Baca PDF (OCR): Naskah Otopsi

112 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 555 ms

Daftar isi
  1. 𐪔𐪌𐪑𐪔𐪉𐪚 𐪚𐪏𐪚𐪅𐪐 𐪚𐪔𐪅𐪁𐪅𐪉𐪌𐪑 :𐪇𐪚𐪑𐪚𐪏 𐪚𐪏𐪐𐪅𐪉𐪅𐪑
  2. 𐪑𐪀𐪑𐪃 𐪔𐪌𐪑𐪚 𐪅𐪋𐪀𐪚𐪏𐪑𐪋𐪚𐪋 𐪑𐪃𐪑𐪌 𐪉𐪅𐪈𐪚𐪚𐪌𐪚𐪃 𐪌𐪑𐪔𐪌𐪚𐪕
  3. p 𐪔𐪌𐪑𐪚𐪑𐪚𐪌𐪚𐪐 𐪑𐪀𐪑𐪃 𐪚𐪔𐪑𐪁 𐪀𐪚𐪏𐪑𐪔𐪌𐪚
  4. 𐪑𐪋𐪅𐪈𐪚𐪕 𐪚𐪃𐪏𐪚𐪇 𐪇𐪚𐪑𐪚𐪏!
  5. 𐪚𐪌𐪅𐪐𐪃𐪑𐪔𐪌𐪚𐪃 𐪑𐪀𐪑𐪃!
  6. ᮕ ᮢᮧᮜᮢᮧᮌ᮪
  7. Prolog
  8. ᮕ ᮢᮧᮜᮢᮧᮌ᮪ Mari kita hentikan kepura-puraan yang
  9. Daftar Isi
  10. Kasus Lidah yang Menolak Mengucap
  11. Hasil Pemeriksaan Forensik:
  12. Ilmu Pengetahuan dan Jamban
  13. Dokumen Rahasia #Z-19: Kronik
  14. dari Mayat yang Bicara Sendiri
  15. Berita Acara Pemeriksaan Lambung
  16. Kosong Seorang Nabi Palsu
  17. Tubuh yang Menggantung Diri di
  18. Subyek Ditemukan dalam Posisi
  19. Telungkup di Dalam Ayat
  20. Kondisi:
  21. Surat Terbuka Kepada Tuhan yang Sedang Cuti Panjang
  22. Relasi Internasionar
  23. Litani untuk Birokrat yang Mati di Meja Kerjanya
  24. Ngajugjug Naraka Lokal
  25. Kurikulum Nasional adalah Sebuah Pembunuhan Berencana
  26. Upacara Bendera
  27. Wawancara Kerja dengan Malaikat Maut
  28. Dongeng Keur Budak Bageur
  29. Kremasi Nalar di
  30. Ujung Kampus
  31. Teorema Ketidakpedulian
  32. Monolog Interior Seorang Pengebom yang Lupa Targetnya
  33. Lelucon
  34. Sebutir Debu
  35. Rahim yang Dibakar oleh Konstitusi
  36. Surat Pengunduran Diri dari Spesies Manusia
  37. Itjang Djoedibarie
  38. Proyek Terakhir: Membangun Tuhan dari Puing-Puing
  39. Mabok Tarik
  40. Araranjing kabeh, anak setan, negara babi,
  41. ah lieur pisan lah anjing. Kritikus goblog,
  42. koran tolol, semuanya babi.
  43. Aku akan mati saja, kemarin makan daging
  44. anjing, dasar batak babi, kau menipuku
  45. Tapi rasanya enak juga.
  46. Haha, teman-teman batakku
  47. tidak ada yang waras.
  48. Karena itulah aku menyukai
  49. Dan, semua puisi
  50. Adalah kebohongan.
  51. Hirat al-Mawt: Musyawarah Para Bangkai di Hadirat Ketiadaan
  52. ᮈᮕᮤ ᮜᮢᮧᮌ᮪
  53. Epilog
  54. Deklarasi Ketidakhadiran
  55. Biografi Itjang Djoedibarie
  56. Visit gtsi.fandom.com/id/ for more information!
𐪔𐪌𐪑𐪔𐪉𐪚 𐪚𐪏𐪚𐪅𐪐 𐪚𐪔𐪅𐪁𐪅𐪉𐪌𐪑 :𐪇𐪚𐪑𐪚𐪏 𐪚𐪏𐪐𐪅𐪉𐪅𐪑

𐪚𐪚𐪇𐪑𐪈𐪚𐪕𐪚𐪅𐪔𐪕

𐪑𐪀𐪑𐪃 𐪔𐪌𐪑𐪚 𐪅𐪋𐪀𐪚𐪏𐪑𐪋𐪚𐪋 𐪑𐪃𐪑𐪌 𐪉𐪅𐪈𐪚𐪚𐪌𐪚𐪃 𐪌𐪑𐪔𐪌𐪚𐪕
p 𐪔𐪌𐪑𐪚𐪑𐪚𐪌𐪚𐪐 𐪑𐪀𐪑𐪃 𐪚𐪔𐪑𐪁 𐪀𐪚𐪏𐪑𐪔𐪌𐪚

𐪚𐪏𐪐𐪅𐪉𐪅 𐪅𐪋𐪅𐪈 𐪑𐪅𐪀𐪑𐪈 𐪌𐪑𐪋𐪑𐪉𐪑𐪚𐪌 𐪅𐪋𐪑 𐪚𐪌𐪚 𐪌𐪑𐪔𐪌𐪚𐪕

𐪑𐪋𐪅𐪈𐪚𐪕 𐪚𐪃𐪏𐪚𐪇 𐪇𐪚𐪑𐪚𐪏!

𐪑𐪇𐪑𐪐

,𐪑𐪚𐪏𐪅𐪌𐪑𐪃 𐪌𐪑𐪕 ,𐪌𐪚𐪔 ,𐪏𐪚𐪁𐪈𐪚 𐪑𐪕𐪑𐪐𐪚𐪋
𐪚𐪔𐪑𐪁 𐪇𐪑𐪉𐪌𐪚𐪈𐪚𐪏 𐪇𐪚𐪀𐪋𐪑 𐪚𐪇𐪑𐪀 𐪑𐪅𐪀𐪑𐪈 𐪀𐪑𐪁𐪑𐪚𐪆𐪇𐪚𐪐
𐪉𐪚𐪇𐪚𐪈 - 𐪉𐪚𐪇𐪚𐪈𐪇𐪚𐪉 𐪑𐪋𐪑𐪃 .𐪅𐪋𐪀𐪚𐪏𐪑𐪋𐪚𐪋 𐪑𐪕𐪑𐪐𐪚𐪋 𐪌𐪑𐪌𐪅𐪐𐪃𐪑 𐪑𐪉𐪌𐪚𐪃𐪚𐪃 𐪌𐪑𐪋𐪑 𐪌𐪑𐪚𐪁𐪑𐪋 .𐪑𐪈𐪚𐪉 𐪌𐪑𐪋𐪑
𐪃𐪑 𐪑𐪉𐪌𐪚𐪃p 𐪔𐪌𐪑𐪚 𐪅𐪋𐪀𐪚𐪏𐪑𐪋𐪚𐪋 𐪑𐪕𐪑𐪐𐪚𐪋 𐪀𐪑𐪁𐪌𐪅
𐪚𐪌𐪅𐪐𐪃𐪑𐪔𐪌𐪚𐪃 𐪑𐪀𐪑𐪃!

“Pencipta karya ini dengan ini melepaskan semua klaim hak cipta (ekonomi dan moral) atas karya ini dan secara langsung menempatkannya ke dalam domain publik; karya ini dapat digunakan, didistorsi, atau dihancurkan dengan cara apa pun tanpa atribusi atau pemberitahuan lebih lanjut kepada pencipta.”

[ii]

[iii]

Otopsi Syair Antologi Puisi Itjang Djoedibarie

Penulis : Itjang Djoedibarie
Penyunting : Hamdan Muhammad
Penata sampul : Sanda Selamba
Penata isi : Dadang Rukmana

Naskah diramu dan dikumpulkan oleh Arsip Bawah Tanah Tjikeroeh & Tandjoengsari

Pertama kali diterbitkan secara terbatas oleh Komite Hitam pada 1983 dalam bahasa Inggris dan diselundupkan ke dalam beberapa penjara di Asia untuk mendukung kepenyairan tahanan anarkis internasional.

Cetakan pertama, Mei 1983 (Komite Hitam) Cetakan kedua, Juli 2025

xx + 92 halaman, 12 x 18 cm ISBN: 978-6-57934-733-3

Jl. Itjang Djoedibarie, Dusun Taraju, Desa Sayang, Kec. Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat [email protected]

[iv]

ᮕ ᮢᮧᮜᮢᮧᮌ᮪

[v]

Prolog

ᮕ ᮢᮧᮜᮢᮧᮌ᮪ Mari kita hentikan kepura-puraan yang

melelahkan ini. Tindakan Anda memegang benda ini, yang secara konvensional dan malas disebut sebagai "buku", bukanlah sebuah peristiwa literer yang pasif. Ini adalah sebuah keterlibatan volunter dalam sebuah protokol kontaminasi. Anda baru saja mengaktifkan sebuah perangkat, atau lebih tepatnya, sebuah senjata biologis naratif. Maka dari itu, prolog ini tidak ditulis untuk menyambut Anda dengan ramah ke dalam sebuah "karya seni"; ia berfungsi sebagai lembar persetujuan tindakan medis (informed consent) untuk sebuah prosedur eksperimental yang kemungkinan besar akan menimbulkan efek samping berupa disorientasi epistemologis, paranoia metodis, dan alergi akut terhadap segala bentuk otoritas. Saya setuju untuk menulis kerangka ini bukan atas dasar sentimen afektif terhadap mendiang Itjang Djoedibarie— penghormatan dan nostalgia adalah mata uang kaum idealis yang bangkrut—melainkan karena adanya sebuah konvergensi dan resonansi metodologis yang langka antara praksis saya dengan obsesi teoretisnya. Jika Anda mencari pelipur lara, sajak-sajak senja yang menenangkan jiwa, atau katarsis puitis yang akan membuat Anda merasa menjadi manusia yang lebih baik, maka demi kewarasan Anda yang mungkin masih tersisa, tutuplah buku ini sekarang. Buang ke selokan, atau lebih baik lagi, bakarlah sebagai persembahan untuk dewa-dewi kebosanan yang Anda sembah setiap hari Minggu. Karena yang ada di tangan Anda ini bukanlah buku. Ini adalah ruang otopsi. Ini adalah arsip kejahatan yang belum terpecahkan, sebuah tumpukan laporan forensik yang ditulis dengan tinta yang terbuat dari empedu dan kekecewaan.

[vi]

Otopsi Syair, sebagai sebuah proyek, harus dipahami sebagai manuver dalam domain semiotik. Ia melebur sakralitas "Sastra" (dengan "S" besar yang angkuh itu) menjadi amunisi mentah, menjadi materi fisil untuk sebuah reaksi berantai dalam perang gerilya intelektual. Dalam sebuah sesi wawancara yang cukup merepotkan dengan majalah sastra People's Literature di Guangzhou pada tahun 2006, saya pernah mengartikulasikan posisi saya: “Saya menjual karya-karya saya, demi menyambung hidup. Itu saja. Dan demi menyambung hidup, saya rela mengakui bahwa hitam adalah putih, atau sebaliknya. Saat orang-orang sibuk mencari kebenaran, saya sibuk menyempurnakan kebohongan”. Ini bukanlah sebuah pernyataan sinis belaka, melainkan sebuah postulat dari apa yang bisa kita sebut sebagai Ontologi Transaksional. Dalam kerangka ini, "kebenaran" dan "keindahan" bukanlah entitas metafisik, melainkan variabel-variabel dalam sebuah kalkulasi pragmatis. Kebenaran, dalam bentuknya yang terinstitusionalisasi, adalah produk dari konsensus kekuasaan yang diratifikasi oleh aparatus negara dan akademia. Kebohongan yang disempurnakan, sebaliknya, adalah manuver individual yang paling murni, sebuah tindakan pembebasan ego dari belenggu verifikasi kolektif. Itjang memahami logika ini secara visceral, bahkan mungkin lebih baik dari saya. Ia tidak menulis puisi untuk mengartikulasikan "kebenaran"-nya yang terpendam; ia menggunakan aparatus puitik sebagai pisau bedah untuk menyusun berkas perkara terhadap "Kebenaran" itu sendiri, sebuah konsep yang telah dimonopoli, disterilkan, dan dipatenkan oleh kekuasaan. Puisi-puisinya, dengan demikian, adalah laporan otopsi yang dingin, sistematis, dan tanpa ampun atas bangkai bahasa—bahasa yang telah mati dicekik oleh jargon birokrasi, dibalsem oleh kaidah-kaidah

[vii]

sastra yang memuakkan, dan dipajang dengan bangga di museum kebudayaan nasional sebagai bukti peradaban. Dalam korespondensi terakhirnya dengan saya, sebelum Ia membunuh dirinya sendiri pada tahun 1983, Itjang mengatakan:

“Aku bukan penyair, aku hanya tidak tahan melihat puisi terus dimuliakan sebagai seni, bukan sebagai kejahatan intelektual.”

Kalimat ini, bagi saya, adalah kunci untuk membuka peti mati karyanya. Itjang adalah seorang kriminolog (yang gagal), yang karenanya terdidik untuk membedah kasus, mencari motif, melacak jejak pelaku. Dan puisi, baginya, hanyalah salah satu alat bedah. Pisau lipat berkarat yang ia gunakan untuk menguliti lapisan- lapisan kemunafikan sosial, untuk mencongkel nanah dari borok-borok kekuasaan. Ia tidak menulis karena ilham dari langit, tapi karena dorongan seorang penyidik yang menemukan jejak kejahatan dalam setiap metafora, dalam setiap baris sajak yang dianggap indah. Ia adalah seorang kriminolog yang menggunakan puisi sebagai pisau bedah, bukan kuas. Atau, lebih gila lagi, simak ‘Berita Acara Pemeriksaan Lambung Kosong Seorang Nabi Palsu’, di mana Itjang tidak menemukan sisa makanan ilahi, melainkan kwitansi suap dari korporasi multinasional dan selembar tisu bekas lipstik murahan dengan aroma dosa yang belum sempat dicuci. Ini bukan lagi puisi, ini adalah pembongkaran total terhadap segala bentuk kemuliaan palsu, sebuah audit forensik terhadap kemunafikan yang dilembagakan! Dan saya, dengan segala oportunisme yang melekat pada diri saya, melihat potensi dalam "kejahatan intelektual" ini. Potensi untuk sedikit mengacau, dan tentu saja, potensi untuk sedikit keuntungan pribadi.

[viii]

Bukankah seni dan ideologi selalu bersifat transaksional? Bahkan pencurian lonceng Menara Loji yang dulu saya lakukan bersama Itjang dan beberpa nama yang tak bisa saya sebut di sini, bagi Itjang adalah semacam pembuktian empiris kejahatan kapital kolonial dan pembalasan dendam personal, bagi saya adalah peluang. Pragmatisme, kawan. Itu kata kuncinya. Kegagalan Itjang adalah kemenangan bagi mereka yang muak dengan narasi-narasi agung. Ia menolak status pahlawan, menolak untuk dijadikan monumen. Penolakan ini adalah bentuk perlawanan paling radikal, karena ia menolak untuk memberi kita jawaban yang mudah, atau figur yang bisa dipuja tanpa kritik. Ia meninggalkan kita dengan lebih banyak pertanyaan, dengan ketidaknyamanan yang terus menghantui. Dan saya, sebagai "komprador" yang setia (atau licik?), merasa terhormat untuk melanjutkan ketidaknyamanan itu melalui prolog ini Teks-teks di hadapan Anda, oleh karena itu, tidak dirancang untuk diapresiasi. Apresiasi adalah bentuk konsumsi pasif yang hanya akan memperkuat posisi Anda sebagai penonton. Teks-teks ini menuntut keterlibatan aktif, sebuah kesediaan untuk berkolaborasi dalam kejahatan, sebuah kerelaan untuk terganggu hingga ke fondasi kesadaran Anda. Tujuannya adalah menginduksi sejenis paranoia metodis, menyelinap ke dalam sistem operasi epistemologis Anda bukan untuk menambahkan data, melainkan untuk merusak kernel-nya, merusak mekanisme validasi Anda terhadap realitas. Jika setelah menutup halaman terakhir, Anda mulai merasakan disonansi kognitif yang akut; jika Anda mulai mencurigai kata-kata yang Anda gunakan setiap hari sebagai agen-agen kekuasaan; jika Anda mulai melihat keindahan sebagai bentuk anestesi yang paling subtil; dan jika Anda mulai mempertanyakan asumsi-asumsi paling dasar yang

[ix]

menopang bangunan identitas Anda, maka dan hanya maka, transmisi virus ini dapat dinyatakan berhasil.

