The posit Dinto the picture the reverse of vertical line drop this case the sun in a sunset) behina a
of the uncompleted ground lines are obtaine
on
a point exoint or angle where the VII.S horizor
tat
41 as line.
thprizon: because the rays mustet as in last case.
m the object to v.s., and
right) ánd downwards.. Note the
rinciples. to a point r The under the ground lines exactly below th itself—not nne. the foot radiatiW
the same line to the stant bathing figur it of the child in izon. Ex- vision or eye). Notice
is equal to the f the shadows which in-words, there isere depictedSS. hject appearingunt. the law of reflection
fairly low, on the right,
Haloo, salam kenal semuanya, aku Roel, bagaimana kabarmu hari ini?
Senang sekali rasanya bisa bikin zine lagi di tengah hingar-bingarnya kehidupanku belakangan ini. Apalagi kalau inget pertama kali aku bikin zine itu di tahun 2008, udah lama banget yaa... Zine ini sedikit membahas mengenai isu kekerasan, sebagai bentuk upaya penguatan terhadap teman-teman penyintas kekerasan, terutama kekerasan seksual. Sebagai penyintas, aku sangat memahami bagaimana rasanya harus menyimpan trauma karena tidak punya support system ataupun untuk mengakses bantuan. Oleh karenanya, hal ini menjadi penting untuk terus dibicarakan, dan kuharap zine ini bisa mendorong siapapun untuk menjadi ruang aman dan support system bagi orang terdekat yang pernah mengalami kekerasan, karena kita semua punya peran untuk mengakhiri budaya kekerasan di sekitar kita.
Makasi banget buat kamu yang sudah membaca zine ini dan juga kepada para kontributor yang turut menyumbangkan tulisan dan karyanya!
Warm hugs Roel
CoNtRibutoRS:
Snake Farah Sindi Minanti
M Puji Rizkiana Pethree Susilawati Anonim teRima kasih!
Nocturnal
Life is a breath of tragedy, But to dream in a gleaming blooms of remedy Lift your eyes, pretty girls towards the nocturnal shift, And whisper towards hurricane drift, That I shall turned the ashes into glorious gift Lift your eyes, pretty girls towards the nocturnal shift, And bow towards the life of a silhouette swift And let the tragedy, Be held in His arms Caressed and free
- Farah
Bila kamu pernah mengalami kekerasan, kamu gak sendiri dan kamu ga harus berjuang sendiri. Itu semua bukan salahmu. I see you; I feel you; I hear you.
Kamu boleh marah Kamu boleh sedih Kamu boleh menangis
Kamu mungtin merasa kehilangan dirimu sendiri
Tapi kamu tetoplah utuh
Kamu tetap berharga
Kamu tetap penting
Terima kasih sudah bertahan
Terima kasih sudah baik sama dirimu sendini
Ruang AMAN itu...
Ruang dimana kita semua bebas dari rasa takut akan pelecehan dan kekerasan
Ruang dimana semua orang saling mendukung tanpa ★penghakiman
Ruang dimana semua orang bebas menjadi dirinya sendiri, apapun gendernya
Ruang dimana tidak ada intimidasi dan manipulasi
Kamu bisa menjadi ruang aman, kita semua bisa menjadi ruang aman karena ruang aman bisa
diciptakan, asalkan kita memandang semua orang
setara, tidak ada yang pantas dilecehkan ataupun boleh mendapat kekerasan!
Bila kamu mengetahui orang terdekatmu mengalami kekerasan atau seseorang menceritakan pengalamannya, kamu bisa menjadi support system baginya, dengan beberapa cara :
Percaya pada korban Katakan terima kasih sudah menceritakan pengalamannya Tidak berkomentar yang menyudutkan atau menyalahkan (pakaian yang dipakai, kenapa sendirian, dsb) dan tidak bertanya detail, kamu cukup menjadi pendengar yang baik Bila ia menceritakan kisah yang sudah lama terjadi, it's okay, pengalaman korban tetaplah valid!
