Baca PDF (OCR): Sister Be Strong

40 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 257 ms

Daftar isi
  1. TENTANG KITA
  2. 0 Maret 2011 - Needle n Bitch
  3. Dari kami
  4. Needle n’ Bitch aman dan
  5. Asama. Tapi aku tetap nggak
  6. ini artinya pertanda tidak baik karena mereka udah mengkhianati kesepakatan
  7. kita bersama dan kabur, ini pertanda perang!
  8. -Butterfly-
  9. MVirus (HIV) positif. Namaku Niluh, kelahi-
  10. 2001: Mendengar kalimat
  11. Sd a n d i s -
  12. itu akan membakar kalian (terasa pengap/sumukkkk....), dan pada
  13. akhirnya kalian memutuskan untuk melepaskannya dan membuangnya
  14. FACT SHEET
  15. You need to know
  16. Semestaku Menjaganya
  17. Gmerah satu saja, berkali-kali sebelum ini. disepakati bersama. Itu adalah kesalahan TERBESAR
  18. Dear masa lalu…
  19. Semua berawal dari mimpi itu.
  20. Khnya bersih, tenang dalam
  21. Kamu hanya ada untuk berfungsi sebagaimana moral-moral menyuruhmu begitu.
  22. Wawancara
  23. Surat Untuk A
  24. Me m -
  25. I WILL PROTECT
  26. MY SELF
  27. 3 tahun seorang lelaki

Sebuah Z ine

K O M P I L A S I K I S A H

TENTANG KITA

0 Maret 2011 - Needle n Bitch

Dari kami

Aku teringat ketika temanku menelfonku hampir tengah #0 Maret 2011 - Needle n Bitchmalam, ia menangis dan / mengadu dengan suara tak jelas, sambil sesekali memaki. Ketika akhirnya ia sedikit tenang, ia bercerita mengenai suaminya yang baru saja memperkosanya. “Lo tau kan sejak gw nikah, gw yang kerja untuk ngidupin keluarga gw. Sementara dia sok SISTER, BE STRONG sibuk dengan dunia aktifisnya yang gak jelas itu. Awalnya kita sepakat dan

perlakuannya baik-baik aja ke gw, tapi lama-lama dia semakin otoriter, dan lo tau apa yang baru aja dia lakukan? Pas gw minta uang untuk nongkrong keluar sama temen2 gw, iya dia bahkan yang megang atm dan ngontrol uang hasil kerja gw! Dia mau ngasi gw uang asalkan gw ngent dulu sama dia, baru dia akan kasi gw ongkos. Pas gw bilang “mending gw jadi pelacur sekalian aja”, dia murka dan maksa ngent. Anjing tuh dunia aktivisnya, makan tuh keadilan dan kesetaraan yang dia teriak-teriakin, persetan revolusi! (hening…) ”Dia udah memperkosa gw X…” Dan terisak- isak kembalilah dia di ujung teflon sana… Itu hanya satu cerita dari begitu banyak cerita antar teman dan sahabat yang kudengar. Akupun memiliki ceritaku sendiri, yang kusimpan, kusembunyikan, bahkan coba kuhapuskan dari ingatan, tapi ia tetap disana, hening dalam kelamnya… Tapi aku rasa kini sudah saatnya untuk membaginya, karena tak ada guna menyimpan ini semua sendiri, lagipula kenapa harus disembunyikan? Toh ini semua bukan sesuatu yang memalukan, bukan pula kesalahan yang terjadi begitu saja, bukan pula sesuatu yang membuatku menjadi pecundang dan pengecut. Justru ini semua

menjadikanku seorang yang sangat kuat dan berani, ya berani! Karena ditengah masyarakat yang sangat patriarkis ini, mengambil pilihan otonom atas tubuh kita sendiri bukanlah tindakan mudah. Percayalah… Tubuh merupakan manifes sikap politik, jika kita berani mengambil tindakan dan keputusan atas tubuh kita, maka kita akan berani mengambil pilihan-pilihan otonom lainnya dalam kehidupan kita. Ini adalah zine pertama kami, entah apakah kami akan mengeluarkannya lagi atau tidak. Kami mengeluarkannya bertepatan dengan acara “Sister, Be Strong”, sebuah kampanye otonomi tubuh dan pilihan-pilihan berani individu. Sebagai catatan kecil bahwa tak perlu merasa takut atau canggung untuk menyampaikan keputusan dan pilihan kita. Sebuah upaya individu-individu dalam mentranformasikan kelemahan2 dan ketakutan2 (akibat penghakiman moral & masyarakat) menjadi kekuatan dan keberanian kolektif. Aku bukanlah orang asing, aku adalah ibumu, aku adalah sahabat sekolahmu, aku adalah tetanggamu, aku adalah saudaramu, aku adalah kamu… Terimakasih buat kamu yang sudah menemaniku begadang, menjahit, melewati masa-masa sulit, mendengar marahku, mengingatkanku untuk makan & istirahat, bercanda, meminjamkan film, memberi masukan & kritik, menggambar dan membantu lay-out, membantu ngafdruk screen, dan bir dinginmu…J

adalah ruang

Needle n’ Bitch aman dan

nyaman perempuan. Ruang bukanlah sekedar bangunan secara fisik, namun sebuah tempat, situasi, dan kondisi non-fisik yang dibangun untuk menghadirkan rasa nyaman dan aman bagi perempuan khususnya dan siapapun yang merasa tidak memiliki ruang tersebut. Kami menggunakan medium belajar bersama dan berbagi keahlian jahit, crafting, dan apapun dengan tangan sendiri sambil berbincang tentang segala hal; mulai dari gossip murahan nan sehat, politik, seksualitas, amarah, hingga kasur… Kenapa kami merasa perlu adanya ruang yang nyaman dan aman bagi perempuan? Karena jelas bagi kami yang diperlakukan sebagai mahluk ‘kedua’ ditengah masyarakat yang berpola pikir patriarkis, setiap tindakan dan ucapan perempuan direndahkan, diabaikan, dilecehkan, disingkirkan. Perempuan disekitar kita pada umumnya menghadapi represi secara konstan dalam kehidupannya. Secara sosial dan struktural perempuan berada pada posisi inferior, mahluk kedua, tidak berdaya, tidak penting. Perempuan sulit untuk berekspresi penuh, menunjukan emosi dan jujur. Perempuan dipaksa mengikuti standarisasi yang dibangun oleh moralitas masyarakat, negara, agama dan kapital. Ruang ini bukan hanya untuk perempuan saja, siapapun kamu (laki-laki, perempuan, transgender), apapun orientasi seksual kamu, kamu dipersilahkan untuk berbagi dengan kami dalam menyampaikan perasaan, pikiran, pendapat, cerita, ide, dan apapun juga yang selama ini direpresi, disimpan sendiri atau disembunyikan karena dianggap ‘tidak bermoral’, ‘dosa’, ‘aib’. Needle n’ Bitch merupakan upaya dan inisiatif beberapa perempuan dan laki-laki dalam mengajak teman-teman lain yang mendukung isu ini untuk turut aktif dan terus merajut solidaritas. Harapan kami kedepannya, kami akan bisa menciptakan ruang, menghadirkan informasi2 seputar kesadaran gender, kesehatan, seksualitas, serta informasi2 lain seputar gender baik secara langsung maupun online Saat ini kegiatan yang sedang kami jalankan adalah: -Produksi merchandise buatan tangan sendiri dengan tema2 perempuan n’ umum untuk mendukung kebutuhan finansial kami secara otonom (t-shirt, emblem, tas, dompet/kantong kecil) -Bitching: kegiatan menjahit, bikin2 apa aja sambil ngobrol, curhat n’ diskusi ‘nakal’ Kami mengajak kamu semua untuk gabung dalam menciptakan ruang otonom n’ nyaman bagi perempuan khususnya dan siapapun juga yang mendukung terbangunnya ruang aman n’ nyaman bagi mereka yang diabaikan. Bawa alat jahitmu, bawa barang2 dan kain2 bekas diskitarmu, bagi kisahmu, let’s Needle n’ Bitch!

Jadwal Bitching Setiap hari Jumat, pukul 17.00 di Institut- A- Infohouse & Community Center @Jl. Hj. Fatima Atas 1 No. 14, Pondok Cina, Depok (patokan menuju rumah kami: setelah margo city ketemu pertigaan lampu merah Juanda, belok kiri. Lurus sampai lihat alfa express 24 jam disebelah kanan jalan. Persis disebelah alfa ada jalan menanjak, masuk dan jalan lurus terus sampai lihat rumah penuh dengan lukisan dan saung di halamannya) Manifesto Needle n’ Bitch yakin bahwa setiap perempuan cantik tanpa konsumtif Needle n’ Bitch yakin bahwa setiap perempuan sexy tanpa stereotype gender Needle n’ Bitch yakin bahwa setiap perempuan bisa otonom atas tubuh & pilihan hidupnya Needle n’ Bitch yakin bahwa setiap perempuan adalah pemberontak! Kontak 0818-08112418 (agent Tim Amsyong) 0882-10378118 (agent T’bing) Email: [email protected] Web: needlenbitch.blogspot.com FB: http://www.facebook.com/profile. php?id=100001905536030

SISTER, BE STRONG / #0 Maret 2011 - Needle n Bitch

ku nggak pernah nyangka kalau aku akan hamil, sampai 3 kali aku gu- nakan tespack hasilnya tetap

Asama. Tapi aku tetap nggak

percaya dan periksa ke bidan kandungan. Ternyata aku benar-benar hamil. Bingung dan panik, segera aku menghubungi pacarku di Jakarta dan bilang ke dia kalau aku hamil dan ingin gugurin, dia setuju dengan kemauanku. Alasanku ingin meggugurkan karena aku benar-benar tidak siap membawa manusia ke dunia ini, aku nggak mau bayi itu ikutan susah sepertiku. Segala macam cara sudah kucoba untuk menggugurkan kandunganku, mulai dari makan nanas muda sampe bibir dan mulutku sakit, tiap malam minum jamu, loncat2, minum alcohol, ngeganja, sampe 2 kali ke dukun pijat beranak buat gugurin, tapi sama saja, tidak berhasil. Aku coba tanya teman-temanku yang pernah aborsi berapa harga aborsi kalau dirumah sakit, temanku bilang dirumah sakit tempat dia aborsi senilai 4 juta untuk usia kandungan 4 bulan. Mana ada aku uang segitu?!? Gajiku saja dari bekerja sebagai resepsionis di hotel kacangan hanya Rp. 650.000/sebulan, itupun aku harus aku bagi dengan saudaraku (sejak kedua orang tuaku meninggal, aku tinggal bersama nenek dan tante2ku). Aku menghubungi pacarku dan menyampaikan kalau aku sudah berusaha menggugurkan dengan berbagai cara yang kutau, tapi tetap aja gak ada hasilnya. Akhirnya dia mengirimkan aku uang buat ongkos ke Jakarta dan menjanjikan kalo ada obat menggugurkan yang murah disini. Aku tiba di Jakarta dengan kondisi hamil 3 bulan, aku tinggal di rumah kolektif tempat dia tinggal dan beraktivitas juga. Aku sempat berfikir kehadiranku (dan kondisi kehamilanku) saat itu hanya diketahui oleh 1 orang disana, sementara hari terus berjalan, dan perutku semakin membesar. Aku tak mungkin menyembunyikan kehamilanku dihadapan teman2 yang lain, maka aku hanya berharap laki-laki itu bisa segera mendapatkan obat dan aku

segera mengugurkan kandunganku. Selesai. Tapi apa yang kudapat? Sampai usia kandunganku 6 bulan dia juga belum dapat uang buat beli obat itu, akhirnya teman2 dimana tempat aku tinggal mengetahui kondisiku, inipun setelah laki-laki brengsek itu didesak untuk menceritakannya pada teman2 serumah. Karena bagaimanapun mereka akan tersangkut dengan kondisi ini. Rumah kami berada ditengah masyarakat yang agamanya masih kuat, tentu melihat perempuan hamil dan tinggal bersama2 a k a n m e n g u n d a n g t a n d a t a n y a d a n resiko lain, aku nggak mau mengorbankan teman2 k arena ini. Melihat besarnya usia kandunganku dan tidak adanya uang sama sekali, kami rembukan bersama dan nggak setuju dengan rencana aborsi karena membahayakan. mereka takut kalau ada apa2 terjadi denganku. Dengan berat hati aku harus meneruskan kehamilanku, sungguh ini bukan hal yang kuinginkan. Akhirnya kita sepakat buat nikah sirih (agama, dibawah tangan) itu untuk menyelamatkanku dan juga teman2 ditempatku tinggal. Sementara keluargaku di Medan nggak tau sama sekali dengan keadaanku. Aku mengenal laki-laki itu sekitar tahun lalu, saat aku datang ke Jakarta bersama temanku. Kita sepakat pacaran dengan relasi poliamor, aku tau dia sudah punya pacar yang dipacarinya selama 4 tahun. Tapi karena pacarnya nggak setuju dengan relasi seperti ini, aku memutuskan hubungan kami, tapi dia nggak mau dan tetap maksa pacaran denganku. Mau Poliamor adalah bentuk relasi terbuka dimana masing-masing dibebaskan untuk menjalin hubungan dengan yang lain dengan kesepakatan bersama, kejujuran, dan keterbukaan.

gak mau dan dengan terpaksa pacarnya yang sudah dijalaninya selama 4 tahun setuju dengan hubungan kami (tentu saja ini bukan poliamor, karena salah 1 pihak tidak setuju). Saat aku pulang ke Medan, dia ikut dan tinggal beberapa bulan bersamaku dan teman-teman. Setelah dia pulang ke Jakarta baru aku mengetahui kalau aku hamil. Dan yang gilanya lagi, pacarnya yang satu lagi itu hamil juga nggak jauh beberapa bulan dariku sekitar 4-5 bulan bedanya. Gila kan… Dari sini aku melihat bahwa alasan pacarku tentang poliamor itu hanya pembenaran dia untuk keinginan pribadinya saja. Akhirnya kami ketemu buat ngobrolin dan mencari solusi kami bertiga, kami sepakat untuk kerjasama dalam menghadapi hal ini. Hal-hal penting yang menjadi kesepakatan dan rencana kami adalah; aku menikah dengannya (bawah tangan) hanya untuk ‘menyelamatkan diriku’ dan rumah tempat kami tingla bersama, dia menemui keluarga pacarnya untuk ‘bertanggung jawab’ alias menikah (pacarnya ini sangat ingin melanjutkan kehamilannya dan membangun

ini artinya pertanda tidak baik karena mereka udah mengkhianati kesepakatan

kita bersama dan kabur, ini pertanda perang!

rumah tangga yang indah dengan laki-laki ini hihihihihi…), dia mencari uang, aku menjaga kondisi (fisik & psikologisku) dan mencari info melahirkan murah. Dengan kondisi seperti ini dia jadi sering bolak-balik antara aku dan pacarnya. Tapiii… setelah kami menikah pada bulan November 2010, tiba-tiba saja menghilang di akhir bulan Desember, terakhir dia cuma bilang akan pergi dulu dan akan kembali dalam 2 hari, tapi sampai hari ini (Maret 2011 dn usia kandunganku sudah 8 bulan!) dia nggak kembali!! Dia tak bisa dihubungi karena hpnya ia tinggalkan disini dan setiap kali kutelfon kerumah orang tuanya, ibunya selalu menjawab ia nggak ada dengan nada masam dan segera menutup telpon, aku sms dan teflón pacaranya juga tidak pernah dibalas dan tidak diangkat. Aku menanti beberapa saat, tapi ketika sudah lewat 1 bulan ini artinya pertanda tidak baik karena mereka udah mengkhianati kesepakatan kita bersama dan kabur, ini pertanda perang!

