Ilustrasi sampul: The Prophet (1919/1920), karya Franz Radziwill
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
Di depan sekali tuan menantiTak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiriBerselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpaluKepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berartiSudah itu mati.
MAJU
Bagimu NegeriMenyediakan api.
Punah di atas menghambaBinasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapaiJika hidup harus merasai.
Maju.Serbu.Serang.Terjang.
Februari 1943
TAK SEPADAN
Aku kira:Beginilah nanti jadinyaKau kawin, beranak dan berbahagiaSedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi ErosAku merangkaki dinding butaTak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padamiUnggunan api iniKarena kau tidak ’kan apa-apaAku terpanggang tinggal rangka.
Februari 1943
SIA-SIA
Penghabisan kali itu kau datangMembawa kembang berkarangMawar merah dan melati putihDarah dan SuciKau tebarkan depankuSerta pandang yang memastikan: untukmu.
Lalu kita sama termangguSaling bertanya: apakah ini?Cinta? Kita kedua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau memberiMampus kau dikoyak-koyak sepi.
Februari 1943
PELARIAN
I
Tak tertahan lagiremang miang sengketa di sini.
Dalam lariDihempaskannya pintu keras tak berhingga.
Hancur-luluh sepi seketikaDan paduan dua jiwa.
II
Dari kelam ke malamTertawa-meringis malam menerimanyaIni batu baru tercampung dalam gelita“Mau apa? Rayu dan pelupa,Aku ada! Pilih saja!Bujuk dibeli?Atau sungai sunyi?Mari! Mari!Turut saja!”
Ia membenci. Dirinya dari segalaYang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat jugaDalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Februari 1943
SUARA MALAM
Dunia badai dan topanManusia mengingatkan “Kebakaran di hutan”1Jadi ke manauntuk damai dan reda?Mati.Barangkali ini diam kaku sajadengan ketenangan selama bersatumengatasi suka dan dukakekebalan terhadap debu dan nafsu.Berbaring tak sedarSeperti kapal pecah di dasar lautanjemu dipukul ombak besar.Atau ini.Peleburan dalam Tiadadan sekali akan menghadap cahaya..................................................................Ya Allah! Badanku terbakar—segala samarAku sudah melewati batas.Kembali? Pintu tertutup dengan keras
Kalau sampai waktukukutahu tak seorang ’kan merayuTidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu!
Aku ini binatang JalangDari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitkuAku tetap meredang—menerjang
Luka dan bisa kubawa berlariBerlari
Hingga hilang pedih dan peri.
Dan aku akan lebih tidak perduliAku mau hidup seribu tahun lagi.
Maret 1943
HUKUM
Saban sore ia lalu depan rumahkuDalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul
Bungkuk jalannya—LesuPucat mukanya—Lesu
Orang menyebut satu nama jayaMengingat kerjanya dan Jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira mudaPagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti
Maret 1943
TAMAN
Taman punya kita berduatak lebar luas, kecil sajasatu tak kehilangan lain dalamnya.Bagi kau dan aku cukuplahTaman kembangnya tak berpuluh warnaPadang rumputnya tak berbanding permadanihalus lembut dipijak kaki.Bagi kita itu bukan halangan.Karenadalam taman punya berduaKau kembang, aku kumbangaku kumbang, kau kembang.Kecil, penuh surya taman kitatempat merenggut dari dunia dan ’nusia
Maret 1943
LAGU BIASA
Di teras rumah makan kami kini berhadapanBaru berkenalan. Cuma berpandanganSungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandanganDalam lakon pertamaOrkes meningkah dengan “Carmen” pula.
Ia mengerling. Ia ketawaDan rumput kering terus menyalaIa berkata. Suaranya nyaring tinggiDarahku terhenti berlari.
Ketika orkes memulai “Ave Maria”Kuseret ia ke sana ....
Maret 1943
KUPU MALAM DAN BINIKU
Sambil berselisih lalumengebu debu.
Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakangNgeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang
Barah ternganga
Melajang ingatan ke binikuLautan yang belum terdugaBiar lebih kami tujuh tahun bersatu
Barangkali tak setahukuIa menipu.
Maret 1943
PENERIMAAN
Jika kau mau, kuterima kau kembaliDengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagiBak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Jika kau mau, kuterima kau kembaliTapi untukku sendiri
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Maret 1943
KESABARAN
Aku tak bisa tidurOrang ngomong, anjing nggonggongDunia jauh—mengaburKelam mendinding batuDihantam suara bertalu-taluDi sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicaraSuaraku hilang, tenagaku terbangSudah! Tidak jadi apa-apa:Ini dunia enggan disapa, ambil perduliKeras-membeku air kaliDan hidup bukan hidup lagi.
