Baca PDF (OCR): Nasakom Djiwaku, Singkirkan Nasakom Palsu

24 halaman · 24 halaman diproses dengan OCR· 28097 ms

Daftar isi
  1. NASAKOM DJIWAKU
  2. RKAN
  3. 小NASAKOM PALSU!
  4. NASAKOM PALSU!
  5. NASAKOM DJIWAKU
  6. Departemen Penerangan No. 378.
  7. KALAM PENGANTAR
  8. BUNG KARNO
  9. BAPAK MARHAENISME
  10. BEG. R.L
  11. FER. NEG. R.L
  12. kita diberi pemerintahan sendiri, minta agar supaja kita diberi
  13. Belanda, dengan alasan-alasan jang masuk akal, agar supaja
  14. harus bitjara dengan pihak Belanda pandjang dan dalam,
  15. pihak Belanda, harus kerdja-sama dengan pihak Belanda,
  16. ini kalau mau merdekā, kata mereka, harus baik-baik dengan
  17. singkirkan Nasakom palsu! Ada lho Nasakom palsu, orang
  18. Pemimpin Besar Revolusi, sebagai Presiden Republik Indone-
  19. FER. NEG. R.L

NASAKOM DJIWAKU

S I

NGK 1

RKAN

小NASAKOM PALSU!

8100-6 PxE. NEG. B.k CEK -2001 Karno", Senajan, Djakarta, pada tanggal 25 Djuli 1965 Indonesia/Marhaenisme, di Stadion Utama Gelora Bung Knang", peringatan hari ulangtahun ke-38 Partai Nasional Amanat Presiden Sukarno pada rapat raksasa Marhaen Me-

NASAKOM PALSU!

N R

I

NGK I S

NASAKOM DJIWAKU

7666266666666666666666666666666666666682666666222666

P.J.M. Presiden Sukarno :
" ............ Nasakom dji-wa-ku, singkirkan Nasakom palsu! Ada Iho
Nasakom palsu, orang jang pura-pura pro Nasakom, tetapi oleh karena djiwanja bukan djiwa Nasakom, dia adalah Nasakom palsu jang memetjah-belah barisan persatuan Nasakom ini. Sama dengan adanja marhaenis gadungan, sama. Tempohari sudah saja katakan, mbok ja sudah, ditendang keluar marhaenis-marhaenis gadungan ini. Lha kok sampai sekarang ini masih ada jang kliwar-kliwer kliwar-kliwer, marhaenis gadungan. Sekali lagi aku katakan, lekaslah tendang keluar marhaenis gadungan ini dari barisan kita". 222222222222222222222222222222222222222222222222222

Kader Nasakom Ketua DMI DCI. DJAJA Durhaini Luthfy Pembaktian

Departemen Penerangan No. 378.

Brosur ini kami sesuaikan dengan Penerbitan Chusus hami sedalam-dalamnja. agar manusia pantjasila Indonesia dapat memiliki dan mema- kom Djiwaku itu maka kami perbanjaklah brosur tersebut, Karena maha pentingnja Amanat Nasakom Bersatu-Nasa- ting dewasa ini. 1965, jang berdjudul seperti diatas adalah Amanat Maha Pen-Stadion Utama Gelora Bung Karno” Senajan, tanggal 25 Djuli ke 38. Partai Nasional Indonesia = PNI/Front Marhaenis di rapat raksasa Marhaen Menang Peringātan Hari Ulang Tahun Amanat PJM Presiden Sukarno Bapak Marhaenisme pada tanpa bersatu dengan djiwa adalah palsu! Ideologi jang diutjapkan lisan dan jang dituliskan lisan lenjaplah manusia nasākom palsu ! Adalah Pedoman penting bagi bangsa Indonesia, supaja SINGKIRKAN NASAKOM PALSU NASAKOM BERSATU — NASAKOM DJIWAKU! itu ragu2. ngan tulisan tidaklah sempurna kalau djiwa jang melisankan Kesatuan jang diutjapkan lisan, kesatuan jang ditulis de-LISAN — TULISAN — DJIWA — harus satu padu ! tidak mengakui adanja Tuhan. Amanat Beliau mengatakan, bukanlah manusia mereka jang Pemimpin Besar Revolusi PJM Presiden Sukarno, dalam manusia ini ada, semua itu adalah tjiptaan Tuhan. ada dan akan tiada. Djasad dan Njawa jang mewudjudkan Maha Perkasa, atas limpah kasih kurniaNja semua machluq Bersjukurlah kita kepada Tuhan, Jang Maha Tunggal