Akhirnya aku dan kawan2 memutuskan untuk mendatangi rumah orang tua laki-laki brengsek itu untuk mencari keberadaannya, setiba disana ibunya seperti tidak menerima kami, tapi kami cuek saja. Sikap ibunya nggak ramah dan menyalahkan aku sepenuhnya kenapa hal ini bisa terjadi (aku hamil), dan aku bilang kenapa ibu juga nggak menyalahkan perempun yang satu lagi? kenapa dia bisa hamil juga? Dipikiran ibunya aku ini cewe nggak bener karena dilihatnya aku bertatto, ngerokok dan gak verja (mana dia tau kalau selama di Medan aku kerja, aku baru berhenti kerja ketika mengetahui diriku hamil). Aku nggak perduli dengan pikirannya dan aku membela diriku dengan mengatakan bahwa ini bukan kesalahanku sendiri, tapi juga anaknya. Aku b a r u tau juga kalau ternyata laki-laki itu berulang kali minta uang ke keluarganya dengan alasan ini itulah dan mengatakan kalau

uang i t u u n t u k a k u

juga, tapi kenyataannya sama sekali uang itu nggak pernah sampai di aku. Teman-teman disnilah dan yang dari luar kota yang selalu bantu keuangan dan kebutuhanku. Aku bilang ke ibunya kalau laki-laki itu nggak pernah ngasih aku uang tapi ibunya tetap nggak perduli. Dari obrolan dengan ibunya juga aku dapat kabar kalau mereka telah menikah dengan sah, setelah mereka menikah katanya mereka tingal dirumah istrinya, dan laki-laki itu hanya pulang kerumah ibunya sesekali saja. Aku nggak perduli dengan pernikahan mereka itu, yang aku perdulikan tanggung jawabnya saat aku hamil dan melahirkan. Aku nggak suka diperlakukan seperti itu, mereka seperti menyembunyikan laki-laki itu. Aku juga membuat buat surat pernyataan kesepakatan finansial yang harus di tandatanganinya. Tapi sampai sekarangpun hewani itu (aku selalu memanggilnya dengan nama itu) nggak datang-datang, padahal kandunganku makin membesar, tetangga dan anak-anak kecil ditempat aku tinggal selalu tanya dimana suamiku. dan lagi-lagi aku harus bohong dengan mengatakan kalau laki-laki itu kerja di Serang, pulangnya kadang 3x dalam 2 minggu. Kurang enak apa hewani itu sampe aku melindunginya dan bohong ke warga disini. Aku juga sering kali sms istrinya yang ‘sah’ itu tapi sama sekali nggak direspon. Terakhir aku dan teman2ku datang kerumah orang tua perempuan itu (karena info dari ibunya mereka tingla disana estela menikah), sampai disana lagi-lagi dibilang kalau mereka nggak ada dan lebih banyak tingla ditempat laki-laki iti. Wah ada yang ngak beres ini, akhirnya aku melancarkan serangan ala acara reality show ‘termehek-mehek’ dengan ngasih tau ke orang tua si istri ‘sah’ kalau aku ini juga istrinya laki-laki itu dan tengah hamil 8 bulan. Mereka terkejut dan nggak nyangka, karena tau mereka ‘main kucing dibelakang’. Aku juga baru tau kalau mereka (laki-laki dan istrinya itu) udah bohong sama orang tuanya (dan bohong sama aku juga), karena menurut orang tuanya anak mereka baru saja hamil 1 bulan, ini berarti mereka bohong ke aku karena ketika kami ngobrol bertiga mereka bilang bahwa si hewani itu akan bilang ke keluarganya kalau si perempuan itu hamil dan akan menikahinya, tapi ternyata mereka main aman dibelakangku. Makin murkalah aku, makanya sekalian aja aku kasih tau ke orang tuanya bahwa kami sudah bertemu bertiga pada bulan November dan kondisi perempuan itu sudah hamil. Aku juga nyamperin tetangga disekitar rumah perempuan itu dan memberitahu kalau aku ini istri dari laki-laki itu dan sebentar lagi akan lahiran dan tetangganya itu gak kalah kagetnya mendengar ucapan yang aku bilang karena setau mereka, perempuan itu belum lama ini menikah. Mampus! Makanya jangan main api kalau nggak berani terbakar! Dia (si hewani itu) nggak tau rasanya membawa

anak ini kemana2, tega dia seperti itu dan aku gak akan pernah terima diperlakukan seperti ini. Apa lagi dengan perlakuan ibunya, mudah2an aja ibunya cepat mati dan aku nggak akan pernah memaafkan mereka sampe aku mati dan aku menaruh rasa dendam dalam diriku buat mereka. Nggak nyangka aku ibu dan kakaknya seperti itu apa lagi sama2 di posisi perempuan. Aku nggak minta uang ke mereka, hanya berharap respon baik dan kepedulian mereka sebagai sama2 perempuan, karena jujur saja aku tidak memiliki siapa2 untuk mendukungku selain teman2 dirumah ini. Tapi mereka benar2 tidak perduli, menurutku mereka bukan manusia. Nanti setelah anakku lahir, tumbuh besar dan sudah mengenal banyak hal aku akan cerita kenapa bapaknya lari dari tanggung jawab dan cerita perlakuan keluarga dari bapaknya. Meski aku capek dan lelah memikirkan dan menghadapi hal ini, tapi aku nggak pernah berpikiran untuk menyerah, apalagi untuk bunuh diri. Itu sama sekali nggak ada didalam pikiranku. Ini semua membuka mataku akan begitu banyak hal dan pelajaran, semakin menguatkan pendirianku, dan aku akan membesarkan anakku tanpamu bajingan.. Oh ya, nama laki-laki itu... MUHAMMAD HARTANTYO.

-Butterfly-

“Aku hanya terdiam renungkan semuanya. Lama jiwaku tenggelam dalam diam. Masih bingung harus bagaimana dalam dunia yang begitu diskriminatif, telah banyak sabar yang ku semai. Meskipun tertatih aku tetap menenun asa. Desir angin membelai tubuhku. membisikkan nada-nada mempesona, agar aku kembali merajut asa dan cinta untuk terus melangkah tengok hari dengan senyuman suatu saat, perjalananku pasti temukan harapan”

enjadi perempuan adalah hal luar biasa bagiku. Apalagi menjadi seorang perempuan dengan Human Immunodeviciency

MVirus (HIV) positif. Namaku Niluh, kelahi-

ran Bali dua puluh delapan tahun silam. Tak pernah hilang dari ingatanku tujuh tahun lalu aku menjalani hari-hari penuh ketakutan dan rasa cemas. Ya…HIV/ AIDS meluluh lantahkan segala akal dan pikiranku ketika itu. Tak perlu menjadi seorang pengguna jarum suntik atau bahkan menjadi pelacur dijalanan untuk menjadi seorang dengan HIV positif. Aku hanya seorang ibu rumah tangga dengan satu orang putri ketika itu. Aku terinfeksi virus dari mendiang suamiku yang seorang pengguna narkotika jarum suntik. Menyesal…?? Tidak !! aku tidak pernah menyesal menjadi seorang dengan HIV positif. Aku tak pernah menyalahkan mendiang suamiku atas virus yang ia warisakn kepadaku.

Sedih memang jika aku harus mengingat kembali masa masa itu. Masa dimana aku harus kehilangan almarhum suamiku, masa dimana aku harus berjuang untuk menyemangati hidupku sendiri, menyemangati putri kecilku yang selalu bertanya “dimana ayahku… dimana ayahku?”, bahkan aku harus mengahadapi lingkungan yang mencemoohku atas virus yang beranak pinak dalam tubuh kecilku ini. 14 februari 2004 tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Terakhir kali aku mengecup keningnya dan mengiklaskan kepergiannya. Tak ada alunan gending (lagu) Bali atau semerbak wangi dupa mengiringi pemakamannya. Hanya air mata dan celoteh dari mulut kecil Ayu yang bertanya “ayah kenapa…koq dikubur..?”. Belum kering air mataku, keesokan harinya aku harus dihadapkan dengan keadaan yang tak pernah sedikitpun aku duga. Beberapa orang yang mengatas

namakan adat datang menemui keluargaku meminta Aku hanya satu contoh dari banyak perempuan lain kuburan suamiku diabongkar dan dikremasi. yang terinfeksi HIV positif. Tak perlu takut. HIV/AIDS Semua orang menatap tajam kearahku seolah bukan persoalan moral bejat seseorang sampai dia bisa menghakimiku, bahwa akulah penyebab kematian terinfeksi, bahkan perempuan sepertiku yang bekerja suamiku. Tak hanya itu, jazad beku almarhum suamiku dirumah mengasuh anakpun bisa terinfeksi. Jangan yang telah berkubang tanah dan telah tenang di pernah berfikir HIV positif akan menghancurkan segala buaian ibu pertiwi dikoyak oleh segerombolan orang harapan dan cita citamu. yang menganggap diri mereka suci, karena mereka Niluh, 28 tahun, Denpasar (Bali) menganggap jazad suamiku masih bisa menularkan virus. Bak, seorang astronot mereka berpakaian serba tertutup menggali kuburan suamiku dan mengangkat jasadnyanya bagaikan bangkai seekor anjing kudis ketempat kremasi. Suamikupun menjadi abu disaksikan puluhan orang bahkan sorotan kamera dari media. Berat. Tapi harus kujalani semua itu. Usiaku yang baru menginjak 21 tahun ketika itu tak menjadi alasan untuk aku hanya terdiam dan meratap. Ayu anakku adalah jiwaku. Dialah yang membuatku bangkit dari keterpurukan. Bangkit dan berani melawan segala bentuk tindak diskriminatif dari semua orang, dokter, keluarga bahkan media. Aku begitu terpukul ketika media membeberkan bahwa suamikulah kasus pertama HIV/AIDS dikota kelahirannya. Tak sepenuhnya salah media tentunya. Aku juga mengutuk dokter yang memberikan keterangan tidak jelas yang akhirnya menciptakan opini negatif di masyarakat Tanda tanya besar bagiku saat itu. Siapa yang harusnya aku percaya??? Dokter yang seharusnya bisa memberikan penjelasan medis yang BENAR terkait HIV/AIDS malah membuat kacau dan runyam. Pedih bahkan sakit hatiku. Aku dilahirkan di lingkungan keluarga yang sangat demokratis. Tak pernah ada kata “harus” ini dan itu dari mulut kedua orang tuaku. Mereka sangat bijaksana dan menghargai hak-hakku sebagai seorang perempuan dan manusia seutuhnya. Seperti satu contoh ketika aku memilih untuk menikah diusia 18 tahun dan masih duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan karena aku hamil dengan almarhum suamiku; Gusti. Aku belajar banyak hal dari kedua orangtuaku, termasuk bagaimana aku menghargai diriku sebagai seorang perempuan. Bagaimana aku mengenali diriku sendiri. Aku sadar, yang punya hak atas diriku seutuhnya adalah aku, tak ada orang lain yang berhak atas itu. Aku adalah aku. Seorang perempuan yang siap berjuang demi aku, hidupku dan jiwaku; Ayu. Pelan tapi pasti, aku mulai belajar tentang virus ditubuhku dengan membaca dan bertanya dari orang-orang yang mengerti tentang HIV/AIDS. Kini, aku telah memulai lagi kehidupanku dengan keluarga kecilku. Kini aku telah menikah kembali dengan lelaki yang tak hanya bermodal cinta tapi juga hati yang besar karena telah menerima aku dan Ayu seutuhnya. Dan Ayupun memiliki seorang adik dari lelaki yang kini menjadi ayah Ayu juga.

2001: Mendengar kalimat

“upnormal”

disertai diskriminasi

e k o l a h k u ; awal pen- j a j a h a n

Sd a n d i s -

kriminasi A p a b i l a s a y a bertemu lagi dengan guru yang berjengot ala gerilyawan itu saya akan membuat janji denganya dan membicarakan persoalan normal dan tidak normal yang pernah dia bahas di sekolah SMP I Lospalos terutama di ruang kelas 1SD. Guru bajingan itu membahas persoalan biologis yang bersangkut paut dengan gen-hormon-kromosom. Di kelas tersebut bajingan itu menjelaskan bahwa orang-orang yang kemayuan seperti saya adalah tidak normal dan orang yang suka berteman dengan perempuan adalah banci. Anjritt… dengan gampang si jengot itu memilah-milah manusia dan mengkategorisasinya ke dalam kolom diskriminatif dan seolah-olah dia telah melakukan praktek di laboratorium medis yang dilengkapi dengan peralatan medis untuk mengecek-mengetahui sel, gen, hormon, kromosom dan jaringan sistem yang ada pada setiap tubuh yang dikatakan sebagai tubuh-tubuh yang tidak normal. Namun satu hal yang dia lupa adalah dia sedang memegang buku biologi berwarna kuning untuk siswa/i SMP kelas 1, dan buku tersebut adalah peningalan kolonialisme kedua di Timor Leste yakni buku milik Dinas Pendidikan Indonesia dan berkurikulum 1994. Secara tidak langsung kata

r e f e r e n d u m y a n g diraih oleh masyarakat Timor Leste pada saat itu adalah hanya milik orang-orang H e te ro s ex, k a re n a di Timor Leste para LGBTQ belum merdeka...! Masih saja ada pelecehan terhadap kaum gay seperti yang saya alami disekolah saya waktu itu (wahhh tapi ini kayak mengharapkan pengakuan negara tas adanya LGBTQ, bagaimana kalau bagian ini di hapus saja karena saya juga tidak memerlukan negara untuk mengakui orientasi seks saya), dengan demikian si guru jengot ini dengan amat gampang menjajah karaketr individu-individu yang secara fisik melambay seperti saya pada waktu itu. Diskriminasi dari berbagai sumber Sebelum merasakan diskriminasi di sekolah, semua diawali dengan diskriminasi oleh orang tua saya dan kawan-kawannya di rumah saya sendiri dimana saya dilahirkan. Waktu masih duduk di bangku SD kelas 3 saya mengalami tekanan yang sangat luar biasa dari Tante dan Om saya dari pihak ibu. Setiap malam mereka memarahi saya untuk meniru gaya cowok-cowok yang menurut mereka bagus alias maskulin, dan saya harus melakukanya setiap saya selesai membaca buku PPKN yang diberikan oleh ibu guruku. Saya selalu membantah perintah Tante dan Om saya yang memaksa untuk

mengerakkan tubuh saya sesuai dengan gerakan tubuh yang mereka harapkan. Ya, mereka sunguh-sungguh tidak berhasil dalam hal pemaksaan fashion show maskulin yang mereka harapkan. Saya menangis dan merasa jengkel dengan perbuatan mereka tersebut, malam menangis dan pagi harus bangun lebih awal untuk mencuci kotoran yang lengket di piring, sendok, garpu, gelas, panic, garpu,wajan—membersihkan semua pekerjaan yang mereka sendiri kategorikan sebagai pekerjaan perempuan—maaf mereka sangat munafik dalam hal penilaiaan yang sangat bias atas pem-bias-an yang mereka ciptakan sendiri dengan alasan, Pertama: mereka akan bangun tidur dengan perasaan senang hati melihat hasil kerjaan saya. Kedua: mereka menginginkan saya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang saya tidak suka yakni belajar bertani dengan memangkas seluruh pohon yang menutupi bukit-bukit yang tampak hijau pada saat itu (mereka sangat bangga untuk membuka lahan baru dan membabat seluruh pohon dan hal tersebut merupakan satu kenikmatan dan kebanggaan tersendiri bagi kaum laki-laki di desa kami), Ketiga: kerabat keluarga maupun para tetangga memaksa saya untuk minum-minuman beralkohol plus merokok tembakau: joker, pohon sagu, larin capaku dari Poros dan rokok kretek lainnya. Keempat: mereka membatasi saya untuk berteman dengan teman-teman perempuan seusiaku, hal ini sangat menyakitkan, saya harus mengurung diri dan menjauhi diri dari anak-anak seusia saya. Kelima: mereka sangat marah kalau saya berkeluyuran dengan teman-teman cowok seusiaku.
Woyyyyyy.....bajigur kalian! Bingung gak!? Apa
sehhhh..... maunya orang-orang ini?.
Diskriminasi sejak SMP kelas 1 sampai tamat Tamat dalam arti tidak akan menjadi diri sendiri dan harus mengikuti apa yang diharapkan oleh orang tua saya dan kerabat, maupun tetangga-tetangga kami. Pemahaman mengenai gay-biseksual yang terpengaruh oleh ajaran biologi versi pemerintah atau kekuasaan para medis yang mengatakan bahwa gay itu tidak normal adalah apa yang dipercaya oleh teman-teman saya. Ya... tidak normal menurut siapa? Kalo bagi saya dan teman2 saya yang gay menganggap apa yang kami lakukan adalah normal dan tidak merugikan pihak manapun. Selama duduk di bangku SMP saya hanya berteman dengan 3 perempuan: Arb, Ang dan
Cor. Cuihhhh....... mereka bertiga adalah cewek-cewek
Joker dan pohon sagu: adalah dua merek tembakau dari Indonesia yang sangat digemari oleh para perokok di Timor-leste, Larin-capaku adalah tembakau Lokal di disctrict Lautem, Poros adalah salah satu daerah bagian sub-district Tutuala yang memproduksi tembakau—daerah ini berdekatan dengan danau Ira-Lalar/danau terbesar di Timor-leste yang akan dijadikan tenagan pembangkit listrik—dan bertentangan dengan isu lingkungan dan tempat tinggal masyarakat dan ladang masyarakat disekitar danau tersebut kemungkinan besar akan ikut tergusur.

