin baginya mudah mendapatkan pekerjaan sebagai kacung bendi; untuk itu biasanya dicari seorang yang masih muda dan belum dewasa supaya kendaraan dua roda itu tidak kehilangan keseimbangan karena terlalu berat di belakang. Dia akan banyak mendapat wang, demikian kata orang, jika tingkah lakunya baik dalam pekerjaan demikian itu; barangkali ia dengan cara itu dalam tiga tahun dapat menyimpan uang, cukup untuk membeli dua ekor kerbau. Pikiran ini menarik baginya. Dengan langkah yang gagah seperti langkah orang yang besar cita-citanya, ia masuk ke rumah Adinda sesudah keberangkatan ayahnya, dan kepada Adinda ia menceritakan rencananya.
— “Bayangkan, katanya, jika aku kembali, kita sudah cukup umur untuk kawin, dan kita akan memiliki dua ekor kerbau!—“Baik sekali, Saijah. Aku ingin kawin dengan kau jika kau telah kembali. Aku akan memintal, dan menenun sarung dan selendang, dan aku akan membatik, dan bekerja rajin sekali selama itu.
— “O, aku percaya Adinda, tapi …… bagaimana jika aku kembali dan kau telah kawin?—“Saijah, kau tahu bahwa aku tidak akan kawin dengan orang lain; ayahku telah berjanji dengan ayahmu mengenai diriku.—“Dan kau sendiri?—“Aku akan kawin dengan kau, percayalah.”—“Bila aku pulang, aku akan berseru dari jauh” ……—“Siapa akan mendengarmu jika kami sedang menumbuk padi di desa?”—“Benar juga, …… tapi, Adinda, …… o ya, aku mendapat pikiran yang lebih baik; …… tunggulah aku di hutan jati, di bawah ketapang di mana kau memberiku kembang melati.”—“Tapi, Saijah, bagaimana aku tahu bila aku harus pergi menunggumu di bawah ketapang?” Saijah berpikir sejenak, lalu berkata:—“Hitunglah jumlah bulan. Aku akan pergi tiga kali dua belas bulan, …… bulan ini tidak terhitung; …… lihat, Adinda, buatlah garis pada lesungmu pada tiap bulan baru. Sesudah cukup tiga kali dua belas garis, sehari sesudah itu aku akan datang di bawah ketapang; …… berjanjilah bahwa kau akan menungguku di sana.”—“Ya, Saijah, aku akan menunggu di bawah ketapang di hutan jati jika kau kembali. Lalu Saijah menyobek secarik dari ikat kepalanya yang biru, ikat kepalanya yang lusuh, dan diberikannya kepada Adinda agar disimpannya sebagai petaruh; lalu ia pun meninggalkannya, dan meninggalkan Badur. Berhari-hari ia berjalan. Dilewatinya Rangkas Betung yang belum lagi menjadi ibukota Lebak, dan Warung Gunung di mana tinggal asisten residen, dan keesokan harinya ia tiba di Pandeglang yang letaknya seperti di dalam taman. Sehari lagi kemudian ia tiba di Serang dan kagum melihat keindahan kota yang begitu besar dengan banyak rumah-rumah yang terbuat dari batu, atap-nya dari genteng merah. Saijah belum pernah melihat yang seperti itu. Di situ ia tinggal sehari karena letihnya, tapi malam hari dalam udara yang sejuk ia meneruskan perjalananan dan tiba di Tangerang keesokan harinya sebelum bayangan turun sampai ke bibirnya, Meskipun ia memakai tudung besar peninggalan ayahnya.
Di Tangerang ia mandi di sungai dekat penyeberangan, dan ia istirahat di rumah kenalan ayahnya yang mengajar dia bagaimana menganyam topi jerami, seperti yang didatangkan dari Manila. Sehari ia tinggal di sana untuk mempelajarinna, sebab pikirnya, mungkin ia kemudian dapat mencari wang dengan kepandaian nyna itu, jika sekiranya ia tidak berhasil di Betawi. Keesokan harinya menjelang malam ketika udara mulai sejuk, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada orang yang menjamunya, dan melanjutkan perjalanan. Ketika sudah gelap sekali, supaya tidak kelihatan oleh siapa-siapa, dikeluarkannya daun tempat ia menyimpan melati yang diberikan Adinda kepadanya di bawah pohon ketapang, sebab ia merasa sedih bahwa ia tidak akan melihatnya dalam waktu sekian lama. Hari yang pertama, dan demikian pula hari yang kedua, ia tidak begitu merasakan betapa ia hidup sebatang kara, karena jiwanya seluruhnya dipenuhi oleh pikiran yang besar akan mencari wang untuk membeli dua ekor kerbau; bukankah ayahnya sendiri tidak pernah memiliki lebih dari seekor? Dan pikirannya terlalu tertuju kepada pertemuan kembali dengan Adinda, sehingga tidak ada tempat untuk bersedih hati atas perceraian itu. Waktu berpisah ia penuh harapan, dan dalam pikirannya ia mengaitkan perpisahan itu kepada saat pertemuan kembali di bawah ketapang. Sebab begitu besar peranan harapan bertemu kembali dalam hatinya, sehingga ketika meninggalkan Badur, ia merasa gembira dalam dirinya ketika melewati pohon itu, seolah-olah waktu yang tiga puluh enam bulan itu sudah silam, waktu yang memisahkannya dari saat itu. Rasanya seolah-olah ia hanya perlu berbalik, seolah-olah ia sudah kembali dari perjalanan, untuk melihat Adinda, yang menunggunya di bawah pohon itu.
Tapi semakin jauh ia berjalan dari Badur, semakin panjang rasanya waktu sehari, semakin panjang dirasanya waktu tiga puluh enam bulan yang masih harus dijalaninja. Ada sesuatu dalam jiwanya. yang membuat ia melangkah tidak begitu cepat, ... ia merasakan dukacica pada lututnya; dan Meskipun bukan putus asa apa yang dirasakannya, namun itu adalah kerawanan yang tidak jauh dari rasa putus asa. Ia teringat akan kembali, tapi apa kata Adinda jika hatinya seketiyil itu?
Karena itu ia berjalan terus, Meskipun tidak begitu cepat seperti hari yang pertama. Melati di tangannya berkali-kali dibawanya ke dadanya. Ia sudah menjadi lebih tua dalam tiga hari itu, dan ia tidak mengerti lagi betapa tenang ia hidup dahulu, ketika Adinda begitu dekat kepadanya dan ia dapat melihatnya setiap kali ia mau. Sebab sekarang ia tidak akan tenang sekiranya ia boleh mengharapkan bahwa Adinda tiba-tiba berdiri di depannya. Dan juga ia tidak mengerti mengapa ia sesudah berpisah tidak berbalik sekali lagi untuk menatap Adinda sekali lagi. Malahan ia teringat bagaimana belum lama berselang ia bertengkar dengannya mengenai tali yang dipintalnya untuk layang-an adik-adiknya; tali itu putus karena ada kesalahan dalam pintalaninya, sehingga mereka kalah dalam pertandingan melawan anak-anak dari Cipurut. “Bagaimana mungkin, pikirnya, untuk marah kepada Adinda karena itu? Sebab Meskipun ada kesalahan dalam pintalan talinya, dan Meskipun Badur kalah dalam pertandingan melawan Cipurut karena kesalahan itu, dan bukan karena beling yang dilemparkan oleh si Jamin kecil yang bersembunyi di belakang pagar, malahan pun dalam hal itu, bolehkah aku bersikap keras terhadapnya, dan menyebutnya dengan nama-nama yang tak pantas? Bagaimana kalau aku mati di Betawi tanpa meminta maaf atas kekasaran seperti itu? Bukankah aku seperti manusia durjana yang memaki-maki seorang gadis? Dan tidakkah, apabila orang mendengar bahwa aku mati di negeri asing, tiap orang di Badur mengatakan: “syukurlah Saijah mati, sebab ia kurang ajar kepada Adinda?”
Demikianlah jalan pikirannya, lain sekali dari ketika ia dalam keadaan kesal tempohari; pikirannya itu dengan tidak setahunya mencari jalan keluar, mula-mula dengan kata-kata tak lengkap, digumam, kemudian dengan kata-kata kepada diri sendiri, dan kemudian menjadi nyanyian sedih dan pilu yang saya turunkan di sini terjemahannja. Mula-mula saya hendak memasukkan matra dan rima dalam terjemahan itu, tapi seperti Havelaar, saya pun merasa lebih baik jangan mengikat diri kepada kerangka yang kaku itu.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke-sana dengan ayahku, untuk membuat garam; Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang; Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”—Aku tak akan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena ia mata gelap; Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan kayu berpijar jatuh menimpa mayatku; Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pe-madam api;—Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik kelapa untuk ibunya; Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya, di dalam semak, seperti Si Unah;
Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi orang lain akan berseru: “Lihat Saijah di sana!” dengan suara yang keras;—Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambut-nya sudah putih; Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap sekeliling mayatku; Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat Pak Lisu; dan juga cucucucunya akan menangis, keras sekali;—Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Banyak orang mati kulihat di Badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah; Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke-timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi; Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan me-ngingsut mendesir rumput, ……. Aku akan mendengarnya.
Saijah tiba di Betawi. Ia meminta pekerjaan pada seorang tuan, dan tuan itu segera menerimaia karena ia tidak mengerti Saijah, dan di Betawi orang suka menerima bujang yang belum pandai bahasa Melayu, jadi belum rusak seperti yang lain yang sudah lebih lama bergaul dengan orang Eropa. Saijah cepat belajar bahasa Melayu, tapi ia selalu baik dan berhati-hati, sebab ia senantiasa teringat kepada dua ekor kerbau yang akan dibelinya, dan kepada Adinda. Tubuhnya menjadi besar dan kuat, sebab ia makan setiap hari, hal mana tidak selalu bisa dilakukannya di Badur. Di kandang kuda ia disukai, dan pastilah ia tidak akan ditolak jika melamar anak gadis pak kusir. Tuannya sendiri senang sekali kepada Saijah, sehingga ia cepat diangkat jadi jongos. Gajinya dinaikkan, dan selain itu ia selalu mendapat hadiah karena pekerjaannya yang sangat memuaskan. Nyonya pernah membaca roman Sue¹ yang sangat menghebohkan sebentar, ... ia selalu teringat pangeran Jalma apabila ia melihat Saijah, dan juga anak-anak gadisnya lebih mengerti dari dahulu bagaimana pelukis bangsa Jawa Raden Saleh mendapat pujian yang tinggi di Paris.
Tapi mereka menganggap Saijah tidak tahu berterima kasih ketika ia sesudah hampir tiga tahun bekerja, minta berhenti dan meminta surat keterangan bahwa ia selalu berkelakuan baik. Tapi mereka meluluskan juga permintaannya itu, dan Saijah memulai perjalanannya dengan hati yang gembira.
Dia berjalan melewati Pesing, di mana Havelaar pernah tinggal, dahulu sekali. Tapi Saijah tidak mengetahui hal ini; ... dan Sekalipun ia mengetahuinya, ada hal-hal lain yang dipikirkannya ... Ia menghitung-hitung harta bendanya yang dibawanya pulang. Di dalam tabung bambu disimpannya surat jalannya dan surat keterangan berkelakuan baik. Di dalam sebuah bumbung yang diikat dengan tali kulit, nampak sesuatu yang berat selalu bergoyang-goyang mengenai bahunya, tapi ia senang merasakannya, ... percayalah! ... di dalamnya ada sejumlah tiga puluh mata wang Spanyol², cukup untuk membeli tiga ekor kerbau! Apa kata Adinda! Dan ini belum semuanya lagi. Dipunggungnya nampak keris yang ditaruhnya diikat pinggang, sarungnya bersalut perak. Gagangnya tentulah dari kemuning yang diukir halus, sebab benda itu dengan hati-hati dibungkusnya dengan kain sutera. Dan banyak lagi harta kekayaannya! Di dalam ikatan kain dipinggangnya, disimpannya sebuah ikat pinggang rantai dari perak, pendingnya dari emas. Memang ikat pinggang itu agak pendek, tapi dia begitu ramping, ... Adinda.
Dan pada tali di lehernya, di bawah baju luarnya, tergantung sebuah kocek sutera, dengan beberapa kembang melati yang sudah kering.
Tidaklah mengherankan bila di Tangerang ia berhenti se-perlunya saja untuk mengundungi kenalan ayahnya yang begitu pandai menganyam topi yang bagus. Tidaklah mengherankan bila ia seperlunya saja menjawab gadis-gadis yang bertemu olehnya di jalan, yang bertanya: “ke mana? dari mana?”, tegor sapa yang lazim di daerah itu. Tidaklah mengherankan bila ia menganggap Serang tidak begitu indah lagi, ia yang telah me-ngenal Betawi. Ia tidak lagi bersembunyi di belakang pagar, seperti dilakukannya tiga tahun yang lalu, ketika ia melihat tuan residen naik kereta, ia yang telah melihat tuan yang lebih besar yang tinggal di Bogor dan menjadi datuk Susuhunan-susuhunan di Solo. Tidaklah mengherankan bila ia tidak memperhatikan cerita-cerita orang yang berjalan beberapa jauh bersamanya dan berbicara tentang berita di Bantam Kidul:—“bahwa pe-nanaman kopi dibatalkan sama sekali sesudah banyak usaha-usaha yang tidak menguntungkan;—betapa kepala distrik Parangkujang karena merampas di jalan umum dijatuhi hukuman tahanan empat belas hari di rumah mertuanya;—betapa ibukota telah dipindahkan ke Rangkasbetung;—betapa telah datang di sana seorang asisten residen baru, sebab yang sebelum-nya telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu;—betapa pejabat baru itu telah berbicara pada rapat sebah yang pertama;—betapa sudah beberapa waktu tidak ada orang yang dihukum karena pengaduan;—betapa hidup harapan di kalangan rakyat supaya barang yang dicuri dikembalikan atau dibayarkan ganti kerugiannya."
Tidak, di mata semangatnya nampak gambaran-gambaran yang lebih indah. Dicarinya pohon ketapang di awan gemawan, terlalu jauh masih ia untuk mencarinya di Badur. Ia memeluk udara sekitarnya, seolah-olah ia hendak merangkul tubuh yang akan menunggunya di bawah pohon itu. Dibayangkannya wajah Adinda, kepalanya, bahunya; dilihatnya kondenya yang besar, hitam
gemerlap, terperangkap dalam jeratnja sendiri, bergantung pada lehernya; dilihatnya matanya yang besar berkilau dalam pantulan yang hitam; cuping hidungnya yang diangkatnya dengan perkasa sebagai anak kecil, ketika ia,—betapa mungkin!—mengganggunya, dan sudut bibirnya yang menyimpan senyumnnya; dilihatnya buah dadanya yang kini tentunya menonjol di bawah kebayanya; dilihatnya betapa sarung yang ditenunnya sendiri, memeluk ketat pinggangnya dan, mengikuti lengkungan pahanya, turun melalui lututnya mengalun indah di atas kakinya alit ……
Tidak, ia tidak banyak mendengar apa yang dikatakan orang kepadanya. Yang didengarnya ialah nada-nada yang lain; dide-ngarnya bagaimana Adinda akan berkata: “Selamat datang, Saijah! Aku teringat kepadamu waktu memintal dan waktu menenun, dan waktu menumbuk padi dalam lesung yang bergaris tiga kali dua belas garis buatan tanganku. Ini aku di bawah ketapang, hari pertama bulan yang baru. Selamat datang, Saijah, aku mau jadi isterimu.”
Itulah musik yang bergema di telinganya, sehingga ia tidak mendengar segala berita yang disampaikan orang dalam perjalanannya.
Akhirnya nampak olehnya pohon ketapang. Atau lebih tepat, dilihatnya suatu tempat yang besar dan gelap yang menutup bintang-bintang banyak dari pemandangannya. Itu mestinya hutan jati dekat pohon di mana ia akan bertemu dengan Adinda keesokan harinya sesudah terbitnya matahari. Ia mencari dalam gelap dan meraba-raba banyak batang pohon. Tidak lama kemudian ia menemukan sebatang pohon, pada kulitnya sebelah Selatan ada bekas tetakan yang dikenalnya; diletakkannya jarinya dalam alur yang dibuat oleh Si Panteh dahulu dengan parangnya untuk menerapahi pontianak yang menyebabkan ibunya sakit gigi, tidak lama sebelum adik Si Panteh lahir. Itulah ketapang yang dicari-nya.
Ya, inilah tempat di mana ia buat pertama kali memandangi
Adinda dengan cara lain dari teman sepermainannya yang lain, sebab Adinda buat pertama kali di tempat itu menolak turut serta dalam suatu permainan, yang sebenarnya, tidak lama sebelumnya diikutinya dengan semua anak-anak, --- laki-laki dan perempuan. Di situlah Adinda memberinya kembang melati.
Ia duduk di kaki pohon itu, dan memandang ke atas, ke bintang-bintang, dan bila ada yang beralih, dianggapnya itu sebagai ucapan selamat datang bahwa ia telah kembali di Badur.
Dan ia berpikir apakah sekarang Adinda sedang tidur, dan apakah ia tidak salah menandai bulan pada lesungnya? Saijah akan berdukacita, jika Adinda sampai kelupaan menandai sebulan, seolah-olah tidak cukup ... jumlah tiga puluh enam bulan! Dan apakah ia membatik sarung dan selendang yang indah? Dan juga ia bertanya kepada dirinya, siapa-siapakah yang kini tinggal di rumah ayahnya? Dan terbayang masa mudanya, dan ibunya, dan betapa kerbau itu menyelamatkannya dari terkaman harimau, dan terpikir olehnya apa akan jadinya dengan Adinda jika kerbau itu tidak begitu setia?
