Baca EPUB: Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran Raden Ajeng Kartini

16 bagian · 0.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
  2. BUAH PIKIRAN RADEN AJENG KARTINI
  3. R. A. KARTINI
  4. KOLOFON
  5. ISI KITAB
  6. KARTINI
  7. MUKA
  8. PERMULAAN KALAM
  9. PENDAHULUAN
  10. SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1899
  11. Jepara, 25 Mei 1899 (I)
  12. 18 Augustus 1899 (I)
  13. 6 November 1899 (I)
  14. November 1899 (II)
  15. SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1900
  16. 12 Januari 1900 (I)
  17. Permulaan 1900 (II)
  18. 13 Augustus 1900 (VIII)
  19. Augustus 1900 (VIII)
  20. Augustus 1900 (II)
  21. 23 Augustus 1900 (I)
  22. Augustus 1900 (II)
  23. 7 Oktober 1900 (VIII)
  24. Oktober 1900 (II)
  25. 1 November 1900 (VIII)
  26. 2 November 1900 (II)
  27. SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1901
  28. 9 Januari 1901 (I)
  29. 21 Januari 1901 (VIII)
  30. 19 Maret 1901 (IV)
  31. 20 Mei 1901 (I)
  32. 6 Juni 1901 (V)
  33. 10 Juni 1901 (III)
  34. 8—9 Augustus 1901 (VIII)
  35. 19 Augustus 1901 (V)
  36. Augustus 1901 (VII)
  37. 4 September 1901 (VIII)
  38. 30 September 1901 (VIII)
  39. 18 Oktober 1901 (VIII)
  40. 20 November 1901 (VIII)
  41. 31 Desember 1901 (VIII)
  42. SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1902
  43. 3 Januari (VIII)
  44. 15 Februari 1902 (I)
  45. 18 Februari 1902 (VIII)
  46. 28 Februari 1902 (VIII)
  47. 5 Maret 1902 (VIII)
  48. 14 Maret 1902 (I)
  49. 21 Maret 1902 (V)
  50. 27 Maret 1902 (VIII)
  51. 8 April 1902 (VIII)
  52. 27 April 1902 (VII)
  53. 17 Mei 1902 (I)
  54. 26 Mei 1902 (V)
  55. 10 Juni 1902 (VIII)
  56. 17 Juni 1902 (V)
  57. 21 Juni 1902 (VI)
  58. 12 Juli 1902 (II)
  59. 15 Juli 1902 (VIII)
  60. 18 Juli 1902 (II)
  61. 21 Juli 1902 (VII)
  62. 28 Juli 1902 (VIII)
  63. 8 Augustus 1902 (X)
  64. 10 Augustus 1902 (VI)
  65. 15 Augustus 1902 (I)
  66. 15 Augustus 1902 (X)
  67. 17 Augustus 1902 (X)
  68. 20 Augustus 1902 (VII)
  69. 2 September 1902 (VIII)
  70. 15 September 1902 (VIII)
  71. 22 September 1902 (VIII)
  72. 24 September 1902 (IV)
  73. 4 Oktober 1902 (III)
  74. 11 Oktober 1902 (I)
  75. 12 Oktober 1902 (VIII)
  76. 27 Oktober 1902 (VIII)
  77. 21 November 1902 (VIII)
  78. 21 November 1902 (X)
  79. 12 Desember 1902 (VIII)
  80. SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1903
  81. 3 Januari 1903 (VII)
  82. 14 Januari 1903 (IX)
  83. 17 Januari 1903 (VII)
  84. 25 Januari 1903 (IX)
  85. 27 Januari 1903 (X)
  86. 31 Januari 1903 (X)
  87. 1 Februari 1903 (IX)
  88. 4 Maret 1903 (VIII)
  89. 9 Maret 1903 (VIII)
  90. 19 April 1903 (IX)
  91. 25 April 1903 (I)
  92. 14 Mei 1903 (IX)
  93. 7 Juni 1903 (VIII)
  94. 27 Juni 1903 (IV)
  95. 4 Juli 1903 (VIII)
  96. 5 Juli 1903 (VI)
  97. 7 Juli 1903 (VIII)
  98. 24 Juli 1903 (VIII)
  99. 1 Augustus 1903 (VII)
  100. 1 Augustus 1903 (VIII)
  101. 8 Augustus 1903 (VIII)
  102. 25 Augustus 1903 (VIII)
  103. 19 Oktober 1903 (VIII)
  104. 3 November 1903 (VIII)
  105. 7 November 1903 (VIII)
  106. Rembang, 11 Desember 1903 (VIII dan IX)
  107. SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1904
  108. Rembang, 6 Maret 1904 (VIII)
  109. Rembang, 10 April 1904 (III)
  110. Rembang, 8 Juni 1904 (VIII)
  111. Rembang, 30 Juni 1904 (VIII)
  112. Rembang, 17 Juli 1904 (VIII)
  113. Rembang, 10 Augustus 1904 (VIII)
  114. Rembang, 24 Augustus 1904 (VIII)
  115. Rembang, 7 September 1904 (VIII)
  116. BUAH PIKIRAN YANG DIPETIK DARI SURAT-SURATNYA YANG TIADA DISIARKAN
  117. PERINGATAN RADEN AJENG KARTINI, YANG TERLUKIS DALAM SUATU SURAT, YANG BERKEPALA:BERILAH ORANG JAWA PENDIDIKAN!
  118. Jepara, Januari 1903
  119. UNCOPYRIGHT

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

BUAH PIKIRAN RADEN AJENG KARTINI

R. A. KARTINI


KOLOFON

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

BUAH PIKIRAN RADEN AJENG KARTINI

karya

R. A. KARTINI



Dimelayukan oleh: Empat Saudara

Dikeluarkan oleh: Balai Pustaka 1922

© 2025 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: delpher.nl

Ilustrasi sampul: Woman with Candle (Frau mit Kerze) 1920, karya Max Beckmann

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



KARTINI


MUKA

Angka-angka Romawi yang dicetak di belakang angka-angka tahun, menunjukkan nama-nama orang tempat R. A. Kartini berkirim surat; orang-orang itu ialah:

I. Nona E. H. Zeehandelaar, sekarang nyonya Hartshalt.

II. Nyonya M. C. E. Ovink-Sur.

III. Tuan dan nyonya Prof. Dr. G. K. Anton di Jena* (tanah Jerman).

IV. Tuan Dr. N. Adriani.

V. Nyonya H. G. de Booij-Boissevain.

VI. Tuan H. H. van Kol.

VII. Nyonya N. van Kol.

VIII. Nyonya R. M. Abendanon-Mandiri.

IX. Tuan Mr. J. H. Abendanon.

X. Tuan E. C. Abendanon.

*) Tuan Anton guru Sekolah Tinggi di Jena dan nyonya Anton, bangsa Belanda, singgah pula ke Jepara, tatkala membuat perjalanan di pulau Jawa.


PERMULAAN KALAM

Penduduk tanah Hindia tentu banyak yang kenal akan S. P. tuan Mr. Abendanon, Directeur van Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid, yang telah berhenti dan sekarang bertempat di kota den Haag di tanah Belanda. Tuan itu seorang Belanda yang tak tahu akan jeri payah, jika akan bekerjauntuck menolong memajukan tanah Hindia dan penduduknya. Sejak dahulu waktu yang mulia masih di Hindia, sampai sekarang di tanah Belanda selalu beliau berusaha dengan sekuat-keoatnya untuk kebaikan dan keselamatan Bumiputera tanah Hindia. Siapa yang dahulu membaca surat kobar Bintang Hindia, tentulah ada membaca buah pikiran tuan Abendanon semasa beliau masih menjabat pangkat Directeur van O. E. en N. di Hindia. Buah pikiran tuan itu diurai dan dipaparkan oleh engku Dr. Abdul Rivai yang dewasa itu menjadi Hoofdredacteur s.k. Bintang Hindia.

Banyaklah jasa dan kebaikan tuan Abendanon kepada kita penduduk tanah Hindia; tetapi hal itu tak usahlah diperbintangkan lebih lanjut; hanyalah satu dari pada kebaikannya itu yang perlu dipaparkan dan yang berguna untuk kita ini. Tuan Abendanon sesuai sekali pikirannya dengan Raden Ajeng Kartini tentang maksud hendak memajukan tanah Hindia. Pertimbangannya itu ialah:

“Jikalau sekiranya tanah Hindia betul-betul hendak dimajukan, bukanlah laki-laki saja, tetapi perempuan-perempuan bangsa Bumiputera pun wajiblah dimajukan pula, karena dari pada perempuanlah keluar bermula-mula pendidikan akan anak-anak yang kelak akan menjadi besar. Oleh sebab itu haruslah pula perempuan beroleh pendidikan yang baik dan berbudi pekerti yang sempurna.”

Buah pikiran itulah menyuruh tuan Abendanon mengumpulkan surat-surat R. A. Kartini, dan menjadikan dia sebuah kitab dan menyuruh mencetak kitab itu, supaya bangsa Belanda boleh tahu hal-hal apakah yang dapat memajukan penduduk tanah Hindia. Tetapi pekerjaan itu belumlah cukup, bila bangsa Belanda saja mengetahui hal itu; bangsa R. A. Kartini sendiri pun wajib pula mengetahui apa yang patut diperbuat oleh mereka itu untuk memajukan diri mereka itu sendiri. Oleh karena itulah, tuan Abendanon meminta kepada kami menerbitkan kitab ini dengan bahasa Melayu,

Pekerjaan menerjemahkan itu suatu pekerjaan yang berat; Sungguhpun demikian, kami tak dapat menolak permintaan itu, karena hal itu kami pandang suatu kewajiban pada kami dan harus dengan segera kami lakukan.

Setelah pikiran kami bulat akan mengerjakan pekerjaan yang berat itu, maka kami hadapkan permintaan kepada Commissie voor de Volkslectuur di Betawi, kalau-kalau Commissie itu suka mencetak kitab yang hendak diterjemahkan itu. Pada bulan Februari 1917 kami mendapat surat dari Commissie yang tersebut, bahwa dengan segala suka hati majelis itu sudi mencetak kitab ini. Dengan besar hati tuan Abendanon serta kami pun mengucapkan terima kasih kepada Commissie voor de Volkslectuur atas kesudian itu.

Kepada bangsa kami, bangsa Hindia, kami berharap dan meminta, supaya ia akan mempunyaai kitab ini dan membacanya sungguh-sungguh.

Akhirnya kami hadapkan pena kami kepada pembaca-pembaca kitab ini serta kami minta pertolongan, mudah-mudahan tuan-tuan sudi akan memberi tahukan kepada kami kesalahan yang terdapat dalam kitab ini, supaya pada cetakan yang kedua kesalahan itu dapat diubah.

PENYALIN


PENDAHULUAN

Pada 8 Augustus 1900 saya datang ke Jepara bersama-sama dengan istri saya. Waktu itu saya menjabat pangkat Directeur van Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid. Maksud saya pergi ke Jepara hendak membicarakan dengan marhum regen Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan isterinya, raden ayu serta anak-anaknya yang perempuan, bagaimana patutnya dan apa akal akan meluaskan pemandangan dan mempertinggi pikiran anak-anak perempuan Ya-wa yang bangsawan dan anak orang kebanyakan.

Hari itu ialah hari yang tak mudah kami lupakan dalam hidup kami.

Adapun berkenalan dengan regen itu dan raden ayunya menyenangkan hati kami sekali; akan tetapi yang terlebih-lebih meriangkan hati kami ialah anak-anak perempuan bupati yang peramah itu, apalagi pertemuan dengan ketiga orang anak perempuannya yang tertua yang seolah-olah tiga setangkai seperti daun laiknya, sangat menggirangkan hati kami. Akan anak-anak perempuannya yang lebih muda pada masa itu masih kecil-kecil.

Kira-kira sebulan kemudian dari pada itu datanglah regen itu dengan raden ayu serta ketiga anak perempuannya yang molek itu ke Betawi menjelang kami dan tinggal beberapa hari di rumah kami. Waktu itulah persahabatan kami bertambah rapat, yang seorang lebih mengenal dan lebih menghargai akan scorang; maka yang jadi akibat perkenalan itu: sejak itu kami setia berkirim-kiriman surat; lebih-lebih dengan yang tertua dari ketiga anak perempuan itu, yaitu Raden Ajeng Kartini, kami selalu berbalas-balasan surat.

Maka surat-suratnyalah pula yang terlebih menarik hati kami, karena dalam pikirannya, tinggi hematnya dan halus perasaannya serta kras kehendaknya akan memajukan bangsa Jawa, lebih-lebih akan memajukan perempuan bangsa Jawa.

Karena itu kami pun hati-hati sekali membalas suratnya itu, sebab kami merasa beratnya tanggungan yang terpikul atas kami dalam membalas surat-surat itu.

Bahwa sanya mudah sekali turut menjaring angin bersama-sama dengan orang yang besar cita-citanya. Akan tetapi karena cita-cita itu tidak dapat dicapai dengan tidak meresakkan barang sesuatu yang telah berzaman-zaman lamanya, wajiblah atas tiap-tiap orang mengurangi cita-citanya itu.

Besarnya bahaya merusakkan barang yang telah berurat-berakar itu, tidak terkirakan. Dan kalau kejadiannya mendukacitakan, maka dukacita itu tiada selamanya dapat dihilangkan orang. Itulah sebabnya maka kerap kali kami terpaksa menahan hati kami, Sungguhpun sebenarnya kami lebih suka sama-sama bergirang hati dengan R. A. Kartini dan saudara-saudaranya dalam hal memuliakan cita-cita mereka itu.

R. A. Kartini sendiri merasa berat tanggungannya dalam hal membiarkan saudara-saudaranya yang perempuan bersama-sama bekerja dengan dia akan menyampaikan maksudnya itu: “Saya tahu, jalan yang saya hendak jalani dan turuti ialah suatu jalan yang susah, yang penuh ditaburi dengan duri dan ranjau, dan banyak lekuk-lekaknya; jalan itu sangat berbatu-batu, turun naik dan licin; ya, jalan itu belum lagi ditebas.”

Tetapi saudara-saudaranya menghiburkan dia dengan perkataan ini: “Bukan kakanda, bukan orang lain yang dapat memberi kami cita-cita, jika benihnya tidak ada pada kami sendiri. Bagaimanapun juga kita pergi bersama-sama, baik ke surga Ataupun ke neraka.”

Adapun yang disukai R. A. Kartini pengetahuan, supaya mudah ia dapat menjalankan pekerjaannya yang telah di-janjikannya dalam hatinya sendiri, yaitu menambahi kepan-daian dan budi perempuan Jawa, supaya ia cakap memelihara anak-anaknya. Lain dari pada itu melepaskan anak perempuan Jawa dari pada kawin terpaksa dan dari segala gangguan yang mengurangi kebebasan si anak itu. Dengan cara demikian R. A. Kartini hendak menyampaikan maksudnya, supaya perempuan-perempuan menjadi sahabat yang berharga untuk suaminya. Dalam pada itu berapa pun keras hati R. A. Kartini hendak menyampaikan niatnya itu, ia-pun sekali-kali tidaklah mau mendukacitakan ayahanda yang dicintainya.

Adapun perbedaan Kartini dengan ayahandanya, hanyalah dalam perkara ini saja, yaitu karena R. A. Kartini hendak bebas sama sekali dari pada adat-adat yang lama. Datangnya perbedaan itu mudah dipikirkan, yaitu R. A. Kartini berdiri lebih jauh dari adat yang lama-lama itu dari pada ayahandanya. Adapun ayahandanya itu anak pengeran Demak yang toca; dari mudanya ia mendapat pelajaran bangsa Eropa seperti saudara-saudaranya juga; di antara saudara-saudaranya itu hanyalah regen Demak, Pengeran Ario Hadiningrat, yang masih hidup. Bagaimana Sekalipun bebas pikiran ayahanda R.A. Kartini, si bapak tak dapat juga menuruti kehendak si anak, Sungguhpun si bapak telah banyak pula mengu-bahi adat-adat yang lama itu. Sepanjang pikiran R. A. Kartini, dinding yang membatasi zaman dulu dan zaman sekarang tak ada lagi, pada hal dinding yang tersebut masih berdiri; kerap kali ia tertumbuk pada dinding itu, bila diketahuinya, banyak di antara orang-orang yang dicintainya tidak dapat diubahnya pikirannya menurut kemauannya.

Demikianlah hal itu selama-lamanya, bila si pembuka jalan memandang kepada mereka itu, yang belum dapat membaskan dirinya dari pada pikiran yang lama-lama. Akan R. A. Kartini tiadalah sia-sia menggerakkan dinding yang di atas itu. Bukan saja ayahandanya dapat diputar oleh R. A. Kartini menurut pikiran yang baru itu, tetapi bundanyapupen akhirnya membenarkan pikiran R. A. Kartini. Akhirnya raden ayu menjadi sepakat dengan pikiran yang menuju kema-juan itu; karena pikiran itulah raden ayu menjadi lebih mencintai dan menyayangi anak-anaknya, dan jalan itulah selalu diturutnya sampai sekarang. Saudara perempuan Kartini yang tua yang lebih dulu bersuami pun akhirnya membenarkan buah pikiran Kartini, Sungguhpun pada permulaannya ia membantahi pikiran itu dengan keras. Demikian pula saudara-saudaranya yang laki-laki mengiakan pikiran yang mulia itu.

Lama-kelamaan buah pikiran Kartini itu tentu makin dimuliakan orang dan mendapat kemenangan, dan Kartini pun tidaklah sia-sia bekerja dan menanggungkan kesusahan karena buah pikirannya itu.

Dengan segera tanah Belanda telah menarik hati R. A. Kartini; ia berkehendak bertukar pikiran dengan anak-anak perempuan di Eropa; untu menyampaikan kehendaknya itu dimasukkannya surat ajakan dalam sebuah surat-bulanan perempuan. Itulah sebabnya ia berkirim-kiriman surat dengan nona Estelle H. Zeehandelaar, sekaranng nyonya Hartshalt. Dengan lekas kedua anak perempuan itu menjadi bersahabat dan yang seorang mempercayai yang lain, Sungguhpun mereka itu belum pernah berjumpa. Lain dari pada itu banyak lagi orang tempat R. A. Kartini berkirim surat di Eropa. Beberapa orang dari pada mereka itu saya ketahui namanya. Dari mereka itulah dapat saya menyalin surat-surat Kartini yang berguna akan dicetak.

Istri saya, anak saya E. C. dan saya sendiri pun banyak pula menerima surat Kartini. Seberapa yang perlu surat-surat itu pun disalin dan diaturkan. Mengaturkanya itu menurut hari bulan surat-surat itu.

Lagi pula saya telah mendapat izin akan menyuruh cetak surat-surat itu dari pada Raden Adipati Ario Jojo Adi Ningrat, regen Rembang, yaitu suami R. A. Kartini dan dari bundanya Raden Ayu Adipati Ario Sosroningrat, janda bapaknya yang baru berpulang ke rahmatullah.

Dan lagi pula saya tahu, bahasa saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan tak ada sangkutan baginya menyuruh cetak surat-surat itu.

Akhirnya saya percaya sungguh, bahwa mengeluarkan segala buah pikirannya itu akan banyak menolong menyampai-kan cita-citanya yang terdapat pada hati nuraninya itu.

Saya tak akan memberi tahukan segala surat-suratnya yang dipercayakannya kepada saya dan tidak pula segala isi surat-surat itu, hanyalah sebagian saja saya suruh salin, karena menurut pikiran saya bagian itu akan diizinkan juga oleh R. A. Kartini mengeluarkannya. Hanyalah surat-suratnya yang kesudahan sekali saya suruh cetak semuanya, karena surat-surat itu adalah seolah-olah ucapan selamat tinggal kepada negeri yang fana ini.

Dari segala surat-suratnya yang tak dicetak seluruhnya adalah beberapa pikirannya yang pandak yang dijadikan satu, dicetak di belakang surat-surat itu.

Lukisan-lukisan yang dalam kitab ini ialah rumah regen Jepara, rumah tempat R. A. Kartini berperang dalam kehidupan beberapa tahun lamanya dan ada lagi beberapa tempat lain-lain yang dinamainya “sudut yang dilupakan”, yang terutama yaitu Laut Bulu Ujung di Jepara atau “Scheveningen kecil” yang dicintainya, tempat ia duduk bersaat-saat menanggungkan kesedihan hatinya, dan di tempat itulah pula ia merasa kesukaan yang menyuruhnya meminta terima kasih.

Lukisan Kartini yang ditanda tangani sendiri itu dikirim-kannya kepada kami pada tahun 1902, yaitu pada lukisannya bertiga bersaudara yang hampir sama besar itu.

Gambar-gambar yang lain diperbuat dengan pinsil oleh “bunda” (Nyonya Abendanon). Bunda itu baru ini mencoba menggambar-gambar itu, karena kasih dan cintanya kepada Kartini juga.

Ke dalam kitab ini ditambahkan pula sebuah surat periugatan yang dikarangkan oleh R. A. Kartini dan dengan segala suka hati telah diberikan kepada saya oleh nyonya A. Buyn-Glaser yang dahulu menjadi guru perempuan di Jepara dan sahabat kepada Kartini serta kedua saudaranya.

Maksud kitab ini dicetak lain dari pada menerbitkan kesukaan hati, ialah akan meminta pertolongan orang banyak untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak gadis bangsa priayi seperti yang dimaksud oleh R. A. Kartini, mula-mula berdikit-dikit dan lambat launnya dibesarkan dan diluaskan dengan kekuatan sendiri. Pada sekolah itu haruslah anak-anak sanggup membuat ujian guru pembantu untuk pengajaran Bumiputera.

Sekalian keuntungan yang akan saya terima dari tukang cetak, akan dipergunakan untuk mendirikan sekolah Raden Ajeng Kartini; sebagian dari pada uang untuk mendirikan itu sudahlah tersedia.

Tambahan lagi, bila kitab ini telah dicetak, maksud saya hendak meminta pertolongan kepada beberapa nyonya akan mendirikan sebuah komisi yang akan mengumpulkan uang untuk mendirikan sekolah itu pada sebuah negeri yang sehat di Jawa Tengah. Saya berharap uang yang diberikan oleh pihak partikelir akan ditambah dan ditolong oleh Pemerintah dengan uang bantuan.

Kabar kawat yang mewartakan wafat Kartini yang tak disangka-sangka pada 17 September 1904, mendatangkan suatu kedukaan yang amat sangat kepada kami. Adalah serasa kami kehilangan anak kandung sendiri. Bagaimana kedukaan sahabat kenalannya yang lain-lain dapatlah dibaca orang dalam surat bulanan Hollandskhe Lelie pada 30 November; dalam surat kabar itu nyonya Ovink-Sur meratapi Kartini yang disayanginya itu, demikian bunyinya: “Tak lain yang saya lihat dari padamu hanyalah kesucian hatimu saja, Kartini. Engkau selalu mengurbankan dirimu untuk keselamatan orang lain, selalu engkau pandang kesejahteraan orang lain itu lebih perlu dari pada untung dan keselamatanmu sendiri. Saya berharap mudah-mudahan anak yang engkau tinggalkan itu bukan saja akan jadi seorang terpelajar dan budiman, tetapi akan menjadi seorang mulia seperti bundanya juga. Engkau akan selalu tinggal menjadi ingat-ingatan pada saya.”

Demikian pula Augusta de Wit menguraikan hal keadaan hidup Kartini dalam surat kabar hari-hari dan nyonya Nellie van Kol menulis sepucuk surat kepada Regen Raden Adi Pati Ario Jojo Adi Ningrat. Atas permintaan juru kabar Locomotief di Semarang telah disiarkan surat itu dalam surat kabar yang tersebut. Yang sebenarnya isi surat itu nyonya itu berharap, supaya Raden Mas Sienggih berusia panjang dan menjadi seorang yang senilai dengan bundanya yang ternama itu.

Kepada sekalian yang dikatakan itu saya hendak menambahkan ini sedikit: “Buah pikiran pahlawan yang mulia itu tentu akan menghiasi namanya sendiri. Pada sekalian orang tentu akan terbit pikiran yang sama duka mengingat, betapa

Kartini, orang yang mengorbankan hidupnya kepada kemajuan bangsanya itu hanya beberapa hari saja dapat memelihara anak kandungnya. Tetapi nama ibunya itu tentu akan mengingatkan si anak itu kepada kewajiban yang tertanggung di atas bahunya.”

Bahwa sanya nama Kartini itu tentulah akan tinggal memberi berkat kepada bangsa Jawa dan bangsa lain-lain pun di tanah Hindia. Kepada bangsa-bangsa itu adalah Kartini itu sebagai fajar yang sedang menyingsing yang menunjukkan jalan dari tempat kegelapan kepada cahaya kemajuan yang terang-benderang, yani kemajuan yang hanya dapat diperoleh dengan meninggalkan pikiran dan memuliakan kalbu nurani.

Kepada bangsa kulit putih pun pastilah nama itu akan memberi berkat pula. Ialah yang telah mendekatkan bangsa itu dengan buah pikirannya kepada bangsanya sendiri.

Mr. J. H. ABENDANON.

's-Gravenhage, April 1911.


SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1899

JALAN BESAR DI ANTARA DEPOK DAN BOGOR

Jepara, 25 Mei 1899 (I)

Saya sangat beringin hendak berkenalan dengan seorang “gadis kaum muda”, anak gadis yang cakap dan sanggup tegak sendiri, yang cepat kaki ringan tangan serta berani menentang kehidupan dengan hati yang riang dan pikiran yang suka, lagi dengan gembira dan keras hatinya bekerja, bukan untuk keuntungan dan keselamatan dirinya sendiri saja, tetapi suka mengurbankan diri akan guna keperluan dan keselamatan orang banyak juga. Itulah anak gadis yang saya sukai. Saya beriang hati, bersuka raya, menyambut zaman yang baru, bahkan saya dapat katakan, yang saya, kalau menilik pikiran dan perasaanku, tak hidup lagi bersama-sama dengan bangsa Hindia, melainkan adalah pikiran dan perasaanku itu sesuai betul dengan saudara-saudaraku bangsa kulit putih yang masuk kaum kemajuan di tanah Eropa yang jauh itu.

Jikalau kiranya adat lembaga tanah airku mengizinkan saya berbuat sedemikian, tak adalah yang lain yang lebih saya sukai, melainkan turut berusaha untuk kemajuan perempuan kaum muda di tanah Eropa. Tetapi adat lembaga yang telah berzaman-zaman usianya itu, yang tak mudah dihilangkan dan ditinggalkan itu, mengikat dan merantai kaki kami dengan tangannya yang kukuh. Tentu pada suatu ketika kami akan terlepas dari pada belenggu itu, tetapi waktu itu masih jauh, ya, teramat jauh antaranya pada kami.

Yang ia akan datang, tahulah saya, tetapi datangnya itu tiga, empat keteruran kemudian dari pada kami. Saya kira, tak dapat tuan mengirakan betapa sedihnya hati kami dalam hal serupa ini: hati kami cinta dan asyik sekali memandang zaman yang baru, yaitu zamanmu, zaman yang disukai hati jantungku, pada hal kaki dan tangan kami masih terikat terbelenggu oleh adat lembaga, adat pusaka tanah air kami, yang belum boleh lagi kami tinggalkan saja. Akan adat lembaga, adat pusaka negeri kami itu berlainan benar dengan kemauan zaman baru, yang hendak saya masukkan ke dalam dunia bangsa kami. Siang dan malam saya pikir dan heningkan daya upaya, supaya saya dapat meluputkan diriku dari adat-adat lembaga tanah airku yang keras itu, tetapi pahamku tertumbuk juga.

Bukan karena adat-adat lembaga bangsa Timur yang lama itu kuat dan kukhu, kalau itu saja tentu akan dapat saya melebur, menghancurkannya akan melepaskan diriku. Tetapi ada lagi suatu ikatan yang lebih kuat dan teguh dari adat-adat yang telah berzaman-zaman itu, yang menambatkan saya pada duniaku. Adapun ikatan itu yaitu percintaan yang ada padaku akan mereka, yang melahir menghidupkan daku, yang memelihara dan membesarkan daku. Bolehkah sasa memilukan hati mereka, yang selama hidupku selalu memberi dan menunjukkan kesayangan dan kebaikan padaku serta yang memelihara saya dengan bersusah payah itu? Adakah hak saya akan itu? Hati mereka itu akan saya rusakkan sekali, bila saya menurutkan kehendak hatiku itu, bila saya kerjakan perbuatan yang diingini seluruh tubuhku itu, tiap helai bulu, setiap saat, sepanjang waktu.

Bukan saja suara-suara, yang dari luar, dari Eropa, negeri yang beradat halus dan yang penduduknya sudah ter-pelajar itu masuk kehatiku dan menyebabkan saya beringin akan perubahan tentang hal keadaan yang ada sekarang ini, tetapi waktu saya masih kanak-kanak pun, tatkala perkataan “kemerdekaan” belum saya dengar, belum saya ketahui artinya, serta surat-surat dan kitab-kitab tentang hal itu masih jauh dari padaku, sudah ada juga biji keinginan dalam hatiku yang makin lama makin besar itu, yaitu: keinginan akan kebebasan, kemerdekaan dan tegak sendiri. Adapun yang membangunkan keinginan itu ialah keadaan yang kulihat berkelilingku yang menyedihkan hatiku, dan mencucurkan air mataku, karena kedukaan yang tak berhingga.

Dan suara-suara, yang selalu datang dari luar, yang semakin lama semakin keras tibanya kepadaku, menyebabkan tumbuhnya bibit keinginan itu dan ditambah oleh perasaan turut berdukacita dengan orang lain yang saya sayangi amat sangat, sampai pada hati kecilku; akhirnya bibit itu telah berurat berakar dan tumbuh dengan suburnya.

SEKOLAH RENDAH DI JEPARA

Tetapi hingga inilah perkara itu dulu, kemudian hari dihubung pula. Sekarang saya hendak menceritakan tentang diriku sendiri kepada tuan, seolah-olah akan berkenalan. Adapun saya ini anak perempuan yang kedua oleh regen Jepara; saudara saya ada lima orang laki-laki dan lima orang perempuan. Kekayaan besar, bukan? Marhum neneku, Pengeran Ario Condronegoro, regen Demak, seorang yang suka akan kemajuan, ialah regen yang pertama-tama sekali di Jawa Tengah, yang membukakan pintu rumahnya untuk jamu yang jauh datang dari seberang lautan: yaitu kemajuan orang Eropa. Sekalian anak-anaknya yang pendidikan yna cara Eropa semuanya, memusakai kemajuan bapak mereka itu setelah mereka itu menjadi bapak pula, memberi anak-anaknya pendidikan serupa pendidikan yang telah diterimanya sendiri dulu. Banyak anak-anak bapak mudaku dan kakak-kakakku telah menamatkan sekolah menengah (H.B.S.), sebuah sekolah yang setinggi-tingginya, yang ada di tanah airku, dan kakakku laki-laki yang muda sekali (dia ada tiga orang) telah lebih dari tiga tahun di tanah Belanda, belajar untuk melanjutkan kepandaiannya, dan dua orang yang lain itu telah menjabat pangkat pada Gubernemen. Kami anak-anak perempuan yang terikat kaki tangan kami oleh adat-adat adat kuno tadi, hanyalah sedikit-sedikit boleh merasai kelazatan kemajuan tentang pengajaran itu; sebenarnya kami anak-anak perempuan, keluar pergi belajar dan setiap hari meninggalkan rumah pergi ke sekolah itu sudah suatu kesalahan yang besar pada adat lembaga yang kuno itu. Karena adat tanah air kami melarang anak-anak perempuan pergi keluar rumahnya. Pergi ke negeri lain kami pun tak boleh, sedang sekolah yang ada di negeri kami yang kecil ini hanya sekolah rendah yang biasa, sekolah Belanda Gubernemen. Waktu saya telah berumur dua belas tahun, maka saya dikeluarkan dari sekolah itu. Saya wajib masuk “ku-rungan”, saya ditutup di dalam rumah dan sekali-kali tidak boleh keluar lagi. Kami tidak boleh lebih dahulu keluar dari rumah, kalau tidak bersama-sama dengan seorang suami, seorang laki-laki yang tidak kami kenal, yang dipilih oleh orang tua kami untuk kami dan dengan si laki-laki itu kami dikawinkan dengan tidak setahu kami. Sahabat kenalan kami orang-orang Belanda—sepanjang pendengaran saya kemu-dian harinya—telah mencoba dengan bermacam-macam daya upaya akan mengubahkan pikiran orang tua saya, supaya diubahnya keputusan yang bengis, yang ditetapkan atas diriku itu, seorang anak yang masih kecil dan manja, tetapi usaha mereka itu sia-sia saja. Orang tuaku tak mendengarkan pikiran mereka itu—saya terus dimasukkan ke dalam kurunganku. Empat tahun lamanya saya tinggal berkhalwat di antara empat dinding yang tebal itu dengan tiada pernah keluar-keluar sekali jua pun. Bagaimana saya menghabiskan waktu empat tahun itu di tempat itu, tak tahulah saya lagi—hanya yang saya ketahui, bahasa waktu itu amat sengsara adanya.

Suatu keuntungan yang amat besar bagiku, hanyalah karena aku tidak dilarang membaca kitab-kitab bahasa Belanda dan berkirim-kiriman surat dengan sahabat-sahabatku bangsa Belanda. Itulah saja yang menyenangkan hatiku dalam waktu yang sial dan mendukacitakan itu dan itulah saja tempat aku bergantung; kalau tiada barang yang dua perkara itu, barangkali sampai ajalku atau lebih dari pada itu—yaitu pikiranku barangkali boleh hilang sama sekali karena itu. Untunlah datang penolong dan pelindungku, yaitu perubahan zaman membunyikan langkahnya yang keras dan dahsyat itu. Kedatangan waktu yang baru menggoyangkan gedung-gedung adat yang kukuh-kukuh dan tua-tua dari sendinya dan membuka pintu-pintu gedung itu, yang dikunci dan dijaga kuat-kuat itu. Setengahnya terbuka sendirinya dan ada pula yang dibuka dengan kekerasan, tetapi terbuka mesti, tidak boleh tidak. Dari pintu-pintu yang terbuka itulah masuk jamu yang tak disukai itu ke dalam gedung-gedung itu. Pada sekalian tempat yang ditempuh si jamu itu kelihatanlah selalu bekas jejaknya. Adapun si jamu itu ialah ilmu kepandaian bangsa Eropa. Akhirnya, ketika saya telah berumur 16 tahun, bolehlah pula saya keluar rumah. Syukur! beribu syukur! Seperti seorang bebas bolehlah meninggalkan penjaraku dan kaki tanganku tiadalah tertambat kepada seorang suami yang dipaksakan sa-ya kepada saya.

Enam bulan kemudian dari pada itu baru saya boleh pergi keluar rumah pula; sudah itu terjadilah berturut-turut beberapa kejadian, yang makin lama makin banyak memberi kebebasan kami kembali yang dulu telah lenyap itu, dan tahun yang lalu, waktu raja kita yang muda, raja Belanda, naik nobat, maka orang tua kami menganugerahkan kebebasan itu kembali dengan berterang-terang.

Waktu itulah yang pertama-tama kali selama kami hidup, kami boleh meninggalkan tempat tumpah darah kami dan bersama-sama pergi ke ibu negeri, akan menghadiri alat keramaian untuk memuliakan hari raja Belanda dinobatkan itu. Hal itu ialah suatu kemenangan lagi yang patut kami harga dan kami pun tak lupa menghargainya. Maka hendaklah tuan ketahui, bahwa anak-anak gadis orang patut-patut di negeri kami bila berjalan keluar di muka orang banyak, tentulah anak negeri tercengang-cengang melihat yang demikian. Orang yang panjang lidah tentulah akan ramai mempertuurkan kejadian yang aib itu, tetapi sahabat kenalan kami bangsa Eropa bersorak, beriang hati dan kami merasa beruntung sekali, ya, lebih beruntung dari pada makhluk yang seberuntung-beruntungnya di dunia ini.

Tetapi saya belum berpuas hati, sekali-kali belum. Lebih banyak, ya, lebih banyak lagi saya kehendaki kebebasan itu. Bukan, bukan keramaian, bukan kesukaan yang saya ingini dalam mencintai kebebasan itu. Maksud saya bebas ialah supaya boleh tegak sendiri dan tidak bergantung pada orang lain, serta ... sekali-kali tidak akan kawin, karena terpaksa saja.

Tetapi kami wajib kawin, wajib, wajib. Tiada bersuami ialah suatu dosa yang sebesar-besarnya yang dapat dibuat oleh seorang perempuan yang beragama Islam dan suatu malu yang sebesar-besarnya bagi seorang anak gadis Bumi-putra dan sanak saudaranya.

Kawin di negeri kami ialah suatu kesengsaraan besar; sebenarnya kata kesengsaraan belum lagi sampai kerasnya. Bagaimana perkawinan tidak akan jadi kesengsaraan, kalau hu-kum dan adat semuanya memberi hak kepada laki-laki saja, perempuan sedikit pun tiada? Dan tak heran hal yang demikian, jika adat dan agama keduanya untuk si laki-laki; semuanya diberikan dan diizinkan kepadanya?

Cinta. Apakah yang kami ketahui tentang perkara cinta. Bagaimanakah kami dapat mencintai seorang laki-laki dan si laki-laki mencintai kami, jikalau kami tiada berkenalan seorang dengan yang lain, ya, sedangkan melihat si laki-laki kami tak boleh? Anak-anak gadis dan anak laki-laki dipercepat-raikan benar-benar.

Ya, dengan segala suka hati saya hendak mendengar sekalian hal keadaan pekerjaan tuan, pekerjaan itu rupanya amat bagus pada perasaan saya. Dan sukakah tuan menceritakan kepadaku segala pengajaran dan sekolah, yang bergun untuk menjadi yang demikian? Lagi pula saya amat suka mendengarkan lebih lanjut cerita Toynbee-avonjes, demikian pula cerita tentang geheel-onthoudersbond = perserikatan orang yang tak suka minuman keras; dalam perserikatan itu tuan pun menjadi anggota yang berusaha sekali rupanya. Sekalian hal yang macam itu tak adalah pada kami di Hindia. Tetapi saya suka benar mengetahui hal itu.

Sukakah tuan nanti menceritakan kisah Toynbee-avonjes itu kepada saya? Saya ingin benar hendak mendengar lebih banyak kebaikan kerja itu untu kita sesama manusia, lebih banyak dari pada yang dikisahkan oleh surat-surat kabar hari-hari, dan surat mingguan dan bulanan dengan pandak saja.

Dalam dunia penduduk Bumiputera beruntunglah belum ada penyakit minuman keras itu akan diperangi—tetapi saya takut, saya takut, bila kemajuan bangsa Eropa telah berurat berakar pula di negeri kami, kami pun nanti akan menanggungkan kejahatan minuman keras itu pula—maafkan saya karena hal ini—Kemajuan bangsa Eropa ialah suatu berkat bagi kami, tetapi dalam itu ada pula keburukannya, menurut pikiranku. Kesukaan hendak meniru-niru sudah teradat pada manusia. Rakyat yang kebanyakan biasanya suka meniru adat-adat orang baik,—orang baik-baik itu meneladani orang bangsawan yang lebih tinggi pula dan bangsawan itu akhirnya mengambil dari pada orang yang beradat halus sekali, yaitu: orang Eropa.

Suatu peralatan tiadalah sejati, bila pada peralatan itu orang tidak minum minuman yang keras-keras. Sekarang orang selalu melihat pada peralatan bangsa Bumiputera, sebuah botol yang empat segi atau lebih dari sebuah, yang tiada dengan hemat dituangkan oleh mereka itu ke dalam mulutnya. Bumiputera yang demikian ialah mereka yang kurang koat memegang agamanya—kebanyakan anak Bumiputera menjadi Islam, hanyalah sebab bapak dan nenek moyangnya beragama Islam; yang sebenarnya mereka itu tak berapalah lebih kurangnya dari pada orang yang tiada beragama.

Sebuah benda yang jahat, lebih jahat, teramat jahat lagi dari pada alkohol di sini ialah candu. O, betapa besar kece-lakaan yang dibawa oleh benda yang jahat itu ke negeriku, kepada bangsaku, tak dapatlah dikatakan. Candu penyakit pest yang seganas-ganasnya di tanah Jawa, ya, candu jauh lebih jahat lagi dari pada pest. Penyakit pest tidak selalu berjangkit, dan lambat laocennya penyakit itu dapatlah di-jauhkan, tetapi penyakit yang disebabkan oleh candu makin lama makin hebat dan semakin lama semakin berjangkit, dan tiada akan dapat, ya, sekali-kali tak dapat dihilangkan. Sebabnya? Mudah saja; karena candu itu di bawah perlindungan Gubernemen. Makin banyak orang meminum candu, makin penuh kantung uang Gubernemen. Memanjakan candu ialah sebuah dari mata pencarian yang terutama di tanah Hindia untu Pemerintah. Berfaedah dahit berfaedahnya perbuatan itu bagi anak negeri tidak peduli, asal Pemerintah mendapat keuntungan, habis perkara. Laknat yang jahanam itu mengisi kantung Pemerintah dengan beratusratus ribu, ya, berjuta-juta rupiah. Banyak orang mengatakan, minum candu itu bukanlah kejahatan dan kecelakaan pada anak negeri, tetapi orang yang berkata demikian, belum pernah melihat tanah Hindia, atau mata mereka itu buta akan memandang hal yang demikian.

Bukan kejahatan! Apakah dia itu pembunuhan, membakar rumah, kecurian, yang tak terhingga banyaknya itu, yang sebabnya semata-mata dari karena meminum candu? Tidak, minum candu bukan kejahatan, selama orang sanggup mengerjakannya dan ada mempunyai uang akan membeli racun yang jahanam itu; tetapi bila orang tak dapat minum itu lagi, uang pun tak ada akan pembelinya dan orang pun telah menjadi hamba candu itu, maka orang itu menjadi berbahaya dan ia pun celakalah. Perut yang lapar boleh menjadikan orang pencuri, tetapi menagih akan candu menjadikan seorang makhluk pembunuh orang. Kata orang Jawa: “Mula-mula engkau yang merasai lezat cita rasa candu itu, akhirnya dia yang menelan engkau”. Sebenar-benarnyalah perkataan itu. Sedih, sungguh sedih hati kita melihat kejahatan yang berkeliling dan kita tak berdaya akan menjauhkannya.

Kitab nyonya Gudkoop yang bagus itu telah saya baca beberapa kali. Tidak lelah saya membatta kitab itu, melainkan tiap-tiap saya ulang membattanya, selalu ia menambahi sayang saya kepadanya. Betapalah suka saya mengeluarkan wang, bila saya boleh dan dapat hidup dalam zaman Hilda itu. Alangkah baiknya, jika kami di Hindia telah sampai sejauh orang di negeri tuan itu, sehingga kitab Hilda van Suylenburg itu dapat mendatangkan gerakan yang besar, seperti gerakan yang telah disebabkan oleh kitab itu di negeri tuan! Tiadalah diindahkan buruk atau baik, asal kitab itu dapat menggerakkan hati bangsaku, bahwa bangsaku tiada tidur lagi. Waktu sekarang tanah Jawa masih dalam tidur yang nyenyak. Tetapi betapakah dapat saya kehendaki bangsaku sadar dari tidunya, kalau mereka yang harus menjadi contoh teladan untuk kami, masih menyayangi tidur yang nyenyak itu pula?

Tidak berbohong saya kalau saya katakan, bahwa kebanyakan perempuan bangsa Eropa (maksud saya bukan perempuan-perempuan bangsa Belanda, yang di tanah Belanda) yang di hindia sedikit atau tidak sekali-kali mengindahkan pekerjaan dan kemajuan saudara-saudara yang di tanah Belanda. Kejadian yang baru-baru ini dalam dunia perempuan bangsa Belanda telah menyatakan hal itu dengan seterang-terangnya. Tidakkah nyonya-nyonya bangsa Belanda di Hindia hati-hati (!) berusaha membantu Pertunjukan Perbuatan Perempuan Bangsa Belanda (Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid) di tanah Belanda? Kami pun dapat panggilan, akan bekerja bersama-sama untuk pekerjaan itu dan kami pun dengan segala suka hati menyambutnya. Pekerjaan perempuan yang besar itu menyuakkan hati saya amat sangat. Kami setuju sekali dengan perkara yang baik itu, dengan usaha perempuan-perempuan yang gagah perkasa di negeri tuan itu dan kami merasa beruntung, yang kami dapat dan boleh menolong sedikit mendirikan gunung yang besar itu, gunung yang akan dan harus memberi berkat kepada perempuan-perempuan bangsa kulit putih dan kepada perempuan bangsa kulit hitam pun. Kami pun dapat surat ajakan pula. Tetapi pada bangsa kami surat ajakan itu tak adalah gunanya, seorang pun tiada hendak menolong. Bagaimana Sekalipun kami terangkan dan paparkan kepada mereka itu, mereka itu tak mengerti juga dan tak suka juga mendengarkan perkataan kami. Dengan putus asa larilah kami kesudahannya meminta tolong kepada orang Eropa. Kepada kenalan dan bukan kenalan, kami kirim kartu pos dan tulis surat akan memohon bantuan mereka itu.

Pekerjaan kami itu sebenarnya mengadakan-adai sekali. Kami, orang Jawa, pergi kepada orang Eropa memperkatakan perkara bangsa Eropa sendiri, sombong, bukan? Orang boleh jadi marah karena hal itu kepada kami, tetapi akan kemarah-an dan lain-lainnya itu tiadalah kami pikirkan; pikiran kami, maksud kami hanyalah sebuah saja waktu itu, yaitu: bekerja dengan sekuat-kuatnya untuk perkara yang kami muliakan sampai ke dalam hati itu. Akan orang Eropa itu menolong kami sekeras-kerasnya. Rupanya mereka itu ber-suka hati, yang kami, anak-anak Jawa meminta pertolongan-nya dan barangkali ... Padalah, orang telah menolong mengasut kami dengan baiknya; sedangkan mereka, yang telah bersumpah, tiada sedikit jua hendak mengindahkan pertunjukan itu, menjadi berlemah hati dan membuka tali kantung wangnya untuk pertunjukan itu.

Hanya seorang perempuan Belanda yang amarah kepada kami, karena kami berbuat yang demikian; tetapi hal itu tiadalah kami indahkan. Sungguhpun pertolongan kami untuk pertunjukan itu akhirnya kurang menyenangkan hati kami, tetapi kami tiadalah menyesal barang sekejap mata ju pun, yang kami telah turut bersama-sama bekerja untuk pekerjaan itu. Tuan ceritakanlah kepadaku banyak-banyak tentang kerja dan haluan, pikiran dan perasaan perempuan-perempuan zaman sekarang, yang di tanah Belanda. Kami sangat menyuakai segala hal tentang gerakan perempuan-perempuan.

Sayang, saya tak tahu bahasa Perancis, Inggris dan Jerman. Adat kami tiada mengizinkan kami mempelajari bahasa-bahasa itu. Tahu berbahasa Belanda ini telah terlampau lampau amat benar. Dengan hati jantungku saya beringin hendak mempelajari bahasa-bahasa itu, melainkan supaya boleh merasai kelazatan kitab-kitab yang bagus dan banyak, yang tertulis oleh pengarang-pengarang bangsa Perancis, Inggris dan Jermaan dalam bahasa mereka itu sendiri. Meskipun salinan kitab-kitab itu baik dan bagus, tetapi salinan itu selamanya tidak sebagus asalnya. Asalnya itu selamanya lebih baik dan lebih bagus.

Kami suka sekali membaca-baca; membaca kitab-kitab yang bagus kelazatan yang sebesar-besarnya pada kami. Kami ialah adik-adikku perempuan dan saya sendiri. Kami bertiga sama-sama dibesarkan dan selalu tinggal bersama-sama. Umur kami pun berselisih satu tahun, satu tahun saja. Antara kami bertiga adalah suatu tali persahabatan yang kuat sekali. Tentu saja sekali-sekali berselisih juga pikiran kami, tetapi hal itu tiadalah sedikit juga menggoyangkan tali persaudaraan yang memperhubungkan kami bertiga. Menurut pikiranku perselisihan yang kecil-kecil itu enak sekali; maksudku, yang enak perdamaian yang terjadi sudah itu. Bukankah suatu justa yang besar adanya, jika ada orang yang berkata, bahwa ada dua orang yang selalu sepikiran dalam segala hal. Menurut pikiranku hal itu tak boleh jadi, perkataan yang demikian itu justa. Kepada tuan saya belum ceritakan, berapa umurku. Bulan yang telah lalu saya betul umur dua puluh tahun. Heran, waktu saya berumur enam belas tahun, saya rasa saya sudah seorang yang tua, dan kerap kali berdukacita; tetapi sekarang, saya berumur dua puluh tahun, saya rasa diri saya masih muda, semata-mata suka menentang kehidupan dan ... dan juga suka berperang.

Namakan sajalah saya Kartini, karena demikianlah nama-ku. Kami, orang Jawa tiada memakai nama bapak atau kelu-arga yang lain. Kartini nama kecilku sambil namaku kalau telah besar. Raden Ajeng ialah dua patah kata, yang menunjukkan gelarku. Waktu saya memberikan alamat surat untuk saya kepada Nyonya van Wermeskerken, tak dapatlah saya mengatakan kepadanya Kartini saja, hal itu tentulah mengherankan orang nanti di tanah Belanda, dan menyebutkan saya nona atau lain-lainnya di muka namaku; akan memakai gelar nona itu tak ada hakku, bukan, karena saya hanya seorang Jawa saja.

Sekarang cukuplah sudah pengetahuan tuan perihal saya, bukan? Kemudian hari saya ceritakan kepada tuan tentang hal kehidupan kami di Hindia.

Jikalau tuan hendak mengetahui barang sesuatu hal keadaan Hindia, boleh tuan tanyakan saja kepada saya; dengan segala suka hati saya akan memberi tuan keterangan tentang tanah air dan bangsaku.

Yang hendak saya ketahui yani: Kenal benarkah tuan pada nyonya Gudkoop? Kalau tuan kenal, sukakah tuan nanti menceritakan kepadaku barang sesuatu tentang hal nya? Saya sangat ingin mengetahui sesuatu tentang perempuan tinggi pikiran dan berani itu, yang sangat bersetuju dengan hati saya.

18 Augustus 1899 (I)

Banyak terima kasih atas suratmu yang panjang dan sedap itu, kata-katamu yang lemah lembut dan tulus ikhlas itu, yang meriang dan menyuckakan hatiku. Tidakkah engkau akan kecewa nanti, bila engkau mengetahui berkenalan dengan saya sebetul-betulnya? Saya sudah katakan kepadamu, yang saya tak tahu satu apa pun. Kalau saya bandingkan saya dengan engkau, terasa olehku bahwa aku ini seorang yang bebal sekali. Engkau rupanya sudah tahu benar akan gelar-gelar bangsa Jawa. Sebelum engkau menulis tentang itu kepadaku, tiadalah pernah saya pikirkan dengan sesungguhnya yang saya seperti menurut katamu anak bangsawan yang tinggi. Seorang putrikah saya? Bukan, melainkan orang biasa seperti kamu juga. Raja yang akhir sekali dari pihak bapak saya, kalau saya tak salah telah 25 turunan telah terdahulu. Akan bunda saya masih dekat perhubungannya lagi dengan raja-raja Madura. Moyangnya yang laki-laki waktu hidupnya raja yang memerintah dan neneknya yang perempuan demikian pula. Tetapi segala hal itu tak lah berharga bagi kami. Pada saya hanya dua macam bangsawan, yaitu: “Bangsawan pikiran dan bangsawan hati”. Pada pemandangan saya tiadalah orang lebih gila dan bodoh dari pada mereka yang sombong dan angkuh akan asalnya yang tinggi itu. Jaso apakah yang terkandung oleh gelaran graaf atau baron? Saya seorang yang dungu ini tak dapatlah memikirkan itu.

Bangsawan dan berbudi ialah dua buah perkataan, yang sekawan dan hampir searti betul. Kasihan pada kedua kata itu. Alangkah jahatnya hidup di dunia ini, hai bangsawan dan berbudi yang tiada menaruh kasihan memperceraikan engkau kedua untuk selama-lamanya. Bila bangsawan sela-lu seperti mananya, maka memang suatu kehormatan kepada saya, karena berasal tinggi itu; tetapi sekarang? Saya masih ingat betapa marah kami, tatkala nyonya-nyonya den Haag pada tahun y.l. menamakan kami pada Pertunjukan usaha Perempuan “putri-putri Jepara.”

Di negeri Belanda rupanya, orang menyangka, siapa juga yang datang dari tanah Hindia, yang bukannya “babu” atau “spada”, semuanya dikira orang putri atau putra raja. Bangsa Eropa di Hindia tak banyak menamakan kami “Raden Ajeng”, tetapi kebanyakan menegur kami dengan “freule.” Karena hal itu kerap kali saya putus asa. Telah beberapa kali saya katakan kepada mereka itu, yang kami bukan freule, apalagi bukan putri, tetapi mereka itu tak mau juga mendengarkan kata saya dan selalu menamakan kami “freule.” Begitu pula, baru-baru ini datang ke rumah kami seorang-orang Eropa; rupanya ia ada mendengar tentang hal kami; lalu dimintanya kepada orang tua kami, supaya ia diperkenankan dengan “putri-putri.” Permintaannya itu dikabulkan. O, alangkah besar hati kami. “Regen,” katanya lambat-lambat kepada bapak, tetapi kami pun dapat juga mendengarnya dengan terang dan bunyi suaranya nunjukkan, yang ia kecewa. “Putri”, saya sangka berpakaikan pakaian yang indah-indah, seperti pakaian bangsa Timur yang penuh bertatahkan dengan ratna mutu manikam; tetapi anak-anak tuan berpakaian sederhana saja.” Susah kami menahan gelak kami, tatkala kami mendengar itu. Dengan tiada disengajanya telah dipujinya kami dengan amat sangat. Belum pernah kami mendengar pujian orang demikian. Tak dapatlah engkau pikirkan, betapa besar hati kami, mendengar ia mengatakan kami berpakaian sederhana; kami takut sekali akan dikatakan orang sombong dan pesolek.

O, Stella, saya sangat berbesar hati, yang engkau menyamakan saya dengan sahabat-sahabatmu bangsa Belanda, dan memandang saya seperti saudara sepikiran dengan dikau. Tak lain kehendakku melainkan engkau harus menyebut namaku saja dan berengkau dan berkamu kepadaku. Lihatlah bagusnya saya telah meniru engkau.

Bila engkau bertemu dalam sceratku sebutan “tuanhamba” atau “tuan”, janganlah engkau pandang itu sebagai kekakuan, tetapi seperti kealpaan. Saya pun musuh kekakuan. Apakah gunanya bagiku adat-adat yang kaku itu? Saya gembira, yang saya dapat membuangkan adat-adat Jawa yang susah itu sementara saya bercakap-cakap padamu dalam surat ini. Adat lembaga, peraturan, yang dibuat orang itu lain tidak perkara yang menyakitkan hati saja kepada saya. Engkau tak dapat memikirkan, betapa kerasnya adat-adat ku-no yang bersimaharajalela dalam dunia bangsawan di Jawa.

Bila engkau sedikit saja menggerakkan dirimu, maka si adat kuno itu pun dengan marahnya menengok kepadamu. Di rumah kami adat-adat yang kaku-kaku itu tiadalah kami indahkan benar lagi. Yang kami muliakan perkataan:

“Kebebasan itu kegirangan.”

Pada kami, mulai dari saya, adat-adat yang kaku itu telah dihapuskan, hanya perasaan kami sendiri harus mengatakan kepada kami, sehingga mana kami boleh menuruti batas kemerdekaan itu.

Bahwa sanya adat-adat kami bangsa Jawa itu terlalu amat sukarnya. Bangsa Eropa, yang bertahun-tahun di Hindia dan lama bercampur gaul dengan orang besar-besar bangsa Jawa pun tak dapat memaklumi adat-adat bangsa Jawa itu, bila mereka itu tidak dengan sungguh-sungguh mempelajari dia. Saya terpaksa menceritakannya kepada sahabat kenalanku; tetapi bila telah sejam saya berbicara dan kerongkonganku pun telah kering, pengetahuan mereka itu masih sebanyak kepandaian anak yang baru lahir tentang perkara adat-adat kami itu.

Akan menyatakan bagaimana susahnya adat-adat kami itu, marilah saya uraikan satu dua misalnya. Adik saya perempuan atau laki-laki wajib merangkak, bila ia lalu di muka saya. Kalau adik saya duduk di atas kursi dan saya pun lalu di mukanya, harus ia menjatuhok diri duduk ke lantai dan menundukkan kepala sampai saya tak kelihatan lagi. Kepada saya tak boleh adik-adik saya itu berengkau dan berkamu, ia boleh bercakap dengan hanyalah memakai bahasa Jawa tinggi; dan sesudah tiap-tiap kalimat, yang keluar dari mulutnya, wajib ia menyembah saya, menyusun jari dan mengangkatnya ke muka. Dikalau adik-adik saya membicarakan saya dengan orang lain, wajib ia selalu memakai bahasa Jawa tinggi, demikian pula jikalau ia mempercakapkan segala barang-barang kepunyaan saya ump: pakaian, tempat duduk, tangan, kaki, mata saya dll.

Kepala saya yang mulia, tak boleh sekali-kali dirabanya; dika ia lebih dahulu meminta izin dan menyembah beberapa kali, barulah boleh ia meraba kepala saya. Kalau ada barang yang enak-enak di atas media, tak boleh diambil oleh adik-adik saya, sebelum saya mengambil apa yang saya sukai. Wah, gementar kita, bila kita datang dalam lingkungan bangsawan yang mulia itu. Bercakap dengan orang yang lebih tinggi harus lambat-lambat, hanya orang yang dekat di situ saja yang dapat mendengarnya. Jika anak gadis tertawa, tak boleh ia membuka mulutnya. “Ya, Allah”, kudengar suaramu mengatakan, ya, banyak lagi barang yang ajaib-ajaib yang akan engkau dengar bila engkau hendak tahu semuanya tentang keadaan kami bangsa Jawa.

Kalau seorang gadis berjalan, patutlah ia perlahan-lahan berjalan itu dengan langkah yang pandak dan bagus, adalah seperti semut berjalan. Bila anak gadis melangkah agak ce-pat, dinamakan orang ia kuda liar. Padalah kita bicarakan hal itu; cerita ini tentulah membosankan engkau bukan? Kepada kakak saya laki-laki dan perempuan selalu saya pakai adat-adat itu; karena saya tak mu mengurangi kehormatan-nya. Tetapi mulai dengan saya tak adalah kami memakai adat-adat yang kaku itu; yang kami sukai dan pegang hanya “kebebasan, kesamaan dan persaudaraan.” Adik-adik saya laki-laki dan perempuan selalu bebas dan sama dengan saya seperti bersahabat. Kekakuan tak ada pada kami; hanyalah persahabatan dan keramahan yang akan engkau lihat pada pergaulan kami itu. Adik-adik saya perempuan berkamu dan berengkau kepada saya dan bercakap dalam bahasa yang saya pakai. Pergaulan yang bebas dan sama, antara beradik kakak itu sangat dicacat orang; oleh karena itu kami dinamakan orang anak yang tak terpelajar, saya sendiri beroleh nama “kuda kore” artinya kuda liar, sebab saya jarang berjalan, tetapi selalu melompat-lompat. Dicela orang saya karena saya kerap kali tertawa gelak-gelak, sehingga gigi saya kelihatan oleh orang. Kelakuan seperti itu tiada senonoh. Sebab adat-adat yang kaku itu telah kami buang, maka pergaulan kami selalu meriangkan kami dan persaudaraan kami menjadi erat serta kami pun selalu sepakat, lebih-lebih antara kami bertiga. Sekalian keadaan itu mendatangkan kedengkian pada orang lain.

Bila kaulihat, Stella, bagaimana hidup orang bersaudara dalam kabupaten yang lain-lain apalah nanti akan katamu. Mereka itu bersaudara hanyalah karena seibu sebapa. Sedarah itulah saja yang menjadi tali persaudaraan mereka itu. Perempuan beradik kakak yang hidup bersama-sama, hanya pada mukanya dapat kaulihat, yang ia bersaudara, tetapi lain dari pada itu tak dapat engkau mengetahuinya.

Terima kasih, Stella, atas pujimu yang bagus itu; besar amat hatiku mendengarnya. Saya sangat cinta akan bahasamu; semenjak dari waktu saya masih pergi ke sekolah, saya selalu beringin amat sangat hendak mengetahui dia dengan baik dan sungguh. Sampai sekarang saya masih jauh dari tempat yang kuingini itu ... tetapi, saya telah dekat selangkah pada tempat itu; demikianlah kata pujianmu, yang sangat menggirangkan hati saya. Sebenarnya saya tak perlu kaumanjakan lagi, karena di rumah dan oleh sahabat kenalan saya pun amat sangat saya dimanjakan.

O, Stella, saya ucapkan padamu terima kasih atas pikiranmu yang baik itu tentang bangsa kami, bangsa Jawa. Dari dulu saya telah ketahui, yang engkau tidak membedakan bangsa kulit putih dan kulit hitam; dari sekalian orang yang sebenar-benarnya berbudi dan terpelajar tak pernah kami mendapat lain dari pada kebaikan. Sungguhpun bangsa Jawa bodoh, tak berpengetahuan, tak berbudi, bangsamu tentu akan memandang dia seperti sesama manusia juga, yang dijadikan Allah seperti bangsa yang berbudi bahasa itu. Bangsa Jawa pun ada juga berhati berjantung dalam tubuhnya dan berperasaan pula untu kesakitan, Meskipun mukanya tak bergerak, dan matanya tak mengejap, menunjukkan apa yang terasa di hatinya itu.

Keringkasan isi kitab “Hilda van Suylenburg” yang engkau berikan kepadaku, telah membesarkan hatiku dan suratmu yang pertama menambah kecintaanku padamu, tetapi suratmu yang akhir itu merampas hati jantungku.

Di rumah kami berbahasa Jawa; bercakap bahasa Belanda hanya dengan orang Belanda saja. Kadang-kadang kami memakai bahasa Belanda juga sama-sama kami ump: suatu olokan, yang tak dapat diterjemahkan, supaya mana olok an itu jangan hilang.

6 November 1899 (I)

O, Stella, tak dapat saya katakan banyak terima kasih saya pada ibu bapaku atas pemeliharaannya yang bebas yang diberikannya kepadaku. Lebih baik saya merasai peperangan dan kesusahan seumur hidup, dari pada tidak mengecap pemeliharaan bangsa Eropa, yang telah kuterima dari kecilkue. Saya tahu, bahwa banyak, ya, amat banyak kesukaran menunggu saya, tetapi saya tak gentar dan tak ngeri menantikannya. Saya tak dapat kembali kepada adat-adat yang lama itu, maju memasuki dunia zaman sekarang pun tak dapat pula, karena masih beribu-ribu belenggu yang mengikat aku dengan sekuat-kuatnya kepada dunia yang lama itu. “Apa yang patut diturut sekarang?” tanya handai tolanku bangsa Eropa pada dirinya sendiri. Bila saya sendiri tahu akan jawab pertanyaan itu, tentulah dengan suka hati saya katakan kepada mereka itu. Sekaliannya tahu dan mengerti, yang keadaan kami ini serba salah. Orang mengatakan, yang hal ini kesalahan bapak saya, karena saya dipeliharanya menurut cara pemeliharaan yang telah saya terima. Tetapi sekali-kali bukan bapak saya yang bersalah; ia sekali-kali tidak bersalah dalam hal ini.

Bapaku tak dapat menolong, ia tak dapat mengetahui lebih dulu, bahasa pemeliharaan yang diberikannya untuk anak-anaknya, akan menyusahkan seorang dari pada si anak itu. Banyak regen-regen yang lain telah memelihara atau tengah memelihara anak-anaknya seperti kami. Tetapi pemeliharaan itu tiadalah lain hakekatnya, melainkan anak-anak itu hanya pandai bercakap bahasa Belanda dan memakaikan adat-adat Belanda sedikit. Lebih dalam tiadalah terpaham benar kehalusan adat Eropa itu oleh anak-anak perempuan bangsa Jawa, yang dipelihara seperti bangsa Eropa itu.

“Apa hendak dibuat sekarang?” tanya mereka, yang telah berkenalan dengan kami kepada nyonya Ovink-Sur. Mereka itu tahu dan mengerti, yang kami lambat laun wajib kemali kepada kehidupan yang lama dan di situlah kami nanti merasa diri kami menjadi celaka dan tiada berbahagia.

Tak dapat sedikit juga diubah lagi. Besok atau lusa ten-tulah saya dipersuamikan dengan seorang yang tidak saya ketahui. Percintaan pada bangsa Jawa hanyalah suatu cerita dongeng saja. Bagaimana orang laki istri dapat cinta mencintai, kalau mereka itu baru bertemu, waktu ia telah dikawinkan?

Saya sekali-kali tak akan dapat mencintai suami yang demi-kian. Menurut pendapatan saya, haruslah kita mula-mula menghormati seseorang laki-laki, dan kemudian barulah dapat mencintai dia. Akan saya tak dapatlah menghormati anak-anak muda bangsa Jawa. Bagaimana saya dapat menghormati seorang yang telah beristri dan sudah menjadi bapak; kemudian si bapak itu mengambil perempuan yang lain pula jadi isterinya, karena ia telah puas beristrikan ibu anak-anaknya itu. Adat yang seperti itu tidak terlarang dalam agama Islam. Siapa yang tak akan membuat seperti itu? Mengapa orang tidak akan membuatnya? Pekerjaan itu tidaklah mendatangkan dosa dan bukan suatu kecelaan; karena agama Islam mengizinkan orang laki-laki beristri empat orang. Sunggu pun seribu kali orang berkata beristri banyak bukannya dosa dalam agama Islam, tetapi saya dengan tetap mengatakan, yang beristri banyak itu suatu dosa kadim adanya. Yang saya katakan dosa, ialah barang sesuatu pekerjaan yang menyakiti badan atau hati sesamanya manusia dan binatang. Engkau ten-tulah dapat memikirkan, berapa dukacita yang wajib di tang-gungkan oleh seorang perempuan, bila suaminya dengan perempuan yang lain datang ke rumahnya dan ia wajib mengaku, bahwa perempuan yang baru datang itu istri suaminya yang halal. Si suami tadi boleh menyiksa dan menyakiti perempuannya dengan sesukanya sampai matinya. Bila perempuan itu menangis sampai ke langit Sekalipun hendak meminta kebebasan, tiadalah dapat diperolehnya, kalau si suami tak suka memberinya. Dalam segala hal si suami berkuasa, tetapi si perempuan tak ada sedikit juga berhak dan berkuasa. Demikianlah adanya agama kami.

Dalam suratmu yang akhir sekali tertulis: “Kebangsawanana itu membawa kewajiban.” Alangkah bodohku dahulu mengira yang bangsawan pikiran itu selalu bersama-sama dengan bangsawan budi; bahwa berilmu banyak itu sama artinya dengan berbudi pekerti yang mulia. Betapakah kecewa saya tentang itu.

Mengertikah engkau sekarang apa sebabnya maka saya benci akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya lebih suka saya mengerjakannya, dari pada dikawinkan orang. Dengan besar hati dan terima kasih saya suka mengerjakan kerja yang lebih rendah itu, asal pekerjaan itu membebaskan saya. Tetapi karena pangkat dan derajat bapaku, tak boleh saya mengerjakan barang sesuatu apa pun.

Jikalau saya memilih sesuatu kerja, wajiblah kerja itu sesuai dengan kedudukan saya. Pekerjaan yang kami cintai yang tiada akan merendahkan bangsa saya dan kaum keluarga saya, yang berpangkat tinggi-tinggi (yaitu beberapa orang regen di Jawa Timur sampai ke Jawa Tengah) tak akan tercapai oleh kami. Akan mendapat pekerjaan itu wajib kami lama tinggal di tanah Eropa dan untuk itu kami tak ada beruang. Kami hendak terbang terlampau tinggi, sekarang kehendak itu tak dapat disampaikan, karena itu kami sendirilah yang menanggung kesusahannya. Tetapi mengapakah Allah menerbitkan nafsu orang hendak belajar, kalau orang itu tak diberi ikhtiar untuk belajar itu. Kedua saudara saya yang perempuan dengan tiada sedikit juga berguru, telah pandai sekarang menggambar dan melukis. Menurut timbangan orang yang ahli tentang gambar menggambar, kedua adikku itu boleh dilanjutkan kepandaiannya. Tetapi di tanah Jawa tak dapat dilanjutkan; pergi ke Eropa kami pun tak sanggup. Akan menyampaikan maksud itu wajiblah dengan izin s.p.y.m.m. Minister van Financien, tetapi s.p.y.m.m. itu tiada memberi izin kami. Kami wajib menolong diri sendiri, bila kami hendak maju.

O, Stella, tahukah engkau, berapa sakitnya itu, bila engkau bercinta sekali hendak mengerjakan sesuatu, tetapi kehendakmu itu tidak dapat kaulakukan oleh karena ketiadaan dan kekurangan?

Jikalau bapaku dapat menolong kami, pastilah dan tak dua hati ia mengirim kami ke tanah airmu yang jauh dan dingin itu. Saya pandai juga menggambar dan melukis, tetapi karang-mengarang dan menulis lebih saya sukai dari pada menggambar. Mengertikah engkau sekarang apa sebabnya, maka saya ingin benar hendak mengetahui bahasamu yang bagus itu dengan sebaik-baliknya? Janganlah engkau memperdayakan saya. Saya sendiri pun telah merasa, bahwa kepandaian saya dalam bahasa Belanda belum sempurna. Bila pengetahuan saya dalam bahasa Belanda dengan secukup-cukupnya, maka bolehlah dikatakan nasibku untuk hari kemudian sudah tentu. Sebidang padang yang luas pun akan terbentanglah tempat saya bekerja dan saya pun menjadi orang yang bebas. Sebab saya seorang perempuan Jawa sejati, saya tahu dan kenal akan segala hal keadaan dalam dunia bangsa Jawa. Meski seorang Eropa, yang bertahun-tahun telah tinggal di Jawa, dan tahu hal keadaan Bumiputera Sekalipun, tiadalah seperti anak Bumiputera sendiri mengetahui adat-adat Bumiputera itu. Banyak hal yang sekarang masih tersembunyi dan yang tak dimaklumi oleh bangsa Eropa sanggup saya menerangkannya dengan kata sepatah dua saja. Tempat-tempat yang tak boleh dimasuki oleh bangsa Eropa, dapatlah didatangi oleh anak Bumiputera. Sekalian perkara yang pelik-pelik, yang terdapat dalam dunia bangsa Bumiputera, yang belum diketahui oleh ahli yang ternasyhur-masyhur tentang tanah Hindia, dapatlah diuraikan oleh anak Bumiputera. Saya merasai sendiri yang saya tak berpengetahuan yang cukup dalam bahasa Belanda, Stella. Tentulah orang akan tertawa gelak-gelak, bila ia dapat membata kertas yang secarik ketilini dari belakang saya. Betapakah gila pikiran saya, bukan? Saya, seorang yang tiada terpelajar dan tiada berpengetahuan sedikit jupupen, hendak mencoba-coba pula mempelajari ilmu kitab bahasa Belanda. Sungguhpun engkau menertawakan saya, saya tahu, yang engkau tak suka menertawakan saya—maka tak lah akan saya buangkan maksud saya itu. Be-tul, pekerjaan itu suatu pekerjaan yang sia-sia. “Tetapi siapa yang tiada mencoba, tidaklah menang.” Demikianlah asasku. Maju saja, tunggang hilang berani mati. Siapa yang berani, dapat mengalahkan tiga perempat dunia.

Bersama-sama ini saya kirimkan kepada engkau sebuah karangan dari Koninkliyk Instituut voor Land-, Taalen Volkenkunde tanah Hindia. Karangan itu saya tulis telah empat tahun yang lau, telah lama saya tak peduli lagi akan karangan itu; baru-baru ini, waktu saya membongkar kertas yang lama-lama, maka terlihat oleh saya akan dia. Karangan itu dikirimkan oleh bapaku kepada pengerus Koninkliyk Instituut yang kebetulan meminta bantu kepadanya. Tidak berapa lama sesudah karangan itu dikirimkan, saya terima cetakan karangan itu. Saya kirimkan karangan ini kepadamu, karena saya pikir, engkau barangkali suka membacanya.

Karangan tentang hal batik membatik, yang saya buat tahun yang lalu untuk “Pertunjukan perusahaan Perempuan” tak pernah saya mendengar beritanya lagi. Karangan itu dimasukkan orang ke dalam sebuah kitab yang terutama tentang batik membatik. Tak lama lagi akan dikeluarkan cetakan kitab itu. Wah, betapa besar hatiku, waktu saya barubaru ini mendengar kabar itu dengan tiba-tiba, karena hal itu telah lama hilang dari kenang-kenanganku. Engkau bertanya kepadaku, bagaimana, maka saya duduk di antara empat buah dinding batu yang tebal. Engkau tentu menyangka, yang saya duduk dalam penjara atau kurungan. Bukan, Stella, kurungan saya sebuah rumah besar dengan pekarangan yang luas kelilingnya dan dipagari dengan dinding batu yang tinggi. Di situlah kami dikurungkan, tempat itulah saya namakan penjara. Berapa pun luasnya rumah dan pekarangan, jikalau kita selalu wajib tinggal di dalamnya, tentulah ia menyesakkan dada kita. Sekarang teringat oleh saya, bagaimana saya menghempaskan badan saya dengan kebodohan dan puties asa kepada pintu yang selalu tertutup itu dan kepada dinding batu yang sejuk itu. Ke mana juga haluan perjalananku saya tujukan, selalu saya tertumbuk ke dinding batu dan pintu yang terkunci.

Pintu itu baru terbuka waktu Seri Baginda Maharaja Wilhelmina naik nobat. Sejak itulah pintu penjaraku selama-lamanya terbuka. Pembukaan pintu itu suatu kejadian yang besar yang telah lama diusahakan lebih dahulu. Sudah bertahun-tahun sahabat kenalan kami bangsa Eropa menolong meruntuhkan dinding batu yang kukuh itu, yang memagari kami. Mula-mulanya dinding batu itu teguh sekali. Lama kelamaan batu dinding itu terbongkarlah sebuah lepas sebuah; sehingga waktu Seri Baginda Maharaja Wilhelmina dinobatkan, maka dinding itu robohlah dan kami melompatlah ke padang yang bebas, ditarik oleh orang tua kami dengan sekali tarik.

Selang berapa lama ini nyonya Ovink kerap kali berkata kepadaku: “Hai anak-anakku, adakah baik perbuatan kami, membawa engkau sekalian keluar dari dinding kabupaten yang tinggi itu? Tidakkah lebih baik, bila tuan-tuan selamanya tinggal di dalam kabupaten itu? Sekarang apa hendak dibuat. Hendak ke mana kamu pergi?” Apabila ia melihat lukisan dan gambaran kami, maka berteriaklah ia dengan puties asa: “Wahai anak-anakku; tak adakah pekerjaan lagi bagimu?”

Tidak ada jalan yang lain yang terlebih bagus, yang saya ketahui hanyalah kami bertiga melompat ke udara, melupakan ibu bapak kami dan bahwa ia sudah membesarkan kami. Beruntung, yang saya seorang, yang tak lekas bersusah hati dan tak mudah menundukkan kepala. Sekarang, apabila saya tak dapat menjadi sesuatu yang saya ingin, biarlah saya menjadi koki saja. Engkau harus tahu, bahasa saya “seorang yang pandai sekali” dalam perkara masak memasak. Kaum keluarga dan sahabat kenalan saya, tak perlu takut lagi akan untung nasib saya pada hari kemudian, bukan? Seorang tu-kang masak-masak yang baik selalu dapat dipergunakan orang dan ke mana-mana ia boleh pergi.

Alangkah sedikitnya gaji-gaji di tanah Belanda kalau dibandingkan dengan gaji-gaji amtenar-amtenar di Hindia. Sungguhpun demikian mereka itu mengeluh juga mengatakan bahwa gaji di Hindia sedikit. Bila orang 20 tahun telah bekerja di Hindia, (pendeta-pendeta 10 tahun) maka mereka itu telah berhak mendapat pensiun. Sungguhpun demikian kebanyakan orang Belanda memaki-maki tanah Hindia “tanah monyet yang celaka.” Jikalau saya dengar orang berkata “Hindia yang celaka” itu, maka saya pun boleh jadi marah amat sangat. Telah kerap kali orang melupakan, bahwa “tanah monyet yang celaka itu” mengisi kantung bangsa Belanda yang kosong dengan emas, bila ia pulang kembali keta-nah Belanda sesudah bekerja tak berapa lama di Hindia.

Tak akan berapa gunanya kalau kitab Hilda van Suylenburg diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Siapakah yang membaca buku dalam bahasa itu, kecuali orang laki-laki? Lagi pula sedikit sekali perempuan-perempuan bangsa Jawa, yang pandai membaca bahasa Melayu. Supaya kitab Hilda dapat dibaca mereka itu, wajib ia berusaha mempelajari bahasa itu. Tentulah ia menyangkakan salinan H.v.S. hanyalah sebagai suatu cerita yang bagus saja. Tidak akan terasa betul olehnya maksud isinya.

Perubahan dalam dunia kami bangsa Bumiputera tak dapat tiada akan datang, gerakan perubahan telah ditakdirkan Allah, tetapi bila ia akan datang? Itu suatu pertanyaan yang besar. Saat perubahan itu tak sangguplah kami melekaskannya. Apakah sebabnya maka kami benar yang harus mempunyai pikiran huru hara dalam hutan rimba, yang jauh terletak di tengah-tengah tanah yang tak bertanah lagi di baliknya ini? Sahabat kenalan saya berkata, yang kami lebih baik tidur seratus tahun lagi lamanya. Bila kami nanti terbangun, tentulah waktu itu, suatu masa yang baik untuk kami. Tanah Jawa tentulah telah berubah; perubahan itu suatu perubahan yang kami kehendaki. Kitab “Maatschappelijk werk in Indie” ada padaku. Saya dapat dari bapaku, kitab itu pemberian pula dari nyonya van Zuylen Tromp. Nyonya itu mengirim kitab itu kepada bapak dan ia memohon permintaan, supaya bapak suka memper-baiki dan mengubahi apa yang salah dalamnya. Nyonya itu hendak mengeluarkan suatu karangan tentang perempuan-perempuan bangsa Bumiputera. Saya minta maaf karena tak dapat menolongnya. Banyak saya dapat menceritakan hal keadaan perempuan-perempuan bangsa Jawa, tetapi saya masih muda sekali, tak cukup, ya, hampir tak ada mempunyai pendapatan hidu. Perkara yang wajib saya uraikan itu perkara yang amat penting dan termulia, tak boleh dipermudah-mudah saja.

Sekarang saya dapat membuat karangan itu kalau kiranya saya suka, tetapi saya tahu betul, yang saya akan menyesal kemudian hari, jika saya buat karangan itu. Apa sebabnya? Sebab saya sekarang banyak dirintangi beberapa macam pikiran; sekalian itu meragukan saya, tetapi kalau tiga empat tahun lagi, bolehlah saya barangkali mempunyai pemandangan yang tajam dalam beberapa perkara itu. Tentang agama Islam tak dapatlah saya menceritakan kepadamu, Stella. Agama Islam melarang orang Islam menceritakan perkara agama kepada orang yang beragama lain. Dan lagi sebenarnya, saya seorang Islam, hanyalah karena nenek moyang saya orang Islam. Bagaimana saya dapat mencintai agama saya kalau saya tidak mengetahui dia, ya, tak boleh mengetahuinya? Kuran tak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, karena ia suatu kitab yang tersuci. Ia harus tertulis dalam bahasa Arab. Di negeri saya tak seorang juga yang tahu bahasa Arab. Orang negeri saya diajar membaca kuran, tetapi apa yang dibacanya itu, tidaklah seorang yang mengerti. Menurut pendapatan saya pekerjaan yang seperti itu, suatu pekerjaan yang bodoh. Orang diajar membaca, tetapi apa yang dibacanya tidaklah diketahuinya. Samalah keadaannya, bila engkau mengajar saya membaca kitab Inggris dan semua harus saya hafalkan di luar kepala saya, pada hal satu patah kata pun tidaklah saya ketahui artinya. Jikalau saya hendak mengetahui dan mengerti agama saya, maka pautlah saya pergi ke tanah Arab mpapelajari bahasa Arab itu. Biarpun, orang tidak saleh, tetapi berhati suci, tentulah orang itu seorang yang baik juga, bukan, Stella?

Hati yang suci itulah pokok kebaikan yang terutama. Agama yang sebenarnya suatu rahmat untuk segala orang, dan ialah yang memperhubungkan tali silaturahim antara segala hamba Allah. Kita sekalian bersaudara, bukan karena kita seibu dan sebapa saja, tetapi juga sebab kita hamba Tuhan yang esa, yang berkerajaan di langit. Orang-orang yang bersaudara wajib cinta mencintai, tolong menolong dan bantu membantu. Orang-orang bersaudara, Meskipun bersaudara laki-laki atau perempuan, wajib mereka sayang menyayangi, tolong menolong, kuat menguatkan, bantu membantu. Ya

Allah, kadang-kadang saya berkehendak, supaya tak ada sebuah juga agama di dunia ini. Karena agama yang sepatutnya menyatukan segala makhluk di dunia ini, ialah menjadi pokok peperangan dan menyebabkan manusia berbagai-bagai, serta ialah asal pembunuhan yang ngeri dan yang mencucurkan darah. Manusia yang seibu sebapa, bermusuh-musuhan, oleh karena jalan mereka menghormati Tuhan yang esa dan seru sekalian alam itu berlainan.

Orang-orang yang kalbunya diperhubungkan oleh kasih cinta yang amat sangat, menjadi berdendam kesumat hingga jatuh sengsara, karena agama itu. Masjid dan gereja, tempat mereka itu menyembah Tuhan yang esa itu, menjadi dinding yang menceraikan hati mereka yang suka cinta men-cintai dan sayang menyayangi itu.

“Adakah agama itu mendatangkan berkat kepada manusia?” Tanya saya kerap kali pada diriku sendiri. Hai agama, engkaulah yang harus menjauhkan kami dari pada dosa, tetapi berapakah banyaknya dosa yang dilakukan orang atas namamu.

Saya ada menaruh kitab Max Havelaar. Tetapi pertanyaan: “Tunjukkanlah kepadaku tempat, yang telah engkau taburi bibilit” tidaklah saya ketahui. Tetapi itu akan saya tanyakan kepada orang lain karena saya amat suka, ya, amat suka benar pada Multatuli.

Tentang keadaan orang kebanyakan dan kepala-kepala negeri bolehlah kemudian hari saya ceritakan kepadamu. Sekarang telah sampai panjangnya saya menulis dan lagi perkara itu tidak akan sedikit menghabiskan kertas dan waktu.

Engkau bertonya bahasa apa yang kami pakai dalam rumah. Yang kami pakai dalam rumah kami tentulah bahasa kami, yani bahasa Jawa. Bahasa Melayu kami pakai, kalau kami bercakap dengan orang Melayu, orang Keling, orang Arab Cina d.l.l. Bahasa Belanda hanyalah kami pakai, kalau kami bercakap dengan orang Belanda.

O, Stella, waktu saya membaca pertanyaanmu, saya sangat tertawa gelak-gelak, pertanyaanmu: “Bolehkah engkau meme-luk cium orang tuamu dengan seizin mereka itu?” Denganlah, Stella, saya belum pernah mencium orang tua dan saudara-saudara saya perempuan dan laki-laki. Bercium-ci-uman bukannya suatu adat pada bangsa Jawa. Hanya anak-anak yang berumur dari satu sampai enam tahun boleh di-cium-cium. Kami tak pernah bercium-ciuman. Ya, hal itu tentulah mendatangkan heran bagimu. Tetapi sesungguh-nya begitu. Hanya sahabat-sahabat kami perempuan bangsa Belanda mencium kami, dan kami pun mencium dia pula. Bercium-cium itu belum lama kami lakukan, dahulu kami biarkan saja kami dicium orang. Kami belajar menci-um, semenjak kami bersahabat dengan nyonya Ovink-Sur. Jikalau ia mencium kami, dimintanya kami menciumnya pula. Mula-mulanya kami tak biasa membuat itu, sebab itu kami mencium itu janggal sekali. Tetapi pekerjaan itu tak lama kami pelajari, maka kami pun biasalah mengerja-kannya. Bagaimana Sekalipun saya mencintai seseorang, tak adalah niatan saya dengan kehendak sendiri akan mencium-nya. (Orang Belanda selalu bercium-ciuman, kami bangsa Jawa tak pernah bercium-ciuman). Sebabnya, saya tak mau mencium orang, karena saya tak tahu, sukakah ia dicium atau tidak.

Kalau benar seperti katamu, yang saya tak kalah kalau dibandingkan dengan beberapa anak-anak perempuan bangsa Belanda, kepandaian saya itu terutama pekerjaan nyonya Ovink, seorang yang suka bercampur gaul dengan kami, bangsa Jawa; dan ia bercampur gaul itu seperti orang bersaudara. Pergaulan dengan nyonya-nyonya bangsa Belanda yang sejati, terpelajar dan berbudi itu amat baik untuk bangsa kulit hitam. Ibu saya tahu, yang ibu bapaku dicintai dan disayangi oleh anak-anaknya yang perempuan. Bapak telah berjanji kepad a kami (yang sebetulnya nyonya Ovink menyuruh bapak berjanji) akan membawa kami ke Jombang kepada nyonya Ovink. Tuan Ovink dengan segera suka membawa kami. Kami sangat mencintai mereka itu hampir sebagai mencintai ibu bapak kami. Kalau mereka itu tak ada lagi dekat kami, seperti kami kehilangan barang yang kami cintai. Saya tak dapat memikirkan, yang mereka itu telah bercerai dengan kami. Kami bersama-sama telah banyak menanggung susah dan senang. Dengan santun menyantuni kami telah hidu bersama-sama seperti sekaum sekeluarga layaknya.

November 1899 (II)

O, nyonya yang tercinta, betapa riang kami hari Minggu kemarin dulu. Bapak dan adik saya yang kecil pergi berkereta; tak berapa lamanya, maka mereka itu pun kembalilah ke rumah. Setiba di rumah dengan gembira hati berceritera adikku itu: “Ya, kakanda, ada sebuah kapal perang di pelabuhan. Di pasar berkerumun kelasi kapal. Dua orang dari pada mereka itu menurut dengan kami. Pergilah lekas lihat; ia sekarang di serambi dengan bapak.”

PEMANDANGAN DI LAUT BULU UJUNG, JEPARA

SERAMBI MUKA KABUPATEN JEPARA

PENDOPO KABUPATEN JEPARA

Mendengar kata kapal perang itu kami pun melompatlah seperti kami digigit lebah. Sebelum habis adikku itu berceritera, kami berlari dari bilik kami pergi ke muka. Di muka tampak oleh kami dua orang tuan-tuan berpakaian putih; mulanya mereka itu malu masuk ke dalam pekarangan kami. Tiada berapa lama antaranya kami lihat mereka itu telah du-duok dengan bapak di tengah-tengah serambi muka. Kemudian dari pada itu datang seorang bujang mengatakan kepada kami, yang kami harus datang kepada bapak. Hal itu kami sukai benar-benar. Satu, dua, tiga ... kami sarungkan kebaya yang bersih dan sebentar kemudian dari pada itu kami pun du-duoklah bergoyang-goyang di kursi goyang dan ramai berbin-cang-bincang dengan dua orang opsi kapal perang “Edie”. Saya tak tahu apa sebabnya, tetapi dengan segera kami senang hati bercakap-cakap dengan kedua tuan² itu, serupa kami telah bertahun-tahun berkenalan dengan dia. Apa sebabnya, maka kedua tuan itu sampai kekabupaten? Marilah saya ceritakan kepada nyonya. Seperti saya sudah ceritakan di atas ini, bapak pergi berkereta. Di tengah jalan bertemu ia empat, lima orang tuan-tuan. Tiga orang di antaranya menurut jalan yang lain, dan yang dua orang lagi mengikuti kereta bapak kekabupaten. Tuan-tuan itu baru datang ke tanah Jawa. Mereka itu menyangka, yang jalan kekabupaten, yang diturut kereta bapak, jalan yang biasa. Rumah kami disangkanya sebuah gudang atau toko yang besar.

Bapak menyuruh orang kepada tuan-tuan itu meminta dia masuk ke dalam. Mereka itu tentu terkejut, tatkala diketahui yaang ia salah persangkaan dan telah menurut orang ke rumahnya. Apa hendak dibuat sekarang? Mereka itu ke-malu-maluan rupanya, apalagi karena ia tiada mengetahui bahasa kami, melainkan ia bercakap bahasa Melayu sedikit. Bapak menghilangkan malu orang itu dengan bercakap bahasa Belanda kepadanya. Mendengar itu sangat heran dan sukalah mereka itu. Sekarang ia suka sekali masuk kekabupaten. Rupanya yang seorang dari tuan-tuan itu kaum keluarga dari seorang, yang dikenal betul oleh bapak. Saya tidak ingat lagi, yang saya pernah merasa senang hati bercakap dengan bangsa asing, seperti waktu itu. Tak sedikit juga saya pikirkan, bahwa saya seumur hidupku belum pernah melihat orang itu dan saya pun tak tahu, yang mereka itu lima menit lebih dahulu ada di dunia. Heran,heran, selamanya kami lekas sekali berketahuan dengan orang kapal.

Kami sangat mencintai laut; apa saja yang berhubung dengan laut senantiasa menarik hati kami. Nyonya telah tahu, betapa besar kegirangan hati kami, orang memperbincangkan perkara bersampan-sampan atau berlayar-layaran. Nyonya sendri pun tahu, yang kami suka sekali pada laut. Tatkala saya hampir setengah mati, waktu saya terbaring dalam perahu candu itu, saya merasa senang yang saya dilambung-lambengkan oleh gelombang itu. Semenjak dahulu laut yang indah itu menarik hati kami. Kalau saya seorang anak laki-laki, tidaklah saya berpikir lagi dan dengan segera saya menjadi kelasi. Tahukah nyonya, apa yang dikatakan bapak kepada opsir laut itu? Bapak berkata: “Anak-anak saya yang perempuan suka sekali berlayar-layaran dan hendak pergi ke kapal.” Bapak kami yang tercinta itu; bapak tahu sekalian barang yang kami inginini dan sukaitu. Sungguhpun hal itu tak pernah diceritakannya, tetapi saya tahul betul bahwa begitu keadaan-annya. Kadang-kadang bapak menceritakan hal kami kepada orang lain-lain; yang diceritakannya itu bersamaan betul dengan perasaan kami, yang kami simpan saja di hati kami. Yang sangat mengheran kan kami, bagaimana dapat bapak mengetahui segala barang yang kami pikirkan sendiri dan yang tidak kami ceritakan kepada orang lain-lain itu. Sebabnya tak lain, melainkan karena bapak menyayangi dan mengasihi kami dan kami pun begitu pula akan bapak. Temphoh-temphoh bapak tiba-tiba menggirangkan hati kami dengan menceritakan barang sesoatu, yang masih tersembunyi di hati nuraniku, dan yang saya sangka tidak seorang juga mengetahuinyalah lain dari pada saya sendiri. Itukah yang dinamakan persatuan pikiran? Jikalau seorang yang banyak kepercayaan, tentulah saya menyangka, bahasa bapak pandai membaca buah pikiran di hati kami.

Tak usahlah saya panjangkan lagi tali kawat yang ajaib itu, yang memperhubungkan hati kami dengan hati bapaku yang tercinta itu.

Marilah saya hubung menceritakan kegirangan kami pada minggat yang lalu itu. Opsir-opsir itu merasa sayang benar yang kapal perang “Edie” tak lama tinggal di pelabuhan kami; kalau tidak, mereka itu suka sekali menyambut kedatangan kami di kapal. Kapal itu harus pergi ke pulau Karimun Jawa mencari gosong-gosong atau beting-beting. Seharusnya ia tak perlu datang ke negeri kami, tetapi komandan kapal perang itu suka melihat-lihat Jepara. Kedua tuan-tuan itu mau men-coba meminta kepada komandannya, supaya kapal “Edie” hari Sabtu dan Minggu datang kembali ke Jepara dan hari Senin baru berangkat ke Surabaya. Bila permintaan mereka itu diperkenankan, supaya kapal Edie hari Sabtu datang ke Jepara, maka akan diletuskannyalah sepucuk meriam dari kapal memberi tahu kami. Saya kira permintaan mereka itu tidak akan dikabulkan. Tetapi akan suatu kesukaan yang besarah bagi kami, bila kapal itu datang kembali. Saya katakan kepada tuan-tuan itu, bila ia melalui Jepara sekali lagi, haruslah ia mematahkan sumbu mesin kapal itu sebuah, supaya kapal itu terpaksa tinggal di pelabuhan kami.

Tatkala opsir-opsir itu tak ada lagi dan kami pun kembali ke bilik kami, kami sangkakan, segala yang terjadi pada hari itu suatu mimpi. Ya, sebenarnya, seperti kami telah bermimpi. Dengan tiba-tiba datang orang kepada kami, dengan sekonyong-konyong ia pun hilanglah. Tetapi hal itu suatu sukacita yang tidak disangka-sangka, bukan? Saya selalu mau tertawa, bila saya ingat akan hal itu. O, nyonya, ibu kami, alangkah besar hati saya jika nyonya sudah ada pula kami lihat. Kami, anak-anak nyonya, merasa kehilangan nyonya sekali. Kami ingin sekali kembali kepada waktu bersama-sama dulu, lebih-lebih saat dan masa kami dalam bilik tempat duduk-duduk nyonya. Di bilik nyonya menyuruh kami merasai lezat cita rasa kitab-kitab yang bagus dan berfaedah. Di situlah kita banyak memperkatakan barang sesoatu yang musykil-musykil. Percakapan yang demikian tak danatlah saya lakukan sekarang dengan nyonya. Buah pikiran, yang menerbitkan kacau-bilau pikiranku, dan perasaan, yang senantiasa tak menyenangkan hatiku, waktu bercakap-cakap itulah dulu saya bukakan kepada nyonya, o! bundaku yang tercinta. Bila saya tidak berhati senang, kalau saya lihat muka nyonya yang jernih dan suka itu, maka saya pun menjadi seorang anak yang beriang hati dan manja pula, serta saya pun dapatlah bernyanyi me-nianyikan: “Biarpun langit itu runtuh ke bumi, saia pun akan memikulnya dengan bahukeo dengan perkasa.” Ya, nyonya, tuan telah terlampau memanjakan kami. Sekarang tak lain, yang kami ingin dan cintai, hanyalah waktu kita bersama-sama seperti dulu, yaitu waktu yang lezat dan senang itu. Sungguhpun kami sangat beringin hendak berjumpa dengan nyonya, tetapi kami berharap amat sangat, supaya perjalanan hendak pergi ke Jombang itu selambat-lambatnya dimundurkan. Nyonya tentu bertanya: “Mengapa maka begitu?” Ya, kami tahu dan kami rasa, yang di Jombang akan terjadi perjumpaan yang akhir sekali antara kita. Pertemuan itu boleh jadi perceraian yang selama-lamanya. Ke Jepara tentulah nyonya tak akan datang lagi dan kami pun tentulah tidak mudah-mudah saja datang kepada nyonya. Oleh karena itu biarlah perjalanan itu dimundurkan seberapa boleh. Amat sedapnya bila sesoatu kegirangan hendak di darat. Kesadapan itu kami hendak merasai selama-lamanya boleh. Perjumpaan kembali boleh meriangkan hati, sudah itu habislah kegirangan itu. Tidak! kenang-kenangannya tentu akan tinggal juga pada kami.

Kami sesungguhnya tidak sebaik dan semanis seperti yang nyonya sangkakan. Tahukah tuan, hai bundaku, bahwa sekalian itu tak lain dari pada kelobaan hati sendiri, jika kami sekali-kali berbuat baik dan berlaku manis itu? Karena tak adalah yang lebih menyenangkan hatiku, lain dari pada menerbitkan tersenyum orang, apalagi pada orang yang kami cintai. Tiadalah yang terlebih meriangkan hati kami, hanyalah bila memandang paras yang riang dan kasih terhadap kepada kami, apalagi, jika kami ketahui, bahwa keriangan itu asalnya tersebab oleh kami.

Besar hati kami, yang koki masih teringat kepada kami.


SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1900

12 Januari 1900 (I)

Pergi ke Eropa. Itulah suatu cita-cita saya, yang akan tinggal sampai hari mautku. Sekiranya saya dapat memperkecil tubuhku sampai saya dapat menyuruk dalam bungkusan surat ini, pergilah saya bersama-sama dengan surat ini mengunjungi engkau, Stella, dan kepada saudara saya laki-laki yang kucintai dan kepada ... Diam, padalah hingga ini. Bukan kesalahan saya, Stella, jikalau saya di sana sini me-nulis perkataan yang tak berguna. Gamelan kaca di pendopo lebih tahu menceritakan hal itu kepadamu dari pada saya. Ia menyanyikan lagu kami bertiga. Ia bukan nyanyian, bukan lagu, melainkan bunyi dan suara, amat lemah, amat lembut dan bertukar-tukar, mendengung-dengung tak berketentuan-an, tetapi bagus, sehingga merawan dan membimbangkan hati orang. Bukannya bunyi gelas atau bunyi kuningan dan ke-yu, yang terdengar di pendopo itu; bunyi itu ialah suara nyawa manusia, yang berkata-kata kepada kita. Buah katanya sebentar keloh kesah, sebentar lagi ratap tangis dan sekali-sekali tertawa kegirangan. Maka semangat saya pun rasa ter-banglah bersama-sama dengan bunyi yang lembut dan merdu itu ke atas udara yang tinggi, biru dan renggang itu pergi ke-awan yang putih dan ke bintang-bintang yang bercahaya-cahaya. Sementara itu suara yang lembab pun naiklah pula ke udara; saya pun merasa diri saya dibawa pula oleh bunyi itu melalui lembah yang gelap, jurang yang dalam, melalui hutan rimba yang muram, semak belukar yang tak dapat diarungi. Maka hati saya gementar dan lisut rasanya, karena ketakutan, kesakitan dan kedukaan. Sungguhpun demikian, heran sekali, meski telah beribu kali terdengar oleh saya “Ginonjing”, tetapi satu bunyi dan suara gamelan pun tak dapatlah saya artikan. Apabila gamelan telah diam, tak sebuah lagu yang saya ketahui lagi; semuanya hilang dari ingatanku. Saya tak dapat mendengar Ginonjing lagi, dengan tiada merawankan hati. Bila saya mendengar bunyi yang pertama saja dari lagu yang bagus itu, maka melayanglah semangatku. Saya sebenarnya tak suka mendengar lagu yang murung itu, tetapi tak dapat saya tahan hati saya mendengarkan suara yang lemah lembut itu, yang menceritakan kepada saya, hal keadaan dulu kala dan yang akan datang. Rupanya seperti bunyi-bunyian yang merdu itu bernapas mengembuskan kain selubun, yang menyelubungi barang sesuatu yang sulit-sulit yang akan datang. Terang seperti bulan, siang seperti hari rupanya di mata saya segala sesuatu yang akan datang itu. Gementar sekalian tulang sendiku, bila saya lihat seolah-olah orang-orangan yang muran dan gelap itu lalu di muka saya. Saya tak suka melihatnya, tetapi apa hendak dibuat, mataku tak mau dipejamkan, ia selalu terbuka. Pada kaki saya terbentang sebuah jurang yang amat dalam, yang amat memusingkan kepala dalamnya. Bila saya melihat ke atas, terbentang langit yang hijau di atas kepalaku. Sinar matahari yang sebagai emas itu memancar dengan manjanya seolah-olah bermain-main dengan awan yang putih dan bagus itu; dalam hati saya pun terbitlah pula suatu cahaya.

Nah, lihatlah betapa gila dan bodoh saya. Semata-mata perbuatan bodoh, bukan, yang saya suratku di atas ini. Tetapi cukuplah tentang hal itu. Sekarang saya cobalah bercakap benar-benar seperti seorang yang sehati. Segala kegilaan dan kebodohan itu kita buangkan jauh-jauh, bukan, Stella?

Tanah airku yang panas, tanah yang engkau ingin melihatnya itu, telah berapa hari lamanya sekali-kali tidak panas. Setiap hari turun hujan lebat; minggu yang terlampau sungai Jepara telah melimpah airnya. Banyak kampung-kampung dan kota Jepara sendiri pun penuh diliputi oleh airnya yang merah dan bercampur lumpur itu.

Pagi-pagi tadi badai kencang sekali di sini. Dalam pekarangan kami dua tiga pohon licin tandas ditumbangkannya. Dahan-dahan kayu habis patah-patah seperti kayu api-api. Batang kubis Belanda kami yang bagus itu telah serupa pokok kayu yang putih dan bulus. Tentelah kampung-kampung binasa amat sangat. Dengan atap-atap rumah habis diterbangkan angin. Pada hari menulis surat ini bapaku pergi komisi. Banyak lagi kampung-kampung yang jauh-jauh yang di bawah perintah bapak yang diliputi air sekali lagi. Bapak sangat banyak kerjanya dalam beberapa hari ini; hari ini datang banjir, besok tanah yang runtuh dan lusa badai yang amat hebatnya. Sepohon randu yang besar baru-baru ini ditumbangkan pula oleh angin. Pohon itu berdiri di tepi jalan besar. Waktu ia tumbang itu dua orang perempuan yang lalu di situ ditimpanya. Keduanya luluh lantak di bawah pohon kayu itu. Sehari-harian dan semalam-malaman itu tak lain yang kami dengar hanyalah bunyi laut yang menderu-deree dan mengaum-aem. Di Klein-Scheveningen badai yang amat kencangnya. Jalap pergi ke rumah mandi di tepian itu habis dipukul oleh gelombang. Pantai di muka tepian itu telah hilang lenyap ditelan oleh laut yang tak pernah kenyang itu. Jikalau hari petang nanti tidak hujan lebat, saya hendak meminta izin kepada bapak, akan pergi ke situ.

Beberapa pekan yang lalu kami di “Klein Scheveningen.” Kami tegak bertiga di atas sebuah batu besar, yang terlantar di-tepi pantai. Kami melihat pada permainan gelombang yang bagus itu. Karena pemandangan itu sangat menarik hati kami, sehingga tidak tampak oleh kami, tempat kami berdiri itu telah didekati oleh gelombang yang bergu-lung-guung itu. Kami baru tahu, tatkala anak-anak ketil diteri pantai dengan ketakutan memanggil kami, sebab kami telah dilingkungi oleh air laut yang berbuih-buih. Dengan baca pakaian sehingga lutut kami pun sampailah kembali kepada tempat anak-anak ketil itu.

Belum beberapa lama dulu dari pada itu engkau bertonya kepadaku hal keadaan orang ketil pada masa sekarang. Tetapi oleh karena surat saya ketika itu sudah panjang sekali, saya lampani sadia pertanian itu dulu; sebab akan menjawab tak cukuplah sepatah dua patah kata saja. Tetapi saya dulu berjanji kepadamu, yang saya kemudian hari akan kembali memperkatakan hal itu dan sekarang saya hendak menyampai kan janji itu. Tetapi sebelum saya menceritakan perkara itu, saya hendak menjawab lebih dulu suratmu yang kemudian sekali. Terima kasih, Stella, atas penghiburanmu untukku. Saya harap bicaramu itu terjadi jualah hendak-nya, Tahukah engkau pepatah yang saya pegang? “Saya mau.” Dua patah kata yang pandak itu telah beberapa kali menolong saya melalui gunung kesusahan. “Saya tak cakap.” Ketiga patah kata itu menghilangkan keberanian. “Saya mau,” menggembirakan crang. Saya berani scengguh-scengguh dan selalu gembira. Stella, nyalakan selalu api keberanianku itu. Jangan kaupadami ia. Gembirakan hatiku, gembirakan dia sampai bersinar-sinar, Stella, saya sembah engkau, jangan lepaskan saya.

Saya pohonkan terima kasih pada Allah, yang pertanyaanmu: “Betulkah keadaan anak negeri sekarang sanot buruk seperti yang dikatakan Multatuli?” dapat saya jawab dengan: “Bukan.” Menurut sepanjang pengetahuan saya, cerita seperti Saijah dan Adinda sekarang tidak terjadi lagi. Betul kadang-kadang ada kelanaran, yang ditanggungkan oleh anak negeri, tetapi hal itu bukannya kesalahan kepala-kepala negeri.

Kepala-kepala negeri tentulah tak dapat menanggung, bila hari lama tak hujan-hujan, yang sangat berguna untuk sawah-sawah “orang kecil.” Mereka itu pun tak sanggup menolakkan air yang amat banyak, yang diturunkan oleh langit ke sawah-sawah orang kecil itu. Bila kehasilan padi dirusakkan oleh binatang-binatang yang kecil, atau oleh kekurangan air, atau karena musim panas terlalu lama, maka negeri yang ditimpai kecelakaan itu, dibebaskan oleh Pemerintah dari membayar ceang kepala (pajak). Waktu musim kelaparan kepala-kepala negeri membagikan uang dan makanan untuk orang-orang yang dapat calaka itu. Kalau sawah-sawah itu dibinasakan oleh tikus, maka Pemerintah memberi hadiah kepada siapa yang membunuh binatang yang kecil-kecil. Kalau musim hujan seperti sekarang, maka air sungai menjadi banjir dan segala tambak-tambak sungai menjadi pecah. Ketika itulah kepala-kepala negeri mencari daya upaya, akan memperbaiki sekalian yang rusak-rusak itu.

Tahun yang lalu sepekan lamanya sebuah kampung yang banyak berkalam ikan diliputi oleh air, waktu itu siang dan malam bapak tinggal di tempat yang kena sengsara itu. Dengan uang partikelir dibayar segala kerja akan memperbaiki kesesakan tambak-tambak sungai itu. Kemudian uang partikelir itu dibayar kembali oleh Pemerintah. Tetapi siapa yang akan membayar sekalian kerugian anak negeri yang disebabkan oleh air itu? Sebelum banjir 100.000 ekor ikan dalam kolam-kolam itu, sesudah banjir hanya tinggal 15 ekor saja lagi. Setelah beberapa lamanya sesudah kecelakaan yang besar itu, datang seorang dari Insinyur Waterstaat berceritera kepada bapak, bahwa ia yang salah maka kampung itu diliputi air. Ia salah menghilirkan air itu.

Kemudian afdeling Demak, afdeling yang di bawah perintah bapak muda saya. Afdeling itu tak dapat dimakmurkan, bagaimana Sekalipun orang mengerjakannya. Kalau tidak kesengsaraan ini kesengsaraan itu yang mengganggunya. Waktu musim panas sekalian sungai-sungai menjadi kering dan waktu musim hujan negeri itu digenangi oleh air bah. Te-lah beribu-ribu uang dikeluarkan oleh Pemerintah, supaya ia mendapat air waktu musim kemarau dan supaya jangan kedatangan banjir pada musim penghujan, tetapi semuanya tak menolong. Banyak salceran dan serokan yang bagus-bagus digali di situ, tetapi rupanya tidaklah sedikit jua berguna. Menggali serokan dan saluran itu mendatangkan suatu pencaharian pula kepada beribu-ribu manusia. Sungguhpun demikian, pada musim kemarau selalu negeri itu kehausan dan pada musim hujan semuanya terapung-apung di atas air. Bukan, Stella, Pemerintah ada menjaga baik-baik untuk keselamatan anak negeri Jawa. Tetapi, aduh, Pemerintah terlampau banyak menyuruh mereka itu membayar uang bia.

Bukan, Stella, anak negeri tiadalah lagi dengan sengaja dirampas oleh kepala-kepala negeri. Bila seperti itu sekali-sekali kejadian, maka kepala negeri yang bersalah itu diperhentikan, atau diturunkan pangkatnya. Tetapi yang masih terjadi, lebih baik dikatakan, yang masih bercabul ialah kejahatan ini:

“Menerima persebahan dan pemberian, yang menurut pendapatan saya, sama keji dengan merampas harta benda orang kecil,” sebagai tersebut dalam Max Havelaar. Tetapi saya tak boleh menyalahi mereka itu, Sungguhpun saya ketahui kejadian hal itu, tetapi saya patut pula menimbang peri keadaan orang yang bersalah itu. Pertama-tama sekali bangsa Bumiputera memandang pekerjaan mempersembahkan suatu pemberian kepada orang yang lebih tinggi, seperti suatu kehormatan dan kemuliaan baginya. Menerima persebahan itu dilarang oleh Pemerintah pada orang-orang yang berpangkat. Tetapi kepala-kepala negeri yang lebih rendah mendapat gaji sedikit, sehingga kadang-kadang mendatangkan keheranan, yang mereka itu dapat hidup dengan gaji yang kecil itu. Umpamanya, seorang jurutulis kampung, yang menjadi bungkuk karena menulis setiap hari sepanjang waktu, bergaji tiada terpermanai banyaknya, yaitu f 25 sebulan. Dengan uang itu ia wajib hidup dengan anak bininya, dengan uang itu ia membayar sewa rumah, membeli pakaian yang sederhana dan dengan uang itulah ia memperlihatkan megahnya, supaya kehormatannya di mata orang yang lebih rendah jangan kurang. (Saya harap, jangan engkau menyalahi mereka itu amat sangat, karena keadaan yang akhir itu; lebih baik kasihanilah mereka itu, karena ia masih anak-anak yang besar, dan begitulah kebanyakan bangsaku itu). Bila kepada jurutulis kampung yang seperti itu dipersembahkan sesisir pisang atau yang sebagainya oleh seorang-orang kampung, maka pertama kali tiadalah diterimanya, kedua kali pun tiada diambilnya, tetapi ketiga kali dua hatinya menolak persebahan itu dan keempat kalinya diterimanyalah persebahan itu dengan tiada bimbang. Karena menurut pikiraniya, tidaklah salah, bila ia berbuat yang sedemikian; barang itu bukan dimintanya, tetapi diberikan kepadanya; tentulah ia gila dikatakan orang, bila pemberian itu ditolaknya, apalagi pemberian itu boleh dipergunakannya. Memberi persebahan itu bukannya tanda kehormatan saja, tetapi juga seperti suatu pagar untuk si pemberi, bila ia besok atau lusa dapat kesusahan dengan kepala negeri. Umpamanya bila ia ditangkap oleh wedana, karena ia membuat kesalahan sedikit. Dalam hal itu diharapnya pertolongan sahabatnya, jurutulis kampung itu. Gaji pegawai-pegawai negeri sungguh tidak cukup. Seorang asisten wedana kelas dua bergaji delapan puluh lima rupiah sebulan. Dengan delapan puluh lima rupiah itu harus ia menggaji seorang jurutulis. Asisten-asisten wedana itu tidak diberi jurutulis oleh Pemerintah, Sungguhpun ia banyak dapat kerja tulis menulis sama banyak dengan wedana-wedana, jaksa-jaksa dan lain-lain). Lain dari pada kuda tunggang, yang berguna untuk pergi memeriksa hutan-hutan, haruslah ia mempunyai sebuah bendi atau sado dengan kuda, rumah dan perkakasnya harus pula dibelinya; tambahan pula ia harus membelanja rumah tangganya. Akhirna ia harus menerima kemendur-kemendur, regen dan kadang-kadang asisten residen, bila mereka itu datang ke dalam jajahannya untuk mengerjakan barang sesoatu hal. Dan kalau asisten wedana jauh tinggal dari kota, maka tuan-tuan yang tersebut tadi tinggal di pesanggrahan. Dengan hal yang demikian, asisten wedana merasa mendapat suatu kehormatan yang tinggi, karena ia boleh menyediakan makanan orang besar-besar itu. Cerutu, air Belanda, bermacam-macam minuman keras dan makanan dalam kaleng. Saya dapat mengesahkan kepadamu, yang semuanya itu berharga mahal dan sekalian itu suatu belanja yang banyak gay asisten wedana yang begitu. Engkau mengerti, yang ia tamau menyediakan barang² yang ada padanya untuk jamunya yang tinggi itu. Segala sedap-sedapan itu haruslah semuanya di-jamput ke kota. Yang sebenarnya hal itu tak perlu begitu, tetapi si penjamu memandang suatu kewajiban akan menyediakan yang terbaik untuk tuan yang besar itu, Biarpun barang itu tidak ada padanya. Dalam afdeling bapak beruntun takejadian seperti itu. Jikalau bapapergi komisi dan ia pun harus bermalam di tempat lain, maka selalu ia membawa makanan untuk dirinya sendiri. Kemendur dan asisten residen pun membuat pula begitu. Kalau sekadar semangkuk air teh yang diminum tuan-tuan itu pada asisten wedana, tiadalah menjadikan ia miskin. Kalau kejadian pembunuhan atau pencurian dalam jajahan asisten wedana itu, wajiblah ia mencari keterangan yang sesungguhnya dalam perkara itu, karena itu suatu kewajiban baginya. Akan menyelidiki orang yang bersalah haruslah ia banyak mengeluarkan uang dari kantungnya. Kerap kali telah kejadian yang kepala-kepala negeri menggadaikan perhiasan anak isterinya, akan mendapat uang yang wajib ada untuk mencari keterangan sesoatu perkara yang gelap. Dapatkah ia menerima uang itu kembali dari Pemerintah, untuk mencari keterangan kehendak Pemerintah itu? Mengucapkan syukurlah saya bila benar begitu.

Oleh sebab tiada demikian halnya maka banyak pegawai-pegawai itu menjadi orang minta-minta. Allah, apakah yang harus dibuat oleh pegawai-pegawai, yang tiada bergaji cukup dan tiada beribu bapak dan bersanak saudara, yang boleh menolong mereka itu dengan wang? Anak negeri senantiasa membawa persembahan kepada mereka itu dan ia melihat yang anak isterinya berjalan dengan pakaian robek-robek ... Jangan disalahi amat, pegawai-pegawai itu, Stella.

Saya tahu kesusahan kepala-kepala negeri dan saya tahu akan kesukaan dan kedukaan anak negeri. Apa akan diperbuat Pemerintah sekarang? Pemerintah hendak mengadakan perubahan dalam hal pemerintahan negeri. Pegawai-pegawai Bumiputera hendak disusuti, untuk keuntungan ... pegawai-pegawai bangsa Eropa. Oleh karena kesusutan itu adalah uang tersimpan setahun f 164800. uang itu akan diberikan untuk pegawai-pegawai bangsa Eropa, dalam pemerintahan negeri, karena pegawai-pegawai bangsa Eropa itu diberi gaji seperti anak tiri, pada hal pegawai-pegawai bangsa Eropa dalam golongan lain diberi gaji seperti anak kandung. Tetapi, mengapa Pemerintah merogegkan pegawai-pegawai Bumiputera akan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu? Betul, akan pengganti kesusutan yang di atas itu, pegawai-pegawai Bumiputera yang bergaji sedikit ditambah gajinya dan asisten wedana mendapat jurutulis dari Pemerintah. Tetapi apakah artinya perubahan sedikit itu, jika diperbandingkan dengan penghapusan pangkat-pangkat yang tinggi itu? Dan lagi belum ada kenyataannya, yang pangkat-pangkat itu tiada berguna. Karena peraturan Pemerintah itu banyak orang bersungguh. Peraturan untuk perubahan itu dikabulkan oleh majelis persidangan kedua di tanah Belanda dan bulan Juli y.a.d. dijalankan perubahan pemerintahan negeri itu. Hampir sekalian residen-residen melawani peraturan itu, tetapi Gubernur Jenderal menghendaki begitu. Meskipun kehendak itu dilawani oleh residen-residen, maka perubahan itu dimajukan juga. Saya berharap, yang Pemerintah nanti tak akan memetik buah kelat dari perbuatannya itu.

Sekarang tengtang hal anak negeri, terutama keadaan penduduk tanah Jawa. Bangsa Jawa itu boleh disamakan dengan anak yang telah besar. Apa yang telah dibuat oleh Pemerintah untuk kemajuan anak negeri? Untuk anak² orang berbangsa dalam negeri diadakan Sekolah Menak, Sekolah Raja dan Sekolah Dokter Jawa. Dan sekolah Bumiputera untuk sekalian orang ada terdapat dalam tiap-tiap distrik sebuah saja. Sekolah Bumiputera dibagi atas dua jenis oleh Pemerintah; yaitu: Sekolah kelas satu, yang didapatinya hanya pada ibu-ibu negeri saja; di sekolah itu diajarkan pengajaran, yang seperti pengajaran dalam sekolah Bumiputera sebelum ia terbagi dua; tetapi dalam sekolah kelas dua anak-anak diajari hanya menulis dan membaca bahasa Jawa dan berhi-tung sedikit. Bahasa Melayu tak boleh diajarkan lagi seperti dahulu; apa sebabnya, tak tahulah saya. Menurut pertimbangan saya Pemerintah menyangka, bila anak negeri mempela-jari itu, maka ia tak mau lagi mengerjakan tanah.

Tentang hal pengajaran bapak telah mempersembahkan sepucuk surat nota kepada Pemerintah. O, Stella, saya suka engkau dapat membaca surat itu. Engkau harus tahu yang sebagian besar dari pada orang-orang berbangsa sangat berbesar hati karena perbuatan Pemerintah itu. Bangsawan bangsa Jawa makin lama makin mundur tenaganya. Pemerintah di Hindia dan di tanah Belanda dan beberapa orang Jawa yang berbangsa suka menolong bangsawan itu dan mau memajukan mereka itu. Dengan hati kurang senang dipandang oleh bangsawan itu anak-anak orang kebanyakan memajukan dirinya dan karena pengetahuan, kepandaian dan kerajinannya ia pun disamakan duduknya oleh Pemerintah dengan anak-anak bangsawan. Anak-anak orang kebanyakan memasuki sekolah Belanda dan di situ ia menunjukkan, yang ia di dalam segala hal dapat berlumba-lumba dengan anak-anak orang berbangsa tinggi. Sekalian orang bangsawan suka alam ini untuknya saja; pangkat yang tinggi-tinggi dalam negeri dalam tangannya saja dan ia sendiri hendak berkepandaian dan berbudi pekerti seperti bangsa Eropa. Pemerintah menolong dan membantu mereka itu, lebih-lebih karena Pemerintah sendiri mendapat untung dalam hal itu. Pada tahun 1895 ia telah memberi perintah, bunyinya: “Anak-anak Bumiputera (ber-umur dari 6 sampai 7 tahun) tidak boleh diterima masuk sekolah Belanda kalau anak itu belum tahu bercakap bahasa Belanda atau kalau tidak seizin Gubernur Jenderal.” Bagaimana anak-anak Bumiputera yang ber-umur 6 atau 7 tahun akan belajar bahasa Belanda? Akan boleh begitu hanyalah bila anak itu mempunya seorang pengasuh bangsa Belanda. Tambahan lagi, Biarpun ada waktu untung mempela-jari bahasa Belanda itu, anak Bumiputera itu wajib me-ngetahui bahasanya lebih dulu, sebelum ia belajar bahasa Belanda; dan haruslah ia tahu menulis dan membaca dalam bahasa Jawa lebih dulu. Hanyalah regen-regen yang memo-honkan permintaan, supaya anak cucunya boleh dimasukkan ke sekolah Belanda. Kepala-kepala yang lebih rendah takut yang permintaannya tidak akan dikabulkan, oleh karena itu tiadalah dimintanya. Pongahkah bapaku sebab ia menunjukkan kepada Pemerintah hal yang sesungguh-sungguhnya terjadi, yaitu anak-anak orang Afrika dan Ambon segera dimasukkan ke sekolah Belanda dengan tiada mengerti bahasa Belanda sepatah kata ju pun? Stella, waktu saya masih sekolah, saya sendiri tahu betul, bahasa banyak anak-anak Belanda sendiri yang sama banyak kepandaiannya dalam bahasa Belanda dengan saya, waktu saya mula-mula sekolah.

Bapak mengatakan dalam notanya itu: “Pemerintah tak cakap menyediakan nasi untuk segala orang Jawa akan dimakannya, tetapi Pemerintah sanggup memberi rakyat upaya akan mencari suatu tempat dan di tempat itu didapati makanan, maka upaya itu ialah “pengajaran”. Memberi anak negeri pengajaran yang baik samalah keadaannya seperti Pemerintah memberikan sebuah suluh ketangannya. Dengan suluh itu cakaplah ia sendiri mencari jalan yang baik dan jalan itu membawa dia ke tempat yang ada bernasi.

Tidak, Stella, tak usahlah saya panjangkan perkara itu lagi, barangkali besok atau lusa dapat saya mengirimkan nota bapaku itu kepadamu, dan di situ dapatlah kaulihat, bagaimana hal keadaan anak negeri pada masa sekarang. Bapak akan bekerja dengan keras, hendak memajukan anak negeri dan saya pun hendak bekerja bersama-sama dengan dia.

Bapak seorang yang setia sekali juga pada asal usulnya, tetapi hak tinggal hak, dan mana yang adil diadilkannya.

Dalam hal kepandaian dan budi pekerti, kami hendak sama tinggi dengan bangsa Eropa. Hak yang kami tagih untuk diri kami sendiri itu harus kami berikan pula kepada siapa yang memintanya. Mengalangi kemajuan anak negeri samalah keadaannya dengan perbuatan Tsar tanah Ruslan, yang mengucapkan perdamaian bagi seluruh dunia, pada hal ia menganiaya dan menginjak anak rakyatnya sendiri. Itu namanya menyukat dengan dua buah gantang, bukan? Bangsa Eropa sakit hati melihat sifat-sifat bangsa Jawa, ump. sifat-sifat yang lalai dan malas dll. Hai orang Belanda, bila sekaliannya itu menyakitkan hati tuan, mengapakah tuan tidak sedikit juga mengikhtiaran diri tuan hendak memusnahkan segala kejahatan itu? Mengapa tak tuan unjukkan tangan tuan akan memajukan saudara tuan yang hitam itu? Percayalah kepadaku, yang kejahatan itu dapat dihapuskan. Buangkanlah dari otaknya selimut kebodohan itu, bukakan matanya, nanti dapat tuan lihat, bahwa padanya ada sifat-sifat yang lain didapati lain dari pada kesukaan hendak berbuat jahat yang asalnya sebagian besar oleh karena kebodohan dan keku-rangan penetahuan.

Contoh pun terlampau banyak, Stella, tak usahlah kucari jauh-jauh contoh itu dan engkau pun demikian, Stella. Di sini dimukamu sendiri kaudengar buah pikiran, yang ma-suk bilangan bangsa kulit hitam yang dihinakan itu. Apa yang dapat disalahkannya tentang hal kami dan tingkah laku kami? Kenalkah mereka itu kepada kami?

Mereka itu tak mengenal kami, sebagai kami tak mengenal mereka itu. Jikalau engkau suka mengetahui hal itu, lihatlah surat bulanan Nerlandia nomor bulan Oktober. Di situ ada sebuah pidato saudara saya pada suatu persidangan tentang bahasa dan ilmu kitab Belanda di kota Gent, di tanah Belgia. Professor Kern membawa dia ke situ dan memintanya bercakap di situ. Perasaan yang diuraikannya di situ samalah dengan perasaan saya dan kami semua.

Engkau bertonya kepadaku: “Banyakkah kekuasaan bapamu?“ Apakah yang sebenarnya kekuasaan? Bapak betul ada mempunyai kehormatan yang besar; tetapi kekuasaan itu hanya ada pada bangsa yang memerintah. Saudara saya berkata di dalam pidatonya itu, yang bahasa Belanda wajib dijadikan bahasa dalam pekerjaan. Baca, Stella, bacalah pidato itu, sungguhp.en bukan untuk kesukaan hatimu, tentu akan kesukaan bagiku. Orang-orang Belanda menertawakan dan mengejekkan kebodohan kami, tetapi bila kami mencoba hendak memajukan diri sendiri, maka ia pun memandang kami seperti musuhnya. Alangkah banyak dukacita saya dulu, waktu saya masih dalam sekolah. Guru-guru dan kawan-kawan saya sesekolah pun memandang kami seperti musuhnya. Tetapi, tetapi bukan sekalian guru-guru dan murid-murid yang membenci kami. Banyak pula yang mengenal kami dan yang menyayangi kami seperti menyayangi anak-anak yang lain. Banyak guru-guru yang kurang sudi memberikan nomor yang tertinggi kepada anak Jawa, Sungguhpun anak itu berhak mendapat itu.

Saya hendak menceritakan kepadamu cerita seorang anak Bumiputera yang budiman dan terpelajar. Anak itu telah membuat ujian penghabisan H.B.S. di Jawa. Anak muda itu bersekolah di kota Semarang dan membuat ujian di Betawi. Waktu ia di Semarang ia diterima oleh segala orang yang ternama dan mulia di rumah mereka itu. Ia seorang anak muda yang beradab dan sopan, yang tahu akan adat sopan santun serta peramah. Tiap-tiap orang bercakap bahasa Belanda dengan dia, dalam bahasa itu ia pun dengan mudah dan baik mengeluarkan pikirannya. Baru-baru keluar dari dunia yang tersebut di atas, datanglah ia ke rumah orang tuanya. Di situ menurut pikirannya tak lain yang lebih baik akan dibuatnya, lain dari pada pergi menghadap orang besar-besar di negerinya.

Waktu ia berhadapan dengan residen, yang bercakap dengan dia, sahabat saya itu membuat suatu kesalahan. Bagaimanakah ia seorang-orang Jawa, berani mencoba, menjawab perkataan tuan besar itu dengan bahasa Belanda? Itulah kesalah-annya itu. Besoknya ia dapat surat angkatan untuk menjadi jurutulis kemendur di gunung-gunung. Di situlah si anak muda itu tinggal merenungkan “dosanya itu” dan melupakan segala ilmu yang dahulu dikumpulkannya dalam sekolah. Beberapa tahun kemudian datang ke situ seorang kemendur baru, yang sebenarnya aspiran kemendur, yang akan mencukupkan sengsaranya sampai melimpah-limpah. Kepalanya yang baru itu seorang dari pada kawannya masa di sekolah dulu dan si kepala itu bukanlah seorang ternama karena ketajaman otaknya. Si anak muda tadi, yang dahulu selalu nomor satu dalam segala hal, wajiblah jongkok di tanah kepada kawannya yang bodoh duludu itu dan ia pun mesti bercakap bahasa Jawa tinggi dengan dia, sedang tuan itu dengan bahasa Melayu tangsi menjawabnya. Dapatlah engkau memikirkan penanggungan dan sengsara si muda remaja, yang sangat dihinakan itu? Betapalah banyak kekutan hati yang tersembunyi dalam perbendaharaan si muda itu, akan menahan segala azab dan ancaman selama itu. Tetapi akhir-nya tak dapatlah ia menanggungkan lagi; ia berangkat ke Betawi dan mohon permintaan hendak menghadap Gubernur-Jenderal; permintaan itu dikabulkan. Keputusan permintaannya itu ia dikirim ke tanah Priangan dengan perintah akan mempelajari hal perusahaan bertonam padi. Di situ ia berbuat suatu kebaktian, oleh karena ia menerjemahkan surat-surat tentang perusahaan tanam-tanaman dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa dan Sunda. Karena itu ia dapat anugerah dari Pemerintah dua tiga ratus rupiah. Pada Sekolah Kemendur di Betawi terbuka pangkat seorang guru untuk bahasa Jawa. Guru bahasa Jawa di sekolah itu pulang ke negeri Belanda. Banyak sahabat-sahabatnya, bangsa Eropa yang suka kepada bangsa Jawa, mencari daya upaya, supaya ia diangkat ke sekolah itu jadi guru bahasa Jawa, tetapi daya upaya itu tiadalah berhasil. Tidakkah pikiran yang amat gila, seorang Bumiputera mengajar bangsa Eropa, apalagi bangsa Eropa bakal jadi pegawai-pegawai Pemerintahan negeri? Buang saja permintaan yang gila itu. Saya mau bertanya: Siapa yang lebih pandai mengajarkan bahasa Jawa lain dari pada orang Jawa sejati? Si muda itu pun kembali ke negerinya; dan sementara itu datang ke tempatnya seorang residen yang lain, lalu si muda kulit hitam yang cerdik dan pandai itu diangkat ke-sudahannya menjadi asisten wedana. Bukannya sia-sia saja ia dibuang ke tempat yang jauh tadi itu, karena di situ-lah ia menghimpunkan ilmu hidup, misalnya: bekerja pada bangsa Eropa, wajib berjongkok di tanah pada mereka itu dan dekat mereka itu tak boleh sekali-kali orang bertutur bahasa Belanda. Sekarang orang lain yang memegang perintah. Tatkala pangkat juru-basa dalam bahasa Jawa terbuka, maka pangkat itu diserahkanlah bagi sementara kepada si muda itu.

Stella, saya kenal seorang asisten-residen yang bercakap bahasa Melayu dengan seorang regen, Sungguhpun ia tahu bahasa regen itu tahu betul bertutur bahasa Belanda. Lagi pula tiap-tiap orang berbincang-bincang dengan kepala negeri itu dalam bahasa Belanda, hanyalah asisten-residen itu saja yang tidak suka. Saudara-saudara saya laki-laki bercakap bahasa Jawa tinggi kepada orang-orang di atasnya, mereka itu menyahut dalam bahasa Belanda atau Melayu. Yang menyahut dalam bahasa Belanda itu, orang-orang yang bersahabat dengan kami dan beberapa orang di antaranya meminta kepada saudara-saudaraku, supaya ia memakai bahasa Belanda dengan mereka itu, tetapi saudara-saudaraku tak ma-u dan bapa pun talah mengizinkan itu. Bapak dan anak-anak-nya lebih tahu, apa yang lebih baik baginya tentang hal itu.

Pegawai-pegawai bangsa Eropa pada pemerintahan negeri yang menyangkakan dirinya di awan tinggi itu, takut sekali rupanya kehormatannya akan hilang, sebab itu sebentar-sebentar mereka itu mengingatkan kehormatan itu. Saya tidaklah mempedulikan ancaman mereka itu. Sebenarnya saya selalu suka tertawa melihat kelakuan mereka itu hendak memeli-harakan kehormatannya itu terhadap kepada kami, bangsa Jawa. Dengan beberapa pegawai pemerintahan negeri bangsa Eropa yang bersahabat dengan saya selalu saya memperbin-cangkan perkara itu. Perkataan saya itu tidaklah dibantahinya dan tidak pula diakannya, Sungguhpun saya tahu betul, bahasa dalam hatinya ia membenarkan perkataanku itu. Menyembunyikan kebenaran itu tentulah untuk kehormatannya pula. Mengertikah engkau sekarang, apa sebabnya saya kadang-kadang tak dapat menahani gelak saya? Suatu keriangan melihat bagaimana tuan-tuan besar itu mencari daya upaya hendak meninggikan kehormatannya itu kepada kami.

Saya gigit bibirku, akan menahani gelakku, waktu saya baru-baru ini di dalam perjalanan, melihat seorang asisten-residen dari kantor pergi ke rumahnya berpayung emas di atas kepalanya yang mulia itu yang dipegang oleh opasnya. Lucu sekali rupanya.

O, junjungan, tahukah tuan betapa orang banyak, yang sekarang menghindarkan payung bagus itu dengan hormalnya, menertawakan engkau nanti di belakangmu? Bagaimanakah timbanganmu, Stella, tentang kelakuan kepala² negeri bangsa Eropa, yang banyak, ya, amat banyak suka menyuruh mencium kaki atau lututnya kepada kepala negeri bangsa Bumiputera? Mencium kaki suatu tanda kehormatan yang tertinggi pada bangsa Jawa kepada ibu bapak dan kaum keluarga yang lebih tua atau kepada kepala negeri kami sendiri. Kepada bangsa asing, hanya kami lakukan dia dengan hati yang enggan, bila ia wajib dilakukan. Ya, bangsa Eropa yang demikian menjadikan tertawa sekali, jika mereka itu menagih kehormatan itu dari pada kami; karena yang berhak akan kehormatan itu, hanyalah kepala-kepala negeri Bumiputera saja. Kalau residen-residen dan ass.-ass. residen menamakan dirinya “kanjeng” sudahlah layaknya, tetapi jika mandor kebun dan jambatan dan besuk barangkali stasiun khef menyuruh bujangnya memanggilkan “kanjeng” kepadanya, bukankah pekerjaan yang sebodoh-bodohnya itu? Tahukah orang-orang itu arti kata “kanjeng?” Mereka itu menagih kepada orang-orang di bawahnya kehormatan, yang diberikan anak negeri kepada kepala-kepalanya sendiri saja.

O, o, saya sangka hanyalah si Jawa bodoh itu saja yang suka melihat orang mengambil muka. Tetapi sekarang saya lihat, bangsa Eropa yang beradab dan terpelajar itu tidak pula membenci dia, ya, lebih gila lagi akan itu.

Tak pernah saya izinkan, perempuan yang lebih tua dari saya, biar bangsanya kurang dari saya pun, bila ia hendak memberi hormat kepada saya, Sungguhpun saya berhak menagih itu. Saya tahu, bahwa ia suka sekali mengerjakan itu, Meskipun saya jauh lebih muda dari padanya, saya seorang keturunan dari orang bangsawan asal yang telah biasa disembah dijunjungnya, dan akan guna orang bangsawan itu maulah mereka itu menyerahkan harta benda dan nyawanya. Sangat merawankan hati, melihatkan kesetiaan orang yang rendah-rendah kepada orang-orang besarnya. Menyembur darah di dada saya, bila orang-orang yang lebih tua dari saya jongkok di tanah bagi saya.

Dengan sedih hati banyak bangsa Eropa di Hindia melihatkan, bangsa Jawa, orang yang diperintahinya, perlahan-lahan memajukan dirinya dan acap kali timbullah seorang kulit hitam, yang menerangkan, bahwa ia sama berotak baik di kepalanya dan sama berhati terang di tubuhnya seperti orang kulit putih.

Tetapi cobalah, hai bangsa kulit putih; akan menahani kemajuan zaman sekarang tentu tuan-tuan tidak akan sanggup. Saya amat sangat menyayangi orang Belanda dan banyaklah terima kasih saya kepada mereka itu atas sesuatu yang keenakannya telah saya rasai. Banyak, ya, amat banyak di antara mereka itu boleh kami namakan sahabat karib kami, tetapi banyak, ya, sangat banyak pula orang Belanda, yang memandang kami seperti musuhnya. Hal itu tak lain sebabnya melainkan karena kami mencoba berlumba-lumba ke padang kemajuan dan kebaikan budi pekerti dengan dia. Dengan jalan yang kasar diperlihatkannya kepada kami: “saya orang Eropa, kamu orang Jawa“, maksudnya: “saya orang memerintah, kamu orang terperintah.”

Bukan sekali saja, tetapi beberapa kali orang Eropa menegur kami dengan bahasa Melayu tangsi, Sungguhpun ia tahu betul, bahasa kami tahu bercakap bahasa Belanda. Saya tak peduli, dalam bahasa apa pun orang menegur kami, asal ia memakai sebuah bahasa yang sejati. Baru-baru ini ada seorang raden ayu ditegur oleh seorang tuan; dengan cakap jawab raden ayu itu: “Tuan, beri maaf saya, yang saya meminta kepada tuan, supaya tuan memakai bahasa tuan sendiri, bila tuan hendak menegur saya. Saya mengerti dan bercakap bahasa Melayu, tetapi saya hanya tahu bahasa Melayu sejati, bukan bahasa Melayu tangsi.“

Maka si tuan itu pun menjadi malu saja. Mengapa banyak orang Belanda tak sudi bercakap-cakap dengan kami dalam bahasanya sendiri? O, ya, sekarang tahulah saya sebabnya itu; bahasa Belanda terlampau bagus akan dituturkan oleh mulut orang yang berkuit hitam. Beberapa hari yang lalu kami mengunjungi orang Belanda totok. Orang-orang yang bekerja padanya, sahabat-sahabat lama kami. Kami tahu bahasa mereka itu mengerti dan bercakap bahasa Belanda. Hal itu saya ceritakan kepada orang baru itu dan apakah jawab tuan penjamu kami itu? “Tidak, ia tidak boleh bercakap bahasa Belanda.“ “Mengapa tidak?” tanyaku kepadanya. Jawabnya: “Anak Bumiputera tak boleh mengetahui bahasa Belanda.“ Tercanggang saya memandang kepada orang yang berkata itu. Dengan segera keheranan saya hilanglah, dan ujung mulut saya pun bergerak-geraklah oleh karena hendak tertawa. Muka tuan itu menjadi merah seperti api, dan ia pun bersongut-sungut dengan janggutnya serta ia merasa apa-apa yang ajaib pada sepatunya, yang gunanya barangkali akan menghilangkan tutur katanya yang telanjur tadi.

Sekarang ada sebuah cerita lagi, yang kejadian di tanah Priangan. Pada suatu malam regen anu menerima jamu di kabupatennya. Jamu itu ialah seorang partikelir dan residen di tempat itu. Tiada berapa lamanya datang seorang aspiran kemendur ke dalam perkumpulan itu. Anak regen itu seorang murid H. B. S., yang sedang di rumah karena waktu tempoh. Anak itu berjalan di pendopo. Tatkala dilihatnya, bukan bapanya saja duduk, maka ia pun hendak menjauhkan dirinya, tetapi residen melihat dan memanggil dia datang kepadanya. Tuan besar itu menyahuti tabik anak muda itu dengan suka hati, dan lama dan ramah bercakap-cakap dengan dia. Tatkala percakapan itu telah habis, maka anak muda itu datang kepada aspiran kemendur itu dan memberi tabik dengan hormat. Tuan kecil itu menimbang tak perlu, akan menjawab tabik hormat itu, hanyalah dianggukkannya kepalanya sedikit dan matanya dengan pemandangan yang menghinakan mengamat-amati anak muda itu dari puncak kepala sampai kekakinya serta merungutkan kata ini dari mulutnya: “Tabee.” Anak muda itu mediadi pucat, dan bibirnya bergerak-gerak dan tangannya ditunjukkannya.

Beberapa lamanya mudian dari pada itu diceritakannya kepada orang partikelir, yang duduk bersama-sama pada waktu hal itu terjadi: “Saya suka sekali kepada orang Belanda, tuan, banyak sahabat kenalan saya orang Belanda, sahabat-sahabat karib, tetapi “tabee” aspiran itu sekali-kali tak dapat saya lupakan, hal itu menggores hati saya.”

O, Stella, saya sudah kerap kali menujukan pemandangan saya pada segala hal keadaan dalam dunia kehidupan di tanah Hindia; dengan tiada sengaja terlihat oleh saya di belakang-belakang dunia pegawai-pegawai itu lubuk2 yang amat dalam. O, Stella, melihat sekalian itu saja telah boleh memusingkan kepalamu. O, Allah. Alangkah banyak perbuatan yang jahat dan ngeri di dunia ini! Ada residen-residen dan asisten-asisten residen yang jauh kurang baik lagi dari pada tuan Slymering dalam Max Havelaar. Tidak, saya tak suka menjadikan surat saya ini sepucuk surat kejahatan.

O, sekarang saya mengerti, mengapa orang Belanda tak suka, kami bangsa Jawa menjadi maju. Apabila si Jawa telah berpengetahuan, tentolah ia tidak akan mengia dan mengaminkan saja lagi akan barang sesuatu yang dipikulkan orang yang lebih tinggi di atas bahunya.

Lihatlah, sekarang surat kabar Belanda “Locomotief”, surat kabar yang terutama di Hindia, telah memasukkan karang-karangan, yang ditulis oleh anak Bumiputera dalamnya. Dalam karang-karangan itu dibukakannya buah pikirannya, yang telah bertahun-tahun bercabul di dalam hati pegawai-pegawai anak negeri, Sungguhpun bukan pada segala pegawai-pegawai, tetapi pada sebagian besar dari pegawai-pegawai anak negeri itu. Buah pikiran itu dulu selalu didiamkan saja. Bukannya pegawai-pegawai yang berpangkat tinggi saja di dalam negeri, sedangkan pegawai-pegawai yang lebih rendah pun sekarang membukakan suaranya pula. Surat kabar hari-hari menamakan hal itu suatu tanda yang baik dan menyorakkan keadaan itu amat sangat. Bagaimana pikiran pegawai-pegawai Eropa tentang hal itu, tiadalah saya ketahui; hanyalah yang saya ketahui, bahwa seorang kemendur meminta perubahan dalam golongan pemerintahan negeri. Perubahan itu tiada sedikit pun mendatangkan kerugian kepada Pemerintah, tetapi mendatangkan keuntungan, bukan saja keuntungan untuk pegawai Belanda, tetapi memberi keuntungan pula kepada pegawai Bumiputera. Kemendur itu menegaki kegunaan pemerintahan anak negeri, di tangan kepala-kepalanya sendiri. Pikiran itu telah dihadapkan di muka majelis kamar kedua di tanah Belanda. Ia pun meminta, supaya di dalam pekerjaan pegawai-pegawai Belanda diwajibkan memakai bahasa Belanda dengan pegawai-pegawai Bumiputera. Bagus! kakakku tiada berdiri sendiri saja menegaki perkara itu.

Seperti di negerimu bangsa perempuan bergerak meminta disamakan hknya dengan laki-laki, demikian pula bangsaku hendak memerdekakan dirinya. Sebagai di negerimu perempuan dan gadis-gadis selalu dirintangi oleh mereka, yang berzaman-zaman telah menjadi tuannya, demikian pula bangsa Jawa dalam pergerakannya diganggu oleh bangsa yang lebih tinggi.

Pergerakan bangsa Jawa itu baharu mulai. Beruntung benar orang-orang ternama dan terpandang memperhatikan perkara kami. Tentuelah pergerakan itu akan menjadi peperangan yang hebat, orang yang memperperang-perangkanya bukannya akan berlawan dengan musuhnya saja, tetapi ia akan berjuang pula dengan kebodohan bangsanya sendiri, yaitu orang yang diperperangkannya itu. Jikalau peperangan si laki-laki sangat hebatnya, maka perempuan-perempuan pun tentuelah akan terbangun. Adohai bangsaku laki-laki, betapakah banyak kerjamu nanti.

Beruntung sekali rasanya kami hidup pada zaman sekarang. Perubahan dari zaman kuno kepada zaman kaum muda.

Belum selang berapa hari ini saya membaca: “Janganlah engkau cela, hai orang tua-tua, barang sesuatu yang baru. Pikirkanlah bahasa barang yang tua sekarang, dulu muda juga.” (Kata-kata itu saya sebutkan dari kepala saya saja). Alangkah panjang surat ini, Stella; kuharap, surat ini jangan terlampau memayahkan engkau, oleh karena membaca dia. Dan maafkan saya, bila ada dalam surat ini kata-kata saya yang menyedihkan hatimu, saya tulis sekalian itu oleh karena kegembiraan saya.

Stella, maafkan, yang semata-mata lupa, kepada siapa saya sekarang menulis surat. Pada dirimu saya dapati seorang yang sepikiran dengan saya. Kepadaku telah kaukatakan, yang saya tak lain dari pada seorang saudara sepikiran bagimu. Dan begitu pula saya memandang engkau. Pada pemandanganmu saya bukan orang Jawa, bukan anak bangsa kulit hitam yang dihinakan itu; maka begitu pula engkau dalam pemandang-anku bukan seorang bangsa kulit putih, yang membenci, menertawakan dan menghinakan si Jawa. Padaku, engkau putih sebenar-benarnya putih, putih kulit dan putih hati-mu. Engkau saya pandang tinggi; engkau saya cintai amat sangat. Tentulah banyak bangsaku membenarkan kataku itu, bila mereka itu mengenal engkau. O, kalau sekalian orang Belanda seperti engkau dan sahabat kenalanku bangsa kulit putih yang lain, yang saya hormati tinggi dan cintai amat sangat ...!

Kitab Barthold Meryan telah dijanjikan kepada saya, tetapi sampai sekarang belumlah juga datang, boleh jadi si penjul kitab-kitab itu harus memesan lebih dulu ke negeri Belanda.

Tetapi selang beberapa hari ini saya membaca kitab “Modern Vrouwen“, yang diterjemahkan dari bahasa Perancis ke-dalam bahasa Belanda oleh Jeanette van Riemsdijk. Dengan kecewa saya letakkan kitab itu kembali. Banyak surat-surat kabar mengatakan kitab itu suatu kitab yang bagus sekali dan ceritanya di dalam segala hal jauh lebih tinggi dari pada hikayat Hilda van Suylenburg, serta ia pun sebuah hikayat yang semporna yang tak kecelaan dan kekurangannya.

Tetapi mencerut pikiranku, kitab H. v. S. masih selalu ra-te dari sekalian kitab-kitab yang telah tercetak tentang kemerdekaan perempuan. Biarlah saya nantikan dahulu mengeluarkan bandingan saya peri hal kitab “Modern Vrouwen,” tetapi sepanjang pendapatan saya kitab itu tak menghidupkan dan menggembirakan hati seperti kitab H. v. S.

Percayakah engkau bahasa saya tidak berhenti-henti mem-baca kitab H. v. S. sehingga tamat? Saya tutup diriku dalam bilik kami, saya lupakan sekalian pekerjaan saya, saya tak dapat menjauhkan kitab itu dari tangan saya. Kitab itu menarik saya amat sangat.

