Baca PDF (OCR): ZINE THINK EDISI 000 - DEMO

20 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 92 ms

Daftar isi
  1. ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000
  2. ZINE THINK
  3. Dunia semakin genting. mari kita berunding.
  4. EDISI 000 - DEMO
  5. KE.NAL.AN
  6. Isempitnya ruang-ruang nyaman bagi kelompok liya(r)n.
  7. Konten
  8. Pandemi Hari Ini
  9. Menjadi Ibu: Dulu, hingga Hari ini.
  10. besarkan manusia lain”
  11. Msangat terlambat, tetapi
  12. ZINETHINK EDISI 000
  13. ZINETHINK EDISI 000
  14. used to defent you. But they’re
  15. ZINETHINK EDISI 000
  16. ZINETHINK EDISI 000
  17. ZINETHINK EDISI 000
  18. ZINETHINK EDISI 000
  19. Ibu Bumi
  20. Remaja Interseks: Antara Penerimaan Diri
  21. dan Kehendak Otoritatif
  22. Terdapat beberapa modus otoritatif yang men- jangkiti pengungkapan identitas remaja interseks
  23. selama beberapa dekade sebelumnya. Pertama, modus intervensi medis. Secara teoretis, remaja
  24. tial Androgen Insentivity Syndrome (PAIS), keadaan
  25. di mana mereka terlahir dengan klitoris beruku-
  26. asanya baru dapat didiagnosis ketika memasuki usia remaja ketika anak belum menstruasi. Secara
  27. general, remaja dengan CAIS memiliki penampilan perempuan yakni bertestis internal dan kromosom
  28. XY, tetapi tidak memiliki Rahim (Wakefield, 2018, pp. 49-50). Dengan mempertahankan dikotomi
  29. seks laki-laki dan perempuan, medis merancang rangkaian pengobatan untuk mengubah bahkan
  30. “menormalkan”tubuh berikut atribut gender remaja interseks (Wakefield, 2018, p.44).
  31. Kterseks dianggap sebagai gasi diagnosis 3) menahan di-
  32. Menyelami Pengalaman
  33. ZINETHINK EDISI 000
  34. “…I felt the strange combina- tion of relief, excitement, wonder,
  35. and loss. It was as though this diagnosis explain a few things
  36. about my being and personality.
  37. It was almost validating. Sad- ness, of course, because I would
  38. not have children, but it was momentary. I got over that on
  39. the car ride gome. My reaction towards my diagnosis was very
  40. stoic. There wasn’t anything I could do about it so it made no
  41. sense to distress over it.”
  42. ZINETHINK EDISI 000
  43. Daftar Pustaka
  44. ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000
  45. SAMBAT RUU KETAHANAN KELUARGA
  46. Puan dan Danang
  47. Oleh: Kanthi Alawan
  48. ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000
  49. Nanti Kita Cerita tentang Pandemi Hari Ini
  50. lets burn the patriarchy.
  51. tapi sebat dulu.
  52. ZINE THINK

ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000

ZINE THINK

Dunia semakin genting. mari kita berunding.

EDISI 000 - DEMO

KE.NAL.AN

ni adalah hasil inisiatif kolektif yang menyeruak karena

Isempitnya ruang-ruang nyaman bagi kelompok liya(r)n.

