ZINETHINK
DI BALIK IWD 2022:
Mari Jeung Rebut Kembali
Edisi 002 Edisi 002
Biasanya, perasaan harap-harap cemas ini sudah dimulai sejak Maret sayup-sayup datang menggantikan Februari yang singkat. Hawa hangat hingga kelewat panas yang menggeser dingin Desember, walau satu dua kali masih kita jumpai hujan dalam bend- erang siang: menandai datangnya bulan magis ini. Kami, biasanya juga sudah mene- mui satu dua postingan yang mulai memantik hari bersejarah ini di laman media sosial atau, bahkan kita kunjungi sendiri akun-akun yang bersinggungan dengannya. Acara Diskusi, Lomba Menulis, Nonton Bareng, Ulasan Film/Buku, Pentas Seni, Diskursus Online, hingga konsolidasi menjadi acara-acara pembuka yang mengiringi acara puncak kita terselenggara.
ZINETHINKEdisi 002
Hari Perempuan di Seluruh Dunia.
Mengetik ini saja, seluruh tubuh saya kembali merinding. Sempat terlintas di pikiran, kenapa harus ada hari perempuan sedunia padahal perempuan, dengan segala bentuk dan rupa penindasan yang sudah diterima sejak mereka ditarik ke dunia dari vagina-vagina yang dirobek atau rahim-rahim yang disembelih: pada satu titik tertentu, akan memiliki rasa ingin saling melindungi yang sama. Tanpa perlu adanya hari pengingat atau aksi-aksi yang terselenggara. Setidaknya, hal itu masih kami yakini. Misalnya, kita sebagai perempuan, sebenarnya tidak perlu postingan bertema sisterhood paham benar bagaimana sakitnya menstrua- si sehingga tidak perlu bertanya dua kali saat ada kawan lain yg mengeluh kesakitan, atau dapat secara instan merasakan penderita- an korban kekerasan seksual sehingga tak perlu pertanyaan macam-macam saat ada cerita serupa mengalir ke telinga, atau kami yang tanpa ragu menyakinkan keputusan kawan yang mengakhiri
hubungannya yang toksik karena demi Tuhan, mereka pantas diper- lakukan jauh lebih baik, atau sekadar memuji tanpa tendensi seksual yang menjemukan tanpa perlu lagi menjelaskan bagaimana caranya. Semuanya berjalan naluriah saja. Tapi nyatanya, setiap pergerakan dan perjuangan perempuan memang akan selalu menjadi penanda dalam perubahan dalam peradaban, perjuangan perempuan yang lekat dengan merawat kehidupan, akan selalu menjadi perubahan-perubahan sosial yang melestarikan. Dari sana, rasanya ingin mengambil kesimpulan bahwa: penanda, peringatan, perayaan Hari Perempuan, bukan semata untuk kami perempuan. Namun ia adalah penanda bagi kehidupan itu sendiri. Untuk kembali mengingatkan bahwa setiap hembus napas perjuangan perempuan selalu menciptakan kesembuhan-kesembuhan baru bagi dunia. Elizabeth Cady Stanton dan Susan B. Anthony, jauh di belahan benua Amerika pada 1848: berjuang menghapuskan perbudakan di Amerika Serikat dan membuat perempuan memiliki hak mengambil suara politik. Dunia lalu mengingatnya sebagai gelom- bang pertama perjuangan perempuan di dunia. Seabad berselang, Clara Zetkins, Rosa Luxemburg, dan Emma Goldman menularkan semangat perjuangan untuk menghapus segala perbudakan dari penjajah Eropa ke negara-negara di Asia dan Afrika. Atau di Indonesia, kita mengenal Raden Dewi Sartika dari Bandung, tokoh perintis pendidikan untuk perempuan di tahun 1904 sehingga beliau dijuluki Ibu Pendidikan bagi Perempuan. Atau Cut Nyak Dien, seorang pan- glima perang dari Aceh yang turut menyelamatkan Indonesia dari Penjajah Belanda.