Diperhatikannya benar turunnya bintang-bintang di Barat dan setiap kali sebuah bintang menghilang di kaki langit, ia menghitung bahwa matahari sudah lebih dekat lagi sedikit mendekati saat terbitinya di ufuk Timur, dan betapa tambah dekat ia sendiri kepada saat bertemu kembali dengan Adinda.
Sebab pastilah ia akan kembali pada cahaya matahari yang pertama, ya, dia sudah akan ada di sana ketika fajar, ... ah, mengapa ia tidak datang kemarin?
Saijah merasa sedih bahwa Adinda tidak mendahului saat yang indah yang tiga tahun lamanya menyuluhi jiwanya dengan cahaya yang tidak terlukiskan; dalam cintanya Saijah hanya ingat akan kepentingan dirinya, dan ia menjadi tidak adil; menurut dia seharusnya Adinda sudah berada di sana, menunggu dia, dia yang kini mengeluh,—sebelum waktunya,—bahwa ia harus menunggu Adinda!
Dan tidak sepaturtnya ia mengeluh, sebab matahari belum lagi terbit, ... belum lagi matahari melepaskan pandangnya ke atas dataran. Memang bintang-bintang nun di atas menjadi pucat, malu bahwa segera berakhir kekuasaannya; memang mengalir warna-warna yang garib di puncak-puncak gunung, yang nampak lebih gelap semakin tajam timbul sosoknya berlatar-belakang cahaya terang; memang di sana sini sesuatu yang berpijar melayang melintasi awan di sebelah Timur,—panah-panah emas dan api yang ditembakkan bolak balik, sejajar dengan kaki langit,—tapi menghilang lagi dan nampaknya jatuh di belakang tirai yang penuh rahasia, tirai yang menjauhkan siang dari pandangan mata Saijah.
Namun cuaca makin terang dan makin terang sekitarnya, …… sudah dilihatnya tamasya alam, dan sudah dapat dibedakannya gombak gugus kelapa di mana Badur tersebunyi dari pandangan mata, ……. di situlah Adinda terbaring tidur.
Tidak, dia tidak tidur lagi; bagaimana mungkin ia tidur? ……. Tidakkah ia tahu bahwa Saijah akan menantinya? ……. Dia tidak tidur semalam-malaman; pasti jaga kampung mengetuk pintunya dan menanyakan mengapa pelita masih menyala dalam rumahnya, dan dengan tersenyum manis ia menjawab bahwa ia tak dapat tidur karena berjanji akan menyelesaikan selendang yang sedang ditenunnya; selendang itu harus selesai sebelum hari pertama bulan baru …….
Atau malam itu ia begadang di tempat gelap, duduk di atas lesung, dan menghitung dengan jari dan hati mendamba sudahkah sungguh-sungguh berderet tiga puluh enam garis yang dalam. Dan hatinya gembira terkejut dalam kecekatannya jangan-jangan ia salah hitung, jangan-jangan masih kurang satu, dan sekali lagi dan sekali lagi, dan setiap kali ia menikmati kepastian yang menyenangkan bahwa sungguh-sungguh telah lewat tiga kali dua belas bulan sejak ia berpisah dengan Saijah …….
Dia pun tentunya sekarang ini, sesudah cuaca seterang ini, memasang matanya sia-sia, melemparkan pandangnya kebalik tepi langit, untuk menemui matahari, matahari yang lamban, yang tidak juga terbit,…… tidak juga terbit …….
Nampak garis merah ke biru-biruan yang berpaut pada awan, dan tepi-tepi awan itu menjadi terang dan berpijar, dan mulai berklat; dan kembali melayang panah-panah api di ruang angkasa, tapi sekali ini tidak jatuh ke bawah; mereka menjerait di tanah yang gelap, bahangnya meluas dalam lingkaran yang tambah lama tambah luas, dan saling bertemu, silang menyilang, memutar, beredar, dan bersatu menjadi berkas-berkas api dan berklat dengan cahaya keemasan di atas tanah biru muda, ... semuanya itu warnanya merah, dan biru, dan keperak-perakan, dan lembayung dan kuning, dan keemasan, ... ya Tuhan, itulah fajar, itulah pertemuan kembali dengan Adinda! ...
Saijah tidak pernah belajar mendoza, dan memang sayang kalau itu diajarkan kepadanya; sebab dua yang lebih suci dan syukur yang lebih membara dari yang mengendap diam dalam jiwanya gembira, tidak dapat diungkapkan dalam bahasa manusia.
Ia. tidak mau pergi ke Badur. Saat pertemuan itu sendiri dengan Adinda dirasanya tidak begitu indah seperti kepastian bahwa ia akan bertemu dengannya. Ia duduk di bawah pohon ketapang dan diedarkannya pandangnya sekitar wilayah. Alam seolah tersenyum kepadanya, dan mengucapkan selamat datang seperti seorang ibu menyambut anaknya yang baru pulang; dan seperti juga si ibu melukiskan kegembiraannya dengan menimbulkan sendiri kenang-kenangan kepada dukacica yang lampau, pada waktu menunjukkan apa yang disimpannya sebagai tanda mata selama kepergian anaknya, Saijah pun menggembirakan hati dengan melihat kembali sekian banyak tempat-tempat yang menjadi saksi kehidupannya yang singkat. Tapi betapa pun matanya Ataupun pikirannya mengembara, setiap kali pandangnya dan hasratnya kembali ke jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang itu. Segala yang dirasakan dan dilihat oleh pancainderanya bernama Adinda ... Dilihatnya jurang sebelah kiri dengan tanah yang begitu kuning, di mana pernah seekor kerbau yang masih muda jatuh ke dalam lubang; orang kampung berkumpul di situ untuk menolong binatang itu,—sebab bukan perkara kecil kehilangan seekor kerbau muda,—mereka turun dengan tali rotan yang kuat, dan ayah Adinda adalah yang paling berani, ... o, betapa keras ia bertepuk tangan ... Adinda!
Dan nun di sana di sebalik gugusan pohon kelapa yang daun-nya melambai-lambai di atas pondok-pondok desa, di salah satu tempat itu Si Unah jatuh dari pohon dan mati. Alangkah sedih ibunya menangis; “sebab Si Unah masih begitu kecil", ratap-nya ... scolah-olah ia tidak akan begitu sedin sekiranya Si Unah sudah lebih besar. Tapi ia kecil, memang benar, sebab ia lebih kecil dan lebih lemah dari Adinda ...
Tidak nampak seorang pun di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon itu. Nanti ia datang; ... hari masih ter-lalu pagi.
Saijah melihat bajing yang melompat kian ke mari dengan cepat dan keracak pada batang pohon kelapa. Binatang yang molek itu,—ditakuti oleh pemilik kelapa, namun molek tubuh dan gerak geriknya,—naik dan turun tak jemu-jemunya. Saijah melihatnya, dan dipaksanya dirinya untuk terus melihat-nya, sebab dengan demikian pikirannya menjadi tenang, sesudah berat bekerja sejak matahari terbit,—tenang sesudah letih menunggu. Tidak lama kemudian kesan-kesannya menyatakan diri dalam kata-kata, dan ia pun menyanyikan apa yang bergolak dalam jiwanya. Saya lebih suka membacakan nyanyiannya dalam bahasa Melayu, bahasa Itali di Timur itu 1).
Lihatlah betapa bajing mencari makan Di pohon kelapa. Ia naik, ia turun, ia mengeracak kiri dan kanan Ia berlari (mengitari pohon), melompat, jatuh, me-manjat dan jatuh lagi Sayap ia tak punya namun ia cergas seperti burung.
- Sajak “Lihatlah Bajing" dalam bahasa Melayu yang ditulis oleh Multatuli sendiri kemudian ditemukan kembali dan okeh E. Du Perron dimuat dalam bukunya “De Bewiyzen uit het Pak van Syaalman", A.A.M. Stols—Riyswiyk (Z.-H.), t.t. Sajak itu kami muat sebagai lampiran di belakang buku ini. Lihat halaman 350.
Selamatlah bajingku, selamatlah Pasti kau menemukan makan yang kau cari, …… Tapi aku seorang diri duduk di hutan jati Menunggu makanan bagi hatiku. Sudah lama bajingku kenyang Sudah lama ia kembali ke sarang Tapi masih juga jiwaku Dan hatiku sangat berdukacita …… Adinda!
Belum juga ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang …… Maka Saijah terpandang rama-rama yang agaknya bergembira karena hari mulai panas ……
Lihatlah nun rama-rama keliling mengepak sayap
Sayapnya berkilau laksana kembang aneka warna Hatinya cinta berahikan bunga kenari Pastilah ia mencari, mencari kekasih yang harum wangi. Selamatlah ramaku, selamatlah Pastilah kau menemu apa dicari Tapi aku duduk seorang diri di hutan jati Menunggu kekasih idaman hati Sudah lama rama-rama mengecup Kembang kenari yang sangat ia cintai Tapi masih jiwaku Dan hatiku alangkah berdukacita …… Adinda!
Dan belum ada juga orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang. Matahari sudah meninggi; —— udara sudah panas.
Lihatlah betapa matahari bersinar nun di atas
Jauh di atas bukit Waringi Terlalu panas ia merasa dan ingin turun ke bumi
Tidur di dasar laut seperti rangkulan seorang suami. Selamatlah o matahari, selamatlah Pasti kau menemu apa dicari Tapi aku seorang diri di hutan jati Menunggu hatiku menjadi tenang Sudah lama nanti matahari turun Dan tidur di dalam laut, jika segala telah kelam Tapi masih jiwaku Dan hatiku alangkah berdukacita …… Adinda
Dan tidak ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang.
Jika tiada lagi rama-rama terbang keliling mengepak sayap Jika bintang tiada lagi berkilauan Jika melati tiada lagi harum baunya Jika tiada lagi hati berduka Tiada lagi binatang liar di dalam hutan Jika matahari kesasar jalan Dan bulan lupa mana Timur mana Barat Jika waktu itu belum juga datang Adinda. Maka turunlah malaikat dengan sayap kemilau Ke atas bumi mencari apa yang tinggal Maka mayatku terkapar di sini di bawah ketapang Jiwaku alangkah berdukacita, …… Adinda!
Tidak ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang.
Maka malaikat melihat mayatku Diberitahunya saudara-saudaranya, ditunjuknja mayatku dengan jarinya “Lihatlah, nun di sana ada seorang manusia mati terlupa
Mulutnya kejang mencium kembang melati Marilah, kita angkat dia kita bawa ke surga Orang yang menunggu Adinda sampai mati Sungguh, ia tak boleh tinggal sendiri Orang yang hatinya begitu keras mencintai Maka sekali lagi mulutku kejang akan membuka Untuk memanggil Adinda yang kucinta Sekali lagi kukecup melati Yang dia berikan ... Adinda ... Adinda!
Dan masih juga tidak ada orang di jalan yang menghubung-kan Badur dengan ketapang.
O, pastilah ia tertidur menjelang pagi, kelelahan karena begadang sepanjang malam, karena begadang bermalam-malam terus menerus, ... ia tidak tidur sudah berminggu-minggu, ... demikianlah adanya! Apakah ia akan berdiri dan berjalan ke Badur? ... Tidak, jika demikian seolah-olah ia ragukan kedatangannya ... Bagaimana kalau dipanggilnya orang di sana yang menggiring kerbaunya ke ladang? ... Orang itu terlalu jauh, dan lagi, Saijah tidak mau bicara tentang Adinda, tidak mau menanyan-kan tentang Adinda, ... ia mau bertemu dengannya, melihatnya kembali, ia ingin melihat Adinda sendiri, melihat Adinda lebih dulu. O, tentu, tentulah ia segera datang. Ia akan menunggu, menunggu ... Tapi kalau dia sakit, atau ... mati? Seperti rusa kena panah Saijah berlari melalui jalan dari pohon ketapang menuju desa tempat Adinda tinggal. Dia tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar apa-apa, Meskipun ia dapat mendengar apa-apa, sebab ada orang berdiri di pinggir jalan dekat pintu masuk ke dalam desa yang berteriak: “Saijah, Saijah!" Tapi, ... apakah karena ia tergesa-gesa, karena nafsunya, maka ia tak dapat menemukan rumah Adinda? Ia sudah berlari sampai ke ujung jalan di batas kampung, dan seperti gila ia berjalan kembali dan memukul-mukul kepalanya, betapa mungkin ia melewati rumah Adinda tanpa melihatnya. Tapi kembali ia berdiri di pintu gerbang masuk, ... ya Tuhan, apakah ia bermimpi? ... sekali lagi ia tidak menemukan rumah Adinda. Sekali lagi ia berlari kembali dan tiba-tiba ia berhenti, dipegangnya kepalanya dengan kedua tangannya seolah-olah hendak memeras keluar pikiran tak waras yang merasukinya, dan ia berteriak keras-keras; “mabuk, mabuk, aku mabuk!"
Dan perempuan-perempuan Badur keluar dari rumahnya, dan dengan kasihan melihat Saijah berdiri di jalan; sebab mereka mengenalinya dan mereka tahu bahwa ia mencari rumah Adinda, dan mereka tahu tidak ada rumah Adinda di desa Badur.
Sebab ketika kepala distrik Parangkujang merampas kerbau-kerbau ayah Adinda ...
Sudah saya katakan, pembaca budiman, bahwa cerita saya menjemukan.
... ketika itu ibu Adinda meninggal karena sedihnyia, dan adiknya yang bungsu meninggal karena tidak ada ibu yang menyusuinya. Dan ayah Adinda yang ketakutan mendapat hukuman jika tidak membayar pajak tanah ...
Saya tahu, saya tahu bahwa cerita saya menjemukan.
... ia pergi meninggalkan kampung halaman. Dibawanya Adinda dengan saudara-saudaranya. Tapi ia mendengar betapa ayah Saijah dihukum di Bogor dengan deraan rotan, karena meninggalkan Badur tanpa surat jalan. Karena itulah ayah Adinda tidak pergi menuju Bogor, tidak ke Krawang, tidak ke Priangan, tidak pula ke Betawi ...
Ia pergi ke Cilangkahan, distrik Lebak yang berbatasan dengan laut, di sanalah ia bersembunyi di dalam hutan, dan menunggu kedatangan Pak Ento, Pak Lontah, Si Uniah, Pak Ansiu, Abdul Isma dan beberapa orang lagi yang kerbaunya dirampas oleh kepala distrik Parangkujang, dan yang semuanya takut kena hukuman jika mereka tidak membayar pajak tanah.
Di sana pada malam hari mereka mencuri sebuah perahu nelayan dan berlayar meninggalkan pantai. Mereka menuju ke Baratlaut, pantai di sebelah kanannya, sampai ke Tanjung Jawa di Ujung Kulon; dari sana mereka berlayar menuju ke Utara sampai Panaitan yang disebut pelaut kulit putih Prinseneiland. Mereka mengitari pulau itu di sebelah Timur dan kemudian menuju Teluk Semangka, menghala puncak gunung yang tinggi di Lampung.
Demikianlah jalan yang dibisikkan orang dari mulut ke mulut di Lebak, jalan yang ditempuh bila orang bicara tentang perampasan kerbau dan pajak tanah yang belum dibayar.
Tapi Saijah tidak mengerti benar apa yang dikatakan orang kepadanya, malahan ia tidak mengerti benar berita tentang kematian ayahnya. Telinganya menggaung seolah-olah dipukul gong dalam kepalanya, dirasanya betapa darah mendenyut-denyut dalam urat-urat pelipisnya yang serasa-rasa hendak pecah di bawah tekanan pemekaran yang begitu berat. Ia tidak berkata-kata dan memandang keliling dengan mata kehilangan cahaya, tidak melihat apa yang ada sekitarnya dan dekatnya, dan akhirnya ia meledak dalam tawa yang mengerikan.
Seorang perempuan tua membawanya ke rumahnya dan mengobati orang gila yang malang itu. Tidak lama kemudian ia tidak lagi tertawa begitu mengerikan, namun ia tidak bicara. Hanya malam hari orang-orang sepondok terkejut oleh suaranya bila ia menyanyi tanpa nada: “tidak ku tahu di mana aku kan mati", dan beberapa orang penduduk Badur mengumpulkan uang untuk memberi sajen kepada buaya-buaya di Tjiujung, supaya Saijah menjadi sembuh, Saijah yang dianggap gila. Tapi ia tidak gila.
