Baca PDF (OCR): Submisi Zine S03/02

56 halaman · 56 halaman diproses dengan OCR· 49342 ms

Daftar isi
  1. a trus you can't
  2. 5ULM:5:
  3. ZINE
  4. EDIST KEDUA
  5. Submisi Zine | Musim Ketiga
  6. Submisi Zine |S03/02/APR-2021
  7. B. T
  8. ….S.
  9. "MAJUKALIAN
  10. SEMUANYA
  11. BANGSAT
  12. LEGENDA
  13. 100T OKNUM
  14. L_crust
  15. 伝説
  16. 1001犯罪的
  17. Aku ingin punah saja, lelah.
  18. DIMANA
  19. NIRWANA?
  20. BVCKS
  21. ilove you dibalas waduh
  22. artwork by:Ivanda llham (II)Ⅱ
  23. SEBATANG
  24. KEDUA
  25. pikiran, mungkin dendang itu pasti laksana
  26. Pikiranku bagai pelacur mahal yang terawat,
  27. pa di akhir dan awal hariku.
  28. berani mengumbar. Terlalu lama bergulat dengan gotong royong, meski semangat dan niat awal
  29. Helaan tadi adalah asap terakhir dari batang kedua ini. Lamunan tadi berakhir juga dengan
  30. SEBUAH
  31. "yang kemarin?" "ngapain?"
  32. "males gue." "basi, ya?"
  33. gabungin sebagai pemisah suatu ketentuan sampai ke sebuah
  34. PERCAKAPAN
  35. TANPA
  36. "bisa. kan definisinya luas tadi gue bilang. tergantung dari mana
  37. KESIMPULAN
  38. PERTANYA
  39. ANADIK
  40. Pierre Renura
  41. “Ya, balas dendamlah! Apa lagi? Hahaha!"
  42. EmilyAngelina
  43. SATU ENTTTAS
  44. Kini, aku tak lagi bingung
  45. yang kau hujamkan dari seabad lalu
  46. Stanley Adam
  47. SilorMen
  48. ERYS
  49. THEONLY
  50. GOODCOP
  51. ISADEAN
  52. NO MORE WAR
  53. BUT CLASS WAR!
  54. Mheu- laula.
  55. DON'T
  56. LIBERATE
  57. I'LL TAKE
  58. CORE
  59. OF THAT
  60. cover yourself, take care. protect yourself
  61. bikin sim, depo parlay.
  62. TOMYUM
  63. KILL
  64. uit daeCh Mette Para
  65. BERITA
  66. KEMÄTIAN
  67. Lutfiah Setyo
  68. Ader au
  69. der zweite üntermensi
  70. LTERASI
  71. KLTCHOV
  72. PERCAKAPAN
  73. DALAM SENYAP
  74. JOEYAHOLIC
  75. Forer
  76. JE NE SAIS QUOI
  77. mudah-mudahan sih ga ada ya~
  78. 5ULM:5i
  79. ZINE
  80. EDIST KEDUA
  81. YBJACAULT

a trus you can't

5ULM:5:

ZINE

EDIST KEDUA

APR e[inharnasi] MUSIM KETIGA

halaman kosong (sengaja, biar kesel)

Submisi Zine | Musim Ketiga

a

Submisi Zine |S03/02/APR-2021

edisi kedua di musim ketiga. kiamat belum juga tiba. (sial)

selamat datang di SUBMISI ZINE, a zine you can't trust. sebuah media ala kadarnya yang (masih) bersedia menampung segala keluh kesah dan menanggung beban isi kepala semua kontributor yang berada di sini.

isi dalam zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kontributor. simpan saja opinimu sendiri, atau kirimkan pada kami.

kirim karya gambar, tulisan, puisi, ocehan, keresahan, ide, gagasan, solusi, resensi musik, film, dan lain sebagainya ke email: [email protected]

tegur sapa bisa dialamatkan ke twitter: @submisi_zine atau instagram: @submisi

penyunting isi: kusmartono aji penata letak dan perancang sampul: @joeygholic kontributor: terlampir di setiap submisi, kecuali yang ga ada.

kalian dapat menyalin, menyebarluaskan kembali, menggubah, dan membuat turunan dari materi zine ini untuk kepentingan apapun, selama kalian mencantumkan identitas kontributor yang sesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukan (jika ada).

sekali lagi, jangan terlalu banyak berharap. hidup tidak begitu istimewa, apalagi isi zine ini.

tentu tidak ada daftar isi

kami terlalu malas untuk itu

silakan

membaca semoga selamat sampai tujuan

halaman kosong (sengaja, biar kesel)

1■

B. T

NG.

….S.

Ini cuma perkara perut yang selalu lapar Kemakan bacotan karena masuk jebakan Sakit hati tergiring opini, macam ku perduli? Oh tidak sama sekali! Tak ada ampunan Semua ku telan meski sampai tulang belulang Berulang kali sudah ku ingatkan, namun dihiraukan Tuna rungu atau dungu? Sini ku pukul kepalamu, tapi pakai tangan kiri Supaya sadar diri dan tidak ngelunjak lagi Dan mengerti bahwa fiksi ini “Became Reality“

Awalan yang kejam? Ya memang sudah sepatutnya Naïf sudah tidak ada Realita depan mata Kok masih bodoh juga? Coba tengok kaca, dan bertanya Apakah yang ku ucapkan benar ada nya? Mungkin lupa ya? Terlalut asik benzo orang tua

Setiap aksara intip jendela kamar sebelah Kesadaran terbuka melalui mata, hati dan telinga Saat kau bacakan, setiap bait per kata perkasa Bagaikan perintah tuk angkat senjata Tak ada rasa takutnya, berteriak “MAJU KALIAN SEMUANYA BANGSAT“

Unexistent Tapi punya Twitter @burnhitit

"MAJUKALIAN

SEMUANYA

BANGSAT

LEGENDA

100T OKNUM

Tak perlu panjang lebar untuk menjelaskan semengerikan apa gangster berseragam rapi ini yang selalu menamakan dirinya sebagai oknum d iatas kasus-kasus dari waktu ke waktu.

