Baca PDF (OCR): zinethink V003

27 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 150 ms

Daftar isi
  1. SETE NGAH
  2. ZINETHINK
  3. ZINETHINK
  4. Setengah Jalan
  5. ZINETHINK
  6. DAF TAR ISI
  7. Fans Taylor Swift
  8. ZINETHINK Bau Punggung Telapak Tangan
  9. Tommyzul Habib
  10. ZINETHINK
  11. ZINETHINK
  12. Persimpangan •
  13. ZINETHINK
  14. ZINETHINK Perihngatan
  15. Aku merasa lega.
  16. ZINETHINK
  17. Sampai Jumpa Kaisar Agustus,
  18. Selamat Datang Bulan Ketujuh.
  19. ZINETHINK
  20. ZINETHINK
  21. Jadi gini, Ladies, Gentlement, and the Non-binaries of the world.
  22. Sept itu 7 Octa itu 8
  23. Novem itu 9 Decem itu 10
  24. ZINETHINK
  25. ZINETHINK
  26. ZINETHINK Ini Baru Permulaan
  27. ZINETHINK
  28. ZINETHINK Tidak ada Agustus
  29. ZINETHINK Kaulah pemenang peluang
  30. (James si pemenang peluang)
  31. Tahta Ismail
  32. Tapi kau adalah pembunuh
  33. ZINETHINK
  34. ZINETHINK Macrame
  35. Nur Cahyaningsih
  36. ZINETHINK
  37. Sekali Lagi,
  38. ZINETHINK Sumpah, Aku bukan fans Taylor Swift
  39. ZINETHINK
  40. ZINETHINK
  41. Sumpah, aku bukan fans Taylor Swift.
  42. ZINETHINK

SETE NGAH

LAN

ZINETHINK

Edisi 003

ZINETHINK

Setengah Jalan

sebenarnya kita tidak pernah benar-benar tahu setengah jalan itu, letaknya di mana. Kalau kita sedang makan dan mengatakan baru kelar setengah, kita juga tidak betul-betul menghitung berapa nasi semula dan nasi yang sudah kita telan dan berapa berat lauk semula dan berapa yang sudah kita kunyah. Tapi secara tidak sadar kita punya patokan sendiri-sendiri kapan setengah itu sudah kita lalui, dan mana setengah lagi yang tinggal diselesaikan. Setengah lagi, kalau tidak lupa. Hehe.

Merefleksikan Agustus sebagai setengah perjalanan tahun ini juga mungkin akan mudah dikoreksi, melihat dua belas bulan begitu mudah dibagi menjadi dua yang seharusnya jatuh di bulan Juni atau Juli. Tapi, bukankah hidup bisa kita hitung dengan satuan lain?

Jadi, ini adalah setengah jalan; yang masih belum selesai, yang sudah kita selesaikan, yang perlu diapresi- asi, yang sudah dipelajari, yang belum diketahui, yang akan dilepaskan, yang akan digapai, yang butuh diberi jeda istirahat, yang perlu dikejar, yang dihentikan, yang diterima.

I

ZINETHINK

DAF TAR ISI

Bau Punggung Telapak Tangan 01
Perihngatan 05
Sampai Jumpa Kaisar Agustus, 06
Selamat Datang Bulan Ketujuh
Ini Baru Permulaan 11
Tidak Ada Agustus 13
Kaulah Pemenang 14
Macrame 16
Sekali Lagi, 18
Sumpah, Aku Bukan 20

Fans Taylor Swift

II

ZINETHINK Bau Punggung Telapak Tangan

Tommyzul Habib

Tas berwarna hitam memeluk erat punggung. Jam mengamit pergelan- gan tangan. Hand phone bergoyang-goyang di saku hoodie berwarna legam senada. Saya berlari sekencang -kencangnya dari parkiran stasiun dengan harapan sampai di peron tepat waktu. Harapan saya terkabul. Saya akhirnya bisa duduk dengan tenang di atas kursi kereta eksekutif yang telah menjadi tarif khusus dengan potongan lebih dari 75% itu.

Saya pulang untuk ketiga kalinya dalam tiga bulan terakhir. Ini rekor. Sebelumnya saya hanya pulang berbulan-bulan sekali atau hanya ada momen tertentu saja. Tak pernah pulang sekali dalam satu bulan. Namun beberapa bulan terakhir berubah. Paska puncak pandemi, semuanya berubah. Saya jadi sering pulang.