yang terseksi di sekolah kami dan mereka sangat mudah mempengaruhi guru-guru kami untuk membocorkan
soal-soal ujian, guilaaa uenakkk...... bangedd berteman
dengan cewek-cewek cantik yang pinter membohongi dan merayu guru-guru tolol itu (sayapun bisa tinggal di kota gudeg ini atas bantuan m e r e k a, coba kalo mereka tidak mendapatkan soal-soal ujian dari guru-guru tersebut pasti saya gak bakalan naik kelas dan lulus, dan yang pastinya saya nggak tinggal di Jogja seperti saat ini). Ya, s a t u d i a n t a r a s e p u l u h orang pasti a d a g a y, l e s b i a n, biseks entah a p a p u n p a s t i ada! Nah, kamu mau p e r c a y a atau tidak i t u b u k a n urusanku! Saya sangat ingat dan sadar ketika masih duduk di bangku SD kelas 3 s/d tamat SD, saya telah melakukan ML/ seks dengan sesama cowok, mulai dari kelas tiga SD! T a h u n 1 9 9 8 : s a y a b e r h a s i l merayu satu cowok macho di kampung kami, namanya kita samarkan saja ‘MD’. Sekarang dia tinggal di Inggris dan terakhir kali dapat kabar bahwa dia mau menceraikan istrinya (husss…jangan-jangan dia doyan ama kontol-kontol bule yang supersize, so dia harus memutuskan hubungannya dengan istrinya hahhahahah kok jadi kayak gosipppp bajingan gini hahahahha……). Saya melancarkan rayuan gombal dan akhirnya saya menikmati tubuhnya. Anjriiiitttttt…. Gilaaa enak bangettt dan hubungan kami berlanjut terus sampai tahun 2000—akhirnya dia pindah ke Dili untuk bekerja

sebagai supir taxi. Ehhh…… akhirnya dia menikah, saya sebutkan ini adalah para biseksual dan gay yang sebelum menikah, dia sempat mempermalukan saya saya kenal di kampung kami. Dan menurut informasi di hadapan sebagaian besar orang dengan olok- yang saya dapat dari ’MD’, masih banyak yang lainnya
olokkan*”Woiii panleru!.....”.* Saya sangat marah karena
tapi mereka sudah pada menikah. Pada jamanya ’MD’ dia juga doyan sesama jenis hahahhaha….. Tapi pada sempat muncul istilah latihan ML, padahal yang terjadi s a a t i t u kok saya bego banget ya, kenapa adalah sodomi satu sama lain diantara para pemuda s a y a t i d a k h a n c u r k a n s a j a sekampung secara tertutup. hubungan dia dengan calon Diantara para laki-laki biseks yang paling saya benci istrinya waktu itu dengan adalah BLT yang akhirnya berhasil mengolok-olokku. memberitahukan bahwa Dengan topeng macho yang super tebal teman-teman dia seorang biseksual. se’gengnya tidak tahu bahwa dia sangat suka anal seks Dia sangat beruntung (suka di ent ama cowok). Saya mengetahui orientasi atas kepasifan saya yang seksnya si BLT sewaktu kami masih duduk di bangku SD seolah-olah menuruti kelas 6. Kami sempat beberapa kali ML di rumah Omnya

INI TIDAK AKAN HANYA TERJADI PADA BLT TAPI SELURUH GAY yang suka memakai topeng... Hati-hati saja karena suatu saat nanti topeng

itu akan membakar kalian (terasa pengap/sumukkkk....), dan pada
akhirnya kalian memutuskan untuk melepaskannya dan membuangnya

jauh-jauh

a n c a m a n y a u n t u k tidak membongk ar rahasianya dengan s a y a ( h h a h a h a h a jancoook…. ML aje di rahasiakan sampai bertahun-tahun). Selama backstreet’an dengan ‘MD’ saya juga ML dengan cowok-cowok seusiaku yang lain, yakni: JG, BLT, ANT, KLJ, DMJI, LTO, ST T, JACK ASST, dan MTO. Orang-orang yang Panleru adalah kata yang dipakai oleh orang-orang yang berbahasa Tetum (bahasa nasional Timor-leste) yang artinya banci. Dan sekarang kata panleru diperhalus-singkat menjadi:ALERU.(kalian akan mendengar nama orang-orang dengan awalan huruh A, seperti Amato, Alele, Abui,dll yang menunjukkan kelembutan dari orang yang menyebut/memanggil nama dan yang dipangil mempunyai relasi yang cukup dekat atau setidaknya salaing kenal, dan huruf A dihubungan dengan komunitas homoseks karena ada orang terpopuler di dunia hiburan (gay)Timor leste yang namanya menyerupaia nama2 yang saya sebut di atas dengan demikian munculah ALERU.

.

yang setengah jadi— dan agak jauh dari keramaian kota Lospalos. (Hahahahaha... biarlah rumah Omnya jadi saksi bisu atas kenikmatan yang pernah dia rasakan dari ujung penisku). Yang pastinya saya tidak akan pernah menyesali kelakuannya yang sok hetero dan ikut mencemooh kaum gay yang ada disekitarnya. Karena saya yakin sesungguhnya dia selalu menghayati orientasi seksnya yang cenderung homoseks, dan kepura-puraan dia akan menjadi belengu dan dia tidak akan pernah bebas dari dirinya sendiri. INI TIDAK AKAN HANYA TERJADI PADA BLT TAPI SELURUH GAY yang suka memakai topeng... Hati-hati saja karena suatu saat nanti topeng itu akan membakar kalian
(terasa pengap/sumukkkk....), dan pada akhirnya kalian memutuskan untuk melepaskannya dan
membuangnya jauh-jauh. Ehemmm saya bukan menyuruh kalian untuk coming out, tapi berhubungan dengan pengalaman ketika kita mempertanyakan keadilan yang muncul adalah keinginan untuk bunuh diri, karena yang namanya keadilan bagiku pertama kali dimulai dari diri sendiri (terimalah dirimu sendiri apa adanya—gay). Istilah dalam lingkar LGBTQ yang artinya adalah pengakuan secara terbuka pada orang-orang di sekitar/umum/public mengenai orientasi seksualnya.

Pengalaman di Jogja ika saya juga ikut-ikutan memakai topeng sewaktu masih di Timor Leste, itu karena pengetahuan saya tentang dunia homoseksualitas masih sangat minim dan Jogja adalah tempat yang sangat memungkinkan saya untuk membeberkan orientasi seks saya kepada orang-orang terdekatku (masyarakat surga Meces, sepupu-sepupuku & thanks berat untuk kawan Y.M). Hehehehe... mari kita terjun ke pengalaman seksku di Jogja: Tiba di Jogja pada akhir tahun 2006/November, tepatnya tanggal 11. Satu hari menuju hari pahlawan di Timor Leste dan mulai kuliah pada salah satu Universitas swasta. Pada bulan Januari semester 1 dan 2 (lupa) teman saya (sebut saja kelihatan cuocok banget, gay. Wah tapi kok ada rasa malu ketika dia menolak rasa hal ini disebabkan y a n g s a n g a t m i n i m yang melekat pada setiap ketika melihat cowok-cowok seusiaku, selalu m e r e k a j u g a p u n y a orientasi seks yang sama dengan saya, hehehhe gila kan! Pola pikir saya yang seperti ini hancur di Jogja ketika temanku si IRC menyuruhku untuk menyelesaiakan persoalan ini (kemarin sebelum kejadian itu, saya melihat dia membuat makalah yang intinya sangat menentang keberadaan kaum LGBT). Ok ini saatnya saya menerima diri saya sebagai gay. Ketika dia menyuruhku untuk menceritakan pengalamanku, ya saya membeberkan apa yang saya yakini benar sebelum hampir ML’an sama dia. Saya menceritakan kembali pengalaman saya di Timor Leste kepada dia, hahhahaha akhirnya dia menyuruhku untuk sering-sering berdoa karena menurutnya homoseksualitas
itu dosaaaaaaaa.......! (dosa menurut siapa? menurut
masyarakat heteroseks?!?) Saya tahu bahwa orang2 di kampus sangat terbuka yangnya masih banyak orang yang belum ada kesadaran gender dan mereka sering melecehakan orang2 gay lain dihadapan saya, ini diperkuat oleh ajaran agama yang

menganggap berhubungan sesama cowok itu salah-dosa. Belum lagi para medis menyatakan gay itu tidak normal, secara fisik saya normal tapi “hati” tidak, karena saya berbeda dengan orang2 kebanyakan, ya saya menyukai cowok!... (guilaa untung aku gak terjun dari lantai 4 hahahahahaha, pernah terjun seh tapi flying fox!) Setiap kali saya menyendiri di atap kampus dan mulai mempertanyakan orientasi seks saya, dan pada akhirnya saya tidak merasa bersalah ketika ikut mata kuliah SOSIOLOGI GENDER pada semester 4 dan semester 6, dilanjutkan dengan mata kuliah MEDIA GENDER DAN SEKSUALITAS. Kedua mata kuliah inilah yang menjadi salah satu acuan saya untuk membebaskan diri dari belengu topeng hetero yang ada pada otakkku. ketakutan orang-orang To h, o r a n g-o r a n g selera masing-masing macam apa yang mereka suka, jadi jangan sok

belum tentu juga teman-akan menyukai kalian keelokan manusia sangat sosok yang termasuk dalam tipe mereka, dan kamu cukup bilang bahwa kamu tidak menyukai sesama laki-laki. Pacaran untuk berpura-pura Kaum gay seperti saya ini ternyata kebanyakan yang menyukai hubungan/relasi kasih sayang seperti yang di bangun oleh orang-orang Hetero (ada peran ’laki-laki’ dan ’perempuan’ yang mengikuti definisi masyarakat yang patriarkis.-ed), dan hal ini sangat mempengaruhi saya. Tidak mungkin rasanya saya mendapatkan teman ML di Jogja. Sebagian besar mereka hanya mau ML, kalau tidak, ya pacaran. Dalam hal ini ada dua tipe gay yang sangat saya benci: 1) Mereka yang hanya ketemuan untuk ML dan pagi harinya ketika berpa- pasan di jalan (tempat publik), mereka pura-pura tidak kenal, 2) Gay yang berpacaran dengan relasi tertutup, hanya 1 pasangan saja (mono) alasan mereka ”untuk menjaga diri dari HIV/AIDS”, sementara saya tidak yang aman dan aku bukan sadomasokis yaaa (meski saya pengen coba juga sih). Bukankah ini menyerupai relasi yang dikontruksi oleh para kaum hetero. Sampai

2007, kira-kira diantaraToh, orang-orangTe r n y a t a i t u c u m a n saya hampir menyodomi homoseks juga h e te ro h o m o p h o b i a. namanya IRC) karena diapunya selerahomoseks juga punya tapi tenyata dia bukan mengenai tipe cowok masing-masing

ajakanku untuk ML, sayamengenai tipeHOMOPHOBIA, karena oleh pengetahuan saya cowok macam apa teman waria di jalanan tentang orientasi seksyang mereka suka,(semua orang tahu bahwa manusia. Parahnya lagi relatif ). Jika kamu adalah jadi jangan sok

dalam pikiranku bahwaHOMOPHOBIAmereka mengincarmu,

untuk membahas persoalan mengenai gay—tetapi samau karena saya menyukai sex yang liar-----tapi tetap

kapanpun saya tidak akan meniru hubungan seperti itu—ini bukan masalah open relationship tapi lebih menekankan pada rasa memiliki yang sering timbul dalam hubungan pasang—pasangan. (over protective tidak hanya terjadi pada relasi kaum hetero tetapi juga kaum homoseks) dan itu yang mereka bilang cinta!.
Makan tuh cinta.........!
Woyyyyy saya pernah menderita penyakit herpes,
hampir mati hahahaha....
gila! Untungnya saya terbuka dan mengunjungi s a l a h s at u

Puskesmas di daerah M a l i o b o r o -gang pertama dari stasiun Tugu, akhirnya terobati juga, makanya seks itu free tapi save (hahahaha entar pada ketakutan dan tidak melakukan persengamaan lagi, g a k u s a h d i ceritakan deh. Tapi yang pastinya saya sudah pernah m e r a s a k a n p e ny a k i t i t u d a n h u m m m m … badan nggak enak banget, namanya juga sakit! (sakit b e n a ra n b u k a n s a k i t y a n g d i k o n s t r u k s i o l e h m a s y a r a k a t u n t u k m e n y e b u t k a u m homoseks). Hahahahha…. kok ikut2an trend pacaran ya?! Tapi tidak ada salahnya karena saya ingin tahu bagaimana dua orang gay membangun hubungan yang tidak beda jauh dari relasi orang-orang hetero. Dan ternyata pacarku, ya pacaraku saat ini terlalu care sama saya dan selalu ingin untuk menikmati tubuhku setiap saat. Ok saya mencoba untuk membangun rasa setia terhadapanya (Right…. Ini merupakan fase krisis yang aku alami saat ini), saya mengatakan bahwa saya tidak suka untuk pacaran tapi bagaimana lagi karena gay saat ini banyak yang pengen menikah, hado- hhhhh…… No! Saya tidak akan menikah den-Bentuk hubungan yang terbuka, dimana masing-masing dibebaskan untuk menjalin hubungan dengan yang lainnya. Hubungan seperti ini mengharuskan kesepakatan bersama dan keterbukaan dari semua pihak, semua pihak saling tau dan setuju.

gan pacarku ini, kami akan menjalankan hidup ini dengan suka cita tanpa embel-embel apapun. Untuk masalah open realtioship (wahh beradddttthhhh... karena dia hanya ingin menikmati tubuh saya saja tanpa orang lain bisa menikmatinya), saya punya keinginan yang mengarah ke open relationship. Penutupan saja yahhh….. Sekarang saya sudah punya pacar tapi saya tidak suka dengan hubungan semacam ini. Kalau ada teman-teman anarkis a t a u teman2 lain yang berorien-tasi seksual seperti saya… hum-mm kayaknya seruuu tuhhh kenalan sama kalian. Yang pastinya hubungan yang terbangun di antara kita-kita akan sangat bagus-kuat dibanding relasi-relasi gay yang ”ikut-ikutan” dengan kaum hetero. SEX IS A DILEMA COZ THERE IS NO FAIR DECISIONS BETWEEN US. U WANTS FREE SEX N’ FORGET SAFETY— U NEED TO PROTECT UR OWN BODY FROM SEVERAL DISEASE.

