Baca PDF (OCR): Puncak Kebiadaban Bangsa: Pemerkosaan Etnik Tionghoa 13-14 Mei 1998

65 halaman · 65 halaman diproses dengan OCR· 108152 ms

Daftar isi
  1. PUNCAK
  2. KEBIADABAN
  3. BANGSA
  4. "Wang Fe Ing
  5. PUNCAK
  6. KEBIADABAN
  7. BANGSA
  8. Diterbitkan oleh Yayasan Karyawan Matra
  9. Menjebol
  10. Dinding Kebisuan
  11. demikian—yang tega-teganya menista
  12. Padahal, perempuan diciptakan Sang
  13. Dale S. Hardley
  14. Daftar Isi
  15. Mayat-Mayat Perempuan Itu?
  16. Apa Kata Mereka?
  17. Dari Berbagai Penjuru Simpati Mengalir 55
  18. Ketakutan dan Teror Masih Berlangsung — 59
  19. Bongkar dan Adili Segera! Pertanggungjawaban Hati Nurani
  20. Jauh Hari
  21. Sebelumnya,
  22. Tanda Itu
  23. Sudah Tampak
  24. ya, Timor Ti-
  25. juga habis dibantai. Karena takut, saya
  26. Kronologi dan Modus Operandi Pemerkosaan
  27. Ke Mana
  28. Hilangnya
  29. Mayat-Mayat
  30. Perempuan Itu?
  31. permukiman warga keturunan Tiong-
  32. belum berbau rasial. Dimulai pada pagi
  33. Mahasiswa berpidato dan meneriak-
  34. Ashari, sejumlah toko dekat pintu kere-
  35. AC, kulkas, mesin cuci, dan sebagainya, diseret ke tengah jalan. Aksi terus ber-
  36. Ibu Kota dilanda ketegangan luar biasa.
  37. Tak banyak orang awam yang perca-
  38. tutup mulut, daripada menanggung
  39. malu lebih besar. Ada pula korban yang
  40. Sebab, pemerkosanya lebih dari satu
  41. (ruko) di sepanjang jalan raya, yang
  42. TABEL 1
  43. No. Wilayah
  44. 1. Pengondisian massa untuk berkum- pul di lokasi. Ini dilakukan dengan
  45. 1. Kelompok pemuda yang mengguna-
  46. TABEL 2
  47. No. Kerusuhan
  48. dan pembakaran di lokasi yang akan
  49. 2 Isu disebarkan melalui telepon, sopir-sopir
  50. Ada orang atau sekelompok orang yang
  51. Kedua, kalau kemiskinan dipandang
  52. persamaan modus operandi kerusuhan
  53. sebagai akar gejala pemerkosaan, apa-
  54. lagi dalam skala massal, maka kesim-
  55. JIKA YANG JADI SASARAN JELAS-JELAS ETNIK
  56. ban pemerkosaan dan calon korban nyebab seluruh tindakan biadab itu
  57. yang diselamatkan para warga setem-
  58. Ketiga, argumen kemiskinan sebagai
  59. dan jauh, tanpa berupaya mencari pe-
  60. masuk hingga 3 Juli 1998).
  61. dap perempuan yang terjadi di kota-
  62. maan dengan di Ibu Kota, menjadi ter-
  63. pelecehan seksual dan pemerkosaan
  64. yang terjadi di wilayahnya. Ternyata,
  65. perempuan etnik Tionghoa di Solo, Me-
  66. ga laporan ini ditulis (7/8), teror berupa
  67. Tim Relawan berdasarkan laporan yang
  68. 16 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA
  69. bakar pada hari yang sama dengan saat
  70. Kampanye menentang kebiadaban di
  71. gelas, dan cakaran kuku.
  72. puan menjadi korban, namun di Medan
  73. dak melaporkan kejadian amoral yang
  74. mereka yang meninggal sebaiknya di-
  75. mengenai pemerkosaan yang terjadi di
  76. kotanya. Kendati demikian, ia meng-
  77. Ketidakpercayaannya terhadap orang
  78. ga minggu di bulan Juli, diperoleh
  79. Pertama, ditemukan selebaran yang
  80. Ketujuh, adanya telepon gelap yang
  81. mukan dampak-dampak buruk yang
  82. tidak nyaman lagi hidup di Bandung.
  83. ga masyarakat tidak dapat menjalani
  84. kegiatan sehari-hari dengan tenang.
  85. kerusuhan di Jakarta. Kerugian materi
  86. kan pusat kota ini, diperkirakan menca-
  87. pai Rp 457 miliar.
  88. Itu baru kerugian materi. Belum lagi
  89. 20 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA
  90. Ada juga informasi yang sampai ke-
  91. Tionghoa diperkosa dalam sebuah gang.
  92. kan. Solo di waktu malam, dua bulan
  93. 550.000 orang, di atas lahan seluas 44
  94. Sumber kesunyian terutama, tampak-
  95. dapi, bukan dihindari.
  96. Korban-Korban Mengenaskan
  97. Jerit itu
  98. Tanpa Suara
  99. Jakarta hangus terbakar. Puing-puing
  100. pan pun ikut
  101. akan menjadi pengalaman traumatik
  102. Hari itu, 13 Mei 1998, puluhan pe-
  103. Masih belum puas, mereka juga me-
  104. ga. Kakak beradik itu dilemparkan ke
  105. orang tuanya yang baru ditebus di
  106. apotek pun habis dijarah.
  107. yang tersisa, ia bangun dan kembali
  108. memegang baju pacarnya erat-erat.
  109. àgar para penjarah membebaskan ke-
  110. bakar. Keduanya tewas. Namun, R ber-
  111. hasil selamat karena ada yang meno-
  112. 24 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA
  113. Seorang korban lain dan keluarga-
  114. tak terjadi, korban dan keluarganya
  115. ngapura. Peristiwa mengenaskan yang
  116. Kejadian tragis, menimpa seorang
  117. brak ruko, dan menjarah barang-barang-
  118. ga, sementara rumah korban dibakar.
  119. nya, anak gadisnya itu diseret keluar
  120. kayu hingga berdarah dan menjerit-
  121. Ketika kendaraannya melaju di Jalan Tol
  122. menyetir, berhenti. Orang-orang tak di-
  123. Tapi, apa yang terjadi kemudian?
  124. merta menggulingkan mobil sedan ter-
  125. lamat, berkat bantuan para penduduk setempat. Akhirnya, mereka bisa sampai ke rumah keesokan harinya.
  126. Ternyata, gadis itu malah disetubuhi
  127. ngan ringan, menjawab, "Tidak. Saya
  128. reng, mobil mereka dicegat segerom- bolan orang.
  129. Dampak Luas Pemerkosaan
  130. Noda Hitam
  131. Kehidupan
  132. gapi trauma, "Apalagi mereka yang
  133. Sedangkan dalam jangka panjang,
  134. dupan seksualnya juga bisa sangat ber- ubah akibat kecemasan, perasaan bersa-
  135. lah, serta hilangnya kepercayaan diri
  136. tuk mendorong korban agar memberi-
  137. tiwa sadis seperti itu? Tampaknya, bu-
  138. pemikiran korban yang negatif hingga
  139. netral kembali," kata Prof. Dr. Singgih
  140. D. Gunarsa.
  141. Singgih pula.
  142. minan biasanya adalah ketakutan yang
  143. Dari segi fisik, korban mungkin kehi-
  144. sa korban untuk memberikan pengaku-
  145. ra petugas rumah -sakit, dokter, serta para relawan yang membantu mengu-
  146. Namun, yang patut dicermati pula,
  147. iringi tragedi 13-14 Mei lalu.
  148. saya pulang ke rumah naik bajaj. Bia- sanya saya membayar Rp 3.000. Waktu
  149. lah menjadi ge-
  150. Misalnya yang
  151. terjadi pada 25
  152. seorang perempuan Tionghoa. Mereka berpapasan dengan sekelom-
  153. dari kelompok itu yang tersenyum-se-
  154. hoa itu. (Laporan saksi mata Tim Rela-
  155. Kalau kehidupan bermasyarakat su-
  156. mana kelak nasib bangsa ini? Renung-
  157. dapat membuat korban kembali teng-
  158. 34 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA
  159. Ita F. Nadia, Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan
  160. Divisi Kekerasan terhadap Perempuan
  161. Buktikan
  162. Kalau Kejadian
  163. perempuan Tionghoa berhak untuk di-
  164. terjadi percobaan pemerkosaan.
  165. Apakah karena para pelaku masih ber-
  166. Para pemerkosanya tidak diketahui,
  167. pemerkosaan ini dibenarkan atau di-
  168. tegas terhadap kasus-kasus pemerkosaan massal pada Mei lalu?
  169. menyatakan masalah ini harus dibong-
  170. kar tuntas, meskipun Presiden Habibie
  171. sudah mengatakan, mengutuk tindakan
  172. tah membentuk Tim Pencari Fakta Ga-
  173. Sejauh ini belum. Tapi, yang penting
  174. bukan menangkap para pelakunya. Pe-
  175. ristiwa pemerkosaan massal itu kan su-
  176. Adakah kesamaan para pelaku keru- 36 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA
  177. penelitian, pendidikan, dan perubahan
  178. Pemerkosaan Massal
  179. Bukan Tabiat
  180. Orang Indonesia
  181. Apa Kata
  182. Mereka?
  183. 42 /PUNCAK KEBIADABAN BANGGA7TIM PEMGURU FAKTA
  184. Nursyahbani Katjasungkana, S.H., Direktur Lembaga. Bantuan Hukum-Asosiasi Perempuan Indonesia untuk
  185. Tugas pemimpin di mana pun adalah
  186. Di mana saja ada ketimpangan sosial,
  187. sebenarnya muak terhadap sekelompok kecil
  188. konglomerat yang hanya bermodalkan
  189. Memang, rekayasa politik pada
  190. Kerusuhan rasial sebenarnya sudah
  191. yang sakit jiwa begitu banyak pada
  192. sudah mulai banyak juga warga Tionghoa yang tidak
  193. Di Indonesia, kalau terjadi
  194. SARA (Suku, Agama, Ras, dan
  195. didukung oleh pengembangan
  196. disintegratif. Saya berharap,
  197. 46/PUNCAK KEBIADABAN BANGSA /TIM PEMBI
  198. Sofyan Wanandi, Pengusaha
  199. kerusuhan kemarin, jumlahnya antara 10.000-
  200. 30.000 orang. Tidak sampai 100.000. Kalau hanya
  201. 30.000 orang yang pergi, itu kan sangat kecil jika
  202. dibandingkan dengan 5 juta warga keturunan
  203. yang menengah dan kalangan profesional yang
  204. menimbulkan kecemburuan sosial yang
  205. 47 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU·FAKTA
  206. Kepala Program Kajian Indonesia di
  207. Orang Tionghoa yang lahir di
  208. Sesudah selesai studi, ada yang
  209. saja, karena capek ngomong Inggris terus. Sampai uimpt
  210. Saya ingin tekankan juga,
  211. Jangan lalu berkata, "Ah, itu
  212. Bukan hanya pada orang
  213. 48 /PUNCAK KEBIADABAN BANGSA
  214. TA PEMBURU FAKTA
  215. seperti mengembalikan bekas
  216. Saya ingin menyerukan untuk
  217. pendiri negeri ini, yang diwakili dalam
  218. Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) oleh
  219. Saya ingin menegaskan, warga
  220. Indonesia. secara bermartabat.
  221. Menyoal Lambannya
  222. Upaya Pemerintah
  223. Di Mana
  224. Kau, Ibu?
  225. ANGKASAFOTO
  226. didasari fakta, tidak adanya satu pun
  227. laporan yang mendarat di mejanya.
  228. lik warung setempat.
  229. muncul lewat nomor telpon 380-5530
  230. segan-segan meminta maaf, bahwa pe-
  231. Trisakti, hingga kerusuhan 13-14 Mei.
  232. dari berbagai sumber
  233. Dari Berbagai
  234. Penjuru Simpati
  235. Mengalir
  236. guyur Jakarta 23 Juli silam, acara Doa
  237. keselamatan, tetapi juga menjadi peng-
  238. nisir di belakang kerusuhan tersebut.
  239. apa adanya, itu tidak nasionalis," kata
  240. juga berada di Negeri Paman Sam seba-
  241. gai pembicara sebuah seminar.
  242. Ikut-Ikutan atau Karena Para Pelaku Masih Berkeliaran?
  243. Kekerasan
  244. dan Teror Masih
  245. Berlangsung
  246. semua penumpang etnik Tionghoa, dan
  247. cekam ketakutan. Warga kota Bandung,
  248. tanpa segan — padahal mereka anak
  249. Teror Untuk Masyarakat Luas
  250. ngeri bak dalam cerita kriminal rekaan
  251. Divisi Kekerasan terhadap Perempuan,
  252. alami perempuan aktivis di Timor Ti-
  253. kosa perempuan etnik Tionghoa pada tanggal yang telah ditentukan. Teror itu
  254. Ternyata, yang dikerumuni adalah
  255. 61 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA
  256. Bongkar dan
  257. Adili Segera!
  258. Pertanggungjawaban
  259. Hati Nurani
  260. 63 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

PUNCAK

KEBIADABAN

BANGSA

"Wang Fe Ing

Pemerkosaan Etnik Tionghoa 13 - 14 Mei '98 Rp 3.800,- Hiaktru

Perkosaan Etnik Tionghoa 13 - 14 Mei 1998

PUNCAK

KEBIADABAN

BANGSA

(

Tim Pemburu Fakta mengolah isi buku mungil inidari berbagai sumber. Terima kasih kepada: Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Divisi Kekerasan terhadap Perempuan Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) Tempo Interaktif Majalah Matra Majalah.D &R Harian Suara Pembaruan Radio Netherland Berita-Bhinneka Mailing List Solidaritas Nusa-Bangsa Huaren NGO

dan semua pihak yang telah membantu dengan tulus, hingga buku ini dapat diterbitkan.

Salam hangat, Tim Pemburu Fakta

FOTO-FOTO Repro Kompas, Jakarta Post, Panji Masyarakat, Media Indonesia, D&R

Diterbitkan oleh Yayasan Karyawan Matra

Menjebol

Dinding Kebisuan

TIGA BULAN BERLALU SEJAK KERUSUHAN besar-besaran melanda Ibu Kota pada 13-14 Mei silam. Di tengah penjarahan, pembakaran gedung dan kendaraan bermotor, masih ada segerombol "orang"— kalau masih bisa disebut

demikian—yang tega-teganya menista

tubuh sejumlah perempuan. Biadab. Adakah kata lain yang lebih rendah artinya, dan pantas untuk menggambarkan napsu liar mereka? Bahkan hewan pun masih lebih "manusiawi" dalam melampiaskan birahinya. Tragisnya lagi, setelah martabat dilecehkan, kini para perempuan yang jadi korban dan keluarga mereka, bahkan tim relawan yang menolong dibungkam. Teror melanda. Kabar tentang beredarnya foto-foto dan video perkosaan, membuat nyali korban bertambah kecut.

Padahal, perempuan diciptakan Sang

Pencipta dengan tujuan mulia. Dari dialah lahir generasi demi generasi. Dia adalah guru pertama bagi anak- anaknya. Perempuan senantiasa menjadi jiwa setiap komunitas di seluruh dunia.

Dilandasi rasa hormat dan penghargaan kepada kaum perempuan, buku ini kami terbitkan. Bukan untuk menoreh goresan lagi pada luka yang masih berdarah, namun lebih pada upaya pencarian keadilan. Mewakili mereka yang tertindas tanpa mampu membuka suara, kami intisarikan kejadian tragis memilukan, yang berlangsung di Jakarta — dengan jumlah korban terbanyak — dan di beberapa kota besar lain di Indonesia. Selamat membaca, dan memetik hikmahnya!

Perempuan diciptakan dari rusuk Adam bukan dari kepalanya untuk menjadi atasannya bukan pula dari kakinya untuk dijadikan alasnya melainkan dari sisinya untuk menjadi setara dengannya dekat pada lengannya untuk dilindunginya dan dékat dengan hatinya untuk dicintainya

Dale S. Hardley

03 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Daftar Isi

Menjebol Dinding Kebisuan Jauh Hari Sebelumnya, Tanda Itu Sudah Ada Ke Mana Hilangnya,

Mayat-Mayat Perempuan Itu?

15 Pemerkosaan di Kota-Kota Lain 22 Jerit Itu Tanpa Suara Noda Hitam dalam Lembar Kehidupan30 Ita F. Nadia: 35 Buktikan Kalau Kejadian Ini Bohong Dr. Rosita Noer:'Pemerkosaan Massal Bukan Tabiat Orang Indonesia 38 41

Apa Kata Mereka?