Pukulan, tendangan, pentungan, bahkan peluru panas tak berat hati mereka pertontonkan hanya untuk kepentingan penguasa, korporat, dan juga kepentingan mereka sendiri demi naiknya kedudukan, semuanya tertata rapi di balik slogan melindungi dan mengayomi masyarakat, dan juga di balik konten-konten heroik yang mereka sekenariokan sendiri. Lalu mengapa kalian masih percaya?

Bahkan meski seumpama kalian adalah bandar ganja yang memiliki bekingan para oknum ini dan kalian sudah menuruti tiap permintaan-permintaan mereka untuk menjamin keamanan, kalian akan tetap dimakan jika mereka sudah lapar, entah lapar finansial atau lapar kedudukan.

Dan sekali lagi, Mengapa kalian masih percaya?

L_crust

伝説

TCE B4A215OF3

1001犯罪的

Aku ingin punah saja, lelah.

DIMANA

NIRWANA?

IG: @priz.cha Manusia yang jelas jelas tidak jelas.

BVCKS

ilove you dibalas waduh

artwork by:Ivanda llham (II)Ⅱ

SEBATANG

KEDUA

Entah palsu atau karena malu Keranjang kejujuran telah disimpan membiru

Persahabatanku dengan benda semu Jika memang hanya itu pelarianku, Memangnya siapa yang mau. Dari dulu.

Bunyi korek dan bakar rokok menemani kisah- ku. Bersembahyang dengan kisah dan bersemedi dengan rindu.Jikadendangmusikadalah

pikiran, mungkin dendang itu pasti laksana

acara kawinan seorang anak petinggi parpol besar. Pasti berisik dan tak henti sepanjang hari. Hentikanlah berfoya-foya di acara semacam itu, masih banyak yang mau makanan sisa. Dan pesan moral seperti itu harus kusampaikan pula kepikiranku, masih banyak hal yang tak perlu dipikirkan, berhentilah.

Depul asap menemani temaram lampu kamar, meski terusik. atapmasih terlalu malas untuk

Pikiranku bagai pelacur mahal yang terawat,

menggiurkan.

Meski pasti tak sanggup dilunasi satu persatu. Secerah rindu terintik disela sela pikiranku. Aku rindu masa lalu. Masa dimana aku tenang dengan semau semuaku. Seakan tak rela aku mele- pasnya, namun bagai manapun itu telah lalu.

Bersama dengan tarikan dalam ini, asapku ter- bang bersama dengan rima pikiranku. Puasa memang tak kurindu, tapi puasa memang harus dir- indu oleh diriku, kepada pikiranku diutus per- intah itu. Mengapa harus laju ia berlari padahal pada akhirnya ia akan sampai, dengan tenang dan persis waktunya. Sesumbar pekik bukanlah hal mengejutkan bagiku, karena hal seperti itu sudah hal lumrah di ambang batas pikiranku. Jika mereka semua adalah preman, mungkin lebih tepat gelar barbar yang akan dilekatkan ke mereka, tak ada ampun dan tak kenal lelah untuk meremukkan.

Jika batang ini bisa bicara, akan aku ajak ia bercerita apapun, sayang ia hanyalah rokok yang sedikit lagi tewas. Sebulan asapku yang tak henti daritadi adalah saksi. Pernah aku ingin bertanya kepada atap atau lampuku yang sering berkumpul bersama asapku, apakah mereka bosan? atau jangan-jangan ia juga ikut merindu, sama denganku? Untung lampuku tak sama dengan mataku, jika dekat kepulan begitu bisa perih. Nanti jika lampu itu mengeluh perih, ke siapa aku akan mencari lagi sahabat yang selalu menya-

pa di akhir dan awal hariku.

Tapi bisa jadi mereka kesal sebenarnya dengan asap-asap ini. Mereka selalu datang bergerombol dan berniat mengeroyok, siapa yang tak kesal dengan kelakuan bengis itu. Mungkin seperti itulah pandangan mirisku dengan mental tanah merah ini, jika tak sendiri keinginan tak akan

berani mengumbar. Terlalu lama bergulat dengan gotong royong, meski semangat dan niat awal

gotong royong tak tertanam hanya kebarengan inilah yang suka salah dan berpindah arti.

Helaan tadi adalah asap terakhir dari batang kedua ini. Lamunan tadi berakhir juga dengan

helaan berusan. Realita menyapa dan utopia ber- pisah. Tak mengapa jika aku dianggap tak pent- ing, aku hanya berharap lamunan ku dapat menjadi doa agar cinta tanah air bukan tinggal lirik dari penggalan lagu nasional. Itupun mereka sudah mulai terlupa, satu persatu sudah hilang dari benak.

bryan diesyandri

SEBUAH

"udah lama, nih." "apanya?" "kita. ngobrol." “apa yang mau diomongin? belum ada yang menarik lagi."

"yang kemarin?" "ngapain?"

"ya, biar ada bahan obrolan, lah."

"males gue." "basi, ya?"

"ga juga, sih. cuma menurut gue ini belum terlalu jauh. kita masih bisa puter balik." "sampe mana batasnya?" “masih belum ditentuin, sih. masih bisa lama. mungkin bisa juga sebentar lagi. tergantung." “hmmm. menarik, nih." "apanya?"

"batas."

"mau bahas batas?"