Pokoknya pengen bikin Zine! Suatu hari, kami yang datang dari latar belakang dan bidang ketekunan beragam, kompak memiliki gagasan sama: punya satu wadah yang dapat dijadikan tempat menumpahkan isi hati, kepala, atau bahkan empedu. Kami menyakini tidak pernah ada hasil kerja kreatif yang tidak layak untuk dimuat dan disebarluaskan. Setiap hasil kerja, apalagi kolektif, yang hidup dari kontribusi- kontribusi sukarela, selalu lahir dari kesukaan terdalam. Namun, selera pasar, rate iklan, dan click bait lah yang terus memenangkan arah arus utama. Maka dari itu, demi menyumpal lubang bolong bernama arus utama, kola borasi berlandas inisiatif perlu terus hadir walau telak ka- lah kalau dihajar langsung oleh arusnya. Tidak jadi soal, kamu pun bisa menyebut ini mastur- basi karya, atau justru napas segar bagi resah yang sama. Edisi pertama adalah demo, yang punya tujuan me- nambah rasa ingin tahu lebih lanjut tentang yang utama. Tapi bisa jadi ini juga jadi satu-satunya edisi yang terbit. Sama dengan usia kerja sukarela yang tak bisa satu orang pun menebak sampai kapan napasnya, maka kami juga sungkan muluk-muluk. Walaupun, isi kepala sudah gatal memikirkan konten untuk edisi-edisi lanjutan. Sudah ya, sila dibaca dan mutlak boleh disebarluaskan. Semoga bertemu lagi! Oiya, kontribusimu tentu akan kami hitung sebagai ber- kat dari Yang Maha Kuasa. Sila kirim ke zinethinkbanget@ gmail.com

Konten

Menjadi Ibu: 3 Dulu, hingga Hari ini

Ibu Bumi 8

Remaja Interseks: 9 Antara Penerimaan Diri dan Ke-

hendak Otoritatif

Sambat RUU Ketahanan 16 Keluarga: Puan dan Danang

Nanti Kita Cerita tentang 18

Pandemi Hari Ini

Lets Burn The Patriarchy. 19 Tapi Sebat Dulu.

Menjadi Ibu: Dulu, hingga Hari ini.

Saya mungkin tidak akan pernah lupa dialog Kim (Kim

Ji-Young/2018) pada ibunya saat ia mengalami depresi

ketika menjadi Ibu, “Terima kasih Mi-Sook (nama ibu-

nya), karena sudah memilih menjadi ibu, membuang

semua cita-cita, impianmu, dan hidupmu. Demi mem-

besarkan manusia lain”

embicarakan film Kim Ji Young mungkin sudah

Msangat terlambat, tetapi

kemudian saya ditampar lagi oleh perkataan Debby -mama Rara- (Imperfect/2019), “Dunia model tidak lagi bisa menerima keadaan seperti mama. Tapi tidak apa-apa demi kalian” saat Debby memperlihatkan bekas operasi sesar pada perutnya. Dialog yang di- ucapkan Debby men- egaskan bahwa dalam hidup, perempuan (lagi-lagi) akan menemui per- simpangan antara hidupnya dan hidupnya bersama kelu- arganya. Seolah hal itu masih hangat di ingatan saya, belum lama ini, mata saya dibuat sembab luar biasa setelah keluar dari bioskop yang menayangkan film ter-

ZINETHINK EDISI 000

ZINETHINK EDISI 000

baik Angga Dwimas, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Di sana, Aurora berkata “yang aku tanyakan itu perasaan ibuk, bukan bapak.” Saat Ajeng -Seorang Ibu- menjawab apa arti kebahagiaan dengan lagi-lagi menaruh kebahagiaan orang lain sebagai muara kebahagiaan baginya. Perkataan Aurora sederhana, tidak sepuitis dialog-dialog yg ditorehkan Jenny (penulis Ske- nario) pada adegan- adegan lain. Tapi dialog ini, menurut saya, awal dari segala kekuatan yg akhirnya berhasil mem- bangkitkan Ajeng. Sedikit me- narik waktu lebih ke belakang, kita tentu tidak akan melupakan pertengkaran penuh drama antara Nicole dan Charlie (Marriage Story/2018), saat Nicole, dengan sekuat tenaga berteriak, “People used to say to me that you were too selfish to be a great artist. I

used to defent you. But they’re

absolutely right.” Saat Nicole akhirnya memutuskan untuk ber- cerai karena ia merasa, hidupnya terrenggut, paska menikah. Ibu saya, adalah seorang anak perempuan bungsu kelahiran

