Perumpamaan
irektorat dayaan
..
..
-.:-~-· :::--......
| / ' 1: _, - | . | |
|---|---|---|
| ·.---- ---..... | ||
| I, .._ I f | / | \ |
| ~, | ~/. | ~, |
. · '~. ,)
.-, /
· I /···
. ·
~, ·, ......_/ I
-.., ... ,/· I ... ;:"'. ·\' I-
\ ·/: ' ... ~ ...... ;,:
' -..: ' · ""' J ,., \ _ ~ .---:::; h
PERUMPAMAAN
/
Karangan
L. To Is toy Diterjemahkan oleh
S. M. Rassat
Oepartemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah Jakarta 1979
iii
PN Balai Pustaka
BPNo.Sll
Hak Pengarang dilindungi Undang-Undang
iv
PENGANTAR
Pembangunan di bidang Kebudayaan adalah bagian Integral dari Pembangunan Nasional, Pembangunan bidang Kebudayaan tidak dapat melepaskan diri dari pemikiran dan usaha pengembang- an dalam bidang Sastra. Karya Sastra merupakan manifestasi kehidupan jiwa bangsa dari a bad ke a bad dan akan menjadi peninggal- an kebudayaan yang sangat tinggi nilainya. Karena itu karya sastra perlu digali dan digarap untuk dapat diresapi dan dinikmati isinya. Karya sastra memberikan khasanah sejarah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Hasil penggalian dan penggarapan karya Sastra akan memberikan rasa kepuasan rohani dan kecintaan pada kebudayaan sendiri, dan selanjutnya juga akan merupakan perisai terhadap pengaruh kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kepentingan pembangunan Bangsa Indonesia. Penghayatan hasil karya sastra akan memberi keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern di satu pihak dengan pembangunan jiwa di lain pihak. Kedua hal ini sampai kini masih dirasa belum dapat saling isi-mengisi, padahal keseimbangan a tau keselarasan antara kedua masalah ini besar sekali peranannya bagi pembangunan dan pembinaan lahir dan batin. Melalui sastra diperoleh nilai-nilai, tata hidup dan sarana komuni- kasi masa lalu, kini, dan masa depan. Sebagai pemakai dan pemina t bahasa dan sastra lnd onesia kita sering kali kurang begitu sadar akan sejarah bahasa itu sebelum ia menjadi bahasa Nasional kita dan berkembang menjadi bahasa sastra dan ilmu pengetahuan dan seperti keadaannya sekarang. Sejak abad ketujuh bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi di sebagian kepulauan Indonesia, seperti dapat kita lihat pada Prasasti-prasasti Melayu Kuno yang terbesar di Pulau J awa, Sumatera dan kepulauan Riau. Di samping itu bahasa tersebut
v
musaflr dari Tiongkok yang datang belajar di Sriwijaya, yang pada jaman itu menjadi suatu pusat pengajaran agama Buddha. J adi saat itu bahasa Melayu sudah memegang peranan penting sebagai pendukung kebudayaan di Indonesia dan juga di semenan- jung Malaka. Menilik keadaan ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah ada kesusastraan dalam bahasa itu, mungkin ditulis di at as !on tar, kulit kayu a tau pun bahan lain yang terdapat di alam Indonesia. Karena rapuhnya dan Iekas punahnya bahan-ba han seperti itu, ditambah pula oleh ganasnya iklim tropis, maka kelangsungan hidup naskah sastra itu harus dipelihara dengan penyalinan setiap kali; paling tidak seratus tahun sekali. Dan kelangsungan penyalinan tergantung lagi daripada minat masyarakat pada saat itu. Dapatlah dibayangkan suatu kegoncangan politik atau masuknya agama baru dapat mematikan minat orang terhadap suatu jenis sastra tertentu sehingga tenggelamlah ia ke dalam ke- musnahan karena tidak disalin-salin lagi. Agaknya itulah yang terjadi dengan sastra dari iaman awal itu sehingga tak ada lagi sisa- sisanya.
Di kalanganpeminatdan peneliti sastra, baik di sekolah mau- pun dalam masyarakat pada umumnya sudah lama dirasakan kekurangan akan bahan bacaan sastra lama sebagai penunjang pengajaran dan juga sebagai bacaan umum bagi mereka yang ingin mengenal suatu jenis sastra yang pernah berkembang di kawasan Indone- sia. Mengingat pentingnya karya Sastra sebagai diuraikan di atas maka Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen P dan K bekerja sama dengan PN, Balai Pustaka sebagai Penerbit buku Sastra yang telah terkenal sebelum Perang Dunia ke-II, mencoba memenuhi kekurangan yang dirasakan kini dalam penerbitan buku Sastra.
Kita perkenalkan, kekayaan sastra Melayu lama yang tersirn- pan dalam kumpulan-kumpulan naskah di Indonesia. Sebagian yang diterbitkan itu telah dialih-aksarakan dari huruf
vi
Pustaka yang bernilai
baik tetapi sekarang jarang a tau tidak lagi ditemukan dalam toko buku. Sebagian lagi bersumber dari naskah milik Museum Pusat, tetapi telah dialih aksarakan oleh Penulisn ya dan ada juga yang berasal dari naskah milik perorangan Bagi masyarakat kiranya berlaku peribahasa "tak kenai maka tak sa yang", pad a hal sebagai orang Indonesia kita hendaknya dapat memelihara dan mempelajari sastra lama sebagai warisan nenek moyang disamping sastra baru. Dengan terbitan-terbitan ini diha- rapkan bahwa kekayaan sastra kita yang sudah begitu lama ter- pendam dapat dikenal oleh khalayak yang lebih luas serta dapat menambah pengertian dan apresiasi terhadapnya.
Jakarta, 1979
Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.
vii
Pengantar.............................. v
Permulaan kalam............................. 3
BAG IAN YANG PERT AMA
Cerita-ceritanya...... 9
Tuhan dapat melihat kebenaran itu, tetapi fa menanti
saja. 12
Tertawan di Kaukasus. 26
Bab yang pertama............................ 26
Bab yang kedua.............................. 33
Bab yang ketiga.............................. 42
Bab yang keempat............................ 49
Bab yang kelima............................. 55
Bab yang keenam............................ 64
III. lb/is dengan ku/it roti......................... 73
(Suatu cerita kampung di tanah Ruslan).
IV. Genderang yang kosong............. 79
(Cerita kampung di tanah Ruslan).
V. Mahal amat.............................. 93
. ...................
.......................
(Suatu cerita karangan Guy de Maupassant, diubah oleh Tolstoy).
BAGIAN YANG KEDUA
I. Alkitab Genesis Nabi .......................... 101 II. GraafTolstoy, ketika ia ada di Yasnaya Polyana
(1888-1889) ............................... 126
III. GraafTolstoy selama di Moskou (1898-1899) ...... 146
IV. Suatu percakapan perkara "Menurut pada hal me1a- wan"...................................... 158
ix
Perkara perkawinan dan orang isi rumah........... 179
VII. Perkara agama Nasrani ( Kristus)................. 190
VIII. Apakah yang akan diperbuat oleh Graaf T olstoy.. ... 198
'
AMAAN
"Seorang nabi? Sesungguhnya, saya katakan kepada tuan; ya, lebih lagi ia dari pad a seorang nabi."
Kata tuan Flaubert, "Oleh Graaf Tolstoy dicarnpurkannya kepandaian Shakespeare mengarang dengan kepandaian orang Jahudi yang dapat mengasyikkan orang itu." Tatkala tuan Bryce hendak membuat satu daftar nama-nama, dan ia hendak menilik nama pengarang yang terpandai yang hidup di dalam abad yang kesembilan belas, maka berkatalah ia, bahwa yang pertama sekali yang boleh disebut ialah nama "Victor Hugo", atau "Graaf LyofTolstoy".
Victor Hugo sudah berpulang ke rahmatullah, akan tetapi Graaf Tolstoy lagi hid up juga bersama-sama dengan kita; dia sendirilah yang tinggal di antara orang yang terpandai dalam abad yang kesembilan belas, dan dialah juru karang yang termasyhur namanya seluruh dunia, hingga tiadalah salah kita, kalau kita mengarangkan dia itu sebagai kita mengarang bintang di langit, yakni sebagai buah kata Psalmist, demikian bunyinya, "Tak ada satu jua kata atau buah tutur, yang tak ada mengandung ·bunyi suaranya. Haluannya menuju seluruh muka bumi ini dan kejadiannya sampai kepada ujung dunia." Bagi sekalian manusia, yang sebenarnya dari antara makhluk yang seratus dua puluh million itu Graaf Tolstoy itu sendirilah saja orang Rus, yang bercakapkan bahasa Rus. Dia itu ialah seorang ahli yang dipuji orang sekelliing dunia ini, hanya orang negerinya sendirilah yang tiada memujinya. Gereja sudah menyumpahi dia, kerajaan tak memperdulikan dia lagi, dan orang-orang kaum liberaal semuanya mentertawakan dia. Kalau dari luar negeri Rus orang memandang kepadanya, maka seolah-olah tertinggi badannya dari pada hutan rimba yang penuh dengan budak-budak hutan itu; adalah hal itu laksana ialah yang menjadi tubuh bagi kepan-
Polyana itu? Dengan tiada disangka-sangka teringat sajalah kita kepada syair tuan Byron, rnernperbandingkan penanggungan Tasso dengan kernasyhuran Alfonso, hertog d' Este, yang rnernasukkan pengarang "Gerusalernrna Liberata" 1) ke dalarn penjara : Engkau, yang dilahirkan untuk makan-makan dan untuk meninggal dengan hinanya, Sebagai binatang yang telah habis mati, terkecuali bedanya, yakni ada padamu tempat makan yang bagus, dan kandang yang lapang; Dia, dahinya berkerut serta terhias dengan bunga cahaya, Yang semasa itupun sudah berkilat serta menyilaukan mala.
Tolstoy bolehlah disarnakan dengan Tasso :
"Tiap-tiap tahun itu mengadakan jiwa manusia, berjuta-juta banyaknya; biarpun kedatangan bangsa itu lama jua berturut-tu rut, sampai bertimbun-timbun banyaknya, tiadalah juga akan dapat diadakan diantara orang yang ban yak itu, seorang ahli fikir yang semacam tuan. "
Carlijle ada rnengatakan, bahwa adalah suatu rnasanya nama Napoleon itu hanya teringat oleh orang banyak, karena ia sarna-sama dengan Goethe ada di atas dunia ini. Bagi kita tak perlu kita rnenantikan turuli-turunan kita mengatakan bahwa segala pangli- rna, serta segala yang memegang jabatan Pemerintah tinggi yang masyhur-rnasyhur itu, yang diadakan oleh tanah Ruslan di dalam abad yang kesembilan belas bagian kedua, rnereka itu sekalian hanya terpateri dalarn ingatan kita, semata-mata karena mereka sarna-sama ada di atas dunia dengan Graaf Tolstoy.
Cerita-cerita yang dimuatkan di dalam kitab ini namanya "Kesamaan dengan seorang nabi," karena si tajarn pernandangan
Seka-Iian pengajarannya selalu dikembangkannya seluruh dunia dengan jalan perumpamaan atau misal. Adalah beberapa buah banyak cerita-ceritanya itu yang pendek-pendek. Di antara itu dipilihlah yang bagus-bagus, dan rasanya akan disukai orang, baik karena isinya, bail< karena karangannya. Dari cerita-cerita romannya, yang panjang-panjang serta banyak itu tak ada sebuah juga yang dimasukkan ke dalam kitab ini; demikian pula karang-karangannya yang mengandung pengajaran. Banyak amat yang dikarang oleh Tolstoy itu, hingga kalau dikumpulkan sekaliannya boleh menjadikan tiga puluh jilid yang tebal-tebal. Akan tetapi di dalam ceritanya yang lima buah, yang dimasukkan kedalam kitab ini adalah termuat pati pengajarannya itu, yakni pengajaran yang dapat mengenai hati seseorang manusia yang hidup di atas muka bumi ini.
Di dalam Injil segala perumpamaan atau kiasan itu penuh ditaburi dengan hadis nabi Isa; didalam kitab ini bukannya dimasukkan pula percakapan guru yang tertinggi itu dengan orang-orang yang telah berbahagia dapat bergaul dengan dia; sekalian itu dituliskan mereka itu ·belaka. Dalam cakap-cakapnya itu fikiran Tolstoy yang utama itu lebih terang dan lebih bebas, dari pada di dalam karang-karangan yang dituliskannya. "Cakap-cakap di meja makan" tuan Lather lebih diketahui orang dari pada karangan bantahannya yang banyak itu. "Cakap-cakap" Goethe, sampai ke tangan beribu-ribu orang yang belum pernah membacanya karang-karangannya. Oleh sebab itu boleh jadi percakapan dengan Tolstoy itu lebih terang menggambarkan kepada orang banyak, siapa pengarang itu, bagaimana dia, bagaimana fikirannya dan bagaimana ia bekerja. Tentu saja itu lebih terang dari pada membaca karang-karangannya.
Maka adalah saya beruntung dapat tinggal sepekan lamanya di dalam tahun 1888 di Yasnaya Polyana. Tatkala saya hendak mengembangkan peringatan saya yang banyak, sampai berkitab-ki tab tebalnya yaitu peringatan saya tentang percakapan saya dengan Tolstoy itu, peringatan itu hanya saya periksa serta saya
"Cakap-cakap di Moskou", dan pendapatan tentang "kehidupan dikota" keduanya karangan tuan Tolstoy itu. Dalam cakap-cakap yang diadakan oleh tuan Maude dan Long dan yang saya adakan, ada saya campurkan cakap-cakap yang kemudian lagi. Sekaliannya situ mudah-mudahan dapat hendaknya digambarkan dengan seterang-terangnya dan senyata-nyatanya, betapa Graaf Tolstoy itu sebagai manusia, dan bagaimana macam karangannya itu kalau di- perbandingkan dengan karang-karangan lain, biar di dalam bahasa apa sekalipun. Tuan Aylmer Maude beserta dengan isterinya telah sepakat akan menterjemahkan segala karang-karangan Graaf Tolstoy itu ke dalam bahasa lnggeris.
Sekiranya saya ditanyai orang, apa isinya yang ringkas pengajaran nabi itu, tak dapat tiada tak kan saya ubah kata-kata, yang disebutkannya kepada say a di dalam penjara di Holloway, yaitu kira-kira 21 tahun yang telah lalu. Demikianlah bunyinya:
"Perbuatlah dirimu sebagai Isa!" Kata Graaf Tolstoy, "Itulah kebenaran yang sebesar-besarnya. Kita sekalian hendaklah berbuat sedemikian. Haruslah kita merendahkan diri kita serendah tempat orang-orang yang hendak kita tolong, dan hendaklah kita menjadi satu dengan dia -bukannya sebagai malaekat dari alas, melainkan sebagai saudara, kita tolongi dia -itulah kewajiban kita. "Pati pengajarannya itu adalah disebutkan di dalam kalimat yang berikut ini. "Masakan kita say a dan tuan dapat tidur di alas kasur yang lembut lagi halus, kalau kuli-kuli yang mati-mati bekerja itu, rum put kering pun tak ada padanya yang dapat ditidurinya⁰! Sekiranya tuan orang Nasrani, niscayalah tiada akan tertidurkan oleh tuan. Mana hak tuan dan mana hak saya boleh mempunyai harta banyak-banyak, kala saudara kita pun ada di dalam kekurangan selalu?" Di dalam beberapa hal pun tiadalah saya sefJkiran dengan
Oleh karena itulah ada kita berhak meminta keputusan dari atas dari yang lebih tinggi lagi dari padanya.
Sekiranya dibalas atau di jawab segala bantahan orang serta segala yang berlebih-lebihan dibuangkan belaka, tak dapat tiada Graaf Tolstoy itu terdiri di antara kita, orang banyak, sebagai seorang nabi, a tau guru yang dikirim oleh Tuhan; tentulah pekerjaannya selalu hendak menarik mereka itu kembali kepada kebenaran yang kekal. Keadaan yang semacarn itu, yakni seorang guru besar yang termulia, yang dapat menerangkan dengan gembiranya pengajaran yang dinamakan, "Caharilah dahulu kerajaan surga itu!", ada di tanah Ruslan, dan dari ujung jarinya sampai ke ujung rambutnya ia merasai dirinya sebagai seorang Rus yang sejati dian tara bangsa Rus yang banyak itu; tak dapat tiada ia jadi satu musuh besar bagi orang munaflk yang ada didalam zaman ini, sarnalah halnya dengan saudaranya pada zaman purbakala yang kebiasaannya bertanyakan, "Adakah kebaikan yang keluar dari Nazareth?" Jawabnya pun boleh dipakai untuk sekarang, ialah seperti sediakala jua, yakni, "Ya karena sesungguhnyalah Tuhan kita mengadakan guru sebagai dia sendiri, baik di Nazareth, baik di dalam gereja yang di Jerusalem pun." Jadi seorang Rus yang dibenci orang boleh juga menjadi seorang nabi yang mahakuasa, lebih tinggi dari pada orang lnggris yang sudah layak menjadi kawan bagi bangsa Jepang. Karena Tolstoy itu yaitu seorang Rus yang sejati sampai kepada sumsumnya, menurut pertirnbangan orang banyak dia carnpur kepada segala bangsa, akan tetapi yang sebenarnya di dalarn hatinya ia masuk bangsa Rus, dan terbilang ia di dalam bilangan anak penduduk tanah Ruslan yang biasa. Biarlah iasedemikian perinya!! Tak ada seorang jua guru yang
"Kreutzer Sonate". Ialah yang menyangkal pemerintahan besar yang terpegang di dalam satu tangan, akan tetapi ia pulalah yang mentertawakan sangat ujud orang liberaal. Buah tuturnya ialah, "Jangan iblis itu dilawan!"
Selama hidupnya selalu ia memerangi segala yang busuk-busuk, kalau tiada dapat ia melawani iblis itu dengan kekuatan badannya sendiri. Akan tetapi betapa benarlah kekuasaan sifat yang berlawan-lawanan, yang sudah mempunyai badan itu?! Bukantah manusia itu menjadi tubuh bagi sifat yang berlawan-lawan an dan Tolstoy itu pun seorang manusia juga? Tak ada sebuah juga kekurangan atau kealpaan yang acap kali dapat mengalami kita mendengarkan dengung suara ·firman Allah di dalam suaranya yang keras-keras itu.
Dengan per!ahan-lahan dituliskanlah Jnjil bangsa ini, Bukannya di lembar kertas atau di meja battJ:, Tiap-tiap abad, masing-masing bangsa menambah syaimya sebuah, Buah kata kepercayaan atau kecemasan, atau kegirangan atau kedukaan, Dalam pada itu bergerak dengan tiada berhentinya, dan awan meli- puti gunung jua,
PERTAMA
Ceri ta -ceritan ya
Sedang halilintar memecah menjadikan awan bergumpal- gumpal, segala isi dunia duduklah dengan se ntosanya dihadapan kaki gurunya.
W.T. Stead.
Segala cerita yang kita masukkan di dalam kitab ini, disusun menurut dahulu kemudiannya ia ditulis. Yang dua dari pennulaan amat disukai sanga t pula oleh Tolstoy.
Dalam pertanyaan "Apakah yang dinamakan kepandaian" tiadalah Tolstoy meminta tempat untuk salah satu dari pada karangannya, supaya ditempatkan di dalam contoh untuk kepandaian yang halus-halus, hanya karangannya yang bernama, "Tuhan dapat melihat kebenaran itu, tetapi fa menanti saja ", itulah yang ditempatkannya di dalam bahagian yang pertama, yakni dalam bahagian kepandaian dalam perkara agama. Karangannya yang bernama, "Tertawan di Kaukasus" dimasukkannya ke dalam ~acam yang kedua, yakni kepandaian yang biasa. Kedua cerita itu dikarang oleh Tolstoy kira-kira dalam tahun 1870, yaitu untuk suatu serie cerita, yang sengaja dikarangnya untuk kanak-kanak. Yang mula-mula sekali yang diumpamakannya ialah perkara "memberi am pun" (itu amat disukai sangat oleh Tolstoy) yaitu mengampuni nista dan cerca orang kepada kita. Berasa saja pada kita bahasa bagi Tolstoy, perasaan hati orang yang kena dihinakan itu, lebih perlu baginya lagi dari pada segala yang lain-lain, baik dari pacta keputusan hakim ataupun lain-lainnya. Cerita yang kedua, yaitu "Tertawan di Kaukasus" menceritakan perasaan yang biasa-biasa
.dengan selurus-lurus nya, yakni tanda-tanda kepandaian yang sejati. Maka adalah pula dua buah cerita yang asalnya dari cerita-cerita kampung jua. Orang-orang diam pada satu bahagian negeri yang keras aturannya, hingga tak dapat orang mengeluarkan apa yang berasa di dalam hatinya; maka segala cerita-cerita kampung itu kembang sajalah sendirinya dari pada seorang kepada seorang, dan dari pada bapa kepada anak, hingga sampai ia menjadi buah karangan orang Rus. Dari situ merayap pula ia kian kemari, hingga pembaca-pembaca yang di seberang lautan pun dapat mengetahuinya, Yjlitu karena usaha pengarang-pengarang yang tak dikenal dan tak mau menerima upahan sedikit jua pun untuk jasanya itu. Ceri ta-cerita itu sudah berabad-abad umurnya, dan tiadalah ia akan lenyap dari atas dunia ini, jika belum juga sampai apa yang di- ujudkannya, yakni.· segala orang tahu "ke mana perginya" dan pergi pula ia mencari "apa yang dapat olehnya", dan kering pula air mata "nenek peladang yang tua, ibu serdadu-serdadu" itu. Dari kedua macam cerita-cerita kampung itu yang panjang ialah "Genderang yang kosong" Cerita itu meriwayatkan betapa seorang tani mengerjakan pekerjaan dunia, yakni membuat gereja dan menggali sungai, di tempat yang belum ada satu apa pun. Sungguh pun demikian tetap juga ia menjadi hamba pada seorang raja yang sangat lalim. Akhirnya dapatlah ia merusakkan genderang perang, lalu dibuangkannyalah ke dalam laut. ''Iblis dengan roti kering" yaitu dongeng untuk orang-orang yang tak mau lagi meminum minuman keras. Dalamnya ada pula karangan yang lucu boleh di- mainkan di rumah wayang, namanya "Penyadap (yang menuang- kan) yang pertama. "Cerita yang penghabisan "Mahal amat", asalnya dari pada tuan Guy de Maupassant, diubahnya sedikit-sedikit oleh Tolstoy. Yang diujudkannyaialah mengiaskan perkara hukuman mati dan juga perkara aturan rumah penjara.
Dalam bahasa Rus cerita-cerita itu dikarangkan di dalam bahasa yang lazim., yang dapat diketahui oleh segala macam bangsa
pun aturan karangannya dicarinya yang mudah-mudah pula. Karangan itu susah sekali akan diterjemahkan ke dalam bahasa asing, karena adat alat orang tani yang diceritakan itu, tak ada didapati pada bangsa asing. Yang menolong saya serta isteri saya mengarang dongeng-dongeng itu, supaya disukai orang, ialah nona Sheila Jamieson di Cheltenham, yang banyak pertolongannya, hingga kami minta terima kasih banyak-banyak kepadanya.
TUHAN DAPAT MELIHAT KEBENARAN ITU, TETAPI lA MENANTI SAJA
Syahdan pacta sebuah kota, Wladimir namanya, adalah se-
orang saudagarmuclayangbernama lwan Dmitritch Aksyonof. Lain dari pacta dua buah kedai ada juga padanya sebuah mmah tempat diam; ketiga-tiganya itu kepunyaannya sencliri.
Aksyonof itu amat cantik parasnya, rambutnya perang dan berombak-ombak, dan selalu ia berolok-olok dan mcnyanyi-nya nyi. Pacta masa ia lagi muda amat suka ia meminum-minuman keras, suka ria dan gaduh, dan minumnya jahat, akan tetapi semenjak ia kawin tak pernah lagi ia minum. Sudah berubah sangat lakunya.
Sekali peristiwa, ketika musim panas, beringinlah ia hendak
pergi keperjamuan gereja yang dinamakan " Mis" eli kota Niezjni-Novgorod: akan tetapi pacta ketika ia hendak memberi selamat tinggal kepada anak isterinya, berkatalah isterinya itu kepadanya, katanya. "Iwan Dmitritch, janganlah kakanda berangkat hari ini, karena pacla malam ini banyak mimpi buruk yang mengganggu adinda, semuanya berhubung dengan kakanda belaka: tunggulah dahulu !"
Aksyonof hanya tertawa saja, seraya mentertawakan isterinya dan berkatalah ia, "Kau takut gerangan, kalau-kalau aku mulai pula membuat pelesir (kesukaan hati) sesampainya aku di pasar tahunan (pasar malam) itu. "
Sahut isterinya, "Tak tallulah adinda, apa yang adinda takut- kan, tetap sudah pasti adinda bermimpikan kakanda semalam-malaman ini. Adinda bermimpi, tatkala kakanda sudah kembali Jagi dari kota dan kakanda buka topi kakanda, rambut kakanda sudah putih belaka warnanya, menjadi uban semuanya."
Aksyonof tertawa lagi seraya berkata, katanya, "Itu tanda baik. Cobalah lihat, tak dapat tiada segala barang-barang kita ini laku semuany,a, dan lihatlah pula apa macamnya buah t angan
kota."
Setelah itu bersalam-salamanlah ia, lalu berangkat menuju kota Niezjni-Novgorod. Di tengah jalan bertemulah ia dengan seorang, sahabatnya, saudagar pula, lalu berjalanlah mereka itu bersama-sama. Setelah petanglah hari, maka bermalamlah mereka itu pacta suatu persinggahan, Jebih dahulu mereka minum air teh, dan kemudian pergilah mereka ke bilik masing-masing, yang berse- belahan letaknya. Aksyonof bisa bangun pagi-pagi buta, dan karena ia lebih suka. · ::berjalan pada waktu hari masih sejuk, maka dibangunkan- nyalah bujangnya, Jalu disuruhnya memasang kudanya. Setelah itu dicarinya yang puny a rumah itu, jauh dibelakang-tempatnya, lalu dibayarnya belanjanya menumpang, dan berangkatlah ia dengan keretanya. Setelah lamalah ia berjalan itu, maka berhentilah ia sejurus akan melepaskan Ielah kudanya dan memberi makan dia.
Aksyonof berhentilah di muka sebuah kedai, kemudian disuruhnyalah orang memasak air akan diminumnya. Sedang menantikan itu diambilnyalah kecapinya, lalu dimainkannya.
Tak lama antaranya sekonyong-konyong tibalah sebuah kereta besar, loncengnya berdencingan dengan sekeras-kerasnya. Setelah berhentilah kereta itu di tempat si Aksyonof berhenti itu, keluarlah seorang pegawai Pemerintah dari dalam kereta itu, diiringkan oleh dua orang serdadu. Maka pergilah ia kepad~ Aksyonof, lalu mulailah ia bertanyakan, siapa dia dan dari mana ia datang. Tentulah si Aksyonof itu menjawab segala pertanyaan itu dengan selurus-Jurusnya serta dengan keheranannya, kemudian dari pada itu berkatalah ia, "Silahkan tuan bersama-sama kita min urn air teh." Akan tetapi pegawai negeri itu terus juga bertanyakan segala macam pertanyaan kepadanya. Akhirnya bertanyalah tuan itu, " Di mana tuan bermalam tadi malam? Sendirikah tuan? Adakah tuan bertemu dengan kenalan tuan itu pagi ini, dan apakah sebabnya tuan berangkat., sebelumnya matahari naik?"
Aksyonof semakin heran mendengarkan segala macam perta-
"Tuan hamba, apa sebabnya tuan bertanya semacam itu kepadaku? Adakah rupanya itu seolah-olah aku ini seorang pencuri atau penyamun. Aku ini musafir hendak berdagang, dan tak perlu ditanyai orang semacam itu."
Kemudian oleh pegawai itu dipanggilnyalah kedua orang serdadu itu, seraya berkata, "Aku ini inspektur polisi dalam distrik ini, dan aku bertanya seperti tadi itu karena saudagar kenalan tuan, yang sama-sama bermalam dengan tuan itu pagi-pagi ini didapati orang sudah dipotong orang lehernya. Kami hendak memeriksa barang-barang tuan.
Maka masuklah sekaliannya. Pegawai polisi beserta serdadu itu segeralah membuka tempat-tempat barang si Aksyonof, lalu diperiksainya. Tiba-tiba kelihatan oleh pegawai polisi itu di dalam sitak (tasch) Aksyonof.itu sebilah pisau. Lalu bertanyalah ia dengan suara yang keras, "Pisau siapa ini?"
Aksyonof segera memandang kepada inspektur itu. Maka terperanjat sangatlah ia ketika dilihatnya inspektur itu mengeluarkan sebilah pisau penuh dengan darah dari dalam sitak itu.
" Apa sebabnya pisau ini berdarah?", tanya inspektur polisi. Aksyonof hendak menjawab, tetapi sepatah kata pun tak dapat ia mengeluarkan kata, hanya dengan gagap ia berkata,
" Aku ...... tak.. .. tahu ..... tapi itu teran. bukan perbuatanku dan
pisau ini bukan pula aku yang punya."
Setelah itu berkatalah pula inspektur itu, "Pagi ini saudagar itu didapati orang di dalam biliknya sudah dipotong orang lehernya, dan yang dapat memperbuat pekerjaan itu hanya engkau sendirilah. Rumah berkunci dari dalam dan tak ada orang lain di dalamnya, lain dari pacta engkau berdua. Pisau yang berdarah ini aku dapati didalam sitakmu, dan lagi tingkah lakumu sekarang menandakan belaka, bahwa engkau bersalah. Cobalah engkau katakan bagaimana jalannya engkau membunuh dia, dan berapa banyaknya uang yang engkau curi dari saudagar itu?"
Uangnya tak ada yang lain dari pada yang dibawanya dari rumah, yaitu delapan ribu roebel *) banyaknya, dan lain dari pada itu pisau itu bukan dia yang punya. Mengatakan sekalian itu suaranya tertahan-tahan seperti orang ketakutan, mukanya pucat seperti muka mayat, dan ia gementar seluruh tubuhnya, seolah-olah orang yang bersalah sungguh rupanya. Setelah itu diperintahkanlah oleh inspektur itu akan mengikat Aksyonof dan memasukkan dia ke dalarn kereta polisi itu. Tatkala ia dilemparkan ke dalam kereta itu dengan kaki dan tangannya terikat, Aksyonof pun menyeru-nyeru nama Tuhan, lalu menangislah ia dengan sangat pilunya.
Segala wangnya dan barang-barangnya dirampas belaka, dan ia pun dimasukkanlah ke dalam penjara pada sebuah kota, tak jauh dari situ. Setelah itu oleh polisidicarilahketerangan tentang siAks- yonof itu di kampungnya di Wladimir. Ditanyakan bagaimana adatnya dan lakunya dan lain-lain sebagainya. Segala saudagar-saudagar di kota itu serta penduduk yang lain-lain, semuanya mereka menerangkan belaka, bahwa si Aksyonof itu pada masa mudanya ia pernabuk, dan hidupnya terlalu arnat busuk, akan tetapi semenjak ia kawin sekalian yang buruk-buruk itu dibuangkannya belaka, dan hiduplah ia sebagai hidup orang baik-baik.
Syahdan tak lama antaranya perkara pernbunuhan itu pun dibawa oranglah ke hadapan hakirn. Aksyonof dituduh telal1 membunuh seorang saudagar berasal dari Ryazan, dan rnencuri uangnya banyaknya dua puluh ribu rubel. Istrinya kehilangan aka!, tak tahu ia betapa fl.kirannya tentang suaminya itu. Anak-anaknya lagi kecil-kecil dan ada seorang tengah menyusu. Maka pada suatu hari dibawanyalah segala anaknya itu ke kota tempat suaminya itu terpenjara. Mula-mula tak boleh ia masuk, akan tetapi karena air matanya dan pintanya yang amat sangat, diberi jugalah ia rnasuk, lalu diantarkannyalah ia kepada tempat suaminya di terongkokan. Tatkala tampak oleh-
:1kan dirinya lagi lalu gugurlah ke bumi, beberapa saat lamanya. Setelah khabarlah ia akan dirinya, dipeluk diciumnyalah anaknya, dan meniaraplah ia dekat suaminya itu Setelah itu diceritakannyalah segala peri hal di rumah sepeninggal suaminya, dan kemudian bertanyalah ia apa sebabnya maka suaminya sedemikian halnya itu.
Maka oleh Aksyonof pun diceritakannyalah segala hal-ihwal nya kepada isterinya itu. Setelah sudah bertanya pulalah isterinya, "Apa gerangan yang dapat adinda kerjakan hendak menolong kakanda?"
"Kita masukkan surat permintaan kepada Tsaar (kaisar), supaya ~ilepaskan baginda seorang yang tiada bersaJah sedikit juapun."
Kata isterinya, "Sudahlah kami masukkan surat permintaan yang semacarn itu kepada Tsaar, akan tetapi permintaan itu tiada dikabulkan."
A.ksyonof tiadalah menyahu t lagi, tetapi kenyataan benar ia
sudah putus asa.
Maka kata isterinya pula, "Jadi ada juga tabir mimpi adinda yang dulu itu, yakni rambut kakanda ini sudah putih belaka. Adakah kakanda masih ingat? Tak boleh kakanda berangkat pada hari itu, kata adinda."
Seraya mengusal-ngusal ram but suamin.ya berkata lagi ia, "Kakandaku Vanya, katakanlah yang sebenar-benyarnya kepada isteri kakanda, benarkah kakanda sudah membunuh dia?"
Maka kata Aksyonof sambil menutup mukanya dengan kedua belah tangannya dan berlinang-linang air matanya, katanya, "Jadi rupanya engkau pun syak kepadaku."
Pacta ketika itu datanglah seorang serdadu mengatakan, bahwa segala orang luar harus keluar semuanya dari dalarn penjara. Maka dipeluk diciumnyalah sekali lagi oleh Aksyonof anaknya
terft.kir olehnya, bahwa istrinya pun sudah menuduh ia, maka berkatalah ia kepada dirinya sendiri, " Ru pa-rupanya Tuhan sendiri yang tahu yang mana yang benar, jadi kepada Dialah kita menyerah.kan diri kita, dan dari pada Dia pulalah boleh kita berharap akan mendapat ampun." Ia pun tiadalah mau menulis surat pennintaan lagi, dan tiadalah pula ia mau berharap-harap lagi, melainkan kepada Tuhan saja ia meminta. Keputusan hakim ialah : dipukul ia dengan cemeti sekeras-kerasnya dan kemudian dibuang ke Siberie. Setelah itu dilang- sungkanlah hukuman pukul itu atas dirinya, sampai luka-luka besar. Setelah baiklah luka bekas kena pukul itu kembali, ia pun dikirimkanlah ke Siberie beserta dengan orang hukuman yan lain-lain. Dua puluh enam tahun lamanya si Aksyonof itu mengerang di dalam penjara, tak ubahnya ia dengan seorang penjahat besar. Rambutnya sudah putih belaka, dan janggutnya sudah tumbuh dan telah panjang lagi putih warnanya. Riangnya yang selagi ia muda, tak ada sedikitjua lagi, dan jalannya pun sudahmembungkuk dan selalu perlahan-lahan. Berkata-kata ia jarang, tertawa tak sekali jua, melainkan yang rajin ia, ialah meminta doa kepada Tuhan. Di dalam jil (penjara) ia belajar membuat sepatu, dan adalah juga ia mendapat pencaharian sedikit-sedikit dengan pekerjaan itu. Oleh karena itu dapatlah ia membeli kitab-kitab perkara agama, umpamanya : "Cerita peri hidup orang-orang yang keramat". Kalau dalam tempatnya tertutup itu ada cukup terangnya, ia pun segera membaca kitab-kitabnya itu, dan kalau hari Minggu boleh ia menjadi tukang baca di gereja terongkonya itu. Demikian pula boleh ia bernyanyi bersama-sama di gereja karena suaranya merdu adanya.
tuan-tuan yang menguasai penjara itu amat sayang kep!ida si Aksyonof, karena ia tak banyak sebut, semua kehendak orang diturutkannya belaka. Demikian pula orang-orang yang sa ma-sama tertutup dengan dia ada merasa malu dan takut kepadanya, hingga ia digelarkan oleh mereka itu kake" atau "orang keramat". Sekiranya ada mereka berke]:lendakkan apa-apa kepada kepala penjara itu, maka Aksyonoflah yang menjadi ujung lidah, dan apabila ada perselisihan antara orang-orang di dalam penjara, maka dialah yang dipanggil, akan memperdamaikan dan menjatuhkan hukuman.
Tak pernah ia menerima surat dari rumah, entah hid up entah mati anak istrinya itu, tiadalah ia dapat mengetahui.
Syahdan sekali peristiwa datanglah pula sekawan orang hukuman yang akan ditutup di dalam penjara itu jua. Pada petang- nya berkerubunganlah orang-orang tawanan lama itu mengelilingi kawan yang baru datang itu, hendak menanyakan dari kota atau dari kampung mana mereka datang, dan hukuman apa yang di jatuhkan atas diri masing-masing.
Aksyonof pun ada juga duduk dekat orang-orang baru itu. Dengan menundukkan kepalanya, didengarnyalah apa yang diperkatakan mereka itu.
Ada seorang dari pada mereka yang besar dan gemuk badannya dan kuat rupanya, umurnya kira-kira enam puluh tahun, janggutnya pandak, ia sedang menceritakan kepada kawan-kawan nya, apa sebabnya ia sesat ke situ.
Katanya, "Cobalah dengar oleh sahabat-sahabat sekalian, kesalahanku hanya karena aku mengambil seekor kuda yang sedang terpasang; aku ditangkap, lalu dituduh mencuri. Kataku kepada hakim, bahwa maksudku mengambil kuda itu semata-mata supaya aku Iekas sampai ke rumah, dan setelah sampai telah kulepaskan kuda itu kembali. Tambahan pula yang punya kuda itu sahabatku sendiri, jadi dalam fJ.kirku takkan jadi apa-apa."
Kata orang-orang itu, "Mustahil, tentu kaucuri kuda itu." Tetapi betapa dan dimana dicurinya tak dapat mereka menerang-
Siberie ini, tetapi hanya buat sedikit waktu saja."
Maka bertanyalah seorang dari pada mereka itu, "Dari mana kau datang?".
J awabnya, "Dari Wladimir. Kaum keluargaku diam di sana belaka. Namaku si Makar, akan tetapi ada juga digelarkan orang Semyonitch."
Aksyonof mengangkat kepalanya seraya berkata, " Hai Semyonitch, dapatkah engkau mengatakan kepadaku betapa halnya saudagar-saudagar, tuan-tuan Aksyonof di Wladimir? Lagi hidup- kah mereka itu? "
"Masakan takkan kukenal akan mereka itu? Pasti saja kuke- tahui segala hal ihwalnya. Kaum Aksyonof itu sangat kaya, biarpun bapanya ada di Siberie, yakni seorang penjahat yang sama juga dengan kita halnya tak ada ubahnya. Dan kakek sendiri apa sebabnya sesat ke mari?"
Adapun akan Aksyonof itu tak suka ia menceritakan halnya sampai ke tempat itu. Maka mengeluhlah ia, seraya berkata, "Aku sudah duapuluh enam tahun terpenjara di sini semata-mata karena dosaku jua."
Tanya Makar Semyonitch pula, "Dosa apa?" J awab Aksyonof hanya, "Rupa-rupanya dosaku itu patut dihukum dengan seberat ini."
Maka tiadalah ia mau lagi menambah keterangan atas dirinya itu, melainkan yang lain-lainlah yang menceritakan kepada orang-orang yang baru datang itu apa sebabnya si Aksyonof itu sampai ke Siberie, katanya, "Ada seorang-orang telah membunuh se-
sedikit juapun."
Setelah didengar oleh Makar Semyonitch akan cerita orang-orang itu perkara si Aksyonof, ia pun segera memandang kepada si Aksyonof serta mengamat-amati dia dan menepuk-nepuk paha- nya sendiri, "Wah, ajaib sangat, sangat ajaib! Tetapi apa sebabnya kakek sudah setua ini?" Yang lain-lain bertanya kepada si Makar, apa sebabnya maka ia sangat keheran-heranan itu, dan di manakah ia sudah bertemu dengan si Aksyonof itu dahulu? Si Makar Semyonitch tiadalah menyahut sepatah juapun. Hanya yang dikatakannya ialah, "ltu suatu hal yang ajaib, suatu keajaiban besar, keajaiban dunia; masakan dapat kita bertemu di sini kembali? !"
Perkataan itu menerbitkan ingatan kepada si Aksyono f, "Boleh jadi orang ini tahu, siapa yang sebenarnya membunuh saud agar mud a itu." Oleh karena itu bertanyalah ia, "Adakah tuan tahu atau mendengar apa-apa dari perkara itu, atau adakah pernah tuan melihat aku semasa dulu?"
"Pasti saja ada kudengar dari hal perkara itu. Sekalian apa yang terjadi at as d unia selalu diperbincangkan orang. Tetapi itu sudah lama terjadi, dan sebenarnya sudah lu pa aku, apa yang diperkatakan orang dari hal itu."
Si Aksyonof bertanya pula, " Barangkali ada kaudengar siapa gerangan pembunuh yang sebenar-benarnya?"
Makar Semyonitch lalu tertawa dengan perangai bengis rupanya, katanya, " Barangkali si pembunuh itu yaitu orang yang mempunyai bungkusan tempat pisau disembunyikan. Jika sekiranya orang lain yang memasukkan pisau itu ke dalam bungkusan itu, siapa konon yang dapat menuduh dia; bukantah kata orang tua-tua, "Belum kita menjadi pencuri, kalau kita belum kedapatan berbuat sedemikian." Tetapi mustahil boleh jadi orang dapat memasukkan pisau berdarah ke dalam bungkusanmu, yang engkau
bukan?"
Tatkala didengar oleh Aksyonof segala perkataan si Makar itu, maka nyata amatlah padanya, bahwa tak boleh tidak si Makar Semyonitch itulah yang membunuh saudagar itu. lapun segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pergilah ia dari situ. Semalam-malaman itu tak dapat ia menidurkan matanya, biar sekejap sekali pun. Perasaan badannya tak sedap sedikit jua, berma cam-macam fikiran yang melintas di .dalam ingatannya. Lebih dahulu membayang di matanya roman isterinya, yaitu pada ketika ia hendak berangkat ke keram 1ian di kota. Nyata sangat tampaknya ia terdiri di hadapannya, mukanya dan matanya terang kelihatan, hingga terdengar. olehnya suara dan gelak isterinya itu. Setelah lenyaplah bayang-bayang isterinya itu, terbayang pulalah rupa anak-anaknya, yang lagi kecil-kecil itu, masing-masing memakai baju dingin dan yang bungsu didukung oleh ibunya. Kemudian daripada itu terbayang pulalah di matanya rupanya sendiri, yaitu selagi ia muda dan periang. Maka teringatlah olehnya ketika ia duduk di hadapan kedai tengah memainkan kecapinya, dan betapa senang hidupnya sebelum ia tertangkap itu, kemudian serasa tampak pulalah olehnya tempat ia kena pukul itu, serta yang me- mukulnya, dan orang banyak yang datang melihat. Demikian pula tampak olehnya kawan-kawannya yang sama kena hukuman, dan terasalah olehnya tahun yang dua puluh enam jtu lama adanya. Kemudian teringat lagi olehnya, bahwa rupanya sudah sangat tua, sedang umurnya belum seberapa. Amat sedih ia memikirkan hal itu, hingga kalau kurang sabarnya, tak dapat tiada pada seketika itu jua diputuskannya nyawanya.
Dalam hatinya ia berkata, "Sekaliannyaini tersebab oleh kare-
na jahanam itu jua." Marahnya kepada si Makar Semyonitch itu tak main-main adanya, hingga ia bermaksud hendak menuntut balas, meskipun akan melayang nyawanya pada ketika itu jua tiadalah diindahkannya. Setelah itu ia pun membaca doalah sam pai pada pagi hari, akan tetapi sungguhpun demikian tiadalah hatinya itu mau berubah, hingga sehari-harian itu tak mau ia men-
tiad-a ia mau.
Dalam hal yang demikian itu hari pun sudah bertambah larut, sehingga lalulah empat belas hari lamanya. Pada malam hari tak dapat ia mengejamkan matanya biar s~kejap sekali pun. Badannya rasanya bertambah rusak, hingga tak dapat ia memikirkan apa yang hendak diperbuatnya.
Syahdan pada suatu malam pada ketika ia berjalan-jalan bolak-balik di dalam tempatnya itu, tampaklah olehnya ada tanah sebutir berguling-guling dari bawah papan tempat orang-orang itu tidur. Ia pun segera berdiri hendak melihat nyata-nyata. Dengan sekonyong-konyong tampaklah olehnya si Makar Semyonitch itu ke luar dari bawah papan itu; ia terperanjat melihat si Aksyonof. Tetapi si Aksyonof terus saja hendak berjalan, seolah-olah tak tampak olehnya akan si Makar Semyonitch itu. Akan tetapi si Makar Semyonitsch segera memegang tangan si Aksyonof, lalu diceritakannya kepada Aksyonof, bahwa ia tengah membuat lubang melalui bawah tembok dinding kurungan itu. Tanah galian dimasukkannya ke dalam sepatu tingginya, dan besoknya pada waktu hendak pergi kerja,tanah itu ditaburkanpya, sepanjangjalan. Katanya pula, "Diam-diam sajalah kamu, nanti engkau pun lari ke luar. Kalau engkau bukakan rahasiaku ini, tak dapat tiada aku dipukul lagi setengah mati, akan tetapi percayalah engkau, bahwa sebelumnya rotan mengenai badanku, arwahmu itu tentulah sudah melayang arah ke neraka! "
Si Aksyonof gemetar seluruh tubuhnya ketika ia berhadapan dengan musulmya itu, gemetar bukannya karena ketakutan, melainkan karena sangat amarahnya. Katanya seraya merenggutkan tangannya daripada pegangan si Makar Semyonitch itu, " Aku tak mau lari dari sini, dan engkau pun tak perlu membunuh aku, karc- na perbuatan itu sudah kau jalankan padaku, dan ten tang menceritakan perbuatanmu itu kepada orang lain, itu kuasa Tuhan jua."
Pada keesokan harinya ketika orang-orang hukuman itu dibawa ke tempat bekerja, maka keliliatanlah oleh salah seorang dari
Seorang pun lak ada yang lahu mencelakakan si Makar Semyonitch ilu, karena mereka lahu belaka bagaimana beral hukumannya. Achirnya karena kehilangan aka!, dipanggillah si Aksyonof, karena kepala penjara (direklur) lahu, bahwa orang ilu seorang yang baik hali. Selelah liba lalu dilanyai, "Aksyonof, aku lahu engkau seorang tua yang lak mau berdusla, oleh sebab ilu, dengan karena Allah cobalah cerilakan kepadaku siapa yang menggali lubang ilu?"
Makar Semyonitch ada berdiri serlanya, lelapi lak ada ia menaruh genlar sedikil jua pun, dan ia berdiri ilu seolah-olah hendak mendengarkan orang memperkalakan sualu perkara yang lak ada bersangkutan sedikil jua dengan dia. Aksyonof lak ada sekali jua dipandangnya. Tangan dan bibir Aksyonof gemelar, dan ada beberapa saal lamanya lak dapal ia mengeluarkan kala sepalah jua pun. Dalam halinya berflkir ia, "Apa gunanya aku kasihani orang yang sudah mencelakakan aku unluk seumur hidupku. Biarlah dilanggungnya pula apa yang lelah kurasai. Akan lelapi kalau aku cerilakan barangkali ia dipukul sampai mali; sebagai pula bolehkah lagi aku menuduh dia dengan lak ada iamempunyai salah? Akhirnya apa faedahnya bagiku mencerilakan hal ini kepa- da pembesar itu?" Maka berlanya pulalah direklur ilu sekali lagi, "Hai sahabal, cerilakanlah yang sebenar-benarnya kepadaku siapa yang membual lubang itu?" Aksyonof memandang kepada si Makar Semyonilch, seraya berkala, "Tuan direklur, tak dapal hamba mengalakannya. Bukannya kemauan Tuhan, hamba akan membukakan rahsia ilu. Tuhan perbuatlah alas diri hamba, apa yang luan sukai, hamba ada di dalam langan luan."
Selelah itu bermacam-macam perlanyaan direklur ilu, akan
Pad a petang itu, ketika si Aksyonof sudah berbaring di atas ternpat tidurnya, dan harnpir-hampir ia tidur, tibalah seorang-orang pada tempatnya itu. Dengan perlahan-lahan, orang itu pun duduk di tepi tempat tidur si Aksyonof, hingga sedarlah ia. Maka diperhatikannya benar-benar orang itu di tempat yang gclap itu, hendak mengetahui siapa yang datang duduk pacta tempat tidurnya; akhirnya dikenalinyalah bahasa ia itu si Makar jua adanya.
Maka Aksyonof pun bertanya kepadanya, "Apa lagi yang kau kehendaki daripada ku sekarang? Apa sebabnya maka engkau datang kemari?"
Makar Semyonitch tak berkata apa-apa, dan Aksyonof pun segeralah duduk, seraya berkata pula, "Apa kehendakmu? Pergilah dari sini! Kalau tidak, aku panggil penjaga nanti."
Makar Semyonitch segera membungkuk dan sujud kepada si Aksyonof, seraya berkata, "Iwan Dmitritch, ampunilah aku!"
Si Aksyonof bertanya, "Apa yang akan kuberi ampun?" "Akulah yang membunuh saudagar itu, dan akulah yang memasukkan pisau benlarah itu ke dalam bungkusanrnu. Maksudku pada masa itu hendak membunuhmu juga, akan tetapi aku dengar suara orang di luar. Maka kusembunyikanlah pisau itu di dalam sitakmu, dan melompatlah aku darijendela."
Aksyonof tiada berkata-kata sepatah juapun, dan tak tahu pula ia apa yang hendak dikatakannya. Maka Makar Semyonitch itupun lalu meluncurkan dirinya dari alas tempat tidur di Aksyonof, serta berlututlah ia di hadapan si Aksyonof, katanya, "Hai !wan Dmitritch, arnpunilah aku. Dengan karena Allah berilah aku ampun. Nanti aku terangkan ke kepada pembesar, ba!Jwa aku yang membunuh saudagar itu. Engkau pun niscayalah dilepaskan dari dalam penjara dan dapatlah engkau pulang ke kampungmu."
Kata Aksyonof, "Mudah amat cakapmu, tetapi tak main-main banyaknya yang telah kurasai di dalam dua puluh enam
"
Makar Semyonitch tak mau bangkit dari berlutut itu, hanya kepalanya yang diempas-empaskannya ke bumi, katanya, "!wan Dmitritch, ampunilah aku' Kena pukul dengan rotan rasanya tak
sepedih melihat engkau semacam ini sekarang ............. Sungguhpun
kautahu sekaliannya, kaumenaruh belas kasihan juga kepadaku, dan tak kaukatakan juga kepada pembesar penjara ini, bahwa aku yang membuat lubang itu. Ampunilah aku' Si jahanam aku llll... "
Tatkala si Aksyonof mendengar si Makar Semyonitch itu menangis tersedu-sedu, tak tertahan pulalah olehnya akan air rna tanya mengalir di pipinya.
Maka katanya, "Tuhan akan mengampuni kamu. Barangkali jua aku seratus kali lebih jahat dari padamu." Pacta ketika itu hatinya pun tanggal daripada dunia ini, dan ia pun tak beringin hendak pulang ke rumahnya kembali lagi. Ia tak mau meninggalkan penjara itu lagi se umur hidupnya, yang diharap-harapnya, ialah supaya malakulmaut Iekas datang kepadanya.
Apa sekali pun yang dikatakan oleh si Aksyonof kepada si Makar Semyonitch itu, semuanya sia-sia belaka, karena si Makar itu pergi jua ia kepada pembesarnya akan menceritakan perbuatannya pacta masa dulu itu, yaitu yang menyebabkan si Aksyonof masuk terongko itu. Sekaliannya diceritakannya dengan selurus- lurusnya dan seterang-terangnya. Tetapi perbuatan si Makar itu sia-sia pula, karena pacta ketika datang surat raja menyuruh melepaskan si Aksyonof itu dari dalam penjara, pacta ketika itu pulalah nyawanya berpindah dari negeri yang fana ke negeri yang baka.
(Dikarang dalam tahun 1870, dalam seri yang bernama Tolstoy's "Verhalen voor kinderen" (Cerita untuk anak-anak).
