Baca PDF (OCR): PEREMPUAN BAHAS PEREMPUAN

26 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 128 ms

Daftar isi
  1. ZINETHINK EDISI 001
  2. ZINE THINK
  3. EDISI 001 Perempuan
  4. BAHAS PEREM-
  5. EDISI 001 | PUAN
  6. SA.PA
  7. Dterbit, kita mengalami 2 momentum besar bagi perem-
  8. Konten
  9. Tubuh Perempuan dan Seks
  10. Perempuan Bahas Perempuan -
  11. Selamat Hari-Bulan Melawan,
  12. Tari Petang
  13. Menawarkan Etnografi
  14. Mari Bertemu
  15. Meniti Pencapaian
  16. Selasa Sore
  17. PEREMPUAN BAHAS
  18. PEREMPUAN
  19. Tubuh Perempuan dan Seks
  20. Shal yang sering perempuan
  21. terhadap tubuh sendiri.
  22. laki, tidak boleh memiliki peng
  23. Perempuan Bahas Perempuan (Episode 1) - Masturbasi
  24. Shampir selalu menyeret me'melayani' di atas ranjang.
  25. Selamat Hari-Bulan Melawan, Manusia Penuh Keberagaman!
  26. elamat hari melawan: bagimu perempuan den-
  27. gan segala perjuangan mendapatkan hidup layak,
  28. Sperlakuan setara, juga bagimu yang melalui jalan terjal hanya untuk dianggap perempuan, pun gen-
  29. der apapun seturut kehendakmu.
  30. hidup diperlakukan berbeda nyata.
  31. tara dengan manusia lainnya.
  32. ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001
  33. Tarian Petang
  34. Himas Nur
  35. ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001
  36. Menawarkan Etnografi Feminis dalam
  37. Perihngatan
  38. Penelitian Sosial
  39. ‘Katas mendorong cen-
  40. non-positivis. Metode ‘alternatif’
  41. Menuju Etnografi Feminis
  42. Keutamaan analisis feminis
  43. Catatan Refleksi
  44. Mari Bertemu Di Angkringan Ibumu
  45. Laviaminora
  46. “They say true love’s the greatest weapon to win the war caused by pain”
  47. Di warung kopi ini, aku tidak
  48. khir. Dengan kelelahan lahir dan
  49. lagi punya waktu untuk menangis
  50. menyala hangat di hadapanku.
  51. makan dengan bakwan jagung cucinya, memunggungiku.
  52. ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001
  53. ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001 Meniti Pencapaian
  54. Nandatama Erda P
  55. Selasa Sore
  56. Ayu Nabila
  57. ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001
  58. Tubuhku mematung di perempatan, melamun kebingungan
  59. Sepanjang jalan Gejayan-Sorosutan, 200321
  60. ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001 Tunggal
  61. Boim
  62. ZINE
  63. ZINE THINK

ZINETHINK EDISI 001

ZINE THINK

EDISI 001 Perempuan

BAHAS PEREM-

EDISI 001 | PUAN

SA.PA

alam rentang waktu Maret hingga zine edisi pertama ini

Dterbit, kita mengalami 2 momentum besar bagi perem-

puan, Hari Perempuan Internasional di tanggal 8 Maret dan 21 April, hari lahir salah satu perempuan yang berjasa membawa perubahan bagi perempuan Indonesia dalam melawan kolonialisme serta adat kolot yang menyengsarakan perempuan, Kartini. Dua momentum besar ini melahirkan ide untuk memberikan panggung lebih luas bagi perempuan untuk berbicara tentang mereka sendiri. Selaras dengan aksi march oleh aliansi gerakan perempuan di Jogja (8/03) yang mengangkat tema: Tantang Dunia, Perempuan Bebas Merdeka! Juga seturut dengan jejak surat-surat Kartini yang begitu lantang membongkar adat kolot dan usang yang menyengsarakan perempuan. Maka demikian pula Zinethink ingin ikut berperan. Membicarakan perempuan, selalu tidak lepas dari bagaimana tubuh mereka dibredeli hanya untuk disematkan stigma-stigma rakus dari mata patriarki yang telah bercokol erat sepanjang waktu. Tak perlu diberitahu lagi, kita tentu sudah terlalu muak mendengarnya. Padahal perempuan dan ketubuhannya adalah relasi magis, penuh daya juang dan spritual. Perjalanan mengenali tubuh perempuan adalah petualang yang tak ada habisnya. Setiap tubuh perempuan sungguh tidak layak hanya dinilai sebatas standar tak masuk akal di majalah iklan atau pria dewasa. Mari mendengar perempuan dan ketubuhan perempuan, dari perempuan. Karena mulai dari sana perempuan melawan, dengan cara menyembuhkan.