  1. Beliau adalah seorang
    perempuan yang walaupun 2 kakak perempuan lainnya tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi, pada waktu itu kekeuh mengambil dobel degree sarjana sekaligus, walaupun pada akhirnya hanya bisa lulus di 1 perguruan tinggi saja. Setelah saat hampir semua perempuan di nya, di lingkungannya menganggap menikah adalah tujuan hidup yg harus diraih sebelum cap perawan

ZINETHINK EDISI 000

tua menggelantungi sepanjang hidup, pemuda desa pun menaruh hati, berbekal seluruh ilmu nekat dalam hidup dan satu titik mimpi pergi ke Ibu Kota dan menekuni karier sebagai guru honorer SMA. Sampai akhirnya bertemu ayah dan memutuskan menikah di umur 29 tahun. Ketika memutuskan untuk menikah, beliau meninggalkan seluruh im- piannya dan pergi mengikuti sua- minya dari muara impian Jakarta ke sebuah desa terpencil di Lom- bok Barat, NTB. Walaupun pada saat itu, janji kenaikan jabatan sebagai guru tetap telah diucap- kan pula oleh ketua yayasan bila beliau tidak pergi. Tapi keputusan telah dibuat, beliau memilih pergi. Demi membangun sebuah keluarga, menikah, dan tentu saja, membesarkan anak. Saya tentu saja tidak sedang menghakimi pilihan yang telah diputuskan setiap perempuan untuk hidupnya. Semua mungkin bisa saja baik bagi kehidupan masing-masing. Tapi kenyataan bahwa menjadi perempuan, mau di tahun 1962-2020 sekalipun tidak pernah mudah. Atau bahkan tidak pernah bisa berpusat dari, apa sebenarnya keinginan mereka? Mana jalan yang ingin dipil- ih? Bahkan, bagaimana perasaan mereka sesungguhnya?

ZINETHINK EDISI 000

Ibu saya lalu pernah keceplos- an, seandainya masih di Jakarta... Lalu tidak melanjutkan, saya juga tidak berani menanyakan. Dulu sekali, saat akan kelulu- san SMA, saat betapa saya ingin segera lulus, melanjutkan kuliah, dan bekerja, saya berpikir akan sangat menyenangkan menjadi manusia matang dengan segala keahlian yang dimiliki manusia-manusia dewasa lain. Kenyataan bahwa di umur hampir menyen- tuh 26 tahun ini, that I don’t have any idea about what life is all about, membuat saya jadi berpikir betapa mengerikannya kehidupan ini. Perasaan saya saat ini, ternyata tidak jauh berbeda dengan saya 10 tahun lalu, mungkin juga keadaan ini tidak berubah banyak 10 tahun ke de- pan, saat saya mungkin sudah menikah dan punya anak? Bahwa kenyataannya, tidak pernah ada proses yang jelas bagaimana seorang manusia berubah menjadi dewasa dan matang selain permasalahan tak berkesudahan dalam hidup ini. Lalu dengan segala permasala- hannya, manusia-atau dalam konsentrasi kita saat ini, Perempuan-dipaksa memutuskan pilihan-pilihan. Tanpa ingin di- mengerti dulu, apa yg mereka sebenarnya inginkan, mana pilihan

ZINETHINK EDISI 000

yang sebenarnya ingin diambil, bagaimana perasaan mereka. Selama ini kita hanya tahu bagaimana proses seorang manusia menciptakan manusia lainnya. Namun bagaimana proses seorang perempuan menjadi Ibu? Mereka hanya tiba-tiba dipaksa mengandung selama -/+ 9 bulan, mempertaruhkan nyawanya di meja persalinan, lalu esok pag- inya, entah sanggup tidur atau tidak ia dan bayinya, dipaksa lagi harus sudah menjadi Ibu. Atau kalau mengutip dialog ibu Dara, “seorang perempuan sudah menjadi Ibu sejak mereka mengandung.” Anda tentu saja boleh berpikir saya mungkin hany- alah

