Baca PDF (OCR): Kehilangan Kemudi

4 halaman · 4 halaman diproses dengan OCR· 7855 ms

Daftar isi
  1. S.G.
  2. Digital
  3. Moharied 588
  4. Albe Band 586
  5. Dr. A. Lyoon 604
  6. Lin Ywrong 608
  7. OKTOBER
  8. 1948
  9. Rontjana-rentjana pernjataan internasional teatang hak-bak manusia 587
  10. Dr. Bernord Delfsgawe 599
  11. Kehilangan Kemudi.tBuhu
  12. KEHILANGAN KEMUDI
  13. dah pakaian ditukar dengan hidup beberapa hari, sehingga hanja
  14. tinggal jang melekat dibadan, untung baik memberikannja peker-
  15. njata... sampai angan² jang melambung tinggi menghilang dibalik
  16. Bila saudara ke Singapura?"
  17. pura... kelautan luas, djauh dari... maksud hanja tinggal dida-
  18. Gema

yema MADJALLAH BULANAN UNTUK INDONESIA

S.G.

Kohiangan komod'
Ken-koean tontang Iran........
Taan badji (puisi)

Film sebagai bentuk kosonian barw .......
Söron Kiorkogaard......
Orang bosar dan gonio

Digital

Poradaban Tiongkok Kodudukan Portigal pada tahan 1939 Arti klasik Pertjakapan dongan scorang Lama

C.B. Shaw Watak bangsa Eskimo Pengakuan
Kamus ketjil Memperbintjangkan pengartian

Borus Sirager 579

Moharied 588

Albe Band 586

......Las Ts 591
Roger Maneodl 592

Dr. A. Lyoon 604
Lin Ywrong 608

613 616
.... Ralp Fox 620
. B. Ifor Evans 628 Fridijof Nansen 633 Belcampo 635 639 640

OKTOBER

1948

Rontjana-rentjana pernjataan internasional teatang hak-bak manusia 587
Dr. Bernord Delfsgawe 599

tjerita

Kehilangan Kemudi.tBuhu

Ia pertama kali kulihat disamar-samar sinar lampu tukang kotjok dadu. Berbadan pandjang, rambut keriting dan kulit muka menghitam dibakar matahari. Pakaiannja ta'- seberapa berbeda dari pakaian orang² didekatnja, usang dan barangkali sudah seminggu ta' kena air, tetapi aku mengetahui, bahwa ia bukan termasuk golongan orang jang sering kulihat disekeliling medja dadu kotjok. Sandiwara ,Asmara" jang sedjak matahari terbenam mentjoba menarik perhatian orang dengan lagu² gembira ditjiptakan alat2 musik seberapa ada, hendak memulai tjeritera malam itu dengan utjapan selamat datang kepada hadirin jang terhormat jang ta' seberapa. Maksud hendak menonton sandiwara, tetapi kaki melangkah kemedja dadu, jang berdjedjer dibelakang gubuk sandiwara. Di- segala sudut polisi" tukang dadu berdjaga-djaga... menanti keda- tangan polisi jang mungkin mengganggu keamanan jang main djudi. ",Tiga selamanja", teriak tukang dadu. Wadjah bersinar, terang nampak dalam tjahaja pelita samar, seolah terlepas dari tekanan bahaja... ,Perasaanku menjuruh nomer lima, tetapi tangan mau
nomer tiga. Nasib... nasib... tjukup makan dua hari", katanja. Wang
setengah rupiah jang dalam sekedjap mata itu sudah beranak sampai dua rupiah menghilang dalam kantong dan dengan ta' berkata apa2, ia melangkah kedalam gelap malam. Dua hari kemudian ia kulihat lagi. Mengadu untung, dengan harapan akan dapat melandjutkan hidup beberapa hari lagi dari medja dadu kotjok... tetapi tukang dadu tak segan menarik uangnja jang penghabisan... empat-puluh lima sen. ,Bagaimana bung", tanjaku. Pandangan lesu, bagaikan lampu senter kehabisan batu, adalah djawab jang lebih terang dari kata2. Purdin namanja. la sudah tammat sekolah menengah perikanan. Diwaktu ia duduk dikelas dua, ia berasa, bahwa ia beladjar tidak sesuai dengan kehendak hati. Akibat kehendak orang-tua jang belum mau memberikan sianak kemerdekaan memilih arah djalan hidup. Tammat sekolah... revolusi di Indonesia petjah. Purdin, seperti pemuda² Indonesia lainnja menuruti panggilan zaman. Ia mengem- bara diseluruh pulau Djawa, sebagai tentara, wartawan, pengandjur, pemimpin, pendek kata semua pekerdjaan sudah, selain dilapangan perikanan.

