Siti Rukiah Kertapati
Kisah Perdjalanan si Apin
Kacabenggala Editions
Publisher Note (Sepatah Kata)
Dunia dongeng Bangsa Indonesia penuh dengan kekajaan
dan keindahan alam dan bumi Indonesia, penuh dengan
fantasi, rasa halus dan humor manusia Indonesia. Tetapi
anak2 kita, terutama di-kota2 besar hidup djauh dari dunia
itu.
Mereka hidup dalam dunia realisme se-mata2, penuh den-
gan bunji tembakan pistol cowboy, persoalan2 crossboys dan
buku2 komik asing.
Menggali kembali kekajaan bumi dan alam Indonesia den-
gan membawa dongeng2 dalam dunia anak2 kita berarti
mendekatkan mereka kepada sumber inspirasi Bangsa In-
donesia, dan berakibat berakarnja kembali mereka dalam
buminja sendiri. Karena dongeng adalah suatu kebutuhan
pokok bagi perkembangan djiwa anak.
Maka adalah kewadjiban bersama, para orang tua, para
petjinta anak, kaum pendidik, kaum seniman/seniwati un-
tuk membawa anak kepada sumbernja dan menghidupkan
kembali dongeng itu dengan segala matjam djalan; dengan
kata2 (buku, radio dsb.nja), dengan lukisan2 maupun den-
gan sandiwara,
Hanja dengan demikian dapat terbentuk keperibadian Bangsa
Indonesia jang bersumber pada alam dan buminja.
Djakarta, achir Djuni 1959.
Nj. UTAMI SURYADARMA
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
hanja untuk Nanda!
Ibu dan Anak.............................................1
Kepegunungan Putih........................................... 11
Kembali Pulang........................................... 38
Ibu dan Anak
Si Apin seorang anak jang manis, lutju dan baik laku. Ia
berumur 12 tahun.
Ajahnja sudah lama meninggal. Karena ajahnja tak ada
lagi, maka ia tinggal didesa dekat hutan, bersama ibunja.
Mereka berdua sengadja tinggal ditempat jang terpentjil,
djauh dari keramaian kota, agar tak banjak memakai uang
untuk ongkos2 keperluan hidupnja.
Penghasilan ibunja hanja didapat dari pendjualan sajur dan
buah2an jang mereka tanam dengan radjinnja. Uang ini
hanja tjukup untuk biaja sekolah si Apin dan makan berdua
sekedarnja. Tapi si Apin selalu berkata kepada ibunja: „Lebih
enak kita miskin seperti sekarang ini, ja bu! Kita dapat
tinggal dihutan dengan pohon2 besar dan bunga2nja. Kita
dapat berkenalan dengan burung2 dan binatang jang aneh2.
Tjoba orang2 kaja jang. tinggal dikota, mana bisa seperti
kita? Biasanja mereka sukar mendapat pohon2an dan takut
melihat binatang.... ”
Ibunja mengangguk dengan air mata berlinang.
Memang si Apin anak baik. Ia melihat segala keadaan, se-
lalu dari segi2 jang baiknja.
Sekali ia pulang kerumah dengan muka bengkak2 dan bad-
junja penuh lumpur. „Aku berkelahi, bu!” — katanja. „Enak
sekali....” — tambahnja.
„Ah, engkau ini ada2 sadja” — sahut ibunja. „Masa berke-
lahi enak. Jang enak itu ‘kan makan, tidur, djalan2, non-
ton...., nah itu boleh disebut enak....”
„Ja, berkelahi djuga enak, diika dalam perkelahian ini, kita
dapat mempertahankan kebenaran” — djawabnja.
„Apa jang kaupertahankan itu?"
„Si Didi merampas buah mangga si Mamat jang dipungufnja
ditepi kali. Si Mamat belum makan apa2 pagi itu, sebab dia
anak miskin seperti kita. Ia sedang lapar, katanja. Seba-
liknja, si Didi anak hadji Musa jang banjak rumahnja itu,
ia baru sadja djadjan pisang dan ubi goreng. Tapi tiba2
direbutnja buah mangga si Mamat itu. Dan bukan dire-
but buahnja sadja, malah ditendangnja si Mamat hingga ia
djatuh tertipeur dikali. Kedjadian ini bukan sekali sadja ia
lakukan, malah sering ber-ulang2. Nah, sekali ini aku balas
tendangannja dengan sebuah tindju. Ia melawan. Lalu
kami bergumul hingga pak guru datang memisahnja.”
„Dan .... dan engkau tentu dihukumnja, bukan?” — sam-
bung ibunja.
„Oh, sekali-kali tidak. Banjak teman2 jang menjaksikan,
bahwa si Didilah jang bersalah. Tjoba sadja ibu pikirkan,
siapa jang tidak akan marah, melihat dia memperlakukan si
Mamat seperti memperlakukan binatang? Hmm, mentang2
anak orang kaja. Maunja selalu menghina kita jang miskin2.
Itu ’kan tidak adil, ja bu?"
Ibunja mengangguk dengan air mata berlinang. Dalam hat-
inja ia bangga, si Apin mendjadi pembela anak miskin.
Pada suatu hari, ibunja djatuh sakit. Alangkah sedihnja
hati si Apin. Sekarang ia harus mengerdjakan semua pekerd-
jaan ibunja: menanak nasi, mentijutijiring, memetik saju-
ran dikebun, melajani ibunja, kemudian barulah ia pergi
kesekolah.
Ibunja tak mau berobat dirumah sakit, karena tak ichlas
hatinja berpisah dengan si Apin. Sehat atau sakit, kaja
atau miskin, biarlah ber-sama2 selalu.
Untunglah, ber-angsur2 ibunja sehat kembali. Tapi dokter
mengatakan, bahwa ibunja harus banjak beristirahat dan
makan makanan jang banjak menjehatkan badan: susu, ka-
tiang hidjau, daging dan sebagainja. Tentu sadja semua ini
harus dibeli dengan uang.
„Ah, alangkah malangnja, mengapa kita semiskin ini? Sung-
guh buruk nasib kita ...." — keluh ibunja.
„O, se-kali2 tidak.... ” — sahut si Apin. „Sabarlah, bu!
Aku sendiri dapat mentjari uang untuk membeli obat2 dan
makanan. Djadi.... dijika nanti siang aku terlambat
pulang dari sekolah, ibu djangan chawatir, sebab aku pergi
mentijari uang dulu.... ”
„Apa? Mentjari uang? Bagaimana kau dapat mentijari uang
....?”
„Ah, tunggulah sadja, bu! Serahkanlah semua tanggungan
kepadaku...." - djawabnja sambil berangkat kesekolah.
Tiba disekolah, tampak ia sangat pendiam. Peladjarannja
banjak terganggu oleh lamunan2nja. Kadang2 ia terpekur
seperti orang sedang pelik berpikir. „Mengapa engkau ser-
ing melamun, Apin?” — tanja pak guru.
„O, saja sedang berpikir, bagaimana tjaranja mentijari uang
untuk ibu” — djawabnja tenang dan berani.
Semua teman’nja tertawa. Djuga pak guru ikut tertawa.
Ketika sekolah bubar, ia tidak pulang kerumah, melainkan
terus menudiu kestasiun, dimana banjak para penumpang
jang baru turun dari kereta-api.
„Kuli?·Kuli, pak? Kuli, bu? Kopernja, njonja ....?” —
teriaknja kepada para penumpang. „O, tasnja, nona? Mari
saja bawakan ....”
„Apa....? Kuli? Kau mau bawakan tasku jang seberat ini?
Aiiii, kamu sendiri masih pantas digendong orang ....” —
djawab para penumpang itu sambil tertawa.
Dengan keluhan putus asa, ia duduk dibangku pandjang
sudut stasiun, hingga keadaan distasiun itu mendjadi sepi.
Tiba’ datanglah seorang kakek jang berdjenggot putih dan
berbadju djas putih pula. Tangannja memegang sebuah
tongkat ketijil.
„Siapa engkau? Menunggu apa disini....?" — tanja kakek
itu.
„Saja seorang kuli sedang mentijari upah, tuan!” — djawab
si Apin dengan berani.
„O, kalau begitu, kebetulan sekali" — sambung kakek itu.
„Aku sedang mentiari orang upahan untuk disuruh pergi
ketempat kenalanku. Tapi tempat kenalan itu djauh sekali
dari sini. Ia tingal disana, dipuntiak pegunungan Putih.
Untuk sampai ditempat itu, kita memerlukan perdjalanan
jang lamanja 7 hari 7 malam. Ingat: perdjalanan ini harus
dilakukan dengan djalan kaki. Nah, ini ada sebuah sampul
putih jang berisikan intan berlian dan mutiara seharga sepu-
luh ribu rupiah! Sampul ini harus dibawa melalui hutan
belantara. Bagaimana? Sanggup?"
„Sanggup, tuan! Biarlah saja sendiri jang mengantarkan
sampul itu” — diawab si Apin tidak ragu2.