Sebab sekali malam hari ketika bulan bersinar cerah ia berdiri dari balai-balenya dan perlahan-lahan meninggalkan rumah dan mencari tempat di mana pernah Adinda berdiam. Ini bukan pekerjaan yang mudah sebab banyak rumah yang telah roboh, tapi nampaknya ia mengenali kembali tempat itu pada besarnya sudut yang dibuat oleh beberapa garis cahaya melalui pohonan pada waktu bertemu dalam matanya, seperti seorang pelaut menentukan posisi pada menara api atau pada tempat-tempat yang menjulur di gunung. Ya, di situlah mestinya rumahnya …… di situ pernah Adinda tinggal! Tersaruk-saruk pada bambu setengah lapuk dan kepingan-kepingan atap yang runtuh ia mencari jalan ke tempat keramat yang dicarinya. Dan, sungguh, ia masih menemukan kembali sebagian dari pagar yang masih berdiri, di samping pagar itulah dulu berada balai-balai Adinda; bahkan di pagar itu masih ter-pancang pasak bambu tempat menggantungkan pakaian nyia bila ia hendak tidur …… Tapi balai-balai itu telah runtuh seperti juga rumah itu dan hampir kembali menjadi debu. Diambilnyia segenggam debu, dan di dekatkannya ke bibirnyia yang terbuka, dan ia menarik nafas dalam-dalam ……. Keesokan harinya ia bertanya kepada orang tua yang merawat-nya, di manakah lesung yang dulu terletak di pekarangan rumah Adinda. Perempuan itu gembira mendengar ia bicara dan ber-jalan sekeliling desa untuk mencari lesung itu. Ketika ia me-nemukan pemilknya yang baru dan hendak menunjukkannya kepada Saja, Saijah mengikutinya tanpa berkata sepatah kata, dan ketika tiba di lesung itu, dihitungnyia ada tiga puluh dua garis tergores di situ ……. Lalu diberinya perempuan itu sekian mata wang Spanyol, cu-kup untuk membeli seekor kerbau, dan meninggalkan Badur. Di Cilangkahan dibelinya sebuah perahu nelayan, dan dengan perahu itu sesudah beberapa hari berlayar ia tiba di Lampung, di mana pemberontak sedang melawan kekuasaan Belanda. Ia bergabung dengan segerombolan orang Bantam, bukan untuk bertempur tapi untuk mencari Adinda; sebab sifatnyia lembut, dan lebih mudah terharu oleh kesedihan dari tergugah oleh kepahitan. Pada suatu hari ketika pemberontak-pemberontak sekali lagi dialahkan, ia mengembara di dalam desa yang baru saja direbut oleh tentara Belanda, jadi masih terbakar. Saijah tahu bahwa gerombolan yang dihancurkan di tempat itu, sebagian besar terdiri dari orang Bantam; ia berkeliling seperti hantu di rumah-rumah yang belum terbakar seluruhnya, dan menemukan mayat ayah Adinda dengan luka kena kelewang di dada. Di sampingnya Saijah melihat ketiga saudara Adinda yang terbunuh, pemuda-pemuda, anak-anak masih; dan sedikit lagi ke sana nampak mayat Adinda, telanjang, teraniaya dengan cara yang mengerikan ……
Ada sepotong kecil kain biru masuk ke dalam luka yang terbuka di dadanya, yang rupanya mengakhiri pergulatan yang lama ……
Lalu Saijah menyongsong beberapa orang soldadu yang dengan bedil terkokang menghalau sisa-sisa pemberontak yang masih hidup ke dalam api rumah-rumah yang sedang terbakar; ia mendekap bayonet-bayonet pedang yang lebar itu, mendorong ke depan dengan penuh tenaga, dan masih berhasil mendesak kembali soldadu-soldadu itu dengan tenaga yang penghabisan, ketika gagang-gagang bayonet tertumbuk pada dadanya.
Dan tidak lama kemudian orang bersorak-sorak di Betawi atas kemenangan yang baru itu, yang menambahkan pula banyak kemenangan pada kemenangan-kemenangan tentara Hindia Belanda. Dan wali negeri pun menulis bahwa keamanan telah dipulihkan kembali di Lampung, dan raja Belanda, yang diberi penerangan oleh pejabat-pejabat negara, kembali memberi anugerah atas keberanian dan kepahlawanan yang begitu besar berupa sejumlah banyak bintang kehormatan.
Dan agaknya dua syukur naik ke langit dari hati orang-orang yang saleh di gereja hari Minggu atau waktu sembahyang, ketika mendengar bahwa “Tuhan segala balatentara” telah ikut pula berperang di bawah panji-panji Belanda ……
“Tapi Tuhan, hiba melihat mala petaka demikian,—Hari itu menolak korban persembahan!”³
Penutup cerita Saijah itu telah saya persingkat, lebih singkat dari yang dapat saya lakukan jika saya ingin melukiskan sesuatu yang mengerikan. Pembaca tentu melihat betapa saya berpanjang-panjang ketika melukiskan ia menunggu di bawah pohon ketapang, seolah-olah saya cemas menghadapi penyelesaiannya yang menyedihkan, dan betapa saya cepat-cepat menceritakan penyelesaian itu dengan perasaan enggan. Pada hal maksud saya tidak demikian, ketika saya mulai berbicara tentang Saijah, sebab saya kuatir akan memerlukan warna-warna yang lebih keras untuk menimbulkan keharuan dalam melukiskan keadaan-keadaan yang sedemikian aneh itu. Tapi sambil bercerita saya merasa bahwa saya akan menghina pembaca, jika saya percaya bahwa saya harus menumpahkan darah lebih lebih banyak dalam lukisan saya.
Saya bisa saja melakukannya, sebab ada surat-surat di depan saya, ... tapi tidak, lebih baik satu pengakuan.
Ya, pengakuan! Saya tidak tahu apakah Saijah cinta kepada Adinda, tidak tahu apakah ia pergi ke Betawi, tidak tahu apakah ia meninggal di Lampung kena bayonet Belanda. Saya tidak tahu apakah ayahnya mati karena deraan rotan karena meninggalkan Badur tanpa surat jalan. Saya tidak tahu apakah Adinda menghitung bulan dengan tanda garis pada lesungnya ...
Semua itu tidak saya tahu.
Tapi saya tahu lebih banyak dari semua itu. Saya tahu, dan saya dapat membuktikan bahwa banyak orang seperti Adinda dan banyak orang seperti Saijah, dan bahwa apa yang berupa khayalan pada khususnya, menjadi kebenaran pada umumnyia. Sudah saya katakan bahwa saya dapat menyebutkan nama-nama orang-orang yang seperti orang tua Saijah dan Adinda terusir dari kampung halamannya karena ditindas. Bukanlah maksud saya dalam buku ini memberikan laporan yang diperlukan untuk suatu pengadilan yang harus menjatuhkan hukuman mengenai cara kekuasaan Belanda dilaksanakan di negeri Hindia, laporan yang hanya mempunyai kekuatan bukti bagi orang yang mempunyai kesabaran untuk membacanya, hal mana tidak bisa kita harapkan dari publik yang mencari hiburan dalam bacaan. Karena itu saya
tidak memberikan daftar yang kering dari nama-nama orang dan tempat disertai tanggal;—saya tidak memberikan salinan dari daftar pencurian dan pemerasan yang ada di depan saya, tapi saya mencoba melukiskan apa yang mungkin bergolak dalam hati orang-orang miskin yang dirampas harta bendanya, harta benda yang seharusnya digunakan untuk keperluan hidupnya; atau malahan, saya hanya menyuruh terka, kuatir jangan-jangan saya terlalu keliru dalam melukiskan perasaan-perasaan yang tidak pernah saya alami.
· Tapi mengenai pokok utamanya ... O, semoga saya dituduh memfitnah! O, semoga saya dipanggil untuk membuktikan apa yang saya tulis! O, semoga orang berkata: “Saijah itu hanya khayalan anda, dia tidak menyanyikan lagu itu, tidak ada orang bernama Adinda tinggal di Badur!” Tapi hendaknya itu dikatakan dengan kekuatan kemauan untuk menegakkan keadilan, sesudah saya buktikan bahwa saya tidak memfitnah!
Apakah dusta perumpamaan orang Samaritan yang belas kasihan, sebab barangkali tidak pernah seorang musafir yang disamun dirawat di rumah keluarga Samaritan⁴? Apakah dusta perumpamaan orang yang menyemai⁵, sebab kita tahu bahwa tidak ada petani yang menebar benih di atas batu? Atau, supaya lebih dekat kepada kesamaan dengan buku saya, bolehkah kita menyangkal kebenaran yang menjadi pokok utama dalam Pondok Negro Paman Tom karena tidak pernah ada orang yang bernama Evangeline? Apakah orang akan mengatakan kepada pengarang pembelaan yang kekal itu,—kekal, bukan karena kesenian atau bakatnya, tapi karena maksud dan pengaruhnya,—apakah orang akan mengatakan kepadanya: “anda bohong, budak-budak itu tidak dianiaya, sebab buku anda dusta, buku itu adalah roman!” Tidakkah ia, untuk sejumlah perbuatan-perbuatan yang kering, harus membuat suatu cerita yang meliputi perbuatan-perbuatan itu, supaya masuk ke dalam hati sanubari pembaca? Apakah orang akan membaca bukunya, sekiranya bentuknya seperti dokumen perkara pengadilan? Apakah salahnya, atau salah saya, bahwa kebenaran sering kali harus di selimuti dengan dusta supaya diterima?
Dan kepada beberapa orang yang akan mengatakan bahwa saya terlalu mengidealisir Saijah dengan cintanya, saya harus bertanya bagaimana mereka tahu, karena hanya sedikit sekali orang Eropa yang berusaha mendekati perasaan alat-alat kopi dan gula yang disebut “inlander” itu. Tapi Sekalipun perkataan mereka itu beralasan, barangsiapa yang mengemukakan ini sebagai bukti maksud utama buku saya, mengakui sukses saya yang gemilang. Sebab perkataan itu jika diterjemahkan berbunyi: “kejahatan yang anda lawan, tidak ada, atau tidak begitu hebat, sebab orang inlander itu tidak seperti Saijah yang anda gambar kan; di dalam penganiayaan orang Jawa tidak ada kejahatan yang begitu besar seperti jika anda menggambarkan Saijah dengan sebenarnya. Orang Sunda tidak menyanyikan lagu-lagu demikian, mereka tidak bercinta seperti itu, tidak merasa seperti itu, jadi ……
Tidak, menteri tanah jajahan, tidak, gubernur jenderal pensiunan, bukan itu yang harus anda buktikan. Anda harus buktikan bahwa penduduk tidak dianiaya, tak peduli apakah ada orang-orang sentimental seperti Saijah di antara penduduk. Atau beranikah anda mengatakan bahwa orang boleh mencuri kerbau dari orang-orang yang tidak bercinta, orang-orang yang tidak menyanyikan lagu duka, orang-orang yang tidak sentimental?
Jika orang menyerang saya di lapangan kesusastraan, saya akan mempertahankan kebenaran gambaran Saijah, tapi di lapangan politik saya akan segera mengalah dan membenarkan kritikan-kritikan terhadap kebenaran gambaran itu, supaya soal utama jangan bergeser. Saya tidak peduli apakah orang menganggap saya seorang pelukis yang tidak becus, asal orang mengakui bahwa penganiayaan orang Bumiputera itu adalah “keterlaluan"; demikianlah bunyi catatan pada nota pejabat yang mendahului Havelaar, yang ditunjukkannja kepada kontelir Verbrugge,—sebuah nota yang terletak di depan saya. Tapi saya mempunyai bukti-bukti yang lain; dan untung saja. Sebab pejabat sebelum Havelaar itu juga bisa keliru. Wahai, jika dia keliru, maka ia telah dihukum berat untuk kekeliruannya itu.
¹ Pengarang roman Perancis yang populer, ± 1840.
² Mata wang perak yang masih dipergunakan abad ke-19.
³ Kutipan dari Sajak Tollens, seorang penyair Belanda abad ke-19.
⁴ Perumpamaan dari Kitab Injil: Seorang Samaritan menampung dan merawat seorang laki-laki dari pihak musuh, yang habis dirampok dan luka-luka.
⁵ Juga dari Kitab Injil.
Bab XVIII
Hari sudah petang. Havelaar keluar dari kamarnya dan mendapati Tine di serambi muka menunggunya minum teh. Nyonya Slotering keluar dari rumahnya dan rupanya hendak berkunjung ke rumah keluarga Havelaar, tapi tiba-tiba ia pergi ke pagar, dan mengusir seorang laki-laki yang baru saja masuk dengan gerak tangan yang tegas. Ia tetap berdiri sampai ia melihat laki-laki itu keluar lagi, lalu ia berbalik, berjalan di tepi padang rumput, ke rumah Havelaar.
— “Aku ingin tahu juga mengapa ia melakukan itu,” kata Havelaar, dan sesudah basa basi tegur menegur, ia bertanya sambil berkelakar, supaya janda itu jangan salah paham bahwa ia tidak rela perempuan itu hendak berkuasa di pekarangan yang dahulu pekarangannya.
— “Bagaimana, nyonya, coba katakan mengapa anda selalu mengusir orang-orang yang masuk pekarangan. Bagaimana kalau orang tadi itu penjual ayam, atau barang lain keperluan dapur?”
Di wajah nyonya Slotering nampak gerak kepedihan, yang tidak luput dari pandangan mata Havelaar.
— “Ah, katanya, banyak orang jahat.”
— “Memang, di mana-mana begitu, tapi kalau kita membikin susah orang lain, yang baik-baik pun tak mau datang lagi; …… cobalah, nyonya, ceritakan kepada saya mengapa anda begitu keras menjaga pekarangan.”
Havelaar memandang kepadanya, dan sia-sia mencoba membaca jawaban dalam matanya yang basah. Dia mendesak lagi meminta keterangan; …… janda itu menangis terisak-isak,
katanya suaminya kena racun di Parangkujang, di rumah kepala distrik.
— “Dia mau adil, tuan Havelaar, kata perempuan malang itu melanjutkan, dia hendak mengakhiri penindasan terhadap penduduk yang menderita. Ia memperingati dan mengancam kepala-kepala, dirapat-rapat dan dengan surat, …… anda tentu telah menemukan surat-suratnya dalam arsip …….”
Memang betul. Havelaar telah membaca surat-surat itu, salinnanya ada di depan saya.
— “Ia selalu berbicara dengan residen, janda itu melanjutkan, tapi selalu sia-sia; umum mengetahui bahwa pemerasan terjadi untuk kepentingan bupati dan dilindungi oleh bupati, sedang residen tidak mau mengadukan bupati itu kepada pemerintah, maka hasil pembicaraan-pembicaraan itu hanyalah penganiaaan terhadap orang yang mengadu. Karena itu suami saya yang malang mengatakan bahwa jika tidak ada perbaikan sebelum akhihr tahun, ia akan berhubungan langsung dengan gubernur jenderal. Itu terjadi bulan Nopember. Tidak lama sesudah itu ia melakukan perjalanan inspeksi, ia makan siang di rumah demang Parangkujang, dan sebentar sesudah itu dibawa ke rumah dalam keadaan yang menyedihkan. Ia berteriak, sambil menunduk perutnya, “api, api”, dan beberapa jam kemudian ia tidak ada lagi, orang yang semasa hidupnya selalu sehat walfiat.”
— “Apakah anda menyuruh panggil dokter dari Serang?” tanya Havelaar.
— “Ya, tapi dia hanya sebentar saja memeriksa suami saya, sebab suami saya meninggal tidak lama sesudah dokter itu datang. Saya tidak berani menyampaikan kecurigaan saya kepada nya, sebab saya tahu saya tidak akan segera dapat meninggalkan tempat ini, dan saya takut pembalasan dendam. Saya mendengar bahwa anda, seperti juga suami saya, hendak menyapu bersih segala yang tidak beres di sini, dan karena itu saya gelisah saja. Saya tidak hendak mengatakan ini semua kepada anda supaya anda suami istri jangan ketakutan, dan karena itu saya membatasi diri dan hanya menjaga pekarangan, supaya jangan ada orang luar masuk ke dapur." Jelaslah sekarang bagi Tine mengapa nyonya Slotering tetap mengurus rumah tangganya sendiri, dan malahan tidak mau mempergunakan dapur yang begitu besar. Havelaar menyuruh panggil kontelir. Dalam pada itu ia mengirim surat kepada dokter di Serang untuk minta keterangan mengenai gejala-gejala pada kematian Slotering. Jawaban yang diterimanya kecsokan harinya, tidak seperti persangkaan janda itu. Menurut dokter Slotering meninggal karena “abses dalam limpa." Tidak menjadi jelas bagi saya apakah penyakit demikian tiba-tiba saja bisa timbul dan mengakibatkan kematian dalam beberapa jam. Saya kira di sini saya harus memperhatikan keterangan nyonya Slotering bahwa suaminya dahulu selalu dalam keadaan sehat walafiat, tapi kalau orang tidak menghargai keterangan demikan karena pengertian gambaran kesehatan sangat subyektif terutama dalam pandangan orang yang bukan dokter, maka masih menjadi pertanyaan yang penting, apakah orang yang mati hari ini karena “abses dalam limpa", kemarin bisa naik kuda dengan maksud memeriksa daerah pegunungan yang dalam beberapa jurusan lebarnya dua puluh jam? Dokter yang memeriksa Slotering itu bisa saja seorang dokter yang pandai, tapi dia bisa juga keliru dalam menilai gejala-gejala penyakit, di mana ia tidak menyangka sama sekali adanya kejahatan. Betapa pun juga, saya tidak dapat membuktikan bahwa pejabat yang mendahului Havelaar mati diracuni, karena Havelaar tidak diberi kesempatan untuk menjernihkan persoalan itu. Tapi saya dapat membuktikan bahwa orang sekellilingnya menganggap ia diracuni, dan bahwa persangkaan itu dihubungkan orang dengan keinginannya untuk memerangi ketidakkadilan. Kontelir Verbrugge masuk kamar Havelaar. Havelaar bertanya singkat:—“Apa sakit Slotering maka meninggal?"—“Saya tak tahu."
