Baca PDF (OCR): Pendidikan Kebudajaan untuk Masjarakat

4 halaman · 4 halaman diproses dengan OCR · 7.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. BUDAYA
  2. Pendidikan Bebudajaan untuk Masjarakat
  3. Dalil-dalil pembitjaraan

BUDAYA

TAHUN KE III SEPT./OKT. 1954

9-10

Pendidikan Bebudajaan untuk Masjarakat

Dalil-dalil pembitjaraan

Masjarakat Kota-kota Indonesia dengan masaalah-masaalah jang terlahir daripadanja adalah masjarakat-masjarakat jang mendiami kota jang tersebar-sebar dikepulauan jang djuga tersebar dan masing-masing mereka mempunjai sifat, peradaban dan kebudajaan.

Pemasjarakatan kota-kota itu timbul dari pergerakan pemindahan penduduk dari daerah-daerah jang telah sesak dengan buminja jang tidak lagi kuat mendjamin djumlah penduduk jang makin hari makin bertambah.

Sifat jang mereka bawa kekota ialah sifat kehidupan desa dan kehidupan kota belum lagi kuat merobah sifat tersebut.

Ini disebabkan karena kota Indonesia tidak tumbuh mendjadi kota-kota seperti dibenua Barat, dimana terdapat kehidupan industri disamping kehidupan pertanian didesa-desanja.

Paling banter kota-kota Indonesia hanja merupakan kota perdagangan, dimana diperdagangkan hasil-hasil pertanian dari daerah jang mendukungnja dan barang import keperluan pertanian dan petani. Memang terdapat penghasilan dengan,tjara lain, tetapi ini hanja baru perusahaan-perusahaan ketjil jang lebih mirip dengan keradjinan tangan dan pertukangan, tetapi dia tidak begitu mempengaruhi sifat kota tersebut.

Mengingat djumlah penduduk umumnja negeri kita jang terus bertambah dan usaha-usaha pertanian desa didaerah pedalaman tidak kuat memberi djaminan hidup mereka dan terdesak dan terdorong kekota-kota, sudah memang seharusnja kota itu tumbuh dari hanja pusat perdagangan jang hanja menukarkan hasil pertanian dengan barang import mendjadi pusat industri. Dengan demikian kota itu lebih berdiri sendiri, dan sanggup menampung tambahan penduduk negeri kita.

Tetapi kewadjaran ini tidak terdjadi, karena kaum pertengahan dikotakota Indonesia tidak menanamkan kekajaan jang diperoleh dari lakonnja sebagai penghubung mendjadi modal jang produktip bagi masjarakat kita jaitu dalam usaha-usaha industri: Modal jang diperlukan itu mengalir keluar negeri, karena kedudukan ini berada didalam tangan bangsa asing.

Sementara itu pengusaha perdagangan dengan pasar luar negeri diduduki dan dikendalikan oleh bangsa Barat jang telah memperoleh kedudukan monopoli disebabkan sedjarahnja. Ditangan merekalah terletak talikendali ekonomi dan keuangan negeri kita. Merekalah jang mendjadi burdjuis besar dalam masjarakat kita.

Dengan begini tersusunnja lapisan kehidupan masjarakat ekonomi jang berlaku dikota-kota kita, jaitu burdjuis besar dalam tangan Barat, kaum menengah jang terdiri dari orang-orang Tionghoa, dan sebagai lapisan terendah ialah bangsa Indonesia, jang terutama mendjadi buruh. Sedang jang akan dihidupkan ialah bangsa Indonesia itu, dan keuntungan jang diperoleh mengalir pergi daripada kebutuhan mereka.

Didalam masjarakat kita oleh susunan keadaan seperti ini tidak terdapat golongan jang produktip dan aktip bagi kehidupan masjarakat kota-kota

Indonesia dan tidak akan mungkin daripadanja berhubung kebudajaan burgerlijk dimana kehidupan masjarakat kita bisa berdasar meskipun terdapat djuga golongan pertengahan bangsa Indonesia dan kaum terpeladjarnja tetapi golongan ini sangat ketjil kalau dibandingkan dengan keadaan jang dibutuhkan, biarpun kelihatannja mereka mempunjai kehidupan sendiri.

Mereka ini didalam kehidupan masjarakat kita merupakan faktor jang penting bagi penentuan pertumbuhan masjarakat kita, karena kekuasaan jang dulu direbut dari Belanda kini berada dalam tangan mereka. Tetapi mereka ini berasal atau mendasarkan kehidupan mereka pada nilai-nilai kehidupan ningrat dan kehidupan burgelijk, jang dalam susunan kehidupan sekarang tidak mempunjai akar, karena terbatas oleh susunan ekonomi.