„Ho, ho, ho! Djangan gampang sadja engkau mengatakan
sanggup. Engkau harus ingat, bahwa engkau härus berd-
jalan terus-menerus masuk hutan keluar hutan, melalui djalan2
jang penuh bahaja. Dan.... karena barang2 jang ada di-
dalam sampul ini sangat diperlukan, maka engkau harus
sampai ditempat itu tepat sesudah 7 hari 7 malam sedjak
bungkusan ini diberikan!"
„Kalau begitu, biarlah saja akan berlari siang malam ...."
„O, itu tak mungkin. Mustahil! ’Kan engkau harus tidur
dan istirahat. Siapa2 jang tidak tidur dan tidak istirahat,
dia tidak akan bekerdja dengan baik."
„Ah, itu tak djadi halangan. Perkara tidur dan istirahat,
dapat saja lakukan dengan sesuka hati saja. Ja, saja dapat
tidur diatas punggung binatang jang sedang berdjalan. Saja
tidak takut. Saja tinggal dipinggir hutan dan sudah biasa
bergaul dengan segala matjam binatang ...."
„Ja, tapi engkau masih ketijl. Mana bisa, anak seketijl
kau ini berani seorang diri di-tengah2 hutan belantara ...
! Tapi, eh ... nanti dulu. Eeee, eh, ini aku ada mem-
bawa tongkat ketijl. Tongkat ini bisa menolongmu nanti,
djika sekali2 engkau mendapat kesukaran jang hebat. Ja,
bolehlah engkau minta pertolongan padanja. Tapi ingat,
sebelum minta pertolongan kepadanja, engkau harus mem-
pergunakan ketijakapanmu sendiri. Djangan mentang2 ada
tongkat, lalu terus-menerus engkau menjerahkan nasibmu
kepada tongkat. Itu tak baik. Lagi pula, pertolongan tongkat
ini hanja terbatas 10 permintaan sadja. Djadi engkau harus
berhemat. Sebab, lebih dari 10 permintaan, dia tak dapat
menolong lagi. Mengerti ... ?”
„Ja, tuan!"
„Sekarang tjoba tjeritakan, apa sebabnja kau berani ment-
jari pekerdjaan dan mentiari upah?” — tanja kakek itu.
„Ibu saja sakit keras, tuan. Kami banjak memerlukan uang
untuk membeli makanan dan obat jang mahal2 ...."
„Kalau begitu, ambillah pundi2 ini untuk ibumu dirumah.
Dan djangan lupa, simpanlah sampul ini baik2 dalam sakumu.
Djika sudah pamit dan beres segala perbekalan, segeralah
pergi kepegunungan Putih ...."
Si Apin memasukkan sampul kakek itu kedalam saku tje-
lananja dengan hati2 sekali. Ia berterima kasih benar kepada
kakek itu. Tetapi ketika ia hendak mengutjapkan terima
kasihnja, kakek itu sudah menghilang tak nampak lagi.
Sekarang·larilah ia pulang mendapatkan ibunja. „Buuu!
Buuu! Lihatlah, aku dapat uang! Dan nanti djuga djika
sudah kembali dari pegunungan Putih, kita akan mendapat
lagi lebih banjak dari sekarang ...." — demikian ia berteriak
sambil mendapatkan ibunja.
„Apa....? Kepegunungan Putih? Dimana itu? Dan siapa
jang hendak pergi kepegunungan Putih ....?” — ibunja bertanja
dengan heran.
„O, djauh. Djauh sekali, bu! Aku jang diharuskan pergi
kesana, dan aku akan berdjalan selama 7 hari 7 malam.
Dan.... dan inilah pundi2 untuk ibu ...."
Ketika pundi2 itu dibuka, maka berhamburanlah uang dari
dalamnja sebanjak lima ratus rupiah. Si Apin tak henti2nja
mentjeriterakan tentang pertemuannja dengan kakek jang
baik hati itu.
„Ja, tapi ibu tak mau!” — sela ibunja agak membentak.
„Ibu tak mau, karena uang segini sadja, engkau harus pergi
dari rumah dan harus ber-hari2 djalan kaki melalui matiam2
bahaja maut. Itu mustahil! Tak mungkin terdjadi.... !”
„Tapi bagaimanapun dijuga, perdjalanan itu harus kulakukan,
bu! Bukankah uang ini sudah kuterima? Dan siapa tahu,
nanti dijika kembali dari perdjalanan, kita akan menda-
pat lagi jang lebih banjak” — djawab si Apin membudjuk
ibunja.
„Ah, itu tak mungkin! Tak mungkin terdjadi....! Uang
ini mesti kaukembalikan lagi sekarang diuga....!” — teriak
ibunja.
„Ho, aku tak tahu, dimana tempat tinggalnja kakek itu ...?"
„Ja, Tuhan! Alangkah tjerobohnja engkau, Apin! Kurang
pikiran... .” — keluh ibunja.
„Djadi bagaimana sekarang, bu? Bolehkah saja pergi?” —
tanja si Apin mendesak. „Bukar.kah aku sudah djandji,
bahwa aku akan mengerdjakan semua perintah kakek itu?
Djandji harus ditepati! Tidakkah demikian nasihat ibu
djuga?”
Ibunja diam terharu. Air matanja berlinang.
„Boleh, ja bu?" - ia mendesak lagi.
Ibunja menangis, tapi lama’ mengangguk diuga.
„Hureeee...." — ia me-lompat2 dan berteriak. Dalam
pikirannja ia sudah dapat mengobati ibunja sampai sembuh dan dapat membelikan apa2 jang disukai ibunja. Demikianlah ia pergi dengan tak lupa minfa do’a dan mengutjap selamat tinggal kepada ibunja.
Kepegunungan Putih
Hutan jang diseberang rumahnja sudah mulai ia lewati. Bi-
natang2 jang didjumpai hanja binatang jang ketil2 sadja. Si
Apin ingin sekali ber-tjakap2 dengan mereka, tapi ia tak
mengerti bahasanja. Mula2 ia hendak minta tolong kepada
tongkat wasiatnja supaja dapat mengerti akan bahasa bi-
natang2 ketil itu. Tapi pikirannja melarang dan se-akan2
ada jang berseru dihati ketijilnja: „Pergunakanlah dulu
otakmu! Perdjalanan masih djauh. Engkau belum mene-
mui kesukaran jang hebat2. Tunggukan sampai waktunja
engkau dalam keadaan bahaja .... ”
Maka berdjalanlah ia terus dengan gembira. Kadang’ melom-
pat2 seperti kera dari pohon kepohon jang dilewatinja. Djika
sudah lelah me-lompat2, maka berhentilah ia diatas rerumputan
jang rimbun hidjau sambil membuka bekalnja dan minum
sedikit. Kemudian berdjalanlah pula melalui semak belukar
dan pohon2 jang tinggi besar.
Pemandangan dalam hutan itu sangat indahnja. Diantara
pohon dan rerumputan, mendesau bunji air kali jang men-
galir. Matahari bersinar diatasnja seperti perak beriak-riak.
Bajangan ranting dan daun 2 bergerak me-nari 2. Alangkah
senangnja si Apin!
Ketika hari sudah malam, berkumpullah binatang2 ketijl itu
ditepi kali. Mereka minum2 melepaskan dahaganja. Begitu
diuga si Apin. Ia pergi ketepi kali, lalu minum dan mentiu-
tii muka, kaki serta tangannja. Sedang ia asjik mentiutii
kakinja, tiba2 dilihatnja seekor serigala sedang mengendap-
endap. Serigala itu hendak menerkam seekor anak biri2
dari belakang. Anak biri2 itu bersih putih amat lutiunja.
„Awas’lah engkau, hai ketjill!” — seru si Apin kepada anak
biri2 itu. „Larilah! Dibelakangmu ada bahaja... .”
Dengan terkedjut dan sangat ter-gopoh 2, anak biri 2 itu
segera lari lalu menjelinap dibalik semak 2.
Alangkah amarahnja si Serigala, ketika melihat mangsanja
hilang-lenjap karena teriakan si Apin. Sekarang ia berbalik
nafsu kepada si Apin. Diterdjangnja si Apin dengan mata
ber-api2 dan lidah jang mendjulur diantara gemertaknja gigi
jang tadjam meruntjing. Untunglah, si Apin sudah bersiap
dengan tongkatnja. Lalu dengan tiba2 sadja ia mengerti
akan bahasa serigala: „Mengapa kauusir lari mangsaku, hai
penghianat!” — tanja serigala itu dengan geramnja. Aku
lapar! Sekarang, engkaulah gantinja... .”
„Tunggu dulu!” — sahut si Apin. „Tidakkah engkau kasi-
han kepada anak biri2 jang tiada berdosa itu? Kalau en-
gkau djadi ibunja, bagaimana perasaanmu, djika anakmu
jang ketjil lutju itu mati diterkam binatang buas....?”
„Tapi itu makananku jang paling enak dan gurih!” — djawab
serigala pula. „Dan engkau djuga suka daging birt2, bukan?”
„Ho, ho, ho! Makananku bukan daging biri2 mentah. In-
ilah makananku... .!” — djawab si Apin sambil men-
geluarkan bungkusan nasi, ikan asin dan goreng ubi. „Kau
mau? Tjoba tjitipi.... !”
