No. 10-Tahun ke IV
chPengoiatBuhu
Puspa-Wanita
Dari daerah sastrawati Indonesia:
WIDI
BARANGSIAPA membatja buku
roman jang dikarang oleh pengarang wanita ini, tidak akan me- njangka bahwa tidak demikianlah keadaan buku ini sedjak semula. Buku ini telah diterbitkan oleh Balai Pustaka untuk kedua kalinja tahun ini (1959). Penerbitan jang pertama terdjadi dalam tahun 1949, tetapi sebelum itu telah diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan nama: Het Javaanse meisje Widijawati, oleh pe- nerbit Keizerskroon Amsterdam dalam tahun 1948. Penterdjemahnja adalah djuga seorang wanita, Ediati Surasno, seorang mahasiswa Univer- sitas Indonesia jang belakangan me- landjutkan peladjaran di Amerika Serikat.'Pemilihan penterdjemah untuk buku ini harus dikatakan tepat, karena ia telah berhasil menuangkan kembali apa jang dikatakan oleh Arti Purbani dalam bahasa Belanda, dalam bahasa Indonesia jang tjukup daja-lukisnja. Banjak istilah-istilah jang chusus Djawa, oleh Ediati Surasno dapat diterangkan kepada pem- batja setjara mejakinkan, baik setjara langsung dalam susunan tjerita, maupun dengan tjara memberikan tjatatan pada achir buku. Kalau keistimewaannja jang hendak kita perhatikan, maka jang mula-mula menarik pada buku ini adalah djumlah perannja jang sangat besar. Tidak kurang dari 70 orang peran oleh pengarang disebutkan namanja dalam buku ini. Dan para peran itu oleh pengarang diikuti pula perkembangannja sampai pada achir tjerita. Ketjuali sedjumlah peran jang semata-mata mendjadi figuran.
Pada umumnja para pengarang ti-
dak berani menggunakan peran jang terlampau banjak, karena praktek sematjam itu sangat berat risikonja. Ketjuali membingungkan penjelesaian tjerita, djuga para peran itu harus diikuti perkembangannja setjara wadjar, jaitu kalau para peran tersebut memang hendak didjadikan peran jang sewadjarnja didalam buku tersebut.Karena itu, tidak djarang kita dapati didalam buku kesusastra- an, djumlah peran jang tidak mele- bihi empat atau lima orang, atau sa- tu keluarga sadja. Ketjilnja djumlah peran dengan sendirinja memperda- lam tilikan pengarang pada para peran tersebut, dan pada gilirannja menjebabkan penjelesaian tjerita dapat lebih dipertanggungdjawabkan. Tetapi tidak demikianlah jang terdjadi dengan Arti Purbani. Ia djus tru menghendaki latar-belakang jang sangat luas untuk tjeritanja. Barulah ia menulis tjerita jang sebenar- nja, Karena latar-belakang jang luas itu, jang dalam tjerita ini berupa masjarakat bangsawan Solo-Jogja, maka sedjumlah besar orang harus tersangkut didalamnja, sesuai dengan hubungan kekeluargaannja jang ru- mit itu. Demikianlah tjara Arti Purbani mempersiapkan latar-belakang tjeritanja: Pada pasal pertama ia menjoroti tokoh Sumirah ketika tjerita ini terdjadi, beserta sedjarah singkat jang pernah dialaminja. Pada pasal kedua ia menjoroti tokoh Roosmiatidengan lingkungannja, jang samasekali tak ada (belum ada) hubungannja dengan tokoh Sumirah. Pada pasal ketiga ia menjoroti tokoh Widijawati, dengan tjara jang sama
hu sepertidigunakan terhadap kedua tokoh jang muia-mula. Djuga tokoh ini belum mempunjai sesuatu hubungan dengan kedua tokoh jang lain. Pada pasal keempat disoroti tokoh Ruwinah, djuga sebagai tokoh jang terpisah. Dalam empat pasal jang mula-mula pengarang mengadjukan empat orang tokoh jang sama kuatnja, jang akan tetap memegang peran- an dalam tjerita sampai achir buku. Dalam pasal-pasal jang ber- ikut pengarang memperkenalkan lagi tokoh-tokohlain jang tidak kalah pentingnja..Sementara itu, jang mula-mula keempat tokoh itu dikelilingi pula oleh tokoh-tokoh jang lain. Mereka itu adalah para da- jang dan pengasuh, bapak dan ibu, kemenakan dan saudara sepupu, ka- kek dan nenek, paman dan bibi, kawan-kawan bermain, daripada keempat tokoh tersebut, karena mereka-itu berasal dari keluarga bangsawan jang erat hubungan kekeluargaannja. Barulah pada pasal jang kelima, pengarang memperlihatkan hubungan antara berbagai tokoh jang telah diperkenalkannja. Hubungan itu ter- tjipta karena soal-soal keluarga, pertjintaan, perkawanan dan hal-hal jang berkenaan dengan djabatan dalam keraton dan pemerintahan negri. Dengan tjara itulah maka pengarang mengikuti para tokohnja sedjak dari bangku sekolah rendah, sampai mengindjak hidup berumah- tangga, kepegawaian dan pendidikan jang lebih tinggi. Diantara semua hubungan itu jang paling menarik adalah hubungan pertjintaan dan perka- winan. Ini disebabkan karena perka- winandidalam lingkungan bangsawan tersebut boleh dikata suatu per- istiwa jang sangat unik. Dalam lingkungan itu, seorang bupati atau se-
JAWATI
Roman karangan Arti Purbani dengan 70 orang peran jang disebut aamanja.
