ANOTHER DAY,
ANOTHER SHITTY
WORLD WE LIVE IN
APA KABAR SKENA HARI INI?
Sedikit sulit untuk bisa menganalogikan keadaan atau situasi yang sedang kita jalani, dalam menyaksikan berbagai isu-isu yang terjadi hingga sekarang. Niat hati ingin sedikit menyamarkan beberapa hal dalam sebuah analogi agar pesan bisa disampaikan secara tersirat dan tidak eksplisit, namun apa mau dikata, sulit untuk membuatnya tidak terkesan meledak-ledak. Lagipula untuk apa juga menutupi hidangan utama berupa tahi mencret dan tahi keras di akhir konstipasi dengan menggunakan tudung saji plastik berongga yang jelas-jelas dari jauh pun sudah tercium betapa bau jahanamnya hidangan tersebut.
Beberapa isu yang telah berjalan dan yang bersinggungan dengan skena arus samping ini, perkara tidak beretika dan egoisnya seorang solo- is, tindakan verbal abuse orang-orang sangean yang bikin geleng-geleng kepala, dan kasus revenge porn yang dilakukan personil-personil band skena apapun itu sebutannya, jelas sangat menyedihkan. Kami tidak mencoba berpikiran negatif, tapi kenyataannya itu semua bahkan hanyalah tip of the iceberg dari semua isu-isu yang baru muncul ke permu- kaan. Rasanya tak perlu panjang lebar untuk menjelaskan mengapa hal sedemikian itu bisa terjadi. Assholes is just an assholes, tidak lebih. Memang pada dasarnya orang-orang tersebut ditakdirkan untuk menjadi jelema goblog yang pada akhirnya, lambat laun orang-orang disekitarnya akan merasa muak dan tak karuan dengan sikapnya. Kami sangat yakin, dari lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka semua tahu betul apa yang benar dan apa yang salah. Bahwa mereka sadar apapun perbuatan yang telah mereka lakukan, adalah perkara yang bisa membuat orang lain tidak nyaman, terganggu, dirugikan, merasa dilecehkan, dan lain-lain.
“Terkadang begitu mudah untuk mengucapkan slogan, tanpa kita bisa mencerna, menelan, dan mengubahnya menjadi kebiasaan”, pungkas Rian Pelor dalam kata-kata pra-lagu yang disampaikannya saat Critical Issue bertandang ke Disaster Showcase vol. 24. Kami jadi berpikir, apakah memang betul-betul ada orang yang menulis lagu, atau kalimat slogan, atau apapun itu, yang tak menghidupi kata-kata yang mereka tuliskan tersebut, seakan-akan tak merasa membawa beban tanggung jawab yang dipikul dari apa-apa yang mereka suarakan dan narasikan dalam lagu atau apapun itu. Setali tiga uang dengan orang-orang yang berkecimpung dalam skena duniawi ini, sudah barang tentu akan selalu familiar dengan yang namanya anti-rasis, anti-seksis, anti-fasis, anti-anti lainnya, kehidupan berkolektif dan jejaring pertemanan, dan lain-lain yang kalian sendiri mungkin lebih
Apa Kabar Skena Hari Ini?
paham dan lebih mengetahui apa saja slogan-slogan yang identik dengan subkultur ini. Tapi ah, maafkan pandangan kacamata kuda kami. Dunia memang tidak se-ideal yang kami pikirkan. Kenyataannya, manusia memang sebebal itu. Sebuah kampanye anti violence dance yang disuarakan oleh sebuah band dalam suatu gig, yang terpampang nyata dalam banner yang mereka buat, tak pernah sekalipun membuat para kombatan seni bela diri dalam moshpit merasa tergugah untuk setidaknya tidak membuat orang lain tidak nyaman dengan perilaku mereka. Selanjutnya, kami kira kalimat do it with your friends akan selalu terpatri dalam setiap orang yang menjadi objek yang dinikmati oleh para penikmat pemerhati skena, namun nyatan- ya yang ada dalam benaknya hanya tentang do it only for me. Dan yang paling membuat kami sampai-sampai melantunkan astagfirullahaladzim adalah konteks yang Rian Pelor utarakan dalam pesan diatas. Rasanya sudah harus paham bahwa tanpa berkecimpung di dunia skena ini pun, perilaku memaksakan kehendak, pemerkosa, agresor dan predator seks adalah hal yang membuat setan iblis jahanam pun malu dengan pencapaian mereka. Ya, benar. Ini benar-benar terjadi dalam ruang lingkup dari subjek-subjek subkultur ini. Adalah hal yang sangat memprihatinkan untuk mengetahuinya.