ZINETHINK EDISI 000

feminis galau yg sedang mengalami quarter life crisis. Namun kenyataan bahwa kehidupan menjadi dewasa bagi perempuan, didukung dengan slogan “Ibu adalah sekolah pertama bagi anak”, “Memberi pendidikan pada ibu berarti sedang mencerdas- kan kehidupan bangsa”, dan segala slogan luar biasa lain, tidak pernah jadi hal yang mudah. Me reka mungkin sedang mencer- daskan bangsa, tapi apakah kita pernah bertanya bagaimana kehidupan para pencerdas bangsa ini? Do they have their own life? Atau mereka sedang mati-ma- tian mengubur kehidupan- nya untuk memenuhi ekspektasi semua orang. (Anggun Munan)

Ibu Bumi

oleh: Anggun Munan

Matahari tertancap tinggi-tinggi.

Tapi ibuku malah bungkuk tertunduk menenggelamkan bibit padi berbaris-baris.

Mengacuhkan keringat yang tak henti mengalir, pun sendi- sendi yang mulai terasa nyeri.

Ibuku. Masih gigih tak mau menepi.

Dia barangkali tak suka mendongakkan dahi.

Pada matahari yang membakar kulit, juga pada nasib yang terus dimonopoli.

Dimainkan sejalan dadu yang terus digilir.

Diputarkan oleh mereka para petinggi negeri.

Katanya sebentar lagi,

Padi sudah tak perlu lagi digiling.

Karena sawahnya mau diganti sawit.

Lalu ibuku, disuruh menjadi warga negara yang baik.

Toh katanya lagi, kebutuhan sehari-hari bisa dibeli dari importir.

Sungguh.

Ibuku tak pernah bertemu pertiwi,

Hanya yang Ia pahami,

Ia tinggal di bumi agraris.

Remaja Interseks: Antara Penerimaan Diri

dan Kehendak Otoritatif

Terdapat beberapa modus otoritatif yang men- jangkiti pengungkapan identitas remaja interseks
selama beberapa dekade sebelumnya. Pertama, modus intervensi medis. Secara teoretis, remaja

interseks dikategorisasi ke dalam dua variasi; Par-

tial Androgen Insentivity Syndrome (PAIS), keadaan
di mana mereka terlahir dengan klitoris beruku-

ran besar, mirip penis kecil dan Complete Andro-

gen Insentivity Syndrome (CAIS), sindrom yang bi-

asanya baru dapat didiagnosis ketika memasuki usia remaja ketika anak belum menstruasi. Secara
general, remaja dengan CAIS memiliki penampilan perempuan yakni bertestis internal dan kromosom
XY, tetapi tidak memiliki Rahim (Wakefield, 2018, pp. 49-50). Dengan mempertahankan dikotomi
seks laki-laki dan perempuan, medis merancang rangkaian pengobatan untuk mengubah bahkan
“menormalkan”tubuh berikut atribut gender remaja interseks (Wakefield, 2018, p.44).

edua, pengambilan kepu-untuk membuat keputusan pera tusan sepihak orang tua. watan kesehatan 2) remaja tidak Orang tua dari remaja in-mampu memproses dan menavi-

Kterseks dianggap sebagai gasi diagnosis 3) menahan di-

sistem keamanan (proxy) maka agnosis diperlukan untuk melin keputusan orang tua seringnya dungi perkembangan identitas terafiliasi dengan asumsi “ke-gender remaja (Wakefield, 2018, pentingan terbaik bagi anak” p. 61). (Wakefield, 2018, p. 47). Asumsi ini bertumpu pada tiga klaim: 1) remaja tidak memiliki pengetahuan atau tidak cukup dewasa