"boleh."

“mau mulai dari mana?"

"dari paling dasar dulu aja. apa itu batas?"

“lo beneran pengen ngobrol, ya?"

"dikasih topik malah ngeluh."

“iya, iya. ayo lanjut."

"ya, itu pertanyaan awalnya coba dijabarkan."

"hmmm. batas, ya? bisa macem-macem nih, agak luas. batas bisa berarti garis atau pemisah antara dua bidang. batas bisa juga berarti suatu ketentuan yang ga boleh dilampaui. atau bisa jadi batas itu artinya suatu perhinggaan. ngerti ga lo?"

"kalo lo ngerti, gue juga ngerti."

“nah, batas yang kita omongin sekarang ini mungkin bisa kita

gabungin sebagai pemisah suatu ketentuan sampai ke sebuah

perhinggaan"

PERCAKAPAN

TANPA

"wah, mulai ribet, nih. lanjut, lanjut."

"siapa yang ngatur batas? kalo menurut gue, kita yang ngatur. karena kita yang tau definisinya. kita yang bikin variabelnya. kita juga yang akhirnya nentuin sampe di mana batasnya. kira-kira gitu kali, ya?"

"bisa. bisa juga. tapi kalo gue mikirnya batas itu diatur bukan sepenuhnya dari kita. anggep deh misalnya batas hak. batas hak kita adalah hak orang lain. jadi saat hak orang lain udah kita lewa- tin, kita udah ngelewatin batas. lya ga, sih?"

"bisa. kan definisinya luas tadi gue bilang. tergantung dari mana

ngeliatnya."

"nah, sekarang batas kita sampe mana, nih?"

"sampe kita capek, lah. dan sampe ketemu persimpangan di depan. mungkin di situ kita bisa nentuin apakah cukup sampe sini batasnya, atau kita perlebar sampe ke persimpangan lain. kalo kira-kira udah capek, ya udah kita belok aja. cari jalan lain.“

“tapi gue masih penasaran, yang kita kejar ini sebenernya perlu banget ga sih sampe segininya? maksud gue, dari beberapa hal aja udah bisa disimpulin kan ini jalannya bakal ke mana."

"tapi ga bisa gitu juga, sih. lo kan ga tau batasnya sampe mana. siapa tau batas yang kita kejar ini juga udah punya kapasitasnya sendiri untuk jalan sampe mana. kita juga ga tau energinya bakal habis kapan. dalam hal ini kita ga pernah tau apapun."

“jadi kita nunggu capek aja, nih?" "kalo gue sih gitu." “ya, bisa lah kita coba dulu. gue rasa sih sebentar lagi kita capek. hahaha." "hahaha. bisa jadi. Udah mulai ngerasa ngos-ngosan juga sih ngejar angin gini." "angin surga!" “mending kalo surga. kalo kentut gimana?" "anjing!" "hahaha." "kita liat aja." "kita liatin sambil makan gorengan, ya?" "anjing, garing!" "hahaha."

KESIMPULAN

PERTANYA

ANADIK

Pernah suatu ketika aku ditanyai adikku tatkala menemaninya bermain di taman favorit kami. Pertanyaan itu aku yakin ia dapat- kan dari orang lain, sebab "nanti besar mau jadi apa?" adalah pertanyaan yang biasa dilontarkan orang yang lebih tua untuk anak berusia enam tahun sepertinya. Aku bisa saja menjawab pertanyaan itu dengan apa saja yang ku inginkan, tapi tatapan adikku menunjukan muka yang mengharapkan jawaban yang sangat serius dariku bukan sebatas keinginan-keinginan bodohku. Maka aku jawab dan ku akhiri pertanyaan serupa, "besar nanti aku mau jadi dokter, dik. Kalau kamu, besar nanti mau jadi apa?"

Aku tak melihat mimik puas di mukanya dan ia mengabaikan pertanyaan dariku. Sebaliknya, ia malah mengerutkan keningnya dan bertanya lagi, "kakak kan udah besar, kok kakak belum jadi dokter?"

Aku cukup dibuat kaget dengan pertanyaannya, sama sekali tak terlintas dalam otakku ia akan berkata seperti itu. Pertanyaannya membuatku melamun tuk sekian detik sebelum daun yang jatuh menyadarkanku dan membuatku melihat kedua matanya tertuju padaku menanti jawaban keluar dari mulutku. Aku tak menyalah- kannya bertanya seperti itu sebab baginya aku sudah sangat besar (tua) karena peranku dalam menggantikan kedua orang tua.

Selain itu ia pun tidak tahu perihal jalan yang harus ditempuh untuk menjadi seorang dokter begitu sulit, terlebih untuk seorang anak jalanan yang mengais rezeki dari belas kasihan dan anak yang merantau bukan karena keinginan sepertiku.

Aku bingung harus menjawabnya seperti apa, aku hanya bisa bera- libi bahwasannya "bagiku dokter bukan hanya orang yang memiliki tugas mengobati di rumah sakit. Dokter bagiku lebih dari itu, dik. Dokter adalah orang yang senantiasa menjaga kesehatan orang-orang di sekitarnya.'

"Lantas kenapa dokter-dokter di rumah sakit yang kita datangi dulu tidak mau mengobatiku, kak?" tanyanya setelah aku menghabiskan kalimatku. "Bukankah rumah sakit itu tidak jauh dari tempat biasa kita tidur? Berarti seharusnya mereka menjaga kesehatan orang-orang di sekitar itu kak, termasuk aku" tambahnya sambil memicingkan mata kecilnya.