Tanyakan apa yang ia butuhkan saat itu, apakah hanya ingin didengarkan saja atau butuh bantuan psikologis/hukum dan kamu bisa merujuk ke Lembaga yang sudah terpercaya dan berpengalaman dalam menangani kasus kekerasan. Kamu juga bisa mengakses bantuan melalui www.carilayanan.com
Menata Ulang
seringkali bayangan buruk berseliweran semua emosi keluar marah, sedih, benci, putus asa namun mesti bagaimana lagi?
pertanyaan yang kerap terlontar kenapa? mengapa? seandainya? kapan?
untung masih ditarik magnet asa dan angan sekadar ingin mengukir senyum Ibu
memulai kembali menata yang berantakan mengatur pikiran
apa yang kugemari aku lakukan kegiatan menulis di buku saku mencorat-coret hingga jadi sebuah gambar mendengarkan lagu kesukaan
pun belajar dan memaafkan tidak melupakan, sepertinya mungkin menerima da menghormati diri sendiri menghidupkan lagi rasa yang telah mati
mencari kemungkinankemungkinan bajik
mengincar lentera melakoni dari halhal kecil mugimugi astuti
Sekaran, 29 Desember
Sindi Minanti
Bila Hancur Hancurlah
Malam yang panjang, apa bila malam yang panjang ini menjadi sebuah Klandestin seperti Orba Ekspansi hasrat adalah minor itu sendiri, persendian yang usang dan roda roda tua di kota api Bagai angin berlalu merasakan setiap jengkal angin hingga mendidihnya darah, menggertaknya rahang adalah sebuah bom atom Nagasaki dan Hiroshima dalam diriku Ku terdiam, bukan, bukan karena aku adalah Dewi yang ditololkan Bukan pula aku seperti mutiara yang di taruh kotak kaca dalam laci Aku bukan lah Dewi Aphrodite yang terpaksa menikahi Hephaestus Menjadi Pandora, succubus, ataupun malaikat sama saja ketika aku tidak memiliki diri ini, mengenali diri sendiri yang dimiliki seperti Mr. Strange Albert Camus punya cerita.
Reinkarnasi dari jumantra yang murka akan frasa belati hidup yang memang
ku lalui Terjebak dalam lingkaran ilusi yang terdapat bubuk mesiu dan opium Pengkultusan yang esok akan ditempuh berdatangan dan berteriak kutukan dalam sepertiga jarak telinga taatkala distorsi hidup yang nyata. Menyalakan bara masa lalu, mencuci aib mu, hingga menyapu bersih tuntunan yang di tamparkan kepipi ini apakah sudah tidak cukup kegilaan yang menjadi bomerang suku aborigin
Meski berkata dan menyalak seperti kera jantan ketika sedang masa kawin, tetapi kesunyian lah teman sejati ku. Romantisme palsu yang selalu kudapatkan setiap hari, merasakan neraka dan menatap seperti binatangbuas kepada ku ketika gelap gulita. Setiap decit suara, suara, yah suara decitan pisau beradu dengan daging yang membuat ku tervonis penjara seumur hidup. Seribu tahun sudah kutempuh pesisir sungai Akheiron bernafaskan teriakan, rintihan, serta air muka asin yang merdu ditelingaku. Apakah itu salah? Apakah itu sebuah penghakiman? Apakah itu adalah diriku? Lalu sekarang aku harus apa? Apakah sudah saatnya menghantamkan-nya kemuka mereka lalu melihat mahakali melakukan Tarian Tandava hingga akhirnya menginjak Siwa dengan rasa bangga.
Snake
** Cerita dibawah ini adalah kisah penyintas kekerasan seksual dan fisik, yang mungkin memantik rasa tidak nyaman. Mohon untuk tidak lanjut membacanya jika kamu tidak dalam kondisi mental yang baik.