“As the animals they can’t reason, but humans we can. So are you just a wild animal or a rational man?” Armed with A Mind-Have Heart
Tapi apakah mungkin kami terlalu naif untuk berharap kepada manusia? Atau memang kita sedang hidup dalam dimensi distopianya Sir Thomas More? Yang kami tahu, hidup hanya begini-begini saja. Pada dasarnya kami sangat tidak ingin menjejal dan mendikte kepada kalian tentang apa saja yang harus kalian lakukan. Hanya saja kami ingin memohon kepada kalian semua yang sedang menyusuri jalur-jalur kegoblogan, dan sedang tergoda untuk masuk kedalam jalur-jalur kegoblogan, segeralah berpikir dan melakukan refleksi diri tentang apa yang sedang kalian lakukan. Lantas, kalau semua hal harus ada solusi nya, maka kami ingin titip pesan: JANGAN PERNAH MENJADI ORANG GOBLOG. STOP BERGAUL DENGAN ORANG GOBLOG. JIKA SUDAH TERLANJUR GOBLOG, MINTA MAAF, BER-TAUBAT, DAN ENYAHLAH DARI KEHIDUPAN ORANG-ORANG YANG TELAH DIRUGIKAN OLEH ANDA. YOU ASSHOLES CAN GO FUCK WITH YOURSELF.
Apa Kabar Skena Hari Ini?
PALESTINA: SIMBOL ABADI PERLAWANAN
Namun diatas itu semua, ada isu yang urgensi nya lebih layak untuk di- tulis lebih banyak dalam zine yang orowodol ini. Setiap detik yang kami habiskan untuk menulis tulisan ini, dalam masa-masa itu pula orang-orang dibelahan dunia lain sana sedang was-was dan ketakutan akan keamanan hidup mereka. Mencoba untuk bertahan hidup setidaknya hingga malam hari tiba. Ya, agresi sedang terjadi. Dibelahan benua Afrika, Timur Tengah, Indonesia bagian Timur, dan wilayah-willayah lain yang sedang ber- juang atas hak-hak hidup mereka. Dan Palestina adalah salah satunya.
Agak sedikit rumit untuk mencoba merunut dan menelaah asal muasal kegoblogan israel dalam agresi dan pencaplokan tanah yang mereka lakukan terhadap orang-orang Palestina, rasanya kami pun tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjelaskannya secara detail dan menyeluruh. Namun kami akan mencoba menyajikan overview singkat dari rentetan sejarah yang agak mudah dipahami. Sumber berasal dari artikel Council on Foreign Relations¹.
- 29 November 1947 -UN Partition Plan Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 181 yang menyerukan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab dan satu negara Yahudi. Saat itu wilayah Palestina berada di bawah kendali militer Inggris setelah kekalahan Kekaisaran Otto- man dalam Perang Dunia I pada tahun 1917. Eskalasi perselisihan antara komunitas Yahudi dan Arab di wilayah Palestina semakin meningkat.
- 14 Mei 1948 - israel menyatakan kemerdekannya Kekuasaan Inggris di wilayah Palestina berakhir dan menyebabkan israel menyatakan kemerdekaannya. Dipicu oleh deklarasi kemerdekaan israel, Perang Arab-israel pertama dimulai. Liga-Arab (yang terdiri dari Mesir, Irak, Yordania, Libanon, Arab Saudi, dan Suriah) mulai menyerbu israel. Peperangan berhenti sampai dengan tahun 1949, ketika Mesir, israel, Yordania, Lebanon, dan Suriah menandatangani perjanjian gencatan senjata.
- 11 Desember 1948 - PBB memberikan wilayah pendudukan israel Tragedi Nakba (bahasa Arab untuk “bencana”) terjadi. Setidaknya tujuh ratus ribu pengungsi Palestina meninggalkan rumah mere-
Palestina: Simbol Abadi Perlawanan
ka. israel menguasai Yerusalem Barat, Mesir menguasai Jalur Gaza, dan Yordania menguasai Tepi Barat dan Yerusalem Timur, termasuk Old City dan kawasan Yahudi yang bersejarah.