Lagi-lagi aku dibuat kaget dengan jawabannya. Aku dibuat tak bisa berkata-kata oleh kalimat yangkeluar dari mulutnya. Aku menatap langit mendung saat itu. Aku berusaha memaksa otakku agar tidak membuka kembali kenangan pahit itu, namun gamma-Ami- nobutyric acid dalam tubuhku tidaklah cukup untuk memaksa hippocampus agar tidak mengingat kejadian itu. Akhirnya, kenangan itu pun terputar dan air mataku pun tak sanggup ku bendung tepat saat kenangan itu menampilkan kejadian diusirnya aku dan adikku dari rumah sakit. Perawat yang meminta maaf padaku sambil mengabarkan bahwa rumah sakit penuh sangat jelas hadir di ingatan itu. Aku tahu ia berbohong, aku bisa melihat itu meski mukanya tertutup masker.

Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menerima penolakan itu dan menggendong adikku pergi. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui kebenaran perihal pengusiranku, sebab baru belasan meter aku berjalan dari pintu IGD itu, melintaslah sebuah mobil menuju kesana. Aku tidak terkejut saat perawat tadi begitu antusias membantu menurunkan seorang pasien dari kursi belakang mobil itu, sebab pasien itu menaiki mobil mewah kelu- aran terbaru sedangkan adikku hanya menaiki punggung seorang anak 13 tahun yang kotor dan bau.

Lagi-lagi aku harus berterima kasih pada daun yang menimpaku, ia menyelamatkanku ketika aku tenggelam dalam lamunan atas kejadian satu tahun lalu. Aku lekas menyeka air mataku yang men- galir deras hingga membasahi bagian dada bajuku. Aku menyesal pernah berkata pada adikku bahwa menangis bisa sedikit merin- gankan beban yang dipikul, sebab sampai tangisan ke ratusan kali ini bebanku tak pernah meringan. Aku tatap lagi muka adikku, gadis kecil itu tak pernah berubah tetap lucu meskipun ingusnya tak pernah absen menghiasi sisi-sisi filtrumnya. Aku berusaha menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya dan aku hanya bisa berkata, "mereka bukan dokter, dik. Mereka hanyalah orang-orang yang membutuhkan uang. Sumpah yang mereka ucap- kan pun tidak jauh berbeda dengan janji-janji politisi, semuanya omong kosong belaka. Pun begitu dengan janji kedua orang tua kita, yang berjanji akan kembali ke taman yang berada di kota yang asing ini"

Adikku pun tersenyum, aku rasa dia senang dengan jawaban yang keluar dari mulutku itu. Aku tidak ingat kapan terakhir kali ia tersenyum, sebab di setiap pertemuan kami sebelumnya, biasanya ia selalu menangis dan marah-marah. Aku sangat ber- syukur dia bisa menerima jawabanku itu, aku tidak tahu harus menjawab bagaimana lagi jika ia masih saja menanyakan hal-hal seputar kejadian itu. la tersenyum dan berkata, "sudahlah yang penting aku udah gak sakit lagi. Lagian, kan hari ini kakak janji mau nemenin aku, bukan hanya berkunjung" ujarnya sambil memeluk- ku. "Aku udah nunggu lama kita bisa jalani hidup bersama lagi, kak" tambahnya sambil melepas pelukannya.

Belum sempat ku jawab ia telah pergi entah kemana. Ini bukan kali pertama ia mencampakanku seperti ini, setiap kali ada orang yang melintas di sekitar kami ia akan tiba-tiba hilang. Aku tau dia adalah seorang anak pemalu sedari dulu, karena itu hal itu bukanlah hal penting yang harus ku tanyakan padanya. Aku tatap lagi langit malam itu, kini ia mulai menjatuhiku dengan butiran-butiran hujannya. Dingin saat itu tak sedikitpun mengusikku untuk beran- jak dari taman tempat pertama kali aku tiba di kota asing ini. Ya, di tempat inilah kedua orang tuaku menelantarkanku bersama adikku.

Hujan yang ku nantikan pun tiba. Sejak awal aku tak berniat kem- bali ke tempat biasa ku berteduh dan beristirahat. Aku sudah ber- janji pada adikku untuk menyusulnya hari ini.

Tepat di 100 harinya adiku menghembuskan nafas terakhirnya. Ku tatap seluruh tubuhku, tubuh yang hanya tersisa tulang dibalut kulit yang belang. Tangan dan kaki yang ku hiasi goresan kaca dan seng tiap kali ku rasa sepi. Perut yang mulai terbiasa menerima ciuman kepalan dan sepatu setiap kali ketahuan mencuri asinan dan gehu. Serta kemaluan dan anusku yang tak luput dari hajaran para predator yang tiada hentinya mengincar anak-anak jalanan sepertiku. Aku membelai seluruh bagian tubuhku, hanya dengan cara itu aku bisa berterima kasih pada tubuh yang telah menemani jiwaku menyelami dunia yang kejam ini.

Jika kehidupan pasca kematian memang ada dan aku bisa memilih untuk lahir kembali menjadi apa, maka aku akan memilih lahir di keluarga yang memang mengharapkan kelahiranku. Tapi aku yakin harapan itu tidak akan pernah menjadi nyata, sejak aku mulai bisa mengolah perasaanku untuk bisa berharap pada sesuatu sampai kini, tak ada satupun harapan itu yang menjadi nyata.

Sebaliknya, justru hal-hal yang kebalikannya lah yang tiba padaku. Karena itu, di kesempatan terakhir untuk aku mengharapkan sesuatu ini, aku akan mengharapkan hal-hal yang sangat buruklah yang tiba padaku. Aku serahkansemuanya kepada para panitia kehidupan ini untuk menempelkan segala hal buruk, tidak baik, negatif, atau apapun itu pada diriku, hingga dirikulah yang menjadi pengejawantahan dari semua hal itu.