WITH LOVE xxxxxPOUKxxxxxx

*Pouk, usia: 24 menjelang 25, marital satus: nggak butuh menikah cukup berteman saja (teman tapi tidak perlu mesra2an setiap saat). Warna kulit sangat hitam, lebih hitam dari pada hitamnya arang! Apakah kamu tertarik? (lohhh… kok kaya ajang promosi diri gini?!? Tapi kalau beneran tertarik silahkan hubungi nomor saya melauz editor zine ini). Untuk saat ini saya sangat ingin berkenalan sama teman2 Anarkis yang queer/ gay, cuma pengen kenalan saja dan teman ngobrol, bukan untuk ML (kalo iya pun gak apa2 hehehe, tapi itu berada di urutan ke berapa saya tidak tahu). Saat ini saya terjebak masuk kedalam satu kuil yang dinamakan Universitas. Salah satu universitas katolik di Jogja

[Email darinya, dibelahan samudera sana…] Subject: Re: today... From: [email protected] Date: Sun, February 20, XXXX 9:26 am To: [email protected] Priority: Normal Options:

View Full Header Address Book View Printable Version Download this as a file Add to
Re: today... [email protected] “xxx” [email protected] Normal View Full Header it has been many days since i haven’t heard any news from you Sun, February 20, XXXX 2:53 pm sudah beberapa hari berlalu sejak aku tidak mendengar kabar apapun darimu View Printable Version Download this as a file Add to
Address Book

i’m worried. tell me something. loads of love,

i. aku khawatir katakan sesuatu padaku dengan penuh cinta,
i. [balasanku…] Subject: From: Date: To: Priority: Options: My fears, that spoke in dream // Ketakutanku, yang berbicara melalui mimpi Today (well actually yesterday) i had a dream... // Hari ini (sebenarnya kemarin) aku bermimpi… I was sailing alone in a small boat // Aku berlayar sendirian dalam sebuah perahu kecil in strange island where everything seems unfamiliar for me // di sebuah pulau dimana semuanya tampak asing bagiku Peoples, landscapes, architectures, everything is so unfamiliar for me // orang-orangnya, pemandangan, bangunan, segalanya tampak asing bagiku There were lots of brown skin peoples, but not like indonesian, more like latin peoples. Also some white peoples in that island // Banyak orang berkulit coklat, tapi bukan seperti orang Indonesia, lebih seperti orang-orang Latin. Juga beberapa orang berkulit putih di pulau itu I feel afraid and alone, because i don’t know anyone and everything is odd // Aku merasa katakutan dan sendirian, karena aku tak mengenali siapapun dan semuanya tampak aneh My boat finally stop and i walk in some kind of village // perahuku akhirnya berhenti dan aku berjalan menuju semacam perdesaan Small houses, lots of white and bright colors // rumah-rumah kecil banyak sekali warn-warna putih dan cerah The weather is so warm and moist // udaranya sangat hangat dan lembab Still every image is new for me // namun setiap pemandangan masih tampak baru bagiku I arrive in a small house // aku tiba di sebuah rumah kecil I saw u lying on the floor // Aku melihatmu berbaring di lantai U only wear short without shirt // kamu hanya menggunakan celana pendek dan telanjang dada Ur hair is blonde! // rambutmu pirang! I’m so happy & relieved to see u // aku begitu senang dan lega melihatmu Because i finally found someone i know // karena akhirnya aku bertemu seseorang yang kukenal I called ur name out loud // aku memanggil namanu dengan keras But what happen when u see me? // tapi apa yang terjadi ketika kamu melihatku? U don’t know me... // kamu tidak mengenaliku i wake up from my sleep, and my eyes already wet... // aku terbangun dari tidurku, mataku telah basah oleh air mata…

My broken pledge // Sumpahku yang hancur I’ve made a pledge years ago // aku membuat sumpah bertahun-tahun yang lalu of not having a child // untuk tidak memiliki anak I won’t deliver any human from my womb // aku tidak akan melahirkan manusia dari rahimku I keep that pledge all this time // aku menyimpan sumpah itu selama ini But i broke it // tapi aku melanggarnya Now, that pledge is torn apart // kini sumpah tersebut terkoyak sudah Like a piece of paper burnt and turn into ash // seperti selembar kertas terbakar dan menjadi abu And the ash flew, carried by the wind // dan abunya terbang, terbawa angin I’ve made a pledge // aku membuat sumpah I’ve political decision and statement over my body // aku membuat pernyataan dan keputusan politik terhadap tubuhku I’ve control my body // aku mengontrol tubuhku Until the moment came, when i start being reckless // hingga saat itu datang, ketika aku mulai lalai I started being ignorant and taking it too easy // ku mulai mengabaikan dan menyepelekannya I loosen out my belt... // aku mengendurkan ikat pinggangku Though i made strong decision // meski aku telah membuat keputusan kuat Though i made political statement over my body // meski aku telah membuat sikap politik terhadap tuuhku Still... // namun tetap… I shake when i felt and pull something from my vagina // aku bergetar ketika aku merasakan dan menarik sesuatu dari vaginaku I cry so strong when i saw a fetus came out from my vagina // aku menangis begitu kuat ketika aku melihat janin keluar dari vaginaku Around 6cm, dark blue purple fetus on the toilet floor // sekitar 6 cm, janin biru tua ungu di lantai kamar mandi I break down and cry // aku terjatuh dan menangis In front of my dead fetus... // dihadapan janinku yang tak bernyawa Tears comes from my eyes every time that image appears in my mind // Air mata keluar setiap bayangan itu hadir dalam benaku I can’t control it, it just always appears in my mind // aku tak dapat mengendalikannya, ia selalu hadir dalam benaku In many situation // dalam segala suasana When i eat, when i watch films, when i hang around peoples in the house // ketika aku makan, menonton film, ngobrol dengan teman2 serumahku Then it came moments where i feel numb and flat // dan tibalah saat ketika aku merasa datar dan mati rasa No emotion at all // tanpa emosi sama sekali Like dry leaves fall from the tree... // seperti daun kering yang jatuh dari pohon I still feel the pain // aku masih mersakan lukanya The horrible time after i take the pills // momen mengerikan setelah aku meminum pil-pil itu The most painful hours i ever felt in my life // waktu yang paling menyakitkan yang pernah kualami dalam hidupku I still see that image // aku masih melihat bayangan itu Of my dead fetus lying on the cold toilet floor... // janinku yang tak bernyawa tergelatak dilantai dingin kamar mandi…

m.

[balasannya kemudian…] Subject: Re: today... From: [email protected] Date: Sun, February 20, XXXX 9:26 am To: [email protected] Priority: Normal Options: View Full Header | View Printable Version | Download this as a file | Add to Address Book Something fell out of your body. // sesatu keluar dari tubuhmu A part of your body. // sebagian dari tubuhmu It looks like a flower // ia tampak seperti bunga But it comes with the thickness of a black hole // tapi ia keluar bersamaan dengan kepekatan lubang hitam It swallow your thoughts // ia menelan pikiranmu Sucks in the rays of light // menghisap sinar cahaya Turns thoughts towards itself // merubah pikiran dengan sendirinya Draws pictures with itself in the middle of all the pages // menggambar dengan sendirinya ditengah keseluruhan halaman Its always it’s preferred position // selalu itu posisi yang dipilih Strange new thing came to your life // hal baru datang dalam hidupmu It confuses you, // hal ini membingungkanmu Searches for your eyes to bring them tears // membuat matamu mengalirkan air mata Is this thing you? // Apakah ini kamu? It feels so… // rasanya demikian… Seems that it’s you who fell out at this cold bathroom floor // rasanya itu adalah sebagian dari dirimu yang terjatuh di lantai dingin kamar mandi Now you need to find a way back to the rest of yourself // kini saatnya bagimu untuk menemukan sisa dirimu yang lainnya Back to your own hands and feet // kembali pada tangan dan kakimu sendiri Back to your own eyes and mouth // kembali pada mata dan mulutmu sendiri It’s scary to loose a part of your body // mengerikan rasanya kehilangan sebagian dari tubuhmu It is a part that i will never loose // itu adalah bagian yang tak akan pernah kuhilangkan And i will never have // dan tak akan pernah kumiliki But, what is it? // tapi apakah itu? Why does it need the whole attention? // kenapa hal ini menyita perhatian begitu besar Why do you hear its screams, // kenapa kamu mendengarnya berteriak That are your lips that are screaming // yang membuat mulutmu berteriak That are your eyes that are wet // yang membuat matamu basah It’s you who feels the pain // kamulah yang merasakan luka itu But it’s also you, who is the cure… // dan kamu jugalah, sang penyembuh… You got sick // kamu terluka Then you got diagnosed // kemudian kamu didiagnosa Then you started the treatment // kemudian kamu mulai penyembuhannya That painful treatment, // penyembuhan yang menyakitkan itu That tests your phisical strength // yang menguji kekuatan fisikmu Your body already made it through the biggest difficulty // tubuhmu sudah mampu melewati kesulitan terbesar Now you need to take care of your soul // kini saatnya untuk menjaga jiwamu Come back to see the whole of you, // melihat kembali keseluruhan dirimu Not only the missing part // bukan hanya bagian yang hilang That stranger is not longer you // sosok asing itu bukanlah lagi dirimu

It’s never ment to be there // ia tak pernah ingin berada disana It didn’t give you choice when it came /. Ia tak memberikanmu pilihan ketika hadir It didn’t ask // ia tidak bertanya You still feel weak and vulnerable, // kamu masih merasa lemah dan rentan It tried to steal your mind on the way out // ia mencoba mencuri pikiranmu dalam mencari jalan keluar It was always you // selalu kamu And you are still there // dan kamu masih disana Find your own beauty back // temukanlah kembali keindahanmu And don’t forget to look outside // dan jangan lupa untuk melihat diluar sana The world around you is full of miracles // dunia disekitarmu penuh dengan keajaiban It’s full of suferring too // penuh dengan penderitaan juga Let your eyes see them both // biarkan matamu melihat keduanya Take your time if you need, but don’t forget // ambilah waktu yang kamu perlukan, tapi jangan lupa That you need fresh air // bahwa kamu membutuhkan udara segar If it feels that you’re trapped in the labirynth of thoughts // jika kamu merasa terjebak dalam labirin pikiran Look up at the sky. // lihatlah langit There is no roof in the maze, // tak ada atap dalam angkasa You can go out anytime // kamu bisa keluar kapanpun The sky in its endlessness, it’s calm // langit dengan keabadiannya, ia tenang You are the one you choose to be. // kamulah yang memutuskan ingin menjadi apa love and strength // dengan cinta dan kekuatan

i.

[surat dari kawan lain…] Subject: RE: :( From:“xxx” [email protected] Date: Wed, February 16, XXXX 5:15 am To: [email protected] Priority: Normal Options: View Full Header | View Printable Version | Download this as a file | Add to Address Book Dear xxx, I am glad to hear that you are resting and that you are physically fine. I know that it is hard to see the fetus come out. That is something that every woman deals with in her own way and i wish i had a magic cure to make that part of it easier. Time will help you deal with the whole experience and also having people around to support you. It is important to take good care of yourself physically and mentally. remember that you are strong and that you made the best decision you could have made in your circumstances, and that you are not alone. 2 million women have abortions every year in Indonesia and this makes it a very common experience among women, which does not make it easy, but it does mean something that so many women go through this. It is normal to have a lot of mixed feelings after an abortion. It will take some time to process it all, and it is good to give yourself the time you need, but also be sure to get plenty of exercise and go outside into the sun. How are things with your partner? Is he being supportive? It is great that your friends could be with you. Feel free to write me as often as you want!! From here i send you a great big hug!! love,

S. Dear xxx, Aku senang mendengar kamu beristirahat dan secara fisik kamu terus membaik. Aku tahu berat sekali melihat janin yang keluar. Ini adalah hal yang harus dihadapi oleh setiap perempuan dengan caranya sendiri, dan seandainya saja aku memiliki penyembuh ajaib untuk membuatnya lebih mudah. Waktu akan membantumu melewati seluruh pengalaman ini dan juga dengan orang-orang yang mendukungmu disekitarmu. Penting sekali untuk menjaga dirimu secara fisik dan psikologis. Ingatlah bahwa kamu kuat dan kamu telah membuat keputusan yang terbaik dalam hidupmu, dan kamu nggak sendirian. Sekitar 2 juta perempuan di Indonesia melakukan aborsi, dan ini menjadikannya sebagai pengalaman yang umum diantara perempuan, yang memang tidak berarti mudah juga, tapi ini artinya banyak perempuan yang melalui hal ini. Wajar untuk merasakan banyak emosi estela aborsi. Perlu waktu untuk memproses semua ini, dan bagus untuk memberikan waktu yang kamu perlukan bagi dirimu sendiri, tapi pastikan kamu banyak berolahraga dan keluar melihat matahari. Bagaimana dengan pasanganmu? Apakah ia mendukungmu? Bagus sekali teman-temanmu berada disekitarmu. Kamu bisa mengirm surat kapanpun kamu mau! Dari sini aku mengirimkan pelukan yang kuat! Dengan cinta, S.

Subject: Re: today From:[email protected][email protected] Date: Fri, February 11, XXXX 5:51 pm To: [email protected] Priority: Normal Options: View Full Header | View Printable Version | Download this as a file | Add to Address Book

hey, i’m sorry that i didn’t get online to send you emotional support yesterday... i was on my way to kl, and i arrived very late. But anyway, now i send you some very big electronic hugs (i dunno how many megabytes), and i hope that it all went well, and that you remember to do something nice to relax after this, and i hope that all your friends give you the same support as you give them when they have these problems... it’s good to hear that you got the medicine you needed fast. i’m so sorry i didn’t take it from S! i’m sure it goes well, but just in case there are any complications afterwards-don’t you dare ignore them, always check it out!!! and take care of yourself, dammit... hopefully you feel physically better after this and you get your energy back, but don’t let yourself be dragged down by the stress of this problems... it’s really important!!! let me know how it went yeah, miss you, love you lots, and some more big big hugs...

S. Hey, Maaf aku nggak online kemarin untuk kirim dukungan emosional buatmu. Aku sedang dalam perjalanan menuju KL, dan aku terlambat banget. Tapi aku kirimin kamu pelukan elektronik yang besar banget (aku nggak tau deh berapa megabyte), aku harap semuanya berjalan baik-baik aja, dan aku harap kamu jangan lupa untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan santai setelah ini semua, dan aku harap teman-temanmu memberikan dukungan yang sama seperti kamu mendukung mereka ketika menghadapi situasi-situasi seperti ini… Aku senang kamu mendapat obat yang kamu perlukan dengan cepat, aku sangat menyesal waktu itu tidak mengambilnya dari S. Aku yakin semuanya akan berjalan lancar, tapi kalau ada komplikasi setelahnya, jangan kamu mengabaikannya, segera periksa!!! Dan jaga diri kamu baik-baik, sialan… semoga keadaan fisikmu membaik setelah ini dan mendapatkan kembali energimu, dan jangan biarkan dirimu terlarut dalam permasalahan ini, ini penting sekali!!! Kabarin aku yah bagaimananya, Kangen kamu, sayang kamu banget, Dan tambahan pelukan besar lagi…
S.