ZINETHINK

Setiap pulang pun saya hanya tinggal selama maksimal dua hari. Itu juga nggak penuh. Kadang berangkat jumat malam dan kembali minggu siang. Kadang bahkan berangkat sabtu siang dan pulang minggu siang. Kadang, masih banyak alasan yang membuat saya tidak pulang. Walaupun rasa-rasanya saya merasa ingin pulang.

Bukan karena ada pokok penting di rumah, bukan karena ada undangan resepsi, bukan karena ajakan pembukaan warung kopi, apalagi karena ada jodoh menanti. Bukan. Saya sering pulang karena saya masih terus ragu akan hubungan keluarga. Keraguan yang telah saya rasakan sejak saya mengenal berbagai hubungan-hubungan lain; pertemanan, rekan kerja, hingga hubungan asmara.

Ungkapan dari situs VeryWellMind menyatakan bahwa ada enam jenis hubungan sosial manusia, yaitu: hubungan keluarga, pertemanan, perke- nalan, romantika, seksual, pekerjaan, hingga situasional. Sedangkan menurut Jenni Skyler dan Janet Brito yang merupakan seorang terapis dan psikolog dari Intimacy Institute dan Hawaii Center for Sexual and Relationship Health, setidaknya ada 15 jenis hubungan, mulai dari hubungan monogami hingga platonik.

Setiap hubungan memiliki kompleksitasnya masing-masing, sebagai mana setiap orang juga memiliki kompleksitas dalam hubungan yang berbeda-beda tersebut. Namun, saya kira, sebelum seseorang mengenal berbagai hubungan, keluarga menjadi hubungan pertama yang akan dikenal, bahkan menjadi dasar. Dan bisa jadi, sekaligus paling rumit.

Saya sadar betul, hubungan saya dengan keluarga mengalami fluktuasi yang bahkan bisa mengalahkan nilai mata uang kripto. Ada saatnya saya merasa begitu dekat lalu di momen lain saya tidak ingin mengobrol atau bahkan mendengar suara mereka.

Sebuah Jurnal yang fokus pada pilihan pendidikan anak dan orang tua

ZINETHINK

melaporkan bahwa 83 persen orang tua di negara-negara di Asia Tengga- ra telah memiliki pilihannya sendiri terkati pendidikan dan pekerjaan untuk anaknya.

Bisa jadi saya sepakat dengan jurnal tersebut karena saya pun mengalami apa yang dituliskan. Misalnya pada survei yang dilakukan oleh InjoId menyatakan bahwa 87% mahasiswa di Indonesia mengaku salah jurusan. Sedangkan 71,7% pekerja memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya. Saya rasa, baik 87% mahasiswa dan 71,1% pekerja ini juga mengalami yang saya rasakan.

Perasaan ini muncul, berkembang, membesar hingga menghantui pikiran di jam-jam genting dan melahap habis seluruh energi saya. Menjelma jadi beban yang begitu berat selama bertahun-tahun. Akhirnya saya hanya fokus pada keinginan untuk menunjukkan bahwa pilihan orangtua saya tidak benar. Bahkan salah besar!

Persimpangan •

Awal tahun 2022 lalu, semuanya berubah. Sewaktu mengantar adik saya merantau, kami sempat berdiskusi, sesekali berdebat, selebihnya bercan- da. Obrolan panjang hingga pukul 2 pagi pun jadi tak terasa. Yang membuat kami (atau paling tidak, saya) terkesima adalah perasaan di akhir obrolan. Masing-masing dari kami menyetujui satu hal, yaitu: orang tua kami pun merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan. Yang berbeda hanyalah cara kami berkomunikasi satu dengan yang lain.

Setelah tidur agak panjang di atas kursi kereta yang lumayan nyaman itu, saya akhirnya terbangun setelah mendengar suara samar-samar dari kondektur kereta. Saya tiba di stasiun tujuan. Begitu turun, saya mendapa- tkan pesan singkat.

"Di dekat pintu timur ya kak," tulis pesan itu.

ZINETHINK

Tanpa membalas, saya bergegas. Berusaha mempercepat langkah. Mendahului sejumlah penumpang yang turun dari kereta dengan harapan penuh membumbung tinggi untuk berjumpa dengan orang terdekat- nya. Begitu sampai, seperti harapan-harapan penumpang yang turun dari kereta, apapun beban berat yang hinggap di pundak saya seolah ikut membumbung tinggi dan lepas seiring dengan bau punggung telapak tangan ayah dan ibu.

