BAKRI SIREGAR
Gadis Teratai
INSPIRED by The Tale of Sim Cheong
Kacabenggala Editions
Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note, as was cus- tomary for many books printed in early 1960s Indonesia. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.
Born in Langsa, Aceh, in December 1922, Bakri Siregar
was a leading figure in Lekra and one of the foremost voices
in Indonesian literary history written from a revolutionary
perspective. He served as editor of the daily newspaper
Pendorong and the magazine Arah in Medan, and later led
the North Sumatra branch of Lekra.
Between 1959 and 1963, he was Professor of Modern Indone-
sian Literature at Peking University. Following the events
of the September 30th Movement, Bakri was detained with-
out trial until 1977. He passed away on June 19, 1994.
This book was first published in 1962 by Lembaga Kebuda-
jaan Rakjat (Lekra — Institute for the People’s Culture),
with a cover designed by Tarmizi, which is not reproduced
here.
This digital edition owes its existence to the preservation
efforts of the Yale University Library, as most Indonesian
collections no longer hold Lekra’s works — many were lost,
burned, or poorly preserved over time.
An accessible web version of this book, optimized for read-
ability and research, is available on ilalang.drepram.com.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
babak kesatu.............................................1
babak kedua........................................... 15
babak ketiga........................................... 32
babak kesatu
Awal musimsemi, dekat sebuah penggilingan kampung. Se-
belah kiri kelihatan sebagian dari kintjir-air. Sebelah kanan
sebuah pohon besar. Dibagian belakang tanah mendaki, di-
lalui anaksungai, dihubungkan oleh sebuah djembatan ketjil,
menudju kekampung lain.
Ketika lakon dimulai, wanita2 petani sedang sibuk gembira,
bernjanji disana-sini. Seorang wanita tua, jang pakaiannja
lebih baik dari wanita2 lain itu, turut pula.
WANITA I:
Bagus sungguh hari ini. Senang rasanja hidup.
WANITA II:
Kalau penggilingan bisa bekerdja terus, kita bisa dapat
makanan enak.
Wanita pertama melihat pada seorang gadis, jang berdiri
agak djauh. Wanita pertama sambil mengguit temannja,
dan melihat pada gadis itu berkata.
WANITA I:
Anak jang sungguh tjinta pada orangtuanja. Shim Tjung,
baik sungguh budinja, radjin sekali. Kasih sajangnja pada
orangtuanja tiada taranja.
WANITA III:
Djadi kebanggaan kita, Shim Tjung itu, kan?
SHIM HAK KYU:
Ja, anakku sajang, musimsemi musimsemi jang indah
gairah. Rasa terbajang kini semua apa jang pernah bisa
kulihat empatpuluh tahun jang lalu.
Shim Tjung mematahkan setangkai bunga persik, diberikan-
nja pada bapanja.
Shim Hak Kyu memegang dahan itu, gembira menfatan
wanginja.
SHIM HAK KYU:
Tiada musimsemi lagi kulihat. Tapi musimsemi ada dalam
setangkai bunga ini. Alangkah njaman wanginja. Anakku
sajang, kaulah djadi mata dan dahanku. Kaulah pudjaan
kegembiraanku. Mungkinkah aku melihat hidup tanpa tawamu?
Tanpa tawamu mungkinkah aku tahu bahagia?
Tiada mungkin kau dinilai dengan mas dan perak, anakku.
Anakku djuita, kaulah intan sesungguhnja, jang tiada terni-
lai.
Masuk Samwol pesuruh Puteti Bangsawan.
SAMWOL:
Kutjari2 kau, Shim Tjung.
Puteri Bangsawan menjuruh panggil kau. Mari kut bersama
aku kerumah Puteri Bangsawan.
SHIM HAK KYU:
Wahai, Shim Tjung, anakku sajang, Puteri Bangsawan mem-
inta kau datang. Pergilah, sampaikan sembahku kepadanja.
SHIM TJUNG:
Ah, belum sempat lagi bersama ajahku dirumah, se-hari2an
bekerdja, se-hari2an dia mendjadjakan sapu. Jah, telah
kusediakan makanan dimedja, jah. Tak usah menunggu
aku, mungkin aku lama baru kembali. (Shim Tjung keluar
melalui djembatan).
SHIM HAK KYU:
Bagaikan hari kemarin sadja lajaknja semua kenangan hidup
ini.
Tudjuh hari sesudah dia lahir, ibunja meninggalkan hidup
ini.
Permintaannja jang penghabisan, supaja anak jang baru
lahir itu diberi nama Shim Tjung.
Limabelas tahun sudah usianja sekarang. Dan derita siorang-
tua buta ini djadi beban berat untuk djiwa jang sehalus itu.
Sengsara sungguh hidup tidak punja mata. Aku hanja
menambah penderitaannja, tiada dapat melihat.
Biar aku menunggu Shim Tjung, tiada guna seorang diri
dirumah.
(Shim Hak Kyu keluar per-lahan2 me-raba2 dengan tongkat-
nja kearah kiri).
Kemudian kedengaran suara anak2 ribut, suara ber-ganti2,
berantara waktu.
SUARA ANAK I:
Sudah sampai kemana kita ini? Djauh sekali.
SUARA ANAK II:
Tidak, tidak djauh.
SUARA ANAK I:
Sudah sampai kemana?
SUARA ANAK II:
Sudah sampai dekat djembatan.
SUARA ANAK III:
Sudah sampai kemana ini?
SUARA ANAK II:
Sampai kebukit. Sekarang hampir sampai.
SUARA ANAK I:
Merangkak kita?
SUARA ANAK IV:
Sudah sampai kita?
SUARA ANAK II:
Nah, sekarang kita sudah sampai.
Dari sebelah kiri masuk lagi Shim Hak Kyu, beruni tegak,
mukanja mengarah djauh kesuara anak2 tadi.
SHIM HAK KYU:
Engkaukah itu, anakku? (Diam seketika). Puteri Bang-
sawan bidjaksana itu tentu tidak akan lama2 menahanmu,
anakku. Hari telah malam, dan dia tidak mungkin djalan
seorang diri. Kalau sampai djauh malam akukukutir -tidak
boleh sampai djauh malam begini.
(Kedengaran bunji lontjeng).
Nah, Lontjengmalam. Pura Mongwoon telah verbanju. Tapi
mana dia, mana Shim Tjun. Mungkin ada apa2. Aku akan
pergi mentjarinja.
(Shim Hak Kyu djalan kebelakang ketempat tanan mendaki,
sampai kedekat djembatan. Ia djalan lagi beberapa langkah
me-raba2. Tiba2 ia djatuh).
Tolong, tolong. Aku tenggelam.
Anakku, aku tenggelam, aku tenggelam. Toilohly, tolong.
Seorang pendeta tua Budha lewat dari djembatan itu, meli-
hat orangtua buta itu djatuh kedalam air, ter-gesa2 turun
menolongnja, dan mengeluarkannja dari dalam air. Sibuta
napasnja ter-engah2.
SHIM HAK KYU:
Siapa jang telah menolong njawaku? Pada siapa aku berhutang
njawa?
PENDETA:
Pendeta hina dari Pura Mongwoon telah mendapat k-hormatan
menolong tuan. Bagaimana sampai ini terdjadi? Mengapa
engkau begini?