DIKAUKASUS
BAB YANG PERT AMA
Maka adalah seorang opsir, Zhilin namanya; ia ditempatkan di dalam tentara bagian Kaukasus. Pada suatu hari diterimanya sepucuk surat dari kampungnya. Surat itu dari ibunya, isinya ialah, "Bunda sudah tua, dan sebelumnya bunda mati, beringin sangat bunda hendak melihat anak- anda sekali lagi. Datanglah memberi selamat sekali lagi kepada bunda, dan akan menguburkan bunda! Sesudah itu, kalau dikehendaki Tuhan, kembalilah engkau ke pasukanmu lagi beserta dengan doa selamatku. Bunda ada mendapat seorang perempuan bagimu, ia berfikiran dan baik hati, dan lagi ada pula ia beruang sedikit. Kalau sekiranya dapat setuju dengan hatirnu, bolehlah engkau kawin dengan dia, dan boleh pulalah engkau tetap tinggal di ru- malL"
Si Zhilin pun menirnbang di dalam hatinya mana-mana yang baik. Sesungguhnyalah ibunya itu semakin lama semakin lemah badannya, barangkali sekali ini jua dapat ia melihat ibunya itu selagi ia hid up. Yang sebaiknya ialah, pulang juga ia sebentar, dan bila sebenarnya perempuan itu baik hati seperti kata ibunya itu, apa salahnya ia takkan mau kawin dengan dia. Ia pun pergilah menghadap kolonel akan minta permisi. Setelah dikabulkan permintaannya itu, ia pun memberi selamat tinggal kepada kawan-kawannya; serdadu-serdadu diberinya empat tahang berendi, supaya dapat mereka itu bersuka-sukaan. Setelah itu berlengkaplah ia.
Pada ketika itu orang sedang berperang-perangan di .Kaukasus. Jalan-jalan tak ada yang aman baik siang, baik pun malam. Kalau seseorang Rus berani berjalan jauh-jauh dari bentengnya, tak dapat tiaQ.a ia dibunuh oleh orang Tartar atau dibawanya ke
Oleh sebab itu dibuatlah aturan: tiap-tiap pekan ada suatu pasukan serdadu pergi dari satu benteng kepada bent eng yang lain. Orang-orang musafir bolehlah mengikut bersama-sama. Syahdan pacta ketika itu hari sedang musirn panas. Waktu hari sudah mulai siang, gerobak-gerobak pun dirnuatlah dekat dinding tembok benteng itu. Setelah itu ke luarlah serdadu-serdadu dan segala musafrr menurutlah di belakang. Zhilin pun mengendarai kuda, barang-barangnya dimuatkannya ke dalam suatu gerobak, dan gerobak itu ada di tengah gerobak yang ban yak. Yang harus di jalani mereka itu adalah enam belas batu jauhnya. Gerobak-gerobak itu lambat jalannya, terkadang- kadimg ada pula rodanya yang tanggal, atau kudanya yang berhenti tak mau menghela lagi. Oleh karena itu terpaksalah serdadu-serdadu itu berhenti, menantikan gerobak itu dulu. Orang-orang lain pun terpaksa, pulalah bernanti. Tatkala sudah lewat pukul dua belas yaitu melihat tempat matahari, jalan yang sudah tertempuh belum cukup lagi seperdua daripada panjang jalan. Debu banyak, hari panas, matahari memancarkan sinarnya tak main-main panasnya; tempat yang teduh tak ada sedikit jua, tempat yang ditempuh itu seolah-olah suatu dataran yang gundul rupanya, dan sekeliling atau sepai;J- jang jalan itu tak ada pohon a tau belukar barang sebatang jua pun. Zhilin berjalan di muka sekali, kadang-kadang berhentilah ia, sampai gerobak barang-barang itu sudah ada pula dibelakangnya. Kalau sudah demikian maka diteruskannya pulalah perjalanan itu. Demikkianlah halnya sepanjang jalan. Pacta suatu. tern pat terdengar pula bunyi serunai, alamat menyuruh orang banyak berhenti. Zhilin pun berhenti pulalah, tetapi di dalam hatinya ia berfikir, "Lebih baik kuteruskan perjalanku dengan seorang diriku, kudaku kuda bangsa baik; sekiranya orang Tartar itu memburu aku, dengan mudah juga aku dapat meninggalkannya. Tetapi sungguh pun demikian, lebih baik aku nantikan juga yang lain-lain dulu."
Dalam berfikir sedemikian datanglah seorang opsir lain kepadanya, Kostilin namanya, di tangannya, ada bedil sepucuk. Katanya kepada si Zhilin, "Zhilin, marilah kita teruskan berdua
Panas hari tak main-main; badanku basah ken a peluhku."
Kostilin seorang yang besar badannya, serta bidang dadanya. Peluhnya bertitik jatuh dari mukanya. Pad a mulanya ZI-lilin kurang suka rupanya, akan tetapi akhimya bertanyalah ia, "Senapangmu ada berisi?".
"Ya.''
"Kalau begitu baiklah, marilah kita berjalan terus, tetapi dengan perjanjian kita tak boleh bercerai."
Setelah itu dijalankannyalah kudanya melalui jalan yang melintang tanah yang datar itu. Sungguhpun mereka itu bercakap-cakap, tetapi matanya selalu dilayangkannya ke kiri dan ke kanan, akan melihat, kalau-kalau ada musuh. Sampai beberapa jauhnya, dapat nyata kelihatan apa-apa yang ada sekelilingnya itu. Setelah terlampaulah tanah datar itu, mereka pun sampailah ke tanah yang berbukit-bukit; jalan yang akan dilalui mereka itu menuju suatu !em bah yang diapit oleh dua buah bukit barisan yang tinggi. Kala Zhilin, "Lebih baik kita daki dulu bukit itu, supaya dapat kita melihat ke kiri dan ke kanan. Kalau tidak begitu, jangan-jangan dengan sekonyong-konyong kita dikepungnya nanti oleh orang Tartar itu."
J awab Kostilin, "Apa lagi gunanya kita bersusah payah sedemikian? Lebih baik kita terns saja!"
Zhilin tak mau meneruskan pe!jalanannya, katanya, "Tidak, aku hendak pergi juga melihat dahulu. Kau boleh bernanti di sini, kalau kau mau." Ia pun segera memalingkan kudanya ke kiri menuju kaki bukit itu. Kuda si Zhilin itu kuda pacuan, karena itu kencangnya mendaki bukit seolah-olah bersayap ia rupanya. Dibelinya dahulu seratus rube!, yaitu ketika lagi kecil; setelah cukup umurnya di- ajarnya sampai sepandai-pandainya. Setelah sampailah ia ke atas puncak bukit itu, maka kelihatanlah olehnya kira-kira tiga puluh orang Tartar, b.elum sampai seratus meter jauhnya dari tempat si
dcngan segera membalikkan kudanya dan dipacu-
nya; tetapi orang Tartar itu pun ada pula melihat si Zhilin, lalu diburunya si Zhilin. Sambi! mengejar, senapangnya diisinya jua. Si Zhilin scbagai tcrbang rupanya; dalam berlari itu berkatalah ia kepada Kostilin. "Bersedialah engkau dengan senapangmu1"
Dalam hatinya ia berkata kepada kudanya, "Hai kekasil1ku,
tolonglah lcpaskan aku daripada bahaya ini, janganlah tersandung-
sandung kakimu' Kalau engkau tersandung, tak dapat tiada aku binasa. Kalau sudah ada senapang di dalam tanganku, takkan mudah orang menangkap aku."
Tatkala Kostilin melihat orang Tartar itu, ia pun dengan segcra mcmacu kudanya dengan secepat-cepatnya menuju bentengnya, dan tiadalah ia mau menantikan si Zhilin dulu. Kudanya dipacunya dengan sekencang-kencangnya, hingga dengan sekejap mala jua gaiblah ia dari pemandangan.
Zhilin merasa benar, ia di dalam bahaya besar, senapang sudah tak dapat diharap lagi. dan apalah dayanya dengan pedang yang sebilah itu. Ia mau memalingkan kudanya lagi hendak mengejar pasukan yang mengiringkan gerobak itu; akan tetapi pacta ketika itLt kelihatan pula olehnya enam orang Tartar sudah memintas jalannya.
Kudanya betul bangsa yang baik, akan tetapi kuda orang Tartar itu lebih bail< lagi sifatnya, sebagai lagi mereka sudah terdahu- lu. Ia akan memperhentikan kudanya hendak mengambil arah lain, akan tetapi karena kencang lari kudanya tak dapat ia berhenti pad a ketika itu juga, melainkan ten1s juga ia menuju arah orang Tartar. Maka dilihatnya seorang-orang Tartar janggutnya merah, ialah yang datang mengejar si Zhilin dengan seekor kuda putih, scnapangnya ditujukannya kepada si Zhilin, giginya digertakkan- nya, dan suaranya laksana bunyi halilintar.
Zhi!in berfikir di dalam hatinya, "Aku tahu betul apa macamnya bangsa ini, tak ubahnya dengan setan yang merupakan badan manusia. Jika dapat ia menangkap aku, tak dapat tiada aku dilemparkannya ke dalam sebuah lubang yang. dalam, dan akhir-
olehnya."
Meskipun si Zhilin itu badannya tiada besar dan tiada kuat pula, tetapi keberaniannya tak ada hingganya. Dengan segera dihunusnya jembiahnya dan dipacunya kudanya menuju orang Tartar yang berjanggut merah itu. lalu katanya, dalam hatinya. "Nanti ku langgar ia atau ku penggal lehernya."
Belum sampai lagi ia tiga meter memacu kudanya, orang pun sudah menembak dari belakang; tetapi untunglah tak kena, hanya kudanya yang kena, hingga jatuhlah ia pacta ketika itu juga. Zhilin pun terbawa jatuh bersama-sama.
Tatkala Zhilin hendak berdiri, sudah ada dua orang Tartar yang datang menangkap dia. Maka diikatnya tangan si Zhilin, akan tetapi segera juga ia menguatkan tenaganya, hingga terlepas pula ia daripada ikatan itu: akan tetapi ketika dilihat oleh orang Tartar yang lain, si Zhilin demikian halnya, maka tiga orang daripada mereka itu segeralah melompat dari alas kudanya membantu kawannya yang berdua itu. Maka dipukulnyalah si Zhilin itu dengan bedilnya, hingga ge!ap pemandangan si Zhilin dan jatuh terjerembab ke bumi. Orang Tartar pun lalu menangkap dia, kemudian diambilnyalah tali dari sela kudanya, diikatnya rat-rat kedua belah tangan si Zhilin itu dari be!akang.
Topi si Zhilin diambil oleh rnereka itu, sepatunya ditanggal- kan, dan seluruh pakaiannya habis dirobek-robeknya. Uangnya dan arlojinya dirarnpasijuga.
Setelah si Zhilin berdiri, memandanglah ia ke kiri dan ke kanan hendak melihat kudanya. Kasihan, dia sudah terguling di tanah, tak ada ubahnya dengan ketika ia jatuh, seakan-akan hendak berdiri ia kembali. Kepalanya berlubang kena pe!uru dan tak berhenti berdarah yang hampir kehitam-hitaman warnanya ke!uar dari lubang itu, hingga tanah yang dialirinya pun seolah-olah menjadi lumpur rupanya.
Seorang daripada rnereka itu. pergilah kepada kuda si
Zhilin, lalu d)tanggalkannya pelananya. Akan tetapi kuda itu
orang-orang itu, akan tetapi tak dapat karena matanya sudah direkat oleh darah kering itu, menoleh ke belakang pun amat susah jua ia. Pada ketika itu haripun sudah mulai gelap, maka diteruskannya jua perjalanan itu, sampai mereka bertemu lagi dengan sebuah
Pacta waktu itu tanahnya sudah mulai bcrbatu-batu. Tak lama antaranya sesudah itu tcrciumlah olch mereka bau asap kayu terbakar, dan terdengar pulalah bunyi anjing menyalak (menggonggong). Mereka itu sudah sampai kepada sebuah kampung orang Tartar, Aoul namanya. Maka bcrhentilah mereka itu, lalu turunlah dari alas kuda masing-masing. Kctika tampak oleh kanak-kanak ada seorang tawanan. maka mereka itu bcrtempik dan bersoraklah, tak main- main girangnya, karena akan puas hatinya melempar si Zhilin itu ctengan batu. Si Janggut Mcrah lalu mengusir kanak-kanak itu, dan dihelakannya si Zhilin dari alas kudanya; kcmudian dipanggilnya- lah bujangnya. Tak lama antaranya datanglah orang yang dipang- gilnyaitu yaitu seorang-orangyangtinggi tulangmukanya, bajunya
rom pang-ramping, hingga kelihatan seluruh badannya yang st:belah atas. Maka bujangnya itu disuruhnyalah mengambil pasung, yakni dua kcrat kayu yang keras scrta bcrat dipertemukan dengan cincin-cindn besi. Pacta salah satu cincin itu adalah sebuah induk kunci. Setelah bujang itu kembali. tangan si Zhilin pun dilepaskan oranglah daripada ikatannya. tetapi kakinya dipasung, hingga susah ia jika hendak bcrjalan. Ia pun diseret oranglah kepada sebuah gudung, lalu dimasukkan ke dalam, dan dikunci pintunya duri luar. Si Zhilin pun rebahlah di atas seonggok pupuk, ado bebenpa lamanya ia terguling sedemikian dengan tiaJa bergerak seUE:it juJ.- pun, akhirnya lepaslah kesakitannya sedikit, lalu dirabanyalah tempatnya itu kiri kanan hcndak mencari tempat yang baik ditidu- ti. Setelah dapat, direbahkannyalah dirinya eli situ, lalu dicoba-co banya menidurkan matanya.
ANG KEDUA
Semalam-malaman itu tak dapat si Zhilin menidurkan matanya. Pada masa itu malarn pandak-pandak, dan tak berapa jua lamanya sesudah tengah malam, dapatlah orang melihat cahaya siang dari sela-sela dinding. Zhilin pun segera bangun lalu digaruk- garuknya dinding, supaya lubang dinding itu bertambah besar dan Iebar. Setelah itu memandanglah ia ke luar.
Dari lubang itu dapatlah di.lihatnya, bahwa ada sebuah jalan, yang arahnya pergi ke lembah rupanya. Sebelah kanan ada sebuah pondok orang Tartar~ dan dua batang kayu di hadapannya. Dekat pintunya ada seekor anjing hitam tengah tidur dan lain daripada itu adalah seekor kambing dengan anak-anaknya berjalan-jalan mengelilingi pondok itu, ekornya diangkatnya ke atas. Kemudian tampak pulalah olehnya seorang perempuan Tartar yang berbaju panjang dan Iebar dan berwarna-warna, di bawah bajunya itu kelihatan celananya dan sepatu panjangnya. Di atas kepalanya di- hamparkannya sehelai baju dingin, dan di atas baju dingin itu ada sebuah tempat air besar, daripada kaleng, penuh berisi air. Tangannya yang sebelah memegang tangan seorang kanak-kanak Tartar, yang berambut pandak dan hanya memakaf kutang saja sehelai. Ketika ia memikul air itu kelihatan nyata segala urat-urat daging punggungnya bekerja belaka, mengerenyut rupanya. Air itu dibawanya masuk pondok itu, dan tak lama antaranya sudah itu datanglah dari dalarn pondok itu orang Tartar yang berjanggut merah itu, bajunya baju sutera, eli sisinya tergantung sebilah jembiah yang berhulu perak. Ia bersepatu dan kepalanya ditutupnya dari belakang dengan sebuah kopiah tinggi dari pada bulu domba. Setelah sarnpai ia di luar pondoknya, diregang-re gangnyalah badannya, dan ditarik-tariknya janggutnya. Maka berhentilah ia sejurus dan dipanggilnya bujangnya, diberinya perintah, kemudian pergilah ia.
Si Zhilin berteriak, hingga segala kanak-kanak itu berhamburan lari dengan sekencang-kencangnya, seraya bersorak-sorak. Ketika ia berlari kelihatan lutut mereka itu berkilat-kilat. Si Zhilin sangat dahaganya dan kerongkongannya kering, oleh sebab itulah ia berftkir didalam hatinya, "Tak lain harapanku pada waktu ini melainkan, datanglah orang melihat akan daku ke mari."
Sekonyong-konyong terdengarlah olehnya bunyi orang membuka pintu gudang itu. Setelah pintu terbuka, kelihatanlah olehnya si J anggut Merah masuk ke dalam gudang itu bersama-sa rna dengan seorang Tartar lain, yang Jebih kecil badannya daripada si J anggut Merah itu, mukanya kehitaman, matanya hi tam dan selalu bergerak; pipinya merah, dan janggutnya pandak. Rupanya ia orang yang suka beriang-riang hati, dart ia selalu tertawa saja. Pakaiannya lebih indah-indah lagi daripada si Janggut Merah. Bajunya baju panjang daripada sutera biru, serta bertabur mas pinggimya. Di pinggangnya kelihatan sebilah keris perak, sepatunya sepatu rendah daripada kulit kambing, dihiasi dengan perak, di luar sepatu pandak itu ada pula sepatu sepasang daripada kulit tebal; kepalanya ditutupnya dengan sebuah songkok bulu domba.
Si Janggut Merah itu masuk lebih dahulu, merengut-rengut, seolah-olah ada yang menyakitkan hatinya. Setelah itu bersandar- lah ia pada tiang pintu, tangannya mempermain-mainkan hulu kerisnya, matanya mengerling kepada si Zhilin seperti orang yang mengintai lawannya. Orang yang seorang lagi jalannya seperti orang berjalan di atas bulu berunggun-unggun. Ia terus saja mendapatkan si Zhilin; setelah dekat lalu dud ukiah ia di hadapan taw an-
"Giginya yang dua baris itu nyata kelihatan, matanya selaku dikejam- kejamkannya, lidahnya dibunyikannya dengan tiada berhentinya. Dalam cakapnya yang panjang itu tak berhentinya disebutnya, "Orang Rus yang baik hati. Orang Rus yang baik hati."
Si Zhilin tak mengerti sepatah jua segala apa yang disebut oleh orang Tartar itu. Yang teringat olehnya pada waktu itu ialah meminta air; itulah sebabnya ia berkata, "Minum, beri aku air!"
Orang Tartar itu tertawa lagi, "Orang Rus yang baik hati," katanya pula, lalu dimulainyalah pula berpidato panjang.
Si Zhilin mengetahuilah, bahwa orang tak mengerti apa maksudnya, oleh sebab itu digerakkannyalah tangannya dan bibirnya hendak mengisyaratkan, bahwa ia beringin sekali hendak minum.
Barulah orang itu mengerti, lalu tertawalah ia dan memandang ke luar pintu, seraya berseru, " Dina! "
Tak lama antaranya masuklah seorang anak perempuan dengan tergopoh-gopoh, umurnya kira-kira tiga belas tahun; badannya sating lagi besar, dan mukanya tak berlainan sedikit juga dengan orang Tartar itu. Agaknya itulah gerangan anaknya. Bajunya gaun hijau panjang, dan lengan bajunya lebar, pinggangnya tiada diikatnya. Bajunya itu pinggirnya) lengannya ·dan hadapannya dihiasi dengan warna merah. Celana nya panjang, di kakinya ada sepasang sepa~u pandak, dan di luar sepatu pandak itu ada lagi sepatu sepasang daripada kulit tebal, yang tinggi tumitnya. Lehernya dihiasi dengan sebuah rantai daripada mata wang perak Rus. Ia tiada memakai topi. Rambutnya yang hitam itu beJjalin dengan sebuah pita dan dihiasi lagi dengan benang mas dan mata uang.
Setelah ia masuk maka bercakaplah ayahriya itit dalam bahasanya. Kemudian pergilah anak itu, dan tak lama antaranya kembalilah ia dengan membawa sebuah. cerek timah putih. Maka diberikannyalah cereknya itu kepada si Zhilin, lalu duduklah ia men-
"Ayda, tuan, Ayda!"
Bujang itupun rupanya tak pandai bahasa Rus, dan menurut tingkah laku orang itu, rupanya si Zhilin disuruh pergi kepada sesuatu tempat.
Maka si Zhilin pun brngun, lalu diikutinyalah bujang itu dengan pincangnya dan susahnya, karena kayu pasungnya itu menyakitkan kulit kakinya karena kurang mau berputar, hingga amat susahlah ia berjalan menurutkan bujang itu. Setelah sampai ia di luar pintu, kelihatanlah olehnya kampung orang Tartar itu, yang rumahnya kira-kira sepuluh buah, dan di tengahnya ada sebuah mesjid, menaranya kecil. Di hadapan sebuah pintu dari pada rumah-rumah itu ada tiga ekor kuda tertambat, cukup dengan alat pakaiannya dan adalah seorang kanak-kanak yang memegang tali kuda itu satu-satunya.
Orang Tartar yang rupanya kehitaman itu keluarlah dari rumah itu, dan di isyaratkannya kepada si Zhilin akan mengikut dia ke dalam rumah. Ia tertawa lagi, lalu berkata pula dalam bahasanya, kemudian masuklah ia. Bilik yang dimasuki si Zhilin itu
Pacta dinding yang sebelah hadapan ada setumpuk kasur daripada bulu beruang, yang bersarung putih dan bersih rupanya. Dinding itu kiri kanan dilapisi dengan permadani, yang amat mahal-mahal harganya. Di alas perrnadani itu digantungkan bedil, pestol dan pedang beberapa buah, semuanya ditaburi dengan pcrak belaka. Dekat salah satu dari pada dinding itu ada sebuah perkakas untuk pemanaskan bilik, berdiri di lantai itu saja. Lantainya itu rata dan licin sebagai kaca. Disudut bilik itu ada disediakan orang tempat duduk yang beralas dengan kain yang berbulu-bulu. Di atas kain itu ada pula tikar kecil dan diatas tikar kecil itu ada banta! yang berisi dengan bulu angsa. Maka di atas banta! yang semacam itulah kelima orang Tartar itu duduk, yang pertama orang yang kehitaman itu, yang kedua si J anggut Meral1, dan yang lain tiga orang jamu. Yang dipakai mereka itu ialah sepatu di rumall, punggungnya disandarkannya kepada sebuah banta!. Seorang-seorang ada bantalnya. Di hadapannya masing-masing ada pula sekerat papan bulat, di atasnya terletak kue gandum. Lain daripada itu ada lagi sebuah cawan yang berisi mentega yang sudah dijalang- kan, dan secawan buza, yakni minuman bangsa Tartar. Kue dan mentcga itu dimakan mereka itu dengan tangannya saja.
Orang yang kehitaman mukanya itu bangun melompat dari tempat duduknya, lalu diperintahkannya memindahkan si Zhilin pacta sisi yang lain, tak boleh ia duduk di atas tikar, melainkan di atas tanal1 saja. Setelah ia berkata demikian, ia pun duduklah di tempatnya kembali, serta dipersilahkannya juga kawan-kawannya memakan kue gandum dan meminum buza itu. Maka bujang itu pun segera memindahkan si Zltilin ke tempat yang ditunjukkan itu, kemudian ditanggalkannya sepatu luamya, diletakkannya dekat sepatu yang lain-lain dekat pintu. Setelah itu duduklah ia beserta dengan tuan-tuannya, seraya memandang kepada mereka yang tengah makan itu. Be tapa jilat bibirnya, tak dapat dikatakan.
Maka makanlah mereka sampai sekenyang-kenyangnya. Setelah itu datanglall seorang perempuan, sama benar pakaiannya dengan si Dina, yakni bergaun panjang, bercelana panjang, bertu-
tan- ngan dengan sebuah cerek yang kecil mulutnya.
Orang-orang Tartar itu segera membasuh tangannya, dan di- kempakannyalah kedua belah tangannya itu. Setelah itu berlututlah mereka itu, kemudian mendoa. Setelah beberapa saat lamanya mcreka bercakap-cakap, maka salah seorang daripada mereka itu memalingkan mukanya kepada si Zhilin, seraya berkata dalam bahasa Rus.
Katanya, sambil menunjuk kepada orang Tartar yang beijang- gut merah itu, "Engkau ditawan oleh Kazi Muhammad, dan Kazi \1:uhammad telah menghadiahkan kamu kepada Abdul Murad; Abdul Murad yang jadi tuanmu sekarang." Sambi! mengeluarkan perkataan itu ia menunjuk kepada orang yang mukanya kehitaman itu.
Zhilin berdiam diri saja. Maka Abdul Murad pun mulailah pula membuka suara seraya tertawa dan menunjuk kepada si Zhilin lalu katanya, "Serdadu Rus, Rus yang baik hati "
Kala juru bahasa itu pula, "Dia menyuruh kamu membuat surat ke rumahmu. Orang di mmah hendaklah mengirimkan uang tebusan ke mari. Setiba uang itu kau dilepaskan dari tawanan."
Si Zhilin berfikir sejurus, lalu bertanyalah ia, "Berapa dimin- tanya?"
Orang Tartar itu bermupakatlah bersama-sama, kemudian disampaikan juru bahasalah, bahwa yang diminta orang-orang itu, yaitu tiga ribu rubel banyaknya. Jawab si Zhilin, "Tidak, jika sebanyak itu tentu saja tak ter- hayar oleh ihuku."
Si Abdul melompat pula sekali lagi, lalu berpidato panjang pulalah ia kepada si Zhilin seperti dahulu, karena pacta persangkaannya si Zhilin ada mengerti akan segala apa yang diperkatakannya itu. Sedang berkata-kata itu tangannya dilambai-lambaikan- nya dengan sekuat-kuatnya.
"Berapa gerang-
an kau suka membayar?"
Si Zhilin berfikir sejurus, lalu berkata, "Lima ratus rube!." Setelah bercakap-cakaplah mereka itu bersama-sama dengan tak main-main cepatnya dan gaduhnya,. karena sama-sama membuka mulut, si Abdul memekik-mekik dan memandang kepada si lang- gut Merah dengan amat cepat buah tulurnya, hingga berhamburan air ludahnya. Si Janggut Merah berdiam diri saja, hanya matanya yang dikejamkannya dan lidahnya yang dibunyi-bunyikannya.
Setelah beberapa lamanya maka berhentilah gaduh itu dan
berkata pulaJah juru bahasa itu, "Lima ratus rube! tak cukup bagi tuan. Ia sendiri telah membelimu dengan harga dua ratus rube!. Kazi Muhammad ada berutang kepadanya, dan dari itulah diam bil- nya engkau akan ganti bayaran. Tiga ribu rube!. Tak kurang sedikit juga. KaJau tak mau kau menulis, kau dimasukkan ke dalam lubang, kemudian dipukul pula dengan sebuah cemeti".
DaJam hatinya si Zhilin berkata, "Makin kita perlihatkan takut kit a, makin ban yak pula pintanya."
Ia pun bangkit berdiri seraya berkata, "Katakan kepada anjing itu, bahwa takkan kutulis sural itu kalau dicoba-cobanya mempertakuti aku; jika demikian, tentu tak seduit juga yang diperolehnya. Aku belum pernah takut kepadamu, sekarang pun aku tak berasa gentar sedikit jua pun; anjing belaka kau sekalian!"
Juru bahasa itu pun menyampaikan pulaJah kepada mereka segaJa apa yang dikatakan oleh si Zhilin itu. Maka mulai pulalah mereka bercakap bersama-sama. Ada beberapa lamanya mereka bertengkar-tengkar, kemudian berdirilah si tuan rumah, dan pergilah ia kepada si Zhilin, "Dzhigit Russ, dzhigit Russ" (dzhigit dalam bahasa Tartar artinya "gagah berani"). lapun tertawa pula. Setelah itu berkata pula ia kepada juru bahasa itu, "Barangkali senang juga hatinya jika diberi seribu rube! banyaknya."
Si Zhilin tak mau melebihi tawarnya. "Aku tak mau membayar lebih dari pacta lima ratus rube!. KaJau kau bunuh aku, satu duit pun tak kau terima."
Zhilin memandang kepada orang tawanan yang baru datang itu, tak dapat yang akan dikatakannya karena keheranannya.
Orang itu yaitu Kostilin. Ia pun dapat juga ditangkap orang. Si Kostilin itu tinggal de kat si Zhilin. Maka keduanya pun berceri- talah dengan cepat-cepat menceritakan hal ihwalnya masing-ma sing sampai kepada waktu itu. Tengal1 mereka bercerita, orang-orang Tartar itu memandang saja kepada mereka. Kata si Kostilin, bahwa kudanya tak sanggup lagi melarikan dia, sedangkan senapangnya sudah hilang. Si Abdul itulah yang mengejar dan menangkap dia.
Si Abdul berdiri dan melompat lalu berkata, seraya menunjuk kepada si Kostilin; ia berkata itu dalam bahasanya pula. Juru bahasa menyarnpaikan, bahwa kedua mereka seorang juga tuannya. Barang siapa yang lebih dahulu membayar wang tebusannya, ialah pula yang lebih dahulu dibebaskan. Kemudian berkatalah ia kepada Zhilin, "Dengarlah, kau marah saja, tetapi kawanmu ini orang yang suka menurut kata orang, ia sudah menulis surat ke rumah meminta dikirimkan linla ribu rube!. J adi sekarang tentulah ia akan dapat makanan yang patut serta diapun dijagai dengan sepatutnya pula"'
"Kawan saya boleh berbuat sekehendak hatinya, barangkali diakaya, tetapi saya miskin. J adi sudah tetap seperti yang telah say a katakan. Bunuhlah aku kalau kau mau, tetapi tak ada sedikit jua faedalmya bagirnu; akan tetapi sekali-kali tak mau aku meminta uang pulang lebih daripada lima ratus rube!."
Maka sekillian mereka itu pun berdiam dirilah mendengarkan
itu,"Tunggu sebentar sobat! Katakan kepadanya dahulu: ia haruslah memberi makan kami baik-baik, dan pakaian serta sepatu pun yang baik pula hendaknya diberikannya, dan kami dibiarkannya bersama-sama. Itu lebih menyenangkan hati sedikit kepada kami. Kemudian hendaklah dibukanya pasung kami." Zhilin pun tertawa melihat kepada tuannya. Tuannya itu tertawa pula, lalu didengarkannyalah apa yang diterangkan oleh juru bahasa itu. kemudian berkatalah ia, "Nanti kuberi mereka itu pakaian yang indah-indah beserta sepatu dan sepatu luar. yakni pakaian yang boleh dipakainya untuk menghadap raja. Makannya nanti diadakan sebagai makanan anak raja-raja, dan kalau mereka mau, bolehlah mereka sama-;;ama bertempat di dalam gudang itu. Tetapi akan menanggalkan pasungnya, itu tak dapat dikabulkan karena boleh mudah ia lari. Tetapi pada malam hari bolehlah kulepaskan pasungnya itu." Ia melompat pula dan ditepuk-tepuknya bahu si Zhilin, seraya berkata, "Kau baik, aku baik."
Si Zhilin segera membuat sura! itu, tetapi alamatnya dibuatnya alamat palsu, jadi tentulah surat itu tak kan sampai. selama-lamanya kepada kaumnya di rumah. Dalam hatinya ia berflkir, "Nanti kucari aka! akan lari dari sini." Zhilin dan Kostilin dibawa kcmbali ke dalam gudang itu. Maka dibcrikan oranglah kcpada mereka rumput kering untuk tidur, air secerek, roti sepotong, dua helai mantel yang sudah tua sangat dan dua pasang sepatu panjang yang tak dipakai orang lagi -barangkali dicurinya dari mayat-ma yat serdadu Rus itu. Pada malam hari mereka itu dilepaskan pasungnya, akan tetapi gudangnya dikunci erat-erat
ANG KETIGA
Syahdan adalah kira-kira sebulan lamanya si Zhilin tertawan bersama-sama dengan sahabatnya itu sedemikian halnya. Jika berjumpa mereka dengan tuannya, selalu tuannya itu tertawa, dan selalu ia berkata, "Kau !wan baik, aku Abdul baik!" Tetapi makanan yang diberikannya hampir-hampir tidak termakan rasanya, yakni roti gandum yang belum diasamkan, dijadikan kue yang tipis-tipis, terkadang-kadang pun tepung adonan yang belum dimasak diberikan orang kepada mereka itu.
Si Kostilin sudah mem buat sur at sepucuk Jagi ke rum ah. Tak lain perkataannya hanya merengus-rengus dan mengharap- harapkan uang yang akan dikirimkan orang dari rumah. Terkadang-kadang berhari-hari ia tidur saja di dalam gudang, dan dalam hal yang sedemikian pekeJjaannya tak lain hanya menghitung-hi tung hari, apabila sampainya surat orang di rumah kepadanya.
Si Zhilin sudah tahu, bahwa suratnya tiada juga akan sampai kepada alamatnya, tetapi menulis sekali lagi tak mau. Dalam hatinya ia berfikir, "Dari mana akan dapat ibuku mengumpulkan duit sebanyak itu untuk menebus aku. Sekarang pun hampir-hampir tak cukup belanjanya dari pada uang yang selalu kukirimkan kepadanya. Jika sekiranya terpaksa ia mengirirnkan uang lima ratus rube) itu, pastilah ibuku jatuh melarat. Dengan pertolongan Allah tentu dapat juga aku lari kelak." Oleh karena itulah selalu ia berftkir dan mencari aka!, supaya dapat ia lari dari situ. Maka berjalan-jalanlah ia di dalam kampung itu, bersiul hilir, bersiul mudik, kadang-kadang bekeJja ia, dibuatnya boneka-boneka dari pada tanah, atau dianyarnnya ketiding. Sebetulnya juga dia seorang yang ringan tangan dan pandai beberapa macarn pekerjaan tangan dan kepandaian lain-lain. Pada suatu hari dibuatnya sebuah boneka, ada hidungnya,
Si Zbilin pun segera mengambil boneka itu dari atas atap, lalu diunjukkannya kepada perempuan-perempuan itu. Maka tertawa jugalah mereka, tetapi tak ada seorang juga yang berani mengambil boneka itu. Kemudian di letak- kanlah oleh si Zhilin boneka itu di tanah, dan ia pun pergilah masuk ke dalam gudangnya hendak melihat apa yang akan diperbuat oleh mereka sepeninggalnya.
Tak lama antaranya si Dina pun datanglah mengejar boneka itu, lalu diambilnya dan ia pun memandang kiri kanan, seraya dila- rikannyalah boneka itu. Pada esok harinya pagi-pagi memandanglah si Zhilin ke luar gudangnya. Maka tampaklah olehnya si Dina keluar dari dalam rumahnya, setelah itu pergilah ia duduk di bendul pintu rumahnya; boneka yang kemarin ada juga dipegangnya, tetapi pakaian boneka itu sudah bertukar, yaitu kain merah yang dipakaikannya. Maka dibuai-buaikannyalah boneka itu sebagai seorang anak kecil, lalu dinyanyikannya dengan lagu Tartar.
Tak lama antaranya datanglah seorang perempuan tua dari dalam, dimarahinya si Dina itu, serta direbutnya boneka ltu dari dalam tangan si Dina, hingga patah ia. Kemudian disuruhnya si Dina itu pergi dari situ. Si Zhilin pun segera membuat boneka yang lain, lebih bagus dari pada yang bermula. Setelah sudah diberikannyalah kepada si Dina. Pada suatu hari si Dina itu membawa sebuah cerek kecil ke tempat si Zhilin, lalu diletakkannya saja di atas lantai. Setelah itu memandanglah ia sejurus kepada si Zhilin, serta menunjuklah ia ke cerek itu. Si Zhilin berflkir di dalam hatinya, "Apa gerangan maksud
ini?" Maka diambilnyalah cerek itu, dalam persangkaannya tak lain air jua isinya, akan tetapi tidak, melainkan air susu. Maka diminumnyalah susu itu, kemudian berkatalah ia, "Enak, enak sekali!" Tak main-main girang hati si Dina. Maka katanya seraya melompat-lompat, dan bertepuk-tepuk tangan sekeliling si Zhilin itu, "Baik, lwan, baik." Kemudian diambilnyalah cereknya itu kern bali dan larilah ia dari sana. Semenjak waktu itu dengan tiada setahu orang, tetap tiap-tiap hari dibawakannya si Zhilin itu air susu.
Orang Tartar biasa membuat keju dari pada air susu kambing; keju itu dijemurnya di atas atap rumahnya. Kadang-kadang dibawakannya juga oleh si Dina keju itu untuk si Zhilin, tetapi dengan tiada setahu orang juga.
Sekali peristiwa si Abdul menyembelih dombanya seekor. Tak lama antaranya sesudah itu datang pulalah si Dina membawa sesayat daging domba. Daging itu diletakkannya dekat si Zhilin dengan tiada berkata-kata sepatah jua pun, kemudian enyahlah ia dari situ dan berjalan dengan secepat-cepat kakinya.
Pada suatu hari berhembuslah topan besar, hujan bagai dicu- rahkan dari langit rupanya, lebih dari sejam lamanya. Maka segala airpun keruhlah, dan naik sampai tujuh kaki tingginya; derasnya tak terkira-kira, hingga batu hanyut olehnya. Dimana-mana pun terjadilahl air kecil, dan derum air tak berhenti-henti bunyinya.
Tatkala angin sudah reda, air pun mengalir juga di jalan-jalan kampung itu. Maka si Zhilin meminta sebilah pisau kepada tuannya; setelah dapat maka dibuatnyalah sebuah sumbu dari pada kayu. Setelah itu dipancangkannya papan-papan kecil pada sumbu itu, hingga menjadi sebuah roda. Maka pada roda itu diletakan- nya dua buah boneka kecil, sebuah sebelah kiri, sebuah sebelah kanan. Maka anak-anak perempuan kampung itu segeralah memberi dia bermacam-macam perca, hingga dapatlah boneka yang satu diberinya pakaian seperti seorang peladang laki-laki, dan yang sebuah lagi pakaiannya seperti peladang perempuan. Setelah itu di- letakkannyalah boneka itu pada tempatnya kembali. Kemudian dipasangnyalah roda itu pada air yang mengalir itu, hingga berpu-
Oleh karena perputaran roda itu boneka itu pun turun naiklah solah-olah orang menari rupanya.
Sekampung-kampungnya datang melihat boneka menari itu, bail< anak laki-laki bail< anak perempuan, bail< orang Tartar yang sudah sampai umur, laki-laki, perempuan; sekalian mereka itu datang belaka melihat ke sana. Tak berhenti-henti mereka itu mem-bunyi-bunyikan lidahnya.
" Wahai Rus, wahai Iwan!" lain tiada kedengaran.
Oleh karena kepandaian si Zhilin itu teringatlah oleh si Abdul, bahwa ada padanya sebuah jam tua, sudah rusak. Maka dipanggilnyalah si Zhilin, lalu diperlihatkannya jam itu, seraya mem-bunyikan lidahnya pula.
Kata si Zhilin, "Bawalah kemari jam itu, nanti kuperbaiki." Maka dibukanyalah jam itu dengan pisaunya, dan segala pesawat- nya dibukanya satu-satu. Kemudian diperbaikinyalah mana yang salah, dan setelah itu dipasangnyalah, hingga berjalan pula jam itu kern bali.
Tak dapat dikatakan girang hati tuannya itu, oleh karena itu dianugerahinya si Zhilin sehelai baju lusuh yang penuh berlobang- lobang. Si Zhilin terpaksa menerimanya. Tetapi bukantah baju itu pada malam hari dapat juga dijadikan selimut?
Oleh karena segala perbuatannya itu, termasyhurlah si Zhilin itu, bahwa ia sangat banyak kepandaiannya. Orang Tartar dari rna na-mana saja dari kampung yang sangat jauh-jauh datang kepadanya hendak meminta tolong memperbaiki barangnya yang sudah rusak, umpamanya senapang, pestol atau arloji. Oleh sebab itu di- berinyalah si Zhilin oleh tuannya beberapa macam perkakas, umpamanya sepit (kakak tua), gurdi dan kikir.
Sekali peristiwa adalah seorang Tartar sakit, maka datanglah kaum si sakit kepada si Zhilin meminta tolong mengobati si sa)cit itu. Adapun akan si Zhilin tak ada sezarrah jua pengetahuannya dalam ilmu tabib dan ilmu obat-obatan. Sungguhpun demikian pergilah juga ia melihat si sakit itu. Setelah sampai ia di rumah orang itu dan dilihatnya si sakit, dengan segera jua nyatalah pada-
"Iwan! Iwan!" Tetapi walaupun ada sahabatnya, banyak pula yang merengut ketika melihat dia. Pemandangan mereka tak ubahnya dengan pemandangan seeker binatang buas, kalau melihat si Zhilin itu.
Yang amat benci kepada si Zhilin ialah si Janggut Merah itu. .Tikalau kelihatan olehnya si Zhilin itu, maka dikerutkannyalah keningnya, lalu dipalangkannya mukanya, seraya mengata-ngatai si Zhilin dengan sehabis-habisnya. Maka ada pula seorang tua lagi yang kampungnya jauh letaknya dari situ, amat benci pula ia kepada si Zhilin. Ia diam di lembah, dan acap kali ia mendaki ke kampung si Zhilin itu. Ia hanya bersua dengan si Zhilin, kalau ia hendak pergi ke mesjid. Badannya kecil, topinya dililitnya dengan kain putih. Janggutnya dan kumisnya diguntingnya pandak-pan dak, kelihatan putili sebagai kapur, mukanya merah dan sudah berkerut. Hidungnya bungkuk seperti paruh burung nuri, matanya kecil tetapi liar, giginya dua buah seperti taring macan. Kalau ia lalu ke situ selalu dipakainya serbannya dan ia berjalan selalu ber-tongkat, matanya dipaling-palingkannya kian ke marl, seolah-olah mata binatang buas yang mencari-cari makanannya. Jika tampak olehnya si Zhilin, marahlah ia dengan tak ada hingganya, dan ia pun segera memutar haluannya. Sekali pe,ristiwa pergilah si Zhilin itu ke lembah kendak melihat di mana orang itu diam. Maka diturutkannyalah jalan kecil
Orang tua yang empunya rumah itu yaitu yang amat benci kepada si Zhilin, sedang berlutut hendak memperbaiki salah satu dari pada sarang itu. Maka si Zhilin pun memanjangkan lehemya, supaya lebih nyata kelihatan olehnya sekalian yang ada di dalam kebun itu. Oleh karena pergerakan badannya berderinglah rantai pasungnya, hingga terdengar oleh situa itu.Ia pun segera menoleh ke belakang lalu berteriak. Maka dicabutnyalah pestolnya, lalu ditem bak- kannya kepada si Zhilin. Akan tetapi si Zhilin, ketika dilihatnya si tua itu dengan sebenar-benarnya hendak men em bak dia, dengan segera jua ia membungkuk, hingga terlindung ia oleh tembok batu itu. Maka orang tua itu datanglah mengadukan halnya kepada tuan si Zhilin. Si Zhilin pun segera dipanggil, dan berkatalah tuannya kepadanya sambil tertawa, katanya, "Apa sebabnya kau pergi ke rumah orang tua itu?"
Jawab si ·Zhilin, "Aku tak membuat apa-apa yang merugi- kan dia, aku hanya hendak melihat di mana rumahnya saja.''
Si Abdul pun mengulang sekali lagi apa yang dikatakan si Zhilin itu. Tetapi si tua itu tiadalah bersenang hati sedikitjua pun, tak main-main marahnya, macam-macamlah yang disebutnya. Ta- ringnya sebentar-sebentar diperlihatkannya, dan tinjunya diacu- acukannya kepada si Zhilin itu. Si Zhilin tak dapat mengerti sekalian apa yang disebut oleh orang tua itu, akan tetapi ada juga ia mengerti sedikit, bahwa dilarangnya si Abdul menyimpan orang Rus di dalam kampung, lebih baik sekaliannya itu dibunuh seperti arijing. Setelah itu berangkatlah si tua itu. Kemudian bertanyalah si Zhilin kepada tuannya, siapa orang tua itu.
"Akan dia itu ialah seorang yang utama. Ialah. yang sangat berani dari karni sekalian, banyak sudah orang Rus yang dibunuhnya; dan pada masa dahulunya sangat kayanya. Isterinya ada tiga orang, dan anaknya yang laki-laki delapan, semuanya itu diam sekampung belaka. Pacta suatu hari datanglah orang Rus, lalu dibinasakannya kamp).lng itu, tujuh orang dari pada anaknya habis dibunuh oleh orang Rus. Hanya seorang saja lagi tinggal, dan yang seorang itu pun terpaksa pula menyerahkan dirinya kepada orang Rus. Bapanya pun menyerahkan dirinya juga. Maka ada tiga bulan lamanya mereka itu diam di tanah Ruslan. Setelah itu maka dibunuhnyalah dengan tangannya sendiri anaknya yang seorang itu, lalu larilah ia dari sana. Semenjak itu tak mau lagi ia berperang-perangan, melainkan pergilah ia ke Mekah naik haji. itulah sebabnya ia memakai serban.
Orang yang sudah tahu pergi ke Mekah dinamakan orang Haji, da.n bolehlah ia memakai serban. Si tua itu sangat benci kepada segala bangsa Rus. Kehendaknya ialah supaya kau kubunuh. Itu suatu peketjaan mustahil, karena engkau sudah kubeli sebagai lagi aku sudah sayang kepadamu Iwan. Sekiranya tak ada aku berjanji dengan dikau dulu akan melepaskan engkau sesudahnya aku terima wang tebusanmu, tiada aku tahan engkau di sini." Setelah itu tertawalah lagi ia, seraya berkata dalam bahasa Rus, "Kau !wan baik, saya Abdul baik."
Pada siang hari be.rjalan-jalan ia seluruh kampung itu atau diperbuatnya barang sestiatu, dan pada malam hari jika sudah sunyi senyap di dalam kampung itu, digalinyalah lubang pada lantai gudangnya. Pekerjaan itu sangat susah jua karena banyak batu, tetapi ada pembantu baginya, yaitu kikirnya. Akhirnya sedialah lubang itu, besarnya cukup untuk meluluskan badannya.
Dalam hatinya ia berfikir, "Wah, betapalah baiknya, jika ku- ketahui, betapa letak tanah ini, dan arah mana yang harus kuturut. Sudah kutanya-tanya, tapi tak seorang jua mereka yang mau menceritakannya kepadaku." Oleh karena itu pada suatu hari ketika tuannya tak ada di rumah, pergilah ia be.rjalan-jalan jruh-jauh, sesudahnya ia makan. Maka didakinyalah bukit yang diluar kampung itu hendak melihat sekeliling tempatnya. Akan tetapi si Abdul itu kebiasannya, sebelum ia pergi ke mana-mana, diberinya perintah dulu kepada anaknya yang laki-laki akan memata-matai si Zhilin, dan mengi- kutkan ia ke mana perginya. Oleh karena itulah pada ketika si Zhilin hendak menaiki bukit itu, anak itu datang berlari-lari kepadanya, seraya berseru-seru, "Ke mari, ke marl! Itu tak boleh, dilarang keras oleh ayah. Kalau tak mau engkau kembali, nanti kupanggil orang kampung lain."
Maka si Zhilin pun segera membujuk-bujuk dia, katanya, "Aku tak jauh juga pergi, aku hanya hendak pergi ke bukit itu. Maksudku hendak mencari sebangsa tumbuh-tumbuhan, yang perlu bagiku hendak mengobati orang _ sakit. Marilah sertaku, kalau engkau suka! Masakan dapat aku lari dengan pasung seberat ini. Esok pagi kubuatkan bagimu sebuah busur yang bagus serta dengan anak panahnya :''
Dengan cakap-cakap yang semacam itu menurut sajalah anak
Zhilin pergi. Jika dilihat dari jauh, tak seberapa jua tingginya bukit itu, akan tetapi ketika didakinya barulah dirasainya, bahwa lama jua menaiki dia adanya, apalagi jika kaki diberati dengan pasung. Akan tetapi karena hajatnya yang besar itu, dikeraskannya juga hatinya oleh si Zhilin itu, supaya sampai jua ia ke atas puncak bukit itu. Untunglah Iekas jua sampai, kalau tidak, tentu takkan sampai maksudnya, karena amat sangat lelahnya dan sakit kakinya bergeser-geser dengan pasung itu; belum pemah ia berjalan dengan pasungnya selama itu adanya. Oleh karena itulah ia terduduk saja pada ketika ia sampai di atas puncak bukit itu. Setelah lepaslah lelahnya sedikit, ia pun menolehlah ke kiri dan ke kanan, ke hadapan dan ke belakang hendak mengetahui, bagaimana letak tanah itu. Sebelah selatan di belakang gudangnya ada sebuah lembah, di sanalah tempat orang Tartar melepas]s:an temaknya. Pada ujung lembah itu ada sebuah kampung orang Tartar lagi. Di belakang kampung itu ada sebuah bukit yang tinggi, dan di belakang bukit itu, tetapi agak jauh sedikit, ada pula sebuah bukit lagi. Di an tara bukit yang jauh-jauh itu kelillatan rimba-rimba yang lebat rupanya. Lebih jauh lagi kelihatan gunung-gunung, semakin lama semakin tinggi. Yang tinggi-tinggi puncaknya diselimuti oleh salju, yang putih rupanya seperti kapas; dalam yang banyak itu adalah sebuah lebih tinggi daripada yang lain-lain. Di sebelah timur dan sebelah selatan kelillatan pula bukit berbaris-baris, dan di sana-sini kelillatan asap mengedar ke udara di antara bukit yang banyak-banyak itu. Oleh karena itu diketahuinyalah, bahwa sekelilingnya itu tanah orang Tartar belaka. Maka menolehlah ia arah ke tanah Ruslan. Sebelah kaki bukit itu kelillatan sebuah sungai, kampung si Abdul itu kelillatan diwatas-watasi oleh kebun-kebun kecil. Perempuan-perempuan kampung ,itu kelihatan tengah mencuci pakaiannya di sungai, sebesar boneka rupanya. Di belakang kampung itu ada sebuah bukit, kecil daripada yang di sebelah selatan; di belakang itu ada lagi dua buah bukit yang ditumbuhi belukar. An tara bukit yang dua buah itu kelillatan suatu daratan yang kebiru-biruan wamanya. Jauh benar di belakang dataran itu kelillatanlah oleh si Zhilin barang sesuatu, laksana asap rupanya. Si Zhilin pun mencoba mengingat-ingati, di mana mata-
Oleh karena itu dapatlah diketahuinya, bahwa tak salah sangkanya lagi; ten tang asap itulah letaknya benteng orang Rus. Maka tahu pulalah ia, arah mana yang hendak ditujuinya, jika ia hendak lari, yaitu di an tara bukit yang dua buah tadi.
Pada ketika itu matahari sudah hampir terbenam. Gunung-gunung yang putih-putih puncaknya itu sudah kemerah-merahan, bukit yang kehitam-hitaman bertambah hitam lagi warnanya, kabul pun mulai mengembang di lembah-lembah dan disela-sela bukit. Lembah yang disangkakan si Zhilin tempat benteng Rus berdiri itu kemerah-merahanlah rupanya, seakan-akan kena cahaya api. Maka memandanglah ia sekali lagi ke kiri dan ke kanan dan ke arah tempat ia lari itu. Pada perasaannya laksana ada bau yang biasa keluar dari lubang asap, yang mencampuri bau udara yang sekeillingnya itu adanya. Maka bertambah-tambahlah keras kepercayaannya, bahwa tak dapat tiada di situlah ada terdiri sebuah benteng Rus. Hari pun semakin gelap juga hingga kedengaranlah bunyi Mullah, dan kelihatanlah orang menghalaukan temaknya; lembu tak berhenti-hentinya menguak. Demikian pula anak si Abdul itu, tak berhenti pula berkata kepada si Zhilin,"Ayuhlah, marilah Iekas kita pulang!" Tetapi si Zhilin belum suka rupanya hendak pulang pada ketika itu.
Akan tetapi akhimyapulang]ahjua mereka itu.Dalam hatinya si Zhilin berkata, "Sekarang sudah tahu aku arah mana yang akan kuturut, jadi sudah tiba pulalah waktunya hendak lenyap dari sini." Mulanya pada malam itu jua ia hendak lari, karena malam hari pada waktu itu sangat gelapnya. Malang alas dirinya pada petang itu, kembalilah orang Tartar itu semuanya. Kebiasaannya kalau mereka itu kembali, ada temak yang dihalau-halaukannya, dan bersuka raya mereka itu, akan tetapi sekali itu tak ada mereka membawa temak, melainkan mayat seorang Tartar yang dipikul- nya pulang, yaitu mayat saudara si J anggut Merah. Sekalian orang Tartar itu amat berdukacita rupanya, oleh karena itu berhimpun- lah mereka hendak menguburkan maya! itu. Si Zhilin ke luar
Songkok mereka itu diWitnya dengan kain, dan sepatunya ditanggalkannya. Setelah itu berjingkatlah mereka mendekati mayat itu. Yang di hadapan sekali ialah Mulah itu, dibelakangnya ada sebaris orang yang beserban, dan di belakang itu barulah orang yang lain-lain. Sekalian mereka itu duduk dengan menundukkan kepalanya. Setelah beberapa lamanya mereka itu duduk sedemikian, maka Mullah itupun mengangkat kepalanya, seraya menyebut nama Allah; orang yang lain berdiam diri juga sebagai sediakala. Ada beberapa saat pula lamanya mereka duduk, barn pulalah Mullah itu mengangkat kepalanya sekali lagi sambil memuji-muji; "Allahu akbar'" Yang lain pun memuji pula; "Allahu akbar! Allahu akbar!". Pacta ketika itu mayat itu terbaring juga di atas rum put, dan orang-orang itupun duduk juga berdiam diri seperti orang yang sudah mali pula. Tak ada seorang juga yang bergerak, hingga daun kayu-kayuan pun turut berdiam diri rupanya pacta ketika itu. Setelah seberapa lamanya mereka demikian halnya, maka Mullah itu pun mulailah membaca doa, dan kemudian berdiri pulalah mereka sekalian. Maka diangkatnyalah mayat itu bersama-sama, akan dimasukkan ke dalam sebuah lubang di dalam tanah. Lubang itu. bukannya seperti lubang biasa, melainkan sebagai gua yang diperbuat orang. Maka mayat itu pun diangkatlah pacta ketiak- nya, kakinya dibungkukkan sedikit lalu diletakkan perlahan-lahan di atas alas lubang itu, kemudian disorongkan (dikisar sedikit) dan dibetulkan tidurnya, tangannya diperimpitkan di dadanya.
