Baca PDF (OCR): Jangan Menderita Tani Phobi

11 halaman · 11 halaman diproses dengan OCR· 12442 ms

Daftar isi
  1. DJANGAN MENDERITA
  2. TANI-PHOBI!
  3. 329.8063
  4. BADAN PERPUSDA PROP DIY

DJANGAN MENDERITA

TANI-PHOBI!

329.8063

DEPARTEMEN PENERANGAN R.I.

SUK

PENERBITAN CHUSUS 342 T

329.8063 Suk D
DJANGAN MENDERITA TANI-PHOBI!

Amanat Presiden Sukarno pada resepsi pembukaan Konperensi Nasional Barisan Tani Indonesia (B.T.I.) pada tanggal 7 September 1964 di Istana Negara, Djakarta

TIDAK UNTUK DIDJUAL-BELIKAN

DEPARTEMEN PENERANGAN R.I.

CEK-2001 PER. NEG. R.L

Djangan menderita tani-phobi

Saudara-saudara sekalian, Saudara Asmu tadi mengatakan bahwa ini adalah satu lal luar-biasa, bahwa Konpernas B.T.I., resepsi pembukaannja diadakan di Istana Negara, berlainan dengan didaerah ndoro- ndoro bupati atau tjamat, pendoponja tidak boleh diindjak oleh kaum tani. Saja sebagai Presiden, Pemimpin Besar Revolusi, dengan tegas mengatakan, bupati-bupati jang demikian, tjamat-tjamat jang demikian itu adalah bupati dan tjamat jang keblinger, keblinger, dan bukan sadja keblinger, Saudara-saudara, bupati-bupati dan tjamat-tjamat jang demikian itu membahajakan Revolusi. Lha wong sudah beberapa kali saja katakan, kaum buruh dan kaum tani adalah sokoguru-sokoguru daripada Revolusi, kok masih ada petugas-petugas, pedjabat-pedjabat jang pendoponja tidak boleh diindjak oleh kaum tani.

Saja disini dengan tegas berkata, memerintahkan kepada semua petugas-petugas, pedjabat-pedjabat, djangan sekali- kali menderita tani-phobi dan bukan sadja tani-phobi, djangan menderita penjakit B.T.I.-phobi. Apalagi djikalau saja dengar utjapan Pak Asmu, bahwa B.T.I. itu anggotanja sudah 8,5 djuta orang. Lho, 8,5 djuta itu bukan angka jang ketjil. Saja ingat pada waktu saja buat pertama kali menggeledek- kan sembojan Nasakom, Nasakom, kerdjasama jang erat antara golongan nasionalis, golongan agama, golongan komunis, ada jang berkata ini dan itu. Pada waktu itu saja berkata, apa mau mengabaikan golongan komunis didalam Revolusi kita ini? Golongan komunis jang anggotanja pada waktu itu 6 djuta orang, anggota P.K.I. 6 djuta orang kok mau ditiadakan, diremehkan, seperti jah, angin, udara, tidak ada artinja. Tidak bisa kita mendjalankan Revolusi dengan baik, djikalau kita mengabai-

kan djumlah 6 djuta jang duduk didalam hati-sanubarinja Rakjat Indonesia itu. Maka oleh karena itu aku berkata: Nasakom, kerdjalah erat bersama! Siapa jang mengabaikan 6 djuta, disini mengabaikan 8,5 djuta, sama dengan orang atau pemerintah atau negara jang didalam konstelasi dunia sekarang ini mengabaikan 700 djuta manusia R.R.T. Tjoba lho, R.R.T. 700 djuta, lha kok mau diabaikan, tidak diakui, tidak boleh masuk dalam P.B.B. Lho, 700 djuta kok diabaikan. Maka itu kami dari Pemerintah Republik Indonesia selalu berkata: Kita mesti mengakui