„Tjis!” — sahut serigala itu sambil membuang muka. „Aku
tak suka makanan jang mendjidjikkan begitu. Makanan
apa itu? Makanlah sendiri.... Tjis!” — katanja.
Mungkin karena kesaktian tongkat jang dipegang si Apin,
serigala itu tak djadi meneruskan serangannja. Ia lari dan
menghilang dibalik semak2 jang penuh duri.
Hari makin lama makin gelap. Si Apin tak dapat meneruskan
perdjalanannja lagi. „Sajang, tak ada lampu" - bisiknja.
Tetapi seekor burung bulbul mengatakan kepadanja, bahwa
tak lama lagi akan dipasang diuga dalam hutan itu lampu2.
Si Apin tak pertiaja. „Lihatlah kebawah! Lihatlah!” — kata
burung bulbul pula.
„Ooooo, alangkah indahnja! Beratus-ratus tjahaja ketiil
datang menudju kepada si Apin. Silau mata si Apin me-
mandang, karena tjähaja itu terus ber-bondong2 menjorotkan
sinarnja. Itulah kunang2....!"
„Ibu selalu mengeluh, dijika malam kehabisan minjak tanah”
— bisiknja. „Tetapi disini, tak usah pajah2 mengeluarkan
uang untuk beli minjak tanah. Ja, lampu2 itu malah datang
sendiri ....”
Kunang* itu seperti mutiara tampaknja, hinggap ditangan,
di kepala dan didada si Apin. Ia mentioba ber-tjakap2 den-
gan kunang2 jang mengerumuninja itu, tetapi sajang, suara
mereka pelan2 dan halus sekali. Hampir2 tak terdengar
djika tak ditaruh didaun telinganja. Kemudian datanglah
burung bulbul jang tadi ikut berkumpul bersama kawan2nja,
hingga ramailah mereka bersama si Apin me-njanji2.
Sedjurus kemudian, dari djauh tampak sesosok bajangan
mendatang seperti puntiak gunung bentuknja. „Apakah
itu ....?” — tanja si Apin.
„Gunung" - diawab seekor kunang’.
„Tapi gunung itu bergerak mendekati kita” — sambung si
Apin.
„Ja, gunung jang bergerak" — sambung kunang’ jang tadi.
„O, ja. Tahulah aku sekarang. Itu bukan gunung, tapi
seekor unta jang datang berdjalan” — kata si Apin.
„Hai, mengapa kalian ribut’? Ada apa njanji’ begini malam?"
— tanja unta itu sesudah dekat. „Karena kalian ribut, aku
tak bisa tidur."
„Ho, malah kebetulan" - djawab si Apin. „Sekarang kau
hendak kemana?"
„Mau terus kedjalan pegunungan Putih" - djawabnja.
„Kalau begitu, sama2 tudjuan kita. Akupun hendak menudju
kesana diuga. Tapi aku sangat lelah dan ’ngantuk sekali.
Bolehkah aku naik dipunggungmu dan tidur diantara ban-
tal’mu jang indah empuk itu?" - tanja si Apin membudjuk.
O, permintaan si Apin diterima sebagai pudjian dan kehor-
matan oleh unta itu. Biasanja, binatang2 lain suka berolok2
dijika melihat punggungnja jang ber-bendjul2 itu. Kadang2
diedjeknja bendjul2 itu, disebut bola kesasar atau daging
lebih dan gemuk jang kelebihan.
„Ajo, naiklah!" - kata unta itu.
Maka melompatlah si Apin dan duduklah diantara kedua
bendjul punggung unta itu, seperti baji lembut jang duduk
dalam ajunan. Mula2 ia merasa pusing dan mual perut-
nja, karena unta itu berdjalan sangat gojangnja. Ia bergo-
jang kian kemari, karena tjaranja berdjalan, berbeda den-
gan lain2 binatang. Ia melangkah mula dengan kaki depan
dan belakang sebelah kiri, kemudian dengan kaki depan
dan belakang jang sebelah kanan. Itulah sebabnja, maka
perasaan si Apin seperti naik kapal dilaut jang ber-ombak2.
Makin lama unta itu berdjalan, makin ’ngantuklah si Apin.
Mula’ ia merasa pusing, tapi lama’ djatuhlah ia tertidur
dipunggung unta. Tiba’ berhentilah unta itu, se-akan’ ada
jang menahan didepannja. Si Apin kaget dan tersentak
djaga dari tidurnja.
„Turun! Lekaslah turun! Lari....!” — teriak unta itu dengan
gugup kepada si Apin.
„Ada apa?" - tanja si Apin antara tidur dan djaga.
„Tak kaudengar suara jang mengaum itu? Itulah suara
singa lapar jang sedang mentiari mangsa. Dia menijium bau
kita. Djika dia bertemu kita, tentu kita habis dimakannja.
Aku tak kuat berkelahi melawan singa. Karena itu aku
hendak kembali. Selamat berpisah ....!”
Maka larilah unta itu ter-birit2 menudju tempat asalnja
kembali. Aum singa tadi makin lama makin dekat. „Sekarang
aku minta tolong lagi kepada tongkatku ” — bisiknja. „Tapi
.... tapi kakek jang baik hati itu berpesan, agar aku mem-
pergunakan otakku dulu, sebelum meminta tolong kepada
tongkat. Terlalu sering minta pertolongan tongkat, lama2
tongkat ini kepajahan dan tak mau lagi ia memberi perto-
longan. Tjuma ... akal apakah jang harus kupergunakan
sekarang? Ja, akal apakah jang harus kupergunakan dalam
menghadapi singa seperkasa ini?" pikirnja. „O, ja. Tunggu
dulu. Seekor harimau kadang2 dapat
diuga memandjat pohon, sebab banjak persamaannja den-
gan kutijing. Tetapi singa tak demikian halnja."
Seketika itu diuga larilah ia mentiari sebatang pohon kurma
lalu naiklah kepuntjaknja. Tepat pada waktunja ia tiba
dipuntjak, maka melompatlah dari dalam semak2, seekor
singa perkasa dengan suaranja jang menggemparkan hutan.
Ia mentioba hendak menjusul si Apin, sedang kukunja dikaut2kannja
dipohon kurma. „Aku lapar! Ho, aku lapar ...!”
— geramnja. „Turunlah engkau! Turunlah engkau, hai
pengetjut!” — teriaknja nafsu. Tetapi si Apin enak sadja
mentertawakannja dari puntiak pohon kurma sambil me-
lempar2kan bidji buah itu kebawah, tepat dimata dan dikepala
singa itu.
Rupanja singa itu makin lama makin kesal menunggu. Ia
putus-asa. Lalu dibalikkannja badannja. Maksudnja hen-
dak menjusul unta jang sudah lari tadi. „Tentu belum
djauh dan pasti tersusul” — pikirnja. „Unta diuga luma-
jan untuk pengisi perut sebelum tidur.”
Tetapi baru sadja singa itu membalikkan badannja, berte-
riaklah si Apin dari atas: „Hai, awas! Tuuu, ada banteng
....!”
Banteng adalah lawannja singa berkelahi sedjak nenekmo-
jangnja turun-temurun. Ia tidak takut menghadapi singa.
Dengan pendengarannja jang tadjam serta badannja jang
gagah-perkasa, ia berani berdjuang mempertaruhkan dji-
wanja. Achir perkelahian, biasanja sama kuatnja. Kadang2
si pemakan daging jang menang, tapi kadang2 si pemakan
daun2an jang mendjadi pahlawan!
Tapi sekali ini, si Apin dapat mentjegah perkelahian itu
berlangsung. Ia tak mau melihat kedua machluk itu mandi
darah dihadapannja. „Ah,biarlah, sekali ini aku minta per-
tolongan tongkatku, demi kepentingan dua dijwa binatang
jang ingin hidup. Ja, mereka ingin hidup djuga seperti aku,
seperti ibu dan seperti semua machluk jang ada didunia
ini.”
Maka dipegangnja tongkatnja erat2. Sementara itu, kedua
binatang raksasa itu telah bersiap untuk berdjuang antara
hidup dan mati. Banteng mengendapkan badannja, serta
kepalanja jang bertanduk itu ditundukkannja kebawah. Ia
menanti serangan singa dengan tanduknja. Matanja merah
bernjala seperti api.
Singa dengan berani melompat kekiri dan kekanan, ment-
jari saat jang tepat untuk menerkam pundak banteng jang
empuk. Kukunja di-kaut2kannja ditanah.
Tiba2.... bum! Si Apin djatuh dan melompat ke-tengah2
medan pertarungan dengan tongkat diatjungkan ditangan.
„Stop! Djangan berkelahi dulu! Aku tak mau‘disini ada
darah mengalir karena permusuhan dan perkelahian. Tidakkah
lebih baik kita duduk2 bertiga sambil mengobrol? Hari ini,
hari baik. Hari untuk hidup dan perdamaian, bukan hari
untuk pembunuhan dan hari mati!”
Mungkin karena kesaktian tongkatnja, maka kedua binatang
raksasa jang sedang mengamuk itu berhenti lalu menu rutkan
si Apin. Kini duduklah mereka bertiga ditanah merupakan
tiga sahabat karib jang sudah lama tidak bertemu.
