Baca PDF (OCR): Melarung

24 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 466 ms

Daftar isi
  1. Rme la g un
  2. Anggun Munan
  3. BAGIAN 1
  4. menjadi masuk akal.
  5. Membongkar Stigma: Terkuak Misteri Mengapa Perempuan Harus Perawan
  6. temen sendiri!!!11!! Wait. WHAAATTTTT!!!!
  7. dengan fragile vunerablelity masculinity.
  8. seksual sama sekali.
  9. Eh, tapi kalau ngopi saja tidak harus sama yang masih perawan, kan yaa~
  10. BAGIAN 2
  11. Gelap, basah, amis, beku, senyap.
  12. A Savior Complex: Pahlawan tak Diundang Ternyata Mematikan.
  13. alasan yang sama.
  14. apa memang bantuan ini sangat genting untuk diberikan? Atau
  15. jangan-jangan saya sedang memberi makan ego heroik diri sendiri.
  16. BAGIAN 3
  17. Bhinneka Tunggal Tawa: berbeda-beda ternyata sama saja!
  18. Saya adalah seorang keturunan Jawa-Flores (ibu saya Jogja dan bapak saya Flores), yang
  19. secara kasat mata, terlihat begitu Timur; dari warna kulit, rambut, rahang, dan hal-hal lain
  20. yang tidak dapat saya jelaskan
  21. "rambutnya dikeriting biar ga mainstream ya, mbak?"
  22. Jujur saja dalam hidup, itu adalah momen di mana saya begitu
  23. kebingungan harus mengucap nama Tuhan atau setan alas.
  24. Penutup
  25. me la g Run
  26. Anggun Munan

Rme la g un

Anggun Munan

BAGIAN 1

Aku mungkin akan menyebutnya kotak pandora, mesin waktu, film lawas, album foto, atau apa sajalah yang biasa digunakan untuk melelehkan waktu dan melempar ingatan pada hal-hal yang sudah.

Kita hidup dengan hinggap pada satuan waktu,

tempat, ruang, dan peristiwa-peristiwa yang
terukur dengan bermacam cara dan idiologi. Ada
kalender, weton, rasi bintang, bahkan lajur garis
telapak tangan yang nantinya dengan berani
menilai sempat terproses sebelum diputuskan itu. Padahal setiap keputusan yang bahkan belum
mungkin, setelah semalam kita menghabiskan

waktu dengan rokok atau alkhohol karena putus cinta, makan siang esok hari bukanlah hal yang bisa kita proses dan putuskan apalagi, buruan deadline kerja atau menerima ajakan teman berdansa atau pinjaman uang yang saling bertumpangtindih tak mau berhenti. Bukankah kejam sekali menilai setiap keputusan dalam hidup yang tidak pernah kita sadari sepenuhnya ini. Tapi kemudian kita juga berdoa sambil mengunduh aplikasi co-star atau the pattern itu. Btw, aku nggak terlalu yakin dengan rising-ku karena jam lahirku tidak tertulis di akte lahir dan orang tuaku terlalu payah mengingatnya. Sementara; anggap saja Aquarius.

Duapuluhan adalah usiaku mempertanyakan dan mengalami banyak sekali kejadian-kejadian besar

dalam hidup (tentu saja, kan aku masih begitu baru dengan usia kepala tiga pada maret lalu ini).

Ada banyak sekali perkenalan-perkenalan yang membuat arah pandang hidup bergeser hingga

putar-balik. Atau perpisahan-perpisahan yang justru membuatku semakin mengenali diri sendiri

dengan semua kebobrokan di sana-sini, juga kegemilangannya yang melulu aku sembunyikan

karena malu. Kalau pernah ada orang berkata Tuhan Maha membolak-balikkan perasaan

manusia, maka barangkali Dia bekerja dengan hidup dan segala isinya.

Aku mengenal feminisme, dengan semua hingar- bingar, pilu-biru, morat-marit, dan harap-harap-

cemasnya. aku menelisik dan membredeli hidup dengan arah-alur pemikiran feminis dan semuanya

menjadi masuk akal.

Ini adalah tulisan tahun 2019, sekitar 5 tahun yang lalu. Tentu saja selain gaya bahasaku yang

(sebenarnya sampai sekarang) cringe banget, tapi ini bisa kuhitung sebagai satu alat ukur penting

yang setelahnya, aku terus berusaha memijakkan cara berpikir pada perspektif gender.