Konten

SA.PA 1

Tubuh Perempuan dan Seks

3

Perempuan Bahas Perempuan -

5 Masturbasi

Selamat Hari-Bulan Melawan,

6 Manusia Penuh Keberagaman

Tari Petang

10

Menawarkan Etnografi

11 Feminis dalam Penelitian Sosial

Mari Bertemu

16 Di Angkringan Ibumu

Meniti Pencapaian

21

Selasa Sore

22

Tunggal 24

PEREMPUAN BAHAS
PEREMPUAN

Tubuh Perempuan dan Seks

Mengobrol, atau saling berkomunikasi bisa jadi hal yang sangat biasa untuk dilakukan. Kita melakukan- nya setiap hari, setiap saat. Tetapi bagi perempuan, ngobrol bisa jadi tidak se luasa itu. Ada banyak sekali topik yang membuat kami – perempuan kikuk untuk membicarakannya, atau berada di situasi-situasi yang membuat kami menjadi ragu untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam hati.

ilenced, atau dalam bahasa Ibu kita berarti dibungkam

Shal yang sering perempuan

hadapi dalam situasi tertentu.

krong di tempat di mana laki-laki mendominasi, lalu kumpulan

betulan: berpayudara besar, ber- rias lebih tebal dari perempuan

merokok, yang sering gonta-ganti pacar, yang terlalu polos dan ter-

dan segala stigma-stigma lain yang menempel pada perempuan. Intinya pembicaraan khas

mengobjektifikasi perempuan dengan nada sensual. Ketahuilah, ada perasaan tidak nyaman yang sesak di dada, tetapi juga terlalu berat untuk diungkap ke dalam tongkrongan.

dialami laki-laki. Pengalaman seks menjadi hal yang sangat

harus dijauhkan sejauh mungkin. Padahal, hasrat seksualitas ten-

hampir setiap tubuh yang memiliki kelamin. Dalam hal ini, setiap

Oleh karenanya membicarakan tentang seksualitas juga

orang, milik semua jenis kelamin. Obrolan-obrolan seputar

puan juga patut mendapat panggung yang sama dan setara di tengah masyarakat. Tidak perlu

hanya dipendam terus. Tidak ada perempuan yang harus menang- gung segala resiko akibat informasi soal seksualitas yang terus disembunyikan dari perempuan untuk membodoh-bodohi perempuan lagi. Ya, membodoh-

terhadap tubuh sendiri.

Lagipula, kami sudah terlalu bosan dengan petuah menjaga diri yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan ego toxic mascullinity.

perempuan tidak dapat berlaku sebebas laki-laki. Tidak boleh keluar malam lebih larut dari laki-laki, tidak boleh tertawa se- keras laki-laki, tidak boleh duduk dengan kaki terbuka selebar laki- alaman seks seperti yang ‘wajar’

atau terbungkam, adalah tabu bagi perempuan, sehingga

Pada saat perempuan nong tu menjadi suatu naluriah bagi

tersebut mulai membicarakan tubuh manusia memilikinya. teman wanita mereka yang ke

ke banyakan, perempuan yang merupakan topik milik semua

tutup, yang baru saja bercerai, seksualitas yang dialami perem-

laki-laki yang ujung-ujungnya disembunyikan lagi, tidak perlu

Selain mengobrol, di dunia bodohi, karena informasi adalah ini, atau khususnya Indonesia, sumber pengenalan dan kuasa

laki, tidak boleh memiliki peng

Perempuan Bahas Perempuan (Episode 1) - Masturbasi

etiap narasi yang hadir dalam membaca tubuh perempuan

reka pada bilik-bilik yang meru- gikan perempuan itu sendiri. Tidak boleh terlalu tebal berdan- dan, tapi tetap harus merawat diri. Harus mampu multitasking, tapi tak boleh menjabat tinggi- tinggi. Tak boleh terlalu kurus,

tapi jangan sangat berisi. Tak elok berbicara seks, tapi harus andal

Perempuan jadi bingung bagaimana mereka bercerita soal tubuh mereka sendiri. Mana topik yang boleh diumbar, mana hal yang tak bisa jadi obrolan di meja makan.

Hal ini kami kira karena perbincangan soal perempuan justru keluar, bahkan sangat didominasi oleh laki-laki. Yang tentu saja penuh virus patriarki. Lalu, bagaimana sebenarnya perempuan ingin membahas soal perempuan itu sendiri?

Zine Think mencoba membu- ka topik obrolan yang menerus didominasi oleh kaum laki-laki ini: perempuan yang masturbasi. Namun kali ini, mari kita beri panggung sepenuhnya bagi mereka, perempuan.