Saya tahu dan sadar betul, saya bukanlah sosok anak yang banyak didengungkan sebagai anak baik. Tetapi saya tahu saya akan selalu berperan sebagai anak. Dan orang tua saya akan selalu berperan sebagai orang tua. Kapanpun. Dimanapun. Bagaimanapun keadaannya. Bagaimanapun situasinya.

Berubahnya hubungan keluarga yang saya alami bukanlah akhir.

Perubahan yang saya alami baru sampai setengah jalan. Hubungan keluarga itu baru sampai di persimpangan awal. Keraguan akan hubungan keluarga itu pun masih terus ada. Berdiri tegak di tempat semula. Hanya saja, keraguan itu tak lagi sendiri. Keraguan itu ditemani dengan keyakinan untuk selalu ingin bersama. Paling tidak, saya ingin berusaha selalu bersama.

ZINETHINK Perihngatan

Perihngatan

Aku merasa lega.

Banyak sekali tanya Juli lalu yang terjawab di bulan Agustus.

Aku rasa, aku benci bertanya-tanya sendiri. sebesar apapun kabar itu, ternyata aku lega.

Setidaknya berhenti bertanya pada diri sendiri saja sudah cukup.

ZINETHINK

Sampai Jumpa Kaisar Agustus,

Selamat Datang Bulan Ketujuh.

tan wen hao | lentera api zine

Setengah tahun berlalu, setengah tahun lagi kita masih beradu dengan berbagai kenyataan yang taksa.

Berapa di antara kita yang sadar kalau kita sejak lahir sudah hidup dalam sebuah tata agenda tahunan yang penuh ketidaktaatasasan?

Oke ini asumsi, saya rasa nama bulan sudah bukan lagi masalah bagi kita. Toh selama ini kita tidak pernah protes kenapa september yang secara harfiah berarti bulan ke-tujuh dan hingga december yang berarti bulan ke-sepuluh. Atau, ya memang tidak tertarik mencari tahu saja, hehe.

Tapi coba kita kulik sebentar tentang sejarah kalender yang kita pakai sekarang. Kita kini berpatokan pada tanggalan yang telah melewati proses modifikasi dan penyesuaian. Awalnya dalam kalender Roma hanya ada 10 bulan.

ZINETHINK

Bulan pertama disebut Mars, nama dewa perang bangsa Romawi, sebuah bulan awal persiapan menghadapi “perang”. Satu periode ke depan; April, dari kata aperire yang berarti “membuka”. Mei, Maia, dewi bumi bangsa Yunani; Sedang Juni, Juno, adalah dewi perkawinan dan kelahiran yang dipercaya bangsa Romawi kala itu.

Juli, awalnya disebut Quintilis mensis (bulan ke-lima), lalu setelah mengalami perubahan sekaligus bertepatan dengan bulan kelahiran sosok Julius Caesar, diambil dari nama Julius, kata July ditetapkan menjadi bulan ke-enam sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.

Lalu, bulan Sextillis mensis. Pada tahun 8 sebelum masehi diubah menjadi bulan Agustus. Dari namanya pasti kita sudah bisa menerka-nerka dari mana nama itu diambil. Augustus. Kaisar Romawi ini meninggal tepat 6 tahun setelah tahun perubahan itu. Lagi, sebuah penghormatan terhadap kaisar, namanya diangkat menjadi nama bulan, yaitu Agustus.

10 bulan itu didasarkan pada perhitungan fase lunar. Reformasi tanggalan menuntut ditambahkannya 2 bulan yang telah disepakati Mensis Ianuarius dan Mensis Februarius menjadi 2 bulan pertama sebelum memasuki musim semi. Janus, sosok dewa Romawi yang menjadi gerbang awal dan akhir, saksi pergantian musim dan awal tahun, “ditahbiskan” menjadi bulan pertama. Lalu, Februa, sebuah ritus penyucian yang dilakukan pada bulan tersebut.

Memasuki September dan seterusnya hingga penghujung tahun, kita sudah tidak lagi bernaung pada dewa dewi maupun kaisar.

ZINETHINK

Jadi gini, Ladies, Gentlement, and the Non-binaries of the world.