Di Mana Kau Ibu? - Menyoal Lambannya Upaya Pemerintah 50

Dari Berbagai Penjuru Simpati Mengalir 55

Ketakutan dan Teror Masih Berlangsung — 59

Bongkar dan Adili Segera! Pertanggungjawaban Hati Nurani

04 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU'FAKTA

Jauh Hari

Sebelumnya,

Tanda Itu

Sudah Tampak

05 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

ÍNILAH TRAGEDI PALING PAHIT YANG PER- nah terjadi di bumi pertiwi. Tak ada da- lih lagi untuk mengatakannya sebagai suatu gerakan massa yang muncul secara spontan. Banyak bukti mengarah pada satu kesimpulan: kerusuhan dan pemerkosaan di Jakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia, yang berlangsung Mei lalu, merupa- kan KEJAHAT-ANTEROR-GANISIR dan SISTEMATIS, denganetnik Tionghoa sebagai target sasar- annya. Sepanjang se- jarah perjalanan bangsa Indonesia, tak dapat dipungkiri, te- lah terjadi beberapa kali kerusuhan anti Cina. Misalnya, saat tentara Jepang menyerbu Pu- lau Jawa, di wi- layah Pantai Utara terjadi kerusuhan. Setelah Pro- klamasi Kemer- dekaan, terjadi pula beberapa kerusuh an anti Cina. Di antaranya, tahun 1963 di Bandung dan Cirebon, lalu tahun 1980-an di Solo. Tapi, itu "hanya" kerusuhan berupa pengrusakan bangunan dan kendaraan, tanpa merembet ke pemerkosaan. Ketika tentara Jepang menyerbu Nanking, Cina, tahun 1937, terjadi pe-

nyiksaan dan pemerkosaan massal ter- hadap 80.000 perempuan di sana. Tat- kala Jepang menduduki Korea, Taiwan, Indonesia, dan lainnya, muncul bentuk lain pemerkosaan, yakni jugun ianfu — wanita penghibur yang mengikuti para tentara Jepang. Namun, tetap saja ada perbedaan an- tara pemerkosaan massal di masa perang itu dengan pemerkosaan massal di alam ke- merdekaan. Yang disebut perta- ma, dilakukan dalam masa_tidak damai, dan olehbangsa asing yang ber- status penjajah. Sementara kedua, yang berlangsung saat tidak ada perang, dan dilakukan oleh bangsa sendiri. juga Tengokj perkosaan ber- motif politik di daerah-daerah rawan konflik seperti Irian Ja-

ya, Timor Ti-

mur, dan Aceh, yang sekarang mulai disingkap. Karena itu, tak berlebihan jika Chris- tianto Wibisono dalam salah satu tulis- annya di sebuah harian Ibu Kota, me- nyebut rentetan peristiwa politik berda- rah yang terjadi pada rezim Soeharto sebagai The Rape of Indonesian Dignity. Memang, martabat bangsa ini tiba- tiba direnggut secara paksa dan kasar, 06 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

"Jauh sebelum kerusuhan, suatu hari oleh sekelompok orang yang tak ber- tanggung jawab, yang, notabene masih saya dan seorang teman membeli teh botol. Tahu-tahu, saya disuruh memba- saudara sebangsa setanah air. Teganya. yar Rp 5.000. Mulanya saya keberatan. Simak saja pengakuan seorang hadi-Saya merasa diperas. Tapi, beberapa le- rin tak dikenal, dalam sebuah pertemu- laki yang tadinya hanya duduk di seki- an tim relawan yang menangani para tar pedagang, berdiri dan mengancam. korban kekerasan terhadap perempu-Katanya, mau apa kamu? Sebentar lagi an. "Saya ini bukan intel, tapi saya sa-

juga habis dibantai. Karena takut, saya

lah seorang komandan yang mengge- terpaksa membayar," korban lain ber- rakkan kerusuhan. Saya merekrut 60 kisah. orang dari berbagai angkatan. Saya bisa Masih merasa belum cukup, para pe- memperkosa perempuan-perempuan ini rencana kerusuhan bergerak ke pemu- (seraya menunjuk pada tiga gadis kiman-pemukim-Tionghoa). Mem- an miskin, yang le- bunuh Anda itu taknya berdekatan
perkara mudah...."
dengan pemukim-Sebenarnya, ren- "Saya ini an mewah. cana pemerkosaan bukan Seorang laki-laki yang terorganisir intel, tapi saya berbadan kekar, dan sistematis su- salah seorang misalnya, menda- dah dapat dicium komandan yang tangi lokasi pemu-jauh hari sebelum- menggerakkan kiman miskin yang nya. Hanya, mung- tak jauh dari Pan-
kerusuhan...."
kin sang korban yangmenerima peringatan dan an- caman, tidak menganggapnya terlalu serius. "Suatu kali saya naik taksi. Ketika saya hendak membayar, sopir taksinya menolak. Katanya, enggak usah bayar. Kamu Cina, sebentar lagi akan habis dibantai dan diperkosa," tutur salah seorang korban. Pengalaman senada dialami pula seorang gadis Tionghoa di kawasan Ja- karta Barat pada Maret silam. Ia pulang ke rumah naik bajaj. Setiba di tujuan, sopir bajaj tak mau dibayar. "Enggak usah, Oh, rumah lu di sini, ya. Hati-hati aja tanggal 27 nanti," sang sopir mem- peringati. Tak hanya sopir-sopir angkutan umum yang fahu rencana busuk itu. Angin kebencian juga sudah ditiupkan pada para pedagang kecil.

tai Indah Kapuk. Mulanya, ia hanya berkenalan dengan para pemuda se- tempat. Mereka mengobrol. Lalu, dengan ra- mah si kekar mentraktir parà pemuda. Terjalinlah hubungan akrab antara ke- dua pihak. "Lelaki itu kemudian bilang, kalau lu mau, sebentar lagi lu dapat barang-barang mewah; dan bisa meng- gauli amoy-amoy yang selama ini enggak bisa dijamah," beberapa saksi mata memberi kesaksian. Akhirnya, tragedi berdarah itu betul terjadi. Bukan pada akhir Maret, seperti disinyalir sopir bajaj di atas. Barangkali, jaringan perencana merasa, saat itu momennya belum tepat. Tapi, pada 13- 14 Mei 1998, kira-kira satu minggu sebelum rezim Orde Baru berakhir. Dan kebiadaban dalam kehidupan berbangsa pun mencapai puncaknya. 07 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Kronologi dan Modus Operandi Pemerkosaan

Ke Mana

Hilangnya

Mayat-Mayat

Perempuan Itu?

08 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

"BUNUH CINA! GANYANG CINA!" TERIAK perusuh di tengah kobaran api. Yel-yel seperti itu terdengar di sentra bisnis dan

permukiman warga keturunan Tiong-

hoa, pada 13-14 Mei lalu. Gelombang amuk massa itu awalnya

belum berbau rasial. Dimulai pada pagi

hari (13 Mei), saat massa menyaksikan aksi berkabung mahasiswa di Universi- tas Trisakti.

Mahasiswa berpidato dan meneriak-

kan yel-yel reformasi. Di luar, massa pu- nya cara sendiri. Mereka mencegat kendaraan yang lewat, memaksa sopir turun, lantas membakar mobil. Dari laporan Tim Relawan untuk Kemanu- siaan setelah ke- ter- rusuhan, ungkap fakta, di antara massa itu menyelinaplah sejumlah provo- kator. Mereka- lah yang perta- 'ma-tama ber- usaha meman- cing perhatian massa dengan cara membakar ban mobil, tum- pukan kayu, atau bahkan kendaraan. Menjelang tengah hari, kerusuhan meluas ke arah jalan Daan Mogot dan Kyai Tapa. Sementara di Jalan Hasyim

Ashari, sejumlah toko dekat pintu kere-

ta api dibakar. Cat, perabot elektronika seperti TV,

AC, kulkas, mesin cuci, dan sebagainya, diseret ke tengah jalan. Aksi terus ber-

langsung sepanjang sisa hari, hingga

Ibu Kota dilanda ketegangan luar biasa.

Mayat-Mayat Bergelimpangan KEESOKAN HARINYA, JALAN HAYAM WURUK

dan Jalan Gajah Mada yang sejak pukul

09.00 pagi diblokir, belakangan ikut lu- luh-lantak. Sepanjang hari, penjarahan, perusakan, dan pembakaran berlang- sung. "Sekitar pukul 11.30, saya melihat be- berapa orang di antara massa mencegat mobil dan memaksà penumpang turun. Kemudian mereka menarik 2 orang ga- dis keluar dari mobil. Mereka mulai melucuti pakaian kedua perempuan itu, dan memperkosanya beramai- ramai. Kedua perempuan itu mencoba melawan, namun sia-sia, " ujar seorang saksi mata di kawasan Muara Angke,
14 Mei 1998. Memang, tidak semua perempuan yang menjadi korban, diperkosa. Ada yang cuma ditelanjangi, lalu dianiaya. Namun, banyak pula yang diperkosa, dianiaya, bahkan dibunuh atau terbu- nuh.

Tak banyak orang awam yang perca-

ya, jika dalam amuk massa bermuatan rasial itu ternyata juga sarat dibebani kasus-kasus pelecehan dan pemerkosa- an terhadap perempuan etnik Tiong- hoa. Pasalnya, kerusuhan anti Cina itu su- 09 / PUNCAK KÈBIADABAN BANGSA / TIM.PEMBURU FAKTA

di perempatan Cengkareng, mayat-ma- dah "biasa" terjadi beberapa tahun se- yat perempuan yang tadi bergelim- kali di negeri ini. Tapi, kalau kerusuhan pangan, sudah tidak ada lagi. Ke mana dengan pemerkosaan massal? "Ah, ma- mayat-mayat itu? Siapa yang membawa sak sih? Jangan-jangan itu cuma isu," mereka? begitu komentar yang terdengar, beberapa hari setelah kerusuhan. Namun, Berapa Banyak Korban? temuan demi temuan di lapangan, me-BEGITULAH SALAH SATU KISAH TRAGIS DARI runtuhkan dugaan banyak orang. ratusan pemerkosaan yang dilakukan "Setelah kedua gadis itu berhasil me- lepaskan diri dari orang-orang biadab, di seputar peristiwa kerusuhan perte- ngahan Mei silam. saya mendekati mereka dan mendekap-

nya. Mereka minta saya membantu mencarikan jalan aman untuk pulang. Karena saya tinggal di daerah itu, saya hafal jalan pintas menuju jalan raya. Se- sampai di perempatan Cengkareng, saya melihat beberapa mayat perempuan dalam keadaan telanjang, dengan muka ditutup koran. Perempuan-perempuan itu tampak telah diperkosa, karena dari alat vital mereka terlihat leleran darah mengering dan dikerubungi lalat," masih cerita saksi mata di atas. Usai menolong ke dua wanita itu, saksi mata tersebut pulang melewati jalan yang sama. Anehnya, ketika sampai

Hingga tanggal 3 Juli 1998, Tim Rela- wan untuk Kemanusiaan Divisi Keke- rasan terhadap Perempuan telah mene- rima laporan 168 korban pemerkosaan dan pelecehan seksual massal. Jumlah korban terbanyak ada di Jakarta dan se- kitarnya (152 korban), sisanya berasal dari Solo, Medan, Palembang, dan Sura- baya. Dari seluruh jumlah tersebut, 20 korban di antaranya telah meninggal du- nia. Sedang kebanyakan yang masih hi- dup berada dalam kondisi fisik dan psi- kologis yang sangat berat. Jumlah tersebut bisa saja masih ber- 10 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

tambah terus. Sebab, diyakini masih ada korban-korban yang lebih memilih

tutup mulut, daripada menanggung

malu lebih besar. Ada pula korban yang

segera diungsikan keluarganya ke luar negeri. Pemantauan Badan Komunikasi Peng- hayatan.Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) lebih mengejutkan. Menurut Rosita Noer, ketua umum Bakom PKB Pusat, tercatat 468 perempuan yang mengalami kekerasan. Dari jumlah itu, ada 60 orang yang diperkosa lantas dibakar.

Siapa Pelakunya? UMUMNYA, PEMERKOSAAN DILAKUKAN oleh orang yang dikenali korban. Tapi,

teori ini tak berlaku, saat mengulas pemerkosaan massal yang terjadi di Jakarta beberapa bulan lalu.

Sebab, pemerkosanya lebih dari satu

orang. Mereka juga tidak dikenal korban dan penduduk setempat. Dari pe- nelusuran awal Tim Relawan, diper- oleh pola dalam pemilihan lokasi dan perlakuan yang sama terhadap korban. Yang jadi incaran adalah rumah toko

(ruko) di sepanjang jalan raya, yang

menghubungkan dua kawasan. "Ge- rombolan pelaku ini datang menyerang, merusak ruko, memerkosa, dan kemu- dian membakar," tandas Ita F. Nadia, koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan Divisi Kekerasan terhadap Pe-

TABEL 1

Contoh Lokasi Kerusuhan Contoh Lokasi Pemerkosaan
1 Jakarta Pusat Wahid Hasyim (Tanah Abang), Jiung (Kemayoran), Samanhudi Putih, Sumur Batu, Salemba, Tanah Abang, Harmoni
Jakarta Selatan Cinere, Pasar Minggu, Cipete,
Jakarta Timur Pasar Rebo, Kramat Jati, Kampung Melayu, Klender, Jatinegara, Matraman,
Penas
4 Jakarta Barat Palmerah, Kebayoran Lama, Grogol, Roxy, Green Garden, Bojong Indah, Jelambar, Jembatan Dua, Jembatan Lima, Gajahmada, Glodok, Dua, Jembatan Tiga, Jembatan Angke, Jelambar, Jembatan Lima, Jembatan Besi, Cengkareng Cengkareng, Glodok Kota
5 Pantai Indah Kapuk Kelapa Gading, Mangga Dua, Sunter Pluit, Pantai Indah Kapuk,

No. Wilayah

2 Bintaro 3

Glodok Jakarta Utara

Perbandingan Lokasi Perusakan-Pembakaran dan Lokasi Pemerkosaan-Pelecehan Seksual Massal

(Pasar Baru), Galur, Cempaka

Fatmawati, Kalibata, Mampang,

Rawamangun, Kalimalang,

Cengkareng Cengkareng,

Tangerang, Bekasi 6 Sekitar Jakarta Depok, Bekasi, Lenteng Agung, Tangerang, Ciputat, Cileduk, Sumber: Dokumentasi Tim Relawan untuk Kemanusiaan, kesaksian para korban, keluarga korban, dan saksi mata. 11 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

rempuan. Fakta-fakta di lokasi kejadian mem- perkuat kesimpulan, kerusuhan dan pemerkosaan yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada 13-14 Mei, dilakukan oleh sekelompok orang secara terorga- nisir dan sistematis. Kalau peristiwa kerusuhan, perusakan, dan pembakaran massal saat itu terjadi di semua wilayah Jakarta; pemerkosaan massal hanya terjadi di kawasan Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan beberapa wilayah lain yang selama ini di- kenal sebagai konsentrasi tempat ting- gal dan bekerja dari warga Tionghoa. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1. Dari pola lokasi pemerkosaan massal tersebut dapat diambil dua kesimpulan. Pertama, pelecehan seksual dan pemerkosaan massal itu terjadi di tempat yang sama dengan beberapa kawasan kerusuhan. Kedua, pola lokasi pemerkosaan massal di atas menunjukkan dengan jelas, tindakan pemerkosaan massal dan pe- rundungan seksual itu diarahkan kepada perempuan etnik Tionghoa. Gejala ini bisa dibuktikan dari identitas para korban yang terkumpul di Tim Relawan.

Modus Operandi Pemerkosaan Massal POLA-POLA YANG SANGATMIRIP DALAM MOdus operandi pemerkosaan massal, mu- lai menunjukkan bukti semakin kuat, bahwa peristiwa biadab itu melibatkan jaringan perencana dan pelaku. Dari sejumlah kesaksian korban dan saksi máta, Tim Relawan menemukan adanya peran "komandan" kerusuhan yang naik sepeda motor atau mobil. Sang "komandan" inilah yang memberikan aba-aba dan menggerakkan massa. Pola awal tindakan tampak sama di setiap tempat kejadian kerusuhan. Mi- salnya:

1. Pengondisian massa untuk berkum- pul di lokasi. Ini dilakukan dengan

dua cara. Pertama, penyebaran isu le- wat berbagai media (telepon, sopir kendaraan umum, orang per orang). Kedua, ada sekelompok orang yang membakar benda-benda disertai ajak- an.

  1. Munculnya sekelompok orang yang berperan sebagai pengajak, sekaligus pengerah massa. Massa pada umum- nya adalah warga daerah sekitar kejadian. Sedangkan kelompok pengajak, bukan berasal dari daerah setempat.
  2. Awal tindakan perusakan, penjarahan, dan pembakaran, sampai pemerkosaan, bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, motor penggeraknya ber- baur dengan massa dan meneriakkan yel-yel anti Cina. Kedua, si pengajak langsung ke barisan paling depan, memimpin, dan mengerahkan massa untuk menyerang.
  3. Selama dan setelah kerusuhan, ber- langsung aksi teror disertai pemeras- an, terutama ditujukan kepada pemi- lik rumah toko (ruko) atau perusaha- an dan warga di perumahan. Para ca- lon korban atau korban dipaksa mem- bayar sejumlah uang sebagai jaminan keselamatan. Jumlahnya berkisar Rp 2 juta hingga Rp 80 juta. Melihat pola umum tentang "awal tindakan" perusakan, penjarahan, hingga pemerkosaan, disinyalir paling tidak ada empat ciri orang/kelompok pengajak dan pemimpin, sebagaimana dikenali para korban dan saksi mata:

    1. Kelompok pemuda yang mengguna-

kan pakaian pelajar SLTA atau pakaian mahasiswa.

  1. Kelompok remaja berpakaian lusuh dan berwajah dingin/sangar.
  2. Kelompok pemuda berbadan kekar, berambut cepak, dan bersepatu bot
    12 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

TABEL 2

Perbandingan Modus Operandi Kerusuhan dan Pemerkosaan Massal

Pemerkosaan

1 Usaha pengkondisian massa untuk Usaha ‘indoktrinasi' dan pengkondisian massa
berkumpul di lokasi yang akan menjadi pembakaran, melalui penyebaran isu-isu tentang adanya aksi perusakan, penjarahan, menjadi sasaran. angkutan umum, dan orang per orang. untuk menjadikan perempuan-perempuan Tionghoa sebagai target perusakan dan pembantaian, melalui penyebaran isu tentang adanya aksi kerusuhan, pembantaian dan pemerkosaan terhadap warga Tionghoa. (taksi, bajaj, angkot), pedagang-pedagang kecil, dan orang per orang.
3 4 berperan sebagai pengajak dan/atau sekaligus pemimpin- pengarah massa, agar dan didatangkan dari tempat yang tidak Ada orang atau sekelompok orang yang Pelaku tidak dikenali oleh warga setempat, dan didatangkan dari tempat yang tidak
5 6 Pemimpin atau pengajak-pengarah massa dalam bentuk: penyebaran isu-isu tentang massa. Isu ini masih beredar hingga Komandan dan/atau pemimpin- pengarah massa meneriakkan yel-yel anti Cina. Selama dan setelah kerusuhan dilancarkan pemerkosaan massal, aksi penculikan dan Tionghoa. Aksi ini masih terus berlangsung
7 toko, ruko, pabrik, usaha-usaha bisnis Sasaran teror setelah kerusuhan: pemilik Sasaran teror setelah pemerkosaan massal adalah warga Tionghoa.

Isu disebarkan lewat telepon, sopir-sopir

memberi komando, atau mengarahkan langkah dan tindak pemerkosaan.

diketahui.

aksi teror dan pemerasan. Teror dilancarkan dalam bentuk: penyebaran isu-isu tentang akan terjadinya kerusuhan, penyebaran foto- foto yang berisi kejadian dan korban pemerkosaan perempuan-perempuan hingga dokumen ini ditulis.

lainnya, dan para warga perumahan/ permukiman. Sumber : Dokumentasi Tim Relawan untuk Kemanusiaan, kesaksian para korban, keluarga, dan teman korban, serta saksi mata, Mei-Juli 1998.

No. Kerusuhan

sasaran perusakan, penjarahan, dan

dan pembakaran di lokasi yang akan

2 Isu disebarkan melalui telepon, sopir-sopir

Ada orang atau sekelompok orang yang

melakukan perusakan, penjarahan, dan pembakaran. Pelaku tidak dikenali oleh warga setempat, diketahui warga.

meneriakkan yel-yel anti Čina. Selama dan setelah kerusuhan, dilancarkan aksi teror dengan disertai pemerasan. Teror dilancarkan dalam bentuk penyebaran akan terjadinya kerusuhan, atau serangan dokumen ini ditulis (13/7/98).

mukan, tampak adanya kedekatan yang sangat kuat, 'antara cara perusakan dan pemerkosaan massal. Temuan ini mengisyaratkan, kedua peristiwa itu. terjalin sebagai satu rangkaian kejadian. Seperti peristiwa kerusuhan-perusakan yang tidak terjadi secara “kebetul- an", begitu juga pemerkosaan dan tindak kekerasan terhadap perempuan et- nik Tionghoa. Tabel 2 menunjukkan

militer.