— “Diracuni?”—“Saya tak tahu, …… tapi …….—“Bicaralah yang jelas, Verbrugge.”—“Tapi dia mencoba menghilangkan keadaan-keadaan yang tidak beres, …… seperti anda, …… dan dia pasti diracuni, se-kiranya ia tinggal lebih lama di sini” …….—Tuliskan!” Verbrugge menuliskan apa yang dikatakannya itu, …… keteranganya itu ada di depan saya.—“Sedikit lagi. Benarkah, atau tidak benarkah bahwa ada pemerasan di Lebak?” Verbrugge tidak menjawab.—“Jawablah, Verbrugge!”—“Saya tak berani.”—“Tuliskan kalau anda tidak berani.” Verbrugge menuliskannya, …… keteranganya itu ada di depan saya.—“Baik! Sedikit lagi: Anda tidak berani menjawab pertanyaan saya yang terakhir. Baru-baru ini anda mengatakan, waktu kita bicara tentang mati keracunan, bahwa anda satu-satunya orang yang memberi nafkah kepada saudara-saudara anda yang perempuan di Betawi, …… apakah itu sebabnya maka anda takut, bersikap yang saya sebut separoh-separoh?”—“Ya!”—“Tuliskan.” Verbrugge menuliskannya, …… keteranganya ada di depan saya.—“Baiklah, kata Havelaar; cukup.” Dan Verbrugge boleh pergi. Havelaar keluar, dan bermain dengan Max kecil, yang dicium-nya dengan mesra. Sesudah nyonya Slotering pulang, disuruhnyana anak itu pergi, dan dipanggilnya Tine ke kamarnya.—“Tineku manis, ada permintaanku kepadamu, …… pergilah kau dengan Max ke Betawi, …… hari ini aku memasukkan pengaduan terhadap bupati.” Dan Tine merangkulnya dan untuk pertama kalinya menentang kemauan suaminya; sambil tersedu ia menjerit:—“Tidak Max, tidak Max, aku tidak mau, …… aku tidak mau, …… kita makan dan kita minum bersama!" Apakah Havelaar salah ketika ia berkata bahwa isterinya pun tidak berhak membuang ingus seperti wanita-wanita di Arles? …… Ditulinsya surat dan dikirimnya, salinannya saya turunkan di bawah ini. Sesudah saya lukiskan dalam keadaan apa ia menulis surat itu, saya kira tidaklah perlu saya mengatakan bahwa dalamnya terpancar keberanian dalam menuaikan kewajiiban, pun tidak perlu saya tunjukkan kelembutan hati Havelaar, kelembutan yang menggerakkannya untuk melindungi bupati terhadap hukuman yang terlalu berat; tapi rasanya perlu diperhatikan betapa ia dalam segala keadaan itu selalu berhati-hati, tidak sepatah kata pun ia bicara tentang kejadian yang baru saja diketahuinya, karena ia tidak mau memperlemah ketegasan pengaduannya dengan ketidakpastian mengenai suatu tuduhan yang penting tapi belum lagi terbukti. Ia bermaksud menyuruh gali mayat Slotering, dan menyuruh periksa mayat itu secara ilmiah, sesudah sang bupati dipecat, dan pengikut-pengikutnya ditangkap; tapi, seperti telah saya katakan, ia tidak diberi kesempatan untuk itu. Di dalam salinan surat-surat resmi,—salinan yang untuk selebihnya sama betul dengan aslinya,—saya rasa boleh saja mengganti gelar-gelar yang gila dengan kataganti yang sederhana. Saya percaya para pembaca mempunyai selera yang baik dan dapat membenarkan perubahan ini.
“No. 88. Rahasia Rangkas Betung, 24 Pebruari 1856 Segera
Kepada Residen Bantam
Sejak saya sebulan lamanya menjalani tugas saya di sini, saya terutama sibuk memeriksa cara kepala-kepala bumiputera melaksanakan kewajiannja terhadap penduduk, mengenai “pekerjaan rodi", “pundutan" dan sebagainya.
Segera saya mengetahui bahwa bupati dengan sewenang-wenang dan untuk kepentingannya sendiri mengerahkan orang-orang, jauh di atas jumlah “pancen" atau “kemit" yang boleh dikehakannya.
Saya ragu-ragu apakah akan segera melaporkan dengan resmi, ataukah dengan bertindak lemah lembut, atau kemudian malahan dengan ancaman, akan mencegah perbuatan pejabat tinggi bumiputera itu, sehingga tercapai dua tujuan, yakni menghentikan penyalahgunaan itu dan sekaligus mencegah tindakan yang terlalu keras terhadap pejabat tua gubernemen itu, terutama dengan memperhatikan adanya contoh-contoh buruk yang, saya kira, sering diberikan kepadanya, dan sehubungan dengan keadaan istimewa bahwa ia sedang bersiap-siap untuk menerima kunjungan dua orang keluarga, (bupati Bogor dan bupati Tjianjur, yang pasti ialah bupati Tjianjur, yang, saya kira, sudah dalam perjalanan dengan iring-iringan yang besar), sehingga ia, lebih-lebih dari dalam keadaan lain mengalami godaan,—dan berhubung dengan keadaan keuangannya yang buruk, seolah-olah ia terpaksa,—untuk dengan cara-cara yang melanggar hukum menyediakan segala yang diperlukan untuk kunjungan itu.
Semua ini membuat saya lunak terhadap apa yang sudah terjadi, tapi saya sama sekali tidak akan memberi hati untuk selanyutnya.
Kepadanya saya minta dengan sangat untuk segera menghentikan setiap perbuatan yang melawan hukum.
Tentang percobaan pertama untuk dengan lemah lembut menyadarkan bupati akan kewajibannya, sudah saya beritahukan secara pribadi kepada anda.
Tapi ternyata bahwa ia dengan tidak tahu malu dan kurang ajar tidak memperdulikan segalanya, dan saya merasa berdasarkan sumpah jabatan saya berkewajiban untuk memberitahukan kepada anda: bahwa saya menuduh bupati Lebak Raden Adipati …… telah menyalahgunakan kekuasaannya dengan mempergunakan secara melanggar hukum tenaga kerja rakyatnya, dan bahwa saya mencurigainya telah melakukan pemerasan dengan meminta penghasilan in natura, tanpa pembayaran atau dengan pembayaran yang tidak cukup, pembayaran yang ditentukan semena-mena;—bahwa saya selanjutnja mencurigai demang Parangkujang (menantunya) telah turut membantu dalam perbuatan-perbuatan tersebut.
Untuk mempersiapkan kedua perkara itu dengan baik sebelum dibawa ke pengadilan, saya mengusulkan supaya saya diperintahkan untuk:
- mengirim bupati Lebak tersebut secepat mungkin ke Serang, dan menjaga supaya ia sebelum keberangkatannya, Maupun selama perjalanannya jangan mendapat kesempatan baik dengan jalan menyogok Maupun dengan jalan lain menggunakan pengaruhnya atas kesaksian-kesaksian yang harus saya kumpulkan; —
- menahan untuk sementara demang Parangkujang; —
- melakukan tindakan yang sama terhadap pejabat-pejabat yang pangkatnya lebih rendah, yang, karena berkeluarga dengan bupati, dianggap dapat mempengaruhi kemurnian penyelidikan yang akan dilakukan; —
- segera melakukan penyelidikan itu, dan memberikan laporan yang lengkap.
Selanjutnja saya ingin mengusulkan supaya dikeluarkan perintah untuk membatalkan kedatangan bupati Tjianjur tersebut.
Akhirnya saya mendapat kehormatan untuk memastikan (Meskipun ini tidak perlu bagi anda, yang mengenal daerah Lebak lebih baik dari yang mungkin bagi saya), bahwa dari sudut politik sama sekali tidak ada keberatan untuk menyelesaikan perkara ini dengan cara yang adil dan tegas; dan bahwa saya lebih kuatir akan adanya bahaya, jika tidak ada penyelesaian, sebab saya mendapat informasi dari seorang saksi yang mengatakan bahwa rakyat kecil sudah “pusing" karena gangguan dan pemerasan, dan sudah lama mencari jalan keluar.
Saya mendapat kekuatan untuk tugas saya yang berat yang saya laksanakan dengan menulis surat ini, sebagian karena harapan bahwa saya pada suatu waktu diizinkan untuk menjelaskan segala sesuatu untuk meringankan kesalahan bupati tua itu; Meskipun keadaannya disebabkan karena kesalahan sendiri, saya sangat menaruh belas kasihan kepadanya.
Asisten residen Lebak, Max Havelaar."
Keesokan harinya ia mendapat jawaban dari residen Bantam? …… tidak, dari tuan Sliymering, partikelir.
Jawaban itu merupakan sumbangan yang berharga untuk mengetahui cara pemerintahan dijalankan di Hindia Belanda. Tuan Sliymering menyesalkan “bahwa Havelaar tidak lebih dulu membicarakan dengannya perkara yang tersebut dalam surat No. 88";—tentu saja karena akan lebih banyak harapan untuk “bertindak bijaksana";—dan selanjutnya: “bahwa ia terganggu dalam kesibukan-kesibukannya karena Havelaar!"
Ia tentu sedang menulis laporan tahunan tentang ketenangan yang sentosa; …… surat itu ada di depan saya, dan saya tidak percaya mata saya. Saya ulangi membaca surat asisten residen Lebak itu, …… saya taruh Havelaar dan Sliymering berdam-pingan ……
Si Syaalman itu gembel yang brengsek. Ketahuilah, pembaca budiman, bahwa Bastiaans sering-sering lagi tidak masuk kantor karena encoknya. Karena saya tidak tega membuang-buang wang kepunyaan firma, (Last & Co.), sebab dalam hal prinsip saya tegas, kemarin dulu teringat oleh saya bahwa Syaalman mempunyai tulisan tangan yang baik, dan karena dia begitu melarat kelihatannya, dan tentu mau bekerja dengan gaji kecil, maka saya berpendapat, bahwa saya berkewajiiban terhadap firma untuk mengganti Bastiaans dengan cara yang semurah-murahnya. Maka saya pergi ke jalan Lange-Leidskhe dwarsstraat yang panjang. Perempuan penjaga toko duduk di depan, tapi nam-paknya ia tidak mengenali saya lagi, Meskipun baru-baru ini telah saya katakan kepadanya bahwa saya adalah Tuan Droogstoppel, makelar kopi di lauriergrakht. Kita selalu merasa agak terhina juga bahwa orang tidak mengenali kita kembali, tapi karena sekarang tidak begitu dingin, dan tempohari saya memakai jas bulu, mungkin karena itu dia tidak mengenali saya lagi dan saya tidak peduli, penghinaan itu maksud saya. Jadi saya ulangi lagi bahwa saya adalah Tuan Droogstoppel dari lauriergrakht, makelar kopi, dan saya minta dia untuk melihat apakah Syaalman ada di rumah, karena saya tidak mau seperti dulu lagi berbicara dengan isterinya yang selalu tidak merasa puas itu. Tapi perempuan penjual rombengan itu tidak mau ke atas. “Dia tidak dapat sehari-harian turun naik memanggil orang gembel itu, katanya, tapi saya boleh naik sendiri." Lalu menyusul lagi lukisan tangga dan serambi-serambi dalam yang sama sekali tidak saya perlukan, sebab saya selalu mengenal kembali tempat di mana saya pernah datang, karena saya selalu memperhatikan segala sesuatu. Itu sudah jadi kebiasaan saya dalam perdagangan. Jadi saya naik tangga dan mengetok pintu yang terbuka dengan sendirinya. Saya masuk ke dalam dan karena tidak ada orang di dalam kamar, saya melihat berkeliling; tidak banyak yang kelihatan;—ada ceyana pendek yang dibordir pinggirnya tergantung di kursi; apa gunanya orang-orang miskin ini memakai ceyana bordiran? Di sudut ada sebuah kopor yang tidak terlalu berat, saya pegang engselinya dalam khayalan, dan di atas selubung cerobong ada beberapa buku, yang saya buka-buka sedikit. Kumpulan yang ajaib! Beberapa jilid Byron, Horatius, Bastiat, Beranger dan, ... coba terka! ... sebuah kitab injil, kitab injil yang lengkap dengan kitab-kitab apokrifa di-dalamnya. Saya tidak mengira akan menemuinya pada Syaalman. Dan rupanya dia membacanya juga, sebab saya menemukan banyak catatatan-catatatan di atas kertas lepas, yang berkenaan dengan Alkitab, semuanya ditulis dengan tulisan tangan seperti dokumen-dokumen dalam bungkusan jahanam itu. Terutama kitab Ayub nampaknya dipelajarinya dengan rajin, sebab halaman-halaman menganga di situ. Saya kira dia mulai merasakan kekuasaan Tuhan, dan karena itu dengan membaca kitab-kitab suci ia hendak bertobat kepada Tuhan, dan saya tidak keberatan. Tapi sambil menunggu demikian mata saya tertarik kepada sebuah kotak jahitan kecil yang terletak di atas meja.
Dengan tidak bermaksud apa-apa saya memperhatikannya; di dalamnya ada beberapa kaus anak-anak yang belum selesai, beberapa sajak yang edan, dan sepucuk surat kepada istri Syaalman seperti ternyata dari alamatnya. Surat itu sudah terbuka dan nampaknya seperti diremas-resmas dalam amarah. Menurut prinsip saya yang tidak dapat diganggu gugat saya tidak akan membaca apa yang tidak ditujukan kepada saya sebab saya tidak pantas. Memang saya tidak pernah melakukannya kalau saya tidak berkepentingan;—tapi sekarang saya mendapat pikiran bahwa adalah kewajiban saya untuk membaca surat itu, sebab isinya mungkin dapat memberi saya penerangan tentang maksud saya yang penuh perikemanusiaan yang membawa saya kepada Syaalman. Saya berpikir betapa dekat selalu Tuhan mendampingi makhluknya, sebab Dia di sini tiba-tiba memberi saya kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang laki-laki itu, dan dengan demikian melindungi saya dari bahaya memberikan jasa baik kepada orang yang asusila. Saya memperhatikan dengan saksama isyarat-isyarat Tuhan seperti itu, ini sering-sering menguntungkan saya dalam perdagangan. Saya tercengang karena nyonya Syaalman itu rupanya berasal dari keluarga bangsawan, artinya surat itu ditandatangani oleh seorang keluarga yang nama-nya di negeri Belanda terkemuka, dan saya sungguh senang sekali dengan isinya yang indah. Rupanya orang itu orang yang rajin bekerja demi Tuhan, sebab ia menulis “bahwa istri Syaalman harus minta cerai dari laki-laki bangsat yang membiarkannya menderita kemiskinan, laki-laki yang tidak pandai ciari makan, yang selain itu seorang penjahat pula karena ia punya hutang. Bahwa penulis surat itu kasihan mengingat nasibnya, Meskipun itu salahnya sendiri, karena ia meninggalkan Tuhan dan mengikuti Syaalman;—bahwa ia harus kembali kepada Tuhan, keluarganya tentulah akan kerjasama untuk memberinyaa pekerja-an jahitan,—tapi lebih dulu ia harus bercerai dengan si Syaalman itu, yang merupakan keaiban bagi keluarga.”
Pendeknya, surat itu tidak kalah isinya dari apa yang di-khotbahkan dalam gereja, penuh ajaran yang saleh.
Cukuplah saya mengetahui, dan saya bersyukur bahwa saya mendapat peringatan dengan cara yang begitu ajaib. Tanpa peringatan itu tentulah saya menjadi korban kebaikan hati saya. Jadi saya putuskan untuk menahan lagi Bastiaans, sampai saya mendapatkan seorang pengganti yang memenuhi syarat, sebab saya tidak suka memecat seseorang.
Pembaca tentu ingin mengetahui bagaimana keadaan saya dalam pertemuan lingkaran yang terakhir, dan apakah saya memenukan “triolet”. Saya tidak pergi kepertemuan itu, ... ada hal-hal yang aneh terjadi: saya pergi ke Driebergen dengan istri saya dan Mari. Ayah mertua saya, Last senior, putra Last yang pertama, (ketika keluarga Meiyer masih anggota, tapi mereka sudah lama keluar) sudah lama mengatakan, bahwa ia hendak bertemu istri saya dan Mari. Cuaca cukup baik dan karena kuatir akan mendengar cerita percintaan yang dikatakan oleh Stern akan dibacakannya, maka saya teringat untuk memenuhi undangan itu. Saya bicarakan dengan juru buku kami, seorang yang berpengalaman, dan sesudah berunding masak-masak ia menasehati saya untuk memikirkan rencana itu sehari dua hari.
Segera saya terima nasehatnya itu, sebab saya ceapat dalam melaksanakan keputusan-keputusan saya. Sudah keesokan harinya saya sadar betapa bijaksana nasehatnya itu, sebab malam hari saya berpikir bahwa saya lebih baik menunda keputusan itu sampai hari Jumat. Pendeknya sesudah mempertimbangkan segalanya masak-masak,—banyak pro, tapi banyak pula kontranya,—maka kami berangkat, Sabtu sore, dan Senin pagi kami kembali. Saya tidak akan ceritakan semua ini, sekiranya tidak erat berhubungan dengan buku saya, pertama saya ingin anda mengetahui mengapa saya tidak memprotes omongan gila yang sudah pasti diocehkan oleh Stern hari Minggu yang lalu. (Cerita apa itu, masa orang bisa mendengar sesudah ia meninggal? Mari menceritakannya, dia dengar dari keluarga Rosemeiyer, yang berdagang gula) dan kedua karena saya sekarang kembali jadi yakin bahwa semua cerita tentang kesengsaraan dan keonaran itu, bohong belaka. Nampaklah betapa orang mendapat kesempatan untuk menyelami masalah-masalah dengan baik jika dalam perjalanan.