VIDEO LENGKAP SCAN DISINI!

Shampir selalu menyeret me'melayani' di atas ranjang.

Selamat Hari-Bulan Melawan, Manusia Penuh Keberagaman!

WMYKT/Winih

elamat hari melawan: bagimu perempuan den-
gan segala perjuangan mendapatkan hidup layak,

Sperlakuan setara, juga bagimu yang melalui jalan terjal hanya untuk dianggap perempuan, pun gen-

der apapun seturut kehendakmu.

Dunia memperingati 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia. Sejarah mencatat bahwa perjuangan perempuan yang melawan, terjadi karena ketertindasan yang perempuan rasakan hanya karena memiliki gender wan. Sebab mata pisau yang perempuan. Ketertindasan berb- asis gender ini tentu tidak hanya menggerogoti perempuan saja.

Bagaimana dengan, mereka akan perbedaan, akan ketidak- yang seumur hidup dibesarkan mampuan menjadi Tuhan-Tuhan sebagai perempuan oleh keluarga dan lingkungannya, padahal

yang berhak juga untuk bersuara akan pengalamannya? Bagaimana dengan mereka yang seumur

hanya karena mereka perempuan, lalu lebih diperlakukan berbeda lagi saat mereka menghayati diri sebagai gender lainnya? Bagaimana dengan mereka yang seumur hidupnya berada dalam lapis mayoritas, yang dikira akan penuh imunitas yang kebal luka dan air mata? Bagaimana mereka yang sehari-hari hanya berusaha untuk jadi diri sendiri saja namun terus-menerus terkungkung

yang kisahnya tak tersentuh, tak pernah tercatat jadi sebuah cerita, tak pernah punya kesempatan bersuara atau terlihat wujudnya oleh manusia lainnya di belahan

dunia, tapi juga merajuti kisah hidup penuh luka yang hampir sama?

Hari Perempuan Sedunia, sejatinya juga merupa Hari Mela-

meliyankan manusia sebenarnya ialah sistem yang diamini oleh mereka yang ketakutan akan dilengserkan, akan kelemahan,

kecil dalam kehidupan; yang se- lama ini telah menjadikan mere-

bahagia semu, yang menutupi luka-luka manusia lainnya, dan menjadikan mereka seolah tak

Bagimu tuan dengan segala tempat istimewa di sana, laki-laki dengan lapis mayoritas yang penuh berada di dalam tas, jelas membuatmu punya imunitas. Tak percaya? Lihat bagaimana mereka perlakukan manusia sebay- amu yang identifikasi diri sebagai perempuan. Bajunya selalu jadi cerca, lantas bajumu jadi puja. Lakunya diselimuti hinaan, pa-

Ketidakmampuanmu menopang kebutuhan perutmu sendiri di dapur dianggap kewajaran, namun bagi mereka yang sama sep- ertimu dan perempuan, dianggap

mereka adalah laki-laki nyata ka hidup penuh kuasa nyata dan

hidup diperlakukan berbeda nyata.

standar norma? Pun mereka, dahal lakumu seringkali dielukan.

sebagai kelemahan yang merun- tuhkan harga diri perempuan. Ketidakmampuanmu dalam banyak hal seringkali diloloskan, padahal jika kau perempuan, maka hukuman akan jadi kejadian yang tak terbantahkan selanjutnya. Eksistensimu penuh merupa manusia utuh yang mendekati sem-

sekali pakai ketimbang manusia yang jelas punya rasa, nyawa dan, jiwa yang berhak atas hidup se-

tara dengan manusia lainnya.

Mata pisau dari bibir tetangga, selalu pada mereka yang tidak memenuhi kriteria ala negara tapi tumpul bila dihadapkan sosok lain, tapi tumpul tak bersisa jika menghadapmu atau sosok lain yang jelas punya kuasa, har-

menghayati diri sebagai perempuan, terlahir dengan suku, aga- ma, ras dan adat yang minoritas, ditambah dengan kondisi tubuh

purna, tapi mereka? Seringkali ta dan tak punya rasa. Pernah dianggap lebih merupa barang tahu rasanya jadi manusia yang

yang tak bisa nyambung den-lajaran yang kamu lalui dan miliki gan kata sempurna milik may-dalam kehidupanmu. oritas, juga dengan orientasi sek- sual serta ekspresi gender yang Peluk erat merupa rajut bena- ragamnya tak ikuti standar duali-ng yang terus menyelimutimu! tas? Tidak? Hidup manusia yang melawan Untukmu yang merupa manu-ketidakadilan! sia dengan lapis latar belakang Selamat hari dan bulan penuh yang beragam dan tak terbatas, perlawanan, manusia penuh ke- selamat hari dan bulan melawan. beragaman! Kamu tidak pernah sendirian dalam kehidupan. Terima kasih telah berwujud manusia luar bi-Yogyakarta, 28032021 asa tiap harinya dengan selalu Kang Se Duh bertahan. Kamu valid, kamu eksis dan kamu visible apapun pembe-

ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001

Tarian Petang

Himas Nur

basah tanah mendesak singgah saat kulayang pandang ke awan hitam bulirnya sekali dua cepat melekat, simbah di paras jendela ah! janji kencan petang ini lengkap sudah tirai kubentang dan kupastikan segalanya aman sebab ritus yang akan dijalankan mesti melaju dalam diam kecuali bila kau ingin viral sekaligus didepak dari kos-an

ini bukan pertama kali namun dadamu musti jadi tempat kembali tiap kulucuti satu demi satu kancing baju dan kutemu peluk yang utuhnya lebih dari siapapun barangkali benar bila tubuh merekam ingatan berkali ulang jejak jemariku tualang berkali pula deru jantungku kian memburu

ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001

lalu kita menjelma kekunang meramu tarian sepanjang petang sampai kita menuju pusaran kidung rayu yang riuhnya buat kasmaran seirama peluh mengayuh dendang tubuhku penuh berlabuh kenang begitulah berkah nikmat diciptakan namun sayang, itu bukan milik puan!

O diri, terima kasih telah berbaik hati meski ritusmu sunyi dan suka dicaci darimu mampu kutelusur aku biar dihunus tabu dan dihujat lacur darimu justru kukenal aku

lalu kita menjelma kekunang meramu tarian sepanjang petang maka lengkap sudah kelana persetubuhan sebab diri tak lagi takut menari dan masturbasi jadi perayaan pulang paling hakiki

280421 || 3:37 Himas Nur

Menawarkan Etnografi Feminis dalam

Perihngatan

Penelitian Sosial

Kesibukan tradisi positivistik telah menjadi basis kekhawa tiran sejumlah cendikiawan feminis. Tradisi yang tampil sebagai metode tunggal di awal kemunculan ilmu sosial ini dianggap telah mencederai pelbagai hasil kajian perempuan. Secara historis, metode positivis menerapkan prinsip-prinsip ilmu alam pada ilmu sosial yang berjarak dengan objek kajian, netral, dan *bebas nilai dalam prosedur metodologisnya (Hardiman, 2009,** **pp. 27-29). Imbas dari tradisi ini, menurut seorang—sosiolog, et-* nografer, dan feminis—Aparna Rayaprol, telah kehilangan nalar kepekaan gender dalam prosedur penelitian akibat ambisi ob- jektivisme dalam memahami realitas sosial (Rayapol, 201 6, p p . 384-385) sehingga mengakibatkan hilangnya keberpihakan pada subjektivitas/pengalaman perempuan (Mies, 1993, p. 38). Atau dengan kata lain, metode positivis menyelewengkan pengetahuan; bermuatan androsentris atau, berorientasi laki-laki (Reinharz, 1992, p. 46).

etidakpuasan’ atas metode positivistik di

‘Katas mendorong cen-

dikiawan feminis menjungkal- kan dalil netralitas/objektivitas terhadap objek penelitian yaitu

non-positivis. Metode ‘alternatif’

ini bertumpu pada interpretasi, aksi menyelam ke dalam latar sosial, dan bertujuan memperoleh pengertian antarsubjektif antara peneliti dan orang(-orang) yang diteliti (Reinharz, Feminist

1992). Terdapat beragam bentuk
dengan mengelaborasi metode Methods in Social Research,

metode yang telah dikembang- kan dalam usaha menghadirkan pengalaman perempuan, seperti Feminist Ethnography, Feminist Oral History, Feminist Action Research, hingga Feminist Mul- tiple Methods Research. Salah satu dari sekian ragam metode alternatif yang akan dijelaskan lebih jauh adalah Etnografi Feminis (Feminist Ethnography).

Metode penelitian berpijak pada etnografi feminis sebagai ragam perkembangan dari metode-metode feminis dalam penelitian sosial (feminist research). Etnografi feminis merupakan sebuah model penelitian yang menem- patkan pengalaman perempuan sebagai sentral penelitiannya. Terdapat tiga prinsip etnografi feminis kontemporer yaitu, pertama, mendokumentasikan hidup dan aktivitas perempuan. Tahap ini dimaksudkan melihat bagaimana perempuan memainkan peran signifikan dalam kehidupan ke- lompok tertentu. Ditambahkan oleh Susan Stall bahwa hal ini di-

kekuatan perempuan dalam latar sosial. Kedua, memahami pengalaman perempuan dari sudut pandang perempuan (itu) sendiri. Hal

ini bertujuan untuk menyumpal ketimpangan cara pandang yang memunggungi aktivitas dan pe- mikiran perempuan, atau menghindari tafsir yang male-oriented. Ketiga, mengkonseptualisasikan lakon perempuan sebagai ekspresi dari konteks sosial. Artinya, peneliti dituntut mampu memahami dan menganalisa masalah berdasarkan aras tujuan penelitian (Reinharz, 1992).

