Baca PDF (OCR): Industri Film Indonesia pada Puntjak jang Menentukan

3 halaman · 3 halaman diproses dengan OCR· 12679 ms

Daftar isi
  1. MIMBAR
  2. Indonesia
  3. INDEPENDENTNON-PARTY
  4. 20 DJULI 1957
  5. IndustriFilm Indonesia
  6. Pada Puntjak jang Menentukan?dustri film bukanlah suatu luxe se-
  7. Eelah bertunangan:ra modern, dengan industri film jang
  8. PERUSAHAAN BATIK & TENUN
  9. Terdiri 1934 di Pekalongan
  10. Rp. 35.—"
  11. Pesanan berikut uang tjukup ongkos bebas
  12. Pesanan lebih dari Rp. 1000.- potongan 5%.
  13. PUSAT
  14. M.S.W.NASUTION Kotak Pos No. 24
  15. PEKALONGAN
  16. ",WARGA"
  17. Madjalah Sunda
  18. Mawa Sora djeung Kahajang Ki Sunda. Madjalah Sunda pangka-
  19. Pingpinan: Nannie Sudarma, dibantu ku para sastrawan anu marojan.
  20. Medalna: Saminggu sakali (dibukukeun).
  21. Bekelna: Sasas'h Rp. 10,— (sapuluh rupiah).
  22. Mundut nomer tjonto ke:
  23. Kotakpos 59 — Tilp. 858
  24. BOGOR
  25. BATIK DJOKJA
  26. Dj. Notopradjan 14—16 Djokja

Harga Satu nomor Rp. 3.-

MIMBAR

Indonesia

INDEPENDENTNON-PARTY

Isinja antara lain: MASALAH PAMPASAN INDONESIA-DJEPANG EKONOMI DAN PEMBANGUNAN BEBERAPA PERSOALAN POKOK PANDANGAN HIDUP DAN SIKAP HIDUP SIMPHONI Tjerita Pendek PERDJALANAN PERTAMA

SASTRODIKORO duduk sebagai wakil Tani dalam Dewan Nasional,

20 DJULI 1957

IndustriFilm Indonesia

karena disemua negeri modern-.

Pada Puntjak jang Menentukan?dustri film bukanlah suatu luxe se-

oleh: Sjamsulridwan

film di Djakarta telah menutup pintunja sebagai protes terhadap berbagai tindakan Pemerintah jang merugikan kepentingan22industri film nasional, al. penambahan alo- kasi devisen untuk pemasukan film asing ke Indonesia, jang mana tentu sadja merupakan saingan berat bagi-film² Indonesia jang masih djauh terbelakang segala²nja diban- ding dengan film2 luar negeri. Pemerintah ketika itu terkedjut karena menganggap kedjadian itu se. bagai suatu "nationale debacle" dan membudjuk para pemilik studio supaja mau membuka studio2 mereka kembali dan meneruskan pembikin- an film sebagai biasa. Achirnja para pengusaha film kita itu telah menjanggupi permintaan Pemerintah itu tetapi dengan sjarat, bahwa Pemerintah akanmelaksanakan tuntutan² mereka berupa kemungkinan² untuk mendapatkan penghasilan jang lebih banjak bagi film Indonesia dan kemungkinan untuk memperbaiki mutunja. Tuntutan² jang penting adalah al. keharusan pemutaran film² Indonesia oleh bioskop2; adanja ketetapan, bahwa suatu film Indonesia jang sedang diputar disuatu bioskop tidak boleh dilempar atau diganti dengan pemutaran film lain, selama film In. donesia itu masih mentjapai recette diatas djumlah penghasilan minimum tertentu selama 1 hari 1 malam (3 kali pertundjukan); permulaan pertundjukan film Indonesia pada hariz week-end, jaitu sebuah film Indonesia jang akan dipertundjukkan pe- mutarannja harus dimuali pada hari Djum'at, Sabtu atau Minggu dan tidak boleh lebih dulu daripada itu. Pada waktu kita menulis artikel ini Pemerintah telah menjatakan dgn resmi melalui Sekdjen Kementerian Perdagangan, bahwa ketiga faktor diatas segera akan didjalankan oleh Pemerintah berupa Peraturan Pemerintah. Suatu hasil bagi Persatuan Perusahaan Film Indonesia setelah bertahun² memperdjuangkan tuntutan²nja itu, dan setelah berbulan2 menanti semendjak dibukanja kembali studio mereka karena adanja djandji Pemerintah, bahwa Pemerintah segera akan memenuhi tuntutan² mereka itu, Tetapi bukanlah 3 soal itu sadja jang mendjadi tuntutan para producer kita itu. Konsepsi P.P.