Sept itu 7 Octa itu 8

Novem itu 9 Decem itu 10

September tidak memiliki arti lain selain angka itu sendiri. September itu sendiri berasal dari kata sept yang berarti tujuh, terlepas bahwa kata ini menduduki urutan bulan kesembilan dalam kalender. Begitu pula October, sepuluh yang berarti delapan; November, sebelas yang berarti sembilan; December, duabelas yang berarti sepuluh. Ialah sebuah inkonsistensi yang tetap dipertahankan hingga sekarang.

Lain halnya dengan Quintillis mensis dan Sextillis mensis yang angkanya tidak dipertahankan sesuai urutannya, dan justru naik pangkat menjadi nama dewa Juno dan Julius Caesar. Sebagian besar nama bulan sudah diadaptasikan. Tinggal 4 bulan tersisa yang masih berupa angka, sekalipun nama dan artinya tidak lagi padu.

Jika didasarkan pada nama dan angka, sah saja kalau kita membelah kalender ini tepat di antara Agustus dan September.

Selama Januari hingga Agustus, kita berada di bawah naungan para dewa dan dewi, juga para kaisar. Agustus adalah bulan besar. Ada sejarah besar dari nama bulan Agustus, tentang sosok kaisar Romawi pertama yang sangat disegani karena kecerdasan dan kemampuannya.

ZINETHINK

Ketidaktaatasasan, atau inkonsistensi, bukanlah sesuatu yang buruk. Fakta itulah yang sudah dan akan terus kita hadapi. Perihal kalender, kalender kita jelas tidak konsisten, tapi kita konsisten mempertahankannya tanpa memper- masalahkannya.


Waktu ini berjalan linear. Artinya, kamu tidak akan mengulang kejadian yang ada di depanmu saat ini tepat satu tahun mendatang meski kala nanti kita berada bulan dan tanggal yang sama. Entah apa yang akan terjadi pada Agustus 2023 dan seterusnya, kita tak pernah tahu. Dengan menilik apa yang pernah terjadi pada masa lampau, yang pasti kita harus siap dengan perubahan, apapun itu. Layak halnya Agustus sebelum kemerdekaan dengan Agustus setelah kemerdekaan, dari yang temanya “mencapai” berubah menjadi “mempertahankan”. Meski nyatanya banyak dari kita yang semakin skeptis dengan “kemerdekaan” yang kita rayakan setiap tahunnya.

Terlepas dari hari besar itu, lalu apa yang sebenarnya kita pertahankan? Apakah perubahan juga perlu kita pertahankan? Mungkin pertanyaannya berubah menjadi, perlukah kita mempertahankan perubahan itu? Bukan pertanyaan yang perlu dijawab sih, biarlah jadi bahan refleksi kita saja.

Katakanlah hari ini kamu sedang memperingati hari kelahiranmu. Tidaklah mungkin kalau hari ini kamu dilahirkan kembali. Sesederhana bertambahnya usia kita, merupakan sebuah perubahan yang perlu kita hadapi.

Perubahan tidak pernah absen. Kita tidak akan pernah tahu apakah bulan September akan berubah nama menjadi bulan November. Siapa tahu?

Kembali ke kalender. Sebelumnya, kita telah membahas tentang perubahan penamaan pada kalender Julian, belum lagi penetapan kalender Gregorian yang kini kita gunakan sampai saat ini. Kalender Gregorian pun awalnya tidak langsung diterima begitu saja di seluruh penjuru bumi. Ada masa penolakan, dari hal yang sifatnya agamawi hingga politik, terutama pada negara-negara

ZINETHINK

penganut Protestan yang sempat mengira kalender bikinan gereja Katolik ini hendak “bermain” di tengah-tengah pergerakan gereja Protestan.

Meski banyak yang akhirnya menerima, pada saat itu tidak semua bangsa siap dengan reformasi kalender. Hanya Inggris yang butuh waktu sekiranya 200 tahun untuk akhirnya mereformasi penanggalan mereka, tentunya dengan sebuah konsekuensi. Inggris kehilangan tanggal 3 hingga 13 September pada tahun 1752. Lagi, sebuah inkonsistensi yang terekam dalam sejarah bangsa Inggris. Mereka tidur pada 2 September 1752 dan bagun pada 14 September 1752. Bahkan yang begadang tengah malam tidak mengalami 11 hari yang hilang.