FACT SHEET

You need to know

ABORSI & KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan)

  1. Setiap tahun 42 juta (22%) perempuan melakukan aborsi. 19 juta-nya dilakukan secara ilegal. Dan 68 ribu perempuan di setiap tahun meninggal akibat komplikasi aborsi tidak aman. (Women on Web)
  2. Aborsi merupakan prosedur kesehatan yang paling umum dilakukan oleh perempuan diseluruh dunia, namun banyak perempuan tidak memiliki akses terhadap layanan aborsi aman sehingga membahayakan kesehatan da hidup mereka.
  3. 1 dari 300 perempuan meninggal dunia karena aborsi tidak aman, secara global 70.000 perempuan di dunia meninggal dunia sia-sia setiap tahunnya karena praktek aborsi tak aman ini.
  4. Tingginya angka kematian perempuan justru terdapat di negara-negara yang melarang aborsi (seperti Indonesia). Sekitar 25% dari penduduk dunia hidup di negara dengan undang-undang aborsi yang sangat ketat, terutama di Amerika Latin, Afrika dan Asia. SISTEM REPRODUKSI
  5. Menstruasi adalah proses dimana sel telur dilepaskan dari salah satu ovarium, umumnya terjadi pada perempuan usia remaja (meski dalam beberapa kasus perempuan mengalaminya lebih dahulu atau terlambat)
  6. Selama menstruasi, dinding rahim dipenuhi oleh darah hingga ke vagina, siklus menstruasi biasanya berlangsung selama 28 hari
  7. Sekitar 85% perempuan yang aktif secara seksual dan tidak menggunakan sistem kontrasepsi mengalami kehamilan dalam kurun waku setahun
  8. Kesehatan Reproduksi: Keadaan sejahtera secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata- mata terbebas dari penyakit dalam semua hal yang berkaitan dengan alat, fungsi, sistem reproduksi, dan prosesnya. (WHO)
  9. Di antara perempuan dan laki-laki berumur 15-24 yang telah melakukan hubungan seksual, 45% dari mereka melakukannya karena didorong rasa ingin tahu, 38% melakukannya karena terjadi begitu saja, dan 7% dari responden perempuan melakukannya karena ingin menikah dengan pasangannya. (Indonesian Young Adult Reproductive Health Survey, 2007)
  10. Setiap tahun diperk irak an ada 2.000.000 penghentian kehamilan, yang berarti sekitar 37 perempuan dari setiap 100 perempuan usia subur 15-49 tahun membutuhkan pelayanan penghentian kehamilan yang bisa menyelamatkan mereka dari risiko perdarahan dan infeksi yang bisa berujung pada kematian (YKP & Budi Utomo, 2001)
  11. Kehamilan yang tidak diinginkan paling banyak terjadi pada perempuan istri yang berusia muda (15-19 tahun) yang mencapai 50,9 persen dari jumlah 1.563 perempuan menikah usia subur yang disurvei. (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, 1997)

bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai/ dikehendaki korbannya. Tindak kekerasan psikologis/jiwa adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau menekan emosi korban. Secara kejiwaan, korban menjadi tidak berani mengungkapkan pendapat, menjadi penurut, menjadi selalu bergantung pada suami atau orang lain dalam segala hal (termasuk keuangan). Akibatnya perempuan menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan atau bahkan takut.

  1. Perundang-undangan Indonesia, termasuk Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), mengandung sejumlah ketetapan yang membatasi akses terhadap hak-hak seksual dan reproduktif, atau memiliki dampak menakutkan dalam pemberian informasi serta layanan kesehatan seksual dan reproduktif. KUHP Indonesia mengandung ketetapan-ketetapan hukum yang mempidanakan pemberian informasi kepada orang sehubungan dengan pencegahan dan penghentian kehamilan (lihat Pasal 534, 535 dan juga 283). Hukuman berkisar antara dua sampai sembilan bulan penjara. Selain itu, pasal 299 KUHP menjatuhkan hukuman sampai empat tahun penjara kepada siapa pun yang mengobati seorang perempuan, yang menyebabkan gugurnya kandungannya atau yang membuatnya mendapat pengharapan bahwa pengobatan itu membantu menggugurkan kandungannya (sebagai contoh kontrasepsi darurat). (Left Without a Choice, Reproductive Health in Indonesia, Amnesty International, 2010)
  2. Tingkat kebutuhan yang tak terpenuhi untuk layanan dan informasi keluarga berencana serta kontrasepsi di kalangan perempuan dan gadis yang menikah masih tetap tinggi, khususnya di antara mereka yang hidup dalam kemiskinan. Ada pembatasan yang signifikan atas akses perempuan dan gadis yang menikah terhadap layanan serta informasi keluarga berencana. Ini sebagian disebabkan oleh adanya persyaratan untuk mendapatkan persetujuan dari suami. Dalam UU Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pilihan atas kontrasepsi bukanlah tergantung pada satu individu saja. (Survei Demografis dan Kesehatan, 2007)
  3. Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan yang menjadi sasaran hingga menimbulkan reaksi negatif: rasa malu, marah, tersinggung dan sebagainya pada diri orang yang dilecehkan. Pelecehan seksual terjadi ketika pelaku mempunyai kekuasaan yang lebih dari pada korban. Kekuasaan dapat berupa posisi pekerjaan yang lebih tinggi, kekuasaan ekonomi, “kekuasaan” jenis kelamin yang satu terhadap jenis kelamin yang lain, jumlah personal yang lebih banyak, dsb.
  4. Korban kekerasan terhadap perempuan: 5,82% adalah anak perempuan (di bawah 18 tahun), 42,55% ibu rumah tangga, 49,09% pekerja, 8,36% yang tidak bekerja. (Mitra Perempuan, 2008)
  5. Pelaku kekerasan tersebut 76,98% adalah suami, 6,12% mantan suami, 4,68% orang tua/saudara, 9,35% pacar/teman dekat. (Mitra Perempuan,
    2008)
  6. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
  7. Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk: -Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya. -Tindak kekerasan non-fisik adalah tindakan yang Kekerasan Terhadap Perempuan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang

Semestaku Menjaganya

Yang pertama terlintas dalam pikiran gue adalah: gue ga punya duit, untuk membiayai kehamilan, maupun aborsi, gue gak bisa minta bantuan siapa-siapa (waktu itu mikirnya sih gitu), dan gue gak
mampu berpikir lebih jauh lagi kecuali....
menikah dan mengikuti aturan-aturan lainnya seperti yang tertulis dalam buku : ‘Panduan Bagi Kasus Dipercepatnya Rencana Kehamilan Untuk Remaja yang -sialnya-Tinggal di Indonesia, Belum Menikah, dan Belum Siap’ dan gue menurutinya. Gue menikah dengan si Bapak biologis. Dan itu adalah kesalahan, meski gue gak menyesali apapun, kecuali ketidaksabaran gue pada saat itu untuk have sex daripada beli kondom dulu di minimarket terdekat. Ini soal sex, ok? Dan puji syukur kepada Tuhan, sex itu menyenangkan! Hallelujah. Gue sempet mikir, mestinya nggak usah nikah aja. Menikah tuh gila bangets! Karena ternyata, si Bapak biologis ini nggak punya visi misi yang selaras dengan yang gue pikirkan. Apapun yang kami lakukan waktu itu, gue sama sekali ngga punya ide apapun tentang apa yang diinginkan si Bapak biologis ini, tidak sedikitpun. Sejak gue memutuskan untuk meneruskan kehamilan ini, sepertinya dia tidak sepakat. S e p e r t i n y a. Parah banget kan? Sampe hal mendasar kaya gitu aja gue gak tau. Gue bahkan tidak mampu berkomunikasi secara semestinya dengan si Bapak biolgis ini setelah kehamilan itu terjadi. Dan yang lebih a ada deh yang lebih membuat gue terdiam buruk lagi, meski kami mengikuti panduan buku tadi
selama satu menit selain....menatap dua garis itu (ya udah sih, bayangin aja bukunya ada deh yaaa),
merah pada tespack yang biasanya bergaris kami gak betul-betul membuat sebuah komitmen yang

Gmerah satu saja, berkali-kali sebelum ini. disepakati bersama. Itu adalah kesalahan TERBESAR

Sialan! Gue hamil!! *nyengir :D dalam hidup gue. Mudah-mudahan dia membaca Yaah kalo gitu, mari kita bicarakan soal tubuh yang ini, dan gue cuma mau lo tau, wahai Bapak biologis, berubah, juga hal-hal gila yang mengikutinya, di luar yang dari dulu gue bilang, “kita harus bicara, kita harus tubuh, di luar kuasa, seperti halnya kendala bahasa bicara,” adalah membicarakan ini, gitu lho. KOMITMEN!! dalam ruang angkasa. -_-” ahahahaa...garink ah! Dan komitmen bukanlah tuntutan, seperti yang lo

takutkan terus, seperti yang lo pikir bahwa itu semua adalah permintaan gue doang yang mesti dipenuhin. Hellooow, salah satu sperma lo udah sukses menembus lapisan terluar dari ovum gue lalu mengirim konten ‘data’nya ke dalam dan bertemu dengan ‘data’ milik gue, dan sesuatu mulai terjadi lalu membelah terus-menerus sampai mereka membentuk embrio, lalu fetus, lalu mewujud menjadi seorang BAYI!!! Gue mengalaminya dengan tubuh gue sendiri, gue menjaganya dengan daya

gue sendiri. Gue membawa sesuatu yang gue lindungi kemanapun,

sepenuh hati, seorang diri. Meskipun bayi itu tumbuh menjadi seorang anak
yang luar biasa sekarang..........
Ya suamiku, kita punya kehidupan cinta yang menyebalkan, begitu juga dengan kehidupan sex kita. Gue gak mau ya disentuh lagi sama lo, karena gue gak mau punya kehidupan yang menyakitkan kaya begini lagi gara-gara have sex sama lo. Ini bukan balas dendam. Coba tolong mengerti sedikit, bahwa ini -sejenis- trauma. Bahwa ketidak-inginan melakukan ini semua terpancar juga dalam sikap lo sehari-hari. Dan gue berani bertaruh, lo gak akan mengakui itu. Yang penting bagi lo hanyalah, lo terlihat berusaha bertanggung jawab di depan semua orang. Bilang sana sama nurani lo, kalo lo masih punya hati. Dan sejak lo seakan-akan mengatakan “kalo tau begini mendingan gue gak ML sama lo dulu,” gue gak bisa lagi memaafkan semua hal itu, meskipun lo menyesalinya pun, itu tak akan merubah apa-apa. Hhhffttt. Anyway kehamilan ini -secara fisik ngga sulit, untungnya gue bisa nikmatin banget perubahan-perubahan fisik yang keren, kaya ngerasain si bayi nendang-nendang, ngelitikin gue gitu, ato nonjok- nonjok marah. Rasanya luar biasa. Dan sampe sekarang pun gue masih terkagum-kagum dengan segala komunikasi unik tersebut. Waktu hamil adalah waktu dimana gue menikmati banget fasilitas-fasilitas khusus ibu hamil. Naik kendaraan umum dikasih duduk, naik lift didahuluin, bawa barang dibantuin, naik ojek digratisin, jalan lama ditungguin. Semua orang tiba-tiba jadi baeeek banget. Meskipun, hal-hal esensial yang berada dalam lingkaran pertama, justru merong-rong gue habis-habisan. Orang tua jelaaas nggak ngedukung lagi apapun yang gue lakukan. Dan jujur aja, sejak lama juga gue udah capek sama pertengkaran mereka, jadi mereka nggak lagi jadi panutan gue lah. Meskipun kedengarannya tetep aja salah, tapi sesuatu yang gue rasain di dalam hati terhadap mereka udah gak bisa diperbaiki lagi. Ya udah sih yaa, moving on aja lah yaa.

Jadi satu-satunya yang bisa gue andalakan adalah, si Bapak biologis dan gue sendiri. Gue memilih untuk nerusin kehamilan. Gak tau deh kenapa keinginan itu yang paling kuat rasanya dibanding dengan pilihan membatalkan kehamilan (menggugurkan) lalu hidup lagi seperti biasanya. Meski itu terlihat lebih mudah, dan murah. Saat itu seperti ada kekuatan yang ‘perempuan sekali’ yang sangat kuat, yang mengatakan pada diri gue bahwa tubuh gue membolehkan dirinya untuk ditumbuhi sebuah nyawa. Seperti secara instingtif lo bakal memberi salah satu buah apel enak kepada anak kecil yang menatap buah itu terus-terusan di kantong belanja lo, dengan ‘kekuatan alam’ yang sama, gue diyakinkan
bahwa kehamilan ini layak diterima apa adanya.....maka
dimulailah semua. Secara naluri, gue merasa kehamilan adalah hal yang natural yang paling bikin gue ngerasa perempuaaan banget, ngerasa mampu menerima apapun yang ada di dalam tubuh gue sendiri. Gue mengalaminya dengan tubuh gue sendiri, gue menjaganya dengan daya gue sendiri. Gue membawa sesuatu yang gue lindungi kemanapun, sepenuh hati, seorang diri. Meskipun begitu, ada banyak banget loh hal-hal yang bikin gue mikir untuk aborsi aja. Tekanan dari sana sini, ditambah sibuknya pikiran merencanakan banyak hal yang membuat gue gak betul-betul meliburkan hati dan berbicara dengannya secara intim. Aborsi seringnya menjadi jalan yang muncul di pikiran, hanya ketika sebuah tekanan yang tak tertahankan datang. Tapi entah kenapa, gue selalu kembali yakin banget dengan pilihan untuk meneruskan kehamilan ini. Dan gue juga tau kok, gak akan ada hadiah di akhir pertaruhan gila semacam ini, gue gak bisa mengharap kemewahan seperti hati yang lega dan bebas dari masalah, jika gue

gue selalu menyelipkan waktu ‘hening’ untuk gue sendiri. Betul-betul bertanya pada diri gue sendiri apa yang paling

tubuh gue inginkan untuk lakukan.

memilih meneruskan kehamilan hanya agar terkesan gue baik di mata kalian semua. Nggak, bukan itu. Gue tau resiko di depan itu menakutkan, gak kebayang banget deh kalo gue yang gak punya duit sepeser pun gini bisa menghidupi seorang bayi. Tapi ya gue selalu menyelipkan waktu ‘hening’ untuk gue sendiri. Betul-betul bertanya pada diri gue sendiri apa yang paling tubuh gue inginkan untuk lakukan. Terus terang aja sih, penilaian orang lain terhadap kejadian hamil sebelum menikah sedikit membuat gue grogi dan gak percaya diri, meskipun gue menaruh perhatian sangat banyak kepada kesehatan gue dan si bayi. Dan gue bersyukur banget sudah memilih meneruskan kehamilan itu, bukannya melakukan aborsi. Gue gak tau apa yang bakal terjadi seandainya gue melakukan itu, tapi setelah gue hidup dengan anak kecil ini, dengan segala hal-hal baru yang gue temukan bersamanya, gue yakin, gue bakal menyesal banget telah menggagalkan kehamilan. Ga bakal gue ngedapetin momen-momen menenangkan hati saat si bayi menyusui, saat mendengarnya mengucap “Buuu” di umur 3 bulan, saat kami berantem lalu belajar saling meminta maaf, saat komunikasi nyata terjadi tanpa kami berbicara. Gak ada yang bisa menggantikan itu semua, dan masih banyak hal yang ga mungkin cukup ditulis di sini. Jadi, temen-teman perempuanku yang sedang hamil di luar nikah dimanapun kamu berada, biarkan semua hal terjadi dan menyeru kepadamu, tinggalin orang-orang atau hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hatimu, dan dengarkan lebih dalam lagi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan dalam hidup. Tanya lagi hatimu, karena jauh di dalam sana ada seburuk-buruknya lingkungan di luar memperlakukanmu.