Sayang, yang kitab peringatan saya telah hilang. Saya hendak menyuuh baca kepadamu, sebuah karangan yang baru-baru ini saya baca. Ia itu sebuah karangan dalam bahasa Inggris, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan bernama “Het dul der Vrouwenbeweging”—“Maksud gerakan perempuan-perempuan”. Saya tak tahu betul lagi karangan itu dimuatkan, entah dalam surat kabar de “Gids”, entahkan dalam surat kabar “Wetenschappelijke bladen”. Dan lagi harus engkau baca, bila engkau belum membaca karangan “Wayang-Wong” dikarangkan oleh Martine Tonnet dalam surat kabar de “Gids” nomor bulan November. Karangan itu amat bagus tentang keadaan orang Jawa dan kepandaiannya dan hal keadaan dalam istana di Yogyakarta. Engkau tentu akan merasa kesedapannya, bila engkau membaca itu. Baru-baru ini telah dua kali saya membaca “Minnebrieven” (surat cinta-cinta) yang dikarangkan oleh Multatuli. Alangkah pandainya Multatuli itu. Untunglah, tak lama lagi akan dikeluarkan, segala karangan-karangan dengan harga murah. Untuk hendak mendapat buku-buku itu saya hendak membujuk-bujuk bapak. Bapak Asisten Residen kami seorang sahabat baik Multatuli dan dari padanya kami mendengar beberapa keajiban hidup orang yang pandai itu. Couperus selalu masih di Hindia; bila ia kembali ke Belanda, tentu ia menurut pikiranku, akan mengeluarkan sebuah kitab, yang bagus peri hal tanah airku. Alangkah bagus dan molek kalimat dan suscenan kata-katanya.

RIMBA BAMBU DENGAN KANDANG KERBAU DEKAT DEPOK

Permulaan 1900 (II)

Nyonya tahu, bagaimana ingin kami hendak pergi ke Eropa. Karena tanah Eropa tak dapat kami capai, maka kami pun bersenang hatilah, belajar di sini saja. Tahun yang lalu kami telah berbesar hati akan pergi ke Betawi, Meskipun kenangan-kenangan kami tatkala itu telah terbang ke Eropa. Kami minta kepada Pemerintah Hindia, supaya kami dikirim keta-nah Eropa atas tanggungan Pemerintah. Apabila permintaan itu diperkenankan, maka Rukmini akan belajar untuk perkara gambar menggambar dan membuat patung, supaya ke-median ia dapat mengajari bangsanya, akan menghidupkan kepandaian Bumiputera kembali tentang perkara itu; kepandaian itu salah suatu mata pencaharian untuk anak negeri. Kleince, adikku pergi ke sekolah perkara rumah tangga; ia nanti akan mengajar segala perempuan yang menjadi ibu dan perempuan rumah, dan mengajarkan harga uang dan kehematan serta kebajikan, yang berguna untuk bangsa Ya-wa yang lalai, sia-sia dan yang suka kebagusan dan keindahan itu. Dan saya untuk jadi pengajar, akan menunjuki perempuan-perempuan yang akan menjadi ibu itu, pengerti-an kata cinta dan adil, serta ilmu yang lain-lain, yaitu kata-kata yang telah ditunjukkan bangsa Eropa kepada kami. Pemerintah suka memakmurkan tanah Jawa, hendak mengajar bangsa Jawa berhemat. Kalau hendak membuat itu wajiblah Pemerintah mulai mengajar pegawai-pegawainya berhemat. Apa guna Pemerintah memaksa si laki-laki menyimpan wang, kalau si perempuan yang memegang uang untuk rumah tangga, tak tahu menghargai uang itu?

Pemerintah hendak memajukan bangsa Jawa. Akan memulai pekerjaan itu dipaksa orang-orang bangsawan Jawa mempelajari bahasa Belanda dulu. Karena sekarang, bila Pemerintah hendak mengangkat seseorang, maka Pemerintah memiliki kepandaian mereka itu. Tetapi kepandaian saja cukupkah untuk menjabat suatu pangkat?

Jika Pemerintah betul-betul hendak mengajar dan membaiki bangsa Jawa, haruslah ia jangan memajukan kepandaian saja, tetapi budi pekerti juega.

Siapakah yang terutama dapat mengerjakan perbuatan yang akhir itu, ialah pula yang banyak menolong meninggikan kadar kelakuan manusia? Orang yang sanggup mengerjakannya ialah perempuan. Karena si ibulah, yang memberikan pendidikan yang pertama-tama sekali kepada manusia. Di atas pangkuan si ibu, anaknya manusia yang kecil itu mulai belajar merasa, berpikir dan berkata. Pendidikan yang bermula-mula sekali adalah baktinya untuk seumur hidup. Sebuah kelakuan yang tidak baik, yang wajib dihilangkan dari bangsa Jawa ialah kesombongan. Hal itu banyak akan menolong keselamatan bangsa Jawa. Akan menghapuskan itu hanyalah pendidikan budi pekerti yang baik.

Banyak kekuatan, yang boleh menjadi keuntungan dan keselamatan pada bangsa dan negeri, yang tiada dipergunakan, karena orang yang empunya dia tak mau memakainya, karena kesombongannya. Orang-orang bangsawan lebih suka menanggung kemiskinan dan kesengsaraan, dari pada mempunyai hartha benda, asal payung emas menudungi kepalanya yang bangsawan itu. Orang-orang bangsawan menghinakan segala barang yang tidak ditudungi oleh barang yang dicintainya, yaitu payung keemasan itu.

Bangsa kami tak ada mempunyai kegingan yang banyak dan kenang-kenangan yang tinggi. Kami harus mengherankan dia dengan sebuah contoh, yang menarik hati dan memaksa mereka itu menirunya; kami hendak menyampaikan maksud kami untuk menjadi pembuka jalan dan suluh. Sebab itu kami hendak pergi ke negeri Belanda; untuk sekaliannya, untuk pengajaran dan bagi kami sendiri amat baik, jika kami pergi ke situ; nyonya, bantulah maksud kami ini.

Jikalau kami telah tamat belajar dan kembali ke tanah Jawa, kami akan mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan orang bangsawan; kalau dapat, sekolah itu, sekolah Gubernemen. Kalau tidak dapat, kami coba mendirikan sekolah partikelir dengan uang lotere dan lain-lain.

Bila maksud kami telah sampai, dapatlah pula akal pendirikan sekolah itu. Sekarang yang amat mengalangi kami akan pergi ke Eropa itu, hal keadaan kami di rumah; izin yang akan diberi bapak, lebih besar dari izin yang dikabulkan raja. O, bila kami boleh mendapat izin itu?

Wah, nyonya, sakit, ya, sengsara yang amat besar yang dirasai, bila orang seorang gadis Jawa dan mempunyai perasaan yang halus. Kasihan nasib ibu bapak yang mempunyai anak seperti kami. Kami berharap akan meminta pada Allah, supaya oomer usia orang tua kami dipanjangkannya dan mereka itu nanti akan beriang hati karena kami, Meskipun kami tiada berjalan di bawah payung keemasan.

Hai sahabat kami, tolonglah kami, supaya kami berangkat dari negeri Jawa, pergi bekerja untuk menyampaikan cita-cita dan kenang-kenangan kami. Dewasa inilah mula keadilan dan akhir kelaliman, yang telah beribu-ribu melukai hati perempuan dan gadis-gadis. Akan pembela itu saya akan mempelajari bahasa Belanda sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya, supaya saya dapat bekerja dengan bahasa itu, dan dapat saya pergunakan menurut kesukaan saya. Dengan penaku boleh saya coba mengambil hati orang yang dapat membantu dan bersama-sama dengan dia akan memperbaiki untung nasib bangsa perempuan Jawa. Tentu nyonya akan berkata kepada kami bila membaca surat ini: “Hai anak-anak gila dan malang. Engkau dengan kedua adikmu hendak menggoyangkan gudang adat yang besar itukah, mae engkau merobohkannya?“

“Ya, nyonya,“ jawabku, “kami hendak menggoyang gudang adat itu dengan segala kekuatan kami; Biarpun sebuah batu saja yang jatuh, kami pun berbesar hati. Karena dengan cara begitu, tiadalah kami hidup sia-sia di dunia ini. Sebelum kami memulai pekerjaan itu, kami coba dulu mencari pertolongan seorang laki-laki Jawa yang terpelajar sekali. Kami hendak berhubung dengan bangsa kami laki-laki yang terpelajar dan suka akan kemajuan; dan dengan hal yang demikian hendak mencari persahabatan dengan mereka itu dan kemudian meminta pertolongannya. Kami tidak hendak berlawan dengan laki-laki, tetapi hanya berhadapan dengan orang kaum kuno, yang berpikiran bodoh, beradat yang tak baik lagi untuk tanah Jawa zaman sekarang dan yang akan datang. Sekarang telah ada orang yang lain, yang bersama-sama dengan kami menjadi si penebas jalan setiap hari sepanjang waktu, dan di mana-mana akan menanggung kesusahan dan kesengsaraan. Amat bagus, bila seseorang ada mempunyai cita-cita dan kemauan hati. Namakanlah kami gila, bodoh dan apa pun juga nyonya suka menamakan kami; kami pun tiadalah akan berubah; karena kemauan itu telah masuk dalam darah daging kami.

Nenek saya pun seorang si penebas jalan pula dulu. Setengah abad yang lalu ia telah memberi anaknya laki-laki perempuan pendidikan cara Eropa. Kami tak berhak akan menjadi bodoh dan akan menjadi orang tak berharga sedikit jua. Orang bangsawan itu ada kewajibannya. Demikian pula bangsawan yang tertinggi harus maju ke muka.

Sekarang kami belum dapat berhubung dengan laki-laki bangsa Bumiputera yang berhaluan kemajuan. Jika kami buat pekerjaan itu, dengan segera orang tentu membencaknakan kami, karena persahabatan antara perempuan-perempuan yang tak bersuami dengan laki-laki suatu pekerjaan yang tak pernah kejadian; Biarpun si laki-laki sudah atau belum kawin Sekalipun.

Nanti, apabila kebebasan telah kami peroleh, niscayalah pekerjaan itu kami lakukan. Saudara saya laki-laki kenal kepada mereka itu oleh karena berkirim-kiriman surat atau sebab bertemu sendiri. Kami tahu bahwa ada laki² yang menghargai perempuan yang pandai berpikir dan bersopan santun. Saya mendengar scorang Bumiputera berpangkat tinggi mengatakan, bahwa perempuan yang terpelajar dan tahu adat sopan santun suatu pertolongan dan bantuan yang besar bagi lakinya.

13 Augustus 1900 (VIII)

Kami merasa diri kami celaka, sungguh celaka, karena kebenaran yang sesungguh-sungguhnya itu mengancam hendak menghapuskan cita-cita kami. Budi yang tawar itu me-nyuruh membuang dan menguburkan mimpi dan cita-cita itu, karena cita-cita yang seperti itu tak berguna dalam du-nia kami Bumiputera ... Dan tiba-tiba bertemulah nyonya dengan kami ... Tak sanggup kami rasanya mengeluarkan dengan kata-kata, apa yang bercabul dalam hati kami. Perkataan yang semanis-manis-nya dan setulus-tulusnya tak dapat menggambarkan perasaan hati kami itu.

Ketahuilah, nyonya yang berbudi, bahasa selama hidup kami, kedua nama tuan itu selalu akan tinggal pada kenangan kami dengan banyak terima kasih.

Tatkala bapak bulan yang lalu berceritera, bahwa tuan Directeur v. O. E. en N. akan datang ke mari, dan maksud kedatangan itu kami dengar, maka kami pun segera sangat menghormati dan memuliakan s.p.y.m. suami nyonya itu, Sungguhpun yang mulia itu belum kami kenal. Kami telah tahu, bahwa y.m. menaruh kasih pada orang Jawa, laki-laki dan perempuan. Dengan keinginan yang tak terkira, kami menantikan kedatangan beliau y.m. datang dan di sisinya berjalan seorang nyonya yang lemah lembut pekertinya, tanganinya yang pengasih menaburkan bunga-bungaan di taman hati nurani kami. Tutur katanya yang manis dan baik itu keluar dari bibirnya seperti lagu yang merdu bunyinya pada telinga kami dan masuk ke dalam hati jantung kami. Kata-katanya itu adalah semisal sinar matahari, yang menerangi kalbu kami serta meriang dan menghiburkan hati kami.

Kami ucapkan terima kasih kepada Allah, karena Allah telah menggerakkan nyonya pergi kepada kami dan kami pun mendapati nyonya seorang pengasih dan penyayang. Dua, tiga hari y.l. kami belum sedikit juga tahu kepada nyonya dan sekarang kami mencintai nyonya sebagai kami telah seumur hidup berkenalan dengan nyonya. Alangkah ganjil dan ajaibnya percintaan itu. Ia tak mau dipaksa dan tak mau terikat di mana jupupo; ia datang tidak dipanggil dan tidak disangka-sangka. Dengan sepatah kata saja ia mengikat dua kalbu, yang permulaannya tak berkenalan, dengan tali tambatan yang erat dan kuat dan ialah memandang dengan pemandangan yang terus pada hati kedua belah pihak mereka itu!

Alangkah amat lezat, amat berbahagia rasanya mengetahui, bahwa perasaan dan kenang-kenangan, yang terasa oleh kita dan yang kita cintai terdapat pula pada orang lain. Itulah suatu tali yang tak kelihatan, tetapi yang kukuh. yang terentang dari suatu hati kehati yang lain dan itulah akhirnya yang membawa kita berhampiran, yang menyebabkan pergaulan yang bertahun-tahun.

O! kami suka bersorak-sorak karena kegirangan dan mau beryanyikan lagu-lagu pujian dan terima kasih bersamasama dengan burung-burung di atas pokok kayu kepada Tuhan sarwa sekalian alam, dan dengan si penyanyi yang bersayap itu bersorak-sorak terbang ke langit kepada Tuhan yang esa mengucapkan terima kasih atas kehidupan yang bagus dan indah ini. Biarpun hidup itu banyak pula kecelaannya, tetapi ia pun indah dan bagus dan dalam kecelaannya itu barulah terang kelihatan kebaikan dan kebagusannya itu. Allah selalu bermaksud yang baik kepada kita. Hidup diberikan kepada kita sebagai rahmat dan bukan seperti beban. Kita manusia sendiri membuat hidup itu menjadi tonggak gantungan.

Kebaikan dan rahmat Allah pada kita itu yang terbaik kita rasai dan ketahui, bila kita memandang kemuliaan alamnya. Di Klein Scheveningen kami acap kali tak puas merasai bahagia kami. Sekalian yang kami pandang di situ bernapaskan rahmat Tuhan, kesentosaan dan keselamatan. Rasanya hidup kami seolah-olah bertukar, yaitu semakin lama, semakin bagus.

O! alangkah besar kekuasaan dan kebesaran bangsawan pikiran dan bangsawan, yang setiap masa dan ketika sanggup mendatangkan perubahan dalam hidup manusia.

Augustus 1900 (VIII)

“Tak adalah di dunia ini bahasa, bagaimana Sekalipun pandai kita memakainya, yang dapat menceritakan perasaan itu dengan baik. Bahasa seperti itu sungguh-sungguh tiadalah ada.” Saya pun berpikir demikian pula seperti nyonya itu, bahasa yang sedemikian tak ada didapat; yani tak ada dalam bahasa-bahasa yang ditutur dan dituliskan orang. Tetapi ada sebuah bahasa yang ganjil dan ajaib, yang tidak mempergunakan kata-kata dan huruf-huruf, tetapi dapat dikenal dan diketahui oleh masing-masing yang merasai dia. Dan bahasa itu boleh dipercaya amat sangat, karena perkataan “dusta” tiadalah didapat dalam kitab kamusnya.

Bahasa itu bahasa mata yang suci dan terpilih dan ialah cermin kalbu manusia! Dan jika nyonya dapat melihat saya pada petang, waktu kertas yang lima helai yang harum dan sedap baunya gementar di tanganku dan air mata yang panas jatuh berlinang-linang di pipiku, maka akan mengertilah nyonya, apa yang terasa di hatiku, Sungguhpun tak sepatah kata jua pun nyonya dengar dari mulutku.

Apa yang tak dapat oleh mulut mengatakan dan oleh pena menuliskan, dataplah nyonya melihat pada mataku, yang basah oleh air mata menengok ke atas seperti mencari seorang di antara bidadari di situ, yang akan turun ke bawah, akan membujuk hati kami yang pilu dan berdukacita oleh karena kesengsaraan, yang banyak di dunia ini dan dialah yang akan membujuk kami sebagai di dalam surga nanti.

Syukur, syukur, syukur, kata hatiku, setiap kali darah turun naik dan tiap-tiap napasku, itulah menjadi ucapan mohon terima kasih.

Kami hanya anak-anak manusia biasa saja, yani orang berbudi buruk dan baik sebagai berjuta-juta orang yang lain. Boleh jadi pada masa ini lebih banyak yang baik dari yang buruk ada pada kami, tetapi sebabnya maka begitu tak usahlah dicari lebih jauh. Bila orang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tentulah tiada akan susah ia menjadi orang baik. Dengan tak disangka ia akan baik juga yang sebenarnya bukan kepandaian, bukan jasa, akan membuat yang tidak jahat, kalau orang tak sempat membuat kejahatan itu dan jika ia masih di dalam penjagaan orang tuanya.

Nanti, jikalau kami keluar dari rumah orang tua kami yang baik dan sentosa itu, dan sudah berdiri sendiri dalam penghidupan yang luas ini, serta tidak kami rasai lagi lengan orang tua kami yang lemah lembut memangku kami akan melindungi kami, kalau badai kehidupan datang menyerang menggoda kami. Jika tangan yang pengasih tiada lagi membimbing dan memegang kami, supaya kaki kami jangan ya-tuh tergelincir dalam kehidupan ... Pada dewasa itulah baru kami akan menyatakan, siapa kami!

Saya minta pada Allah, supaya kami jangan akan mempertinggi pula gunung kecewaan, yang telah menyusahkan kehidupan nyonya. Oleh sebab itu kami minta pada nyonya amat sangat, supaya nyonya jangan menyangkakan kami orang yang semanis dan semolek itu juga. Karena pekerjaan itu tak dapat tidak akhirnya mengecewakan nyonya dan kalau demikian tentulah hal itu akan mendukacitakan kami.

Dengan perlahan-lahan saya hendak menceritakan kepada nyonya berdikit-dikit peri hal keadaan kami yang sebenar-benarnya, supaya nyonya dapat mengetahui tingkah laku kami, supaya nyonya, karena baik hati nyonya, jangan memandang kami bersifat-sifat baik, karena sifat yang demikian tak adalah pada kami.

Kami masih muda, kami lagi boleh hidup, biar nanti kita lihat, apa yang dapat kami perbuat. Nyonya menulis kepada saya: “Saya menaruh kasihan kepada perempuan-perempuan, nasibnya menarik hati saya, ia masih dihina dan dianiaya di dalam kebanyakan negeri-negeri di bumi ini dalam abad “ke-majuan“ seperti sekarang. Dengan suka dan setia saya menegaki dan melindungi mereka itu.“

Saya mohon banyak terima kasih kepada nyonya atas tutur kata nyonya yang manis dan pengasih itu. Dalam kata-kata yang di atas itu nyata kepada kami, bahasa nyonya menyayangi sesama manusia dan dapat merasai penangungan berjuta-juta perempuan, yang telah berzaman-zaman dianiaya oleh sesamanya manusia, yaitu si laki-laki.

Syukur! Mengucapkan syukur banyak-banyak kepada Allah, karena ada rupanya orang yang berhati dan pikiran yang mulia, yang menaruh kasih kepada nasib perempuan-perempuan Bumiputera yang duka itu. Orang-orang itulah hendak menerangi dunia perempuan yang gelap dan muram itu.

Perempuan-perempuan Bumiputera telah padalah disiksa dan si gadis-gadis muda remaja itu telah banyaklah penang-gungannya. Hai saudara perempuan bangsa kulit putih, yang berhati pengasih dan penyayang, unjukkanlah tanganmu kepada kami, dengan pemandanganmu yang luas, otakmu yang tajam dan helakanlah kami dari pada lumpur kesukaran dan kesakitan ini. Kelobaan si laki-lakilah yang memasukkan dan menahani kami kelopumper yang celaka itu. Tolong kami memerangi dajal kelobaan si laki-laki yang ganas, yang telah beratus-ratus tahun menyoksa dan menginjaki kami itu, dan yang menyangka perbuatannya itu perbuatan yang biasa dan tiadalah ia memikirkan bahasa perbuatannya itu lalim adanya. Serta ia dengan sabar memandang perbuatannya itu sebagai hak yang patut bagi si laki-laki, atau seperti suatu pusaka akan kedukaan si perempuan.

Sungguhpun saya masih muda, saya tidak pekak dan buta, sehingga saya telah banyak mendengar dan melihat, ya, barangkali telah terlampau banyak penglihatan dan pendengaran, yang menyakiti kalbuku, dan menyuruh saya melawan dengan gagah kepada adatadat kuno yang buruk itu, yang menjadi suatu laknat kepada perempuan-perempuan dan anak-anak!

Dengan putus asa dan berdukacita amat sangat, saya perpulaskan tangan saya memikirkan diri sendiri, seorang yang tak berdaya akan berhadapan dengan suatu kejahatan yang amat besar itu. Kejahatan yang dilindungi oleh agama Islam dan dihidupi oleh kebodohan perempuan yang jadi kurban kejahatan itu!

Aduh, bila kukenangkan untung nasibku yang akan memaksa saya ... menjalani aturan hidup yang bernama permaduan, kelaliman yang bengis itu: “Saya tak mau!” teriak lidah saya dengan kerasnya, dan hati saya pun mengulang teriak itu beribu-ribu kali ... Kemauan! adakah kita manusia mempunyai kemauan?

Semenjak hari lahir kita sampai kepada hari maut, kita mesti ... mesti, tidak boleh tidak.

Hai, hidup, alangkah banyak keajaiban dan masalah yang sukar-sukar dalam dirimu!

Kami menyangka, yang kami telah mengenal engkau dan keadaanmu, tetapi sebenar-benarnya kami tak tahu peri halmu sedikit juga! Kami menyangka mempunyai kemauan, suatu kemauan yang keras sebagai besi dan kami sangka diri kami kuat dan sanggup memindahkan gunung. Tetapi, bila kami melihat air mata orang yang berdukacita itu, maka lemahlah kekuatan kami.

Bolehkah saya menceritakan kepada nyonya suatu cerita, yang tidak menarik dan menyuokakan hati, melainkan menjemukan, panjang dan berulang-ulang, dan memaksa nyonya berhati sabar? Lebih dulu saya minta kepada nyonya, supaya nyonya memberi maaf saya, bila cerita itu nanti membosankan nyonya dan menghabiskan waktu. Saya berani menceritakan itu kepada nyonya, karena nyonya telah menulis kepada saya: “Tulislah surat kepada saya sebanyak-banyak dan sepanjang-panjang engkau dapat membuatnya.”

Ah, kalau nyonya ketahui lebih dulu, yang kebaikan nyonya itu akan dirusakkan, tentulah tutur kata yang merdu di atas itu tidak akan nyonya keluarkan.

Cerita itu suatu hikayat tiga orang perempuan bangsa kulit hitam; anak orang sebelah Timur, di negeri yang amat panas. Ketiga anak itu lahir dengan bermata buta, kemudian, sesudah matanya diobati, dapatlah mereka itu melihat, sekarang dapat ia merasa dan mengucapkan kemolekan dan kemuliaan dunia. Setelah mata mereka itu telah biasa pada cuaca dan kebagusan dan mencintai matahari, yang menerangi seluruh alam dan tempat sekelilingnya yang bagus itu, maka datanglah perasaan pada dirinya, bahwa kain penutup matanya akan terikat kembali dan mereka itu pun ditolakkan kembali ke tempat yang gelap, tempat asal datangnya, yaitu tempat segala kaum keluarga dan nenek moyang mereka itu dipeliharakan!

Orang mempersalah kitab-kitab yang penuo dengan “perkataan sia-sia,” yang datang dari tanah sebelah Barat, tanah yang jauh itu masuk ke tengah-tengah negeri, tempat yang suci dan damai di pesisir tanah Jawa yang hijau itu. Di situlah tinggal ketiga anak perempuan yang tersebut tadi; ketiganya itu bersaudara. Ketiga saudara itu tak suka dan tak mau memikul di bahunya beban yang biasa dipikul oleh nenek moyangnya yang perempuan dengan sabar dan kesukaan: Sekarang beban itu tergantung dan terbanting di udara, setiap saat ia boleh jatuh di atas bahu orang yang tak menyukainya itu.

Perkataan orang yang mempersalah kitab-kitab itu tiadalah sekaliannya benar. Bukan kitab-kitab saja yang menyuruh dia melawan, dan menyuoruh ketiga anak itu membenci hal keadaan di negerinya, yang sejak dulu kala telah terdiri dan yang jadi suatu laknat kepada segala manusia yang bernama perempuan atau gadis!

Kehendak kepada kebebasan, kemerdekaan, dan mau tegak sendiri, bukannya kehendak masa sekarang.

Tetapi kehendak itu telah ada waktu mereka itu masih kecil, sebelum ia mengetahui “kemerdekaan”, dan waktu kitab-kitab dan surat-surat yang berisi tentang hal itu belum ada dalam capaian mereka itu, waktu itu pun kehendak yang tersebut telah ada dalam kalbu seorang dari ketiga saudara itu; keadaan yang dilihatnya dan didengarnya sehari-hari membangunkan kehendak itu padanya.

Kedatangan kehendak pada anak yang seorang itu, beginilah kisahnya.

Pada waktu bermain-main di sekolah Belanda di negeri kecil Jepara, di bawah pohon baru yang berdaun kuning, yang terdiri dalam pekarangan sekolah, duduklah bertumpuk-tumpuk anak-anak perempuan kecil dan besar di atas rumput yang sebagai permadani hijau rupanya dan lembut rasanya. Waktu itu hari sangat panasnya dan seorang pun tak suka hendak bermain-main.

Dewasa itu berkata anak perempuan bangsa kulit hitam yang di atas itu; bukan saja karena kulitnya hitam, tetapi pada pikirannya pun tampaklah, bahasa ia seorang anak Bumiputera, katanya: “Coba, Letsy, berceritera sedikit atau bacakan apa-apa kepadaku!” Seorang anak perempuan bangsa kulit putih, yang besar dan duduk bersandar di pokok ke-yu membaca sebuah kitab kecil menengok pada si anak tadi dan menyahut, katanya: “Ah, tidak, saya harus menghafalkan pengajaran bahasa Perancis.”

“Di rumah dapat kamu menghafalkan itu, karena kita tak ada kerja. Sekolah untuk besok”, kata anak kulit hitam tadi lagi.

“Betul, tetapi kalau saya tiada mempelajari bahasa Perancis baik-baik, tak bolehlah saya dua tahun pergi ke negeri Belanda. Saya ingin hendak pergi belajar ke sekolah guru perempuan, barangkali saya ditempatkan di sini, jika demikian saya tidak duduk di bangku lagi, melainkan di kursi di muka kelas.

Tetapi, Ni, coba ceritakan kepadaku; mau jadi apa engkau nanti? Hal itu belum pernah kauceritakan kepadaku,” tanya anak Belanda itu. Kedua mata si kulit hitam yang besar itu memandang kepada yang bertanya dengan herannya.

“Nah, ceritakanlah”, kata si Belanda lagi. Anak Jawa itu pun menggelengkan kepalanya serta berkata dengan ringkas: “ndak tahu”. Ia betul-betul tak tahu, ia belum pernah memikirkan hal itu, ia masih amat kecil masih melompat-lompat. Pertanyaan sahabatnya bangsa kulit putih itu termakan dalam hatinya. Tak dapat ia melupakannya dan selalu mendesus di telinganya perkataan: “Mau menjadi apa engkau nanti?”

Dimenung-menungkannya sehingga kepalanya menjadi sakit. Pada hari itu ia beberapa kali mendapat hukuman me-nulis di sekolah, ia menjadi bingung, dan memberi jawab

yang bodoh bila orang bertanya barang sesuatu kepadanya dan membuat kesalahan yang bodoh sekali dalam kerjanya. Ten-tu sajalah begitu, karena pikiran dan otakna tidak pada pengajaran; pikirannya selalu pada kata-kata yang didengar-nya waktu bermain-main tadi. Yang mula-mula dibuatnya, setiba ia di rumah, ialah pergi kepada bapanya, akan mence-ceritakan pertanyaan yang tergores di hatinya itu: “Hendak menjadi apa saya nanti?“

Si bapak tiada berkata apa-apa, melainkan ia tertawa saja dan memijit pipi si anak itu. Tetapi dengan cara demikian talah si anak itu bersenang hati dan selalu merengut menan-tikan jawab. Kakaknya laki-laki lalu di situ, mendengar pertanyaan si anak itu, telinga si anak yang tajam itu mendengar jawab ini: “Akan menjadi apa anak-anak perempuan? Ten-tulah menjadi raden ayu!“ Si anak itu bersenang hati dan berlari dengan kesukaan. “Raden ayu,” diulangnya kerap kali dalam hatinya. Apa itu “raden ayu?“ Pikiran yang baru itu tak dapat pula dilupakannya, selalu pikirannya pada kedua patah kata “raden ayu” itu saja.

Ia wajib menjadi itu pula. Ia menengok kiri kanan, ia melihat dan beramah-ramahan dengan kebanyakan raden ayu. Sejak itu selalu diperhatikannya beberapa raden ayu dan dipelajarinya kehidupan mereka itu.

Apa yang dapat diketahui si anak itu dari pada kehidupan perempuan-perempuan itu, menimbulkan kedoberhakaan da-lam hatinya kepada kata “raden ayu“, kepada adat yang telah berzaman-zaman dijunjung-junjung bangsanya itu: “Anak-anak perempuan wajib kawin, wajib menjadi milik seorang laki-laki dengan tiada boleh bertanyakan, apa, siapa dan bagaimana si laki-laki itu!”

Beberapa lama kemudian dari pada itu si anak perem-puan tadi telah berumur dua belas setengah tahun dan waktu pun datanglah, ia akan meninggalkan kehidupan anak-anak yang selalu manja itu: bangku sekolah, bangku yang sangat disukainya haruslah ditinggalkannya dan ia pun harus bercerai dengan sahabat kenalannya bangsa Eropa, sung-guh pun ia suka amat bermain-main dan bercampur gaul dengan mereka itu. Umurnya telah cukuplah akan tinggal di rumah, akan menyerahkan dirinya kepada sekalian adat-adat tanah airnya; adat-adat yang menyuruh anak-anak gadis tinggal di rumah, menyuruh hidup berkhalwat yang amat sangat dalam dunia yang sunyi sampai datang seorang laki-laki, yang dijadikan Allah untuk tiap-tiap anak gadis menagihnya akan membawanya ke rumahnya.

Apakah yang tak ada pada kepala si anak itu dan tak timbul dalam hatinya, tatkala ia kesudahan sekali menempuh jalan dari sekolah pergi ke rumah. Matanya yang hitam itu diliputi oleh air mata, dadanya yang ramping menjadi kembang kempis dengan hebatnya. Bibirnya yang kecil itu bergerak-gerak akan menahani sedan-sedannya. Ia tahu betul bahwa segala sesuatu yang dicintainya telah tertutup baginya, sebagai pintu sekolah. Perceraian dengan guru yang menyayanginya, yang berkata manis dan merdu padanya, waktu ia akan berangkat itu, perceraian dengan kawan-kawannya, yang berjabat tangan, dengan dia dengan mencucurkan air mata, dan perceraian dengan tempat duduknya, tempat yang telah banyak memberi kesukaan kepadanya, semuanya mendukakan dia tiada berhingga; tetapi kedukaan itu tiadalah sebesar kesedihan hatinya karena hendak berhenti belajar. Ia sangat suka dan cinta akan belajar dan ia tahu, bahasa lain dari pada pelajaran di sekolah rendah tiada terpermanai banyaknya lagi yang akan diketahui dan dipelajari orang. Ia agak loba akan kehormatan, tentang “kepandaian”, ia tak suka tertinggal di belakang kawan-kawannya bangsa Eropa, yang berangkat ke Eropa itu dan tak mau tercecer pada kakak-kakaknya, yang memasuki sekolah menengah (H.B.S.).

Disembahnya bapanya, meminta, supaya ia dikirim ke Semarang bersama-sama dengan anak laki-laki memasuki sekolah menengah dan ia berjanji akan belajar dengan serajin-rajinnya, dan orang tuanya tak lah akan bersusah hati padanya. Ia berlutut di muka bapanya, tangannya yang tersimpulet terletak di atas lulut bapak itu, dan matanya yang besar dan seperti mata boneka itu terbukalah menentang si bapak dengan penuh keinginan dan pengharapan, serta dengan hati berdebar-debar dinantinya jawab si bapak itu. Dengan kasih sayang, si bapak mengeruot-urut kepala si anak yang hitam itu, dan rambut yang kusut pada dahi si anak dihindarkan oleh si bapak dengan jarinya dari dahi itu, semuanya itu kejadian dengan lemah lembut, tetapi dari mulut si bapak berbunyilah perkataan “tidak!” Ia tak boleh belajar ke Semarang. Ia melompat, ia tahu, arti kata “tidak,” yang keluar dari mulut bapaknya. Ia berlari ke biliknya, menyuruk ke bawah tempat tidur akan menyembunyikan dirinya, supaya jangan kelihat-an oleh orang lain. Ia mau sendiri saja, dengan kedukaan, yang menjadikan ia tersedu-sedu keras, sedu yang tak dapat disabarkan. Pada suatu ketika guru bertanya, kalau-kalau ia suka pergi ke negeri Belanda bersama-sama dengan Letsy, anak guru itu, sahabatnya akan melanjutkan pengajaran. Dengan gemar dan mata yang bercahaya-cahaya didengarnya perkataan guru itu: “Bagaimana, maukah engkau?”

“Jangan tanyakan pada saya, saya suka? Tanyakan saja; saya boleh?” jawab si anak itu waktu itu dengan suara yang lembut, yang keluar dari bibir yang gementar itu. Tatkala ia di bawah tempat tidur itu, ia berpikir, yang guru itu seorang baik, dan guru itu bermaksud baik dengan dia.

Sebentar lagi si anak itu berpikir lain pula: Orang asing seperti dia, yang tak tahu adat-adat Bumiputera, tak tahulah akan kekejaman, bertanyakan pertanyaan yang sedemikian kepada si anak itu.

Menghadapkan makanan yang enak dan lezat, yang melaparkan si anak itu melihatnya, tetapi si anak tadi tak dapat dan tak boleh mengecap makanan itu.

Si anak itu amak perempuan yang gila. Ia tak tahu, bahasa maksud orang tuanya yang baik itu, menyuruh ia pergi ke sekolah, bukannya hendak membuat pikirannya menjadi hu-ruhara. Ia pergi ke sekolah lain tidak melainkan akan belajar bahasa Belanda dan adat-adat Belanda, tentulah ia kemudian akan terhinyar dari sengsaraan yang banyak itu.

Tetapi anak kecil dan bodoh itu bukanlah membuat dirinya sendiri sengsara, ia tak dapat menolong, yang Allah memberinya hati yang demikian, hati itu memandang segala pengajaran yang bagus dikatakan bahasa Belanda padanya.

Anak yang malang! Dalam kalbunya pikiran bangsa Barat berarak dengan tempik soraknya, tetapi kaki tangannya terikat pada adat-adat bangsa Timur. Kaki dan tangannya itu masih lemah dan lembut, untuk memutus mematahkan ikatan dan belenggu, yang mengikatnya itu. Dan kemudian bila ia merasa dirinya kuat akan memecahkan belenggu dan ikatan itu dengan sekali renggut, waktu itulah ... tetapi janganlah kita terlampau hendak lekas, karena hal itu be-jumlah kejadian.

Pintu sekolah di belakangnya telah tertutup dan rumah orang tuanya suka dan riang menerima dia. Rumah itu besar, pekaranganya luas sekali, tetapi dinding yang mengelilingi pekarangan itu tinggi dan tebal. Tempat yang empat segi dan tertutup itulah yang akan datang menjadi dunia dan alamnya.

Bagaimana Sekalipun luas dan bagus serta penuh kese-nangan sebuah sangkar, maka ia tinggal SANGKAR juga pada pemandangan burung yang dikurung dalamnya!

Telah lalu! hari mudanya yang manja itu telah lalu! sekalian keriangan yang dikecapnya pada masa kecilnya, telah lalu. Tetapi dirasanya dirinya masih anak-anak, sebenarnya pun ia masih anak-anak; tetapi adat negerinya membilang dia dengan segera masuk bilangan seorang yang telah sampai umur. Padanya tak ada serokan yang lebar yang tak dapat dilompatinya, dan tak ada pohon tinggi yang tak dipanjatinya dan ia pun tak pernah berjalan, melainkan selalu melompat-lompat sebagai anak kuda yang manja di tengah padang; sekarang ia harus jadi pendiam dan sopan seperti layaknya pada anak-anak gadis orang bangsawan tinggi.

SEKOLAH RENDAH DI JEPARA

Pada mata bangsa Jawa, anak gadis dinamakan sebuah permata dari segala gadis-gadis, bila ia pendiam dan tak bergerak seperti boneka, berkata ketika perlu saja dengan suara yang halus, sehingga semut pun tak dapat mendengar, berjalan haruslah selangkah dua sebagai siput, tertawa jangan kedengaran dan bibir pun selalu tertutup, tidak senonoh lakunya bila giginya kelihatan sedang tertawa, jika kelihatan maka dikatakan rupanya seperti “luk“ atau musang.

Ni, yaitu si anak tadi, setiap waktu melanggar adat sopan santun itu.

Hidup yang sunyi dan yang sama saja berkepanjangan hari itu mulailah. Dari sehari kesehari ia harus membuat pekerjaan yang tak bertukar-tukar dalam lingkungan yang tidak berganti-ganti, serta bergaul dengan orang-orang yang selalu dilihat juga.

Dalam hidup yang sedemikian yang dapat membesarkan hati-nya hanyalah kedadangan sahabatnya Letsy. Keriangan besar baginya, jika Letsy ada padanya, ia kembali menjadi seorang anak yang manja dan lupalah ia akan penjaranja, yaitu penjara yang akan membalas kelupaannya itu dengan kesedihan yang bertambah lebih lagi, bila Letsy pulang ke rumahnya.

Keriangan itu pun tak lama, kemudian lenyaplah dari hidupnya yang sunyi itu, karena Letsy, sahabatnya itu, berangkat ke negeri sebelah Utara yang jauh itu. Jadi tak adalah sahabatnya lagi. Akan persahabatannya itu tidaklah puties, surat dapat juga memperhubungkan mereka itu, Sungguhpun mereka itu berjauh. Tetapi hidupnya karena itu makin bertambah-tambah sunyi dan tidak bercahaya ...

Dengan keinginan yang amat sangat Ni melihat kepada adik-adiknya perempuan, bila mereka itu lengkap dengan batu dan kitabnya, keluar dari rumah akan pergi ke gudang ilmu hendak mengumpulkan pengetahuan di situ.

Ada beberapa lamanya ia sendiri memajukan pengajarannya dengan kitab-kitab; tetapi kemudian ia maklum, bahasa belajar dengan tiada guru, pekerjaan yang sia-sia adanya; maka disimpannyalah kitab-kitabnya dengan keloh yang amat sangat.

Jikalau sekiranya bantal dan guling tahu bertutur, pastilah ia akan dapat berceritera banyak; dan tentu ia akan menceritakan kesengsaraan seorang anak kecil, yang dari semalam kesemalam mencucurkan air mata yang amat sedih!

Si anak itu tak dapat menyabarkan dirinya! Dalam kepalanya yang gila dan hatinya yang rawan itu timbul silih berganti dengan tiada berhenti-hentinya beratus-ratus pikiran yang hu-ruhara. Ia merasa dirinya di tempat yang sunyi senyap, sung-guhe pun ia dikelilingi beberapa orang yang selalu hari bersama-sama diam dan hidup dengan dia. Betul ia bersaudara dengan mereka itu, dan setiap hari bersama-sama dengan dia, tetapi perasaannya dan pendapatannya berlainan sekali dengan perasaan dan pendapatan mereka itu dan rupanya keadaan itu akan tinggal demikian.

Ia ada mempunyai seorang kakak perempuan, yang sama-sama dalam penjara itu dengan dia. Benar ia sayang pada kakaknya itu, tetapi tali persahabatan yang memperhubung-kan si kakak dan si adik itu, tiadalah berapa teguhnya, karena perasaan dan buah pikiran kedua, saudara itu berbeda amat sangat. Si kakak itu pendiam, penyabar, tenang dan suka sendiri-sendiri saja. Tetapi si adik, seorang anak yang semata-mata berhati manja dan riang. Buah pikiran, yang terdapat pada si adik semuanya pikiran yang salah pada pemandangan si kakak, yang suka dan keras pada adat-adat yang lama.

Telah kerap kali si adik itu datang kepada si kakak dengan mata yang bercahaya-cahaya dan berhati yang besar menceritakan pendapatannya dan meminta pertimbangan dalam beberapa hal. Kalau si adik telah habis berceritera, betul si kakak tiada melarang si adik itu, tetapi si kakak selalu menjawab dengan tiada peduli: “Turutlah kehendakmu, aku ORANG JAWA!” Hati si Ni menjadi kecut, sebagai diraba oleh tangan yang kasar dan seluruh tubuhnya menjadi gementar. Adik-adiknya yang perempuan pun telah menjauhkan diri dari padanya. Kakaknya yang tua tak suka melihatkan adik-adiknya yang kecil kerap bercampur gaul dengan si Ni, karena si Ni mempunyai buah pikiran yang gila-gila. Si kakak itu keras sekali. Adik-adiknya yang kecil amat takut kepadanya.

Hal itu merusakkan hati si Ni sekali, tetapi ibunya lebih lagi dari itu mendukacitakan hatinya.

Hati ibunya itu lebih-lebih lagi tertutup kepada si Ni, karena pikiran si Ni berlainan sekali dengan pikiran ibunya itu.

Ni, anak yang malang benar, hati nuraninya mencintai kasih sayang, tetapi seorang pun tak hendak memberikan kasihnya kepadanya, pada hal ia sendiri selalu menghamburkan kasih mesra kepada orang lain.

Itu sebenarnya bukan salah orang, mengapa si Ni selalu asing dan lain, ya, berlain benar dengan orang-orang lain?

Ia pun sebenarnya telah kerap kali mencoba mengubah dirinya, supaya ia menjadi serupa saudaranya yang lain-lain juga, tetapi tiap-tiap kali ia akan hampir berubah itu, maka tiba-tiba datanglah pikiran dalam hatinya yang dibangunkan oleh pengetahuan bahasa. Belandanya melarang dia memperturutkan yang baru itu, seolah-olah ia tak setia pada pengetahuannya. Sesudah itu ia biasanya menyesal, lalu megang pikirannya yang lama itu lebih keras lagi dari sampai pada waktu itu.

Dalam pada itu hidupnya pun tiada terlampau sunyi senyap benar. Karena dalam antara keluarganya adalah juga dua orang yang menyayanginya, sebagai ia menyayangi mereka itu, yang mencintainya seperti yang dicita-citanya sendiri, yaitu dengan kesayangan dan percintaan yang sungguh dan suci.

Kedua orang itulah pula yang dicintainya dengan percintaan yang sampai ke dalam hati nuraninya. Kedua orang itu ia-lah bapanya dan seorang saudaranya yang laki-laki yaitu kakaknya yang ketiga, yani yang bungsu dari kakaknya yang bertiga itu. Betul bapanya tak dapat memenuhi kehendaknya yang sangat dicintainya itu, yaitu; memberi dia kebebasan! Betul bapanya itu tak cakap mencukupi keinginannya akan ke-pandaian; tetapi bapaknya itu sungguh baik kepadanya dan menyayangi dia, si gadis gila itu dengan sehabis-habis kasihnya. Bahwa bapanya mencintainya itu diketahui dan dirasai oleh si anak. Bapak itu pandai benar memandang dia dengan pemandangan kesayangan dan setiawan. Jarinya yang lemah itu sungguh pandai meraba pipi anaknya itu dengan lembutnya serta menyelisik rambutnya, rambut yang hitam dan panjang itu, serta tangannya yang kuat itu pun pandai nian memeluk leher dan bahu si anak itu.

Si adik itu tahu, bahwa kakaknya tadi sayang padanya, Meskipun si kakak tak pernah menampakkan sayangnya itu dengan tuterur kata yang manis dan tak sekali jua membujuk menghiburkan dia! Tetapi hiraunya akan adiknya itu menyatakan kepada si adik, bahwa kakaknya itu menaruh kasih sayang kepadanya. Kakaknya itu tidak menertawakan dia bila ia mengeluarkan buah pikirannya padanya, melainkan selalu dide-ngarkannya dengan sungguh-sungguh dan tak pernah ia menggemetarkan si adik itu dengan perkataan: “Turutlah kehendakmu, akan aku tinggal orang Jawa.“ Sungguhpun ia tidak mengatakan, yang ia menyetujui cita-cita adiknya itu, tetapi si adik tahu, bahwa kakaknya itu dalam hatinya membenarkan pikirannya. Si adik tahu, menilik kitab-kitab yang diunjukkan si kakak ketangannya. Ni, merasa dirinya kaya beroleh kasih sayang kedua orang itu dan karena pikirannya disetujui pikiran kakaknya itu.

Bapanya tidak selalu dekatnya, karena bapak itu banyak ker-janja, ke tempat ia bekerja itu tak boleh si Ni datang, karena ia tak boleh keluar dari dalam biliknya yang tertutup itu dan kakaknya yang dicintanya itu hanya beberapa kali boleh datang ke rumah, karena ia bersekolah di Semarang. Yang tetap tinggal di rumah ialah kakaknya yang sulung, sebab sekolahnya telah tamat; ia telah mendapat pangkat di negerinya dan diam bersama-sama dengan orang tuanya. Kediamannya bersama-sama dengan orang tuanya itu tiadalah meriangkan hati si Ni, melainkan kebalikannya yani mendukacitakannya.

Dahulu sebelum kakaknya yang sulung itu datang, Ni telah banyak penanggungannya, sebab tidak diindahkan oleh hampir segala orang serumahnya, sebab ia dipenjarakan itu, sebab melihatkan adat-adat kuno, yang tak dapat disetujuinya itu. Kini datang pula usikan dan gangguan kakaknya yang sulung itu menambahi penanggungan yang menyakiti hatinya itu.

Ni tak suka dan tak dapat menurut segala kehendak kakaknya itu. Selalu dikatakan kepadanya: “Yang lebih muda harus menurut perintah yang lebih tua; lebih-lebih anak-anak perempuan wajib menurut kehendak kakak-kakaknya yang laki-laki.”

Tetapi Ni, seorang anak yang memakai pikiran sendiri, ia tak mengerti mengapa hal itu wajib demikian. Ni berkata: “Bukan salah saya, yang saya kemudian dilahirkan dari kakak-kakak saya itu.” Sepanjang pikirannya bodoh sekali, yang ia karena itu wajib menurut kehendak kakak-kakaknya itu. Sepanjang pikirannya, tidak seorang pun mesti diturutnya, lain dari pada pikiran dan hatinya sendiri.

Dan ia tiada akan membenarkan perkataan kakaknya itu, kalau ia tak yakin, bahwa si kakak berkata benar dan bermaksud baik. Adapun kakaknya yang sulung itu seorang anak yang telah rusak, anak kesayangan ibunya. Tiap-tiap orang berlumba-lumba memujinya dan memperlakukan kehendaknya, karena orang malu akan pangkat bapanya yang tinggi itu. Sebab itu sepanjang pikirannya telah adatnya tiap-tiap orang, yang dipandangnya rendah dari padanya, wajib menurut kehendaknya.

Mula-mula ia heran, kemudian jadi marah ia, tatkala dilihatnya adiknya perempuan, yang setengah lusin tahun lebih muda dari padanya itu, berani menyanggah “kemauannya”. Ia berjanji kepada dirinya, bahwa anak yang tak beradat itu harus, ya, mesti ditaklukkannya. Pada pemandangannya sekalian yang diperbuat si Ni salah. Bila Ni bersalah sedikit saja dimarahinyalah dengan keras. Hampir setiap hari si kakak dan si adik berselisih, si kakak dengan muka asam dan tutur kata yang kasar, menyakiti hati si adik sampai berlumur darah, dan si adik dengan bibir yang bergerak-gerak dan suara yang gementar membela dengan perkasa hak miliknya, yang hendak diinjak oleh si kakak itu. Si adik tegak sendiri melawan kelaiman kakaknya itu, kakaknya yang nanti akan melindunginya, bila calaka datang atasnya, yani bila orang tuanya tak ada lagi, sebelum ia dibawa ke rumahnya oleh seorang laki-laki yang dijadikan Allah untuknya!!!

Tetapi dekat bapanya tentulah si kakak tiada berani menggoda si adik tadi, karena bapak sekali-kali takan mau mengizinkan hal yang demikian, dan lagi si kakak itu tahu, yang si Ni tak mau mengadukan dia, sebab Ni bukannya si pengumpat. Akan orang-orang lain yang serumah dengan dia dan melihat perselisihan itu setiap hari, membiarkan saja dengan berdiam diri, Meskipun mereka itu tahu, yang si adik menurut jalan yang benar. Si adik perempuan itu menjadi kasar dengan tiada berhingga, karena si kakak selalu menerbitkan kekerasan itu padanya. Kekasaran si adik amat sangat, sehingga ia berani mengatakan “tidak”, bila si kakak menyebutkan “ia” Biarpun ia masih muda, dan si kakak jauh lebih tua. Seorang anak perempuan tak boleh mempunyai hak yang akan merugikan seorang laki-laki dalam sebarang perkara. Hak seorang anak perempuan hanyalah barang sesuatu yang diizinkan baginya oleh kakak laki-lakinya yang tak loba. Beberapa tahu kemudian, ketika Ni teringat akan perselisihan itu, mengertilah ia, mengapa laki-laki sangat loba. Mulai dari waktu kecilnya, si laki-laki telah diajar menjadi loba, mula-mula sekali oleh ibunya. Sejak kecilnya diajar ia memandang anak perempuan sebagai seorang makhluk yang rendah kedudukannya dari padanya. Bukankah selalu dide-ngar oleh si Ni, ibunya, atau saudara perempuan ibunya atau sahabat kenalannya perempuan-perempuan mengatakan dengan suara yang menghinakan: “seorang gadis, hanya seorang anak perempuan saja?” Jadi perempuan sendiri yang mengajar si laki-laki menghinakan perempuan. Darah Ni pun mendidih, bila ia mendengar seorang perempuan memperbin-cangkan seorang gadis dengan suara yang merendah dan menghinakan itu.

“Perempuan-perempuan tak ada harganya.”

“Perempuan-perempuan dijadikan untuk laki-laki, akan kesukaan mereka itu; si laki-laki boleh memperbuat perempuan-perempuan menurut kesukaannya.”

Bila Ni mendengar itu, matanya berapi-api, dengan marah ditunjukkannya tangannya dan dikatupkannya bibirnya akan menahani kemarahannya yang tak berhingga-hingga itu. “Sekali-kali bukan begitu,” teriaknya dalam hatinya. “Tidak, tidak, kami pun manusia juga sebagai laki-laki itu. Berilah aku menunjukkan, bahwa kami pun orang juga. Bukalah belengguku! dan izinkan saya, tentu saya tunjukkan, yang saya pun seorang manusia, manusia yang sama dengan seorang laki-laki.” Ia pun berpusing-pusing menarik dan merenggutkan rantai itu amat sangat kuatnya, rantai itu mengikat kaki tangannya dengan surat-eratnya. Rantai itu tak dapat diputuskannya melainkan kaki dan tangannya yang luka karena itu!

Dapatkah ia menyabarkan dirinya? Dalam kepalanya yang muda bercabul beratus-ratus pikiran dengan tidak berhenti-hentinya. Dalam hatinya telah masaklah pikiran yang hendak melawan keadaan yang kuno-kuno itu; ia suka, ia wajib mengikuti jalan yang baru. Bagaimana akan mencari jalan itu, belumlah diketahuinya; hal itu masih gelap, dan kusut dalam otaknya yang bodoh itu, tetapi ia tahu, yang ia mau menempuh jalan itu.

Itulah nasib anak yang lekas berakal! Anak-anak yang berumur sebagai dia itu, biasanya tak lain dalam kenang-kenangan, melainkan bermain-main dan bermanja-manja, tetapi si anak ini selalu memikirkan hal yang pelik-pelik dalam kehidupan itu, yang selalu menyakitkan hatinya dan mendekacitan dia.

Hal itu tak boleh tidak tentu terjadi begitu; ia tidak pekak dan tidak buta, dan ia hidup dalam dunia yang pincang dan timpang, yaitu di dunia bangsa Bumiputera, yang tidak menaruh kasihan kepada anak-anak muda dan tidak mempunyai perasaan yang halus. Dengan mendadak mata yang muda dan halus itu telah terbuka melihat kehidupan manusia yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang penuh berisi kekasaran, kekotoran dan kebengisan yang ganas. Dari orang tuanya sendiri tak pernah ia mendengarkan perkataan yang kasar, yang menghuru-harakan kalbunya yang suci dan melookakan hatinya yang berperasaan halus itu; tetapi ia hidup tidak hanya bersama-sama dengan orang tuanya; ia hidup di dunia manusia; dunia yang tak menaruh kasih kepada anak-anak muda dan perasaannya yang halus itu.

O, maut! mengapakah engkau dinamakan orang musuh yang amat ditakuti? Bukankah engkau yang melepaskan manusia dari hidup yang bengis itu? Ni tentu akan memohonkan terima kasih padaku dan dengan sukacita mengikutmu!

Tidak seorang jua, yang menunjukkan kepada Ni, keindahan dan kemuliaan hidup di luar kejahatan dan kekejiannya itu. Adat-adat Bumiputera mengharuskan, supaya anak dan orang tua jangan terlalu beramah-ramahan. Mereka itu boleh dan dapat juga berjinak-jinakan dan beramah-ramahan, tetapi berjinak-jinakan yang sungguh-sungguh seperti pada kebanyakan bangsa Eropa antara anak dan orang tuanya, tidak boleh jadi. Ni mencintai dan menyayangi bapanya dan ia pun tiadalah akan membuat barang sesuatunya dengan tiada sepengetahuan orang tuanya; Sungguhpun tak dapatlah ia membukakan sekalian yang tersembunyi dalam hati nuraninya kepada mereka itu. Keras dan kasar berdiri adat-adat kuno bangsa Jawa itu menceraikan si bapak dari si anak.

Ni melarikan dirinya sedapat-dapatnya dari pada mereka yang merendahkan dia dari pada kelakuan mereka itu. Karena adat lembaga negerinya tidak mengadakan dia mencari penghiburan hatinya pada pangkuan orang tuanya, terpaksalah ia mencari penghiburan hatinya yang duka nestapa itu pada sahabat-sahabatnya yang tak pandai berkata-kata, yaitu: “kitab-kitab.”

Dahulu juga ia suka membaca-baca, tetapi sekarang kesukaan itu menjadi keasyikan.

Kalau sekiranya ia tak ada kerja, atau kerja yang disuruh buat kepadanya telah sudah, maka dengan segera ia mencapai sebuah kitab atau sehelai surat kabar. Semua dibacanya, apa saja yang terlihat oleh matanya, dibacanya, masak mentah kabar-kabar itu seolah-olah ditelannya kesemuanya. Kadang-kadang ada pula terjadi, yang ia membuangkan sebuah kitab dari padanya karena bencinya. Bukankah ia membaca itu hendak melupakan barang yang hidup, barang-barang yang seperti itu tak perlu dicarinya dalam kitab-kitab, sebab di dalam hidup yang sebenar-benarnya sudah sampai banyak benda keji-keji, dan yang menjemukan orang? Oleh karena hal itulah ia melarikan dirinya dari dunia yang keji itu, dan memasuki dunia kitab-kitab, dunia yang didirikan oleh akal dan budi manusia. Ada kitab-kitab yang bagus, yang tiada terkatakan lezatnya. Kebagusan dan kelazatan itulah yang menghilangkan kesusahan dan kemelaratan hidupnya. Budi pekerti yang baik, pikiran yang tinggi orang mulia dan budiman dalam kitab-kitab itu menggembirakan hatinya dan melipurkan laranya. Ia hidup bersama-sama dengan sekalian apa pun yang dibacanya dan ia pun tiada kekurangan kitab-kitab yang akan dibacanya. Ia hanya perlu menjulurkan tangannya dan mencapai kitab-kitab dan surat kabar dalam teromol pembacaan yang tiap-tiap pekan selalu membawa perbekalan yang barubaru baginya. Bapanya yang selalu berusaha akan menyukan hatinya dan yang bersukacita sendiri melihat anaknya suka baca membaca itu merusakkan dia dengan kitab-kitab yang dihadiahkannya kepadanya. Ia tak mengerti semua, apa yang dibacanya, tetapi itu tak menghilangkan gemar hatinya. Bila ia pada pertama kali tidak mengerti isi sebuah kitab, maka pada kedua kali mengertilah ia sedikit-sedikit, dan pada ketiga atau keempat kali membaca kitab itu mengertilah ia semuanya.

Tiap-tiap kata yang tak diketahuinya, dituliskannya dalam kitab peringatannya, supaya nanti bila kakak kesayangannya ada di rumah, boleh ia bertanyakan arti kata-kata itu kepadanya. Si kakak itu setia sekali kepadanya dan dengan segala suka hati menolong adiknya.

O, betapakah besar hatinya, bila kemudian hari diketahuinya, yang membaca kitab-kitab itu bukan saja memberi nikmat yang lezat cita rasanya padanya, melainkan memberinya pengajaran yang tak berhingga juga.

O, bila ia tak mempunyai bapanya yang dicintanya itu dan kakak yang setia, dan kitab-kitab yang indah-indah, tentulah ia akan berhati duka setiap hari, sepanjang waktu. Ia tentulah akan merasa dalam kesengsaraan, yang muresakkan hidupnya yang muda remaja dan nyawanya yang lemah itu dengan kesedihan yang amat sangat. Bapak dan kakaknya itulah yang memuaskan kelaparan hatinya kepada kecintaan dan kitab-kitab itulah yang memberi makanan untuk pikirannya yang lapar, pikiran yang telah dibangunkan oleh bahasa Belanda!

Kemudian ibunya melahirkan seorang anak laki-laki. Kejadi itulah yang menarik dia kembali dari jalan yang salah, membawanya ke jalan yang baik, jalan yang telah lama taditurutnya lagi. Ia hampir-hampir menjadi anak yang durhaka kepada ibunya. Dulu hatinya sudah hampir tertutup kepada bundanya itu. Sekarang adiknya yang baru lahir itu membukakan pintu hatinya itu kembali. Adiknya yang kecil itu mengajar dia apa yang sebenarnya I bu itu dan apakah kewajiban si anak pada ibunya.

Keliling pelupuk mata ibunya berwarna hijau dan rupanya, seperti orang tak kuat dan lelah; adiknya yang kecil itu yang menyebabkan sekalian itu. Karena, adiknya itu selalu mengusik bunda dan yang semalaman-malaman berteriak-teriak, sehingga ibu tak dapat tidur. Sungguhpun adik sangat menyusahkannya, tetapi bundapuntnya tak pernahlah memasamkan mukanya barang sedikit pun karena usikan itu. Apabila adik berteriak dan menangis menjerit-jerit, maka dengan sekejap mata ia pun telah ada dekat adik dan dengan lemah lembut diambilnya adik, di pangkunya, dan sebelum adik tertidur nyenyak di pangkuannya, belumlah dilepaskannya dari tangannya.

Bukankah Ni seorang anak yang kecil dan tak berdaya seperti adiknya itu dulu?

Tidakkah bundanya tatkala dulu bersusah payah pula karenanya? Awan yang meliputi hati Ni pun hilang dan kalbunya gembira lagi akan mencintai menyayangi perempuan, yang melahirkan dia ke dunia ini! Pada tahun yang pertama adik pun sehat dan walafiat dan kemudian dari pada itu ia menjadi sakit-sakit, dan tiga tahun lamanya ia tak pernah senang, yang sebenar-benarnya seolah-olah ia berperang yang hebat hendak mempertahankan nyawanya.

Melihat adik-adiknya sakit itu, Ni belajar dengan sebaik-baiknya arti anak bagi si bunda.

Dengan cara demikian tahulah Ni, bahasa ia kurang pengetahuan tentang hal itu, sekaranglah ia mengenangkan dirinya sendiri dan barulah ia tahu, bahwa sampai waktu itu ia hanya selalu memikirkan kesusahan sendiri, dan tak pernah memikirkan kesengsaraan orang lain.

Waktu itulah barui ia insaf akan kesalahannya sendiri. Ia pun dulu seperti adiknya itu pula, ia tak akan datang ke-dunia ini kalau ia tak ada berbunda. Laloie teringat pula oleh-nya kelakuannya dengan kitab-kitab tadi, yang menjauhkan dia daro ibunya.

Ibunya itu tentulah banyak penanggungan waktu itu dan barangkali sekarang pun masih ada penanggunganya itu. Ni pun tentu tak dapat menolong, yang mula-mulanya berselisih pikiran dengan bundanya, tetapi Sungguhpun begitu, ia pun sangat menyesali dirinya dulu berkelakuan yang sedemikian.

Adiknya yang kecil itu mengajar Ni, menyebabkan dia insaf akan dirinya dan mengajar dia berhati sabar serta mengucapkan terima kasih, lagi mengajar dia memberi orang lain dengan tiada mengharap pemberian orang yang lain itu kembali.

Empat tahun lamanya waktu itu telah laloie; orang yang tiada dalam pikirannya tentulah menyangka, bahwa waktu itu berjalan senang dan sentosa saja, tetapi mereka yang tajam penglihatannya tentu memaklumi, bahwa waktu itu bagi Ni waktu peperangan adanya, lahir dan batin. Dalam tiga tahun itu banyaklah yang dipelajarinya, yani: memerintah diri sendiri, berhati sabar dan tidak lebih dulu memikirkan untuk diri sendiri saja, tetapi berserah diri belumlah dipelajarinya dan ia pun tak sanggup mempelajari itu. Dalam kepalanya selalu bercabul dan berkacau pikiran yang bimbang dan gundah gulana disertai oleh penglihatan yang berkelilingnya dan yang terjadi pada tempat yang lain-lain.

Sekalian itu menyedihkan hatinya dan menjadikan darahnya mendidih. Suara yang datang dari tanah Eropa yang jauh itu yang tertera dalam kitab-kitab, surat-surat bulanan dan surat-surat kabar serta warkah-warkah dari sahabat-sahabatnya bangsa Belanda menambahi bimbang pikirannya itu dan suara itu masuk ke dalam hati nubarinya.

Dalam empat tahun itu hanya beberapa kali ia keluar dari rumah orang tuanya.

Waktu bulan puasa jikalau orang tua pergi ke kuburan, maka saudara-saudaranya perempuan dan Ni pun boleh pergi bersama-sama dan pada suatu hari orang tuanya membawa saudaranya perempuan yang sulung dan Ni sendiri pergi kepada bapak mudanya yang tinggal di negeri lain.

Setahun lamanya ia bersama-sama dengan saudara-saudaranya perempuan mendapat pengajaran dalam jahit-menjahit dari seorang perempuan Belanda, sejam lamanya pada tiap-tiap petang. Untuk Ni jam itu suatu saat yang memberi kesenangan, karena ketika itu ia dapat bercakap-cakap bahasa Belanda, bahasa yang dicintainya itu.

Sementara itu kakaknya yang sulung dipindahkan ke tempat lain. Kepindahan itu membesarkan hati Ni. Yang sebenarnya Ni malu mengatakan yang ia berbesar hati karena itu, sebab yang pindah itu kakaknya, betul si kakak itu tak sayang kepadanya.

Waktu dan perantaraan telah berbuat pekerjaan yang ajaib. Kedua hal itu menghapuskan dendam khasumat dari hati Ni. Ia telah sayang kepada kakaknya itu kembali dan menaruh kasihan pada kakaknya yang mulutnya manis dan berkata merdu itu. Betapa suka hati Ni, tatkala ia melihat kakaknya itu lama kelamaan insaf akan kesalahannya itu.

Sungguhpun hal itu tidak dikatakannya kepada Ni, tetapi laku dan peranginya menyatakan yang ia menyesali dirinya berbuat yang tidak adil pada adiknya. Dengan air mata yang bercucuran Ni mengucapkan terima kasih dan syukur pada Allah, sebab kakaknya sekarang menyayanginya. Dahulu Ni dibenci dan digoda oleh kakaknya itu, sekarang Ni menjadi kesayangannya. Orang lain-lain, Biarpun isterinya Sekalipun, tak dapat mengambil hati si kakak itu, tetapi Ni selalu dapat mengambil hatinya.

Telah setengah tahun datang adiknya, Bemi mengawani Ni dalam penjara itu. Bemi beruntung, karena ketika Ni berumur sebagai Bemi, ia telah lama dikurungkan di belakang dinding yang tebal dan tinggi itu, tetapi Bemi waktu berumur sedemikian masih bebas melompat kian ke mari dan boleh berjalan-jalan membuat barang yang lain-lain yang dahulu tak boleh dibuat Ni. Bemi telah berumur empat belas setengah tahun, baru harus tinggal di rumah. Dewasa itu Ni telah berumur enam belas tahun, saudaranya perempuan yang tertua telah dipersuamikan. Perkawinan itu mendatangkan perubahan dalam hidup Ni. Ia mengajar kenal adik-adiknya yang sebelum dari waktu itu disangkakannya seperti orang asing saja. Dengan adik-adiknya itu ia hidup berzina-jinaan. Saudaranya perempuan yang tertua itu tak ada lagi yang akan memperceraikan mereka itu. Ni menjadi saudara yang tertua dalam rumah, tetapi ia tak suka dituakan seperti kedua kakaknya laki-laki dan perempuan itu ... ia mau disayangi, tidak ditakuti. Kebebasan dan kesamaan dimintanya pada dirinya sendiri. Tiadakah ia memberi kebebasan dan kesamaan kepada orang yang lain-lain? Pergaulan dengan adik-adiknya haruslah bebas dan tidak dipaksa, dibuangnya segala barang sesuatu yang menyangkuti dan menahani kebebasan dan kesamaan itu.

Dengan adik-adiknya, Bemi dan Wi, yang sudah wajib pula tinggal di rumah, ia mendapat bilik saudaranya yang tua itu ... Di bilik itu datang tiga orang makhluk yang mula-mulanya tiada berkenalan satu dengan yang lain, di situlah mereka itu sama-sama bertemu dan berkumpul menjadi satu. Serta di tempat itulah permulaan cerita anak tiga bersaudara itu.

Augustus 1900 (II)

Heran benar, kekasih kami yang jauh dari kami, apalah sebabnya maka tak dapat kami mimpikan, sedang ia selalu dalam kenang-kenangan kami dan selalu kami perbincangkan!

Tetapi adalah pada suatu malam anak nyonya yang tertua ini bermimpikan nyonya. Tuan kedua rasanya datang kembali ke Jepara dan waktu itu kami pergilah menyongsong tuan dan nyonya sampai ke Semarang. Pertemuan kami dengan nyonya itu sangat merawankan hati kami, dan dengan tiada menghamburkan kata sepatah jupaun. Kami masing-masing berganti-ganti nyonya peluk dengan peluk yang sampai kehati nurani dan nyonya pegang kami dengan teguh seperti kami tak akan dilepaskan lagi rasanya. Dan dalam pangkuan nyonya itu berderailah air mata kami, karena merasa beruntung yang tak dapat dihinggakan.

Tatkala anak nyonya tersadar dari pada tidurnya, maka bantunya dilihatnya telah basahlah oleh air matanya. Sehari-harian itu ia berhati sayu, karena mengenangkan perjumpaan di atas ini, hanyalah semata-mata suatu mimpi saja.

Kami takut, kami takut benar nyonya dan tuan tidak akan berjumpa lagi dengan kami, anak-anak nyonya, bila kelak nyonya telah meninggalkan kami. Sekarang kami rasa sukacita kami menjadi susuet. Makin lama makin kami ketahui, bahwa kami sekarang tidaklah seperti dahulu lagi. Penetahuan dan keinsafan itulah menjadi suatu benda yang mendukakan hati kami.

O, hidup! apakah yang telah engkau perbuat atas anak-anak perempuan mama Mies, dan apakah jadinya anak-anak gadis itu sekarang? Ke manakah perginya kegembiraan kami yang amat besar itu? Karena kegembiraan yang tak dapat dinilai itulah maka kami dapat sampai ke seberang lautan kesusahan, dan kegembiraan itu wajib kami taruh senantiasa untuk mengarungi rimba raya dalam dunia penghidupan yang akan kami tempu tentulah dengan susah dan sukar. Ke manakah perginya kerajinan dan kegirangan kami yang menghiburkan hati selalu mau bekerja, dan yang banyak menghasilkan berbagai-bagai percintaan? Ke manakah perginya si penglipur hati yang menghilangkan dan melupakan jemu dan bosan yang tertera dalam kitab kamus?

Tiap-tiapnya, yang selama ini kami indahkan dan menggri rangkan hati kami, semuanya sekarang telah meninggalkan kami. Wahai, ma Mies, dapatkah tuan memikirkan, bahasa tak adalah orang yang lebih calaka dari pada orang yang tak ten tu tujuan maksud hidupnya?

Niscaya akan menjadi orang sia-sialah kami, kalau tak ada sesuatu apa-apa terjadi, yang menggembirakan hati kami dalam keadaan tak berhawa nafsu dan tak berdaya ini. Begitulah keadaan kami sekarang.

Segala kesukaan kami yang dahulu, telah terlupa terletak, bercendawan di tempat yang sunyi. Gambar-menggambar, musik, jahit-menjahit, masak-memasak, berkirim-kiriman surat, ya, sedangkan baca-membaca yang dahulu menjadi bagian hidup kami pun sekarang telah kami abaikan. Kami boleh dikatakan telah menjadi orang yang semalas-malasnya semasa ini. Wajib kami memaksa diri sendiri akan menghabiskan membata yang suatu kitab kecil. Suatu paksalah rasanya bagi kami sekarang baca-membaca itu, sedang dahulunya itulah suatu kesukaan yang amat sangat bagi kami, lebih dari yang lain. O, ma, demikianlah kemunduran kami sekarang. Ke manakah perginya kemauan dan kekuatan kami dahulu itu? Sungguh tak dapatlah diceritakan bagaimana penanggungan kami ini, yang disebabkan oleh kelalaian dan kesia-siaan yang menyerang kami.

Kami seolah-olah tak bekerja sedikit juga. Dan jikalau ada apa-apa yang perlu kami perbuat, maka kami kerjakanlah keperluan itu seperti mesin saja. Apakah kiranya yang ku rang bagi kami? Sakit kami pun tidak. Boleh jadikah agaknya sekalian itu disebabkan oleh kesengsaraan yang telah kami tanggungkan dahulu? O! Kesedihan hati! Kesakitan itu sungguh kadang-kadang tak dapat ditahani! Akan penolak baha yang wajiblah kami hendaknya menaruh barang sesuatu, terutama ialah suatu pekerjaan tetap, yang menarik hati kami semata-mata, yani pekerjaan yang tak sempat membiarkan diri untuk memikirkan kesengsaraan, Meskipun barang sekejap mata Sekalipun! Itulah suatu upaya yang baik, yang akan dapat membangunkan pikiran kami yang telah tertidur itu, dan yang sanggup mengembalikan kemauan hati kami yang telah melayang itu. Dalam bekerja, di situlah tersembunyi upaya itu. Kenang-kenangan kepada beringin sangat-sangat akan mendapat kerja yang kami kasih, itulah yang mendukakan hati kami benar. Kami sangat beriba hati, bila kami merasa yang badan sendiri berhati mau dan kuat akan bekerja, tetapi oleh karena untung malang, kemauan dan kesukaan itu tak dapat dilangsungkan!

Sekalian kesusahan dan kesengsaraan itu membawa kami ke padang kelalaian dan kemalasan. Anak nyonya yang tertua heranlah akan dirinya sendiri melihatkan surat yang sepanjang ini dapat ditulisnya ..., tetapi mengapa tidak ... karena surat ini ialah untuk ma Mies yang kucintai akan mengabarkan kesengsaraan, jadi tak heranlah yang kata-kata itu sebagai mengalir saja dari penaku ini.

Kami tak dapat dan tak suka mempercayai, bahwa hidup kami akhirnya akan seperti hidup yang banyak saja; tetapi kam pun tak mau pula percaya dan sekali-kali tak dapat memikirkan, yang mimpi kami yang bagus itu akan terjadi. Walaupun demikian makin dekat kami berdiri pada perasaan kejadian cita-cita kami itu, makin sangatlah kami mencin-tainya! Demikianlah pikiran kami. Ringkasnya, kami menyangka sekarang, bahwa seakan-akan hanya beberapa hari sajalah antara kami tergenggang dari pada hidup yang baru, yang kami ingin benar itu!

Sangat sedihlah hati kami memikirkan hal itu kembali. Tak maulah kami menceritakan dia lagi di sini, Sungguhpun demikian kami berdiam diri, bukanlah pula artinya mau membiarkan saja penanggungan kami atau mengizinkannya. Oleh karena kami sekarang dengan pelajaran kami telah sampai sejauh itu berjalan, tak maulah kami membuangkan apa yang telah tertaruh bagi kami, dan sejak dari dahulu, sekali-kali tiadalah kami berhajat hendak membuangkannya.

Baik tidaknya perbuatan kami tak tahulah kami, tetapi kami tak dapat dan tak suka menurut kehendak suara yang lain, lain dari pada suara hati kami sendiri. Sesuatu cita-cita kami yang besar sekali, yani hendak mengasihi orang dan dalam hal itu mencoba, supaya mendapat kasih sayang orang, yang dapat kami harapkan akan mempertinggi pikiran kami. Bulan Juni yang lalu, ketika kami di rumah tuan Sythoff, bertanyalah tuan residen itu kepada anak nyonya yang sulung ini, kalau-kalau si anak itu telah tahu, bahasa Directeur van Onderwijs ada mencari seorang guru kepala perempuan untuk sebuah sekolah gadis, yang bakal didirikan. Sebelum anak nyonya ini menjawab, tuan residen memutar tanya itu kepada bapak:

“Sudahkah tuan ceritakan hal itu kepada anak-anak tuan, regen?“ Dan setelah mendapat jawab, ia bertanya lagi kepada anak nyonya ini: ”Sukakah engkau menjadi guru kepala sekolah itu?“ Si anak tiada berkata apa-apa melainkan dibuang-nya mukanya ke tempat lain, supaya bapak dan residen yang duduk berhadapan dekat kami, tak dapat melihat mata si anak, yang telah siap dengan segala gambar cita-cita yang tersembunyi di hatinya itu. Ia tiada berjanji akan mendiamkan kehendak dan cita-citanya itu, tetapi ia tak tahu, bahwa bapak-nya tak suka, yang si anak memperbincangkan hal itu dengan orang lain. Dalam segala hal harus nama bapak dipelihara-rakan, dan percakapan yang tersebut di atas ini ialah sebagai suatu mimpi, yang menakuti dan mengerikan bapak ...

“Kami sedianya wajib menjadi anak laki-laki, dan kalau demikian bolehlah kami menjadi laki-laki yang kukuh,” itulah perkataan yang acap kali kami dengar, sehingga jemulah te-linga kami mendengarnya. Jikalau benar hal itu dan ada bagi kami sifat-sifat yang boleh menjadikan kami laki-laki yang kukuh, apakah sebabnya maka kami sebagai keadaan kami sekarang ini, tak boleh menjadi perempuan yang kukuh dan perkasa? Atau mestihak hendaknya orang menaruh otak, yang asing zat-zat yang menjadikannya, untuk cetakan laki-laki yang kukuh dan perkasa itu? Atau barangkali tak ber-gunakah perempuan yang berani dan kukuh di dunia ini?“ Tetapi memanglah sudah jadi nasib kami perempuan yang sedemikian; yani kami perempuan Jawa ini harus teruta-ma bersifat patuh, penurut dan mesti berserah diri saja. Kami sebenarnya boleh disamakan dengan tanah lihat, yang da-pat diperbagai-bagaikan orang bangunnya, menurut seperti kehendak laki-laki sahaja. Tetapi apakah gunanya kita mem-perbincangkan keadaan itu? Kalau demikian tak adalah u-bahnya seperti orang menyayangi kapal yang tenggelam, dan mengatakan apakah sebabnya maka kapal itu tiada ditinggal-kan saja di pelabuhan? Karena kalau demikian tentulah ia tak akan tenggelam. Dan lagi dengan salah-menyalahi dan membongkar segala kesalahan dan menyelidiki siapa yang bersalah, sekali-kali tak dapatlah kita menolong, supaya kapal itu jang-an tenggelam. Tetapi bila kita membanting tulang, bekerja keras memberi pertolongan dan memompa air pada tempat yang bocor, niscaya bolehlah kecelakaan itu tertolak; kalau tidak demikian dilakukan terbaiklah orang membiarkan dirinya mati lemas saja ...

Pada setahun yang baru lalu ini saja perasaan hidup kami lebih banyak dari pada perasaan pada tahun-tahun yang lain, sama sekali dikumpulkan.

Adalah anak sulung nyonya ini menaruh sangka, yang bapak berniat hendak mengatakan barang sesuatunya padaku, tetapi bapak enggan hatinya mengatakan itu, karena hal itu pastilah akan menyedihkan hati si anak. Dapatkah ma memikirkan betapa beratnya hal itu, sehingga dapat menyedihkan hati bapak serta anaknya itu?

Telah berapa lamanya kemudian dari pada itu, tatkala si anak menyesak bapak, meminta menyelesaikan ketetapan kedu-dukan kami, maka dapatlah si anak melihat pada mata bapak dengan penglihatan yang pilu kepada si anak, seperti ia hendak berkata: “O, suka benarkah engkau dengan selekas-lekasnya hendak meninggalkan saya, hai anakku?“ Si anak memalingkan mukanya ... hatinya menjadi pilu, pilu yang amat sangat!

O, Allah, benarlah cinta itu suatu benda yang amat ajaib, jalan surga dan neraka pada manusia. Mencintai dan menghormati bapak, itulah suatu keperluan dalam hidup bagi kami. Dan cintanya itulah pula bagian yang besar dari pada bahagia kami. Kalau hidup kami tiada dengan kecinta-annya, tentulah hidup kami selalu gelap. Sebab itulah maka bahagia itu dengan sukacita kami menerima dari tangannya. Bahagia yang tak datang dari bapak sendiri, kami pandang tidaklah sebagai bahagia yang menyelamatkan kami. Lebih jauh kami pun percaya pula, bahwa hidup dengan tiada mempunyaai kasih cinta bapak, tak pernahlah kami akan hidup selamat; dan hidup beserta dengan kasih cintanya, tak pernahlah akan membawa kami sama sekali kepada hidup melarat.

23 Augustus 1900 (I)

Stella, percayalah engkau kepadaku, jikalau cita-cita saya atau cita-cita kami sampai, “sampai“ seperti menurut maksudmu atau seperti maksud saya, maka keadaan itu tentulah terjadi oleh karena pekerjaanmu. Saya menulis kata ini tidaklah dengan semena-mena saja, tetapi kata ini kukatakan, keluarnya dari hatiku. Telah banyak engkau mengajari saya, betul-betul amatlah banyaknya, dan ajakanmu itulah suatu bantuan yang teguh, dan suatu kekutan bagiku. Saya suka sekali hendak menuntut kebebasanku. Kerja itu akan kukerjakan. Saya suka ... saya mesti ... terdengarkah olehmu kataku itu? Bagaimanakah saya akan menang, jika saya tidak pergi berperang menuntutnya? Bagaimana saya akan mendapat, kalau saya tidak mencari? Dengan tidak berperang tak adalah kemenangan. Saya suka berperang Stella, sebab saya mau mendapat kebebasan. Tak gentar saya akan bertentangan dengan keberatan dan kesusahan. Menurut perasaanku diriku sama kukuh akan menurut kebebasan; tetapi adalah suatu hal yang amat kutakuti, yani bapak saya. O, Stella! telah kerap kali saya ceritakan kepadamu yang saya cinta dan sayang kepada babaku. Tak tahulah saya entah adalah kiranya keberanian dalam diriku hendak memajukan kemauanku itu, bilamana saya ketahui, yang saya kelak dengan keberanian itu akan merusakkan hatinya yang cinta dan sayang padaku itu.

Saya mencintai bapaku dengan cinta yang tiada berhingga. Bapaku telah tua, telah berambut putih, putih rambut-nya itu ialah karena memelihara kami, dan memelihara saya. Dan jika sekiranya adalah seorang di antara kami yang patut mendapat celaka, biarlah saya yang menanggung celaka itu. Demikianlah kerelaan yang tersembunyi dalam hatiku; karena mustahillah saya akan beruntung, Meskipun saya mendapat kebebasan, kemerdekaan dan tegak sendiri, kalau sekiranya saya dalam hal itu mencelakakan dan merusakkan hati bapaku. “Adakah engkau maklum benar bahwa hal itu ialah hal keadaan yang amat sukar?“ katamu kepadaku. O ya, dengan sebenarnya! Saya sendiri pun telah membayang-bayangkan kepadamu dahulu, betapa mudahnya berbuat demikian, dan dengan gembira hatiku mengatakannya tempoh itu, tetapi sekarang ... Maukah engkau mendengarkan kataku? Perjalanan hidup anak-anak perempuan Jawa telah ditentukan dan dihinggakan, serta dengan kukuh lagi dibatasi oleh adat yang kuno. Kami tak boleh mempunyaa cita-cita hati. Cita-cita yang boleh saya mimpikan ialah: besok atau lusa saya akan menjadi istri yang kesekian dari seorang laki-laki. Saya mau menentang keras mereka itu, yang dapat menidakkkan bicara itu. Jikalau dipikirkan dan dibandingkan hal keadaan Hindia dan Eropa, tentulah engkau akan membenarkan, bahwa tingkah laku laki-laki di situ tiadalah sedikit juga lebih baik dari pada laki-laki di sini, dan perempuan-perempuan di situ sama menanggung nasib celaka seperti perempuan-perempuan di sini. Hanyalah ini saja perbedaannya: kebanyakan perempuan-perempuan di sana bersuami dengan seorang laki-laki, yang bekal diurutnya menumpang bersama-sama di kapal perkawinan, yang berhaluan bebas; tetapi perempuan-perempuan di sini tiada menaruh kebebasan yang demikian, melainkan ia dikawinkan saja, karena menurut kemauan orang tuanya atau walinya. Mereka itu kawin dengan laki-laki yang disetujui oleh pikiran orang tua atau wali itu, yang memandang bahwa si laki-laki itu orang baik dan patut. Dalam agama Islam mengawinkan orang tiadalah dengan izin si perempuan, ya, tidaklah di hadapannya kejadian hal itu. Boleh saja umpamanya: Bapak datang hari ini ke rumah dan berkata kepadaku: “Ni, engkau telah dikawinkan dengan si Anu.“ Sekarang saya wajib menurutkan suamiku itu. Boleh juga tidak saya turutkan, tetapi hal itu memberi si laki itu berhak boleh merantai saya seuur hidup, dengan tiada mengindahkan dan mempedulikan saya sedikit ju pun. Meskipun saya tidak menurutkannya, maka saya pun tinggal isterinya juga; sebab ia tak mau menceraikan saya, dan saya pun dengan hal itu selama hidup selalulah terikat kepadanya, sedang ia sendiri boleh tinggal bebas membuat barang sesuatunya. Ia boleh beristri beberapa sukanya saja, dengan tiada mempedulikan saya sedikit ju pun. Jikalau sekiranya bapak mempersamakan saya seperti itu, maka maulah rasanya saya membunuh diriku sendiri, tetapi bapakku tentulah tiada akan membuat seperti itu. Allah menjadikan perempuan untuk menjadi kawan si laki-laki dan untung nasimya ialah akan dikawinkan. Betul pikiran itu tiadalah akan saya bantahi, dan dengan suka hati saya mengaku bahasa untung perempuanlah kelak, yang sebesar-besarnya, Biarpun untung itu akan terjadi pada zaman-zaman yang akan datang, yani bilamana si perempuan dengan suaminya hidup dengan berjinak-jinakan dan damai. Mustahillah akan dapat diperoleh hidup yang berjinak-jinakan dan damai itu, jikalau undang-undang untuk kami perempuan masih berlaku sebagai uapa, yang telah saya urai-kan kepadamu di atas ini. Tak patutkah saya membenci dan menghinakan perkawinan yang sedemikian itu, sebab si perempuan dengan hal yang sedemikian terang dianiayanya?

Syukurlah, tidak tiap-tiap orang Islam beristri empat orang. Tetapi masing-masing perempuan Islam yang bersuami pun tahulah, bahwa tiadalah ia seorang saja yang berhak menjadi istri si laki-laki itu. Besok atau lusa bolehlah lagi suaminya membawa isterinya, perempuan yang lain, ke rumahnya itu. Perempuan yang baru itu sama banyak haknya dengan dia tentang kepada suaminya, karena menurut rukun Islam perempuan itu pun istri gahara juga. Dalam negeri-negeri Gubernem tiadalah begitu banyak kesengsaraan perempuan-perempuan, seperti penangungan saudara-saudaranya di tanah Solo dan Jogja. Di situ banyak benar perempuan-perempuan yang celaka bersama-sama dengan satu, dua, tiga, empat perempuan yang lain yang bernama “selir” suaminya. Di negeri-negeri Solo dan Jogja itulah perempuan-perempuan disebutkan permainan anak-anak!

Pada negeri-negeri itu tiada seorang juga laki-laki yang beristri seorang. Dalam lingkungan orang-orang bangsawan lebih-lebih dalam lingkungan Susuhunan, ada banyak laki-laki yang beristri lebih dari pada dua puluh enam orang.

Bolehkah keadaan yang demikian itu dibiarkan saja, Stella?

Mereka itu telah biasa memakaikan keadaan yang demikian, sehingga rupanya tiadalah dirasainya kesengsaraan itu lagi, tetapi Sungguhpun demikian, yang sebenarnya banyak juga perempuan-perempuan yang menanggungkan kesakitan itu dengan diam-diam. Hampir sekalian perempuan yang saya kenal di sini semuanya menyuopahi hak si laki-laki yang menganiaya itu. Tetapi dengan sumpah itu saja tidaklah akan menolong melainkan sekalian itu wajiblah diperangi benar-benar.

Hai perempuan-perempuan dan gadis-gadis! Bangunlah engkau, marilah kita bersungguh-sungguh dan bekerja bersama-sama untuk mendatangkan perubahan dalam hal menolak bahaya yang telah menular selama itu.

Ya Stella, saya tahu bahasa di benua Eropa budi pekerti si laki-laki pun keji pula. Saya bersama-sama dengan engkau menghormati anak muda laki-laki yang membelaangi adat-adat kuno dan penggodaan itu. Dan saya hormati lagi akan gadis-gadis zaman sekarang, yang tidak mau menurutkan laki-laki yang tak senonoh kelakuannya, dengan hidup cemar lagi tiada berpengetahuan. Tentulah ibu-ibu yang masih muda lebih pandai menjaga kejahatan itu. Kepada saudara-saudaraku telah acap kali saya beri tahukan hal itu.

Saya suka beranak laki-laki dan perempuan yang akan dipelihara dan diberi pendidikan seperti kehendak hatiku. Mula-mula saya hendak menghapuskan adat-adat kuno, yang memandang anak laki-laki lebih tinggi derajatnya dari pada anak perempuan. Saya tak heran melihat kelobaan si laki², bila saya ingat bagaimana si laki-laki itu masa kecilnya, dilebihi pemeliharaannya dari pada anak perempuan, saudaranya. Waktu kecil si laki-laki telah diajar menghinakan anak perempuan. Bukankah kerap sekali saya dengar si polan berkata kepada anaknya yang laki-laki, bila si anak itu terjatuh dan menangis: “Cis, anak laki² menangis sebagai anak perempuan!“ Saya akan mengajar anak-anak saya memandang anak laki-laki dan perempuan sama rata, dan memberi mereka itu pendidikan yang sama benar, menurutkan kekuatan otaknya masing-masing. Umpamanya, saya tak akan menyuuh seorang anak perempuan belajar, jika ia tak suka dan tidak mempunyai otak untuk belajar, Biarpun maksud saya hendak menjadikan si anak itu seorang perempuan muda; tetapi haknya akan saya kurangkan dari pada hak saudaranya yang laki² se-kali-kali tidak! Dan saya pun akan berikhtiar menyuuh merontuhkan dinding yang membatasi si laki-laki dan si perempuan itu. Saya mengaku bahasa, jika dinding itu telah runtuh, adalah kebaikannya, lebih² kepada si laki². Saya tak dapat dan tak akan percaya, bahasa laki² yang berpengetahuan dan bersopan santun, dengan sengaja akan menyisihkan perkumpulan perempuan-perempuan, yang sama tinggi keduduk-annya dalam hal pengetahuan dan sopan santun, atau akan pergi menyamarkan dirinya ke dalam tangan perempuan yang tak ada kehormatannya. Apakah yang melarang si laki-laki bercampur gaul dengan perempuan-perempuan yang berbudi pekerti, dan apakah yang menegahkan jika seorang laki-laki hendak bergurau.dengan seorang anak gadis yang tiada berhadat hendak kawin?

Sekalian itu bolehlah hilang lenyap, bila pergaulan laki-laki dan perempuan boleh bebas, yani seperti pergaulan yang telah biasa bagi anak-anak yang telah berumur.

Engkau berkata: “Kita anak-anak perempuan sanggup membuat anak laki-laki selalu menurut jalan yang baik, tepati sayang amat sedikit benar kita mengetahui jalan hidup mereka itu.” Pada waktunya tentulah sekaliannya akan berebah, tetapi dalam itu kami harus bekerja keras, dan kalau tiada demikian, waktu itu pun tiadalah pula akan datang. Kami di sini, di tanah Jawa, sekarang baru berdiri di muka pintu perubahan itu. Harus pulakah kami menempuh sekalian jalan-jalan yang engkau sekalian telah arungi, supaya sampailah pula kami kepada waktu yang dipakai oleh bangsa Eropa dalam zaman ini?

Di antara kitab-kitab yang baru saya terima, terdapatlah oleh-ku kitab “Het Jongece,” dikarangkan oleh tuan Borel. Benarlah katamu itu bahasa kitab itu yang bagus sekali. Kebanyakan orang di sini memikirkan yang isi kitab itu terlampau di-lebih-lebih dari pada keadaan yang sebenarnya.

Tetapi saya tidak sepakat dengan pikiran mereka itu. Isinya itu tiadalah berlebih-lebihan. Betul, banyak hal keadaan yang tiada sesuai dengan kitab “Het Jongece” itu, tetapi di negeri saya ini adalah saya ketahui hal-hal yang seperti itu. Demikianlah halnya seorang anak tuan asisten-residen di sini umpamanya telah menjelma menjadi “het jongece” dalam kitab tuan Borel itu. Pada suatu kali ia berkata kepada Kardinah: “Ma muda, saya suka benar kepada anak perempuan-perempuan, karena anak-anak itu pandai tertawa gelak-gelak, dan mereka berlainan betul dengan anak-anak laki-laki; anak-anak perempuan manis dan lemah lembut kelakuannya.” Yang mengatakan seperti itu ialah seorang anak yang berumur lima tahun. Cobalah pikir olehmu, dirabanya dan diamat-amatinya tangan Kardinah, kemudian ia berkata lagi: “Ma muda, apakah sebabnya maka anak-anak perempuan lemah lembut?” Kemu-dian dirabanya tangannya sendiri dan sudah itu berkata pula ia: “Sungguhpun saya masih kecil, tetapi saya laki-laki, sebab itulah saya kasar.” O, anak itu seorang anak yang sangat manis tingkah lakunya dan bermata bulat dan besar, rambutnya hitam dan ikal. Sebelum ia datang ke mari ia telah melihat gambar kami pada seorang sahabat kenalan kami di Surabaya. Ibunya menceritakan kepadanya, bahasa di negeri, ke mana ia hendak pergi, adalah tinggal di sana ma-ma yang penyayang. Anak itu berpikir, bahwa ia harus kawin dan bertanya: “Bundaku! haruskah saya kawin dengan ketiganya, atau dengan salah satu dari pada mereka itu?”

Tatkala ia datang ke mari dan berkenalan dengan kami, maka ibunya bertonya: “Hai anakku, sudahkah engkau pilih siapa yang kau suka? Dengan ma muda yang manakah engkau suka kawin?”

“O, ma, saya tak dapat memilih, karena ketiganya sama-sama manis,” jawab si anak kecil itu, dan katanya kepada masing-masing kami: “Saya suka kepadamu, kepadamu dan kepadamu, ya, saya suka kepada segala yang baik dan manis di dunia ini!” Kalau orang lain menceritakan hal itu kepada saya, tentulah saya tidak akan percaya, tetapi hal itu saya lihat dengan mata sendiri dan saya dengar dengan telinga sendiri ...

Perkara yang diingini oleh nyonya van Zuylen-Tromp melihatnya, ialah tentang “hidup anak2 Bumiputera.” Tentang hal itu lebih baik tak usah saya tuliskan sekarang. Tentang perkara itu banyak yang akan saya ceritakan dan sekarang mustahillah saya akan dapat membuat cerita yang senonoh tentang hal itu. Barangkali dua tiga tahun lagi, jika-lau saya telah berpikiran yang lebih sempurna dan menjadi agak sabar, barulah saya membuatnya. Sekarang pikiran saya terpusing-pusing, tiada berketentuan, adalah semisal daun-daun yang jatuh, yang dihembus oleh angin. Alangkah bagusnya perbandingan itu bukan?

Pagi-pagi hari di sini sangat bagus, malam pun demikian pula, dan waktu tengah-tengah hari maulah saya selalu berendam dalam air, jikalau sekiranya air waktu itu tiadalah ngilu-ngilu kuku seperti sekarang.

Alangkah enaknya perasaan di sini waktu pagi-pagi; sebab hari masih sejuk dan pemandangan pun amat bagus. Kami pergilah berjalan-jalan keliling kebun, yang penuh berisi dengan bunga-bungaan yang harum dan sedap baunya. Berjalan-jalan pagi-pagi di kebun itu suatu kesedapan yang sebenar-benarnya. Kebun kami yang kami buat dan tanami sendiri, sekarang telah mulai berbunga. Betapa bagusnya, bila engkau dapat sama-sama berjalan-jalan dengan kami dalam kebun itu; sukakah engkau pada bunga-bungaan dan pohon-pohonan? Ma berkebun sayur-sayuran dan berkebun bunga ros. Kebun kami letaknya di muka bilik kami. Bila malam purnama, maka pemandangan di sana seperti pemandangan di dusun-dusun, yang sangat menarik hati. Saudara-saudara saya yang peremuan membawa kecapinya keluar, dan duduk di antara pokok-pokok yang rendah, sambil memetik kecapinya dengan lagu yang merdu. Sesuedah berlagu-lagu itu baharulah kami bersuka-suka, berbincang-bincang dan tertawa.

Kemarahan hatimu kepada perbuatan bangsa Eropa yang telah ditanggung oleh dua bangsaku yang berpengetahuan dan bersopan-santun menyenangkan hatiku. Percayalah engkau bahwa bukannya orang yang bodoh saja, yang berhati tinggi kepada orang Jawa. Beberapa kali saya telah bertemu orang kulit putih, yang semata-mata tidak bodoh, ya, mereka itu sungguh terpelajar dan bangsawan pikiran, tetapi o, sangat tinggi hatinya dan sombong, sombong bukan kepalang. Hal itu menyakiti hatiku bukan buatan, dan acap kali saya bertemu dengan kebanyakan bangsa kulit putih, yang memperlihatkan dan menyuruh kami m e r a s a, yang kami bangsa Jawa bukannya manusia. Bagaimanakah kami akan dapat mencintai orang Belanda, bila mereka itu selalu memperbuat kami sedemikian? Cinta membangunkan cinta yang lain. Tetapi dengan kehinaan yang hina itu sekali-kali tidaklah akan dapat orang membangunkan cinta. Kami banyak mempunyai sahabat-sahabat di antara orang Belanda, yang kami cintai dan sayangi, ya, lebih dari pada sahabat kenalan bangsa kami sendiri. Mereka itu telah berusaha mengenal dan mengetahui kami, dan mereka itu pun mengertilah maksud kami, serta mencintai dan menyangi kami pula dengan setelah lulus hatinya.

Kami suka sekali kepada bangsa Belanda yang demikian, dan kami ucapkan banyak-banyak terima kasih atas segala kebaikannya, karena kami telah ajarnya. Kami tak akan melupakan mereka itu, yang telah membangunkan kami dari dunia kebodohan dan telah menolong memajukan kami. Orang Belanda memang boleh membuat yang tak adil pada kami, dan saya sendiri akan mencintai mereka itu juga serta mengucapkan terima kasih tentang pemberian harta benda, Ataupun pemberian ilmu kepadanya. Sungguhpun tanda terima kasih tak kelihatan di mukanya, tetapi dalam hati mereka itu sangatlah ia syukur dan terima kasih. Tak usahlah hal itu saya terangkan kepadamu, Stella, karena engkau memandang sekalian manusia di bumi ini sama rata saja, Biarpun hitam atau putih kulitnya seperti engkau.

O, saya bergirang hati, ya, bergirang hati amat sangat, sebab saya boleh menaruhmu. Saya tiadalah akan melepaskan engkau, Stella. Saya sayang sangat akan engkau, sehingga tak dapatlah saya memikirkan betapa nanti kesudahannya, bila hidup yang diberikan Allah datang menceraikan kita.

Kalau hidup masih dalam diri kita masing-masing, maka lautan yang besar dan luas itu tak dapatlah menceraikan kita. Rupanya, pikiranlah yang menerbitkan persahabatan dan cintamencintai, dengan tiada mengindahkan perantaraan yang jauh. Bersesuaian pikiran itulah titian antara laut-lautan yang besar dan tanah-tanah yang luas, itulah titian yang memperhubungkan kita. Berkirim-kiriman surat itulah pendapatan yang amat baik! Selamatlah hendaknya orang yang mula-mula mendapatnya! Pekan yang sudah, datang kepada kami Directeur van O.E. en Nijverheid bersama-sama dengan istri yang mulia dari Betawi ...

Stella, saya sangat bersukacita, sebab Directeur itu datang sendiri ke mari dengan maksud akan mendengarkan pikiran bapak, tentang buah pikiran kami, hendak meminta kepada Pemerintah, supaya didirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan! Saya ketika itu sakit, saya merasa diri saya sebagai sengsara, karena bukan saja badanku yang sakit, tapi hatiku pun menjadi pilu. Stella, saya percaya yang mimpi saya untuk kebebasan segera akan hilang. Kepercayaan itu datangnya tatkala bapak memberikan surat dari tuan Directeur kepada saya. Dalam surat itu ia meminta kepada bapak memperbincangkan dan menguraikan hal itu. Surat itu sangat membesarkan dan menghiburkan hati saya. Sekalian itu memberi tahu kepadaku bahasa adalah seorang dari pegawai-pegawai Pemerintah yang berpangkat tinggi di Betawi kiranya, yang berhati kasih kepadae bangsa Jawa dan perempuan bangsa Jawa. Tatkala mama datang ke bilikku melihat saya sebentar, maka didapatinya saya sedang dengan air mata berlinang-linang di mata. O, saya amat beruntung dan mengucapkan banyak terima kasih waktu itu! Saya harus dan tentu akan sembuh bila tuan Directeur itu datang, karena saya hendak berbicara dengan yang mulia itu.

Tuan Directeur datanglah ... tiada sendiri saja ..., istrinya pun datang bersama-sama. O, Stella, belum pernah seumur hidup kami berkenalan dengan orang yang meriangkan dan membesarkan hati kami seperti sekarang. Saya telah mencintai y.m. tatkala saya tahu maksud kedatangannya itu. Percintaanku jadi bertambah-tambah, tatkala saya melihat yang mulia masuk berkereta ke dalam pekarangan kami, y.m. duduk di bangku di muka dan isterinya dengan bapak saya duduk di bangku belakang. Bapak saya pergi menjemput kedua y.m. ke setasiun. Saya tahu yang bapak tak mau duduk dekat istri y.m. itu, kalau y.m. tak meminta yang sedemikian dengan sesungguh-sungguhnya. Bagimu, Stella, tentulah hal itu tak lain dari pada suatu kehormatan yang biasa saja, tetapi, Stella, tertawakanlah saya olehmu bila saya mengatakan, bahwa itu membesarkan hati saya, dan itulah menyatakan pula kepada saya kerendahan hati y.m. itu. Ketinggian yang ditaruh oleh hampir sekalian pegawai-pegawai di sini, tidaklah dapat dalam tubuh yang mulia itu. Saya biasa melihat bapak di sini bertempat di sebelah kiri dari residen, asisten-residen, Biarpun tuan² itu lebih jauh muda dari bapak saya. Bukan saja saya, sedangkan bangsa Eropah pun sakit hatinya melihat kelakuan orang berpangkat yang gila akan kehormatan. Di perkumpulan kepala-kepala negeri, hanyalah pegawai-pegawai bangsa Eropa dan regen-regen saja yang boleh duduk di kursi, sedang wedana-wedana yang telah berambut putih, harus duduk di lantai yang dingin, beralas dengan tikar bambu saja, kadang-kadang tidak pula beralas. Bangsa Eropa Biarpun berpangkat rendah sekali berhak duduk di kursi; tetapi pegawai-pegawai. Bumiputera yang tak seberapa kurang pangkatnya dari pada pangkat regen, telah tua lagi bangsawan dan pandai, wajib duduk di lantai yang dingin itu. Aturan hina itu wajib diturut, bila pegawai bangsa Eropa ada hadir di situ. Sungguh naik benar darah di hati melihat, bagaimana seorang wedana yang telah tua berambut putih jongkok di tanah untuk kanjeng tuan aspiran, seorang anak kecil yang kemarin baru keluar dari sekolah. Tetapi padalah hal ini ... Berbeda sungguh dengan kehormatan y.m. itu seorang yang berpangkat tinggi, itulah sebabnya maka ia meriangkan hatiku bukan buatan.

Kami dengar tuan Directeur itu berkata kepada bapak: “Saya telah pergi ke mana-mana di tanah Jawa dan telah bermusyawarat dengan kepala-kepala negeri, regen.

Tuan sendiri telah memberi contoh menyuruh anak-anak perempuan pergi belajar ke sekolah. Saya bertonya kepada anak-anak perempuan yang masih bersekolah, ada sukakah mereka itu meneruskan pengajaranmja. Sekalian mereka itu menjawab dengan bersukacita: “Ya!“ Tuan Directeur itu bertonya kepada bapak, bagaimana patutnya sekolah untuk anak-anak perempuan itu akan diaturkan, dan di mana baik didirikan dahulu untuk percobaan, di Jawa Barat, Tengah atau Timurkah?

O, Stella, mataku menjadi bercahaya-cahaya, telingaku menjadi tajam dan kalbuku berdebar-debar, karena keriangan tatkala mendengar sekalian itu. Tentulah akan datang suatu cahaya, yang akan menerangi dunia perempuan lagi, yang gelap gulita dan calaka itu. Waktu tuan Directeur itu bercakap-cakap dengan bapak, maka nyonyapuen berbin-cang-bincang dengan kami. Alangkah besar hati kami mendangkan tuturnya!

Nyonya menceritakan kepadaku, apa-apa maksud suaminya dan bertanyakan bagaimana pikiranku dalam hal itu. “Nyonya, pikiran kami bila disampaikan, tentulah akan menjadi berkat bagi dunia perempuan bangsa Bumiputera. Berkat itu bertambah besar bila anak² perempuan itu dapat pula mempelajari suatu ilmu pekerjaan, yang kemudian hari kelak dapat menolong dirinya, untuk mencari penghidupan sendiri, kalau-kalau mereka itu nanti mendapat kesusahan, karena kemajuannya itu; jadi ilmu itu bolehlah menolongnya untuk mencari rezeki. Anak perempuan yang telah berpengetahuan dan lus pemandangan tiadalah lagi dapat hidup senang dalam dunia nenek moyangnya yang kuno itu. Setelah orang mengajarnya bebas sedikit, teruslah ia dimasukkan orang ke dalam penjara, dan setelah ia diajar orang terbang, lalu ia dimasukkan orang dalam sangkar. Tidak mungkin perempuan yang sebenarnya terpelajar, mustahil-lah akan merasa senang dalam dunia bangsa Bumiputera, kalau sekiranya dunia ini masih tinggal seperti sekarang ini. Sampai sekarang hanyalah sebuah saja jalan yang terbuka yang boleh ditempuh oleh anak² perempuan Bumiputera untuk masuk ke dalam hidup bersama-sama yani “kawin.” Bagaimana caranya perkawinan dalam dunia Bumiputera, tentulah nyonya telah tahu. Nyonya telah sekian lama di tanah Jawa. Kami merasa beruntung, yang suami nyonya akan memberi pendidikan dan pengetahuan untuk anak-anak perempuan, tetapi dalam sekolah itu baiklah diajarkan pula barang sesuatu ilmu pekerjaan. Kalau demikian tentu bertambahlah kebajikan, yang diberikan oleh suami nyonya dalam dunia bangsa Bumiputera, ya, itulah suatu berkat yang sebenar-benarnya.”

“Hai suamiku, adakah kaudengar katanya itu?” tanya nyonya itu kepada suaminya dengan bersukacita. “Si gadis ini meminta sekolah yang berpengajaran bermacam-macam ilmu pekerjaan untuk anak-anak perempuan bangsa Bumiputera.”

Dengan heran tuan Directeur itu bertanya kepadaku: “Betulkah Raden Ajeng meminta sekolah yang demikian? Bagaimanakah kemauan tuan? Cobalah ceritakan kepadaku, hendak jadi apakah tuan?, dokter?“ Saya merasa ketika itu segala mata terhadap kepadaku, lebih-lebih mata orang tuku serasa membakar mukaku, maka saya pun lalu menundukkan kepala. Dalam telingaku mendengung-dengung dan men-desir-desir sebagai suaramu, Stella, yang mengatakan kepadaku: “Kartini, beranikan dirimu, jangan gentar!“

“Cobalah tuan katakan, hendak menjadi apa yang tuan sukai? O, Saya tahu tuan hendak menjadi pengarang, tetapi untuk hal itu tak lah usah tuan diajari lagi. Sebab kalau tuan hendak menjadi pengarang, dapatlah tuan melong diri sendiri!” kata tuan Directeur itu pula.

Untuk belajar, sayang waktunya itu bagiku telah lalu; Walaupun demikian dalam hal itu saya tak boleh mengejapkan mata, tetapi saya wajib berani memandang ke atas dan menentang ke muka.

Stella, Stella, janganlah kiranya engkau lepaskan saya, genggamlah tanganku dalam tanganmu dan bimbinglah saya! Dari engkaulah datangnya kekuatan yang memberanikan hatiku, janganlah engkau biarkan saja saya seorang diri! Bila sampai kiranya maksudku, maka kejadian itu ialah oleh karena kerjamulah, wahai kekasihku! Nyonya itu lama memperbincangkan ini dan itu dengan saya, yaitu memperbincangkan perkara yang telah acap kali kita berdua memperkatakannya, “perkara perempuan.”

Tatkala kami malam itu hendak pergi tidur, nyonya itu pun mengambil tangan saya dengan kedua belah tangannya, dan digenggamnya tanganku sampai panas, seraya berkata: “Sahabatku, tentang hal itu nanti kita hubung lagi percakapan kita. Saya suka menulis panjang dan kerap kali kepada tuan, maukah tuan berbuat sedemikian pula kepadaku? Ceritakanlah banyak-banyak kepadaku, ceritakan semua!“

Besok paginya kami antarkan mereka itu berangkat. Tiga jam lamanya kami duduk bersama-sama dengan nyonya dan tuan itu dalam kereta dan di kereta api, maka sementara itu nyonya dan saya pun senantiasa bercakap-cakap saja. Sung-guh pun kemarin malam sudah pukul dua belas kami baru bercerai pergi tidur, tetapi nyonya rupanya malam itu juga telah menceritakan sekalian yang diketahuinya tentang hal kami kepada suaminya.

“O regen”, berkata nyonya itu acap kali, “berikanlah anak-anak tuan ini kepadaku, suruh dia pergi ke Betawi. Lepaslah si gadis ini datang kepadaku, saya sendiri suka datang menjemputnya.” Bapak berkata kepada nyonya, yang ia sung-guh telah bermaksud, dalam tahun ini akan melepaskan dia pergi ke Betawi: “Tetapi tinggal di sana tentulah di rumah ibunya, bukan, nyonya?” Maksud bapak mengatakan “dia” yaitu saya sendiri. Tak tahulah saya akan maksud perkataan itu, entah main-main saja, entah sebenar-benarnya?

Nyonya suka yang kami mestilah hendaknya pergi ke Betawi, ialah akan bercakap-cakap sendiri dengan orang-orang besar di situ, untuk membela untung nasib perempuan bangsa Bumiputera. O, Stella, saya berharap yang saya dapat dan boleh membela itu dengan baik. Nyonya akan pergi ke Bogor, pergi bertonya kepada nyonya Roseboom, kalau-kalau nyonya besar itu ada sempat akan mendengarkan cerita keadaan bangsa Jawa.

Ketika akan bercerai, nyonya itu berkata kepadaku: “Jangan takut”, selalu berani dan percaya. Keadaan yang hina itu tak boleh lebih lama dibiarkan begitu saja, sekalian itu wajib dan patut akan diperangai. Jangan cemas.“ Stella, sedang bermimpikah atau sedang bangunkah saya? Adakah sungguh akan datang perubahan bagi kami? Bolehkah kami berharap, yang mimpi kami itu dapat disampaikan dengan sebenarnya? Banyak lagi yang saya dengar. Banyak lagi nyonya Directeur menceritakan kepadaku; tetapi saya tak berani menceritakannya kepadamu. Karena sekalian hal itu masih jauh tempatnya, tetapi cahayanya dan sinarnya telah sampai-lah kemuakaoke. Nanti, nanti, Stella, kekasihku, kalau keadaan itu telah ada dalam tanganku dan telah kupegang teguh, sehingga ia tak dapat lari lagi, pada waktu itulah engkau dapat mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah kurahsiakan itu. Saya telah bertonya kepada saudara-saudaraku, masih hidupkah saya? karena hatiku sekaranng merasa amat beruntung dan berbahagia yang tiada berhingga! Berdoalah engkau untukku, Stella, moga-moga sekalian itu jangan hendaknya tinggal cita-cita dan kenang-kenangan saja! Karena maklumlah, kalau sekiranya harapan itu putus, memanglah semata-mata ia akan mendokkakan hati benar! Oleh sebab itu tak u-sahlah saya sekaranng terlalu bersukacita benar, karena hal itu belum tentu, dan lagi dalam hal itu boleh pula salah jalannya dan buruk kesudahannya.

Guru sekolah nomor dua akan segera pergi ke Eropa; tak baikkah menurut pikiranmu, yang guru itu diganti dengan seorang guru perempuan? Tuan Directeur akan menyuruh seorang guru perempuan Belanda ke mari, tua atau muda samalah saja bagi kami; tetapi ia wajib hendaknya seorang berpengetahuan dan bersopan santun, yang boleh tempat kami bertonya dan belajar. Itulah yang mula-mula dapat dibuat tuan Directeur itu untuk kami dan kemudian; o, Stella, tat-kala ia melihat-lihat di rumah hasil pekerjaan kami seperti: gambar-gambaran, patung-patung dan sebagainya, maka tiba-tiba bertanyalah ia: “Dapatkah dalam tempoh setahun lamanya menyediakan sekaliannya itu, untuk dipertunjukkan pada pasar malam?” Ia merasa sayang sekali yang kami tak lagi mengirim barang-barang untuk pertunjukan besar di Perancis. Besoknya ia berkata, yang ia akan memperbincangkan dengan mereka yang berkuasa di Betawi, supaya pada tahun yang akan datang dapat diadakan pertunjukan perusahaan anak Bumiputera di Betawi. “Raden Ajeng mesti mengirim sekalian barang-barang yang telah kami lihat di sini.”

O, Stella, tak dapat saya berkata ketika itu, hanya saya pandang saja tuan dan nyonya dengan air mata yang berlinang-linang di mataku, oleh karena kebesaran hati.

Apakah kiranya sebabnya maka kami mendapat sekian banyaknya kasih sayang dan bahagia? Dahulu dari pada itu belumlah kami mengetahui nyonya dan tuan Directeur itu. Kami hidup sekarang sebagai dalam mimpi. Bagi kami tak adalah hari kemarin atau hari besok, hanyalah yang kami ketahui ialah hari sekarang, yang bersinar-sinar dengan untung dan bahagia! Kebagusan yang banyak itu memeningkan kepala dan menakutkan hatiku. O, kebalikannya akan menyedihkan hati kami bila mimpi dan cita-cita, yang ada pada kami itu akan hilang lenyap seperti asap saja. Setiba saya di rumah, dengan segera saya ambillah kertas dan pena, lalu menulis sepucuk surat yang riang dan bersukacita kepada sahabat kami, nyonya Ovink, karena dua tiga hari yang lalu tentulah ratap tangisku telah sampai kepadanya, dan maklumlah yang nyonya itu, ialah seorang maku yang baik budi, haruslah pula mengetahui bahwa saya, anaknya, telah tiba-tiba beruntun kembali. Tak sedikit juga saya berceritera kepadanya, sekalian apa yang telah saya ceritakan ketika ini kepadamu; hanyalah saya kabarkan dengan ringkas, yang saya sekarang ada merasa diriku sangat beruntun, hidup bergirang hati dan penuh dengan kescekaan. Tetapi kepadamu semuanya saya ceritakan, kecuali yang satu tadi. Engkau berhak mendengar dia, karena sekalian kerja itu yang sebenarnya ialah kerjamu, tetapi untuk kebaikanku. Jikalau saya putus asa tentulah pertolonganmu yang umum itu akan memimpinku, ajakan dan bujukanmu itu akan menguatkan hatiku, sekiranya saya merasa yang saya tak berdaya lagi. Stella, bila saya pernah-pernah dapat membuat barang sesuateo untuk saudara-saudara saya dipelau Jawa, tentulah keadaan itu semata-mata oleh karena pertolonganmu.

Saya telah menceritakan kepadamu, bahasa nyonya Ter Horst telah berjanji kepadaku, yang saya boleh mengarang dalam surat kabarnya, untuk pembela untung nasib perempuan bangsa Bumiputera, dan ia berjanji pula akan menyembunyikan nama saya, dan akan memperbuat karang-karanganku nanti sebagai percakapan dua orang anak regen perempuan. Nyonya itu suka membuat segala apa, yang dapat dikerjakannya untuk memajukan perkara-perkara yang baik, asal saya suka mengatakan bagaimana patut dibuat. O! Stella, Stella, alangkah banyaknya sekarang keriangan yang telah diberikan orang ketanganku. Bapakku pun telah mengizinkan saya pula membuat itu. Saya berharap yang Tuhan akan memberi saya kekuatan untuk mengerjakannya.

Bantu serta keoatkanlah saya ini, wahai sahabatku! Kirimlah surat panjang-panjang kepadaku, Stella! Saya belajar karang-mengarang itu dengan mengarangkan barang sesuatu, yang biasa kejadian pada hidup kami sendiri. Sebuah dari pada karanganku telah keluar dalam surat kabar “Echo.” Nama samaran yang saya pilih, ialah “tiga saudara”, karena kami bertiga menjadi satu. Tetapi dengan segera diketahui orang siapa “tiga saudara” itu. Dalam surat kabar Hindia “Locomotief” adalah suatu pujian tentang karangan itu. Hal itu menggduh hatiku. Sedianya saya lebih suka yang orang merahasiakan sekalian yang saya karangkan. Kurang senang hatiku, bila saya diperkatakan orang seperti itu. Barangkali orang menyangka yang saya mempermain-mainkannya, tetapi betul-betul saya tak suka kepada puji-pujian itu. Tetapi kabar yang di dalam surat kabar itu ada kebaikannya, ya, adalah kebaikannya yang amat sangat. Lihatlah, bulan yang lalu dua helai surat bulanan yang baru, untuk bangsa Bumiputera dikirimkan orang kepada bapak, serta berikut dengan sepucuk surat, yang isinya meminta supaya “tiga saudara” sudi membantu surat bulanan itu. Itulah surat bulanan yang pertama-tama kali dalam bahasa Belanda, yang telah didirikan untuk bangsa Bumiputera. Ucapkanlah selamat kepadaku, karena surat bulanan yang sedemikian telah terbit. Saya berharap, banyaklah hendaknya keselamatan “bahasa Belanda” untuk bangsaku, untuk kami bangsa Bumiputera. Surat bulanan yang baharu itu haluannya seperti s.b. Lelie! Bunga Belanda, yang telah menebarkan baunya dan kebagusannya sampai ke tanah Hindia, tanah yang sejauh itu! Sekarang surat kabar “Echo,” bertukar dengan “Nederlandse Taal”! Engkau tentu boleh maklum, bahasa saya sekarang telah menulis sepucuk surat, dengan bergirang hati, kepada jeru kabar dan orang yang mendirikan surat kabar itu (Directeur sekolah Menak di Probolinggo) dan mengabarkan yang saya mau mengarang dalam surat kabarnya. Baru sebentar ini orang datang membawa balasan surat itu kepadaku. Dalam surat itu ia memberi pokok-pokok yang disukainya, yang akan saya karangkan. Stella, cobalah engkau ketahui apa yang mula-mula saya baca dalam surat bulan an itu, yaitu: “Pengajaran Bumiputera untuk anak-anak perempuan,” kemudian “Adat Bumiputera,” dan akhirnya “Kepandaian bangsa Jawa.” Tentulah engkau akan berkata kepadaku: “Kartini, janganlah engkau mengatakan engkau tak pandai dan tak cakap, tetapi katakanlah: “saya suka.” Saya pun suka, Stella, saya suka dan mau sekali mencobanya. Saya berharap amat sangat yang engkau akan menghargai kekuatanku, biarlah jangan berlebih-lebihan. Kalau demikian tentulah saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Yang hendak saya ceritakan sekarang lagi, ialah bahasa kami bertiga telah mulai mempelajari bahasa Perancis dengan memakai kitab-kitab pelajaran karangan Servaas de Bruiyn. Telah kami tammakan tiga empat buah kitab itu, dan sekarang kami hendak meminta kepadamu, supaya engkau mengatakan kepada kami nama-nama kitab pembacaan dalam bahasa Perancis yang mudah-mudah yang akan kami baca-baca periangkan hati. Bapak telah memberi izin kami boleh belajar lagi bahasa Jermaan, tetapi bila pelajaran bahasa Perancis kami habiskan, kemudian kami berharap akan memulai pula mempelajari bahasa Inggris. Tetapi pikiran kami bahasa Jermaan kemudian sekalilah, bila kami masih hidup juga. Sekarang kami mencoba membaca surat-surat kabar bergambar dalam bahasa Perancis, tetapi membaca dan mengerti itu dua macam, bukan? Mula-mula sekali kami telah membuat salinan yang segilagilanya, tetapi syukurlah, makin lama adalah makin bertambah baik. Masih banyak harapan kami. Rukmini adalah berceritera pada suatu hari yang ia bermimpi dalam bahasa Perancis, ia bersama-sama dengan Khateaubriand di Louisiana, suatu tanah ajaib, yang diceritakan oleh Khateaubriand itu. Bahasa Perancis banyak bersamaan dengan bahasa kami, tentang susoonan kata-kata dan hurufnya sama benar dengan bahasa kami. Sahabat baharu kami, nyonya Directeur, berkata kepada suaminya: “Saya suka belajar bahasa?, wahai suamiku, betapalah suka hatiku kalau sekiranya saya sendiri dapat mengajarkan bahasa-bahasa itu kepada si gadis itu!” Kemarin saya telah mendapat sepucuk surat yang 20 halaman panjangnya. Alangkah manis isi surat itu. Ia berkata, bahasa menurut perkataannya, ia akan bercakap-cakap lagi dengan kami nanti sekali lagi, dan ia pun percaya yang perasaan itu akan terjadi. Saya pun bersama-sama berharap demikian. “Bertanyalah pada waktu yang akan datang!” kata suratnya kepadaku. Dan saya pun percaya sungguh, sekiranya engkau dan nyonya itu ada selalu disiku. Suratnya selalu membuat saya menjadi kemalu-maluan seperti suratmu juga, engkau dan nyonya itu selalu berpikir baik untu hal keadaanku. O, moga² janganlah hendaknya saya akan mengecewakan mereka itu, yang sekian mudahnya telah mempercayai saya! Perasaan itu datangnya dari hati kecilku, sebagai suatu dua dalam waktu yang sunyi dan baik. Sungguhpun begitu, Stella, memanlah kita ini penuh dengan lingkungan teka-teki dan rahasia, apalagi manusia tiada berhati tetap. Hal itu bukanlah menunjukkan manusia berpekerti buruk. Bahwa sanya amat banyak hal keadaan yang boleh mendatangi hidupnya itu. Adalah hal itu yang menjadikan seorang berani dan ada pula menjadi seorang penakut. Janganlah lekas disalahi seseorang yang rupanya telah membuat kelakuan yang hina, sebelum engkau ketahui sebab-sebabnya.

Saya amat banyak merasa dalam beberapa hari yang akhir ini. Kebanyakan perasaan itu merawankan hatiku. Mula-mula saya hampir putus asa, karena saya menyangka bahasa mimpi kebebasanku rasanya dengan tiba-tiba telah dikuburkan dengan sedalam-dalamnya, dan saya wajib dengan sekuat-kuatnya mengangkat kembali ke atas. Setelah itu datang sahabat-sahabat dari Betawi, dan perasaan yang berbahagia meliputi segenap tubuhku, sehingga menjadikan saya pening dan pingsan karena sukacita. Waktu itu memanlah saya dalam mabuk kesukaan yang amat sangat, hampir saya tak dapat bernapas lagi. Terperanjat besarlah yang membangunkan saya dengan ganas dari mabuk kesukaan itu. Dalam hal itu diriku sendiri tidaklah kuingat lagi, karena ingatanku, tujuannya hanyalah kepada seseorang yang saya cintai amat sangat. Saya pun lalu mengeluh dan dipapah.

O, mengapa? Mengapakah suka dan duka itu wajib selekas itu berturut-turut? Saya tak dapat memikirkannya, hanyalah merasa saja kesakitan yang amat sangat itu dalam hatiku. Sekarang darahku telah pulang kembali seperti semula dan bolehlah berpikir sebagai biasa.

Kasihan bapaku yang dicinta itu, ia telah banyak benar menanggung dukacita, sebab hidupnya selalu membawa kecewa yang menyakitkan hatinya. Stella, bapaku tak ada lain yang disayanginya lain dari pada anak-anaknya, kami semuanya buah hatinya dan penglipur dukanya. Saya dalam hal itu sangat mencintai kebebasan. O, itulah yang berguna untuk hidupku dan untuk hidup saudara-saudaraku perempuan. Saya sungguh suka sekali menolong adik-adikku dan maelah saya menjadi kurban masing² mereka itu, bila kurban itu mendatangkan kebaikan untuknya. Saya pandang keadaan yang seperti itu sebagai suatu kewajiban yang berbahagia. Tetapi dari pada ketiga saudara itu, bapakkulah yang lebih saya cintai dan saya sayangi dan badanku pun terserahlah kepadanya. Stella, engkau tentu mengatakan penakut, dan tak berpikiran yang tetap, benarlah itu, tak dapat saya ubah lagi. Sebab bila bapak tak mau, yang saya akan mengurbankan diriku, betapa Sekalipun ratap tangis dalam hatiku, mestilah saya akan menurut kata bapaku. Saya tak berani lagi melukai hatinya yang setia, yang selalu mencintai dan menyayangi saya. Hatinya yang setia itu telah padalah hendaknya mengeluarkan darah. Sungguhpun hal itu terjadinya bukannya karena kesalahanku. Engkau berkata yang engkau tak dapat mengerti apa sebabnya orang wajib kawin. Engkau selalu memperlawankan mesti dengan “mau“. Itu benar, tetapi saya sendiri tak dapat memperlawankan itu, karena cintaku kepada bapakku bukan sedikit. Apalagi tak sanggup saya, karena saya tahu, perbuatan itu boleh mendatangkan sengsara yang amat berat kepadanya. Apa-apa saja yang hendak saya buat sekarang, bukanlah saya pandang seperti suatu “kewajiban”, tetapi hanyalah kerda itu mendatangkan suka “bapak.“ Saya menulis, menggambar, dan bekerja sekalian itu karena bapak berbesar hati sebab itu. Saya akan bekerja keras dan dengan sungguh hati akan membuat barang sesuatu yang baik, yang boleh meriangkan hatinya. Stella, engkau tentu akan mengatakan saya gila, berlebih-lebihan, tetapi itulah yang dapat saya perbuat, supaya bapakku tetap menyayangi dan mengasihi saya. Saya tentulah akan berdukacita amat sangat, bila bapakku melawani maksudku untuk mencari kebebasan, tetapi lebih-lebih lagi dukacitaku, bila sekiranya kehendakku sampai, dan dalam hal itu kasih sayang melayang dari tubuhku. Kasih sayang itu melangkah tiada akan hilang, saya tak percaya ia akan lenyap sama sekali, perbuatanku itu tentulah merusakkan hatinya. Dari perbuatan orang lain barangkali dapat ia menahan kecewa itu, tetapi dari saya tentulah akan melukai hatinya, karena ia lebih menyayangi dan mengasihi saya dari pada orang yang lain. Kepada bapaku, cinta dan sayangku bukan buatan! Stella, alangkah ajaibnya halku ini? Seorang pun boleh dikatakan tak pernah menggoda dan mendukacitakan saya, tetapi saya selalu ada berpenanggungan. O! perasaan yang dalam, itulah penanggunganku, tetapi tak lain lagi kehendakku ialah penanggungan itu. Meskipun penanggungan itu melukai hatiku, tetapi ia pun kadang-kadang memberi bahagia yang tak ada hingganya kepadu. Betapa besarnya bahagia itu tak dapatlah pula dikira-kirakan oleh jauhari dan bijaksana.

Augustus 1900 (II)

Saya bertanya kepada bapak: “Sekarang kalau kami tak boleh pergi ke negeri Belanda, bolehkah saya pergi ke Betawi belajar ilmu dokter?” Bapak menjawab dengan ringkas dan baik: “Anakku wajib, tak boleh melupakan yang engkau anak Jawa dan sekarang belum boleh anak perempuan menurut jalan itu ... boleh jadi 20 tahun lagi keadaan itu akan bertukar, ... tetapi sekarang belumlah boleh ... atau kalau diturut juga tentulah engkau akan mendapat kesusahan ... karena dalam hal ini tentulah engkau anak perempuan pertama-tama sekali.” Bapaku tentulah tak dapat menentukan hal itu dengan sekejap mata. Bapakku tentulah lebih dahulu akan memikirkannya panjang lebar dan bermusyawarat dengan orang-orang lain. Itulah suatu tanda yang menyatakan, bahasa bapak semata-mata tak menolak buah pikiranku? dan bapa pun tahu juga yang saya setiap masa dan ketika selalu hendak jadi bebas, merdeka dengan tegak sendiri, ia pun tahu juga yang saya tidaklah akan beruntung dalam hidup perkawinan seperti adat yang lazim sekarang. Setelah itu saya bertanya lagi: “Tetapi apabila sekolah anak perempuan Bumiputera yang akan dibuat oleh tuan Mr. Abendanon itu sampai terdiri, bolehkah saya menjadi guru di situ?”

Dan lagi saya ceritakan pula lebih panjang, apa-apa yang telah diminta oleh nyonya Abendanon kepadaku, dan apa-apa yang lain, yang dikenangkannya juga.

O, ma, sebagai mendapat gunung intanlah saya rasanya, dan seakan-akan terbanglah rasanya saya di awang-awangan, karena kegirangan hati, tatkala kudengar bapak menjawab: “Itu baik, itu bagus! Itu memang boleh engkau kerjakan!”

Kalau demikian perlulah saya lebih dahulu pergi belajar untuk pekerjaan itu. Saya wajib tiga empat tahun belajar di sekolah gereja, dan kemudian terus membuat ujian. Sebab kalau sekiranya tiada mempunyai surat tamat belajar, tak maulah saya menjadi guru sekolah.

Bapa pun membenarkan hal itu, dan meluluskan kehendakku. O, ma, alangkah beruntung saya sekarang ini, tak pernahlah saya sangka-sangka hal itu dengan mudahnya saja dapat diperkenankan oleh bapak. Sepatah jupa pun tak ada kata-kata yang keras, pedih dan tajam dari bapak, Meskipun telah banyaklah yang terpikir di otakku karena hendak menyampaikan maksud ini ... biarlah, saya terima syukurlah sekalian itu dengan hati yang ikhlas. Tetapi bapak berlaku dalam hal itu nyatalah benar-benar dengan lemah lembut dan dengan kasih sayang.

O, sekali-kali tak adalah sedikit jua salah sangka-sangkaku tentang kesayangan bapak kepadaku, ia merasa dan hidup betul-betul bersama-sama dengan anaknya. Saya pun maklum kalau saya menanggungkan suatu kesusahan, maka bapak sendiri lebihlah menanggungkan hal itu dari pada saya; dan harapannya sama-sama besar dengan pengharapanku, tentang menantikan suatu keputusan yang memberi kebajikan di atas diriku.

O, tak dapat saya rencanakan betapa hatiku bersuka raya, bersimaharajalela, waktu saya mendapat ketentuan yang berbahagia itu, yani ketika saya mengetahui, bahasa bapakku yang kucintai dan aku sayangi itu meluluskan buah pikiran, kehendak dan keinginanku dengan tidak mendokak an dirinya sendiri!

Oleh karena memikirkan bapaklah maka saya merasa diriku putus asa, dan berbulan-bulan lamanya pikiranku bimbang dan lemah, ya, takut-takutan, karena saya sekali-kali tak sampai hati akan merawankan hatinya. Sekalian itu mestilah saya lakukan demikian, karena saya sekali-kali tak mau, tak suka merendahkan kehormatan hati dan derajat kemanusiaan perempuan yang ada dalam diriku. Saya harus melawani segala maksud mereka itu yang akan menghinakan perempuan. Saya perlu sekali dalam hal itu, dan tak boleh berdiam diri saja. Sebenar-benarnya memanlah kras dan hebat peperangan dalam hatiku pada masa itu. O, bapak sekarang telah berkawanlah dengan saya, karena itulah kesusahan yang sebesar-besarnya sekarang telah terhapus pula, dan alangan yang sebesar-besarnya pun telah lenyaplah. Karena saya tahu bahasa bapak ada di sisiku, sekarang saya tak gentar dan tak ngeri lagi, melainkan dengan suka dan riang, dengan langkah yang ringan dan tersenyum-senyum dapat pergi menentangi musuh.

Sekarang hanya tergantung kepada kemauan dan kesanggupanku sendiri saja lagi, untuk akan menyampaikan maksud-maksudku itu! Harapanku sangat besar dan keberaniku tak kurang. Ma, tolonglah beranikan hatiku selalu! Dengan segera telah saya minta kepada bapak, bolehkah saya kabarkan kabar baik ini kepada nyonya Abendanon, jawabnya: boleh. Pada malam itu jua saya tulislah sepucuk surat kepada nyonya Abendanon dan sepucuk kepada ma sendiri.

Sekarang tinggallah lagi suatu angan-anganku, dapatlah kelak didirikan sekolah anak perempuan itu, tetapi dalam hal itu saya putus asa. Beberapa tanda-tanda telah membayang, menyatakan bagaimana susah orang-orang yang berpangkat tinggi, hendak mempertinggi kedudukan dunia bangsa Bumiputera dan hendak memancarkan cahaya ke dalam alam perempuan bangsa Bumiputera dan hendak mengeluarkan

perempuan-perempuan itu dari keadaan yang penuh berlumur dengan kesengsaraan. Biarlah orang-orang yang berpangkat tinggi seperti itu sekarang masih belum banyak didapati.

Di Jogja kami pergi mengunjungi nyonya Ter Horst sebagai yang telah saya kabarkan kepada nyonya. Ia amat baik dan peramah, dijemputnya kami dari stasiun, tetapi ia tak bertemu dengan kami di stasiun itu, karena kami telah turun dari kereta di stasiun lain, dan di rumahnya disediakannyalah makan-makanan untuk kami. Kami datang kepadanya hanya hendak berjabat tangan saja, tetapi ia banyak hendak berbincang dengan saya. Ia berceritera kepadaku bahasa residen de B, yang belum lagi mendengar maksud tuan Mr. Abendanon, telah bermaksud dengan sungguh-sungguh, hendak mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan dari kepala-kepala bangsa Bumiputera. Maksud itu seboleh-bolehnya dilangsungkan dengan pertolongan Pemerintah, kalau tidak dapat, dengan pertolongan partikelir saja. Residen itu meminta kepadanya akan mengaturkan maksud itu, dan setelah itu bolehlah residen itu sendiri nanti meneruskan pekerjaan itu, lalu saya terangkan, bahwa barang sesuatu yang baik tentang pengajaran dan pengetahuan untuk anak-anak perempuan hendaklah disama ratakan saja, meski untuk anakanak kepala-kepala yang berpangkat tinggi, atau yang berpangkat rendah, supaya kemamuran dan budi pekerti anak negeri jadi bertambah-tambah dalam dan lebar.

Bahwa sanya memang adalah orang yang berhajat dengan sungguh-sungguh hendak memberi pengajaran untuk anak-anak perempuan bangsa Bumiputera. Bila usaha tuan Mr. Abendanon untuk mendirikan sekolah anak perempuan itu tak sampai, tetapi saya harap Allah akan menolongnya akan menyampaikan jua maksudnya, dan tentulah saya tidak akan menjadi guru, saya minta kepada nyonya, yang nyonya tidak membiarkan saya sendiri saja, bukan ma? Dan sukakah nyonya pula menolongku memintakan saya izin kepada bapak, supaya saya boleh belajar menjadi dokter? Atau tak sukakah tuan kedua saya menjadi dokter itu? Kalau tuan suka maka tuan kedualah yang dapat memintakan itu kepada bapak.

Semenjak petang yang tak mudah dilupakan itu, kasih bapak dua kali lebih ganda kepadaku. Bicaranya sangat lemah lembut, dirabanya kepalaku dan dipeluknya dengan kedua tangannya, seolah-olah tangannya itu hendak melindungi saya dari kecelakaan yang akan datang.

Saya ketahui sekali itu, dan saya rasa kasih sayangnya yang tiada berhingga itu, sebab itulah saya menjadi manja dan berbahagia benar!

Sejak kami kembali dari Betawi, adalah perasaan kami sekarang, seolah-olah kami pulang ke rumah, hanyalah akan melepaskan lelah dan pergi berjabat tangan saja, setelah itu hendak terbang kembali ... Ke mana? Saya sekarang hendak merasai benar-benar kesedapan tinggal di rumah, karena di mana ju pun di alam ini tiadalah sebaik tinggal di rumah orang tua sendiri, dan hal itulah yang telah menimbulkan terima kasih dalam hatiku, apabila esok atau lusa saya meninggalkan rumah orang tuaku; pergi itu tentulah dengan berkat dua bapaku. Saya harap sungguh-sungguh, demikianlah pula hendaknya dengan saudara-saudaraku yang lain.

Dahulu saya belajar adalah dengan mudah ... saya tak pernah tercecer di belakang ... tetapi antara dahulu dengan sekarang telah amat lama. Sekalian yang telah saya pelayari di sekolah percebel, saya telah lupa. Waktu umurku dua belas setengah tahun, tatkala itulah saya meninggalkan sekolah itu. Tetapi kalau mau, hampir semuanya boleh dapat, bukan, ma? Dalam segala hal saya akan mengusahakan diri dan akan bekerja keras. Doakanlah saya oleh tuan kedua! Moga-moga hatiku tetap selalu, cukup dengan kemauan dan keberanian yang hidup, hai kekasihku! Sekarang semuanya dengan tulus dan ikhlas telah saya ceritakan kepada tuan, o, maku! Bagaimana pikiran tuan kedua tentang sekalian hal itu? Katakanlah dengan terang kepadaku buah pikiran tuan kedua, saya semata-mata anak tuan, dan tuan tahu, betapa besarnya saya hargai buah pikran tuan kedua.

Saya menulis surat dengan kepercayaan sesungguh-sungguhna, bahasa tak adalah orang yang lain, yang lebih mengindahkan hal keadaanku, hanyalah tuan kedua. Hal itu berhubung kuat dengan nasibku pada waktu yang akan datang. Lain dari itu saya pun tahu juga, bahasa saya setiap waktu boleh datang kepada tuan kedua, akan meminta nasihat, pertolongan dan pergi melipurkan hati. Oleh karena itulah kelak saya akan datang kerap kali kepada tuan.

7 Oktober 1900 (VIII)

Saya menanti wakteku dengan sabar. Apabila waktu itu datang kelak, di situlah nanti orang akan melihat, yang saya bukanlah suatu benda yang tak ada bernyawa, tetapi ialah sebenarnya seorang manusia, yang berotak dan berhati, ada berpikiran dan ada berperasaan.

Memang menjadi suatu kelobaan yang terlampau kepadaku, karena saya akan menjadikan nyonya seorang kawan yang sama-sama berpercintaan. Percintaan itu kutaroh, kusembunyikan dalam kalbuku dan mendatangkan keriangan kepadaku, tetapi kepada nyonya, nyonya menjadi ... kedukaan! Jadi dukacita itulah yang saya berikan kepada sekalian mereka yang sayang kepadaku! O, sekarang maulah saya berteriak keras mengatakan kepada nyonya, karena saya sangat cinta kepada nyonya: “Lepaskanlah saya, dan tariklah diri serta kasih nyonya kembali dari saya! Buanglah saya dalam ingatan tuan! dan dari hati nyonya! Biarkanlah saya berperang sendiri! O, Allah Tuhan yang kaya, rupanya tiadalah nyonya tahu berapa dalamnya dan besarnya lubang, yang nyonya hamburi karena nyonya mengasihiku! Biarkanlah saya sendiri! Biarkanlah saya selalu sukero kepada Allah, karena saya telah menerima kasih sayang dan pertolongan dari nyonya; bahwa nyonyalah jua yang menyimpangkan jalan hidupku ke jalan yang telah nyonya taburi dengan intan permata dan bunga-bungan. Misalkanlah perjumpaan kita yang sudah² sebagai kapal-kapal yang bersabung di lautan luas, pada malam gelap gulita. Kita berjumpa dalam kelam, beri-memberi selamat dengan riang, kemudian tampaklah jejak kapal di muka air, dan sesudah itu hilanglah sekaliannya! Tetapi saya takut, saya tahu bahasa nyonya tak sanggup berbuat sedemikian, Meskipun nyonya boleh berbuat laku begitu. Lebih baik tak usahlah saya panjangkan kalam tentang itu.

Belum berapa lamanya telah lalu ibu dengan saya mempercakapkan hal ihwal perempuan, dan dalam percakapan itu saya nyatakanlah kepadanya, bahasa tak adalah yang lebih menghiburkan serta menarik hatiku, dan tak lain yang saya ingini, lain dari pada maksud hendak mencari penghidupan untuk diri.

Ibu berkata: “Tetapi sampai sekarang belum seorang juga di antara kita yang berbuat sedemikian.”

“Kalau begitu memang telah datang waktunya sekarang, yang kita akan berbuat sedemikian,” jawabku pula.

“Tetapi engkau telah tahu, bahasa segala permulaan itu sukar adanya, tahukah engkau lagi bahwa tiap-tiap orang yang bermula membuat sesuatu pekerjaan, amat susah untung nasibnya? Kecelaan, kecewa, datang berganti-ganti dan banyaklah pula penggodaan yang akan menimpanya, tahukah engkau sekaliannya itu?” kata ibu.

“Ya, tahu keadaan itu! Hal-hal yang sedemikian bukan kemarin dan sekarang saja telah terkandung dalam kalbuku, tetapi telah bertahun-tahun lamanya,“ jawabku pula.

ALUN-ALUN DI JEPARA

“Apakah kebaikannya kepadamu? Adakah ia mencukupi nafsumu? Dapatkah ia menjadikan engkau beruntung?“ sahut ibu pula.

“Saya tahu bahasa jalan yang akan saya tempuh itu banyak kesukarannya, penuh dengan batu, duri dan ranjau, banyak berlubang-lubang berisi dengan benda yang runcing dan tajam, lagi berkelok-kelok dan berlumpur, ya, sebab jalan itu ... masih belum ditebas orang! Meskipun saya karena menempuh jalan itu tiada akan beruntung, Ataupun karena itu saya akan meninggal dunia di tengah jalan, biarlah, senanglah hatiku berpulang ke rahmatullah dengan cara sedemikian. Apabila jalan itu kelak terbuka dengan usahaku, Meskipun dalam hal itu diriku sendiri akan menjadi kurbannya, saya pun akan bersukacita, karena saya ketahui, yang saya telah membukakan suatu jalan, yang boleh membawa perempuan-perempuan bangsa Bumiputera ke padang kebebasan dan pandai tegak sendiri dalam hidup bersama-sama. Alangkah syurnya saya kepada Allah, jika orang-orang tua anak-anak perempuan yang lain, menggemari pula hendak tegak sendiri, tak pernah akan berkata kepada anak perempuan: “Belum ada seorang juga di antara kaum keluarga kita yang telah berbuat seperti itu.“

Sungguh ajaib sekali, karena waktu saya mengeluarkan kata-kata itu, saya tak sedikit juga merasa takut atau negeri dan gentar, melainkan hatiku ketika itu betul-betul berani dan sabar, sayang hatiku yang bodoh dan gila ini menyebabkan pula dalam hal itu kepiluan yang amat sangat.

Oktober 1900 (II)

Saya suka belajar untuk menjadi guru, hendak mendapat dua buah diploma yaitu diploma guru bantu dan diploma guru kepala dan dalam itu hendak saya pelajari lagi perkara kesehatan tubuh, barut-membarut orang luka dan menjaga orang sakit.

Dan kemudian sekali baharulah kehendak saya belajar untuk memperoleh diploma yani diploma bahasa, bahasaku sendiri. Dan setelah kami tamat belajar, maka kami berdua akan mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan kepala kepala negeri. Saya terlalu suka belajar di negeri Belanda, karena tanah Belandalah yang sanggup melengkapkan saya dalam segala hal, untuk pikulan yang berat dan besar, yang hendak saya pikulkan kebahuku.

Telah kerap kali selama hidupku, saya merasai bahwa la-lunya kehendak hati itu kebiasaan bersama-sama dengan keloaan hati.

Rupa-rupa-rupa-rupa-rupa-rupa kejadian dalam waktu-waktu yang lalu telah menyatakan, yang kita manusia hanya memikirkan, dan Allah jualah yang menjadikan. Sekaliannya itu hendaknya menjadi kiasan bagi kita manusia, yang tak luas pemandangan, yani kiasan, supaya manusia itu jangan terlampau berbesar hati sekali mempercayai dirinya sendiri saja, mengirakan bahasa kita betul-betul mempunyai “kemauan” sendiri sambil melupakan Allah.

Memang adalah suatu kekuasan, yang lebih keras dan lebih kuasa dari pada kemauan sekalian manusia, di alam ini. Sungguh sia-sialah orang yang membesarkan dirinya dan menyombong mengatakan: kemauannya besar dan keras sekeras besi!

Hanyalah sesuatu saja kemauan yang wajib dan patut kita punyai yani: kemauan memuliakan dia, Tuhan yang baik!

Tak usahlah saya katakan kepada nyonya, karena nyonya sendiri telah tahu bahasa kami kedua sangat berharap dan beringin hendak bertemu lagi dengan tuan kedua di Semarang atau di tempat lain. Pertemuan itu sangat kami ingini, o, kekasih kami yang dicinta, tetapi keinginan kami tak dapatlah kami mengharapkan sungguh-sungguh. Hanyalah kami berharap dan meminta, Allah akan mengabulkan cita-cita kami itu! Tentulah telah banyak perubahan dalam hati kami, maka kami berkata sedemikian.

Ya, amat banyaklah sudah, yang berubah di hati kami, bukan buatan banyaknya!

O, ma, kami tak dapat mengatakan kepada tuan betapa gembira dan terima kasih kami, karena kami telah berkenalan dengan nyonya van Kol.

“Orang yang sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya, ialah makhluk yang lemah dan murah hatinya,” kata nyonya itu ...

Dan kami tambah lagi: “Manusia itu bersifat fana!” ... Jangan harap kepada manusia! ... Bukankah tak salah sekalian itu saya katakan kepada nyonya, karena tempat kami berharap ialah manusia? ... kami mencari kekuatan pun pada manusia juga ... Segala kejadian-kejadian yang kami rasai dalam hidup kami pada tahun-tahun yang akhir ini, menyatakan kepada kami betapa kami telah menempuh jalan yang sesat.

Kami banyak mengucapkan terima kasih kepada Nellie van Kol, karena ia telah menunjukkan kepada kami jalan yang sebenar-benarnya ke padang kebebasan.

Tak ada seorang manusia yang bebas apabila kasihnya telah tertempa kepada seseorang yang lain. Berharap kepada seseorang artinya menyerahkan dirinya jadi tawanan kepada orang itu. Jalan kepada Allah dan ke padang kebebasan yang sebenarnya hanyalah sebuah saja. Siapa yang memperhambakan dirinya kepada Allah, tidaklah ia menjadi tawanan orang, melainkan ialah sebenar-benarnya orang yang bebas.

Dalam beberapa hari ini adalah sesuatu yang tak menyenangkan hatiku, yang menjadikan kami putus asa, sebelum perubahan Allah datang.

Tetapi sekarang kami pegang teguh-teguh tangan perubahan itu, dan kepadanya kami tentangkan benar-benar mata kami, dengan tiada menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan. Ia tentulah akan mengemudikan kami pula ... menimbang hal keadaan kami dengan kasih sayang ... Waktu itulah waktu yang gelap akan menjadi terang, dan angin ribut akan menjadi angin yang lemah lemut.