„Hai, mengapa kauanggap dirimu sebagai radia dihutan ini?”
— tanja si Apin kepada singa. „Padahal kelakuan dan per-
buatanmu sekali-kali tidak menurutkan undang2 dan hukum
seorang radia. Tjoba sadja, masakan seorang radia mem-
bunuh dan makan daging rakjatnja sendiri?”
„Ja, tapi bagaimanapun diuga, radia itu harus makan” —
sahut singa itu ke-malu2an. „Dan aku tak bisa hidup, bila-
mana tak dapat makanan daging. Tapi sungguh, aku mem-
binasakan binafang, hanja untuk makan sadja. Djika pe-
rutku sudah kenjang, aku tak pernah mengganggu mereka
lagi. Berbeda dengan sang serigala. Ia djahat. Setiap bi-
natang jang dipandangnja lemah, tentu dibinasakan, sekalipun
ia merasa kenjang. Ja, kenjang atau lapar, ia tak peduli.
Pendeknja, ia membunuh hanja untuk membunuh sadja,
bukan membunuh untuk makan!”
„Tapi sekalipun begitu, semua binatang takut kepadamu.
Suaramu menggemparkan seluruh hutan. Mengapa suaramu
sedahsjat itu?” — tanja si Apin.
„Ah, itu sudah pembawaan jang kuperoleh dari kodrat. Dan
engkau harus maklum diuga toh, bahwa hutan djadjahanku
ini sangat luas. Djadi memerlukan suara keras dan dahsjat.
Bukankah bangsa manusia diuga ada jang suaranja keras
dan besar seperti aku?”
„Ja, seperti pak guru disekolah. Suaranja keras. Namanja
djuga beliau pak guru Singa” — diawab si Apin.
„Oh, pak guru Singa? Djadi beliau dijuga mengaum seperti
aku?”
„Jaaa, kadang’ mengaum djuga. Djika beliau sedang marah
kepada kami murid’, beliau menggeram seperti engkau."
„Bagaimana rambutnja? Apakah beliau berambut seperti
aku djuga?”
„Tidak. Malah botak di-tengah2 kepalanja. Tjuma ia berku-
mis jang rimbun dibawah hidungnja."
„O, bagus sekali. Sajang, aku tak berkumis. Tapi kami
tentu masih pamili djuga kepadanja, karena sama2 bernama
Singa. Maukah engkau mengenalkannja?” — tanja singa
itu.
„Ah, beliau bukan bangsa singa seperti engkau! Beliau
bangsa manusia biasa seperti aku. Tjuma namanja: pak
Singa! Aku kira, beliau tak ’kan mau berkenalan dengan
engkau, sebab beliau takut kepada binatang buas” — sam-
bung si Apin.
„Aku tidak djahat. Sungguh, aku ingin ikut denganmu ke-
sekolah. Barangkali aku dapat beladjar apa2 jang belum
tahu dari pak Singa. Anak2 sekolah tentu senang melihat
aku. Mereka tak usah pajah2 lagi pergi kekebun binatang
...."
„Ja, memang baik sekali” — sahut si Apin tersenjum. „Nanti
diika perutmu berasa lapar, gampang sadja kau mentjari
sarapan. Kauterkam salah seorang diantara mereka, lalu
...."
„O, pertjajalah! Aku tidak sedjahat jang kausangka ....” —
diawab singa itu membudjuk.
„Bohong! Djangan perijaja! Djangan perijaja kepada dia.
Dia memang manis mulut!” — kata banteng jang sedang
asjik mengunjah rumput. Rumput itu ditelan dan masuk
keperut besarnja. Diperut besar, rumput itu dimasak dan
berubah bentuknja mendjadi bulatan2 rumput halus seperti
kelereng. Karena bulatan2 ini masih kasar, maka dikir-
imnja kembali kemulut melalui djalan kerongkongan halus.
Sesampai dimulut, maka dikunjahnja kembali hingga halus
benar, kemudian dikirimnja kembali kedalam perut melalui
djalannja masing2.
„Mengapa mulutmu mengunjah terus-monerus, hai paman
banteng?" — tanja si Apin ber-olok2.
„Ah, diam sadjalah. Aku sedang memamah" — djawabnja.
„Aku mengunjah rumput jang kedua kalinja."
„Mengapa mesfi dimamah?"
„Ja, karena rumput jang pertama kali dikunjah, masih kasar.
Perutku tak mau menerimanja, diadi terpaksa kukirim kem-
bali kemulut supaja dimamahnja” — djawab banteng itu
sambil terus memamah.
„Hiiiii, djidjik benar!" - edjek si Apin.
„Ah, itu tidak djidjik. Itu sudah kebiasaan alam. Malah
menguntungkan, djika sedang waktunja memamah, kita bisa
sambil menghafal peladjaran ilmu filsafat.”
„Apa itu filsafat?" - tanja si Apin.
„Ah, engkau masih anak2. Kami bangsa banteng, mulai ket,il
sudah dibiasakan berfilsafat. Kami sudah biasa memikirkan
Tuhan, hidup-mati dan mentjari kebenaran.”
„Mengapa kebenaran di-tjari2?" — tanja si Apin tertawa.
„Kata ibu, kebenaran itu sudah ada dalam diri kita mas-
ing2."
„Aaaah, sudahlah! Barangkali berlainan ilmu filsafat bangsa
banteng dan ilmu filsafat bangsa manusia” — sela singa
sambil menguap.
„Kau sudah ’ngantuk? Kalau begitu, aku pergi sadja sekarang.
Perdjalananku masih djauh. Selamat tinggal, sahabat! Awas,
djangan bertempur lagi..." — kata si Apin ber-olok2.
Sambil melompat dan berlari, ia me-njanji2 ditengah hutan-
belantara jang lebat itu:
„Hai, hutan indah, sungai dan lembah, Hewan2 kesajangan,
Kamu semua djadi pudjaan, Terima-kasih tak kulupakan!
Aku tinggalkan ibu dirumah, pergi keliling tamasja indah,
tak peduli banjak serangan, asal gemilang dihari depan....!”
„Jaaaa, tamasja indah! Tamasja indah! Mengapa aku tidur
hendak kauindjak? Kemana matamu? Siapa kamu?” —
tanja seekor ular besar jang hampir terpidjak oleh si Apin.
Suaranja men-desis2 karena marah.
„Oh, maafkan aku, sahabat! Karena kulitmu hampir sama
dengan tanah, djadi tak kelihatan olehku. Sekarang, berilah
aku djalan ...."
„Asal kau pandai melompati lingkaranku, boleh sadja kauteruskan
perdjalananmu .... ” — kata ular itu sambil mera-
jap mendekati si Apin, kemudian bergelung, lalu dililitnja
tubuh si Apin dari kaki hingga ke kepala.
Si Apin berdiri tegak dengan tenangnja. Ia teringat akan
tjeritera gurunja, bahwa ular sangat suka minum susu dan
mendjadi djinak bila mendengar suara musik. Karena itu,
pelan2 dibukanja botol susu bekal ibunja dari rumah lalu di-
tumpahkannja. Ular itu mengendur lilitannja, ketika tiba2
tertjium olehnja bau susu jang harum itu. Lama2 lepaslah
lilitannja dan diminumnja susu itu dengan lahapnja.
Selesai ular itu minum susu, si Apin membunjikan har-
monikanja jang kebetulan ia bawa didalam sakunja dan....
menarilah ular itu dengan meng-gelung2- kan badannja di-
atas tanah. Bagus benar tampaknja, seperti air sungai ketijl
jang mengalir me-lingkar2.
Tiba2 melompatlah seekor kelintji hutan jang amat gemuk.
Maksudnja ia mau menonton tari dan musik. Tetapi....
si penari berhenti menari, ketika si Kelintij gemuk datang
mendekati. „Ha, ha! Inilah makanan jang kutijari dari tadi”
— katanja.
„Ah, aku tak mau melihat keadaan jang menjedihkan ini" —
bisik si Apin. „O, selamatlah engkau, kelintij manis! Lari-
lah tjepat2, semoga kita bertemu lagi dalam keadaan segar-
bugar....!" - seru si Apin sambil berlari mendjauh, menudju
kepegunungan Putih.
Sekarang ia berdjalan dalam hutan jang sepi menakutkan.
Tak ada seekorpun binatang jang ia diumpai dihutan jang
lebat itu. Tak ada burung jang berkitjau, tak ada kelintij
atau tupai jang me-lompat2, sampai2 njamukpun tak ter-
dengar suaranja.
Dalam kesepian ini, si Apin merasa, bahwa ia sedang djauh
dari sahabat2nja segala binatang jang baik hati. Memang
si Apin anak jang aneh. Tidak bertemu dengan binatang,
ia merasa takut dan kesepian, sedangkan tadi, ber-kali2 ia
diantiam binatang buas, malah berani dan gembira!
Setelah beberapa lamanja ia berdjalan seorang diri dalam
hutan kesepian, kini terasa perutnja lapar dan kerongkon-
gannja haus-kering. Apa daja? Susunja telah habis diminum
ular. Begitu pula makanan bekalnja dari rumah, telah habis
sedjak tadi.