Setelah itu datang seorang bujang membawa daun-daunan. gunanya akan dimasukkan ke dalam lubang itu. Kemudian ditim- bunilah lubang itu dengan selekas-lekasnya, lalu diratakan sebelah atasnya. Setelah itu didirikan mereka sebuah batu di atas kuburan
sepadat- padatnya. Demi selesai pulalah pekeJjaan itu, maka mereka duduk pulalah berbaris di hadapan kuburan itu, berdiam diri dan sunyi sebagai tadi. Akhirnya berdirilah mereka itu seraya menyebut; "Allahu akbar! Allahu akbar!" serta menarik-narik napas panjang. Si Janggut Meral1 itu pun lalu membagi-bagi sedekah kepada orang yang tua-tua itu, kemudian bangkit pulalah ia dari tempat duduknya. Setelah itu diambilnyalah sebuah cambuk, lalu dicambuknya kepalanya dengan cambuk itu tiga kali.
Pada esok paginya tampaklah oleh si Zhilin si Janggut Merah itu membawa seekor kuda betina ke luar kampung itu. Ia diiringkan oleh tiga orang kawannya. Setelah beberapa jauhnya, maka ditanggalkannyalah bajunya oleh si Janggut Merah itu, dan dising- singkannya lengan anak bajunya, hingga kelihatan lengannya, yang berisi urat daging itu. Kemudian dihunusnya sebilah keris, lalu di asahnya pacta batu asahan. Setelah tajamlah kerisnya itu, maka oleh kawan-kawannya itu diangkatnyalah kepala kuda itu ke atas, supaya mudah menyembelili dia. Sesudah itu si Janggut Merah pun memakankan mata kerisnya pada leher kuda itu, hingga putus kerongkongannya. Setelah itu direbahkanlah binatang itu dan mulailah orang mengulitinya. PekeJjaan itu dikeJjakan dengan tangan saja. Pacta ketika itu datanglah beberapa orang perempuan dengan kanak-kanak hendak membersihkan segala isi perut kuda itu. Kemudian dipotong-potonglah yang tinggal, lalu dibawa pulang akan dimasak untuk peJjamuan kematian. Sekalian isi kampung itu datanglah ke rumah si Janggut Merah hendak menglladiri peJjamuan itu.
Ada tiga hari lamanya mereka mengllabiskan daging kuda itu, dan tiga hari pula lamanya minum buza, dan tiga hari pula lamanya membacakan doa bagi arwah si mati. Jadi segala orang Tartar itu ada di rumahnya belaka pacta ketika itu, hingga berba- hayalah bagi si Zhilin, jika dicoba-cobanya juga hendak melarikan dirinya. Pacta hari keempat, kira-kira waktu makan, keliliatanlah oleh si Zhilin mereka itu berlengkap semuanya hendak beJjalan jauh rupanya. Kuda pun dipasang oranglah dan diikatkanlah di-
Zhilin kepada si Kostilin, "Hai Kostilin, pada malam ini akan kita adu untung kita;jika untung kita baik, selamat kita sampai kepada kawan-kawan kita; kalau tidak apa boleh buat." Si Kostilin menjadi gentar dan takut ia akan lari rupanya.
Katanya, "Masakan kita dapat lari dari sini, jalan pun kita tak tahu!".
Sahut si Zhilin, "Aku tahu jalan."
Jawab si Kostilin pula, "Biarpun kau tahu jaian, masakan akan sampai kita ke salah suatu benteng itu dalam semalam jua." Kata si Zhilin, "Jika tak sampai, kita bermalam dulu di tengah hutan. Lihatlah padaku ada beberapa buah keju, untuk perbekalan kita. Apa gunanya engkau merengus dan menyusah-nyu sahkan hati di sini? Jika sekiranya ada dikirimkan orang uang tebusan itu, beruntunglah kamu, akan tetapi jika sekiranya tak dapat orang mengumpulkan uang sebanyak itu, apa dayamu? Orang Tartar itu sekarang lagi bengis sangat, karena orang Rus sudah membunuh kawannya pula seorang. Oleh karena itu sudah ada terkata-kata orang hendak membunuh kita pula."
Si Kostilin pun berpikir sejurus. Kemudian berkatalah ia, "Kalau begitu baiklah, segeralah kita lari!".
Zhilin pun masuklah ke dalam lubang yang diperbuatnya itu, hendak mencoba-coba saja. Kemudian karena ia merasa lubang itu sempit bagi si Kostilin, maka diperbesarnyalah sedikit lubang itu. Setelah itu kedua-duanyapun bernantilah, menantikan orang sunyi senyap di kampung itu. Setelah sunyilah maka si Zhilin pun masuklah ke dalam lubang itu, lalu merangkaklah ia sampai ke ujungnya di batik tembok gudang itu. Setelah sampai dipanggilnyalah si Kostilin itu dengan perlahan-lahan. Maka merangkak pulalah si Kostilin melalui lubang si Zhilin itu. Malang atas dirinya, tersandung kakinya pada sebuah batu, hingga jatuh batu itu, dan kedengaran bunyinya. Maka adalah tuannya itu mempunyai seekor anjing yang sangat garang, Onlyashin namanya. Akan tetapi si Zhilin sudah acap kali menjinaki anjing itu, diberi-berinya makan yang enak-enak, hingga anjing itu sudah seperti· bersahabat pula dengan dia. Oleh anjing itu kedengaran pula bunyi batu jatuh itu, maka menyalaklah ia dan melompat-lompat. Mendengar salak Onlyashin itu, anjing-anjing yang lain pun menyalak pula, hingga riuhlah bunyinya. Si Zhilin hampir kehilangan akal; oleh karena itu bersiullah ia dengan perlahan-lahan dan dipanggilnya nama anjing itu. Maka anjing itu pun diamlah, serta datanglah ia kepadanya. Maka diberinyalah oleh si Zhilin anjing itu sekerat keju, maka segera dimakan oleh Onlyashin, dengan mengipas-ngipaskan ekornya. Akan tetapi tuannya sudah bangun karena salak anjingnya itu; oleh karen a itu di- seruinyalah dari dalam rumahnya, "Hayt, hayt, Onlyashin!" Tetapi si Onlyashin tiada berbunyi lagi, ia sudah keenak- enakan karena belakang kupingnya digaruk-garuk oleh si Zhilin. Karena ia berhenti menyalak itu, anjing yang lain-lain pun diam jugalah. Kedua sahabat itu sudah diam-diam di belakang gudang itu,
Zhilin pun berdiri, lalu berkata kepada kawannya, "Ayuh, marilah kita berangkat sekarang!"
Maka berangkatlah mereka itu, akan tetapi belum lagi beberapa langkah ia berjalan sudah terdengar pula Mullah bang dari atas menaranya, "Allahu akbar! Allahu akbar!" ltu gunanya ialah hendak menyuruh orang datang sembahyang ke mesjid. Maka bersembunyi pulalah mereka itu di balik sebuah tembok. Lama pula mereka menantikan orang-orang itu lalu, dan menantikan sunyi di kampung itu kembali. Akhirnya sunyi pulalah, dan dapatlah mereka meneruskan perjalanannya. Uap air terlampau banyak, tetapi untunglah tipis saja, hingga dapat mereka itu · melihat bin tang. Maka bin tang itulah yang jadi pedoman bagi mereka itu. Hari berasa sejuk, tetapi mudah juga ia berjalan. Yang menyusahkan mereka itu ialah sepatunya, tak enak sedikit pun dibawa berjalan, karena sudah terlalu amat tua dan tak tentu lagi bangun telapaknya. Maka si Zhilin pun segeralah membuka sepatunya dan berjalanlah ia dengan tiada beralas kakinya. Matanya selalu memandang jua ke bintang dan akhimya tertinggallah si Kostilin di belakang:.
Katawya kepada si Zhilin, "J angan sekencang itu engkau berjalan, sepatuku sudah melecetkan kulit kakiku!"
Sahut si Zhilin, "Tanggalkan dia, lebih mudah beijalan tiada bersepatu !"
Maka ditanggalkannyalah sepatunya itu, akan tetapi jangankan bertambah kencangjalannya, bertambah lambatjadinya. Kakinya pun luka-luka kena batu, karena itu tertinggalpulalah iadibela- kang.
Zhilin, "Biar hancur kakimu, engkau harus beijalan terus juga, kaki itu akan sembuh juga akhimya; akan tetapi kalau dapat orang Tartar mengejar kita, tak dapat tiada putus nyawa kita; itu lebih eel aka lagi daripada kaki luka."
Si Kostilin tiadalah menyahut lagi, lalu berjalan dari belakang dengan sedapat-dapatnya, berapa keluhnya, berapa napas panjangnya, berapa sengitnya tak dapat di.katakan. Mereka itu berjalan melalui suatu lembah. Tak lama antaranya terdengarlah olehnya anjing menyalak. Si Zhilin berhenti sejurus, lalu memandanglah ke kiri dan ke kanan, sesudah itu didakinyalah bukit itu den- ngan meraba-raba tempat yang dilaluinya.
Akhirnya berkatalah ia, "Kita sudah sesat, terlalu banyak kita mengambil jalan ke kanan; sekarang kita sudah hampir sampai ke kampung yang sebuah lagi, yang tampak olehku dari atas puncak bukit itu. Kita harus kembali pula, bukit yang sebelah kiri itu yang harus kit a naiki. Di situlah mulai rim ba yang luas itu."
Maka kata si Kostilin, "Wahai saudara, berhentilah sebentar, lepaskanlah lelahku dulu! Kakiku hahis luka, dan tak tahan pula sakitnya!"
"ltu tak apa, nanti dia sembuh juga kembali. Melompat sedikit kalau berjalan, perbuatlah seperti aku ini! "
Si Zhilin berbaliklah dengan selekas-lekasnya, lalu dinaikinya- lah bukit yang sebelah kiri, yaitu permulaan rimba besar itu. Si Kostilin selalu jua tertinggal di belakang, keluh kesahnya tak berhentinya, hingga terpa¥sa si Zhilin menyuruh ia diam; oleh ia sendiri tak diindahkannyc; kakinya yang sakit, ujudnya hanya hendak dengan selekas-lekasnya ia sampai ke tepi rimba itu.
Setelah beberapa lamanya mereka itu berjalan sedemikian, maka sampailah mereka ke atas puncak bukit itu, dan ak.hirnya sampai pulalah mereka ke tepi rimba, yang telah disebut-sebut si Zhilin juga. Maka mereka pun segeralah memasuki hutan yang lebat itu, duri dan belukar tak diindahkan mereka itu sedikit jua pun; yang terutama maksud mereka, ialah hendak melampaui rim-
''Tunggu!" Maka berhentilah mereka sejurus, seraya mendengarkan ke mana· arahnya kuda itu lari. Tak sedikit juga lainnya dengan bunyi telapak kuda banyak, tetapi terkadang-kadang tiada pula ia kedengaran lagi. Maka berjalan pulalah mereka meneruskan perjalanannya, tetapi pada ketika itu terdengar pula bunyi kuda lari itu. Jikalau mereka berhenti, berhenti pula bunyi kuda lari itu. Si Zhilin pun lalu merangkak ke tempat yang kurang gelap di dalam rimba itu, akan melihat apa konon yang berbuat sedemikian. Maka kelihatanlah olehnya sesuatu barang kehitam-hitaman rupanya, berdiri di tengah jalan. Rupanya dikatakan seperti kuda, bukan, karena di kepalanya ada lagi barang sesuatu. Itulah yang berbunyi-bunyi itu.
"Apa gerangan yang berdiri itu?", flkir si Zhilin, lalu bersiullah ia perlahan-lahan. Dengan sekejap mata jua larilah binatang itu, sebagai bersayap ia, demikianlah kencang larinya. Maka larilah ia masuk belukar, dan pada ketika itu terdengarlah bunyi kayu ber-derak-derak, dengan hebat bunyinya, adalah seolah-olah topan mematahkan segala kayu-kayuan di rimba itu layaknya.
Si Kostilin sangat terperanjat hingga jatuh ia ke bumi. Tetapi si Zhilin tertawa saja, seraya berkata, "0, rusa! Tak kau dengar itu betapa ia mematahkan dahan-dahan kayu dengan tanduknya? Kita takut kepadanya, dan dia pun takut pula kepada kita."
Maka diteruskan mereka pulalah perjalanannya. Bint~~ bi- duk (Groote Beer) sudah terbenam dan fajar pun sudah mulai menyingsing. Pada waktu itu belumlah diketahui mereka lagi, betul tidaknya arah perjalanannya itu. Sepanjang dugaan si Zhilin itulah jalan yang dilaluinya dulu pada ketika ia ditawan oleh orang Tartar itu, dan kalau demikian tak dapat tiada hanya tujuh mil lagi ia
"Tidak takkan sampai juga aku ke situ, tak sanggup aku Iagi.,
Si Zhilin pun amarah lalu merentak dan berkata dengan suara yang keras, "Baiklah, aku terus seorang diri! Selamat tinggallah!" Si Kostilin melihat sahabatnya berjalan itu bangkitlah pula ia dari duduknya, dan diikutinya pulalah sahabatnya itu. Adapun akan kabut yang di dalam hutan itu, semakin menjadi hingga tak dapat melihat segala sesuatu yang tiga langkah jaraknya dari pada mereka itu; bin tang yang akan jadi pedoman itu pun hilanglah dari pada pemandangan.
Sekonyong-konyong terdengarlah di hadaparmya bunyi telapak kuda. Si Zhilin pun merebahkan dirinya, lalu didakapkarmya kupingnya ke tanah hendak mendengarkan bunyi itu _nyata-nyata.
" Ya, pasti ada orang berkuda menuju arah kepada kita ini. " Maka masuklah mereka ke dalam belukar, dan bersembunyi)ah mereka sejurus di situ akan menantikan orang yang berkuda itu lalu. Si Zhilin merangkak ke tepi jalan hendak melihat siapa yang melintas itu. Maka kelihatan olehnya seorang Tartar membawa seekor lembu sambil bersiul-siul kecil. Setelah jauhlah orang itu, maka kembalilah si Zhilin ke tempat si Kostilin itu bersembunyi, lalu berkatalah ia, "Tuhan yang Mahakuasa sudah menghindarkan kita dari pada bahaya. Sekarang bangunlah dan marilah kita berjalan Iekas-lekas! "
Kostilin pun mencoba bangun, akan tetapi jatuh pula ia kern-
Zhilin, demi Allah, tak sanggup aku. Aku tak ada berdaya sedik.it jua lagi."
Si Kostilin itu besar dan gemuk badannya apa lagi sudah amat banyak ia mengeluarkan peluh, oleh sebab itu kakulah badannya, bertambah-tambah karena hawa sejuk yang datang dari embun pagi itu. Maka dicoba-cobanyalah jua mengeraskan hatinya, hingga dapat juga ia berjalan sedikit, tetapi terpincang-pincang, karena kakinya sudah kaku sangat.
Si Zhilin mencoba hendak mengangkat dia, akan tetapi baru saja ia kena tangan si Zhilin, berteriaklah ia, "Aduh sak.itnya, aduh, aduh!" ·
Si Zhilin pucat mukanya, hilang semangatnya pacta ketika itu; katanya, "Apa gunanya kau berteriak sedemik.ian? Orang Tartar itu belum jauh dari k.ita! " Tetapi dalam hatinya ia berflkir, "Benar, anak ini sudah separuh mati. Apa daya sekarang? Bukankah tak layak kutinggalkan kawanku dengan seorang dirinya?"
Maka katanya kepada si Kostilin, "Jika tak dapat lagi engkau berjalan, berdirilah, dan panjatlah punggungku. Jika sebenarnya demik.ian, biarlah aku mendukung et:lgkau."
Maka ditolongnyalah si Kostilin bangun dari tempatnya itu, kemudian disorongkannya tangannya ke bawah paha si Kostilin. Dengan jalan yang sedemikian, dapat pulalah mereka itu berjalan beberapa langkah jauhnya.
Kata si Zhilin, "Dengan karena Allah janganlah dicekik leher- ku, tak dapat lagi aku bemapas. Berpegang sajalah pada bahuku!"
Sesungguhnya pekerjaan itu terlalu amat berat bagi si Zhilin, karena kakinya sudah habis luka-Iuka, dan ia pun sudah setengah mati pula kelelahan. Kadang-kadang membungkuklah ia hendak mengalih tempat si Kostilin itu duduk, ada kalanya ditinggi-tinggi- ·kanrlya mendukung dia. Demikianlah ia meneruskan perjalanannya itu.
Zhilin orang datang berkuda dari belakang, seraya berseru-seru di dalam bahasanya. Si Zhilin pun melompatlah masuk belukar. Maka diambilnyalah senapangnya oleh orang Tartar itu, lalu ditemhakannya kepada di Zhilin, tetapi tak kena. Setelah itu berseru-seru pulalah ia, lalu memacu kudanya meneruskan perjalanannya.
Kata si Zhilin, "Kita celaka. Bedebah itu pastilah pergi memanggil kawannya akan mencari kHa. Jika tak dapat kita berjalan dua mil lagi dengan selekas-lekasnya, tak dapat tiada kita kembali ke terongko kita." Dalam hatinya ia berkata, "Apa gunanya lagi aku membuat beban bagi diriku sendiri, apa gunanya kutolong orang ini Sekiranya ia tak ada, sudah lama aku lenyap dari sini."
Kata si Kostilin, "Pergilah engkau seorang meneruskan perja- lananmu, apa gunanya, engkau akan tertangkap lagi kembali, semata-mata oleh karena badanku yang celaka ini saja?"
"Tidak, aku tak mau meninggalkan kawan di dalam bahaya." Maka diangkatnya pula si Kostilin itu, lalu berjalan pulalah ia. Maka adalah kira-kira setengah mil yang dijalani mereka, tetapi hutan itu belum juga habis dilaluinya, pinggimya pun belum lagi
| hutan itu belum juga habis dilaluinya, pinggimya pun belum lagi | ||
|---|---|---|
| kelihatan. | Si Zhilin sudah setengah mati kelelahan. Akhimya | |
| sampailah | mereka itu kepada sebuah mata air yang bertembok |
berkelliing, tak jauh dari tepi jalan. Si Zhilin pun berhenti, lalu di- turunkannya si Kostilin dari atas punggungnya.
"Aku hendak melepaskan lelah sejurus dan dahaga ku pun hendak kulepaskan pula."
Akan tetapi baru saja ia membungkuk hendak minum, maka terdengarlah olehnya bunyi kuda berlari. Maka masuk pulalah mereka itu ke dalam belukar sebelah kanan, bersembunyi di belakang sebuah tempat yang ketinggian.
Tak lama antaranya terdengarlah suara orang Tartar. Orang-orang itu berhenti tentang tempat mereka lari bersembunyi masuk ke dalam belukar itu. Maka bermusyawaratlah orang Tartar itu sejurus. Maka dilepaskannyalah seekor anjing akan mencari jejak
pacta ketika itu juga tampaklah oleh rnereka seeker anjing yang tiada dikenalnya. Maka anjing itu pun berdirilah, lalu mulai rnenyalak. Setelah itu datanglah orang Tartar itu berkawan-kawan, mereka itu pun orang asing pula rupanya. Maka turunlah rnereka dari atas kudanya, lalu, ditangkapnyalah si Zhilin dan si Kostilin, diletakkannya di atas kudanya. Setelah itu berangkatlah rnereka itu.
Sekira-kira dua mil jauhnya rnereka itu berjalan, maka bertemulah mereka dengan si Abdul, yang diiringkan oleh dua orang Tartar lain. Setelah bercakap-cakap si Abdul itu berapa lamanya dengan mereka, maka si Zhllin dan si Kostilin itu pun diletakkannya di atas kudanya dan kuda kawannya itu. Kemudian dibawanyalah tawanannya itu ke kampungnya kernbali.
Si Abdul tak tertawa-tawa lagi, dan tak ada sepatah jua ia bercakap-cakap dengan kedua sahabat itu. Ketika rnereka sampai ke karnpungnya kembali, matahari sudah naik; kedua sahabat itu pun didirikan di tengah jalan. Segala anak-anak berkerubung rne- ngelilingi mereka itu, ada yang melernpar dengan batu dan ada yang mencarnbuk dengan cemeti.
Maka orang-orang Tartar pun berdirilah semuanya, berkeliling menjadikan suatu lingkaran besar. Orang tua yang diam di lembah itu pun ada juga serta.
Maka kedengaranlah oleh si Zhilin rnereka tu bertengkar-tengkaran dengan sangat hebatnya, dan berrnusyawarat mencahari keputusan, betapa yang baik diperbuat tentang kedua mereka itu. Kata setengah orang, lebi11 baik ia diternpatkan lebih jauh ke darat lagi, tetapi kata orang tua di lembah itu, "Lebih baik dibunuh mati saja, habis perkara." Si Abdul menyangkal segala perkataan orang-orang itu; katanya, " Ia sudah rnengeluarkan uang untuk rnereka itu, dan rnereka harus ditebus dulu."
Kata si tua itu pula, "Cis, orang-orang ini takkan rnembayar, seduit pun tidak; cobalah ingat perkataanku ini! Jangankan men-
baik!"
Maka segala orang Tartar itu pun bercerai-cerailah. Setelah pergi semuanya, maka datanglah si Abdul mendapatkan mereka itu, lalu berkata, "Jika sekiranya uang tebusan kau kedua tak datang juga di dalam em pat belas hari ini, engkau kedua akan kupu- kul dengan cemeti yang berduri ini, dan bila engkau berani lagi hendak lari, aku pukul mati engkau seperti memukul seekor anjing! Buatlah surat sepucuk lagi ke rumah, dan tulis yang patut sedikit!,
Setelah itu dibawakanlah kertas ser.ta dawat kepada mereka, lalu ditulisnyalah surat meminta uang itu. Pasung kaki mereka itupun lalu dipasangkan kembali pada kakinya, kemudian dimasukkanlah mereka itu ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam, dibelakang mes,iid itu. Luas lubang itu ada kira-kira dua belas kaki bujur sangkar.
Demikianlah hal mereka kedua itu.
YANG KEEN AM
Mulai daripada ketika itu bukan buatan penanggungan mereka itu lagi. Pasungnya tak dibuka-buka lagi siang malam, dan pergi ke luar akan mengisap udara bersih pun tak boleh sekali jua. Tepung adonan yang belum dimasak dilemparkan orang kepada mereka itu akan jadi makanannya, tak ubahnya dengan memberi makan anjing. Air diturunkan dalam cerek dengan tali ke dalam lubang itu.
Udara di dalam lubang sangat lembab dan susah bernapas di dalamnya. Sebagai pula bau busuk tak main-main menggoda mereka siang malam. Kostilin pun jatuh sakit, sangat jua sakitnya itu, badannya gembung belaka, dan seluruh badannya berasa sakit; kalau tidak melolong. tidurlah ia terus beberapa lamanya. Si Zhilin pun sudah hampir putus asa pula. Ia mengerti, bahwa keadaannya tak dapat sedikit juga dipujikan, tak ada satu juga lagi akal yang ada padanya, supaya terlepas daripada siksaan itu.
Hendak menggali lubang, di mana diletakkan galian itu. Pada suatu hari kelihatan oleh tuannya, bahwa ia hendak menggali lubang itu; maka tuannya memberi tahukan kepadanya : kalau diperbuatnya terus, tak dapat tiada hilang nyawanya.
Sekali peristiwa, ketika ia duduk termangu-mangu, karena putus asa dan mengingatkan kemerdekaannya, tiba-tiba jatuhlah di hadapannya, sekerat penganan dan buah kers beberapa butir, sebagai hujan turunnya. Ia pun segera memandang ke atas, dan tampaklah olehnya si Dina dari atas lubang itu. Si Dina memandang kepada si Zhilin sambil tertawa, kemudian larilah ia dari situ dengan sekencang-kencangnya. Maka si Zhilin pun berflkir-flkirlah di dalam hatinya: barangkali si Dina itu dapat menolong dia. Maka dibersihkannyalah sebagian daripada alas lubang itu, lalu diambilnya tanah liat sedikit, yang dijadikannya macam-macam barang permainan. Ada orang-orangan yang dibuatnya, ada
"Kalau si Dina datang lagi ke mari, nanti kulemparkan sekalian ini kepadanya." Tetapi tiada ia datang, esok harinya pun tidak, si Zhilin hanya mendengar kuda berjalan, ada beberapa orang yang melalui mesjid itu dengan kudanya. Rupa-rupanya mereka bermusyawarat dekat mesjid itu. Mereka itu berteriak-teriak dan bertengkar-tengkaran keras; kata "Rus" itu acap kali benar disebutnya, dan suara orang tua, di lembah itu nyata benar kedengaran oleh si Zhilin. Walaupun tak nyata sekalian apa yang diperkatakan mereka itu, tetapi sudah syak hati si Zhilin, bahwa pastilah serdadu Rus tak jauh dari kampung itu adanya. Oleh sebab itulah orang Tartar itu tak tahu apa yang akan diperbuatnya tentang tawanannya bangsa Rus itu.
Setelah beberapa lamanya, maka enyahlah mereka dari situ, dan tak lama antaranya kemudianterdengarlah oleh siZhilin sesuatu bunyi di atas kepalanya. Ia pun menoleh ke atas dan tampaklah olehnya si Dina berjongkok di tepi lubang itu, lututnya tinggi dari pada kepalanya. Ia membungkuk ke dalam lubang itu, hingga mata uang yang terikat pada rambutnya terbuai-buai di atas lubang itu. Matanya berkilat-kilat seperti intan. Maka dikeluar.kan- nyalah keju dua buah dari dalam lengan bajunya, lalu dilemparkannya kepada si Zhillin. Si Zhilin segera menyambut keju itu seraya berkata, "Apa sebabnya maka lama engkau datang? Sudah banyak yang kubuat bagimu. lnilah dia, tangkapflih!" Maka dilemparkan- nyalah pennainan itu satu-satu ke atas.
Si Dina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, tak mau ia melihat pennainan itu.
Maka katanya, "Alcu tak mau!"Sesudah itu diamlah ia sejurus, kemudian berkata pulalah ia, seraya menunjuk kepada lehernya, "Iwan, orang hendak membunuh kamu."
"Siapa yang hendak membunuh aku?"
"Ayah, orang tua-tua mengatakan semuanya, kau harus dibunuh. Wah. sedih sangat hatiku." Jawab si Zhilin, "Jika sebenar-benarnya iba hatimu, berilah
sebatang."
·Si Dina menggeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah ia hendak mengatakan, "Itu tak mungkin."
Si Zhilin menyusun jari.nya, seraya meminta dengan tangis- nya, "Hai Dina berilah aku galah sebatang, aku meminta dengan karena Allah." Jawab si Dina, "Tak boleh jadi, tentu tampak oleh mereka itu, kalau aku membawa galah. Orang semuanya ada di rumah." Sesudah itu lenyaplah ia.
Setelah hari sudah malam, si Zhilin susahnya seperti pagi juga, tiada ia hendak berdiri lagi daripada tempat duduknya itu, hanya kadang-kadang saja ia memandang ke atas, ke pintu lubang itu. Bintang sudah bercahaya semuanya, hanya bulan juga yang belum kelihatan. Tak lama antaranya kedengaranlah suara Mullah, dan. sesudah itu sunyi senyaplah orang dikampung itu. Si Zhilin pun mulai mengantuk, dalam hatinya berfikir, "Tak berani anak itu gerangan."
Dengan sekonyong-konyong dirasainya tanah jatuh di atas kepalanya. Ia pun memandang ke atas, maka tampaknya olehnya galah sebatang sedang diturunkan orang dari · atas sebelah belakangnya. Galah itu berputar-putar juga sedikit, kemudian terus meluncur ke bawah. Bukan main besar hati si Zhilin. Maka dipe- gangny.alah galah itu, lalu ditariknya ke bawah. Rupanya kuat, dan kalau ia tak salah, tempatnya dulu ialah di atas atap rumah tuannya.
· Ia pun memandang ke atas. Bintang berkelip-kelip sekeliling badan dan kepala si Dina, yang pada ketika itu matanya berapi-api sebagai mata kucing. Maka membungkuklah ia hingga kepalanya sampai ke tepi lubang itu. Katanya dengan perlahan-lahan, "lwan, !wan!" sambil tangannya diisyaratkannya supaya si Zhilin perlahan-lahan pula bercakap. Tanya si Zhilin, "Ada apa?"
"Semuanya pergi hanya berdua orang jua yang tinggal di rumah! "
"Hai, marilah kita coba sekali lagi untuk yang penghabisan sekali! Nanti kutolong engkau memanjat ke atas."
Kostilin tak mau menurut perkataan si Zhilin itu, hanya ia berkata, "Tidak, tidak, aku tak dapat bergerak, masakan dapat aku lari dari sini, kalau daya untuk membalikkan badan pun tak ada sedikit juga lagi padaku."
Jika demikian selamat tinggal, janganlah engkau kecil hati dan berftkir jahat dari padaku!". Setelah itu bercium-ciumanlah mereka, dan kemudian dipegangnyalah galah itu, seraya berkata kepada si Dina menyuruh pegang galah itu kuat-kuat. Penghabisannya ia pun mulailah memanjat galah itu. Mula-mula terluncur ia kembali beberapa kali ke bawah, akan tetapi kemudiannya datang si Kostilin menolong, barulah dapat ia mencapai tepi lubang itu. Maka si Dina pun menolong pulalah. Dengan tangannya yang halus itu dihelakannyalah baju si Zhilin dengan sekuat-kuatnya; dalam itu ia tertawa-tawa kecil.
Akhirnya sampailah si Zhilin ke atas. Maka segeralah dihelakannya galah itu ke atas, seraya berkata kepada si Dina, "Dina, letakkan dia ke tempatnya kembali, kalau tidak tentu ketahuan dan tak dapat tiada engkau kena pukul!". Si Dina pu_n segera membawa galah itu ke tempatnya kernbali, dan si Zhilin segeralah berangkat menuruni bukit itu. Setelah sampai ia ke kaki bukit, maka diambilnyalah batu sebuah akan pembuka kunci pasungnya. Segala usahanya sia-sia belaka, karena kuatnya kunci itu, sebagai pula susah baginya mencapai dia. Pada ketika itu terdengarlah olehnya orang berjalan perlahan-lahan menuju dia, dalam hatinya sudah berasa, tak lain yang datang itu hanya si Dinalah. Benar dia yang datang, dan dia pun mengambil batu pula lalu berkata, "Nanti, biar aku pula mencoba membuka kunci itu." Si Dina berjongkok dan dicobanyalah membuka kunci itu, tetapi tiada juga berhasil. Tak salah, jarinya halus sebagai ranting kayu, dan kekuatannya pun kurang; tentulah .tiada akan terbuka
"Sebelumnya bulan timbul, hendaklal1 aku lepas ke seberang Jembah ini dulu, dan sudah ada aku di dalam hutan hendaknya." Oleh karena itu dilempar- kannyalah batu itu. Berpasung atau tidak, ia tak boleh tidak berangkat pada waktu itu jua.
Katanya kepada si Dina, " Selama t tinggal anakku yang ma- nis! Selama hidupku takkan lupa aku padamu."
Si Dina pun memegang dia, lalu dicarinya dengan tangannya tempat akan meletakkan keju yang baru dibawanya. Maka disam- butnyalah keju itu oleh si Zhilin.
"Terima kasih, kekasihku! Siapa yang akan membuatkan boneka lagi bagimu, kalau aku sudah pergi kelak?" Lalu digosok-go- soknyalah kepala si Dina itu.
Si Dina menangis, lalu ditutupnya mukanya dengan kedua belah tangannya. Setelal1 itu berlarilah ia ke rumahnya, mata uang yang dirambutnya itu berdencingan sepanjang jalan.
Si Zhilin meminta doa; kunci pasungnya itu dipegangnya, supaya jangan berbunyi, kemudian berangkatlah ia dengan menge- ret kakinya yang berpasung itu. Matanya selalu memandang ke tempat bulan akan timbul itu.
J alan sudah tahu benar ia. Harapannya hanya hendak mencapai rirnba itu sebelum bulan terbit. Kalau ia berjalan terus lurus saja, enam mil yang akan ditempuhnya lagi. Maka berjalanlah ia dan diseberangil>yalah sungai yang dilembah itu; dalam pada itu warna langit yang dib?.lik bukit itu pun mulailah putih rupanya. Dengan memandang tempat bulan akan terbit itu diseberanginya- lah jua lembah itu. Setelah sampai ia keseberang, untunglah bulan belum juga timbul lagi, akan tetapi hari sudah mulai terang dan lembah itu sebahagiannya sudah terang kena cahaya bulan. Bayang-bayang seperti merayap ke kaki bukit itu dan semangkin la-
Si Zhilin segera jua meneruskan peijalanannya, dicarinya tempat-tempat yang kegelapan yang akan ditempuhnya. Maka di- kencangkannyalah langkahnya, tetapi bulan lebih kencang lagi dari padanya. Puncak-puncak bukit semuanya sudah kena cahaya bulan. Tatkala ia hampir akan sampai pada tepi rimba itu, dengan sekonyong-konyong tersemburlah sang bulan, dan hari pun teranglah. Daun kayu yang di batangnya pun nyata kelihatan adanya. Di atas puncak bukit itu terang cuacalah, tetapi sunyi, seolah-olah tak ada suatu jua makhluk yang hidup di situ. Yang kedengaran hanyalah air mengalir yang merdu bunyinya. Tak lama kemudian sampailah si Zhilin ke tepi rimba itu dengan tiada berjumpa seorang juapun. Maka dicarinyalah suatu tempat yang terlindung, lalu duduklah ia di sana akan melepaskan lelahnya dan akan memakan keju sedikit. Setelah itu dicarinyalah pula batu sebuah hendak melepaskan kunci pasungnya, akan tetapi cuma-cuma jua; jangankan kunci itu yang terbuka, tangannya yang hertambah sakit oleh kunci itu. Ia pun bangun lalu berjalan pula. Setelah semil kira-kira jauhnya ia beijalan, ia pun merasa Ielah sangat, kakinya berasa sakit, hingga terpaksa ia berhenti tiap-tiap sepuluh langkah. " Apa boleh buat," fikimya di dalam hatinya. "Aku tak boleh tidak berjalan terus, selagi aku mempunyai kekuatan. Jika aku duduk juga, jangan-jangan tak terdirikan lagi badanku kembali. Betul juga takkan tercapai benteng itu olehku, akan tetapi pada siang hari dapat aku bersembunyi di dalam hutan ini; biar sehari-harian aku berhenti, itu tak mengapa. Esok malam boleh ku teruskan pula peijalananku ini. " Maka berjalanlah ia semalam-malaman itu. Ada dua orang Tartar saja yang melintas kelihatan olehnya. Akan tetapi dari jauh sudah terdengar bunyi telapak kaki kudanya, jadi dengan mudah juga ia dapat bersem bunyi di balik pohon kayu.
Setelah beberapa lamanya ia beijalan, maka cahaya bulan pun mulailah muram, dan em bun pun mulailah jatuh. Fajar sudah mulai menyingsing, dan si Zhilin belum juga sampai ke seberang rimba itu. Maka berkatalah ia di dalam hatinya, "Marilah aku
sedikit lagi, sesudah itu dapatlah aku beristirahat dulu." Maka berjalan pulalah ia.
Beberapa pula lamanya ia berjalan, akhirnya sampailah ia ke tepi rimba itu. Maka diteruskannyalah perjalanannya sampai ke ujung rimba itu. Hari sudah siang. Di hadapannya kelihatanlah suatu tanah yang datar, dan di situlah terletak sebuah benteng. Sebelah kiri pada kaki sebuah bukit kecil, kelihatan olehnya api menyala, asapnya mengembang kian kemari. Orang-orang banyak berkumpul mengelilingi api itu.
Maka dipandangnyalah nyata-nyata sekali lagi dan teranglah kepadanya, bahwa orang yang banyak itu serdadu belaka, yaitu orang Kozak, karena senapangnya berkilat-kilat kena cahaya matahari. Tak dapat dikatakan girang hati si Zhilin. Maka dikuat-kuat- kannyalah dirinya sekali lagi, merangkak pulalah ia menuju kaki bukit itu. Di dalam hatinya ia berkata, "Ya Allah, janganlah ada hendaknya orang Tartar berkuda yang dapat melihat aku sekarang di tanah yang lapang ini! Biarpun benteng sudah dekat, tetapi rasa tak tercapai olehku berjalan ke benteng itu lagi, karena sangat lelahku!"
Baru saja ia berfikir demikian, di sebelah kiri di atas sebuah bukit kelihatanlah olehnya tiga orang Tartar, ada kira-kira seratus meter jauhnya dari tempatnya.
Mereka memandang pula kepada si Zhilin, oleh sebab itu dengan segera dikejamyalah si Zhilin, sehingga hilang semangatnya melihat mereka itu; kemudian dilambai-lambaikannyalah tangannya, seraya berseru dengan sekeras-kerasnya, "Saudara, saudara! Tolong, tolong!"
Beruntunglah ada orang Kozak itu yang mendengar teriak- nya, lalu dipacunyalah kudanya hendak datang menolong. Maka dipintasinyalah orang Tartar itu. Karena mereka dekat dan orang Kozak jauh dari si Zhilin, si Zhilin pun dengan sekuat-kuat dirinya pula lari menjauhi orang Tartar itu. Pasungnya dipegangnya dengan tangannya, supaya boleh lebih mudah ia berlari. Maka berlari-
Serani, seraya berseru, "Saudara-saudara! Saudara-saudara!"
Orang Kozak itu kira-kira lima belas orang banyaknya. Orang Tartar itu pun takutlah,lalu berhentilah mereka mengejar si Zhilin, karena masih jauh juga ia. Oleh sebab itu si Zhilin pun mudahlah mendapatkan serdadu-serdadu Kozak itu. Mereka berdiri semuanya mengelilingi si Zhilin, seraya bertanya, "Siapa kamu? Dan dari mana kamu datang?"
Si Zhilin tak menjawab, tak ada dayanya lagi akan menyahut tanya mereka itu. Air rna tanya jatuh berlinang-linang, dan kata yang keluar dari mulutnya hanyalah. "Saudara-saudara! Saudara-saudara!"
Setelah itu datanglah serdadu yang lain-lain, semuanya berkerubung mengelilingi si Zhilin yang seorang memberi dia roti, yang lain bukweit *) dan yang lain berendi. Badan si Zhilin dise- limutinya dengan sehelai baju panjang, dan pasungannya dibuka- kan oleh mereka itu bersama-sama.
Oleh opsir-opsir pun ketika melihat dia, segera juga dikenalnya kawannya itu. Maka si Zhilin lalu dinaikkan mereka ke atas kudanya dan dibawanya ke dalam benteng. Serdadu-serdadu bergirang hati belaka, dan kawan-kawannya segeralah datang memberi selamat kepadanya. Setelah lepaslah Ielah si Zhilin, maka diceritakannya-lah kepada mereka itu apa yang telah terjadi atas dirinya. "Jika sedemikian ini aku lebih dahulu luput daripada bahaya itu, tentu aku sudah sampai ke rumahku dan sudah pula aku kawin dengan anak gad is yang baik hati itu!" Kata si Zhilin akan penutup ceritanya. " Rupa-rupanya belum nasibku lagi akan kawin dan akan bertemu dengan ibuku." Maka tinggal pulalah ia di Kaukasus itu menjadi penjaga keamanan negeri. Ada sebulan antaranya, barulah si Kostilin dilepaskan orang, yaitu setelah orang Tartar itu menerima uang tebusan
•) Sebangsa gandum juga
Sudah harnpir mati ia, ketika ia terlepas dari penjaranya itu.
(Dikarang kira-kira dalarn tahun 1870, di dalam seri Tolstoy, yang dinamakan "Cerita-cerita untuk kanak-kanak").
DENGAN KULIT ROTI
(Suatu cerita kampung di tanah Ruslan)
Pada suatu hari adalah seorang tani; waktu dini hari pergilah ia ke ladangnya akan mengerjakan tanahnya. Karena ia seorang miskin, perbekalan yang dibawanya hanyalah sekerat roti kering saja, boleh dikatakan kulit-kulit roti, tak ada menteganya atau daging (sambalnya) sedikit juapun.
Setelah sampailah ia ke ladangnya, maka diperbaikinya luku- nya (bajak) kemudian dibungkusnya rotinya dengan bajunya, diletakkannya di bawah sebatang pokok ·kecil, lalu mulailah ia bekerja.
Setelah berapa lamanya ia bekerja, dilihatnya kudanya sudah mulai Ielah, ia pun merasai laparlah. Oleh sebab itu berhentilah ia, kudanya dilepaskannya dari pasangannya akan makan-makan rumput; kemudian pergilah ia mengambil bajunya dengan rotinya.
Maka diangkatnyalah bajunya itu; setelah terangkat dilihatnya rotinya sudah hilang. Dicarinya di mana-mana, dikirap-kirap- kannya bajunya, tak ada juga roti itu, sudah terang hilang; hilang akalnya memikirkan.
Katanya, "Ajaib, ajaib sungguh! Tak ada seorang juga yang tampak olehku datang ke mari, tetapi pasti ada yang datang ke mari mengambil rotiku!"
Yang mengambil rotinya itu ialah seorang iblis. Sedang si tani meluku, dicurinyalah roti itu, lalu bersembunyilah ia di batik pohon kayu menanti-nantikan apa yang diperbuat oleh si tani itu, kalau-kalau ketahuan olehnya, bahwa ia kecurian. Pengharapan iblis itu si tani akan marah sangat, menyumpah-nyumpah dan memaki-maki kepadanya.
Sungguh iba hati si tani itu rotinya hilang, tetapi "apa boleh
katanya. " Aku takkan mati jua karena kelaparan. Entah ada orang kelapara'n yang datang mencuri rotiku itu tadi, siapa tahu. Biarlah! Menjadi darah daging jugalah hendaknya roti itu baginya."
Setelah itu pergilah ia kepada sebuah mata air yang dekat di situ, lalu minum dengan sepuas-puasnya; kemudian berhentilah ia sejurus melepaskan lelahnya. Demi lepaslah lelahnya, ia pun segera menangkap kudanya, lalu dipasangnya dan sudah itu pergi pula ia meluku.
Melihat kelakuan si tani itu hilanglah akal si lblis, tak sampai maksudnya hendak menjahanamkan si tani itu supaya ia berdosa. Oleh karena itu pulanglah ia kembali kepada tuannya si Satan (setan), akan mengabarkan segala yang terjadi itu.
Setelah sampailah ia ke hadapan tuannya, diceritakannya, bahwa telah dicurinya roti si tani itu, dengan harapan supaya ia menyumpah-nyumpah dan memaki-maki. Akan tetapi jangankan berbuat demikian, marah pun ia tidak, malah dimintanya roti itu menjadi darah daging bagi si pencuri. Si Satan bukan main murkanya, lalu berkatalah ia, " Itulah salahmu sendiri jua, engkau tak pandai; dari itu tak dapat kau menaklukkan manusia itu. Jika sekalian orang tani berbuat semacam itu, baik yang laki-laki, baik yang perempuan, tak dapat tiada hilanglah segala kekuasaan kita hilang sama sekali. Tak boleh jadi begitu. Pergilah engkau kembali dengan selekas-lekasnya akan memperbaiki kesalahanmu itu! Sekiranya tak dapat engkau menaklukkan orang itu dalam tiga tahun, nanti kucempungkan engkau ke dalam air Nasrani *).
Si lblis terperanjat mendengar perkataan tuannya sedemikian itu. Maka turunlah ia kembali ke dunia, akan mencoba-coba me- naklukan orang tani itu. Maka bermenung-menunglah ia mencari akal, betapa tipu muslihat yang baik akan mengalahkan si tani itu. Akhirnya terbitlah akal padanya.
Maka dijadikannya dirinya seorang kuli, lalu pergilah ia kepada orang tani i~u, meminta kerja. Maka diterimalah ia oleh orang •) Sekallan setan lblis takut sangat kepada air itu, menjadi persumpahan olehnya.
"Menurut fikiran hamba dalam tahun ini lebih baik tuan bertanam di tempat-tempat yang ketinggian saja." Benar pula kata bujangnya itu, karena setahun-tahun itu boleh dikatakan tak berapa hari yang tak hujan. Gandum orang yang lain habis rebah sama sekali kena ditimpa hujan, dan terendamlah ia berhari-hari sampai busuk; akan tetapi gandum si tani biarpun ada yang rebah, tetapi tiada ia terendam oleh air; jadi setelah musim hujan berhenti, dapatlah ia hidup subur sampai kering. Pada tahun itu lebih banyak lagi gandumnya daripada tahun yang lalu, hingga tak tahu lagi ia di mana akan ditempatkan dan apa yang akan diperbuat dengan gandum sebanyak itu.
Maka diajamya oleh si Iblis tuannya itu membuat sopi. Buah gandum itu dijadikan tepung, lalu dimasak (dikukus). Maka oleh tuannya dibuatnyalah sopi keras beberapa banyaknya. Sopi itu diminumnya sendiri, dan dibagi-bagikannya kepada orang tani lain, sahabat-sahabatnya.
Maka si lblis pergilah menghadap tuannya akan memperaga- kan perbuatannya itu, dan akan menceritakan bahwa kesalahan yang lama sudah dapat dilipumya.Oleh karena itu berjanjilah si Satan akan pergi melihat dengan matanya sendiri, benar tidaknya kata anak buahnya itu. Kemudian maka turunlah ia ke dunia. Setelah ia sampai ke tempat orang tani itu, dilihatnyalah si tani sedang menjamu orang-orang tani kaya sekampungnya itu. Sekalian mereka disajikannya
Pada suatu ketika, waktu ia mem bagi-bagi itu terlanggarlah mcja olehnya, hingga rebah gelas sebuah.
Si tani pun marah, lalu dimaki-makinya bininya itu dan dikata-katainya dengan perkataan yang tak patut-patut, " Apa kiramu itu? Mana matamu? Itu bukannya air bandar, yang boleh engkau tumpahkan sedemikian itu saja!" Si Iblis pun menyentuh tuannya dengan sikunya, "Lihatlah!" katanya, "Itulah macamnya sekarang orang yang dulu rela memberikan makanannya yang penghabisan!"
Pada waktu itu si tani sendirilah yang membagi-bagi gelas; dalam membagi itu dikata-katainya juga bininya. Dengan sekonyong-konyong datanglah seorang tani miskin, baru kembali dari kerjanya, dan masuk saja ia keperjamuan itu dengan tiada setahu yang empunya perjamuan. Ia pun memberi salam kepada orang banyak, lalu duduklah ia, sambil melihat-lihat orang-orang itu lagi minum. Oleh karena ia merasai sangat Ielah, karena bekerja satu hari, terbit pulalah keinginannya hendak minum. Ia duduk jugalah menanti-nantikan orang datang menyajikan minuman kepadanya. Tetapi si tuan rumah berkata dengan suara yang nyata juga kedengaran, bahwa ia tak dapat memberi sebarang orang minum, yang datang~atang saja masuk ke dalam rumahnya.
Perkataan si tani itu menggembirakan hati si Satan, akan tetapi si lblis berkata, "Nantilah dulu sebentar, ada lagi banyak yang akan kita lihat."
Orang-orang tani kaya itupun minumlah bersama-sama dengan yang punya rumah. Maka mereka itu pun mulailah puji-memuji kawan, tak ada yang benar perkataan itu semuanya. Si Satan menyaringkan telinganya lagi, dipujinya sangat si Iblis itu. Maka katanya, "Jikalau so pi itu dapat menjadikan dia berlidah dua dan cerdik semacam pelanduk, hingga mau ia membo- hongi kawan-kawannya, dan mengiakan saja segala apa yang dikatakan orang kepadanya, tak dapat tiada dia sekalian itu dengan segera jua masuk oke dalam kongkongan kita."
"Sabarlah sedikit, nanti boleh tuan keluarkan flkiran tuan; akan sekarang lihatkan sajalah dulu! Biarlah ia minum segelas lagi! Sekarang mereka itu lagi cerdik dan berlidah dua, sebagai seekor pelanduk, akan tetapi nanti ia menjadi serigala yang buas, mendengking-dengking bunyinya."
Orang-orang tani itu pun lalu meminum sopi segelas lagi. Cakap-cakapnya sudah mulai kasar, dan hampir tak ada lagi watas- nya. Mulanya mereka memuji-muji kawan, kemudian mulailah mereka itu itu bersungut dan merengus, dan ada yang mulai memaki: maki. Tak lama antaranya tumbuhlah perkelahian antara mereka itu, dan pergilah masing-masing ke tempatny;i dengan berdarah hidungnya. Yang empunya peljamuan pun serta pula di dalam peperangan tinju itu, dan ada pula menerima bahagiannya seada-adanya. Satan memandang juga terus, girang sangat hatinya melihatkan tamasya itu. Katanya, "Wah, inilah yang kukehendaki."
Si lblis berkata, "Sabar sedikit tuan, ada lagi yang akan datang, lebih bagus lagi daripada yang sudah-sudah. Nantikanlah sampai gelas yang ketiga masuk ke dalam kerongkongannya! Sekarang mereka itu melolong-lolong sebagai serigala, tetapi setelah masuk isi gelas yang ketiga, mereka akan menjadi seperti babi semuanya tingkah lakunya."
Orang-orang tani tadi meminum sopi segelas lagi, maka adatnya pun sudah seperti hewan belaka. Mereka itu berteriak-teriak dan berkata-kata dengan tiada tahu apa yang dikatakannya, dan tiada pula ia mau mendengarkan perkataan orang lagi. Kemudian sekalian jamu itu pun pulanglah, ada yang beljalan seorang-seorang, dan ada yang berjalan berkawan-kawan, berdua atau bertiga. Maka berjalanlah mereka itu sebagai kapal oleng dan sebagai menurut jalan ular, tak tentu tujuannya. Yang punya jamu pun pergi juga mengantar-ngantarkan mereka sampai ke pintu pagar, kalau ada yang akan ke luar, segeralah dibukakannya pintu untuk jamunya itu; akan tetapi karena ia tak pandai pula beJjalan, jatuhlah ia masuk bandar, hingga berkecimpunglah ia didalam lumpur itu sebagai seekor babi dengan berapa maki dan nistanya.
" Sopi rnasakan sangat
mujarab khasiatnya. Perkara roti yang dulu sudah kita lupakan. Akan tetapi betapa jalannya engkau mernasaknya sedemikian itu? Tentu saja ada dalarn ramuannya darah pelanduk, rnaka mereka itu mula-mulanya cerdik, kedua ada pula darah serigala. Itulah sebabnya gerangan, maka mereka itu garang dan suka akan darah sebagai serigala. Dan akhirnya tentu ada pula kau campurkan darah babi, itulah sebabnya konon pada penghabisannya adatnya sekaliannya sebagai adat babi."
J awab si lblis, "Bukan, tidak demikian halnya, bukan begitu yang hamba perbuat. Yang hamba akalkan ialah supayasi tani itu memperoleh gandum lebih banyak daripada keperluannya sendiri. Sifat binatang itu selalu ada di dalam diri manusia. Akan tetapi selama hasilnya cukup, sekadar yang perlu baginya setiap hari, selama itu pulalah ia tetap menjadi manusia, tiadalah ia melampaui watas. Selama itu pula orang tani itu rela memberikan rotinya, biar yang penghabisan sekali pun. Akan tetapi ketika gandumnya sudah berlebih-lebihan, ia pun mencari jalan akan menyenang-nyenangkan hatinya dengan kelebihannya itu. Pada ketika itu hamba tunjukkan kepadanya, bahwa kepelesiran itu hanya ada pada minuman juga. Semenjak pemberian Tuhan itu dijadikannya air kutuk Allah, yang memabukkan itu, adat pelanduk, adat serigala dan adat babi itu ke luarlah semuanya.