- 5 Juni - 10 Juni 1967 -The Six-Day War israel dan Liga-Arab berperang selama enam hari. Total korban jiwa dalam perang tersebut (dari kedua pihak) mencapai dua puluh ribu tujuh ratus korban jiwa. israel mencaplok wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza—wilayah yang sebagian besar dihuni oleh warga Palestina—serta seluruh Yerusalem Timur.
- 22 November 1967 - Resolusi 242 Dewan Keamanan PBB menghasilkan Resolusi 242. Resolusi ini menghasilkan penarikan pendudukan israel di wilayah-wilayah yang diduduki selama perang. Resolusi ini pun menghasilkan kon- sep Land For Peace.
- 3 Oktober 1973 -The Yom Kippur War Mesir dan Suriah mencoba mengambil alih Semenanjung Sinai dan Dataran tinggi Golan dari israel. Perang ini pun akhirnya mencapai gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB.
- 1 September 1978 - Perjanjian Camp David israel dan Mesir menandatangani Perjanjian Camp David, yang menjadi dasar perjanjian damai antara kedua negara. Perjanjian tersebut juga mengikat pemerintah israel dan Mesir, serta pihak-pihak lain, untuk merundingkan disposisi Tepi Barat dan Jalur Gaza.
- 1 Desember 1987 -The First Intifada Seorang warga israel membunuh empat warga Palestina dalam ke- celakaan mobil yang memicu pemberontakan melawan pendudukan israel di Tepi Barat dan Gaza. Selama enam tahun berikutnya, sekitar 200 warga israel dan 1.300 warga Palestina terbunuh.
- 31 Juli 1988 - Yordania melepaskan klaim negaranya atas Tepi Barat dan Yerusalem Timur Raja Hussein memberikan klaim negaranya atas wilayah tersebut kepada Palestine Liberation Organization (PLO). Namun pada bulan Desember di tahun yang sama, Yaser Arafat mengeluarkan pernyataan yang memberikan hak kepada israel untuk pendudu-
kan di wilayah pencaplokannya.
- 13 September 1993 - Perjanjian Oslo Sebelum perjanjian tersebut ditandatangani, israel dan PLO saling berunding melalui surat. israel dan PLO menyetujui pembentukan Otoritas Palestina untuk sementara waktu mengelola Jalur Gaza dan Tepi Barat. israel juga setuju untuk mulai menarik diri dari sebagian wilayah Tepi Barat, meskipun sebagian besar wilayah dan pemukiman israel tetap berada di bawah kendali eksklusif militer israel. Perjanjian Oslo memproyeksikan perjanjian damai pada tahun 1999.
- 11 Juli - 25 Juli 2000 -KTT Camp David Finalisasi proyeksi perjanjian damai pada tahun 1999 dibahas secara intensif dalam konferensi ini. Namun pada akhirnya tidak ada kesepakatan yang tercapai.
- 28 September 2000 -The Second Intifada Politisi israel, termasuk Ariel Sharon, pensiunan jenderal israel yang kontroversial, mengunjungi Temple Mount/Haram al-Sharif. Palestina memandang kunjungan tersebut sebagai upaya mengubah status quo di situs suci tersebut. Demonstrasi berikutnya berubah menjadi kekerasan, menandai dimulainya Intifada Kedua. Aksi ini berlangsung hingga tahun 2005 dan jauh lebih kejam dibandingkan Intifada Pertama. Empat ribu warga Palestina dan seribu warga israel tewas.
- 23 Juni 2002 -The Wall in West Bank Pembangungan tembok pemisah di Tepi Barat menjadi kontroversial karena di beberapa tempat, penghalang tersebut memotong jauh ke dalam wilayah Tepi Barat untuk melindungi permukiman. Warga Palestina terputus dari Yerusalem, beberapa desa di Palestina terbelah menjadi dua, dan beberapa warga Palestina tidak dapat bekerja atau bersekolah akibat jalur penghalang keamanan tersebut. Mahkamah Agung israel memaksa perubahan pada jalur pembatas tersebut, namun pembatas tersebut terus menghambat pergerakan dan perdagangan warga Palestina di wilayah tertentu.