Membongkar Stigma: Terkuak Misteri Mengapa Perempuan Harus Perawan

Kalau Ada tes keperawanan tapi Tidak Ada tes keperjakaan, lalu apa sebenarnya yg membuat perempuan jadi tidak perawan? Apa karena terlalu tebal pakai lipstik? Atau apa karena skin care-nya bukan dari Korea? Sebagai seseorang yang perempuan yang kebetulan memiliki banyak teman dari berbagai kalangan dan latar belakang, sudah tentu curhatan yang datang dari teman-teman saya sangat beragam.

Tapi, lagi-lagi, sebagai perempuan, curhatan antara sesama perempuan perihal romansa sangat banyak saya terima. Sebenarnya, bagi saya ya

senang-senang saja menjadi teman curhat (baca: tempat sampah unek- unek) orang lain, karena menurut saya ini bearti saya dipercaya

mengetahui cerita-cerita paling rahasia mereka. Namun, ada satu cerita yang sudah saya terima bahkan sejak SMP dan ternyata narasinya tidak

terlalu berubah sampai saya berusia seperempat abad! Apakah itu?? Kira-kira seperti ini perbincangan yang terjadi:

Teman: “Aku sebenarnya udah gak kuat pacaran sama dia, aku sebenarnya sering disiksa, aku ga bahgia-bahagia banget juga pacaran sama dia.”

Saya: “Kenapa ga putus aja?”

Teman: “Ya gimana, aku udah ga ‘perawan’.”

Saya: “Trus kenapa kalau udah ga ‘perawan’?”

Nah, kurang lebih seperti itu. Anehnya, setiap pertanyaan ‘kenapa memangnya kalau sudah ngga perawan?’ itu saya tanyakan, raut wajah

mereka jadi aneh. Seakan-akan saya daritadi tidak menyimak perbincangan. Ada yang saya lewatkan, atau jalan pikiran saya ternyata

tidak sejalan. Akhirnya, banyak yang kemudian menyudahi perbincangan karena merasa tidak nyambung, ada yang menimpali “ah kamu ga ngerti!”

Awalnya saya menganggap mungkin saya memang tidak paham maksudnya sampai akhirnya saya memberanikan diri bertanya lebih serius,

like seriously girls: Memangnya kenapa kalau sudah nggak ‘perawan’, memangnya kenapa hubungan seksual membuat kalian tidak mau atau

tidak mampu memutuskan hubungan? Ternyata jawabannya adalah: karena perempuan yang sudah tidak perawan akan dianggap murahan,

susah mendapat pasangan, harga dirinya akan hilang melayang bak gebetan yang sudah mulai kita taksir tapi ternyata malah pacaran sama

temen sendiri!!!11!! Wait. WHAAATTTTT!!!!

Sebentar. Saya benar-benar bingung. Pertama, konsep tentang ‘keperawanan’ itu sendiri sesungguhnya sangat mengusik logika saya.

Kedua, apa yang salah sari perempuan yang dianggap tidak ‘perawan’? Saya akan coba jabarkan kebingungan saya ini. Pertama soal apa itu perawan. Keruwetan di kepala saya mulai bermunculan:

"Apasih perawan itu" "Yhaa yang belum pernah berhubungan seksual"

"Which one? Hubungan seksual kan banyak macamnya?" "Mungkin maksudnya kalau penis masuk ke vagina"

"Kalau pakai dildo gimana? Jari sendiri? Apakah tetap perawan?" "Yhaa engga, kan selaput daranya sudah robek"

"Tapi tidak semua perempuan terlahir memiliki selaput dara. Ada yg sejak Lahir nggak punya. Ada yg robek karena olahraga atau kecelakaan. Lantas, apa perempuan ga boleh melakukan masturbasi karena akan

merobek selaput dara dan membuatnya jadi tidak suci dan penuh dosa??

Padahal ya gaes-gaesku, Human Rights Watch (HRW) pernah menyerukan kepada Bapak Presiden Joko Widodo (dilansir dari VOA Indonesia) untuk

menghentikan adanya praktik tes keperawanan bahkan untuk calon
anggota di institusi militer dan kepolisian. Alasannya pun juga sejalan
dengan akal saya, karena tes ini membawa luka traumatis besar bagi
perempuan. Selain itu, apabila alasannya adalah untuk menjaga moral

anggota, maka seharusnya tidak hanya perempuan yang mengalami tes semacam ini. Calon anggota laki-laki pun juga mestinya mengalami proses

serupa, namun karena tes keperjakaan nyatanya mustahil dilakukan. Lalu mengapa tes keperawanan harus tetap berjalan? Hufff!

