Kalau sdr. Jassin dalam karangannja itu ada menjatakan, bahwa ukuran
kita harus satu kebulatan usaha dan hasil untuk bisa menghargai sesuatu tjiptaan sewadjarnja, maka rumusan saja harus adanja kebulatan antara bentuk dan isi didalam sesuatu karangan. Formalisme adalah suatu faham kesusasteraan jang membombardir bentuk mendjadi seni, tanpa memusingkan isinja. Dalam beberapa film negara2 Barat hal ini sangat menondjol. Meskipun didalam kesusasteraan kita gedjala formalisme ini belum kuat menampakkan dirinja, saja rasa ada baiknja untuk ber- tereak Awas" dari sekarang. Terutama untuk para kritiksastera. Sebagaimana sdr2 ketahui, Lekra pertama-tama berorientasi kepada kehidupan pergerakan. Pergerakan buruh dan tani. Soalnja sekarang, kita bisa tolak atau terima hasil2 kesenian jang berthemakan kehidupan pergerakan ini. Tetapi hendaknja sikap menolak atau menerima ini berdasarkan agrumentasi, tidak atas apriorisme. Pokok soalnja disini adalah kenjataan atau pemalsuan kenjataan. Bagi saja karangan jang mengandung kebenaran adalah suatv kriterium jang tertinggi. Dan karangan begini selamanja bersjarat hubungan pengarang dan kenjataan. Kita berada dalam keadaan waktu dimana setiap manusia didesak untuk berhadap-hadapan dengan kenjataan. Dalam hal ini pengarang mesti berdiri didepan. Kritiksastra berkewadjiban membantu pengarang dalam kedudukan ini. Tugas pengarang djadinja, menghubungkan sifat2 kenjataan ini kepada pemba- tja, dan dalam pekerdjaannja inilah letak kesenian dan keagungan pengarang. Karena sifat pekerdjaannja mendesakkan kemungkinan kepada pengarang untuk mengsarikan harapan dan ketakutan, derita dan kemenangan manusia. Dengan lain perkataan, mengembangkan perasaan, mempertinggi keinginan- keinginannja serta memperkajanja dengan fikiran2 baru. Karangan jang demi- kian harus memenuhi sjarat2 ditemuinja pribadi pengarang, mengharukan (hal ini sangat subjektif), kepadatan setiap kata dan kalimat mengandung idee dan romulasi baru.
Didala kritiksastera jngformalis, maka muda sekali menghamburkan
tuduhan propaganda atau pouk terhadap karangan2 jang bertendens kenjataan ini. Sebaliknja, membisu terhadap propaganda formalis untuk memalsukan kenjataan. Sebab seorang formalis sudah membeku dalam tafsiran, bahwa arti propaganda adalah membongkar perimbangan2 masjarakat, menggambarkan kemenangan2 kaum buruh dan tani untuk memperbaiki kehidupannja. Sebaliknja, pemburengan perimbangan2 masjarakat dan pemutarbalikkan fakta-fakta
bagi mereka bukan suatu propaganda. Oleh karena itu kritiksastera bukan hanja
bersjarat pengetahuan keachlian tentang sesuatu karangan jang dikritiknja,
tetapi djuga pengetahuan tentang perimbangan masjarakat Dengan begini for-
malisme dalam kritiksastera bisa dihindarkan.
Tidak formalis dalam kritiksastera ini adalah suatu ukuran tambahan ke-
pada ukuran2 jang tadi sudah saja sebutkan. Djadi ada persamaannja sjarat2 untuk pengarang dan kritiksastera, sebab memang jang dua hal ini adalah satu. Sjarat pertama bagi kritiksastera adalah pengakuan terhadap sjarat2 untuk pengarang. Dan adalah spesifik kewadjiban