- 30 April 2003 -Road Map for Peace The Quartet, sebuah kelompok informal yang dibentuk untuk mewujudkan perdamaian Timur Tengah yang terdiri dari Amer-
ika Serikat, Rusia, PBB, dan Uni Eropa, menyusun Road Map for Peace berdasarkan garis besar yang disampaikan Presiden George
W. Bush dalam pidatonya pada tahun 2002. Peta jalan tersebut menjabarkan rencana perdamaian berdasarkan reformasi Palestina dan penghentian terorisme sebagai imbalan atas diakhirinya pemukiman israel dan pembentukan negara Palestina baru.
15. 29 Januari 2006 - Hamas memperluas pemerintahannya di Gaza Hamas mengalahkan Fatah, sebuah faksi politik Palestina yang didirikan pada tahun 1950-an dan merupakan faksi yang sudah lama dominan di PLO, dalam pemilu Palestina. Amerika Serikat dan negara-negara lain menangguhkan bantuan mereka kepada Otoritas Palestina karena mereka menganggap Hamas sebagai organisasi teroris. Fatah dan Hamas membuat kesepakatan untuk memerintah Tepi Barat dan Jalur Gaza bersama-sama. Kesepakatan itu dengan cepat gagal, dan Hamas mengambil alih Jalur Gaza pada tahun 2007.
16. 8 Juli - 26 Agustus 2014 -Operation Protective Edge israel melancarkan serangan Operation Protective Edge di Jalur Gaza, yang menelan korban jiwa sebanyak dua ribu orang Gaza, sebelum gencatan senjata akhirnya disepakati.
17. 6 Desember 2017 - Amerika secara formal mengakui Yerusalem sebagai ibukota israel Mengubah kebijakan lama, Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota israel. Ia juga berjanji akan memindah- kan kedutaan AS dari Tel Aviv ke kota tersebut, meski perpin- dahan tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Banyak pemimpin asing, termasuk Mesir, Prancis, Arab Saudi, Turki, dan Inggris, serta Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, mengkri- tik perubahan kebijakan tersebut. Hal ini juga memicu protes dan kekerasan di seluruh Yerusalem Timur, Gaza, dan Tepi Barat, serta di Mesir, Iran, Irak, dan Yordania.
18. 2021 - 2022 Pergolakan antara Hamas dan israel semakin meningkat pada tahun-tahun ini. Kedua belah pihak saling membalas serangan, dan kembali menghasilkan korban jiwa dari masyarakat sipil.
Rentetan peristiwa diatas merupakan riwayat dari memuncaknya eskalasi
situasi yang sedang terjadi pada perang yang sedang berlanjut hingga hari ini. Dari data yang dihimpun², total korban jiwa dari penduduk Gaza dan Tepi Barat, terhitung sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga 29 November 2023 mencapai 15.242 orang, termasuk diantaranya 6207 anak-anak dan 4000 perempuan. Korban luka-luka mencapai 38.750 dan 75% diantaranya adalah anak-anak dan perempuan. Sebanyak 278.000 rumah hancur, 311 fasilitas pendidikan luluh lantak, dan 26 dari 35 rumah sakit yang ada sudah tidak dapat digunakan kembali.
Setiap kali membuka kanal berita CNN Indonesia dalam gawai yang memuat buletin tentang informasi terkini dari perang di Gaza, yang dita- mpilkan adalah wajah dari benjamin netanyahu. Strategi CNN Indonesia cukup berhasil membuat framing bahwa dialah dalang dibalik semua ini. Kami sendiri, setiap kali melihat wajah itu, rasanya ingin meludah saja kearah mata dia, disertai dengan umpatan anjing sia. Sebagai orang awam yang tidak terlalu paham dengan sistem pemerintahan, yang kami pahami adalah bahwa dialah orang yang berada di puncak kekuasaan yang bisa saja dengan mudah untuk menghentikan peperangan. Namun kenyataannya, umpatan hanyalah sebuah umpatan.
Kami merasa tidak berdaya ketika membaca dan menyaksikan penderitaan dari orang-orang yang tidak bersalah dan tidak mempunyai kepentingan dalam agresi tersebut. Seorang ibu yang harus kehilangan anaknya, seorang ayah yang harus mengubur istri dan anaknya, dan anak-anak yang harus kehilangan orangtua nya.