Kalau tetap juga ia min urn, tak dapat tiada sam a juga derajatnya dengan seek or hewan."
Satan sangat memuji-muji si lblis, lalu diampuninya habis-
habis segala kesalahannya yang dahulu itu dan kemudian diberinyalah dia suatu pangkat kehormatan. (1886).
KOSONG.
(Cerita kampung di tanah Ruslan)
Syahdan adalah seorang kuli, Emelyan namanya, ia berkuli pada seorang tauke. Sekali peristiwa ketika ia hendak pergi ke ternpat ia bekerja, dengan melalui suatu ladang, hampirlah terinjak olehnya seekor kodok, yang melompat di hadapan kakinya hendak menyeberangi jalan yang dijalaninya itu. Beruntunglah dengan Iekas dapat ia memindahkan langkahnya, hingga tiada jadi terinjak ko- dak itu. Sekonyong-konyong terdengarlah olehnya suara orang memanggil-manggil di belakangnya.
Emelyan pun segera menoleh ke belakang dan tampaklah olehnya seorang anak gadis yang amat cantik parasnya. Kata perempuan itu kepadanya, "Hai Emelyan, apa sebabnya maka engkau belum juga kawin?"
Jawab si Emelyan, " Betapa jalannya dapat aku kawin, adik- ku. Pakaianku hanya yang kupakai inilah, sebagai lagi siapa gerangan yang sudi kawin dengan daku seburuk dan semiskin ini?"
Jawab perempuan itu, "Ambillah aku akan jadi binimu!" Si Emelyan ada suka rupanya kepada anak dara itu, oleh sebab itu berkatalah ia, "Alhamdulillah syukur, pucuk dicinta ulam tiba, akan tetapi dengan apa kita hidup dan bagaimana kita dapat hidup berdua?" Sahut perempuan itu, " Pasal itu janganlah kita susahkan. Kita bekerja saja lebih keras daripada biasa, dan lebih pagi kita bangun; bukantah pakaian dan makanan itu boleh didapati di mana-mana jua, asal kita mau berusaha saja hendak memperolehnya."
"Jika demikian baiklah, marilah kita kawin. Akan tetapi ke mana kita baik pergi dulu?"
" Ke kota."
"Hai ma- manda, dari mana konon datangnya perempuan yang secantik itu?" Maka disuruhnyalah memperhentikan kendaraannya, lalu dipanggilnya bini si Emelyan itu. Maka bertanyalah baginda, "Hai perempuan, siapakah engkau?"
"Ada pun akan patik ini ialah bini pacal tuanku, orang tani, si Emelyan namanya!' '
Maka bertanya pulalah baginda, "Apa sebabnya engkau secantik ini mau kawin dengan seorang tani? Parasmu tak kurang dari pad a paras seorang permaisuri."
"Ampun tuanku, tuanku memperolok-olokkan patik jua. Akan tetapi sungguhpun begitu pada perasaan patik, seorang tani pun patut jua jadi suami patik."
Sesudah itu ada jua dua tiga patah baginda bercakap-cakap dengan perempuan; kemudian berangkatlah baginda. Setelah raja sampai ke istana kembali, tiadalah dapat baginda melupakan muka bini si Emelyan yang cantil< itu. Pacta malam hari tak tertidurkan oleh baginda barang sekejap juapun; semalam-malaman itu baginda berfi.kir, dengan jalan apa dapat akan memperoleh bini si Emelyan itu. Betapa pun baginda berfJ.kir, tiadalah dapat aka! oleh baginda; sebab itu dititahkan baginda mengumpulkan segalaisi istana. Setelah itu bertitahlah baginda me-
Sembah isi istana, " Ampun tuanku, tuanku titahkanlah si Emelyan itu bekerja di istana tuanku ini, supaya dapat kami memberi dia kerja yang berat-berat, hingga boleh ia sampai mati bekerja. Jika ia mati tentulah bininya menjadi janda, dan tuanku pun mudahlah akan mengambil dia menjadi isi istana."
Nasihat itu diturut oleh baginda. Tak lama jua ke luarlah perintah raja, mengatakan si Emelyan harus bekerja menjadi kuli di dalam istana, dan ia harus diam di dalam istana beserta dengan bininya.
Si Emelyan segera menurut perintah itu, tetapi dia sendiri yang datang ke istana. Setelah sampai bertanyalah bendahara kepadanya, "Apa sebabnya maka engkau sendiri yang datang, dan binimu tidak?"
Sahut si Emelyan, "Apa jalannya hamba membawa isteri hamba ke mari ini? Akan dia ada rumahnya sendiri."
Setelah ia sampai ke dalam istana, ia pun diberilah kerja dua orang. Pada ketika ia mulai bekerja itu, sangat cemas hatinya, kalau-kalau tiada terhabiskan pekerjaan itu olehnya. Akan tetapi pada petang hari dengan tiada disangkanya sedik.it juga, dilihatnyalah hampir habis jua segala pekerjaannya itu. Tatkala bendahara datang kepadanya akan melihat pekerjaannya, dilihatnya sudah siap sekaliannya, tak ada yang tak habis. Oleh sebab itu untuk keesokan harinya diberinya pula si Emelyan itu kerja dua kali sebanyak yang tadi. Si Emelyan pun pulanglah dengan girang hatinya. Dilihatnya di rumah sudah siap belaka, sekaliannya sudah bersih, dapur pemanaskan bilik sudah berapi, makanan sudah sedia, asapnya kelihatan mengembang ke udara, bininya sedang duduk menjahit menanti-nantikan ia datang. Maka oleh bini si Emelyan diberinyalah hormat akan lakinya itu, lalu disajikannya pula makanan. Setelah siap belaka dan mereka itu sudah duduk makan, bertanyalah bininya kepadanya, apa yang diperbuat tadi di istana raja.
Sahut suaminya, "Wahai b~u, tak main-main banyaknya,
aku. Jika tidak; mustahil orang mau memberi aku kerja sebanyak itu!" Kata bininya, "Janganlah abang susahkan perkara kerja itu, bekerja sajalah terus, dan janganlah berhenti akan melihat berapa yang telah sudah dan berapa yang akan dikerjakan lagi. Jika diperbuat seperti kataku ini, insya Allah, Tuhan akan menolong kita jua."
Si Emelyan pun pergilah tidur melepaskan lelahnya, tak lama antaranya tertidurlah ia dengan nyenyaknya. Pada esok harinya pergi pulalah ia bekerja ke istana, dan bekerja pulalah ia sampai petang hari dengan tiada berhenti-hentinya. Pada petang harinya dilihatnya sudah habis pula pekerjaannya, hingga dapat pulalah ia pulang ke rumahnya kembali. Demikianlah halnya si Emelyan itu berturut-turut. Makin lama makin ban yak yang harus dikerjakannya, akan tetapi untungnya yang baik, pacta petang hari dengan tiada disangka-sangka sudah jua pekerjaan yang banyak itu, hingga dapat juga ia pulang ke rumahnya petang hari sebagaimana biasa. Maka adalah sepekan lamanya ia bekerja sedemikian itu, akan tetapi harapan orang supaya si Emelyan itu jatuh sakit karena terlampau amat banyak bekerja itu, sia-sia belaka. Ia tiadalah sakit, melainkan sehat juga ia seperti sedekala. Oleh karena itu diberi dia lagi kerja yang pelik-pelik, yakni kerja yang harus dikerjakan dengan seksama. Itu pun tiada juga menyebabkan dia sakit. Pekerjaan tukang kayu, tukang batu, tukang pateri, dan pekerjaan apa pun dapat dikerjakannya dengan mudahnya jua. Sekaliannya itu dapat dikerjakannya dengan betul dan Iekas, hingga pacta petang hari dapat juga ia pulang mendapatkan bininya. Dengan jalan yang sedemikian macamnya, sudah dua pekan lamanya ia bekerja di dalam istana, tetapi belum juga sampai maksud raja itu.
Oleh karena itu dikumpulkan pulalah segala isi istana. Setelah hadir semuanya, bertitahlah baginda, " Apa lagi macamnya itu? Sudah dua pekan lamanya aku menanti-nanti belum suatu apajua
peketjaan yang berat-berat kepada si Emelyan itu hingga lama-kelamaan tewas nyawanya; akan tetapi setiap petang aku lihat dari jendela istanaku, ia bernyanyi-nyanyi dan bergirang hati pulang ke rumahnya. Rupanya kamu sekalian hendak memperolok-olokkan daku belaka."
" Am pun tuanku, beribu kali am pun. Sudah patik sekalian permacamkan si Emelyan itu. Ketja dua puluh orang, ketja tukang yang halus-halus, ketja yang tak patut-patut baginya pun sudah kami suruh ketjakan, tetapi heran seribu kali heran, dapat juga diperbuatnya dan diketjakannya di dalam satu hari jua. Patik sekalian pun takjub memikirkannya. Yang tak mungkin-mungkin, yang mustahil dapat diketjakan manusia, dapat jua diketjakannya. Mula-mula patik sekalian suruh dia mengangkat barang, hingga karena sangat lelahnya mudah jua ia mendapat penyakit; akan tetapi rupanya tak ada suatu jua pekerjaan yang dapat melelahkan dia, sekalian peketjaan itu dilangsungkannya sebagai disapu jua. Tak dapat oleh patik sekalian menghabiskan tenaganya. Kernudian karena tiada jua berhasil rnaksud karni, patik sekalian pun rnernberi dia peketjaan yang pelik-pelik, pada persangkaan kami tiadalah akan sanggup ia rnengetjakannya, karena bukan kepandaiannya. Akan tetapi pada petang hari sudah jua semuanya, dan peketjaan itu laksana pekerjaan tukang tua rupanya. Apa pun peketjaan yang patik sekalian berikan kepadanya, sekaliannya disudahkannya dengan lekas serta dengan bagusnya, tak ada cacatnya sedikit jua pun. Heran patik sekalian rnernikirkan hal yang sedemikian itu. Atau dia atau bininya niscaya ada mempunyai sesuatu azimat atau ilmu yang dapat rnenolong dia. Patik sekalian pun sudah benci sangat kepadanya, karena dia sudah memberi malu kepada kami, · alah patik sekalian olehnya. Wah, adalah juga akal yang baik untuk menewaskan dial Sudahlah terflkir-ft.kir oleh patik sekalian akan menyuruh membuat sebuah gereja besar olehnya, gereja itu hams sudah di dalam satu hari saja. Berharaplah patik sekalian sudi tuanku menitahkan dia ke marl, dan rnenyuruh dia membuat suatu gereja besar di hadapan istana tuanku ini. Di dalarn satu hari jua hendaklah siap gereja itu. Sekiranya tak sudah, ia dipancung, ka-
raja."
Baginda pun segera menitahkan memanggil si Emelyan. Setelah ia datang, sabda badinda, "Hai Emelyan, dengarlah baik-baik apa titah kami! Hendaklah engkau dirikan gereja besar sebuah di atas tanah lapang yang di hadapan istana kami ini, pada esok petang hari hendaklah ia siap belaka. Jika sudah, engkau akan kami beri anugerah, dan jika tidak sudah tentu kepalamu kami pancung."
Setelah si Emelyan mendengar titah raja sedemikian itu, ia pun menundukkan kepalanya ke bumi, seraya bermohon pulang ke rumahnya. Katanya di dalam hatinya, "Wah, sekali ini hilanglah nyawamu, Emelyan; masakan dapat engkau mengerjakan pekerjaan yang sedemikian itu?!"
Setelah ia sampai ke rumahnya, maka katanya kepada bininya, " Hai biniku, segera jualah kita berkemas, kita akan lari dari sini; kalau tidak aku celaka, semata-mata bukan salahku."
Kata bininya, "Hai abang, apa jua gerangan sebabnya abang sedemikian peri, dan apa gunanya k.ita lari dari sini?" "Tentu saja ada sebabnya. Raja menitahkan kepadaku akan membuat sebuah gereja besar, esok pada petang hari harus sudah jua hendaknya. Jika tak sudah gereja itu, aku dipancung. Yang sebaik-baiknya sekarang, ialah kita lari saja dengan selekas-lekasnya dari sini. " Bini si Emelyan tak mau menurutkan kata lakinya itu, katanya, "Serdadu raja terlampau banyak; kalau kita lari, dengan segera jua kita diburunya dan ditangkapnya Tak mungkin kita akan terlepas dari genggamannya ke mana pun kita pergi akan tertangkap juga olehnya; tak lain aka! ialah menurut perintah raja jua sedapat-dapatnya."
"Betapa jalan menurutkan pennintaannya, jika perintah itu yang bukan-bukan saja, pekerjaan yang mustahil terkerjakan?"
"Wahai abang, janganlah abang masygul. Lebih baik makan kita dulu, dan kemudian tidur. Besok pagi bangun abang pagi-pagi buta, mudah-mudahan ada juga datang pertolongan."
"Hai a bang, lekas jualah abang pergi mendirikan gereja itu. Ini ada tukul dengan besi paku, sesungguhnya ada kerja menanti di situ, cukup untuk sehari."
Si Emelyan pun segeralah pergi ke kota. Setelah sampai ia ke- hadapan istana raja, dilihatnya sudah ada sebuah gereja terdiri di situ, tetapi belum sudah lagi. Ia pun segera mulai bekerja, akan menyudahkan apa yang belum siap lagi. Maka bekerjalah ia sehari-harian itu, dan pada petang harinya siaplah sekaliannya.
Pada keesokan harinya, tatkala raja sadar daripada beradu, memandanglah baginda ke luar istana, dan tampaklah oleh baginda, bahwa sudah berdiri sebuah gereja di hadapan istana, dan dilihatnya pula si Emelyan itu tengah memaku-maku dan menambah- nambah barang yang kurang. Adapun akan raja, bukannya ia girang melihat gereja itu, melainkan bertambah besar sesalnya dan sakit hatinya. Bukantah tak dapat baginda memancung kepala si Emelyan dan tak dapat pula ia mengambil bininya itu lagi?! Maka dititahkan pulalah mengumpulkan segala isi istana. Sabda baginda, "Titah kita yang kemarin pun sudah dikerjakan oleh si Emelyan; jadi tiadalah ada jalan akan menghukum mati dia. Pekerjaan ini pun rupanya tak susah baginya. Sekarang apa akal? Engkau sekalian hendaklah memikirkan sesuatu akal yang lam, hendak menyampaikan maksudku ini! Jika tidak, kau sekalian aku pancung." Setelah itu bermusyawaratlah segala isi istana itu sejurus, kemudian dapatlah pula suatu akal; si Emelyan itu hendaklah membuat sebuah sungai sekeliling istana itu, cukup dengan kapal- nya banyak-banyak berlayar kian-ke mari di dalamnya. Sesudah itu dipanggil pulalah si Emelyan itu, lalu dititahkan akan memperbuat pekerjaan seperti yang dimusyawaratkan oleh segala isi istana itu. Titah baginda lagi, "Jika dapat engkau membuat sebuah gereja dalam satu malam jua, niscaya dapat pula olehmu menjalan-
_tak dapat tiada kami pancung kepalamu."
Si Emelyan pun ketika mendengarkan titah baginda sedemikian itu putus asalah ia, lebih lagi daripada kemarin. Dengan masy- gulnya dan air matanya berhamburan, pulanglah ia ke rumahnya mendapatkan bininya. "Apa sebabnya gerangan kakanda susah ini? Ada pula perintah raja yang tak dapat abang kexjakan?"
Si Emelyan segera menceritakan apa yang telah texjadi atasnya dari awalnya sampai kepada akhirnya. " Akan sekarang," katanya lagi, "lebih baik kita lari saja dari sini!"
Sahut isterinya, "Hai abang, ingatlah akan serdadu raja di mana-mana pun akan dapat juga kita olehnya. Lebih baik kita turut saja perintah raja sedapat-dapatnya." Kata si Emelyan, "Tetapi dengan jalan apa dapat kulangsung- kan pekerjaan yang sebesar itu?"
"Wahai abang, janganlah kita Iekas putus harapan. Makanlah abang dahulu, dan kemudian pergi tidur, sebab besok abang akan kexja keras. Bangunlah pagi-pagi buta, mudah-mudahan datang jua pertolongan."
Si Emelyan pun pergilah makan dan kemudian tidurlah ia dengan nyenyaknya. Pada esok paginya bininya pun lalu memba- ngunkankan dia, katanya kepada lakinya, "Pergilah abang Iekas ke istana, semuanya sudah siap belaka. Hanya dekat pengalangan kapal di hadapan istana ada lagi tanah seonggok kecil, bawalah sodok sebuah dan buangkanlah tanah itu!"
Tatkala raja bangun dari beradu, dan melihat ke luar istana, tampaklah oleh baginda sudah ada sungai sebuah mengelilingi istananya. Kapal banyak berlayar di dalamnya kian ke mari, dan si Emelyan tak berhentinya bekexja membuangkan tanah.
Biarpun baginda sangat heran melihat kepandaian si Emelyan itu, tetapi sangat benci ia melihat sung~i dan kapal itu, karena oleh itulah tak dapat ia menyampaikan maksudnya hendak membunuh
"Rupa-rupanya tak ada suatu jua di atas dunia ini yang tak dapat dikerjakan oleh si Emelyan itu. Apa daya sekarang? " Maka dititahkan baginda pula mengumpulkan segala isi istana, akan menanyakan fl)Gran masing-masing. Setelah hadirlah semuanya, maka sabda baginda, "Cobalah tuan-tuan ftkirkan barang sesuatu yang tak mungkin terkerjakan oleh si Emelyan itu, karena apa yang telah kita perintahkan kepadanya, semuanya dikerjakannya dengan sepertinya; dalam pacta itu tiada juga dapat aku peroleh isterinya itu. ''
Maka bermusyawarat pulalah segala isi istana, berftkirlah mereka itu beberapa lamanya; akhirnya dapatlah suatu aka!. Setelah itu maka mereka itu pun segera pergi ke penghadapan, seraya ber-datang sembah, "Ya tuanku, titahkanlah oleh tuanku si Emelyan itu datang menghadap, kemudian tuanku titahkan pula kepadanya, "Pergilah "ke situ, tetapi orang tak tahu di mana!" dan bawalah, '1tu, orang tak tahu apa dia! "
Tuanku dapat selalu mengatakan, bahwa bukan tempat yang diturutinya itu yang tuanku maksud. Maka bolehlah tuanku menyuruh memenggal lehernya dan setelah itu mengambil isterinya.
Nasihat itu amat disukai oleh baginda. Sabda baginda, "Sekali ini sesungguhnyalah fikiran yang benar yang kamu keluarkan." Setelah itu dititahkan baginda memanggil si Emelyan. Serta · ia datang baginda pun bersabda, "Hai Emelyan, pergilah engkau "ke situ, orang tak tahu di mana," dan ambillah "itu, orang tak tahu apa dia." Sekiranya tak engkau jalankan perintah kami ini, tak dapat tiada kami penggallehermu." Si Emelyan pun pulanglah ke rumahilya mendapatkan bininya. Setelah sampai diceritakannyalah, apa yang dititahkan oleh raja itu. Derni didengar isterinya apa sabda raja itu, ia pun tepekur sejurus. Kemudian berkatalah bininya, "M.aksud orang berkata demikian ialah hendak memperdayakan abang jua. Oleh karena itu haruslah kita hati-hati sedikit." Setelah itu berftkir pulalah ia beberapa saat lamanya. Kemudian berkatalah isterinya, "Sekarang
itu."
Setelah itu disediakannyalah untuk lakinya segala apa perbekalan yang perlu baginya di perjalanannya itu. Maka diberinyalah lakinya sebuah pundi-pundi dengan sebatang tongkat. Kata bininya, "Berikanlah tongkat ini kepada nenek! Itulah suatu alamat yang menandakan, bahwa abang lakiku." Setelah itu ditunjuk- kannyalah jalan mana yang harus diturut oleh lakinya itu.
Si Emelyan lalu berangkatlah. Setelah ia sampai ke luar kota, tampaklah olehnya suatu tanah lapang tempat serdadu baris. Maka memandanglah ia kepada mereka itu sejurus.
Adapun akan serdadu itu setelah berhenti daripada baris itu,. pergilah mereka duduk-duduk di bawah pohon kayu. Maka pergilah si Emelyan kepada mereka itu. Setelah sampai bertanyalah ia, "Wahai saudara-saudaraku! Adakah jua di antara tuan-tuan yang banyak ini yang tahu jalan "ke situ, tak tahu orang di mana", dan di mana dapat kuperoleh, "itu, tak orang tahu apa?"
Segala mereka heran mendengarkan pertanyaan itu, lalu her- tanya, "Siapakah yang memberi perintah se ajaib itu?"
"Raja", jawab si Emelyan. Di an tara tuan-tuan yang banyak ini yang tahu jalan "ke situ, tak tahu di mana," dan kami selalu mencari "itu, tetapi orang tak tahu apa"; kami tiada akan sampai-sampainya, dan tiada pulalah akan kami dapati akan dia. J adi tak dapat kami menolong tuan hamba."
Si Emelyan duduklah sejurus beserta serdadu itu, kemudian diteruskannyalah pula petjalanannya. Ada kira-kira semil jauhnya
beketja itu ia menangisjua. Raminya itu di- basahinya dengan air matanya, kalau ia hendak memperhubungkan dia. Tatkala ia melihat si Emelyan, bertanyalah ia, "Hai anak muda, apa maksudmu datang ke marl ini?" Makadiberikannya- lah tongkatnya itu, oleh si Emelyan Ialu dikatakannyalah, bahwa ia disuruh oleh bininya ke situ. Perempuan tua itu dengan segera juga merasa kasihan dan sayang kepadanya, lalu bertanyalah ia dari awalnya sampai kepada akhirnya. Si Emelyan pun segera menceritakan halnya dari pang- kalnya sampai kepada penghabisannya; mula-mulanya dari hal kawinnya, sesudah itu perkara hidupnya di kota, kemudian ketika ketja di istana; setelah itu tentang hal membuat gereja dan sungai itu, dan penghabisan dari hal perintah raja yang sekarang, yakni ia harus pergi "ke situ, orang tak tahu di mana, mem bawa "itu, orang tak tahu apa."
Perempuan tua itu mendengarkan dengan hati-hati segala apa yang diceritakan oleh si Emelyan. Maka pada ketika itu berhentilah ia daripada menangis. Dalam hatinya ia berfikir, " Sudah tiba waktunya sekarang gerangan?" Maka berkatalah ia kepada si Emelyan, katanya, "Baiklah anakku! Duduklah engkau dulu, boleh kusajikan makanan bagimu!". Setelah itu makanlah si Emelyan. Sesudahnya ia makan, maka diberi tahukanlah oleh si tua itu kepadanya, apa yan'g harus diperbuatnya, "Ini ada segulung tali halus. Rentanglah ia dan turutkan sajalah ke mana gulungan ini berguling, biar sampai ke laut sekali pun. Di situlah nanti akan engkau lihat sebuah kota yang amat besar. Masukilah kota itu dan mintalah bermalam di rumah yang di ujung kota sekali. Di situlah akan engkau dapati apa yang engkau kehendaki." "Tetapi di mana dapat cucu ketahui, bahwa yang cucu dapati itu itulah yang sebenarnya, ya nenekku?"
"Jika engkau lihat orang~rang lebih suka menurut perintah
"Sekiranya barang ini bukannya yang tuanku kehendaki, baiklah dia dirusakkan." Segeralah engkau pukul barang itu dengan sekeras-kerasnya, kemudian engkau bawalah dia ke tepi sungai, lalu engkau lem- parkan ia masuk ke dalam air. Setelah demikian tak dapat tiada engkau peroleh binimu kembali, dan air mataku pun tentu kering- lah."
Si Emelyan pun memberi selamat tinggal kepada neneknya itu, lalu dijatuhkannyalah gulungan tali yang diberikan orang tua itu. Gulungan itu pun bergulinglah, terus sampai kepada tepi laut. Maka di situ adalah sebuah kota, terlalu amat besarnya; di ujungnya sekali adalah sebuah rumah yang terlalu amat besar. Maka di situlah ia minta bermalam untuk sernalam itu; permintaannya itu dikabulkan orang. Maka pergilah ia tidur; pada esok harinya ketika ia hendak bangun pagi hari, terdengarlah olehnya, seorang bapa berkata kepada anaknya, rnenyuruh ia mernotong kayu dan menghidupkan api. Anak itu rupanya tak mau, karena " hari lagi pagi am at, lagi ban yak waktu," katanya. lbu anak itu berkata, "Hai anakku segera jualah engkau ketjakan apa yang dikatakan oleh ayahrnu itu, ia sudah tua dan kaku-kaku; patutkah ia yang rnengetjakannya? Sebagai lagi sudah waktu bangun pula sekarang tnl... '" Tetapi si anak itu tiada juga rnau bangun, melainkan merengus-rengus sajalah ia, kemudian tidurlah ia kernbali. Tatkala itu terdengarlah oleh si Emelyan barang sesuatu sebagai guntur dan guruh bunyinya rnelalui jalan-jalan kota itu. Mendengarkan itu si anak rnelompat dari tempat tidurnya, dikenakannya pakainnya dengan selekas-lekasnya, lalu berlarilah ia mengejar yang berbunyi itu. Si Emelyan pun segera mengikut dia dengan selekas-lekasnya dari belakang, beringin sekali ia hendak rnelihat apa yang berbunyi itu, yang lebih dihormati anak itu daripada ayah bundanya sendiri. Maka tampa.klah olehnya seorang-orang betjalan sekeliling
"Genderang."
"Kosong ia itu?"
"Ya, kosong." Emelyan sangat heran memikirkannya. Maka dimintanyalah barang itu, akan tetapi tak mau orang itu memberikan dia kepadanya. Oleh karena itu tiadalah ia meminta lagi, hanya diikutkannya saja tukang genderang itu dari belakang. Demikianlah halnya sehari-harian itu. Akhirnya tukang genderang itu pergi tidur. Setelah itu diambilnyalah genderang itu oleh si Emelyan, lalu dilarikannya- lah dengan selekas-lekasnya menuju negerinya. Setelah sampai pergilah ia ke rumahnya, dilihatnya bininya tak ada lagi. Sepeninggal ia raja sudah menyuruh bawa isterinya ke dalam istana. Oleh sebab itu pergilah ia ke istana mohon menghadap raja. Mak~ di pintanyalah persembahkan kepada raja, bahwa ia sudah kembali dari "situ, orang tak tahu di mana," dan ada padanya, ''itu, orang tak tahu a pa ". Pennintaan si Emelyan itu segera jua disampaikan. kepada raja. Setelah itu dititahkanlah si Emelyan itu datang menghadap pada esok harinya. Tetapi kata si Emelyan pula, "Katakan pada raja, aku sudah sampai di sini hari ini, dan aku sudah bawa apa yang disuruh cari oleh baginda; katakan aku hendak berjumpa dengan raja hari ini jua!" Raja pun lalu menyuruh ia masuk ke penghadapan.
Tanya raja, "Dari mana engkau datang?"
Si Emelyan lalu menerangkan dari mana ia datang itu.
tempat itu yang aku maksudi; dan apa yang engkau bawa itu?"
Si Emelyan segera memperlihatkan apa yang dibawanya itu. Raja tiadalah mau memandang sedikit jua pun kepada genderang itu.
Sabda raja, " Bukan barang ini yang tuanku maksudi, lebih baik ia dihancurkan saja."
Si Emelyan pun segera keluar dari dalam istana; genderang itu dibawanya sertanya, lalu dipukulnyalah sekencang-kencangnya. Maka segala bala tentara raja pun ke luarlah datang menggiringkan si Emelyan. Semuanya memberi hormat kepadanya dengan segala khidmatnya. Setelah itu mereka itu bemantilah menanti perintah si Emelyan.
Raja pun segera bersabda kepada serdadu-serdadunya dari jendela istananya, mengatakan, janganlah mereka itu mau menurutkan perintah si Emelyan itu. Akan tetapi seorang pun tak mau menurut perintah raja itu, melainkan genderang itulah yang diturutkannya.
Tatkala dilihat raja, akan hal yang sedemikian itu, maka diperintahkan rajalah memulangkan bini si Emelyan itu kembali, dan mengambil genderang itu dari tangannya.
Kata si Emelyan, "Genderang ini tak dapat kuberikan, karena sudah diperintahkan kepadaku akan merusakkannya, dan membuangkan pecahannya ke dalam sungai."
Si Emelyan pun segera pergi ke tepi sungai dengan gende- rangnya. itu dan serdadu semuanya mengikut dia dari belakang. Setelah sampai lalu dirusakkannya genderang itu, dihancurkannya, lalu dibuangkannya masuk air. Melihat itu segala serdadu pun pulanglah dan lari dari tangsinya. Setelah itu maka dibawanyalah oleh si Emelyan bininya itu pulang ke rumahnya, dan hiduplah keduanya berkekalan serta berkasih-kasihan selama-lamanya, karena raja tak ada datang mengganggu mereka itu lagi.
(Suatu cerita karangan Guy de Maupassant,
diubah oleh Tolstoy)
Di watas tanah Perancis dengan ltalia adalah sebuah kerajaan, yang amat kecil, letaknya di pesisir Laut Tengah. Maka kerajaan itu Monaco namanya. Penduduk kerajaan itu tak seherapa, hingga banyak kota-kota kecil di negeri lain yang lebih banyak isinya daripada kerajaan itu sama sekali Jumlah penduduknya hanya kira-kira tujuh ribu orang, dan sekiranya tanah kerajaan itu diba- gikan sama-sama rata kepada mereka itu, seseorang hanya akan mendapat suatu bahagian yang teramat kecil adanya. Kerajaan itu diperintahi seorang raja, yang mempunyai sebuah istana cukup dengan isinya, menteri-menterinya, seorang bisschop (kepala agama), panglima-panglima perang dan bala tentaranya. Benar juga tenteranya itu bukan seperti tentera kerajaan lain, tetapi ada juga ia mempunyai tentera, hingga ada enam puluh orang banyaknya. Kerajaan itu pun ada pula memungut bia dan belasting kepala. Tembakau, anggur dan minuman keras, kalau dibawa masuk ke dalam kerajaan itu, haruslah dibayar cukainya du- hi. Tetapi sungguhpun ada orang merokok dan meminum minuman keras di situ seperti di negeri-negeri lain, hasil cukai itu · dan belasting badan tiadalah memadai bagi belanja kerajaan itu, hingga raja itu kehilangan akal untuk mengadakan uang akan membayar gaji segala isi istana, gaji orang-orang yang dibawah perintah- nya dan untuk belanjanya sendiri. Oleh karena itu terpaksalah ia mencari suatu jalan akan mencukupi belanja. Maka dapatlah olehnya suatu jalan baru lagi ganjil akan menam bah pencahariannya. Adapun akan jalan pencaharian itu ialah, diadakannya suatu rumah tern pat berjudi, tern pat bertaruh "merah dengan hi tam." Maka dari seluruh muka dunia datanglah orang ke sana akan mencoba untungnya. Kalah menang orang, yang punya rumah perjudi-
Umpamanya datang orang seorang kesitu mengadu untungnya, sekalian uang yang ada padanya dijadikannya taruh, ia kalah; pun uang yang bukan kepunyaannya sudah berpindah juga ke kantung tukang perjudian; jika tak ada seduit juga lagi uang yang ada di dalam kantungnya, maka diminumnyalah minuman keras, sampai ia bukan manusia lagi, atau ditembaknyalah dirinya. Itulah sebabnya maka tempat perjudian di Jerman dihapuskan. Tetapi di Mer naco tak ada seorang juga yang dapat melarang raja itu, jadi te- rusjugalah hidupnya dengan subur perjudian itu.
Seseorang yang hendak berjudi pergilah ia ke Monaco; menang tidaknya, raja Monaco sudah mendapat bagian dari uang itu. Kata pepatah Rus, "Istana batu itu tak dapat diperbuat daripada uang yang halal." Raja Monaco pun tahu, bahwa perbuatannya itu perbuatan yang tak layak juga, akan tetapi apa boleh buat. Bukantah ia hendak hidup pula seperti orang lain? Ak.an hidup daripada cukai tembakau dan minuman keras saja, tentu tak boleh jadi. Demikianlah ia hidup dan memerintah dan memungut bagiannya dari uang yang dibawa orang masuk ke dalam kerajaannya itu. Peraturan istananya tak kurang daripada peraturan istana besar yang lain-lain, tak ubahnya ia dengan seorang raja besar. Berapalah keramaian naik nobat, berapalah banyaknya perjamuan besar, berapa banyaknya anugerah yang dibagi-bagikannya, berapa banyak vonnis (keputusan pengadilan) yang ditanda-tanganinya, berapa banyaknya orang yang diberi ampun, berapa kali dalam setahun diadakan perade, persidangan, berapa banyak undang-
texjadi di dalam negeri itu. Maka segala hakim pun bersidanglah dengan segala kebesaran akan menimbang perkara itu; setelah itu diperbincangkanlah menurut bunyi undang_:-undang. Ada hakim, ada piskal, ada advocaat dan ada jury (penirn- bang). Setelah berapa lamanya menirnbang itu akhirnya dijatuh- kanlah hukuman; menurut bunyi undang-undang, orang itu, karena sudah nyata bersalah, harus dihukum dengan hukuman mati; yaitu dipancung kepalanya. Sampai pada waktu itu tak kurang suatu apa, sekalian yang dikexjakan tak ada alangannya. Surat keputusan haruslah disahkan dulu oleh raja; maka dikirimkanlah surat vonnis itu. Setelah diterima oleh raja, lalu dibacanya dan kemudian ditanda tanganinya. Sabda baginda, "Jika orang itu patut dihukum mati, baiklah, bunuhlah dia!" Tetapi adalah keberatannya akan melangsungkan pekerjaan itu. Negeri itu tiada mempunyai alat untuk membunuh orang, belum ada dipunyai mereka itu, karena tak perlu dan algojo pun tak ada di negeri itu. Apa akal? Maka segala menteri·pun bennu- syawaratlah akan memperbincangkan hal itu. Kemudian sekatalah mereka akan memohonkan pennintaan kepada kerajaan Perancis hendak meminjam alat penjalankan hukuman mati itu, serta dipo- honkan pula memberitahukan, berapa kira-kira ongkosnya. Sepekan sesudah itu datanglah jawaban dari Perancis. Permintaan kerajaan Monaco dengan segala suka hati akan dikabulkan oleh Perancis, akan tetapi ongkosnya sekurang-kurangnya delapan ribu rupiah. Jawab Pemerintah Perancis itu segera jua disampaikan mereka kepada raja. Setelah didengar raja, sabda baginda, " Delapan ribu rupiah! Jahanam, itu belum delapan ribu harganya. Apa tak boleh kurang daripada itu? Carilah jalan lain! Delapan ribu rupiah, itu artinya belasting lebih dari satu rupiah seorang di antara anak-anak
sekaliannya!"
Oleh karena itu diadakan pulalah persidangan menteri-menteri, akan memperbincangkan apa yang hendak dikerjakan dalam hal itu. Setelah bermusyawarat maka ditetapkanlah hendak mengirimkan surat .permohonan pula kepada Pemerintah ltalia. Negeri Perancis yaitu sebuah negeri republik (negeri yang tak ada raja), boleh jadi tiada diindahkan orang permintaan raja-raja di situ. Tetapi negeri Italia ada rajanya seperti negeri Monaco, barangkali dapat lebih murah daripada di Perancis. Oleh sebab itu dikirimkanlah surat permintaan itu, dan tak lama antaranya datanglah balasan dari Italia.
Dalam surat raja ltalia tersebut, bahwa dengan segala suka hati mau baginda meminjamkan segala yang perlu untuk melangsungkan pekerjaan itu, akan tetapi ongkos algojo dengan alat itu, beserta dengan ongkos-ongkos jalannya jumlahnya ada enam ribu rupiah. Ini lebih murah, jumlahnya ada enam ribu rupiah. Ini lebih sebanyak itu harganya, jadi fak patut mengeluarkan ongkos sebanyak itu; kalau tidak tentulah terpaksa juga menaikan belasting satu rupiah seorang. Maka diadakan pulalah persidangan menteri-menteri. Ditimbang pula panjang lebar, bagaimana baiknya supaya ongkos memancung orang itu jangan semahal itu. Barangkali ada salah seorang daripada serdadu yang mau menjalankan pekerjaan itu. Maka dimintalah kepada Jenderal, kepala dari segala bala tentara, akan menghadiri persidangan menteri-menteri. Setelah hadir, perdana menteri pun lalu bertanya kepada Jenderal, "Dapatkah yang mulia tuan J enderal mengadakan bagi kami seorang serdadu yang mau memancung kepala orang? Di dalam peperangan berapa banyaknya bukan, orang yang dibunuh, dan lagi pengajaran serdadu ujudny(\ ialah untuk membunuh orangjua."
Maka panglima bala tentara pun segera memberi tahukan permintaan minister itu kepada tentaranya, lalu bertanyalah ia, siapa gerangan di antara mereka yang sudi menjalankan pekerjaan itu. Tak seorang jua yang suka menjalankan pekerjaan itu, baik yang rendah, baik yang sudah berpangkat. Kata mereka pekerjaan
ko- misi di antara mereka itu, dan kemudian diadakan pula sub komi- sinya; akhirnya dapatlah akal, hukuman mati itu baik ditukar dengan hukuman tutupan selama hidup saja. Baru itulah ada waktu bagi raja untuk memperlihatkan, bahwa ia ada berkuasa pula dalam hal memberi ampun kepada orang yang telah mendapat hukuman mati. Tetapi padahal yang terutama sekali, ialah karena ongkosnya lebih murah.
Setelah diatur segala yang perlu, lalu disampaikan kepada raja; raja pun lalu menandatangani segala surat-surat itu, dan orang yang kena hukuman mati itu pun bertukarlah hukumannya dengan hukuman tutupan selama hidup.
Setelah selesai pulalah perkara itu tiba pulalah suatu keberatan lain. Negeri itu tak ada mempunyai tutupan yang boleh dipergunakan untuk penutup orang selama hidupnya. Yang ada hanya semacam gudang tempat menutup untuk sementara saja, yaitu bagi segala orang-orang yang melanggar undang; tetapi suatu tutu p- an yang teguh, dapat dipakai untuk selama-lamanya, itu tak ada. Akhirnya berkat usa.ha dapatlah suatu tempat yang boleh dipergunakan untuk tutupan selama hidup itu. Maka orang hukuman itu pun dimasukkanlah ke dalam tutupan itu, lalu diadakan kawal (penjagaan). Kawai itu harus menjaga orang tutupan itu, dan dia pulalah yang harus menjemput makanannya dari dapur istana. Demikianlah halnya orang itu tertutup, berbulan-bulan lamanya. Akhimya sampailah tahun baru. Setelah itu raja pun memeriksai perkara uang yang masuk dan ke luar. Ketika melihat daftar uang yang ke luar, maka tampaklah oleh raja, ada pula suatu belanja baru yang termasuk di situ, yaitu belanja untuk menieliharakan orang tutu pan itu. Belanja itu bukan sedikit adanya. Perlunya ialah akan membayar kawalnya, dan makannya; jumlah ongkos itu dalam setahun ada tiga ratus rupiah. Yang menyusahkan amat bagi raja, ialah orang itu muda lagi sehat, sekurang-kurangnya dapat ia hidup lima puluh tahun lagi. Kalau dihitung-hitung tak main-main
Oleh kare~a itu rajapun segera mengumpulkan menteri-menterinya, lalu bersabda, "Menteri-menteriku, kita harus mencari jalan lain, "'upaya dapat kita memberi belanja orang tutupan negeri ini dengan ongkos yang lebih enteng lagi. Belanja yang sekarang terlampau ban yak."
Maka bermusyawarat pulalah segala menteri itu. Akhirnya berkatalah salah seorang daripada mereka itu, "Saudara-saudara, menurut flkiran hamba lebih baik kawal itu diperhentikan saja."
Sahut menteri yang lain, "Jangan saudaraku kecil hati, kalau kawal itu diperhentikan, tak dapat tiada orang itu lari. " Kata menteri yang mula-mula itu pula, "ltulah rahasia maksudku, biar lari ia hendaknya, jadi tak guna lagi kita mengeluarkan ongkos."
Menteri yang lain-lain pun menyukai f:lkiran menteri yang seorang itu. Oleh karena itu dipulangkan pulalah kepada raja, apa hasil permusyawaratan mereka. Setelah diketahui oleh raja, raja pun segera memperkenankan permintaan segala menterinya itu. Maka diperhentikanlah kawal itu, dan masing-masing menteri pun beringin sangatlah hendak mengetahui apa yang akan teijadi. Beberapa juga lamanya mereka itu menanti, tak ada suatu apa yang teijadi. Pada ketika waktu makan orang tutupan itu keluarlah dari tutupannya. Ketika dilihatnya tak ada kawal yang akan mengam bil makanannya, maka pergilah ia sendiri ke dapur istana akan menjemput makanannya. Segala apa yang diberikan orang kepadanya, diterimanya belaka, sesudah itu kembalilah ia ke dalam tutupannya, setelah sampai masuklah ia ke dalam, lalu ditutupnyalah pintu dan tinggallah ia di situ sampai pada waktu makan pula. Esok harinya sedemikian pulalah diperbuatnya. Demikianlah selalu pada waktu yang ditentukan pergilah ia menjemput makanannya, dan sesudah itu kembalilah ia kekurungannya dengan sendirinya. Rupa-rupanya tiadalah termasuk sedikit juga dalam hatinya hendak melarikan dirinya dari situ. Apa daya lagi? Oleh karena itu bersidang pulalah segala menteri akan memperkatakan hal itu, karena orang tutupan itu rupa-rupanya tak mau lari.
"Lebih baik dikatakan terus terang saja kepadanya, bahwa kita tak suka menahan dia lama-lama di sini." Kemudian orang itu pun lalu dibawa menghadap menteri Justisi.
Maka bertanyalah menteri itu, "Apa sebabnya maka kau tak lari? Bukankah tak ada kawallagi di muka pintumu? Engkau boleh pergi ke mana sukamu; raja tiada akan melarang padamu." Sahut orang itu, "Boleh jadi demikian datuk menteri, tetapi perhamba tak tahu ke mana akan pergi. Apa yang akan perhamba buat. Hidup perhamba sudah dirusakkan oleh hukum mati raja; sekalian orang tentu tak kan mengindahkan perhamba lagi. Sebagai pula perhamba tak pandai lagi bekerja. Ditimbang-timbang orang di sini tiada berbuat bail< pada perhamba. Mula-mula setelah dijatuhkan hukuman mati, perhamba harus dibunuh mati hendaknya, tetapi tiada dikeijakan. Itu satu perkara. Hamba tak sesa.li yang sedemikian itu. Kedua perkara kemudian, hamba dihukum tutup selama hidup, diadakan suatu kawal akan menjaga dan memelihara perllamba, tetapi selang beberapa lama kawal itu diperhentikan, dan perhamba pun terpaksa akan menjemput makanan perhamba. Akan tetapi sekarang perhamba disuruh pergi saja! Dalam hal itu tak dapat perhamba menurut. Apa pun yang akan terjadi, perhamba takkan pergi dari sini." Apa day a lain lagi?! Segala menteri pun dikumpulkan pulalah akan bersidang. J alan mana yang akan diturut lagi? Orang itu tak mau pergi. Lalu diperbincangkan pulalah panjang Iebar jalan yang sebaik-baiknya supaya terluput daripada keberatan belanja itu. Maka diberi sajalah ia pensiun tahunan. Maka disampaikan pulalah keputusan persidangan itu kepada raja. Kata mereka itu, "Ya tuanku syah alam, tak adajalan lain lagi akan melepaskan diri kita dari padanya, melainkan kita harus ada mempunyai barang sesuatu akal supaya terlepas daripada dia; inilah jalan itu: pensiunnya itu ditetapkan tiga ratus rupiah setahun." Setelah tetap, lalu diberitahukanlah keputusan itu kepada orang itu.
"Baiklah hamba terima, tetapi harus tetap pemba- yarannya hendaknya. Hanya dengan peijanjian_ itulah hamba mau pergi dari sini."
Demikianlah keputusannya. Orang itu menerima lebih dulu seperti dari pensiunnya setahun, lalu berangkatlah ia dari Monaco, jauhnya hanya seperempat jam saja dengan kereta api. Di luar watas negeri itu dibelinya sebidang tanah, lalu ditanaminya sayur-sayuran bakal di jual. Maka kayalah ia. Kalau tiba waktunya, pergilah ia mengambil pensiun tahunnya itu. Setelah diterimanya pergi-. Iah ia ke meja peijudian, lalu ditaruhnya barang dua tiga rupiah. Kadang-kadang ia menang dan ada kalanya ia kalah, tetapi tak lebih dari sekian ia alah. Setelah itu pulanglah ia dan diamlah ia dengan sentosa di dalam rumahnya.
Beruntung benar ia membunuh orang itu tiada di dalam negeri yang tak takut mengeluarkan ongkos untuk pembunuh orang a tau untuk penutupnya selama hid up. ( 1897).
KEDUA-PERCAKAPAN
I. ALK.ITAB GENESIS NABI
karangan Ayhner Maude
Adapun akan Tolstoy itu bukannya seorang nabi yang keramat, meskipun sekalian buah tuturnya harus dihormati dan didengar akan dipercayai, 1aksana mempercayai bunyi Injil; akan tetapi dia itu boleh dikatakan seorang-<>rang yang ajaib, lagi alim, lurus hati dan sudi mengurangkan diri sendiri, asal dapat menolong orang lain. Lebih dari dua puluh lima tahun ia berikhtiar hendak menerangkan kepada barang siapa pun, apa artinya segala pertanyaan hidup.
Pekerjaan yang dikerjakan oleh Tolstoy, ialah suatu pekerjaan yang harus pula kita jalankan, yakni akan mengekalkan kerajaan Tuhan di atas dunia ini, menetapkan pertuanan dan kebenaran, dan menetapkan orang menakuti Tuhan. Yang dibawah ini ialah ringkasan daripada Alkitab Genesis Nabi, riwayat dari segala kejadian yang utama-utama selama hidupnya, berguna bagi kita akan mengetahui perjalanan pelajaran Tolstoy itu. Graaf Tolstoy dilahirkan 28 Agustus tahun 1828 di luar kota, yang tak jauh letaknya dari Tula, kira-kira 130 mil sebelah selatan Moskou. Sebelumnya ia be~mur tiga tahun meninggallah ibunya, dan belum Iagi cukup umumya sembilan tahun meninggal pulalah ayahnya. Masih teringat juga olehnya, ada seorang anak datang me- n urn pang di rumahnya, pada ketika umumya sudah dua belas tahun. Anak itu membawa khabar, bahwa di sekolahnya tak ada seorang jua lagi yang percaya kepada Tuhan, segala yang. berhubung
Setelah tamatlah pelajarannya di sekolah, maka ia pun bela- jarlah di sekolah tinggi di Kasan. Yang dipelajarinya ialah bahasa Timur dan ilmu hakim, akan tetapi tiadalah ia membuat ujian di dalam ilmu-ilmu itu_
Orang-orang bangsawan, yang selalu datang mengunjungi mak mudanya, tempat ia menumpang selama ia belajar di sekolah tinggi itu, boleh dikatakan suatu alangan besar baginya dalam hal hendak belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah itu menetaplah ia di tanah miliknya di luar kota, Yasnaya Polyana namanya, usahanya yang mula-mula sekali ialah memperbaiki keadaan hamba sahayanya. Pacta waktu itu tiadalah berhasil segala daya upayanya itu, akan tetapi sekaliannya itu bolehlah dikatakan suatu pendahuluan bagi kerja yang menanti padanya. Di antara tabiat-tabiatnya masih banyak lagi, yang harus diha- puskannya. Setelah tiga tahun lamanya pergilah ia ke Kaukasus, akan diam dan hidup berhemat-hemat di situ, sehingga dapat ia meinbayar utangnya yang diperbuatnya ketika ia main kartu dulu. Maka pekerjaannya di Kaukasus itu ialah berburu dan minum saja. Di situ pulalah ia mulai mengarang. Setelah itu iapun masuklah ke dalam pekerjaan bala tentara, seperti saudaranya yang tua. Pacta masa itu orang di Ruslan berlengkap hendak memadamkan huru-hara orang-orang tani, yang habis melawan belaka.
Tatkala mulai perang di Krim, yaitu dalam tahun 1854, Tolstoy pun meminta supaya ia dipindahkan ke medan peperangan itu. Permintaannya itu dikabulkan, lalu dikirimlah ia dengan seba-
d~ripada bala tentera ke watas tanah Turki yang di Eropah. Tak lama antaranya dipindahkanlah ia kepada bagian stablan, yang hendak dildrimkan ke Sebastopol akan menolong kota itu selama dikepung. Pada ketika itu yang menjadi kepala besar pada tentera Rus, ialah bapak muda si Tolstoy itu, Prins Gortchakof namanya. Tolstoy pun ditempatkan di dalam staf (pengiring, penungkat) bapak mudanya itu. Maka di situlah ia mendapat kepandaian yang sejati dalam hal peperangan, hingga dapat ia bercakap dengan benamya dan ahlinya dalam perkara itu. Perang itu telah dilihatnya dengan matanya sendiri. Tatkala kedua belah pihak sudah berdamai, Tolstoy pun minta berhenti daripada pekerjaan militer, dan diamlah ia di St. Petersburg. Di mana-mana pun di ibukota itu, baik dalam kaum orang besar-besar, baik dalam kaum orang bangsawan atau pun lain-lain, suka orang semua menerirna kedatangannya, bukannya karena ia seorang bangsawan, a tau pun karena ia seorang opsir yang sudah menyertai perang dan pengepungan Sebastopol, melainkan karena pada wakt u itu ia sudah menjadi seorang pengarang yang amat temama jua. Semenjak ia berumur dua puluh tiga tahun, ia sudah mulai membuat karangan kecil-kecil, dan biarpun umumya belum berapa, tetapi ia sudah dipandang orang masuk ke dalam bahagian pandai-pandai huruf bangsa Rus, yang boleh disebut namanya. Yang amat disukai orang ialah karang-karangannya tentang pengepungan di Sebastopol. Jadi ia itu termasuklah ke dalam bila- ng~m dunia yang mulia-mulia, lagi kaya dengan masyhurnya juga. Pada awalnya amat girang hatinya ia dipuji-puji dan dihorinati sedemikian. Akan tetapi karena ia seorang yang bukan orang biasa, dan lagi karena ia seorang yang lurus hati, maka bertanyalah ia kepada dirinya sendiri, apa konon sebabnya orang sangat gemar membaca cerita-cerita roman atau syair-syair yang dibuatnya atau dibuat oleh orang lain, pandai-pandai huruf itu. Katanya, Jika sebenamya pekerjaan kami ini besar nilaiannya, dan patut dipuji dan dimuliakan, tak dapat tiada ada di dalamnya barang sesuatu yang kami sebutkan, berharga bagi barang siapa pun. Apakah yang sebenamya, yang kami kembangkan? Apakah pengajaran kami?"
sahaya, baharu- lah hamba sahayanya, itu dimerdehekakannya semuanya. Tanahnya itu dipeliharanya dengan baik-baik benar, dan ada pula diadakannya beberapa buah se kolah untuk orang-orang tani itu. Ada d ua kali ia pergi tamasya ke luar negeri, yakni ke J er- man, Prancis dan lnggeris hendak mengetahui aturan orang mengajar (pendidikan) di negeri-negeri itu. Menurut fikirannya sekalian aturan yang dipakaikan orang itu salah belaka. Kanak-kanak yang berlain-lainan kekuatan otak.nya, dan sifatnya pandai belajar, sekalian mereka itu diberi suatu pelajaran yang sama; samalah halnya dengan hal biji kopi, yang berlain-lainan besarnya dan sama-sama ditumbuk saja. Walaupun hasil peketjaannya dalam hal karang-mengarang tiada menyenangkan hatinya, tetapi tents juga ia mengarang dan sudah lain karangannya itu.
Pada masa itu, yaitu pada masa selalu mencari jawaban atas soal-soal hid up, yang tiada juga didapatinya jawabannya itu, ia pun tiba-tiba digoda oleh suatu penyakit lesu sama sekali, yaitu semacam penyakit urat sarap. Sungguhpun demikian kebiasaannya, sampai pada hari tuanya pun, kuat selalu ia, baik badannya, baik fikirannya. Oleh sebab itu terpaksalah ia memperhentikan kerjanya dulu, akan hidup sebagai tumbuh-tumbuhan di Kirghizen, di tanah Ruslan sebelah timur, yakni hiduplah ia daripada susu kele- dai saja.
Di dalam tahun 1862 kawinlah ia dan hiduplah mereka laki-isteri dengan rukun dan damai, hingga mendapat anak tiga betas orang; lima orang daripada anak itu mati muda.