SHIM HAK KYU:
Aku buta. Kepadamu aku berhutang hidupku, aduh, hidupku
jang tjelaka.
Usia duapuluh tahun kedua belah mataku kehilangan tja-
haja, aku buta. Usia empatpuluh tahun aku kehi-angan
belahan diriku, isteriku jang amat kukasihi. Tiada aku
mengerti, mengapa hidup tjelaka ini begini pandjang dan
begini penuh derita. Bagi sibuta hidup adalah sensara tanpa
akir.
PENDETA:
(Setelah diam sedjurus). Tuan, tuan seharusnja menebus
dosa2 masalalu.
Mohonkan pada Budha, dewa pengasih, agar derita tuan
kini berhenti dan berganti.
SHIM HAK KYU:
Sesungguhnja, pendeta jang kuhormati se-tinggi2 hormat.
Benarkah Budha, dewa pengasih — benarkah Ia bisa mengem-
balikan tjahaja mataku?
PENDETA:
Budha mahapengasih, mahakuasa. Dia pentjipta dan pen-
gatur segala.
Banjak manusia mohonkan turunan karena tiada turunan,
mohonkan sehat-selamat tiada gangguan kesehatan senan-
tiasa – dan segalanja dibawah aturanNja. Tuan, mohonkan
semoga rahmatNja berlaku pula atasmu. Mohonkan, adakan
upatjara dan sampaikan sadjian beras untuk tebusan tja-
haja matamu jang telah hilang.
SHIM HAK KYU:
Pendeta jang kuhormati, untuk menebus dosaku sung-
guh, wahai, beritahukan, berapa banjak sadjian harus ku-
persembahkan, bagaimana -
PENDETA:
Di Pura Mongwoon, dilatar upatjara jang kini dilalaikan,
harus tuan persembahkan beras sebanjak tigaratus karung
SHIM HAK KYU:
Aduh, tigaratus karung
PENDETA:
Ja, permohonan tuan bukan sembarang permohonan. Tigara-
tus karung beras untuk tebusan tjahaja kedua belah mata
sungguh djauh kurang dari seimbang. Tuan harus meng-
hargai segala kerdja dewa mahapengasih, segala kerdjaNja,
serta hadiah untukku, pendeta hina ini, jang telah meno-
long njawa tuan jang hampir tenggelam. Mahaadjaib sung-
guh rentjana karja dewa pengasih, bukan?
SHIM HAK KYU:
Maap pendeta jang kumuliakan, banjakkah orang jang telah
mendapat karunia?
PENDETA:
Pendeta jang hina ini akan mendjelaskannja kepada tuan.
Ribuan Jaki2 dan perempuan jang berbudi telah membuk-
tikan karunia dewa pengasih. Anak bungsu keluarga Joh,
punggungnja jang bungkuk telah mendjadi lurus. Anak su-
lung keluarga Lee kakinja jang tjatjat pengkor telah mend-
jadi lurus. Dan anak itu kini sudah bisa djalan.
SHIM HAK KYU:
Wah, dia bisa berdiri lagi, pendeta jang kuhormati? Djadi,
betulkah aku akan melihat lagi.
PENDETA:
Tipumuslihat serta memperdajakan manusia bukan mend-
jadi kebiasaan kaum pendeta, murid2 dewa mahapengasih,
pesuruhnja. Mungkinkah pesuruh2Nja akan memperdajakan
rakjat?
SHIM HAK KYU:
Wahai, aku akan bisa melihat lagi. Mataku selama em-
patpuluh tahun telah terkatup, kini Budha dewapengasih,
akan berkenan membukanja lagi. Dengan tjahaja mataku
segalanja akan kulakukan meringankan beban anakku Shim
Tjung, gadis ketjilku. Wahai pendeta jang mulia, tjatatkan-
lah dalam buku persembahan tuan, nama orang miskin jang
hina ini: Shim Hak Kyu. Dan ia ingin tjahaja kedua belah
matanja kembali.
Pendeta itu mengeluarkan bukupersembahannja dari sakunja,
mentiatat dan membatjanja kemudian.
PENDETA:
Dengarkan apa jang telah tertulis: Seorang buta bernama
Shim Hak Kyu, tinggal didesa Bunga Persik di Hwangyoo,
mempersembahkan 300 karung beras, supaja dia bisa meli-
hat kembali.
SHIM HAK KYU:
Alangkah luarbiasanja! Bahagialah hari ini! Bila persemba-
han beras untuk tebusan mataku itu harus disadjikan?
PENDETA:
(Setelah mem-balik2 bukunja).
Selandjutnja diberitahukan, bahwa persembahan jang akan
dibajar itu akan disadjikan pada tanggal lima-belas bulan
baru ini. Semoga djandji kepada Budha-dewa-pengasih tiada
tuan mungkiri.
SHIM HAK KYU:
Wahai, kumohonkan, kupersembahkan kepadaNja, dewa-
pengasih, dengan segala tenaga, kata dan daja.
PENDETA:
Baiklah, kawanku jang berbudi. Terimalah tasbih ini. Djan-
gan lalai pula menghitung buahnja. Matamu sungguh akan
diberi tjahaja, dengan mendoa serta menghitung.
SHIM HAK KYU:
Kata2mu memberi hidup baru bagiku. Bibirku akan tetap
senantiasa berdoa, mengharapkan mataku pulih kembali.
PENDETA:
Bagus, dan sekarang tinggallah dalam damai!
(Pendeta pergi).
SHIM HAK KYU:
Pergilah dalam damai!
(Menghitung tasbih dengan djari). Hari jang penuh rahmat.
Harapan masahidupku telah berdjawab
Shim Tjung, dimana kau, anakku?
Mengapa ia selambat ini? Berita baik akan kusampaikan
kepadanja.
(Diam sebentar, berpikir, tibia2 kaget).
Apa?
Tigaratus karung beras untuk sadjian kudjandjikan.
Pendeta, oi, pendeta, masih disanakah engkau? Pendeta!
Pendeta! Hapuskan namaku dari bukumu. Biarlah aku
tetap sadja seperti ini.
Aduh, kemana pikiranku semua tadi. Bagaimana mungkin
aku mendjandjikan sadjian persembahan demikian?
Sekarangpun aku bisa hidup, kulit pembalut tulang ini masih
utuh, karena Shim Tjung, anakku, mati2an banting tulang.
Biar aku pulangbalik dari bumi kelangit, bagaimana mungkin
aku mempersembahkan beras demikian.
(Bingung).
Karena memikirkan supaja mataku pulih kembali, aku telah
berdjandji jang tidak2, berdjandji jang muluk2. Seluruh
milik harta kami dikumpulkan semuanja, tidak akan sampai
tiga karung beras harganja.
Alangkah tjelakanja djadi orang miskin. Tapi, biarlah aku
buta.
Shim Hak Kyu me-raba2 dengan tongkatnja, djalan hendak
menudju arah pendeta pergi. Pada waktu itu Shim Tjung
muntjul diatas djembatan serta menemui ajahnja.
SHIM TJUNG:
Ajah, mengapa ajah masih diluar djuga sedjauh malam ini?