Kedua modus otoritatif di atas, pentingnya pengungkapan di- seperti yang telah dijelaskan se-agnosa medis terkait kondisi jumlah intelektual lainnya, diper-interseks mereka. Penyelidikan parah oleh norma hukum di pel-dilakukan terhadap 16 remaja bagai Negara, yang secara terang interseks yang tergabung dalam menyebutkan anak di bawah kelompok Androgen Insensitivity umur 18 tahun tidak diperboleh Syndrome-Differences of Sex kan memberi keputusan terkait Development (AIS-DSD) den- rangkaian pengobatan medis gan mengandalkan teori gender yang kemudian hanya terwakili-structure dari Barbara Risman oleh orang tua mereka (Wake-sebagai alat empiris untuk me- field, 2018, p. 46). Dikatakan mahami pengalaman remaja in- bahwa pasien, dalam hal ini terseks. Ketiga level pada gender remaja interseks, belum mampu structure yang dianjurkan Bar- mengambil keputusan secara ra-bara Risman digunakan dalam sional. Pun dari sudut pandang penelitian ini dengan perumusan medis tidak selalu memandang masalah sebagai berikut: 1) di remaja interseks sebagai subjek level individu, bagaimana peneri- melainkan hanya objek dari ritus maan anak-anak interseks ter-pengobatan. Dengan demikian, kait diagnosis mereka, 2) di level alasan-alasan otoritatif yang dis-interaksional, apakah remaja in- emai oleh intervensi medis dan terseks mengungkapkan diag- pengambilan keputusan nosis dan pengalaman mereka kepada orang lain, 3) pada level Sepihak orang tua tersebut institusi, bagaimana remaja in- senyatanya telah menghilangkan terseks menggambarkan relasi otoritas remaja interseks terha- mereka dengan penyedia medis. dap tubuhnya.

Menyelami Pengalaman

Tepat pada titik tersebut Geor- Remaja Interseks dalam Gender giann Davis dan Chris Wakefield Structure melalui jurnal The Intersex Kids Are All Right? Diagnosis Dis- Ketiga level dari gender struc- closure and the Experiences ture Barbara Risman dalam of Intersex Youth ( Wakefield, penelitian ini secara garis be-

2018) berupaya membalikkan
sar ingin memahami relasi yang asumsi keliru tersebut dengan dibang melakukan penelitian intensif dengan, un dirinya remaja sendiri interseks beri- pada remaja interseks tentang kut lingkungan sekitar. Hanya

ZINETHINK EDISI 000

pada tingkatan penerimaan diri, seorang interseks dapat ber- damai dengan kondisinya, atau dengan kata lain merangkul diri/ tubuhnya sendiri. Mereka mengungkapkan terdapat kegetiran di awal mengetahui diagnosis tersebut. Adalah pe rasaan bin- gung, takut, dan sedih, juga beru- saha acuh yang mereka rasakan. Sekaligus kombinasi kelegaan, kegembiraan serta keanehkan untuk menjelaskan keberadaan dan kepribadian mereka (Wakefield, 2018, pp. 53-54).

“…I felt the strange combina- tion of relief, excitement, wonder,
and loss. It was as though this diagnosis explain a few things
about my being and personality.
It was almost validating. Sad- ness, of course, because I would
not have children, but it was momentary. I got over that on
the car ride gome. My reaction towards my diagnosis was very
stoic. There wasn’t anything I could do about it so it made no
sense to distress over it.”

Rangkaian pernyataan tersebut menunjukkan ketika medis tidak membatasi pengetahuan pasien interseks terkait kondis- nya, mereka akan dengan mudah menerima identitas gender tersebut. Dengan membuka ruang ke-

ZINETHINK EDISI 000

sempatan bagi remaja interseks untuk mengetahui kondisinya, setidaknya hal tersebut dapat meminimalisir masalah seperti yang dialami interseks dewasa. Seper Sharon Preves, mengungkapkan ti studi yang dilakukan kasus penangguhan diagonosis banyak terjadi pada interseks yang lahir di tahun 1980-an di mana mereka jauh dari pengetahuan seputar kondisi mereka hingga usia 20-30an (Wakefield, 2018, p. 55). Benar bahwa ketika penangguhan dilakukan hingga menjelang usia dewasa, seorang interseks hanya akan menerima ketersiksaan batin, kekhawatiran keaslian gender mereka di tengah masyarakat penghayat dikotomi seks laki-laki dan perempuan, serta problematik mengonfigu rasi keadaan interseks dan orien- tasi seksualnya.