F.I. jang dimadjukannja kepada Pemerintah berisikan tuntutan² djuga mengenai bahan2 mentah perfilman jang harus didjamin oleh Pemerintah pemasukannja dan supaja bisa dida- patkan oleh para producer dengan harga murah; perbaikan alat2 teh- nik perfilman; kesempatan untuk memadjukan tenaga2 kreatif dan artis dengan djalan mengirimkan mereka keluar negeri dll.-nja. Alha. sil konsepsi tersebut berisikan ren-
itu. Kalau hal ini sampai terdjadi, sungguhlah ia sangat kita sesalkan, wasa- ini orang malah berzlon ba2 menghidupkan industri film dalam negeri, sampai² Singapura.dan Ma- laya sendiri; suatu tanda, bahwa in- perti jang disangkakan oleh sebagian bapak² kita pada pimpinan pemerin- tahan. tjana perdjuangan dimasa sekarang Ada kemadjuan dan djangka pandjang dengan tudju-Adalah keadaan industri film In- an: Memadjukan film dalam negeri, donesia pada detik2 ini sangat aneh agar supaja dapat bersaingan dgn sekali, karena apabila keadaan ke. film asing dalam segala²nja. uangan dan bahan² perfilman seper-Tetapi belum lagi satu soal selesai, ti kita gambarkan diatas sangat su- maka belum lama ini telah datang ram kelihatannja, tetapi djustru pula bala lainnja jang menimpa in- film² Indonesia sendiri jang keluar dustri film kita, jaitu berupa naik- -di-waktu² terachir ini telah mentja- nja harga bahan2 mentah perfilman pai suatu taraf jang menggembira- jang diimport dari luar dan naiknja kan dan memberikan harapan dima- ongkos2 dalam negeri sendiri, dise- sa depan. Kita tidak usah mengupas babkan karena adanja sistim B.E. film² itu dari sudut mutu seni, ka. Peraturan baru Pemerintah ini telah rena tentang hal ini orang mungkin menaikkan ongkos produksi sebuah banjak berbeda pendapat. Tetapi ki- film Indonesia seluruhnja dengan ki. ta akan tetap tinggal pada pokok ra2 25%. Apabila pada waktu sebe- pangkal bertolak, jaitu industri, soal lumnja sadja rata2 film Indonesia te- komersil, tiang-pasak dunia film jg lah menderita kerugian antara 20 sebenarnja. Dalam hal keuangan ini- hingga 50 persen dari ongkos pro- lah film² jang kita maksudkan telah duksinja, maka dapatlah dibajang. mentjapai hasil jang sangat meng- kan, bagaimana besarnja ongkos ke- gembirakan, Rupa2nja, ketjuali film2 rugian jang diderita sekarang. Orang Indonesia memang sudah lebih baik mungkin bertanja : "Kalau rugi, ke- mutunja daripada jang sudah2, djuga napa mereka masih bisa membikin publik sendiri sudah bosan pula me- film?" Benar; tetapi perlu diketa. lihat film² juar negeri dan ingin me- hui, bahwa bukan sedikit sudah nonton hasil awak sendiri. Apakah djumlahnja producer2 jang kepalang semangat publik Eropah jang sudah tanggung keadaan keuangannja hi- mulai ogah melihat film² Amerika lang lenjap tak tentu kuburannja. dan ingin melihat produksi dalam ne. Sedang jang masih bertahan seka- geri tentang kebudajaan dan masja- rang ini adalah mereka jang kuat ke. rakat sendiri, telah tumbuh pula di uangannja atau jang pintar main Indonesia, kita belum berani menga. sunglap dengan mengadakan tambal. takan dengan pasti. sulam disana sini, misalnja dengan Dan siapa jang melihat film "Tiga mempergunakan uang penghasilan Dara" jang previeuwnja diputar di dari import film asing dll. Dapatlah Capitol, pastilah tidak akan me- dikaakan, bahwa hanja mereka jang njangkal kemadjuan film Indonesia betul2 idealist sadjalah lagi jang ma. diwaktu achir2 ini, Orang menduga, sih dapat bertahan berkat kekerasan bahwa Tiga Dara akan memukul re- hati mereka. Atau beberapa ahli ko- cord "Krisis" jang sudah tjukup ter- mersil perfilman tulen jang pandai kenal itu; djuga kaum terpeladjar sekali mengirit ongkos produksi me- kita banjak jang melihat Krisis da- reka dengan tidak memperdulikan hulu. Sukses film2 kita diwaktu be. kritik² pers tentang film mereka jg lakangan ini, ditambah dengan hasil tidak memuaskan suatu tehniknja di- perdjuangan P.P.F.I. diatas berupa sebabkan ongkosnja jang murah pu- dikabulkannja beberapa tuntutan²nja la tentu sadja. Tetapi tjara pembi- oleh Pemerintah, sungguh merupa- kinan film demikian tidak memberikan keadaan jang sebaliknja daripa- kan harapan bagi perkembangan in. da sudut lain tadi, jaitu kesukaran² dustri film Indonesia dimasa depan. jang sedang dihadapinja. Disinilah Achirnja pukulan jang paling be- kita sekarang menantikan kesudahan rat terasa diwakt belakangan ini, proses perkembangan industri film ialah habisnja bahan² baku perfil. kita jang sangat menarik ini. man, sehingga kalau para producer itu tidak segera mendapatkan bahan Sedjarah dan latar-belakangnja lagi, maka achirnja terpaksa djuga- lah mereka menutup industri mereka Industri film nasional boleh dika- takan dipelopori oleh perusahaan2 film "Persari" dan "Perfini", jang menjandarkan produksinja pada tja-

