Gema
MADJALLAH BULANAN UNTUK INDONESIA
PonggialBuhu S.5 Digitali
Kokllangan Kongd 4. Borua Siragar 579 Maharied 582 Kgun-ko Tegtang Iran Tuan/hadji (puisl)............). Alle Bond 586 Rontjana-rentjana pernjatazn internasiomal teatang hak-hak manusia 587 ......Lw Te 591 Kta-o-71...... Rogor Manel 592 Film sebagai bontuk kesenian barm Soren Klerkogaard................... Dr. Bernord Dolfigame 599 Orang besar dan genio Dr. A. Lysen 604 Lin Yumong 608 Poradaban Tiongkok.. 613 Kodudukan Portigal pada tahan 1939 Arti klasik 616 Pertjakapan dongan seorang Lama Ralp Fox 620 B. Ifor Evane 628 G.B. Shaw..................... 633 Watak bangsa Eskimo Fridijof Nanson Pengakuan Belcampo 635 Kamus ketjil 639 640 Memperbintjangkan pengartian tjerita bulan ini
Kehilangan Kemudi.tBuhu
oleh P
Oleh: Barus Siregar.
Ia pertama kali kulihat disamar-samar sinar lampu tukang kotjok dadu. Berbadan pandjang, rambut keriting dan kulit muka menghitam dibakar matahari. Pakaiannja ta'-seberapa berbeda dari pakaian orang2 didekatnja, usang dan barangkali sudah seminggu ta' kena air, tetapi aku mengetahui, bahwa ia bukan termasuk golongan orang jang sering kulihat disekeliling medja dadu kotjok.
Sandiwara ,,Asmara" jang sedjak matahari terbenam mentjoba menarik perhatian orang dengan lagu² gembira ditjiptakan alat2 musik seberapa ada, hendak memulai tjeritera malam itu dengan utjapan selamat datang kepada hadirin jang terhormat jang ta' seberapa. Maksud hendak menonton sandiwara, tetapi kaki melangkah kemedja dadu, jang berdjedjer dibelakang gubuk sandiwara. Disegala sudut "polisi" tukang dadu berdjaga-djaga... menanti kedatangan polisi jang mungkin mengganggu keamanan jang main djudi.
Tiga selamanja", teriak tukang dadu. Wadjah bersinar, terang nampak dalam tjahaja pelita samar, seolah terlepas dari tekanan bahaja... Perasaanku menjuruh nomer lima, tetapi tangan mau nomer tiga. Nasib... nasib... tjukup makan dua hari", katanja. Wang setengah rupiah jang dalam sekedjap mata itu sudah beranak sampai dua rupiah menghilang dalam kantong dan dengan ta' berkata apa2, ia melangkah kedalam gelap malam.
Dua hari kemudian ia kulihat lagi. Mengadu untung, dengan harapan akan dapat melandjutkan hidup beberapa hari lagi dari medja dadu kotjok... tetapi tukang dadu tak segan menarik uangnja jang penghabisan... empat-puluh lima sen.
,,Bagaimana bung", tanjaku.
Pandangan lesu, bagaikan lampu senter kehabisan batu, adalah djawab jang lebih terang dari kata2.
Purdin namanja. Ia sudah tammat sekolah menengah perikanan. Diwaktu ia duduk dikelas dua, ia berasa, bahwa ia beladjar tidak sesuai dengan kehendak hati. Akibat kehendak orang-tua jang belum mau memberikan sianak kemerdekaan memilih arah djalan hidup.
Tammat sekolah... revolusi di Indonesia petjah. Purdin, seperti pemuda2 Indonesia lainnja menuruti panggilan zaman. Ia mengembara diseluruh pulau Djawa, sebagai tentara, wartawan, pengandjur, pemimpin, pendek kata semua pekerdjaan sudah, selain dilapangan perikanan.
Achirnja ia terdampar di Djakarta. Mula2 bingung, lambat-laun biasa akan kota internasional. Wang jang dibawa dihamburkan, pengganti hariº jang sudah liwat... berachir tinggal dipondok. Sesudah pakaian ditukar dengan hidup beberapa hari, sehingga hanja tinggal jang melekat dibadan, untung baik memberikannja pekerdjaan dikota. Pondok bertukar dengan sebuah garage, gado² ulek dengan nasi-goreng...
Hari biasa seperti hari² jang sudah dan jang akan datang, Langit menguning disebelah Timur, tanda bulan berkundjung malam.
."Purdin,.."
..Asih....."
Nama Asih tak asing lagi bagi pemuda² Djatinegara. Jang empunja nama, jang telah sering berpindah dari mulut-kemulut, jang sudah mekar dipupuk pudjaan kata, kini duduk dihadapan Purdin.
