Baca EPUB (OCR): Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus

47 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 47 ms

Daftar isi
  1. KERIKIL TAJAMDANYANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
  2. CHAIRIL ANWAR
  3. ISI
  4. Landmarks
  5. KERIKIL TAJAM
  6. NISAN
  7. PENGHIDUPAN
  8. DIPONEGORO
  9. TAK SEPADAN
  10. SIA-SIA
  11. PELARIAN
  12. SENDIRI
  13. SUARA MALAM
  14. SEMANGAT
  15. HUKUM
  16. TAMAN
  17. LAGU BIASA
  18. KUPU MALAM DAN BINIKU
  19. PENERIMAAN
  20. KESABARAN
  21. AJAKAN
  22. KENANGAN
  23. HAMPA
  24. PERHITUNGAN
  25. RUMAHKU
  26. KAWANKU DAN AKU
  27. DI MESJID
  28. AKU
  29. CERITA
  30. BERCERAI
  31. SELAMAT TINGGAL
  32. DENDAM
  33. MERDEKA
  34. ?
  35. KEPADA PEMINTA-MINTA
  36. YANG TERAMPASDAN YANG PUTUS
  37. FRAGMEN
  38. MALAM
  39. KRAWANG—BEKASI
  40. PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
  41. INA MIA
  42. PERJURIT JAGA MALAM
  43. BUAT GADIS RASID
  44. PUNCAK
  45. YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
  46. UNCOPYRIGHT

KERIKIL TAJAM

DAN

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

CHAIRIL ANWAR


Logo Penerbit MasasilaM

KERIKIL TAJAM

DAN

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS


karya

CHAIRIL ANWAR



Dihiasi dengan Vignet: O. Effendi



Pustaka Rakjat—Jalan Paseban 58—Jakarta

© 2025 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: langka.logosid.app

Ilustrasi sampul: The Prophet (1919/1920), karya Franz Radziwill

MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.

MasasilaM

masasilam.com



KERIKIL TAJAM


NISAN

Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta.

Oktober 1942


PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam mukul dentur selama nguji tenaga pematang kita
mukul dentur selama hingga hancur remuk redam Kurnia Bahgia kecil setumpuk sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

Desember 1942


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri Menyediakan api.
Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai.
Maju. Serbu. Serang. Terjang.

Februari 1943


TAK SEPADAN

Aku kira: Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahagia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak ’kan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka.

Februari 1943


SIA-SIA

Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan Suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu.
Lalu kita sama termanggu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita kedua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Februari 1943


PELARIAN

I
Tak tertahan lagi remang miang sengketa di sini.
Dalam lari Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.
Hancur-luluh sepi seketika Dan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malam Tertawa-meringis malam menerimanya Ini batu baru tercampung dalam gelita “Mau apa? Rayu dan pelupa, Aku ada! Pilih saja! Bujuk dibeli? Atau sungai sunyi? Mari! Mari! Turut saja!”
Tak kuasa—terengkam Ia dicengkam malam

Februari 1943


SENDIRI

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa Malam apa lagi Ia memekik ngeri Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu? Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Februari 1943


SUARA MALAM

Dunia badai dan topan Manusia mengingatkan “Kebakaran di hutan”1 Jadi ke mana untuk damai dan reda? Mati. Barangkali ini diam kaku saja dengan ketenangan selama bersatu mengatasi suka dan duka kekebalan terhadap debu dan nafsu. Berbaring tak sedar Seperti kapal pecah di dasar lautan jemu dipukul ombak besar. Atau ini. Peleburan dalam Tiada dan sekali akan menghadap cahaya. ................................................................. Ya Allah! Badanku terbakar—segala samar Aku sudah melewati batas. Kembali? Pintu tertutup dengan keras

Februari 1943

1. Ciptaan alm. R. Saleh.


SEMANGAT

Kalau sampai waktuku kutahu tak seorang ’kan merayu Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu!
Aku ini binatang Jalang Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meredang—menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih dan peri.
Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Maret 1943


HUKUM

Saban sore ia lalu depan rumahku Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul
Bungkuk jalannya—Lesu Pucat mukanya—Lesu
Orang menyebut satu nama jaya Mengingat kerjanya dan Jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti

Maret 1943


TAMAN

Taman punya kita berdua tak lebar luas, kecil saja satu tak kehilangan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah Taman kembangnya tak berpuluh warna Padang rumputnya tak berbanding permadani halus lembut dipijak kaki. Bagi kita itu bukan halangan. Karena dalam taman punya berdua Kau kembang, aku kumbang aku kumbang, kau kembang. Kecil, penuh surya taman kita tempat merenggut dari dunia dan ’nusia

Maret 1943


LAGU BIASA

Di teras rumah makan kami kini berhadapan Baru berkenalan. Cuma berpandangan Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan Dalam lakon pertama Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.
Ia mengerling. Ia ketawa Dan rumput kering terus menyala Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi Darahku terhenti berlari.
Ketika orkes memulai “Ave Maria” Kuseret ia ke sana ....