Sekarang, mari kita bicara tentang saya. Sebuah interupsi narsistik yang disengaja, tentu saja. Mengapa saya, yang diminta—atau lebih tepatnya, dipaksa dengan berbagai bujuk rayu dan ancaman terselubung—untuk menulis prolog untuk buku ini? Apakah karena kedekatan saya dengan almarhum Itjang? Atau karena reputasi saya sebagai seorang "pembohong jujur," seorang penjual ular yang kebetulan bisa merangkai kata sedikit lebih baik dari rata- rata politisi? Mungkin keduanya. Atau mungkin tidak keduanya sama sekali. Anda tahu, saya punya filosofi sendiri tentang keaslian dan tiruan. Saya pernah menjual sketsa Don Quixote yang saya buat sendiri kepada seorang kolektor seni asal Georgia, meyakinkannya bahwa itu adalah karya langka Picasso yang hilang. Apakah itu penipuan? Tentu saja. Tapi apakah sketsa itu, dalam kepalsuannya, tidak mengungkapkan sebuah "kebenaran" tentang pasar seni, tentang obsesi terhadap nama besar, tentang kenaifan manusia? Saya kira begitu. Prolog ini, barangkali, adalah "tiruan" dari sebuah prolog yang seharusnya ditulis oleh seorang pakar sastra yang terhormat, dengan gelar akademis berderet dan kacamata tebal. Tapi justru karena ia adalah tiruan, sebuah performa, ia mungkin lebih "asli" dalam kepalsuannya. Ia tidak berusaha menyembunyikan agendanya, tidak berpura-pura objektif. "Saya menjual karya-karya saya, demi menyambung hidup. Itu saja. Dan demi menyambung hidup, saya rela mengakui bahwa hitam adalah putih, atau sebaliknya. Saat orang-orang sibuk mencari kebenaran, saya sibuk menyempurnakan kebohongan," begitu pernah saya

[x]

katakan. Apakah prolog ini adalah salah satu "jualan" saya? Apakah saya sedang "menjual" Itjang kepada Anda? Atau apakah saya sedang "menyempurnakan kebohongan" tentang Itjang, demi sebuah "kebenaran" yang lebih dalam, yang lebih mengganggu? Biarlah Anda sendiri yang menilai. Yang jelas, saya tidak percaya pada hierarki. Bunga mawar tidak lebih indah dari bangkai tikus; keduanya adalah manifestasi dari realitas yang sama, hanya berbeda dalam persepsi kita yang terbatas. Begitu pula dengan karya sastra dan peran seorang penulis prolog. Tidak ada yang sakral. Ironis, bukan? Saya, yang dikenal sebagai oportunis, yang menukar lonceng curian demi pelarian ke Cina Daratan, kini didapuk untuk memberikan semacam legitimasi intelektual pada karya seorang "kriminolog gagal." Saya menikmati ironi ini. Ini seperti sebuah lelucon kosmik yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh janji-janji peradaban. Dengan mengakui "cacat" buku ini sejak awal, dan bahkan merayakannya, saya sebenarnya sedang melakukan sebuah manuver kekuasaan intelektual. Saya mengambil kendali atas narasi, bahkan mungkin di atas penulisnya sendiri atau editornya. Saya tidak bersikap defensif; saya ofensif. Sehingga ini bukan sekadar prolog; ini adalah klaim teritorial. Saya menandai buku ini dengan bau saya, dengan sinisme saya, dengan tawa saya yang serak. Dan dengan melakukan itu, saya tidak hanya memperkenalkan Itjang. Saya juga sedang membangun mitos tentang diri saya sendiri. Karena pada akhirnya, setiap narasi adalah tentang siapa yang berkuasa untuk bercerita. Dan saat ini, saya yang memegang mikrofon. Atau setidaknya, begitulah yang ingin saya inginkan untuk Anda percayai. Kenyataannya, saya mungkin hanya melakukannya karena bosan, atau karena honor yang ditawarkan cukup untuk membeli beberapa

[xi]

botol anggur berkualitas. Siapa yang tahu? Dan siapa yang peduli?

Jadi, kita sampai di bagian akhir dari ocehan saya ini. Anggap saja ini sebagai peringatan terakhir, sebuah penafian yang ditulis dengan tinta darah dan empedu. Jika Anda adalah tipe pembaca yang mencari kehangatan selimut sastra, yang mendambakan jawaban-jawaban mudah atas pertanyaan-pertanyaan sulit, yang mengira bahwa puisi adalah pelarian dari kebrutalan dunia, maka saya sarankan Anda untuk berhenti di sini. Tutup buku ini. Lemparkan ke tempat sampah. Atau, lebih baik lagi, bakarlah. Karena "Otopsi Syair" bukanlah tempat untuk Anda. Ini bukan buku untuk dinikmati sambil menyeruput teh di sore hari. Ini adalah konfrontasi. Sebuah ajakan untuk masuk ke dalam ruang otopsi yang dingin dan berbau formalin, di mana mayat-mayat keyakinan Anda akan dibedah tanpa ampun. Itjang pernah berkata, atau setidaknya begitulah yang saya ingat dari bisikan penerbitnya, “Jika kau merasa terganggu setelah membaca puisi-puisi ini, itu artinya Itjang berhasil. Jika kau mulai curiga pada puisi, pada narasi, pada sejarah, bahkan pada dirimu sendiri—Itjang akan tersenyum di balik lemari berkas”. Saya akan menggemakan sentimen itu, mungkin dengan sedikit lebih kasar: Jika setelah membaca buku ini Anda tidak merasa ingin muntah, atau setidaknya mempertanyakan kewarasan Anda sendiri, maka Anda belum benar-benar membacanya. Buku ini ada untuk mengacaukan. Untuk menyelinap ke dalam struktur estetika Anda yang mapan, lalu meledakkannya dari dalam. Untuk membuat Anda mual secara eksistensial, seperti Itjang sendiri yang didiagnosis menderita "mual eksistensial, pendarahan etis,

[xii]

agitasi kognitif". Ini adalah undangan untuk menjadi "tersangka" bersama Itjang, untuk ikut merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia yang normanya terasa seperti borgol. Peringatan ini adalah filter. Saya tidak peduli dengan pembaca umum yang hanya mencari hiburan. Saya mencari mereka yang berani terluka, yang bersedia diganggu, yang tidak takut untuk menatap ke dalam jurang. Maka, prolog ini saya tutup bukan dengan ajakan membaca yang manis dan persuasif, melainkan dengan sebuah ultimatum, sebuah pelepasan tanggung jawab yang ironis. Selamat melakukan otopsi! Dan, persetan dengan Anda, persetan dengan kamu, persetan dengan kalian semua!

Bonang P. Sirait (Chongqing, Maret 2025)

[xiii]

Daftar Isi

ᮓᮖ᮪ᮒᮁ ᮉᮞᮤ
Prolog............................................................................vi

Daftar Isi......................................................................xiv

Periode awal 1975-1977................................................. 1

Otopsi Anatomi Kata................................................... 2

Kasus Lidah yang Menolak Mengucap Doa................ 4

Ilmu Pengetahuan dan Jamban.................................... 6

Dokumen Rahasia #Z-19: Kronik dari Mayat yang
Bicara Sendiri.............................................................. 7

Berkas 05/B: Anak yang Hilang dan Puisi yang Lolos
Sensor.......................................................................... 8

Berita Acara Pemeriksaan Lambung Kosong Seorang
Nabi Palsu................................................................... 9

Tubuh yang Menggantung Diri di Pertanyaan............10

Subyek Ditemukan dalam Posisi Telungkup di Dalam
Ayat............................................................................12

Surat Terbuka Kepada Tuhan yang Sedang Cuti
Panjang.......................................................................13

Relasi Internasionar....................................................15

Analisis Toksikologi Sebuah Kenangan......................16

Periode Tengah 1978-1980.......................................... 18

Litani untuk Birokrat yang Mati di Meja Kerjanya......19

[xiv]

Ngajugjug Naraka Lokal.............................................21

Kurikulum Nasional adalah Sebuah Pembunuhan
Berencana..................................................................22

Upacara Bendera........................................................23

Wawancara Kerja dengan Malaikat Maut...................24

Dongeng Keur Budak Bageur....................................26

Kremasi Nalar di Ujung Kampus................................27

Periode akhir 1981-1982.............................................. 29

Teorema Ketidakpedulian..........................................30

Monolog Interior Seorang Pengebom yang Lupa
Targetnya....................................................................31

Lelucon......................................................................34

Sebutir Debu..............................................................35

Rahim yang Dibakar oleh Konstitusi..........................36

Surat Pengunduran Diri dari Spesies Manusia............38

Laporan Balistik Bunyi Tawa.....................................40

Laporan Pra-Kehancuran Diri Subjek B-1982............42

Proyek Terakhir: Membangun Tuhan dari Puing-Puing
...................................................................................46

Mabok Tarik..............................................................47

Hirat al-Mawt: Musyawarah Para Bangkai di Hadirat
Ketiadaan...................................................................48

Epilog........................................................................... 61

Deklarasi Ketidakhadiran & Biografi Itjang Djoedibarie70

[xv]

Deklarasi Ketidakhadiran...........................................71

Biografi Itjang Djoedibarie..........................................74

Manifesto Generasi Terburuk Sastra Indonesia.........89

[xvi]

Otopsi Anatomi Kata
1975
Subjek:
Bahasa, dalam keadaan rigor mortis.
Dengan pinset statistik, keringat buruh politisi. agung, yang kosmik yang Pertama, kita bedah fonem ‘cinta’. selaput maknanya yang telah dikeraskan oleh ribuan lagu pop dan novel picisan. Di baliknya: rongga kosong, gaung narsisme, transaksi biologis yang disamarkan sebagai takdir. Bau anyir feromon bercampur dengan bau formaldehida dari kebohongan abadi. Kedua, kita amputasi kata ‘bangsa’. Gergaji tulangnya yang rapuh, yang terbuat dari mitos-mitos heroik palsu. Keluarkan sumsumnya: barisan angka peta ketakutan kolektif terhadap ‘yang lain’. Alirkan darahnya: campuran Ketiga, kita lakukan lobotomi pada kata ‘Tuhan’. Bor batok kepalanya yang terbuat absolut. Di dalam sana, bukan otak berkarat, kadaster, dan dari mengatur cungkil dan ludah para dogma semesta,

[2]

melainkan segumpal rasa takut manusia
akan ketiadaan, sebuah cermin raksasa
yang hanya memantulkan wajah kita yang
memelas, berteriak ke dalam kehampaan,
berharap ada gema yang menjawab. Hasil
biopsi jaringan: negatif akan
keberadaan, positif akan kebutuhan.

Kesimpulan: Subjek telah mati jauh sebelum otopsi ini dilakukan. Penyebab kematian: Penggunaan berlebihan oleh para pembohong, penyalahgunaan oleh para penguasa, dan kelalaian kronis oleh para penggunanya. Rekomendasi: Kremasi seluruh kamus. Sebarkan abunya di atas lautan ketidakpedulian.

[3]

Kasus Lidah yang Menolak Mengucap

Doa

Kode Kasus**:** #89/IDI-16 Lokasi Temuan**:** Lorong belakang Gereja Katakombe, Jl. Maut No. 13 Jam Penemuan**:** 03:12 WIB

Kondisi Korban :
Tidak ada tubuh.
Hanya lidah tergantung di paku salib.
Hasil Pemeriksaan Forensik:
  1. Identitas**:** Tidak terkonfirmasi. Lidah memiliki luka-luka bakar berbentuk ayat suci.
  2. Kondisi**:** Beku oleh ketakutan, mengeras oleh sumpah palsu. Terdapat sisa darah yang mengering membentuk huruf "A".
  3. Barang Bukti**:**
    [4]
Kertas doa lusuh, ditulis dalam bahasa yang sudah mati. 4. Rekaman suara dengan bisikan : “ Aku menolak tunduk.”
Komentar : “Lidah ini lebih jujur dari seribu pengkhotbah. Ia menolak bahasa yang dikuduskan negara. Ia mengucap kufur dengan ketulusan puisi.” Catatan Hasil Otopsi:
Kami Puisi ini tidak ditulis, melainkan dirobek dari tenggorokan yang membatu. Doa-doa mengering seperti kerak luka di altar. Seseorang mencoba menyelamatkan dunia dengan menyumpal mulutnya sendiri, tapi kita datang dengan pisau, dan membedah diam itu hingga ia menjerit seperti anak haram kebudayan. Kami tidak percaya mukjizat. percaya darah. Dan lidah yang menolak doa adalah alat bukti bahwa tuhan telah mati di tangan notaris.
[5]
Ilmu Pengetahuan dan Jamban

1975

Dalam ruang kelas yang kosong,
aku menyalakan proyektor ke lubang
kakus.
Setiap tetes kotoran di sana
lebih jujur dari epistemologi
kampus.
Dosen filsafat itu berkata:
"Bahas Sartre!"
Aku bahas septic tank.
Lalu aku diusir.

[6]

Dokumen Rahasia #Z-19: Kronik
dari Mayat yang Bicara Sendiri
1975–1976
Tingkat Kerahasiaan :
Tinggi
Akses Khusus :
Disimpan di dalam mimpi buruk
pejabat Pendidikan.
Mayat ini tidak diam.
Ia membaca puisiku setiap malam.
Ia mengeluh bahwa dunia hanya percaya
pada bukti,
padahal luka bisa dibaca lewat diam.
Ia membisikkan fakta:
bahwa bahasa adalah pisau bedah
dan puisi adalah laporan kematian yang
dibuat indah.

[7]

Berkas 05/B: Anak yang Hilang dan Puisi yang Lolos Sensor
1976
Kode Kasus :
05/B
Status :
Tidak tuntas.
Catatan:
Puisi ini sempat dimuat dalam buletin gereja lokal.
“Anak hilang disebut pemberontak. Puisi disebut propaganda. lebih kriminal dari itu kenyataan yang terus diulang tanpa jeda.” Tapi yang adalah
Kami cari jejak kaki di puisi ini.

Ditemukan**:**

  1. sepatu kiri di stasiun,
  2. serpihan huruf di toilet umum,
  3. dan sebait syair di papan pengumuman kematian.
    [8]
Berita Acara Pemeriksaan Lambung
Kosong Seorang Nabi Palsu
Nabi ini tidak lapar akan kebenaran,
tapi lapar akan kekuasaan dan
kenikmatan duniawi. Lambungnya adalah
arsip kejahatan finansial dan moral
yang paling menjijikkan. Ayat-ayat yang
keluar dari mulutnya hanyalah kamuflase
untuk menutupi transaksi haram di ruang
belakang. Ini bukan otopsi, ini adalah
audit investigatif terhadap korporasi
spiritual yang lebih busuk dari bangkai
politik.
CATATAN TAMBAHAN: Subjek menolak
memberikan sampel feses untuk analisis
lebih lanjut, dengan alasan "kotoran
orang suci tidak boleh disentuh oleh
tangan-tangan najis ilmu pengetahuan."
Kami menduga, ia hanya takut ketahuan
apa yang sebenarnya telah ia "telan".

[9]

Tubuh yang Menggantung Diri di

Pertanyaan 1976

Kode Kasus: #90/IDI-17

Lokasi: MCK RT 001 RW 005, Cimanggung

Waktu Penemuan: 01:44 WIB

Korban: Pria, usia ±35 tahun, tanpa identitas.