Yakni pada malam Minggu ayah mertua saya memenuhi undangan pada seorang tuan yang dahulu jadi residen di Hindia Timur, dan sekarang tinggal dalam villa yang besar. Kami pergi ke sana dan sungguh, tidak cukup kata-kata untuk memuji penerimaan mereka yang manis. Dikirimnya keretanya untuk menjemput kami, dan kusirnya memakai rompi yang merah. Udara masih agak dingin untuk melihat-lihat tamasya di luar yang mestinya indah di musim panas, tapi di dalam rumah itu sendiri orang tidak menginginkan apa-apa lagi, segalanya cukup, segala yang memberikan kesukaan, sebuah ruang bilyar, sebuah ruang perpustakaan, sebuah serambi kaca besi yang beratap sebagai tempat penangas, dan kakatua bertengkar di atas tungkat perak. Saya belum pernah melihat yang seperti itu. Saya berkata kelakuan baik selalu mendapat ganjaran baik. Laki-laki itu telah mengurus segala sesuatu dengan cermat; buktinya, dia punya tiga bintang kehormatan. Dia punya sebuah villa yang menyenangkan, mempunyai pula sebuah rumah di Amsterdam, dan waktu makan malam semua makanan dicampur jamur, dan pelayan-pelayan makan memakai rompi merah seperti kusir.
Karena saya punya perhatian pada soal-soal yang mengenai Hindia, berhubung dengan perdagangan kopi, saya alihkan percakapan kepada soal-soal itu, dan segera saya mengetahui apa yang harus saya pegang. Residen itu mengatakan kepada saya bahwa di Timur peruntungannya selalu baik, jadi tidak sepatah kata pun yang benar dari cerita-cerita tentang ketidaksenangan penduduk itu. Saya alihkan percakapan kepada Syaalman. Dia mengenalnya, dan dari sudut yang sangat tidak baik; katanya adalah satu tindakan yang baik sekali bahwa ia diusir sebab si Syaalman itu seorang yang tidak pernah merasa puas dan selalu mengeritik saja kerjanya, lagipula kelakuannya sendiri banyak yang tidak beres. Yakni berulang kali ia melarikan gadis-gadis, dibawanya ke rumahnya, diserahkannnya kepada isterinya, dan ia tidak membayar utangnyna, hal mana sungguh tak pantas. Karena saya baru saja mengetahui dari surat yang saya baca itu, betapa beralasan tuduhan itu, saya merasa senang bahwa saya mempunyai pandangan yang benar tentang duduknya perkara, dan saya sangat puas dengan diri saya sendiri. Karena itulah saya juga begitu terkenal di pojok saya di bursa,— bahwa saya selalu tepat dalam pandangan saya, maksud saya.
Residen dan isterinya itu orang-orang yang ramah dan baik. Mereka banyak menceritakan kepada kami tentang cara hidupnya di negeri Hindia; mestinya enak sekali di negeri itu. Kata mereka tempat peristirahatan mereka di Driebergen itu tidak ada separoh dari apa yang mereka sebut “erf”, pekarangan, di pedalaman pulau Jawa, dan yang memerlukan kira-kira seratus orang untuk memeliharanya. Tapi, dan ini suatu bukti betapa mereka itu disenangi, orang-orang itu tidak minta bayaran suatu apa, mereka bekerja hanya karena kasih sayang. Juga mereka menceritakan bahwa waktu mereka berangkat mereka menjual perabotnya dan penghasilannya ada sepuluh kali harganya, sebab kepala-kepala bumiputera itu semuanya ingin membeli tanda mata dari seorang residen. Saya katakan ini kemudian kepada Stern yang mengatakan bahwa semua itu terjadi karena paksaan, dan bahwa ia dapat membuktikannya dari bungkusan Syaalman; tapi saya katakan kepadanya bahwa Syaalman itu seorang tukang fitnah, bahwa ia melarikan gadis-gadis seperti pemuda Jerman yang bekerja pada Busselinck & Waterman itu; bahwa saya sama sekali tidak menghargai pendapatnya, sebabnya karena saya telah mendengar dari seorang residen sendiri bagaimana duduk perkara, jadi saya tidak usah belajar apa-apa dari Syaalman.
Di sana banyak lagi orang yang pernah bekerja di Timur, antara lain seorang tuan yang amat kaya, dan yang banyak mendapat untung dari penjualan teh yang dibuat oleh orang Jawa untuknya dengan bayaran murah, dan yang dibeli oleh pemerintah dari padanya dengan harga tinggi, untuk memberi semangat kerja kepada orang Jawa itu. Pun tuan itu marah sekali kepada semua orang yang tidak merasa senang itu yang selalu bicara dan menulis menentang pemerintah. Ia tidak cukup kata-kata untuk memuji pemerintah jajaahan, sebab katanya ia yakin bahwa pemerintah banyak merugi atas teh yang dibeli dari padanya dan bahwa adalah suatu hal yang menunjukkan kemuliaan hati bahwa pemerintah terus menerus membayar harga yang tinggi untuk barang yang sebenarnya tidak berharga, dan karena itu juga ia tidak suka, sebab ia selalu minum teh cina. Pun dikatakannya bahwa gubernur jenderal yang memperpanjang apa yang disebut kontrak teh itu, Meskipun menurut perhitungan pemerintah banyak merugi, adalah seorang yang pandai, seorang yang baik dan terutama seorang sahabat yang setia bagi orang yang pernah mengenalnya dahulu di Amsterdam, sebab gubernur jenderal itu sama sekali tidak peduli kepada omongan orang tentang kerugian atas teh, dan dia memberikan jasa yang besar kepada tuan itu, saya kira tahun 1845, ketika ada kabar bahwa kontrak-kontrak itu akan dicabut. “Ya, katanya, hati saya berdarah jika saya mendengar orang-orang semulia itu difitnah; jika dia tidak ada, tentu saya sekarang berjalan kaki dengan anak istri saya." Kemudian disuruh sediakannya keretanya, kereta baroukhette yang begitu elok, dan kudanya begitu gempal, sehingga saya dapat mengerti betapa sangat berterima kasih ia kepada gubernur jenderal semacam itu. Sungguh nyaman hati kita melihat keharuan yang begitu manis, terutama jika kita membandingkannya dengan gerutuan dan keluhan yang brengsek dari orang-orang seperti Syaalman.
Keesokan harinya residen itu membalas kunjungan kami, dan juga tuan yang mendapat teh bikinan orang Jawa itu. Keduanya bertanya serempak dengan kereta api mana kira-kira kami akan tiba di Amsterdam. Kami tidak tahu apa artinya ini, tapi kemudian menjadi jelas bagi kami, sebab ketika kami hari Senin pagi tiba di sana, ada dua orang pelayan di stasion, seorang memakai rompi merah, dan seorang lagi memakai rompi kuning, keduanya serempak mengatakan kepada kami bahwa mereka mendapat perintah dari telegrap untuk menjemput kami dengan kereta. Istri saya bingung, dan saya terpikir apa kata Busse-linck & Waterman jika mereka melihat semua itu, bahwa ada dua kereta untuk kami, maksud saya. Tapi tidak mudah untuk memilih, sebab saya tidak bisa memutuskan untuk menyakiti hati salah satu pihak dengan menolak atensi yang begitu manis. Kepada siapa minta pertimbangan? Tapi saya dapat jalan keluar lagi dari keadaan yang sangat sukar itu. Saya suruh istri saya dan Mari duduk dalam kereta merah, rompi merah, maksud saya,—dan saya duduk dalam yang kuning, di dalam kereta, maksud saya.
Kuda-kuda itu alangkah cepat larinya! Di jalan weesperstraat yang selalu kotor itu, lumpur merecik setinggi rumah, dan tiba-tiba saja nampak sigembel Syaalman itu, berjalan membungkuk, kepalanya menunduk,—dan saya lihat betapa ia dengan tangan jasnya yang buruk itu mencoba membersihkan mukanya yang pucat dari percikan lumpur.
Bab XIX
Dalam surat pribadi yang dikirim oleh tuan Sliymering kepada Havelaar, ia memberitahukan bahwa Meskipun “sangat sibok” ia akan datang ke Rangkas-Betung untuk merundingkan apa yang harus dilakukan. Havelaar yang mengetahui apa artinya perundingan semacam itu,—sejawatnja yang terdahulu sering-kali melakukan “aboukhement”¹, seperti itu dengan residen Bantam!—Havelaar menulis surat berikut kepada residen itu, dikirimnya cepat-cepat supaya pembesar itu membacanya sebelum tiba di Lebak. Komentar atas surat itu tidak perlu.
No. 91. Rahasia Rangkas-Betung 25 Pebruari 1856 Segera malam jam 11
Kemarin siang jam 12 saya telah mengirim kepada anda surat saya yang bersifat segera No. 88, isinya pada pokoknya ialah: bahwa saya sesudah melakukan pemeriksaan yang lama, dan sesudah sia-sia mencoba dengan lemah lembut menyadarkan kepada yang berkepentingan akan perbuatannya yang salah, merasa berkewajiban berdasarkan sumpah jabatan saya untuk menuduh bupati Lebak telah menyalahgunakan kekuasaannya, dan bahwa saya mencurigainya telah melakukan pemerasan.
Di dalam surat itu saya mengusulkan kepada anda memanggil kepala negeri bumiputera itu ke Serang, supaya sesudah keberangkatannya dan sesudah menghilangkan pengaruh buruk dari keluarganya yang tersebar luas, melakukan pemeriksaan terhadap beralasan tidak beralasannya tuduhan saya dan persangkaan saya.
Lama, atau lebih tepat, banyak saya memikirkan sebelum saya mengambil keputusan untuk itu.
Anda tahu, berkat usaha saya, bahwa saya telah mencoba menyelamatkan bupati tua itu dari bencana dan kenistaan dengan memberi peringatan dan ancaman kepadanya dan saya telah berusaha supaya saya sendiri jangan merasa menyesal dan berduka-cita, bahwa sayalah yang menjadi sebab kejatuhannja, Meskipun sebab yang paling belakang.
Tapi sebaliknya saya melihat penduduk yang sudah bertahun-tahun diinjak-injak dan dihisap, saya teringat akan perlunya memberi teladan, —— sebab banyak lagi pemerasan-pemerasan lain yang harus saya laporkan kepada anda, kecuali kalau perkara ini karena pengaruhnya menghentikan pemerasan itu, —— dan, saya ulangi, sesudah mempertimbangkan masak-masak, saya telah melakukan apa yang saya anggap kewajiiban saya.
Pada saat ini saya menerima surat pribadi anda yang saya hargai, surat yang penuh rasa persahabatan, yang memberitahu-kan bahwa besok anda akan datang ke mari, disertai pula isyarat, bahwa saya sebaiknya membicarakan perkara ini lebih dulu secara pribadi.
Jadi besok saya akan mendapat kehormatan bertemu dengan anda, dan itulah sebabnya maka saya mengirim surat ini menyongsong kedatangan anda, supaya sebelum pertemuan itu anda mengetahui yang berikut.
Segala pemeriksaan saya mengenai perbuatan bupati itu, adalah dirahasiakan sekali; hanya dia sendiri dan patih yang mengetahuinya, sebab saya sendiri yang memberinya peringatan dari hati kehati. Bahkan kontelir sekarang ini hanya mengetahui sebagian dari hasil pemeriksaan saya. Saya rahasiakan dengan dua maksud. Mula-mula, ketika saya masih mengharap dapat membawa bupati itu ke jalan yang benar, maksud saya ialah, jika saya berhasil, supaya ia jangan jadi buah mulut orang. Patih atas namanya mengucapkan terima kasih bahwa saya merahasia-kan hal itu (terjadi tanggal 12 bulan ini). Tapi kemudian, ketika saya mulai kehilangan harapan bahwa usaha saya akan berhasil, atau lebih tepat, ketika saya tak dapat menahan amarah saya oleh peristiwa yang baru saja saya dengar;—ketika ber-diam diri lebih lama berarti turut membantu kejahatan, maka penyimpanan rahasia itu adalah untuk kepentingan saya, sebab juga terhadap diri saya dan keluarga saya, saya mempunyai kewaji-ban-kewaji-ban.
Sebab sesudah saya menulis surat saya yang kemarin itu, maka tidaklah pantas saya mengabdi pemerintah, jika apa yang saya katakan di dalam surat itu adalah sia-sia, tidak beralasan, khayalan saja. Dan apakah akan mungkin bagi saya membuktikan, bahwa saya telah melakukan “apa yang harus dilakukan oleh se-orang asisten residen yang baik:”—membuktikan bahwa saya mampu menghadapi pekerjaan yang diberikan kepada saya;—membuktikan bahwa saya tidak semberono dan kurang timbang menimbang mempertaruhkan tujuh belas tahun dinas yang sukar, dan lebih-lebih lagi, kepentingan istri dan anak,—mungkinkah bagi saya membuktikan semua itu, jika saya tidak merahasiakari benar-benar pengusutan saya dan mencegah orang yang bersalah melindungi dirinya, sebagaimana kata orang?
Sedikit saja dia curiga, bupati itu bisa saja mengirim surat ekspres kepada keponakannya yang sedang dalam perjalanan, keponakannya yang berkepentingan bahwa ia dipertahankan da-lam kedudukannya; dia bisa saja meminta uang, dengan jalan Bagaimanapun juga, membagi-bagikannya dengan royal kepada tiap orang yang belakangan ini pernah dirugikannya, dan mungkin akibatnya ialah, saya harap saya tidak harus mengatakan: pasti akibatnya ialah bahwa saya dikatakan terburu nafsu, dan disebut pejabat yang tidak terpakai, mungkin lebih buruk dari itu.
Supaya jangan terjadi kemungkinan itu maka saya tulislah surat ini. Saya sangat menghormati anda, tapi saya mengenal semangat yang dapat disebut “semangat pegawai negeri Hindia Timur", dan saya tidak memiliki semangat itu.
Peringatan anda bahwa perkara itu sebaiknya dibilicarakan lebih dulu secara pribadi, menimbulkan kekuatiran pada saya bahwa kita hanya akan omong-omong lagi. Apa yang saya katakan kemarin dalam surat saya, adalah benar, tapi mungkin seolah-olah tidak benar, apabila perkara itu dibilicarakan dengan mengumumkan tuduhan saya dan sangkaan saya, sebelum bupati itu dikeluarkan.
Saya harus mengatakan bahwa pun kedatangan anda yang tiba-tiba, berhubung dengan surat ekspres yang saya kirim ke Serang kemarin, menimbulkan kekuatiran pada saya bahwa orang bersalah yang dahulu tidak mau mendengarkan peringatan-peringatan saya itu, sekarang ini sebelum waktunya terbangun dan menyoba sebisa-bisanya membela diri sedikit atas kesalahannya.
Sekarang ini saya masih tetap bersikap menurut surat saya yang kemarin, tapi saya ingin menekankan bahwa dalam surat itu pun saya mengusulkan untuk mengeluarkan bupati itu sebelum pemeriksaan, dan untuk sementara membuat pengikut-pengikutnya tidak berdaya, dan lagi saya hanya mau bertanggungjawab lebih lanjut atas apa yang saya kemukakan, jika anda menjetuji usul saya mengenai cara pemeriksaan, yakni: tidak berpihak, terbuka dan terutama bebas.
Kebebasan itu tidak ada jika bupati itu tidak dikeluarkan dan menurut hemat saya hal ini tidak ada bahayanya; sebab kepadanya dapat dikatakan bahwa saya menuduhnyia dan mencurigainya, bahwa sayalah yang akan claka, dan bukan dia, kalau ia tidak bersalah;—sebab saya sendiri berpendapat bahwa saya harus dipecat dari jabatan saya, jika terbukti bahwa saya berlaku sembrono, atau malahan jika terbukti bahwa saya hanya terburu-buru.
Terburu-buru! ... Sesudah bertahun-tahun, bertahun-tahun penyalal gunaan!
Terburu-buru! ... Seolah-olah seorang yang jujur dapat tidur nyenyak, dan hidup dan menikmati hidup, selama orang-orang diperas dan dihisap, orang-orang yang menjadi tugasnya untuk menjaga keselamatan mereka, orang-orang yang dalam pengertian yang agung, adalah orang-orang sesamanya manusia!
Memang benar, saya di sini baru saja, tapi saya harap persoalannya kelak ialah apa yang telah dilakukan, apakah telah dilakukan dengan baik, bukan apakah orang melakukannya dalam waktu yang terlalu singkat. Bagi saya tiap waktu terlalu panjang jika waktu itu ditandai oleh pemerasan dan penindasan, dan berat bagi saya tiap detik di mana orang menderita sengsara karena kelalaian saya, karena saya tidak melakukan kewajiiban saya, karena semangat saya, “semangat plin-plan”.
Saya menyesal atas hari-hari yang saya lewatkan sebelum melaporkan kepada anda dengan resmi, dan saya minta maaf atas kelalaian itu.
Saya ingin memohon kepada anda memberi saya kesempatan membuktikan kebenaran surat saya kemarin dan membantu jangan sampai usaha-usaha saya gagal, usaha-usaha untuk membebaskan daerah Lebak dari cacing-cacing yang sejak ingatan manusia menggerogoti keselamatannya.
Itulah sebabnya saya sekali lagi memajukan permohonan kepada anda untuk membenarkan tindakan-tindakan saya dalam hal ini, (hanya terdiri dari pemeriksaan, laporan dan usul), memindahkan bupati Lebak dari sini tanpa lebih dulu memperingatinya, langsung atau tidak langsung, dan selanyutnya memerintahkan untuk memeriksa apa yang saya laporkan dalam surat saya kemarin No. 88.
Asisten residen Lebak, Max Havelaar
Permohonan untuk tidak melindungi orang-orang bersalah ini, diterima oleh residen dalam perjalanannya. Sejam sesudah ia
tiba di Rangkas-Betung ia mengunjungi bupati dan mengemukakan dua pertanyaan berikut kepadanya: “Apa keberatannya terhadap asisten residen?” dan “apakah dia, adipati, perlu uang?”
Pertanyaan yang pertama dijawab oleh adipati: “Tidak ada, sungguh!” Pertanyaan yang kedua diiakannya, lalu residen memberinya beberapa helai wang kertas ……
Tentu saja Havelaar tidak tahu menahu tentang ini; nanti akan kita lihat bagaimana ia mengetahui perbuatan yang keji itu.