Kuulangi yang dulu kembalisambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang musti tiba
Maret 1943
AJAKAN
Menembus sudah cayaUdara tebal kabutKaca hitam lumutPecah pencar sekarangDi ruang legah lapangMari ria lagiTujuh belas tahun kembaliBersepeda sama gandenganKita jalani ini jalan
KadangDi antara jeriji itu-itu sajaMereksmi memberi warnaBenda usang dilupaAh! tercebar rasanya diriMembubung tinggi atas kiniSejenakSaja. halus rapuh ini jalinan kenangHancur hilang belum dipegangTerhentakKembali di itu-itu sajaJiwa bertanya: Dari buahHidup kan banyakan jatuh ke tanah?Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
19 April 1943
HAMPA
Kepada Sri yang selalu sangsi
Sepi di luar, sepi menekan-mendesakLurus-kaku pohonan. Tak bergerakSampai kepuncak.Sepi memagut.Tak suatu kuasa-berani melepas diriSegala menanti. Menanti-menanti.Sepi.Dan ini menanti penghabisan mencekikMemberat-mencekung pundaUdara bertubaRontok-gugur segala. Setan bertempik.
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.
April 1943
PERHITUNGAN
Banyak gores belum terpupus sajaSatu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya ....Sudah itu tempatku tak tentu di mana.
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heranHambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi ...!?Kini aku meringkih dalam malam sunyi.
16 Mei 1943
RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajakKaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halamanAku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakalaDi pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajakDi sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datangAku tidak lagi meraih petangBiar berleleran kata manis maduJika menagih yang satu.
27 Mei 1943
KAWANKU DAN AKU
Kepada L. K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larutMenembus kabut.Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka sajaKarena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekaliHingga hilang segala maknaDan gerak tak punya arti.
5 Juni 1943
DI MESJID
Kuseru saja DiaSehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka.
Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda.
Ini ruangGelanggang kami berperang
Binasa-membinasaSatu menista lain gila.
29 Mei 1943
AKU
Melangkahkan aku bukan tuak menggelegakCumbu-buatan satu biduanKujauhi ahli agama serta lembing katanya.
Aku hidupDalam hidup di mata tampak bergerakDengan cacar melebar, barah bernanahDan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga.
8 Juni 1943
CERITA
Kepada Darmawidjaja
Di pasar baru merekaLalu mengada-menggaya.
Meningkat sudah kesalTak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucuDalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebalSama segala berbuat-buat.
Tapi kadang pula dapatIni renggang terus terapat
9 Juni 1943
BERCERAI
Kita musti berceraiSebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah menyerahDarah masih berbusah-busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti berceraiBiar surya ’kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur.Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana?Kau IDA, mau turut mengaburTidak samudra caya tempatmu menghambur.
7 Juni 1943
SELAMAT TINGGAL
Aku berkacaBukan buat ke pesta
Ini muka penuh lukaSiapa punya?
Kudengar seru-menderu—dalam hatiku?—Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pulaMenggelepar tengah malam buta
Ah ...!!!
Segala menebal, segala mengentalSegala tak kukenal ....
Selamat tinggal ...!!!
12 Juli 1943
DENDAM
Berdiri tersentakDari mimpi aku bengis dielak
Aku tegakBulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalkuKeris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencariMendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencariDiri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak nampak
13 Juli 1943
MERDEKA
Aku mau bebas dari segalaMerdekaJuga dari Ida
PernahAku percaya pada sumpah dan cintaMenjadi sumsum dan darahSeharian kukunyah—kumamah
Sedang meradangSegala kurenggutIkut bayang
Tapi kiniHidupku terlalu tenangSelama tidak antara badaiKalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapaiMengapa kalau beranjak dari siniKucoba dalam mati.
14 Juli 1943
Kita guyah lemah Sekali tetak tentu rebahSegala erang dan jeritanKita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentakDiri—sekeliling kita bentakIni malam purnama akan menembus awan
22 Juli 1943
?
Jangan kita di sini berhentiTuaknya tua, sedikit pulaSedang kita mau berkendi-kendiTerus, terus dulu ...!!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbarisPelayannya kita dilayani gadis-gadisO, bibir merah, selokan mati pertamaO, hidup, kau masih ketawa??
24 Juli 1943
Mulutmu mencubit di mulutkuMenggelegak benci sejenak ituMengapa merihmu tak kucekik pulaKetika halus-perih kau meluka??
12 Juli 1943
KEPADA PEMINTA-MINTA
Baik, baik aku akan menghadap DiaMenyerahkan diri dan segala dosaTapi jangan tentang lagi akuNanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau berceritaSudah tercacar semua di mukaNanah meleleh dari lukaSambil berjalan kau usap juga.
Mengganggu dalam mimpikuMenghempas aku di bumi kerasDi bibirku terasa pedasMengum di telingaku.
Baik, baik aku akan menghadap DiaMenyerahkan diri dan segala dosaTapi jangan tentang lagi akuNanti darahku jadi beku.