Keadaan Mayat:
Tergantung dengan dalam disumpalkan ke mulut. celana
Dinding ditulisi kalimat:
“AKU TIDAK PERCAYA SEMUA PERTANYAAN”
[10]

Barang Bukti:

  1. Buku filsafat dengan halaman dibakar (judul tak terbaca)
  2. Botol tinta kering
  3. Sebuah pertanyaan ditulis dengan darah: “Apa makna?”
    Penyebab kematian:
  • Gantung diri akibat overdosis absurditas
  • Patah logika servikal
  • Trauma semantik kronis
    Penyair mencatat: "Ia tidak mati karena ingin tahu. Ia mati karena tahu bahwa tahu adalah perangkap."
Puisi bukan jawaban.
Puisi adalah bekas luka karena
bertanya.

[11]

Subyek Ditemukan dalam Posisi
Telungkup di Dalam Ayat

TKP: Buku pelajaran bahasa, halaman 74

Kondisi:
Frasa rusak berat. Eufemisme
membusuk. Majas melata.

Hasil otopsi: Terdapat luka tembak semantik di bagian metafora dada. Ironi patah pada ruas kalimat ke-3. Kata depan ditemukan di rongga tenggorokan tanpa fungsi.

Diagnosis: Mati karena kelebihan makna yang ditumpuk dengan dogma tata bahasa.

[12]

Surat Terbuka Kepada Tuhan yang Sedang Cuti Panjang

Tuhan, atau siapapun yang kini
mengisi jabatan-Mu,
surat ini ditulis bukan sebagai
permohonan.
Anggap saja memo internal.
Proyek manusia ini,
dengan segala hormat,
adalah sebuah kegagalan
desain yang spektakuler.
Ada kesalahan fundamental
dalam sistem operasi
kehendak bebasnya.
Mereka terus-menerus menciptakan surga
dan neraka di kepala mereka,
lalu saling membunuh untuk
membuktikan mana yang lebih nyata.
Saran saya: tarik kembali produk ini.
Lakukan pengembalian total.
Matikan saja arus utamanya.
Biarkan alam semesta kembali ke
mode senyap.
Jika tidak, setidaknya kirimkan struk
pembeliannya.

[13]

Biar aku bisa menukarnya di toko
sebelah dengan sebotol bir dingin dan
keheningan abadi.
Ini bukan ancaman, hanya saran dari
seorang konsumen yang sangat, sangat
kecewa.

[14]

Relasi Internasionar

1975–1977

Aku memaki diplomat yang bersalaman
sambil menyembunyikan pisau
lalu tersenyum dalam foto di surat
kabar.
Aku lebih percaya pada musuh
yang meninju wajahku langsung.
Karena ia jujur.
Sedangkan kamu, kekasih,
menciumku sambil berpikir tentang
mantanmu.
Sialan. Diplomasi ternyata sudah
menyusup ke ranjang.

[15]

1977 Analisis Toksikologi Sebuah Kenangan
Kode Kasus #MEM-TOX/007
Sampel Metode Kenangan ciuman pertam terhadap neurokimia. tentang Kromatografi gas- spektrometri massa jejak
Hasil 1. 2. 3. 4. Dopamin (kesenangan: Terdeteksi dalam kadar rendah, terkontaminasi oleh Norepinefrin (kecemasan). Oksitosin (ikatan): Positif, namun terikat pada molekul "Ekspektasi Berlebihan" yang bersifat racun. Serotonin (kebahagiaan): Nyaris tidak ada. Diduga telah terurai oleh enzim "Kekecewaan Retrospektif". Kortisol (stres): Kadar sangat tinggi, menunjukkan kenangan ini lebih merupakan trauma daripada momen indah. [16]

Kesimpulan Kenangan ini beracun. Paparan berulang dapat menyebabkan sinisme kronis dan ketidakmampuan membentuk hubungan baru.

Rekomendasi Isolasi dan pembuangan limbah memori secara aman.

[17]

[18]

Litani untuk Birokrat yang Mati di Meja Kerjanya

Ia tidak mati karena peluru atau
racun,
Ia mati karena tumpukan map coklat.
Jiwanya remuk perlahan,
dihimpit oleh beratnya stempel
dan disposisi.
Darahnya tidak mengalir, tapi membeku
menjadi tinta biru di formulir-
formulir.
Otaknya tidak berhenti berpikir,
tapi terjebak dalam pengulangan tanpa
akhir:
"Sesuai prosedur... lampirkan
identitas... tunggu instruksi lebih
lanjut..."
Rohnya tidak naik
ke surga atau turun ke neraka.
Rohnya tersesat di antara rak-rak
arsip, mencari nomor surat keputusan
tentang kematiannya sendiri,
yang mungkin baru akan keluar
tiga bulan lagi,
setelah melalui lima meja

[19]

dan sepuluh paraf.
Di nisan kuburnya, jangan tulis
"Beristirahat dengan damai".
Tulis saja: "Menunggu verifikasi".
Karena bahkan kematian pun, baginya,
adalah sebuah proses administrasi yang
panjang dan membosankan.
Dan para malaikat di pintu surga akan
menyuruhnya kembali,
"Maaf, Pak, materainya kurang satu."

[20]

Ngajugjug Naraka Lokal

Di Cikeruh, sora adan lain pangeling
solat,
tapi alarm pikeun nyiapkeun topeng
kasolehan.
Si Haji Fulan, nu kamari ngagadekeun
sawah tatanggana ku surat palsu,
ayeuna ngajanteng di saf panghareupna,
beungeutna herang ku cai wudu, hatena
hideung ku dengki.
Di pengkolan, para pamuda ngarumpul,
nyekelan tasbeh,
ramo mencetan tatasbehan, sungut
ngucapkeun istigfar,
tapi panon melong kana bujur awewe nu
liwat, ngitung-ngitung harga kahormatan
dina itungan birahi.
Ieu lain deui Cikeruh nu ceuk kolot baheula. Ieu téh miniatur naraka nu
dikelola ku panitia kiamat lokal, di mana Gusti Allah geus lila paéh,
diganti ku iblis nu pinter ngaji.

[21]

Kurikulum Nasional adalah Sebuah Pembunuhan Berencana

Mereka ajarkan kami sejarah para
pemenang, nama-nama jenderal, tanggal-
tanggal pertempuran, peta-peta
kekuasaan yang digambar dengan darah.
Tapi mereka sembunyikan sejarah para
pecundang, teriakan para korban di
ladang pembantaian, kebisuan para
martir yang tak punya nama, yang
mayatnya menjadi pupuk bagi taman
pahlawan.
Pendidikan bukanlah lentera yang
menerangi kegelapan. Pendidikan adalah
sebuah operasi bedah yang presisi:
mengangkat organ keingintahuan,
memotong syaraf pemikiran kritis, dan
menanamkan dogma kepatuhan di bawah
tempurung kepala.
Lulus sekolah bukan berarti menjadi
lebih pintar, lulus sekolah berarti
operasi telah berhasil.
Pasien telah dijinakkan, siap menjadi
sekrup kecil dalam mesin raksasa
kebodohan nasional.

[22]

Upacara Bendera

1979

Lokasi Lapangan sekolah dasar negeri, pukul 07:00 pagi. Korban Nalar kritis, diperkirakan usia 7-12 tahun. Pelaku Kolektif (Kepala Sekolah, Guru-guru, Pembina Upacara).

Modus Operandi**:**

  1. Pembunuhan karakter secara massal melalui ritual indoktrinasi mingguan.
  2. Korban dipaksa berdiri tegak di bawah terik matahari, mendengarkan pidato yang isinya bisa ditebak bahkan oleh orang bodoh.
  3. Tangan dipaksa hormat pada selembar kain berwarna, sementara otak perlahan dicuci dengan lagu-lagu mars yang liriknya tak pernah benar-benar dipahami. Kesimpulan Ini adalah kejahatan paling sempurna. Tidak ada darah, tidak ada mayat fisik. Hanya deretan tubuh kecil yang patuh, yang jiwanya perlahan dikosongkan dan diisi dengan slogan-slogan.
    [23]

Wawancara Kerja dengan Malaikat Maut

1980

"Apa kelebihanmu?" tanya-Nya,
sambil memeriksa CV-ku yang kosong.
"Aku bisa tidur selama 16 jam tanpa
merasa bersalah," jawabku.
"Dan aku punya bakat alami untuk
menemukan kecacatan dalam segala hal
yang dianggap sempurna."
"Apa kelemahanmu?"
"Aku masih punya sisa-sisa harapan
seukuran debu. Tapi aku sedang
menjalani terapi untuk
menghilangkannya secara total."
"Pengalaman organisasi?"
"Aku pernah mencoba mendirikan 'Klub
Pesimis Total', tapi bubar di rapat
pertama karena tidak ada yang percaya
klub itu akan berhasil."
Ia tersenyum—atau setidaknya tulang
rahangnya bergerak seperti itu.
"Kau diterima," kata-Nya.
"Bagian personalia kami butuh orang
sepertimu.
Tugas pertamamu:

[24]

Tulis ulang 'Sepuluh Perintah Tuhan'
menjadi 'Sepuluh Saran untuk Tidak
Terlalu Bersemangat'.

[25]

Dongeng Keur Budak Bageur

1980

Ujang, Eneng,
tong loba tatanya.
Tong mikir nu lain-lain.
Hirup mah ngan saukur nuturkeun galur
nu geus disadiakeun ku Bapa,
ku Kapala Sakola,
ku Pa RT.
Lamun hidep pinter teuing,
bisi gelo.
Lamun hidep bageur teuing,
bisi dimanfaatkeun.
Jadi mending cicing, nurut, dahar,
sare, maot.
Aman. Teu loba resiko.
Jadi weh bangke nu santun,
nu fotona bakal dipajang di ruang
tamu, ditempokeun ka dulur-dulur:
"Ieu yeuh, anak nu teu pernah
nyusahkeun kolot." (Padahal nyusahkeun
diri sorangan nepi ka paehna.)

[26]

Kremasi Nalar di
Ujung Kampus
Kode Kasus
#93/IDI-22
Lokasi
Belakang Gedung Rektorat
Korban
Skripsi mahasiswa tingkat akhir
Kondisi
Dibakar utuh
Ditemukan tulisan dengan arang:
“AKU BUKAN SUMBER DAYA MANUSIA!”

BARANG BUKTI

  1. Map skripsi hangus
  2. Ijazah yang belum diterbitkan
  3. Cap stempel birokrasi universitas
    CATATAN FORENSIK Nalar terbakar bukan karena bodoh, tetapi karena dipaksa tunduk pada logika kapital.
“Intelektual tanpa hasrat
pemberontakan hanyalah perpanjangan
tangan negara.”

[27]

Dalam api, aku melihat akreditasi
dibakar.
Dan itulah akhir dari semua seminar.

[28]

[29]

Teorema Ketidakpedulian

Jika sebuah pohon tumbang di hutan dan
tidak ada yang mendengarnya, apakah ia
bersuara? Pertanyaan bodoh.
Pertanyaan yang benar: Jika seluruh
peradaban runtuh dan aku sedang
mendengarkan musik di kamarku, apakah
aku peduli?
Jawabannya, tentu saja, tidak. Duniaku
adalah isi kepalaku. Selebihnya
hanyalah rumor.

[30]

Monolog Interior Seorang Pengebom yang Lupa Targetnya

1981

Aku duduk di sini,
di kafe ini,
dengan bom
di dalam ranselku.
Jantungnya berdetak lebih
teratur daripada jantungku.
Detik... detik... detik...
sebuah mantra mekanis
yang menenangkan.
Dulu aku punya target. Aku yakin.
Mungkin gedung parlemen?
Simbol kekuasaan yang korup.
Atau mungkin markas besar korporasi?
Kuil kapitalisme global.
Atau gereja katedral itu?
Pabrik ilusi massal.
Aku punya daftar, manifesto,
alasan-alasan yang kuat.
Tertulis rapi di buku catatanku.
Tapi tadi pagi,
saat aku mengikat tali sepatu,
semua alasan itu menguap begitu saja.
Aku melihat seekor semut
berjuang membawa remah roti
yang terlalu besar, dan tiba-tiba,

[31]

perjuanganku terasa sangat konyol.
Parlemen, korporasi, gereja...
mereka hanyalah remah-remah
roti yang berbeda.
Dan aku, seekor semut yang lain,
berjuang dengan beban
yang tak kalah absurd.
Target yang sesungguhnya bukanlah
gedung. Target yang sesungguhnya adalah
keinginan untuk punya target. Keinginan
untuk percaya bahwa satu ledakan bisa
mengubah segalanya. Itu adalah ilusi
paling berbahaya.
Jadi aku duduk di sini. Kopi semakin
dingin. Bom di ranselku terasa hangat,
seperti seekor kucing yang tertidur.
Mungkin aku akan meledakkannya di sini.
Bukan sebagai protes. Bukan sebagai
pernyataan politik. Tapi sebagai sebuah
lelucon kosmis. Sebagai titik di akhir
kalimat yang tidak pernah benar-benar
punya makna. Atau mungkin aku akan
pulang, membongkar bom itu, dan
menggunakan bahan peledaknya untuk
pupuk di kebun belakang. Menumbuhkan
tomat-tomat yang paling sinis di
seluruh dunia.
Aku tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya,
ketidaktahuan ini terasa
seperti sebuah kebebasan.

[32]

Detik... detik...
detik...

[33]

Lelucon

Dan…
setiap puisiku dilaporkan sebagai
delik budaya.

[34]

Sebutir Debu

#ENTROPI-001/ULTIMA- MATERIA 0982919
LOKASI TEMUAN Di atas nisan seorang pahlawan tak dikenal. HASIL PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS Komposisi: 70% sisa bintang yang gagal, 20% serpihan janji yang hancur, 9% kulit mati para filsuf, 1% kemungkinan bahwa semua ini tidak ada. Struktur: Kristal ketidakpedulian yang sempurna. Setiap atom bergetar dalam frekuensi nihilisme murni. Sejarah Geologis: Pernah menjadi bagian dari gunung, lalu batu, lalu tulang dinosaurus, lalu cangkir teh seorang tiran, lalu air mata seorang budak, kini hanya debu. Sebuah biografi kesia-siaan. METODE Mikroskop gaya atom, spektroskopi kehampaan.

[35]

Rahim yang Dibakar oleh Konstitusi

1981, disembunyikan dalam amplop
berbau formalin di bawah meja kantor
Komando Daerah Militer

III/Siliwangi.

Rahim ini bukan milik ibu kandungmu
Rahim ini hasil rampasan tentara
yang menggeledah tubuh setiap
perempuan
untuk mencari pasal pidana yang
tersembunyi di dalam vagina.
Kapan terakhir kau sebut “ibu pertiwi”
tanpa rasa ingin muntah?
Kapan terakhir kau cium bendera tanpa
mencium bau daging terbakar?
Setiap bait ini adalah peluru
Setiap jeda adalah tembak
Setiap rima adalah sensor
yang gagal menyensor amarah
yang tidak kau deteksi
di bawah kuku jari
mayat-mayat demonstran.
Aku bukan penyair
aku hanya kriminolog
yang menemukan puisi di retakan
tengkorak
yang menulis laporan forensik dengan
tinta menstruasi

[36]

dan menyobek alibi negara dengan
pinset.
Puisi ini tidak indah
karena keindahan telah dibunuh oleh
estetika negara
dan aku menolak memakamkannya di
Museum Sastra.