perempuan, dengan segala bentuk dan
rupa penindasan yang udah diterima sejak
mereka ditarik ke dunia dari vagina-vagina
yang dirobek atau rahim-rahim yang
disembelih
Lalu kita juga tidak melupakan HR Rasuna Said, yang gigih berdiri memperjuangkan kaumnya dengan jalan politis dan media masa. Lalu Ibu yang lagunya bergema setiap tahun seantero Indonesia, Kartini: yang menanggalkan segala predikat dan hak-hak Istime- wanya sebagai bangsawa untuk berdiri menciptakan emansipasi perempuan. Semua penanda-penanda sejarah perjuangan perempuan ini, adalah pengingat bagi dunia betapa napas perjuangan perempuan selalu melahirkan hidup yang lebih baik, lebih manusia. Demi semua yang sudah terjadi maka, hari perempuan memang harus dunia rayakan. Ada banyak sekali tempat bersejarah yang bisa menjadi penanda suatu daerah, juga Jogja dan Tugu Pal putihnya yang jujur saja, kelewat gersang di siang hari dan membosankan di malamnya. Tapi siang itu, 8 Maret 2022 Tugu Jogja seolah menjelma menjadi taman bermain yang membuat kita kegirangan memasuki sekolah sewaktu taman kanan-kanak. Ia menjelma halaman konser tempat band favorit kita 5 menit lagi naik ke atas panggung. Tugu Jogja adalah sebuah bangku tidak terlalu panjang tempat kita duduk bersama kekasih di kencan pertama. Tugu Jogja adalah rumah sendiri tempat kita tak malu memakai kaus kumal tanpa kutang, dan Tugu Jogja adalah, kamar kita di jam 12 malam ketika kita dapat masturbasi sepuasnya. Hari itu, bersama Tugu Jogja, kita kembali mengingatkan dunia, lalu merayakannya.
Daftar Isi
Cecilia Elma
Ayu Nabila
Kolektif Tanpa Nama
nnmtmnnh
Zefan Nugraha
Nadslay
IWD Semarang
Mahakata
IWD Jakarta
Daena Rosal
Laviaminora
Cecilia Elma
@cecilmotret
Selama 20 tahun hidupnya, hari itu adalah kali pertama seorang Cecilia Elma turun ke jalan untuk aksi. Sepanjang peristiwa memang tidak terlalu banyak teriak-teriak dan bersuara (kecuali ngo- brol dengan orang yang dia kenal), tetapi dirinya sibuk muter-muter pindah posisi untuk captured moment yang dianggap berharga dan penting dihidupnya sebagai perempuan.
Foto-foto ini aku persembahkan untuk semua orang yang sudah datang untuk berani bersuara, kehadiranmu sukses membuat euphoria tersendiri yang mempengaruhi hidupku. Kalian semua keren-keren banget, it’s an honored for me untuk bisa mengabadikannya.
Happy International Woman’s Day 2022
Foto-foto ini aku persembahkan untuk semua orang yang sudah datang untuk berani bersuara, kehadiranmu sukses membuat euphoria tersendiri yang mempengaruhi hidupku. Kalian semua keren-keren banget, it’s an honored for me untuk bisa mengabadikannya.
Happy International Woman’s Day 2022
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Bulan ketiga di hari kedelapan,
AYU NABILA
perdebatan kritis datang ber- arak dari isi kepala perempuan @nn.ladybird dan segala minoritas terping- girkan.
Diperkosa
Amarah dilumurkan pada runcing Tugu Pal Jogja.
Negara,
Cahaya matahari beradiasi
Ditelanjangi melewati celah-celah di antara
teriakkan perempuan memba- cakan empat puluh dua
Amuk
tuntutan.
Serakah
ZINETHINK ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Pada tubuh-tubuhnya bersemayam keberanian atas penindasan hingga ketidakadilan yang terlam- pau karatan.
Keadilan, keadilan, keadilan, telah lama meregang nyawa.