SHIM HAK KYU:
Tidak apa2, anakku. Tapi mengapa engkau selambat ini?
SHIM TJUNG:
Puteri Bangsawan baik sekali dan senang sekali kepadaku.
Dia ingin memungut aku djadi anaknja, ingin mendidik
aku, ingin mengadjari aku segala kepandaian wanita. Maka
hidupku akan mewah dan bahagia.
Tapi, tidak mungkin aku tenang sadja meninggalkan ajah
seorang diri. Kalau itu kulakukan......
Puteri Bangsawan ingin aku memberi djawaban keputusan.
Bagaimana aku bisa meninggalkan ajahku, jang kehilangan
tjahaja matanja?
SHIM HAK KYU:
Sajanglah kau tidak dilahirkan dalam keluarga bangsawan
seperti itu, nak. Kau åkan tidur diatas tilam mawar, den-
gan hatimu jang girang-gemirang, dan djiwamu jang tulus-
murni.
Tapi kini, tiada lain sengsara jang kauderita, djadi anak
sibuta-tua ini!
SHIM TJUNG:
Mengapa kata2 sepahit itu ajah? Kurangkah aku memenuhi
kehendak ajah?
Tjoba katakan, jah.
SHIM HAK KYU:
Biarlah kutjeritakan terus-terang anakku.
Tadi, karena gelisah memikirkan kau terlambat pulang, aku
menunggu kau disini. Kemudian aku ingin pergi mentjari
kau. Tapi aku salah langkah diatas djembatan situ. Aku
djatuh dan hampir mati. Untung datang pendeta Pura
Mongwoon menolong aku. Ketika diketahui-nja keadaan
mataku, dia berkata, bahwa dengan menjadjikan tigaratus
karung beras, mataku bisa dipulihkan.
Tigaratus karung beras akan bisa membuka mataku jang ke-
hilangan tjahaja kembali. Maka tanpa pikir, aku minta pen-
deta itu mentjatat namaku dalam buku per-sembahannja.
Kami telah berdjandji bersama2, mene-tapkan tanggal 15
bulan muka ini sebagai hari sadjian. Ah, djangan mempun-
jai sangka-djelek terhadap ajah-mu jang malang ini, anakku.
Biarlah sekarang djuga aku pergi ke Kuil Mongwoon untuk
minta dihapuskan namaku.
(Shim Hak Kyu hendak segera djalan).
SHIM TJUNG:
Ajahku sajang, ajahku jang malang. Tiada jang mustahil
dikerdjakan. Apa sadja akan kurelakan, apa sadja akan
kulakukan, djika matamu bisa pulih kembali.
SHIM HAK KYU:
Sungguh begitu katamu, anakku?Hatiku djadi bertambah
harap. Tapi dari mana kita bisa mendapat beras tigaratus
karung? Dalam mimpi sekalipun tidak mungkin aku bisa
mendapat tigaratus karung beras. Alangkah bodoh dan
dungunja ajahmu jang tua ini, nak.
Shim Tjung menuntun ajahnja dengan tongkatnja. Setelah
menuntunnja sebentar, dia membiarkan ajahnja berdjalan
duluan. Shim Tjung berdiri memandanginja sampai ajah-
nja tiada kelihatan lagi.
SHIM TJUNG:
Dewa mahapengasih, dengarkan uku, dengarkan doaku. Lan-
git dan bumi tanpa bulan matahari, adalah kegelapan se-
mata. Bagi manusia mata laksana bulan dan matahari.
Dewa mahabidjaksana, kabulkanlah permohonanku. Kem-
balikanlah dan pulihkanlah mata ajahku kembali. Den-
garkan aku, dengarkan. Kembalikanlah tjhajaj matanja.
Untuk kebahagiaannja, aku rela berkorban segala untukMu.
Dewa mahapentjipta, bantulah uku mentjari menjediakan
tebusan beras ini!
Lajar (turun lambat).
babak kedua
Disebelah kanan muka kelihatan sebagian dari rumah Shim
Tjung. Ada sumur dekat rumah itu.
Andjing menggonggong. Kemudian nampak beberapa orang
wanita membawa tempatair ter-gesa2, sebentar2 menengok
kebelakang dan berhenti. Mereka menudju kesumur.
GADIS I:
Pelaut djahanam! Betul2 bagai ulat dalam nasi busuk mereka
masuk kedalam kampung ini. Mentang2 punja banjak duit,
mereka pikir bisa sadja mendapat apa jang dimauinja. Enak
sadja pikirnja mengambil gadis2 dari sini.
GADIS II:
Mereka masuk keluar lorong. Mau keneraka kita dibawanja.
BIBI:
(Berkata kepada gadis II).
Aku lewat dekat rumahmu. Sekumpulan pelaut mendjen-
guk dari pagar halaman kalian, sambil bitjara berbisik 2.
GADIS III:
Tidak ubahnja sebagai elang, jang hendak menjambar anak
ajám mereka. Mereka memasuki lorong2 hendak membuat
bentjana. Hati2, kalau tidak tjelaka kita.
BIBI:
Enaklah seperti aku, tidak susah apa2. Apa jang ditakutkan?
Kalau kalian semua gadis2 sudah kawin, kan tidak usah
takut apa2?
(Bibi keluar, dan gadis2 lain tertawa gelak).
GADIS.I:
Lihat, itu mereka menudju kemari, setan2 itu.
Awas, djangan sampai bertemu dengan mereka dilorong
sana.
(Semua mereka pergi).
Shim Tjung keluar menudju sumur, tenang menimba air.
Ketika itu sekumpulan pelaut datang dari arah jang ditund-
jukkan Gadis I tadi.
PEMILIK KAPAL:
Kami datang lagi. Tolong kami seteguk air dulu.
(Shim Tjung memberinja semangkuk penuh air, dan mereka
minum).
Alangk¯ah segarnja. Bahagialah keluarga jang minum air
dari sumber ini.
(Pemilik Kapal itu mengembalikan mangkuk kepada Shim
Tjung).
Tidak kusangka begini susahnja. Setengah mati sudah ke-
liling kampung ini, keluar masuk lorong, tapi tidak
djuga dapat gadis umur 15 tahun seperti jang kita butuhkan.
Kita sudah menjediakan harga jang tjukup tinggi.
(Ditudjukan pada Shim Tjung).
Bagaimana tawaranku djadinja?
SHIM TJUNG:
Aku sudah mendjelaskan dulu: Aku punja seorang ajah jang
tidak bisa melihat. Dia buta. Segalanja telah kuusahakan
untuk matanja jang buta itu, tapi sia2. Sekarang ada kesem-
patan terbuka baginja. Aku tidak perlu duit. Aku membu-
tuhkan 300 karung beras untuk sadjian persembahan dikuil
Mongwoon. Kalau ini bisa dilaksanakan, alangkah baha-
gianja dia.
Tuan2 jang baik budi. Itulah permintaanku. Kasihani-
lah kami. Kami tiada mungkin menjediakan beras jang
demikian banjaknja. Tapi aku rela mendjadi tebusannja.
PEMILIK KAPAL:
Sungguh berbudi dan mulia hatimu. Demikian besarnja
tjintamu kepada ajahmu, tiada taranja.
Tiba2 kedengaran suara Shim Hak Kyu memanggil.