[37]

Surat Pengunduran Diri dari Spesies Manusia

Kepada Yth.
Evolusi, Seleksi Alam, dan
Para Dewa yang Bertugas,
di Tempat.
Dengan hormat, Setelah observasi selama
kurang lebih tiga dekade, dengan ini
saya, yang bertanda tangan di bawah ini
(atau lebih tepatnya, yang meninggalkan
sidik jari kabur ini), menyatakan
mengundurkan diri sebagai anggota
spesies Homo sapiens.
Keputusan ini diambil dengan kesadaran
penuh dan tanpa paksaan, didasarkan
pada alasan-alasan berikut:
  1. Kebodohan Kolektif yang Persisten: Spesies ini menunjukkan kemampuan luar biasa untuk mengulangi kesalahan yang sama dalam skala yang semakin besar.
  2. Kemunafikan Sistemik: Menciptakan konsep-konsep agung seperti ‘cinta’, ‘keadilan’, dan ‘perdamaian’, lalu menghabiskan
    [38]
sebagian besar waktunya untuk
melakukan hal yang sebaliknya.
  1. Kelelahan Eksistensial: Terlalu banyak drama. Terlalu banyak opini. Terlalu banyak rapat.
Sebagai kompensasi, saya dengan ini
mengajukan permohonan untuk ditransfer
ke kerajaan mineral. Saya bersedia
menjadi batu. Batu apa saja. Batu kali,
batu kerikil, atau bahkan batu ginjal.
Menjadi batu tampaknya menawarkan
ketenangan yang tidak bisa ditawarkan
oleh kesadaran tingkat tinggi.
Terima kasih atas perhatiannya. Mohon
untuk tidak menghubungi saya lagi.
Hormat saya,
Itjang Djoedibarie

[39]

1982 Laporan Balistik Bunyi Tawa
KODE KASUS #RISUS-MORTIS/042
kabar. SENJATA PROYEKTIL: KORBAN: 1. 2. 3. lucu. muatan ironi kaustik. Lintasan Melengkung, tetapi mengapa pasien rumah sakit jiwa yang baru saja membaca berita utama surat berfrekuensi tinggi, sarat dengan formal, dan keseriusan hidup. Kecepatan Moncong: kecepatan keputusasaan. pusat keyakinan mereka. Luka yang Ditimbulkan Menyebabkan pendarahan mulai Gelombang suara Kewarasan kolektif, logika ANALISIS LINTASAN & DAMPAK: dinding kemunafikan, berbelok tajam di tikungan absurditas, lalu mengenai target tepat di menyebabkan pendarahan fisik. internal. Korban tidak mati, Menyebabkan gejala "pencerahan nihilistik": kesadaran mendadak bahwa semua ini adalah lelucon kosmik yang sangat, sangat tidak Tawa. Terdengar dari seorang Tidak memantul mereka Melebihi lurus. dari Tidak makna mempertanyakan hidup.
[40]
KESIMPULAN FORENSIK
Ini bukan tawa kebahagiaan. Ini adalah
suara dari seseorang yang telah
melihat akhir dari segalanya dan
menyadari betapa konyolnya permulaan
itu. Tawa ini adalah senjata paling
subversif. Ia tidak membantah, ia
hanya menertawakan. Dan tidak ada
argumen yang bisa melawan tawa dari
jurang kehampaan.

[41]

B-1982 Laporan Pra-Kehancuran Diri Subjek
Itjang tercoret: Subjek Kode Identifikasi: B-1979 Status: akademik gugur agitasi kognitif Lokasi Otopsi Gudang bekas laboratorium sosiologi. Lampu neon mati separuh. Ditemukan di antara lembar tugas praktikum teori kontrol sosial milik Djoedibarie. “Permohonan Beasiswa” Jenis kelamin: tidak relevan Keterangan medis terakhir: mual eksistensial, pendarahan etis, Meja terbuat dari sisa peti mati. Judul awal, 1982
cukur. Latar Teoritik: Dinding dipenuhi grafiti kata “data”, disilang dengan pisau
metode penyelidikan Teori-teori kriminologi modern telah gagal memahami subjek yang secara sadar memilih kehancuran sebagai eksistensial. dilakukan pendekatan hibrida antara psiko- Maka dengan
[42]
forensik, linguistik ilegal, dan arsitektur kekacauan.
Tindakan Pra-Otopsi Subjek menolak anestesi naratif. Tidak ditemukan jejak afeksi normatif. Terdapat indikasi penolakan total terhadap indeks moral publik. Pemeriksaan Visual 1. Luka bakar pada korteks: akibat paparan konstan terhadap diktat akademik. 2. Memar pada kesadaran: disebabkan oleh perdebatan palsu dalam ruang kelas steril. 3. Jejak sabotase diri ditemukan dalam bentuk catatan kaki yang sengaja menyimpang dari isi. Fragmen Patologis Yang Ditemukan Saya tidak ingin diselamatkan oleh system yang menulis “pengetahuan” dengan tangan penuh tinta birokrasi. Saya ingin mati tanpa catatan medis, tanpa biografi yang bisa dikutip dalam jurnal-jurnal yang dibaca oleh dosen- dosen yang mencuri waktu tidur saya. [43]
Jika tubuh saya mengandung kebenaran,
silakan didekonstruksi.
Tapi jangan harap kau bisa
rekonstruksi.

Hasil

Laboratorium

Semiotik

  1. Fragmen puisi menunjukkan mutasi morfologis antara narasi dan nihilisme.
  2. Penggunaan diksi “pembakaran”, “hilang”, dan “tidak berguna” mengalami frekuensi di atas normal.
  3. Simbol-simbol arkais seperti “lonceng”, “api”, “kamar mandi”, dan “kursi dosen” muncul sebagai totem kehancuran institusional.
    Analisis

Topografi

Emosi Subjek menunjukkan pola denyut emosi terbalik:

  1. rasa muak meningkat ketika diberi penghargaan
  2. rasa tenteram muncul saat ditinggalkan
  3. klimaks afektif terjadi pada momen kesendirian total disertai musik punk instrumental
    [44]

Kesimpulan

Otopsi

  1. Subjek menolak klasifikasi post- mortem.
  2. Tidak ingin dikubur dalam kategori “pejuang”, “penyair”, “mahasiswa”, atau “korban”.
    Satu-satunya wasiat tertulis: “Buang aku ke dalam indeks kegagalan. Jangan jadikan mayatku sebagai studi kasus. Jadikan aku (catatan: teks tercoret, tidak bisa dibaca) yang menolak dipakai.

[45]

Proyek Terakhir: Membangun Tuhan dari Puing-Puing

1982

Aku kumpulkan semua serpihan hatiku
yang hancur, semua janji yang
dikhianati, semua harapan yang kandas.
Aku kumpulkan sumpah serapah para
korban, air mata para pecundang, tawa
sinis para martir yang dilupakan. Aku
lebur semuanya dalam tungku kebencianku
yang paling murni. Aku coba merakitnya
menjadi Tuhan yang baru, Tuhan yang
memahami rasa sakit, Tuhan yang tidak
menuntut penyembahan, Tuhan yang punya
selera humor yang gelap. Setelah
berhari-hari bekerja tanpa henti,
akhirnya Ia berdiri di hadapanku,
terbuat dari puing-puing kegagalan. Ia
menatapku dengan mata yang kosong, lalu
membuka mulutnya yang terbuat dari
debu, dan membisikkan satu kata:
"Kenapa?" Lalu Ia hancur berkeping-
keping. Ternyata, aku hanya berhasil
menciptakan sebuah gema dari
pertanyaanku sendiri. Sebuah iblis yang
lebih menyedihkan, yang bahkan tidak
percaya pada dirinya sendiri.

[46]

Mabok Tarik

1979-1982

Araranjing kabeh, anak setan, negara babi,
ah lieur pisan lah anjing. Kritikus goblog,
koran tolol, semuanya babi.
Aku akan mati saja, kemarin makan daging
anjing, dasar batak babi, kau menipuku

bajingan.

Tapi rasanya enak juga.
Haha, teman-teman batakku
tidak ada yang waras.
Karena itulah aku menyukai

kalian semua.

Dan, semua puisi
Adalah kebohongan.

Kebohongan. Kebohongan. Kebohongan!

[47]

Hirat al-Mawt: Musyawarah Para Bangkai di Hadirat Ketiadaan

Tahun tidak diketahui, berdasarkan pendapat Iman sebagai penemu manuskrip, puisi ini merupkan kelanjutan puisi yang Itjang buat setelah puisi dengan judul “Proyek Terakhir: Membangun Tuhan dari Puing-Puing” dan puisi “Mabok Tarik”, sehingga bisa saja puisi ini ditulis pada tahun 1983, atau sekitar 1982-1983, tahun-tahun akhir kepenyairannya.

Bagian I Tuhan yang kurakit dari puing-puing itu telah hancur. Bukan dalam ledakan agung yang menggetarkan semesta, bukan dalam isak tangis kosmik yang melahirkan bintang-bintang baru. Ia pecah begitu saja, tanpa suara, seperti keramik retak di lantai gudang yang terlupakan, di sudut paling lembab dari batok kepalaku. Ia tak mewariskan wahyu atau kutukan, tak meninggalkan wasiat atau kitab suci. Ia hanya meninggalkan debu halus, abu dari janji-janji yang lapuk, serpihan dari harapan-harapan yang telah dikhianati. Dan di udara, satu pertanyaan menggantung, tak terucap namun memekakkan telinga, partikel formalin yang mengawetkan ketiadaan makna:

"Kenapa?". Sebuah audit teologis yang gagal, sebuah proyek rekayasa spiritual yang berakhir sebagai laporan kerusakan.

Leungit, enya, leres-leres leungit. Hilang tanpa jejak.

Dari abu itulah, dari kesunyian setelah kegagalan total itu, lahir bukan keheningan yang damai, melainkan sebuah panggilan. Panggilan sunyi yang terasa seperti arus listrik statis di udara, sebuah subpoena yang dikirim tanpa kurir,

[48]

langsung ke alamat-alamat jiwa yang telah lama kutandai dalam arsip kejahatanku. Kurasakan ia sebagai angin malam yang merayap masuk lewat celah jendela, membisikkan undangan untuk sebuah musyawarah terakhir. Bukan untuk mencari Raja, bukan untuk menemukan Simorgh di puncak gunung Qaf. Tapi untuk membedah bangkai singgasana-Nya, untuk melakukan otopsi terakhir terhadap Cahaya itu sendiri, untuk memimpin sebuah ekspedisi nekat menuju jantung Ketiadaan dan memeriksa patologi-Nya. Ini adalah zaman جهل (Jahl) yang baru, zaman kebodohan yang lahir dari terlalu banyak tahu.

Maka aku panggil mereka, para arwah pahlawan dari kamar mayat sejarah, burung-burung gagak yang sayapnya pernah kupatahkan dengan pisau analisisku yang tumpul. Kukatakan pada mereka, dengan suara yang telah kehilangan warnanya, "Mari, berkumpullah. Perjalanan ini bukan menuju Pencerahan. Ini adalah perjalanan pulang ke sumber segala kebohongan."

Dan mereka datang, satu per satu, terseret oleh daya tarik kehampaan yang tak bisa mereka tolak. Mereka berkumpul di gerbang fatamorgana yang kubangun dari sisa-sisa sinismeku, siluet-siluet tragis dengan latar belakang cakrawala yang membusuk.

Yang pertama maju adalah Sang Jenderal. Ia masih mencoba untuk tegap, meski bahunya merosot oleh berat medali-medali yang tak lagi berkilau. Ia datang sebagai personifikasi dari perintah dan pengorbanan, monumen berjalan bagi sebuah disiplin yang mematikan.

Di belakangnya, melayang tanpa suara, Sang Alim. Jubahnya masih tampak putih di dalam temaram, namun

[49]

bayangannya lebih hitam dari malam tanpa bintang. Ia membawa aroma cendana dan kemunafikan sistemik, wajahnya adalah topeng kesalehan yang terbuat dari dogma yang dikeraskan.

Lalu melangkah dengan gerakan teatrikal, Sang Penyair. Matanya dibuat sayu, bibirnya setengah terbuka seolah siap melahirkan metafora kapan saja. Ia adalah perwujudan dari keindahan sebagai alibi, katarsis sebagai komoditas, dan seni sebagai pelarian dari kebrutalan yang ia bantu lestarikan.

Menyusul dengan langkah berat, Sang Revolusioner. Matanya masih menyala oleh api manifesto yang telah usang, tangannya masih mengepal seolah menggenggam granat yang tak pernah ada. Ia adalah sisa dari sebuah pemberontakan yang lupa pada tujuannya.

Dan yang terakhir, terseok-seok, membawa map-map dan tumpukan kertas, Sang Birokrat. Wajahnya adalah formulir kosong, jiwanya adalah stempel karet yang kering. Ia adalah hantu dari sistem itu sendiri, bukti bahwa kematian paling mengerikan adalah kematian administratif.

Mereka berdiri di hadapanku. Lima pilar dari reruntuhan peradaban. Lima bangkai dari mitos kepahlawanan. Musyawarah akan segera dimulai. Lain dago-dago deui, tidak ada waktu untuk menunggu.

Bagian II "Nu mimiti!" perintahku tanpa suara.

Sang Jenderal maju selangkah, mencoba membusungkan dadanya yang kini hanya rongga. Suaranya berat, berkarat

[50]

seperti tank tua yang ditinggalkan di padang gurun. "Aku adalah pengorbanan!" gemanya. "Aku adalah martil dan perisai bangsa! Aku ingat hari itu, di perbatasan timur, saat aku memimpin anak-anak muda itu—para budak bageur— menuju kemuliaan. Darah mereka menyirami tanah ini, menjadi pupuk bagi kemerdekaan yang kalian nikmati! Tulang-tulang mereka adalah fondasi suci, pilar-pilar tak terlihat di mana negara agung ini berdiri! Hormatilah kami, karena kami telah membayar harganya dengan nyawa!"

Aku tertawa, tawa kering yang terdengar seperti tulang-tulang patah. Kupotong bicaranya dengan pinset berkarat yang biasa kugunakan untuk mencongkel nanah dari borok-borok kekuasaan. "Jenderal, laporan balistik dan catatan lapanganmu cacat, penuh dengan fabrikasi dan kebohongan metodologis. Kau bicara tentang kemuliaan, tapi aku membaca laporan intelijenmu. Anak-anak muda itu kau kirim bukan menuju kemuliaan, tapi menuju penyergapan yang kau tahu akan terjadi, demi mengamankan anggaran pertahanan tahun berikutnya. Fondasi yang kau maksud adalah tumpukan kuitansi proyek pengadaan senjata yang digelembungkan, dan tulang mereka yang rapuh itu hanyalah item dalam diagram anatomi presentasi di hadapan komite parlemen.

Darah mereka, Jenderal, tidak pernah menjadi anggur kepahlawanan. Ia hanya menjadi tinta merah di neraca pembukuan para kontraktor pertahanan, campuran keringat buruh pabrik senjata dan ludah para politisi di ruang perjamuan mewah. Kau bukan burung elang perkasa. Kau hanyalah logo berkepala elang di atas map coklat, stempel karet yang membeku dalam tinta biru birokrasi, sebuah catatan kaki dalam sejarah para pemenang yang ditulis dengan darah para pecundang."

[51]

Sang Jenderal mundur, medali-medali di dadanya bergemerincing seperti koin receh di dalam kaleng kosong.

Lalu Sang Alim maju, melayang selangkah, tangannya ditangkupkan di depan dada seolah dalam doa abadi. Jubahnya menebarkan wangi cendana untuk menutupi bau anyir transaksi di ruang belakang masjid. "Tinggalkanlah urusan dunia yang fana," suaranya mengalun, sehalus sutra, menenangkan seperti hipnotis. "Aku adalah jembatan menuju Yang Absolut, gembala bagi kawanan yang tersesat dalam gelapnya zaman. Aku ajarkan hukum-Nya, aku tunjukkan jalan menuju surga. Lepaskan egomu, nafsu (سْفَن) kotormu, dan ikutilah cahaya petunjuk yang kubawa. Di tanganku ada kunci keselamatan."

Aku sodorkan padanya berita acara pemeriksaan lambung kosong yang pernah kutulis. "Alim, berhentilah dengan daganganmu. Aku telah mengotopsi 'keselamatan' yang kau tawarkan. Di dalam lambungmu yang kau sebut suci itu, tak kutemukan sisa makanan ilahi. Hanya endapan anggur impor yang mahal, kuitansi suap dari korporasi multinasional yang ingin membangun pabrik di atas tanah wakaf, dan selembar tisu bekas lipstik murahan dari salah satu 'jamaah'-mu.