Gencatan senjata yang sudah terjadi pun hanya dipandang sebagai isti- rahat turun minum dari agresi yang dilakukan oleh israel. Dilihat dari sejarah pun, korban jiwa selalu lebih banyak dari pihak Palestina, ini setidaknya membuktikan bahwa agresi dari rezim apartheid israel selalu mengincar civilian casualties dalam setiap operasinya. Orang-orang tak bersalah dianggap sebagai ancaman, perempuan dianggap sebagai ancaman, anak kecil dianggap sebagai ancaman. Kejahatan perang, genosida, pembersihan etnis, pencaplokan wilayah, adalah beberapa hal yang selama ini dilakukan israel terhadap bangsa Palestina. Kita semua harus paham bahwa tujuan utama dari Israel adalah memusnahkan masyarakat Palestina, bahwa “Hamas” yang netanyahu maksud adalah masyarakat Palestina.
Kesedihan ini membuat kami sadar bahwa sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita semua lakukan, setidaknya untuk membuat rasa kesedihan
itu sedikit hilang. Beberapa upaya yang bisa dilakukan, seperti yang sudah disimpulkan dalam zine Testify⁴ yaitu: Tangkap, Pelajari, Kabarkan; Boikot; Aksi Langsung; “Kill Your Idol” yang sellout keberpihakan; Bersolidaritas; dan Provokasi, adalah hal-hal yang mulai bisa kita lakukan dari sekarang. Tetap lakukan yang bisa kita lakukan. Karena yang kami tahu itu semua adalah bentuk manifestasi yang paling mendekati dengan kemampuan kita. Sebarlah informasi tentang Palestina dan kejahatan israel jika kita mampu, berdonasilah jika kita mampu, dan buatlah sesuatu jika kita mampu. Jika kami harus menjual nama band ini dengan membuat zine tentang Palestina, agar kalian semua bisa setidaknya menyadari bahwa hari ini, detik ini, sedang terjadi agresi yang melanda masyarakat Palestina, lalu sadar akan potensi yang bisa kita lakukan, kami tak akan pikir panjang untuk melakukan itu.
Dalam rangka merayakan Read Palestine Week (29 November - 5 Desember), kalian bisa mengakses situs web Publishers For Palestine dan men- gunduh beberapa tulisan-tulisan dari para penulis Palestina, juga buku- buku yang berkaitan dengan Palestina dalam link berikut:
https://publishersforpalestine.org/2023/11/29/free-ebooks-for-read- palestine-week-november-29-december-5/
Catatan kaki:
- https://world101.cfr.org/understanding-international-system/conflict/israeli-palestin- ian-conflict-timeline
- https://www.aljazeera.com/news/longform/2023/10/9/israel-hamas-war-in-maps-and- charts-live-tracker
- https://www.youtube.com/watch?v=dbVckXu3GME
- https://highvoltamedia.com/wp-content/uploads/2023/11/Testify-Zine-Issue-001-Digi- tal-Version.pdf
DARI GALILEE KE GAZA: SEBUAH SUARA DARI PALESTINA
Alihbahasa dari tulisan berjudul “From The Galilee To Gaza, A Voice From Palestine” yang dimuat dalam situs web crimethinc.com
Saat ini, militer Israel sedang menghujani bom ke orang-orang yang terjeb- ak di Gaza. Mereka telah membunuh hampir 3000 orang¹ (per tanggal 17 Oktober 2023) dan membuat lebih dari satu juta penduduk setempat harus terusir dari rumahnya sendiri. Ini adalah babak terbaru pada kekerasan kolonial yang menargetkan warga Palestina selama lebih dari satu abad.
Kami berduka atas semua orang di wilayah konflik tersebut yang terbunuh, terluka, ataupun terusir pada tanggal 7 Oktober dan pada hari-hari sebelum dan sesudahnya. Namun, dalam setiap bentuk perjuangan apa pun, mereka yang memiliki kekuasaan terbesar mempunyai pengaruh yang paling besar pula dalam menentukan bentuk konflik yang akan terjadi. Kami prihatin terhadap kehidupan warga Palestina di Gaza dan di tempat lain² di seluruh dunia—dengan tanpa mengesamp- ingkan warga-warga Israel yang tewas—. Namun karena satu-satunya cara agar semua orang dapat merasa aman di wilayah (konflik) tersebut, adalah dengan mengakhiri penindasan terhadap warga Palestina.