SHIM HAK KYU:
Tjung! Dimana engkau.
Shim Tjung terkedjut, agak gugup. Dia memandang Pemlik
Kapal minta dikasihani, dan minta kepastian. ˙
PEMILIK KAPAL:
Beginilah, kita sudah lama bitjara, dan aku telah beber-
apa kali lewat dari sini. Sudah kudengar keterangan dan
permintaanmu. Pada pagi hari tanggal 15 bulan ini kami
datang mengambilmu. Mau kau berdjandji?
SHIM TJUNG:
Aku berdjandji. Djandjiku djadi djaminan.
Pelaut2 itu pergi.
Dari dalam rumah keluar Shim Hak Kyu, bertemu dengan
Shim Tjung dibagian muka rumah itu.
SHIM HAK KYU:
Kau itu anakku?
SHIM TJUNG:
Ja, ajah. Ajah kesal didalam seorang diri?
SHIM HAK KYU:
Tidak, nak. Tidak, aku tidak kesepian. Tapi dari mana
kau, anakku?
SHIM TJUNG:
Ajah kan tahu, aku mengurus segala sesuatu untuk persem-
bahan kita itu di Pura Mongwoon. Aku sedang membereskan-
nja, ajah.
SHIM HAK KYU:
Apa katamu, Tjung?
SHIM TJUNG:
Benar, ajah. Beras jang ajah perlukan, sebanjak tiga ratus
karung telah disampaikan ke Kuil Mongwoon.
SHIM HAK KYU:
Benarkah? Benarkah itu?
Kalau sungguh benar – katakan padaku, siapa jang begitu
mulia, begitu bermurah hati padaku?
SHIM TJUNG:
Aku telah memberi keputusan kepada Puteri Bangsawan,
ajah:
Aku mau mendjadi anaknja. Puteri Bangsawan gem-
bira, maka dikirimkannja sudah 300 karung beras ke Kuil
Mongwoon.
Djangan marah, ajah, aku telah lantjang berfindak sendiri.
Ajah tidak marah, bukan?
SHIM HAK KYU:
Sungguh baik dan bidjaksana kau, anakku. Dengan begini
kau telah memperbaiki nasibmu, mau tinggal bersama put-
eri jang baik hati itu.
Kau akan djadi bahagia dan senang, dan aku mendapat
kedua belah mataku kembali.
SHIM TJUNG:
Wahai, ajah.
SHIM HAK KYU:
Tanggal berapa Puteri Bangsawan menentukan akan mend-
jemputmu lagi?
SHIM TJUNG:
Tanggal 15 bulan ini sebuah tandu akan dikirimkan untuk
mendjemput aku.
SHIM HAK KYU:
Hariinja telah dipilih dengan teliti sekali. Hari menjam-
paikan sadjian persembahan kita. Sungguh baik sekali. Per-
nah kutjeritakan tentang seorang ajah jang mendjadi radja
karena djasa2 orang anaknja, kepadamu, Tjung?
(Shim Tjung mengangguk).
Alangkah gembiranja. Tapi kegembiraannja tidak seband-
ing dengan kegembiraanku, Tjung. Aku lebih gembira.
SHIM TJUNG:
Ada permintaanku, ajah.
SHIM HAK KYU:
Apa, Tjing?
SHIM TJUNG:
Aku djadinja akan meninggalkan kampung ini. Untuk men-
jatakan tjinta dan penghormatan pada ibu, jang telah melahirkan
aku dengan susah pajah, bolehkah aku pada pagi hari tang-
gal 15 itu, mengundjungi kuburannja?
SHIM HAK KYU:
Mulia hatimu, nak. Ibumupun akan turut senang dengan
kehidupan barumu.
(Shim Hak Kyu mengusap wadjah Shim Tjung, dan terasa
oleh tangannja air-mata Shim Tjung meleleh).
Mengapa air-mata begini, anakku sajang? Kau sedih mening-
galkan aku? Aku mengerti, tapi kau tidak mungkin meng-
habiskan umurmu, untuk hidup sengsara memelihara aku.
Anggaplah dirimu telah kawin dalam keluarga Puteri Bang-
sawan, dan kau telah mendjadi anggota keluarga sana. Djika
kelak aku telah bisa melihat lagi memandang padang dan
djalan desa Mooneung, tentu aku akan datang mengund-
jungimu. Djangan lagi hatimu merasa duka, Tjung. Hari2kupun
akan bahagia, walaupun terasa sepi.
Shim Tjung tak dapat menahan perasaannja lagi. Disem-
bunjikannja mukanja dalam haribaan ajahnja, menangis ter-
isak2.
SHIM TJUNG:
Air-mata ini bukan air-mata duka, tapi air-mata gembira.
SHIM HAK KYU:
Sungguh, benarkah? Air-mata gembirakah ini? Mari ku-
usap wadjahmu, biar ada kepastian dalam hatiku. Anakku,
anakku engkau, sajang! Nasib buruk mula kini beralih
mekar djadi bahagia sempurna dihari akir. Dihari datang
enqkau mengatur rumah puteri.
(Shim Tjung tertidur).
Keringkan air-matamu, anakku, dan nikmati mimpi djelita.
Air-mata akan menghantjurkan hari orangtua ini.
Persaudaraan antara keluarga, persahabatan antara tetangga,
kasihsajang pada orangtua, kesetiaan terhadap negeri. Mimpikan
ini semua, anakku sajang.
Tiada guna mengimbau ibu sajang jang tak kundjung kem-
bali.
Tidur, tidurlah anakku. Kaur akau tumbuh besar mendjadi
kebanggaan bangsa.
Ge la p per-lahan2.
Beberapa hari kemudian dinihari, mendjelang subuh. Diba-
gian ruangmuka rumahnja, Shim Tjung sedang duduk mem-
perbaiki pakaian ajahnja. Ajahnja tidur. Bulan putjat di-
langit barat, sedang langit dihiasi bintang. Sekali2 terden-
gar bunji serangga.
Shim Tjung sambil mendjahit menjeka airmata dipipinja.
SHIM TJUNG:
Siapa akan djadi penolongmu, siapa akan menggembirakanmu,
djika aku tiada lagi, ajah jang malang?
(Shim Tjung melihat kepada ajahnja jang tidur).
Dia akan mengembara dan berkeliaran sepandjang djalan,
dari kampung kekampung, berpanas berhudjan. Alangkah
pahit nasibnja.
Ajahku, ajahku jang kusajangi, aku akan pergi mendjelang
fadjar.
(Shim Tjung menutup mukanja sambil menangis terus. Pada
kokok ajam jang pertama dia berdiri. Shim Tjung keluar
rumah serta melihat berkeliling).
Ajam dan unggas, tahan suaramu pagi ini. Kokokmu men-
gantar fadjar, dan hari baru membawa aku menudju mati.
Tiada kegelapan jang kutakuti. Tapi hatiku jang duka ting-
gal tetap bersama ajahku.
Tiadakah jang sang@up menahan bulan susut, dan mena-
han matahari pagi dikakilangit, agar bertambah sehari penuh
waktu bagiku mengurus ajahku?
Wahai, siapa mungkin menahan masa, jang melintas-lalu
tanpa kasihan.
Masuk Pemilik Kapal serta dua orang pelaut.