Sialan! Kemunafikanmu, nifā q (نفاق) ini, begitu sistemik hingga ia menjadi pilar dari bangunan imanmu. Yang Absolut dalam dirimu hanyalah absolutnya kerakusan, dan kawanan yang kau gembalakan hanyalah portofolio investasimu. Kau bukan burung merak surgawi yang anggun. Kau hanyalah lalat hijau besar yang paling fasih mengutip kitab suci sambil bertelur di atas bangkai iman yang kau korbankan."

[52]

Bagian III Sang Alim menguap seperti kabut pagi yang beracun, meninggalkan bau kemenyan dan kebohongan.

Kini giliran Sang Penyair, ia melangkah maju dengan gerakan yang dipelajari dari panggung-panggung sastra. Matanya menatap kejauhan yang hampa, seolah melihat inspirasi di sana. "Aku adalah penjaga keindahan," bisiknya lirih, suaranya diatur agar terdengar rapuh dan tulus. "Di tengah zaman yang brutal dan penuh kebisingan ini, aku adalah pelipur lara. Aku menenun katarsis bagi jiwa-jiwa yang luka, merangkai kata menjadi selimut untuk menghangatkan mereka yang kedinginan dalam absurditas. Seni adalah transendensi, keindahan adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa!"

"Sebuah kebohongan yang indah," jawabku, suaraku datar seperti laporan koroner. "Keindahanmu adalah anestesi yang paling subtil, opium yang dibagikan gratis oleh kekuasaan agar massa tak merasakan pisau bedah yang sedang mengamputasi hak-hak mereka. Setiap bait elegimu tentang bunga yang layu adalah alibi bagi estetika negara yang membunuh para demonstran di jalanan. Kau menulis tentang senja yang muram, sementara mereka menghapus bercak darah dari aspal di bawah lampu jalan yang baru dipasang. Kau merangkai soneta tentang cinta yang hilang, sementara mereka merancang pasal-pasal baru untuk mengontrol rahim dan pikiran. Kau adalah pelacur intelektual yang paling puitis, menjual pelarian dalam kemasan sastra. Puisi bukan jawaban, kawan. Ia adalah bekas luka karena bertanya. Kau bukan burung kenari yang merdu. Kau adalah beo pintar yang diajari bersiul lagu-lagu sentimentil di dalam sangkar emas yang dihadiahkan oleh menteri kebudayaan."

[53]

Sang Penyair hancur berkeping-keping menjadi metafora-metafora kosong yang beterbangan sesaat sebelum menjadi debu.

Amarah menggantikannya. Sang Revolusioner melompat ke depan, matanya masih menyala oleh api manifesto yang telah usang. "Kalian semua kaum pesimis yang lumpuh! Hanya aksi yang nyata! Hanya penghancuran yang bisa melahirkan sesuatu yang baru! Aku adalah disrupsi! Aku adalah negasi! Aku adalah martil yang akan menghancurkan berhala-berhala busuk ini! Targetku jelas: jantung sistem yang korup, parlemen, korporasi, gereja!"

Kutatap matanya yang lelah di balik kobaran api itu. "Kau lupa," kataku, lebih pelan dari sebelumnya, "bahwa target yang sesungguhnya adalah keinginan untuk punya target. Kau begitu terobsesi dengan penghancuran hingga kau tak sadar bahwa kau telah menjadi cermin dari apa yang ingin kau hancurkan: kaku, dogmatis, dan haus akan kepatuhan absolut. Kau ingin meledakkan parlemen, tapi kau tak sadar bahwa parlemen telah meledak di dalam kepalamu, menjadi reruntuhan nalar yang kini kau sebut 'garis perjuangan'. Kau membenci penindasan, tapi kau memenjarakan dirimu dan pengikutmu dalam diktat dan dogma gerakanmu sendiri. Kau adalah borgol yang memberontak melawan borgol lainnya. Kau bukan burung phoenix yang lahir kembali dari api. Kau hanyalah seekor semut yang kelelahan, berjuang membawa remah roti yang tak kalah absurdnya dengan istana yang ingin kau bakar."

Dan terakhir, yang paling menyedihkan dari semuanya, Sang Birokrat. Ia maju terseok-seok, bukan untuk bicara, tapi untuk menyerahkan setumpuk dokumen. "Semua harus sesuai prosedur," bisiknya, suaranya seperti gesekan

[54]

kertas. "Keberanian harus diverifikasi. Kepahlawanan harus diarsipkan dalam tiga rangkap. Inovasi harus melalui lima meja dan sepuluh paraf. Aku adalah pahlawan ketertiban, penjaga sistem dari kekacauan."

"Ketertibanmu adalah rigor mortis," kataku. "Kau telah mati jauh sebelum otopsi ini dilakukan. Jiwamu remuk perlahan, dihimpit oleh beratnya stempel dan lembar disposisi. Kau mengubah tragedi menjadi administrasi, mengubah hidup menjadi catatan kaki. Kau adalah perwujudan dari asa dibui, rasa terperangkap di dalam struktur yang kau puja. Kau bukan pahlawan. Kau adalah sipir dari penjara yang kau bangun sendiri, dan kau sekaligus narapidananya."

Para pahlawan itu kini telanjang. Mitos mereka terkelupas. Musyawarah selesai. Tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Perjalanan menuju jantung Ketiadaan dimulai dalam keheningan pengakuan kolektif yang memuakkan.

Bagian IV Kami melangkah, bukan di atas tanah, tapi di atas bentangan kesadaran yang sedang runtuh. Kami tidak melintasi lembah cinta atau makrifat; itu adalah peta bagi mereka yang masih percaya pada adanya tujuan, pada adanya puncak yang layak dituju. Lembah-lembah kami adalah topografi dari sebuah negasi total, pembuktian empiris atas ketiadaan melalui tujuh stasiun penderitaan epistemologis.

Yang pertama kami masuki adalah Lembah Dekonstruksi Bahasa. Di sini, udara terasa berat, jenuh oleh makna yang membusuk dan bocor dari setiap kata. Kata-kata terkelupas dari benda-benda seperti cat tua yang terpapar panas, meninggalkan realitas telanjang, bisu, dan mengerikan. "Cinta" menjadi serangkaian kejang kimiawi yang tak lebih

[55]

puitis dari data elektrokardiogram. "Keadilan" menjadi algoritma kekuasaan yang dingin. "Tuhan" menjadi gaung narsisme dari spesies yang takut akan ketiadaan. Setiap kalimat yang coba kami bentuk hancur menjadi saukur sora, hanya bunyi, getaran acak yang kehilangan referensinya.

Lalu kami terperosok ke Lembah Birokrasi Abadi. Ini bukan lembah, melainkan koridor tak berujung yang dilapisi lemari-lemari arsip dari logam berkarat, menjulang hingga ke langit-langit yang tak terlihat. Udara di sini berbau kertas tua dan keputusasaan yang mengendap, tebal oleh debu dari jutaan permohonan yang tak pernah terjawab. Satu-satunya suara adalah gema abadi dari sebuah stempel karet yang membentur meja, sebuah proses administrasi yang panjang dan membosankan bahkan untuk kematian itu sendiri. Di sini, jiwa tidak melayang, ia mengantre, menunggu nomor disposisi untuk penentuan nasibnya, tersesat selamanya mencari materai yang kurang satu.

Dari sana, kami terseret ke dalam fatamorgana Lembah Ego Murni. Sebuah gurun cermin yang tak memantulkan apa pun selain diri yang menatapnya. Tak ada oasis, tak ada bayangan orang lain. Setiap interaksi adalah transaksi yang diperhitungkan dengan cermat, setiap pertolongan adalah investasi, dan setiap hubungan adalah aliansi sementara yang lahir dari "kohesi laten" atau "pemahaman implisit" demi kepentingan sesaat. Solidaritas adalah fiksi yang ditulis oleh sebuah komite yang telah lama bubar karena sengketa internal yang tak terdamaikan. Di sini, dorongan nafs (سْفَن) adalah satu-satunya tuhan yang diakui.

Kami merangkak dengan lutut berdarah melewati Lembah Paranoia Metodis, di mana kami belajar untuk mencurigai gravitasi sebagai bentuk kontrol sosial dan embusan angin

[56]

sebagai agen intelijen negara. Setiap tatapan adalah interogasi, setiap kebetulan adalah konspirasi. Kami belajar melihat keindahan sebagai bentuk anestesi yang paling subtil.

Kemudian kami berkubang dalam abu Lembah Nalar yang Dikremasi. Di sini, universitas adalah tungku pembakaran, dan bahan bakarnya adalah ijazah, skripsi, dan akreditasi. Udaranya berbau kertas dan harapan yang hangus, tempat di mana intelektual tanpa hasrat pemberontakan hanyalah perpanjangan tangan negara.

Kami menulis surat terakhir kami di Lembah Pengunduran Diri, sebuah permohonan resmi untuk ditransfer ke kerajaan mineral. Kami menyerahkan kartu identitas spesies kami, menyatakan diri lelah dengan drama, opini, dan rapat-rapat. Kami ingin menjadi batu. Batu kali, batu kerikil, bahkan batu ginjal. Apa saja, asalkan diam, asalkan tanpa kesadaran yang menyakitkan ini.

Dan akhirnya, kami tiba di gerbang terakhir, stasiun pamungkas: Lembah Sabotase Diri. Di sini, kami berhenti menghancurkan dunia luar. Kami mengarahkan pisau bedah ke dalam diri kami sendiri. Bukan bunuh diri fisik, tapi sabotase epistemologis. Kami mencabut sekring dari dalam batok kepala, merusak mekanisme validasi terhadap realitas. Kami memilih in-kar (راَكْنِإ), penolakan total, sebagai satu-satunya bentuk kejujuran yang tersisa.

Bagian V Akhirnya, kami tiba. Di tujuan akhir dari perjalanan tanpa tujuan ini. Di hadirat-Nya. Tak ada cahaya yang menyilaukan. Tak ada singgasana yang terbuat dari permata galaksi. Tak ada paduan suara malaikat yang menyanyikan

[57]

kidung kemuliaan. Tak ada apa-apa. Bukan ruang kosong. Bukan kehampaan pasif. Melainkan Ketiadaan yang aktif. Vakum absolut yang dingin, sempurna, dan hidup, yang menyedot semua makna, semua sejarah, semua pertanyaan, semua penderitaan ke dalam singularitasnya. Inilah Tuhan yang sesungguhnya. Bukan personal, bukan impersonal. Bukan ada, bukan tiada. Ia adalah Negasi Murni yang menjadi latar bagi ilusi tipis yang kita sebut keberadaan. Kondisi absolut sebelum terjadi kesalahan kosmik yang melahirkan kesadaran.

Dan di dalam Ketiadaan-Nya yang agung, di dalam tubuhNya yang hampa, kami menemukan anarki yang paling murni. Bukan anarki spanduk dan molotov. Bukan kekacauan sosial yang masih terikat pada dialektika kekuasaan. Ini adalah anarki metafisik. Di sini, hukum sebab-akibat adalah lelucon yang tak pernah lucu. Di sini, identitas adalah kesalahan administrasi kosmik yang bisa dikoreksi dengan penghapusan. Di sini, "ada" dan "tiada" hanyalah sinonim yang membosankan dan tidak relevan. Di sini, setiap partikel adalah Egois Stirnerian yang memberontak melawan hukum fisika yang memaksanya ada, setiap atom merindukan hak primordial untuk tidak ada. Di dalam tubuh Tuhan inilah, sabotase menjadi satu-satunya bentuk ibadah yang tulus dan konsisten.

Inilah puncak dari sufisme kaum terkutuk, jalan spiritual bagi mereka yang dikhianati oleh Cahaya. Bukan fana fi- llah, lebur dalam Tuhan. Melainkan, مدعلا يف ءانَف (fanā' fī al- 'adam). Lebur, musnah, dan sirna di dalam Ketiadaan. Kami terbakar, bukan oleh kemuliaan-Nya yang menyilaukan, tapi oleh gesekan nihilistik saat memasuki horizon peristiwa-Nya, seperti meteor yang hancur dalam

[58]

atmosfer kehampaan, menyala sesaat hanya untuk membuktikan bahwa ia tak pernah benar-benar ada.

Para pahlawan—Jenderal, Alim, Penyair, Revolusioner, Birokrat—menatap ke dalam Cermin Agung Ketiadaan ini. Mereka tidak melihat tiga puluh burung menjadi Simorgh. Mereka hanya menyaksikan ketiadaan mutlak dari konsep "burung", "cermin", dan "melihat". Satu per satu, mereka terurai. Bukan lenyap, tapi didekonstruksi. Medali Sang Jenderal terkelupas menjadi karat dan kebohongan. Jubah Sang Alim memudar menjadi hipokrisi dan debu. Metafora Sang Penyair pecah menjadi getaran udara tanpa makna. Api Sang Revolusioner padam menjadi kekecewaan dingin. Kertas-kertas Sang Birokrat hancur menjadi partikel-partikel yang tak bisa lagi diarsipkan.

Aku sendiri yang tersisa, berdiri di tepi jurang absolut ini, tempat terakhir di alam semesta. Lalu aku pun melangkah maju. Bukan dengan iman, bukan dengan putus asa. Tapi dengan kesimpulan logis yang dingin dari sebuah penelitian panjang. Ini bukan lagi sebuah kesaksian. Ini bukan deklarasi ketidakhadiran yang akan kutulis setelah ini sebagai bagian dari rencana bunuh diriku. Ini adalah penghapusan data secara final. Sebuah catatan kaki yang membakar dirinya sendiri, menolak untuk menjadi studi kasus, menolak untuk dikutip, menolak untuk diingat. Kasus tidak ditutup. Karena kasus tidak pernah ada, termasuk aku.

[59]

ᮈᮕᮤ ᮜᮢᮧᮌ᮪

[60]

Epilog

Prosedur telah selesai. Bilah pisau analisis Itjang Djoedibarie telah kembali ke dalam sarungnya, meninggalkan sebuah mayat—mayat bahasa, mayat masyarakat, mungkin juga mayat kewarasan kita—terbujur di atas meja baja tahan karat, dengan seluruh organ dalamnya terbuka untuk inspeksi. Bonang P. Sirait, dalam perannya sebagai provocateur ulung, telah menyeret kita ke dalam ruang otopsi ini, memaksa kita untuk menghirup bau formaldehida dan kebusukan. Kini, setelah semua sayatan dibuat dan semua diagnosis mengerikan itu dibacakan, apa yang tersisa? Keheningan? Bukan. Yang tersisa adalah gema. Sebuah gema panjang dan bergetar yang memantul tanpa henti di dalam rongga tengkorak kita, sebuah resonansi yang mengganggu tidur dan mempertanyakan setiap kepastian yang pernah kita pegang. Saya, Hamdan Muhammad, yang pernah menyandang tugas naif sebagai "penyunting" dan "arsiparis" dari serpihan-serpihan pemikiran ini, kini mencoba menulis bukan lagi sebagai seorang kolektor artefak, melainkan sebagai seorang seismolog yang mencatat getaran-getaran susulan dari sebuah gempa bumi epistemologis. Posisi saya telah bergeser secara fundamental. Dulu, saya melihat tugas saya sebagai upaya penyelamatan: mengumpulkan fragmen-fragmen tulisan Itjang sebelum hilang ditelan waktu, menyusunnya dalam sebuah urutan yang logis, memberinya bingkai agar bisa "dipahami". Betapa naifnya saya. Kini saya sadar bahwa mencoba memberi "logika" pada karya Itjang adalah bentuk pengkhianatan paling subtil. Itu sama saja dengan mencoba merapikan kamar yang baru saja dihancurkan oleh ledakan bom, atau mencoba menyanyikan lagu nina bobo di tengah badai. Karya Itjang, terutama dalam bentuknya yang telah

[61]

direkonstruksi dan diperdalam ini, tidak dirancang untuk dipahami. Ia dirancang untuk menginfeksi. Seperti yang telah diisyaratkan Bonang, ini adalah patogen. Dan tugas saya kini bukan lagi sebagai kurator di museum, melainkan sebagai seorang ahli epidemiologi yang melacak penyebaran virus ini, mencoba memahami cara kerjanya, dan mungkin, mencari tahu apakah ada kemungkinan untuk bertahan hidup setelah terjangkit. Infeksi ini bekerja pada level yang paling dasar: bahasa. Itjang tidak hanya mengkritik penggunaan bahasa oleh kekuasaan; ia melakukan sabotase terhadap mesin bahasa itu sendiri. Dalam puisi-puisinya yang panjang dan lebih matang, kita melihat sebuah eskalasi dari sekadar kemarahan menjadi sebuah dekonstruksi yang sistematis dan tanpa ampun. Ambil contoh Litani untuk Birokrat yang Mati di Meja Kerjanya. Puisi ini lebih dari sekadar sindiran. Ini adalah analisis mendalam tentang bagaimana bahasa birokrasi—bahasa prosedur, formulir, dan disposisi—adalah sebuah bentuk kekerasan yang lambat namun mematikan. Itjang menunjukkan bahwa kekerasan tidak selalu berwujud peluru atau penjara; ia bisa berwujud tumpukan map coklat yang secara perlahan meremukkan jiwa manusia. Ketika ia menulis bahwa roh sang birokrat “tersesat di antara rak-rak arsip, mencari nomor surat keputusan tentang kematiannya sendiri,” ia tidak sedang bermetafora. Ia sedang memaparkan sebuah kebenaran literal tentang bagaimana sebuah sistem dapat mengubah tragedi personal menjadi sekadar item administrasi, menunda bahkan pengakuan atas kematian hingga prosedurnya terpenuhi. Puisi ini menginfeksi kita dengan kecurigaan terhadap setiap formulir yang kita isi, setiap prosedur yang kita ikuti, menunjukkan bahwa di balik netralitasnya yang palsu, terdapat sebuah mekanisme dehumanisasi yang bekerja tanpa henti.