Eelah bertunangan:ra modern, dengan industri film jang

sebenarnja. Tetapi walaupun alat2 sudah modern, ditanding dengan per-TURSINAH WIRJOATMODJO alatan luar negeri studio2 kita masih DENGAN belum ada artinja. Studio jang baik, artinja jang tädak kalah dengan stu-

M. A. JASIN (MAJAD DIN)
dio2 jang terdapat di Asia Tenggara, adalah studio kepunjaan Pemerintah,

P.F.N. Tetapi sajang sekali studio ini tidak dapat bekerdja dengan efek-
Purwokerto 20 Djuli 1957 tif dan tidak pula dapat menundjuk-Djakarta kan djasanja kepada producer2 parti. kelir.

Usaha untuk memperbaiki mutu tehnik film Indonesia memang keli- an pada pengusaha2 film kita. Miealnja Persari telah mendatangkan alat2 baru dan tenaga2 tehnik serta kreatif dari India. Sedang N.V. Sanggabuana telah mendatangkan tenaga2 ahli laboratorium dari Hong- kong. Dan hasil usaha mereka itu memang kelihatan djuga, jaitu dgn bertambah baiknja mutu tehnik film² mereka. Tetapi mutu sesuatu film tidaklah tergantung pada alat2 dan tenaga tehnik sadja. Selain daripada itu dia banjak pula tergantung pada faktor sett:ng atau adegan² jang peralatan- nja serba lengkap dan baik buatan- nja, tenaga pemain2, tenaga penulis dan sutradara. Setting jang baik hanja bisa didapat dengan mengeluar kan ongkos jang besar untuk membi- kin rumah2 jang hampir menjerupai rumah sebenarnja misalnja, taman jang sungguh indah. Untuk mendapatkan permainan jang baik, perlu- lah diadakan latihan jang se-baik²nja sebelum dilakukan pengambilan atau opname. Hal ini memakan waktu dan tenaga, artinja uang. Untuk mendapatkan musik jang baik tidaklah bisa hanja memakai pelat2 gra- mofon sadja seperti kebanjakan film Indonesia dimasa jang sudah2, teta. pi perlu memakai band² jang lengkap; dan sebuah banz seperti Orkes Radio Djakarta sadja memakan ongkos sewa jang bukan sedikit. Memang. Kesemuanja itu bisa didapat dengan mengeluarkan uang ongkos produksi jang lebih besar. Dan memang para producer bisa mendapatkan uang itu. Tetapi apakah dia dapat dipertanggung-djawabkan setja- ra komersiil apabila diketahui, bah- wa kemungkinan untuk menerima kembali uang itu sangat: tipis ada- nja? Ongkos produksi sebuah film di Indonesia jang bisa dipertanggung-djawabkan adalah antara 300 hingga 400 ribu rupiah. Lebih dari itu sukar sekali menariknja kembali dari pasaran. Karena di Indonesia hanja terdapat 700 buah bioskop. Pasaran lain daripada Indonesia tertutup ba- gi film2 Indonesia. Orang Malaya memang suka djuga melihat: film Indonesia. Tetapi saingan dinegeri itu terlalu berat dari film² Malaya sendiri dan dilantjarkan mereka setja- ra strategis. Tinggallah sekarang harapan pada pasar dalam negeri sendiri. Itulah sebabnja P.P.F.I. me- madjukan tuntutan²nja diatas, jaitu supaja pasaran film Indonesia men- djadi lebih luas dan lebih terdjamin, sehingga ongkos produksi dapat pula dinaikkan. Bantuan kredit dari Pe- merintah sukar sekali diharapkan, apalagi diwaktu belakangan ini. Apa jang kita sebutkan diatas ba- rulah merupakan sebagian dari ke. sukaran² jang dihadapi para producer kita. Belum lagi kita sebutkan antjaman guntingan2 sensor, saingan dari film2 luar negeri jang mempu- jai kebebasan lebih banjak daripada film Indonesia sendiri, karena apa jg dibolehkan pada film2 asing seperti adegan sex, violence, dll., dilarang oleh sensor pada film2 Indonesía. Tentang hal ini sadja film Indonesia sudah kekurangan daja penarik pe- nonton jang besar dibanding dengan film asing.