Selama pada golongan ini masih belum terdapat kesadaran akar kenjataan dari keadaan masjarakat ini dan kesediaan mereka menggabungkan diri dengan apa jang harus dihidupkan, dibukakan djalannja, mereka tidak akan mempunjai harapan untuk melakukan artinja dalam perkembangan masjarakat. Malah perkembangan masjarakat tu akan mendesak mereka dan ini berarti bentjana serta keruntuhan baginja sendiri sebagai golongan.

Selain pokok-pokok diatas kehidupan kota djuga ditentukan oleh keadaan jang ditimbulkan letaknja jang tersebar-sebar (seperti dikatakan pada punt jang pertama).

Letaknja itu dan keadaan geographie masing-masingnja membuat djuga terdapat perbedaan sifat-sifat masjarakatnja, sesuatu kota Indonesia jang tertentu lebih keras dimasjarakat oleh daerah dimana kota itu berada (kota-kota gunung dengan sifat gunung, kota-kota pantai dengan sifat kehidupan pelabuhannja dll.).

Tetapi biarpun begini faktor susunan kehidupan ekonomi seperti diutarakan diatas mendjadi dasar dari umumnja kota-kota Indonesia kita.

Persoalan pokok kota ialah merobah susunan sosial dan ekonomi jang dewasa ini menggenggam kehidupan masjarakat kita.

Sanggupnja kita merobah susunan ini adalah usaha jang terberat, tetapi ia adalah djuga pernjataan dari kekuatan kebudajaan, karena kebudajaan dalam arti luasnja ialah djuga tjampur tangan kita manusia dengan kehendak jang sadar dan bertudjuan atas keadaan masjarakat jang bertanggung djawab dan membinanja djadi sebagaimana kita harapkan.

Untuk ini sangat perlu kesadaran kaum terpeladjar kita dan menempatkan diri mereka dalam usaha-usaha merobah susunan sosial dan ekonomi kita.

Balai-balai ilmu, komisi-komisi penjelidikan dan komisi kerdja jang ditudjukan bagi merobah susunan masjarakat kita jang berlaku sekarang riendjadi masjarakat industri hendaknja dihidupkan, didorong dan digiatkan.

Bahwa perkembangan masjarakat kehidupan kita kearah.bisa berdiri dan menampung kelebihan-kelebihan penduduk kita didalam usaha industri ini adalah perkembangan jang sebenarnja wadjar seperti dikatakan diatas tadi, dan saja kira tidak akan golongan-golongan masjarakat jang sadar akan keadaan sekarang akan menentang pendapat ini.

Tetapi mendjadi perhatian djuga hendaknja dalam berkembangnja kearah pembangunan kehidupan industri dikota-kota kita, bahwa pertumbuhannja djangan sampai menghimpit pada manusia kita. Perkembangannja kearah sana harus terkendali dan menghamba pada kepentingan manusia. Djangan sampai manusia itu diburu oleh kehidupan industri seperti banjak keadaan di Barat sekarang.

Kebebasan-kebebasan manusia harus dipertahankan. Demikian bangunan-bangunan masjarakat industri itu harus memberi ruangan-ruangan, kesempatan-kesempatan dan kondisi dimana seseorang manusia bisa kembali merasa dirinja sebagai seorang manusia, dan dengan begitu beroleh pandangan akan kehidupannja dan menentukan sikapnja menghadapi kehidupan.

Dengan begitu, disamping usaha dengan balai-balai jang chusus memetjahkan masaalah susunan ekonomi kita, hendaknja perlu tersedia penjelidikan dan perantjangan jang chusus bisa memperhatikan dan mentjiptakan pemeliharaan manusia ini.

Karena bila dimasjarakat pertanian desa hal pemeliharaan kesetimbangan ini telah disediakan oleh alam sendiri, maka dimasjarakat kota dan industri. hal itu harus dibangunkan dan ditjiptakan. Dan ini mengenai misalnja perantjangan kota dengan susunannja, taman-tamannja, tempat keseniannja.

Semua ini djuga harus dipikirkan untuk mengiringi usaha-usaha didalam lapangan pembaruan ekonomi, dan disinilah letak-letak dimana kota bisa memberi sumbangannja bagi kehidupan masjarakat kita umumnja.

Digitalisasi