4.Kelompok pemuda berbadan kekar, berwajah dingin/sangar, dan bertato. Peristiwa pemerkosaan massal yang terjadi dalam rentetan peristiwa kerusuhan, perusakan, dan pembakaran, memiliki pola yang mirip dengan modus operandi kerusuhan terorganisir. Pada hampir semua kasus yang dite-
13 / PUNCAK KÉBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Kedua, kalau kemiskinan dipandang

persamaan modus operandi kerusuhan

sebagai akar gejala pemerkosaan, apa-

dan pemerkosaan massal.

lagi dalam skala massal, maka kesim-

pulan ini seakan langsung memvonis Kesenjangan Sosial Jadi Kambing Hitam kelompok-kelompok orang miskin se-

JIKA YANG JADI SASARAN JELAS-JELAS ETNIK

bagai pelaku pemerkosaan dan peleceh-Tionghoa di Indonesia, dengan mudah an seksual. Padahal, justru banyak kor- orang lantas berkesimpulan, tentu pe-

ban pemerkosaan dan calon korban nyebab seluruh tindakan biadab itu

yang diselamatkan para warga setem-

berakar pada kesenjangan sosial. Se- pat yang adalah kaum miskin. makin banyaknya penduduk miskin lantaran krisis ekonomi, memicu tin-

Ketiga, argumen kemiskinan sebagai

FOTOGRAELTELRNOMU

dakan kriminal terhadap warga Tiong- hoa yang selama ini dipandang mem- peroleh hak istimewa dalam mengelola ekonomi. Tim Relawan untuk Kemanusiaan pu- nya argumentasi untuk membantah ke- simpulan naif itu. Pertama, kalau kemiskinan yang jadi akar gejala pemerkosaan, maka' masyarakat di negara-negara lain tentu tak lepas dari masalah ini. Sebab, di semua masyarakat di du- nia dijumpai kelompok masyarakat miskin. Buktinya, negara-negara lain tidak mengalami pemerkosaan massal.

akar gejala pemerkosaan, dilontarkan sebagai argumen pelarian diri (escapist). Argumen model begini cenderung mengasalkan gejala yang terlalu besar

dan jauh, tanpa berupaya mencari pe-

nyebab kejadian sebenarnya. Daripada sibuk berandai-andai, mencari sebab musabab terjadinya kerusuhan dan pemerkosaan massal, adalah le- bih baik jika pembongkaran masalah ini difokuskan pada jaringan perencana dan pelaku kerusuhan serta pemerkosaan massal. Pasti ada. dari berbagai sumber 14 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Bukti Kuat Kejahatan yang Terorganisir

Pemerkosaan di Kota-Kota Lain 15 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

masuk hingga 3 Juli 1998).

BILA SEJUMLAH PEMERKOSAAN TERJADI DA-Tapi, bukan berarti kekerasan terha- lam kurun waktu hampir bersamaan di

dap perempuan yang terjadi di kota-

sebuah negeri, pasti ada yang tidak be- kota lain, dalam waktu hampir bersa- res dengan negeri itu. Apalagi jika pe-

maan dengan di Ibu Kota, menjadi ter-

merkosaan itu bukan perbuatan krimi- abaikan. nal biasa. Sebab, para pėlakunya lebih Tim Relawan di daerah-daerah juga dari satu orang, dan ditujukan pada go- tak kalah aktif, menolong para korban longan tertentu dalam masyarakat. Ini tentu menimbulkan kesulitan da-

pelecehan seksual dan pemerkosaan

yang terjadi di wilayahnya. Ternyata,

lam menangkap para pelaku. Namun, bukan berarti membiarkan orang-orang

perempuan etnik Tionghoa di Solo, Me-

biadab itu berkeliaran seenaknya, dan leluasa melakukan pemerkosaan. Hing-

ga laporan ini ditulis (7/8), teror berupa

penculikan, pemerkosaan, masih berlangsung — meski tidak lagi massal — tapi dengan modus operandi yang sa- ma seperti kejadian pertengahan Mei lalu. Fokus perhatian memang agak terpu- sat ke Jakarta. Maklum, di samping se- bagai Ibu Kota Negara, kota ini me- nanggung korban pemerkosaan paling banyak (mencapai 152 orang, menurut

Tim Relawan berdasarkan laporan yang

dan, Palembang, Bandung, dan Sura- baya, pun mengalami nasib serupa di Jakarta.

MEDAN IBUKOTA PROPINSI SUMATERA UTARA YANG banyak didomisili warga keturunan Tionghoa ini, tak luput menjadi korban pertarungan elit politik. Bahkan, kejadian di sini berlangsung selang beberapa hari setelah kerusuhan 13-14 Mei di Jakarta. Pada 18 Juni, seminggu setelah ulang tahunnya yang ke-9, Lisa (bukan nama

16 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

sebenarnya) yang tinggal 20 kilometer di luar kota Medan, memilih pulang se- kolah sendiri daripada menunggu Martha, kakaknya. Biasanya sebelumnya, Lisa tak pernah pulang sendiri. Kurang 400 meter dari rumahnya, seorang laki-laki bersepeda motor berhenti dan me- nawarkan Lisa untuk bonceng. Dengan polosnya, Lisa menerima ta- waran laki-laki itu. Pria yang kita sebut Yudi saja, memang melewati rumah Lisa, tapi tak berhenti. Ia malah membawa Lisa ke kebun tebu dan memerkosa- nya, sebelum membawa Lisa ke rumah sendiri. Di rumah Yudi, dengan sepengetahu- an istri dan tiga anaknya, ia menyekap Lisa. Gadis kecil keturunan Tionghoa ini dikurung selama 6 hari. "Lisa tidak ingat diperkosa. Namun, ia mengatakan Yudi meracuninya tujuh kali selama pe- ngurungan. Terkadang, Lisa merasakan sakit yang luar biasa saat bangun ti- dur," ujar Ekki, ibu Lisa. "Kami yakin, Lisa diperkosa berulang kali." Pada pagi 24 Juni, Yudi mengembali- kan Lisa ke rumah. Lisa dirawat di rumah sakit selama lebih 10 hari. Ia takut pulang, dan memilih menginap di rumah teman-temannya, ditemani ibu dan dúa saudaranya. Martha mengatakan, penderitaan Lisa bukanlah satu-satunya kasus pemerkosaan di kota itu. "Banyak wanita Tionghoa telah diperkosa atau diserang di sekitar lingkungan ini sejak Mei. Dan sampai sekarang pemerkosaan itu tetap masih berlangsung,".tutur Martha. Bah- kan sehari sebelumnya, seorang ibu (56 tahun) etnik Tionghoa juga disetubuhi. Teror seksual terhadap wanita keturunan Tionghoa di kota-kota besar di Indonesia yang dimulai awal Mei-masih berlangsung terus. Seorang gadis etnik Tionghoa (17 tahun) diculik dalam sebuah taksi. Se- 17 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

bakar pada hari yang sama dengan saat

dangkan temannya yang tadinya mau kematian. Padahal, jasad itu penting se- ikut pulang bersama, berhasil melolos- bagai bukti pelaporan ke polisi. kan diri. Beberapa hari kemudian, tu-

Kampanye menentang kebiadaban di

buh gadis itu ditemukan mengenaskan. Medan pun tidak berlangsung segencar Alat vitalnya penuh dengan pecahan di Jakarta. Ini antara lain disebabkan,

gelas, dan cakaran kuku.

"baru" satu korban pemerkosaan yang Meski dikatakan telah banyak perem- dikonfirmasikan meninggal.

puan menjadi korban, namun di Medan

baru lima perempuan yang melapor. BANDUNG Sabaruddin, Ketua Asosiasi Advokat KOTA PARAHYANGAN YANG DIKENAL SEJUK, Indonesia cabang Medan, mengatakan

ada tiga alasan mengapa masyarakat ti-

dak melaporkan kejadian amoral yang

dialaminya. “Pertama, mereka terlalu malu karena stigma sebagai minoritas. Kedua, mereka tidak tahu ke mana harus melapor, karena mereka tidak lagi memper- cayai polisi, dan tidak adanya dukung- an kelompok wanita. Alasan terakhir, mereka takut diteror lagi." Di samping itu, ada alasan keyakin- an. Banyak keturunan Tionghoa di sini bėragama Buddha. Ada kepercayaan,

mereka yang meninggal sebaiknya di-

ramah, bahkan dijuluki Paris van Java, bulan Juli lalu'malah menjadi dingin mencekam. Tak ada lagi keindahan dan keramahan. Yang ada hanyalah kece- masan. Akhir Juli silam, pemilik sebuah ru- mah makan di Jalan Kelenteng, masih menampakkan kekhawatiran. "Lebih baik jangan ke mana-mana dulu. Kalau tidak penting, lebih baik tidak pergi. Apalagi naik angkqt (angkutan kota)," tutur pria setengah baya itu. Ia enggan memberitahu lebih jauh

mengenai pemerkosaan yang terjadi di

18 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

kotanya. Kendati demikian, ia meng-

aku tahu kasus pemerkosaan yang ke- betulan dialami kenalan dekatnya.

Ketidakpercayaannya terhadap orang

lain mungkin beralasan. Pasalnya, rumah makannya pernah didatangi 30 orang tak dikenal. "Kelihatannya, mereka bukan dari Bandung," katanya. Setelah menyantap makanan yang dipe- san, "Mereka pergi begitu saja. Tidak bayar," tambahnya. Kasus pelecehan seksual dan perko- saan di Bandung tercatat meningkat pada Juli lalu. Teror anti Cina terus berde- ngung. Tercatat sekurangnya delapan kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan dalam tiga minggu terakhir. Sepasang muda-mudi yang sedang melintasi jalan, tiba-tiba dihentikan. Si pria dipukuli. Sementara gadisnya di- culik dan diperkosa ramai-ramai di suatu tempat. Para pelaku dengan ringan berseloroh, "Sekarang nih kesempatan menikmati amoy-amoy Bandung.' Gadis tersebut, setelah diperkosa, di- aniaya. Alat vitalnya dirusak dengan besi. Gadis itu lalu dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Lea Margareth, salah seorang peng- urus Panpuri (Pandu Putri Pertiwi), bersama para mahasiswa Kota Kem- bang dan ibu-ibu rumah tangga, pada 24 Juli menemui Komandan. Kodim Bandung, Letkol. Anhar. Mereka melaporkan, dalam kurun ti-

ga minggu di bulan Juli, diperoleh

fakta-fakta dan berita-berita yang mere- sahkan masyarakat kota Bandung' terutama warga etnik Tionghoa. Fakta-fakta tersebut jelas merupakan bentuk-bentuk ancaman teror terhadap rakyat. Paling tidak, ada delapan fakta dan berita buruk yang berhasil diperoleh Panpuri selama bulan lalu.

Pertama, ditemukan selebaran yang

beredar di daerah Kopo, Cicaheum,

dan Tamansari. Isi selebaran gelap itu, mengajak warga masyarakat, terutama golongan ekonomi lemah, untuk melakukan penjarahan, kerusuhan, dan kekerasan terhadap warga Tionghoa di Bandung. Kedua, empat mahasisiwi Universi- tas Parahyangan (Unpar), pada waktu yang berbeda mengalami pelecehan seksual. Mereka dikejar-kejar beberapa oknum di dekat kampus Unpar, Jl. Ciumbeuluit. Untung warga masyarakat setempat berhasil menyelamatkan keempat gadis itu dari nafsu binatang, sehingga terhindar dari perlakuan yang lebih buruk. Ketiga, akhir Juni lalu seorang mahasiswi ilmu ekonomi diperkosa beberapa pria. Gadis itu disetubuhi di suatu tempat di Soreang. Korban kemudian dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Keempat, seorang mahasiswi diperkosa, setelah ia mengambil uang dari sebuah ATM. Kelima, beberapa "tukang becak" misterius di Jl. Astana Anyar dan Jl. Kopo, mengaku memperoleh uang sebesar Rp 5.000-Rp. 25.000 dari orang tak dikenal. Para penerima uang itu diperintah- kan untuk melakukan pemerkosaan terhadap para perempuan etnik Tionghoa. Keenam, empat karyawati sebuah bank swasta juga diperkosa di tempat-tempat terpisah. Di antara empat korban itu, ada seorang ibu yang telah ber- anak dua orang.

Ketujuh, adanya telepon gelap yang

bertubi-tubi·terhadap beberapa warga Tionghoa di Bandung. Isinya, ancaman kekerasan yang menimbulkan keresah- an. Kedelapan, ancaman secara personal, sambil meneriakkan perkataan yang bersifat rasial. Selain fakta-fakta dan berita-berita tersebut, Panpuri juga mene- 19 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

mengaku, belum bisa memberi banyak

mukan dampak-dampak buruk yang

bantuan kepada para korban pemer- diderita langsung oleh warga masyara- kosaan. kat, terutama mereka yang jadi sasaran 'Memang ada beberapa laporan yang teror. masuk, tapi kami mengalami kesulitan Akibat buruk teror tersebut antara la- mengeceknya. Misalnya laporan pemer- in, warga keturuņan Tionghoa merasa kosaan di daerah Colomadu, yang

tidak nyaman lagi hidup di Bandung.

korbannya dua hari tak sadarkan diri. Timbul rasa tidak aman, selalu diba-Kami gagal melacak, karena keluarga- yang-bayangi ketakutan akan adanya nya menutup diri," kata sang relawan. kekerasan. Hal ini mengakibatkan, war-Korban yang diduga diperkosa, me-

ga masyarakat tidak dapat menjalani

kegiatan sehari-hari dengan tenang.

SOLO KOTA DI JAWA TENGAH INI MENGALAMI KErusuhan pada saat yang sama dengan

kerusuhan di Jakarta. Kerugian materi

akibat kerusuhan yang meluluhlantak-

kan pusat kota ini, diperkirakan menca-

pai Rp 457 miliar.

Itu baru kerugian materi. Belum lagi

kerugian psikologis. Yang tak ternilai dengan kurs uang negara manapun di dunia. Seorang tim relawan di kota ini

nurut relawan itu, adalah ibu dan anak. Ibu itu masih tergolong muda, sekitar 25 tahun usianya, dan anaknya masih pelajar SMP. Ketika massa masuk ke rumah, si ibu yang sudah di luar rumah, masuk lagi untuk menolong anaknya. Tapi, malah si ibu maupun anaknya tak muncul-muncul dari dalam rumah. Dan, begitu' mereka keluar dari rumah, menurut kesaksian orang yang melihatnya, keduanya dalam keadaan mengenaskan dan tampak stres berat. Tak lama kemudian, si anak tidak sa-

20 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

darkan diri.

Ada juga informasi yang sampai ke-

pada tim relawan, bahwa di kawasan Jalan Slamet Riyadi, ada dua wanita

Tionghoa diperkosa dalam sebuah gang.

"Waktu kami datang pertama kali kepada yang memberi informasi, mereka' tidak terbuka," ujar sang relawan. Gambaran Solo di waktu malam seperti syair lagu keroncong — ramai, da- mai, dan romantis — tak lagi ditemu-

kan. Solo di waktu malam, dua bulan

setelah kerusuhan lewat, masih seperti kota mati. Kesunyian semakin terasa di semua sudut kota yang berpenduduk

550.000 orang, di atas lahan seluas 44

kilometer persegi.

Sumber kesunyian terutama, tampak-

nya bukan karena pusat keramaian be- lum dibangun lagi. Tapi, lebih terutama pada teror pertengahan Mei itu masih begitu mencengkeram seluruh warga. Ada kesan, kini tak mudah bertemu dengan warga keturunan Tionghoa di jalan-jalan. Orang menduga, bila mereka tak mengurung diri di dalam rumah, ya mengungsi keluar kota. Menurut catatan Tim Relawan setem- pat, korban pemerkosaan etnik Tionghoa di sini mencapai 24 orang. Kelihat- annya kecil. Tapi sebetulnya besar jika dilihat dari prosentase penduduk. Ban- dingkan misalnya dengan Jakarta (152 korban), tapi dari 8,5 juta penduduk dan lahan seluas 660 kilometer persegi. Seperti di Jakarta, penjarahan dan pemerkosaan di Solo dilakukan dengan cara terorganisir dan sistematis. Akibat kerusuhan itu, menurut Yayah Khisbi- yah MA, psikolog, timbul perasaan ter- tekan, was-was, rasa tidak aman baik sęcara kolektif maupun individual.

SURABAYA INVESTIGASI TIM RELAWAN YANG TERGA- bung dalam LSM Gema Sukma, berka-

itan dengan pemerkosaan di Surabaya, sampai laporán ini ditulis, membuah- kan hasil 19 orang diperkosa, dan 6 pe- rempuan dilecehkan. "Total korban ada 25 orang," kata sa- lah seorang aktivis Gema Sukma. Data tersebut didapat dari komunitas para korban, orang dekat korban, serta peng- akuan korban langsung. "Ini riil," te- gasnya. Setidaknya, ada tiga korban yang su- dah berbicara langsung pada tim investigasi. Korban yang mau membuka diri kepada tim itu mensyaratkan, hanya mau bicara lewat telepon. Bila para korban tersebut tak bersedia membuka, diri kepada umum, itu lebih disebabkan tidak ada jaminan keaman- an bagi mereka. Contohnya, kasus pemerkosaan di Jakarta. "Ketika ada seorang korban yang siap blak-blakan, te- tapi kemudian lenyap tak diketahui nasibnya," ujar sang aktivis. Sementara itu, Kapolresta Surabaya Timur Letkol Oegroseno menegaskan, tidak menutup kemungkinan adanya pemerkosaan itu. "Kemungkinan masih ada. Tapi laporan intel, sampai saat ini (Juli) yang ada baru sebatas pelecehan," papar Oegro. Tindakan perkosaan di beberapa kota telah terjadi, memang. Satu pertanyaan yang tak mungkin diredam, apa yang harus dilakukan terhadap jaringan ren- cana operasi serta perencana pelaku perkosaan massal? Dilupakan, mungkin kata yang sa- ngat tidak pas untuk para korban. Se- bab, para korban, keluarga, kerabat mereka, bahkan saksi-saksi mata, telah mengalami dan melihat peristiwa yang tak akan mungkin .dilupakan seumur hidup. Jaringan kejahatan publik yang sistematis-terorganisir ini harus diha-

dapi, bukan dihindari.

dari berbagai sumber 21 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Korban-Korban Mengenaskan

Jerit itu

Tanpa Suara

22 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA/ TIM PEMBURU FAKTA

MEI PERTENGAHAN YANG KELABU. SEBAGIAN

Jakarta hangus terbakar. Puing-puing

hitam legam berserakan, seakan menu- tupi peristiwa paling kelam dalam seja- rah bangsa ini di tahun 1998. Realita dan impian, kini tiada batas lagi. Penjarahan, perusakan, dan pemba- karan, mungkin belum seberapa bila di- bandingkan dengan harga diri yang ter- koyak dalam kepiluan mengenaskan. Betapa tidak. Ratusan perempuan etnik Tionghoa telah menjadi korban pele-, cehan seksual dan perkosaan massal paling biadab. Ketika rumah-rumah atau toko-toko mereka dijarah dan dibakar pa- da 13-14 Mei si- lam, masa de-

pan pun ikut

terkubur bersa- manya. Mereka tidak saja dilecehkan atau diperkosa, tapi ada pula yang dicekik, dibunuh, bah- kan bunuh diri. Bagi yang ma- sih hidup, peristiwa tersebut

akan menjadi pengalaman traumatik

yang paling menyiksa jiwa dań raga. Martabat, nama baik, keluarga, sahabat, juga kekasih, lenyap seketika. Yang ada cuma kekosongan tanpa harapan. Hanya dalam -dua hari itu, dilapor- kan telah terjadi 152 peristiwa pemerkosaan di Jakarta. Dari jumlah itu, ada dua puluh korban pemerkosaan yang tewas. Sebagian dibunuh setelah diperkosa, sedangkan lainnya bunuh diri ka- rena tak kuasa menanggung aib. Pantaslah kita berkabung bagi derita tak terperi ini. Hidup laksana kuburan

maha gelap, denyut kehidupan beru- bah menjadi tragedi tiada akhir. Inilah derita kaum perempuan, derita manu- sia yang tercabik-cabik harga dirinya. Marilah kita asah nurani yang mulai tumpul. Melihat jujur tanpa perbedaan apa pun. Renungkanlah kisah-kisah yang menyayat hati ini:

Hari itu, 13 Mei 1998, puluhan pe-

muda yang diturunkan dari dua truk menyerbu sebuah ruko. Mereka menja- rah barang, menyeret, dan.melucuti pa- kaian dua perempuan usia 15 dan 20. Kemudian mereka memerkosanya be-

ramai-ramai. Usai melampiaskan hasrat hewani, sebagian lainnya lantas mem- bakar ruko, dan membiarkan kedua korban tersebut terbakar hangus di da- lamnya.