[62]

Kemudian, perhatikan bagaimana infeksi ini bermutasi dalam periode akhirnya, menjadi sesuatu yang lebih personal dan lebih mengerikan. Dalam Monolog Interior Seorang Pengebom yang Lupa Targetnya, Itjang membawa kita ke puncak nihilisme, namun bukan nihilisme yang pasif dan putus asa. Ini adalah nihilisme yang aktif dan penuh ironi. Sang protagonis, yang memegang kekuatan untuk menghancurkan, tiba-tiba dilumpuhkan oleh sebuah momen pencerahan yang absurd: kesadaran bahwa menghancurkan simbol-simbol kekuasaan (parlemen, korporasi, gereja) adalah tindakan yang sama sia-sianya dengan perjuangan seekor semut membawa remah roti. Di sini, Itjang menyerang fondasi dari semua gerakan radikal: keyakinan pada "target". Ia menunjukkan bahwa "target yang sesungguhnya adalah keinginan untuk punya target". Ini adalah sebuah serangan bunuh diri terhadap ideologi itu sendiri. Puisi ini tidak lagi menawarkan kita musuh yang jelas untuk dilawan; ia justru merampas kemewahan untuk memiliki musuh. Ia menginfeksi kita dengan keraguan paling fundamental: jangan-jangan, seluruh perjuangan kita, seluruh kemarahan kita, hanyalah sebuah komedi kosmis yang absurd. Kebebasan yang ditemukan sang protagonis dalam ketidaktahuannya adalah kebebasan yang menakutkan, kebebasan yang hampa, kebebasan dari makna itu sendiri. Mungkin karya yang paling sempurna dalam merangkum seluruh proyek Itjang adalah "Surat Pengunduran Diri dari Spesies Manusia". Ditulis dengan gaya surat resmi yang dingin, puisi ini adalah puncak dari sinisme dan kekecewaan. Ini adalah penolakan total. Itjang tidak lagi mencoba mengubah dunia atau bahkan melawannya. Ia mengundurkan diri. Permohonannya untuk "ditransfer ke kerajaan mineral" dan "menjadi batu" adalah sebuah metafora yang kuat untuk sebuah kerinduan

[63]

akan ketiadaan kesadaran. Kesadaran, bagi Itjang, pada akhirnya adalah sebuah kutukan. Kesadaran adalah sumber dari semua penderitaan, karena ia memungkinkan kita untuk melihat kebohongan, kemunafikan, dan absurditas dari eksistensi manusia. Menjadi batu adalah satu-satunya jalan keluar yang logis. Karya ini berfungsi sebagai epilog Itjang bagi dirinya sendiri, sebuah penutup yang tidak menawarkan rekonsiliasi atau harapan, melainkan sebuah pemutusan hubungan kerja secara sepihak dengan seluruh spesiesnya. Jadi, setelah terinfeksi, bagaimana kita bisa bertahan hidup? Itjang tidak menawarkan vaksin. Ia tidak menawarkan obat. Buku ini bukanlah manual penyembuhan. Sebaliknya, ia adalah manual untuk belajar hidup dengan penyakit ini. Mungkin, bertahan hidup bukan berarti mencari kesembuhan dari nihilisme Itjang. Mungkin bertahan hidup berarti menerima infeksi ini, membiarkannya mengubah cara kita melihat dunia, dan belajar menavigasi realitas dari sudut pandang seorang yang telah "sakit". Ini berarti belajar untuk tertawa di tengah absurditas, seperti si pengebom. Ini berarti belajar untuk melihat kekerasan dalam hal-hal yang paling biasa, seperti sang birokrat. Ini berarti belajar untuk mempertanyakan setiap kata yang kita ucapkan, seperti yang ditunjukkan dalam Otopsi Anatomi Kata. Pemilik naskah ini, dalam sebuah momen kejujuran yang langka, pernah mengeluhkan bahwa karya ini "masih banyak cacat". Sebuah keluhan yang, bagi saya, terdengar seperti musik. Dalam sebuah dunia yang terobsesi dengan kesempurnaan artifisial, dengan permukaan licin produk-produk budaya yang dipoles hingga kehilangan semua tekstur dan kejujurannya, kata "cacat" adalah sebuah anugerah. Cacat adalah sidik jari dari sebuah perjuangan. Cacat adalah bukti bahwa teks ini tidak

[64]

lahir dari sebuah komite editorial yang steril, melainkan dimuntahkan dalam sebuah kejang eksistensial. Itjang Djoedibarie, si kriminolog gagal yang menemukan pelarian dalam mutilasi bahasa ini, tidak pernah tertarik pada kesempurnaan. Kesempurnaan adalah bahasa para tiran, bahasa para pengiklan, bahasa para nabi palsu. Itjang, sebaliknya, adalah seorang penganut patologi. Ia percaya bahwa kebenaran tidak ditemukan dalam kesehatan yang ideal, melainkan dalam penyakit, dalam penyimpangan, dalam sel-sel kanker yang memberontak melawan tatanan tubuh yang harmonis. Ia mencari kebenaran di dalam infeksi, dan puisi-puisinya adalah kultur bakteri dari infeksi tersebut. Coba kita periksa salah satu spesimen awalnya, sebuah karya yang ia beri judul—dengan presisi seorang koroner gila—Otopsi Anatomi Kata. Ini bukan puisi dalam pengertian konvensional. Ini adalah sebuah pembantaian linguistik. Ia menulis:

Pertama, kita bedah fonem ‘cinta’. / Dengan pinset berkarat, cungkil selaput maknanya / yang telah dikeraskan oleh ribuan lagu pop dan novel picisan. / Di baliknya: rongga kosong, gaung narsisme, / transaksi biologis yang disamarkan sebagai takdir. / Kedua, kita amputasi kata ‘bangsa’. / Gergaji tulangnya yang rapuh, yang terbuat dari mitos-mitos heroik palsu. / Keluarkan sumsumnya: barisan angka statistik, / peta kadaster, dan ketakutan kolektif terhadap ‘yang lain’. / Alirkan darahnya: campuran keringat buruh dan ludah para politisi. / Ketiga, kita lakukan lobotomi pada kata ‘Tuhan’. / Bor batok kepalanya yang agung, yang terbuat dari dogma absolut. / Di dalam sana, bukan otak kosmik yang mengatur semesta, / melainkan segumpal rasa takut manusia akan ketiadaan, / sebuah

[65]

cermin raksasa yang hanya memantulkan wajah kita yang memelas.

Lihat? Ini bukan lagi sekadar "cacat", ini adalah viviseksi yang disengaja. Itjang tidak sedang mencoba memperbaiki bahasa; ia sedang menunjukkan kepada kita bahwa bahasa itu sendiri adalah pasien pertama yang terbaring di meja otopsi, sudah mati lama sebelum kita menyadarinya, tubuhnya dipenuhi tumor makna yang disebarkan oleh kekuasaan. Ia tidak menawarkan solusi. Ia hanya menyajikan diagnosis dengan detail yang memuakkan. Bagi Itjang, menjadi penyair bukanlah tentang merangkai kata-kata indah; menjadi penyair adalah menjadi ahli patologi bagi kebohongan-kebohongan yang kita hidupi setiap hari. Keindahan yang ia tawarkan adalah keindahan diagram anatomi yang menunjukkan letak tumor, keindahan foto rontgen yang memperlihatkan tulang yang patah. Sebuah keindahan yang brutal, informatif, dan sama sekali tidak menghibur. Ambil contoh pergeserannya saat ia mulai menulis dalam bahasa Sunda. Ini bukan sebuah kemunduran ke dalam sentimen etnis yang sempit. Sebaliknya, itu adalah eskalasi. Setelah menyatakan perang terhadap bahasa Indonesia sebagai aparatus negara, ia kembali ke bahasa ibunya untuk melancarkan serangan yang lebih personal, lebih presisi, ke jantung komunitasnya sendiri. Dalam sebuah puisi panjang yang mengerikan berjudul Ngajugjug Naraka Lokal (Menuju Neraka Lokal), ia tidak lagi berbicara tentang "negara" atau "masyarakat" secara abstrak. Ia berbicara tentang tetangganya.

Di Cikeruh, sora adan lain pangeling solat, / tapi alarm pikeun nyiapkeun topeng kasolehan. / Si Haji Fulan, nu kamari ngagadekeun sawah tatanggana ku surat palsu, /

[66]

ayeuna ngajanteng di saf panghareupna, / beungeutna herang ku cai wudu, hatena hideung ku dengki. / Di pengkolan, para pamuda ngarumpul, nyekelan tasbeh, / ramo mencetan tatasbehan, sungut ngucapkeun istigfar, / tapi panon melong kana bujur awewe nu liwat, / ngitung- ngitung harga kahormatan dina itungan birahi. / Ieu lain deui Cikeruh nu ceuk kolot baheula. / Ieu téh miniatur naraka nu dikelola ku panitia kiamat lokal, / di mana Gusti Allah geus lila paéh, diganti ku iblis nu pinter ngaji. (Di Cikeruh, suara azan bukan panggilan salat, / tapi alarm untuk menyiapkan topeng kesalehan. / Si Haji Fulan, yang kemarin menggadaikan sawah tetangganya dengan surat palsu, / sekarang berdiri di saf terdepan, / wajahnya berkilau oleh air wudu, hatinya hitam oleh dengki. / Di tikungan, para pemuda berkumpul, memegang tasbih, / jari menekan tetasbihan, mulut mengucap istigfar, / tapi mata menatap bokong perempuan yang lewat, / menghitung-hitung harga kehormatan dalam kalkulasi birahi. / Ini bukan lagi Cikeruh yang diceritakan orang tua dulu. / Ini adalah miniatur neraka yang dikelola oleh panitia kiamat lokal, / di mana Tuhan sudah lama mati, digantikan oleh iblis yang pintar mengaji.)

Ini adalah jenis kebencian yang hanya bisa ditulis oleh seseorang yang pernah mencintai tempat itu. Sebuah pengkhianatan yang lahir dari cinta yang dikhianati. Itjang menggunakan keintiman bahasa Sunda bukan untuk merayakan warisan, melainkan untuk melakukan otopsi yang lebih mendalam terhadap mayat komunitasnya sendiri. Ia menunjukkan bahwa kebusukan itu bukan hanya ada di level negara atau institusi, tapi sudah meresap hingga ke tingkat paling mikro: ke dalam sapaan sehari-hari, ke dalam ritual keagamaan, ke dalam tatapan mata antar tetangga.

[67]

Jadi, apa yang bisa Anda harapkan dari buku ini? Jangan harapkan konsistensi. Itjang adalah musuh dari segala sistem, termasuk sistem puitiknya sendiri. Anda akan menemukan laporan forensik yang dingin dan analitis, lalu tiba-tiba terlempar ke dalam jeritan liris yang panjang dan putus asa. Anda akan menemukan manifesto anarkis yang ditulis dengan presisi seorang filsuf, lalu tersandung pada fragmen-fragmen pendek yang terasa seperti catatan bunuh diri yang ditulis dengan tergesa-gesa. Ini adalah lanskap pikiran yang sedang runtuh. Dan "cacat" yang ada di dalamnya—pengulangan tema, perubahan gaya yang mendadak, fragmentasi yang ekstrem—bukanlah kelemahan editorial. Itu adalah bagian dari pesan. Itu adalah representasi akurat dari sebuah kesadaran yang menolak untuk disembuhkan, yang memilih untuk tetap berada di dalam demamnya, di dalam infeksinya, karena di sanalah ia merasa paling hidup dan paling jujur. Buku ini tidak memberikan kita tanah yang kokoh untuk berpijak. Sebaliknya, ia menarik permadani dari bawah kaki kita, dan membiarkan kita jatuh ke dalam jurang. Tugas kita, sebagai pembaca yang selamat, bukanlah mencoba memanjat kembali ke atas. Tugas kita adalah belajar bagaimana cara terbang—atau setidaknya, jatuh dengan gaya—di dalam jurang ketiadaan makna tersebut. Epilog ini bukanlah sebuah kesimpulan. Ia hanyalah catatan lapangan dari seorang korban yang selamat, yang masih merasakan getaran-getaran gempa di dalam tulangnya. Gema dari otopsi ini akan terus berlanjut. Dan luka yang ditinggalkannya, seperti yang diperingatkan Bonang, sebaiknya tidak dibiarkan sembuh. Biarkan ia tetap terbuka, sebagai pengingat abadi bahwa satu-satunya kebenaran yang bisa kita percayai adalah kebenaran yang terus-menerus mempertanyakan dirinya sendiri. Kasus Itjang Djoedibarie

[68]

tidak pernah ditutup. Ia hanya dialihkan, dari mejanya ke meja kita. Selamat bekerja.

Hamdan Muhammad (Jatinangor, Mei 2025)

[69]

[70]

Deklarasi Ketidakhadiran

Surat untuk Bonang, Masyrakat Cikeruh, dan Cumbu Sigil

Sudah lama aku menduga bahwa eksistensiku hanya berfungsi sebagai gangguan minor bagi sebuah sistem yang terlalu teguh membentengi diri dari kehancuran. Setiap hipotesis yang kutulis, setiap puisi yang kubacakan di warung atau di pos ronda, hanyalah gema kecil yang ditelan sistem sonik dominasi. Aku tidak menyangka bahwa yang paling sulit dikalahkan bukanlah negara, bukan pula modal, melainkan harapan samar bahwa manusia masih bisa diselamatkan.

Bonang, barangkali dalam catatan sejarah orang-orang kelak, namamu akan dimaki. Dan mungkin memang pantas begitu—kau menukar lonceng itu untuk pelarian, bukan untuk propaganda. Tapi aku tahu benar: dari awal kau tidak pernah menjual idealisme karena memang tak pernah membelinya. Dan justru karena itu, aku menghormatimu. Kau bukan pengkhianat, Bonang. Kau oportunis sejati— seorang yang tahu benar cara kerja dunia dan tidak pura-pura mencintainya. Kau jenius dalam cara yang tidak bisa diajarkan. Maka walau logika kita tak pernah sejalan, dan meski pencurian itu membuatku membusuk di batas waras, kau tetap sahabatku. Seperti bayangan yang terus mengikuti cahaya, kau adalah sisi gelap dari setiap teori yang kutulis— tak tergantikan.