KEHILANGAN KEMUDI

Achirnja ia terdampar di Djakarta. Mula² bingung, lambat-laun biasa akan kota internasional. Wang jang dibawa dihamburkan, pengganti hari² jang sudah liwat... berachir tinggal dipondok. Sesu-

dah pakaian ditukar dengan hidup beberapa hari, sehingga hanja

tinggal jang melekat dibadan, untung baik memberikannja peker-

djaan dikota. Pondok bertukar dengan sebuah garage, gado2 ulek dengan nasi-goreng. Hari biasa seperti hari2 jang sudah dan jang akan datang. Langit menguning disebelah Timur, tanda bulan berkundjung malam. Purdin,..
,,Asih.....
Nama Asih tak asing lagi bagi pemuda² Djatinegara. Jang em- punja nama, jang telah sering berpindah dari mulut-kemulut, jang sudah mekar dipupuk pudjaan kata, kini duduk dihadapan Purdin. Kundjungan jang pertama, disusul dengan kundjungan kedua, ketiga... hati terpikat. la bekerdja dengan sungguh, ia tahan membungkuk dari pagi sampai sore-hari, taman bahagia, taman mereka berdua, dengan kembangan melambai ditiup angin sepoi lalu, makin lama makin

njata... sampai angan² jang melambung tinggi menghilang dibalik

awan menghitam datang... tjinta tak berbalas. Ombak meriuh meng-
gulung dari segala pendjuru... biduk terhempas kiri-kanan ... ta'
terkemudikan lagi.

Bila saudara ke Singapura?"

Biduk jang berlabuh di Pasar-Ikan dibuaikan beriak air menari- nari mendatang dari lautanO Sampan satu² melintjir hilir-mudik.

Para pelaut bersanda malas, tak tahu apa jang hendak dikerdjakan untuk pengisi waktu. Sebentar² keluar kata², diam, gelak-ketawa...

Purdin mengeluh. Kaki sudah sering berkundjung Pasar-Ikan, pikiran djauh melajang dibawa ombak ke Makassar, Timor, Singa-

pura... kelautan luas, djauh dari... maksud hanja tinggal dida-

lam hati. Ajo, tukang putar dadu datang". Riuh sebentar, sénan, pitjisan, dari kantong, dompet, pindjam sini... asjik mereka menghadapi tikar tempat piring dengan dadu... setiap kali diputar, sekian kali harapan timbul, sekali ini untung akan mendjadi miliknja. Djauh sore-hari, bandar pulang dengan utjapan ;,Sampai besok",
dimaki oleh jang menjesal turut main tadi... semua pulang... Purdin
entah kemana kaki membawa. Puluhan orang terpikat oleh penjanji lenong! Sebentar² siutan menjambar, penjanji dipanggung menggerakkan alis serta badannja; seolah arus listrik meliwat, badan semua penonton terasa bergetar. Melajang sapu-tangan, kain, kopiah, disertai sorak pudjian... Purdin merasa sunji dalam ramai. Frombergspark dengan bangku² dilin- dungi gelap malam. Bisikan, tjumbuan dibalik semak2... gumpalan daging berkeliaran menanti orang haus pelukan.

KEHILANGAN KEMUDI

Gema

Mengapa sih berbuat demikian ini?" Sudah nasib, ka!" Kepala disandarkan kedada, suara menjesal mentjeriterakan kissah jang menjedihkan, jang mungkin menjebabkan bertjutjuran air-mata "orang-baru". Ia ditinggalkan lakinja. Sebetulnja ia dahulu belum mau kawin, tetapi dipaksa orang-tua. Ia sekarang baru berumur tudjuh-belas tahun. Baru setahun mereka kawin. Lakinja dipindah- kan ke Tjimahi dan ia dengar, bahwa lakinja sudah kawin lagi. Sekarang ia tukang djait di Tandjung-Priuk, tetapi karena gadjinja tidak tjukup, ia terpaksa ,bekerdja malam... Polisi liwat. Badan didekatkan. "Djangan takut. Kan aku ada temannja". Sebetulnja gua pengen pulang, ka', tetapi mau pulang kemana. Orang-tua tidak mau terima lagi..." Sunji sebentar. Hanja dua bintikan udjung rokok menandakan ada dua machluk. Rumahnja dimana?" Di Tanah Abang, ka". ,Aku mau pergi kerumah ibumu. Aku mau tjeriterakan ini semua, supaja kamu pulang sadja. Tidak, djangan bekerdja begini lagi. Nanti lama² mendjadi sakit...' Habis bagaimana ka'." Tidak. Lupakan semua jang sudah lalu. Harus berdjuang untuk hidup...". Purdin terkedjut... seolah ia terbangun dari mimpi djelek. Gum- palan daging itu dilemparkan ketanah, badannja gemetar... Dimana ia sekarang? Siapa jang berkata tadi?" Dengan tjepat ia meninggalkan tempat itu, ta' melihat pandangan jang bentji mengikutinja. Puluhan betja berderet menunggu dimuka bioskoop ,Deca-Park". Slow-fox Yen Pin menambah ngantuk pendjaga kantor-tilpon.
Purdin berdjalan terus... terus...
,,Stop. Darimana?" Dua topi-putih mendapatkannja. Surat keterangan... tempat-ting- gal... semalam ia diseksi satu. ,,Apa sekarang maksudmu?" ,Entahlah". Kau tidak dapat hidup begini terus, bukan. Keadaanku kau tahu bagaimana. Hanja dengan tempat-tidur aku dapat menolong kau... sekedar ada". Purdin ta' menjahut. Ia duduk dihadapanku bagaikan segumpal daging jang ta' bertulang. Mataku tertudju kepada bunga dipot jang sudah laju, karena aku
lupa menjiraminja....