Adapun. beberapa lamanya Tolstoy itu menjadi semacam orang di tengah untuk keamanan. Ialahyang mengenyahkan segala keberatan antara orang tani yang sudah merdeheka pada waktu itu dengari tuan-tuannya dulu. Dalam empat belas tahun sesudah ia kawin, karangan yang dibuatnya ialah "Peperangan dan perdamaian" namanya, dan "Anna Karen ina". Isterinya tak kurang daripada tujuh kali menyalin. "Peperangan dan Perdamaian " itu, yaitu karena ban yak juga peru- bahannya dan tambahnya yang diadakan oleh Tolstoy. Tolstoy
flkirannya itu, biarpun pacta arwahnya saja, sudah ada belaka di dalam hatinya ketika ia mengarang kitab-kitabnya itu. Kesenangan dan kesusahan hidupnya sebagai bapak, ada kira-kira lima belas tahun menahan ia mencari jawaban atas soal yang pelik-pelik itu, dan selalu menggoda dia sampai kepada waktu sekarang.
A.kan tetapi lama-kelamaan timbullah padanya pertanyaan
yang pelik, yakni, "Apakah ujud hidupku?" Bertambah lama bertambah nyata dan kuat hatinya daripada biasa hendak mengetahui jawabnya. Maka berasa pulalah olehnya, bahwa ia tak dapat hidup, kalau tak dapat ia menjawab soal itu dengan sepertinya.
"Mempunyaikah" ujud hidup itu? Uang yang diterimanya untuk kitab-kitabnya itu banyak adanya, dan tanahnya ada 20.000
H.A. luasnya di dalam jajahan Gubernemen Semara; akan tetapi kalau sekiranya dipunyainya pun sepuluh kali sebanyak itu, adakah ia akan sesenang-senangnya? Dan sekiranya senang ia. mempunyai harta yang sekian banyaknya itu, tak pernahkah ia akan didatangi kecelakaan atau kemalangan, kalau-kalau ada-ada saja yang datang, merampas dia atau nyawanya dan hartanya itu sekaliannya? Bertambah girang ia mempunyai harta dan kekayaan, bertambah berat rasanya mati, yang merampasi kita dari segala yang ada. Hidup berkaum itukah menyayangi anak isterikah yang akan menyenangkan hati dengan sesenang-senangnya, dan yang akan jadi ujud hidup?" Nah, itu sudah berdiri pula malakulmaut, bu-
"apa ujudnya hidup"; oleh karena itu barangkali dapat juga diketahuinya, kalau diperhatikan apa kejadiannya. Lebih dahulu diamat-amatinya peri hidup yang kelihatan pada orang-orang yang sebangsa dengan dia, yaitu orang-orang bangsawan tinggi dan orang menengah. Maka kelihatanlah olehnya ada banyak pula macamnya manusia itu.
Mula-mula di antara mereka ada yang hidupnya sebagai binatang. Mereka itu belum sampai gerangan ke tangga kemajuan, yang dapat dicapainya dengan penanggungan dan dengan memakaikan fikiran Tolstoy tiadalah akan undur kembali, hendak hidup sebagai mereka.
Sesudah itu ada pula satu golongan manusia, yang dapat juga memikirkan hal yang dalan1-dalam itu; akan tetapi karena banyak pekerjaannya atau kewajiban pangkatnya atau pekerjaannya mengarang, maka tiadalah ia sempat hendak memikirkan soal hid up yang pelik-pelik itu. Maka mereka selalu hari bimbang dan sibuk hendak mencahari perbekalan hidupnya yang setiap, hingga tak ada timbul di dalam ingatannya hendak menanyakan, "Apa gunanya ia hidup."
Maka adalah pula suatu bahagian besar orang yang baik-baik hati dan mau berfikir dalam-dalam, akan tetapi mereka itu sudah takluk karena kekuasaan yang lebih tinggi. Maka bukanlah otaknya sendiri lagi yang dipakaikannya, dan bukanlah pula ia mena- nyai kepada dirinya "apa ujudnya hidup" melainkan menurut saja ia kepada otak mereka itu dan di jawabnya pertanyaan itu dengan jawab yang dikatakan orang kepadanya, umpamanya dengan yang dikatakan oleh gereja, atau Paus (kepala agama) atau Czaar (kaisar atau dengan yang tertulis di dalam kitab-kitab atau surat kabar kepada kaisar atau minister). Lain daripada itu ada lagi macam itulah orang yang amat hina daripada sekaliannya, yaitu orang yang dinamakan orang Epicurist, yakni orang yang tahu, betapa kosongny,a dan tak ada ujudnya hidup di dunia ini. Oleh karena itulah buah tutur mereka itu selalu begini bunyinya; " Marilah
jua." Kebiasaannya orang yang berfikir sedernikian itu masuk golongan orang yang berada; oleh karena itu, bersuka-suka- anlah yang disukainya, dan tiadalah lain ujudnya daripada men cari kesenangan atau kepelesiran di atas dunia ini dengan sedapat-dapatnya.
Maka tak ada seorang jua pun di an tara rnereka itu. yang dapat menerangkan kepada Tolstoy "apa ujudnya hid up". Ia pun mulailah putus asa, hingga kian bertambah jualah ia membenarkan fJJ
Akan tetapi adalah padanya orang-orang tani yang selalu di- sayanginya, dan diam bersama-sama dengan dia. Apakah sebabnya maka orang tani yang rniskin dan bodoh itu, orang yang harus membayar belasting banyak-banyak, orang yang harus masuk pekerjaan militer, orang yang harus mengadakan makanan, pakaian dan tempat tinggal, bukannya bagi dirinya sendiri saja, pun terpaksa juga ia mengadakannya bagi orang yang lebih tinggi daripada dia, maka mereka rupa-rupanya banyak yang tahu "apa ujudnya hidup itu? " Mereka itu tak ada yang membunuh diri, apa yang tiba atas dirinya diterirnanya dengan sabar, dan jika tiba malakulmaqt akan mengambil nyawanya, tiadalah rnereka itu merasai ngeri sedikit jua pun. Bertambah lama difikirkannya, bertambah nyatalah kepadanya, bahwa orang tani yang mengerjakan tanahnya sendiri itu, orang yang menguruskan perkara tanahnya, orang yang mengadakan barang makanan, yang sebenar-benarnya perlu, dan boleh orang mati belaka, kalau ia tak ada, orang yang hidup baik dengan secukupnya dan rnenurut yang seharusnya orang yang sebenar-benarnya ada berbuat yang sesungguhnya berfaedah, mereka itulah yang lebih dekat kepada pengertian hidup daripada segala pendeta-pendeta dan orang alim-alirn. Maka akan hal itu sudah diperbin- cangkannya juga dengan beberapa orang yang terpandai di antara orang~rang tani itu; pada ketika itulah nyata kepadanya, bahwa-biarpun ada di antara mereka itu yang tak dapat menerangkan dengan kata-kata, akan tetapi sudah terang mereka itu ada berinjak di tanah keras, artinya kukuh tempat berdirinya.
"anak daripada Bapa", serta disuruhkannya pula kita menyempurnakan diri kita, sebagai Bapak kita yang ada di surga itu.
Jadi itulah jawab pertanyaan, "Apa artinya dan maksudnya hidup di dunia?" Maka adalah sesuatu kekuatan yang lebih tinggi, yang dapat memperlihatkan kepada kita, apa yang baik adanya dan lagi pula kita berhubung dengan kekuatan itu; pikiran dan perasaan hati kita itulah yang berasal dari kekuatan itu, dan ujud hidup yang kita ketahui, itulah yang hendak menurutkan kemauannya, yakni berbuat baik.
Pun ada pula Injil itu menerangkan, betapa kita harus mengeijakan pekeijaan itu setiap hari. "Pidato yang dipegunungan" itu tiadalah disukai oleh Tolstoy, akan tetapi ban yak pula kalimah-kalimah yang ada di dalamnya, yang menghilangkan akalnya, umpamanya; " Akan tetapi, aku katakan kepadamu, janganlah melawani setan dan iblis; tetapi barang siapa yang menempeleng pipimu sebelah kanan, baiklah unjukkan pula kepadanya pipimu yang sebelah kiri". Itu tiadalah setuju dengan ftkiran Tolstoy, berlawanan sangat dengan perasaan dirinya, yang menguasai dia sebagai seorang bangsawan dan sebagai manusia, dan berlawanan pula dengan "perasaan kemuliaan" yang termulia itu," yang dipelajarinya dari bermula ia lahir ke dunia. Akan tetapi, jika dibuangkannya juga kalimat itu, dan dibantahinya dengan kata-kata, tiadalah ia mendapat pertalian antara segala pengajaran nabi Isa atau daripada cerita hidupnya.
Akan tetapi baru saja ia mau mengaku, bahwa nabi Isa sebenar-benarnya maksudnya tentang kalimat itu ialah semata-mata sebagai yang tersebut itu, maka dirasainyalah, bahwa dapatlah olehnya kunci teka-teki itu. Pelajaran itu dengan misalnya sesuai benar, menjadikan sesuatu yang genap dan ajaib ·sekali. Maka nyatalah ' kepadanya, bahwa nabi lsa sebenar-benarnya memberi suatu nasihat yang baik di dalam bab-bab itu lima kali berturut-turut ditunjukkannya apa yang diajarkan oleh orang tua-tua, dan sebanyak itu pula Isa berkata, "tetapi aku katakan padarnu", sesudah
"Kamu tak boleh membunuh orang, barang siapa yang membunuh orang, tentu ia nanti akan dihukum oleh pengadilan. Tetapi aku katakan padamu: Barang siapa yang amarah kepada saudaranya, dia akan. dihukum oleh pengadilan."
Dalam kitab lnjil bahasa Rus pun, demikian pula di dalam In- j il Beland a di belakang kat a "amarah" itu ditambahi perkataan "dengan t<~. k ada jalannya". Oleh karena itu susahlah mentakbir- kan kalimat itu, karena tak ada seorang jua pun yang amarah dengan tiada berfikir sedikit jua, dan karena ada haknya akan berbuat sedemikian. Tatkala Tolstoy memperhatikan isi Injil itu di dalam bahasa Yunani, barulah diketahuinya, bahwa kata-kata, "dengan tak ada jalannya" itu ditambah orang kemudian saja. Lain daripada itu ada lagi bagian kalimah lain-lain atau kalimah-kalimah yang ditambah orang kemudian saja; jadi karena menterjemahkan itu sudah berlainan ujud pelajaran nabi Isa, umpamanya nabi Isa itu diceritakan orang, laksana ada ia menghukum orang dengan cemeti di Jalam sesuatu gereja.
lnilah pasal yang mula-mula sekali daripada pelajaran itu, "Janganlah amarah! " Setengah orang tentulah akan mengatakan, "Dalam hal itu tiada akan kita ikutkan pelajaran nabi Isa; apa jalannya kita tak kan boleh amarah?" Tetapi cobakanlah nasihat itu, cobakanlah dengan apa jua: dengan yang telah kita rasai, dengan nasihat guru-guru yang ternama, dengan contoh orang-orang yang terbaik waktu ia sedang bersenang-senang; kalau diperbuat demikian, tak dapat tiada akan tuan ketahui, bahwa nasihat itu baik adanya. Cobalah perhubung- kan dengan yang telah dirasai, tak dapat tiada didapati, bahwa itu-
dikeijakan oleh orang lain, dan dipaksalah mereka itu berbuat sedemikian, biar dengan paksaan kekuatan badan sekali pun. Orang-orang yang berbuat semacam itu ada kekuasaannya kepada orang lain, tetapi hanya selama ia dapat berhubung dengan mereka saja; apa yang datang sesudah mereka itu, itu tak baik belaka, dan boleh menimbulkan kemarahan dan tipu muslihat di dalam hati manusia.
Kedua macam jalan itu berlawanan sangat. Seorang tiadalah dapat disuruh mengaku atau membenarkan selama ia menyangkakan, bahwa engkau hendak memaksa dia dengan keras.
Tentulah tiada baik akan menukar buah cakap saja sebelumnya diterangkan betapa pikiran Tolstoy tentang: "Barang siapa yang memukul pi pi kananmu dan lain-lain." Katanya, "Tak boleh sekali-kali mengerasi dengan kekuatan badan pada barang siapa sekali pun." Jika diambil alasan itu, tentulah dicacatnya segala Pemerintah, biar yang mana pun, karena Pemerintah itu senantiasa memakukan tangan panjang, atau polisi dan lain-lain sebagainya, atau segala peraturan-peraturan dan undang dan segala peraturan milik dan hak. Bagi barang siapa yang mengatakan, bahwa kejahatan itu di dalam beberapa hal harus dihapuskan dengan jalan kekerasan, dan jalan itu yang sebaik-baiknya katanya, dan menurut fikiran kita bagi kita sendiri itulah pertolongan persahabatan yang sebesar-besarnya; maka bagi mereka yang berfikir sedemikian sekalian keterangan Tolstoy itu sia-sialah belaka. Sungguhpun demikian muzhab Tolstoy itu, jika dikeluarkan yang buruknya, ada juga ia mempunyai beberapa yang bagus-bagus, hingga sayang
itu."
Setelah diketahuinya oleh Tolstoy akan hal ujud itu, yakni pada kira-kira tahun 1880, nyatalah padanya, bahwa banyak yang dikatakannya dahulu baik itu padahal salah adanya, atau yang dikatakannya dahulu salah itu padahal benar adanya.
Sekiranya ujud itu hendak sama-sama bekeda dengan Bapa, yaitu akan berbuat baik, janganlah kita selalu berusaha hendak mengumpulkan harta dengan sebanyak-banyaknya, melainkan hendaklah kita memberi kepada orang lain seberapa dapatnya, dan kita ambil hanya yang sesedikit-sedikitnya. Maka bukanlah kita berusaha hendak mencari nikmat yang dapat memuaskan hati kita, melainkan hendak kita cari makanan yang semurah-murahnya dan semudah-mudahnya, yang kadar perlunya hanya untuk memelihara kita jangan sampai mati jua. Maka bukannya kita mcncari pakaian yang boleh mclebihi kita daripada orang lain, melainkan janganlah mau memakai barang suatu pakaian yang boleh melebihi pakaian anak-anak Bapa kita yang lain itu.
Maka bukannya maksud kita hendak mencari peketjaan yang lcbih halus dan lebih senang untuk kita sendiri, dan yang kasar
pekeijaan yang berat-berat, dan yang tiada seberapa bayarannya.
Pandaknya, apa yang kuambil dari saudaraku, haruslah dituliskan di daftar perbuatanku yang buruk-buruk, dan pertolongan yang kuberikan kepada mereka sajalah yang boleh dituliskan di daftar perbuatanku yang bai.k-baik.
Sesudah itu Tolstoy menjadi vegetarier *); makanannya ialah yang semudah-mudahnya saja, dan tak pernah pula ia meminum-minuman keras lagi. Merokok pun ia tidak, pakaiannya yang semudah-mtidahnya dan yang semurah-murahnya juga. Karena pekeijaan tangan itu yang dipandangnya mulia, maka sebagian dari pekerjaan di dalam rumah diambilnyalah untuknya; apinya dihidupkan- nya sendiri, dan airnya diambilnya sendiri, lain daripada itu dipelajarinya pula membuat sepatu. Yang amat disukainya ialah sama-sama bekeija dengan orang tani di ladangnya. Maka akhirnya amat sukalah ia menge.Ijakan pekeijaan itu, biarpun amat berat adanya, dan kemudian diketahuinyalah pula, sesungguhnya ajaib, tetapi sudah terang begitu, sesudahnya ia beke.Ija berat semacam itu barang dua tiga jam lamanya dalam sehari, maka lebih mudah dan lebih bail< pekeijaannya yang dikeijakannya dengan otak daripada ketika ia hanya mengeijakan pekerjaan halus itu saja. Maka roman dan novelle *) yang dikarangkannya itu bukannya untuk orang kaya-kaya, melainkan kepandaiannya dan pem be- rian Tuhan kepadanya itu dipergunakannya untuk menerangkan soal yang sulit-sulit tentang ilmu hidup manusia, yang rupa-rupanya menahan kemajuan negeri adanya. Terkecuali beberapa buah cerita untuk orang banyak dan beberapa buah lagi perkara jalan hidup orang-orang tani, yaitu kitab kitab yang sengaja dikarangnya untuk mereka yang tiada mengetahui dia; maka lain daripada itu karang-karangannya yang terbaik di dalam dua puluh lima tahun yang akhir ini, ialah :
1 e. Menerangkan dosaku (mijne biecht), terkadang-kadang dina-
"Be tapa jalannya aku sampai kepada agama".
2e. Suatu pertimbangan (critiek) tentang Dogmatische Theolo- gie.
3e. Salinan keempat Injil.
4e. Apa yang kupercayai, atau Injilku.
Se. lsi Injil yang pandak, suatu kumpulan daripada keempat Injil, lebih bail< untuk akan disiarkan, dan lebih mudah juga daripada yang kasar itu.
6e. "Apa yang akan kita perbuat", a tau "Apa yang harus _dikerjakan".
7e. "Kekuasaan kegelapan", suatu cerita sedih (drama).
8e. "Perkara hidup", ada disebutkanjuga "Hidup".
9e. " Hasil keadaban" (blijspel).
JOe. " De kreutzer Sonata", suatu cerita perkara hidup laki-laki dengan perempuan. Itu harus dibaca dengan '!akhir k~am", yang menerangkan flkiran Tolstoy tentang hal itu. 11 e. "Keraiaan Tuhan adalah di dalam kamu sendiri."
12e. Pelajaran nabi Isa, isinya yang panda.k tentartg agama Nasrani sepanjang flkiran Tolstoy.
13e. "Apakah yang dinamakan kepandaian seni (K ant) itu?" · Menurut kata Tolstoy, itulah bukunya yang sebagus:hagus- nya, yaitu tentang karangannya. Hasil berflkir lima belas tahun lamanya dari perkara yang satu itu. ,, 14e. "Hidupku kembali, roman yang terbesar dan yang akhir sekali. Dikeluarkan di dalam tahun 1899 untuk Doukhobors.
IS e. " Jawaban kepada Synode atas Edikt van Excommunicatie".
16e. "Apakah agama?" Yang dua penghabisan ad-a dimasukkan juga ke dalam " Schtesen en Brieven". (Cerita-cerita ctan surat-surat) beserta beberapa buah karangan, dikeluarkan di dalam Serle "Worlds Clas-
Perkara-perkara, yang memenuhi kepalanya semuanya bagian man usia yang amat penting-penting belaka; meskipun tiada selamanya demikian halnya, harus juga ia digelari dengan riama ilmu yakni semacam ilmu yang memenuhi otak Musa, otak Solon, Socrates, Epictetus, Kong Hu Cu, Mencius, Marcus Aurelius, Kant, Spinoza dan yang lain-lain, yaitu yang mengajarkan: orang harus hid up menurut jalan yang sopan. Diperiksainya apa jadinya perbuatan yang jahat dengan perbuatan yang baik, dan diftkirkannya tentang hak boleh hidup, dan kebenaran peraturan dan kepercayaan manusia dan diselidikinya juga betapa hendaknya kita hidup, supaya boleh menambah dengan sebanyak-banyaknya keselamatan orang lain. Demikian pula dicarinya apa yang boleh dan harus dipercaya, dan apa yang tiada masuk ke dalam hitungan, dan betapa jalannya orang dapat menahan hawa nafsu, atau membiasakan sesuatu ke- biasaan, yang boleh menjadikan sifat yang bail<. Tatkala Tolstoy mengarang perkara-perkara itu dengan kata-kata yang cepat, dan keterangan yang nyata, tak lain persangkaannya tak dapat tiada ia akan diadukan orang, dan akan dijadikan perkara karangannya itu. Tetapi Pemerintah Rus sudah menimbang-nimbang mana yang bail<; akhirnya tetaplah, bahwa lebih bail< bukan dirinya yang ditangkap, melainkan dilarang saja ia mengeluarkan sebagian daripada karangannya itu, dan yang setengahnya diubah-ubahi; hanya beberapa orang sahabatnya yang menolong dia saja yang dibuang. Dengan perlindungan " Heilige Synode" (Synode Keramat) dikeluarkanlah kitab-kitab, yang mentertawakan dia dan buah ftkirannya itu. Segala surat yang diterimanya dan dikirimkannya diperhatikan dan dibukai belaka, dipasang mata-mata akan memata-matai dia dengan kawan-kawannya, dan akhirnya ia disumpahi digercja, akan tetapi dengan jalan ketakutan jua, hingga kenyataan benar, bahwa pegawai-pegawai tinggi itu merasa malu atas perbuatannya itu sendiri.
Segala yaQg tetjadi itu tiadalah menyakitkan serta menyedih- kan hatinya amat, sebagai kebimbangan hatinya itu. Sesungguh-
flkiran yang telah dikembangkannya itu, akan tetapi tak dapat sedikit juga ia menjalankan maksudnya itu -umpamanya tak dapat ia memberi-berikan barang-barangnya; kalau diberi- berikannya juga tak dapat tiada mengamuk isterinya, dan jangan-jangan isterinya pergi kepada pembesar hendak membantahi perbuatannya itu. Hal itu sangat amat meragukan kepadanya; akan tetapi berasa juga olehnya, ia tak boleh berbuat jahat, supaya boleh terjadi a tau timbul yang baik padanya. Tak ada suatu jua peraturan umpamanya, bahwa orangharusmemberikan kepada fakir miskin segala apa yang ada padanya, yang memberi hak boleh menyebabkan kemarahan dan sakit hati pada mereka itu, yang amat rapat pacta kita. Oleh karena itu segala hartanya diserahkannyalah kepada anak dan isterinya, dan diamlah ia di dalam sebuah rumah yang indah, dikelilingi oleh beberapa orang bujangnya. Dalam hatinya ia sabar memikul sesalan orang yang mengatakan dia tiada tetap hati. Maka diamlah ia bersenang hati di situ dengan bersaja-saja dan hid up dengan miskin seberapa dapatnya; pun tiada mau ia menerima upal1 karangan buku-buku yang dikarangnya.
Tatkala berjangkit bahaya kelaparan, yakni di dalam tahun 189 1 -1892, rupa-rupanya datanglah giliran kepadanya akan menguruskan pekerjaan yang amat besar yakni akan membagi-bagi makanan kepada orang-orang tani yang hampir mati kelaparan. lalah yang mengaturkan dan ialah yang mengepalai dia. Sudah beberapa banyaknya uang yang telah sampai di tangannya. Seluruh Eropah dan Amerika terbebar pelbagai macam pujian kepadanya. Tetapi lama-kelamaan dirasainya juga pekerjaan yang semacam itu -mngumpulkan uang dan kemudian membagi-bagi uang itu pula -menjadi orang perantaraan (pengantara) -pekerjaan itu bukanlah suatu pekerjaan yang sebaik-baiknya, yang dapat dikerjakannya dan akhirnya tiadalah pula memadai pacta hatinya pekerjaan itu. Menurut flkirannya memperhambakan diri kita kepada Tuhan dan manusia, yang sebaik-baiknya bukannya dengan menjalankan
pe~erjaan yang sebaik-baiknya, dapat kita perbuat dengan fikiran, hat{ serta badan kita.
Dalam tahun 1895 sampai tahun 1898 dibangkitkannya pula amarah Pemerintah Ruslan, yaitu karena disiarkannya beberapa perkara yang amat dirahsiakan orang, yakni tentang menyusahkan kaum Doukhobors di Kaukasus. Supaya dapat ia menolong kaum itu, yang tak mau sekali-kali masuk pekerjaan meliter, maka dilanggarnyalah peraturannya "tiada akan menerima uang upah karang-karangannya itu". Maka dijualnyalah hak boleh mengeluarkan yang mula-mula sekali, yaitu kitabnya yang bernama "Opstanding" (Hid up kembali); dijualnya di Ruslan juga. Perbuatannya itu disesalinya sangat, menyesal ia menjual hak mengeluarkan itu. Katanya, mencari atau mengejar kekayaan itu, baik untuk diri sendiri, baik untuk orang lain pun, bukannya suatu alangan besar jua.
Tolstoy tiada disukai orang, baik oleh kaum revolutionnair (perusuhan), baik oleh kaum yang suka mengubah peraturan di Ruslan menjadi Constitutioneele regeering *), karena tiadalah ia suka dicampuri Pemerintah segala apa yang diperbuatnya. Oleh karena itu iapun berdirilah di luar segala macam partiy (golongan) yang ada di Ruslan itu. Teta:pi sungguhpun demikian, walaupun ia tegak sendirinya, tercerai daripada segala partiy dan kumpulan, tiadalah boleh dilupakan, bahwa ialah yang menjadi suatu sebab yang terutama di antara kekuatan yang mengguncang alas sendi tempat berdirinya kekuasaan kerajaan Czaar itu. Di Ruslan, seperti di negeri lain-lain juga permulaan kebencian dan tiada menyukai " perbantahan dan perselisihan antara dua buah negeri dihabiskan dengan perang saja", kebencian dan lain-lainnya itu tak main-main bunyinya dalam karang-karangan Tolstoy. Di bahagian ilmu huruf zaman sekarang, Tolstoy itu orang yang sangat masyhur. Biarpun tak seberapa orang yang dapat berftk.ir dalam-dalam, dan bersetuju ftk.iran dengan segala apa yang dikarangkan oleh Graaf Tolstoy itu, tetapi hanya sedikit banyak-
TOLSTOY, KETIKA lA ADA DI YASNAYAPOLYANA
(1888- 1889)
karangan W. Stead
Saya datang ke Yasnaya Polyana ialah pada pekan yang penghabisan di dalam bulan Mei 1888. Musim dingin yang sangat lama itu lenyaplah, dan waktu burung-burung bernyanyi-nyanyi dan beterbangan sampailah sudah. Benar juga di St. Petersburg ada kalanya jatuh juga salju, akan tetapi pada malam ketika kita berangkat dari St. Petersburg ke Moskau perasaan di dalam kereta api itu adalah seolah-olah berkereta api dari Ysland (tanah Ys Ku- tub) ke Italia, yang panas hawanya. Perasaan itu adalah sebagai suatu pemberian yang tiba-tiba kita terima. Amat girang rasanya hati kita, tatkala kita waktu dini hari melihat matahari memancarkan cahayanya ke atas daun-daun yang hijau itu yang kemarin lagi diselimuti oleh salju, akan tetapi telah dihancurkan belaka oleh sinar niatahari yang hendak terbenam. ltulah perasaan yang amat sedap, yang kurasai pada segala perjalananku. Maka tinggallah saja sehari lamanya di kota Moskau itu. Kemudian bermalam p).llalah saya semalam di rumah Gravin lgnatieff, maka bersama-sama dengan Gravin itulah saya pergi melihat klooster (sebangsa gereja, tetapi didiami oleh beberapa orang pendeta a tau yang laki-laki atau yang perempuan), Troitsa klooster namanya, yang arnat mashur keilling negeri itu pada keesokan harinya berangkatlah saya dengan kereta api ke Tula.
Kota Moskau itu sudah lama lenyap daripada pemandangan, akan tetapi atap gereja yang besar-besar yang didirikaan orang akan menghormati hari Kaisar Napoleon meninggalkan kota Moskau itu, masih 'berkilat-kilat jua kena cahaya matahari, sebagai ke-
Shekinah rupanya di atas kota yang dinamakan orang, "Keramat daripada segaJa keram;lt" di tanah Ruslan yang beratur- an lama itu. Ada kira-kira lima enam jam lamanya berkereta api, yang baik aturannya itu dengan melampaui station-station yang a mat baik aturannya dan ada menyediakan makanan yang sedap-sedap rasanya; sesudah itu sampailah ke Tula. Kota itu bukannya tempat yang terdekat ke Yasnaya Polyana, tempat persinggahan Graaf Tolstoy, akan tetapi itulah tempat yang terdekat, yang ada mempunyai beberapa macam kereta sewaan. Tulaitu bolehlah di- bandingkan dengan kota Sheffield di lnggeris, akan tetapi kota Sheffield Rus (Tula) itu bersil1, sedang kota Sheffield di lnggeris kotor.
Jalan ke Yasnaya Polyana itu melalui kota muka, akan tetapi sungguhpun demikian dapat juga kelihatan gereja-gereja yang besar lagi putih itu. Sekiranya gereja itu letaknya di Hallamshire, tak dapat tiada di dalam sebulan saja gereja itu sudah hitam belaka rupanya karena abu a rang. J ejak-jejak kereta a tau kuda yang ada di jalan kampung yang memperhubungkan station dengan jalan biasa itu am at dalam-dalam adanya, hingga menggentarkan kita; akan tetapi kuda yang menghela kereta saya itu tiadalah heran ia rupanya melihat bekas rod a. yang dalam-dalam itu; menurut fikirannya barangkali sudah pastilah demikian keadaannya itu. Sebagai pula per kereta saya itu macam baik adanya, hingga bekas yang dalam-dalam itu tiadalah menyusahkan amat bagi orang-orang yang duduk di dalam kereta maka di kampung-kampung itu pulalah baru kulihat kanak-kanak. Di Moskau dan St. Petersburg jarang-jarang kita meliliat kanak-kanak di ja1an-jalan raya; akan tetapi di kampung-kampung di kota-luar Tula anak-anak itu sama girangnya bermain-main di rumput dengan kanak-kanak Inggris, yang baru mendapat ral1asia bagain1ana orang membuat macam ju- dah daripada lumpur. Setelah lamalah kami meninggalkan kota Tula itu, bertemulah kami dengan sekawan orang tawanan yang di ja- gai dan diiringkan oleh beberapa orang kawal yang bersenjata. Kemudian daripada itu sampailah kami kepada suatu tanah lapang, tempat serdadu bermain perang-perangan. Langit biru warnanya, dan unggas bersiul-siul memperliliatkan girang hatinya. Betapalah
miaujarnrud yang didapati pada musim sejuk (lente) itu, gandurn yang baru tumbuh, daun-daun yang lagi muda, warna kuning bunga-bunga rumput, semuanya sebagai suatu gambar yang amat indah bagi saya, apalagi karena baru meninggalkan pelabuhan di sungai Newa, yang sangat din gin lagi kelabu wamanya itu, baru tiga hari yang telah lalu, masih kelihatan setiap hari pada pemandangan rnata. Jalan ke tempat Graaf itu datar, dan dibatasi dengan sernpur- na; jalan itu rnelalui tanah yang tinggi rendah, yang. habis ditanami belaka, lapang· dan tak rapat ditanami oleh kayu-kayuan. Rupa-rupanya penduduk tanah itu tiada seberapa adanya. Terkadang-kadang bertemulah kami dengan sebaris gerobak yang dihela oleh kuda kecil-kecil, berisi rumput kering atau gandurn. Tiap-tiap tonggak (batu) adalah suatu pancang yang menunjukkan kepada kita berapa jauhnya jalan yang sudah terjalani. Tatkala kami kira-kira satu mil lagi jauhnya dari Yasnaya Polyana, rnaka bertemulah saya dengan sekawan orang yang berdiri sebelah kanan jalan dan memandang dengan keheran-heranan kepada saya. Tatkala de- katlah sudah saya kepada mereka itu, kelihatanlah oleh saya, bahwa di antara mereka ada dua orang kenalan saya di St. Peterburg. Setelah saya turun dari kereta, maka saya pun ·berhadap-hadapan mukalah dengan Graaf Tolstoy dengan tiga orang anaknya yang perempuan, seorang anak saudaranya perempuan, seorang orang yang menumpang beserta dengan murid itu sudah mendahului saya rupanya, hendak bertemu dengan Graaf itu.
Graaf Tolstoy sama benar rupanya dengan gambamya, tak ada ubahnya sedikit jua pun. Pada ketika itu umurnya baru enam puluh tahun, rarnbutnya sudah mulai beruban banyak, rnukanya sudah hitam kena panas rnatahari, janggutnya dan rnisainya lebat. Rambutnya tebal dan berbelah dua di tengah dahinya menganjur ke muka, banyak kerutnya yang dalam-dalam, matanya kecil dan tajam, bulu keningnya alisnya lebat, hidungnya besar dan cu- pingnya selalu bergerak. Kalau kita sudah melihat rnukanya satu kali, tak dapat kita lupakan dia lagi. Pada mukanya itu pun kenyataan pula, bahwa ia seorang yang selalu berflkir dalam-dalam, dan
marl, adalah sebatang tongkat yang besar. Pakaian muridnya itu sama benar dengan pakaiannya. Pakaian yang sederhana itu memberi alamat yang terang tentang pelajaran Tolstoy itu -dalam hal itu sama benar pimgajarannya dengan pengajaran kaum "K waker", tetapi lain daripada itu ada lagi ban yak yang sama dengan peraturan kaum "K waker" itu. Anak-anak perempuan Graaf itu baru datang dari rumahnya untuk selama waktu musirn dingin di Moskou. Graaf itu sendiri baru dua pekan ia di rumah, katanya 1a berjalan kaki saja beberapa ratus mil perjalanan jauhnya menurut jalan-jalan kampung; kalau malam bermalam ia di rumah-rumah orang tani, dan kalau siang di mana akal dicarinyalah apa yang akan dirnakannya. Isterinya ialah seorang yang berbudi, baik hati dan seorang ibu yang amat baik kepada anaknya; tetapi acap kali ia menjatuhkan suaminya itu dari cita-{;itanya, yang lanjut tentang kehidupannya ke tempat yang terendah sekali. Ia amat khawatir sekali tentang suaminya
mat( menurutkan kehendak hatinya itu. Baru saja musim sejuk tiba di tempatnya, akan melenyapkan hawa yang sangat dingin itu, Tolstoy pun tak dapat ditahan lagi akan berjalan kaki menempuh jalan antara Moskou dengan Yasnaya Polyana, yang seratus tiga puluh mil jauhnya, dan tiada sempuma; penuh dengan lumpur dan lain-lain sebagainya. Pundi-pundi perbekalannya pun digantung- kannya di atas punggungnya. Nyonya Gravin Tolstoy tertinggal sedikit di belakang, karena waktunya akan bersalin sudah hampir sampai, yaitu anak yang ketiga belas yang akan dilahirkannya pada masa itu. Tatkala saya sampai di Yasnaya Polyana anak yang baru lahir itu baru berumur enam pekan. Nyonya itu baru dua hari sampai di Yasnaya Polyana bersama-sama dengan anak-anaknya dari Moskou. Itulah sebabnya maka rumahnya belum sempurna dan belum teratur. Kitab-kitab belum dikeluarkan lagi dari dalam petinya, dan alat rumah belum hilang sama sekali debunya yang bertumpuk selama musin1 dingin itu. Hai, sudah dahulu saja saya. Baiklah kembali kita pada anak-anak G raaf Tolstoy tadi. Salah seorang daripada anak Graaf itu naiklah ke atas kereta saya, lalu pulanglah ia .. Saya pun berjalan kakilah bersama-sama dengan Graaf Tolstoy, melalui ladang-ladang orang. Pacta permulaannya kita menyangkakan ia menimbang segala sesuatunya dengan hati yang amat baik saja. Terkadang-kadang ia berkata sebagai seorang anak yang bijak; berlawanan sangat dengan rupa mukanya yang keras hati dan bulu keningnya (alisnya) yang lebat, yang menudungi matanya yang amat tajam itu. Ia amat fasih berkata-kata dalam bahasa l nggeris, hanya lagunya berlainan, tetapi lebih bagus lagi tasydid anak-anaknya yang perempuan itu dan lebih pandai pula mereka itu daripada bapaknya. Sungguhpun rupa-rupanya tak ada sedikit juga ia berusaha, supaya orang mengerti akan apa yang dikatakannya, akan tetapi terkadang-kadang tampak juga ia marah di dalam hatinya, kalau ia tengah bercakap-cakap benar; susah ia mencari kata-kata di dalam bahasa asing, yang baik dipergunakannya akan menggambarkan fikirannya. Ada kalanya maksudnya itu disebutkan saja di dalam bahasa-
bekeija di dalam kebun. Pakaiannya merah cara pakaian Turki, cantik jua rupanya. Benar juga ada tanaman itu yang dipangkas; akan tetapi sungguhpun demikian serupa rimba juga kelihatan sekaliannya itu.
Rumah Graaf Tolstoy bukannya terdiri pada suatu tempat yang diperbagus manusia, melainkan terdirinya ialah di pertengahan rimba yang sudah dijadikan Tuhan, sedap mata memandang dia. Sebenarnya tak boleh disesali orang-orang yang menyuknl alam yang sejati yakni tempat bunga-bungaan memperlihatkan rupanya, yang aneka warna serta mengembangkan baunya, yang pelbagai macam itu. Di antara-antara pohon kayu itu beberapa banyaknya tanah yang ditumbuhi sebangsa bunga yang sedap baunya dan bagus rupanya. Setiap hari tetap anak-anak Graaf itu memetik bunga itu, dijadikannya sebuah karangan bunga, untuk penghiasi rumah; adalah pekeijaannya itu sebagai diwajibkan atas mereka ber-
tertinggi, yakni di ujung sebuah jalan yang ditumbuhi kayu yang Tin- dang daunnya kiri kanan, di situlah rumah Graaf Tolstoy, yang kelihatan putih rupanya.
Atapnya ialah sebagai atap rumah orang Rus yang lain-lain, yakni besi papan tipis, yang bercat. Di hadapan rumah itu ada suatu bagian yang ditembok tanahnya. Pada tingkat yang pertama ada sebuah langkan, (bagian yang menjorok keluar), ada pula be- randanya. Ujung yang sebelah dilindungi oleh bayang-bayang batang kayu, dan di sebelah yang lain daripada rumah itu ada sebuah kebtm bunga-bungaan kecil, beserta dengan sebuah tanah lapang tempat anak.-anak bennain croguet. Di belakang rumah itu ada suatu tempat yang lapang, di tengah-tengahnya ada sebatang pohon kayu, yang sangat tua umurnya, cabangnya bengkang-beng- kok, berlingk:u:-lingkar kian kemari. Maka di bawah pohon kayu itulah orang-orang sair (pelgrirn) ke luar menantikan kedatangan Graaf itu, amat bagus juga rupanya kumpulan ·mereka itu, seolah-olah sebagai suatu peta adanya. Mereka itu menurut benar-benar suruhan kitabnya yakni: " Berikanlah, apa yang diminta orang kepadamu, dan janganlah memalingkan muka daripada mereka, yang hendak meminjam kepadamu!" Ketika Tolstoy kelihatan oleh mereka .itu di luar pintu, maka majulah mereka beberapa langkah, lalu memberi honnat kepadanya. Tolstoy memberi hormat pula, lalu bercakap-cakaplah mereka itu. Kemudian diperiksai Tolstoy akan pengetahuan mereka tentang perkara agama, dan diperhatikannya benar, adakah ujud agama Nasrani itu sudah masuk ke dalam kalbu mereka. Setelah itu diketahuinyalah, bahwa boleh dikatakan tak ada sedikit juga mereka mempunyai pengetahuan dalam pelajaran agama itu. Setelah habislah yang dipercakapkan, maka Tolstoy pun memberi sedekah kepada mereka masing-masing seketip, dan kelihatanlah amat girang rupanya hati mereka itu. Kemudian be-
Pacta sebelah muka, arah ke timur ada sebuah tempat peranginan (prieel) yang bersih tempat duduk-duduk dan menyenangkan hati; letaknya di antara pohon kayu yang besar-besar dan tumbuh-tumbuhan lain-lain. Di ujung sebuah jalan kecil yang lain yang menuju ke sebuah kampung dan letaknya di · atas tanah yang berbukit-bukit di seberang anak sungai, adalah sebuah rumah persinggahan kepunyaan seorang hakim di St. Petersburg, yaitu suami saudara Graaf Tolstoy. Lebih jauh Jagi adalah tempat orang-<>rang tani, yang memeliharakan, kuda dan burung-burung. Ayamnya banyak yang bai.k-baik macamnya, lembunya ban yak dan kudanya ada setengah lusin, masuk bangsa yang bai.k juga dan boleh dipergunakan, tetapi tiada sebagus dan segagah kuda di lnggeris. Di hadapan rumah itu ada tiga buah kolam. Ada sebuah yang besar, tempat orang mandi, dan orang-<>rang kampung mencuci pakaiannya. Yang dua buah lagi kolam itu kecil-kecil saja tempat kodok bersarang dan merajalela. Kolam yang sebesar itu amat bagus rupanya, sekelilingnya adalah pohon-pohonan yang besar-besar, yang melindungi dua buah rumah kecil-kecil, yang amat permai rupanya. Jalan yang melingkari salah suatu daripada kolam yang kecil itu, ialah jalan yang amat disukai dan acap ditempuh oleh ibu Graaf Tolstoy, karena itulah acap kali pula Graaf itu menjalani jalan kecil itu. Sekeliling mmah Graaf itu rimba besar belaka, yang penuh dengan beratus-ratus jalan kecil yang bersilang-silang, ada yang membujur dan ada yang melintang. Tiada mudah mencari jalan dari kampung kecil ke rumah itu; akan tetapi kalau sudah tersesat satu kali, seperti saya, lebih dari sejam berputar-putar di dalam rimba itu akan mencarijalan pulang.
Pada suatu keti.ka Graaf Tolstoy amat suka menanamkan pohon-pohonan, hingga tak dapat dihitung berapa banyaknya yang
lebili beradab dan berkepandaian daripada mereka itu.
Sekiranya dapat ia diajak mengarangk:an isi percakapannya dengan mereka pada ketika petang musim sejuk itu, tak dapat tiada lebih berhasil maksudnya daripada membangkit isi ladang kentangnya yang banyak itu.
keJja oleh Graaf itu. Pada suatu sudut yang menjorok ke luar ada terkumpul alat perkakas yang dipergunakannya untuk membuat sepatu, dekat pintu ada sebuah meja cuci muka dengan sebuah cer- min sebelah atasnya.
Katanya seraya membuka meja cuci muka itu; "Barangkali tuan hendak membersihkan diri gerangan; tuan boleh mencuci badan tuan di sini saja. Kalau sudah, tuan buangkanlah airnya di situ." Ia pun turun d.ari rumah dan setelah sampai di dalam kebun, dibuangkannyalah air pencuci itu ke dalam kebun itu.
Perbuatannya itu tiada janggal sedikit jua rupanya, dan seolah-olah menurut, flkirannya dengan patutnya. Kita pun melihat tingkah lakunya itu, tak dapat tiada lupa, bahwa tak layak sedikit juga bagi seorang pandai karang, seorang filsuf dan seorang bangsawan tinggi membuangkan air yang bekas dipakai itu, semata-mata hendak memudahkan bagi jamunya jua. Ada orang yang mengatakan, ·bahwa kesederhanaan Graaf itu hanya untuk pemandangan orang lain saja dan bukan sejati. Ia hidup sebagai orang tani, tetapi rambutnya disisirnya dengan sebuah sisir perak, dan banyak lagi; akan tetapi selama saya di situ tak ada suatu apa juga saya lihat yang boleh membenarkan kata-kata orang itu. Yang nyata sekali tak ada kelihatan padanya sisir perak atau sikat .yang badannya berlapis dengan perak a tau lain-lain perkakas yang bagus itu. Sekalian yang kelihatan semata-mata sed erhana saja rupanya, bersamaan benar dengan ujudnya; tiada ia akan hidup dengan kekayaannya.
Walaupun demikian, aturan di dalam rumah Graaf itu tiadalah seperti aturan di dalam rumah seorang tani. Sekiranya Graaf Tolstoy itu tiada mempunyai isteri, dan bebas ia dalam hal hendak
ada Graaf Tolstoy itu lagi. Tak boleh jadi pacta waktu sudah tua dapat kita membiasakan diri kata, akan hidup sebagai orang kuli dengan miskinnya dan kemela- ratannya itu. Beruntunglah ada isterinya yang menahan perbuatannya, karena fl.kiran isterinya itu panjang. Mustahil bukan, orang yang setua suaminya itu dapat menukar hidupnya akan hidup sebagai orang miskin. Nyonya itulah yang menghindarkan bahaya itu bagi suaminya; bukantah ia ibu dari segala anaknya serta kepala dan jiwa dari segala yang ada di dalam rumah itu?
Nyonya Tolstoy itu yaitu anak seorang dokter di Moskou, empat puluh tahun yang telah lalu yaitu dalam tahun 1861 kawinlah ia dengan Tolstoy, pada rna sa itu umurnya lagi delapan belas tahun. Kepadanyalah terpikul segala beban akan menguasai ntmah tangga, baik yang di Moskou, baik yang di Yasyana Polyana. Nyonya itulah yang mengaturkan dan mengepalai semuanya. Bagi Graaf itu sendiri mempunyai rumah persinggahan itu yaitu sesuatu dosa jua. Pacta pemandangannya, kaum keluarganya itu hidup besar, tentu menanggung dosa, karena mereka ada mempunyai bujang yang akan menggosok sepatunya dan akan memasak makanannya. Sebenarnya ia diam di sana karena terpaksa jualah, tetapi adalah ia menyangkal di dalam hatinya. Sungguhpun demikian oleh isterinya itu seboleh-bolehnya diusahakannya juga supaya dapat diturutnya kemauan dan kehendak suaminya itu; oleh karena itulah hidup mereka itu pun sederhana pula. Hari waktu bersuka-sukaan di dalam musim panas, yaitu ketika Yasyana Polyana penuh sesak dengan jamu yang bersuka-sukaan, dan selalu hari bernyanyi, berdangsa, membuat musik atau lain-lain kepelsiran dari pagi sampai petang, dan dari petang sampai malam itu, sudah habis dihapuskan waktu itu. Noni-noni itu berpakaian sederhana saja. Anggur hampir-hampir tak ada kelihatan di atas meja makan Graaf itu. Segala macam kepelsiran yang ada di atas dunia yang busuk itu, tiadalah disukai oleh mereka lagi. Akan tetapi tatkala Graaf itu hendak membuangkan sama sekali dan akan hidup sebagai orang tani saja, isterinya pun membantahi dia dengan sekeras-kerasnya. Itu tak dapat diturutka.nnya, dan lagi tak boleh, karena meman-
Sudah berapa banyak yang telah dikeijakannya hendak menolong suaminya itu, umpamanya menyalin dan menteijemahkan karang-karangan. Tulisan Graaf Tolstoy itu, tak dapat dibaca sedikit jua, jadi segala karang-karangan Tolstoy itu yang dicetak, isterinya- 1, lah yang menulisnya tak seberapa yang tulisannya sendiri. Graaf itulah yang selalu memperbaiki atau mengubah dan memeriksa sekali lagi segala contoh cetakan itu. Maka yang diubah-ubah itu haruslah disalin lagi oleh isterinya atau anak-anaknya. Kitab yang dinamakan "Leven" (hidup) dan dikeluarkannya pada masa itu, pandak saja isinya yaitu menceriterakan perkara yang dalam-dalam saja; kitab itu ada enam belas kali disalin oleh nyonya Gravin itu. Kemudian diteijemahkannya pula ke dalam bahasa Perancis. Dalam pacta itu tak berhentinya ia mengajar anaknya bem1ain musik dan bahasa lnggeris. Kemudian dia pulalah yang mengaturkan penjualan kitab-kitab itu; ialah yang mengembangkan kian ke mari, dan ia pulalah yang membagi-bagi cetakan yang diulang sekali lagi. Boleh dikatakan Graaf Tolstoy itu scorang jamu yang amat dihormati di rumah nyonyanya. Tak ada sedikit jua ia mau mencampuri perkara rumah tangga, pun tak pcrnah ia memberi nasihat kepada isterinya. Ia masuk, ia keluar, sesukanya di dalam ternpat bagian isterinya itu, ia makan bersama-sama dengan anak dan isterinya, akan tetapi dipilihnya makan-makanan yang bia~a-biasa saja. Ia dikasihi, dimuliakan dan hampir disembah oleh sekalian orang yang sekelilingnya. Dalam pacta itu tak dapat ia mcngenyah- kan fikiran, yang mengatakan ia hidup di rumahnya sendiri itu berlawanan amat dengan buah pengajarannya. Hanya karena tahu benar ia. Gravin itu akan meminta pertolongan yang berkewajiban, jika Tolstoy memberikan kepada orang lain segala apa yang mendatangkan hasil bagi kaum keluarganya itu; itulah yang ditakut- kannya dan itulah yang menahan dia akan membagi-bagi hartanya dan membiarkan keuntungan penjualan kitab-kitabnya itu diambil oleh saudagar-saudagar buku.
· karena mencuri seek or kuda. Akan tetapi pekerjaan itu bukan pekerjaan terburu. Menurut pemandangan saja kekuatan Graaf itu tak cukup untuk bekerja keras sehari-harian. Ia merasai dirinya pun tiada nyaman, akan tetapi bergirang h~ti jua ia, karena makin lama makin dekat pada harinya yang akhir. Kami sekalian merasa khawatir melihatkan kelemah- an badan Graaf itu. Pada tahun yan lalu, ketika ia sakit kaki, kena roda gerobak, berbulan-bulan lam any a ia harus saja tinggal di ternpat tidurnya. Pada tahun itu tak nyaman sedikit jua ia, tetapi tak mau ia meminta pertolongan dokter. Obat-obatan dan ilmu tabib dibencinya sangat; dalam tahun itu, maka selekas itu ia berangkat dari Moskou, hanya karena orang menyuruh datang seorang dokter yarig terpandai di kota itu hendak memeriksai penyakitnya. Pacta fikiran Gravin itu, badannya ada baik jua karena memakan tumbuh-tumbuhan saja. Hidupnya sudah hampir menyerupai hidup seorang pertapa. Pacta tahun yang lalu ada juga satu dua kali ia meminum rokok sigaret, akan tetapi pada tahun ini, baik tembakau, baik anggur, baik daging, semuanya dipantangkannya belaka. Anaknya merokok, ia tidak. Pacta siang hari dan malamnya disaji- kan barang makanan dari pada daging, akan tetapi yang dirnakannya hanya keju, sayur-sayuran dan kentang. Yang melebihkan dia sedikit, ialah ia minum teh; inilah saja yang terdapat padanya tanda ia mampu. Jadi dalam hal itu samalah halnya dengan jen- derai Booth *). Pun jendera1 itu tak dapat memperhentikan minum teh itu. Akan tetapi tentu lama kelamaan teh itu pun akan di- hapuskannya jua, sebagai ia menghapuskan segala perkara atau barang yang tak perlu. Aturan di Yasnaya Polyana itu ialah hampir-hampir seperti yang tersebut di bawah ini. Pagi-pagi buta, ketika embun masih bertumpuk-tumpuk melekat di atas daun-daunan, datanglah perempuan-perempuan mengerjakan kebun. Orang di rumah belum seorang juga lagi yang telah bangun. Beberapa saat kemudian barulah mereka itl.J bangun. Pagi-paginya amat sunyi, apalagi ketika saya, sedang menantikan makan pagi,.menulis di dalam khizanatul
disediak(\n pulalah untuk makan yang akan datang, (lunch) Graaf itu pun pergilah berjalan jauh~jauh di dalam rimba, dan kira-kira pukul setengah satu sekalian isi rumah berkumpullah akan santap bersama-sama. Setelah habis makan, maka masing-masing pun pergilah melakukan kesukaannya, ada yang pergi membaca, ada yang pergi berjalan-jalan, dan ada yang pergi bekerja. Pada pukullima disa- jikan pula makanan petang. Antara makan petang dengan makan malam kalau ada jamu, Graaf itu beserta dengan anak-anaknya yang perempuan dan jamunya, pergilah bersama-sama ke station akan mengambil surat-surat, atau ke dusun-dusun yang dekat dari situ. Ketika matahari turun, orang~rang pun sampailah di rumah kembali, dan air teh sudah sedia. Maka minum tehlah mereka itu sampai pukul sepuluh malam. Lewat-lewat pukul sepuluh ada juga orang bercakap-cakap atau membaca-baca, akan tetapi mulai dari pada waktu itu sudah berangsur-angsur jugalah orang pergi tidur. Demikianlah aturannya sehari-harian di dalam rumah Graaf itu. Hidup orang~rang itu ialah seperti hidup orang dusun, semuanya dengan tetap dan sederhana, hanya terkadang-kadang saja berubah keadaannya karena kedatangan jamu, baik sahabat atau kenalan. Setiap hari mereka bercakap-cakap memperbincangkan perkara soal hidup yang selalu menawan ftkiran Graaf itu, dan amat me- naikkan darajat fJ.kiran dan memuliakan hati. Amat sehat hidup
serta· dikelilingi oleh anak-anak, dan banyak kitab-kitab, bunga-bungaan, unggas, lebah, pelbagai macam ternak dan orang dusun yang biasa itu. Untuk orang yang suka berfikir, baik benar keadaan yang semacam itu; tak berhentinya kita mcndengar desir daun kayu, dan keluh kesah dunia yang penuh dosa; melainkan dengan tiada menaruh khawatir sedikit pun senantiasalah kita terus menuju fajar hari yang akan datang.