KALAM PENGANTAR

BUNG KARNO

BAPAK MARHAENISME

P.J.M. Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia

BEG. R.L

Saudara-saudara, Bukan main, bukan main gegap-gempitanja rakjat. Orang jang tidak mengerti dikira ini adalah djor-djoran — mengerti djor-djoran? — lomba-lombaan, antara P.K.I. dan P.N.I. Orang jang tidak mengerti dikiranja djor-djoran. Tapi Saudara-saudara, umpamapun djor-djoran, umpamapun lomba-lombaan, saja tidak keberatan, asal djor-djoran mendjalankan Manipol/ Usdek, djor-djoran mendjalankan Trisakti, djor-djoran mendjalankan Azimat-Lima daripada Bung Karno. Dan demikian telah kukatakan tempohari, — tahu apa tidak tentang hal ini, tempohari di Pekalongan —, saja malahan męngandjurkan: Hajo, lomba-lombaan, djor-djoran mendjalankan Manipol dan segala perintah daripada Revolusi. Sekarang ternjata djor-djoran. Ja memang,Saudara-saudara, didalam perdjoangan besar, masing--masing golongan, bahkan masing-masing manusia didalam perdjoangan itu laksana harus berkompetisi, memberi semangat dan memberi tenaga, memberi segala apa jang ada padanja untuk tertjapainja tudjuan Revolusi ini. Ambil misalnja Bapak, Bung Karno ini, umurnja sekarang sudan 64 tahun, tapi Bapak ndak mau kalah dengan siapapun; hajo djor-djoran, djor-djoran berdjoang, djor-djoran berdjoang, berdjoang, berdjoang! 38 Tahun sudah, Saudara-saudara, sedjak lahir apa jang dinamakan marhaenisme; 38 tahun jang lalu,— pada waktu itu tahun 1927 —, pada waktu itu engkau dari Konfigurasi ini belum lahir, belum. Malah sebagai kukatakan kemarin di Muktamar Muhąmmadijah, sebagai kukatakan di Muktamar umat Katolik, sebagai kukatakan dipemantjangan tiang per- tama gedung Veteran, pada waktu itu — hé, lihat Bapak, ini kali lihat Bapak, djangan lihat patjar — sebagian besar dari-

pada kamu ini masih didalam kantongnja Tuhan, artinja belum lahir, belum berada dimuka bumi ini, belum lahir, belum dilahirkan dimuka bumi ini. Bapak akan tjerita sedikit, seba- gaimana sudah pernah Bapak tjeritakan. Dulu, sebelum tahun '27 itu, Rakjat Indonesia telah mulai berdjoang, berdjoang untuk apa jang sekarang kita namakan Amanat Penderitaan Rakjat. Amanat Penderitaan Rakjat jaitu, satu: negara Indonesia jang merdeka; dua: satu ma- sjarakat jang adil dan makmur, tanpa penghisapan manusia atas manusia; tiga: satu dunia baru, persahabatan daripada semua bangsa, satu dunia baru tanpa penghisapan manusia atas manusia, dan bangsa atas bangsa. Sebagai engkau keta- hui, gerakan ini pada hakekatnja dimulai tahun 1928, dan sudah kukatakan berulang-ulang, gerakan ini makin lama makin mendjalar, makin lama makin mendalam, makin lama makin hebat; dari tahun '28 itu, mula-mula ketjil-ketjilan, kemudian tambah besar, tambah besar, tambah besar, tambah mendjalar, tambah mendjalar, tambah mendalam, tambah mendalam. Achirnja kita memiliki satu gerakan rakjat jang hampir meliputi seluruh massa,— massa dengan s-dua. Apa artinja massa dengan s-dua? Beda dengan masa dengan s-satu. Masa dengan s-satu artinja waktu, tempo; masa kemarau, masa penghudjan, masa patjeklik. Massa didalam arti rakjat,
itu s-.... berapa? (Didjawab oleh hadirin: Dua! — Red.)
Ho-ho-ho, s-dua, betul, tapi masa dalam arti waktu, s-nja satu. Massa dalam arti rakjat s-nja dua. Gerakan kita jang dimulai tahun '08, makin lama makin mendjalar, makin lama makin melebar, makin lama makin mendalam, sehingga mendjadi satu gerakan massa, dan gerakan massa ini semangatnja makin lama makin menghebat pula, makin lama makin berkobar-kobar, menjala-njala, liwat be- berapa serikat-serikat. Ada Budi Utomo,— kamu orang telah mengetahui—, ada Sarekat Islam, ada Sarekat Rakjat dengan

P.K.I., makin lama makin menghebat, malah pemimpin-pemimpin daripada gerakan itu ada jang dinamakan radja tak bermahkota" daripada Rakjat, saking banjaknja anggotanja. Misalnja almarhum Tjokroaminoto, pemimpin dari S.I., jang kemudian mendjadi P.S.I.1. Djangan salah, bukan P.S.I., lho!
P.S.I. lain daripada P.S.I.I. P.S.I.I, anggotanja demikian banjaknja, sehingga pemimpinnja almarhum Tjokroaminoto oleh pihak Belanda dinamakan ,de ongekroonde koning van