Sekalian yang mengelilingi kami tinggallah seperti sediakala, tetapi bagi kami tidaklah rasanya dia seperti dahulu lagi. Perubahan yang sebenarnya telah ada di hati kami, perubahan itu menyinari sekaliannya, dengan cahaya yang terang. Damai dan sentosa timbullah di hati kami ... Ma, kami sekarang beruntung dan berbahagia.

Bahagia itu bukanlah dengan bergila-gila dan bersorak-sorai, tetapi itu dengan damai, sabar dan insaf.

Bukan kepalang suka hati kami hendak memperbincangkan hal itu sekaliannya dengan nyona. Tuan van Kol ... telah mengirimkan kepada kami secarik kecil koyakana surat isterinya dan tersebutlah dalamnya “tetapi sekali-kali janganlah mau mengangkat diri! karena segala kemuliaan semata-mata ialah rahmat Allah!“ Sesuailah dengan yang telah acap kali dikatakan ibu kepada kami. Peringatan itu amat berguna kepada kami, sebab semenjak kecil kami selalu hidup di dunia dengan manja dan penuh pujian.

Kepada kami, terutama kepada kami berguna amat peringatan itu untuk menjauhkan kami dari penyakit mengangkat diri itu, karena ialah suatu gosong tempat kapal terdampar dan berbahaya, bila nyawa manusia berpulang ke rahmatullah!

Kami selalu mendoa meminta kodrat dan kekuatan, supaya dapatlah kami dengan semporna menanggung suka dan duka. Lebih-lebih untuk kesukaan hati, karena dalam suka itu biasanya adalah penggodaan yang besar. Kebanyakan kapalkapal yang bermuat dengan hidup anak-anak muda berubah haluannya, bila saja angin ribut kesukaan telah datang menghambusnya, dan pada waktu itulah pula ia kerap kali segera tenggelam! Alangkah sombongnya perkataanku, bukan.“ Bila nyonya bertemu dengan saya nanti, helanlanlah telingaku.

Betapalah gerangan perasaan kita kedua belah pihak, hila kita nanti dapat bertemu lagi! Saya tahu rasanya apa yang mula-mula akan nyonya katakan kepadaku: “Hai nak, alangkah gemuknya engkau sekarang!“ Saya menjawab dengan berbisik kepada nyonya: “Di mukaku rupanya saya telah menjadi tua, tetapi di hatiku adalah tertulis dengan huruf emas, kata: cinta, yang senantiasa tinggal tetap, selalu muda.”

1 November 1900 (VIII)

Kabar baik!

O, saya amat beruntung dan berbahagia! dan saya tahu untuk menjadi guru! ucapkanlah kepadaku selamat! Peluklah saya dalam kenang-kenangan nyonya, pandanglah bahagia yang bercahaya-cahaya yang keluar dari mataku! Saya telah bercakap dengan bapak dan berceritera kepadanya, apa yang telah nyonya minta kepadaku dahulu, ketika nyonya masih tinggal di sini! Bapak pun suka memperkenankan hal itu! Suka sekali mengabulkannya! Sekarang boleh-lah saya duduk di bangku sekolah, supaya nanti saya boleh lagi berdiri di muka bangku itu, bila telah ada berhak memperbuat demikian.

Boleh dan mau! mau dan boleh! tak ada yang sebagus susunan kedua kata itu! dan dengan kata “cakap“ sempurnalah dia menjadi tiga sejoli!

Mau artinya caka p, bukan?

O, saya boleh! saya boleh, saya boleh pergi belajar yang tuan kedua akan beriang hati mendengarkan untung bahagiaku itu.

Sekarang betullah saya belum menjadi apa-apa, tetapi nanti boleh saya menjadi barang sesuatunya, sungguh senang sekali! “Berharaplah, percayalah dan hendaklah berani!“

Ketiga kata-kata itu, yani kata-kata nyonya yang selalu saya kenang-kenangkan, dan selalu kata-kata itu setia mengiringkan saya, ketika saya tadi pergi menghadap bapak dari. bercakap dengan dia.

Saya amat sabar dan riang sedikit waktu itu, Sungguhpun lebih dahulu saya telah merasa, yang percakapan itu akan baik kesudahannya. Bapak menyukai benar pikiranku, hendak menjadi guru di sekolah untuk anak-anak perempuan itu. Alangkah lemah lembut bapak berkata ketika itu dengan saya! O, tiadalah saya salah sangka akan dia, yang ia menyayangi anaknya dan mengerti benar-benar akan kehendak si anak itu.

Dahulu saya telah berdiri di tepi tebing yang amat curam, dan telah menengok kelurah yang dalam, dengan gelap gulitanya! Sekalian itu waktunya telah terlampau! Cinta kasih sayang telah melompatkan saya ke seberang lurah yang dalam itu.

Maulah rasanya saya memeluk dunia ini, karena kesukaan hati yang sebenar-benarnya itu.

Izin dan berkat dari bapak itu telah saya junjung tinggi, dan itulah sebabnya maka segala aral besar-besar yang melintangi jalan hidupku yang akan datang, sekarang telah hilang dan hapus.

2 November 1900 (II)

Suatu rahasia yang penting sekali hendak kubisikkan kepada nyonya, kekasihku yang dicinta, saya berharap sangat dan percaya, yang rahasia ini sedikit hari lagi tak akan menjadi rahsia lagi! O, saya sangat beruntung! Peluklah saya dengan kedua belah tangan, dan rengkuhlah mukaku kehati nyonya, ciumlah kepala ku dan ucapkan selamat kepadaku, o, kekasihku! Bukanlah kenang-kenangan yang hampa dan tidaklah mimpi yang kosong yang saya kejar itu, de ngarlah olehmu, ma, saya telah boleh membebaskan diriku dan boleh tegak sendiri! Saya boleh menjabat pekerjaan! Sejak kemarin saya merasa diriku seakan-akan tak hidup lagi, tetapi rasanya tempatku jauh dari rumah yani dalam surga bahagia dan rahmat!

Saya boleh! Saya boleh! Saya boleh! telah beribu-ribu kali saya ulangi kata itu dan selalu hendak saya ulangi lagi.

O, sekalian anggotaku turut beriang hati, bersuka raya, hal itu tentu dapat nyonya maklumkan, bukan, ma? Nyonyalah yang mengenal saya sampai ke dalam hati kecilku, dan nyonya pun tahu pula bahasa belum lama antaranya angin ribut telah melanggar hatiku, ketika itu betullah dia menjadi suatu kesengsaraan bagiku yang telah saya perangi dengan hebat. Tetapi semuanya itu adalah mendatatkan kebaikan bagiku, peperangan yang hebat dalam hatiku itu telah menguatkan saya!

O, ma, jikalau perkara di Betawi dan di Mojowarno telah selesai, tentulah akan mulai peperangan yang hebat bagiku. Kedua tempat itu menghela hatiku; pihak yang satu karena dekat pada nyonya, dan dapat bersama-sama dengan saudaraku, yang tentu akan datang ke Mojowarno, bila kabar yang kami terima nanti tentang halku, kabar baik ... di sana negeri kecil, jauh dari riuh rendah seperti di kota, dan jauh dari asung fitnah manusia dan diam di tengah-tengah mereka, yang berhati suci dan bersih, yang hidup dalam udara yang suci, sambil berkasih-kasihan sesamanya manusia ... dan pihak yang satu lagi ...?

“Barang suatu dengan mudah dan kemalasan boleh didapat, tak adalah yang lama boleh berharga dan lama boleh memberi sukacita untuk kita,” kata nyonya Abendanon. Tetapi tak usahlah saya pecahkan kepalaku untuk pemilihan itu. Perlahan-lahan dan dengan sabar bolehlah juga kita sampai ke-tempat yang kita tujui, apalagi pekerjaan yang gopoh-gapah biasanya melambatkan. Biarlah saya dengan saja suara, yang dibisikkan oleh kalbuku, dan apa-apa kata suara itu akan saya bandinglah dengan pikiran yang keluar dari otakku. Baikkah dilakukan sedemikian, ma?


SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1901

PEMANDANGAN PADA SUNGAI CILIUNG (DEPOK)

9 Januari 1901 (I)

Adalah hal keadaan yang baru, yang akan datang ke dalam dunia bangsa Bumiputera, Meskipun tidak terjadi karena perbuatan kami, tetapi boleh juga karena orang yang lain.

Kemerdekaan telah membayang di udara, ia telah ditakdirkan Allah. Dan barang siapa yang telah dinasibkan, yang akan menjadi kepala untuk yang baharu itu, mestilah berpenanggungan. Hal itu menjadi adat dunia telah berzaman-zaman lamanya: “Siapa yang hamil wajib merasai keberatan dan kesakitan bersalin! Tetapi anak yang dilahirkan oleh si ibu itu dengan segala kesusahan dan kesakitan yang tidak berhingga, selamanya dikasihi, dicintai dan disayanginya!“

O, tak ada perasaan yang lebih celaka dari pada perasaan kekutan mau bekerja, yang tiba-tiba bertukar menjadi kekutan la mau bekerja. Syukur, syukurlah perasaan itu telah terhindar dari badanku.

Belum berapa lama ini adalah seorang professor dari Jena datang kepada kami. Tuan itu namanya Professor Dr. Anton, ia dengan isterinya, sedang tamasya untuk ilmu pengetahu-an, datang ke mari hendak berkenalan dengan kami.

Saya takut, pemandangan orang terlampau tinggi kepadoke. Saya tahu betul lagi, bahasa orang memperdayakan dirinya dengan kebagusan yang baru dan barangkali oleh karena kasihannya ia berbuat sedemikian.

Bagi orang banyak kami sekarang berpendapatan baru, ya, bagi orang di sini pun baru. Segala yang baru kebiasaan disukai dan diajaibkan orang. Professor itu menyangka dalam hatinya, yang kami masih setengah biadab; sekarang dilihatnya sendiri, bahwa kami di sini seperti manusia yang biasa saja. Yang ajaib kepadanya, hanyalah warna kulit kami, pakaian dan sekalian yang ada dalam lingkungan kami, karena sekalian itu tak biasa dilihatnya. Bukankah kita merasa amat senang hati, bila buah pikiran kita, kita dapati pula pada orang yang lain? Dan jika orang itu orang asing, orang bangsa lain, dari benua yang lain, berdarah, berkulit dan beradat lain pula, maka bertambahlah dalam hati kita kesukaan persaudaraan sepikiran itu. Saya percaya benar yang orang tidak sedikit juga akan mengindahkan kami bila sekiranya kami tidak memakai sarung dan kebaya, melainkan mengenakan pakaian nona-nona dan demikian juga jika sekiranya kami tiada memakai nama Jawa, melainkan memakai nama Belanda serta berdarah Eropa dan bukan berdarah Jawa dalam tubuh kami.

Baru sebentar ini kami terima anugerah dua tiga buah kitab, di antara kitab itu, yang bagus sekali karangan B. van Suttner, bernama: “De wapens neer gelegd” (Senjata diletakkan).

Saya telah membaca bermacam-macam kitab, tetapi kitab yang bernama “Modern Magden” (Gadis-gadis kaum muda) itulah kitab yang amat bagus, sangat menarik dan merawakan hatiku, karena sekalian yang telah saya pikiri dan rasa dan yang hidup di hatiku sendiri itu, sekaliannya tersebutlah dalam kitab itu. Sesungguhnya Marcel Prevost telah memperhatikan sekalian hal itu baik-baik, dan ia tahu lagi menyuratkan penglihatan, pikiran dan perasaannya dengan benar. Menurut pendapatanku kitabnya itu amat bagus. Sampai sekarang kepadaku belum ada lagi keputusan tentang perkara yang besar itu, dan halku dalam itu tinggallah sebagai biasa, sebelum berkenalan dengan M. M., tetapi melihat orang yang pandai menerangkan maksud gerakan perempuan dengan kebenaran dan kekuatan, yang seterang dan sejelas itu, saya belum pernah. Si pengarang itu tak berhenti-hentinya memaki akan juara? dalam gerakan perempuan itu, kecuali juara seperti Fedi dan Lea. Juara-juara yang banyak itu dikatakannya keji, tiada sempurna, tak beraturan. Sekalian itu tiadalah menjadikan saya marah. Amat bagus dan manis tutur kata Pirnet, seorang juara perempuan yang besar dan Meskipun berbadan rusak, tetapi amat disayangi orang. Bacalah keadaan itu, lebih pada penghabisan kitabnya. Tutur katanya, semuanya terang dan benar, dengan seterang-terangnya diuraikannya maksud gerakan perempuan. Berlipat ganda saya merasa betapa lezat rasanya kata-kata itu. Apalagi oleh karena seorang laki-laki yang memikirkan dan mengarangkannya. Sebelum saya membaca kitab itu, saya telah menulis dua pucuk surat yang panjang kepada dua orang sahabat karibku. tentang hal itu. Sekiranya saya mengirim surat itu sesudah saya membaca kitab M. M. itu, tentulah saya akan menyangka, bahwa saya menulis surat itu, ialah sebab telah membaca kitab M.M., oleh karena buah pikiran yang terlukis di dalam kitab itu, bersuaian benar dengan isi kedua suratku itu.

Saya suka sekali, bila adalah orang di sini, tempat saya boleh memperbincangkan isi kitab M.M. itu. Banyak perkara yang tersebut di dalam kitab itu hendak saya perkatakan dengan orang yang telah banyak penanggungan dan pendapatannya.

Banyak pula yang hendak saya ceritakan kepadamu tentang maksud hendak mendirikan sekolah-sekolah perempuan untuk bangsa Bumiputera. Sekarang maksud itu telah diketahui oleh sekalian orang. Adalah banyak lagi hal yang lain-lain hendak saya kabarkan, tetapi pada hari ini maksudku hendak berkimin surat yang ringkas saja. Hanya suatu hal yang hendak saya ceritakan kepadamu: maksud tuan Mr. Abendanon itu adalah disukai orang di mana-mana jupaun. Banyak orang-orang Eropa yang berpangkat tinggi dengan suka hati mendengarkan buah pikiran tuan Mr. Abendanon itu dan kepada mereka itulah lagi bergantungnya maksud sahabat kami itu, boleh sampai atau tidaknya. Banyak sahabat kenalan kami di antara pegawai-pegawai bangsa Eropa, yang suka menolong menyampaikan hajat tuan Mr. Abendanon, yani suka mempertinggi kedudukan dunia perempuan bangsa Bumiputera, yang sekarang sungguh-sungguh dalam kesengsaraan. Dan banyak pula orang-orang lain, yang belum kami kenal, menyukai juga maksud yang mulia itu.

Sedikit hari lagi maulah saya mengirimkan surat edaran tuan Mr. Abendanon itu, kepada kepala-kepala negeri bangsa Eropa dan Bumiputera tentang maksud hendak mendirikan sekolah-sekolah itu. “Dari dahulu sampai sekarang kemajuan untuk perempuan-perempuan senantiasa menjadi suatu perkara yang penting, untuk kehormatan bangsa.”

“Kepandaian dan pengetahuan bangsa Bumiputera tanah Hindia ini, tiadalah akan maju dengan selekas-lekasnya, apabila keperluan perempuan-perempuan selalu ditinggalkan di belakang. Perempuan ialah manusia yang memikul kehormatan!” Demikian bunyi surat edaran tuan Mr. Abendanon itu, Stella, tiadakah buah pikiran tuan Mr. Abendanon itu menghiburkan hatimu?

Telah setengah tahun lamanya kelihatan, bahasa bangsa Bumiputera suka benar hendak mempelajari bahasamu yang bagus itu. Sayang kebanyakan orang Eropa tak senang hatinya melihat keadaan itu, tetapi orang Belanda yang berpikiran mulia adalah menyukai, dan menggembirakan hati kami menyuruh menyampaikan maksud itu.

Di kota-kota besar, telah terdirilah sekolah-sekolah Belanda, sebagai cendawan tumbuh. Sekolah-sekolah itu dimasuki oleh anak-anak kecil, dan oleh orang-orang yang telah beru-mur, yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja pada Gubernemen.

Banyak pegawai-pegawai besar Gubernemen, yang dikepalai oleh Gubernur Jenderal menyukai benar, supaya bahasa Belanda diajarkan kepada anak Bumiputera, karena bahasa Belanda itu boleh menjadi perkakas, yang dapat memajukan bangsa Hindia dan mendekatkan bangsa Jawa kepada bangsa Belanda, dan supaya bangsa Belanda itu tiadalah lagi menjadi orang yang ditakuti, tetapi menjadi orang yang disayangi oleh bangsa Jawa, yang akan melindungi dan melongnya. Kalau demikian tentulah mimpi kakakku dan beberapa orang Eropa berpikiran yang mulia, kelak akan menjadi barang yang sebenarnya. Bersoraklah engkau, Stella, bersama-sama dengan saya akan tanda bergirang hati!

21 Januari 1901 (VIII)

Petang tadi kami dengan nyonya Gonggriyp pergi ke tepi laut dan mandi-mandi di sana. Waktu itu lacetan sedang hening dan warnanya bagus sama rata, saya ketika itu duduk di atas tebing dengan kakiku terjuntai ke dalam air, dan pe-pandanganku menuju arah ke tepi langit yang jauh itu. O, alangkah bagusnya bumi ini! Keriangan serta terima kasih timbullah di hatiku. Alam ini selalu menghiburkan hati kami, bila kami datang kepadanya minta dihiburkan.

Telah lama dan sudah banyak saya memikirkan tentang pendidikan, lebih-lebih baru-baru ini, dan menurut pendapatanku, pendapatan itu ialah suatu kewajiban yang mulia dan bertuh; dalam hal itu saya menyangka diriku berbuat suatu kejahatanlah, bila saya mengajarkan ilmu pendidikan itu dengan penetahuan yang tidak semporna. Apalagi harus nyata lebih dahulu, bolehkah saya menjadi guru pendidik. Bagi saya pendidikan artinya mengajar orang berpikir dan berperasaan. O, saya tak pernah akan bersenang hati atas diriku, bila saya nanti telah menjadi guru, tetapi saya tak sanggup melakukan kewajibanku sebaik-baiknya menurut pikiranku tentang pekerjaan guru pendidikan yang sepatutnya, Meskipun dalam hal itu tak adalah orang lain yang tak bersenang hati melihatkan pekerjaanku yang tiada sempurna itu. Mencerut timbanganku, bila si guru sekadar membeekakan pikiran si anak itu saja, belumlah ia boleh dikatakan cukup melakukan kewajibannya, ya, demikian pula belum boleh dipandang cukup; karena si guru itu wajib pula membentuk budi si anak itu, sung-guh pun tak ada undang-undang yang memaksa dia berbuat sedemikian, tetapi hendaklah hatinya sendiri si guru itu wajib menyouroh mengerjakan hal itu. Kadang-kadang saya tanya diriku sendiri, sanggupkah saya mengerjakan sekalian itu? Saya sendiri, yang masih wajib perlu lagi mempunya pendidikan yang sedemikian? Kerap kali saya mendengar orang mengatakan, bahasa sekaliannya itu kelak akan datang sendirinya, karena dengan mempunya ilmu pengetahuan, maka perasaan sopan santun yang halus dan mulia pun datanglah; tetapi telah saya perhatikan, dan saya merasa sayang sekali, karena keadaan itu sekali-kali tiadalah selamanya sedemikian. Bermacam-macam pelajaran dan pengetahuan bukanlah dia menjadi sutae diploma dari budi pekerti yang halus dan mulia. Oleh sebab itu janganlah kita lekas salah tampa melihat beberapa banyak mereka itu yang telah tinggi pengetahuannya, tetapi kelakuannya tinggal biadab dan tiada senonoh, karena ketiadaan pekerti dan adat sopan santun yang baik itu bukanlah kesalahannya sendiri, melainkan sebab pendidikannya tak sempurna. Amat banyak orang yang menjaga dan berusaha benar-benar supaya otak si anak menjadi tajam dan tangkas, tetapi mereka itu kerap kali lupa sama sekali mendidik si anak itu, supaya berkelakuan dan betertib sopan yang elok!

O, betapa sukacita hati saya membaca dan membenarkan buah pikiran tuan yang sejelas dan seterang itu dalam surat edaran tentang pengajaran untuk anak-anak perempuan bangsa Bumiputera itu: “Perempuan ialah yang memikul kehormatan! bukanlah karena perempuan yang dipandang memikul kemuliaan itu, tetapi ialah karena saya sendiri pun percaya bahasa dari perempuanlah jua datangnyia kekuasaan yang besar, yang boleh memperbaiki Ataupun merusak manusia semasa hidupnya, sebab itulah pula saya percaya benar, bahasa perempuanlah yang pandai mempertinggi tertib sopan dan budi pekerti manusia dalam bumi ini.”

Bahwa sanya memang dari pada perempuanlah diterima orang yang mula² sekali pendidikan itu, dan di atas pangkuannyalah si anak belajar merasa, berpikir dan berto etur; sekarang bertambah masuk dalam pikiranku, bahasa pendidikan yang pertama-tama itu tidaklah sedikit artinya dalam hidu manusia. Kalau demikian bagaimanakah kiranya perempuan bangsa Bumiputera dengan sempurna dapat memelihara anaknya, jikalau ia sendiri tidak dididik?

Oleh sebab itulah maka saya sangat gembira mendengarkan maksud hendak memberi anak-anak perempuan ilmu pendidikan dan pengetahuan. Telah lama saya maklum bahasa pendidikan dan pengajaran itulah, yang sanggup membawa perubahan dalam hal keadaan perempuan-perempuan bangsa Bumiputera yang keji itu.

Faedah pelajaran itu kelak bukanlah saja untuk dunia perempuan, tetapi sama ada untuk sekalian bangsa Bumiputera dalam hidu bersama-sama.

Di mana-mana saja sekarang kami dengar orang memperkatakan, hendak mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan. Mata kami jadi bercahaya-cahaya, karena kegirangan hati, bila kami mendengar orang memperbincangkan hal itu dengan sungguh dan sukacita; dan kerap kali kami terpaksa menggigit lidah. Tangan kami, kami genggamkan teguh-teguh akan menahan kesukaan hati, yang hendak terhambur dari mulut kami.

Dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera pun orang bersukacita mendengar kabar tentang maksud itu. Sekalian perempuan yang telah berumur tempat kami memperbincangkan maksud itu, semuanya berkehendak mau kembali menjadi anak-anak, supaya mereka dapat pula merasai lezatnya pengajaran itu. Sekolah-sekolah Bumiputera di Pati, Kudus dan Jepara dan di tempat yang lain-lain, dapatlah nanti menunjukkan kepada nyonya dengan nyata segala kebajikan yang pertama-tama, hasil dari pekerjaan yang mulia itu. Di sekolah-sekolah itu telah diterima juga anakanak perempuan orang kebanyakan yang banyaknya makin lama makin bertambah-tambah. Sungguhlah suatu kegirangan!

Besok ibu akan menyerahkan seorang anak perempuan anak piatu, dari anak mas ibu, pergi ke sekolah; dan pada bulan yang lalu orang-orang tua kami telah menyuruh pula seorang magang anak muda yang rajin dan baik kelakuannya pergi belajar bahasa Belanda.

Dalam bermenenung melihatlah saya keluar memandang ke langit yang hijau warnanya, seolah-olah saya menantikan jabab yang tergores-gores dalam hatiku itu.

Dengan tiada kuketahui maka mataku pun menurutilah awan yang berarak dalam lapangan yang luas itu dan kemu-dian lenyaplah awan itu di balik daun pohon nyiur yang sedang melambai-lambai dihembus angin. Waktu itu terpan-danglah olehku daun² kayu yang bergoyang-goyang berkilat-kilat karena sinar cahaya matahari, dan tiba-tiba timbullah pertanyaan dalam hatiku: “Adakah pernah orang bertonya, apakah sebabnya matahari bercahaya? Apakah dan siapakah yang dikiriminya cahaya itu?” Wahai matahariku, matahariku emas semata, saya mau hidup di dunia ini, supaya kemanusiaanku berharga, akan tuan sinari, cahayai dan panasi dengan cahaya tuan yang mulia, yang menghidupi dan membaguskan dunia ini.

Sebab itu tak usahlah berdukacita, wahai kekasihku, bila surat permintaanku itu tak baik balasannya, sebab hidupku tidaklah akan menjadi sia-sia karena itu, dan dengan hidup sebagai sekarang ada juga apa² yang baik, dapat dibuat. Saya mau, dan tentulah akan menjadi sedemikian! Siapa yang memperhambakan diri kepada malikurrahim, tentulah hidupnya tiada akan sia-sia ... dan ... siapa yang mencari malikurrahim, tentulah akan mendapat bahagia, yani bahagia yang sebenar-benarnya: damai dan senang dalam hati ... dan itu pun bolehlah juga didapat di Mojowarno ... siapa tahuh barangkali di Mojowarno lebih lekas kesenangan itu diperoleh dari pada di tempat-tempat lain. Janganlah bersusah hati! Kami pun sekarang memang-lah banyak menerima kasih, karena pokok maksud kami yang terutama telah kami peroleh, yani: bebas, merdeka dan tegak sendiri ... dan ... biarlah menjadi dukun bernak, dapatlah juga kami berbuat baik untuk hidup bersama-sama.

19 Maret 1901 (IV)

Yang mulia tuan Doktor Adriani,¹

Telah lama saya hendak menulis surat kepada tuan, tetapi karena bermacam-macam alangan, lebih-lebih karena hampir sekalian ahli dalam rumah, sakit belaka; itulah yang telah melintangi saya benar menyampaikan maksudku hendak menulis surat kepada tuan. Sekarang untunglah sekalian kami di kabupaten, besar dan kecil, adalah dalam selamat walafiat, jadi tak macelah saya menantikan lebih lama lagi hendak membuat surat, yang telah lama dalam kenang-kenanganku ini, dan barangkali tuan pun telah lama menunggu-nung-gu kedatangannya. Maafkanlah saya, bila benar sangkaku ini. Saya sendiri pun amat beringin hendak menulis isi surat ini, karena hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan atas surat tuan yang sedemikian ramahnya, yang dialamatkan kepada adikku Rukmini, dan atas penerimaan kitab-kitab yang telah tuan kirimkan, yang sangat meriangkan hati kami ketiganya dari bermula sampai sekarang. Kami amat bersukacita memaklumi, yang tuan telah mengenang kami dengan kenang-kenangan yang baik dan kasih sayang. Kami selalu memikirkan hal itu, dan acap kali pula kami memperbincangkan tuan dan kekasih tuan, Bumiputera Toraja, serta pekerjaan tuan di sana; pandaknya sekalian yang telah kami dendar pada malam itu dari tuan dan nyonya Abendanon tentang tuan, semuanya kami perbincangkan. Malam kita duduk di Betawi itu bercengkerma bersama-sama, malam itu selalulah menjadi tinggal kenang-kenangan yang menyenangkan hati kami.

Dengan hati yang tulus dan ikhlas kami berharap, hendak-nya janganlah sekali itu saja kita dapat berjupra, tetapi hingga ini ke atas acap kalilah hendaknya kami dapat bertemu dengan tuan. Semenjak perceraian kita di Betawi itu, selalulah menjadi cita-cita dalam hati kami hendak bertemu dan bercakap-cakap dengan tuan barang sekali lagi. Betapakah besar dan gembira hati kami, bila sekiranya kami dapat menyambut kedadangan tuan di Jepara.

Persangkaan tuan betul tak salah; kami betul-betul meng-hargai pekerjaan zendeling-zendeling di tanah Hindia Belanda dan kami indahkan sungguh-sungguh akan kerja, usaha dan hidup mereka itu berhati suci, yang tinggal di tempat yang sejauh itu, sunyi dan dalam rimba, lagi jauh dari tanah air, jauh dari pada kaum keluarga dan kawan sepikiran mereka itu; pendeknya jauh dari dunia yang didiami manusia yang bertertib sopan yaitu dengan maksud hendak memasukkan kepandaian, yang akan memperbagus dan mempertinggi hidup sesamanya manusia, bangsa, yang dinamakan oleh bangsa yang terpelajar, “bangsa yang biadab!”

Dengan segala suka hati saya telah membaca kedua karangan tuan itu, dan saya mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan, karena tuan telah memberi kami kesempatan, supaya dapat mengetahui perkara yang penting-penting, yang dahulunya belum kami ketahui.

Baru-baru ini kami membaca karangan “Maatschappelijk Werk in Indie” (Pekerjaan penduduk di Hindia) yani rapor-rapor persidangan-persidangan pada waktu Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid di den Haag 1898, dan seperti membaca karangan-karangan tuan yang tersebut tadi. lamalah pula kami memikirkan dan membaca kabar-kabar pekerjaan zendeling-zendeling Nasrani di tanah Hindia, yang tersebut dalam rapor-rapor itu. O, hati saya sangat bersukacita memandang pekerjaan yang bagus dan mulia itu, dan demikian juga melihat mereka itu laki-laki dan perempuan, sekaliannya bangsawan-bangsawan pikiran, yang telah mengerjakan pekerjaan yang semulia dan sebagus itu, tetapi beratnya bukan buatan, dengan hati kasih sayang lagi yakin dan sabar.

Pada tahun 1896 kami beruntung dan berbesar hati, karena kami dapat menghadiri peralatan menaiki gereja baru Kedung-Penjalin. Barangkali agaknya selama hidup kami sekali tulah kami akan dapat menghadiri peralatan yang seperti itu. Waktu itulah yang pertama-tama kali kami memasuki gereja Nasrani sambil menghadiri orang sembahyang; sekalian yang kami lihat dan yang kami dengar di sana terasa benar di hati kami. Sungguhpun hal itu telah lama kejadian, tetapi karena kebebasan peralatan itu amat menawan hati kami, serasa seperti kemarinlah saja terjadinja. Alangkah merdunya bunyi nyanyi yang keluar dari mulut mereka yang sekian banyaknya itu, dan nyanyi itu besar bahananya dalam gereja yang seluas itu, dan bunga² yang menghiasinya sedap sekali mata memandangnya. Bersama-sama dengan orang banyak yang duduk hening dengan tepekurnya itu, kami pun turutlah pula dengan hati-hati mendengarkan sekalian yang dipidatokan dari atas mimbar, dalam bahasa Jawa yang sejati. Lain dari pada tuan Hubert adalah lagi tiga orang guru-guru zendeling yang berganti-ganti membaca khotbah di atas mimbar itu. Dan yang menambah lagi mulia-nya peralatan itu ialah suatu saat, tatkala seorang tua bangsa Jawa lalu tegak berdiri dan berpidato kepada orang-orang Jawa, baik yang seagama dengan dia atau tidak. Hal itu sekaliannya menimbulkan kesyukuran kepada Allah; dan banyaklah lagi hal yang lain, yang menyebabkan saya sekali-kali tak dapat melupakan peralatan di gereja itu.

Sejak saya keluar dari sekolah, baharu pagi itulah saya bermula sekali dapat pergi keluar rumah. melihat du-nya yang lus ini. Tuan tentu telah mengetahui, bahwa telah menjadi suatu adatlah bagi kami, mengurung anakanak gadis di dalam rumah, dan mencegah mereka sekeras-kerasnya tak boleh pergi keluar rumah, sampai pada waktu ke-datangan seorang laki-laki meminta si gadis itu akan menjadi isterinya. Pada dewasa itulah kurungan itu boleh dibuakan, dan burung yang terpenjara dalamnya itu pun ter-banglah keluar, beralih tempat dan “pertuanan” lain. “Kelu-ar rumah” seperti yang dimaksud oleh dunia, tak adalah sedikit juga gunanya bagi orang perempuan. Tetapi bagi kami orang yang mencintai kebebasan, adalah kurungan seperti itu semata-mata menjadi suatu penanggungan yang amat besar. Kami selalu mengucapkan banyak terima kasih kepada orang tua kami, karena mereka itu telah meruntuhkan adat kuno itu. Kemudian dari perjalanan kami yang amat berkat, pergi ke Kedung-Penjalin itu, kerap kalilah kami pergi keluar rumah; mula-mula sekali-sekali, kemu-dian bertambah kerap dan jauh kami boleh pergi dari rumah; pada tahun yang lalu sampailah perjalanan kami ke Betawi.

Di halaman surat kabar yang menerangkan nama-nama penumpang kapal, telah kami baca, yang nyonya istri tuan telah balik kembali ke tanah Hindia, dan tentulah ia segera akan datang kepada tuan; kami pun turut bergirang hati dalam hal itu! Dengan pos yang akan datang, kami akan mengirimkan gambar kami kepada tuan dan nyonya, akan memberi selamat kepada tuan keduanya atas kedadangan itu dan Meskipun belum berkenalan, kami ucapkanlah kepada nyonya selamat sampai di Mapane. Tidakkah kiranya orang-orang Toraja berbesar hati karena “bunda” mereka itu boleh dikelilinginya lagi bersama-sama?

20 Mei 1901 (I)

Meskipun saya masih muda, sesungguhnya telah banyak-lah penanggungan yang telah saya rasai dalam hidupku, te-tapi sekalian itu belumlah seberapa, kalau dibandingkan dengan dukacita hatiku, tatkala bapak dalam sakit. Waktu itulah saya tak ada, bernafsu, selalu gementar dan takut lahir dan batin, mulutku yang dahulunya dengan gagah mengatakan: “datanglah apa saja yang hendak datang!” sekarang mulutku itu menggigil dan berdoa mengatakan: “Ya Allah kasihanilah hambamu ini!” Keramaian pada waktu hari lahir-ku menjadi kesukaan yang berlipat ganda, bertambah dari biasa karena kesembuhan bapak pun dirayakan pula waktu itu. Saya telah perlihatkan kepada bapak pemberianmu dan saya telah ceritakan juga kepadanya kegirangan hatimu karena memperoleh potretnya. Waktu itu bapak sedang tidur berbaring di kursi panjang, dan saya duduk di lantai di sisinya, tangannya dirabakannya kekepalaku. Pada waktu itulah saya mempercakapkan engkau kepadanya. Bapak tersenyum-senyum tatkala saya menceritakan pujianmu yang baik dan yang sebenarnya itu, yang terhadap kepadanya. Mulutnya tersenyum dan pikirannya tentulah kepada orang yang menghormatinya, yani kekasih yang karib dari anaknya ini dan dalam itu maka si sakit pun tertidurlah. Begitulah dekatnya engkau kepadaku, dan kepada kami sekalian, Stella. Percakayak engkau sekarang, bahasa kami sekali-kali tak bencilah kepadamu, maka kami berdiam diri selama ini dan dapatkah engkau memaafkan saya karena berdiam diri itu? Marilah saya ucapkan sekali lagi terima kasihku atas persahabatan dan kasihmu yang telah meninggikan hidup dan derajat-ku, dan marilah engkau dalam ingatanku kupeluk, dan kupangku teguh-teguh akan menjadi tanda betapa cinta hatiku kepadamu. O!, betapalah baiknya jika saya sanggup berbuat sedemikian dengan sebenar-benarnya, tiadalah dalam kenang-kenangan saja, yani sebenar-benarnya kita duduk bertentangan, bermuka-muka, akan mengeluarkan buah pikiranku yang sedang penuh dengan kedukaan. Stella, saya sesungguh-sungguhnya suka benar hendak melihat engkau berbahagia dan bersukacita karena menerima sepucuk suratku, yang bergirang hati dan bersorak-sorai meriangkan hatimu dengan kabar yang baik, yang dapat menyatakan yang bahasa kami beruntung dan maksud kami telah sampai! Aduh! kekasihku, surat ini bukanlah isinya perkataan yang meriangkan dan menghiburkan hati, melainkan ialah suatu ratap tangis. Saya sekali-kali tak suka menyesal, tetapi hal yang benar itu harus saya katakan. Sekonyong-konyong hal keadaan kami dan haluarnya telah berputan. Sekarang hal ini bertambah lebih sukar dari pada yang sudah², dan tak boleh dibiarkan saja demikian. Hal itu bergantung kepada salah satu dari dua perkara, yani hidup atau mati, menang atau kalah sama sekali, dan tangan kami dalam hal itu terikat dengan belenggu.

Adalah suatu kewajiban yang bernama “terima kasih” dan adalah lagi kewajiban yang tinggi dan mulia, yang bernama “kasih kepada anak”, tetapi lain dari pada kedua kewajiban itu, adalah pula suatu kejahatan yang hina dan keji, yang bernama “kelobaan untuk diri sendiri”. Ya, kadang-kadang amatlah susahnya menunjukkan di mana ujung kebaikan dan di mana pula pangkal kejahatan. Jikalau dipikirkan hal itu lebih lanjut, barulah sedikit sekali batas kejahatan dan

kebaikan itu boleh kelihatan. Kesehatan tubuh bapaku sekarang demikian halnya, was-was hati kami yang sangat mendekatkan hati, wajib dihindarkan. Tahukah engkau apa artinya ini? Kami tiada berdaya lagi, dan mestilah saja berserah kepada nasib yang belum kami ketahui.

Dahulu telah hampirlah kami sampai ke tempat yang kami ingini, tetapi sekarang telah jauh pula kami terhindar dari tempat itu, dan di atas kepala kami tergantunglah sekarang apa-apa yang hebat, yang akan menimpa kami. Sesudah kami bermimpi baik, yang menghapuskan sekalian kesusahan hati kami, kami pun terbangunlah dengan hati yang sedih. Kasihanlah hatiku yang sengsara, yang selalu berteriak-teriak dengan suara ketakut-takutan: apakah kewajibanku, dengan tak ada jawabnya, sedang orang yang wajib menjawabnya itu masih meraba berputar-putar dalam gelap gulita. Ya Allah, berilah kami cahaya, cahaya yang terang! dan bantulah kami! kami tak tahu bagaimana hal itu dan di mana nanti kesu-dahannya!

Kami mendengar yang Pemerintah benar-benar bermaksud akan mendidik anak-anak gadis regen untuk jadi guru, ialah akan membujuk atau meriangkan hati kami saja. Sekarang maksud itu tak dapat disampaikan, karena banyak regen yang mencegah maksud itu, karena ia berlawanan dengan adat, yani bila anak-anak gadis itu menerima peng-ajaran di luar rumah. Itulah suatu keadaan sekarang bagi kami yang merusakkan hati, karena dahulu kedadangan nyaya yang baik telah kami harapkan. Duka dan pilu benar hati kami, karena harapan kami telah menjadi suatu mimpi saja, dan terlampau bagus akan dijadikan hal yang sebenar-benarnya! O, coba sekiranya ada diketahui oleh mereka itu a pa yang telah dicegah dan ditolaknya itu! Tetapi sudahlah, biarlah kami berdiam diri. Kami tak boleh lekas salah sangka, dan tak boleh menyalahi benar-benar mereka, yang mempunyai perasaan tumpul akan maksud Pemerintah yang menuju kemajuan dan kebaikan untuk anak-anak perempuan itu. Supaya dapat orang menghargai barang sesuatu-nya, maka wajiblah orang itu mula-mula mengerti akan faedahnya, dan sekarang bagaimanakah mereka itu dapat mengerti akan kehendak dan keinginan kami kaum muda ini, karena mereka itu tak lain yang diketahuinya dan yang dirasa-nya hanyalah lezat cita adat kuno itu saja? Sedangkan di benua Eropa, pusat jala pumpunan ilmu pengetahuan, benua yang telah terpelajar, dari sana terpancar segala cahaya kepandaian, di benua itu pun masih hebat perang untuk memperoleh hak si perempuan, apalagi di Hindia ini, yang telah berzaman-zaman selalu dan sekarang masih tidur nyenyak berselimut kebodohan; karena itu tentulah di Hindia ini mereka itu akan lama waktuœna maka boleh dapat menyabarkan dirinya dan memperkenankan si perempuan, yang telah beratus-ratus tahun dipandang seperti makhluk yang kurang harga kemanusiaannya itu, akan berubah menjadi manusia yang ada berhak akan berhati bebas.

O, Stella, kami merasa sangat beruntung dan berbahagia, lagi nonggong, tatkala kami mendengar Pemerintah bermaksud yang baik itu, yani akan membuka sekolah-sekolah tempat memberi anak-anak gadis regen pengajaran bekal menjadi guru perempuan. Bagi anak-anak gadis yang tersebut, sekiranya hal itu terjadi, akan terbukalah jalan penghi-dupan boleh tegak sendiri, dan demikian lagi jalan yang menuju ke padang kebebasan dan kesenangan hati, tetapi apa hendak dikata, jalan yang sebaik itu sekarang telah dimusnahkan orang. Dahulu duduklah saya berbesar hati dengan mataku bercahaya-cahaya dan bersinar-sinar menengan-ngenangkan kabar yang sebaik itu, dan sekarang kabar baik itu pun telah lenyaplah melayang ke udara. Bagaimana halnya perkara itu sekarang tak tahulah saya. Sahabat kami yang di Betawi sekarang dalam temasa. Tetapi sepanjang pikiran kami perkara itu telah rusak binasa. Apa boleh buat, sudahlah, asal maksud yang mulia untuk mengajar anak-anak perempuan sekalian tiadalah akan dihilangkan pula. Walaupun orang-orang tua dalam hal itu tak suka, tiadalah rasanya akan menjadi alangan. Hal itu kalau kejadian pula, sungguh celaka! O, engkau tentoae tak tahu, betapa geli dan panas tanganku sekarang hendak menulis maksud tuan Directeur van Onderwijs tentang pengajaran anak-anak gadis regen, untuk menjadi guru perempuan itu, tetapi saya tak berdaya lagi, saya wajib menutup mulutku dan meletakkan penaku, saya tak boleh mengeluarkan pertimbanganku lagi, tentang perkara-perkara yang penting-penting itu, dan tak boleh sekali-kali pikiran itu dimasukkan ke dalam surat kabar. Tahukah engkau bahwa mereka yang dalam lingkungan kam pun tak tahu sedikit juga apa yang bergerak, mendidih dan menyala dalam kalbu kami? Tak sedikit jua orang lain tahu akan maksud kami. Tertawa saya dalam hatiku, tatkala seorang kenalan, yang kerap kali datang ke rumah kami, pada suatu hari membaca dalam surat kabar, tentang pengajaran untuk anak-anak gadis regen, berkata kepada adik-adikku, bahwa maksud yang sedemikian amat bagus untuk saya kerjakan. Kenalanku itu beserta suaminya memperbincangkan hal itu dengan saya. Seperti orang yang tak tahu akan hal itu, maka saya biarkanlah saja ia berceritera dan berkata. Keduanya laki istri menyokong cita-citaku, mereka itu pun menyukai pula akan kemerdekaan dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera. Ia seorang pegawai Pemerintah negeri dan sanggup pula menolong kami dalam perkara itu. Isterinya berjanji akan menolong saya pada hari yang akan datang. Besar hati kami melihat betapa gembira hatinya, dan maklumlah kami bahwa ia seorang yang amat suka membuat suatu kebaikan, tetapi ia tak tahu bagaimana jalan membuatnya itu.

Tak lama lagi suaminya akan naik pangkat, kalau ia telah naik pangkat, pada waktu itulah mereka itu dapat bekerja banyak untuk meninggikan derajat bangsa kami. Telah kami perundingkan tentang daya upaya mereka itu, supaya ia dapat membuat kebaikan, dan suaranya boleh didengar orang pula. Jika suaminya telah menjadi asisten-residen, ia hendak menyuruh anak-anak gadis pegawai yang di bawah perintah suaminya, datang ke rumahnya belajar merenda, memasak-masak, dan barangkali juga ajarnya mereka itu menolong dan membata. Kalau demikian tentolah ia membuat suatu pekerjaan yang harus dihormati dan dimuliakan! Ia sangat berbesar hati mengenang-ngenang hal itu, marilah kita berharap yang maksud si nyonya itu akan disampaikan Allah. Tak baguskah maksud itu? Saya pun telah berceritera kepadanya tentang halmu, engkau dipandangnya serta dihormatinya tinggi dan dimuliakannya; keadaan itu sangat menyenangkan hatiku. Ia pun suka pula menjadi anggota perserikatan “Onderlinge Vrouwenbeweging” (Pergerakan sesama Perempuan). Ia ada mempunyai dua orang anak perempuan di negeri Belanda, yang seorang akan menjadi advocaat, dan yang seorang lagi akan belajar kepandaian yang lain. Pada suatu hari tatkala kataku telanjur mengatakan, bahwa sebelumnya saya pergi mengarungi dunia hidup bersama-sama, saya hendak bekerja dahulu di rumah sakit, Biarpun barang setengah tahun saja lamanya, supaya dapatlah saya mengetahui dan mempelajari betapa menjagai orang sakit, dan kalau sekiranya nanti adalah seseorang yang sakit di rumah kami, jadi dapatlah saya menjaganya dengan tiada bersalah. Dengan segera nyonya itu berkata kepadaku, bahwa adalah iparnya yang berpangkat dokter, sudi menolong saya mengajarkan segala rahasia tentang jaga-menjaga orang sakit, dan itulah sebenarnya suatu pengetahuan yang amat berguna bagiku setiap masa untuk menolong orang yang berdekatan dengan saya.

Dokter itu orang baru, dan tak tahu bercakap bahasa Jawa, hanyalah ia pandai sedikit bertutur bahasa Melayu, dalam hal itu pun saya dapatlah pula menolongnya sebagai juru bahasanya, karena orang-orang sakit yang datang kepadanya kebanyakan anak Bumiputera dan orang Cina. Saya bermaksud benar hendak bekerja barang beberapa lamanya saja di rumah sakit. Pekerjaan itu harus menjadi suatu bagian dari pada pendidikanku. Hal itu telah lama saya pikirkan. Bagaimanakah pikiranmu tentang maksudku itu? O, adalah suatu hal yang mengecutkan hatiku, ya, sungguh mengecutkan hatiku benar, yani melihat orang yang menanggung dan menjerit karena kesakitan, tetapi si penglihat tak cakap meringankan kesakitannya itu, melainkan karena hal itu si penglihat pun merasa lebih menanggung kesakitan dari pada si sakit itu sendiri. Telah kerap kali saya duduk di sisi orang sakit, dan itulah sebabnya ketika saya masih kecil telah cakap saya memperbincangkan perkara itu. Pada suatu hari ketika saya duduk dekat tempat tidur si sakit, maka timbullah pikiran dalam hatiku hendak mempelajari pengetahuan menjaga orang sakit; mula-mula pikiran itu terbayang-bayang saja, akhirnya menjadi nyata dan terang, dan sekarang ia telah menjadi kuat dan kukuh dalam hatiku. Dikalau saya nanti boleh bercakap, artinya boleh mengeluarkan segala yang terasa di hati saya tentang pendidikan anak perempuan, maka saya pun akan menguatkan faedah pengetahuan tentang kesehatan tubuh, demikian pun pengetahuan tentang tubuh manusia d.l.l. untuk keperluan perempuan.

Suka benar saya bila sekalian yang tersebut di atas ini dapat diajarkan juga dalam sekolah anak-anak perempuan yang akan didirikan itu. Kasihan bukan, karena murid-murid sekolah yang tersebut lain dari pada pelajaran yang biasa wajib pula menelan pengajaran itu. Sekolah anak perempuan untuk bangsa Bumiputera yang demikian, niscaya akan menjadi sekolah yang tak ternilai harganya, bukan? Lihatlah apa-apa pengajaran yang akan diterimanya: kepan-daian, pengetahuan, masak-masakan, perkara rumah tangga, jahit-menjahit, ilmu kesehatan tubuh dan pengajaran tentang suatu kerja yang tentu perlu mestilah pula diajarkan. Bermimpilah, mimpikanlah sekaliannya itu, asal saja hatimu boleh senang. Bukankah tak adalah orang yang akan melarangmu bermimpi itu?

Apa saja yang saya karangkan sampai sekarang untuk orang banyak, sekaliannya itu hanyalah perkataan yang sia-sia, dan pemandangan saja dalam beberapa hal yang telah kejadian. Perkara yang penting-penting belum boleh saya uraikan, sayang sekali, bukan? Nanti apabila kami telah terlepas dari belenggu besi adat-adat kuno itu, tentulah sekalian keadaan itu akan berubah. (Adat-adat itu masih kami turut ialah karena kasih dan cinta kami saja kepada orang-orang tua kami). Bapak tak suka yang anaknya menjadi buah tutur orang lain. Bila saya nanti telah boleh tegak sendiri, bolehlah saya mengatakan buah pikiran saya. Sabarlah dahulu, Stella, kepadamu bukanlah perkataan yang kosong saya katakan. Jikalau saya mengarangkan apa-apa yang saya sukai, itulah suatu bukti yang benar-benar terbit dari hatiku, dan ten-tulah karangan itu mesti saya kirimkan kepadamu.

6 Juni 1901 (V)

Hilda yang tercinta! Marilah saya mulai, pun di atas nama adik-adikku, memberi selamat kepada tuan atas kelahiran anak laki-laki tuan yang kedua itu, dan berharap kami, supaya ia akan menjadi seorang anak yang sehat sebagai kakaknya, dan berangsur-angsur akan menjadi seorang anak laki-laki yang tangkas, sehingga tuan kedua karena itu boleh berhak akan bersombong diri.

Bagaimanakah tingkah laku sahabat kami yang kecil yang sekarang telah berpangkat “kakak?” Tidak maukah ia bermain-main dengan segera dengan adiknya si Alfred itu? Bukankah itu nama si kecil itu?

Si anak dalam bulan Mei! Tuan de Genestet telah membuat syair yang amat bagus tentang anak-anak yang lahir dalam bulan Mei. Akhir syair itu amat masygul, tetapi untuk anak Mei tuan, kami harap yang dua permintaan si tu-kang syair itu dalam dua buah syairnya pada bagian yang pertama, akan dikabulkan oleh Tuhan yang esa. Sunggu pun syair itu tuan kenal, tetapi amat suka hatiku akan menuliskannya sekali lagi di bawah ini:

Wahai dewata musim yang segar, Taburkan di kakinya si bunga mawar, Wahai dewata si cinta hati, Karuniakan padanya setia sejati!

Selamatlah tuan di taman ayah, Bunda membimbing tak tahu payah, Tuan sebagai bunga melati, Anak bulan Mei Allah berkati!

Saya dengar tuan menertawakan diriku sendiri bila tuan membaca yang di atas ini, alangkah gilanya? Janganlah tuan mengherankan diri dalam hal itu, karena segala bibit-bibit yang telah berumur, memanglah selalu lekas berhati rindu, dan yang bertanda tangan di bawah ini pun telah masuk menjadi bibit yang telah tua.

Bunga-bungaan dan dupa perasapan tak boleh tinggal bagi kami bangsa Jawa dalam segala hal.

O, bau bunga dan bau dupa bangsa Bumiputera yang sedap itu mudah benar menerbitkan susunan pikiran dan perasaan kepadaku, tiap-tiap kali apabila saya membauinya, timbullah susunan yang tersebut dalam diriku. Sepanjang hari ia membangunkan kenang-kenanganku dan meneguhkan perasaanku ada berdarah Jawa yang mengalir di seluruh tubuhku.

O, nyawa bangsaku, yang mula-mulanya amat suci, bagus, mulia dan bersifat khidmat, apakah kejadian tuan sekarang? Dijadikan apakah tuan oleh waktu yang berzaman-zaman lamanya, waktu yang sia-sia itu?

Kerap kali orang mengatakan yang kami dalam hati lebih menyuai cara Belanda dari pada cara Jawa. Alangkah sayunya pikiran itu! Biarlah kami dikatakan orang berpikir dan berperasaan sebagai cara Eropa, tetapi darah Jawa kami yang sejati, yang hidup dan panas mengalir di seluruh tubuh kami tak dapatlah disembunyikan. Kami rasa hal itu senantiasa, bila kami membaui bunga dan asap dupa, mendengar bunyi gamelan dan desir angin di puncak pohon nyiur, mendengar bunyi burung tekukur, bunyi puput batang padi dan bunyi dentam lesung padi ...

Sungguh tak sia-sialah kami akan tinggal seumur hidup dalam suatu lingkungan, yang telah menjadikan adat lembaga yang sejati, tetapi dalam hal itu telah kami pelajari dan selidiki pula kehampaan adat lembaga itu, sehingga kuketa-hui benar-benar yang ia tak ada berisi. Sekarang itulah sebab-nya maka selalu kami mendengar ratap tangis dan suara pu-tus-putus asa, yang keluar dari hati nurani kami: “Apa gunanya lembaga yang tak berisi itu?“ Suatu lembaga patutlah buatannya sempurna, tetapi yang terutama sekali ialah isinya. Sungguhpun demikian adalah banyak yang lain yang baik pada bangsa Jawa. O, kami suka benar bila nyonya datang kepada kami, akan melihat kebagusan yang terdapat pada bangsa kami. Jika saya melihat barang sesuatu kebagusan yang sebenar-benarnya kepunyaan bangsa Jawa, selalu saya berpikir: “Alangkah baiknya, bila nyonya A. bersama-sama diam dengan kami. Tentulah ia amat suka melihat sekaliannya itu, apalagi karena adalah orang di sisinya, yang dapat mene-rangkan kepadanya barang sesuatu yang tidak dikenalnya itu, yang dipandangnya barangkali hanya sebagai teka-teki dan benda yang gaib saja. Ia tentulah akan merasa kelazatan dan kami pun akan berbesar hati dan menghormatinya, sebab ialah orang yang mempunyai penglihatan benar untuk segala benda yang bagus dan molek.“

Si Jawa ahli ukir, demikian namanya nyonya sebutkan, sekarang telah pula mengukir apa-apa yang bagus, yaitu sebuah peti, penuh diukirnya dengan cerita wayang, tutup peti itu di luar dan di dalam serta keempat dindingnya diukir dengan gambar-gambar wayang; dan lagi adalah pula sebuah kotak yang bergunanya untuk menyimpan barang perhiasan, itu pun telah dihiasinya pula dengan ukir-ukiran. Peti itu akan saya lapisi dengan sutera kuning sebelah ke dalamnya serta diberi bertepi peraek; yang akan membuat itu ialah anak Bumiputera juga. Peti itu mestilah bagus sekali hendaknya, karena akan digunakan untuk menyimpan potret regen-regen tanah Jawa dan Madura, yang akan dipersembahkan kepada Seri Baginda Maharaja Wilhelmina. Pikiran yang bagus itu keluarnya dari si pemesan kotak itu, yaitu regen Garut. Akan menghiasi kedua barang itu dipulangkan orang kepadaku, saya boleh mengeluarkan uang seberapa saja untuk mengerjakannya, asal peti dan kotak itu boleh bagus rupanya.

10 Juni 1901 (III)

Karangan tuan Borel yang bagus itu tentang gamelan (musik nyawa dinamai oleh pengarang) telah kami baca dan kitabnya adalah kami punyai. Tahukah tuan kitab-kitab yang lain, yang telah dikarangkannya? misalnya “Het Yongece” amat molek dan bagus isinya. Banyak orang mengatakan yang Borel katanya berlebih-lebihan dan ancak-ancak, tetapi kami telah merasa lezat isi kitab-kitabnya itu! Kitabnya yang bagus pula yang bernama “De laatste incarnatie”, dan yang terlebih bagus lagi kitabnya yang bernama “Droom uit Tosari”. Dalam kitab itu ia memaparkan kebagusan alam di gunung-gun-nung tanah Jawa yang senantiasa berwarna hijau itu, sungguh merdu benar tutur bahasanya!

Siapa jupunt yang telah merasa kelazatan tutur katanya itu, tentulah akan percaya, bahwa si pengarang itu betul sebenar-benarnya ahli pengarang, Ataupun setidak-tidaknya ia mesti ada mempunyai perasaan yang sejati untuk melihat dan merasa i keindahan alam ini. Akan menceritakan keindahannya itu haruslah si pengarang itu seorang makh-luk yang berbahagia, yang keningnya melang telah dicium oleh dewa-dewa ilmu kepandaian.

Saya berharap yang saya akan beruntung dapat mempelajari yang benar-benar bahasa tuan yang manis dan merdu itu. Sekarang juga dapatlah saya mengesahkan kepada tuan, bahwa saya senantiasa tiada akan mengabaikan dia, bilamana saja saya sempat mempelajarinya. Itulah suatu maksud yang sungguh-sungguh dalam hatiku, yani hendak mengetahui benar-benar akan bahasa tuan itu. Saya merasa diri saya sekarang telah beruntung, Biarpun saya hanya sekadar pandai membaca dan menulis dalam bahasa tuan. Dan bila saya nanti beruntung pula dapat mengetahui bahasa Jerman, maka datanglah saya nanti kepada tuan, bolehkah itu? Sementara itu tentulah orang telah pandai membuat kapal terbang dan pada suatu ketika yang baik, tentulah lagi tuan akan melihat sebuah kapal terbang, melayang-layang di atas udara negeri Jena, yang membawa penumpang dari jauh, datang mendapatkan tuan!

Seharusnya saya dilahirkan menjadi anak laki-laki. Kalau demikian barulah maksudku yang tinggi itu dapat disampai-kan. Sekarang ini saya, ialah seorang perempuan dalam dunia Bumiputera pada zaman sekarang, susahlah dapat menyam-paikan maksud yang tersebut itu. Maksud itu suatu perkara yang mustahil, tak boleh diubah lagi. Sedangkan di benua Eropa, pusat jala bagi sekalian ilmu pengetahuan dan kepandaian, masih hebat orang berperang, untuk memper-oleh hak perempuan yang sejati. Jangan kata lagi di tanah Hindia, tanah yang penduduknya masih biadab, dan tiada ber-pengetahuan, tanah yang perempuan-perempuannya telah berzaman, berabad-abad dipandang oleh laki-laki sebagai makh-luk yang hina ... ya, beranilah saya mengatakan lagi, bahwa perempuan di sini dipandang oleh laki-laki seperti benda yang bernyawa saja. Tentulah orang akan lama menanti, yang dit-anah Hindia ini laki-laki akan memandang anak-anak perempuan sebagai manusia sejati, manusia sejati kata saya ia-lah makhluk yang berhak, berhati bebas, bebas dalam hal ber-pikir, bebas dalam hal perasaan dan bekerja?

Baru-baru ni saya membaca dalam surat kabar, bahwa Pemerintah Hindia bermaksud akan mendirikan sebuah sekolah tempat anak-anak gadis regen belajar untuk menjadi guru. Siapa yang berusaha untuk menyampaikan maksud yang mulia itu, tak usahlah saya kabarkan kepada tuan. Tat-kala saya mendengar kabar itu, maka adalah semisal pintu surga terbuka di mukaku, dan mataku pun memandanglah segala nikmat yang tiada terpermanai banyaknya di dalam surga itu dengan bersukacita. Mendengar bunyi surat kabar itu, kami hampir setengah gila karena kegirangan hati; dan hal itu telah membawa kami selangkah lagi maju ke muka, seperti kata pepatah: “Pokoknya asal langkah yang pertama telah dilangkahkan.” O, pandailah hendaknya sekalian mereka yang akan mendapat kebaikan itu menghargai kebaikan itu! Supaya orang boleh dapat menghargai barang sesua-tunya, haruslah orang itu mengerti lebih dahulu, dan akan mengerti itulah suatu perkara yang amat sukar, tak dapat dalam sehari, ya, tak dapat setahun pun mempelajarinya. Oleh sebab itu mustahillah kebanyakan kepala-kepala anak-anak negeri akan dapat memuliakan maksud Pemerintah untuk keselamatan dan keuntungan anak-anaknya yang perempuan, bilamana keselamatan dan keuntungan itu, Meskipun oleh kami bangsa kaum muda sangat tinggi harganya, tetapi dalam pemandangan mereka itu adalah maksud itu seperti teka-teki dan barang rahasia saja?

Aduh, ketakutan kami itu benar rupanya! Maksud Pemerintah yang bagus, yang boleh banyak menyampaikan pengharapan kami, tiadalah akan makbul, karena kebanyakan kepala-kepala negeri tempat Pemerintah bertanya untuk melangsungkan maksud itu, mencegah maksud itu, oleh sebab ia berlawanan dengan adat. Menurut sepanjang adat, anak-anak gadis tak boleh belajar di luar rumahnya. Tinggallah engkau, wahai kenang-kenangku! Mimpiku sebagai emas disepenuh untuk waktu yang akan datang, tinggal-lah engkau! Aduh, telah kerap kali benar saya ulang-ulangi dalam hati saya dan berteriak dengan suara yang keras, bahasa mimpi dan kenang-kenangan itu semata-mata beban, yang tak berguna dalam dunia bangsa Bumiputera, dialah pula suatu benda yang sia-sia dan berbahaya! tetapi sekalian itu hanyalah mulut saja, yang mengatakannya, sebab diembuskan oleh pikiran yang tawar dan dingin itu; dan hati kami yang bodoh dan gila ini tak mau melepaskan kenang-kenangan dan mimpi itu. Mimpi kebebasan dan cita-cita yang lain-lain telah berurat dan berakar dalam hati kami, sehingga tak mudahlah ia ditarik dan dihelakan, jikalau sekiranya pohon tempat ia melekat itu tak dimusnahkan lebih dahulu.

Menurut pendapatanku hati tuan sangat baik sekali, karena tuan telah menyusahkan diri tuan untuk memikirkan untung nasibku pada waktu yang akan datang. Saya banyak meminta terima kasih kepada tuan atas hal itu. Tetapi janganlah kiranya tuan susahkan benar akan halku atau lebih baik saya katakan, bahwa kami telah tahu apa yang akan datang kepada kami. Kami bertiga akan pergi berpegang-pegang tangan menempuh jalan dunia, yang banyak akan mendatangkan peperangan, kecewaan dan kedukaan kepada kami! Jalan yang telah kami pilih, tiadalah ditaburi dengan bunga ros, tetapi jalan itu memanglah penuh dengan duri dan ranjau; kami pilih jalan itu ialah karena cinta hati kami akan dia. Dengan cinta hati dan suka kamilah akan menempuh jalan itu. Jalan itulah pula yang akan kami tolong menebaskan bersama-sama, dan dialah nanti yang akan membawa beribu-ribu hamba Allah yang teraniaya, saudara-saudara kami, ke padang kebebasan dan keuntungan. Jalan yang akan membawa berjuta-juta bangsa kami kepada budi pekerti yang lebih tinggi. Bersama-sama beker-ya akan menyempurnakan pekerjaan yang berzaman-zaman dikerjakan oleh orang yang ternama, supaya kedudukan budi pekerti dalam kemanusiaan boleh bertambah tinggi, ya, pendeknya akan membawa alam kami yang bagus ini ke padang kesempurnaan. Bukankah kesukaran pekerjaan itu ada berharga besar untuk menerangi kesusahan hidup?

Itulah mimpi si “Tiga saudara” yani ketiganya anak perempuan Jawa di tanah panas yang jauh ini. O, dapatlah kiranya kami pergi ke tanah yang musimnya berganti-ganti, ke tanah panas dan dingin, tanah air sekalian ilmu pengetahuan, supaya dapatlah kami di situ melengkapkan diri kami untuk peperangan besar, yang akan kami tempu, untuk mencari keselamatan dan bahagia bangsa kami. Belajar! belajar di Eropa, mengumpulkan ilmu pengetahuan, di sana kalbu kami diisi dengan kesucian dan kebagusan, supaya bila kami kembali ke tanah air sendiri dapatlah kami bekerja untuk mengembangkan cita-cita kami! Masing-masing harus mempunyai otak dan kepandaian, supaya dapat membuat barang sesuatunya; lebih-lebih akan membuat sesuatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya; hal itu tak dapat dibantahi lagi, Sungguhpun masih ada juga orang membantahi keperluan itu, sebab berbuat pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan berbuat pekerjaan dengan akal budi, itulah dua perkara yang berlawanan, yang tak dapat disejalankan. Tetapi dalam hal itulah pula tersembunyi kebijaksanaan yang besa, jikalau sekiranya orang pandai menyatukan kedua kekuasaan yang berlawanan itu, yang tersembunyi dalam hati ma-nusia. O, kerap kali telah saya lihat, bahwa membuat pekerjaan dengan sebaik-baiknya itu tidak dengan pikiran atau akal budi, lebih banyak mendatangkan kejahatan dari pada kebaikan.

Wahai Eropa! Eropa! selamanyakah kiranya engkau tak dapat kami datangi? Kami yang senantiasa dengan hati dan nyawa kami menginginkan tuan? Tak dapatlah dan tak maulah kami mempercayai hal itu, tetapi rupanya sungguh-lah demikian halnya. Perjalanana pergi ke Eropa dan tinggal di sana memanglah sangat mahal. Minister van Financien kita tak dapat mengurniai kami dengan nikmatnya.

Tetapi dalam hal itu tak usahlah kami bersusah hati. Hidup itu amat senang dan bagus tempat meluluhkan hati dengan ratap tangis karena sesuatu hal yang tak dapat diubahi lagi. Biarlah kami meminta syukur kepada Allah, dan selalu tinggal syukur sudahlah menjadi kebiasaan kami ... atas segala berkat dan nikmat yang dihadiahkan Allah kepada kami. Bukankah kami ini telah diberkati oleh Tuhan lebih baik dari pada beribu-ribu hambanya yang lain? Lihatlah apa yang ada pada kami dan siapa kami ini. Kami masih beribu-bapak yang kami cintai, dan keduanya adalah sehat walafiat, ya, banyaklah lagi kebaikan yang lain, yang telah menghiasi hidup kami. O, hidup itu memang penuhlah dengan kebagusan, bila kami suka memperhatikan sekaliannya itu,—betul adalah pula hal-hal yang menyusahkan kami, tetapi kami dalam hal itu mestilah selalu mempertinggi kebagusan dan meringankan kedukaan itu.

Banyaklah sungguh hal-hal yang menyuruh kami meminta terima kasih! Apabila kami merasa kelazatan nyanyi burung di udara, atau musik yang merdu yang meriangkan hati, maka kami pun mengucapkan terima kasih kepada Allah, karena Ia tiadalah menjadikan kami orang yang pekak! Bila kami duduk di Klein Scheveningen, tempat yang sederhana di tepi laut, tempat yang sunyi, damai lagi permai itu, sedang matahari hendak terbenam, kelihatan kekayaan Allah di sana dengan moleknya. Tak cukuplah kiranya kami memohonkan terima kasih, sebab kami ada bermata yang sehat dan dengan mata kami itu dapatlah kami memandang sekalian yang bagus dan memperhatikan cahaya-cahaya yang manis dan berwarna-warna di puncak gelombang, dan di langit itu yang hening dengan sedapnya, karena itu timbullah dua yang meminta syukur kepada Tuhan yang mahakuasa, yang menjadikan serta memerintah seluruh alam ini. Terima kasih! Syukur alhamdulillah! demikianlah suara yang riang dan gembira dalam hatiku. Syukur, karena saya dapat dan boleh melihat segala keindahan di atas dunia ini. Berapa banyak orang yang tak dapat merasa kelazatan akan keindahan dan kebagusan itu? Tidak saja mereka yang memandang siang dan malam sama halnya, yani selalu dalam gelap gulita, tetapi amat banyak pula mereka, yang mempunyai mata dengan secukupnya, tetapi mereka itu pun tak dapatlah juga melihat keindahan dan kebagusan itu. Itulah yang menyebabkan kami insaf bagaimana kelebihan kami dari pada sesama manusia yang lain, dan kami pun karena itu meminta terima kasih akan rahmat Tuhan yang rahim yang memenuhi ruang-rongga kalbu kami! Oleh karena memikirkan, bahwa banyaklah di antara kita manusia yang bersedih hati mengingatkan diri sendiri, wajiblah insaf kita akan kelebihan kita itu.

Amat banyak perempuan-perempuan bangsa Bumiputera yang lebih pandai dan lebih terpelajar dan lebih budiman dari pada kami, yang cukup mempunyai kekuaratan dan kekuasaan, yang tidak bersifat kekurangan, yang berotak dan berpikiran sempurna, yang berpendidikan ilmu pengetahuan, sehingga tidak adalah alangan baginya akan melebarkan dan menguraikan kekuaran pikirannya, ya, betul-betul sungguh mendapat segala pekerjaan yang disukainya. Mereka itu semuanya tak ada membuat apa-apa, dan tak sanggope menyampaikan apa-apa, untuk menunjukkan jalan akan

mempertinggi kedudukan bangsa dan adatnya. Setengah mereka itu telah surut kembali ke dalam dunia yang kuno, dan setengah lagi semata-mata telah menjadi dan terus beradat bangsa Eropa. Kedua jalan yang diturut oleh mereka itu sekali-kali tak bergunalah untuk bangsanya, mereka itu boleh dikatakan telah hilang lenyap dari bangsanya. Tetapi kalau mereka itu suka dan mau, tentulah ia akan menjadi semarak untuk bangsanya, karena dapatlah ia membawa perempuan-perempuan sesamanya ke dunia yang terang, yang memberi mereka itu pendidikan yang bebas. Bukankah sudah menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang, yang lebih berbudi dan lebih terpelajar dari pada sesamanya yang lain, akan membantu kawan-kawannya yang kurang pandai, dan menerangkan barang sesuatunya kepada mereka akan pengetahuannya itu? Sebenarnyalah tak ada undang-undang yang memaksanya mesti mengerjakan pekerjaan yang sedemikian, tetapi budi pekertinya yang terpuji itulah yang memaksanya wajib melakukan hal yang sedemikian.

O, kata-kataku telah telanjur pula, maafkanlah saya, sekiranya kata-kataku itu membosankan dan merusakkan hati tuan. Apakah yang memberanikan saya sampai menulis sekalian itu kepada tuan, sambil merampas waktu tuan dengan percakapan yang kosong itu? Maafkanlah saya! tetapi tuan sendiri pun bersalah pula dalam hal itu, karena surat-surat tuan kedua yang terletak di mukaku, kata-katanya sangat menarik hatiku. Waktu saya membaca tutur kata yang semanis itu, saya pun menyangka yang tuan kedua semisal hadir di hadapanku duduk bercengkerma. Dalam persangkaan itulah terus saya menulis apa-apa yang terasa di hatiku.

Sebuah dari gunung api di pulau Jawa Timur telah memperlihatkan kekuasaannya yang hebat dan telah mengur-bankan nyawa beberapa hamba Allah, tentulah tuan telah mendengar. Tentang hal itu tak usahlah saya uraikan lagi panjang lebar. Menurut sepanjang surat-surat kabar du a tiga buah gunung berapi yang lain, akan mulai pula memperlihatkan kegagahannya. O, gunung-gunung hijau yang bagus, yang berbahaya!

Waktu gerhana matahari pada 18 Mei, gerhana yang menarik hati segala orang pandai-pandai di dunia ini datang ke Hindia pada waktu itu, hanyalah sebentar saja melihat gerhana itu, karena kemalangan kami, langit pada waktu itu diliputi oleh awan yang hitam, dan hujan pun turunlah pula! Tetapi teriak kemalangan kami ini, bagi orang tani menjadi suatu berkat! Bapak pun merasa dirinya beruntung karena hujan itu, sebab ia mendatangkan kebaikan untuk sekalian tanah yang kering dan kurus. Kepada hujan itu-lah bergantungnya sekalian itu. Alangkah besar berkatnya hujan yang lebat itu! Menjadi kemamuran dan kesentosaan untuk beratus-ratus, ya, untuk beribu-ribu manusia!

8—9 Augustus 1901 (VIII)

Sekarang saya lihat lagi di tepi laut yang bagus itu, ya, bukan buatan moleknya disinari oleh cahaya bulan yang kuing seperti emas, sinar yang mana sekarang berjuta-juta kali pancar-memancar di atas ombak dan alu dalam lautan yang luas itu, sehingga kelihatanlah rupanya sebagai ular yang bercahaya-cahaya, yang dipalut dengan emas dan peraek!

Dan saya dengar lagi desir daun nyiur yang sedang bergoyang-goyang, dan melambai-lambai sebagai bulu-bulu peraek yang amat besar, ditiup oleh angin malam yang amat sedap terasa di pipi, dan desir lemah lembut kedengaran di telinga kami. Amat merdu lagi bunyi itu karena dicampuri oleh bunyi ombak dan gelombang yang gagah dan manja, memalukan dirinya di atas pantai yang putih dan berkilat-kilat itu. Hal itu sekaliannya ialah mimpi kebagusan dan bahagia! Kami du-duek waktu itu adalah dikelilingi oleh lautan mas dan peraek, dan ditudungi oleh langit berwarna kilau-kilauan dan ditaburi lagi oleh bintang yang sedang memancarkan cahayanya kian ke mari, sungguh serasa kami duduk dalam surga dunia, dengan penghabisan kelazatan dan keriangan hati; bertambah-tambah lagi karena kami mendengarkan suara yang merdu yang menceritakan kabar yang bagus-bagus dari negeri-negeri asing, yang jauh, jauh di balik lautan, lautan yang lebar dan bersinar-sinar di muka kami, yani kabar tentang tempat tumpah darahnya sendiri.

MENGUKIR KAYU DI KABUPATEN JEPARA

Masakan saya dapat melupakan perjalanan yang menggirangkan hati, ketika kami mengantarkan nyonya pergi kese-stasiun? Waktu itu sampai sekarang telah setahun lamanya, tahun yang penuh dengan hidup rahim dan nikmat, tahun pada waktu saya sangat bersuka raya, terkadang meratap dan menangis, dan berhati sedih, tahun pada waktu saya hidup dalam saat yang lezat cita, tetapi juga berputus asa dan berbimbang hati, saat kecelakaan, kesiksaan dan berpenanggungan yang menganguskan hati. Saya telah hidup dalam setahun ini lebih berharga dari pada dua puluh satu tahun yang sudah sama sekali bersama-sama! Sungguhpun demikian tiap-tiap hari dalam tahun ini masih terang tergaris di otakku. Hanyalah menit-menitnya saja yang telah saya lupakan, tetapi tidak 365 kali 24 jam! Sekarang hatiku masih gembira, dan nyawaku masih bergoyang, karena mengenal dan mengingatkan keberatan yang besar, yang telah mendatangi saya dalam hidupku! Alangkah terangnya sekalian itu, masih ter-tulis rasanya dimentagku. Ya, sekalian yang saya lihat pada nyonya, waktu nyonya di sini, masih teringat olehku. Nyonya memakai pakaian yang kehijau-hijauan dengan molek dan sederhananya ... Kami pun berpakaian yang kehijau-hijauan juga. Adalah seolah-olah telah dimufakatkan lebih dahulu akan memakai pakaian yang berwarna hijau, warna kesetiaan itu!

Setia, ialah sepatah kata yang kecil saja, tetapi artinya bu-kan buatan besarnya! Setia lebih besar artinya dari pada cinta; setia kerap kali menagih kekuatan yang amat besar. O, hati anak-anak muda! hati yang berdebak-debur, di balik warna yang hijau yang melindunginya, moga-moga bolehlah hendak-nya engkau kuat dan perkasa akan meninggikan arti warna yang tuan pakai itu selalu waktu, yaitu: “setia!”

Lihatlah di sana adalah lalu karunia Allah sebagai sebuah kendaraan yang penuh berisi dengan kiasan Allah yang tiada ternilai harganya; kendaraan itu menempuh jalan yang panas dan bercahaya, melalui jalan yang dipagari dengan ke-yu yang rindang dan padang yang luas yang berselimutkan terang cuaca seperti mas. Karunia itu ialah: “setia” nama-nya. Alam ini sama sekali ialah kegirangan dan cahaya, telah menjadi satu dengan nyawa kami, pun sedang hidup dalam udara keriangan dan sukacita!

Patutkah pertemuan yang sebaik itu dengan lekas saja diperceraikan? Tak dapatkah pergaulan itu dilamakan beberapa hari lagi?

Waktu nyonya berangkat dari rumah kami, nyonya berkata kepada kami: “Tuan tak tahu betapa suka hati kami lebih lama tinggal di sini, lebih-lebih karena suamiku banyak lagi hendak memperkatakan apa-apa yang lain dengan bapak tuan, tapi suamiku sayang tak dapat tinggal lebih lama, sebab waktu nya telah dihinggakan amat sedikit. Bila kami pandai memanterakan waktu itu tentu bolehlah kami tinggal ... cobalah ji ke sekiranya kami dapat membawa tuan ke Betawi, itulah yang sebaik-baiknya!“ Kami menyahuti: “Kami mengucapkan terima kasih akan tuan kedua, karena tuan telah datang ke mari.” Dengan tiada berkata sepatah pun lagi nyonya berjabat tangan dengan saya, dan saya pun tak melepaskan tangannya itu.

“Hati yang sederhana lekas mengerti suatu dengan yang lain,“ kata nyonya kepada dirinya sendiri, tatkala dilihatnya mulutku tak sanggup menyembunyikan rahasia diam-diam, yang pada halnya tidaklah menjadi rahasia lagi kepada nyonya. “Amat beruntunglah saya dapat berkenalan dengan mereka kedua, dan mendapat kasih sayang dari padanya.”

Waktu itulah saat yang berniat kepadaku, saat ketika saya bersama-sama dengan mereka itu! Saya mabuk rasanya waktu itu karena kekayaan, mabuk karena berbahagia dan saya merasa diriku seringan kapas, mudahlah dapat diembus kan oleh angin lalu ke langit yang hijau, kepada cahaya yang gilang-gemilang!

Apakah artinya untung bahagia, lain dari pada saat-saat yang bergirang hati, bersuka raya, sehingga tak sadarkan diri, gembira hati, gundah gulana? ... saat-saat yang menyesakkan dada karena debar-debur hati yang amat sangat, sehingga serasa melayanglah kami ke langit membawa kegirangan dan kesukaan tiada berhingga-hingga itu ... saat-saat yang seperti kilat itu cepatnya, tetapi amat lama dan banyak mengandung kedermawanan pada hari kemudian! Kasih sayang baru dapat menjadikan orang berbahagia, jikalau sekiranya si penerimaanya sendiri adalah pula mempunyai kasih sayang itu!

Penumpang pun segeralah pula naik, karena kereta mesti berangkat. O. binatang buas yang berteriak dan berbunyi hiruk-pikuk, lambatkanlah dan kurangkanlah larimu! Jangan engkau terlalu lekas membawa kami sampai ke tempat perceraian kami, yani di tempat yang kemarin tempat kami berjumpa. Aduh! Si tukang menyalakan api tak mendengar kataku itu, kereta terus berlari seperti biasa, Meskipun didengarnya benar kataku itu, tentulah tak akan dipedulikannya kehendak, keinginan anak perempuan gila ini. Dengan sabar melancarlah kereta itu sebagai biasa di atas rel besi yang terbentang itu; dan pada waktu yang telah tertentu kereta itu pun masuklah ke setasiun yang kami takuti itu. Dengan perkasa saya surutkan kembali gelembeng, yang terbekang di kerongkonganku, tanda hendak mencucurkan air mata. Saya gitilah bibirku supaya ia jangan menggigil. Dengan hal yang demikianlah saya berdiri di hadapan nyonya, dan berdiam diri menengok kepadanya. Dengan hati yang amat sedih, nyonya memegang tanganku tegokh-teguh, dan berkata dengan lemah lembut: “Tuan nanti akan hebat berjuang dalam peperangan, tangkaskan dan beranikanlah hatimu dengan gembira, jangan putus asa, dan percayalah tuan!“

Sekali lagi bersalam dengan tangannya yang halus itu, sekali lagi ia memandang kami dengan matanya yang penuh cinta kasih sayang, dan nyonya pun berdirilah di beranda stasiun. “Marilah kita bersalam sekali lagi,” katanya kepada kami sekalian dengan manisnya. “Lekas-lekas lonceng telah berbunyi!” Wah, bunyi lonceng celaka itu sangat menyakiti hati ketika itu.

Kereta pun bergeraklah, mula-mula lambat, kemudian bertambah-tambah cepat.

Dari atas kereta nyonya melambai-lambaikan saputangannya dan tuan topinya. Kereta pun dalam itu selalu mempercepat perjalanannya. Sekarang mereka itu telah lenyaplah, sudah hilanglah, amat jauh dari kami. Mereka itu yang kemarin dahulu sedikit pun belum kami kenal, tahu-tahu sekarang mereka itu telah menjadi sebagian dari hati jantungku, yang tak dapat dipisahkan dari hidupku.

O, hidup, hidup yang penuh dengan teka-teki, bilakah engkau akan membukakan segala rahasiamu kepada kami?

Siapakah yang dapat mengangkat tirai yang tiada bernyawa dan berbadan itu dari kami ini? Siapakah yang dapat menerangkan kepada kami akan keajaiban yang besar dan bagus yang tersembunyi dalam manusia itu, yaitu keajaiban yang bernama nyawa itu? Siapa dapat menyuleohi benda yang gelap yang disebutkan persaudaraan nyawa yang amat ajaib itu, karena semata-mata hidup mereka masing-masing tidak pernah kenal-mengenal, dan kemudian tahu-tahu dengan sepatah kata dan sekejap mata saja boleh menjadi suatu persahabatan yang amat kukuh, yang mempatalikan mereka itu dengan sekuat-kuatnya?

Maafkanlah saya dahulu karena baru sekaranglah saya menjawab tentang kiriman dua buah potret tuan, akan jadi anugerah tuan untuk kami. Anugerah itu sangat membesarkan hati kami, dan amat tinggi harganya kepada kami. Atas pemberian itu kami pohonkan banyak terima kasih kepada tuan.

Apakah yang tak timbul dalam kenang-kenanganku, tatkala saya melihat potret tuan itu. Kerap kali jika saya bermu-ram durja dan bersusah hati dan putus asa, karena melihat bermacam-macam kecelakaan, kecelakaan yang tak kuasa saya menentangnya, serta melihat sekian banyaknya kelaliman dan sekian banyaknya orang yang tak menaruh iba-kasihan, maka hatiku segera menjadi senang, jika ingatanku mela-yang kepada sahabat kami yang jauh itu. Saya sekarang boleh menamai tuan sahabat kami, bukan? Sahabat yang berani membuang dirinya dari dunia kesendirian, karena kasihnya yang sejati kepada sesamanya manusia, dan gagah menempat-kan dirinya di hutan rimba, di tengah-tengah bangsa yang bia-dab, memberi dan mengajar mereka itu arti kata kasih, ke-sih yang dirasainya sungguh-sungguh dalam hati sanubari-nya.

Oleh karena hal itu maka kami bersukacita mendapat ke-dua potret tuan itu. Melihat potret itu menarik ha-tiku mengenang-ngengan kan tuan, orang yang kami mulia-kan, hormati dan sukai benar.

Apa kabar tuan kedua sekarang? Saya harap sungguh-sungguh, yang tuan kedua seperti kamila Hendaknya; kami adalah di dalam sehat walafiat. Saya sangat meminta syukur atas hal itu kepada Allah, lebih-lebih lagi karena di mana-mana saja sekarang adalah penyakit. Tak adalah tempat sekarang, yang tiada digoda oleh sesuatu penyakit, kebanyakan penyakit demam.

Dekat negeri kami, di kota Semarang, telah berjangkit pula penyakit kolera, yani penyakit yang amat ganas, yang telah ba-nyak sekali memusnahkan nyawa penduduk kota Betawi dan Surabaya.

Beruntunglah yang di Semarang penyakit itu hanyalah sa-ya satu² yang dihingga pinya; tetapi kolera itu rupanya su-atu penyakit yang sebuas-buasnya, karena hampir tak adalah orang yang kena penyakit itu yang sembuh kembali. Lain dari pada penyakit kolera itu, ialah penyakit demam kepialu, pe-nyakit yang jahanam sekali yang ditanggung oleh penduduk beberapa negeri di tanah Jawa; penyakit itu asalnya karena: “tak cukup makan.” Kami berharap supaya Allah akan menjauahkan dari tanah kami segala suatu bahaya yang sangat kesengsaraan dan kecelakaannya dan yang cakap memusnahkan sebuah negeri, yaitu yang bernama: bahaya kelaparan.

Hampir tak dapat dipercayai, bahwa di tanah Jawa, tanah yang matur dan subur, boleh ditanami dengan bermacammacam tumbuh-tumbuhan, di sana boleh kejadian keku-rangan makanan. Hal itu sesungguhnya amat menyedihkan hati, kasihan! Bahaya yang sedemikian dengan hebat telah ke-jadian di Purwodadi, dan belum selang berapa hari ini saya telah membaca dalam surat kabar, yang membesarkan hati, bahwa Pemerintah telah mengeluarkan uang tiga ratus lima puluh ribu rupiah banyaknya, untuk pembeli sapi-sapi pem-bajak akan dipakai di Purwodadi dan Demak. Demak ialah sebuah negeri yang di bawah pemerintahan pamanku, regen Demak. Tiap-tiap tahun anak negeri amat takut melihat keda-tangan musim hujan di sana, sebab musim itu selalu menenggelamkan negeri itu. Tak tahulah saya telah beberapa ribu mas, yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah untuk belanja perkakas penahan air, tetapi Sungguhpun demikian tiap-tiap musim hujan selalulah di sana ada banjir besar. Bagaimana juga besarnya kecelakaan itu di sini, tetapi orang di sini masih beruntung, jikalau dibandingkan dengan saudara-saudara kami yang miskin, laki-laki dan perempuan yang diam di tanah Eropa yang jauh itu, yang telah biasa menanggung kelaparan dan kedinginan dalam musim dingin.

Padaku di sini ada sebuah kitab tuan Fielding yang baru saya terima dari negeri Belanda. Kitab itu meriwayatkan hal ihwal agama Budha, dan menurut pemberi tahuan yang telah saya baca dalam beberapa surat-surat kabar, kitab itu amat bagus. Kitab itu diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Belanda, oleh tuan Felix van Ort, juru kabar dari surat kabar “Waarheid en Vrede” (Kebenaran dan Damai). Tentu tuan telah mengenal pengarang itu. Ia seorang yang mempunyai banyak cita-cita yang hendak mengembangkan keyakinan pikiran nyya untuk “mengalahkan kejahatan dengan kesayangan.” Hal itu amat bagus dalam kenang-kenangan, te-tapi dalam hidu bersama-sama amat sukar melakukannya. Kami amat menyukai hal itu, dan kami pun telah membaca juga kitabnya yang bernama: “Naar het groote Likht” (Pergi kecahaya yang besar). Kitab itu isinya menguraikan bermacam-macam pertanyaan, yang biasa bertemu tiap-tiap hari dalam hidup hari-hari.

Telah hampir setahun lamanya, sesudah kita berjumpa di Depok. Tatkala itu tak adalah pikiran kami sedikit juga, yang perkenalan kita di sana akan meriangkan hati sebagai sekarang ini. Hingga ini masih teringat kepadaku, tuan datang berdiri dekat kereta api, dan bertanyakan, kalau-kalau “regen Jepara datang pula bersama-sama.” Tak dapat saya memikirkannya, bahwa hal itu telah kejadian pada tahun yang lalu, bagiku rasanya seakan-akan baru kemarin. Alangkah lekasnya terbang waktu itu!

Dari pada nyonya A. saya baru sebentar ini mendapat sepucuk surat; nyonya dan tuan keduanya sekarang tidaklah begitu sehat.

Tiap-tiap hari, waktu kami tinggal di Betawi itu, sekaliannya hari suka raya bagi kami! Kami sahabat-sahabat tuan gaus-gadis Jawa ini, sangat tama kepada persahabatan, kesayangan dan kesukaan itu. Ketiga perkara itu tak pernah membosankan mereka itu. Sekalinnya itu didapatinya di rumah tuan amat banyak! Kemarin dulu cukuplah setahun lamanya, yang Tuhan rabbutizati mendatangkan suka raya itu sehari-hari kepada kami, dan sejak itu tak dapatlah kenang-kenangan kami, kami ceraikan dari hidup kami lagi. Pada hari tahun perkenalan kami itu, kami rayakanlah di Klein Scheveningen, di tepi pantai kami yang amat cantik; tempat itu amat kami kasihi, karena di situlah, kami dapat memandang sekalian yang bagus-bagus dalam dunia hidup kami.

Laut pun waktu itu amat bagus, amat tenang, hening dan permai serta disinari oleh beberapa jenis warna yang dimantrakan oleh matahari akan terbenam! Adalah rupanya seolah-olah orang melihat sebuah karang mutiara yang amat besar sekali. Di sebelah barat langit warnanya amat menyala sebagai matahari sedang terbakar rupanya. Di pihak selatan tempat pertemuan langit dan laut warnanya keungu-unguan. Waktu itu betapalah pula enaknya melihat warna hijau tua yang bagus dan molek di atas kepala kami, sesudah memandangi segala yang bersinar-sinar yang merabunkan mata itu! Di tengah-tengah sekalian kebagusan itu duduklah kami di pantai putih yang suci itu dengan kaki kami terjuntai ke dalam air, dan hiduplah kami rasanya dengan hidup yang penuh dengan mimpi yang berbahagia!

Tuan tentulah berpikir, alangkah gilanya anak-anak itu! Ya, muda dan kegila-gilaan, remaja dan asyik, selamanya di atas dunia sejalan dan sepasang! Kami berharap sangat yang kami selalu boleh bergila-gila sebagai itu, dan tak pernah menjadi arif dan bijaksana, yang akan menjadikan kami pendiam dan kaku! Kami gementar melihat si pendiam dan si kaku itu, tetapi lebih baik kaku dan pendiam dari pada kepalang kaku!

Sayang dan berdukacitalah kami yang kami sampai sekarang belum dapat mengunjungi sahabat kami, nyonya dan tuan Ovink di Jombang. Kami sama-sama beringin hendak bertemu, tetapi acap kali jika kami hendak pergi ke situ selalu ada alangannya. Jikalau kami datang ke situ, pestilah kami akan pergi ke Mojowarno, yaitu tempat yang telah banyak kami de-ngar ceritanya. Nyonya Ovink menceritakan kepada kami sekalian kebaikan nyonya dan tuan Bervuts, yang dimuliakan-nya tinggi. Pamanku regen Demak dengan anak isterinya telah pergi pula ke Mojowarno, mereka sangat mengharumkan keadaan di situ. Jika sekiranya tuan nanti hendak menggi-rangkanku dengan sepucuk surat, baiklah tuan banyak² menceritakan hal keadaan tuan sendiri, kerja tuan dan mereka itu, yang hidup bersama-sama dengan tuan kodeleda di situ; karena sekalian itu suatu kelazatan yang amat sangat kepadaku hendak mendengarnya. Alangkah lamanya di jalan surat yang dikirim dari Gorontalo maka sampai ke Jawa! Hampir sama lama perjalanan surat itu dengan surat yang dikirim ke negeri Belanda. Dalam bulan Juli yang baru lalu berkumpullah kami sekalian sanak saudara, ipar besan, anak cucu, ya, segala kaum keluarga kami. O, sekaliannya kataku tidak benar, adalah lagi sebuah tempat, yang tinggal kosong dalam perkumpulan itu, yaitu tempat kakakku yang tercinta di tanah Belanda. Senang hati melihat wajah sekalian mereka itu bersama-sama, tetapi rawan pula hati kami mengengan-kan, yang kakak yang dicinta itu tak hadir dewasa itu. Kakan-daku itu seorang yang baik hati, kami sekalian suka dan sa-yang kepadanya. Pastilah suatu kenang-kenangan yang merah-wankan hati bagi orang² tua, bahwa sekalian anak-anaknya, kasih sayangnya, darah dagingnya sendiri, pada suatu ketika nanti mestilah akan meninggalkannya dan tidaklah lagi men-jadi hak miliknya, karena masing-masing perlu pergi menu-rut untung nasibnya sendiri-sendiri.

19 Augustus 1901 (V)

Tuan tentu akan berpikir bahasa laku saya tak baik, karena berdiam diri sekian lama, dan tidak hendak membalas surat tuan yang merdu itu, apalagi tak mau mengindahkan pang-gilan tuan serta tidak memberi kabar tentang kiriman por-teret tuan yang bagus itu, yang amat menggirangkan hatiku. Berdiam diri itu bukanlah sekali-kali disebabkan oleh karena saya segan, tetapi karena Kartini yang mempunyai kesehatan sebaik itu, telah membuat dirinya pura² sakit untuk pertuk-karan hidup. Karena ia beringin hendak dimanjakan sebagai orang sakit, sebab itulah menurut pikiranku, tak apalah sakit-sakit sedikit dilebih-lebihi menanggungkannya. Kalau sekiranya tak ada mata dari belakang, yang saya takuti, yang melihat saya menulis dan membaca surat itu, sungguh amat banyak yang akan saya tuliskan. Wah betapalah marah adik-adikku kepada-daku, bila maksud itu saya sampaikan! Adik-adikku memang pandai pula memarahi orang, hal itu bolehlah saya sahkan kepada tuan! Tetapi apakah yang saya buat sekarang, hendak nenceriterakan keburukan adik-adikku yang kucinta, itu tak baik!

Tak ada yang mustahil di dunia ini! Apa-apa yang kita teriakan mustahil pada hari ini, besoknya telah kejadian. Dalam dunia bangsa Bumiputera telah ada gerakan, yang bermaksud hendak “maju.” Gerakan itu telah berurat dalam kenang-kenangan, dan memanglah menggembirakan hati. Tetapi sayang gerakan itu mau bertumbuk dengan biji mata bangsa Jawa, yani adatnya yang telah tua itu. Akan memperoleh kemajuan itu mestilah lebih dahulu banyak peperangan de-ngan diri sendiri, dan peperangan yang lain-lain, yang harus di-lakukan untuk mengalahkan bermacam-macam buah pikir-an dan adat-adat lama yang tiada berpadanan dengan kema-juan, yang patut dikuburkan dengan sedalam-dalamnya, supaya tak pernah lagi bangun kembali.

Augustus 1901 (VII)

Saya sangat yakin, bahwa dari perempuan bolehlah timbul kekuasaan besar yang berguna untuk hidup bersama-sama, karena itulah maka tak ada keinginanku yang lain dari pada belajar untuk menjadi guru perempuan, supaya saya nanti sanggup mempergunakan diriku mendidik anak-anak perempuan kepala-kepala negeri. O, amat sangat keinginanku, supaya saya cakap membimbing hati anak-anak, memperbaiki tingkah laku, menajamkan otaknya yang masih muda itu, menjadikan mereka itu untuk perempuan yang akan diha-rap, perempuan yang kelak pandai menanam dan mengem-bangkan segala biji yang baik dalam hidup mereka itu.

Untuk perempuan-perempuan sendiri, kami pun sangat beringinkan pengajaran dan pendidikan itu, baginya tentulah suatu berkat dan rahmat yang tak ternilai harganya.

Dalam dunia perempuan bangsa Jawa banyak benar hal-hal yang menyusahkan hati, dan amat banyak pula penang-gungan yang sedih-sedih. Jalan tunggal yang terbuka un-tuk anak-anak perempuan bangsa Jawa, lebih-lebih bagi anak-anak perempuan bangsawan ialah: “kawin.”

Adakah dibuat oleh kebisaan adat perkawinan itu sekarang, yang asalnya mula-mula perintah Allah, suatu rukun yang wujudnya akan meninggalkan derajat perempuan? Kawin, yang seharusnya menjadi suatu derajat yang mulia. Sekarang telah menjadi suatu kerja yang biasa saja! O, dengan perjanjian yang menghinakan dan merendahkan kehormatan kemanusiaan, wajiblah perempuan Jawa mau tak mau melakukan kerja itu. Atas paksaan bapak, paman atau kakak laki-laki, wajiblah si gadis buta tuli menurutkan seorang laki-laki asing yani laki-laki, yang kerap kali telah mempunya anak dan istri di tempat lain. Pikiran si gadis itu tidaklah ditanya-tanya, kewajibannya, hanyalah menurut perintah saja. Waktu perkawinan itu si gadis tak perlu, demikian juga kaburnya tidak perlu diminta.

Juh dan dekat kami ketahui penanggungan yang sengsara, yang disebabkan oleh rukun Islam, yang amat memu-dahkan kewajiban si laki-laki, tetapi sangat menyedihkan dan mencelakakan si perempuan! Perempuan-perempuan telah biasa dibuat sedemikian dan hal itu tak dirasanya, kata orang yang segala,tahu.“ Kalau hal itu tiada setuju dengan pikirannya, mengapa ia membiarkan hal yang sedemikian itu?

Biarlah saya ini seorang anak bangsa Jawa yang dibesarkan dalam pangkuan bangsa itu, dan selama hidupku tinggal di dunia bangsa Jawa, berani menyatakan kepada tuan, bahasa perempuan-perempuan bangsa Bumiputera ada berhati manusia juga, hati yang dapat merasa dan menanggungkan, seperti hati perempuan yang berbudi pekerti di negeri tuan.

Tetapi di sini hal itu tinggal ditanggungkan saja oleh perempuan-perempuan dengan diam-diam, berserah diri, tak kuasa dan tak kut sekali-kali, karena mereka itu tak ada berkepandaian dan berpengetahuan.

Dalam hikayat nabi adalah diceritakan begini: Suami Fatimah pergi kawin sekali lagi, waktu itu Fatimah ditanyai oleh nabi Muhammad, bagaimanakah perasaannya, karena suaminya beristri seorang lagi. Fatimah menjawab: “Tak ada apa-apa bapak, sekali-kali tak adalah apa-apa perasaanku.“ Waktu ia berkata itu Fatimah sedang bersandar pada sebatang pohon pisang yang mula-mulanya berdaun segar dan subur, tiba-tiba daun pisang itu menjadi layu, dan pohoninya tempat ia bersandar itu menjadi angus.

Sekali lagi nabi bertonya akan perasaan Fatimah. Fatimah pun menjawab lagi: “Tak ada apa-apa, bapak, sekali-kali tak apa-apa perasaanku!“ Nabi lalu memberi Fatimah sebiji telur mentah, dan dimintanya meletakkan telur pada dada Fatimah. Kemudian nabi meminta telur itu kembali serta dipecahnya dan dilihatnya waktu itu telur itu telah masak!

Semenjak itu hati perempuan-perempuan sebelah timur tiadalah berubah-ubah. Hikayat yang di atas ini menerangkan juga kepada kita betapa pikiran kebanyakan perempuan, tentang hak si laki-laki yang amat bengis itu.

Banyak perempuan-perempuan memandang, bahwa menjadi suatu kehormatanlah kepadanya, pandai menyabarkan diri dengan tiada mengubah air muka, bila duduk berdekatan dengan istri-istri suaminya yang lain, tetapi janganlah ditanya apa yang tersebunyi dan terukir-ukir dalam dadanya yang terluput sama sekali dari pada mata orang banyak, ialah: hati perempuan yang sangat disakiti, dan nyawa sebagai nyawa kanak-kanak yang tak paut berpenanggungan dan kena siksa hidup-hidup.

Sekali lagi saya berkata, bahwa amat banyak penanggungan yang ditanggung dengan kesedihan dan dahsyat dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera yang membawa mereka melarat. Penanggungan mereka itu yang saya pandang ketika saya masih kecil itulah yang mula, yang menerbitkan dan membangunkan keinginanku hendak memerangi kebiasaan hina itu, yang rupanya terpandang adil, karena telah berurat berakar dari dulu kala. Usaha kami adalah dua maksudnya, pertama akan bekerja bersama-sama untuk meninggikan derajat bangsa kami dan menebas jalan untuk saudara-saudara kami yang perempuan ke padang keadaan yang lebih bagus, keadaan hak kemanusiaan.

Kepada tuan sekalian yang menaruh kasih dan cinta bagi tanah Jawa dan kepada penduduknya, anak Jawa, kami pohonkan permintaan yang amat sangat: “Tolonglah kami menyampaikan cita-cita kami, kaum perempuan.“

Berilah perempuan-perempuan pendidikan, bukakan hati dan pikirannya; dan tuan sekalian yang menjadi sahabat tanah Jawa, tentulah tuan akan mendapat penolong-penolong yang tangkas dalam pekerjaan tuan yang berat, bagus dan mulia itu, yani: kesopanan, pengetahuan dan derajat yang tinggi dari suatu bangsa!

Ajarlah mereka sesuatu kepandaian, supaya mereka itu tak lama lagi tinggal menjadi barang rampasan, tak ada berdaya, bila orang yang melindunginya, berkehendak akan mengawinkannya. Perkawinan itu kalau sekiranya ia beranak, akan menghamburkan dia dan anak-anaknya itu ke dalam lurah kecelakaan itu. Kami telah banyak melihat kemelaratan dalam dunia perkawinan bangsa Jawa, hal itu ialah disebabkan oleh karena hak laki-laki orang Islam yang sangat bengis itu. Duka hati perempuan dalam perkawinan yang demikian dan kemelaratan anak-anak yang tumbuh sebab perkawinan yang demikian, membakar hati kami, dan jalan itu mencambuk kami akan melawani hal keadaan itu!

Hanya sebuah saja jalan tempat kami lari akan melepaskan diri dari pada hidup yang sedemikian, yaitu si gadis itu wa-jib sanggup berperang mencari penghidupan sendiri.

Belum seorang juga perempuan yang membuat sedemiki-an, Ataupun yang berani membuat sedemikian! Karena malu besar, bila anak gadis tidak dikawinkan, demikian pun jika se-orang perempuan tinggal tidak bersuari.

Cita-cita kami ialah apabila kami ada berkepandaian yang cukup boleh mengadakan sebuah sekolah untuk anak-anak gadis kepala-kepala negeri, maka di sekolah itu akan kami ajar-kan lain dari pada pengetahuan biasa yang berguna untuk hidup setiap hari, ialah “ilmu kesopanan, yang meninggikan pikiran dan menyucikan hati.

Dapatkah akan terdiri sebuah sekolah yang sedemikian? Kami berani mengatakan “boleh”. Meskipun kebanyakan kepala-kepala negeri yang telah mengirim anak-anak gadisnya sekarang pergi belajar ke sekolah, hanyalah untuk pemujian dirinya saja, karena mereka tak mau kalah oleh kawan seja-watnya yang lain, dan sekali-kali bukanlah sebab ia insaf akan guna pelajaran perempuan-perempuan untuk si punya diri sendiri dan orang sekaliannya; tetapi hal itu tiadalah kira-nya mendatangkan kerugian bagi dunia perempuan, karena makin lama makin banyak pula kepala-kepala negeri dan orang besar-besar yang betul-betul berkehendak akan pendidikan yang bebas untuk anak-anak gadisnya. Sekolah-sekolah Gu-berinemen dan partikelir dapat menyatakan kebenaran perkata-an yang di atas ini. Sedangkan Susuhunan Solo telah mengirim anak-anak gadisnya ke sekolah. Di tanah Priangan yang su-ke maju itu, yaitu di tempat anak-anak perempuan sekarang sudah menjadi kebiasaan pergi bersekolah, telah dibuka orang lagi sebuah sekolah partikelir untuk anak-anak pe-perempuan bangsawan, yang dibantu oleh Pemerintah. Di situ-lah anak-anak gadis regen-regen bersekolah beramai-ramai, terpisah dari rumah orang tua mereka itu.

Banyak orang tua-tua yang suka sekali hendak menyuruh anak-anak gadisnya belajar ke sekolah, tetapi tidak membiar menyampaikan maksud itu, karena mereka itu tak senang hatinya mengirim anak-anak perempuannya ke sekolah, yang dalaminya anak-anak perempuan belajar bersama-sama saja dengan anak-anak laki-laki.

Akan mengaji seorang guru perempuan Belanda datang ke rumah terlampau mahal untuk orang kebanyakan, dan hanyalah satu-satu orang saja yang sanggup melakukan pe-kerjaan yang semahal itu; Sungguhpun demikian adalah seorang wedana, tidak “terpelajar” dan tidak kaya, telah berani menggaji seorang guru perempuan Belanda untuk mengajar cucunya yang perempuan dalam rumahya.

Dulu adalah seorang ibu yang muda yang telah menyuruh suaminya berjanji, waktu ia sedang sakit keras dan hendak meninggalkan dunia, bahwa bila si suami berpangkat yang lebih tinggi kelak, si suami akan menyampaikan cita-cita si istri, yani: “Akan menyerahkan anaknya perempuan pergi ke sekolah Belanda.”

Kami telah beberapa kali memperkatakan perkara itu dan cita-cita untuk perempuan-perempuan yang boleh tegak sendiri, dan yang sanggup mencari penghidupan sendiri, dengan istri kepala-kepala negeri. Sekaliannya itu memperteguh pengharapan dan kepercayaan kami, bahwa akan menyampaikan cita-cita itu; pokoknya, hanyalah melangkahkan langkah yang pertama, artinya wajiblah ada hendaknya suatu contoh yang bermula sekali dahulu dan apabila hal itu rupanya betul-betul berguna untuk hidup bersama-sama dan dapat disesuaikan dengan hal yang lain-lain, pastilah keadaan itu akan dituruti oleh orang lain.

Tentu adalah anak-anak gadis lain yang berpikir dan merasa seperti kami, dan yang suka juga mematah dan memusnahkan rantai dan belenggu yang meneguhkan adat, yang mengikat perempuan-perempuan orang Islam. Mereka itu pun sekaliannya sedang berhenti pula sekarang di muka pintu: “Belum ada lagi perempuan yang membuat sedemikian?”

Sebab itu mestilah ada satu contoh yang pertama!

Sekarang adalah seorang kepala negeri yang telah memohonkan permintaan kepada Directeur v. O. E. en N., supaya anaknya yang perempuan boleh diterima di sekolah dokter. Bapak dan anak yang berbahagia! Si anak itu tentulah akan menjadi suatu kebajikan besar nanti untuk tanah airnya.

Saya harap, yang si anak itu akan menyampaikan maksudnya dengan sungguh-sungguh!

Adikku Rukmini, suka benar gambar-menggambar; cita-citanya yang besar, ialah hendak memasuki sekolah tinggi menggambar, supaya dapat ia mempergunakan dirinya kelak, buat menghidupkan kembali segala kepandaian anak Bumiputera. Bukankah kepandaian anak negeri itu suatu jalan pula pergi ke padang kemajuan dan keselamatan anak negeri?

Jikalau sekiranya di sekolah tinggi menggambar itu ia tidak duduk pada tempatnya, artinya tak cukup kecakapannya untuk belajar di sana, ia akan pergi belajar ke sekolah mengurus rumah-tangga, supaya nanti ia dapat mengajar kan harga uang kepada anak-anak gadis yang akan menjadi perempuan, yani suatu pelajaran yang sangat berguna sekali untuk dunia bangsa Bumiputera. Sedangkan Pemerintah telah bermaksud hendak mengajar pegawai-pegawai Bumiputera berhemat. Tetapi apakah faedahnya Pemerintah memaksa si laki-laki menyimpan wang, kalau isterinya, orang yang memegang urusan rumah-tangga, tak tahu akan harga uang itu?

Adikku dan saya akan bekerja bersama-sama.

Yang kami sukai lagi, supaya dalam sekolah yang kami kehendaki itu diajarkan pula: pengajaran kesehatan dan penyakit, dan kepandaian palut-memalut orang luka!

Pengetahuan itu suatu pengetahuan yang layak kepada kami dan sangat berguna dalam hidup bersama-sama. Tiap-tiap orang lambat launnya mestilah akan melayani orang sakit, dan memanglah menjadi suatu kesedihan kepada kita melihat kekasih kita menanggung kesakitan, sedang kita dalam hal itu tak tahu bagaimana ikhtiar akan meringankan kesakitan itu. Pengajaran tentang kesehatan, penyakit dan palut-memalut orang luka, itulah pengajaran yang wajib dimasukkan ke dalam bagian pendidikan. Berapa banyak kecelakaan yang tidak akan terjadi, atau banyak yang boleh dikurangi kesakitannya, jikalau sekiranya dari dahulu-dahulu orang telah mengajar pengetahuan yang beruna itu kepada laki-laki atau perempuan-perempuan yang mau mempelajarinya.

Kami sekali-kali tidak bermaksud akan menjadikan bangsa Jawa bangsa Jawa-Eropa oleh karena mereka diberi pendidikan yang bebas; cita-cita kami hanyalah hendak memberi mereka itu barang yang bagus, yang asalnya dari bangsa-bangsa lain, akan penambah sifat-sifat yang bagus, yang ada pada mereka sendiri, dan bukanlah pula akan penghalau sifat-sifat mereka yang telah lazim, tetapi terutama akan memperbaiki sifat-sifat yang ada itu!

Alangkah besar sukacitaku membaca permulaan kata tuan dalam karangan tuan yang bernama “Land en Volk van Jawa” (Tanah dan bangsa Jawa).

Hal itu sangat meriang dan membesarkan hatiku, tatkala saya membaca kata-kata yang gembira, yang menguraikan dan memaparkan kebagusan tanah airku dan ... dan membukakan guci wasiat yang berisi dengan keburukannya. Perasaan yang berbahagia lagi berkuasa kerap kali baru dapat menghiburkan kami, apabila kami ada di luar, di padang yang luas dan bebas, karunia Allah.

Terjauh, jauh dari tutur kata orang banyak yang dungu dan bebal. Berhati dan berpikiran sendiri dalam udara yang sedap, di bawah langit yang hijau, dekat lautan yang lebar di hadapan kami, dan di belakang kami daun nyiur yang melambai-lambai. O, di situlah perasaan kami yang berbahagia berlipat ganda!

Kerap kali terbit dalam pikiranku yang sangat loba: “Ya Allah, biarkanlah saya sendiri hidup dalam udara yang suci, jauh dari riuh dan rendah, jauh dari berjenis-jenis perkara, hanya sendiri saja dengan alam dan kalbuku! Itulah loba, sebenar-benarnya loba! Salah sekali, sebab kemauan yang demikian bukanlah maksud hidup kami, kami wajib hidup bersama-sama dan bertolong-tolongan dengan sesama manusia yang lain. Memperbagus hidup, itulah hajat kami sebenarnya.

Tetapi sekarang saya telah terlalu lama menggoda tuan, tuan tentu adalah bekerja yang lain, yang lebih berguna dari pada mendengarkan percakapan seorang gadis Jawa, yang bersedih hati berlebih-lebihan.

4 September 1901 (VIII)

O, kami tak dapat, kami tak mau percaya, bahwa hidup kami akan berpenghabisan yang biasa dan susah seperti hidup ber-ribu-ribu orang yang lain yang dahulu dan yang kemudian dari pada kami. Tetapi kadang-kadang rupanya sebagai barang yang mustahil! Kadang-kadang maksud yang kami cintai benar-benar itu rupanya seakan-akan sampai, dan tiba-tiba bukan buatan jauh antaranya dari kami.

Sekali-sekali adalah hati manusia yang sedang diayun dan diempaskan kian ke mari oleh syak dan waham, bertonya: “O, Allah, apakah artinya kewajiban?”

Mengurbankan diri bernama kewajiban, dan memenangkan diri bernama juga kewajiban. Bukankah mustahil dua perkara yang memang berlawanan, keduanya sama-sama bernama dan berarti kewajiban?

“Terus”, teriak suatu suara yang nyaring dalam hatiku: “Teruslah perangi kehendak dan keinginan tuan, karena me-nurut kemauan mereka yang tuan cinta dan sayangi, dan karena mereka yang mencintai dan menyayangi tuan, sebab perangan tuan yang seperti itu memuliakan kemanusiaan. Teruslah.”

Kemudian berbunyi pula suatu suara yang lain, sama-sama kuat dan keras: “Pergilah bekerja untuk menyampai-kan cita-cita tuan, bekerjalah untuk waktu yang akan datang, bekerjalah untuk keselamatan beribu-ribu hamba Allah, yang telah bungkuk diimpit oleh bermacam-macam undang yang tak adil dan oleh pengertian yang lancung tentang buruk dan baik, pergilah, pergilah, tanggungkan dan berperanglah, ya, bekerjalah sungguh-sungguh untuk keselamatan yang kekal!“ Kewajiban manakah yang tertinggi? Kewajiban yang pertama atau yang akhir?

Kelobaan selalu saya pandang sebagai kejahatan yang sekeji-kejinya, yang terdapat di dunia ini, dan yang saya benci benar, demikian pula bersifat tidak terima kasih. Dan hal yang lain yaitu cita-cita kami, telah menjadi satulah dengan hidu p Kami. Kami tak dapat hidu dengan tak ada bercita-cita, dan kami pun tak dapat pula hidu dengan ketiadaan cinta kasih sayang dari mereka yang kami cinta dan sayangi itu.

Bilangan mereka tidaklah banyak, yang sebenar-benarnya mengerti dan maklum suatu dengan yang lain, sebagai bapaku mengerti dan maklum kepadaku, Biarpun mereka itu berhu-bung sedekat-dekatnya, karena sedarah dan sedaging. Amat banyak kesesuaian dan kesamaan sifat-sifat dan kemauan kami berdua, dalam segala hal kami suka-menyukai dan sayang-menyayangi, dan hanyalah dalam suatu hal saja kami tak dapat sesuai. O, mengapa maka sedemikian, dan apakah sebabnya itu? Agaknya benarkah seperti kata orang, bahasa di dalam alam yang luas dan lebar ini tak adalah didapat dua buab benda yang serupa benar“, dan tak adalah pula dua orang manusia yang semata-mata sama sifatnya? O, bapakku yang ter-cinta, kita kedua sama-sama mengetahui betapa kita timbal balik kasih-mengasihi, kami tahu benar-benar, bahasa jalan yang telah dipilih oleh anak-anak perempuan tuan banyak bertabur dengan duri, tetapi tuan pun tahu juga, o, kekasihku, bahwa dalam hal itu bukanlah kegilaan hati yang membimbing kami, dan yang kami pergantungi ialah cita” kami dengan tulus ikhlas kami, seumpama kami mempergantungi tuan; mengapa, mengapakah kiranya maka jalan yang telah sukar dan susah itu, tuan persusah lagi dengan keizinan tuan, yang selalu tuan tahan untuk kami itu?

Bahwa hidu p kami tiada akan beruntung, kalau sekiranya kami tiada mendapat berkat dari tuan, tuan pun telah tahu, demikian pun kalau cita-cita kami tak dapat kami sampaikan.

Berkat rahmat tuan, tentulah di muka kami selalu akan bercahaya, dan jalan yang sangat sukarnya niscaya akan ter-tempuhlah! Bapak, bapakku, mengapakah tuan tak mau mengizinkan kami dalam hal yang satu itu?

Cinta itu mahakuasa, dan telah berzaman-zaman diingat dan dimasyurkan. Cinta antara kita kedua amat besar. O, cinta yang sangat mulia, dan yang telah acap kali menjatuh-kan air mataku, berilah kami berkat kerjamu: hapuskanlah perselisihan sifat kami itu, padalah sifat itu menjadi satu!

Saya sangat mengasihi bapaku, nyonya pun tahu sendiri,

tetapi kasih bapak kepada kami lebih besar lagi. Saya lekas kesal, tidak sabar, ya, pandaknya: “perajuk.” Tetapi betapa sabar bapakku menahan tingkah ragamku! Tak pernah saya mendengar sepatah kata yang kasar atau pedih. Bapak selalu berkata manis dan lemah lembut! Oleh karena itulah dapat saya merasa kasihnya yang tiada berhingga itu! Betapa lama-nya telah lalu, tatkala saya menyesakkan keputusan perkara kami, melihatlah bapak kepadaku dengan pemandangan yang amat berdukacita. Matanya yang bersusah hati itu adalah seolah-olah seperti hendak bertonya: “Hendak lekas benarkah engkau mau meninggalkan daku, o, anakku?”

Ketika itu segeralah saya palingkan mukaku, saya tak mau menengok mata yang setia dan yang kukasihi itu, saya hendak menegapkan dan tak mau melemahkan diri.

Hati saya pun hampir hancurlah rasanya, tatkala kami berdua duduk berhadapan, sambil bapak memangkuku dengan kedua belah tangannya dan bertonya: “Wajibkah diperbuat benar-benar sedemikian? Tak dapatkah diubah lagi? Wajibkah mereka itu semua seperti engkau? Tak boleh diubah lagi?” Sekaliannya terasalah kepada kami masing-masing dengan air mata berlinang-linang di pipi, pada waktu kami bertentangan itu.

Tatkala itu sangatlah beratnya penanggunganku di atas dunia. Hal itu kejadi beberapa hari sebelum bapak sakit. Kemudian setelah bapak sembuh, berkatalah bunda kepadaku: “Wahai anakku, sabarkanlah dirimu!” “Saya tak dapat menyabarkannya,” jawabku dengan suara yang pilu.

Sejak itu bunda pun tak pernah lagi memperkatakan hal itu dengan saya. Asal saja bapak mengizinkan kami, maka bunda pun turutlay pula memberikan berkat dan rahmatnya kepada kami. Mereka sekalian kasih dan sayang kepada kami, karena hal itulah pula maka peperangan kami menjadi lebih dahsyat.

Penanggungan ... penanggungan ... tak lain dari pada penanggungan yang kami masukkan ke dalam segala hati mereka, yang amat setia dan kasih itu!

30 September 1901 (VIII)

Di tanah Priangan banyak perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang telah bersekolah dan pandai bercakap bahasa Belanda. Kebanyakan mereka yang berkenalan dengan kami bercakap bahasa Belanda dengan kami. Senang sekali! Betul amat bersukacita kami di situ berkenalan dengan bangsa dan ke-um kami sendiri. Pergaulan dengan mereka itu membesarkan hati, bebas dan tiada kaku. Mereka itu gemar bersuka-sukaan, bersenda gurau dan tersenyum-senyum!

Apa yang saya lihat dan saya dengar dalam perjalananku itu, senantiasa menguatkan pikiranku, bahwa kalau manusia itu hanya berpikiran tinggi saja, belum cekup untuk hidup bersama-sama, lain dari pada itu manusia wajiblah pula ada mempunyai suatu ilmu yang lebih dalam yang akan menolong dan membawa manusia ke tempat yang harus di-turutnya. Dekat ketajaman otak wajiblah hadir kesucian hati, kalau tidak demikian, tentulah adat kesopanan tidak dalam, melainkan tinggal di kulit saja.

O, janganlah dibangunkan juga cita-cita, sia-sia saja, karena pasti ia akan mati, dan demikian juga janganlah dikenangkan pula hendak bermimpi, karena mimpi itu telah kita ketahui boleh tiba-tiba menyadarkan orang dengan bengis. Itu suatu hal yang bengis dan ganas! O, alangkah besarnya niatku hendak mempunyai kepandaian yang sempurna hanya dalam suatu bahasa saja, yaitu bahasa sendiri atau bahasa Belanda, supaya dapat saya benar-benar menguraikan segala yang saya pikirkan dan rasai, tentang sekalian yang menyuakkan mengherankan saya, atau tentang sekalian yang menyakiti hatiku, seperti kecelakaan yang dimuliakan dan dipergantungi oleh bangsaku yani: kelobaan si laki-laki dalam hal memiliki dan memerintah perempuan, dan kelemahan si perempuan dalam hidup bersama-sama, karena kurang pengetahuan mereka itu, dan supaya dalam segala hal itu dapat diberi keadilannya! Saya adalah mempunyai pikiran yang keras dan tajam tentang cita² itu. Kadang-kadang amat gatal jari saya hen-dak menulis segala buah pikiranku itu kepada orang tempat kepercayaanku, demikian pula hendak menampalkannya ke muka orang yang patut mengetahuinya. Tetapi apakah faedahnya sekalian itu? Tentulah orang akan mengangkat bahunya saja mendengarkan itu, yang lain lagi akan menertawakan, dan yang kebanyakan tentulah tidak akan mengindahkan hal itu. Sebab dikiranya pekerjaan orang gila atau pusung!

Barangkali lebih baik saya tiada mengetahui bahasa itu dengan sepertinya, supaya tak dapat saya membuat cita-cita, yang saya sukai dengan bahasa itu. Siapa tahu betapa kejahatan yang akan diterbitkan oleh pena orang yang kras kepala, yang belum banyak penanggungannya, dan dalam hal itu maksud yang baik boleh jadi buruk.

Mengetahui bahasa itu dengan sebenar-besarnya tiadalah akan banyak gunanya bagiku dewasa ini, karena saya tak boleh berseru kras-kras.

Setelah segala kesengsaraan yang tersebut di atas ini, hendak saya kabarkan pula, yang akan menyenangkan hati nyonya.

Belum berapa lamanya yang lalu datanglah bertandang nyonya dan tuan Quartero dengan seorang kemendur lain ke-rumah kami. Waktu itu tuan-tuan itu memperbincangkan seorang regen yang dikenal baik oleh kemendur lain itu. “Se-orang yang sangat terpelajar,” katanya kedengaran oleh kami dan sebentar lagi ia berkata: “Tidak, ia tak beristri, tetapi ia ada beristri seorang perempuan yang bukan jodohnya, tak dapat dibawanya ke medan, sebab isterinya itu seorang perempuan anak orang kebanyakan saja, dan dengan perempuan itu ada beranak dua orang. Ia tak bermaksud lagi akan ber-istri, ia tak suka mengawini raden ayu, karena ia tak mau menceraikan perempuan itu, atau tak sudi menjadikan isterinya itu seorang perempuan yang tidak berhak dalam rumah.

Salah suatu dari perkara itu tentulah akan menyakiti hati perempuannya itu, dan ia tak suka memperbuat pekerjaan yang sedemikian.”

Hatiku terbuka tatkala saya mendengar cerita itu, sam-bil berpikir, kalau demikian adalah juga rupanya laki-laki yang baik dalam dunia bangsa Jawa! Patut dipuji, bukan? Nyonya Quartero menceritakan kemudian dari itu kepada kami, bahwa ia dan suaminya tiba-tiba memandang kepada kami, tatkala mereka itu mendengar cerita itu, dan ke-duanya sama-sama berpikir: “Adakah percakapan itu dide-ngar oleh anak-anak gadis itu? Alangkah tingginya kehor-matanya regen yang tersebut dalam hati mereka itu!” Ya, kami-punt sangat menghormati regen yang seperti itu. Kami ber-harap sungguh-sungguh yang regen itu akan tinggal tetap seperti itu dan sedikit pun tak akan suka mengubah kepu-tusan pikirannya yang bagus itu.

Sekarang kami dengan gembira hati hendak berkenalan dan bercampur gaul dengan reger itu, kami berharap yang mak-sud itu akan lekas sampai.

Kaum muda yang berpikir demikian, baik laki-laki atau perempuan wajib lekas memperhubungkan tali salaturra-him suatu dengan yang lain. Tiap-tiap orang memang dapatlah membuat sesuatunya, untuk meninggikan nama dan keso-panan bangsa kami, tetapi apabila kami sepakat serta menya-tukan kekuatan dan bekerja bersama-sama, tentulah akan mendapat hasil lebih banyak.

Dalam kata sepakat itulah tersembunyi kekuatan dan ke-kuasaan.

Hai sahabatku yang setia, sekaranglah akan saya ceritakan kepadamu tentang hal ihwal maksud kami, memaparkan hal itu tentulah karena kepercayaanku penuh kepadamu.

Jalan-jalan yang terbuka bagi kami untuk mencari penghidupan sendiri sambil boleh mempergunakan diri kami untuk hidup bersama-sama, ialah menjadi dokter, dukun beranak, guru, pengarang, ahli dalam perkara membuat patung-patung. Memang adalah lagi jalan-jalan lain, yang terbuka bagi kami untuk mencari penghidupan diri sendiri, tetapi jalan itu tiadalah kami mau turut dan ingin, karena ia tidak berguna untuk bangsa kami. Apalah gerangan faedahnya untuk bangsa kami, jika kami perempuan-perempuan jadi pembantu apoteker, tukang buku, tukang kawat, jurutulis pada bermacam-macam kantor dan lain-lain sebagainya?

Kerja-kerja dan hidup yang berhubung dengan kerja itu tiadalah menarik hati kami. Kami mau bekerja hendak mencari penghidupan sendiri sambil hendak mempertinggi kedudukan kemanusiaan bangsa kami, dan budi pekertinya. Kami ingin hidup yang cukup dan sempurna. Engkau telah tahu, bahwa pada Pemerintah ada bermaksud lagi, yang sedang diuraikan oleh Directeur van O. E. en N. yaitu maksud akan mendirikan sekolah-sekolah urusan rumah-tangga untuk anak-anak perempuan Bumiputera dan untuk percobaan akan didirikan saja dahului seolah sekolah bagi anak-anak gadis kepala-kepala Bumiputera. Pada tahun yang lalu, tatkala kami sendiri mendengar maksud yang baik itu, dari mulut paduka tuan itu sendiri, maka bertanyalah isterinya, kalau-kalau saya suka menjadi guru pada sekolah yang tersebut itu. Saya menjawab, bahasa saya menyuokae benar pekerjaan itu, tetapi saya tak sanggup menjabatnya, sebab saya belum belajar untuk menjabat pekerjaan itu, itulah saja alangannya. Waktu itu nyonya yang tersebut menjawab, yang suaminya suka mengangkat saya menjadi guru di sekolah itu, terutama ialah akan membimbing hati anak-anak itu dan membangunkan tingkah laku mereka itu yang baik. Di sekolah itu saya wajib bercampur gaul dengan anak-anak itu sebagai saudaranya yang tertua, dan akan menjadi contoh kepada mereka itu. Itu suatu pangkat yang mulia, tetapi saya tak boleh disalahkan, sebab saya tak mau menjabat pangkat itu; alangannya sebab saya tiada berkepandaian yang disahkan (menurut undang-undang). Untuk menjalankan jabatan guru itu, nyonya itu berkata pula, kalau sekiranya saya suka benar hendak belajar untuk jadi guru itu, maka saya harus pergi belajar pada salah satu sekolah Normal di Betawi atau di tempat yang lain, barang beberapa lamanya untuk mengambil diploma. Dan hal itu bukanlah menjadi suatu keberatan. Sekarang bergantunglah pekerjaan, itu kepada kemauanku lagi.

Yang bapakku menyukai hal itu, engkau pun telah tahu. Tentu saya akan pergi ke Betawi, di situ segala bantuan dan pertolongan untuk menyampaikan hajatku itu, sudahlah pula dijanjikan oleh directie² sekolah menengah untuk anak-anak perempuan kepadaku. Dengan directie itu baru sekali saja kami bertemu dan bercakap-cakap. Kebaikan hatinya, seorang yang baru kami kenal, sangat meriangkan hati kami. Yang ia lekas menyayangi pergerakan kami itu sangatlah pula menguatkanku. Syukurlah! Di manakah saya boleh dapat bantuan dan pimpinan, yang lebih baik lagi dari pada seorang nona, yang telah menjadi kepala pada sebuah sekolah menengah? Tiada dicari dan tidak disangka-sangka, telah jatuhlah suatu pertolongan yang amat besar di atas pangkuanku. Saya amat gembira, merasa diriku sebagai terbang di awan yang tinggi dan menyangka bahwa saya akan berangkat ke Betawi tak lama lagi, boleh jadi dalam sepekan dua pegan ini atau selambat-lambatnya dalam sebulan dua lagi.

Saya pun telah menceritakan kepadamu, bahwa kami sekali-kali bukanlah orang berada, Sungguhpun bapakku bergaj besa, tetapi ia wajib lagi banyak mengeluarkan belanda, sehingga gajinya yang besar itu hanya cukup untuk kami hidup sederhana, dan akan memberi saudara-saudaraku laki-laki pendidikan yang baik. Anak laki-laki dalam segala hal wajib ditolong lebih dahulu! Saya pun telah memikirkan ju-ga tentang keberatan dalam perkara uang itu, karena itulah saya telah bermaksud hendak mengubah tujuan dan haluanku, yaitu hendak pergi ke Sekolah Dokter di Betawi, sebab keberatan untuk belajar menjadi guru itu terlalu besar; untuk menyampaikan maksud itu harus bapakku mengeluarkan uang dalam setahun kira-kira seribu dua ratus rupiah, yani sebanyak gaji bapakku dalam sebulan; hal itu bukanlah perkara kecil menilik keperluan untuk rumah tangga kami, yang sebesar itu. Akan belajar jadi dokter tak guna orang mengeluarkan uang sedikit jua pun, tetapi sayang murid-murid yang diterima di situ hanyalah anak laki-laki saja; murid-murid perempuan sampai sekarang belum pernah diterima. Sekalian keperluan pelajaran untuk jadi dokter, semua ditanggung oleh Pemerintah. Murid-murid mendapat rumah tempat tinggal, dan diberi uang tiap-tiap bulan untuk membayar makan, pembeli pakaian dan mendapat pertolongan dokter dengan tiada membayar.

Ketika saya di Betawi saya tanyakan kepada Directeur van O.E. en N., kalau-kalau anak-anak perempuan boleh diterima di sekolah yang tersebut, karena sekolah itu masuk penja-gaan Departemennya. Tuan Mr. A. bukan tak suka, melain-kan suka benar, ia bergirang hati akan maksudku itu; ke-beratannya murid² perempuan wajiblah hendaknya tinggal di luar sekolah. Cita-citaku meminta kepada Pemerintah, supaya saya diterima di Sekolah Dokter, dengan perjanjian yang saya akan mendapat hak, betul-betul seperti hak yang diperoleh murid-murid laki-laki dalam sekolah itu. Tiap-tiap orang mudahlah memikirkan, kegunaan dokter perempuan itu, apalagi untuk perempuan-perempuan anak negeri, ke-reina bodohnya, lebih suka ia mati dari pada badannya diraba oleh seorang dokter. Kepala Departemen van Onderwijs dengan segala suka hati akan menolong permintaanku itu, tentu besarlah harapanku, yang Pemerintah akan mengabulkan permintaanku itu.

Saya selalu menyukai kepandaian dokter itu, hanyalah saya takut, karena lamanya belajar di situ. Untuk orang yang belum berumur dua puluh tahun, bila belajar lamanya tujuh tahun, menurut timbanganku, tak adalah alangan-nya; tetapi bila umur orang itu telah lewat dari dua puluh tahun, menurut pikiranku adalah agak lama waktu itu. Dan lagi anak gadis yang telah sampai umur wajib setiap hari duduk di antara anak-anak laki-laki yang berumur 13-18 tahun, dan beberapa lamanya kemudian akan menjadi seo-rang perempuan tunggal dalam laki-laki yang sebanyak itu, kuranglah manrik hatiku. Tetapi sekalian hal itu, hanyalah perkara kecil saja, mudah dapat saya hapuskan. Tetapi adalah lagi alangan yang lain. Bapak dan sahabat kenalanku tak menyukai hal itu; masing² adalah dengan sebabnya. Bapak mengatakan tak mau, karena saya sajalah nanti seorang anak perempuan di dalam kumpulan laki-laki dan bujang² yang banyak itu—hal yang seperti itu belum pernah terjadi di-sini; dan sahabat kenalanku pun tak suka, sebab mereka itu khawatir, bahwa perasaan yang kuat untuk pelajaran itu, barangkali tak ada kepadaku. Menjadi dokter melangkah satu kerja yang baik, tetapi kerja itu tak dapatlah dikerjakan oleh tiap³ orang. Mereka yang belajar menjadi dokter perlu ada kepadanya, kemauan yang kuat, kekerasan hati dan pera-saan yang tetap. Itulah yang dikhawatirkan oleh sahabat kenal-anku, tetapi saya dalam hal itu tidalah takut. Menurut pikiran bapak, pekerjaan gurulah yang sebagus-bagusnya untuk kami, demikian pula pikiran sahabat-sahabatku di

Betawi. Menurut timbangan mereka itu lagi, kerja guru itulah yang amat bagus dan pantas sekali untukku, sepadan benar dengan cita-citaku. Dan di manakah lagi saya boleh lebih baik, dapat memaparkan cita-citaku, lain dari pada menjadi seorang pendidik anak2 gadis, yang kelak akan menjadi perempuan dan bunda dalam hidup bersama-sama. Dalam tangan si anak itulah terletak keadaan yang akan datang, dan di tangan si bunda tergenggam keadaan si anak itu. Bila saya menjadi pengarang tentulah banyak dapat saya bekerja untuk penjelmakan cita-citaku dan mempertinggi kedu-dukan kesopanan bangsaku; dan kalau saya menjadi guru hanyalah sedikit saja padang tempat saya bekerja, tetapi saya boleh dengan segera dapat mendidik mereka itu, dan padang yang sedikit itu tentulah lama-lama boleh menjadi luas dan kembang, dan diturut orang, asal saja contoh yang diberikan di situ contoh yang baik.

Engkau tahu yang kesukaanku ialah membaca kitab-kitab dan dalam itu kenang-kenanganku, supaya kesukaanku itu dapat menjadikan saya seorang yang berarti tentang usaha dalam ilmu bahasa. Tetapi orang tak dapat mengerjakan dua kerja dalam sutau waktu, itulah sebabnya maka tak ada harapanku akan menjadi guru, yani guru yang saya ke-hendaki, yang sanggup menajamkan pikiran si anak, dan menimbulkan budi pekerti yang baik, guru yang sepanjang hari mestilah mengindahkan si anak itu, dan dalam itu hendak berusaha lagi untuk ilmu bahasa. Saya suka bekerja satu saja, tetapi saya mau membuat kerja itu dengan sebaik-baiknya. Sekarang kedudukanku antara dua benda yang suci, Stella. Bila saya menjadi dokter atau yang lain, agaknya tak usahlah saya meninggalkan kerja yang sangat saya sayangi itu yani: “penjilat pena!”

Tetapi menurut pikiranku pengajaran dan pendidikan yang dipercayakan orang kepadaku, itulah kerja yang amat suci dan memberi berkat, sehingga karena itu saya tak bersenang hati mengerjakannya, bila saya merasa, bahwa saya tak cakap melakukan kewajiban itu ... yani kewajiban yang saya sendiri tahu, mestilah dilakukan oleh seorang pendidik yang cakap. Sekiranya menjadi guru di sekolah urusan rumah tangga, tentulah sepanjang hari saya mes-ti berjinak-jinakan dengan anak-anak, dan malam hari pun, ya, sampai larut malam, tentulah saya belum akan bebas, karena anak-anak itu telah dipercayakan kepadaku. Keper-cayaan mendatangkan kewajiban yang besar, dan menjadi guru di sekolah itu artinya menerima penangungan yang amat berat. Barangkali menurut pikiranmu ingatanku dalam hal itu terlampau panjang, tetapi tak dapat saya ubah ingatan itu dan saya kira menjadi suatu kesalahanlah, bila saya berani memikul pendidikan anak-anak, yani mereka yang menggenggam keadaan yang akan datang, sebab saya mengingatkan, bahwa saya tak cakap berbuat kerja yang sebesar itu, mulia dan suci pada pemandanganku. Saya pun tiadalah pula akan bersenang hati akan mendapat pujian dari pada kepala-kepalaku, bila kerjaku itu tiada sesuai menurut kehendak hatiku.

Cita-cita bapakku dan sahabat kenalanku, ialah jika sekiranya saya benar-benar hendak menjabat sesuatu jabatan dan mau bekerja untuk keperluan orang banyak, maka wajiblah saya menjadi guru kepala pada sebuah sekolah perempuan. Dan engkau, Stella, untuk menjadi apakah saya, yang baik dalam pikiranmu? Dan jalan mana yang patut saya turut? Katakan kepadaku dengan hati yang tulus ikhlas, keluarkanlah pertimbanganmu seterang-terangnya dalam hal ini, dan dari padamu tak lain yang saya harapkan hanyalah sekalian yang baik saja. Engkau selalu menyatakan kepadaku yang engkau seorang sahabatku yang baik dan tulus hati, sekarang engkau buatlah juga sedemikian itu.

Adalah jalan lain lagi yang terbuka untuk kami. Adalah seorang dokter pendeta belum berkenalan benar dengan kami, yang ternama lagi amat mulia, telah kerap kali mendengar hal kami dari sahabat kenalan kami. Pada suatu hari atas kemaeannya sendiri, telah menunjukkan dirinya kepada kami, menerangkan, bila mana kami suka hendak belajar kepadanya untuk menjadi dukun beranak, maulah ia mengajar kami dengan tiada membayar uang sekolah. Pada pihak lain pun adalah datang pula pertolongan yang sedemikian kepada kami. Dalam hal itu sangatlah kami mengucapkan terima kasih! Engkau tentu telah mendengar atau membaca peri hal orang Bumiputera yang beragama Nasrani di Mojowarno dalam residensi Surabaya? Dalam rapor “Maatschappelijk Werk in Indie” (Pekerjaan bersama-sama di Hindia), dari rapat-rapat Pertunjukan perusahaan Perempuan, hanyalah tersebut nama dokter pendeta³ itu, demikian pula di Mojowarno amat masyhur namanya. Engkau tentu telah kerap kali mendengar, bahasa dukun beranak amat berguna sekali di tanah Hindia. Pada tiap-tiap tahun jika dipukul rata-rata, adalah kira-kira 20.000 perempuan di tanah Hindia yang mati beranak, dan adalah kira-kira 30.000 anak-anak mati waktu lahir, karena tiada mendapat pertolongan dari dukun beranak. Dalam hal itu masih banyaklah usaha yang boleh kami kerjakan, untuk berbuat jasa dan faedah bagi saudara-saudara kami dalam hidup bersama-sama.

Kami sungguh menyukai sekali kerja dukun beranak itu; tetapi tentulah kami akan berdusta bila kami berkata, bahwa menjadi dukun beranak itu telah suatu cita-cita kami. Sungguhpun demikian menjadi dukun beranak itu memanglah seribu kali lebih baik dari pada tinggal bergantung saja kepada kaum keluarga, apalagi dari pada perkawinan yang terpaksa.

Dari bapak kami telah mendapat izin pergi ke Mojowarno, untuk belajar menjadi dukun beranak, kalau sekiranya jalan-jalan yang lain tidak dapat kami tempuoh lagi. Kaum keluarga yang lain sekali-kali tak menyukakan kerja itu, karena menurut pikiran mereka itu kerja dukun beranak itu amat hina bagi tangan kami, anak orang bangsawan!!! Sahabat kenalan kami pun tiada akan bersukacita, bila kami menurut jalan itu, tetapi mereka ada mempunyai sebab yang lebih mulia, ya, sebab yang lebih tinggi. Menurut timbangan mereka, sangat susah bagi kami bekerja seperti itu, karena kami ada menaruh cita-cita yang lain. Pada hal yang sebenarnya bukanlah mereka tak suka yang kami pergi ke Mojowarno, sekali-kali tidak, menurut pemandangannya kerja dukun-dukun itu suatu kerja yang tinggi dan mulia, tetapi maksud kami hendak menjadi contoh dan menjadi suri teladan itu, bolehkah dapat kami sampaikan dengan cara demikian? Sedangkan di Eropa yang pendu-duknya telah terpelajar, di sana pun orang masih menghinakan kerja dukun beranak itu, apalagi di tanah Hindia, yang penduduknya masih gila akan kehormatan dan kemu-liaan, tentulah mereka itu tak dapat menghargai kerja yang baik itu dengan sepatu-patutnya.

Tentulah mereka itu akan mandang pangkat itu hina; apa-apa yang tak tinggi, tak bercahaya dan tak harum selalu dipandang oleh bangsaku kurang, tak ada berharga.

Engkau tentu mengerti yang kami sendiri tiada akan menghinakan kerja itu, tetapi untuk diri kami haruslah kami mengindahkan keadaan itu jangan menjadi sesalan kelak. Kami yang mau membukakan jalan untuk kebebasan dan hidup tegak sendiri untuk perempuan-perempuan bangsa Jawa! Contoh yang akan kami berikan wajib sesuai dan sepadan dengan orang lain. Barang sesuatu yang dipandang orang hina tentulah tidak akan diturut orang. Bila kita berniat yang orang lain hendaknya menuruti jejak kita, haruslah contoh yang kita berikan itu suatu benda yang baik dan mengherankan orang, serta memberahikan orang akan menirunya. Dalam hal itu bukanlah kita mengingatkan kehendak kita sendiri saja, tetapi patutlah kita ingat benar akan keadaan bangsa, yang hendak kita ajari dan kita beri contoh itu.

JALAN KE JEPARA DENGAN POHON KENARI SEBELAH-MENYEBELAH

Pada masa sekarang di tanah Belanda dan terutama di den Haag telah timbul suatu gerakan, yang hendak menghidupkan dan menerbitkan kembali kepandaian anak Hindia yang telah lenyap. Perserikatan “Oost en West”, ialah tunas dari “Pertunjukan perusahaan Perempuan.” Engkau tentu telah mendengar hal keadaan perserikatan itu, yang terutama kerjanya ialah hendak memperhatikan rupa² keadaan Hindia. Perserikatan itu ada mempunyai suatu afdeling untuk ilmu kepandaian dan afdeling itu dipimpin oleh beberapa orang pandai-pandai, ahli dalam ilmu kepandaian.

Afdeling ilmu kepandaian itu bermaksud hendak mengirim orang pandai-pandai (tentang perkara patung) pergi ke tanah Hindia, akan membantu dan memperbaiki ilmu kepandaian anak Hindia, terutama kepandaian membatik, yang sekarang tidak sejati lagi, karena telah dicampuri oleh kepandaian bangsa asing, bangsa Eropa dan lain-lain, yang merusakkan dan meruntuhkan kepandaian asal bangsa Hindia itu. Kesukaan orang di tanah Belanda, supaya kepandaian bangsa Hindia diterbitkan oleh kemajuan pertunjukan kepandaian bangsa Timur dan Barat. Di tanah-tanah yang lain kepandaian bangsa Hindia, lebih-lebih kepandaian batik-mem-batik, mulailah dikenali dan diketahui orang.

Saya menyangka, yang saya telah menceritakan kepadamu, bahwa Rukmini ada berotak baik dan cakap untuk mempelajari perkara gambar-menggambar; cita-citanya senantiasa hendak menjadi pandai-gambar. Untuk peker-jaan itu harus ia belajar di tanah Eropa, tetapi sayang hal itu tak dapat dilakukannya.

Dengan uang kami sendiri tak sangguplah kami menolong menyampaikan cita-cita adikku itu. Tahukah engkau ke mana kami hendaknya meminta tolong? Kami bermaksud hendak memperhubungkan tali silaturahim dengan perserikatan “Oost en West” dan meminta pertolongan perserikatan itu, supaya adikku dapat menyampaikan cita-citanya yang bagus itu, sehingga ia dengan pertolongan perserikatan “Oost en West”, atau perserikatan yang lain dapat memasuki sekolah tinggi gambar-menggambar, lukis-melukis di den Haag, dan nanti setelah tamat pelajarannya ia boleh mengusahakan dirinya untuk kepandaian bangsa kami. Siapakah yang boleh lebih baik mengusahakan dirinya untuk hal keadaan kepandaian bangsa Jawa, lain dari pada anak bangsa itu sendiri, yang memang ada menaruh cinta sejak kecilnya, akan kepandaian bangsa Bumiputera?

Karena Rukmini seorang anak dari pada bangsa Jawa sendiri, maka dapatlah ia memasuki sekalian tempat, yang tak dapat dimasuki oleh bangsa Eropa, Biarpun orang itu berniat baik kepada bangsa Jawa. Kami adalah mengenal beberapa orang di antara pengerus-pengerus “Oost en West” dan afdeling ilmu kepandaian itu. Bila percobaan kami ini tak berhasil, maka Rukmini bermaksud hendak belajar menjadi dukun beranak. Ia mau menjadi pandai gambar atau dukun beranak, tetapi apa jua pun yang akan dibuatnya, ia mau memperbuat kerja itu dengan seyaik-baiknya. Oleh sebab itu bila nasibnya telah menyuruhnya menjadi dukun beranak, untu mencari penghidupnya, dan akan memberi faedah kepada orang banyak, ia amat suka berjerih payah mempelajari ilmu itu di tanah Eropa. Di negeri Belanda tentulah dapat ilmu itu dipelajarinya dengan secu-kup-cukupnya, dan apabila tamatlah pelajarannya, tentulah ilmunya itu besar sekali faedahnya bagi perempuan-perempuan di sini.

Dokter-dokter di sini dapat mengajarnya hanyalah untuk menjadi dukun beranak, yang selalu mesti bekerja di bawah pengajaran seorang dokter. Pada pemandangan bangsa kami, yang belum mempunya cita-cita yang besar dan buah pikiran yang tinggi, yani bangsa yang hanya pandai memulia-kan keindahan dan kebagusan saja, besarah perbedaanya bagi mereka, bila Rukmini belajar di sini atau belajar di Eropa untuk menjadi dukun beranak itu. Bila ia berdiploma dari Eropa, orang pun tiadalah akan memandang rendah kerjanya, dan mereka itu tentulah suka menurut kerjanya itu. Dalam hal itu kami hendak meminta pertolongan kepada Professor Hector Treub di Amsterdam dan Dr. Stratz di den Haag, yaitu mereka yang kerap kali telah memperbincangkan tentang pertolongan yang patut diberikan kepada perempuan-perempuan yang sakit beranak di Hindia, supaya karena pertolongan itu beribu-ribu manusia tiap-tiap tahun akan terlepas dari pada bahaya maut. Dalam majelis persidangan Tweede Kamar, kalau saya tak salah perkara itu telah diuraikan juga oleh tuan van Kol. Kabarnya tuan itu akan datang ke tanah Hindia, saya berharap supaya saya dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan dia. Kakakku tahu benar kepadanya.

Pemerintah di tanah Hindia telah berhajat akan mengadakan perubahan yang baik atas hal keadaan yang buruk itu. Segala dokter di tanah Jawa yang suka mengajar perempuan-perempuan yang mau belajar untuk menjadi dukun beranak akan mendapat uang bantuan tiap-tiap bulan dari Pemerintah. Dan perempuan-perempuan itu selama belajar itu, mendapat pula uang bantuan dari Perintah untuk pembayar sewa rumah dan lain-lain, dan setelah mereka itu membuat ujian, maka diberilah gaji oleh Gubernemen.