Jadi, Apa itu perawan? Dan bagaimana orang menilai seseorang perawan dan tidak? Sebenarnya kenapa perempuan jadi tidak perawan? Mengapa

tidak ada tes keperjakaan? Untuk apa sesungguhnya tes keperawanan ini gerangan dibutuhkan? Lalu terakhir, bagaimana nasib teman-teman saya

tadi, apa benar kita harus terus-terusan berada di toxic relationship hanya karena sudah ‘diperawani’?

Semua pertanyaan itu berpusat pada dasar pertanyaan: Mengapa stigma masyarakat mengharuskan perempuan pada perempuan yang masih

perawan??

DISCLAIMER: Tentu saja pemikiran ini tidak terdapat pada SEMUA LAKI-LAKI ya gaes-gaesku. Tolong saya jangan di-judge dasar feminis hobinya

mengeneralisir!

Kebanyakan laki-laki yang mengharuskan calon pasangannya masih perawan juga sebenarnya harus dikaji ulang. Maksud saya, untuk apa

seorang pacar mengharuskan pacarnya masih perawan kalau akhirnya dia sendiri juga akan melakukan hubungan seksual dengannya. Tapi kemudian,

tetap menginginkan calon istri yang masih perawan juga setelah putus sama pacarnya yang dulu sudah pernah diperawani??!!

Hal ini ternyata memiliki logika yang masuk akal loh!! Jeng Jeng Jeng Jeng!! Tapi lagi-lagi, tenang dulu, ternyata logikanya bukan karena keperawanan perempuan adalah segalanya, atau perempuan yang masih perawan itu

selalu berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dambaan segenap umat, dan jaminan hubungan awet mantap tanpa cela. BOKAAANN!!! Lalu apa nih

kalau boleh tau?? Mari kita bongkar bersama-sama...

Jadi, seturut dengan konstruksi pemikiran patriarki, maskulinitas laki-laki itu sifatnya gamblang, kasat mata, terlihat, terasa, seperti logo uang original.

Contohnya: laki-laki ga boleh nangis, harus bisa benerin genteng, ga boleh pakai baju pink, ga boleh pakai skincare (gapapa mukanya berminyak kayak wajan yang penting maskulin), harus merokok, dan yang paling

Penting harus perkasa di ranjang! Kalau kamu menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban IYA. Waaah, maaf-maaf saja, berarti

kamu juga bagian dari masyarakat rapuh maskuliniti.

Maskulinitas yang salah kaprah ini menjejali pemikiran bahwa: Laki-laki yang perkasa adalah laki-laki yang tak terkalahkan di kasur (saat

melakukan hubungan seksual-red). Loh, darimana perempuan tahu doi memang se-perkasa itu?? Nah, itulah cikal bakal ketakutan laki-laki

dengan fragile vunerablelity masculinity.

Darimana perempuan tahu??? Ya gampang saja, MARI BUAT AGAR MEREKA TIDAK TAHU!! Nah, terkuak sudah teman-teman seper-

insekyuranku! Perempuan yang sudah tidak perawan, atau dalam paham mereka sudah pernah melakukan hubungan seksual, tentu adalah

perempuan yang sebelumnya memiliki pengalaman melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Sehingga menurut mereka, perempuan tersebut

akan memiliki nilai banding, memiliki kemampuan untuk membandingkan keperkasaan mereka dengan laki-laki lain, sehingga barang tentu itu akan

teramat mengamcam inti dari maskulinitas mereka yang hanya tersimpan di balik celana dalam! Ketika perempuan merasa lebih ‘terpuaskan’ dengan

pengalaman seksualitas yang lain, tentu sisi keperkasaan mereka akan merasa ternodai. Apalagi, kalau laki-laki ini tidak punya pengalaman

seksual sama sekali.

Padahal, kalau mau sedikit menengok pada nilai-nilai feminisme, ketakutan-ketakutan seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena pemikiran feminis menyadari bahwa maskulinitas tentunya tidak ada hubungannya dengan kekuatan urat penis laki-laki. Kami menyadari bahwa untuk bisa melakukan hubungan seksual yang dapat memuaskan keduabelah pihak (atau lebih), tidak bisa dilakukan secara instant. Ini juga bukan merupakan kekuatan super laki-laki saat di atas ranjang, apalagi bakat yang turun dari Tuhan. No! Hubungan seksual membutuhkan skill yang harus dilatih, harus dibicarakan dengan pasangan secara jujur dan terbuka. Sehingga, peran perempuan pun juga tidak kalah penting untuk mencapai kepuasan bersama dalam pengalaman tersebut. Ini bukan sesuatu yang langsung bisa dilakukan hanya karena menonton tutorial dari youtube saja mylof!