Ketika residen Sliymering turun di depan rumah Havelaar, ia lebih pucat dari biasanya, dan kata-katanya lebih jauh antaranya dari sebelumnya. Memang bukan perkara kecil bagi orang yang begitu pandai dalam “bersikap plin plan”, dan menyusun laporan tahunan, laporan tentang ketenangan, untuk tiba-tiba saja menerima surat-surat yang sama sekali tidak memperlihatkan “optimisme”, tidak ada pemutarbalikan soal yang lihai, tidak ada kekuatiran bahwa pemerintah tidak akan senang. Residen Bantam terkejut, dan jika orang mau memaafkan saya mempergunakan gambaran yang kurang mulia demi ketepatan lukisan, saya ingin membandingkannya dengan seorang anak gelandangan yang mengeluh bahwa adat kebiasaan leluhur telah diperkosa, karena orang memukulnya tanpa lebih dulu memakimakinya.
Ia mulai dengan bertanya kepada kontelir mengapa ia tidak mencoba menahan Havelaar memasukkan pengaduannya? Verbrugge malang yang tidak tahu menahu tentang seluruh pengaduan itu, mengatakan bahwa ia tidak tahu, tapi residen tidak percaya. Tuan Sliymering tidak dapat mengerti bahwa orang semata-mata seorang diri, atas tanggungjawab sendiri, dan tanpa pertimbangan-pertimbangan yang panjang, tanpa “perundingan dengan atasan”, melakukan kewajiiban yang begitu luar biasa. Tapi karena Verbrugge tetap mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu tentang surat-surat yang ditulis oleh Havelaar itu, maka residen mengalah, dan mulai membacakan surat-surat itu.
Verbrugge sangat menderita mendengarkan. Ia seorang yang jujur dan tidak akan berbohong jika Havelaar meminta kesaksiannya memastikan kebenaran isi surat-surat itu. Tapi pun tanpa kejujuran itu, dalam banyak laporan-laporannya yang tertulis ia tidak selalu dapat menghindarkan diri dari perkataan yang sebenarnya, juga di mana kata-kata itu kadang-kadang membahayakan. Bagaimana kalau Havelaar mempergunakannya?
Sesudah membacakan surat-surat itu residen mengatakan bahwa ia akan senang jika Havelaar mengambil kembali surat-surat itu, dan menganggapnya tidak pernah ditulis, tapi Havelaar menolak dengan hormat tapi tegas.
Setelah sia-sia membujuknja, residen berkata bahwa baginya tidak ada jalan lain dari melakukan pemeriksaan terhadap beralasan tidak beralasannya pengaduan yang dimasukan, dan bahwa ia harus meminta Havelaar memanggil saksi-saksi yang dapat memperkuat tuduhannya itu.
Orang-orang malang yang terluka kena duri di semak-semak dalam jurang, betapa ketakutan hati anda berdebar, jika mendengar tuntutan itu!
Verbrugge malang, saksi pertama, saksi utama, saksi ex officio, saksi karena jabatan dan sumpah jabatan, saksi yang telah bersaksi atas kertas, yang terletak di sana, di atas meja, di bawah tangan Havelaar ……
Havelaar menyawab:
“Residen, sayalah asisten residen Lebak;—saya telah berjanji akan melindungi penduduk terhadap pemerasan dan kelaliman;—sayalah yang mengadukan bupati, dan menantunya dari Parangkujang;—saya akan membuktikan pengaduan saya setelah saya diberi kesempatan yang saya usulkan dalam surat-surat saya; …… sayalah yang bersalah memfitnah kalau pengaduan itu palsu!”
Betapa lega Verbrugge menarik nafas!
Dan betapa aneh kata-kata Havelaar itu di telinga residen!
Percakapan itu berlangsung lama. Dengan hormat,—sebab tuan Sliymering adalah hormat dan tahu adat,—ia mendesak
Havelaar melepaskan prinsip-prinsip yang begitu keliru, tapi dengan hormat yang sama besar pula Havelaar mempertahankan pendiriannya. Akhirnya residen mengalah, dan mengancam bahwa ia terpaksa mengirimkan surat-surat yang dimaksud untuk menjadi perhatian pemerintah, ancaman mana bagi Havelaar merupakan kemenangan.
Pertemuan berakhir. Residen mengundungi adipati, untuk menanyakan kepadanya hal-hal yang saya bicarakan, kemudian ia makan siang dengan keluarga Havelaar dengan sajian yang amat sederhana; sesudah itu ia kembali ke Serang dengan cepat, “sebab ... dia ... sangat ... sibok ... sekali."
Keesokan harinya Havelaar menerima sepucuk surat dari residen Bantam yang isinya ternyata dari surat jawaban yang saya salin-kan di bawah ini:
No. 93. Rahasia Rangkas-Betung 28 Pebruari 1856
Saya telah menerima surat anda yang bersifat segera tanggal 26 bulan ini La. O, rahasia, yang pada pokoknya memberitahukan: bahwa anda mempunyai alasan untuk tidak menerima usul-usul yang dikemukakan dalam surat-surat saya, yakni surat-surat dinas tanggal 24 dan 25 bulan ini, No. 88 dan 91;—bahwa anda menginginkan supaya sebelumnya diadakan pemberitahuan tidak resmi;—bahwa anda tidak membenarkan tindakan-tindakan saya yang disebutkan dalam surat-surat tersebut;—akhirnya beberapa instruksi. Sekarang saya ingin sekali lagi dan Meskipun tidak perlu, memastikan, seperti telah saya katakan juga kemarin dulu dalam pembicaraan kita: bahwa saya sepenuhnya menghormati sahnya kekuasaan anda untuk menentukan pilihan apakah anda menerima atau tidak menerima usul-usul saya;—bahwa instruksi-instruksi yang saya terima akan dijalankan dengan cermat, dan jika perlu, tanpa memikirkan diri sendiri, seolah-olah anda turut hadir pada segala apa yang saya lakukan atau katakan; atau lebih tepat, pada segala apa yang saya tidak lakukan atau tidak katakan. Saya tahu bahwa anda percaya akan kesetiaan saya dalam hal ini. Tapi saya memberanikan diri untuk memprotes dengan khid-mat tiap ucapan Ataupun gerak betapa pun kecilinya yang menyalahkan sesuatu perbuatan, sesuatu perkataan, sesuatu bagian kalimat, yang saya lakukan, saya katakan Ataupun saya tuliskan dalam hal ini. Saya yakin telah melakukan kewajiiban saya;—dalam tujuan dan dalam cara pelaksanaan, kewajiiban saya sepenuh-penuhnya;—tidak lain dari kewajiiban saya, tanpa sedikit pun menyeleweng. Lama saya berpikir sebelum saya bertindak, (artinya: sebelum saya memeriksa, melaporkan dan mengusulkan) dan jika saya gagal dalam hal yang kecil Sekalipun,—maka kegagalan itu bukanlah disebabkan karena saya terburu-buru. Dalam keadaan yang sama saya akan melakukan lagi,—tapi lebih ceapat atau tidak melakukan lagi, hal yang sama seperti itu, sedikit pun tidak akan lain tindakan saya. Sekalipun ada kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan anda tidak membenarkan sesuatu yang saya lakukan,—(kecuali barangkali keanehan gaya saya, yang merupakan sebagian dari diri saya; suatu kekurangan yang saya tidak bertanggungjawab atasnya seperti juga seorang yang gagap tidak bertanggungjawab atas kegagapannya; —) Sekalipun ... tapi, tidak, itu tidak mungkin, tapi Sekalipun demikian halnya, ... saya telah melakukan kewajiiban saya. Namun yang saya sedihkan,—Meskipun demikian saya tidak heran,—ialah, bahwa anda mempunyai pandangan lain; dan mengenai diri saya sendiri saya akan menerima dengan sabar apa yang saya rasakan sebagai ketiadaan penghargaan terhadap diri saya,—tapi di sini ada soal prinsip, dan saya mempunyai alasan-alasan hati nurani yang menuntut ditentukan mana yang benar, pendapat anda atau pendapat saya.
Mengabdi secara lain dari yang saya lakukan di Lebak, saya tidak bisa. Jadi jika pemerintah menginginkan pengabdian yang lain, maka saya sebagai orang yang jujur harus minta dengan hormat supaya dipecat;—maka pada umur tiga puluh enam tahun saya harus mencoba mencari lagi pekerjaan lain;—saya harus sesudah tujuh belas tahun, sesudah tujuh belas tahun jabatan yang berat dan sukar, sesudah mengorbankan tenaga hidup saya yang paling baik untuk apa yang saya anggap sebagai kewajiban, saya harus memohon lagi kepada masyarakat memberi saya makan untuk anak dan istri, memohon makan sebagai imbalan buah pikiran saya,—mungkin makan sebagai imbalan untuk pekerjaan dengan kereta dorong atau tembilang, jika tenaga tangan saya dianggap lebih berharga dari tenaga jiwa saya.
Tapi saya tidak dapat dan tidak mau percaya bahwa pandangan anda disetujui oleh Yang Mulia Gubernur Jenderal, jadi saya berkewajiban sebelum melakukan tindakan terakhir yang saya tuliskan dalam alinea sebelum ini, memohon dengan hormat kepada anda: untuk mengusulkan kepada pemerintah: menulis surat kepada residen Bantam untuk membenarkan tindakan-tindakan asisten residen Lebak, dalam hubungan dengan surat-suratnya tanggal 24 dan 25 bulan ini No. 88 dan 91;—atau: memanggil asisten residen tersebut untuk mempertanggung-jawabkan hal-hal yang dicela, menurut perumusan residen Bantam.
Akhirnya saya mengatakan kepada anda dengan perasaan terima kasih, bahwa jika ada yang dapat merubah pikiran saya, meninggalkan prinsip-prinsip saya yang sudah lama saya renung-kan, prinsip-prinsip yang perlahan-lahan tapi dengan sungguh-sungguh saya anuti dalam hal ini; …… sungguh, yang dapat merubah pikiran saya ialah cara anda membantah prinsip-prinsip itu kemarin dulu dalam pembicaraan kita, cara yang sungguh-sungguh dan ramah tamah.
Asisten residen Lebak Max Havelaar
Tanpa mengambil keputusan tentang beralasan atau tidak bera-lasannya persangkaan Janda Slotering mengenai sebab yang menjadikan anak-anaknya jadi anak yatim, dan hanya dengan menerima bahwa di Lebak ada hubungan erat antara melaku-kan kewajiiban dan racun,—Sekalipun hubungan itu hanya suatu pendapat,—kita dapat mengerti bahwa Max dan Tine mengalami hari-hari yang penuh kemasygulan sesudah kunjungan residen itu. Saya rasa tidak perlu menggambarkan ketakutan seorang ibu yang ketika memberi makan anaknya, selalu harus bertanya apakah ia tidak membunuh anak yang dikasihinya?
Dan Max adalah “anak yang diminta-minta”, Max kecil yang tujuh tahun lamanya ditunggu-tunggu sesudah perkawinan se-olah-olah sianak jenaka itu tahu bahwa bukanlah suatu keun-tungan untuk lahir ke dunia sebagai putra orang tua demikian!
Dua puluh sembilan hari yang panjang Havelaar harus me-nunggu baru gubernur jenderal memberitahukan kepadanya, …… tapi kita belum sampai ke situ.
Tidak lama sesudah percobaan yang sia-sia untuk membujuk Havelaar supaya mau menarik kembali surat-suratnya atau meng-khianati orang-orang malang yang percaya akan kemuliaan hatin-ya, pada suatu hari Verbrugge masuk ke dalam kamarnya. Laki-laki yang baik itu pucat seperti mayat, dan dengan susah payah mengeluarkan kata-kata.
— “Saya dari bupati, katanya, sungguh keji, …… tapi jangan buka rahasia saya!—“Apa? Rahasia apa yang tak boleh saya bukakan? —“Berjanjilah bahwa anda tidak akan mengumumkan apa yang akan saya katakan kepada anda.—“Separoh-separoh lagi, kata Havelaar; tapi baiklah! Saya berjanji. Lalu Verbrugge menceritakan apa yang sudah diketahui oleh pembaca, bahwa residen menanyakan kepada adipati apakah ada yang hendak diadukannya mengenai asisten residen, dan sekaligus tiba-tiba ia ditawari dan diberi uang. Verbrugge mengetahui ini dari bupati sendiri, yang menanyakan kepadanya apa kira-kira yang menjadi sebab maka residen melakukan hal itu. Havelaar berang; tapi ia sudah berjanji. Keesokan harinya Verbrugge datang lagi, katanya Duclari mengatakan kepadanya, betapa curang membiarkan Havelaar seorang diri, dalam perjuangannja melawan musuh-musuh yang begituuan, karena itu Verbrugge datang hendak membatalkan janji yang telah diberikan oleh Havelaar.—“Baiklah, kata Havelaar, tuliskan.” Verbrugge menuliskannya. Pun keterangan itu ada di depan saya. Pembaca budiman sudah lama mengerti mengapa saya begitu mudah dapat melepaskan segala pretensi bahwa cerita Saijah itu benar. Amatlah mengharukan betapa Verbrugge yang penyegan itu,— sebelum ia disesali oleh Duclari,—berani mempertayayai perkataan Havelaar, dalam suatu perkara yang memaksa orang tidak dapat menepati janjinya! Dan ada lagi. Sudah lebih tiga tahun berlalu sejak terjadinja peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan. Dalam masa itu Havelaar banyak menderita, …… ia melihat keluarganya menderita, …… tulisan-tulisan di depan saya menyatakan hal itu, dan rupanya ia menunggu, …… saya salinkan catatatan berikut yang dituliskan sendiri.
“Saya membaca di koran-koran bahwa tuan Sliymering telah dianugerahi bintang sebagai anggota orde Singa Belanda. Rupanya dia sekarang jadi residen Yogyakarta. Jadi sekarang saya dapat kembali membicarakan perkara Lebak, tanpa membahayakan Verbrugge” ……
¹ Omong-omong.
Bab XX
Hari malam. Tine sedang membaca di serambi dalam, dan Havelaar menggambar sebuah pola bordiran; Max kecil menyusun kartu-kartu menjadi gambar, dan marah-marah karena ia tidak dapat menemukan “tubuh merah nyonya itu”."—“Apakah sekarang sudah baik begitu, Tine, tanya Havelaar, lihat, palma itu sudah ku bikin lebih besar sekarang, …… itulah “the line of beauty" Hogarth¹.—“Ya, Max, tapi lubang-lubang tali itu terlalu berdekatan.—“O, ya? Dan lajur-lajur yang lain itu bagaimana? Max, coba perlihatkan cealanmu; …… apa kau pakai lajur yang dulu itu? …… ah, aku masih tahu di mana kau membordirnya, Tine."—“Aku sudah lupa, di mana?"—“Di Den Haag, ketika Max sakit, dan kita terkejut sekali karena dokter mengatakan bahwa kepalanya lain benar bentuknya, dan perlu berhati-hati sekali supaya jangan mendesak ke otak; …… tatkala itu kau sedang mengerjakan lajur itu. Tine berdiri, dan mencium sikecil.—“Saya ketemu perutnya, saya ketemu perutnya!" Max kecil berseru riang, dan nyonya merah itu lengkaplah.—“Siapa yang mendengar tongtong?" tanya siibu.—“Saya," jawab Max kecil.—“Dan apa artinya itu?"