Indie, artinja de ongekroonde konig ialah radja jang tidak bermahkota, karena gerakannja meuputı massa jang vanjak. SDemikian pula Sarekat Rakjat dengan P.KI. meliputi massa rakjat jang banjak, malahan, Saudara-saudara, pada tahun '26, Sarekat Rakjat dengan P.K.I. ini mendjalankan satu perbuatan jang pada pokoknja benar, pada pokoknja benar, jaitu apa? Merebut kekuasaan pemerintah dari tangan- nja pihak Belanda. Dalam bahasa Belandanja, greep naar de macht. Greep naar de macht, artinja merebut kekuasaan pemerintahan. Tjaranja, Saudara-saudara, oleh karena kurang sempurnanja persiapan, kurang tepat; atau lebih benar kuka- takan, gagal, oleh karena kurang masaknja persiapan. Mereka, tahun '26 ini, Sarekat Rakjat, P.K.I., mengadakan pemberon- takanketjil-ketjilan,pemberontakan diDjawaBarat sini, dikota Tjiamis, pemberontakan di Djawa Barat ini, di Banten, bahkan di Djakarta-pun ada pemberontakan ketjil-ketjilan, dengan penembakan gedung tilpon di Kramat. Mereka menga- dakanpemberontakan ketjil-ketjilan, di Tjiamis, di Banten, diDjakarta, kemudian di Minangkabau djuga ketjil-ketjilan, gagalagsd ,jst Pemerintah Belanda dapat mempertahankan mereka-punja-kekuasaan, meskipunbenar apa jang dikatakan oleh Bapak Setya Budhi, Setya Budhy jaitu Dr E.F.E. Deuwes Dekker, salah seorang pemimpin kita jang didalam djaman merdeka menggantinamanja dengan Setya Budhi—, jang pada waktu itu berkata: Benar gagal, biar gagal, tetapi lambang kekuasaan daripada pemerintahBelandacsudah kena tembak. Er zijn gaten geschoten in het embleem van het Nederlands-Indische gezag.Itu kata Douwes Dekker, gäten géschoten in het embleem van het Nederlands-Indische gezag. artinja, lambang kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda ada lobang-lobang sekarang ini, kena pelor daripada Rakjat Indonesia.Tetapilambang ini belum runtuh,Saudara-saudara. sekadar lobang-lobangkenapelornja Rakjat,sedang kita-punja kehendak, kita-punja tjita-tjita ialah agar supaja bukan sadja lambang daripada pemerintah Hindia-Belanda ini gugur, tetapi seluruh pemerintahan Hindia-Belanda gugur samasekali, seluruh imperialisme gugur diganti"dengan pemerntah kita sendiri daripada Rakjat Indonesia.c- Pemimpin-pemimpindaripada S.R.Sarekat Rakjat,

P.K.I. ditangkapi, dimasukkan dalam pendjara, beribu-ribu,
or

FER. NEG. R.L

kita diberi pemerintahan sendiri, minta agar supaja kita diberi

Belanda, dengan alasan-alasan jang masuk akal, agar supaja

Bitjaralah kita, dan marilah kita minta, minìa,kepada pihak terlalu menentang kepada pemerintahan Hindia-Belanda itu. pendek, djanganlah mengadakan gerakan jang menentang,

harus bitjara dengan pihak Belanda pandjang dan dalam,

pihak Belanda, harus kerdja-sama dengan pihak Belanda,

ini kalau mau merdekā, kata mereka, harus baik-baik dengan

kata pemimpin-pemimpin pepetek itu, Saudara-saudara. Kita dikirim ke Boven-Digoel. Itu semuanja adalah perbuatan salah, kok bikin berontak-berontakan. Ja lantas digantung, dibedil,

P.K.I. salah: Menjalahkan Sarekat Rakjat dan P.K.I. Salah, berikut: Wah memang, memang, wong Sarekat Rakjat dan ikan asin, Saudara-saudara—, ada jang lantas berkata sebagai ra, hatinja hati pepetek; tahu pepetek apa?, hajo; pepetek itu pin, pemimpin, tapi takut, hatinja hati kintel, Saudara-sauda- kut-penakut, meskipun menamakan dirinja pemimpin, pemim- karena ja, didalam kalangan bangsa Indonesia itu ada pena-Dalam keadaan paniek,— paniek jaitu gugup, takut-takut,
bangsa. dunia baru tanpa penindasan rakjat oleh rakjat, bangsa oleh merdeka, satu masjarakat Indonesia jang adil dan makmur, nja, jaitu sebagai kukatakan tadi, negara Indonesia jang jang diberikan oleh Rakjat dengan penderitaan-penderitaan-supaja kita bisa memenuhi amanat daripada Rakjat, amanat mendjadi satu bangsa jang merdeka, bahkan gerakan, agar djakan kemudian, kita melandjutkan gerakan, agar kita bisa Nah, Saudara-saudara, dan memang itulah jang kita ker- bangsa kita bisa mendjadi satu bangsa merdeka. Karno, agar supaja gerakan kita dilandjutkan, agar supaja meninggalkan dunia jang fana ini. Aku pesan kepada Bung nja: Bung Karno, besok aku akan digantung, besok aku akan Bandung, menerima surat daripada salah seorang itu, bunji- rahasia kepada Bung Karno. Bung Karno pada waktu itu di tung itu, malamnja sebelum dia digantung, ia menulis surat gantung, salah seorang pemimpin Tjiamis jang hendak digan- dan kemudian oleh hakim Belanda didjatuhi hukuman mati, seorang pemimpin Tjiamis jang ketangkap oleh polisi Belanda sepertinja Boven-Digoel. Pernah saja tjeritakan, bahwa salah dan beribu-ribu pula dikirimkan ketempat-tempat pembuangan,