Tentu ia dapat minta tolong kepada tongkatnja, agar segera
diberi makanan dan minuman obat laparnja. Tapi ...
. „ah, biarlah” — bisiknja. „Siapa tahu, di-tengah2 hutan
lebat jang kaja-raja ini, aku berdjumpa dengan pohon buah2an
jang lezat2.”
Demikianlah ia berdjalan terus dengan perasaan lapar dan
dahaga! Matanja mulai kuju mengantuk, sedang kakinja
berat di-seret2.
Makin lama ia makin lesu, sehingga djatuhlah tertidur dibawah
sebuah pohon. Tapi sedjam kemudian, ia terdjaga, karena
dibangunkan oleh suara binatang jang menangis amat sedih-
nja. „Binatang apa itu?” — tanjanja. „Mengapa ia menangis
sesedih itu?”
Tiba2 tampaklah dari djauh, sesosok bajangan jang men-
jerupai manusia. O, binatang itu kanguru namanja. Ia
berdiri dengan kedua belah kakinja jang dibelakang, sedang
disampingnja tergolek seekor kanguru jang masih ketiil. Kan-
guru ketjil ini, ialah anaknja. Ketika si Apin mendekatinja,
tampak
olehnja bahwa anak kanguru itu sudah mati. Itulah sebab-
nja, ia menangis dan meratap tak henti2nja.
„Ibu kanguru jang sangat malang" - keluh si Apin.
„Dapatkah aku menolongmu?" — tanjanja.
„O, apa jang harus ditolong, nak?" - djawab kanguru itu.
Anakku sudah mati, dan engkau tak dapat menghidupinja
kembali” — sambungnja dengan sedih. Lalu diambilnja
anaknja dan dimasukkannja kedalam kantung jang ada dipe-
rutnja. Memang binatang kanguru mempunjai kantung
diperutnja. Kantung ini gunanja untuk menggendong anaknja,
dimana anak2 itu tinggal didalam kantungnja, seperti baji2
manusia jang tidur njenjak didalam ajunan.
„Sekarang aku merasa kekosongan disini” — katanja sambil
menundjuk kedalam kantungnja. Tampak kaki depannja
lebih pendek daripada kaki belakangnja. Bila berdjalan,
ia tidak melangkah dengan kedua kakinja itu, melainkan
melompat2. Lontjatannja bukan main djauhnja. Djika ia
berhenti, tampak kaki belakangnja tegak berdiri, sedang
kaki depannja tergantung lepas dekat kantung anaknja.
„Djika engkau merasa kekosongan, bolehkah aku masuk kedalam-
nja sebagai ganti anakmu? Kantungmu besar, tentu tjukup
untuk tempatku beristirahat” — kata si Apin.
„O, tentu! Tentu sadja boleh, djika engkau mau” — djawab
kanguru itu. „Masuklah!”
Si Apin merangkak masuk kedalam kantung kanguru dan
duduk mengetiilkan badannja. Mula2 ia merasa pening dan
mual perutnja, karena di-guntjang2 oleh lompatan kanguru
jang sangat tjepatnja. Tetapi karena lelah, maka djatuhlah
tertidur.
Sedjam kemudian, ia dibangunkan oleh kanguru jang baik
hati itu. „Aku tak dapat terus mengantarkan engkau kepe-
gunungan Putih” — katanja. „Hutan ini namanja hutan
monjet, karena penghuninja hanjalah monjet2 sadja, sampai
ribuan djumlahnja. Aku tak berani masuk, sebab mereka
biasa mengedjek dan memper-olok2kan kantung gendongan
anakku. Kadang2 dilempar, diganggu dan ditertawakannja.
Lebih2 dijika melihat kaki depanku jang ketijl-pendek ini.
Wah, mereka ramai tertawa mengedjeknja. Aku malu!”
„O, bangsa monjet memang mempunjai sifat jang buruk.
Mereka suka mengedjek dan mengganggu sesama machluk.
Ja, keburukan pada jang lain di-besar2kan, sedang kebu-
rukan jang ada pada dirinja disembunjikan” — djawab si
Apin.
„Nah, sekarang sampai disini sadja, Apin. Selamat berpisah!
Aku mengambil dialan lain ...."
Mereka bersalaman lalu berpisah.
Si Apin masuk kedalam hutan jang ditundjukkan kanguru
tadi. O, alangkah terkedjutnja ia. Bukan sepuluh-duapuluh
monjet2 jang ada didalam hutan ini, melainkan ratusan,
bahkan ribuan. Mereka penuh bergantungan mulai di-pohon2
jang paling besar, hingga ke-pohon2 jang paling ketijl. Mon-
jet2 jang sudah dewasa dan sebaja umurnja, kelihatan berkumpul
berpegangan tangan merupakan rantai jang pandjang ber-
sambung2. Monjet jang paling udjung, masing2 berpegang
kepada pohon, lalu.... hup!! bergelajunlah rantai jang pand-
jang itu seperti buaian hidup jang bagus sekali.
Monjet2 jang sudah tua, dengan radiinnja mereka mengad-
jar anak2nja memandjat, melompat dan berajun2 bergerak-
badan. Ada pula jang mengadjar anaknja mengam-
bil buah kelapa dan mengupasnja sekali. Monjet2 jang baru mendapat anak ketijl, dengan hati2 sekali mereka menggendong dan mendjaga anaknja seperti ibu2 kita menggendong baji2 kesajangannja. Ketika si Apin masuk ke-tengah2 mereka, maka riuh-rendahlah bunji sorak mendjerit2. Si Apin memasang kupingnja,
| bunji sorak | mendjerit2 | . Si | Apin memasang | kupingnja, | |
|---|---|---|---|---|---|
| Ia ingin | tahu, olok2 | apakah jang | dilemparkan | monjet2 |
itu
kepadanja?
„Ho, ho, lihatlah! Penghuni baru!” — kata sekelompok mon-
jet2 jang sedang ramai bersenda gurau.
„Mana? Mana?" — tanja sebagian jang sedang bergerak-
badan.
„Ha, ha, ha :...! Dia kira akan bisa hidup bergaul dengan
kita...."
„Mukanja memang mirip2 kita, tjuma hidungnja lebih bu-
ruk!” — sambung jang lain: „Hidungnja lebih pandjang
daripada hidung kita.”
„Hai, hidung-pandjang! Tjoba kau pandjati pohon njiur itu.
Dapat atau tidak?”
„Aaaaah, djangan pohon njiur dulu! Pohon djambu jang
paling ketijl sadja, belum tentu dapat ...."
„Ajo, ramai2 kita lempari buah kaju! lipoba, dapar inggak
dia menangkis lemparan kita...." — kata seekor monjet jang
paling nakal sambil melemparinja dengan buah kaju.
Sedang ribut’nja mereka mengedjek dan menggangga si Apin,
tiba’ mendjeritlah seekor monjet betina minta tolong. O,
anaknja jang masih ketijl, djatuh terlepas dari gendongan-
nja. Dan .... dengan tangkas dan gesit sekali, si Apin
menjambut anak monjet itu dari bawah dan dengan sekali
lompatan sadja, ia dapat mengembalikan anak monjet itu
ketempat asalnja.
Aiiiii! Sedjurus lamanja, berhentilah mereka bersendagu-
rau. Dengan mulut ternganga, mereka tertiengang menjak-
sikan ketangkasan si Apin.
Demikianlah, setelah sepi sedjurus lamanja, kini terdengar
lagi sorak-sorak dan tepuk-tangan tanda gembira. Memang
si Apin pandai memandjat. Sedjak ia tinggal dipinggir
hutan, setiap hari berlatih memandjat, melompat dan ber-
ajun2 dipohon jang tinggi2. Ja, persis seperti jang dilakukan
monjet2 itu sekarang.
„Barangkali dia djuga bangsa monjet!" — kata salah satu
dari mereka.
„Ah, bukan" — kata jang lain. „Sebab, belum tenfu ia
pandai ber-ajun’ seperti rantai pandjang matjam kita."
„Dan tentu tidak dapat ber-ajun’ dengan tangan terlepas....!"
„Apa?” — tanja si Apin tak sabar. „O, lebiñ dari no, aka
dapat!”—sambungnja. „Bolehlah kalian lihat .....
l”—katanja sambil melompat keatas sebuah pohon. Mula”
ia ber-ajun2 dengan tangan berpegang kepada dahan. Ke-
mudian kakinja memidjak dahan lalu lututnja dilipatkan
dan.... bergelajunlah ia kian kemari dengan tangan
me-lambai2. Ho, semakin tertiengang sadja monjet2 nakal
itu melihat kepandaian si Apin.
„Engkau boleh tinggal disini bersama kami” — kata seekor
nonjet jang paling besar. Mungkin ia kepala rombongannja.
„O, ferima kasih!” — sahut si Apin. „Sajang, aku harus
meneruskan perdjalananku kepegunungan Putih untuk men-
jampaikan sebuah bungkusan ini....” — katanja sambil mer-
aba kantungnja. Tetapi.... O, alangkah terkedjutnja, ketika
dirabanja bungkusan itu telah hilang.