Itulah inkonsistensi yang berkelanju- tan, yang mempersiapkan kita menghadapi agenda ke depan, terlepas bulan apa sekarang dan selanjutnya, terlepas bagaimana cara kita membelah setengah tahun kalender kita. Maka setengah jalan bisa jadi di mana saja, kapan saja, sejalan dengan ketidaktahuan sekaligus pengetahuan kita akan waktu.

ZINETHINK Ini Baru Permulaan

Areta

Ini baru permulaan; sungguh saya paham itu. Mengosongkan kembali isi koper untuk kembali diisi berbekal beribu cinta dan doa baik.

Saya menyadari bahwa tidak semua orang bisa mengalami apa yg akan saya alami dlm perjalanan yang baru setengah ini. Masih banyak anak-anak yang janganlah bermimpi menempuh jenjang perguruan tinggi. Membayangkan besok bisa berangkat sekolah saja merupakan perkara hidup yang rumit, biasanya karena desakan ekonomi, selebihnya semua urusan hidup keruh lain.

Tapi kali ini saya mencoba pertama-tama menempatkan diri saya sbg manusia utuh yg memiliki kesempatan untuk sekolah. Entah untuk apa gunanya pengetahuan ini nanti tapi semoga benar bisa memiliki keber- manfaatan luas.

ZINETHINK

Yang pertama ini adalah tanggungjawab saya sebagai manusia yang diiringi bentuk lain saya sebagai pengajar dan pembelajar. Semoga saya bisa mengikis bias yang biasanya akan dialami oleh mereka yang merasa dirinya sudah lebih banyak mendengar dan memahami sekitar.

Nanti saya akan kembali mengosongi koper, dan mengemasi hal lainnya. Semoga masih segala yang baik.

ZINETHINK Tidak ada Agustus

Galuh

Tidak ada Agustus kali ini, Hanya ada hatiku yang patah jiwaku yang runtuh, diriku yang tenggelam, hariku yang kosong-kewalahan. Kamu selalu tergopoh dengan kantong luber kebaikan.

Aku memanen kasih sepanjang kota ke selatan, utara terlalu angkuh dan menakutkan. Diriku utuh di penghujung bulan yang hilang. Menyatakan mencintaimu tanpa mengatakannya.

Nanti kalau sunyi ini beranak pinak, biarlah kurawat sendiri. Kamu cukup hidup, baik-baik saja, bahagia selayak kamu terima. Kukabari jika mereka dewasa, memintanya datang menjengukmu.

Di hidup yang tak lagi kau ingin tinggal pergi.

ZINETHINK Kaulah pemenang peluang

(James si pemenang peluang)
Tahta Ismail

Kau orang yang teramat sangat cerdik. sosok yang selalu dapat menemukan terang yang mem- bentuk bayangan; sudut atas semua kesempatan.

Kaulah pemenang peluang saat semuaku berkompetisi, selalu saja kau dapat memanfaatkan rasa ku.

Rasa yang tulus kuasuh sendiri, yang tumbuh dalam diam.

Tapi kau bukanlah orang yang pandai mengukur jasa.

Kau lah sosok yang siap untuk membunuh asa.

Kau memanfaatkan rasaku. Aku (dan kamu) tau aku menyadarin- ya.

Tapi kau adalah pembunuh

terkejam. Kau membunuh rasa ku secara perlahan. Tidak langsung menikam jantung, kau menge- lupasi diriku satu hari satu senti.

Ya, inilah keahlihanmu yang sesungguhnya. Pelan namun pasti. Hari demi hari berjalan. Seolah aku benar benar kehilangan paras akan kulitku yang kau kupas.

Sehingga untuk mencari penggan- timu aku sudah langsung kewalahan. Tak ada lagi orang yang sudi menoleh ku. Tak ada lagi orang yang mampu merawatku dan menanamkan harapannya padaku yang tandus.

Karena akulah barang rusak, seonggok daging yang namapun aku tak punya.

ZINETHINK

Sehingga untuk memilihku saja harus banyak pertimbangan yang tak pernah mudah. Hanya yang siap menerima resiko bahwa rugi dan mengasihani sudah sepaket dengan seluruhku.

Akulah pelari tanpa kaki. Sejauh apapun aku menghentak, yang terjadi adalah aku diam ditempat yang sama. Menunggu sosok yang terpahat di udara.

Aku ilmuan tanpa pengetahuan. Mengolah semua kecewa menjadi harapan. Aku berdoa menunggu meleleh- nya batu. Kau terus membeku, di tengah lara yang terus kubakar.