Ku pecahkan botol kaca yang ku pungut sore tadi. Sebab malam ini spesial, maka aku bersihkan terlebih dahulu botol yang ku temu- kan di tempat sampah itu hingga bau minuman keras dan sampah yang melekat pada botol itu hilang. Ku bersihkan juga sisa-sisa pecahan botol yang berserakan agar tidak terinjak oleh anak-anak yang sering bermain di sini. Aku tidak ingin anak-anak yang hendak bermain di taman ini justru malah mendapatkan kesakitan gara-gara keegoisanku memecahkan botol kaca untuk keperlu- anku, ataupun mengotori taman yang telah menjadi rumah bagiku selama satu tahun ini. Aku ambil pecahan botol yang agak tumpul, aku tidak ingin upacara ini cepat selesai. Aku ingin menikmati setiap rasa sakit dari lukisan yang ku buat di tubuhku. Ku minum kembali setiap darah yang keluar dari setiap goresan yang ku buat.

Air hujan saat itu mengalirkan darah di dadaku ke celanaku. Ku lihat betis dan pahaku masih sedikit hiasannya, maka ku gambari- lah keduanya dengan pecahan botol yang sama. Betis kiri sedikit spesial sebab keberadaan borok yang menghiasinya. Borok itu sudah mulai mengering, tapi aku tidak mau hiasan pemberian tuhan itu lekas menghilang, karena itu aku colok borok itu dengan pecahan spesialleher botol. Sensasi yang ku dapatkan jauh lebih menyenangkan dibanding sensasi mimpi basah pertamaku. Perla- han-lahan kesadaranku mulai menghilang. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku dan tak bisa menggerakan tangan, aku akan akhiri upacara ini dengan mahakarya terakhirku. Aku buat lubang besar di perutku dengan teknik harakiri yang umum digunakan--seppuku.

Lubang ini juga ku buat agar para lalat dengan mudah mengem- bang biakan larvanya. Tubuhku terkulai, kurasakan kinerja jantungku mulai berkurang sebab berkurangnya pasokan darah dalam tubuhku. Kunikmati detak-detak terakhir jantungku dan ku nikmati pula nafas yang dari awal tak pernah beraturan. Aku yakin ini saat terakhirku sebab itu aku habiskan sisa-sisa tenagaku dengan berbicara pada diriku, "semoga ... ah tidak-tidak. Tidak ada lagi semoga. Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Yang terpenting bagiku, hubunganku dengan dunia ini berakhir sampai di sini."

Pierre Renura

Twitter: @loetjiferian Mahasiswa bercita-cita tinggi (bisa lulus)

A

CARA TERBAIK UNTUK MENUNTASKAN DENDAM

Apakah kalian pernah menonton sebuah drama korea yang men- ceritakan suatu peristiwa tentang jiwa seseorang yang setelah mengalami kematian, lalu secara tiba-tiba hidup kembali namun dengan tubuh yang berbeda. Aku yakin, satu ataupun seratus dari kalian pasti pernah menontonnya.

Namun, apakah kamu pernah mendengar bila ada seseorang yang memiliki keinginan yang demikian? Segera dipanggil Tuhan lalu dapat hidup kembali dengan raga yang baru? Namun tentunya, bukan aku yang tengah bercerita kepada kalian melalui tulisan ini.

Aku memiliki seorang teman dekat; memiliki satu selera dan satu kegemaran, bahkan sering sekali secara tidak sengaja aku den- gannya pun berbicara suatu kalimat secara bersamaan. la begitu humoris namun daya pemikirannya begitu jauh di atas rata-rata. Dan suatu mimpi konyolnya -yang katanya hanya muncul sekele- bat— benar-benar membuatku terkejut dan untuk pertama kalin- ya, aku tidak menyetujui sebuah gagasan yang mencuat begitu saja dari kepalanya.

“Aku ingin deh bisa berinkarnasi, sungguh, aku ingin sekali.“Kalimat itulah yang ia katakan ketika sebuah cerita konyol yang hanya mendapatkan rasa iba sekaligus tidak percaya dariku.

la bercerita bahwa ia begitu lelah sekali hidup di masa sekarang; hidup di dalam keluarga yang begitu kaya namun kekurangan waktu untuk membaginya dengan kedua anaknya, bersosialisasi dengan para kawannya yang memiliki seribu wajah yang dapat digonta-ganti sesuai kemauannya meskipun kawan yang ia maksud salah satunya bukanlah diriku, pontang-panting mengejar cinta kasih dari seorang laki-laki yang nyatanya sang tuan pun tidak pernah tahu diri, mengangkat beban perkuliahan setiap hari rasanya seperti menjadi kuli pengangkat beras dengan beban 10KG untuk setiap karungnya. la benar-benar tidak kuat mengha- dapi semua konflik nan pelik di dalam hidupnya.

“Lalu, kalau nanti Tuhan mengabulkan permintaanmu, saat kau nanti pun sudah mati lalu kau mendapat izin kembali dari Tuhan untuk dapat hidup kembali dengan tubuh baru, kau mau melakukan apa?"

“Ya, balas dendamlah! Apa lagi? Hahaha!"

Sudah kuduga, ia mendendam. la begitu sakit terhadap semua orang yang telah membuatnya begitu kesusahan hingga saat ini. Bahkan, kini ia pun sudah memiliki berbagai rencana untuk melampiaskan segala dendam dan amarahnya terhadap orang-orang yang memang pantas mendapatkan buah dendam itu.

“Tapi, kalau aku minta ke Tuhan suatu hal yang seperti itu, Tuhan mengabulkannya tidak, ya? Hahaha!"