Media korporat di Eropa dan Amerika Utara telah menghabiskan sepuluh hari terakhir (terhitung dari sejak tanggal 7 Oktober 2023) untuk memu- satkan perhatian pada penderitaan Israel dibandingkan mengeksplorasi serangkaian peristiwa yang menyebabkan situasi ini. Mayoritas perspektif mengenai situasi ini berasal dari luar Palestina. Penting untuk mendengar langsung dari masyarakat Palestina, yang lebih memahami dengan baik dari siapa pun, tentang bagaimana situasi agresi di Gaza bisa mencapai titik ini.
Sangat sulit untuk berkomunikasi dengan orang-orang di Gaza, dikare- nakan tantangan dari agresi itu sendiri, termasuk serangan udara Isra- el³ yang menargetkan infrastruktur komunikasi. Untuk saat ini, kami menyajikan perspektif dari warga Palestina yang tinggal di wilayah utara Palestina, yang berbicara tentang berbagai aspek yang berbe- da dalam kehidupan di bawah penjajahan, dan tentang perjuangan untuk kebebasan melalui pengorganisiran dan solidaritas akar rumput. Untuk lebih memahami latar belakang dari eskalasi situasi diatas, kalian bisa membaca wawancara ini⁴ dengan seorang anarkis dari Jaffa.
Dari Galilee ke Gaza: Sebuah Suara dari Palestina
SEBUAH SUARA DARI GALILEE, PALESTINA
Saya menulis kepada Anda di sini, hari ini, dari Galilee, bagian dari Palestina yang diduduki oleh pasukan kolonial Zionis selama Nakba (bencana) pada tahun 1948. Saya menulis kata-kata ini pada bulan Oktober 2023, bulan yang akan selalu dikenang sebagai sebuah titik balik bagi Palestina dan perjuangan rakyat Palestina. Saya menulis secara anonim, karena saya menulis ini dari dalam perut sebuah monster, karena saat ini pengawasan Israel dan penganiayaan politikal terhadap warga Palestina di wilayah caplokan lahan yang terjadi pada tahun 1948 (tragedi Nakba) belum pernah terjadi sebelumnya, karena fasisme dan to- talitarianisme dari proyek kolonial Israel terus meningkat setiap hari dan setiap kata yang kami ungkapkan akan beresiko buruk bagi kami. Saat saya menulis kata-kata ini, pesawat-pesawat tempur melintasi langit di atas kepala saya. Suara mesin mereka memekak telinga setiap orang di lingkungan sekitar. Mereka telah berlalu-lalang selama sepuluh hari terakhir, siang dan malam, dari matahari terbit, lalu terbenam, hingga matahari terbit kembali.
Semua pesawat tempur ini bertujuan ke Gaza. Saat saya menulis kata-kata ini, genosida sedang terjadi di sana. Hanya dua jam dari sini, di Gaza, Israel—yang didukung oleh kekuatan kolonial global—menghapus rakyatku dari muka bumi ini.
GAZA: KELANJUTAN NAKBA DAN SOMOUD
Gaza, Gaza kita tercinta: Sang Resistan; Simbol Abadi Ketanggu- han Manusia; Sang Luka, Sakit Hati; Gaza Somoud (ketabahan).
Gaza terletak di pantai timur Mediterania, berbatasan dengan pemukiman Israel di timur dan utara serta Mesir di barat daya. Dengan popula- si lebih dari 2,2 juta orang dalam area seluas 365 kilometer perse- gi, ini adalah salah satu tempat terpadat di dunia. 70% warga Palestina di Gaza adalah pengungsi yang keluarganya diusir dari kota-kota terdekat oleh milisi kolonial Zionis pada tahun 1948 selama Nakba.
Pada tahun 2007, Israel memberlakukan blokade terhadap Gaza melalui darat, udara, dan laut. Sejak itu, negara Israel telah melakukan lima agresi besar terhadap Gaza.
Yang pertama terjadi pada tahun 2008, setelah pemberlakuan blokade. Serangan ini berlangsung selama 22 hari, yang mana 1.385
warga Palestina terbunuh, termasuk diantaranya 318 anak-anak.