Kurasa sejak Nabi Adam diusir dari sorga.
Sejak peradaban manusia di bumi lahir kali pertama.
RUU PKS dipreteli tanpa ada aba-aba. pengesahannya masih tertahan tahi basah tirani.
Sebonggol kesetaraan hancur di antara geraham kekuasaan, kepicikan!
Wadon Wadas menenteng kekhawatiran sambil meng- anyam besek.
ZINETHINK
ZINETHINK
Wadon Wadas memangku kegelisahan sambil membuat gula aren di tungku-tungku batu.
Seisi Wadas dengan segala penghidupannya dihantui derita, diselimuti ketakutan.
Tanah Wadas mendapat giliran jadi pemuas nafsu pemerintah membangun bendungan.
Lagi-lagi, kami diperkosa negara, ditelanjangi amuk serakah.
Perempuan dan segala minoritas lain memang akan selalu digempur dan dipinggirkan oleh negara itu sendiri
Namun, selama itu pula napas panjangnya akan terus lahir!
Edisi 002
Edisi 002
KOLEKTIF TANPA NAMA
@kolektiftanpanama
KOLEKTIF TANPA NAMA
Merawat Solidaritas
Melalui Visibilitas.
Foto-foto: Dok/Kolektif Tanpa Nama
Setiap dialog renyah yang kami habiskan bersama tidak pernah luput pengalaman soal “bersembunyi”. Bagi individu LGBTQ, bersembunyi adalah mekanisme bertahan untuk menyelamatkan diri dari ragam potensi kekerasan yang sudah antri menyerang kami. Di hari perempuan internasional ini kami berkesempatan untuk menunjukkan visibilitas dan melantangkan suara kami. Turut dalam hari ini, perempuan lesbian, perempuan biseksual, transgender perempuan, dan seluruh perempuan queer berhak penuh untuk merayakan dan bersolidaritas bersama.
(@kolektiftanpanama)
KOLEKTIF TANPA NAMA
Merawat
Solidaritas
Melalui
Visibilitas.
nnmtmnnh
Ragam Perempuan.
Ragam Perempuan. Sudah lelah menjadi bukan diri sendiri, berkali-kali memaksa diri fit in society. Perayaan IWD 2022 lalu adalah tentang bagaimana untuk kali pertama di ruang publik secara utuh dan penuh kesadaran mengekspresikan tubuh saya; sebagai perempuan, sebagai queer.
@nnmtmnnh
ZEFAN NUGRAHA
@zefanugraha_
Transgender laki-laki di dalam
peringatan Hari
Perempuan
Internasional
Menjadi transgender laki-laki atau transgender female to male yang dibesarkan dalam lingkungan patriarkis bersamaan dengan tuntutan norma-norma yang masih sangat biner, membuat saya dibebani oleh ekspektasi konstruksi masyarakat tersebut. Ketika ingin menja-Foto-foto: Cecilia Elma di laki-laki haruslah maskulin begitu juga dengan toksik-toksik maskulinitas yang sangat membuat tidak nyaman. Di dalam peringatan Hari Perempuan Internasional ini saya merasa mendapatkan ruang untuk mengeksperesikan diri dan menyuarakan tuntutan saya. Untuk siapa saja yang membacanya, transgender laki-laki yang dilekatkan dengan kemaskulinitasan toksik sangatlah menya- kitkan dan mempersulit proses penerimaan diri di lingkungan masyarakat.
Zefan Nugraha
nadslay
pulang.
How you identify and see youself is your
human right, who you fuck and take that ass
to Red Lobster is your human right.”
- Beyonce, Glaad Awards 2019.
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
pulang. pulang.
pulang. pulang.