perluasan daripada hak-hak bergerak kita, minta, sebab pihak Belanda itu orang baik sebetulnja, tjuma mereka belum me- ngerti keadaan, dus, marilah kita bitjara dengan mereka, minta, minta, minta. Kerdjasamalah dengan pihak Belanda, marilah kita minta kepada pihak Belanda, agar supaja kita diberi tambahan hak-hak bergerak, agar supaja kita achirnja diberi pemerintahan Indonesia sendiri. Lha ini, Saudara-saudara, jang sebenarnja membikin bentjana kepada pergerakan kita, jaitu paham, kepertjajaan, bahwa dengan minta-minta kepada pihak Belanda, kita bisa mendapat pemerintahan Indonesia sendiri. Disitulah, Saudara-saudara, maka saja lantas memberi penerangan kepada Rakjat. Kemerdekaan tidak bisa diperoleh karena kita minta-minta, kemerdekaan bukanlah satu hadiah, tetapi kemerdekaan adalah satu hal jang harus kita rebut, rebut didalam tangan kita sendiri. Rebut dengan apa? Nah, kalau kita hendak merebut, kita harus mempunjai kekuasaan jang lebih besàr daripada orang jang kita rebut apa-apanja itu. Kalau perlu kita rebut dengan bedil, kalau perlu kita rebut dengan meriam, kalau perlu kita rebut dengan kapal udara jang mendjatuhkan bom; kemarin malahan aku berkata, kalau perlu kita rebut dengan bom atom. Pendek kata, soal kemerdekaan, kataku dalam tahun '27, permulaan tahun '27 itu, adalah soal kekuatan, — saja pada waktu itu memakai perkataan asing —, soal macht, macht. Macht arti- nja kekuatan, kekuasaan. Marilah kita susun kita-punja kekuasaan, marilah kita susun kita-punja kekuatan, marilah kita susun kita-punja macht, dan dengan macht itu kita rebut kemerdekaan dari tangan pihak Belanda. Tidak bisa kita perolehnja dengan minta-minta. Nah, sekarang menjusun macht, menjusun kekuasaan. Menjusun kekuasaan ini, kita susun dari apa? Kita harus susun daripada manusia-manusia jang paling anti pada imperialisme, manusia-manusia jang paling anti pada exploita- tion de l'homme par l’homme, manusia-manusia jang paling merasakan sengsaranja akibat adanja penghisapan imperialis, manusia-manusia Indonesia jang paling menderita daripada imperialisme Belanda itu. Manusia-manusia itu siapa, Saudara-saudara ? Manusia-manusia itu adalah marhaen, bukan sekadar kaum buruh jang bekerdja dipabrik-pabrik, — sekadar