Pacta suatu minggu pagi-pagi hari pergilah saya berjalan-jalan dengan Graaf Tolstoy. Sekonyong-konyong di udara, yang terang cuaca itu kelihatanlah asap hitam mengedar ke udara, berkepul- kepul rupanya. Maka segeralah kami lalui jalan itu hendak mendaki suatu bukit kecil. Setelah sampai kelihatanlah ada rumah terbakar di dalam sebuah dusun di seberang lembah. Kami puri berlari-larilah dengan sekuat-kuatnya hendak menyeberangi lem bah itu; akan tetapi sebelumnya kami mendaki bukit yang diseberang, api pun sudah sampai di atas atap sebuah rumah orang tani, dan mulailah pula ia menyala di sana, asapnya berpuntal-puntal menuju ke udara. Tak lama antaranya dusun itu sudah dihinggapi api belaka, hingga Graaf Tolstoy sendiri hampir mati terbakar hid up-hid up di dalam riuh itu. Asal kebakaran itu rupa-rupanya karena beberapa orang anak-anak bermain api-api di dalam sebuah gudang rumput kering. Api itu terbang menghinggapi rumput kering itu, hingga di dalam ·. beberapa saat jua habislah terbakar lima buah rumah. Sedang kebakaran itu menjadi di Yasnaya Polyana, ditanya- kanlah di mana ada pampa, ember dan ular-ular (pembulu) pampa. Sekiranya barang-barang itu ada, tak dapat tiada dapat juga dilawan a pi itu. Kata orang-orang tani itu, sudah lama orang mengumpulkan uang untuk pembeli sebuah pampa, akan tetapi Kepala polisi telah menelan uang itu, dirnasukkannya ke dalam kantungnya sendiri. Kepala distrik bersanak keluarga dengan kepala polisi itu, oleh sebab itulah tiada terjadi perkara apa-apa tentang pampa itu. Pacta petang hari kebakaran itu diadakan suatu rapat "Mir", namanya hendak membicarakan baik tak baiknya melarang orang
.. ,Yaitu suatu jalan jua untuk menghindarkan bahaya api. Rapat itu diadakan di tanah lapang saja dihadapan rumah seorang tani kaya. Graaf Tolstoy duduk di beranda, orang-orang serta kanak-kanak berdiri dan berdesak-desak sekelilingnya. Tak ada orang yang berpidato, melainkan rapat itu seolah-olah hendak mengeluarkan dan mengadu flkiran saja. Seumpamanya tak ada Graaf itu di situ, tak dapat tiada rapat itu dengan tak banyak tin1bang memutuskan serta mengeluarkan undang saja, tak boleh orang minum rokok serta ditentukan lagi, bahwa barang siapa anggota " Mir" itu yang kedapatan meminum rokok akan diden- da ia serubel atau tiga hari ketja berat untuk gemeente. Akan tetapi beruntunglah Graaf Tolstoy itu ada hadir dan sangat keras ia membenci segala apa yang mempergunakan paksa. Biarpun ia tiada hendak campur dalam perkara itu, akan tetapi dapat jugalah ia mengaturkan sedemikian: .Barang siapa yang membenci rokok, haruslah menuliskan namanya di dalam suatu buku, dan ia betjan- ji sekiranya dilanggarnya petjanjiannya itu akan membayar denda satu rubel atau ketja berat tiga hari lamanya untuk gemeente. Tatkala saya melihat orang-orang dan kanak-kanak yang ber-sesak-sesakan mengelilingi tempat duduk Graaf Tolstoy itu, dan mendengar ia tertawa dengan cakap-cakapnya yang tiada kedengaran amat itu, teringatlah oleh saya suatu karangan Homersus menceritakan keadaan abad-abad yang pertama pada waktu bumi ini diadakan.
Sekalian itu rupanya ialah sebagai keadaan sedekala, hingga membangkitkan peringatan pada zaman pahlawan-pahlawan dulu kala, yang sudah lama lenyap dari peringatan orang. Rapat yang semacam itu, yang menyelesaikan segala perkara dengan jalan yang mudah-mudah menurut kemauan orang biasa saja, lebih lama hidupnya di atas dunia ini daripada kerajaan-kerajaan dan peraturan Pemerintah. lalah yang menang, baik daripada zaman yang bertukar-tukar, baik daripada serangan musuh. Di mana-mana pun di Eropah sudah lenyap adat orang yang sedernikian, hanya di sini sajalah yang didapati orang lagi rapat kuno itu.
Tatkala Graaf itu waktu senja betjalan-jalan dengan saya pada
"Mir" itu di dusunnya. Dia itulah seorang tua, yang selama hidupnya tak lain ker.ianya ialah mengusahakan tanah jua. Karena anaknya yang perempuan sudah kawin, gemeente 'sudah merampas tanahnya separuh. Akan hal itu tiadalah ia rela sedi.kit juga, itulah sebabnya ia datang mengadukan halnya kepada Graaf itu. Maka oleh Graaf itu didengarkannyalah dengan sabar segala pengaduan orang itu laki-bini, seraya ia berjalan hilir mudik di bawah pohon kayu tempat mereka itu berdiri. Setelah didengarnya sekaliannya itu, dengan amat mudah jua ia menerangkan kepada orang tua itu, bahwa tak salah sedikit jua perbuatan "Mir" dalam hal yang sebagai itu.
Bukantah ia tak memperlukan tanah sebesar itu lagi, karena tak seberapa lagi orang yang akan diberi makan?! Sebagai pula bukantah sudah kurang pula tangan akan mengerjakan tanah itu, ' dan ia pun sudah semakin tua juga?! Sebenarnya dapat Mir itu mengambil tanahnya sama sekali, akan diberikan kepada orang yang muda dan kuat. Dia sendiri nanti akan dibelanjai oleh gemeente sampai matinya. J adi dalam hal itu adil dan berbuat baiklah "Mir" itu kepadanya. Kedua orang tua itu menerima keputusan Graaf itu dengan segala suka hatl, lalu pulang ke rumahnya.
Pada suatu ketika waktu senjakala beijalan-jalan pulalah kami kepada sebuah dusunakan melihat sebuah rumah yang baru dibuat orang, yang dindingnya bukannya papan melainkan dibuat daripada tanah liat. Kelebian rumah yang semacam itu ia tak dapat dimakan api. Atap boleh dimakan api, tetapi dindingnya tak apa-apa. Oleh karena masih baru juga kebakaran di Yasnayana Polyana, tentulah sangat dipuji rumah yang semacam itu. Maka Graaf Tolstoy pun bermaksudlah hendak membuat gantinya salah satu dari rumah yang terbakar itu sebagai rumah tanah itu. Tatkala kami sampai ke rumah, adalah pula jamu yang menantikan dia, yaitu seorang student muda lagi pandai. Maka dengan dialah Graaf itu bercakap-cakap tentang buruknya menerima uang akan upah sesuatu pekerjaan atau uang yang berasal daripada pekerjaan itu; amat berharga jua percAkapan kedua tuan itu. Dengan jalan yang hanya da-
flkiran, yaitu orang-orang yang masih mau juga dibohongi oleh buah perkataan Adam Smith. Biarpun sudah beberapa .kali ia mengatakan perkara itu dengan seterang-terangnya, sudahjernih seperti air, saya percayajuga, bahwa belum cukup ia dapat menerangkan kepada kami akan hal itu hingga mau kami mengaku akan kebenaran perkataannya itu.
Ada sepekan lamanya saya menyenang-nyenangkan hati di Y asnaya Polyana itu. Hari am at baik, jadi dalam sehari-harian itu dapat kami berjalan kian kemari, arah ke mana jua pun.
Ternak orang~rang tani itu sama-sama dilepaskan di tanah lapang gemeente. Amat bagus pemandangan melihat tanah lapang denganisinya yang banyak itu, apalagi bertambah ajaibnya sesudahnya mendaki sebuah bukit; dengan sekonyong-konyong seolah-olah terdirilah kita di tengah-tengah lembu banyak, yang sedang duduk memamah makanan dan makan rumput. Dari jauh kelihatan sebagai suatu perrnadani hijau rupanya yang berbunga merah dan hitam. Akan tetapi kalau sudah bertambah dekat, nyatalah, bahwa tak lain melainkan binatang-binatang dan ternak jualah itu yang duduk dan meniarap .kelihatan berdekat-dekatan. Adakalanya sampai beratus-ratus ia bersama-sama duduk berdekat-dekatan, ada lembu, ada sapi jantan, ada anak jawi, ada babi, ada domba dan lain-lain sebagainya, semuanya campur baur dan berdekat-dekatan, hingga tak kelihatan rupa rumput yang disela-sela binatang itu lagi. Graaf Tolstoy ada juga setuju flkirannya dengan orang yang hendak memperbaiki bangsa temak, tetapi pertunjuk- kan perkara pertanian itu tiadalah akan mendatangkan hasil sepanjang flkirannya, pertunjukan yang sebenar-benarnya pertunjukan, pertunjukan yang mengandung isi, asalnya dari orang tani Rus yang sejati; pertunjukan itu belumlah ada seorang jua yang mengikhtiarkan dia. Maka tanya say a kepadanya, "Akan tetapijika tidak diturut jalan yang semacam ini, jalan manakah yang lain, yang
saja?"
Jawab Graaf Tolstoy, " Tuan melupakan orang Sair, (kelana) yang berjalan kian ke mari itu." Bagian orang-orang itu dalam memperbaiki keadaan negeri Ruslan, tak dapat dinilaikan oleh orang sebelah barat Eropah. Untuk tanah Ruslan ini sampai sekarang orang sair itu bolehlah disamakan dengan orang sair semasa Eropah Barat di zaman Kruistochten, yakni ujung lidah dan pem- berita khabar yang ban1-baru dari sebuah negeri kenegeri yang lain. Orang sair itulah seolah-olah surat khabar yang termasyhur dan disukai orang seluruh tanah Ruslan sebelah dalam-dalamnya. Sekaliannya didengarnya dan dilihatnya; kalau ia sampai di negeri lain, rnaka diceritakannyalah apa yang telah dilihatnya itu. Di tempat-tempat yang mulia dan kerarnat atau suci dan tempat per-kumpulan orang sair yang datang dari masyrik dan dari magrib dan lain-lain itulah, orang yang dari negeri salju itu berjumpa dengan orang negeri panas. Bukannya berhari-hari ia di jalan melainkan berpekan-pekan sampai berbulan-bulan lamanya. Tiadalah mereka beri•enti berjalan. Mereka itulah orang musafir yang banyak dikenal orang di Ruslan. Antara mereka itu banyak yang mengembara saja kerjanya, selalu kelihatan ia di jalan-jalan jua. Mereka itulah yang membawa khabar · baru dari susun ke dusun, dari kota ke kota, dan sepanjang jalan; itu sajalah yang dipercakapkannya dengan fak ir-fakir kawannya. Ketika GraafTolstoy membeli seje- nis ayam cina baru. Cochinchina namanya, dalam seminggu saja sekalian orang di situ tahulah pada tiap-tiapdusun yang ada dalam lingkungan yar;g lima puluh mil jauhnya dari Yasnaya Polyana itu, bahwa Graaf itu ada mempunyai ayam asing, di dalam kandangnya, yang berwarna kuning dan amat bengis kepada kawan-kawannya.
Pacta waktu tengah hari amat sedap sekali berjalan-jalan di bawah naung kayu-kayuan rimba itu. Demikian pula arnat enak mendengarkan cakap-cakap orang kampung, atau kadang-kadang mendengarkan sebagian daripada lagu dan nyanyi orang tani itu,
Pada siang hari bumng yang bernama leeuv.'erik itu ada juga memperdengarkan bunyinya sebagai di negeri Inggeris; ru pa-rupanya perbedaan bahasa burung itu tiadalah mengubah adat unggas itu.
Terkadang-kadang kelihatan seeker bangsa bumng lang, dan pada suatu hari ada pula kelihatan oleh saya seeker ular, setengah meter panjangnya. Sepanjang kata Graaf Tolstoy, jahat juga gigit ular itu, akan tetapi tiada membahayakan. Saya tak ada sedikit juga beringin hendak mencobai gigit ular itu, demikian pula ular itu tak beringin ia berkenalan dengan saya karena dengan tiada menggigit larilah ia selekas-lekasnya. Binatang liar yang besar-besar sudah habis mati belaka. Akan tetapi masih banyak juga rusa berke- liaran di dalam rirnba itu. Di dalam musim dingin serigala pun keluarlah dari liangnya hendak menangkap domba atau lain-lainnya. Sekalian orang-orang tani mef11punyai anjing belaka, gunanya akan penghalau binatang-binatang buas itu; itu pun hampir tiada terla- wan juga olehnya perampok yang ganas itu.
Perburuan serigala itu ialah suatu jalan menghibur-hiburkan hati yang amat digemari orang, dan menurut cerita dari seseorang anak Graaf itu, yang pada tahun lalu ada juga menyertai perburuan serigala itu, serigala di situ sama benar halnya dengan burung ka- suari yang diperkejarkan orang di dalam sebuah kurungan besar. Pun hawa yang dingin di situ hampir tiada tertahan qlehnya. Dalam tahun 1887, pada musim dingin, ada seek or serigala putih, amat besar badannya, berdiri di tengah-tengah ladang dekat Yasnaya itu : akan tetapi ia sudah mati, karena kaku oleh haw a yang din gin.
Maka di situlah dan sekeliling yang semacam itulah Graaf Tolstoy itu hidup selalu pada waktu yang dua puluh tahun sesudah ia kawin. Hanya kalau ia hendak mengunjungi sahabatnya barang beberapa waktu saya, barulah i~ meninggalkan tempatnya itu. Sebenarnya tak suka ia meninggalkan rumahnya, dan senantiasa ia bergirang hati, kalau sudah habis waktunya tinggal di Moskou untuk selama musim dingin itu.
TOLSTOY SELAMA DI MOSKOU (1898- 1899)
Telah banyak j uga kita ketahui, bahwa Tolstoy itu seorang-orang yang memperlihatkan dengan jalan mudah, bahwa ia merasa kasihan kepada kaum-kaum di tanah Ruslan yang tak bersenang hati sedikit jua pun. Tetapi apakah konon flkiran orang banyak tentang Tolstoy itu setiap-tiap hari? Sepanjang fikiran orang ia rupanya sebagai seorang kuli tani seperti yang digambarkan oleh Repin, kerjanya membajaki ladangnya sendiri, membangkitkan hasil ladangnya, atau menolongi orang tani yang sangat dikasihinya. Akan Tolstoy yang sebagai seorang tani, boleh kita bercakap-cakap dengan dia sebagai bersahabat karib; akan tetapi dengan Graaf Tolstoy, seorang penduduk kota Moskou, jangan diharap dapat berbincang sedemikian. Cerita yang banyak itu perkara Tolstoy di tanah tempat persinggahannya dekat Tula itulah, kata-kata Yasnaya Polyana yang beribu-ribu kali disebut orang hingga sudah menjadi satu dengan dirinya, dan gemarnya pada jasa orang-orang tani itu, sekaliannya itu menyebabkan banyak orang yang memandang Tolstoy sebagai seorang dusun, yang seboleh-bolehnya menghindarkan kata-kata, laksana ada bercabul di sana penyakit sampar adanya. Tak seberapa orang yang menyangkakan Graaf Tolstoy itu orang kota yang tetap, kira-kira enam bulan la- lamanya berturut-turut tiap-tiap tahun.
Menilik kemauan dan flkiran serta kepercayaan T olstoy, benar juga apa yang diceritakan orang tentang dia itu. Tetapi sungguhpun demikian benar pula Tolstoy, yang pandai mengaturkan dirinya dan kuat bekerja itu, sebagian besar daripada umurnya di kota sajalah tinggalnya. Di kota-kota diajarkannya betapa pikiran- nya dan di kampung-kampung sebagian besar dikerjakannya segala apa yang diajarkannya itu. Maka Tolstoy, yang mempunyai cita-cita sendiri dan hidup menurut perasaan dirinya itulah, yang lebih disukai orang, daripada Tolstoy yang mengembangkan flkiran
pelik-pelik. Kita hampir semua mengenal Tolstoy itu sebagai seorang-orang tani, orang gembala, tukang segembala, tukang sepatu dan guru, bukan? Akan tetapi kebanyakan orang tak tahu, bahwa itu sesudahnya berhenti dari pekerjaannya, hanya berikhtiar hendak menyempurnakan buah fikirannya itu.
Biarpun kota Moskou itu tempat tinggal Tolstoy selama musim dingin, tetapi hanya badannya saja yang ada di situ sedang ingatannya dan hatinya tak ada di situ. Maka tiadalah ia mencampuri segala apa yang terjadi di dalam kota itu, baik pun golongan pandai karang, baik pun siapa. Kebanyakan orang Rus yang di dalam kota bagian yang beradab, tiadalah yang tahu, bahwa di antaranya ada juga hidup seseorang yang tinggi derajatnya.
Hanya sedikit pula orang yang tahu, bahwa ia diam ditepi- tepi kota, dan alamatnya ialah Hamovnitcheski straat, dekat Devitche Polye yang masyhur, yaitu suatu taman besar, tempat orang bersuka-sukaan, kalau ada keramaian di dalam kota itu. Pacta pertengahan musim dingin tahun 1898 -1899 telah saya kunjungi pula Graaf Tolstoy itu sekali lagi, pertama dengan maksud hendak bertemu lagi dengan seorang bangsa Rus, yang sangat termasyhur di antara bangsanya itu, dan kedua akan melihat benar tak benarnya apa yang telah direncanakan di atas tadi. Kira-kira setengah jam berkereta dari tengah~i.engah kota itu, sampailah kita ke lo-. rong tempat tinggal Tolstoy. Perjalanan ke situ amat menghibur- kan hati kita, apa lagi ketika musim dingin kota Moskou itu selalu kota yang amat permai rupanya; akan tetapi di dalam musim dingin atau pacta waktu terang bulan, tak main-main permainya, dan jalan yang datang dari tengah kota ke rumah Tolstoy, yang letaknya hampir di pinggir hutan yang berkeliling itu, itulah yang lebih bagus lagi daripada sekaliannya. Sekiranya tuan ada melihat suatu pertunjukan, yang ada memperlihatkan gambar tanah Ruslan semasa dulu dan semasa sekarang, tak dapat tidak tuan lihat beberapa keadaan yang ber1awanan sangat kelihatan dalam perjalanan yang menuju Devitche Polye itu; berapa banyaknya lorong yang besar-besar yag dinamakan orang boulevard, jalan-jalan yang dite- rangi dengan cahaya lampu, hampir sebagai siang rupanya, dan sesudah itu berapa pula kita lihat jalan yang .penuh dengan salju.
"Basilius de gezegende" namanya, sudah itu mendaki naik bukit sedikit melalui pintu gerbang Kremlin. Kalau sudah sampai di Kremlin itu, dilalui pula suatu tempat yang penuh mengandung riwayat Ruslan yang lama-lama, baik tentang sejarahnya, baik t~n tang aturan pemerintahmmya, bail< tentang agamanya. Itulah riwayat tanah Ruslan yang sudah dipahatkan pada batu dan gips (kapur). Semuanya menyedapkan bagi mata yang memandang, akan tetapi akan mengunjungi seseorang yang hidup selalu berperang dengan keadaan yang buruk-buruk, sekaliannya itu adalah sebagai suatu hal yang ajaib, dan mentertawakan adanya.
Rumah Graaf Tolstoy itu jauh lagi letaknya dari dinding tembok Kremlin yang sebelah barat, masih banyak lagi tanda-tanda agama dan pemerintahan yang akan kita lihat sebelumnya sampai ke Hamovnitcheski itu. Di luar tembok itu kelihatan lebih dahulu Rumantseff museum, yang pada waktu bulan terang lebih putih rupanya daripada salju, kemudian dilalui pula Prechistenka yang ternama busuk itu; sungguhpun kota itu " suci" artinya, tetapi ia sudah ditutupi belaka oleh salju, hingga berpat.utan pulalah namanya dengan rupanya pada waktu itu. Kemudian dilaluilah pula suatu tempat yang penuh pohon-pohon besar, dan akhirnya barulah sampai ke rumali Gravin Tolstoy; namanya diletakkan dengan terang di mukanya. Hamovnitheski straat itu tak ada bedanya dengan lorong-lorong lama di kota Moskou, yang terletak sebelah luar kota; pun rumah "Gravin Tolstoy" itu tiada sedikit juga berbeda dengan rumah-rumah yang Jain. Pacta sebelah luamya rupanya sebagai rumah saudagar Rus Kaum Kuno, letaknya sebelah selatan sungai Moskou. Rumah itu bertingkat dua, dan diceraikan dengan jalan besar oleh sebuah dinding batu yang tinggi. Dinding itu mengelilingi suatu halaman cukup dengan kandang-kandangnya dan mmah-rumah lain. Demikian pula jika kita masuki rumah itu, tak ada suatu juga yang dapat menunjukkan kepada kita, siapa yang sebenarnya mendiami rumah itu. Pacta ketika saya mula-mula datang di situ amat heran saya melihat ada beberapa helai
dihlasi dengan serba alat perkakas yang biasa kita lihat di rumah bangsawan-bangsawan yang seperti Graaf Tolstoy itu. Pada ketika saya mula-mula datang ke situ, dan acap kali pula kemudian, ketika saya mengunjungi Graaf itu kebiasaannya banyak orang yang datang berkumpul ke sana akan bersuka-sukaan. Sekaliannya menunjukkan kepada kita, bahwa orang yang punya rumah itu pandai mengatur dan orang berada jua adanya. Sekaliannya memperlihatkan pula, bagaimana macamnya dunia yang tiada mengandung busuk. Itulah sebagian daripada dunia tinggi, yang sebenar-benarnya di dalam hatinya sudah dihindarkannya dengan sejauh-jauhnya; akan tetapi karena isterinya atau lain-lainnya terpaksa jua ia kadang-kadang memperlihatkan mukanya kepada orang banyak itu. Tempat Tolstoy itu yang sebenar-benarnya amat sederhana jua. Lebih dahulu menurun kita sedikit, kemudian dimasukilah sebuah pintu kecil sebelah kanan. Yang dilihat di situ berlainan sangat ru-
itu sederhana saja, yakni dua buah meja yang penuh berisi kitab-kitab dan kertas, lemari sebuah,
Perkakas bilik
bangku panjang sebuah dan kur- si dua tiga buah. Itulah saja isinya. Kalau dilihat malam hari dengan cahaya lilin seperti penuh bilik itu dan rupanya berkacau saja. Rupa-rupanya bilik itu kepunyaan seorang-orang yang amat membenci kekayaan, dan tak mau ia memperlihatkan kebencian- nya itu kepada orang, karena sudah pasti demikian menurut fikirannya. Akan tetapi di dalam segala hal yang berlawanan benar dengan isi rumah yang selebihnya, dapat dilil1at sekaliannya ada mengandung arti bagi orang-orang yang memperhatikan hidup Tolstoy dan yang mempelajari pengajarannya.
Bagi orang yang melihat, isi rumah yang berlawanan dengan ujudnya itu rupanya sama benar dengan dunia tempat ia diam. Sekalian itu tak dapat dihindarkannya dan akan pergi ke pertapaan- nya itu terpaksa juga ia melalui barang yang halus-halus dan berharga itu. Akan tetapi di dalam rumahnya itu ia hidup menurut kehendak hatinya sendiri, cara kemauannya sendiri, dan tiadalah sedikit jua ia mau menyirnpang daripada ujud flkirannya itu. Maka di situ pulalah ia mengaku, bahwa tak dapat ia memaksa orang lain akan berbuat sebagai dia pula. Demikian pula ia berbuat di dunia-dunia yang di luar, sekaliannya ditunjukkannya dengan sebuah tuturnya dan tingkah lakunya. Itulah yang memperbedakan dia dengan orang lain-lain yang ahli fi.kir, yaitu dapat ia menjadikan dirinya atau berbuat sebagai yang telah ada. Orang lain dengan mulut saja ia membuat aturan, tetapi Tolstoy bukannya dengan mulut saja, melainkan diperlihatkannya pula dengan contoh dirinya sendiri, betapajalan pengajarannya itu. Pemandangannya yang pertama saja dapatlah membenarkan perkataan itu. Rupanya sebagai seorang pemburu yang amat pandai,dan bukannya sebagai seorang yang tepekur saja. Badannya sedang, baju taninya yang menggembung sedikit diantara kedua buah bahunya merupakan ia sebagai bungkuk. Sekalian itu adalah
ISO
"Revue B1ansche" dan segu1ung kertas. Bahasanya itu dipakaikannya dengan amat mudahnya dan sempurnanya, kata-kata asing seboleh- bo1ehnya dihindarkannya. Tetapi pada lagu tuturnya dapat kita dengar, bahwa ia acap dan banyak bercampur dengan orang tani. Orang Rus kebiasaannya cepat ia bertutur, akan tetapi Tolstoy 1ambat, tiap-tiap kata diregangnya, hampir sama dengan lagu tutur orang tani. Rupanya amat sehat, pergerakannya masih kuat dan kencang. Tatkala saya menanyakan kesehatannya, menyahutlah ia katanya, "Sampai sekarang saya belum merasai apa-apa, hanya hari tuaku yang sudah datang mengganggu saja, sudah berasa amat dia." Sesudah itu barulah ia memperkatakan perkara dirinya ·sendiri. Waktu itulah yang pertama sekali ia mau bercakap sedemikian. Katanya, ia beringin sekali hendak meninggalkan kota Moskou itu, tetapi isterinya tak nyaman badannya; itulah jua yang menahan dia di situ lama-lama. Kemudian saya ketahui Iagi, bahwa ia biasa diam di Moskou selama musim dingin; oleh karena itulah musim dingin itu dipandangnya sebagai waktu yang hilang. Akan tetapi sungguhpun demikian tiadalah orang akan mau membenarkan persangkaannya itu, karena biarpun ia tiada melukui sawahnya, ia asyik bekerja memeriksa sekali lagi karangannya yang bernama "Opstanding".
memperkatakan Moskou itu dialihnya buah tuturnya kepada kaum Doukhobor, yaitu suatu perkara yang amat penting bagi Tolstoy. Itulah permulaan cakapnya, dan itu pulalah yang pe- nyudahi cakapnya itu. Selama musim sejuk tahun 1899, perkara pergerakan Doukhobor itu sajalah yang amat digernari oleh Tolstoy, dan kalau ia mempercakapkan itu sebentar-sebentar bangkitlah amarahnya, atau kehormatannya kepada pergerakan itu. Katanya, "Heran-heran, ajaib, ajaib, sayang sangat, tiada lebih ban yak orang yang mengetahuinya di Eropah ini." Kata saya, "Akan tetapi Eropah tiadalah akan dapat memberi pertolongan yang sebenamya kepada mereka itu. Keadaannya di Eropah tentulah akan sama juga dengan keadaannya di Ruslan. Jika mereka itu tak mau mencampuri perkara perang, hendaklah mereka membayar cukai perang."
J awab Graaf Tolstoy, "Itu benar, tetapi sanga~ sa yang tak seberapa orang yang tahu dari hal mereka itu."
Acap kali ia memperkatakan perkara ujud Doukhobor itu. Katanya pula, "Itulah suatu ikhtiar yang sudah dijalankan orang, supaya dalam hal i.tu orang hidup menurut perintah nabi Isa; demikianlah fJ.kiran saya." Kemudian dipercakapkannyalah perkara kaum "Kwaker"; rupanya sudah banyak yang diketahuinya dari hal pergerakan itu, dibacanya dari kitab-kitab atau surat khabar. Kebiasaannya cakap-cakapnya tiada ada yang dalam-dalam. Lain daripada surat-suratnya dan karang-karangan tentang perkara Sosial, yang sedang dikerjakannya pada waktu itu, tak pemah ia mempercakapkan karang-karangannya. Karena orang semuanya tahu sungguh, bahwa ia tiada menghargakan karang-karangan. romannya yang dulu-
Kebiasaannya perkataan yang dikeluarkan oleh Tolstoy itu ada mengandung arti yang dalam, lagi ditirnbangnya benar-benar
Polyana. Pada pagi hari bertimbun-timbun surat-surat karangan yang dikerjakannya, sampai jauh lewat tengah hari barulah ia berhenti akan makan. Pacta petang hari ia pergi _berkuda a tau berkereta, atau menerima jamunya. Selalu banyak orang yang mengunjungi dia, baik orang asing, baik kaum keluarganya. Sekalian mereka itu diterimanya dengan segala hormat, dan tiadalah diperbeda- kannya seorang dengan yang lain. Yang diperkatakan ialah perkara peketjaannya, ujudnya dan buah fikirannya. Kedatangan saya yang mula-mula sekali tiad-:! seberapa lamanya, karena Graaf itu bermaksud hendak pergi ke tempat mandi orang banyak beserta dengan anak-anaknya yang laki-laki dan seorang jamunya. Maka di- tanyakanlah kepada saya, sukakah saya serta pergi ke tempat itu,
- seperti sudah demikian jua layaknya. Banya (mandi) itu sudah menjadi suatu keperluan besar bagi orang Rus. Maka mandilah orang bersama-sama pada suatu tempat yang terbuka saja. Perrnintaan itu menimbulkan keinginan saya, akan tetapi takut saya menerirnanya, kalau-kalau saya dipandang Graaf itu sebagai seorang yang menyusahkan dia. Ten tang ia menulis atau mengarang, tak ada yang akan diperkatakan, hanya rajin dan amat hemat ia memperbaiki dan memeriksai sekali lagi segala yang telah ditulisnya. Contoh cetakan yang
flkiran orang-orang tani tentang Tolstoy itu? Dipan- dangnyakah dia sebagai penukar agama, atau sebagai seorang yang hendak memasyhurkan diri?
Sudah beberapa lama saya berikhtiar hendak mencari jawaban pertanyaan itu, akan tetapi sia-sia belaka. Di Moskou, di mana-mana pun orang tahu akan rupa mukanya, dan tiada berapa orang yang tak heran melihat seorang tani tua menunggang seekor kuda bagus pada petang hari melalui kota-kota luar dengan gagah duduk di atas kuda sebagai seorang militer dan orang bangsawan. Tetapi orang-orang tani itu -kota Moskou itu sepanjang kata orang Rus, ialah kota orang-orang tani -tiadalah mengindahkan ada tak adanya orang yang mulia itu a tau tinggal di kota itu bersama-sama dengan mereka.
J awab yang ada berharga, say a peroleh dari seorang tani di situ, yaitu seorang "barin " (tuan) yang baik hati. ·Orang tani itu su dah membaca satu karangan yang bemama "Pe;ang dan damai, " dan selembar karangan yang dibuat oleh Graaf itu tentang "memperhentikan minuman ". Karangan itu dicacatnya karena Czaar pun meminum sampanye juga. Pada sebagian besar daripada orang tani itu ada sesuatu perasaan yang ajaib, yang sama-sama dirasainya, yaitu kurang percaya dan takut kepada Tolstoy. Ada orang· yang mengatakan ia tiada bertuhan, ada yang mengatakan pelbagai perkara yang mustahil; berhubung ia dengan Pemerintah, kata mereka itu. Bahkan ada yang menceritakan dengan yakinnya, bahwa ia digaji oleh pembesar akan membujuk-bujuk orang supaya suka kepada militer. Pandaknya ham pit; segala orang di situ tak tahu sedikit juga siapa Tolstoy itu, hanya yang diketahui orang ialah namanya, dan biasa ia
Pacta baliknya banyak pula ia mendatangkan faedah bagi Pemerintah, yakni dengan pertolongan karang-karangannya yang dimasukkannya ke dalam surat. khabar bangsa asing itulah. Ajaib sangat kita memikirkan betapa flkiran orang tentang tanah Ruslan; bukantah pergerakan menghapuskan militer itu dikeraskan sangat pula oleh orang luar negeri, yang ada mempunyai peraturan militer dan cukai perang, yang diwajibkan?! Sekaliannya itu sama juga, kata Tolstoy. Pemerintah Ruslan harus dicela sangat, karena ada di sana peraturan undi untuk menjadi serdadu, akan tetapi di negeri lain pun ada juga orang mempunyai bala tentara orang yang suka menjadi militer (vrijwilliger) atau tentara orang undian. Bila di dalam sesuatu negeri ada peraturan undian semacam itu, menurut flkiran Tolstoy, patut pula ditertawakan orang-orang sebelah barat yang mencela pemerintahan Ruslan karena tak mau ia mengindahkan perasaan orang banyak. Bukantah di negeri asing pun tak diabai- kan orang juga perasaan orang ban yak itu?! Barangkali dalam hal itu lebih terus pemandangan si Tolstoy itu daripada orang lain. Oleh karena itulah tiada berasa ia mendengar perkataan belas kasihan bangsa asing dalam hal keadaan tanah Ruslan itu. Dengan tiada menaruh syak ia memasukkan karang-karangannya ke dalam surat khabar asing, karena ia tak bebas di Ruslan; ada peraturan perkara cetak-mencetak (drukpers-reglement) di situ yang meng- ganggunya, dan sekali-kali bukan karena ia menyayangi bangsa a sing.
Yang mengambil hati bangsa asing dalam mazhab Tolstoy itu,
Pergerakan sosial di Ruslan yang besar pacta pertengahan abad yang telah lalu itu, yang menjadikan Tolstoy menjadi rasulnya itulah, yang mengadakan beberapa orang yang berhati macam baru seperti dia, baik laki-laki, baik perempuan, tetapi orang hanya dapat mengerjakan dia dalam sedikit waktu saja. Sedangkan Tolstoy dapat mengerjakannya untuk selama hidupnya, yakni mengurangi keperluan dirinya, dengan menyederhanakan keadaan diri sendiri. Kekerasan yang menguatkan perubahan kepercayaan itu sudah lemah, sebelumnya Tolstoy itu dikenainya. Itulah sebabnya tiada seberapa orang bangsa Rus yang menurutkan kemauan orang Rus yang pandai itu, yang dapat menunjukkan, bahwa dapat ia menyatukan dirinya dengan orang banyak.
Ajaib sungguh Tolstoy itu dapat memperoleh hasil, yang sekali-kali tiada tercapai sedikit jua oleh orang-orang ahli ftkir, yang telah mendahului dia, hingga ia disangkakan mereka itu mustahil jua. Yang menyebabkan ia mendapat hasil yang sebagus itu rupa-rupanya, ialah karena ia tiada tertawan oleh penyakit yang dinamakan orang, "terlampau hendak mengubah". Yang diambilnya akan jadi guru dan contoh, ialah seorang-orang tani Sutaieff namanya. Peri hidup orang tani itu bukannya disangkakannya barang sesuatu yang harus diambungkannya sampai sama tinggi ia dengan darajat dirinya sendiri, melainkan itulah yang dipandangnya sebagai suatu cita-cita yang sudah nyata. Oleh orang-orang yang mengubah aturan hidup, yang lebih dahulu hidup daripada Tolstoy, darajat tani Rus itu dipandangnya sebagai suatu barang kasar, yang baru berharga jadinya jika ia diserangi oleh buah ft.kiran kaum revolutionair (perusuhan) dan politik, dengan kesopanan- nya. Tolstoy tak ada sedikit jua mau mencampuri revolusi, dan tentangan kesopanan, katanya: lebih bagus keadaannya itu di anta-
!-:eso- panan. Itulah sebabnya dalam hal ke:;opanan itu lebih suka ia menjadi murid daripada menjadi guru di sekolah orang-orang tani itu. Di an tara mereka itulah yang lebih banyak didapatinya ketiga sifat kesopanan yang tiada boleh tinggal dan ada juga padanya, yakni kebersihan, kerendahan hati, dan pengasih; tak berapa ia didapati di dalam golong-golongan lain. J adi man usia ini dihorrnatinya bukan karena kejadiannya nanti, melainkan karena yang telah sudah-sudah. Itulah yang mencerai.kan Tolstoy dengan orang Rus yang beradab dan beratus-ratus banyaknya itu, yang selama hidupnya berusaha untuk memperbai.ki keadaan anak negeri, tetapi mendapat balasan hanya memperoleh nama, mereka itu di.katakan; orang yang ada berhati baik, sedangkan dari pihak orang tani ia mendapat cela, karena ia tak mengerti akan kemauan orang tani itu dan orang tani pun tak mengerti apa kehendaknya.
Akan Tolstoy itu tiadalah mendiri.kan sesuatu kaum (partai), melainkan kaum-kaum di negeri Ruslanlah yang menjadikan Tolstoy sebagai sekarang. Ia murid, dan bukannya guru di dalam negerinya itu.
Hanya di luar-luar negeri orang mengenal Tolstoy sebagai seorang rasul bagi buah flkiran yang revolutionair, bagi mazhab macam baru tentang peri kesopanan. Perhubungannya dengan bangsanya sendiri ialah karena sama-sama memegang agama yang mudah dengan membangunkan yang gaib-gaib; ban yak sekali kaum-kaum (partai) di tanah Ruslan yan memegangnya, umpamanya kaum Donkhobors, kaum Molokani, kaum Stundisten, dan kaum Zwervers.
Berapa benarnya perkataannya dalam hal menerangkan, bahwa sebagian yang terbesar di Ruslan itu sama flkirannya dan ujudnya, itu tak guna kita perbincangkan di sini.
15 7
SUATU PERCAKAPAN PERKARA "MENURUT P ADA HAL MELAW AN"
Tersebab oleh karangan yar1g dinamakan "Pengakuan saya ", "Agama saya", saya pun beijalanlah mengembara menuju Yasnaya Polyana. Ada barang sesuatu yang mengikat hati kita tersembu- nyi di dalam kedua buah kitab itu. Cobalah tuan fikirkan; di bagian penghabisan abad yang kesembilan belas George Fox itu hidup kembali sebagai orang bangsawan bangsa Rus. Bagi saya kitab riwayat hidup Graaf Tolstoy itulah suatu kitab yang amat penting di dalam abad ini, yaitu di antara kitab-kitab yang mengarangkan perkara agama. Tabiat yang suka memperlihatkan keadaan yang sebenar-benarnya, bercampur dengan keadaan yang gaib-gaib; orang yang hanya mempercayai segala sesuatu yang boleh diuji dengan otak saja, tetapi bercampur dengan murid nabi lsa, seorang graaf bangsa Rus, seorang serdadu, seorang pengarang roman, dan seorang alim mengajarkan: kita harus menerima saja apa yang mendatangi kita. Apatah lagi yang boleh melebihi sifat dan keadaan yang berlawan-Jawanan semacam itu, terkumpul di dalam diri seorang man usia jua?!
Sekalian itulah yang lebih menggembirakan hati saya hendak melihat guru baru itu. Keterangan yang mudah-mudah juga dan berani ia mengeluarkan, ialah dalam hal hendak mempertahankan fi.kirannya tentang harus menurut, atau sabar saja; keterangannya itu ada dapat dibantah di dalam suatu perkara. Di dalam kitab-kitabnya dikatakannya, bahwa menurut fikirannya terlarang sangat memakaikan kekerasan, biarpun akan mencegah perbuatan jahat yang sangat buruk dan keji sekali pun; akan tetapi sungguhpun demikian baik juga memakaikan kekerasan itu di dalam hal yang penting, gunanya hendak mempertahankan seorang kanak-kanak, umpamanya : Seorang-orang lnggeris, yang membantu saya ketika menterjemahkan kitab "Agama Nasrani ", menerangkan
flkiran saya dapat membatalkan segala yang ada. Katanya, "Ketika saya menyalin kitab itu, naik darah saya, karena ia mengajarkan boleh membiarkan sesuatu kejahatan yang amat keji. Oleh karena itu saya minta pertimbangan tuan Tolstoy, di dalam perkara yang tersebut di bawah ini. Cobalah tuan misalkan sebentar, ada seorang-orang mabuk yang hendak membunuh anakku. Sudah dicoba membujuk-bujuk dia dan memberi dia nasihat, akan tetapi sia-sia belaka. Tentulah terpaksa aku menahan orang itu dengan kekerasan, atau membiarkan dia membunuh anakku itu. Sekiranya sudah lepas mabuknya, tak dapat tiada ia menyesal sangat akan perbuatannya itu, akan tetapi apa hendak dibuat lagi "nasi sudah jadi bubur". Jadi ia sudah membunuh orang, dan bolehjadi ia digantung dan kita pun sudah kehilangan anak kita. Tiadakah lebih baik orang itu ditahan dengan kebenaran, supaya jangan ia mendarahi tangannya dengan darah anakku pada waktu otaknya ada di dalam perintah air minuman keras itu daripada membi- arkannya saja Demikian pulalah pennintaanku, jika aku pun tengah mabuk, dan bersaja hendak membunuh seorang anak rupanya; aku minta dengan keras, hendaklah aku ditahan daripada perbuatan itu, biar dengan kekerasan sekali pun.
Ini suatu perkara yang penting juga, dan Graaf Tolstoy pun mengaku benar perkataanku itu. Katanya, " Ya, dalam hal yang semacam itu baik gerangan memakaikan kekerasan, tetapi di dalam hal yang satu itu jua. Akan tetapi kecuali yang satu itulah, yang membatalkan segala sesuatunya. Siapatah yang dapat menentukan, bahwa orang itu atau sesuatu bangsa yang memperbuat sesuatu kelaliman, yang pada ketika itu sedang gila, akan menjadi tempat menjalankan kekerasan? Cobalah bukakan saja pintu sebuah akan melakukan kekerasan itu dalam beberapa perkara; tak dapat tiada peraturan menyuruh orang sabar dan menerima saja itu roboh dengan sekejap jua adanya. Saya beringin sekali hendak mengetahui, betapa Graaf Tolstoy dapat mnyesuaikan ada mempunyai kecuali itu dengan perintah kerasnya, yaitu sekali-kali tiada boleh memakaikan kekerasan. Tak lama jua sesampainya saya di Yasnaya Polyana, pertanya-
"Saya sudah berbuat suatu kesalahan. Tiadalah orang berhak sedikit jua pun akan menjalankan kekerasan, siapa, dan dalam hal apa sekali pun. Demikian pula tiada ada hak kita akan menahan dengan kekerasan seseorang mabuk akan membunuh anak kita. Salah benar membuat kecuali itu." Setelah itu bertanya pulalah say a kepadanya; "Baikkah memperbuat pacta orang lain, sebagai yang kita akan kehendaki terjadi pacta kita, manakala tiada ditahani si pemabuk itu membunuh anak kita?"
Sahutnya, "Mengerasi itu terlarang. Lebih dahulu saya berusaha menahan ia berbuat sedemikian, dan sekiranya tak mau ia mendengarkan perkataan saya, saya biarkan dia membunuh anak saya."
Kata saya lagi, "Tetapi ingat pulalah tuan, apa yang boleh terjadi karena itu! Pertama-tama anak tuan mati, kedua kalau orang itu sudah hilang mabuknya tak dapat tiada disesalinya sangat tuan, karena tuan tiada memegang leher bajunya, atau berbuat sesuatu jalan lain akan menjauhkan dia daripada perbuatan yang keji itu, dan ketiga tentulah pengadilan campur tangan dan orang itu pun digantunglah. Kata Graaf itu pula, "Saya tak peduli pacta kejadiannaya itu. Kewajiban saya ialah menurut bunyi hukum, dan hukum itulah memutuskan. Segala paksaan atau kekerasan akan memaksa orang memperbuat atau memperhentikan barang sesuatu, itu terlarang belaka."
Ujar saya, "ltu belum masuk ke dalam ftkiran saya. Rasanya di atas karangan tuan yang menerangkan arti, "Janganlah melawan iblis dan setan" ada tuan tuliskan "De gulden regel" (peri bahasa yang berharga)_"
Graaf Tolstoy tiada dapat ditukar flkirannya. "Tak ada suatu jua yang dapat membenarkan mengerjakan kekerasan. Sekiranya ada yang tuan beri hati dalam hal itu, tak dapat tiada terbukalah pintu bagi segala macam kejahatan.
Segala kekayaanmu yang berlebih-lebihan itu buangkanlah habis-habis; sesudah itu barangkali boleh engkau serta mempercakapkan hendak menghabiskan "kekerasan" orang lain itu?"
Sepanjang timbangan Tolstoy hendak melawan keras dengan gagah itu benar mulia, tetapi tiada menurut kehendak nabi; kedua macam hal itu berlain-lainan adanya. Lebih baik anak itu menjadi kurban seorang yang ganas, daripada engkau berbuat suatu perbuatan yang salah, yakni orang itu dengan kekerasan engkau lem- parkan dia ke bumi. Pada waktu itu saya bantahi dia dengan bantahan yang biasa. Maka bertanya1ah saya kepadanya, "Apa ujudnya nabi Isa. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem, bertanyakan kepada segala pengiring yang tiada seberapa orang itu, siapa di antaranya yang ada mempunyai pedang?". Setelah orang menyahut "ada dua" katanya pula, " Itu cukuplah?" Jawab Tolstoy dengan keras, meskipun jawab itu agak sia-sia sedikit, karena katanya, "Benar juga nabi lsa menanyakan pedang, akan tetapi menurut timbangan saya terang pula maksudnya hendak mempergunakan dia gerangan akan melawan serangan penyamun yang bertempat di pegunungan, yang akan dilaluinya, jika hendak pergi ke Yerusalem itu. Dalam hal itu ia berbuat dosa sendiri karena telah dilanggarnya pantang- nya. ltulah yang menyebabkan sesalan besar yang ada tersebut di dalam Gethsemane; menurut flkiran saya sesalan itu tersebab oleh karena dukacitanya: "mungkir" telah membujuk-bujuk nabi lsa mengambil senjata, biar untuk mempertahankan diri sekali pun!"
Tak ada yang dapat menjatuhkan Graaf itu dari tempat pen- diriannya (standpuntnya) itu. Kekerasan itu tiada sekali-kali boleh dipakaikan, baik bagi diri sendiri, baik bagi orang lain. Setelah itu
"Sekiranya isteri dan anak-anak tuan dapat aniaya, dan sebelumnya mati terpaksa mereka itu akan lama menanggung sakit, tetapi siksaan serta aniaya itu dapat dihindarkan dengan seletus senapang saja, tiadakah akan tuan letuskan senapang tuan itu?!"
Jawab Graaf itu, "Tidak, tiadalah saya akan menembak orang yang hendak menganiaya anak isteri saya itu; sekali-kali tidak. Kita dapat menanggung siksa, kita tiadalah boleh melanggar hukum."
"Tetapi ingatlah, berapa dahsyatnya keadaan itu; hanya sebuah peluru saja, lain tidak. Apa gunanya kit a mengurbankan jiwa sebanyak itu, padahal dengan tembak barang sekali saja terpeliha- ralah jiwa yang ban yak itu."
Ada beberapa saat lamanya Graaf Tolstoy itu tepekur saja. Kemudian berkatalah ia, "Benar sangat ngeri perbuatan itu, tetapi tiada sejahat hasil melawan. Manusia lebih banyak ia berbuat jahat, dan lebih banyak lagi kecelakaan yang dijadikannya antara dia sesama manusia, semata-mata karena hendak melawan kejahatan dengan kekerasan; lebih banyak daripada menahan dengan sabar saja? Adakah konon terfikir oleh tuan, bahwa kita dapat mengubah flkiran orang hanya dengan kesakitan, kemiskinan dan mau mati saja! Tuan sangkakankah agama Nasrani itu boleh kembang di atas dunia ini hanya dengan diajarkan saja? Sekali-kali tidak. Belum ada seorang jua telah meninggalkan agamanya karena khat- bah saja. Yang dapat menukar agama orang bukannya pidato, me-Jainkan menanggung untuk orang lain. Cobalah berpidato tuan panjang lebar, yang sesedap-sedapnya menurut ftkiran tuan, niscaya orang akan berkata jua, "Benar bagus pidatonya itu, akan tetapi, kalau ada orang yang lebih pandai lagi berpidato dari padanya, dan dia datang kemari, tak dapat tiada ada "rasanya" sedikit yang akan engkau dengar itu; pidato yang seperti itu tiada sebuah- pun paedahnya. Hanya kalau orang-orang melihat orang lain yang lemah, Iekas merasa hati, dan tiada suka bersusah payah, yang sama halnya dengan mereka itu, dan orang lain itu rela membagi-bagikan hartanya, suka ia dianiaya dan disiksa orang dan tak takut
terflkir oleh mereka, bahwa tentulah ada yang benar di dalam hal itu. Tiada seorang jua yang mau percaya akan kebenaran sesuatu hal, sebelum dilihatnya dengan matanya sendiri, bahwa rela orang memberikan nyawanya untuk itu. Tutupan, ung- gunan api, gantungan, itulah perkakas yang dapat menaklukkan hati orang. Dan sekiranya tak mau juga tuan menerima hukuman itu, tak dapat tiada tuan hindarkanlah jalan yang hanya dapat membawa orang masuk ke dalam agama tuan.
Graaf Tolstoy mengatakan terns terang kepada sa~a, bahwa kalau sekiranya saya menyukakan juga nanti "orang dihukum mati, biar orang itu bangsat yang sebesar-besar bangsat sekalipun, saya bolehlah disamakan dengan Petrus yang membatalkan Isa.
"Siapakah kamu, yang berani menghukum perbuatan orang? Kau tak ada berhak sedikit jua akan menimbang buruk baik perbuatan orang, biar ia orang yang sejahat-jahatnya sekalipun. Bila engkau memutuskan nyawa saudaramu, engkau pun seorang pembunuh oranglah, betapa pun engkau hendak menyembunyikan atau mengurangkan ganas kejahatan itu. Kau menyahut : setengah orang boleh menjadi sebagai seekor binatang yang buas, hingga perlu juga ia dimusnahkan. Tetapi itulah yang disalahi sangat oleh nabi lsa, yaitu ketika ia berkata, bahwa seseorang yang mengatakan "Raka" *) kepadanya, ia akan dihukum oleh Rapat besar. Akan dikatakan orang yang semacam itu dapat menyusahkan pada orang sebelah-menyebelah, ingatlah lagi, bahwa perbuatan itupun ada juga dikatakan pada orang yang baik-baik. Tiadakah tuan sangkakan, bahwa Kristus itu dipandang oleh saudara-saudaranya sebagai suatu beban, dan sebagai seorang yang merusakkan keamanan? Bukantah sebelum ia datang, negeri aman saja, tak ada yang mengganggu keadaan negeri?"
Buah fikiran Graaf Tolstoy itu, rupa-rupanya ialah: memakaikan kekerasan akan menghindarkan sesuatu perbuatan manusia itu boleh ditangkis dengan jalan yang dipergunakan orang juga akan menyalahkan perbuatan orang yang menyusahkan atau menganiaya suatu macam agama. Segala macam hukuman boleh dimi- salkan suatu jalan yang menyusahk~ atau aniaya bagi orang. Kau
•) Orangjahat
Pun Graaf Tolstoy itu sama naik juga daralmya sebagai sekalian orang Rus, jika ia mengingat perkara hukuman mati. Tatkala Czaar naik nobat, telah berkirim surat ia kepada baginda akan mengingatkan hadis nabi Isa, dan akan memintakan ampun bagi kaum Nihilist yang telah membunuh ayah baginda. Menteri Pobye- donostseff memberi jawaban, " Tuan percaya pacta nabi Isa yang lemah, dan pengiba hati, akan tetapi saya percaya kepada nabi Isa, yang memberi watas pacta segala macam kejahatan dengan kekuatan dan kekuasaan jua. Maka adalah beberapa macam hukuman yang telah dijatuhkan orang. dan sangat menyakitkan hati Graaf itu, seolah-olah ia kena pukul dengan besi yang sedang menyala- nyala rupanya. Tiadalah dapat orang Inggeris memikirkan, betapa sangat bencinya ia kepada orang Rus yang beradab itu tentang hukuman mati di tanah Ruslan, pada hal ia sendiri di negerinya biasa mendengar orang kena hukum mati sampai berlusin-lusin dalam setahun. Tangkisan yang mengatakan: Acap kali lebih baik hukuman mati itu daripada hukuman tutup lama-lama, dibalas oleh Tolstoy hanya dengan mengatakan, bahwa segala macam hukuman tak patut sedikit jua diadakan.