Dua kalimat sederhana tersebut seakan menjelma mantra bagiku yang waktu itu, pertama kali memutuskan pulang di IWD 2019. Iya, turun ke jalan, membentang bendera warna-warni di hadaapan semua orang, bagiku adalah kepulangan besar (yang akan terus aku rindukan). Namun waktu itu, aku masih struggling dengan identitas seksualitasku. Selaras dengan dua kalimat Beyonce, IWD juga mewujud rumah aman bagiku untuk pulang dan diterima. di sana pula tepat empat tahun lalu aku menemukan keluarga baru yang dapat menerima insan queer ini dengan utuh menyeluruh. Aku bukan orang yang pandai mengungkapkan isi hati dengan kalimat, tapi Maret ini sungguh sentimentil. Ia membuatku menyampaikan isi hati di pojokan kafe di daerah selatan Jogja. Sekuat hati aku menahan air mataku, walau gagal juga: "aku adalah orang yang paling tidak beruntung di muka bumi ini. dari apa-apa yang sudah-sudah, saya yakin itu. aku nggak pernah sama sekali menangin apapun dari hidup, dari lomba serius sampe giveaway remeh temeh. NANDA, ndak pernah menang. tapi kalau lagi sama kalian, kok rasanya aku sedang menang. aku adalah orang paling beruntung di dunia."
Selamat hari perempuan internasional ladies, gentlemen, and the nonbinaries of the world yang merupa dan mewujud ruang-ruang aman.
IWD SEMARANG
Peringatan Hari Perempuan Internasional (IWD) 2022 di Semarang berlangsung di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, di Jalan Pahlawan. Bagi kami, IWD merupa- kan momentum perebutan ruang untuk perempuan dan kelompok rentan, yakni kawan-kawan queer. Perspektif intersek- sionalitas membedah ‘perempuan’ tak maujud pada satu entitas semata, melaink- an terdiri atas etnisitas, kelas sosial, pengalaman disabilitas, serta keragaman gender dan seksualitas yang beraneka. Lapis penindasan dan marginalisasi yang serupa, yakni seksisme, patriarki, dan bahkan cisheteronormativitas, membuat kita perlu merengkuh peluk, untuk bersama-sama mendobrak bias, mengejek, menghancurkan, dan melakukan konter wacana atas struktur-struktur kuasa yang jahat tersebut.
Himas Nur Koordinator Umum IRIS Collective (@it- siriscollective)
ZINETHINK ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Mahakata Bonjour,
Yogya!
Tahun ini adalah kali pertama ku (--Mahakata) merayakan IWD #diyogya. Setelah memutuskan pindah-merantau ke kota ini di awal tahun.
Teriknya matahari siang itu memang bikin agak pusing, tapi tidak sepusing mikirin poster yang dipegang Mbak dan Mas-nya ini..
Refleksi pertama IWD kali ini adalah betapa kesal dan mangkelnya menyaksikan berbagai kebijakan tunggang lenggang melesat disah- kan padahal gak penting amat, bahkan digugat, kayak UU Cipta Kerja dan UU IKN. Sedang RUU PKS dipreteli ora uwis-uwis. menangis
Semakin sore semakin hangat, apalagi waktu Wadon Wadas datang! fangirling time
Merindinggg banget dengar langsung orasi-orasinya. Karena apa yang diteriakkan datang langsung dari pengalaman-pengalaman penindasan. HIDUP WADON WADAS!
Khasnya ikut aksi IWD adalah kreativitas peserta aksi bikin poster tuntutan. Sebenernya tuntutan saya cuma satu: merdeka. Tapi kayan- ya kok fafifu wasweswos :(
...yaudahlah pinjem sign orang di sebelah aja
(Mahakata)
ZINETHINK ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
IWD Jakarta
Kabar dari Jakarta
Perayaan hari Puan telah usai. Setidaknya di Yogyakarta, berakhirn- ya perayaan tersebut ditandai bersamaan dengan berlabuhnya matahari di ufuk Barat. Namun, atmosfer momentum Hari Perempuan Internasional agaknya tidak berhenti sampai di situ saja, setelahnya, di berbagai media sosial bertebaran berbagai foto dan video yang menggambarkan suasana perayaan itu, yang juga dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya dari unggahan kawan-kawan di Jakarta. Dari jantung negara: Jakarta, kami mewawancarai kawan Tyas, untuk bercerita bagaimana perayaan tersebut berlangsung di Ibu Kota.