Memang, tidak ada yang tahu apakah Tuhan akan mengabul- kanpermohonanmu bila macam permo- honanmu sedemikian rupa. Nyatanya, aku pernah membaca suatu ayat yang bertu- liskan bahwa, jangan- lah menaruh dendam terhadap siapapun dan apapun karena Tuhan tidak suka.

Dankalaupunia pernah membaca ayat itu, seharusnya ia sudah tahu, jawaban dari Tuhan.

EmilyAngelina

akulah salah satu pengisi tetap dalam e-magz ini, namun selain menulis, ada satu hobi baruku yang kini begitu kusukai, yaitu berbohong. Yap, berbohong! Aku kini gemar sekali menulis dalam berbagai identitas nama penaku, jadi, kalau bisą, coba kalian cari aku, ya!

SATU ENTTTAS

Akhir hanyalah sebuah permulaan; perihal asa yang tak pernah merekah, atau nestapa yang terus berbuah.

Kini, aku tak lagi bingung

Tatapan nanar namun masih lembut

yang kau hujamkan dari seabad lalu

akhirnya kupahami. Semakin lama kau menatapku semakin membuncah pula keinginan tuk melebur bersamamu.

Memori hadirnya pun terlalu utuh; Fragmen hidupnya terlalu kuat, seluruh momen terasa sangat padat sampai eksistensinya tak lagi memerlukan masa lalu ataupun masa depan untuk sekedar ada. Denganku, ia bertingkah bak sang pencipta. Tapi untuk saat ini, setiap saat mungkin momen terakhir kita. Semuanya terlihat lebih harmonis; selain takdir yang kurang ajar ini tentunya. Kau mungkin tak akan terlihat lebih indah dari saat ini. Kita pun mungkin tak akan ada lagi disini.

Pada barisan paling akhir, saat tubuhnya jadi milik kita. Akan kuhancurkan kita.

Stanley Adam

SilorMen

ERYS

THEONLY

GOODCOP

ISADEAN

heu- laula. COP

heulaulastudios

heu- laula.

BEFORE YOU MAKE FUN OF CHILDREN FOR BELIEVING IN SANTA CLAUSE.

REMEMBER, THERE ARE STILL PEOPLE WHO BELIEVE THE TROOPS WAR FOR FREEDOM

NO MORE WAR

BUT CLASS WAR!

heulaulastudios

Mheu- laula.

DON'T

LIBERATE

we don't want to be the watchdogs or servant n a sor ty that has abolished very kind of advo tne oadventure th at rer ins is to abolish the revr on is an init stive. aticipate. your urticip he parcitipate. w p-rcitipate. t ay profi lifeis ecstatiintercours.destriction & creation

I'LL TAKE

CORE

OF THAT

cover yourself, take care. protect yourself

heulaulastudios

bikin bpjs dulu kontol.

*me trying beli tanah, bikin stnk,

bikin sim, depo parlay.

heu- laula.

heulaulastudios

TOMYUM

Sembari menunggu lampu hijauku Dan melihat orang-orang bergilir Meminjam rupa merubah makna

KILL

Seorang petugas akhirat ME bertanya padaku: “mau jadi apa kamu mas?" “rumah“ hanya itu jawabku Sejurus ia pergi berlalu, begitu saja Dalam sepi aku hanya jongkok Lalu membatin: “apakah para petugas itu dulunya adalah pohon pisang atau efek gitar?"

ernesto marlenista

uit daeCh Mette Para

Detemps en temps jaime à voir le virnx Perr, Ct je me garde bien de lm rampre en Uiiere.

BERITA

KEMÄTIAN

Ada awan mengetuk pintu rumahku.

la lahir dari tangis babi yang bertransparansi jadi peneman udara di malam-malam sepi. Putih, putih, aku bertanya pada semesta. Di mana akhir pabrik penggilingan raga jiwa tanda tanyanya atas segala gejolak batin dan manusia.

Kuketuk pintu rumah. Hangat tahlil dan dupa jadi kegelisahan tentang dunia dan alam setelahnya. Kunyalakan lampu taman. Kulihat kawan sekelasku yang wafat kemarin lalu sedang mengais-ngais tanahdebuberbatu.Ada kegelisahan dan bimbang yang besar di wajahnya. Ada manusia yang kesepian di matanya. Ada sosok yang penasaran di sana.

Kemudian tahlilan kembali dimulai. Aku pergi dari taman dan kembali ke rumah, untuk lalu menjadi tiada.

Jakarta, Mei 2018

Lutfiah Setyo

1n JNEEESE Meke bi

Ader au

der zweite üntermensi

SML

SML chupapimonyanyo

LTERASI

KLTCHOV

Dalam esai kecil tentang peradaban modern kali ini siapa yang gak mengetahui digital, pasti semua tahu bahkan kalian sekarang sedang menggunakan digital secara langsung, kita sekarang sudah memasuki era modern yang biasa disebut era homo digital, semua orang menggunakan alat komunikasi untuk menyampaikan sesuatu kepada siapapun, secara mekanisme kita mengetahui bahwa kita adalah salah satu dari alat komunikasi tersebut.

Di kehidupan yang modern sekarang kita sering dihadapi dengan konflik horizontal yang dipicu karena hanya sebuah perbedaan desire. kehidupan sosial sekarang berubah, semua diskusi tentang peradaban modern yg sebenarnya bertujuan untuk memper- mudah kondisi malah menjadi memperburuk keadaan kultur kuno. sekarang, kultur kuno dianggap jadul (ketinggalan jaman) sehing- ga kita hendak dituntut untuk meninggalkan primordialisme demi kebutuhan kelangsungan hidup, tapi itu merupakan imparsial bagi seseorang yang mewariskan doktrin nenek moyangnya ataupun negara yang notabene konservatif seperti china yang berpatok dengan fanatisme kebudayaan.