Tentulah akan benar jawab orang-orang sebagian besar tentang hendak menghapuskan hukuman mati; mereka itu suka membenarkan, jika segala pembunuh itu mau memberi contoh sendiri. Ak.an menghapuskan "boleh memakaikan kekerasan" bagi orang yang biasa, sama jugalah dengan menyerahkan segala keadilan ke dalam tangan iblis dan setan. Jika tidak demikian, betapakah dapat kau mcngharapkan, orang-orang mau mcnjadi kurban sabar, yang diminta dari segala orang-orang yang beragama Nasrani? Atas pertanyaan itu dijawab oleh Graaf Tolstoy dengan sebagian yang terbagus daripada karang-karangannya perkara agama; di situlah di- pertentangkan keadaan syahid (martelaarschap) yang mau diturut- kan orang saja karena hendak mempunyai alam dunia ini, dengan keadaan syahid yang ditakuti orang, jika Kristus yang memperli-
"Angkatlah bebanmu (kruis), dan ikutlah akan Daku!" artinya: Tanggunglah dengan sabar untung malang yang menimpa dirimu, dan turutkan kemauan Tuhan saja dan bukan kemauan manusia. Akan tetapi sekarang betapa halnya, sebarang orang yang berpakaian angkatan saja, dan tiada berharga sedikit jua pun, yakni orang yang hanya terpakai untuk membunuh orang saja, jika terpikir olehnya hendak mengatakan, "angkatlah kera- pai dan senapangmu, dan ikutlah akan daku akan menentang mati a tau akan mematikan ", niscayalah sekalian orang menurut perintah itu. Maka ditinggalkannyalah sekalian kaum keluarganya, ibu-bapanya, anak dan isterinya, dengan memakai pakaian sebagai orang gila, akan menurut perintah atau kemauan sebarang berpangkat tinggi, yang beijumpa olehnya. Maka beijalanlah ia dengan menanggung kelaparan dan kelelahan karena peijalanan yang panjang-panjang itu. Ke mana perginya kepala itu diikutkannyalah dengan tiada mengetahui ke mana tujunya, tak ada bedanya dengan sekawan hewan yang dibawa ke rumah potong. Akan tetapi mereka itu bukannya hewan -mereka itu manusia. Mereka itu tahu, ke mana ia dibawa orang. Dengan pertanyaan "apa gunanya" di dalam hatinya, pertanyaan yang tak dapat dijawab, bexjalanlah ia terus dengan putus asanya, serta menanggung sengsara dan akhirnya akan mati karena kedinginan, kelaparan, kesakitan atau kena peluru senapang atau meriam. Mereka itu membunuhi atau dibu- nuhi orang, dalam pada itu tak seorang jua yang tahu apa sebabnya dan apa gunanya berbuat sedemikian. Orang-orang Turki kalau dapat menawan mereka itu, tak dapat tiada mereka dipanggangnya hidup-hidup, dikulitinya, dan dicabutinya isi perutnya. Walaupun demikian pada esok harinya, jika berbunyi selompret, maka bangkitlah lagi sisa daripada yang telah kena tawan itu akan menentang sakit a tau mati. Biarpun begitu tak ada seorang jua, yang merasa susah akan menurutkan peri.ntah itu. Bukannya pahlawan-pah lawan itu saja, pun ibu-bapanya membenarkan perbuatan anaknya itu hingga mereka pun memberi nasihat kepada anaknya akan her- mat kepada pembesarnya dan suka menurut perintah dia. Bagi mereka itu rupa-rupanya menurut perintah yang semacam itu
yanp- mati syahid, yakni yang rela mengurbankan jiwanya untuk agama, ada 330.000 orang di dalam seribu delapan ratus tahun, tetapi orang semacam itu jarang-jarang didapati. Akan tetapi kalau kita ambil orang mati Syahid dunia, maka bolehlah diambil rata, bagi tiap-tiap korban agama Kristus ada seribu orang kurban dunia, orang yang penanggungannya jauh lebih besar dan jauh lebih banyak daripada mereka yang menjadi kurban Kristus, lebih daripada seratus kali. Oleh pcperangan saja dalam abad ini sudah lebih dari tiga puluh miliun orang, yang meninggalkan dunia (Peperangan Eropah?).
Sekalian orang itu kurban daripada peraturan dunia belaka. Setelah mereka tiada mau lagi mempedulikan pelajaran Kristus itu, tak dapat tiada tak seberapa penanggungan yang dirasainya, jika sekiranya tiada diturutkannya pula peraturan dunia ini.
AI ITU MEMBUNUH
Proudhonlah yang mula-mula mengatakan kepunyaan itu yaitu pencurian; akan tetapi Tolstoy lebih keras lagi; katanya, mempunyai itu artinya membunuh. Tak jemu-jemunya ia memperbincangkan hal itu, hingga banyak timbul bantahan yang tiada dimaksudi sedikit jua dari pihak isterinya, yang karena cerdiknya ada juga ia menahan-nahan keras sedikit hasil kejadian buah flkiran yang ditebarkan oleh suaminya itu.
Nyonya Gravin itu menerangkan kepada tuan Moltshanoff Novoe Yremya, di dalam tahun 1890; "Lyov Niko1ayevitch, suami saya hendak membagi-bagikan dulu segala harta dunianya kepada orang yang miskin-miskin. Saya seoranglah yang membantahi perbuatannya itu. Saya katakan kepadanya, saya tak cakap lagi hendak mencari makan untuk diri saya sendiri; lain daripada itu kemiskinan dan kemelaratan yang sama-sama akan saya tang- gung dengan kesembilan orang anak saya itu, tak dapat tiada akan menyebabkan maut saya; sebagai pula, ia yang selemah dan seha- lus itu mustahil akan dapat mencari kehidupannya hanya dengan pekerjaan tangan jua. Wah tuan, tak main-main hebatnya peperangan antara saya dengan suami saya dalam hal itu. Akan tetapi AlhamduWlah, syukur, sayalah yang menang; maka semenjak waktu itu sayalah yang menguasai harta Graaf itu. Sekaliannya sayalah yang mengerjakannya dan segala sesuatunya harus dengan setahu sayajua.''
Kata Graaf itu dengan iba hatinya, "Isteri dan anak itulah yang menjadi alangan yang terutama bagi hidup yang mempunyai cita-cita."
Kata nyonyanya pula sam bil tertawa, "Hai dengarlah, kalau tak ada aku, tak dapat tidak engkau sudah lama masuk ku- bur, dan tiadalah dapat engkau hidup seperti biasa lagi dan tak dapat pula engkau hid up yang mempunyai cita-cita itu."
"Sangat letih rasanya sendi tulangku. Terkadang-kadang semuanya sudah menjadi pembunuhan. Kalau kita ambil gula sebuku untuk memaniskan air teh, katanya ada meleKat darah di situ, kalau diam di rumah yang patut sedikit, katanya kita ini pembunuh."
Kemudian akhir-akhirnya dapat juga keterangan perkataan nyonya itu pada saya, ialah dengan penglihatan mata sendiri. Pada suatu hari sedang kami duduk makan bersama-sama, dengan sekonyong-konyong bertanyalah Graaf itu, 'iahukah tuan, apa sebabnya kami diam di dalam nunah ini Hanya karena nenek (datuk) saya seorang pembunuh orangjua. Rumah dengan tanah ini dihadiahkan kepadanya sebagai upahan untuk menumpahkan darah orang. Katharina yang merampas dia dari tangan orang-orang tani, yang memelihara dan menanaminya, kemudian dihadi- ahkannya kepada nenek saya untuk upah membunuh orang di medan peperangan. Itulah asalnya, sebagian daripada harta saya ini. Akan tetapi pada persangkaan tuan, uang yang diperoleh dokter, hakim, pencetak kitab, lebih halalkah itu daripada uang yang diperoleh seorang pencuri a tau penyamun? Itu sama juga, sekaliannya hasil kekerasan jua. Sebagian daripada harta saya ini saya peroleh dari ayah nenek saya dan sebagian daripada pekerjaan tulis menulis. Itu pun diperoleh dengan kekerasan jua. Siapakah yang membeli kitab roman? Orang kaya-kaya. Dari mana datang kekayaannya itu? Didapatinya dengan kekerasan. Di dunia ini hanya ada sedikit juga bagian untuk satu-satu orang. Ada, bukan, sebuah pepatah yang mengatakan, "Seorang kuli yang lurus, tiadalah akan dapat mendirikan sebuah rumah yang bagus." Itu benar. Orang kuli yang lurus itu tak dapat memperoleh harta lebih daripada bakal hidupnya yang utama-utama saja. Siapa yang mendapat lebih daripada itu, ia seorang pencuri. Jika tuan lihat sebuah rumah yang indah dan berharga isinya atau lain-lainnya, percayalah tuan, itu hasil pencurian daripada orang yang miskin-miskin jua. Hasil itu bukannya pencurian saja, itu perubahan yang menjadi buruk. Karena pencuri dengan anak-anaknya tak guna lagi bekerja, mereka itupun menjadi malas, kemalasan itu menyebabkan dosa. Contoh itu menyebab'kan anak-anak lain yang kurang kaya tiada bersenang
"Kalau ada engkau mempunyai sebuah rumah, atau uang, atau pakaian, hendaklah engkau selalu siap hendak memberikan- nya kepada siapa pun. Hasil menjalankan petuanya itu biar dengan penetapan dan perantaraan Gravin Tolstoy itu sekalipun, tiadalah seperti yang dikehendaki oleh Graaf itu jua, karena yang datang meminta kepadanya itu bukannya miskin yang sejati, melainkan miskin yang diperbuat-buat atau segala jenis bangsat, dan pemabuk. ltulah orang yang datang meminta tolong kepadanya, sedangkan orang yang sebenar-benarnya miskin tinggal saja di rumah dengan kerniskinannya. Apa sebabnya maka harta yang dapat "di- curi" itu, kalau hendak menamakan dia begitu juga, dibagi-bagikan juga sebagai hadiah kepada segala macam bangsat pemabuk, orang yang kikir, orang tukang minta-minta, orang yang tiada tahu malu itu, itu saya tak mengerti sedikit juga. Sekiranya Graaf Tolstoy dapat mengetjakan petuanya itu dengan sempurnanya, tak dapat tiada kaum penjahat itulah yang akan memungut segala harta ben- danya. Penerirnaannya itu niscayalah dijadikannya brendi, dan jauhlah bagi mereka itu hendak mengembangkan petua, "tiada boleh meminum minuman keras". Tatkala saya sindirkan hal itu kepada Graaf itu, ia pun menyahut, "Sekiranya dapat kita memilih, baiklah kita u~akan mengerjakan apa yang sudah nyata baik, daripada mengetjakan yang belum tentu baik. Bergaul dengan saudara-saudara saya, me-Juku sawah, menaburkan tampang, dan menghidupkan diri saya serta anak-anak saya menurut cara kemauan Tuhan, yang befrrman kepada nabi, itulah yang baik. Mengarang-ngarang kitab roman barangkali tak ada gunanya. Bolehjadi ada baik di dalamnya, akan tetapi barangkali lebih banyak yang jahat. Siapakah yang dapat menimbang? Kata tuan: Anna Karenina,boleh menjadikan beribu-ribu orang lebih baik hati dan lebih lurus bertentangan dengan sesama man usia; akan tetapi siapakah yang dapat mengetahui kitab
80.000 orang
itu, tiadalah akan saya keluarkankata yang sepatah itu, apabila karena itu terpaksa saya membuangkan kesempatan saya dan pekerjaan saya sebagai orang tani, akan tetapi yang dahulu itu belum tentu lagi." Pada suatu petang beijalan-jalan pulalah kami; maka sampailah kami pada sekawan kelasi kapal lebih daripada seratus orang banyaknya, yang disuruh akan mengeijakan jalan kereta api. Ketika kami sampai ke situ, mereka baru makan, dan ada yang bermaksud hendak masuk ke dalam pondoknya yang diperbuatnya daripada tanah bata. Tiap-tiap pondok didiami oleh sepuluh orang, yang bersebelah-sebelahan letak tempat tidurnya, terbuat daripada papan dan ketinggian sedikit: mereka itu tiada memakaikasur, jera- mipun tak ada. Graaf Tolstoy beijanji akan mengirimkan jerami kepada mereka itu, tentulah segala mereka bersukacita. Mereka itu lurus dan baik hati rupanya; badannya tiada sekuat badan kelasi lnggeris, akan tetapi mereka itu sangat hormat ·dan tiada pemalu. Kedatangan kami ke tempat kelasi-kelasi itu menyebabkan suatu percakapan perkara sosial itu pula.
Kata Graaf itu, "K.ita melupakan Kristus, kita tak mau menurutkan katanya; sekarang apa jadinya? Di situ ada seratus orang makhluk, yang mendapat gaji 50 kopeke (kira-kira 50 sen) setiap hari, dan tiadalah mereka mempunyai kasur, jerami yang dapat di- tiduri pun tak ada padanya. Masakan kita dapat memejamkan mata kita diatas kasur kapuk dan kasur bulu beruang kita itu, kalau kita ketahui, bahwa jerami pun tak ada padanya yang akan ditidurinya! Jika sebenarnya tuan seorang Kristen, tak boleh jadi akan tertidurkan mata tuan. Apa hakmu, boleh engk.au mempunyai berlebih-lebihan, kalau saudaramu dalam kekurangan jua? Sebagai seorang Kristen, yang pertama sekali yang harus dikerjakannya, yaitu bagi orang yang kaya-kaya : menjuali segala barang-barangnya, dan membagi-bagikan penjualannya itu kepada segala fakir dan miskin. " ·
Ada seorang sahabat serta murid Graaf Tolstoy itu, yakni
berjumpa dengan saya di London. Anak_ muda itu telah mengerjakan segala petua Tolstoy itu. Ia diam dengan isterinya dan anaknya di tanahnya di Woronesj, menjadi satu ia dengan orang-orang tani itu. Ya, boleh dikatakan ia membagi-bagi sama rata segala hasil yang diperolehnya dengan orang-orang tani. Ini pun belum menyenangkan hati Tolstoy.Hakmana yang ada pada orang Kristen, boleh ia membagi-bagikan uangnya, pekerjaan itu pekerjaan iblis dan setan jua. Amat sombong kita, kalau kita sangkakan, ada kita berhak akan memakai uang kita menurut kehendak hati kita biarpun tak cukup hakmu boleh mengatakan seseorang patut lebih mendapat daripada yang lain. Sebenarnya bukan kepunyaan tuan uang itu. Itu suatu harta, yang dengan tiada disangka-sangka· sudah sampai di tangan tuan, akan tetapi sebarang orang pun ada juga berhak akan mempunyai sama banyaknya dengan tuan. Oleh sebab itu yang akan tuan keijakan, hanyalah jangan dipergunakan uang itu akan apa sekalipun, melainkan biarlah orang mengambil dia, siapa yang suka atau siapa yang mau mempergunakan dia.
Kata Graaf itu lagi, "tiga puluh tahun. lagi perkara milik dan ulayat akan lenyap dari Ruslan ini, sebagai mempunyai hamba sahaya yang dulu itu. Inggeris, Amerika dan Ruslan yang pertama-tama sekali akan menyelesaikan perkara itu. Pergerakan yang pertama sudah dibuat orang. Tatkala saya lagi remaja pu tera, ban yak orang Rus yang tak habis-habisnya memikirkan perkara menghapuskan hamba sahaya itu. Pada masa ini suatu pekerjaan lain yang akan diperhatikan anak-anak kita, yakni menghapuskan hak milik atas tanah-tanahlah. Banyak sekali kita memperlukan kekuatan pikiran akan menyangkakan tuan Auberon Herbert itu sebagai seorang sosialis. Biarpun fi.lsuf bangsa lnggeris itu banyak menurut hadis Kristus, akan tetapi tiadalah ia dapat menjalankan petua Tolstoy, yang boleh dikatakan aturan (kanun) yang tertinggi untuk manusia dan ada terkongkong didalam arti yang sejati, ada didapati di dal~ pi- date di gunung (Bergrede). Sekiranya engkau hendak mengetahui siapa Tolstoy itu, ambillah Auberon Herbert, Thomas Carlyle, John Ruskin dan George Fox; keempat orang itu jadikanlah satu,
seorang~rang yang amat baik hati, orang yang ada menaruh belas kasihan dengan mempunyai keyaki- nan yang amat sangat, seperti seharusnya, orang yang tiada banyak ini itu dan orang yang keras hati.
Graaf Tolstoy amat suka pada Henry George dan landnatio- nalisatie (persamaan tanah); katanya, " Henry George sudah mengadakan suatu fasal baru yang patut diletakkan di bawah fasal-fasal programma kaum "Progressieve Leberalen" dunia ini. Wah, tak main-main bagus hatinya, itulah yang seberiar-benamya menurut kehendak Kristus. Karangannya amat bagus, dan kena-kena perkataannya atau kiasannya. Dialah yang menunjukkan jejak mana yang akan diturut sekarang.
Buah flkirannya itu akan kembang nanti, dan sudah mulai kembang juga sekarang. Selama musim dingin ada berkumpul di rumahku beberapa orang tani. Sambil minum air teh acap benar kami memperkatakan kejadian tanah.
Maka adalah dua macam flk.iran orang. Kata setengahnya, tiap-tiap orang yang sampai umur, hendaklah mempunyai sebidang tanah yang sama besamya. Kata yang lain, sekalian tanah hendaklah tinggal di dalam tangan gemeente, dan bersama-samalah mengerjakan dia. Akan tetapi ketika diterangkan kepada mereka betapa pikiran Henry George, sekalian mereka itu seia mengatakan bahwa yang sebagai itulah yang sebaik-baiknya. Baru sepekan ini datang seorang tani kepada saya, yang tempatnya empat puluh pal jauhnya, semata-mata hendak meminta terangkan nyata-nyata perkara persamaan tanah itu."
"Apa kata tuan kepadanya?"
''Kata saya kepadanya : Dalam peraturan persamaan tanah, ini dipunyai oleh Pemerintah, barangkali belasting diturunkan, dikura- ngi dua puluh persen daripada belasting tanah yang dibayar sekarang. Dan akhir-akhimya sekali, cukai tanah yang bertambah kurang itu jualah yang akan mengganti segala jenis belasting yang lain. Orang tani itu• am at bersenang hati menerima keterangan itu, dan ia pun berjanji hendak menerangkan pula kepada orang lain."
banyaknya cukai yang harus dibayar oleh orang tani itu?"
"Cukai tanah seperti yang kumaksud, yaitu antara tujuh dengan delapan rube! dalam setahun. Cukai itu harus dibayar mereka empat puluh sembilan tahun lamanya, akan pembayar uang yang diberikan oleh pemerintah kepada tuan-tuan tanah ketika menghapuskan perkara hamba sahaya. Menurut aturan persamaan tanah (nationalisatie) tuan George itu, bukannya untuk sementara lagi dibayamya tujuh setengah rube! dalam setahun dan empat puluh sembilan talmn lamanya, melainkan tetap ia membayar enam rubel dalam setahun. Orang-orang tani tahu akan hal itu, mau mereka membayar kepada gemeente cukai yang kurang itu, setelah habis terbayar uang utang Pemerintah itu olehnya. Saya pun menceritakan kepada Graaf Tolstoy, bahwa saya bercakap-cakap di London dengan Henry George, perkara "La- rangan yang sepuluh" (de tien Geboden).
Kata Tolstoy, "Saya membenarkan perkataan George itu, yaitu tanah itu boleh dirampas dari tuan-tuan tanah, dengan tiada memberi ganti sedikit jua pun. Akan tetapi jika diganti hak mereka itu, perkara ini lebih mudah dan lebih lekas lagi selesai. Akan tetapi menurut fikiran saya, ia akan selesai jua nanti pada waktunya samalah halnya dengan perkara hamba sahaya itu. Buah fikiran ini akan kembang nanti, dan tak dapat tiada lama kelamaan tuan-tuan tanah itu merasai malu saja. Adalah seorang nanti yang akan mengarangkan "Negerhut" (sebuah kitab) dati hal itu; tak dapat tiada akan menjadikan suatu pergerakan besar. Banyaklah nanti tuan-tuan tanah itu akan berbuat sebagai orang yang mempunyai hamba sahaya, yang dahulu mereka dengan rela hati menyerahkan tanahnya kepada tuan-tuan yang mempunyai tanah. Lain daripada itu boleh pula. Negeri meminjam uang gunanya akan menjaga supaya pekerjaan itu jangan tertahan karena ketakutan orang kena ran1pas.
Dengan suka hati didengarlah oleh Graaf Tolstoy perkara acte Aartsbisschop Walsh dan Lord Ashbourne, dan perkara harapan kami akan memperoleh suatu aturan communalisatie (kepunyaan bersama) tanah di lerland, jika sekiranya dijadikan.
"Ya, communalisatie lebih baik daripada nationalisatie, walaupun nationalisatie itu tak dapat dibantah lagi, banyak memberi kebaikan, ketika dicobakan orang di Turki; akan tetapi lebih baik tanah itu di tangan Gemeente daripada di tangan Negeri. Tentu saja tiada seisa saya dengan George perkara mengadakan belasting untuk tanah. Jika dapat turun kedunia ini beberapa orang malaekat dari atas langit akan menetapkan belasting orang, haruslah dapat kita memperoleh keadilan, atau menghindarkan kelaliman. Saya benci sekali kepada segala macam belasting. Uang belasting itu hanya dapat dikumpulkan dengan kekerasan, dan kekerasan itu dilarang oleh Kristus." Kata saya pula, "Kalau demikian tak adalah kenijaan, dan tak ada pula Pemerintah." Jawab Tolstoy, "Sebenarnya tak ada kerajaan yang sejati. Itu suatu tipuan yang sebesar-besarnya. Yang tuan namakan Pemerintah itu angan-angan saja. Apakah yang dinamakan kenijaan? Manusia ada saya kenali, orang tani dan dusun dapat saya lihat; akan tetapi Pemerintah, rakyat, kerajaan, bukantah itu nama yang bagus-bagus saja dicari dan dipergunakan orang supaya dengan diam-diam dapat menipu uang orang yang lurus serta baik, dan dikerjakan oleh pegawai-pegawai yang tiada lurus, gunanya supaya dapat menyuruh bunuh orang yang hidup dengan aman, dengan memakaikan nama mobilisasi atau perang. Jika manusia tiada segi- la itu, menyembah kepada Tuhan yang tak sejati itu, sekaliannya tentu menjadi mudah jua. Segala yang susah-susah sekarang terse- bah oleh itu jua. Kita bukannya menurut perintah Kristus, melainkan peiintah Pemerintahlah yang kita turut. Segala kebusukan dari itulah asalnya. Dalam pemandangannya: kerajaan itu yaitu semacam tipu muslihat yag amat busuk, semacam mimpi, yang hanya menyebabkan yang salah jua. Sekalian itu nyata terjadi karena orang-orang negeri hampir tiada bertali sedikit jua dengan kerajaan, lain daripada: harus mengadakan belasting, dan harus masuk jadi serdadu." Katanya, " Buah flkiran saya itu semuanya hanya menjalankan kemauan KriStus jua di dalam segala perkara yang terjadi selama kita hidup, dan sekaliannya itu ialah juga hasil dari apa yang telah
St. Petersburg, Moskou, dan sekalian apa yang dinamakan pemerintah semuanya itu karam, karena sesuatu gempa besar. Bagi orang-orang tani itu barangkali rnendatangkan kebaikan. Ada sebuah cerita pandak -mau jua aku menuliskannya, yaitu perkara penanggungan suatu gemeente yang sarna dengan penanggungan Robinson Crusoe. Cerita itu boleh memberi keterangan ten tang hal itu.
Maka adalah suatu gemeente; pada suatu hari gemeente itu dengan segala orang-orangnya pindahlah ke Siberie. Pemerintah mernbantu rnereka itu seberapa dapat, diberinyalah beberapa rna- cam keterangan, tetapi keterangan itu jangankan memudahkan rnalah hanya rnenyebabkan kesusahan belaka kepada rnereka itu. Kemudian setelah merasai beberapa penanggungan berangkatlah rnereka dan didakinyalah pergunungan Ural itu. Berapa banyak yang ditanggung rnereka, tak main-main susahnya. Dari orang Khirgizen rnereka itu pun dapat izin akan rnenanarni sebidang tanah dengan gandurn untuk setahun lamanya. Setelah rnendapat hasil daripada tanah itu rnereka itupun lalu rneneruskan peJ:jalanannya pula. Kernudian sarnpailah kepada suatu tanah hutan. Maka bermupakatlah rnereka akan bertempat di situ, akan tetapi haruslah rnerninta izin kepada Gubernur distrik itu lebih dulu. Pegawai- pegawainya harus diberi uang suap dulu, tetapi akhir-akhirnya ke- tahuanlah, bahwa tanah itu kepunyaan orang, jadi tiadalah mereka boleh bertempat di situ. Maka terpaksa pulalah rnereka itu akan beJ:jalan terns, hingga sampailah rnereka ke watas tanah Ruslan, dan akhirnya ke dalarn negeri Cina. Maka bertempat pulalah mereka itu di sana. Mereka tak tahu, bahwa rnereka sudah masuk ke dalam jajahan Cina. Maka dikirirnkanlah khabar kepada Guberne- rnen di situ, bahwa mereka sudah mendapat sebidang tanah yang akan di jadikan dusun. Gubernur tak tahu akan tanah itu; dari itulah dibiarkannya saja rnereka di sana. Maka diarnlah mereka di situ dengan sentosa dan damai, lima belas tahun lamanya, tak pemah pula mereka rnendengar suatu patah kata dari Pemerintah. Akhirnya terdengarlah oleh Gubemur, bahwa mereka itu orang Rus, dan mereka harus tinggal di dalam watas Ruslan hendaknya. Maka se-
kita."
Sedang berkata-kata itu kami seberangilah suatu jalan yang ada dipelihara baik-baik rupanya, yaitu jalan dari Tula ke Kieuw.
Tanya saya, "Siapakah yang membuat lebuh ini?" " Jawabnya, "Pemerintah. "
Kata saya pula, "J adi kalau demikian ada jua Pemerintah itu berbuat jasa, karena dibuatkannya jalan bagi kita."
Jawabnya, " Ya tentu Pemerintah selalu melihat-lihat, kalau-kalau ada yang boleh dicampurinya, hingga kelihatan ia ada beru- pa. Akan tetapi dalam itu, demikian pula dalam hal jalan kereta api, pertunjukan perkara tani, dan pengajaran anak negeri, terburu amat Pemerintah itu. Apa gunanya dibuat sekaliannya itu oleh Gubememen, jika anak negeri belum memperlukan dia? Sekiranya ia berasa perlu akan hal itu, niscayalah akan diadakannya sendiri dengan tiada mengindahkan Pemerintah.
Akan tetapi yang dinamakan orang administrasi (pengurus) itu, apakah itu? Itu tak ada sedikit juga perlunya. Berapa banyaknya pegawai itu! Mereka duduk di kantomya, kerjanya hanya me- nanda-tangani surat-surat saja. Maka pacta fikimya bekerjalah ia, dan pekerjaannya itu disangkakannya memerintah. Itu menjustai diri sendiri. Sekaliannya itu persangkaan diri saja, dan Pemerintah itu hanya suatu bayang-bayang jua. Tentulah tidak saya mau membantahi, bahwa di dalam yang ban yak itu ada juga orang yang terbesar, yang sesungguhnya ada menulis apa-apa yang berfaedah dan sebenamya, ada. ltu ada. Pun tak mau saya membantahi, bahwa ada pula pendeta yang semacam itu. Demikian pula tak mau saya membantahi, bahwa di gereja yang kita lihat itu ada seorang pendeta yang kerjanya membaca doa bagi arwah orang yang telah mati. Tak dapat disalahi, bahwa orang itu ada berbuat suatu pekerjaan baik, dapat ia merintang-rintang waktunya, dan dapat pu-
bekeJja. Tetapi doa yang semacam itu tak ada harganya; dan lagi faedahnya bagi orang yang telah mati belum dapat· diperlihatkan lagi. Demikian pula halnya pada Pemerintah. Itu suatu persangkaan diri saja. Dan kamu yang berusaha hendak mengubah hati Pemerintah, dan akan menghapuskan peperangan, samalah perbuatanmu itu dengan perbuatan orang yang hendak memukul daun-daunan yang jatuh dari atas pokok kayu dengan tongkatnya. Hanya ada suatu jalan jua akan memperoleh keamanan dan menghindarkan kejahatan itu. J alan itu yakni mengharamkan akan menyertai memperbuat sesuatu pekeJjaan yang berkekerasan, dan sekali-kali tiada terbuat yang salah, biar dengan maksud hendak menghindarkan kejahatan sekalipun." ·
Tak dapat jua saya mengerti pelajaran Graaf itu ten tang tiada berkuasanya atau tiada adanya Pemerintah itu. Ia sangat benci kepada segala orang yang kita namakan orang besar-besar, sebagai Napoleon, Bismarck dan lain-lain sebagainya, yakni orang-orang yang menyangkakan ia pandai perang, dan dapat mengubah peJja- lanan riwayat dunia. Katanya pula, "Baik Bismarck, baik Napoleon, baik siapa pun sekalian orang kerajaan itu boleh disarnakan dengan seorang dukun (kwakzalver), sekarang ia dihonnati dan dipuji, dan besok dihinakan orang dengan amat sangatnya. Ada kala ia dianjungkan orang sampai ke atas langit, sebagai pandai yang gaib-gaib dan orang ber-ilmu dan ada kalanya ia dicerca sebagai seorang bodoh dan du- ngu, yaitu ketika kemegahannya dan kekuasaannya itu sudah hilang kern bali." Ia benci amat kepada segala macam politik, dan Pemerintah Inggeris itu ditertawakannya sebagai Pemerintah tanah yang lain-lain jua. Dalam tahun 1890 Graaf Tolstoy berkata, "A.ku tak pemah mengatakan Bismarck itu seorang besar. A.kan tetapi dengan tiada disangka terpeganglah kemudian negeri olehnya, yaitu ketika timbul flkiran orang hendak menyatukan tanah Jerman. Saya telah mencapuri juga zaman Napoleon yang ketiga. Ia pun disangkakan orang jua sebagai seorang yang panjang flkiran. Kebiasaannya manusia itu sudah terbiasa pada sesuatu macam adat
·dan tiada mau menghormati a tau menurut a tau mengaku apa jua; kalau berlaku kemauannya, menjadi besarlah ia. Demikianlah selamanya; di dalam dunia yang biasa ini amat banyak orang yang semacam itu."
Kata Tolstoy pula, ten tang usaha · Kaisar J ennan pada masa itu hendak menyuruh selesaikan perkara orang-orang kuli oleh hakim dari segala bangsa, "Aku suka dan memuji juga akan kaisar Wilhelm II, sesuatu zaman adalah mempunyai soalnya. Pada zaman kit a adalah perkara memerdehekakan ham ba sahaya. Sekarang di sebelah barat orang ribut perkara kuli-kuli; jika sekalian itu kita buangkan saja ke belakang, tentulah itu suatu perbuatan yang salah. Sayang sangat usaha kaisar yang muda itu salah pada permulaannya. Yang sebenar-benamya perlu, bukanlah mengurangi lama· waktunya bekerja, atau melarang anak-anak bekerja, melainkan hendaklah diterangkan kepada kuli-kuli itu dengan seterang-terangnya sampai tennasuk ke dalam otaknya, bahwa tak boleh ia menjual dirinya untuk empat belas jam lamanya dalam sehari semalam, tak boleh ia mempersewakan anaknya kepada sesuatu paberik. Sekiranya perubahan yang semacam itu tiada di jalankan orang, segala daya upaya hendak memperbaiki keadaan yang sekarang, niscayalah akan sia-sia belaka, hasilnya tiadalah akan sempurna adanya."
Katanya lagi, " Sekiranya tuan menyukai "milik ", "gereja ", "negeri' tiadalah ada kebaikan yang akan datang kepada tuan. Sekaliannya itu bersendi pada kekerasan jua, dan kekerasan itu tiada kekal. Demikian pula takkan mendapat kebaikan mereka yang menyukai kekerasan, atau apa sekalipun yang berhubung dengan itu milik, gereja dan negeri (Pemerintah), tak dapat tiada habis run- tuh belaka, samalah halnya dengan mempunyai hamba sahaya atau perbuatan lain-lain yang lalim atau dalam hal yang sudah lama kita lupakan belaka."
PERKARA PERKAWINAN DAN ORANG lSI RUMAH
Tatkala kami di Yasnaya Polyana, sedang memperkatakan dunia alam ini dengan segala isinya, dengan tiada disengaja sampailah percakapan kami kepada perhubungan antara laki-laki dengan perempuan, itulah jua alasan tempat berdirinya segala kejadian di atas dunia ini. Dalarn hal itupun Graaf Tolstoy ada mempunyai ftkiran yang ajaib. Tentang segala macam perhubungan hidup yang lain-lain, Graaf itu boleh dikatakan selalu berlainan ftkiran. Pun ia seorang-orang yang sangat membenci "vrije liefde" *). Pen- dapatnya tentang perkawinan itu arnat keras adanya, yaitu perkara ikatannya (tak boleh bercerai). Daripada yang amat susah-susah padanya, akan menurut makna yang biasa daripada Pidato di gunung, rupa-rupanya dikabulkan laki-isteri bercerai, kalau seseorang daripada mereka itu tiada setia kepada peijanjian yang diperbuat waktu kawin. Maka tiadalah ada suatu jua sesudahnya kawin yang dapat membatalkan kawin itu, akan tetapi kalau kawin dengan seorang, yang rupanya tiada seperti yang sejati, kawin itu pun tiadalah berharga, tiadalah sah.
Graaf Tolstoy menteijemahkan itu lain pula. Dalam kitab bersua: Barang siapa yang meninggalkan isterinya, lain daripada karena isterinya itu berzinah dengan orang lain, tentulah ia akan menyebabkan isterinya itu berbuat jahat. Sepanjang pendapatan Tolstoy haruslah mentetjemahkannya begini, "Sekiranya seseorang membuangkan isterinya, hanya supaya dapat ia bercarnpur dengan perempuan jahat, pastilah isterinya itu dipaksanya berbuat pekeijaan zinah". Katanya: hadis Kristus itu baik menurut aturan agama, baik menurut aturan ilmu saraf, baik menurut yang mudah kita ftkirkan sekalipun, sudah nyata maknanya dengan seterang-terangnya. Haruslah dilarang selalu orang yang akan bercerai itu. Jika sekiranya seseorang menceraikan isterinya, maksudnya ialah *) vrij = be bas, lief de = percintaan; jadi vrije lief de artinya hid up sebagai 1aki isteri. selama ada percintaan. Kalau ada percintaan bercampurlah mel\iadi 1aki isteri dengan membuat perjanjian, dan kalau habis percintaan itu bercerai sajalah dengan tiada Wala.ngi undang-undang atan agama.
it~ terpaksalah isterinya menjadi perempuan jahat. Sepanjang flkiran Graaf Tolstoy, kawin itu ialah suatu ikatan yang teguh sangat antara laki-laki dengan perempuan. Mereka itu sudah menjadi satu. Jika laki-laki dengan perempuan itu sudah menjadi suatu daging tiadalah peduli lagi, adakah kawinnya selamat oleh gereja atau tidak, atau adakah undang-undang mensahkan dia atau tidak. Bukantah merek itu sudah menjadi satu, dan segala apa yang sudah disatukan oleh Tuhan itu,janganlah manusia menceraikan dia. Kata Graaf itu pula, "Ji.ka sekiranya laki-laki dengan perempuan sama-sama hendak cerai, maka mereka berdosalah, sebagai yang dilarang oleh nabi !sa, karena bail< perempuan, tentulah mereka akan mengembangkan perbuatan perempuan jahat itu seluruh dunia ini."
Gra_af Tolstoy tiadalah ada memulangkan kepada kita hendak menerka, yang mana-mana penanggungan yang sudah dirasainya, sebelumnya ia dapat mengeluarkan perkataan atau hadis itu. Katanya, ada sepuluh tahun lamanya ia hidup dengan tiada keruan atau memikirkan apa-apa yang layak. Godaan yang menyebabkan hendak berbuat kejahatan yang dapat menimpa padanya, terutama sekali disebabkan karena ditinggalkannya perempuan yang mula-mula sekali dikasihinya, hingga terjerumuslah perempuan itu masuk lubang yang biasa ditempati oleh perempuan yang senasib dengan dia. "Sekarang telah teranglah padaku kekuatan yang sebesar-besamya daripada penggoda itu, bukannya terling- kung karena kekuatan hawa nafsu saya sendiri, melainkan karena tak sempurna keadaan yang mengelilingi kami, baik saya, baik segala perempuan yang bergaul dengan saya itu. "Oleh karena dina- sihatkannya benar-benar, janganlah beristeri lebih daripada seorang, karena itulah hukum dunia bagi manusia, tak dapat disangkal lagi. ''Tak dapat aku membedakan perbaulan antara percam- puran yang ada disahkan dengan yang tiada disahkan oleh kawin. Akan tetapi perbaulan yang sah dan erat menurut pertimbangan saya, hanyalah perbaulan yang hanya selama hidup".-
Maka bertanyalah saya kepadanya, "Apa yang harus saya perbuat, ji.ka sekiranya bini kawin hanya sah dan erat itu sudah ka-
suda.lt ada pertaliannya dengan yang lain-lain lagi?"
J awabnya, " Sekiranya keterangan yang sejati itu sudah termasuk benar ke dalam hati manusia, maka kewajibanlah atas dirinya akan memandang dia sebagai bini kawinnya yang sejati, yaitu perempuan yang sama hidupnya dengan dia pada ketika itu; per- campurannya itu pun sudah dipandangnya tiada akan putus-putus lagi". Pada awalnya ia tiada menyukai orang yang tal< mau kawin selama hidupnya. Sedang ia mengatakan, bahwa "bukannya sesuatu perbuatan yang berlawanan dengan kemauan alam, melainkan itu suatu perbuatan yang ganas dan bukan perbuatan manusia, yaitu jika seorang laki-laki meninggalkan isterinya hanya karena hendak mengambil yang lain", pada ketika itu juga diterang- kannya, bahwa bengis sangat dan keji amat perbuatan orang yang telah sampai umur, tetapi tiada juga mau kawin. Akao tetapi hari tuanya kenyataan benar, bahwa Tolstoy itu sudah ada yang mempunyai haluan hendak hidup sendiri, nyata pada karangannya yang bernama "Kreutzer Sonate, ", di dalam "Akhir kalam" kitab itu. Maka dengan bergirang hati diceritakannyalah, bahwa di sebelah timur kota Tula adalah suatu perkumpulkan orang tani; mereka itu berjanji-janjian akan hidup yang boleh dinamakan "ge- huwd celibaat", yaitu sudah kawin tetapi tiada beristeri.
Kata Graaf itu, "Saya amat menyukai ujud orang-orang yang baik hati itu." Maka bertanya pulalah saya perkara ikhtiamya, supaya orang-orang hendaknya jangan beristeri lebih daripada seorang. Jawabnya, "Pun saya rasa, tiadalah akan berubah hal itu, zaman kcmajuan manusia yang sekarang tclah tcrlampau banyak menjadikan kurban, jadi tak mungkin orang akan mengubahnya lagi. Kita akan terus menurut jalan yang lama itu jua."
Tanya saya pula, "Menurut jalan mana?" Jawabnya, "Pertama, haruslah kita berusaha sungguh-sungguh supaya segala orang yakin, bahwa keji sangat perbuatan laki-laki
itu".
"Perjalanan percintaan yang gaib itu", yang menurut kata tuan Milton, tiada dibantah oleh Hawa di dalam Pird Aus, rupa-rupanya pada Graaf Tolstoy, lebih suka percintaan itu dihindarkan daripada dijalani, tentu saja kecualinya kalau percintaan itu perlunya untuk memperbanyak bani Adam. Malthus dan pelajarannya yang biasa dinamakan orang Mal- thusianisme, tiadalah seberapa diperkatakan oleh Graaf Tolstoy itu.
Akan tetapi orang tahu, bahwa orang Rus, yang mempunyai tanah seperdua daripada dua buah benua, tiada ia akan merasai takut negerinya akan terlampau banyak penduduknya. Sebagai pula amat suka Graaf itu memperhatikan si kitab karangan Henry George. Ia yakin benar pada sesuatu negeri, yang betul urusannya selaku akan cukup makanan bagi segala penduduknya.
Pikiran Graaf itu tentang perhubungan laki-laki dengan bagi fasal-fasal pelajarannya. Katanya, tatkala nyata kepadanya akan kebesaran dosanya dengan hidup yang tiada keruan itu, maka berubahlah pemandangan atas segala yang baik dan besar, -yang jah(!.t dan keji di atas dunia ini.
Senantiasa ia membantahi aturan mengajar yang dipakaikan orang sekarang; menurut buah tuturnya aturan itu dipergunakan untuk orang biadab. Sebagai pula ia membangkitkan nafsu yang salah, baik untuk otak, tetapi keburukan itu habis dihilangkan dengan buah tutur saja.
Menurut cita-cita Graaf Tolstoy, perempuan itu tiadalah orang yang memperdayakan lagi, hingga habis-habis disumpahi oleh kepala-kepala gereja itu dulu, ·sebabnya ialah karena perem-
bail< dengan Graaf Tolstoy itu, perempuan yang dicinta itu hendaklah mempunyai anak, akan tetapi belumlah saya dengar perkataan itu dari mulutnya sendiri. Tentulah orang-orang mengerti, bahwa Graaf itu tiada mau menghormati kebebalan, yang dipandang orang sebagai "tiada berdosa".
Sepanjang flkiran Graaf Tolstoy, suatu perkara lagi yang terbelakang pada kita manusia ini ialah fikiran yang menyangkakan ia terjadi dari sesuatu kaum. Selama kami bercakap-cakap itu dapatlah saya ketahui, bahwa kaum keluarga itu suatu sekolah yang bertuah untuk mempelajari pengasih -penyayang dan pengiba dan tempat mempelajari peraturan-peraturan, yang harus dipandang sebagai suatu cita-cita oleh orarig banyak. Dalam hal itu jauh berlainan fik.irannya dengan saya. Bukan, bukan. Kaum seru- mah itu sekolah ialah yang sebesar-besarnya untuk mencari daya upaya hendak menolong diri sendiri saja. Apa sebabnya maka saya harus lebih sayang kepada anak saya daripada kepada anak orang lain? Anakku itu hendaknya sama dekat ia kepada saya sebagai kepada orang tani lain itu. Orang-orang haruslah menyayangi orang sama rata sekaliannya, baik yang lahir dalam kaum tuan, baik yang laltir di dalam kaum lain. Itulah hukuman Kristus. Betapa pun Graaf itu memuji-muji orang tani, ia pun sudah melihat sendiri dengan matanya, bahwa tani itu harus banyak lagi belajar kepadanya dalam hal kesopanan. Dalam karangannya "kekuasaan kegelapan" digambarkannya dengan suara yang sedih, betapa peri kesopanan orang-orang tani itu. Berzinah, membunuh orang, mencekik (membunuh) anak yang baru lahir atau belum lahir, itulah yang tak berhentinya terjadi pad a mereka itu. Tatkala memperkatakan karangan itu Graaf Tolstoy mengatakan, betapa herannya, bahwa orang banyak hanya memandang kepada yang kecil-kecil saja, tidak memandang kepada pelajaran cerita yang sedih itu. Pelajaran itu ialah "dosa menyebabkan berjusta, dan berjusta menyebabkan dosa pula". Akan tetapi karena menyerahkan diri dan mengaku berdosa dan menyesal atas perbuatan kita itu, adalah juga terbuka suatu jalan bagi kita, baik bagi orang yang berdosa sebesar-besarnya sekalipun.
Jerman, dan tahun ini di London, dan ujudnya yang sebenamya ialah akan menjadi suatu pelajaran dalam hal kesopanan bagi orang-orang tani bangsa Rus. Sungguhpun sudah demikian buruknya digambarkan hidupnya orang-orang tani itu, tetapi masih ban yak juga Graaf Tolstoy itu mend a pat bennacam-macam buah flkiran, bahkan tentang pertalian laki-laki dengan perempuan.
Tatkala Graaf Tolstoy itu pada suatu hari bercakap-cakap dengan seorang yang haru datang dari Amerika, yaitu ketika memperkatakan perempuan-perempuan Amerika, Graaf itu mengatakan, bahwa perempuan-perempuan itu belum lengkap lagi alatnya akan mencampuri perkara politik. Itulah sesuatu perkara yang amat susah-susah di atas dunia ini; perempuan itu terlampau banyak kekuasaannya (pengaruhnya), daripada yang layak baginya. Di tanah Perancis bagian perempuan itulah yang diperlukan sangat. Dimana-manapun kedai-kedai besar itu diadakan dan diatur- kan hanya bagi mereka itu jua. Yang sangat dibenci Tolstoy pada bangsa perempuan, ialah karena mereka itu tiada sanggup mengorbankan diri atau hati atau harta atau kesenangan untuk orang lain. Bangsa laki-laki satu-satu kali mau juga ia membuangkan atau me- rugikan segala yang ada padanya, asal dapat ia menyampaikan ujud sesuatu buah flkiran; akan tetapi bangsa perempuan sekali-kali tidak. Selama ia hidup, hanya ada bexjumpa dua tiga orang perempuan saja yang rela mengorbankan hartanya atau kesenangannya, dan mereka itu membujang belaka. Betapa bodohnya flkiran itu, itu pun suatu macam pengurbanan pula! Adapun akan perempuan itu tiadalah pernah ia akan menjadi manusia yang sama jauhnya dengan pexjalanan zaman, cakapnya tak berketentuan, mereka itu tak mau membuangkan perkara yang mustahil seperti tasjlisj (drieeenheid, trimurti) spiritisme, (semacam ilmu dapat berkata-kata dengan arwah orang yang telah meninggal) dan homupathie (semacam aturan mengobati orang sakit). Tatkala Graaf itu bercakap-cakap dengan tuan Huret, redak- tur surat khabar Figaro, ia berkata, "Menurut yang telah saya da-
laki. Dan itulah pula yang mewajibkan bagi kita akan memberi dia hak sa rna dengan kita, bangsa lakHaki."
"Betullah fikiran tuan yang mengatakan perempuan itu lebih rendah berdirinya daripada laki-laki?" Tolstoy mengangkat bahunya lalu menyahut, "Tak dapat tiada demikian. Belum pernah ia menjadi seorang fllsuf yang terna-
ma, otaknya lemah amat ...................... Akan tetapi sekalian itu
janganlah dipergunakan akan menjadi sebab memandang mereka itu di atas dunia ini sebagai sesuatu yang kurang berharga. Segala insan sama juga, jika tidak demikian segenap agama Nasrani itu tak dapat tiada roboh belaka." Kata Graaf Tolstoy itu kepada tuan Crosby, "Kewajiban perempuan itu terutama sekali berhubung dengan kehidupan di dalam rumah. Itulah salah laki-laki dari semenjak dulu kala, perempuan itu dipaksanya tinggal di tempatnya itu juga. Biarlah ia bebas, niscayalah ia kembali dengan kemauannya sendiri, dan sebagai orang. yang sama tinggi darajat dijalankannyalah pekerjaan yang dulu, yang dipaksakan padanya akan mengerjakan dia sebagai seorang hamba sahaya atau seorang bujang atau perkakas yang terhina."
Tatkala Graaf Tolstoy hendak mengarang kitabnya yang her- nama "Kreutzer Sonata ", katanya kepada saya, ia akan mengarang sebuah roman perkara cita-cita percintaan roman. " Telah saya karang itu, tetapi harus diperiksai sekali lagi. Seperti yang sekarang ini adalah ia seolah-olah suatu pemeriksaan, dan· kurang hidupnya. Dengan riwayat ini ujudku ialah hendak membangkitkan keji dan jijik pembaca pada fikiran memandang percintaan roman itu, sebagai yang sebenar-benarnya terjadi. Penghabisan karangan itu hendaknya ialah si suami membunuh isterinya. Karangan itu akan memperlihatkan, betapa busuk jadinya hidup sesudah kawin itu, ia diganti dengan percintaan roman; ia pun menjadi suatu penyakit yang hanya hendak melepaskan hawa nafsu aurat saja, dan bukanlah ia menjadi percintaan yang sejati, terjadi daripada sama perasaan, sama kehendak, dan ujud dan per-
"penyaldt lalu" (penyakit yang dengan sekonyong-konyong datangnya), yang berbahaya dan ngilu rasanya. Aturan kita itulah yang seburuk-buruknya, dan segala rna- cam keramaian kawin itu pekan sesudah kawin (wittebroods we- ken, dewasa pengantin) *), berjamu-jamu dan keinginan hendak berbuat dosa aurat, sekaliannya boleh dikatakan diadakan hanya akan menjadi kerusakan bersuami atau beristeri itu jua. Tidak ada satu dalam seratus, percintaan roman itu akhirnya menjadi suatu pergaulan laki-isteri, yang tidak sebagai racun untuk selama hidup. Anak-anak muda yang dulu hidup di dalam golongan yang berlain-lainan, dipertemukan dengan suatu "Cinta lalu ", yakni percintaan yang tiada kekal, kemudian dikawinkan. Sebulanlamanya mereka itu tak main-main senang hidupnya, terkadang-kadang sampai setahun; tetapi tak pemah lebih lama daripada itu, jika yang mengikati mereka itu hanya percintaan aurat saja, dan bukan percintaan sejati. Sesudah itu untuk selama hidup mereka lagi, mereka pun berbenci-bencilah, dan semenjak itu mereka selalu main komidi saja. (Seorang mempermainkan akan seorang), dan flkirannya yang sebenamya itu disembunyikannya kepada orang yang dekat-dekat.
Tak dapat tiada demikianlah jadinya. Sekiranya Anna Karenina kawin dengan V ronsky, niscaya akhir-akhirnya ditinggalkannya juga dia. Maka percintaan roman itu bolehlah disamakan dengan candu, rasanya amat sedap, tak main-main adanya mena- lukkan segala apa perasaan, akan tetapi fana ia. Maka tiadalah ada di dalam diri manusia itu akan melarang kita memanggil perasaan itu kembali; akan tetapi dalam hal itu yang baru-baru itulah yang dicintai. J adi si isteri menjustai si suami, si suami tiada setia kepada isterinya lagi; dunia ini pun sudah meniadi haru biru, atau ka- •) wittebroodsweken = yaitu dewasa sesudah kawin. Kebiasaannya, pada orang kaya-kaya, sesudah kawin itu hari itu juga kedua pengantin berlayar kian ke.mari berpekan-pekan lamanya.
Saya bermaksud hendak membukakan mata orang, dengan mengganti percintaan roman, supaya kelihatan nyata betapa buruk kejadiannya itu. Itu sudah terang benar pada saya. Sekiranya ada tampak at?.u nyata bagi kita barang sesuatu, tetapi hanya kita saja yang dapat melihatnya, orang lain tidak, maka kita rasai- lah betapa kita harus mengumpulkan segala tenaga kita akan menyatakan kebenaran itu. Kerusakan itu terjadi karena sifat Kristus itu sudah menjadi suatu perkataan saja dan bukan menjadi suatu sifat manusia lagi; tak ada orang yang bersifat demikian lagi, hanya nama sifat itu saja, yang ada. Akan tetapi tak lama jua akan berba- lik keadaan itu dan sekaliannya akan menjadi suatu kejadian pula kembali".
Tatkala saya sampai di St. Petersburg kembali, segala percakapan itu say a sampaikan belaka kepada seorang kaum Graaf Tolstoy itu juga. Jawabnya, "Graaf itu belum pernahmencobai berahi percintaan, dan ia pun taktahu apa yang dinamakan cinta berahi {percintaan) itu". Setelah saya sampai ke London, segala peringatan (catetan) saya perkara percakapan itu, saya kirimkan belaka kepada nona Miss Collet, yang lebih banyak mmperhatikan perkara-perkara sebelah timur itu daripada sahabat-sahabatku yang lain.
Nona itu menulis kepada saya:
"Rupa-rupanya Graaf Tolstoy itu seorang bangsa Asia yang sejati, dan tiada pula ia sanggup memasuki dengan fikirannya akan beberapa perkara yang tetjadi di sebelah barat ini. Ia memperbincangkan, percintaan, persahabatan, dan lain-lainnya itu lagi, sama macamnya dengan beberapa orang sahabat saya bangsa sebelah timur mempercakapkan hal itu jua. Sezarah pun tak ada mereka mengerti akan hal itu. Apa yang dinamakannya bercinta, dan percintaan roman kedua~uanya itu semata-mata nafsu diri belaka padanya, tak boleh ia berpengaruh dalam hal memilih pada waktu hendak kawin. Akan tetapi pengetahuannya ten tang tabiat man usia biarpun sudah amat luas jua, banyak yang tak benar pada beberapa perkara. Ia tak ada pengetahuan sedikit jua perkara macamnya atau rupanya percintaan orang Eropah itu: kehendak diri itu disu- cikan, yaitu oleh segala apa yang tersuci dan amat bersih, yang ada di dalam ingatan hati dan kepercayaan, yaitu pada ketika semangat
laki-laki."
Kata Mrs Browning, "Aku mencintai percintaan. Kebenaran tiadalah lebih suci perci.ntaan."
Setelah keluar karangan ini anaknya berkirim surat kepada saya, katanya, "Ayah saya menyuruh sampaikan kepada tuan: karangannya yang sekarang, sekali-kali tiada menurut peraturan yang telah ditetapkan oleh tukang-tukang tim bang dulu (beoordeelaar).
Cerita itu tiada dibuat untuk perempuan-perempuan muda, akan tetapi ada juga berisi ujud perkara hal kesopanan.