„Heeeee, kemana bungkusan itu? Tentu telah djatuh disini
ketika aku ber-ajun2 diatas pohon” — katanja dengan muka
putjat dan hati remuk.
Maka berkerumunlah monjet’ itu mengelilingi si Apin.
„Biarlah, kami jang mentiarikan" - kata mereka.
Si Apin sudah putus-asa. „Apa artinja perdjalanan jang
sudah kukerdjakan, diika bungkusan itu hilang lenjap? Apa
kata kakek nanti?” — demikian ia bertanja dalam hatinja.
„Djangan susah2 mentjari! Inilah bungkusannja, terpidjak
tadi olehku .... !”
Ja, rupanja bungkusan itu djatuh ketika si Apin melompat
dan menggendong anaknja tadi.
Sebagai tanda bergembira, maka berpestalah mereka. Pesta
buah kelapa! Ja, monjet2 itu memetik buah kelapa mas-
ing2. Sebelum dikupas, buah kelapa itu di-lempar2nja dulu
kian kemari seperti orang bermain bola. Sesudah lelah me-
lempar2 kian kemari, baru kelapa itu dikupas menurut ket-
jepatan dan kepandaiannja masing2. Airnja diminum dan
dagingnja dimakan be-ramai2. Si Apin tampak duduk diten-
gah2, sedang monjet2 itu gembira mengelilinginja. O, dia
mendjadi tamu bangsa monjet jang terhormat dihari itu!
Kefika fiba waktunja untuk berpisah, menjanjilah mereka
be-ramai2, tanda memberi selamat djalan. Dan si Apin
berdjalan lagi sambil melambai-lambaikan tangannja.
„Inikah djalan kepegunungan Putih?” — ia bertanja kepada
seekor anak gadjah. Anak gadjah ini masih ketiil sekali. Ia
ber-main2 sendirian sambil melatih belalainja me-matah2kan
dahan dan pohon jang ketjil2. Badannja sangat besar, tetapi
ekornja ketijl dan tipis sekali. Si Apin tahu, apa sebabnja
ekornja seketijl itu. Ja, gadjah mempunjai kulit jang tebal
dan kuat sekali. Kulit ini tak ’kan rusak, bahkan tak ’kan
berasa dijka dihinggapi dan digigiti oleh binatang2 sebangsa
lalat dan njamuk. Djadi ia tak membutuhkan ekor jang be-
sar. Tambahan lagi ia masih ada alatnja jang lain jang
dapat dipergunakan untuk itu, ialah: belalai!
„Dapatkah engkau mengangkat aku keatas dengan belalaimu?”
— tania si Apin.
„Tentu sadja, asal engkau tidak takut” — diawab gadjah
itu.
„O, selama hidupku, aku tak pernah takut” — sambung si
Apin.
Gadjah itu membelit si Apin dengan belainja, lalu diangkat-
nja melambung, kemudian diletakkan dipunggungnja dan
.... larilah ia se-kuat2nja.
„Hai, hendak kemana? Kaubawa kemana aku?” — feriak si
Apin. Ia berpegang kepada kuping gadjah jang besar itu
se-kuat2nja karena takut terdjatuh.
"Ajo, kita bermain-main di
Setiba disungai, si Apin mandi dengan riangnja. Ia men-
tioba menjemburkan air kepada gadjah itu dengan tangan-
nja. Tapi... segera gadjah itu menbalasnja dengan air man-
tjur jang disemburkannja dari belalainja.
„Oooo, engkau tjurang!" - teriak si Apin. Tampak rambut
dan
seluruh mukanja basah kujup.
„Djangan sekeras itu kausemburkan air itu. Kulitku tak
sekeras kulitmu dan aku tak punja belalai .... !”
„Kau harus makan daun2an dan ranting pepohonan seperti
aku!” — dijawab gadjah tertawa.
„Kalau aku makan daun dan ranting2, apakah akan tumbuh
djuga belalai seperti engkau?” — tanja si Apin.
„O, tidak. Tjuma badanmu mendjadi kuat” — djawabnja
sambil mengangkat si Apin kembali dan dibawanja naik
kedarat.
„Engkau harus menjeberangi sungai ini, Apin” — sambungnja
sambil meletakkan si Apin dari belalainja ditepi sungai. „Ini
adalah perdjalananmu jang terachir. Djika selesai engkau
berenang menjeberangi sungai ini, sampailah engkau dipegu-
nungan Putih. Tuuuu, lihatlah keseberang sungai, bukankah
tampak dari sini, apa jang disebut pegunungan Putih?” —
katanja sambil menundjuk kearah seberang sungai dengan
belalainja.
O, alangkah indahnja pemandangan diseberang sungai!
Ratusan gunung’ biru berderet dikedjauhan. Putih2 pun-
tiaknja seperti perak. Dibalik warna jang ke-perak2an ini,
tersembullah matahari dengan tjahajanja memerah api. Ah,
silau mata si Apin memandang.
„Kalau begitu, tak lama lagi aku sampai dipegunungan Putih"
— katanja.
„Apa? Maumu tak lama lagi! Kau kira ini sudah dekat?
Tjis!” — edjek gadjah itu tertawa. „Bagaimana kau dapat
menjeberangi sungai jang selebar ini? Dan bagaimana kau-
dapat mendaki gunung? jang setinggi itu? Engkau harus
memikirkannja sungguh?, Apin. Selamat berpisah.... !”
Maka pergilah gadjah itu, menghilang dibalik semak’ pepo-
honan.
Kembali Pulang
Kini tinggallah si Apin menghadapi sungai jang sangat lebar
dan penuh dengan ber-matjam2 bahaja. Ia harus berenangl
O, alangkah beratnja pekerdjaan jang dibebankan kepada si
Apin. la merenung menghadapi sungai lebar jang harus di-
renanginja. Ikan2 ramai bermain dan bersenda gurau diper-
mukaan air. Mereka bermain dalam ber-matiam2 rombon-
gan menurutkan dienisnja masing2. Ada jang be-renang2
sadja mengelilingi daun teratai, ada jang ber-kedjar2an men-
jelinap dibalik batu2 dan ada pula jang beladjar me-lontiat2,
djauh terbang keatas permukaan air.
„Aku ingin diuga ikut ber-main’ diair" - kata si Apin.
„Oh, engkau tak dapat ikut” — kata seekor ikan jang muntjul
dihadapannja. „Engkau tak punja ingsang untuk bernapas
didalam air. Dengan ingsang ini, kami dapat menjimpan
hawa dan menjelam lebih lama didalam air.”
„Hai, apakah didalam air diuga meimerlukan hawa?” —
tanja si Apin.
„Tentu sadja. Djika ingsang kami tak mendapat hawa, mungkin
kami akan mati lemas. Tapi sebaliknja, dijka kebanjakan
hawa, kami diuga akan mati lemas pula” — djawab ikan
itu.
„Ja, seperti kami bangsa manusia didalam air" — sambung
si Apin. „Jang tenggelam lama didalam air, tentu mati
lemas."
„Kamu sekalian membutuhkan lebih banjak hawa daripada
air. Dan untuk mengisap hawa, kamu diberi paru2„ — kata
ikan itu pula.
„Ja, djadi semua machluk membutuhkan hawa" — sambung
si Apin.
„Bukan machluk sadja. Tjoba engkau memasang lilin, dan
lilin itu ditutup rapat dengan gelas. Apa jang terdjadi?
Lama2 lilin itu mati, karena sesak tak mendapat hawa.”
„Engkau pandai seperti anak sekolah” — kata si Apin. „Apakah
didalam air diuga dibuka sekolah untuk para peladjar ikan?”
„Bangsa ikan belum dapat mendirikan sekolah" - djawab
ikan itu. „Tapi aku pernah ikut seorang kelasi dikapal. Dari
kelasi itu aku sering mendengar pertjakapannja jang men-
gandung peladjaran."
„Tapi mengapa sekarang engkau ada disini?"
„Ah, aku lari dari kelasi itu. Habis, tjoba sadja pikir, ikan
mana akan betah hidup didalam kapal ber-sama2 manusia?
Kadang2 kapal .itu berlabuh dan aku terpaksa hidup di-
daratan. Tjis, apa enaknja? Tjoba engkau turun main2 ke-
mari. Bandingkan enaknja hidup diair dan hidup didarat!
Disini, engkau dapat mandi2 mentjutji kotoran dan debu2
jang melekat ditubuhmu setiap hari. Ajo, Apin! Tjoba,
turunlah .... !”
„Bagaimana aku dapat ber-main2 ditengah sungai jang sederas
ini? Aku tak punja ingsang seperti engkau. Aku hanja
mempunjai paru2 sadja untuk bernapas didaratan .... !”
„Kalau tak pandai menjelam, engkau dapat diuga bermain
diatas air!” — djawab ikan itu. „Naiklah dipunggungku.
Kita ber-sama2 berenang keseberang sungai ini. Tidakkah
demikian diuga maksudmu?” — tanja ikan itu.
„O, kalau begitu, memang adjakan inilah jang ku-tunggu2
dari tadi" - diawab si Apin sambil melompat keatas pung-
gung ikan. Dan berenanglah ikan itu dengan senangnja,
sadang si Apin me-njanji2 riang gembira!