Bukan waktu yang singkat, aku menunggu mu seolah kacau balau hidupku tak punya kebutuhan lain. Cinta tidak gila, cinta tidak bodoh, cinta tidak buta. Tapi kamu (atau aku) memutar- balikkan semuanya.

Aku hanya berharap suatu hari nanti ketika kau lelah mencari nyaman. Kau dapat menemukan ku dalam persimpangan. Dan kau menyadari satu hal bahwa yang terus kau buang ini adalah yang sebenarnya kau buru seumur hidupmu.

ZINETHINK Macrame

Nur Cahyaningsih

Aku sedang riweuh menjadi perempuan yang ditarik ke sana lalu ke sini oleh banyak situasi yang kadang tidak menyengkan. Keriweuhan yang pada akhirnya menunda kesenanganku sendiri: macramé.

Buatku, macramè memang sedikit ruwet sebab dia adalah sekumpulan simpul-simpul yang akhirnya mewujudkan diri menjadi seni, yang tentu selalu aku nikmati.

Riweuhku yang menyebalkan itu, menjadikan macramèku sebentar-sebentar terjeda. Belum selesai. Masih setengah jalan. Meskipun tali-tali berserakan di mana-mana, atau guntingan sisa membuat tassel yang semrawut tapi macramè masih saja bisa membuatku lupa dengan hal-hal yang kadang menyebalkan. Jari-jariku saling menarik, mengikat, menekuk tali-tali yang panjangnya tidak sepanjang pikiran negatifku itu.

ZINETHINK

Inginku sebenarnya sederhana, bisa menghabiskan waktu di rumah bersama tali-talian itu, membuat wall hanging yang banyak orang bilang sebagai hiasan dinding yang aesthetic atau membuat backdrop yang bisa aku hias dengan kembang yang aku tanam sendiri di halaman rumah, ahh atau membuat tirai jendela yang cahaya matahari bisa sedikit masuk yang membuat rumah tetap hangat.

Macramè, ajaibnya seni ini, seni yang tanpa sengaja aku pelajari sejak sekolah sekarang mampu menjadi obat keembuhanku.

Sekali Lagi,

nn.ladybird

Seperti kata si pengantar bilang, kita nggak pernah benar-benar tahu setengah jalan letaknya di mana. Bisa ada pada nasi yang masih kita kunyah, halaman-halaman yang belum sempat kita habiskan, atau bahkan segala ketakutan yang memang selalu setengah jalan takdirnya. Kita tidak benar-benar tahu, tapi (barangkali) men- gerti di mana garis patoknya menurut masing-masing kita.

Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus; banyak menemukan hingga kehilangan, terkadang riang gembira, sering juga merasa tak karuan. Semuanya berjalan, berlarian, berputar, (terkadang) dengan atau bahkan tanpa jeda.

"Nggak apa-apa, semuanya mengalami yang sama meski pada sepatu-sepatu berbeda. Kamu enggak sendirian!" Aku gugup menenang- kan diri di subuh hari, tepat pukul empat.

Aku memproses pelan-pelan dari yang paling bisa dan ingin aku jangkau. Lantas sebuah perasaan hangat tiba-tiba saja muncul dari salah satu liang ingatan; soal pesta perayaan sederhana salah seorang kawan pada 26-27 Agustus kemarin.

Sambil mengusap air mata aku bergumam,

"Life is full of fleeting moments and that really got me thinking how lucky I am to be in that moment surrounded by good friends and beautiful view. I have no idea how long all of these will last, but I wanna enjoy every moment as much as I can."

Semuanya akan berada atau sedang pada setengah jalan, tapi sebagaimana jalan ini sudah ditempuh, selebihnya mari tetap melanjutkan sembari memetik jeda pada simpang-simpang yang kita temui.

Persis seperti air mata yang kuseka sekian kali, aku memilih bertahan sekali lagi, lalu pergi tidur sampai pukul delapan pagi.