Waw, ternyata paham feminis ini juga bisa membela laki-laki juga ya?? Yaemangnya siapa bilang feminis harus benci dan tidak butuh laki-laki, HEYYY!!!! Yukk ah ngopi dan ngobrol bareng teman-teman feminis sebelum menilai yang tidak-tidak.

Eh, tapi kalau ngopi saja tidak harus sama yang masih perawan, kan yaa~

BAGIAN 2

Di usia duapuluhan, jalan hidup tidak pernah mulus. Bahkan di jalan mulus- pun kita tidak punya cukup uang untuk membeli sandal atau sepatu bagus agar jalannya menyenangkan. Atau sepeda motor yang tidak pernah masuk bengkel itu membuat jalan yang sebenarnya baru diaspal tetap bergeronjal dan bergetar. Ada puisi-puisi bertema patah hati yang begitu menghujam ulu hati, tapi kita tidak bisa terlalu larut dalam setiap kata sedihnya karena baju kotor di dalam kamar akan segera busuk kalau tidak digilas dengan deterjen hari ini juga. Ada hari libur setelah satu pekan penuh kehilangan jati diri serta jagad raya di tempat kerja tapi kita tetap tidak bisa duduk melamun di kofisyop karena uang di saku memaksa kita hanya bisa memesan kopi ABC tanpa gula di angkringan dan kita tidak betah berlama-lama di sana karena akan segera diajak ngobrol bapak-bapak mata keranjang. Hidup tidak pernah baik-baik saja tapi batas paling tidak nyaman akan selalu kita gali lagi setiap hari. Kayaknya masih gapapa nangis dulu hari ini, kayaknya gapapa makan indomi terus minggu ini, kayaknya gapapa aku dijambak pacarku lagi, kayaknya gapapa gajiku kurang terus, kayaknya gapapa bapakku ketahuan selingkuh lagi. Sampai kita lupa mana hal yang sebenarnya apa-apa. Gapapa ya, mungkin besok ada ada teman yang ulang tahun dan bisa menraktir bakso!

Kakiku menginjak dasar batu paling curam itu di usia duapuluhan. Kata orang hitting your rock bottom. Di sana begitu gelap dan sebanyak apapun nomor pada mutual media sosial kita, di sana kita sendirian.

Gelap, basah, amis, beku, senyap.

Kita hanya akan mendengar degup jantung seperti orang yang sedang menempa pedang raksasa, tangisan yang setengah mati kita samarkan

dengan bunyi keran kamar mandi rumah tapi justru terdengar menegerikan, juga kertak gigi tengah malam yang ngilunya berdenyit sampai jantung dan kita memukul kepala sendiri memaksa otak belakang berhenti bersuara

sebentar saja. Kita menyakiti badan, hati, akal sehat, karena hidup sudah mati tapi napas dan perut masih terus memaksa diberi asupan. Kita ingin berhenti, tapi dunia terus berputar dan jangan lupa ada rasi-rasi bintang yang akan terus memperhatikan untuk menilai setiap keputusan kita. Kita kalah, tapi kita ingin sekali saja berhenti menjadi pecundang.

Ini adalah tulisan ketika aku putus hubungan setelah sembilansetengahtahun menjalin cinta. Patah hati tidak pernah mudah, tapi hidup setelahnya

ternyata begitu mengerikan. Setelah sadar bahwa cara paling mungkin untuk beranjak dari gua paling gelap adalah melaluinya, maka kugeret kaki,

badan, dan semua yang masih bisa kumandikan di pagi hari untuk terus berjalan. Dalam perjalanan itu, kutemui diriku berserakan dan semuanya kutata ulang. Menjalin hubungan dengan seseorang seperti mempersilakan

tamu masuk ke rumah kita. Awalnya dia hanya akan ada di teras atau ruang tamu, maka yang kamu bersihkan, gelas bekas minum yang kamu cuci kembali, lantai yang kamu sapu dan pel lagi setelah dia pulang tidak terlalu merepotkan. Setelah hubungan tersebut semakin dalam dan sekejap bubar, bisa jadi membereskan seisi rumah menjadi hal yang begitu pelik, karena

kamu sadar bahwa kamu telah lupa bagaimana bentuk rumahmu sebelum dia bertamu.