Sáya seorang wanita berumur 31 tahun, sudah berkeluarga dan kini memiliki anak perempuan berusia 9 tahun. Kenangan pahit itu terjadi saat saya duduk di bangku SMP kelas 2 sekitar 18 tahun yang lalu. Saya memacari anak kelas 2 SMA. Awalnya hubungan kami biasa saja dengan romansa puber, namun lama kelamaan menjadi tidak terkendali. Mungkin di awal hanya berciuman saja, kemudian ia mulai berani meng'grepe-grepe payudara saya. Saya hanya terdiam karena itu pengalaman pertama bagi saya dan tidak tau harus berbuat apa. Beberapa bulan berpacaran saya dilarang bermain bersama teman, pergi tanpa sepengetahuan, dia mengontrol hidup saya. Suatu ketika dia marah bahkan hanya hal sepele, dia membanting sepeda motor, sempat ketika itu saya di bonceng dan di ancam akan menabrakan sepeda motornya.
Di akhir minggu rumahnya selalu kosong dan dia sering kali mengajak saya kerumah. Sebenarnya saya takut, tapi lebih takut lagi ketika menolak membayangkan ancaman apalagi yang akan saya dapat. Setiap kali kerumahnya perlakuannya semakin berkembang, dari mulai menyentuh vagina saya, kemudian menelanjangi saya, dan hampir memasukan penisnya, walaupun tidak sampai hubungan badan tapi sungguh ini hal yang menjijikan, di usia saya yang saat itu berumur 13-14 tahun. Ibu dan bapak saya tidak pernah tau apa yang terjadi terhadap saya selama ini karena mereka hanya tau dia anak laki-laki yang sopan dan baik.
g
Kejadian ini terus berulang, sampai suatu saat saya benar-benar lelah. Saat menginjak kelas 3 SMP saya memutuskan mengakhiri semua ini. Saya tidak mau menyia-nyiakan masa muda saya. Dan hari itu saya bertekad untuk keluar dari derita itu, saya memberanikan diri untuk menyatakan putus. Saya di maki dan leher saya di cekik. Saya benar-benar ketakutan dan bertekad menjauhinya sejauh mungkin. Sampai sekarang pun saya masih merasa bersyukur dengan keputusan ini, benar-benar tindakan yang besar dan mengubah hidup saya. Walaupun jalan kemudian tidak mudah saya di terror kembali dengan berbagai ancaman dia yang akan bunuh diri, belum lagi dia yang selalu menguntit kemanpun saya pergi. Sampai akhirnya benar-benar bisa lepas beberapa tahun kemudian.
Tidak seorangpun tahu apa yang terjadi di kehidupan saya, sampai akhirnya saya menjadi anak SMA biasa dengan masa remajanya. Tidak ada yang pernah bertanya dan saya pun mengubur semua itu. Tapi saya sadar betul kali ini bayangan kekerasan akan terus menghantui saya dimanapun.
Suatu saat saya menjadi panitia pensi, dan kami berencana mengundang band punk asal kota kami. Saya bertemu dengan dia seorang bassist band punk ternama di kota saya tinggal. Hubungan kami semakin dekat walaupun usia kami terpaut 10 tahun. Tapi dia sosok yang memberikan saya kenyamanan dan kepercayaan diri. Dia yang akhirnya mengorek-ngorek masalalu saya, dan saya pun menceritakannya dengan harapan ia akan melindungi saya, memberikan harapan dan membebaskan saya. Ternyata semua itu hanyalah modus, dan akhirnya dialah yang akhirnya melakukan hal bejat itu. Saya benar-benar sudah tidak berdaya, tidak dapat menolak, dan akhirnya dia menjadikan saya manusia yang merasa sudah sangat sangat kotor dan penuh dosa. Saya kemudian kembali terjebak dalam hubungan Stokholm syndrome dengan pria itu selama bertahun-tahun, bahkan ketika dia memiliki pacar resmi dan berkali-kali memergoki dia dengan orang lain selain pacarnya saya terus mentoleransi dan berpura-pura sebagai fans saja. Memang Gila!!! Dan saya hanya menjadi pelampiasan nafsu saja, tidak jelas menjadi apa hanya di berikan janji-janji manis saja.
