Baca PDF (OCR): Moderenisasi

3 halaman · 3 halaman diproses dengan OCR · 4.8 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. WANITA
  2. MODERENISASI
  3. Tjetakan I.
  4. Tjetakan III.
  5. Tjetakan I.
  6. Tjetakan III.
  7. Tepatlah kalau kita harus menelaah soal2 lama, dengan katja mata moderen?

WANITA

ctch Penggiat Buhu

1 Oktober 1960 No.18 Th. XIII Anggauta K.P.P.N.

MODERENISASI

I. SAJA perkenalkan pembatja lebih dahulu dengan sebuah buku sandiwara tiga babak, PEMBA- LASANNJA" karangan SAADAH ALIM, jang telah diterbitkan oleh Balai Pustaka (1940). Sandiwara ini mentjeritakan seorang pemuda dari Padang jang sedang beladjar di Djakarta, jang ketika bapaknja dan kemudian ibunja meninggal, lalu dibiajai sekolahnja oleh pamannja. Ketika Bahar, nama pemuda itu, telah mendjadi mister, pamannja setjara paksa mengawinkannja dengan anak gadisnja sendiri, Nur Asjikin. Bahar tidak suka pulang ke Padang. Memang dia seorang pemuda jang suka akan kebebasan, apalagi dlm soal pergaulan dengan wanita. Meskipun begitu perkawinan dilangsungkan djuga setjara berwakil. Berbulan-bulan sesudah perkawinan Bahar belum djuga mau mendjemput istrinja. Nur Asjikin merasa tersiksa, apalagi orang disekitarnja memandang dia tidak laku kawin sadja. Ia (jang sebenarnja adalah seorang gadis jang tjantik-molek, jaitu bertentangan dengan bajangan Bahar) berangkatlah pada suatu hari ke Djakarta. Disana ia mendekati dan memikat-mikat Bahar, hingga Bahar mendjadi tergila-gila, dengan tidak mengetahui bahwa Nur Asjikin itu adalah istrinja sendiri, karena memang sudah lama ia tidak melihat Nur Asjikin. Sementara itu Nur Asjikin selalu mengelak-elak, hingga sekarang Baharlah jang tersiksa, karena pada anggapannja tjintanja tidak diurusi. Permainan ini berdjalan lama, dan achirnja ditutup dengan saling mengaku, dan kedua orang itupun mendjadi suami-isteri.

II. TJERITA ini tertjipta dimasa terdjadinja kampanje anti-kawinpaksa dan anti-adat dalam kesusastraan Indonesia. Inti tjerita sama dengan buku Sitti Nurbaja karangan Marah Rusli, Darah Muda dan As-

mara Djaja karangan Adinegoro atau Kalau Tak Untung karangan Selasih, dimana masing pengarang menjodor kan dalil, bahwa: kawin-adat dan menurut-adat itu kurang menjenangkan.

Saja tidak akan menjinggung soal kampanje ini, tetapi saja ingin mengadakan tjatatan, bahwa dalam tjetakan ketiga buku ini (1953) telah terdjadi perubahan², jang mendjadi buku ini terasa tidak terdjadi dimasa terdjadinja kampanje tersebut, melainkan terdjadi sekarang, dimasa ini. Baiklah saja sebutkan apa perubahan itu:

Tjetakan I.

Luilekkerland (hal. Betawi (hal. 10, 18, 19, 22, 24, 25, 26,27,36)

Bakal referendaris (hal. 10) Departement (hal. 10) Dept. O. en E. (hal. 10) Onderwijzeres pada H.I.S. (hal. 10) Student (hal. 11) Rp. 30,— Rp. 40,— (hal. 11, 12, H.I.S. (hal. 12)

Tjetakan III.

Capitol (hal. 6) Djakarta (hal. 7, 11, 12, 21, 22, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 43, 49)

Pegawai tinggi (hal. 11) Kementerian (hal. 11) Kem. P.P. dan K. (hal. 11) Guru S.M.P. (hal. 11) Mahasiswa (hal. 12, 13) Rp. 300,— Rp. 400,— (hal. 13) S.M.P. (hal. 14)

Tjetakan I.

Internaat (hal 16) Batavia-Centrum (hal. 41) Di Kabupaten (hal. 5) Schriften (hal. 15)

Tjetakan III.

Asrama (hal. 19) Djakarta (hal. 49) (Dihilangkan), hal. 5 (Dihilangkah), hal. 17

Kalau kita perhatikan perubahan2 jang telah diadakan oleh pengarang ini, maka ternjatalah, bahwa perubahan itu kadang2 dikerdjakan dengan sepenuhnja memperhatikan jang diubah, tapi kadang2 pula dengan tidak memperhatikannja. Tjontoh daripada perubahan jang kedua ini bisa kita lihat pada kata Bakal referendaris mendjadi Pegawai Tinggi, H.I.S. mendjadi S.M.P., f. 30,- mendjadi Rp. 400,— dan pada penghilangan kata Di Kabupaten dan Schriften diatas.

III. PERUBAHAN sematjam ini memang sering terdjadi dalam kesusasteraan, termasuk didalamnja kesusteraan Indonesia. Sebagai tjontoh bisa saja sebutkan perubahan nama buku Si Dul anak Betawi karangan Aman mendjadi Si Dul anak Djakarta, begitu djuga perubahan2 jang terdjadi dalam buku Sitti Nurbaja jang sudah saja sebut diatas.