R.R.T., kita mesti mendesak agar supaja R.R.T. diakui, masuk didalam United Nations. Apalagi dari saja ini lho, mengenai B.T.I. dan Istana Negara, terus terang, Saudara-saudara, sesudah saja berkata kepada Pak Asmu, saja memberi izin konpernas B.T.I. dibuka di Istana Negara, ada Manipolis munafik jang lantas berbisik- bisik: Wah, Pak Presiden kok kenapa memberi izin membuka konpernasnja di Istana Negara? Saja seketika itu mendjawab: Lho, Istana Negara ini istana siapa? Ini Istana Negara! Dan negara, Rakjat Indonesia terdiri buat 72% daripada kaum tani; 72% daripada Rakjat Indonesia jang 103 djuta ini adalah kaum tani. Ja, tapi B.T.I. itu merah, lho. Kok lantas hal merah dikemukakan lagi. Rakjat Indonesia itu ada jang merah, ada jang hidjau, ada jang warnanja ndak tegas, ada jang kiri, ada jang kanan. Saja pernah tegas-tegas berkata: Malahan kalau kiri inilah, Saudara-saudara, ini soko-guru daripada Revolusi Indonesia! Malah kepada ini, orang-orangnja Pak Aidit. saja pernah berkata, ja, Bung Aidit orang-orangmu itu, jo sanakku, jo kadangku, nèk mati aku sing kélangan! B.T.I. demikian rupa pula, Saudara-saudara, hé anggota-anggota B.T.I., jo sanakku, jo kadangku, nèk mati aku sing kélangan! Lha kok ada orang mau mendjalankan Revolusi Indonesia kok phobi-phobian. Ja, Revolusi Indonesia itu adalah Revolusi Rakjat dan Rakjat Indonesia itu terdiri buat sebagian, bahkan 8,5 djuta daripada anggota-anggota B.T.I. Maka oleh karena

itu, saja terus terang bergembira bisa menerima konpernas

B.T.I. didalam Istana Negara ini, jang saja ini sekadar tjuma mendjadi mandor, penghuninja sadja. Ini bukan istanaku, ini Istana Negara, Istana Rakjat. Aku mendjadi mandor, mendja- ga, menghuni sementara Istana Negara ini. Wah, apalagi kalau persoon saja, Saudara-saudara, persoon ja, bukan sebagai Presiden. Sukarno itu, — pernah saja tjeri- takan -, bapak saja guru, embah saja itu kaum tani, Saudara-saudara, namanja Hardjodikromo. Hé, tanja sama ini orang, saja-punja embah itu kaum tani, namanja Hardjodikromo. Lho, saja ini turunan kromo, masa' saja tidak tjinta sama kromo. Djundjung tinggi Revolusi, djundjung tinggi Negara Nah, Saudara-saudara, sekarang B.T.I. berkonperensi, dan konpernasnja, pembukaannja diadakan di Istana Negara. Saja diminta memberi amanat. Sebagaian besar daripada amanat saja telah saja berikan dalam Tavip. Dan tadipun oleh Pak Bandrio dikatakan, bahwa saja sudah memberi instruksi, perintah-perintah kepada Presidium agar supaja segala sesua- tu jang saja utjapkan dalam Tavip itu, dilaksanakan oleh Pe- merintah Republik Indonesia, jang saja mendjadi perdana menterinja. Sebaliknja, Saudara-saudara, apa jang harus saja amanatkan kepada Saudara-saudara anggota-anggota B.T.I., sebetulnja sudah diutjapkan oleh Pak Asmu. Supaja B.T.I. sedar benar, bahwa pokck daripada segala pokok kita ini, ke- hidupan kita ini, keadaan kita sekarang ini, ialah Revolusi Indonesia, dan bahwa Revolusi Indonesia itu terlukiskan didalam perdjoangan Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu B.T.I. harus mendjundjung tinggi Revolusi, mendjundjung tinggi Negara Republik Indonesia, jang tadi sudah diutjapkan oleh Pak Asmu. Saja terharu, Saudara-saudara, bahwa ada anggota B.T.I. jang berdjalan kaki 175 kilometer, datang di Djakarta untuk menghadiri konpernas itu. Saudara dari Sukamandi,