Tulisan berikut terbit tahun 2021, adalah ekstraksi perasaan yang coba kuterjemahkan ketika aku menemui diriku yang berserakan itu;

A Savior Complex: Pahlawan tak Diundang Ternyata Mematikan.

Mela diam tertegun ketika seorang tukang tambal ban menanyakan jenis ban pada sepeda motornya yang kempes. Pertanyaan yang sederhana, "Bannya tubles nggak mbak?" Tapi Mela diam saja cukup lama. Belum selesai sebenarnya Mela mencerna kenapa motornya oleng dan bannya bisa tiba-tiba kempes padahal jalanan mulus, malah ditanya apakah bannya tubles atau bukan. Apa itu ban tubles? Termasuk yang mana ban miliknya? Apa bedanya? Sampai akhirnya tukang tambal ban mengecek sendiri dan bilang, "Oh iya nih tubles, tapi ini ga bocor kok cuma kurang angin aja. Kalau ban tubles harus berkala dikasih angin mbak."

Mela masih terdiam. Sekarang tiba-tiba ban motornya tidak bocor seperti prediksi ia semula.

Kejadian siang itu sebenarnya sering sekali dialami oleh pengendara sepeda motor. Mela, tentu saja merupakan pengendara sepeda motor. Tapi kenapa Mela bingung sekali ketika itu terjadi?

Sabar dulu, sebelum ada yang melakukan mansplaining, Mela akhirnya menyadari 1 hal.

Mela masih melamun memikirkan kejadian barusan. Ia bingung, mengapa untuk hal sesederhana itu saja ia jadi bingung. Lalu ia me-recall

pengalaman-pengalamannya menggunakan sepeda motor miliknya sendiri. Selepas membeli, ia selalu melakukan servis motor bersama pacarnya. Ia

ingat, bahwa ternyata ia tidak dapat mengingat satu perbaikan pun yang dilakukan pada motornya; kapan terakhir mengganti oli, kapan ganti

kampas rem, apa merek olinya, kapan terakhir ganti ban, mengisi angin??? Semua ternyata dikerjakan oleh Toni, pacarnya. Yang, 3 bulan yang lalu, memilih mengakhiri hubungan.

Setelah menyadari hal itu, Mela cukup terkejut (atau apa ya bahasanya... kaget tapi nggak teriak ayam ayam ayam kayak Ruben Onsu gitulah pokoknya). Lalu Mela mengingat hal lain lagi yang mungkin bertipe serupa dengan kejadian siang itu. Setelah diuraikan, ternyata cukup banyak,

sangat malah untuk ukuran manusia dewasa. Mela ternyata tidak mampu memandikan anjing peliharaannya sendirian, tidak berani pergi jauh

sendiri, tidak bisa memindahkan memori handphone internal ke memori eksternal, tidak tahu bagaimana cara merental mobil, dan masih banyak

lagi. Mela merasa, sebagian dari kekuatannya pergi bersama putusnya hubungan dia dan mantan kekasih. Dia menyadari, bahwa sebagian besar

persoalan dalam hidupnya selalu diselesaikan oleh mantan kekasih. Sesederhana itu, ia hanya akan curhat, lalu voila! Solusi pun akan datang

tanpa diminta.

*** Kejadian yang dialami Mela, tentu tidak hanya dialami oleh Mela. Lebih

luas lagi, kejadian serupa tidak hanya dialami oleh orang yang baru saja putus cinta.

Kalau kita mengingat film searching (Searching, 2018) memiliki plot tentang seorang Ayah yang berusaha mencari keberadaan putrinya yang hilang.

Putri hilang itu ternyata tanpa sengaja terdorong oleh anak dari
Detektif yang membantunya melakukan penyelidikan. Ibu Detektif dengan
sengaja menjadi kepala penyelidikan agar kasus itu tak pernah terungkap
selamanya dan anaknya bebas dari hukuman penjara. Alasan Ibu Detektif
sangat sederhana: ingin melindungi anak semata wayangnya. Tapi alasan
tersebut juga, yang justru mencelakakan dirinya sendiri. Sebelum
tertangkap, Ibu Detektif bercerita bahwa suatu hari anaknya pernah
memalak satu komplek perumahannya dan berkata bahwa uang itu
merupakan program keamanan dari kepolisian sang ibu. Lalu setelah
ketahuan, Ibu Detektif memilih membenarkan penipuan si anak demi

yang

alasan yang sama.