PELAUT I:
Pagi baik.
PEMILIK KAPAL:
Hari ini kita berlajar. Sudah lewat lagi beberapa hari. Djan-
gan sampai diundurkan lagi.
SHIM TJUNG:
Idjinkan saja menjampaikan doa sebentar. Ajahku sama
sekali tiada mengetahui keberangkatanku ini.
Biar kuantarkan sarapannja, dan kudjelaskan semuanja kepadanja.
PEMILIK KAPAL:
Baik.
Pemilik Kapal dan pelauţt2 keluar. Kedengaran suara Shim
Hak Kyu dari dalam rumah.
SHIM HAK KYU:
Dimana kau Shim Tjung?
Kaget Shim Tjung menudju kepintu.
SHIM TJUNG:
Ja, jah. Ini aku.
Shim Hak Kyu keluar dari dalam.
SHIM HAK KYU:
Aku pikir, engkau telah pergi entah kemana.
SHIM TJUNG:
Tidak, jah. Aku sedang membuat sarapan ajah.
SHIM HAK KYU:
Aku lupa, bahwa kau hari ini harus pindah kerumah Puteri
Bangsawan. Aku tiap pagi kesiangan bangun, dan hari ini
terlambat lagi.
Shim Tjung membawa sebuah piring berisi makanan. dan
segelas air-minum.
SHIM TJUNG:
Ini sarapan ajah.
SHIM HAK KYU:
Baik. Sudah sedia? Kau sendiripun makanlah.
SHIM TJUNG:
Ah, ajah. Ajah makanlah, jah.
SHIM HAK KYU:
Baik.
Masuk Pemilik Kapal dan pelaut dua orang tadi. Shim
Tiung melihat kepada mereka. Mereka berdiri dihalaman
rumah, tidak sabar.
SHIM HAK KYU:
Tidak aneh, banjak sekali aku mimpi.
SHIM TJUNG:
Apa mimpi ajah?
SHIM HAK KYU:
Sedjenak sebelum aku terdjaga, aku melihat kau duduk
dalam keretatinggi, diliputi warna pelangi. Kereta itu naik
bersamamu kelangit. Shim Tjung, kereta itu tentulah lam-
bang hidup barumu, karena hanja bangsawanlah jang men-
gendarai kereta demikian.
Shim Tjung tak dapat lagi menahan hatinia, disembunjikan-
nja mukania kedalam haribaan ajahnja.
SHIM TJUNG:
Wahai, ajah, maapkan aku. Aku tidak djudjur kepadamu.
Aku sembunjikan hal ini kepadamu.
SHIM HAK KYU:
Apa maksudmu? Apa jang kausembunjikan?
SHIM TJUNG:
Aku akan berterus terang sekarang, ajah. Sebenarnja, –
tidak ada orang pernah mau memberi kita beras 300 karung
untuk sadjian persembahan kedua belah mata ajah. Karena
itu, ajah — anakmu mengorbankan dirinja pada
pedagang2 dari Namkyung, untuk tukaran 300 karung be-
ras.
Hari ini datang waktunja, ajah. Aku akan meninggalkan
ajah, didjadikan korban untuk samudra Imtang, agar per-
ahu2 pedagang selamat tiada suatu apa melaluinja, mem-
bawa redjeki.
SHIM HAK KYU:
Apa katamu? Berani kau? Kau lakukan itu, tanpa berkata
apa2 padaku, nak?
Alangkah baiknja, djika aku dapat, melihat lagi, dan kita
bisa hidup terus.
Tapi, anakku, tetaplah aku dalam kegelapan, walaupun tja-
haja ada dalam mataku, bila engkau pergi.
(Shim Hak Kyu menjesali diri).
Apa jang telah kaulakukan, nak?
Kedua belah mataku rela aku menukarkannja asal sadja
kau tetap punjaku, nak. Apa perlunja bagiku kedua belah
mataku, kalau kau harus kukorbankan?
Pemilik Kapal batuk.
PEMILIK KAPAL:
Mari kita berangkat, sedang air pasang. Tjepatlah!
SHIM HAK KYU:
Suaramukah itu, pelaut tjelaka? Pedagang djahanam. Demi
keuntunganmu dan keselamatanmu, kaurampas anakku perem-
puan, untuk kau korbankan kepada samudra Imtang.
Tidak mungkin, tidak mungkin!
Shim Hak Kyu memegang erat2. Pemilik Kapal itu datang,
serta menarik Shim Tjung pula. Mereka tarik menarik.
PEMILIK KAPAL:
Kami lakukan ini dengan penuh kedjudjuran dan adil. Kami
telah membajar 300 karung beras.
(Demilik Kapal berseru pada pelaut 2).
Mengapa kalian? Ajoh, kita harus tjepat2 pergi. Djangan
sampai orang2 kampung berkumpul disini.
PELAUT:
Ah!
(Pelaut2 ini bimbang sebentar, tapi kemudian menarikkan
Shim Tjung dengan paksa dari tangan Shim Hak Kyu).
SHIM HAK KYU:
Setan kalian!
Tidak kurelakan anakku pergi, sebelum darahku mengalir.
SHIM TJUNG:
Selamat tinggal, ajah, selamat tinggal. Aku pergi.
Aku lakukan ini unfuk kedua bidjimatamu, dan untuk ke-
bahagiaan hidupmu.
Selamat tinggal, ajahku sajang.
SHIM HAK KYU:
Tidak, kau tidak boleh pergi. Aku tidak rela kau pergi.
Kematianmu akan menjiksa ajahmu situa ini seumur hidup.
Kasihanilah hidup ini.
Mangkah tjelaka djadi orang miskin dan orang lemah. Simiskin
dan silemah tiada mungkin malah mengasuh anaknja sendiri.
SHIM TJUNG:
(Melepaskan diri dari pelaut2, memeluk ajahnja).
Wahai ajah.
SHIM HAK KYU:
Apa gunanja lagi mata bagiku?
Tjung, kau tidak boleh pergi.
Shim Tjung kemudian ditarik lagi oleh pelaut2 itu, hingga
tidak berdaja. Shim Tjung menghilang melalui tanahpen-
dakian, diikuti oleh pelaut2. Shim Hak Kyu hendak mengikuti
mereka, berdjalan me-raba2, terantuk, diatuh bangun.
SHIM HAK KYU:
Tunggu anakku, tunggu aku. Bawalah aku, kalau kau mesti
pergi djuga. Biar bersama kita, kau dan aku, terdjun kedalam
lautan biru luas.
Ge1ap.
Dalam gelap dielas kedengaran suara ombak, kian lama kian
dahsat. Dikedjauhan makin dielas pula sosok kapal, diem-
pas2kan ombak. Laut kian lama kian mengamuk. Ombak
kian lama kian tinggi dan angin menderu, sedang udara jang
gelap-gelita gemuruh, sebentar2 petir dan kilat membelah.
Kemudian hudjan deras. Kedengaran pula bunyi genderang
dipalu oleh pelaut dengan dahsat, tiada henti2-nja.
PEMILIK KAPAL:
Kita telah sampai dilaut Imtang, tempat jang paling berb-
hahaja selama perdjalanan. Suruh hentikan kapal,
dan suruh siapkan upatjara santarapan dewa laut. Dewa
laut kini ingin santapan disampaikan.