Maksud adikku Rukmini, jika telah tamat pelajaran-nya di Eropa untuk dukun beranak itu, akan mendirikan sebuah sekolah untuk mengajarkan kepandaian dukun itu. Akan kepandaian dokter-dokter yang memberi pelajaran tentang hal itu di sini, tentulah tidak dapat dicacat, tetapi apakah gunanya dan artinya kepandaian itu, kalau dokter-dokter itu tak dapat menerangkan pelajarannya kepada murid-muridnya dengan sempurna, karena si guru dan si murid masing-masing hanya mengerti dalam bahasanya sendiri-sendiri? Hampir sekalian dokter-dokter di sini betul mengetahui bahasa anak negeri yani bahasa Melayu, tetapi sedikit, ya, amat sedikit benar, bahasa itulah juga yang dipakai dokter-dokter itu bila ia bercakap-cakap dengan anak negeri. Bahasa Jawa hampir tak ada seorang pun dokter yang mengerti. Di antara orang-orang Jawa yang sebanyak itu, hanyalah amat sedikit pula, yang mengerti bahasa dan bercakap Melayu. Tahukah engkau sekarang betapa kesusahan dokter-dokter itu bercakap bahasa Melayu, yani bahasa yang amat sedikit diketahuinya, akan menerangkan apa-apa kepada murid-muridnya, perempuan-perempuan dan anak-anak gadis dari desa, yang sejak dari kecilnya tak pernah mendapat pengajaran, dan tak kenal serta tak mengerti socatu pun bahasa asing, kecuali bahasanya sendiri?

Sekalian kesusahan itu tentulah akan hilang lenyap, bila orang yang menjabat pangkat untuk mengajar perempuan-perempuan Jawa menjadi dukun beranak itu, mengerti benar-benar bahasa anak negeri.

Karena Rukmini sendiri anak Jawa, itu pun boleh pula menolong menyampaikan maksud itu lebih lekas. Bangsa Bumiputera selalu setia kepada orang-orang bangsawan bangsanya, dan apa-apa yang dibuat oleh bangsawan, yang dihormati oleh anak negeri, mudah diterima dan dipercayai oleh mereka itu.

Pada 24 hari bulan Oktober berhentilah saya menulis surat ini, sekarang saya mulai lagi menghubunginya. Kartupos yang saya kirimkan sementara itu kepadamu, telah mengabarkan betapa susah hal keadaan yang telah menggoda kami, dan sekarang beruntung kami karena kesusahan itu tak ada lagi. Yang Rukmini dahulu sakit keras, engkau pun telah tahu. Telah dua kali nyawanya seakan-akan bergantung pada sehelai rambut, tetapi sekarang dengan pertolongan Allah ia telah mulai sembuh, dan setiap hari adalah bertambah

sehat, sehingga pada hari ini ia telah pergi keluar. Bagaimana kanu bersukacita dan betapa kami meminta terima kasih karena kesembuhannya itu. tak dapatlah saya katakan kepada mu. Adikku Kardinah pun telah berjalan-jalan pula sampai-sampai seperempat jam lamanya, dan mukanya yang pucat dan kurus dahulu itu, sekarang telah mulailah berwarna. Sungguh banyak benar kesusahan kami sekali ini.

Di mana-mana jupunt sekarang hawa negeri kurang sehat, karena musim panas yang amat sangat. Wahai tanah yang malang, itulah yang tuan tanggungkan, lain dari pada bermacam-macam penyakit yang berbahaya? Oleh karena musim panas yang amat sangat itu hampir sekalian sawah di seluruh negeri kami menjadi rusak binasa. Di Grobogan tak jauh dari sini dalam kesusahan yang besar sekali, sebab dilanggar bahaya kelaparan, dan anak negeri Demak sekarang takut bukan buatan menanti kedadangan musim penghu-jan, yang menenggelamkan negeri itu tiap-tiap tahunt; dan di sana sawah yang tidak menjadi, karena dilanggar panas, tak kurang 26000 H.A.; dan dalam hal itu di negeri itu sekarang beryangkit pula penyakit kolera amat sangat. O. tanah yang malang, dalam musim kemarau, engkau celaka karena kekurangan air, dan musim penghujan engkau melarat terbenam karena kebanyakan air! Tak usah saya panjangkan lagi tentang kesengsaraan itu, biarlah saya hubung terus ceritaku pada empat belas hari yang lalu.

Adikku Kardinah pun mau menjadi guru juga dan pengajaran yang disukainya, ialah kepandaian urusan rumah-tangga dan masak-memasak. Maksud kami selalu akan tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama, supaya kami dapat sekutu menyampaikan hajat kami yaitu: hendak meninggikan kesopanan bangsa kami. Bila nasib kami baik, kami bersama-sama akan membuka sebuah sekolah, tempat mengajarkan segala pengajaran seperti di sekolah rendah dan ditambah lagi dengan kepandaian: jahit-menjahit, urusan rumah-tangga dan lain-lain sebagainya; lagi pula akan diajarkan di situ kepandaian membatik, menggambar d.l.l. atau ilmu dukun beranak.

Untuk belajar menjadi guru dalam ilmu urusan rumah-tangga dan masak-memasak haruslah orang pergi ke negeri Belanda. Sekolah yang sedemikian tak ada di sini. Keinginan Kardinah yang terutama sekali ialah musik dan itulah cita-citanya yang di hati kecinya benar dan itulah sebabnya maka ia selalu asyik mengusahakan dirinya mempelajari musik itu, tetapi maksud itu sekali-kali tak dapatlah disampaikannya. Adikku yang bungsu itu telah membuangkan cita-citanya itu, dan mengambil maksud yang lain. Ia akan merasa beruntung, bila cita-citanya yang lain itu dapat menjelmakan dirinya. Ia berkehendak benar-benar akan menolong meninggikan kedudukan kehormatan bangsanya. Jika ia menjadi guru dalam pelajaran urusan rumah-tangga, banyaklah yang akan dapat dibuatnya. Makin lama makin banyak Pemerintah memperlihatkan kesukaannya, supaya anak negeri dan pegawai-pegawainya bersifat hemat.

Karena hal keadaan urusan rumah-tangga tergenggam dalam tangan perempuan, maka patutlah orang lebih dahulu-lu mulai mengajar perempuan bersifat hemat, supaya sifat itu boleh kembang dalam bangsanya. Apakah faedahnya laki-laki diajar berhemat itu, kalau sekiranya perempuan yang menjaga rumah-tangga tak mengenal harga wang? Itu-lah sebab yang akan kami hadapkan kepada Pemerintah, bila kami memohonkan permintaan supaya Kardinah diajar menjadi guru dalam urusan rumah-tangga, supaya nanti sangguplah ia memberi pengajaran tentang kepandaian itu di tanah Jawa. Adikku itu mau memikul beban yang berat itu dengan bahunya, akan mengajar perempuan-perempuan dan ibu-ibu pada waktu yang akan datang, di tanah Jawa, supaya mereka itu pandai berhemat dan tahu akan harga uang.

Untuk diriku sendiri saya bolehlah maju di sini, artinya mengambil diploma di sini saja; tetapi belajar di Eropa ten-tulah lebih baik dari pada di Hindia, karena di Eropa orang dapat lebih mudah mempertinggi pikiran dan memperluas pemandangan dan sebagainya.

Lebih-lebih masa sekarang Pemerintah telah memperlihatkan betapa ia mengindahkan kesopanan dan kepandaian pegawai-pegawainya, hal itu nyata sekali waktu mengangkat regen-regen baru-baru ini, yani Pemerintah telah memilih dua orang muda. Meskipun menurut sepanjang aturan yang biasa, mereka itu tidaklah masuk bilangan waris, karena mereka bukanlah kaum keluarga regen yang digantikan itu ... menurut sepanjang aturan biasa bapak digantikan oleh anaknya, dan bila si bapak tak beranak laki-laki atau tak beranak yang cakap untuk menggantikannya, maka bolehlah diangkat seseorang dari kaum keluarga regen yang berhenti itu ... Tetapi regen-regen yang baru diangkat itu, karena terpelajar dan telah menerima pendidikan di tanah Eropa.

Sekalian itu menyatakan, bahwa pada Pemerintah adalah tersimpan maksud yang mulia hendak memajukan dan mempertinggi kedudukan kehormatan tanah Hindia, terutama untuk bangsa Jawa, dan lebih-lebih bangsawan-bangsawan Bumiputera, yang kebanyakan akan menjadi pegawai

negeri, diberi lebih dahulu ilmu kepandaian dan pengajaran yang harus ditaruhnya.

Tuan Abendanon telah berkata: “Tak usahlah diperkatakan lagi, bahwa dunia Bumiputera tidaklah akan lekas maju ke muka, kalau sekiranya perempuan-perempuan bangsa Bumiputera selalu tertinggal di belakang. Setiap hari sepan-jang waktu telah nyata, bahwa kemajuan perempuan itu suatu perkara yang penting untuk kemajuan suatu bangsa.“

Kebanyakan bangsa Bumiputera masih enggan menyuruh anak-anaknya perempuan pergi ke sekolah, karena di sana laki-laki yang mengajar. Sebab itu guru-guru perempuan pun haruslah pula ada di situ.

Lima belas tahun yang telah lalu Pemerintah mengirim empat orang anak muda-muda bangsa Bumiputera dengan ongkos Pemerintah pergi belajar ke negeri Belanda, dengan penjagaan seorang guru kepala yang pandai; di sana mereka itu diajar untuk menjadi guru. Mereka itu suka sekali pergi ke negeri Belanda untuk belajar menjadi guru itu, karena belajar di sana lebih banyak mendatangkan faedah dari pada jika mereka belajar di tanah Hindia, dan supaya nanti sangguplah mereka bekerja untuk kesopanan dan kemajuan bangsanya, bukanlah kemauan mereka sendiri, hanyalah kemauan yang datangnya dari pada seseorang yang benar-benar suka hendak memajukan tanah Hindia.

Keadaan kami berlainan dengan hal mereka itu. Bagi kami ialah suatu kemauan, keinginan hendak mempunai “caha-ya“ kemajuan, yang keluar dari hati yang yakin, yang diter-bitkan oleh kedukaan hati sendiri, karena kasihan memikir-kannya dan sama-sama merasa sedih dengan mereka yang seng-sara dalam hidup bersama-sama.

Akan melakukan cita-cita kami itu hanyalah kami menantikan izin bapak saja lagi. Maafkanlah bapakku dalam hal itu, Stella, karena ia khawatir melepaskan anak-anaknya ke dalam suatu hal yang akan datang, yang belum nyata ke-padanya. Orang yang menjadi pembuka jalan seperti kami ini, wajiblah memerangi dan menaklukkan segala syak dan waham itu lebih dahulu; bahwa hal itu tak mudah dan akan mendatangkan banyak kecewa dan dukacita bagi kami, kami pun maklumlah pula. Dan orang-orang tua di manakah yang tak gemar melindungi anak-anaknya dari pada kedukaan? Orang-orang tua di manakah pula yang tidak akan berhati kecut dan berat membiarkan anak-anaknya ke dalam dunia yang penuh dengan peperangan dan kecewaan? Demikianlah nasibnya sekalian mereka yang menjadi orang pembuka jalan.

Saya tak tahu yang saya nanti betul-betul mau pergi belajar ke tanah Belanda, bila sekiranya adalah orang menyuruh saya ke sana. Hal itu dahulu suatu cita-cita padaku, dan sekarang ia pun masih demikian juga, hendak pergi belajar ke negeri Belanda itu. Tahun yang sudah tatkala kenang-kenangan itu diperkatakan, dan saya akan disuruh belajar di rumah, maka saya melawani maksud itu dengan sekut-kuatnya. Bila saya belajar, saya mau belajar baik-baik, belajar baik-baik itu hanya dapat saya lakukan di negeri Belanda atau di Betawi. Negeri Belanda tak dapat saya capai, kalau saya wajib belajar di sana dengan uang sendiri; akhirnya negeri Betawilah yang tinggal di kepalaku.

Di rumah tentulah tak dapat belajar sebaik-baiknya, artinya sekali-kali tak dapatlah saya mengusahakan diriku benar-benar untuk pelajaranku; hal itu sangat, ya, sangat berguna sekali untuk mereka yang telah berumur seperti saya ini. Kewajiban dalam rumah dan kewajiban menerima jamu, tentulah banyak akan merintangiku dalam pengajaranku. Apabila saya ada di rumah, tetapi tiada bekerja untuk keperluan rumah, itulah pula pekerjaan yang mustahil. Jadi dengan hal yang demikian niscayalah amat susah. Hal itu terjadinja tahun yang lalu, tatkala bapakku sehat dan kuat; sekarang bapakku tidaklah sesehat dan sekut itu lagi, sayang!

Maafkanlah seorang anak gadis, Stella, kalau-kalau ia melepaskan maksudnya, bilamana ia ditolong orang akan menyampaikan hajatnya itu, yang mempang bertali kemudian hari dengan keselamatan orang-orang lain, karena hati si gadis itu tak melepaskan bapaknya yang seumur hidupnya menjadi suatu kecintaan dan keberkatan kepadanya. Ia selau mengucapkan terima kasih kepada si bapak, si jantung hatinya itu, sekarang di dalam uzur dan kerap kali sakitsakit, jadi yang wajib dijaga dan disayangi oleh si anak lipat ganda dari yang sudah-sudah.

Stella, saya ini seorang anak, saya ini seorang anak gadis dan bukanlah saja perempuan, yang semata-mata amat beringin memberikan dan mengusahakan dirinya untuk kerja yang bagus dan mulia, yang berguna dan berkat bagi orang banyak; tetapi saya ini pun seorang anak yang yakin dan sangat sayang kepada bapakku yang sekarang telah tua dan berambut putih, yang telah menjadi tua dan berambut putih karena memelihara anak-anaknya, dan di antara anak-anak itu, sayalah barangkali yang sangat menyayanginya, karena tingkah laku kami banyak yang bersamaan, sebab kami sepikiran dan seperasaan.

Stella, engkau yang telah mengetahui betapa kasih sayangku kepada bapakku dan lagi mengetahui pula, bahwa cinta itu saya pandang sebagai seruan Allah kepada kita, dan engkau tahu juga betapa persangkutanku dengan adik-adikku, yang sangat kuatnya, tentulah engkau akan mengerti pula betapa hebat peperangan dalam hatiku, bila saya mesti memilih salah suatu dari pada dua jalan yang hendak kuterut: pertama tinggal dengan bapakku, bercerai dengan adik-adikku dan mengabaikan sebagian besar dari seruan Allah itu atas diriku, atau saya tinggalkan bapakku dan pergi bersama-sama dengan adikku, serta menyerahkan diriku benar-benar kepada seruan itu!

Bapakku sekarang kurang kuat, ia harus selalu dijaga dan selalu dipelihara; menjaga dan memeliharanya itulah suatu kewajiban bagiku.

Katakanlah itu perkara kecil, tetapi o, Stella, saya sekali-kali tidaklah akan bersenang hati barang sekejap mata jupaun dalam mengerjakan suruh Allah, jauh dari bapakku, sedang saya pun tahu, bahwa bapakku yang kutinggalkan itu dalam sakit-sakit dan selalu wajib ditolong!

Suci, mulia kerja yang ditakdirkan Allah kepada kami itu, sebab menyuruh kami mengusahakan diri untuk hal keadaan yang besar-besar, untuk meninggalkan kedudukan kemanusiaan bangsa perempuan Bumiputera yang senantiasa dalam teraniaya, ya, ringkasnya supaya dunia Bumiputera boleh berarti, dan arti itu akan tinggal selama-lamanya; tetapi saya sekali-kali tak dapatlah menanggungkan kesedihan dalam hatiku, apabila saya bekerja dan berusaha untuk orang lain, dan dalam itu bapakku yang telah tua itu, yang terutama berhak akan diriku, akan kubiarkan saja menanggung kesakitan dan kesusahan.

Satu dari pada cita-citaku yang hendak saya kembangkan ialah: hormati segala yang bernyawa, hormati hak dan perasaannya. Takutlah menyakiti orang lain, biar sedikit Sekalipun, dan takutlah pula menyakiti itu, meski dipaksa atau tidak dipaksa mengerjakannya. Cita-cita itu semata-mata dapatlah melindungi sesama kita manusia, yani dengan sedapat-dapatnya kita melindungi dia dari pada segala sengsara, dan dengan hal yang demikianlah kita boleh menolong memperbagus hidup mereka itu. Itulah suatu kewajiban yang suci dan mulia, yang bernama terima kasih.

Maukah bangsaku mempercayai cita-citaku itu jikalau sekiranya saya sendiri orang yang menasihatkannya, tidak mengerjakan sebagai nasihat itu?

Kewajiban anak kepada bapaknya tak boleh saya mungkirkan, tetapi saya tak boleh pula menyangkal kewajiban yang wajib saya lakukan atas diri sendiri, lebih-lebih lagi jikalau kewajiban itu faedahnya bukanlah untuk saya sendiri, tetapi bertali pula dengan faedah untuk orang-orang lain. Adalah dua buah kewajiban besar yang berlain-lainan lagi wajib saya kerjakan; sekarang upayaku ialah akan menyatakan kedua kewajiban itu dengan seboleh-bolehnya. Upaya itu untuk sementara ialah, yang saya akan tinggal di sisi bapakku, dan sementara itu belajar pun tiadalah pula akan saya abaikan.

Di rumah dengan sedapat-dapatnya saya mau belajar sendiri untuk menjadi guru, yani seberapa yang dapat dibantu oleh kemauan hati dan pikiran tetap. Akan mengambil diploma guru kepala wajib orang menaruh diploma guru bantu serta surat keterangan yang menyatakan, bahwa ia telah dua tahun mengajar di sekolah.

Saya sendiri telah lama memikirkan maksud itu, tetapi ketetapan maksud itu baru saya dapat tatkala nyonya Abendan baru-baru ini telah menimbulkan pula maksud itu kepada kami. Sementara menanti keputusan nasib kami yang bimbang itu, maka kami bertiga pun telah mulailah belajar sendiri. Bagaimana jupunt nasib adik-adikku itu nanti, sekalian yang dipelajarinya adalah gunanya untuk hari kemudian.

Telah dua bulan lamanya kami mendapat seorang guru perempuan di negeri ini, yang telah bersahabat baik dan cinta-mencintai dengan kami. Ia masih muda, seorang anak gadis yang cakap dan baik hati, yang telah meninggalkan ke-um keluarganya, kampung halamannya dan pergi ke mari mencari penghidupannya sendiri. Ia kerap kali datang kepada kami, dan tatkala saya menceritakan maksud kami kepadanya, dengan segera ia sudi menolong kami dengan sedapat-dapatnya dalam segala hal. Lain dari pada diploma guru bantu, ia ada pula mempunyai diploma bahasa Perancis. Dengan segera ia pergi menanyakan kitab-kitab yang dipakai orang di Sekolah Normaal di Surabaya dan di Betawi untuk ujian guru bantu. Sekalian kitab-kitab yang ada padanya boleh kami pakai, dan kitab-kitab yang tak ada padanya, akan kami terima dari nyonya dan tuan A.

Nanti saya mau pula membuat ujian dalam bahasa-bahasa Bumiputera, bahasa Jawa dan bahasa Melayu.

Tetapi sayang sementara itu datanglah penyakit menggoda kami, kalau tidak karena itu tentulah sekarang kami sedang asyik belajar, dan di dalam sakit itu tak dapatlah saya membuka kitab-kitab itu. Annie Glaser, itulah nama guru yang tersebut tadi, tak berapa lama lagi akan pindah dari rumah makan ke rumah lain di sini. Kalau tempatnya nanti telah teratur, maka ia akan membantu kami atau saya sendiri bekerja. Adik-adikku yang malang itu tak dapat dan tak boleh lagi bekerja dengan tangan, apalagi bekerja dengan otak. Mereka itu tak bersenang hati, bila ia tak dapat mengerjakan barang sesuatunya; tetapi apa yang hendak dikata, tangan dan otaknya masih lemah. Apa pikiranmu mendengarkan sekalian maksud-maksud yang terbang tinggi itu?

Janganlah hendaknya engkau berkata: “Ni, Ni, pikiranmu terbang terlampau tinggi”, kalau demikian senanglah hatiku. Tahukah engkau apa yang telah saya perhatikan bagi kebanyakan sahabat-sahabat kami? Mereka itu mempunyai pengharapan terlalu banyak kepada kami. Mereka mengarangkan bermacam-macam kepandaian kami, tetapi mereka membenarkan pula yang kami tak mempunyainya. Kadang-kadang kami harus tertawa, karena keriangan hati mereka itu. Pepatah Belanda yang mengatakan bahwa: cinta itu buta atau membutakan, sebenarnyalah. Sesungguhnyalah amat banyak pada sangka-sangka mereka itu sanggup boleh kami kerjakan! Kami merasa benar-benar kekecilan kami, apabila sahabat kenalan kami itu menganjungkan kami sampai ke langit. Kecil, tetapi, o, betapa terima kasih kami atas kesayangan mereka yang terbit dari hati kecilnya itu. Seorang sahabat kami suka sekali melihat saya bekerja dengan pena untuk meninggikan kedudukan kemanusiaan bangsa kami. Saya harus, katanya, mengeluarkan surat mingguan atau surat bulanan, yang isinya teruntuk bagi hal-ihwal anak negeri saja, dan pada surat kabar itu haruslah saya hendaknya yang menjadi juru-kabarnya; atau kalau tidak hendaklah saya menjadi pembantu surat-surat kabar atau surat-surat mingguan yang ternama di tanah Hindia ini, dan dalam surat-surat kabar itu mestilah saya mengarangkan rupa-rupa-rupa-rupa-rupa-rupa hal, yang wajib membangunkan dan menyadarkan bangsaku yang masih tidur nyenyak itu!!! Tidak benarkah apa yang saya katakan tadi, yang cinta itu membutakan?

Jika saya telah mempunyai diploma guru bantu, tentelah saya wajib keluar rumah akan pergi belajar untuk mengambil diploma guru kepala dan pergi mengajar juga ke sekolah. Akan menyampaikan maksud itu, saya telah mendapat izin dari sekolah-sekolah gereja di Betawi. Di situ nanti saya memberi pengajaran di sekolah rendah, dan pembalas jasaku saya dapat pengajaran ujian guru kepala, dan lagi dapat rumah, makan, pertolongan dokter, serta pakaian pun dicucikan orang pula. Tetapi untuk itu belum ada waktunya. Mula-mula mesti diambil diploma guru bantu, dan kemudian ... datanglah waktu itu, datanglah pula akal!

Suatu kenang-kenangan yang amat merawankan hati akan bercerai dengan adik-adikku. Mereka itu tak bersenang hati karena itu, dan saya pun demikian pula, lebih-lebih jika memikirkan kalau-kalau permintaannya itu diperkenankan. Tentulah ia akan jauh dari pada kami, jauh di negeri orang. Beruntunglah karena ada kakak laki-lakinya di sana, amat kasih kepada adik-adiknya, tak ubahnya seperti saya. Kakak kami itu amat menyukei dan setuju dengan cita-cita kami, karena di dalam cita-cita kami itulah didapatnya kembali cita-citanya sendiri. Kami telah membuat perjanjian yaitu, kalau ia telah tamat belajar, ia akan tinggal di dekat kami, akan bekerja bersama-sama menyampai-kan cita-cita kami itu!

Kami berbesar hati mendengar, yang ia bercita-cita juga seperti adik-adiknya perempuan. Hal itu tambah memberanikan-kan hati dan meninggikan nafsu serta menolak kita kemu-ke, sungguh seperti kekuatan kegirangan dan kesayangan-mu pula kepada kami. Adalah pula seorang anak muda, orang Eropa, yang kenal kepada kami karena bundanya sa-habat kami. Ia bergirang hati dan bersukacita pula dengan maksud-maksud kami itu. Keriangan hati yang tulus dan kesukaan yang sungguh dari sahabat kenalan kami, jauh dan dekat, itulah yang menjadi suatu bantuan yang besar bagi kami. Bantuan kesucian hati itu amat berguna kepada kami! Berilah saya selalu bantuan itu, o, Stella!

18 Oktober 1901 (VIII)

Kadang-kadang kejadianlah dalam hidup kami, seolah-olah sekaliannya berkumpul, akan mematahkan kekuatan hidup kami. Semuanya sama-sama tiba, guruh dan topan turunlah dengan hebat serta kencangnya menimpa kami, seolah-olah ia berkata: “Sujud engkau, hai makhluk yang hina, sujud sampai ke tanah!“ Hanyalah mereka yang keras hati dan tajam pikiran yang sanggup berdiri dalam angin topan yang sedemikian, dan yang dapat melawani kegalakan dan kekerasan kekuatan dunia itu.

Rupanya sekalian mereka yang keras hati dan tajam pikiranlah yang kerap kali didatangi oleh sesuatu hal yang dinamakan orang: “buruk nasib!“ Bah, mengapakah saya berdukacita sekarang? Itu tentulah disebabkan karena saya dalam beberapa hari ini banyak melihat dan memandang kesengsaraan. O, diriku, orang yang hina ini, saya lekas menggigil dan gementar, jika saya seakan-akan merasa pukulan tongkat yang tiba di badanku; bagaimanalah akalku akan menyenangkan dan meriangkan diriku?

Nyonya tak boleh meninggalkan tanah airku sebelum kami sekali lagi berjumpa dengan nyonya dan sebelum ... nyonya tahu, bahwa anak-anak nyonya ketiga ini ... beruntung, sebelum kami sebenar-benarnya mendapat kemenangan dari mereka, yang hendak merendahkan kami ke tanah, dan mau menjadikan kami manusia yang bodoh dan tak berharga. Tetapi kemauan mereka itu tiadalah akan lalu; mereka tentu dapatlah mematahkan hati anak-anak nyonya, tetapi membujuk kami sekali-kali tidak. Dengan pertolongan tuan kedua, kami mesti sampai ke tempat yang kami tujui!

Di sini adalah tiga orang anak gadis, yang hatinya mencintai dan menyayangi tuan, serta setianya tegoh kepada tuan, hati ketiganya sungguh-sungguh mempercayakan dirinya kepadu tuan! Tentulah tuan tiada sekali-kali akan meninggalkan kami, bukan? Meskipun perantaraan yang menceraikan kita itu amat jauh, tetapi perantaraan itu melangkah dapat diseberangi oleh kapal yang tangkas dalam beberapa pekan saja. Waktu ini, karena ia pun akan datang jua, lebih baik tidaklah kami pikirkan.

Kami tak dapat bersenang hati memikirkan, yang tuan akan sekian jauhnya dari kami, jauh yang tak dapat kami capai lagi. Rukmini dan Kardinah telah bermaksud tiada akan memperhubungkan tali silaturahim lagi; mereka tak mau menyayangi orang lain lagi, lain dari pada tuan kedua. Adikadikku yang gila, siapakah orang yang boleh mengatakannya lebih dahulu bagaimana hendaknya kemauan hatinya? Cinta dan sayang datangnya tiada oleh sebab dipanggil; mau tak mau cinta dan sayang itu mengikat hati kita dengan sekuatkuatnya.

20 November 1901 (VIII)

Yang sebenarnya sekali-kali tak boleh kita menjanjikan apa-apa, kecuali dengan dirinya sendiri, karena manusia itu tak dapat mengetahui lebih dahulu, apa yang akan terjadi. Dengan hal yang demikian tak adalah kita akan mengecewakan hati orang lain. Bagaimana Sekalipun tulus dan ikhlas perjanjian itu, dan Bagaimanapun kemauan hati kita hendak menepati janji itu, tetapi alangan yang tiada disangka-sangka, ump. sakit, bolehlah menghambat kita menepatinya. Bagi kami bangsa Jawa ada suatu kepercayaan yaitu sifat yang tiada menepati janjinya, ia nanti akan didatangi oleh ular weling namanya. Ular itulah yang akan mengingatkan kepada mereka yang telah berjanji itu akan janjinya. Bila mereka tak lekas menepati janjinya, maka datanglah pula kepadanya ular welang namanya, yaitu ular yang sangat bisa, yang gigitinya boleh membunuh. Bila hal itu terjadi, janganlah nanti menyesal, jika mereka masih enggan juga akan menepati janjinya, karena tentu adalah sesuatu kecelakaan yang akan menimpa mereka yang mungkir janji itu. Hal itu boleh kejadian bilamana orang berjanji di tempat-tempat keramat atau kepada orang keramat. Misalnya jika orang berjanjikan bunga, dupa, kenduri dll. kepada arwah orang-orang keramat. Ular-ular itu ialah disuruh oleh arwah mereka akan mengingatkan orang, supaya menepati janjinya. Tetapi apalah gunanya saya menceritakan kepercayaan orang Jawa kepada nyonya? Maaflah saya, sekalian itu teringat saja dalam hatiku sedang menulis.

Seharusnya saya kena marah, karena saya telah lama berdiam diri, hal itu terutama ialah karena kelalaianku. Saya tidak bersenang hati atas diriku sendiri! Apa sebabnya saya boleh menjadi semalas itu dan tak ada bernafsu untuk bekerja, saya sendiri pun tak mengerti. Hanyalah yang saya ketahui, bahwa badanku ngeri-ngeri saja rasanya. Sakit benar-benar pun saya tidak, betul-betul sehat pun tidak pula, malas, segan, lelah dan jemu, kosong saja!—dukacita—itu dia!

Saya harus mengusahakan diriku dan bekerja banyak-banyak. Itulah yang sebenarnya; kerja yang berguna ada padaku, demikian pun kerja yang kucintai. Sekarang kebodohanku ialah: karena saya tak boleh mendapat barang yang kukehendaki, maka merajuklah saya berpaling diri, dan du-duck termenung-menung memikirkan sekalian hal itu. Semuanya itu melangkah kelemahanku, kelemahan yang besar sekali. O, alang-alangan merusakkan diriku, yang setiap hari datang berulang-ulang, sangat melelahkan sendi anggota! Lebih baik saya dipukul dengan tongkat dari pada menangungkan tusuk-tusukan jarum, yang tidak berhentihentinya itu. Dalam beberapa hari ini banyak benar penangungan dan perasaanku. Urat-urat saraf saya menjadi tak berketentuan jalannya, dokter pun mengatakan: “bekerja”. Sifatku yang manja pun meninggalkan saya, sekarang apa-apa yang telah timbul di kepalaku, tak mudah saya hilangkan, mestilah saya pikirkan selalu.

Kami tahu bahasa kabar yang diberitakan oleh suratku ini akan mendukacitakan hati tuan kedua. Tuan kedua tentu akan bersuka hati mendengar, yang kami sekarang telah menjadi sabar, Meskipun kedudukan hal ihwal kami belum berubah. Sekarang di kalbu kami tak gelap lagi, damai dan sentosa telah merayap di situ. Dalam gelap gulita itu kami melihat suatu badan yang amat bagus dan bercahaya-cahaya, sambil melambai-lambai kami dengan tangan yang ramah: hai cita-cita kami!

Sekarang tahulah kami benar-benar, bahwa hal itu tak dapat kami jauhi lagi, ia telah menjadi satu dengan kami. Bercerai dengan dia menenggelamkan kami. Bukanlah hari ini, bukanlah pula kemarin saja kami telah memikirkan, merasai, menanggungkan dan hidup bersama-sama dengan hal keadaan kami itu.

Supaya kami boleh mengubah pikiran dan perasaan kami, hendaklah orang memberi kami hati yang baru, otak dan darah yang baru untu tubuh kami. Siapa yang telah mengenal nyawanya yani suatu benda yang hidup dalam tubuh manusia serta telah mendengar dan mengerti akan seruan nyawa itu meminta “cahaya” kemajuan, tak dapatlah lagi melupakannya.

Apa yang telah nyonya tuliskan kepadaku, semuanya telah saya pikirkan, rasai dan cobai. Telah lama, lama dulu sebelum perjumpaan kita, telah beberapa kali saya katakan kepada adik-adikku, meminta dan memohon kepada mereka, melepaskan diriku, dan sedikit pun jangan hatinya bergantung kepadaku.

Apakah saya, siapakah saya, saya anak gila yang tinggi hati, apakah sebabnya maka saya sabarkan memandang dan membiarkan adik-adikku pergi bersama-sama dengan saya? Saya yang menjalani jalan-jalan yang ajaib dan belum dikenal, yang mulanya harus membawa saya ke surga, tetapi yang sebenarnya sekarang membawa saya ke neraka. Pergi ke neraka memang lebih lekas dari pada ke surga, karena neraka itu lebih dekat dan mudah dicapai, tetapi surga amat jauh dan sukar didekati.

“Betul,” kata adik-adikku: “Meski tuan sendiri, Meskipun orang lain, tak sangguplah memasukkan bermacam-macam perasaan dengan sempurna dan sampai tinggal di otak dan di kepala kami, jikalau sekiranya kami sendiri tidak telah ditak-dirkan Allah akan mendapatnya. Biarlah kita sama-sama pergi ke surga Ataupun ke neraka!”

Wahai, kekasihku yang setia, yang sebenarnya tidaklah engkau yang belajar kepadaku hanya saya sejak dahulu sampai sekarang masih menjadi muridmu. O, alangkah banyaknya yang telah engkau ajarkan kepadaku!

Di manakah boleh jadi sekalian itu kalau sekiranya kami tiada sepikiran dan seperasaan? Sekaliannya, lahir dan batin bekerja bersama-sama menyatukan kami. Selama hidup kami selalu kami bersama-sama. Sebagian besar dari pada bilangan usia kami itu harus dibuangkan, karena waktu itu hidup percampuran kami, hanya rupanya saja yang baik; tetapi enam tahun yang kesudahannya amat besar harganya dan baik diperhatikan benar. Hati mereka yang telah sayang-menyayangi amat sangat, Biarpun dalam sekejap mata, tak dapat ia dilupakan; apalagi waktu yang lamanya enam tahun, selalu hidup dengan setia dan sepakat dan berkasih-kasihan. Keenam tahun itu sepuluh kali lebih harganya dari pada harga yang sebenarnya.

Setiap hari kami sama-sama melihat, dan sama-sama mendengar barang sesuatunya, dan sama-sama pula memperkatakan nyya. Dalam segala hal kami sepikiran, sekesukaan dan seperasaan. Kami membaca surat-surat kabar, surat-surat bulanan dan kitab-kitab yang sama dan serupa. Kami perkatakan, paparkan dan bertukar pikiran tentang segala hal yang telah kami baca. Orang-orang tua kami bergirang hati melihat kami sepakat, serta memberanikan hati kami benar-benar, supaya tiap-tiap buah pikiran itu, bukannya diperkatakan saja, tetapi lebih-lebih harus diperbuat dan dilakukan juga. Kesukaan hatinya atas sepakat kami itu amat besar, sehingga orang-orang tua itu kadang-kadang telah berlaku yang kurang adil kepada orang-orang lain, karena hendak melebihkan kami bertiga dari pada mereka itu

Betul-betul suatu adat yang amat siallah, perkawinan pada bangsa kami terjadinya tidak dengan setahu si anak gadis. Kalau seorang perempuan akan kawin, yang berguna ialah izin dari bapak, paman atau saudara yang laki-laki perempuan itu. Apabila tunangannya akan menjabat kabul, sekali-kali tak guna dihadirinya. Hanyalah diminta ia datang menghadiri itu, kalau ia tiada berbapak, berpaman atau bersaudara laki-laki.

Mereka yang melindungi kami bolehlah mengawinkan kami dengan siapa yang disukainya, dan hanyalah dalam suatu hal saja orang tua kami tak boleh memaksa kami kawin,yaitu apabila si laki-laki itu bangsanya kurang dari pada kami. Ibu bapak tak boleh memaksa anak-anaknya perempuan kawin dengan laki-laki yang kurang bangsanya dari pada bangsanya. Itulah suatu senjata kami yang boleh melawani kehendak mereka yang melindungi kami itu.

Untuk sesuatu perkawinan, yang perlu hanyalah si laki-laki yang menjadi tunangan dengan bapak atau paman atau saudara laki-laki si gadis pergi kepada penghulu atau orang lain, di situ dikawinkanlah si laki-laki itu, Biarpun hal itu sekali-kali tiada disukai oleh si gadis itu. Ia mesti kawin, bila orang tuanya telah menyukekakan.

Mamak adalah mengenal seorang perempuan yang tak mau dikawinkan. Lebih baik ia mati, dari pada dikawinkan dengan laki-laki yang telah diuntukkan orang tuanya baginya. Allah, Tuhan yang pengasih, tiga bulan lagi ia akan dikawinkan, maka nyawa pun melayanglah, karena penyakit kolera. Bila ia masih hidup tentulah orang tiada akan mengindahkan bantahan si gadis itu; Sungguhpun ia tak suka, tentulah ia mesti dikawinkan juga. Hal itu bukannya keadaan baharu; dari dahulu adalah juga anak-anak gadis yang melawani perkawinan mereka itu.

Senantiasa orang mengatakan ke telinga kami, bahwa kami harus menurut saja segala yang dikatakan orang tua kami kepada kami. Dan demikianlah pula kata orang kepada seorang perempuan muda, mestilah menyerahkan diri kepada laki-laki yang jadi suaminya dan menurut segala perintahnya, sebab itu si perempuan merasa dirinya celaka dengan laki-laki itu: “Kosong, banyak tingkah, mengapakah maka perempuan itu mau kawin? Bila orang telah kawin, tandanya ia telah mendapat kesukaannya.“ Jika si perempuan menurutkan suaminya, memanglah sebab kesukaannya; tentang apa-apa yang disukai, tak boleh mengumpat.

Tatkala saya menerima surat dan dua buah karangan tuan, kami telah siap akan pergi menghadiri suatu alat kawin. Bukanlah adatnya, anak-anak gadis pergi kealat yang seperti itu, dan duduk bersama-sama dalam perkumpulan yang demikian, tetapi Meskipun demikian mama telah mengizinkan kami pergi ke situ. Seorang perempuan sahabat lama kami bunda anak dara, meminta kami dengan seboleh-bolehnya menghadiri peralatan besar itu, karena kedatangan kami di situ, katanya menjadi suatu “kehormatan“ bagi mereka itu; kalau tidak demikian, kami dengan segala sukacita akan tinggal di rumah. Waktu kami hendak berangkat telah kami lihat perarakan mempelai pergi ke mesjid. Hujan waktu itu sangat lebatnya; kereta tempat mempelai duduk bertutup, demikian pula kereta lain yang mengiringkannya. Payung-payung keemasan yang beragi-ragi telah melewati alun-alun. Perarakan itu rupanya amat muram, kami pun menaruh kasihan melihat hal itu. Karena perarakan pengantin itu rupanya seakan-akan perarakan orang mati.

MASJID DI JEPARA

Waktu kami sampai ke rumah anak dara itu, kami dapati si anak dara itu sedang duduk dengan sikapnya di atas suatu kedudukan yang bernama dalam bahasa Jawa “kwade”, menantikan mempelai yang masih ada di masjid. Bapaku pergi pula bersama-sama dengan kami dan rupanya amat pucat! Kasihan, bapaku yang malang itu!

Kami duduk di atas tikar dekat pintu, ma di antara adikku kedua. Bau dupa dan bunga-bungaan memenuhi bilik anak dara tempat kami duduk itu. Bunyi gamelan dan suara yang lemah lemut datang dari luar masuk ke telinga kami. Dalam hal itu saya pandangkanlah mataku kepada anak-dara, kemudian kepada anak gadis yang duduk dekat saya, dan setelah itu kepada bapak yang sedang duduk di luar. Gamelan berbunyilah berlagu selamat datang, dan mempelai pun datanglah.

Dua orang perempuan memegang tangan anak-dara dan membawa serta membimbing dia pergi menyongsong mempelai itu, yang dibimbing pula oleh dua orang datang mendekati anak-dara. Beberapa langkah antaranya, maka anak-dara dan mempelai masing-masing melemparkan sirih bergelung, beberapa langkah lagi mereka itu pun berdekatanlah, dan keduanya duduklah berlutut berhadap-hadapan di atas tikar. Dengan lutut anak-dara itu pergilah mengingsut-ingsutkan dirinya mendekati mempelai itu dan menun-jukkan kerendahannya kepada mempelai itu di muka orang banyak. Setelah mempelai itu dekat benar, maka anak-dara itu menyembah dan kemudian mencum kaki mempelai itu dengan sabarnya. Sekali lagi menyembahkan sembah yang menyayukan hati itu, lalu berdiri keduanya berpegang-pegangan tangan pergi ke kursi kayangan yang jahat itu, serta duduklah di sana.

“Yu, yu.” bisik Kardinah ketelingaku dengan matanya yang bercahaya-cahaya dan gerakan yang jenaka dimulutnya: “Wah, alangkah sukaku kalau dapat melihat pengantin yang bertemu itu masing-masing tersenyum-senyum dan melem-parkan sirih dengan mata yang gembira. Tentuelah pengantin yang sedemikian itu, ialah mereka yang masuk kaum muda, yang telah berkenalan dengan isterinya itu lebih dahulu. Alangkah bagusnya jika begitu, bukan, yu? Bolehkah nanti terjadi sedemikian itu? Saya suka benar melihat keadaan yang serupa itu.”

“Waktu yang sedemikian, tentulah akan datang juga,” jawabku dengan lekas dan tersenyum-senyum, tetapi dalam hatiku. o, hatiku ketika itu seakan-akan ditikam dengan keris.

Dan di sisiku yang sebelah lagi duduklah adikku Rukmini dengan mukanya berseri-seri dan matanya bercahayacahaya!

Sesudah saya memandang seorang muda yang bersikap halus, yang duduk di sebelahku itu, maka pemandanganku-pun jatuhlah kepada seorang yang kukuh badannya lagi besar, yang sedang duduk dilingkungi oleh kepala-kepala negeri. Kebeualan waktu itu orang itu menengok ke pihak kami. Saya lihat muka orang besar itu pucat dan muram. Penglihatan itu menyedihkan hatiku pula. O, apakah sebabnya maka demikian? Sebabnya? beginilah seruan dalam hatiku, dengan putaso esa dan kecewa.

Esok harinya saya ambillah sebuah kitab, sembarang saja hendak saya baca untuk merintang-rintang hatiku. Saya bukalah kitab itu, dan apalah kiranya yang terbaca olehku? Ialah “Gebed van onwetende” (Dua orang yang tak berilmu), karangan Multatuli. Pada beberapa hari yang lalu terambil pula olehku, sebuah kitab karangan Multatuli juga, dan saya buka pula kitab itu, maka terlihatlah olehku bermula se-kali “Thugater.” Sampai sekarang masih mendencing dite-lingaku segala kata-katanya: “Bapak, katakan kepada si gadi, bahwa mengetahui, mengerti dan berkehendak semata-mata dosalah kepada anak perempuan.”

Penulis yang ternama itu tentulah tiada menyangka-nyangka, tatkala ia menuliskan kata-kata itu, bahwa kata-kata itu akan dirasai sungguh-sungguh akan kebenarannya oleh anak-anak perempuan bangsa Bumiputera, bangsa yang disayanginya dan dikasihinya itu, dan lagi karena bangsa itulah maka pengarang itu berperang, ya, berperang dengan hebatnya.

Kami pun tahu juga seperti Barthold Meryan, apakah yang akan menantikan kami, apabila kami selalu tinggal su-jud, di muka mimbar cita-cita kami yang suci dan mulia, yani mimbar yang hanyalah bersendikan onggok-onggok batu, yang asalnya rumah dari rumah tua yang terbuat dari pada segala benda yang sesuci-sucinya dan sebagus-ba-gusnya di atas dunia ini.

Adalah seorang perempuan bangsa orang kebanyakan menjadi istri yang kedua dari seorang pegawai. Isterinya yang pertama kegila-gilaan lari meninggalkan suaminya dan beberapa orang anaknya pada suaminya itu. Isterinya yang kedua itulah yang menjadi istri yang sebenarnya bagi pegawai itu, ia telah menjadi bunda yang pengasih, lagi hati-hati menjaga anak-anak tirinya itu; ia sangat rajin dan bekerja keras untuk menambah gaji suaminya, supaya dapat memberi anak-anak tadi pendidikan yang baik. Anak-anaknya yang laki-laki semuanya menjadi orang baik-baik, ialah karena usaha ibu tiri itu. Sekarang datanglah rahmat terima kasih dari suaminya kepadanya. Pada suatu hari pergilah suaminya ke kota dan waktu larut malam barulah ia pulang. Pegawai itu lalu memanggil isterinya keluar, karena adalah seorang jame datang bersama-sama, yang harus dijagainya, dan harus diberinya sebuah bilik untuk jamee itu dll. Tatkala isterinya itu tiba di luar, maka tampak olehnya bahwa jamee itu ialah seorang perempuan muda. Dan tatkala itu ... tatkala itu suaminya menceritakan kepadanya, yang jamee itu ... ialah istri mudanya dan dia isterinya yang tua, haruslah hingga ini ke atas hidup bersama-sama dengan perempuan itu.

Heran serta tercanggang, berdirilah ia memandang suaminya, karena tak mengerti akan perbuatan si laki itu; tetapi sesudah kebenaran yang sangat pilu masuk ke dalam hatinya, maka ia pun jatuh pingsanlah dan tiada berkata-kata. Setelah ia sadar akan dirinya, sebentar itu juga ia meminta cerainya. Mula-mula suaminya itu tak mau mendengarkan hal itu sedikit jupuh, tetapi isterinya itu menyesakkan dan memaksanya, sehingga suaminya akhirnya tewas, lalu memberi isterinya surat yang diminta itu. Malam itu juga ia keluar dari rumah itu berjalan kaki, melalui hutan rimba, scam belukar pergi ke rumah orang tuanya di kota. Cara bagaimana ia sampai ke sana tiadalah diketahuinya. Ketika ia telah pandai berpikir lagi, maka ia pun tahulah bahwa ia sekarang di rumah kaum keluarganya, dan mereka itu mengatakan kepadanya, bahwa ia telah lama sakit terbaring.

Kemudian ketika ia telah sembuh benar, maka dibacanyalah surat yang diterimanya dari suaminya pada tengah malam perbantahan dahulu; rupanya ia belum bercerai dengan suaminya. Karena isi surat itu hanyalah menerangkan yang ia lari dari suaminya itu.

Suaminya itu sekali-kali tiadalah bermaksud hendak mengembalikan kebebasan isterinya itu. Kemudian ia berbaik kembali dengan suaminya itu. Perempuan yang lain itu keluarlah dari rumahnya, dan pergi diam ke rumah yang lain. Isterinya yang tua dalam hal itu mendapat kekuasaannya yang lama kembali. Pada tengah malam perbantahan itu ia bersumpah dengan nama Allah, sambil menelan pasir, yang ia sekali-kali tidak akan menolong mereka yang hendak merusakkan hak orang lain. Waktu kecinya ia telah bersumpah demikian itu. Orang tuanya telah mengawinkannya ketika ia berumur empat belas tahun. Ia dahulu tak tahu apa yang akan dibuatnya, ia hanya menurut kata orang tuanya, dan ... sebab itulah ia sekarang mendapat hukum-annya. Sekarang ia tahu betapa kesakitan api neraka, bila seorang perempuan diusir oleh seorang perempuan yang lain, istri suaminya yang baru. Ia selalu setia akan sumpahnya itu. Belum berapa lama ini suaminya mengawinkan adiknya perempuan dengan seorang laki-laki yang telah beristri. Ia sekali-kali tak suka menunjukkan tangannya menolong perkawinan itu dan ditahannyalah kemarahan suaminya. Peralatan itu tiadalah di rumahnya dikerjakan orang. Kami tahu benar kepada perempuan itu dan sangat menghormatinya. Hidupnya seperti sekarang, sekalian-nya ialah karena usahanya sendiri. Ia telah bekerja sendiri meninggikan kedudukan kemanusiaannya. Dari kecinya tak ada yang dipelajarinya, hanyalah ia belajar membaca saja dan ia pun telah membaca bermacam-macam kitab dengan berhasil. Kerap kali kami heran mendengarkan bicaranya yang menyaksikan kepada kami, bahwa ia menaruh pikiran yang dalam dan berotak yang tajam. Ia betul-betul seorang perempuan yang ajaib (tentulah ada lagi perempuan-perempuan yang lain, yang seperti itu) yang tidak sedikit juga belajar dan tak jauh pemandangannya, tetapi pandai berpikir dan merasa seperti kami. Sahabat kami itu telah banyak penanggungannya yang amat dahsyat. Sebagai penanggungan-nya itu bukanlah ia seorang sahaja yang menanggungkan itu, tetapi banyak lagi perempuan-perempuan yang lain, yang telah menanggung seperti dia itu. Di manakah saya dapat berhenti menulis, jikalau saya selalu menceritakan kepada tuan sekalian penanggungan dalam dunia perempuan Bumiputera? Siapa yang tak buta matanya tak pekak telinganya, tahulah ia betapa penanggungan itu di dalam alam kami. Helakan hati kami dari dalam tubuh, dan otak dari kepala kami, jikalau sekiranya sungguh-sungguh orang hendak mengubahi nasib kami.

Beberapa antaranya sebelum nyonya mengirimkan kepadaku buh pikiran Sangwill yang keluar dari kitabnya: “Droomen van het Ghetto” (Mimpi-mimpi dari tanah Ghetto), maka Rukmini pun telah mengeluarkan juga pikiran. yang hampir serupa dengan itu, Sungguhpun kata-katanya itu tidak sebagus itu benar. Pada suatu hari kami sedang memakan kue bolu dan kue yang lain-lain, adikku itu datang dan mau pula sedikit. Ketika itu tak ada tersedia piring yang bersih, dan Kardinah pun berkata: “Makanlah dalam piring yu, yu, dan bolehlah engkau nanti pandai seperti dia pula.” Rukmini menjawab dengan tangkasnya: “Tidak, saya tak suka, biarlah saya tinggal bodoh. Pandai itu bukanlah centung bahagia bagi tiap-tiap orang. Pandai ialah celaka bagi seorang yang tajam pikiran, tetapi ia tak sanggup melakukannya. Dan lebih celaka lagi, apabila kita dapat merasa bahwa kita cakap dan mau; tetapi tak boleh mengerjakannya. Biarlah saya tinggal bodoh.” Dalam kata-kata itu tersembunyilah seruan yang memutuskan pengharapan.

Pada suatu hari saya bersandar di dinding dengan tiada bergerak-gerak, karena kesedihan hati: waktu itu mata saya membelalak, tetapi tak dapat melihat, memandang terus ke udara, dan pada telingaku terdengar suara yang menyedihkan hati, suara yang membawa hatiku ke tempat kebenaran. Bapak pun melindungi saya dengan tangannya memangku saya, dan ia pun menghiburkan hatiku, tetapi mukanya dipalingkannya melihatku. Hal itulah suatu seruan yang sedih dari hati yang luka, yang berkata dengan gementar: “Ah, bukan, bukannya begitu, Ni, bapak bermaksud akan mempercakapkan hal ini dengan orang lain, sabarlah dahulu!“

“Setan iblis,“ teriak dalam hatiku, “mengapakah engkau suruh bapakku menanggung seperti itu, jahanam?”

Dengan tangannya memeluk saya, pergilah saya dengan bapak keserambi belakang mendapatkan orang lain-lain yang ada di sana.

Suatu perasaan yang amat pilu terasalah di seluruh tubuhku!

O, bapakku, mengapa tuan tak mendengarkan suara hati tuan sendiri dan tak mau mengikutnya? Mengapa tuan mau mendengarkan suara orang lain? Mengapa orang lain, orang yang tak sedikit juga berhati baik kepada kami, yang tiada mengindahkan kami dipanggil memperkatakan perkara ini, perkara yang wajib diputus dan diselesaikan oleh tuan sendiri, sedang orang yang bersangkutan dalam perkara ini hanyalah ia meminta suara tuan saja!

O, cukuplah suatu perbuatan, cukuplah suatu perbuatan yang berani saja, dan tanah yang ternganga yang hendak menelan kami itu, tentulah tadi boleh tertimbun!

Bapak mengatakan cita-cita kami bagus dan mengiakan, yang kami senantiasa beringin akan ilmu dan keadilan. Hal itu bukanlah main-main, tahun yang lalu bapak telah mengizinkan kami, boleh bekerja mencari penghidupan untuk tegak sendiri. Sekalian itu mengasut pikiran kami menjadi huru hara, bila kami pikiri mengapakah maka kami selalu dianiaya dan mengapakah maka kami harus surut kembali? Mengapakah maka kami direndahkan serta dihinakan sedemikian? Lain tidak karena bicara mereka, yang cemburulah maka kami dibuat demikian.

Oleh karena itulah maka kami harus meninggalkan cita-cita kami, supaya dapatlah kami menyenangkan hati orang banyak yang cemburu itu. Jika hal itu perlu, ya, sung-guh amat perlu, yang kami mesti meninggalkan cita-cita kami itu, ya, tentulah wajib kami buangkan; tetapi hal itu se-benarnya bukan begitu, sekaliannya berputar pada suatu sumbu, dan sumbu itu ialah pikiran orang banyak. Oleh sebab itulah maka hal itu semuanya menjadi rusak! Seka-lian hal itu harus kami kurbankan.

Orang banyak itu tentulah akan berkata ini dan itu, kalau kami membuat sesuatu yang kami sukai. Siapakah orang banyak itu? Bah, oleh karena orang banyak itu, harus-lah rupanya kesukaan kami dihambat dan dimatikan, dan kami wajiblah kembali ke dunia yang gelap gulita?

Bila kami memikirkan sekalian hal itu, maka darah kami pun mendidihlah.

Kesayangan mereka yang memakai pikiran alam yang luas, memanglah banyak harganya, ya, hal itu benar sekali. Kami tahu benar betapa besar hati mereka itu, bila kami dipuji dan dikasihi oleh mereka yang terpelajar dan pandai-pandai, tetapi gelak senyum mereka yang bodoh, manusia yang banyak di atas dunia ini, rupanya amat banyak dihargai orang, lebih dari pada pikiran yang tersisip di hati. Dapatkah kiranya kami menyabarkan hati kami dalam hal itu?

Telah banyak diperkatakan dan dikarangkan orang tentang kemajuan kaum keluarga kami, yani kemajuan ke-turunan Conderonegoro. Nenekanda telah lama meninggal dunia, tetapi namanya masih hidup, betapa hormat dan ke-sih orang yang tahu akan dia menyebut nama marhum itu, atau yang mendengar ceritanya. Nenekandalah yang pertama-tama sekali memberi anak-anaknya laki-laki dan perempuan pendidikan bangsa Eropa. Nenekanda ialah seorang yang me-nebas jalan, ia seorang yang tinggi pikiran.

Sebab itulah maka tak adalah hak bagi kami akan menjadi bodoh.

Bapakku seorang yang dimalui dan dihormati bangsa Eropa dan oleh bangsanya sendiri, apakah sebabnya? Seorang regen pun tak adalah yang diambil oleh bapak menjadi menantu, tetapi bapak menjadikan anak-anaknya laki-laki dan perempuan orang yang berpikiran. Itulah kebaikan, yani kebaikan yang menyebabkan bapak dipandang dan dihormati oleh orang banyak. Kehormatan dan kesayangan mereka yang berpikiran tiadalah akan berkurang-kurangan, tetapi selalu akan bertambah, apabila bapakku menghiasi pekerjaannya dengan memberi kami izin menyampaikan cita-cita hati kami yang dibangunkan oleh bapakku sendiri. Tetapi sayang tertawa orang banyak, yang tak mengerti itu, itulah yang lebih berharga, o, Allah!

Pendidikan kami samalah dengan suatu komedi, karena maksudnya hanyalah keindahan saja. Kami wajib senantiasa tinggal bercahaya-cahaya, Biarpun karena mengenakan intan permata, Ataupun mengenakan intan lancung rupa-rupanya. Hal yang seperti itu tak boleh menjadikan kami berkecil hati; demikian juga dalam dunia yang telah kami kenal, yang memandang tinggi sekalian yang pura-pura. Malang, malang, karena kami anak-anak yang menyayangi kebenaran, lebih kami sayangi dari pada raja yang berkuasa, yang bernama: “Pura-pura itu.” Kami pun terpaksa akan bermain komedi pula, komedi yang mewajibkan kami mempermainkannya, ialah untuk meninggikan hati kami karena kami tak mau memperlihatkan luka dan kesedihan hati kami kepada orang banyak.

31 Desember 1901 (VIII)

Kami tak suka lama berlayar dengan kapal yang telah rusak binasa itu. Patut benar dikerjakan sungguh-sungguh akan pengubah perkara yang buruk itu. Alangkah besar hati kami, kalau orang pandai-pandai memikirkan hal itu. Kerap kali saya berbicara dengan istri-istri kepala negeri dan perempuan-perempuan di kampung tentang hal kemerdekaan, membanting tulang sendiri serta dengan jerih, peluh, menlyahari penghidupan bagi anak gadis Bumiputera, dan pu-tuslah pikirannya begini: “Haruslah ada seorang, yang akan memberi contoh.” Kami percaya sungguh, sekiranya ada seorang yang berani memulai pekerjaan itu, banyaklah orang yang akan menurutinya. Sebenarnyalah pekerjaan itu bukan pekerjaan yang sia-sia. Pokoknya asal: seorang maju kemu-ke, dan yang menurutinya orang-orang baik dan sejati. Sekarang yang seorang menanti yang lain: tak seorang juga yang berani mula-mula, yang pertama membuatnya: orang-orang tua nanti-menantikan. Siapa yang berani sungguh-sungguh akan mengasuh anaknya perempuan, supaya menjadi perempuan yang merdeka, tahu berdiri sendirinya? Kami kenal seorang gadis anak regen, yang seumur dengan kami, yang juga berhati gembira untuk kemerdekaan. Ia suka benar hendak menambah pengajarannya, lagi pandai berbahasa Belanda dan telah banyak kitab-kitab yang dibacanya. Ia seorang gadis, anak regen Kutoarjo: ada dua orang anaknya perempuan, yang amat baik budi bahasanya. Kami amat sayang kepadanya. Saya tahu dari seorang sahabatku, seorang guru perempuan, bahwa anak gadis regen itu yang tua, suka benar hendak belajar lebih lanjut. Dari guru perempuan itu sendiri saya dengar, bahasa anak gadis itu suka benar hendak melihat tanah Eropa. Anak gadis yang kedua, seorang anak, yang bagus dan cantik. Beberapa tahu yang lalu, ia menumpang di rumah kami. Ketika ia kembali ke rumahnya, segeralah ia belajar menggambar dan sekarang amat pandai ia. Ayahnya berkata, bahwa pertolongan besar bagi laki-laki, sekiranya perempuan terpelajar. Dihargainya benar perempuan yang beradat baik dan terpelajar. Kami pun telah bercakap-cakap dengan anaknya yang telah kawin. Sunggu pun ia tiada pandai berbahasa Belanda, tetapi pandai berbin-cang dalam segala hal, dan ia juga suka akan kemerdekaan sebagai perempuan Eropa. Itulah niat dan kenang-kenangannya, supaya Bumiputera Hindia merdeka sebagai bangsa Eropa.

Ada pula anak regen ke mari dahulu, anak gadis dari tanah Sunda, yang tak tahu berbahasa Jawa, tetapi bercakap-cakap dengan kami dalam bahasa Belanda.

Pertanyaannya yang pertama kepadaku: “Berapa orang ibumu?“ saya pun melihatnya dengan sedih hati. (Ia dipelihara kan di rumah orang Belanda). Sudah itu ia menyambung perkataannya (janganlah pembaca terkejut): “Ibuku 53 orang banyaknya dan anak bapak kami 83 orang. (Bacalah se kali lagi delapan puluh tiga). Saya tak kenal akan saudara-saudaraku yang laki-laki dan perempuan semuanya. Saya anak yang bungsu, ayahku tiada pula kukenal, karena ia telah meninggal dunia sebelum saya lahir. Tidaklah hal itu menyedihkan hati yang amat sangat?”

Pada beberapa tempat di residensi Priangan, anak-anak gadis bangsawan dapat memilih, dan kebanyakan mereka itu kenal akan jodohnya. Anak-anak muda di sana kenal seorang dengan yang lain, dan bertunangan sebagai adat Eropa. Itu lah tanah yang berbahagia, tetapi, tetapi ...! Di sana adalah seorang anak gadis, cucu tunggal dari seorang regen (orang tuanya telah mati). Ia telah menerima pemeliharaan dan pendidikan yang baik. Menurut pengajaran yang diteri manya, tentu ia anak yang berkepandaian yang tiada terpermanai: ia berpidato, dll. Ia bertunangan sebagai adatadat Belanda dan kawin dengan seorang—yang beristri banyak dan telah mempunyai anak satu pasukan. Di antara anaknya itu ada yang telah balig. Saya telah berkenalan dengan menantunya, seorang perempuan yang pandai berbahasa Belanda, ibu oleh seorang anak yang berumur dua tahun; ketika itu perempuan itu berumur 17 tahun—setahun dua lebih muda dari pada istri mertuanya yang laki-laki. Ia sendiri telah memilih suaminya itu, katanya kepadaku bahwa hidupnya amat beruntung.

Buah pikiran dalam segala hal yang telah kupikirkan dan kurasai tentang perkara yang buruk-buruk, yang harus dihapuskan dari alam perempuan Islam, telah lama hendak kusiarkan. Pikiranku hendak mengeluarkan sebuah kitab, yang menceritakan dua orang anak regen, seorang perempuan Sunda dan seorang Jawa, berkirim-kiriman surat. Telah beberapa pucuk surat sudah kutulis akan jadi pendahuluan kitab itu, dan lagi banyaklah pula kubuat peringatannya. Kenang-kenangan itu tiadalah akan saya buangkan, Meskipun pekerjaan itu baru beberapa tahun lagi dapat kusudahkan. Maksud itu tiada akan saya hilangkan, apalagi karena saya tahu, bahasa tuan bermaksud begitu pula. Kesusahan yang besar ialah karena bapak tidak mengizinkan saya menyiarkan karang-karangan itu. “Saya pandai berbahasa Belanda itu bagus,” kata bapak; “tetapi kepandaian itu tak boleh saya pergunakan akan menyatakan pikiranku.”

Kami anak perempuan tak boleh mengeluarkan pikiran, kami harus mengatakan, ya dan amin saja, kami harus membenarkan apa yang dikatakan orang baik bagi kami. Beberapa tahun yang telah sudah, adalah seorang penulis bangsa Belanda, yang kukasihi, juru kabar dari sebuah surat kabar untuk perempuan, tempat saya berkirim-kiriman surat, meminta kepadaku akan menyiarkan surat-suratku dalam surat kabarnya. Dalam surat itu saya ceritakan seperti hal yang tersebut di atas. Boleh jadi, kalau hal yang begitu disiarkannya, akan mengajak ahli pikiran mengeluarkan pikirannya, dan dengan hal itu boleh pula akan memperbaiki pikiran itu. Juru kabar itu akan merahasiakan benar-benar: nama saya, tempat tinggal, dll. Sekalian hal tentang dirikuponen akan disembunyikannya, dan hanyalah pasal adat isti-adat yang akan diwartakannya. Surat karangan itu diki-rimnya ke Jawa, supaya bapak dapat memikirkannya. Bapak tidak sudi memperkenankan—nantilah ...? Saya tahu apa artinya kata nanti itu, nantikan kalau saya tiada berbahaya lagi, kalau namaku Raden Ajeng berganti dengan Raden Ayu. Encik siti si pengarang itu meminta beberapa kali lagi, tetapi (selalu) tak boleh.

Baru-baru ini ia merundingkan pula perkara itu sekali lagi. Nyonya Ter Horst, pengarang dan yang mengeluarkan surat kabar untuk perempuan Hindia “de Echo”, menyediakan tempat di surat kabarnya untukku. Nyonya itu tahu benar dan melihat dengan mata sendiri bagaimana kehidupan perempuan Bumiputera, dan ia merasa kasihan akan gadis-gadis bangsawan di Jogja dan di Solo. Surat kabar itu disiarkan ke mana-mana, menjadi anugerah kepada yang suka. Ajarnya saya mengarang percakapan antara dua orang perempuan anak-anak regen. Apa yang patut dirahsia-kan, akan ditanggungnya. Juga cerita yang boleh memperbaiki kehidupan bangsa baik juga dikarangkan. Saya bacakan surat itu kepada bapak, lalu dapatlah izin: tetapi sebelum saya sempat mengarang apa-apa, izin itu ditarik kembali. Belum boleh saya mengeluarkan buah pikiranku ... sekali lagi bapak berkata ... nantilah.

Tuan Bus di Probolinggo berkirim surat kepada bapak, dan meminta pertolonganku untuk surat kabarnya yang bernama: “de Nederlandse Taal” yaitu surat kabar untuk Bumiputera. Permintaan itu adalah dikabulkan. Tuan Bus meminta karanganku tentang: “Pengajaran untuk anak perempuan Bumiputera”, “Apa-apa tentang kepandaian Bumiputera” dan “Suatu peraturan anak negeri yang berfaedah.”

Ketika itu kami pergi ke Betawi. Lagi pula banyak perkara yang mengganggu saya mengarang, hari ini saya mau menulis karangan itu, tetapi besok tiada lagi, sehingga akhirnya putuslah harapanku, dan kertas-kertas itu pun kucabiklah. Alangkah bodohnya pekerjaanku itu. Sekali-sekali saya keras kepala dan marah sebagai ini, karena itu putuslah harapanku. Saya hanya boleh menulis karangan yang tiada berarti saja, perkara yang sukar-sukar tak boleh saya ganggu.

Ketika itu saya berpikir: jikalau saya mengarang perkara yang penting-penting, tentulah sekalian Bumiputera akan jadi musuhku, dan sekiranya saya jadi guru, siapakah yang akan menyerahkan anaknya kepadaku? Tentulah saya dikatakan orang gila. Sungguhpun demikian ingin benar hatiku akan memperkatakan segala hal itu di dalam surat-surat kabar. Cobalah pikirkan, sekolah yang tak ada bermu-rid— guru-guru yang tiada bermurid— tetapi harapanku masih teguh. Kami harus mencari akal dahulu, bagaimana akan dapat terus belajar. Baiklah bapak kami bujuk akan membantu permintaan kami kepada tuan besar Guber-nur-Jenderal.

Tak baiklah kami lekas bergirang hati mengatakan, bahwa permintaan kami itu akan dikabulkan. Ya Allah, kalau tiada diperkenankan, bagaimanakah nanti? Hanyalah sebuah jalan untuk kami yang terbuka, yani: baik menjadi dukeen beranak. Tentulah kami harus menghapuskan peringatan, yang maksud kami hendak menjadi contoh dan pedoman itu: tentulah kami hanya sanggup menolong manusia kadar beberapa orang saja, tetapi itu pun baik juga, lebih baik dari bekerja di toko atau di rumah obat umpamanya, karena dalam pekerjaan itu tentulah kehidupan kami kosong, tiada berharga. Tentulah hidup sedemikian untuk diri sendiri, tetapi kami suka hidup untuk tanah air, dan maulah kami mengurbankan diri untuk keselamatan kemanusiaan yang seperti kami cintai itu.

Telah banyak saya dapat keterangan tentang sekolah dukun beranak di Amsterdan. Di sana orang boleh belajar dengan tiada membayar. Jikalau kami hendak pergi ke sana, tentulah harus meminta pertolongan tuan Prof. Hector Treub. Anak negeri bangsa kami kelak dapat membedakan, di mana kami telah belajar menjadi dukun beranak itu. Tiadalah mereka itu akan menghinakan kami, jikalau sekiranya kami bela-jar di Eropa.

Belajar di sana dua tahun lamanya. Bagaimanakah akal kami akan dapat pergi ke Eropa? Tak tahulah kami, tetapi kami harus mencari akal dahulu. Tak suka kami mem-buang maksud itu, sebelum sekalian ikhtiar, yang boleh kami harap akan menyampaikan maksud kami, kami coba menyalankannya.

Wahai, alangkah baiknya, kalau dapat kami berkenalan de-ngan anak-anak muda bangsa kami yang telah terpelajar, dan yang mencintai kemajuan, seperti Abdul Rivai dll. Alangkah baiknya kalau dapat kami mengambil hati mereka itu akan menolong memajukan maksud kami yang mulia itu. Aduh, apabila gerangan waktunya anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, dapat bercampur gaul seperti bersaudara yang sama haknya?

Seperti sekarang di dalam dunia bangsa Bumiputera, bah! bukan buatan rasanya kami perempuan-perempuan dihina-kan, selalu, setiap hari!

¹ Tuan Adriani, bukannya doktor orang, tetapi doktor bahasa-bahasa tanah Hindia

² Nona E. van Loon.

³ Yaitu Dr. H. Bervuts.


SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1902

DESA CIPUTRI DEKAT PACET (PRIANGAN)

3 Januari (VIII)

Tetapi tuan residen akan melihat kami dan akan bercakap-cakap dengan kami. Tuan besar itulah yang membawa kami mula-mula keluar rumah 6 tahun yang lau. Oleh permintaannya, dapatlah kami berjalan keluar. Dahulu dari waktu itu tak pernah kami pergi ke perjamuan, sehingga pendopo pun belum pernah kami jejak, dan sekalian orang yang hendak melihat atau bercakap dengan kami, harus pergi ma-suk ke dalam atau pergi keserambi di belakang. Senang hati kami mengingatkan bagaimana kami selangkah-selangkah menempuh jalan kemerdekaan. Tuan Sijthoff itulah pula yang mula-mula menolong kami melangkahkan langkah yang pertama menempuh jalan itu. Sekarang kami telah bersiap akan menempuh zaman yang baru. Enam tahun sudah lamanya yang boleh kami namakan tahun beruntung ... betul di dalam tahun-tahun itu kami banyak menangis, tetapi banyak pula bersukacita.

Ketika kami tiba di Semarang, datanglah saudara perempu-an kami yang sulung yang tinggal di Kendal, melihat kami. Tak senanglah hatinya sebelum berjumpa dengan kami bertiga: “Adik, adikku,” itulah saja katanya ketika melihat kami. Tangannya yang memeluk kami gementar dan air matanya pun berlinang-linang di pipinya.

Ketika kami berhadap-hadapan dan bertentangan dengan saudara itu, tak dapatlah kami mengeluarkan kata sepatah ju pun, mengertilah kami apa yang terasa di hati pada wak tu itu. Sekaranglah baru kami dapat bertemu dengan hati yang sesuai. Kasih dan iba hati kami melihat saudara kami itu. Di mukanya tampak oleh kami, bahwa ia suka benar hendak menurut kepada kami, dan tahu pula ia akan kelemahannya. Barulah sekarang, setelah beberapa tahun, baru dapat ia menghargai kami dan menyukai maksud kami. Sekalian itu menguatkan dan meneguhkan cita-cita hati kami serta menambah keberanian hati. Saudara kami itu mula-mulanya sungguh-sungguh benci kepada sekalian adat yang baru, ia sungguh kaum kuno, tetapi sekarang ...?

Alangkah takjubnya ia melihat keadaan kedua adik-adik ku yang masih kecil itu. Besar hatinya buak buatan melihat perubahan itu. Janganlah kiranya tuan terkejut melihatkan kami, berani memuji diri dan berhati gaduk sebagai ini! Sebenarnyalah besar hati kami, melihatkan bagaimana ia dengan taajub mengaku, bahwa kami tiada jahat seperti perasaan hatinya dahulu; tetapi iba pula hati mengingatkan bagaimana ia berdukacita melihatkan kami berkelakuan yang demikian.

Suaminya seorang laki-laki yang baik hati. Baru inilah saya tahu, bagaimana dan siapa ia. Dahulu kami bertemu sekali-sekali dengan dia, dan bercakap sepatah dua saja. Sekaliannya tak tahu saya bagaimana dia. Baru-baru ini ketika kami bertemu dengan dia, lama kami bercakap-cakap ... pada pikiranku saudaraku perempuan beruntung mendapat suami yang demikian. Suaminya itu dahulu bersekolah di H.B.S. dan belajar di sana hanyalah pada beberapa kelas, kemudian pergilah ia menjadi pegawai. Iparku itu tak berbapak lagi. Sekalian adiknya perempuan dan laki-laki bersekolah Belanda. Seorang adiknya laki² masih bersekolah di H.B.S. Ia sekarang di kelas 4 dan akan naik ke kelas 5. Anak itu tajam otaknya. Paman iparku itu, seorang regen, menyuruh adiknya yang di H.B.S. itu dikeluarkan dari sekolah. Regen itu akan menolong supaya ia mendapat kerja. Selalu iparku diasutnya, tetapi ia tak mau mengeluarkan adiknya dari sekolah itu. “Apa, menyuruh adikku keluar dari H.B.S. itu? Dan akan menjadi jurutulis asisten-wedana yang bergaji f 15 atau f 20? Tak mau saya,“ katanya, “Ia harus menyam-paikan pelajarannya di H.B.S. Nanti ia boleh bekerja perkara dagang atau di kereta api.”

Iparku itu mempang gagah, ia tak suka memimpikan payung emas atau buak baju leter W. Dan ibunya pun juga ber-maksud demikian, yani mau menyuruh anaknya belajar sampai tamat, Sungguhpun ia tahu, bahasa anaknya di rumah adalah 4 orang lagi. Baik benar maksud ibunya itu, bukan?

Alangkah senangnya orang yang beruang banyak. Dengan uang itu banyak orang dapat ditolongnya supaya berbahagia. Besar kemauanku hendak beruang beribu-ribu rupiah, dan kalau ada uang itu dapatlah saya mengirim anak itu pergi belajar ke Eropa.

Ada pula seorang anak gadis kenalan saya, yang telah belajar di sekolah gereja di Semarang, tetapi kasihan si gadis itu sekarang telah kurus, karena angan-angan saja. Kehidupannya sekarang berlainan dari dahulu. Ia sekarang telah tinggal di rumah seperti anak wedana biasa, tak boleh bercam-pur gaul atau bercakap-cakap dengan orang asing. Seperti diracun oranglah rasa hatinya. Jikalau sekiranya adalah kepan-daiannya, yang memudahkannya mencari penghidupan sendiri tentulah tidak begitu halnya? Kepada anak yang seperti itu harus diberi contoh, supaya tahu, bahwa “bekerja itu meninggikan diri” dan anak gadis bangsa Bumiputera tak plu selalu bergantung hidupnya kepada kaum keluarganya, kalau ia tak suka.

Apakah kehinaan yang lebih besar lagi lain dari pada selalu bergantung saja kepada orang lain? Jikalau adalah ia belajar sesuatu kepandaian, yang boleh menghasilkan uang, tentulah ia akan bebas dan pandai tegak sendiri. Sekarang apakah nasib yang akan ditanggungkannya, kalau umurnya dipanjangkan Tuhan? Tentulah ia akan kawin.

Baru-baru ini datang bermain ke mari suatu wayang orang. Di antara perempuan-perempuan anak wayang itu adalah seorang cucu perempuan dari seorang regen. Apakah asalnya terjadi kehinaan yang sedemikian itu?

Dahulu bukanlah menjadi adat menyuruh anak-anak pergi belajar: tetapi sekarang telah menjadi keperluan biasa. Kalau ada seorang yang beranak 25 orang banyaknya, tentulah ia tak dapat memberi sekalian anaknya itu pendidikan yang sempurna.

Orang ada bertanya sekarang, apakah sebabnya bangsawan Bumiputera kehormatannya menjadi kurang? Adakah orang yang bertonya itu memikirkan lebih jauh, bahwa ma-nusia itu tak berhak menyebabkan hamba Allah lahir ke dunia, jikalau sekiranya tidak akan dihidupkan dengan sempurna? Sungguhlah amat bodoh saya ini!

Kalau kupikirkan segala hal itu, timbullah di hatiku, suatu keinginan yang amat sangat: “Beri apalah kiranya orang Jawa pendidikan yang baik.” Pendidikan itu bukanlah sahaja hendaknya penambah pikiran, tetapi juga berguna untuk penyucian hati. Tiap-tiap saya mendengar atau melihat perkara yang menyedihkan hati itu, timbullah di hatiku permintaan “Beri apalah kiranya orang Jawa pendidikan yang baik!”

Besar cita-citaku hendak berkenalan dan berunding dengan segala orang pandai-pandai dan orang yang berkehendak kemajuan di tanah Hindia ini.

Seorang diri saja tak adalah kekuasaanku; tetapi jikalau sekalian anak-anak muda yang berkehendak kemajuan itu menjadikan sebuah perserikatan, tentulah dapat kami bersama-sama berbuat baik. Tiadalah terpermanai besarnya hati kami, kalau kami membaca karangan bangsa kami yang berisi. Bagaimanakah daya kami dapat berkenalan dengan mereka itu? Rupanya itulah suatu hal yang mustahil. Tentulah orang mengatakan kami nanti hendak bermaksud jahat. Persahabatan antara anak-anak muda laki-laki dan perempuan belumlah masuk dalam pikiran orang masa sekarang. Kalau saudara kami yang laki-laki pulang dari negeri Belanda, baru-lah dapat kami mulai berbuat seperti kemauan kami itu ... Kupikir sendiri-sendiri di hatiku, jikalau sekiranya saya berbuat kesalahan yang sebenar-benarnya, tentulah mereka itu akan memisahkan dirinya dari saya, dan tentulah saya akan diusir dan dihinakkannya; tetapi maukah bapak dan ibuku berbuat juga sedemikian akan daku? O, tidak, tentu tak maulah ia berbuat demikian. Saya ini tinggal anak-nya jua, tempat hatinya, Meskipun saya berdosa besar. Dan ketika itu timbullah di hatiku, kasih sayang yang tidak berhingga akan orang tuaku. Ketika kami sedang duduk merenda pakaian adikku Rukmini (kamilah saja yang diizinkan membuatnya) selalu pintu bilik terbuka, dan bapak masuklah ke dalam hanya akan meraba kepala anaknya ini, yang penuh berisi pikiran berlawan-lawanan.

Empat pekan lagi antaranya saudaraku itu tidaklah akan tinggal lagi bersama-sama dengan kami. “Saya tahu yang engkau keduanya akan tercanggung bila kutinggalkan”, katanya. Telah biasa kami hanya bercampur gaul bertiga saja, selalu berkumpul bertiga, tetapi sekarang? ...

Tiadalah sekali-kali kami dapat melupakan hal itu.

15 Februari 1902 (I)

Kalau ada orang berbuat apa-apa yang tak patut kepadaku, maka darahku pun naiklah, marahku terbitlah, tetapi sesu-dah itu datanglah kesukaan dalam hatiku: Saya gembira karena mereka itulah yang berbuat salah kepadaku dan tiadalah saya berbuat jahat kepadanya, dan pekerjaan yang sedemikian tak patutlah saya membuatnya. Kalau saya berdukacita, tak lain sebabnya, ialah karena mereka itu telah berkelakuan yang tiada patut dan tidak adil kepadaku. Maafkanlah saya, sebab saya baru sekarang berkirim surat kepada-mu; setelah adikku biji mataku itu berangkat, tiadalah dapat saya mengenangkan hendak berkirim surat. Sunggu pun demikian tiadalah hilang wajah tuan dari dalam pemandanganku. Adikku berangkat tanggal 31 Januari dari sini ke rumahnya yang baru itu. Moga-moga Tuhan memberinya untung dan rahmat seperti untuk seorang anak yang suci hati dan yang tiada berdosa.

Engkau tahu bahasa kami bertiga sangat berkasih-kasihan, dan Rukmini ialah biji mata, dan tangkai hati kami, karena ia seorang anak yang lemah, dan harus banyak mendapat pertolongan dari saudara-saudaranya. Sebelum ia kawin, banyak perasaan-perasaan yang kami tanggungkan, karena mengingatkan kami akan bercerai itu, sehingga tatkala waktu itu datanglah, kami pun seakan-akan tak merasa lagi, adalah sebagai manusia yang tiada berhati. Ketika itu kami sungguh amat sabar, tiadalah kami berpikir dan tiadalah merasa apa-apa ju pun. Waktu berangkat kami lihat dengan mata yang kering. Kami takut akan diri kami sendiri, kami biarkan saja ia berangkat dengan hati yang dingin, tak ada perasaan apa-apa yang menarik hati kami. Hal yang seperti itu tak pernah kami tanggungkan, dan tabiat berhati dingin itu tiadalah tabiat kami. Kami takut, kalau-kalau ada bahaya yang akan datang, atau celaka yang tersembunyi seperti sakit dsb. Kepalaku rasanya seperti tiada berisi, dan badanku lemah seperti tiada bertulang. Annie Glasser, sahabat kami, acap kali datang ke rumah, ialah sebab permintaan adik kami itu. Pada suatu malam ketika ia datang bertandang, ia bermain lagu-lagu yang amat disukai oleh adik kami, dan juga lagu-lagu yang lain yang kami sukai di piano. Lama-lama hilanglah dukacita kami, karena merdunya bunyi lagu-lagu itu. Dan sekejap itu juga pilu pula rasanya hati kami mengenangkan hal yang telah lalu. Syukurlah yang perasaan kami telah kembali semula di badan diri kami! Syukurlah kata kami, karena barang siapa yang tiada merasai kepiluan hati, tiadalah pula ada perasaannya untuk kesukaan hatinya. Dan siapa yang belum pernah berdukacita, belumlah pula dapat bersukacita.

Adikku telah jauh dari mata kami, yang tak dapat kami memikirkan yang tak ada bercampur lagi dengan kami, adik kami yang kami kasih iu. Selalu wajahnya terbayang-bayang di mata kami, ia seperti selalu ada di sisi kami. Bedanya

hanya kami sekarang tak dapat lagi bercakap-cakap seperti dahulu, hanya berkata-kata dalam kenangan saja. Alangkah ajaibnya bagi kami, bahwa kami harus mengambil kertas dan dawat, kalau kami hendak bercakap-cakap dengan dia.

Biji mataku, tangkai hatiku, betulkah tuan telah ber-cerai dengan kami? Wahai adikku yang dicinta, berunt-tunglah hendaknya tuan dalam hidupmu yang sekarang ini, dan taburkanlah di sana untung dan bahagia, seperti yang telah engkau perbuat di sini. Mudah-mudahan dapatlah tuan menghubungkan hati mereka itu kepada dirimu.

Stella, sabarlah engkau dahulu akan saya, suka benar saya sekarang hendak mengirim surat yang meriangkan hati, tetapi belum dapatlah rasanya saya menulis surat yang seperti kehendakku itu. Meskipun demikian janganlah kiranya tuan berkecil hati, karena sampai sekarang belumlah pernah kami berniat hendak membuangkan cita-cita kami. Kami selalu bekerja untuk penambah derajat kami. Syukurlah bertambah banyak juga sekarang orang yang mencintai mak-sud kami.

Adalah seorang anak muda, yang amat pandai, lagi budiman, yang kami kenal, tetapi juga bercintakan maksud kami, dan selalu ia bertanyakan hal kemajuan kami, seolah-olah ia sebagai saudara kami lakunya. Kami selalu berkirim-kriman surat dengan dia, dan nanti ia akan datang ke mari dengan adik-adiknya perempuan hendak berkenalan dengan kami. Alangkah besar bedanya anak muda itu dengan laki-laki yang lain yang kami kenal. Pada suatu kali adalah saya membaca, bahwa harta yang mahal sekali di dunia ini, ialah hati laki-laki yang mulia. Kami pun percaya akan kebenaran kata itu, hati laki-laki yang mulia itu memanliah harta yang mahal sekali, tetapi amat sukar mencarinya. Sungguh berunt-untung perempuan-perempuan yang dapat mestika itu. Kami pun beruntung, karena adalah kami mengenal beberapa orang yang ada mempunyai benda yang mahal didapat, sukar dicari itu. Lihatlah sekalian yang baik, selalu memberi kami bantuan dan menambah kekuatan dan keberanian hati akan bekerja dan memerangi kesusahan hidup.

Adikku Rukmimi, sangat sayang kepadamu dan tinggi ke-hormatan tuan di matanya. Ia itu anak yang baik lagi setia. Engkau tentu dapat bercampur beramah-ramahan dengan dia, apabila engkau telah berkenalan dengan dia. Tetapi tuan sendiri pun tahu kepadanya karena saya, bukan?

Ketika saya sakit, kuminta dia mengirim surat kepadamu, tetapi ia tak mau, sebab takut kamu nanti berdukacita.

Rendah gunung, tinggi harapanku, supaya cita-citanya lekas akan sampai.

Tahukah engkau apa yang tergores di hatiku dan yang melemahkan pengharapanku?

Ketika adikku itu sakit, dan kemudian saya pula dalam sakit, tepekurlah saya: “Lihatlah di sini ada terbaring seorang hamba Allah yang senantiasa dalam gembira hendak mrncapai maksudnya yang mulia, dan berkehendak sungguh-sungguh, selalu hendak berbuat baik, seperti terkata dalam hatinya. Menurut dugaannya ia sampai kuat akan mengangkat sebuah gunung, tetapi lihatlah ia sekarang terbaring dengan tiada berdaya dan tiada berkuasa!

Kalau sekiranya adalah seorang mengangkatnya dan melem-parkannya ke dalam sumur, tentulah dibiarkannya saja, karena ia sekali-kali tiada berdaya dan tiada berkuasa.

Sekarang baru kami mengerti benar-benar apa yang dikatak-an oleh de Genestet dalam syairnya yang bernama “Terugblik” (Melihat ke belakang):

Wat wiy wenskhen, willen, streven,

Pengarang itulah yang menghiburkan hati kami dalam waktu kesusahan dan kesakitan itu.

18 Februari 1902 (VIII)

Kami pandai pula bermanja-manja dan beriang hati, seperti orang muda-muda—o, betapalah besar hati kami, kalau sekiranya tuan dengan sekejap mata boleh kami terbangkan ke mari. Hari Ahad yang lalu sesudah menerima surat nyonya, dan hari Ahad ini juga kami dengan Anneke pergi ke-tepi laut. Kami terkenang akan nyonya dan selalu memperkatakan tuan. Wah, betapa baiknya kalau nyonya sekarang ada di sini, melihat ombak yang berkejar-kejar itu, dan warna langit sedang bagus dan ajaib, disinari oleh cahaya matahari yang hendak terbenam. Angin pun memperlihatkan kesukaannya pula dan dengan sebentar saja pun rambut kami kusut-kusut ditiupnya dan pakaian kami, kami peganglah erat-erat supaya jangan diembusnya. Keriangan rupanya terbebar di mana-mana, di pohon-pohon kayu, di muka laut di tepi langit, demikian pula di hati kami sedang bermain-main dan membiarkan diri dikejar-kejar ombak. Alangkah sukacitanya hati kami! Di antara bunyi ombak yang mendayu-dayu itu kedengaranlah suara dan gelak kami. Itulah perbuatan “guru perempuan” dan “putri-putri” yang betertib sopan, gila berlari-lari dan berkejar-kejar-an, sehingga rambutnya menjadi kusut dan pakaiannya berkibaran diterbangkan angin. Kami sekarang bersukasukaan seperti anak muda-muda yang manja! Kusir kami dan orang yang lau di sana ternganga mulutnya heran melihat pekerti kami. Besoknya pun kami pergilah pula ke pantai, laut waktu itu sudah tenang, telah berhenti memperlihatkan kegagahannya. Lautan yang tiada terpermanai lusnya itu-pun telah tedu, hening tiada bergerak terkembang di muka kami; hanyalah di sana-sini tampak ombak kecil, bersinar-sinar seperti intan oleh cahaya matahari, dan dalam laut yang seperti cermin itu kelihatanlah pula warna langit yang hijau bagus itu. Kami pun pergilah berenang ke laut; tanah-nya datar tak berbatu, tiada berlumut dan tiada berlumpur. Jauh kami berenang ke tengah laut, sehingga air sampai kedagu kami. Babu kami yang duduk di tepi pantai pun takutlah melihat dan suara kami masing-masing kedengaran oleh kami berkacau bilau saja. Seperti orang gila si babu di tepi laut melambaikan tangannya memanggil kami. Tetapi ia kami tertawakan dari jauh, karena ketakutannya itu. Dari jauh dilihatnya di tengah laut adalah 5 buah kepala orang terapung-apung, dan dalam itu kami pun gila meloncat-loncat dan menari-nari di dalam laut. Dan yang kedinangan waktu itu hanyalah suara kami saja sedang bernyanyi dengan gembira.

Dengan perasaan yang segar dan bertambah muda, kelu-arlah kami dari dalam laut dan terus pulang ke rumah dengan lapar yang amat sangat. Setelah kami kenyang makan, maka Annie pergilah ke piano. Oleh kegirangan hati dimainkan-nyalah dengan asyiknya lagu yang meminta terima kasih kepada Tuhan dan kami pun turutlah bernyanyi bersama-sama. Sementara itu hariun telah pukul setengah sebelas. Sekarang haruslah kami pergi bekerja. Di serambi di belakang telah sedia kotak gambar. Berlima-lima duduklah kami menge-lilingi meja dan sebentar lagi kami pun asyiklah pula menggambar; tiadalah jari tangan saja yang bekerja, mulut kami pun turut pula bergerak, tak sekejap jua dapat tertu-tup. Selalu kami bercakap-cakap dan tertawa-tawa serta bernyanyi-nyanyi. Beberapa antaranya pukul satu berbunyilah, dan kami pun pergilah pula makan. Petang-petang kami pergi bersiar-siar dengan kereta, sudah itu berjalan-jalan di tepi laut. Sesudah berjalan-jalan itu kalau sekiranya hari belum kelam, kami minumlah teh dalam kebun, di bawah po-hon kayu yang amat rindang daunnya, dan di atas kepala kami kelihatanlah langit dengan bagus warnanya, serta ditaburi oleh bintang-bintang yang cemerlang, dan bulan pun terbitlah pula menambah kebagusan malam. Sudah itu kami pergilah membaca kitab atau pergi bermain musik. Kalau Annie bermain piano, kami pun duduklah menjahit atau menulis, senang hati bekerja, jika waktu itu musik berbunyi. Kerja pun lekas habis. Tiap hari kami pun belajar bertanak dan menggulai dan pekerjaan itu kami lakukan petang, sesudah makan tengah hari.

Datanglah tuan kedua ke mari akan melepaskan lelah se-sudah bekerja di Betawi itu. Ayuhlah, cobalah tuan kedua datang, supaya boleh kami meriangkan hati tuan. Boleh kami melipurkan hati tuan, hidup di kampung dengan senang sentosa, damai dan makmur; kami nanti menyambut tuan dengan gembira, kami akan gembira bersama-sama dengan pohon-pohonan, angin, lautan dan burung-burung, semua itu akan memberi selamat datang akan tuan kedua dan bernyanyi mengeluarkan suaranya yang merdu itu setiap pagi.

Datanglah, wahai sahabat kami kedua, datanglah ke rumah kami yang sunyi dan sederhana ini, supaya dapatlah tuan kedua mengambil kekuatan yang baru dengan segeranya!

Sekarang kuceritakan lagi tentang peralatan kawin adikku, anak-dara yang cantik rupanya. Ia kawin dengan berpakaian seperti wayang, amat elok rupanya. Malamnya ketika dalam alat besar itu, rupanya seperti seorang putri yang tersebut dalam hikayat seribu satu malam. Ia memakai mahkota emas di kepalanya. Tak ubahnya kami sebagai bermimpi melihatnya, tentulah keadaan itu akan ditiru orang nanti.

Residen Sijthoff yang suka melihat adikku menjadi anak-dara itu, turut menghadiri peralatan itu sampai penghabisannya. Mereka itu berniat benar hendak menjabat tangan adik kami, akan memberi selamat, tetapi tiadalah dapat; hanyalah dengan mata saja mereka itu dapat memberi selamat, karena anak-dara itu seperti patung yang hidup tetap du-duck di atas “kwade”, yani singgasana keemasan, yang cemerlang cahayanya: adikku itu selalu di sana duduk lurus sebagai mercu, kepalanya tegak dengan sikapnya, dan matanya terus melihat ke muka, merenungkan nasib yang akan datang, yang dalam sedikit hari lagi mulai ditanggungkannya. Sebagai adatnya air mata pun bercucuranlah waktu itu; tetapi adikku dan kami berdua tinggal berdiam diri, hening sebagai mayat. Gamelan, musik, kemenyan dan bunga-bungaan pun tak dapatlah menyedihkan kami dalam hal itu.

Kami tiada berperasaan lagi. Sekalian orang bersangka, bahwa perceraian kami tentulah akan menghancurkan hati kami benar-benar. Sekarang sungguh tercenganglah mereka itu melihat kami.

Banyak orang datang melihat kami, mereka itu makin lama makin bertambah banyak. Sekalian mereka itu ingin hendak melihat, bagaimana kami akan menanggung kesukaran, pada waktu perceraian kami itu.

Malam itu juga kami mengabarkan cita-cita hati kami kepada tuan residen. Cobalah tuan pikirkan: di tengah peralatan yang sebagai itu, kami hendak memperkatakan juga perkara yang penting dan sulit sebagai itu. Tetapi pada waktu itulah saja kami dapat menghadapnya, dan pekerjaan itu harus dilepaskan. Di tengah bunga-bungaan dan cahaya emas dan intan itu serta di antara orang beramai-ramaiam itu, pada waktu itulah kami dengan memegang gelas yang berisi anggur, memperkatakan perkara yang penting. Ketika itu hari telah larut malam. Sejak bermula kami telah ketahui, bahasa ia akan/menertawakan kami, dan tentulah akan mengatakan kami “gila”. Tetapi tiadalah kami indahkan. Mula-mula ia berkata dengan saya, kemudian dengan Rukmini akan mengetahui kalau-kalau kami ada bersedih hati dalam hal perkawinan adik kami itu.

Sedang ia bercakap-cakap dengan kami itu, acap kali ia pergi dari tempat kami, dengan tiada berbesar hati, tetapi kemudian datang lagi kembali menyambung perkataannya tadi.

Kalau sekitarnya kami dapat pergi belajar ke negeri Belanda, manakah yang baik bagi kami dalam pikiran tuan, kami pergi ke sana atau kami tinggal di sini? Maukah tuan menjawab pertanyaan ini? Karena tuan tak dapat melihat mataku ketika menulis surat ini, baiklah kukatakan kepada nyonya, bahasa saya bertonya dengan muka yang manis dan mata yang cemerlang!

Sebuah lagi permintaanku. Maukah nyonya dengan hati yang baik pergi menanyakan kepada sahabat tuan, Dr. Snouck Hurgronye, adakah dalam undang-undang agama Islam tersebut, bahwa kalau seorang anak telah berumur sekian tahun, ia boleh berdiri sendiri, tak usah lagi bergantung juga kepada orang tuanya?

Atau baikkah saya sendiri bertanyakan kepada tuan itu? Suka benar saya hendak mengetahui tentang hak dan kewajiban, menurut undang-undang agama Islam, lebih-lebih tentang hak gadis dan perempuan. Tentulah amat bagus cerreranya; tetapi malulah kami menanyakan, karena kami sendiri orang Islam tak tahu akan hal itu. Alangkah sedikitnya pengetahuan kami!

Saya sangat bersedih hati mendengar kabar, yang sekolah H. B. S. perempuan akan ditutup, sayang!

28 Februari 1902 (VIII)

Darah asal itu tiadalah akan mendustakan dirinya. Besar harganya kepadaku mengetahui dari mana asalnya barang-barang yang mengelilingi aku. Dalam perasaanku barang-barang, yang asalnya dari mereka yang kukasihi dan hormati, akan memberi untung akan dau! Kitab yang datang dari nyonya tentulah dengan berahi, gembira dan mudah saya pelda-jari! Perasaan gila, perasaan hatiku itu, bukan? Saya ini tak ubahnya seperti anak-anak yang telah berumur, yang berke-hendak selalu akan dikasihi, dan suka hendak mengetahui sekaliannya, supaya dapat ia memperhatikan keadaan benda itu. Itulah niat kami yang sebenarnya!

Mengetahui itu ialah suatu kepandaian yang sukar bukan, kekasihku?—susah mempelajarinya, kalau Tuhan belum mentakdirkan kepadanya.

Mengetahui dalam suatu perkara, menyuruh kita berhati adil dan suka mengampuni kesalahan orang. Itulah yang membuat kita berhati yang sempurna baik. Berapa banyaknya tuan kedua telah berbuat baik kepada kami, sebab itu kami-purn banyak meminta terima kasih, karena tuan kedualah yang mengajar kami mengetahui keadaan bermacam-macam hal.

Malam Jumat, yaitu malam kami bermain gamelan, bermacam-macam lagu yang kami sukai, kami lagukanlah!

Hati yang sebagai batu waktu itu menjadi lemah dan cahayanya bercemerlang menyinari tubuh yang dingin. Sekarang barulah perasaan kami hidup kembali! Sedang angin menyayu-dayu di pendopo, mengandung lagu yang manis dan suara yang merdu itu, rasa terbanglah nyawa kami ke surga kenang-kenangan!

Bermimpilah wahai diriku, teruslah tuan bermimpi sedapat-dapatnya! Kalau sekiranya tak ada mimpi di dunia ini, di manakah hidup akan senang. Hidup yang sebenarnya bukan main beratnya. Barangkali benarlah seperti kata orang, bahwa kami haruslah tinggal dipelulau yang tiada didiami orang! Tepati itulah kelobaan manusia yang sebenar-benarnya, bukan? Pikiranku, kita harus hidup bersama-sama dan bertolong-tolongan, itulah gunanya kita dilahirkan ke dunia akan membaguskan “hidup bersama-sama.” Sengsara itu menyucikan hati, kalau orang yang ditimpanya itu berhati baik. Sekiranya jahat hatinya, maka ia pun masuklah ke dalam neraka dunia. Kami pun sekarang telah berubah pula, tetapi bagaimana perubahan itu pada hari yang akan datanglah dapat menen-tukannya, hanya yang kami ketahui sekarang, bahwa kami tiadalah lagi anak-anak manja seperti dahulu.

Sekalian barang-barang yang tak berguna di bilik kami, kami buang, kami hadiahkan kepada anak-anak akan pembesar-kan hatinya. Bilik anak gadis yang indah dahulu, tempat ia bermimpi, berniat dan berpikir, mengeluarkan kepiluan hati dan tempat tertawa karena kebesaran hati, tempat ia bekerja memerangi kesengsaraan hidup dan tempat menanggung azab sengsara, sekarang telah berubah sama sekali. Hanyalah tempat lemari kitab kami yang tak berubah dan sahabat-sa-habat lama kami masih selalu bermuka manis melihat kami, selalu mendidik kami, dan menambah karib persahabatan kami!

Seorang dari sahabat kami, yaitu seorang tua yang tiada dipandang orang lagi, karena ia masuk kaum kuno, sehing-ga kalau dilihat rumahnya sampai ke dalam, tampaklah oleh kita, bahasa ia masuk bagian manusia zaman dahulu. Banyak orang yang mengejekkan orang tua itu, tetapi kami kasih akan dia dan dialah yang belum pernah suka mening-galkan kami dan ialah yang selalu turut bersukacita dalam kesenangan kami, dan memberi kami bujukan dalam hari kedukaan. Orang tua itu ... de Genestet. Ialah yang membujuk kami pada waktu yang lalu, yang belum lama terlampau!

5 Maret 1902 (VIII)

Tahukah nyonya siapa yang selalu menggambarkan wayang untuk kami? Tak dapatlah tuan terka. Ialah tukang ga-melan kami. Ajaib kita melihatkan bagaimana pandainya membuat itu dengan bagusnya. Rupanya pandai menggambar di Jepara, sudahlah menjadi kebiasaan orang di sana. Budak-budak kecil tukang gembala kerbau, bagus-bagus wayang digambarnya, baik pun di tanah, di dinding, di jembatan atau di pagar-pagar. Dinding di belakang rumah kami penuh diukir orang dengan gambaran wayang. Kalau pagar jambatan hari ini diputihkan dengan kapur, besoknya jambatan itu penuhlah pula dengan gambaran wayang, yang digambar dengan arang atau batu tembok oleh budak-budak, yang bertelanjang bulat, yang penuh badannya berlumur dengan lumpur. Sungguh amat mudah bagi kami di sini akan menaruh tukang gambar. Kami hanya perlu mengatakan dan menerangkan saja kepadanya apa yang akan dibuatnya.

Sekarang tukang ukir itu sedang membuat barang yang indah, yani sebuah lemari kitab, terbuat dari kayu jati dan tepinya terbuat dari kayu sena. Pintunya diberi berkaca besar dan berbingkai dua lapis yang terbuat dari kayu sena juga dan pada beberapa tempat berukir dengan gambar wayang. Di antara bingkai di bawah dengan bingkai di atas, terukir ular-ular yang membentuk-bentuk diri sedang berkelahi, seperti akar Cina. Pada bingkai di atas terukir gambar wayang dan kalimat pujian. Kepala lemari itu berdiri antara dua buah tiang yang berukir, terbuat dari kayu sena. Ukir-ukiran itu kami lihat di Muntingan, di kuburan Sultan Muntingan yang jauhnya lebih kurang setengah jam dari sini. Gambar itu di sana tidaklah terukir pada kayu, melainkan terukir pada batu. Ukiran itu asalnya dari tanah Cina, dan sultan itu dahulu telah pergi ke sana.

Panjang ceritanya kubur itu. Kubur itu keramat; kami acap kali pergi ke sana. Seorang Cina yang menurutkan sultan itu ke mari, telah meninggal dunia di sini. Dekat kuburnya adalah pohon pace. Pohon itu kermat pula kata orang. Perempuan yang tiada beranak pergilah ke sana bernazar, supaya boleh mendapat anak. Di kubur sultan itu dibakarnya kemenyan dan ditaburkannya bunga. Kalau buah pace itu gugur ke atas kubur Cina itu, maka dipuutlah oleh perempuan yang bernazar itu, dan dibuatnyalah rujak lalo dimakannya. Itulah tanda maksudnya akan sampai. Banyak orang mengatakan kepada kami, bahwa barang siapa yang berniat di tempat itu, kebanyakan maksudnya sampai. Benarlah kata si Edi, bahwa bangsa Jawa ialah suatu bangsa yang banyak berceritera yang ajaib-ajaib. Kata orang sekalian perempuan yang bernazar di kubur Sultan Muntingan beranak perempuan belaka! Kasihan perempuan-perempuan yang bernazar itu! Kami hanyalah mau bernazar ke kubur keramat yang memberi anak laki-laki saja, karena sudah terlampau banyak anak perempuan di dunia ini!

Ya Allah, betapa maka saya tersesat sampai ke mari. Saya tadi menuliskan perkara lemari, tetapi sekarang itu telah lupa. Lemari itu dibuat untuk Kardinah, pemberian tuan dan nyonya Ovink. Adikku sungguh beruntung mendapat lemari itu!

Bulan yang lalu sudah dua buah sekeram dibuatnya untuk seorang kemendur, yang hendak pergi ke negeri Belanda. Bagus benar sekeram itu, berukir-ukir dengan gambar wayang, yang sebuah berlipat tiga, terbuat dari kayu jati, dan yang sebuah lagi hanya terbuat dari sebilah papan kayu jati saja dan bertepikan kayu sena. Betul bagus!

Besar hatiku, melihat banyak orang meminta barang-barang ukiran Jepara. Cobalah nyonya pikirkan, apa yang terjadi baru-baru ini. Di dalam sebuah surat kabar tersebut, bahwa perkara ukir-mengukir di Jepara telah mundur, karena dirusakkan oleh beberapa orang perempuan, anak-anak dari seorang yang berpangkat tinggi di sana, yang selalu menyuruh mengukir menurut lukisan Eropa. Tercengang kami membaca kabar itu, karena dalam pikiran kami, bahwa lukisan wayang itu ialah lukisan Hindia, tetapi rupanya sekarang kami salah sangka, karena kata orang ukiran itu, ukiran Eropa, karena lukisannya datang dari kabupaten. Tetapi bersalah sangka itu sudahlah menjadi adat manusia, bukan? Apalagi kami ini hanya manusia seperti manusia yang banyak juga, lagi pula kami ini hanyalah seorang Jawa saja. Amat susah kami dahulu menyuruh tukang-tukang itu, supaya mereka mau membuat boneka-boneka wayang itu. Mereka itu takut kalau-kalau semangat wayang itu marah kepadanya. Setelah bapak mengaku bahasa bapak yang akan menanggung sekalian hal, baik kemarahan, atau ancaman semangat wayang-wayang itu, dan tiadalah akan menggoda mereka itu, melainkan bapak yang akan digodanya, karena ialah yang menyuruh memperbuatannya, baharulah mereka itu bekerja seperti sekarang. Tertawa kita melihat keadaan itu, begitu jua dalam hal yang lain-lain!

Dahulu amat susah membuat gambar potret di kampung-kampung. Menurut kepercayaan orang di sini, singkat umur, kalau dibuat gambar diri sendiri, dan tukang gambarnya itu berdosa besar. Sekalian gambar potret itu nanti akan meminta nyawanya pada hari kemudian. Ketika kami dengan seorang tukang gambar pergi ke kampung, menangislah beberapa orang perempuan, karena takut akan digambar. Kesudahannya adalah seorang yang berani, dan karena itu yang lain pun mengeringkan air matanya. Ketika kami datang sekali lagi, datanglah mereka itu sendiri meminta digambar. Begitulah pergerakan dalam dunia ini, satu orang mestilah berani dahulu, untuk memberi contoh! Adikku Rukmini sedang bekerja membuat gambar adikku Kardinah sebagai anak-dara. Ia menggambar tiada bercontoh, tetapi di luar kepala saja. Bibir di atas dan hidung belum serupa benar, dan yang selebihnya bolehlah: apalagi pakaian anak dara itu bagus benar digambarnya. Ia nanti hendak mencoba lagi menggambarkan gambar itu di papan seperti yang nyonya katakan kepadanya. Di dalam kitab gambarnya adalah digambarkannya adikku Kardinah. Sungguh pintar anak itu, karena sekalian itu diperbuatinya tiada dengan belajar, tetapi tak heranlah karena ia anak Jepara. Di sini anak gembala kerbau pun pandai menggambar. Beruntung-lah negeri Jepara itu! Tak tahulah tuan betapa besarnya hati kami, karena kami anak Jepara. Banyak pula orang yang tinggal di sini menyumpahi kemalangan, karena mereka berumah di negeri yang buruk ini. Perasaan berlain-lainan!

Sekarang sedikit perkara kegadukan hati. Baru-baru ini saya bertonya kepada seorang perempuan pengarang Belanda, bagaimanakah menurut pikirannya ... bahasa Belandaku. Pekan yang lalu saya dapat surat dari padanya dan dalam surat itu ada tertempoang lagi sebuah surat dari seorang nyonya tempat ia meminta pertimbangan, sesudah ia telah membaca suratku! Besar hatiku mendengarnya! Pekan yang terlampau itu pula, saya diminta oleh seorang nyonya pengarang sebuah surat kabar pemajukan perempuan, kalau² suka saya menjadi pembantu di surat kabar itu, supaya saya sekali 14 hari menulis di sana. Yang menyampaikan permintaan itu, ialah seorang nyonya sahabatku dan saya harus mengirim surat tiap-tiap surat kabar itu dikeluarkan. Sahabatku itu menceritakan peri hal kami kepada nyonya itu dan nyonya itu menyukai sekali maksud kami dan sudi memberi tempat di surat kabarnya untuk kami, akan pendidik perempuan Jawa. Dan dalam pertimbangannya patut benar anak perempuan bangsa Jawa sendiri mengeluarkan suaranya, akan menunjukkan kepada bangsa Belanda, bagaimana benar keadaan bangsa Jawa itu dan menyuruh bangsa Belanda itu mengasihi bangsa itu. Saya suka benar memperkenankan maksudnya itu, tetapi kami harus lebih dahulu mendapat izin dari bapak. Sekarang adalah harapanku, yang permintaanku akan dikabulkannya.

14 Maret 1902 (I)

Pada suratmu kulihat engkau berhati masygul. Buangkanlah kesusahan hatimu itu, karena belumlah ada seorang jua pun yang berbuat jahat kepadaku. Tetapi kesukaan-ku mempang suka menggunting hati sendiri. Sifat itu ialah suatu kebodohanku, bukan? Banyak orang berkata: “Penanggungan itu boleh mendatangkan kegirangan hati,” teta-pi tahukah mereka itu betapa ganasnya penanggungan itu?

Tentang adikku telah kuceritakan dalam surat yang dahulu. Sunyi benar kami sekarang, karena biji mata, tangkai hati kami tak ada lagi. Seperti kehilangan saudaralah kami

rasanya; tetapi untunglah selalu kami menerima surat yang meriangkan hati dari padanya. O, itulah anak yang baik budi dan berhati mulia. Ia lebih berharga dari pada kami berdua. Ia adalah dalam selamat di rumahnya yang baru itu dan banyaklah pula orang kasih akan dia di sana. Kaum keluarga suaminya menyayangi dia, seperti menating minyak yang penuh, dan ke mana saja ia pergi selalu ia diterima orang dan disambut dengan baik dan hati yang suci, baik oleh bangsa Bumiputera Ataupun oleh bangsa Eropa. Orang Eropa berharap yang ia akan memajukan istri pegawai-pegawai Bumiputera di sana.

Adikku itu sekarang banyak dapat membuat apa-apa yang kami maksud.

Apa pangkat suaminya, tentulah engkau telah tahu, ketika kami mengirim karcis perkawinannya dahulu. Ia patih yaitu pangkat yang kedua yang tertinggi dalam dunia pegawai Bumiputera, tetapi ia hakal menjadi regen juga, kalau ayahnya nanti berhenti dari pekerjaannya. Kalau ia telah menjadi istri regen, tentulah banyak ia dapat memajukan perempuan bangsa Bumiputera, lebih banyak dari pada kami. Kami berharap yang suaminya itu akan menolong membantu-nya, apalagi kabarnya ia suka benar menyokong cita-cita tuan Abendanon. Ia amat kasih akan isterinya, selalu berhati besar dan ramah, dan kepada orang lain pengasih dan penyang. Itulah sebabnya maka banyak sekali kaum keluarganya yang dipeliharakannya, baik hati ia, bukan?

Banyaklah anak Bumiputera yang berbuat yang sedemikian dan siapa yang berada selalu mengenal akan sanak saudaranya yang miskin. Tak adalah kepala anak negeri yang tiada memelihara kaum keluarganya di rumah. Tiadalah sia-sia orang mengatakan, bahasa orang Hindia peramah dan pemurah. Tentu engkau berbesar hati, karena engkau telah mendengar sekalian hal ihwal adikku itu.

Hanyalah sekarang ia di dalam kecemasan saja, mengingatkan kekecilannya, sebab banyak orang yang berharap akan kebaikannya, dan saudaranya yang tertua merasa juga sedemikian, apalagi ketika seorang Belanda memujinya di Amsterdam, dalam surat kabar.

Sebenarnya, Stella, janganlah engkau berbuat begitu pula. Tentu engkau saya umpat dengan sejadi-jadinya, kalau saya tiba-tiba diterbangkan oleh Tuhan keribaanmu. Engkau menyangka bahwa saya sungguh baik hati dan arif bijak-sana. Sekalian itu belumlah berharga seduit juputen untuk badanku, sungguh kataku itu. Tetapi betul ada-lah sebuah benda dalam hatiku yang tidak akan mengecewakan tuan, yaitu kesayanganku kepadamu!

Baru-baru ini saya mendapat sepucuk surat dari seorang tuan yang telah tua, mengatakan yang saya berhati lemah-lembut, beradat bagus dan pandai berbahasa Belanda. Saya pun tersenyum ketika membaca surat itu dan timbullah pikiran dalam hatiku, tahu benarkah tuan itu akan daku? Pada penghabisan tahun yang lalu maksudnya akan datang ke mari, hendak mengunjungi kami; tetapi adalah alangan yang merintangi maksudnya itu; karena penyakitnya haruslah ia dengan selekas-lekasnya pergi kembali ke-Eropa. Dan isterinya pun turutlah pula bersama-sama, meninggalkan negeri yang panas ini, yang selalu disinari oleh matahari.

Sayang sekali ia tak datang; kami beringin benar hendak bertemu dengan dia akan memperkatakan maksud kami. Baru-baru ini ketika kami menyangka, yang kami akan terus pergi belajar ke negeri Belanda, berharaplah kami akan pergi bersama-sama dengan tuan dan nyonya itu dalam musim panas. Sayang pengharapan itu telah menjadi angin. Kemarin kami mendapat surat dari negeri Belanda, dan saya berkata dalam hatiku: “Hai diriku, tegakkan kepalamu, karena bukanlah saja kecewa yang akan menggodamu semasa hidupmu, percayalah engkau, bahwa waktu yang akan datang, banyak lagi mengandung kesengsaraan yang akan engkau tanggungkan!“ Saya pun tak memikirkan hal itu lagi. Hidup kita nanti akan mengajar kita berhati berani.

Sekarang kuperkatakan lagi permintaan nona Van der Mey. Marilah kuminta dahulu terima kasih atas segala kesusahanmu telah menolongku, dan lagi kuucapkan terima kasih atas karanganmu tentang “hak dan keuntungan“. Surat yang berisi permintaan itu kubacakan kepada bapak. Bapak mau dahulu menantikan kedatangan tuan van Kol, barulah ia memutuskan perkara itu. Besar harapanku yang bapak akan mengabulkannya. Perlu juakah saya mengatakan bahwa “saya mau?” Engkau tahu bahwa saya suka benar menulis dan kerja karang-mengarang selalu menarik hatiku, dan engkau pun telah beberapa kali pula mengatakan bahasa saya pandai mengarang.

Ya Stella, saya mau menulis dan mengarang, tetapi saya tak suka memberi tahukan namaku yang sejati, ia harus di-rahasiakan, katakan hal itu kepada nona Van der Mey. Adakah itu akan memberi faedah!!! Kalau orang Hindia membaca karangan seorang perempuan Jawa, tentulah ia lekas boleh menunjukkan, siapakah yang berbuat salah itu. Hal yang demikian menjemukan hatiku. Saya tak suka bila orang memperkatakan buah penaku (yang tiada sempurna), apalagi kalau orang selalu memujiku, bah! Kalau perempuan

Jawa mengarang dalam bahasa Belanda, rupanya hati orang yadi tertarik membacanya, itulah rahasianya akan mendapat untung dengan mudah. Sungguhlah membesarkan hatiku! Tetapi marilah dahulu kukatakan apa benar gunanya “penarikan hati?“ Itulah sekali-kali tak dapat kuupakan.

Betul besar faedahnya. Engkau dan saya pun mengaku, bahasa anak negeri sendiri harus mengeluarkan suaranya. Banyak faedahnya kalau bangsa Jawa sendiri menceritakan sakit senang kehidupan bangsanya.

Pun amat banyak perempuan bangsa kami, yang menang-gung sengsara dalam hidupnya. Tapi sebelumnya saya mengeluarkan suaraku, mengabarkan perkara yang lalim-lalim, yang ditanggungkan perempuan bangsa kami, haruslah saya berpikir benar-benar lebih dahulu; saya mesti tahu betul-betul apa yang akan kuperbuat. Kalau kubukakan suaraku, niscaya sekalian orang yang memperoleh ke-untungan karena kelalimannya akan benci kepadaku, tetapi saya ialah hendak melawan kelazimannya itu.

Untuk diri saya sendiri tiadalah saya indahkan permu-suhan ini, tetapi ia dapat merusakkan cita-cita kami. Sekiranya saya menjadi guru, tentulah mereka itu tak sudi menyerahkan anaknya kepadaku, karena saya telah bersalah, melawan adat-adat yang telah berurat berakar itu. Akan menulis karangan yang demikian tak mau bapak memberi izin saya, apalagi pada waktu ini. Kerap kali orang meminta kepadaku mengarangkan sekalian hal ihwal itu. Tetapi saya tak boleh melakukannya.

Tetapi apa yang diminta oleh nona Van der Mey, ialah fasil yang lain pula. Saya harap permintaannya itu dapat dikabulkan. Tetapi seperti yang telah kukatakan tadi, engkau mesti berjanji akan merahasiakan namaku.

Seorang sahabatku telah menyuruh saya juga mengarang, betul seperti itu, untuk orang banyak. Yang baik saya karangkan ialah perkara-perkara yang dapat diperbincangkan di mana-mana, ya, boleh hendaknya diperbincangkan dalam persidangan Tweede Kamar, sehingga dengan perintah persidangan itu disuruh periksa lebih terang dan lanjut tentang segala perkara itu.

Saya selalu berniat juga hendak mengeluarkan karangan tentang segala hal keadaan itu, tetapi saya sendiri merasa, bahwa masa sekarang belumlah ada waktunya untuk menyampaikan maksudku itu, banyak rahasia yang belum ku-selidiki, dan lagi belumlah cekup kekuatanku menger-jakannja. Saya harus lebih banyak melihat dan mendengar segala yang terjadi di sini, sekalian itu harus kutimbang dan kupikiri baik-baik.

Buah pikiranku belumlah masak, Stella, kalau sekiranya telah masak, tiadalah saya akan enggan mengabarkan hal keadaan itu kepada orang banyak. Kalau kami menghadapkan permintaan kami itu kepada Koningin Wilhelmina, itu artinya, bukanlah kami meminta pertolongan kepada kerajaan, supaya berkat daulat Seri Baginda dapatlah kami pertolongan dari Pemerintah, lain tidak, melainkan dalam hal itu kami meminta kepada Seri Baginda, supaya Seri Baginda sendiri menolong kami. Jikalau engkau sekiranya mengetahui akan ketinggian hati kami, tentu mengertilah pula engkau, bagaimana beratnya hati kami memutuskan hendak meminta pertolongan.

Tetapi seperti katamu juga: kalau ada keperluan yang besar, maka keperluan yang kecil haruslah didiamkan dahulu.

Dan ketinggian hati kami itu, kami hilangkanlah, supaya kami dapat bekerja untuk kebajikan orang banyak. Selalu kami benci kepada minta-minta, Sungguhpun kami telah mengetahui, bahwa permintaan itu akan diperkenankan. Dan dalam hal yang demikian, meminta itulah jalan yang tunggal akan memperoleh maksud itu.

Adalah seorang yang telah pergi menghadap kedua Seri Baginda Maharaja di negeri Belanda, mengatakan dengan sungguh kepadaku, bahwa Seri Baginda Ibu Suri pun banyak pula mengetahui dan amat mengindahkan tentang hal keadaan tanah Hindia.

Kami mau benar mempercayai kabar itu. Tatkala kami menyembahkan beberapa persebahan kepada Seri Baginda Maharaja Wilhelmina, waktu Pertunjukan perusahaan Perempuan, maka Seri Baginda Ibu Suri pun menitahkan kepada sekertarisnya, menanyakan kepada presidente perserikatan itu, yang menguruskan kirim-kiriman dari Hindia, apakah isinya persebahan kami dahulu itu. Bagindalah yang meminta kepada presidente pertunjukan itu, yang selalu mengiringkan Seri Baginda dalam pertunjukan itu, membacakan isi suratku sedikit kepada Seri Baginda. Kepada Pemerintah atau kepada Seri Baginda Maharajalah tempatku menyembahkan permintaanku itu. Kalau permintaanku tiada diperkenankan oleh Seri Baginda atau oleh Pemerintah, maka pergila saya ke Mojowarno, Meskipun di sana tiadalah seperti yang dimaksud benar. Tahukah engkau, kalau saya keputusan asa, ke mana saya hendak pergi? Ke negeri lain di luar tanah Jawa, kepada seorang sahabat kami¹ yang tinggal jauh di tengah suatu pulau yang Bumiputeranya masih biadab, dan di sanalah ia berbuat baik akan mereka itu dan menolong mereka itu memberi obat-obat.

Sebagai ayam kena kepala saya hendak pergi kepadanya, tentulah ia akan meraba-raba kepalaku, sampai kelohku hilang dan napasku yang sesak jadi berhenti, dan dari tak-ngannya yang dingin akan mengalirlah perdamaian yang meliputi segenap tubuhnya, masuk ke dalam diriku! Sung-gu pun demikian ia pun seorang manusia juga, yang selalu menanggung sakit dan senang, dan kesusahan hati, yang mesti dilawannya.

Stella, Stella, kalau sekiranya saya dapat memeluk leher-mu sekarang dan menyandarkan kepalaku ke dadamu, alang-kah senangnya.

Barangkali jadi juga saya pergi ke Selebes kepada sahabatku itu dan mereka yang biadab, pemotong kepala itu. Dengan jalan apa Sekalipun kita berbuat baik, tak gunalah diindahkan benar, asal saja perbuatan itu baik. Wah, janganlah engkau terkejut dan jangan berpikir panjang lagi, Stella, barangkali tak perlu lagi saya pergi ke sana, dan tekat-tek yang sukar itu barangkali dapat diterka dengan jalan yang menyenangkan hati. Dalam badanku masih ada kemauan dan kekutan, syukurlah!

Perbanyak dua, ingatlah saja kepada yang baik, dan janganlah engkau lupa kepadaku, Stella, kekasihku.

21 Maret 1902 (V)

Benarlah kata nyonya itu. Adikku berangkat itu, sebagai kami kehilangan besar. Kami telah lama dan selalu hidup damai dan riang bersama-sama dengan dia. Tiadalah salah jika orang mengatakan bahasa kami bertiga telah menjadi satu, satu dalam pikiran, satu dalam perasaan. Rasanya belum percaya benar kami, bahwa si adik itu meninggalkan kami untuk selama-lamanya; sangatlah menggundahkan hati kami mengenangkan, yang ia telah berangkat dan tidak akan kembali lagi. Kami bersangka bahasa ia hanya pergi menumpang untuk beberapa hari saja dan sedikit hari lagi akan pulang kembali. Kami sungguh tercanggung karena kehilangan si cantik kecil itu. Tetapi lebih baiklah kami tak memikirkan hal itu, karena perceraian yang meremukkan hati itu, bukanlah sebuah saja. Tentu ada pula nanti perceraian yang lain, yang akan menuruti pada hari yang akan datang. Lambat launnya manusia di dunia ini akan bercerai jua, “bercerai”, itulah kata yang selalu kita dengar selama hidup!

Sekali-sekali baik tali persahabatan yang kuat dan suci itu diputuskan, kata de Genestet, tetapi nasihat itu mudah disebutkan, tetapi amat sukar akan dilakukan, betulkah atau tidak?

Kami selalu menerima surat yang berisi kabar baik dan kegirangan hati dari pada adik kami itu. Ia adalah dalam selamat walafiat saja. Syukur, alhamdulillah! Rahmat yang diperoleh nya pun menjadi rahmat kami pula.

Sekarang marilah saya perkenankan kehendak tuan, mencerrerakan ini dan itu tentang alat perkawinan adikku itu.

Alat perkawinan anak negeri selalu amat banyak huruharanya. Beberapa hari dan beberapa pekan di muka sebelum alat itu dilangsungkan, maka disediakanlah sekalian alat keramaian itu. Ketika itu tiadalah kami bersuka-sukaan benar, karena adalah seorang keluarga kami yang meninggalkan dunia, yaitu seorang saudara perempuan, adik oleh mempelai itu, telah berpulang ke rahmatullah sebelum peralatan itu menjadi. Kasihan sekali, ia masih muda dan meninggalkan anak beberapa orang. Ketahuilah oleh nyonya, bahwa adikku kawin ialah dengan anak saudara perempuan bapak, jadi kawin bersaudara namanya. Dahulu adalah ia datang sekali ke mari, tetapi ketika itu ia masih kecil sedang berskolah dan seorang jupaun tiadalah yang mengenang akan perkawinan itu.

Acap kali didapati adalah anak-anak yang dipertunangkan ketika kecil dan nanti kalau mereka telah besar lalu dikawinkan saja.

Adikku mengulangi persahabatannya dengan suaminya itu, ketika tuan besar Gubernur Jenderal ada di Semarang. Menurut sepanjang adat tak boleh sekali-kali anak-anak gadis pergi keluar rumah, kecuali kalau ia pergi menu-ruti suaminya, Biarpun belum pernah dikenallah. Tetapi seperti yang telah saya katakan, banyaklah dari pada adat-adat itu yang tiada kami turut lagi, karena tiada sepadan dengan pendidikan kami yang bebas itu. Kami bermaksud sekarang banyak lagi hendak menghapuskan adat-adat kuno dan buruk itu! Lebih-lebih beberapa lamanya menjelang anak gadis yang akan dikawinkan, ia sekali-kali tak boleh keluar dari rumah. Ia harus tinggal di rumah atau kalau ia ada berbilik, dikurung di dalam biliknya.

Bulan Desember yang lalu kami ada di Semarang, dan sekalian toko-toko di sana semua kami masuki, pergi membeli apa-apa yang kami sukai.

Kepada anak gadis Jawa yang baru bertunangan, tiadalah diucapkan orang selamat, demikian pun hal itu tiadalah diperkataan orang dengan dia, dan ia sendiri pun lebih-lebih tak suka memperkatakan pertunangannya itu, dan berlaku seperti ia tak tahu saja. Jikalau sekiranya boleh, maulah saya masuk ke dalam hati bangsaku hendak membaca, apa yang tergores di dalamnya, ketika adikku dengan mudahnya memperkatakan perkawinannya dengan mereka itu.

“Terlalu sekali” kami ini. Oh, ya, sedangkan bagi orang yang beradat sopan pun bukankah begitu pula? Mereka itu pun suka sekali menyalahkan barang sesuatu pekerjaan yang tiada dapat dimakluminya.

Tak bolehlah kami marah kepada bangsa kami yang belum berpengetahuan itu dan karena tak tahulah maka mereka seperti itu.

Sehari dua sebelum perkawinan itu akan dilangsungkan, kami pun kenduri dan mendoa, menyeru arwah-arwah kaum keluarga yang telah mati. Lihatlah itu, betapa bagusnya adat kami. Dengan segala sukacita selalu kami mengenang kepada keluarga kami yang telah meninggalkan dunia. Kenduri arti nya makan-makan bersama-sama, sesudah itu bersama-sama pula dengan ulama menadahkan tangan arah ke langit meminta kepada Allah dan rasul, rahmat dan nikmat untuk segala arwah-arwah orang tua-tua dan ahli lain yang telah meninggal itu, dan berkat mereka itu mudah-mudahan perkawinan itu akan diselamatkan Tuhan. Mendoa itu dilakukan di rumah anak-dara. Iparku pun datang dengan kaum keluarganya, waktu besoknya akan kawin. Mempelai Belanda setibanya di negeri kekasihnya itu, tentulah ia yang pertama-tama sekali akan pergi keremah anak-dara itu, tetapi menurut adat kami tak boleh diperbuat yang demikian. Mempelai tak boleh melihat isterinya, sebelum ia menjawat kabul, demikian pun kaum keluarganya tak boleh juga melihat anak-dara itu.

Besoknya alat akan dilangsungkan, dimandikanlah anak-dara hari ini dengan air bunga-bungaan; setelah itu barulah ia diserahkan ke tangan tukang paes atau tukang sanggul namanya, yaitu seorang perempuan yang digaji, yang paham dalam menghiasi dan pakai-memakai anak-dara dan mempelai. Anak-dara itu didudukkan di atas tikar yang berlapis dengan kain sekelat dan sutera yang telah dilengkapkan un-tuk hari yang mulia itu. Tikar itu kelak menjadi kepu-nyaan tukang sanggul. Berkeliling anak-dara itu terletak makan-makanan, sirih dan pinang, pisang, air sekendi, beras, ayam panggang dan lagi seekor ... ayam hidup dan pelita kecil yang menyala.

Kemenyan pun dibakar oranglah dan tukang sanggul mulailah mencukur bulu roma di pipi dan dikodok anak-dara itu. Rambut yang dikan ing diguntingnya sama panjang, demikian juga rambut yang dekat telinga, alis mata diperbaiki dan dicukur di tepi-tepinya. Melihat rambut kening dan rambut dekat telinga yang telah digunting dan alis mata yang telah dicukur itu, maka tahulah kita, bahasa perempuan Jawa baharu kawin.

Pukul empat petang mulailah orang mengenakan pakaian si anak-dara tadi. Keningnya dihiasi dengan lukisan yang berwarna hitam sampai ketelinganya dan mukanya dibedaki putih-putih, serta rambutnya disanggul seperti bangun kepala capung, yang dihiasi dengan bunga-bungaan.

Pada sanggul anak-dara itu dicocokkanlah tujuh buah tusuk sanggul permata, yang beranting-anting dan selalu memancarkan cahayanya. Kain yang bertaburi emas dan kebaya yang dihiasi, dikenakanlah kepadanya. Dan banyak-lah lagi perhiasan yang dipakainya, seperti: pending, dokoh, gelang, subang, buah baju lengan dan lain-lain, cukuplah semuanya. Anak gadis Jawa tak boleh memakai bunga di rambut, hanyalah perempuan yang telah kawin saja boleh memakainya. Itulah sebabnya maka perempuan yang telah berumur banyak kelihatan memakai bunga di rambut.

Malam besok akan kawin, malani itu bernama “widodareni”. “Widodari” artinya “bidadari” dalam bahasa Melayu, yang bertempat di surga. Pada malam itu anak gadis, yang besoknya akan dipersuamikan, dipandang seperti bidadari dan ia pun dimuliakanlah pula seperti itu.

Nyonya barangkali telah melihat potret-potret ukiran-ukiran buatan Je pun di rumah nyonya Rooseboom. Bukankah di antaranya adalah sebuah potret sebagai singgasana yang mempunai tiga buah pintu gerbang? Singgasana itu namanya dalam bahasa Jawa “kwade”, yaitu suatu perkakas rumah yang dipakai ketika beralat kawin. Kwade berukir-ukir itu, yang berwarna merah tua dan berlukis dengan air emas, terletak di kabupaten dalam bilik besar di belakang. Sekalian meja, kursi dan bangku dipindahkan dari bilik itu ke tempat lain, setelah itu dikembangkanlah di sana sehelai permadani besar.

Sebelah menyebelah kwade yang dihiasi dengan tabir dan bunga-bungaan itu terletak dua buah jambangan tembaga, yang dihiasi dengan pucuk pohon kelapa dan bunga-bungaan. Jambangan itu namanya “kembang mayang” dan pada tiap-tiap peralatan kawin tak boleh ditinggalkan. Kira-kira pukul setengah delapan malam, tatkala jamu perempuan telah berkumpul di bilik “kwade” itu, duduk berlereit di atas permadani sebelah menyebelah kwade itu, maka adikku pun masuklah ke dalam bilik itu dibimbing oleh saudara perempuan yang telah kawin dan oleh ipar perempuan kami serta diikuti oleh seorang perempuan yang membawa cerana dan tempat ludah. Adikku duduklah di pintu gerbang kwade yang tengah-tengah, diapit oleh kaum keluarganya dan orang patut-patut. Cerana tempat sirih itu diletakkan di mukanya, asal menurut adat saja, sebab adikku si gadis kecil itu tiada biasa memakan sirih. Di belakangnya adalah seorang anak gadis tukang mengipas-ngipasnya.

Di muka kwade yang cemerlang cahayanya itu serta diapit oleh jamu perempuan-perempuan istri kepala-kepala negeri, yang duduk teratur menurut pangkatnya serta berpakaian yang indah-indah, di sanalah adikku duduk bersila berdiam diri seperti patung Budha. Orang pun segera menghidangkan makan-makanan, yang disertai dengan air teh. Masing-masing mereka itu mendapat semangkuk teh dan dua piring kue-kue, dan si anak-dara dengan jamu-jamu yang ternama masing-masing mendapat sebuah dulang yang penuh berisi makan-makanan. Waktu itu rupanya bilik itu adalah seperti sehelai permadani yang penuh ditaburi dengan sedap-sedapan dan di sana-sini di sela dengan cerana dan tempat ludah yang terbuat dari pada emas, perak, tembaga dan kulit penyu. Sekalian jamu itu perempuan yang telah bersuami; dan kami yang belum bersuami tak boleh duduk bersama-sama dengan mereka itu.

Nyonya barangkali telah mendengar juga, bahwa tiadalah kemalangan dan malu yang lebih besar bagi seorang perempuan, kalau ia tiada bersuami. Di tanah Eropa, yang telah berkesopanan terang cuaca, bulem berapa lama yang lalu pun orang masih berpikir demikian itu juga, bukan? Sebab itu tak patutlah kita marah atas kepercayaan bangsaku, bangsa Hindia yang masih dungu dan bodoh itu.

Kalau sekiranya ibu mempelai masih hidup, turutlah ia juga duduk pada malam itu meramaikan alat menantunya.

Jamu yang laki-laki duduk dengan bapak di pendopo, dan mempelai tinggallah saja berdiam diri di rumah tempatnya menumpang. Betapa besar hati adikku, ketika hari telah pukul setengah sepuluh, tak dapat dikatakan, karena ia telah boleh berorak sila. Dengan segala adat tertib sopan, berjalananlah ia perlahan-lahan dari majelis raden-raden ayu itu, dan setiba di luar pintu, berlarilah ia ke biliknya akan menanggalkan sekalian pakaiannya itu. Sekarang ia telah menjadi adik kami kembali, si gadis yang suka berbesar hati itu, tidaklah lagi duduk sebagai patung Budha.

Malam itu malam Maulid. Kami kenduri dan bersedekah tidaklah di rumah, hanya sekali itu di masjid, dan waktu itu orang pun memintakan dua selamat kepada Tuhan, supaya perkawinan itu akan berbahagia. Di tempat kenduri itu hanyalah laki-laki saja, kami perempuan-perempuan makan di rumah, demikian juga regen-regen yang datang menghadiri diri alat kami.

Pada 24 Januari, sebelum pajar terbit, telah ramailah orang di kabupaten, yang telah dihiasi dengan gaba-gaba dan bendera-bendera. Di tengah jalan pun riang dan ramai pula. Bendera si tiga warna, yang berpancangan pada gaba-gaba, yang menuju rumah anak-dara itu, selalu berkibar-kibar membesar kan hati. Dipeseban yang dihiasi dengan bunga-bungaan dan daun-daunan dan di panggung-panggung di tanah lapang, di muka kabupaten, berbunyilah gamelan sambut-menyambut dengan gembiranya.

Di serambi belakang tersedialah beberapa keranjang bunga kenanga, bunga melati dan bunga cempaka; di sanalah pula duduk perempuan-perempuan mengatur bunga-bungaan itu atau menderai-deraikan akan ditaburkan nanti di tempat anak-dara dan mempelai akan berjalan. Kabupaten waktu itu penuh dengan manusia, bunyi gamelan dan baeo bunga-bungaan yang harum itu. Di bilik kami anak-dara mula-mula sekali dihiasi orang. Keningnya dilukisi dengan warna hitam dan lukisan itu dihiasi dengan emas.

Adikku duduklah seperti orang yang akan dibedah. Di belakang lukisan itu ditaruh orang rendah lilin pada kedua belah pihak, yang berwarna hitam. Pada lubang-lubangnya itu dihiasi dengan intan permata. Kebiasaannya rendah lilin itu terbuat dari pada rambut anak-dara sendiri yang diberi berlilin. Tetapi adikku, kami beri rendah lancung, karena membuat rendah itu dengan rambut benar, si gadis nanti banyak menanggung kesakitan, lebih-lebih adikku itu baru sembuh dari sakitnya; tentulah tak dapat ia menanggungkan. Di belakang rendah itu disisipkan tusuk kundai emas berpermata mutu manikam. Dalam hal itu rambut disanggul seperti bulan sebelah dan dihiasi dengan bunga-bungaan. Berkeliling kepalanya tergantung bunga melati bersusun terumbai-umbai sampai ke bahu. Pada sanggul itu disisipkan lagi tujuh buah bunga intan beranting-anting dan di belakang telinganya sebelah-menyebelah tergantung enam buah rantai bunga, terjurai-jurai sampai ke dada dan ke pinggangnya. Rantai bunga itu besarnya sebesar jari, diatur dari bunga putih di sela dengan gelung-gelung dan di ujungnya tergantung sebuah bunga kenanga kuning, yang diapit dengan bunga-bunga melati.

KABUPATEN JEPARA

Kalau berpakaian seperti wayang haruslah lehe, bahu dan lengan di atas ditampakkan. Sekalian itu digosok dengan minyak kuning yang harum baunya, melainkan muka sajalah yang dibedaki. Adikku memakai kain yang bertaburkan emas dan dipalut lagi dengan kain sutera, itu pun bertabur pula dengan emas dan berikat pinggang yang terbuat dari pada sutera kuning, yang ujungnya berumbai-umbai, terbuat dari pada sutera merah bertatahkan emas. Sehelai kain panjang berwarna hijau daun tua, amat bagus rupanya, bertekat dengan benang emas, yang di tengah-tengahnya berwarna hijau muda dan dipalutkanlah kebadannya, sedang lengan dan bahu sama sekali kelihatan. Ikat pinggangnya sutera kuning yang bernama “mendologiri” dipalut dengan emban, tiga diari lebarnya, bertatah pula dengan mutu manikam. Diikat pinggang itu dengan ujung pangkalnya terjumbai-jumbai, dililitkan lagi rantai bunga dari sebuah paha ke paha yang lain. Pada lehernya tergantung dokoh intan berjila-jila sampai ke pinggangnya.

Pada lengannya di bawah dipakainya gelang tangan, dan pada lengan di atas gelang ular-ular. Kepala dan ekor ular itu menengadah ke atas, dan di sana tergantunglah uang tali emas terjumbai-jumbai.

Dalam pada itu hari pun telah sampai kira-kira pukul lima petang. Di bilik kwade itu telah berkumpul sekalian istri kepala-kepala negeri, yang berpakaikan pakaian kehormatan. Dari kwade sampai ke pendopo jalannya penuh dita-buri dengan bunga-bungaan, seakan-akan permadani panjang layaknya. Di sanalah nanti pengantin itu berjalan.

Adikku dibimbinglah oleh saudara-saudaranya keluar dan berdirilah di muka kwade itu. Lampu-lampu pun telah dipasanglah dan di pendopo penuhlah berdiri regen-regen berpakaian kebesaran. Beberapa orang kenalan kami bangsa Belanda ada juga di sana hendak melihat adikku untuk penghabisan. Di tanah lapang dan di pekarangan kabupaten penuh manusia seperti semut banyaknya, hanyalah di jalan-jalan yang dihiasi dengan gaba-gaba dan bendera tinggal lapang.

Dari jauh kelihatan menguning payung-payung emas angkatan. Bertambah lama bertambah dekat, kiranya itulah kedatangan kepala-kepala anak negeri Bumiputera, yang berpakaian kebesaran dan berjalan masing-masing di bawah payung keemasannya. Dan di belakang mereka itu kelihatanlah upacara mempelai. Mempelai duduk dengan regen-regen di dalam kereta yang terbuka dan berpayung emas. Dari peseban dan kabupaten kedengaranlah bunyi gamelan tanda memberi selamat datang kepada mereka itu.

Upacara itu setiba di kabupaten berhentilah di muka pendopo; sekalian kepala-kepala negeri duduklah berjongkok; dan mempelai pun turunlah dari keretanya diiringkan oleh regen-regen lalu naik ke tangga terus pergi ke tengah-tengah pendopo dan duduklah ketiganya di sana di atas permadani, memberi hormat kepada bapak dan regen-regen yang lain-lain. Regen-regen yang mengiringkan mempelai itu berlutut mundur ke belakang serta meninggalkan mempelai yang berpakaian wayang itu di tengah-tengah pendopo; sebentar antaranya datanglah kepala-kepala negeri itu mengelilinginya dan di belakang mereka itu duduklah ulama-ulama. Di ujung pendopo itu, di situlah duduk regen-regen bersila di atas permadani. Bapak dan penghulu duduk dekat mempelai. Bapak lalu mengatakan kepada mereka yang hadir, apa maksudnya memanggil mereka itu beramai-ramai datang pada hari itu dan kemudian dimintakannyalah penghulu mengawinkan anaknya dengan mempelai itu. Sementara penghulu itu mendoa, kedengaranlah di pendopo itu bunyi suara manusia yang sebanyak itu berulang-ulang menderu-deru, sayup-sayup sampai seakan-akan di awang-awangan rasanya menyebutkan: amin, amin!

Sayang sekali kami tak dapat mendekati benar majelis itu. Seorang guru perempuan, sahabat kami, Rukmini dan saya, kami bertiga sajalah perempuan di pendopo itu yang hadir. Untunglah ada diizinkan orang kami berdiri di sana, dengan sesuka hati kami. Tetapi akan duduk dekat laki-laki yang banyak itu, mendengarkan perkawinan itu sekali-kali kami tak boleh. Sungguh sayang sekali: kami suka benar hendak mendengar syahadat nikah dan melihat keadaan penghulu mengawinkan orang dari bermula sampai kesudahannya. Hanya yang kami ketahui, bahwa ketika ia membaca syahadat nikah dipegangnyalah tangan mempelai dan mempelai wajib menyebut syahadat itu sekali lagi.

Selama-lamanya keadaan itu dilakukan dalam seperempat jam saja, tetapi bagi kami serasa berjam-jam lamanya. Waktu itu orang duduk tepekur dan berdiam diri, melainkan yang kedengaran ialah suara ulama yang sayup-sayup sampai membaca dua selamat.

Setelah itu mulailah kerapatan itu bergerak, karena ulama-ulama itu menganjur dirinya beringsut-ingsut ke belakang. Itulah tanda perkawinan itu telah selesai.

Regen-regen pun berdirilah, dua orang di antaranya pergilah membimbing mempelai dan berjalanlah mereka itu bersama-sama di atas permadani bunga-bungaan itu diiringkan oleh regen-regen yang lain. Di bilik kwade adikku pun dibimbinglah pula oleh saudara-saudaranya dan pergilah pula berjalan di-jalan yang berbunga-bungaan itu, diiringkan oleh ibuku dan sekalian jamu perempuan. Ketika mempelai dan anak dara beberapa langkah lagi akan bertemu, dilepaskan oranglah mereka itu dan kedua pengantin itu teruslah lempar-melemparkan sirih bergelung, yang berisi dengan bunga-bungan. Beberapa langkah lagi mereka itu akan berhadapan, keduanya lalu berjongkok, demikian pula sekalian pengiring mereka itu.

Sementara mempelai duduk, datanglah anak-dara beringsut-ingsut dengan lututnya, pergi menghampiri mempelai; setelah berdekatan benar, lalu menyembah dan mencium lutut mempelai yang sebelah kanan. Setelah sekali lagi ia menyembah, maka mempelai pun berdirilah, lalu mengangkat isterinya dan berbimbing-bimbinglah mereka itu, pergi kekwade diiringkan oleh persemandan. Regen-regen itu baliklah kembali ke pendopo.

Kedua pengantin itu duduklah di muka kwade itu, kedua-duanya seperti patung Budha rupanya. Pada sebelah menyebelahnya duduklah keluarga dan sekalian jamur perempuan. Di belakang pengantin itu duduklah dua orang anak gadis mengipas-ngipas pengantin itu. Menurut adat yang biasa di situlah pertemuan yang pertama kali antara laki dan istri, yang baru-baru kawin.

Kira-kira pukul setengah tujuh, masuklah regen-regen itu ke dalam dan duduklah seperti bulan sebelah di muka pengantin itu. Di belakang pengantin itu duduklah pula kaum keluarga perempuan. Sesudah itu pergilah kedua pengantin itu mencium kaki keluarganya yang tua-tua. Anak-daralah yang lebih dahulu berdiri, dan pergilah berlutut kepada ibuku, lalu menyembah dan mencium lutut ibu; demikianlah jalaninya ia menerima rahmat dari pada ibu atas perkawinannya. Dari ibu itu pergilah adikku kepada mamak-mamak muda, saudara-saudara yang tua akan meminta rahmat seperti tadi. Kemudian pergilah ia lagi kepada bapak mencium lututnya meminta rahmat, sesudah itu pergilah ia kepada mertuanya yang laki-laki dan bapak-bapak muda dan saudara-saudara laki-laki sekalian. Sesudah itu duduklah ia kembali ke tempatnya dan mempelai pun mulailah pergi mencium lutut sekalian mereka itu, seperti yang telah diperbuat oleh anak-dara tadi. Setelah sudah berbuat yang demikian itu, maka berdirilah regen-regen itu pergi minum teh dan makan makan-makanan yang telah dihidangkan orang, seperti tadi malam. Pukul tengah delapan barulah diizinkan pengantin berdiri dari tempatnya.

Berbimbing-bimbingan berjalanlah mereka itu keluar. Sepatutnya mereka itu berjalan berlutut, tetapi karena mereka itu keduanya baru sembuh dari pada sakitnya, diizinkan ia berjalan berdiri.

Pada kaum regen yang lain: mempelai itu setiba dirulmah mertuanya, haruslah merangkak menaiki tangga, sekali-kali tak boleh berdiri, sebelum ia bertemu dengan isterinya. Itulah adat orang besar-besar namanya.

Mempelai pergilah ke bilik anak-dara dan adikku pergilah ke bilik kami mengganti pakaiannya akan menyambut keda-tangan jamu bangsa Eropa.

Mengenakan sekalian pakaian anak-dara itu sehari lamanya, tetapi menanggalkan hanyalah dalam lima menit saja. Sanggul dan perhiasan dikenangnya tidaklah kami tanggalkan. Kami anak-anak gadis, yang sebenarnya tak boleh mengenakan pakaian anak-dara, tetapi hal itu tiadalah kami pedulikan, kami buatalah saja pekerjaan itu. Pikiran yang seperti itu, pada sangka kami pikiran gila. Masakan kami tak boleh memakai adik kami dengan pakaian anak-dara! Kami beri adikku berkain sutera bertekat emas dan kebaya beledu bersuji peraek. Kami kenakan di lehernya dokoh intan yang lain. Bunga-bunga emas yang dirambutnya dan teesook kundainya kami tanggalkan dan kami lekatkan di kepalanya mahkota emas dan dengan layahnya.² Di kepalanya kami tusukkan intan permata yang bertangkai berpilin-pilin. Demikianlah adikku kami pakai, bermahkota berlayah, tak ubahnya seperti putri dalam cerita seribu satu malam.

Bagus sekali rupanya ia memakai pakaian itu, demikian pun berpakaian seperti wayang. Sayanglah tak dapat kami menyu-ruh membuat potretinya.