Itulah mungkin sebabnya si anak jadi tidak berpikir panjang saat melakukan hal buruk, karena tahu Ibunya akan menolong tanpa peduli apakah yang ia lakukan benar atau salah.

Lihat, betapa mengerikannya menjadi sekaligus berada di sekitar orang-orang yang memiliki jiwa kepahlawanan yang kebablasan. Ya jiwa

kepahlawanan yang tidak pada tempatnya ini disebut: Savior Complex, atau Hero Complex.

Dilansir dari Tirto Hero complex merupakan kondisi ketika seseorang mencari pengakuan dengan cara beraksi seperti pahlawan. Ia berusaha

menciptakan keadaan di mana mereka bisa menjadi juru selamat dan mendapat pujian.

Sedangkan menurut Dr. Maury Joseph, seorang psikolog di Washington, D.C., yang dilansir dari healthline savior tendencies can involve fantasies

of omnipotence. In other words, you believe someone out there is capable of single-handedly making everything better, and that person happens to be you.

Kecenderungan pada Savior Complex ini dapat termasuk berfantasi
menjadi pengusaha atau pahlawan. Dalam maksud lain, kamu meyakini
bahwa menyelesaikan semua masalah yang ada, dan orang itu kamu. Masih mengutip halaman yang sama: Savior Complex atau yang sering selalu ada seseorang yang memiliki kemampuan
digambarkan dengan sindrom Pahlawan berkuda putih, dideskripsikan

akan

dapat menyelamatkan orang lain dengan menyelesaikan masalah mereka. Kamu yang memiliki kecenderungan tersebut, sangat mungkin untuk:

  1. Hanya akan merasa senang/bangga pada diri sendiri saat menolong orang lain.
  2. Meyakini bahwa menolong orang lain adalah tujuan hidupmu.
  3. Menghabiskan banyak energi hanya untuk membenahi masalah orang lain yang berujung merugikan diri sendiri.
    Beginilah kira-kira gambaran yang terjadi untuk menganalisa apakah kecenderungan ini ada pada diri kita. Sekaligus bukti bahwa hal ini akan

berdampak lebih banyak sisi negatif daripada sisi positifnya. Sering kali, orang merasa bisa dan (lebih parah lagi) harus, dalam

menyelesaikan permasalahan orang lain. Padahal, sebagai manusia dewasa, yang bertanggung jawab penuh atas terselesaikannya

permasalahan dalam diri ya kita sendiri. Menyelesaikan permasalahan orang dewasa lain akan membuat 2 kemungkinan tak sehat:

  1. Bagi orang yang memiliki permasalahan menolong: Kita jadi lupa terhadap permasalahan kita sendiri dan lebih buruk hal ini dapat membahayakan diri sendiri.
  2. Bagi yang ditolong berlebihan: Kita kehilangan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Lalu ketika pahlawan penolong pergi, kita jadi lumpuh.

Kalau melihat kedua contoh peristiwa di atas (baik Mela maupun film Searching) Savior Complex dapat merugikan kedua belah pihak. Bagi Mela yang sebelumnya memiliki pacar savior Complex, atau Ibu Detektif seorang savior complex itu sendiri. Semuanya tidak baik, menggantungkan diri terhadap pertolongan orang maupun dibebani oleh masalah orang lain bukanlah bagaimana sebuah hubungan yang sehat terjalin, apapun jenisnya. Mau orang tua pada anak, sepasang kekasih, pertemanan, antar karyawan, guru dan murid, dan lain sebagainya.

Jadi ketika suatu hari nanti kamu dihadapkan pada keadaan yang membuatmu dapat menolong orang lain, coba tanyakan lagi pada dirimu sendiri:

apa memang bantuan ini sangat genting untuk diberikan? Atau

jangan-jangan saya sedang memberi makan ego heroik diri sendiri.

BAGIAN 3

Aku mencoba berdamai dan memaafkan kesalahan-kesalahan diriku di masa lalu, sebenarnya jauh sebelum aku berusia duapuluhan. Dosa terbesar pada tubuh yang dengan ajaib mampu terus hidup ini adalah pada rambut dan warna kulitku. Aku begitu membenti tubuhku bahkan sejak taman kanak-kanak. Aku paham betul bahwa tubuhku begitu berbeda dengan teman-teman yang lain. sebagai orang keturunan Flores, Nusa Tenggara Timur, yang tumbuh dan besar di Jogja, ini adalah hidup lain yang tak kalah mengerikannya. Bayangkan, sejak TK aku sudah benci warna kulitku dan rambut kriboku. Waktu itu aku merasa, Tuhan bisa jadi memang membenci beberapa makhluk ciptaannya dengan membuatnya lebih jelek dari yang lain. Atau aku begitu membenci ibukku yang Jawa tulen yang memilih papa orang Timur. Tidak bisakah dia menikahi laki-laki jawir saja agar aku berbentuk sama dengan teman-teman Jawaku yang lain?