kataku —, bukan sekadar kaum buruh jang bekerdja dipabrik- pabrik, bukan sekadar kaum proletar, bukan sekadar kaum jang lain-lain, tetapi seluruh Rakjat Indonesia jang menderita, jang bertaraf miskin, mereka itulah jang paling merasakan tjelaka daripada imperialisme dan kolonialisme. Mereka itulah jang harus paling kita gerakkan, susun dia-punja tenaga, agar supaja kekuasaan bisa kita rebut daripada pihak Belanda, djātuh kedalam tangan kita sendiri. Dan oleh karena itu lantas aku me.. faham marhaenisme sebagai tadi dikatakan oleh Pak Ali Sastroamidjojo: ja kaum buruh, ja proletar, ja tani, ja pegawai-pegawai, ja kaum nelajan, ja kaum kusir, ja kaum kusir jang mempunjai delman atau taksi sendiri, ja kaum lain-lain, asal keluarga ketjil, seng- sara, tjelaka, itulah dinamakan kaum marhaen. Gabungan ini, Saudara-saudara, adalah gabungan jang maha besar, maha hebat. Karena menurut perhitunganku gabungan ini meliputi 90% paling sedikit daripada seluruh Rakjat Indonesia. Sembi- lan-puluh prosen! Pada waktu itu Rakjat Indonesia kira-kira 70 juta, gabungan marhaen tahun '27 itu paling sedikit meliputi 63 djuta daripada 70 djuta Rakjat Indonesia itu. Nah, kalau kita bisa menggabungkan tenaga-tenaga ini mendjadi satu gelombang jang maha sakti, — saja ulangi, ja proletar, ja tani, ja buruh lain-lain, ja nelajan, ja kusir, ja pegawai, ja pedagang, dan lain-lain sebagainja, ketjil-ketjil bukan ? —, kalau kita bisa persatukan, pada waktu itu aku sudah mengeluarkan aku-punja sembojan: Hajo madjuwo kabeh leganing atiku, odjo sidji odjo loro, madjuwo kabeh leganing atiku, solekso in ngarso, saketi ing wuri, ampjaken kadyo wong ndjolo, rajahen kadyo mendjangan mati, kekedjero kojo manuk brandjangan, kopat-kapito kojo ulo tapak-angin, keno gepuk limpung alugoro persatuan marhaen, hantjur-lebur kekuasaanmu ! Nah inilah, Saudara-saudara, lahirnja gerakan marhaenisme, lahirnja gerakan untuk menggerakkan semua potensi rakjat ketjil di Indonesia ini. Dan aku berkata, sekarang Re- volusi kita telah berhasil mendatangkan Indonesia merdeka, tetapi belum Indonesia merdeka jang sempurna, Saudara-saudara, sebab masih ada tjatjad-tjatjad didalam negara Repu- blik Indonesia ini. Tetapi, katakanlah, pada pokoknja telah tertjapai Indonesia merdeka, jaitu amanat kesatu daripada Amanat Penderitaan Rakjat, tetapi masjarakat adil dan mak-

jat, nah saja berkata, jah, mari djor-djoran, bagus djor-djoran, Saudara-saudara, saja tadi berkata, gegap-gempita rak- dji-wa-ku, tendanglah keluar Nasakom palsu. djiwa Nasakom. Oleh karena itu baik diganti, Na-sa-kom sumuhun dawuh Nasakom, tapi sebetulnja djiwanja bukan Nasakom, Nasakom, Nasakom, inggih Nasakom, Nasakom, plintut, ja, pura-pura mulutnja ini kemak-kemik, Nasakom, Demikian pula Nasakom, ada jang kliwar-kliwer, plintat- duduk didalam barisan kita. sudah njata marhaenis gadungan, tendang keluar, djangan. ngadagoan naon deui, tinggal tunggu apa lagi, sudah, mereka ngan ini dari barisan kita. Kata orang Sunda, iraha deui, lagi aku katakan, lekaslah tendang keluar marhaenis gadu- jang kliwar-kliwer kliwar-kliwer, marhaenis gadungan. Sekali haenis gadungan ini. Lha kok sampai sekarang ini masih ada katakan, mbok ja sudah, ditendang keluar marhaenis-mar- adanja marhaenis gadungan, sama. Tempohari sudah saja metjah-belah barisan persatuan Nasakom ini. Sama dengan bukan djiwa Nasakom, dia adalah Nasakom palsu jang me- jang pura-pura pro Nasakom, tetapi oleh karena djiwanja

singkirkan Nasakom palsu! Ada lho Nasakom palsu, orang

masih menjanji, Na-sa-kom ber-sa-tu. Nasakom dji-wa-ku, galan zaman, Pak, mestinja Na-sa-kom dji-wa-ku. Pak Mustopo oleh Rakjat Indonesia. Tjoba tadi, Pak Mustopo, kau keting- lihat, bahwa djimat Nasakom diselenggarakan benar-benar Maka oleh karena itulah saja dengan gembira bisa me- sekarang begitu, Saudara-saudara. jang hendak menggugurkan imperialisme itu. Keadaan kita apapun, tetapi harus terpusat pada seluruh Rakjat Indonesia tindo, ataukah Katolik, ataukah Protestan, ataukah partai Kepolisian Negara, atau kaum pegawai, atau P.K.I., atau Par- hanja terpusat kepada T.N.I., atau ALRI, atau AURI, atau bukan hanja terpusat kepada sesuatu golongan sadja, bukan Saudara-saudara, perdjoangan Rakjat Republik Indonesia nesia, jaitu terutama sekali kaum marhaen. Sekarang ini, pun, persatu-padukan semua tenaga anti imperialis di Indo-Djuga dalam keadaan sekarang ini kita harus menghim- didunia ini jang menghendaki gugurnja imperialisme. djoangkan habishabisan dengan bantuan segala kekuatan nakan, dunia baru belum tertjapai, baru sekarang kita per- mur belum tertjapai, baru sekarang sedang kita tjoba laksa-