Oleh: Koesalah Soebagyo Toer.
orang menantu radja dapat mempunjai sedjumlah selir (istri tambahan),
disamping istrinja jang resmi. Aki-
batnja ialah bahwa hubungan keke- luargaandalamlingkungan itu tidak bisa mendjadi murni. Karena kebebasan memiliki istri lebih dari satu, maka tidak djarang seorang lelaki menghantjurkan mar- tabat keluarganja dengan mengawini seorang kampung jang sangat tju- las, semata-mata karena perempuan itu seorang jang tjantik dan béntrok.. Dengan sendirinja, lelaki jang demikian itu lebih banjak mentjurahkan perhatiannja kepada keinginan dan omelan para istrinja daripada me- ngurus negrinja sendiri. Bahkan tidak djarang ia harus berkepala pu- sing mentjari penjelesaian untuk per- tengkaran jang terdjadi antara para istri, jang tidak djarang pula bertekad membunuh dengan tjara jang tidak sportip. Dengan'tjara sematjam itu banjak para istri jang patah-hati atau merana, hingga anak jang dila- hirkannja hanja bisa hidup selama empat atau lima hari didunia. Seorang wanita jang tidak suka dima- du tinggal mempunjai dua pilihan sadja: apakah ia merana, ataukah hidup setjara masa-bodoh. Karena adat jang keras, dimana seorang wanita tidak boleh bergaul setjara bebas dengan lelaki, dan seorang anak tidak boleh membantah kemauan orangtuanja, maka timbul pula akibat-akibat buruk. Jang djelas sadja, seorang pemuda lebih suka membantah orangtuanja untuk mengawini seorang wanita jang tidak disukainja. Tapi tidak djarang pula pemuda jang kena oleh paksaan itu, semata-mata karena sebagai manusia ia tidak bisa berbuat lain. Jang djelas lagi, hubungan jang terlalu kaku dan dikekang antara pemuda dan pe- mudi, djustru lebih merangsang ke-
dua djenis machluk tersebut untuk ,bergerilja". Pengarang tidak pula
meninggalkan persoalan ini. Demiki- anlah terdjadi, bahwa karena keka- ngan tersebut, pergaulan djustru men djadi bebas sebebas-bebasnja. Mereka bertemu dipinggir kali, didalam ka- mar pihak pemuda, atau lari setjara litjik. Tidak mengherankan bahwa tokoh Murtinah melarikan diri dite ngah malam kerumah kekasihnja dan terpaksa kawin. Tokoh Ruwinah bahkan diselundupi oleh pamannja
sendiri, hingga tokoh Sudiro, seorang
tukang-main dan pemabok jang u- murnja lebih muda dari Ruwinah sendiri, harus mengawininja, dimana lima bulan sesudah perkawinan Ruwinah melahirkan anaknja. Diantara semua tokoh itu, Widijawati muntjul sebagai tokoh revolusioner jang samasekali tidak mau berkompromi dengan sekelilingnja. Ia sendiri dari kalangan bangsawan, anak seorang hoofd-djaksa, pangkat jang tjukup tingginia. Tetapi karena sediak semula ia tidak mengetahui setjara djelas asal-usulnja, apalagi ia hidup dibawah tekanan ibu-tirinja jang sangat bentj kepadanja, maka ia sangat tidak setudju dengan or ng- orang disekelilingnia. Ia bentii kepada berbagai adat iang mendiadikan hidupnja ditengah lingkungan itu merana. Ia benti kepada para lelaki, ketiuali ajahnia, karena ia tidak mempertiaiai mereka. Ia bentii kepada tachiul jang selalu mendiadi pertimbangan para orang tua. Demi- kianlah katanja:
,Haruskah dipertjajai tachjul itu atau tidak ?" (hal. 162).