— “Harus tidur; tapi saya belum makan.”—“Kau makan dulu, tentu saja. Dan ia berdiri dan memberinya makan, makanan sederhana yang rupanya diambilinya dari sebuah lemari yang ditutup rapat dalam kamarnya, sebab kedengaran ia beberapa kali memutar kunci.—“Apa yang kau berikan kepadanya?” tanya Havelaar.—“O, jangan kuatir! Biskuit kaleng dari Betawi, dan gula juga selalu dikunci.” Havelaar mengingat-ingat sampai di mana tadi pembicaraan mereka.—Tahukah kau, ia melanjutkan, bahwa kita belum membayar rekening dokter? …… O, itu sangat susah!”—“Maxku sayang, di sini kita hidup hemat sekali, jadi tidak lama lagi kita bisa membayar segala hutang; lagiipula, segera kau akan jadi residen, dan segalanya bisa diatur dengan cepat.”—“Itulah yang membikin aku sedih, kata Havelaar. Aku tidak ingin meninggalkan Lebak, …… nanti aku terangkan. Tidakkah kau sependedapat bahwa kita lebih sayang lagi kepada Max sesudah sakitnya? Nah, begitu juga aku rasa aku akan mentiyintai Lebak sesudah ia sembuh dari kanker yang dideritanya bertahun-tahun lamanya. Pikiran bahwa aku akan dinaikkan pangkat mengagetkan aku; namun, sebaliknya jika kupikirkkan pula bahwa kita mempunyai hutang ……—“Nanti akan beres semua, Max; Sekalipun kau pergi dari sini, kemudian kau akan dapat menolong Lebak jika kau sudah menjadi gubernur jenderal …… Garis-garis liar nampak dalam gambar pola bordiran Havelaar; ada kemarahan dalam bunga-bunga itu, …… lubang-lubang tali jadi bersiku, tajam, saling menggigit …… Tine mengerti bahwa ia salah omong.—“Maxku sayang,” …… ia mulai lagi dengan ramah.—“Terkutuk! …… Kau hendak membiarkan mereka kelaparan begitu lama? …… Dapatkah kau hidup makan pasir?”…
— “Maxku sayang” …… Tapi ia melompat; ia tidak mau menggambar lagi malam itu. Ia berjalan kian ke mari di serambi dalam, dan akhirnya ia berbicara dengan nada yang kedengarannya keras dan kasar bagi setiap orang luar, tapi yang oleh Tine ditafsirkan lain sama sekali:—“Terkutuk sikap masa bodoh itu, sikap masa bodoh yang keji! Sudah sebulan aku menunggu keadilan, dan dalam pada itu rakyat yang malang itu menderita sangat. Bupati itu rupanya mengira, bahwa tidak ada orang yang berani melawannya; …… lihat ……” Ia masuk ke dalam kantornya, dan kembali dengan sepucuk surat di tangannya, surat itu ada di depan saya, pembaca.—“Nah, di dalam surat itu ia berani mengusulkan kepadaku jenis pekerjaan apa yang hendak dimintanya kerjakkan oleh orang-orang itu, orang-orang yang dikerahkannya dengan cara melawan hukum; …… bukankah itu suatu kekurangajaran yang keterlaluan? Dan tahukah kau siapa orang-orang itu? Mereka itu adalah perempuan-perempuan yang mempunyai anak kecil, bayi-bayi, perempuan-perempuan hamil yang terusir dari Parang-kujang ke ibukota untuk melakukan pekerjaan baginya; …… orang laki-laki tidak ada lagi! Dan mereka itu tidak punya makanan, mereka tidur di jalan dan makan pasir …… Dapatkah kau makan pasir? …… Apakah mereka harus makan pasir sebelum aku jadi gubernur jenderal? …… Terkutuk! …… Tine tahu benar kepada siapa sebenarnya Max marah, jika ia berkata demikian kepada perempuan yang sangat dia cintai.—“Dan, kata Havelaar melanjutkan, semua itu terjadi di bawah tanggungjawabku. Apabila pada saat ini ada orang-orang malang di luar sama mengembara kian ke mari, dan melihat cahaya lampu-lampu kita, mereka akan berkata: “di sana tinggal keparat yang hendak melindungi kita itu; di sana ia duduk dengan tenang bersama anak dan isterinya, dan menggambar pola-pola bordiran, dan kita di sini terbaring seperti anjing hutan kelaparan di jalan bersama anak-anak kita!“ Ya, aku mendengarnya, aku mendengarnya, teriakan orang mau membalas dendam! …… Mari, Max, mari! ……, Dan diciumnya anaknya penuh nafsu sehingga anak itu terkejut.—“Anakku, jika orang mengatakan padamu bahwa aku keparat, yang tidak berani menegakkan hukum; ……, bahwa banyak ibu-ibu yang meninggal karena salahku; …… kalau orang mengatakan padamu bahwa kelalaian ayahmu menghilangkan sempana dari kepalamu, …… o Max, o Max, katakanlah betapa besar penderitaanku ……. Dan ia menangis berhamburan air mata, yang dikeringkan Tine dengan cuman. Lalu Tine membawa Max kecl ke tempat tidurnya, sehelai tikar jerami;—ketika ia kembali didapatinya Havelaar bercakap-cakap dengan Verbrugge dan Duclari yang datang tadi. Percakapan mereka ialah tentang keputusan pemerintah yang ditunggu-tunggu.—“Saya mengerti benar bahwa residen dalam kedudukan yang sukar, kata Duclari. Ia tidak dapat menasehati pemerintah untuk melaksanakan usul-usul anda, sebab nanti akan banyak yang terbongkar. Saya sudah lama di daerah Bantam, dan saya banyak tahu; lebih banyak dari anda, tuan Havelaar, …… saya sudah ada di daerah ini semenjak jadi opsi bawahan, dan dalam hal itu kita jadi banyak tahu hal-hal yang orang bumiputera tidak berani mengatakannya kepada pejabat-pejabat pemerintah. Tapi jika sesudah diadakan pemeriksaan terbuka terbukti semua itu, maka gubernur jenderal akan meminta pertanggungan-jawab kepada residen, dan menanyakan kepadanya mengapa ia dalam waktu dua tahun tidak melihat apa yang segera menarik perhatian anda. Jadi dia harus mencoba mencegah pemeriksaan itu.” ……—“Saya mengerti ini, jawab Havelaar, dan tersadar oleh usahanya membujuk adipati supaya mengadukan sesuatu kesalahan saya, yang nampaknya menunjukkan bahwa ia hendak mencoba mengalihkan persoalan dengan misalnya menuduh saya telah melakukan kesalahan, …… saya tidak tahu kesalahan apa,
maka saya telah bersiap melindungi diri saya terhadap kemungkinan itu dengan mengirimkan tembusan surat-surat saya langsung kepada pemerintah. Dalam salah satu surat itu ada permohonan supaya saya dipanggil untuk mempertanggungyawabkan sekiranya ada orang mengatakan bahwa saya melakukan sesuatu kesalahan. Jika residen Bantam menyerang saya, maka menurut jalan keadilan yang lazim tidak dapat diambil keputusan tanpa mendengar keterangan saya lebih dulu, ... itu adalah kewajaban, juga terhadap seorang penjahan, ... dan sebab saya tidak melakukan sesuatu kejahatan ...—“Pos datang!” seru Verbrugge. Ya, pos datang! Pos yang membawa surat berikut dari gubernur jenderal Hindia Belanda kepada bekas asisten residen Lebak Havelaar.
“Kabinet No. 54 Bogor tanggal 23 Maret 1856
Cara anda bertindak setelah mengetahui atau mengira mengetahui praktek-praktek buruk kepala-kepala daerah Lebak dan sikap yang anda perlihatkan terhadap sep anda, residen Bantam, telah sangat menimbulkan perasaan tidak senang pada saya. Di dalam tindak tanduk anda termaksud tidak nampak pertimbangan yang mendalam, kebijaksanaan dan kehati-hatian, yang sangat diperlukan pada seorang pejabat yang menjalankan kekuasaan di pedalaman, seperti juga pengertian-pengertian tentang kepatuhan kepada atasan anda yang langsung. Baru beberapa hari anda menerima jabatan anda sudah rela saja menjadikan kepala pemerintahan bumiputera Lebak, bulan-bulanan pengusutan yang memberatkan, tanpa minta nasehat lebih dulu kepada (sic) residen. Di dalam pengusutan itu anda menganggap mendapat alasan, malahan tanpa menyatakan tuduhan-tuduhan anda kepada kepala itu dengan fakta-fakta (sic), apalagi dengan bukti-bukti, untuk memadukan usul-usul yang maksudnya memperlakukan seorang pejabat bumiputera dengan cara yang menghancurkan wibawanya, seorang pejabat bumiputera semacam bupati Lebak, pengabdi negeri berusia enam puluh tahun tapi masih rajin, bertalian keluarga dengan keluarga-keluarga bupati terkemuka diderah-daerah berdekatan, dan yang tingkah lakunya selalu dinyatakan baik.
Lagipula anda, ketika residen tidak bersedia menerima usul anda, menolak memenuhi keinginan sep anda yang wajar untuk memberitahukan segala yang anda ketahui tentang tindak tanduk pemerintahan bumiputera di Lebak.
Perbuatan yang demikian itu tidak dapat dibenarkan sama sekali dan mudah memberikan kesan bahwa anda tidak cakap untuk menduduki sesuatu jabatan sebagai pangreh praja.
Saya terpaksa menghentikan anda sebagai asisten residen Lebak.
Tapi dengan mempertimbangkan laporan yang baik mengenai diri anda dahulu, dalam peristiwa ini saya tidak ingin menghilangkan kesempatan anda untuk ditempatkan kembali dalam pemerintahan pangreh praja. Karena itu saya buat sementara menugaskan anda menjabat pekerjaan sebagai asisten residen Ngawi.
Semata-mata tergantung dari tindak tanduk anda selanyutnya dalam jabatan itu apakah anda tetap dapat dipertahankan dalam pemerintahan pangreh praja.
Dan di bawahnya tercantum nama orang yang “kerajinan, kepandaian dan kesetiaannya” oleh raja Belanda dikatakan dapat diandalkan, ketika menandatangani pengangkatannya sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda.
— “Kita berangkat dari sini, Tine,” kata Havelaar; dan diulurkannya surat kabinet itu kepada Verbrugge yang membacanya bersama Duclari.
Verbrugge berlinang-linang airmatanya tapi tidak berkata sepatah kata. Duclari, seorang manusia yang beradab, meledak dalam sumpah dan serapah:—“Laknat, …… saya melihat bangsat-bangsat dan pencuri-pencuri dalam pemerintahan di sini, …… mereka berangkat sebagai manusia terhormat dari sini, dan kepada anda mereka menulis surat seperti itu!—“Tidak apa, kata Havelaar, gubernur jenderal itu manusia yang jujur, …… ia tentu kena tipu, Meskipun ia sebenarnya bisa mencegah penipuan itu dengan lebih dulu mendengarkan saya. Tapi saya akan pergi kepadanya dan menjelaskan kepada nya bagaimana duduknya perkara di sini; …… dia akan mene-gakkan hukum, saya yakin.—“Tapi kalau anda pergi ke Ngawi ……—“Benar, saya tahu. Di Ngawi bupatinya bertalian keluarga dengan istana Jogja; …… saya kenal Ngawi. Saya dua tahun di Bagelen, …… di Ngawi saya harus melakukan yang serupa seperti di sini, …… percuma saja saya ke sana ke mari; …… lagipula tidak mungkin bagi saya bekerja untuk percobaan, se-olah-olah saya berkelakuan buruk; …… dan akhirnya saya sadar bahwa untuk mengakhiri segala penipuan itu, saya harus jangan jadi pejabat. Sebagai pejabat antara saya dan pemerintah terlalu banyak orang yang berkepentingan untuk mengingkari kemelaratan penduduk. Banyak lagi yang menjadi sebab maka saya tidak mau pindah ke Ngawi. Di tempat itu tidak ada lowo-ngan, lowongan diadakan untuk saya; lihatlah.” Dan diperlihatkannya “Yavaskhe Koran”² yang dibawa oleh pos; sesungguhnya dengan keputusan pemerintah yang sama, ke-putusan pengangkataannya di Ngawi, asisten residen di tempat itu dipindahkan ke daerah lain, yang ada lowongan.—“Tahukah anda mengapa saya harus ke Ngawi, dan bukan ke daerah yang lowong itu? Dengarlah. Residen Madiun yang membawahi Ngawi itu adalah ipar residen Bantam sebelum residen yang sekarang ini. Sudah saya katakan bahwa di tempat ini orang telah melakukan tindakan-tindakan yang keji sepanjang masa, bahwa bupati dahulu diberi teladan yang buruk ……. “Ah!” seru Verbrugge dan Duclari serentak. Mereka mengerti mengapa Havelaar justru dipindahkan ke Ngawi untuk bertugas secara percobaan, apakah ia akan memperbaiki dirinya. “Satu hal lagi yang menyebabkan saya tidak dapat pergi ke sana, katanya. Gubernur jenderal sekarang ini sebentar lagi akan berhenti, …… kita sudah tahu siapa penggantinya. Tidak ada yang dapat diharapkan dari penggantinya itu. Jadi supaya bisa melakukan sesuatu untuk rakyat yang malang itu sebelum terlambat, saya harus bicara dengan gubernur jenderal sebelum ia berangkat, dan jika saya pergi ke Ngawi sekarang ini hal itu tak mungkin lagi; …… Tine!”—“Ya Max?”—“Kau tak takut, bukan?”—“Max, kau tahu aku tak takut, jika bersama kau.”—“Nah!” …… Ia berdiri, dan menulis surat permohonan, yang menurut pendapat saya sangat mengesankan:
Rangkas-Betung 29 Maret 1856 Kepada gubernur jenderal Hindia Belanda
Saya telah menerima surat Yang Mulia tanggal 23 bulan ini No. 54;—Membalas surat itu saya terpaksa memohon kepada Yang Mulia untuk memberhentikan saya dengan hormat dari jabatan negeri.
Max Havelaar.”
Untuk mengabulkan permohonan berhenti itu di Bogor rupanya tidak begitu banyak diperlukan waktu seperti untuk menentukan bagaimana menolak tuduhan Havelaar. Yang kemudian ini memerlukan waktu sebulan, dan surat pemberhentian dalam beberapa hari saja sudah tiba di Lebak.
—“Syukur alhamdulillah, seru Tine, sekarang kau bebas!“
Havelaar tidak mendapat perintah untuk menyeraikan pemerintahan daerah buat sementara kepada Verbrugge; jadi ia menunggu penggantinya. Lama juga ia harus menunggu, karena penggantinya itu dari Jawa Timur. Sesudah hampir tiga minggu menunggu bekas asisten residen Lebak itu, yang sementara itu tetap bertindak sebagai asisten residen, menulis surat seperti berikut kepada kontelir Verbrugge.
No. 153 Rangkas-Betung 15 April 1856
Kepada Kontelir Lebak
Anda mengetahui bahwa saya dengan keputusan pemerintah tanggal 4 bulan ini, No. 4, atas permohonan sendiri telah di-berhentikan dengan hormat dari jabatan negeri.
Barangkali sebaiknya saya setelah menerima keputusan itu segera meletakkan jabatan sebagai asisten residen, karena adalah suatu hal yang tidak biasa untuk menjalankan suatu jabatan tanpa menjadi pejabat.
Tapi saya tidak mendapat surat untuk menimbang terimakan jabatan saya, dan karena keinsafan akan kewajiban untuk tidak meninggalkan pekerjaan sebelum digantikan menurut peraturan, dan juga karena hal-hal lain yang tidak begitu penting, maka saya menunggu kedatangan pengganti saya, dengan perkiraan bahwa pejabat itu akan segera tiba, setidaknya bulan ini juga.
Sekarang saya mendengar dari anda, bahwa pejabat itu tidak
akan segera dapat diharapkan kedatangannya,—berita itu kalau saya tidak salah, anda dengar di Serang,—dan juga bahwa residen merasa heran, bahwa saya dalam kedudukan saya yang amat aneh ini, belum juga memajudkan permohonan untuk menyerahkan pemerintahan kepada anda.
Saya senang sekali menerima berita itu; sebab tak perlu saya katakan bahwa saya, yang telah menerangkan tidak akan bisa menyalankan tugas dengan cara lain dari yang sudah saya lakukan di sini, saya yang karena cara menyalankan tugas itu kena hukum dengan dampratan, dengan kepindahan yang sangat merugikan dan sangat menjatuhkan kehormatan, dengan perintah untuk mengkhianati orang-orang celaka yang menaruh percaya atas ketulusan hati saya, jadi dihukum dengan pilihan antara malu dan lapar, ... bahwa saya sesudah segalanya ini dengan susah payah dan hati-hati harus menguji tiap peristiwa dengan kewajiban saya; dan bahwa hal yang mudah Sekalipun sukar bagi saya, karena saya terjepit antara hati nurani saya, dan prinsip-prinsip pemerintah yang harus saya jalankan dengan setia selama saya belum dibebaskan dari jabatan saya.
Kesukaran itu terutama saya rasakan bila saya harus menjawab orang-orang yang mengadu.
Sebab saya sudah berjanji tidak akan menyerahkan siapa-siapa kepada perasaan dendam kepala-kepalanya;—saya sudah menjjamin dengan perkataan saya, suatu perbuatan yang kurang hati-hati, bahwa pemerintah akan berlaku adil.
Penduduk kampung yang malang itu tidak dapat mengetahui bahwa janji dan jaminan itu tidak diakui, dan bahwa saya dalam keadaan miskin dan tidak berdaya berdiri sendiri dengan keinginan saya untuk menegakkan hukum dan perikemanusiaan.
Dan mereka terus juga memasukkan pengaduan!
Sungguh menyedihkan setelah menerima surat kabinet tanggal 23 Maret itu, terus juga bercokol sebagai orang yang disangka bisa menolong, sebagai pelindung tidak berdaya.
Hati rasa teriris mendengarkan pengaduan tentang penganiayaan, penghisapan, kemiskinan, kelaparan, ... sedang saya sendiri dengan anak istri terancam kelaparan dan kemiskinan!
Dan pemerintah pun tak boleh saya khianati. Saya tak boleh berkata kepada orang-orang malang itu: “pergilah dan mende-ritalah, sebab pemerintah ingin anda dianiaya.” Saya tidak boleh mengakui ketidakkemampuan saya, sebab ketidakkemampuan itu satu dengan kenistaan dan ketiadaan perasaan penasehat-penasehat gubernur jenderal.
Inilah jawaban saya: “Saya tidak dapat menolong anda dengan segera, tapi saya akan pergi ke Betawi; saya akan bicara dengan tuan besar tentang kesengsaraan anda. Tuan besar adil dan dia akan menolong anda. Buat sementara pulanglah dengan tenang ke rumah; jangan melawan, jangan pindah dulu, tunggulah dengan sabar, ... saya kira, ... saya harap hukum akan ditegakkan!
Saya malu bahwa saya tidak dapat memenuhi janji saya untuk menolong mereka, dan dengan jalan demikianlah saya mengira dapat menyesuaikan pikiran saya dengan kewajiiban saya kepada pemerintah yang bulan ini masih membayar gaji saya, dan saya masih akan meneruskan permainan itu sampai kedatangan pengganti saya, jika tidak terjadi suatu peristiwa yang memaksa saya hari ini menghentikan hubungan dua muka itu.
Tujuh orang datang mengadu. Saya jawab seperti di atas. Mereka pulang ke kampung. Di tengah jalan mereka bertemu kepala kampungnya. Mereka agaknya dilarangnya meninggalkan kampungnya lagi, dan pakaian mereka dirampas, (begitu di laporan kepada saya), atau mungkin juga mereka dipaksa tinggal di rumah. Salah seorang melarikan diri, dan datang lagi kepada saya, katanya: “dia tidak berani kembali ke kampung."