Pemimpin Besar Revolusi, sebagai Presiden Republik Indone-

kan Presiden Seumur Hidup. Oleh karena itu maka sebagai Aku didjadikan Pemimpin Besar Revolusi, bahkan aku didjadi- daripada wakil-wakil Rakjat jang tergabung dalam MPRS. hendakku aku didjadikan Pemimpin Besar Revolusi, kehendak oleh Rakjat Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi. Bukan ke- utjap sjukur alhamdulillah, oleh karena saja ini didjadikan sombong, sebagai persoon, tidak. Saja berkata demikian, meng-Lho, saja mengatakan demikian itu, bukan karena saja mana ? Dibelakang Bung Karno. dibelakang Bung Karno. Hé, Pak Leimena, Protestan bagai- tegak dibelakang Bung Karno. Muhammadijah berdiri tegak berdiri tegak dibelakang Bung Karno. Nahdatul Ulama berdiri Karno. Partai Indonesia dibelakang Bung. Karno. Katolik takan berulang-ulang, berdiri tegak djuga dibelakang Bung ga pengikut? P.K.I. akan mendjawab: Tidak! P.K.I. menga- kepada P.K.I., apakah benar Bung Karno tidak mempunjai war- ikut, apakah benar kamu tidak ikut kepadaku ?Saja tanja

P.N.I./Front Marhaenis, benar apa tidak aku tidak punja peng- jang tidak ada pengikutnja. Šaja menanja kepadamu, hé sama dia, Sukarno, hh pemimpin palsu, Sukarno pemimpin lipina. Ia berkata, hh Sukarno, ndak ada orang jang dengar Saudara-saudara. Senator Pendatun itu seorang senator Phi-Tidak seperti jang dikatakan oleh Senator Pendatun,
banjak-banjak terimakasih. saudara —, setia, taat kepada Bung Karno. Saja mengutjapkan tjuali jang plintat-plintut, gadungan-gadungan itu, Saudara-Karno. Boleh dikatakan seluruh Rakjat Indonesia, — ja, ke-Karno. Nahdatul Ulama mengatakan, setia, taat kepada Bung Karno. Muhammadijah mengatakan, setia, taat kepada Bung Kaum Protestan berkata demikian, setia, taat kepada Bung Katolik kemarin-dulu berkata, setia, taat kepada Bung Karno. njak terimakasih — setia, taat kepada Bung Karno. Kaum

P.K.I-pun mengatakan — dan saja mengutjapkan banjak-ba- berulang-ulang, taat, setia kepada Bung Karno. Tempohari sekarang gegap-gempita, P.N.I./Front Marhaenis mengatakan dan saja mengutjapkan banjak terimakasih. Saudara-saudara, daripada Revolusi kita ini. Itu memang baik, Saudara-saudara, mendjalankan Trisakti, djor-djoran mendjalankan Lima-Azimat djor-djoran, djor-djoran mendjalankan Manipol, djor-djoran

tjap sjukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT, kita bisa saudara. Kita sekarang ini, Saudara-saudara, sambil mengu- gokan gelap-gelapan, dollar-dollar atau pound-pound, Saudara- hak-pihak jang hatinja tidak sutji, pihak-pihak jang dapat so- sedikit, tetapi terutama sekali ditentang oleh orang-orang, pi- lu ditentang, ditentang dengan ichlas, sutji hati, ada sedikit-Wah memang, Saudara-saudara, perdjoangan kita ini sela- kan kau-punja dada ! Kalau pantjen kowe laki-laki, datanglah di Indonesia, tundjuk- kau diundang oleh umat Katolik supaja datang di Indonesia. hajo Senator Pendatun, iki dadaku, endi dadamu? Hajo, eng- an dan semua agama. Sekarang saja tinggal tunggu sadja, Karno diikuti oleh seluruh Rakjat Îndonesia dari semua golong- donesia, lihatlah dengan mata-kepalamu sendiri bahwa Bung kepada senator Pendatun, mengundang dia, datanglah ke In-Nusantara, bahwa kaum Katolik disini telah berkirim surat lompong. Dan kemarin saja batja berita ,Antara", pekabaran —, bahwa senatormu itu adalah bohong, bohong, bohong me- kepada Katolik Philipina, — 90% daripada rakjat Philipina beragama Katolik. Hé, engkau Katolik Indonesia, beritahukan omong-kosong. Apalagi 90% daripada rakjat Philipina adalah Katolik Philipina, bahwa senatornja bohong, senatornja kepada kaum Katolik Inċonesia, supaja beritahu kepada kaum itu tidak lagi orang ikut kepada Bung Karno. Saja minta Philipina jang mengatakan sebaliknja, katanja di Indonesia sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Ini ada seorang senator Karno, menghargai Bung Karno, taat kepada Bung Karno seluruh umat Katolik Indonesia berdiri dibelakang Bung bitjaramu, sebab engkau, umat Katolik Indonesia berkata, nesia, Senator Pendatun berkata lain, berbitjara lain daripada kan kepada umat Katolik Indonesia : Hé. umat Katolik Indo- dollar, Saudara-saudara, dollar Amerika, saja tahu. Saja kata- saja tahu Senator Pendatun itu mendapat sogokan, sogokan jang lalu, hal senator Pendatun, dan saja blak-blakan berkata, Saja tjeritakan hal ini kepada umat Katolik beberapa hari umur Hidup itu. Besar Revolusi, berdiri samasekali dibelakang Presiden Se- gadungan-gadungan, berliri samasekali dibelakang Pemimpin Rakjat Indonesia, ketjuali beberapa ekor jang plintat-plintut, sia Seumur 'Hidup, aku merasa berbahagia, bahwa seluruh

