Bila kita mengungkap kembali referat2 simposion sdr2 tahun jang lalu,
maka dalam referat sdr Pramudya Ananta Tur terdapat kalimat2 jang mengkri-
tik kritiksastera atau para kritikussastra. Berkata dia, bahwa dia menolak apa jang disebutnja kritikus2 musiman tjap gua-hadjar-lu" atau gua djangan- dilupain", jang didalam kritik2nja hanja bitjara tentang dirinja sendiri dan bukan tentang objek jang harus digarapnja. Untuk mereka ini sampai2 sdr. Pramudya berikan nasihat pertjuma, atau segera menginsjafi kewadjiban kri- tikusnja, atau segera meninggalkan pekerdjaannja jang tidak sehat itu. Ukuran kritiksastera sdr Pramudya adalah, bahwa kritiksastera berkewa- djiban untuk mempermudah sampainja pengarang atau kedalam hati masjarakat-saja berguna baik untuk para pengarang, maupun para kritikussastera. H. B. merupakan biangkeladi kesalahfahaman tentang pengarang dan karangannja. Djadi, menurut sdr. Pramudya, mempermudah tidak berarti memperlunak, sampainja tjita pengarang kepada pembatjanja. Selandjutnja sdr. H.B. Jassin, saja kenal dia sebagai tokoh kritiksastera, dalam karangannja Selamat tinggal tahun 1952" dalam madjalah Zenith" almarhum no. 2, thn 1953, menjampaikan beberapa bahan-fikiran jang menurut
saja berguna baik untuk para pengarang, maupun para kritikussastera. H.B.
Jassin mengkritik, bahwa tanggung-djawab terhadap diri sendiri dalam tjiptaan
seni masih kurang diperhatikan kaum seniman kita. Ini disebabkan karena tanggung-djawab mercka pertama2 ditudjukan kepada publik, jang kebanjakan nja dipergunakan sebagai topeng untuk memaksakan pendapat2 dan tanggapan2 jang tidak benar. Suatu seni jang rendah mutunja, berbentuk jang tidak men- dukung isi, suatu bentuk jang kosong, atau bentuk jang diketahui isinja palsu. Sebab hemat Jassin, suatu tanggung-djawab jang sesuai dengan tanggung-djawab kepada diri sendiri, adalah suatu tanggung-djawab jang murni luar dan dalam. Djuga dikritiknja seniman jang tidak kuat pribadinja dan jang lari dari
kewadjiban2nja terhadap masjarakat. Baginja djustru soal2 masjarakat inilah
jang harus dihadapi seniman, diatur dan diselesaikan.
Dalam hal inilah timbulnja ketegangan2, konflik2, jang mendapat penjele-
saiannja dalan hasil2 tjiptaan. Sebab, hasil kesusasteraan jang berarti dimana ada pertikaian antara pengarang dan dunia sekelilingnja.
Redaktur2 madjalah2 dan surat-suratkaba djuga dikriknja, jang menggam-
pangkan orang djadi penjair dengan memuat sadjak2 jang tidak ada keaslian
sama-sekali. Bertanja Ja sumpat dimana perbendaharaan kata penjair dan
pengarang sekarang ini. Bagaimana luas daerahnja, mengenai pengalaman dan pengetahuannja jang diletakkan dalam hasilnja. Baginja ternjata betapa miskin-
nja dalam hal djumlah tjiptaan, perbendaharaan kata, pengalaman dan pengeta-
huan penjair dan pengarang kita, tidak bisa diharapkan mentjiptakan sesuatu jang monumental. Masjarakat Indonesia harus dibikin masak dengan hasil2 jang berat, hasil2 pengalaman jang sungguh, dikarang dengan penguasaan tehnik dan studi keilmuan tentang estetika. Karena itu, menurut Jassin, sudah waktunja pengarang2 kita dituntut pertanggungan-djawab pengetahuan modern. Tidak bisa lagi tjuma tunggu2 ilham dan siliran angin lalu. Dia tidak setudju kepada pendapat, bahwa seniman tidak perlu punja perbendaharaan ilmu pengetahuan.