Tak ada suatu jua jalan akan menyebabkan berpanjang kalam juga tentang hal itu. "Kreutzer Sonata", banyak menyebabkan orang mengeluarkan pertimbangannya tentang itu, dan akan tambahan dibuat lagi oleh Graaf Tolstoy itu sambungannya, di dalamnya ada dipaparkannya flkir-fJ.kirannya yang penghabisan dalam hal itu. Maka tetap juga ia berkata, "Jika kawin, itu tandanya kita mengingat akan diri sendiri itu menjadi alangan bagi mengerjakan kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Oleh karena itu kawin itu berdosa menurut kehendak agama Nasrani. Demi perhubungan yang pertama itu sudah dilakukan antara lakj-laki dengan perempuan, maka mereka itu pun sudah kawinlah, tiadalah akan putus-putus lagi, baik dirayakan lebih dulu, baik pun tidak."
Maka yang dibawah inilah boleh kita sangkakan yang penghabisan sekali, yang dikatakannya tentang hal itu. Oleh karena kejadian yang tersebab oleh perkawinan, umpamanya kelahitan anak-anak, perkawinan itu pun sudah mengurangi pekerjaan laki isteri itu, ia sudah menjadi baru dan kurang, serta berwatas, yaitu dalam hal menurut kehendak Tuhan dan manusia. Sebelum ia kawin, dapat ia memperhambakan dirinya terus kepada Tuhan dan manusia menurut pelbagaijenisjalan; akan tetapi sesudahnya ia kawin, pekerjaannya itu pun banyaklah terlantar, dania pun terpaksalah akan memperhatikan keperluan anak-anaknya, menunjuki, mengajari mereka itu, yang akhirnya akan men-
Seorang laki-laki atau perempuan yang sudah kawin, hendaklah sama-sama berusaha akan menghindarkan diri daripaJa segala jenis godaan, pun haruslah dirinya dibersihkannya dan berhenti ia daripada berbuat dosa yaitu digantinya percintaan kalbu yang m engalangi dia berbuat bakti kepada Allah serta umatnya itu, dengan perasaan yang didapati orang antara saudara perempuan dengan saudara laki-laki.
Dengan perkataannya yang di atas ini, rupanya ia mungkir kepada suruhan Tuhan; akan keterangan itu cukuplah saja diambil akan pelawan perkataannya itu;buahkata rasul Yahya (Johannes): Barang siapa yang tiada bercinta, pastilah ia tiada mengenali Tuhan, karena Tuhan itu ialah percintaan."
PERKARA AGAMA NASRANI (KRISTUS)
Hampir sekalian yang berhubung dengan nama Kristus dan dengan pelajarannya, dibatal.kan oleh Graaf Tolstoy belaka. Mem- batal.kan itu lebih sangat lagi daripada suruhan menurutkan frrman Tuhan. Bantahannya yang amat hebat terutama sekali ialah terhadap kepada gereja.
Katanya, "Ingatan atau nama kekuasaan gereja" itu hendaklah dihapuskan, karena itulah yang memuramkan cahaya Kristus. Segala sesuatu, yang menjadikan dunia ini yang sebenarnya, umpamanya sosialisme, communisme, staathiushoudkunde, kebebasan sama rata segala manusia, menghargakan pekerjaan, fikiran, ilmu pengetahuan dan ilmu seni, sekalian itu dibenci gereja belaka, walaupun itulah yang memajukan dunia, padahal sekaliannya itu sebagian daripara pelajaran, yang dari abad ke abad, dari zaman ke zaman ada disimpan oleh gereja itu sendiri, sambil berikhtiar hendak memuramkan pelajaran Kristus. Dalam zaman kita ini dunia meneruskan perjalanannya jua, dengan tiada mengindahkan kekuasaan gereja itu, biar sedikit sekalipun. Pelajaran Kristus yang mengaturkan dan menerangkan hidup di dunia ini, terkembang dihadapan segala makhluk delapan ratus tahun yang telah lalu. " Akan tetapi gereja itu panjang umurnya, dan dunia kita ini tiada juga mendapat keterangan dari hal keadaannya yang gaib. Ia merasai benar, bahwa tak berdaya ia, oleh karena itu terpaksalah ia mengambil agama Kristus itu.
Dalam pemandangan Tolstoy, Kristus itu ialah seorang Rationalist (1) dengan darah dan dagingnya, dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, karena segala yang ada diujinya dengan cahaya mgatan - "cahaya yang ada di dalam dirimu itu"-dengan perkataan itu diujudkan cahaya otak.
Fikiran y~mg amat penting dan dif:tkirkan benar-benar oleh ( 1) Rationalist, yakni seorang-orang yang tiada mau mempercayai barang sesuatu yang tiada dapat diujinya dibenarkannya dengan otaknya.
Nasrani yang tiada berbahaya, dan sek.iranya segala umat Allah ini sudah dapat disuntik dengan agama lancung, itu, maka agama Nasrani yang sejati itu pun tiadalah membahayakan lagi". Fikirannya tentang agama Nasrani itu, ialah: sama ia dengan humanitarianisme (1 ). Cobalah tuan kenai-kenai tuan Robert Els- mere seorang ahli tanam-tanaman, tetapi buah flk.irannya sebagai buah flkiran kaum Kwaker; kalau sudah dapat tua mengingatkan orang yang semacam itu dapatlah tuan mengetahui kira-kira siapa Graaf Tolstoy itu.
Sesungguhnya saya tinggalkan Graaf itu, tuan Ernest Crosby tinggal juga bercakap panjang Iebar dengan dia tentang beberapa jenis perkara.
Kata tuan Crosby, "Aku tanyakan kepadanya, dapatkah ia membenarkan perkataan orang yang mengatakan: gereja itu yaitu sesuatu kumpulan dari pada orang-orang yang mengusahakan si- fat pengasih (penyayang) untuk menolong mereka yang menanggung sengsara."
Jawabnya, "Tidak, itu tiada disebut oleh TuhliJ1, dan sepanjang kata Kristus suruhan yang pertama ia1ah menyayangi Tuhan.
Kata tuan Crosby, "Di dalam beberapa buah karang-karangannya itu dapat kubaca, bahwa olehnya lebih tinggi menyayangi sesama man usia daripada menyayangi Tuhan. Yang pertama itu yang lebih diperlukan dan yang didahulukan daripada sayang rna- cam yang kedua, yakni menyayangi Tuhan itu. Pendapatan saya itu saya katakan kepadanya, tetapi dibantahinya belaka."
Katanya, "Bila orang tiada dapat mengasihi Tuhan, orang tak ada mempunyai alasan atau sebab hendak menyayangi sesama ma- n usia. Apa sebabnya atau apa gunanya k.ita mengasihani sesama Jnclllusia?"
Sahut tuan Crosby, "Tetapi bukantah tersebut di dalam ki-
( 1) Humanitarianisme = pelajaran berkasih-kasihan (mengasihi sesama manusia).
"barang siapa yang tiada menyayangi saudaranya itu tandanya talc tampak olehnya akan saudaranya itu", akan sekarang betapa boleh jadi menyayangi Tuhan, yang belum pemah dilihat?"
Sepanjang fikiran Graaf itu,hadir itu tiadalah berhubung dengan perkara itu.
Beberapa orang tani bertanyakan fikiran Graaf itu tentang kekal hidupnya arwah dan ilahi nabi Isa.
Kata tuan Crosby, "Saya bertanya kepadanya, apa konon yang akan dijawabkannya." Katanya, "Katakan saja hidup yang sejati kekal selama-lamanya, tak dapat tiada demikian adanya."
Tentang ilahi nabi Isa itu, yaitu memisalkan dia sebagai Tuhan yang sejati, itu salah benar, karena kalau kita berbuat sedemikian kita pun menghilangkan hak kita boleh menurut contohnya itu."
Katanya, bahwa belum lama ini adalah dibacanya di dalam sesuatu karangan, bahwa kita ini hendaklah sekaliannya Kristus belaka. Katanya, "Itu semata-mata sebagai hendak menjahilkan Tuhan, sama salahnya dengan yang lama."
Pedih perkataan ini, tetapi benar.
Ada pula orang bertanya kepadanya, " Betapa pemandangan tuan tentang Kristus itu?"
Jawabnya, "Sebagai manusia; tak dapat aku meringkaskan ingatan saya tentangan agama itu dengan mempercayai yang lain-lain. Adalah seorang-orang bangsa Jerman yang telah mengarang sebuah kitab yang menerangkan, bahwa Kristus itu tak ada ia. Ada orang bertanya, betapa fJ.kiran. saya dalam ini. Saya pun menjawab: Boleh jadi demikian, akan tetapi hal itu tak perlu bagi saya, biar tidak; itu tak ada faedahnya bagi saya. Tetapi sudah nyata ada pelajarannya, yaitu wahyu Tuhan. Katanya lagi, "Tetapi bukannya wahyu yang mengecualikan. Sekalian ahli fJ.kir yang temama itu semuanya jambatan bagi wahyu itu, dan sepanjang pendapatan saya wahyu Kristus itulah yang setinggi-tingginya, yang ada sampai sekarang di dunia kita ini." Dalam tahun 1897, berkata Graaf Tolstoy itu kepada tuan
"Maka adalah dua macam Allah, Yang pertama, Allah yang biasa disembah oleh manusia setiap hari, yakni seorang Tuhan, yang harus menurut kemauan manusia,terkadang-kadang hanya dengan memberi senang hati mereka saja; Tuhan yang semacam itu tak ada. Yang kedua ialah Tuhan, yang dilupakan manusia, yaitu Tuhan yang harus kita sembah; Tuhan itu ada. Itulah yang mengadakan kita beserta sekalian yang dapat kita lihat seke-Wing kita ini.
Ia senantiasa bergantung pada hadis Kristus, tetapi segala kebesaran atau kelebihan kitab rasul, yang penting-penting itu, sekaliannya dibatalkannya belaka. Keterangan untuk kewajiban yang diterangkan oleh Matthew Arnold, mengadakan suatu kunci keterangan bagi aturan wahyunya. Fikiran itu, yaitu suatu cahaya yang menerangi, hingga dengan itu dapatlah kita melihat wahyu kemauan Tuhan, dan wahyu itu diberi Tuhan atau dikembangkan kepada manusia dengan memakaikan jambatan flkiran ahli-ahli fikir yang terbesar. Fikiran yang tertinggi itu mengandung buah perkataan Kristus, "Jikalau kamu hendak mengerjakan suruhan Tuhan, haruslah kamu mengaku, bahwa pelajaran itu dari Allah asalnya."
Tentang wahyu Tuhan kepada satu-satu manusia, Graaf Tolstoy tak mau mempedulikan. Katanya, di atas dunia ini tak ada seorang jua umat Isa yang menurut suruhan nabi dengan seharusnya. Graaf itu sendiri pun belum dapat menjalankan seperdelapan puluh ribu daripada suruhan itu. Sedangkan suruhan yang biasa tiada engkau kerjakan, apa lagi yang susah-susah; jadi mustahil dapat engkau sangkakan, engkau mendapat ajaran lain pula.
Dari Matthew Arnold itu pindahJah percakapan kami kepada Leger des Hells (bala keselamatan). Graaf Tolstoy suka memperhatikan perjalanan pergerakan itu, akan tetapi tiadalah disetu- juinya perkara itu. Yang hanya menarik hatinya sangat ialah ke- asyikan dan kemauan mengurbankan diri "bala" itu, dan bencinya yang amat sangat itu pada segala peraturan politik dan peraturan dunia, dan lagi usaha mereka itu hendak menolong manusia yang tersesat. Tetapi dari segala ma~am kaum pergerakan nyatalah yang lebih disukai kaum Kwaker jua. Hanya dalam satu perkara
"hak boleh mempunyai".
Tentang Tolstoy sendiri, di dalam segala hal yang berhubung dengan dia, dapat kita lihat kesederhanaan dan kelurusan atau ke~ tulusan hatinya. Walaupun rupa~rupanya _ ia menimbang perbuatan atau perkataan orang lain, ia tetap sebagaimana biasa jua dengan memegang petua yag disukainya sekali, yakni "janganlah menimbang hal lain". Akan tetapi sebagai kita semua telah mengetahui bahwa acap juga ia melupakannya akan mengerjakan dia, itulah yang menyebabkan ia merasa bersedih hati, seperti tersebut di dalam suratnya yang ditulisnya dalam tahun 1882. Kata orang kepada saya, "Wahai Leo Nicolajewitch, buah tutur pengajaran tuan itu benar bagus, tetapi betapa halnya eng- kan meng~rjakannya?" Pertanyaan itu yaitu suatu pertanyaan yang tiada kita herankan, orang-orang selalu memberi pertanyaan itu kepadaku, dan senantiasa tertutup mulutku olehnya. "Kau pandai bercakap memasukkan pelajaranmu, tetapi betapa hidup- mu?"
Yang hanya dapat saya jawabkan ialah, bahwa sekali-kali tiada saya mengajar, karena saya tak pandai berbuat sedemikian, biar betapa pun keinginan saya hendak mempunyai kepandaian itu. Apa yang saya katakan itu bukannya pengajaran, hanya jalan yang saya pergunakan akan mencari maksud dan arti hidup. Orang acap benar berkata kepada saya, "Bila engkau mengirakan tak ada hid up menurut fikiran yang baik di dunia ini di luar pelajaran Kristus,. dan engkau amat suka hidup yang sedemikian, apakah sebabnya konon tidak engkau turutkan segala peraturan Kristus itu?"
J awab saya hanya, karena seorang yang jahat, bersalah lagi keji; akan tetapi dalam pada itu pun saya tiada mengerjakan dia itu, bukannya karena hendak menghapuskan kesalahan saya, tetapi akan menyatakan ketetapan peraturan atau perbuatan saya. Per~ bandingkanlah hidupku yang dulu dengan hidupku yang sekarang, tak dapat tiada tampak oleh tuan saya berusaha sangat akan men- cukupinya. Benar juga belum sepersepuluh ribu yang telah saya
akan tetapi dalam pada itu bukannya karena tak mau saya berusaha, melainkan karena tak dapat saya melakukannya. Ajarlah saya betapa dapatnya saya terhindar daripada jaring godaan yang banyak itu, yang penuh mengelilingi di.ri saya! Tolonglah saya supaya dapat saya memenuhinya! Saya beringin serta berharap bendak mengexjakannya, biar dengan tiada memakai pertolongan sekalipun. Salahilah say a, kalau tuan mau; saya pun menyalahi diri saya pula, tetapi sayalab yang disalahi, dan bukanlah jalan yang saya turut, dan yang saya tunjukkan kepada segala mereka yang bertanyakan kepada saya, di mana jalan itu menurut fikiran saya. Sekiranya tabu saya akan jalan pulang, dan saya lalui tengah mabuk, hingga mundar-mandir saya dari sebelab ke sebelah jalan itu, jalan yang sedemikian itu bukannya menandakan jalan saya itu salah, bukan? Jika demikian tunjukkanlab pacta saya jalan lain yang benar!
Bila saya sesat atau bampir jatuh, tolonglah saya dan papah- lab saya supaya dapat menurut jalan yang betul, sebagai saya pun sedia selalu akan menolong tuan.
J anganlah diragukan saya, dan janganlah ditertawakan saya dengan kegirangan, seraya mengatakan, "Lihatlah akan dia! Katanya ia akan pulang, tetapi ia jatub ke dalam lumpur." Tuan pun bukan setan lumpur itu; bukantab tuan manusia juga dan berbajat bendak pulang ke rumah tuan? Tuan tabu, bahwa saya seorang diri saja, dan tiadalah maksud saya bendak masuk ke dalam lumpur itu. Tolonglah saya! Sedih sangat hati saya mengingat kita semua ini sudah sesat belaka. Tengah saya berdaya upaya dengan segala kekuatan saya, bendak mendapat jalan yang benar, dan akan tinggal tetap menjalani jalan yang benar itu, tuan sudah tertawa- kan saya, dan bukanlah tuan mengasihani saya dan diri tuan, seraya menyeru-nyerukan, "Lihatlah, ia pun jatub pula ke dalam lumpur seperti kita ini."
"Lebih baik berikhtiarlah mencari perkara-perkara yang sama daripada yang berbeda-beda. Lebih baik mencari apa yang menyukakan daripada yang membencikan kepada sesarna kita; itulah fi-
k.iran Kristus." Maka itulah suatu perkataan, yang menerangkan apa sebabnya tak suka Tostoy me.ngeluarakan ftkirannya pada ke-
"Apa gunanya diperhatikan, betapajalan-
nya ' kita akan mendekati dia. Saya mendekati dia dengan flkiran mazhab saja, dan tuan sebagai anak-anak, tetapi itu tak dapat saya kerjakan."
Akan tetapi apa gunanya kita berbantah? Sekalian jalan itu laksana jentera (anak roda). Mereka itu datang dari segala macam tempat sekelilingnya, akan tetapi di tengah-tengahnya mereka menjadi satu. Maka adalah dua perkara, yang menurut kata Graaf Tolstoy tiada boleh dipandang sebagai yang tiada berharga sedikit jua pun, yakni arti dosa dan hukuman, dan ilahi Kristus. Katanya, dosa itu ialah tersebab karena tiada menurut suruhan Tuhan dengan sesuci-suci hati kita. Dosa yaitu angin saja, dan sebenar-benarnya tak ada ia. Hanya baik saja yang ada. Fikiran kuno itu yang mengatakan kesalahan Adam, dan kerusakan segala manusia, sekalian itu dibatalkan belaka oleh Graaf itu. Perkara yang kedua yang amat dil1argai oleh Graaf itu, ialah kemanusiaan Kristus. Dalam beberapa hal mengaku ia ilahinya Kristus. Kristus mengembangkan suruhan Tuhan, jadi Ia pun Tuhan pula, karena pada kita pun, sebagai kata orang-orang tani, ada mempunyai sepercikan Tuhan di ctalam kalbu kita. Akan tetapi Kristus itu seorang manusia sama ia dengan kita. Riwayat lahir- nya dan • hidupnya kern bali itu, menurut fikiran Graaf Tolsty, semata-mata karangan jua. Ia mati, tak hidup lagi. Ia kembali hidup, ia berbuat dosa, ia menanggung sengsara dan ia dipakukan pacta kayu bersilang dengan bersuka cita, karena pacta ketika wa- fatnya itu dapat ia memberi ampun mereka yang telah menghina- kan dia. Katanya pula, perctamaian itu tidak laku lagi, demikian pula siksaan, dan kalau sudah mengerti benar apa yang dinamakan Allah, hilanglah fikiran itu.
Hampir sekalian orang menyangkakan Graaf Tolstoy tiada mempercayai ruh atau jiwa itu hidup terus. Itu salah. Maka perkara itulah yang sangat diperhatikan oleh Graaf itu.
Kata Graaf itu, "Sampai pada kira-kira dua tahun yang telah lalu, tiadalah aku indahkan perkara tak matinya ruh itu. Sekarang
yak."
Graaf itu pun percaya bahwa ruh itu dulu pun sudah ada ia. Tiap-tiap ruh itu hidup juga ia dari dulu-dulu kala, dan tentulah akan hidup terus juga ia. Yang tiada mau Graaf itu membenarkan pula ialah: manusia itu sesudah mati tiadalah ia tetap seperti sediakala, walaupun di dalam karangannya dalam, "Pelajaran agama Nasrani" ada disebutkannya, bahwa kita sekali-kali tak dapat tahu menurut jalan apa, kita akan hidup nanti sesudahnya meninggalkan dunia.
Dalam tahun 1888 katanya kepada saya, "Amat susah saya menceraikan ingatan saya daripada dunia yang akan datang. Saya sesali segala saat, yang tiada rasai di dalamnya, bahwa saya akan mati. Sekiranya kita tahu akan kebenaran tentang hidup dalam dunia yang akan datang, tentulah takkan sanggup kita menahani diri kita dalam dunia yang sekarang. Saya beringin sekali hendak serta dengan Kristus. Akan tetapi itu salah benar, saya harus menaruh sabar, dan menanti saja sampai pada waktunya. Sungguh pun demikian selalu saya beringin hendak mati, dan saya berihtiar supaya say a jangan terlampau bergirang hati ten tang itu." Ada pula suatu masa yang waktu hidupnya ia merasa takut akan mati, akan tetapi pada waktu itu ingatannya hendak membunuh diri. Ingatan itu hanya timbul padanya, kalau timbul takut- nya, bahwa lama ia akan mati. Pada suatu hari ia berkata kepada saya, "Sekiranya tak kelihatan juga oleh saya, bahwa saya telah mendekati kerajaan Tuhan, saya pun takkan mau hidup lagi. Akan tetapi jika sekiranya kerajaan itu sekonyong-konyong dapat saya lihat dengan pertolongan Zihir, tiadalah juga saya akan mau memakaikan hikmat itu, karena kalau demikian tak adalah lagi yang tinggal, yang hendak say a kerjakan."
YANG AKAN DIPERBUAT OLEH GRAAF TOLSTOY?
Pad a suatu hari bertanyalah saya kepada Graaf Tolstoy, " Sekiranya kaisar bertanya kepada tuan, apa kewajibannya di atas dunia ini, apakah yang akan tuan jawabkan kepadanya?"
Maka berdiam dirilah ia sejurus, kemudian berkatalah ia, " Saya minta kepada Allah, mudah-mudahan Tuhan sudi memberi fikiran kepada saya, akan menjawab pertanyaan tuan itu dengan sempurnanya."
Setelah berdiam diri pula ia beberapa saat lamanya, maka katanya, "Jika tuan menanyakan kepada saya suatu perkara yang boleh dikatakan mustahil itu, maka jawab saya ialah, "Samakan- lah hal keadaan isi negeri, bebaskanlah orang membentangkan buah fikirannya, dan biarkanlah orang mencetak apa kehendak hatinya. Bila ketiga perkara ini sudah selesai, yang lain itu menurut sajalah."
Dalam bulan Maret tahun 190 l, yaitu tiga bel as tahun sesudahnya yang tersebut di atas, buah fikirannya itu dituliskannya di dalam sepucuk surat, lalu dikirimkannya kepada Czaar, yaitu berhubung dengan huru-hara yang terjadi di tanah Ruslan, karena tiada mengindahkan nasihat itu, rasanya baik juga gerangan dirnu- atkan di sini ringkasan isinya surat yang ganjil itu. Maka adalah tersebut pada awalnya : Sudah bunuh-membunuh lagi, sudah rusak pula keamanan negeri, sudah ada pula pembunuhan di jalan-jalan raya, sudah ada pula orang menjalankan hukuman mati; sudah ada pula pengaduan palsu dan ancaman, sudah ada pula kemarahan dan kebirnbang- an hati pada suatu pihak, dan sudah ada pula kebencian, panas hati, hendak menuntut balas, dan kemauan hendak mengurbankan diri pada pihak yang sebelah lagi. Sudah terbagi dua pulalah orang Rus itu, bermusuh-musuhan, mengetjakan segala macam ke-
mengeijakan dia jua di dalam sedikit hari lagi.
Boleh jadi juga dapat dipadamkan huru-hara yang timbul itu, akan tetapi pada baliknya boleh pula jadi serdadu dengan polisi yang amat dipercayai oleh Pemerintah, pada suatu ketika mereka mendapat ingatan yang benar, maka tatkala mereka diperintahkan memperbuat pekeijaan yang keji itu, yakni mem bunuhi saudaranya mereka pun melawanlah semuanya. Walaupun sudah pa- dam rupanya huru-hara itu, akan tetapi tiadalal1 ia padarn untuk selarna-lamanya; api itu tinggal menyala juga di dalam abunya itu, hingga dengan tiada setahu kita, lebih terang ia dan larnbat laun tak dapat tiada menyala dan meletuslah ia ke luar dengan sekeras-kerasnya, hingga menyebabkan kesusahan dan kejahatan yang lebih he bat lagi.
"Apa sebabnya rnaka keadaan itu sedemikian jadinya? Apa gunanya, apa sebabnya tcijadi sekalian itu bila ia dengan mudah
jua dapat dihindarkan ....... ?"
Mereka itu bukanlah orang yang jahat dan orang yang suka membuat gaduh; melainkan tuan-tuan sekalianlah yang sedemikian yang mernerintah, yang tak rnau sedikit juga rnemperhatikan apa-apa yang lain daripada kesenangan dan kesentosaan diri tuan sendiri, pada sesuatu waktu adanya. Maka tiadalah tuan akan mempertahankan diri tuan daripada musuh yang mau berbuat jahat pada tuan itu -tak ada seorang jua yang memandang tuan sebagai musuh-, tetapi hendaklah tuan hapuskan kecil hati anak negeri, apalagi karena tuan pun sudah mengaku sedemikian halnya. Sesuatu bangsa, dipandang sebagai satu, tak pernah ia rneng]len- daki perbantahan atau kemarahan, melainkan lebih suka ia hidup dengan sentosa serta bersahabat-sahabatan. Dan sekiranya orang-orang menjadi gaduh, dan melawan pada tuan rupanya, itu hanya karena menurut pemandangannya, tuanlah yang menjadi sebab; mereka itu dan daripada pembeJian Tuhan, yakni kemerdehekaan dan keringanan.
Maka terlalu amat sedikit yang perlu akan menghapuskan segala sebab sakit hati itu; yang sedikit itu pun sesuatu keperluan pula bagi tuan, hingga dapat dengan pasti ia memberi berjuta-juta
flkirannya, em pat macam banyaknya.
Yang pertama; orang tani itu hendaklah sama haknya dengan orang berdarajat lain. Kedua: undang-undang militer hendaklah dihapuskan, karena ia membatalkan segala macam undang-undang lain, ia menyerahkan anak negeri ke dalam kehendak hati amtenar-amtenar yang acap kali, tiada mempunyai adat sopan, lagi bodoh dan lalim. Ketiga: segala alangan yang mengganggu pendidikan, pelajaran dan hal mengembangkan pengetahuan, hendaklah dihapuskan belaka. Dan ke em pat, yaitu yang terutama sekali daripada sekaliannya itu: hendaklah orang dibebaskan benar dalam hal menjalankan agama, yang mana dan betapa sekalipun.
Maka keempat perkara itu dibagi-bagi pula oleh Tolstoy atas beberapa bagian yang kecil-kecil, yang mengaturkan perkara beberapa macam tentang tiada menurut aturan dan kelaliman yang membebani anak negeri Ruslan. Pem baca-pem baca yang hendak mengetahui sekaliannya dengan secuku!>"cukupnya dari hal surat itu baiklah membaca kitabnya yang bernama : "Schetsen en Brieven"; di dalamnya ada dimuatkan suratnya itu dengan secukupnya.
Penghabisan surat itu begini bunyinya :
Inilah kehendak kami yang sedikit; menurut fikiran kami, sebagian yang terbesar daripada anak negeri Ruslan, mudah jua mengabulkannya itu. Bila dijalankan segala yang tersebut itu tak dapat tiada amanlah negeri kembali, dan terhindarlah mereka daripada dukacita sangat yang tersebab oleh perbuatan jahat yang selalu hari dilakukan oleh kedua belah pihak, selama Gubernemen memadamkan huru-hara itu; tetapi yang perlu dan mujarab dibiarkannya saja, yaitu meniadakan sebab atau karenanya haru-biru itu.
Czaar, kepada menteri-menteri, kepada leden Raad negeri, kepada Raads- heer rahasia, kepada sekalian yang mengelilingi Czaar, kepada segala mereka yang bertempat tinggi, moga-moga sudilah tuan-tuan sama-sama bekerja akan mengadakan keamanan untuk anak negeri dan menghindarkan dia daripada sedih hati dan malu. Kami meminta itu kepada tuan, bukannya sebagai kepada manusia yang berlawanan dengan itu, melainkan kepada orang~rang yang sama-sama bekerja dan kepada saudara-saudara kami. J anganlah hendaknya di dalam sesuatu negeri, yang orangnya terikat menjadi satu, sebagiannya mendapat kesenangan, dan yang sebagian lagi tidak; tentulah mereka itu berrnusuh-musuhan. Dan lagi yang terutama sekali diusahakan janganlah yang sebagian besar yang menanggung sengsara. Segala sesuatu hanyalah boleh menjadi baik dan kekal, jika yang sebagian besar serta kuat, yaitu yang menyokong seluruh negeri, mereka itu diberi keadilan dengan secukupnya. Cobalah sekalian tuan-tuan menolong memperbaiki keadaan bagian yang terbesar itu, dan tolonglah yang terutama sekali, yakni di dalam hal keentengan dan kebebasan. Dengan demikian saja dapat tuan selamat, dan sebenar-benarnya kuat.
Itulah yang sebenarnya pertama kalinya Tolstoy itu, di dalam karang-karangannya mengaku akan pemerintah yang telah ada, dan ada ia rupanya berharap akan perubahan yang baik di dalam negeri. Tuan Long, yang telah mengunjungi Graaf Tolstoy itu ke Moskou di dalam tahun 1900 mengatakan, bahwa sepanjang pen- dapatannya Graaf itu lebih tajam fikirannya dalam hal menjalankan buah flkirannya daripada yang telah disangka-sangkakan orang padanya. Katanya, Graaf itu tiada membenarkan persidangan perdamaian (vredesconferentie) di Den Haag; itu tak lain hanya pura-pura dan hina jua. Sesudah itu diperkatakannya kitab tuan Bloch, yang dikarang akan memperlihatkan, peperangan itu suatu perdagangan yang tiada beruntung, tiada sekali-kali akan dapat menghapuskan kerugian yang terjadi karena peperangan itu. Dalam
Oleh sebab itu tiadalah ada suatu kerajaan juga nanti, yang mau mengerjakannya. Akan mempertahankan perkataannya itu serta akan menjadi saksi untuk itu dimuatkannya pula beberapa angka-angka serta keterangan perkara keadaan militer, keadaan uang, dan keadaan di dalam negeri seluruh Eropah itu.
Tuan Long berkata lagi, "Aku bertanyakan ft.kiran Graaf Tolstoy perkara kitab itu. Dengan keheranan aku dengar dari mulutnya: Kitab itu suatu kitab yang amat berharga serta amat penting isinya. .Kitab itu juga akan menolong menyampaikan cita-cita yang mulia itu, sekiranya dibaca oleh segala orang. "
Kata tuan Long juga, "Itulah mula-mula saya dapat mengetahui, bahwa Graaf Tolstoy itu mempunyai flkiran yang berlawan-lawanan, baik sebagai theoreticus, baik sebagai practicus *). Percakapannya yang kemudian dengan saya menyatakan kepada saya, bahwa jalan ia menyelesaikan perkara soal seseorang amat mudah adanya; perkara-perkara yang umum dipandangnya dari jalan agama Nasrani saja. Ia senantiasa sedia membenarkan atau menyalahi sesuatu perbuatan atau maksud orang, yaitu menurut tempat berdirinya sendiri; sesuaikah atau tidak dengan flkirannya. Kalau diuji segala buatan orang itu dengan awal ft.kirannya, boleh dikatakan semua yang ada itu tiada mempunyai adat kesopanan. Sungguhpun demikian tiadalah ada alangan padanya akan memperkatakannya satu-satu, menurut faedah masing-masing, hingga mau juga ia memperbaikinya, biarpun tak ada gunanya, lain daripada hendak menetapkan hidup sesuatu aturan atau buatan yang disalahinya itu. Akan tetapi kalau perbincangan itu sam- *) "Theoreticus" asalnya dari " theorie", theorie yaitu jalan-jalannya, atu- turan, perhitungan; jadi theoreticus orang yang menyukai perhitungan saja. "Practjcus" lawannya (asalnya dari "praktijk"), yaitu orang yang mengerjakannya, menjalankannya, jadi tiada dengan perhitungan, melam- kan dengan diperlihatkan betapa dia.
---' seorang jua orang Kristus yang boleh mensah.kan dia. Sungguh pun demikian acapkali ia mengatakan keheranannya tentang pengarang-pengarang atau orang-<>rang lain yang mempermudah menjalankan sesuatu aturan bagi orang banyak; sedangkan mereka itu menyokong pula dari belakang. Sekiranya ia diam pada sesuatu negeri yang bebas, di mana bantahan orang pandai-pandai itu tiada ditambah lagi dengan kelaliman, boleh jadi ia menjadi seorang ahli memerintah yang pandai, yakni seorang revolutionnair (pelawan) yang ada menurut sesuatu jalan yang patut. Tak dapat tiada flkiran yang semacam itu dienyahkannya jauh-jauh daripada dirinya. Tetapi Tolstoy itu bukanlah orang yang duduk berhitung-hitung saja, melainkan ia itu seorang-<>rang yang memandang dunia ini sebagai yang sebenar-benarnya nyata kelihatan, dan tahulah ia dengan sesungguhnya bahwa amatlah sedikit saja harapan akan memperoleh dengan Iekas perubahan yang penting-penting. Akan tetapi apakah yang akan diperbuat Tolstoy itu, kalau dengan sesungguhnya ia memerintahi tanah Ruslan, sebagai ia sekarang memerintahi hati manusia? Pertanyaan itu sangat saya ingin mendengar jawabannya, karena ia dapat memperlihatkan kepada saya, betapa flkirannya tentang bermacam-macam khabar yang tersiar beberapa tahun yang lalu dari hal hendak mengadakan constitutioneele Regeering di tanah Ruslan. Dalam hal itu Tolstoy tiada berdiri di tengah, dan rupa-rupanya ia menyebelah kepada pihak kaum Slaven, karena katanya peraturan sebelah barat itu tiadalah akan lebih daripada suatu tunas daripada keadaan politik di Ruslan. Sayapun bertanya, betapa fikiran orang-orang tani dankuli yang cerdik-cerdik tentang perubahan constitutioneele itu, yang dikehendaki benar oleh kaum yang sudah terpelajar. Tanyanya kepada saya, "Apakah yang sebenamya maksud tuan tentang perkataan perubahan itu? "
sebagai di Eropah sebelah barat, umpamanya Parle- men, kebebasan perkara cetak, penjagaan atau jaminan undang-undang."
Katanya dengan keheranan, karena mendengar orang membuat pertanyaan yang semacarn itu, "Kita tak ada sedikit juga memperlukan jarninan undang-undang serta peraturan Eropah itu? Kesalahan tuan selamanya mengemukakan, peraturan Eropah Barat itu suatu contoh yang tak boleh diubah-ubah lagi bagi segala macarn perubahan yang ada di atas dunia ini. Persangkaan itulah sebab yang pertarna sekali, yang menjadikan sebagian besar daripada peperangan, yang diadakan orang Eropah dengan bangsa-bangsa asing. Jikalau ada Ruslan memperlukan perubahan, maka perubahan itu bukannya perubahan menurut cara Barat dan bukan pula menurut car a Timur, melainkan peraturan-peraturan yang bagi bangsa itu dan bukan bagi bangsa lain. Akan mengatakan lebih dulu, bahwa perubahan yang semacam itu harus diadakan menurut contoh orang sebelah barat, itu kesombongan orang sebelah barat jua, dan dapat disangkal oleh agama Nasrani serta oleh otak flkiran yang sehat."
"Akan tetapi orang Rus tiadalah berbeda dengan bangsa Eropah yang lain, lain daripada perselisihan antara mereka itu; sebagai lagi, bukanlah sesuatu macarn politik yang rupanya baik bagi segala bangsa lain, akan baik jua ia bagi Ruslan."
"Saya tak sedikit jua mau membenarkan, bahwa staathuishoudkunde Eropah lebih baik bagi kerajaan-kerajaan di Eropah itu, daripada staathuishoudkunde Ruslan untuk orang Rus. Pun Tolstoy memandang Eropah, sebagai suatu tanah yang tercerai daripada tanah Ruslan; orang-orang Rus yang lain pun berbuat sedemikian juga. Akan tetapi tiap-tiap bangsa dikuatkan oleh bermacam-macam fikiran sosial, dan nyata ia ditetapkan dan ditentukan sebagai fikiran orang dalam hal agama. Segala perkara perubahan itu meskipun selalu.diperkatakan, tiadalah jua akan berfaedah, samalah halnya dengan suatu permintaan orang akan menyesuaikan agarna Confusius dengan agarna Kristus. Dan Iagi apa perlunya bagi kita jaminan sebagai undang-undang itu? Saya jawab pertanyaa itu dengan mengatakan, bahwa bagi sebagian, besar daripada bang-
Untuk itu perlu memakai undang-undang, dan undang-undang itu dipandangnya sebagai mahkota dan penjagaan bagi keadaan negeri. Kehidupan orang Rus itu tiada seberapa yang ke luar, dan undang-undang itu pun bukanlah dipandangnya sebagai sesuatu yang bekerja a tau bertenaga." "Akan tetapi orang Rus itu bukantah seperti kita jua, mau menurut perintah dan peraturan undang-undangnya?"
"Mereka itu menurut dia, akan tetapi dia bukan memimpin mereka. Maka bukanlah perham baannya kepada undang-undang itu, melainkan tiada ia mengindahkan undang-undang itulah yang mengamankan dan menyabarkan kami. Dan tiada mengindahkan undang-undang itu pulalah yang menjadikan amtenar kami sebagai bangsat yang terbesar di atas dunia ini. Sebab apa? Karena sebagian besar daripada anak negeri di sini dipimpin oleh fikiran dan hatinya sendiri, sedangkan ' segala alangan yang diluar-luar dibencinya belaka. Tetapi pegawai kami yang sudah beradat sopan, terus juga membutakan matanya pacta undang-undang, karena perasaan dan fJldrannya itu sudah dimatikannya belaka. Mereka itu orang yang tiada mempunyai ujud dan pokok fikiran, orang yang tak dapat menguasai dfrinya; itulah sebabnya ia menjadi sebagai yang sekarang ini. Kalau saya katakan orangRus itu dipimpin oleh perasaan hatinya, maka dengan perkataan itu bukannya saya hendak mengatakan di Ruslan ini lebih sedikit orang berbuat kejahatan, dan lebih sedikit kemelaratan orang daripada di Eropah Barat, melainkan maksud saya hanya hendak menerangkan, bahwa di sini perasaan diri itulah yang menggantikan undang-undang di Eropah Barat itu. Undang-undang tuan tak dapat menahan kejahatan, demikian pula
fl.kiran. Perbedaannya yang kita lihat di luar, ialah orang tani Rus itu tiada dapat membenci atau memarahi seseorang penjahat, karena sepanjang pi.kirannya penjahat itu tersesat hanya karena salah timbang atau karena hawa nafsunya. Demikianlalah macamnya orang Rus yang dinamakan orang biadab iu. Oleh pegawai-pegawai rendah di Siberie dilawannya bunyi undang-undang itu dengan mengizinkan orang-orang hukuman yang tiada mempunyai rumah, bertempat untuk malam hari di rumah mandi negeri. Apa juga macamnya undang-undang yang diadakan Pemerintah untuk orang-orang tawanan, sekaliannya itu boleh dikatakan baik dan mengasihani manusia."
" Akan tetapi riwayat-riwayat Rus ada menceritakan beberapa keganasan dan kejahatan yang ditanggung oleh orang-orang tutupan."
"Keganasan yang keji itu ada juga terkadang-kadang, dan jika sedemikian ia lebih jahat lagi daripada di tanah-tanah sebelah barat, karena orang tiada mengindahkan undang-undang di situ. Akan tetapi tiadalah dikenal orang dan tiada pula orang mengerti di sini, apa sebab orang memandang orang tutupan itu sebagai binatang yang amat rendah adanya. Pegawai-pegawai jil tuan dapat melanggar undang-undang dengan menyiksai orang-orang tutupan yang diserahkan kepada mereka itu; akan tetapi tiadalah mereka merusakkan undang-undang itu, karena berbuat baik kepada orang-orang yang celaka itu. Pegawai-pegawai kami dapat melang- gamya atas dua jalan, yaitu menurut keadaan perasaan hatinya." Maka bertanyalah saya kepada Graaf itu, maukah ia mengatakan kepada saya perbedaan apa yang dilihatnya tentang orang Rus dengan orang sebelah barat. J awabnya, "Perbedaannya ialah ini, dan itupun hanya nyata jelas bagi mereka yang kenal akan bangsa Rus itu, yakni mereka berlaku lebih daripada orang Kristen. Perbedaan itu bukannya tersebab karena mereka lebih rendah dirinya dalam hal keadaban, melainkan katena isi ftkiran anak negeri itu, dan karena hanya
flkiran · dan perasaan hati. Bangsa kami belum pernah membaca Injil itu, baru sekaranglah ia mulai. Akan tetapi bangsa Rus sudah membiasakan dirinya kepada adat-adat dan agama Kristus itu. Kalau tidak demikian ke manatah konon mereka akan mencari penunjuk bagi selama hidupnya karena tak ada undang-undang dan tak ada peraturan yang memperlindungi dia sebagai di bagian sebelah barat? Perkara itu berlaku menurut perasaan hati dan menurut agama Kristus, berlawanan sangat dengan undang-undang; itulah yang menjadikan jurang besar antara Ruslan dengan Eropah Barat. Antara tanah-tanah sebelah barat sama-sama Tanah Barat tiada saya lihat perbedaan itu, a tau tiadalah seberapa adanya. Boleh jadi orang Perancis sombong, orang ltalia penaik darah, orang Inggeris pendiam dan suka berhitung, orang Belanda hemat dan bersih. Akan tetapi bagi orang Rus sekalian tanah itu hanya satu bagian jua daripada suatu kerajaan. besar, yang sebenarnya sama jua keadaannya, dan hanya tanah Ruslan yang berlawanan karena undang-undangnya jua. Di tanah Ruslan agama K.ristus pekeJ.jaannya atau pengaruhnya sama dengan pengaruh aturan undang-undang di tanah-tanah sebelah barat." ,Jadi menurut flkiran tuan orang Rus itu dapat menjadikan suatu peri adab yang lebih tinggi daripada orang-orang Eropah sebelah barat?" "Itu tak dapat saya katakan. Kalau dengan perkataan peri adab itu tuan maksudkan peri adab orang Eropah, tak dapatlah dikatakan yang mana yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah. Yang say a katakan, hanya ada perbedaan dalam macamnya saja." ,Akan tetapi kalau tuan mengatakan, bahwa keadaan di Ruslan tiada sempurna sedikit jua, dari manatah dapat tuan akalkan akan memperbaiki dia?"
"Tentu saja tidak dari dalam yang tuan namakan perubahan sebelah barat itu, karena tadi sudah kita nyatakan, bahwa tak ada kesamaannya Ruslan dengan kerajaan lain-lain di Eropah, dan tak
baik."
Graaf Tolstoy tiada sedikit juga menyukai Liberalisme Rus yang biasa itu, apalagi Marxisme, yang amat digemari dan dikenal oleh anak-anak muda yang sekarang. Socialisme itu dipandangnya hampir sam a dengan auto era tisch despotisme 1 ). Ten tang itu ada Graaf itu mengeluarkan perkataan, " Pemerintah kita menghidupkan dengan kekerasan sesuatu darajat yang tiada bekerja sedikit jua pun; tetapi kaum sosial memaksa seseorang bekerja keras dengan kekerasan." Cooperatie itu dimuliakan sangat oleh Graaf itu, walaupun diambil sama rata, segala macam industri (perusahaan) dicelanya belaka. Dualisme (berfikiran yang berlawan-lawanan itu) didapati pada Graaf Tolstoy, dan Iekas kenyataan oleh orang asing, acap ka- -li itulah yang melepaskan dia daripada sesuatu pertanyaan atau perkara yang sulit-sulit. Oleh karena itu tehindarlah ia daripada keperluan berperang-perangan dengan perasaan hatinya sendiri, karena jika ia sebagai guru yang mengembangkan sesuatu mazhab, yang tiada dapat dijalankan pada masa yang sekarang ini, sebagai seorang yang panjang flkiran, nyata padanya, bahwa ada yang harus dibuangkan pada mazhabnya itu. la amat suka mengaturkan peri hidupnya sebagai dicita-citanya seberapa dapatnya jua adanya; akan tetapi yang lebih disukainya, ialah mengaturkan hidupnya dengan hidup yang terbaik (praktis), lebih lagi daripada memakaikan kesempatan yang diadakan oleh darajatnya di atas dunia
1) pemerintahan yang ganas dipegang dalam satu tangan
fJ.kiran orang sosialis; seseorang dapat ia membenarkan atau membatalkan dengan kekerasan manfaat perbuatan Pemerintah itu; tak mau membayar belasting, tetapi diizinkan orang membayarkan dia; membenci industri, tetapi ditolong juga orang kuli-kuli dan dikasihi juga akan dia; dibatalkan hak mempunyai, tetapi diterima juga uang untuk pekerjaan kita, karena tahu, bahwa kita lebih pandai membelanjakan dia daripada orang-orang yang memegangnya. Demikianlah diperbuat oleh Graaf itu dengan romannya yang her- nama "Opstanding". Uang beli roman itu dipergunakannya akan menolong kaum Doukhobors yang lari itu.
Di mana-mana pun mazhab Tolstoy itu disesuaikan sedikit-sedikit dengan keperluan yang setiap hari. Aturan hidupnya diusahakan benar-benar, tetapi hanya kalau kekuasaannya tiada berkurang karena melakukan yang baik boleh dipakai itu.
Jadi sebagai seorang yang panjang flkiran, Tolstoy itu sedia selalu akan menjadi ujung lidah antara orang-orang tani yang di bawahnya dengan pegawai negeri, sungguhpun demikian dibatalkannya juga hak orang tani itu boleh melawan, dan dibatalkannya pula hak pegawai itu boleh diadakan. Sudah nyata benar, bahwa alas mazhabnya : "Janganlah melawan setan dan iblis!", itu ada lebih sedikit daripada flkiran "ethische abstractie" (kesamaan persangkaan). Membenci kejahatan itu belumlah boleh dinamakan sebagian daripada "Janganlah melawan setan dan iblis!" Akan tetapi Tolstoy itu amat keras perkataannya, kalau ia menyalahi orang. Walaupun ia menerangkan, bahwa perlawanan itu tak dapat dinamakan baik, tetapi ia pula yang keras sekali menyukai perlawanan yang adil kepada Negeri. Sesungguhnyalah juga jarang-jarang ia menyebutkan kesukaannya itu di dalam karang-karangannya atau di dalam surat-suratnya. Akan tetapi surat-surat dan karang-karangan itu perlunya hanya akan menjauhkan kesusahan politik dan kesusahan sosial itu. Pada ketika bercakap-cakap biasa tentang memandangi segala perkara dengan mata yang tajam (praktis), segala sesuatunya itu ditimbangnya menurut manfaatnya atau jahatnya. Jadi sekiranya tuan bertanyakan
Graaf Tolstoy itu fasal sesuatu peperangan, dengan tiada berni~ir lagi, niscayalah ia akan mengatakan kepada tuan, siapa yang benar, dan siapa yang salah serta diperlihatkannya pula kegirangan hatinya itu, kalau betul pihak yang diterkanya itu yang menang. Akan tetapi jika sepuluh menit sesudah itu tuan bertanya pula kepadanya: adakah kecuali, "Janganlah melawan iblis itu", ia tak dapat tiada menyahut, "Tidak!"
Boleh menyesuaikan fikiran yang terlampau lanjut itu, yaitu suatu sifat yang jarang-jarang bersua di antara pengubah keadaan dunia bangsa kaum sosial; sifat itu mengalir pula ke dalam hidupnya berkaum. Sudah tahu kita sekalian, bahwa Graaf Tolstoy itu mendiami sebuah rumah yangindah, benar bukan mahligai, akan tetapi ada 99% lebih bagus daripada rumah di sana. Biarpun pakaiannya sederhana dan patut saja, tetapi memadailah baginya; hal itu tak dapat kita lihat pada sebagian besar daripada orang-orang tani itu; d;m makannya biarpun sederhana, tetapi lebih baik dan lebih teratur jua daripada makanan orang tani. Minum kopi malam tiada perlu, dan memakai kereta angin tak perlu pula, akan tetapi acap kali saya melihat Graaf itu minum kopi sesudah makan malam hari, dan mengendarai kereta angin atau berkuda ketika ia di kota Moskou; sekaliannya itu tiada menjadi keberatan pada perasaan hatinya. Yang sebenarnya ialah: Tolstoy itu kepercayaannya masih ada, tetapi rajinnya dan asyiknya mengubah keadaan negeri itu sudah mulai pad am. Ia mengajarkan: sekaliannya meninggalkan dan mengikut Kristus itu bukan nasihat yang baik adanya; biarpun baik, tetapi tiada bersetuju dengan segala apa yang berfaedah dan perlu. Shelley pun, yang boleh dikatakan seorang tukang pro- paganda yang sangat rajin di dalam abad yang akhir ini, ada makan daging, dan sudah dua kali pula ia kawin. Tolstoy itu senantiasa sedia membuangkan kesempurnaan yang setahil, akan memperoleh faedah yang sekati, yang boleh dipakaikan. Padanya tiadalah didapati egoisme (sifat mengingatkan diri sendiri saja), yang boleh menyebabkan ia berusaha hendak menyampaikan ujud mazhabnya. Turun-turunan, yakni orang yang sekarang telah mem benar- kan buah tutur Hendrik yang keempat, yang mengatakan, bahwa suatu kerajaan itu harganya sama dengan satu doa jua, Tolstoy
"mahligai" itu tiadalah menjadi keberatan perasaan hati baginya. Demikian pula tak perlu baginya akan menya- pukan salju yang ada di muka pintunya di Moskou itu. Ia tahu, bahwa untuk mazhabnya dan akan mengembangkan dia, lebih baik waktunya dipergunakannya untuk menulis kitab-kitab, dan sekiranya badannya sehat dan memperlukan istirahat, tiadalah ia merasai berdosa akan berkereta angin atau naik kuda. Penghabisannya kata tuan Long, "Sekaliannya itu amat ajaib, bukannya bagi Graaf Tolstoy saja, pun bagi segala orang Rus yang kebanyakan. Kata orang sebuah daripada kitab t'entang Graaf Tolstoy itu yang amat digemari orang ialah buatan Masley "Geven en Nemen" namanya. Boleh jadi benar. Hidupnya sangat ajaib, karena ia pan:dai "geven en nemen", artinya pandai beralahan, mau juga ia menurut kemauan atau flkiran orang lain, dan pandai ia mengatakan dirinya menurut keadaan yang menimpa padanya. Seboleh-bolehnya ia hidup menurut suruhan Kristus, akan tetapi sekadar yang dapat mendatangkan faedah yang baik. Akan tetapi dalam peperangan antara buah flkirannya dengan keperluan dunia sekelilingnya yang sangat perlu, tabiatnya yang benar itulah yang menang selalu. Kepada seorang jamu lain ada ia berkata, "Yang amat saya benci adalah tiga perkara, pertama "autocratie" ( kekuasaan di
"orthodoxie" (kekuasaan suka aturan yang lama-lama), dan ketiga "Militarisme" (perkara militer, atau serdadu). Dan itu pulalah yang jadi seni dan tulang belakang bagi kerajaan Ruslan itu. "
Dengan terus terang jamu itu bertanya, "Apa sebabnya maka belum jua Pemerintah Ruslan menangkap dan membuang tuan?"
Jawabnya, "ltu tak dapat saya jawab." Akan tetapi setelah beberapa saat ia berdiam diri, ia pun berkata dengan suara yang alamat, "Sebaiknyalah, jika diperbuat orang sedemikian. Niscayalah perbuatan orang itu suatu kegirangan besar bagiku."
Kata-kata Graaf Tolstoy yang penghabisan dan terhadap kepada kita semua, rasanya layak bagi penutup "cerita-cerita dan cakap-cakapnya" yang dimuatkan di dalam kitab ini. Maka yang teru tama sekali adalah seperti beriku t: Hendaklah melepaskan manusia daripada kesengsaraan yang ditanggungnya, hanya dapat dengan jalan mengembangkan agama Kristus kepada segala bangsa apa jua pun; jalan-jalan dan peraturannya pun sudah ada juga di dalam kalbu bersendi kepada kebaikan dan keadaan yang dalam-dalam dan dipegang oleh segala manusia, baik oleh orang Kristen, baik pun oleh segala orang lain yang mempercayai agama lain, karena mereka itu pun dengan secukupnya ada memenuhi iman, agama yang asli, baik pada agama Brahma, agama Kong Hu Cu, agama nabi Muhammad (Islam) dan Swedenborg, baik pacta agama Yahudi, pada ilmu spiritisme, pacta ilmu Theosofie, baik pacta Positivisme, Auguste le Comte sekalipun. Isinya yang ringkas daripada mazhab ini ialah: Adapun akan manusia itu ialah suatu makhluk yang berjiwa, dijadikan menurut gambar Allah; kewajiban manusia itu ialah menurut kehendak Allah yang menjadikannya; kehendak Allah ialah keselamatan manusia; keselamatan manusia dapat diperoleh dengan percintaan ( berkasih-kasihan); percintaan kepada seseorang itu dapat diperoleh dengan jalan; berbuat kepada seseorang, sebagai yang kita kehendaki orang berbuat kepada kita. Inilah segala isi mazhab itu.
manusta. I. "Martha, Martha! banyak yang kau kerjakan, akan tetapi hanya satu jua yang perlu!"
I
• •
Perpus~ Jende