Hanya kamu yang merasakan tubuhmu sendiri, bahwa kamu

gak pernah sendirian. jawabannya, seburuk-buruknya lingkungan di luar memperlakukanmu. Hanya kamu yang merasakan tubuhmu sendiri, dan ada satu hal yang membuat gue selalu merasa lebih kuat dari sebelumnya, gue selalu ngedapetin keyakinan entah datangnya dari mana di setiap gue merasa kalah. Mereka semua, teman-

teman, meski gak tau bagaimana caranya membantu gue, mereka hanya ada untuk gue, mendengar semua kebingungan gue dan menguatkan gue. Jadi, cari seseorang yang sangat kamu percaya, dan yakin bahwa kamu gak pernah sendirian.
Yang gue dapet sih.... gue jadi tau bagaimana
rasanya mencintai diri sendiri, merasa cool menjadi diri sendiri, belajar untuk mencari daya dari dalam diri gue sendiri, dan sekarang, gue bersyukur banget dengan apa yang udah terjadi kemarin. Gue masih benci banget sama suami gue, tapi gue terus mencoba untuk berfungsi. Gue kan juga istri, seseorang yang
mendambakan pasangan, entah kenapa gue ngerasa.....
sebagai manusia, secara naluriah gue tetep bisa peduli dan menjadi temannya, dan gue masih berteman baik sampai saat ini. Masih banyak banget pekerjaan rumah yang harus kami beresin bersama-sama, dan betapa menyenangkan melakukannya bersama seorang partner. Tapi dia bukan orang yang mampu membuat gue bahagia. Gue belajar, bahagia gak akan pernah gue dapetin dari pengharapan-pengharapan yang dibebankan kepada sesuatu di luar kita. Dan sampai sekarang pun, gue masih belajar untuk menemukan rasa kebahagiaan yang muncul dari dalam diri gue sendiri.
Jadi, kamu.....jangan takut ya.... Temukan kedamaian
dari dalam diri kamu, meskipun ramai di luar kamu, meski hiruk pikuk kebencian datang dan berlalu, kamu tau apa yang betul-betul kamu butuhkan. Ok? 26 tahun, Depok, Kegiatan skrg Kerja 9-5 Alhamdulillah

Dear masa lalu…

Semua berawal dari mimpi itu.

esadaranku buta segala, semua tampak bias kecuali bayi dalam gendonganku. Laki-laki. Waja-

Khnya bersih, tenang dalam

tidurnya, memancar darinya kedamaian meredam sadarku yang takut. Aku takut pada kenyataan saat aku bangun. Aku mengandung seorang janin, 6 minggu umurnya. A w a l d a r i p e r u b a h a n konfigurasi semesta di sekitarku, beranjak dari mimpi itu. Bukan sejak aku tahu diriku hamil dan seketika pilihan-pilihan menjadi tak banyak lagi. Bukan di saat aku menemukan dua garis merah dari test pack murah yang dibeli di minimarket dekat rumah. Mimpi itu, bayi mungil di dalamnya, membuatku tahu, bahwa suara kecil itu memang layak kudengar, suara yang mengatakan, “kehidupan adalah pengetahuan.” Suara yang tak mampu kuberi bahasa, suara yang tak kutemukan dari mana asalnya, datang begitu saja. Kesadaran kecil itu, membuat tubuhku bereaksi, per tanyaan- pertanyaan turunannya bermunculan, apa sekarang, bagaimana caranya, kemana setelah ini? Hanya satu tanya yang tak mampu kujawab sendiri, “apakah kamu mau?” Kamu yang bersamaku beberapa minggu lalu menyimpan benih di dalam tubuhku. “Apakah kamu mau?” Jawabannya tak pernah kutemukan hingga sekarang… Aku hanya merasa kamu tak Apakah kamu sadar ada AKU di situ, lagi melihat kedua mataku sejak saat itu? Bahwa aku bukan hanya mengetahui kehamilanku. Kamu berusaha untuk bertanggungbenda yang bisa kamu pakai-buang jawab, di hadapan semua orang seenak kamu mau?

dan keluarga. Kamu bilang, kamu lakukan itu semua demi bayi yang kukandung. Tapi tak pernah ada aku dalam kalimat-kalimatmu. Ketidaknyamanan yang harus kau hadapi membuatmu asing bagiku. Aku seperti tak mengenalmu lagi. Ingatkah kamu, di saat kamu tak suka dengan keharusan-keharusan itu lalu kamu tiba-tiba mengatakan, “Em El yuk, bete nih!” dengan wajah ketusmu? Itu lah pertama kali kamu begitu kurang ajar, kamu hanya beralasan bahwa mungkin dengan ML suasana hatimu akan menjadi lebih baik. Lalu apakah kamu memikirkan bagaimana perasaanku? Apakah kamu sadar ada AKU di situ, saat itu? Bahwa aku bukan hanya benda yang bisa kamu pakai-buang seenak kamu mau? Kamu kurang ajar. Dan kamu tak pernah minta maaf. Kamu mengatakan maaf, tapi kamu tak pernah menyesali itu. Kamu mengulanginya lagi, dan kamu mengulanginya lagi. Apakah kamu tahu seberapa sakitnya aku? Kalau saja aku cukup kuat untuk sendiri, aku akan membatalkan pernikahan waktu itu! Apakah kamu ingat setelah kamu melakukan itu kamu mengantarku pulang, dan saking ling-lungnya aku dengan perasaan yang berkecamuk di dalam hati aku terjatuh dan kamu hanya berdiri mendiamkan, lalu ketika aku bercerita bahwa di dalam bis seseorang meletakkan tangannya dibawah pantatku ketika aku tertidur di bis, kamu hanya diam. Apakah k amu tahu rasa sak itnya seperti apa? Apakah kamu hanya bisa diam di saat aku nangis terus-terusan karena seseorang melecehkanku? Kamu kemana??!! Dan sekarang kamu mengakui, ketika itu kamu ML bersama teman kantormu. Kamu berasumsi aku sudah ML dengan orang l a i n k e t i k a m e m b a c a surat-suratku kepada sahabat perempuanku, padahal tidak. Dan hanya dengan asumsi itu, kamu baru mau mengakui bahwa kamu ML dengan orang lain. Kamu ingat waktu itu aku sendiri di rumah? Kamu tahu bagaimana ibuku memperlakukan aku, hanya karena aku tak pernah mengikuti inginnya aku sudah dicap

sebagai anak durhaka. Dan kamu tak pernah ada di sana, mendukung aku, memberiku dorongan agar aku merasa berarti hanya menjadi diriku sendiri. Dan aku di rumah, karena aku tak berdaya, aku tak bekerja, dan aku tak pernah mengeluh ketika itu, hanya dengan uang saku darimu yang sekenanya, menahan diri dari rasa lapar ketika tidak ada masakan di rumah, dan dengan uang sakumu makan sekali saja tidak cukup. Lalu kamu ML dengan teman kantormu. Apakah kamu tahu rasanya jadi aku? Aku tak mengerti apa yang ada di dalam hatimu. Yang aku tahu, aku yang mengandung janin itu, aku yang merasakan perubahan-perubahannya di dalam rahimku hingga waktunya ia lahir. Aku yang mengalami sakit itu, kontraksi berkali-kali yang seperti tanpa ujung, membuatku ingin sekali keluar dari tubuh ini, bukan karena sakit di ranah fisikku. Aku sakit karena kamu. Kamu tak pernah betul-betul ada bersamaku, untukku, untuk ‘kita’. Kamu hanya ada untuk berfungsi sebagaimana moral-moral menyuruhmu begitu. Yang aku tahu, aku harus mulai membuat strategi baru. Setelah ini apa, lalu bagaimana. Aku harus bekerja, aku harus menghidupi tak lagi hanya aku, tapi juga bayi mungil ini. Aku harus mulai b e l a j a r menjadi ibu, aku

harus tahu caranya begini dan begitu. Aku hanya tahu, penis tidak sering-sering dipakai? Kamu ingat tidak aku sudah memilih untuk terus menjalani kehamilan, dengan alasan aku sudah tak peduli dengan kamu agar bayi ini terus hidup. Aku belum melihat akan lalu kamu dekat dengan teman kantormu yang lain menjadi apa dirinya nanti, yang aku tahu, aku ingin dan bagaimana kalian berakhir check-in di hotel menjalani ini. Kehamilan dan kelahiran itu begitu menggunakan bonus tahunanmu yang seharusnya penting bagiku. Mengalami setiap perubahan fisik yang menjadi biaya liburanku, setelah aku melahirkan? aku baca dari buku atau wikipedia, membayangkan Setelah aku kelelahan selalu bangun malam sendirian, setiap denyut mengalir hormon-hormon dengan dan dengan kamu yang tak akan pernah mau bangun beragam nama dalam darahku, atau bagaimana nutrisi malam jika aku tidak marah duluan. Setelah sakit- dihantar menjadi air susu dengan perantara darah dan sakit pinggang karena tubuhku menahan beban alveolipayudara memfilter beragam zat dan senyawa di depan, dan kamu bahkan tak pernah mau tau yang secara ajaib menjadi benteng katahanan tubuh bagaimana sakitnya badanku waktu itu. Kamu hanya si bayi mungil ini. Aku merasa menjadi sesuatu yang memikirkan, bagaimana akhir minggu kamu bisa pergi ajaib. Yang kupikir hanyalah bagian dari dongeng-keluar, sendirian, entah kemana. Di saat aku tak bisa dongeng ilmuwan yang tersimpan berdebu di sela-kemana-mana, menjaga bayi ini, sendirian. Wajarkah sela rak perpustakaan. Tubuhkulah yang sedang bila perasaan cinta ini memudar lalu hilang karena mereka bicarakan. Keajaiban yang mereka katakan di didera sakit hati terus-terusan maka ia membenci dalamnya mewujud dalam peristiwa-peristiwa dalam kamu habis-habisan?

Kamu hanya ada untuk berfungsi sebagaimana moral-moral menyuruhmu begitu.

diriku. Sama ajaibnya seperti bagaimana aku bisa membedakan hentakan darinya sewaktu dia di dalam rahim, mana yang berarti suka mana yang tidak. Mana yang berarti marah, mana yang membuatku merasa ia menghiburku di kala aku sedih, terutama sedih karena kamu. Bahkan hingga sekarang, ia selalu bereaksi sama ketika aku menangis, tangan mungilnya terangkat ke pipiku, padahal tengkurap pun ia belum mampu. Kamu pasti tak pernah tahu, betapa sakitnya aku waktu itu. Kamu tak pernah ada di sana, untuk aku. Wajark ah bila perasaan ini memudar? Tubuhku begitu membenci kamu, sehingga memancar d a r i n y a r a d a r-radar baru. Begitu sensitifnya aku ketika kamu menyentuhku. Begitu ignoran-nya k a m u m e n g a n g g a p aku tak peduli dengan kebutuhan biologismu. Ingat tidak? Kamu bahkan pernah memberi artikel tentang kemungkinan akan terjadi impotensi bila Alveoli adalah kantong penghasil ASI yang berjumlah jutaan. Hormon prolaktin mempengaruhi sel alveoli untuk menghasilkan ASI.

Dan kamu menganggapnya masa lalu. Kita sedang memulai lambaran baru, dan yang lalu biarlah berlalu. Begitulah semua kesakitanku bagimu, hanya sekedar masa lalu. Membuatku tak habis pikir, apakah hatimu berfungsi dengan seharusnya? seperti ketika kau mengkhawatirkan adik perempuanmu yang dirawat di rumah sakit? Kau menanyakan segalanya dengan detil, kau memberikan tawaran-tawaran bantuan. Di situ lahbedanya. Ketulusan yang memancar dengan sendirinya lewat sikap-sikap kamu. Maka, salahkah bila
aku berpikir....bahwa kamu tak pernah sedikitpun rela
melakukan ini semua? Kamu tahu, aku tak cukup berdaya untuk menghidupi si bayi mungil ini sekarang. Dan aku tak punya hati yang mampu memaafkan sesuatu yang kamu anggap masa lalu itu. Tapi aku berada di sini, menunggu hati ini memaafkan dalam diammu. Dalam bingungmu yang selalu menganggap apapun yang kuminta tak kan pernah mencukupiku, seakan-akan permintaanku terlalu banyak. Padahal aku tak tau harus meminta apa. Hanya karena hati ini begitu sakitnya kau dera. Apa kau pernah berhenti sejenak dan bertanya, bagaimana rasanya menjadi aku? 26 tahun, Depok, Kegiatan skrg Agen Iklan

[ No Subject] Part 1 Saturday, February 19, 2011 2:25 AM From: This sender is DomainKeys verified “P” [email protected] Add sender to Contacts To: [email protected]

Part 1 Nggak munafik kalo gw emang melakukan hubungan sex di luar nikah. Tapi bukan berarti gw adalah perempuan” (tanda kutip), ini hanya gw lakukan sama cowok yang bersatus pacar gw, dan udah menjalin hubungan dengan gw cukup lama. Sampai pada akhirnya gw berada di posisi yang mengharuskan memilih menjadi perempuan terkutuk atau menjadi perempuan yang penuh perjuangan atas apa yang gw udah lakukan mengakhiri atau meneruskan kehamilan). Datengnya kehamilan gw bener2 membuat gw berfikir sangat keras atas kedua pilihan tadi, ditambah lagi dengan beban situasi kesiapan hidup gw yang jauh dari mampu. Banyak banget godaan2 yang dateng ke gw, yang maksa gw memilih untuk ‘cuci tangan’ atas yang udah gw lakuin. Gw disaranin untuk minum jamu buat gugurin kandunganlah, saran ke dukun pengugur kandunganlah, setiap hari harus makan nanas plus minum sodalah sampe saran mengaborsi di dokter yang harganya nggak terjangkau. Tapi semua itu gw buang jauh2 dari pikiran gw. Gw nggak mau jadi wanita terkutuk yang cuma belain status sosial gw di mata orang lain, tapi di balik itu semua ada yang lebih penting ada sesuatu yang bernyawa di dalam perut gw, di dalam rahim gw!! Sampe pada akhirnya gw bersikeras memperjuangkan supaya laki2 itu untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan juga. Berhasil. Marriedlah gw di usia kehamilan 3 bulan. Tapi masalah nggak berhenti cuma sampai di
situ, justru di masa-masa kehamilan gw, makin banyak banget masalah-masalah yang dateng.............
AAAARRRRRRRGGGGGGGGHHH !!! Diantara lain masalah kesetaraan gw sama suami, karena yang gw rasain saat masuk ke dunia rumah tangga, lama-lama hak gw hilang. Apa-apa mesti suami yang memutuskan, berkunjung ke rumah orang tua sendiripun mesti dapet ‘surat jalan’ dulu dari suami. Dan gilanya lagi setiap gw gajian, semua uang gw mesti dia yang pegang, dia yang ngatur. Masuk usia kehamilan 4 - 5 bulan makin strees gw dengan kondisi yang seperti itu. Sampe suatu hari gw cek-cok besar sama dia, karena gw menyampaikan ketidaknyamanan yang gw dapet dari dia, alhasil dia mengusir gw dari rumahnya tanpa fikir panjang dengan kondisi perut gw yang semakin membucit tentunya... Cabutlah gw dari sana, tinggal lagi di rumah orang tua gw berbekal segudang fikiran & rasa marah yang teramat sangat pada laki-laki itu, DAMN!!! (segini dulu nanti gw sambung lagi ya, masih banyak…)

[ No Subject] Part 2 Saturday, February 19, 2011 11:00 AM From: This sender is DomainKeys verified “P” [email protected] Add sender to Contacts To: [email protected]

Part 2… Setelah gw kembali kerumah orang tua gw, langsung gw dihujani pertanyaan2 yang nggak jauh nanyain kenapa, ada apa, dll. Singkat cerita gw tetep kembali dengan aktifitas pekerjaan gw sehari-hari, gw bekerja sebagai resepsionis di sebuah bank swasta, dari jam 8 pagi – 5 sore untuk menopang kehidupan gw, untuk mempersiapkan kebutuhan2 si calon bayi & biaya persalinan nanti. Kadang juga gw nyambi jualanin barang-barang FO (Factory Outlet), nyokap gw juga kadang bantu. Hari demi hari gw lewati dan nggak pernah sedikitpun laki-laki itu menghubungi gw, apalagi jemput gw untuk kembali pulang ke sana. Gw juga nggak terlalu ngarepin itu kok, toh tanpa dia hidup gw masih bisa berlangsung. Masuk di usia 5 bln kehamilan gw, lama2 mertua pun ikut turun tangan masuk ke dalam masalah yang sedang gw & laki2 itu hadapi, yang ada tambah pusing aja otak gw. Di paksa mesti balik ke sana, dinasehati tentang kodrat2 istri yang mesti nurut aja sama suami, apa2 mesti seizin suami, tapi itu semua tai kucinglah buat gw. Ga peduli sama aturan2 yang kaya gtu, yang cuma bikin makin rendah perempuan di mata laki2 setelah berumah tangga. Gw tetep bersikeras, sebelum laki2 itu dateng ke gw, minta maaf dengan serius & sadar atas semua kesalahanya, nggak bakal gw mau menginjakan kaki gw ke sana. (quote) Gw tetep ngejalanin rutinitas hidup gw, setiap hari bangun pagi untuk kerja dengan kondisi perut makin besar, ditambah lagi lokasi tempat kerja gw yang jauh, perjalanan 1 jam & mesti naik turun angkot beberapa kali untuk sampai ke tempat kerja. Nggak jarang gw ngerasa sakit di perut akibat kecapean. Setiap kali chek-up ke dokter kandungan pasti selalu di marahin, akibat perut gw selalu tegang dan tensi darah nggak karuan, yang nunjukin kalau gw kecapean & banyak fikiran. Tapi apa daya, kalau gw nggak kerja, gw cuma akan memberatkan keluarga gw, meski nyokap gw selalu nyuruh untuk berenti kerja dulu. Masuk di usia kandungan 6 bulan, dengan kondisi perut yang besar sekali gw masih tetep kerja dan masih tetep berjuang untuk sampai ke tempat kerja. Sampai pada usia kandungan 7 bulan, saat gw mau berangkat kerja tiba2 darah mengalir deras, bener2 banyak banget, yang ada di fikiran gw saat itu gw keguguran. Ngeliat kondisi gw yang kaya gitu, langsung gw di bawa sama keluargga gw ke RS terdekat untuk menghindari hal yang nggak diinginkan. Sampai disana dokter bilang kalau gw kontraksi hebat yang mengharuskan segera di operasi caesar demi keselamatan gw dan bayi gw. Tanpa fikir panjang keluarga gwpun langsung setuju, dan untuk persetujuan itu yang berhak menandatangani hanya sang suami.