Maret 1943


KUPU MALAM DAN BINIKU

Sambil berselisih lalu mengebu debu.
Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang
Barah ternganga
Melajang ingatan ke biniku Lautan yang belum terduga Biar lebih kami tujuh tahun bersatu
Barangkali tak setahuku Ia menipu.

Maret 1943


PENERIMAAN

Jika kau mau, kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Jika kau mau, kuterima kau kembali Tapi untukku sendiri
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Maret 1943


KESABARAN

Aku tak bisa tidur Orang ngomong, anjing nggonggong Dunia jauh—mengabur Kelam mendinding batu Dihantam suara bertalu-talu Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicara Suaraku hilang, tenagaku terbang Sudah! Tidak jadi apa-apa: Ini dunia enggan disapa, ambil perduli Keras-membeku air kali Dan hidup bukan hidup lagi.
Kuulangi yang dulu kembali sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang musti tiba

Maret 1943


AJAKAN

Menembus sudah caya Udara tebal kabut Kaca hitam lumut Pecah pencar sekarang Di ruang legah lapang Mari ria lagi Tujuh belas tahun kembali Bersepeda sama gandengan Kita jalani ini jalan
Ria bahgia Tak acuh apa-apa Gembira girang Biar hujan datang Kita mandi basahkan diri Tahu pasti sebentar kering lagi.

20 April 1943


KENANGAN

untuk Karinah Moordjono

Kadang Di antara jeriji itu-itu saja Mereksmi memberi warna Benda usang dilupa Ah! tercebar rasanya diri Membubung tinggi atas kini Sejenak Saja. halus rapuh ini jalinan kenang Hancur hilang belum dipegang Terhentak Kembali di itu-itu saja Jiwa bertanya: Dari buah Hidup kan banyakan jatuh ke tanah? Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

19 April 1943


HAMPA

Kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar, sepi menekan-mendesak Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak Sampai kepuncak. Sepi memagut. Tak suatu kuasa-berani melepas diri Segala menanti. Menanti-menanti. Sepi. Dan ini menanti penghabisan mencekik Memberat-mencekung punda Udara bertuba Rontok-gugur segala. Setan bertempik.
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

April 1943


PERHITUNGAN

Banyak gores belum terpupus saja Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya .... Sudah itu tempatku tak tentu di mana.
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi ...!? Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

16 Mei 1943


RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu Jika menagih yang satu.

27 Mei 1943


KAWANKU DAN AKU

Kepada L. K. Bohang

Kami jalan sama. Sudah larut Menembus kabut. Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali Hingga hilang segala makna Dan gerak tak punya arti.

5 Juni 1943


DI MESJID

Kuseru saja Dia Sehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka.
Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada. Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda.
Ini ruang Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa Satu menista lain gila.

29 Mei 1943


AKU

Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak Cumbu-buatan satu biduan Kujauhi ahli agama serta lembing katanya.
Aku hidup Dalam hidup di mata tampak bergerak Dengan cacar melebar, barah bernanah Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga.

8 Juni 1943


CERITA

Kepada Darmawidjaja

Di pasar baru mereka Lalu mengada-menggaya.
Meningkat sudah kesal Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucu Dalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebal Sama segala berbuat-buat.
Tapi kadang pula dapat Ini renggang terus terapat

9 Juni 1943


BERCERAI

Kita musti bercerai Sebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah menyerah Darah masih berbusah-busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti bercerai Biar surya ’kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur. Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana? Kau IDA, mau turut mengabur Tidak samudra caya tempatmu menghambur.

7 Juni 1943


SELAMAT TINGGAL

Aku berkaca Bukan buat ke pesta
Ini muka penuh luka Siapa punya?
Kudengar seru-menderu —dalam hatiku?— Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta
Ah ...!!!
Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal ....
Selamat tinggal ...!!!

12 Juli 1943


DENDAM

Berdiri tersentak Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak nampak

13 Juli 1943


MERDEKA

Aku mau bebas dari segala Merdeka Juga dari Ida
Pernah Aku percaya pada sumpah dan cinta Menjadi sumsum dan darah Seharian kukunyah—kumamah
Sedang meradang Segala kurenggut Ikut bayang
Tapi kini Hidupku terlalu tenang Selama tidak antara badai Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai Mengapa kalau beranjak dari sini Kucoba dalam mati.

14 Juli 1943


Kita guyah lemah Sekali tetak tentu rebah Segala erang dan jeritan Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak Diri—sekeliling kita bentak Ini malam purnama akan menembus awan

22 Juli 1943


?

Jangan kita di sini berhenti Tuaknya tua, sedikit pula Sedang kita mau berkendi-kendi Terus, terus dulu ...!!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris Pelayannya kita dilayani gadis-gadis O, bibir merah, selokan mati pertama O, hidup, kau masih ketawa??