ZINETHINK Sumpah, Aku bukan fans Taylor Swift

sabdanaung

Salt air, and the rust on your door I never needed anything more Whispers of "Are you sure?" "Never have I ever before"

we, you and i were never a big fan of taylor swift, but this song in particular been played on loop in both of our minds, or should i say my mind. lepas dari hitungan tanganku berapa kali hempasan ingatan parasmu yang tampak natural itu. satu, dua, enam puluh tujuh tiba-tiba kembali ke satu lagi. sudahlah aku menyerah…

ZINETHINK

But I can see us lost in the memory August slipped away into a moment in time 'Cause it was never mine And I can see us twisted in bedsheets August sipped away like a bottle of wine 'Cause you were never mine

Bayangananmu masih terlampau legam hitam di ingatanku mencari hangat tubuhmu yang sudah tidak lagi duduk di sebelah kananku. Wildest Dream menyelinap, “i feel like i slept next to him, but I dreamt of you all summer long” lalu Daylight terus menenggelamkan kita, “I can still see it all in my mind, All of you, all of me intertwined”, yang di luar kepala kita lantunkan. Kita masih bersumpah kita bukan fans Taylor Swift keparat itu.

Your back beneath the sun Wishin' I could write my name on it Will you call when you're back at school? I remember thinkin' I had you

Sebegitu mudah aku kembali basah tenggelam tertarik; tergulung; terhempas; ombak ingatan wajahmu dari lagu yang tak lebih dari empat menit ini, anjing. tapi maaf-maaf saja nih, aku bisa berenang dan menepi lagi, gila aja! Aku lupa punggungmu, aku hampir tidak pernah memperhatikan bidang hangat itu lagi, yang ku ingat adalah punggungmu tidak begitu atletis.

Aku suka dadamu, Aku suka menempelkan kepalaku di sana, aku ingat betul 120-an BPM detak jantungmu yang seirama dengan lagu Love Story. Kita tidak begitu relate dengan lagu itu tapi, paling tidak kita bisa teriak kencang-kencang pada “”So I sneak out to the garden to see you, We keep quiet, 'cause we're dead if they knew”

ZINETHINK

Sumpah, aku bukan fans Taylor Swift.

Back when we were still changin' for the better Wanting was enough For me, it was enough To live for the hope of it all Cancel plans just in case you'd call And say, "Meet me behind the mall" So much for summer love and saying "us" 'Cause you weren't mine to lose You weren't mine to lose, no

Mengingat sudah berapa kali Agustus terlewati sama susahnya seperti menghitung berapa kali aku memutar lagu ini, “gatau lupa,” gumamku.

yang aku ingat betul adalah aku hampir selalu menomor sekiankan, membatalkan rencana-rencana dan ajakan-ajakan orang lain, kali-kali kamu ngajakin pergi, walaupun kayaknya ternyata sudah terhitung paling tidak enam ratus tiga puluh dua kali aku kecewa karna ini. Tapi setelah- nya, rencanaku kubatalkan lagi.

“meet me behind them all” is the only out thing that i can remember. walau lagi, sepanjang ingatanku paling tidak saat itu “one thing was enough” yaaaaa, you were enough. aku terlalu jauh dari cukup itu, dari cukupmu itu.

August sipped away like a bottle of wine 'Cause you were never mine 'Cause you were never mine, never mine

Reflecting yang sudah-sudah sekarang ini udah nggak terlalu butuh enam lembar tissue, atau enam malam dalam satu minggu aku gagal tidur.

ZINETHINK

at least i realize; setelah yang sempat dan belum sampai terutarakan, di ufuk paling selatan, ada… satu, dua, tiga mad women whose "like hunting witches, too" who guarded me dua empat tujuh.

oh and theres this person who with all his pure lovely heart ”drew stars around my scars” and i dont care if it bleeds again, karna kamu dan jari-jari gemukmu sudah sigap dengan enam lembar tissue baru lagi, atau enam malam dalam seminggu penuh larut lagi.

teruntuk agustus agustus baik yang sudah dan yang akan datang (dan kamu), though “I've been having a hard time adjusting,"

"I just wanted you to know That this is me trying."

disclaimer: sumpah, aku bukan fans taylor swift, apalagi parterku.

pada agustus yang panjang aku melentangkan lengan hingga selangkangan, dari satu menuju tiga puluh satu. dari subuh subuh tanpa kantuk hingga malam malam riuh dengkur. mengamati siang yang terik hingga blue hours cinematics. pada agustus yang tumpah ruah aku mengurai napas, mengambil jeda dari kabar dan debar yang saling melintang. menunda segala agenda demi ritual melamun yang semakin tak kujumpa. pada agustus yang bajingan. tapi kusayang, tujuanku tak begitu perlu. asal kita terus berjalan.