Apa yang harus saya katakan kepada orang itu, saya tidak tahu. Saya tidak dapat melindunginya;—saya tidak boleh mengatakan kepadanya bahwa saya tidak berdaya; saya tidak mau menuntut kepala kampung yang diadukan itu, sebab yang demikian itu akan memberikan kesan, seolah-olah untuk kepentingan saya sendiri, saya membongkar-bongkar perkara ini, ... saya tidak tahu lagi apa yang harus saya perbuat ...
Saya perintahkan anda menjalankan pemerintahan daerah Lebak mulai besok pagi, sambil menunggu pengesahan oleh residen Bantam.
Asisten residen Lebak, Max Havelaar
Sesudah itu Havelaar berangkat dengan anak istri dari Rangkas-Betung. Dia sama sekali tidak mau diiringi. Duclari dan Verbrugge amat terharu waktu berpisah. Max juga terharu, lebih-lebih ketika ia bertemu orang banyak di tempat pertama mereka mengganti kuda, orang banyak yang menyelinap dari Rangkas-Betung untuk pamitan penghabisan kali.
Di Serang keluarga itu mampir di rumah tuan Sliymering yang menjamu mereka dengan senang hati seperti kebiasaan orang di negeri Hindia. Malam hari banyak orang datang berkunjung ke rumah residen. Mereka katanya ingin bertemu Havelaar, dan Max banyak mendapat jabatan tangan yang penuh arti ……
Tapi ia harus pergi ke Betawi untuk berbicara dengan gubernur jenderal.
Tiba di sana ia mohon odiensi. Tapi ia tidak diterima karena yang mulia sakit bisul di kaki.
Havelaar menunggu sampai bisul itu sembuh. Lalu ia mohon bertemu lagi.
Yang mulia “begitu sibok sehingga pun direktur jenderal keuangan terpaksa ditolaknya untuk odiensi, jadi ia pun tidak bisa menerima Havelaar.
Havelaar menunggu pula sampai yang mulia tidak sibok lagi; dalam pada itu ia merasakan semacam iri hati kepada orang-orang yang diperbantukan kepada yang mulia dalam pekerjaannya, sebab ia senang bekerja banyak dan cepat, dan biasanya “kesibokan-kesibokan” semacam itu lebur dalam tangannya. Tapi itu sekarang tentu tidak mungkin. Pekerjaan Havelaar lebih berat dari bekerja, …… ia menunggu.
Ia menunggu. Akhirnya ia mohon odiensi lagi. Ia mendapat jawaban bahwa yang mulia tidak dapat menerima, berhalangan karena kesibokannya" berhubung dengan keberangkatannya tidak lama lagi.
Max mohon bertemu dengan yang mulia setengah jam lamanya jika ada lowong sedikit antara dua “kesibokan".
Akhirnya ia mendengar bahwa yang mulia akan berangkat kesokan harinya! Ini seperti petir di hari bolong. Ia kenal sekali gubernur jenderal yang baru itu untuk mengharapkan apa-apa yang baik dari padanya. Masih tetap ia percaya bahwa wali negeri yang meletakkan jabatannya itu adalah seorang yang jujur dan tertipu. Lima belas menit cukup rasanya untuk membuktikan bahwa ia di pihak yang benar, dan yang lima belas menit itu rupanya tidak mau diberikan orang kepadanya.
Saya menemukan di antara surat-surat Havelaar konsep surat yang rupanya ditulisnya kepada gubernur jenderal yang berangkat itu, semalam sebelum keberangkatannya ke tanah airnya. Dippingir ditulis dengan potlot “tidak benar" yang menunjukkan bahwa beberapa bagian kalimat diubah waktu surat itu disalin kembali. Hal ini perlu saya jelaskan, supaya jangan karena tidak ada persamaan harfiah dengan surat ini, lalu orang meragukan keotentikan surat-surat resmi lain yang saya sebutkan dan yang semuanya ditandatangani dengan tulisan tangan orang lain “untuk salinan yang sama". Barangkali orang yang dikirim surat itu ingin mengumumkan teks asli itu yang sebenarnya supaya orang dapat membandingkan betapa jauh Havelaar menyimpang dari konsepnya.
Betawi 23 Mei 1856
Yang mulia! Permohonan saya sedang saya dalam jabatan yang saya ajukan tanggal 28 Pebruari mengenai perkara Lebak, tidak mendapat perhatian sama sekali;—Demikian pula yang mulia tidak bersedia mengabulkan permohonan saya yang berulang-ulang untuk odiensi.
Jadi yang mulia telah memperlakukan seorang pejabat lebih buruk dari seorang penjahan, sebab penjahan masih didengar. Yang mulia tidak mau mendengarkan seorang pejabat yang dikenal berkelakuan baik pada pemerintah, (ini adalah kata-kata yang mulia sendiri) seorang yang tujuh belas tahun lamanya bekerja di wilayah ini, seorang yang bukan saja tidak melakukan sesuatu kejahatan, tapi sebaliknya malahan menginginkan kebaikan dengan tidak mengingat kepentingan diri sendiri dan dengan mengorbankan segala-galanya untuk kehormatan dan kewajiiban.
Bahaha yang mulia telah mendapat keterangan yang salah tentang diri saya, saya mengerti;—tapi bahwa yang mulia tidak mempergunakan kesempatan untuk mendengarkan keterangan yang benar, saya tidak mengerti.
Besok yang mulia akan berangkat dari sini, dan saya tidak dapat membiarkan yang mulia berangkat, tanpa sekali lagi mengatakan bahwa saya telah melakukan kewajiiban saya;—semata-mata kewajiiban saya, dengan bijaksana, dengan sabar, dengan penuh rasa kemanusiaan, dengan lemah lembut dan keberanian.
Yang mulia menyalahkan saya dalam surat kabinet tanggal 23 Maret atas dasar-dasar yang sama sekali isapan jempol dan bohong.
Saya bisa membuktikan ini, dan ini telah saya lakukan sekiranya yang mulia memberi saya waktu setengah jam untuk dide-ngar, sekiranya yang mulia menyediakan waktu setengah jam untuk menegakkan hukum.
Hal ini tidak terjadi. Suatu keluarga yang bermartabat karenanya jatuh miskin ……
Namun bukan karena itu saya mengeluh.
Tapi yang mulia telah membenarkan sistim penyalahgunaan kekuasaan, sistim perampukan dan pembunuhan yang memberati pundak orang Jawa yang malang, dan karena itulah saya mengeluh.
Hal itu minta perbaikan!
Darah melekat pada uang yang disimpan dari uang gaji yang diterima dengan jalan itu, yang mulia! Sekali lagi saya minta didengar barang sejenak, baik malam ini, Maupun besok pagi! Dan sekali lagi saya tidak meminta ini untuk diri saya sendiri, tapi untuk perkara yang saya perjuangkan, perkara keadilan dan perikemanusiaan, yang juga adalah soal politik dalam arti yang sesungguhnya. Apabila yang mulia dapat berdamai dengan hati sanubarinya, untuk berangkat dari sini tanpa mendengarkan saya, hati saya akan tenang dalam keyakinan bahwa saya telah melakukan segala yang mungkin untuk mencegah kejadian-kejadian berdarah yang menyedihkan, yang segera akan menyusul sebagai akibat ketidaktahuan yang disengaja dalam mana pemerintah dibiarkan mengenai apa yang bergolak di kalangan penduduk ……. Max Havelaar.”
Havelaar menunggu malam itu. Ia menunggu semalam-malaman. Ia mengharap mudah-mudahan nada suratnya itu menimbulkan kemarahan dan mengakibatkan apa yang sia-sia dicobanya untuk mencapainya dengan kelembutan dan kesabaran. Harapannya itu sia-sia belaka. Gubernur jenderal berangkat tanpa mendengarkan Havelaar; …… seorang yang mulia lagi pulang beristirahat di tanah air! Havelaar mengembara kian ke mari, miskin dan sepi. Ia mencari ……. Cukuplah, Stern yang baik. Aku, Multatuli, mengangkat pena. Anda tidak terpanggil menuliskan sejarah hidup Havelaar. Aku menghidupkan anda,…… aku datangkan anda dari Hamburg, …… aku ajarkan anda bahasa Belanda yang baik, dalam waktu yang singkat sekali, …… aku suruh anda mencium Louise Rosemeiyer, yang ayahnya berdagang gula, …… cukuplah Stern, anda boleh pulang.
Si Syaalman itu dan isterinya …… Stop, hasil claka nafsu mata duitan yang kotor dan kemunafikan yang menghujah Tuhan! Akulah yang menciptakan anda, …… anda membesar menjadi makhluk yang dahsyat di bawah penaku, …… aku jijik dengan bikinanku sendiri, …… terbenamlah dalam kopi, dan pergilah!
Ya, aku Multatuli, yang telah banyak menderita, mengangkat pena. Aku tidak minta maaf untuk bentuk bukuku, …… bentuk itu aku rasa baik untuk mencapai tujuanku. Tujuan itu adalah dua: Pertama-tama aku hendak membuat sesuatu yang dapat disimpan sebagai pusaka yang keramat oleh “Max yunior” dan adiknya, apabila orang tuanya sudah mati karena sengsara. Aku hendak berikan anak-anak itu surat tanda bangsawan yang kutulis sendiri. Dan kedua aku mau dibaca! Ya, aku mau dibaca! Aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiiban memperhatikan tanda-tanda zaman;—oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang;—oleh pedagang-pedagang yang berkepentingan pada pelelangan kopi;—oleh pelayian-pelayian wanita yang menyewaku dengan wang beberapa sen:—oleh gubernur jenderal gubernur jenderal yang menikmati pensiunnya, oleh menteri-menteri yang sedang aktif;—oleh begundal-begundal tuan-tuan yang mulia itu;—oleh pengkhotbah-pengkhotbah yang “more mayorum”³, akan mengatakan bahwa aku mencerca Tuhan Mahakuasa, sedangkan aku hanya berontak terhadap tuhan kecil yang mereka buat menurut gambarannya sendiri;—oleh anggota-anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergolak dalam kerajaan besar di seberang lautan, yang adalah sebagian dari kerajaan Belanda …… Ya, aku bakal dibaca! Jikalau tujuan itu tercapai, maka puaslah aku. Sebab aku bukan hendak menulis baik, …… aku hendak menulis begitu rupa-rupa-rupa, sehingga didengar, dan seperti orang yang berteriak: “tangkap maling itu!” tidak peduli gaya ia menyampaikan ucapannya yang spontan kepada publik itu, maka aku pun tidak peduli bagaimana orang menanggapi cara aku meneriakkan: “tangkap maling itu”. “Buku itu isinya aneka macam, tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk, tidak nampak keahlian; …… tidak ada bakat, tidak ada metode.” …… Baik, baik, …… semuanya itu benar, …… tapi orang Jawa dianiaya! Sebab, orang tidak bisa membantah maksud utama karyaku. Semakin keras orang mengeritik bukuku, semakin baik aku rasa, sebab lebih besar kemungkinan bakal didengar;—dan itulah yang aku mau. Tapi tuan-tuan yang terganggu dalam “kesibokan”-nya atau “ketenangan”-nya, menteri-menteri dan para gubernur jenderal, janganlah terlalu mengharap bahwa penaku akan tetap tumpul. Aku akan dapat melatih diri, dan dengan sedikit susah payah barangkali menjadi pandai, sehingga bisa membikin rakyat percaya, bahkan juga kepada kebenaran. Maka aku akan meminta kepada rakyat itu kursi dalam perwakilan, Meskipun hanya untuk memprotes terhadap surat keterangan tentang kejujuran yang diberikan ahli yang satu kepada ahli yang lain vice versa, barangkali supaya orang percaya bahwa mereka sendiri menghargai sifat itu;—untuk memprotes ekspedisi-ekspedisi dan perbuatan-perbuatan kepahlawanan yang tidak berkesudahan melawan makhluk-makhluk celaka yang sebelumnya dipaksa berontak karena dianiaya;—untuk memperotes surat-surat edaran pengecut yang keji yang menodai kehormatan bangsa dengan meminta kedermawanan khalayak ramai supaya membantu korban-korban pembajakan laut yang kronis. Memang pemberontak-pemberontak itu adalah kerangka-kerangka kelaparan dan pembajak-pembajak laut itu adalah orang-orang yang kuat melawan musuh …… Dan kalau aku tidak mendapatkan kursi itu …… kalau orang terus juga tidak percaya kepadaku …… Maka aku akan menerjemahkan bukuku dalam beberapa bahasa yang sedikit yang aku tahu, dan dalam banyak bahasa yang dapat kuplelajari, untuk meminta kepada Eropa, apa yang kucari sia-sia di negeri Belanda. Dan dalam semua ibukota dinyanyikan lagu-lagu dengan ulangan seperti ini: “ada negara pembajak di tepi laut, antara Friesland Timur dan sungai Skhelde!” Dan kalau ini pun tidak berhasil? …… Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak …… Dan akan kulontarkan lagu-lagu perang pengasah kelewang ke dalam sanubari pejuang-pejuang syahid, yang telah aku jang-jikan pertolongan, aku, Multatuli. Pertolongan dan bantuan, dengan jalan sah, di mana mungkin;—dengan kekerasan atas jalan yang sah, di mana perlu. Dan itu akan sangat merugikan pelelangan kopi maskapai dagang Belanda! Sebab aku bukan penyair yang menyelamatkan lalat, bukan pemimpi yang lembut hati, seperti Havelaar tertindas yang melakukan kewajiabannja dengan keberanian seekor singa, dan menderita lapar dengan kesabaran seekor marmot di musim dingin. Buku ini adalah suatu pendahuluan …… Aku akan bertambah hebat dalam tenaga dan ketajaman senjata, semakin hal itu diperlukan. Mudah-mudahan hal itu tidak akan perlu …… Tidak, hal itu tidak akan perlu! Sebab kepada Tuanlah bukuku ini kupersembahkan, Willem Ketiga, raja, hertog besar, pangeran, …… lebih dari pangeran, hertog besar dan raja, ……
Kaisar kerajaan Insulinde yang indah, yang melingkar nun di sana di khatulistiwa laksana sabuk jamrud! …… Kepada Tuan aku bertanya dengan penuh percaya apakah kemauan Tuan mahadiraja: bahwa orang-orang seperti Havelaar keciprat lumpur orang-orang seperti Sliymering dan Droogstoppel;—dan bahwa nun di sana rakyat Tuan yang lebih dari tiga puluh juta disiksa dan dihisap atas namamu? ……
LIHATLAH BAJING
Lihatlah bajing cari pangidupan Naik turon klappa, main kiri kanan Putar melompat, jatuh, naik, turon, Sababnya tidak cepat kai burong, Ontong terlalu, bajingku slamat, Pasti nyang cari penghidupan dapat! Saiya sendiri pun di hutan jati Duduk, bernanti penghidupan hati. Sudahlah perutnya bajingku kenyang—Sudahlah lama masok di sarang, Tapi slamanya jiwanya saiya, Hatiku paiya—Upi Adinda!
Lihatlah kupu kupu keliling, Kaya kembang waru saiyab gemiling Hatinya cinta bunga kenari Pasti kasaiyangan harum di cari. Ontong terlalu, kupuku slamat Apa nyang cari, tantukan dapat! Saiya sendiri pun di hutan jati Duduk bernanti kasaiyangan hati. Sudahlah lama cium kupu kupu Bunga kenari cinta terlalu Tapi slamanya jiwanya saiya Hatiku paiya—Upi Adinda!
Lihat mathari cahaiya tingie, Tingie di atas bukit waringin. Pannas terlalu turun di minta, Tidor di lahut kaiya bini di cinta. Ontong terlalu mathari slamat, Apa nyang cari tantukan dapat! Saiya sendiri pun di hutan jati
Duduk bernanti diamlah hati. Sudahlah lama turun mathari Tidor di lahut—trang sudah lari Tapi slamanya jiwanya saiya Hatiku paiya—Upi Adinda!
Kalau tralagie kupu keliling Kalau tralagie bintang gemiling Kalau tralagie harum melatti Kalau tralagie kerasahan hati Kalau di hutan tralagie binatang, Kalau Adinda belom lagie datang,—(Dua baris yang ada dalam bahasa Belanda, tidak ada di sini) Nanti bidari saiyabnya gellang Turon di bumi cari nyang korang—Nanti ketingalan badannya saiya Hatiku paiya—Upi Adinda!
Nanti bangkehku di lihat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Lihat di lupa seorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, “Mari kit angkat ia di saorga,
“Nyang sampeh matti nanti Adinda “Janganlah sungoh tingal di situ “Nyang punya hati cinta begitu”.—Dan lagi skali mulutku buka Pangil Adinda nyang hatiku suka; Cium lagi sekali melati bunga Dia nyang kassi—Upi Adinda!
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam; Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang; Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”—Aku tak akan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena ia mata gelap; Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan kayu berpijar jatuh menimpa mayatku; Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api;—Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik kelapa untuk ibunya; Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya, di dalam semak, seperti Si Unah; Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi orang lain akan berseru: “Lihat Saijah di sana!” dengan suara yang keras;—Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya sudah putih; Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap sekeliling mayatku; Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat Pak Lisu; dan juga cucucucunya akan menangis, keras sekali;—Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati. Banyak orang mati kulihat di Badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah; Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke-timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi; Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mendinggus mendesir rumput, …… Aku akan mendengarnya.
¹ “Garis keindahan" Hogarth. Hogarth adalah seorang karikaturis Inggris abad ke-18.
² Koran resmi Pemerintah Hindia Belanda (Berita Negara).
³ Menurut kebiasaan leluhur.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.