dimana Saudara itu? Dengar utjapan saja ini? Diluar? Masuk, Saudara-saudara jang dari Sukamandi, saja kepingin ketemu sama Saudara-saudara! Saudara-saudara, sekarang saja ulangi, sebenarnja amanat saja jang hendak saja berikan kepada konpernas B.T.I. sekarang ini, telah diutjapkan oleh Pak Asmu pokok-pokoknja. Memperkuat negara, memperkuat Revolusi, sebab dengan negara, dengan Revolusi kita akan dapat memperbaiki nasib kaum tani, dan garis-besar daripada tjara kita memperbaiki kaum tani telah kuberikan didalam pidato saja Tavip, 17 Agustus jang lalu, dan sebagai tadi dikatakan oleh Pak Bandrio, Bapak telah memerintahkan kepada Presidium, mendjalankan, melak- sanakan segala apa jang telah saja utjapkan didalam pidato Tavip mengenai kaum tani. Saudara-saudara, tadi saja berkata, ketjintaan saja kepada kaum tani meliputi pula diri saja pribadi, oleh karena saja adalah tjutjunja orang tani, Hardjodikromo almarhum, petani; saja sendiri beladjar dari beliaulah mentjangkul, menggaru, dan pada waktu saja masih amat ketjil, ja, mendjaga tanaman, padi, djangan sampai padi itu dimakan burung; saja suka se- kali duduk digubuk mendjaga burung, dengan menarik tali, kalau ada burung. Ada kawan wanita ketjil duduk dengan saja didalam gubuk itu. Saudara-saudara, saja kasi tjerita ja, bahkan saking, saking saja mengerti kedudukan tani, bahwa tani adalah salah-satu soko-guru daripada Revolusi Indonesia, saja ini pernah mero- bah utjapan dalang, pernah beberapa dalang saja panggil. Saudara, utjapanmu itu salah, mesti dirobah. Lho, kadospundi, ingkang lepat puniko kadospundi? Jang salah itu bagaimana? Dalang biasa berkata demikian, — hé, bagi kawan-kawan dari tanah Djawa jang mengerti bahasa Djawa —, dalang biasanja berkata sebagai berikut: Nagoro — negara — pandjang-pundjung, hapasir-hawukir, gemah-ripah loh-djinawi; pandjang, pandjang potjapane, pundjung, pundjung kawibawane.
Nah, sekarang kita akan ......... hapasir-hawukir.
Hapasir-hawukir, opo to pasir, opo to wukir? Pasir, sagoro,

wukir, gunung; djadi kawinja lautan itu adalah pasir, — Saudara masih ingat perkataan pesisir —, pasir, sagoro; wukir,
gunung. Nagoro......., harus diutjapkan umpamanja nagoro
Dworawati, Darawati, -- karena pasir itu sagoro, lautan —, nagoro Dworowati hangadepake sagoro bebandaran, negara Darawati menghadap kelautan jang penuh dengan bandar- bandar, jaitu pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota; wukir, gunung, nagoro Dworowati ngungkurake gunung, membela- kangkan gunung. Nah, disini lantas dalang itu tambah; hangiringake pasabinan. Nagoro Dworowati hapasir-hawukir. Opo hapasir? Pasir, sagoro. Opo hawukir? Wukir, gunung. Nagoro Dworowati ngadepake sagoro bebandaran, hangungkurake gunung, hangiringake pasabinan, artinja mengkirikan sabin. Sabin itu apa ? Sawah. Wah, saja panggil dalang-dalang: Salah, djangan bilang nagoro Dworowati jang ditjeritakan kemakmurannja itu, ngiringake pasabinan, mengkirikan pasabinan, oleh karena didalam alam pengertian kita, barang jang kiri itu kurang baik. Ganti, perkataan hangiringake pasabinan dengan hanengenake pasabinan. Sekarang dalang-dalang itu berkata demikian, Saudara-saudara: Nagoro Dworowati hangadepake sagoro bebandaran, ngungkurake gunung, hanengenake pasabinan. Laksanakan UUPA, laksanakan djuga UUPBH Maka, Saudara-saudara, banjak persoalan-persoalan Pemerintah, bagaimana tjaranja Pemerintah bisa mengangkat taraf hidup kaum tani, antara lain-lain didalam Tavip sudah saja katakan: Laksanakan sekarang, selekas mungkin, Undang- undang Pokok Agraria! Laksanakan djuga selekas mungkin UUPBH, bagi-hasil. Sebab hanja dengan pembagian tanah jang adil, kaum tani bisa hidup dengan tenang dan bisa bersemangat didalam ia-punja usaha mempertinggi produksi, didalam ia-punja perdjoangan ikut didalam Revolusi. Demikian pula bagi-hasil, Saudara-saudara, bagi-hasil harus didjalankan menurut