YANG TERAMPAS
DAN YANG PUTUS
FRAGMEN
Tidak ada lagi yang akan diperikan? Kuburlah semua ihwal,Dudukkan diri beristirahat, tahanlah dada yang menyesakLihat keluar, hitung-pisah warna yang bermain di jendelaAtau nikmatkan lagi lukisan-lukisan di dinding pemberian teman-teman kita.atau kita omongkan Ivy yang ditinggalkan suaminya,jatuhnya pulau Okinawa. Atau berdiam sajaKita saksikan hari jadi cerah, jadi mendung,Mega dikemudikan angin—Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan kita ....Melupakan dan mengenang—Kau asing, aku asing,Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah bersilangKau menatap, aku menatapKebuntuan rahsia yang kita bawa masing-masingKau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung?Lupa diri terlambung tinggi?Dan jugadiangkat dari rumah sakit atau ke rumah sakit lainmengungsi dari kota satu ke kota lain? Akusekarang jalan dengan 1½ rabu.DanPernah percaya pada kemutlakan soal ....Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir pertemuanmemperlekas datang siang? Adakah—Mari cintakuDemi Allah, kita jejakkan kaki di bumi pedat,Bercerita tentang raja-raja yang mati dibunuh rakyat;Papar-jemur kalbu, terangkan jalan darah kitaHitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan.Aku sudah saksikanSenja kekecewaan dan putus asa yang bikin tuhan juga ikut tersedumembekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnya.Sekali kugenggam Waktu, Keluasan di tangan lainTapi kucampurbaurkan hingga hilang tuju.Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnya, cium matanya, kucup rambutnya, isap dadanya jadi gersang.Kau cintaku—Melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang tidak menyata,Tukang tadah segala yang kurampas, kaki tangan tuhan—Berceritalah cintaku bukakan tubuhmu di atas sofa iniMengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelamdari kecemasan sampai ke-istirahat-dalam-kecemasan;cerita surya berhawa pahit. Kita bercerai begini—Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergiDan apa yang kita pikirkan, lupakan, kenangkan, rahsiakanYang bukan-penyair tidak ambil bagian.
MALAM
Mulai kelambelum buntu malam,kami masih sedia berjaga——Thermopylae?——jagal tidak dikenal?—tapi nantisebelum siang membentangkami sudah tinggal tenggelam hilang ....
KRAWANG—BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang—Bekasitidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisaTapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwaKerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4—5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakanTapi adalah kepunyaanmuKaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkataKaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding berdetak
Kami sekarang mayatBerilah kami artiBerjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kamiyang tinggal tulang-tulang diliputi debuBeribu kami terbaring antara Krawang—Bekasi
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janjiAku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mula tgl. 17 Agustus 1945Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimuAku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu uratDi zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayarDi uratmu di uratku kapal-kapal kita berlayarDi uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
Sudah dulu lagi terjadi beginiJari tidak bakal teranjak dari petikan bedilJangan tanya mengapa jari cari tempat di siniAku tidak tahu tanggal serta alasan lagiDan jangan tanya siapa akan menyiapkan liangDan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisanYang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menaraSudah dulu lagi, sudah dulu lagiJari tidak bakal teranjak dari petikan bedil.
INA MIA
Terbaring di rangkuman pagi—hari baru jadi—Ina Mia mencarihati impi,Teraba Ina Miakulit harapan belakaIna Miamenarik napas panjangdi tepi jurangnapsuyang sudah lepas terhembus,antara daun-daunan mengelabukabut cinta lama, cinta hilangTerasa gentar sejenakIna Mia menekan tapak di hijau rumput,Angin ikut
—dayang penghabisan yang mengipas—Berpalingkelihatan seorang serdadu mempercepat langkah di tekongan.
PERJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam,Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastianada di sisiku selama menjaga daerah mati iniAku suka pada mereka yang berani hidupAku suka pada mereka yang masuk menemu malamMalam yang berwangi mimpi, terlucut debu ....Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
BUAT GADIS RASID
Antaradaun-daun hijaupadang lapang dan teranganak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larianburung-burung merduhujan segar dan menyuburbangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”Danangin tajam kering, tanah semata gersangpasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongiKita terapit, cintaku—mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak—Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpatiTerbangmengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat—the only possible non-stop flightTidak mendapat.
PUNCAK
Pondering, pondering on you, dear ....
Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang terbawatambah penyoal dalam diri—diputar atau memutar—terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjangSehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata sekarang,Berada 2000 m. jauh dari muka laut, silang siur pelabuhan,jadi terserah pada perbandingan dengancemara bersih hijau, kali yang bersih hijau
Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmumendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di balik rupa.Kau terlompat dari ranjang, lari ketingkap yangmasih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa antaracemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijaumengambang juga tanya dulu, tanya lama, tanya.
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datangdan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;tapi hanya tangan yang bergerak lantang.
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku.
cemara menderai sampai jauh,terasa hari akan jadi malam,ada beberapa dahan ditingkap merapuh,dipukul angin yang terpendam.
aku sekarang orangnya bisa tahan,sudah berapa waktu bukan kanak lagi,tapi dulu memang ada suatu bahan,yang bukan dasar perhitungan kini.
hidup hanya menunda kekalahan,tambah terasing dari cinta sekolah rendah,dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,sebelum pada akhirnya kita menyerah.
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam ebook ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas non-penulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Terlepas dari itu, para kontributor ebook ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.