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Bagaimana situasi IWD 2022 di Jakarta?
Hampir sama dengan yang terjadi di kota lainnya. Khusus di Jakarta sendiri, aksi dimulai jam 10 pagi dan berakhir jam 1 siang yang diikuti oleh teman-teman jaringan dan teman-teman yang terlibat konsolidasi mempersiapkan aksi bersama tersebut. Ada Perempuan Mahardhika, Jaringan Muda Setara, Lingkar Studi Femi- nis, Gerpuan UNJ, KMPLHK RANITA, Kolektif Mahasiswa UPJ, GMNI UNPAM, BEM FH UI, KOPRI KOMFAKA, BEM UI, KSPN, dan lainnya. Aku enggak tahu jumlah pastinya, tapi mungkin kira-kira estimasi massa sekitar 200 orang.
Apa yang menjadi sorotan khusus dalam Perayaan IWD 2022 di
Indonesia?
Peringatan Hari Perempuan Internasional kali ini menyoroti kekerasan seksual yang semakin tahun meningkat dan mengancam perempuan, namun tidak berbanding lurus dengan perlindungan dari negara. Pada situasi kini, kami melihat bahwa tantangan perjuangan kesetaraan gender terletak pada dua hal yaitu: kekerasan seksual yang terus mengancam perempuan dan tidak adanya sistem perlindungan sosial yang dapat menjamin setiap orang untuk bebas dari kemiskinan. Maka momentum IWD 2022 kami mengangkat tema yang searas dengan kebutuhan tersebut, “Kekerasan Seksual Mengancam Perempuan, Sementara Hidup Perempuan Tanpa Perlindungan Sosial. Negara Jangan Lepas Tanggung Jawab”
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Mengapa RUU PKS yang berubah menjadi RUU TPKS masih menuai polemik?
Banyak banget yang perlu kita kawal terkait RUU TPKS apalagi hal-hal yang bersifat substansif. Misal saja seperti ini, dari draft terakhir RUU TPKS versi Baleg DPR RI per tanggal 8 Desember masih terdapat poin substansi yang butuh dikawal, salah satunya terkait dengan bentuk-bentuk kekerasan seksual seperti Perkosaan atau Pemaksaan Hubungan Seksual, Pemaksaan Aborsi, Pemaksaan Pelacuran, Pemaksaan Perkawinan dan Perbudakan Seksual yang penting untuk terakomodir dalam RUU TPKS ini justru dianggap DPR sudah diatur dalam aturan perun- dang-undangan lain sehingga tidak dimasukkan dalam draf RUU TPKS. Selain itu, mengingat RUU TPKS sangat erat kaitannya dengan tindak pidana, maka tantangan lainnya yang kita temukan adalah bagaimana untuk menerjemahkan unsur pidana dan hukum acara pidana yang jelas dan mudah dipahami oleh aparat penegak hukum yang biasanya masih belum berperspektif korban. Secara personal, perjuangan perempuan seperti apa yang kamu maknai dalam perayaan IWD? Buatku, IWD selalu jadi momentum berkesan dan ditung- gu-tunggu, sejak kenal “apa itu IWD” dan tahu ternyata “ada loh IWD” tiap tahun pasti kayak ada semacam keharusan “ayo.. Kita harus merespon momen ini” Karena aku rasa momen ini sangat bersejarah dan menjadi tonggak pergerakan perempuan dalam mengubah dunia. Maka kita harus merayakannya dengan, menyuarakan tuntutan-tuntutan kita sebagai perempuan dengan mobilisasi perempuan. Perjuangan perempuan berarti perjuangan seumur hidup. Tyas Widuri adalah seorang pegiat isu perempuan dan isu kekerasan seksual. Hampir 8 tahun berdomisili di Jakarta, saat ini menjadi Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika.