Tahap kedua dimulai pada bulan November 2012 dan berlangsung selama delapan hari. 168 warga Palestina tewas, termasuk diantaranya 33 anak-anak.
Tahap ketiga dimulai pada bulan Juli 2014 dan berlangsung selama 50 hari. 2.251 warga Palestina terbunuh, termasuk diantaranya 556 anak-anak, dan 1.500 anak menjadi yatim piatu.
Pada Mei 2021, agresi keempat terjadi saat “The Unity Intifada” 5 yang meledak di seluruh penjuru Palestina mulai dari sungai hingga laut. Serangan ini berlangsung selama sebelas hari, yang menewaskan 230 warga Palestina, termasuk 67 anak-anak. Dua belas dari anak-anak tersebut berpartisipasi dalam program pemulihan trauma ketika mereka terbunuh.
Saat ini, agresi kelima sedang terjadi di Gaza, dan ini lebih brutal dan katastropik dibandingkan dengan yang pernah terjadi sebelumnya. Serangan udara Israel telah menewaskan hampir 3.000 orang dan melu- kai lebih dari 12.000 orang, dan lebih dari 45 keluarga telah dihapus seluruhnya dari catatan sipil (per tanggal 17 Oktober 2023). Lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi dan meninggalkan rumah mereka akibat bom Israel. Israel telah memutus aliran listrik, makanan, dan ba- han bakar dari Gaza dan mengebom bangunan tempat tinggal, sekolah, masjid, rumah sakit, dan ambulans. Seluruh lingkungan telah lenyap.
Orang-orang mulai kelaparan dan tidak punya tempat untuk bersem- bunyi, tidak ada cara untuk melarikan diri. Hal ini terjadi berkat dukungan yang jelas dan tidak tahu malu dari pemerintah Barat, seperti Amerika Serikat dan Inggris, yang bergegas mengirimkan dukungan militer ke Israel. Hal ini terjadi ketika propaganda kolonial Israel terse- bar di media massa internasional yang mencoba memproduksi kampanye anti-Palestina dan membingkainya sebagai “perang melawan teror” untuk melegitimasi pembersihan etnis massal dan kelanjutan Nakba yang sedang berlangsung di Palestina. selama 75+ tahun terakhir.
“SIAPA TERORIS SEBENARNYA?” - MANUFAKTURISASI
KEBERPIHAKAN
Seperti yang telah kita saksikan sepanjang sejarah, propaganda dan taktik “manufakturisasi keberpihakan” selalu digunakan oleh para kolonial, imperial, dan fasis untuk melegitimasi, mempertahank-
an, dan memperluas kontrol mereka. Ini juga merupakan cara mereka untuk melegitimasi pemusnahan dan pembersihan etnis massal.
Manufakturisasi keberpihakan adalah strategi sebuah negara untuk menciptakan sistem di mana masyarakat akan mematuhi dan menyetujui prinsip, gagasan, dan rencana yang dipromosikan melalui propaganda yang disponsori perusahaan dan media massa. Strategi ini telah digunakan untuk memuluskan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya dalam menginvasi Afghanistan pada tahun 2001, menginvasi Irak pada tahun 2003, dan menyebabkan perang dan kekejaman di Suriah, Yaman, Libya, dan banyak tempat di dunia, yang mengakibatkan hilan- gnya jutaan nyawa tak berdosa dan begitu banyak penderitaan manusia.
Saat ini, media massa berupaya untuk merendahkan kami sebagai warga Palestina dan mencap kami sebagai teroris, untuk lebih mudah menjusti- fikasi setiap kekejaman yang dilakukan oleh Israel dan sekutunya—baik secara khusus di Gaza maupun terhadap warga Palestina pada umumnya.
Sebagai orang Arab dan Palestina, kami tahu betul bagaimana rasanya dipandang dan diperlakukan sebagai “teroris”. Namun propaganda anti-Palestina yang semakin gencar digaung- kan dan difabrikasi secara global oleh negara, pemerintah, dan media massa Barat saat ini, belum pernah terjadi sebelumnya bagi kita.