Tudjuan daripada perubahan ini sudahlah pasti, jaitu untuk menjesuaikan suasana tjerita tersebut dengan suasana sekarang. Kalau dengan perubahan2 tersebut bisa ditjapai apa jang mendjadi maksud pengubahan tersebut bisalah diterima. Hal ini bisa terdjadi pada tjerita jang tidak terikat oleh waktu, dan oleh suasana jang ada dalam tjerita tersebut. Ini djarang sekali terdjadi, karena pada hakekatnja tjerita jang terdjadi pada sesuatu waktu dan tempat selalu terikat oleh waktu dan tempat tersebut. Tjerita2 seperti Hamlet, Julius Caesar atau Macbeth karangan Shakespeare tidak bisa disuasanakan masa ini. Ia adalah bagian daripada djamannja sendiri. Dan

Tepatlah kalau kita harus menelaah soal2 lama, dengan katja mata moderen?

sebagai bagian dari djamannja ia membawakan sesuatu jang bagi orang sekarang merupakan keistimewaan.

Agar djelas, baiklah saja kembalikan soal ini kepada buku PEMBA- LASANNJA. Buku ini terdjadi, seperti saja katakan tadi, pada masa terdjadinja kampanje anti-kawinpaksa dan anti-adat. Kampanje ini, jang sesungguhnja tidak hańja terdjadi dalam kalangan kesusasteraan tetapi terpraktek didalam hidup sehari2, disebabkan oleh teredjadinja pergeseran2 didalam masarakat, jaitu adanja pertemuan antara paham lama jang diwakili oleh golongan adat dengan paham baru jang diwakili oleh golongan jang telah mengenjam pendidikan. Bukti2 tentang adanja pertumbukan kedua paham ini tidak hanja bisa kita dapati pada peninggalan tjerita dalam kesusasteraan, tetapi lebih2 lagi pada sudah berbedanja suasana masarakat. Kalau dimasa terdjadinja tjerita ini banjak pemuda dan pemudi meringkuk dalam pendjara kawin-paksa seperti jang dialami oleh Mister Bahar, maka didjaman ini sebaliknja banjak orangtua jang terpendjara oleh/pendapat dan kejakinan anaknja.

Tjerita tentang Mister Bahar ini adalah tjermin keadaan masarakat dimasa itu. Hubungan lama dalam lingkungan masarakat Indonesia masih berlaku. Mister Bahar merantau kepulau Djawa. Sesudah orangtuanja meninggal ia diongkosi oleh pamannja, jaitu orang jang dalam hubungan kekeluargaan didaerah Sumatra Barat memang dianggap berkewenangan dalam hal itu. Dan sesudah itu ia

dipaksa kawin dengan gadis anak pamannja. Ini djuga merupakan satu hal jang biasa dimasarakat itu. Apalagi dalam hal ini Mister Bahar sudah makan budi dari pamannja.

Kita bisa mengerti akan segala peristiwa jang terdjadi dalam tjerita. Dan kitapun insaf, bahwa sekalian jang kedjadian ini lajak terdjadi, karena kita tahu bahwa tjerita ini terdjadi dimasa tersebut, jaitu seperti jang sudah da kali saja katakan: masa anti-kawin-paksa dan antiadat.

Sekarang saja kembalikan perhatian pembatja pada tjetakan ketiga buku ini pula. Sudah saja terakan diatas perubahan2 apa jang telah terdjadi pada tjetakan ketiga ini. Jang penting dalam hal ini bukanlah perubahan kata Departement mendjadi Kementerian, Student mendjadi Mahasiswa atau perubahan kata Internaat mendjadi Asrama. Dengan mudah kita bisa terdjemahkan kata2 jang pertama itu kedalam kata² jang kedua. Tapi jang terpenting jang harus kita perhatikan dalam hal ini ialah bahwa dengan perubahan² itu pengarang telah mengubah suasana, dari suasana lama kesuasana sekarang. Dari buku tjetakan ketiga kita dimasukkan dalam suasana djaman sekarang, tetapi kita tahu ada kesalahan besar jang telah diperbuat oleh pengarang, jaitu bahwa ia tidak djuga mengubah persoalan jang ada didalam bukunja. Inilah kesalahan jang tidak banjak diinsafi, dimana kita pembatja dihadapkan kepada dua wadjah satu diri, jaitu menelaah soal lama dengan katjamata moderen.

Tentang ini tidak perlu saja uraikan lebih pandjang, karena dua hal ini sudah merupakan pihak2 jang saling bertentangan.

Ada lebih bidjaksana kalau moderenisasi (jaitu pengistilahan saja ten tang perubahan2 tersebut) tidak diadakan, dan dengan demikian tjerita tetap bersuasana djaman ketika ia tertjipta. Dengan tidak mengadakan moderenisasi kita bisa mengharapkan keaslian tjerita dan kebulatan penggambaran, disamping itu kita bisa menilainja sebagai peninggalan jang punja arti sedjarah.

Moderenisasi seperti jang saja sebutkan diatas mendjadikan sesuatu tjerita tidak punja watak, tidak djuga masuk sesuatu djaman, baik didjaman jang silam maupun didjaman sekarang, karena didalamnja terdapat berbagai pertentangan seperti akibat terdjadinja moderenisasi tersebut.

IV. Apa jang saja bitjarakan disini atas nama buku PEMBALA- SANNJA saja maksudkan menjangkut semua buku dilapangan kesusasteraan, karena seperti jg sudah saja katakan: Hasil sastra dari sesuatu djaman adalah pentjerminan djaman ketika ia terdjadi, dan ia adalah bagian dari djamannja. Karena itu moderenisasi seperti jang saja maksudkan bukan sadja tidak perlu dan tidak tepat, bahkan tidak selajaknja.

Achirnja saja mesti menjatakan, bahwa istilah moderenisasi tidak tepat betul untuk merumuskan persoalan jang saja maksudkan, tapi kata lain tidak saja dapati untuk menduduki tempatnja. * * *