-- Di hari yang sama, sekelompok orang tak dikenal merusak dan menja- rah rumah keluarga etnik Tionghoa lainnya. Sebagian mereka memaksa anak lelaki keluarga itu memerkosa adik pe- rempuannya yang berusia 26 tahun. Ji- ka tak mau melakukannya, rumahnya akan dibakar. 23 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Masih belum puas, mereka juga me-

maksa pembantu lelaki korban untuk memerkosa nyonya majikannya yang berumur 50 tahun. Kemudian tindak pemerkosaan dilanjutkan oleh orang-orang tak dikenal itu. Akhirnya, rumah korban dibakar ju-

ga. Kakak beradik itu dilemparkan ke

dalam kobaran api. Sang ibu menyusul membakar diri.

  • Pada 13 Mei itu pula, puluhan pe-
    muda turun dari dua truk. Mereka me- nyerbu ruko, menjarah, memerkosa, dan menggigit puting payudara (maaf-Red.) seorang perempuan usia 17 tahun hingga putus. Setelah itu mereka membakar rukonya. Beruntung, korban ber-hasil lari menyelamatkan diri.

  • Kisah A lain lagi. Gadis berusia 26
    tahun ini pada hari naas itu, Rabu, 13 Mei 1998, pulang dari kantornya — sebuah bank swasta. Ia dibonceng pacarnya, pegawai perusahaan komputer, menuju rumah. Merasa keadaan sudah mereda, mereka nekat pulang menjelang pukul

21.00 WIB. Keduanya tidak pernah ber- mimpi, dalam perjalanan itu, di suatu tempat di Jakarta Barat, mereka akan dikepung massa yang muncul begitu saja entah dari mana. Di keremangan malam itu, ia tidak mampu lagi berpikir tentang perlakuan apa saja yang telah diterimanya. Yang teringat hanyalah, ia ditarik-tarik massa agar turun dari sepeda motor. "Tuhan, tolong Tuhan ..." cuma kata-kata itu yang bisa ia teriakkan di tengah-tengah himpitan kepanikan dan ketakutan luar biasa. Blazernya sudah terlepas. Sementara seluruh harta miliknya dilolosi. Uang, telepon genggam, kartu ATM, SIM, STNK, helm, bahkan obat dokter untuk

orang tuanya yang baru ditebus di

apotek pun habis dijarah.

Gadis itu tidak ingat lagi, diapakan saja dirinya waktu itu. Hanya doa yang terus menguatkannya. Sekali ia jatuh terjengkang. Tetapi dengan kekuatan

yang tersisa, ia bangun dan kembali

memegang baju pacarnya erat-erat.

Sang pacar, yang orang tuanya beren- cana melamar tanggal 17 Mei — empat hari setelah kejadian ini tak berdaya dipukuli massa. Yang terdengar hanyalah rintihannya, "Ampun, Pak ... ampun. Saya orang biasa ... Sementara itu, teriakan massa kian menyeramkan. Tetapi, dalam keputus- asaan, tiba-tiba seseorang berusia lanjut muncul. Dialah yang memerintahkan

àgar para penjarah membebaskan ke-

dua anak manusia itu. Mereka segera pergi meninggalkan tempat tersebut, sebelum kemudian di- tolong polisi jaga di dekat tempat kejadian, yang juga tak luput dari lemparan batu massa. Oleh polisi, mereka diantar ke rumah penduduk. Seorang penduduk lalu memboncengkan keduanya sampai ke rumah. Selama berhari-hari si gadis masih saja dicekam peristiwa itu. Lama ia tak masuk kantor. Sekujur tubuhnya penuh bilur-bilur biru, bahkan juga di pangkal paha. Bekas-bekas kekerasan itu baru hilang seminggu kemudian.

  • Sehari setelahnya, 14 Mei 1998, pe-
    merkosaan kian merebak. Sekelompok orang tak dikenal memasuki sebuah ruko dan menjarah barang-barang. Se- bagian lainnya menelanjangi R, dan me- maksanya menyaksikan kedua adiknya. diperkosa. Usai disetubuhi secara pak- sa, kedua gadis itu (M dan I) dilempar ke lantai bawah yang sudah mulai ter-

bakar. Keduanya tewas. Namun, R ber-

hasil selamat karena ada yang meno-

24 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

long.

  • Kejadian memilukan, juga menimpa
    gadis kecil usia 11 tahun. Pada 14 Mei 1998, puluhan pria dewasa tak dikenal merusak rumah korban sambil tak lupa menjarahnya. Dengan biadab, mereka melucuti pakaian korban, memperkosa, dan merusak alat vitalnya dengan ka- wat berduri. Gadis kecil itu mati muda di rumah sakit.

Seorang korban lain dan keluarga-

nya mengungsi karena merebak isu akan meletusnya aksi mahasiswa dan kerusuhan. Karena peristiwa tersebut

tak terjadi, korban dan keluarganya

kembali ke rumah. Namun, malang tak dapat ditolak. Saat mereka merasa aman berada di rumah sendiri, mimpi buruk menjemput ketenangan di hari 14 Mei. Puluhan pe- muda tak dikenal berpenampilan ku- muh dan berwajah dingin, menyerbu kediaman keluarga itu dan menjarahnya. Delapan orang di antaranya menyeret, melucuti pakaian, dan memer- kosa perempuan yang baru berumur 23 tahun itu selama 2 jam.

  • Seorang ayah tak dapat berbuat ba-
    nyak saat mendapati kenyataan, anak gadisnya yang berusia 18 tahun diperkosa di sebuah jalan kawasan Jembatan Lima. Sang anak disetubuhi dari depan dan belakang oleh segerombolan orang. Tubuhnya yang lunglai segera dilari- kan ke rumah sakit. Namun, kerusakan parah di sekitar rahim, membuat putri ini akhirnya menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan.

  • Di lain tempat, sekelompok orang
    tak dikenal datang menyerbu rumah seorang korban, merusak, dan menjarahnya. Sebagian lainnya menyeret korban,

memperkosa, dan menusuk alat vitalnya dengan pecahan botol kaca. Korban meninggal di sebuah rumah sakit di Si-

ngapura. Peristiwa mengenaskan yang

menimpa gadis usia 9 tahun itu juga terjadi pada 14 Mei 1998.

Kejadian tragis, menimpa seorang

ibu muda yang sedang hamil 4 bulan. Sekelompok orang tak dikenal mendo-

brak ruko, dan menjarah barang-barang-

nya. Sebagian lainnya menarik dan melucuti pakaian korban. Suami korban yang berusaha menolong, dipukul oleh para perusuh. Dalam keadaan tanpa busana, korban berhasil meloloskan diri dan lari. Malang, ketika menuruni tangga, korban terjatuh. Kakinya patah dan kandung- annya gugur. Ibu muda itu meninggal di rumah sakit, akibat pendarahan he- bat. Sang suami pun kehilangan sega- lanya.

Di saat itu pula, puluhan orang mènghancurkan ruko milik sebuah keluarga dan mengancamnya. Kakak ber- adik yang berusia 19 dan 21 tahun, kemudian diperkosa bergantian oleh 7-10 orang. Ruko dibakar, dua bersaudara itu dilempar ke api, dengan disaksikan orang tuanya.

  • Masih di tanggal 14 Mei, sebuah ru-
    ko lain diserbu puluhan orang tak dikenal. Sebagian menjarah barang, sebagian lagi memperkosa ibu (40) dan dua gadisnya (15 dan 18). Karena tertekan, salah seorang gadis itu melompat dari jendela dan tewas seketika. Ruko kemudian dibakar, ibu dan seorang gadisnya yang masih hidup, berhasil menyela- matkan diri.

  • Selang satu hari kemudian, pada 15
    Mei 1998, pukul 6 sore, sekelompok 25 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

orang tak dikenal memasuki kompleks nari!" Sang suami kini sudah keluar dari ru- perumahan kawasan Bekasi. Sebagian mah sakit tempat ia dirawat. Laki-laki menjarah barang, sebagian lagi melu- itu mulai sembuh dari luka bacok di cuti pakaian korban, dan memaksanya punggungnya, kendati masih terlihat menari-nari di atas ranjang. memar bekas-bekas pukulan di tubuh-Suami korban yang berusaha meno- nya, dan luka pada kepalanya. Ia setia long, diseret, dipukul, dan dibacok menunggui istrinya, walaupun tangis punggungnya. Seorang tetangga yang kepiluan dan kesedihan belum bisa ter- ikut menolong, juga ditusuk hingga te- hapus dari hatinya. was. Anak korban yang berusia 3 bu- lan, berhasil diselamatkan oleh tetang-

  • Di sebuah rumah sakit terbesar dan

    ga, sementara rumah korban dibakar.

Korban, seorang ibu rumahtangga,. se- karang kehilangan ingatan dan dirawa di rumah sakit jiwa. Kini setiap hari ia hanya mau menge- nakan kaos singlet dan rok lebar. Rok lebar itu selalu disingkap dan dikibas- kibaskannya ke atas. Ia kerap mengo- ceh, "Saya mau menari ... telanjang juga mau, kok! Saya enggak malu!" Jika ada laki-laki menjenguknya, ia selalu menunjuk-nunjuk mereka dan berkata, "Itu dia tuh yang suruh saya telanjang. Itu dia tuh yanġ suruh saya

ternama di Singapura, seorang gadis tampak termenung-menung. Kadang ia menangis meratapi nasibnya. Begitulah kelakuannya sehari-hari. Saat ini ia se- dang dirawat di bagian psikiatri. Gadis itu baru 18 tahun. Tapi, ia telah mengalami peristiwa dahsyat yang me- rusak hidupnya: dia diperkosa. Peristiwa sadis yang terjadi pertengahan Mei di Jakarta itu membuat berat badannya langsung turun 10 kilogram dalam 7 hari, karena mengalami shock maha berat dan tidak mau makan. 26 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Setiap hari kerjanya hanya menangis. Dan bila si gadis menangis, kedua orang tuanya pun tak kuasa menahan air ma- ta. Mereka ikut meratapi nasib anak gadisnya. Beberapa perawat dan dokter di rumah sakit itu geram dan ikut bersedih atas musibah tersebut. Menurut ayah-

nya, anak gadisnya itu diseret keluar

rumah dan diperkosa beramai-ramai oleh sekitar 10-15 orang. Ayah, ibu, dan adiknya yang masih kecil menyaksi- kannya. Ketika ayah dan ibunya meratap me- mohon agar anak gadisnya dilepaskan, pakaian si ibu malah dirobek-robek. Ia ditelanjangi serta dipukuli beramai-ramai. Bahkan mulut ibu tersebut diganjal dengan tongkat kayu. Anak gadisnya yang berteriak-teriak, diseret-seret seperti binatang. Para pe- merkosa itu bersorak senang, bagai melihat tontonan menarik dan mereka memperkosanya lagi. Gadis itu benar-benar shock. Ia masih menderita pukulan serta hinaan. Le- ngan kirinya luka berdarah sepanjang 15 sentimeter, payudaranya yang sebe- lah kiri luka memar serius, dan puting buah dada kanannya (maaf -Red.) diru- sak oleh senjata tajam. Ibu si gadis juga luka-luka di sekujur tubuhnya, serta luka berdarah di sekitar buah dada dan dada bagian atas. Menurut sang ayah, tetangganya pun diperkosa. Setelah si tetangga diperkosa, bagian terlarangnya ditusuk dengan

kayu hingga berdarah dan menjerit-

jerit. Sungguh memilukan.

  • Cerita lain, ketika para pegawai pu-
    lang naik bis, di dalam bis para penumpang dipilah-pilah. Para penumpang perempuan etnik Tionghoa disuruh turun, diminta membuka baju, dan jalan berbaris. Mereka digiring ke padang

ilalang di pinggir jalan dan dipilah-pilah lagi. Yang berparas cantik diperkosa, sedangkan yang tidak begitu cantik disuruh berjalan telanjang. Begitulah perlakuan tanpa nurani yaņg mereka terima.

Seorang korban yang lolos dari usaha perkosaan bercerita. Ketika ia naik bis di daerah Jakarta Barat, bisnya dihentikan massa. Semua penumpang disuruh turun. Kebetulan ia berada di belakang seorang ibu yang berkulit putih. Saat itulah ada yang berteriak, "Serbu ibu itu, perkosa!" Walau ketakutan, si ibu berkata ce- pat, "Anda salah lihat. Saya orang Ba- tak!" Lalu ibu itu mengeluarkan KTP- nya. Melihat itu, orang tadi berteriak, "Kalau begitu, perkosa wanita yang di belakangnya." Gadis bermata sipit itu tampak ketakutan sekali. Untunglah si ibu membe- lanya, "Ia keponakan saya, jangan diperkosa." Akhirnya, gadis tersebut lolos dari pemerkosaan karena dibawa pergi ibu itu.

  • Ada lagi cerita sedih. Sebanyak se-
    puluh orang perusuh memasuki sebuah bank dan menutup pintu bank tersebut. Sekitar sepuluh karyawati etnik Tionghoa disuruh menari-nari tanpa busana.

  • Perbuatan biadab seperti itu bukan
    saja terjadi di dalam ruangan, tapi juga di luar kantor atau rumah, bahkan di tempat umum. Inilah kisah tragis dari tiga korban pemerkosaan pada saat peristiwa kerusuhan terjadi di Jakarta, pertengahan Mei silam. Tiga orang perempuan terdiri dari ibu, anak, dan adiknya, naik mobil dengan menyetir sendiri dari Bandung ke Jakarta untuk membeli stok pakaian. Namun, nasib sial menimpa mereka. 27 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Ketika kendaraannya melaju di Jalan Tol

Cikampek, sekelompok massa meng- hadang keluarga tersebut. Si ibu yang

menyetir, berhenti. Orang-orang tak di-

kenal itu kemudian menyuruh mereka turun sambil mengatakan, bahwa Jakarta sedang rusuh.

Tapi, apa yang terjadi kemudian?

Massa yang tampak beringas dan tak diketahui arah datangnya itu, serta-

merta menggulingkan mobil sedan ter-

sebut dan membakarnya. Ketiga perempuan tersebut kaget dan berteriak minta tolong. Namun, kendaraan yang datang dari arah Bandung maupun dari Jakarta langsung berbelok arah lagi, ketika melihat api mulai melumat kendaraan itu. Mulanya ketiga perempuan tersebut, sebut saja Nuri (47), Yuli (43), dan Yati (25), tak mengira peristiwa itu bakal terjadi. Ketika mobilnya dibakar, mereka berusaha mencari perlindungan de- ngan cara mencari jalan keluar tol lewat semak-semak di pinggirnya. Tapi, bebe- rapa orang menghampiri mereka. Serta-merta mereka mendengar ancaman menyuruh berhenti. Kalau tidak, akan di- bunuh. Mereka pun tidak dapat berbuat ba- nyak, ketika sejumlah laki-laki beringas menggarap mereka di pinggir jalan tol, yang waktu itu dalam keadaan gelap. Cahaya api dari arah kendaraan terba- kar tidak sampai ke situ karena terha- lang benteng pembatas jalan tol. Dari ketiga perempuan tersebut, Yati — gadis yang tengah mekar ini — me- nerima perlakuan sangat tidak manu- siawi. Selain ditelanjangi, ia digilir be- berapa orang. Sedangkan Nuri dan Yuli hanya dirobek-robek celananya, sementara rok mereka masih tetap utuh. Meski mereka diperlakukan sadis se- perti hewan, namun ketiganya berhasil menyelamatkan diri. Nyawa mereka se-

lamat, berkat bantuan para penduduk setempat. Akhirnya, mereka bisa sampai ke rumah keesokan harinya.

  • Seorang pelajar diangkut dari termi-
    nal bis, saat ia menanti angkutan umum itu untuk pulang ke rumah. Empat pria di dalam mobil menawari jasa baik.

Ternyata, gadis itu malah disetubuhi

beramai-ramai di daerah rawa-rawa de- kat Bandara. Melihat ada seragam dinas di dalam mobil, si gadis memberanikan diri ber- kata, "Jika Bapak-Bapak petugas ke- amanan, seharusnya Bapak-Bapak me- lindungi saya." Salah seorang di antara pelaku de-

ngan ringan, menjawab, "Tidak. Saya

harus memberimu pelajaran. Sebab ka- mu perempuan, cantik, dan orang Ci- na."

Sebuah keluarga muda berniat mengungsi ke luar Jakarta saat terjadi kerusuhan. Namun, dalam perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta, Cengka-

reng, mobil mereka dicegat segerom- bolan orang.

Sang suami yang mengemudikan mobil dipukuli. Sementara istrinya ditelanjangi, dan diperkosa beramai-ramai. Dan... putri mungilnya yang baru ber- usia dua tahun tak lepas dari keberi- ngasan massa. Alat vitalnya dirusak de- ngan benda tajam. Kini, sang ibu hanya termangu-mangu sepanjang hari, mere- nungi nasib.

  • Yang tak kalah memilukan, peng-
    alaman seorang gadis usia 16 tahun. Ia diperkosa beramai-ramai. Peristiwa itu begitu membekas dalam dirinya. Kini ia mengalami trauma berat. Setiap malam ia sering terbangun, berteriak-teriak, atau menangis tanpa sebab. Orang tua- nya kemudian memasukkannya ke se- 28 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

buah rumah sakit swasta di Jakarta. Namun malang, ketika dokter dimin- ta untuk melakukan tes kehamilan pada si gadis, ternyata hasilnya positif. Hal ini menimbulkan dilema bagi dokter tersebut. Ia meminta orang tua si gadis memberitahukan kabar buruk itu kepada anaknya. Begitu mendengar be- rita mengenai kehamilannya, gadis tang- gung itu langsung menangis dan men- jerit-jerit histeris.