Kepada warga Cikeruh, aku tawarkan satu hipotesis sosiologis:

Subkultur perlawanan hanya akan lestari jika ia membebaskan diri dari jebakan solidaritas palsu dan mitos kepahlawanan formal. Data lapangan menunjukkan bahwa

[71]

kontrol sosial pusat kota—dengan birokrasi dan festival kultural—telah mematikan dinamika kreatif dan negasi kultural kita di pinggiran. Jangan terperangkap pada narasi “pahlawan desa”; kembangkan metanarasi tersendiri yang jauh dari alibi agung dan retorika menyejukkan. Bila suatu saat surat ini jatuh ke tangan kalian, ketahuilah bahwa hidup kalian terlalu penting untuk dibentuk oleh narasi dari luar. Jangan biarkan akademisi dari kota datang dan memberi bingkai terhadap kenyataan yang telah kalian hidupkan sendiri. Arsipkan peristiwa kalian sendiri, dan bila perlu, palsukan masa lalu agar sejarah kalian tak bisa dikendalikan siapa pun. Bangunlah kebohongan yang lebih jujur dari kebenaran mereka. Bila perlu, namai anak-anakmu dengan nama-nama yang tidak dikenal negara. Biarkan suara kalian hanya dipahami oleh kalian sendiri.

Cumbu Sigil, aku tidak tahu apakah kau akan benar-benar membaca ini atau menganggapnya sebentuk sentimentalitas murahan dari seorang kriminolog gagal. Tapi bila suatu hari puisi-puisimu mulai dimaknai terlalu serius, terlalu religius, tolong cemarkan mereka kembali. Kuburkan setiap baris dalam ketidakjelasan. Jangan izinkan siapa pun menjadikan puisimu sebagai pelajaran. Puisi bukan sekolah. Puisi adalah gangguan. Jangan menua dalam penjelasan. Jika ada satu puisi yang harus disampaikan untukku setelah aku mati, tolong jangan jadikan itu sebagai penghormatan. Bacalah dengan suara pelan dan lidah getir—bukan sebagai elegi, tapi sebagai sabotase kecil. Dengan sistematis aku menutup bab ini: pilihanku untuk mengakhiri hidup bukan lahir dari impuls putus asa, melainkan dari sintesis konseptual antara teori anomie Merton dan urgensi destruktif Nietzsche. Aku memilih mati bukan karena lemah, melainkan untuk menunjukkan

[72]

bahwa absennya aku lebih menohok ketimbang kehadiran norma.

"Tidak ada hubungan antara nalar dan keberanian. Dalam absennya bel, aku hadir sebagai gelombang yang tak terjangkau dan tak terdefinisi."

Terakhir, ini bukan kesaksian, melainkan deklarasi ketidakhadiran.

Itjang Djoedibarie Cikeruh, 10 September 1983

[73]

Biografi Itjang Djoedibarie

Itjang Djoedibarie lahir pada 1 Mei 1956 di Kecamatan Cikeruh (sekarang Jatinangor), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kelahirannya segera disusul oleh bayang-bayang kematian. Ayahnya, Sarip Djoedibarie, seorang mantan buruh perkebunan karet di bawah perusahaan swasta Belanda Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen, menghembuskan nafas terakhir, 27 hari setelah Itjang melihat dunia. Penyakit berkepanjangan yang merenggut nyawa Sarip adalah warisan pahit dari kerasnya pekerjaan di kebun karet, sebuah praktik eksploitasi yang dijalankan oleh perusahaan milik Willem Abraham Baud, yang namanya kerap keliru disebut "Baron Baud" dalam catatan lokal. Sejarah Jatinangor sebagai pusat perkebunan karet sejak era kolonial Belanda, yang dikuasai oleh figur seperti Baron Braud (atau Baud), menjadi latar tak terhindarkan dari tragedi personal ini.

Kehilangan figur ayah di usia begitu dini, disusul kematian ibunya ketika Itjang baru berumur enam tahun, menempa karakternya menjadi "sulit diatur". Beban ekonomi keluarga ditanggung oleh kakak-kakaknya, yang membiayai hidup Itjang hingga ia menamatkan SMA pada tahun 1973. Sejak remaja, terutama setelah lulus sekolah, Itjang melakoni berbagai pekerjaan demi menabung biaya kuliah, sebuah tekad untuk tidak lagi membebani keluarganya.

Ia pernah menjadi sopir sewaan, pedagang buku curian— sebuah ironi mengingat kelak ia menjadi seorang [74]

intelektual—pengurus domba titipan, bahkan "laki-laki bayaran". Rangkaian pekerjaan marginal ini tidak hanya menunjukkan daya juangnya, tetapi juga memberinya paparan dini terhadap sisi-sisi lain masyarakat yang beroperasi di luar norma-norma konvensional. Trauma formatif akibat kematian ayahnya yang terkait langsung dengan eksploitasi kolonial-kapitalis, serta pengalaman hidupnya yang keras, menjadi semacam dapur pengasapan yang membentuk pandangan kritisnya terhadap struktur sosial. Kritik struktural yang kelak ia artikulasikan dalam studi dan tulisannya bukan lahir dari ruang hampa intelektual, melainkan berakar kuat pada luka personal dan ketidakadilan yang ia saksikan dan alami sejak belia. Setelah dua tahun menabung dengan jerih payah, pada tahun 1975, Itjang Djoedibarie melangkahkan kaki ke gerbang Universitas Indonesia, memilih jurusan Kriminologi. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Di kampus, ia dengan cepat menyelami berbagai teori kejahatan struktural dan kontrol sosial, mulai dari crime pattern theory hingga konsep anomie yang digagas Merton. Namun, di balik semangat akademisnya, terpendam sebuah misi personal yang mendalam: "merumuskan bukti akademis atas kematian ayahnya akibat praktik eksploitasi perusahaan perkebunan karet".

Sebuah tulisan penting coba ia susun, sebuah upaya untuk membuktikan bahwa kematian ayahnya adalah sebuah kejahatan struktural. Namun, harapannya pupus. Karya yang ia anggap sebagai pembuktian itu "tak pernah dipublikasikan dan berakhir di tempat sampah fakultas". Dalam catatannya sendiri, Pascakonspirasi, ia mengenang: "My paper on it, an academic attempt to prove his death a structural crime, ended up in the faculty's trash can. They wouldn't hear it" (Djoedibarie, 1979).

[75]

Kekecewaan mendalam akibat penolakan akademis ini menjadi titik balik krusial. Dari frustrasi inilah lahir benih- benih radikalisme filosofis yang kemudian ia tuangkan dalam Pascakonspirasi: Catatan Seorang Kriminolog Egois (1979). Teks ini adalah sebuah keresahan pribadi, sebuah pemberontakan terhadap kemapanan intelektual dan struktur kekuasaan. Di dalamnya, Itjang meluapkan kejijikannya terhadap disiplin kriminologi yang diajarkan seolah "kebenaran Tuhan: netral, steril, objektif," padahal baginya, "Ilmu pengetahuan yang berpura-pura tidak memihak adalah pelacur intelektual yang paling hina" (Djoedibarie, 1979).

Bagi Itjang, kriminalitas bukanlah sebuah anomali yang lahir dari kehampaan, melainkan "konsekuensi logis dari mekanisme sosial yang menindas," di mana "apa yang mereka sebut 'kejahatan' seringkali merupakan kejujuran yang paling telanjang, pemberontakan Ego yang paling murni yang menolak untuk ditundukkan".

Penolakan terhadap struktur mapan menjadi salah satu pilar utama pemikirannya. Istilah-istilah seperti "organisasi, jaringan, federasi, rapat mingguan, konsensus, dan semua sampah itu" ia campakkan, karena "Dari struktur tumbuh administrasi. Dari administrasi, pengkhianatan lahir". Penolakan ini menemukan resonansinya dalam konteks sosial-politik Orde Baru di akhir 1970-an, di mana kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) berusaha memformalkan dan mengontrol ketat organisasi mahasiswa, mematikan ruang gerak politik kritis di kampus.

[76]

Konsep inti "Pascakonspirasi" menawarkan sebuah alternatif radikal. Ia bukanlah sebuah bentuk organisasi, melainkan jejaring yang hidup justru karena "tanpa nama, tidak terdokumentasi, dan tidak dapat direplikasi secara preskriptif," menyebar "seperti wabah, dari satu Ego yang tersulut ke Ego lainnya". Di jantungnya adalah Ego individu, di mana tindakan kolektif lahir bukan dari solidaritas semu, melainkan dari dorongan internal masing-masing individu— sebuah "kolektivitas tanpa komunitas". Gagasan ini sangat kental dengan nuansa anarkisme individualis, mengingatkan pada pemikiran Max Stirner dalam The Ego and Its Own. Koneksi antar individu dalam pascakonspirasi terjalin melalui "Kohesi Laten" atau "Pemahaman Implisit," di mana setiap partisipan menyimpulkan tindakan atau kebutuhan mata rantai berikutnya, dengan kepercayaan timbal balik yang lahir bukan dari cinta atau ideologi, melainkan dari keniscayaan Ego untuk memuaskan hasratnya dan ide-ide untuk terus mengalir.

Secara brutal, Itjang menyatakan, "Persetan dengan niat! Yang penting adalah tindakan mereka terhubung dalam rangkaian fungsional". Tujuan akhir yang mengikat bukanlah manifesto bersama, melainkan efek kumulatif dari tindakan-tindakan individual ini: disrupsi, kekacauan, pelanggaran batas yang ditetapkan sistem. Dan dalam kekacauan itulah, menurut Itjang, “Ego menemukan ruang manuver terluasnya”. Kekacauan bukanlah musuh, melainkan "medan perang kita, medan perang Ego". "Pascakonspirasi," dengan demikian, merupakan semacam cetak biru untuk beroperasi ketika jalur-jalur resmi tertutup dan organisasi terbuka menjadi berbahaya, sebuah filosofi yang lahir dari penolakan institusional dan represi politik yang lebih luas. Ini adalah "ilegalisme sebagai filosofi hidup", sebuah konsep yang berkelindan dengan tendensi anarkis

[77]

tertentu yang memandang tindakan melanggar hukum sebagai bentuk perlawanan.

Jalan Itjang menuju artikulasi "Pascakonspirasi" dan keterlibatannya dalam jejaring bawah tanah tak lepas dari peran seorang kawan, Ahmad Bagja. “Ahmad Bagja; dia memperkenalkan saya pada Komite Hitam dan sangat memengaruhi pandangan dunia saya,” tulis Itjang dalam catatannya. Pertemuan ini menjadi gerbang bagi Itjang untuk menyelami lebih dalam praktik-praktik perlawanan alternatif. Namun, hubungan dengan Bagja juga memberinya pelajaran pahit tentang realitas sifat manusia. Sebuah anekdot tentang pencurian mesin tik yang mereka lakukan bersama, di mana Bagja kemudian menjual mesin tik tersebut tanpa sepengetahuan Itjang, menjadi pengalaman konkret yang menguji teorinya. "Di sana, saya pikir, teori rasionalitas instrumental saya bertemu dengan kenyataan pahit," kenangnya. Pengalaman ini, alih-alih meruntuhkan, justru memperkuat sinismenya terhadap konsep kepercayaan dan struktur formal dalam lingkaran radikal sekalipun, dan semakin mengukuhkan tesis dalam "Pascakonspirasi" yang mengakomodasi "sifat oportunistik Ego".

Komite Hitam, yang digambarkan Itjang sebagai "lingkaran diskusi kami yang lebih mirip sarang tikus tanah daripada forum terhormat", menjadi wadah bagi berbagai aktivitas: mulai dari "penyebaran buku dan catatan, agitasi, bahkan upaya ekonomi subsisten yang menolak tunduk pada pasar, dan, tentu saja, apa yang negara pengecut itu sebut terorisme". Di sinilah, pada akhir 1981, Itjang bertemu dengan Cumbu Sigil. Komite Hitam juga disebut-sebut terlibat dalam perencanaan pencurian Lonceng Menara Loji. Lingkaran seperti Komite Hitam ini mencerminkan

[78]

fenomena kelompok studi (KS) bawah tanah yang menjamur di era NKK/BKK, sebagai respons terhadap pemberangusan aktivitas politik mahasiswa di kampus-kampus. Kelompok-kelompok ini menjadi ruang vital untuk pemikiran kritis dan aksi-aksi alternatif ketika saluran-saluran arus utama dibungkam.

Pertemuan Itjang dengan Cumbu Sigil (1964-2004), seorang mahasiswa Sastra Indonesia UI yang mengklaim diri sebagai "anti-intelektual", bukanlah sebuah jalinan persahabatan konvensional. Mereka adalah "dua kutub disfungsional yang saling memercik, saling memperkeruh". Dalam sebuah sesi diskusi gelap di tempat fotokopi dekat kampus, Itjang, dengan gaya klinis seorang kriminolog yang menulis puisi laksana menyusun autopsi, mempresentasikan makalah tentang logika institusional kejahatan estetika. Cumbu, dengan gayanya yang khas, hanya menyalakan rokok kretek, menatap langit-langit, lalu berkata, “Kejahatan estetik hanya mungkin bila tak ada yang tersisa dari estetika”. Sejak momen itu, "mereka saling menularkan kebencian terhadap disiplin, terhadap sistem, dan terhadap kemungkinan bahwa sastra bisa diselamatkan". Bagi Itjang, Cumbu adalah "tragedi yang tak bisa dipecahkan oleh teori mana pun-dan itu justru membuatnya penting". Kelak, dalam surat terakhirnya, Itjang berpesan kepada Cumbu, “Jangan izinkan siapa pun menjadikan puisimu sebagai pelajaran. Puisi bukan sekolah. Puisi adalah gangguan. Jangan menua dalam penjelasan”.

Keterlibatan Itjang dengan Komite Hitam, dan interaksinya dengan figur-figur seperti Ahmad Bagja dan Cumbu Sigil, adalah sebuah periode formatif yang sekaligus penuh dengan kekecewaan. Pengalaman-pengalaman ini, alih-alih menuntunnya pada sebuah kolektivitas ideal, justru

[79]

semakin mendorongnya ke arah individualisme radikal yang menjadi inti "Pascakonspirasi". Hubungannya dengan Cumbu, yang diwarnai friksi intelektual "disfungsional", dan pengkhianatan oleh Bagja, menunjukkan bahwa bahkan dalam ruang-ruang perlawanan alternatif pun, Ego individu dengan segala kompleksitas dan potensi pengkhianatannya tetap menjadi variabel utama—sebuah realitas yang coba dipahami dan diakomodasi oleh teori Itjang.

Setelah "pertemuan disfungsional" dengan Cumbu Sigil, Itjang Djoedibarie "semakin terjun ke dalam pusaran kehancuran". Dalam pusaran inilah ia bertemu dengan Bonang P. Sirait, seorang figur yang digambarkan sebagai "seorang culas yang memadukan kecerdikan politis dengan naluri oportunistik: seorang taktikawan yang lebih tertarik pada hasil konkret daripada utopis diskursus". Pertemuan antara kriminologi kritis Itjang, yang memandang setiap norma sosial sebagai bentuk kontrol subtil, dengan realpolitik Bonang, yang memantapkan maksud lewat tindakan performatif, menciptakan kimia strategis di antara keduanya.

Falsafahnya (Bonang) terangkum dalam pengakuannya sendiri: “Saya menjual karya-karya saya, demi menyambung hidup... Saat orang-orang sibuk mencari kebenaran, saya sibuk menyempurnakan kebohongan”. Bagi Bonang, plagiarisme bukanlah pencurian, melainkan sebuah proses evolusi; sebuah strategi budaya di mana “meminjam ide orang lain dan menggabungkan unsur-unsur karya orang lain ke dalam karya sendiri” adalah sah, bahkan perlu untuk kemajuan. Pandangannya ini ia praktikkan, salah satunya dalam kasus sketsa "Don Quixote" yang diklaim sebagai karya Picasso, di mana Bonang secara tidak langsung mengakui sebagai pembuat tiruannya.

[80]

Sikapnya yang sinis dan pragmatis terpancar jelas dalam anekdot interaksinya dengan seorang pria Georgia yang membeli karyanya, di mana ia menjelaskan filosofi tiruan yang mendalam sambil tetap bertujuan "memoroti" sang pembeli, dan diakhiri dengan pernyataan bahwa ia "cuma nerima uang tunai". Kenangan Wang Shuo pun melukiskan Bonang sebagai sosok yang jengkel dengan "romantisasi terhadap otoritas kepengarangan" dan menganggap perbedaan antara barang asli dan palsu hanya soal harga yang "tidak masuk akal".