[ No Subject] Part 3 Back to Messages Mark as Unread Report Spam Delete Between You and xxxxx xxxxx March 1 at 4:46pm Report Part 3 Keluarga gw coba menghubungi laki2 itu, tapi nihil. Beberapa kali coba ditelpon ga pernah di angkat dan beberapa kali kirim sms nggak dibales sama sekali. Akhirnya keluarga gw yang ambil alih buat persetujuan operesi Caesar, mertua gw saat itu juga lagi keluar kota jadi belom bisa dateng ke RS. Detik-detik yang sangat menegangkan buat gw, sebelum operasi sambil nahan rasa sakit di perut gw, yang gw fikirin saat itu cuma bayi gw, gw bener2 takut ada apa2 sama bayi gw. Sampe waktu operasi tiba, gw di bawa ke ruang khusus operasi, setelah itu dokter langsung masukin suntikan obat bius di tengah2 tulang vertebrata gw, sekejap langsung mati rasa semua anggota tubuh gw. Saat operasi berlangsung gw gak mau terlelap sama sekali, gw coba terus buka mata walaupun keadaanya susah banget. Beberapa menit kemudian gw denger suara bayi gw, dan dokter ngasih tau kalau anak gw laki2, tapi berat

badannya sangat kurang, harus cepet-cepet di masukin kedalam incubator. Berat badan bayi gw saat lahir cuma 1 kilo 9 ons, dan panjang 4,1 cm… Kebayang kan betapa kecinya bayi gw. Setelah operasi selesai, gw bilang sama dokternya kalo gw pengen langsung liat bayi gw. Karena badan gw saat itu masih lemah banget, masih belom bisa bergerak sama sekali, akhirnya gw di bawa ke ruangan anak dengan kasur dorong. Ya Tuhan, gw liat di dalem ruangan itu cuma anak gw doang yang ada di dalam incubator, cuma anak gw doang yang pake alat bantu oksigen, cuma anak gw doang yang pake infuse, cuma anak gw doang yang tubuhnya dipasangkan kabel dan tersambung ke monitor, entah monitor apa. Gw cuma bisa liat dari luar ruangan kaca, karena ruangan khusus untuk bayi itu nggak ada yang boleh masuk kecuali para staf rumah sakit. Gw bener2 nggak bisa lagi nahan air mata ngeliat kondisi anak gw saat itu, bayi sekecil itu berjuang untuk bertahan hidup. Sekecil itu dengan tusukan jarum infus di mana2, sampai untuk nafaspun anak gw bener2 susah, terlihat berat naik turun dadanya yang masih tipis, hanya berbalut kulit tipis karena paru2nya belum terbentuk sempurna..

[ No Subject] Part 4 Gw bener-bener nggak kuat ngeliat keadaan anak gw, kenapa Tuhan ngasih gw cobaan yang begitu beratnya. Keesokan harinya gw udah boleh pulang dari RS tapi belum untuk anak gw, karena kondisinya yang belum memungkinkan untuk diajak pulang. Sebelum pulang dari RS mertua gw datang, nengokin kondisi gw dan anak gw. Tapi batang hidung laki-laki itu nggak keliatan. Gw nanya ke mertua gw, kenapa laki2 itu nggak nongol untuk sekedar liat kondisi anaknya? Tapi yang keluar dari mulut mertua gw cuma
alesan2 untuk ngebelain anaknya itu, FUCK OFF LAH...................................
Akhirnya sorenya gw pulang dengan perasaan yang beraaaaaaaat banget untuk ninggalin anak gw sendirian di RS, berjuang sendiri untuk hidupnya hanya dengan alat2 bantu & incubator itu. Sekarang gw masih cuti dari kantor, dan untuk masalah biaya hidup gw dan bayi gw, suami gw selalu beralasan baru akan bantu biayain kalo gw dan bayi gw mau balik kerumahnya. Tapi tentu gw nggak mau begitu aja balik kesana, alasan dan pendirian gw tetap seperti yang udah gw bilang sebelumnya; sebelum laki2 itu dateng ke gw, minta maaf dengan serius & sadar atas semua kesalahanya, nggak bakal gw mau menginjakan kaki gw ke sana. -besok gw sambung lagi ya-

Between You and xxxxx xxxxx March 8 at 4:12pm Report

[ No Subject] Part 5 Akhirnya anak gw di pindah ke RS yang lebih lengkap alat2 kedokteranya, RS yang punya ruangan ICU khusus buat bayi. Nama ruanganya NICU dan ruangan itu cuma ada di RS2 tertentu, untuk biaya pastinya lebih berkali2 lipat dari RS sebelumnya. Oya, dari biaya persalinan gw sampe biaya perawatan anak gw slama itu dari hasil patungan antara mertua & orang tua gw. Sekitar 10 hari anak gw di rawat di ruang NICU sampe akhirnya di bolehin pulang dengan kondisi yang udah lumayan stabil, setelah diperbolehkan pulang langsung gw boyong anak gw untuk tinggal di rumah orang tua gw, walaupun sempet ada ketegangan antara mertua & orang tua gw dalam ngerebutuin anak gw. Gw kan ibunya! Kok mereka yang heboh? Jelas gwlah yang jauh lebih berhak atas anak gw. Sejak anak gw di rawat sampai anak gw di rumah, belom sama sekali laki2 itu dateng nengokin. Nggak taulah apa yang ada di kepala laki2 itu sampe segitunya.

Kurang lebih seminggu yang lalu laki-laki itu tiba-tiba dateng kerumah gw, minta maaf sama gw, sama kedua orang tua gw, dan meluk2 anak gw. Saat itu langsung gw jelasin apa yang gw rasa dan mau selama ini, gw bahas semua kesalahan-kesalahannya. Entahlah masih bisa atau nggak gw percaya sama dia, tapi dia berusaha ngeyakinin kalo dia akan berusaha menjadi yang terbaik buat gw & anak gw. Dia ngajakin gw pulang kerumahnya sama anak gw, akhirnya gw kasih kesempatan terakhir buat dia benerin semuanya. Sampai saat ini sih yang gw liat memang ada titik terang dalam hal kesetaraan gw sama dia.. Gw lihat banyak perubahan yang terjadi, gw beraharap ini akan berjalan terus di dalam kehidupan gw, bukan hanya di awal saja. Mengingat pengorbanan & perjuangan yang sudah dan akan terus gw lakuin, bukan hanya untuk anak gw, tapi juga hak gw sebagai perempuan. Dari semua ini gw belajar dan mengerti kalau gw gak boleh lagi menyerah dengan situasi apapun. -the end-Thanks buat xxx atas undangan menulis dari elo & gw sangat support untuk aktivitas2 lo yang seperti ini. Gw berharap tulisan gw bisa bermanfaat untuk semua yang baca nanti. Di tunggu kabarnya yaa… kiss & hug to you

P.
Usia 20 tahun, tinggal di Ciledug dan saat ini sedang cuti pasca melahirkan

Wawancara

Apa pendapat lo ttg ‘seks bebas’? apa lo masih menganggapnya sbg hal yg buruk/negatif? sex bebas sah2 aja, asal selektif milih pasangan & ber sex dgn savety.. Jika ya, apa yg membentuk kamu memiliki nilai/pendapat seperti itu (terkait dgn pertanyaan diatas)? - Jika kamu menyingkirkan penilaian agama, bagaimana pendapat- mu ttg hubungan seks? sex untuk gw salah satu kebutuhan hidup untuk melampiaskan hasrat..sex yg aman & nyaman. Kapan pertama kali kamu berhubungan seks (usia atau tahun atau kelas berapa)? apakah ketika pertama kali melakukannya ada dorongan dr pasangan atau keinginanmu sendiri? dan apa perasaanmu setelah itu? 15 years old..klo ga salah waktu smp,sama pacar pertama,udah jd suami skarang..waktu itu sempet nolak beberapa kali,tapi suatu hari ga tau kenapa gwnya jg jd larut dalam suasana..jd kebablasan. emang sih ga ada pemaksaan..setelah keperawanan hilang,takut lah,bingung..campur aduk ga karuan,tp gw selalu menekankan si pria untuk bertanggung jawab. Apa kamu menyukainya (seks)? bagaimana biasanya kamu berhubungan seks? seks yg aman (menggunakan kondom/ejakulasi

diluar) atau beresiko? kalo sang pasangan ngebuat gw nyaman..like this lah.biasanya pake kondom kalo ga ..ya ejekulasi di luar. Ceritakan bagaimana saat kamu mengetahui kehamilanmu? Apa perasaanmu? waktu itu telat sekitar 1 bulan,trus lgsung beli tespek. eh,hasilnya positif..kaget banget.bingung... Ketika mengetahui hamil, siapa orang pertama yang kamu beritahu? pasangan Bagaimana reaksi or pendapat pasanganmu mengenai kehamilanmu? langsung ngajak ketemuan..ngobrol2 ngebahas,trus langsung ngajakin beli jamu terlambat bulan sama bli tespek lg takut ga akurat katanya. Apa kamu pernah aborsi? atau berusaha aborsi? apa pendapat kamu ttg hal ini? belom pernah,pernah niat tp ga sampe hati sih niatnya.. aborsi menurut gw sangat ga manusiawi banget,gara2 mau lepas dari tanggung jawab.trus tega nyia2in nyawa yg ada di dlm rahim.. aduh..ga kebayang kalo orang tua kita pd sat itu ngelakuin hal itu pd saat kita ada di kandunganya..terang kita ga bakal ada skarang.. lagian kan aborsi bisa berdampak trauma untuk si wanita..bisa2 gila.. kacaau..

Siapakah yg memutuskan apa yg akan kamu lakukan thdp kehamilanmu (menggugurkan/meneruskan kehamilan)? Kamu sendiri? pasanganmu? atau yg lain? awalnya pasangan yg selalu mutusin,apa yg mesti gw lakuin..awal2 di ajakin trus minum jamu buat terlambat bulan..tp gw nya ogah,sampe dia cape sendiri..trus baru deh,gw hajar terus sama pendapat2 gw untuk tetep nerusin kehamilan gw.trus,terus,dan trussssss,sampe gw berhasil. Bagaimana sikap pasanganmu dalam melewati proses ini? mendukung penuh dengan menunjukan perhatian dan dukungan besar? atau? awalnya ga ada respon sama sekali karna kemauan dy ga pernah gw tangepin, tp setelaah usia kehamilan 2 bulan dan setelah gw berhasil ngajak dy untuk nerusin kehamilan gw bru deh..kayaknya pernah tuh waktu itu dia beliin susu hamil sama ngajakin ke dokter kandungan untuk chek up :) Apa kamu merasa malu dengan keputusanmu? atau sebaliknya, bangga dan berani? bangga & berani Apa yg membuatmu memutuskan untuk menikah? karna gw hamil,karna gw juga mau dy turut bertanggung jawab.. Setelah begitu banyak konflik dlm perjalanan awal kehamilan dan pernikahanmu, apa yg terus membuatmu bertahan? gw bertahan,& gw selalu semangat demi bayi yg ada di kandungan gw. I love you my bebby :) Siapakah orang2 yang mendukungmu saat itu? Kepada siapa kamu biasa bercerita ttg kegelisahanmu? Atau kamu melewati dan mengatasinya sendiri? ? ada beberapa temen2 gw yg sangat suport sama keputusan gw, temen2 yg udah berkeluargga & selalu ngasih masukan yg baik bwt gw. thx, mia asegaf, yuni, sinyorita.. so bigs to you. dan kegelisahan gw biasanya gw ceritain ke mereka.. Apa hal2 berat dan kamu takuti yg kamu hadapi selama kehamilan & pernikahan? ketertekanan.. Apa yg membuatmu berani melawan ketidak setaraan yg terjadi dengan pasanganmu setelah kalian menikah? Keyakinan apa yang mendorongmu dan menguatkanmu? gw berani karna gw fikir nikah tuh fear,dimana gw akan membangun pondasi rumah tangga gw dengan kesetaraan itu. masing2 tanggung jawabnya ajalah yg penting. untuk satu titik kedepanya better.gitu aja ko. karna gw yakin kalo wanita juga sama aja lah dgn laki2. adil aja intinya.

Bagaimana dengan teman2mu? bagaimana sikap mereka? ada yg pro sama yg gw sikapi,tapi lebih banyak yg kontra.. & yg kontra sama sikap gw bisanya NGOMONG aja. dr alus sampe ada yg kasar ngasih masukan..FUCK OFF lah. Setelah menikah, bagaimana kehidupanmu secara pribadi dan berumah tangga? Apa saja yang berubah? setelah menikah mungkin kalo untuk pribadi,gw sangat berusaha bisa memenuhi semua tanggung jawab gw sbg istri.. banyak bgt perubahan2 yg ada.. yg intinya kalo gw udah punya tangging jawab lebih besar lagi dr sebelumnya. Apa saja bentuk2 kekerasan psikologis dan fisik yg kamu alami? ancaman & tekanan psikologis .. untuk fisik belum pernah Sampai hari ini, apakah kamu puas dengan keputusanmu menikah di usia muda dan menjalani kehidupan rumah tangga? cukup puas. Apakah kamu akan meneruskan kehidupan seperti ini? atau kamu punya rencana ‘indah’ lain untuk masa depanmu dan anakmu? apakah kamu menyertakan pasanganmu dalam rencana ‘indah’ ini atau hanya untukmu dan anakmu? gw punya rencana indah buat gw & anak gw. kalaupun pasangan gw mau ikut..okok aja asal dy udah bisa ngerti & masuk sama cara hidup gw. Apa pelajaran/hikmah besar dari semua pengalaman ini? perempuan> jadilah seperti yg kalian mau.. Apa pesanmu buat perempuan2 dan laki2 lain? laki2> berilah lebih banyak ruang untuk para wanita..