KEJADIAN-KEJADIAN SADIS MENGENASKAN seperti di atas, hanyalah sebagian dari sedikit kasus yang baru terungkap. Tentu masih ba- nyak pengalam- an pahit yang belum tersing- kap. Memang, Tim Relawan telah la- membuka yanan "hotline" bagi korban yang ingin mengadu- kan nasibnya. Mereka menam- pung pengadu- an para korban perkosaan lewat nomor telepon: 021-790 2109 atau 021- 790 2112. Sejak adanya layanan itu, setiap hari sekitar 25 laporan masuk ke sana. Ra- tusan kasus perkosaan bulan Mei itu perlahan-lahan terkuak. Meski tak di- mungkiri, masih ada rasa takut dan ma- lu pada diri para korban. Mereka kerap mengurungkan niat untuk mengungkap derita yang luar bi- asa itu. Belum lagi adanya teror, baik melalui telepon maupun surat kaleng, yang mengancam keselamatan jiwa dan keluarganya. Jumlah total korban pemerkosaan dan

pelecehan seksual massal yang melapor sampai 3 Juli 1998 adalah 168 orang (152 dari Jakarta dan sekitarnya, 16 dari Solo, Medan, Palembang, dan Sura- baya). Sampai saat ini, korban pemerkosaan yang diidentifikasi berusia 12 hingga 55 tahun. Namun, ternyata ada juga anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang mengalami kekerasan seksual. Di samping kisah gadis cilik usia dua tahun di atas, Bakom PKB mencatat, ada perempuan berumur 3 tahun yang di- perkosa di depan ayahnya. Tidak hanya etnik Tionghoa kelas

menengah dan atas yang menjadi korban kekejian. Tim Relawan mendapati tiga anak gadis usia belasan tahun dari sebuah keluarga miskin di Jakarta Utara, yang digilir tujuh pemerkosa.

RENTETAN PERISTIWA MEMILUKAN ITU MEmang telah meninggalkan luka menda- lam di hati para korban, keluarga, dan handai tolannya. Juga menggoreskan kepedihan yang ngilu di hati kita seba- gai manusia beradab. Semoga kejadian pahit ini tidak terulang lagi di kemudi- an hari. dari berbagai sumber 29 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Dampak Luas Pemerkosaan

Noda Hitam

dalam Lembar

Kehidupan

30./ PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

BERBAGAI TINDAK PEMERKOSAAN YANG MA- rak berlangsung pertengahan Mei si- lam, bagaikan mimpi buruk di siang hari. Peristiwa pilu tersebut meninggal- kan bekas mendalam di hati kita. Penderitaan ini memang sangat pan- jang bagi yang mengalaminya, juga bu- at keluarga mereka. Simaklah derita seorang ayah, yang putrinya diperkosa. Di sebuah rumah mewah, seorang lelaki setengah baya itu tinggal bersama keluarganya. Tak ada ekspresi di wajahnya. Tatapannya tampak kosong melompong. Ketika ditemui, laki-laki itu menutup mukanya dengan ke- dua telapak tangan. Badannya bergetar hebat. Setelah itu ia berteriak keras, "Biadaaabb! Bia- daaabbb! Kenapa anakku yang jadi sasarannya? Apa salah kami? Apa salah kami?" Ia berteriak, dan terus masuk kembali ke kamarnya. Jiwanya kelihatan sangat tergoncang. Menurut seorang pembantu- nya, lelaki itu sering berteriak di malam hari. Terkadang ia men- caci maki dan berteriak-teriak keras minta tolong. Ia pun jarang makan, lebih sering minum air putih. Apa kasus yang menimpa putrinya, sehingga lelaki yang agak kurusan itu begitu tertekan? Menurut sumber yang layak diper- caya, pria itu stres lantaran anak gadisnya diperkosa di depan matanya sendi- ri selama berjam-jam pada 14 Mei 1998. Hari itu, pagi-pagi sekali ia telah ber- angkat kerja di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Karena mendengar akan ada ke- rusuhan besar-besaran, maka ia pun se- gera pulang ke rumah. Dia sangat meng- khawatirkan anak gadisnya yang masih bersekolah di SMA.

Setiba di rumah, ia melihat putrinya dan anak lainnya sudah pulang. Ia mem- peringatkan anak-anaknya agar tidak keluar rumah, karena banyak sekali orang di jalanan yang tengah meng- amuk. Tidak berapa lama kemudian, massa mulai bergerombol di depan rumah mereka. Orang-orang itu berteriak-teriak, "Itu rumah Cina, itu rumah Cina." Mereka bagai dikomando untuk me-

nyerbu beberapa rumah di kawasan itu. Memang, yang diserbu hanyalah rumah-rumah warga etnik Tionghoa. Beberapa lelaki masuk ke dalam rumah orang tua tadi, dan mengobrak- abrik semua yang ada di dalamnya. Mereka memukul lelaki tersebut hingga tak berdaya. Setelah itu kaki dan ta- ngannya diikat. Beberapa orang di anta- rà rombongan itu meringkus anak ga- 31 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

disnya. Lalu pakaiannya dilucuti secara paksa. Secara bergantian pula, orang-orang tak dikenal tersebut memperkosa gadis tak berdaya itu. Semua peristiwa tragis itu terjadi di depan mata sang ayah. Lelaki tua itu hanya bisa memohon dan menangis. Berkali-kali ia menawarkan sejumlah uang kalau orang-orang itu mau pergi. Tetapi, tawarán itu kadang dibalas dengan tendangan. Dan itu dilakukan oleh orang-orang tersebut hingga si ayah lemah lunglai. Istri dan kedua anaknya yang disu- ruh bersembunyi di lantai dua, tidak di- ketahui lagi nasibnya. Entah siapa yang menolong. Keesokan harinya, ketika sadar, lelaki itu mendapati dirinya telah berada di rumah sakit. Istri dan kedua anak lain- nya juga selamat, kendati mereka harus dirawat di rumah sakit pula. Adapun anak gadisnya yang secara beramai-ramai diperkosa itu, dirawat di salah satu rumah sakit di kawasan Ja- karta Pusat. Hingga kini mental sang ayah belum pulih benar. Cerita di atas hanyalah sepenggal kisah nyata dari derita panjang yang mengharu-biru dan mencabik-cabik harga diri sejumlah keluarga etnik Tionghoa. Masih banyak kisah lain yang tak kalah memilukan. Dapat dipastikan, pemerkosaan demi pemerkosaan yang dilakukan dengan sadis dan tanpa perikemanusiaan itu, berdampak sangat dalam. Para korban ada yang bunuh diri karena tak kuasa menanggung aib, sebagian lagi hilang ingatan dan terpaksa menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Seorang psikolog senior yang enggan disebut namanya mengatakan, korban yang kehilangan harta benda saja aki- bat kerusuhan Mei silam dapat dihing-

gapi trauma, "Apalagi mereka yang

mengalami pemerkosaan. Traumanya tentu lebih hebat," ia menandaskan. Dan, "Trauma itu bukan hanya dide- rita korban, tapi juga keluarganya. Bah- kan orang-orang yang kebetulan menyaksikan, meski tak kenal korban, bisa mengalami trauma pula. Kalau tidak di- hinggapi trauma, mungkin orang itu sudah kehilangan rasa kemanusiaan- nya," psikolog yang juga pendidik ini menambahkan. Memang, trauma bukan saja meng- hantui para korban dan keluarganya, tapi juga pada orang-orang yang menyaksikan peristiwa perkosaan itu secara langsung. Seorang saksi mata yang menolong dua perempuan yang diperkosa di te- ngah jalan kawasan Cengkareng, meng- aku masih saja teringat peristiwa sadis tersebut. "Semenjak menyaksikan kejadian itu, hidup saya sangat gelisah dan tergang- gu. Ketika mata saya terpejam, bayang- an mayat-mayat wanita itu nampak di depan mata. Saya merasa sangat tertekan. Karena saya tidak kuat mengha- -dapi perasaan cemas dan takut, saya putuskan untuk pulang kampung," tu- turnya. Lain lagi cerita yang diungkapkan seorang kakak, yang adik perempuannya menyaksikan langsung kejadian me- ngenaskan itu. "Setelah tanpa sengaja melihat seorang gadis Tionghoa diperkosa beramai-ramai, adik perempuan saya begitu ketakutan dan tertekan. Bi- caranya ngacau dan badannya bergetar setiap kali ada yang menghampirinya. Dua minggu ia dirawat di rumah sakit. Saya jadi sangsi, adik saya itu hanya menyaksikan orang diperkosa atau dia sendiri juga diperkosa? Kok, reaksiņya seperti itu?" Memang, nurani siapa yang tak ter- usik dalam, apabila menyaksikan peris- 32 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FÁKTA

Sedangkan dalam jangka panjang,

kenangan-kenangan buruk di masa lalu itu dapat kembali setiap saat dan meng- akibatkan depresi atau ketakutan. Kehi-

dupan seksualnya juga bisa sangat ber- ubah akibat kecemasan, perasaan bersa-

lah, serta hilangnya kepercayaan diri

yang berkepanjangan. Oleh karena itu, tidaklah mudah un-

tuk mendorong korban agar memberi-

kan pengakuan atau menceritakan kembali pengalamannya. Lebih jauh lagi, sebagai salah satu mekanisme perta- hanan diri, sejumlah korban tidak mau lagi berbahasa Indonesia. "Dengan cara

tiwa sadis seperti itu? Tampaknya, bu-

tuh waktu panjang untuk membuat trauma itu perlahan hilang dari ingatan. "Saya kira itu sangat individual sifat- nya. Ada yang bisa cepat mengatasi ma- salah, punya harapan ke masa depan, ada pula yang lama. Tergantung pribadi orang itu, serta keterampilan konse- lornya untuk mengubah pemikiran-

pemikiran korban yang negatif hingga

netral kembali," kata Prof. Dr. Singgih

D. Gunarsa.

Memang, secara teoritis, trauma akibat mengalami atau menyaksikan pemerkosaan dapat disembuhkan. Tapi, yang jelas, mem- butuhkan waktu lama. Sebab, "Ini kan meru- pakan trauma, dan sesuatu berhu- yang bungan dengan harga diri serta milik pribadi yang sangat ber- harga. Sehingga terjadi kegon- cangan yang luar biasa," ujar

Singgih pula.

Trauma dapat terjadi dalam dua ta- hap, yaitu dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, selain mengalami luka fisik, korban juga mengalami gejolak emosi, yang tidak selalu ditampilkan dalam bentuk ta- ngisan atau histeria. Reaksi yang do-

minan biasanya adalah ketakutan yang

akut. Ada pula rasa dipermalukan, rasa bersalah, dan perasaan tidak berdaya.

Dari segi fisik, korban mungkin kehi-

langan nafsu makan, sulit tidur, sering mimpi buruk, mual, pusing, serta pegal-pegal di sekujur tubuhnya.

berusaha menghilangkan trauma masa lalunya,"tutur Ita Fatia Nadia dari Tim Relawan. Untuk menceritakan kembali peristi- wa pahit tersebut, memang dibutuhkan keberanian luar biasa. Sebagian besar korban enggan mengungkapkannya. Rasa malu dan trauma, membuat mereka sukar percaya kepada siapa pun. Akibatnya, proses pembuktian terja- dinya pemerkosaan massal pun tentu menjadi sulit, kalau tidak mustahil, untuk dilakukan. Mendesak atau memak-

sa korban untuk memberikan pengaku-

an dalam rangka pembuktian, bisa jadi 33 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

menjadi sebuah langkah yang tidak bi- jaksana dan kontra-produktif, terutama dalam upaya untuk membantu memulihkan kondisi fisik dan psikologis korban. Selain itu, teror juga mengancam jika mereka berani buka mulut. Bahkan pa-

ra petugas rumah -sakit, dokter, serta para relawan yang membantu mengu-

rangi derita mereka, juga menerima teror dan ancaman. Sekalipun pengakuan dapat sangat membantu korban untuk memulihkan diri, pengakuan tentu harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan bukannya tanpa kelemahan. Sebab, pengakuan

Namun, yang patut dicermati pula,

dampak negatif dalam keseharian. Tim Relawan mensinyalir, telah terjadinya kerusakan total hidup bersama, meng-

iringi tragedi 13-14 Mei lalu.

"Beberapa hari sesudah kerusuhan,

saya pulang ke rumah naik bajaj. Bia- sanya saya membayar Rp 3.000. Waktu

itu, sopir memaksa saya membayar Rp

10.000. Ketika saya menawar, sopir itu malah mengancam saya. "Mau lu gue perkosa dulu!" tutur seorang saksi korban. Perilaku kolektif yang mirip dengan perilaku kelompok sebelum dan saat pemerkosaan massal berlangsung, kini te-

lah menjadi ge-

jala perilaku se- kelompok orang.

Misalnya yang

terjadi pada 25

Juni lalu. Saat itu, serombong- an mahasiswi naik mobil pri- badi dari ka- wasan Hotel Indonesia menuju Plaza Senayan. Dalam rombong- itu,ada

seorang perempuan Tionghoa. Mereka berpapasan dengan sekelom-

pok aparat keamanan. Ada beberapa

dari kelompok itu yang tersenyum-se-

nyum sambil memberi isyarat seksual khusus tertuju kepada mahasiswi Tiong-

hoa itu. (Laporan saksi mata Tim Rela-

wan, Juni 1998).

Kalau kehidupan bermasyarakat su-

dah demikian teracuni perilaku biadab para pemerkosa massal Mei lalu, bagai-

mana kelak nasib bangsa ini? Renung-

kanlah. dari berbagai sumber

dapat membuat korban kembali teng-

gelam dalam pengalaman buruk masa lalunya. Atau, dengan kata lain, trauma yang terjadi atas dirinya seolah-olah terulang kembali. Peristiwa penjarahan, perusakan, dan pemerkosaan yang terjadi pertengan Mei silam, memang berdampak luas dan mendalam. Menurut sebuah harian asing, kini banyak perempuan etnik Tionghoa di Indonesia yang mencari pasangan hidup dari luar negeri, se- hingga dapat cepat-cepat angkat kaki dari Indonesia. Alangkah tragisnya.

34 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Ita F. Nadia, Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan

Divisi Kekerasan terhadap Perempuan

Buktikan

Kalau Kejadian

ini Bohong 35 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

SUDAH TIGA BULAN BERLALU SEJAK KERUsuhan 13-14 Mei. Bagaimana perkem- bangan masalah pemerkosaan massal? Tim Relawan telah membuat Doku- mentasi Awal No. 3, yang berisi lapor- an pemerkosaan massal dalam rentetan kerusuhan itu. Pada tanggal 13 Juli lalu, kami menyerahkannya kepada Komnas HAM. Namun, persoalannya sekarang, kasus pemerkosaan masih tetap berlang- sung dengan cara teror. Pengkondisian pemerkosaan Mei silam, membuat orang kemudian berpikir, bahwa para

perempuan Tionghoa berhak untuk di-

perkosa atau diteror. Di Bandung ke- adaan ini berjalan terus. Tanggal satu kemarin saja, di Jakarta Barat, masih

terjadi percobaan pemerkosaan.

Apakah karena para pelaku masih ber-

keliaran, atau orang mengimitasi tindakan brutal Mei itu?

Para pemerkosanya tidak diketahui,

apakah orang yang sama seperti Mei lalu. Tapi, ada semacam pengkondisian,

pemerkosaan ini dibenarkan atau di-

halalkan untuk para perempuan etnik Tionghoa. Ataukah karena belum ada tindakan

tegas terhadap kasus-kasus pemerkosaan massal pada Mei lalu?

Ya. Belum ada satu tindakan yang

menyatakan masalah ini harus dibong-

kar tuntas, meskipun Presiden Habibie

sudah mengatakan, mengutuk tindakan

kekerasan tèrhadap perempuan. Ada sedikit harapan, bahwa pemerin-

tah membentuk Tim Pencari Fakta Ga-

bungan (TPFG). Itu kami anggap seba- gai suatu usaha pemerintah mengang- gap serius masalah ini. Apakah Tim Relawan menjalin kerja sama dengan Menperta? Secara langsung tidak ada. Tapi, jika Menperta menggunakan data yang kami berikan, itu perkara lain. Dengan kepolisian? Itu juga tidak ada secara langsung. Pi- hak kepolisian pernah datang kemari, dan mengajak bekerja sama. Tapi sam- pai saat ini belum terealisi. Adakah pelaku yang sudah ditangkap atau mengaku?

Sejauh ini belum. Tapi, yang penting

bukan menangkap para pelakunya. Pe-

ristiwa pemerkosaan massal itu kan su-

dah beberapa bulan berlalu. Persoalannya sekarang, peristiwa ini sungguh terjadi, dan perlu diusut siapa di balik semua ini? Sebab, peristiwa pemerkosaan massal tidak bisa dilepaskan secara sendiri dari seluruh peristiwa kerusuhan Mei silam.

Adakah kesamaan para pelaku keru- 36 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

suhan dengan pemerkosaan massal? Ya. Yang -melakukan penyerangan, pemerkosaan, dan pembakaran adalah orang-orang yang sama. Tapi, yang melakukan penjarahan berbeda. Mereka hanya ikut-ikutan karena diajak. Bagaimana dengan para pelaku penculikan aktivis-aktivis. Adakah kesama- annya? Wah, itu masih harus dibuktikan secara hukum. Ini merupakan suatu pa- ket teror yang terus berlanjut. Saya tidak tahu. Ini tugas dari TPFG untuk mencari tahu, apakah ada satu benang merah antara penculikan para aktivis dengan kerusuhan dan pemerkosaan massal. Jadi, siapa yang harus bertanggung ja- wab terhadap amuk massa itu? Wah, saya tidak tahu. Biarlah itu dibuktikan oleh TPFG. Seberapa besar harapan terhadap TPFG? Itu merupakan tugas, dan harus men- jadi pertanggungjawaban pemerintah, kalau memang pemerintah benar-benar mau membongkar masalah kerusuhan dan pemerkosaan massal ini secara tun- tas. Ada tulisan di media cetak yang mera- gukan kebenaran terjadinya pemerkosaan massal Mei lalu... Kalau saya, saya kembalikan lagi per- nyataan itu kepada pemerintah. Presiden dan Menperta sudah mengutuk tin- dakan tersebut,. berarti pemerintah sudah mengakui, bahwa hal itu memang sungguh terjadi. Masalahnya, ada tuntutan di sini untuk menunjukkan korban. Padahal, korban pemerkosaan itu kan mengalami trauma yang luar biasa. Apalagi ini korban pemerkosaan massal. Korban mera- sa dalam keadaan tidak aman. Ia dite- ror, begitu juga keluarga dan komuni- tasnya. Jadi, menunjukkan korban pe-

merkosaan ke hadapan publik, sama juga dengan memerkosa korban itu kembali. Kalau ada orang mengatakan kejadian itu bohong, tolong tunjukkan fakta bahwa kejadian itu memang tidak benar dan bohong. Jangan cuma asal ngo- mong. Sebab, kami bicara berdasarkan fakta juga, bukan hanya omongan. Selain ke Komnas HAM, kepada siapa lagi Tim Relawan memberikan lapor- an tentang kekerasan terhadap perempuan itu? Kami hanya memberikannya ke Komnas HAM. Sebab, kami menganggap, kami supporting system dari Komnas HAM. Dengan menyerahkannya ke Komnas HAM, berarti dokumen itu bisa di- pakai oleh siapa pun. Anda mengundurkan diri dari TPFG. Siapa yang menggantikan? Tidak ada yang menggantikan. Mereka mendesak saya untuk kembali. Ala- san saya mengundurkan diri, karena di sana sudah ada Romo Sandyawan, Se- kretaris I Tim Relawan untuk Kemanu- siaan. Mereka tidak mau mencoret na- ma saya sampai sekarang. Saya sendiri belum memberi keputusan. Tapi, saya akan duduk di Komisi Nasional Aksi Kekerasan.terhadap Perempuan, semacam Komnas HAM-nya perempuan. Komisi ini akan diketuai oleh Ibu Saparinah Sadli, dan diresmikan dalam waktu dekat berdasarkan Surat Keputusan Presiden. Apakah nanti tidak tumpang tindih dengan TPFG? Komisi Nasional HAM perempuan akan memberi masukan pada TPFG. Area kerja kami juga beda. TPFG kan hanya tiga bulan. Kalau di komisi sifat- nya jangka panjang, dan berfokus pada

penelitian, pendidikan, dan perubahan

Wawancara langsung kebijakan. Tim Pemburu Fakta, tgl 6/8/98 37 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Dr. Rosita Noer, Ketua Umum Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) Pusat

Pemerkosaan Massal

Bukan Tabiat

Orang Indonesia

38 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA.

