kritíksastera untuk mendjaga terlaksananja dan dípenuhinja sjarat2 untuk pe-
ngarang dan karangannja.
Sdr. Iramani salah seorang pengarang Lekra dalam karangannja Kewadjiban kritikseni" jang dimuat dalam brosur Lekra menjambut kongres kebudajaan" Bandung 6 s/d 11 Oktober 1951, mengadjukan ukuran kritik untuk isi dan untuk bentuk. Semua jang menentang kemunduran, semua jang mem- bantu kemadjuan, jang mengembangkan persatuan nasional, adalah baik. Semua jang anti-nasional, jang menentang ilmu pengetahuan, jang menentang kepentingan2 rakjat, harus dikritik sekeras-kerasnja. Ukuran ini bukan pembatasan jang sempit, sebaliknja lautan jang luas, tetapi bukannja tak bermata-air dan tak bermuara. Untuk bentuk dinjatakannja, bahwa semua jang setjara artistik lebih baik, jang mengandung elemen2 keindahan jang lebih kuat, adalah baik
dan selalu lebih baik daripada jang mutu artistiknja kurang tinggi. Djuga bukan
pembatasan jang sempit. Kritikseni harus membuka pintu selebar-lebarnja untuk
atau menjerah.
Kesimpulan sdr. Iramani adalah, bahwa adalah dua perpaduan ukuran
inilah jang akan menentukan nilai keseluruhan sesuatu hasil tjiptaan. Isi dan bentuk adalah tak dapat dipisah-pisahkan. Ia harus satu, merupakan totalitet jang harmonis. Harmonis bagi perasaan, kepentingan tjita2 rakjat. Dan kesenian kerakjatan tidak lain adalah kesenian realis. Sampai kepada perkataan realis ini, maka tambah lagi ukuran kritiksastera, jaitu mentjegah djangan sampai realisme disinonimkan dengan naturalisme pemotret, menurut istilah Gorki kesenian kenjataan" (art of facts). Menurut sdr. Iramani realisme bukan hanja menundjukkan telundjuknja kepada inilah jang sekarang", tetapi djuga menundjuk kepada keakanan kesana kita akan pergi."
Kritikseni berkewadjiban, termasuk kritiksastera, membimbing pembatja
pendengar, penonton, ja, membimbing seluruh rakjat. Agar tiap2 individu, menurut utjapan Profesor Ladislav Stoll, menteri kebudajaan Tjekoslowakia, mengikis habis kebanggaan burdjuis jang mengatakan ,aku jang mempunjai", dan agar tiap2 individu itu tidak hanja mengatakan aku melihat, aku mende- ngar, aku mentjium, aku meraba, aku merasa", tetapi djuga ,,aku bekerdja, aku beladjar, aku mengagumi, aku mentjinta, aku berdjuang untuk hari esok jang lebih bahagia".
Batjaan :
1. H.B. Jassin Selamat tinggal tahun 1952", Madjalah Zenith" No. 2 tahun
1953.
2. Pramudya Ananta Tur Hidup dan kerdja sastrawan Indonesia modern", simposion fak. Sastera 5-12-1954.
3. Iramani Kewadjiban kritikseni" brosur Lekra menjambut Kongres Kebudajaan", Oktober 1951.