Aku sudah meluruskan rambut sejak kelas 3 smp sampai aku bekerja, sepertinya kurang lebih sebelas tahun, hanya untuk memiliki rambut lurus seperti perempuan jawa pada umumnya. Tentu saja, fakta ini adalah gunung es. Rambut hanya hal paling terlihat yang saat ini bisa aku ceritakan. aku bahkan, sulit sekali menghayati pandangan feminis bahwa setiap perempuan patut merasa cantik because i can’t count myself (hehe). Tapi kemudian perjalanan menata diri sendiri membuatku memaafkan diriku. Setelah aku memutuskan untuk memeluk diriku sendiri, Pada tahun 2022, aku menulis dan menemukan percik-percik gemilang yang selama ini kuisolasi.

Bhinneka Tunggal Tawa: berbeda-beda ternyata sama saja!

Kalau kamu bertanya satu persatu pada setiap orang di sekitarmu (iya

sekitar nggak perlu ke-250juta orang di seluruh penjuru negeri),
kemungkinan semua akan setuju, keberagaman itu indah. Bahkan untuk
mempertebal pernyataan yang konon diamini satu Indonesia itu, satu

saja,

negara ngotot sepakat memboyong semboyan (bila ditulis hari ini, mungkin namanya quote) Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda suku, agama, ras, golongan tetapi tetap satu jua. Satu dalam kalimat tersebut, semoga artinya benar-benar kesamaan dalam level sebagai warga negara yang sama, atau dalam kata yang lebih kekinian: setara.

Sebelumnya, kecurigaanmu bahwa tulisan di atas terbaca begitu pesimis benar adanya. Alasanya, mari kita ulik bersama. Agar lebih mudah, realistis, dan sedikit dramatis, kita boleh menggunakan contoh hidup saya (penulis) sebagai media ulik tersebut.

Saya adalah seorang keturunan Jawa-Flores (ibu saya Jogja dan bapak saya Flores), yang

secara kasat mata, terlihat begitu Timur; dari warna kulit, rambut, rahang, dan hal-hal lain

yang tidak dapat saya jelaskan

Karena jujur saja saya juga tidak tahu apalagi yang membuat saya tidak pernah diakui sebagai orang Jogja saat berkenalan dengan orang baru. Padahal demi Sri Sultan, KTP saya Jogja!

Hidup dan tinggal di Jogja sejak balita (karena sebelumnya kami sekeluarga tinggal di Lombok), yang berarti saya belajar berbicara bukan dengan Bahasa Jawa, ternyata memperparah krisis identitas tersebut. Ibu sempat bercerita bahwa saya kesusahan saat hendak jajan di warung, atau sampai mengganti sapaan kepada beliau yaitu ibuk, yang sebelumnya adalah mama, untuk sekadar terlihat sama dengan teman-teman yang lain.

Saat di bangku TK, hampir setiap hari saya menjemur diri di bawah sinar matahari karena dulu saya berpikir berada di bawah matahari membuat kulit berkilau, sama seperti kulit teman-teman yang lain. Atau saat di bangku SMP, saya menggunakan banyak sekali jepit rambut agar rambut saya yang kribo ini dapat lebih menempel di kepala dan tidak begitu melayang di udara, karena tidak ada rambut teman-teman saya yang demikian. Atau saat di SMA, kuliah, kerja, dan berelasi dalam masyarakat yang secara jumlah atau mayoritas terlihat begitu berbeda, saya berupaya keras memangkas-menambah-mengubah-menyeragamkan berbagai

atribut identitas yang sudah melekat dalam diri. Tidak lain, untuk terlihat sama, atau kalau sama tidak mungkin, minimal perbedaan ini tidak begitu mencolok.

Seumur hidup, saya betul-betul belajar untuk terlihat sama karena dengan terlihat sama itulah saya pikir dapat diterima dalam komunitas. Karena

tentu saja berbagai rentetan bullying yang saya terima tidak lain karena perbedaan yang mencolok tersebut. Bhinneka Tunggal Ika, yakin?