Kelihatan Shim Tjing dalam gaun putih.
SHIM TJUNG:
Kalian pelaut2 jang baik hati, dengarkan aku. Djika kalian
kembali ketanahasal membawa perak dan emas, djangan
lupa singgah dikampung Bunga Persik. Disana ada: ajahku,
kundjungilah dia. Tolong tjari, apakah ia masih hidup.
Lihatlah pula, apakah tjahaja dalam matanja telah pulih.
Dan andaikata kalian senantiasa berlajar, tiap kali lewat
dari tempat ini, sampaikanlah pesan pada djiwaku jang tak
kundjungtenang ini. Didasar laut aku akan istirahat den-
gan damai.
PEMILIK KAPAL:
Tjukuplah sudah kata2. Kau tahu, Dewa Laut Imtang se-
tahun sekali tiap kapal lewat dari sini minta korban gadis
berusia 15 tahun. Inilah djaminan keselamatan pelaut, ini-
lah pula djaminan untung redjeki pedagang. Tanpa ini kese-
lamatan dan laba tiada terdjamin. Lihat, laut jang dahsat
serta angin dan hudjan jang menderu ini. Dewa Imtang
bagai tiada sabar lagi. Tjepat, terdjunlah kedalam laut. In-
gat perdjandjian kita.
SHIM TJUNG:
Langit Abadi, dengan doaku. Kasihanilah djiwa jang malang
ini, jang telah memberikan hidupnja djadi pengganti tja-
haja dalam mata ajahnja. Langit jang Mahapengasih, berikan
dia kedua belah matanja kembali penuh tjahaja, dan lin-
dungilah dia dari segala bahaja.
PEMILIK KAPAL:
Sudahlah, aku telah membajar seratuslimapuluh karung be-
ras untuk dapat melewati laut ini dengan selamat. Segeralah
terdjun kedalam laut.
Shim Tjung mengangkat gaunbawahnja, menutupi mukanja
dengan gaun putih itu, kemudian terdjun kedalam laut.
Laut makin mengamuk.
Lajar (lambat2).
babak ketiga
Ditaman dalam istana, sebelah kiri ada mahligai menghadapi
kolam, penuh teratai. Ditepi kolam tumbuh banjak matjam
bunga. Malam terang bulan. Dajang2 istana asik meng-
hadapi bunga.
DAJANG I:
Ai, bunga motan, bunga segala bunga.
DAJANG II:
Bunga matahari alangkah segar.
DAJANG III:
Teratai mulia dari segala bunga.
DAJANG IV:
Alangkah harumnja dan indah kamelia.
DAJANG V:
Bunga krisan mejakinkan hati.
DAJANG VI:
Tengok, pohon zahib berbunga sudah.
DAJANG VII:
Hai, bunga pirpun sudah kembang.
DAJANG VIII: Kelopak bunga persik kelihatan merah muda
riang.
Suara dari dalam: Seri Baginda Radja! Masuk Radja di-
ikuti oleh pesuruh istana sampai keatas mahligai. Dia me-
mandang ngelamun.
BAGINDA:
Ah, pikiran djadi gelap dalam taman tjahaja bulan seterang
ini, walaupun tiap kuntjup bunga mandikan tjahaja perak,
menari diangin sepoi. Bulan hanja satu tapi hati sung-
guh banjak. (Baginda mengeluh). Ah, benar2 dia gem-
bira dan bahagia, melimpahkan ketjantikannja, ah; sung-
guh memabukkan. Wadjahnja menusuk hati jang lara..........
PESURUH:
Tuanku, djuita2 ini adalah pilihan dari seluruh rakjat, untuk
menjenangkan hati tuanku.
BAGINDA:
Benar, mereka tjantik wadjah, tiada kusangkal tapi, kein-
dahan teratai selamanja tiada bandingnja. Teratai ratu
bunga.
PESURUH:
Sesungguhnja, tuanku.
Kedengaran bunji gong dua kali.
BAGINDA:
Benarkah, bunji gong dua kali?
PESURUH:
Benar, tuanku. Benar, tepat pada waktu gong berbunji dua
kali kemarin malam, ketika itulah.........
Baginda dan pesuruh menudjukan pandangan pada bunga
teratai. Baginda memusatkan perhatiannja pada setangkai
teratai, jang seakan muntiul dari dalam air, kian lama kian
besar, perlahan bergerak.
BAGINDA:
Ssst, dia mulai terbuka – djangan ganggu. Lekaslah sem-
bunji semua.
Per-lahan2 teratai besar itu membuka, dan dari dalamnja
keluar seorang wanita tjantik.
WANITA TJANTIK:
Aku berharap segera sampai ketempat asalku, ketika aku
dikirim kedunia. Dimana kiranja aku ini?
Gembira wanita tiantik itu me-nari2 sekitar bunga dan did-
jamahnja pohon demi pohon liu.
WANITA TJANTIK:
Alangkah indahnja djalinan warna pemandangan disini. Be-
tullah, aku benar2 telah mengindjak bumi. Tapi ini bukan
Desa Bunga Persik, kampungku. Mana rumah ajahku? Aku
rindukan kampung kelahiranku. Bagaimana kiranja ajahku
seorang diri, hari demi hari? Ah, bila aku dapat bertemu
dengan dia dan melihatnja lagi. Aku harus segera mene-
muinja. Kalaulah aku punja sajap .........
Baginda serta pesuruh2 lain keluar dari tempat persembun-
jian tiba2. Wanita tjantik itu terkedjut, dia segera ingin
kembali kebunga teratainja, tapi Baginda berdiri mengha-
langinja.
BAGINDA:
Puspa djuita, damai atasmu. Tjeritakan pada kami dari
mana engkau datang, dan mengapa tubuh muliamu men-
guntjup dalam teratai.
Wanita tjantik itu masih berusaha hendak kembali djuga,
tapi tetap dihalangi.
BAGINDA:
Kau tak boleh kembali, djuita, sebelum kautjeritakan riwa-
jatmu.
Wanita tjantik itu melihat, tidak ada djalan kemungkinan
lain baginja dari mentjeritakan riwajatnja.
SHIM TJUNG:
Aku Shim Tjung. Aku diam dulu di Desa Bunga Persik
di Hwangfoo. Aku anak tunggal, Shim Hak Kyu nama
ajahku, dia telah tua dan buta. Aku mendjual diriku su-
paja bisa mendapat tigaratus karung beras jang diperlukan
untuk sadjian persembahan kepada Budha, supaja kedua be-
lah mata ajahku pulih kembali. Pelaut2 jang memberikan
tigaratus karung beras itu membutuhkan aku untuk dikor-
bankan pada laut Imtang, agar pelajaran mereka selamat,
dan perdagangan mereka madju. Tapi..........
BAGINDA:
Djadi kau terdjun kedalam laut?
SHIM TJUNG:
Ja, demi kedua belah mata ajahku jang kehilangan tjahaja.
Semuanja terharu.
SHIM TJUNG:
Aku terdjun kedalam laut.
Tapi didasar laut, tiada kuduga, ada Istana Hablur, jang
menjambut aku bersama semua isi laut, ketika sampai ke-
sana.