Kundjungan jang pertama, disusul dengan kundjungan kedua, ketiga... hati terpikat.
la bekerdja dengan sungguh, ia tahan membungkuk dari pagi sampai sore-hari, taman bahagia, taman mereka berdua, dengan kembangan melambai ditiup angin sepoi lalu, makin lama makin njata... sampai angan² jang melambung tinggi menghilang dibalik awan menghitam datang... tjinta tak berbalas. Ombak meriuh menggulung dari segala pendjuru... biduk terhempas kiri-kanan ~... ta terkemudikan lagi.
Bila saudara ke Singapura?"
Biduk jang berlabuh di Pasar-Ikan dibuaikan beriak air menarinari mendatang dagi lautanO Sampan satu² melintjir hilir-mudik. Para pelaut bersandiéalas, tak tahu apa jang hendak dikerdjakan untuk pengisi waktu. Sebentar² keluar kata², diam, gelak-ketawa...
Purdin mengeluh. Kaki sudah sering berkundjung Pasar-Ikan, pikiran djauh melajang dibawa ombak ke Makassar, Timor, Singapura... kelautan luas, djauh dari... maksud hanja tinggal didalam hati.
Ajo, tukang putar dadu datang". Riuh sebentar, sénan, pitjisan, dari kantong, dompet. pindjam sini... asjik mereka menghadapi tikar tempat piring dengan dadu... setiap kali diputar, sekian kali harapan timbul, sekali ini untuug akan mendjadi miliknja.
Djauh sore-hari, bandar pulang dengan utjapan Sampai besok", dimaki oleh jang menjesal turut main tadi... semua pulang... Purdin entah kemana kaki membawa.
Puluhan orang terpikat oleh penjanji lenong! Sebentar2 siutan menjambar, penjanji dipanggung menggerakkan alis serta badannja; seolah arus listrik meliwat, badan semua penonton terasa bergetar. Melajang sapu-tangan, kain, kopiah, disertai sorak pudjian... Purdin merasa sunji dalam ramai. Frombergspark dengan bangku2 dilindungi gelap malam. Bisikan, tjumbuan dibalik semak2... gumpalan daging berkeliaran menanti orang haus pelukan.
Mengapa sih berbuat demikian ini?
,Sudah nasib, ka!"
Kepala disandarkan kedada, suara menjesal mentjeriterakan kissah jang menjedihkan, jang mungkin menjebabkan bertjutjuran air-mata ,orang-baru". Ia ditinggalkan lakinja. Sebetulnja ia dahulu belum mau kawin, tetapi dipaksa orang-tua. Ia sekarang baru berumur tudjuh-belas tahun. Baru setahun mereka kawin. Lakinja dipindahkan ke Tjimahi dan ia dengar, bahwa lakinja sudah kawin lagi. Sekarang ia tukang djait di Tandjung-Priuk, tetapi karena gadjinja tidak tjukup, ia terpaksa ,,bekerdja malam...'
Polisi liwat. Badan didekatkan.
Djangan takut. Kan aku ada temannja".
,Sebetulnja gua pengen pulang, ka', tetapi mau pulang kemana. Orang-tua tidak mau terima lagi..."
Sunji sebentar. Hanja dua bintikan udjung rokok menandakan ada dua machluk.
Rumahnja dimana?"
Di Tanah Abang, ka".
Aku mau pergi kerumah ibumu. Aku mau tjeriterakan ini semua, supaja kamu pulang sadja. Tidak, djangan bekerdja begini lagi. Nanti lama2 mendjadi sakit..."
,,Habis bagaimana ka'."
Tidak. Lupakan semua jang sudah lalu. Harus berdjuang untuk hidup...".
Purdin terkedjut... seolah ia terbangun dari mimpi djelek. Gumpalan daging itu dilemparkan ketanah, badannja gemetar...
Dimana ia sekarang? Siapa jang berkata tadi?"
Dengan tjepat ia meninggalkan tempat itu, ta' melihat pandangan jang bentji mengikutinja.
Puluhan betja berderet menunggu dimuka bioskoopDeca-Park". Slow-fox Yen Pin menambah ngantuk pendjaga kantor-tilpon.
Purdin berdjalan terus... terus...
,,Stop. Darimana?"
Dua topi-putih mendapatkannja. Surat keterangan... tempat-tinggal... semalam ia diseksi satu.
leh Penggiat Buku
,,Apa sekarang maksudmu?"
,Entahlah".
Kau tidak dapat hidup begini terus, bukan. Keadaanku kau tahu bagaimana. Hanja dengan tempat-tidur aku dapat menolong kau... sekedar ada".
Purdin ta' menjahut. Ia duduk dihadapanku bagaikan segumpal daging jang ta' bertulang.
Mataku tertudju kepada bunga dipot jang sudah laju, karena aku lupa menjiraminja....