Tapi ketika sampai di-tengah2 sungai, ikan itu berhenti
seperti ketakutan. Badannja gemetar. O, tjelaka kita ....
!” — bisiknja kepada si Apin. „Lihatlah, ikan raksasa tern-
ganga didepan kita. Ikan ju! Aku harus menjelam dan
bersembunji dibawah batu. Aku harus menjelamatkan diriku
dari bahaja. Dan engkau djuga, Apin. Djagalah dirimu dan
fjarilah akal untuk menjelamatkan dirimu ...."
„Ah, kedjam benar engkau!” djawab si Apin. „Djika aku
kautinggalkan, pasti akulah jang ditiapluk ikan ju ...."
„Ja, tapi sebaliknja, djika aku tidak lari, kita berdualah jang
akan masuk diperut ju. Engkau masih untung, ditanganmu
tersedia tongkat wasiat!”
„Ah, dalam bahaja segmenting ini, tak mungkin aku dapat
mempergunakan tongkatku ...." - djawab si Apin.
„Itu terserah kepadamu, Apin. Kita hidup didunia ini harus
pandai membela diri dengan akal dan kepandaian kita sendiri.
Nah, selamat tinggal ...."
Bjur ....! Si Apin mentjebur kedalam air. Ia berenang
se-dapat2nja untuk menghindarkan bahaja maut dari ikan
ju. Tetapi sebenarnja ia sudah putus asa. Apa jang harus
ia lakukan? Berenang terus sampai ketepi? O, alangkah
djauhnja. Djika pekerdjaan ini ia lakukan, tentu akan mati
lemas ditengah djalan! Menjelam kedasar air dan sembunji
dibalik batu? Ah, mana bisa! Ia tidak mempunjai in-
gsang seperti ikan. „lbul Besarkanlah hatimu, diika Apin
putramu, tidak dapat pulang kembali!" - demikian ia mer-
atapi ibunja di-tengah2 gemuruhnja air deras dan ikan ju,
diantara hidup dan mati! Tapi .......
„Hai, djangan putus asa, engkau Apin. Daunku tjukup lebar
dan kuat. Naiklah dan bersembunjilah diatas daun ku ....
I” — demikianlah suara jang terdengar disampingnja
Si Apin menoleh. O, sesungguhnja, disampingnja kini tam-
paklah sehelai daun teratai jang sangat lebar sedang mera-
pung dengan tenangnja. Daun itu hidjau warnanja. Tebal,
empuk seperti beledu permadani.
„Terima kasih, teratail” — djawab si Apin sambil melompat
keatasnja seperti seorang kelasi naik kekapalnja.
Daun itu pelan2 melipatkan lembaran daunnja untuk men-
jembunjikan si Apin, Sekarang si Apin terhindar dari tjaplukan
mulut ikan ju. Sekali ini bukan binatang jang menolongnja,
melainkan daun teratai, sebangsa tumbuh2an!
„Aku terhindar dari bahaja" — bisiknja. „Tapi apa akalku
agar sampai diseberang sungai ini?" la melihat keatas. Tiba2
gemetarlah badannja. O, awan dilangit sudah mendung,
tebal menghitam. Disusul dengan kilat jang me-njambar2
seperti api. Kemudian meletuslah ber-kali2 guruh dan gun-
tur memekakkan telinga. Sebentar lagi pasti akan turun
hudjan jang lebat membadai. Dan .... di-tengah2 badai,
kilat dan guruh jang menakutkan itulah, si Apin lekat men-
juruk di-sela2 lipatan daun teratai. Badannja menggigil
kedinginan dihembus angin-membadai. Seperti sepotong
kaju jang terapung tiada tudjuan. Ia erat memegang tangkai
daun teratai. Disana-sini, dipinggir suingai, terdengar bunji
katak ber-sahut2an menirukan bunji musik. Seekor demi
seekor, muntjul berlompatan menjongsong hudjan. Mereka
pesta bergembira!
Mulailah hudjan turun seperti dituangkan dari langit. Si
Apin makin menjurukkan seluruh badannja. „Tadi aku ter-
lepas dari bahaja maut, tapi sekarang datang lagi bahaja
maut lainnja. Badai ini pasti akan mentiabut njawaku. Ah,
ibu! Besarkanlah hatimu dijika Apin putramu tak dapat
pulang kembali ....!” — demikian ia meratap lagi
memanggil ibunja.
Tapi.... djangan salah terka. Badai ini tidak mentiabut
njawanja. Malah sebaliknja, dialah jang menolong si Apin.
Dengan tiupannja jang amat dahsjat, direnggutnja daun
teratai itu dari tangkainja dan.... bum!
Tergoleklah kini si Apin dikaki pegunungan Putih.
Seperti baru terdjaga dari tidur, si Apin terljengang melihat
pemandangan disekitarnja. Alangkah indahnja! Bunga2 ter-
hampar dikakinja seperti permadani beledu jang penuh den-
gan warna. Djauh meninggi keatas, sinar putih dipuntjak
gunung memantjar seperti perak. Puntjak gunung ini san-
gat tingginja, sehingga tak mungkin ditjapai dengan djalan
kaki dalam seminggu-dua minggu.
„Biarlah sekali ini akan kuminta pertolongan tongkat" - bisiknja.
la melihat kesekitar kaki pegunungan.
Djauh diatas puntiak sepohon kaju, hinggaplah seekor bu-
rung jang amat besar. „Oooooi, turunlah kemari, kawan!”
— teriaknja. „Tolonglah aku! Bawalah aku terbang kepun-
tjak pegunungan Putih .....”
Burung itu menengok kebawah. „Ja, ja, ja. Tunggulah
sebentar!” — balas burung itu. Hanja sekedjap sadja, si
Apin sudah duduk dipunggung burung itu dengan senangnja.
„Eeeee, tunggu sebentar lagi....” — kata burung itu pula. Ia
melihat seekor kodok hidjau jang besar melompat kedalam
semak. „Aku sangat suka makan kodok hidjau” — katanja
sambil menjurukkan paruhnja dan .... klup! Sebentar ma-
suklah kodok itu kedalam perutnja.
„Hiiiii¡!” — seru si Apin dengan djidjiknja. „Bukan untuk
menangkap kodok hidjau, djauh2 kupanggil engkau, tapi
untuk mendaki pegunungan Putih.”
„Jaaaaaa, tapi kodok adalah satu2nja makanan jang paling
istimewa. Sajang sekali, djika tak dapat kutangkap. Lagi
pula, pagi ini aku belum sarapan. Bagaimana djika nanti
diperdjalanan perutku berbunji minta isi? ‘Kan engkau
jang repot!” — djawab burung.
„Aaaaaah, sudahlah. Mari kita berangkat" - sela si Apin.
Sedjurus kemudian, si Apin sudah melajang diudara. Taman
bunga, pohon2, sungai dan batu2, makin lama makin mengetjil
djua nampaknja. Ia terus melajang menudju puntiak pegu-
nungan Putih jang ke-perak2an sinarnja.
„Huh, berat benar badanmu, Apin!” — kata burung ifu
tiba2. „Sebentar lagi aku kehabisan tenaga.... — keluhnja.
„Huuuuuh, tak tahan lagi aku, Apin” — katanja sambil mel-
ingkupkan sajapnja.
„Eeee, eee....!” — teriak si Apin. „Djangan kaulepaskan aku!
Bagaimana djadinja nanti, dijika aku terlepas djatuh dari
punggungmu?”
Tapi sementara itu si Apin sudah terlepas dari punggung bu-
rungnja. Ia melajang kebawah seperti sehelai daun kering
jang lepas dihembus angin. Ia sudah putus asa. „Hantjurlah
badanku ....!” — keluhnja. „Ibu! Besarkanlah hatimu diika
Apin puteramu tak dadpat pulang kembali ....!” demikian-
lah ia meratap lagi memanggil-manggil ibunja.
Memang ia sudah kehabisan akal. Ia sudah putus asa, hi-
lang tudjuan. Tapi sekalipun begitu, rupanja masih ada
djalan lain untuk menjampaikan maksud si Apin.
Djauh dipuntjak gunung, diantara pohon2 kaju jang be-
sar2, tinggallah seekor burung raksasa, burung garuda na-
manja. Ia sudah lama memperhatikan si Apin dengan bu-
rungnja. Dalam hatinja ia bersorak: „Nah, sekali ini aku
dapat makanan istimewa! Aku makan manusia, sekalipun
masih ket,ijl, tapi ‘kan t,ukup gurih dan lezat.... ”
Sekarang saat jang di-nanti2nja tiba. Ketika si Apin mela-
jang lepas dari punggung burung, segeralah ia menjambar
si Apin. Untung bagi si Apin, burung garuda itu tidak
menjambar badannja, melainkan menjambar badju luarnja.
Badju itu terbuat dari benang wol jang diradjut ibunja
sendiri. Badju itu sudah tua. Radjutannja sudah kendur
dan gampang sekali terlepas dijika ada jang menariknja.
Demikianlah, ketika sehelai benangnja menjangkut kepada
paruh burung garuda, maka terlepaslah radjutannja, sedang
si Apin menggelintiir kebawah, ber-putar2 menurutkan djalan-
nja benang radiutan jang lepas mengulur.