(Sedih bertjampur gembira). Aku disambut bagai tamu
agung.
Gadis2 Istana Hablur berkata manis padaku: Disini kita
bersatu. Disini kita tida kenal mewah tiada kenal kame-
laratan, disini tiada hamba tiada bangsawan. Tiap orang
membagi bahagia dan hidup dalam damai.
DAJANG2:
Dan apa djawabmu, puspa djuita?
SHIM TJUNG:
Aku kebingungan. Tiada kuduga sambutan jang demikian
hormat.
(Gembira Shim Tjung dengan mata ber-tjahaja2).
Istana Hablur didasar laut dibelakangnja ada djembatan
pelangi, jang menghubungkannja dengan langit.
(Sekitarnja gelap, tiada kelihatan apa2. Kemudian dibelakang
nampak membajang pelangi, dan apa jang ditjeritakan oleh
Shim Tjung selandjutnja.
Ketika keadaan membajang dibelakang dimuka gelap selu-
ruhnja dan hanja suara jang kedengaran).
Seorang wanita tjantik turun melangkah diatas djembatan
pelangi. Seorang dajang membisikkan kedalam telingaku:
Itulah ibumu.
(Pada bajangan kelihatan wanita tjantik turun melangkah
lambat diatas djembatan pelangi).
Aku tiada pertjaja. Ibuku......... tapi memang, dialah ibuku.
Alangkah bahagianja berdjumpa kembali, se-
dang aku ada2 kenal tiada. Tiada kubajangkan pertemuan
jang demikian, ibuku, jang tak pernah hilang dari pikiran
dan hatiku, jang mengikuti aku senantiasa sampai dalam
mimpi. Aku dekati dia.
(Pada bajangan kelihatan Shim Tjung jang menghampiri
ibunja, jang kemudian di-belai2 oleh ibunja).
Wahai, alangkah gembiranja djika bisa bersama dengan ajahku,
kini sebatang kara. Ajah, jang kehilangan kedua belah
matanja.........
(Pada bajangan Shim Tjung menangis).
Tiada lama bersama dengan ibu. Pesannja hanja singkat.
IBU SHIM TJUNG:
(Pada bajangan):
Selamat tinggal lagi, anakku. Kau segera diutus kembali
kebumiatas. Bahagia dan gembiralah djika kau kembali
bersama dengan ajahmu.
(Bajangan dibelakang berangsur hilang, sedang bagian muka
berangsur terang lagi, keadaan seperti sebelum gelap).
Istana Hablur telah menjelamatkan daku. Dan dalam ter-
atai inilah aku diutus kebumi.
Berkata Baginda dari Hablur ketika menjampaikan perin-
tahnja, bumi jang harus kutudju: Kebumi Korea, dimana
gunung2 senantiasa permai, dimana batangair senantiasa
djernih, dimana rakjatnja senantiasa berbudi halus! Dis-
analah gunung Baikdoo, gunung dari segala gunung, segala
sungai mengalir dari Yalu. Disanalah setiap keluarga hidup
rukun dan setia. Disana rakjatnja adalah pahlawan.
pAJANG I:
Musim semi, bukit dan ladang menghidjau, gandum melaut,
sedang pepohonan masa berbunga, bunga kasih sajang.
(Dajang melihat kepada Baginda).
BAGINDA:
Sesungguhnja indahlah negeri ini, dimana bunga kasih-sajang
sedang mekar.
(Diam seketika).
Hidup penuh damai dan bahagia. Baginda dari Hablur jang
bidjaksana kiranja telah mengutusmu padaku, suatu kehor-
matan. Aku mendapat kehormatan kini untuk memenuhi
harapanmu. Apa konon jang dapat kulakukan untukmu?
Shim Tjung diam seketika. Ada harapan pada mukanja.
SHIM TJUNG:
Sudah dua tahun sedjak aku meninggalkan rumah dulu.
Hanja satu permintaanku: bertemu dengan ajahku. Adakan-
lah pesta, kumpulkanlah semua orang buta diseluruh negeri,
agar aku dapat mendjumpainja.
BAGINDA:
Sungguh kata2 seorang anak berbudi. Dajang2 dan pesuruh!
Dengarkan berintahku: Sampaikan kata2 puspa djuita ini
keseluruh negeri. Dia mendjadi kebanggaan bangsa. Per-
mintaannja kupenuhi. Bawa dia kedalam istana. Pesta
akan segera berlangsung dalam taman istanaku ini.
Beberapa minggu kemudian pesta orangbuta dalam taman
dalam istana.
Shim Tjung berdiri diatas mahligai memperhatikan satu2
wadjah mereka jang datang. Penjeru pesta menjebut nama
jang hadir ber-ganti2.
PENJERU:
Hari ini adalah hari pesta penghabisan. Mereka jang na-
manja disebut silakan mendekat masuk kemari.
(Mereka mendekat pada Shim Tjung dan menjatakan hor-
mat).
Sajang sekali tidak seorangpun jang bernama Shim dalam
daptar hari ini.
(Penjeru keluar).
Pesta berlangsung dengan meriah.
Kemudian kelihatan penjeru masuk lagi, segera menghadap
Shim Tjung.
PENJERU:
Gubernur daerah Whanghai ingin menjampaikan pada Seri
Ratu, bahwa tiap pelosok daerah telah diperiksa untuk men-
tjari sibuta Shim, tapi keterangan jang didapat hanja men-
jatakan, bahwa sedjak berangkatnja Shim dari Desa Bunga
Persik tiada suatu berita apapun mengenai dirinja.
(Penjeru pergi).
SHIM TJUNG:
(Mengeluh sedih).
Baginda telah mengangkat aku djadi ratu. Dan ketika Baginda
memenuhi permintaanku mengada
kan pesta mengumpulkan semua orang buta diseluruh kageri,
sumgguh kubajangkan, bagaimana gembiranja negeri, berd-
jumpa dengan ajahku, jang senantiasa terakan berdjumpa
dalam mjmpiku. Tapi kiranja langit tiada bajang dalam
mjmpiku. Tapi kiranja langit tiada mengabulkan permintaanku.
Kini sudah hari jang penghabisan, dan tiada berita keteran-
gan tentang ajahku. Kemana lagi akau kutjari? Apa harus
kulakukan? Berkabung karena ajahku telah tidak ada, atau.........
Mungkinkah pula Budha Mahapengasih telah berkenan memulihkan
kedua belah matanja, sehingga memang bukan tempat ajahku
lagi dalam pesta ini.
Ada harapan sebentar dalam mata Shim Tjung, tapi segera
hilang. Masuk seorang pegawai istana wanita.
PEGAWAI WANITA:
Hari ini akan berakirkan peeku orang ekan aan dalam peng-
habisan kalinja telah dikirimkan pula penjelidik2, jang me-
manggil dan menjuruh datang segala orang buta dari selu-
ruh djalan dan tiap lorong.
Tiba2 kedengaran suara penjeru.
SUARA PENJERU:
Baru sadja masuk seorang jang berhanda Sunir.
Shim Tjung bagai tersentak. Kelihatan dajang2 menuntun
seorang tua jang sangat letih dan berpakaian tiompang-
tjamping, wadjahnja sukar dapat dikenali.