Pada intifada kedua, setelah peristiwa 9/11 tahun 2001, band hip-hop asal Palestina bernama “DAM” merilis lagu Meen Erhabi? 6 (Siapa Terorisnya?). Selama periode ini, kalimat seperti “matilah teroris Arab” diteriak- kan oleh pemukim Israel di seluruh wilayah Palestina yang dicaplok oleh mereka. Saya ingat mendengarkan lagu ini setiap hari. Lagu itu membentuk kesadaran saya sebagai seorang anak. Saat ini, 22 tahun kemudian, (propaganda) sistem global terus mendorong narasi bahwa “Orang Palestina adalah teroris”—yang sebelumnya tidak pernah terjadi, dan kita berulang kali menga- takan bahwa: penjajah adalah teroris, pemukim (Israel) adalah teroris, setiap pemerintah yang mendukung Israel adalah teroris, Israel adalah terorisnya.
SISTEM VERSUS MASYARAKAT
Situasi di Palestina memperlihatkan kekejaman dan kebrutalan dari sistem global, dan juga, kekuatan besar dari masyarakat di seluruh dunia.
Dari sisi sistem global, kita telah menyaksikan begitu banyak kekejaman dan
keburukan selama seminggu terakhir ini (terhitung dari tanggal 7 Oktober
2023). Amerika Serikat mengirim “Gerald R. Ford”—kapal perang terbesar yang pernah dibuat—dan Inggris mengerahkan kapal angkatan laut rak- sasa mereka untuk mendukung Israel dalam genosida yang dijalankannya. Polisi di Prancis memukuli pengunjuk rasa yang memberikan dukungan untuk Palestina. Pejabat pemerintahan Perancis menuntut deportasi bagi imigran yang berpartisipasi dalam demonstrasi pro-Palestina di sana. Di Jerman, polisi menangkap dan memukuli orang hanya karena memegang bendera Palestina. Entitas kolonial dan pemerintahan fasis ini sekali lagi memperlihatkan wajah aslinya. Sebagai warga Palestina, kami selalu mengetahui bahwa sistem global menentang kami, dan hal ini merupakan sesuatu yang kami pahami sejak kami masih belia. Kami tidak mengharapkan apa pun dari entitas kolonial. Kami tidak percaya pada pemerintah atau kekuatan global. Kepercayaan kami ada pada rakyat, dan kekuatan rakyat saja. Terlepas dari semua kekejaman ini, kita juga menyaksikan suara pembebasan dan keadilan bergema di setiap unjuk rasa di seluruh dunia, kita menyaksikan kekuatan dari masyarakat. Orang-orang telah mengetahui kebenaran, dan tidak ada yang bisa menyembunyikan kebenaran ini. Kita telah melihat ribuan orang melakukan demonstrasi untuk pembebasan Palestina di jalan-jalan di kota London dan Paris, bahkan setelah protes untuk Palestina dilarang. Kita telah melihat jalanan di Lisbon dan Porto dipenuhi dengan kemarah- an, cinta, dan solidaritas. Kita telah melihat puluhan ribu saudara-saudara kita berunjuk rasa untuk Palestina di Irak, Yaman, Yordania, Maroko. Saat ini, segala upaya untuk mengungkap kebenaran sangatlah penting. Setiap bendera Palestina yang dikibarkan berpengaruh. Setiap ek- spresi solidaritas berpengaruh. Setiap upaya pengorganisasian untuk Palestina berpengaruh. Setiap “From the River To the Sea” berpengaruh. Ya, hari-hari ini sangat menyakitkan dan tidak bisa kita pahami, namun kita tahu lebih dari sebelumnya, bahwa pembebasan tidak bisa dihindari. Ini hanya masalah waktu saja. Palestina akan merdeka.
Catatan Kaki:
- https://www.aljazeera.com/news/longform/2023/10/9/israel-hamas-war-in-maps-and-charts-live- tracker
- https://www.nytimes.com/2023/10/16/us/stabbing-hate-crime-funeral.html
- https://theintercept.com/2023/10/12/israel-gaza-internet-access/
- https://crimethinc.com/2023/10/08/a-nuclear-superpower-and-a-dispossessed-people-an-anarchist- from-jaffa-on-the-violence-in-palestine-and-israeli-repression
- https://www.adalah.org/uploads/uploads/May%202021%20Report.pdf
- https://www.youtube.com/watch?v=P7fakEks8ak