Mempelai waktu itu memakai baju angkatannya. Sekali lagi pergilah pengantin itu duduk ke muka kwade, dan tatkala hampir pukul delapan, pergilah mereka itu berkepit tangan keserambi muka, duduk di kursi keemasan yang tersedia untuk mereka itu, yang dilingkungi dengan pohon pinang. Di sana berdirilah mereka itu menerima ucapan selamat dari nyonya-nyonya dan tuan-tuan bangsa Eropa. Itulah namanya receptie, dalam bahasa Belanda; dalam pada itu di pendopo berbunyilah musik, amat merdu-merdu sekali lagunya, dan tari-menari menjadilah pula; kedua pengantin pun dengan berkepit tangan berjalan-jalanlah pula berkeliling pendopo beberapa kali.

Pun menurut adat yang biasa, anak-anak gadis tak boleh pergi kealat kawin. Itu pun tidaklah kami indahkan. Masakan kami akan tinggal di belakang saja, waktu memperalatkan perkawinan adik kami itu!

Hampir pukul dua belas, tuan residen yang datang juga menghadiri peralatan itu berpidatolah, mengucapkan selamat kepada pengantin. Pidato itu dijawab bapak. Setelah itu maka jamu bangsa Eropa memberi selamat tinggal lalu pulang ke rumahnya masing-masing, tetapi tuan residen dan beberapa orang tuan-tuan yang lain dan seorang nona sahabat kami, tinggal di sana menghadiri keramaian Bumipu-tera. Setelah jamu bangsa Belanda berjalan, maka datanglah kepala-kepala negeri Bumiputera yang tadinya duduk di sisi pendopo, lalu masuk ke tengah dan duduk seperti bulan sebelah mengelilingi mempelai, yang waktu itu akan memperlihatkan kepandaiannya tentang menari.

Regen-regen dan kepala-kepala negeri yang lain masing-masing sekarang berpakaian angkatan yang biasa. Gamelan pun berbunyilah dan tukang tari seorang gadis joget mulailah menari.

Patih Jepara menyembahkan kepada mempelai sehelai kain sutera di atas sebuah dulang perac. Setelah diterimanya selendang sutera itu, maka Patih itu pun balik ke tempatnya. Gamelan teruslah dibunyikan dengan lemah lembut, tanda meminta datang juara alat, akan membuka peralatan itu. Mempelai pun berdirilah dari tempatnya lalu pergilah kete-ngah-tengah pendopo. Selendang sutera itu diikatkannya pada kerisnya dan dimintanya orang membunyikan lagu yang disukainya. Permintaan itu segeralah dikabulkan.

Tak maulah saya mencoba menceritakan keadaan tari itu, karena tak cakap rasanya penaku merencanakannya. Hanyalah yang dapat saya katakan, bahwa amat senang mata meman-dang joget yang lemah gemalai itu menarikan dirinya. Pergerakan badannya amat sesuai dipandang dengan bu-nyi lagu gamelan itu, dan di belakangnya itu menarilah gadis joget itu serta menyanyi sekali. Kepala-kepala anak negeri yang duduk berkeliling itu bertempik dan besoraklah beramai-ramai dan menyanyi bersama-sama.

Ketika mempelai hampir habis menari, maka tuan residen-pun tiba-tiba datang membawa dua gelas berisi minuman kepada si pandai tari itu, yaitu pada waktu gung berbunyi penghabisan, akan penutup, lagu itu, dan ketika kedua pandai tari itu sedang duduk berlutut. Dengan mengangkat sembah diterimanya oleh si pandai tari yang laki-laki segelas minuman itu dari tuan residen, dan kedua orang besar-besar itu meminum habislah isi gelas masing-masing, dan orang pun besorak-sorak dan gamelan berbunyilah pula melagukan lagu yang bersukacita. Seorang bujang pergilah mengambil kedua gelas yang kosong itu, dan tuan residen pun mohonlah berangkat pulang. Setelah mempelai berdiri sekali lagi, lalu menari. Sekarang bapakku minumlah memberi selamat menantunya. Sambil menari itu datanglah keduanya dekat-mendekati dan ketika gung penghabisan akan berbunyi berlututlah si pandai tari yang muda menyembah menerima minuman dari pada mertuanya, tanda ucapan terima kasih.

Setelah sekalian regen-regen yang hadir, mengucapkan selamat, barulah ia boleh berhenti menari dan pergi duduk kembali dekat isterinya. Sebentar lagi pengantin pun berangkatlah. Dan jamu bangsa Eropa yang masih ada lagi pulanglah ke rumahnya masing-masing; tetapi kepala-kepala negeri Bumiputera teruslah beramai-ramai sampai pagi. Tuan-tuan itu sekaliannya turutlah juga menari, apalagi tuan asisten-residen kami sangat pandai benar menari cara Jawa. Ibuku, serta sahabatku yang perempuan dan saya bersama-sama Rukmini duduklah juga melihat keramaian itu sampai waktu jamu bangsa Eropa habis pulang semuanya.

Besoknya tinggallah kedua pengantin itu di rumah menyenangkan diri. Dan pada malamnya itu haruslah mereka itu mencukupi lagi adat perkawinannya, yani kedua pengantin itu perlu pergi menjelang rumah orang tua mempelai. Orang Jawa mengatakan adat itu “ngenduh mantu” artinya kalau di bahasa Melayukan: “memetik menantu perempuan.” Menantu perempuan dimisalkan oleh orang-orang tua mempelai seperti bunga yang dipetik oleh mereka itu untuk anaknya yang laki-laki.

Yang sebenarnya kedua pengantin haruslah hendaknya berpakaian pengantin seperti pergi berarak, tetapi karena banyak mendatangkan kesusahan kepada pengantin, sebab itulah tiada dipakaikan. Mempelai berpakaian seperti biasa, adikku bersarung kain keemasan dan memakai kebaya sutera. Rambutnya disanggul seperti kepala capung. Pada tempat yang kuberi bertanda ini, diberi berbunga-bunga, ya, sama sekali di atas kepalanya penuhlah dengan bunga melati yang bagus susunannya. Pada sanggulnya itu disisipkanlah lagi bunga-bunga intan yang gilang-gamilang cahayanya.

Kedua pengantin itu duduklah di kereta, di muka dan di belakang kereta itu berjalanalah sekalian kepala-kepala negeri, yang turut berarak pergi menjelang rumah tempat bapak mempelai menumpang.

Berhari-hari, berpekan-pekan sesudah perkawinan itu, kedua mereka itu pun dikatakan orang juga anak-dara dan mempelai. Dan anak-dara dikatakan orang sampai ia beranak. Adalah juga perempuan-perempuan dan ibu-ibu, yang selama hidupnya dikatakan orang “nganten”, yani kependekan dari pada “pengantin”.

Beberapa hari sesudah beralat, pergilah mereka itu mengunjungi sahabat-sahabatnya bangsa Eropa dan handai tolamnya.

Lima hari sesudah kawin, beralatlah sekali lagi di kabupaten; karena hari pekan yang pertama sesudah kawin menu-rut adat Jawa harus dimuliakan.

Sepekan sesudah beralat besar itu, maka kedua pengantin-punt berangkatlah meninggalkan rumah orang tuanya. Di mana-mana mereka berhenti, selalu disambut dengan segala ke-hormatan dan sukacita oleh sanak saudara.

Di Tegal peralatan itu diulang sekali lagi; di sana mereka itu tinggal sepekan, kemudian barulah pergi ke tempatnya sendiri di Pemalang.

Demikianlah cerita peralatan kawin orang Jawa yang besar-besar. Adikku kawin dikatakan dengan peralatan kecil, sebab kami tiadalah memakai sekalian adat upacara. Walau-pun demikian bukan buatan susah kami mengerjakannya; dan betapakah susahnya lagi kalau beralat dengan adat yang selengkapnya?

Kami sesudah beralat hampir tiada berdaya lagi. Pemberian yang dibawa orang ketika beralat kawin, yani: kain sarung, kain pinggang, kain kepala, dan sutera untuk kebaya, lakan bakal baju jas dan ada juga makan-makanan seperti: beras, telur, ayam dan kerbau; sekalian itu terutama diper-gunaan selama dalam beralat.

Kardinah pun ada mendapat seekor sapi jantan yang bagus dari bapak muda. Dan pemberian itu patutnya diperlihatkan pula bersama-sama dengan barang-barang anugerah yang lain!!!

O ya, ada lagi yang hendak saya ceritakan, kalau orang menyembelih kerbau ketika beralat kawin itu—biasanya me-nyembeli lebih dari pada seekor—maka pada beberapa jorong digali orang lubang dan dimasukkan ke dalam lubang itu se-buah ketiding yang berisi sirih, kue, pinang, daging sesayat, darah kerbau yang disembelih itu sedikit dan bunga-bungaan, atau diletakkan ketiding yang berisi itu di simpang-simpang jalan, jambatan dan di sumur; sekalian itu gunanya un-tuk sedekah kepada jin dan setan yang tinggal di sana. Kalau tiada dibuat demikian, maka jin dan setan yang tinggal di-jorong, di simpang, di jembatan dan di sumur itu marah nanti kepada mereka yang beralat itu, dan mereka pun ten-tulah akan dicelakakannya. Demikianlah kepercayaan Bumi-putra! Dari mana asal kepercayaan itu tak tahulah saya.

Bagaimana pikiranmu tentang hal itu sekaliannya, Hilda?

Seorang sahabat kami mengatakan bahwa bangsa Jawa itu, yaitu satu bangsa yang penuh dengan cerita dan kabar yang ajaib-ajaib.

Siapakah yang akan membawa bangsa kami yang penuh de-ngan cerita wayang dan cerita yang ajaib-ajaib itu ke padang kemudian, hidup yang sebenarnya? Ke sanalah kami harus pergi. Kalau kepercayaan yang sia-sia itu telah hilang lenyap, niscaya tak gunalah kami menginjak-injak keheranan dan kebagusan dalam cerita-cerita itu.

Apa pulakah yang kukatakan itu? Dari pada membicarakan itu lebih baik saya bertonya kepadamu, besarkah hatimu membaca karangan yang panjang ini, dan sukakah engkau memaafkan kesalahanku, karena telah menyuruh engkau menunggu sekian lama? Sesungguhnya banyaklah hal yang bagus dan ajaib-ajaib di hati dan alam bangsa kami, terutama banyak keheranan dalam kepercayaan hatinya yang masih seperti anak-anak itu.

Tentu engkau tercengang mendengarkan sekalian hal itu, tetapi benarlah kataku itu, bahwa engkau bangsa Eropa telah mengajar saya mengasihi dan mencintai bangsa dan tanah airku sendiri. Pendidikan kami yang seperti adat Belanda, tiada akan menjauhkan kami dari pada bangsa kami, melainkan ialah yang membawa kami bertambah dekat kepadanya. Pendidikan itulah yang membuka mata dan hati kami akan mengetahui kebagusan yang tersimpan pada tanah dan bangsa kami, dan ialah pula yang membukakan mata kami akan mengetahui kesusahan dan kesengsaraan mereka itu. Bukan buatan cinta kami kepada tanah dan bangsa kami! O! dapatlah kiranya kami hendaknya menolong nasib mereka yang malang itu. Kalau dapat berapalah sukacita kami!

Tetapi tak gunalah saya lebih lama lagi menggaduh engkau, dengan cakar ayam seorang anak gadis Jawa yang “gila” ini. Cukuplah sehingga ini dahulu.

Hubungan surat:

Pada beberapa tempat, adatnya ketika kedua pengantin itu baru bertemu, maka sebelum anak-dara mencium lutut suaminya, haruslah lebih dahulu membasuh kaki mempelai akan tanda si perempuan memperhambakan dirinya.

Jikalau seorang janda laki-laki kawin dengan anak gadis, atau janda perempuan kawin dengan seorang anak bujang, maka sesudah melemparkan sirih, maka janda itu pun menunjukkan sekerat kayu yang masih berapi kepada si gadis atau si bujang yang belum kawin; dan dalam hal itu si janda menerima pula sebuah kendi yang berisi air akan pemadamkan api itu. Setelah api itu padam dan air dalam kendi kosong, maka kayu itu pun dibuangkan dan kendi itu dipecahkanlah. Apa maksud atau arti perbuatan itu, tak guna saya terangkan, karena mudahlah dimaklumi.

Engkau hendaknya patut sekali melihat adikku tatkala ia duduk bersama seperti patung Budha di muka kwade itu, betul-betul bagus. Baik benarlah sedianya disuruh potret atau yang lebih baik lagi disuruh gambar dengan tangan, sehingga sekalian warna yang dipakainya itu dapat dilihat dengan seterang-terangnya.

Betapa halus tertib dan sopannya waktu berjalan di atas permadani dengan bunga-bungaan sebanyak itu serta harumnya ditambah lagi dengan bau dupa, tak dapat saya perikan. Tetapi rupanya hampir seperti Budhisatwa.

Kalau saya sekarang mendengar bunyi gamelan dan mencium bau bunga-bungaan yang bercampur dengan bau dupa, maka terkenanglah olehku keadaan adikku yang telah lalu.

Banyaklah mereka itu yang memungut bunga-bungaan yang tertabur di atas permadani tempat adikku berjalan itu, karena menurut kepercayaannya, bunga itu membawa untun baik kalau disimpan; dan kalau anak-anak gadis yang menyimpannya, akan berutun mendapat suami!!!

Padaku sekarang adalah sebuah kitab agama Budha, yang bernama “De ziel van een volk” (Nyawa suatu bangsa); isinya amat bagus!

27 Maret 1902 (VIII)

Celaan dan penghinaan orang banyak tiadalah kami indahkan; tetapi kesayangan mereka itu yang berbudi, yang seribu kali lebih tinggi derajatnya dari pada mereka itu, amat besar harganya kepada kami, karena ialah yang membesarkan hati bekerja, memberi kekutan, pertolongan dan penghiburan hati. Bagaimana juga kesudahannya, janganlah tuan jemu berbuat baik; itulah kalimat yang saya bacatadi, dan menurut pikiran kami sekalian cita-cita kami memanglah baik.

Sekalian orang tahu, bahwa biasanya anak gadis bangsa Jawa dikawinkan oleh orang yang mengasuhnya dengan tiada setahu si anak. Betul di tanah Sunda anak-anak perempuan kenal akan jodohnya, pernah melihat dan bertemu dengan dia, tetapi cobalah tanyakan, di tempat manakah yang lain di tanah Jawa diperbuat orang demikian?

Wahai, cobalah lihat di rumah orang yang “baik-baik dan berada!” misalnya di kabupaten. Tiadalah saya tanyakan, bagaimana pikiran perempuan-perempuan dan perasaannya tentang hal itu, tetapi saya tahu betapa anak-anak gadis yang mendapat pendidikan cara Eropa memikirkan hal itu. Sekiranya hal itu tak dapat dipikirkan oleh mereka itu, tetapi tentulah sekurang-kurangnya ia merasa, betapa ia dihinakan orang.

“Mereka itu hidup bersenang-senang!”

Kesenangan melipankan kedukan dan perasaan perempuan. Mereka itu tak boleh mengadukan halinya, karena ia telah membuak hal itu menurut kehendak hatinya sendiri! Tetapi bagaimana anak-anaknya? Apakah yang lebih lagi menghan-curkan hati lain dari pada kalau melihat kehidupan anak-anak yang calaka dalam kesengsaraan, karena anak-anak yang semuda itu telah merasa selekas itu akan kesusahan dan kekejian hidup? Apalagi anak-anak gadislah yang teraniaya benar, karena setiap hari mereka dipaksa membunuh perasaan hatinya. Tiadakah namanya itu meruntohahkan kemauan alam, jika seorang laki-laki tiada berbudi, memaksa istri-istrinya wajib berjinak-jinakan seorang dengan yang lain?

Patut benarlah sekarang anak perempuan bangsa Bumipu-tera sendiri berani mengeluarkan suaranya!

Dan maukah juga nanti orang mengatakan dengan hati yang tetap: “Mereka itu hidup bersenang-senang, kalau se-kira dilihatnya pula apa-apa yang telah kami lihat, dan dike-tahunya pula apa-apa yang telah kami ketahui?”

Saya telah menyalin buah pikiran tuan Prof. Max Muller, seorang Jerman yang pandai dalam bahasa-bahasa tanah Timur, babad, tambo d.l.l. Beginilah bunyinya: “Beristri ban-yak seperti adat bangsa-bangsa di sebelah timur, itulah suatu kebaikan bagi perempuan-perempuan dan gadis-gadis, yang tak dapat hidup di tanah airnya kalau tiada bersuami, atau kalau tak ada seorang pun yang akan menjaganya.”

Max Muller telah meninggal, tak dapat lagi kami memanggil-nya ke mari akan menyuruh memperlihatkan kepada kami, di mana benar “kebaikan” beristri banyak itu terdapatnya. Acap kali orang mengajar kami serta mengatakan, bahasa kalau perempuan tak kawin, itulah yang sebesar-besar malu, lagi berdosa besar. Ya, kerap kali benar orang mengatakan sedemikian kepada kami.

O, dihinakan dan dicela orang benar perempuan yang tiada bersuami itu. Kami ingin benar hendak pergi ke tanah Belanda, karena tanah Belanda itulah yang akan membebaskan kami.

Tanah Eropalah yang akan memberi kami berding besi, yang akan menangkis dan mengalangi segala asutan dan peng-hinaan orang banyak di Hindia ini!

Akan menjadi bebas harus kawin dahulu. sesudah itu bercerai lagi! Tetapi bercerai tak mudah pula. Kalau suami tak suka, ke langit pun perempuan berteri tak akan dapat kebebasan itu; tetapi kalau si laki hendak bercerai, tak usah ia menanya kemauan isterinya, setiap waktu boleh perem-puan itu diusirnya. O, Allah! di manakah letaknya rahmat dan keadilan untuk dunia perempuan dalam hal itu? Boleh juga perempuan membebaskan dirinya yaitu dengan uang, ia wajib membayar uang sekian banyaknya. Itulah pula suatu keadaan yang buruk benar, yang dilakukan oleh laki-laki kepada ikan dalam belanganya! Tetapi bagaimanakah kami akan dapat meminta keadilan, kalau di tanah Barat, tanah yang telah tinggi kesopanannya, masih juga menyamakan perempuan dengan anak-anak atau orang-orang gila? Tak guna saya memperkatakan hal itu lagi, nantilah pula saya hubung.

8 April 1902 (VIII)

Tambo tanah Belanda yang dahulunya, ketika saya masih bersekolah, tak pernah menarik hatiku untuk mempelajarinya karena menjemukan hati, sekarang barulah membesarkan hatiku. Gembira hati membacanya, apalagi banyak kabar yang indah-indah di dalamnya. Kitab yang kubaca sekarang jauh berlainan dengan kitab yang kubaca di sekolah.

Belajar ketika telah berumur ada pula kebaikan-nya; sekaranglah baru kami mengerti dan dapat memahamkan perkara-perkara yang diajarakan dengan mudah. Banyak perkara yang dahulu seperti benda yang “mati“ saja, tak dapat menarik hati kami, sekarang telah bersemangat dan bernyawa, suka benar kami hendak mengetahui sekarang keadaan benda-benda itu. Dahulu tak mau kami mengindahkannya, karena kami tak dapat memakluminya. Alangkah beruntung kami, kalau sekiranya ada kami menarui sekarang guru yang pandai menguraikan perkara-perkara yang hendak kami ketahui! Guru-guru yang berdiam diri di rumahlah yang wa-jib memberi kami jawaban akan sekalian pertanyaan kami. Hari ini saya mengajarkan “ilmu “bahasa“. Anak-anak kecil itu tercengang-cengang saja melihat apa-apa yang saya per-buat, sebab mereka tiada mengerti, tetapi mestilah diajarakan juga. Apabilakah akan tiba masanya kami dapat memeluk kepandaian di muka bumi ini, seperti seorang laki-laki yang mengasihi isterinya?

Kita harus mencari dalam ingatan kita sekalian pikiran yang baik-baik; kalau tiada kedapatan biarlah yang ada dalam-nya meski yang tak baik pun digosok bersih², supaya boleh berca-haya; itulah suatu akal, supaya hidup boleh mendapat ke-sukaan, bukan? Telah banyak kupikirkan tentang hal yang dikatakan orang “hidup senang“. Dalam beberapa hal yang kulihat dalam beberapa hari yang baru lalu ini acap kali terkenang olehku akan kalimat itu, dan pahitlah senyumku memikirkannya. O, nyonya yang kucintai! Rupanya tidaklah akan sekali ini saja orang merahasiakan dan menidakkkan sesuatu hal yang kejadian! Dunia ini masih penuh berisi manusia yang mengatakan dirinya mempunyai kesopanan tinggi. Karena itulah maka mereka itu tak mau melihat keadaan dan kebenaran yang sesungguhnya, sebab sekalian itu diumpamakannya seperti seorang perempuan yang bertelanjang bulat, dan dipalingkannyalah mukanya, sambil mencela dan menghinakan perempuan itu.

Petang ini runtuh rasanya hati kami melihat suatu contoh kesengsaraan hidup. Adalah kami bertemu dengan seorang anak yang berumur 6 tahun sedang menjulal rumput. Anak itu kira-kira sebesar anak bapak muda. Waktu memikul rumput itu tiadalah tampak badannya, hilang di antara kedua rajut rumput yang dipikulnya itu, hanyalah seperti dua buah rajut rumput yang tampak oleh kami berjalan. Bapak menyuruh memanggil anak itu, dan di sanalah kami dengar kabar penanggungannya, perasaan yang ditanggung oleh beratus-ratus, ya, beribu-ribu kawannya yang lain di desa-desa. Anak itu tiada berbapak lagi, ibunya pergi bekerja dan di rumah tinggallah dua orang adiknya laki-laki. Ialah anak yang tua. Kami tanyakan kepadanya: sudahkah ia makan? “Belum,” jawabnya. Mereka itu makan nasi sekali sehari, yaitu malam hari, kalau ibunya telah pulang; tengah hari dimakannya kue sagu sebuah yang berharga setengah sen.

Saya pandanglah anak yang sengsara itu, kemudian saya pandang lagi anak muda yang sama besar dengan dia itu, dan teringatlah olehku, bahwa makan kami 3 kali sehari; itulah yang menghancurkan hati kami.

Kami beri ia makan, tetapi ia tak mau memakan makanan itu di sana, makanan itu dibawanya pulang.

Saya pun memandang anak kecil itu sampai hilang dari mataku; perkakasnya hanyalah sebuah pemikul dan sebuah sabit. Banyaklah pikiran yang timbul di kepalaku dan perasaan di hatiku ketika memandang anak itu dari jauh.

Malulah saya memikirkan kelobaan diriku sendiri. Saya haya memikirkan dan mengenangkan halku sendiri; tetapi lihatlah di luar rumahku, amat banyak orang yang lebih celaka dan sengsara! Sebentar itu juga seperti kedengaranlah olehku orang di kelilingku mengeluh dan memekik meminta tolong sampai ke udara karena kesengsaraan. Lebih keoat lagi dari pada keluh dan pekik yang terdengar di telingaku, suara yang mengatakan: “Bekerja, bekerja! bekerja! Berperanglah engkau merebut kebebasanmu itu! Kalau engkau telah bebas oleh karena bekerja itu, barulah dapat engkau menolong orang lain! Bekerja! Terang sekali kedengaran olehku suara itu sedemikian terangnya, sehingga seperti tampak olehku tertus di pemandanganku, menyuruh saya menuliskannya kepada tuan, karena tuanlah yang mau menurut bersama-sama menanggung perasaan kami. Tuan kedua saya taruh di hatiku, dan kaum keluargaku Sekalipun tiadalah ku-kasihi demikian. Dalam pikiranku bersama-sama dengan tuan-lah hati dan nyawaku, tuan kedua telah menjadi hati jan-tungku sejak kita berkenalan! Alangkah ajaibnya hidu di dunia ini, belum beberapa lamanya yang lalu, saya tak tahu, bahasa tuan kedua adalah hidu di dunia ini dan tuan pun tak tahu pula kepadaku, tetapi sekarang tuan tak dapat diperceraikan lagi dengan saya!

27 April 1902 (VII)

Dari sejak kecil saya suka belajar dan selalu niat dan maksud saya yang terutama sekali hendak mengetahui sekalian hal, supaya saya boleh memberi faedah dalam hidu bersama-sama. Berapa sukanya hatiku hendak turut belajar bersama-sama dengan anak laki-laki bangsa kami di sekolah menengah (H.B.S.), tetapi sayang tiada dikabulkan! Telah beruntunglah kami, karena kami telah dapat mengunjungi sekolah Belanda itu, sebab bukanlah adatnya anak-anak gadis pergi ke sekolah; dalam hal itu kami meminta terima kasih kepada bapak kami, karena keberaniannya telah merusakkan adat, menyuruh kami bersekolah. Pengetahuan dalam bahasa Belanda memberi kami kesukaan yang tiada terpermanai banyaknya. Ialah yang membukakan kazanah nikmat bagi kami, yang dahulunya tak tahu kami akan keadaannya.

Apa-apa yang bagus pada bangsa asing, suka kami memberi-kannya kepada bangsa sendiri, tetapi tak adalah maksud bagi kami hendak membuang apa-apa yang bagus pada bangsa kami dan menggantinya dengan benda-benda bangsa asing; melainkan itu berguna kepada kami akan menambah kebagusan kepunyaan kami. Yani akan mengangkat derajat bangsa dan membawanya kepada kelakuan dan kesopanan yang lebih tinggi, sehingga keadaan kemanusiaannya menjadi baik dan beruntung; itulah cita-cita kami. Sekalian peperangan hidu kami berguna untuk mencapai cita-cita itu. Tetapi bagaimanakah kami akan mencapainya? dan apakah mula-mula akan dikerjakan? Kita harus mulai bekerja pada permulaannya. Dan permulaan itu bernama: pendidikan!

O! acap kali timbul di hati kecil kami, tiap-tiap kali apabila kami mengenangkan kesusahan dan ratap-tangis mereka itu, karena kesengsaraan badan dan hati, suatu pengharapan yang amat sedih: “Berilah orang Jawa pendidikan yang baik.” Sama sekali, sekalian anak negeri sekarang akan diberi pendidikan yang baik, tentulah tak dapat, hanya boleh jadi kalau dimulai dahulu dengan orang yang patut-patut dan kemu-dian berangsur-angsur dilebarkan sampai kepada bangsa yang di bawahnya!

17 Mei 1902 (I)

Tak dapat kukatakan kepadamu betapa besar hatiku, karena barulah sekarang saya boleh lagi turus belajar. Sekarang saya mengulang pengetahuan yang telah kuketahui dahulu. Te-lah lebih dari 10 tahun saya keluar dari sekolah; dan heranlah saya karena tiada sekaliannya telah saya lupakan. Adalah pula keelokan dan keuntunganku lambat belajar itu, yaitu saya sekarang lebih mudah mengerti dan memahamkan pengajaran dari pada tempoh masih kecil. Sayang sekali umurku sekarang telah 23 tahun, tidak lagi tiga belas tahun seperti dahulu. Waktu itu tentulah saya dapat banyak menambah pengajaranku, tetapi saya sekarang terikat oleh umurku. Mula-mula saya hendak mengambil diploma guru Belanda dan kemu-dian saya turut dalam ujian mengambil diploma satu atau dua bahasa anak negeri.

Sebentar ini saya harus berhenti bekerja, karena tangkai penaku patah, belum pernah kejadian hal sebagai itu padaku! Kasihan, pada penaku itu! Saya sayang kepadanya, karena telah lama kami bekerja bersama-sama dengan hati yang gembira.

Saya ini seperti orang gila, karena siapakah yang mengeluh demikian, sebab tangkai penanya yang patah?

Pada bulan April yang baru lalu, kami pergi berjalan jauh, karena kami hendak pergi melihat adik kami. Ketika kami berangkat dari rumah, tiadalah kami berhajat pergi kepadanya, melainkan kami hendak pergi melihat saudara perempuan kami yang tua, yang dewasa itu sedang sakit. Di sana kami terima surat dari pada adik kami, yang bersungguh-sungguh meminta, supaya perjalanan kami itu mestilah di-teruskan sampai ke Pemalang. Besok harinya kami berkereta-apih pergi ke situ. Tak dapatlah saya menceritakan pertemuan kami itu! Betul-betul sangat menggirangkan hati kami! Mula-mula tiadalah lain, yang kami perbuat hanyalah seorang melihat yang lain, lalu tertawa tersenyum-senyum dengan berpegang-pegangan. Meminta syukurlah saya melihat adikku itu dalam sehat walafiat. Lebih-lebih dari dahulu rupa-rupa-rupa badannya sekarang, adalah semisal bunga yang baharu kembang. Pipinya merah sebagai pauh dilayang. Bertambah tambah banyak saya meminta syukur melihatkan betapa suaminya menghormati dan menghargainya.

Betul gembira sungguh hatiku memperhubungkan tali silaturahim dengan saudaraku yang baharu itu. Ia seorang yang baik hati dan banyak sifat yang baik-balk terdapat padanya. Ia selalu berkata benar, adil dan setia serta berhati yang pengasih dan penyayang. Adikku itu tidak saja isterinya, tetapi juga menjadi kawannya, sahabatnya yang perempuan dan ibu dari pada anak-anaknya, yang tiga orang itu, yang mengasihi adikku sebagai ibu kandungnya sendiri.

Anak-anak itu selalu menurutkannya ke mana-mana, seperti kucing mau. Anaknya yang sulung berumur tujuh tahun, tinggal di rumah neneknya. Adikku itu suka benar hendak membawa si anak itu ke rumahnya, dan anak itu pun amat sayang kepadanya dan mau pula datang ke situ, tetapi neneknya tak mau melepaskannya. Anaknya yang dua orang lagi anak perempuan baru berumur 4 dan 6 tahun; sekarang adikku mengajar mereka itu di rumah, dan anak-anak itu-lah nanti bakal diyadi murid-muridku, Stella! Suaminya menyerahkan pendidikan anaknya sama sekali kepada adikku, ten-tulah adikku akan mengasuh anak-anaknya itu seperti cita-cita kami. Adikku tatkala masih gadis tak dapat menyampai-kan kenang-kenangan kami, tetapi keraya yang ditanggungnya sekarang kurang baguskah itu? Ia selalu boleh menaburkan kebajikan ke sana sini.

Jalan yang kami turut sungguhlah berlain-lainan, tetapi kami kedua dalam itu sama-sama bermaksud akan menghasilkan-kan cita-cita kami itu. Kalau jalan yang diturut itu berlainan Sekalipun tiadalah ia akan menjadi alangan, bukan? asal saja jalan itu baik dan kita pun sampai ke tempat yang ditujui itu.

Saya berniat sungguh-sungguh hendak pergi ke negeri Belanda, adalah beberapa sebanya. Pertama karena di sana lebih baik dari pada di sini melengkapkan sekalian keperluan untuk kerjaku nanti, yang akan kutanggung; kedua saya hendak bernapas dalam udara di tanah Eropa akan membuangkan kecelaan yang masih ada pada diriku; Sungguhpun tak banyak, tetapi ia mengganggu usahaku. Negeri Belanda wa-jib dan akan menjadikan saya seorang perempuan yang bebas sebenar-benarnya. Udaramu, kedinginan tanah airmu wajib menarik dan membuangkan sekalian kecelaan yang ada pada diriku; sesudah itu barulah saya bebas!

Dengarlah umpamanya ini: Saya tiadalah akan berhati gentar dan malu-malu akan menempuh sebuah bilik besar, yang penuh dengan tuan-tuan bangsa Eropa; tetapi amat bingung saya rasanya akan menerima seorang laki-laki bangsaku yang tidak kukenal, dan yang belum beristri menjadi jamuku. Engkau tentu mengatakan kelakuku yang semikian bodoh, tak patut dan gila, tetapi sekalian itu benar; saya tak berani umpamanya, lalu di muka orang laki-laki asing, kalau tak ada pengiringku. Sekiranya ada pengiringku tiadalah senang hatiku menempuhnya, karena malu!

Sekarang maklumlah engkau, Sungguhpun besar kehendakku akan bebas, tak dapatlah juga saya menjauhkan diriku dari pada kekerasan pendidikan bangsaku, yang memper-ceraikan sungguh-sungguh dunia anak-anak perempuan dengan dunia anak-anak laki-laki. Selalu dipertaruhkan orang kepadamu, bahasa tak patut anak gadis menampakkan dirinya kepada mata laki-laki asing dan harus senantiasa menjauhi tempat laki-laki; dan dengan hal yang demikian tak heranlah lagi, yang anak gadis itu sangat sekali takut akan bertemu dengan makhluk itu. Hal yang seperti itu mestilah berubah; dan kecelaan itu wajiblah hilang. Kalau tiada hilang bagaimanakah kami boleh bekerja bersama-sama dengan laki-laki nanti? Itulah cita-cita kami yang amat besar!

Udara di tanah Eropa sajalah yang dapat membersihkan kekerasan pendidikan bangsaku yang ada pada diriku ini; tanah airmu, Stella, yang akan membuangkan celaan yang merintangi kemajuan itu.

Tertawakanlah saya sesuka hatimu atas perkataanku yang tak sempurna itu. Tetapi pastilah tanahmu yang akan membebaskan diriku, betul-betul bebas!

Pada 19 April baliklah kami dari perjalanan itu. Bapakku menjemput kami dari stasiun, yang tiada berapa jauhnya dari rumah, dan diceritakannyalah kepada kami dengan riang, bahwa ia dapat surat kawat yang panjang isinya, dari pada tuan residen, mengatakan kabar baik, yani tuan van Kol akan datang besok ke Jepara. Itulah suatu surat selamat datang yang amat menggirangkan hatiku, apalagi di rumah telah menanti pula suratmu. Sekalian pegawai yang berkedudukan di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh tuan van Kol dapat perintah dari pada tuan residen akan menunggu kedatangan tuan itu. Dalam perjalanan nyia dari Semarang ke Jepara sekaliannya diperhatikannya dengan sungguh-sungguh.

Alangkah rajin dan tajam otaknya! Tak ada yang tiada diselidikinya. Melihat, mendengar, memasukkan kepikiran, memahamkan, sekalian itu telah menjadi satu padanya. Hari Ahad kira-kira puku 3 petang sampailah tuan van Kol ke Jepara dengan seorang juru kabar, yang menjadi penenjuk jalan serta juru bahasanya, bersama-sama dengan bapak yang pergi menyongsong mereka itu ke batas. Di tengah jalan mereka itu mendapat kecelakaan, yaitu sumbu roda kereta mereka itu patah, dan perjalanan itu diteruskanlah dengan sado yang amat lambat larinya. Beruntung benar tuan itu! karena di mana-mana saja, kalau perlu, dapatlah ia melepaskan lelahnya; di atas sado yang terbanting-banting itu dapatlah ia tidur nyenyak seperti di tempat petiduran yang berkasur.

Tuan itu tak mau menumpang di tempat-tempat lain, lain dari pada di rumah makan, sebab itulah selalu ditolaknya permintaan orang yang hendak menjamunya menumpang di rumah mereka itu. Ketika ia baru datang, ia bermaksud juga hendak menumpang di rumah makan; tetapi setelah ia berkenalan dengan kami, maka diterimanyalah permintaan kami, supaya sekali itu ia menumpang di rumah kami. Kemudian kami dengarlah, bahasa karena kamila maka tuan van Kol memutuskan maksudnya itu. Dilihatnya di sini banyaklah hal-hal yang hendak dijadikannya pengetahuan dan pemeriksaan. Ia hendak menyelidiki, bagaimanakah kebaikan pendidikan bangsa Eropa untuk anak-anak perempuan bangsawan dan itulah sebabnya maka ia tak mau melepaskan saat yang baik itu.

Untung benarlah kemudian baru kami tahu akan maksudnya itu; jika sekiranya waktu itu kami tahu, bahwa kami akan jadi benda yang akan diselidikinya, tentulah kami akan bergusar hati dan tiadalah akan berlaku seperti yang biasa saja.

Ketika makan tengah hari selalu kami memperbincangkan anak isterinya. Besar hati kami mendengarkan bagaimana ia menghormati isterinya. Karena berkirim-kiriman suratlah ia kenal akan isterinya. Itulah yang memperhubungkan mereka itu, Stella. Ia berkirim-kiriman surat dengan isterinya itu dahulu, ialah tentang karangan nyonya itu. Dengan tiada disangka-sangkanya diketahuinyalah sekarang, bahwa ia adalah menaruh rahmat Tuhan yang amat baik itu, yami pandai mengarang. Ia dahulu jadi pendidik, dan pada suatu hari ia pergi dengan kawan-kawannya tamasya kepada sebuah gedung di kaki gunung Penanggungan. (Menurut nama gedung itulah nanti rumahnya di Prinsenhage dinamainya pula sedemikian: “Lali Jiwa“). Seorang di antara mereka itu harus mengarangkan perjalanan itu. Ketika diundi, nyonya itulah yang kena. Ia pun mengirimkan karanganya tentang perjalanan itu, dan sesudah itu juru kabar kerap kali meminta karanganya lagi.

Tuan van Kol mengunjungi sekalian negeri tempat ia diam dahulu dan tempatnya bekerja. Anak-anak yang dahulu bermain-main dengan anak perempuannya, sekarang dilihat-nya telah menjadi ibu. Ia masih tahu akan nama mereka itu. Di Jawa Tengah ia hendak tinggal 4 hari lamanya, dan dalam hari yang empat itu ia hendak tinggal sehari bersama-sama dengan kami. Stella, kesukaan hati kami seperti pada hari itu dan malamnya bersama-sama dengan tuan van Kol, telah lama tidak kami rasai. O, alangkah baiknya kalau adikku ada di rumah ketika itu, betapakah ia akan bergirang hati dan jikalau engkau ada di sini, Stella, tentulah engkau akan turut bersesar hati bersuka raya; tetapi engkau pada masa itu ada bersama-sama, karena engkau ada selalu dalam kenang-kenanganku, ketika saya duduk dekat tuan van Kol. Hatiku berdebar-debar mengatakan: Stella, Stella. Sekalian itu perbuatan engkau, hai kekasihku, karena engkaulah yang sebenarnya tuan van Kol duduk bersama-sama dengan kami, bercakap, bercengkerma, mengeluarkan pikiran yang menggiringkan hati benar-benar, ialah akan menjadi penebas jalan untuk kami! Saya selalu banyak meminta terima kasih kepadamu, tak terbalas jasamu olehku, Stella. Kami semuanya duduk di muka di pendopo yaitu jamu kami, orang tua kami, Annie Glaser, Rukmini dan saya sendiri. Kami perlihatkan kepadanya sekalian barang-barang hasil kepandaian bangsa kami. Tuan van Kol pun tercanggang tersenyum-senyum melihatnya, sambil dituliskannyalah nama barang-barang itu dalam sebuah kitab peringatannya. Beberapa orang dalam majelis itu, berdirilah meninggalkan tempatnya, maka saya pun beralihlah dulu kepada sebuah kursi yang kosong, dekat tuan van Kol itu.

Ia pun mulailah bertanya: “Betul Raden Ajeng hendak pergi ke negeri Belanda? Melkhers, yang mengatakan kepada-ku.” Saya pun membenarkan katanya itu, dan ia lalu terus berkata: “Tetapi susah bagi tuan balik ke mari nanti. Dan akan balik ke mari itulah suatu kesusahan yang amat besar.”

“Apakah maksud tuan berkata demikian?”

Ia pun lalu meminta hendak berkata terus terang dan mengeluarkan pertimbangannya. Jawabku: “Itulah yang saya kehendaki kepada tuan.” Ia pun berkata pula: “Bagi Raden Ajeng nanti susah, kalau kawin. Kalau Raden Ajeng telah pergi ke negeri Belanda, tentulah tuan tidak akan bersenang hati lagi, kalau tuan menjadi istri seorang kepala negeri.”

Diberinya bermacam-macam umpama, bahwa banyak sahabatnya nona-nona Hindia yang terpelajar, yang telah kawin dengan Belanda totok. Mereka itu betul amat cinta-men-cintai, tetapi nona Hindia itu tak dapat hidup cara Belanda dan suaminya tak dapat hidup cara Hindia; itulah sebabnya banyak perselisihan di antara mereka itu.“

Mula-mula saya berdiam diri saja membiarkan dia menge-luarkan buah pikirannya. Sesudah itu barulah saya mene-rangkan pertimbanganku: “Tuan van Kol, maksudku pergi ke negeri Belanda hendak belajar mencari kepandaian untuk menjadi guru, dan kalau balik nanti ke Hindia, saya hendak membuka sekolah untuk anak-anak kepala-kepala negeri yang perempuan. Saya hendak memberi pendidikan kepada mereka itu.”

Ia tercengang melihatku, matanya yang hijau itu bersinar-sinarlah bergirang hati serta memandang saya, seakan-akan ia berkata dalam hatinya: “Itu bagus, bagus kehendakmu itu, berbahagia maksudmu itu,” dan katanya kepadaku: “Tiadakah besar hati Raden Ajeng menaruh sesuatu mak-sud hidup?”

Ia bertonya itu dengan beriang hati, keriangan itu kelihatan pada matanya yang bercahaya-cahaya itu. Hatiku pun besar mendengarkannya; dengan tiada setahuku, keluarlah sepatah kata dari mulutku mengatakan: “Stella”. Stella, jikalau sekiranya saya dapat menjmakan engkau ke mari, dekatku barang sebentar, Biarpun sekejap mata, maka bumi ini rasa-nya kecillah bagiku, karena pada saat itu saya mengerti sungguh-sungguh akan maksudku sendiri; dan hal inilah menjadi suatu untung dan bahagia serta rahmat bagiku, apalagi cita-citaku itu dihargai oleh orang besar seperti tuan van Kol itu; perasaan hati yang demikian mestilah pula dirasai hendaknya oleh ibu-ibu, kalau dilihatnya pikiran anaknya dimaklumi dan dihargai orang.

Tuan itu sangat memudahkan kerjaku; saya tak guna banyak berkata, ia mengerti lekas akan maksudku dengan se-benar-benarnya.

Ia bertonya kepadaku: sudahkah saya memperbincangkan hal itu dengan nyonya Rooseboom? Tidak, saya tak sempat mengabarkan hal itu, karena dua kali kami telah bertemu dengan nyonya itu, selalu pertemuan itu dalam majelis besar, sekali dalam keramaian menari dan sekali lagi dalam perjamuan yang besar. Rupanya mereka itu di istana di Bogor, menceritakan hal kami, karena tuan van Kol setiba di rumah kami, tiba-tiba berceritera kepada kami, bahwa tuan besa Gubernur Jenderal kenal akan kami ketiganya.

Sayang saya tak dapat pergi ke Bogor akan bercakap-cakap dengan nyonya Rooseboom. Dalam perbincangan lebih mudah kita mengatakan apa-apa, yang kita pikirkan dan yang kita maksud. Baru-baru ini saya dijamu oleh seorang nyonya, ia meminta saya datang ke Bogor menumpang di rumahnya. Nyonya itu kerap kali datang kepada nyonya Rooseboom. Annie Glaser kalau ia telah tempoh pada bulan yang akan datang, akan pergi ke Betawi dan ke Bogor; ia akan pergi juga menyam-paikan pesan kami kepada tuan dan nyonya A ... dan akan mem-perkatakan apa-apa yang terasa di hati kami, dan juga akan pergi kepada nyonya yang kusebutkan di atas tadi. Ah, kalau sekiranya saya dapat pergi bersama-sama dengan dia, alangkah baiknya. Tuan van Kol akan mengirim kabar nanti dari Betawi, apa yang patut kami perbuat, misalnya, menulis surat permintaan dll. dan sebuah lagi, kalau ia telah kembali ke Betawi, haruslah kami mengirim sepucuk surat kepadanya, mengatakan nama dan umur kami, ringkasnya sekalian apa-apa yang kami kehendaki. Dan supaya di negeri Belanda dapat ia men-gengankan kami, haruslah saya mengirim surat kepada is-terinya. Permintaan itu telah kerap kali dimintanya dan saya-puna suka benar mengabulkannya.

Maksud Rukmini pun hendak pergi ke sekolah tinggi; itulah suatu maksud yang disukai tuan itu dan juga maksud-nya hendak pergi ke sekolah urusan rumah tangga untuk perempuan, yang akan dimasukinya, jikalau diketahuinya nanti bahwa ia tidak akan cakap belajar tentang hal kepandaian yang dimaksudnya itu. Ia lebih suka, kalau Rukmini pergi dahulu belajar ke sekolah tinggi beberapa bulan lamanya, sebelum ia menetapkan pikirannya untuk pergi belajar ten-tang perkara urusan rumah tangga itu. Baik benar menurut pendapatannya; kami berdua akan bekerja bersama-sama, yang seorang akan memenuhi dan menolong yang lain. Ia selalu berkata: “Pada pendapatanku, bagus benar kedua Raden Ajeng bermaksud yang demikian dan berani akan mengerjakannya.“

Dan juga saya perkataan tentang hal pengajaran pada segala sekolah ilmu kesehatan tubuh dan segala kepandaian yang bersangkutan dengan ilmu itu; saya katakan kepadanya yang saya nanti hendak bersekolah dalam ilmu kesehatan tubuh dan kepandaian palut-memalut orang luka, membela orang yang sakit, dan segala pengetahuan itu nanti akan saya ajarkan di sekolah kami. Menurut pertimbangannya bagus benar maksud kami itu.

“Di Hindia tak dapat Raden Ajeng akan menyampaikan maksud itu, atau boleh juga disampaikan di sini, tetapi de-ngan kesusahan yang amat besar. Di tanah Eropa mudah be-nar menyampaikannya, karena di situ semuanya boleh didapat, dan dalam beberapa tahun saja, tentulah tuan akan tamat belajar. Raden Ajeng pun telah pandai bercakap, menulis, membaca dalam bahasa Belanda.” Akhirnya ia berkata: “Kita harus pergi ke negeri Belanda. Kalau maksud Raden Ajeng demikian haruslah tuan pergi ke Eropa, karena di sini tuan tak dapat menyampaikan maksud yang mulia itu. Sayang sungguh saya kalau tuan tak dapat menyampaikan cita-cita hati tuan itu.” Saya ceritakan juga kepadanya, apa se-babnya maka kami hendak tinggal beberapa lamanya di tanah Eropa. Ia pun membenarkan perasaan kami itu. Ia membenar-kan pula kata kami, yani kami akan memberi contoh teladan kepada orang banyak, tentu sukalah orang akan menurut buah pikiran kami; tetapi tentulah akan bertambah-tambah kesukaan itu, kalau kami dididik dan di bawah perlindungan Pemerintah bekerja. Bangsa Jawa yang boleh dimisalkan seperti seorang anak yang besar, amat suka akan keindahan dan keemasan. Jadi di mana saja Pemerintah yang berkuasa itu mencampurkan dirinya, niscayalah pekerjaan itu akan dihormati oleh orang banyak.

Ketika saya katakan kepada tuan van Kol sekalian cita-cita dan buah pikiranku itu, maka bertonyalah ia kepadaku menanyakan, dari manakah saya mendapat pikiran yang sede-mikian. Dengan sungguh-sungguh hati ia mendengarkan sekalian yang saya ceritakan itu. Sebentar-sebentar ia bertonya kepadaku: “Maukah tuan menulis surat kepada istriku?”

Kami pun memperkatakan tentang hal pendidikan (kalau boleh disebutkan) untuk anak-anak perempuan bangsawan. Tuan van Kol tahu akan istri regen-regen dan tahu pula, bahwa mereka itu hidup senyi dan senyap.

Telah adalah waktunya sekarang akan memberi dengan seda-pat-dapatnya pendidikan untuk anak-anak perempuan bangsa Jawa. Tuan itulah orang yang penghabisan sekali, tempat saya memperkatakan apa arti perempuan-perempuan di muka bumi ini. Betapa cinta, hormat dan baktinya bila ia memper-katakan isterinya, dan besar pula ia menghargai, bahwa isterinya itu seorang perempuan yang tinggi derajatnya, lagi budiman yang menjadi pedoman dan yang memberi petua kepadanya!

Orang besar itu sangat mengecilkan dirinya untuk istri-nya, hanyalah badannya yang kecil itu, tetapi hatinya dan pikirannya sangat besarnya. Itulah yang merawankan hatiku! Saya tatkala di hadapan tuan yang tersebut berhati lemah lembut. Betapakah baiknya bagiku kalau Tuhan yang pen-gasih penyayang menjelmakan saya nanti ke “Lali Jiwa”, sehingga saya berpekan-pekan boleh bercampur dengan ma-nusia yang berhati suci dan berpikiran mulia itu.

Bolehkah hal itu terjadi. Stella? Saya tahu benar, bahasa sekalian itu bagus sekali kalau kejadian. Telah beberapa kali, pada waktu yang baru ini pun, kusangka yang cita-cita-ku itu hampir-hampir akan terjadi, tetapi yang sebenarnya sekalian itu ialah angan-angan saja. Dan kalau ada apa-apa yang akan merusakkan hati, barulah ia datang dengan sebenarnya.

Sudah banyaklah yang telah kami tanggungkan untuk cita-cita kami itu, Stella; sekalian itu kami ketahui, demikian juga banyak, ya, lebih banyak lagi yang akan datang, yang akan kami tanggungkan. Mudah-mudahan Allah memberi berkat dan faedah bagi sekalian penang-gungan dan peperangan hati kami itu, dan timbullah hendaknya karena itu bunga-bungaan yang harum untuk sesama kami perempuan. Kami pun akan meminta syukur juga, kalau sekiranya peperangan kesedihan hati dan ratap tangis kami itu hanya menghasilkan sebuah bunga saja untuk mereka itu! Kalau kami tak dapat pergi ke tanah Belanda, biarlah kami pergi ke Mojowarno. Banyaklah cita-cita kami nanti yang akan hilang lenyap, tetapi tuan turutlah bersama-sama dengan kami mengucapkan syukur kepada Allah, karena kami telah pandai menjaga budi pekerti kami selalu tinggal tinggi. Pergi ke Mojowarno artinya kepada kami, bahwa telah berpulang ke rahmatullah dari dunia cita-cita kami untuk hidup bersama-sama, tempat kami tinggal selama ini, dan sekarang kami hidup lagi untuk beberapa orang yang sung-guh kasih kepada kami, dan yang pikirannya kami hargai benar-benar, ya, untuk mereka itulah saja keperluan hidup kami. Kami tak dapat lagi berbebat barang sesuatu untuk kemanu-siaan perempuan-perempuan bangsawan, yang hidup dalam sengsara (kebanyakan di antaranya bernasib yang demikian) dan itulah pula yang amat mengibakan hati kami. Kami dapat memberi pertolongan kepada mereka itu, hanyalah dengan pena dan dawat saja. Tetapi bukti sebuah contoh yang nyata, lebih baik dari pada seruan seribu kata-kata yang bernyawa. Contoh itulah yang dapat menguatkan arti kata-kata itu. Bagi kami pergi ke Mojowarno suatu pekerjaan yang mudah, di sana tiadalah kami akan mendapat kesusahan, dan tiadalah pula celaan akan kami tanggung. Anak negeri di sana suka benar menerima kami. Peperangan yang akan ditanggungkan di sana, ialah peperangan dengan diri sendiri, dengan bermacam-macam keadaan yang ganjil dalam pendidikan kami.

Adalah orang yang memberi saya pikiran menyuruh me-nuliskan sekalian yang telah kupikirkan dan kurasai, tentang kelaliman laki-laki dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera, sehingga banyaklah di antaranya yang menanggung hidup celaka dan sengsara itu. Sekalian ini baik ku-tuliskan dalam sepucuk surat atau sebuah kitab, dan surat atau kitab itu dipersembahkan kepada Seri Baginda Maharaja Belanda. Niscaya banyaklah kebaikannya perbuatan itu unt-tuk cita-cita kami, sebab perempuan bangsa Jawa sendiri yang menunjukkan kelaliman itu. Tetapi saya harus benar tahu, apa yang akan saya perbuat itu. Kalau saya mengeluarkan suara tentang hal itu, maka sekalian laki-laki bangsa Jawa tentulah akan marah dan benci kepadaku. Saya tahu betul hal itu, dan bagi diriku sendiri tiadalah saya takut akan kemarahan dan kebencian mereka itu, tetapi kalau saya nanti menjadi guru, boleh jadi saya berdiri dimuk kelas yang tiada bermurid. Kepada orang yang demikian halnya, tentulah mereka itu tak kan mau menyerahkan anaknya. Kalau saya berbuat yang demikian itu, tak ubahnyalah seperti saya me-muku kelobaan hati laki-laki. Jagalah hati-hati mereka yang berani mengusik dunia kesenangan laki-laki yang telah berurat berakar itu!

Jawab tentang pertanyaanku, apabilakah anak gadis Islam berhak mendapat kemerdekaan, telah kuterima. Bunyinya: “Anak gadis bangsa Islam tak pernah mendapat kemerdekaan; kalau ia hendak bebas haruslah ia kawin dahulu, sudah itu bolehlah ia bercerai dengan suaminya itu.”

Kami anak-anak gadis harus mengesahkan sendiri hak kemerdekaannya, dan memaksa dunia ini menyuruh mengaku akan kebebasan itu; hal itu mesti kami lakukan! Engkau telah tahu bahwa tuan van Kol datang ke mari dengan seorang ju-ru kabar, tuan itu mengarangkan perjalanannya bersama-sama dengan tuan van Kol. Kedatangan mereka itu kekabu-paten Japara pun diceritakannya pula. Cobalah engkau pikir, dalam karangannya itu diceritakannya pula sedikit perbincangen kami dengan tuan van Kol. Sekarang tahulah orang ke mana tujuan kami. Saya harap benar yang pemberi tahuan itu janganlah hendaknya merusakkan cita-cita kami, melainkan akan memberi faedahnya. Baru sekali itulah namaku disebut orang dalam hidup bersama-sama yang bertali dengan bangsaku, melang di sanalah nanti tempat namaku itu!

Keadaan itu amat membesarkan hatiku, Stella, karena namaku disebut setali dengan bangsaku, bangsa Jawa!

Simpanlah olehmu potret itu akan jadi suatu tanda mata dari perserikatan kami bertiga. Sayang si tiga sejoli waktunya telah lalu, telah habis dan amat bagus keadaannya; itulah sebabnya maka sekarang kami harus bercerai-berai. Potret itu ialah potret yang sebaik-baiknya, gambar kami bertiga, dan serupa benar masing-masing kami di dalamnya. Potret itu dibuat pada hari Maulid nabi Isa. Yani potret kami yang kesudahan, ketika kami bertiga masih menjadi anak-anak gadis. Potret itu menimbulkan dukacitaku melihat perkumpulan kami bertiga itu. Sungguh bagus benar keadaan kami dahulu itu, hati tiga bertangkai satu, dan sekarang yang sebuah telah gugur dari tangkainya. Bolehkah luka yang sedemikian akan menjadi sembuh? Saya tak tahu, dan kalau ia tersinggung sedikit saja, maka darah pun keluarlah.

O, Stella, engkau tak tahu betapa kesusahan hati kami kehilangan adikku itu. Sekaliannya menimbulkan ingatan mengangkannya, dan sekaliannya membisikkan adik kekasih kami itu. Pada perasaan kami sekarang kami telah terlalu tua, percampuran kami seperti telah berzaman-zaman lamanya telah lalu. Tetapi yang sebenarnya belumlah cukup setengah tahun adikku itu meninggalkan kami!

26 Mei 1902 (V)

Surat nyonya yang kemudian sekali yang di dalamnya menerangkan kesukaan dan kesayangan nyonya tiada berhingga kepada bangsa Jawa, kerap kali kuulang-ulang membacanya. Besar sungguh-sungguh hatiku melihat tuan berhati penyayang dan peramah untuk memikirkan bangsaku bangsa kulit hitam itu. O, kalau sekiranya saya boleh berdekat-an dengan tuan sekalian di sini, suka benarlah saya hendak memperlhatikan berbagai-bagai keadaan bangsa kami kepada tuan. Di manakah dapat orang memperhatikan dan memaklumi akan hal keadaan sesuatu bangsa dengan sebaik-baiknya, kalau tiada pada tempat mereka itu sendiri, dan di sini kami betul-betul dalam kampung Jawa? Nyonya telah tahu, bahasa tuan sekalian selalu boleh datang kepada kami, dan kami pun dengan suci hati menerima kedatangan tuan itu. Pada perasaanku baik sungguh hati nyonya suka menerima saya di rumah tuan, tetapi apa boleh buat, karena saya sekarang hanyalah boleh menerima sekadar kesukaan tuan itu saja. Sedangkan pergi berjalan ke Bogor waktu ini masih banyak alangannya. Tetapi siapa tahu kalau-kalau perubahan dalam hal itu akan lekas datang! Siapa tahu, sebab banyak kali apa-apa yang sekarang mustahil, esok harinya telah kejadian. Bangsa Jawa yaitu bangsa yang penuh dengan kenang-kenangan dan cerita yang ajaib-ajaib, dalam bermimpi dan kenang-kenangan, banyaklah kejadian hal-hal yang ajaibajaib. Dan hatiku, hati Jawa itu memegang kenang-kenangan itu sangat tegoh-teguh; kalau sekiranya pada zaman purbakala boleh terjadi hal yang ganjil-ganjil, tentulah sekarang boleh juga terjadi hal yang sedemikian!

O, sekiranya nyonya tahu apa yang dimimpikan anak-anak Lyawa sahabat nyonya itu! Kalau saya ceritakan, boleh jadi tuan akan tercengang mendengarnya, tentulah ganjil pada pikiran tuan. Tetapi saya berharap, janganlah tuan beriba hati dan akan mengangkat bahu mendengarkannya. Nyonya tahu, bahwa saya suka sungguh hendak pergi ke tanah air tuan, bukan? Tetapi tuan tak tahu apa sebanya dan apa perlunya kami pergi ke sana. Sekalian orang tentu akan mengatakan, bahasa kami akan pergi melihat tanah dan keadaan bangsa asing dan akan tamasya dan berbesar hati saja di sana. Kami sungguh merasa sayang akan bangsa kami, sekalian kesukaan dan kedukaannya, menyookakan dan menyedihkan hati kami. Herankah nyonya mendengarkan kami telah berniat sungguh-sungguh akan memperbuat apa-apa yang baik, asal boleh memberi rahmat kepada bangsa kami? Apakah pertalian kataku itu dengan niat hendak pergi ke tanah air tuan? Kami benar-benar di sana hendak mengumpulkan kepandaian untuk bangsa kami. Apa-apa yang bagus pada bangsa lain, pada bangsa tuanlah yang terutama benar, hendak kami berikan kepada bangsa kami, dan dalam hal itu tiadalah pula kami akan membuang dan mengganti tabiat mereka itu, melainkan semata-mata akan menambah kehormatan tabiat yang baikbaik, yang ada padanya. Itulah maksud kami yang terutama sekali!

O, hendak bekerja bersama-sama untuk menghabiskan kerja yang bagus dan mulia yang akan meninggikan kesopanan dan kehormatan bangsaku, itulah kenang-kenangan kami, yang sama harganya dengan sekalian peperangan hidup. Sayang sekali saya tinggal berjauh-jauhan dengan tuan, betapalah besarnya hatiku kalau kita tinggal berdekatan, tentulah selalu saya boleh dapat bertanding pikiran dengan tuan. Dan dalam percakapan itu lebih mudah kita mengeluarkan pikiran dan kemauan hati.

Kita berkirim-kiriman surat, makin lama makin menyenangkan hatiku, dan pikiran kita rupanya banyaklah yang sesuai. Betapa suka hatiku hendak memperkenalkan tuan dengan bangsaku dan memaklumkan hal keadaannya kepada tuan. betul seperti saya mengenal memakluminya. Amat banyak hal yang bagus dan tersembunyi pada bangsaku. Patutnya sekarang telah lahiriah seorang pandai, ahli pengarang yang pandai mengatakan kepada bangsanya sekalian cita-cita dengan kata-kata yang menarik hati, seperti Fielding pandai berkata kepada bangsa Burma.

Yang seperti itu belum ada pada kami, yang ada ialah kitab yang ternama karena pedih isinya, karangan tuan Veth, yang menyebabkan banyak pena bergerak, dan kemarahan hati yang amat sangat!

Manakah tanah yang tak ada cacatnya? Tanah Hindia dan sekalian tanah di muka bumi ini masing-masing ada cacatnya. Kasihan, wahi engkau tanah Hindia! Di tanah asing orang hampir tak tahu kepadamu dan kitab-kitab yang seperti karangan tuan Veth, tentulah tiada akan menarik hati orang akan mengasihi engkau, tetapi tentulah orang akan menolak dan membenci engkau!

Augusta de Wit jugh berlainan pikirannya dengan pikiran pengarang-pengarang yang lain-lain. Ia menulis meriangkan hati tentang tanah Hindia, dan betapa pula bagus bahasanya! Dengan gembira hati kami membaca karangannya di dalam surat kabar “de Gids”.

Tentang hal keadaan dan kepandaian anak negeri, Henri Borellah, yang seperti bermimpi, menceritakan tanah Hindia dengan sebagus-bagusnya. Tetapi tentang hal yang lain-lain tak senanglah hati membaca karangan Henri Borel itu, samalah keadaannya dengan karangan sahabatnya tuan Veth.

Sudahkah nyonya baca karangan Borel tentang “gamelan?” Pada perasaan kami karangan itu ialah permata mutu manikam dari karang-karangan! Dan sudahkah tuan membaca karangan Martine Tonnet tentang wayang orang di istana Sultan Jogja, di dalam surat kabar de Gids? Karangan itu pun mahkota dari segala karang-karangan pula. Borel haruslah hendaknya pergi melihat orang menari serimpi. Alangkah bagusnya syair yang akan dibuatnya, setelah ia melihat tari itu! Tari putri-putri Solo dan Jogja betul seperti tari bidadari di kayangan. Itulah tari sebenar-benar tari! Sayang kami tak dapat pergi ke sana. Acap kali orang meminta kami akan pergi ke sana, tetapi kami tak suka, karena kami mesti berpakaian seperti anak-anak raja perempuan, yani harus berpakaian seperti anak-dara.

Tetapi sekarang penaku telah tersesat lagi. O ya, kami suka benar membaca, tetapi sayang, sayang kami tak tahu bahasa-bahasa asing dan tak dapat kami mempelajarinya di sini. Telah beruntung benarlah kami dapat berkata-kata dalam bahasa tuan. Ah, kami dahulu sungguh berniat benar hendak mempelajari bahasa-bahasa itu. O, betapa harapan kami hendak bersuka hati, membaca kitab-kitab cerita hangsa asing di dalam bahasa itu sendiri. Betapa juga bagusnya kitab yang diterjemahkan, tetapi kitab dalam bahasa asalnya tak dapat tiada lebih bagus. Tahukah nyonya kitab cerita-cerita ajaib yang bagus, karangan Mari Marx-Koning? Kitab itu pada pendapat kami amat bagus. Pada perasaanku ia sangat menyockai karang-karangan van Eden. Buah pikirannya dalam kitab yang bernama “t Vioolce, dat weten wilde“ menurut sepanjang pikiranku samalah bagus isinya dengan kitabnya yang bernama “De kleine Yohannes”. Bagaimanakah tentang isi kitab itu menurut pikiran nyonya? Pada pikiranku, isi kitab itu amat bagus, pikirannya benar dan karangannya elok.

Dengan suka hati saya membaca apa yang nyonya ceritakan kepadaku tentang pendidikan anak tuan dan peri keadaan orang-orang miskin di tanah Belanda. Ya, kesengsaraan orang miskin yang amat sangat dalam musim dingin itu telah banyak saya dengar. Kasihan, ya, kasihan sungguh kita kepada mereka yang sengsara dan celaka itu!

Saya sekarang berkirim-kiriman surat pula dengan seorang anak gadis bangsa Frieskh; anak gadis itu kerap kali menceritakan kepadaku hal keadaan di negeri Belanda dan lebih-lebih keadaan di Friesland. Ia acap kali duduk di lantai yang dingin pada musim beku bersama-sama dengan orang miskin yang tinggal di rumah-rumah buruk di padang pasir di sana.

Dalam musim beku mereka itu tak dapat bekerja, dan karena itu tak pula mendapat makanan dan pakaian, demikian lagi api pun tak ada dalam rumahnya untuk memanaskan rumah tangganya serta anak-anaknya yang dalam menangis. Bukan buatan sengsara mereka dalam hal itu.

Sengsara dan celaka yang seperti itu tak adalah kami ketahui; tetapi nantilah dahulu, janganlah terburu-buru saya mengatakan itu. Tak jauh dari tempat kediaman kami bukan buatan pula sengsara yang ditanggungkan di sana. Mereka tidaklah kedinginan, tetapi selalu dalam kelaparan, batu dan tanah sajalah yang belum dimakan oleh mereka itu. Bermacam-macamlah kesengsaraan yang didengar dan dilihat yang ditanggungkan oleh manusia di muka bumi ini.

Ini lagi. Bagaimanakah kelak kesudahannya? Nyonya tentu telah mendengar kabar, bahasa adalah 500 orang anak-anak menjadi yatim piatu, yang ayah bundanya mati karena penyakit kolera. Kasihan benar melihat budak-budak itu ditimpa oleh marah bahaya dan kesengsaraan itu; karena mereka masih kecil belum berdaya dan berakal, telah kehilangan ibu bapaknya. Tetapi karena pertolongan kiri kanan, sekarang mereka itu lebih beruntunlah dari pada kalau mereka itu tinggal pada ibu bapaknya. Sekarang mereka itu dipelihara dan dijagai orang, tetapi dahulu ketika orang tuanya masih hidup, boleh dikatakan tiadalah diindahkan dan dipeliharakan seperti sekarang.

10 Juni 1902 (VIII)

Bahasa Belanda ialah suatu kepandaian yang saya sukai benar-benar, sejak dari dahulu banyak orang berkata, yang saya pandai berbahasa Belanda. Tetapi berperasaan dalam suatu bahasa belumlah artinya ada berpengetahuan dalam bahasa itu! Beruntunglah saya karena saya sayang benar kepada bahasa Belanda!. Mengertilah saya sekarang, bagaimana halnya orang yang tak ada perasaannya dalam bahasa itu, dan tentelah ia akan mempelajari bahasa itu seperti suatu houkom-anlah baginya.

Lain dari pada ilmu bahasa, ilmu bumi pun saya sukai benar dan demikian pula berhitun pun; tetapi kepada ilmu tambo (babad) selalu saya berhati berat. Bukamnya karena saya tak suka akan ilmu tambo itu, tak suka mendengarnya, sekali-kali tidak, saya pun tahu benar bahwa banyak pengajaran di dalamnya. Tetapi orang mengarangkannya untuk pengajaran di sekolah rendah, tak pandai sepanjang pikiranku. Ilmu itu haruslah saya pelajari hendaknya kepada guru yang pandai berceritera, yang dapat membaguskan dan menerangkannya. Pada ilmu babad itu, bagian yang pertamalah yang amat saya sukai yani hal keadaan tambo yang lama-lama. Sayang sekali sedikit saja ceritanya dalam kitab itu. Itulah baha-giannya yang saya sukai, misalnya babad orang Masir, orang Gerik dan orang Rum.

Dengan besar hati selalu saya baca dalam surat-surat kabar tentang pasar malam di tempat tuan. Berdebar-debar hati kami dan mata kami pun bersinar-sinar, karena membaca kebagusan pasar malam itu! Tuan-tuan sekalian ada berhati mau dan suka hendak membuat pekerjaan yang baik itu. Kami semua dan bangsa kami sekalian, yang akan mendapat rahmatnya, mengucapkan selamat dan terima kasih atas keramaian dan kebaikan pasar malam itu. Gembira benar hatiku mendengarkan ukir-ukiran Jepara banyak menarik hati penontonnya.

Ya, betapalah gembira hati kami hendak melihat barang-barang tembaga yang bagus-bagus itu; belumlah banyak barang itu kami lihat, apalagi benda-benda yang ganjil-ganjil yang lain.

BENTENG LAMA DI JEPARA

Besar hati kami melihatkan kegirangan hati orang Belanda hendak memajukan pertukangan dan kepandaian Bumiputra, sungguh besar hati kami mendengarnya! Kami betel-betel hendak berpongah hati akan bangsa kami, yani bangsa yang amat sedikit diindahkan dan terlalu banyak diniakan orang.

Tetapi hati dan pikiran kami ketika bercakap-cakap dengan tuan van Kol, tak adalah ubahnya seperti kami berhadapan dengan seorang sahabat karib dan lupalah kami bahwa ia seorang asing bagi kami. Tetapi apa hendak dikata, ia terlampau sederhana, ramah dan seperti bapakkah lakunya bagi kami. Itulah pula yang menarik hati kami menerangkan sekalian kehendak kepadanya. Dimudahkannya kami berkata-kata itu dan dengan riang hatinya menerima percakapan kami. Tak usah lagi kami berkata panjang kepadanya: ia lekas mengerti akan maksud kami dan memaklumi maksud kami itu dengan sebaik-baiknya!

Sekaranglah pula burung nuri yang di dalam hatiku itu dapat bersukacita menyanyikan bermacam-macam lagu, setelah sekian lamanya tinggal diam membisukan dirinya.

Itulah suatu waktu yang berbahagia, yani ketika kami bersama-sama bercakap-cakap itu.

Amat sukarlah rasanya kami akan menceritakan kegirangan hati kami itu. Besar benar hati kami menerima apa-apa yang baik pada pemandangan kami, apalagi kalau sekiranya benda yang bagus itu, biji mata dan kenang-kenangan kami sendiri.

Terkenanglah pula olehku masa yang lalu pada penghabisan tahun 1900. Burceng nuri dalam hatiku masa itu pun bersukacita menyanyikan lagu yang amat merdu meminta terima kasih atas segala kegirangan dan keuntungan yang telah kuterima itu.

Sungguh-sungguh adalah kiranya waktu yang amat berbahagia dalam hidup manusia di muka bumi ini. Kenang-kenangan kepada waktu yang berbahagia itulah benda yang amat indah dalam hidup di dunia ini; ialah yang akan menjadi suatu cahaya pada hari yang gelap-gulita dan menjadi obat yang dingin ketika hati dalam kedukaan.

Betapa baik hatinya tuan van Kol itu, karena telah datang ke mari dan pergi berpayah ke tempat kami yang sunyi, memuji orang yang tak pernah dikenalnya, biarlah ia tidak selalu, o, tidak selamanya sehaluan dengan pikiran kami!

Kami sekali-kali tak suka akan menjadikan murid-murid kami menjadi setengah Belanda atau menjadi Belanda Jawa. Maksud kami dengan pendidikan yang bebas itu, ialah akan membuat bangsa Jawa menjadi Jawa yang sejati, yang berhati kasih dan cinta kepada tanah dan bangsanya, lagi bermata dan berhati terang akan kebagusan dan kesengsaraan bangsanya! Kami hendak memberikan kepadanya adat tertib-sopan orang Eropa, dengan tiada hendak membuangkan adatnya sendiri, melainkan kalau boleh, kami hendak mempertinggi kehormatan adat bangsa kami itu.

Karena percampuran beberapa tumbuh-tumbuhan atau binatang-binatang yang berlainan bangsanya, bolehlah orang mendapat bibit tumbuh-tumbuhan atau binatang yang lebih baik keadaannya. Dan tak dapat tidak niscaya begitu pula keadaannya dengan adat istiadat bangsa-bangsa di muka bumi ini, bukan? Apabila adat kita yang baik dicampur dengan adat orang yang baik pula, tiadakah kiranya akan bertambah kebaikan keadaan adat itu nanti?

Sekarang saya jawab pertanyaan tuan: “Apakah sebabnya maka kami mesti hendaknya pergi ke negeri Belanda?” Pertanyaan itu telah tuan tanyakan dahulu.

Untuk Rukmini karena salah satu dari kedua kepandaian yang dimaksudnya itu, hanyalah di negeri Belanda dapat dipelajari nyia.

Dan bagiku? Apakah akan jawabku? Saya dapat juga di sini mempelajari sekalian maksudku itu, seperti di negeri Belanda. Betul, tetapi bila saya mendapat pelajaran di negeri Belanda, tiadakah lebih cakap dan lebih pandai saya mengerjakan kerja menjadi guru dan menjadi pendidik itu nanti? Di sana pemandanganku akan bertambah luas, pikiranku bertambah tajam dan panjang, dan sekalian itu tentulah akan menolong memudahkan pekerjaan yang akan saya tanggung itu. Tanah Eropa akan mengajar dan memberi saya pengetahuan, yang tak dapat saya minta dan pelajari di sini, di tanah air sendiri.

Lain dari pada kepandaian untuk mengajar di sekolah rendah atau pekerjaan menjahit dan merenda, kami suka benar nanti hendak mengajar kan di sekolah kami pengetahuan dalam hal badan manusia, bagian badan yang di luar dan di dalam, serta kegunaan dan pekerjaan tiap-tiap bagian itu, supaya kita seboleh-bolehnya hidup dengan badan yang sehat. Banyaklah kecelakaan yang tak akan terjadi atau akan ku-rang hebatnya, jikalau banyak orang mengetahui ilmu yang amat berguna itu! Marilah saya sebutkan umpamanya: Baru-baru ini adalah seorang anak perempuan yang digiling kereta api; ia dibawa ke kota supaya dapat diperiksa akan diobati oleh dokter, tetapi setiba di sana ia telah seperti mayat, karena darahnya habis tertumpah sepanjang jalan. Pegawai polisi dan pegawai kereta api tak tahu akan keadaan urat-urat dalam badan dan tak tahu pula memalut luka-luka.

Pengajaran kesehatan tubuh, membela orang sakit dan memalut orang luka, menurut perasaanku harus dimasukkan dalam pelajaran pendidikan. Adalah waktu ketikanya dalam hidup kita ini, kita terpaksa wajib menjaga orang sakit. Perempuan-perempuanlah yang acap kali akan berbuat demikian. Umpamanya: ada kaum keluarga kita atau orang asing yang sakit kertas dalam rumah. Berbahaya benar kalau kita salah membela orang sakit. Tentulah kita mudah salah membelanya, jikalau kita tiada berpengetahuan dalam hal itu. Bahaya yang demikian telah saya tanggung ketika seorang kesayanganku sakit keras.

Ilmu itu hendak saya ketahui, sehingga dapatlah saya nanti mengajarkannya di sekolah kami; sekalian hal itu mudah saya pelajari di negeri Belanda, karena sekalian perkakas ilmu itu telah ada tersedia di sana.

Dan apa pulakah lagi sebabnya maka kami patut tinggal beberapa lamanya di negeri Belanda? Gunanya, yaitu akan menyuytikan kami dari pada kekerasan pendidikan adat Jawa yang telah mengotorkan kami itu, sehingga kami sampai sekarang tak dapat menyubnyikan diri di sini dari pada kekerasan itu.

“Bertemu dengan orang Eropa yang tak kami kenal, Meskipun sepasukan banyaknya,” kata Rukmini, “tak ngeri kami, dan hal kami tinggallah sebagai biasa saja”; tetapi bertemu dengan seorang Jawa, takutlah kami, segeralah kami mela-rikan diri kami. Dan banyaklah lagi sebab-sebanya yang lain.

Kami hendak melepaskan diri kami dari pada adat-adat yang buruk dan mengikat kami, lagi tak dapat kami mele-paskannya di sini; sekalian kecelakaan yang ada tertaruh pada diri kami dan mengalangi kerja, hendak kami buangkan, supaya dapatlah pikiran kami menjadi bebas dan sempurna, sehingga dapatlah kami nanti mengembangkan sayap. Jika sekiranya sekalian hal itu telah terbuang, tentulah pekerjaan yang hendak kami kerjakan itu mudah diperbuat.

Sebab itulah harus kami pergi ke tempat yang lain, kene-geri asing, yang lain adat lembaganya serta keadaannya dari pada di negeri kami. Besar pengharapan kami, tanah Eropa akan mendidik kami, supaya kami lebih cakap dan lebih pandai menyampaikan maksud, yang hendak kami ker-jakan nanti; dan boleh kami di sana menguatkan badan kami sampai kebal dan tahan menanti panah-panah yang berbisa, yang akan dipanahkan oleh bangsa kami kepada kami, karena kami berani melakukan diri lain dari pada kebiasaan mereka itu.

Tanah Eropalah yang akan mengajar kami betul-betul bebas! Adakah terang sekalian penjawabanku tentang pertanyaan “apa sebabnya” itu? Saya harap nyonya mengerti akan maksudku. Dan ... sesuaikah pikiran nyonya dengan pikiranku itu? Banyak lagi sebab-sebabnya, kami perlu tinggal ontuk sementara di negeri Belanda; tetapi saya berharap apaapa yang telah saya ceritakan di atas tadi, telah cukuplah itu bagi tuan.

17 Juni 1902 (V)

Baru sebentar ini saya baca dalam surat kabar, bahwa ada beberapa orang anak perempuan Cina memohonkan permintaan, supaya dapat turut bersama-sama dalam ujian menjadi guru. Selamat! atas kemajuan itu! Besar hatiku mendengarkan hal itu. Orang-orang Cina terlampau keras memakaikan adat-adatnya yang tua; tetapi sekarang dapat kita melihat, bahwa adat yang keras dan tua itu lambat lekasnya betul boleh dipatahkan! Itulah pula yang memberi saya keberanian dan yang menambah pengharapanku!

Alangkah besar pengharapan saya hendak berkenalan dengan anak-anak Cina perempuan yang berani itu. Mau benar saya hendak mengetahui pikiran, cita-cita dan perasaan hati mereka itu. Saya hendak mengetahui benar bagaimana hati kecilnya. Sejak dahulu saya hendak bersahabat dengan sescorang gadis anak Cina! Suka benar saya hendak mengetahui apa yang terkandung dalam hati kecil anak perempuan Cina yang demikian. Tentolah di dalamnya banyak tersimpan keadaannya yang baik. Adakah nyonya melihat orang Cina beralat kawin?

Saya ada melihat baru sekali, cukup; peralatan itu tak dapat saya lupakan. Orang Cina pun merayakan juga kesukaan dan kedukaan yang berhubung dengan arwah-arwah kaum keluarganya yang telah meninggal dunia.

Di Semarang ada seorang Cina raja uang mempunyai sebuah taman yang amat permai. Taman itu terletak di lereng sebuah bukit, o, bukan buatan bagusnya. Di sana dibuatnya gua-gua batu dan bukit-bukit yang ditanaminya dengan pohon rasam, bunga-bunga dan pohon buah-buahan yang kecil-kecil. Tiap-tiap macam di dalam kebunnya itu dihasininya dan dibatasi oleh jalan-jalan kecil yang berkelok-kelok, simpang-siur kian ke mari.

Di tengah-tengah kebun itu adalah sebuah kolam yang berjuru banyak, di dalamnya penuh berisi ikan gurami dan ikan mas yang berenang-renang di sana. Dan di tengah-tengah kolam itu pula adalah sebuah rumah peranginan kecil. Dekat kolam itu ada lagi sebuah bukit yang bergua dan berbilik mandi; dengan tangga yang berkelok-kelok melalui gua itu, bolehlah kita pergi ke puncak bukit itu. Di sana adalah terdiri kelenting kecil dua buah dan pohon buah-buahan serta bunga-bungaan bermacam-macam. Tak ubahlah penglihatan di sana seperti suatu cerita dongeng; yang kurang lagi hanyalah orang-orang cebol penunggu taman dan dewa-dewa yang keluar dari celah-celah batu dan lubang-lubang di bukit itu. Si cebol dan dewa-dewalah yang harus mencukupi taman itu, supaya menjadi dongeng. Buah pikiran yang menggambar taman sebagus itu di kepala, itulah syair namanya dan peker-jaan membuat taman itu, itulah suatu kepandaian yang mulia. Tetapi di manakah kepandaian yang tiada menaruh ke-bagusan sebagai syair? Sekalian yang baik dan tinggi darajanya, yang keramat atau bertuh, pendeknya sekalian apa-apa yang mulia dalam hidu bersama-sama, itulah yang dinamakan dengan halusnya: syair!

Kami telah melihat Cina tukang yang pandai membuat taman sebagus itu. Cina itu hanyalah seorang baba yang miskin saja! Patung-patung yang dibuatnya seperti naganaga, harimau-harimau, dll. itu, sekaliannya didirikannya kian ke mari di atas rumput, amat hagus.

Sayang sekali di pintu gerbang untuk masuk ke dalam taman surga dunia yang bagus itu, ada terdiri dua buah patung buatan Eropa, kedua patung itu mengganggu kebagusan patung-patung yang banyak itu.

Adakah nyonya pergi dahulu ke Betawi melihat pasar malam di sana? Tentolah ada! Bagaimanakah pikiran nyonya tentang bangsa kulit hitam? Apakah yang boleh tuan katakan tentang kepandaiannya? O, alangkah sukanya saya berpongah diri atas bangsaku itu! Mereka adalah juga berkepandaian, Biarpun sedikit! Tetapi tuan, orang-orang Belanda, haruslah membimbingnya! Nyonya tentolah mace berbuat demikian, bukan?

Kami ini boleh diumpamakan seperti anak-anak, dan orang-orang Belanda seperti pendidik kami. Bangsa tuanlah yang akan membimbing kami dan membela kami, supaya kami boleh menjadi laki-laki dan perempuan yang sebenarnya!

Saya percaya, bahwa tiadalah seorang juga di antara anak-anak didikan atau murid-murid itu, yang akan bersifat ku-rang terima kasih!

21 Juni 1902 (VI)

Raden Ajeng Kartini, anak Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat, Regen Jepara, berumur 23 tahun, lahir di Moyong afdeling Jepara, pada 21 April 1879, bermohon hendak belajar menjadi guru (bermaksud hendak mengambil diploma guru bantu dan guru kepala), dan menerima pengajaran di negeri Belanda. Pergi ke negeri Belanda itu pertama-tama akan menambah pemandangan, melanjutkan pikiran, dan mencuci kecelaan-kecelaan yang melekat pada dirinya lagi mengalangi usahanya, akan memasuki beberapa sekolah pengajaran dan pendidikan, supaya ia dapat mengetahui hal keadaan mendidik dan mengajar dalam sekolah di negeri Belanda; sekalian itu maksudnya supaya lebih berhasil nanti bila ia mengerjakan jabatan, yang amat disukainya dan akan ditanggungkan kepadanya.

Kedua, akan mempelajari ilmu kesehatan tubuh, membela orang sakit dan ilmu memalut orang luka, dan ilmu memberi pertolongan yang bermula bagi kecelakaan, supaya ilmu yang berfaedah dan yang amat perlu itu dapat diajar-kannya nanti kepada perempuan-perempuan Jawa.

Maksud yang terutama sekali kesopanan bangsa Belanda yang bagus itu akan diberikannya kepada bangsanya, supaya adat bangsa Jawa bertambah tinggi kehormatannya; akan membawa bangsanya ke padang pikiran dan perasaan yang lebih baik, supaya mereka itu boleh sampai kepada kerukunan yang lebih beruntung dalam hidu bersama-sama. Dan usahanya yang akan dilakukannya nanti, ialah mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan Jawa. Mula-mula akan jadi percobaan, didirikan dahulu sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan kepala negeri, dan anak-anak itu mestilah tinggal di sekolah itu juga. Maksud dengan sekolah itu akan memberi tanah Jawa ibu-ibu yang bertabiat sopan dan berpengetahuan, supaya mereka itu nanti dapat memberikan kesopanan dan pengetahuannya kepada anak-anak perempuan yang nanti akan menjadi ibu pula, dan laki-laki yang nanti akan menjaga kesusahan dan kesentosaan dalam negeri!

Dengan hal yang demikian bolehlah ibu-ibu itu mengembangkan kesopanan bangsa Belanda kepada bangsa Jawa.

Permintaan saya ialah kalau boleh Pemerintah sudi memberi pertolongan, supaya dapat saya menyampaikan maksud seperti yang tersebut di atas: akan menanggung segala biaya pengajaran (pelayaran pulang balik, pengajaran dan tempat tinggal); dan kalau saya telah tamat belajar, saya boleh membuka sekolah untuk anak-anak perempuan kepala negeri dengan murid-murid itu tinggal di sekolah itu sekali.

Suka benar kami hendak mendengar dari tuan, apakah yang patut kami perbuat. Wajibkah kami mengirim surat permintaan? Betapakah baiknya, kalau sekiranya surat permintaan itu tak perlu? tetapi kalau wajib juga diperbuat, siapakah yang akan membuatnya, bapak atau kami kah? Dan kepada siapa dialamatkan? Kepada Gubernur Jenderal atau kepada persidangan Tweede Kamar? Tuanlah yang kami harap akan menyelesaikan hal kami itu. Kami tahu dan merasa, bahwa tuanlah yang akan memberi pertolongan yang besar bagi kami, dan yang pandai serta berani mengemukakan hal kami, dan tuanlah pula yang suka membuat sekalian yang perlu, supaya permintaan kami itu diperkenankan. Tambahan lagi tuanlah yang akan menunjukkan jalan kepada kami, yang sebaik-baiknya akan kami turut, karena tuan pun bermaksud dan menaruh cita-cita: hendak membuat bangsa Jawa menjadi beruntung dan berbahagia.

Dari pada orang-orang tua kami, kami telah mendapat izin boleh mengusahakan diri kami untuk menyampaikan cita-cita kami yang berguna bagi bangsa kami. Tak mudah ia memberi kami izin itu, susah dan pilu hatinya, karena kami ini, ialah kekayaan dan kekasihnya yang dicintainya di atas dunia ini. Betullah cita-cita kami hendak berbuat baik, tetapi jalan yang akan kami tempuh penuh dengan kesusahan, karena demikianlah sudah nasibnya sekalian mereka yang merambah jalan, sejak dahulu sampai sekarang.

Tetapi ketika dilihatnya, bagaimana sungguhnya dan tulus hati kami hendak mencapai maksud kami itu, dan ketika dilihatnya pula, bahwa nasib kami telah terikat menjadi satu dengan cita-cita kami, maka tak maulah lagi mereka itu menolak permintaan kami dan barulah mereka mengatakan, bahwa hidup dan usaha kami itu amat tinggi untuk bangsa kami. Orang-orang tua yang kami kasihi itu telah memberi berkat akan kami, supaya kami nanti menjadi berbahagia untuk hidup bersama-sama. Telah berkatlah untuk maksud kami itu!

Susahlah hati kami dan putuslah pengharapan kami, kalau sekiranya kami memperbuat pekerjaan itu, dengan tidak mendapat berkat dari pada orang tua kami yang sangat kami kasihi. Tak dapatlah kami akan hidup damai dengan hati kami sendiri, jikalau kami selalu mencercetkan kasih dan sayang kami kepada orang tua kami itu; tetapi suara yang ada dalam hati kami itu, kami tutup, supaya kami boleh bekerja dan berperang untuk kebaikan kemanusiaan, dan itu-lah pula maksud hidup yang dinamakan orang, hidup yang sempurna!

Sebab itulah kami banyak meminta terima kasih kepada orang tua kami, karena mereka itu telah memberi izin akan kami.

12 Juli 1902 (II)

Ibu dan bapak keduanya telah memberi izin akan kami. Kami telah mengirakan bahwa tidaklah akan menerima izin, melainkan angin ribut, guruh dan petir yang akan datang. O! saya tak dapat memikirkan hal itu. Yang bapak akan menga-bukannya, adalah persangkaan kami, tetapi bunda akan turut mengizinkan itu pula tiadalah berjauh hati lagi kepada bunda, karena sekarang telah nyata baginya apa benar mak-sud kami itu. Ya Allah, siapakah akan dapat menyangka, bahwa kami karena hal itu menjadi bertambah-tambah dekat kepadanya!

Kesudahannya datanglah waktunya pada kami akan mem-beri kenyataan itu. Dari mana saya dapat hati yang sabar itu, dan dari mana saya peroleh kepandaian berkata-kata de-ngan hati yang sabar demikian, tak dapatlah saya katakan. Ti-adalah lebih dahulu saya pikirkan, apa yang hendak saya ke-takan; saya tak dapat berpikir karena banyak barang yang menggoda dan memeningkan kepala ku. Tetapi setelah saya mulai berkata itu, datanglah sendiri kata-kata yang be-nar itu dari mulutku. Siapakah yang membuatnya sedemi-kian, dan memberi saya kata-kata yang seperti itu pada mu-lutku? Siapa, siapakah itu?

Adalah suatu kekuasaan yang lebih tinggi dan lebih besar dari pada segala kekuasaan yang terdapat di muka bumi ini. Tentulah ada dewa-dewa yang baik hati yang mengelilingi ke-mi dan menunjuki kami memakai kata-kata yang sedemi-kian di mulut kami, ketika kami hendak menyatakan bagaimana-na perasaan hati, pikiran dan cita-cita kami! Lagi pula ma-sih terdengar di telingaku ibu dengan dukacita mengata-kan: “O anakku, mengapa engkau tiada mempercayai saya, ibumu?“ Kami pun mengaku kesalahan kami itu, dan kami ceritakanlah sekaliannya kepada ibu? Kasihan, ibu keka-sihku itu! Belumlah berharga kami rasanya mencium kaki ibu yang pengasih, penyayang dan setia itu!

Saya tak dapat rasanya mengatakan kepada nyonya siapa ibu bagi kami dahulu, dan apa ia sekarang, Meskipun tubuh-nya masih seperti dahulu jua! Sekarang baharulah kami mengetahui benar-benar, betapa banyaknya utang budi kami kepadanya, suatu dunia yang penuh dengan kasih dan cinta itu! Kami pun mengucapkan syukur kepada Allah, karena kami dengan damai boleh pergi dari ibu akan bekerja untuk kebaikan, yang sekarang telah dikenal dan diaku sendiri oleh bunda. Sekarang tiadalah kami bersuka raya oleh kebesaran hati seperti dahulu, melainkan kami sekarang hanyalah meminta syukur dengan hati yang tulus dan ikhlas!

Sesudah itu kepada bapak kami meminta izin. Saya telah bersedia akan menerima kabar yang buruk dari bapak, ketika kami minta izin itu. O! dari mana saya mendapat hati yang dingin dan penyabar itu. Tak dapatlah saya katakan! Saya pun mendengar suara yang saya keluarkan dari hati yang pendiam dan penyabar itu. Saya yang sebagai tali api, lekas menyala, sekarang telah begitu sabar dan hati pun tak bergerak lagi. Badanku pun tak bergerak pula; tetapi ketika saya mengeluarkan kata, apa benar perlunya saya menghadap bapak itu, maka ketika itu tampaklah oleh saya betapa duka hati bapak mendengarnya, dan hati saya yang keras seperti batu itu pun menjadi lembutlah. O, betapa besar kehendak hatiku hendak memeluk bapak serta menghibur-hiburkan hatinya, tetapi ketika itu sekalian kekuatan dan suara saya pun hilanglah. Saya duduk di mukanya di atas tikar dan selalu melihatnya dengan air mata berlinang-linang. Terasa benar olehku betapa remuk hati bapak dan saya pun turutlah pula berduka hati. O, sekaliannya maulah saya memberikan kembali kepada bapak!

Dalam hati saya timbullah permintaan: “Bapak ampunilah saya, o bapakku, ampunilah anak tuan ini, karena ia tak dapat berbuat yang lain!“

Ketika itu tanggal 21 bulan Juni; saya sengaja mengambil hari itu, yani hari lahir nyonya pergi dengan kaki yang berat kepada bapak, karena saya mau menyangkakan nyonya, yang seperti itu bagiku, ada di sisiku pada waktu yang susah itu. Dewa-dewaepen mengelilingi saya ketika itu. “Bapak saya yang di langit”, menolong saya dalam peperangan dengan bapaku yang di dunia ini. Ketika saya sudah mendapat apa yang diminta itu, duduklah saya seorang diri memikirkan hal itu dan tidaklah sedikit juga gembira hatiku, karena saya pun turut penceh beriba hati merasai kedukaan hati bapak yang kukasihi itu. Untuknyalah air mataku tercucur, bukanlah oleh karena kegirangan hati atau akan meminta syukur. Dari hati kecilku keluarlah permintaan: “Ya Allah, moga-moga timbul apalah kiranya dari pada pemberian bapak bagiku itu bunga-bungaan dan buah-buhaan untuk tanah air dan bangsa kami!“

Pada 21 Juni itu juga kami menulis surat-surat kepada tuan van Kol di Betawi, seperti permintaannya dahulu itu.

Surat-surat itu berisi dengan keterangan nama, umur, kehendak dan cita-cita kami.

Yang perlu bagi kami ialah izin bapak, kalau ia tiada memberi izin, tak dapatlah mereka itu menolong kami. Sekarang kesusahan itu telah hilang dan batu besar yang melintangi jalan kami itu telah terhindar. Sekarang ada pula hal yang kedua mengalangi: perkara uang. Orang tua kami tak dapat membayar pelajaran kami dan kami pun tak suka meminta belanja itu kepadanya.

Dua hari yang telah lalu saya mendapat surat yang panjang dan perlu dari nyonya van Kol. Kalau tak perlu surat itu bagi saya dan kalau jari saya yang kaku ini dapat menyalinnya, maulah saya mengirimkan surat itu kepada nyonya, supaya dapat memperkatakan isinya. Sekarang kami hanyalah dapat menerangkan beberapa pasal dari isi surat itu. Menurut perasaan kami, patut kami mengucapkan syukur mendengar bunyi surat itu. Kecuali nasihat yang telah diberikannya itu lebih banyak lagi ia memberi pertolongan lain. Ialah yang telah memberi kami sebuah benda yang hidup tertaruh dalam hatinya.

Adalah suatu cahaya yang telah dimasukkannya kebadan kami, yaitulah cahaya yang tinggi derajatnya lagi bertuah. Kami seakan-akan mendapat berkat dari padanya! Kami tak gentar dan tak takut lagi, kami sekarang berhati dingin, percaya dan mengaku kepada kebesaran Tuhan. O, betapalah rendahnya kedudukan kami, rendahlah dari tanah layaknya. O, mudah-mudahan dapatlah juga kami sampaikan maksud itu; tetapi kami sendiri tiadalah agakuya akan hidup lagi, entahkan arwah yang ada dalam tubuh kamilah, yang akan melihatnya. Sungguh tak adalah kegirangan dan kesukaan yang memenuhi hati ketika itu, melainkan kami berdiam dirilah saja mengucapkan syukur! Ya Allah, kami meminta terima kasih, dan mengucapkan syukur kepada engkau, karena kami telah mendapat bahagia itu. Berapa banyak hal-hal yang dahulu tiada saya percayai, tak saya akui, tetapi sekarang barulah kami percaya.

Tak dapat saya menceritakan kepada tuan, apa benar yang tersisip di hati kami kedua sekarang. Kami sungguh tak dapat menceritakannya, tetapi hanyalah dapat merasainya saja.

Sekadar yang dapat kami kabarkan kepada tuan yani kami tak putus mengucapkan syukur dengan sukacita, karena hidup kami ini telah bertambah bagus dan maksud kami pun telah bertambah tinggi harganya.

Banyak, ya, amat banyak hal-hal yang telah lalu kami pikirkan. Senantiasa amat jauh, terlalu jauh kami cahari cahaya hati itu, kiranya tempatnya terlalu dekat pada kami, selalu ada dalam tubuh kami!

Perasaan kami, kami sekarang telah bertambah kuat dan barang sesuatunya sekarang kami lihat dengan pertolongan cahaya itu. Rupanya telah lama ia bekerja dan hidup dalam hati kami, hal itu tiadalah kami ketahui. Nyonya van Kollah yang membukakan pintu yang tertutup selama ini untuk kami.

O! oleh karena itulah maka kami banyak mengucapkan terima kasih kepadanya, lebih banyak dari pada jasa-jasanya yang lain yang telah diperbuatnya untuk kami, Ataupun yang akan diperbuatnya lagi.

Sebelum saya menerima surat nyonya itu, bertanyalah ibu kepadaku: “Siapakah yang memberi engkau pikiran yang demikian itu?“ Dan ketika itulah juga saya jawab: “Tuhanlah yang memberikannya kepada kami.”

Tentulah saja ibu mula-mula mencoba mengubah pikiran kami akan membuangkan maksud kami itu, tetapi ketika dilihatnya kami tak mau mengubah pikiran itu, maka ia pun berkatq dengan mengengan Allah subhanahu-wataala: “Ya anak-anakku, sekarang maklumlah dan percayalah saya, bahwa itulah rupanya nasib engkau kedua dan Tuhanlah juga yang telah menyuruh engkau hidup dengan jalan yang demikian.“

Nyonya van Kol mengatakan kepada kami: “Banyaklah ini dan itu yang diperoleh orang dengan pertolongan manusia, tetapi lebih banyak lagi hal-hal lain, yang hanyalah dengan pertolongan Allah saja baru dapat diperoleh. Tuhanlah yang menyuruh kita bekerja untuk mendapat barang sesuatunya, dan Ialah juga yang dapat memberi kita kekuatan batin dan ketetapan hati untuk berusaha. Percayalah kepadaku, bahwa sekalian yang kukatakan itu sebenar-benarnya me-nurut penanggunganku sendiri pada waktu yang sudah-sudah. Tuan sekarang baru berdiri di muka pintu hidup tuan dan di pintu kerja tuan yang akan tuan tanggung dalam dunia ini. Kalau sekiranya tuan kelak telah ada di dalam hidup tuan, baharulah tuan akan mengetahui, bahwa kita ini ialah manusia yang bebas dan kuat, dan barulah pula sebenar-benarnya kita jadi sahabat dan penolong bagi sesama kita manusia, yani asal pertolongan yang akan kita berikan itu tidaklah terutama kita carikan pada orang lain, melainkan hendaklah pada diri kita sendiri dan pada Allah, Tuhan yang bersifat rahmat dan rahim itu. Dengan pertolongan lahir yani dengan barang sesuatunya tuan mestilah ditolong, Meskipun bagaimana jua hendaknya hal keadaan tuan. “Karena tidaklah tiap-tiap hari dapat orang mencari di pasar hidup bersama-sama, kekuatan yang suci dan bagus seperti kekuatan tuan untuk kerja yang baik itu. Kekuatan yang sedemikian harus diterima dan diselenggarakan dengan sebaik-baiknya. Kalau sekiranya Pemerintah tidak hendak menolong tuan, maka perserikatan “Oost en West” mestilah mau menolong tuan.“

Dengan tiada diminta-minta, perserikatan “Oost en West” telah mengatakan: ia suka hendak membantu kami dan mau bekerja untuk menyampaikan maksud kami itu. Nyonya van Kol mengirimkan surat kabar yang berisi hal itu kepada kami. Mula-mula kisah perjalanan tuan Stoll tersebut di dalamnya, dan di akhir karangan itu barulah penulis menceritakan hal kami, demikianlah bunyinya dalam “Oost en West.”

“Kami percaya, bahasa tuan van Kol yang menjadi anggota dalam perserikatan itu sejak dari bermula sampai sekarang tiada lupa akan mengatakan kepada kedua anak gadis itu, bahwa maksud mereka kedua, yang mulia dan suci itu selalu akan ditolong dan dibantu oleh perserikatan kita.”

Karena membaca kabar itu maka nyonya van Kol pun menambah pula suatu karangan kecil dalam surat kabar itu, yang menerangkan bagaimana pikirannya tentang kami, yaitu sesudah nyonya itu membaca isi surat kami kepadanya. Nyonya itulah dengan jalan itu telah membukakan hati sekalian mereka yang kasih akan bangsa Jawa, pembaca “Oost en West”, untuk kami.

Nyonya van Kol meminta pula di belakang itu, supaya saya memberi izin kepadanya akan menyuruh memasukkan isi suratku, yang beralamat kepadanya, ke dalam surat kabar itu.

Hal itu tak menyenangkan hatiku, tetapi perlu “untuk ikhtiar akan menyampaikan maksud kami itu.” Dengan tiada membuat barang sesuatu, kata nyonya itu kepadaku lagi, “tak dapat sahabat-sahabat pembaca surat kabar itu menganal hati tuan dengan baik, dan menghargai maksud tuan dengan sepatutnya; betcel seperti keadaanku sekarang ini, sesudah membaca surat yang sepucuk itu bagaimana tulusinya seorang perempuan muda bangsa Jawa telah mengeluarkan perasaan hatinya kepada seorang perempuan yang lebih tua, yang disangkanya dapat akan memberi pertolongan kepadanya dan suka akan maksudnya yang baik itu. Tak ada sepatah kata jua dalam surat itu yang tak boleh dibaca oleh orang banyak. Dan sebenarnyalah saya tak tahu jalan yang lebih baik lagi akan membawa tuan ke dalam perhimpunan orang yang menyayangi tanah Jawa dan bangsanya itu. Bunganlah malu-malu tuan dan katakanlah kepadaku: “Ya, baik!“

Tentang hal itu belumlah saya memberi keputusannya lagi. Saya harus meminta izin lebih dahulu kepada bapaku. Bapak telah meminta supaya perkara itu seboleh-boleh-nya dirahsiakan. Kalau Pemerintah telah mengatakan “baik”, buhlah dunia dan penduduknya mengetahui hal itu. Sebe-tulnyalah kami harus berhati-hati mencari jalan yang akan ditempuh itu, tetapi menurut pendapatan kami sekarang, bahwa lebih banyaknya kami beruntung, apabila hal kami diceritakan kepada orang banyak dari pada kalau dirahsiakan; yaitu kepada orang banyak seperti yang dimaksud oleh nyonya van Kol itu, dan kalau dalam hal itu Pemerintah menolak permintaan kami, tentulah kami tiada akan rugi. Dan siapakah yang tiada tahu, bahwa bukan sedikit di atas dunia ini permintaan yang ditolak orang saja?

Bukanlah yang meragukan saya karena saya akan mengatakan “ya, baiklah,” Ataupun karena saya akan merasa hati ji-kalau konang-kenangan hatiku itu direncanakan kepada orang banyak di muka bumi ini, sekali-kali tidak. Perasaan hatiku sendiri, tiadalah kuhitung, hanya yang saya pandang ialah cita-cita kami itu saja! Dalam surat itu telah saya cungkil pula suatu pasal, yang tentu tiadalah akan menyangkan hati bangsa kami, yaitu perkara kawin! Barangkali orang buh menghinakan saya, tetapi hal itu sekali-kali tiadalah akan membinasakan saya; yang buh hanyalah membinasakan maksud kami itu. Adakah orang nanti, jikalau saya telah menjadi guru, mau menyerahkan anak-anaknya untuk diberi pendidikan, kalau sekiranya telah diketahui oleh mereka itu dengan siapa mereka berlawan? Atau barangkali lebih baiklah kami akan berperang berhadap-hadapan untuk mencari kebenaran ... dan dikatakan kepada mereka itu sekarang pada pihak mana kami berdiri? Sejak dari da-hulo inilah kenang-kenanganku yani: akan mengeluarkan pikiranku tentang hal perkawinan itu; tetapi belumlah saya lakukan, sebab saya hendak menunggu da-hulo, sampai saya dapat merampas kebebasanku.

Buah pikiran kami barangkali akan diterima orang dengan baik pada pihak bangsa Eropa; dan dalam beberapa hal tentang pengajaran dan pendidikan tentu banyaklah juga mereka bangsa Jawa, yang suka akan menerima. Tetapi bagaimanakah buah pikiran yang saya terangkan pada halaman yang bersama-sama dengan itu, entah akan diterima orang, tak tahulah saya! Kami pestilah mau menanggung segala kesusahannya. Bagaimanakah pikiran nyonya tentang hal itu? Maukah tuan memberi saya pikiran yang baik? Dengan ibuku hendak saya perkatakan juga hal itu.

15 Juli 1902 (VIII)

Adikku Rukmini tentu telah memberitakan kepada nyonya akan kabar yang baik itu, bukan? Bahasa orang tua kami telah memberi kami izin. Yang tak disangka-sangka Sekalipun sekarang telah menjadi: Ibuku tiadalah saja telah berdamai dengan maksud dan kenang-kenangan kami, tetapi sekarang ia pun turut pula bermimpikan cita-cita itu! Karena kami sekarang menerangkan segala hal itu kepada ibu, tak adalah kami berselisih lagi dengan dia. Bahwa sebenarnyalah setelah kami terangkan sekaliannya kepada ibu, maka serasa berdekatlah pertalian kami sekarang dengan ibu yang baik, kekasih kami itu. Belumlah berharga kami rasa-nya akan mencium kaki ibu yang pengasih itu. Sungguh tak dapatlah saya mengabarkan kepada nyonya, bagaimana dan apa ibuku bagi kami pada waktu yang sudah yang berpuluh-puluh tahun lamanya, dan apa ia bagi kami pada masa ini!

Tidak, kami tak suka lagi membuat kenang-kenangan, hanya sebuah dari pada kenang-kenangan kami akan kami simpan dan cukuplah yang satu itu saja. Dan kenang-kenangan yang satu itu, Sungguhpun telah banyak membawakan kami penanggungan, kesukaan dan kesusahan, dapatlah juga hendaknya dengan itu kami membuat apa-apa, Meskipun tak banyak yang bergunca centuk bangsa kami, lebih-lebih untuk keperluan perempuan-perempuan bangsa kami. Jika sekiranya tak dapat kami membuat sedemikian, berharaplah kami kesengsaraan dan peperangan kami itu dapat hendaknya menarik pemandangan dan pikiran orang banyak untuk bermacam-macam hal yang perlu diubah. Dan jika sekiranya tak pula sampai maksudku itu, ya, apa boleh buat, tetapi kami pun selalulah juga berniat hendak berbuat baik, dan kami percaya sungguh, bahwa air mata kami yang sekarang rupanya cuma-cuma saja tercucur, nanti akan menjadi bibit tanam-tanaman dan akan menghamburkan buah dan bunga kelak, menjadi obat bagi mereka yang akan datang.

Pesan tuan kedua yang dibawa Annie, menyebabkan hati kami menjadi bimbang memikirkannya! Benar sekali kata tuan kedua itu dan kami pun sebab meminta terima kasih banyak kepada tuan. Pesan tuan: kalau sekiranya sekalian maksud kami baik lakenya dan kami jadi pergi ke negeri Belanda, haruslah juga kami pikirkan bagaimanakah hal kami kalau kami pulang kembali nanti? Siapakah yang akan kami dapat di Betawi lagi? Tentulah tak ada seorang jua lagi, yang menyukai maksud kami itu! Sekaliannya tentulah akan berubah! Apa akal lagi?

Sekarang tentulah kami, dengan tiada berpikir panjang, akan memilih negeri Betawi, supaya kami dapat berdekatan dengan tuan kedua, itulah yang amat kami sukai, tetapi kalau demikian tentulah adikku akan membuang sekalian ke-nang-kenangan dan maksudnya itu, Biarpun hal itu dilaku-kamya dengan sesenang-senang hatinya.

Jika sekiranya kami tinggal di sini, haruslah ia belajar untuk menjadi guru, tetapi hatinya amat berat belajar menjadi guru itu. Berapa susahnyya pula akan menanggung sesuatu kerja seperti menjadi guru itu, telah kami lihat, apalagi jikalau kita tiada cinta mengerjakan kerja itu. Rukmini sendiri telah berkata kepadaku: ke mana saja engkau pergi, saya pun turut bersama-sama, dan jikalau saya tak da-pat kerja lain-lain dari belajar untuk menjadi guru ..., biarlah saya berusaha dengan sedapat-dapatnya, akan menang-gung kerja dengan sebaik-baiknya. Tetapi dalam hal itu sa-ya amat merasa hati sayang kepadanya dan sayang kepada cita-citanya yang selama ini! Karena menjadi suatu kerugian yang besar. Pikirlah sekolah urusan rumah tangga dan renda-merenda, tentulah akan menarik hati perempuan-perempuan Jawa. Itulah cita-cita perempuan-perempuan Jawa; anak-nya nanti boleh pandai masak-memasak, menggulai dan renda-merenda. Niscaya amat sedikit sajalah baru orang yang tajam pikirannya tentang mengerjakan kerja yang saya ingin itu dan tak banyaklah pula di antara mereka itu yang ada menaruh perasaan untuk pendidikan pikiran dan kehor-matanya hati itu.

Haruslah ada barang sesuatunya yang akan diperlihatkan dan dapat diperhatikan oleh mereka itu, yani barang yang dapat dilihat bagus oleh pemandangan mata dan oleh perasaan hati. Dengan jalan begitu, barulah dapat bangsa kami menerima dan memuliakan maksud kami itu.

Kami harus memperhatikan kehendak dan pikiran bangsa kami, sebelum kami mengerjakan kerja yang kami cintai itu. Pekerjaan dalam ilmu memperlihatkan benda-benda itu dapatlah ditanggung oleh adikku dan ia pun suka benar mengerjakannya. Dan kami pun suka pula akan mengajar-kan ilmu urusan rumah tangga, karena ilmu itu dalam perasaan hati kami berguna benar bagi bangsa Jawa, umpamanya: Ilmu menghitung dan mengeluarkan belanja dan membuat peringatan, ilmu kesehatan tubuh, ilmu mema-lut luka dsb.

Sayang benar kami tak dapat bercakap-cakap memperkatakan sekalian hal itu dengan tuan. Tentulah banyak lagi ke-hendak kami yang patut dicoreng dalam daftar cita-cita, kami itu. Hal itu perlu dan harus diperbuat. Kami tak som-bong suka mengatakan, bahwa buah pikiran kami itulah pikiran yang sebaik-baiknya untuk bangsa kami. Suka benar kami hendak mendengung pertimbangan dari pada orang, yang lebih tua dari pada kami, lagi telah banyak perasaian dan penanggungan, supaya dapat kami nanti memperhatikan dan memilih pikiran mana yang baik. O, betapa baiknya kalau kami ada berdekatan dengan tuan kedua, apalagi sekarang karena kami telah diizinkan oleh orang tua kami boleh mengerjakan kerja yang kami cintai itu. Karena izin itu seperti terhindarlah bagi kami sebuah batu besar yang merintangi kami di jalan. Dan alangan yang kedua lagi ialah: perkara uang dan perkara yang lain!

Marilah saya kabarkan kepada tuan apa pula, yang membesarkan hati kami lain dari pada yang telah kami ceritakan itu. Baru-baru ini saya mendapat surat dari pada nyonya van Kol. Surat ilu isinya perlu dan panjang serta menyuakan hati kami benar. Di dalam surat itu dikabarkannya betapa suka hatinya tentang maksud kami itu, dan diperkatakannyalah pula keperluan maksud itu. Ia sekali-kali tak suka mengabarkan apa-apa yang menjadi kesenangan dalam hidup yang akan kami tempuh, demikian pun tinggal di negeri Belanda: “Tiadalah dapat tuan akan melenyapkan diri dari pada kesusahan dan duri-duri yang akan menimpa tuan, tetapi pula tak adalah seorang juga boleh sampai maksudnya, kalau tiada menanggung kesusahan dan kesakitan. Sekalian hal itu berguna bagi manusia, supaya ia menjadi kuat dan percaya kepada Tuhan dan kepada dirinya sendiri.” Begitulah katanya dalam suratnya kepadaku.

Nyonya van Kol menolong kami lebih dari pada nasihat yang telah diberikannya itu; ia telah memberikan kepada kami barang sesuatu yang datang dari hatinya sendiri dan yang hidup bersama-sama dengan nyawanya ...

Tentu saja hingga ini ke atas kami wajib berhati-hati, tapi menurut pendapatan kami sekarang, kerja yang dirahsiakan itu, tak adalah memberi faedah, melainkan boleh-lah hal itu membawa kami kelurah yang dalam; dan mengabarkan kepada orang banyak membawa kami lebih lekas sampai ke tempat yang dimaksud. Saya mengerti pula apa sebabnya bapak menyuruh merahasiakan hal itu dahulu, ialah karena tak senang hatinya, kalau-kalau Pemerintah menolak permintaan itu, dan kalau demikian tentulah orang banyak akan menertawakan kami. Sebab itulah saya disuruh bapak meminta kepada tuan, supaya yang mulia tiada akan mengabarkan hal itu dahulu kepada orang, atau memasukkan ke dalam surat kabar, dan dalam hal itu sudi menolong bapak, supaya ia dalam sehari dua ini boleh datang akan memohonkan permintaan itu. Jikalau sekiranya perkara orang itu telah sele-sai, barulah sekalian orang boleh mengetahui kemauan dan maksud kami itu.

Kami sengaja benar berlaku sedemikian, karena kami hendak menjauhkan diri kami dari pada mereka, yang kurang pikiran dan tiada berbudi itu. Cacat yang pertama dan sindiran mereka itu, yang datangnya seperti angin topan, telah kami rasanalah.

18 Juli 1902 (II)

O, bunda! kami tak cakap menceritakan perasaan hati kami itu dengan sempurnanya. Sekaliannya rupanya telah kabur, telah menjadi pembicaraan anak kecil, perasaan hati kami amat kaya dan amat berkuasa rasanya! Ya rabbi, saya mengucapkan terima kasih, begitulah kata hatiku, begitulah tutur dimulutku dan begitulah pula bunyi penaku, serasa di udara atau di surgalah saya sekarang, di tempat Tuhan yang esa berdiam diri, dan kepadanyalah saya mengucapkan syukur itu!

O, bunda! kasihilah kami selalu dengan kasih yang sejadi-jadinya. Kasihmu itu amat berguna untuk kami, karena jalan yang akan kami tempuh sangatlah sukarnya!

21 Juli 1902 (VII)

Dalam hidup di dunia ini adalah kedapatan saat-saat yang amat bagus benar. Kita rasanya tidaklah berpijak di-bumi ini, hanya hidup kita terasa di hati, kita seperti terbang-terbang di awang-awangan, karena kegirangan dan sukacita, apalagi kalau kita memperoleh keperluan kita yang sangat kita cintai dan kita muliakan! Saat yang demikian sudahlah kami peroleh, yani ketika kami membaca surat tuan dengan hati yang gembira bercampur rindu. Dari surat itu berembus rasanya udara yang amat sejuk dengan bersih dan sedapnya, yang asalnya dari langit pikiran yang amat tinggi dan mulia, mencuci dan menguatkan hati kami!

Bagaimanalah dayaku mengabarkan kepada nyonya perasaan hatiku yang gembira bercampur rindu itu, ketika kami membaca kata-kata emas yang tersebut dalam surat tuan itu. Sesungguhnya itulah suatu rahmat yang datang dari langit, kata kami! Sesungguhnyalah nyonya telah menolong kami lebih berharga dari pada nasihat yang tuan berikan itu. Nyonya telah memberikan kepada kami barang sesuatu yang mulia, lagi ke luar dari hati tuan sendiri dan hidup bersama-sama dengan nyawa tuan.

Telah jauh dan telah lama kami mencarinya, tetapi tiadalah kami ketahui bahwa tempatnya sedekat itu, di sisi kami: ia ada di tubuh kami!

Allah atau “god” kata orang Belanda, tidaklah lagi suatu kata yang kosong kepada kami sekarang. Kata itu yang acap kali dipakai orang dengan mudahnya saja, kami sekarang menjadi suatu bunyi yang suci dan mulia. Terima kasih dan syukur kami kepada nyonya, sebab tuan telah membukakan di mata kami benda yang amat mulia dan telah kami cari-cari sekian lamanya!

Tak dapat saya mengatakan betapa senangnya dan damainya hati kami sekarang dan betapa riang dan syukur hati kami; hati kami tak takut dan tak gentar lagi. Pada perasaan kami sekarang kami telah selamat dan sejahtera. Dalam perasaan kami adalah selalu sesorang yang menjaga kami, sesorang di sisi kami. Ia pula yang akan menghiburkan hati, ialah yang akan memberi kami pertolongan dan kepadanyalah tempat kami bergantung dalam hidup kami yang akan datang, sekalian itu terasalah oleh kami.

Benarlah kata nyonya itu, bahwa kepada Tuhan tak adalah kerja seseorang yang terlampau berat. Ialah pula yang memberi kita kekuatan untuk kerja kita yang disuruhkannya.

Yang kami sekarang telah mendapat tuan kedua ini, itulah suatu rahmat Tuhan kepada kami. Tuhan yang mahakuasa telah mengirim tuan kedua, mereka yang telah menjadi pahlawan dari kemauan hatinya yang mulia dan dari pesuruh Tuhan bernama kasih dan cinta kepada kami, laskar yang masih muda lagi belum berpengetahuan, supaya tuan kedua akan menolong kami, akan membimbing kami, mereka yang belum kuat berjalan di jalan yang sukar ditempuh.

Syukurlah, ya gustiku atas pemberianmu itu! Sebab itulah maka kata-kata de Genestet, dalam syairnya “Terugblik” amat kami muliakan dan bagus pada pemandangan kami, Waktu itu perasaan kami, bahwa hati kami ada kelaparan

apa-apa, kami cari ... tetapi kami tak tahu apa yang kami cari itu ...

Sekarang sungguhlah kami telah mendapat berkat dari pada Tuhan, dan hidup kami sekarang dalam pemandangan kami lebih bagus, usaha kami lebih baik dan badan kami sendiri pun lebih senang dan kuat rasanya ...

Tak dapat kami melupakan tuan, semenjak kami telah mendengar suara tuan berkata-kata dengan kami. Selalu mendengunglah di telingaku kata-kata nyonya seperti bunyi suara yang keramat mengatakan: “Tidaklah lagi hidup un-tuk dirinya sendiri, melainkan hidup dengan ruh di dalam tubuhnya.“

Saya sangat berharap supaya kekuasaan perkataan itu ada padaku, Biarpun barang sesaat saja akan mengabarkan kepada tuan perasaan hatiku dengan selurus-lurusnya dan sesuci-sucinya, seperti yang tergambar dalam hatiku! Sayang, tak adalah kekuasaan itu bagiku, sebab itu lebih baik saya berdiamkan diri!

Terkenanglah oleh kami akan perkataan tuan itu, ketika kami mengulang membaca surat nyonya yang meminta akan memasukkan karanganku ke dalam surat kabar, lalu bertanyalah kami kepada diri sendiri: “Bagaimanakah kesudahannya kalau hal itu jadi diperbuat demikian? “Oleh karena perkataan yang ramah dalam surat kabar “Oost en Weest” itu, ten-tulah kami akan diterima oleh sahabat-sahabat kami bangsa Eropa dengan baik, tetapi bagaimanakah kalau isi suratku itu akan dibaca oleh bangsaku sendiri? Boleh jadi permintaan kami tentang pengajaran dan pendidikan itu akan diterima mereka itu dengan besar hati, tetapi kebesaran hati itu akan hilanglah oleh kemarahan yang timbul dalam hati mereka itu, kalau membaca buah pikiranku tentang perkara kawin, dan yang pertama-tama sekali yang akan marah kepada kami ialah orang laki-laki.

Saya tak mau menarik buah pikiranku itu kembali, biar barang sepatah kata joca pun. Yang sebenarnya banyak lagi yang hendak kuceritakan tentang hal keadaan itu, dan itu-lah maksudku sejak dahulu hendak mengeluarkan suara tentang hal itu dengan sekeras-kerasnya akan mengabarkan kepada orang banyak, karena itulah menurut pikiranku suatu jalan yang sebaik-baiknya, patut ditempuh, dan akan memperbaiki segala hal yang tiada dimakan benang siku-siku. Tetapi lebih dahulu saya hendak menantikan waktunya, supaya perdirianku teguh dan lurus di atas jalan yang kupilih itu, yaitu jikalau sekiranya saya telah memperoleh kebebasan dan kemerdekaan.

Tetapi sekarang lebih baik berperang berhadap-hadapan, dan sejak dari bermula sampai sesudah-sudahnya diterangkan kepada bangsa Bumiputera sekalian buah pikiran yang tersimpan dalam hati kami.

Siapa yang melemparkan raga, kata orang Belanda, mestilah menyambut raga itu kembali. Sebab itulah saya berharap, jika nyonya hendak memasukkan juga karanganku itu ke dalam surat kabar, baiklah nyonya sabar dahulu barang beberapa lamanya. Sepatah kata pun saya tak mau menarik kembali apa yang telah saya katakan tentang keganasan laki-laki Jawa itu, yang telah menjerumuskan perempuan-perempuan dan anak-anak bangsa kami ke dalam lurah-lurah kesengsaraan, tetapi perlunya saya minta nyonya sabar sedikit, ialah karena saya hendak mengukuhkan diriku lagi dengan beberapa hal yang lain, kalau-kalau kelak saya diserang orang, sehingga boleh merusakkan kebenaran.

Di dalam karangan itu saya katakan bahwa makin lama makin banyak ibu bapak anak-anak Bumiputera menghendaki pendidikan yang bebas untuk anak-anaknya perempuan. Sekalian itu boleh dipersaksikan dengan mata sendiri, bila dilihat betapa banyaknya anak perempuan dalam sekolah Gubernemen dan dalam sekolah partikelir. Apa yang saya tuliskan di atas ini sudahlah kedajan dengan sebenar-benarnya; kita sekalian telah mengetahuinya, baik dilihat sendiri atau didengar dari sahabat kenalan kita dan orang lain, tetapi kami sendiri belum mendapat keterangan yang nyata. Bilangan yang menyatakan berapa banyaknya anak perempuan yang telah bersekolah amat perlu sekarang kami ketahui.

Sesudah itu saya hendak menceritakan dalam karangan itu tentang sekolah Belanda untuk anak-anak perempuan bangsawan di Manonjaja (Priangan). Kabar yang membesarkan hati itu saya baca dalam surat kabar “de Echo“, tetapi waktu ini saya tak dapat mencari nomor surat kabar itu lagi; nomor yang berisi kabar yang menceritakan, bahwa sekolah Belanda untuk anak-anak perempuan bangsawan itu mendapat uang bantuan dari Pemerintah adalah saya simpan. Maksudku mau bertanyakan hal itu lebih jauh.

Baikkah maksud itu pada pikiran nyonya? Saya telah mengizinkan sekarang, nyonya akan menyiarkan karanganku itu dalam surat kabar, tetapi bertunggulah nyonya dahulu beberapa hari lagi akan melangsungkannya, sampai nyonya mendapat kabar dari padaku.

Tetapi pada badanku sendiri tiadalah akan saya indahkan, jikalau orang menyerang saya, karena saya berani memperkatakan adat yang sebusuk itu, yang menyouruhkan laki-laki bersenang-senang menurut sekehendak hatinya dengan hidup surga, pada hal dalam itu perempuan-perempuan bersengsara dan teraniaya seperti sekarang ini. Saya telah sedia menanti serangan mereka itu, menurut pikiranku mestilah mereka itu akan membela dirinya dan menyerang saya. Saya hanyalah wajib menjaga dengan hati-hati kebenaran yang saya pertahankan, supaya seorang pun tak dapatlah akan membinasakannya, bukan?

Kemarahan dan sindiran mereka itu yang pertama-tama sekali telah turunlah seperti hujan lebat menggoda kami, disebabkan oleh karangan tuan Stoll dalam surat kabar “Locomotief“. Tetapi kami tiada mengindahkan hal itu. Kami selalu berusaha sungguh-sungguh akan menjauhkan diri kami dari sekalian hal, yang terpandang hina dan rendah seperti yang telah dibiasakan oleh mereka itu yang kekurangan pikiran dan kekurangan tertib-sopan.

Sindiran dan kiasan orang itu tiadalah kami acuhkan benar, tetapi yang merusakkan hati kami betul, ialah oleh karena kami ini selalu setia kepada cita-cita kami, itulah pula yang amat merusakkan dan menggoda hati orang tua kami! Tetapi hal itu dari dahulu sampai sekarang tak dapat kami ubah.

Hal orang tua itu mudah pula dapat dipikirkan, yani amat susah dan sedihlah hatinya akan mengalangi anak-anaknya, kekasihnya yang terutama dalam dunia ini, akan hidup dengan maksud yang sebagus itu, Meskipun banyak kesusahannya, tetapi sudahlah demikian nasib mereka, tukang menebas jalan, dalam perkara apa juga pun dari dahulu sampai sekarang.

Syukur, syukurlah sekarang mereka itu dengan rela hati telah memberi kami izin, supaya kami boleh hidup dan berusaha menyampaikan cita-cita kami itu.

Bukan buatan besarnya terima kasih kami dalam hal itu! Amat susah hati mereka itu memberi kami izin dan sekian pula susahnya kami memintanya. Dalam waktu yang telah lalu amat banyak penanggungan kami: pikiran selalu berkacau, hati susah dan pilu, kerja banyak mubazir dan harapan acap kali putus. Itulah sebabnya maka kami sangat syukur dan terima kasih atas keizinan orang tua kami itu. Apalagi mereka itu telah memberi berkat atas maksud kami dan berkat itulah yang menjadi kawan kami pula, ke mana kami pergi akan bekerja untuk mencari kebaikan. Betapalah susah hati kami, bila sekiranya kami pergi itu tidak dengan berkat orang tua kami, tentulah hal yang demikian akan menghinakan dan menyusahkan hidup kami; kami sungguh-sungguh sayang dan kasih kepada orang tua kami itu dan dalam hal itu kam pun wajib pula menempuh jalan yang kami kehendaki itu, dan tak dapatlah kami akan dengar suara yang keras, keluar dari hati menyuruh kami berperang dan bekerja untuk kebaikan zaman yang akan datang! Saya rasanya masih mendengar ibuku berkata: “Wahai anak-anakku, saya percaya bahwa itulah nasib tuan kedua. Tuhanlah yang menyuruh engkau kedua hidup sedemikian.” Suaranya itu sebagai suara orang yang menyerahkan diri dan beriba hati, perkataannya itu akan tinggal selalu dalam hati kami, akan menolong dan menghiburkan kami di tengah jalan yang akan kami tempurh. Dan hal bapak lagi!

Iba hatiku bukan buatan melihatnya bersusah hati dan saya pun turutlah pula berdukacita.

“O, bapakku”, kata hatiku, “ampunilah saya ini, ampunilah anak tuan ini, ia terpaksa berbuat demikian.”

Peperangan itulah yang sehebat-hebatnya lagi telah kami tanggungkan. Betapa syukur kami sekarang, tentulah nyonya dapat memikirkannya, apalagi karena keizinan itu tiadalah memperceraikan kami dengan orang tua kami, melainkan ialah menambah kukuh dan erat pertalian antara bapak dengan anaknya kedua belah pihak. Itulah rahmat Tuhan!

Kami sekarang masih berdiri di muka pintu hidup kami, tetapi menerur perasaan kami, sekalian hidup di dunia ini seperti telah habislah kima jalani, yaitu yang penuh dengan perasaan sedih dan peperangan yang hebat dalam hati kami. Banyaklah kitab boleh dipenuhi bila kami mau menceritakan sekalian itu kepada nyonya, tetapi lambat lekasnya tentulah tuan akan mengetahuinya juga, Biarpun dengan surat Ataupun dengan mulut, jikalau kita kelak dapat bertemu. Sebagai seorang sahabat, sahabat kami yang sesung-guhnya lahir dan batin, tentulah tuan berhak mengetahui hal hidup kami sekalian dengan secukup-cukupnya. Sekalian itu akan tuan ketahui nanti.

Apabila saya sekarang mengingat waktu yang telah lalu, maka tampaklah olehku sekalian perbuatan dan pertolongan Allah atas diriku, dan saya pun mengucapkan syukur, lebih-lebih saya memikirkan segala kesusahan dalam saat yang telah lalu itu, sesungguhnyalah Tuhan tiada me-lupakan dan meninggalkan hambanya.

Siapakah yang mengirimkan sahabat-sahabat itu kepada kami waktu dalam kesusahan, sedang dilamun ombak sengsara, hampir-hampir putus asa? Siapakah yang membawakan orang-orang asing yang tinggal sejauh itu ke tempat yang sunyi ini, supaya mereka boleh memberi kekutan dan harapan kembali dalam hati yang berputus asa ini?

Pertemuan itu bukanlah pertemuan tiba-tiba, melainkan itulah suatu perintah Tuhan kita!

Tuhan Allah, Tuhan seru sekalian alamlah yang mengirim mereka itu ke mari, supaya boleh memberi kami, anak-anak muda, yang sedang payah berperang dengan cita-citanya, kekuatan dan keberanian yang baru. Pertemuan itulah yang menyebabkan hati kami menjadi berubah. Dahulu-lu hati kami masih bimbang, tetapi sekarang telah tetaplah hati kami hendak mencapai cita-cita kami itu, Meskipun berapa juga susahnya.

Dahulu perasaan kami tentang hal itu di awang-awangan saja, tetapi sekarang semuanya telah terang dan mudah tampaknya.

Tuhan Allah sajalah yang tahu akan rahasia dunia ini. Sekalian yang ada di bumi ini, semuanya di dalam tangannya dan dalam perintahnya.

Ialah yang mempertemukan jalan-jalan yang jauh-jauh letaknya akan menjadi jalan yang baru.

Demikian halnya Allah telah mempersatukan jalan sahabat kami itu dengan jalan kami, supaya hati dan nyawa kami boleh menjadi kuat, karena bertemu dan bersekutu dengan hati dan nyawa mereka yang kuat itu, sehingga dapatlah kami membuat jalan yang baru untuk kemanusiaan yang ada di belakang kami. Dahulu kami tak kenal seorang dengan yang lain, dan tak tahu kami siapa mereka itu. Sekarang sekonyong-konyony berdirilah kami berhadap-hadapan dan cinta-kasih-sayang sebelah-menyebelah bekerjalah sekuat-kuatnya memperhubungkan tali persahabatan kami. Hanyalah beberapa jam saja kami duduk bersama-sama dan ketika kami bercerai, barulah tahu kami bahwa kami akan bersahabat selama hidup.

Hal yang ajaib itu telah mulailah bekerja dan teruslah bekerja memperlihatkan kebesarannya! Sebulan lamanya se-sudah pertemuan kami itu terjadilah suatu hal yang tak pernah kami pikirkan dan tak pernah pula kami mimikan. Nyonya tahu bahwa berjalan ke luar rumah tiadalah diadatkan oleh anak-anak gadis bangsa Jawa, melainkan mereka itu harus tinggal di rumah, duduk bersembunyi di balik dinding sampai seseorang laki-laki yang tiada dikenalnya, yani suami yang diberikan Tuhan kepadanya meminta si anak gadis itu serta membawanya pulang ke rumahnya.

Belumlah lama lagi kami mengetahui dunia ini dan kebesasan, tetapi sekarang kami telah turutlah terbang dengan mereka itu pergi menempuh jalan-jalan yang berpagar besi itu.

Yang tak pernah kami kenang-kenangkan sekarang telah terjadi. Kami telah menumpang di Betawi di rumah sahabat-sahabat baharu kami.

“Tak ubahnyalah saya ketika itu seperti mengarungi sekalian yang saya cahari, dan tuan kedualah pula harus saya temui. Dan betapalah besarnya hatiku ketika saya telah bertemu dengan tuan.”

Kami lahir ke dunia maksudnya, supaya kami boleh bertemu di muka bumi ini dan supaya mereka itu boleh menunjuki kami dengan sebaik-baiknya untuk hidup kami yang akan datang. Sebelum mereka itu datang kami pun telah melayang-layang, tetapi ketika itu sekelling kami masih gelap-gulita. Dengan tiada disangka-sangka datanglah mereka itu memberi kami haluan yang tetap dalam penerbangan kami yang melayang-layang tak bertujuan itu. Ke sanalah tuju-an kami, jalan itulah yang akan membawa kami ke tempat cita-cita kami!

Saya berharap di dalam surat yang akan datang, saya akan menceritakan tentang agama dengan seterang-terangnya. Senang hati kami karena nyonya mau memperkatakan hal itu dengan kami, karena dengan nyonya bolehlah kami memperkatakannya dengan sebebas-bebasnya. Marilah saya katakan dahulu kepada nyonya akan menyenangkan hati tuan: percayalah tuan bahwa kami akan tinggal selalu menurut agama kami. Besar harapan kami moga-moga dapatlah kami membaguskan maksud rukun-rukun agama kami pada pemandangan mereka yang beragama lain.

Selalu kami mengetahui dan maklum, bahwa pada “batinya” ujud segala agama yani: “kebaikan”. Segala agama maksudnya baik dan bagus, tetapi o, manusia! “apakah yang telah kamu perbuat dengan agama itu?”

Agama maksudnya rahmat, akan mempertalikan sekalian makhluk di bumi ini, putih dan hitam, tiada memandang pangkat, kepercayaan laki-laki atau perempuan. Sekaliannya anak cucu nabi Adam dan hamba Tuhan yang esa! Tak ada Tuhan yang lain, melainkan Allah, kata kami orang Islam, dan demikian pula kata sekalian mereka yang ber Tuhan yang esa. Allah itulah Tuhan yang menjadikan bumi dan langit.

Karena sekalian makhluk, asalnya dari nabi Adam, boleh dikatakan sebagai bersaudara segala laki-laki dan perempuan dan haruslah hendaknya berkasih-kasihan, tolong-menolong dan bantu-membantu seorang dengan yang lain. Bahwa sesung-guhnya tolong-menolong dan bantu-membantu dan berkasih-kasihan itulah yang terutama menjadi sendi sekalian agama.

Ya, ya, jikalau sekiranya sekalian orang mengetahui dan melakukan yang demikian itu, tentulah agama itu memperoleh seperti wujudnya yang asli, yani: rahmat bagi kemanusiaan di atas dunia!

Itulah yang memanaskan hati kepada agama, karena mereka yang mempunyai sesuatu agama mencela, menghinakan dan terkadang-kadang memerangi mereka yang beragama lain. Hingga itulah dahulu perkara agama itu.

Sayang! ... Di antara bahasa-bahasa tanah Eropa, bahasa Belanda sajalah yang pandai kami membacanya. Iba hati kami memikirkan hal itu. Suka benar kami hendak mempelajari bahasa-bahasa Eropa yang lain. Kenang-kenangan kami yang besar sekali hendak bersuka raya membaca kitab-kitab yang bagus, karangan bangsa-bangsa asing itu dalam bahasanya sendiri. Tetapi tak adalah orang tempat kami akan mempelajarinya di sini. Sekarang maksud kami hendak memulai belajar bahasa Perancis, karena untunglah ada di sini sekarang seorang guru perempuan, sahabat kami yang suka menolong kami mengajarkannya. Ia dahulu turut pula berkenalan dengan suami nyonya.

Adakah kitab-kitab yang tuan katakan dahulu, karangan tuan Lessing dan cerita pendeta Ramabai, diterjemahkan orang dalam bahasa Belanda? Telah acap kali kami mendengar kabar, bahwa pendeta Ramabai itu ialah seorang perempuan Hindia yang berani. Ketika saya masih dalam sekolah, di sanalah saya mula-mula mendengar namanya. Masih teringat olehku sekalian ceritanya itu. Saya ketika itu masih kecil, berumur kira-kira 10 atau 11 tahun. Tiadalah terkira-kira besar hatiku ketika mendengar ceritanya di dalam surat kabar. Gementar badanku karena kegirangan. Rupanya tiadalah perempuan bangsa kulit putih saja yang dapat hidup merdeka dan membebaskan dirinya! Pun ... perempuan bangsa kulit hitam, dapat pula membebaskan diri, hidup merdeka.

Beberapa hari lamanya kenang-kenanganku kepadanya dan tak pernahlah saya dapat melupakannya. Lihatlah contoh yang baik memberanikan hati itu, sungguh dapat menggerakkan hati yang lain; demikianlah kekuasaannya atas diriku!

Sekarang saya jawab tentang permintaan nyonya yang mulia itu, meminta kami bekerja bersama-sama untuk perbendaharaan kitab-kitab pembacaan anak-anak. Dengan segala suka hati saya mengatakan, baiklah. Adikku dan saya amat bergirang hati karena beruntung boleh bekerja bersama-sama dengan nyonya, artinya dapatlah kami membesarkan hati tuan; kami berharap sungguh dapatlah hendaknya kami mengerjakan pekerjaan itu, dan jikalau tak ada aral yang melintangi kami, kami bermaksud pada akhir tahun ini akan mengirimkan kepada tuan tanda mata kami sedikit untuk kerja nyonya yang bagus itu.³

Alangkah bagusnya keadaan itu, karena telah ada dalam perasaan hati kami yang nyonya akan memintanya kepada kami. Sepekan sebelum kami menerima surat nyonya itu kami du-duck di luar rumah di dalam kebun, dan ketika itu malamnya amat bagus diterangi oleh bulan. Tuan tahu bahasa anak-anak Jawa biasanya pada bulan terang bermain-main dan bernyanyi di luar rumah. Di muka kami adalah bermain-main sekawan anak-anak kecil. Ketika itu terkenanglah oleh kami, betapa hal kami pada waktu kami masih kecil seperti itu. Di sanalah timbul pikiranku hendak mengarangkan waktu yang beruntung itu. Lalu saya ambil kertas dan pinsil dan saya tuliskanlah sedang bulan memancarkan cahayanya itu sekalian permainan dan lagu nyanyian anak-anak, yang keluar dari mulutnya itu. Alangkah sekonyong-konyong keadaan itu, bukan? Tiada berapa lamanya kemudian dapatlah saya se-pucuk surat dari pada tuan dengan permintaan yang tersebut itu.

Sekarang saya dan adik-adikku meminta banyak terima kasih atas kitab-kitab yang nyonya kirimkan untuk kami itu. Tahukah tuan apa yang kami katakan setelah membaca kitab-kitab itu? Kitab-kitab itu betul kitab-kitab untuk anak-anak, tetapi orang tua-tua boleh juga dan patut sekali membacanya, karena banyaklah pengajaran yang dapat dipetik oleh mereka itu di dalamnya.

Panjanglah karanganku nanti bila saya katakan pikiranku tentang kitab itu sebuah-sebuah, tetapi percayalah nyonya, bahwa jaranglah kami membaca kitab-kitab dengan berhati gembira, seperti membaca kitab yang tuan kirimkan itu. Tiadalah saja kitab-kitab itu kami baca untuk pembesarkan hati seketika lamanya, dan sesudah itu melupakan nya, tetapi sekalian yang tersebut dalamnya kami tuliskan dalam hati dan tiadalah lagi dapat kami lupakan. Betapa besar hati kami mendengar nyonya ada mempunyai buah pikiran yang sebanyak itu. Kami banyak meminta terima kasih akan kebaikan nyonya itu. Tentulah banyak di dalamnya yang dapat dipetik, lagi boleh dijadikan pengajaran. “Perbincangan yang berlu tentang perkara yang penting-penting” dalam kitab itu, kami pandang sebagai jadi hubungan isi surat nyonya yang akhir kepada kami. Kami keduanya sebagai mendapat ijazah rasanya!

O, banyak kami meminta terima kasih kepada nyonya atas sekalian pemberian nyonya yang kami misalkan seperti intan mestika itu. Jikalau sekiranya tuan dapat melihat ketika saya menulis surat ini, tentulah tuan dapat menyaksikan sendiri, bahwa mataku lebih banyak lagi mengucapkan syu-kur dari pada pena dan mulutku, dan lebih nyata lagi me-ngatakan apa yang terasa di dalam hati kecilku tentang tuan.

Karangan nyonya yang bernama “Buah tangan pulang musafir”, bukan buatan bagusnya, dan dengan itulah dapat tuan menambatkan hati bangsa Jawa kehati tuan dengan kukuhnya. Karangan itu seperti sebuah manikamlah di mata kami. Tak dapatlah lagi saya mengatakan telah berapa kali saya sudah merasai kelazatan karangan tuan itu, selalu membesarkan hatiku. Kalau sekiranya saya menjadi bapak tua itu, tentulah saya akan berbuat demikian juga, karena sangat kasih sayangnya akan anak yang dicintanya itu, dapatlah nyonya mengambil hati si tua itu. Seperti tampak oleh mataku sekarang bahasa si bapak dengan anaknya yang bagus itu dalam pangkuannya, dan tampaklah pula olehku seorang nyonya Eropa, yang tiada malu dan enggan mengambil si anak itu dalam ribaanya, memeluk dan menciumnya, setelah itu berjabat tangan lagi dengan seorang desa yang bodoh, serta sudi minum di rumahnya dengan cangkir yang seburuk itu!

Bukan buatan senang rasa hatinya dan sukanya melihat kelakuan yang demikian! Orang Jawa memang adalah mempunyai suatu perasaan yang amat tajam atas hati yang peramah dan penyayang, apalagi kalau sekalian itu datangnya dari pada bangsa kulit putih, bangsa yang tinggi kedudukan-nya dalam pemandangan mereka itu.

Ah, betapakah baiknya kalau sekiranya sekalian bangsa kulit putih mengetahui, betapa mudahnya mereka boleh menarik hati saudara-saudaranya bangsa kulit hitam itu. Berilah mereka itu kasih dan sayang, tentulah tuan-tuan akan dicintai dan dikasihinya pula. Mengeluarkan kata yang tak berapa susahnya bagi tuan, lihatlah betapa hasilnya.

Karangan tuan: “Apakah yang akan dibaca anak-anak?” telah saya baca dalam surat kabar “de Gids” pada dua tahun yang telah lalu. Ketika itu saya telah menyukai juga membaca buah-buah pikiran dalam hal itu. Pasal itu belumlah sekali juga diindahkan oleh bangsa Bumiputera, belum pernah sedikit pun mereka mengerjakan apa-apa untuk pembacaan anak-anak itu.

O, berapalah beruntungnya kami, hidup pada waktu ini, di mana-mana saja banyaklah kerda yang patut diperbuat! Sebentar saja diunjukkan tangan telah dapatlah kami kerda yang baik dan berharga! Keadaan itu amat membesarkan hati kami! Apabilakah gerangan waktunya akan datang, bangsa kami akan terbangun dari pada tidurnya dan pergi bekerja mengerjakan kerja, yang telah berunggun-unggun banyaknya di sana-sini, yang sekarang sedang menantikan tangan-tangan yang ringan! Adakah hidup juga kami kalau waktu itu datang?

O, tidak, janganlah kami berkehendak sebanyak itu. Biarlah kami mengucapkan syukur, jikalau sekiranya dapatlah kami menebas jalan akan pergi ke sana.

Dan bilakah waktunya yang kita sebenar-benarnya akan berhadap-hadapan, dan akan berjabat tangan akan meminta terima kasih kepada tuan atas sekalian yang bagus dan mulia, yang telah tuan berikan kepada kami itu dan yang akan kami terima lagi?

Sabarlah! harapan dan keberanian kami masih banyak. Selalulah kami mengucapkan syukur, karena kami telah mendapat tuan, dan sekali-kali tiadalah kami akan melepaskan tuan lagi, o, tidak! Bukankah sekarang nyonya telah suka menjadi sahabat kami, selalu akan memberi kami nasihat, dan akan menjadi penunjuk jalan kepada kami selama-lamanya? Tuan jawablah: suka; karena itu bukanlah untuk seorang dua saja, tetapi untuk bangsa kami sekalian, terutama untuk sekalian perempuan Jawa!

Tentulah kami akan beriba hati, kalau sekiranya waktu itu telah datang, yani waktu kami akan memberi selamat tinggal kepada sekalian mereka yang telah bercampur-gaul dengan kami dan turut bersama-sama bersuka raya dan berbahagia dalam hidup kami. Tetapi maulah kami berangkat, setelah mendapat rahmat dari pada orang tua, kekasih kami. Rahmat itulah yang akan menerangkan haluan kami yang gelap gulita, yang akan mendinginkan hari yang panas, dan yang akan melemah-lembutkan angin yang keras! Suatu keheranan besar, yang tak pernah masuk ke dalam pikiran kami dan belumlah pula pernah kami mimpikan, tetapi sekarang betul-betul telah terjadi: Ibu kami, yang lain pendidikannya dari pada kami, dan tiada sekali-kali sesuai dengan pendidikan kami, sekarang telah menurut kemauan kami dan merasa seperti kami juga, kehendaknya dan mimpinya betul seperti kami pula. Itulah suatu rahmat dari pada yang mahatinggi dan yang mahakuasa, yang datangnyia dari Tuhan rabul-alamin!

Sebenarnyalah juga kami lebih dahulu telah berjalan di jalan yang panjang dan berduri, tetapi lihatlah sekarang, bahwa kami pun telah sampailah juga ke pintu hati ibu kami itu, dan sehingga dapatlah masuk sekalian cita-cita kami ke dalamnya; apabila pintu telah terbuka sekali, tentolah akan terbuka untuk selamanya. Banyaklah sengsara yang telah ditanggung oleh ibu kami yang baik hati itu, dan banyaklah pula kedukaan hati kami, karena hal itu pada waktu yang telah lalu, sebelum kami sampai ke muka pintu itu dan bertemu di sana dengan ibu kami.

28 Juli 1902 (VIII)

Awan melindungi langit tiadalah berzaman-zaman lamanya, demikian pula sinar matahari meneranginya. Sesudah malam yang gelap gulita, datanglah siang yang amat cuaca. Dengan keadaan itulah saya menghiburkan hatiku. Hidup manusia ini sungguhlah sebagai keadaan alam.

Yang kami pohonkan siang dan malam kepada Tuhan, ialah: kekuatan!

Hujan yang bermulalah, yang menyebabkan sebatang pohon berdaun dan bertunas, oleh hujan yang kemudian ditumbangkanlah pohon itu ke bumi dan buruklah ia di sana.

8 Augustus 1902 (X)

Berkirim-kiriman surat itulah suatu keadaan yang terutama dalam hidup kami. Hampir sekalian pengetahuan kami, kami peroleh karena berkirim-kiriman surat; kalau tidak karena berkirim-kiriman surat itu, mustahillah kami akan berani merusakkan adat istiadat dan kebiasaan yang telah setua itu.

Engkau tak tahulah, atau yang sebenarnya mestilah engkau tahu apa benar artinya kepada kami surat-surat sahabat-sahabat kami itu, karena mereka semua ahli pikiran dan budiman belaka. Dari kemanusiaan mereka itu keluarlah pikiran yang suci dan mulia, yang membersihkan hati dan meninggikan derajat. Mereka itulah yang mengasah pikiran dan menghaluskan budi pekerti kami. Dari kantor pos banyaklah kami terima yang bagus-bagus, yang molek-molek, yang mahal-mahal, bermacam-macam intan dan mutiara, untuk kepala dan dada kami.