ORANG TUA:
(Mengomel). Mengapa kalian bawa aku kemari?
PESURUH LAKI2:
Ini atas permintaan Seri Ratu.
PEGAWAI WANITA: Betulkah nama Shim Hak Kyu?
PEGAWAI LAKI2: Benar.
ORANG TUA: (Kaget mendengar pertjakapan itu).
Orang tua jang kalian seret kemari ini, bukan begitu na-
manja.
PESURUHLAKI2:
Sudah kukatakan tadi, ini atas permintaan Seri Ratu. Tjoba
katakan namamu jang sebenarnja serta tempat tinggalmu.
ORANG TUA:
Mengapa aku pula jang kalian buat susah2 datang kemari?
PEGAWAI LAKI2:
Akan ada peristiwa bahagia, pertjajalah. Tjoba, beritahukan-
lah namamu.
PEGAWAI WANITA:
Seri Ratu mendesak menanjakan dengan segera tempat dan
keluarga orang tua ini.
ORANG TUA:
Oh, sekarang baru djelas padaku. Kalian rupanja sengadja
memasang perangkap hendak menangkap aku. Dan aku
betul2 masuk perangkap, setelah menjingkirkan diri selama
itu, dan sedjauh itu. Kalau begitu, biarlah kutjeritakan
siapa sebenarnja aku.
(Semua menunggu dan memperhatikan seakan tak sabar,
dan sungguh2).
Aku berasal dari Desa Bunga Persik, di Hwanfoo. Aku ke-
hilangan kedua belah mataku. Kedua mataku buta, ketika
aku berumur duapuluh tahun sampai sekarang. Dan aku
kehilangan isteriku jang kukasihi, ketika umurku 40 tahun.
Akumengemis, dan anakku perempuan jang masih ketjil ku-
gendong kemana sadja aku pergi. Namanja Shim Tjung.
Shim Tjung berlari mendapatkan sibuta.
SHIM TJUNG:
Ajah! Akirnja aku bertemu djuga dengan ajah!
SHIM HAK KYU:
Siapa pula jang menjebutkan aku ajah ini?
(Mundur beberapa langkah).
SHIM TJUNG:
Mata ajah belum pulih djuga, wahai, Kuil Mongwoon-penipu!
Anakmu, Shim Tjung, jang telah ditelan oleh Laut Imtang,
kini kembali kehadapanmu. Dia muntjul dari dasar Laut
Imtang. Buka matamu, dan pandanglah aku.
SHIM HAK KYU:
Kasihanilah aku, djangan aku dipermainkan lagi. Aku seo-
rang tua, aku buta. Tjukuplah sudah penderitaanku: Shim
Tjung, anakku telah mati didasar laut. Mana mungkin
dia djadi permaisuri? Kasihanilah, djangan diperdajakan
lagi orang tua malang ini. Lepaskanlah, lepaskanlah aku.
Biarkanlah aku pergi kemana sadja.
SHIM TJUNG:
Ajahku, ajahku jang kutjintai. Tidakkah sampai suara ini
kedalam hatimu?
(Diam sekedjap).
Tahun2 dulu, alangkah lama sudah, ajah memeluk aku sam-
bil bernjanji: Anakku ini, anakku sajang Emas kuharamkan,
permata tiada mungkin, Kau pudjaanku seluruhdunia.
SHIMHAK KYU:
Demi tanah jang kaja dan bumi jang subur!
(Shim Hak Kyu teringat pada hari2nja dulu bersama dengan
anaknja, kemudian dia mendekap anaknja).
Ini betullah suara anakku. Sungguh kau telah kembali.
Kenjataan atau mimpikah ini, aku tak tahu. Tapi ini adalah
anakku. Djika ini mimpi, biarkanlah aku mimpi terus. (Den-
gan suara tegas). Tapi djika ini kenjataan, terbukalah mataku,
supaja aku bisa melihat dia.
Tiba2 matanja terbuka. Sedjenak Shim Hak Kyu kesilauan
tjahaja.
SHIM TJUNG:
Ajah! Mata ajah telah púlih.
SHIM HAK KYU:
Aku bisa melihat. Mana anakku?
SHIM TJUNG:
Ajah, akulah anakmu.
SHIM HAK KYU:
Wadjah ini jang kumimpikan setiap malam, sedjak 8 April
dulu. Benar, benarlah djadinja kau telah kembali kedunia
lagi.
Suaramu alangkah mesranja.
Tapi milah pertama kalinja aku melihat wadjahmu jang
tjantik. Alangkah adjaib, anakku kembali dari dasar laut.
Alangkah adjaib, dia kini djadi ratu.
SHIM TJUNG:
Kedua belah mata ajah telah pulih kembali, setelah 40 tahun
me-raba2 dalam kepekatan gelap. Alangkah bahagianja hari
ini.
SHIM HAK KYU:
Biarkan langit bernjanji dan bumi bersipongang. Sajangku
padanja lebih tinggi dari puntjak gunung. Tiada bulan
tiada matahari jang melebihi sinar kasihsajang kita.
Semua orang2 buta jang lain mengelilingi.
ORANG BUTA:
Benarkah ada seorang buta jang kedua belah matanja ter-
buka sudah? Mari kita lihat kawan kita itu. Demi tanah
jang kaja dan bumi jang subur!
Serentak tiba2 mata sekalian orang buta itu terbuka. Mereka-
pun kesilau2an, tetapi kemudian bersorak kegirangan.
ORANG BUTA:
Mari kita bernjanji dan menari. Suatu keadjaiban jang luar-
biasa telah terdjadi: orang buta melihat lagi. Belum pernah
ini terdjadi.
Karena djasa Shim Tjung jang bidjaksana dan berbudi, kita
bisa melihat lagi, pengorbanan dan ketulusan hatinja.
Baginda datang.
BAGINDA:
Hari ini sungguh mendjadi kenangan.
Hari kebanggaan untuk bangsa. Sejogianjalah tjahaja dan
damai meliputi seluruh negeri.
Bahagialah rakjat, bergembiralah seluruh negeri, ringanlah
bahu simiskin dari beban jang menekan dipundak.
ORANG TUA:
Alangkah bahagianja hari ini.
PENDETA ISTANA:
Untuk ajahnja dia telah mengorbankan njawanja. Kasih sa-
jang jang sungguh agung, semoga mekar pada tiap dahan.
Ia akan bahagia se-lama2nja, namanja akan tetap abadi
dibibir tiap putera bangsa. Bunga kasih akan senantiasa
mekar dinegeri kita jańg indah.
SHIM HAK KYU:
Gelaktawa sesudah airmata. Bahagia setelah sengsara. Segala
kerdjaku selama enampuluh tahun djadilah bunga bahagia.
Lagu chidmat bersemangat, kemudian kedengaran
SUARA:
Negeri kami jang indah.
Tjemerlang budaja limapuluhribu tahun,
Bidjaksana dan budiman rakjat,
Setia putera dan puteri,
Setia kepada bangsa.
Djara ratu berkumandanglah keseluruh negeri.
Bahagialah tiap keluarga,
Anak2 penuh kasih sajang
Dan setiap kepada bangsa.
Bahagialah senantiasa tanahair kita,
Puntjak keindahan 3000 ri.
Lajar.