UKURAN BAGI KRITIKSASTERA INDONESIA DEWASA INI
Preadvies diutjapkan oleh Sdr. A.S. Dharta dalam Simposion Sastra di Djakarta pada tanggal 11 Desember 1955.
Saja bukan seorang kritikussastra. Saja seorang penjair. Terpisah dari ber- hasil-tidaknja sadjak2 saja, saja teerima atjara ini dari Panitya Simposion atas dasar pengertian, bahwa djuga seorang jang bukan kritikus sastera ada baiknja diberi kesempatan mengemukakan pandangannja mengenai kritiksastera. Ditam- bah lagi dalam kedudukan saja sebagai Sekretaris-Umum, Sekretariat Pusat Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat) saja kira ada kebutuhan dari simposion ini untuk mendengarkan pendapat seorang anggota pimpinan Lekra tentang kritiksastera berdasarkan pandangannja kebudajaan untuk rakjat. Saja sendiri menganggap kesempatan jang diberikan Panitya Simposion ini berguna untuk mengemukakan pandangan seorang anggota pimpinan Lekra tentang kritik sastera. Djadi saja mengharap ditjatat betul2 oleh Sdr2, bahwa pandangan mengenai atjara ini adalah pandangan saja perseorangan, bukan pandangan Lekra sebagai organisasi. Selandjutnja saja berpendapat, bahwa kesempatan ini mengintensif- kan relasi antara kita sama kita jang begitu heterogeen, bahkan kadang2 linea recta berlawanan, fikiran dan pandangan kesusasteraannja. Ini mengurangi, kalau tidak dikatakan menghabiskan, pendapat2 salah, kadang-kadang prasangka2, antara kita sama kita. Untuk memindjam istilah politik internasional, bukankah
politik nasional dalam zaman bhineka tunggal ika? Dalam hubungan inilah pada tempatnja (saja medjatakan penghargaan kepada Panitya Simposion.
Achir2 ini kita dipekakkaf oleh perkataan krisis. Krisis ini dan krisis itu.
Djuga kesusasteraan ada jahg mengatakan krisis, ada jang tidak. Ini salah satu
atjara simposion sdr2 tahun jang lalu. Sedikit menjimpang, saja herankan me-
ngapa disamping krisis tidak terlihat sesuatu jang tidak krisis, sesuatu jang
bangun ? Barangkali apa boleh buat, kalau perkataan krisis sedang mendjadi mode, sesuatu jang bukan atau tidak krisis tidak masuk hitungan, didaulat sadja dimasukkan dalam lingkungan perkataan krisis atau dianggap sesuatu jang tidak wadjar. Misalnja, kesusasteraan jang tidak krisis dianggap sadja bukan kesu-
sasteraan. Sematjam propaganda misalnja, seperti ada penanaman orang ter-
hadap karangan2 penulis2 Lekra. Maaf Sdr2, ini agak menjimpang dari pokok atjara. Begitulah dalam hubungan ada dan tidak ada krisis inilah, menurut pendjelasan sdr Ketua Panitya Simposion kepada saja, dianggap perlu adanja pendjelasan ukuran kritik sastera dewasa ini.