djuli 1960 110
Penggiat Buhu
iaitalis
madjalah kehudájaan mu
"
Satu abad "Max Havelaar".
Dick Hartoko
Genap seratus tahun jang lampau diterbitkanlah di Nederland sebuah buku jang menggemparkan pendapat umum antara mereka jang sedang asjik menikmati kopi-susunja, tanpa memikirkan darah dan ke- ringat jang telah-tertjampur dalam bubuk kopi itu. Demikianlah tahun 1860 merupakan tarich istimewa dalam sedjarah Indonesia pula, dalam hikajat perdjoangan bangsa kita. Buku jang kami maksudkan itu berdjudul Max Havelaar" atau Lelang² kopi Nede:landse Handelmaatschappij". Pengarangnja Multatuli (banjak kuderita), nama samaran bagi Eduard Douwes Delkker. Bulan² jang lalu di negeri Belanda telah diadakan upatjara² untuk memperingati Douwes Dekker, chusus sebagai seorang sastrawan. Ku- tipan² terkenal dari Max Havelaar dibawakan dimuka tjorong radio, diperdengarkan dalam sidang² peringatan. Ternjatalah bahwa bahasa Douwes Dekker belum lapuk, masih penuh gairah, mampu menggetarkan djiwa si pembatja.
Karya sastra Multatuli kini dengan mudah dapat diselidiki dan di-
peladjari, berkat usaha prof. Garmt Stuiveling jang mengumpulkan serta menerbitkan kembali seluruh tulisan² Douwes Dekker. Pada tahun 1958 alm. prof. Gerard Brom membahas diri Douwes Dekker beserta buah karyanja dalam suatu monografi jang mendalam Mutatuli" namanja. Jang bagi kita di Indonesia tentu sadja lebih menarik, bukanlah suatu uraian tentang Douwes Dekker sebagai sastnawan dan pengarang, tetapi mengenai peranannja terhadap perdjoangan bangsa kita. Satu abad jang lampau, ketika sistem kolonial masih berdjaja dengan segala mewah- nja, Douwes Dekkerlah jang berani menggugat sistem itu, berani mentjela gupernur-ijendral jang pernah memerintahkan suatu penjelidikan terhadap kekajaan pertambangan di Hindia Belanda, tetapi belum pernah ambil pusing mengenai nasib seorang manusia. Ketika Potgieter ber- dendang: Di Insuiinde pepohonan kelapa bergema Memuliakan nama Sri Maharadja"
maka Multatuli bertekad menegaskan kepada Radja Willem III, bahwa
intan² dalam mahkotanja merupakan barang rampasan. Dan seandainja ini tidak berhasil, maka Saja mempeladjari segenap bahasa² di Eropah supaja menuaigkan dalam suatu sandjak, jang dapat didendangkan oleh kaum ibu bagi anak-anaknja: Diantara Frisa-timur dan sungai Schelde
terletaklah sebuah negara perampok.....
Bahasa seberani itu baru terdengar kembali pada awal abad 20 ini. Oleh karena itu, patutlah kita pandang Eduard Douwes Deklker sebagai seorang perintis djalan bagi kemerdekaan bangsa kita. Malka sajanglah, bahwa peringatan satu abad ini di Indonesia (sepandjang pengetahuan kami) hampir tidak menarik perhatian umum.
Seorang perintis, memang, sekalipun dalam arti kata jang luas. Ia sendiri mungkin tak pernah memilkirkan, bahwa daerah² djadjahan ini pada suatu ketika akan berdaulat sendiri. Ketika di Nederland didirikan suatu perkumpulan untuk mempertinggi deradjat bangsa pribumi, mi- salnja dengan memberantas keadaan butahuruf, maka Douwes Dekker malahan melawan usaha tersebut. Ketika ia menggugat pemerintahan kolonial, jang diked arnja bukan sadja perbaikan nasib bangsa Indo- nesia, melainkan puia (kemudian hari bahkan terutama) kepentingannja sendiri, Ia merasa terhina, tersinggung, dan menggelorakan sakithatinja dalam suatu buku jang harus memulihkan gengsinja dan namanja. Kepribadian diri Douwes Dekker agak kurang menarik. Ia bersikap angkuh, djiwanja bertjorak à la Rousseau dan Nietzsche. Satu-satunja pedoman jang dipegangnja ialah kesukaan dan pandangannja sendiri jang tidalk terikat kepada apapun djua.
Digitalisasi
Sernuanja ini memang benar, tak dapat disangkal. Namun, tak dapat
disangsikan pula, bahwa ketika Douwes Dekker sedang menulis Max Havelaar itu ia sungguh² merasa darahnja mendidih karena dengan mata- kepalanja sendiri ia pernah menjaksikan keadaan² jang mengerikan, pe- ristiwa² jang melanggar perikemanusiaan dan keadilan. Pernahkah Paduka Jng Mulia melihat bangkai² menghilir, biru sudah, bengkak, memualkan? Itulah pesan² jang disampaikan dari udik ke pantai; itulah surat-menjurat antara para buaja ditanah pedalaman dan buaja² dimuara sungai." Demikian dituturkannja dalam seputjuk surat jang dipersembahkan kepada gupernur-djendral.