Putra itu dengan tjara rahasia. Malahan, Saudara-saudara, kali mendapat sokongan sendjata dari Tengku Abdulrachman Abdulrachman Putra. Ketjuali itu Gerungan berkata, berkali- mulai kita gerogoti samasekali, kata ini utusan Tengku biar dengan djalan demikian itu Republik Indonesia dapat lawesi Selatan". Proklamirkanlah ,Negara Sulawesi Selatan", Gerungan diandjurkan untuk memproklamasikan Negara Su- terus berontak terhadap kepada Republik Indonesia. Malahan —, méngadjak Gerungan, mempengaruhi Gerungan untuk kontak dengan Gerungan, — ini pengakuan Gerungan sendiri Abdulrachman Putra datang di Sulawesi Selatan untuk ber-Tengku Abdulrachman Putra; Kaso Gani disuruh oleh Tengku Kaso Gani, namanja Kaso Gani, Saudara-saudara, disuruh oleh lalu ke Sulawesi Selatan. Namanja utusan Tengku itu ialah bantuan Inggeris telah mengirim utusan beberapa bulan jang Gerungan ngaku bahwa Tengku Abdulrachman Putra dengan kan kepada Tengku Abdulrachman Putra di Kuala Lumpur. hal, antara lain ngaku satu hal, jang sekarang aku tantang-Gerungan ini, Saudara-saudara, ngaku, ngaku beberapa itu siapa, etc., etc., etc., enz., enz., enz. sendiata darí mana, kau dapat sendjata dari mana, orangmu njai kenapa engkau begitu, kenapa engkau begitu, kau dapat kita tanjakan, dalam istilah asingnja kita interrogatie. Dita- ngan, hidup-hidup kita tangkap, lantas kita tanja, segala hal hari jang lalu telah kita tangkap hidup-hidup. Nah ini Geru- an Kahar Muzakkar itu — namanja Gerungan — beberapa tempohari, sekarang jang melandjutkan rebellie, pemberontak-Kahar Muzakkar. Kahar Muzakkar sudah kita tembak mati nangkap Gerungan. Gerungan itu tangan-kanan daripada hari jang lalu kita telah berhasil, sjukur alhamdulillah, me-Saja kasitahu ja, pada Saudara-saudara, bahwa beberapa ada jang berkulit seperti kita, merah-sawo seperti kita. tek nekolim diluar-negeri ada djuga, Saudara-saudara, bahkan ada sebagian, Saudara-saudara, jang sudah kita ketahui, an- saudara, toch kita madju terus. Antek nekolim dalam-negeri antek-antek nekolim diluar dan didalam-negeri. Saudara-hebatan oleh nekolim, meskipun ditentang hebat-hebatan oleh pada tudjuan, meskipun kukatakan tadi, ditentang hebat- djak, bahwa Revolusi kita makin lama makin mendekati ke- mengatakan, bahwa Revolusi kita makin lama makin menan-