24 Juli 1943


Mulutmu mencubit di mulutku Menggelegak benci sejenak itu Mengapa merihmu tak kucekik pula Ketika halus-perih kau meluka??

12 Juli 1943


KEPADA PEMINTA-MINTA

Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari luka Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengum di telingaku.
Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku.

YANG TERAMPAS

DAN YANG PUTUS


FRAGMEN

Tidak ada lagi yang akan diperikan? Kuburlah semua ihwal, Dudukkan diri beristirahat, tahanlah dada yang menyesak Lihat keluar, hitung-pisah warna yang bermain di jendela Atau nikmatkan lagi lukisan-lukisan di dinding pemberian teman-teman kita. atau kita omongkan Ivy yang ditinggalkan suaminya, jatuhnya pulau Okinawa. Atau berdiam saja Kita saksikan hari jadi cerah, jadi mendung, Mega dikemudikan angin —Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan kita .... Melupakan dan mengenang— Kau asing, aku asing, Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah bersilang Kau menatap, aku menatap Kebuntuan rahsia yang kita bawa masing-masing Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung? Lupa diri terlambung tinggi? Dan juga diangkat dari rumah sakit atau ke rumah sakit lain mengungsi dari kota satu ke kota lain? Aku sekarang jalan dengan 1½ rabu. Dan Pernah percaya pada kemutlakan soal .... Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir pertemuan memperlekas datang siang? Adakah— Mari cintaku Demi Allah, kita jejakkan kaki di bumi pedat, Bercerita tentang raja-raja yang mati dibunuh rakyat; Papar-jemur kalbu, terangkan jalan darah kita Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan. Aku sudah saksikan Senja kekecewaan dan putus asa yang bikin tuhan juga ikut tersedu membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnya. Sekali kugenggam Waktu, Keluasan di tangan lain Tapi kucampurbaurkan hingga hilang tuju. Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnya, cium matanya, kucup rambutnya, isap dadanya jadi gersang. Kau cintaku— Melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang tidak menyata, Tukang tadah segala yang kurampas, kaki tangan tuhan— Berceritalah cintaku bukakan tubuhmu di atas sofa ini Mengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelam dari kecemasan sampai ke-istirahat-dalam-kecemasan; cerita surya berhawa pahit. Kita bercerai begini— Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergi Dan apa yang kita pikirkan, lupakan, kenangkan, rahsiakan Yang bukan-penyair tidak ambil bagian.

MALAM

Mulai kelam belum buntu malam, kami masih sedia berjaga ——Thermopylae?— —jagal tidak dikenal?— tapi nanti sebelum siang membentang kami sudah tinggal tenggelam hilang ....

KRAWANG—BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang—Bekasi tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4—5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa, Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding berdetak
Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskanlah jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat Berilah kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang—Bekasi

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mula tgl. 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu di uratku kapal-kapal kita berlayar Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
Sudah dulu lagi terjadi begini Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisan Yang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menara Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil.

INA MIA

Terbaring di rangkuman pagi —hari baru jadi— Ina Mia mencari hati impi, Teraba Ina Mia kulit harapan belaka Ina Mia menarik napas panjang di tepi jurang napsu yang sudah lepas terhembus, antara daun-daunan mengelabu kabut cinta lama, cinta hilang Terasa gentar sejenak Ina Mia menekan tapak di hijau rumput, Angin ikut
—dayang penghabisan yang mengipas— Berpaling kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah di tekongan.

PERJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam, Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pada mereka yang berani hidup Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu .... Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

BUAT GADIS RASID

Antara daun-daun hijau padang lapang dan terang anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian burung-burung merdu hujan segar dan menyubur bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku” Dan angin tajam kering, tanah semata gersang pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi Kita terapit, cintaku —mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak— Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati Terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat —the only possible non-stop flight Tidak mendapat.

PUNCAK

Pondering, pondering on you, dear ....
Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang terbawa tambah penyoal dalam diri—diputar atau memutar— terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjang Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata sekarang, Berada 2000 m. jauh dari muka laut, silang siur pelabuhan, jadi terserah pada perbandingan dengan cemara bersih hijau, kali yang bersih hijau
Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di balik rupa. Kau terlompat dari ranjang, lari ketingkap yang masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa antara cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau mengambang juga tanya dulu, tanya lama, tanya.

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi hanya tangan yang bergerak lantang.
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku.
cemara menderai sampai jauh, terasa hari akan jadi malam, ada beberapa dahan ditingkap merapuh, dipukul angin yang terpendam.
aku sekarang orangnya bisa tahan, sudah berapa waktu bukan kanak lagi, tapi dulu memang ada suatu bahan, yang bukan dasar perhitungan kini.
hidup hanya menunda kekalahan, tambah terasing dari cinta sekolah rendah, dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah.

UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.