Alasan² jang mendorong seorang manusia dalam tingkah-lakunja dan sepak terdjangnja beraneka matjam rupanja. Djarang sekali kita am- bil salah satu tindakan karena merasa dirangsang melulu oleh satu alasan sadja. Sinar² selusin warna menjoroti kita tengah mementaskan sandi- wara hidup kita. Kini warna merah jang meliputi kita, nanti warna hidjau atau biru. Tetapi warna² lainnja selalu tertjampur pula. Demikian djuga Douwes Dekiker. Tengah ia melukiskan dulkanestapa rakjat Banten, alasan² pribadi memang tidak asing dari maksud-maksud- nja. Tetapi sebagai seorang seniman jang sedjati jang tidak memikir pandjang lebar, tetapı hidup dari saat ke saat, ia mentjeltuskan dengan tulus hati apa jang dilihatnja, apa jang dirasakannja ketilka mendjabat assisten-residen di Lebak. Bahwa kemudian hari in hampirtidak memen-
tingkan nasib rakjat itu tidak mengunangi keichlasan hati ketika mengge-
lorakan amarahnja.
Penggi
Atau, seperti dikatakan oleh prof. Brom dalam bukunja tersebut di tas: Memang bila sikapnja (dalam peristiwa Lebak) terlalu berani, dji- wanja sungguh bertjonak luas, berani berkorban; bila Dekker disini meniru sikap para ksatrya dari masa purbakala, maka orang² lainnja membiarkan dirinja disamaratakan dengan massa jang tolol itu. Oleh tuan² besar jang berkepala dingin ia disebut seorang jang benkepala pa- nas. Biarlah sikapnja kurang bidjaksana dalam peristiwa jang hanja merupakan salah sau peristiwa diantara berbagai matjam peristiwa² serupa rtu dalam dunia kolonial, tetapi terhadap peristiwa tersebut ia merasa bertanggung üjawab dengan hatinuraninja sendiri. Oleh karena itu sikap para peguwai lainnja jang dengan hati tentram menjesuaikan áiri kepada suatu kebiasaan jang sangat memalukan itu, tak dapat di- halalkan. Dekker memberanikan diri mendobrak kebiasaan tersebut, sekalipun ia nanti mungkin kehilangan semuanja. Diantara kaum pen- djudi uang, ia menaruhkan hidupnja, tidak bagi kepentingannja sendiri, tidak bagi kesukaannja, tetapi bagi rakjat jang diserahkan kepadanjs supaja dipelihara. Barang siapa hanja memperhatikan keangkuhannja dan mentjela sikapnja jang tergopoh-gopoh itu, sebetulnja kehilangan taf- siran bagi hal² jang bernilai abadi. Djangan bitjara tentang tergopoh-gopoh dalam suatu pelanggaran terhadap keadilan jang sudah berlang- sung berabad-abad lamanja. Keadaan² sematjam itu hanja dapat dirom- bak dengan mendadak. Tak dapat disangkal bahwa perlawanannja tertjampur dengan ambisi, tetapi ambisinja ditudjukan kepada banang² jang mengatasi tangga kepegawaian. Bila ia berat sebelah, memang sebelah jang baik dan jang tidak termudah. Pernah ditjeriterakannja, bagai- mana seorang pemuda tenggelam, karena ingin menjelamatkan adiknja. Douwes Dekker ingin menjelamatkan adiknja jang berwarna tjoklat dan
ia sendiri tenggelam djuga........
Selain itu, terlepas dari maksud² subjektip, djasa2 Douwes Dekker terhadap perijoangan kita terang benderang bila kita memperhatikan akibat² dari ,Max Havelaar" itu. Bahwa berkat tulisan² Douwes Dekker (berdampingan dengan peranan van Hoëvell) kesadaran bangsa Belanda dibangkitkan, tak seorangpun akan menjangkalnja. Sistem kolonial belum dihapuskan, hanja dirubah, diperlunak, digantikan dengan sistem liberal dan ethische politik. Tetapi dengan demikian pula disiapkan suasana baik
bagi para pedjoang bangsa kita sendiri. Sekalipun mereka belum berani memakai bahasa sepedas Multatuli itu karena terkekang oleh Politieke Inlichtingen Dienst, tetapi dalam bilik-biliknja mereka membatja serta mengunjah ,Max Havelaar", mentjari kepuasan bagi kedjengkelan hati- nja jang belum dapat dilontarkan dihadapan umum. Oleh karena itu, patutlah kita merenungkan sekedar djasa² Eduard Douwes Delkker itu, mengenangkan bagaimana satu abad jang lampau Max Havelaar diterbitkan, laksana fadjar menjingsing bagi bangsa kita, Dan sajanglah, bahwa buku itu, atau sekurang-kurangnja kutipan² dari- padanja belum diterdjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena dalam hal ini djandji Douwes Dekker tidak ditunaikannja: Buku ini akan saja terdjemahkan dalam bahasa malaju, diawa, sundaalfuru, bugis dan
batak.... Hikajat perang jang mampu mengasah Kewang akan saja
lontarkan kedalam hatisanurabani para martir, sesuai dengan djandjiku kepada mereka, saja ini Multatuli,"U
图
Digitalisast ol
Pesan Galungan
Ada pesan pagi buat musim panen bulan ini Fertjiki padi-padi dengan tirta dan beras kuning Aliri sawah-sawah diarus sungai gangga Ada pendeta datang bawa padi dan buji Ada lembu putih bawa tulang dan kerang Arus gangga bikin padi kosong djadi berisi Fendeta dan baji sama keliling bawa api Lembu putih melintas dari utara keselatan Padi dan sapi dan babi-babi pada gemuk makan rumput dikali Ada pesan pagi buat musim panen bulan ini Arus gangga akan melorong disegala subak Sapi dan babi-babi Padi dan rumput pada hidjau hitam-hitam Pendeta dan baji sama keliling bawa api.
N.P. Suparsa