Ketiga tujuan etnografi feminis tersebut pada dasarnya saling ber- dialektis dan diiringi refleksi. Oleh karena itu, peneliti, melalui etnografi feminis dituntut mampu menyelam ke dalam latar sosial subjek penelitian dan memecah kekakuan antara peneliti dan orang(-orang) yang diteliti serta sudut pandang yang lebih lentur. Etnografi, atau kerja lapangan feminis, juga dianggap tepat untuk menambal ketimpangan cara pandang yang patriarki dalam ilmu sosial, terutama fase tradisi positivistik, yang telah sejak lama menjangkiti ilmu sosial (Rayaprol, 2016). Sebuah cara yang berfungsi menghindari deforestasi suara-suara perempuan.

Keutamaan analisis feminis

tas dalam format. Artinya, peneliti dapat menggabungkan dan menggunakan berbagai model analisis (Reinharz, 1992; Steller,

tempuh untuk mengungkapkan dalam etnografi adalah fleksibili-

2007). Analisis bergerak dari tumpukan data yang besar menuju pengaturan data dengan pemetaan secara topikal, tematik, dan in- terpretatif. Pada proses ini juga melibatkan reduksi data yang mengharuskan peneliti mengam- bil informasi yang kontekstual searas dengan tujuan penelitian, men- gambil keputusan tentang cerita mana yang diceritakan, atau mengikuti Buch, “utas mana yang akan ditarik” (Staller,
2007). Olehnya, peneliti yang menggunakan etnografi feminis memiliki kekuatan politik sekaligus keberpihakan pada posisi teoritis dan etis feminis.

Catatan Refleksi

Kerja-kerja penelitian sosial kontemporer (seharusnya) tidak lagi berpusat pada sekadar menambahkan variabel gender, tetapi memeriksa ketidak- lengkapan metode penelitian sosial. Namun, saya juga sepakat dengan Aparna Rayaprol yang mengisyarat-

kan agar tidak terlalu jauh jatuh pada afinitas dalam peneliti-diteliti, ia hubungan menyaki- ni penundaan empati/simpati semacam itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan pengetahuan dan memungkinkan bela- jar lebih banyak tentang orang-orang dalam studi yang dilakukan. Anjuran selanjutnya adalah pent- ingnya pendekatan multidisiplin

dalam studi gender. Terakhir, sebagai simpul atas seluruh hasil refleksi Aparna Rayaprol adalah, bahwa memasukkan perspektif/ metode/teori feminis tidak serta merta mengeliminasi metode lainnya melainkan, metode penelitian ilmu- figurasikan sosial lainnya dikon ulang agar sesuai dengan kebutuhan realitas sosial kontemporer.

Referensi

  1. Hardiman, F. B. (2009). Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Ju- rgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Leavy, S. N.-B. (2006). The Practice of Qualitative Research. Thousand Oaks: Sage Publications.
  3. Mies, M. (1993). Feminist Research: Science, Violence, and Responsibility. In V. S. Mies, Ecofeminism (pp. 36-54). New York: Zed Books Ltd.
  4. Rayapol, A. (2016). Feminist research: Redefining methodology in the social sciences. Contributions to In- dian Sociology Vol. 50, No. 3, 368-388.
  5. Reinharz, S. (1992). Feminist Methods in Social Research. New York: Oxford University Press.
  6. Staller, E. D. (2007). The Feminist Practice of Ethnography. In S. N.-B. Leavy, Feminist Research Practice: A Primer (pp. 187-221). Thousand Oaks, California: Sage Publications.