Kegemarannja menundjukkan bahwa ia seorang jang mau bertanggung djawab kepada masarakatnja. Mula-
mula ia mendjadi guru, kemudian mendjadi djururawat. Ia menaruh perhatian jang besar kepada keseng- saraan jang dialami para orang tani dan kaum wanita bangsanja jang hidup sebagai orang kampung. Demikian djalan pikirannja: ,Banjak sungguh pekerdjaan jang dapat kulakukan, kasihan Waginah dan saudara-saudara kaum perempuan jang lain. Barangkali lebih baik kalau aku mengurbankan diri, bergaul dan bekerdja untuk orang-orang desa jang teguh memegang kebiasaan kuno itu". (hal. 186). Disamping itu, terdapat djuga seorang tokoh pemuda revolusioner, Rawinto, jang tidak suka kawin se- belum ia mendjadi seorang bertitel, sekalipun gadis baginja tinggal me- milih, dua atau tiga. Ia bertjita-tjita memadjukan bangsanja, dan dialah jang achirnja mendjadi orang bertitel jang pertama didaerahnja. Perse- suaian sifat ini memungkinkan per- tjintaannja dengan Widijawati. Tetapi apakah jang terdjadi? Rawinto tidak kuasa bertempur sendiri melawan adat. Ia mendapat ,perintah" dari radja untuk mengawini anaknja, padahal sesudah kawin, anak radja itu makin mendiadi-djadi lemah-ba- dannja, dan achirnja mati waktu melahirkan. Kematian itu telat datangnja, karena pada waktu itu Widijawati telah ambil keputusan untuk melawat ke Barat, dan sudah dalam perdjalanan ke Colombo. Tetapi bahwa Rawinto seorang jang sama tekadnja dengan Widijawati, tidak bisa disangkal. Pernah ia dengan marahnja mema- ki adat jang dimiliki para orangtuanja:
Tjelaka. adat-kebiasaan jang mengungkung itu, bila ia akan lenjap ?" (hal. 190).
Kalau dalam hal ini kita lihat ne- ratja untung-rugi perdjuangan para muda melawan kungkungan adat, ternjata bahwa kaum muda beranta- kan barisannja. Widiiawati dan Rawinto jang mewakili kaum revolusioner, kandas perdjuangannia. Jang pertama melarikan diri ke Barat dan bertekad akan mentjari penghidupan jang tidak terikat seperti dalam ling-
kungan iang ditinggalkannia. Se-
dangkan Rawinto terpaksa menierah kepada paksaan jang ditekankan ke- padania. Penielesaian jang diberikan Arti Purbani terhadap bukunja ini tentu mengetjewakan kaum revolusioner. Tetapi pasti, bahwa Arti Purbani mempuniai alasan iang tiukup kuat untuk berbuat demikian. Menurut ke- njataan, masarakat feodal seperti jang ditjeritakan dalam buku ini, sampai sekarang masih tiukup kuat- nja untuk dianggap enteng. Kokohnja adat ini oleh Arti Purbani ditierita- kan dalam bukunja setjara sangat
lah Penggiat Be
mejakinkan. Jaitu dengan djalan menguraikan pelaksanaan berbagai upatjara jang samasekali berdasar kepada tachjul dan kepertjajaan, adat dan kebiasaan. Demikianlah setjara lengkap ia menguraikan disela-sela tjeritanja, hampir seluruh upatjara jang dipraktekkan dalam kehidupan orang Djawa lama, sedjak ia hampir lahir, sampai ia bersunat, berkeluar- ga dan mati. Banjak sekali jang diketahui pengarang tentang upatjara ini, karena ia mentjeritakannja dengan lengkap
dan terang. Sampai-sampai ia ber- tjarita tentang dongeng-dongeng jg. biasa didongengkanorang tua-tua, permainan jang bisa dimainkan anak anak, dan upatjara keradjaan jang penting-penting. Dan sekaliannja itu dikerdjakan pengarang dengan wa- djar sadja, ditengah djalinan tjerita jang dibentuknja. Haruslah kita am- bil kesimpulan, bahwa pengarang bermaksud menggambarkan wilajah kebangsawanan Solo-Jogja setjara lengkap, dalam bentuk roman jang tjukup pula nilainja. Dan kita harus
menarik kesimpulan pula, bahwa u- sahanja itu telah berhasil dengan se- baik-baiknja. Gambar dan vignet jang ada didalamnja, tjukup pula menambah djelasnja uraian pengarang. Tidak mengherankan, bahwa buku ini dikerdjakan oleh pengarang sela- ma tidak kurang dari sepuluh tahun, dengan tidak memperlihatkan tanda- tanda bahwa bagian-bagiannja dikerdjakan pada saat jang berlain-lain- an. * Djakarta, 27 Agustus 1959.
Digitalisasi
CORNED BEEF
LEZAT HÉMAT
dan