"BANYAK SAKSI MATA YANG MENYAKSIKAN PEmerkosaan dan pelecehan seksual," kata Rosita Noer, Ketua Umum Bakom PKB Pusat. Rosita yang juga pemilik perusahaan Noer Associates, yang berkiprah di bidang ekspor minyak kelapa dan konsultan public rela- tion ini, beberapa waktu lalu bertemu dengan Komisi II DPR. Bakom PKB mende- sak pemerintah untuk membentuk komisi pencari fakta yang independen untuk kerusuhan Mei itu. Lahir 28 September 1947 sebagai anak tunggal dari Baginda Sofyan Noer dan Ra- den Ayu Rosma Wigati, Rosita Noer kerap berbicara tegas, vokal, dan penuh kritik. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Uni- versitas Indonesia ini mengaku shock, karena ternyata dalam kerusuhan 13-14 Mei itu, diikuti dengan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa. Berikut, petikan wawancara reporter MA-TRA dengan Rosita Noer:

Menurut Anda, apa yang menjadi pe- nyebab kerusuhan 13-14 Mei? Kerusuhan 13 -14 Mei, pertàma bisa dianggap karena terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Ini meru- pakan tekanan ekonomi yang membuat mereka mencari sasaran. Anggapan ke- dua; bisa jadi pelampiasan politis. Sela- ma 30 tahun, bangsa kita tidak pernah diajar bicara dengan baik. Ada suatu budaya politik yang membuat orang bungkam. Dipolitisasi. Akibatnya, orang tidak bisa bicara lagi secara san- tun, tidak mempunyai rasa percaya diri untuk mengatakan secara baik sebagai warganegara. Kemudian, timbullah kelompok-kelompok yang mudah dipicu dan diba- yar. Sebab, memperkosa orang bera- mai-ramai, tampaknya itu bukan tabiat orang Indonesia. Ada rasa malu yang luar biasa. Mungkin para pelakunya

adalah orang-orang terorganisasi, yang pekerjaannya tidak dihargai oleh masyarakat, atau barangkali manusia yang mempunyai kadar kebinatangan yang tinggi. Lalu, mengapa yang menjadi sasaran kerusuhan dan pemerkosaan itu warga Indonesia keturunan Tionghoa? Sasaran yang secara fisik dan politis dianggap empuk adalah warga keturunan Tionghoa. Sebab, secara ekonomi etnik Tionghoa Indonesia dianggap ber- kolusi dengan penguasa dan menguasai perekonomian. Apa benar tindakan kerusuhan dan pemerkosaan itu adalah tindakan spontan dari oknum masyarakat? Berdasarkan data yang dikumpulkan Bakom PKB, kejadian itu dibuat secara terorganisir dan sistematis. Tidak mungkin spontan dan sporadis. Organisasi kriminal itu terencana, bertahap. Sebab, waktunya hampir bersamaan. Terlalu profesional bila dikatakan spontan. Mi- salnya, datang ke suatu perumahan, menjarah terlebih dahulu, memperkosa paling tidak mempermalukan, meng- usir penghuni dari rumah, kemudian membakarnya. Berdasarkan saksi mata, kedatangan segerombolan orang ke sebuah aparte- men, di mana setiap lantai diserbu pu- luhan orang, tidak mungkin terjadi, jika tidak diorganisir. Berapa data korban pemerkosaan yang Anda dapati? Bakom Berdasarkanpemantauan PKB, secara garis besar untuk sementa- ra ada 468 perempuan. Usia mereka berkisar 10-55 tahun. Tapi, ada satu anak berusia 3 tahun yang diperkosa di depan mata ayahnya sendiri. Pengum- pulan data tersebut didapat dari tiga sumber. Pertama korban sendiri, sauda- ra korban, dan saksi mata. Dari jumlah sebesar itu sekitar 60 39 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

wanita diperkosa kemudian dibuang ke kobaran api. Semua data didapat dari wilayah Jabotabek. Didapatkan fakta pula, biasanya seorang wanita diperkosa oleh minimal 5 orang. Akibat kerusuhan, masih banyak war-

ga keturunan Tionghoa yang enggan kembali ke dunia usaha. Mengapa? Orang sekarang hidup dibayang- bayangi ketakutan. Selama rasa ketakutan mencengkeram, belum ada yang berlangsung normal. Warga etnik Tionghoa, suka atau tidak suka harus diakui, memegang peranan yang cukup pen-

ting dalam perdagangan. Kalau mereka tidak merasa tidak aman dan nyaman, mereka yang memiliki uang, bisa pergi keluar negeri. Mereka tidak akan mem- bangun usaha lagi, bila tidak ada kete- nangan. Budaya perdagangan membu- tuhkan sifat keuletan, he- mat, dan kepercayaan. Sifat-sifat ini yang saya lihat ter- dapat pada warga keturunan Tionghoa. Di Indonesia, etnik Tionghoa merupakan minoritas yang menarik. Untuk bersa- tu, orang mengatakan it takes two to do tango. Tidak mungkin hanya satu pihak yang mengulurkan tangan- nya. Jadi dengan pelajaran yang sangat mahal ini, di- harapkan dari kalangan mayoritas mau melihat se- cara jernih, jika kalangan minoritas ini memegang peranan yang dibutuhkan. Lalu, bagaimana menurut Anda mengenai pembauran di Indonesia? Dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 27 dikata- kan, setiap warganegara bersamaan kedudukannya dalam hukum. Tetapi pada kenyataannya, warga keturunan Tionghoa dalam pem- buatan Kartu Tanda Pen- duduk (KTP) memerlukan surat keterangan yang dise- but K1. Ini menunjukkan, jikalau mereka di- bedakan. Kegagalan pembauran ini bisa dilihat dari adanya Šurat Bukti Kewar- ganegaraan RI yang harus dimiliki setiap warga keturunan Tionghoa, dan menjadi makanan empuk bagi adminis- trator. 40 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

AMUK MASSA BERBAU RASIAL YANG meletus pada 13-14 Mei lalu di Jakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia, mengundang komentar berbagai kalangan. Berikut, petikan beberapa di antaranya:

Apa Kata

Mereka?

41 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Romo Sandyawan Sumordi,Sekretaris I Tim Relawan untuk Kemanusiaan Ini merupakan sebuah pornografi politik yang paling mengerikan. Korbannya begitu masif, sangat dramatis dari segi cara, metode, dan dari segi ketidakpedulian pada kondisi psikologis korban Pada waktu itu, ada 970 mayat di Rumah Sakit Ciplo Mangunkusumo. Kami masuk ke sana, langsung pusing. Bukan karena bau, tapi kenangan betapa berilarahnya rezim ini. Itulah yang membuat kami pusing betul.

42 /PUNCAK KEBIADABAN BANGGA7TIM PEMGURU FAKTA

Nursyahbani Katjasungkana, S.H., Direktur Lembaga. Bantuan Hukum-Asosiasi Perempuan Indonesia untuk

Keadilan (LBH-APIK) Ini sebuah strategi untuk tetap mengherokan ABRI. Setelah peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti, ABRI terpojok betul. Di sini militer perlu keluar dari keterpojokan itu dengan penciptaan. Ke mana ABRI ketika kerusuhan terjadi? Baru setelahnya, beberapa perwira ABRI membuat statement di media massa, bahwa keadaan sudah terkendali. Ini sudah terdesain dengan kuat, dan merupakan strategi ampuh sejak 1965.

Onghokham, Sejarawan Boleh dikata, ini kerusuhan besar pertama yang terjadi di Jakarta. Mungkin bukan yang terbesar skalanya dalam sejarah Republik, tapi cukup mengejutkan. Sebab, peristiwanya meletus di Ibu Kota. Berarti, aparat keamanan tidak bisa mengamankan Jakarta. Kalau Ibu Kota saja gagal diamankan, tak ada sesuatu lagi yang aman.

Hendardi, Direktur Eksekutif Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Peristiwa kerusuhan menghancurkan mitos perlindungan keamanan masyarakat yang selama ini dijamin ABRI lewat pernyataan-pernyataan bahwa stabilitas aman dan terkendali. Karena itu, pengusutan dan pengungkapan peristiwa kerusuhan Mei lalu, yang diduga digerakkan oleh kelompok terorganisir, mutlak dilakukan. Termasuk, menjawab pertanyaan masyarakat mengenai di mana keberadaan aparat keamanan pada waktu kerusuhan terjadi. Kalaù kedua masalah itu tidak terjawab tuntas, rasa aman pengusaha dan investor asing maupun warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia akibat kerusuhan, tidak akan pulih. KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Kwik Kian Gie, Ekonom

Tugas pemimpin di mana pun adalah

membina perasaan dan emosi saling mengasihi di antara warga negaranya, serta meredam emosi hewani yang destruktif terhadap satu sama lain.

Di mana saja ada ketimpangan sosial,

akan menimbulkan kecemburuan dan kerusuhan sosial. Warga keturunan pun

sebenarnya muak terhadap sekelompok kecil

konglomerat yang hanya bermodalkan

kolusi dengan kekuasaan.

Memang, rekayasa politik pada

kerusuhan Mei lalu itu ada dan lihai. Sangat canggih, sehingga lebih menang dari aparat keamanan.

Kerusuhan rasial sebenarnya sudah

pernah terjadi. Tapi, kali ini sangat mengejutkan. Yang paling menyedihkan, ada oknum-oknum tertentu yjang mengorganisir kekejian yang mencoreng muka Indonesia di mata internasional. Tentang pemerkosaan massal, ada indikasi yang melakukannya adalah orang-orang yang tidak dikenal para tetangga. Secara psikologis, orang sulit melakukan pemerkosaan, jika tidak sakit jiwa. Untuk bisa mengumpulkan orang

yang sakit jiwa begitu banyak pada

saat dan tempat yang sama, kan perlu organisasi.

44 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Nurcholis Madjid, Cendekiawan Muslim dan Ketua Yayasan Paramadina Untuk mencegah terjadinya kembali kerusuhan massa, harus ada kemauan politik dari para pemimpin yang otentik secara etis dan moral. Selain itu, harus ada keterbukaan dan kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan. Faktor itu juga merupakan kunci penting penyelesaian masalah pribumi dan nonpribumi.

Rudy Hartono, Pemain Bulu Tangkis, Juara All England 8 Kali Saya paling tidak setuju adanya pengkotak-kotakan dalam masyarakat. Contoh gamblang adalah soal pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Jelas tertera adanya pembedaan antara saya dēngan warga negara lainnya. Ini saya rasa tidak benar. Soal istilah pri dan nonpri, sudah saatnya tidak lagi dikedepankan. Bagi warga keturunan Tionghoa, saya menganjurkan, agar tidak lagi bersikap eksklusif di tengah masyarakat umum, meski sebenarnya saat ini

sudah mulai banyak juga warga Tionghoa yang tidak

berlaku demikian.

Amien Rais, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Di kota kelahiran saya, Solo, antara warga keturunan dan warga pribumi senantiasa mesra, dan nyaris tak ada jarak. Karena itu, saya tidak rela bila rumah dan toko warga keturunan etnik Tionghoa dibakari. Etnik Tionghoa adalah bagian integral dari bangsa Indonesia. KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Harry Tan Silalahi, Peneliti Senior CSIS

Di Indonesia, kalau terjadi

masalah kerusuhan berbau

SARA (Suku, Agama, Ras, dan

Antargolongan), dan kemudian meluas, biasanya tidak spontan. Setidaknya, ada yang mengarahkan. Selain itu, jauh sebelumnya sudah diciptakan suasana sedemikian rupa yang menjurus ke SARA. Ini sebagai akibat suatu situasi, biasanya sosial, ekonomi, atau politik, yang lekat dengan masyarakat. Untuk itu, pembauran harus

didukung oleh pengembangan

dan peningkatan faktor integratif bangsa, dan menghindari faktor

disintegratif. Saya berharap,

dapat terbentuk usaha mencari sosok kebangsaan Indonesia yang sejati, supaya Indonesia menjadi satu kesatuan.

46/PUNCAK KEBIADABAN BANGSA /TIM PEMBI

Sofyan Wanandi, Pengusaha

Saya perkirakan, jumlah warga keturunan Tionghoa yang pergi ke luar negeri akibat

kerusuhan kemarin, jumlahnya antara 10.000-

30.000 orang. Tidak sampai 100.000. Kalau hanya

30.000 orang yang pergi, itu kan sangat kecil jika

dibandingkan dengan 5 juta warga keturunan

Tionghoa di Indonesia. Yang pergi, bukan yang besar-besar. Sebab, yang besar-besar itu sejak lama sudah menanam bisnisnya dan sudah menjadi global. Yang lari itu

yang menengah dan kalangan profesional yang

bisa kerja di mana saja, karena pendidikannya tinggi, pintar, dan tidak punya perusahaan. Saya mengerti, mereka sangat trauma akibat adanya ancaman yang mengganggu keselamatan fisik mereka. Jadi, tidak bisa dipersalahkan kalau mereka tidak atau belum mau pulang.

Ester Indahjani Jusuf S.H., Ketua Komite Pemuda Indonesia untuk Penghapusan Diskriminasi Ras (Solidaritas Nusa Bangsa) Ada kebijakan-kebijakan politik tertentu dari rezim Orde Baru yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan ini, Memang, di masa itu ada segelintir orang Tionghoa yang mendapat kemudahan dari aparat dalam menjalankan roda perekonomian. Ini

menimbulkan kecemburuan sosial yang

besar. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan orang Tionghoa semata. Sebab, siapà sebetulnya yang mula-mula memberikan fasilitas itu? Lagipula, bukan hanya etnik Tionghoa yang mendapatkan kemudahan tersebut. Mengapa pemérintah membiarkan sentimen tertentu tumbuh? Sebetulnya, jika sampai terjadi sentimen terhadap ras tertentu dalam suatu negara, sudah menjadi tugas negara untuk menanamkan rasa persatuan bangsa kepada masyarakatnya. Namun, kalau selama 32 tahun sentimen ini tumbuh, menjadi pertanyaan juga buat kami. Mengapa tidak ada kebijakan khusus untuk mengatasinya? Soal keeksklusifan orang Tionghoa, saya pikir, semua orang punya eksklusivitas dan adat istiadat tersendiri. Kita tidak bisa semena-mena menyatakan sebuah kelompok eksklusif. Lihat saja, kan ada kampung Jawa, kampung Ambon.

47 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU·FAKTA

Arief Budiman, Sosiolog, kini

Kepala Program Kajian Indonesia di

University of Melbourne

Orang Tionghoa yang lahir di

Indonesia, bukan generasi pertama, pada dasarnya orang Indonesia, bukan Tionghoa Mereka warga negana Indonesia keturunan Tionghoa yang sudah tidak bisa berbahasa Mandarin. Kalau pergi sebulan saja dari negeri ini, sudah tidak betah. Kerinduannya pada pecel dan tempe besar sekali. Saya, misalnya, delapan tahun berada di Amerika Sertkat.

Sesudah selesai studi, ada yang

menawari pekerjaan. Tapi saya tolak. Saya mau ke Indonesía

saja, karena capek ngomong Inggris terus. Sampai uimpt

pun pakai bahasa Inggris.

Saya ingin tekankan juga,

saya tidak yakin kerusuhan Mei lalu adalah kerusuhan rasial. Buktinya, sesudah kerusuhan terjadi, para relawannya orang pribumi. Dan mereka semua mengakui, itu biadab Yang terjadi pada 13-14 Mei, membuat kita harus kembali berkaca. Apakah kita masih dalam tahap tribalisme, menurut istilah Nurcholis Madjid, merasa manusia di luar kelompok kita merupakan sub human, manusia yang lebih rendah derajatnya. Kita harus bangkitkan lagi keyakinan, manusia itu lahir meski bukan bagian kelompok kita — adalah manusia juga.

Jangan lalu berkata, "Ah, itu

kan orang Cina, diperkosa biarin aja." Selama berpíkir begitu, hal ini akan terjadi lagi.

Bukan hanya pada orang

Tionghoa, tapi bisa kelompok atau orang lain. Ini tribalisme.

48 /PUNCAK KEBIADABAN BANGSA

TA PEMBURU FAKTA

Christianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia Saya menangis memikirkan nasib Republik Indonesia berdasar Pancasila yang lahir 17 Agustus 1945. Penembakan mahasiswa pada 12 Mei telah memicu peņjarahan dan perusakan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Republik. Junus Yahya mengecam aksi itu, karena menunjukkan gejala ethnic cleansing seperti di bekas Yugoslavia. Massa yang beringas dan brutal telah menjarah dan memusuhi sesama rakyat, yang kebetulan berbeda etnik dan berbeda ekonomi. Namun, aparat keamanan tidak kelihatan batang hidungnya, di saat penjarah merajalela. Yang dibakar oleh perusuh pada 13 Mei bukan sekadar bangunan fisik atau rumah. Tapi, rasa kemanusiaan yang adil dan beradab,.yang sulit dipulihkan

seperti mengembalikan bekas

jarahan kepada pemilik sah. Yang dibunuh oleh perusuh bukan sekadar bangkai atau mayat ratusan orang yang terpanggang di pertokoan. Yang sedang dibunuh ialah watak sopan santun, belas kasihan, dan peri kemanusiaan dari Ibu Pertiwi, bangsa, dan negara.

Saya ingin menyerukan untuk

berhenti menghembuskan kebencian dan diskriminasi rasial kepada warga keturunan, dengan tuduhan yang tidak objektif, sekadar dilandasi sentimen rasial belaka. Warga keturunan juga adalah Bila ada warga keturunan yang

pendiri negeri ini, yang diwakili dalam

berkolusi, itu tidak berarti seluruh limaBadan Penyelidik Usaha Persiapan juta warga juga berkolusi. Mereka

Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) oleh

justru menjadi korban pemerasan dan Mr. Tan Eng Hoa, Oei Tjong Hauw, kolusi. Mr. Liem Koen Hian, dan Oei Tiang Kita harus menilai orang secara Tjoei. individual, dan bukan secara kelompok

Saya ingin menegaskan, warga

etnik. Warga keturunan bukan orang negara keturunan Cina punya hak asing yang bisa dievakuasi seperti hidup, dan akan mempertahankan hak warga asing. Warga keturunan jelas untuk hidup di bumi Índonesia, mempunyai hak hidup di bumi sebagai umat yang dicipta oleh Tuhan

Indonesia. secara bermartabat.

49 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Menyoal Lambannya

Upaya Pemerintah

Di Mana

Kau, Ibu?