Mari Bertemu Di Angkringan Ibumu

Laviaminora
“They say true love’s the greatest weapon to win the war caused by pain”
  • All Night, Beyonce Knowles eberapa detik setelah aku 3 tahun lamanya itu selalu ada menutup telepon, aku kamu dalam pendampingan- hanya terdiam meman-nya. Dan kini ketika buku itu siap Bdangi endapan hitam di mengudara, kamu tidak ada. Aku dasar gelas kopi yang berdiri di seperti melahirkan anak yang tak hadapanku. Kabar bahwa minggu punya bapak. ini bukuku akan naik cetak rupa- nya tidak senantiasa membuatku Ketiadaanmu menjadikan ba- merasakan kupu-kupu beter-hagia adalah hal asing dan cukup bangan di perut. Awalnya kupikir mustahil untuk dilakukan buatku. aku cemas karena dari dalam Bagaimana tidak, kalau kekasih bukuku akan tercium ‘aroma kiri’ hati, orang yang kerap mendekap dan menjadikan toko-toko buku diri setiap dingin menerjang, te- indie yang menjualnya disatroni man mengerjakan skripsi hingga polisi seperti yang sudah-sudah, semester belasan, teman orasi, tapi ternyata tidak. Bukan itu. bersama memandangi tem-Memang betul kata Slavoj Zizek, bok kontrakan, tiba-tiba hilang? bahwa manusia acap kali tak lya, kamu hilang. Kamu tidak mengerti akan keinginannya, tapi kupastikan kecemasanku kali ini meninggal—setidaknya begitulah yang kupercaya. ditelurkan oleh segudang rindu.
    Sebagai seseorang yang su-Sebab dalam buku yang kutulis

dah menemanimu bertahun-tahun, bahkan sejak pertama kali kamu menginjak kota perantauan untuk menyelesaikan studi, aku merasa gagal. Pasangan macam apa sih aku ini, di saat gas air mata menyeruak dengan liar di

malah aku melepaskan penga- wasanku atas kamu? Seharusnya aku tetap gandeng tanganmu ketika kerumunan lambat laun memecah, bukannya malah lari tak tentu arah. Gang-gang sempit di sekitaran Jalan Malioboro yang seharusnya menjadi jalan pin-

malah membuat kita semakin ter- jebak. Sial sekali tanpa kita pre- diksi, di ujung gang ada banyak anggota ormas khas kota Jogja yang siap menggebuk kita semua menggunakan gear sepeda dan balok kayu kasar. Di detik kulihat

oleh mereka, di saat itulah aku sudah merasakan bahwa orasimu di bawah pohon beringin adalah satu-satunya kenangan dan terakhir kalinya suaramu kudengar.

Kamu hilang. Kamu tidak meninggal—setidaknya begitulah yang kupercaya.

“Di bukumu nanti, kamu kasih kata-kata persembahan gitu gak, Fi?” Tanyamu suatu ketika men-

gamati halaman awal novel yang kau genggam.

Sembari menikmati sejuknya angin yang berembus dari AC ru- ang perpustakaan kampus, aku menghentikan gerak jariku di

sekat di antara kita berdua. “Mau- nya sih gitu. Nanti aku tulis tentang kamu juga ya!” Kata-kata itu aku ucapkan dengan binar dalam mataku, yang malah membuatmu menggelengkan kepala diser- tai dengan ekspresi kaget. Kamu mendorong pelan layar laptopku

jat dan memajukan tubuhmu ke arahku. “Fi, aku gak mau kalau sampai aku kenapa, lalu kamu juga ikutan kenapa”, katamu lirih dan dengan tatap mata yang cukup serius—tatapan yang kerap berikan ketika sedang meren-

sama teman-temanmu.

“Kamu gak mau kan, kejadian mirip-mirip bulan Juli kemarin ada lagi dan malah bikin tambah susah?” Kudengar ada permoho- nan dalam kalimatmu.

Aku cukup sadar bahwa hubungan yang kita jalani akan banyak kerikil dan tanjakan terjal melelahkan yang seringnya datang dari orang-orang yang menganggap orang-orang seperti

antara kerumunan demonstran atas laptop terbuka yang menjadi

tas untuk menghilangkan jejak dengan sudut sebesar 45 dera-

teman kita—Ilsmail diberangus canakan aksi turun ke jalan ber-

kita adalah ancaman. Plokis, kita sebut saja mereka begitu. Dikel-

nasi rames, atau dibuntuti orang tak dikenal, hal-hal seperti itu yang kemudian kerap membuat kita tidak mampu bergerak bebas, terlebih saat Gejayan Memang- gil usai dilaksanakan. Akibatnya, tidak pernah aku menyimpan nomor-nomor handphone-mu, begitupun sebaliknya.

sejatinya masih kesal dan akan selalu kesal atas kejadian 2 tahun lalu di bulan Juli saat komplotan plokis memberedel telepon geng- gammu dan membaca pesan-pesan di dalam WhatsApp-mu.