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Daena Rosal
Inva- lidasi
Diri?
Pertama, tulisan yang sedang kuketik ini adalah panasea atas diri ng sedang mengudara entah arahnya. Sejauh menjadi individu pelangi sejak seragam merah putih aku tak pernah semembingung- kan ini pada apa yang bisa disebut konsep ketubuhan dan seksual. Aku hanya cukup hafal dengan apa yang disebut femme, buci, andro, andro feme atau satu lagi andro buch. Finish, seluruhnya pernah aku coba, label-label yang sekiranya selalu cocok untuk apa yang sedang aku rasakan dan apa yang sedang melekat pada penampilan. Selalu berubah tergantung siapa yang sedang aku kencani. Tergantung gaya rambut apa yang sedang digandrungi. Sebatas perilaku feminin atau maskulin yang sedang mendominasi diri. Berat rasanya hanya mengerti tentang konsep ketertarikan sesama perempuan sebatas "Ohh Lesbian, lu rambut pendek macem laki berarti buci" atau "Yah dia mah girly gitu femenya" atau "Gimana sih lu panjang tp ngerokok, kasar lagi, andro lu yak?". Ya cukup membingungkan sebagai anak seragam merah putih disematkan kalimat menohok. Di Dalam diri hanya " Oh iya kali gua begitu, gua ini". Kalau kamu pemilik akun fb jaman menyematkan
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
imbuhan nama yang aneh-aneh macam imuoetzz, chubby, nax manja atau apalah itu pasti pernah menyematkan labeling pada user- name fb. Aku termasuk yang berkali-kali menggantinya bersamaan berubahnya labeling tersebut. Sampai fb kadang memberi notifikasi "Anda baru saja mengubahnya dalam 60 hari terakhir…" Sampai pada dimana aku mengenal apa itu konsep SOGIESC setelah 8 tahun lamanya. Konsep yang dimana berlatar belakang pada masifnya pelanggaran HAM yang terjadi karena masyarakat yang masih belum mampu memahami tentang adanya keberagaman. Ku pikir ini angin segar yang seharusnya aku mampu mengerti dan semakin memahami, ya tentunya untuk paham atas apa yang ada didalam diri. Aku sedang haus-hausnya mencari jati diriku dengan konsep tersebut. Sampai dimana hari aku bertemu dengan sebuah tempat aman. Tempat yang menawarkan berbagai pandangan dan paham atas apa yang sedang dirasa membingungkan. Menerima pemahaman baru tentang keberagaman orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seksual. Berbagi pengertian dan pengelompokan dijelaskan, tidak sekali dua kali aku mendengarkan. Dari berbagai macam pembicara juga telah menyampaikan. Pada suatu ketika aku memutuskan SOGIESC ku sendiri. Ya aku coming in sebagai individu biseksual dengan pronouns she/her. Mantap sudah identitasku ini karna aku merasa cocok dengan berbagai pengertian yang benar-benar aku dengar- kan. Selama aku mencari angin segar dari memahami konsep keberagaman tentunya tidak sendiri, aku bersama relasi romantisku. Entah apa sebelumnya identitas yang ia ilhami tapi tidak berselang lama ia melela sebagai transpria. Bahagia sejadinya saat ada seseo- rang yang melela. Namun tak selang lama, aku kembali mengingat ada yang namanya SOGIESC. Pertama kalinya aku merasa konsep yang kurasa tadinya angin segar menjadi hal yang tak ingin aku keta- hui lagi. Aku merasa konsep tersebut terlalu mengkotakan diriku. Terlalu mengaturku. Sedangkan aku masih ingin menjadi individu dengan identitas tertentu. Apakah aku menjadi panseksual setelah relasi romantisku melela sebagai tranpria? Atau aku masih bisa mempertahankan identitas lamaku sebagai biseksual? Yang jelas, saat ini aku menggunakan panseksual sebagai identitas secara krisis.