Menjadikan saya orang yang semakin bodoh dan semakin terpuruk. Dia lah yang akhirnya menjadikan saya lebih ingin merusak diri lagi. Membunuh mimpi-mimpi saya, dan kehilangan atas kepercayaan diri saya. Dan menganggap diri sebagai manusia yang tidak layak.
Dan setelah apa yang saya alami di masamuda saya, jalan satu-satunya adalah memang akhiri putuskan apapun hubungannya, jangan terbuai lagi janji-janji manis karena kata-kata yang keluar dari mulut seorang pelaku kekerasan adalah kebohongan!! Mereka manipulatif juga narsistik. Yang saya rasakan selama ini luka itu tidak pernah benar-benar sembuh, sebelum terlampau sakit dan tenggelam jauh, sebagai penyintas kekerasan seksual yang hanya bisa diam dan memendam, hal-hal seperti itu akan lebih rentan kembali terulang dan akan menjadi lebih parah lagi. Rentan kembali ada dalam hubungan toxic seperti stockholm syndrome, selalu jadi target pelaku narsistik, mengalami gangguan kecemasan dan penyakit mental lainnya.
Untuk kawan-kawan wanitaku, perjuangkan hak kalian, bicaralah, teriaklah, mengadulah agar suaramu di dengar dan keadilan untukmu terbayarkan. Semua ini bukan salahmu, kamu hanyalah korban. Kekerasan dalam bentuk apapun tetaplah salah!
Yang mencintai diri kita seutuhnya hanyalah kita sendiri, sayangi tubuh dan mental kita. Kita berharga walau sudah melewati apapun, kita masih berhak memperjuangkannya untuk meraih masa depan dan berbahagia, bebas dari belenggu, ini mantra dan harapanku untuk diriku dan semoga menjadi harapan untukmu! Raih mimpimu jangan buang waktumu yang berharga hanya untuk merusak dirimu! Mari kita nyalakan lilin bersama di dalam hati kita saling mendoakan saling menguatkan. You're braver than you know, You're stronger then you think. Peluk hangat!
Note from sender:
Terima kasih roel, sudah memberikan ruang untuk kami para penyintas kekerasan seksual terhadap perempuan berbagi kisahnya. Bagi kami untuk speak up tentang pengalaman buruk yang membelenggu walaupun sudah bertahun-tahun berlalu tidaklah mudah, tapi ketika kita saling menguatkan dan memberikan keberanian semoga bisa menjadi nyala lilin, secercah harapan bagi kawan-kawan yang masih berada di ruang gelap sana untuk bangkit dan percaya lebih banyak orang yg akan memelukmu, membasuh luka mu, menguatkanmu, memberikan dukungan dan meraihmu keluar dari derita itu.
Sesungguhnya keluar dari lingkaran pahit itu begitu sulit, terlebih kita hidup di masyarakat yang patriarkis. Dalam sudut pandang kami, yang kami tahu hanya ada rasa takut menjadi aib bagi keluarga, terjebak dalam dosa yang bahkan kami tidak menginginkanya, juga stigma yang akan menghantui kami seumur hidup dan membatasi ruang gerak kami. Yang bisa kami lakukan adalah memendam dan meredam ketakutan agar bisa melanjutkan hidup. Hidup dalam kepura-puraan membiasakan diri bahwa kami baik-baik saja. Tentu sangat lelah bukan? Jujur ketika mengingat kembali apa yang sudah
terjadi, badan saya bergetar, sesak, lelah seperti sudah berlari berkilo-kilo meter. Kemarahan dalam diri yang tidak bisa saya urai, seperti memelihara monster penguras energi.
Pethree Susilawati (Balikápapan, 42thn) Single Mom, berwirausaha kuliner kue
Wanita
Kayu cendana mekar mewangi, Indah segar hingga ke pagi, Adapun wanita askar pertiwi, Hidup tegar luhur peribadi
- Farah
bnu