PERUSAHAAN BATIK & TENUN

Terdiri 1934 di Pekalongan

HARGA SETIAP POTONG

SARUNG Rp. 14 sampai Rp. 21.50 ada 35 MATJAM SARUNG Rp. 25 Rp. 47.50 40 "1 " "1 SARUNG Rp. 55 " Rp. 120.— 60 " " KAIN Rp. 30.— 40 Rp. 18.50 ,, 1 " KAIN 70 Rp. 80.— "1 "

Rp. 35.—"

KAIN 70 Rp. 165.; Rp. 90.—" 1 Taplak medja Rp. 20 sampai Rp. 30. Handuk pakai nama pamesan No. I Rp. 30.—, No. II Rp. 26.— No. III Rp. 21.50, No. IV Rp. 19.50 dan anak2 Rp. 10. Tenun putih Rp. 11.— sampai Rp. 16.50 ada 11 Matjam Tenun Kelir Rp. 11.50 Rp. 18.— 17, ” " Tenun Sutera Rp. 17.50 11 Rp. 55.—" 43 "

Pesanan berikut uang tjukup ongkos bebas

Pesanan lebih dari Rp. 1000.- potongan 5%.

PUSAT

M.S.W.NASUTION Kotak Pos No. 24

PEKALONGAN

atBuhu

",WARGA"

Madjalah Sunda

Mawa Sora djeung Kahajang Ki Sunda. Madjalah Sunda pangka-

hotna".

Pingpinan: Nannie Sudarma, dibantu ku para sastrawan anu marojan.

Medalna: Saminggu sakali (dibukukeun).
Bekelna: Sasas'h Rp. 10,— (sapuluh rupiah).
Mundut nomer tjonto ke:

Tata-UsahaWARGA"

Kotakpos 59 — Tilp. 858

BOGOR

BATIK DJOKJA

Buat dagang tentu menguntungkan. Harganja sengadja dibanting. Kain pandjang soga genes tjap halus potongan sedang harga Rp. 675 dan Rp. 725 sekodi. Potongan pandjang Rp. 775.— Rp. 850 dan Rp. 900 sekodi. Setagen halus ± 51/4 m. Rp. 160 sekodi. Pesanan2 tsb. sedikitnja 10 lembar, HARGA REKLAME: Kirim Rp. 90 terima kain tjap halus. Rp. 120 = 2 kain tulis halus, Rp. 240 = 2 kain tulis halus mori Cen. Rp. 80 = 2 sarung batik. Perusahaan Batik:

FA. S.T. SJAMSUDDIN

Dj. Notopradjan 14—16 Djokja