50 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

DI BALIK KEBISUAN DINDING RUMAH, TAK TER- bilang WNI keturunan Tionghoa yang hingga kini meratapi nasibnya. Entah istri, anak, saudara, atau kerabat mereka menjadi korban. Namun, mereka memilih bungkam, pasrah. Keengganan mereka melapor ke aparat keamanan boleh jadi didasari pengalaman menyesakkan saat terjadinya kerusuhan. Seperti dialami Rina (bukan nama sebenarnya). Ketika ruko milik keluarganya di Ja- karta Barat diserbu tujuh orang, Rina dan dua adiknya yang kebetulan se- dang berada di lantai tiga, dipaksa telanjang. Rina tidak di- apa-apakan, karena dianggap sudah berumur. Penderitaannya memuncak, ketika dipaksa me- nyaksikan kedua adiknya di- setubuhi. Setelah me- nyalurkan nafsu liarnya, para pe- itu merkosa membakar ruko. Jeritan keta- kutan, raung kesedihan, amarah, dan permintaan ampun, bercampur dari mulut kakak-beradik itu. Sia-sia. Ma- lahan, kedua gadis yang diperkosa itu didorong ke lantai dasar yang sudah terpanggang api. Keduanya tewas. Rina tahu, di depan rukonya ada be- berapa petugas keamanan. Tapi, mereka diam saja. Bahkan, di deretan rukonya masih ada empat keluarga lain yang mengalami musibah serupa. Itu pun tidak dicegah aparat. Selain pengalaman yang menimbul-

kan amarah terhadap aparat keamanan, lantaran membiarkan peristiwa biadab itu terjadi di depan mata, selama ini ke- banyakan etnik Tionghoa Indonesia se- dapat mungkin menghindari hubungan dengan petugas keamanan. Sebab, petugas keamanan berarti uang ekstra. Itu pun tidak menjamin, kasus mereka bakal tuntas. Masuk akal, jika kemudian mereka memilih diam seribu bahasa. Di Solo, sampai pertengahan Juni ke- marin, masih ada sejumlah orang yang mendatangi para korban kerusuhan

dan mengancam. Katanya, kalau berani membangun rumahnya lagi, maka rumahnya akan dibakar dan anaknya diperkosa. "Melapor kepada aparat? Buat apa?" kata seorang nyonya yang tempat usa- hanya sekarang tinggal puing dan abu. Ia merasa sakit hati, karena laporannya tidak ditanggapi sama sekali oleh aparat. Di samping sikap apatis terhadap petugas keamanan, korban punya alasan lain untuk tidak melapor. "Ada di anta-

ANGKASAFOTO

51 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

AURDFIRY

ra mereka yang mendapat ancaman le- wat telepon. Mereka akan dibunuh jika melapor. Karena itu, kami sangat men- jaga kerahasiaan para korban," kata Ita yang juga tak lepas dari ancaman teror. Maka, tidak heran jika kepada sebuah harian Ibu Kota yang mewawancarai- nya akhir Juni lalu, Kepala Dinas Pene-

rangan Kepolisian Dinas Metro Jakarța Raya Letnan Kolonel (Polisi) Drs. Ed- ward Aritonang, menyatakan, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan tentang penyerangan terhadap perempuan saat kerusuhan terjadi Baru Sekadar Isu SESUNGGUHNYA, BENARKAH TERJADI PERISTI-

wa pemerkosaan dalam kerusuhan di pertengahan Mei lalu?

Ibu, Pengayom kami Para perempuan negara ini
Mendamba tanya....

Kala raşa takut tak juga menyurut Kala sakit tak tuntas diteriakkan Kala amarah tak habis mereka kunyah Kaum kami itu ambruk terpuruk 'tak berbentuk Luka-luka jiwa dan raga parah bernanah Hangus berarang hati dan perasaan terpanggang di atas puing-puing kehancuran maka bagaimanakah Ibu menyikapinya?

Ibu, Bila masih tersisa nurani bagi kaum kami Kami hanya mendamba bersabdalah Sepatah kata saja Maka mereka akan tersapa, sebagai manusia

Akhirnya, wahai Ibu kami hanya bertanya sesungguhnya apakah peran Menteri Peranan Wanita di Negara Pancasila? Demikian bunyi salah satu su- rat pembaca yang dimuat di majalah D & R terbitan awal Juli lalu. Sayangnya, Ibu yang didamba hanya bicara singkat saat ditanya pers akhir Juni silam, "Itu baru sekadar isu." Keruan saja sikap acuh tak acuh Hj. Tutty Alawiyah itu membuat LSM-LSM perempuan, dan para simpatisan korban gemas. Tanggapan Ibu Menteri itu 52 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

didasari fakta, tidak adanya satu pun

laporan yang mendarat di mejanya.

Tidak Ada Korban TAK HANYA MENTERI URUSAN PERANAN WAnita yang menyangsikan adanya korban kekerasan terhadap perempuan. Senin (29/6) Panglima ABRI, Jenderal Wiran- to dalam suatu konperensi pers, antara lain berbicara soal pemerkosaan dalam kerusuhan. Menurut Pangab, ABRI yang bekerja sama dengan berbagai pihak, telah men- datangi alamat yang diduga menjadi korban pemerkosaan. Tapi. sejauh ini mereka mengelak dan menyangkal sebagai korban, bahkan membantah kalau mereka pernah memberikan keterangan kepada pihak tertentu. Tim ABRI pun telah mengusut 20 ru- mah yang menampung korban kerusuhan 13-14 Mei. Laporan resmi tim mengatakan, dari 630 korban yang dira- wat, 12 meninggal, 87 rawat inap, sisa- nya bisa pulang hari itu juga. Namun, "Tidak disebutkan adanya korban aki- bat pemerkosaan," kata Pangab. Upaya yang tak kenal lelah dari Tim Relawan, akhirnya membuahkan hasil. Sejumlah korban atau keluarganya mu- lai melakukan kontak dengan Tim Relawan.

Investigasi Masih Sulit Dilakukan TERUNGKAPNYA KASUS KEKERASAN TERHAdap perempuan etnik Tionghoa bera- wal dari telepon yang diterima Romo Sandyawan. Sekretaris I Tim Relawan untuk Kemanusiaan ini mendapat laporan, saat kerusuhan terjadi, ada sejumlah penghuni pemondokan putri di Tangerang terjebak kobaran api. Mereka disuruh keluar, tapi lantas ditelan- jangi Untunglah, belum sempat diapa- apakan, mereka keburu ditolong pemi-

lik warung setempat.

Temuan awal itu membuat Tim Relawan bertanya-tanya. Bukan tak mung- kin, hal serupa terjadi juga pada perempuan keturunan Tionghoa yang lain. Lalu, mulailah mereka melakukan investigasi, setelah lebih dulu membentuk Tim Relawan untuk Kemanusiaan Divisi Kekerasan terhadap Perempuan, di ba- wah koordinasi Ita Fatia Nadia, Direk- tur LSM perempuan Kalyanamitra. 'Meski sudah dua bulan berlalu setelah kerusuhan, masih sulit melakukan investigasi," Ita mengakui. Saat mereka memverifikasi laporan, yang kebanyak- an diterima per telepon, ternyata para korban dan keluarga sudah pergi ke lu- ar negeri. Beberapa korban malah sudah keburu tewas dicekik, dilempar ke api, atau bunuh diri. Karena pelecehan dan pemerkosaan erat kaitannya dengan martabat perempuan, maka banyak pula korban yang tak ingin noda tanpa dosa ini diketahui orang lain. Mereka lebih memilih me- nyimpannya rapat-rapat sebagai raha- sia keluarga.

Akhirnya, Pemerintah Bersuara SELANG SEBULAN LEBIH SETELAH KERUSUHan, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (Menperta) Hj. Tutty Alawiyah, akhirnya membantah ucapannya yang lalu. Ia mengaku sangat peduli tentang pemberitaan kasus perkosaan yang terjadi, berbarengan dengan peristiwa kerusuhan pertengahan Mei silam. Katanya, "Masalah ini sangat sensitif, sehingga penanganannya harus dilakukan ekstra hati-hati." Begitu mendengar adanya berita-berita mengenai pemerkosaan, tanggal 8 Juni 1998, setelah melakukan rapat koordinasi, Kantor Menperta melakukan siaran berita mengenai dibukanya "hotline" komunikasi guna mengantisipasi laporan yang ber- kaitan dengan kasus perkosaan itu. 53 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Namun, informasi yang diharapkan

muncul lewat nomor telpon 380-5530

dan 380-5559, tidak terjadi. Malahan, Kantor Menperta menjadi sasaran um- patan lewat telepon. Belum lagi surat- surat pembaca di beberapa harian, yang intinya menyesalkan sikap lembaga pim- pinan Hj. Tutty Alawiyah, serta protes karena Menperta dianggap tak berbuat sesuatu berkaitan dengan peristiwa tersebut. Sudah dikritik lamban, dinilai rasialis lagi. Begitulah pemberitaan pers asing tentang upaya yang dilakukan pemerintah. Konon, ada perbedaan pena- nganan terhadap korban-korban kerusuhan. Namun, Kapolri Letjen. Pol. Drs. Roes- manhadi S.H., membantah."Jangan percaya semua itu. Buktinya semua korban kerusuhan antara lain, etnik Tionghoa, Jawa, Sunda, dan sebagainya, telah ditangani dengan baik. Hingga saat ini kami belum menerima keluhan dari warga, soal perbedaan penangan- an Polri terhadap korban kerusuhan," katanya kepada wartawan di Mabes Polri Jakarta Selatan, Sabtu (1/8).

Pencari Fakta Gabungan DESAKAN UNTUK MEMINTA MAAF KARENA kealpaan pemerintah memberi perlin- dungan kepada setiap warganegara In- donesia, datang dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Solidaritas Nusa-Bangsa. Berdasarkan pengamatan Komnas HAM, telah terjadi kevakuman keamanan pada hari-hari awal terjadinya kerusuhan sosial 12-14 Mei, sehingga me- mungkinkan tindakan kekerasan seksual terjadi secara luas, tanpa adanya ke- mampuan pencegahan dan tindakan yang efektif. Vakumnya keamanan tersebut me- nunjukkan kealpaan dari penanggung-

jawab sipil dan militer, demikian per- nyatan resmi Komnas HAM tentang Kekerasan Seksual termasuk Pemerko- saan Terhadap Kelompok Etnik Cina dan Warga Negara Lainnya. Akhirnya, pernyataan maaf yang di- tunggu banyak kalangan itu, keluar ju- ga. Menhamkam/Panglima ABRI, Jen- deral Wiranto, mengatakan ABRI tidak

segan-segan meminta maaf, bahwa pe-

ristiwa kerusuhan 13-15 Mei tidak da- pat dicegah dan dihindarkan. "ABRI mengutuk, dan akan membogkar pelaku tindak kekerasan dari manapun asalnya," kata Wiranto seperti dikutip sebuah harian Ibu Kota pada 4 Agustus lalu. Menurut Wiranto, ABRI akan me- nuntaskan kasus-kasus yang muncul seputar era reformasi, seperti kasus orang hilang, penembakan mahasiswa

Trisakti, hingga kerusuhan 13-14 Mei.

Hal inilah yang melatarbelakangi pem- bentukan Tim Pencari Fakta Gabungan (TPFG) untuk mengusut kerusuhan. Tim yang dibentuk 23 Juli 1998 ini, melibatkan sejumlah organisasi non- pemerintah. Tugas utamanya meng- ungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik kerusuhan, dan perbuatan keja- hatan kemanusiaan yang terjadi 13-14 Mei. Adanya TPFG ini paling tidak memberi secercah harapan, akan perbaikan ketentraman suasana hidup bermasya- rakat. Diharapkan, dalam waktu sing- kat, diperkirakan tiga bulan, bakal ke- tahuan hasil penyelidikannya. Akankah ™PFG membongkar jaring- an perencana dan pelaku seluruhnya? Ataukah — seperti kebanyakan kasus pada umumnya — hanya berakhir pada kroco-kroco, yang hanya menjalan- kan perintah atasan? Kita tunggu saja.

dari berbagai sumber

54 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

IF

AKSI KERUSUHAN, PEMERKOSAAN MASSAL yang terjadi pada 13-14 Mei 1998, me- lahirkan simpati dari kalangan masyarakat. Berbagai organisasi masyarakat, para pemuka agama, hingga orang per orang, mengecam aksi yang keji itu se- bagai sangat tidak berperikemanusia- an. Mereka menggelar aksi protes dan keprihatinandengancara doa bersa- ma, penandatanganan pernyataan si- kap. Šeperti yang dilakukan Wadah Mus- yawarah Antar Umat Beragama yang terdiri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dhar- ma Indonesia (Parisada), dan Perwa- lian Umat Budha Indonesia (Walubi). Mereka mengecam keras tindakan destruktif dan amoral yang terjadi per- tengahan Mei lalu. Pernyataan kepri- hatinan tersebut kemudian diserahkan kepada Menteri Agama Malik Fadjar, Selasa (14/7). Sementara itu, kira-kira sebulan se- belumnya, kaum pemuka agama dan masyarakat urun simpati dengan me- ngeluarkan "Pertanggungjawaban Ha ti Nurani" di kediaman Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Abdurrahman Wahid, di kawasan Ci- ganjur, Jakarta.

Dari Berbagai

Penjuru Simpati

Mengalir

55 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Doa massal dari berbagai umat ber-Mereka mendesak agar pemerintah bersama tim independen mengusut se- agama — Islam, Kristen, Katolik, Bud- dha, Hindu, Kong Hu Chu, dan Aliran cara transparan dan tuntas, mereka yang termasuk jaringan penyulut dan pengo-Kepercayaan — ini pada intinya me- bar kebencian, sehingga' terjadi keru- ngutuk para pelaku tindak kerusuhan suhan pada 13-14 Mei 1998. dan pemerkosaan yang biadab. Mereka Mereka juga menganjurkan kepada juga memohon, agar para korban dan keluarga mereka diberi kekuatan iman pemerintah dan pihak-pihak yang ber- serta ketabahan atas kejadian memilu- wajib serta siapa saja yang tergerak, un- tuk memperjuangkan keadilan, dan ber- kan yang telah menimpa mereka. usaha menghentikan segala macam Doa bersama pun dihaturkan para aktivis perempuan dari berbagai orga- bentuk pemecahbelahan kehidupan ber- masyarakat. nisasi. Meski hujan lebat sempat meng-

"Sekarang, kejadian itu tertuju kepada warga keturunan Tionghoa. Jika tidak diberantas, hal itu akan menimpa suku bangsa lainnya juga," demikian antara lain bunyi pernyataan bersama tersebut. Selain ramai-ramai membuat pernyataan keprihatinan, di berbagai tempat diadakan pula doa bersama. Misalnya, doa yang dinaikkan oleh Masyarakat Korban dan Gerakan Orde Hati Nurani Pembela Korban di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada awal Agustus ke- marin.

guyur Jakarta 23 Juli silam, acara Doa

Perempuan di Gedung Wanita Nyi Ageng Serang, kawasan Kuningan, Jakarta, te- tap berlangsung hikmat. Tak kurang 1.000 peserta berikrar, melawan semua kebijakan dan politik kekerasan oleh siapa pun. Kekerasan adalah cara yang tidak dapat dimaaf- kan, karena tidak hanya mengancam

keselamatan, tetapi juga menjadi peng-

halang utama bagi tegaknya keadilan, perdamaian, dan demokrasi di Indone- sia. Acara senada diadakan pula di Ge- 56 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

langgang Olah Raga Saparua, Bandung, pada Sabtu (8/8). Doa bersama dan re- nungan suci ini bertujuan meningkat- kan kepekaan dan kesadaran masyarakat, termasuk penguasa negára, tentang perlunya melakukan usaha-usaha seri- us mencegah, menghapus, dan menang- gulangi tindak kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Tidak hanya di lingkup nasional rasa keprihatinan membahana. Masyarakat luar negeri yang sangat sensitif terhadap isu hak asasi manusia, turut terkesima atas perbuatan keji di alam merdeka ini. Mereka lantas menggemakan suara. Seperti yang dilakukan Huaren (baca: hua-den) — sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menjembatani orang- orang Tionghoa perantauan di seluruh dunia. Sebagai ungkapan simpati seka- ligus menuntut persamaan hak asasi bagi kaum Tionghoa Indonesia, Huaren melancarkan kampanye pita kuning (Yellow Ribbon Campaign). Entah apa maksud sebenarnya dari pemilihan warna kuning sebagai tanda simpati bagi etnik Tionghoa ini. Yang jelas, pasti bukan berarti Golkar. Warna kuning dalam masyarakat Tionghoa menjadi simbol keagungan. Raja-raja Tiongkok zaman dahulu memílih warna ini sebagai warna baju kebesaran- nya. Kuning juga mengingatkan pada sungai yang mengaliri daratan Republik Rakyat Cina, Yang Tze. Selain kampanye pita kuning, Huaren aktif mengkampanyekan masalah yang tengah dihadapi etnik Tionghoa Indonesia ini di forum-forum internasional, terutama Amerika Serikat, tempat di ma- na organisasi non-profit ini berpusat. Aksi protes juga dilakukan di berbagai Konsulat Jenderal Republik Indonesia (Konjen-RI) di mancanegara. Antara lain di Hong Kong, Taipeh (Taiwan), dan sejumlah negara bagian di Amerika

Serikat.

HONG KONG RIBUAN WARGANYA MEMADATI PUSAT KE- budayaan di Distrik Tsim Sha Tsui, akhir Juli, kemarin. Mereka menggelar doa bersama bagi para korban pemer- kosaan massal di Jakarta. Penyalaan lilin simpati dan doa juga diselenggarakan di Victoria Park. Acara yang dimotori Partai Demokratik Hong-kong (PDH) ini ditindaklanjuti dengan rentetan unjuk rasa di depan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (Konjen-RI) di sana. Aksi protes itu mulai marak selang beberapa hari setelah kerusuhan. Mereka mendesak agar pemerintah RI me- lindungi warga etnik Tionghoa. "Kami sekerasnya menuntut pemerintah Indo- nésia untuk menghargai hak asasi," demikian bunyi sebuah spanduk yang digelar para pengunjuk rasa. "Warga Tionghoa Indonesia masih dilanda kecemasan akan kemungkinan terjadinya aksi kerusuhan kembali. Bukan hanya soal bekerja, hidup pun mereka tak tenang," tandas mereka penuh semangat.

TAIPEI SEBAGAI PROTES ATAS PERKOSAAN MASSAL terhadap perempuan etnik Tionghoa Indonesia selama kerusuhan bulan Mei di Jakarta, pada 3 Agustus 1998 ratusan warga Taiwan melemparkan telur ke Konjen-RI di Taipei. Mereką membawa berbagai spanduk, dan melemparkan uang kertas ke udara sebagai tanda duka cita. Para pengunjuk rasa meminta pula, agar Indonesia menghukum para pemerkosa, dan mem- beri kompensasi kepada korban. Aksi protes yang diorganisir oleh Partai Baru dan Asosiasi Warga Tionghoa Perantauan Yang Pulang Kampung di 57 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

MS

Indonesia, meminta pemerintah Indonesia mengubah konstitusinya, untuk menjamin perlakuan yang sama kepada pribumi dan imigran. "Hanya dengan cara itu, delapan juta etnik Tionghoa bisa hidup tanpa rasa takut diperla- kukan secara diskriminatif," ujar mereka. Bukan di Taipei saja warga Taiwan protes, tapi mereka juga datang ke Jakarta — diwakili delegasi Taipeh Wo- men's Rescue Foundation. Mereka menemui Komnas HAM pada awal Agustus lalu. Para anggota misi tersebut meminta pemerintah Indonesia mengambil tin- dakan serius.: "Penganiayaan dan pemerkosaan terhadap perempuan etnik Tionghoa tidak dapat ditolerir dan ha- rus dikutuk," ujar Profesor Wong Muo, pemimpin delegasi. "Perlindungan yang sangat mereka butuhkan telah diabai- kan," tambahnya.