undang-undang, djangan kok ndoro-ndoro atau Pak jang kaja-kaja jang memiliki tanah jang digarap oleh kaum tani, hasil daripada keringat kaun tani boleh dikatakan 90% masuk didalam kantongnja orang kaja itu, tetapi hanja 10% masuk didalam kantongnja kaum tani. Sebaliknja, sebaliknja, Saudara-saudara, saja minta kepada kaum tani seluruh Indonesia, baik jang di Djawa maupun di Sumatera, maupun di Sulawesi, maupun di Kalimantan, maupun di Seram, maupun sampai di Irian Barat, djangan lupa bahwa sjarat mutlak untuk memperbaiki nasib kaum tani ialah kuatnja negara Republik Indonesia. Sjarat mutlak bagi hidup- nja negara Republik Indonesia, jang itu negara adalah alat untuk memperbaiki nasib Rakjat, adalah berdjalannja Revolusi, Revolusi didalam segala bidang, Revolusi jang mendjebol, Revolusi jang menanam, Revolusi mendjebol, Revolusi menanam, menanam, menanam, menanam, tetapi djuga mendjebol, mendjebol, menghantam segala aturan-aturan jang merugikan kepada kita. Mendjebol segala aturan-aturan jang merupakan neo-kolonialisme. Maka oleh karena itu aku memberikan peng- hargaan jang setinggi-tingginja kepada kaum tani, bahwa didalam perdjoangan 'kita untuk mengganjang neo-kolonialisme ,,Malaysia" ini, kaum tani berdiri dibarisan jang paling depan. Misalnja, kita sekarang ini mempunjai 21 djuta sukarelawan, 21 djuta. Tahukah, Saudara-saudara, dari 21 djuta sukarelawan ini, 17 djuta berasal dari anak-anak, putera-putera kaum tani. 17 Djuta! Tjoba, siapa mati dipinggir hutan, siapa mati dirawa-rawa, Saudara-saudara, dalam usaha mengganjang ,Malaysia"? Lebih daripada 80% daripada jang mati itu adalah putera tani, Saudara-saudara. Maka oleh karena itu saja perintahkan kepada semua petugas-petugas, ja jang nama tjamat, ja jang nama bupati, ja jang nama menteri, djangan menderita tani-phobi, aku kata- kan djangan menderita tani-phobi, dan aku telah berkata, djangan menderita B.T.I.-phobi. Lantas apa sekarang, Saudara-saudara, jang saja amanatkan? Sudah dihabiskan oleh Pak Asmu.

BADAN PERPUSDA PROP DIY

Baiklah, Saudara-saudara, sekian sadja, saja melihat disana itu ada lilin, kelip-kelip, tanda disana itu ada makanan. Kita barangkali dipersilahkan sehabis ini, makan; habis makan, kumpul lagi disini. Lantas melihat tari-tarian tani atau bagai- mana? Wah, saja ingin lekas melihat tari-tarian tani itu, Saudara-saudara. Nah, Saudara-saudara, selamat berkonperensi. Sebagaimana dulu terhadap konpernas Sastera dan Seni, saja berkata pada waktu itu: Simpati saja sepenuh-penuhnja saja tumplekkan kepada Saudara-saudara, maka sekarangpun saja berkata kepada konpernas B.T.I.: Seluruh simpati saja, saja tumplekkan kepada konpernas B.T.I.! Bekerdjalah dengan baik! Terimakasih. Saudara-saudara, tadi sebelum saja pergi ke Istana Negara, Pak Asmu minta saja mendjadi pelindung daripada aksi mengganjang tikus. Saja terima mendjadi pelindung gerakan mengganjang tikus. Pak Asmu memberitahu kepada saja, jang akan mendjadi komandan daripada gerakan mengganjang tikus ini ialah Saudara Aidit. Marilah, ganjang semua tikus imperialis, ganjang ,,Malay- sia", ganjang semua tikus berkaki empat!

Api man ak hondfung oadam

Dspartcemea Perera

PERTJETAKAN NEGAGARA-DJAKARTA - 264/B-'64 (15.000 bk. P.C. 342)