O, alangkah kagetnja si Apin. „Apakah jang terdjadi?”
— bisiknja. Ia menengadah keatas. Hiiiij, burung garuda
dengan matanja jang galak tadjam itu sedang mengintai si
Apin. Diparuhnja jang lebar menebal itu tersangkut benang
dari badjunja jang makin lama makin memandjang djua ke-
bawah. Sekarang ia mengerti, apa sebabnja ia djatuh ber-
putar2. Ja, rupanja badju dari ibunja itu telah menolong
dia mendjauhkannja dari sobekan paruh burung garuda. Hi-
iiiij, djika seandainja badju itu tidak ada, tentu sudah lama
ia di-robek2 paruh jang lengkung tadjam itu.
Makin lama benang itu makin pandjang, sedang si Apin
makin lama makin dekat diua kepuntiak gunung! Dan....
bum!!! Terdjatuhlah ia ditanah jang putih seperti kapur.
Ja, Tuhan! Sampailah kini ia dipuntiak pegunungan
Putih. Ia menghela napas jang pandjang, tanda lega hatinja
dan bahagia .... !”
„He, bagaimana engkau bisa terdjatuh begitu rupa? Djatuh
dari langitkah engkau, Apin?” — tanja seorang kakek.
Si Apin bangun dan menoleh. „Oooo, tuan! Eeeee, eee,
eeeee .... !”
„Panggillah aku kakek sadja!" - katanja dengan ramah.
„O, kakek! Bukankah kakek jang menjuruh saja datang
disini? Bukankah kakek jang bertemu distasiun dulu?”
„Jaaaa, akulah jang menjuruh engkau datang disini. Tapi
engkau seorang anak jang pintar sekali. Baru 4 hari, sudah
sampai dipuntjak gunung!”
„Tapi mengapa kakek diuga ada disini?" — tanja si Apin
heran.
„Saudaraku disini mengirim kabar, bahwa ia sakit keras.
Djadi ter-gesa2 aku naik sinar matahari diudara. Dengan
ketjepatan alam jang luar biasa, sebentar sadja aku tiba
dipuntjak gunung!”
Si Apin meng-angguk 2. Ia tertiengang keheranan.
„Mana bungkusanku jang dulu?" - tanja kakek pula.
Si Apin mengambil bungkusannja. Dengan girang, disam-
paikannja bungkusan itu. Hatinja senang sekali, karena ia
dapat mengerdjakan perintah kakek itu, lebih tjepat dari
waktunja jang ditentukan.
„Apakah bungkusan itu tidak kaubuka ditengah djalan?”
tanja kakek.
„O, tidak, kakek. Saja tidak berani.”
„Engkau tak ingin melihatnja?"
„Tentu sadja. Tapi masakan saja buka. Itu ’kan bukan
kepunjaan saja."
„Ja, memang benar begitu. Sekarang, tjoba buka, apakah
isi bungkusan ini?"
Hati2 sekali si Apin membuka bungkusannja. Ia ingin benar
melihat, bagaimana rupanja intan berlian dan mutiara jang
sering di-pudja2 orang kaja itu? Tetapi .... betapa terkedjut
ia, ketika tampak olehnja, bahwa isi bungkusan itu hanja
batu2 kerikil buruk sadja, jang dapat kita punguti ditengah
djalan sembarangan. Si Apin terkedjut!
„Tentu ini perbuatan monjet2 nakal dihutan” — pikirnja.
„Berlian dan mutiara jang sesungguhnja, mereka tukar den-
gan batu2 kerikil buruk. Aku harus kembali! Aku harus
kembali merebutnja .... !”
„Djangan terkedjut engkau, Apin" — kata kakek itu. „Me-
mang benar, inilah isi bungkusan jang aku berikan dulu
kepadamu."
„Kalau begitu ...., kalau .... kalau hanja ini sadja, apa per-
lunja saja begini lama meninggalkan ibu? Apa perlunja
saja menghadapi berbagai bahaja maut?” — tanja si Apin
dengan air mata berlinang.
„Apin, anakku!” — diawab kakek pula. „Apa jang telah en-
gkau lakukan, adalah lebih berharga daripada intan berlian
dan mutiara! Tahukah engkau, bahwa banjak sekali sifat2
manusia jang lebih mahal harganja daripada permata dan
mutiara? Kedjudjuran, misalnja. Keberanian. Pertjaja diri
sendiri. Keras hati. Tenang dalam menghadapi segala ba-
haja. Berbudi dan berakal!
Sesungguhnja, kami kakek2 penghuni pegunungan Putih ini,
waktu ini sedang mentjari orang2 jang bersifat demikian.
Bungkusan ini hanja dalih sadja, hanja djalan untuk mene-
mukannja .... !”
„Untuk apa orang2 itu ditjari?" - tanja si Apin.
„Kami disini sedang mengerdjakan suatu pekerdjaan rahasia
untuk pemerintah. Ja, orang2 luar belum diberi tahu dan
belum boleh mengetahuinja. Nanti dijika kakek2 penghuni
pegunungan Putih sudah pajah semua, artinja sudah tak
sanggup bekerdja lagi, maka pekerdjaan ini akan kami ser-
ahkan kepada orang2 jang sifatnja baik2. Dan engkau, en-
gkau adalah satu diantara mereka jang kami tjari. Berani,
djudjur, pertjaja diri sendiri, keras hati, berbudi dan be-
rakal.... !”
„Pekerdjaan apa jang harus kukerdjakan nanti? Bolehkah
aku mengetahui rahasia itu?” — tanja si Apin.
„O, engkau belum mengerti tentang rahasia. Disini kami
mempunjai alat seperti alat peneropong bintang2. Den-
gan alat ini, kelak dikemudian hari kita akan dapat men-
gadakan hubungan dengan negara2 diseluruh dunia. Kita
bisa tahu nanti, negara mana jang masih djauh terbelakang,
negara mana jang masih miskin menderita, negara mana
jang selalu ingin mendjadjah dan negara mana jang selalu
ingin berperang! Nah, dengan semua negara2 ini, kita da-
pat mengadakan hubungan se-baik2nja, dimana alat rahasia
ini bakal bisa mentiiptakan: kemadjuan, kemakmuran, ke-
merdekaan dan perdamaian!”
„Berat benar pekerdjaanku nanti ...." - bisik si Apin.
„Ja, berat tapi menimbulkan semangat” — djawab kakek
itu. „Dan sebagai upahmu, sekarang engkau·boleh pulang
dengan menunggang sinar matahari!”
„O, terima kasih, kakek. Biarlah saja pulang dengan berd-
jalan kaki dan liwat di-hutan2 sadja. Djika mengambil
djalan udara, tentu tak ada jang menolong lagi seperti tadi.
Badiu luarku sudah habis, sedang burung garuda jang tadi
mematuknja, sudah lari tak ada lagi."
„Djangan kautakutkan semua itu. Kasihan ibumu, sudah
lama me-nunggu2. Selamat djalan, Apin!”
Maka meluntjurlah tjahaja putih seperti asap jang keperak2an.
Si Apin melompat keatasnja dan .... melajanglah diudara.
Pegunungan Putih sudah djauh menghilang, sungai lebar
jang deras mengalir tampak dari atas indah be-riak2, lalu
hutan belantara serta pohon2nja dan .... ssssrrtt!! Ia melun-
tjur kini dari langit dan tiba sekali dekat rumahnja. „lbu!
lbu ....!” — teriaknja. „Inilah Apin, ibu! Bukalah pintu ....
”
„Oh, Apin anakku!” — seru ibunja sambil lari menjongsong
si Apin. „Selama engkau pergi, banjak benar kedjadian jang
aneh2. Rumah kita jang dulu, dibongkar oleh orang2 jang
tidak kita kenali, lalu digantinja dengan rumah baru jang
kuat dan bagus. Kemudian diisinja dengan perkakas rumah
jang manis2. Engkau diberi lemari buku ketiil jang penuh
dengan buku2 dongeng, sedang aku diberinja pakaian jang
bagus2. Lihatlah, Apin. Kita mendjadi kaja dan semua ini
adalah djasa perbuatanmu .... ”
„O, itu bukan djasaku, ibu!” — diawab si Apin. „Ini adalah
djasa ibu sendiri, berkat didikan jang selalu ibu nasihatkan:
Engkau harus diudjur, Apin.
Engkau harus berani, Apin.
Engkau haru berbudi dan.... ja, banjak lagi nasihat ibu
jang baik2, sehingga aku terpilih oleh kakek untuk mendjadi
pekerdią di .... ”
„Dimana, Apin?" - tanja ibunja ingin tahu.
„Ah, kata kakek masih rahasia. Aku belum boleh men-
gatakannja ...."
„Hm, kepada ibumu boleh sadja kautjeritakan, Apin" —
demikian suara kakek jang datang dari pintu.
„Heeee, bapak. Silakan duduk, bapak!" - kata ibu si Apin.
Maka berkumpul dan berfjeritalah mereka dirumah sambil
minum2 dengan perasaan jang puas dan penuh suka-fjita.