Surat Untuk A

Ode dari seorang ayah yang jarang pulang karena tak punya uang

Me m -

p u n y a i s e o r a n g anak menurut banyak orang adalah sebuah ke- muliaan. Berkah yang tak akan pernah mampu dita- kar oleh dongeng ataupun puisi. Tak ada lukisan yang mampu mendefinisikan tentang perasaan itu. Kumpulan lagu-lagu terpilih sekalipun takkan sanggup. Benar-benar sensasional hingga luka dan suka bercampur tanpa lagi mampu dikenali. I t u y a n g p e r t a m a kali aku rasakan ketika seonggok daging bernafas dan dengan mata yang masih belum terlalu terang mengenali sekeliling ada di pelukan. Tubuh telanjang dengan kulit lembut dan membuat aku seakan menjadi seorang paranoid kalau ia terluka. Aku tiba-tiba menjadi seorang malaikat pelindung yang akan rela memberikan nyawanya kapan saja ketika diminta. Hanya karena baru saja sebelumnya ia menangis ketika pertama kali keluar dari rahim seorang perempuan yang hari ini menjadi musuhku. Seluruh dunia terasa

berhenti seketika saat tangisannya menyusup ke dalam p e n d e n g a r a n k u. Sensasi kebebasan itu kini berbentuk, bukan lagi utopi. ... Pertama kali ditanya tentang nama yang bakal melekat dan jadi identitas s e u m u r h i d u p nya, a k u terdiam. Ada ribuan kata dan bayangan wajah yang berkelebat di otakku. Aku berubah menjadi idealis seketika. Ia harus menyandang nama besar. Sebesar impian, sebesar mimpi. Mengatasi realitas bahkan kalau bisa. Ini paradoks hidup mungkin yang pernah kulewati dan baru kini kusadari. Finalnya, aku memberikan ia nama yang sering kugunakan ketika menulis dan bertarung lewat kata dengan orang-orang yang kuanggap begundal dan patut dibongkar boroknya. Lebih jauh dari itu, nama itu adalah simbol pembangkangan yang sekian waktu melekat menjadi identitas baru untukku. Label anonim yang kusandang dengan sadar akibat percampuran ketakutan dan ketidakinginan menjadi seseorang yang nyata.

Tak perlu definisi karena ia adalah manusia yang mestinya dihargai sebagai manusia. Bukan sebagai komoditi layaknya hari ini yang menghargai semua hubungan dengan nominal angka. Sama seperti hubunganku dengan perempuan yang melahirkan nama itu. Relasi kami adalah sinonim dari harga. Soal berapa jumlahnya dan kapan. Hingga dalam tiga tahun terakhir, aku menjadi sangat akrab dengan kerja dan bank. Memerah keringat di atas ambang batas kesadaran dan kewarasanku lalu membawa sebagian besar dar i bayaran untukku ke bank

K e n y a t a a n a d a l a h s e s u a t u y a n g b e r u s a h a k u to l a k k a re n a ketidakmampuanku untuk membuang penyesalan tentang waktu dan semua yang pernah terlewati. Aku memusuhi masa lalu melampaui kemuakanku terhadap relasi hidup hari ini. Semenjak pertama kali aku memutuskan untuk menjadi sisi hitam dari hidup yang apa adanya, maka bibit dendam telah kutabur tanpa batas waktu akhir panen. Itu yang salah satu hal yang tak kusesali. Belum lebih tepatnya. Siapa yang bisa menerka besok? Aku hanya berusaha untuk hidup untuk hari ini saja. Pragmatis kata banyak teman. Nama itu juga yang akhirnya sering membuat aku tanpa sadar menangis. Meneteskan air mata sendirian meski ada banyak orang disekitarku. Memilih menjadi sepi itu sendiri. Karena dengan begitu aku menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan rindu. Aku bangga menjadi lemah karena nama itu. Hanya nama itu, bukan yang lain. Telah cukup banyak orang yang kubunuh dalam ingatan dan berlalunya hidup yang tak pernah tetap secara teritorial. Namun nama itu adalah sesuatu yang terus menerus kubawa dan mendapat tempat khusus dalam otakku yang dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Hingga akhirnya kuputuskan untuk merajam tubuhku dengan nama itu agar tak lagi memakan energi berlebih yang akan membuatku terlihat lemah. Aku munafik karena ideologi patriarkis itu berhasil membesarkan aku sebagai laki-laki yang tak boleh menunjukkan bahwa menjadi goncang dan limbung adalah kewarasan yang tak perlu ditanggapi. Semua orang itu lemah ketika sendirian. Aku? Salah satu produk sukses dari masyarakat hari ini yang membangun semuanya diatas topeng dan kedangkalan rasa. Tetap saja aku memberikan sebuah area khusus ditubuhku agar nama itu eksis. Nama itu spesial, bukan hanya karena itu adalah sisi lampau kehidupanku. Lebih dari semuanya karena aku tak bisa menjelaskan tentang rindu ini. Ia bukan sekedar cinta buatku.

dengan tujuan m e n g i n p u t n y a kedalam sederetan nomor rekening yang kini kuingat meski berjejer cukup panjang. Rutinitas telah membuat otakku menjadi mesin yang siap. Seorang robot yang baik atas nama rindu? Aku mengeksploitasi kemampuanku sendiri lalu melabeli itu dengan deretan rupiah agar orang-orang mengenaliku. Menyakiti diri sendiri untuk membenamkan detik sampai ketika tiba waktunya aku bisa memeluknya lagi. M e n j a d i s e o ra n g s k i zo yang mempunyai sekaligus d u a k e h i d u p a n y a n g eksis bersamaan. Hidup yang berhadapan secara antagonistik dan aku menyadari itu. Dan hidup itu telah mempunyai terminal tetap kini. Titik dimana aku selalu belajar untuk meluangkan waktu dan menunda semua keliaran petualangan yang muncul agar aku mendapatkan kehangatan ciuman, melihat senyum serta tidur mengalahkan malam bersama dengannya. Silahkan menuduh aku pengecut dan pembangkang yang takluk. Aku tak peduli dengan semua cercaan. Ak u menggilai peluk an

dari tangan kecilnya, merindui wajah masamnya karena mengecap kopi tanpa gula punyaku dengan sembunyi-sembunyi, tawa renyahnya karena menahan geli, dan suaranya yang memanggil “papa”. Itu semua adalah surgaku. Dan kerinduan itu kini tiba lagi. Sementara aku telah kalah dengan semuanya. Dengan cita-cita dan imajinasi yang pernah membawa aku terbang hingga sampai dititik saat ini. Karena aku tak sanggup menukar keringat serta waktu selama hari-hari kemarin dengan jumlah yang cukup untuk sekiranya membayar hutang. Hutang moral kalau tak salah. Itu yang pernah dikatakan perempuan itu padaku. Perempuan yang pernah kusetubuhi dan dalam vaginanya, dan atas keyakinan kami bersama, kualirkan spermaku hingga rahimnya berisi sebuah kehidupan. Perempuan yang pernah menjadi temanku menghadapi semua serangan paling keras atas pilihan kami berdua yang memilih memiliki anak meski tak terikat tali pernikahan. Perempuan yang kini berubah menjadi sinonim dengan lintah darat karena membuatku paranoid pada setiap pesan atau telpon beralamatkan ia sebagai pengirim. Perempuan yang m e m b u a t k u s e m a k i n mengerti tentang kerja, keterasingan dan rasa sakit.

sadarkan diri. Sungguh. Tak ada yang mampu menjadi temanku bila saat-saat itu datang. Aku terlalu egois dan berbalik percaya pada alkohol dan kesepian. Pernah kurasakan kerusakan rasa saat aku dengan kantong kosong tak mampu membeli biaya untuk mendengarkan suaranya. Hanya kemudian mengandalkan persahabatan yang selama ini kubangun menjadi sendi nafasku agar aku masih tetap bisa berdiri dan melanjutkan mimpi dengan mendengarkan satu suara saja. Itu hanya suara seorang anak yang kini baru berumur tiga tahun. Tapi mampu kujelaskan dengan singkat mengapa aku begitu tergila-gila dengannya. Karena aku mencintainya. Melebihi kecintaan terhadap Tuhanku, karena ia adalah Tuhan kini bagiku. Semua pintanya kini adalah fatwa yang tak mungkin kutolak. Semua inginnya adalah sumpah dengan taruhan surga neraka buatku. Aku akan membunuh apapun dan siapapun jika memang ia menginginkannya. Pulen Semoksy tinggal temporer di beberapa kota, bekerja sebagai pengang- guran yang pernah bekerja berbagai jenis kerja di bermacam lembaga non-pemerintah, kontak via email lewat: hujanun- [email protected]

A k u a d a l a h t e r p i d a n a seumur hidup k a r e n a m e n c i n t a i s e o r a n g m a n u s i a ya n g untuknya akan kuberikan biji mataku meski tidak hidupku. Tak mengapa jika dunia menjadi gelap dan berwarna hitam saja, karena memang begitulah seharusnya warna dunia koersif saat ini. Aku memutuskan menulis surat ini sebagai pengganti kesal karena hanya bisa mendengar ia memanggil “papa” lewat handphone. Meski sebenarnya tak sedikitpun itu bisa mengobati luka yang menganga karena keinginan untuk bersama dengannya melewati hari. Aku merindukannya hingga seakan ingin membunuh malam dengan mabuk hingga tak

I WILL PROTECT

MY SELF

yang lalu aku ketemu sama

3 tahun seorang lelaki

yang begitu menarik buatku. Menurutku dia itu pinter, iritis, dan keren. Mungkin itu semua yang bikin aku jatuh cinta sama dia, kita memutuskan untuk berpacaran dan tinggal satu atap. Dia banyak mengajarkan aku tentang banyak hal yang sebelumnya sama sekali aku nggak tau seperti apa itu anarkisme, feminisme, kapitalisme, patriarki, vegan dll. Usia pacaran kita nggak lama, cuma 4 bulan, karena aku hamil. Waktu tau aku hamil aku shock, begitupun juga dia. Aku memang pro-choice dan ingin mengaborsi janin yang waktu itu masih berusia 1 bulan. Segala cara sudah aku coba tapi setelah janinku berumur 3 bulan sama sekali nggak ada reaksi apa-apa. Saat itu akupun memutuskan untuk merawat janin yang ada dalam perutku daripada aku harus mengambil resiko anakku lahir dalam keadaan cacat. Dan kitapun menikah, dan sejak itu ia mulai berubah. Sejak pacaran aku tahu ia punya temperamen Pilihan/sikap individu atau kelompok yang mendukung (pro) kebebasan memilih. Istilah ini berkembang di seputar isu aborsi. Artinya seseorang yang pro-choice mendukung sikap aborsi atas dasar kebebasan memilih/hak individu seseorang. Sementara yang menolak (kontra) dikenal dengan istilah pro-life yang artinya mendukung kehidupan, kelompok ini menolak aborsi dengan alasan membela hak hidup manusia lain selain sang ibu, yaitu hak hidup sang bayi. Individu/kelompok pro-choice banyak datang dari kalangan liberal, sementara kelompok pro-life banyak datang dari kelompok konservatif.

yang tinggi dan kadang sulit banget buat ngendaliin emosinya yang membuat dia self-destructive, merusak apapun yang ada di dekatnya dan kadang memukulku juga. Awalnya buatku itu tak masalah karena hal itu jarang terjadi. Dia punya rasa sentimentil yang tinggi yang membuat ia punya perasaan yang sangat peka. Sekalipun aku lagi hamil, dia nggak segan buat memukuli aku atau sekedar menamparku berkali-kali meski aku sudah memohon ampun saat ia benar-benar kalap untuk hal yang menurutku sepele dan tak harus dibesar-besarkan. Beberapa bulan kemudian anakku lahir, tentu saja dia lucu. Kami beri ia nama yang kami adopsi dari nama seorang pioneer musik metal dan Kecenderungan yang merusak diri sendiri

nama nabi pencetus zoroastrianisme. Kami berharap suatu hari ia bisa menjadi seorang revolusionis yang hebat. Setelah anakku lahir, frekuensi ia kalap dan memukulku malah semakin sering. Aku sangat ketakutan dan deg-degan kalau nada bicaranya mulai tinggi. Mungkin bisa dikatakan seminggu sekali aku dapat pukulan seperti itu dan setelahnya aku terima maaf dari dia. Aku sayang banget sama dia. Itu memunculkan empatiku untuk menyembuhkan ‘sesuatu’ dalam dirinya yang kurasa nggak normal. Obat dari psikiaterpun cuma disalahgunakan aja karena dia tau obat2an itu termasuk jenis psikotropika. Hidupku penuh dengan ketakutan dan stress. Suatu pagi seperti biasanya aku beres-beres rumah dan menyuapi anakku yang masih berumur 14 bulan, dia bangun dan marah-marah karena sisa lintingan ‘rokok kesayangannya’ telah terbuang tanpa sengaja olehku. Dia bilang saat itu sangat susah untuk mencari rokok kesayangannya itu. Aku minta maaf tapi dia terus mengoceh dan akhirnya memukuliku di depan anak kami. Aku cuma bisa lari ke kamar dan jongkok di pojok ruangan dengan kedua tangan menutupi kepalaku; persis seperti tahanan perang. Tapi dia nggak peduli dan terus memukul meski aku meminta ampun. Bahkan saat itu dia sempat mencekik leherku dan mengambil pisau kemudian menancapkannya di pintu. Aku takut setengah mati sampai aku gemetaran. Entah bagaimana cara menghentikannya menyiksa tubuhku sambil memaki-maki aku. Rumah serasa habis terkena angin puyuh kalau dia habis marah-marah, semua pecah berantakan. Kasihan anakku, dia cuma bisa menangis melihat ulah orangtuanya. Aku memikirkan bagaimana caranya menghadapi musuh yang setiap malam tidur satu jengkal dari tubuhku dan menghirup udara yang sama? Dia selalu menemukan pembenaran atas ulahnya di balik agama. Ya, orang yang selama ini mengajarkanku tentang bagaimana seorang perempuan harus memproteksi dirinya sendiri dan betapa brengseknya patriarki sudah menjadi hipokrit. Di kala kalap, bolak-balik dia bilang kalo feminisme itu sekedar wacana dan nggak layak untuk diikutin. Entahlah, aku cuma bisa menangis saat tubuh & psikis ini jadi hantamannya. Suatu hari kami harus pergi ke rumah mertuaku untuk tinggal disana sampai lebaran tiba. Bahkan di depan orangtuanyapun ia malah 100x lipat tak segan untuk membuat muka dan tubuhku berdarah dan memar. Sakit, sakit banget. Rasanya aku ingin hilang saja dari Zoroastrianisme adalah sebuah agama Persia kuno yang berusia ribuan tahun dan tetap mempunyai penganut hingga kini. Dicetuskan oleh Zarathustra (dalam bahasa latin dikenal sebagai Zoroaster), yang dipercaya sebagai seorang nabi. Saat ini populasi mereka hanya tinggal sekitar 14 0.000 jiwa yang tersebar di seluruh dunia. Kelompok besar dari komunitas ini hanya sekitar 82.000 jiwa yang menempati Bombay (India) dan sekitar 3 000 jiwa berada di Karachi (Pakistan). Di India dan Pakistan ini Zoroastrianisme dikenal juga dengan sebutan Madyanisme dan Parseisme.

dunia ini. Tapi aku nggak mau mati, karena aku harus punya kebahagiaan untuk membayar semua yang aku terima selama ini. Nggak ada yang bisa menyembuhkan dia, entah itu keluarganya, aku, bahkan anakku. Makin lama aku makin nggak tahan terus-terusan jongkok di pojok ruangan dan pasrah gitu aja. Mentalku hampir rusak dan aku nggak mau sampai itu terjadi. Aku sangat stress dan memutuskan kabur dari rumah itu. Suatu pagi aku realisasikan niatku itu dengan pergi diam-diam saat ia masih tertidur lelap. Pagi itu aku cuma berkata dalam hati “liberation is coming..”. Tapi konsekuensinya adalah aku harus meninggalkan anakku juga. Karena aku pikir akan sangat egois membawanya dalam keadaan aku ini yang tak punya apa-apa. Aku kabur ke kota asalku dan tinggal beberapa hari disana. Tapi di rumah itu aku sering ngerasa parno, setiap kali ngeliat sudut ruangan aku berasa ngeliat diriku sendiri lagi jongkok dan disiksa habis-habisan. Aku nangis tiap malam dan akhirnya aku memutuskan untuk kost dan mencari kerja. Sejak kabur itu aku mengalami krisis kepercayaan terhadap orang-orang, teman-teman, dan lelaki tentunya. Aku muak dengan hubungan. Tapi untungnya aku bisa menghilangkan perasaan itu perlahan. Sekarang aku bekerja di tempat hiburan malam menjadi seorang Public Relation, bagiku kerja di tempat seperti itu adalah pekerjaan yang riskan karena kadang aku harus berantem dengan lelaki yang berusaha melecehkan aku. Gak ada satu orangpun lagi yang boleh menyakiti tubuh aku atau psikisku tanpa seijinku. I will protect my self…