Sekalian perbincangan memanglah terlukis juga di dalam hati.

Tetapi tentulah engkau akan membenarkan pula, bahwa kata-kata dalam perbincangan itu lama-lama menjadi luput, Meskipun pokok perbincangan itu akan tinggal tersisip di hati. Tetapi surat-surat dapatlah mengulang sekalian kata-kata yang ada di dalamnya dengan lurus dan tetap, pada setiap waktu, bila saja dikehendaki.

10 Augustus 1902 (VI)

Apa yang tuan katakan kepada kami itu, ibuku telah acap kali mengatakannya kepada kami: “Sekalian kepandaian ialah karunia gusti Allah. Janganlah engkau menyangka kalau sekitarnya engkau telah membuat barang sesuatu yang baik, bahwa pekerjaan itu perbuatamu sendiri. Kita manusia hanyalah menjadi perkakas dan tukang yang mengerjakan sekalian kemauan Tuhan saja. Kebijaksanaan-anan dan kepandaian dikaruniakan kepada kita; dan dalam hai itu kewajiban kita yani menjaga sekalian itu dengan se-baik-baiknya.”

Itulah kepercayaan ibuku yang amat tegoh, telah diperolehnya, setelah merasa bermacam-macam penang-gungan. Karena kepercayaan itulah maka ia mau memberi kami izin. Sekali-kali tidaklah kami memaksanya memberikan izinnya itu. Sekarang tawakkallah ia dalam hal itu, dan tutlah pula memimpikan cita-cita kami bersama-sama.

Jikalau orang mengumpatnya tentang hal kami, jawabnya pendek saja: “Mereka itu anak kami, tetapi bukanlah kepunyaan kami. Mereka itu kepunyaan Tuhan yang menjadikannya dan Tuhan pula yang mengatur hidup dan nasibnya. Jalan ke padang “kebajikan” lahir dan batin, amat banyak; Allah telah menyuruh mereka itu menempuh jalan yang sukar dan ajaib; kami, orang tuanya percaya dan berharap kepada Allah, bahwa jalan yang ditujui mereka itu, ialah pergi kepada “kebaikan.”

Betapalah besar hati ibuku nanti kalau kami kabarkan kepadanya apa yang telah tuan katakan kepada kami itu.

Sekarang ibuku tak ada di rumah; ia pergi melihat seseorang adik kami yang perempuan sakit. Ibuku itu sahabat kami, dan ia pun banyak meminta terima kasih atas sekalian pertolongan tuan kepada kami itu. Ibuku telah berkata kepadaku: “Saya berharap sekali hendak bertemu dengan nyonya van Kol akan meminta terima kasih, sebab ia telah membeekakan pintu hatimu kedua. Sungguhpun ia tiada seagama dengan kita, tak adalah alangannya, karena Tuhannya Tuhan kita pula, Tuhan segala makhluk.”

Beruntung benar kami rasanya, tuan telah memberi kami nasihat, supaya kami jangan bersombong diri. Kami banyak meminta terima kasih atas nasihat tuan itu.

Tetapi senangkanlah hati tuan. Kami ialah anak dari seorang bapak yang berpangkat mulia dan berkuasa, tuan telah tahu apa artinya dalam dunia Bumiputera kekuasaan dan kemuliaan yang seperti itu. Di mana saja berkumpul-nya kekuasaan, kemuliaan, masyhur dan ternama, di situlah puncak tuah yang setinggi-tingginya dalam pemandangan dan kepercayaan bangsa kami; kami sejak dari ketil dimanjakan dan dimuliakan orang, tetapi sekarang muntah dan bencilah kami melihat hal itu. O, bukan buatan pilunya hati kami melihat seseorang tua, yang telah putih rambut di kepalanya wajib menjongkokkan dirinya kepada anak-anak. Itulah adat namanya!!! Sungguhpun kami tak dapat menolak segala adat yang menghinakan itu, tetapi tak pernahlah kami menyuoai orang mencium kaki kami.

Banyaklah hal yang telah menyueruh kami berpikir dan tepekur; makin lama makin teranglah hal itu pada hati kami, bahwa: Kewajiban kami, kewajiban yang amat tinggi sekali, yaitu kami wajib bersungguh-sungguh dengan segala kekuatan menjalankan daya upaya kami, supaya hasil sekalian usaha kami itu dapatlah setimbang dan berharga sebagai gunung kehormatan dan kemuliaan yang diberikan oleh anak Bumiputera kepada kami itu.

Cita-cita bangsawan Bumiputera wajiblah hendaknya: “Kebangsawanan kami harus berbanding dan sama harganya dengan kehormatan bangsa kami!”

Hanyalah dari pada beberapa orang saja kami suka mendengar kata-kata yang halus dan manis, karena kepada mereka itu percayalah kami, mereka dalam hal itu sekali-kali tidaklah bermaksud hendak memanjakan atau memuji kami. Tetapi kata-kata mereka itu isinya ialah kekuatan yang amat berkat, yang mengukuhkan dan memberanikan hati kami pergi berbuat baik.

15 Augustus 1902 (I)

Karangan Nellie van Kol, yang amat menggembirakan hati di dalam surat kabar “Oost en West” itu, telah dipetik oleh beberapa surat kabar di sini; dan surat kabar “De Echo” umpamanya, telah menambah pula karangan itu di bawahnya, meminta supaya sekalian perempuan di tanah Hindia, terbuka hatinya suka membantu dan menolong kami. Sekalian hal itu membesarkan hati kami. Surat kabar “De Echo” itu telah mengutip pula beberapa perkataan dari suratku dan memasukkannya seperti perbuatan Nellie juga, dalam karangannya. Surat kabar itu meminta pula kepada kami, supaya isi surat itu sekaliannya atau sebagian boleh dimasukkannya ke dalam surat kabarnya. Menurut pikiranku tak usahlah itu; cukuplah sebuah saja suratku disiar-kan di dalam surat kabar, apalagi di dalam suratku yang kepada Nellie, telah diterangkannya segala halku itu. Ada pula seorang lagi meminta izin kepadaku hendak menyiarkan suratku yang berisi karangan tentang alat kawin orang Jawa. Hilda de Booylah yang memintanya itu, ia anak perempuan tuan Kharles Boissevain, directeur surat kabar “Algemeen Handelsblad”. Disalimnya surat itu dan dikirimnya ke negeri; dan sekarang kakaknya yang laki-laki yang menjadi sekertaris di kantor surat kabar itu meminta menyiarkan karanganku itu di dalam surat kabarnya. Karena adalah akan memberi faedah besar bagi bangsa kami. Dalam tiap-tiap hal orang Belanda lebih mengerti kalau membataya surat-surat yang demikian, bahwa bangsa Jawa dalam beberapa hal me-nang lebih tinggi derajatnya dari pada mereka itu dan dalam bermacam-macam hal sama tinggi, dan dalam pada itu-pun belum tentulah pula, bahwa bangsa Jawa dalam beberapa hal yang lain rendah derajatnya dari pada bangsa Belanda. Begitulah kata tuan Boissevain.

Bagaimanakah pikiranmu tentang hal itu, Stella?

Saya sekarang sedang mulai menulis sebuah karangan untuk s.k. “Belang en Rekht”. Saya harap karangan itu akan diterima orang! Saya mengarangkan karangan itu dengan besar hati. Kalau karangan itu tak diterima orang, biarlah ia kuubah sedikit untuk surat kabar yang lain.

Untuk Nellie kumpulkan dongeng-dongeng Jawa dan adikku R⁴ sekarang sedang membuat gambar-gambarnya.

O, Stella, betapa banyaknya hal keadaan yang bagus-bagus, yang telah kami dengar dari mulut anak Bumiputera. Kebijaksanaan dan kebenaran, dikatakannya dengan mudahnya dan dengan merdu bunyinya. Betapakah baiknya kalau bahasamu kupelajari sampai pandai, betul seperti orang Belanda benar, dan kemudian kuartikan kata-kata yang manis dan yang merdu bunyinya untuk lagu itu! Sekiran-nya tuan-tuan sekalian memaklumi cita-cita hati kami. betapalah sayangnya engkau sekalian kepada kami. Keduduk-an kami ini masih dekat kepada alam, kepada asal kejadian. Kebijaksanaan bangsa kami tidaklah memecahkan benak untuk mengertikannya. Sekaliannya kata-kata yang pendek-pendek, tetapi amat bagus bunyinya dengan sederhananya.

Alangkah baiknya kalau sekiranya dapat saya mengajarkan bahasa kami kepadamu; sehingga dapatlah engkau hendaknya bersuka hati memetik sekalian yang bagus-bagus dalam bahasa itu. Semakin dalam pengetahuanku tentang cita-cita hati mereka itu, makin tinggilah derajat mereka itu tampaknya dalam pemandanganku. Pada bangsamu orang-orang bijaksana dan pengarang-pengarang kitab, hanyalah terdapat di dalam kumpulan orang yang patut-patut saja, demikian juga tertib dan kesopanan; dan orang banyaknya, bolehkah saya katakan terus terang? ... kasar. Tentu adalah juga di antara orang banyak itu yang tinggi kesopanannya, tetapi yang banyak sekali di antara itu, Stella? Hal itu tentulah engkau lebih maklum dari padaku.

Tetapi cobalah engkau pergi berjalang-jalan dengan saya ke kampung-kampung, dan marilah kita masuki pondok-pondok mereka yang buruk itu, dan dengarkanlah di sana tutur mereka dan buah pikirannya ... Mereka itu sekaliannya tiadalah berskolah, tetapi kata-kata yang diuturkannya itu tak ubahnya seperti kata-kata dalam syair. Lemah-lembut, ringkas-ringkas dan merendah diri!

Jikalau kita kedua bertemu nanti bolehlah saya ceritakan kepadamu bermacam-macam hal tentang bangsa kami yang beradat halus itu, demikianlah juga tentang pikirannya dan perasaan hatinya. Engkau harus mengetahui keadaan itu dan mengasihi bangsa kami seperti kami mengasihi nyina.

Ahli-ahli syair dan ahli-ahli yang lain-lain banyaklah keda-patan di antara mereka itu; jikalau pada sutu bangsa adalah perasaannya untuk kebagusan, keindahan dan kecantikan hidup, mustahillah kesopanan batin, yang tersem-bunyi dalam hati bangsa itu rendah kedudukannya.

Sekalian yang suci dan mulia dalam hidup kita dinamai: syair. Cinta, sayang, kasih, kesetiaan, kepercayaan dan kepan-dalam, pendeknya sekalian yang dimuliakan, dihormati dan yang menambah keindahan, bernama: syair. Keadaan bangsa Jawa dan syair itu bolehlah dikatakan sehati dan senyawa. Sebab itu orang banyak, yaitu orang Jawa yang serendah-ren-dahnya, semuanya pandai bersyair. Bagaimanakah pikiranmu tentang kehormatan yang amat memilukan hati yang diberi-kan anak-anak muda kepada orang tua-tua? Dan tentang memuliakan dan menghormati arwah-arwah mereka yang telah meninggalkan dunia itu?

Apabila mereka itu bersuka raya, selalu mereka menge-nangkan arwah-arwah kaumnya yang telah meninggal dan meminta dua kepada Allah, supaya dilapangkan Tuhan juga hendaknya mereka itu dalam kubur. Dalam kesukaan dan kedukaan selalulah kami mengenangkan arwah-arwah kaum keluarga kami yang telah meninggal itu.

Dan perkataan ibu itu amatlah sucinya pada kami! Dalam waktu keputusan asa dan kesakitan, selalulah bibir yang pucat, yang tak berdarah itu menyebut-nyebut kata “ibu” itu. “O, ibu, berilah kami pertolongan, berilah anak tuan bantuan.”

Menyebut perkataan “ibu” itu dalam waktu kesakitan dan kesusahan, di sanalah tampaknya bangsa Jawa amat memuliakan ibunya. Apakah sebabnya maka kami tak memanggil bapak dan mengapakah maka “ibu” benar, yang kami panggil-panggil? Itu tak lain sebabnya, karena manusia itu sejak dari kecinya tahu dan merasa, bahwa “ibu” artinya dunia penjagaan dan kasih sayang!

Tiap-tiap barang yang terjatuh dari tangan, dipungutlah lekas kembali sambil mengatakan: “Ya Allah, anakku!”

Apakah arti kalimat itu dan apakah tandanya itu?

Perlukah lagi saya akan menerangkannya?

Stella, saya bermaksud hendak mempelajari bahasamu sungguh-sungguh, sehingga pandailah saya hendaknya mengertikan kepadamu, sekalian hal keadaan yang halus, terdapat pada bangsa kami. Saya pun mesti pula mempelajari benar-benar bahasaku sendiri, supaya dapatlah lagi saya mengertikan bahasa Belanda kepada bangsa kami, seperti yang telah kuketahui, betapa halusnya budi pekerti dan mulia-nya hati bangsamu itu. Mereka itu harus mengetahui, menghormati dan mengasihi orang-orang budiman dan orang-orang besar bangsa Belanda, sekalian itu patut dilakukannya.

Kadang-kadang saya hendak bertangan sepasang lagi, supaya saya cakap mengerjakan sekalian yang kusukai. Kemoaneaku amat besar, tetapi kekuatanku terlalu kecil. Saya tentulah tak boleh bekerja, sampai saya menjadi sakit, karena bekerja yang demikian, ialah suatu pekerjaan yang sangat bodoh. Tetapi memang kerap kalilah saya menjadi bodoh, ya, karena kerap kali saya bekerja sampai larut malam; hal itu tak baik untuk diriku. Dengan hal yang demikian barulah boleh maksudku sampai. Saya selalu hendak bekerja, tetapi akhirnya nanti niscayalah saya tak dapat bekerja lagi, karena badanku menjadi lemah. Alangkah malangnya saya kalau demikian. Sebab itulah sekarang saya berusaha, supaya saya tidak terlampau keras bekerja dan boleh hidup sempurna.

PENGGILINGAN TEBU DI DESA BATE, JEPARA

15 Augustus 1902 (X)

Selamat! selamat! majulah kepandaian dan kerajinan Bumiputera; tentulah kepandaian dan kerajinan itu amat besar faedahnya pada waktu yang akan datang!

Tak dapat saya katakan kepadamu betapa besar hatiku melihat kemajuan itu. Saya mengucapkan banyak syukur kepada Allah atas hal itu. Kami suka sekali memuji bangsa kami dan mengangkat diri kami karenanya! Bangsa kami tiada terpandang, kerap kali dihinakan dan dianiaya orang!

Usaha tukang-tukang Jepara telah memberi berkat.

Tuan Zimmerman tercengang melihat perbuatan tukang-tukang bangsa kulit hitam, yang tiada diindahkan orang itu. Kepandaian bertukang kayu, bertukang emas, batik-membatik dan bertenun di sini telah berarti. Tukang-tukang itu telah banyak menerima pesanan dari perserikatan “Oost en West” untuk keramaian St. Nicolaas. Kami pun turut berbesar hati. Sekarang dapatlah tukang-tukang itu memperbu-at kenang-kenangannya yang bagus-bagus, buah pikiran yang indah-indah, yang terlukis dan tersembunyi dalam hatinya, mengaturkan ragi yang berombak-ombak dan warna yang berkilat-kilat, kilau-kilauan.

O, itulah yang amat membesarkan dan menyukakkan hati, jikalau kita selalu boleh mencari apa-apa yang bagus dan baik. Cahaya yang asalnya dari Tuhan itu ada terkandung dalam tiap-tiap badan, Biarpun badan itu amat buruk rupanya pada pemandangan orang. Kebenaran itu wajib hendaknya diketahui oleh sekalian orang pada waktu hidupnya, karena itulah kewajiban manusia yang memba-guskan hidup, baik untuk hidup orang lain, baik untuk hidup diri sendiri.

Adalah seorang anak miskin datang kepada seorang perempuan tua. Orang tua itu bertonya, apakah kehendak si anak itu? Makan-makanan tak ada padanya, apalagi perhiasan dan pakaian. Anak itu menjawab: “Saya tidaklah hendak meminta makan-makanan, perhiasan dan pakaian. Ya ibuku, berilah saya bunga yang kembang dalam hati.”

Bagaimanakah pikiranmu itu? O, cbalah engkau dengar permintaan anak itu dalam bahasa Jawa, betapa manis dan merdunya: “Nyuwun sekar melati, hingkang mekar hingupn jereng hati.”

Perkataan yang demikian senantiasa boleh didengar. Kami sekarang sedang asyik menuliskan apa-apa yang bagus, yang kami dengar keluar dari mulut anak negeri itu. Perkataan “syair” tak ada dalam bahasa kami; “syair” kata orang

Jawa “bahasa-bunga”, tak benarkah perkataan itu? Kami sekarang mempelajari lagu-lagu bangsa Jawa. Tetapi bukanlah lagu yang meriangkan hati. Sudahkah engkau mendengar lagu-lagu itu dari bangsa kami sendiri? Gamelan tak pernah berlagu riang, sedangkan dalam keramaian yang bergilagila pun, lagu gamelan itu, selalulah yang merindukan hati, barangkali itulah sebabnya maka hidup itu selalu merindu dan tidaklah bergirang hati!

Surat ini sejak dari bermula sampai ke halaman ini saya tulis sedang mendengar nyanyi yang merdu, yang lagunya amat merindukan hati. Ketika itu hari telah malam, pintu dan jendela masih terbuka, pohon cempaka yang tumbuh di muka bilik kami itu sedang berbunga; sementara itu datanglah angin yang lemah-lembut mendayu-dayu ke muka kami, membawa bau bunga yang semerbak itu, memberi selamat. Saya ketika itu duduk di atas tikar seperti sekarang, menghadapi meja rendah, di sebelah kiriku duduklah adikku Rukmini yang sedang menulis juga, dan di sebelah kananku duduklah Annie Glaser, pun di atas tikar sedang menjahit, dan di muka kami duduk seorang perempuan membaca kitab hikayat dengan berlagu-lagu. O, berapalah enaknya! Seakan-akan dalam bermimpilah kami rasanya. Suaranya yang bagus dengan nyanyinya yang amat merdu seperti buluh perindu itu serasa menerbangkan hati dan nyawa kami tinggi ke atas kayangan, tempat bidadari bersukacita. Betapa cita-citaku ketika itu supaya engkau pun turut bersama-sama duduk dengan kami dan bersama-samalah kita merasai, berbesar hati dan bermimpi. O, Stella, bermimpi bersama-sama!

Hidup ini bukanlah mimpi, tetapi ialah suatu kejadian yang sebenarnya lagi mengecutkan hati, dan apa-apa yang benar itu tak perlulah buruk jika kita tak suka. Kebenaran itu tidaklah buruk, melainkan bagus, ia bagus selalu, kalau yang ada di dalam hati kita itu bagus pula.

O, sebab itulah saya berharap agar pendidikan itu akan diperhatikan orang benar, terutama tentang budi pekerti yang berguna untuk kemajuan penguatkan kemauan hati. Kemauan itu haruslah selalu subur tumbuhnya dalam pendidikan anak-anak, ya, selaiu ...

Tetapi sekarang telah sesat pula ke tempat lain. Saya hendak membicarakan kepadamu tentang bangsa kami, bukanlah tentang pendidikan; hal itu nantilah kuceritakan, bukan?

Di sini adalah seorang perempuan tua tempat saya meminta sedekah bunga, yani bunga-bungaan yang kembang dalam hatinya, yang harum baunya. Telah banyak saya diberinya, tetapi masih banyak lagi ada padanya, sangat banyaknya; dan saya ini pun hendak meminta lebih banyak pula. Ya mau menambahnya, tetapi saya harus berusaha akan memperolehnya; bunganya itu harus saya beli ... Dibeli dengan apa? Dengan apa mesti saya beli?

Dan keluarlah suara yang penting dari mulutnya: “Puasalah engkau sehari semalam, dan berjaga-jagalah engkau seorang diri, terpisah dari yang lain.”

“Habis malam datanglah siang, Habis topan datanglah reda, Habis perang datanglah menang, Habis duka datanglah suka,” terdengar dengan merdunya sebagai dua di telingaku. Itulah buah pikiran yang dikatakan oleh orang tua perempuan itu. Puasa dan berjaga-jaga itu hakikinya: “Menanggung kekurangan, kesengsaraan, insaf akan diri sampai tayahaya datang!” Mustahil cahaya akan datang saja kalau tidak didahului oleh gelap gulita; bagus, bukan?

Pandai menahan lapar, itulah suatu kemenangan pikiran yang suci dari pada kelobaan lidah; dan tempat yang sunyi, itulah sekolah tempat berpikir.

Ketika saya masih kecil sekalian hal itu telah kuperbuat, karena biasa saja, tiadalah saya bertanya-tanya, karena orang-orang yang lebih tua dari pada saya dan mereka yang sama dengan saya, berbuat demikian, saya buatlah pula. Setelah itu datanglah waktunya hatiku mulau bertonya pada diriku sendiri: “Apakah sebabnya maka saya buat hal yang demikian, dan apakah sebabnya ini begini dan itu begitu? Apakah sebabnya ... apakah sebabnya? ... ” Itulah pertanyaan yang tak berkeputusan lagi dalam hatiku!

Sejak itu tak maulah saya lagi membuat barang sesuatu yang tidak saya ketahui hal keadaannya. Tak sukalah saya membuat menurut seperti yang biasa saja, kalau saya tiada mengetahui betul apa sebabnya. Apa gunanya dan apa maksudnya. Saya tak mau lagi belajar membaca kuran, mengapalkan pepatah dalam bahasa asing, pepatah yang tiada saya ketahui apa artinya, barangkali juga guruku yang laki-laki atau yang perempuan tiadalah juga mengerti pepatah itu. “Katakan kepadaku dahulu apa artinya, barulah saya mau mempelajarinya.” Saya telah berdosa, karena kuran, kitab yang suci amat tinggi dan mulia akan diartikan kepada kami.

Sejak itu kami tak suka puasa dan membuat apa-apa yang lain dengan tiada memikirkan panjang, dan sekarang pun setelah memikirkannya, tiadalah pula dapat kami membuat itu. Putuslah pikiran orang ... kami pun putus asa pula, karena tak mau orang menerangkan kepada kami, apa-apa yang tak dapat kami artikan itu. Tuhan kami ketika itu ialah angan-angan hati kami saja, kalau kami berbuat salah angan-angan kami menghukum kami, dan jika kami berbuat baik, maka kami pun mendapat berkat kami. Surga dan neraka kami ketika itu ialah angan-angan hati kami juga. Dari tahun ketahun kami bernama orang Islam, karena bapak kami orang Islam. Kami waktu itu orang Islam hanyalah namanya saja, lain tiada. Allah bagi kami ketika itu hanyalah suatu panggilan, sepatah kata, sebuah bunyi yang tiada berarti ... Begitulah hi-dup kami sampai kepada suatu masa yang pikiran kami jadi berubah.

Pada hari Tuhan yang telah lama, telah bertahun-tahun, yang kami cintai di hati kami, sekaranglah baru kami dapat. Demikianlah lamanya dan sekianlah jauhnya kami telah mencari. Dahulu kami tak tahu, yang Ia di dekat kami, selalu Ia ada di keliling dan di sisi kami. Ia ada di dalam tubuh kami.

Siapakah orang yang menunjukkannya kepada kami? Betul telah lama terasa-rasa di hati kami, tetapi orang yang menunjukkan Tuhan kepada kami, yang telah sekian lama kami mencari itu ialah Nellie van Kol. Dan siapakah orang yang membimbing kami dan menunjukkan jalan kepadanya, ialah ibu kami sendiri.

Betapalah dungu dan bebalnya kami ini, tiada mengetahui hal itu telah sekian lamanya, bahwa dekat kami adalah gunung mestika yang tiada kami lihat dan kami ketahui.

Bodoh, keras kepala dan memang tinggi hatilah kami ini.

O, tak dapatlah engkau pikirkan betapa besar hati ibuku melihat kami dengan perubahan ini, dan sekalian orang tua disipiun turutlah pula bersukacita. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka itu lagi, yang memarahi kami, dan jikalau kami menyesal dan menyalahi diri sendiri, karena budi pekerti kami yang sombong dan bodoh itu, maka mereka pun berkatalah dengan lemah lembut serta membujuk dan memaafkan kami: “Barulah sekarang Tuhan berkehendak membuka hatimu, dan haruslah engkau mengucapkan syukur atas pemberiannya yang mulia itu!”

O, tak dapatlah saya mengatakan kepadamu betapa tawakkal dan senang hati kami sekarang, betapa syukur dan terima kasihnya, dan bagaimana pula aman dan sentosa perasaan kami, karena kami telah mendapatnya, dan sebab kami telah mengetahuinya. Kami merasa sekarang, bahwa selalu adalah rasanya orang dekat kami dan yang menjaga kami. Tuhanlah jua yang akan membantu dan membujuk kami, dan ialah pula tempat kami berlindung di dalam hidup kami pada waktu yang akan datang, itulah perasaan kami.

BILIK KERJA RADEN AJENG KARTINI

17 Augustus 1902 (X)

Selamat pagi, lihatlah saudaramu ini datang lagi kepadamu akan berbincang. Hari masih pagi, sejuk dengan segarnya; saya duduk sekarang di sudut dekat jendela, mudah boleh memandang ke dalam kebun. Sekali lagi saya ceritakan, kepadamu keadaan kampung halaman kami, rumah tangga kami, dunia kami dan ... kurungan kami!

Sekarang saya hubung lagi perbincangan kita yang kemarin. O, jatuhlah air mataku melihatkan kegirangan hati orang tua-tua, karena kami yang telah sesat di jalan ini, sekarang telah balik kembali kepada jalan yang benar. Adalah seorang tua di sini telah memberikan kepada kami, karena kebesaran hatinya, satu susunan kitab-kitab dan hikayat-hikayat tanah Jawa, yang ditulis dengan huruf Arab. Tulisan itu akan kami pelajari sekali lagi membaca dan menulisnya. Engkau, tahu bahwa kitab-kitab Jawa amat sukar mendapatnya, karena kitab-kitab itu ditulis dengan tangan; amat sedikit sekali yang dicecak. Kami sekarang sedang membaca suatu syair yang bagus dan berisi pengajaran yang baik-baik, terkarang dalam “bahasa bunga”. Betapalah besar pengharapanku, yang engkau pandai hendaknya berbahasa kami. O, betapa suka hatiku hendak meriangkan hatimu bila engkau pandai membaca surat cerita yang bagus-bagus itu dalam bahasa Jawa sendiri. Kalau diterjemahkan tiadalah sebagus asalnya lagi.

Adakah ingin hatimu hendak belajar bahasa Jawa? Betul mempelajari bahasa itu susah, tetapi bagus! Itulah suatu bahasa perasaan, yang penuh dengan syair ... dan tajam. Kerap kali kami anak Jawa sendiri, tercengang melihat betapa tajamnya kadang-kadang perkataan bangsa kami. Apa saja yang engkau kehendaki dengan bahasanya bolehlah dapat diperbuatnya.

Cobalah katakan olehmu apa-apa saja atau tunjukkan olehmu sesuatu barang, maka orang Jawa yang arif bijaksana, banyaknya kedapatan di antara orang Jawa yang sejati, yang dapat dengan lekas mensyairkan barang-barang itu, sehingga tercengang engkau mendengar betapa tajam dan geli perkataannya. Sepanjang pikiranku hal itu ialah sifat bangsa Timur. Sayang benar, ketika anugerah Allah itu turun kepada bangsa kami, saudara-saudaramu ini tertinggal di belakang saja. Janganlah engkau menyangka bahwa saya hendak meminta pujianmu, karena sebenarnya demikianlah timbanganku. Lihatlah, kenyataannya: Oleh karena dewa-dewa itu memandang kami seperti ber-anak tiri, hanya sedikitlah memberi kami kebijaksanaan dan kecerdikan itu, tetapi untunglah datang dewa yang lain memberi kami dengan senepuh-penuhnya, hadiahnya yang bernama perasaan. Pada pikiranku terbanyak benar ia memberikan perasaan itu. Kami harus memakai sungguh-sungguh dan menjaga hati-hati kebajikan itu, supaya jangan menjadi kejahatan. Perasaan tajam memamlah baik, tetapi terlampau tajam tak baik lagi. Engkau lama lambatnya, barangkali sekarang engkau telah mengetahui, bahwa bagi saudara-saudaramu ini amat banyak sekali susah padanya menempuh jalan pertengahan. Apalagi bagi orang yang jauh sekali dipingga, pertengahan itu sangatlah sukarnya akan dihampirinya. Saya mengatakan kesalahanku ini dengan terus terang, karena adalah permintaanku dalamnya. Mengertikah engkau apa maksudku itu? Yani: Tolonglah saya memerangi dan mengalahkan kesalahanku, maukah engkau? maukah engkau menunjukkan kepada saudara-saudaramu mana-mana, hal yang tak baik itu? maukah engkau? maukah engkau melakukan seperti yang telah kami sangka, benar-benar seperti perbuatan seorang saudara, atau perbuatan seorang sahabat kami yang tulus dan ikhlas?

Masih teringatkah olehmu bunyi suratmu pada bulan Januari, yang memperkatakan tentang bunyi-bunyian, ahli-ahli kepadanya dan mereka yang berperasaan halus? Dalam hal itulah sahabat kami, seorang ahli pikiran yang pandai syair, telah mengajar kami dengan halusnya. Engkau ten-tulah segera akan mengetahui, jikalau sekiranya engkau bercampur-campur tiap-tiap hari dengan kami, bahwa pengajaran itu sungguh-sungguh kami pegang teguh, kami genggam erat. Dan ketahuilah olehmu, bahwa dukacita tidaklah memerintah kami, melainkan ialah di bawah perintah kami. Mencungkil-cungkil kesakitan dalam hati itu artinya: mencari dukacita sendiri. Kewajiban kita ialah dengan sekuasa-kuasa badan, wajib mencoba supaya kita selalu lebih kuat dan perkasa dari pada kedukaan hati itu, supaya kedukaan itu boleh bekerja di bawah perintah kita, akan meninggikan derajat kita! ...

Setelah beberapa hari lamanya hujan turun di sini, kami pergi melihat kebun bunga-bungaan kami, yang telah bina-sa oleh hujan lebat. Di sana kami lihatlah pohon bunga-bungaan yang binasa itu, penui dengan tunas-tunas yang hijau. Habis hari berganti hari ... pohon-pohon bunga ros kami penuh pula dengan daun dan kuntumnya yang sangat harum baunya. Hujan, ya, hujanlah yang perlu baginya, supaya bunga-bungaan itu boleh menjadi sebagus itu. Hujan, ya, hujanlah pula yang berguna untuk cita-cita hati kami. Supaya boleh tumbuh dan berbunga.

Sekarang tahulah kami. Air mata kami yang tercucur sekarang ialah berguna untuk menghidupkan biji sukacita, yang akan tumbuh dengan subur pada waktu yang akan datang.

Janganlah teraba-raba, janganlah menyesal-nyesal, janganlah menyuempah-nyumpah, jikalau sekiranya engkau didatangi oleh kedukaan, karena kedukaan itu perlu pula hidup di atas dunia, akan melakukan kewajibannya. Izinkanlah kedukaan itu dengan ikhlas hatimu meninggikan derajatmu, sekalian itu bolehlah dikerjakannya, kalau engkau berhati baik. Benarlah kata budiman: “Api yang membersihkan emas, api itulah pula yang menghancurkan kayu sehingga menjadi abu.”

Sekarang harus saya menceritakan kepadamu bagaimana jalannya kami berkenalan dengan Nellie van Kol. Barangkali engkau sudah membaca dalam surat kabar tentang hal itu. Apa yang akan saya ceritakan kepadamu ini, ialah akan menjadi tambahan saja kepadamu: Pada pertengahan bulan April tuan van Kol menumpang semalam di rumah kami. Seorang perempuan Belanda, yang menyukaa benar akan cita-cita saudaramu ini, menyuruh tuan itu pergi ke mari, akan memperbincangkan cita-cita itu. Itulah asalnya pertemuan kami dengan tuan van Kol, dan pertemuan itu sangatlah membesarkan hati kami, tak dapat kami katakan.

Yang sebenarnya ia telah lebih dahulu menarik hati kami, karena mengingatkan budinya untuk tanah Jawa dan bangsa Jawa; tetapi karena perjumpaan itu lebih kukuhlah ia dalam kehormatan kami, bertempat di hati kami. Betul besarlah hati ketika bertemu dengan orang yang tinggi martabat itu. O, senang, senang sekali hatiku. Sesungguhnyalah suatu kejadian yang tak akan hilang dari kenangan kami, ketika kami bertemu dengan orang-orang tuamu yang penyayang itu. Tahukah engkau bahwa sejak itulah mulai perubahan dalam hidup kami? Pertemuan itu membangunkan kami, menyuruh hidup dengan sebenarnya; dahulu dari pada itu hidup kami tinggal di mana saja, yang sebenarnya kami masih tidur, tidur nyenyak dan bermimpi. Sekarang hiduplah kami berperang dan berkelahi, berharap dan berputus asa, menanggung dan bersukacita, menangis dan bersorak sorai; itulah artinya hidup yang sebenar hidup! Kami telah merasai betapa enaknya menaiki puncak gunung kesukaan dan mencoba betapa pahitnya setelah menuruni lembah kedukaan. Sekalian itu tentulah telah engkau dengar dari pada ibumu. Saya sekarang berbesar hati, karena saya masih hidup.

Dari ibumu saya tahu, bahwa engkau suka benar akan maksud cita-cita kami. Engkau pun sendiri telah mengatakan juga hal itu kepada kami. Tentulah engkau akan berbesar hati pula mendengar, bahwa adalah lagi mereka, tiadalah sebarang orang saja, tetapi mereka yang tinggi martabatnya, pun suka benar akan kemauan kami itu. Mereka itu, ialah tuan van Kol dan isterinya.

Kepada tuan van Kol kami ceritakanlah sekaliannya, dan kami minta supaya ia suka menguruskan hal kami itu, sebab itulah maka ia datang ke mari dan ia pun telah berjanji, bahwa ia dengan segala kekuatannya akan memban tu maksud kami, betul seperti ayahmu hendak membantu kami pula.

Tidakkah besar hatimu mendengarnya bahwa hal-hal saudara-saudaramu ini akan diuruskan nanti oleh seorang yang bijaksana di negeri Belanda dalam persidangan negeri? Sekalian yang dapat diperbuatannya akan dikerjakannya hendak menolong saudara-saudaramu ini, supaya cita-citanya dapat disampaikannya. Ketika kami bercakap-cakap dengan dia tentang cita-cita hati kami itu selalu ia meminta, agar saya hendaklah lekas berkirim surat kepada isterinya. Isterinya yang dapat memberi kami nasihat. Mendengar hal itu hatiku pun bercabullah dengan kegirangan. Betapa kasih serta hormatnya ia memperkatakan dan memuliakan isterinya itu, yang menunjukinya dan memberinya nasihat bukan buatan. Tetapi lekaslah saya maklum, bahwa ia ialah bangsa laki-laki yang sebenarnya ... dan bukanlah sebarang laki-laki ... yang berkata sedemikian terhadap kepada perempuan. Bagi kami saat-saat yang demikian itulah waktu kami bersuka raya namanya. Laki-laki yang seperti itu tentulah banyak lagi, yani laki-laki yang mau memandang perempuan tinggi dan menghormatinya karena ia perempuan.

Tiadalah saya tunggu lagi membuat itu. Sesudah tuan van Kol berangkat, maka saya tulislah surat itu. Tak tahu saya entah apa, entah bagaimana perasaanku waktu menulis surat itu, tetapi yang saya tahu hanyalah saya tak ada berperasaan seperti kepada orang asing, pada hal belum pernah saya berkenalan ketika berhadapan dengan dia dan ketika berkata-kata menulis surat itu; dan begitulah pula perasaanku ketika bercakap-cakap dengan suaminya. Ketika menulis surat itu, maka nyonya itu kusangkakan sebagai ibuku; dengan tiada berpikir panjang, kucurahkanlah sekalian yang terasa dalam hatiku. Kepada suaminya tak heranlah yang saya tak usah malu-malu mengabarkan sekalian halku itu, karena ia sangat peramah dan baik hati, sedemikian juga menerima bicara kami selalu dengan gembira hati. Sungguh seperti bapaklah lakunya bagi kami. Besar hatiku sebab saya telah menurutkan hatiku dengan lekas berkirim surat kepada nyonya van Kol. Kami pun dengan lekas pula mendapat surat dari padanya dan betapa bagus bunyi surat itu! Kami merasa bukan buatan kayanya kami dengan sekian banyaknya kesukaan hati yang ditumpahkannya bagi kami itu. Tuhan telah memberi kami lagi seorang sahabat-hati, dan sahabat itulah pula yang mengajar kami pergi mencari Tuhan yang esa sampai bertemu. Tak dapat saya terangkan kepadamu betapa besarnya untunku kami ini! Kami tak mau bersuka raya atas untunku kami, yang kami telah berubah menjadi baik ini, tetapi kami, sengaja diam-diam dengan hati yang tawakkal, mengucapkan syukur kepada Allah tentang sekalian yang telah kami peroleh itu. Dalam beberapa hari ini kami telah menerima lagi sepucuk surat dari Nellie, berisi bermacammacam buah pikiran yang bagus dan mulia. Seperti suatu sungai mengalirlah kesucian hati dari tubuhnya. Itulah anugerah Tuhan kepada kami bertemu dengan seorang perempuan yang suci hati, lagi tinggi martabatnya. Ia berkata: “Baharulah kita boleh bernama sahabat manusia yang berhati tuus, jika kita menolong mereka itu dengan tiada lebih dahulu mencari bantuan orang lain, hanya bantuan itu kita cahari terutama pada badan kita sendiri dan pada Tuhan kita.” Kami banyak meminta terima kasih akan perkataannya itu. Kata itu lebih harganya kepada kami dari pada sekalian nasihat, yang telah dilimpahkannya untuk kami, Ataupun yang akan datang. Apa yang dikeluarkannya dari hatinya dan yang diberikannya kepada kami, itulah “kasih” yang keluar dari hatinya, dari hati kecinya. Sekarang ia berkata lagi: “Orang yang sebaik-baiknya dan yang berhati pengasih dan penyayang, mereka itulah pula manusia yang lemah dan mudah bersalah. Serahkanlah dirimu kepada Tuhan. Ialah yang akan menyembuhkan luka hatimu dan yang akan menghapuskan air matamu.”

Pada suatu hari, ketika saya sedang menulis surat ini, adalah saya mendapat kedukaan yang boleh meremukkan hati dan memutuskan harap, jika sekiranya kami belum berkenalan dengan Nellie. Tetapi sekarang tiadalah lagi kami mencari penghiburan hati pada manusia, melainkan kami bergantunglah dengan sekuat-kuatnya pada tangan Allah. Oleh sebab itulah gelap gulita menjadi terang dan topan halilintar menjadi reda.

Kami tak takut, sesungguhnya kami tak takut, ke mana saja kami pergi, selalulah ada Tuhan yang menjagai kami, melihatkan kami dan membimbing kami dengan kasih sayang.

Apakah gunanya kami mengindahkan manusia, kalau kami telah mengetahui akan Tuhan kami? Sekalian itu pekerja-anya dan telah ditakdirkannya lebih dahulu apa yang kami perbuat. Ialah yang akan memberi kekuatan untuk mengerjakan kerja itu.

Kami sudi memberikan sekalian apa yang ada pada kami, dan suka memberikan diri kami sendiri, demikian pun menerima: kesedihan yang melukakan hati. Air mata dan darah pastilah akan bercucuran dengan banyaknya, tetapi tak mengapa; sekalian itu ialah akan membawa kami ke tempat kemengan. Tak ada terang cuaca yang tiada didahului oleh gelap gulita. Habis malam baharulah fajar menyingsing.

Sekarang tahulah kami akan Tuhan, dan hidup kami pun serasa bertambah bagus, hajat kami bertambah bagus dan bertambah baik. Allah telah memberi berkat sekalian itu!

Bagaimana pikiranmu tentang sekalian hal itu, Edie? Hanya sebuah yang kuketahui benar, ialah: engkau berhati besar mendengar hal keadaan saudara-saudaramu demikian itu.

Sekarang saya hendak bercakap-cakap dengan engkau sebentar, sudah itu haruslah surat ini berjalan. Kalau tidak, lama benar ia tertahan dan lagi ia telah terlalu panjang. Barangkali juga surat ini nanti menjemukan engkau. Katakanlah terus terang kepadaku! Berhati lurus itulah hendaknya sendi persahabatan kita. Janganlah engkau malu mengatakan apa-apa yang terasa di hatimu, asal ada bergun bagiku, Meskipun hal itu menyedihkan hatiku. Maukah engkau sedemikian, saudaraku? Makin bertambah-lah hormatku kepadamu, jikalau engkau mengabulkan itu.

Kepadamu tidalah kami akan bersyak hati, bahwa engkau suka dan akan membiarkan saja, orang-orang kuli yang di bawah perintahmu dipukul dan diterajangi. Saya pun tak suka melihat orang dipukul itu. Pilu hatiku bukan buatan melihat sifat binatang yang ada dalam hati manusia, sifat yang telah menarik hati manusia itu berubah menjadi binatang yang buas dan ganas menghinakan kehormatan manusia itu.

Kami tak mengerti adalah manusia, ya, ada pula perempuan-perempuan yang suka sekali pergi melihat orang dihukum siksa. Heran benar, tak ada berhati manusia yang sedemikian dalam pemandangan kami. Engkau pun tahu pula, bahwa orang-orang rantai yang lari, biasanya dihukum pukul dengan rotan. Sesungguhnya orang yang tiada berhati manusialah yang suka melakukan pekerjaan memukul itu. Rendah dan hinalah, kalau orang Jawa yang melakukan kerja itu, dan bertambahlah rendah dan hinanya, kalau orang Eropa yang suka berbuat demikian.

Saya telah melihat betapa seorang Eropa, bukannya orang bodoh, tetapi terpelajar, telah memukul mula-mula seorang anak kecil, kemudian seorang perempuan dan seorang anak gadis kecil pada suatu peralatan, karena mereka itu tak lekas melapangkan jalan untuk “tuan besar” itu. Saya menggertakkan gigiku melihat hal itu, supaya jangan keluar suaraku; tiap-tiap ia memalu itu seperti diirisnyalah rasanya hatiku dengan sembilu. O, sangatlah pedihnya!

Tiadalah karena ngeri badanku melihat orang direnjam demikian, tetapi amat pilu hatiku melihat kehinaan perbuatan itu, baik untuk orang yang dipukul, baik untuk yang memukul. Hukuman siksa itu tiadalah membaiki, hanya membusuki; demikian keyakinan kami.

Oleh karena itu anak-anak pegawai di tanah ini, raden mas atau raden ajeng dan sebagainya yang mengatakan dirinya ialah makhluk berpangkat tinggi dan berhak supaya dihormati seperti dewa-dewa oleh anak negeri, telah kerap kalaulah kami melihat sampai menjemukan kami. Perbuatan yang demikian selalu meremukkan hati dan memanaskan darah kami. Melihat orang berbuat demikian kami pun diam, tak bergerak dan tak pandai berkata atau tertawa. Kemarahan dan iba hatilah yang menutup mulut kami itu. Seorang kenalan kami tahuleah akan perasaan kami itu, lalu berkalalah ia: “Kami harus berbuat demikian, kalau tidak bagaimanakah kami yang hanya berpuluh-puluh orang ini dapat menjaga keamanan dan kesentosaan mereka yang beribu-ribu banyaknya itu? Telah lamalah kami lari diusir oleh mereka itu dan dilemparkannya ke laut, kalau sekiranya mereka itu tidak takut kepada kami.”

Menurut perintah karena takut! Apabilakah pula waktunya akan datang, supaya orang akan menurut perintah karena Tuhan, yani supaya kasih sayang sesama manusia, dapat masuk ke dalam hati manusia yang berjuta-juta banyaknya itu? Telah seru sembilan ratius dua tahun pelajaran kasih sayang itu telah diajarkan, dan berapa ribu tahun lagikah maka kasih sayang itu boleh tersimpan dalam hati orang banyak menjadi haknya?

Ibumu sama sekali tahu akan hal hidup kami; sudahkah diceritakannya kepadamu hal keadaan kami, ketika kami masih kecil, selalu dalam sengsara, karena diperintah oleh saudara-saudara kami laki-laki dan perempuan, yang berkelakuan seperti raja-raja yang lalim?

Bagi kami telah diadatkan bahwa orang muda harus menurut sekalian perintah orang yang tua. Saudara Kartini yang sejak kecil telah menghendaki kebebasannya dan merdeka, tak suka diperbuat sedemikian. Kesudahannya tentolah saya selalu berbantah dengan kakak-kakakku laki-laki dan perempuan, karena saya tak mau menurut perintah mereka yang sekehendak hatinya saja itu. Saya mau mengerjakan perintah itu, bila menurut pertimbanganku perintah itu adil dan baik. Demikianlah halku tatkala saya seorang anak kecil yang masih berumur 12 tahun, senantiasa berdiri di muka satu pasukan musuh. Ketika itu pun Tuhan tiadalah melepaskan saya. Ialah yang menolong mempertahankan saya waktu yang sukar itu. Banyaklah air mata yang memilukan hati, yang telah kami cucurkan ketika kecil. Tahukah engkau siapa sahabat kami waktu itu yang selalu membantu dan menolong kami? Kartono, tetapi ia biasanya tak adalah di rumah, ia tinggal di Semarang. Persahabatan kami itu telah lama, sejak kami masih kecil. Sejak saudaraku perempuan yang sulung telah dikawinkan, dan saudaraku laki-laki yang tertua pergi dari sini, berubahlah hal keadaan hidup kami. Cita-cita kami masing-masing: “Kemerdekaan, sama rata, sama rasa dan persaudaraan!“ Kami suka dikasihi dan disayangi, tetapi tidak dita-kuti oleh saudara-saudara kami yang lebih muda.

Tiadalah saya hendak meninggikan diri apabila saya berkata, bahwa saudara-saudara kami yang kecil lebih suka bercampur gaul dengan kami dari pada dengan orang lain. Dalam percampuran kami selalu ada aturan dan perbandingan, tak ada ketakutan. Kasih dan sayang menjadi tali yang kut memperhubungkan kami sekalian. Berapalah banyaknya kami mendapat kesukaan dan keriangan dari saudara-saudara kami yang kecil itu! Banyak kami diajarannya. Demikian juga mereka yang telah bertahun-tahun menyiksa kami itu, ketika masih kecil pun jadi guru kami. Mereka itulah yang mengajar kami, bagaimana kami wajib bekerja, yani tidak seperti mereka itu. Itulah lagi suatu keterangan yang menyatakan, bahwa kesengsaraan dan kesedihan hati perlu ada di atas dunia.

Mereka yang dahulu keras membantahi dan memerangi kami, sekarang datanglah kepada kami dengan kasih dan persahabatan yang baik. Sekalian hal itu tiadalah ditunjukkan mereka itu dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatannya. Tiap-tiap surat iparku yang perempuan datang, selalu ia meminta supaya kami datang kepadanya, dan selalu berkata, bahwa kalau kami datang, memberi kebajikan kepada rumah dan ahlinya. Allah kaya, Allah mahakuasa!

Bolehkah kiranya cerita hidup kami yang pendek itu dijadikan pula menjadi cerita hidup dua bangsa, yani bangsa Jawa dan bangsa Belanda? Adakah akan termakan oleh hati kita, bahwa Jawa dan Belanda akan hormat-menghormati dan kasih-mengasihi kelak?

Bagaimana memperbuatnya supaya kami sampai kepada kesenangan itu dan apa yang telah kami perbuat untuk keadaan itu tak tahulah kami. Telah acap kali orang bertanyakan hal itu kepada kami. Hanyalah yang kami tahu bahwa kami mempunyai kasih dalam hati kami amat banyak. Itulah rahasia sekalian hal itu pada perasaanku.

Saudaraku yang tercinta, sekarang saya berharap, bahwa surat yang panjang ini tiadalah akan menakutkan engkau berkirim-kiriman surat dengan saudara-saudaramu ini, melainkan ambillah akan menjadi tanda, yang kami dengan tu-lus dan ikhlas menyangka engkau seperti saudara dan sahabat kami.

Dengan gembira hati kami berharap supaya banyaklah lagi hendaknya surat-surat dari Sawah Lunto yang akan pergi ke Jepara. Kabarkanlah sekalian hal kepada kami, ceritakan-lah sekaliannya, baik pun tentang kerja, hidupmu dan dunia di sana.

Sayang! perkakas potret itu kesukaan yang mahal har-ganya. Kalau tidak, suka benar kami membuat potret-potret Jawa yang bagus-bagus dan ganjil-ganjil. Kami anak negeri sendiri boleh pergi ke mana-mana melihat keadaan bangsa kami: ke tempat itu, ke mana bangsamu tak boleh pergi, kami bolehlah pergi ke sana.

20 Augustus 1902 (VII)

Kami kedadangan jamu dari Betawi, mereka sungguh-sungguh mencintai kepandaian bangsa kami dan mereka itu mau dan sanggup memajukan kepandaian itu. Sekaliannya ialah anggota-anggota pengerus “Oost en West” di Hindia, yang hendak membuka sebuah kedai barang-barang hasil kepandaian dan pertukangan bangsa Bumiputera untuk keramaian Sint Nicolaas yang akan datang ini. Mereka itu suka benar, supaya hasil kepandaian dan pertukangan dari Jepara banyak tersedia di sana.

Akan menguruskan pekerjaan itu telah terserah kepada kami dan kami pun amat suk mengerjakannya, itulah sebabnya maka saya tak dapat lebih dahulu dari ini akan bercakap-cakap sekali lagi dengan sahabat kami di Prinsenhaag. Suami tuan tentulah akan berceritera nanti betapa tingginya pertukangan ukir-mengukir dan kepandaian bertenun di sini. Besarlah kesukaan hati kami, kalau kami dapat memberi tahukan kepada orang banyak akan kepandaian bangsa kami.

Menjadi penolong seperti itu ialah suatu kebajikan kepada kami, sebab dengan hal yang demikian dapatlah kami menunjukkan jalan keduna yang baru untuk melaku-kan kepandaian yang keluar dari hati anak Bumiputera, yani kepandaian yang menyuruh orang taajub dan menghormati tukangnya yang hina, orang Jawa, yang hampir tak dihargai oleh sesama manusia.

Kalau kita melihat barang yang indah-indah itu, dan kemudian dilihat pula tukang yang membuatnya yang amat hina itu, demikian pun perkakasnya yang amat sedikit itu. tentulah kita akan taajub dan menghormati akan kepandaiannya itu, dan datanglah pula perasaan bagi kita, bahwa tukang itu ialah tukang yang sebenar-benarnya pandai. Pada suatu kali ketika kami tercengang melihat kepandaiannya itu, maka bertanyalah kami: “Hai tukang, dari manakah engkau ambil sekalian yang bagus-bagus itu?“ Matanya yang tadinya melihat ke bawah itu dipandang kami yia sebentar kepada kami dan mulutnya pun tersenyum, lalu menjawab dengan mudahnya: “Dari hatiku, bendoro!”

Betapa besar hati kami mendengar jawabnya itu, dan betapa pula benci kami akan diri kami, sebab kami waktu itu duduk di serambi, tetapi ia duduk di tanah berjongkok di muka kami, menghinakan dirinya, sedang martabatnya seratus kali lebih tinggi dari pada kami.

Mengapa? Apakah sebabnya? Karena kami dengan tiada disengajanya lahir ke dunia menjadi anak seorang bapak yang berkuasa dan berpangkat tinggi. O, betapakah buruknya hal itu! ...

Syukurlah! usaha tuan serta kawan-kawan tuan yang lain, tentang keperluan yang penting itu telah membukakan mata negeri Belanda, yani tentang pendidikan: pembacaan untuk anak-anak.

Beruntunglah tanah Belanda sebab mempunyai kekuasaan yang mulia sebagai tuan-tuan yang bekerja dengan hati-hati itu memperbaiki hati dan pikiran anak-anak Belanda. Dalam hal yang demikian beruntung benar anak Belanda kalau dibandingkan dengan anak Jawa yang tiada mempunyai sebuah jua pun kitab pembacaan, lain dari pada kitab-kitab pengajaran di sekolah. Seorang tuan yang ada bermaksud dan ada pula berkuasa untuk membaii pendidikan anak-anak Bumiputera, telah merundingkan pada suatu kali tentang hal itu, yaitu telah beberapa tahun yang sudah, tetapi sekarang tak adalah kami mendengar sedikit jua pun lagi tentang hal itu.

Kami masih kecil ketika seorang inspektur sekolah anak Bumiputera meminta, supaya kami karangkan cerita-cerita kecil tentang hidup anak-anak untuk anak-anak Bumiputera, dan karang-karangan itu akan diberi bergambar-gambar, dan akan dicetaklah dengan gambar itu sekali. Ketika kami tengah menulis karang-karangan itu, tiadalah kami menyangka-nyangka sedikit jua pun, bahwa adalah nanti seorang juara perempuan, penebas jalan di negeri Belanda, yang memberi anak-anak di sana kitab pembacaan untuk pendidikan, akan meminta kepada kami, supaya kami sudi menolong bekerja membuat mahligai pendidikan yang bermenara indah-indah dan tinggi, mencapai udara yang suci, serta diberi berjendela yang bercermin-kan kaca sejati banyak-banyak, tempat memandang kepada segala penjuru alam ... yang diperbuatnya untuk kekasihnya: budak-budak kecil yang nanti akan menjadi orang-orang besar pada waktu yang akan datang! Kami meminta kepada Tuhan, moga-moga Biarpun sedikit dapatlah kami menolong kerja yang mulia itu.

Kami sekarang masih mengumpulkan dongeng-dongeng, cerita-cerita, permainan dan pantun-pantun untuk yang dimaksud itu. Pada pikiranku, tak mudah bagi kami akan menulis lagu dongeng-dongeng itu dengan tulisan musik. Pertama: karena kami, Sungguhpun suka benar akan musik, tiadalah pernah mempelajarinya. Tetapi hal itu tak mengapa, karena dapatlah juga diakali. Kesusahan yang terbesar ialah karena turun naik lagu pada bangsa kami tak sama dengan turun naik lagu pada bangsa tuan, dan dalam hal itu adalah pula beberapa bunyi yang tak ada dalam musik Eropa.

Pada pekan yang lalu kami bercakap-cakap dengan seorang Eropa, yang telah 20 tahun mengumpulkan berma-cam-macam hasil kepandaian anak Bumiputera, pantun-pantun dan lagu-lagu, semuanya disimpan oleh tuan itu. Pun maksudnya hendak mengambil beberapa lagu Jawa, lagu gamelan akan penambah kumpulannya itu, tetapi sekarang belumlah dapat ia menuliskan lagu itu barang sebuah jua pun, dengan tulisan musik, oleh karena kesusahan yang tersebut itu. Lagu-lagu gamelan itu me-manglah amat susah, tetapi lagu-lagu nyanyian anak-anak amat mudah. Adalah berapa buah nyanyian anak-anak, yang telah kami coba melagukannya di piano, hal itu dapat dila-kukan; sekaliannya berbunyi tinggi dan rendah.

Rupanya adalah talipon yang tak kelihatan, terentang dari “Lali Jiwa” ke mari, yang selalu dipergunakan oleh tubuh-ku yang tiada kelihatan pula. Karena kalau sekiranya tak be-gitu halnya, tak mengertilah kami, apa sebabnya ada beberapa pasal isi surat nyonya telah kami pikirkan, telah kami perbincangkan, ya, telah kami tuliskan pula sewaktu tuan menulis surat-surat itu. Dalam suratku yang bersabaung dengan surat tuan, dapatlah nyonya membaca jawaban dalam beberapa hal yang telah nyonya tanyakan itu. Demikian-pun pikiran tuan tentang lagu-lagu, permainan dan dongeng-dongeng yang nyonya minta kirimkan itu telah pula kami perbincangkan sebelum kami menerima surat tuan. Sungguh sayang sekali, kalau tak dapat dituliskan dengan tulisan musik, karena nyanyian itulah yang membaguskan permainan dan dongeng-dongeng itu. Ketika kami masih anak-anak, kami tak suka kalau tukang kabar yang berceritera itu tidak bernyanyi sedang berkabar, sebab demikianlah galibnya.

Beberapa hari yang lalu, kami telah berbantah tentang keperluan kitab-kitab. Lawan kami mengatakan, bahwa sekalian itu tak berharga: cita-cita dan syair semuanya pekerjaan orang gila, kitab-kitab itu tak ada seduit harganya, sama sekali tak ada faedahnya.

Berapa besar hati kami ketika elok harinya kami membaca di dalam surat kabar “Amsterdammer” sebuah karangan nyonya tentang keperluan kitab-kitab itu.

Kami orang yang bodoh, masih dungu, dalam timbang-me-nimbang belum pandai; tetapi sekarang seorang ahli dalam hal itulah yang mengatakan.

Orang lawan kami itu betul ganjil, sebab itulah maka suka benar kami memperhatikannya dan mendengar pertimbanganya tentang hal itu. Ia seorang yang banyak bersifat baik, tetapi hatinya terlampau lemah. Padanya makin terang-lah bagi kami, apa yang perlu sekali dimajukan untuk pendidikan anak-anak: “kemauan hati”. Kalau tak ada kemau-an hati itu, sekalian sifat-sifat yang baik itu tak berapa atau tak ada harganya.

O, tak dapat saya katakan kepada tuan, betapa terima kasih kami kepada tuan, yang telah menunjukkan kepada kami jalan ke padang kesenangan yang sebenar-benarnya, ke padang kemerdekaan yang mulia kepada Tuhan yang mahakuasa.

Siapa yang sebenar-benarnya mengerjakan suruh Allah, ialah yang bebas, tak dapat ditawan orang. Meminta bantu kepada manusia, artinya menawankan diri kepada manusia.

Berapalah bagusnya dan berapalah tingginya pengajaran yang nyonya tunjukkan kepada kami itu. Kesenangan yang sebenar-benarnya, di manakah tempatnya?

Ia tak jauh, tetapi terlampau susah mencapainya; tak dapat orang pergi ke sana dengan tram, dengan kereta api, atau dengan kapal, dan uang emas pun tak dapat membawa kita ke sana. Bayaran perjalanan ke sana amat mahal, yani: air mata, darah di hati dan insaf mengenal diri. Di mana dia dicari?

Di badan sendiri. Banyak benda boleh didapat di dunia ini, yang membesarkan hati dan menyuekakan kita, yang telah sekian lamanya kita cahari, yang bernama: kesenangan. Tetapi tiap-tiap kali mendapat yang bernama kesenangan itu, sekian kalilah pula kita merasai kesedihan, sebab yang kita peroleh itu tidaklah yang sebenar-benarnya.

Kesenangan yang sebenarnya, kesenangan yang selalu tinggal kekal, bertempat dalam tubuh dan bernama “kesenangan hati.” Itu telah lama saya rasai dan nyonyalah pula yang mengajar saya menyubut nama itu.

Allah itu tak mau kelintasan, kata orang. Ia tak suka kalau orang menyembah allah-allah yang lain dari padanya, dan dihukumnyalah mereka yang membuat-buat dan menghormati allah-allah itu seperti Allah yang mahatinggi, dengan kekesalan dan kesedihan yang amat sangat.

Pun adalah kami bertemu dengan suatu kalimat yang isi-nya dua kasih sayang, bunyinya: “Tiadalah engkau boleh ber-(mempunyai) allah-allah, yang lain dari padaku.” Tiadalah boleh lagi dimaklumi dalam kalimat itu, bahwa manusia itu tinggal manusia juga, ... yani makhluk yang mudah bersalah ...

Sesungguhnya jika sekiranya dapat orang memaklumi maksud kalimat itu dengan sebaik-baiknya, berapalah bagusnya. Tentulah banyak kedukaan yang akan terjauh dari pada mereka itu!

Benar jugalah bahwa banyak pula hal yang menyu-ruh kami senantiasa berinsaf diri, tetapi tiadalah kami hendak melupakan, bahwa nyonyalah yang telah memasang pelita di hati kami.

Bundaku amat berbesar hati dan meminta syukur akan perubahan, yang telah terjadi di hati kami.

Ia amat ingin hendak bertemu dengan nyonya akan mengu-capkan sendiri terima kasih atas kebajikan yang telah tuan perbuat untuk anak-anaknya ini: “membukakan hati kami akan Tuhan yang pengasih dan penyayang itu!”

Apakah sebabnya maka kami dahulu masuk bagian mereka yang tak percaya akan Tuhan? Karena amat banyak kami melihat hal yang hina, yang dibungkus bagus-bagus dengan syarat-syarat agama. O, tambahnya lagi dengki khianat dalam hati mereka itu satu dengan yang lain, sama-sama orang yang alim! Kami ketika itu masih anak-anak dan berapalah panjang-nya pikiran anak kecil? Tak dapat kami mengetahui dan memaklumi, bahwa manusialah kiranya, yang berbuat jahat sambil menyebut-nyebut nama Tuhan, akan pelipur kejahatan yang telah diperbuatnya. Tak dapat kami mengetahui, bahwa sekalian yang ada di dunia ini mula-mulanya bagus, tetapi kemudian oleh manusia diburukkannyalah sekalian yang bagus itu. Sejak dahulu kami bertanya dan sekaran pun kami bertanya juga kepada siapa-siapa pun bagaimanakah perjalanan hidupmu? Kami tak mau menanyakan, apakah agamamu? Kebaikan, itulah dahulu yang menjadi Tuhan kami, dan selalulah kami mau memperhambakan diri kepadanya; sekarang kami pun tahulah pula: Kebaikan dan Tahuh esa adanya!

Sekarang kami sedang membaca sebuah syair yang berisi nasihat yang bagus-bagus dalam bahasa bunga. Kata syair tak ada dalam bahasa kami, kami mengatakannya bahasa bunga, benarkah atau tidak? Adakah terkenang juga oleh nyonya malam-malam Hindia yang sejuk dengan teranganya, jikalau sekaliannya telah hening belaka, kecuali yang terdengar hanyalah lesir-lesir di puncak kelapa, karena diembus oleh angin yang mendayudayu, bersih dengan harumnya, membawa bau kemuning, bau cempaka dan melati yang amat semerbak? Tiadakah sekali-sekali nyanyi-nyanyi yang merindukan hati datang menjelang tuan? Misalnya seperti nyanyi seorang Jawa yang berlagu-lagu di rumahnya untuk isi rumahnya dan orang sebelah-menyebelah rumahnya, menceritakan hal ihwal kasih sayang pahlawan yang gagah berani, bermacam-macam alat keramaian dan tentang perempuan dan laki-laki yang molek-molek, berilmu dan berkuasa; peri hal putra-putra atau putri-putri pada masa purbakala? Sekalian kitab bangsa kami terkarang dalam syair, dan membacanya mestilah dilagukan. Waktu yang menyenangkan hati, ialah jikalau orang Jawa telah payah sesudah bekerja siang hari, pergilah ia melepaskan lelahnya dengan bernyanyi-nyanyi menghilangkan sekalian kesusahan hidu, bernyanyi mengenangkan waktu purbakala, waktu yang amat permai itu; sekalian itulah yang dinyanyikannya seakan-akan ia membawa nyawanya dan diri-nya ke tempat itu. “Bangsa Jawa bangsa yang penuh kenang-kenangan,” kata seorang sahabatku yang masih muda dengan sebenarnya. “Memanglah sangat senangnya bermimpikan ke-yangan dalam tidur yang berzaman-zaman lamanya.”

Keadaan itu benar; tetapi kami masih hidu dan kami per-lu hidu, artinya kami wajib bergerak, maju ke muka! Sahabat kami itu berkata pula: “Supaya sekaliannya sungguh-sungguh rajin bekerja dan dengan sebenarnya mengeluarkan kekuatannya, wajiblah kami membangun-kan bangsamu!”

Karena hal itu banyaklah nanti kenang-kenangan yang bagus-bagus yang akan menjadi hilang lenyap; dan bolehkah kami, karena menakuti kehilangan itu, menahan diri supaya kami jadi bangun?

Bermimpi enak, mimpi itu bagus, tetapi apakah gunanya kalau mimpi tinggal mimpi saja? Kita harus menambah ke-senangan dan keindahan mimpi itu, yani mencoba supaya mimpi itu menjadi hal yang sebenarnya.

Amat banyak yang bagus-bagus pada bangsa Jawa! Ke-rena tuanlah, maka dalam beberapa hari yang lalu ini, banyak kami mendengar bermacam-macam kebagusan dari mulut anak Bumiputera. Yaitu sebab kami sekarang me-ngumpulkan dongeng-dongeng itu, jadi banyaklah kami bertemu dengan berupa-rupa-rupa-rupa orang bangsa kami, dan amat-lah senang hati kami mendengarkan buah pikiran mereka itu.

Keterangan-keterangan mereka itu selalu ringkas, tetapi bahasanya amat bagus, dan sangat memilukan hati, karena kebenarannya dan kebijaksanaannya.

Betapalah ingin hatiku hendak mengirimkan kepada tuan sekalian buah pikiran yang bagus-bagus itu dalam bahasa yang amat merdeka bunyinya itu: karena kalau diterjemah-kan hilanglah kemerduannya itu.

Bolehkah banyak-banyak kami menerangkan kepada nyonya tentang hal keadaan bangsa kami? Pertanyaan itu tak gunalah ditanyakan; karena tentulah tuan suka mendengar sekalian hal keadaan bangsa kami, sebab tuan kedua memang sayang dan kasih kepada bangsa kami. Oleh karena cinta tuan ke-dulah maka kami mendapat kebagusan itu dalam hidu kami.

Bersama-sama dengan tuan percayalah kami, bahwa yang sebenar-benarnya itu tempatnya ialah di hati, dan tiadalah di dunia.

Kami rasanya amat kaya dan senang karena telah mendapat sahabat-sahabat yang ada di hati kami itu. Amat lobakah kami ini karena dari siapa jua pun maulah kami belajar? ... apalagi hendak belajar kepada mereka yang menambah pikiran dan meluaskan penetahuan kami itu dengan jalan berkirim-kiriman surat?

Benci benar kami menerima surat yang tak ada isinya, apalagi hendak membalas surat itu; sebab surat-surat yang sedemikian menyuruh kami bertanya: “Apakah gunanya ia ditulis?“

Kami, betul-betul orang yang beruntung, karena kami dapat bercampur dengan mereka yang tinggi martabatnya itu.

Jauh di tengah-tengah pulau Selebes adalah seorang sahabat kami, manusia yang berhati bangsawan dan berpikiran mulia. O, alangkah herannya kami melihat pekerjaannya yang mulia itu. Bagi kami seperti suatu keramaianlah, jika kami menerima surat dari Dr. Adriani, yang senantiasa amat bagus dan penuh berisi pengajaran. Betapa besar hati kami ketika kami bertemu dengan dia di rumah tuan Abendanon. Nyonya Abendanon mempertemukan kami dengan dia, karena ia tahu, berapa banyaknya pengajaran yang akan kami terima dalam perjumpaan itu. Mengenangkannya dan memikirkan pekerjaannya saja, kepada kami sudah menjadi suatu bujukan, jikalau sekiranya kami di sini melihat atau mendengar orang yang loba dan tak ada menaruh kasih sayang. Yang menyakitkan hati kami benar, ialah melihat kelobaan manusia, yang terkadang-kadang sungguh tak ada batasnya.

O, berapalah senangnya hati kami yang selalu tinggal dalam dunia mereka, yang kaku dan dingin tak mau mengacuhkan apa jua pun, dan kebanyakan di antaranya tiadalah berhati dan berotak, jikalau sekiranya sekali-sekali kami dapat bertemu dengan seorang, yang hatinya penuh dengan kasih-sayang, kegembiraan dan kebijaksanaan.

Syukur, ya. syukur kepada Allah, karena adalah kami berkenalan dengan manusia yang demikian, baik dekat Ataupun jauh.

Sayang sekali, tuan tak kami kenal pada waktu perserikatan kami sedang maju. Sekiranya ada, tak dapat tidak tuan akan berbesar hati. Tiga buah nyawa bersifat satu di dalam tiga buah tubuh yang berdekat-dekatan lahir ke dunia menjadi saudara! Banyaklah ribut yang telah menggeda kepala anak muda-muda itu dan banyaklah pula topan yang menyerang hati mereka itu.

Saya ingat akan kata-kata tuan, “akan menyampaikan ci-cita wajiblah dibunuh beberapa kenang-kenangan.“

Dari putik-putik bunga yang mati timbullah buah-buahan yang sampai masak; demikianlah pula halnya hidup manusia, bukan? Karena dari kenang-kenangan yang masih muda dan lalu mati, bolehlah terkadang-kadang timbul kenang-kenangan lain, yang sampai masak menjadi buah ... Sebuah kenang-kenangan kami yang besar telah matilah. Tatkala kami menguburkannya dengan air mata dan kedukaan yang amat sangat, terasalah oleh kami seperti sebuah sungai mengalir dalam badan kami dan waktu itu juga timbullah di hati kami suatu kenang-kenangan yang baru, yang lebih bagus dan lebih kuat! Kami maklumi dan rasai akan hal itu. Banyak lagi, ya, amat banyak lagi air mata dan kesedihan hati yang wajib tercucur, supaya dapat melepaskan dahagan buah yang masih muda itu, hingga sampai menjadi buah yang masak. Sabar, perbanyaklah sabar! Sekarang barulah kami maklumi apa yang dimaksud teoan Abendanon, ketika ia menyuruh isterinya mengatakan kesabaran itu kepada kami. Banyaklah kiranya yang dahulu hanya bceyni saja kedengaran oleh kami, sekarang sekalian itu telah ada berarti. Ya, kami hanya boleh dan wajib berjalan lambat-lambat; perjalanan itu amat jauh dan amat panjang; dan jalan itu amat curam dan sukar! Bersusah hati sendiri tiadalah mengapa; tetapi menggaduh sesuatu hal dalam perjalanan sangatlah mengecutkan hati kami. Terkenanglah saya pada suatu malam, belumlah lagi berapa lama antaranya. Adalah seorang kenalan kami membawa kami berdua pergi mendengar musik di rumah komedi di Semarang. Itulah pertama kali selama hidup kami yang kami berdua saja, tidak bersama-sama dengan adikku dengan bapak atau dengan ibuku, duduk di dalam manusia yang sebanyak itu. Kami hanyalah berdua saja, di antara orang-orang asing yang banyak itu. Dan sebentar terpikirlah oleh kami: Beginilah hidup kami nanti pada waktu yang akan datang! Kami hanyalah berdua saja di lautan hidup yang besar itu! Tetapi tawakkallah kami, karena adalah Tuhan yang menjaga kami! Pada 20 hari bulan ini pikiran kami adalah di Tanjung Periuk. Di sanalah tampak oleh kami kapal Willem II sedang berlayar meninggalkan pantai pulau Jawa, membawa suatu muatan yang amat mahal harganya, yaitu seorang sahabat yang tinggi martabatnya dan suci hatinya, yang amat kasih dan sayang akan tanah Jawa, pergi ke tanah Belanda akan berbincang dalam persidangan Tweede Kamar, lebih keras dan perkasa dari pada yang sudah-sudah untuk keperluan berjuta-juta anak negeri tanah Hindia ini.

Willem II! Bawalah ia dengan selamat, untuk Hindia dan untuk anak isterinya!

Dalam hatiku adalah mengucapkan syukur, berasa pilu dan berharap, tetapi yang lebih terasa benar ialah penghiburan; kasih akan manusia, cinta akan kebenaran ... sekalian itu benar belaka, tak kosong dan bukanlah kata-kata yang sia-sia ... Kami percaya kepada kasih sayang!

Sekarang, o, guru kami, yang dicinta dan setia dan sahabat kami yang mulia dan pengasih, terimalah salam kami dan ucapan terima kasih banyak atas surat tuan, yang sangat membesarkan hati kami itu. Ialah yang menyueruh kami berinsaf diri dan menambah kekuatan serta membukakan pikiran kami yang baru.

2 September 1902 (VIII)

Sombonglah rasanya kami ini, karena kami mau melaku-kan diri kami menjadi seperti ibu bagi anak-anak yang lebih tua umurnya dari kami. Tetapi apalah gunanya dipikirkan umur itu? Sekalian manusia ingin kepada kasih sayang, baik orang tua-tua Ataupun anak-anak kecil.

Sesungguhnyakah bahwa perempuan itu hanya kalau telah kawin baru boleh cukup kemuliaan yang diberikan Allah yang tersimpan dalam hatinya itu? Karena kemuliaan dan kehormatan yang terbesar bagi perempuan-perempuan, ialah menjadi ibu? Tetapi haruskah selamanya perempuan itu “beranak kandung” maka boleh menjadi ibu, menu-rut sebagai artinya kata itu: satu makhluk yang penuh dengan cinta kasih sayang? Kalau sekiranya benar arti kata itu, ibu mesti beranak kandung, berapalah rendahnya pikiran manusia di dunia ini, karena yang akan dikasihi oleh manusia hanyalah darah dagingnya dan sibiran tulangnya,⁵ yang dilahirkannya ke dunia saja! Tetapi kalau demikian berapalah banyaknya ibu yang dikatakan orang ibu di mulut sahaja. karena ia telah melahirkan anak ke dunia ini, dan pada halnya tak layaklah ia mendapat nama ibu yang mulia itu.

Seorang perempuan yang menyerahkan dirinya kepada seorang yang lain dengan segala kasih sayang yang ada di hatinya, dan dengan segala usaha yang ada pada dirinya, maka perempuan itulah yang boleh dikatakan ibu, yang sebenar-benarnya ibu, yani ibu di hati.

Ibu di hati jauh lebih tinggi kemuliaannya dari pada ibu di mulut dalam pemandangan kami.

Kami berharap dan minta dua sungguh-sungguh, mudah-mudahan jikalau kami nanti dapat mencapai cita-cita kami, yani menjadi guru sekolah, yang murid-murid kami itu nanti tiadalah akan menamai kami ibu di mulut saja, melainkan mereka itu akan memandang dan merasa sendiri, bahwa kami sebenarnya “ibu” bagi mereka itu, baik di mulut, baik di hati.

Kami berharap benar-benar Anneke di Bogor akan mendapati orang baik-baik dan peramah, karena ia di Hindia tinggal seorang diri akan menghiburkan hatinya dan pengganti ibu bapak dan rumah tangganya yang ada di negeri Belanda.

Anneke di sini telah merasai bagaimana hidup seperti orang Jawa. Jika sekiranya boleh, berapalah bagusnya kalau nyonya dapat melihat Anneke dari sudut pintu, bagaimana ia di sini seperti saudara kami lakunya, duduk bersama-sama dengan kami di atas tikar. Pada suatu malam ia duduk bersama-sama dengan kami di bilik kami, dekat meja rendah, betul seperti saya sekarang duduk dekat meja itu pula; ia menjahit dan kami menulis: lain dari pada itu adalah lagi yang nomor empat, seorang sahabat kami, duduk bersama-sama membacanya kepada kami hikayat dengan bernyanyi.

Nyonya barangkali tahu juga, bahasa sekalian kitab cerita bangsa kami tertulis dalam syair, atau “bahasa bunga” kata kami, dan membacanya selalu dengan bernyanyi.

Pintu dan jendela pun terbuka belaka; di muka bilik kami adalah sepohon batang cempaka sedang berbunga, yang mengirimkan baunya yang harum dan wangi itu kepada kami dengan angin yang lemah-lembut. Berapalah senang hati kami mendengarkan suara yang halus dan merdu itu, senang telinga mendengar lagunya, yang membawa hati kami kepada zaman purbakala, yang penuh dengan cepacara yang keemasan, dengan jauhari dan bijaksana, dengan pahlawan dan raja-raja yang gagah berani, sakti dan keramat.

Sangatlah senangnya hati mendengarkan mimpi cita-cita yang bagus itu! Dalam menulis dan mendengarkan mimpi itu lebih banyak kami menggigit pena dari pada melanyankanya di atas kertas. Dan dalam lingkungan orang Jawa yang sebenarnya itulah duduk di tengah-tengah anak-anak yang berkulit hitam, Bumiputera negeri yang panas, seorang anak perempuan yang berkulit putih, yang datang dari benua sebelah barat. O! berapalah sukanya hati kami jikalau sekiranya tuan dapat pula tinggal seperti itu bersama-sama dengan kami.

Sekarang kami pun telah mempelajari lagu-lagu itu, dan jikalau kami tiada kemalu-maluan, maulah kami bermimpi menyanyikan lagu itu untuk tuan.

Kemarin Annie telah membuat sesuatu kerja meniru seperti orang Jawa benar. Ia ingin sekali hendak pergi dari Jepara, jadi kami katakanlah kepadanya: “Mintalah kepada Sunan Mantingan; janjikan kepadanya bahasa engkau akan menaburkan bunga di makamnya itu, jikalau maksudmu sampai.”

Ia telah membuat hal itu. Dua hari yang telah lalu, dipikirkannyalah baik-baik hal itu, dan besoknya pergilah ia bernazar. Dengan beberapa orang ulama pergilah kami kemarin ke kubur keramat itu, kami pun membawa bunga dan kemuyan.

Anneke bersama-sama dengan kami, setelah sampai ke tempat keramat itu, duduklah di kaki kubur Sunan itu. Maka kemenyan pun dibakarlah, dan suara ulama-ulama yang mendengung-dengung itu kedengaranlah seakan-akan pergi ke langit, mula-mula lambat, tetapi makin lama makin keras dan makin asyik bunyi suara yang keluar dari mulut orang alim-alim itu. Waktu itu perasaan amat suci rasanya, dan berarti mulia. Kami duduk semuanya dengan menundukkan kepala, dan di atas kepala kami terdengarlah dua ulama-ulama itu dan asap kemenyan pun naiklah ke udara.

Seorang dari pada ulama-ulama itu, berbangkitlah lalu berjalan lutut membawa bunga-bungaan Anneke, dan ditaburkannyalah dengan takzimnya di atas kubur Sunan itu dan di atas kubur yang lain-lain. Di dekatku kedengaran olehku orang tersedu-sedu menangis. Kiranya yang menangis itu, ialah Annie! Dengan kaki telanjang tanda kehormatan, masuklah ia ke dalam gobah itu, dan kami pun memberi hormat dan salamlah pula seperti adat kami kepada sekalian arwah mereka yang berkubur di sana.

Dari tempat itu pergilah kami ke sungai yang mengalir di belakang kubur itu, pergi membasuh kaki kami.

Kami minta kepada ulama-ulama itu, supaya mereka itu akan memintakan dan mendoakan kepada Allah, moga-moga sampailah hendaknya maksud Annie itu.

Kekasihku, kami ingin benar bersama-sama dengan tuan membuat keadaan yang seperti itu.

Adalah banyak lagi dalam hidup bangsa Jawa yang meluluhkan hati, umpamanya kehormatan untuk arwah-arwah sekalian kaum keluarga kami yang telah mati, dan untuk orang tua-tua kami. Apa-apa saja yang kami perbuat, baik karena sukacita atau karena dukacita, senantiasa kami

tidak melupakan kaum keluarga kami yang telah meninggalkan dunia.

Anneke tentulah sekali-sekali akan mengenangkan juga negeri Jepara, jikalau ia telah senang tinggal di Bogor, Walaupun hidupnya di sana boleh jadi seribu kali lebih baik dari pada di Jepara. Siapa yang telah mengetahui Jepara, nyawa dan semangatna negeri itu, tiada mudah dapat melupakan negeri itu, baik pun karena kasih atau karena bentinya.

Kemarin petang pergilah kami ke tempat tukang ukir, alangkah indah-indahnya perbuatan mereka itu. Adalah 15 orang laki-laki dan tukang yang bekerja di sana. Semuanya bekerja dengan berdikit-dikit, tetapi hasil kerjanya sekaliannya halus dan rapih!

Adikku Rukmini segeralah pula turut bekerja, dan duduk bersama-sama di atas bangku, mengukir dengan segala kesukaannya, seperti orang yang telah biasa duduk bekerja di sana.

15 September 1902 (VIII)

Bagaimanakah kataku hendak mengatakan kepada nyonya, betapa perasaan hati kami tatkala melihat kapal Willem II membawa kekasih kami berlayar! Kami melihat mereka itu dengan tersenyom simpul, tetapi air mata kami jatuh di hati. Lihatlah mereka itu sebagian dari hati dan semangat kami telah berangkat. Ibu kesayangan kami telah berangkat, dan sahabat kami pun telah pergi pula; tak adalah lain bagi kami, lain dari pada tuan. Maukah nyonya menjadi ibu kami sekarang? dan menambah sayang dan kasih kepada kami? O, kekasihku, kekasihku, suka benar rasanya saya sekarang hendak terbang ke pangkuan nyonya, meniarap dan bernaung di hati tuan, akan mendengarkan betapa kasihnya hati tuan kepada kami. Tinggallah tuan selalu mengasihi kami dan mempercayai kami! O, kekasihku, sesungguhnyakah tak ada lagi nasib kita akan bertemu kembali dalam dunia ini? Kami tak dapat dan tak mau mempercayai itu.

Tuan Royaards yang menumpang di rumah tuan residen, pergi pula mengantar-antar sahabat kami berangkat dari sini; dan kami pun lekaslah tahu kepadanya, sebab kami telah acap kali melihat potret-potretinya. Saya suka benar melihat tingkah lakunya, dan ia amat ramah kepada kami. Ia tak dapat pergi ke Jepara, katanya dengan tiba-tiba kepada kami; ia akan bersukacita kalau sekiranya kami dapat melihatnya main komedi dan sebab itu dimintanyalah kami datang pergi melihatnya bermain, seperti Julius Cesar, pada hari Sabtu yang akan datang ini, tentulah cerita itu akan menarik hati kami. Karcis panggilannya akan dikirimkannya kepada saudara kami yang laki-laki dan kalau sekiranya tak dapat kami mengabulkan permintaannya itu, tiada pula mengapa. Baik benar ia, bukan? Ia berharap akan bertemu dengan kami nanti di negeri Belanda; kami pun berharap pula demikian. Kami mengucapkan syukur kepada Allah, karena kami telah bertemu dengan dia, Meskipun kami barangkali tak dapat mendengarnya bermain; kami berbesar hati telah dapat bercakap-cakap dengan dia. Tiadalah kami menyangkanyangka akan memperoleh hal yang sedemikian itu.

Tak pernah kami selama ini mendapat pekan yang sedemikian penuhnya dengan kejadian-kejadian yang menggundahkan pikiran dan beberapa banyak lagi hal yang berlainlainan keadaannya, seperti yang telah terjadi pada pekan yang lau. Di pekan itu telah timbul suatu kejadian pada sahabat kami yaitu kejadian yang kemudian hari boleh memberi faedah besar bagi hidupnya. Kami pun campur dalam perkara itu. Dan sebab kami telah membuat apa-apa untuk menolong sahabat kami itu, karena itulah bapak tak dapat mengampuni dosa kami. Masih terkenanglah olehku ketika saya duduk di muka bapak, dan berani menentang matanya, sebab tak adalah dalam perasaanku, yang saya tak berbuat salah. Dengan muka muram dan suara sedih berkatalah ia: “Ni, inikah balasan jasaku?“ Saya telah percaya kepadamu. Engkau tak pernah menyakiti hatiku, tetapi sekarang engkau perbuatlah itu. Saya belum pernah marah benar kepadamu. Apa saja yang telah engkau perbuat tiadalah yang memarahkan hatiku; tetapi sekarang sebenarnyalah engkau telah menyakiti hatiku.”

Saya pun tiada berkata sepatah jua pun, tetapi saya tak mau menundukkan kepalaku, karena saya percaya yang saya tiada bersalah. Duka hatiku yang bapak menyakiti hatinya dalam perkara itu; tetapi betapa besar hatiku mendengar pengakuannya, bahwa saya yang sudah-sudah belum sekali jua pernah menyakiti hatinya, dan ia pun tak pernah marah benar kepadaku. Dan dalam hal itu percayalah saya, bahwa adalah waktunya nanti, yang bapak akan berubah pikirannya tentang kesalahanku itu. Tak adalah kami berbuat barang sesuatunya, yang tak boleh kami kabarkan. Tetapi hal itu benarlah tiada kami ceritakan kepada bapak, bukannya karena kami takut, melainkan karena ia rahasia orang lain. Dan kami tentulah tak boleh senantiasa mengenal diri sendiri, tetapi itu benarlah kemauan bapak. Kami boleh menolong orang lain, asal kami tiada sedikit juga akan dapat bahaya.

Barangkali pikiran itu amat sempurna, tetapi tidaklah se-suai dengan pendapatan kami, yang bermusuh sampai mati dengan segala kelobaan hati. Itulah yang mendekatkan hati kami, karena tak dapat kami menerangkan pendapatan yang mulia itu kepada kaum kami. Kata loba untuk diri sendiri saja, tak ada dalam bahasa kami ... bahasa yang sebagus itu. Jikalau sekiranya kelobaan, itu pun tak adalah pula di dalam hidup kami bersama-sama; betapalah baiknya! Sayang! Sekaliannya di dalam dunia itu berputar, pada sumunya yang bernama: “saya mau berbuat baik,“ jikalau telah berlebih-lebihan untuk diri sendiri, dan baru mau menolong orang, kalau diri sendiri tiada akan mendapat keberatan dan susah payah!

Kami tak dapat menurut haluan yang demikian. Kami tak dapat lagi membantu orang hanyalah dengan kata-kata saja; tetapi kami mesti berbuat baik, ialah dengan bukti dan contoh!

Sekarang bapak telah berubah pikirannya lebih lekas dari pada sangka-sangkaku. Pada malam hari yang pertama waktu saya dalam bersusah hati itu, saya pun telah mendapat ilham, dan tiadalah sekali-kali saya memikirkan bahwa nasi-hat yang telah saya berikan itu, adalah pula akan memberi bahagia kepadaku. Ketika itu banyaklah saya memikirkan hal orang, yang saya beri nasihat itu saja; tetapi lihatlah sekarang betapa faedahnya nasihat itu kepada diriku sendiri. Bapak tiba-tiba telah bermuka manis lagi kepadaku dan bercakap-cakap dengan saya seperti tiada kejadian suatu apa pun. Kalau sekiranya saya sampai sekarang ini belum berkenalan dengan Nellie van Kol, betapalah susah hati dan sengsaraku melihat bapak marah dan tak mau mengampuni dosa kami itu; tetapi sekarang adalah Tuhan tempat kami meminta bantu dan tempat kami percaya, sebab itulah maka kami sekarang menjadi tawakkal memikirkan keadaan yang seperti itu.

Setelah hal itu kejadian barulah kami mengucapkan selamat jalan kepada Annie. Betapa susahnya hati kami ketika itu tak dapatlah kami sebutkan; tetapi di muka kami kesedihan hati kami itu tak dapat dilihat orang. Barangkali Annie pun merasa, yang kami tiada mengindahkan perceraian itu; tetapi tahulah kami sekarang: bahwa mendiamkan diri, itulah suatu tanda kemuskilan yang amat dalam.

Sesudah kami mengucapkan selamat jalan kepada Annie ... tak dapatlah tuan menerka, apa yang telah kejadian pada kami; kami menjadi ibu dari seorang yang umur-nya telah dua kali lipat ganda dari kami, yani tempatnya mengadukan sekalian hal ihwalnya buruk dan baik.

Hal yang ganjil itu melembutkan hati kami. Banyaklah hal yang ganjil-ganjil yang telah terjadi pada kami, tetapi hal itulah yang seganjil-ganjilnya. Kami mendengarkan hal ihwalnya itu ialah dengan seizin orang tua kami. Oleh karena hal itu, dapatlah kami seorang sahabat, yang akan berbuat baik kepada orang Jawa dan ialah pula yang akan menjadi seorang sahabat kami yang mencintai juga cita-cita kami. “Engkau kedua betullah jenaka, berani mengajar dan memarahi orang yang telah tua.” Demikianlah kata tuan seakan-akan terdengar oleh kami, tetapi mendengar itu kami pun gelak tertawa-tawa.

Betul ajaib, karena dalam usaha kami hendak menolong orang, menunjukkan jalan yang baik dan kesenangan yang sebenar-benarnya, dan mencari perdamaian hati, maka selalulah kami bertemu dengan orang-orang yang kadang-kadang lebih tua dari pada kami, yang gemar memegang tangan kami.

Senang sekali perasaan kami jika kami mengetahui bahwa kami sanggup menolong orang. Kami tiada sekali-kali menyangka, bahwa kami ini sebagai “pelita,” dan sebab itulah maka orang yang berhati susah datang kepada kami meminta bantu dan bujukan, tetapi hanyalah kami sangka, ialah karena orang-orang itu mengetahui dan merasa pada dirinya, bahwa mereka itu adalah akan mendapat kasihan jika mereka pergi kepada kami. Besar hati kami mengetahui yang kami dapat mengasihi orang dan menyerahkan diri kami kepadanya. Amat miskinlah hati mereka yang tak dapat mengasihi orang lain!

Kami tanyakan kepadanya macam-macam pertanyaan yang gila-gila, tetapi kami boleh berbuat sekalian itu, karena ia telah berjanji kepada kami.

Kami tanya umpamanya: “Apabila seorang laki-laki kasih dan cinta kepada seorang perempuan, apakah yang dipikir-kannya lebih dahulu tentang perempuan itu; adakah kira-kiranya laki-laki itu berpikir: “Dapatlah saya menyenangkan hati perempuan itu?” atau “bolehkah saya bersenang hati karena perempuan itu?”

Orang tua yang kuganggu itu menggaruk kepalanya: “pertanyaan itu amat sukar menjawabnya, tetapi saya telah berjanji akan menjawab sekalian nyia dengan tulus dan ikhlas. Pada pikiranku pertanyaan yang kedualoh yang mula-mula diturut orang, dan apa perasaanku lagi sekalian laki-laki, kecuali beberapa orang, sekalian nyia memanglah berpikir demikian, karena kebanyakan laki-laki itu amat loba akan kesenangan dirinya sendiri; engkau perempuan-perempuan lebih tinggi martabatmu dari pada laki-laki tentang kebaikan hati.“

Kami tahu, bahwa sebenarnyalah pendapatannya itu. Ia telah mengajar kami berhati sabar dan mengemudikan hati; dan acap kali pula ia menguji hati kami dengan berbagai-bagai hal keadaan yang penting-penting. Cita-citanya dan usahanya yang terutama ialah harta-benda; sebab itulah ia acap kali menyalahi apa-apa yang kami kasih dan kami cintai. Kalau ia sungguh-sungguh mempermain-mainkan dan membatal-batalkan cita-cita kami, susahlah kami menahan hati kami supaya tinggal tawar dan dingin. Sekarang ia telah mengaku bahwa ia telah sengaja hendak mempermain-mainkan kami, karena ia tiada mau membenarkan dengan mulutnya, bahwa apa yang kami katakan itu adalah terasa di hatinya, dan acap kali ia tengah malam tak dapat ti-dur karena memikirkan hal itu. Dahulu tak pernah ia memikirkan hal-hal yang sedemikian dan hidupnya seada-adanya saja. Sekarang tahulah ia betapa benar kosong kepalanya. Kami katakan kepadanya, bahwa hidup menanti gerak Allah saja amat mudah; tetapi cita-cita yang ada di dalam hati itu, mustahillah dapat dibunuh, lambat-launnya ia akan timbul juga. Kalau cita-cita itu tak penuh isinya atau kosong, di situlah nanti ia akan berteria meminta makan! “Sebenarnyalah hidupku ini tak ada isinya; tetapi apakah sebabnya maka cinta-cinta hatiku ini dahulu tiada mau menjerit!“

“Ada, tetapi tuan tak mau mendengarnya dahulu.“

Ia tercengang mendengarkan bagaimana kami memikirkan beberapa hal yang bersamaan dengan pikirannya. “Kalau begitu benar juga kata orang tentang persaudaraan hati dll; takutlah saya memikirkannya,“ katanya sambil matanya bercahaya-cahahaya, hendak berolok-olok. Sekarang kami pun dapatlah menanggungkan ollok-oloknya itu, karena kami telah tahu, bahwa ollok-olok itu ialah akan jadi perisai kepadanya, menandakan perasaan yang gembira mulai timbul dalam hatinya.

22 September 1902 (VIII)

Terimalah ucapan terima kasih kami, yang tuan telah turut berdukacita atas berangkatnya sahabat-sahabat karib kami itu. Kami dahulu berharap benar-benar yang nyonya akan bertemu dengan mereka itu. Menurut bunyi surat nyonya nyatalah, bahwa mereka itu tak dapat bertemu dengan nyonya. Sebab masa mereka itu ada di sana, nyonya sedang ada di Bogor. Pesiar betul rupanya nyonya waktu itu! Kekasihku, ibuku yang dicinta, lepaskan benarlah hati tuan, tentulah tuan akan berbalik muda, karena kegirangan hati!

Saya baca di dalam surat kabar, bahwa musik orang Italia pada waktu pacuan itu bukan buatan bagusnya. Dan Tuan Besar Gubernur Jenderal beserta jamunya sekalian acap kali menunjukkan kegirangan hati mereka itu. Saya tak tahu ketika itu bahwa di antara jamu itu, kekasihku pun ada pula di sana! Barangkali juga perasaan kami tiada halus benar, karena hati kami tiadalah tertarik hendak melihat pacuan kuda, Sungguhpun kami terlalu suka melihat kuda-kuda yang bagus, yang terkadang-kadang boleh menawan kami!

Tetapi melihat kuda-kuda digertak dan dipukul dalam berlari itu, tak dapatlah kami akan bertempik dan bersorak melihatnya; itu harus kami pelajari dahulu. Tetapi berharaplah kami supaya janganlah hal itu kami pelajari. Pacuan bendi nyonya-nyonya, itulah dugaan kami, yang sebagus-bagusnya dalam pacuan itu. Berapalah sedapnya mata memandang anak-anak gadis, yang masih muda remaja, dengan moleknya berpakaian putih dan berbunga-bunga, berkereta berkellling-kellling ditarik oleh kuda yang tangkas dan bersikap bagus.

Ketahuilah oleh nyonya, bahwa kami di sini adalah pula dahulu mempunyai pacuan kuda. Tetapi beberapa tahun yang lalu, pacuan kuda Jepara dengan musik, bunga-bungaan dan dengan anggur sempanye, telah kami kuburkan di ibu negeri yang lama, yaitu di kota Pati.

Perlukah juga saya katakan betapa besar hati kami mengatakan sekeram itu bagus sekali? Baik benarlah itu! Bertambah senang hati kami karena tuan sama-sama mengatakan sekeram itu bagus sekali! Baik benarlah ingatan nyonya, telah menyampaikan dengan segera kepadaku. Maukah nyonya mengatakan kepada paduka tuan, bahwa saya banyak meminta terima kasih atas kepercayaan paduka itu kepadaku?

Saya akan mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh, sehingga tiada akan memberi malu, artinya: anak-gadis nyonya ini mau mencobakan kekuatannya menulis karangan itu, dan lihatlah nanti bagaimana jadinya. Tetapi adalah permintaanku sebuya: janganlah nyonya lekas menyangka, bahwa karangan itu tentulah bagus, dan sabarlah sedikit! Pekan yang lalu saya telah menolak suatu permintaan dari pada seorang nyonya, yang meminta saya mengarang tentang

kepandaian ukir-mengukir di Jepara, untuk surat kabar “de Echo”. Yang sebenarnya maulah saya, tetapi sekarang saya banyak mempunyai kerja tulis-menulis, sebab itulah maka saya balas surat itu dengan mengatakan, bahwa saya tak berani membuatnya. Itu sebenarnya bukanlah olok-olok saja. Nyonya itu akan mengarangkan hal itu di dalam surat-surat kabar Betawi dan Surabaya.

24 September 1902 (IV)

Saya tak dapat mengabarkan bagaimana kegirangan hati kami, ketika menerima kartu pos yang terbit dari hati yang suci dan sebuah kitab kecil dari tuan. Kami sungguh mengucapkan sukero karena tuan telah mengirim kami surat itu. Sekarang beranilah pula kami membalas surat itu. Keji benar perbuatan kami yang kami telah mengalpakan tuan, malu benar kami mengenangkan hal itu! Kesalahan itu tak dapat dimaafkan, dan lagi kami pun tak mau memohonkan maaf kepada tuan, biarlah segala kesalahan kami kepada tuan itu kami tanggungkan dengan sabar dan tulus ikhlas.

Kelemahan hati kamila jua, yang menyebabkan maka selama ini kami berdiam diri saja. Betapalah sedihnya hati kami mengaku kesalahan ini, kami yang hendak memikul pekerjaan sebesar itu. Tuan, yang semata-mata berhati pengasih, niscayalah menimbang hal itu tidak terlalu berat, kalau tuan mengingat umur kami yang masih muda dan kepandaian pun belum seberapa. Besar kesalahanku kepada tuan, tetapi lebih besar lagi kejahatan yang tertimpa pada badanku sendiri, karena telah berbuat yang sedemikian. Ampunilah kami dahulu! Kami yang sudah-sudah terlalu lemah benar. Maukah tuan menolong kami supaya boleh menjadi kuat? ... kami perlu kuat, supaya dapat kami mengerjakan dengan patut akan pekerjaan besar, yang sungguh-sungguh kami hendak tanggung itu.

Kami masih muda, masih baru berdiri pada permulaan, baru berdiri di muka pekerjaan kami, di muka dunia penghidupan; kami anak-anak muda lagi bodoh, belum pandai hidup, hanya berdiri berdua saja.

Telah banyaklah pikiran yang menggoda kepala kami yang masih muda ini dan telah banyaklah pula perasaan, yang menggoda hati remaja kami. Selalulah pula besar harapan kami akan bekerja untuk sahabat-sahabat kami; tetapi kami anak-anak yang masih bodoh, belumlah pandai merengkuh melepaskan diri dari pada pikiran dan perasaan yang telah menawan kami. Adikku telah menceritakan kepada tuan, apa-apa yang telah menjadi kenang-kenangan di hati dan di kepala kami, apa-apa yang terjadi dalam hidup kami pada beberapa bulan yang baru lalu ini, tentang maksud-maksud dan mimpi-mimpi kami untuk waktu yang akan datang. Kami berharap benar, yang tuan akan menunjukkan kesukaan hati tuan akan maksud kami itu.

Dalam waktu yang gundah gulana, dan hari yang penuh dengan kesusahan, selalulah kenangan kami kepada tuan kedua, sahabat kami yang berhati mulia, akan membujuk hati kami, dan akan membantu dan menetapkannya. Yang senanti biasa menyedihkan hati kami di dunia ini, ialah kelobaan manusia untuk kecentungan diri sendiri, yang acap kali tak ada hingganya. Dan jikalau kami berhati gusar, karena melihat dan mengetahui kelobaan untuk diri sendiri “dajal yang buas itu” mengangakan mulutnya kian ke mari pada sekalian penjuru alam ini; maka teringatlah oleh kami tuan kedua, dan hati kami yang sedih tadi pun menjadi lembutlah. Kasih sayang itulah juga rupanya, Meskipun bagaimana juga kelobaan manusia itu untuk diri sendiri, yang merintah dunia ini.

Ketika kepalku rasanya seperti terbakar karena berpikir dan hatiku luluh karena kesedihan melihat hal keadaan alam, maka kami kenanglah dengan segera tuan kedua, dan karena pengenangan itu, lepaslah dahaga kami dan timbul pula kekuatan kami.

Kerap kali kami memperkatakan tuan, mengingat tuan kedua, dan sangatlah senang hati kami berbuat demikian. Dengan tiada setahu tuan, tuan pun telah memberi kami bantuan dan bujukan dalam waktu-waktu yang sukar. Kami mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena kami telah bertemu dengan tuan dalam perjalanan kami ini, dan kami berharap serta mendoakan sungguh-sungguh, supaya persahabatan kita ini akan tinggal selama-lamanya. Tuan telah tahu sekarang sekalian kenang-kenangan kami, sekalian maksud dan cita-cita kami; tak usahlah kami meminta pertolongan lagi kepada tuan, karena hati kami pun sudahlah mengatakan kepada kami, bahwa tuan telah lama berbuat demikian dan selalu akan berbuat juga yani: memintakan dua untuk sahabat-sahabat tuan perempuan Jawa ini, kepada Tuhan yang mahatinggi, Tuhan yang mahakuasa, Tuhan seru sekalian alam!

Bagaimana juga pun lainnya jalan-jalan yang kita tempuh, tetapi sekalian itu tujuannya ialah pergi kepada ujud yang satu: “kebaikan”. Kami pun bekerja untuk kebaikan yang “God” namanya kepada tuan, dan Allah kepada kami.

Apakah sebabnya sekalian itu tak akan kami kabarkan kepada tuan? Kami selalu hendak berhati tulus dan ikhlas kepada tuan ... sebab persahabatan, atau pertambatan apa jua pun hendaknya yang tiada bersendi dengan hati yang tulus dan ikhlas itu, tentu pertambatan itu tiada akan hidup selama-lamanya; tetapi kami ini berharap benar yang persahabatan kita, yang amat kami kasihi itu, akan tinggal hendaknya selama hidup kami ... Yang sudah-sudah kata Allah itu, hanyalah kata seruan saja bagi kami. Syukur alhamdulillah nama yang bagus itu, sekarang telah menjadi suatu bunyi yang amat suci dan berarti besar bagi kami.

O! bagaimanalah hendaknya saya ceritakan kepada tuan, betapa tawakkal dan senangnya hati kami sekarang, karena mendapat Allah yang mahakuasa itu, dan dapatlah sekarang kami menyerahkan diri kepadanya, meminta bantu dan mempercayainya.

Hati kami sekarang tiadalah gusar sedikit jua pun, selalu kami merasa aman dan sentosa di bawah penjagaannya. Karena Tuhan yang mengenal kita, yang melindungi kita dan yang menimbang kita dengan kasih-sayang!

Siapakah yang menunjukkan kami kepada Tuhan yang mulia itu, dan yang membangunkan kepercayaan kami akan Tuhan yang mahakuasa itu? Yaitu nyonya Nellie van Kol.

Benarlah juga barangkali, bahwa telah lama sebelum hal itu kejadian, hati kami telah bergerak dan bekerja memikirkannya dan dengan tiada setahu kami, kami pun telah bekerja memperbaiki diri sendiri, tetapi yang tak dapat dibantahi lagi, bahwa nyonya van Kollah yang menghapuskan awan yang terbentang di muka kami, sehingga dapatlah sekarang “cahaya” yang terang itu masuk ke dalam hati kami.

Ialah yang menunjukkan kami jalan kepada Tuhan yang amat pengasih dan penyayang yang tuan namai, “God”, dan kami Allah.

Kami merasa amat beruntung telah mendapat mutiara di dalam hati kami sendiri, yani kepercayaan yang sesung-guhnya atas adanya Allah, Tuhan yang mahakuasa itu.

Kepercayaan itulah yang membawa kami melihat sekalian hal kejadian yang ada di bumi ini dengan cahaya yang lain dari pada cahaya yang biasa, yang lebih berbahagia; yani cahaya yang menyenangkan dan menghiburkan hati kami serta memberi kami lebih bebas dan lebih beruntung.

O! tak puas rasanya kami mengucapkan syukur atas pemberian Tuhan kepada hambanya, yang bernama “berkirim-kiriman surat”. Telah banyak ia memberi kebajikan dan kasih sayang kepada hidup kami.

Bagaimanakah kejadian hidup kami gerangan di dunia ini, kalau sekiranya pemberian yang mahabesar, kepandaian berkirim-kirim surat itu tak ada di bumi ini!

Pikiran yang bagus-bagus dari pada mereka yang budiman dan bijaksana yang tertulis di dalam kitab-kitab, atau cetak-cetakan lain, yang datang kepada kami, sekaliannya bekerja sekarang untuk pendidikan, penambah pikiran, memuliakan dan meninggikan derajat kami ... makin besarlah kekuasaannya buah pikiran itu memajukan kami, jikalau asalnya dari budiman yang empunya sendiri; keluar dari hati dan otaknya yang suci itu.

Tak putus-putusnya kami mengucapkan syukur akan ke-untungan kami ini, yang telah menghubungkan tali persahabatan kami dengan budiman-budiman pikiran itu. Itulah yang menyenangkan hati dan memuliakan hidup kami. Bagi kami sebagai menghadiri keramaianlah kegirangan kami, jikalau menerima surat yang datang dari tuan-tuan, sebab thulah kami bahwa surat-surat itu, seperti kata Nellie, berisi: “kesenangan hidup dan pikiran-pikiran yang menaburkan kasih sayang.”

Tuan tentulah dapat menerka, siapakah mereka yang selalu meriangkan hati kami dengan keramaian, yang dikirimkannya dengan pos itu. Dengan segala kemauan dan kesukaan hati, senantiasa kami bacalah sekalian karang-karangan yang telah tuan berikan kepada kami itu.

Betapalah besar bahagia kami, karena kami telah berkenalan sendiri dengan pengarang karang-karangan yang amat berharga itu, dan telah menerima karang-karangan itu dari si pengarangnya sendiri. Nyonya Abendanon telah banyak menceritakan kepada kami tentang pidato tuan di Betawi, dua tahun yang telah lalu. Dengan gembira hatinya menceritakan hal itu kepada kami. Amatlah besar harapan kami hendak membataya isi pidato tuan pada 3 September 1900 itu.

Betapalah besar hati kami mendengar, yang tuan dengan tiada setahu kami, telah memperlakukan permintaan kami itu. Senantiasa senanglah hati kami membaca barang sesuatunya, dalam surat-surat kabar yang kami terima, tentang hal tuan sendiri!

Apabilakah waktunya akan datang, supaya maksud dan cita-cita kami dapat berlaku? Kami berharap, yang waktu itu tentulah akan datang jua, dan tak lama lagi kami akan menunggunya.

Sekarang kami banyak meminta terima kasih atas kebaikan tuan, telah mengirim kami kitab yang penuh berisi dengan pelajaran yang indah dan bagus; kami suka benar membatayana, karena banyaklah pengajaran di dalamnya yang boleh kami petik. Dengan segala suka hati kami telah memperhatikan pula cerita hidupnya “Nyai Magdalenah.” Yang sudah-sudah telah banyak kami membaca cerita-cerita tentang perempuan yang saleh dan beribadat itu; yang penghabisan sekali, di dalam surat kabar “Hollandskhe Revue”. Sayang benar yang negeri Mapane amat jauh dan susah jalannya. Kalau tidak, berapalah besar hati kami hendak mengun-jungi tuan! Banyaklah hal yang hendak kami runding-kan dengan tuan, yang susah diperkatakan dalam surat. Sepanjang-panjang dan sepenuh-penuh isinya sepucuk surat, tak dapatlah dibandingkan kebaikannya dengan berbin-cang dan bercakap barang sejam lamanya. Di dalam percakapan lebih mudah kita memperkatakan apa-apa yang terpikir di hati dan di otak kita.

Berita tentang ujian penghabisan dari murid-murid sekolah guru di Tomohon menarik hati kami benar. Makin panjang kami baca berita itu, makin bertambah gembira dan sukacita kami.

Bagi kami itulah kegirangan hati yang terbesar sekali, yani jikalau kami melihat tanda-tanda kemajuan anak Bumiputera. Kami selalu hendak memuji mereka itu dan meninggikan diri kami karenanya!

Betapalah suka hati kami hendak pergi ke Minahasa, hendak berkenalan dengan Bumiputera di sana. Apa-apa saja yang datang dari sana, senantiasa menarik hati kami hendak memperhatikannya. Bukan buatan besarnya cita-cita kami hendak mengetahui hal ihwal tanah air dan bangsa mereka itu. Demikian juga hendak mendengar keadaan sekolah usaha rumah tangga untuk gadis-gadis Bumiputera di Tomohon. Sekalian itu perlunya, ialah untuk menambah pelajaran kami.

Hendak memaklumi hal ihwal tanah Minahasa dan Bumiputeranya, selalulah menjadi kesukaan kami. Apalagi karena sekarang adalah dekat negeri itu tinggal seorang sahabat kami, yang sedang mulai bekerja memajukan orang-orang yang biadab di sana, jadi makin bertambah tertariklah hati kami hendak mengetahui bangsa dan tanah itu.

Moga-moga beruntunglah tuan hendaknya dengan pekerjaan tuan yang mulia itu, itulah suatu dua yang terbit di hatiku tiap-tiap kali, apabila saya terkenangkan tuan atau memikirkan pekerjaan tuan.

Betapalah suka hati kami, kalau sekiranya kami dapat tinggal barang beberapa lamanya di tempat tuan, bersama-sama dengan pendeta-pendeta yang lain. Tentulah senang hati dan pikiran tinggal bersama-sama dengan mereka yang suci hati itu, yang hidupnya hanyalah hendak memberi kasih dan sayang saja.

Jikalau hati sedang gusar dan masygul karena ditimpa oleh nasib yang malang, berapalah senangnya hati nanti di sana dalam udara yang suci penuh dengan kasih dan sayang itu, masuk ke dalam hati demaaimannya!

Pergaulan dengan manusia yang suci lagi berhati kasih, yang tiada mengindahkan dirinya untuk kesenangan sendiri, tentulah keadaan itu menyucikan hati sekalian mereka dalam pergaulan itu.

Siapa tahu entah maksud kami akan diperlakukan. Maksud yang baik itu acap kali kejadian, setelah banyak mengeluarkan-kan air mata terbit dari hati yang sedih.

Kalau kami boleh pergi ke Mojowarno, tentulah sekalian cita-cita dan mimpi-mimpi kami yang lain akan kami buang dan sekalian itu akan kami bunuh dan kami kuburkan da-lam-dalam.

Adikku telah menceritakan kepada tuan apa maksud kami nanti, jikalau kenang-kenangan kami tiada sampai; jikalau kami tak dapat belajar sehingga mendapat jabatan yang akan kami tanggung itu, maka kami akan membuangkan cita-cita kami hendak membuat sekolah untuk anak-anak gadiis bangsawan bangsa Bumiputera itu.

Sekali-kali tiadalah sebab kami takut di Mojowarno; dahulu-lu telah saya kabarkan kepada tuan, bagaimana hal kami nanti di sana: pada lahirnya rajin selalu bekerja, dibatin bersenang hati. Tetapi tuan pun maklum juga, berapalah sedihnya kami nanti, jikalau kami wajib membuangkan sekalian cita-cita, yang telah kami kandung di hati dan yang amat kami kasihi itu sudah sekian lamanya.

4 Oktober 1902 (III)

Sebenarnyalah, telah acap kali saya mengambil pena hendak menulis surat kepada tuan, tetapi selalu ada aral ini dan itu yang mengganggu, sehingga terpaksalah saya mengun-durkan menulis surat itu. Saya dahulu menantikan waktu yang baik ... tetapi sekarang saya lihat, bahwa waktu itu tiada akan tiba; melainkan waktu itu wajiblah dibuat sendiri.

Surat-surat yang terhadap kepada mereka yang tiada kita acuhkan, amat mudah menulisnya, artinya lebih lekas kita

mengerjakannya dari pada surat-surat untuk mereka yang kita sayangi dan hormati. Untuk mereka yang pertama tak banyaklah atau hampir tiadalah apa-apa, yang akan kita kabarkan kepadanya, sepatah dua saja cukuplah; tetapi untuk sahabat-sahabat kita sukalah kita menulis sepanjang-panjangna.

Pada tahun yang telah lalu kami senantiasa bersusah hati di kabupaten Jepara. Karena isinya berganti-ganti saja dilanggar oleh penyakit keras, yang menimbulkan ketakutan, kalau-kalau adalah di antara kekasih kami itu yang akan sampai ajalnya. Tetapi syukur sekalian mereka itu telah sembuh kembali!

Tahun baharu yang lalu membawakan kami sukacita membesarkan hati kami, tetapi ia beserta pula dukacita. Pada 24 Januari kami di sini beralat kawin, mengawinkan adikku Kardinah, yang kecil sekali di antara kami bertiga, dan itu-lah kejadian yang membesarkan hati. Kegirangan itu sayang tercampur pula dengan kedukaan; kami yang dahulu hi-dup bersama-sama dengan berkasih-kasihan, sekarang telah bercerai-berai. Setelah adikku berangkat, bukan buatan sunyinya kami di sini. Bersama-sama dengan Kardinah, banyaklah kasih sayang yang keluar meninggalkan rumah.

Kami telah pergi sekali mengunjunginya, pada bulan April. Ketika itu ia amat sehat dan rupanya pun gemuk; dahulu di rumah tiadalah demikian, pipinya telah merah seperti jambu. Ibuku telah pergi pula melihatnya sekali lagi dalam bulan Augustus yang lalu. Ibuku pergi ke sana dengan hati tak senang, karena waktu itu adikku itu sakit keras. Pipinya yang merah itu sekarang telah menjadi pucat, karena ia diserang oleh penyakit malaria. Sekarang syukurlah, adikku telah sembuh kembali, dan tinggal di gunung untuk sementara supaya hawa yang dingin di sana dapat memberinya kekutan kembali.

Amatlah gembira hati kami membaca karangan tuan yang berarti dalam itu yang bernama: “Perserikatan bahasa dengan tanah Belanda“. Kami mengucapkan banyak terima kasih akan kebaikan hati tuan telah mengirim kami karangan itu. Tinggi harganya keramahan hati tuan bagi kami. Kami banyak pula membaca karang-karangan yang lain, yang ditulis orang, sebab membaca karangan tuan itu.

Menurut karangan tuan Mr. P. Brooskhooft kepala pengarang surat kabar “de Locomotief“, kami baca bahwa isterinya yang sangat dicintanyalah yang menerjemahkan karangan Professor Anton itu.

Berapalah senangnya hati seseorang laki-laki, yang isterinya bukanlah menjadi gusti dalam rumah tangganya dan menjadi ibu dari anak-anaknya saja, tetapi pula menjadi sahabatnya, yang suka memperhatikan kerjaannya, dan hidup bersama-sama dengan dia dalam pekerjaannya itu. Itulah suatu hal yang tiada ternilai harganya oleh laki-laki, asal saja laki-laki itu tiada pandak pikirannya dan tiada sombong. Karena banyaklah laki-laki yang bersifat sedemikian, yang mengatakan isterinya suka memperhatikan pekerjaannya, sebab hanyalah hendak mengetahui rahasianya saja. Dengan memperkatakan hal itu, telah mulai saya berangsur-angsur menjejak medan peperangan kemerdekaan perempuan yang tentulah telah acap kali dan telah pus tuan mendengarnya di eropa. Kemerdekaan itu tentulah amat menarik hati tuan, dan pada tahun yang akan datang, tentulah tuan akan lebih lanjut memikirkan hal itu, karena tuan pun sekarang perlu pula mendidik seorang anak tuan yang perempuan.

Jikalau kami di sini meminta pengajaran dan pendidikan untuk anak-anak gadis, ya, bermohon sungguh-sungguh sampai makbul, maka keadaan itu bukanlah karena kami hendak menyuruh anak-anak gadis berlawan dengan anak laki-laki dalam peperangan hidup, sekali-kali tidak, melainkan ialah karena kami percaya benar akan kekuasaan besar, yang dikandung oleh perempuan, yani: memajukan dirinya, sehingga cakaplah ia menanggung kewajiban yang amat besar, yang dikaruniakan Allah kepadanya: menjadi ibu, ... pendidik yang pertama-tama untuk kemanusiaan di bumi ini! Bukankah dari perempuanlah manusia itu menerima pendidikannya yang bermula sekali, yang bekasnya acap kali tiadalah kurang artinya untuk si anak dalam hidupnya?

Perempuanlah, ya, ibu itulah yang mula-mula sekali menanamkan biji kebaikan atau biji kejahatan di hati manusia, yang nanti akan tumbuh dan tinggal selama hidup di hati manusia itu.

Tidaklah sia-sia orang berkata: “Ia disusukan dengan air susu bundanya.”

Telah beberapa lamanya yang lalu, senantiasa kami menyangka, bahwa sekalian orang pandai yang banyak pengetahuannya, mulialah pula budi pekertinya. Sayang! tetapi untunglah lekas kami tersadar dari pada mimpi itu ... untunlah lekas kami mengetahui, bahwa kepandaian yang banyak itu sekali-kali bukanlah ia menjadi keterangan dari budi pekerti yang mulia. Betapa gusar dan sedihnya hati kami ketika memaklumi keadaan itu. Dan ketika kami telah sadar dari kegusaran yang amat sangat itu, maka kami pun memikirkanlah hal itu dalam-dalam, dan lalu mencari sebab-sebabnya maka jadi sedemikian. Dalam hal itu bertemulah pula kami dengan kebenaran yang kedua. “Sekolah itu saja tak dapatlah menyempurnakan pengajaran anak-anak, terutama ahli rumah pun wajiblah serta mendidiknya! Sekolah untuk memajukan pikiran, isi rumah untuk pendidikan budi pekerti!“

Ibu menjadi tiang dalam rumah dan memikul suatu pekerjaan yang besar dalam pendidik anak-anaknya tentang budi pekerti. Oleh sebab itu berilah anak-anak gadis pendidikan yang semporna, dan usahakanlah supaya ia cakap kelak memikul pekerjaannya yang seberat itu.

O, jika sekiranya diketahui oleh sekalian ibu yang telah diterimanya dalam pangkuannya itu, tatkala mendapat bahagia yang sebesar-besarnya bagi perempuan: buah hati, biji matanya! Dengan anak itulah ia mulai menempuh waktu yang akan datang. O! tahu benar hendaknya mereka itu, terang dan jelaslah hendaknya dalam pemandangannya, apa pekerjaannya, karena ia telah menjadi ibu itu. Tiadalah untuk dirinya sendiri ia melahirkan anak itu ke dunia. Ia wajib mendidik anaknya untuk ahli rumah yang amat besar di atas dunia ini, yang bernama: Perkumpulan hidup bersama-sama!

Karena keperluan yang amat besar, yang tersebut di atas itulah maka kami minta pengajaran dan pendidikan untuk anak-anak gadis.

Kami sungguh-sungguh amat percaya, bahwa kesopanan bangsa Jawa mustahil akan maju dengan sekuat-kuatnya, selama perempuan-perempuan tidak diajar dan dididik dalam ilmu kesopanan itu.

Kepada perempuan-perempuan itu, wajiblah diberikan dalam genggamannya kerdra untuk memajukan kesopanan, kalau demikian barulah kesopanan itu akan berkembangan dengan sekuat-kuatnya kepada Bumiputera bangsa Jawa.

Adakanlah ibu-ibu yang ringan tangan dan tajam pikiran, supaya tanah Jawa boleh mendapat perempuan-perempuan yang pantas dan cakap bekerja untuk kemajuan. Mereka itulah nanti yang akan menanamkan lagi biji kesopanan dan ilmu kepandaian itu kepada anak-anaknya. Anak-anaknya yang perempuan itulah yang akan menjadi ibu pula dan anak-anaknya yang laki-lakilah yang akan menjaga kelak segala keperluan bangsanya.

O, apabilakah waktunya akan tiba, yang bangsaku akan membenarkan buah pikiranku ini? Saya menyangka, bahwa waktu itu masih juga, juh benar lagi! Tetapi jikalau sekarang tiada juga datang permulaannya, tentulah waktu itu masih bertambah juh juga tempatnya dan masih bertambah lama lagi akan didapat.

Sekalian permulaan itu amat sesah mengerjakannya, dan bagi kebanyakan mereka tukang penebas jalan hidup di dunia ini penuh dengan racun penangungan. Sebab itulah mudah kita memahamkan, bahwa orang-orang tua lebih suka menyuruh anaknya memilih salah suatu nasib yang dapat menjamin, bahwa si anak akan beruntung dengan hidup senang ... dari pada nasib yang diketahuinya sejak dari bermula akan hidup dengan racun penangungan.

Jikalau seseorang menyimpan dalam hatinya sesuatu cita-cita yang mulia, dan cita-cita itu tiadalah maksudnya untuk kesenangan diri sendiri, melainkan untuk kesenangan diri orang lain, berdosakah ia, jikalau ia hendak mencoba mencapai cita-cita itu, tambahan pula karena ia berbuat demikian, ialah akan merusakkan hati beberapa orang kekasihnya? Atau itukah kewajibannya yang terutama, yani mencabut cita-cita itu dari hatinya, supaya kekasihnya jangan berhati susah?

Bagaimanakah seseorang patut bekerja yang berfaedah untuk hidup bersama-sama, dengan mengurbankan dirikah? Atau dengan memajukan dirikah? Manakah kiranya yang baik, mengurbankan diri, supaya jangan merusakkan hati kekasih atau memajukan diri untuk kebajikan ahli rumah besar yang bernama perkumpulan hidup bersama-sama itu?

O, berapalah bagusnya, kalau kita mau, dapat dan boleh mengerjakan barang sesuatunya. Perkumpulan yang bagus demikian, sayang, hanyalah sedikit saja orang yang dapat memperolehnya.

Dengan besar dan suka hati kami telah berkenalan dengan kitab cerita Frits Reuter. Wah, itulah sebuah cerita yang dapat menggelikan hati dan menyegarkan badan. Besar kegirangan kami mendapat anugerah yang bagus itu dari tuan! Lagi pula orang-orang lain pun di sini telah merasai juga lezatnya cerita itu. Mereka itu telah membuat pula sebagai kami: ketika mereka itu telah mulai membacanya, tak dapat lagi mereka itu menceraikannya! Bagaimanakah pikiran tuan, sejak dari pukul tujuh malam sampai pukul tiga pagi terus saya membaca kitab itu. Itu bukanlah pekerjaan yang elok, hanya hal yang seperti itu mudahlah kejadian, jikalau orang bercengkerma dengan jamu yang segirang itu. Lagi jikalau sekiranya maksud tuan memberikan buku itu, supaya kami boleh kasih dan sayang kepada pengarang syair yang pandai itu, bolehlah tuan berbesar hati, karena maksud tuan itu telah berlakulah. Frits Reuter sekarang telah kami kasihi di hati kami dan kami muliakan dalam ingatan kami.

Kitab Couperus yang amat bagus itu telah menyukakan hati kami. Biasanya kami suka membaca kitab-kitabnya karena bahasanya yang amat bagus itu. Orang-orang yang di dalam kitabnya itu selalu tak tangkas, tak segar, sepanjang pendapatan kami. Tetapi bahasa dan isi kitabnya telah masuk ke dalam hati kami. Tutur katanya amat merdu! Tanah Belanda bolehlah berpongah diri karena ahli pengarang yang seperti itu!

Dan juga kitab tuan Vosmaer yang amat bagus itu pun menyukakan hati kami. Dengan hati yang pilu kami membaca kitabnya yang bagus yang bernama “Inwiyding” itu. Baru sekali itulah, kami berkenalan dengan pengarang bangsa Belanda itu, kami pun banyak mengucapkan terima kasih akan pertemuan kami yang amat menggirangkan hati sebagai itu. Sesudah membaca kitab “Inwiyding” itu, kami mendapat kitab tentang dongeng orang Gerika dengan bergambar dewa-dewa dan dewi-dewi. Sedap hati melihat gambar-gambar itu dan membaca cerita-ceritanya sesudah membaca kitab “Inwiyding”! O, melihat sekalian keindahan dengan mata kepala sendiri dan merasai kesenangan hati seperti kegirangan hati Sietske dan Franc itu, melihat rupa-rupa-rupa yang mahabesar, melihat sekalian mahabagus itu! Tidak, tidak, tak bolehlah kami berharapan sebanyak itu! ... Biarlah kami mengucapkan syukur, bahwa adalah orang dikaruniakan Tuhan yang pandai dan berkuasa tentang bahasanya, telah menggambarkan sekalian yang maha bagus itu di mata kami, dan kami pun adalah mengerti akan bahasanya yang bagus itu!

Telah dua bulan adalah seorang di antara ahli komedi bangsa Belanda datang ke tanah Jawa, ke tanah airku yang bagus ini. Willem Royaards, ahli komedi dan ahli bicara, telah sekian lamanya menjalani tanah matahari kami dengan kemuliaannya; dan pada setiap tempat, di mana saja ia bermain, senantiasa ia menggirangkan hati penonton dengan kepandaiannya yang amat berkuasa itu.

Betapa suka hatinya tatkala kami hendak mendengar ia bermain. Pada bulan yang lalu kami telah berniat hendak melihat kepandaiannya itu, tetapi sayang, ketika itu cerita yang akan dimainkan tak jadi dilakukannya. Sungguhpun kami tak dapat mendengar orang pandai itu main komedi, tetapi ada kegirangan hati kami yang lain, yang telah kami peroleh. Kami telah bercakap-cakap dengan tuan itu sendiri. Tiadalah sekali-kali kami dahulu menyangka keadaan itu, karena dengan tiada disengaja kami bertemu dengan dia. Itulah suatu keuntungan yang menyenangkan hati kami, ialah yang menjadi obat jerih perarai⁶ demam kepada kami pada waktu itu.

Adalah suatu hal perceraian yang menyedihkan hati, yang membawa kami kepada pertemuan yang tiada disangka-sangka itu. Kami ketika itu pergi mengantar-antarkan sahabat-sahabat kami, yaitu tuan dan nyonya Ovink ke kapal, yang akan membawa mereka itu balik ke tanah airnya. Kapal kecil yang membawa kami ke kapal besar itulah yang mempertemukan kami dengan tuan Royaards, yang waktu itu pun turut juga mengantar-antarkan tuan dan nyonya Ovink itu.

Waktu itulah yang memasygulkan hati kami. Tuhan sajalah yang lebih memaklumi, bahwa kami dengan sahabat-sahabat itu barangkali selama-lamanya tiadalah akan bertemu lagi, karena tiadalah mereka bermaksud akan balik ke tanah Hindia lagi. Tak adalah harapan kami akan bertemu lagi dengan mereka itu, kalau sekiranya tiada Tuhan menggerakkan kami dapat pergi ke tanah airnya itu!

Bolehkah kami berharap demikian? ... waktu, yang akan memberi jawaban sekalian pertanyaan di dunia hidup ini, tentulah lama lambatnya akan memberi pula penjawaban pertanyaanku itu!

Mereka itu kami sayangi! Kami merasa seakan-akan sebagian dari badan kami lepas teranggut, ketika kedua kapal itu berlayar bertolak belakang! Mereka itu dengan kami sebagai senyawalah rasanya!

“Tak adalah persahabatan yang teguh, dan tak adalah persaudaraan hati yang tetap kedapatan di antara dua orang yang berlainan bangsanya, dan yang lahir di negerinya masing-masing”, kata orang acap kali. Hal kami itu menyerangkan kata orang itu tak benar, justa adanya!

Tak adalah persahabatan antara mereka itu yang sebangsa boleh lebih teguh dan setia lagi dari pada persahabatan kami, antara anak-anak orang putih tanah Barat dan anak-anak orang hitam tanah Timur!

Nyawa yang gaib di badan, yang hidup selama-lamanya dari dunia sampai ke akhirat, tak samalah halnya dengan yang lahir; dan tiadalah ada padanya batas bangsa dan agama, dan dialah juga yang akan menghormati dengan gembiranya nyawa lain, yang diam di dalam badan lain pula yang berkulit asing, karena dirasanya bahwa ia bersaudara dengan nyawa yang lain itu. Persaudaraan nyawa itu lebih teguh dan lebih dalam dari pada persaudaraan seibu-sebapa.

Beruntung benarlah mereka yang hidup di dunia ini, yang tidak saja sesuai, karena persaudaraan seibu dan seba-pa, tetapi juga mereka itu beradik dan berkakak, laki-laki dan perempuan pun bersaudara senyawa pula!

Tuan kemendur yang bertemu dengan tuan disimi dahulu-lu pun sahabat kami, ialah yang menggantikan tuan Ovink menjadi asisten-resident di Jombang, itulah pula kehendak Allah yang tiada disangka-sangka!

KALI JEPARA DILIHAT DARI KANTOR BOM (PEBIAN) JEPARA

Perjalanan hidup di dunia ini banyak yang ajaib!

Bahagia itu kadang-kadang mencari jalan-jalan yang sesukar-sukarnya akan menemui kita, dan kita manusia yang berpikiran pandak acap kali lekas benar berkesal hati, kalau kita tak dapat mengetahui tentang sesuatu hal yang kadam itu! Tetapi yang sebenarnya sekalian hal itu amat mudah, asal saja kita mau memakluminya. Tak adalah cahaya yang timbul, yang tiada didahului dengan gelap gulita; hal itu boleh diperhatikan dari sehari keshari, dari semalam kesemalam, habis malam berganti siang!

Berapalah girangnya hati kami, jikalau tuan di den Haag nanti bertemui dengan sahabat-sahabat kami, tuan dan nyonya Ovink! Masih sedih hatiku mengingat yang tuan dahulu tak sempat pergi ke Jombang. Di sana sedianya tuan mudah boleh pergi melihat pendeta-pendeta di Mojowarno; tentu adalah faedahnya untuk tuan pergi ke sana. Kami pun suka benar hendak pergi ke sana, tetapi sayang, sampai sekarang belumlah dapat kami menyampaikan maksud itu. Kami pun telah bermaksud juga hendak tinggal beberapa lamanya di sana, karena dalam perasaan kami, hidup di dalam udara yang suci, yang penui dengan kasih sayang, bolehlah membersihkan hati dan menguatkan badan!

Tak adalah manusia, walau bagaimana jupaun jahatnya, yang tak dapat dikuasai oleh kasih dan sayang, yang ikhlas dan mulia itu!

11 Oktober 1902 (I)

O! tak tahulah engkau, betapa senangnya hatiku, yang barang-barang hasil kepandaian anak negeri kami sekarang diketahui dan dihargai orang. Susah hatiku mengenangkan, siapakah yang akan menghubung pekerjaan kami ini, jikalau kami tiada ada lagi di sini? Kepada adik-adik kami perempuan belum dapat kami menyerahkannya. Mereka itu masih kecil benar, apalagi kalau pengakuan tentang perkara orang wajib ditanggungnya. Sekiranya adalah seorang Eropa yang datang mengerjakan pekerjaan itu di sini, tentulah tukang-tukang bangsa kami itu akan disuruhnya bekerja untuk mengisi kantungnya sahaja. Untuk kekuasaan hatinya atau akan menolong orang Jawa dengan cuma-cuma sahaja, menjadi orang di tengah dan jurutulis, antara tukang-tukang Janpara dan pasar penjualan hasil kepandaian mereka itu, tentulah orang putih itu tak mau. Wajib adalah kasih di hatinya, pertama bagi kepandaian itu, dan kedua bagi orang Jawa, maka barulah orang itu dapat mengerjakan pekerjaan itu dengan tiada mengharapkan uang, dan dengan segala sukacita.

Untunglah perserikatan “Oost en West” telah mengasihani mereka yang kami lindungi itu, tetapi perserikatan itu patut pula mengangkat seseorang menjadi wakilnya di sini, karena perserikatan itu tak dapat berhubung sendiri dengan tukang-tukang itu, sebab mereka itu hanyalah pandai membaca dan menulis dalam bahasanya sendiri saja

Yang pekerjaan orang penebas jalan itu, bukannya pekerjaan anak-anak dan bukan pula pekerjaan yang meriangkan hati, telah lama dan selalu kami ketahui; bahwa nasib itu penuh dengan racun penanggungan, telah kami ketahui juga; tetapi bahasa neraka yang ditaruh di hati, tidak Stella, tidaklah kami ketahui; o, tetapi biarlah seribu kali adanya neraka di hati kami, itu pun jauh lebih baik bagi kami dari pada tiada berperasaan! Sekalian barang yang terjulur dikerat orang; sekalian yang bercahaya-cahaya dicemarkan dan dikotorkannya. Sejak dari dahulu mereka yang bercita-cita itu selalu besar penanggungannya. Dunia ini senantiasa tak mau menerima manusia yang bersifat-sifat lain, yang berlainan dengan sifat-sifat yang telah lazim. Dan kalau seorang tiada berlaku seperti orang banyak, tentulah selama hidupnya akan diganggu orang, supaya terpaksa ia membuangkan pakaian yang dipakainya itu dan ditukarinya dengan pakaian yang biasa dipakai oleh orang banyak pula.

Saya tak dapat menjanjikan apa-apa jua pun, tak suka saya berjanji itu kepadamu, Stella, karena saya tak tahu, dapatkah atau tidak perjanjian itu saya sampaikan. Amat burukkah Mojowarno itu pada pemandanganmu? Tetapi manakah yang baik kepadamu, kami menjadi gila di rumah, atau pergi mengobati kesedihan dan kedukaan kami ke tempat yang mengandung udara kasih sayang itu? Ke sanalah kami akan pergi, jikalau kenang-kenangan kami tiada sampai, karena tak mau lebih lama lagi tertawan di sini, dikurung oleh pikiran yang pandak dan budi pekerti yang hina, seperti biasanya di sini. Kami terlalu pemanas hati, tak dapat kami membiarkan saja mereka itu membuat sesukanya, seperti yang telah biasa, yang sangat kami hinakan dan benci.

Bukanlah musuh kami bangsa asing yang mematahkan sayap kami atau yang kami takuti benar, melainkan musuh kami bangsa kami sendiri, itulah yang memakan hati dan yang menelan otak kami. Tiadalah siapa jua yang dapat membujuk kami dan menolong kami, kecuali Allah dan kami sendiri!

O, Stella, katakanlah kepadaku, bahwa engkau tiada akan bersedih hati dan berputus asa, jikalau mendapat surat dari padaku memberi tahukan, yang surat-suratmu kepadaku hendaklah hingga ini ke atas beralamat ke Mojowarno. Berilah kami bujukan, Stella. Dan lepaslah kami, Meskipun dengan hati yang pilu, tetapi janganlah hendaknya dengan hati yang luka ke Mojowarno. Tempat itu tiadalah menakuti kami. Kami percaya sungguh², bahwa tempat itu dan alam sekelilingnya yang tinggi suci, berhati kasih-sayang, dapatlah akan menyembuhkan hati kami yang luka, yang selalu gemar mengorbankan diri sampai sehat dan bersih kembali. Tentu sajalah kedatangan kami di sana dengan hati yang luka dan luluh, tetapi dalam hal itu Mojowarno tak ada bersalah sedikit jua. Kalau demikian bolehlah sekaliannya akan hilang lenyap, Stella! Engkau sendiri telah kerap kali menunjukkan hal keadaan penaku. Ia pun di Mojowarno masih kutaruh nanti; karena di sana tak adalah suatu pun yang akan mengalahkan dan memberanikanku dari pada badanku sendiri! Di sini banyak benar yang melancarkan mulutku, asal saja dapat kusebut sekalian yang terasa di hatiku. Kalau saya menjadi guru pendidik, maka baru senang hatiku melihat yang maksud saya sampai, ialah jikalau orang percaya kepadaku dan menghargai saya. Kalau tidak demikian, tentu tak maulah mereka itu menyerahkan anaknya kepadaku untuk diberi pendidikan. Tiadalah orang yang akan menyerahkan anaknya kepadaku jikalau saya katakan sekalian, yang telah kupikirkan dan sekalian yang terasa di hatiku; keadaan itulah yang akan memarahkan hati orang kepadaku. Tetapi seperti yang telah saya katakan kepadamu, kalau kami pergi ke Mojowarno hanyalah saja kepergian kami itu dengan hati yang luka dan ingatan yang kelam kaboot.

Tahukah engkau apa artinya sekalian itu pada penaku?

Tak adalah yang lebih pandai berkata-kata dengan hati, lain dari pada darah yang ada di hati itu. Kejadian yang baru-baru ini telah menjadi suatu tanda pula dan mengingatkan kepadaku, bahwa saya dapat menghelakan diriku dengan penaku, sehingga sampailah penaku ... itu tercecah ke-dalam darah di hati. Banyaklah hati yang telah kusuruh menjadi iba dan pilu, dan air mata pun jatuh bercucuran. Engkau tentulah telah tahu kepada harapanku, sehingga engkau tiadalah akan menyangka, bahwa sekalian itu kuceritakan tidaklah karena saya hendak meninggikan diriku. Ia berguna kepadaku akan menerangkan betapa tingginya harga penia itu, kalau berdawat dengan darah di hati. Beberapa bulan yang sudah, telah tersedu-sedu pula seseorang perempuan yang tiada kukenal sedikit jua, ketika ia membaca beberapa patah kataku; karena ia merasa betapa hatiku sedih dan luka seperti disayat-sayat dengan sembilu, ketika kata itu mengalir dari penaku. Begitulah keras tertarik hatinya, sehingga dengan sebentar itu juga, bekerjalah ia pergi menolong kesusahan itu. Besok harinya dapatlah ia memberi ikhtiar kepada kami, tetapi sayanglah ikhtiar itu terbuang saja sebab dibunuh oleh pikiran.

Orang tentu akan menyangka, yang saya senantiasa berbesar hati, jika orang mengatakan kepadaku, bahwa saya sungguh “pandai” mengarang.

Apakah gunanza pujian itu kepadaku? Saya suka tiap-tiap karanganku itu selalu melekat di hati mereka itu, Stella, dan berapa dalamnya maksud karangan itu, bolehlah diketahui, apabila digali. Di dalam hatiku dan di dalam ingatanku selalu digocoh dan digali, dan jika telah tersemur darah dari hatiku, maka barulah karanganku itu tetap harganya.

Pilu hati mengingatkan ke dalam itu, tetapi kataku itu benar sekali!

12 Oktober 1902 (VIII)

Telah setahun saya mendengar dari diri sendiri suatu sifatku yang menyedihkan hati. Saya gila bercantik diri. Jangan tuan bersembunyi hati kepadaku, jawablah benar-benar: Saya gila bercantik diri? Kalau benar, dalam hal manakah? Sedih hatiku mendengarkannya, karena saya suka pada diri sendiri, atau pada orang lain, berkelakuan demikian.

Seseorang, bukanlah tukang fitnah mengatakan, bahwa saya berkata dengan bermain mata. Benarkah itu? Telah saya minta kepada adik-adikku akan memperhatikan sekalian pergerakan dan perbuatanku, dan mengatakan kepadaku apa-apa yang ganjil dilihatnya dan adakah saya biasa bermain mata? Adikku yang selalu berkata benar, mengabarkan, bahwa sejak da-hulu ia tahu, yang mataku senantiasa bercahaya-cahaya, kalau saya asyik bercakap meski dengan siapa ju pun.

Percayalah tuan yang keadaan itu, tiadalah dengan sengaja kuperbuat, dan tak pernahlah saya berpikir, mau bercantik diri hendak menyenangkan hati orang, jikalau ada sesuatu yang kuperbuat; bilamana adalah mereka yang berkata demikian, maka keadaan itu sesungguhnya tiadalah dengan sengaja saya perbuat.

Itulah perasaan yang amat menyedihkan hati, karena sementara kita berusaha selalu menjadi seorang gadis yang bersifat yakin, tetapi sekonyong-konyong kedengaran orang berkata, bahwa kita seorang makhluk bercantik diri dan biasa bermain mata. Tercenganglah saya mendengar hal itu, dan sedihlah hatiku bukan buatan. Percayalah kepadaku bahwa saya tiada sekali-kali akan berniat dan berbuat seperti itu.

Orang suka yang saya selalu hendaknya betertib, atau kemalu-maluan menundukkan kepala. Saya tak suka berbuat demikian; saya suka melihat orang pada matanya, dan sekalikali tak sudi saya menundukkan kepala menurutkan saja apa yang dikatakan orang itu.

Saya tahu juga apa yang akan disuruh janjikan orang kepada kami, barangkali juga kemaeannya dengan sumpah, bahwa jikalau kami pergi dari sini tiadalah akan berbuat malu bagai mereka itu, yani yang kami sama-sama menanggung sakit dan senang dengan bangsa Eropa. Tentang hal itu janganlah mereka itu gusar.

Dari hati sendiri tiadalah kami hendak berpikir berbuat yang sedemikian; kalau begitu bukankah kami akan merusakkan sekaliannya? Kami sendiri pun tak boleh memperbuat itu; karena kami orang yang suka memberi contoh-contoh dalam hal kebaikan.

Nyonya pun tahu, yang kami tak sedikit juga mau mengacuhkan apa kata “orang.” Tetapi dalam hal itu sekali-kali tak patut orang berkata: “Lihatlah keadaan itu, jikalau anak-anak gadis diberi pendidikan cara Eropa, maka kawinlah ia dengan orang Eropa.” Itulah perbuatan yang amat merusakkan cita-cita kami, itu tak boleh dirusakkan.

Tetapi yang sebenarnya kita semua dalam hidup bersamasama dengan orang Eropa sama menanggung sakit dan senang. Apakah yang saya perbuat pada waktu ini? Tiadakah orang Eropa hidup dengan mengindahkan perasaan hati kita? Dan tiadakah kita hidup dengan menghormati perasaan hati orang Eropa?

Amat banyak boleh orang merampas, ya, sekalian yang ada padaku boleh dirampasnya; tetapi penaku mustahil. Dia mestilah tinggal menjadi hakku, dan senantiasa dengan rajin memakainya menjadi senjata. Janganlah hendaknya orang banyak benar menggoda kami, karena hati yang terlalu sabar pun boleh pula hilang, dan terpaksalah kami memakai nanti senjata itu, Meskipun badan kami sendiri yang akan luka olehnya. Percayalah tuan jikalau kami sampai pergi ke Mojowarno, kami akan memakainya benar-benar. Lain dari pada badan sendiri, suatu pun tak ada yang kami rugikan dan beranikan.

Tak usahlah kami katakan kepada tuan, betapa kami, lebih-lebih pada waktu ini, mencintakan sahabat-sahabat kami yang berhati setia! Kami sekarang telah berhati beku, sebab itulah kami hendak memanaskannya dengan kasih sayang dan dengan hati tuan. Kami acap kali menyalahkan hati kelobaan orang lain, tetapi bagaimanakah hati kami sekarang ini? Sangat lobanya! Tidakkah namanya kelobaan yang sebenar-benarnya, jikalau menyuruh orang lain bersama-sama menanggung kesedihan dan kepiluan hati kami sendiri? Dan meminta kasih sayang, pada hal kami tahu bahwa kasih sayang untuk kami itu tak dapat bercerai dengan kepiluan hati?

Tiadakah terasa oleh tuan, bahwa sifat kami sekarang telah mundur? Sesungguhnya kami sekarang keras, tiada menaruh kasih sayang lagi, dan tajam. O! acap kali kami terkejut melihat diri kami sekarang.

Ya Allah, berilah kami kekuatan, bantu dan tolonglah kami ini! Dan olehmu, o kekasihku, berilah saya maaf di atas hati tuan yang telah pilu itu, karena membataya suratku ini. Berdiam diri saja tak baik pula, tak tulus. Ampunilah saya, kasihanilah anak-anak tuan yang berkulit hitam ini.

27 Oktober 1902 (VIII)

O! alangkah baiknya jikalau sekiranya kami dapat mengatakan kepada tuan, betapa senang dan lembut hati kami, tiap-tiap kali, setelah tuan menunjukkan cinta dan kasih sayang tuan kepada kami. Dalam kesengsaraan yang sebagai ini, kami pun makhluk yang berbahagia juga, mencerut pertimbangan kami. Banyaklah orang miskin yang lebih bersengsara dari pada kami, yang hidup sebatang kara, tiada bersanak-saudara, berperang sendiri dalam hidup bersama-sama ini, tak pernah mendengar kata yang lemah lembut, yang menyuokakan hati, tak pernah menerima pemandangan orang kasih kepadanya, Ataupun berjabat salam melepaskan rindu hatinya seperti kami. Kami merasa, bahwa besarlah karunia dan kekayaan yang jatuh kediri kami karena persahabatan dan kasih sayang tuan kepada kami.

Kasihanilah kami dan percayalah kepada kami selamanya, o ibuku yang dicinta, karena dengan hal yang demikian dapatlah kami bersenang hati. Kami banyak minta terima kasih akan cinta dan kasih tuan.

Tengoklah kami sekarang, telah mulai maju pula, sebab

Itulah kami dahulu menantikan jawab surat tuan, yang telah kami pahamkan itu. Kami simpan dia sebagai jimat.

Wahai tuan yang dicinta, kami memohon bersungguh-sungguh, jangan tuan memikirkan juga akan kesenangan kami. Telah acap kali kami katakan kepada tuan, bahwa tiadalah kami mencari kesenangan untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain.

Percayalah, bahwa tak adalah kami harapkan lagi dari tanah Eropa, dan demikian juga nasib kami pada waktu yang akan datang, bukanlah bunga ros untuk diri sendiri. Hanyalah satu saja mimpi kami lagi, satu saja kenang-kenangan kami kepada tanah Eropa, yani melengkapkan kami untuk perangan, yang telah kami kehendaki, yang bergunakan mencari keselamatan bangsa kami, saudara-saudara kami yang perempuan.

Sebenarnyalah, tiadalah kami berharap lagi apa jupaun dari tanah Eropa seperti mimpi anak-anak gadis Eropa: “bersuka raya.” Tiadalah pula kami hendak mencari lagi persahabatan dan kecintaan orang di sana bagi kami; dan demikian pun tiadalah kami akan berbesar hati, sebab pergaul-an dengan bangsa Eropa; hanyalah saja yang kami harapkan dari sana, dan yang hendak kami cari pergi ke sana, yani apa yang perlu bagi maksud kami itu: kepandaian dan pengetahuan. Itulah saja yang kami pikirkan. Tak adalah alangannya bagi kami, jikalau kami di tanah Eropa nanti, tiada senang dan tak dapat bercampur gael dengan orang Eropa itu, asal saja kami dapat mencari apa yang bergunakah untuk maksud kami? Itulah gunanya kami pergi ke sana dan tiadalah akan bersuka raya.

Yang mencahayakan hati kami pergi ke sana, ialah hendak hidu bersama-sama dengan kakanda kami yang baik hati, yang ada di sana, dan tiadalah kami bersaudara dengan dia karena seibu dan sebapak saja, tetapi kami pun bersaudara sehati dan sepikiran dengan dia!