ZINETHINK
ZINETHINKEdisi 002 Edisi 002
Laviaminora
@laviaminora
Kekerasan tak bertepi.
Selain bekerja di sebuah badan yang menaungi perspektif LGBT dan Islam yang didirikan oleh amina wadud bulan lalu, saya juga bekerja sebagai seorang praktisi bahasa Inggris--mengajar General English and Conversation, TOEFL, IELTS, dan lain-lain. Sehingga, tidak mengherankan bagi saya jika dalam sehari saya bisa berpin- dah tempat beberapa kali lantaran harus datang ke rumah atasan saya, kemudian mengunjungi para klien (baca: murid) saya yang semuanya adalah budak korporat dan ingin meningkatkan kemam- puan bahasanya. Sehingga, alih-alih belajar di rumah/kost-an, para klien saya tersebut lebih memilih kafe yang cukup kondusif untuk belajar karena kantong mereka sudah cukup dalam untuk dirogoh, meskipun terkadang dikepruk dengan UMR yang ra masuk. Akan tetapi, 8 Maret 2022 saya sedikit mengalami pergeseran jadwal. Sebelum mengajar di kafe, saya harus menyisipkan agenda lain: Berhadapan dengan Kaprodi dan beberapa dosen di sebuah universitas. Umumnya, untuk seorang akademisi seperti saya, kunjungan ke sebuah universitas berarti menjalin kerjasama dalam bidang akademik, antara mau wawancara jadi dosen atau datang seminar. Namun, pada faktanya adalah lain daripada hal itu. Kedatangan saya--dan 2 orang rekan saya--ke sana justru untuk
bersaksi sebagai pendamping dan memaparkan kelakuan salah satu rekan sejawat mereka yang melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswa mereka. Singkat cerita, setelah bergumul dengan narasi yang cukup padat dan disertai dengan bukti-bukti, saya berpamit meninggalkan dosen-dosen tersebut dan 2 orang rekan saya. Mau tidak mau, karena dalam waktu 30 menit ke depan saya harus sudah mulai mengajar. 10 menit dari kampus tersebut, tibalah saya di sebuah kafe di mana saya terbiasa memesan tahu tuna dan es teh jumbo. Sembari menunggu klien, saya membakar sebatang rokok, meny- iapkan laptop dan mengkroscek materi yang akan saya ajarkan hari itu. Saya berharap banyak pada asap-asap yang saya hembuskan, mana tahu mereka meringankan beban di kepala dan bercampur dengan udara bebas, terbang, dan hilang. Serta, tak lama pesanan saya pun datang. Saya bisa melihat dengan jelas embun-embun yang membasahi permukaan gelas es teh yang saya pesan serta asap yang mengepul di permukaan tekstur tahu tuna yang terdapat daun bawang di dalamnya. Wah, surga! Pada saat itu, di sebelah saya terdapat seorang mbak-mbak dan mas-mas yang sedang bercakap. Sembari meneguk es teh yang segar dan mencocol tahu tuna ke dalam sambal kecap, samar-samar saya mendengar percakapan mereka.
“Aku waktu itu setengah mabok, tapi aku kerasa dia gesek-gesekin penisnya ke pantat aku. Padahal aku udah minta diantar pulang lho”, kata Mbaknya. “Wah, asu! Speechless banget aku, ra nyongko dekne ngono. Ya Ampun…” Si Mas menimpali. Saat itu juga ketika mendengar percakapan tersebut, dengan kepala pening dari sisa-sisa bersaksi atas kelakuan dosen cabul, saya masih saja mendapati cerita yang hampir sama secara tidak langsung dari orang yang tidak saya kenal. Same shit, different bastard!
Pandangan saya mulai mengabur, kemudian saya terjatuh di atas tempat sujud dan saya daraskan istighfar berkali-kali yang tersisipi oleh umpatan-umpatan yang tak bertepi.
ZINETHINK
Edisi 002
@zine.think