ini, tidak ada, dingin jang paling dingin, tidak ada, semuanja pangan ini, tidak ada. Rasa panas samasekali seperti sekarang Kuru itu tidak ada matahari terik seperti ini, lihat ini dila- djamannja Ramayana, negeri Uttara Kuru—, dinegeri Uttara Uttara Kuru, ini negara djaman kuno, negeri djaman kuno, hal negara Uttara Kuru,— Uttara Kuru, bukan Utara Kuwu, Tiga kali diwaktu jang achir-achir ini aku mentjeritakan é, é, dikira bangsa Indonesia ini bangsa tempe. sampai Malaysia" hantjur-lebur daripada muka bumi. E, é, bulat untuk meneruskan konfrontasi terhadap Malaysia" ini, Nahdatul Ulama, tidak. Seluruh Rakjat Indonesia bertekad Umat Katolik, tidak. Protestan, tidak. Muhammadijah, tidak. adakah anggota P.K.I. jang ragu-ragu tentang hal ini? Tidak. konfrontasi ini? Aku bertanja kepada semua anggota P.K.I., diantara engkau jang masih ragu-ragu didalam perdjoangan Hé, engkau anggota P.N.I./Front Marhaenis, adakah gur hantjur-lebur seluruh negara Malaysia" ini. tekad meneruskan kita-punja politik konfrontasi, sampai gu- makin keras kita-punja kemauan, makin keras kita-punja karena itu, dengan keterangan Gerungan ini, Saudara-saudara, engkau itu adalah antek daripada Inggeris, antek. Maka oleh satu, djikalau engkau tidak berani menjangkal, njata benar engkau berani menjangkal, engkau adalah pendusta kelas Abdulrachman Putra: Berani menjangkal akan hal ini? Kalau kan dari tengah-tengah hutan. Hajo, aku tanja kepada Tengku jang dengan sendjata itu sekaligus Makassar bisa dihantjur-Gerungan mendapat sendjata-sendjata rocket dan missile, berulang-ulang, Kaso Gani mendjandjikan, tidak lama lagi gara Sulawesi Selatan", Kaso Gani memberi sendjata dia mengatakan, supaja Gerungan lekas memproklamirkan Ne- ku Abdulrachman Putra jang bernama Kaso Gani. Kaso Gani kata, bersumpah, didatangi berulang-ulang oleh utusan Teng-Gerungan? Gerungan telah berkata demikian. Gerungan ber- man Putra: Hajo, berani menjangkal ini keterangan dari Nah, sekarang saja tantang kepada Tengku Abdulrach-Makassar sekaligus. djata itu telah datang, kami bisa tembak hantjur-lebur seluruh sendjata rocket, missile, jang kata Gerungan, djikalau sen- pada Gerungan, hendak memberi sendjata-sendjata missile, Tengku Abdulrachman Putra mengusulkan, menawarkan ke-

itu sedang, enak, semuanja itu rata, Saudara-saudara, rata. Rakjatnja kalau berdjalanpun rata, ja, djalan rata. Rakjat di Uttara Kuru tidak pernah berdjoang, tidak pernah berdjoang menentang teriknja matahari, tidak pernah berdjoang menentang panas jang luar-biasa, tidak pernah menentang dingin jang luar-biasa, tidak pernah berdjoang menentang segala sesuatu jang kurang enak. Sebagai kukatakan tadi, rakjat Uttara Kuru hidupnja rata, tidak ada jang dengan bahasa asing dinamakan rasa extreem,— extreem itu jang memuntjak, tidak ada memuntjak tinggi, tidak ada memuntjak dalam, tidak ada extremiteit—, tidak ada gontjangan djiwa daripada rakjat Uttara Kuru, tidak ada emosi daripada rakjat Uttara Kuru. Sebagai kukatakan didalam pidato tempohari, rakjat Uttara Kuru itu hatinja adem tentrem,— adem tentrem, kata Ki Dalang, kadyo siniram banju waju sewindu lawase, adem tentrem.

Tapi, hé Saudara-saudara, djuga didalam kitab Ramayana itu dikatakan, rakjat jang begini tidak akan mendjadi rakjat jang kuat dan negara jang besar. Tidak bisa, sebab tidak pernah berdjoang, tidak ada extremiteit, tidak ada emosi, tidak ada up, tidak ada down, rata, rata, klemer, klemer, klemer, klemer. Oleh karena itu aku berkata didalam pidatoku, marilah kita semuanja mengutjap sjukur alhamdulillah kepada Tuhan Jang Maha Esa, bahwa kita didjadikan satu bangsa jang berdjoang, satu bangsa jang tidak seperti bangsa Uttara Kuru, satu bangsa jang tahu extreem, satu bangsa jang tahu gegap- gempitanja perdjoangan, satu bangsa jang laksana tergodog- tergembleng didalam kawah tjandradimukanja perdjoangan, panas, panas, gembleng, gembleng, hampir hantjur-lebur, bangun kembali, hampir hantjur-lebur, bangun kembali. Hanja bangsa jang demikianlah, Saudara-saudara, bisa mendjadi satu bangsa jang kuat. Ada pemimpin berkata, djalan kesorga tidak melalui tangga-tangga jang terbuat daripada sutera, djalan-djalan kesorga melalui djalan-djalan jang berduri, djalan penuh dengan batu, bahkan dengan api kita harus lalui djalan itu. Djikalau kita bisa melalui djalan itu, barulah kita bisa mentjapai sorga idam-idaman kita, jaitu terpenuhinja Amanat Penderitaan Rakjat.

FER. NEG. R.L

Terimakasih, Saudara-saudara. Tepat pukul dua-belas. ploitation de nation par nation. baru tanpa exploitation de l'homme par l’homme, tanpa ex- jang kuat-sentausa, masjarakat jang adil dan makmur, dunia hendak kita tjapai, Amanat Penderitaan Rakjat, satu negara djikalau kita berdjoang terus, kita bisa mentjapai apa jang Hai bangsa Indonesia, marilah kita berdjoang terus! Hanja

DJAKARTA DIPERBANJAK OLEH DEWI NIAGA BROSUR INI

p.n. trigrafika - 224-'65