Sebenarnya, tiadalah kami berharap yang benua Eropa akan memberi kami lebih berbahagia, Waktu itu telah lama luput dari kami. Kami menyangka dahulu sungguh-sungguh, bahwa “benua Eropa itulah dunia yang sebenar-benarnya, yang sebaik-baiknya dan yang sebagus-bagusnya.”

Ampuni kami karena berkata sedemikian. Tetapi menurut pikiran tuan sendiri telah sempurnakah benua Eropa itu? Kamilah orang yang kesudahan sekali nanti yang tiada akan mengaku dengan syukur, bahwa banyak sungguh kebaikan datangnya dari dunia itu; tetapi maukah tuan menidahkan, bahwa di antara sifat-sifat yang amat bagus, yang amat tinggi dan mulia di dunia tuan itu, acap kali kedapatan di sana, yang kesopanan menjadi permainan olok-olok saja?

Kami selalu berkecil hati melihat pekerti yang keji-keji dan yang hina-hina dalam dunia hidup kami, tetapi jangan-lah tuan menyangka, bahwa sifat-sifat yang rendah itu dalam dunia hidup yang akan kami arungi, untuk mencapai maksud kami itu, tidak akan bertemu.

Barangkali juga lebih susah kami menanggungkan keadaan itu; karena pada mereka itu yang namanya telah ada mempunyai “kesopanan” sepatu nyia sifat-sifat itu tak mungkin ada.

Tuan sendiri tentulah lebih mengetahui hal itu dari pada kami; bahwa di antara beribu-ribu mereka itu yang dikatakan oleh dunia berbudi pekerti, tetapi yang sebenarnya hanyalah sedikit saja di antara mereka itu yang bersifat demikian. Luas pemandangan dan panjang pikiran itu, belumlah menjadi kepunyaan masing-masing orang Eropa, yang menu-rut patutnya dan wajibnya telah mestilah hendaknya mereka itu bersifat demikian; tetapi sedangkan pada kebanyakan salon, yaitu bilik yang sebagus-bagusnya dalam rumah-rumah orang Eropa yang dihiasi dengan perkakas yang mahal-mahal harganya, tempat menerima jamu yang pilihan duduk bercakap-cakap, masih ada juga didapat orang yang dungu dan bebal, yang tak luas pemandangannya.

Sesungguhnya tiadalah kami mengira lagi, bahwa negeri Belanda seperti suatu negeri di kayangan; bahkan menurut penglihatan dan perasaan kami tentang orang-orang Belanda di sini, dapatlah kami mengirakan, bahwa di negeri yang kecil dan dingin itu, banyaklah kami akan melihat dan merasa keadaan yang menyedihkan dan menyakitkan hati.

Adalah orang yang menuduh kami, mengatakan, bahwa kami orang Jawa pembohong yang sejati, tak boleh dipercaya, lagi kurang terima kasih.

Hal itu tiadalah saja kami baca dalam surat-surat, tetapi telah acap kali kami mendengarnya keluar dari mulut orang Belanda sendiri ... di sinilah kami dapat mencoba akan kehalusan hati orang berkata itu.

Kami pun tersenyum jikalau mendengar atau membaca kata-kata yang terlalu manis itu, dan dalam hal itu terpikir-lah oleh kami peri hidup pergaulan bangsa Eropa, yani bagaimana mereka itu telah acap kali benar menunjukkan tan-da cinta, tanda benar dan tanda berhati tulus kepada bangsa Bumiputera, dan sebab itulah maka ia melihat ke bawah, dan mencaci orang Jawa yang pendusa dan yang sungguh tak boleh dipercaya itu, dengan sekalian isi empedu yang ada di dalam perutnya!

Sampai pada beberapa tahu yang telah lalu belumlah banyak benar kami bertemu dengan orang Eropa. Waktu yang pertama kali kami hadir di dalam perkumpulan orang Belanda, ialah pada waktu Seri Baginda Maharaja Wilhelmina naik nobat. O! betapalah kami hendak menceritakan berapa besar hati kami ketika mula-mula mengetahui tinggi, bagus dan mulianya orang bermain komedi dalam dunia bangsa Eropa! Waktu meramaikan raja naik nobat dan karena melihat keramaian itulah, maka kehormatanku bagi bangsa Eropa menjadi hilang lenyap. Kami melihat dua orang nyonya tengah berbincang-bincang, berkepit tangan dengan ramahnya, yang seorang bersandar kepada yang lain. Kami mendengar kata-kata kasih sayang dari seorang kepada yang lain. Dan dalam pikiran kami tentulah keduanya bersahabat baik. Tiba-tiba datanglah seorang tuan mencerai-kan kedua mereka itu, dan kedengaranlah kepada kami, apa kata nyonya yang dicari oleh tuan tadi kepadanya “kucing betina!”⁷ Dan nyonya yang tinggal sendiri itu berkata kepada kawannya tadi: “Lihatlah perempuan pasik itu, memakai dirinya seperti orang gila.” Baharu sebentar tadi ia telah mengatakan dengan sungguh-sungguh, bahwa kekasihnya itu amat cantik rupanya karena pakaian itu.”

Sebentar-sebentar kami menyaksikan sendiri pada malam itu berbagai-bagai permainan komedi yang memuliakan perasaan hati seperti itu. Adalah kami melihat muka laki-laki yang rupanya merah padam, yaitu “tuan-tuan” namanya yang menafaskan bau minuman keras dari mulutnya, jikalau mereka itu berkata-kata o, tempik sorak mereka itu sehingga pecah anak telinga mendengarnya. Kami pun menjadi kuyu karena itu, dan beringinlah kami hendak melarikan diri kami kepada pergaulan yang ada kesopanannya.

O, jikalau sekiranya kami tukang fitnah dan suka menceritakan kembali apa-apa yang telah dikabarkan oleh sahabat-sahabat itu dari seorang kepada yang lain, tentulah di sini akan timbul suatu peperangan di antara mereka itu. Baru-baru ini seorang anak gadis sahabat kami menulis surat kepada kami, atas kegirangan hatinya telah dijamu oleh seorang perempuan. Kami pun minta terima kasih kepadanya, sebab telah menerima sahabat kami itu dengan hati yang baik. Tetapi apakah jawab perempuan itu kepada kami? “Menurut pendapatanku ia seorang gadis yang tiada berkelakuan, ia selalu bermuka masam, tak pernah ia melihat dengan berhati senang, mulutnya selalu tajam.”

Acap kali benar kami dapat menyaksikan dengan mata sendiri, betapa mereka itu berpeluk cium, tetapi pada hal yang sebenarnya mereka itu seorang dengan yang lain sangat berbenci-bencian.

Tiadalah nona-nona peranakan yang telah biasa dihinakan orang yang berbuat demikian, melainkan orang-orang putih yang berdarah Eropa sejati, yang telah diberi pendidikan, berbudi-pekerti dan berpengetahuan. Kami juga telah melihat betapa nona-nona Hindia yang bodoh dipermain-mainkan oleh orang-orang Belanda yang pandai dan berbudi pekerti.

Orang Jawa itu ialah pendusta yang asli, dan sekali-kali tak boleh dipercaya!

Tentang tuduhan itu tak usahlah dipanjangkan lagi; hanyalah kami bertanya: Jikalau ada seorang anak berbuat salah karena kebodohannya, dan adalah seorang lagi telah balig dan telah berpikiran, berbuat salah dengan sengajanya dan dengan tipu muslihatnya, siapakah di antara kedua mereka itu, yang berdosa besar? Kadang-kadang kami bertanya kepada diri kami sendiri, apakah maksudnya kesopanan? Ia kah ... ia kah kepandaian yang amat halus tentang pandai berminyak air, dan mengulas tidak mengesan? O, apakah yang telah kami berbuat ini? Apakah pula yang telah kami katakan itu? Ampunilah kami, o, ibuku! Tuan tentulah tahu juga, yang kami bukanlah bermaksud hendak menyedihkan hati tuan, dan menista tuan, melainkan semata-mata ialah hendak berhati tulus kepada tuan. Hati tulus itulah yang terutama sendi persahabatan kita, itulah yang amat kita kasihi, bukan?

Jikalau kita berhati tulus acap kali dikatakan orang, kita tak tahu berbudi bahasa. Jikalau sekiranya tidak mesti, maka tak sukalah kami tidak memakai budi bahasa itu; karena kepada kami bangsa Jawa budi bahasa itu boleh dikatakan sudah menjadi darah daging.

Cahaya yang asalnya dari tuan, menyuruh kami melihat dan bertanya: “Apakah gunanya kotak yang tiada berisi?” Pada pendapatan kami tuan wajib maklum, bagaimanakah pikiran kami tentang beberapa hal di dunia bangsa Eropa; karena tuan rupanya menyangka, bahwa dunia bangsa tuan itu dalam perasaan kami ialah suatu cita-cita yang amat tinggi. Apa yang kami katakan “budi pekerti atau kesopanan yang sebenarnya” sudahlah tuan ketahui dan kami pun tahu pula, bahwa pikiran tuan tentang hal itu sesuai benar dengan pendapatan kami, yaitu: “kesopanan yang sebenar-benarnya, sekali-kali tiadalah menjadi hak milik dari tanah-tanah yang mempunyai kesopanan saja.” Kesopanan yang sebenar-benarnya itu adalah juga terdapat pada bangsa-bangsa, yang dihinakan oleh kebanyakan bangsa kulit putih, yang hayalah percaya akan kemuliaannya sendiri.

Pada bangsa kami memang adalah sifat-sifat yang hina, tetapi bersifat-sifat yang baik pun adalah pula, yani yang boleh ditiru diteladan oleh bangsa-bangsa asing. Tuan telah melihat bahwa tabiat kami telah berubah; kalau tiada demi-kian, tentulah tiada perlu kami akan mengatakan sendiri sesuatu sifat kami yang amat baik dan telah umum bagi bangsa Jawa yani sifat “pemalu“.

Bapak telah mengatakan sekali kepadaku: “Ni, janganlah engkau menyangka, bahwa banyaklah orang Eropa yang sayang benar-benar kepadamu. Hanyalah sedikit sahaja di antara mereka itu yang betul-betul berhati demikian.“

Hal itu tak guna bapak mengatakan kepadaku; kami sendiri pun telah mengetahuinya dengan sebaik-baiknya; kami boleh menghitung dengan jari tangan sebelah dan tak gunalah dengan jari kedua belah tangan kami, siapa-siapalah yang berhati tulus kepada kami. Kebanyakan di antara mereka itu suka kepada kami hanyalah untuk meninggikan derajatnya atau karena keperluan lain-lain saja.

Sungguh keji benar! Yang sebaik-baiknya, baiklah kami tertawa saja melihat keadaan itu, supaya janganlah hati kami menjadi panas dan marah. O, manusia itu kerap kali amat keji pekertinya dan bertabiat seperti orang gila. Tiadakah tuan maklum, bahwa banyak benarlah di antara mereka yang berteriak-teriak akan kemajuan kepandaian pertukangan Bumiputera, dan yang tak puties memuji-muji pertukangan itu; berbuat sedemikian hanyalah karena turut-turutan saja, dan sekali-kali tiadalah oleh karena disebabkan hati yang ada merasa sayang akan kepandaian itu? Beberapa orang yang ternama asyik mengindahkan kepandaian Bumiputera itu, dan tiap-tiap orang boleh dikatakan amat sangat menyukeinyya! Adakah orang-orang itu berbuat demikian, karena kepercayaannya benar-benar? Hal itu apakah gunanya dipedulikan, sebab yang perlu bukankah maksud sahabat-sahabat yang berkata sayang kepada orang-orang Jawa dan kepandaian orang Jawa itu mudah boleh sampai?

Tak tahukah kami, pada pikiran tuan, apa sebabnya surat kabar “de Echo” suka sekali menerima karang-karangan kami, Meskipun kami bodoh dan dungu? Itulah suatu daya upaya akan melariskan surat kabar itu. Surat kabar “de Hollandskhe Lelie” memberikan beberapa ruang untuk karangan kami, dan kepala pengarangnya yang dahulu senantiasa meminta izin kepada kami akan memasukkan karangan kami ke dalam surat kabarnya; apakah sebabnya? Untuk pelariskan surat kabar itu! Surat-surat dari anak perempuan Timur yang

sejati “anak gadis Jawa sejati”, buah pikiran manusia yang setengah biadab, dan dikarangkannya sendiri dalam bahasa Eropa, o, betapakah bagusnya untuk menarik hati! Dan jikalau dengan putus asa kami meratapkan kesusahan kami dalam bahasa Belanda, maka itu pun lebih lagi menarik hati. Dan ... o, Allah julah yang akan menjauhkannya! ... jikalau sekiranya kami meninggalkan dunia dengan hati yang hancur luluh, karena cita-cita kami mati kena tikam, ya, ya, hal itulah pula yang lebih bagus menarik hati pembaca surat-surat kabar itu.

O! adalah banyak orang yang amat menyukai benar, bermacam-macam daya upaya penarik hati.

Bahwa sanya amat banyak keadaan yang bagus-bagus dalam pengajaran tertib sopan bangsa Jawa. Tetapi sayang benar, karena tiap-tiap orang tiadalah mengerti akan hakikinya.

Orang hanyalah membaca apa yang tertulis saja, apa yang diajarkan oleh orang pandai-pandai. Umpama menahan lelah dan lapor; hakikinya itu maha orang wajib puasa dan tidur sekurang-kurangnya, supaya hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti boleh baik. Buah pikiran yang mulia itu tiadalah diketahuinya! “Bukanlah makan dan tidur maksud hidup di dunia.”

Saya anak Budha, tahukah tuan? Itulah sebabnya maka saya tak makan daging. Dahulu ketika saya masih kecil, saya sakit keras, dokter-dokter tak dapat menolong saya; mereka itu pun putus akal. Sesudah itu datanglah seorang Cina (orang hukuman) sahabat kami, minta hendak menolong saya. Orang tua saya menerima permintaannya itu, dan saya pun sembuhlah. Aya yang tak dapat ditolong obat-obat dokter-dokter itu dapatlah ditolong obat “dukun-dukun” yang tiada terpelajar. Ia menyembuhkan penyakitku hanyalah dengan menyuruh saya meminum air abu, yang telah dimantrakannya pada tepekong Cina. Oleh sebab saya telah meminum obat itu, maka saya pun menjadi anaklah dari kermat Cina Santikkong Welahan. Beberapa tahun yang sudah kami telah mengunjungi keramat itu. Keramat itu ialah sebuah patung emas yang diasapi dengan asap dupa siang dan malam. Pada waktu penyakit sampar berjangkit, dibawa oranglah patung itu ke sana-sini, berkeliling dengan segala upacara akan menyumpahi jin dan setan penyakit itu. Dengan segala keramaian tiap-tiap tahun dimuliakan oranglah hari lahir keramat itu. Orang Cina dari sana-sini datanglah pada hari itu mengunjunginya. Dari orang-orang tua bangsa Cina bolehlah didengar cerita patung emas itu. Menurut kepercayaan orang Cina patung itu hidup sebenar-benarnya.

Tanah air kami tanah yang gaib, penuh dengan wayang, cerita yang ajaib, dongeng dan riwayat. Tuan tentu telah mendengar, betapa sabarnya hati orang Jawa Meskipun ia dipukul oleh nasib yang malang dengan sedahsyat-dahsyatnya. Cemburu kita melihat hatinya yang sesabar itu. “Inilah takdir” katanya, dan dalam takdir itulah diambilnya penghi-burkan hatinya dan tawakkal. Nasib manusia itu telah tentu, sebelum ia melihat cahaya alam. Sebelum ia lahir untung dan malangnya telah ditakdirkan oleh Tuhan. Tak ada seorang manusia yang dapat menolak, apa yang sudah tentuntu itu. Tetapi sebelumnya kemalangan itu terjadi, wajiblah kita mencari akal akan menolaknya. Kalau kemalangan itu datang juga, maka itulah tandanya takdir dari Tuhan. Tak ada yang lebih berkuasa di dunia ini dari pada takdir itu.

Tahukah tuan apa artinya keadaan itu bagi kami? Kami wajib tetap berusaha, maju menyampaikan maksud kami, Biarpun sekalian hal yang datang itu mesti menjadi. Mereka itu pun nanti akan sabar dan berkata: “Inilah takdir”.

Sebelum sekalian itu terjadi, tentulah mereka itu akan mengganggu kami; dan jikalau mereka melihat apa-apa perbuatan yang telah kejadian, maka dikatakannyalah: “ini takdir” dan sabarlah mereka. Ya Allah, berilah kami akan kodratmu!

Susah amat memikirkan hal itu; kami sekarang sedang menyisihkan diri kami dari pada kekasih-kekasih kami itu, mengungkai tali persahabatan, yang dahulu telah menjadi keuntungan bagi kami.

Tetapi lebih baik berpondok kecil yang sempurna dari pada beristana yang telah runtuh; lebih baik bersampan yang sempurna dari pada terapung-apung di kapal yang bagus dan telah pecah.

Telah lama antaranya saya pergi tidur, dengan tiada mendapat ucapan selamat tidur dari bapak sendiri.

Beberapa bulan yang telah lalu tak pernah bapak pergi tidur sebelum pergi ke bilik kami, dan berhenti di muka bilik kami sebentar, akan melihat anak yang dikasihinya ini, dan menyebut nama si anak, sebelum ia pergi tidur. Jikalau pintu bilikku tertutup, maka diketuknyalah pintu itu; si anak gadisnya itu wajib mendengar, bahwa bapak kekasihnya itu tiadalah melupakannya.

Waktu yang manis dan berbahagia itu sekarang telah lenyap! Dahulu saya banyak mendapat kasih sayang, ya, lebih dari pada sepatunya. Dan jikalau seseorang mendapat lebih tentulah orang lain mendapat kurang.

Allah itu amat adil. Sekarang giliranku lagi akan hidup dengan kurang, karena saya telah lama benar hidup ber-lebih-lebihan. Sedih hatiku mengenangkannya, tetapi baginya, bapak yang kukasihi itu, saya berharap dan bernohon sung-guh-sungguh kepada Tuhan, dapat apalah kiranya, ia membuangkan saya dalam hatinya. Bapak, kekasihku yang dicinta itu, tidaklah akan berhati susah benar jikalau dapat membuat yang sedemikian.

Saya masih kasih dan cinta kepadanya dengan sepenuh-penuh hatiku, Meskipun apa juga yang akan kejadian kelak, ia kusayangi juga seperti dahulu; ... hanya ... saya wajib membinasakan diriku sekarang, ber-hati kasih dan cinta tiada dengan cahaya seperti cita-citaku.

Alangkah bagusnya waktu yang lalu, ya, amat bagus! Saya banyak mengucapkan syukur atas kenang-kenangan yang kukasihi itu dan atas tahun-tahun yang amat berbahagia itu!

Aduhai bapakku yang malang, baginya lebih baik saya dahulu tak menjadi anak Budha, dan kalau begitu dapatlah ia menaruhku dengan hati yang tak rusak, Walaupun saya ditaruhnya hanyalah dalam kenang-kenangan saja.

Benar kata Nellie: Hidup itu kadang-kadang lebih ganas menceraikan kita dari pada maet; kasih dan sayang yang tiada ternilai harganya dan silaturahim yang amat suci, yang dirampas oleh malakulmaut, lebih tegeoh tinggalnya terpateri dalam hati dari pada jikalau ia dirampas oleh hidup.

Aduhai malangnya bapakku yang tua itu, sudahlah tak-dir kepadanya pada hari tuanya menanggungkan hal sedemi-kian oleh karena anak yang dikasihinya ini.

Alangkah pilu hatinya menanggungkan itu. Ya Allah, am-punilah dosaku itu. Tiadalah ia saja yang banyak berpenang-gungan dan berduka hati pada waktu sekarang dan pada waktu yang akan datang, tetapi kami pun telah berperang dan menanggungkan kesengsaraan yang berat itu. Kami memo-honkan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang mahaku-aso, moga-moga janganlah banyak ia terlalu berdukacita karena kami, dan berharaplah kami mudah-mudahan dapat-lah ia nanti meninggikan dirinya atas keadaan kedua anak-anaknya yang perempuan ini.

Hal itulah kelak yang akan memperdamaikannya dengan ha-tinya yang sekarang amat kecewa oleh karena kami itu.

21 November 1902 (VIII)

Jikalau kami menaruh kasih dan cinta, maka wajiblah kami berbesar hati dan mengucapkan syukur, jikalau sekiranya kekasih kami itu pun berbesar hati pula menerima dan memberi kasih sayang, bukan? Jikalau kami menaruh kasih sayang, maka harapan kami yang sebesar-besarnya, ialah yang kekasih kami itu akan beruntung dan berbahagia. Dan berbahagialah mereka yang banyak memberi orang kasih sayang, dan banyak pula orang yang mengasihinya. Maksudku di sini bukanlah kasih sayang antara laki-istri, karena hal itu amat halus, tak dapatlah saya memakluminya. Saya berkata di sini ialah tentang kasih sayang yang boleh dirasai oleh orang banyak, Sungguhpun perasaan itu bagi seorang tak sama dengan bagi seseorang yang lain.

Kelobaan dirikah itu, jikalau saya berharap, supaya mereka tempatku kasih itu, kasih pula kepadaku, demikian pun mereka akan berbesar hatikah pula atas bahagiaku, Meskipun bahagiaku itu datangnya karena saya telah memberikan hatiku kepada orang lain?

21 November 1902 (X)

Ketahui olehmu, bahwa lemariku yang beringkat empat itu, tiga tingkat telah penuh dengan kitab-kitab. Pada tingkat yang keempat kami lapangkan untuk potret-potret sahabat-sahabat kami dan tanda mata yang lain-lain; dengan secara demikianlah sahabat kami, adalah kami kumpulkan. Potretmu terletak antara potret ibuku dan potret kakanda Kartono; terjauh sedikit dari potret Dr. Adriani seorang pandai yang budiman dan seorang sahabat orang banyak yang mulia. Sudah itu terletak potret seorang anak yang manis lagi suci dan segar rupanya, sebagai sekuntum bunga yang baru kembang, yang amat kami kasihi. Potret bapak pun adalah pula dengan pakaian angkatan. Potretmu terletak betul dalam suatu perkumpulan orang yang baik-baik, sungguh! Itulah tempat yang setiap hari wajib kami kunjungi; tiap-tiap hari sebelum kami melihat wajah sahabat-sahabat yang kami kasihi dan yang setia itu, belumlah ada permulaannya hari itu bagi kami.

Kalau kami pikirkan betul-betul, baik benarlah tiada sekalian maksud kami Allah sampaikan. Jikalau sekiranya sekalian maksud kami berkenan, berapakah hinanya kami ini; karena dengan hal yang demikian tiadalah kami akan menaruh cita-cita lagi, dan orang yang tiada bercita-cita itu amat buruk keadaannya. Acap kali pula terjadi jikalau kami bermaksud apa-apa tiadalah berpikir; dan jikalau maksud itu sampai, maka barulah kami menyesal. Menurut pendapat kami sendiri tahulah kami, bahwa cita-cita hati yang sampai itu acap kali bercampur dengan air mata.

Adalah perasaan kami, yang kita nanti akan bertemu juga, tetapi tak lama, hanyalah beberapa ketika saja. Setelah kita bertemu berjabat salam, lalu bercerai pula, sekalian itu terjadi dalam beberapa saat sahaja. Kita sebelah-menyebelah hanyalah sebentar saja memperlihatkan diri, kemudian bercerailah untuk selama-lamanya. Sungguh gila, bukan, perasaan kami itu, dan tak dapatlah pula kami membuangkan perasaan itu dari kepala kami.

Apakah sebabnya maka kami berharap hendak bertemu lagi, apabila pertemuan pikiran kita telah sebaik itu; lebih dari itu agaknya tak bergunlagi; bukankah pikiran itulah yang sebaik-baiknya ada pada kita? Dan jikalau kita kedua belah pihakna telah mempunyai benda yang sebaik-baiknya itu, apakah lagi yang kita kehendaki?

Bagaimanakah pendapatanmu tentang sekeram api bu-atan Jepara yang berukir-ukir itu? Tiada baguskah? O! tak dapat saya katakan kepadamu, berapa besarnya bahagia kami, yang kepandaian tanah air kami makin diketahui dan makin dihargai orang. Selamatlah sekalian sahabat-sahabat orang Jawa yang mulia itu, yang telah memasyhurkan kepandaian itu keluar Hindia, dan bersama-sama dengan hasil kepandaian itu ialah lagi cita-cita bangsa Bumiputera yang bagus; yang tersembunyi dalam hati mereka itu pun diketahui orang asinglah pula.

Kami berharap sungguh-sungguh, bahwa kegemaran mereka itu tentang kepandaian Hindia itu janganlah hendaknya seperti yang acap kali kejadian, menjadi suatu kesukaan yang lekas akan hilang lenyap.

Tidak, kesukaan itu tidaklah akan hilang lenyap; kami berharap janganlah hendaknya begitu, Meskipun kami wajib mengaku, bahwa kebanyakan orang sekarang ini yang menunjukkan kesukaannya tentang kepandaian kami, berbuat demikian ialah karena turutan saja, ... orang-orang yang pertama kali membangunkan pekerjaan itu, mereka itulah yang bekerja dengan hati dan kepercayaannya sendiri, dan mereka itulah pula lama-lambatnya yang akan mengalahkan kesukaan orang yang hendak meniru-niru itu saja.

GEROBAK (CIKAR) DI DESA BAWU, JEPARA

Tetapi tiadakah hal yang seperti itu telah biasa kejadian bagi sekalian hal yang baru-baru, dan kemudian pun akan berusia panjang?

Tak usahlah lagi saya uraikan hal itu dengan panjang lebar.

Tengoklah, saya suka benar hendak merasa hidup bersama-sama dengan berbagai-bagai kumpulan manusia di atas dunia ini. Misalnya hidup bersama-sama dengan kuli-kuli tambang di tempat menambang, atau hidup di kampung Bumiputera Serani bersama-sama dengan anak negeri yang bergagama Serani itu, tinggal di kampung Cina, di kampung Melayu, ya, di mana jua pun. Apalagi yang kusuka benar ialah hendak tinggal hidup di kampung dan desa bersama-sama dengan bangsa sendiri. Itulah yang amat meriangkan hatiku benar, karena saya ketahui bahwa dengan cara demikian, makinlah hatiku akan tertawan kepada bangsaku nanti. Cita-cita hati bangsa apa jua pun, baru boleh dikenal dengan sebaik-baiknya ialah jikalau kita tinggal beberapa lamanya bersama-sama dan hidup bersama-sama dengan mereka itu.

Banyaklah adat-adat yang bagus telah kulihat pada bangsaku; sekalian itu menjadi permulaan yang menarik kese-nangan hatiku, sekiranya saya boleh menyampaikan maksud hidup bersama-sama dengan mereka itu. Seboleh-bolehnya kami cahari pergaulan dengan orang-orang kampung kebanyakan, dan kalau sekiranya kami berjalan sendiri saja, selalu kami mengunjungi sebuah dua rumah di kampung. Mula-mulanya amat ganjil dan heranlah mereka itu melihat kami, tetapi sekarang telah menjadi biasa saja.

Tangan anak kecil lekas penuh kalau diisi; begitu tangan suatu bangsa yang masih seperti anak-anak. Mereka itu amat halus perasaannya akan hati yang ramah, dan amat besar kesukaannya untuk bersenda gurau. Senda gurau yang kecil mudahlah membawa mereka itu tertawa-tawa, dan kerja yang berat dikerjakannya dengan bersuka-suka hati. Telah beberapa bulan lamanya, tiap-tiap hari beberapa banyak orang kuli negeri bekerja di pekarangan kami. Mereka itu sedang memperbaiki rumah di belakang, dan dekat itu kami akan mendapat sebuah pendopo yang bagus.

Pada waktu tempoh ketika orang melepaskan lelah, acap kali kami pergi ke tempat bekerja itu akan bercakap-cakap dengan orang-orang kuli itu. Cobalah engkau pikirkan, saudara-saudaramu itu duduk di unggunan pasir, dan berkelilingnya duduklah orang-orang kuli yang telah payah bekerja itu. Mereka itu hampir tiada berpakaian pada badannya sambil merokok dan makan sirih. Akan bercakap-cakap dengan mereka itu, wajiblah kami dahulu yang mengeluarkan kata; kalau tak perlu maulah orang yang di bawah kita sehari-harian berdiam diri saja, dari pada memulai berkata dengan orang yang di atasnya.

Betul bagus benar kebiasaan itu; dalam percakapan itu banyaklah kami dengar hal mereka itu, yang kalau sekiranya tiada kami berbuat sedemikian, tiadalah kami akan mendengar-nya. Orang kuli itu bekerja di bawah perintah seorang Be-landa peranakan (senyur). Ia mula amat pendiam, selalu memisahkan dirinya dan tiadalah pula ia mau memberi tabik kepada kami kalau ia pulang atau pergi. Sekarang kami telah berkenalan dengan dia ... kamilah yang mula-mula mem-beri tabik kepadanya dan menyapa dia. Ia mula-mula amat malu, tetapi sekarang telah pandailah ia berbincang dengan riangnya!

Ia orang yang baik hati, dan pandai bercampur gaul dengan kuli-kulinya; Sungguhpun mereka itu bekerja bebas, tetapi selalu hormat kepadanya. Acap kali kami dengar orang-orang kuli itu berkelakar dengan “tuan” itu, itulah suatu tanda, bahwa kepala kerja itu baik hati kepada mereka itu. Jikalau mereka itu kena marah atau wajib mengubah pekerjaannya sekali lagi, tiadalah kami dengar mereka me-rajuk. Bagus itu, bukan? kepada senyur itu banyaklah kepala-kepala boleh mengambil contoh.

12 Desember 1902 (VIII)

Maksud tentang ukiran itu telah sampailah bagus; pada pendapatan kami meja nyonyalah yang sebagus-bagusnya di-antara perbuatan si Singo, dan selalulah kami tercengang melihat pekerjaannya itu.

Senang hati melihat betapa si tukang itu selalu bertambah maju. Syukurlah baru-baru ini ia dapat terlepas dari pada suatu kesengsaraan yang amat besar. Adalah sebelas rumah yang berkeliling rumahnya habis terbakar. Pohon-pohon kelapa yang di pekarangan rumahnya semuanya telah menyala, tetapi taajublah kita melihat karena rumahnya itu tak binasa. Seisi kampungnya itu pergilah melihat keajaiban itu, berta-nyalah kepada si punya rumah yang beruntung itu, ilmu atau jimat dan sihir apakah yang dipakainya, maka tak binasa sedikit jua, sedang rumah-rumah yang berkelilingnya habis musnah dimakan api. “Tidak” ia tidak berilmu, tak ber-jimat, tak ada sihir yang dipakainya, hanyalah yang ada pada-nya “Gusti Allah” yang memeliharakannya dan anak isterinya.” Bagus benar jawabnya itu, bukan? Tetapi ketahuilah lagi oleh nyonya, bahwa pada besok harinya sesudah kebakaran itu, datanglah tukang itu kepada kami, dan pikirlah oleh tuan, kedatangannya itu ialah meminta syukur kepada kami, sebab rumahnya tinggal selamat tiada binasa. Tak dapat kami melok kepercayaannya, bahwa rahmat dari kamila maka api itu tak datang memusnahkan rumahnya. Itulah kekutan dua kami kepadanya, maka rumahnya terpelihara tiada mendapat kecelakaan! Apa pikiran tuan tentang hal itu? Betulah sedih hati melihat kepercayaan yang semudah dan setulus itu, betul kepercayaan anak kecil!

Saya pun bertonya kepada diriku sendiri, baikkah saya buang akan kepercayaan hati mereka yang tulus sebagai anak kecil itu, dan yang memberi bahagia kepadanya itu? Dan kepercayaan apakah yang lain yang akan saya berikan kepada mereka itu penukar kepercayaannya itu? Sebodoh-bodoh orang dapatlah merusakkan barang sesuatu, tetapi memperbaikinya? Kepercayaan kami belumlah dapat kami berikan kepadanya. Mustahilkah orang boleh memberikan kepercayaannya kepada orang lain? Kepercayaan yang sebenar-benarnya, yang sebetul-betulnya, yani kepercayaan yang tiada dipungut atau tiada dipusaka, terbitnya semata-mata dari hati. Tak senanglah hati kami mendengar yang kami dikatakan oleh mereka itu berkekuasaan sedemikian. Kami dan orang lain pun tak adalah yang berkekuasa sebagai itu.

Banyaklah kami menerima kebaikan hati dari sahabat-sahabat kami, orang kebanyakan itu.

Sebab itu adalah beberapa lamanya kami membenci sekalian agama, karena banyak benar kami lihat mereka itu yang tak menaruh kasih sayang sedikit pun, dan agama itu dijadikannya selimut penutup hatinya yang bersifat keji itu. Tetapi lama-lama baharulah kami tahu, bahwa bukanlah agama yang salah dalam hal itu, melainkan manusialah jua yang memperburuk sekalian pemberian Tuhan yang baik-baik di atas dunia ini. Agama yang sebaik-baiknya dan setinggi-tingginya yaitu menurut pendapatan kami, ialah “kasih sayang”. Oleh sebab itu perlu benarkah mesti orang masuk menjadi orang Serani, maka baru boleh hidup dengan perintah Tuhan yang sebagus itu? Orang yang beragama Budha, Berahma, Yahui, Islam dan orang biadab pun, bolehlah hidup suci dalam dunia kasih sayang itu.

Adalah barang sesuatu yang sangat menyusahkan hatiku, sehingga lenyaplah badanku rasanya di dalam hal itu: mendengar musik yang merdu. Orang boleh melakukan sekehendak hatinya di atas kami, jikalau kami sedang dimabuk lagu musik. Jikalau kami hendak membuat barang sesuatu yang perlu dilakukan dengan hati yang berani, baru dapat oleh kami mengerjakan itu, apabila kami telah melenyapkan diri kami dahulu dengan musik yang merdu. Begitulah keras kekuasaan musik bagi kami. Tetapi adalah pula sekali-sekali kekuasaan musik tiada kami indahkan.

Kalau tiada demikian tentulah acap kali kami wajib menahan diri kami, supaya jari-jari kami ini jangan bergerak dibuai oleh bunyi gamelan, yang menuangkan api gembira pada urat-urat badan kami. Dan adik-adik kami yang perempuan merasai pula sedemikian jikalau mendengar bunyi gamelan itu. Ketika kami masih anak-anak, telah pandai kami menari, kami belajar sendiri saja; dan ketika kami sedang pandai berjalan sedikit-sedikit telah mulailah tangan dan badan kami bergerak-gerak, mendengar bunyi gamelan. Dan ketika masih budak-budak, kami berniat hendak menjadi pandai tari, lau bersahabatlah kami ketika itu dengan pandai tari. Acap kali ibuku memakai kami seperti pakaian pandai tari, dan saya pun menarilah sampai jatuh terguling-guling. O! dosa yang suci; dengan segala senang hati berpangkulah kami di atas ribaan pandai-pandai tari itu; kami heran melihatkan kebagusan kepandaiannya itu, dan mereka itu pun amat sayang kepada kami.

Kemudian, amat lama sekali kemudian dari pada itu, barulah kami maklumi, siapakah mereka yang amat kami muliakan itu, dan kami hinaanlah kepandaian mereka itu karena pekerti mereka itu, dan malulah kami akan diri kami sebab kami telah penuh berniat hendak menjadi pandai tari dahulu.

Dan kemudian itu lagi, belajarlah kami menyisihkan kepandaian dari orang yang melakukannya ... dan sampai sekarang pun kami masih mempelajarinya jua, kami tiadalah mau mengindahkan bagaimana hidup si pengarang, tetapi hanyalah kami wajib menghormati kepandaiannya saja, seperti Multatuli, kebijaksanaannyalah yang dihormati.

Seperti yang telah saya terangkan dahulu, kami berniat benar hendak bercampur gaul dengan orang-orang yang lain bangsa, lain kepercayaan dan lain tujuannya. Baru-baru ini di Semarang kami telah berkenalan dengan beberapa orang kaum Said. Kakandaku banyak berkenalan dengan orang-orang yang baik dan saleh. Ia telah membawa kami kepada seorang kapitan Arab, dan di sanalah kami ketahui bahwa kami bersaudara dengan dia. Karena kami seorang dengan seorang bertonya-tanyakan hal itu, maka kami ketahuilah bahwa keluarganya, yani neneknya yang laki-laki bersahabat dengan nenek kami, bapaknya dan pamannya dahulu kawan-kawan sama-sama bermain dengan bapak, paman dan anak angkat nenek kami.

Oleh karena beberapa hal maka sahabat-sahabat itu telah bercerai-beraliah dan sekarang dengan sekonyong-konyong cu-cu-cucunya telah bertemulah dan berkumpullah pula kembali.

Senanglah hati melihat rumah orang asing di dalamnya, dan seisi rumahnya menerima kami sangat ramah. Keadaan yang seperti itu acap kali kami dapat, kalau kami bertemu dengan orang-orang bangsa asing, yang tidak kami kenal, tetapi mereka itu atau orang tuanya adalah berkenalan dahulu dengan nenek kami.

Begitulah juga adalah kami bersahabat lagi dengan orang-orang kampung Habsi, dan orang tua mereka itu dahulu bersahabat dengan nenek-nenek kami. Kami selalu diterimanya dengan ramah di rumahnya. Baru-baru ini seorang anaknya laki-laki kawin dengan seorang gadis Habsi di sini.

Kami adalah datang pada peralatan itu. Banyak di antara adat-adat mereka itu yang tua-tua telah dibuangnya, sehingga karanganku tentang peralatan yang demikian tak benar lagi. Karangan itu telah lama saya karangkan ketika saya masih kecil, dan pada beberapa tahun yang telah sudah tersiarlah karangan itu di dalam “Tijdschrift voor taal-land en volkenkunde van Nederlands Indie”. Saya tak tahu, patutkah saya berbesar hati melihat beberapa adat-adat tua mereka itu telah terbuang, apalagi melihatkan apa-apa telah dipakai oleh mereka itu akan pengganti adat-adat yang tua itu. Amat buruklah rupanya meniru-niru adat2 Eropa dan dicampurkan ke dalam adat sendiri. Sebenarnyalah mereka itu menyuruh orang-orang Eropa tertawa melihatnya. Khoja yang ternama itu hina baginya, jikalau pada alat kawinnya itu ia akan menunjukkan cerana emas yang bagus, yang berisi sirih kepada isterinya, ketika mereka itu bertemu. Mempelai yang baru-baru ini kami lihat memberi isterinya suatu karangan bunga buatan, dari pada pelbagai kertas berwarna, dan diikat dengan bermacam-macam pita-pita yang berkibaran kain ke mari. Bunga kenanga, cempaka dan melati tiadalah dipakai lagi oleh mereka itu untuk menghiasi pakaian anak dara itu, melainkan sekaliannya bunga buatan dari pelbagai warna. Bukankah mereka itu mencerut adat Eropa?

Adalah suatu adat yang dibuangnya, yang amat menggi-rangkan hati kami. Sudah menjadi adatlah bagi mereka itu, bahwa pengantin dalam tiga hari yang bermula kawin tak boleh pergi keluar rumah. Orang-orang tua pengantin itu, yang tak lama boleh tinggal di sini, ingin sekali hendak membawa pengantin itu ke rumah kami, tetapi tiadalah dapat, karena hari yang tiga itu belumlah habis. Betapa tercengangnya dan besarnya hati kami mendengar ketika ia berkata kepada isterinya: “Besok petang-petang pengantin saya bawa kekabupaten.”

“Di mana boleh itu, hari belum habis? masakan boleh?” jawab isterinya.

Dan khoja itu pun menjawab lagi: “Kanjeng regen mengatakan, bukanlah aturan yang demikian, hanyalah adat sahaja. Adat itu tak ada yang dikutinya; untung dan ce-laka itu pembawaan orang sendiri. Kalau hati kita ikhlas membuang adat, selamatlah kita dan tiadalah suatu apa jupupen yang akan menggoda kita. Hati saya menurut seperti kata kanjeng. Pekerjaan ini sudahlah selamat, dan tiadalah lagi apa-apa yang datang menggoda kita.”

Mata kami pun bercahaya-cahayalah melihatnya, maulah rasanya kami menjabat tangannya ketika itu. Ia pun sebagai seorang Timur yang tegoh dan setia memakai adat-adatnya, sekarang ia pun mengaku, bahwa adat-adat itu tak lain dari pada aturan yang kebiasaan saja, yang boleh dibuang seperti membuang pakaian yang telah tua, jikalau ia tiada memadai lagi, dan adat itu sekali-kali tiadalah bersangkutan dengan untung dan malang nasib hidup kita.

Kami seribu kali lebih beruntung. Kami bermaksud yang mulia dan kami menaruh kasih sayang! Alangkah baiknya kalau kiranya kami boleh memberikan sedikit dari kekayaan kami ini. Tetapi kesenangan hati tak dapatlah seorang juga memberikannya kepada kita, jikalau kita sendiri tidak mau menghendakinya.

Kami tak berani memikirkan hal itu, apalagi mengharapkan nya, tetapi ... tetapi berapalah senangnya hati kami, jikalau hati yang telah beku itu dapat dihidupkan kembali oleh cahaya Allah, sehingga teranglah ia bersinar-sinar!

Oleh karena mengingatkan hal itu sekalian, maka datanglah perasaan yang mendamaikan hati kami yang amat ajaib itu, dan kami pun mengucapkan syukurlah. Kayalah hidup kami di dunia ini, Sungguhpun banyak berisi racun di dalamnya, tetapi banyaklah pula manisan-manisan yang amat lezat sertanya.

Amat senanglah rasanya hati kami serta banyaklah rahmat bagi kami, sekiranya kami dapat menolong sesama manusia. Harta benda tak ada pada kami. Dan apa yang ada dapat kami berikan, kami berikanlah ... yaitu kasih sayang kami. Kadang-kadang ajaib benar kami melihat, orang-orang yang tua dari pada kami, yang telah kawin dan ibu dari pada beberapa orang anak-anak, telah menangis mengatakan kesu-sahannya di ribaan kami. Betapalah kami akan mengucapkan

syukur kalau sekiranya dapat kami menghapuskan air mata mereka, Biarpun barang setitik.

Barang siapa yang telah mengenal akan perasaan yang demikian, tak dapat dan tak maulah ia melupakannya.

Janganlah tuan bersusah hati memikirkan hal kami, wahai kekasihku, jikalau sekiranya nasib kami pada waktu yang akan datang ada berbahaya. Jika sekiranya masih ada di dunia ini air mata yang akan dihapus, dan ada juga lagi hati yang menghendaki kasih sayang, maka sahabat-sahabatmu yang berkulit hitam ini masih ada kerjanya dan tentulah mereka masih ... bersenang hati. Sesungguhnya janganlah tuan bersusah hati memikirkan hal kami, baik pun sekarang atau nanti, janganlah tuan berbuat demikian. Serahkanlah kami kepada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang amat pengasih dan penyayang.

Ialah yang akan menolong dan membujuk serta membantu dan menerangkan kami jalan. Tawakkallah tuan, janganlah bersusah hati, kami tahu akan Tuhan kami. Dan Tuhan pun tahu pula akan kami, ialah akan menunjukkan kami dengan segala kecintaan jalan yang terang.

Jikalau kami hendak berbuat yang baik, ialah akan menolong kami, dan jikalau kami hendak berbuat yang jahat, tentulah saja kami tiada akan terlepas dari pada hukuman. Kepercayaan itulah yang memikul kami, dan yang memberi hati kami menjadi tawakkal dan senang.

Kami berniat sungguh-sungguh hendak menjadi kuat benar-benar ... sehingga dapatlah kami hendaknya menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri acap kali lebih susah dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri tentulah lebih mudah menolong orang lain.

¹ Doktor-pendeta N. Adriani di danau Poso (Selebes).

² Layah telekung (olnier)

³ Sayang sekali maksud Kartini itu tak sampai.

⁴ R. singkatan: Rukmini.

⁵ Sibiran tulang—keratan tulang.

⁶ Bahasa Minang artinya penghilangkan (penceraikan).

⁷ Maksudnya: perempuan yang suka berbantah.


SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1903

DESA CIKEUMOUH DEKAT CULTUURTUIN (KEBUN TANAM-TANAMAN) DI BOGOR

3 Januari 1903 (VII)

Bagaimanalah saya akan meminta terima kasih kepada tuan tentang isi surat dan pidato tuan dalam kerapatan Tweede Kamar pada 26 November yang baru lalu ini; sesungguhnya tak dapatlah kami dengan cukup meminta terima kasih kepada nyonya atas segala kebajikan tuan bagi kami. Berutang budilah kami kepada tuan, tak dapat kami akan membayar, ialah yang akan kami bawa ke dunia yang baka. O, bagaimanalah saya dapat menceritakan kepada tuan, apa yang terasa dan telah mengalir di hati dan di pikiranku ketika membaca surat tuan dan sebagian dari pidato itu, yang bergaris di bawahnya. Tercucurlah air mata kami membacanya. Tuhan itu mahabesar, Tuhan itu mahakuasa dan Tuhan itulah yang pengasih dan penyayang. Itulah suatu rahmat Tuhan. Kami pun melihat seorang akan seorang, tetapi tiadalah tampak suatu jua pun, karena pikiran kami telah memandang sejauh-jauhnya, mengenangkan tanah-tanah seberang yang jauh itu, dan sahabat-sahabat kami yang bertempat di sana, lagi kami kenangkan pula akan waktu dan kejadian yang akan timbul pada hari yang akan datang. Kami kedua sama memikirkan dan mengenangkan sekalian itu pada waktu itu. Sedang hati yang penuh dengan perasaan yang meminta terima kasih pada ketika itu, timbullah pula di dalamnya kesedihan dan kepiluan yang amat sangat.

Hati kami menjadi sayu, karena kami tak dapat ketika itu juga meminta terima kasih kepada sahabat-sahabat kami yang setia dan mulia hati itu, menjabat tangannya atau meme-luknya, yang telah memberi kami kegirangan hati itu.

Sayu hati kami mengenangkan orang-orang tua kami, ke-kasih hati kami, jantung hati kami itu, bahwa kepada mereka kedua suatu tanda kedukaan yang akan menghancurkan-kan hatinya, jikalau mendengar kabar yang membesarkan hati kami itu.

Wahai orang tuaku yang malang!

Jikalau maksud kami sampai, maka hal itu artinya bagi mereka, bahwa mereka akan bercerailah dengan anak-anaknya, dan ditambah lagi dengan berduka hati. Betapalah remuk dada dan hancurnya hati mereka itu, jikalau kapallah yang akan memperceraikannya dengan anak-anak yang amat dikasihinya dan membawa si anak itu ke tanah asing yang sejauh itu. Adakah mereka akan kembali lagi dengan selamat? ... Adakah lagi mereka akan bertemu pula dengan orang tuanya nanti?

Mereka itu amat kasih akan kami, lebih-lebih bapakku ke-padaku, sebab apabila bapak melihat wajahku, teringatlah ia akan ibunya, pun amat dikasihinya; apalagi mukaku itu serupalah pula dengan potretinya sendiri.

Moga-moga Tuhan akan melembutkan hati mereka yang amat pilu, susah dan menanggung percintaan itu apabila cita-cita kami akan kami sampaikan. Keadaan itu memanglah suatu kelobaan hati benar, tetapi kami berharap sekali yang waktu itu akan lekas datang.

Saudaraku, Stella dan sahabat-sahabatku yang lain tentu-lah akan bersuaka hati benar, kalau sekiranya pekerjaan tuan yang mulia itu sampai berhasil. Dengan besar hati kami telah membaca pidato tuan, meminta pertolongan kepada Pemerin-tah akan membantu beberapa orang anak negeri yang amat tuan kasihi; setelah itu kami baca pula penjawaban men-teri jajahan, dan kemudian ucapan terima kasih tuan!

Kepada tuan saya berkata dengan tulus dan ikhlas hatiku, meminta terima kasih. Kepada nyonya tuan, kami berharap yang sejauh itu, tempat kami berharap akan mengusahakan kepada tuan-tuan kedua, bahwa kesayangan tuan, telah berusaha dengan sejadi-jadinya untuk kami, tiadalah tercurah kepada orang yang kurang terima kasih. Berhati tetaplah tuan bekerja untuk pekerjaan yang mulia, wahai sahabatku!

Bukan sedikit rasanya peperangan dan penanggungan kami karena cita-cita hati itu. Dan kami percaya, bahwa banyaklah lagi kesusahan yang akan kami tanggungkan, sebelum kami dapat meninggalkan sekalian hal yang akan menyedihkan hati, dan dalam pada itu pun lebih banyak pula hal keadaan yang kami sayangi dan kasihi, akan pergi ke negeri yang sejauh itu, tempat kami berharap akan mengusahakan diri kami, supaya cakap dan pandailah kami kelak dalam pekerjaan yang hendak kami tanggung itu.

Akan dapat musuh yang ganas, kita sekali-kali tiada perlu berbuat jahat Ataupun mengganggu orang lain. Sekarang umpamanya banyaklah orang sedang mengasut-asut kaum keluarga kami, supaya kami seboleh-bolehnya jangan dapat menyampaikan maksud kami. “Tak pantas,” kata mereka itu yang kami mau pergi ke negeri Belanda. Dan berapa pula malu yang akan ditanggung nanti karena pergi ke sana itu “dengan ongkos orang lain”.

Dan ada pula di antara mereka itu yang bersedih hati melihat saya mengarang, dan diberinya saya isyarat, supaya saya berhenti memperbuat hal itu. “Tak pantas, seorang anak gadis,” mengarang surat untuk orang banyak. Bah, seorang perempuan yang belum kawin, namanya terbebar ke sana simi: kalau ia ada bersuami tak mengapalah, bolehlah dimaafkan kalau ia berbuat demikian!

Dari Dr. Adriani baru-baru ini saya mendapat sepucuk surat yang amat panjang, membicarakan berbagai-bagai hal yang tentu akan menyukekkan hati tuan juga. Saya men-ceritakan kepadanya, apa yang telah tuan perbuat untuk kami, dan ia amat berbesar hati mendengarnya. Ia menulis kepadaku: “Apa yang telah dikatakan nyonya van Kol kepada tuan, itulah ujud segala agama; pengakuan atas memper-cayai Tuhan seperti seseorang, tidaklah suatu pengertian, tidaklah pula suatu kebaikan, melainkan itulah yang sebenar-benarnya Malikurrahman!”

Banyak lagi hal-hal yang bagus dan berfaedah di dalam su-ratnya. Betapa suka hatiku hendak membacanya bersa-ma-sama dengan tuan, dan memperkatakan isinya dengan tuan. Saya perlu lagi membalas surat itu.

Adalah pula dikatakannya kepadaku: “Tetapi sepanjang penglihatanku, bahwa agama Serani itu wujudnya tiadalah akan memberi orang berbahagia, hanya akan menjadi jambatan antara manusia dengan Tuhannya, itulah mak-sud agama Serani.”

14 Januari 1903 (IX)

Adikku yang kecil, sekali-kali tak mau menjadi priayi, apalagi priayi dalam golongan pemerintah negeri; dan jikalau nyonya sekali-kali ada memperkatakan surat-suratku dengan tuan, tentulah tuan akan mengetahui, bahwa saya tiadalah bersedih hati dalam hal itu, melainkan memanglah amat besar hati kami mendengar maksud dan hajat adik kami itu. Senang hati kami, yang adikku tak ada bermaksud seperti maksud beribu-ribu mereka bangsa kami; mereka itu menyangkakan, bahwa menjadi priayi itulah bahagia yang setinggi-tingginya dalam dunia ini, sebab mereka memaklumi keenakan seperti raja kecil, berbaju berkancing letter W., dan berpayung emas!

Gembira hati kami, bahwa segala cahaya dan upacara itu tak masuk di hatinya; lebih senang lagi hati kami mengingatkan hal itu karena ia semuda itu telah ada berpengakuan yang demikian, dan ia hendak mencari jalan sendiri, tiadalah seperti jalan yang telah pasar ditempuh oleh beribu-ribu orang.

Lebih baik menurut pikiranku, ia berusaha untuk menolong mereka yang dilanggar oleh kesakitan, dan pergi berskolah untuk menjadi dokter. Boleh jadi juga dalam hal itu masuklah kelobaan diri saya sedikit; karena saya suka melihatnya menjadi dokter, sebab dalam hal itu amat banyak dan bagus yang patut diperbuat dan ... karena dapatlah pula ia menyampaikan kenang-kenangan kami. Berapalah banyak faedahnya nanti, kalau bangsa Eropa dan bangsa Bumiputera timbal-balik dapat hormat-menghormati. Ia boleh berusaha supaya anak negeri akan mempercayai obat-obat Eropa, dan dokter Eropa bolehlah pula memperhatikan obat-obat Bumiputera yang amat mudah itu, yang telah dipastikan mujarabnya.

Saya telah bercakap-cakap dengan adikku itu tentang Sekolah Dokter Jawa, tetapi tak adalah niatnya hendak pergi belajar ke sana, dan kam pun tak suka pula menggagahinya dalam hal itu.

17 Januari 1903 (VII)

Telah tiga pekan lamanya di sini tak turun hujan sedikit jua pun. Sekarang di sini terlampau panas. Belum pernah kami merasai panas sebagai itu, baik pun ketika musim kemarau yang sekeras-kerasnya.

Bapakku telah putus asa, bibit padi di sawah telah merah, karena kepanasan.

Wahai bangsaku yang malang! Dahulu anak negeri di afdeeling ini cuku makamnya, dan tak tahulah mereka itu akan kesengsaraan kekurangan makanan. Tetapi apa yang tidak ada, tentulah boleh datang; dan kekeringan yang amat sangat di dalam musim penghujan itu telah memberi tanda, bahwa bermacam-macamlah kesengsaraan yang akan tiba. Bagaimanakah gerangan halnya nanti, jikalau sekiranya hari selalu saja panas seperti itu? Sudah datangkah sekarang pertukaran musim? Alangkah lekasnya kalau demikian, karena telah dua kali pagi bertiuplah angin, yang biasanya datang dalam bulan Mei. Dan telah mulaikah sekarang musim kemarau?

Betul susah sekali hati kami sekarang; seorang jupaun tak berkuasa akan mengubahnya. Amat pilu hati melihat sekalian bibit-bibit, yang telah ditaburkan dan ditanam orang, semuanya sekarang telah merah karena kekurangan air, semuanya hampir mati dan tak dapat ditolong sedikit jupaun. Sayang tak pandai orang membuat hujan! Dan hari yang sepanas itu melesu dan meletihkan badan pula, tak suka bekerja. Apa pikiran tuan tentang ratap tangis seorang anak negeri di tanah panas ini! O, betapa susah hati mereka yang bekerja di sawah dan di ladang di dalam panas seperti di sini sekarang ... apalagi namanya saja disebutkan di dalam musim hujan! Kirimilah kami sebagian dari hawa dingin negeri tuan itu dan tuan ambillah panas di sini sebanyak tuan suka. Sekiranya dapat kita berbuat demikian, betapalah bagusnya!

25 Januari 1903 (IX)

Lamalah saya duduk memandang ke kertas ini dan tak tahulah saya apa yang hendak saya tuliskan lain dari pada permulaan kata; banyaklah pikiran yang merawankan hatiku, banyaklah pula perasaan yang timbul dalam ingatanku. Pada waktu itu terkenanglah olehku sekalian hal yang terjadi di dalam hidupku, dalam beberapa tahun yang lalu.

Dalam kegirangan dan sukacita datanglah pula keduaan yang amat sangat, keputusan asa dan waswas yang menyedihkan hati. Bagi kami rasanya pada waktu yang sudah-sudah, telah bermacam-macam hidup di dunia yang kami tanggungkan. Tahun-tahun yang kami ini tak bersuka ria lagi sebagai anak-anak, telah jauh benar rasanya terletak di belakang kami. Tiap-tipi hari dalam pekan yang baru ini, banyaklah pula hal-hal yang kejadian seperti dahulu bagi kami.

Adalah hal yang merayukan hati, dan ada pula yang menyuruh kami minta terima kasih. Sekalian perasaan pada ketika itu adalah di dalam hatiku; tetapi perasaan yang memilukan hati itulah yang berkuasa benar di antara sekaliannya.

Ketika saya menulis surat ini terasalah pula dalam hatiku sekalian perasaan itu; karena itu lemaslah saya rasanya. Tetapi sekali-kali saya tak suka menurutkan hatiku ini; sekalian kata-kata tuan yang pagi tadi, hendak saya pegang sungguh-sungguh di dalam hatiku. Saya tak suka dikuasai oleh pikiran yang menyusahkan hatiku itu, tetapi sekalian kepiluan hati itu, wajiblah sekarang di bawah perrintah saya.

Atas sekalian yang tuan katakan di tepi pantai dan di kereta tadi pagi kepada kami, o, betapalah hendaknya kami akan minta terima kasih kepada tuan?¹ Tak adalah kata-kata bagiku, akan menyatakan perasaan kami itu kepada tuan. Ia hanyalah terasa saja, tetapi tak dapat dikatakan! Kami amat mengucapkan syukur dan amat beruntung, karena telah berbincang dengan tuan. Demikianlah sedapnya kata-kata dari seorang sahabat yang berhati tulus. Kemarin semalam malaman itu saya selalu mengenganakan kata-kata tuan, dan sekaliannya mengutatkam hatiku. Kami berdua lama memperkatakan hal itu kemarin dan hari ini pun juga; dan jikalau bapak telah bertambah sembuh sedikit dari pada sakitnya, kam pun hendak mengabarkan hal itu kepadanya. Sekarang bolehlah kami angsur memberi tahu dahulu kepada ibuku, dan memulai perlahan-lahan menulis keringkasan permintaan kami itu.

Jikalau perkara itu telah selesai, kami tulislah nanti beberapa pucuk surat ke negeri Belanda. Sekarang amat tetaplah hati kami. Itulah yang perlu sekali bagi kami dahulu; kata yang lurus, benar dan menetapkan hati dari pada seorang sahabat yang tulus hatinya, telah teguhlah melekat di hati kami.

Kami ingin benar dahulu hendak berbincang dengan tuan kedua. Dengan segala suci hati saya meminta terima kasih kepada tuan atas kata-kata dan nasihat tuan kedua.

Yang menyueruhkan kami lagi berniat hendak pergi ke negeri Belanda, ialah cita-cita hati kami hendak menjauhi untuk sementara dunia, yang telah melukai hati kami dengan ganasnya itu. Sengsara yang seperti di neraka itu tak patut kami tanggungkan lagi. Negeri Belandalah yang akan membuangkannya dan akan menggantinya pula dengan kesukaan lain, yang bergunnung-gunung banyaknya.

Terimalah ucapan terima kasih kami, karena tuan telah menunjukkan hal itu kepada kami.

27 Januari 1903 (X)

Saya mengenangkan waktu yang telah lalu, ketika kami dengan ayah bundamu bersuka hati, berjalan-jalan di tepi laut di sini, laut kami! Itulah waktu yang mulia, tak dapat dilupakan! Dan waktu yang baru lalu ini, yani waktu kami duduk di tepi pantai bersama-sama dengan ayahmu, akan tinggallah pula selalu dalam kenang-kenangan kami. Di sanalah bapakmu berbincang dengan kami tentang maksud-maksud kami.

Berapalah besar harganya perbincangan itu, yang keluar dari hati seseorang yang amat kami muliakan dan kami kasihi, apalagi ia seorang dari pada sahabat kami, yang kami ketahui berhati tulus dan ikhlas.

Apakah hasilnya perbincangan itu bagi kami? Saya semalam-malaman itu tak dapat tidur. Saya tidur pada malam itu berguling keknanan berguling ke kiri, karena kepala ku penuh dengan kata-kata bapakmu yang sungguh-sungguh, lagi terbit dari hatinya yang kasih sayang itu!

Itulah yang amat perlu bagi kami, itulah yang telah lama kami kenang-kenangkan, yani kami hendak mendengar kata yang sesungguhnya, yang keluar penuh dengan kasih sayang, dari hati masuk kehati, bertentangan mata dengan mata.

Besoknya pagi-pagi benar bapakmu mesti berangkat pula. Sedihlah hati kami memikirkan itu. Kami pergi mengan tar-antarkan yang mulia itu, dan di kereta kami hubunglah pula percakapan yang di tepi pantai kemarin. Akhir kalam, ialah kami hendaklah selekas-lekasnya mengirim sepucuk surat permintaan kepada Gubernur Jenderal, dengan seizin orang-orang tua kami, supaya Pemerintah akan membantu kami, menyampaikan pendidikan kami, berguna untuk perempuan Jawa pada waktu yang akan datang dan pendidikan itu akan kuterima di ... Betawi!

Tidakkah engkau heran mendengar kabar itu, saudaraku? Saya tak tahu bagaimana pendapatanmu tentang hal itu. Tetapi tiadakah engkau akan mengatakan, yang saya selalu berputar pikiran? Mula-mula dengan segala kekuasaan hati hendak pergi ke negeri Belanda; bumi dan langit telah bergerak supaya maksudnya itu dapat disampaikan, dan karena usaha sahabat-sahabatnya, dapatlah mereka pergi ke sana; tetapi sekarang mereka berkata: “Saya tinggal di sini!“

Apakah katamu tentang pikiran yang selalu bertukartukar itu? Tetapi lebih baik, jika sesat berbalik surut, dari pada sesat telanjur, yang kadang-kadang karena kesombongan hati tak mau mengaku akan kesalahan itu.

Tahukah engkau apabilakah maksud kami hendak pergi ke tanah Belanda itu telah bulat?

Dalam bulan Desember tahun 1901, ketika kami sedang menanggung kesusahan hati, yang tidak terpermanai itu. Ketika itu timbullah di hati kami maksud yang buas hendak pergi berjalan jauh, berpisah diri dari tempat yang telah meracuni menyakiti hati kami itu. Berjalan, berjalan jauh pergi ke tempat yang berodera lain, bernapas, hidup pada hawa yang lain, dan jikalau hati kami yang luka parah telah sembuh, pikiran serta barangkali juga badan kami telah kuat, berbaliklah kami menjelma seperti lahir kembali ke dunia, ke dalam pergaulan yang lama akan bekerja untuk perubahan yang baik ...

Kesusahan yang seperti di neraka itu, tak boleh kami tanggungkan lagi. Tanah Belandalah yang akan menjaga, supaya kesusahan itu tiada akan datang kembali, dan orang pun tak akan mengenangkan kami lagi; sayang sekali hendak melupakan kami itu lekaslah akan kejadian. Demikian juga oleh sebagian dari dunia bangsa Bumiputera lekaslah pula kami dilupakannya, yani oleh Bumiputera, yang hendak kami usahakan, kalau nanti kami kembali dari negeri Belanda.

Apakah yang menanti kami di tanah Belanda? Kesusahan yang bergunung-gunung, yang belum sedikit jua kami maklumi hal keadaannya. Bapakmulah yang menerangkan sekalian hal itu kepada kami, dan ditunjukkannyalah pula kesengsaraan yang akan kami tangung nanti di sini, yang datangnyia dari pada mereka yang akan kami tolong itu, jikalau kami kembali kelak dari tanah Belanda.

Sekalian itu sungguh benar, o cita-citaku yang malang! Engkau tahu, bahwa itulah suatu cita-cita kami yang amat besar hendak belajar ke tanah Belanda, untuk pekerjaan yang hendak kami tanggung kelak ...

Demikian pula keadaan bapakku yang baru-baru ini telah sakit keras menyuruh kami pula lebih lanjut berpikir. Yang mulia itu amat sayang kepada kami ...

Segala yang kejadian baru-baru ini di tempat sakitnya itu masih tergambar di mataku. Di sanalah kami lihat betapa sayangnya si jantung hati kami itu kepada kami. Tetapi bertanyalah saya kepada diriku sendiri, dapatkah kami akan mengubah maksud kami itu, jikalau sekiranya bapakmu tak datang ke mari, dan yang mulia tak berkata sedemikian kepada kami? Tak tahulah saya ... tetapi sesungguhnyalah kataku ini, bahwa orang tuaku keduanya patut benar banyak meminta terima kasih kepada bapakmu. Dan kami pun sendiri sangatlah terima kasih kepada yang mulia itu!

Lamalah kami berdua beradik memperbincangkan kata-kata bapakmu itu, serta memikirkannya. Akhir kalam ialah: Pergi ke tanah Belanda itu biarlah kami lupakan dahulu dalam hati, dan sekarang kami berharap, supaya kami boleh lekas pergi ke Betawi.

Sekalian itu ialah kemauan diriku sahaja. Tetapi dalam hal itu haruslah kami maklumi baik-baik, apakah kebaikannya yang terutama benar, jikalau kami belajar di Betawi. Tentulah di Betawi kami boleh lekas mulai bekerja, tetapi jikalau kami pergi ke tanah Belanda, tentulah kami masih lama akan menanti. Saya selalu memikirkan kata bapakmu: “Apakah sebabnya tak dibuat lekas apa-apa yang dapat dikerjakan? Pekerjaan itu lekaslah habis kalau dikerjakan; tetapi dengan jalan pergi ke negeri Belanda, masih jauh tempatnya pada waktu yang akan datang.” Bapakmu berkata sambil mengambil umpama: Adalah seorang yang luka parah meminta pertolongan, maka datanglah seseorang, dan berkata: “O, sahabatku, sekarang saya tak suka menolongmu, karena saya akan belajar dahulu, bagaimana orang memalut luka.” Orang itu pun berjalanlah pergi belajar; dan jikalau telah diketahuinya kepandaian palut-memalut luka itu, maka orang yang luka tadi telah lama mati.

Bapakmu berkata pula: “Adalah sebuah mutiara yang terletak di laut yang amat dalam. Engkau tahu bahwa ia ada di sana, tetapi engkau tak tahu di mana benar tempatnya itu. Engkau pun masuklah ke laut, hendak mengambilnya cara begitu saja. Air laut sementara itu telah sampai kedagu-mu, kemudian datanglah seorang berkata: “Hai sahabatku, janganlah berbuat demikian, janganlah pergi lebih jauh, air telah sampai ke dagumu, kalau engkau tenggelam, tak dapatlah mutiara itu olehmu. Baiklah kembali dan masuklah engkau ke dalam sebuah perahu, ajuklah dahulu laut itu, dan kemudian baharulah engkau pancing mutiara itu.”

Bapakmu berkata, jikalau benar-benar kami suka, dengan segera kami boleh membuaka sebuah sekolah, tak usahlah kami membuat ujian suatu apa pun. Tak adalah tersebut dalam undang-undang negeri, bahwa orang harus membuat ujian dahulu, maka boleh memberi pengajaran kepada anak-anak gadis Bumiputera. Kami boleh mengambil lagi beberapa orang guru-guru perempuan Belanda, hal itu perkara kecil. Tetapi bagaimanakah pikiranmu, dapatkah kami membuka sebuah sekolah, kalau tidak dipelajari dahulu bagaimana hal keadaan mengajar? Benarlah juga bahwa kami mendirikan sekolah kami itu ...(tertawa kita mendengar kata itu, lagi sombong bunyinya) hanyalah terutama maksudnya untuk pendidikan budi pekerti, lebih dari pada pendidikan untuk ilmu kepandaian. Sebab itulah kami tak suka sekolah itu didirikan oleh Pemerintah, melainkan baik didirikan oleh orang partikelir saja, kalau tidak ten-tulah wajib kami menurut beberapa undang-undang peraturan sekolah. Kami hendak membuat sekolah kecil seperti kehendak kami sahaja, mengajar anak-anak tiada seperti di sekolah biasa, melainkan seperti seorang ibu mendidik anak-anaknya.

Sekolah itu tak boleh dibandingkan dengan sekolah biasa, melainkan dengan sebuah rumah-tangga yang besar, dan segala anggotanya akan berkasih-kasihan, yang seorang mengajari yang lain, dan ibunya tiadalah seperti ibu dimu-lut sahaja, melainkan ibu sebenar-benarnya ibu ... perempuan yang mendidik badan dan pikiran anak-anaknya.

Maksud bapakmu itu acap kali kami pikirkan, tetapi begini: Jikalau kami tak dapat pergi belajar, haruslah kami tinggal di rumah sahaja; dalam hal itu tak dapatkah kiranya kami mengambil beberapa orang anak gadis regen-regen di rumah seberapa kabupaten kami dapat menerima? Mereka itu disuruh bersekolah di sini seperti biasa, dan di rumah kamila akan menanggung pendidikan budi peker-tinya, sambil bermain-main membela anak-anak itu mem-perbaiki tingkah lakunya; dan ketika anak-anak kami itu pergi ke sekolah, kami ambil lagi anak-anak kepala negeri yang lain, kami ajari mereka itu di rumah merenda, menja-hit d.s.b.

Sementara itu dengan tiada setahu mereka itu kami ketuk-ketuklah hatinya, supaya maulah mereka itu mengam-bil buah pikiran yang tersimpan dalam maksud kami itu. Tetapi jikalau dapat kami mendirikan sebuah sekolah, kami lebih suka dahulu belajar. Benarkah atau tidak pendapat-anku ini, saudaraku? Sekolah itu tentu akan didirikan di Magelang atau di Salatiga. Bapakmu telah memperkatakan hal itu dengan bapakku, dan tak adalah alangannya lagi; alangannya hanyalah pergi ke tanah Belanda itu sahaja. Senanglah hati, bukan?

Cara yang seperti tersebut di atas itu, demikianlah halnya nenekku yang laki-laki dahulu mendidik anak² kepala negeri. Nenekku dahulu menyuruh datang ke mari seorang guru untuk mendidik anak-anaknya dan lagi pengeran-pengeran dari Solo, dan seorang regen di Jawa Tengah pun mengirimkan pula anak-anaknya yang laki-laki kepada nenek untuk pendidikan itu. Lihatlah pendapatan itu bukanlah pendapatan baru; jadinya maksud kami yang dikatakan orang baru benar itu, ialah yang sebenarnya pendapatan yang telah tua, berasal dari nenek kami. Maksud dan buah pikiran kami itu pusaka dari nenek kamilah. Nenek kami itulah orang yang menebas jalan; kami ini hanyalah melanjutkan pekerjaannya sahaja. Nenekku yang laki-laki dan yang perempuan itu keduanya orang baik hati.

Bapakmu telah menunjukkan kepada kami apa yang akan jadi isi surat permintaan itu; hanyalah sebaris perkataan sahaja, tetapi kami perlu mengirim sepucuk surat peringatan bersama-sama dengan surat permintaan itu. Di dalamnya wajib kami tuliskan seterang-terangnya maksud uan kenang-kenangan kami. Surat peringatan itu haruslah keluar dari hati kami sendiri, tak boleh sedikit juga dipikirkan, bahwa ia akan dihadapkan kepada Gubernur Jenderal, melainkan kami tuliskan sahajalah apa yang terasa di hati kami.

Bapakmu suka membacanya lebih dahulu jikalau kami kehendaki, tetapi menurut pikiran yang mulia tak usahlah kami menyerahkan surat itu kepadanya.

Kami wajib menulis dengan seada-adanya apa yang keluar dari dalam hati kami sahaja.

31 Januari 1903 (X)

Hari ini suratku wajib habis, karena besok pos ditutup. Dengan pos itu ia akan kukirimkan. Sungguhlah waktu itu lekas sekali melayang! Pada hari ini telah sepekan lama nya bapakmu datang ke mari.

Marilah sekarang kita perkatakan keperluan kita, Ma-ukah, engkau? Meja kecil dan papan tempat kitab-kitab itu telah kusuruh kerjakan kepada tukang ukir. Ia masih bekerja juga. Tetapi engkau tentu akan sabar sedikit dulu, bukan? Tukang itu amat banyak kerjanya untuk perserikatan “Oost en West.” Meja kecilmu itu kami buat bersegi delapan dan burukir seperti contoh kain batikku, lukisan Jawa sejati! Kayunya seperti meja itu juga, dari kayu sana (berwarna hitam), itulah kayu yang sebaik-baiknya yang boleh didapat di sini. Papan tempat kitab-kitab itu kami suruh buat dari dua bilah papan, tidaklah terlalu besar betul seperti permintaanmu kepadaku. Ukuran yang sebenarnya saya telah lupa. Sekarang dua buah meja saya suruh buat, berlain-lainan bangunnya. Marilah kuterangkan keadaannya sedikit. Meja itu berkaki tiga berukir-ukir, dan di tengah-tengahnya itulah terletak papan meja itu.

Sekeram kecil yang baru-baru ini kami kirimkan kepada Gubernur Jenderal, betul amat bagus. Bapakmu yang telah melihatnya di sini, memuji benar kehalusan perbuatannya. Sekarang kami suruh buat lagi dua buah sekeram api, yang sebuah bangunnya seperti lokan, terbuat dari pada tiga bilah papan seperti akar yang berlipat tiga, dan sebuah lagi bangunnya seperti garuda dan sayapnya boleh digerak-gerakkan.

Selalu keluarlah dari kepala kami pikiran yang baru-baru, dan sangatlah kami bersenang hati, yang perserikatan “Oost en West” mau menyuruh memperbuat sekalian itu. Kadang-kadang terbitlah pikiran itu ketika kami telah ter-guling di tempat tidur, dan sebentar itu juga melompatlah kami dari tempat tidur, terus memasang lampu, dan buah pikiran itu kami gambarkanlah; karena boleh jadi besuk pagi-nya kami lupa, jadi sayanglah kalau tidak digambarkan lekas.

Katakanlah kepada ibumu, bahwa kami telah memperkatakan dengan orang tua kami tentang maksud hendak pergi ke Betawi itu, dan tentang sekolah di Meester Cornelis atau di Salemba itu. Tak ada alangannya lagi bagi mereka itu. Telah senanglah hati, bukan? Mereka itu amat bergirang hati yang kami masih tinggal di tanah Jawa. “Susah hatiku, jika engkau pergi,” kata bapakku, “saya harus selalu hendaknya dapat melihatmu,” kasihan, bapakku itu! Sekarang telah baiklah begitu. Mereka amat mengucapkan syukur kepada orang tuamu. Kami wajib berjanji kepada ibuku supaya tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama. Bolehkah lebih bagus lagi dari itu? Itulah kemauan kami benar.

Bukankah baik dahulu itu yang kami hanyalah suka pergi ke tanah Belanda sahaja? Sekarang mereka itu bersuka hati dengan Betawi. Jikalau kami dahulu itu hendak pergi ke Betawi sahaja, tentulah ada pula alangannya. Sekarang dengan mudah dan lekas surat permintaan kami berlayar beserta dengan surat peringatan kami, dan surat keterangan dari bapakkuopen menerangkan tak ada beralangan tentang maksud-maksud kami.

Betapalah akan girangnya hati Annie Glaser nanti! Tentolah kami akan berkumpul bersama-sama pula, dan sebagai sahabat yang setia akan bersama-samalah kami merasai pahit dan manis, sakit dan senang. Kemarin kami mendapat sepucuk surat dari padanya, cobalah pikir olehmu, bersama-sama dengan surat itu ada dikirimnya sebuah daftar pertanyaan yang patut kujawab dari seorang tuan. Tuan itu amat suka menyelidiki hal-hal yang perlu sekarang untuk pendidikan bangsa Jawa. Ia amat suka hendak mendengar pertimbangan kami tentang hal itu. Tuan itu ialah Mr. Slingenberg yang bekerja di gedung ministerie van Kolonien. Ia disuruh Pemerintah ke mari akan membu-at undang-undang hukuman baru. Annie berkata, bahwa tuan itu sungguh-sungguh hendak bertanya, dan ia bekerja dengan sekuat-kuatnya serta hendak mencari daya upaya yang dapat diperbuatinya untuk kami. Ia tak dapat lagi akan datang ke mari, karena pada pertengahan bulan Februari yang akan datang, ia hendak berangkat kembali ke Eropa. Sebab itulah maka pertanyaan itu wajib lekas dijawab dengan seterang-terangnya!!!

Pertanyaan yang diberikannya kepada kami itu sungguh amat berharga, yani pertanyaan yang selalu terkandung dalam hati kami. Sebab itulah pula maka kami tak mau dan tak dapat menjawabnya dengan lekas dan tak senonoh sahaja. Marilah kusebutkan umpamanya: Pertanyaan yang pertama begini bunyinya: “Atur-aturan manakah yang baik dilakukan penambah kepandaian dan kemamuran bangsa Jawa?”

Itulah suatu pertanyaan yang diselidiki oleh orang pandai-pandai yang telah putih rambutnya, dan dapatkah kami menjawab pertanyaan itu dengan satu, dua, tiga sahaja lagi dengan terangnya!

Kedua: “Dengan jalan manakah pengajaran wajib diperbaiki dan diluaskan?” Dapatkah kami menjawab pertanyaan itu dengan sepatah kata sahaja? Tentulah sekurang-kurangnya beberapa lembar kertas berguna penjawab.

Pertanyaan yang kelima dapat dijawab dengan lekas atau dengan sepatah kata sahaja: “Tiadakah harga atau arti kemanusiaan perempuan dalam hal memajukan bangsa Jawa terlalu sedikit sekali diperhatikan oleh orang besar-besar negeri?”

Tuan yang membu-at pertanyaan itu, tentulah seorang yang baru memikirkan hal itu. Pertanyaan yang penghabisan amat senang hati menjawabnya. “Dengan cara bagaimanakah yang sebaik-baiknya dilakukan supaya dapat dimulai menambah kesopanan dan kepandaian perempuan Jawa, baik bangsawan Ataupun orang banyak? Jikalau hal itu sampai kejadian tiadakah nanti akan bersalahan dengan adat istiadat negeri?” Sekalian pertanyaan itu bagus-bagus benar, kami akan memperbincangkannya lebih terang: baikkah?

Mereka itu telah menyuruh kami mengeluarkan pikiran dan perasaan hati kami. Kalau sekiranya tak ada diperbuatinya pertanyaannya itu tiadalah kami akan berpikir dan merasa sebagai itu. Kami malam kemarin sampai larut malam menuliskan sekalian peringatannya itu dan akan kami beri keterangannya baik-baik.

Sungguh ganjillah perjalanan dunia ini! Yang satu menjolok yang lain. Dan yang sebenarnya sekalian itu tali-bertali. Adalah lagi pikiran yang timbul di hati kami, yang barangkali tiadalah akan menyenangkan hati Pemerintah, jikalau buah pikiran kami itu dapat didengarnya, karena Pemerintah yang sekarang kuat akan agama Serani.

Apa pikiranmu tentang suatu utusan (zending) yang tiada bermaksud hendak menyuruh orang masuk agama Serani, dan menjauhkan sekalian agama, tetapi maksudnya hanyalah hendak berbuat baik akan bangsa Jawa, percintaan kepada yang baik sahaja? Apakah sebabnya maka tak dapat pada tempat-tempat yang lain di tanah Jawa dibuat sekolah-sekolah seperti di Mojowarno, dengan tiada dilindungi oleh suatu bendera agama? Dengan hal yang demikianlah dapat orang mengelakkan tombak yang diacukan oleh orang Islam kepada dirinya. Orang Islam senantiasa menghinakan mereka yang mula-mula seagama dengan dia, tetapi kemudian meninggalkan agama itu, dan masuk kepada agama yang lain. Dalam pemandangan orang Islam berbuat yang sedemikian, ialah suatu dosa yang sebesar-besarnya. Orang Islam yang sekarang beragama Serani menghinakan pula mereka yang beragama Islam, karena ia sekarang telah beragama sebagai orang Belanda. Disangkanyalah bahwa derajatnya karena itu sama tinggi dengan Belanda. Tak gunalah lagi saya uraikan benar, apa kesudahannya hal yang seperti itu dalam hidup bersama-sama.

Jikalau orang sungguh-sungguh hendak mengajar bangsa Jawa sesuatu agama, baik, dan ajarkanlah kepandaiannya supaya ia tahu mengenal Tuhan yang satu, Tuhan yang pengasih dan penyayang, Tuhan segala makhluk, Tuhan bagi orang Serani, orang Islam, orang Budha, orang Yahudi d.s.b. Ajarkanlah kepada mereka agama yang sebenarnya, yani: agama di hati. Agama itu memanglah dapat dipakai oleh orang Serani, oleh orang Islam d.s.b. Pikiran kami negeri Belanda hendaklah mengirim ke Hindia ini orang-orang yang berbudi pekerti, yang berpelajaran, yang tinggi kemanusia-annya, yang mau hidup bersama-sama dengan bangsa Jawa, karena kasih akan sesamanya manusia; hidup dengan bangsa itu berkasih-kasihan serta mengajar, mengobat dan menolong mereka itu di dalam segala hal apabila perlu.

Anak negeri itu hendaklah dibiarkan hidup dengan sederhana, dan jangan diajar boros, tetapi perlu ditegur mereka itu baik-baik, bila mereka itu mengerjakan adat dalam negeri yang bersalahan dengan kasih dan cinta! Pekerjaan itu nanti bolehlah ditanggungkan kepada anak negeri sendiri, pada waktu ini, belumlah ada di antara anak negeri yang kuat mengerjakannya ... Pendeknya, adakanlah pekerjaan utusan itu, tetapi tidaklah dengan air serani.

Bolehkah dikerjakan demikian? Sebenarnya amatlah susah mencari orang yang cakap-cakap mengerjakan kerja itu. Tetapi nantilah saya ulangi lagi memperkatakan hal itu kembali. Lebih dahulu mestilah diadakan sendiri kesucian hati, dan pada sekalian pengajaran harus hal itu diperhatikan. Bagaimanakah memasukkan kepada orang yang telah balig dan yang hampir balig sendi kesucian hati itu? Pada pikiranku dengan kitab-kitab cerita. Orang haruslah mengeluarkan surat-surat kabar yang banyak berisi dengan cerita yang menarik hati, supaya banyak orang membacanya, tetapi cerita itu wajiblah beralasan dengan pengajaran pendidikan. Maksud yang sedemikianlah yang hendak kami ajarkan kepada anak-anak kami, sambil bermain-main mereka itu diajar dan diberi pendidikan. Apakah sebabaya dengan jalan yang demikian tak dapat pula diajar orang-orang yang sudah balig?

Di Betawi kami berharap nanti banyak kami akan berkenalan dengan murid-murid Sekolah Dokter Jawa, supaya banyaklah kami dapat memperkatakan hal itu dengan mereka itu, dan mencoba-coba barangkali dapatlah beberapa orang yang suka mengerjakannya. Mereka itulah nanti boleh diharap, yang akan mengerjakan pekerjaan jadi utusan tidak dengan air serani.

Adikku yang perempuan yang bungsu, Sumatri, baru-baru ini telah membuat ujian klein-ambtenar. Ialah anak gadis Jawa yang pertama sekali telah membuat ujian itu! Bagus, bukan?

1 Februari 1903 (IX)

Sekarang tentang orang-orang tua kami sendiri. Iba hati melihat kegirangan hati mereka itu oleh karena kami akan tinggal di sini. Juga mereka itu amat menerima kasih kepada tuan! Kalau dipikir-pikir benar, baik juga kami dahulu meminta sungguh-sungguh hendak pergi ke negeri Belanda. Sekarang kedua orang tua itu berbesar hati dengan ke

Betawi dan tiadalah pula ada beralangan untuk maksud-maksud kami yang lain, hanyalah ibuku meminta yang kami berdua selalu hendaknya tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama. Adakah yang lebih bagus dari itu lagi? Itulah pula yang kami kehendaki benar.

Saya wajib meminta terima kasih lagi atas nasihat tuan yang terbit dari hati persahabatan itu. Amat besar kebaikan percakapan tuan itu bagi diriku. Apalah pula sebabnya maka tak akan saya katakan kepada tuan, bahwa keberstan dari pihak-pihak sanak saudara belumlah kami pikirkan, yani tentang pergi ke negeri Belanda itu adalah akan memberi berbahaya bagi hal keadaan kami sendiri. Tetapi mereka itu yang di bibirnya menamai sahabat-sahabat kami, tentulah amat suka menyiarkan kabar, bahwa kami ten-tulah akan menjadi Belanda benar, kalau kami telah pergi ke negeri Belanda itu, dan banyaklah nanti ibu-ibu yang gusar hatinya akan menyerahkan anak-anaknya kepada kami. Syukur alhamdulillah yang tuan lekas membukakan mata kami, sebelum hal itu kejadian, sebab itulah maka saya banyak meminta terima kasih kepada tuan!

Tadi pagi, ketika kami dalam kereta, kami telah mempersaksikan lagi dengan mata sendiri suatu kepercayaan anak negeri, yang benar-benar seperti kepercayaan anak-anak.

Ketika itu mereka ada di tanah lapang. Manusia dan bintang berkumpul bersama-sama meminta dua kepada Tuhan yang mahatinggi, supaya tanah yang dahaga itu akan ditu-runai hujan.

Di muka sekali duduklah beberapa orang alim dan di belakang mereka itu senteri-senteri perempuan berpakaian putih, dan sebelah menyebelahnya duduklah beratus-ratus orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak. Biri-biri, kambing, kuda dan kerbau ditambatkan orang pada beberapa pancang. Seorang ulama yang mengepalai sekalian itu ber-dirilah di muka dan meminta dua dengan suara yang nyaring. Orang yang banyak itu menjawab “amin”, “amin”; sementara itu kambing dan biri-biri pun turutlah pula mengembik.

Itulah sembahyang “istira” namanya. Itulah suatu kepercayaan dalam agama yang memilukan hati dan yang diper-cayai oleh bangsa kami yang masih bertabiat seperti anak-anak itu.

Sembahyang meminta rahmat itu tiga hari tiga malam lamanya. Tentu mengertilah tuan betapa besarnya hati mereka itu, dan betapa syukurnya kepada Allah, karena sesudah itu hari pun hujanlah dengan lebatnya. Dua mereka itu telah berlaku! Tahukah tuan apa kata orang? Oleh karena kami di tempat mendoa itu ada hadir bersamasama! Tak dapat kami memasukkan kepercayaan dalam hatinya, bahwa kami dalam hal itu tak ada berbuat apa-apa jupaun.

Dahulu dari itu di tempat-tempat lain, adalah pula diadakan oleh mereka itu sembahyang istira, dan setitik pun tak turunlah hujan; kebetulan pada tiap-tiap tempat itu tak adalah kami hadir, dan pada persangkaan mereka itu karena kami tak menghadiri orang sembahyang di sanalah, maka tak turun hujan. Sebab itulah maka anak-anak negeri percaya sungguh, bahwa kamila yang memberi berkat sembahyang itu. Sebab itulah pula dua itu lekas dikabulkan!

Benarlah amat pilu hati melihat mereka itu mempercayai agama dengan kepercayaan anak kecil itu!

Acap kali saya berharap, supaya saya ada menaruh perkakas potret dan pandai memotret, untuk hal-hal yang ganjil yang ada pada bangsa kami itu, lebih-lebih di mana-mana orang Belanda tak dapat masuk. Banyak benar yang hendak kami perlihatkan dan perkatakan hal-hal bangsa kami dengan sebaik-baiknya, sehingga orang Belanda bolehlah tahu benar-benar nanti akan keadaan bangsa Java.

Adalah orang yang berjanji kepadaku hendak memotret orang menanam padi, sejak dari bermula sampai kesudahannya, kerbau-kerbau dan buah angonnya (anak kecil tukang gembala), sekaliannya akan dipotretnya. Saya nanti akan memberi keterangan potret-potret itu, yani menurut perasaan dan pemandanganku tentang kepercayaan anak negeri, bangsaku sendiri.

Tuan tentulah mengetahui, bahwa saya amat suka membuat apa jupaun untuk tuan kedua. Demikian pun untuk keperluan perserikatan “Oost en West” selalu saya mau mengerjakannya, karena dalam hal itu tiadalah orang lain yang saya tolong, melainkan diriku sendiri, sebab sekalian itu berguna untuk bangsa kami, dan perasaanku telah menjadi satu dengan bangsa itu. Sekalian yang saya perbuat untuk bangsaku berguna pula untuk diriku. Minta sajalah apa-apanya kepadaku, suruhlah saya acap kali, janganlah tuan takut, bahwa sekalian itu akan memberati saya. Hanyalah dalam hal itu yang saya minta atas kesudian hati tuan sekalian, jikalau sekiranya kehendak tuan itu tak lekas datang seperti kemauan tuan, tuan akan sabar sedikit.

Saya telah bercakap dengan pandai emas, tentang pergi ke Solo, supaya ia di sana boleh belajar mengerjakan kulit penyu. Si tukang itu mau sekali, ketika kukatakan hal itu kepadanya. Ia telah pandai membuat sisir dan adalah perkakas baginya, tetapi mencat belumlah ia pandai benar, dan kepandaian itu pun nanti akan dipelajarinya pula di Solo. Dan lagi di sana orang pandai pula mengerjakan tulang dan mutiara, pekerjaan itu harus pula dipelajarinya dan ia pun suka pula mempelajarinya.

Kami sekarang dalam waktu permulaan benar hendak memajukan kembali kepandaian bangsa kami yang bagus itu. Dan sekalian pekerjaan itu tentulah tak lekas akan sempurna seperti patunca.

Saya mendapat sepucuk surat yang baik isinya dari tuan Dr. Pijzel, seorang dari kepala pengarang surat kabar “Eigen Haard” beserta beberapa buah gambar tentang pekerjaan mengukir. Gambar-gambar itu sungguh bagus cetaknya, bukan? Saya peroleh adalah beberapa buah, dicetak di atas kertas tebal yang bagus. Tahukah tuan lagi apa yang menyukakan hatiku? Karena nyonyalah yang mula-mula sekali menyuruh saya mengarang dengan nama sejati. Tetapi tak senang pula hati kami, sebab adalah orang yang membuat kami untuk menjadi perkakas melakukan barangnya. Rupanya hal itu telah menjadi adatlah kepadanya.

Senang hati kami mendengar kabar, bahwa di tanah Minahasa ada pula seorang anak gadis Bumiputera yang mempunya cita-cita “gila” seperti cita-cita kami. Lihatlah, rupanya bukanlah kami saja orang yang “gila”. Jikalau bangsawan di sini tak berkenan akan kami, dan anak negeri pun tak pula suka kepada kami, maka kami pergilah lari kepada saudara jauh yang sepikiran itu, kami pisahkanlah diri kami dari pada tempat yang ramai ini ke tempat yang tidak dikenal orang, dan di sana mencari kerja untuk kepala, hati dan tangan. Tentulah ada tempat di dunia yang amat luas itu, yang orangnya suka akan menerima kami.

Saudaraku perempuan yang sulung baru-baru ini ada di sini, kemarin ia telah berangkat kembali, tetapi ia tiada akan terus pergi ke Kendal, melainkan singgah dahulu ke Kudus kepada mertuanya yang perempuan, akan mempertahankan diri kami pada mertuanya itu. Sekalian hal yang kami tanggungkan baru-baru ini, menyebabkan kami menjadi pendiam dan insaf. Lihatlah ke Kudus, telah pergi seorang yang hendak mempertahankan diri kami, ialah yang dahulunya sangat melawan pikiran kami. Sekali-kali tiadalah kami pecahkan kepala kami akan membuat sebuah pidato, yang dapat mengibakan hatinya kepada kami. Kami hanyalah berkata dari hati kehati, dan tiba-tiba pilulah hati kami melihat saudara kami itu, dengan air matanya berlinang-linang, dan dengan suara yang gementar, berkata: “Baik, sampaikanlah maksud-maksudmu itu, sampaikanlah cita-citamu, saya akan memintakan engkau dua kepada Tuhan, supaya Ia akan memberi engkau rahmat!“

Kami bertanya lagi kepadanya: “Tiadakah engkau akan merasa hati, jikalau orang-orang lain menghinakan dan menyalahi kami?” Ia menjawab: “Orang-orang yang berkata sekarang sekeras-kerasnya itu, nanti akan menutup mulut-nya juga!” Saudaraku menyangka, yang mertuanya itu mau, dan suaminya pun mau juga memperkenankannya.

Bagaimanakah hal kami sekarang di rumah? Dahulu tak boleh kami memperkatakan maksud kami dengan orang lain; sekarang mereka itu sendiri memperkatakannya. Kami baru-baru ini memperkatakan bermacam-macam hal keadaan dengan seorang asing; berapalah besarnya hatiku melihat, karena ketika itu selalu saya berdiri dekat bapak. Dalam dunia pikiran pun, saya anaknya juga, itulah nyanyian dalam hatiku ketika itu! Bapak meminta orang itu datang ke mari, ialah akan menguji pikiran seorang dengan yang lain, karena hal yang seperti itu berfaedah untuk kami. O! adalah akan sampai rupanya mimpi kami itu, bahwa permulaan perjalanan kami itu dengan segala berkat mereka itu!

O, cobalah tuan pikir, sebelum kami mengirim surat kepada tuan Sijthoff, kami pekan yang lalu telah mendapat surat yang baik isinya dari padanya. Dalam surat itu ia mengatakan, bahwa ia menyesal karena telah mengatakan kami keras kepala, dan kekerasan kepala itulah, yang memaksanya menghormati kami serta berjanjilah pula ia dengan segala suka hati mau menolong kami. Apabila kami perlu akan pertolongan itu, bolehlah kami segera memberi tahukan kepadanya.

4 Maret 1903 (VIII)

Saya baru-baru ini sangat sakit. Beberapa hari lamanya orang bersusah hati oleh karena saya, dan penanggunganku waktu itu bukan buatan sakitnya. Syukurlah, kesengsaraan itu telah hilang, dan kesusahan itu telah ditanggung. O! dengan obat yang amat mudah saja orang membuangkan penyakit itu. Kami telah menuliskan nama-nama obat itu dalam kitab peringatan kami, yang berguna nanti untuk anak-anak kami.

Kemarin telah saya mulai lagi bekerja, adalah baik saja, dan hari ini saya mula-mula berkereta sesudah sakit.

Pilu hatiku melihat betapa bapak meminta syukur atas kesembuhan diriku ini. Saya tentulah duduk dekatnya, dan bapak selalu memegangku seakan-akan takutlah ia yang saya akan hilang. Itulah waktu yang amat berbahagia, kenang-kenangan yang berharga bagiku, itulah mestika untuk wak-tu yang akan datang! O, kami berdua telah banyak menang-gung, di hati dan di badan.

9 Maret 1903 (VIII)

Kami telah mendapat surat, bahwa di dalam sedikit hari lagi penyu itu akan tiba di sini, setelah itu barulah pandai emas itu akan pergi ke Solo. Senang hatiku sekarang, karena telah tiga cabangnya kepandaian anak negeri di tempat tumpah darahku, yang telah mulai hidup kembali, dan kami sekarang bekerja akan mencari juega cabangnya yang lain, hendak menghidupkannya. Mereka itu tahu dan maklum sekarang, bahwa maksud kami ialah hendak menyelamatkan mereka itu; mereka itu mengerti sekarang akan keuntungan-nya; dan dihormatinya kerja kami. Dengan segala suka hati dan rajin mereka itu sekarang bekerja bersama-sama dengan kami. Sekalian apa yang kami buat untuk mereka itu, tentulah akan menjadi sia-sia saja, jikalau sekiranya mereka tak tahu, bahwa kami bermaksud baik dan memandang untuk keselamatannya. Saya mengucapkan syukur sebab mereka itu telah mengerti akan hal itu.

Senanglah hati melihat betapa sekarang cabang-cabang kepandaian itu telah hidup kembali. Perempuan-perempuan yang menenun kain “dringin” telah banyak sekarang mulai bekerja, sampai di kampung, berkeliling kampung Melayu banyaklah anak Bumiputera yang bekerja. Sekaliannya adalah maju saja. Pandai emas itu sekarang telah banyak orang upahannya dan murid-muridnya. Dan lagi ada pula budak-budak yang minta belajar untuk mengukir kayu. Itulah suatu hal yang yang menggirangkan hatiku. Di antara anak itu adalah seorang anak dari kota, jadi tidaklah anak kampung Belakang Gunung, kampung orang pandai-pandai ukir. Murid-murid yang lain kami sendiri mencarinya; tetapi murid yang seorang, yang datang dari kota itu, ia sendiri memintanya kepada kami. Itulah yang sebenarnya. suatu tanda akan menyenangkan dan menyukakan hati! Syukur hatiku dalam hal itu!

Anak-anak yang masih kecil di rumah, nanti akan menyambung pekerjaan kami itu, jikalau kami tak ada di rumah lagi; kami akan menunjuki mereka itu dari jauh, kalau sekiranya mereka itu patut ditunjuki.

Adalah seorang mengadu kepada kami tentang orang yang tiada terima kasih, dan tentang dengki khianat kepada sesama manusia. Kami katakan kepadanya, bahwa jikalau ia kesal hati, karena manusia tidak terima kasih itu, tentolah kesalahannya sendiri.

Ia melihat kami tercengang dengan matanya yang besar, serta bertanya: “Kesalahanku jikalau orang kurang terima kasih kepadaku?“

“Ya, kesalahan tuanlah itu, kalau tuan bersusah hati karena itu; janganlah sekali-kali kita berbuat baik karena hendak mendapat terima kasih dari orang lain; kita berbuat baik maksudnya hanyalah karena pekerjaan itu baik, dan kita sendiri bersuka hati mengerjakannya.“

Menurut pikiran dan sangkaku obat yang sebaik-baiknya, supaya diri kita jadi bersenang hati, dan hidup orang lain dapat kita perbagus, hendaklah kita mencoba dengan sebanyak-banyaknya memaklumi berbagai-bagai hal. Makin banyak kita maklumi, makin kurang kesakitan hati kita, makin kasih dan makin adil timbangan kita untuk orang lain. Hal yang akhir itu menyebabkan hidup orang lain menjadi bagus, dan hal yang pertama itu memperbagus hidup diri sendiri; tidak bersakit hati akan sesuatunya, itulah artinya berbahagia.

Ia bertanya kepada kami lagi:

“Apakah yang akan engkau perbuat, jika engkau bertemu dengan seorang yang menarik hatimu?“

“Saya akan berbesar hati dan mengucapkan syukur, karena keadaan itu artinya, yang saya telah bertemu dengan seorang saudara sepikiran, dan makin banyak saudara sepikiran itu kita peroleh, makin baiklah hal kita, dan makin senanglah hati kita.“

“Saudara-saudara sepikiran tak pernah akan engkau peroleh!“

Keras sekali katanya itu; tentolah ia menyangka, bahwa sekalian laki-laki bangsa kami amat rendah budi pekertinya, atau boleh jadi juga ia menyangka, yang kemanusiaanku amat tinggi!

Sekiranya diketahuinya betapa saya telah bergirang hati, karena menerima sepucuk surat dari pada seseorang yang tak kami kenal, seorang muda, saudara sepikiran, niscaya berubahlah persangkaannya itu! Saya hendak mengirimkan surat itu nanti kepada tuan, kalau ada sempat. Surat itu surat dari seorang murid Sekolah Dokter Jawa. Dan isinya surat itu ialah suatu tanda bersuka hati, yang timbulnya tiada disangka-sangka, karena ia membaca karanganku di dalam surat kabar “Eigen Haard”, yang berpermulaan dengan kata pendahuluan dari tuan itu. Seperti laku anak-anak betul ... amat muda kesukaan hatinya yang bercahayacahaya itu, tetapi buah pikirannya seperti kepunyaan orang kebanyakan saja ... sendi yang tegu tampak dalam dirinya.

Itulah keindahannya orang pandai mengarang, mereka yang tiada dikenalnya mengatakan sahabat kepadanya, karena segala katanya berkenan di hati mereka itu! Saya berbesar hati memikirkan, bahwa tuanlah yang mula-mula membawa saya ke sana dengan memakai nama sendiri. Tentolah ada berkata nyia, jikalau kami dibelah orang yang amat kami kasihi, sebagai tuan.

Jikalau karangan itu ada memberi faedah, maka keadaan itu menurut kepercayaanku, terjadinya sebab tuanlah yang membawanya ke dunia yang terang ini. Banyak pendapatanku bertambah karenanya, dan ia pun telah sampai pula ke tempat yang dimaksudnya.

Untuk tukang-tukang ukir kami, karanganku itu amat menyenangkan hatinya. Oleh karena karangan itu telah bertimpalah pesanan datang.

19 April 1903 (IX)

Menahan hati sendiri, itulah yang perlu benar saya pelajari. Baik benar banyaklah mereka itu dalam waktu yang akhir ini telah memberi saya nasihat dalam hal itu.

Saya acap kali melihat tempat penimpanan kertas tulisku dengan hati kasihan; tetapi saya harus menyabarkan hatiku; kesukaanku hendak menulis tak boleh selalu saya manjakan; kesukaanku hendak menulis tak boleh kuperbuat akan melepaskan lelaku saja.

Sedikit kabar yang menyenangkan hati. Mertua saudaraku Sulastri yang perempuan, suka benar hendak menolong kami, di mana jua pun; yang sebaik-baiknya baginya tentolah di Magelang, karena di sanalah kaum keluarga dan sahabat-sahabatnya diam, dan sekalian mereka itu menyukai pendidikan yang bebas. Iparku lekas sekali menyukai maksud itu.

25 April 1903 (I)

Penakut, itulah kesalahan yang tak dapat diampuni, karena kami sendiri tiadalah dengan selekas-lekasnya mengirim surat kepadamu, ketika telah putus mupakat, bahwa kami untuk sementara tak dapat memetik buah dari hasil pekerjaanmu yang mulia itu ... Tak adalah orang lain yang lebih heran lagi tentang keputusan itu, lain dari pada kami sendiri. Se aliannya telah kami sangka akan datang, tetapi tak pernah sekali-kai kami menyangka dahulu, bahwa kami akan ber-kata dengan kemauan kami sendiri: “Kami tinggal di sini!“

Janganlah engkau pikirkan untuk diri kami, kaupikirkan-lah sahaja keperluan kami itu, dan apa daya upaya yang sebaik-baiknya centuk menyampaikannya; bagaimana yang akan baiknya, kami serahkanlah diri kami.

O, janganlah engkau menyangka, bahwa kami telah bertukar pikiran; tidak sekali-kali. Sedangkan sekarang surat permintaan kami telah terkirim kepada Gubernur Jenderal, kami masih percaya sungguh-sungguh, bahwa untuk mu-rid-murid kami kelak, pendidikan di tanah Eropa itulah yang sebaik-baiknya bagi kami. Tetapi ada lagi kebenaran yang lain, yang melintanginya: Untuk keperluan kami pada waktu ini lebih baik kami tinggal di Hindia!

Engkau tahu bahwa dahulu itulah suatu cita-ci-taku yang terbesar, dan sekarang pun masih begitu juga, yani menyempurnakan pendidikan kami mestilah hendaknya di Eropa. Mengertikah engkau betapa susah hati kami hendak bercerai dengan cita-cita itu, apalagi pada waktu sekarang, waktu yang boleh menyampaikannya? Sekiranya, kami berbuat seperti kesukaan hati saja, tentulah kami dengan hal yang demikian hendak mencari kesukaan untuk diri kami sendiri, karena kami pun tahu, bahwa keperluan yang besar itu dengan jalan yang lain dari pada pergi ke Belanda, lebih baik boleh dikerjakan. Kami sekarang bekerja tiadalah untuk diri kami sendiri, melainkan untuk keperluan itu saja. Pada waktu ini terbaiklah kami mengerjakannya ting-gal di sini. Maksud kami yang terutama sekali, hendak bekerja untuk orang banyak. Mereka itu harus tahu dahulu kepada kami; jikalau kami sekarang pergi saja dari sini, tentulah kami akan menjadi orang asing kepadanya. Dan jikalau beberapa tahun sesudah itu kami balik ke mari, tentulah mereka itu melihat kami seperti perempuan Eropa. Apabila orang tak suka menyerahkan anak-anaknya kepada orang Eropa, tentulah kesukaan mereka itu bertambah ku-rang lagi akan menyerahkan anaknya kepada seorang perem-puan Jawa, yang dipandangnya telah menjadi orang Belanda.

Maksud kami ialah untuk bangsa kami. Jikalau bangsa kami tak menyukai kami, apakah faedahnya Pemerintah mem-bantu kami? Lebih baik sekarang dengan selekas-lekasnya mulai bekerja, dan mengatakan kepada orang banyak suatu keadaan yang benar: lihatlah, sekarang adalah sebuah sekolah untuk anak gadis Bumiputera!

Pada waktu ini orang sedang asyik memperkatakan kami, di seluruh tanah Jawa orang tahu kepada kami, dan api itu harus selalu kami nyalakan. Kalau kami pergi dari sini, lama merantau, tentulah kesukaannya kepada kami itu makin lama makin kurang, kesudahannya hilang sama sekali. Kami sekarang dengan badan sendiri perlu memberi tahukan diri kami kepada orang banyak, dan mencoba mengambil hatinya serta mengajar mereka itu mempercayai kami. Sekiranya kami telah mendapat hati dan pekerjaan itu, barulah boleh kami maju berjalan ke muka.

Maksud pergi ke negeri Belanda itu tidaklah sekali-kali kami buang habis, Stella. Kami selalu boleh pergi ke sana. Dan jikalau kami dari Betawi pergi ke sana, lebih baiklah dari pada kami pergi dari sini ke negeri Belanda. Pertama-tama: untuk orang-orang tua kami. Tentulah mereka itu boleh biasa nanti berjauhan tempat dengan kami, dan dengan hal itu mereka itu lama-lama tiadalah akan canggung lagi mengengankan yang kami telah pindah lebih jauh ketapet lain. Bagi kami pun baik pula begitu. Lihatlah, kami belum pernah keluar rumah. Sekarang tiba-tiba tempat yang baik ini, tanah air kami, ditukari dengan tanah asing, jauh dari sekalian yang kami kasihi. Perubahan itu amat besarlah bagi kami.

Tetapi sekalian hal itu ialah perkara kecil, dalam hal itu kami tahu selalu melakukan diri, dan tiadalah kami takuti. Perkara yang terutama, ialah: kebencanaan untuk maksud kami sendiri. Hal itu tak pernah kami pikirkan, barangkali lupa karza kepongahan dan keberanian, atau karena terlampau berani dan terlampau pongah; pilihlah mana yang engkau sukai!

Oleh karena kebesaran hati kami atas cita-cita itu tiadalah lagi kami mengenangkan sedikit jua pikiran orang banyak, ya, kehormatanlah bagi kami dahulu jika dapat melawan pikiran mereka itu yang bersalahan dengan pikiran kami; pikiran kami itu kami muliakan sendiri, dan tiadalah kami mengacuhkan celaan orang. karena kami percaya sungguh aas kebaikan kemauan hati serta kenang-kenangan dan pekerjaan kami itu. Kami sampai sekarang masih mengatakan pikiran kami baik, tetapi dalam hal itu tak boleh kami berbuat demikian. Kami harus mendengar buah pikiran orang banyak. Bukankah kami hendak bekerja untuk bangsa kami, sebab itulah perlu kami berbuat supaya mereka hendaknya jangan melawani kami, artinya: kami tak boleh dengan kasar mencela buah pikirannya, yang sejak kecil sampai besar bersama-sama hidup dengan dia, yangan pikiran mereka yang keno itu.

Sabar! Kata orang-orang yang budiman kepada kami, kami adalah mendengarnya, tetapi sekaliannya kami tak mengerti. Sekarang barulah kami mengerti, Stella, sekarang barulah kami tahu, maksud kata yang selalu dipakai si pengubah dunia: Sabar!

Kami tak dapat mempercepat perjalanan keadaan itu, melainkan boleh jadi memperlambatnya, karena tergesa-gesa itu. Kalau orang banyak tiada menyukei kami, tentulah keperluan itu akan menjadi lambat. Sebab tentulah orang akan bergusar hati memberi anak-anak gadisnya pendidikan yang bebas, takut yang mereka itu nanti akan menjadi seperti kami, menjadi contoh yang tiada disukai oleh mereka itu.

Sabar, sabar sampai akhir zaman, Stella! Saya amat bersedih hati ketika kebenaran itu masuk ke dalam hatiku. Kami harus menahan hati, menjaganya, supaya karena kesukaan hati itu maksud kami jangan terganggu. Nyonya van Kol menulis dalam suratnya kepada kami: “Akan mencapai cita-cita itu, haruslah orang membunuh beberapa kenang-kenangan.”

Kenang-kenangan yang pertama telah kami bunuh; memberikan diri kami seperti seadanya kepada orang banyak.

Tidak, tak boleh orang banyak tahu, apa yang kami perangi. Nama musuh yang akan kami perangi itu tak boleh didengar orang. “Beristri banyak,” itulah namanya. Jikalau diketahui orang nama musuh yang kami itu, tentulah tak ada seorang juga yang akan menyerahkan anaknya kepada kami, untuk diberi pendidikan. Saya amat bersedih hati memikirkan hal itu; seperti dengan dustalah kami memulai mengerjakan pekerjaan kami itu.

Kenang-kenangan kami ialah supaya orang mesti tahu benar-benar kepada kami, dan karena kepercayaannya kelak, barulah mereka itu mau menyerahkan anaknya kepada kami. Hal itu tak boleh jadi.

Kami masih berdiri di hadapan kerja kami, dan kami lihat kenang-kenangan kami telah berangsur sebuay² telah hilang ...! O, Stella, janganlah engkau memberati menyalahi kami, karena membuangkan kenang-kenangan yang besar itu dengan berdukacita atas kehilangannya itu. Dukacita seperti sekarang telah mencukuplah. Engkau selalu mengetahui, bahwa itulah suatu kenang-kenangan kami yang besar: hendak pergi ke tanah airmu dan di sana kami hendak mengum-pulkan pengetahuan untuk bangsa kami. Tak usahlah saya memperkatakan itu lagi. Saya banyak meminta terima kasih, dan orang tuaku pun demikian juga kepadamu atas sekalian jerih payahmu bagiku ... dan yang tak berhasil itu! Tidak, Stella, pekerjaanmu itu tak hilang, pekerjaan tuan-tuan sekalian, tak kami memakan buahnya sekarang; tetapi untuk keperluan kami ia amat berguna. Pikiran orang banyak telah memandang keperluan itu, dan ahli pikir-an pun telah memikirkan pula hal itu. Hasil pikiran sekalian itu tentulah nanti akan memberi berkat bagi bangsa kami.

Sekarang pun telah adalah orang yang berkuasa bertanyakan kepada kami tentang pendidikan bangsa Jawa.

Adakah mustahil orang-orang itu akan berbuat demikian, kalau tuan sekalian tiada menarik hati ahli-ahli pikiran untuk kami? Adakah Pemerintah dan orang banyak itu mau bekerja menolong kami, kalau tuan-tuan lebih dahulu tiada bekerja untuk kami? Stella, seribu kali saya meminta te-rima kasih atas hatimu yang berkasih sayang sebanyak itu.

Tidak, kekasihku, pekerjaan dan kepandaianmu tiadalah hilang. Atas nama bangsaku saya meminta terima kasih ke-padamu. Bagi orang Jawa sekalian jerih payahmu itu akan berbahagia.

Maksud kami ialah kalau surat permintaan itu dikabulkan-an, dengan segera kami akan berangkat ke Betawi. Rukmini untuk belajar menggambar, menjahit dan merenda, ilmu kesehatan tubuh, membela orang sakit dan memalut orang luka. Untuk menggambar ia akan belajar kepada seorang guru sekolah gymnasium; untuk ilmu kesehatan tubuh ia belajar di Sekolah Dokter Jawa. Saya belajar akan menjadi guru. Ilmu itu telah saya pelajari beberapa bulan lamanya kepada seorang guru kepala. Saya hanyalah hendak membuat sebuah ejian saja. Kalau sudah kubuat itu, sekolah kami pun akan dibukalah di Magelang atau di Salatiga, keduanya negeri yang berhawa sejuk dan banyaklah dokter-dokter opsir bertempat di sana. Maksud-maksud kami amat tinggi: kalau sekolah itu telah sedia dan sekaliannya baik perjalanannya, maka kami hendak mengadakan pelajaran untuk tabib-tabib perempuan, perempuan pembela orang sakit dan dukun beranak. Dokter-dokter opsir itu akan mengajar mereka itu dan Rukmini akan mengepalai pelajaran itu. Pekerjaan yang seperti itu hanyalah dapat ditanggung oleh seorang perempuan, yang berbudi pekerti yang baik dan berpengetahuan.

Kami telah meminta kepada Pemerintah uang bantuan untuk mendirikan sekolah itu. Kalau permintaan itu tiada diperlakukan, kami akan meminta tolong kepada orang parti-kulir. Barangkali permintaan itu akan diperkenankan juga, kalau sekiranya kami meminta pertolongan kepada Seri Ba-ginda Maharaja Wilhelmina.

Demikianlah juga dahulu pikiran bapakku: belajar di Hindia, sesudah itu untuk meluaskan pemandangan pergi ke tanah Eropa. Tidaklah seperti maksud kami dahulu, belajar di Eropa dan tinggal di sana beberapa tahun lamanya.

Telah setahun sampai sekarang yang saya amat bersukacita berkirim surat kepadamu atas kedatangan tuan van Kol. Dan betul setahun sesudah itu, engkau mendapat surat ini. Stella, kasihilah saya sedikit lagi! Oleh karena hormatmu kepada segala sayang yang telah engkau tumpahkan kepadaku itu, saya berharap sungguh-sungguh kepadamu; Kasihilah saya sedikit lagi.

14 Mei 1903 (IX)

Baru-baru saya mendapat potret-potret sawah yang amat bagus; saya nantikan dahulu sampai padi masak, supaya bolehlah saya bermimpi-mimpi. Kalau karangan mimpi itu ada baik, akan saya kirim bersama-sama dengan potret-potret itu pergi ke tanah Belanda untuk dicetak.

Kami kemarin pergi ke Belakang Gunung. Berapa senangnya hati kami melihat kepandaian mereka itu yang amat bagus, dan melihat keselamatan hidup tukang-tukang kami itu! Kami lihat rumah si Singo telah berubah sejak kami pergi baru-baru ini ke sana. Ia sekarang telah mempunyai sebuah rumah kayu dan sebuah rumah batu! Senang hati melihatnya! Rupanya mereka itu amat berbahagia! O, cobalah tuan pergi melihatnya sedang bekerja! Kanak-kanak yang diajarinya itu sekarang telah pandai pula. Senang hati melihat kanak-kanak bekerja! Kami kemarin pergi ke sana dengan beberapa orang kenalan baik kami. Betullah seperti sangkaku dahulu; sebab sekarang mereka itu telah pergi ke sana, maka kepandaian tukang-tukang yang hina itu bertambah tinggilah pada maa mereka itu.

7 Juni 1903 (VIII)

Baru-baru ini saya telah berkenalan dengan seorang perempuan yang masih muda remaja; wajahnya hampir serupa dengan anak gadis yang akan menjadi menantu tuan. Ia amat bagus, o, amat bagus benar dan memandang ke mana-mana dengan berbesar hati serta berbahagia; Meskipun demi-kian telah banyak penanggungan si muda itu! Lihatlah begitu hendaknya sekalian anak-anak gadis tuan ini! Kalau demikian tentulah mereka itu akan sepadan dengan ibunya yang manis itu. Kami menyangka anak muda itu baru berumur 15-16 tahun, dan hampir tak percayalah kami bahwa ia telah menjadi ibu. Tubuh yang lemah lampai dan halus itu telah menjadi ibu! Sayang benar saya duduk ber-jauhan dengan dia, sehingga tak dapatlah saya bercakap-cakap dengan dia.

GUNUNG MURIA DILIHAT DARI SAWAH DESA BATE, JEPARA

Kami bertemu dengan dia dan dengan beberapa orang lain di rumah bapak muda.

Kami lebih dahulu telah berniat, pada malam itu akan menjawab sekalian tanya-tanya dan kata-kata orang kepada kami dengan kata “ia” atau “tidak” saja, karena kami berharap, kalau demikian diperbuat, tentulah orang tiada mau mendekati kami.

Hal itu baik jalannya, sampai seorang muda, suami si ibu yang bagus itu, datang duduk bersama-sama dengan kami. Ia mula-mula menceritakan yang ia berkenalan baik dengan Kartono, Yang bersama-sama dengan dia membuat ujian. Dengan tiada disengaja tertariklah hatiku mendengarkan katanya itu, tetapi saya lawani juga sedapat-dapatnya. Tiba-tiba ia memperkatakan kepandaian kami, bermacam-macam kepandaian bangsa Jawa, hal bangsa kami, agama Islam dsb. dan tiada dengan disengaja saya telah asyiklah berbincang-bincang dengan dia.

Nyonya, lihatlah bagaimana maksud kami yang sungguh tadi, sekarang telah menjadi sia-sia saja!

Pada malam itu banyaklah saya mendengar hal yang indah-indah, yang dahulu tak pernah saya ketahui!

Betapa girangnya hati kami melihat tari wayang sebagus itu. Demikian bagusnya ia menari, sehingga tak dapat kita memalingkan mata dari padanya. Ia menari amat halus dan amat bagus. Ia yang sebenarnya seorang perempuan, tetapi ketika ia menari itu perlu ia menarikan tari seorang laki-laki. Senang hati melihat apa-apa yang dipertunjukkannya itu! Pertunjukan yang menyatakan kekuatan dan keberanian, tetapi berapalah halus dan moleknya yang ditarikannya. Itulah kebagusan dan keindahan kepandaian kami, tiap-tiap gerakan badan dan tiap-tiap garisannya itu halus dan mulia dipandang!

Saya tiada akan melupakan keramaian di Demak yang dua hari itu. Tahu benar saya akan hal itu! Kami telah larut malam baharulah pergi tidur, tetapi kami tak dapat tidur nyeyak.

Di manakah boleh? ... Karena di luar rumah kedengaran orang bermain gamelan yang amat merdu bunyinya dan lebih-lebih suara orang bernyanyi yang amat indah. Kami tak kami akan menunjuki mereka itu dari jauh, kalau sekiranya mereka itu patut ditunjuki.

Adalah seorang mengadu kepada kami tentang orang yang tiada terima kasih, dan tentang dengki khianat kepada sesama manusia. Kami katakan kepadanya, bahwa jikalau ia kesal hati, karena manusia tidak terima kasih itu, tentolah kesalahannya sendiri.

Ia melihat kami tercengang dengan matanya yang besar, serta bertanya: “Kesalahanku jikalau orang kurang terima kasih kepadaku?“

“Ya, kesalahan tuanlah itu, kalau tuan bersusah hati karena itu; janganlah sekali-kali kita berbuat baik karena hendak mendapat terima kasih dari orang lain; kita berbuat baik maksudnya hanyalah karena pekerjaan itu baik, dan kita sendiri bersuka hati mengerjakannya.“

Menurut pikiran dan sangkaku obat yang sebaik-baiknya, supaya diri kita jadi bersenang hati, dan hidup orang lain dapat kita perbagus, hendaklah kita mencoba dengan sebanyak-banyaknya memaklumi berbagai-bagai hal. Makin banyak kita maklumi, makin kurang kesakitan hati kita, makin kasih dan makin adil timbangan kita untuk orang lain. Hal yang akhir itu menyebabkan hidup orang lain menjadi bagus, dan hal yang pertama itu memperbagus hidup diri sendiri; tidak bersakit hati akan sesuatunya, itulah artinya berbahagia.

Ia bertanya kepada kami lagi:

“Apakah yang akan engkau perbuat, jika engkau bertemu dengan seorang yang menarik hatimu?“

“Saya akan berbesar hati dan mengucapkan syukur, karena keadaan itu artinya, yang saya telah bertemu dengan seorang saudara sepikiran, dan makin banyak saudara sepikiran itu kita peroleh, makin baiklah hal kita, dan makin senanglah hati kita.“

“Saudara-saudara sepikiran tak pernah akan engkau peroleh!“

Keras sekali katanya itu; tentolah ia menyangka, bahwa sekalian laki-laki bangsa kami amat rendah budi pekertinya, atau boleh jadi juga ia menyangka, yang kemanusiaanku amat tinggi!

Sekiranya diketahuinya betapa saya telah bergirang hati, karena menerima sepucuk surat dari pada seseorang yang tak kami kenal, seorang muda, saudara sepikiran, niscaya berubahlah persangkaannya itu! Saya hendak mengirimkan surat itu nanti kepada tuan, kalau ada sempat. Surat itu surat dari seorang murid Sekolah Dokter Jawa. Dan isinya surat itu ialah suatu tanda bersuka hati, yang timbulna tiada disangka-sangka, karena ia membaca karanganku di dalam surat kabar “Eigen Haard”, yang berpermulaan dengan kata pendahuluan dari tuan itu. Seperti laku anak-anak betul ... amat muda kesukaan hatinya yang bercahayacahaya itu, tetapi buah pikirannya seperti kepunyaan orang kebanyakan saja ... sendi yang teguh tampak dalam dirinya.

Itulah keindahannya orang pandai mengarang, mereka yang tiada dikenalnya mengatakan sahabat kepadanya, karena segala katanya berkenan di hati mereka itu! Saya berbesar hati memikirkan, bahwa tuanlah yang mula-mula membawa saya ke sana dengan memakai nama sendiri. Tentolah ada berkata nyia, jikalau kami dibelah orang yang amat kami kasihi, sebagai tuan.

Jikalau karangan itu ada memberi faedah, maka keadaan itu menurut kepercayaanku, terjadinja sebab tuanlah yang membawanya ke dunia yang terang ini. Banyak pendapatanku bertambah karenanya, dan ia pun telah sampai pula ke tempat yang dimaksudnya.

Untuk tukang-tukang ukir kami, karanganku itu amat menyenangkan hatinya. Oleh karena karangan itu telah bertimpalah pesanan datang.

27 Juni 1903 (IV)

Tentulah segala pekerjaan tuan kepada kami telah hilang, karena tak adalah sepucuk diuga surat yang datang dari padaku. Ampunilah saya, wahai mamanda yang baik budi. Adikku tentu telah mengatakan kepada tuan, yang saya dalam bulan Februari dan Maret sakit keras, dan kemudian segala waktuku habis dirampas oleh pengajaran. Banyak pekerjaan yang telah saya tinggalkan dahulu. Telah banyak benar kesalahanku, apalagi kepada sahabat-sahabatku. Tak adalah saya mengirim kepada mereka itu sepatah kata pun. Sekarang saya maklumi betapa salahnya perbuatanku yang dahulu itu; sepatah kata selamanya lebih baik dari pada berdiam diri saja. Dalam waktu beristirahat tak mau saya dahulu mengambil tempoh itu untuk kesenangan diriku, melainkan makin keraslah saya mau bekerja, karena banyaklah lagi yang hendak saya pelajari.

Tetapi hidupku sendiri telah memberi saya tempoh dengan cara yang tiada senang.

Hari inilah saya baru bangun dari tempat tidur, sesudah sakit yang dua pekan lamanya terbaring saja. Hampir sekalian penyakit telah datanglah kepadaku. Selesma, demam, sakit bengek, pusing kepala, sakit perut dan kesudahannya sakit puru campak dan sakit cecar air (ketumbuhan). Benar-benar sekalian itu telah mengancam saya. Orang tuaku dan adik-adikku tak pernah keluar dari tempat tidurku; kekasih saya itu semuanya amat sungguh menjaga dan memelihara-ku. Penjagaan mereka itu boleh benar menjadi contoh. Adikku Rukmini seperti bidadari kasihnya menjagaku. O! tak tahulah tuan betapa sayangku kepada anak itu; setiap hari rupanya makin teguhlah ia terikat di hatiku. Ia selalu mengatakan, bahwa saya lebih mulia dari padanya, tetapi itu tak benar; ialah yang lebih mulia dari padaku; tentulah pengakuan tuan tentang hal itu demikian juga.

Baru-baru ini kami mendapat sepucuk surat yang panjang isinya dari nyonya van Kol, yang telah membesarkan hati kami benar, karena mendengar kabar yang tuan telah mengirim surat kepadanya tentang hal kami. Di sanalah kami melihat kesayangan tuan yang sungguh dan persahabatan tuan yang tulus bagi kami. Saya banyak meminta terima kasih kepada tuan, wahai sahabat yang kusayangi dan yang berhati suci!

Sekarang tuan tentu tak bergusar hati lagi, karena kami akan tinggal di Hindia juga. Kami harus menyampaikan terima kasih dan salam kepada tuan dari tuan dan nyonya van Kol. Waktu ini amat banyak kerjanya, kalau ada tempoh ia akan berkirim surat kepada tuan. Sekarang biarlah kami saja membalas surat yang kepada tuan dan nyonya itu. Tentang hendak pergi ke negeri Belanda itu, sebenarnya sama pikirannya dengan tuan. Bahwa sebenarnyalah tak pernah nyonya van Kol membuang-bayangkan kepada kami, bahwa kami akan bersenang-senang hati nanti kalau telah tinggal di negeri Belanda, tetapi sejak dari semulanya ia menunjukkan kepada kami dengan sungguh-sungguh akan keberatan, kesusahan, kecewaan dan kesedihan hati yang bergenung-genung itu, yang menanti kami di negeri Belanda. Tetapi karena sedemikian harapan kami dahulu, maka ia pun berbuat sedapat-dapatnya, supaya harapan kami yang besar itu dapat disampaikan.

Betul heran kita karena ialah, yang berusaha dengan sedapat-dapatnya, supaya kami dapat pergi ke negeri Belanda, dan ialah pula sekarang dengan lemah lembut dan kasih sayang yang telah menimbang maksud kami yang bertukar itu.

Dunia hidup bersama-sama ini telah banyak mengajar kami, lebih-lebih dalam beberapa bulan yang baru lalu ini. Ialah pula yang mengajar kami membedakan antara persahabatan yang benar dengan persahabatan yang pura-pura.

Tentelah saja pengajaran itu kami perolah dengan melukan hati kami. Bukan buatan banyaknya kami telah berutang budi kepada Nellie. Ia telah mengajar kami menimbang dengan lemah lembut. Doakanlah kami! Kami selalu memandang dan mengingat kepada Tuhan. Sekalian kemauannya mestilah menjadi!

Harapanku besar benar hendak birkirim surat kepada tu-an, sebab itu berbaringlah saya di atas sebuah kursi panjang menulis surat ini dengan pinsil. Saya berharap yang tuan laki istri menerima surat ini dalam segala keselamatan. Terimalah dari adikku hormat yang terbit dari hati yang suci dan salam tazim dari anak tuan.

KARTINI.

Kami belum mendapat jawab tentang surat permintaan kami itu. Kami amat ingin hendak menerimanya.

4 Juli 1903 (VIII)

Telah banyak benar kami berperang dan menanggung kesengsaraan. Pada pikiran kami telah cukuplah itu, dan oleh karena penanggungan dan peperangan itu telah patutlah rasanya kami mendapat bahagianya: Menjadi pengantin bangsa kami, bangsa yang kami cinta itu! Maksud hati kami itu rupanya akan sampai benarlah, tetapi sekarang tiba-tiba telah terjauh pula kami dari maksud itu. Ibu, wahai ibuku! Diamlah tuan, janganlah meratap, janganlah mengeluh, janganlah menangis.

Saya mau mendoa, mendoa sampai ke akhir zaman, meminta sungguh-sungguh; Walaupun apa jua yang akan kami perolah pada waktu yang akan datang, tetapi tetaplah kami meminta, moga-moga kami dapatlah tinggal seperti biasa: berhati berani, percaya dan berserah diri!

Acap kali benar kami mengatakan kepada orang lain: Janganlah berputus asa, dan janganlah menyuempahi kesengsaraan karena putus harapan. Dalam kesengsaraan itu adalah terletak kesenangan. Tak adalah sesuateu hal yang terjadi, yang bersalahan dengan kata kasih-sayang.

Apa yang disumpahi sekarang, besok akan menjadi rahmat. Percobaan itu ialah pendidikan dari Tuhan yang maha-kuasa. Siapa yang mengatakan dan mempercayai hal itu di-hatinya sendiri, haruslah pula pandai menanggungkannya. Sekarang gilirankulah pula menanggungkan dengan diri sendiri sekalian nasihat-nasihat yang telah kuajarkan dahulu-lu itu.

Saya sekarang sekali-kali tiada mau lagi memikirkan peperangan, penanggungan, kesusahan dan percobaan itu; sekaliannya membuat kepalaku pusing dan hatiku sakit; saya hendak bernapas sekarang dalam hawa bunga-bungaan yang semerbak baunya, dan mandi dalam cahaya matahari; sekalian itu adalah pula tersedia dan itulah pula yang akan jadi pembujuk dan penyenangkan hatiku.

Sekarang saya ceritakan kepada tuan bunga-bungaan yang semerbak baunya dalam taman kami itu.

Ibuku, kami telah mulai mengerjakan pekerjaan kami yang menyenangkan hati itu.

Sampaikanlah kepada suami nyonya terima kasihku atas nasihatnya, menyuruh kami bekerja selekas-lekasnya dengan tiada menaruh surat ujian. O! cobalah tuan pikirkan. Sekolah kami telah bermurid tujuh orang, dan selalu datang permintaan hendak menjadi murid. Senang hatiku sekarang!

Kami dahulu tak berani berharap yang pekerjaan itu akan begini jadinya.

Anak-anak itu amat senang hatinya, dan orang-orang tuanya bergirang hati! Murid-murid yang pertama ialah anak seorang pegawai yang amat saleh dalam jajahan negeri kami. Kami telah bercakap-cakap dengan ibunya. Karena telah terang kepadanya sedikit-sedikit, maka maulah ia kesudahannya menyerahkan anak gadisnya kepada kami. Adik si gadis itu yang perempuan belum lagi berumur lima tahun, tak suka tinggal di rumah, ia suka benar dan harus turut pula bersekolah. Ya Allah, sekian kecilnya, sehingga ia hampir tak dapat melihat ke atas meja. Kalau saya tidak menyuruhnya duduk di atas bangku-kaki, saya ambillah ia di atas pangkuanku. Anak kecil itu dengan segala kekerasan hatinya hendak turut bekerja bersama-sama. Kemudian dari pada anak-anak itu, datanglah pula gadis-gadis anak seorang collecteur dan seorang lagi gadis anak asisten collecteur. Dua hari yang telah sudah, jaksa di Karimun Jawa mengirim anaknya ke mari belajar. Cobalah ibuku pikirkan, mereka itu mengirimkan anaknya ke mari, dan disewakannyalah di sini tempat tinggal dengan membayar makan! Kami amat mengucapkan syukur! Orang tua anak-anak itu amat berbesar hati akan maksud kami itu, sehingga adalah beberapa orang yang memberikan anaknya benar-benar kepada kami ... tetapi kami belum suka menerima nya ... nanti, dengan segala suka hati kami menerima nya. Pada hari ini telah datanglah adik perempuan si Husin, murid Sekolah Dokter Jawa, mau belajar di sini. Kemarin telah datang pula seorang ibu yang masih muda kepada kami, dengan sesalnya mengatakan kepadaku, yang rumahnya amat jauh dari tempat kami, kalau tidak, maulah ia sendiri datang belajar. Sekarang ia tak dapat belajar, sebab itulah sekalian pengajaran yang tak dapat diterimanya akan diserahkannyalah kepada anaknya. Dan coba pula tuan pikirkan, anaknya itu belum lagi berumur setahun. Kalau ia telah berumur enam tahun akan diserahkannya anak itu kepada kami, Meskipun di mana juga kami tinggal; ia pun meminta sungguh-sungguh supaya kami akan menerima anaknya itu.

Anak-anak murid kami itu datang ke mari empat kali sepakan dari pukul 8 sampai pukul 12½. Mereka itu belajar menulis, membatta dsb., menjahit dan merenda serta belajar masak-memasak. Kami mengajar mereka itu bukanlah seperti aturan yang biasa di sekolah, melainkan menurut pendapatan kami sendiri, sebagaimana kesukaan anak-anak Jawa belajar.

O! ibuku, tuan kedua baiklah datang melihat anak-anak itu, tentulah tuan akan berbesar hati melihatnya. Mereka itu datang dengan berpakaian bagus, dan amat manislah rupanya, tubuhnya segar dan hatinya masih suci. Mereka itu memudahkan pula pekerjaan kami, sebab kencang otaknya, lekas dapat menerima pengajaran dan cakap, apalagi lekas mau menurut apa yang dikatakan. Mereka lekas percaya kepada kami dan bebas bercakap-cakap dengan kami.

Adalah pula di antara mereka itu seorang anak yang bagus, mula-mula amat banyak tingkahnya, tetapi sekarang besar hati kami melihatnya, tak beringkah lagi. Ia tidak mau lagi menjilat-jilat bibirnya, dan tak mau lagi bermain-main dengan matanya yang bagus itu, melainkan bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya. Rupanya tingkahnya yang buruk dahulu itu asalnya karena tak ada kerjanya!

Betapa bagusnya mereka itu bercampur gaul bersama-sama. Mereka bercakap-cakap seorang dengan seorang, dalam bahasa Jawa tinggi dengan halusnya, sedikit pun tak adalah kakunya.

Pada hari ini adalah seorang di antara kami dalam rumah yang akan merayakan hari lahirnya. Kami hendak menjamu mereka itu dengan cara yang amat ganjil. Mereka itu pagi ini patutnya merenda dan menjahit, tetapi kami buat hari ini hari memasak-masak. Berapalah sikapnya tangan-tangan yang kecil dan yang halus-halus itu bekerja! Yang seorang membuat kue putu, yang seorang lagi membuat kue lapis dan yang seorang membuat kue serikaya. Merah padam muka mereka itu mengerjakannya.

Lihatlah pula mata mereka itu bercahaya-cahaya! Dengan besar hati mereka itu pulanglah ke rumah masing-masing memperlihatkan masakannya itu kepada orang tuanya. Lihatlah, itulah suatu rahmat, rahmat yang besar bagi kami. Kami lah yang membuat pekerjaan itu yang mula-mula sekali untuk adik-adik kami yang perempuan itu.

Kardinahlah nanti yang akan mengajar menjahit, merenda dan masak-memasak dan Sumatri akan mengajarkan kepan-daian yang lain.

Beruntunglah kami masih ada lagi menaruh perkakas untuk menjahit dan merenda; selama barang-barang itu masih ada juga, mereka itu akan memperolehnya dari kami dengan tiada membayar; dan kemudian anak-anak, yang orang tuanya berada, tentulah harus menyediakan sendiri perkakas untuk anaknya. Tetapi perkakas sekolah yang lain tak adalah pada kami. Di manakah dapat kami membeli kitab-kitab bacaan bahasa Belanda dan bahasa Jawa? Maukah ibu memintanya kepada tuan? Kalau sekolah itu tinggal baik dan murid-mu-ridnya bertambah banyak, maka adalah harapan kami ... akan meminta uang bantuan. Bolehkah hal itu pada pikiran nyonya? Bantuan itu bukanlah untuk kami sendiri, tetapi berguna untuk pembantu ongkos-ongkos sekolah itu. Pegawai-pegawai negeri yang berpangkat rendah, sekali-kali tak dapat sedikit juga mengeluarkan uangnya. Kepala-kepala negeri yang bergaji f 50.— hanyalah dapat memelihara anak-isterinya saja, dan kadang-kadang isterinya pun turutlah pu-la bekerja keras; tak adalah lagi uangnya berlebih untuk pembeli apa-apa yang lain. Dan kami pun tak dapat pula selamanya memberi sekalian keperluan anak-anaknya itu. Nyonya pun tentulah maklum hal itu.

Kalau saya telah boleh berjalan, kami akan pergi ke Sema-rang; saya harus diperiksa oleh dokter di sana. Penyakit bengek dan pusing kepala itu haruslah hendaknya hilang benar-benar, tak boleh datang lagi berulang-celang kepadaku. Dan waktu itu kami akan pergi pula membeli barang-barang yang perlu untuk anak-anak kami. Kami di sini sekarang tiadalah mempunyai jarum rendah dan batu-tulis barang sebuah jupoien.

5 Juli 1903 (VI)

Berapalah baik dan sayangnya tuan kepada kami, selalu tuan hendak menggirangkan hati kami. Dan jikalau saya pikirkan betapa kami, apalagi saya, hendaknya membalas sekalian kebaikan dan kesayangan tuan itu. Rupanya amat kurang terima kasih kami, hampir tak adalah ubahnya, seakan-akan saya tak menghargai sekalian kebaikan dan kesayangan tuan ... Anakanda K. betul pandai benar berdiam diri seperti orang bisu.

Ampunilah saya, wahai mamanda yang baik hati!

Pada dua hari yang terlampau, tuan berkirim salam dengan mengirimkan sebuah kitab “Album Kern”, ketika itu pikiran saya pun melanyanglah ke Zonder, dan saya berjanji akan mengikuti pikiran itu dengan tutur kataku. Dan saya sekarang amat berbesar hati karena janjiku dapat kusampaikan.

Kami meminta terima kasih kepada tuan atas salam yang terbit dari hati tuan yang kasih-sayang lagi amat berharga itu; dan kitab itu telah saya baca dengan gembira hati.

Jikalau sekiranya sekalian buah pikiranku peri hal tuan saya tuliskan, tentulah bergenung-gunung surat yang akan tuan terima dari sini!

Nyonya van Kol dengan ramahnya dan baik hatinya memperbincangkan tuan, itulah yang membesarkan hati kami, karena itulah suatu cita-cita kami benar, bahwa sekalian mereka yang kami kasihi dan kami hormati itu, hendaknya akan bertemu satu dengan yang lain, dengan hati yang baik.

Bagaimanakah tuan keduanya sekarang, mamanda? Adakah tuan keduanya di dalam sehat dan baik-baik saja di Zonder? Adakah pernah tuan melihat di sana orang-orang dari Toraja? Saya dapat memikirkan sungguh-sungguh yang tuan bersusah hati, karena tuan harus meninggalkan pekerjaan tuan beberapa lamanya. Di mana hati kita telah tertumpah, tak mudah kita meninggalkan tempat itu; di situlah adanya nasib kita yang akan datang, dan di sanalah dunia hidup kita.

Sekarang saya ceritakan kepada tuan kabar yang menyennangkan hati. Sambil menanti-nanti apa-apa yang akan datang, kami telah memulai juga pekerjaan kami itu. Di rumah telah kami dirikan sebuah sekolah, dan telah ada bermurid tujuh orang banyaknya, anak-anak gadis kepala-kepala negeri. Tapi kami mendapat kabar, bahwa esok akan datang lagi tiga orang anak-anak dari luar negeri.

Kami bermula sekali bermurid hanyalah seorang saja, tapi tak berapa lamanya murid itu telah menjadi lima orang dan keesokan harinya menjadi delapan orang, dan beberapa hari lagi murid kami akan menjadi sepuluh orang.

Selalu kami berbesar hati melihat anak-anak kami itu. Segar tubuh mereka, lagi suci hatinya, dan betapalah pula bagusnya mereka itu bercampur-gaul bersama-sama. Mereka itu lekas percaya kepada kami; Meskipun mereka itu perlu memperhatikan adat tertib sopan, tetapi mereka itu selalu bebas, tiadalah ada perbedaan pangkat dan derajat dalam pergaulan kami. Ke sanalah pula kami hendak pergi. Betapalah pula anak-anak itu memudahkan kerja kami, karena kencang otak mereka itu, lekas masuk pengajaran kepadanya, lagi cakap dan mau menurut sekalian apa yang dikatakan. Belumlah sekali juga kami terpaksa mesti menghukum mereka itu.

Anak-anak itu amat suka datang dan belajar dengan riang hati lagi rajin, dan orang-orang tuanya sangat bersukacita dalam hal itu. Sekalian itu menunjukkan kepada kami, bahwa kami hanyalah mengerjakan apa-apa, yang sepatutnya telah lama dibuat orang. Besar rahmat yang dicurahkan oleh Tuhan yang pengasih penyayang kepada kami. Bagus dan berbahagia benar pekerjaan yang diberikannya kepada kami itu. Moga-moga dapatlah kami mengerjakannya dengan sepatutnya, dapatlah pula kiranya kami selalu memuliakan kepercayaan orang kepada kami!

Itulah yang kami kehendaki benar-benar, yang kami minta sungguh-sungguh, supaya boleh kami mendidik hati kecil mereka itu, yang suci, segar dan yang belum ada bernoda itu, hati yang putih seperti kaca, dan dapatlah kiranya kami membentuk budi pekerti di dalamnya.

Mendoalah tuan untuk kami. Moga-moga tuan akan memberi rahmat akan maksud dan pekerjaan kami itu!

O! adalah pula orang nanti hendaknya, yang suka berbuat seperti kami! Memang banyaklah orang sekarang yang cakap berbuat demikian, tetapi mereka itu patut digocoh dahulu supaya bangun. Kami telah mencoba menghubungkan silaturahim kami dengan anak-anak gadis dan perempuan-perempuan yang sama banyak pengetahuannya dengan kami, tetapi maksud itu tak berlaku. Membebaskan kemauan itu, biarlah kami bekerja sendiri. Seperti perbuatan kami sekarang ini barangkali lebih mustajab. Dan ... tak adalah usaha yang lebih baik dari pada memberi contoh yang bagus dan berani bekerja dahulu.

Seorang anak muda yang tak kami kenal, murid Sekolah Dokter, telah mengirim sepucuk surat kepada kami, menyerahkan dua orang adiknya, anak mamak mudanya kepada kami. Ia minta kalau boleh kami akan membentuk dengan sebaik-baiknya budi pekerti anak-anak itu. Kami wajib mengirim surat kepada anak gadis-gadis itu. Kami suka sekali mengerjakan kerja itu, tetapi tak tahulah kami entah maksudnya itu adalah akan sampai.

Anak muda itu amat gembira dan banyak cita-citanya. Adalah lagi seorang anak muda tempat saya berkirim-kiriman surat. Anak itu ialah anak paman kami. Berapalah besar hatinya ketika ia boleh berkirim surat kepadaku!

Kami lebih banyak berbahagia dari pada orang-orang lain, oleh karena asal kami dan pangkat bapakku. Itulah yang terutama sebabnya, dan ada pula lagi hal yang lain-lain, yang menyebabkan kami mudah membuat barang sesuatunya.

Apa yang kami perbuat sekarang semuanya baru. Dahulu-lu tak pernah anak-anak gadis berkirim-kiriman surat dengan anak-anak muda. Sekarang seperti biasa sajalah kami berbuat sedemikian, dan seakan-akan begitulah biasanya. Kami bercampur-gaul dengan mereka itu seperti orang bersahabat, dan mereka itu memandang kami seperti saudara-saudaranya yang perempuan.

Itulah suatu keadaan bagi mereka itu yang baru benar; karena kami yang berasal tinggi, sekali-kali tiadalah hina bagi kami akan bercampur-gaul seperti bersahabat dengan mereka yang berasal rendah.

Saudara sepupu kami itu telah mempercayai kami dan memandang kami seperti saudaranya yang lebih tua dari pada nya, tempat ia meminta nasihat, dan ia pun amat suka mendengarkan kata kami. Selalu saya meminta kepada Tuhan sungguh-sungguh, moga-moga kami tiadalah akan mendapat ma-lu atas kepercayaannya itu; kami berharap supaya kami selalu boleh memberi apa-apa yang dimintanya dan yang dicarinya pada kami.

Besar bukan buatan hati kami berkenalan dengan budi pekerti yang muda, suci dan gembira itu! O! kami berharap moga-moga dunia hidup bersama-sama ini tiadalah akan merusakkan cita-citanya itu!

Tak pernah rasanya kami lebih besar berbahagia, lain dari pada bahagia yang kami peroleh karena membantu orang lain.

Heranlah kami memikirkan, karena kami selalu merasa yang kami lebih tua dari pada mereka, yang sebaya dengan kami, dan kadang-kadang pun dari pada orang-orang yang memang lebih tua dari pada kami. Tentulah itu sebabnya karena kami telah banyak merasai penangungan, dan telah banyak pula hal yang telah dipikirkan dan diurungkan.

Amat sombong bunyinya, jikalau kami di sini menyebutkan anak-anak kami, pada hal mereka itu patutlah kami namai adik-adik kami yang tiada sebegitu muda dari pada kami. Tetapi mereka itu sendiri telah menyangka kami seperti ibu-nya, dan tidaklah seperti saudara-saudaranya.

Ibu dan saudara perempuan dari orang bersama-sama, banyak-banyak, o, moga-moga Tuhan akan menjadikan juga kami yang demikian!

Sekolah kami kalau boleh janganlah keadaannya seperti sekolah benar-benar, dan kami pun janganlah seperti guru sekolah, melainkan sekolah itu haruslah keadaannya betul-betul seperti sebuah rumah tangga yang besar, dan kami menjadi ibu-ibu anak-anak itu.

Kami akan mengajar mereka itu bersifat kasih sayang dengan berbukti sekali, seperti yang telah kami maklumi dan kami pakaikan.

Ketika kami masih muda adalah suatu pedoman yang kami pakai dan yang mudah sekali diiku: Apa-apa yang tidak engkau sukai diperbuat orang di atas dirimu, janganlah sekali-kali engkau perbuat di atas diri orang lain.

Nyonya van Kol banyak menceritakan kepada kami cerita nabi Isa dan rasul Petrus dan Paulus. Sekalian itu menyenangkan hati kami mendengarnya.

Apa pedulinya kita agama mana yang dipakai orang, dan bangsa apa dia. Orang berhati tinggallah ia menjadi orang baik, dan budi pekerti yang bangsawan, tinggal bangsawan juga. Hamba Allah yang bersifat demikian adalah di dalam tiap-tiap agama dan segala bangsa.

Saya telah membaca kitab “Quo Vadis,” dan heranlah saya memikirkannya, dan saya kasihilah orang-orang yang bersengsara karena agama itu, sebab dalam penanggungan yang seberat itu mereka masih mengucapkan syukur dan amat percaya kepada Tuhan yang mahatinggi, serta menghormati Tuhan dengan nyanyian yang bagus-bagus. Saya telah turut berpilu hati dengan mereka itu, Ataupun bersukacita bersama-sama.