AMERIKA SERIKAT SIMPATI MENGALIR PULA DARI DARI NÉGARA yang mengagungkan demokrasi dan hak asasi manusia. Pada 31 Juli lalu, anggota Kongres Amerika menerima Romo Sandyawan, Karlina Leksoņo, dan beberapa anggota lain, untuk membe- rikan kesaksian di depan anggota Kongres. Rombongan aktivis HAM dari Indonesia ini membawa misi kentanusiaan, untuk membela para korban kerusuhan Mei, dan rakyat kecil Indonesia umum- nya. Mereka berharap, kasús pemerkosaan massal, pembakaran, dan penja- rahan yang terjadi Mei silam tidak ter- ulang lagi. Mereka mėnekankan, amuk massa itu sebenarnya bukan disebabkan fak- tor agama, etnik, atau primordial lain. Temuan-temuan Tim Relawan mem- perlihatkan, adanya kelompok terorga-

nisir di belakang kerusuhan tersebut.

"Saya pikir, kehadiran kawan-kawan ini cukup positif. Jangan diartikan ka- lau mereka berbicara terus terang dan

apa adanya, itu tidak nasionalis," kata

Christianto Wibisono, yang kebetulan

juga berada di Negeri Paman Sam seba-

gai pembicara sebuah seminar.

Di negeri ini aksi protes terus marak. Pada awal Agustus ini di Konjen-RI di Washington D.C., Chicago, Los Angeles, San Francisco, dan beberapa kota lain. Mereka berharap, pemerintah Indonesia meniadakan diskriminasi rasial, melinduņgi hak asasi manusia, dan ke- bebasan beragama. Selain itu, memberi- kan bantuan dan kompensasi kepada para korban serta keluarganya, juga meminta maaf kepada etnik Tionghoa Indonesia, kareną tidak adanya perlindungan yang cukup.

KETIKA ARTIKEL INI DITULIS (6/S), TERSIAR KA- bar dari Konferensi Hak Asasi Manusia Sedunia yang tengah berlangsung di Je- newa, Swiss, bahwa Mary Robinson, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Per- serikatan Bangsa-Bangsa, secara jelas mengatakan sangat prihatin dengan amuk massa dan pemerkosaan yang terjadi di Jakarta pertengahan Mei lalu. Semasa rezim Orde Baru berkuasa, Komisi HAM PBB mengaku menemui kesulitan menjangkau wilayah Indonesia. Mary berharap, setidaknya tahun depan, Komisi HAM PBB dapat mem- buka kantor perwakilan di Jakarta, untuk memantau pelaksanaan hak asasi manusia di seluruh Nusantara. Jika perhatian dunia internasional be- gitu menggebu-gebu terhadap Indonesia, mengapa ķita sendiri yang menjadi bagian dari negarą ini, tidak mulai ber- kaca, sudahkah kita menjunjung hak asasi itu? dari berbagai sumber 58 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Ikut-Ikutan atau Karena Para Pelaku Masih Berkeliaran?

TIGA BULAN BERLALU SEJAK AMUK MASSA di yang sama seperti pemerkosaan mas- sal Mei lalu. mencoreng wajah Ibu Kota. Kehidupan "seolah" telah berjalannormal. Namun, Sebuah sumber lain mengisahkan, di tengah kesibukan rutinitas sehari-dua karyawati di bilangan Sudirman, hari, di lubuk kebanyakan wargà masih Jakarta, dbawa lari sopir taksi, saat terselip rasa was-was. mereka makan siang. Lisa (bukan nama Betapa tidak. Di sana-sini teror tetap sebenarnya) menuturkan pula peng- leluasa bertebaran, dan tindak kriminal alamannya, ketika pulang kerja sore ha- bahkan pemerkosaan masih terjadi. Ro-ri naik taksi dari kawasan Jakarta Utara. mo Sandyawan, Sekretaris I Tim Rela-Pari bagasi kendaraan umum itu, wan untuk Kemanusiaan, mencatat, tiba-tiba muncul seorang pria dengan tanggal 20 Juni dan 2 Juli masih terjadi belati di tangan Lisa dan adik perem- pemerkosaan terhadap dua perempuan puannya dipaksa mengambil sejumlah etnik Tionghoa, dengan modus operan-uang tabungan mereka lewat mesin

Kekerasan

dan Teror Masih

Berlangsung

.59 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

ATM. Syukurlah, Lisa dan adiknya lu- put dari keganasan kedua pelaku ber- kat kuasa Tuhan. Ikut-ikutan karena merasa ketika kerusuhan Mei lalu belum dapat bagian, ataukah lantaran para pelaku penjarah- an dan pemerkosaan masih bebas ber- keliaran di antara masyarakat? Hari baru pukul 19 malam. Sebuah bus kota dikuasai segerombolan pela- jar. Mereka habis tawuran. Tapi, dengan enaknya mereka melucuti harta

semua penumpang etnik Tionghoa, dan

bekali wejangan kepada para anak ga- disnya, terutama, agar jangan keluar malam hari, hindari jalan-jalan sepi dan gelap serta kendaraan umum dengan segelintir penumpang. Bukan hanya warga Jakarta yang di-

cekam ketakutan. Warga kota Bandung,

Medan, Palembang, Solo, dan Suraba- ya, yang pernah disulut kerusuhan seje- nis juga ketar-ketir. Bahkan, beberapa sumber yang dihu- bungi di daerah-daerah tanpa kerusuhan pun, mengaku was-was. Mereka ce-

tanpa segan — padahal mereka anak

sekolahan— mereka melakukan perun- dungan seksual terhadap perempuan dalam bus itu.

Teror Untuk Masyarakat Luas

"Kalau begitu caranya, saya aja yang orang asli sini juga takut," cetus seorang perempuan menanggapi kisah-kisah

ngeri bak dalam cerita kriminal rekaan

di atas. Tak heran jika para orang tua mem-

mas, jangan sampai peristiwa tragis se- perti itu terjadi di daerahnya. "Dengan amuk massa tersebut, hen- dak diciptakan teror terhadap masyarakat luas. Untuk membuat teror, kan, ha- rus ada korban. Dan yang dikorbankan adalah etnik Tionghoa, terutama kaum perempuannya," Ita Nadia, Koordina- tor Tim Relawan untuk Kemanusiaan

Divisi Kekerasan terhadap Perempuan,

menyimpulkan.

60 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Foto-foto dan Kaset Video SELAIN TEROR BERUPA PENCULIKAN, PEMERkosaan, dan pengambilan harta benda secara paksa; bentuk teror lain berupa beredarnya foto-foto dan kaset video yang konon berisi peristiwa pemerkosaan massal. Seorang sumber, mengaku dibisiki pedagang di sebuah pusat perdagang- an. Katanya, ada barang bagus. Ia lalu diajak ke sebuah tempat, dan diputar- kan ilm cuplikan-cuplikan adegan pemerkosaan. Si pedagang menawari kaset rekaman itu seharga Rp 175.000,- Sementara itu, di Internet beredar foto-foto — yang katanya— hasil jepret- an saat pemerkosaan massal 13-14 Mei lalu. Betulkah? "Kami masih melakukan verifikasi mengenai kebenarannya," ujar Ita. Tapi, Romo Sandyawan cepat tanggap. Begitu tercium gejala teror berupa penyebaran foto-foto dan kaset video itu, sekitar akhir Juni lalu, ia sudah memberi peringatan. Menurutnya, penyebaran foto-foto itu juga merupakan bagian dari teror. Padahal, foto-foto tersebut sebenarnya menggambarkan penyiksaan yang di-

alami perempuan aktivis di Timor Ti-

mur. Lama sebelum terjadi amuk massa dan pemerkosaan massal Mei silam, foto-foto itu sudah terpampang di be- berapa situs di Internet yang mengulas Timor Timur.

Amplop Berisi Uang TEROR BENTUK LAIN BÉRUPA, DIBAGI-BAGI- kannya amplop berisi uang kepada sejumlah warga Indonesia. Seorang pria keturunan Tionghoa yang berkulit ge- lap, ketika melintas·di Bandung Indah Permai turut kecipratan amplop demi- kian. Ketika dibuka, isinya sejumlah uang disertai selebaran ajakan untuk memer-

kosa perempuan etnik Tionghoa pada tanggal yang telah ditentukan. Teror itu

menyebar, menimbulkan aura ketakutan. Syukurlah, pada hari yang ditentukan tidak terjadi apa-apa. Namun, se- mua warga jadi rugi. Sekolah-sekolah hanya dipeņuhi murid-murid pria. Yang wanita tak berani keluar rumah. Begitu pula tempat-tempat kerja. Teror amplop uang juga terjadi di Ibu Kota. Saat melintasi kawasan Kota, seorang warga keturunan Tionghoa men- jumpai kerumunan orang. Merasa pe- nasaran, ia ikut nimbrung.

Ternyata, yang dikerumuni adalah

seorang pria. Ia membawa tiga koper berisi uang. Kepada setiap orang yang mendengar celotehannya, diberi Rp

100.000,-. Tapi, tentu saja diiringi pesan, untuk membunuh orang Tionghoa yang dijumpai pada tanggal tertentu. Perintah yang sungguh tidak berpe- rikemanusiaan. Lebih lagi, katanya, ka- lau sudah berhasil membunuh dan memberi buktinya, si pelaku akan diberi imbalan tambahan Rp 1 juta. Kisah teror amplop berisi uang dengan perintah memerkosa. atau membunuh dengan cepat beredar dari mulut ke mulut. Kebenarannya memang sangat patuit dipertanyakan. Namun, kengeri- an yang ditimbulkan tampak jelas dari perilaku para warga. Sampai kapan hal ini akan berlang- sung? Dapatkah ketenangan hidup ber- sama itu diperoleh kembali? Beban yang harus 'disandang warga masyarakàt akibat krisis ekonomi sudah cukup berat. Mengapa harus disertai teror-teror seperti itu? Di manakah peng- hargaan terhadap hak asasi manusia? Kiranya sudah saatnya para pereka- yasa teror menghentikan aktivitasnya. Atau, memang bangsa ini tengah senga- ja diarahkan ke ambang kehancuran?
dari berbagai sumber

61 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

KEDAMAIAN HIDUP BERSAMA MENDADAK TER usik, begitu terjadi kerusuhan yang diba- rengi perkosaan etnik Tionghoa, pada perte- ngahan Mei lalu. Dalam waktu amat sing- kat, bangsa ini bertatap muka dengan kema- tian rasa berbangsa, kebinasaan rasa per- saudaraan, penumpulan hati nurani, ke- lumpuhan rasa aman bertetangga, dan ke- habisan kepercayaan terhadap aparat keamanan yang seyogianya melindungi selu- ruh rakyat tanpa kecuali. Meski sudah tiga bulan berlalu, hingga laporan ini ditulis, masih belum tampak ti- tik terang penyelesaian masalah yang me- nyangkut hak asasi perempuan ini. Malah, ada yang cenderung memperta- nyakan kebenaran terjadinya pemerkosaan, lantaran belum satu pun laporan diterima aparat keamanan. Sementara, teror meng- alir deras, dan pemerkosaan dengan modus operandi yang sama masih berlangsung sampai kini (awal Agustus 1998).

Mempeti-eskan dan melupakan begitu saja kejadian tragis ini, sama artinya dengan mengabsahkan tindakan brūtal tak berperikemanusiaan itu. Sama juga makna- nya dengan membenarkan apa yang tidak baik sebagai ýang baik. Kalau sudah demi- kian, jangan salahkan bila ada orang yang sudah tidak dapat lagi membedakan antara yang biadab dan beradab. Dan jika pelecehan serta pemerkosaan sù- dáh menjadi hal yang biasa di masyarakat, celana dalam antipemerkosaan yang kini ra- mai diperdagangkan pun, bukan solusi pe- mecahan masalgh asasi ini. Tiba waktunya sekarang kita memper- baiki kerusakan total hidup bersama, yang diakibatkan oleh kerusuhan dan pemerkosaan Mei silam. Maka,2 hal paling penting dilakukan — di samping memulihkan kon- disi mental dan fisik para korban — adalah MEMBONGKAR DAN MENGADILI SEGERA, jaringan perencana dan pelakunya!

Bongkar dan

Adili Segera!

62 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

Pertanggungjawaban

Hati Nurani

SETELAH BERTEMU DENGAN SEBAGIAN DARI korban dan keluarga korban, dan setelah mencermati siaran media massa, serta laporan-laporan yang disusun oleh berba- gai LSM, kami kaum pemuka agama dan masyarakat, sampai pada-kesimpulan, bahwa kami perlu menyatakan secara te- gas mengenai pokok yang amat mempri- hatinkan ini, yaitu bahwa

  1. DIMANFAATKANNYA PERBEDAAN SUKU DAN SOSIAL EKONOMI DI DALAM MASYARAKAT SEBAGAI SARANA UNTUK MEMECAH BE-LAH:, Memang di dalam sejarah bangsa Indo- nesia, kuno maupun modern, telah sering terjadi konflik rasial. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 13-14 Mei 1998 yang lalu, sekali lagi merupakan konflik yang sa- ngat keji dan biadab. Peristiwa tersebut je- las sekali merupakan pelanggaran hak- hak asasi manusia. Masyarakat keturunan Tionghoa diha- dapkan dengan masyarakat yang lain, dan selanjutnya mereka diadu domba. Di satu pihak, dengan alasan bahwa mereka adalah Tionghoa, maka harta benda mereka dijarah, tempat usaha merēka dirusak, tubuh mereka dianiaya, nyawa mereka dihilangkan, dan seakan-akan ingin lebih memuaskan diri lagi — kaum perempuan
    dari kalangan mereka dilecehkan, bahkan diperkosa. Karena rasa malu dan putus asa, beberapa orang dari korban meng- akhiri hidupnya sendiri.. Di pihak lain, rakyat jelata' yang sebagian hidup dalam kemiskinan, kehilangan pekerjaan, dan terpinggirkan dari pusat- pusat pengambilan keputusan, dipancing sedemikian sehingga sampai ribuan mati terpanggang. Yang lebih mengerikan adalah bahwa semua itu dilakukan dengan cara-cara yang terorganisir dan sistematis.

  2. PENGANIAYAAN YANG DIDASAR-KAN PADA KENYATAAN YANG ADA DI LUAR PILIHAN SESE-ORANG: Dilahirkan sebagai anggota dari salah satu suku bangsa bukanlah pilihan orang yang bersangkutan. Itu adalah anugerah yang berasal dari Tuhan sendiri kepada mahlukNya. Dengan demikian, setiap orang memiliki kekhasannya masing- masing. Perbedaan yang muncul karena ke- khasan itu adalah suci dan dimaksudkan agar manusia saling bekerja sama, saling melengkapi, dan saling memperkaya diri, bukan untuk dipertentangkan satu sama lain, sehingga menjadi permusuhan. Demikian juga menjadi orang Tionghoa. Di satu pihak, perlakuan buruk atas

    63 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA

asar perbedaan ras, khususnya peng- ayaan yang tertuju kepada mereka akir-akhir ini, adalah tindakan yang me- rendahkan martabat manusia dan mela- wkeadilan. Kekerasan yang dilákukan terhadap mereka yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, sebagai satu-satunya negeri dan tanah air mereka, telah menodai bangsa Indonesia sendiri. Di lain pihak, kemiskinan rakyat bu- kanlah kesempatan untuk menjerumus- kan nereka ke dalam sikap dan tindakan yang kejam, biadab, dan tak berperike- manusiaan, melainkan merupakan pang- gilan untuk mengajak mereka memperku- at diri agar dapat menciptakan hidup yang berkualitas.

  1. PERBEDAAN DIPERTENTANGKAN: Hidup di dalam sebuah masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, harus mengakui adanya kenyataan, bahwa di sini terdapat berbagai kelompok yang memiliki perbedaan-perbedaan. Hal ini tidak hanya penting untuk men- jaga keutuhan bangsa, tetapi juga penting bagi harga diri kita sebagai manusia. Apa- lagi jika ingin disebut sebagai manusia beragama, karena keanekaragaman itu dari Tuhan sendirilah asalnya. Kami tidak setuju, bahwa perbedaan yang ada dijadikan sumber pertentangan yang membuat kelompok yang satu ber- hadapan dengan kelompok yang lain sebagai lawan.
  2. TIADANYA PERLINDUNGAN HUKUM: Di dalam sebuah negara hukum, harus ada jaminan keamanan yang nyata, ter- utama keamanan fisik, yang diwujudkan di dalam bentuk perundang-undangan yang diberlakukan dengan sanksi lewat sistem peradilan, serta wajib dilaksanakan oleh'segenap aparat keamanan, Tanpa hal
    ini, kehidupan sosial, ekonomi, dan buda- ya akan me.galami kemerosotan.

SEBAB ITU, KAMI INGIN MENGUNGKAP- rasa simpati kami sedalam-dalamnya kepada mereka yang menjadi korban kekerasan yang terjadi sekitar dua hari itu, kepada ribuan orang yang kehilangan nyawa, juga kepada saudara-saudara warga keturunanTionghoa yang dijadikan sasaran kebencian. Semoga ke- luarga serta handai taulan yang ditinggal- kan mendapat kekuatan lahir-batin untuk menanggung derita yang menimpa. Selain itu, kami menyerukan kepada Pemerintah dan pihak-pihak yang berwa- jib, serta siapa saja yang tergerak untuk memperjuangkan keadilan, agar segera mengakhiri dengan sekuat tenaga dan berusaha agar tidak terjadi lagi, segala m- acam bentuk pemecahbelahan kehidupan bermasyarakat, dengan mempertentang- kan perbedaan-perbedaan yang ada. Sekarang kejadian itu tertuju pada warga keturunan Tionghoa; jika tidak dibe- rantas, hal itu akan menimpa suku bangsa lain juga. Maka hendaknya diusut secara transparan dan tuntas peristiwa yang se- sungguhnya, mengadili dan menghukum mereka yang berada di dalam jaringan yang menyulut dan mengobarkan kebencian itu, hingga terjadinya dan berkem- bangnya peristiwa biadab pada' tanggal 13-14 Mei 1998 tersebut. Akhirnya kami mengajak semua orang yang ingin dan mau menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, untuk berusaha dan bekerja sama melawan segala sesuatu yang memungkinkan tumbuhnya peng- adudombaan di negeri ini. Sehingga, di tanah air Indonesia ini dapat terbangun dan tercipta sebuah bangsa beradab yang menghargai harkat dan martabat manusia. Jakarta, 17 Juni 1998 Masyarakat Dialog Antar Agama 64 / PUNCAK KEBIADABAN BANGSA / TIM PEMBURU FAKTA