Kritik sosial yang sedang terjadi sekarang ialah salah satu dampak dari kesenjangan sosial, karena kesetaraan sosial sekarang sudah tidak menjadi prioritas utama pemerintah karena mereka menga- cu pada kondisi sosiologi yang liberal sehingga muncullah perusahaan-perusahaan besar yang bertarung dan bergantung kepada kualitas produknya, lambat laun terjadilah kemerosotan atau keti- dak seimbangan ekonomi seperti yang terjadi di neeari wakanda.

Semua model kapitalisasi yang parsial menjadi membumi sekarang, masyarakat tidak memilih barang berdasarkan valuenya, masyaarkat sebagai konsumen dan sifat konsumerismenya lalu Kita terbuai untuk membeli barang yang tak kita butuhkan, kita menjadi butuh karena kita dibuat untuk butuh, begitulah iklan bekerja. Kita hanyalah konsumen, kita terobsesi dengan perleng- kapan gaya hidup, apakah itu penting untuk keselamatan kita, apakah itu benar-benar menunjang hidup kita secara kegunaan yang sebenarnya? Tidak, kita membeli hanya karena kita ingin membeli. Dan pada akhirnya, segala hal yang kita miliki, berakhir memiliki diri kita, betapa tidak ter-sistematis kehidupan sekarang.

Mencoba melengkapi hidup itu bagian paling baik bukan? Tapi jangan sampai kita mengontrol semua keinginan kita agar utopia kita menjadi hidup yang sempurna tercipta, Mengerikan jika kita benar-benar hidup di antaranya. dan sampai sekarang saya masih bertanya sejak jaman kapan orang secara impulsif melakukan pekerjaan yang orang itu benci untuk mendapatkan barang yang mereka ingin? tapi yang pasti begitulah algoritmanya.

Dinamika sosial sekarang terlalu kompleks untuk dijelaskan secara komprehensif. kita melihat kultur yang dulu membosank- an, sekarang dapat menjadi sebuah keinginan untuk melakukan lagi dan lagi, seperti; dulu ketika orang-orang duduk di toilet membaca kartun naruto dan porno sekarang malah membaca kat- alog furnitur yang menggoda untuk dimiliki, atau yang lebih par- ahnya lagi ketika waktu menyantap makanan di ruang makan yang seharusnya juga dapat digunakan untuk bincang masa depan ber- sama orangtuanya, eh malahan tergoda untuk melihat youtube channel yang sekedar entertain. Pemikiran yang terlalu dini ini mungkin akan menyinggung perasaan orang pada umumnya bahkan seorang libertarian akan secara gamblang menunjukkan sisi individualnya apabila benar. Kesadaran saya akan prekognisi ini mungkin tidak etis dibicarakan terlebih dahulu sebelum ada yang mengatakan antidot ini benar adanya namun saya akan men- ganggap bahwa ini bukanlah fakta hanya claim moral yang muncul karena kesoktauan terhadap perubahan situasional sekarang dan mengapa saya bisa bilang secara demikian? Karena secara sadar juga saya mengakui sebagai individu yang belum mempunyai otor- itas penuh untuk hidup. Saya dituntut terlebih dahulu untuk melakukan tetek bengek gengsi orangtua, yang entah darimana budaya itu muncul begitu saja. akan tetapi, bukankah betapa pentingnya kita untuk mempunyai paradigma sendiri atas apa yang kita alami sekarang tentang bagaimana pola kehidupan menjadi inheren ke makna seksualitas dan tindakan anarkis untuk mengubah kehidupan yang sebenarnya. bagi saya relevansi diri adalah masturbasi, kadang kita perlu stagnansi yang mengundang kerumitan pikiran terjadi lalu hal itu menggerogoti obsesi kita terhadap bagian klise yang temporer, dan inilah yang akan menye- babkan bagian ideal dari seseorang akan tertutupi dengan bualan "ah gpp, aku sekarang terlalu dini menjadi bagian dari ideal itu." dan akhirnya pecundang inilah yang menjadikan ideal itu hilang dari bagian dirinya, sialan.

Satu-satunya jenis makhluk hetero yang bisa mengubah atau mendaur ulang peradaban yang sudah usang dengan memasuk- kan bagian baru di dalamnya ya hanya kita sendiri. Kadang di situa- si seperti ini asosiasi kita muncul ke dunia ideal yang orang anggap jauh terbelakang dan juga di anggap distopia bagi kalangan progresif. Relevansi ide yang begitu menyebalkan menuntut homo sapiens beradaptasi dan terbukti homo erectus lah yang terseleksi oleh lingkungannya, secara semiotik kita tau jika dunia sekarang menuntut entitas untuk dapat bertahan hidup selama mereka dapat bermain di wahana distopia ini, apakah mereka peduli? Tidak, selebihnya kita lah yang menanggung semua kebiasaan yang telah terjadi. Apabila abad kegelapan dulu menggunakan alat agama untuk meng-hegemoni maka sekarang mereka ini akan menggunakan media atau orang tersebut menyebutnya cyber untuk mengontrolnya.