Kehadiran support group juga mengonfirmasi proses penerimaan diri remaja interseks sudah seharusnya dibarengi dukungan pelbagai pihak. Contoh yang pa ling signifikan adalah kelompok AIS-DSD yang berperan men- jembatani pengalaman diagnosis antar remaja interseks, orang tua, dan medis (Wakefield, 2018,

p. 57). Kelompok ini menjadi tum- puan untuk menjaring sebanyak- banyaknya anggota interseks dan

juga membuka ruang seluas- lu-menjastifikasi kondisi me reka asnya kepada orang tua dan pe-sebagai abnormal selebihnya diatrik. Tiada lain sebagai usa-bahkan menerima perlakuan dis- ha menyumbat lubang-lubang kriminatif dengan tidak diberi kekhawatiran remaja interseks kesempatan untuk berpartisi- dan lingkungannya, atau dengan pasi pada kelas diskusi tenten- kata lain, sebagai ruang inklu-tu, khusunya biologi-reproduksi sif. Tetapi perlu diingat bahwa, (Wakefield, 2018, pp. 58-59). kelompok dukungan seperti ini Begitu pula realitas yang terjadi pada rentan dekade sebelum-pada relasi pertemanan sekolah nya belum dapat dijumpai secara di mana meski seluruh informan umum. Ini pula yang menjadi ma-menyatakan memberitahu ke- salah pada generasi interseks se-adaan mereka pada teman sebelumnya (Wakefield, 2018, p.57). baya, tetapi respon yang diterima sangat variatif. Umumnya mereka Meski pada tataran individu menerima, tetapi tidak jarang dan keberadaan support group mendapat perlakuan bullying. telah memberi napas kelegaan “One teacher told me it’s not bagi penerimaan diri remaja in- normal and not to participate terseks, keadaan tersebut justru as much (in science discutions jauh berbeda pada lanskap ling- about reproduction) because I kungan yang lebih luas. Ini terkait can’t have children.” dengan interaksi remaja interseks pada lingkup sekolah dan tata-Kondisi serupa juga dirasakan ran medis. Pada lingkup seko- pada relasi pasien-dokter. Rema- lah, penelitian ini secara terang ja interseks dalam penelitian ini menggambarkan tersumpalnya mendokumentasikan 62,5 % in- relasi remaja interseks dengan forman merasa nyaman berdia- tema dan guru di sekolahnya log dengan dokter terkait kondisi yang ditunjukkan secara terang lainnya. Selebihnya menyatakan pada persentase 56,3% informan hal yang sama, hanya saja kenya- yang hanya mengungkapkan di- manan hanya berlangsung pada agnosisnya pada guru mereka. waktu-waktu tertentu. Meskipun Remaja interseks umumnya eng- jumlah statistik tersebut condong gan memberitahu kondisi me menginterpretasikan prasangka reka dikarenakan ketidakpastian hubungan positif, namun peneli- respon yang akan diterima. Me tian ini merekam sisi negatif yang reka menyebutkan pihak sekolah