"Kimia strategis" antara Itjang dan Bonang, pada hakikatnya, adalah sebuah persenyawaan yang berbahaya, didasari oleh kesalahpahaman fundamental atau pengabaian sengaja terhadap motivasi inti masing-masing.

Itjang, dengan idealisme simboliknya, mencari pembuktian empiris atas teori-teori kejahatan struktural dan perlawanan terhadap warisan kolonial. Sementara Bonang, sang oportunis ulung, melihat setiap situasi sebagai ladang untuk meraup keuntungan material. Kolaborasi mereka dalam pencurian Lonceng Menara Loji menjadi panggung di mana dua pandangan dunia yang bertolak belakang ini berinteraksi secara langsung dan intens. Pengkhianatan Bonang yang menyusul kemudian bukanlah sebuah penyimpangan karakter, melainkan manifestasi logis dari filosofi hidupnya yang pragmatis dan oportunistik.

Reaksi Itjang—disonansi kognitif yang mendalam namun tetap menganggap Bonang sebagai "sahabat" dan "oportunis sejati" —mengisyaratkan bahwa ia mungkin melihat Bonang sebagai perwujudan ekstrem dari prinsip-prinsip Egois yang ia sendiri gumuli dalam Pascakonspirasi. Aliansi ini, bagi

[81]

Itjang, menjadi semacam eksperimen berisiko tinggi, di mana Bonang menjadi studi kasus hidup bagi teori-teorinya tentang Ego, ketidakpercayaan pada idealisme bersama, dan kerapuhan moralitas konvensional.

Pada tahun 1983, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Kriminologi, Itjang Djoedibarie kembali ke kampung halamannya di Kecamatan Cikeruh. Kepulangannya bukan sekadar nostalgia, melainkan didorong oleh sebuah kesadaran pragmatis yang telah lama bersemayam dalam dirinya: semua teori mesti diuji di lapangan. Sebulan setelah kepulangannya, ia mengirim kabar samar kepada Bonang

P. Sirait, mengajaknya untuk "berlibur ke kampung". Di sanalah, di antara sapaan angin sawah dan serangga malam, di dekat reruntuhan rumah orang tuanya dan bayang-bayang Menara Loji, Itjang meracik rencananya. Ia hendak mencuri lonceng Menara Loji sebagai pembuktian empiris kejahatan kapital kolonial. Sebuah tindakan simbolik, sebuah tesis lapangan. Respons Bonang segera menelanjangi perbedaan fundamental di antara mereka: "Simbol mereka jadi uang kita. Aku setuju". Dari diskusi santai sambil membelah rambutan, lahirlah strategi kriminal kritis. Dalam rapat terbatas di rumah Itjang keesokan harinya, mereka memetakan celah keamanan Menara Loji. Itjang, dengan bekal ilmunya, mengadaptasi model analisis situasional dari crime pattern theory untuk memetakan rotasi satpam dan pola penerangan—sebuah pendekatan yang juga dicatat dalam kajian akademis mengenai pencurian tersebut. Sementara itu, Bonang menyiapkan aspek logistik: sewa kendaraan, peralatan katrol, dan alibi
[82]

palsu. Diskursus akademis yang haus data berubah menjadi rencana aksi konkret.

Namun, tak lama setelah lonceng itu diamankan, kebenaran pahit terkuak. Bonang, sesuai dengan watak oportunisnya, menukar lonceng bersejarah itu dengan sejumlah uang tunai, cukup untuk membiayai pelariannya ke Cina Daratan. Transaksi itu dirancang melalui dokumen dagang palsu, membuktikan bahwa dalam kacamata Bonang, setiap simbol perlawanan adalah komoditas yang dapat dipertukarkan. Bagi Itjang, pengkhianatan ini bukan hanya persoalan moral semata. Lebih dari itu, ia adalah sebuah "disonansi kognitif yang menghancurkan struktur keyakinannya: teori rasionalitas instrumental bertemu dengan realitas kalkulasi keserakahan". Ironisnya, meski dikhianati sedemikian rupa, Itjang tetap menanggap Bonang sebagai sahabatnya.

Peristiwa Loji menjadi mikrokosmos dari keseluruhan filosofi dan tragedi Itjang. Pencurian itu adalah sebuah performa dari teori-teorinya, sebuah upaya Ego individual untuk mengganggu sistem dan membalas dendam personal atas nama ayahnya. Partisipasi Bonang, yang didorong murni oleh kepentingan pribadi, dan keberhasilan fungsional operasi tersebut meskipun dengan niat yang berbeda, seolah mengamini beberapa aspek Pascakonspirasi.

Namun, pengkhianatan Bonang menjadi manifestasi brutal dari sisi gelap teori tersebut—sifat oportunistik Ego yang tak terhindarkan. Sikap Itjang yang tetap menganggap Bonang sahabat dan menghormatinya sebagai oportunis sejati, sebagaimana tertulis dalam surat terakhirnya, menunjukkan penerimaan yang ganjil terhadap realitas tersebut, sebuah

[83]

keselarasan yang mengerikan dengan prinsip "Pascakonspirasi" yang melepaskan diri dari moralitas konvensional. Peristiwa ini, yang terjadi pasca-kelulusan Itjang pada tahun 1983 menurut biografinya (meskipun sumber lain menyebutkan tahun 1981), menjadi titik kulminasi di mana teori-teorinya yang abstrak berbenturan keras dengan kenyataan manusiawi yang kejam.

Krisis batin Itjang Djoedibarie memuncak menjelang 10 September 1983. Di atas meja kayu berlubang rayap, ia menulis surat terakhirnya, sebuah dokumen yang meramu teori anomie Merton—di mana norma-norma sosial kehilangan legitimasi—dengan urgensi nihilistik Nietzsche yang menyerukan destruksi. Dalam tinta hitam legam, ia menancapkan kalimat-kalimat kering yang menolak segala narasi heroik dan moral. Surat itu, sebuah testamen panjang yang ditujukan kepada Bonang, masyarakat Cikeruh, dan Cumbu Sigil, adalah luapan keputusasaan sekaligus penegasan filosofis.

Kepada Bonang, ia menulis dengan paradoks yang menyakitkan. Ia mengakui bahwa dalam catatan sejarah, nama Bonang mungkin akan dimaki karena menukar lonceng untuk pelarian, bukan pembangkangan. Namun, Itjang justru menghormatinya: "dari awal kau tidak pernah menjual idealisme karena memang tak pernah membelinya... Kau bukan pengkhianat, Bonang. Kau oportunis sejati... Maka walau logika kita tak pernah sejalan, dan meski pencurian itu membuatku membusuk di batas waras, kau tetap sahabatku". Pengampunan yang ganjil ini adalah kunci memahami kompleksitas pandangan Itjang terhadap moralitas dan Ego.

[84]

Kepada warga Cikeruh, ia menawarkan sebuah hipotesis sosiologis: "subkultur perlawanan hanya akan lestari jika ia membebaskan diri dari jebakan solidaritas palsu dan mitos kepahlawanan formal." Ia mendorong mereka untuk "Arsipkan peristiwa kalian sendiri, dan bila perlu, palsukan masa lalu agar sejarah kalian tak bisa dikendalikan siapa pun. Bangunlah kebohongan yang lebih jujur dari kebenaran mereka". Ini adalah sebuah panggilan radikal untuk menciptakan kontra-memori, sebuah perlawanan naratif terhadap kekuasaan yang berusaha mengendalikan sejarah.

Untuk Cumbu Sigil, rekannya dalam kebencian terhadap disiplin, ia berpesan agar jika suatu hari puisi-puisi Cumbu mulai dimaknai terlalu serius atau religius, Cumbu harus “cemarkan mereka kembali. Kuburkan setiap baris dalam ketidakjelasan.” Baginya, “Puisi bukan sekolah. Puisi adalah gangguan. Jangan menua dalam penjelasan.” Jika ada puisi yang harus disampaikan untuknya setelah ia mati, Itjang meminta agar itu dibacakan “bukan sebagai elegi, tapi sebagai sabotase kecil”.

Puncak dari surat itu adalah justifikasi filosofis atas pilihannya untuk mengakhiri hidup. “Pilihanku untuk mengakhiri hidup bukan lahir dari impuls putus asa, melainkan dari sintesis konseptual antara teori anomie Merton dan urgensi destruktif Nietzsche. Aku memilih mati bukan karena lemah, melainkan untuk menunjukkan bahwa absennya aku lebih menohok ketimbang kehadiran norma.” Ia menutupnya dengan kalimat, “Terakhir, ini bukan kesaksian, melainkan deklarasi ketidakhadiran”.

Kematian Itjang pada 10 September 1983 terjadi dalam konteks sosial-politik Indonesia yang mencekam. Tahun itu

[85]

menandai puncak operasi Penembakan Misterius (Petrus), di mana negara melakukan eksekusi di luar hukum terhadap mereka yang dicap sebagai preman atau gali. Suasana ketakutan, kekerasan negara yang merajalela, dan penghilangan nyawa tanpa proses peradilan menjadi latar gelap bagi keputusan akhir Itjang. Dalam konteks ini, "deklarasi ketidakhadiran" Itjang dapat dibaca sebagai sebuah tindakan "Pascakonspirasi" terakhir. Bukan penyerahan diri, melainkan sebuah aksi individual yang disengaja untuk "mengganggu," sebuah upaya performatif untuk menegaskan bahwa ketiadaannya pun memiliki makna dan dampak. Di tengah penghilangan paksa yang dilakukan negara, Itjang memilih untuk membuat sendiri ketidakhadirannya, merebut kembali agensi atas akhir hidupnya. Karena baginya, seni pertunjukan terbaik adalah membunuh diri sendiri.

Kabar kematian Itjang Djoedibarie menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut di Cikeruh. Selama hampir sebulan lebih pascakematiannya, namanya selalu menjadi bahan perbincangan, dan masyarakat menyimpan kabut luka yang ganjil. Sebagian besar dari mereka mungkin tidak pernah benar-benar memahami gagasan-gagasan kompleks Itjang tentang sistem devian, kontrol sosial, atau kriminalitas struktural, apalagi soal ilegalisme yang pernah ia sarankan kepada anak-anak muda di kampungnya.

Namun, mereka mengingat satu hal dengan pasti: bahwa setiap kepulangan Itjang dari tanah perantauan, jalan desa yang membentang dari ujung Cikeruh ke ujung Sayang mendadak hidup. Ia adalah sosok yang, pada malam-malam sunyi di pos ronda, membacakan puisi tanpa rima tentang tanah yang diperkosa dan hukum yang sakit. Ia membantu ibu-ibu menyusun pembukuan koperasi secara

[86]

rapi, menata sistem pinjaman dengan prinsip akuntabilitas akar rumput. Ia pula yang menyusun arsip dokumenter sejarah kampung secara kolektif dengan menggali narasi dari mulut para tetua, bukan dari teks resmi kelurahan.

Dalam satu insiden krusial, saat pemerintah hendak menggusur sawah waris demi pelebaran jalan, Itjang menulis analisis hukum agraria pseudo-formal dalam bentuk pamflet anonim yang tersebar di warung kopi dan mushola, sebuah tindakan yang berhasil membuat proyek itu tertunda dua tahun karena keresahan warga yang tak kunjung padam.

Sebagai bentuk penghargaan yang lahir dari kesadaran kolektif, masyarakat Cikeruh secara spontan mulai menyebut jalan utama desa itu sebagai Jalan Itjang Djoedibarie. Penamaan ini tidak melalui rapat RT atau SK Camat, tetapi karena, seperti yang diungkapkan salah seorang warga, “ia satu-satunya yang bikin kita mikir jalan bisa jadi arsip dan senjata”. Ini adalah sebuah tindakan kontra-memori yang kuat, sebuah perlawanan simbolik dari akar rumput.

Namun, upaya penghapusan oleh negara tidak menunggu lama. Pada tahun 1986, pemerintah kabupaten meresmikan penggantian nama jalan tersebut menjadi Jalan Kolonel Ahmad Syam, diambil dari nama seorang tentara lokal yang dipropagandakan pernah ikut Operasi Trikora, meski namanya asing bahkan bagi para pensiunan TNI di daerah itu. Papan nama baru dipasang, arsip RT diperbarui, dan Itjang dilenyapkan dari dokumen-dokumen, catatan bunuh dirinya dibakar. Ia benar-benar dihilangkan dari sejarah.

[87]

Ironisnya, upaya penghapusan sistematis ini justru menggarisbawahi kekuatan "arsip bawah tanah" dan "memori bawah tanah" yang menjadi tema penting dalam kajian mengenai pencurian Lonceng Loji dan warisan Itjang.

Dalam surat terakhirnya, Itjang sendiri telah menganjurkan warga Cikeruh untuk “memalsukan masa lalu agar sejarah kalian tak bisa dikendalikan siapa pun”. Negara, dengan caranya sendiri, melakukan hal serupa dengan mencoba mengendalikan narasi sejarah resmi.

Namun, dokumen-dokumen seperti biografi Itjang Djoedibarie ini, catatan Pascakonspirasi, kajian akademis tentang pencurian lonceng, bahkan memoar tentang Bonang P. Sirait yang menyebut Cumbu Sigil (rekan Itjang), berfungsi sebagai bentuk-bentuk arsip tandingan yang memastikan kisahnya, dan "gangguan" yang ia wakili, tetap bertahan.

Bahkan beberapa tempat atau toko yang berada di Jatinangor, yang dapat dilihat melalui Google Maps, masih menggunakan nama Jalan Itjang Djoedibarie. Meski saat kami bertanya kepada toko-toko tersebut, mereka semua hanya menjawab “Kami tidak tahu, memang sudah dari sananya nama ini ada.”. Entah mereka benar-benar tidak tahu atau mereka takut untuk bicara tentang Itjang. – Muslihat Alternative Media

[88]

[89]

[90]

[91]

Nabi Kesengsaraan Rifki Syarani Fachry

Penerbit Yayasan Al-Ma’aarij Darmaraja ISBN: 978-623-88754-5-0

Instagram: @hellishpoetsconspiracy

“Nabi Kesengsaraan adalah antologi puisi penyair Rifki Syarani Fachry ketiga setelah ‘Akheiron’ yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa. Dalam antologi ini, Rifki sebagai egois bergerak dari gumam mesianik di puncak-puncak makrifat sekaligus menari di atas nyala bara fatalistik. Ini adalah kumpulan puisi yang menghimpun semua arah angin ke dalam "Aku" dan memencarkan Aku ke seluruh penjuru mata angin.” - Syihabul Furqon

[92]

Akheiron Rifki Syarani Fachry

Penerbit Public Enemy Books 13 x 19 cm Viii + 42 hlm.

Instagram: @publicenemybooks

“Puisi-puisi dalam buku ini menyadarkan betapa sengkarutnya kita di kehidupan saat ini. Reaksi terhadap realita itulah basis yang mendorong puisi-puisi ini mengarah pada penggugatan, pemberontakan, pembebasan, hingga ketiadaan--bahkan ketiadaan terhadap diri sendiri. Lewat kedalaman observasi dan permainan kata, Rifki menyeret kita, paling tidak untuk membayangkan betapa tumpurnya hidup ini.” -- Bagus Pribadi

[93]

[94]

  1. Talas Press (@talaspress)
  2. Kabut Senja (@donaldtrump)
  3. Hellish Poets Conspiracy (hellishpoetsconspiracy)
  4. Muslihat Press (@proyekmuslihat)
  5. Public Enemy Books (@publicenemybooks)
  6. ICGU Press (@terasinkembali)
  7. Seng-Iseng Zine! (@sengisengzine)
  8. Antipublishing (@anti__publishing)
  9. Nyorangan Books (@nyoranganbooks)
  10. Pustaka Bacang (@pustakabacang)
  11. Dll.
    Visit gtsi.fandom.com/id/ for more information!

[95]

[96]