Ide 4.0 dan revolusi mental yang marak baru-baru ini saya anggap adalah ambisi pasak kunci yang konyol dan jauh dari kata sempur- na, mungkin mereka ini menyamakan diri mereka dengan elit global dengan proyek human genome yang melahirkan sub-proj- ect lainnya dan kita tau hal itu demi kepentingan global farmacy belaka. Jika ketololan ini semakin meluas dengan diiringi oleh alasan peningkatan kualitas demografi dan indeks pendidikan maupun literasi apakah tidak ada contoh lain selain itu? Apalagi saya sendiri yg merasakan eksistensi itu di kalangan pelajar cukup muak dengan implementasi yang terlalu mencolok hanya sebatas formalitas. Keresahan ini juga dirasakan oleh kamerad saya yg mengatakan jika penerapan literasi di sekolah tanpa sembari diskusi maka gampang betul pemerintah merekayasa lembaga survei untuk mengambil indeks dengan metode perbandingan yang sebelumnya. kepercayaan inilah yang sebenarnya riskan sulit dipahami oleh orang awam yang ber-argumen dengan men- gandalkan survei tanpa tau indikator apa saja yang dipakai. Pergo- lakan batin ini akan menjadi beban di generasi yang akan datang nanti dan akan menjadi stereotip yang diterima oleh kita, nanti dan pasti kita mau gamau kita akan hidup di antaranya.

Persembahan terakhir akan saya tutup dengan puisi yang saya buat beberapa bulan lalu dengan satire di dalamnya;

baliho klise terpampang mewarnai jalanan sekilas berbentuk banteng slogan kepicikan itu mengundang reaksi, benar saja, gerombolan banteng memuja-muja majikan dia katanya... beliau bijak dan ramah.

kemarin malam, lamat-lamat dari jauh terlihat.. anak kecil telanjang menggeletak dibawah baliho itu, sobekan kertas kecil menutupi alat kelaminnya.

1 jam yang lalu psbb di umumkan anak kecil itu mengambil sobekan tsb.. ia bangun dengan penuh amarah mengatakan,"WUHAN... PUAN. KANTOlIIIr" seisi NKRI menggema.

ferdisa

setiap buku yang kumiliki membangkitkan minatku; hidup adalah perjuangan yang berkelanjutan dengan temanku yang malang ini.

-little hitler.

PERCAKAPAN

DALAM SENYAP

rindu dan malu bertemu dalam sebuah sore di ujung minggu. dua-duanya kehilangan kosakata. hanya hening yang terasa dalam pertemuan mereka.

rindu sudah lama ingin sekali bertemu, namun malu seringkali urung untuk dapat berjumpa walau hanya sebentar saja. dua-duanya tidak punya kekuatan untuk saling mengungkapkan maunya.

malu sudah lama ingin sekali berjumpa, namun rindu seringkali tidak berani untuk menunjukkannya walau hanya sedikit saja. dua-duanya selalu punya alasan jelek dan tidak masuk akal untuk tidak saling berbagi cerita.

rindu dan malu bertemu dalam sebuah sore di ujung minggu. segelas kopi hitam dan segelas susu panas bertamu di tengah meja, dikelilingi cerita lama, kisah yang dipendam, dan perasaan yang tak dibolehkan muncul di tengah mereka.

aku, otak, dan hatiku saling bertatapan. bertukar isyarat tentang siapa yang harus lebih dulu mengalah. rindu atau malu? aku melihat otak, ia sedang berpikir keras. aku melirik hati, ia terlihat terla- lu cemas.

dalam sebuah sore di ujung minggu. aku hanya bisa pasrah melihat kelakuan mereka semua.

JOEYAHOLIC

A

Forer

u aor em

ie on

∠a. m vo

0 1x

y.

JE NE SAIS QUOI

Massa yang membuatku mengorbit Hinggapi udara yang kau hirup Bergerak bebas sekalipun terjatuh Di antara baik dan buruk

Demi masa yang punya kehendaknya sendiri Saat masa itu tiba Kutemukan eksistensiku sendiri Di antara bunga bangkai yang terpaku dan seekor belatung yang membangkitkan jasad tertanam

Bersumpah akan kutemui apapun yang kau rasakan Sebagai ketela yang kau sungkan Menikmati memaknai format kebebasan Manunggal bersama apa yang kuinginkan

Aku merindu datangnya masa-ku Ku tunggu meski aku terbelenggu Biarpun aku tak tahu akankah datang ke pelukku Aku selalu menunggu

garangku

edisi kali ini isinya tidak terlalu panjang ya. yang panjang adalah durasi pengerjaannya. di sela-sela kesibukan seorang editor bekerja, kurasi konten, design merchandise, melamun, akhirnya beres juga meskipun mepet.

terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bergerak jauh sampai ke sini.

semua yang telah kalian nikmati (atau tidak?) adalah hasil jerih payah, kerja keras, dan buah pikir orang-orang yang ikut serta dalam proyek nirlaba ini.

dukungan kalian dalam bentuk apapun dengan lapang dada akan kami terima.

hujatan, cacian, makian, kritik, saran, pujian, semoga tetap membuat kami akan tetap ada.

jangan lupa, apabila setelah membaca submisi zine kalian menemukan orang asshole dan cabul yang terindikasi melakukan kekerasan seksual sempat menjadi salah satu kontributor, tolong beritahu kami karena kami kadang ga sempet background checking dll.

mudah-mudahan sih ga ada ya~

kalau tidak terhalang kiamat, kami akan berusaha untuk terbit dua bulan sekali. jadi kalian punya lebih banyak waktu untuk membuat sesuatu yang lebih maksimal. (kalo mau sih itu juga)

jangan ragu untuk mengeluarkan isi kepala kalian. karena meskipun tidak semua orang akan setuju dengan pendapat dan gagasan kalian, tapi semua ide punya porsi yang sama untuk didengarkan. (tapi usahakan untuk tidak membuat opini jelek)

akhir kata, kami akan berusaha terus hadir. semampunya. sekuatnya.

semoga kami bisa memantik pergerakan-pergerakan serupa, dan bisa saling mendukung.

tabik, submisi.

ps: tabik bukanlah nama admin submisi zine, coba cari tahu apa itu tabik.

5ULM:5i

ZINE

EDIST KEDUA

APR

MUSIN KETIGA

YBJACAULT