“Siapa orang yang kamu pang- gil dengan sebutan ‘Pip07”™ di grup ini?” Tanya seorang plokis

yang gondrong sedagu dan dis-

pipi kananmu. Kamu tetap ter-

lebih baik mati daripada identi- tas kawanmu terungkap dan di- hilangkan. Tinju itu menorehkan luka ketika kulit wajahmu beradu dengan cincin akik yang terse- mat di jari tengah pria buncit itu. Bopeng yang cukup besar di pipi karena tajamnya ban cincin itu menjadi salah satu ciri-ciri yang-selalu kusematkan dalam upaya-

upayaku menemukanmu. Ada puluhan, ratusan, bahkan mung-

untuk membuatmu kembali. Namun, hingga 6 bulan lamanya tidak juga kutemui tanda-tanda dirimu masih hadir di muka Bumi. lya, kamu hilang.

Kamu tidak meninggal—setidaknya begitulah yang kupercaya.

Di warung kopi ini, aku tidak

jumbo seperti dulu. Aku lebihsu- ka merayakan kehilanganmu dan rindu yang terus-menerus men- getuk dada dan kepalaku segelas kopi hitam nan pahit dengan yang biasa kamu pesan. Aku lebih suka menghabiskan waktu di sini sendirian hingga larut malam sambil menyelesaikan skripsi yang telah ditagih para dosen

khir. Dengan kelelahan lahir dan
lagi punya waktu untuk menangis

hat jaket jeans milikmu yang ter- gantung di kamar kontrakan. Aku pun setidaknya jadi sering makan di angkringan milik ibumu yang letaknya hanya 200 meter dari warung kopi ini.

Ibumu yang sudah beru- mur 50an tahun, semangat dan hi dungnya yang mancung selalu

ilingi intel saat sedang makan kin ribuan kertas yang kusebar

Omong-omong soal itu, aku lagi memesan es teh berukuran

sembari menjambak rambutmu pembimbing sejak 2 tahun tera-

usulkannya bogem mentah di batin yang kubawa, aku tak akan

diam, karena bagimu memang di setiap malamnya karena meli-

mengingatkanku terhadapmu. Dari tangannya yang kurus dan

macam minuman dan makanan yang dipesan oleh orang-orang di sana—meski terkadang hanya ada aku yang mampir.

Bagaimana aku tidak terpana jika gerak-gerik ibumu dalam me- nyajikan bakaran sate usus, tempe mendoan, bacem ayam, tahu, dan tempe kepada pelanggannya sama persis dengan caramu bertingkah laku. Tidak jarang juga dalam ket- erpanaan itu, ibumu menangkap basah aku yang kemudian buru- buru mengedipkan mata. Aku pikir ibumu tidak mengenaliku hingga akhirnya semalam perempuan be- rambut putih itu menyapaku lewat obrolan singkat.

“Mas Alfi,” katanya. “Gimana kuliahnya?”

Mendadak tenggorokanku ter- cekat, nasi sambal teri yang ku-

terhenti di tengah-tengah ker- ongkonganku. Mataku sedikit ter- belalak dan tenggorokanku terus berupaya melakukan gerak peri- staltik supaya makanan yang ku- kunyah mau masuk ke lambung.

Alhamdulillah, lacar, sae, Bu. Tinggal nulis bab penutupnya”. Di tengah sepinya angkringan

ibumu, aku menutupi rasa cang- gungku dengan hanya menatap

menyala hangat di hadapanku.

Alhamdulillah. Bagas kalau masih ada, mungkin sudah hampir selesai juga kaya Mas Alfi ya”.

Ibumu mengucapkan kalimat itu sambil berkaca-kaca. “Saya suka nangis tiap malam karena kangen sama Bagas.” Ibumu melanjutkan dengan kalimat yang membuat siapapun yang mendengar merasa robek hatinya. Aku hanya mampu terdiam, seolah ibumu tahu kalau aku sedang diselimuti oleh ombak kesedihan yang bergelombang, berlapis-lapis. “Bagas sebenarnya udah sering cerita tentang Mas Alfi ke saya, tapi saya gak berani nyapa Mas Alfi karena saya takut Mas Alfi malah pekewuh sama saya dan lantas gak mau ke sini lagi”™.

Ibumu mengatakannya sambil menata gelas yang baru saja di-

Kami berdua tahu bahwa kami sedang sama-sama sedang membendung air mata agar tidak menetesi pipi.

“Bagas hilang ya, Mas. Bagas tidak meninggal, setidaknya begitu yang saya percaya”, Ibumu melanjutkan ucapannya.

berotot, ia menyiapkan segala bara api yang sedari tadi masih

makan dengan bakwan jagung cucinya, memunggungiku.

ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001

Aku terus terdiam dan mem-untuk terus menyalakan apimu batu, rasanya tak sanggup terus di mana-mana meski tak lagi tegar dan kuat. Aku pun menan-mampu kujumpai dirimu hingga gis dalam hening, membiarkan akhir hayatku. segalanya ambyar tak karuan. Di depan ibumu dan di dalam Yogyakarta, 12-31 Maret 2021 hatiku, aku lantas bersumpah Laviaminora

ilustrasi: nadslay

ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001 Meniti Pencapaian

Nandatama Erda P

Suatu masa saat engkau menengok kalbu Akan sebuah batasan dalam aturan hidupmu

Ketika kau hadir tanpa harus memilih Kau lah gadis kecil dengan jari yang lentik Meski kau mampu namun kau tak dapat berlari Bersajak lembut layaknya seorang putri Melihat para Arjuna kecil yang bertarung dalam sebuah permainan

Gadis belia kini menjadi kembang desa Tak dapat jauh melangkah meskipun dia mampu Mencari sebuah ilmu dari apa yang dia mampu Bukan karena dia tak mampu Namun karena aturan yang kita pun tak pernah tahu

Kini dia mampu melangkah jauh, karena Arjuna kecil telah menjemputnya Sebagai Arjuna sejati yang akan dia temani sampai batas-Nya Terus berangan sampai detak jantung baru hadir Nyawa nyawa yang kini menjadi senyumnya Dan akan terus hadir dalam peluknya

Hingga tanpa sadar waktu hampir tak tersisa Sang mantan gadis telah memasuki usia senja dan tanpa ia sadari, seluruh hidupnya ikut larung bersama norma yang membelenggunya

Kini ia sadar, pencapaian perempuan hanya sebatas memenuhi ekspektasi semesta yang diciptakan dan dituturkan seturut keinginan Tuan

Selasa Sore

Ayu Nabila

I

Aku berjalan payah di tengah riuhnya jalanan Menatap risau tanah basah berbau penderitaan

Pada pemberhentian lampu merah kudapati tukang-tukang koran menghampiri satu persatu kendaraan menawarkan lembaran-lembaran kegelisahan hingga kepal- suan Badannya melahirkan cucuran payau kepedihan Tiap helaan nafas melantunkan mantra-mantra penghara- pan

Di sisi kanan becak-becak berseliweran memangku tubuh-tubuh renta sang tuan Bibir keriputnya memuntahkan semburat senyuman Sorot matanya berseteru dengan isi kepala menyoal keresahan Dalam dadanya, hal-hal kemarin mulai lagi dipertanyakan,

“Apakah kali ini saya bisa membawa beras untuk keluarga di rumah, Tuhan?” “Jangan biarkan kali ini kami kelaparan lagi. Aku memohon padaMu dengan penuh pen- gampunan.”

ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001

II

Dengan latar menghitamnnya irama langit, hujan mulai menyanyikan rintihan dalam dentum rintikan Menari di atas raga-raga mungil yang tersembunyi dalam kain gendongan Mereka adalah umpan untuk mengisi kaleng kaleng kosong rasa belas kasihan

Tak jauh dari sana, kaki kaki telanjang seorang bocah begitu riang melompat dari genangan ke genangan Sekuncup bibir kecilnya merekah kegirangan Jemari kurusnya menggenggam karung berisi kehampaan Sepasang mata polosnya lincah mengintai tiap tong pembuangan

Tubuhku mematung di perempatan, melamun kebingungan

Di mana Tuhan menyembunyikan kesejahteraan? Di balik stelan para pejabat kursi Senayan? Di dalam bisingnya alat-alat berat penggusuran lahan? Di bawah kasur empuk para investor? Di tumpukan kaos bercap angka dan wajah-wajah pendusta? Atau di sela-sela rambut klimis presiden?

Sepanjang jalan Gejayan-Sorosutan, 200321

ZINETHINK EDISI 001 ZINETHINK EDISI 001 Tunggal

Boim

Pada malam yang Di kamar yang tertutup, menghidupkan esok setiap hari adalah aku. Aku berharap sembuh dari segala kegelisahan, Di masa kondisi yang begitu semua kebingungan melelahkan ialah duka.

semua kebingungan melelahkan ialah duka.
sendu, semua Aku adalah tokoh yang
abstrak ini aku diharapkan oleh
gapapa-in aku yang lainnya.

bertahun-tahun.

ZINE

Saat cahaya hadir ada Tanpa sadar setiap tanda yang memberikan melahirkan kecewa. ekspek jawaban harapku t asi sementara dingin memeluk Tapi waktu terus jantung lebih erat. memberikan kapan? Aku telanjang dalam rasa THINK bersalah yang mendalam. Hingga beku dan perayaan kematian ada.

ZINE THINK

zine.think [email protected]