dirasakan remaja interseks. Se-Adalah sebuah kelegaan keti- cara berturut-turut, informan me-ka mendapati jurnal ini meletak- nyatakan kecanggungan dalam kan ketertarikannya pada wacana interaksi tersebut, selebihnya me-interseks kontemporer. Suatu nyatakan dokter melakukan jas-wacana yang lesap dari diskusi tifikasi berlebihan dalam proses akademisi-feminis yang melulu interaksi dengan menyebutkan, gandrung pada wacana keseta- aktivitas/pergaulan remaja seka-raan LGBTIQ tanpa melirik salah rang terlalu bebas. Juga tidak se-satu bagian terkecil dari nara- dikit remaja interseks menyatakan si tersebut, yakni pengalaman dokter yang memeriksa mereka remaja interseks.Meski Georgi- terlalu tumpul, atau ann Davis dan Chris Wakefield lain, dokter tidak pernah benar-dengan kata mengakui adanya keterbatasan benar peduli kondisi mereka dalam penelitian ini seperti in- (Wakefield, 2018, pp.59-60). forman hanya berasal dari kelompok dukungan AIS-DSD, yang Sebagai simpul atas seluruh kemudian hasil temuannya tidak hasil penelitian di atas, Georgiann bisa digeneralisir untuk mema-Davis dan Chris Wakefield secara hami pengalaman seluruh rema- terang menyebutkan pelibatan ja interseks. Terlepas dari keter- anak interseks terkait kondisi di-batasan tersebut, saya meyakini agnosis mereka akan berdampak jurnal ini mampu menjadi pintu baik dalam kondisi anak yang masuk untuk pengembangan mampu menavigasi, berdapta-wacana serupa dikemudian hari. si, dan memliki relasi lebih baik Sebagai penutup dan catatan dengan lingkungan terkait kondi- lepas dari saya, modus pe- si interseks mereka. Keduanya nyangkalan seperti yang telah juga menyarankan agar para in- dipaparkan di atas adalah virus telektual lainnya yang memiliki yang mewabah hampir di pel- minat terhadap diskursus seksu- bagai dimensi kehidupan ma- alitas, khususnya interseks, untuk syarakat. Pemeriksaan secara tidak mengabaikan posisi remaja ketat oleh medis terkait kondisi ketika merancang studi pene- orang dengan interseks senyat- litian di masa yang akan datang, anya menjadi bentuk model seperti kalimat terakhir sebagai pengawasan baru di bawah penutup tulisannya “children teknologi-teknologi politis medis need to be seen and heard.” untuk mempertahankan ideologi Catatan Refleksi heteronormatif.

Dengan begitu, interseks ter-ritatif (authoritative gaze). Hal penjara dalam ruang pendifini-tersebut sengaja diciptakan un- sian terhadap dirinya; terhadap tuk, tiada lain melahirkan tubuh- identitasnya. Keterpenjarahan tubuh yang patuh (docile ) kemudian tidak lagi dipahami (Foucault, 1977, pp. 200-209). bodies sebagai desain arsitektual fisik, (perihngatan) melainkan model penyiksaan tubuh/jiwa sebagai tempat berop- erasinya sorotan/tatapan oto-

Daftar Pustaka

Literatur Utama Wakefield, G. D. (2018). The Intersex Kids Are All Right? Diagnosis Disclosure and the Experiences of Intersex Youth. In P. N. Blair, Gender, Sex, and Sexuality Among Contemporary Youth: Genera- tion Sex (pp. 43-66). Uniterd Kingdom, North America, Japan, India, Malaysia, China: Emerald Publishing.

Literatur Pelengkap Foucault, M. (1977). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. London-Worcester: Billing & Sons. Hardiyanta, P. S. (1997). Disiplin Tubuh: Bengkel Individu Modern. Yogyakarta: LKiS.

ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000

SAMBAT RUU KETAHANAN KELUARGA

Puan dan Danang

Oleh: Kanthi Alawan

I Katanya, jika kau tak memiliki farji sejak lahir maka kau bukan Puan. Kau pun akan dipanggil Danang jika kau lahir dengan pedang di antara kedua kakimu

Ada yang bilang Puan tak boleh cinta Rahayu karena sepatutnya dimiliki si Danang Danang pun harus pasrah mengenang kisah indahnya dengan Ruhayah dan si Abu.

“Sudah begitu nilainya”, teriak para dalang Ah, suka sekali para dalang ini mengekang Apakah tidak lelah?

ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000 ZINETHINK EDISI 000

II Tiga tali menjerat tangan si Puan; satu diizinkannya, tapi dihakimi satu berdasar paksa, tapi ia tak dilindungi satu kali tak kasat mata kebiri hayati.

Tubuhnya adalah tubuhnya Bukan milikku atau milikmu, bukan millik massa pun “penguasa”. Sudah penat aku melihat yang rentan dicecar, yang kuasa ingkar.

Nanti Kita Cerita tentang Pandemi Hari Ini

oleh: nadslay

lets burn the patriarchy.
tapi sebat dulu.

ZINE THINK

zine.think [email protected]