Lalu entah sejak kapan, entah sejak Rangga dan Cinta dalam AADC balikan, atau sejak Agnes Monica ganti nama menjadi Agnezmo dan menggelapkan warna kulit, atau sejak Tara Basro mengunggah foto

tubuhnya yang bertema selflove, atau entah sejak kapan narasi "berani beda" ini bergaung dan menjadi trend. Pokoknya harus beda, yang oke adalah yang anti-mainstream. Dalam setiap lini gaya hidup seperti; musik, film, fashion, dan bahkan jati diri, berbeda menjadi hal yang begitu menggairahkan. Sedangkan majemuk adalah hal yang ketinggalan zaman.

Misalnya orang-orang mulai mengulik musik dan film yang paling tidak diketahui orang lain, lebih jauh asalnya, lebih independen produksinya,

lebih oke. Atau orang-orang mulai bergaya menata pakaian, riasan yang paling berbeda untuk mencapai trend -tidak mengikuti trend-tersebut.

Maksud saya, dengan melihat track record upaya seumur hidup saya untuk dapat diterima dalam masyarakat, hal ini tentu sedikit membingungkan.

Walau, ya, sah-sah saja terjadi dalam dinamika kehidupan sosial. Apalagi setelah melihat Prabowo menjadi menteri Jokowi, saya rasa tidak ada lagi hal yang terlalu mengejutkan terjadi di Indonesia

Sampai suatu hari, seorang teman yang tidak terlalu dekat mengomentari penampilan saya,

"rambutnya dikeriting biar ga mainstream ya, mbak?"

Jujur saja dalam hidup, itu adalah momen di mana saya begitu

kebingungan harus mengucap nama Tuhan atau setan alas.

Penutup

Duapuluhan seperti baru terjadi kemarin sore, tapi juga di waktu yang terlalu jauh kuingat dan telusuri lagi. Tidak sedikit yang masih kucemaskan dan mungkin masih terinkubasi. Menjadi perempuan sendirian tanpa suami (apalagi anak) di usia 30 adalah hal lain yang tidak kalah terjal, tapi di sisi lain, atas apapun yang melekat dan menjagal hidup; sekarang adalah masa paling membahagiakan. aku tentu masih terlalu pemula untuk mengartikannya, tapi untuk semua yang sudah, sedang, dan akan, hidup ini ternyata indah begini adanya. asal aku masih terus memiliki diriku sendiri.

untuk anggun

Anggun tekun menulis dan itu terjadi di banyak medium; itu bisa saja terjadi lewat pesan WA, caption Instagram, surat saat ulang tahunmu, dan banyak lagi--ia tersebar di mana-mana. Saya ingat persis, beberapa jam jelang ulang tahunnya ke-29, buku puisinya tiba di toko. Ia senyum-senyum. Apapun yang terjadi dalam dadamu Waktu itu, saat ini, dan nanti, Nggun, aku selalu ingin temanimu.

Inun

Aku kenal anggun di posisi yang unik, dia mentor dan aku audiencenya, and that continues thru our shared life, she was, is and always will be my mentor on how life should be seen. Untuk jogja, jakarta, ambarawa, bali yang kita sulam dengan acak; seperti yang inun bilang, Nggun, aku selalu ingin temanimu; who knows? maybe we can make praha happens before our 50s.

Sabda

Banyak hal yang terapal dari isi kepala dan tutur Anggun, mustahil tak ajaib bagiku. Misalnya saja saat aku nyaris menangis setiap malam karena skripsi tahun 2021 silam, lantas secarik tutur Anggun justru membantuku lulus. Isinya sederhana. Anggun bilang padaku, "Yu, satu-satunya yang bisa kamu kontrol isi kepalamu sendiri. Skripsi bakal selesai kalau kamu kerjain, ngga cuma dipikirin." Beberapa bulan kemudian, aku sidang, lalu kami sama-sama menangis. Begitulah Anggun. Saat pikiran-pikirannya bergemuruh, kata demi kata bisa begitu saja mengalir, mengairi kekosongan-kekosongan berbagai medium, memeluk perasaannya, dan orang-orang yang ia sayangi. Nggun, aku ingin terus memergokimu kepusingan merapikan tulisan-tulisan, mendengarkanmu membaca puisi, menerima tulisan-tulisanmu, atau saling menemani belanja makeup dan skincare. Persis seperti Nan dan Inun, aku ingin terus temanimu.

Ayu

me la g Run

Anggun Munan