Tahukah tuan kitab “Wiy beiden” karangan Edna Lyall? Itulah kitab yang amat bagus juga. Ia memperkatakan mereka yang tiada mengaku akan keadaan Tuhan dan orang-orang Serani, pun jua memperkatakan, bahwa agama Serani itulah agama yang sebenar-benarnya, dan keadaan agama Serani yang telah diputar-putar dan diubah-ubah orang, seperti yang telah acap kali kejadian di dunia ini. Luke Raeburn ialah seorang yang mulia hatinya, Meskipun ia tiada mengaku kepada Tuhan, dan anaknya Frica Raeburn, bagus dan mulia hati, yang mula-mulanya tiada mengaku kepada Tuhan, tapi kemudian menjadi orang Serani yang percaya sungguh kepada Tuhan dengan tulus dan saleh.

Bapak dan anak yang berkasih-kasihan satu dengan yang lain, sehidup dan semati bersama-sama.

Telah kami baca pula: “De ziel van een volk” tentang agama Budha. Itulah pula hikayat yang amat bagus. Sekarang kami amat suka benar hendak membaca tentang agama Yahudi. Barangkali kitab-kitab karangan tuan Zangwill yang

akan memberi kami apa yang kami cari itu: “Droomen van het Ghetto.”

7 Juli 1903 (VIII)

Besok kami akan mengajar pula ... itulah yang menyenangkan hati kami kedua ... sembilan orang murid-murid, dan banyak pula lagi mereka yang meminta masukkan anak-anaknya, di antaranya ada pula anak-anak orang Melayu. Itulah suatu kemenangan! Demikianlah dunia hidup ini, ada yang jatuh ada yang berdiri, ada yang tertarung ada yang berjalan, ada yang kalah ada yang menang.

Antara surat ini dengan surat yang akan datang, adalah surat-surat yang tak dapat disiarkan. Dalam surat-surat itu adalah diterangkan juga, bahwa pengarang surat itu dan adiknya Raden Ajeng Rukmini telah menolak besluit Gubernemen, tak suka menerima uang bantuan yang f 4800.—itu untuk belajar di Betawi itu; dan demikian lagi dikabarkannya tentang perkawinannya yang akan terjadi seperti tersebut dalam surat 1 Augustus 1903 (VII).

24 Juli 1903 (VIII)

Sekarang adalah pengharapanku yang besar sekali kepada nyonya, tetapi yang sebenarnya kepada tuan. Maukah nyonya menyampaikan permintaanku itu kepada suami nyonya yang mulia itu? Hati kami sangat tertarik kepada seorang anak muda, dan kami suka benar melihatnya, supaya hidupnya berbahagia.

Anak muda itu bernama Salim², anak Sumatera datang dari Riau. Pada tahun ini ia telah membuat ujian penghabisan di H.B.S. Di antara sekalian murid-murid yang membuat ujian itu, dari ketiga H.B.S. di Hindia ini, ialah yang mendapat nomor satu dalam ujian. Anak itu amat suka sekali hendak pergi belajar ke negeri Belanda untuk menjadi dokter. Sayang sekali maksudnya itu tak dapat disampaikannya, karena kekurangan belanja. Bapaknya hanya bergaji f 150.— saja.

Meskipun ia akan menjadi kelasi, maulah ia asal dapat pergi ke Belanda. Tanyakanlah tempatnya kepada Hasim. Ia kenal kepada anak itu, dan ia pun telah mendengarnya berta-kap-cakap di Stovia. Anak itu berani dan pandai, patut benar ditolong!

Ketika kami mendengar keadaannya serta cita-citanya itu, timbulah hasrat di hati kami yang sebesar-besarnya hendak menolongnya akan memudahkan menyampaikan cita-citanya itu. Waktu itu terkenanglah kepada kami akan besluit Gubernemen yang terbit pada 7 Juli 1903 itu ... besluit penjawaban yang kami nanti-nanti dengan hati yang pilu, dan demikian pun menerima dengan hati yang pilu pula.

Wajibkah hasil daya upaya sahabat kami yang mulia itu, dan hasil harap-harapan, dua dan cita-cita kami akan hilang-lyenap saja, tidak dipergunakan?

Tak dapatkah orang lain mempergunakannya? Gubernemen telah memberi kami uang bantuan f 4800.— untuk menyempurnakan pendidikan kami. Tak dapatkah uang itu diberikan kepada orang lain, yang barangkali lebih perlu, tetapi sekali-kali tak kuranglah dari pada kami, yang harus pula ditolong?

Berapalah baiknya jikalau sekiranya Pemerintah suka membayar ongkos pengajarannya itu semuanya yang besar-nya kira-kira f 8000.—; kalau tak dapat sekian banyaknya, kami pun akan mengucapkan syukur, apabila Salim boleh kiranya menerima uang yang f 4800.— yang telah diberikan kepada kami itu. Dan berapa kekurangannya, biarlah kami mintakan pertolongan kepada orang lain.

O! berilah ia merasai lezat cita kesukaan, yang telah lama menjadi cita-cita di hati kecil kami, dan yang tak dapat kami peroleh itu.

Jadikanlah kami berbahagia, dengan memberi orang lain, yang mempunyai kenang-kenang, perasaan dan maksud yang sama dengan kami itu, bahagia. Kami telah mengetahui bagaimana halnya menyimpan perasaan yang hidup dalam hati, cita-cita seperti api dalam dedak di dada yang busung. O! janganlah hidup yang muda sebagus itu, dan kekutan yang sesegar itu dibiarkan saja hilang melayang! Ia wajib diusahakan dengan sebaik-baiknya untuk keperluan bangsa Bumiputera, karena kekutan yang demikian amat beruna benar bagi mereka itu.

Jika Salim nanti sampai menjadi dokter, alangkah banyaknya kebajikan yang boleh dibuatnya untuk bangsanya!

Cita-cita Salim pun: bekerja untuk bangsa kami.

Permintaan kami ini ialah suatu permintaan yang gila, hal itu kami ketahui; tetapi ya Allah, jika sekiranya ia dapat dikabulkan! Wahai ibuku, tentulah peperangan yang telah berbulan-bulan, bertahun-tahan yang telah kami tang-gungkan, tiadalah akan hilang lenyap, tiadalah akan menjadi sia-sia saja.

Berilah kiranya kami merasai kelazatan hadiah yang jarang-jarang bertemu itu, melihat dalam hidup kami hasil penanggungan kami itu, yani: Cita-cita Salim wajib disampaikan.

Moga-moga Tuhan akan mengabulkan dua kami ini!

Salim sendiri tak tahu akan kerja kami ini; sedangkan bahasa kami ada di dunia ini pun ia tak tahu. Ia hanyalah mengetahui, bahwa ia dengan segala kesungguhan hatinya bermaksud hendak menyampaikan pelajarannya, supaya dapatlah ia nanti bekerja untuk bangsanya, tetapi sekalian itu tak dapat dilakukan, karena ia tak beruang.

Kami hidup, berharap dan berdoa untuk Salim.³

1 Augustus 1903 (VII)

Inilah sepucuk warkah yang pandak akan mengabarkan kepada tuan dengan selekas-lekasnya, tentang perubahan yang baru dalam nasib hidupku. Saya tiadalah lagi akan menjadi seorang perempuan yang berdiri sendiri saja untuk menyampaikan maksud kami; seorang laki-laki yang kuat dan mulia hatinya akan berdiri di sisiku, menolong menyampaikan usahaku, yang berfaedah untuk bangsa kami!

Dalam hal itu usahanya telah jauh, dan telah adalah buktinya padanya, sedang saya ini ialah baru memulai.

O, ia seorang yang baik, pengasih dan penyayang, selainna dari pada berhati mulia, ia berkepala terang dan cakap.

Ia telah pergi ke sana, ke tempat yang dicintai oleh tunang-annya ini, tetapi Ni tak boleh pergi, karena tak diizinkan oleh bangsanya: ke negeri Belanda.

Itulah suatu perubahan yang amat besar, kami berdua bantu-membantu, dan tambah-menambah mana yang kurang, akan berjalan terus, menempuh jalan yang singkat, pergi menyampaikan cita-cita kami, untuk keselamatan bangsa kami.

Banyak buah pikiran kami yang sama. Tetapi sekarang nyona belum juga tahu, siapakah tunanganku itu: Raden Adipati Jojo Adiningrat, Regen di Rembang. Hingga inilah dahulu! Dengan lekas di belakang ini saya akan menulis lagi, dan harapanku lebih panjang dari pada surat ini.

1 Augustus 1903 (VIII)

Saya berhajat, hendak menghargai benar-benar nama yang diberikan orang kepadaku itu: anak kekasih Allah. Bukankah sudah kami katakan kepada tuan, bahwa kami telah lama menjauhkan diri dari sekalian bahagia untuk diri sendiri? Sekarang hidupku yang mencintai demikian itu telah meminta supaya saya menyampaikan janjiku itu. Sekarang suatu pun tiadalah hal yang akan teramat sedih menyusahkan hati kami, yang teramat berat, dan yang teramat keras, asal saja kami dengan hal yang sedemikian dapat menolong dengan suuit pasir untuk membuat mercu yang amat bagus itu, yang bernama: bahagia Bumiputera.

Sekarang saya hendak menguji: berapakah harga kemanusiaan diriku?

Kemarin, betul-betul suatu hari yang penting pula bagi kami ... Kami mendapat surat dari Departemen van Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid menanyakan kepada kami, sudikah kami menerima pemberian Pemerintah itu, yami kami akan diajar untuk menjadi guru dll. Sekiranya kami tak sudi, haruslah kami memberi keterangannya hitam di atas putih, supaya dapat dikirim kepada Gubernur Jen-deral.

Bagaimanakah hendaknya keterangan yang diminta itu patut diaturkan? Dengan pendek dan buang kulit tampak isi sajakah, yaitu dikatakan saja yang saya tak dapat menerima pemberian itu, karena saya telah bertunangan; atau saya tak sudi menerima karena saya sekarang telah mendapat jalan bekerja yang lebih baik akan menyampaikan cita-citaku untuk bangsaku? Berusaha di sisi seorang laki-laki yang cakap dan berhati mulia, yang saya hormati tinggi, dan bersama-sama dengan saya amat cinta akan bangsanya, dan yang sudi pula menolongku dengan sungguh-sungguh dalam usahaku, tentulah dalam hal itu saya boleh bekerja berbu-at baik untuk bangsa kami itu, lebih banyak dari pada jika kami berdua sama-sama perempuan saja, yang masing-masing berdiri sendiri, mengerjakan pekerjaan itu.

Dan Rukmini pun tak mau pula menerima pemberian itu, karena ia tak dapat, tak cakap dan tak mau berjalan sendiri. ia bermaksud dengan jalan yang lain hendak menyampaikan cita-citanya. Kemudian tentulah kami meminta banyak terima kasih dan menghormati Pemerintah, yang telah menunjukkan lagi sebenar-benarnya terutama bermaksud mau memajukan keperluan yang berguna untuk anak Bumiputera; asal saja seseorang dari pada anak Bumiputera mengeluarkan suaranya, tentulah suaranya itu akan didengar oleh Pemerintah; dan jika sekiranya anak Bumiputera mengeluarkan suaranya untuk bahagia anak negeri pada waktu yang akan datang, tentulah maksudnya itu akan disampaikan oleh Pemerintah. Jika Pemerintah telah berbuat begitu, niscayalah tanah Belanda akan bertambah dekat di dalam hati anak negeri. Sekarang kami telah mengaku, bahwa Pemerintah mau berbuat demikian; dan tanah Belanda mau memberi bahagia akan tanah Hindia. Sekalian kataku itu bukanlah kata yang bohong, kami percaya benar-benar.

Sekalian anak negeri yang kenal kepadaku telah berharap dan memintakan dua: “Bendoro Ajeng Tini tak boleh pergi kelain tempat lain dari pada ke kabupaten.”

Dan mereka yang berhati sederhana itu, sekarang telah bergirang hati, karena maksudnya akan sampai. Dan anak nege-ri pun berbesar hati, karena begitulah pula niatnya untuk “bendoronya.” Lihatlah oleh tuan betapa sahabat-sahabatku itu bergirang hati. Vox populi vox dei. (Suara Bumiputera itulah suara Tuhan). Jikalau benar kata itu maka ialah akan menjadi suatu kenyataan, bahwa Tuhan telah mengubah jalanku, lain dari pada jalan yang hendak kutempuh dahulu.

Moga-moga tuan akan menjadi suatu rahmat, tempat orang banyak akan bernaung, seakan-akan sebuah pohon yang rindang, tempat orang banyak bernaung melepaskan lelahnya dalam panas terik. Begitulah niat beberapa orang tua akan saya.

Mudah-mudahan dapatlah kiranya saya menyampaikan niat orang-orang tua yang berhati sederhana itu.

Adalah sekarang sebuah pekerjaan yang berat menanti saya; benar-benar terlampau beratnya; tetapi jika saya dapat menyampaikannya, maka tiadalah ada kebajikan yang lain, yang sebaik-baiknya dapat kupertuat untuk bangsaku.

Suruhan atas diriku, bekerja hendaklah sampai-sampai, karena itulah perbuatan yang sebaik-baiknya untuk hidup di dunia.

Meski bagaimana jua pun halnya untungku sekarang ini, itulah untung bahagia yang sebaik-baiknya dan yang sebagus-bagusnya dalam hati anak Bumiputera. Perkawinan-ku itu akan memberi kebaikan bagi cita-cita kami itu. Ialah akan memajukan pikiran orang-orang perempuan, ibu anak-anak, supaya mereka akan menyuruh anak-anak gadis diberi pendidikan. Keadaanku ini lebih berharga dari pada seribu kata-kata yang menggembirakan hati, sebab keadaan-anku ini terus masuk ke dalam hati mereka itu sendiri. Mereka itu sekarang telah mendapat kebenaran, bahwa kebagus-an dan kekayaan terlipurlah oleh budi pekerti dan pikiran yang sempurna.

Sekarang teringat olehku akan kataku sendiri, ketika seorang bertanya kepadaku, bagaimana patutnya orang men-didik anak-anak gadis dan perempuan bangsa Bumiputera, maka saya pun berkata: Bangsa Jawa itu samalah dengan bangsa-bangsa lain di Hindia ini, yang suka akan cahaya dan pancawarna, karena mereka itu sekalian anak yang bercahayakan matahari. Kalau demikian berilah mereka itu kehendak-nya itu; tetapi apa yang diberikan kepadanya itu, haruslah baik dan sejati.

Tak boleh kami sekarang berkasar-kasar mengubah adat istiadat tanah kami ini; anak Bumiputera bangsa kami ini tentu akan mendapat cahaya dan cemerlang yang dike-hendakinya itu. Kebebasan perempuan tentulah akan datang, ia sungguh akan datang; tetapi kami tak dapat melekaskan kedadatanganya itu.

Kami tak dapat menolak kedadatangan sesuatu kecelakaan; ia mesti datang, tetapi sesudah itu datanglah kemenangan! Kami tiadalah akan hidup lagi apabila kemenangan itu da-tang; tetapi biarlah, apatah salahnya?

Kami telah turut menolong membuka jalan, yang pergi menuju ke tempat itu ... ingatan itu pun telah mem-besarkan hati kami!

Janganlah tuan bersusah hati; suamiku itu tiadalah akan melemahkan saya pun; karena saya pandai terbanglah, maka saya tinggi dilihatnya dalam pemandangannya. Ialah yang akan memberi saya waku banyak-banyak, supaya saya dapat membebaskan saya pun kian ke mari; ialah yang akan melu-askan padang kerjaku.

Ia sudi menerima anak tuan ini, dan tiadalah ia akan me-neruruhku akan menjadi orang di dapurnya saja.

8 Augustus 1903 (VIII)

Tahukah tuan hari ini, apakah? Hari inilah hari yang menyatakan, bahwa kita telah tiga tahun bersahabat. Tiga tahun yang telah lalu kita mula-mula bertemu. Tiga tahun yang telah lalu, ketika itulah pula tiga orang anak-anak gadis bersuka raya atas pemberian Tuhan kepadanya: sahabat-sahabat yang disukai oleh hatinya! Anak-anak gadis itu sekarang telah menjadi perempuan besar, keningnya telah berkerut dan hatinya pun telah seperti keluar dari dalam api. Telah angus dan menjadi debukah hati itu, atau telah menjadi sucikah dia sekarang, karena telah mandi dalam api itu?

Kami tadi amat bergirang hati, berkeliling meja tempat saya duduk sekarang; tadi kami berlima duduk di sana sama-sama bekerja. Yustinah, dukun beranak dan kami berempat. Ia datang ke mari tadi pagi dan menumpang di sini sampai pekan yang akan datang. Kami sayang sekali kepadanya, sebab ia seorang yang baik dan bagus. Ia mempergunakan waktunya di sini dengan sebaik-baiknya, dan belajar kepada kami menjahit dan merenda; tadi ia sedang menekat selop. Cepat sekali ia belajar, dengan sebentar saja telah pandai ia mengerjakan pekerjaan itu. Berapalah besarnya hati dan senang perasaanku tadi pagi, ketika ia merebahkan kepalanya seperti seorang saudara kandung kebahukeu, ketika saya menerangkan kepadanya kereya merenda dan menjahit itu. Sekarang ia merasa seperti di rumahnya sendiri. Saya amat suka melihat matanya yang selalu riang dan bercahaya-cahaya itu, dan banyaklah pula berarti. Ia anak orang desa. O, berapalah banyak berkatna, jika pengajaran itu datang dari hati yang penuo dengan kasih cinta! Nyonya tentulah akan berbesar hati melihatnya. Ia selalu berhati gembira mendengarkan kata saya, dan betapa suka hatinya bertanya-tanyakan apa yang tak diketahuinya itu. Sekiranya tuan ada dekat kampung halaman kami, maulah saya membawanya kepada tuan nanti.

Perempuan itu telah menolong 48 orang perempuan yang bersalin. Wah, ia masih kecil, hampir serupa anak-anak.

Regen Rembang akan datang ke mari pada tanggal 17 bulan ini; saya telah meminta kepadanya yang ia akan membawa anak-anaknya sekali; saya suka benar hendak berkenalan dengan mereka itu, karena merekalah yang akan menjadi bahagia bagi kami pada waktu yang akan datang. Untuk mereka itu, jikalau perlu, maulah saya bekerja dan hidu, berperang dan menanggung kesengsaraan. Saya berharap yang mereka akan cinta dan kasih kepadaku. Itulah yang saya minta kepada bapanya, yang ia akan memberikan anak-anak itu sekaliannya kepadaku. Kenang-kenangan saya: banyak-banyak mereka itu hendaknya yang akan menjadi anak kepadaku, rupanya cita-cita itu sekarang akan sampai.

Banyak lagi orang yang hendak memberikan anaknya kepadaku, ump: asisten collecteur di sini, yaitu seorang anak regen yang kaya. Ia berkata kepadaku: “Jadikanlah anak saya bujang tuan, suruhlah ia menyapu lantai rumah tuan, mengambil air, dan kerja lain-lain, asal saja ia boleh tinggal dengan tuan.” Saya mendengar katanya itu sambil tersenyum, tetapi dalam hatiku saya menangis.

Saya tak berkata sepatah jua pun kepadanya, dan saya tak mau berjanji apa-apa kepadanya, melainkan saya meminta dua, moga-moga sekalian anak-anak yang diserahkan orang kepadaku itu, dapatlah saya peluk dalam hatiku, dapatlah saya peliharakan dengan kasih sayang.

Hanyalah seorang anak kecil saja yang akan saya bawa ke Rembang, seorang gadis yang kira-kira berumur delapan tahun, yang telah diberikan orang tuanya kepadaku. Ia anak seorang guru dan telah pergi ke sekolah. Anak itu betul-betul baik, tajam pikirannya dan cakap. Kalau ada kecakapannya, maka saya pun hendak menyerahkannya untuk belajar suatu kepandaian yang disukainya. Sekarang ia hanya mendapat pengajaran menjahit dan merenda dari pada adik-adikku.

Di keresidenan Rembang adalah gadis-gadis dan perempuan-perempuan yang sama pelajarannya dengan kami; dengan mereka itulah saya hendak berkumpul bersama-sama.

Iparku yang perempuan pun, seorang yang telah kena penyakit “kesopanan” Eropa, sangatlah menyenangkan hatiku. Waktuku tinggal di rumah orang tuaku, tak berapa lagi; hanyalah tinggal dua bulan saja, kemudian datanglah orang yang akan melindungiku itu menjemput saya. Ia bersama-sama dengan adiknya, Regen Tuban, baru-baru ini datang ke mari. Harinya telah ditentukan pada tanggal 12 bulan November yang akan datang; sekalian itu akan dilakukan dengan diam-diam, hanyalah kaum keluarga saja yang akan menghadirinya, kami keduanya tiada akan memakai pakaian pengantin, ia akan berpakaian angkatannya, dan saya akan berpakaian seperti yang biasa tuan lihat. Sekalian itu ialah permintaanku dan permintaannya. Anak-anaknya sayang tak dapat datang ke mari bersama-sama, mereka masih kecil dan perjalanan ke mari amat susah.

25 Augustus 1903 (VIII)

Di Rembang nanti banyak dan luaslah pekerjaanaku, dan syukurlah saya tiada akan bekerja seorang diri saja; ia telah berjanji akan menolongku dengan sungguh-sungguh. Itulah kehendak, harapan dan maksudnya: akan menolongku yang berkehendak akan berbuat jasa bagi anak Bumiputera. Ia sendiri pun telah bertahun-tahun bekerja membuat sedemikian. Ia pun berkehendak akan memberi anak-negeri pendidikan dan pengajaran; oleh sebab ia sendiri tak dapat memberi, sebab itulah ia menyuruh orang lain mengerjakannya. Banyaklah kaum keluarganya yang disuruhnya belajar, dan ialah yang memberi mereka belanja pengajaran.

Yang diharapkannya kepadaku ialah: yang saya akan memberi rahmat kepada anak-anaknya dan anak-anak negerinya. Moga-moga maksudnya itu dapat saya sampaikan dan janganlah ia menjadi kecewa.

Saya mengucapkan lagi karena kaum keluarganya pun suka benar akan pilihannya itu. Mereka itu mengharapkan yang saya akan memberi anak-anaknya pendidikan. Dengan bekerja seperti pendidik, itulah saya akan datang ke sana, dan pekerjaan yang lain tiadalah saya acuhkan lagi.

Kadang-kadang lupalah saya, bahwa berbuat seperti sekarang ini banyaklah cita-citaku yang akan hilang; saya berpikir, bahwa sekarang jalan lainlah yang akan saya turut, lain dari pada jalan yang telah saya rentangi dahulu. Dan saya pun memikirkan dan mengenangkan hal itu selalu, karena ialah yang memberi saya hati yang sabar dan yang membesar hati hatiku.

Suatu pun tak adalah yang sempurna di dunia ini, dan suatu pun tak boleh pula semporna benar dalam alam ini.

Saya dahulu berharap, bermaksud dan meminta dua supaya saya akan menjadi ibu bagi orang banyak atau menjadi saudara bagi mereka, dan sekarang Tuhan telah memberi saya karunianya itu, Meskipun karunia itu sedikit dari maksudku dahulu itu.

Ia pun bermaksud demikian juga hendak memajukan derajat bangsa kami. Ia sungguh amat baik bagi anak Bumiputera dan pegawai-pegawainya; mereka itu kasih kepadanya seperti menatang minyak yang penuh.

Dua hari yang lalu asisten collecteur itu semalam-malaman duduk dekat bapak memperkatakan anak gadisnya itu. Ia hendak memberikannya, supaya dapat beroleh pendidikan. Isterinya pun telah memperkatakan hal itu pula dengan saya, dan sekarang suaminya pula yang datang meminta kepada bapak.

Anak-anak yang lain dari sini ada pula yang menurut dengan daku; tak tahulah saya, entah akan saya bawalah anak-anak itu sekaliannya atau tidak; sedih hatiku menolak permintaan mereka itu, dan saya pun tak mau menjanjikan-nya. Biarlah kita lihat dahulu, bagaimana keadaanku nanti di sana.

Saya sekali-kali tiadalah bermaksud hendak membuang-buang tempoh, untuk tandang-bertandang. Untuk keperluan itu akan kami tentukan hari-harinya, dan pada hari-hari yang lain tiadalah orang akan saya terima, kecuali dalam hal yang perlu. Orang tentulah akan memaafkan saya, jika diketahuinya, bahwa saya berbuat demikian, bukanlah karena sombong saya, melainkan karena waktu amat bergu-na kepadaku untuk menolong orang banyak, barangkali juga untuk menolong anak-anaknya sendiri.

Untunglah negeri Rembang negeri yang sunyi; dan betapalah senang hatiku karena ia pun tak suka pula berjalan-jalan seperti saya.

Besar hatiku lagi karena residen di sana pun suka pula akan cita-cita kami itu. Tentulah saya tak akan canggung tinggal di sana.

Tahukah tuan siapa yang akan saya dapati lagi di sana, yaitu sahabatku yang besar sekali: laut! Lacet di sana hanyalah 100 langkah saja jauhnya dari rumah kami.

Ketika orang mengatakan kepadanya, bahwa saya amat suka memajukan pertukangan emas dan ukir-mengukir, maka ia pun berkata, bahwa di sana pun ada pula tukang emas dan tukang ukir, mereka itu hanyalah menantikan orang yang akan memberi aturannya saja. Ia pun pandai pula bertukang. Kerja itu menyehatkan badan. Dan dengarlah pula suatu kabar yang baik ... Barangkali Singowirio pergi bersama-sama; itulah tukang ukir yang tinggal di Belakang Gunung.

Ke Betawi tak mau ia menurutkan bendoronya itu, tetapi sekarang karena jalan kami telah berubah, maulah ia menurutkan saya. Banyaklah maksud kami yang baik untuknya.

Akan memajukan perkara pertukangan, maka haruslah dahulu sedia uang dan petunjuk. Bermula sekali harus dibuat rumah pertukangan yang besar dan mempunyai tukang banyak-banyak, dan anak-anak yang patut diajar untuk menjadi tukang; anak-anak itu harus diperhatikan selayu pekerjaannya, sebab itulah mereka akan beker-ya dekat rumah kami. Sekiranya adalah uang untuk mendirikan rumah pertukangan itu, dan untuk membeli perkakasnya dan membayar orang upahan, serta memelihara beberapa orang murid, maka Singo suka menjadi kepala pertukangan itu.

Pada pikiranku pokok untuk mendirikan pertukangan itu dalam setahun, selama-lamanya dalam dua tahun bolehlah dapat kembali.

Saya dahulu hendak mendirikannya di sini, tetapi oleh karena maksud hendak pergi ke Betawi itu, maka maksud itu pun tiadalah menjadi. Adik-adik kami tentulah boleh juga akan menguruskan pertukangan itu, tetapi pekerjaan itu amat payah untuk anak-anak kecil itu. Lagi amat besar penanggungannya. Tetapi sekarang keadaan itu telah lain. Kami sendiri dapat mengerjakannya, asal kami dapat mengumpulkan uang untuk mengerjakannya, dan tentulah pertukangan anak negeri Bumiputera akan maju dan berbahagia.

Baru-baru ini kami berdiyalan bersama-sama dengan tuan Brandes, adik Dr. Brandes; ia suka sekali mendengar kabar tentang hasil pertukangan anak negeri. Ketika saya berkata tentang hendak mendirikan sebuah toko kecil untuk hasil pertukangan anak Bumiputera itu di Semarang, maka ia pun suka pula hendak menolong dengan segera. Tuan harus mengetahui pula, bahwa orang di Semarang tak suka memesan barang-barang ke Betawi, jika barang-barang itu dapat dibeli di Semarang. Banyak orang hendak mendirikan toko itu dan meminta pertolongan kepada kami, tetapi kami tak dapat berjanji, melainkan kami menyuruh mereka pergi minta pertolongan kepada perserikatan “Oost en West”. Rupanya orang telah mendapat jalan yang baik. Perserikatan “Oost en West” wajib membuaka sebuah toko di Semarang. Untuk berbuat sedemikian perlu uang, dan perserikatan “Oost en West” tak banyak menaruh uang. Ketika saya mengatakan hal itu kepada tuan Brandes, maka ia pun berkata: “Jangalan tuan bersusah hati tentang perkara uang itu. Uang itu bolehlah didapat asal tuan mau menguruskan hal yang lain.” Saya pun menjawab: “Sepatutnya orang yang halus perasaannya, yang akan mendirikan toko di Semarang itu. Orang yang demikian pun bolehlah dapat, asal saja tuan suka menyuruh tukang-tukang: itu memperbuat benda-benda yang bagus.”

Saya telah mendapat surat dari padanya, ia telah memperbincangkan perkara itu dengan beberapa orang sahabatnya, dan banyaklah mereka yang suka menolong pekerjaan itu dengan uang.

Saya katakan juga kepadanya bermacam-macam daya upaya tentang hendak memajukan kepandaian ukir-mengukir.

Dengan segera ia bertanya berapa banyaknya uang yang perlu bagi kami untuk mengerjakan pekerjaan itu. Saya belum mengatakan kepadanya, berapa uang bergun, karena saya harus bertanya dahulu kepada orang pandai-pandai: berapa upah mendirikan rumah pertukangan itu, dan berapa harga kayu, berapa upah orang mengerjakannya, dan berapa upah tukang-tukang ukir itu dibayar, untuk mereka itu bekerja dalam beberapa bulan.

Rumah pertukangan itu mula-mulanya haruslah sederhana saja, tak usah bagus. Perkara yang terutama, ialah uang mestilah ada sekian banyaknya, sehingga kira-kira lima puluh orang tukang dapat bekerja selalu; artinya mereka itu tak usah lagi menantikan hasil pekerjaannya laku dahulu, maka dapat upah.

Rembang itulah tempat yang amat baik untuk tukang ukir, sebab di situ banyak tumbuh pohon jati dan pohon sono (sana).

Singopuno menyukai maksud itu. Sekiranya ada beruang sekarang! Kalau pekerjaan itu baik jalannya, banyaklah orang nanti yang suka menurutkan saya! Sebab itulah pula maka saya menjadi seorang perempuan kaum muda. Sebenarnyalah itu, bahwa saya akan membawa uang jujuran yang ganjil.

Regen Rembang kawin dengan seisi kota. Apa pula sebabnya maka ia akan berdiri antara anak Bumiputera dan isterinya itu?

Ya, alangkah malangnya saya ini, karena waktu saya tiba di sana nanti dalam waktu banyak keramaian, puasa, lebaran dan tahun baru. Saya telah katakan bahwa saya tak mau, yang orang akan mencium kakiku. Tak pernah saya mengizinkan orang berbuat demikian kepadaku. Saya suka dikasihi oleh mereka itu dalam hatinya, tetapi tak suka hormat-hormat di luar sahaja!

Tak dapat saya mengenangkan waktu yang akan datang, kalau tidak bersama-sama dengan Rukmini. Bagaimanakah halku jika ia tak ada, dan bagaimanakah pula halnya nanti kalau tiada saya? Kalau saya mengenangkan hal itu, maka semalam-malaman mata saya pun tak mau lelap sedikit jua pun.

19 Oktober 1903 (VIII)

Sudah tahukah tuan? Tanggal yang susah ditetapkan, sekarang atas permintaannya yang sekeras-kerasnya, telah-dilepaskan ... Tidaklah pada 12 hari bulan akan dilangs-sungkan, melainkan pada 8 hari bulan November, kira-kira pukul 5 petang, dan hari Rabu tanggal 11 hari bulan saya-pun berangkatlah dari rumah.

3 November 1903 (VIII)

Anak nyonya telah hidup kembali, ia hidup benar-benar. Hatinya gembira dan bergerak kembali. Gerakan itu bukanlah karena duka dan sengsara, bukanlah karena keputusan asa yang pedih dan muram, melainkan karena cinta yang penuh dan sejati, mendesir-desir dalam hatiku.

Alangkah kurangnya terima kasihku atas kekayaan yang sebanyak itu dalam diriku! Cinta yang sebanyak-banyaknya! Ya, cinta yang dapat memberi sekaya-kayanya. Saya sebagai anak kekasih Allah boleh memberikan yang ada padaku, dan saya pun mau memberikannya, penuh dengan cinta dan sayang kepada sekalian yang mengelilingiku. Apa yang telah nyonya dan sahabat-sahabat yang lain berikan kepadaku, akan saya berikan pula dengan bunganya sekali kepada orang yang lain. O, amat banyak, ya, amat banyak benar orang yang lapar dan haus kepada cinta!

Alangkah ganjil dan ajaibnya hal keadaan dalam hidup manusia. Terang sekali tampaknya, bagaimana lekat hatinya kepada bapakku, sejak mereka itu mula-mula bertemu, dua tahun yang lalu. Semenjak itu selalulah ia datang-datang kepada kami, dan akhirnya bapakku bersahabatlah dengan dia.

Dan kepada isterinya yang malang itu adalah suatu cita-cita hendak datang kepada kami, bersama-sama dengan suaminya dan anak-anaknya akan pergi berkenalan dengan kami. Regen Rembang dan isterinya itu keduanya memanggil bapakku “bapak” pula. Si istri yang suka sekali hendak berkenalan dengan kami itu, sayang sebelum ia dapat menyampaikan cita-citanya itu, maka ia pun berpu-langkah ke rahmatullah.

Beberapa hari ia akan berpulang itu, dilihatnya isterinya dalam mimpi: isterinya sedang duduk tepekur tengah sembahyang dan meminta dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang mahatinggi: “Supaya Allah mempersahabatkannya dengan Raden Ajeng Kartini dari dunia sampai ke akhirat tinggal kekal selama-lamanya.” Sejak itu maka namaku pun tak dapat dilupakannya lagi dari kenang-kenangannya.

Ya, sebetulnya regen itu banyaklah penanggungannya; kematian istri itu suatu kehilangan yang amat besar kepadanya, ia sangat cinta dan sayang kepada isterinya itu.

Pengharapanannya yang terutama untuk dirinya sendiri ialah, supaya biji mata bapaku, “wasiat-jati”nya demikianlah saya dinamai oleh regen itu akan menolongnya dalam keduaan dan kesengsaraannya itu.

O, ya, berilah saya dua yang berkat, bila saya pada sebelas hari bulan ini menaiki rumahku yang baru itu. Tentulah dua itu akan memberi berkat bagiku, bila hakekatnya tangan tuan yang mulia itulah membimbing saya masuk ke dalam hidu yang baru dan beban yang besar itu!

7 November 1903 (VIII)

Bundaku yang dicinta, terimalah salamku pada malam yang akhir dari anak tuan, yang masih gadis ini, sebelum ia akan dikawinkan. Besok pukul setengah enam kawinlah kami. Saya pun tahulah siapa pada hari besuk, semata-mata akan mengenangkan saya dalam hatinya yang penyayang itu.

Wahai kekasihku, sampaikanlah juga salamku kepada suami tuan dan sangkakan dalam ingatan tuan, yang tuan dipeluk dan dicium oleh anak kandung tuan yang sebenarnya.

K.

Rembang, 11 Desember 1903 (VIII dan IX)

Sahabat-sahabatku yang baik dan dicinta. Seperti saya tak tahu, yang tuan mencintai kedadangan suratku ini, surat yang pertama-tama sekali dari rumahku yang baru ini. Syukur kepada Allah, rumah dalam segala hal baik untukku dan penuh dengan sekalian yang saya cintai, tempat kami sekalian bersama-sama beruntung dan berbahagia.

Betapalah sedih hatiku, yang saya sebab beberapa alangan, baru sekaranglah dapat menulis surat ini kepada tuan kedua. Maafkanlah saya, hai kekasihku! Baru-baru saya datang amat banyak kerjaku, kemudian anak-anak kami ditimpa oleh penyakit, dan kesudahannya sekali saya sendiri menjadi kurang sehat, karena lelah dan payah pada waktu yang sudah-sudah. Saya merasa badanku kurang senang dan dalam hal itu saya harus menjaga diriku baik-baik. Sekarang saya telah segar dan rianglah pula kembali seperti dahulu, dan saya lihat waktu yang akan datang dengan pemandangan yang bersukacita.

Perlukah juga hal itu saya ceritakan kepada tuan, o kekasihku? Saya doakanlah hari waktu saya menunjukkan tanganku kepadanya, kawan yang telah diberikan oleh Tuhan kepadaku, yang akan menjadi sahabat bagiku dalam perjalanan hidupku yang amat berharga dan kerap kali bukan buatan sukarnya itu.

Sekalian yang bagus dan mulia yang terbayang-bayang dahulu di mataku bolehlah saya lakukan dan saya sampai-kan sekarang di sini. Mimpi yang sampai sekarang masih saya mimpikan, kiranyu sudah beberapa tahun yang lalu adalah yang telah dilakukan oleh suamiku, tetapi ada pula yang masih dimimpikannya juga. Kerap kali saya menjadi heran dan taajub karena kami dalam segala hal semata-mata boleh dikatakan seperasaan dan sepikiran serta cita-cita kami pun sama pula.

Tuan kedua tentulah akan sayang kepadanya, bila tuan telah kenal kepadanya, tuan tentulah akan tercengang melihatnya betapa terang kepalanya, dan akan menghargai kebaikan hatinya yang amat suci itu. Karena itulah saya sekarang berpikir, yang orang bangsawan mestilah hendaknya untuk orang banyak; dan itulah pula sebabnya maka saya kehendaki, supaya orang-orang bangsawan itu maklum hendaknya akan kewajibannya, dan kewajiban itulah yang patut diperlukan benar-benar oleh orang-orang bangsawan itu; ia, raja-hatiku, telah dahululah melakukan kewajiban itu.

Pada hari ini telah sebulan lamanya saya dibawa oleh suamiku ke mari, keafdeelingnyu, menaiki rumahnya yang sekarang telah menjadi rumah kami berdua.

Agaknya menerima raja Belanda Sekalipun tiadalah akan lebih kehormatan orang di sini. Seluruh negeri Rembang bersuka raya; sejak dari batas pada tiap-tiap rumah, terkibarlah bendera si tiga warna; bendi-bendi sewaan pun berbendera pula. Anak negeri betul-betul bergirang hati, kegirangan dan kesukaan itu semata-mata terbit dari hatinya yang ikhlas. Mereka bersama-sama bersorak dan bersukacita, karena suamiku membawaku ke beranda muka; sebab anak negeri mesti pula melihat Gusti Putri yang baru itu.

Saya duduk atau berdiri senantiasa di dekatnya dengan tiada berkata-kata, dengan air mata berlinang-linang, dan dengan hati yang perasaannya melimpah-limpah; dalam hatiku adalah terima kasih, ada kesombongan, sombong karenanya, karena ia tahu benar mengambil hati rakyatnya yang amat sayang kepadanya itu. Saya mengucapkan terima kasih karena sebuah cita-citaku yang besar telah menjelma atas dirinya; dan berbahagia besarlah rasanya saya duduk di sisinya. Hendaknya dapatlah tuan melihatku semenjak telah bersuami dan menjadi bunda ini, betapa kesenangan hatiku telah memancar-mancar terbit di mataku, mulut dan penaku tak dapat mengatakan atau menuliskan kegirangan hatiku karena kekayaan ini! Dan anak-anak kami! Bagaimanalah saya akan menceritakan kepada tuan betapa kekayaan kami ini? Sekaliannya anak-anak yang manis lakunya, sehingga hatiku pun lekaslah melekat kepadanya; dan mereka makin lama makin koat bergantung di hatiku. Bapaknya telah meletakkan sendi yang kukuh pada hati mereka itu, dan telah mendidiknya seperti pendidikan yang selalu saya ingini, sederhana dan rendah hati. Anak-anakku itu tiadalah menyangkan dirinya lebih tinggi dari pada orang yang serendah-rendahnya dalam rumah; sekalian orang sama kepadanya. Di sini telah saya dapat tanah yang dikerjakan, kerjaku hanyalah akan menanaminya saja lagi. Saya berharap dalam bulan Januari sekolah kami dapat didirikan. Kami sekarang mencari seorang guru perempuan yang baik. Selama kami belum mendapat guru itu, sayalah yang akan memberi pengajaran untuk sementara; dan apabila saya karena bermacam-macam hal tak boleh memberi pengajaran itu, maka salah seorang dari pada adik-adikkulah yang akan mengerjakan pekerjaan itu, sampai saya boleh mengajar kembali. Ada dua tiga orang tua, yang telah meminta kepadaku akan mengajar anak-anaknya. Maksud kami di sini bila kami boleh mendapat seorang guru perempuan yang baik, akan membuka sebuah sekolah di rumah kami, untuk anak-anak gadis kepala-kepala negeri. Kalau sekiranya kami boleh mendapat seorang guru perempuan yang baik, guru itulah nanti yang akan memberi anak-anak kami pengajaran yang menajamkan pikirannya dan lagi pendidikan untuk budi pekertinya. Jikalau pekerjaan itu telah maju jalannya, dapatkah kami mengharapkan uang bantuan dari Gubernemen? uang sekolah wajiblah hendaknya serendah-rendahnya, anak-anak itu dapat makan dan tempat tinggal dari kami. Bolehkah saya membuat peringatan tentang hal itu?

Orang-orang tua anak-anak itu sangat percaya kepada kami, dan meminta kalau boleh sekarang sekolah itu diadakan-nya dan kami pun wajib memberinya. Sudahlah; nantilah saya tulis lebih lanjut tentang hal itu kepada tuan.

Saya percaya sungguh-sungguh yang di rumah kami akan terdiri sebuah sekolah anak-anak perempuan, yang dipimpin oleh seorang guru perempuan bangsa Eropa dan olehku sendiri, sebagai guru yang “teringgi” sekali!

Maksud kami bersama-sama terlampau besar. Maulah rasanya saya membayar berapa jupurn banyaknya, asal kami dapat memperbincangkan sekalian itu dengan tuan kedua.

Saya tulis surat ini pukul lima pagi-pagi. Anak-anakku telah bangun, dan bergantung berkeliling kursiku. Bunda wajib memberi mereka itu susu dan roti.

Tuan bendaknya mesti melihat anakku yang bungsu, ia belum berumur 2 tahun, tetapi ia amat cerdik. Bila saya duduk, maka datanglah ia membawa bangku kaki kepadaku. Bangku itu tiadalah terangkat olehnya, melainkan selalu dihelakannya kepada bundanya. Kaki bundanya tiadalah boleh tergantung. Setelah itu kesayanganku itu memanjatlah dengan segera ke atas pangkuanku. Jikalau saya sudah membuat barang sesuaruna, maka sekalian anakku itu berebut-rebut, berduga-duga menunjukkan ini dan itu kepadaku, dan kesayanganku si Sis yang kecil sekali membawakan saya senduk dan garpu bertambun-tambun. Siapa yang nakal tak boleh datang kepada bundanya. Keriangan yang sebesar-besarnya bagi anak-anak itu, ialah apabila mereka itu mandi bersama-sama dengan saya, dan saya pun bersukacita bukan buatan. Suatu kesukaan besarlah kepadaku melihat muka anak-anak kecil yang bersih dan tertawa-tawa itu.

Sekarang saya selalulah membicarakan hal keadaanku saja. Saya belum lagi mengucapkan terima kasih kepada tuan atas kesayangan tuan yang tiada berhingga, yang telah saya dapati dalam beberapa hari ini. Tuan kedua telah meriangkan hatiku dengan surat-surat tuan yang telah saya terima di Jepara tiada dapat kooperikan. Atas surat tuan itu kupohonkan banyak terima kasih kepada tuan, kekasihku. Dan nyonya, bunda, buah hatiku, saya ciumlah tuan dengan segala sukacita pada kedua belah pipi tuan atas keselamatannya tuan menyambut kedadanganku, yang bermula sekali di sini. Karena itu saya sangat bersenang hati dan berbahagia!

16 Desember. Barulah sunyi sekarang. Sekalian kerja telah selesailah.

Saya tak dapat menghubung suratku sebelum kejadian ini telah lalu.

Tuan sekali-kali tak dapatlah menerka, siapa yang telah menumpang dengan kami dan siapa yang telah berangkat tadi pagi. Nyonya dan tuan Bervuts dari Mojowarno! Mereka itu mula-mulanya pergi ke Jepara kepada orang-orang tuaku, dan mereka itu menyuruhnya datang ke mari. Itulah suruhan Tuhan yang amat menyenangkan hati; kami meminta syukur berlipat ganda, karena keadaan yang tiada disangka-sangka telah membawakan kami nikmat. Amat sangat ingin benar hatiku hendak berkenalan dengan nyonya dan tuan yang mulia. Keinginan hatiku itu telah sampai, dan cara bagaimana pula sampainya! Dahulu selalu saya kenangkan kedua hamba Allah yang berhati mulia ini dengan segala sukacita, sekarang kesukaan hatiku itu telah bercampur dengan syukur dan terima kasih.

Kemarin dahulu suamiku itu sehari-harian itu dalam segar dan riang, dan petangnya itulah datang nyonya dan tuan Bervuts; oleh mereka itu, tampak benar betapa girangnya hati suamiku pada malam itu, dan dengan tidak sedikit juga disangka-sangka, dua jam kemudian ia menjadi sakit keras. Hampir tengah malam waktu kami akan pergi tidur dengan bergirang hati, kami ucapkanlah selamat tidur kepada jamu kami itu. Sejam kemudian dari pada itu suamiku tiba-tiba menjadi sakit keras; dalam waktu tiga menit saja ia merasa amat keras sakitnya, sehingga ia pun menyangka yang ia eloknya tiada akan hidup lagi. Bagaimana susahku waktu itu, tentulah dapat tuan pikirkan. Saya suruh orang membangunkan Dokter Ber-vuts. Mereka itu bermaksud akan berangkat besok puku delapan pagi, tetapi ia dan isterinya tak sampai hati akan meninggalkan kami sendiri dalam kesusahan yang demikian. Sebab itulah mereka itu berangkat puku satu tengah hari, tetapi maksud itu pun tiadalah pula sampai, karena suamiku waktu itu perlu mendapat pertolongan dokter, dan dokter kami tatkala itu pergi komisi. Penyakit itu ialah penyakit memulas-mulas, yaitu suatu penyakit yang belum pernah dirasai oleh suamiku selama hidupnya. Petang kemarin barulah ia berangsur sembuh dan dapat tidur. Betapa syukur saya kepada Allah, tentulah tuan dapat memikirkannya. Tadi puku delapan pagi baharulah berangkat sahabat baru kami itu. Suamiku makin lama bertambah sembuh, hanyalah badannya sekarang masih kurang kuat. Pada waktu ini ia telah setengah jam lamanya tidur nyenyak. Saya harap Tuhan akan menyembuhkannya dengan segera!

Heran, heran benarlah yang istri suamiku yang pertama itu sampai pada hari mautnya selalu memperbincangkan saya. Ia sangat ingin berkenalan dan bersahabat dengan saya. Cita-citanya selalu hendak pergi ke Jepara dan membawa anak-anaknya kepadaku. Potretku tak sekejap jua lepas dari tangannya, sehingga sampai ia berpulang selalu potret itu adalah di tangannya.

Sesudah ia berpulang ke rahmatullah dan dukacita telah hilang, maka sekalian orang, demikian pun kepala-kepala bangsa Bumiputera, mempunyalih satu maksud saja ... yani maksud yang telah disampaikan pada 8 November. Sebab itulah boleh dikatakan sekalian orang bersukacita, tatkala menerima kedadangan kami.

Suamiku menerima surat tuan sangat berbesar hati. Pakaian kuda untuk perserikatan “Oost en West” telah lama sudah, dan sekarang telah dibungkus, dan apabila suamiku telah sembuh, maka dengan segeralah akan dikirimkan. Suamiku pun telah memesan pula bermacam-macam tempat rokok terbuat dari bulu burung merak, dan dalam itu kami sedang mencari kain Lasem yang bagus dan sejati. Cobalah nanti kita lihat apa yang dapat kami kerjakan untuk “Oost en West.”

Akan menyuruh tukang-tukang ukir Jepara bekerja di sini, amat bagus menurut timbangan suamiku. Ia akan menolong saya dengan sekuat-kuatnya dalam hal itu, demikian juga dalam segala hal lain-lain yang hendak saya perbuat. Akan mendirikan sebuah sekolah pertukangan centuk Bumiputera, itulah suatu cita-citanya yang telah lama tersimpan dalam hatinya.

Suamiku suka benar melihat, yang saya akan mengarang sebuah kitab cerita-cerita dan babad Jawa. Ia hendak mengumpulkan cerita-cerita itu untukku, dan kami akan berdaya bersama-sama mengerjakan pekerjaan itu. Maksud itu menyenangkan hatiku!

Adalah banyak lagi kerja yang lain, yang hendak dibuatnya bersama-sama dengan saya; di atas meja tulisku telah ada dua buah karangan bekas tangannya.

¹ Isi pertanyakan itu adalah tersebuet dalam surat yang berikut ini.

² H. Agus Salim seorang anak Minangkabau, anak engku Sultan Muhammad Salim, hoofdjak-a Riau pensiun. Tahun yang laut diangkat oleh Pemerintah menjadi lid Volksraad. Penyalin.

³ Tuan Salim sampai sekarang sudah empat tahun bekerja pada Nederlands Consulaat di Judah sebagai secretaris-drogman.


SURAT-SURAT DALAM TAHUN 1904

Rembang, 6 Maret 1904 (VIII)

Bunda kandungku yang dicinta.

O, hendaknya dapatlah kiranya olehku memelukkan tangan-ku keleher tuan, karena saya sangat berahi hendak menceritakan sendiri ke telinga tuan dan akan menjadikan tuan kawanku dalam rahasia kami yang baik tentang bahagiaku yang amat menyenangkan hati. Kalau ada dengan takdir Allah pada akhir bulan September akan datanglah rahmat kepada kami, untuk pembaguskan hidup kami dan akan memperhubungku kami. Bundaku, o bunda kandungku, betapalah senang perasaanku kelak, bila anak yang akan lahir ini, yang berasal dari darah kami kedua, menyebutkan ibu kepadaku!

Dapatkah tuan memikirkan itu? Saya akan menjadi ibu kandung! Ibuku, telah saya jadikan orang tualah tuan karena itu!

Saya buat tuan akan menjadi ma tuanya! Datangkah tuan nanti melihat cucu tuan itu? Akan pergi ke Betawi tak dapatlah saya lakukan. Maksud kami mula-mula hendak pergi tamaanya untuk tempoh barang sebulan, tetapi sekarang kami wajib menghilangkan maksud itu. Dalam beberapa bulan ini saya tak boleh mengendarai kereta dan lain-lainnya! Dan apabila anak kami telah lahir, saya pun tak dapat pula pergi berjalan. Oleh karena itu Betawi tiadalah akan saya lihat lagi, yaitu selama tuan masih di Betawi sekarang. Apakah faedahnya saya pergi ke sana lagi kalau tuan kedua tak ada lagi di sana? Suamiku sangat beruntun, berbahagia karena biji matanya yang masih dalam kandunganku ini.

Itulah saja lagi yang kurang dalam ... bahagia kami.

Rembang, 10 April 1904 (III)

Sahabat-sahabatku yang terhormat.

Betapakah herannya tuan melihat, yang tuan tak sedikit juga mendapat kabar dari padaku tentang surat-surat yang terbit dari hati yang suci dan tentang pemberian tuan yang indah itu, pemberian yang sangat meriangkan, menyockakan hati kami. Jika sekiranya tiap-tiap pikiranku yang mengenangkan tuan selalu dengan mengucapkan banyak terima kasih, sekalian itu saya tuliskan, tentulah akan bertimbun-timbun tuan mendapat surat dari padaku. Maafkanlah saya, o sahabat-sahabatku yang dicinta, karena surat ini tak dapat lebih lekas mendapatkan tuan.

Perubahan dari seorang anak gadis yang sederhana telah menjadi istri, ibu dan perempeoan dari seorang kepala negeri yang tertinggi,—yani suatu perubahan dalam dunia Bumiputera yang tak sedikit artinya—amat besar, sehingga saya sejak bermula tak dapat sedikit jua memikirkan hal yang lain dari pada mengenangkan daya upaya bagaimana patutna saya melakukan kewajibanku yang baru itu.

Bukanlah kewajiban itu saja yang saya ikhtiarkan, tetapi adalah pula suatu percobaan yang harus saya tanggungkan. Tak berapa lamanya sesudah kami kawin, maka suamiku jatuh sakit keras. Kemudian saya sendiri mulai pula sakit-sakit. Sampai sekarang hawa negeri Rembang belumlah begitu sesuai dengan badanku. Kami pun di sini tinggal di tepi laut juga. Dalam hal tinggal di tepi laut di Jepara menjadikan suatu kesukaan, maka diam di tepi laut di Rembang mendatangkan suatu gangguan. Di sini kami harus hati-hati menjaga angin laut, yang kuran sehat itu karena mengandung hawa kerang dan lumpur. Tetapi marilah sekarang saya, pun jua atas nama suamiku, mengucapkan terima kasih dahulu kepada tuan kedua, atas tanda mata yang bagus itu, yang tuan berikan kepada kami pada hari kawin kami. Lebih-lebih pula saya amat menyukai hadiah itu, karena ia menggambarkan Thuringerwoud, yang masyhur lagi telah acap kali tuan ceritakan kepadaku, yaitu suatu tempat pula, ke mana sahabat-sahabatku bangsa Jerman suka sekali pergi tamasya.

Gambaran yang indah dan potret kota Jena yang bagus itu, kami gantungkan di bilik tempat kami duduk-duduk, tempat suamiku menyimpan kekayaannya dalam hal gambar-menggambar, karena ia pun scorang yang amat suka kepada gambar-gambar dan patung-patung yang bagus-bagus. Kerap kali saya melihat akan gambar-gambar itu dengan segala suka hati, dan dalam hal yang demikian melayanglah beberapa pikiranku dengan cinta dan terima kasih kepada sahabatku di Jena.

Betapalah baik hati tuan, sesungguhnyalah amat baik, karena tuan hendak mengirim saya “boomkuk”, suatu macam kue asal dari Jerman, yang tak boleh tinggal dalam peralatan. Tuan tak dapat menyampaikan kenang-kenangan itu menjadi suatu hal yang sesungguhnya kejadian; tetapi bagiku sekalian itu, saya pandang seperti telah kejadianlah dan saya hormatilah ia benar-benar.

Sekarang saya hendak menceritakan kepada tuan hal keadaan hidupku yang baru dan kaya sekarang ini, bukankah tuan suka sekali mendengar hal itu? Tuan dahulu selalu mengacuhkan benar betapa hidupnya sahabat tuan anak perempuan Jawa itu, dan acap kali bersusah hati memikirkan nasibnya pada waktu yang akan datang.

Syukur, syukurlah apa yang tuan takutkan dahulu, rupanya tiadalah ada bersebab. Bukankah sekarang perempuan muda itulah yang telah menulis kalimat-kalimat itu kepada tuan, dan lihatlah pula di matanya betapa bahagia dan kesenangan hatinya telah bersinar-sinar, sehingga tak dapatlah ia mencari kata-kata yang akan menceritakan sekalian kesukaan hatinya dan bahagia itu!

Suamiku ... bukan saja ia suami kepadaku, tetapi ia pun sahabatku sepikiran juga. Kalau tidak demikian masakan saya akan diambilnya menjadi isterinya, dan masakan saya dapat menambahkan diri saya kepadanya! Seluruh tanah Jawa orang telah tahu, bahwa saya ini berlainan dari pada perempuan yang lain.

Segala yang saya pikirkan dahulu, sudahlah pula dipikirkannya, dan telah banyak pula yang telah dikerjakannya; saya pikir hidupku seperti sekarang ini telah menjadi lebih kuku untuk mencari hak kebebasan perempuan bangsa Jawa, dan akan menjadi penunjuk jalan bagi mereka itu. Karena pertama-tama sebagai istri seorang yang terpandang tinggi kehormatannya, dan kedua dapat mengharapkan pertolongan dari pada suamiku akan menyampaikan cita-citaku, yang dahulu membayang-bayang dalam pemandanganku, sehingga sekarang saya telah mempunyai dua macam hidup, yaitu: hidup yang kaya dan hidup yang cukup.

Saya tahu yang tuan kedua akan bersukacita mendengarkan hal itu. Sahabat tuan kedua, anak Jawa yang kecil ini telah sampai ke tempat yang sentosa, Sungguhpun dahulu ia selalu menaruh pikiran yang bercabul. Saya suka benar yang tuan kedua dapat melihat saya dalam dunia hidupku yang sekarang ini.

Tuan tahu, yang saya tak sedikit jua suka akan kekayaan dan radajat yang tinggi dalam dunia Bumiputera. Kedua keadaan itu tak adalah harganya kepadaku, kalau sekiranya tiadalah suamiku yang memberikannya kepadaku. Sekarang keduanya itu menjadi suatu perkakas kepadaku, supaya maksudku itu lekas sampai.

Hati anak negeri bangsa Jawa sangat melekat kepada orang bangsawannya; sekalian yang datang dari kepala-kepala negerinya mereka itu amat suka dan mudah menurut. Kalau dengan cara demikian saya berdiri di sisi suamiku, tentulah lebih lekas dan lebih mudah saya sampai kehati anak negeri. Maksud kami tentang pengajaran dan pendidikan akan diteruskan juga, Meskipun saya telah kawin.

Di rumah orang tuaku telah kami mulai pekerjaan itu, dan sekarang adik-adikku yang perempuanlah yang memadukan pekerjaan kami itu. Sekolah kami di Jepara telah mempuna dua puluh dua orang murid, anak-anak perempuan kepala-kepala negeri; adik-adikkolah yang memberi pengajaran. Di sini saya telah mulai pula pekerjaan itu, anak-anakku yang perempuanlah yang menjadi murid-muridku yang pertama-tama. Dengan hal yang demikian, dapatlah anak-anak perempuan Jawa menyampaikan kenangan dan mimpi-mimpinya ketika kecil dahulu.

Rembang, 8 Juni 1904 (VIII)

Kami tak pergi keluar rumah dan jarang pula menerima orang, Sungguhpun demikian hidupku selalu ramai. Senang, senanglah hatiku! Tiap-tiap hari waktuku telah saya bahagi-bahagi untuk suamiku, rumah tanggaku, anak-anakku dan anak-anak piaraku. Sebagian besar dari waktu itu, habislah untuk anak-anak itu. Jikalau bapak telah pergi kerjanya, maka anak-anak pun bekerjalah dengan saya sampai pukul dua belas. Pukul setengah satu bapak mendapati sekawan anak-anak yang telah bersih, sudah mandi, tetapi o, sedang lapar benar-benar. Pukul setengah dua mereka itu disuruh pergi tidur, dan kalau bapak telah pergi ke tempat tidur pula, dan saya waktu itu tidak terlalu payah, maka bekerjalah saya dengan anak-anak gadis. Pukul empat saya telah hadir di meja tempat minum teh. Jika anak-anak telah sudah minum susu dan telah dimandikan, maka bolehlah mereka pergi menghalaukan ternak ayam ke dalam kandang, atau pergi berjalan-jalan bersama-sama dengan kami, atau bermain-main dalam kebun.

Kemudian kami duduklah sebentar pada waktu matahari hendak terbenam, sambil memperkatakan ini dan itu. Kalau pasukan anak-anak kami telah masuk, maka hari pun malam-lah. Bapak duduk membaca surat kabar dan anak-anak pun duduk mengelilingi bundanya. Saya duduk di atas kursi malas, dan di atas pangkuanku duduklah dua orang yang kecil sekali pada sebelah-menyebelah kursiku seorang, dan pada lututku dua orang yang tertua.

Kami duduk bermain-main atau berceritera. Dengan cara demikian maka waktu makan pun datanglah. Oleh karena anak-anak itu maka kami pun lekaslah pula pergi makan. Si anak yang kecil sekali duduk dekat bunda. Si kecil itu selalu membukakan tutup gelas minum bundanya dan kemudian ia pula akan menutupnya kembali. Tiada seorang jua yang boleh mengerjakan pekerjaan itu lain dari pada si kecil itu. Dan bila ia tak boleh mengerjakannya, tahu ia ia bahwa ia telah mendapat hukuman. Pukul delapan sekalian anak-anak dibawa ke tempat tidur, lalu di tidur-kanlah mereka itu. Dan kami orang tua-tua duduk bersama-sama bercengkerma, memperbincangkan segala hal dan lain-lain sebagainya, sampai mata yang mengantuk mengerahkan kami pula pergi ke pulau Kapuk, dan hal itu tiadalah selarut di Jepara, melainkan lebih lekas. Kami bangu pun lekas pula, pagi-pagi benar.

Hari Minggu hari tempoh untuk kami berdua; pada hari itu pagi-pagi benar pergila kami berjalan-jalan. Sesudah makan pagi saya ajarlah anak-anak gadis itu sebentar masak-memasak, dan kemudian barulah bunda memasak-masak, suatu pekerjaan yang pada hari lain tiada dapat dikerjakannya. Pekerjaan itu tiada banyak, tetapi suamiku lebih suka, yang saya duduk dekatnya. Ia menjamu saya dengan bermain gamelan sambil bernyanyi. Saya pun merasa lebih suka, yang saya duduk dekatnya. Tetapi lagu-lagu gamelan itu sangatlah merawankan hatiku, karena ia menge-nangkan kembali dalam ingatanku waktu-waktu yang dulul, waktu yang saya tak boleh pikirkan dan kenangkan lagi. Ia menjadi saya lemah dan bermuram durja. Dengan hal yang begitulah saya menghabiskan waktu setiap hari dengan sabar, senang dan damai sebagai sebuah anak sungai, yang mengalir dalam rimba pun dengan senang dan damai pula; dan ialah pula yang merasai kesedapannya.

Jikalau anak yang dalam kandunganku ini, anak perempuan, apakah cita-citaku untuknya? Saya berharap yang ia akan hidup, hidup yang kaya dan sempurna! Hidup, yang telah dimulai oleh ibunya, saya harap ialah yang akan menyempurnakannya. Ia tentulah tiada akan dipaksa membuat barang sesuatunya, yang tiada setuju dengan perasaannya. Apa yang dibuatnya, ia akan mengerjakan itu dengan kemauannya sendiri. Ia tentue akan mempunyai seorang bunda, yang akan menjaga keadaan perasaan hatinya, dan mempunyai seorang bapak, yang tiada akan memaksanya membuat apa-apa. Kepada bapaknya tiadalah mengapa, kalau anaknya yang perempuan seumur hidupnya tiada bersu-ami. Yang diindahkan oleh bapaknya, ialah yang ia tiada akan merendahkan kehormatan kami. Yang bapaknya menghormati tinggi perempuan-perempuan, yang sebagai anakku yang kucinta-cinta keadaannya, sudahlah dinyatakannya dengan mengambil saya jadi isterinya.

O, jika sekiranya tuan tahu, bagaimana asut dan fitnah atas diriku, yang telah dibebaskan orang kian ke mari! Apa yang telah sampai ketelingaku, sebelum saya kawin, ialah suatu pujian, kalau dibandingkan dengan sekalian yang saya ketahui, sesudah saya telah kawin. Percayalah saya, bahwa suamiku dulu wajiblah mempunyai keberanian akan memberikan hati, tangan dan namanya kepadaku. Dahulu ia tak sedikit jua mempercayai hal keadaanku, yang diceritakan orang kepadanya. Dalam hatinya adalah suatu kepercayaan yang tak dapat digoyang oleh seorang jua pun, kepercayaan itu yani: “kami adalah mempunyai cita-cita yang baru, cita-cita yang tak dapat diketahui oleh orang banyak, dan karena itulah maka ia melindungi cita-cita itu dengan sekuat-kuatnya. “Istri suamiku yang pertama masih hidup, tatkala suamiku mempertahankan saya, bila orang mencoba hendak mengaibkan namaku. Dan ia merasa, yang saya akan membuat sesuatu pekerjaan yang besar dalam hidupnya, dan sekalian ahli dalam rumah itu amat cinta kepadaku. Rupanya adalah perasaan, kecin-taan yang gaib, yang seolah-olah akan jadi tanda-tanda yang mengisyaratkan, bahwa adalah apa-apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang. Melainkan saya sendirilah yang tiada memikirkan dan memimpikan, bahwa tanda-tanda itu akan terjadi pada nasibku yang akan datang.

Saya belum lagi memberi murid-muridku tempoh; mereka itu mendapat tempoh nanti bulan September, bila anakku telah lahir ke dunia. Empat belas hari sesudah beranak, tentulah saya wajib bersenang diri dulu. Sesudah empat belas hari itu, maka anakku pun masuklah ke bilik sekolah. Saya telah membuat sebuah bilik kecil dalam sekolah, tempat menidurkannya, bila bundanya mengajar saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan. Kalau demikian hampir sama benar-lah halku nanti dengan cerita Hilda van Suylenburg, yaitu seorang ibu yang pergi bekerja mencari rezeki dengan anaknya yang masih menyusu.

Rembang, 30 Juni 1904 (VIII)

Bilakah pula saya dapat berkirim-kiriman surat kembali seperti dahulu dengan tuan?

Dari segala pihak datanglah cacatan mengatakan karang-anku yang sekarang terlalu buruk. Tetapi lain dari itu, saya tiada dapat membuat. Saya sekarang ada mempunyai suatu kerda yang berat, dan itulah suatu kewajiban yang amat sukar melakukannya dengan sebaik-baiknya. Murid-muridku belajar rajin dan hati-hati. Sekarang adalah banyaknya dua belas orang, dan dua orang di antaranya telah berumur.

Saya sekarang sedang asyik bekerja membuat pakai-pakai-an, yang berguna untuk cucu tuan yang akan lahir itu. Adik-adikku yang perempuan berharap anak perempuanlah hendaknya, dan suamiku, anak laki-laki. Bila anakku kelak perempuan, berganda-gandalah kasihku kepadanya, karena sekalian ahli rumah di sini beringin kepada anak laki-laki.

Rembang, 17 Juli 1904 (VIII)

Bunda kandungku yang dicinta! Janganlah tuan ukur kasihku kepada tuan, dan kesu-kaanku yang bertali dengan segala hal-ihwal tuan dan suami tuan dengan luasnya atau banyaknya surat-suratku.

Sekarang Walaupun dengan sebaik-baiknya kehendak dunia ini, tak dapatlah olehku akan menulis banyak dan kerap kali biar kepada siapa jupurn. Lebih-lebih sekarang tidak benar, karena saya kerap kali sakit-sakit. Saya baru-baru ini telah sakit keras dan sakit selesma serta telah banyak merasai penanggungan. Berkat pertolongan Allah semuanya telah lepas! Sungguhpun demikian saya wajib juga ber-hati-hati. O, saya wajib, saya mau sehat untuk anak kami itu.

Bukan buatan banyak susah payahnya seorang ibu untuk menjaga anaknya! Segala sakit-sakit itu tentulah datangnya dari ibu. O, ibuku, saya wajib ingat-ingat dan hati-hati betul dalam segala hal. Telah sebulan lamanya saya terima hanyalah kaum keluarga saja, dan mereka itu boleh-lah datang ke dalam bilikku. Saya tulis surat ini sedang bering di atas kursi panjang, duduk seperti biasa amat susah.

Pekan yang lalu ibuku ada di sini. Ibu yang dicinta itu tak tahu merasai beban yang berat, asal saja beban itu untuk kebaikan anak-anaknya. Setelah ia datang dari Pema-lang melihat Kardinah sakit, dan dari situ dengan segera ia pun berangkat pula ke mari, tatkala suamiku telah mengirim kawat kepadanya, karena keputusan asa melihat kesakitanku. Suami yang baik itu takut benar mengenangkan hal yang akan terjadi itu. Ia tak dapat melihatku menang-gung kesakitan. Kasihan saya kepada suamiku yang malang itu, karena dalam hatinya lebih banyak ia menanggung dari padaku, tatkala saya sakit keras itu. Ia mau membalikkan bumi ini, asal saya terpelihara dari pada penanggungan dan kesakitan itu.

Rembang, 10 Augustus 1904 (VIII)

Bundaku yang dicinta, saya kerap kali wajib mengenangkan tuan, lebih-lebih dalam beberapa hari ini. Dan acap kali apabila saya mengenangkan tuan, tibalah padaku suatu perasaan yang lemah lembut, yang bercampur dengan hati yang amat rawan. Rawan hatiku, karena tuan sekian jauhnya dari padaku, dan beberapa lamanya lagi entah tak kan dapat kucapai pula.

Apakah sebabnya maka mereka yang sama hatinya dan yang bersaudara pikiran, satu dengan yang lain amat berjauhan tempatnya? Saya boleh menjadi sangat bersusah hati, apabila saya amat bercinta kepada tuan. Saya adalah yang duduk tercengang, tak mendengar dan tak melihat apa yang sebenarnya terjadi di kelilingku. Rasanya saya ada, dan hidup dalam waktu yang lama telah lalu, waktu yang penuh dengan suka dan duka, waktu yang amat saya sukai dalam hidupku, karena pada waktu itulah kasih sayang tuan kepadaku semisal kembang cahaya dalam hatiku. Saya menanggung dan saya bersukacita sekali. Hatiku penuh dengan rawan dan pilu, tetapi dalam itu amat kaya dengan terima kasih, terima kasih yang terbit dari pada hati yang senang dan bahagia yang manis, yang diberikan oleh kecintaan tuan kepadaku.

Tak puas-puasnyalah saya mengucapkan syukur kepada Allah, yang ia telah membawa tuan kepada kami.

“Apakah sebabnya maka orang Jawa menjadi semiskin itu?” tanya orang. Pada halnya mereka yang bertonya itu telah menjadi bingung memikirkan, bagaimanakah akannya supaya ia boleh mendapat uang. Dan siapakah yang mesti jadi miskin? Tentolah orang kecil, anak-negeri, dan tentang sakit dan senang mereka itulah pula yang sangat berusaha, bersusah payah, sehingga orang perlu mengangkat suatu komisi yang mahal belanjanya untuk memeriksa asal-asal kemunduran anak-negeri itu!

“Apakah sebabnya maka orang Jawa menjadi semiskin itu?” Dan tukang-tukang menyabat rumput, yang pencahariannya dari sepuluh sampai dua belas sen sehari dikenakan belasting.

Tiap-tiap seekor kambing atau biri-biri yang disembelih, orang wajib membayar bia dua puluh sen. Jadi nyatalah tukang-tukang menjul satai yang membantai dua ekor biri-biri tiap-tiap hari mesti membayar bia 144 rupiah seta-hun. Dan berapakah keuntungan tukang-tukang satai itu? Hanyalah cukup akan dimakannya.

Dari orang tuaku di rumah telah banyaklah saya ketahui, tetapi di sini, dari suamiku, yang senantiasa sama-sama berpikir dengan saya, dan sayapcen semata-mata hidup bersama-sama dengan dia dan dengan kerjanya dan dengan usahanya, lebih lagi, o, lebih banyak lagi saya dapat mengetahui, yang mula-mulanya saya tak tahu, ya, tak saya sangka-sangka bahwa hal itu sebenarnya terjadi.

O, bukan buatan banyaknya kelaliman yang amat dahsyat, dan orang yang berhati adil, yang menjadi pegawai negeri mestilah banyak penanggungannya. Ia wajib banyak melihat dan mengerjakan sekali, segala yang berlawanan dengan keadilan itu.

Tabik bundaku! Barangkali surat ini suratku yang penghabisan sekali kepada tuan! Kenangkanlah kerap kali anak tuan ini, yang amat mencintai tuan kedua. Sampaikan salam kami kedua kepada suami tuan, dan tuan pun saya tekankanlah dengan eratnya kehatiku.

Anak kandung tuan,

KARTINI.

Rembang, 24 Augustus 1904 (VIII)

Bundaku yang dicinta, jadinya bukanlah surat yang akhir, suratku yang baru-baru ini tuan terima dari padaku. Saya telah takut, barangkali surat itulah yang akhir sekali, karena waktuku telah sangatlah dekatnya, hal itu telah terasa olehku. Bundaku, barangkali cucu tuan lebih lekas lahir ke dunia dari pada waktu yang kami sangkakan dahulu.

Tabik kekasihku. Teguhkanlah hati tuan kedua! Dalam hatiku selalu saya mendoa: “O Allah, peliharakanlah sekalian sahabat-sahabatku yang kucintai!“

Dengan teguh saya tekankan tuan kehatiku.

Anak kandung tuan,

KARTINI.

Rembang, 7 September 1904 (VIII)

Bundaku yang dicinta. Bagaimanalah kiranya saya akan mengucapkan terima kasih kepada tuan atas baju yang sebagus itu yang tuan kirimkan untuk anak kami. Baju itu amat besar harganya bagi kami, karena kami mengetahui bagaimana susahnya tuan mengerjakan pemberian itu untuk cucu tuan. Dari Rukmini kami mendengar, yang tuan selalu kurang sehat sejak kembali ke Betawi dari perjalanan tuan itu. Apalagi kalau dipikirkan, sedang tuan di dalam kurang senang itu banyak lagi kerjajang memusingkan kepala tuan, dan senantiasa pula banyak digoda oleh kesusahan hari-hari, masih ada juga dapat waktu oleh tuan, akan membuat pekerjaan yang harus dilakukan dengan sabar untuk pakaian anak kami. Sesungguhnya amat teguhlah persahabatan tuan dengan anak tuan ini, dan amat dalam berurat dan berakarnya dalam hati tuan, sayang tuan itu kepadaku.

Dengan air mata berlinang-linang, dengan banyak syukur kepada Allah dan dengan hati yang amat senang kulihatlah pakaian itu kemarin, dari sekali kesekali, berulang-ulang dengan tiada jemu-jemunya.

Bukan buatan banyaknya yang dikatakan pakaian itu kepadaku!

O, bundaku yang dicinta! Dengan keadaan itulah tuan menjadikan anak tuan amat berbahagia. Dokoh yang bagus itu nanti mestilah saya kenakan di leher cucu tuan, bila baju itu tak dapat dipakainya lagi. Bagi sementara sayalah akan menyimpannya, sampai ia boleh mengerti kalau saya ceritakan padanya tentang tuan yang kucinta, yang telah dikirimkan oleh Tuhan yang mahakuasa kepada bundanya ini, supaya dokoh itu bolehlah disayanginya seperti ibunya menyayangi tanda-mata itu sekarang.

Suamiku berkata kepadaku kemarin waktu menerima hadiah tuan itu: “Tulislah lekas surat kepada bunda, Ni, kalau tidak nanti terlambat!”

Saya ikutlah perkataannya itu, hatiku pun sudahlah pula berkehendak demikian. Anak kami belumlah lahir, tetapi setiap saat bolehlah terjadi. Saya merasa kedadangannya itu sudah dekat benar!

Terimalah ucapan dan terima kasihku banyak-banyak atas nasihat yang meriangkan hatiku itu, wahai kekasihku! Pukiran yang datangnya sejauh itu, dari seorang kekasihnya yang kucintai sebagai badanku, yang berharap dan meminta dua bagi saya, sangatlah kiranya menguatkan tulangku, menyegarkan badanku, ya, sesungguhnya menyegarkan tubuhku benar!

Mereka yang melihat saya baru-baru ini mengatakan saya amat bergirang hati.

Bagaimanalah saya tidak akan bergirang hati, karena sekian besarnya bahagia yang kunantikan?

Alangkah lamanya waktu kesakitan ini? Dan sesungguh-nya sudahlah senilai dengan bahagia yang dicinta itu. Saya telah bercinta benar-benar kepada biji mataku itu. Sangat-lah pula menyenangkan hatiku mengetahui, bahwa dalam beberapa hari ini banyaklah mereka yang bersama-sama hidup dengan daku menanggungkan dalam hatinya seperti perasaanku sekarang.

Masakan saya tidak maklum, betapa hal keadaan tuan di rumah tuan, hidup berjam-jam memikirkan halku, berharap dan mendakan anaknya.

Jikalau sekalian banyaknya mereka yang mendoakanku, tentulah Tuhan yang mahatinggi tidak akan bertuli diri. Bundaku, saya percaya sungguh, yang penanggungan anak tuan ini akan baik juega akhirna. Tentulah tuan akan mendengar kabar dengan segera, jika kejadian yang besar itu telah berlaku.

O, kekasihku, kalau sekiranya dapat tuan berdiri dekat ayunan anak kami itu! Alangkah besarnya bahagiaku menurut perasaan diriku! Saya tahu yang tuan mestilah akan menyayangi anak kami itu, Biarpun ia lebih dungu dari pada bundanya! Asal otak dan hatinya tiada bungu, tiadalah mengapa, bukankah, bundaku? Kalau sekiranya tiadalah jin dan setan mengganggunya, mustahillah hal itu akan terjadi. Tetapi azimat tuan tentulah akan menjaga-na dan mengusir sekalian jin yang jahat itu dari pada cucu tuan.

Ibuku telah dua pekan tinggal di sini, bersama-sama dengan seorang nenek tua akan menjaga dan menolongku dalam saat-saat kesakitan yang akan datang itu.

Di sinilah saya dibelah, dimanjakan serta dijagai sebagai seorang putri. Tempat berbaring-baring dan tempat tidur semuanya telah sedia di bilik kami menanti kedatangan biji-mata kami itu.

Bundaku, apa kabar sekarang, wahai tuan yang akan menjadi ma tua, dan bagaimana pula kabarnya suami tuan sekarang? O, saya berharap sungguh-sungguh, bila surat ini sampai ke tangan tuan, yang tuan pun dalam selamat walafiat jua hendaknya.

Apa kabar Edie sekarang? Masih di negeri Cina juakah ia? Dengan segala suka hati saya telah membaca sebuah karangannya dalam surat-bulanan “Elseviers.”

Alangkah pandainya ia mengarang! Saudaraku Edie, adakah ia akan mengenangkan saya? Saya selalu bersedih hati, karena saya belum pernah bertemu muka dengan dia! Dan sekarang harapanku tentulah sama sekali putus!

Jikalau tuan menulis surat kepadanya, saya harap tuan tumpangkan salam saudaranya Kartini ini, dan ceritakanlah kepadanya betapa bagusnya bahagia saya sekarang, dan kami kedua mengenangkannya selalu dengan sukacita.

Alangkah harum baunya buah itu, samalah dengan bedak langir Bumiputera. Baju kiriman tuan itu saya telah simpan dalam sebuah peti kecil bersama-sama dengan pakaian-pakaian yang lain, supaya boleh menjadi harum pula. Alangkah harumnya bau biji mataku itu nanti!

Selamat malam, bundaku yang dicinta, terimalah ucapan terima kasihku sekali lagi. Sampaikan salam kami kedua kepada suami tuan dan terimalah cium yang terbit dari hati.

Anak kandung tuan,

KARTINI.

Surat itu ialah surat Kartini yang akhir sekali. Pada 13 hari bulan September lahirlah anaknya seorang laki-laki, dan empat hari kemudian dari pada itu, maka Kartini pun dengan sekonyong-konyong pulanglah ke rahmatullah. Ia waktu itu berumur lebih sedikit 25 tahun, didoakan dan dicintai dengan hati yang amat sedih oleh sekalian mereka, yang mengenal dan menyayanginya dalam hidupnya.


BUAH PIKIRAN YANG DIPETIK DARI SURAT-SURATNYA YANG TIADA DISIARKAN

Saya percaya akan Tuhan yang rahman dan rahim, kepada karunia yang penuh dengan cinta dan sayang, yang memberi berkat bagi kita. Kami menempuh jalan dengan kebenaran, pengharapan dan kepercayaan; Tuhan, yang menyuruh kami mengerjakan kerja itu, Tuhan itulah yang menjaga kami; Tuhan akan menyambut, memapah, jikalau kami berjalan goyang, dan mendirikan jikalau kami jatuh!

Dari manakah saya mendapat bujukan dan kekuatan untuk diriku? Ialah dengan sekurang-kurangnya memikirkan hal untuk diri sendiri, sebanyak-banyaknya dan yang terutama sekali ialah sekalian untuk bahagia orang lain. Sekarang tahulah saya, apa rahmat dan berkat yang keluar dari pengajaran yang bagus itu: “Lupakan diri sendiri, sayangi diri sendiri kemudian sekali.” Tentang bersifat yang seperti itu, saya hanyalah orang yang baru memulai. Kami selalu telah mengatakan, dan sesungguhnya dengan hati yang ikhlas, bahwa bagi kami tak ada sedikit jua yang menyusahkan kami, apabila dalam hal itu kami dapat menolong orang lain. Kami telah memikirkan suatu jalan untuk memberi pertolongan, dan lain dari pada jalan itu tiadalah kami pikirkan. Kami mengira akan berbahagialah kami, jikalau sekiranya kami dengan jalan yang demikian dapat memberi pertolongan. Dalam jalan itu memang tersembunyilah kelobaan untuk diri sendiri, karena kami telah menyatukan diri kami dengan jalan yang memberi faedah untuk orang-orang lain dan untuk menjadi kurban. Kesampaian kehendak kami itu menyebabkan diri kami menjadi berbahagia. Karena itulah maka kami mengatakan, bahwa sesungguhnyalah banyak sedikitnya ada tersembunyi kelobaan di dalam jalan yang kami turut itu.

Kemenangan yang bagus sekali dan yang sesukar-sukarnya boleh didapat oleh manusia, ialah menaklukkan diri sendiri.

Kami tak suka dan tak dapat mempercayai, bahwa laki-laki yang menyayangi dan mencintai bundanya dengan sebenar-benarnya boleh menjadi orang jahat. Hal itu seakan-akan suatu keadaan yang mustahillah bagiku.

Sekali-kali tiadalah mereka itu laki-laki yang sejahat-jahatnya, jikalau mereka itu menjadi sahabat-sahabat yang setia dari pada saudara-saudaranya yang perempuan.

Persahabatan yang tiada bersendikan kelurusan hati yang sebenar-benarnya, tak dapatlah menjadi persahabatan yang sejati, dan mustahil dia akan kekal.

Amatlah senangnya akan mempunyai kekuasaan, tetapi ia pun mendatangkan ketakutan pula. Kadang-kadang amat sukar benar akan menunjukkan di mana batasnya antara jahat dengan baik.

O, keinginan dalam hatiku kerap kali berteriak-teriak hendak pergi kepada mereka yang berhati sederhana. Kami tidaklah hendak memusnahkan kesederhanaannya, dan tiadalah pula hendak mengajarkan hal-hal yang lain kepadanya. Kami suka membiarkan mereka itu dalam kesederhanaan dan budi pekertinya itu, tetapi kami suka mencoba membawa perubahan pada kedua hal yang tersebut tadi, jikalau sekiranya adat lembaga dalam kesederhanaan dan budi pekerti mereka itu adalah berlawanan dengan rukun kecintaan.

Renggutkanlah suatu pohon yang menjalar sampai akar-akarnya yang beribu-ribu dan mencengkam itu terlepas dari junjungnya, dan tentulah pohon itu akan tergantung atau nyawanya akan melayang. Lamalah waktunya sesudah itu, maka ia akan hidup kembali.

Pikiran dan pendapatan yang telah tua tak mudah dibuangkan orang, dan diganti dengan cita-cita yang baru. Buah pikiran yang lama-lama itu masih berkuasa selama masih dimuliakan dalam negeri, tetapi kemauan yang baru dengan segarnya pestilah akan mendapat kemenangan. Dari yang mati timbullah hidup yang baru! Hidup yang baru itu tak dapatlah dimusnahkan; betul hari ini dapat membunuhnya, tetapi esoknya hidup itu akan lahir pula kembali dengan kekuatan, dan kesegarannya selalu bertambah!


PERINGATAN RADEN AJENG KARTINI, YANG TERLUKIS DALAM SUATU SURAT, YANG BERKEPALA:

BERILAH ORANG JAWA PENDIDIKAN!

Jepara, Januari 1903

Akan memberi suatu bangsa yang banyaknya 27 juta orang pendidikan dengan sekali jalan saja semuanya, itulah suatu hal yang mustahil, tetapi untuk sementara tentulah boleh dididik dan diajar baik-baik orang-orang bangsawan itu dahulu, sehingga bolehlah mendatangkan rahmat untuk mereka orang-orang banyaknya. Orang banyak bangsa Jawa sangat setia kepada bangsawannya; apa saja yang datang dari bangsawan itu mudah sekali diturut oleh orang banyak. Dengan hal yang demikian berapalah besar faedahnya, yang akan menyenangkan hati lagi boleh diterima oleh segala pihak, baik pihak Pemerintah, baik pihak bangsawan, baik pihak orang banyak?

Sampai sekarang yang terutama diusahakan hanyalah kesentosaan negeri saja, dan supaya sekalian yang menjadi hasil negeri tetap diterima seperti yang telah diaturkan! Dalam hal itu Pemerintah dan orang bangsawan memanglah banyak mendapat faedahnya, tetapi apakah yang didapat oleh anak-negeri sendiri? Apakah faedahnya kepada anak-negeri orang-orang bangsawan yang dimuliakan sekian tingginya, yang dipakai oleh Gubernemen untuk memerintahi mereka itu? Sampai sekarang tak ada apa-apa, atau amat sedikit benarlah kebaikannya; tetapi terbanyaklah kejahatan dari pada kebaikan, kalau sekiranya bangsawan itu salah menggunakan kekuasaannya; hal yang sedemikian bukanlah jarang-jarang terjadinya.

Sekalian itu wajib berubah, orang-orang bangsawan wajib menjadi junjungan anak-negeri hendaklah dengan narganya, yang akan memberi faedah yang tak berhingga kepada anak-negeri.

Kepada keperluan itulah Pemerintah wajib membawa orang-orang bangsawan itu; supaya orang boleh mendapat keperluan yang tersebut, haruslah orang-orang bangsawan itu diberi pendidikan yang senonoh, yaitu pendidikan yang bukan saja bersendi pada ilmu kepandaian, tetapi juga pendidikan yang sungguh membangunkan tingkah laku, dan budi pekerti yang baik.

PASAR DI JEPARA

Hal itulah yang harus diingat lebih dulu, kalau hendak memberi orang Jawa pengajaran! Ada orang yang berkata, bahwa budi pekerti yang baik akan datang saja sendiri, apabila orang telah berilmu dan berkepandaian.

Tak terbilanglah contoh-contoh, yang telah menerangkan, bahwa ilmu kepandaian yang tinggi itu sekali-kali tidaklah menjadi suatu pengakuan untuk berbudi bahasa yang halus!

Orang tak boleh menyalahi dengan terburu nafsu apabila mereka yang berilmu dan berpengetahuan tinggi itu ber-adat kasar dan tidak berbudi pekerti, karena kebanyakan dalam hal itu bukanlah kesalahannya sendiri, hanya salah dari pendidikannya. Orang sangat bersusah payah untuk memajukan ilmu kepandaiannya, tetapi apalah yang telah dibuat oleh mereka itu untuk membaiki budi bahasa? Tak ada apa-apa. Ketiadaan pendidikan tingkah laku dan budi-pekerti, maka pelajaran yang sebagus-bagusnya pun tak sangguplah dapat menghasilkan buah, yang diharap orang kepadanya.

Apalagi untuk di dunia Bumiputera amat perlu benar ada suatu sendi yang lebih baik untuk pendidikan budi-pekerti, sebab apabila sendi itu tidak ada, Biarpun berapa jua baiknya atur-aturan Pemerintah hendaknya bagi mereka itu, niscayalah amat sedikit akan memberi faedah atau bolehlah pula sama sekali akan mendatangkan kerugian saja. Dan itulah sebabnya maka orang harus lebih dahulu memperbaiki sendi-sendii pendidikan budi-pekerti untuk Bumiputera itu. Bila sendi yang kukuh telah dibuat dan dipakai, maka barulah boleh orang mendirikan bermacam-macam rumah dengan sejahtera.

Siapakah yang akan membantahi, bahwa dalam hidup bersama-sama itu perlu sekali memikul suatu pekerjaan yang besar untuk pendidikan budi-pekerti? Perempuan, ya, perempuanlah yang layak sekali untuk mengerjakan kerja itu; betul tidaklah sekaliannya, tetapi amat banyak ia dapat menolong mempertinggi kedudukan budi-pekerti Bumiputera dalam hidup bersama-sama.

Alam sendiri telah membahagiakan pekerjaan itu kepada perempuan. Bila ia telah menjadi ibu, teruslah ia menjadi pendidik yang pertama untuk kemanusiaan; dalam pangku-annyalah si anak mula-mula belajar merasa, berpikir dan berkata; dan dalam segala hal pendidikan yang pertama-tama itu, bukanlah pendidikan yang tak ada berarti untuk selama hidup. Tangan bundalah, yang mula-mula sekali meletakkan biji kebaikan atau biji kejahatan dalam hati manusia, yang acap kali tinggal dan tumbuh di sana selama hidupnya. Itulah sebabnya tak sia-sia orang berkata, bahwa kebaikan atau kejahatan itu telah dicucup orang bersama-sama dengan air susu bundanya. Bagaimanakah bunda-boer da bangsa Jawa akan dapat mendidik anak-anaknya sekarang, kalau ia sendiri tiada dididik? Tak bolehlah kesopanan dan kepandaian bangsa Jawa akan dapat maju ke muka, apabila perempuan dalam hal itu masih tinggal di belakang, dan tidak ada mempunyai kewajiban dalam hal hidup bersama-sama.

Bukakanlah hati dan otak perempuan bangsa Jawa, dan kalau demikian tentulah orang akan mendapat kawan bekerja yang cakap untuk mengerjakan kerja yang amat bagus dan besar, yaitu pekerjaan membaiki kesopanan suatu bangsa yang berjuta-juta banyaknya!

Berilah tanah Jawa bunda-bunda yang cakap dan budiman, dan kalau itu telah ada, maka kesopanan dan kehormatan suatu bangsa lambat launnya tentulah akan datang sendiri!

Lebih dahulu didiklah dan ajarlah anak-anak perempuan orang-orang bangsawan, dan dari mereka itu wajiblah kesopanan itu pergi kelak kepada anak-negeri; ajarlah anak-anak perempuan itu sehingga dapat menjadi bunda yang cakap, budiman dan berpikiran yang tetap, dan tentulah nanti dengan sekuat-kuatnya mereka itu akan mengembangkan kesopanan itu kepada bangsanya. Kesopanan dan kepandaiannya itu pastilah akan diberikannya kepada anak-anaknya; anak-anak perempuan mereka itu tentulah akan menjadi ibu pula; dan anak-anaknya yang laki-laki tentulah akan menjaga susah dan senang bangsa itu. Dan lagi dengan beberapa jalan yang lain mereka itu yani, orang yang telah berbudi pekerti, dapatlah selalu memberi suri teladan yang bergun untuk pembuka hati dan penajamkan pikiran bangsanya dan orang sekelilingnya. Sepanjang pengetahuan kami, bahwa Directeur van O. E. en N. yang sekarang, ialah seorang amtenar Pemerintah berpangkat tinggi, yang telah memperhatikan arti perempuan dalam kemajuan bangsa Jawa, dan ia pun telah mencoba pula hendak memajukan itu.

Sayang! Percobaanya itu selalu putus di tengah. Hal itu sebabnya, karena keseganan mereka sendiri, mereka yang akan mendapat kebaikan dan keuntungan dari pekerjaan itu, ya, kebaikan dan keuntungan pula untuk sekalian bangsa Jawa. Regen-regen yang diminta akan mengeluarkan pikirannya tentang hal itu boleh dikatakan sama rata menimbang, bahwa waktu akan mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak perempuan regen-regen dan kepala-kepala negeri yang lain, sekarang belumlah datang.

Tetapi apakah yang kelihatan sekarang setiap hari? Regen-regen yang mengatakan waktu itu belum datang, telah menimbang sendiri, bahwa waktu itu sudahlah datang, tetapi hanyalah untuk anak-anak perempuannya saja, sebab itulah diberinya mereka itu pendidikan itu. Hal itu sebabnya ialah: Pendidikan cara Eropa belum lagi menjadi suatu kebiasaan, lebih-lebih pada anak-anak perempuan Bumiputera, dan dalam hal itu masing-masing orang untu dirinya sendiri, dengan segala sukacita memberi anak-anaknya pendidikan yang terbaik, lagi boleh didapatnya, tetapi tidak mau menyuruhkan orang lain membuat yang sedemikian, atau mengajak orang lain mengerjakan itu, karena yang terutama ia sendiri suka terpelajar, dan tidak suka melihat orang lain menjadi terpelajar pula.

Bila sekolah-sekolah itu didirikan sekarang, tentulah tiap-tiap orang dapat menyuruh anaknya pergi memasuki sekolah itu, dan mereka itu dengan orang banyak, tentulah akan mendapat pengajaran yang sama; pada hal ia lebih suka, ia sendiri hendaknya mempunyai kepandaian itu selama-lamanya.

Rupanya kalau demikian, benarlah perkataan yang dikatakan oleh seorang kepala negeri, yang terutama dan terpelajar, yaitu: “Orang Jawa, lebih-lebih orang bangsawanya untuknya sendiri suka sekali memakan nasi, dan orang lain kalau boleh, jangan; dan untuk orang lain nasi beras merah sudah bagus benar.”

Kebanyakan orang Jawa yang berpangkat tinggi yang amat dengki melihatkan orang-orang lain berduga-duga mencari ilmu kepandaian, telah berkata: “Biarkanlah saja orang banyak itu tinggal bodoh, supaya kekuasaan selalu tergenggam di tangan kita.”

Telah masyhurlah sudah, bahwa kebanyakan dukun, yang tahu rahasianya mengobati penyakit ini atau itu, membawa rahasianya bersama-sama ke kuburnya, sehingga kepada anak-anaknya tak maulah membukakan rahasianya itu. Perasaan-kuat, meneguhi janji sekali-kali tak ada didapati dalam dunia bangsa Bumiputera; perasaan itu wajiblah benar ditanamkan dalam kalbu Bumiputera, kalau tak ada perasaan itu mustahillah suatu bangsa dapat dimajukan.

Hendak mempunyai yang terbaik dan menyangka hal itu haknya sendiri, yani menurut sepanjang pikiran orang-orang bangsawan, itulah telah terbit dari hatinya, yang telah berurat berakar dengan pengertian sesat, dan demikian pun mereka itu selalu memandang, bahwa orang-orang bangsawan itu manusia yang lebih baik, dan makhluk yang lebih tinggi asalnya dari pada orang banyak, jadi karena itulah maka orang-orang bangsawan itu menyangkakan dirinya berhak memiliki sekalian barang yang terbagus! Akan memusnahkan pengertian yang mengalangi sekalian kemajuan itu dapatlah pula bunda-bunda itu berusaha dengan sebaik-baiknya. Tetapi kelakuan bunda yang bangsawan sekarang, janganlah akan memusnahkan pengertian itu, melainkan selaludengan sengaja memanjakan anaknya, yang kecil lagi belum pandai berjalan itu dengan mengoyak rahangnya, memanggil-memanggil si anak itu dengan gelaran bangsawan yang baru didapat oleh anaknya itu!

Yang sebenar-benarnya, yang menjadi suatu keperluan besar untuk kesopanan bangsa, ialah kemajuan perempuan bangsa Jawa! Karena itu suatu kewajiban yang pertama sekali pada Pemerintah akan meninggikan kemanusiaan perempuan bangsa Jawa, mendidik, mengajar dan menjadikannya bunda yang cakap dan budiman serta pendidik!

Sekolah-sekolah partikelir dan sekolah-sekolah Gubernemen telah menyatakan, bahwa kepala-kepala negeri makin lama makin banyak pula menghendaki pendidikan yang baik untuk anak-anaknya yang perempuan.

Sekarang telah kedapatan juga adalah beberapa regen yang menyuruh isterinya bersama-sama dengan anak-anaknya perempuan belajar kepada guru-guru perempuan bangsa Belanda. Banyaklah lagi orang tua, yang mau menyuruh mengajar anak-anaknya yang perempuan, apabila adalah tempat mereka itu belajar, karena tidaklah pada segala negeri ada didapati sekolah anak perempuan, dan orang pun banyak yang enggan menyuruh anaknya ke sekolah yang bercampur anak-anak laki-laki dengan anak-anak perempuan.

Di tanah Priangan telah dua tahun lamanya terdiri sebu-ah sekolah partikelir yang dibantu oleh Pemerintah; sekolah itu semata-mata sekolah anak-anak bangsawan, gurunya seorang guru perempuan bangsa Eropa. Anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan pergi ke sekolah itu, tetapi berlain-lainan kelas; dan anak-anak laki-laki lebih dulu disuruh pulang ke rumah, sehingga anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan menurut sepanjang adat tiadalah dapat berjumpa.

Janganlah kiranya diperbincangkan juga lebih lama, tetapi lihatlah sekarang suatu kejadian dalam dunia Bumiputera, yani sekolah untuk anak-anak perempuan bangsawan telah ada!

Sifat-sifat sendiri, nama yang baik, kepandaian yang sejati dari pada orang-orang yang mengajar di sekolah itu, tentulah akan menanggung kemajuan sekolah itu, dan Pemerintah pun tentulah mempunyai kewajiban pula dalam sekolah itu. Ia dapat menambah kemajuan itu, pertama membantu kekurangan dalam sekolah itu, dan kedua menunjukkan beberapa jalan dengan nyata, yang ia mengindahkan kemajuan perempuan bangsa Jawa!

Bangsa Jawa betul seperti bangsa-bangsa yang lain juga, belum terpelajar, masih berperasaan yang tajam untuk kebagusan, keharuman dan keindahan. Cukupilah perasaannya itu, tetapi beri mereka itu barang sesuatu yang baik, yang sejati dan yang tahan lama!

Ingatlah betapa halnya anak-anak, yang disuapi orang dengan obat yang menambah kesehatan tubuh mereka itu. Kalau dihadapkan kepadanya pil-pil umpamanya seperti biasa saja, tentulah si anak itu, Biarpun dengan tutur kata yang manis, nasihat yang baik dan akhirnya ancaman engganlah juga akan menelan obat itu; tetapi berilah pil itu bergula, dan bungkuslah dengan kertas berperac atau beremas-emas, dalam sepuluh adalah sembilan anak-anak, yang segera akan menunjukkan tangannya hendak melulur pil itu.

Pada anak yang lebih berakal tentulah tak beruna gula atau bungkus yang indah untuk menelan pil itu, karena ia tahu yang pil itu akan menyembuhkan penyakitnya.

Contoh yang diberikan oleh almarhum Pangeran Demak, contoh yang setengah abad lamanya, maukah orang menurutnya, bilamana Pemerintah tidak menunjukkan suatu tanda yang nyata, yang ia menghargai perbuatan itu? Pangeran Demak, seorang Jawa yang pertama-tama sekali memberi anak-anaknya pendidikan cara Eropa. Empat orang anak dan dua orang cucu Pangeran yang tersebut telah dan masih menjadi regen. Orang-orang yang pandai menimbang hal itu, semuanya memuji keadaan anak-istri regen-regen itu.

Sebenarnyalah Pemerintah lekas mendapat kebajikan atas perbuatan kepala negeri itu; tetapi tentang faedahnya kemajuan perempuan bangsa Jawa untuk sekalian penduduk Bumiputera sudahlah dinyatakan di atas tadi dengan seterang-terangnya, dan tiap-tiap orang dapatlah memaklumi hal itu, asal dipikirkannya baik-baik.

Sekolah-sekolah saja tak dapatlah memajukan dunia Bumiputera, sebab itu ahli rumah pun wajib pula bekerja bersama-sama.

Lebih-lebih dari ahli rumahlah wajib datang kekuatan yang mendidik itu karena bercampur dengan ahli rumah siang dan malam, tetapi dalam sekolah hanyalah beberapa jam saja kami dalam sehari.

Bagaimanakah ahli rumah itu boleh dengan berkat dapat mendidik, apabila orang yang terutama dalam rumah, yani perempuan, ibu yang tak cakap mendidik?

Jikalau Pemerintah sekarang menunjukkan yang ia dalam bermacam-macam hal mengindahkan bangsa Jawa, demikian pun kemajuan perempuan bangsa Jawa, tentulah ia dengan sekuat-kuatnya akan mengemukakan hal itu. Jal-an itu tentulah lebih baik lagi dari pada jalan-jalan yang lain, karena hal yang seperti itu menjadi suatu ajakan yang baik. Hal itu tentu lebih banyak dan lebih besar menda-tangkan kebajikan dari pada kalau Pemerintah misalnya lekas memberi perintah, yang segala kepala negeri menyuruh anak-anaknya pergi ke sekolah, dan itulah suatu perintah, yang sekali-kali tidak perlu dipaksa oleh Pemerintah!

Bilamana orang-orang bangsawan mengetahui, bahwa Pemerintah bersuka hati, kalau anak-anak perempuan mereka itu terpelajar dan berbudi-pekerti, maka bangsawan itu dalam beberapa tahun yang pertama, tentulah menyuruh saja anak-anaknya itu ke sekolah dengan tiada mengetahui akan faedahnya, tetapi dari gerakannya sedirilah akan terjadi. Dan ke dalam hal yang demikianlah harus dibawa bangsawan itu!

Tak usahlah dipandang dahulu dengan daya upaya apa jupaun orang mau menyuruh anak-anaknya yang perempuan pergi ke sekolah. Perkara yang terutama ialah, yang orang itu menyuruh anak-anak perempuannya pergi kese-kolah!

Kepada orang-orang yang memberi pengajaran, dipikulkanlah suatu kewajiban akan menjadikan anak-anak perempuan, yang dipercayakan kepada pengajar-pengajar itu, menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya dan dengan segala kekuatannya, yani perempuan yang berbudi dan terpelajar serta insaf dalam hatinya akan kewajibannya dalam hidu bersama-sama akan menjadi ibu yang dicintai, pendidik yang budiman dan pandai lagi sanggup berbuat jasa dalam segala hal bagi sesamanya manusia, di dunia Bumiputera, yang perlu dalam tiap-tiap hal selalu mendapat pertolongan!

Bagi sementara orang haruslah mendirikan lebih dahulu sebuah sekolah dengan tempat tinggalnya sekali, supaya guru-guru dapat benar mendidik anak-anak itu sebagai yang dikehendaki; tetapi sekolah itu boleh pula hendaknya dimasuki oleh anak-anak yang tinggal di luar.

Bahasa dalam sekolah itu haruslah dipakai bahasa Belanda! Hanyalah pengetahuan dalam bahasa Eropa, dan terutama tentulah bahasa Belanda, yang dapat membawa bagi sementara orang berbangsa dari penduduk Bumiputera ke padang kemajuan, kepada kebebasan pikiran!

Akal yang sebaik-baiknya untuk mempelajari bahasa itu, ialah banyak berpikir dan bercakap dalam bahasa itu. Tetapi oleh karena itu janganlahpula orang mengabaikan bahasanya sendiri. Dalam hal itu untuk bahasanya sendiri patutlah orang mengusahakan dirinya dengan sebaik-baiknya.

Cita-cita hendak menerjemahkan kitab-kitab Eropa kepada bahasa Jawa, yang berisi dengan pengajaran dan pendidikan, tentelah amat besar. Itu pun mestilah pula dilaku-kan! Tetapi itu sekarang belum terjadi, dan untuk sementara belumlah hal itu boleh terjadi.

Wajibkah orang Jawa dalam waktu menantikan itu akan dibiarkan saja tinggal dungu dan bodoh, sedang ilmu kepandaian sekarang ini sangat berfaedah untuk dunia Bumiputera, yang menghendaki sendi kesopanan yang berguna untuk mendapat keselamatan pencaharian yang lebih baik? Saya tidak bermaksud menyuruh sekalian orang Jawa belajar bahasa Belanda; apakah faedahnya pengetahuan bahasa Belanda itu bagi si peladang, tukang pemotong kayu, tukang rumput d.l.l.? Guru-guru harus mengajarkan bahasa itu hanyalah kepada mereka yang cakap dan terang hatinya untuk belajar bahasa Belanda itu. Guru-gu-ru harus mengajarkan bahasa itu dengan seterang-teranganya, dan memaklumkan baik-baik kepada murid-muridnya, bahwa mempunyai kepandaian bahasa Belanda itu saja, tak adalah artinya, dan sekali-kali tidaklah artinya mereka itu telah mempunyai tertib-sopan, karena kesopanan itu tempatnya tidaklah dalam pandai bercakap bahasa Belanda dan tahu sedikit adat-adat Belanda, apalagi kesopanan itu tempatnya tidaklah di dalam pakaian meniru cara Belanda. Pengetahu-an bahasa Belanda ialah kunci, yang akan membuka gudang perbendaharaan kesopanan dan kepandaian bangsa Eropa. Dan masing-masingnya wajiblah bekerja, supaya boleh mendapat harta benda yang di dalam perbendaharaan itu.

Sesungguhnya perlu benar banyaklah Bumiputera yang terpelajar hati dan otaknya, dan mengetahui sungguh-sungguh bahasanya dan hal bangsanya sendiri, dan dalam hal itu lagi mengetahui bahasa Belanda dan ilmu kepandaian bangsa Eropa. Mereka itu masing-masing wajiblah memaparkan baik-baik segala yang barukepada bangsanya, sehingga hal itu boleh dapat disesuaikanoleh mereka itu dengan hal keadaannya!

Terjemahkanlah waktuitu nanti segala kitab-kitab bangsa Eropa yang menggembirakan hati kepada bahasa Jawa, dan hadapkan kepada bangsa Jawa; lihatlah di sana betapa orang banyak akan menyukainya!

Bagi mereka yang pada waktu kecilnya dan waktu mudanya tiada mendapat pendidikan tertib-sopan yang baik, dan hampir sekalian bangsa Jawa demikianlah halnya, patutlah hal yang sangat penting itu ditambahkan dalam pendidikan mereka itu.

Kadang-kadang terjadinya pendidikan itu tidaklah dengan sengaja; boleh jadi kita bercampur dengan orang-orang pandai dan yang berhati mulia lagi suka memandaikan dan mengajari kita, dan dengan tiada setahu kita orang mendidik kita dengan contoh-contoh yang mulia.

Suatu akal yang baik untuk pendidikan dan yang boleh mendatangkan keselamatan, ialah: “membaca kitab-kitab.” Membaca itu suatu pendidik yang bagus. Orang Jawa hampir tak ada mempunya kitab-kitab bacaan. Yang ada padanya, ialah syair-syair pahlawan, dan nasihat-nasihat hidu, itu pun tak banyak pula orang membattanya, karena ia ditulis dengan tangan; di antara kitab-kitab itu adalah pula harta pusaka, yang telah turun-temurun dari bapak kepada anaknya, pun kurang dibaca orang, karena bahasanya acap kali kiasan dan ibarat saja, tak dapat diartikan oleh orang kebanyakan. Lagi pula orang Jawa selalu memahamkan kebanyakan isi kitab-kitab itu seperti apa yang tersurat saja, karena itulah pengertian dan keperluan isi kitab-kitab itu kepadanya, semuanya atau sebagian besar menjadi hilang.

Dalam syair-syair nasihat Jawa hal keadaan tidak makan dan tidak tidur, amat dipuji benar dan dikatakan, bahwa itulah suatu jalan yang suci dari negeri yang fana ke negeri yang baka. Banyaklah buah pikiran di dalamnya yang bagus-bagus kiasannya, tetapi keindahan itu bagi orang banyak telah hilang.

Kalau mereka itu telah puasa, menahan lapar dan berjaga-jaga, maka dalam pikiran mereka itu telah sampailah maksudnya menempuh jalan yang suci itu, dan dalam hal itu buah pikiran yang baik tadi, yang perlu diamalkannya tiap-tiap hari, hilang lenyaplah. “Tak makan, tak minum dan tak tidur, itulah sangkanya maksud hidu! ... dan ... karena penanggungan itu (sabar, menahan diri dan tawakkal) sampailah mereka itu ke surga tempat bersenang-senang!”

Seperti keadaan itu banyaklah lagi yang diperbuat oleh mereka itu, berilah orang Jawa kitab-kitab, yang tertulis dalam bahasa yang disukai dan yang diketahui oleh orang banyak, jangan-lah sekali-kali cerita-cerita yang sukar, berisi kosong, celas dan tak berfaedah, tetapi hendaklah cerita-cerita yang mudah, baik dan indah, yani cerita peri hal hidup yang sebenar-benarnya terjadi, sekarang dan dahulu, boleh juga cerita-cerita yang dibuat-buat, asal wujudnya selaiu adalah untuk pembaiki tingkah laku dan penambah ilmu kepandaian!

Dalam berbincang bercengkerma seboleh-bolehnya hendak-lah diberi orang Jawa makanan untuk hati dan otaknya serta nasihat yang berguna untuk hidupnya sehari-hari.

Wajiblah diadakan kitab-kitab kecil dan besar yang berguna untuk mereka yang telah balig, dan untuk anak-anak kecil, dan lagi surat-surat kabar, yang keluar tiap-tiap pekan dan tiap-tiap bulan yang berisi berjenis-jenis hal keadaan, yang meluaskan pemandangan, membukakan pikiran dan mempersuci hati. Sekali-kali surat-surat kabar itu, tak berguna diisi dengan kabar-kabar yang biasa, seperti kebakaran, kecurian, pembunuhan dan perang pena, yang hina-menghinakan dan cela-mencela orang. Pembaca-pembacanya haruslah boleh bertonya tentang segala hal, yang dijawab oleh juru kabar atau pembaca-pembaca yang lain.

Seboleh-bolehnya surat kabar itu hendaknya untuk memjukan pembaca-pembacanya bertanding dan bertukar pikiran dan timbangan.

Sebagai orang mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan kepala-kepala negeri, yaitu biarlah kecil permu-laannya, demikianlah pula wajibnya surat kabar itu didirikan. Pekerjaan itu tentulah nanti mudah dengan perlahan-lahan dibesarkan, tetapi apabila orang memulai dengan yang besar dan kemajuannya tak berapa, pastilah orang akan lekas berhati kecut.

Kelahiran surat kabar “Bintang Hindia” memanglah meriangkan hati, itulah baru suatu surat kabar Melayu-Belanda yang diberi bergambar-gambar, dikeluarkan di tanah Belanda dan dikemudikan oleh suatu perserikatan anak muda-muda yang berhaluan kemajuan, dan yang sedang bertapa mencukupi pengajarannya di sekolah-sekolah tinggi di sana. Mereka itu ialah anak-anak muda yang bercinta dan berhati gembira untuk tanah air dan bangsanya, yang hendak ditolongnya kelak ke padang kemajuan! Saya berharap supaya orang membantu dan menyokong usaha itu!

Pengetahuan yang disukai oleh orang banyak tentang tanah Hindia dan penduduknya, haruslah dikembangkan kepada orang-orang Belanda. Dengan cara demikian barulah dapat orang mengenal bangsa Jawa dengan sebenar-benarnya, sehingga karena itu cela dan nista dapatlah hilang hendaknya; dan pada waktu yang akan datang tidaklah orang-orang Belanda yang terpilih-pilih saja, tetapi orang-orang Belanda yang kebanyakan pun hendaklah memandang orang-orang Jawa sebagai sesamanya manusia. Bangsa Jawa itu sekali-kali tidaklah bersalah, yang ia kurang pandai dari pada bangsa Belanda dan berkulit hitam.

Kitab-kitab yang sedemikian, yang dikarang untuk orang-orang Belanda, tentulah akan banyak faedahnya, baik untuk tanah Jawa, baik untuk tanah Belanda sendiri. Lebih besar lagi harga dan kekuatan kitab itu, apabila anak Jawa sendirilah yang memperkenalkan bangsa Jawa dengan tanah Belanda. Karena itulah pula teramat bagus, yang bahasa Belanda itu diajarkan kepada bangsa Jawa. Orang Belanda ten-tulah akan mengerti dengan sebaik-baiknya apa yang dikatakan oleh anak Jawa tadi, bilamana ia bercakap dalam bahasa Belanda menceritakan kehendak, kekurangan dan keseng-saraannya.

Tetapi mengapakah pada waktu orang2 Belanda telah ber-umur, maka kesukaan hati mereka itu untuk tanah Hindia baru dibangunkan? Tak dapatlah hal itu lebih lekas diter-bitkan? Sekolah-sekolah itulah suatu tempat yang sebagus-bagusnya untuk mengerjakan itu, baik sekolah di Belanda atau sekolah di Hindia. Orang harus memakai kitab-kitab kecil di sekolah-sekolah itu, yani kitab-kitab yang menguraikan dengan seterang-terangnya hal keadaan tanah, bangsa dan adat-adat Hindia; bukanlah kitab-kitab yang sukar, sangat terpelajar dan tinggi, hanya kitab-kitab yang meriangkan hati, seperti kitab-kitab yang disukai oleh anak-anak membacanya, dan yang berisi pengetahuan yang sejati tentang tanah-tanah kami yang bagus, dengan penduduknya, bangsa yang berkulit hitam dan lemah lembut yang jauh di seberang lautan itu.

Akan memberi pengetahuan yang sejati tentang tanah Hindia untuk anak-anak itu belumlah cukup, apabila orang hanya memakai kitab-kitab pembacaan itu saja, Meskipun sekaliannya telah dikarangkan dengan seindah-indahnya, dan dengan pengetahuan yang seluas-luasnya. Tetapi wajib-lah lagi guru-guru mempunya pula pengetahuan tentang tanah Hindia lebih banyak dari pada yang tersebut. Meskipun gunanya ialah sekadar, supaya guru-guru itu tiadalah akan menutup mulutnya, bilamana anak-anak itu bertonya barang sesuatu hal, yang telah dibacanya pada kitab-kitab bacaannya itu.

Tiada baikkah dalam sekolah-sekolah guru ditambah lagi sebuah pengajaran yang baru, yaitu: pengetahuan yang baik dan lanjut tentang tanah Hindia?

O, di tanah Belanda perlu sekali dicari segala daya upaya, lebih-lebih untu anak muda-muda akan membangunkan kesukaan mereka itu kepada tanah Hindia. Karena anak-anak yang sekarang lagi belajar, mereka itulah nanti, pada waktu yang akan datang, yang akan memerintah tanah Hindia!

Yang lebih baik lagi dan pekerjaan yang sebagus-bagus-nya akan membangunkan kesukaan kepada tanah Hindia dan penduduknya di negeri Belanda, ialah dengan memperlihatkan bermacam-macam gambar, perkakas dan lain-lain tentang tanah Hindia dan penduduknya.

Umpama: Pertunjukan, seperti yang kerap dibuat oleh perserikatan “Oost en West” di den Haag, yaitu pertunjukan barang-barang kepandaian dan perusahaan Bumiputera tanah Hindia, dan kalau dapat ditunjukkan benar-benar bagaimana hidup bangsa Hindia dalam dunia sendiri, umpama: diadakan rumah dengan isinya (orang Jawa sejati) dan gamelannya; dipertunjukkan dalam beberapa negeri-negeri di seluruh tanah Belanda, dan uang bayaran akan masuk ke-dalam pertunjukan itu, haruslah diminta semurah-murahnya, supaya sekalian anak negeri dapat masuk melihatnya. Pertunjukan yang seperti itu semuanya dikumpulkan dan disuruhlah menjalani tanah Belanda, dari sebuah negeri ke negeri yang lain.

Sangatlah mendukacitakan bagi tanah Hindia dan amat memberi malu bagi tanah Belanda, yang orang-orang Belanda bodoh dan pandai rata-rata, bolehlah dikatakan sekaliannya tak seberapa, ya. hampir tak ada mengetahui hal keadaan tanah Hindia.

Sebuah daya upaya yang patut dilakukan oleh Pemerintah yang akan memadukan keselamatan penduduk tanah Jawa, dan yang akan mendatangkan kebaikan kepada tanah Belanda sendiri, ialah mengembangkan pengetahuan tentang Hindia kepada orang-orang Belanda, dan membangkitkan kesukaan mereka itu untu “Hindia.”

Dari orang-orang Belanda bolehlah datang suatu kekuasaan yang memberi berkat kepada anak Bumiputera; masing-masing orang Eropa yang terpelajar, lebih-lebih mereka itu, karena pangkatnya mestilah bercampur gaul dengan orang bangsawan atau dengan orang banyak, boleh benar menjadi pendidik dan orang yang berbuat baik untu orang Jawa. Karena mereka itu dapatlah melakukan kekuasaannya yang baik dan membuat kebajikan, bilamana mereka itu suka memberi pertolongan kepada orang-orang sakit dan luka.

Berapalah besarnya dan berkatnya kekuasaan yang dapat dilakukan oleh pegawai-pegawai negeri bangsa Belanda, yang bercampur dengan orang-orang besar Bumiputera, yani kepala-kepala dan orang² bangsawan. Apakah kebaikan kekuasaan pegawai itu, yang sekarang boleh dilihat? Pukul rata-rata amat sedikit, ya, terlalu amat sedikit! Dan kepada pegawai-pegawai bangsa Eropa, yang menaruh kasihan kepada bangsa kulit hitam, yang diperintahnya, yang memandang pegawai-pegawai bangsa Bumiputera yang di bawahnya itu, dalam segala hal bukanlah orang yang hina dan bukanlah akan menyembah-nyembahnya, hanya memandang orang-orang Jawa ini sebagai sesamanya manusia dan sahabatnya, selalulah diucapkan terima kasih.

O, saya harap, supaya pergaulan pegawai Eropa dengan pegawai Bumiputera menjadi baik, dan pergaulan yang baik itu akan menjadi suatu “adat” kebiasaan hendaknya, sehingga perbedaan kedua jenis pegawai itu tidaklah kiranya akan tinggal lama lagi!

Dinding yang menceraikan pegawai Eropa dan Bumiputera, ialah “kemegahan” namanya.

Tiadakah lebih baik untuk tanah Belanda dan untuk tanah Hindia jikalau orang-orang Belanda, lebih-lebih pegawai-pegawai yang berpangkat kepala negeri mencari “kemegahan” meninggikan pangkatnya itu dengan jalan yang lain, dari pada jalan yang diturut sampai sekarang?

Lama-kelamaan rupanya hati yang belas kasihan dan tabiat yang baiklah yang lebih bagus, ya, itulah suatu jalan yang sebagus-bagusnya akan memperhubungkan tanah Jawa dengan tanah Belanda, dari pada jika orang² Belanda, lebih-lebih pegawai-pegawai negeri, yang menerbitkan ketakutaan Bumiputera kepada kekuasaan tanah Belanda, yani dengan meninggikan dirinya “ke atas kayangan yang mahatinggi.” Pegawai-pegawai Bumiputera menghormati pegawai bangsa Eropa, seperti mereka itu menghormati orang-orang besarnya sendiri, karena pegawai-pegawai Jawa tahu, yang tuan-tuan itu dalam hatinya sungguh-sungguh menyukai kehormatan itu; tetapi mereka itu menghormati si tuan itu sedemikian, adakah karena, kemauan hati mereka itu sendiri???!

Moga-moga pegawai Belanda yang sebenarya akan meninggikan dirinya, sekali-kali tak mau menerima kehormatan yang tidak terbit dari hati yang suci!

Dari perempuan bangsa Eropa bolehlah pula didapati suatu berkat yang besar untuk dunia Bumiputera.

Telah kerap kali kejadian, yang anak-anak gadis Bumiputera telah ada juga berkepandaian dan pengetahuan sedikit-sedikit yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Dan tambahnya pengetahuan itu diperolehnya ialah dari kebaikan hati perempuan bangsa Eropa, bahwa pengetahuan itu amat berguna kemudian hari untuk dunia Bumiputera adalah dimaklumi oleh anak-anak gadis itu, karena mereka itu telah mengerti pula akan kewajibannya dalam hidup bersama-sama.

Belas kasihan perempuan-perempuan Belanda itu menjadi suatu perbuatan, yang mendatangkan keuntungan kepada tanah Belanda sendiri. Perempuan-perempuan itu dalam hal itu menanamkan cinta dalam hati gadis-gadis Bumiputera dan kaum keluarganya untuk tanah dan bangsa Belanda. Dan perempuan-perempuan itu sendiri telah menge-nali pula bangsa Jawa dengan jalan yang lebih baik. Jalan itulah yang membimbing perempuan-perempuan Belanda dan Jawa sama-sama mulia-memuliakan, dan sama-sama perca-ya-mempercayai, yang mendatangkan kebaikan besar untuk kedua belah pihakna.

Amat banyaklah kebaikan di tanah Hindia, yang boleh diper-buat oleh laki-laki dan perempuan Belanda. Dengan usaha yang baik sedikit saja, dapatlah mereka itu dengan mudahnya menarik hati bangsa Bumiputera. Adalah orang yang berkata, bahwa orang Jawa tak tahu mengucapkan terima kasih. O, apabila orang mendengarkan “si kurang terima kasih“ itu mempercakapkan cintanya yang memilukan hati dan kehor-matanya untuk bangsa Eropa, yang telah menyayang mengasihinya, pastilah orang itu akan mengubah katanya.

Orang Jawa berperasaan yang amat tajam untuk merah-sai keramahan dan kesayangan yang terbit dari hati yang ikhlas. Orang-orang Eropa haruslah lebih dahulu mendekatkan dirinya kepada orang Jawa, akan orang Jawa sendiri tak bera-nilah mendekatkan dirinya dahulu kepada orang Belanda, ke-reina ia terlampau pemaludan penakut; dan lagi orang Eropa itu bukankah wajib mengambil hati dan kepercayaan mereka itu lebih dahulu?

Orang barulah sampai ke tempat yang dimaksud itu, ialah apabila orang di tanah Belanda telah mengembangkan pengetahuan tentang hal keadaan Hindia yang sejati. Kembangkau-lah pengetahuan itu di sekolah dan di rumah kepada anak-anak dan kepada orang-orang muda, dan masukkanlah ke dalam hatinya, bahwa tanah Belanda itu adalah mempunyai suatu ke-wajiban budi yang mulia kepada tanah Hindia, tanah yang bagus, kaya dan jauh di seberang lautan, yani tanah, tempat Groot-Nederland mengucapkan terima kasih, karena ialah yang menyebabkan maka tanah Belanda telah menjadi suatu kerajaan berjajahan yang berarti. Di tanah Belanda harus-lah orang belajar, bertanya, dan memikirkan baik-baik pertanyaan ini: “Apakah kelak jadinya tanah Belanda, kalau tak ada lagi bertanah Hindia?”

Dan lagi yang harus pula diajarkan oleh tanah Belanda kepada Hindia: “Apakah jadinya nanti Hindia kalau tak ada bertanah Belanda?”

Tentang pengajaran anak negeri bacalah buah pikiran Regen Ngawi¹ yang sekarang.

Tambahan lagi niscaya adalah jasanya kalau sekiranya orang memperhatikan dengan sebaik-baiknya hal keadaan pengajaran, pendidikan, sekolah d.l.l. di Mojowarno dan hasil kebaikan sekolah di situ. Mengapakah maka sekolah-sekolah yang baik seperti di Mojowarno itu tidak didapati juga di negeri-negeri yang lain di tanah Jawa?

Jika sekiranya bukanlah perkara agama yang diajarkan dalam sekolah itu, atau tentang perkara agama orang boleh melakukan kehendaknya, tentu tak adalah marah bahaya yang ditakutkan orang dari pihak-pihak orang yang saleh dalam dunia Bumiputera.

Kalau tidak perkara mengembangkan agama Serani, karena hal itu menimbulkan kebencian bagi orang-orang Jawa yang teguh akan agamanya, tentulah pekerjaan yang bagus itu akan mendatangkan suatu keberkatan untuk tanah Jawa. Orang Jawa mempercayai dalam hatinya, bahwa suatu kehi-naanlah bagi bangsanya, yang dulu seagama dengan dia, tetapi sekarang telah murtad menjadi orang Serani. Pekerjaan itu pada pemandangan orang Islam, dosa yang sebesar-besarnya. Dan orang Jawa yang telah menjadi Serani itu pun memandang bangsanya, yang masih beragama Islam yang dulu seagama dengan dia itu, hina pula.

Menurut pikirannya ia telah tinggi kedudukannya dari pada mereka itu, karena ia sekarang seagama dengan orang putih, dan menyangkakan yang kedudukannya telah sama tinggi dengan kedudukan orang putih itu dalam hidu bersama-sama. Didiklah orang Jawa, ajarlah ia pandai berpikir sendiri, dan bila ia telah berpikiran yang sempurna, biarkanlah ia sendiri memilih agama yang disukainya. Biarkanlah ia dengan kepercayaannya sendiri masuk agama Serani, seorang pun tak adalah yang menegahkannya membuat sedemikian. Dengan jalan yang seperti itu, tentulah agama Serani akan menang, dan tentulah banyak akan didapati di antara mereka itu orang yang tulus hatinya, saleh dan percaya benar kepada agamanya. Bila orang suka beragama seperti ne-nek moyang, haruslah pula dibiarkan hal yang sedemikian!

Ajarlah orang Jawa dengan perkataan dan perbuatan apa artinya yang sebenar-benarnya budi pekerti dan kasih sayang yang sejali. Tidaklah dalam warna kulit orang, bukanlah pada pakaian, tidaklah pada adat-adat yang di jalan-jalan, bukanlah dalam bahasa yang dicakapkan orang, dan tidaklah pula dalam nama agama yang diimankan, terletaknya budi pekerti yang sebenar-benarnya itu. Budi pekerti yang sejali itu tempatnya ialah di hati orang sendiri, yani beringkah laku dan berhati yang mutia!

Itulah yang terutama wajib ditanamkan dalam hati segala bangsa dari pada bermacam-macam agama, menyembah dan menjunjung Allah, Tuhan yang esa, Tuhan kita yang sebenar-benarnya.

Saya harap dengan sebesar-besar pengharapan, supaya tanah Belanda mengirim ke Jawa hamba-hamba Allah yang sebenar-benarnya pengasih penyayang, yang boleh mendaratangkan berkat untuk bangsa Jawa!

Sekolah-sekolah menak haruslah ditambah lagi, sebuah di Betawi, sebuah di Semarang, dan sebuah di Surabaya, dan lain dari pada itu sebuah lagi sekolah yang gunanya semata-mata untuk jaksa-jaksa, sekolah tempat anak-anak muda belajar untuk pekerjaan yang tersebut. Bahasa yang dipakai di sekolah-sekolah haruslah bahasa Belanda. ²

Tiap-tiap tahun selalu lebih banyak anak-anak hendak masuk, ya, lima kali lebih banyak dari pada banyaknya anak-anak yang akan diterima untuk sekolah menak itu. Jikalau telah banyak sekolah yang demikian, tentulah pegawai-pegawai untuk hari yang kemudian boleh diambil dari murid-murid yang tamat belajar dari sekolah-sekolah itu. Bahwa hal itu banyak akan mendaratangkan kebaikan untuk negeri, tak usahlah diuraikan lagi. Sekarang pegawai-pegawai negeri asalnya kebanyakan ialah dari magang-magang, yang berpengajaran, tiadalah begitu sempurna.

Hampir sekalian magang hanyalah menerima pengajaran dari sekolah rendah Bumiputera, bila tamat pengajaran di sekolah itu, pergilah mereka itu menjadi “magang” kepada pegawai bangsa Eropa atau pegawai Bumiputera, menolong menulis atau menyalin-nyalin surat.

Sesudah bekerja yang demikian itu, yang lamanya sampai beberapa tahun, kerap kali tiada bergaji, maka ia pun diangkatlah, atas pujian kepalanya, “tuan pegawai”, yang tersebut tadi; biasanya menjadi jurutulis, seperti pekerjaan yang tadi juga, hanyalah perbedaanyia, ia sekarang mendapat gaji dari Gubernemen; jadi setelah bertahun-tahun lamanya ia bekerja pada Gubernemen itu, barulah masuk hitungan perkumpulan pegawai-pegawai dan mempunya hak-hak yang sangat diingini oleh bangsa kami yang masih seperti anak-anak lakunya, ialah: boleh memakai payung dan buab baju letter W! Dengan cara yang demikianlah amat banyak orang yang telah tua, baru dapat naik keanak janjang yang di bawah sekali dalam golongan pegawai-pegawai itu.

Adakah hal yang seperti itu memberi faedah kepada pekerjaan? Orang yang telah tua barangkali lebih banyak penglihatan dan pendengarannya dari pada orang muda (apakah yang dapat dilihat dan didengar orang, apabila ia selalu tak boleh campur tangan dalam segala hal?); tetapi yang tidak dapat dibantahi kelebihan orang muda dari pada orang tua, yaitu: “kesegaran.” Apabila kesegaran itu bersama-sama dengan kecakapan, apakah yang tak boleh diharapkan kepada orang muda itu? Oleh karena itu haruslah hendaknya dijadikan suatu peraturan yang tetap, bahwa kenaikan pangkat itu tidaklah akan ditilik dari pada umur orang, melainkan dari pada kepandaian dan kecakapan pegawai yang akan diangkat itu.

Peraturan yang diturut oleh Pemerintah dalam waktu yang akhir ini, tentang keangkatan pegawai-pegawai Bumiputera yang tertinggi, yaitu regen-regen, sangatlah membesarkan hati.

Tiga orang muda telah dititahkan menjabat pangkat yang tinggi itu; dua orang di antara mereka itu masih terlalu muda dan yang seorang pun tiadalah masuk golongan pegawai-pegawai, tetapi ia seorang yang amat budiman. Ketiganya telah tamat belajar di sekolah menengah (H.B.S.), sehingga yang seorang pun di antaranya belajar dulu di tanah Belanda.

Keadaan itu membawa kesegaran ke dalam golongan pegawai-pegawai itu, dan faedahnya yang lain, supaya mereka itu dalam dunia Bumiputera boleh insaf, bahwa kebangsawanan itu tidaklah ada artinya pada masa sekarang, sebab orang yang berbangsa itu pun wajiblah pula ada kepandaiannya, supaya boleh memegang pekerjaan yang amat tinggi itu. Hal itu tentulah suatu asutan untuk orang bangsawan dan orang berpangkat tinggi, supaya mereka itu menyuruh anak-anaknya belajar dengan sebaik-baiknya.

Lain dari pada tiga orang regen yang tersebut di atas tadi, ada lagi tiga orang regen lain, yang keluar dari sekolah menengah (H. B. S.) itu.

Lama-kelamaan tentulah akan diadakan suatu peraturan: “Bahwa tak seorang jua boleh menjadi regen, apabila ia tidak belajar dulu pada sekolah menengah dan tidak terpelajar benar dan tak cakap betul untuk menjabat pangkat itu.

Telah termasyhur bahwa Hindia ini amat banyak kekurangan pertolongan untuk orang sakit. Pegawai-pegawai dan guru-guru tentulah boleh hendaknya sedikit membantu kekurangan itu. Pada sekolah menak dan sekolah guru harus diadakan suatu pengajaran yang baru; yani: “pengajaran kesehatan tubuh dan bebat-membebat orang luka.” O, tentulah tak akan banyak orang akan pulang ke rahmatullah lagi bilamana adalah orang yang berilmu sedikit-sedikit dalam hal kesehatan tubuh dekat mereka itu.

Acap kalilah sudah terjadi orang-orang yang luka terus meninggalkan dunia, karena darahnya terlalu banyak keluar sebelum dokter. yang datang dari tempat yang berpal-pal jauhnya dapat memberi pertolongan kepada mereka itu.

Adalah seorang anak yang digiling kereta api; dokter yang sedekat-dekatnya dua jam perjalanan jauhnya dari tempat itu; anak itu pun dibawa oranglah kepada dokter itu, dan di tengah jalan matilah anak itu, sebab darahnya selalu men-cecur keluar, karena tak seorang jua di sana yang tahu membebat luka itu.

Kepala-kepala negeri tentulah boleh mengajarkan pengetahuannya tentang kesehatan tubuh kepada kepala-kepala desa, dan dalam hal itu tentulah di desa-desa telah ada orang yang dapat sedikit memberi pertolongan. Guru-guru wajib mengajarkan kepandaian kesehatan tubuh itu di sekolah.

Di Magelang yang ada bersekolah menak, dan lagi banyak berdokter opsir, bolehlah dengan segera orang mengajarkan pengajaran kesehatan tubuh dan bebat-membebat luka kepada murid-murid sekolah itu. Demikian pula di Jogja, yang bersekolah guru dan ada pula berdokter opsir, orang pun dapat pula memulai pekerjaan itu.

Pada sekolah-sekolah menak dan sekolah-sekolah guru haruslah diadakan orang sebuah Khazanatulkitab yang kaya, seboleh-bolehnya penuh dengan kitab-kitab bahasa Jawa, Melayu dan Belanda, yang bersisi dengan bermacam-macam hal keadaan yang boleh meluaskan pemandangan, menajamkan pikiran dan memuliakan perasaan hati. Guru-guru haruslah dengan sedapat-dapatnya berdaya upaya akan menimbulkan nafsu murid-murid untuk membaca kitab² itu. Dan supaya adalah hasilnya apa-apa yang dibaca itu haruslah kerap kali diperbincangkan. Pertukaran dan pergosokan pikiran bagi murid-murid itu, wajiblah dihidupkan dengan sebaik-baiknya. Murid-murid haruslah umpamanya mengadakan “malam percakapan” dengan bantuan guru-guru, dan pada malam itu diperkatakan perkara dan kejadian yang penting-penting. Murid-murid itu wajib memikirkan hal yang akan dibicarakannya lebih dahulu dan pada malam percakapan itu dikeluarkannyalah pikiran nyya itu. Orang janganlah menertawakannya, bilamana mereka itu mengeluarkan timbangan yang ganjil-ganjil, melainkan tolonglah mereka itu dengan kekuatan, kehalusan dan kesayangan kepada jalan yang benar.

Kalau orang mulai menertawakan, maka mulut dan hati mereka itu akan tertutuplah saja. Orang wajib mengajar mereka itu berpikir sendiri. Orang telah kerap kali berkata, bahwa guru-guru itu adalah dua pekerjaannya, yaitu: menjadi pengajar dan menjadi pendidik! Sebab guru-guru itu wajib memikul dua macam pendidikan yani: pendidikan pikiran dan pendidikan kesopanan!

Murid-murid itu mestilah hendaknya insaf akan dirinya, bahwa mereka itu untuo bangsanya dalam hidup bersama-sama, dalam mereka itu menjalankan jabatannya, adalah mempunyai suatu kewajiban budi dalam hatinya. Demikian juga apabila mereka itu telah keluar dari sekolah, hendaklah perasaan persaudaraan antara murid-murid selalu hidup. Dan supaya hal itu boleh terjadi murid-murid yang lama dan yang masih di sekolah, baiklah mengeluarkan sehelai surat kabar yang dikemudikan oleh guru-gurunya dan dibantu oleh murid-murid yang terpandai. Surat kabar itu, baiklah dikarangkan dalam bahasa Belanda, gunanya pertama-tama akan memelihara bahasa Belanda masing-masing dan supaya boleh dibaca juga oleh orang-orang Belanda tentang pendapatan dan perasaan murid-murid yang telah tamat belajar dalam pekerjaannya. Hal itu wajib dipercakapkan dan dijawab oleh guru-guru dengan murid-muridnya. Demikianlah selalu diperbuat berturut-turut.

Amatlah bagusnya peraturan yang diadakan oleh Pemerintah telah dua tahun lamanya, yang maksudnya akan memperluas pemandangan guru-guru bangsa Bumiputera. Tiap-tiap tahun dalam bulan pusaa disuruhlah beberapa orang guru dengan ongkos Gubernemen pergi tamaaya melihat-lihat salah suatu dari ketiga ibu negeri di Jawa. Mereka itu wajib membuat sebuah karangan tentang penglihatan dan perjalanan nyya itu, karangan itu sebaik-baiknya ditulis dalam bahasa Belanda.

Apabila kesopanan dan kepandaian dalam dunia Bumiputera bertambah-tambah maju, pastilah amat berguna sekali orang membukakan bermacam-macam pekerjaan yang baru untuk anak-anak orang bangsawan.

Lagi pula baiklah diingatkan di sini, bahwa pekerjaan menjadi pegawai kepala-kepala negeri tiadalah amat disukai oleh anak muda-muda, yang telah dan yang sedang belajar di sekolah-sekolah menengah. Hal itu sebabnya ialah karena kebebasan yang dirasainya semasa dalam sekolah itu, yani kebebasan dalam bekerja dan dalam berpikir, yang telah menjadi darah daging kepadanya, di dalam jabatan kepala-kepala negeri bangsa Bumiputera itu, boleh dikatakan tidaklah sekali-kali diindahkan, dan dalam hal itu tak dapatlah mereka itu akan menyesuaikan dirinya dengan tiada berhati duka dalam menjalankan pekerjaan itu.

Pekerjaan klerk yang menumpulkan dan membunuh pikiran, yani pekerjaan yang rupanya semata-mata mestilah menjadi jabatan permulaan dalam hidup pegawai-pegawai Bumiputera itu, pekerjaan itu pun tidaklah lagi menerbitkan kesukaan bagi anak-anak muda yang baru keluar dari sekolah menengah. Keadaan didapatnya dalam pekerjaan, jikalau ia menjadi pegawai Bumiputera yang rendah itu, perbedaanya dengan waktunya yang bebas masa ia di sekolah menengah itu sebagai bumi dengan langit. Ia harus menyimpan sekalian pengetahuan yang dipelajarinya dalam lima tahun dengan rajin, usaha dan susah payah itu dalam sebuah almari kecil, sebab untuk hidupnya dan pekerjaan klerk itu tak gunalah ia mempunyai pengetahuan yang sebanyak itu.

Berapalah banyaknya cita-cita yang dikuburkannya dengan kelu yang dalam, tatkala ia mencelupkan penanya pertama-tama kali dalam berpangkat klerk itu!

Kadang-kadang adalah pula terjadi, bahwa di antara kawan-kawannya, anak-anak Eropa di sekolah menengah itu, kemu-dian harinya dalam hidup bersama-sama menjadi kepalanya; dan kepada kepalanya itu haruslah juga ia jongkok mendekatinya dan menghormatinya, sebagai seorang anak bangsawan atau seseorang dari pada kaum keluarganya yang ter-tua, yang sungguh-sungguh berhak menerima kehormatan itu dari padanyia.

Anak-anak muda bangsa Bumiputera yang berhati mau dan cakap, seboleh-bolehnya hendaklah diberi kesempatan pergi belajar ke sekolah-sekolah tinggi di tanah Eropa untuk melanjutkan pengetahuan mereka itu.

Meester-meester kehakiman bangsa Bumiputera boleh benar mendatangkan kebajikan yang besar untuk negerinya. Bilamana telah tamatlah pengajaran mereka itu di sekolah tinggi, suruhlah mereka itu melanjutkan pengetahuannya di negeri tempat tumpah darahnya masing-masing, di dalam dunia bangsanya, yang berbahasa bahasanya sendiri. Suruhlah ia mempelajari undang-undang adat bangsa Bumiputera. Mereka itu tentu dapat menyatakan dan melahirkan barang sesuatu yang berguna untuk Pemerintah dan untuk negerinya.

Karena mereka itu anak-anak bangsa Bumiputera, niscaya dapatlah mereka itu masuk ke mana-mana dan mengarungi dunia hidup bangsa Bumiputera lahir dan batin dengan sedalam-dalamnya. Mereka itu ke mana-mana boleh datang, Biarpun ke tempat yang sekali-kali tak dapat didatangi dan dimasuki oleh orang-orang Eropa. Dan tiap-tiap hal keadaan yang sangat dibatinkan oleh anak negeri kepada bangsa asing, bolehlah dimaklumi oleh mereka itu, karena ia sebangsa dan senegeri.

Jikalau mereka itu menjadi presiden Landrad, bertambahlah pula faedahnya. Karena mereka itu tak guna memakai juru bahasa, mereka itu sendiri dapat dengan segera bersoal jawab dengan orang yang terdakwa; anak-anak negeri itu kebanyakan hanyalah bercakap semacam bahasa saja, yaitu bahasanya sendiri. Maklumlah betapa halvya jikalau dalam sidang pengadilan itu orang wajib memakai bahasa anak negeri, yaitu: bahasa Jawa, atau bahasa Madura, atau bahasa Sunda! Apakah, sebabnya maka presiden-presiden Landrad suka sekali bekerja dengan jaksa-jaksa yang pandai berbahasa Belanda? Ialah karena presiden-presiden itu amat mudah bercakap dalam bahasa Belanda, bahasanya sendiri. Tetapi tidaklah sekalian jaksa pandai bertutur bahasa Belanda!

Dokter-dokter bangsa Bumiputera yang telah belajar di Eropa dapatlah pula banyak membuat kebajikan yang berharga untuk tanah airnya. Kebaikan dan faedah kalau anak negeri sendiri menjadi dokter itu, tentulah akan bertambah terang di mata kita sendiri, lebih-lebih apabila mereka itu perlu menjalankan sesuatu pemeriksaan dalam hidup bersamasama bangsa Bumiputera, atau mengerjakan jabatan mereka itu yang bertali dengan Bumiputera. Dokter-dokter Bumiputera yang telah belajar di Eropa, yang berpengetahuan perkara obat-obatan lebih dalam dari pada dokter-dokter Jawa itu, tentulah lebih banyak boleh mendatangkan kebajikan; sebab dokter-dokter Bumiputera yang belajar di Eropa itu tahu benyar-benar bahasanya dan kerjanya. Dan lagi mereka itu pun dengan seterang-terangnya boleh pula mempelajari obat-obatan Bumiputera, yang baik dan tidak dibuat-buate saja, supaya obat-obatan itu boleh pula diaturkan sebagai obat-obatan orang Eropa dan dibawa kedunya pengetahuan Eropa; kalau tidak diperbuat sedemikian, tiadalah akan diindahkan oleh bangsa Eropa!

Bumiputera amat banyak mempergunakan obat-obatan yang mudah-mudah dan yang tiada berbahaya, yang betul-betul adalah memberi berkat. Apabila seorang Bumiputera um-pamanya menerangkan kepada seorang dokter, bahwa obat sakit mata yang berkat yang dipakai oleh Bumiputera, yaitu darah lintah dan darah ikan paling, niscayalah dokter itu akan menertawakan orang itu. Tetapi itulah suatu keadaan yang sebenarnya, dan banyaklah lagi hal-hal lain yang seperti itu. Air nyiur dan pisang batu masing-masing obat yang amat mujarab.

Hal itu mudahlah dimaklumi, penyakit-penyakit dalam suatu negeri diobatilah dengan obat-obatan yang ada dalam negeri itu sendiri. Di dalam obat-obatan yang banyak itu memanglah banyak pula yang bohong dan dibuat-buate orang saja, tetapi keadaan itu tiadalah menjadi tanda, bahwa di antara obat-obatan itu tak adalah pula yang sebenar-benarnya obat yang berkat.

Bagi orang-orang Eropa yang kena penyakit perut memu-las-mulas, “diysentrie“ namanya, tak dapat diobati oleh doktor-doktor Eropa yang pandai-pandai, tetapi setelah mereka itu memakan obat Bumiputera yang semudah-mudahnya, dengan segera sembuhlah mereka itu dari sakitnya.

Belum selang beberapa lamanya yang lalu, adalah seorang dokter Eropa yang terbilang pandai telah mengatakan keputusan pemeriksaan yang tentang penyakit kerongkongan yang berbahaya sekali pada seorang anak gadis Bumiputera. Katanya penyakit anak gadis itu akan bertambah-tambah bahayanya dan di dalam tempoh dua pekan anak itu mestilah akan meninggalkan dunia. Bunda anak itu sangat berdukacita mendengarkan keputusan dokter itu, pergilah memintakan obat anaknya kepada dukun kampung; obat itu pun diper-olehnyalah. Anak gadis itu sampai sekarang masih hidup dengan sehat dan segar, penyakitnya hilanglah sama sekali, dan suaranya timbullah seperti semula. Apabila dokter-dokter Eropa mengetahui apa-apa obat yang telah dimakan anak gadis itu, tentulah mereka itu sekalian dengan sedih hati akan mengangkat bahu. Obat itu, yaitu: rama-rama kecil yang ditangkap orang di sawah, ditelannya hidup-hidup dengan pisang mas. Obat bangsa yang biadab!—apakah salahnya?—dari dukun kampung adalah ia mendapat pertolongan, tetapi dari dokter yang pandai, tidak.

Dokter-dokter Jawa memanglah boleh membebaskan ber-macam-macam hal keadaan yang seperti itu, tetapi tiadalah dilakukannya. Takutkah mereka itu barangkali akan ditertawakan oleh dokter-dokter Eropa? Tetapi jikalau sekiranya dokter-dokter Bumiputera itu telah sama dalam pengetahuannya dengan dokter-dokter Eropa, tentulah mereka itu boleh berani membebaskan dan mempertahankan barang se-suatunya, yang telah dilihatnya dan dimakluminya dengan sebaik-baiknya.

Demikian lagi di antara Bumiputera tentulah boleh didapati juga mereka yang baik dan cakap untuk menjadi insinyur-insinyur dan tuan-tuan rimba, yang kelak banyak dapat memberi faedah, baik bagi Gubernemen baik bagi anak negeri!

Sekarang teranglah hendaknya, bahwa jikalau negeri Belanda memberi Bumiputera tanah Jawa laki-laki dan pe-perempuan kesempatan untuk memperoleh bermacam-macam ilmu kepandaian, yang akan memajukan ketajaman otak dan kemuliaan hati yang akan membawa bangsanya ke padang keselamatan,— itukah kelak yang akan menjadi “mahkota” dan “kehormatan” bagi negeri Belanda!

¹ Regen itu Raden Mas Tumenggung Utoyo, sekarang Regen Japaru dan lid Volksraad di Betawi, dan seorang dari saudara-saudara Kartini, Raden Mas Tumenggung Ario Sosro Busono, yang menggantikannya menjadi Regen Ngawi. Penyalin.

² Kehendak itu kebanyakan telah makbul. Sejak itu telah tiga boten didirikan sekolah-sekolah menak yang baru, yaitu: di Serang, Madiun dan Blitar (Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur). Di Betawi telah didirikan pula sebuah sekolah hukir untuk Bumiputera. Murid-murid dalam sekolah-sekolah itu belajar dalam bahasa Belanda. Penyalin.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.